Anda di halaman 1dari 15

UNSUR INTRINSIK Unsur Inrinsik adalah unsur yang terkandung dalam karya sastra yang membangun keutuhan cerita,

sepereti alur, penokohan, setting, dan tema.

1.Tema Tema adalah gagasan atau ide dasar yang melandasai suatu karya sastra. Dalam sebuah novel terdapat dua tema, yaitu tema mayor dan tema minor. Tema mayor adalah tema yang merupakan pusat pikiran sebuah cerita/karya sastra. Jadi tema yang terdapat dalam novel bukan pasar malam yaitu perjalanan seorang anak revolusi dimana hidup bukanlah sebuah pasar malam. Perjalanan seorang anak yang sempat dipenjara oleh Belanda dan perjalanan ayahnya yang lebih memilih membaktikan dirinya kepada republik dan menjadi seorang guru selama hamper 30 tahun. Melalui buku ini tokoh aku mengkritik kekerdilan diri sendiri, tapi juga menunjuk muka para jenderal atau pembesar-pembesar negeri pascakemerdekaan yang hanya asyik mengurus dan memperkaya diri. Tema minor adalah tema yang dilihat dari sudut pandang yang lain, sehingga sebuah tema mayor terdapat beberapa tema minor. Tema minor dalam roman ini adalah nasionalisme. Hal ini dapat dilihat dari tokoh ayah disini, ia adalah seorang yang kerap kali keluar-masuk penjara saat pendudukan merah pada masa PKI. Dia memiliki seorang anak yang juga menjadi seorang pejuang revolusi yang kerap kali ditawan oleh Belanda hingga harus berpisah dengan ayah dan anggota keluarga yang lain selama lima tahun lamanya. Saat ia berpulang, ia harus mendapati kenyataan pahit akan keadaan ayahnya yang sakit keras karena terjangkit TBC. Juga rumah yang sudah lima tahun lamanya ia tinggalkan, keadaannya sudah jauh dari kelayakan. Tema minor berikutnya adalah kesenjangan social dimana dalam roman ini banyak menyinggung masalah timbulnya kelas-kelas sosial dalam masyarakat pasca kemerdekaan. Dengan banyaknya para pejabat-pejabat dan para jendral yang berlombalamba memperkaya diri mereka sendiri. Hal itu pulalah konon yang membuat sang ayah kecewa. Kecewa pada orang-orang yang pernah ia tolong pada masa perjuangan, namun satelah kemerdekaan telah didapatkan, mereka bukannya berpikir untuk kepentingan bangsa selanjutnya, malah berlomba-lomba memperkaya diri sendiri. Namun

kekecewaannya itu hanya dipendamnya saja, hingga penyakit TBC itu menggerogotinya dan merenggut nyawanya. 2. Alur Alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa, sehingga membentuk cerita yang dihadirkan oleh para pelakunya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa alur merupakan tumpuan ide dan motif yang disalurkan dari peristiwa dan perwatakan dalam prosa fiksi. Adapun alur yang terdapat dalam novel bukan pasar malam adalah alur maju dan kilas balik dimana diceritakan seorang tokoh aku setelah keluar dari penjara akibat terlibat gerakan revolusi Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) dan merasa terpukul setelah mendapatkan surat dari pamannya bahwa ayahnya sakit TBC kemudian ia bersama istrinya menuju Blora dimana ia mulai mengingat segala kenangan masa kecilnya, jalan-jalan yang dilalui, serta rumahnya yang kini telah rusak. Keadaan ayah yang semakin memburuk menimbulkan penyesalan yang mendalam bagi tokoh aku karena surat pedas yang dahulu dikirimnya serta rasa takut akan kehilangan ayahnya. Alur dalam roman ini di mulai dari tahap eksposisi atau pengantar cerita ketika tokoh aku menyesali atas surat pedas yang ia kirimkan kepada ayahnya ketika ia berada di penjara serta surat balasan dari ayahnya yang membuatnya begitu menyesal serta merasa bersalah. Tahap komplikasi/pemunculan konflik yakni saat tokoh aku mendapatkan surat dari pamannya yang memintanya pulang untuk menjenguk ayahnya yang sedang sakit tbc. Tokoh aku terkejut dan merasa bersalah karena surat yang sempat ia kirimkan. Ia pun tidak mempunyai cukup uang untuk pulang sehingga terpaksa harus menagih hutang ke teman-temannya. Ketika tokoh aku telah sampai di Blora dan melihat keadaan ayahnya yang semakin kurus dan tampak seperti sebilah papan yang sangat berbeda dengan keadaanya ketika berjuang membela republik, bahkan ayahnya juga mengalami batuk darah selama empat kali. Serta keadaan ayah yang semakin memburuk karena ia tidak dapat dirawat di sanatorium karena tidak memiliki cukup uang sehingga terpaksa harus dirawat di rumah sakit biasa, keadaan uang tokoh aku yang semakin memburuk. Tahap klimaks/puncak dapat dilihat ketika tokoh ayah meninggal dan tokoh aku

