P. 1
kuliah ilmu hubungan internasional

kuliah ilmu hubungan internasional

|Views: 173|Likes:
Dipublikasikan oleh Roveq Eko Syahri
kuliah
kuliah

More info:

Published by: Roveq Eko Syahri on Jan 25, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/05/2013

pdf

text

original

ILMU HUBUNGAN

INTERNASIONAL


Siti Muslikhati, S.IP, M.Si.
ILMU HUBUNGAN
INTERNASIONAL
SIGNIFIKASI
RUANG
LINGKUP
1.Dari sisi aktor
2.Dari sisi issues
 Signifikasi
Pentingnya mengkaji hubungan antar manusia yang
melintasi batas teritorial negara :
CTerjadinya saling pengaruh dan saling tergantung.
CMunculnya permasalahan yang kompleks dan potensial
mencelakakan kehidupan manusia.
Potensi bahaya dunia berasal dari 2 kecenderungan yaitu :
1.Pengejaran kepentingan nasional masing-masing
negara.
2.Dahsyatnya daya penghancur sistem persenjataan.
CMunculnya kebutuhan untuk kelangsungan kehidupan
dunia
(hindari perang dan ciptakan perdamaian).
(menyelesaikan masalah-masalah di tingkat internasional)
¬ Dibutuhkan pemahaman tentang fenomena

Ruang Lingkup IHI
1. Dari sisi aktornya
Dari state _ centric menjadi hubungan transnasional
Negara A Negara B
G G

P P
2. Dari sisi aspek hubungannya (issues)
High politics
(peace & security issues)
HI
Low politics
(non security issues : economic, ecology)
¬Ruang lingkup hubungan internasional sangatlah kompleks



PERKEMBANGAN
ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL
A. Model Perkembangan Ilmu
1. Pandangan Karl Popper
Ilmu berkembang secara obyektif, rasional dan
akumulatif, yaitu melalui proses falsifikasi dan
penemuan baru
2. Pandangan Thomas Kuhn
Ilmu lebih banyak berkembang atas pertimbangan
irrasional, yaitu melalui kesepakatan para
ilmuwannya (ada dominasi paradigma melalui suatu
revolusi)
Kecenderungan dalam perkembangan sebuah ilmu :
1. Menurut Sonderman, terjadi saling terkait antar
bidang studi (sifat interdisipliner)
2. Menurut Kuhn, perkembangan suatu ilmu berjalan
tidak ajeg
Yang mendorong lahirnya Ilmu Hubungan
Internasional :
1.Adanya minat yang besar terhadap fenomena
setelah Perang Dunia I
2.Melihat akibat dari Perang Dunia I
Perkembangan Ilmu HI di AS dapat dilacak dari
perkembangan aliran-aliran yang ada, yaitu :
1. Aliran Tradisional (historis, legal moralistik)
a. Aliran Idealis
b. Aliran Realis
2. Aliran Perilaku (saintifik)
a. Aliran Behavioralis
b. Aliran post-behavioralis
PERKEMBANGAN IHI
¬ dapat dilacak dari perkembangan aliran-aliran
yang ada di AS








Go to bagan perkembangan IHI
4. Aliran Pasca-
Behavioral
3. Aliran Behavioral
2. Aliran Realis
1. Aliran Idealis
Aliran-
Aliran di AS
1. Aliran Idealis
O Pendekatan segi moralistik legalistik (bersifat normatif
utopian)
O Sebelum PD I, studi hubungan internasional diajarkan
pada Fakultas Sejarah, Hukum, dan Filsafat.
O Sesudah PD I, ada kebutuhan untuk membentuk suatu
sistem keamanan kolektif yang bersifat global yang
mampu mengekang ambisi para agresor.
Perlu pembentukan aturan main ¬ peranan hukum dan
organisasi internasional menjadi penting.
O Tokoh-tokoh :
- Henri de Saint Simon
- Mahatma Gandhi
- Woodrow Wilson
- Bertrand Russel BACK



