Anda di halaman 1dari 99

ISSN 1411-6227 VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

ISSN 1411-6227 VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012 JURNAL SOSIOPUBLIKA, adalah berkala ilmiah yang peduli pada

JURNAL SOSIOPUBLIKA, adalah berkala ilmiah yang peduli pada kajian masalah-masalah sosiologi kemasyarakatan dan keindonesiaan serta dinamika administrasi publik (pelayanan publik) di negeri ini. Terbit dua kali setahun, terbit perdana Oktober 2011. Berkala ilmiah ini diterbitkan oleh Pusat Peneli- tian dan Pengabdian pada Masyarakat (PPPM) STISIP KARTIKA BANGSA, Yogyakarta. Redaksi jur- nal SOSIOPUBLIKA dengan senang hati menanti kiriman karya ilmiah hasil penelitian terbaru maupun artikel ilmiah (gagasan orisinil) dari para akademisi serta praktisi Indonesia yang selaras dengan nafas jurnal SOSIOPUBLIKA di atas.

Tim Pengelola

Penanggung jawab Ketua Penyunting Wakil Ketua Penyunting Penyunting Pelaksana Mitra Bestari

Prof. Dr. Farida Hanum Dr. Erwan Agus Purwanto, MSi Dr. Najib Azka Dr. Dyah Mutiarin Keuangan Nuryanti Pemasaran Purwanto

Drs. Pris Heriwinanto, M.AP Vibriza Juliswara, S.H., S. Sos, M.A Dra. Herliyani Trikoriyanti, M.AP Dra. Sudaru Murti, M.Si

Pengelola IT Desain Lay Out

Sukmono Aji, S.Ag Djoko Supriyanto

Alamat Redaksi

Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (PPPM) STISIP KARTIKA BANGSA, Jl Rejowinangun No. 6 Jogjakarta, telpon. 02744438543

ISSN 1411-6227 VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

ISSN 1411-6227 VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012 Daftar Isi Pengembangan dan Pemanfaatan Ecotourisme sebagai Entitas

Daftar Isi

ISSN 1411-6227 VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012 Daftar Isi Pengembangan dan Pemanfaatan Ecotourisme sebagai Entitas

Pengembangan dan Pemanfaatan Ecotourisme sebagai Entitas Ekonomi Bagi Masyarakat di Selecta Batu Malang Jawa Timur ~ 1 - 11 Vibriza Juliswara

Pengembangan Model Kelembagaan Kerjasama antar Daerah dalam Pembangunan Infrastruktur Perbatasan (Sebagai Upaya Mengatasi Kegagalan Kerjasama Antar Dae- rah Dalam Pembangunan Infrastruktur di Perbatasan) ~ 12 -21 Hendar Klestono

Pemberdayaan Kelembagaan Sistem Penyediaan Air Minum Desa (SPAMDES) di Daerah Istimewa Yogyakarta ~ 22 - 31 Sudaru Murti

Analisis Kebijakan Distribusi Pupuk Bersubsidi ~ 32 - 40 Purnama

Pasar Tradisional Pusat Hubungan Sosial Dalam Tradisi Gameinscaft Dan Kepentin- gan Relasi Penguasa ~ 41 - 50 Mohamad Hayat

Kebijakan Pemda Kabupaten Gunung Kidul dalam Penanggulangan Penyakit De- mam Berdarah Dengue (DBD) ~ 51- 59 Endang Tri Sudaryanti

Pemberdayaan Masyarakat Melalui Institusi Lokal Simpan Pinjam Di Dusun Sindet, Kelurahan Trimulyo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul ~ 60 - 67 Zulianti

Remaja, Sekolah, dan Pergaulan Bebas (Studi di SMTA Berbasis Agama Islam di Kota Purwokerto) ~ 68 - 80 Mintarti dan Nanang Martono Solidaritas Sosial Sebagai Sebuah Orientasi Jati Diri Masyarakat Desa Dalam Mewu- judkan Mekanisme Jaminan Sosial Komunitasnya. ~ 81 - 95 R. Sapto Hadi Priyo Siswanto

KATA PENGANTAR

J urnal sosiopublika didedikasikan sebagai terbitan ilmiah berkala yang diharapkan dapat menjadi ajang pertukaran ide dan gagasan berbasis riset dalam kajian Administrasi Negara dan Sosiologi yang akan memberikan kontribusi positif bagi perkembangan ilmu sosial dan politik pada umumn-

ya. Ia hadir dengan misi membangun tradisi dan iklim akademis untuk kemajuan dan mempertinggi peradaban, harkat dan martabat kemanusiaan. Selain itu jurnal sosiopublika merupakan dua program studi yang ada di STISIP Kartika Bangsa juga mengemban misi mempromosikan kedua bidang tersebut dan sebagai wahana mengaplikasikannya dalam kehidupan masyarakat, sehingga akan terlihat link and match. Kajian-kajian dalam jurnal ini diu- payakan berbasis riset aktual yang secara konstruktif untuk penyelesaian masalah-masalah sosial politik dalam arti luas maupun masalah-masalah pembangunan secara umum. Jurnal Sosiopublika kali ini menyajikan sembilan tulisan dengan tema beragam, antara lain Pengem- bangan dan Pemanfaatan Ecotourisme sebagai Entitas Ekonomi Bagi Masyarakat di Selecta Batu Malang Jawa Timur ; Pengembangan Model Kelembagaan Kerjasama antar Daerah dalam Pembangunan In- frastruktur Perbatasan (Sebagai Upaya Mengatasi Kegagalan Kerjasama Antar Daerah Dalam Pemban- gunan Infrastruktur di Perbatasan) ; Pemberdayaan Kelembagaan Sistem Penyediaan Air Minum Desa (SPAMDES) di Daerah Istimewa Yogyakarta ; Analisis Kebijakan Distribusi Pupuk Bersubsidi ; Pasar Tradisional Pusat Hubungan Sosial Dalam Tradisi Gameinscaft Dan Kepentingan Relasi Penguasa ; Ke- bijakan Pemda Kabupaten Gunung Kidul dalam Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) ; Pemberdayaan Masyarakat Melalui Institusi Lokal Simpan Pinjam Di Dusun Sindet, Kelura- han Trimulyo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul ; Remaja, Sekolah, dan Pergaulan Bebas (Studi di SMTA Berbasis Agama Islam di Kota Purwokerto) ; Solidaritas Sosial Sebagai Sebuah Orientasi Jati Diri Masyarakat Desa Dalam Mewujudkan Mekanisme Jaminan Sosial Komunitasnya. Oleh sebab itu dalam terbitan kedua Sosiopublika artikel-artikel yang disajikan berbagai pandangan dan hasil riset yang tidak saja berbicara pada isu nasional, tetapi juga isu lokal bahkan global. Semua isu dikemas dalam penyajian yang menarik oleh para penulis sebagai upaya untuk menjelaskan berbagai isu sosial politik yang saat ini menjadi isu publik. Mudah-mudahan terbitan ini bisa mendorong semua kalangan peminat sosial politik untuk terus menerus mendiskusikan dan mencari berbagai solusi per- masalahan sosial politik lokal, nasional, maupun global sebagai bentuk sumbang piker untuk memban- gun Indonesia yang kita cintai bersama. Selamat membaca

Pemimpin Redaksi

PENGEMBANGAN DAN PEMANFAATAN ECOTOURISME SEBAGAI ENTITAS EKONOMI BAGI MASYARAKAT DI SELECTA BATU MALANG JAWA TIMUR

Vibriza Juliswara vbjuliswara@yahoo.com

Program Studi Sosiologi STISIP Kartika Bangsa Yogyakarta

Abstract

Community is one of the elements that play a very important role in the development of ecotourism. The role of the community in the development of ecotourism is an attempt to create a culture and natural beauty, as well as foster a love of the homeland and the nation. One of the opportunities to be gained from local communities to improve their welfare in the development of ecotourism as an area manager PT Selecta Selecta Batu Malang provides an opportunity to work directly not only as staffing, employers, and merchants, but also has the company’s stock. Ecotourism development in Batu Malang Selecta positive impact on the economy. The relationship between PT. Selecta with the area itself is very tight. They have a reciprocal relationship is very strong. Companies need people to maintain its sustainability, while people need to increase their income.

Keywords: ecotourism, fungsionalism struktural, community role, Economic Entities

A. Latar Belakang

Dalam beberapa dekade yang lalu istilah ekotourisme yang di-Indonesiakan dengan istilah ekowisata bukanlah merupakan sebuah istilah yang sangat popular seperti saat ini. apalagi dengan prinsip prinsip yang mewakili kegiatan ekowisata. Istilah yang ada pada saat itu hanyalah merupakan perjalanan wisata yang bernuansa alam, perjalanan yang melihat dan menikmati keindahan alam. Istilah ekowisata kemu- dian muncul dan mulai banyak dibicarakan oleh berbagai pelaku dan pelaksana wisata dengan mengam- bil kisah kisah perjalanan Darwin ke Galapagos, Humbolt, Bates, Wallace. Selanjutnya, perjalanan ek- splorasi yang telah dilakukan oleh Marcopollo, Tomi Pires, Weber, Junghuhn dan Van Steines dan masih banyak yang lain merupakan awal perjalanan antar pulau dan antar benua yang penuh dengan tantangan untuk mempelajari kondisi alam secara makro, akan tetapi perjalanan tersebut masih saja dikategorikan sebagai adventure tourism or research journey dan umum dilakukan oleh para peneliti dan para petu- alang lainnya, sama seperti istilah nature based tourism, cultural tourism, back to nature tourism , tanpa adanya nilai nilai konservasi , penghargaan kepada alam , spesies langka Hanya dalam beberapa kurun waktu terakhir ketika nilai konservasi dan wisata back to nature mulai dijadikan sebagai ajang pendidikan dan penyadaran bagi para wisatawan tentang pentingnya lingkungan hidup, dan dimulainya penghargaan terhadap konsep konsep preservasi, konservasi pada lingkungan dan budaya lokal. Istilah ekowisata kemudian muncul dengan harapan akan memberikan nilai lebih kepada wisatawan, selain dapat memberikan kontribusi tersendiri pada masyarakat lokal yang mendiami daerah tersebut.

2

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

Kota Batu yang terletak di dataran tinggi daerah Malang memang cocok dijadikan sebagai tempat wisata. Udara yang sejuk, segar dan bersih dapat menjadi tempat menenagkan pikiran dari hiruk pikuk kota. Apalagi ditambah dengan pemandangan pegunungan hijau yang indah dapat menjadi tempat peri- stirahatan yang menyenangkan. Salah satu obyek wisata yang menawarkan ekoturisme adalah Selecta di Batu Malang merupakan salah satu daerah tujuan wisata di Jawa Timur. Tempat ini dapat menjadi oasis, khusunya bagi para pengunjung yang hidup di kota besar yang penuh polusi. Di sini, Anda da- pat menikmati udara yang bersih untuk memenuhi paru-paru Anda. Sebagai penambah kesenangan refreshing, Anda dapat menikmati keindahan panorama alam. Letaknya yang strategis dengan prasa- rana yang sudah baik akan memudahkan pengunjung untuk tiba di tempat ini. Tempat wisata Selecta dikelilingi oleh pegunungan sehingga suasana alami benar-benar terasa. Berbagai fasilitas tersedia untuk Anda maupun anak-anak, membuat tempat ini cocok menjadi tempat wisata keluarga. Undang Undang Otonomi daerah No 22 dan No 25 tahun 1999 juga memberikan kontribusi tersendiri untuk upaya pengelolaan kawasan tersebut, yang sekarang ini berada di tangan pemerintah daerah. Sejak diberlakukannya undang-undang, telah terjadi banyak perubahan pola kebijakan daerah terkait dengan pengelolaan sumberdaya alam (SDA). Hal ini dimungkinkan karena SDA merupakan modal penting dalam menggerakkan pembangunan di suatu daerah, baik dalam konteks negara, pro- pinsi maupun kabupaten. Oleh karenanya, aspek pemanfaatannya merupakan suatu yang sangat strategis dalam menentukan jumlah penerimaan atau tingkat kontribusinya dalam pembentukan modal pemban- gunan. Dengan melihat kompleksitas dari berbagai pengertian ekowisata, potensi yang dimiliki oleh dae- rah tersebut , pengelolaan kawasan yang mulai ditangani daerah dan keinginan masyarakat lokal untuk dapat membangun sebuah kawasan yang berasaskan lingkungan hidup, sehingga timbulah keinginan masyarakat daerah tersebut untuk dapat mengelola langsung kawasan suaka ini dengan tetap memperha- tikan kelestarian alam disamping mereka juga mendapatkan insentif secara ekonomis untuk kelangsun- gan anak cucunya.

B. Rumusan Masalah

Dengan melihat berbagai latar belakang diatas, maka beberapa masalah dapat dirumuskan sebagai berikut : Dengan adanya keinginan masyarakat dan pemerintah daerah untuk menjadikan kawasan terse- but sebagai kawasan ekowisata maka

1. Perlu diketahui pengembangan ekowisata yang ada pada kawasan tersebut

2. Bentuk-bentuk obyek wisata tersebut yang dikembangkan di kawasan wisata Selecta Kota Batu Malang

3. Bagaimana pengembangan Kawasan Selecta Kota Batu Malang sebagai entitas ekonomi

4. Sejauh mana manfaat sosial dan ekonomi yang dapat diterima oleh masyarakat sekitar dan usaha kawasan wisata tersebut.

C.

Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : Untuk dapat melihat pengembangan ekowisata, bentuk- bentuk obyek wisata yang dikembangkan, bagaimana pengembangan kawasan selecta sebagai entitas ekonomi, dan sejauh mana mamfaat sosial dan ekonomi yang dapat diterima oleh masyarakat sekitar dan usaha kawasan wisata tersebut.

Vibriza Juliswara Pengembangan dan Pemanfaatan Ecotourisme

sebagai Entitas Ekonomi bagi Masyarakat di Selecta Batu Malang Jawa Timur

3

D. Tinjauan Pustaka

Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah pendekatan sosial dan ekonomi. Pariwisata merupakan aktivitas yang menyangkut manusia dan masyarakat, sesuai dengan kajian-kajian dalam ilmu sosiologi yang pada perkembangan selanjutnya disebut sosiologi pariwisata. Sosiologi pariswisata adalah cabang dari sosiologi yang mengkaji masalah-masalah kepariwisataan dalam berbagai aspeknya. Pengertian lain mengenai sosiologi pariwisata adalah kajian tentang kepariwisataan dengan menggu- nakan perspektif sosiologi, yaitu penerapan prinsip, konsep, hukum, paradigma, dan metode sosiologis di dalam mengkaji masyarakat dan fenomena pariwisata, untuk selanjutnya berusaha mengembangkan abstraksi-abstraksi yang mengarah pada pengembangan-pengembangan teori. Pendekatan sosiologis di dalam mempelajari pariwisata dapat dilakukan dengan menggunakan teori atau perspektif sosiologi. Per- spektif atau teori sosiologi yang digunakan dalam menganalisis penelitian ini berdasar pada teori fung- sional-struktural. Teori fungsional-struktural merupakan teori sosiologi yang berdasar pada unsur-unsur sosiologi dan budaya yang saling berhubungan secara fungsional dan menekankan gejala sosial budaya pada struktur yang mencakup perangkat atau aturan-aturan. Teori fungsional-struktural mengamati ben- tuk struktur dan fungsi dalam suatu masyarakat sehingga dapat melihat bagaimana suatu masyarakat itu berubah atau mapan melalui setiap unsurnya yang saling berkaitan, dan dinamik untuk memenuhi kebutuhan individu. Teori fungsional-struktural melakukan analisis dengan melihat masyarakat sebagai suatu sistem dari interaksi antar manusia dan berbagai institusinya, dan segala sesuatunya disepakati secara konsensus, termasuk dalam hal nilai dan norma. Teori fungsional-struktural menekankan pada harmoni, konsist- ensi, dan keseimbangan dalam masyarakat. Menurut Nash, dalam Soerjono Soekamto (1990), teori fungsional-struktural ini dapat digunakan untuk menganalisis pariwisata. Hal ini terjadi dengan melihat pariwisata sebagai suatu sistem sosial yang berperan dalam masyarakat modern. Pendekatan sosiologis digunakan untuk mengetahui kondisi masyarakat dan memahami kelompok sosial khususnya berbagai macam gejala kehidupan masyarakat. Pariwisata adalah fenomena kemasyarakatan yang menyangkut manusia, masyarakat, kelompok, organisasi, kebudayaan, dan sebagainya yang merupakan obyek kajian sosiologi. Ekowisata yang didefenisikan oleh The Ecotourism Society (2002) sebagai suatu bentuk perjalanan wisata yang bertanggung jawab ke kawasan alami yang dilakukan dengan tujuan mengkonservasi ling- kungan dan melestarikan kehidupan dan kesejahteraan penduduk setempat. memperlihatkan kesatuan konsep yang terintegratif secara konseptual tentang keseimbangan antara menikmati keindahan alam dan upaya mempertahankannya. Sehingga pengertian ekowisata dapat dilihat sebagai suatu konsep pengem- bangan pariwisata berkelanjutan yang bertujuan untuk mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya) dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaannya. Ekowisata sebagai suatu bagian logis dari pembangunan yang berkelanjutan, memerlukan pendeka- tan berbagai disiplin dan perencanaan yang hati hati ( baik secara fisik maupun pengelolaannya). Se- lanjutnya I Gede Ardika (2001) menyatakan : “Sebaiknya, perkembangan wisata menerapkan konsep ekowisata. Hal ini disebabkan karena ekowisata dapat dikatakan bukan hanya sebagai salah satu corak kegiatan pariwisata khusus, melainkan suatu konsep wisata yang mencerminkan wawasan lingkungan dan mengikuti kaidah-kaidah keseimbangan dan kelestarian. Oleh karena itu pengembangan ekowisata harus dapat meningkatkan kualitas hubungan antar manusia, meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat dan menjaga kualitas lingkungan. Ekowisata lebih populer dan banyak dipergunakan dibanding dengan terjemahan yang seharusnya dari istilah ecotourism, yaitu ekoturisme. Terjemahan yang seharusnya dari ecotourism adalah wisata ekologis. Yayasan Alam Mitra Indonesia membuat terjemahan ecotourism dengan ekoturisme. Di dalam tulisan ini dipergunakan istilah ekowisata yang banyak digunakan oleh para rimbawan. Hal ini diambil

4

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

misalnya dalam salah satu seminar dalam Reuni Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (Fandeli, 1998). Kemudian Nasikun (1999), (Fandeli 1998, Nasikun1999 dalam Fandeli 2000) mempergunakan istilah ekowisata untuk menggambarkan adanya bentuk wisata yang baru muncul pada dekade delapan

puluhan.

Pengertian tentang ekowisata mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Namun, pada hakekat- nva, pengertian ekowisata adalah suatu bentuk wisata yang bertanggungjawab terhadap kelestarian area yang masih alami (natural aren), memberi manfaat secara ekonomi dan mempertahankan keutuhan budava bagi masyarakat setempat. Atas dasar pengertian ini, bentuk ekowisata pada dasarnya merupakan bentuk gerakan konservasi yang dilakukan oleh penduduk dunia.

Pendekatan lain bahwa ekowisata harus dapat menjamin kelestarian lingkungan. Maksud dari men- jamin kelestarian ini seperti halnya tujuan konservasi (UNEP, 1980) sebagai berikut:

1. Menjaga tetap berlangsungnya proses ekologis yang tetap mendukung sistem kehidupan.

2. Melindungi keanekaragaman hayati.

3. Menjamin kelestarian dan pemanfaatan spesies dan ekosistemnya.

Di dalam pemanfaatan areal alam untuk ekowisata mempergunakan pendekatan pelestarian dan pemanfaatan. Kedua pendekatan ini dilaksanakan dengan menitikberatkan pelestarian dibanding pe- manfaatan. Pendekatan ini jangan justru dibalik. Kemudian pendekatan lainnya adalah pendekatan pada keberpihakan kepada masyarakat setempat agar mampu mempertahankan budaya lokal dan sekaligus meningkatkan kesejah-teraannya. Oleh karenanya terdapat beberapa butir prinsip pengembangan ekow- isata yang harus dipenuhi. Apabila seluruh prinsip ini dilaksanakan maka ekowisata menjamin pemban- gunan yang ecological friendly dari pembangunan berbasis kerakyatan (commnnity based).

The Ecotourism Society (Eplerwood/1999) menyebutkan ada delapan prinsip, yaitu:

a. Mencegah dan menanggulangi dampak dari aktivitas wisatawan terhadap alam dan budaya, pencegahan dan penanggulangan disesuaikan dengan sifat dan karakter alam dan budaya setempat.

b. Pendidikan konservasi lingkungan. Mendidik wisatawan dan masyarakat setempat akan pentingnya arti konservasi. Proses pendidikan ini dapat dilakukan langsung di alam. Pendapatan langsung un- tuk kawasan. Mengatur agar kawasan yang digunakan untuk ekowisata dan manajemen pengelola kawasan pelestarian dapat menerima langsung penghasilan atau pendapatan. Retribusi dan conser- vation tax dapat dipergunakan secara langsung untuk membina, melestarikan dan meningkatkan kualitas kawasan pelestarian alam.

c. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan. Masyarakat diajak dalam merencanakan pengembangan ekowisata. Demikian pula di dalam pengawasan, peran masyarakat diharapkan ikut secara aktif.

d. Penghasilan masyarakat. Keuntungan secara nyata terhadap ekonomi masyarakat dari kegiatan ekowisata mendorong masyarakat menjaga kelestarian kawasan alam.

e. Menjaga keharmonisan dengan alam. Semua upaya pengembangan termasuk pengembangan fasili- tas dan utilitas harus tetap menjaga keharmonisan dengan alam. Apabila ada upaya disharmonize dengan alam akan merusak produk wisata ekologis ini. Hindarkan sejauh mungkin penggunaan minyak, mengkonservasi flora dan fauna serta menjaga keaslian budaya masyarakat.

f. Daya dukung lingkungan. Pada umumnya lingkungan alam mempunyai daya dukung yang lebih rendah dengan daya dukung kawasan buatan. Meskipun mungkin permintaan sangat banyak, teta- pi daya dukunglah yang membatasi.

g. Peluang penghasilan pada porsi yang besar terhadap negara. Apabila suatu kawasan pelestarian dikembangkan untuk ekowisata, maka devisa dan belanja wisatawan didorong sebesar-besarnya dinikmati oleh negara atau negara bagian atau pemerintah daerah setempat.

Vibriza Juliswara Pengembangan dan Pemanfaatan Ecotourisme

sebagai Entitas Ekonomi bagi Masyarakat di Selecta Batu Malang Jawa Timur

5

E. Metode Penelitian

1. Pendekatan Penelitiaan

Penelitian studi kasus ini menggunakan penelitian pendekatan kualitatif yang merupakan penelitian yang menghasilkan dan mengolah data yang sifatnya deskriptif, seperti transkripsi wawancara , catatan lapangan, gambar, foto rekaman video dan lain-lain. Dalam penelita kualitatif perlu menekankan pada pentingnya kedekatan dengan orang-orang dan situasi penelitian, agar peneliti memperoleh pemahaman jelas tentang realitas dan kondisi kehidupan nyata

2. Subjek Penelitian

Scope penelitian meliputi kegiatan survey lapangan dan pengambilan data dari responden yang ada pada kawasan Batu, untuk melihat bagaimana persepsi masyarakat dan keinginan mereka dalam me- manfaatkannya menjadi sebuah kegiatan ekowisata, selain melihat bagaimana potensi wisata tersebut, disamping melihat bagaimana tingkat partisipasi masyarakat lokal dalam pengembangan daerah tersebut di masa yang akan datang.