serta adik-adiknya menangis disertai datangnya tetangga yang banyak untuk melawat. Tahap resolusi adalah ketika banyak tetangga yang datang menghibur serta membicarakan segala kebaikan serta kehebatan tokoh ayah. Dimana tokoh Aku bersama adik-adiknya akan melanjutkan kehidupan mereka sepeninggal ayah mereka. Seperti dilihat kutipan ini : Nah, Tuan, hari sudah malam. Hanya pesanku jangan dilupakan, kerapkeraplah menyekar ke kuburan ayah Tuan. (Pram,1951:103)

3.Latar/Setting Setting adalah latar peristiwa dalam karya fiksi, baik berupa tempat, waktu, maupun peristiwa. Menurut batasan tersebut, setting dibedakan menjadi setting tempat, setting waktu, dan setting suasana Di mana, kapan, dan bagaimana tokoh berada dalam cerita, maka disitulah peran setting teridentifikasi. Selain memberi informasi tentang situasi ruang dan waktu, setting juga berfungsi sebagai proyeksi keadaan batin para tokoh dalam cerita. a. Latar Tempat Latar tempat mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Blora : Kita sampai di Blora sekarnag (Pram,1951:22) Semarang: Kereta jalan terus. Jalan terus. Jalan terusSemarang. Kami menginap di hotel. Dan hotel itu bukan main kotornya. (Pram,1951:19) Rumah Sakit : Sore itu aku menengok ke rumah sakit dengan istriku dan kedua adikku. (Pram,1951:30) Rumah (blora) : Kala aku masuk ke dalam rumah, kepalaku tersenggol pada palang atap. (Pram,1951:23) Stasiun Kereta Api : Subuh-subuh kami telah pergi ke stasiun. Antre beli karcis. (Pram,1951:20) b. Latar Waktu Latar waktu berhubungan dengan masalah kapan terjadinya peristiwa- peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Pagi/Subuh : Subuh-subuh kami telah pergi ke stasiun. (Pram,1951:20)