2. Aliran Realis
O Kounter terhadap aliran idealis
O Dipicu oleh politik ekspansi Jerman, Jepang, dan
Italia tahun 1930-an
O Tahun 1933 Frederick Schumen mempelopori
penggunaan konsep power untuk mendeskripsikan
dan menganalisis fenomena dunia apa adanya (secara
realistik), sekaligus preskripsi.
O Studi tentang konflik pada masa sesudah PD II
kembali menjadi topik yang dipelajari secara intensif.
O Tokoh-tokoh :
- H.J. Morgenthau
- Arnold Wolfers
- George Kennen
BACK
3. Aliran Behavioral
O Akhir tahun 1950-an muncul aliran pemikiran yang
menolak tradisi idealis maupun realis.
O Mereka menolak konsep-konsep kelompok
tradisional yang dianggap tidak bisa diukur.
O Perlu ketepatan makna untuk tujuan mengukur dan
menganalisis sungguh-sungguh.
O Penekanan kuat pada metode/teknik penelitian dan
pada pengumpulan dan analisis data
O Bersifat kuantitatif
O Tokoh-tokoh :
- Karl W. deutsch
- Erast B. Haas
- Morton A. Kaplan BACK
4. Aliran Pasca-Behavioral
O Pengembangan studi HI dismaping secara saintifik,
juga harus ikut memecahkan problem manusia
(metode & substansi)
O Orientasi pada pembuatan rekomendasi kebijakan
(policy oriented) Aktifitas / Tujuan Preskriptif
O Ilmuwan harus menilai dan memihak



BACK
Perkembangan Ilmu Hubungan Internasonal
Pendekatan Asumsi Tokoh / Karya
1. Idealis /
Normatif /
Utopian
ºSemula bagian dari ilmu Sejarah
ºKemudian unsur-unsur Studi Ilmu HI &
diplomasi, hukum internasional & organisasi
internasional
ºdst.
E. H. Carr, Hubungan
Internasional antara
Dua Perang Dunia
2. Realis ºDeskripsi & eksplanasi perilaku negara
ºMenyederhanakan fakta menjadi
generalisasi
H. J. Morgenthau,
Politics Among Natims
: The Struggle for
Power and Peace
3.
Behavioral
ºPenelitian terhadap sebanyak mungkin kasus
demi capai pola yang berulang
ºSyarat logica – empirical ilmu
Morton Kaplan, System
and Process in
International Politics
4. Pasca -
Behavioral
ºPengembangan ilmu tidak sekedar scientifik
tetapi juga ikut memecahkan masalah sosial
politik umat manusia masa kini
David Easton
5. Post -
Mo
DUA JALAN MENUJU PENGETAHUAN
1. Tradisional ¬masa awal perkembangan studi HI
Syarat paham HI :
- paham sejarah dan berbagai bahasa
- perlu pengalaman logis
- ruang lingkupnya terbatas
Contoh : Dantae, Machiavelli, Rousseau, Bismark, dll.
Hubungan Internasional lebih digambarkan sebagai
seni / kiat diplomasi.
Penganutnya disebut Wisdom outlook ( Hans J.
Morgenthau, Henry Kissinger, Hedley Bull )
2. Saintifik ¬ gerakan behavioralisme dalam ilmu sosial
Tugas ilmuwan : menemukan pola-pola pengulangan
(keajegan) perilaku internasional sehingga bisa
meramalkan apa yang akan terjadi.
Prosedurnya :
1).Pembentukan hipotesa yang bisa diuji
2).Pengujian hipotesa
3).Pengumpulan, perbandingan, pengintegrasian
penemuan
Hubungan internasional harus dilihat sebgai sains/ilmu.
~ bisa dilakukan oleh sebanyak mungkin orang
~ studi metodologi menjadi penting
PROSES BERPIKIR

diperoleh dengan ¬
penangkapan suatu benda (obyek) melalui
panca indra manusia yang dialihkan ke otak,
lalu ditentukan sikap terhadap obyek
tersebut berdasarkan pengetahuan/informasi
sebelumnya.
Metode Pengkajian
1. Pola pikir Sains (Thoriqoh ilmiah)
¬ mengetahui hakekat sesuatu melalui berbagai macam
percobaan ilmiah (khusus untuk benda/materi)
Kesimpulan ilmiah : belum fixed, masih mengandung
faktor kesalahan.