3. Teknik Analisis Data

Dalam menganalisa penelitian kualitatif terdapat beberapa tahapan-tahapan yang perlu dilakukan diantaranya :

a. Mengorganisasikan Data: Peneliti mendapatkan data langsung dari subjek melalui wawancara mendalam (indepth inteviwer), dimana data tersebut direkam dengan tape recoeder dibantu alat tulis lainya. Kemudian dibuatkan transkipnya dengan mengubah hasil wawancara dari bentuk reka- man menjadi bentuk tertulis.

b. Pengelompokan berdasarkan Kategori, Tema dan pola jawaban: Pada tahap ini dibutuh- kan pengertiaan yang mendalam terhadap data. Data yang telah dikelompokan tersebut oleh pe- neliti dicoba untuk dipahami secara utuh dan ditemukan tema-tema penting serta kata kuncinya. Sehingga peneliti dapat menangkap pengalaman, permasalahan, dan dinamika yang terjadi pada subjek.

c. Menguji Asumsi atau Permasalahan yang ada terhadap Data: Setelah kategori pola data ter- gambar dengan jelas, peneliti menguji data tersebut terhadap asumsi yang dikembangkan dalam penelitian ini, sehingga dapat dicocokan apakah ada kesamaan antara landasan teoritis dengan hasil yang dicapai.

d. Mencari Alternatif Penjelasan bagi Data : Setelah kaitan antara kategori dan pola data dengan asumsi terwujud, peneliti masuk ke dalam tahap penejelasan. Dari hasil analisis, ada kemungkinan terdpat hal-hal yang menyimpang dari asumsi atau tidak terfikir sebelumnya.

e. Menulis Hasil Penelitian : Penulisan data subjek yang telah berhasil dikumpulkan merupakan suatu hal yang membantu penulis unntuk memeriksa kembali apakah kesimpulan yang dibuat telah selesai. Dalam penelitian ini, penulisan yang dipakai adalah presentase data yang didapat yaitu, pe- nulisan data-data hasil penelitian berdasarkan wawancara mendalam dan observasi dengan subjek dan significant other.

DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN

PT. Selecta terletak di. Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota. Batu, Jawa Timur. Secara geo- grafis, tempatnya berada pada ketinggian 1.150 meter dari permukaan air laut, dengan suhu udara antara 15-25 derajad Celcius. Keberadaannya di kelilingi oleh Gunung Panderman, Arjuno, Welirang, dan An-

6

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

jasmoro. Dengan kondisi geografis semacam ini, kesejukan dan keindahan alam merupakan daya tarik utama dari keberadaan PT. Selecta. Keberadaan PT. Selecta dimulai pada tahun 1.930 ketika seorang warga Belanda yang bernama De Ruyter de Wildt mendirikan pemandian dengan nama Bath Hotel Selecta. Pada masa itu, tempat ini menjadi tujuan tempat peristirahatan warga Belanda yang ada di In- donesia. Bersamaan dengan masuknya Jepang ke Indonesia, antara tahun 1942-1945, tempat ini kemu- dian dikelola oleh warga negara Jepang bernama Mr. Hashiguchi. Pada akhir tahun 1949, ketika pecah perang revolusi (clash ke dua), Selecta hancur total (dibumi-hanguskan) menjadi puing-puing yang tidak berbentuk. Selecta mulai dibangun kembali pada tahun 1950. Tepatnya pada tanggal 19 Januari 1950, ketika terbentuk panitia pembangunan di Kecamatan Batu yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat Desa Tulungrejo (pamong desa, tokoh pemuda, dan pekerja). Semuanya berjumlah 47 orang yang kemudian ditetapkan sebagai pendiri PT. Selecta. Bersamaan dengan berlangsunya pembangunan fisik, dibuatlah Akte Pendirian dihadapan Notaris Hendrik Ribbers di Malang pada 10 Maret 1954 nomor 20 (dari kemudian diubah dengan Akte nomor 37 tertanggal 19 Mei 1954). Penetapan Selecta sebagai Badan Hukum diperoleh dari Menteri Kehakiman tanggal 18 Juni 1954 dengan nomor J.A.5/50/3. Dengan diberlakukannya UU No.l tahun 1975 tentang Perseroan Terbatas, bentuk perusahaanya disesuaikan menjadi Perseroan Terbatas Taman Rekreasi & Hotel “Selecta” disingkat dengan PT. Selecta.

HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

1. Pengembangan Kawasan Selecta Sebagai Daerah Wisata

Pada awal masa kemerdekaan, Selecta merupakan tempat wisata dan peristirahatan pilihan bagi se- mua lapisan masyarakat negeri ini, mulai dari rakyat biasa hingga elit politik negeri ini, termasuk Bung Karno dan Bung Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden di masa itu. Dari masa kemerdekaan terse- but hingga masa sekarang, Selecta tetap mempertahankan tatanan sebagai tempat wisata eksotis yang indah dan sejuk, sehingga tetap menjadi tujuan wisata pilihan bagi semua lapisan masyarakat negeri ini dan wisatawan manca negara. Bahkan Selecta telah mengembangkan diri menjadi taman rekreasi dengan fasilitas yang lengkap tanpa mengurangi nilai sejarah dan keasriannya. Sekarang, Selecta tidak hanya mempunyai kolam renang dengan air pegunungan yang segar dan jernih, tetapi juga dilengkapi taman bunga yang luas dan indah serta taman bermain anak dengan segala fasilitas bermain untuk anak, termasuk becak mini dan mobil mini. Kolam perahu dengan fasilitas per- ahu kano dan sepeda air, arena jogging seluas 6 hektar dan arena untuk berkuda serta tempat out bond yang ideal. Ketika memasuki areal taman rekreasi Selecta, pengunjung dapat dengan mudah mendapat- kan tempat parkir, karena luas tempat parkir mencapai 3 hektar dan sebuah masjid yang representatif di areal tersebut. Ketika turun dari kendaraan, pengunjung disuguhi akuarium dalam ukuran yang sangat besar dipenuhi berbagai macam ikan air tawar dan sebuah gua unik yang bernama Gua Singa. Restoran Selecta juga menyediakan berbagai masakan khas Jawa Timur dan chinesse food dalam style tempo dulu dengan cita rasa yang menggugah selera disertai pelayanan standar tinggi, dan dileng- kapi berbagai gerai jajanan tradisional hingga modern. Hotel Selecta, di mana para Proklamator negeri ini pernah menginap, sekarang telah menjelma menjadi hotel dengan fasilitas modern yang lengkap tanpa meninggalkan nilai sejarah yang pernah tercatat di Hotel Selecta. Dengan fasilitas yang lengkap pada 60 kamar dan hall berkapasitas 600 orang, sangat ideal sebagai tempat pertemuan, diklat maupun acara pesta. Pelayanan prima dalam suasana kekeluargaan merupakan sikap yang dijunjung tinggi oleh Hotel Selecta. Pasar Wisata Selecta merupakan tempat ideal untuk berbelanja, yang menyediakan berba- gai macam tanaman hias, suvenir, makanan ringan khas Batu dan buah-buahan bahkan kelinci ataupun hewan piaraan yang lain. Satu hal yang pasti, Selecta adalah taman rekreasi pilihan. Anda belum pernah

Vibriza Juliswara Pengembangan dan Pemanfaatan Ecotourisme

sebagai Entitas Ekonomi bagi Masyarakat di Selecta Batu Malang Jawa Timur

7

ke Batu kalau anda belum pernah menginjakkan kaki di taman rekreasi Selecta, karena Selecta adalah

Batu dan Batu adalah Selecta.

2. Pengembangan Kawasan Selecta Sebagai Entitas Ekonomi

Sejak diberlakukannya Undang-undang tentang Perseroan Terbatas, dilakukan penyesuaian sehingga bentuk perusahaan menjadi Perseroan Terbatas Taman Rekreasi & Hotel Selecta disingkat PT. Selecta Strategi pengelolaan ada 4 divisi, yaitu taman rekreasi, hotel, agro, dan restoran, dari keempat divisi yang menjadi unggulan adalah taman rekreasi. Produk-produk yang dikembangkan PT. Selecta, yaitu perdagangan berupa souvenir, buah-buahan sayur-sayuran, kelinci, semuanya ini bergabung dalam suatu kelompok atau paguyuban. Menambah kolam renang dari yang semula hanya untuk anak-anak seka- rang untuk dewasa juga tersedia, yang juga dilengkapi dengan beragamnya permainan. Menyediakan menu-menu khas dari daerah. Pengembangan baik bangunan, ruang maupun fasilitas hotel. Sedangkan untuk kegiatan pembinaan dan pelatihan yang dilakukan oleh PT. Selekta, yaitu pemberdayaan peda- gang melalui pinjaman modal koperasi, pelatihan tentang penataan barang dagangan, pelatihan tentang manajemen pengelolaan keuangan, pembinaan tentang etika pelayanan pedagang terhadap konsumen Perkembangan usaha dari tahun ke tahun cenderung meningkat terbukti dari awalnya 50 kios, se- karang menjadi 200. Luas area terjadi peningkatan, terbukti bertambahnya hasil dari agro dan taman parkir. Peran PT. Selecta terhadap Pemkot Batu Malang sangat tinggi dalam kaitan pajak pendapatan sebesar 1,2 milyar per tahun dari pengunjung rekreasi disisihkan Rp. 100 untuk pemerintah Desa. Po- tensi alam yang ada di daerah batu malang, bahwa masyarakat di sekitar daerah itu bisa hidup lebih sejahtera dengan kegiatan wisata dan kegiatan agro, baik itu tanaman hias, apel, sayur mayur, selain itu dapat juga mendapat penghasilan dari perdagangan, jasa. Modal dari potensi alam yang menarik bagi wisatawan karena banyak wisatawan tertarik oleh keg- iatan-kegiatan yang dapat dilakukan di alam terbuka. Dalam kegiatan pariwisata jangka pendek, pada akhir pekan atau dalam masa liburan, orang sering mengadakan perjalanan sekadar untuk menikmati pemandangan atau suasana pedesaan atau kehidupan di luar kota. Wisatawan yang mencari ketenangan

di tengah alam yang iklimnya nyaman, suasananya tentram, pemandangannya bagus dan terbuka luas.

Wisatawan yang menyukai tempat-tempat tertentu dan setiap kali ada kesempatan untuk pergi, mereka kembali ke tempat-tempat tersebut. Alam juga sering menjadi bahan studi untuk wisatawan budaya, khususnya widya wisata. Alasan wisatawan berkunjung ke Selekta antara lain, tempat luas, memiliki variasi tempat yang dikunjungi, harga sangat terjangkau, lokasinya sangat strategis. Produk yang paling disukai adalah, makanan kecil, yang harganya sangat murah. Wisatawan merasa betah dan ingin terus kembali ke Selecta karena ada dua hal penting , yaitu pertama, pelayanan yang baik. Bayangkan, bila wisatawan sudah datang jauh-jauh, merencanakan per- jalanannya sedemikian rupa, serta mengeluarkan uang yang tidak sedikit, tapi ketika datang ke daerah kita ternyata mereka menemui petugas yang kasar, tidak sopan dan menipu penumpang, atau pedagang asongan yang memaksa untuk membeli dagangan, atau akomodasi yang kotor serta warung makan den- gan makanan dan minuman yang kotor dan tidak enak. Kedua, menjaga keindahan obyek wisata dan kelestarian alam, serta budaya karena hal tersebut merupakan aset pariwisata. Cara yang dilakukan mewujudkan hal tersebut, tujuh unsur tersebut penting yang diterapkan untuk memberikan pelayanan yang baik serta menjaga keindahan dan kelestarian alam dan budaya di Selecta, yaitu Aman : Keadaan ini dapat tercermin dari keadaan seperti aman dari pedagang-pedagang ason- gan yang memaksa wisatawan untuk membeli, aman dari pencopetan, pencurian dan lain sebagainya. Kondisi aman juga dapat tercermin dari penggunaan peralatan keselamatan saat berwisata (misal: helm, pelampung, P3K, tali dll.), serta informasi yang jelas mengenai kondisi yang akan dihadapi oleh wisata- wan (misal: jalan mendaki, terjal, trek dengan batu besar yang sulit, musim hujan yang mengakibatkan

8

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

jalan licin, dll). Tertib : Wisatawan akan merasa senang apabila tempat yang didatanginya berada dalam kondisi yang tenang dan teratur. Kondisi seperti ini bisa diciptakan dengan ketertiban, salah satu cara untuk menciptakan ketertiban adalah dengan menetapkan harga yang jelas karena wisatawan lebih sen- ang dengan harga yang pasti. Wisatawan hanya memilih jasa dan barang dengan harga tetap dan/atau rasional (yaitu harga yang sesuai dengan kualitas jasa/barang yang diberikan). Indah : meskipun seder- hana, lokasi yang nyaman, rapi dan bersih dapat menciptakan keindahan tersendiri. Oleh karena itu, jag- alah keindahan lingkungan sekitar kita. Ramah : Senyum ramah yang tulus dan tidak dibuat-buat saat menyambut wisatawan adalah salah satu hal yang membuat mereka betah di tempat kita. Perilaku tidak sopan dan kasar dari penduduk setempat akan membuat perjalanan wisatawan tidak menyenangkan. Kenangan : Apa yang dinikmati oleh wisatawan selama di tempat yang dikunjunginya tidak bisa dibawa pulang, kecuali cenderamata dan kenangan indah. Namun wisatawan dapat membawa pulang kenangan indah dari daerah yang dikunjunginya. Kenangan indah, keramahtamahan dan kepuasan adalah hal yang tidak terbeli dan selalu membuat wisatawan ingin kembali. Pelestarian : Prinsip kelestarian pada ekowisata adalah kegiatan ekowisata yang dilakukan tidak menimbulkan kerusakan dan pencemaran lingkungan dan budaya setempat.

3. Pemanfaatan Kawasan Wisata Selecta bagi Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Ekowisata juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat terlebih lagi apabila perjalanan wisata yang dilakukan menggunakan sumber daya lokal seperti transportasi, akomodasi dan jasa pemandu. Ekowisata yang dijalankan harus memberikan pendapatan dan keuntungan (profit) sehingga dapat terus berkelanjutan. Untuk dapat mewujudkan hal itu, yang penting untuk dilakukan adalah memberikan pelayanan dan produk wisata terbaik dan berkualitas. Untuk dapat memberikan pelayanan dan produk wisata yang berkualitas, akan lebih baik apabila pendapatan dari pariwisata tidak hanya digunakan un- tuk kegiatan pelestarian di tingkat lokal tetapi juga membantu pengembangan pengetahuan masyarakat setempat, misalnya dengan pengembangan kemampuan melalui pelatihan demi meningkatkan jenis usaha/ atraksi yang disajikan Pedagang Pasar Windu dilebur menjadi Pedagang pasar Wisata Selecta yang tergabung dalam satu wadah organisasi mandiri. Pengelolaan kebersihan, keamanan dan retribusi dibawah pengawasan mana- jer unit taman rekreasi Selecta, sedangkan di dalam intern pedagang dibentuk Paguyuban Pedagang Pasar Selecta. Tujuan pembangunan pasar wisata Selecta sebagai bentuk tanggung jawab sosial PT. Selecta kepada masyarakat sekitar dengan cara memberikan peluang kerja kepada masyarakat dengan harapan dapat meningkatkan kesejahteraan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pelibatan masyarakat dalam kegiatan ekonomi di kawasan wisata Selecta dilakukan sejak dibangun dan dikelola kembali tahun 1950. Pada awalnya model penjualan mereka dilakukan secara terbuka dan bebas, namun kemudian ditata dalam satu kawasan dan dibuatkan kios yang kemudian menjadi Pasar Windu. Seiring dengan bertam- bahnya wisatawan dan banyaknya kendaraan, maka jalan utama menuju Taman Rekreasi Selecta sering macet, maka dipindahkanlah lokasi Pasar Windu ke atas lapangan parkir bus yang letaknya di atas Hotel Selecta II, kemudian pada tahun 1970 berkembang produk yang ditawarkan di Pasar Windu bertam- bah kios souvenir, kios makanan dan jumlah pedagangnya pun bertambah menjadi 125 orang. Seiring dengan tuntutan keadaan wisatawan yang semakin meningkat, tahun 1997 Selecta membeli lahan baru, yang kemudian ditata untuk tempat parkir yang luas, dilengkapi dengan kios buah, kios sayur, kios tana- man hias kios souvenir, kios kelinci dan warung makan yang lebih memadai dan jumlahnya sekitar 200 buah. Pembangunan kios-kios ini murni dari PT. Selecta, sejak itu Pasar Windu dilebur menjadi bagian PT. Selecta.

Vibriza Juliswara Pengembangan dan Pemanfaatan Ecotourisme

sebagai Entitas Ekonomi bagi Masyarakat di Selecta Batu Malang Jawa Timur

9

4. Keterlibatan Masyarakat di PT. Selecta dalam Bentuk Kepemilikan Saham dan Sebagai Karyawan

Menurut sejarahnya, modal dasar PT. Selecta pada saat berdirinya berjumlah Rp 500.000,- (limara- tus ribu rupiah). Modal sebanyak itu terbagi atas 5.000 lembar saham sehingga nilai nominalnya menca- pai Rp 100,- (seratus rupiah) per lembar saham. Sampai saat ini, modal dasar sudah mengalami peruba- han sebanyak dua kali dan nilainya sekarang mencapai Rp 1.000.000.000,- (satu miliar rupiah). Dengan jumlah saham yang tetap sebanyak 5.000 lembar, maka nilai per lembar sahamnya adalah Rp 200.000,- (dua ratus ribu rupiah). Namun demikian nilai pasar dari saham jauh di atas itu, dimana nilainya hampir mencapai Rp 3.500.000,- (tiga juta lima ratus ribu rupiah) per lembar saham. Jumlah pemegang saham mencapai 1.110 orang dan sebagian besar berdomisili di wilayah Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu). Jumlah kepemilikan saham relatif penyebar, di- mana hanya ada satu orang yang memiliki saham sebanyak 126 lembar. Disamping menikmati deviden, para pemegang saham memiliki kemudahan untuk menikmati fasilitas yang dimiliki oleh PT. Selecta. Misalnya, setiap dua tahun sekali para pemegang saham mendapat jatah gratis untuk menginap semalam

di hotel, dan mendapatkan 5 tiket gratis untuk masuk Selecta. PT. Selecta memiliki aturan tersendiri

mengenai jumlah suara yang dimiliki oleh para pemegang saham. Dimana aturannya adalah setiap satu lembar saham memiliki satu suara. Ketentuan ini berlaku sampai jumlali enam lembar saham. Kepemi- likan lebih dari enam lembar saham, memiliki jumlah maksimum enam suara. Sehingga jumlah suara yang dimiliki oleh orang yang memegang saham sebanyak 126 lembar atau 6 lembar besarnya sama, yai-

tu masing-masing enam suara. Pada saat sekarang ini, ada tiga andalan fasilitas rekreasi yang ditawarkan

oleh usaha. swasta ini, yaitu pemandian, restoran dan hotel. Sebelumnya pernah memiliki usaha kebun apel, tetapi karena apel tidak lagi menjadi komoditi yang menguntungkan maka usaha ini dihentikan. Sekitar 90 karyawan dari PT. Selecta sekaligus sebagai pemegang saham. Ada pembatasan jumlah su- ara bagi pemegang saham yang memiliki saham lebih dari enam lembar. Saham ke-satu sampai ke-enam memiliki masing-masing satu suara. Tetapi lebih dari enam lembar, jumlah suaranya tetap enam. Kary- awanya PT. Selecta hampir semuanya berasal dari Desa Tulungrejo dan sekitarnya. Sejak tahun 2007, diperlakukan pembatasan jumlah karyawan dari setiap rumah tangga yang boleh bekerja di PT. Selecta. Aturannya adalah setiap satu rumah tangga hanya ada satu anggota keluarga yang boleh bekerja di PT. Selecta. Sebelum itu, bisa saja semua anggota rumah tangga bekerja di PT. Selecta. Karyawan dari PT. Selecta memiliki koperasi simpan pinjam. Disamping melayani kebutuhan dana bagi anggotanya, koperasi ini mendapatkan order bisnis dari PT. Selecta, yaitu sebagai pemasok bahan pangan bagi kebutuhan makan karyawan PT. Selecta. Semua praktek tersebut menggambarkan betapa kuatnya budaya PT. Selecta dalam melindungi kepentingan ekonomi masyarakat sekitar di mana pemi- sahaan itu berada. Disamping itu, PT. Selecta juga memberikan dampak yang positip bagi tumbuhnya usaha-usaha kecil di sekitarnya, seperti warung, ikan hias, budidaya dan penjualan tanaman hias di seki- tar jalan menuju Selecta. Perlu diketahui bahwa usaha tanaman hias memiliki sumbangan besar terhadap citra Batu sebagai kota wisata alam. Ringkasnya, warna kerakyatan dari PT. Selecta sangat kental dan nilai-nilai kekeluargaan yang diwariskan oleh para pendirinya tetap dipegang teguh dalam menjalankan praktek bisnisnya.

Organisasi bisnis merupakan bangunan kolektif yang terbentuk karena adanya hubungan perjanjian yang dilakukan oleh semua pihak yang terlibat dalam suatu aktivitas produktif. Kondisi seperti ini juga berlaku bagi PT. Selecta. Seperti telah disebutkan, terdapat hubungan emosional yang sangat erat antara karyawan, perusahaan dan masyarakat sekitar. Sejarah berdirinya dari lingkungan sosialnya, memilki pengaruh yang sangat kuat terhadap munculnya sifat kebersamaan dalam penyelenggaran kegiatan bisni- snya. Disamping memberikan pengaruh yang positip, sifat kebersaman dan kekeluargaan juga memiliki pengaruh yang kurang bagus terhadap perjalanan PT. Selecta. Karyawan yang juga berstatus pemilik

10

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

menempati posisi yang tersebar sehingga mereka mengetahui dengan benar segala aktivitas harian (ter- masuk aktivitas keuangan) perusahaan. Dalam kondisi seperti ini sangat sulit bagi pihak manajemen untuk bertindak atas dasar kepentingannya (problem moral hazard sulit untuk muncul). Dengan sistem pengelolaan yang didasari oleh semangat kebersamaan tinggi mampu meminimkan biaya transaksi in- ternal perusahaan PT. Selecta yang biasanya hal seperti ini menjadi persoalan yang pelik bagi perusahaan berbentuk perseroan terbatas. Pembatasan tentang pihak manajemen yang harus berasal dari orang dalam, memang telah mam- pu mengatasi persoalan informasi tidak simetris dalam perusahaan, tetapi hal ini memiliki implikasi yang kurang bagus bagi perkembangan PT. Selecta. Persoalan ini menjadi lebih nyata mengingat SDM yang dimiliki oleh PT. Selecta berasal daerah sekitar yang umumnya memiliki kualitas pendidikan yang ku- rang bagus. Kebijakan perekrutan karyawan di masa lalu yang tidak mementingkan kualitas tetapi lebih memperhatikan asal daerah, memiliki andil yang besar terhadap rendahnya kualitas SDM yang dimiliki oelh PT. Selecta. Dengan kualitas SDM seperti ini, sulit mengharapkan munculnya ivovasi-inovasi kre- atif dari dalam untuk memajukan perusahaan. Masuknya manajemen dari luar yang membawa ide-ide inovatif seririg mengahadapi tantangan yang besar karena dianggap sebagai ancaman bagi kepentingan sebagian besar karyawan. Untuk masa lalu, model pengelolaan seperti ini tidak banyak menimbulkan masalah yang serius karena Selecta menjadi pemain tunggal untuk usaha rekreasi keluarga di Kota Batu. Namun dengan berkembangnya tempat rekreasi yang lebih menarik di Batu, seperti Jatim Park dan Agrowisata yang terus melakukan inovasi kreatif yang cepat. keberlangsungan PT. Selecta akan terancam. Inilah pekerjaan rumah yang harus dicarikan jawabannya.

KESIMPULAN

1. Potensi alam di kawasan Selecta Batu Malang sebagai daerah pengembangan ekowisata dapat mem- buat masyarakat di sekitar daerah itu bisa hidup lebih sejahtera dengan kegiatan wisata dan kegiatan agro, baik itu tanaman hias, buah-buahan apel, sayur mayur, selain itu dapat juga mendapat peng- hasilan dari perdagangan, jasa.

2. Ekowisata yang dijalankan harus memberikan pendapatan dan keuntungan (profit) sehingga dapat terus berkelanjutan. Untuk dapat mewujudkan hal itu, yang penting untuk dilakukan adalah mem- berikan pelayanan dan produk wisata terbaik dan berkualitas. Untuk dapat memberikan pelayanan dan produk wisata yang berkualitas, akan lebih baik apabila pendapatan dari pariwisata tidak hanya digunakan untuk kegiatan pelestarian di tingkat lokal tetapi juga membantu pengembangan peng- etahuan masyarakat setempat.

3. Bentuk pelibatan masyarakat dalam aktivitas ekotourim di Kawasan Selecta Batu Malang dengan : Penyertaan sebagai pemilik saham PT. Selecta yang berjumlah 1.110 orang yang sebagian besar berdomisili di wilayah Malang Raya dan sebagai Karyawan dan Pedagang pasar Wisata Selecta yang tergabung dalam satu wadah organisasi mandiri yang dibentuk Paguyuban Pedagang Pasar Selecta.