Siang : Waktu itu baru jam setengah satu siang. (Pram,1951:16) Sore : Sore itu aku menengok ke rumah sakit dengan istriku dan kedua adikku.(Pram,1951:56) Malam : Malam itu adikku yang ketujuh masih juga menangis.(Pram,1951:37) c. Latar Suasana Latar suasana pada novel tersebut mengharukan. Dalam kalimatnya: Kemarin dan kemarin dulu bapak tersenyum saja banyak senyumnya. Tapi tadi tadi dan tadi pagi ayah tak tersenyum lagi. Suaranya sudah menajdi rendah dan hamper tak kedengaran. (Pram,1951:25). Kutipan ini menggambarkan perubahan keadaan bapak menjadi tidak bertenaga lagi sehingga membuat adik-adiknya merasakan perubahan dan membuatnya sedih. Suasana tegang dan bingung yang dirasakan tokoh aku setelah mendapat surat dari pamannya bahwa ayahnya jath sakit dan kenyataan bahwa ia tidak mempunyai uang untuk pulang ke Blora. Dapat dilihat dari kutipan berikut ini: Mula-mula aku terkejut mendengar berita itu. Sesak di dada. Kegugupan datang menyusul. Dalam kepalaku terbayang: ayah. Kemudian: uang. Dari mana aku dapat uang untuk ongkos pergi? Dan ini membuat aku mengeliling kota Jakarta mencari kawan-kawandan hutang. (Pram,1951:8) Suasana sedih yang dirasakan tokoh aku serta adik-adiknya setelah kepergian ayahnya. Ketika tokoh aku dan adik-adiknya menangis. Aku menitikkan airmata lagi. Dan adik-adikku menitikkan airmata lagi. Kemudian, perlahan-lahan kami menginggalkan kuburan di mana tonggak mencongak-congak. (Pram,1951:99)

4. Sudut Pandang Sudut pandang pada novel tersebut yaitu orang pertama/akuan, dimana pengarang sering menggunakan kata-kata aku dan menceritakan pengalaman hidupnya dari ketika tokoh aku dipenjara hingga mendengar kabar bahwa ayahnya jatuh sakit dan penyesalan atas surat yang ia terima serta ketika ia menemani ayahnya ketika sakit bersama adik-adiknya dan mengenang masa lalunya ketika di Blora. Dalam kalimatnya:

Sesungguhnya surat itu takkan begitu menyayat hatiku, kalau saja aku tak mengirim surat yang berisi sesuatu yang tak enak untuk dibaca. (Pram,1951:7)

5. Penokohan Aku

Aku (tokoh utama) adalah tokoh protagonis yang memegang peranan penting dalam cerita dimana digambarkan pengarang sebagai pembawa cerita mulai dari ketika ia dipenjara dan mengetahui bahwa ayahnya adalah seorang pejuang yang membaktikan dirinya pada jaman penjajahan Belanda sebagai seorang guru hingga saat ia mendampingi ayahnya ketika sakit. Tokoh aku juga digambarkan sebagai tokoh yang tidak memiliki banyak harta dan tidak mempunyai cukup uang untuk kembali ke Blora dan menjenguk ayahnya yang sedang sakit. Tokoh aku merasa kecewa terhadap kehidupan, kekecewaan terhadap sistem pemerintahan yang lebih mengutamakan kepentingan para pemimpin daripada kepentingan rakyatnya. Dia harus menghadapi kondisi dimana dia harus melawan gejolak hati karena rasa ketidakadilan yang didapatnya. Reak kering, tahi kuda, hancuran ban mobil, hancuran ban sepeda membuat dia memaki kepada dirinya sendiri. Tokoh Aku sebagai protagonis sangat mendukung penafsiran, bahwa Bukan Pasar Malam menggambarkan kesedihan dan penyesalan seorang anak yang telah jauh lari dari orang tuanya (tokoh Bapak). Jauh lari di sini mempunyai banyak makna, meliputi lari secara fisik dan lari secara moral. Secara fisik, tokoh Aku tinggal berjauhan dari orang tuanya. Tokoh Aku sudah lama tinggal di Jakarta, hampir 25 tahun dan selama itu tidak pernah pulang kampung. Sementara, ayahnya (tokoh Bapak) bersama dengan kakak dan adiknya tinggal di Blora, kampung halaman mereka. Secara moral, tokoh Aku berseberangan dengan ayahnya (tokoh Bapak). Mereka berbeda paham, terutama dalam hal agama dan ideologi. Tokoh Bapak (ayah) adalah seorang Islam dan anak seorang ulama, tetapi mengabdikan diri sebagai seorang pendidik (nasionalis). Sementara, tokoh Aku tidak mengaku sebagai seorang Islam dan cenderung melawan pasukan merah(pki) Tokoh aku sebagai seorang kakak tertua memiliki kedekatan dengan adikadiknya. Dia menjadi tempat berkeluh-kesah bagi semua adikknya. Rasa hormat sang