2. Pola pikir Rasional (Thoriqoh Aqliyah)
¬ mengetahui hakekat sesuatu melalui indra yang
menyerap obyek.
Hasilnya yaitu pemikiran/ide (thought),
mencakup baik materi/obyek yang dapat diindra
maupun bukan materi/abstrak (berkaitan dengan
pemikiran).
PENDEKATAN SAINTIFIK DALAM ILMU SOSIAL
Menurut Mc Gaw & Watson




Asumsi-asumsi Sains :
1. Semua perilaku sudah ditentukan secara alamiah
2. Manusia adalah bagian dari dunia alamiah
3. Alam bersifat teratur & ajeg
4. Alam berubah dengan lamban
5. Semua fenomena yang bisa diamati pada akhirnya bisa diketahui
6. Tidak ada hal yang dengan sendirinya benar
7. Kebenaran adalah relatif
8. Kita memahami dunia melalui indra
9. Persepsi, ingatan, dan penalaran kita bisa dipercaya

Sains =
Ciri-ciri
Pokoknya
adalah metode analisa yang
obyektif, logis, sistematis untuk
deskripsi eksplanasi, prediksi fenomena yang bisa
diamati.
UNSUR-UNSUR PROSES KEILMUAN
TEORI
GENERALISASI
EMPIRIS
HIPOTESA
FAKTA
PEMBENTUKAN TEORI
(memahami yang diamati,
metode induktif
TEORISASI
(metode logika)
PENELITIAN EMPIRIS
(Metode penelitian)
PENERAPAN TEORI
(mengetahui apa yang harus diamati,
Metode deduktif)
Tingkat-tingkat Analisa
· Persoalan dan tantangan dalam kembangkan
pendekatan dan teori
- menemukan sasaran analisa yang tepat.
yaitu menetapkan unit analisa (variabel dependen) dan unit
eksplanasi (variabel independen).
¬ ada kebutuhan untuk memilih dan memperhatikan tingkat
analisa, karena :

1. ada banyak faktor penyebab.
2. kerangka berpikir tingkat analisa membantu kita memilah
faktor yang ditekankan.
3. memungkinkan bagi fenomena yang sama kita
memperoleh beberapa penjelasan alternatif.
4. menghindari fallacy of composition ataupun ecological
fallacy.
· Untuk menjelaskan suatu kejadian, ilmuwan
melakukan 2 hal :
1. menentukan unit analisanya.
2. menentukan unit eksplanasinya.
· Jenis-jenis analisa dalam proses keilmuan :
1.Induksionis ¬Unit eksplanasinya lebih tinggi
tingkatannya dibanding unit
analisanya.
2. Korelasionis ¬Unit eksplanasi dan unit analisisnya
sama tingkatannya.
3. Reduksionis ¬Unit eksplanasinya lebih rendah dari
unit analisanya.
·Tingkat-tingkat Analisa :
1.Menurut Kenneth Waltz ( individu, negara, dan sistem
internasional ).
2. J. David Singer ( Negara dan Sistem Internasional ).
3. John Spanier ( Sistemik, negara bangsa dan pembuat keputusan ).
4. Bruce Russet & Harvey Starr
- individu pembuat keputusan
- kelompok individu ( peranan para pembuat keputusan)
- struktur pemerintah
- masyarakat
- jaringan para pembuat keputusan dengan aktor internasional
- sistem dunia
5. Patrick Morgan
- individu
- kelompok individu
- negara bangsa
- multi-negara
- sistem internasional

· Menetapkan tingkat analisa
~ Contoh analisa tingkat sistem global
- teori B. oP.
- Perilaku negara-negara GNB.
- PLN RI masa Orba.
~ Contoh analisa tingkat negara bangsa
- Teori PLNnya Snyder dan Rosenau.
¬masing-masing tingkat analisa menuntun kita untuk
melihat hal-hal yang berbeda.
~ Contoh analisa tingkat multi negara
- Teori Integrasi Regional nya Haas & Nye
- Teori Aliansi nya G. Liska.
~ Contoh analisa tingkat kelompok
- karya politics Graham Allison.
~ Contoh analisa tingkat individu
- pendekatan psiko politik

· Pertimbangan dalam tentukan tingkat analisa :
1. Teori / prakonsepsi
2. Tujuan analisa / lit. itu sendiri.
KONSEP
× Konseptualisasi
upaya penyederhanaan / simplifikasi fenomena
¬ ilmuwan memilih konsep-konsep/simbol-simbol
untuk mengorganisasi persepsi mereka dan
membangun model yang dipakai menjelaskan berbagai
peristiwa.
× Makna Konsep
Konsep adalah abstraksi yang mewakili suatu obyek
¬ berfungsi sebagai bahasa dalam dunia ilmu
pengetahuan, yaitu lambang / simbol-simbol dalam
rangka komunikasi.