Vibriza Juliswara Pengembangan dan Pemanfaatan Ecotourisme

sebagai Entitas Ekonomi bagi Masyarakat di Selecta Batu Malang Jawa Timur

11

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 2004-a. What isEcotourism. The International Ecotourism Society Washington DC : www. ecotourim.org. Diakses tanggal 15 Oktober 2012 Avenzora, Ricky. 2003. Ekotourisme: Evaluasi Konsep, Media Konservasi Vol. No.2 Juni 2003 Epler Wood, Megan, Ecotourism Then & NowColumn for the 20th Anniversary of The International Ecotourism Society, November 2010 Ardika, I Gede. 2001, Paradigma Baru Pariwisata Kerakyatan Berkesinambungan, Makalah. Damanik, Janianton and Helmut F. Weber. 2006. Perencanaan Ekowisata. Dari Teori ke Aplikasi, Pusat Studi Pariwisata (PUSPAR) UGM dan ANDI Press. Yogyakarta. Fandeli, Chafid dan Muhammad Nurdin. 2005. Pengembangan Ekowisata Berbasis Konservasi di Taman Nasional, Fakultas Kehutanan UGM, Pusat Studi Pariwisata UGM, dan Kantor Kementerian Ling- kungan Hidup. Yogyakarta.

I Gde Pitana dan Putu G. Gayatri, Sosiologi Pariwisata, Kajian Sosiologis terhadap Struktur, System, dan Dampak-dampak Pariwisata (Yogyakarta: Andi, 2005)

I Gusti Ngurah Bagus, “Dari Obyek ke Subyek : Memanfaatkan Peluang Pariwisata Sebagai Industri Jasa Dalam Pembangunan” Dalam Ilmu-ilmu Humaniora (Yogyakarta : Gadjah Mada University Press,

1991).

Raharjo, Budi Ekoturisme Berbasis Masyarakat dan Pengelolaan Sumber Daya Alam, Pustaka Latin, 2004 Sudarto G. 1999. Ekowisata: Wahana Pelestarian Alam Pengembangan Ekonomi Berkelanjutan dan Pem- berdayaan Masyarakat, Yayasan Kalptaru Bahari bekerjasama dengan Yayasan Keanekaragaman Hay- ati Indonesia. Bandung Soekanto, soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 1990) Widyastuti, Tri Rini Dampak Peluang Kerja Industri Pariwisata Di Daerah Istimewa Yogyakarta,Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada, 1997

PENGEMBANGAN MODEL KELEMBAGAAN KERJASAMA ANTAR DAERAH DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR PERBATASAN

Sebagai Upaya Mengatasi Kegagalan Kerjasama Antar Daerah Dalam Pembangunan Infrastruktur di Perbatasan

Hendar Klestono bapakhendar@yahoo.com

Program Studi Administrasi Negara STISIP Kartika Bangsa Yogyakarta

Abstract

Decentralization, as mandated by Law No. 25 Year 1999, which was later revised by Act No. 32 of 2004 has implications for the development of regional decentralization. This means that area (district / city) has the au- thority and obligation to plan, implement, including development finance his area. Similarly, the construction of public infrastructure such as transport infrastructure, communications, water supply, agriculture and other economic infrastructure to be highly dependent of the planning process on local (district / city). The problem then arises when public infrastructure is to be built across the region. It means that the physical infrastructure, utilization and maintenance must traverse more than one autonomous region. Not infre- quently appear bureaucratic obstacles, administrative and funding when these areas are crossed by public infrastructure does not have an agreement. Infrastructure so that the public need for the stunted built.

Keyword: Infrastructure, Development, Regional Cooperation.

A. Latar Belakang

Otonomi daerah, sebagaimana diamanatkan Undang Undang No 25 Tahun 1999 yang kemudi- an direvisi dengan UU No 32 Tahun 2004 membawa implikasi terhadap desentralisasi pembangunan daerah. Artinya Daerah (Kabupaten/Kota) memiliki kewenangan dan kewajiban untuk merencanakan, melaksanakan termasuk membeayai pembangunan daerah. Demikaian pula dengan pembangunan in- frastruktur publik seperti infrastruktur transportasi, komunikasi, air minum, pertanian dan infrastruktur ekonomi lainnya menjadi sangat tergantung dari proses perencanaan di daerah (kabupaten /kota). Masalah kemudian muncul ketika infrastruktur publik yang harus dibangun bersifat lintas daerah. Artinya infrastruktur itu bangunan fisik, pemanfaatan dan pemeliharaannya harus melintasi lebih dari satu daerah otonom. Tidak jarang muncul hambatan birokratis, administratif dan pendanaan ketika dae- rah-daerah yang dilintasi infrastruktur publik tidak memiliki kata sepakat. Sehingga infrastruktur yang menjadi kebutuhan publik terhambat untuk dibangun. Kasus “Gagasan Megapolitan” (Kompas.com) yang kala itu digagas Gubernur DKI Sutiyoso adalah bentuk keputusasaan Pemda DKI menghadapi kenyataan bahwa infrastruktur jalan, pengendali banjir dan pengelolaan sampah ternyata harus diselesai- kan secara lintas daerah. Padahal menyamakan persepsi antar Daerah untuk membangun infrastruktur publik lintas daerah bukan hal yang mudah.

Hendar Klestono

antar Daerah dalam Pembangunan Infrastruktur Perbatasan

Pengembangan Model Kelembagaan Kerjasama

13

B. Rumusan Permasalahan

Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini, merujuk juga dari penelitian Murbanto Sinaga (2005) yang membuktikan ada kecenderungan Pemerintah Daerah berjalan sendiri-sendiri (egosen- trisme daerah) dan tak mau berkordinasi dengan Pemda tetangga dalam pembangunan daerah. Kasus serupa misalnya adalah pembangunan Jalan antara Medan-Binjai-Deli Serdang (Mebidang) (lihat M Sinaga:2006), dan pengadaan instalasi Air Bersih di Kota Yogyakarta serta Problem Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah di Kota Bandung; yang semakin menunjukkan dengan jelas bahwa ada persoalan pembangunan Infrastruktur lintas daerah yang dihadapi dalam era otonomi daerah dewasa ini. Padahal berbagai forum kerjasama antar daerah telah dirintis, misalnya Kartamantul (Yogya- karta-Sleman-Bantul), Mebidang (Medan-Binjai-DeliSerdang), Jratunseluna (Jragung-Tuntang-Serang- Lusi-Juana), dan Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi). Namun hingga kini forum itu belum beranjak bangkit dari sekedar forum komunikasi antar daerah menjadi institusi yang efektif men- gakselerasi pembangunan infrastruktur publik lintas daerah. Pemerintah Propinsi sendiri sering tidak mampu mengambil peran itu karena keterbatasan kewenangan dan terutama keterbatasan pendanaan yang dialami. Beberapa model kerjasama antar daerah yang telah dikaji dan dicoba-terapkan perlu di kaji dan dikembangkan agar menjadi model efektif dan aplikabel.

C. Metode Penelitian

Untuk mengembangkan Model Kerjasama Antar Daerah yang lebih aplikatif dan mudah dilaksana- kan, agar proses kerjasama antar daerah dalam pembangunan infrastruktur publik lintas daerah mampu menjawab kebutuhan infrastruktur tersebut. Yang meliputi:

a. Peta permasalahan pembangunan infrastruktur Lintas Daerah

b. Kekuatan (S), Kelemahan(W) Peluang (O) dan tantangan kelembagaan pembangunan infrastruk- tur, khususnya infrastruktur Lintas Daerah (perbatasan)

c. Kajian literatur tentang model-model kerjasama antar daerah

d. Penyusunan Prototipe Model Kelembagaan Kerjasama Antar Daerah untuk Pembangunan In- frastruktur linta daerah.

e. FGD untuk mempertajam model yang disusun

Tahun kedua penelitian ini diharapkan dapat memberikan luaran berupa:

a. Pengembangan Model Kelembagaan Antar Daerah

b. Benchmarking

c. Pengumpulan data tambahan untuk mempertajam rumusan kelembagaan

d. Penyusunan draft kebijakan pembentukan kelembagaan antar daerah.

e. Sosialisasi Model Kebijakan Antar Daerah.

beberapa kerjasama antar daerah yang berhasil

D. Tinjauan Pustaka

1. Problem Pembangunan Infrastruktur Publik Lintas Daerah di Era Otonomi belum Ter- pecahkan

Di era otonomi, pembangunan infrastruktur publik lintas daerah menjadi isu yang signifikan. Ini diakibatkan sifat infrastruktur publik yang cenderung “mahal”, tidak memberi manfaat langsung bagi daerah, dan yang paling penting bersifat lintas daerah. Infrastruktur pengendali banjir di Jakarta (Banjir Kanal) yang dibangun dengan ongkos sosial dan ekonomi yang cukup mahal, ternyata tidak pernah bisa

14

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

mengatasi persoalan banjir tahunan, manakala konservasi daerah resapan air dan perambahan daerah resapan air di Bogor dan wilayah selatan Jakarta tidak ditangani dengan baik. Persoalan pembangunan instalasi pembuangan akhir (TPA) sampah di Denpasar, dan Kota Bandung, Yogyakarta, Medan dan kota-kota lain selalu tidak bisa ditangani sendiri oleh kota-kota itu. (lihat Kompas.com, M Sinaga,2006; Pustra PU:2007). Hal yang sama terjadi pada infrastruktur jalan-jembatan, irigasi, sanitasi dan jaringan air minum. Padahal semua infrastruktur itu amat mempengaruhi hajat dan kualitas hidup masyarakat luas. Beberapa aktor, seperti pemerintah pusat dan Pemerintah Propinsi serta berbagai jalur pendanaan seperti DAK (dana alokasi khusus), Dana Dekonsentrasi barangkali dapat menjadi alternatif pemecahan masalah; na- mun kenyataannya alternatif tersebut tidak memadai dibandingkan dengan skala persoalan yang begitu banyak. Oleh karena itu inisiatif daerah yang bersinggungan dengan infrastruktur tersebut perlu bek- erja sama untuk mengatasi pembangunan infrastruktur publik lintas daerah. Sayangnya, Indonesia dan Pemerintah Daerah belum banyak memiliki “pengalaman” dan terutama “model” yang dapat menjadi banchmark bagi daerah untuk merealisasi niat itu.

2. Kegagalan

Pembangunan Infrastruktur Publik Lintas Daerah dan Kerjasama antar

Daerah Terus Berlanjut.

Tidak dapat dipungkiri bahwa otonomi daerah dan desentralisasi kewenangan kepada pemerintah daerah telah merubah cara pandang aktor daerah, baik pemerintah daerah, DPRD, dan kekuatan-kekua- tan sosial politik di daerah menjadi cenderrung inward looking dalam menghadapi persoalan-persoalan pembangunan. Setiap perumusan kebijakan selalu diorientasikan kepada pertanyaan “apa manfaat bagi daerah?”. Cara pandang “kemasing-masingan” (Pratikno:2007) ini menjadikan gerakan daerah-sentris menjadi mengental. Padahal berbarengan dengan otonomi dan desentralisasi, persoalan potensi daerah yang merupakan faktor utama yang secara aktual menentukan derajat otonomi daerah dapat menjadi variabel yang begitu penting. Pada era ini, daerah yang memiliki potensi pembangunan berlimpah akan mampu mengakselerasi pembangunan daerah. Celakanya satuan daerah otonom (Kota dan Kabupaten) seringkali tidak meme- miliki potensi yang cukup untuk mengatasi persoalan pembangunan secara otonom. Persoalan menjadi begitu pelik ketika cara pandang yang daerah-sentris, sumberdaya yang terbatas berhadapan dengan persoalan pembangunan infrastruktur publik yang dalam banyak kasus bersifat lintas daerah. Yang ke- mudian terjadi adalah terabaikannya infrastruktur publik lintas daerah, karena alasan-alasan keterbatasan anggaran daerah, perlu kordinasi dengan daerah lain, manfaat bagi daerah sendiri kurang sepadan den- gan beaya yang harus di tanggung, dan tiadanya aktor yang berinisiatif untuk memulai. Dalam situasi demikian, Kerjasama antar daerah harus dilakukan. Melalui Kerjasama sharing infor- masi, cara pandang, sharing beban dan sharing tanggung jawab dapat dirumuskan; sehingga problem in- frastruktur lintas daerah dapat diatasi. Namun sayangnya, berbagai forum kerjasama yang sudah diben- tuk, sebagian besar masih belum mampu mengambil peran yang signifikan. Forum itu kemudian hanya berfungsi sebagai forum diskusi, tukar informasi, keluhan tanpa mampu mengambil keputusan yang berarti. (lihat laporan studi M Sinaga,2006; Pratikno dkk,2007; Pustra Dep. PU,2007). Oleh karena itu perlu dilakukan kajian intensif untuk merumuskan model kerjasama antar daerah yang memiliki kapabilitas memadai untuk memecahkan problem infrastruktur lintas daerah

Hendar Klestono

antar Daerah dalam Pembangunan Infrastruktur Perbatasan

Pengembangan Model Kelembagaan Kerjasama

15

KEUTAMAAN PENELITIAN:

Otonomi Daerah: Daerah Sentris dalam Perencanaan & Pelaksanaan Pembangunan
Otonomi Daerah:
Daerah Sentris dalam
Perencanaan & Pelaksanaan
Pembangunan
PROBLEM Pembangunan Infrastruktur Perbatasan
PROBLEM
Pembangunan
Infrastruktur
Perbatasan
Pembangunan PROBLEM Pembangunan Infrastruktur Perbatasan Kelembagaan baru yang lebih efekti. Kelembagaan yang sudah
Kelembagaan baru yang lebih efekti.
Kelembagaan
baru yang
lebih efekti.

Kelembagaan yang sudah ada, ternyata belum efektif

3. Ironi Otonomi Daerah dan Pembangunan Infra Struktur Lintas Daerah

Upaya masyarakat dan pemerintah daerah untuk memperoleh otonomi yang lebih besar dari pemer- intah pusat seakan mendapatkan momentum, ketika gelombang reformasi politik menumbangkan rezim Suharto pada pertengahan tahun 2008. Sejalan dengan tumbangnya pemerintahan orde baru dimulailah era otonomi daerah yang diawali dengan diterbitkannya UU No 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Euforia seman- gat otonomi daerahpun memuncak di antara tahun 1999 hingga 2001 ini. Daerah yang selama ini hanya menjadi kepanjangan tangan pemerintah pusat, tiba-tiba memiliki kewenangan besar dan mengelola dana besar untuk dikelola secara otonom Namun sayangnya, pesta tak berlangsung lama. Otonomi daerah yang diyakini publik sebagai solusi bangsa ini telah dianggap melenceng dari tujuan semula. Keluhan, kritik dan makian berkembang di berbagai forum seminar, media massa, kalangan perumus kebijakan dan pembicaraan sehari-hari masyarakat (Karim Abdul Gaffar: 2003) Opini ini nampaknya berkembang berkait dengan penilaian publik atas profil, perilaku dan kebijakan petinggi daerah selama ini iauh dari harapan (Pratikno:2007). Pratikno mengidentifikasi berbagai persoalan yang melanda otonomi daerah, seperti sinisme dan pesi- misme atas profil dan kinerja DPRD, sinsime dan kekhawatiran lahirnya “raja-raja kecil” daerah yang bertindak semau gue, kinerja pelayanan publik yang tak kunjung membaik (Pratikto: 2007). Bahkan laporan Kompas (24 April 2009), menunjukkan betapa terbengkalainya Infrastruktur Publik di era oto- nomi daerah. Namun yang paling penting dari semua “kegagalan” itu adalah lahirnya cara berfikir “kemasing- masingan” (Pratikno:2007), yakni cara pandang yang daerah sentris dalam menyikapi persoalan pemban- gunan. Cara pandang ini menjadi komplikatif ketika Daerah merespons persoalan-persoalan yang lebih luas; yakni persoalan yang tidak dapat diselesaikan secara parsial. Padahal berbagai persoalan, seringkali bersifat intas daerah. Persoalan penanganan infrastruktur publik seperti DAS, Jalan raya antar daerah, Kanal Pengendali Banjir, Instalasi air bersih dan limbah, transportasi hampir selalu bersifat lintas daerah. Fakta ini kemudian menimbulkan persoalan ketika berhadapan dengan pemerintah daerah yang cend- erung “inward looking” .(Pratikno 2004) Fenomena inilah yang kemudian dikatakan orang sebagai ironi otonomi daerah.

16

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

4. Keniscayaan Kerjasama Antar Daerah

Kerjasama antara daerah adalah perikatan antar dua atau lebih pemerintah daerah untuk mengatasi persoalan bersama. Kerja sama semacam ini niscaya harus dilaksanakan karena kenyataannya banyak persoalan ekonomi, sosial, budaya dan pelayanan publik yang bersifat lintas daerah. Kerjasama semacam ini mudah dilaksanakan (dipaksakan) ketika dominasi Pemerintah Pusat atas pemerintah daerah atas perencanaan dan pendanaan pembangunan masih kuat. Namun pada saat peran itu dilimpahkan kepada daerah; kerjasama yang mestinya menjadi keniscayaan tidaklah mudah dilakukan. Padahal menurut Pratikno (2004) ada beberapa alasan kuat atas terjalinnya kerjasama antar daerah itu: pertama, logika pengaturan cara lama yang didasarkan atas regulasi dan kontrol yang hierarkhis su- dah tidak memadai dikarenakan sudah tersebarnya “kekuasaan” ke tangan banyak aktor (baca:pemerintah daerah) Kedua, peluang dan tantangan yang dihadapi pemerintah daerah seringkali bersifat lintas teritori, sehingga membutuhkan penanganan yang sinergis antar daerah yang berhadapan dengan tantangan itu. Ketiga, kerjasama antar daerah dapat memperkuat “posisi tawar” daerah tatkala harus berhadapan den- gan aktor luar dan keempat, kerjasama antar daerah mampu mengatasi keterbatasan sumberdaya yang dimiliki. Dalam situasi demikian inilah, maka konsep “network governance” menemukan konteksnya.

E. Hasil Penelitian dan Analisis

1. Model- Model Kerjasama Antar Daerah

Desentralisasi dan otonomi daerah telah merubah pola hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah (hubungan vertikal), maupun antara pemerintah daerah satu dengan pemerintah daerah yang lain (hubungan horisontal). Secara vertikal, pemerintah daerah kini adalah entitas poli- tik dan pemerintahan yang relatif otonom dan memiliki kewenangan untuk mengelola pembangunan daerahnya sendiri; Pemerintah daerah tidak lagi menjadi sekedar kepanjangan tangan pemerintah pusat. Dalam perspektif hubungan antar daerah (horisontal), maka daerah yang satu adalah daerah otonom atas daerah yang lain. Dalam relasi seperti itu, daerah yang satu “terpisah” secara politis dan kelembagaan atas daerah yang lain. Di depan telah disampaikan, bahwa pergeseran itu menuntut adanya format baru hubungan antar daerah; sebagai akibat adanya tantangan dan peluang pembangunan yang sering bersifat lintas daerah. Intergovernmental network atau jaringan kerjasama antar daerah (baik secara vertikal maupun secara horisontal ) dianggapn pilihan terbaik dalam konteks otonomi daerah. Di banyak negara, praktek inter- governmental network juga telah lama di praktikkan. SALGA (South Africa local Government) di Afrika Selatan, LCP (the League of Cities of Philippines) dan CoR (Commitee of The Regions) adalah kerja sama antar daerah yang telah eksis menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi bersama. Di Indonesia, telah lama dikenal Kartamantul (Yogyakarta, Sleman dan Bantul), Jabotabek (Jakarta Bogor Tangerang Bekasi), Mebidang (Medan Binjai Deli Serdang) adalah contoh-contoh networking antar daerah yanag telah di bentuk. (Pustra Dep. PU:2007) Pada kenyataannya ada asosiasi antar daerah yang dibentuk untuk menangani masalah yang spesifik, namun ada juga yang dibentuk sebagai ajang komunikasi antar daerah untuk membicarakan persoalan – persoalan apa saja yang dianggap urgen untuk dibicarakan. Dalam posisi terakhir ini Kerjasama antar daerah lebih berfungsi sebagai “Forum” atau bahkan ada yang menyebut sebagai “Sekretariat Bersama”. Secara konseptual, penelitian Jurusan Ilmu Pemerintahan UGM dalam sebuah penelitiannya menyebut- kan manfaat-manfaat yang dapat diraih dalam kerjasama antar daerah:

Hendar Klestono

antar Daerah dalam Pembangunan Infrastruktur Perbatasan

Pengembangan Model Kelembagaan Kerjasama

17

a. Manajemen Konflik antar Daerah; Kerjasama antar daerah dapat menjadi ajang untuk mengurai dan mengelola potensi konflik antar daerah; menjadi sesuatu yang lebih produktif. Forum ini dapat juga dipakai untuk saling memahami posisi masing-masing daerah dalam menyikapi sebuah per- soalan.

b. Efisiensi dan Standardisasi Pelayanan Publik. ; Kerjasama antar daerah dapat dipakai untuk menjadi collective action dalam pelayanan publik; agar standard dan mutu pelayanan publik antar daerah yang berhimpitan tidak mengalami ketimpangan.

c. Pengembangan Ekonomi; Kerjasama antar daerah dapat dipakai menjadi instrumen pendorong pengembangan sebuah wilayah. Potensi ekonomi yang tidak bernilai oleh satu daerah, bisa jadi memiliki potensi yang meningkat tatkala dikaitkan dengan potensi daerah lain. Melalui upaya ini, maka potensi sumberdaya pembangunan dapat ditingkatkan efisiensi dan efektivitasnya

d. Pengelolaan Lingkungan. Banjir di jakarta misalnya tidak pernah dapat diatasi jika network antara daerah sekitarnya (Bogor, Banten dan Tangerang) tidak dapat di jalin. Demikian pula dengan upaya konservasi lingkunngan yang sering bersifat lintas daerah. (Pratikno dkk, JIP : 2007).

Manfaat networking antar daerah di atas bisa saja diperoleh karena dalam mekanisme government networking dapat dilakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

a. Identifikasi masalah secara bersama

b. Pertukaran informasi antar daerah

c. Pertukaran sumberdaya pembangunan

d. Peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan

e. Perumusan strategi atau program bersama antar daerah. (Pratikno : 2007)

Secara umum persoalan antar daerah, termasuk infrastruktur publik amat beragam potret maupun sifatnya. Karena itu, basis yang dapat dipakai sebagai dasar kerjsama antar daerah juga bisa beraneka ragam; misalnya:

a. Basis ketetanggaan secara geografis. Kesamaan geografis sering menjadi cermin kesamaan persoalan yang dihadapi secara bersama; sehingga basis ketetanggan georafis cukup kuat dijadikan alasan kerjasama.

b. Basis kesamaan potensi. Kesamaan potensi antar daerah bisa menjadi tidak sehat tatkala menimbulkan konflik dan per- saingan yang tidak sehat pula. Sebaliknya dengan bekerjasama, potensi yang dimiliki bisa dikelola bersama secara lebih efisien.

c. Basis kesetaraan permasalahan. Biasanya kesamaan persoalan yang dihadapi antar daerah, dapat menjadi alasan yang kuat untuk bekerjasama.