adik pun tetap ada untuk sang kakak. Tokoh aku mempunyai watak perasa yang digambarkan oleh penulis secara analitik(langsung) dimana pengarang langsung menjelaskan watak dirinya. Aku mengeluh. Hatiku tersayat. Aku memang perasa. Dan keluargaku pun terdiri dari mahluk-mahluk perasa.(Pram,1951:15) Tokoh aku juga mempunyai watak menghormati bapaknya. Hal ini dilihat ketika adiknya pergi mendahului keluar kamar dan ia menyuruhnya untuk minta permisi dulu pada ayahnya. Watak lainnya adalah tokoh aku mempunyai tekad yang kuat yang digambarkan secara dramatik melalui dialog anat tokoh. Terlihat ketika tetangganya menyinggung mengenai rumah dan sumur milik keluarga tokoh aku yang rusak dan sudah tidak layak dan tokoh aku bertekad untuk memperbaikinya. Hal ini dapat kita lihat dari kutipan berikut ini Pakrumah itu akan kuperbaiki Ia berseri-seri seakan-akan rumah itu termasuk dalam kepentingan hidupnya. (Pram,1951:45) Tokoh aku juga mempunyai watak menghibur dan menasehati ketika ia mengibur adiknya yang bercerita kepadanya mengenai kerasnya kehidupannya selama sang kakak tidak ada di rumah serta ketika ayahnya meninggal. Tokoh aku selalu bisa menguatkan hati adik-adiknya yang sedih maupun yang dibakar rasa emosi atas sesuatu, meskipun dia sendiri merasakan perasaan yang sama dengan adikknya (hal 69). Bukankah semua itu sudah terjadi, Adikku? Dan semua yang sudah terjadi tidak bisa diulangi lagi. Tapi aku tak rela, Mas. Aku tak rela. Engkau harus merelakan semua hal yang sudah terjadi, Adikku, kataku. (Pram,1951:69)

Istri Istri dari aku mempunyai watak agak cerewet dan seringkali meminta pulang dari Blora karena kondisi keuangan yang tidak memungkinkan sehingga menambah beban pikiran tokoh aku serta kurang mengerti situasi saat itu. Watak tokoh istri ini digambarkan secara dramatik melalui dialog antar tokoh.

Dalam kalimatnya: Jangan terlalu lama di Blora, kata istriku. Kupandangi istriku itu. Aku rasai keningku jadi tebal oleh kerut-mirut. Dan aku menjawab pendek: Kita melihat keadaan dulu. Sebentar bayangan kenangan pada ayah hilang. Barang kali kalau terlalu lama, aku terpaksa pulang dahulu.(Pram,1951:14) Lebih baik kita pulang dulu. Engkau harus ingat pada keuangan kita (Pram,1951:82) Sang istri kurang mengerti situasi ayah tokoh aku yang sedang sakit serta tidak membuat tokoh aku semakin pusing.