× Fungsi konsep
1. memungkinkan terjadinya komunikasi.
2. memperkenalkan suatu sudut pandang
¬ cara mengamati fenomena empiris.
3. sarana untuk mengorganisasikan gagasan, persepsi,
dan simbol dalam bentuk klasifikasi dan generalisasi.
4. menjadi batu bata bagi bangunan teori.
× Definisi
¬ Supaya bisa dijalankan fungsinya, konsep harus
punya arti yang jelas dan tepat.
¬ didapat melalui definisi :
1. Definisi Konseptual
2. Definisi Operasional
1. Definisi Konseptual
menggambarkan konsep dengan gunakan konsep lain.
primitive terms :
konsep yang tidak bisa lagi didefinisikan dengan
konsep lain (misal : warna, suara, bau, rasa)
¬ definisi ostensif.
 Definisi konseptual terdiri dari istilah primitif dan
istilah turunan (derived terms).
Definisi konseptual yang memungkinkan kelancaran
komunikasi :
- definisi menggambarkan ciri-ciri/kualitas khas dari
fenomena yang didefinisikan (berisi semua yang
diliputnya : tidak memasukkan yang tidak diliput)
- definisi tidak boleh sirkular
- definisi dinyatakan dalam istilah yang jelas / tidak
memiliki lebih dari 2 arti
2. Definisi Operasional
serangkaian prosedur yang mencandra (deskripsikan)
kegiatan yang harus dilakukan jika hendak mengetahui
eksistensi empiris suatu konsep.

× Jenis-jenis Konsep
1. Berdasar tingkat analisa
2. Berdasar tingkat pengukuran
3. Berdasar tingkat abstraksi
4. Berdasar peran teoritisnya




Go to “Tipologi”
Jenis-jenis Konsep
1. Berdasar tingkat analisa
a.konsep individual (misal “konservatif”)
b.konsep kelompok (misal “kohesif”, “integrasi”,
“stabilitas”)
Konsep individual dibedakan dengan kelompok, karena :
º konsep individual umumnya tidak bisa dikaitkan
dengan konsep kelompok dalam suatu proposisi yang
sama.
º atribut kelompok tidak bisa dijadikan kesimpulan untuk
setiap individu dalam kelompok ( ecological fallacy )
º atribut individu tidak bisa dijadikan kesimpulan untuk
kelompok ( fallacy of composition )
2. Berdasar Tingkat Pengukuran
¬ mengukur atribut pada konsep.
Ada 3 tingkat pengukuran :
a. Klasifikasi
¬ basis bagi klasifikasi (menyebut atribut yang ada
/ tidak ada pada suatu obyek)
¬mengandung konsep exhaustiveness and
exclusiveness.
b. Komparatif
(konsep yang bisa memperbandingkan dan menaruh
fenomena pada urutan-urutan)
¬ tipe klasifikatori yang lebih kompleks dipilah
dalam urutan (rank) menurut banyaknya atribut yang
dimiliki.

c. Kuantitatif
(derajat / kadar atribut dalam suatu obyek)
“berapa banyak” ¬ dengan operasi metematis, misal
: tingkat pendapatan, Produk Nasional Bruto, jumlah
suara pemilih, dsb.
Implikasi perbedaan konsep berdasar tingkat
pengukuran :
- tingkat pengukuran berbeda tergantung tingkat
kebutuhan pemakai dan tingkat kemajuan ilmu yang
bersangkutan (informasi yang masuk).
- dengan pembedaan konsep ini, pembedaan antara yang
kuantitatif menjadi tidak bermakna, karena semua
konsep didasarkan pada kualitas (atribut / property).
3. Berdasar Tingkat Abstraksi
¬yaitu berdasar kedekatannya pada data yang bisa
diamati / pengalaman indra±
a.Konsep (construct) ¬ tingkat abstraksi paling tinggi
b.Variabel ¬ beberapa dimensi / atribut yang lebih
spesifik dari konsep (± bisa diamati)
c.Indikator ¬ fenomena yang bisa diamati langsung.
variasi nilai
Konsep Variabel Indikator
(Definisi (Definisi
Konseptual) Operasional)
Tinggi Abstraksi Rendah
Tidak Langsung Observasi Langsung
4. Berdasar Peran Teoritisnya
a. Variabel independen ( sisi penyebab )
b. Variabel dependen ( sisi akibat )
c. Variabel ekstra ( di luar a dan b, tetapi punya
kemungkinan mempengaruhi hubungan itu )
( variabel kontrol ).
¬ Konsep yang sama bisa memegang peran teori
tingkat yang berbeda
× Tipologi
¬Bukan teori (sarana deskripsi, bukan eksplanasi)
Konsep bisa dikembangkan dengan membentuk
tipologi, dengna membentuk secara logis dua/lebih
konsep klasifikatori.
Misal :
Klasifikasi Tipe Sistem Politik (Aristoteles)