Alasan lain yang dapat menjadi dasar kerjasama adalah ”kesamaan kepentingan” atas sebuah persoa- lan yang dihadapi secara lintas daerah. Kesamaan kepentingan atas infrastruktur publik, seperti jalan- raya, dermaga, transportasi, air bersih dan air limbah serta irigasi dapat saja menjadi basis pendirian sebuah forum kerjasama antar daerah. Bentuk dan metode kerjasama antar pemerintah daerah meliputi (1) intergovernmental service con- tract; (2) joint service agreement, dan (3) intergovernmental service transfer (lihat Henry, 1995). Jenis ker- jasama yang pertama dilakukan bila suatu daerah membayar daerah yang lain untuk melaksanakan jenis pelayanan tertentu seperti penjara, pembuangan sampah, kontrol hewan atau ternak, penaksiran pajak. Jenis kerjasama yang kedua diatas biasanya dilakukan untuk menjalankan fungsi perencanaan, anggaran

18

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

dan pemberian pelayanan tertentu kepada masyarakat daerah yang terlibat, misalnya dalam pengaturan perpustakaan wilayah, komunikasi antar polisi dan pemadam kebakaran, kontrol kebakaran, pembuan- gan sampah. Dan jenis kerjasama ketiga merupakan transfer permanen suatu tanggung jawab dari satu dearah ke daerah lain seperti bidang pekerjaan umum, prasarana dan sarana, kesehatan dan kesejahter- aan, pemerintahan dan keuangan publik. Sementrara itu dilihat dari derajat kerja sama antar daerah, dapat dipilah dua bentuk kerjasama. Yang pertama handshake Agreement dan writen agreemen. (Rosen dalam Yeremias T Keban 2007). Ben- tuk “handshake agreements” merupakan bentuk yang banyak menimbulkan konflik dan kesalahpaha- man (misunderstanding), sementara bentuk yang tertulis dibutuhkan untuk melakukan program kontrak, kepemilikan bersama, atau usaha membangun unit pelayanan bersama. Hal-hal yang harus diucapkan dalam perjanjian tertulis ini meliputi kondisi untuk melakukan kerjasama dan penarikan diri, sharing biaya, lokasi, pemeliharaan, skedul, operasi dan aturan kepemilikan sumberdaya bersama, kondisi sewa, dan cara pemecahan konflik . Rosen (1993: 218 – 222) menjelaskan bahwa pengaturan kerjasama antar pemerintah daerah terdiri atas beberapa bentuk; yaitu:

a. Consortia: yaitu pengaturan kerjasama dalam sharing sumberdaya, karena lebih mahal bila ditang- gung sendiri-sendiri; misalnya pendirian perpustakaan dimana sumberdaya seperti buku-buku dan pelayanan lainnya, dapat digunakan bersama-sama oleh mahasiswa, pelajar dan masyarakat publik, dari pada masing-masing pihak mendirikan sendiri karena lebih mahal.

b. Joint Purchasing: yaitu pengaturan kerjasama dalam melakukan pembelian barang agar dapat me- nekan biaya karena skala pembelian lebih besar.

c. Equipment Sharing: yaitu pengaturan kerjasama dalam sharing peralatan yang mahal, atau yang tidak setiap hari digunakan.

d. Cooperative Construction: yaitu pengaturan kerjasama dalam mendirikan bangunan, seperti pusat rekreasi, gedung perpustakaan, lokasi parkir, gedung pertunjukan, dsb.

e. Joint Services: yaitu pengaturan kerjasama dalam memberikan pelayanan publik, seperti pusat pe- layanan satu atap yang dimiliki bersama, dimana setiap pihak mengirim aparatnya untuk bekerja dalam pusat pelayanan tersebut.

f. Contract Services: yaitu pengaturan kerjasama dimana pihak yang satu mengontrak pihak yang lain untuk memberikan pelayanan tertentu, misalnya pelayanan air minum, persampahan, dsb. Jenis pengaturan ini lebih mudah dibuat dan dihentikan, atau ditransfer ke pihak yang lain .

g. Pengaturan lainnya: pengaturan kerjasama lain dapat dilakukan selama dapat menekan biaya, mis- alnya membuat pusat pendidikan dan pelatihan (DIKLAT), fasilitas pergudangan, dsb.

2. Prinsip Prinsip Jaringan Dalam Pengelolaan Kerjasama Antar Daerah

Kapasitas kerjasama antar daerah seringkali ditentukan oleh derajat sharing yang menjadi pilar ter- bentuknya kerja sama. Semakin tinggi sharing antar daerah dalam pola kerjasama, maka kerjasama yang dibangun akan memiliki kapasitas didalam mengatasi persoalan-persoalan yang dikerjasamakan. Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa saharing sesungguhnya adalah inti dari kerjasama, bukannya manfaat yang selama ini banyak dipahami. Banyak hal yang dapat disharing-kan dalam kerjasama, seperti shar- ing bebanpengelolaan, pembeayaan, pengalaman, informasi dan tentu saja tanggungjawab. Yudhoyono (2002) menjelaskan sharing dalam kerjasama antara lain berupa sharing of experience, sharing of benefit dan sharing of burden. Faktor lain yang menentukan kapasitas kerjasama, adalah kemampuan mereka dalam mengkon- versi sharing menjadi aksi bersama (collective antion). Hanya melalui mekanisme inilah maka kerjasama

Hendar Klestono

antar Daerah dalam Pembangunan Infrastruktur Perbatasan

Pengembangan Model Kelembagaan Kerjasama

19

yang dibangun dapat dipakai sebagai instrumen untuk mengatasi persoalan, termasuk didalamnya adalah persoalan pembangunan infrastruktur lintas daerah. Dalam salah satu kajian yang dilakukan oleh Pusat Kajian Stretegis (Pustra) Dep. Pekerjaan Umum (2007) terungkap bahwa berbagai kerjasama antar dae- rah tak kunjung mampu merumuskan collective action untuk mengatasi persoalan lintas daerah. Oleh karena itu bisa dimengerti jika format kerjasama antar daerah saat ini masih dipandang sebagai “forum komunikasi” yang seringkali miskin aksi. (Pustra Dep. PU:2007) Dalam format kerjasama antar daerah, collective action yang dikembangkan dapat berbeda satu dengan yang lain. Hal itu ditentukan oleh dua faktor utama, yakni tingkatan kordinasi dan derajat kesa- maan kepentingan antar daerah / aktor yang terlibat dalam kerjasama. Lars Carrison (1995) menjelaskan fenomena itu dengan menyebutnya sebagai “The Logic oc collective action” sebagai berikut:

The Logic of Collective Action

   

Interest

Coordination

 

Divergent

Commont

High

Policy Network

Organization

Low

Election

Riot

 

Lars Carrison:1995.

 

Dari elaborasi di atas dapat dipelajari bahwa collective action yang dapat dikembangkan dalam kerangka kerjasama dapat mengambil bentuk policy network, organization, election atau riot. Pemben- tukan “Organisasi” dalam kerjasama antar daerah adalah format ideal ketika kerjsama itu bercirikan koordinasi yang tinggi, dan adanya kesamaan interes diantara para aktor. Policy Network adalah format aksi kelompok yang paling ideal dalam kondisi koordinasi antar aktor tinggi, sekaligus juga interes yang berbeda dari para aktor. Sedangkan riot atau “kerusuhan” adalah collective action ketika diantara para aktor terikat dalam kordinasi yang longgar, namun memiliki kesamaan interes diantara mereka. Layaknya tanaman, maka kerjasama juga harus di maintain dan dikelola agar tumbuh semakin mem- besar dan memberi banyak faedah. Dalam konteks otonomi daerah, menurut Ari Ruhyanto (2007) dalam Pratikno (2007) ada banyak sekali faktor yang bermain dalam pengembangan kerjasama antar daerah. Beberapa faktor itu adalah : Adanya fokus outward diantara para aktor yang bekerja sama; Adan- ya keinginan bersama antar daerah yang tergabung, Adanya refleksi antar daerah yang tergabung;Ada kesadaran diri akan arti penting kerjsama antar daerah, adanya kesadaran untuk belajar dan berbagi, akuntabilitas, transparansi dan kelembagaan yang jelas.

F.

Kesimpulan

Dari data yang terjaring di lapangan memiliki karakteristik:

a. Rata-rata penelitian masih bersifat evaluasi dan bahkan deskripsi atas kerjasama eksisting. Sehingga hasilnya masih sekedar penggambaran yang cukup detail tentang kondisi, keberhasilan dan prob- lem yang dihadapi kerjsama antar daerah. Tawaran format kerja sama memang sudah mulai diberi- kan (Pratikno, dkk., 2007), namun masih belum mampu menjadi rujukan pengambil kebijakan untuk mewujudkan kerjasama yang lebih efektif. Akibatnya sebagian besar kerjasama antar daerah masih berhenti sebatas sebagai forum komunikasi antar daerah.

20

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

b. Obyek penelitian masih bersifat umum; yaitu persoalan-persoalan pembangunan pada umumnya yang bersifat lintas daerah. M Sinaga (2006) misalnya memfokuskan perhatiannya pada persoalan pembangunan, Polokda UGM (2006, 2007) lebih pada persoalan “manajemen pembangunan”; Pustra Departemen PU (2007) lebih memfokuskan pertanyaan “siapa yang menjadi regulator” pembangunan di era otonomi daerah. Sementara itu, problem krusial dalam era otonomi adalah “pembangunan infrastruktur lintas daerah”, yang sifatnya padat modal (mahal), pemanfaatannya sering tidak setimbang antar daerah, dan model kerjasama untuk mengatasi persoalan itu belum “memadai” untuk dipakai sebagai rujukan.

c. Sebagian besar model kerjasama diadopsi dari kerjasama antar swasta-swasta dan pemerintah-swas- ta. Dalam berbagai literatur dan hasil penelitian yang dikembangkan sebagai contoh kerjasama antar daerah, sebagian besar diambil dari model kerjasama di sektor privat. Padahal ada banyak perbedaan mendasar antara kerjasama privat dengan privat, dibandingkan dengan publik-publik (daerah-daerah). Kerjasama di sektor swasta (privat) mudah dilakukan, karena obyek yang dikerja- kan mudah dinilai dengan uang; sehingga sharing pendanaan, tanggung jawab dan beban menjadi lebih mudah dilakukan. Sementara kerjasama publik-publik cenderung mengangkut penyediaan “barang publik” yang bersifat “non rivalry”, dan cenderung susah ditakar dengan uang. Pada situasi seperti ini amat susah menentukan sharing beban, kewajiban dan tanggungjawab dalam kerjasama. Padahal proses sharing inilah yang akan menentukan keberlanjutan kerjasama antar daerah. Karena itu, pengembangan model “kerjasama antar daerah” perlu dilakukan agar problem pembangunan infrastruktur publik lintas daerah dapat diatasi melalui kerjasama antar daerah yang efektif.

DAFTAR PUSTAKA

Budiman, Arif., Barbara Hatley, Damien Kingsbury (ed);2000; Harapan dan Kecemasan: Menatap Arah Reformasi Indonesia; Yogyakarta:Bigfraf Carisson; Lars., 1995 Policy Making, Collective Action, and The Governability of Society.; Paper dipresen- tasikan dalam The Mini Conference on Political Order and Development Gaffar; Karim Abdul (ed).,2003., Kompleksitas Pelaksanaan Otonomi Daerah di Indonesia”, JIP – UGM Yogyakarta Henry, N. 1995. Public Administration and Public Affairs. Sixth Edition. Englewood Cliffs, N.J. : Pren- tice –Hall. Kuswanto SA.,2006, Antara Sentralisasi dan Desentralisasi Pengelolaan Sumberdaya Air., http://psdal.

lp3es.or.id/opini.html

Pratikno., 2004 Format Kelembagaan Kerjasama Antar daerah Kartamantul”, Yogyakarta - Urban Quality GTZ dan Sekber Kartamantul, Pratikno (ed).,2007, Kerjasama Antar Daerah: Kompleksitas dan Tawaran Format Kelembagaan ; Yogya- karta – Polokda JIP UGM Pustra, Dep. Pekerjaan Umum: (2007), Kajian Reformasi Badan Regulator di Lingkungan Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta - Pustra Dep. Pekerjaan Umum . Rosen, E.D. 1993. Improving Public Sector Productivity: Concept and Practice. London: Sage Publications, International Educational and Professional Publisher. Sinaga; Murbanto., 2006. Model Kerjasama Antar Daerah dalam Pembiayaan Pembangunan Daerah, Medan - USU Repository 2006.

Hendar Klestono Pengembangan Model Kelembagaan Kerjasama

antar Daerah dalam Pembangunan Infrastruktur Perbatasan

21

Sekber Kartamantul, 2006, Membangun Kawasan Terpadu Perkotaan Kartamantul dengan Semangat Ke- bersamaan; Laporan Kegiatan Tahun 2005, Yogyakarta. Olson, Mancur., 1971., The Logic of Collective Action., Cambridge – Harvard University Press.

PEMBERDAYAAN KELEMBAGAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM DESA (SPAMDES) DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Sudaru Murti murtizagita@yahoo.co.id

Program Studi Sosiologi STISIP Kartika Bangsa Yogyakarta

ABTRACT

This study aims; want to know monopolistic public organization that taps the source procurement of clean drinking water and healthy and is a basic human need. This is in line with expectations and the achieve- ment of the MDG’s RPJMN 2015, but the empirical experience of constraints on human and manage- ment system is still low and has not been effective. The study was based on a descriptive analytical research through focus group discussions of data network- ing, data mining and data sekundair the primary relevant to this study. The analysis was conducted by analysts SWOTT, then summed to obtain the recommendations in the four districts of Yogyakarta through purposive random sampling. The results obtained in this study, the didersivikasikan PDAM management capabilities through SPAM- DES in four districts of the organization’s management system is still weak due to human resources; back- ground of education, camaraderie and a sense of belonging, perceptions and organizational participation. As a result, the ability of organizations SPAMDES not optimal, supported competence and awareness of the obligations as a user who has been given the ministry of water supply is not comparable to public in- frastructure provided. Moreover supra and appropriate infrastructure is still inadequate standardization organization of water supply services.

Keyword: Management, Empowerment and Competence

A.

Pendahuluan

Tantangan kelembagaan dalam pengembangan SPAM, untuk mengetahui keadaan PDAM saat ini terutama dalam peningkatan kebutuhan air bersih masyarakat. Air minum merupakan salah satu ke- butuhan dasar dan keberlanjutan kehidupan manusia. Oleh karena itu air minum harus tersedia dalam kuantitas dan kualitas yang memadai, namun untuk menyediakan air minum yang memadai menghada- pi berbagai masalah. Masalah strategis terkait penyediaan air minum saat ini cukup rumit, semua harus dilihat sebagai tantangan pencapaian target yang ditetapkan RPJMN 2010-2014 maupun kesepakatan MDG’s 2015. Perhatian pemerintah dalam pengembangan sistem penyediaan air minum sangat serius, dikarenakan pelayanan air minum masih belum memuaskan.Adapun pelayanan air minum nasional yang telah dicapai sampai akhir tahun 2009 melalui jaringan perpipaan masih rendah yaitu sebesar 25,56 persen; di perkotaan baru 43,96persen dan perdesaan 11,54persen. Pencapaian masih jauh dari target, sesuai sasaran MDG’s yaitu 60,3 persen masyarakat Indonesia mendapatkan air minum aman ditahun

2015.

Sebagai peningkatan pelayanan, pemerintah giat melakukan pembangunan IKK di daerah yang be- lum mendapatkan pelayanan air minum. Pemerintah melalui Direktorat Pengembangan Air Minum me-

Sudaru Murti

di Daerah Istimewa Yogyakarta

Pemberdayaan Kelembagaan Sistem Penyediaan Air Minum Desa (SPAMDES)

23

wajibkan Pemerintah Daerah menunjuk pengelola SPAM IKK agar IKK tersebut dapat segera berman- faat bagi masyarakat. Selain SPAM IKK perkotaan, terdapat pula program SPAM perdesaan dimana pengelolaan SPAM dilakukan oleh organisasi SPAM berbasis masyarakat, sedangkan di Daerah Istimewa Yogyakarta ada Paguyuban Masyarakat Air Minum Yogyakarta ( PAMMASKARTA). Pembangunan berbasis masyarakat menurut Edi Suharto (2009) menyebutkan sejumlah hasil-hasil yang positif dari pendekatan ini, termasuk meningkatkan rasa kepemilikan terhadap proyek, mengurangi biaya proyek, pendistribusian manfaat yang lebih merata dan sebagainya. Organisasi SPAM berbasis masyarakat dapat mengoperasikan infrastrukttur sistem air minum me- miliki umur sarana ( umumnya 10 tahun) dan mengembangkan pelayanan pada mereka yang belum terlayani. PDAM yang belum berkembang baik, masih harus membenahi kelembagaan terutama per- encanaan dan pengendalian sumberdaya manusia karena sumberdaya manusia (SDM) memiliki peran penting dalam pengembangan dan pencapaian sasaran organisasi. Pengembangan kelembagaan, didasar- kan perencanaan matang dan sesuai dengan Master Plan. Perencanaan yang dipersiapkan, diharapkan mengembangkan PDAM yang sakit. Adapun faktor faktor lain yang mempengaruhi kemampuan seperti :

Keterbatasan sistem manajemen komersial

Akses sistem pengelolaan modal organisasi

Legitimasi dan kejelasan hubungan dengan pemerintah daerah.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah pengelola SPAM dengan kinerja yang sehat, mampu memberikan pembinaan kepada pen- gelola SPAM secara manajemen kelembagaan ?

2. Bagaimana pelaksanaan sosialisasi pemberdayaan masyarakat untuk pencapaian partisipasi serta kesadaran selaku subyek utama pembangunan, sehingga memunculkan rasa memiliki (sense of be- longing) dalam pengelolaan dan pemeliharaan prasarana dan sarana SPMA yang dibangun?.

C. Metode Penelitian

Penguatan Kelembagaan Pembangunan SPAM Wilayah DIY (4 Kabupaten) menggunakan analisis deskriptif kualitatif-kuantitatif, dimana analisis dan pembahasan berdasarkan kondisi yang ada baik secara data primer secara kualitatif dan data sekunder secara kuantitatif. Kemudian penarikan kesim- pulan berdasarkan keterpaduan

Analisis kualitatif dan kuantitatif, dengan penyajian rekomendasi berupa solusi terhadap permasala- han yang muncul.

Tahap-tahap kegiatan

Lokasi peningkatan Pemberdayaan Kelembagaan Pembangunan SPAM Wilayah DIY ( 4 kabupaten) di Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunungkidul, Kabupaten Kulonprogo dan Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta. Adapun langkah-langkah dilakukan melalui :

1. Melakukan inventarisasi kondisi dan potensi pengelola SPAM yang dilaksanakan oleh organisasi ber- basis masyarakat di kabupaten/kota serta SPAM IKK agar dapat dikelola dan dimanfaatkan secara optimal

2. Mengumpulkan data primer berupa pelaksanaan pemberdayaan dan pengelolaan Sistem Penyediaan Air Minum untuk dijadikan bahan pembinaan dan sosialisasi

24

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

4. Melakukan Sosialisasi, materi dalam sosialisasi meliputi :

Pembentukan Kelembagaan dan kompetensi pengelola SPAM

Rencana pembentukan organisasi pengelola air minum tingkat dusun maupun desa serta pen- genalan organisasi pengguna dan pengelola air minum (PAMMASKARTA)

Permasalahan kelembagaan dan kompetensi pengelola SPAM

Memfasilitasi calon pengguna air minum untuk membentuk kelembagaan

Memberikan materi tentang arti penting manajemen pengelolaan SPAM yaitu :

1. Tugas dan wewenang pengurus,meliputi : aspek majemen serta aspek kompetensi

2. Legitimasi, kepastian hukum dan kejelasan hubungan dengan pemerintah daerah

3. Terbentuknya kelembagaan pengelola air minum di lokasi pembangunan SPAM

D. Tinjauan Teoritis

Asal kata pemberdayaan terjemahan dari “empowerment”, yang memiliki kata dasar “power” atau kekuasaan (keberdayaan). Kekuasaan sering dikaitkan dengan kemampuan membuat orang lain melaku- kan apa yang diinginkan. Pemberdayaan menunjuk kemampuan orang, khususnya kelompok rentan dan lemah, sehingga memiliki kekuatan :

1. Memenuhi kebutuhan dasar terutama pangan, papan, pakaian, kesehatan dan pendidikan.

2. Menjangkau sumber-sumber produktif yang memungkinkan dapat meningkatkan pendapatannya dan memperoleh barang/jasa diperlukan.

3. Berpartisipasi dalam proses keputusan-keputusan pembangunan. (Edi Suharto : 2009)

Sedangkan konsep pemberdayaan “empowerment” mengandung dua pengertian:

1. to give power or authority to atau memberi kekuasaan, mengalihkan kekuatan atau mendelegasikan otoritas kepada pihak lain

2. to give ability to or to enable atau usaha untuk memberi kemampuan atau keberdayaan, menciptakan peluang untuk mengaktualisasikan keberdayaan. (Wrihatnolo : 2007)

Dengan demikian dapat dikatakan pemberdayaan adalah proses menyeluruh yang berupa proses aktif antara motivator, fasilitator, dan kelompok masyarakat yang diberdayakan melalui peningkatan pengetahuan, ketrampilan, pemberian berbagai kemudahan serta peluang mencapai akses sistem sum- berdaya dalam meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Wrihatnolo (2007) lebih lanjut, minimal ada tiga strategi pemberdayaan yang dilaksanakan dalam memberdayakan kelompok atau masyarakat yang lemah, sebagai berikut :

1. Pemberdayaan Konformis, karena struktur sosial, struktur ekonomi dan struktur politik dianggap given, maka pemberdayaan sebagai peningkatan daya adaptasi terhadap struktur yang ada. Bentuk aksi strategi ini adalah mengubah sikap mental masyarakat yang tidak berdaya dan pemberian ban- tuan, baik modal maupun subsidi.

2. Pemberdayaan Reformis, tidak mempermasalahkan tatanan sosial, ekonomi, politik dan budaya. Tetapi mempersoalkan kebijakan operasional. Sehingga pemberdayaan difokuskan pada peningka- tan kinerja, pembenahan pola kebijakan, peningkatan kualitas SDM, serta penguatan kelembagaan.

3. Pemberdayaan Struktural, bahwa ketidakberdayaan kelompok masyarakat itu disebabkan oleh struktur sosial, politik, budaya dan ekonomi yang kurang memberikan peluang bagi kaum lemah (miskin). Dengan demikian pemberdayaan harus dilakukan melalui transformasi struktural secara mendasar dengan mendesain ulang (redesign) struktur kehidupan yang ada karena sasaran utamanya adalah memandirikan masyarakat.

Sudaru Murti

di Daerah Istimewa Yogyakarta

Pemberdayaan Kelembagaan Sistem Penyediaan Air Minum Desa (SPAMDES)

25

Jadi pemberdayaan (empowerment) adalah serangkaian kegiatan memperkuat kekuasaan atau keber- dayaan kelompok lemah dalam masyarakat, termasuk individu-individu yang mengalami kemiskinan. Dengan proses pemberdayaan dihasilkan kelompok masyarakat berdaya, memiliki kekuasaan, pengeta- huan dan kemampuan pemenuhan kebutuhan hidup, baik bersifat fisik, ekonomi, dan social; keper- cayaan diri, keberanian menyampaikan aspirasi, mandiri dalam kehidupan, serta mendorong munculnya kompetensi. Kompetensi menurut Dave Ulrich yang dikutip oleh Parulian Hutapea dan Nurianna Thoha (2008), diartikan “pengetahuan, ketrampilan atau kemampuan individu yang diperagakan”(an individual’s dem- onstrated knowledge, skills or abilities). Adanya kompetensi diharapkan pengelola SPAM memiliki adaptasi dan interaksi tinggi, serta mampu menghadapi setiap tantangan, menyangkut ketersediaan pengelolaan bagi penguatan kelembagaan organisasi SPAM

Ada beberapa komponen utama yang membentuk kompetensi:

1. Tingkat Pengetahuan yang dimiliki

2. Tingkat Ketrampilan

3. Perilaku Individu

4. Konsep Diri (self-concept), bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri atau sesuatu

5. Ciri Diri (trait), karakteristik fisik dan sosial yang melekat secara tetap pada seseorang

6. Motif, sesuatu yang diinginkan secara konsisten, sehingga akan berdampak pada perilaku seseorang. (Hutapea dan Thoha : 2008).

E. Hasil lapangan dan Pembahasan

Tantangan pengembangan kelembagaan SPAM dilakukan untuk mengetahui sejauh mana memper- baiki kemampuan perencanaan dan pengendalian kelembagaan n SPAMDES dan PDAM dengan studi lapangan di 4 (empat) kabupaten Daerah Istimewa Yogyakarta melalui kelompok swadaya masyarakat (KSM) mengelola unit reservoir air bersih untuk disalurkan ke wilayah dusun ataupun desa. Kondi- si kelembagaan PDAM relative sudah baik, berbeda struktur spamdes yang dikelola kelompok swa- daya masyarakat (KSM). Sumberdaya manusia (SDM) memiliki peran penting dalam mempersiapkan masyarakat menjadi sehat dan dapat mengembangkan SPAM dengan baik sesuai target MDGs. Adapun struktur pemasalahan yang dihadapi oleh PDAM pada umumnya di Indonesia:

SPAM dengan baik sesuai target MDGs. Adapun struktur pemasalahan yang dihadapi oleh PDAM pada umumnya di

26

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

Gambar Struktur Pemasalahan Yang Dihadapi Oleh PDAM Pada Umumnya Di Indonesia

Yang Dihadapi Oleh PDAM Pada Umumnya Di Indonesia Struktur Organisasi SPAMDES sudah ada tetapi sumberdaya

Struktur Organisasi SPAMDES sudah ada tetapi sumberdaya manusia kurang dan diskripsi peker- jaan tidak dibuat secara baku sehingga terjadi rangkap pekerjaan. Kondisi kelembagaan SPAMDES yang dikelola kelompok swadaya masyarakat (KSM) dilakukan untuk peningkatan pengelolaan organisasi, ter- utama perencanaan dan pengendalian sumberdaya manusia. Ada data pegawai, tetapi pengalaman kerja dan pendidikan tidak sesuai bidang pekerjaan.Upaya peningkatkan keahlian sumberdaya manusia,telah dilakukan pelatihan-pelatihan,walaupun belum ada SOP (Standar Operasional Prosedur). Kegiatan SPAMDES belum maksimal dan tidak terarah dalam pemberdayaan karena belum ada rencana induk, sehingga perlu dibuat Rencana Induk Organisasi. Koordinasi SPAMDES dengan ling- kungan dan pemangku kepentingan / stakeholder belum maksimal. Akibatnya SPAMDES belum bisa merespon perkembangan lingkungan dengan baik, sehingga wadah koordinasi pengelolaan SPAMDES antar lembaga perlu ada( Amitai Etzioni,1982). Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan Pemberdayaan Kelembagaan:

a) Faktor pendukung/kekuatan adalah sebagai berikut :

PDAM adalah asset pemerintah daerah perusahaan penyedia air bersih.

