Anda di halaman 1dari 6

ABSTRAK Efek dosis tertentu pada spesifik obat akan berbeda pada tiap individu.

Obat yang efektif pada satu orang mungkin tidak mempunyai efek terapi yang sama pada orang lain, mungkin memperlihatkan respon yang berbeda; atau bahkan mungkin terjadi efek samping yang tidak diinginkan bagi orang lain. Pemberian suatu obat dengan dosis yang sama kepada suatu individu pada populasi yang sama belum tentu memberikan efek yang sama, inilah yang disebut variasi biologis individu terhadap obat. Variasi yang trejadi dapat berupa hipereaksi, hiporeaksi, alergi, atau bahkan toksik. Variasi ini dipengaruhi oleh banyak faktor dari pemakai obat tersebut. Untuk mengetahui variasi individu terhadap obat dan pentingnya dalam klinik. Maka dilakukan percobaan mengenai variasi individu terhadap obat. Percobaan dilakukan dengan memberikan Diazepam dengan dosis yang sama yaitu 0,1 mg/ml pada 8 ekor mencit. Obat kita suntikan secara intra peritoneal. Lalu diamkan selama 1 jam dan perhatikan tingkah laku mencit-mencit tersebut. Amati timbulnya ataksia, relaksasi otot, reaksi terhadap rangsang nyeri dan pernafasannya. Kemudian kita catat intensitas pengaruh obat, dan dinyatakan dalam tanda +. Intensitas obat dapat berupa + yaitu untuk pengaruh obat terhadap mencit yang sangat sedikit sampai ++++ yaitu untuk mencit yang mati. Setelah satu jam didapatkan hasil: + untuk 3 ekor mencit, ++ untuk 5 ekor mencit dan untuk +++ dan ++++ tidak ada Kesimpulan dari percobaan ini adalah bahwa pemberian suatu obat dengan cara yang sama pada dosis yang sama dapat memberikan respon yang bervariasi untuk tiap individu pada populasi yang sama. Hal ini disebut variasi individu terhadap obat.

PENDAHULUAN Pemberian obat pada populasi yang sama dan cara pemberian yang sama dapat menimbulkan respon pada tingkat yang berbedabeda pada masing-masing individu. Perbedaan berat badan , tinggi badan, atau sifat-sifat lain dari individu akan memberikan reaksi yang berbeda terhadap pemakaian obat. Bahkan ada individu yang memberikan reaksi yang dinamakan Drug Allergy. Pada percoaban ini digunakan obat Diazepam. Obat ini memberi efek sedatif, hipnotik, dan antikonvulsi. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk melihat adanya variasi individual pada pemberian Diazepam dengan dosis dan cara pemberian yang sama pada mencit , yaitu pada dosis 0,1 mg/ml dan secara intra peritoneal.

TINJAUAN PUSTAKA Variasi individu adalah variasi dalam respon terhadap dosis obat yang sama populasi yang sama. Hubungan antara dosis dan efek digambarkan dalam kurva sigmoid yang memiliki 4 variabel, yaitu potensi, efek maksimal, slope, dan variasi individu. Variasi individu digambarkan dengan garis horizontal dan vertikal. Garis horizintal menunjukkan bahwa untuk menimbulkan efek obat dengan intensitas tertentu pada suatu populasi diperluka rentang dosis sedangkan garis vertikal bahwa pemberian obat dengan dosis tertent pada populasi akan menimbulkan suatu rentang intesitas efek. Faktor-faktor yang mempengaruhi variasi biologis : Dosis yang diberikan (reseo) o Kepatuhan penderita o Kesalahan medikasi Dosis yang diminum o Faktor-faktor farmakokinetik : o Absorpsi (jumlah dan kecepatan) o Distribusi o Biotransformasi o Ekskresi Kadar di tempat kerja obat o Faktor-faktor farmakodinamik : o Interaksi obat-reseptor o Keadaan fungsional o Mekanisme homeostatik Intensitas efek farmakologi (Respons Penderita) Variasi individu dipengaruhi oleh : Usia Jenis kelamin Berat badan Terdapatnya obat lain yang sedang dikonsumsi Penyakit lain yang sedang diderita Faktor genetik Cara pemberian obat Absorpsi Ekskresi Biotransformasi Kecepatan absorpsi Saat pemberian Faktor lingkungan. Bahan kimia atau toksin tertentu, seperti asap rokok

Kondisi Fisiologis

Usia pada neonatus dan prematur terdapat perbedaan respon yang terutama disebabkan oleh belum sempurnanya berbagai fungsi farmakokinetik tubuh, yaitu fungsi biotransformasi hati (terutama glomerulus hidroksilasi) yang kurang, fungs ekskresi ginjal (filtrasi glomerulus dan sekresi tubuh) yang hanya 60-70% dari fungsi ginjal dewasa. Kapasitas ikatan protein plasma (terutama albumn) yang rendah, dan sawar darah otak serta sawar kulit yang belum sempurna. Sedangkan pada usia lanjut, perbedaan respon disebabkan oleh beberapa faktor seperti penurunan fungsi ginjal, perubahan faktorfaktor farmakodinamik, adanya berbagai macam penyakit, dan penggunaan banyak obat sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya interaksi obat. Berat badan penting digunakan untuk menghitung dosisi yang dinyatakan dalam mg/kg. Akan tetapi, perhitungan dosis anak dari dosisi dewsa berdasekan berat badan saja. Seringkali menghasilkan dosis anak yang terlalu kecil karena anak memiliki laju metabolisme yan lebih tinggi sehingga per kg berat badannya membutuhkan dosis yang lebih tinggi daripada orang dewasa (kecuali pada neonatus) Kondisi Patologis Penyakit saluran cerna : mengurangi kecepatan dan atau jumlah obat yang diabsorpsi pada pemberian oral melalui perlambatan pengosongan lambung, percepatan waktu transit dalam saluran cerna. Penyakit kardiovaskular : mengurangi distribusiobat dan alian darah ke hepar dan ginjal untuk eliminasi obat sehingga kadar obat tinggi dalam darah dan menimbulkan efek yang berlebihan atau efek toksik. Penyakit hati : mengurangi metabolisme obat di hati dan sintesis protein plasma sehingga meningkatkan kadar obat, terutama kadar bebasnya dalam darah dan jaringan. Penyakit ginjal : mengurangi ekskresi obat aktif maupun metabolitnya yang aktif melalui ginjal sehingga meningkatkan kadarnya dalam darah dan jaringan, dan menimbulkan respon yang berlebihan atau efek toksik. Reaksi Individu Terhadap Obat o Alergi : reaksi yang tidak diharapkan dalam hubungan dengan imunologi. o Hipereaktif : efek yang timbul berlebihan. Dosis rendah sekali

sudah memberikan efek. o Hiporeaktif : efek baru timbul setelah diberikan dosis yang tinngi sekali o Toleransi : hiporeaktif akibat penggunaan obat bersangkutan sebelumnya. o Idiosinkrasi : efek obat yang aneh (Bizarre), ringan maupun berat, tidak tergantung dosisi dan sangat jarang terjadi. Biasanya dipengaruhi oleh genetik dalam metabolisme obat atau mekanisme imunologik.

HASIL PENGAMATAN PERCOBAAN 5

Tingkat Pengaruh Obat + ++ +++ ++++

Jumlah Mencit 6 11 7 0