Kepentingan siapa yang dilayani
Semua Warga Penguasa

Jumlah
Penguasa
Satu Monarki Tirani
Beberapa Aristokrasi Oligarki
Banyak “Politeis” Demokrasi
Transfer Surplus Antar Negara (J. Galtung)
Surplus yang Dihasilkan di
Negara Kaya

Tetap di sana
Diinvest. ke
Negara
Miskin

Surplus
di Negara
Miskin

Ditransfer ke
Negara Kaya
Imperialisme
Klasik
Eksploitasi
Tetap di sana Saling Tidak
Tergantung
TEIB
GENERALISASI
¬ menentukan kemampuan eksplanasi, prediksi,
dan kontrol
Þ Makna Generalisasi
Generalisasi adalah pernyataan tentang hubungan
antara dua konsep atau lebih.
Menurut Alan Isaak, generalisasi sangat penting
karena 2 hal :
1.Generalisasi memberikan deskripsi yang lebih
canggih dan luas tentang suatu fenomena.
¬mampu mengembangkan pengetahuan yang
sistematis.
2.Generalisasi yang melandasi kegiatan
menjelaskan dan meramalkan suatu fenomena.
Þ Sifat Generalisasi
1. Kondisional



2. Empiris


¬ ditandai oleh bentuk kondisional
jika…, maka… yang menunjukkan sifat
dasar hubungan antar konsep.
¬ jika didasarkan pada pengamatan dan
pengalaman generalisasi berisi konsep-
konsep yang memenuhi kriteria empirical
reference, disusun dalam tata bahasa yang
benar dan secara keseluruhan masuk akal.
¬ bisa diuji untuk didukung atau ditolak
Þ Universalitas dan Probalitas generalisasi

ruang lingkup/ derajat kepastian
scope

g. universal g. statistik (tendency statement)

menentukan exsplanatory power and predictive power
Þ Bentuk Generalisasi
1. Hipotesa
2. Hukum ( laws )
dibedakan oleh derajat
kepastian

Tipologi Walter Wallace
Dukungan Empiris
Ada Tidak Ada

Dukungan
Teoritis

Ada
Hukum
“Theoretic
Invariance”
Hipotesa
Teoritis
Tidak Ada Generalisasi
Empiris
Dugaan/fantasi
Imajinasi/Idea
Dua jalan menuju pembentukan teori :
- Dugaan – hipotesa teoritis – hukum
- Dugaan – generalisasi empiris – hukum
Þ Pengujian Hipotesa
1. Non – Saintifik ¬ common sense, intuisi, empati
2. Saintifik :
a. Reaktif
b. Non – Reaktif
¬ misal penelaahan secara sistematis dokumen,
catatan sejarah, berita koran, statistik pemilu, dsb.
¬ teknik content analysis

Þ Jenis-jenis Generalisasi
a. Kausalitas ( ada urut-urutan waktu )
b. Cross – sectional ( tidak ada urut-urutan waktu )
ANALOGI DAN MODEL
A. Cara Berpikir Analogis dalam IHI
+ Berpikir adalah proses metaforik, yaitu proses mengkaitkan
fakta baru dengan informasi sebelumnya (sesuatu yang sudah
kita kenal)
+ Analogi sebagai alat bantu berpikir, dengan menciptakan
metafora untuk menggambarkan fenomena politik sehingga
mudah dipahami (sebagai sarana heuristis)
+ Manfaatnya : memungkinkan menemukan logika yang sama
dalam hal-hal yang nampaknya sangat berbeda (keajegannya)
+ Analogi yang baik diukur berdasarkan kemampuannya
menunjukkan adanya kesamaan dalam struktur hubungan
(isomorfi)
+ Analogi dalam Ilmu Politik dipengaruhi perkembangan ilmu-
ilmu yang lain
Misal :


* Konsepsi Isaak Newton tentang Jagad-Raya abad ke-18
memunculkan analogi mekanistik dalam ilmu politik
* Teori Darwin abad ke-19 memunculkan analogi biologis
dalam ilmu politik
B. Perbedaan Analogi dan Model