Ayah Ayah adalah tokoh yang memiliki peranan penting dalam roman ini. Tokoh ayah bersama dengan kakak dan adiknya tinggal di Blora, kampung halaman mereka.. Tokoh Bapak (ayah) adalah seorang Islam dan anak seorang ulama, tetapi mengabdikan diri sebagai seorang pendidik (nasionalis). Keadaan ayah setelah sakit membawa sebagian alur dalam roman ini, dimana ayah digambarkan sebagai seorang tokoh yang mempunyai nasionalis yang tinggi. Tokoh ayah yang disini digambarkan seorang guru yang digaji oleh Belanda sebagai pengawas sekolah. Meski digaji Belanda, bukan berarti ia harus mengabdi sepenuhnya pada Belanda. Karena dibalik itu semua, dengan jiwa Nasionalismenya ia memendam cita- cita yang mulia untuk bangsa Indonesia. Biarlah itu Belanda yang menggaji, asalkan anak-anak negeriku dapat mengenyam pendidikan, dapat menjadi generasi yang berguna bagi bangsanya. Itulah cita-cita mulia sang ayah untuk negerinya. Tokoh ayah juga digambarkan mempunyai watak keras dan teguh pada pendirian, hal ini dapat dilihat bahwa walaupun ia seorang anak ulama tapi ia tak mau menajadi ketib tetapi ia mau menjadi seorang nasionalis. Watak tokoh ini digambarkan secara dramatik melalui percakapan dengan tokoh lain. Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut : Watak bapak juga digambarkan sebagai seorang yang begitu kuat karena telah membaktikan dirinya selama 30 tahun untuk menjadi seorang guru.

Gembira paman menjawabkan: Tigapuluh tahun Alangkah kuatnya. Aku yang baru dinas delapan belas tahun rasa-rasanya sudah tak kuat lagi. (Pram,1951:52) Kawan kita telah meninggal. Aku pikir, kita sekarang kehilangan orang kuat dalam perjuangan daerah kita.(Pram,1951:96)

Tokoh ayah (tokoh Bapak) sangat menginginkan anaknya kembali, baik secara fisik maupun secara moral. Keadaan itu dapat dilihat pada bagian awal cerita, yaitu dari isi surat tokoh Bapak yang diterima oleh tokoh Aku. Tokoh Bapak sangat mengharapkan anaknya kembali, seperti kutipan ini: Di dunia ini tak ada suatu kegirangan yang lebih besar daripada kegirangan seorang bapak yang mendapatkan anaknya kembali, anaknya yang tertua, pembawa kebesaran dan kemegahan bapak..(Pram,1951:7) Isi surat itu dan surat yang dikirimkan pamannya kemudian yang memberitahukan keadaan ayahnya yang sedang sakit parah, membuat tokoh Aku merasa sedih dan menyesal sekali. Watak Bapak juga kuat serta pasrah kepada Allahnya dalam menghadapi penyakit TBC yang dideritanya. Ketika ia merasa maut hendak menjemputnya, ia merelakan dirinya dan berpasrah kepada Tuhan. Watak tokoh ini digambarkan secara dramatic oleh pengarang melalui percakapan monolog tokoh. Ayah meneruskan: Aku bilang, ambillah aku dari rumahsakit ini cepatcepat(Pram,1951:76) Pada pihak lain, tokoh Bapak sebagai tokoh protagonis kedua yang diceritakan oleh tokoh Aku, menggambarkan ironi seorang pejuang, ironi seorang nasionalis. Ironi yang dimaksudkan di sini adalah suatu keadaan atau situasi yang dialami oleh seseorang yang bertentangan atau berlawanan dengan keadaan yang semestinya dialaminya. Semestinya, seorang pejuang, seorang pendidik, seorang nasionalis, akan memperoleh perlakuan terhormat dan kedudukan yang lebih baik, baik secara materi maupun kepangkatan, dalam masyarakat dan pemerintahan. Hal itulah yang seharusnya dialami oleh tokoh Bapak, setelah kemerdekaan dicapai. Namun, kenyataannya, tokoh Aku sebagai seorang pejuang (nasioanalis) telah membuat dia dan keluarganya menderita. Keluarganya tetap miskin, tinggal di rumah

yang hampir runtuh. Dia menderita sakit tbc, tetapi tidak mendapat perawatan yang layak, karena tidak mempunyai cukup uang untuk berobat di sanatorium. Ia telah mengorbankan keluarganya demi memperjuangkan bangsanya. Akan tetapi, apa yang dia peroleh ketika bangsa itu telah merdeka. Tidak ada, kecuali hanya kekecewaan, yang kemudian menyebabkan dia akhirnya menderita penyakit tbc. Adakah pemerintah atau teman-teman seperjuangannya dulu memperhatikannya. Tidak ada, tidak seorang pun, sampai akhirnya dia meninggal. Di situlah, ironisnya hidup yang dialami oleh tokoh bapak, seorang pejuang (nasionalis).

