Anda di halaman 1dari 11

RENOVASCULAR HYPERTENSION

Fungsi utama dari sistem renin-angiotensin adalah mengatur tekanan darah sistemik peningkatan kontraksi pembuluh darah & retensi sodium dan air GFR dihambat oleh peningkatan tekanan hidrostatik pembuluh kapiler glomerulus tonus arteriol eferen atau penurunan tonus arteriol aferen akan meningkatkan tekanan hidrostatik pembuluh kapiler serta GFR

Sel juxtaglomerulus renin angiotensinogen angiotensin I angiotensin II oleh bantuan angiotensinconverting enzyme (ACE)

Efek angiotensin II
terhadap tekanan darah sistemik adalah meningkatkan tonus otot vascular dan menstimulasi sintesis dan sekresi aldosteron dari zona glomerulosa yang berada di korteks adrenal, sehingga meningkatkan reabsorbsi sodium dan air di tubulus renal.

Efek intrarenal dari angiotensin II adalah membantu dalam kompensasi penurunan GFR akibat menurunnya tekanan arteriola aferen dan tekanan hidrostatik kapiler glomerulus. Peningkatan GFR dapat terjadi karena, pertama adanya konstriksi arteriola glomerulus eferen dan kedua meningkatkan reabsorbsi sodim dan air.

Scintigraphy
Prinsip diagnosis renovaskular hipertensi berdasarkan adanya perubahan dari fisiologi ginjal terutama penyebaran ACE inhibitor. Cara px dengan memberikan radiofarmaka 99mTc-DTPA, kemudian setelah itu diintepretasikan dengan melihat uptake & retensi kortikal. Kemudian dibandingkan dengan setelah pemberian ACE inhibitor.

Intepretasi
1. Peningkatan retensi kortikal paling sedikit 15% 2. Penundaan visualisasi pada system eksresi di ginjal paling sedikit 2 menit. 3. Penurunan uptake kortikal minimal 10% 4. Peningkatan waktu puncak minimal 2 menit.

OBSTUKSI TRAKTUS URINARI


Obstuksi pada traktus urinari dapat terjadi secara parsial atau total, dan dapat terjadi di berbagai tempat, terutama di ureteropelvic junction (UPJ), ureterovesical junction (UVJ), dan tempat pengeluaran vesika urinaria. Obstuksi UPJ kronik dapat mengakibatkan atrofi pada korteks ginjal.

OBSTRUKSI URETEROPELVIC JUNCTION


Obstruksi ekstrinsik biasanya diakibatkan oleh sekumpulan benda asing yang datang dari luar ginjal dan menekan ureter bagian atas. Bendabenda asing tersebut dibawa akibat peningkatan diuresis dari aliran darah, yang kemudian menyumbat dan menyebabkan dilatasi dari pelvis renal. Pada pemeriksaan diuretic renogram dapat menjadi negatif apabila diuresis masih adekuat. Obstruksi intrinsik dihubungkan dengan penyempitan lumen segmen atas ureter, akibat pembentukan batu di daerah tersebut.

HYDRONEPHROSIS
Hydronephrosis dapat diakibatkan oleh obstruksi atau keadaan non-obstruksi, seperti vesicouretral refleks, dysmorphism congenital, dan infeksi traktus urinari. Faktor-faktor yang mempengaruhi progresitivitas dan stabilitas hydronephrosis, sebagai berikut:
Daya renggang dan kapasitas pelvis renalis yang menentukan tekanan intrapelvik. Fungsi ginjal yang menentukan aliran urin. Derajat obstruksi.

DIURETIC RENOGRAPHY
Prinsip pemeriksaan ini adalah peningkatan aliran urin setelah pemberian furosemide menyebabkan proses washout yang cepat dari radiotracer pada saluran kemih yang tidak tersumbat, namun apabila terdapat obstruksi akan terjadi penundaan dari proses tersebut. Pemberian furosemide secara intravena dilakukan setelah pasien banyak minum untuk mengisi penuh sistem pelvikalises.

Waktu paruh washout yang normal setelah pemberian diuretik adalah 10 menit, sedangkan waktu 10-20 menit harus dipertimbangkan lagi, dan diatas 20 menit maka sudah abnormal. Aliran urin yang tidak adekuat setelah pemberian diuretik dapat memperpanjang waktu washout. Hal tersebut mungkin berkaitan dengan disfungsi ginjal, dehidrasi, atau pemberian dosis furosemide yang kurang.