Kondisi geografis DIY adalah pegunungan dan pesisir pantai dengan air tanah yang sulit dija- ngkau sehingga kebutuhan akan air bersih cukup tinggi.

b) Faktor penghambat/kelemahan adalah sebagai berikut:

Kondisi pegawai dengan skill yang kurang memadai.

Sarana dan prasarana penunjang operasional dan administrasi belum memadai.

Aturan sanksi pelanggan penunggak pembayaran rekening belum diterapkan.

Lembaga belum memberi pelayanan air mengalir 24 jam kepada pelanggan.

c) Faktor kesempatan/peluang adalah sebagai berikut:

Adanya potensi peningkatan jumlah pelanggan

Adanya pengembangan daerah permukiman baru.

Adanya peluang untuk menaikkan tarif penjualan air.

Sudaru Murti

di Daerah Istimewa Yogyakarta

Pemberdayaan Kelembagaan Sistem Penyediaan Air Minum Desa (SPAMDES)

27

d) Faktor tantangan/treath adalah sebagai berikut: • Kualitas air yang dihasilkan PDAM rendah karena proses
d)
Faktor tantangan/treath adalah sebagai berikut:
Kualitas air yang dihasilkan PDAM rendah karena proses penjernihan air pada instalasi pengo-
lahan belum maksimal, sehingga pelanggan sering mendapatkan air keruh pada musim hujan,
dan tidak mengalir saat musim kemarau.
Kesadaran masyarakat/pelanggan dalam membayar rekening air masih rendah sehingga tung-
gakan rekening air relatif tinggi.
Tinjauan pelaksanaan SPAM di lokasi penelitian diperoleh hasil sebagai berikut:
1.
Pelaksanaan program dilakukan dengan koordinasi antara Dit.PAM dan PDAM
2.
Sudah dikuatkan dalam bentuk PERDA
3.
Belum adanya teknologi baru dalam pelayanan pelanggan dengan sistem online
4.
Memberikan bantuan dana hibah
5.
Kelembagaan penyelenggaraan PDAM kurang berjalan dengan baik
6.
Komitmen pemerintah daerah lemah
7.
Masyarakat belum tahu persyaratan pemasangan dan mendapatkan air bersih
8.
Akses terhadap informasi rendah
9.
Masih ada bidang pekerjaan yang tidak sesuai dengan keilmuan
10.
Masih terjadi rangkap jabatan sehingga pelaksanaan kerja tidak bisa fokus.
11.
Penetapan pimpinan baru dan pergantian karyawan tidak sesuai keilmuan.
12.
Belum adanya Master Plan, Bisnis Plan, dan penataan profil wilayah PDAM
Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap
Perubahan Pola Perilaku SDM Yang Memiliki Kompetensi
Perilaku
1.
yang
berubah
-
Konsep Diri
-
Penguatan
-
Ciri Diri
-
Pengulangan
-
Motivasi
-
Pengarahan
SDM yang
Punya
Kompetensi
Sumber :
Parulian Hutapea dan Nurianna Thoha, Kompetensi Plus,
Upaya penanganan permasalahan di atas yang perlu dilakukan oleh Dit. PAM:
1)
Perlu adanya kesinambungan program
2)
Memberi Juklak dan Juknis terhadap PDAM
3)
Perencanaan yang terintegrasi
4)
Peningkatan sosialisasi permasalahan di PDAM

28

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

Kondisi PDAM yang diinginkan ke depan

1)

Perencanaan yang matang sehingga masyarakat yang membutuhkan air bersih bisa segera terpenuhi

2)

Kelembagaan yang kuat sehingga kedepannya mampu meningkatkan pendapatan perusahaan

3)

Dapat menentukan arah pengembangan perusahaan secara berkala

4)

Dapat memenuhi standar air bersih yang sehat

5)

Pengembangan jaringan yang teratur dan sesuai dengan perencanaan tata kota

Dit. PAM perlu melakukan hal-hal sebagai berikut untuk mencapai kondisi PDAM yang diingin- kan di atas:

1)

Program yang berkelanjutan dan berkesinambungan

2)

Penambahan volume kegiatan

3)

Monitoring dalam pelaksanaan program

4)

Peningkatan penganggaran untuk pengembangan PDAM

5)

Melakukan sosialisasi dan pembinaan

6)

Meningkatkan kerjasama dengan stakeholder terkait

Tantangan yang perlu diperhatikan untuk mencapai kondisi PDAM yang diinginkan

1)

Kondisi perekonomian masyarakat yang rendah

2)

Tingkat pendidikan masyarakat masih kurang memadai

3)

Dayabeli masyarakat masih rendah khususnya untuk pemasangan saluran air bersih

4)

Adanya tunggakan pembayaran

5)

Komitmen pemangku kepentingan kurang

6)

Lokasi rumah yang tersebar dengan kondisi alam yang berbeda

7)

Rendahnya daya tangkap masyarakat terhadap program-program PDAM

Saran/pendapat upaya-upaya yang perlu dilakukan dalam rangka pemenuhan Air Bersih

1)

Memperkuat kerjasama dengan Perbankan

2)

Cepat tanggap dengan permasalahan pelanggan (lama atau baru)

3)

Mengutamakan penganggaran bagi kepentingan masyarakat yang membutuhkan air bersih

4)

Pelaksanaan program sesuai kondisi lapangan

5)

Perlu mengembangkan aturan-aturan baru dalam peningkatan pengadaan air bersih bagi masyarakat

6)

Penguatan struktur organisasi sesuai dengan bidang atau lingkup kerja

7)

Peran aktif pimpinan dalam pengembangan kelembagaan

8)

Dapat membangun citra yang baik melalui kerjasama dengan media.

Untuk mengukur kepuasan masyarakat digunakan atribut yang berisi tentang bagaimana masyarakat menilai suatu layanan yang ditinjau dari sudut pandang pelanggan. Menurut Dulka (1994:41), kepuasan masyarakat dapat diukur melalui atribut-atribut pembentuk kepuasan yang terdiri atas :

1)

Value to price relationship. Hubungan antara harga yang ditetapkan oleh organisasi untuk dibayar

2)

dengan nilai/manfaat yang diperoleh masyarakat. Product value adalah penilaian dari kualitas layanan yang dihasilkan organisasi.

3)

Product benefit adalah manfaat yang diperoleh masyarakat dari mengkosumsi produk layanan yang

4)

dihasilkan oleh organisasi Spamdes. Product feature adalah ciri-ciri atau karakteristik tertentu yang mendukung fungsi dasar dari suatu pelayanan sehingga berbeda dengan pelayanan yang ditawarkan pesaing.

Sudaru Murti

di Daerah Istimewa Yogyakarta

Pemberdayaan Kelembagaan Sistem Penyediaan Air Minum Desa (SPAMDES)

29

5)

6)

7)

Product design adalah proses untuk merancang tampilan dan fungsi pelayanan. Product reliability and consistency adalah kekakuratan dan keandalan pelayanan yang dihasilkan oleh suatu organisasi PDAM. Range of product ar services adalah macam layanan yang ditawarkan oleh organisasi PDAM dan SPAMDES.

Kemudian attribute related to service meliputi :

Guarantee or waranty adalah jaminan atau garansi yang diberikan oleh PDAM dan SPAMDES diharapkan dapat memuaskan masyarakat. Delivery communication adalah pesan atau informasi yang disampaikan olehPDAM dan SPAMDES kepada masyarakatnya. Complain handling adalah sikap PDAM dan SPAMDES dalam menangani keluhan-keluhan atau pengaduan.

Resolution of problem adalah tanggapan yang diberikan PDAM dan SPAMDES dalam memecahkan masalah masyarakat yang berkaitan dengan layanan yang diterimanya.

Selanjutnya attributes related to the purchase meliput:

3)

2)

1)

1)

Courtesy adalah kesopanan, perhatian dan keramahan pegawai

2)

Communication adalah kemampuan melakukan komunikasi dengan pelanggan.

3)

Ease or convinience of acquisition adalah kemudahan yang diberikan oleh badan usaha untuk men-

4)

dapatkan layanan yang ditawarkan. Company reputation adalah baik tidaknya reputasi yang dimiliki PDAM dan SPAMDES dalam

5)

melayani masyarakat. Company competence adalah baik tidaknya kemampuan PDAM dan SPAMDES dalam melayani masyarakat

Uraian di atas, pengelolaan PDAM dan SPAMDES merupakan proses kegiatan mengelola organ- isasi dengan menggerakkan partisipasi bagi yang memiliki kepentingan. Pengelolaan dalam organisasi SPAMDES memberikan suatu rangkai kegiatan yang berintikan perencanaan, pengorganisasian, peng- gerakan dan pengawasan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya, yang bertujuan untuk menggali dan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki secara efektif dan efisien guna men- capai tujuan tertentu yang telah direncanakan sebelumnya.(http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/ presenting/2108155-pengertian-pengelolaan/#ixzz1KYYXTGkv, download tanggal 26 April 2011:20.15 ) Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan pengelolaan adalah suatu rangkaian kegiatan yang bertujuan menggali dan memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki secara efektif untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditentukan.

F.

Kesimpulan

Peningkatan manajemen sumberdaya manusia merupakan hal yang penting dalam pengembangan usaha serta bagaimana organisasi dapat menjalankan secara baik,dan benar, contoh penyebab dalam se- buah organisasi/perusahaan tidak berjalan dengan baik/ terancam bangkrut adalah karena adanya krisis yang disebabkan oleh kelembagaan lantaran dililit utang, kinerja yang melemah, tidak adanya peren- canaan yang matang, serta kurangnya layanan teknologi informasi. Karena itu dengan adanya evaluasi pelaksanaan pembangunan sistem air minum di Daerah Istimewa Yogyakarta, dan untuk merubah ben- tuk dari PDAM yang sakit menjadi sehat, kedepannya perlu rencana pengembangan SPAM yang sesuai dengan pengendalian mutu dapat mencapai target MDGs.

30

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

Karena itu kedepannya di setiap Kabupaten yang memiliki PDAM di DIY perlu adanya kegiatan pelatihan-pelatihan yang kontinue. Dengan adanya pelatihan ini diharapkan para peserta dapat terbuka wawasan dan mendapat ilmu pengetahuan yang sesuai dengan bidang kerja/ keahlian, sehingga nantinya peserta tahu bagaimana meningkatkan mutu manajemen sumber daya manusia, karena itu perlu dibuat pelatihan-pelatihan apa yang cocok untuk mencapai target SPAM dengan adanya rencana tindak yang dilakukan melalui pelaksanaan program jangka pendek, menengah, dan panjang.

G. Saran

Perlu dilakukan pelatihan motivasi usaha, agar para peserta mengetahui secara jelas dan benar, tujuan serta maksud tentang manajemen dalam sebuah kelembagaan, selain itu pelatihan-pelatihan yang diben- tuk dapat memotivasi peserta dalam meningkatkan, mengembangkan, mempertahankan keberlangsun- gan usaha dan regenerasi dalam organisasi. Pelatihan-pelatihan yang diperlukan antara lain:

a. Pelatihan Pembuatan dan Perencanaan Master Plan, Bisnis Plan Dengan adanya pelatihan pembuatan dan perencanaan master plan, bisnis plan para peserta mam- pu mengembangkan dan merencanakan kegiatan sesuai dengan master plan, bisnis plan yang tel- ah dibuat, dengan adanya master plan dan bisnis plan ini dapat meminimalkan kesalahan dalam pelaksanaan di lapangan dalam periode atau tahapan-tahapan yang telah ditentukan.

b. Pelatihan Pembuatan Profil Perusahaan Dengan adanya pelatihan pembuatan profil perusahaan, diharapkan peserta dapat mengetahui produk usaha yang dijalankan, mengetahui keunggulan produk, dan dapat menginformasikan den- gan baik melalui media kepada pelanggan.

c. Pelatihan Peningkatan kualitas Organisasi (pelayanan) Dengan adanya pelatihan peningkatan organisasi, diharapkan peserta memiliki peningkatan ke- mampuan dalam hal berorganisasi, bekerjasama antar divisi dan pelayanan yang baik terhadap pelanggan.

d. Pelatihan Pengembangan keahlian yang sesuai dengan lingkup/bidang kerja Dengan adanya pelatihan pengembangan keahlian yang sesuai dengan lingkup/bidang kerja dihara- pkan para peserta mengetahui secara jelas jobdesc dan kemampuan keahliannya sehingga nantinya dalam divisi tidak lagi rangkap pekerjaan yang mampu menurunkan kinerja.

e. Pelatihan perencanaan Pengadaan Barang dan Jasa Dengan adanya perencanaan pengadaan barang dan jasa diharapkan para peserta dapat mengetahui kebutuhan kelembagaan,dan kebutuhan pelanggan serta bagaimana mengatur permintaan kebutu- han kepada PAM pusat/daerah dalam periode tertentu.

DAFTAR PUSTAKA

Amitai Etzioni, 1982, Organisasi-organisasi Modern, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta. Britha Mikkelsen, 2011, Metode Penelitian Partisipatoris dan Upaya Pemberdayaan, Yayasan Pustaka Obor, Jakarta Dulka, 1994, Tehe New Public Service, M. E Sharpe, Inc, New York Edi Suharto, 2009, Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat, PT. Refika Aditama, Bandung Hoffman dan Beteson 1997, Public policy; Pengantar Teori dan Praktek Analisis Kebijakan, Kencana, Jakarta.

Sudaru Murti

di Daerah Istimewa Yogyakarta

Pemberdayaan Kelembagaan Sistem Penyediaan Air Minum Desa (SPAMDES)

31

Kementrian Negara Lingkungan Hidup, 2002,Pengeloalaan Lingkungan Sosial,Yayasan Obor Indonesia, Jakarta Mowen, 1995, the new local governance and capacity building: A Strategic approach, Regional Develop- ment Studies, Vol 3 Mendelsohn, 1998, Capacity Building: an approach to people centered Development, Oxford UK,Oxfam GB. CAPACITY BUILDING: AN approach to Peopl e Cent e r ed Development” Oxford UK, Oxfam GB Capacity Building: an approach to Peopl e Cent e r ed Development” Oxford UK, Oxfam GB Parulian Hutapea dan Nurianna Thoha, 2008, Kompetensi Plus, PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Wrihatnolo, 2007, Manajemen Perilaku Organisasi, Prana Media Jakaarta

Referensi hukum

a. Undang-undang Nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.

b. Peraturan Pemerintah Nomor 16 tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).

c. Perpres No. 29/2009 tentang Pemberian Jaminan Dana Subsidi Bunga Oleh Pemerintah Pusat Dalam Rangka Percepatan Penyediaan Air Minum.

d. Permen PU No.21/PRT/M2009 tentang Pedoman Teknis Kelayakan Investasi Pengembangan Sis- tem Penyediaan Air Minum.

e. Permen PU Nomor 20 tahun 2006 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum.

ANALISIS KEBIJAKAN DISTRIBUSI PUPUK BERSUBSIDI

Purnama

drspurnama.talkfusion@yahoo.com

Program Studi Administrasi Negara Stisipol Kartika Bangsa Yogyakarta

ABSTRACT

The availability of fertilizer and agricultural chemicals is one of many factors that influence the effort on increasing rice production. Reasonable price of fertilizer will support the successful or agricultural revi- talization programs, but in Indonesia the problem on fertilizer availability for farmers has been always resulting in farmers’ anxiety and difficulty, particulary on the distrubution and price. This study is designed for viewing the implementation of local government policies on regulating the sub- sidized fertilizer distribution and to learn the impact of the policy implementation. Many data have been collected through interview and secondary data collection. These data, then are analyzed using descriptive- analytical discussion from which some conclusions can bee drawn. From the research in Daerah Istimewa Yogyakarta it can be noted that the government has not been able to find a precious solution to guarantee the availability of fertilizer of adequate amount and reasonable price. Some fertilizer distribution abuses have often happened that farmers must buy fertilizer at any, or even, high prices. There must be a soluton made so that the marketing and distribution problems of fertilizer can be handled and those farmers’ burden can be reduced. There must be a new distribution framework where it gives more proffesional mechanism on distribution, shows a transparancy and accountability on the marketing system.

Keyword : regulating the subsidized fertilizer, agricultural revitalization programs

A.

Pendahuluan

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa Bangsa, kebutuhan beras dunia pada tahun 2025 akan mencapai 800 juta ton, akan tetapi pada saat ini kemampuan produksi kurang dari 600 juta ton (Kompas, 17 November 2006). Kondisi tersebut menggambarkan bahwa jika produksi padi tidak ditingkatkan, maka dapat mengakibatkan kelaparan di negara-negara pengonsumsi beras. Untuk itu perlu ada upaya serius untuk dapat meningkatkan produksi beras. Upaya peningkatan produksi beras ini tentu terkait dengan kesejahteraan petani, karena dengan produksi beras atau padi dari para petani yang semakin meningkat, maka penghasilan mereka juga akan bertambah. Efek lainnya adalah minat tenaga kerja untuk menjadi petani juga semakin meningkat. Namun demikian hal tersebut nampaknya masih jauh dari ideal. Faktanya tingkat kesejahteraan dan keberpihakan pada nasib petani di Indonesia masih jauh dari haraapan Data BPS (2003) menunjukkan bahwa jumlah petani gurem meningkat 2,5 persen per tahun, yakni dari 10,8 juta menjadi 13,7 juta pada tahun 2003. Sementara itu jumlah lahan petanipun menurun dari 0,5 hektar per petani pada tahun 1993, menjadi hanya 0,3 hektar per petani pada tahun 2003.

Purnama Analisis Kebijakan Distribusi

Pupuk Bersubsidi

33

Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi upaya peningkatan produksi padi adalah penyediaan pupuk disamping obat-obatan. Ketersediaan pupuk dengan harga yang terjangkau tentu akan men- dukung keberhasilan program revitalisasi pertanian untuk meningkatkan produksi padi. Namun dalam kenyataannya di negara kita Indonesia, penyediaan pupuk bagi petani selalu menimbulkan keresahan dan kesulitan bagi petani, baik mengenai distribusinya maupun mengenai harganya. Hal ini terjadi setiap tahun dan oleh petani ini dianggap sebagai perisiwa musiman yang tak terlewatkan. Hingga saat ini pemerintah belum dapat merumuskan solusi untuk menjamin ketersediaan pupuk dalam jumlah yang mencukupi dan dengan harga yang terjangkau oleh petani. Pada hal pusaran sumber utama kelangkaan dan melambungnya harga beras sudah terdeteksi sejak lama, yakni pada mata rantai distribusi pupuk. Pemerintah nampaknya juga belum mampu untuk menumpas kejahatan dalam distribusi pupuk dan ironisnya kebijakan subsidi pupuk yang diberikan kepada petani menjadi tidak berarti manakala musim kelangkaan pupuk tiba. Niat mulia membantu petani dan memacu produktivitas padi ternyata kalah dengan kepiawaian distributor mengakali tata niaga yang telah disusun dan digariskan oleh pemer- intah dan tak ada pilihan lain bagi petani kecuali membeli pupuk berapapun harganya. Permasalahan tata niaga pupuk bersubsidi sebenarnya berkisar pada penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) dan tentang distribusinya. Distribusi pupuk bersubsidi menjadi masalah yang penting dan perlu untuk diteliti, sebagaimana diutarakan oleh Menteri Pertanian Anton Apriyanto bahwa sulitnya petani untuk mendapatkan pupuk bersubsidi bukan karena persediaan pupuk, namun karena masalah distribusinya. Hal tersebut disam- paikan pada saat terjadi kontroversi tentang kenaikan HET pupuk yang direncanakan akan terjadi pada

tidak perlu khawatir, karena pasokan pupuk sekarang sangat

Januari 2007 sebagai berikut, “…

berlebih. Kalau ada hambatan di petani, itu berarti ada masalah dalam distribusinya. Jika itu yang terjadi, tentu distribusinya yang harus dibenahi, bukan menaikkan harga” (Kompas, 24 November 2008).

petani

B. Rumusan Permasalahan

Fenomena yang menunjukkan adanya permasalahan tentang distribusi pupuk bersubsidi, antara lain terjadi di Kabupaten Kebumen pada masa tutup tanam di akhir Desember 2005, dimana mereka kekurangan pupuk hingga 4.000 ton pupuk bersubsidi (kedaulatan-rakyat.com. 09 Desember 2005 - 07:58) dan juga di Kabupaten Sleman yang mengalami kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi. Kalaupun ada harga pupuk di pedagang tidak resmi harganya melambung (Kompas, 25 Februari 2006). Untuk itu penelitian ini akan difokuskan pada analisis kebijakan tentang distribusi pupuk bersubsidi. Harapan peneliti adalah dapat mengungkap fakta yang terjadi di lapangan, berkaitan dengan kebijakan pemerintah dalam mengatur distribusi pupuk bersubsidi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berman- faat bagi pengelola kebijakan pertanian di Indonesia.

C. Telaah Pustaka

1. Kebijakan Publik.

Anderson dan Dye (1978) seperti dikutip oleh Wahab (1997) menjelaskan bahwa alasan untuk mempelajari kebijakan negara dapat diklasifikasikan dalam 3 (tiga) kategori, yaitu alasan ilmiah (science- tific reason), alasan profesional (professional reason) dan alasan politik (political reason). Pengkajian kebi- jakan pemerintah dalam mengatur distribusi pupuk bersubsidi ini dilakukan oleh karena alasan ilmiah, yaitu ingin memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam mengenai asal mula kebijakan negara/pub- lik, berikut proses-proses yang mengantarkan perkembangan serta akibat-akibatnya pada masyarakat. Kebijakan (policy) diartikan oleh Anderson sebagai serangkaian tindakan yang mempunyai tujuan ter-

34

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

tentu yang diikuti dan dilaksanakan oleh seorang pelaku atau sekelompok pelaku guna memecahkan suatu masalah tertentu (Islamy, 1997). Selanjutnya dikatakan bahwa kebijakan publik (public policy) sebagai kebijakan yang dikembangkan oleh badan-badan dan pejabat-pejabat pemerintah. Sedang Dye mendefinisikan kebijakan publik sebagai apapun yang dipilih oleh pemerintah untuk dilakukan atau tidak dilakukan. Dengan demikian yang dimaksud dengan kebijakan publik adalah kebijakan yang dikembangkan oleh badan-badan dan pejabat-pejabat pemerintah untuk memberikan efek perbaikan terhadap kondisi- kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Oleh karena itu maka kebijakan pemerintah dalam mengatur distribusi pupuk bersubsidi seharusnya merupakan kebijakan yang berorientasi pada perbaikan kondisi- kondisi sosial-ekonomi masyarakat, khususnya para petani. Semua kebijakan negara apapun bentuk dan jenisnya sebenarnya dimaksudkan untuk mempengaruhi dan mengontrol perbuatan manusia (aparatur negara) sesuai dengan aturan-aturan dan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah atau ne- gara. Dengan demikian suatu kebijakan negara akan menjadi efektif bila dilaksanakan atau diimplementa- sikan dengan baik dan mempunyai dampak positif bagi masyarakat. Kebijakan publik yang sudah men- jadi keputusan pemerintah, dalam implementasinya kadang mengalami kegagalan. Mengenai kegagalan pelaksanaan kebijakan publik ini Hogwood dan Guun dalam Wahab (1997) membedakannya dalam 2 (dua) kategori yaitu,

1. Tidak terimplementasikan (non implementation)

2. Implementasi yang tidak berhasil (unsuccesful implementation).

Biasanya kebijakan yang memiliki resiko untuk gagal disebabkan oleh faktor pelaksanaannya jelek (bad execution), kebijakannya sendiri memang jelek (bad policy), atau kebijakan itu bernasib jelek (bad luck). Faktor lain yang dapat menyebabkan kegagalan pelaksanaan kebijakan adalah karena sejak awal ke- bijakan itu memang jelek, dalam arti bahwa kebijakan tersebut telah dirumuskan secara sembrono, tidak didukung oleh informasi yang memadai, alasan yang keliru atau asumsi-asumsi dan harapan yang tidak realistis (Wahab, 1997). Dalam hal ini pihak-pihak yang terlibat dan berkewajiban untuk melaksana- kan kebijakan itu diperlukan pula dukungan dari para anggota legislatif, yudikatif, kelompok-kelompok kepentingan dan juga warga masyarakat (Islamy, 1997).