6. Gaya Bahasa Gaya bahasa adalah adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis. Gaya bahasa dalam roman ini juga masih sering menggunakan ejaan-ejaan lama dan beberapa kata-kata asing yang dicetak miring seperti tilpun, perlop, sep-sep, menabiri, doklonyo, kedekut, antre. Gaya bahasa yang terdapat pada novel bukan pasar malam adalah: Majas personifikasi Angin menderu-deru di luar. Dan bila angin itu mati terdengar percakapan orangorang jaga malam di gardu. (Pram,1951:60) Juga setelah ayah lenyap ke dalam pelukan bumibelum juga aku bangun dari tindasan haruan.(Pram,1951:98) Kalimat ini menunjukan bahwa angin seolah-olah dapat bergerak menderu-deru padahal angina adalah benda mati sedangkan kalimat kedua menunjukan bahwa bumi seolah-olah dapat menelan dan melenyapkan manusia dimana di kalimat ini bumi seolaholah hidup. Kedua kalimat ini menunjukan majas personifikasi. Majas metonimia Bangka-bangkai pantserwagen, brencarrier, truk, bergelimpangan di ladangladang dan di pinggir jalan raya. (Pram,1951:13) Majas metonimia adalah pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda

lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut. Pantserwagen dan brencarrier adalah merk mobil/truk yang digunakan sewaktu perang, kalimat ini menunjukan penggunaan majas metonimia.

7. Amanat Amanat adalah adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca. Amanat dalam cerita bisa berupa nasihat, anjuran, atau larangan untuk melakukan/tidak melakukan sesuatu. Yang jelas, amanat dalam sebuah cerita pasti bersifat positif. Amanat dari novel bukan pasar malam yaitu: Seorang takkan bisa kuat bila ingin melawan kematian. Hidup orang ditentukan oleh takdir. Walaupun dulu ia begitu kuat sebagaimana digambarkan oleh sosok ayah yang dahulu terus menerus berjuang melawan Belanda kemudian jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Situasi ini digambarkan bagaimana kesehatan ayah yang semakin buruk karena tidak dapat dirawat di sanatorium. Perjuangan bukanlah sebuah formalitas karena ada beberapa penyesalan tokoh aku dalam novel ini dimana ia menyesali ayahnya yang tidak mau menjadi perwakilan rakyat. Bagaimana tokoh ayah ketika mau menghadapi maut kurang mendapat perhatian dan jasanya selama membaktikan diri selama menjadi guru seakan tidak ada yang mengingat dan bahkan ia tidak dapat dirawat di sanatorium karena tidak memiliki uang. Segala jasanya baru dikenang keitka ia telah tiada. Sistem demokrasi memang indah karena semua hak rakyat terjamin selama tidak keluar dari jalur hukum. Semua orang dapat menikmati apapun, dengan syarat memiliki alat yang dapat mencapai kenikmatan tersebut, yaitu uang. Tanpa uang, semua lumpuh. Hal inilah yang dikritik oleh tokoh Aku sehingga membuatnya masuk ke barisan Pesindo untuk melakukan gerakan revolusi sebagai amanat 17 Agustus 1945 bahwa kemerdekaan Indonesia belum berarti kemakmuran. Karena kesenjangan sosial dan kelas-kelas inilah tokoh aku menceritakan dampak yang ia dapatkan karena kurang mendapat tempat dalam masyarakat. Kita juga dapat mengerti bahwa hidup bukanlah sebuah pasar malam dimana seorang demi seorang datang (lahir) dan seorang demi seorang pergi (mati) dan kita tidak bersama-sama lahir dan bersama-sama mati. Seperti dialog orang Tionghoa dan para

tetangga yang datang melayat saat Ayah meninggal. Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyunduyun pula kembali pulang seperti dunia dalam pasar malam. Seorang-seorang mereka datang dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah kemana.(Pram,1951:103,104)

C.