1.Analogi memuat isomorfisme dengan hal lain,
sementara model hanya menunjukkan kemiripan
unsur
2. Model memiliki format dan struktur yang lebih terinci,
sebagai upaya menyederhanakan situasi yang rumit
• Model adalah pernyataan-pernyataan atau lambang-
lambang yang mewakili beberapa bagian dari
kenyataan dan yang secara bersama-sama
menggambarkan beberapa proses atau perilaku dasar
(abstraksi ciri-ciri tertentu dunia nyata)
• Model yang baik menunjukkan pada kemampuannya
menunjukkan isomorfi antara model dengan
fenomena yang diwakilinya. Dalam Ilmu Politik
hampir tidak ada (penekanannya pada proses
idealisasi dan abstraksi)
C. Fungsi Model





D. Jenis Model
1.Model Normatif : ada penilaian baik – buruk
2.Model Deskriptif : menciptakan konsepsi
(intellectual construct) tentang sesuatu menurut
prinsip tertentu.
· Tujuan membuat model ¬ menciptakan kerangka
berpikir yang manageable dan ketat untuk berteori
· Model juga merupakan sarana heuristik, bukan
sarana eksplanasi, yang bisa mendorong
munculnya wawasan atau pengertian (insight)
E. Format Model
Setiap model memiliki unsur utama sbb :
1. definisi konsep-konsep kuncinya
2. asumsi tentang ciri-ciri konsep (komponennya) dan saling
hubungan antar konsep
3. pernyataan tentang hubungan anatar variabel (aktor)
4. asumsi tentang logika model

F. Menilai Model, kriterianya :
1. Kemampuan untuk menata dan menyederhanakan
fenomena
2. Kemampuan mengidentifikasi segi-segi yang penting dari
fenomena
3. Sebaiknya cocok dengan kenyataan (ada rujukan empiris)
4. Bisa mengarahkan pada perumusan hipotesis
TEORI
Teori menggabungkan serangkaian konsep menjadi suatu
penjelasan yang menunjukkan bagaimana konsep-konsep
itu secara logis saling berhubungan
¬Proposisi yang bisa menjelaskan fenomena sosial dan
menjelaskan generalisasi itu sendiri.

Beberapa kerancuan dalam penggunaan kata “teori” :
1. Antara “teori politik” dengan “filsafat politik”

das Sein das Sollen
2. Antara “teori dan praktek”
3. Antara “teori dengan dugaan”
Definisi Teori menurut Mc Cain & Segal
Serangkaian statemen yang saling berkaitan…yang
terdiri dari :


1. Kalimat-kalimat yang memperkenalkan istilah-
istilah yang merujuk pada konsep-konsep dasar
teori itu.
2. Kalimat-kalimat yang menghubungkan konsep-
konsep dasar itu satu sama lain.
3. Kalimat-kalimat yang menghubungkan beberapa
statemen teoritik itu dengan sekumpulan
kemungkinan obyek pengamatan empirik
(hipotesis).
Tipe-tipe Teori
Berdasar kadar teori yang dimuatnya :
1. Sistem Klasifikasi (tipologi atau taksonomi)
→ sebenarnya adalah sistem klasifikasi / kategori, bukan
sistem teoritik
→ dibangun untuk mengorganisasikan hasil
pengamatan sehingga hubungan antar kategori bisa
dideskripsikan
→ umumnya tidak berfungsi eksplanasi (belum
mencapai tingkat teori)
→ dimungkinkan mendapatkan jenis tipologi yang
memiliki kadar teoritik yang lebih tinggi (yaitu jika
diidentifikasikan variabel dependen dan
independennya)
Contoh 1).






Contoh 2).




Perilaku
Elit
Tipe Demokrasi (Arend Lijphart)

Homogen
Kultur
Politik

Pecah belah
Bersatu

Kompetitif
Demokrasi
“depoliticized”
Demokrasi
Konsosiasional
Demokrasi
Sentripetal
Demokrasi
Sentrifugal
Tipologi Strategi PLN

Ancam
Strategi
Lawan

Dukung

Kemampuan
sendiri
Lebih Kuat Konfrontasi Memimpin
Lebih Lemas Akomodasi Kunkurdans
2. Kerangka Konseptual
→Kategori deskriptif secara sistematis ditempatkan
dalam struktur proposisi-proposisi (dikaitkan
dalam urutan-urutan yang sistematik dan saling
pengaruh)
Misal : Analisis Sistem Politik David Easton
Input Konversi Output
- Tuntutan - Hukuman
- Dukungan - Ganjaran