2. Kebijakan Distribusi Pupuk Bersubsidi

Pupuk adalah bahan yang fital dan sangat diperlukan oleh petani, karena dengan pupuk produktivi- tas padi/beras yang dihasilkan bisa maksimal. Pupuk yang digunakan petani ada dua macam yaitu pupuk organik dan pupuk unorganik. Pupuk organik adalah pupuk yang dibuat dari bahan-bahan alami dan pupuk unorganik adalah pupuk yang dibuat dari bahan-bahan kimia. Pada saat ini pupuk yang diper- gunakan oleh petani dalam rangka memaksimalkan hasil padi sudah sangat tergantung kepada pupuk unorganik. Alasannya sederhana yaitu karena tidak harus membuat sendiri dan cara penggunaannya mu- dah. Masalah pupuk selalu berulang setiap tahun terutama pada saat musim tanam. Hal ini berkait erat dengan jumlah produksi pupuk yang tersedia, tata niaga pupuk serta sistem distribusi pupuk itu sendiri. Masalah ini tentunya harus secepatnya diselesaikan, karena petani tidak bisa menunggu lebih lama. Bila terjadi keterlambatan pemupukan maka akan berakibat hasil padi akan mengalami penurunan, kualitas padi jelek dan terakhir harga padi juga jatuh. Pupuk adalah salah satu komoditi strategis yang disubsidi oleh pemerintah melalui APBN guna membantu petani dalam meningkatkan pendapatan. Dalam Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomer 03/M-Dag/PER/2/2006 tentang Pengadaan Pupuk dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi Untuk Sektor Pertanian Pasal 1 disebutkan bahwa Pupuk Bersubsidi adalah pupuk yang pengadaan dan

Purnama Analisis Kebijakan Distribusi

Pupuk Bersubsidi

35

penyalurannya mendapat subsidi dari Pemerintah untuk kebutuhan petani yang dilaksanakan atas dasar program Pemerintah di sektor pertanian. Dalam hal pendistribusian pupuk bersubsidi saat ini Pemer- intah telah resmi menerapkan tanggung-jawab distribusi pupuk secara berjenjang dan diatur dengan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomer 03/M-Dag/PER/2/2006 tentang Pengadaan Pupuk dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi Untuk Sektor Pertanian. Dengan diberlakukannya Peraturan Menteri tersebut maka tanggung-jawab distribusi pupuk tidak lagi sepenuhnya ditangan produsen tetapi dilakukan secara terpadu bersama dengan distributor hingga sampai pada tingkat pengecer. Menurut Peraturan Menteri tersebut yang dimaksud dengan distributor dalam penyaluran pupuk bersubsidi adalah :

“Perorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum atau bukan badan hukum yang ditunjuk oleh produsen untuk melakukan pembelian, penyimpanan, penyaluran dan penjualan pupuk berubsidi dalam partai besar di wilayah tanggung-jawabnya untuk dijual kepada petani dan/atau kelompok tani melalui pengecer yang ditunjuknya”.

Dalam Peraturan Menteri tersebut juga disebutkan bahwa yang dimaksud dengan pengecer adalah :

“Perorangan, kelompok tani dan badan usaha baik yang berbentuk badan hukum yang berkedudukan di Kecama- tan dan/atau desa yang ditunjuk oleh distributor dengan kegiatan pokok melakukan penjualan pupuk besubsidi di wilayah tanggung-jawabnya secara langsung hanya kepada petani dan/atau kelompok tani”.

Dengan demikian maka dalam sistem tersebut diberlakukan pembatasan wilayah operasi baik ke- pada distributor maupun pengecer pupuk. Hal ini sebagai upaya memperlancar distribusi untuk mene- kan terjadinya penyelewengan pupuk di lapangan, saat para petani tengah membutuhkan. Dalam hal ini pengecer hanya dapat mengambil jatah dari satu induk distributor. Penyempitan ruang gerak penjualan ini dimaksudkan agar penyaluran benar-benar lebih terfokus kepada para petani. Sebelumnya berbagai kios pengecer resmi maupun tak resmi dapat mengambil pupuk dari berbagai distributor. Karena hal demikian ini maka sering terjadi konsentrasi penyimpanan pupuk pada sejumlah kios. Untuk disributor wilayah operasionalnya juga dibatasi, maksudnya agar penyaluran pupuk bersub- sidi menjadi konsentrasi pada kelompok kios yang berada di wilayah operasinya dan menekan terjadinya perembesan ke luar wilayah. Agar Pupuk Bersubsidi dapat disalurkan dengan tepat maka diperlukan adanya pengawasan dalam pelaksanaannya. Dalam hal ini lembaga yang bertugas dalam melakukan pen- gawasan adalah Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KPP) yaitu wadah koordinasi instansi terkait dalam pengawasan pupuk dan pestisida yang dibentuk berdasarkan Peraturan Gubernur untuk tingkat Provinsi dan Peraturan Bupati/Walikota untuk tingkat Kabupaten/Kota.

Dalam Permendag Nomer 03/M-DAG/PER/2/2006 pasal 16 disebutkan bahwa

Pengawasan terhadap pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi meliputi jenis, jumlah, mutu, wilayah pe- masaran dan harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi serta waktu pengadaan dan penyaluran. Guna menghindari terjadinya kelangkaan pupuk maka Gubernur dan BupatiWalikota melalui Komisi Pengawasan Pupuk dan Pes- tisida berkewajiban membantu kelancaran pelaksanaan pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi tersebut di wilayah kerjanya.

Sementara itu Daniel A, Mazmanian dan Paul A. Sabatier dalam Wahab (1997) menjelaskan makna implementasi kebijakan sebagai, “Memahami apa yang senyatanya terjadi sesudah suatu program din- yatakan berlaku atau dirumuskan merupakan fokus perhatian implementasi kebijakan, yakni kejadian- kejadian dan kegiatan-kegiatan yang timbul sesudah disahkannya pedoman-pedoman negara, yang men- cakup baik usaha-usaha untuk mengadministrasikannya maupun untuk menimbulkan akibat/dampak nyata pada masyarakat atau kejadian-kejadian”.

36

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

Van Meter dan Van Horn (1975) merumuskan proses implementasi kebijakan sebagai berikut,

“….those actions by public or private individuals (or groups) that are directed at achievement of objectives set forth in prior policy decisions” (tindakan-tindakan yang dilakukan baik oleh individu-individu atau pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan).

Dengan demikian secara singkat implementasi kebijakan adalah seberapa jauh pelaksanaan kebija- kan telah berjalan dan mencapai tujuan sesuai dengan yang telah ditetapkan. Selanjutnya dalam peneli- tian ini yang akan digunakan sebagai indikator untuk mengetahui pelaksanaan kebijakan pengaturan distribusi pupuk bersubsidi adalah :

1. Kejelasan dan kelengkapan pengaturan prosedur distribusi.

2. Pelaksanaan pengaturan distribusi dan sanksi yan berlaku bagi pelanggar.

3. Persepsi dan respon masyarakat yang terlibat dalam pengaturan distribusi pupuk bersubsidi.

D. Metode Penelitian

Tipe penelitian ini adalah deskripitif eksploratif, karena penelitian yang dilakukan merupakan penel- itian penjajakan yang bertujuan untuk mendiskripsikan atau menggambarkan fenomena sosial tertentu (Masri Singarimbun dan Sofian Effendi, 1988). Peneltiian ini dilakukan di daerah operasional Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan untuk menggali data diarahkan kepada tiga kelompok informan (untuk menyebut responden dalam peristilahan metode kualitatif) yaitu,

1. Pejabat Pembuat dan Pelaksana Kebijakan, adalah para aktor pembuat dan pelaksana kebijakan yang berada di daerah penelitian. Aktor dimaksud adalah Bupati/Walikota, anggota Dewan Per- wakilan Rakyat Daerah (DPRD) serta pejabat instansi terkait.

2. Distributor dan Pengecer, Untuk mengetahui karaktristik kelompok sasaran maka peneliti juga mengambil data dari para distributor pupuk bersubsidi dan pengecer (resmi atau tidak resmi).

3. Petani. Ini ditujukan untuk mengetahui sikap petani dalam menghadapi atau merespon kebijakan peng- aturan distribusi pupuk bersubsidi. Instrumen penelitian atau teknik pengumpulan data utama yang digunakan adalah wawancara secara mendalam (depth interview) dan pengamatan langsung di lapangan (observation), disamping memanfaatkan data sekunder yang relevan. Bentuk wawancara yang dilakukan adalah wawancara bebas dan terfokus, dengan harapan para informan dapat dengan bebas mengemukakan pendapatnya, sehingga validitas penelitian ini dapat dijamin obyektivitasnya. Untuk menganalisis data kualitatif ini digunakan kerangka analisis seperti yang dibangun oleh Miles dan Huberman (1992;16) yaitu menggunakan tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersa- maan yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Reduksi data adalah proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan tetulis di lapangan. Reduksi data atau proses transfomasi berlanjut terus sesudah penelitian lapangan, sampai laporan akhir lengkap tersusun. Sementara itu untuk data kuantitaif yang merupakan data sekunder ditetapkan sebagai pendukung dalam menganalisis data kualitaif.

E. Hasil Penelitian dan Pembahasan

Ketergantungan petani kepada pupuk kimia membuat petani dihadapkan pada persolan yang terkait dengan berbagai masalah pemenuhan kebutuhan pupuk mulai dari kesulitan untuk mendapatkan pupuk

Purnama Analisis Kebijakan Distribusi

Pupuk Bersubsidi

37

bersubsidi, kelangkaan, ketidakpastian harga, penyimpangan dalam distribusi hingga penyitaan pupuk oleh polisi. Berbagai permasalahan pemenuhan kebutuhan pupuk oleh petani sangat terkait dengan ken- yataan bahwa tingkat pemakaian pupuk kimia di Indonesia sangat tinggi. Pengadaan pupuk selain terkait dengan masalah produksi juga terkait dengan masalah distribusi. Masalah pupuk selalu terulang setiap tahun terutama disaat musim tanam. Permasalahan tentang produksi pupuk, tata niaga serta distribusi pupuk harus cepat diselesaikan karena kebutuhan petani terhadap pupuk tidak dapat ditunda. Keterlamabatan pemberian pupuk pada tanaman padi akan berpengaruh kepada hasilnya. Jika hasil produksi padi kualitasnya jelek maka harg- anya akan jatuh dan petani akan mengalami kerugian. Berbagai kebijakan pemerintah telah dibuat untuk melakukan pengelolaan dan mengontrol terhadap distribusi pupuk bersubsidi agar kebutuhan pupuk bagi petani dapat terpenuhi dengan tepat. Namun dalam kenyataannya berbagai kebijakan yang telah dibuat dan dilaksanakan seringkali menghadapi berbagai kendala atau hambatan sehingga tidak atau kurang dapat terimplementasikan dengan baik. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, peneliti mencoba membahas dengan didasarkan pada studi tentang kebijakan publik (public policy) sebagai berikut :

1. Peraturan Tentang Distribusi Pupuk.

Kebijakan tentang pengaturan distribusi pupuk bersubsidi dituangkan dalam surat-surat keputusan, baik yang dibuat oleh Pemerintah Pusat atau Menteri Perindustrian dan Perdagangan sampai pada Surat Keputusan Gubernur dan Bupati/Walikota. Kebijakan pengaturan distribusi pupuk yang dibuat oleh pemerintah tersebut mengalami beberapa kali perubahan. Perubahan tersebut disebabkan oleh dinamika yang terjadi pada masyarakat yang menyangkut kondisi petani pengguna pupuk, sikap pengecer pupuk, kinerja dari para distributor serta adanya perubahan harga bahan bakar minyak, dll. Melalui SK Memperindag No. 356/MPP/Kep/5/2004 pemerintah menetapkan kebijakan sistem penyaluran pupuk bersubsidi secara terbuka. Pada penyaluran pupuk sistem terbuka ini produsen men- yalurkan produknya atau menyalurkan pupuk import kepada distribtor di wilayah (Kabupaten/Kota) kemudian distributor menjualnya kepada pengecer dan petani perorangan atau kelompok tani. Berbagai masalah mengenai distribusi pupuk yang terjadi antara lain kelangkaan pupuk di pasar, harga di tingkat eceran tertinggi melebihi ketetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Peraturan Menteri Pertanian No. 505/Kpts/Sr130/12/2005 tentang HET pupuk bersubsidi men- etapkan harga pupuk sama dengan harga pupuk tahu 2005. Ketetapan tersebut di satu sisi pemerintah berpihak kepada petani namun di sisi lain ketetapan tersebut menimbulkan gejolak bagi distributor mau- pun pengecer. Distribusi pupuk bersubsidi secara tertutup yang juga diatur di dalam Peraturan Menteri Pertanian No. 505/Kpts/Sr130/12/2005 mengijinkan pengecer resmi menyalurkan pupuk ke kelompok- kelompok tani berdasarkan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) yang dibuat oleh kelom- pok tani. RDKK ini harus disetujui oleh Dinas Petanian, sebelum diajukan ke produsen pupuk. Pen- yaluran pupuk dengan sistem tertutup akan dilaksanakan jika RDKK sudah diajukan kepada PT PUSRI. RDKK yang disetujui pemerintah dan dituangkan dalam SK Bupati menjadi dasar penentuan jaminan pupuk urea yang dikirim oleh PT. PUSRI kepada para distributor. Distributor kemudian meneruskan kapada para pengecer untuk dijual kepada para petani. Pelaksanaan kebijakan distribusi pupuk bersubsidi sacara tertutup ternyata juga mengalami berbagai kendala, sehingga disatu sisi dirspon positif oleh pemerintah daerah atau dinas-dinas yang ada di daerah, namun disisi lain juga mengalami hambatan karena kekurangsiapan dari pelaksana kebijiakan mulai dari produsen, distributor, pengecer maupun petani atau kelompok tani. Kebijakan lain yang dilakukan oleh pemerintah dalam mengatur distribusi pupuk bersubsidi adalah dengan mengadakan sistem distribusi pupuk dengan menggunakan kupon. Sistem ini dinilai oleh beberapa kalangan dapat menimbulkan

38

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

kesulitan dalam implementasinya. Kesulitan yang ditemui dalam pelaksanaan sistem ini antara lain men- genai verifikasi data jumlah petani yang berhak menerima kupon sangat sulit dilakukan karena jenis dan jumlah petani sangat banyak. Dari berbagai kebijakan pengaturan distribusi pupuk bersubsidi, saat ini pemerintah resmi menetap- kan tanggungjawab distribusi pupuk secara berjenjang dan diatur dengan Peraturan Menteri Perdagan- gan Republik Indonesia No. 03/M-Dag/PER/2/2006 tentang Pengadaan dan Penyaluran Pupuk Ber- subsidi Untuk Sektor Pertanian. Dengan cara itu tangungjawab distribusi tidak lagi sepenuhnya berada

di tangan produsen, sekarang dilakukan secara terpadu bersama distributor hingga ke tingkat pengecer.

2. Pelaksanaan Pengaturan Distribusi Pupuk Bersubsidi dan Sanksi yang berlaku bagi pelanggar.

Implementasi distribusi pupuk bersubsidi selalu menimbulkan persoalan yang dilematis, karena penetapan HET seringkali dihadapkan kepada keadaan perubahan struktur biaya yang harus ditang- gung oleh produsen, distributor, pengecer dan para petani. Distributor seringkali mengeluhkan sulitnya menjual pupuk dengan harga tertinggi, karena terjadinya kenaikan biaya transportasi. Selain biaya trans- portasi, biaya untuk komponen lain seperti manajemen untuk pengelolaan usaha seringkali juga tidak diperhitungkan. Berbagai persoalan tersebut menjadi penyebab harga pupuk bersubsidi selalu berada

di atas HET. Perbedaan struktur biaya distribusi juga menjadi penyebab HET di satu wilayah berbeda

dengan wilayah yang lainnya. Pelaksanaan pengaturan harga pupuk bersubsidi melalui penetapan HET dalam pelaksanaannya menimbulkan berbagai reaksi baik dari distributor, pengecer maupun petani. Persoalan kelangkaan dan keterlambatan pendistribusian pupuk kepada petani juga serng terjadi. Mengenai hal ini Edi Setyadarma dari CV. Siar Darma Jaya selaku distributor di wilayah Sleman menje- laskan bahwa pendisribusian pupuk seringkali mengalami keterlambatan, karena distribusi pupuk terse- but harus dilakukan secara merata agar tidak terjadi kelangkaan pupuk. Masalah lain yang ditemui ada- lah ketersediaan fasilitas yang dimiliki oleh distributor maupun pengecer masih kurang memadai atau tidak sesuai dengan standar kuota sehingga fungsi buffer stock yang menjadi bagian tanggungjawab tidak dapat dipenuhi. Akibatnya peran distributor lebih mirip sebagai broker, karena pupuk langsung dikirim pada para pengecer.

Berbagai model atau bentuk kebijakan distribusi pupuk yang diberlakukan di Indonesia pada um- umnya dan secara khusus di Daerah Istimewa Yogyakarta dalam pelaksanaannya mengalami berbagai kendala yang antara lain disebabkan oleh adanya pelanggaran-pelanggaran yang secara langsung atau tidak langsung dilakukan oleh pelaksana kebijakan. Untuk mengatasi dan mencegah terjadinya pelangga- ran-pelanggaran dalam distribusi pupuk bersubsidi, pemerintah berupaya untuk memberikan sanksi bagi pelaksana kebijakan yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan yang berlaku. Adapun bentuk-bentuk sanksi tersebut adalah :

c.

Teguran bagi para pengecer yang menjual pupuk diatas HET.

c.

Penghentian pasokan untuk sementara waktu.

d.

Kios penjual pupuk bersubsidi ditutup dan pupuknya disita karena kios tersebut tidak resmi se- hingga tidak diijinkan menjual pupuk bersubsidi.

e.

Pencabutan ijin operasional distributor, oleh Tim Pengawas dan Pengendalian Pupuk dan Obat- Obatan Pertanian.

Purnama Analisis Kebijakan Distribusi

Pupuk Bersubsidi

39

3. Respon Terhadap Pengaturan Distribusi Pupuk Bersubsidi.

Perubahan-perubahan kebijakan pengaturan distribusi pupuk yang terjadi mendapat tanggapan dari berbagai pihak/kalangan baik dari pemerintah maupun masyarakat. Sistem distribusi secara tertutup yang pernah diberlakukan juga tidak dapat dilaksanakan dengan lancar karena tuntutan penyusunan rekapitulasi rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) kelompok tani sebagai syarat penebusan untuk mendapatkan pupuk juga menyebabkan keterlambatan waktu penebusan. Selain tidak sinkronnya kebutuhan karena tidak semua petani menjadi anggota RDKK, dan data RDKK yang diajukan seringkali tidak akurat. Meskipun sistem distribusi pupuk secara tertutup memiliki beberapa kelemahan namun disisi lain sistem ini justru akan memacu petani untuk bergabung membentuk kelompok tani. Karena jika petani berjuang sendiri-sendiri maka posisi tawar mereka rendah. Dengan demikian dapat diketahui bahwa pembentukan kelompok tani merupakan hal sangat penting dan menguntungkan, terutama dalam menghadapi kelangkaan pupuk. Permasalahan distribusi pupuk menurut beberapa kalangan antara lain disebabkan karena petani dinilai menggunakan pupuk secara berlebihan, oleh karena itu diharapkan petani dapat berhemat dalam menggunakan pupuk kimia dan beralih menggunakan pupuk organik. Dengan demikian biaya produksi akan berkurang dan pendapatan akan naik. Menanggapi tentang himbauan agar petani menggunakan pupuk organik, salah seorang petani berpendapat bahwa membuat pupuk organik sulit bahan bakunya karena hanya sedikit alias terbatas dan oleh karena itu tidak mencukupi kebutuhan yang diperlukan, disamping prosesnya juga lama serta proses pengangkutannya membutuhkan dana yang besar.

F.

Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di Daerah Istimewa Yogyakarta dapat disimpulkan bahwa pemerintah belum dapat merumuskan solusi yang tepat untuk menjamin ketersediaan pupuk dalam jumlah yang mencukupi dan dengan harga yang terjangkau. Secara terperinci permasalahan yang masih ditemui dalam distibusi pupuk bersubsidi adalah sebagai berikut :

1. Kenaikan harga pupuk merupakan dampak dari kenaikan harga BBM. Hal tersebut dimanfaatkan oleh para spekulan yaitu distributor dan pengecer nakal, pelaku lini III dan lini IV dalam jalur dis- tribusi pupuk untuk melakukan penimbunan pupuk. Dengan spekulasi pemerintah akan menaik- kan HET pupuk, para spekulan berharap akan mendapatkan keuntungan besar.

2. Para spekulan juga memanfaatkan kondisi pencabutan subsidi pupuk ZA dan SP 36 dengan mel- akukan penimbunan.

3. Penimbunan pupuk dimungkinkan karena fungsi pengawasan oleh produsen pada lini III dan lini IV semakin berkurang sejalan dengan berkurangnya kewenangan mereka untuk mendistribusikan pupuk secara langsung kepada petani.

4. Terjadinya gap antara jumlah pupuk subsidi yang disetujui oleh Menteri Pertanian dan kebutuhan riil.

5. Permasalahan yang ditemui di tingkat distributor meliputi keterlambatan, kelemahan manajemen pergudangan, tuntutan kebutuhan petani yang serentak dan kesulitan administrasi terkait dengan pungutan liar.

6. Pada tingkat pengecer masalah yang muncul adalah kekurangan stok sehingga harus mencari pupuk dari daerah lain kemudian penggunaan pupuk di luar ketentuan subsidi (seperti untuk industri dan perkebunan), serta biaya pengangkutan yang tinggi.

40

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

G. Saran

Perlu dipikirkan tentang pola distribusi yang baru. Pola distribusi yang ditandai dengan adanya me- kanisme distribusi yang lebih profesional, adanya transparansi dan akuntabilitas dalam tata niaga pupuk bersubsidi tersebut. Jika produksi beras di dalam negeri ingin meningkat maka subsidi pupuk diharapkan dapat dinaikkan. Subsidi tersebut dapat dialokasikan untuk keperluan-keperluan sebagai berikut,

1. Pemberian insentif yang cukup kepada penyalur (distributor dan para pengecer) dengan tetap mempertahankan harga eceran tertinggi (HET) serta menurunkan harga jual di tingkat produsen.

2. Pemberian insetif yang cukup kepada penyalur (distributor dan pengecer) dengan tetap memper- tahankan harga tebus produsen.

3. Pelaksanaan pengaturan distribusi secara jelas, transparan dan konsisten serta pemberian sanksi yang tegas terhadap pelanggar.

DAFTAR PUSTAKA

Dunn, William N, Pengantar Analisa Kebijakan Publik, Edisi II, Gadjah Mada University Press, Cetakan II, Yogyakarta, 2000. Goggin, Malcolm L, Implementation Theory and Practice Toward a Third Generation, London, 1975. Islamy, M. Irfan, Prinsip-Prinsip Perumusan Kebijakan Negara, Penerbit Bumi Aksara, Cetakan ke 8, Jakarta, 1987. Manning Chris, Tadjudin Noer Effendi, Urbanisasi Pengangguran dan Sektor Informal di Kota, Penerbit PT. Gramedia, Jakarta, 1985. Meyer, Robert R, Rancangan Penelitian Kebijakan Sosial (Terjemahan), Pustekkom Dikbud dan CV. Rajawali dalam rangka ECD Project (USAID), 1984. Moekijat, Analisis Kebijakan Publik, Penerbit CV. Mandar Maju, Bandung, 1995. O.Jones, Charles, Pengantar Kebijakan Publik (Public Policy), Rajawali Press, Cetakan ke 3, 1995. Samodra Wibawa, Yuyun Purbakusuma, Agus Pramusinto, Evaluasi Kebijakan Publik, Rajawali Press, Jakarta, 1994. Wahab, Solichin Abdul, Analisa Kebijaksanaan, Penerbit Bumi Aksara, Jakarta, 1997. Kerjasama BPS Kotamadya Yogyakarta dengan Pemerintah Kotamadya Dati II Yogyakarta, Survey Sosial Ekonomi Nasional Kotamadya Yogyakarta Tahun 1999. Kerjasama BAPPEDA dengan BPS Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta Dalam Angka Tahun 1999. Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Permendag Nomer 03/M-DAG/PER/2/2006.

www.bantulbiz.com www.depkop.go.id Kompas, 25 Februari 2006. Kompas, 15 Maret 2006. Kompas, 15 September 2006. Kompas, 17 November 2006. Kompas, 24 November 2006.