UNSUR EKSTRINSIK Unsur ekstrinsik adalah unsur yang berada diluar karya sastra dan turut mewarnai

cerita, seperti biografi pengarang, keadaan zaman pada saat karya sastra diciptakan, sosial, budaya, dan politik.

1.

Nilai agama Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar.. Kata yang diucapkan oleh tokoh

aku ketika bapaknya meninggal. Hal ini dilakukan tokoh aku karena ia mengingat bahwa ayahnya adalah ayah orang Islam. Sehingga ia mengucapkan doa dan memanggil Tuhan. 2. Nilai ekonomi Air dikota kami yang kecil itu tebal oleh lumpur. Pembagian air ledeng di sini tak boleh diharapkan. Barang kali air mandi yang tebal inilah yang membuat penduduk kota kecil ini berbeda dengan penduduk kota besar yang mempunyai pembagian air ledeng dengan teratur, bening, dan baik. (Pram,1951:42) Keadaan rumah tokoh aku yang rusak serta pembagian air yang berbeda dengan kota besar berpengaruh terhadap jalannya cerita ini dimana nilai ekonomi berpengaruh terhadap keadaan tokoh aku dan keluarganya sehingga sang ayah tidak dapat dirawat di sanatorium.

3.

Nilai Budaya Perbedaan tempat asal antara tokoh akudan istrinya dimana tokoh Aku

berasal dari Jawa Barat dan istrinya berasal dari daerah Pasundan, Jawa Tengah.

Sehingga tokoh ayah sempat mengingatkan anaknya untuk berhati-hati terhadap ucapannya agar tidak menyinggung persaannya. Karena itu, Anakku, perhatikanlah ucapan dan gerak-gerikmu sendiri, jangan sampaijangan sampaiya, jangan sampai menyinggung--menyinggung menyinggung perasaannya. (Pram,1951:47)

Sebagaimana biasanya jika di tempat tersebut terdengar orang sakit keras maka para tetangga akan beramai-ramai datang menjenguknya. Ketika ayahnya dirawat di rumah sakit terdapat kebiasaan bahwa yang boleh mengunjunginya hanya pihak keluarga dan pihak lain tidak diperbolehkan berkunjung. Selain itu ada juga yang memberlakukan adat bahwa anak-anak tidak boleh ikut berbicara ketika hal yang dibicarakan menyangkut masalah orang dewasa.

4. Nilai adat Nilai adat yang masih berlaku di daerah-daerah kecil seperti Blora dimana dapat dilihat ketika paman dan bibi datang ke rumah dan tokoh aku sedang berbicara dengan adik-adiknya membicarakan mengenai Jakarta dan Semarang. Dimana sudah menjadi adat, adik-adiknya segera pergi ke belakang dan belajar. Di waktu itu jugalah paman datang dan bibi. Dan karena sudah diadatkan di kampung kami bahwa anak-anak tak boleh turut bercakap-caka dengan orang-orang dewasa, mereka pergi ke ruang belakang dan belajar. (Pram,1951:38)

5.Nilai sosial Nilai sosial yaitu nilai-nilai yang berkenaan dengan tata pergaulan antara individu dalam masyarakat. Tapi tangis kami disaput oleh kedatangan para tetangga yang lebih banyak lagi dan sebentar kemudiansebentar kemudian, rumah kami telah penuh

oleh pelawat. Dan kami merupakan pulau dikelilingi para pelawat itu. (Pram,1951:91)

Nilai sosial yang terdapat dalam penggalan cerita di atas adalah masyarakat yang dengan suka rela menjenguk orang yang kemalangan dan menghibur serta membantu mempersiapkan pemakaman.