Umpan Balik
3. Sistem Teoritis
→Kombinasi dari sistem klasifikasi dengan kerangka
konseptual, kombinasi dari deskripsi, eksplanasi
dan prediksi.
→beberapa proposisi bisa dideduksikan dari proposisi
yang lain.
Misal : Teori Bunuh Dirinya Emille Durkheim
1)Frekuensi bunuh diri berkaitan langsung
dengan derajat individualisme
2)Derajat individualisme berkaitan dengan
derajat protestanisme
3)Karena itu frekuensi bunuh diri berkaitan
dengan derajat Protestanisme
Berdasar Struktur Internalnya, Abraham Kaplan
mengidentifikasikan 2 format dasar teori :
1. Teori Aksiomatis
→ Generalisasi yang dihubungkan secara deduktif atau
hierarkis
→Harus berbentuk suatu sistem aksimatis yang terdiri dari
aksioma dan teorem
disandarkan pada tingkat universalitas
(teorem dideduksikan dari aksioma)
Misal : Proporsi Aksiomatiknya Hans Zetterberg berdasar :
-Jumlah kolega yang dimiliki tiap-tiap anggota
-Solidaritas kelompok
-Konsensus kelompok -Pembagian kerja
-Tingkat pengucilan/penolakan terhadap pelanggar
¬jarang ada dalam Ilmu Sosial
2. Teori Berangkai
¬non-deduktif
Syarat-syaratnya :
a) Secara statis, teori itu harus bisa menunjukkan unit-
unit yang terlibat dan hubungan antar unit.
b) Secara dinamis, teori itu harus bisa menuntun kita
mencari sekumpulan faktor yang menentukan
terjadinya fenomena.
c) Bisa deskripsikan kecenderungan perubahan dan
menunjukkan faktor-faktornya.
Teori Berangkai dirumuskan dalam 3 format :
1) Inventarisasi Determinan ( Teori Faktor )
→Teori disusun dengan mendaftarkan faktor-faktor
yang bisa dikaitkan dengan terjadinya suatu
fenomena.
→Bisa dihasilkan generalisasi dalam wujud hukum
empiris, generalisasi statistik atau tendency
statement.
2) Inventarisasi Variabel Dependen
→Penyebab satu, dependennya lebih dari satu
3) Pola Proposisi Berangkai
→Rangkaian dari beberapa proposisi, di mana
penyebab dari suatu proposisi merupakan akibat dari
proposisi lain.
Misal : - Teori Viscions Circle of Investment