PASAR TRADISIONAL PUSAT HUBUNGAN SOSIAL DALAM TRADISI GAMEINSCAFT DAN KEPENTINGAN RELASI PENGUASA

Muhammad Hayat Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang.

Abstract

Traditional markets in history is a public space that is present in a social group. The presence of the hand in hand with the dynamics of the community with all the attributes of these changes happen naturally, so that space exists to bring together individuals in a large physical place is also a pattern that is natural. The market became one of the collectivity in the tradition of how buildings gameinscaft trying to be retained. Meanwhile, a change in the view of policy makers is often understood as the development of physical spaces. For example the authorities prefer to build a magnificent shopping centers with all the attributes of capitalist consumption than on thinking about the empowerment of traditional markets. Or ruler is more focused on urban infrastructure construction with toll roads are very wide with a pretext to accelerate inter-regional connectivity. And true only provide access to large capital owners to be as much as possible to take and exploit the potential of the village and sold only to the interests of capital owners alone. Writing interview data drawn from Yogyakarta Demangan Market is trying to see how important tradi- tional markets as a center of social relations in gameinscaft tradition, but at the same time the interests of the ruling relations is more to do siding with the owners of capital.

A. Latar Belakang

Pasar tradisional dalam sejarahnya merupakan ruang publik yang hadir di sebuah kelompok sosial. Kehadiran yang beriringan dengan dinamika masyarakat dengan segala atribut perubahannya tersebut berlangsung secara alamiah, sehingga ruang hadir untuk mempertemukan individu dalam tempat fisik yang besar tersebut juga merupakan pola-pola yang bersifat natural. Kealamiahan hadirnya pasar ber- implikasi pada beranekaragamnya orang yang mencoba berkumpul dalam pusaran besar tersebut. Dalam pemahamaan sosiologi, pasar akhirnya bukan sebatas transaksi jual beli antara penjual dan pembeli, tetapi pasar telah berubah menjadi pusat hubungan sosial baru. Pemenuhan kebutuhan dalam tuntutan ekonomi sehari-hari seringkali bukan menjadi rente utama dalam pasar tradisional. Ekonomi sebatas cara mereka harus memenuhi kebutuhan. Karena itu yang berkembang di dalam pasar tradisional justru pola- pola gameinschaft dengan segala atribut kolektifitasnya. Masyarakat berkembang dengan segala dinamika sosialnya. Dalam kontek negara berkembang khu- susnya Indonesia, dinamika sosial dalam masyarakat ditandai lewat interaksi yang semakin beragam, se- jatinya tidak menghilangkan identitas-identitas komunalnya sehingga mereka masih menempatkan pasar tradisional sebagai bagian dari cara mereka membangun relasi-relasi sosial. Dengan kata lain, masyarakat di negara berkembang tetap membangun solidaritas sosialnya. Pasar menjadi salah satu tempat bagaima- na bangunan kolektifitas mencoba untuk tetap dipertahankan. Tetapi dalam kenyataannnya apa yang sejatinya menjadi kebutuhan masyarakat seringkali tidak se- jalan dengan apa yang diinginkan oleh penguasa. Melihat contoh kasus di Indonesia, kenyataan menun- jukkan bahwa ada cara pandang yang cukup berbeda dalam mensikapi sebuah perubahan. Bagi penguasa seringkali perubahan cuma ditempatkan dalam ruang-ruang fisik. Misalnya penguasa lebih senang un-

42

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

tuk membangun pusat-pusat perbelanjaan megah dengan segala atribut konsumsi kapitalisnya dari pada memikirkan pemberdayaan pasar tradisional. Atau penguasa lebih terfokus pada pembangunan infra struktur kota dengan jalan-jalan tol yang sangat lebar dengan dalih untuk mempercepat keterhubungan antar daerah. Padahal sejatinya cuma memberikan akses kepada pemilik modal besar untuk bisa seban- yak mungkin mengambil dan mengekploitasi potensi desa dan dijual hanya untuk kepentingan pemilik modal semata. Belum lagi akibat dari pembangunan jalan tol yang sangat merugikan masyarakat. Berapa banyak tanah masyarakat yang ada di sekitar jalan tol yang harus di gusur oleh pemerintah. Kalaupun ada ganti rugi seringkali tidak sesuai dengan apa yang sudah disepakati bersama. Bahkan ada pula yang tidak mendapatkan ganti rugi. Contoh tersebut memberikan gambaran, ada kepentingan yang seringkali tidak bisa dipertemukan dalam memandang esensi masyarakat yang berubah dengan segala dinamikanya.

B. Rumusan Masalah

Tulisan yang data wawancaranya diambil dari Pasar Demangan Yogyakarta ini mencoba untuk meli- hat sebuah fenomena di dalam masyarakat berkembang, yang sejatinya di tingkat masyarakat masih ban- yak sekali muncul identitas-identitas komunal yang justru menjadi perekat nilai dalam masyaraka.Pasar tradisional menjadi salah satu alternatif perekat nilai-nilai tersebut. Sementara pada saat yang bersamaan pemerintah dengan kebijakan pembangunan yang bercorak pertumbuhan melihat bahwa perubahan harus ditangkap dan ditafsir dengan mempercepat laju ekonomi lewat pembangunan infra struktur- infra struktur megah dan seringkali dengan meninggalakan identitas- identitas kelokalan.

C. Pembahasan

Pasar tradisional bagaimanapun tetap memberikan kontribusi terhadap pusat hubungan sosial yang lebih mementingkan tradisi gameinschaft. Kemampuan pasar tradisional jadi ruang-ruang relasi sosial bagi masyarakat menunjukkan bahwa kebutuhan untuk selalu berada dalam komunitas bagi setiap indi- vidu adalah suatu keniscayaan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan pasar tradisional menjadi harapan masyarakat untuk mem- pertahankan identitas-identias komunalnya

1. Lokasi Strategis

Secara geografis letak pasar tradisional biasanya ada di tempat yang strategis. Ada di daerah dimana persebaran ekonomi tumbuh. Kalau kita lihat dalam sejarah berdirinya kota-kota di jawa, pada dasarnya menempatkan sebuah bangunan berdasarkan fungsinya. Sehingga bisa dipahami jika tata kelola bangu- nan di kota-kota tersebut selalu dalam ruang-ruang hadir yang hampir sama. Tata letak bangunan terse- but biasanya menempatkan alun-alun ada di tengah kota. Di sebelah timur alun-alun akan ditemukan kantor-kantor pemerintah. Rumah Kepada Daerah terletak di sebelah utara alun-alun. Sementara di sebelah selatan merupakan jalan besar untuk akses lalu lintas penghubung pusat bisnis yaitu pasar yang biasanya berada di sebelah timur alun-alun tetapi dibelakang kantor-kantor pemerintah. Penjara atau tempat tahanan diletakkan di pojok selatan bagian barat alun-alun. Di bagian barat alun-alun meru- pakan perkampungan yang dihuni oleh golongan masyarakat yang dikenal agamis. Kampung ini biasa disebut sebagai kampung kauman. Masjid besar ada di kampung kauman.( Hasil observasi di Kota Ban- jarnegara ).

Muhammad Hayat PASAR TRADISIONAL PUSAT HUBUNGAN SOSIAL

DALAM TRADISI GAMEINSCAFT DAN KEPENTINGAN RELASI PENGUASA

43

DALAM TRADISI GAMEINSCAFT DAN KEPENTINGAN RELASI PENGUASA 43 (Gambar alun-alun kota Surakarta dengan Kraton surakarta

(Gambar alun-alun kota Surakarta dengan Kraton surakarta yang berada di sebelah utara alun-alun.)

Dari gambaran lokasi tentang kota-kota yang ada di Jawa menunjukkan bahwa pasar menjadi bagian yang sangat penting dalam tradisi berkembangnya sebuah kota atau daerah. Oleh karena itu men- empatkan pasar di tempat yang sangat strategis adalah bagian dari cara sebuah kota untuk memberikan ruang pusat hubungan sosial baru bagi masyarakat. Dalam tafsir sosiologis, lokasi strategis berarti me- mudahkan individu untuk tetap bisa membangun nilai-nilai sosialnya dan berkontribusi bagi terciptanya identitas kelompok sosial. Pasar adalah ruang dahaga untuk semakin menemukan ritme kolektifitasnya. Menempatkan pasar tradisional dalam ruang yang strategis sejatinya adalah ciri alamiah dari masyarakat yang masih menem- patkan ikatan-ikatan gameinscaft agar waktu untuk bertemu dengan orang lain sesering mungkin dapat dilakukan. Ada wilayah-wilayah yang tidak bisa diukur dengan uang bisa mereka peroleh. Karl Marx mengatakan bahwa pada awalnya pola hubungan manusia adalah bersifat sosial, tetapi setelah mode of production dengan spirit utamanya adalah material menjadi virus utama manusia berakibat pola hubun- gan tersebut menjadi sangat didasari pada kepentingan ekonomi semata. Marx dalam Erich Fromm menyatakan bahwa bangunan bawah atau infrastructure yang berbasis ekonomi adalah yang sangat mem- pengaruhi bangunan atas atau suprastructure (Eric Fromm, 2001). Muara yang terjadi adalah cara me- mandang manusia terhadap manusia akhirnya hanya didasarkan pada kepentingan ekonomi semata.

2. Pola hubungan yang bersifat egaliter

Pasar tradisional sebagai pusat hubungan sosial dalam tradisi gameinscaft maka cara-cara interaksi yang terjadipun menjadi sangat tidak berjarak. Ada wilayah trust yang dibangun diantara mereka. Seperti yang dikatakan oleh Robert King Merton bahwa interaksi sosial bisa berjalan dengan baik manakala dua pihak yang melakukan interaksi sosial tersebut bisa saling mendefinisikan ( kamanto Sunarto, 2000). Mendefinisikan bisa dipahami bahwa ruang-ruang trust sudah terbangun dalam hubungan antara pen- jual dengan pembeli tersebut. Dalam tradisi sosiologi jarak yang dibangun bukan lagi jarak sosial yang sangat dibatasi oleh nilai-nilai sosial, tetapi interaksi sosial yang dilakukan sudah berada dalam jarak dekat atau jarak intim. Artinya mereka sudah bisa melakukan konstruksi tentang nilai-nilai yang ada da- lam ruang hadir menurut persepsi mereka. Dengan begitu nilai-nilai yang diproduksi antara penjual dan pembelipun menjadi sangat dekat. Sebagai contoh, dengan mudahnya seorang penjual mengolok-olok pembeli. Tetapi pembeli tidak marah karena tradisi interaksi yang sudah sangat egaliter. Atau seorang pembeli yang kaget karena harga barang yang dibelinya ternyata naik lumayan tinggi dibandingkan dua hari yang lalu. Pembeli lalu mengeluarkan omongan yang cukup keras, tetapi karena hubungan terbiasa dibangun dalan relasi yang tidak berjarak, keluhan dari pembeli pun cuma ditanggapi dengan senyum

44

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

atau guyonan. Omongan yang cukup keras dalam tradisi hubungan yang egaliter sejatinya adalah ruang- ruang hadir yang bukan dalam terminologi ego tetapi lebih dalam kontek semakin bisa mengeratkan hubungan. Tradisi egaliter juga menjadikan barang yang dijual ada diruang yang juga bisa dipahami dan dimaknai bersama. Artinya bahwa barang yang dijual bukan otoritas sepenuhnya dari penjual. Karena si pembelipun bisa memaknai barang tersebut dalam tafsirnya sendiri. Ini bisa dilihat dari tradisi tawar menawar di pasar tradisional manakala barang yang diperjualbelikan ada di ruang yang belum mencapai titik temu. ini menunjukkan bahwa ada ruang untuk berdiri dalam ruang identitas yang sama. Penjual punya otoritas terhadap barang, pembelipun punya otiritas terhadap barang. Hal semacam ini tentuya tidak bisa ditemukan di Super market atau ruang-ruang konsumsi kapi- talis. Alam ekonomi kapitalis, otoritas hadir ketika dia punya uang. Manakala uang cukup barang bisa dimiliki. Tetapi ketika uang tidak cukup, tidak mungkin seorang pembeli menawarnya. Uanglah yang jadi penanda ororitas bukan keegaliteran hubungan. Karena di ruang konsumsi kapitalis memang tidak ada ruang bagi keegaliteran.

konsumsi kapitalis memang tidak ada ruang bagi keegaliteran. (Keadaan Pasar Demangan, Jogjakarta, Dokumentasi diambil

(Keadaan Pasar Demangan, Jogjakarta, Dokumentasi diambil hari Sabtu, 29 Januari 2011)

3. Tidak bersifat transaksional

Manakala pola hubungan lebih mengedepankan wilayah gameinscaft, tukar menukar kepentingan diantara pembeli dengan penjual tidak lagi dibatasi dengan uang sebagai cara untuk membayar. Sebab ketika uang selalu diartikan sebagai cara membayar, yang terjadi dalam ruang hadir relasi sosial itu men- jadi sangat terkooptasi oleh nilai uang. Ini bisa kita lihat di pasar modern ( Hipert Mart, Super Market, Mall, Plaza, dan segala atribut konsumsi modern lainnya). Dengan kata lain ruang relasi tersebut menjadi sangat transaksional. Dalam terminologi transaksional jalinan hubungan menjadi sangat dibatasi oleh kepentingan ekonomi. ”Ketika tidak ada uang ya jangan beli” begitu kira-kira adagium untuk meng- gambarkan betapa pola hubungan menjadi sangat tidak manusiawi. Atau walau ada uang tetapi karena uang yang harus dibayarkan ternyata tidak ada kembaliannya, dalam tradisi transaksional, si pembeli tidak mungkin untuk berhutang dulu kepada penjual. Sebab walau ada uang tetap transaksi tidak bisa terjadi. Sebab alat otomatis uang yang di namakan barcode tidak diprogram untuk bisa berhutang barang. Sehingga seringkali kasir yang melayani pembeli tersebut akan menyarankan untuk membeli tambahan barang agar ada kembaliannya. Ruang transaksional telah menghilangkan nilai-nilai humanis.

Muhammad Hayat PASAR TRADISIONAL PUSAT HUBUNGAN SOSIAL

DALAM TRADISI GAMEINSCAFT DAN KEPENTINGAN RELASI PENGUASA

45

Dehumanisasi menjadi akibat paling mengerikan dari sistem tanda ekonomi yang berbasis uang. Inilah kritik besar Karl Marx terhadap kapitalisme yang dijalankan dengan sistem uang. Karena bagi Marx kapitalisme benar-benar telah menghilangkan ruang-ruang sosial dalam interaksi sosial. Ruang interaksi itu cuma diisi dengan kepentingan ekonomi semata. Sebaliknya pasar tradisional adalah contoh bagaimana pola hubungan yang dibangun bukan berdasarakan tradisi transaksional bisa memunculkan dan menguatkan ruang-ruang relasi sosial. Manakala sistem tanda yang diproduksi adalah sistem dalam ranah gameinscaft sejatinya manusia sedang mendiskusikan dirinya bersama kelompok sosialnya dalam ruang-ruang bersama

dirinya bersama kelompok sosialnya dalam ruang-ruang bersama (Keadaan Pasar Demangan, Jogjakarta, Dokumentasi diambil

(Keadaan Pasar Demangan, Jogjakarta, Dokumentasi diambil hari Sabtu, 29 Januari 2011)

4. Ada kemandirian dalam diri penjual

Kemandirian menjadi salah satu ciri penjual di pasar-pasar tradidional. Walaupun mungkin ba- rang yang diperdagangkan tidaklah banyak tetapi apa yang dilakukan dirinya adalah bentuk otorisasi diri terhadap ruang-ruang sosial maupun ekonomi dimana dia hadir. Karena ada ruang-ruang yang sangat mandiri dari penjual dan mereka hadir di ruang dengan konstelasi utamanya adalah banguan pusat hubungan sosial sehingga yang terjadi adalah melihat pembeli bukan selalu dalam aras ekonomi, tetapi melihat pembeli sebagai bagian cara dirinya menemukan ruang-ruang untuk berbincang. Karena itulah sering kita lihat seorang penjual akan memberikan barangnya kepada pembeli walau dengan harga yang lumayan rendah. Yang penting dirinya untung. Ini seperti yang dialami penulis manakala mau membeli pisang di Pasar Demangan. Setelah terjadi tawar menawar saya bisa mendapatkan harga pisang yang sudah disepakati bersama. Harga yang menurut saya murah. Saya bertanya ke ibu yang ternyata sudah berusia 70 tahun tersebut kenapa berani melepas pisang dengan harga murah. Perempuan yang akhirnya saya kenal sebagai Ibu Hardi Utomo tersebut memberikan jawaban demikian:

”Dodolanku asline ya iki mbakaokaro cengkeh sing nggo rokok. Aku adol 3000 wis komplit nggo rokok lintingan. Pisang iki hasil tanine bapake. Aku nggowo akeh. Wis laku. Ora papa tak dol murah, gari loro”

(Jualan saya sebenarnya adalah tembakau dan cengkeh untuk rokok. Saya jual satu paket Rp. 3000. sudah komplit untuk rokok linting. Pisang ini sebenarnya hasil bertani dari suami. Saya tadi membawa banyak. Sudah laku. Tidak apa-apa pisang saya jual murah. Karena tinggal dua) ( Hasil wawancara dengan Ibu Hardi Utomo, di Pasar Demangan, Sabtu, 29 Januari 2011)

Dalam logika Max Weber inilah yang disebut dengan tindakan berorientasi nilai (Agus Salim, 2002). Bahwa Ibu tersebut dalam melakukan tindakan sosialnya bisa dipahami sebagai tindakan rasional yang

46

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

berorientasi nilai. Nilai-nilai yang diproduksi dipasar tradisional yang berorientasi pada wilayah hubun- gan sosial dalam ranah gameinscaft memungkinkan orang untuk memandang orang lain dalam bertindak bukan mementingkan ekonomi semata tetapi juga kepentingan sosial. Bisa dipahami manakala pisang yang tersisa tinggal 2 buah, dia merasa tidak masalah untuk menjualnya dengan harga yang lebih murah. Hal seperti ini tidak mungkin kita dapatkan di super market, Mall, pasar-pasar modern, dan lain seba- gainya. Pasar Modern tidak mungkin menurunkan harga saat itu juga ketika tahu barang yang tersedia tinggal dua. Itulah logika kapitalis dimana semua dihadirkan dengan uang sebagai ukuran. Berbeda dengan pasar tradisional yang juga masih memberi ruang-ruang sosial untuk berkembang dan menjadi perekat sosial kepada siapa saja yang hadir.

dan menjadi perekat sosial kepada siapa saja yang hadir. (Ibu Hardi Utomo, Dokumentasi diambil di pasar

(Ibu Hardi Utomo, Dokumentasi diambil di pasar demangan, Sabtu, 31 Januari 2011)

5. Identitas diri pembeli bisa dihadirkan secara alamiah

Sebagai pusat hubungan sosial berarti bahwa pasar tradisional bisa menjadi ruang hadir bagi indi- vidu untuk bisa menunjukkan dirinya secara alamiah. Individu hadir sebagai entitas yang mandiri yang tidak terkooptasi oleh nilai yang dipaksakan.Karena itu kita bisa dengan leluasa melihat orang makan bubur sumsum sambil berbincang akrab dengan pembeli. Ini menunjukkan bahwa ruang-ruang iden- titas diri bisa tumbuh subur tanpa takut orang akan berprasangka buruk terhadap dirinya. Tentunya sangat berbeda ketika kita akan berbelanja ke mall atau plaza atau pasar modern lainnya. Dalam logika konsumsi modern, pasar modern dan segala etalase konsumsinya adalah uniform (seragam), maka siapa yang masuk kesanapun harus diseragamkan. Misalnya manakala mau masuk Mall harus pakai baju yang bagus dengan dipadukan tas yang bagus. Atau harus membawa uang dalam jumlah lebih karena siapa tahu banyak barang yang harus dibeli. Dengan kata lain, Dunia konsumsi telah membatasi kita dengan aturan-aturan baku yang mereka buat. Dan secara tidak sadar pikiran kita terhegemoni untuk menjadi bagian mainstream dari nilai yang mereka mainkan. Inilah yang disebut Antonio Gramsci sebagai hegemoni dalam ruang pikir individu. Inilah juga yang selalu dikhawatirkan oleh Karl Marx bahwa individu kehilangan makna dirinya sebagai manusia. Seperti yang dikatakan oleh Karl Marx dalam Erich Fromm bahwa kepedulian utama Marx adalah emansipasi manusia sebagai seorang individu, mengentaskan alienasi, restorasi kemampuan manusia untuk meng- hubungkan dirinya secara utuh dengan sesamanya dan alam (Erich Fromm, 2001)

Muhammad Hayat PASAR TRADISIONAL PUSAT HUBUNGAN SOSIAL

DALAM TRADISI GAMEINSCAFT DAN KEPENTINGAN RELASI PENGUASA

47

DALAM TRADISI GAMEINSCAFT DAN KEPENTINGAN RELASI PENGUASA 47 (Keadaan Pasar Demangan, Jogjakarta, Dokumentasi diambil

(Keadaan Pasar Demangan, Jogjakarta, Dokumentasi diambil hari Sabtu, 29 Januari 2011)

6. Memproduksi nilai-nilai komunalitas

Nilai-nilai komunalitas biasanya dibangun berdasarkan adanya ruang-ruang hadir yang ranah akh- irnya adalah saling memahami antara satu individu dengan individu lain. Komunalitas dibangun karena ada perasaan dalam identifikasi kelompok sosial yang sama. Menurut Emile Durkheim, solidaritas sosial terbangun karena adanya perasaan sebagai sebuah kesatuan kelompok (Robert lawang, 1990). Manakala kolektifitas terproduksi, maka ruang-ruang hadir yang terbingkai dalam kepentingan bersama di pasar tradisional menjadi cara mereka berinteraksi antara satu dengan yang lainnya. Maka muncullah bentuk- bentuk solidaritas diantara mereka. Di pasar tradisional arisan menjadi cara mereka menerjemahkan kolektifitas kelompok. Karena dengan arisan, ruang-ruang hadir dalam relasi sosial menjadi lebih banyak terproduksi. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh ibu Nur:

” Ada arisan di pasar. Yang buat adalah pedagang di dalam pasar. Setiap orang membayar Rp.150.000. Dan setiap setengah bulan sekali dikocok. Dapatnya banyak yaitu Rp. 6.000.000. ( enam juta rupiah). ”

Pernyataan dari Ibu Nur tersebut menunjukkan bahwa kolektifitas menjadi lebih penting karena tradisi semacam tersebut semakin mengerucutkan ikatan diantara pedagang yang ada dipasar. L o g i k a ketika orang berdagang biasanya adalah akan sangat senang jika tidak ada saingan. Mungkin hal semacam ini tidak berlaku di pasar tradisional sebab bagi mereka yang penting bisa hadir bersama dalam kelompok besar dan keuntungan bisa di dapat juga oleh banyak orang. Pernyataan dari Bu Nur berikut merupakan contoh bagaimana kolektifitas menjadi bagian penting bagi mereka.

”Waktu dulu berjualan 13 tahun lalu pedagang masih sedikit. Sepi. Bagi saya tidak enak. Enak sekarang teman- nya banyak.”