4.

Biografi Pengarang Pramoedya dilahirkan di Blora, di jantung Pulau Jawa, pada 1925 sebagai anak

sulung dalam keluarganya. Ayahnya ialah guru dan ibunya ialah pedagang nasi. Ia meneruskan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya dan bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia. Pada masa kemerdekaan Indonesia, ia mengikuti kelompok militer di Jawa dan seringkali ditempatkan di Jakarta di akhir perang kemerdekaan. Ia menulis cerpen dan buku sepanjang karir militernya dan dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1949. Pada 1950-an ia sanggup tinggal di Belanda sebagai bagian program pertukaran budaya, dan saat kembalinya ia menjadi anggota Lekra, organisasi sayap kiri di Indonesia. Gaya penulisannya berubah selama masa itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam karyanya Korupsi, fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi. Ini menciptakan friksi antara dia dan pemerintahan Soekarno.

Hoakiau di Indonesia Selama masa itu, ia mulai mempelajari penyiksaan terhadap Tionghoa Indonesia, dan pada saat yang sama mulai berhubungan erat dengan para penulis di China. Khususnya, ia menerbitkan rangkaian surat menyurat dengan penulis Tionghoa yang membicarakan sejarah Tionghoa di Indonesia, berjudul Hoakiau di Indonesia. Ia merupakan kritikus yang tak mengacuhkan pemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan keinginan dari daerah lain di Indonesia, dan secara terkenal mengusulkan bahwa mesti dipindahkan ke luar Jawa. Pada 1960-an ia ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-Komunis Chinanya. Bukunya dilarang dari peredaran, dan ia ditahan

tanpa pengadilan di Nusakambangan di lepas pantai Jawa, dan akhirnya di pulau-pulau di sebeluah timur Indonesia. Selain pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa tanpa proses pengadilan: 13 Oktober 1965 - Juli 1969, Juli 1969 - 16 Agustus 1969 di Pulau Nusakambangan, Agustus 1969 - 12 November 1979 di Pulau Buru, November 21 Desember 1979 di Magelang . Ia dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru, namun tetap mengatur untuk menulis serial karya terkenalnya yang berjudul Bumi Manusia, serial 4 kronik novel semi-fiksi sejarah Indonesia. Tokoh utamanaya Minke, bangsawan kecil Jawa, dicerminkan pada pengalamannya sendiri. Jilid pertamanya dibawakan secara oral pada para kawan sepenjaranya, dan sisanya diselundupkan ke luar negeri untuk dikoleksi pengarang Australia dan kemudian diterbitkan dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Pramoedya dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapatkan surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat G30S, tapi masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992, serta tahanan kota dan tahanan negara hingga 1999, dan juga wajib lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun. Selama masa itu ia menulis Gadis Pantai, novel semi-fiksi lainnya berdasarkan pengalaman neneknya sendiri. Ia juga menulis Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995), otobiografi berdasarkan tulisan yang ditulisnya untuk putrinya namun tak diizinkan untuk dikirimkan, dan Arus Balik (1995).

2.

Nilai ekonomi Air dikota kami yang kecil itu tebal oleh lumpur. Pembagian air ledeng di sini

tak boleh diharapkan. Barang kali air mandi yang tebal inilah yang membuat penduduk kota kecil ini berbeda dengan penduduk kota besar yang mempunyai pembagian air ledeng dengan teratur, bening, dan baik. (Pram,1951:42) Keadaan rumah tokoh aku yang rusak serta pembagian air yang berbeda dengan kota besar berpengaruh terhadap jalannya cerita ini dimana nilai ekonomi berpengaruh terhadap keadaan tokoh aku dan keluarganya sehingga sang ayah tidak dapat dirawat di sanatorium.