Miskin

Produktifitas rendah Tabungan rendah

Modal kurang

Berdasar Kriteria Jangkauan dan Daya Eksplanasi
1. Middle Range
→Supaya relevan dengan kebutuhan membuat
kebijaksanaan.
→Memuat jumlah variabel independent yang lebih banyak
sehingga lebih menjanjikan ketepatan deskripsi.
2. Grand Theory
→Penyederhanaan fenomena secara berlebihan.
Ilmu : memiliki kemampuan untuk menjelaskan apa yang
terjadi di dunia dan meramalkan kemungkinan
terjadinya di masa yang akan datang.
A. Pengertian Eksplanasi
e Eksplanasi (penjelasan) adalah upaya menjawab
pertanyaan “mengapa?”
e Eksplanasi harus bisa diuji, merujuk kepada
sesuatu yang empiris
B. Format Dasar Eksplanasi
1. Eksplanasi Nomologis
© Nomos (Yunani) = law (Inggris)
© Memasyarakatkan adanya serangkaian generalisasi atau
hukum (covering-laws)
Dua bentuk eksplanasi nomologis :
a. Eksplanasi Deduktif
Merupakan tipe eksplanasi yang paling meyakinkan
Terdiri dari eksplanandum (hal yang hendak
dijelaskan) dan eksplanan (premis : yang menjelaskan
eksplanandum)
Eksplanan terdiri dari serangkaian generalisasi
universal (covering laws) dan kondisi awal
Penerapannya dalam ilmu sosial terbatas
b. Eksplanasi Statistik-probabilitas/induktif
Eksplanannya membuat generalisasi statistik
Eksplanandum ditarik dari eksplanan berdasar
probabilitas
Bisa berbentuk silogisme statistik
Satu kejadian negatif tidak bisa menyalahkan
eksplanasi
Jenis eksplanasi berdasar tingkat kesempurnaannya
Generalisasi dan
kondisi awal
Dijabarkan
semuanya
Dijabarkan
sebagian
Diketahui
Semuanya
Eksplanasi
sempurna
Eksplanasi
Eliptis
Diketahui
sebagian
Eksplanasi
parsial
Sketsa
Eksplanasi
2. Eksplanasi Alternatif
→ sebenarnya merupakan varian dari model nomologis
a. Eksplanasi Rasional
Asumsi bahwa perilaku manusia bersifat rasional
(yaitu diarahkan untuk memaksimalkan pencapaian
tujuan, berdasar pertimbangannya dengan kenyataan
dunia) → efisiensi dan efektifitas
Tidak menyatakan generalisasinya secara eksplisit,
tetapi bukan berarti tidak bisa dimunculkan
b. Eksplanasi Intensional
Disebut juga dengan eksplanasi purposif, teleologis,
motivasional
Terkandung rujukan pada tujuan atau maksud tindakan
c. Eksplanasi Disposisional
Disposisis adalah kecenderungan untuk menanggapi
situasi tertentu dengan cara tertentu
Menggunakan konsep-konsep disposisional : sikap,
opini, keyakinan, sifat-sifat kepribadian seseorang
Tidak menyinggung masalah motif yang disadari
Ketiga model ini, dalam menjelaskan
eksplanandum merujuk pada karakter manusia
d. Eksplanasi Makro
Variabel independennya adalah konsep institusional
(sistem) atau lingkungan fisik
e. Eksplanasi Fungsional
Dipakai untuk menjelaskan setiap sistem (fungsional =
bantu pemeliharaan sistem)
Menganalisa hubungan suatu tindakan dengan tindakan
lain
Fungsi bisa bersifat nyata dan laten
f. Eksplanasi Genetik (eksplanasi historis)
Menempatkan suatu kejadian sebagai hasil akhir dari
suatu perkembangan
Sekedar catatan sejarah tidak selalu berisi eksplanasi
→ perlu dirumuskan generalisasi yang eksplisit dan
spesifik
C. Kombinasi Pola-pola Eksplanasi
1. Menggabungkan beberapa variabel independen
2. Menyususn beberapa variabel dalam rentetan
hubungan kausal
3. Pengaturan beberapa variabel secara lebih rumit
(melibatkan umpan balik)
Kesimpulan
Ilmuwan politik jarang sekali menemukan eksplanasi
yang bagus, yang hanya menggunakan satu faktor
penyebab
PREDIKSI DAN KONTROL
Makna Prediksi
Prediksi → jawaban terhadap pertanyaan “apa yang
akan terjadi?”
Kegunaan Prediksi :
1. Kegunaan akademis ; menjadi ukuran kasar
perkembangan saintifik suatu disiplin
2. Kegunaan praktis ; prediksi yang tepat dan
credible akan menjadi panduan bagi pembuatan
kebijakan (proses kontrol, yaitu pengaruhi
jalannya peristiwa)
Prediksi dan Eksplanasi
Prediksi identik dengan eksplanasi dalam
strukturnya
Perbedaannya pada apa yang dicari, eksplanannya
atau eksplanandumnya
Kadang-kadang hubungan eksplanasi dan prediksi
tidak berjalan seiring ( bisa eksplanasi tidak bisa
prediksi / bisa prediksi tidaka bisa eksplanasi )
Prediksi Tanpa Teori
Prediksi yang meyakinkan memerlukan teori yang
deduktif-nomologis
Menurut David Edwards, manusia mempunyai bermacam-
macam sarana untuk memprediksi tanpa tuntunan teori
Dalam mengembangkan teorisasi HI, ada beberapa metode
meramal tanpa teori yang bisa dipakai
1. Analogi, yaitu membandingkan kasus-kasus dan kondisi-
kondisi di masa lalu dan sekarang, kemudian melakukan
penalaran masa yang akan datang
2. Korelasi, mencari korelasi antara suatu kejadian dengan
kejadian yang lain
3. Proyeksi, berasal dari kecenderungan melihat masa depan
sebagai kelanjutan masa kini
4. Penemuan (invention), kegiatan awalnya adalah
menyusun skenario

Prediksi dan Kontrol
Supaya prediksi memiliki kemampuan kontrol,
maka harus dikembangkan teori yang relevan ( yaitu
menemukan keteraturan / order )
Setiap kebijakan mengandung unsur ketidakpastian
dan resiko ( konsekuensi / akibat )
Semua tidakan didasarkan pada sekumpulan nilai

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->