Pernyataan yang menunjukkan bagaimana produksi kolektifitas telah memberi ruang-ruang hadir yang justru bersifat sangat sosial. Padahal mereka ke pasar untuk mencari keuntungan. Ini menunjukkan kepada kita bahwa produksi kolektifitas berimbas pada saling mengerti dan memahami individu bukan cuma dalam wilayah ekonomi saja tetapi ruang sosial pun menjadi bagian maintream cara mereka ber- hubungan dengan individu lain Pasar tradisional yang bisa memproduksi wilayah hubungan manusia berbasis human seringkali ber- beda dengan apa yang ada di pikiran pengambil kebijakan ketika mengkacamatai pola hubungan dalam

48

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

ranah jual beli. Pengambil kebijakan dalam merumuskan rencana tata ruang wilayah seringkali sarat dipenuhi dengan lobby-lobby kepentingan dari pemilik modal. Sehingga garis kebijakan yang diambil seringkali tidak bisa dilepaskan dari kepentingan yang punya kuasa uang. Uang menjadi rente penting dalam tradisi ekonomi. Fenomena peminggiran pasar tradisional yang seringkali dilakukan oleh penguasa, bisa dipahami dari arah kebijakan penguasa yang lebih menitikberatkan pada model pembangunan dalam orientasi pertumbuhan. Model pembangunan yang lebih menitikberatkan pada wilayah kasat mata ini (bangunan gedung, jembatan, Mall, Pasar Modern, Plaza, dan segala atribut ekonomi konsumsi) akhirnya cuma memasukkan manusia dalam jurang dehumanisasi. Apalagi gegap gempitanya Indonesia menyambut pasar bebas semakin menempatkan Indonesia sebagai negara user. Menjadi masyarakat pengkonsumsi ( Jean P. Baudrillard, 2009). Globalisasi yang datang pun disambut dengan sangat suka cita. Padahal hasil akhir dari globalisasi dengan arus deras masuknya barang-barang konsumsi cuma berujung pada mengkonsumsi kehampaan(George Ritzer, 2006). Ujung akhir yang diraih bukanlah kesejahteraan tetapi ketergantungan dan keterbelakangan. Ini yang menjadi kritik tajam dari Cardoso, Paul Baran, Raul Prebisch, dari model pertumbuhan yang banyak ditiru oleh negara-negara berkembang. Di Indonesia menurut Pogge dan Sumodiningrat dalam susetiawan ditandai dengan tingkat kesenjangan, baik terjadi antar penduduk maupun antar sektor ( Susetiawan, 2009). Kebijakan dalam ranah pertumbuhan tadi menjadikan penguasa melihat pasar tradisional bukan merupakan aset yang berharga sebagai komoditas. Ketika tidak punya nilai jual sebagai komoditas berarti sangat tidak punya kemanfaatan jika terus dipertahankan. Menurut Yudi Andhoni dalam tulisannya di blog detik, Ada dua hal utama kenapa pasar tradisional, kini, dipinggirkan atau kalau perlu digusur oleh pemerintah kota (Pemko) untuk diganti dengan pasar modern. Pertama, menyangkut pemasukan keuangan ke Pemkot yang berfungsi sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dibanding pasar tradisional yang bersifat restribusi bernilai ribuan perak, maka pajak dari mall-mall, departmen store, pusat-pusat perbelanjaan mewah jelas lebih besar. Ratusan juta! Tambahan lagi dari papan reklame, maka makin menambah pundi-pundi PAD Pemko. Kedua, aspek kebersihan dan ketertiban pasar tradisional sulit ditangani oleh Pemko dan ini berbeda halnya dengan pasar modern dengan sistem cleaning service. Jorok, sampah-sampah bertebaran, bau, tidak tertib dan kadang menimbulkan kemacetan di sekitarnya merupakan pemandangan yang biasa ditemukan di pasar-pasar tradisional seperti Pasar Bandar Buat, Lubuk Buaya, Gaung atau di Lambau tadi. Kondisi tersebut jelas mengonak duri di mata Pemko, se- hingga sebagian besar kini di beberapa kota di Sumatera Barat, pasar-pasar tradisional itu telah diganti dengan yang lebih modern sebagai simbol kemegahan kota. Tambahan lagi ini jelas mengurangi nilai bagi peraihan sebagai kota terbersih yang diadakan tiap tahun oleh pemerintah pusat. Pasar tradisional sebagai thing yang kurang memberikan kontribusi yang maksimal bagi pendapatan pemerintah, maka bisa dipahami jika penggusuran menjadi warna tersendiri dalam penanganan pemer- intah terhadap pasar tradisional. Dengan berdalih relokasi, akan dibangun pasar yang lebih representatif sehingga bisa kompetitif, penggusuran terjadi dimana-mana. Manakala penggusuran tidak bisa dilaku- kan, seringkali kita melihat bahwa beberapa hari berikutnya pasar yang akan digusur tersebut ternyata mengalami kebakaran. Sebagai contoh yang terjadi di Medan, bersumber dari waspada. Co.id bahwa dalam kurun waktu 3 bulan belakangan ini, setidaknya 4 pasar tradisional di Kota Medan terbakar yakni, Pasar Universitas Sumatera Utara, Pasar Sukaramai, Pasar Sore Padang Bulan dan terakhir Pasar Pulo Brayan. Hal ini menimbulkan kesan kalau pasar tradisional itu “diabaikan”. Karena, hingga kini belum selu- ruh pasar tradisional itu diperbaiki, sehingga kondisi para pedagang korban kebakaran semakin mempri- hatinkan. Dalam pemahaman kritis sangat mungkin itu adalah bentuk kuasa kekuasaan dari pengambil kebijakan yang merasa bahwa kebijakannya tidak diindahkan oleh masyarakat. Relasi kepentingan antara

Muhammad Hayat PASAR TRADISIONAL PUSAT HUBUNGAN SOSIAL

DALAM TRADISI GAMEINSCAFT DAN KEPENTINGAN RELASI PENGUASA

49

kekuasaan dengan pemilik modal bisa dipahami sebagai cara untuk selalu melanggengkan hegemoninya. Menurut Susetiawan, pada akhirnya kerja politiklah yang menjadi kunci penting dalam perluasan pasar (Susetiawan, 2009). Relasi penguasa dalam lingkaran pasar tradisional tersebut untuk kepentingan penguasa dan pemi- lik modal juga bisa dilihat dari apa yang terjadi di lingkungan pasar tradisional itu sendiri. Dari hasil observasi di Pasar Demangan, Jogjakarta, ada cukup banyak baliho dalam ukuran kecil yang bertebaran di Pasar Demangan. Di dalam baliho tersebut ada tulisan-tulisan hikmah tetapi disampingnya tertera produk sponsor dari konglomerat Indonesia. Pemandangan ini menunjukkan bahwa kebijakan yang dimunculkan oleh pengelola pasar tradisional sudah tidak imun dari relasi kuasa dengan pemilik modal besar. Manakala ruang hadir yang terjadi di pasar tradisional akhirnya bermuara pada ruang-ruang kuasa kekuasaan dan kuasa ekonomi menjadi semakin sulit untuk ke depan pasar tradisional terbebas dari virus kuasa konsumsi.

depan pasar tradisional terbebas dari virus kuasa konsumsi. (Ruang kuasa Kapitalis masuk di ruang-ruang sosial pasar

(Ruang kuasa Kapitalis masuk di ruang-ruang sosial pasar tradisional. Dokumentasi diambil di Pasar Demangan, Jogjakarta, Sabtu, 29 Januari 2011)

D. Kesimpulan

Pasar tradisional sebagai harapan masyarakat untuk tetap bisa memproduksi pusat-pusat hubun- gan sosial yang bermuara pada tradisi gameinscaft semakin menemukan ruang terjal yang penuh rintan- gan. Ini tidak bisa dilepaskan dari pemihakan oleh pengambil kebijakan yang seringkali lebih pro kepada pemilik modal besar. Pemihakan itu dimunculkan dengan kebijakan-kebijakan yang spiritnya adalah se- makin menguatkan ruang-ruang kuasa ekonomi maupun politik bagi penguasa maupun pemilik modal.

50

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

Daftar Pustaka:

Baudrillard Jean P, Masyarakat Konsumsi, Kreasi Wacana, Jogjakarta, 2009 Fromm, Erich, Konsep Manusia Menurut Marx, Pustaka Pelajar, Jogjakarta, 2001 Ritzer, George, The Globalization of Nothing, Universitas Atma Jaya, Jogjakarta, 2006 Salim, Agus, Perubahan Sosial, Tiara Wacana, Jogjakarta, 2002

Susetiawan, Ketidakberdayaan Para Pihak Melawan Konstruksi Neoliberalisme, Studi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan FISIP dan PSPK UGM, Jogjakarta, 2009

http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=170021:pasar-tradision-

al-tetap-dipertahankan&catid=77:fokusutama&Itemid=131

http://yudhiandoni.blogdetik.com/index.php/2010/12/06/pasar-tradisional-dan-keserakahan-kota/

comment-page-1/

KEBIJAKAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL DALAM PENANGGULANGAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

Endang Tri Sudaryanti Email; end_ts@yahoo.co.id

Program Studi Administrasi Negara STISIPOL Kartika Bangsa

Abstract

Blood Diseases Dengue Fever (DBD) is a disease caused by a virus (dengue virus) transmitted by mosqui- toes and dengue hemorrhagic fever. In the development of dengue cases is closely related to 1) the increased mobility of the population because of the increasing number of means of transportation within the city and the region was instrumental in the process of transmission of dengue vector, 2) clean water habits to ac- commodate the daily needs, let alone the clean water supply has not meet the needs or limited resources or located far from residential to encourage people to hold water at home each, 3) precipitation, which led to stagnant water in places where clean 4) Lack of community attitudes and knowledge about the prevention of disease Until now, drugs or vaccines for deases have not been there, so the way to prevent this disease is to break the chain of transmission by eliminating the vector of transmission of Aedesaegipty. Disease prevention efforts are needed in policy action, an action that has two main objectives; regulation and allocation. Regulation measures are measures designed to ensure compliance with standards and pro- cedures. Allocation are actions that require the allocation of inputs in the form of money, personnel time and equipment. Allocative actions adequate to meet the needs require sufficient funding, time, personnel, and equipment which is becoming a very impotantidea Key words:Blood Diseases Dengue Fever, Policy; regulation and allocation

A. Latar Belakang Masalah

Suatu pembangunan memerlukan baik modal fisik (capital dan sumber daya alam) maupun modal manusia, karena keduanya merupakan modal utama yang saling terkait dalam realisasi target-target suatu pembangunan. Pembangunan kesehatan merupakan salah satu pembangunan untuk menyiapkan modal manusia, karena hanya dengan masyarakat yang sehat diharapkan akan menjadi bangsa yang kuat. Inv- estasi pembangunan manusia melalui pembangunan bidang kesehatan menjadi suatu hal yang tidak bisa ditawar lagi, baik untuk alasan ekonomi maupun kesehatan warga masyarakat itu sendiri khususnya. Pembangunan manusia sangat berpengaruh dalam upaya mengurangi tingkat kemiskinan, karena den- gan kesehatan yang baik memungkinkan penduduk miskin untuk meningkatkan nilai asetnya yakni tenaga mereka.Oleh karenanya maka investasi pada kesehatan sangat penting artinya bagi pengurangan kemiskinan dan dalam jangka panjang, investasi sektor kesehatan tersebut akan meningkatkan produk- tivitas tenaga kerja yang berpengaruh positip pada pertumbuhan ekonomi. Laporan Pembangunan Manusia 2010 yang dikeluarkan UNDP menunjukkan bahwa indeks pem- bangunan manusia (IPM) Indonesia berada di peringkat 108 dari 169 negara yang tercatat. IPM meru- pakan indeks komposit yang mencakup kualitas kesehatan, tingkat pendidikan, dan kondisi ekonomi

52

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

(pendapatan).Di lingkup ASEAN, Indonesia hanya berada di peringkat 6 dari 10 negara. Peringkat ini masih lebih rendah daripada Singapura (27), Brunei Darussalam(37),Malaysia(57), Thailand (92), dan Filipina (97). Dari aspek kualitas kesehatan, di kawasan ASEAN, Indonesia juga berada di peringkat ke- 6, di bawah Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Vietnam, dan Filipina. Untuk aspek ini, peringkat Thailand masih di bawah Indonesia.Sementara untuk tingkat pendidikan, Indonesia bahkan hanya be- rada di peringkat ke-7 dari 10 negara anggota ASEAN. Berarti, capaian kinerja pendidikan di Indonesia bisa dikatakan masih lebih buruk ketimbang capaian kinerja kesehatan Dalam Rencana Pembangunan Nasional JangkaPanjang (RPJP) 2005-2025 disebutkan bahwa pem- bangunan sumberdaya manusia diarahkan untuk terwujudnya manusia Indonesia yang sehat, cerdas, produktif dan masyarakat yang semakin sejahtera. Melalui program Indonesia sehat 2010 yang dicanang- kan Depkes (2005) gambaran masyarakat Indonesia dimasa depan yang ingin dicapai adalah masyarakat yang antara lain hidup dalam lingkungan yang sehat dan mempraktekkan perilaku hidup sehat.Ling- kungan yang sehat termasuk didalamnya bebas dari wabah penyakit menular. Penyakit Demam Berdarah Darah (DBD) adalah penyakit yang disebabkan virus (virus dengue) dan ditularkan oleh nyamuk demam berdarah dengue (Aedesaegypti). Dalam pengembangannya kasus DBD ini erat kaitannya dengan 1) meningkatny amobilitas penduduk karena semakin banyaknya sarana transportasi didalam kota maupun daerah sangat berperan dalam proses penularan vector demam berda- rah., 2) kebiasaan masyarakat menampung air bersih untuk keperluan sehari-hari, apalagi penyediaan air bersih belum mencukupi kebutuhan atau sumber yang terbatas atau letaknya jauh dari pemukiman mendorong masyaraka tmenampung air dirumah masing-masing, 3) curahhujan, yang menyebabkan air menggenang pada tempat-tempat bersih 4) sikap dan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan penyakit yang masih kurang. Nyamuk aedes aegypti berwarna hitam dan belang-belang (loreng) putih pada seluruh tubuhnya, berkembang biak ditempat penampungan air (TPA) dan barang-barang yang memungkinkan tergenang air. Nyamuk ini tidak dapat berkembang biak diselokan/got atau kolam yang airnya berhubungan den- gan tanah. Biasanya menggigit (menghisap darah) pada pagi hari sampai sore hari. Nyamuk dapat ter- bang sampai 100 m dan obat untuk penyakit DBD belum ada, vaksin untuk pencegahannya juga belum ada, sehingga satu-satunya cara untuk memberantas penyakit ini adalah dengan pemberantasan mata rantai penularan dengan memusnahkan pembawa virusnya (vektornya) yaitu nyamuk Aedes aegypti dengan memberantas sarang perkembangbiakannya yang umumnya ada di air bersih yang tergenang dipermukaan tanah maupun di tempat-tempat penampungan air. Atau yang dikenal dengan istilah pem- berantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue (PSN-DBD), (Ditjen PPM & PLP 1987). Sebagai contoh kasus adalah Kabupaten Gunungkidul sebagai salah satu daerah endemis DBD den- gan Case Fatality Rate (CFR) yang cukup tinggi dalam standar Nasional.Data mengungkapkan bahwa kenaikan kasus DBD yang paling bermakna adalah terjadi pada bulan Maret dan merupakan puncak kasus. Berdasarkan waktu, maka antara bulan Januari sampai dengan April merupakan bulan yang ban- yak terjadi kasus DBD karena pada bulan-bulan tersebut merupakan waktu dengan curah hujan yang tinggi.Oleh karenanya pada masa ini perlu diwaspadai terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB). Berikut adalah gambaran kasus DBD yang terjadi di Kabupaten Gunungkidul

Endang Tri Sudaryanti KEBIJAKAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL

DALAM PENANGGULANGAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

53

Tabel 2 Distribusi Kasus DBD menurut bulan di Kab. Gunung Kidul

90

80

70

60

50

40

30

20

10

0

-------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------------- --------------------------------------------------------------------------------

-----*

-----* ----*----*----*----*-----*-----*-----*-----*-----*-----*-----*-----* Jan Feb Maret April Mei Juni Juli Agst Sept Okt Nov Des

Kasus DBD didaerah ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh perilaku masyarakatnya, seperti ke- biasaan menyimpan air (tandon air), karena curah hujan yang kurang, mobilitas masyarakat yang cukup tinggi yaitu banyaknya masyarakat yang pergi keluar daerahnya untuk bekerja, dan pola perilaku hidup sehat seperti perhatian terhadap lingkungan, khususnya tidak membiarkan ada air tergenang disekitar tempat tinggal. Karakteristik nyamuk Aedes aegypti sangat cepat berkembang dalam situasi seperti itu.

B. Rumusan Masalah

Dari fenomena diatas maka tingkat terjadinya wabah penyakit demam berdarah dengue (DBD) di- tentukan oleh faktor musim/cuaca, tinggi rendahnya tingkat kesadaran masyarakat akan perilaku hidup bersih dan sehat serta tingkat kesehatan lingkungan. Pada musim pancaroba yakni peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan atau permulaan musim penghujan dapat dipastikan akan terjadi pening- katan wabah penyakit DBD, karena musim inilah nyamuk akan cepat berkembang biak. Kondisi ini akan lebih parah apabila tingkat kesadaran(persepsi) masayarakat akan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) rendah dan kondisi lingkungan yang tidak baik. Data penyakit DBD di Kabupaten Gunung kidul selama tahun 2001 s/d 2010mengalami fluktuasi dalam jumlah kasus pada tiap tahun. Fluktuasi kasus tertinggi terjadi di tahun 2010 (974) kasus 13 orang meninggal dan terendah tahun 2002 (68) kasus, 2 orang meninggal

54

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

Tabel 1 Jumlah Kasus dan Kematian Demam Berdarah di kab. Gunung Kidul 2001-2010

Kasus 974 09 290 233 07 327 107 05 123 240 03 146 68 01
Kasus
974
09
290
233
07
327
107
05
123
240
03
146
68
01
81
0
500
1000
Mati 13 09 6 3 07 2 1 05 3 7 03 5 2 01
Mati
13
09
6
3
07
2
1
05
3
7
03
5
2
01
4
0
5
10 15

Sumber : Dinas Kesehatan Kab. Gunung Kidul

Data DBD sebagaimana kasus di Kab. Gunung Kidul tentu harus diwaspadai dan harus diminimali- sir dengan upaya-upaya yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.Seiring dengan kebijakan otonomi daerah yang memberi ruang lebih besar kepada pemerintah daerah untuk menyelenggarakan aktivitas administrasi publik, perlu disadaripemerintah di daerah untukmemiliki komitmen yang lebih baik bagi penciptaan kualitas pelayanan kesehatan. Mendasarkan pada kondisi dilapangan maka permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini ada- lah; “bagaimanapenanggulangan penyakit DBD yang dilaksanakan di Kabupaten Gunung Kidul?

C. Tujuan Penelitian

1. Mengidentifikasi cara kerja dalam penanggulangan DBD

2. Melihat kemungkinan pengembangan penanggulangan DBD berbasis partisipasi masyarakat.

D. Tinjauan Teoritik

Secara teoritik penanggulangan penyakit DBD yang menjangkit pada masyarakat dapat dilihat melalui tindakan kebijakan yang mempunyai dua tujuan utama; regulasi dan alokasi. Tindakan regulasi adalah tindakan yang dirancang untuk menjamin kepatuhan terhadap standard dan prosedur tertentu. Tindakan alokasi adalah tindakan yang membutuhkan masukan yang berupa uang, waktu, personil dan alat. Dalam pelaksanaannya dilapangan dibuat peraturan-peraturan untuk mendukung diperolehnya data ataupun informasi akurat dilapangan.Sistem Informasi Manajemen yang dibangun adalah dengan dibentuknya personil-personil dilapangan secara bertingkat sesuai wilayahnya yang bertanggung jawab dalam tugasnya. Penjangkitan penyakit yang cepat merebak akan merepotkan pemerintah bilamana peran serta masyarakat diabaikan dalam kasus ini. Pelibatan masyarakat dalam penanggulangan penyakit mrupakan bentuk kerjasama yang memberikan peran besar sebagai warganegara. Dalam hal ini menurut Denhard

Endang Tri Sudaryanti KEBIJAKAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL

DALAM PENANGGULANGAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

55

masyarakattidak hanya sebagai pelanggan (customer) melainkan juga sebagai warga negara yang memiliki negara dan sekaligus pemerintah yang ada di dalamnya. Masyarakat sebagai warganegara dan pengguna layanan atau customer adalah juga pemilik (owner) penyelenggara layanan public, dalam posisi ini peng- guna layanan menduduki posisi sentral yang harus dilibatkan dalam upaya meningkatkan kualitas pelay- anan kesehatan tersebut.Dalam kebijakan ini pertimbangan-pertimbangan personil, waktu, alat sangat penting untuk mendukung pelaksanaan dilapangan. Untuk itu tentu pemerintah perlu menghitung dan menimbang dengan baik alokasi yang dibutuhkan dengan kondisi dana yang ada. Sebagai isu nasional dalam pemberantasan penyakit DBD pemerintah melalui Mendagri mengelu- arkan Keputusan No. 31-VI tahun 1994 tentang Pembentukan Kelompok Kerja Operasional Pember- antasan Penyakit DBD. Dengan adanya kelompok kerja operasional ini diharapkan diperoleh informasi yang akurat tentang keadaan dilapangan. Pembentukan Pokjanal ini dapat disebut sebagai pembentukan Sistem Informasi Manajemen penyakit DBD. Sistem informasi manajemen adalah suatu sistem yang diciptakan untuk melaksanakan pengolahan data sebagai pengambilan keputusan pemerintah.Dengan bekerjanya pokjanal secara efektif dilapangan diharapkan segera memperoleh informasi-informasi pent- ing tentang DBD yang menjangkit pada wilayah-wilayah tertentu.Adapun upaya-upaya pelaksanaan dilapangan dalam pemberantasan penyakit pemerintah perlu bekerjasama dengan masyarakat ataupun pihak swasta. Upaya penjabaran visi menuju Indonesia sehat 2010 melalui strategi perilaku hidup bersih dan se- hat (PHBS) dengan orientasi bahwa pelayanan preventif dan promotif mendapatkan porsi lebih utama tanpa mengabaikan pelayanan curative dan rehabilitative. Dalam membasmi vector DBD ini dilakukan melalui 1) Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk(PSN) dengan penggerakan peran serta masyarakat melalui kelompok-kelompok yang dikenal dengan nama kelompok kerja operasional (pokjanal) pada lingkungan masyarakat. 2) Penekanan pola perilaku hidup sehat, 3) Aksi kebersihan secara serentak dan penyemprotan pada tempat yang diduga menjadi sarang. nyamuk. 4) Kegiatan abatisasi pada tandon- tandon air. 5) Kegiatan abatisasi selektif, pada rumah-rumah yang dari hasil pemantauan terdapat jentik. 6) Fogging/pengasapan pada wilayah tertentu.

E. Metode Penelitian

Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif.Men- dasarkan Newman (1997:19), penelitian deskriptif mampu menyajikan gambaran secara detail dari se- buah situasi dan atau setting social. Dalam hal ini Danzin (2002:61), menyatakan pula bahwa pada pendekatan kualitatif, data yang dikumpulkan umumya berbentuk kata-kata, gambar dan bukan angka- angka, kalaupun ada angka-angka sifatnya hanya sebagai penunjang. Dengan demikian, metode kualitatif dalam penelitian ini lebih bersifat analisis deskriptif, yang ber- tujuan mendapatkan gambaran nyata pada kebijakan penanggulangan penyakit DBD.

F. Pembahasan

Sebagai isu nasional pemerintah melalui Menkes telah mengeluarkan keputusan No. 581/1992 tentang Pemberantasan Penyakit DBD dan untuk peningkatan kewaspadaan dini luar biasa Menkes mengeluarkan Peraturan No. 949/Menkes/SK/VII/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Ke- waspadaan Dini Luar Biasa (KLB) yang mengatur bahwa yang berwenang menetapkan suatu wilayah terjangkit wabah adalah Menteri Kesehatan. ”Menteri menetapkan dan mencabut daerah tertentu dalam wilayah Indonesia yang terjangkit wabah sebagai daereah wabah”. Kemudian untuk pelaksanaan kerja secara operasional melalui Mendagri dibuat Keputusan No. 31-VI tahun 1994 tentang Pembentukan Kelompok Kerja Operasional Pemberantasan Penyakit DBD.

56

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

Sasaran Pokja DBD :

1. Agar semua keluarga melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)-DBD di rumah dan di lingkungan masing-masing secara terus menerus.

2. Semua keluarga juga diharapkan memeriksakan kepada dokter / petugas kesehatan / Puskesmas setempat bila ada tanda-tanda penyakit DBD

3. Melaporkan langsung kepada Puskesmas setempat atau Kepaladesa/Kepala Kelurahan melalui pen- gurus Pokja DBD, Ketua RT/RW/Dusun/Lingkungan (Pamong)atau kader

4. Mengikuti petunjuk-petunjuk petugas dan pamong sert amembantu kelancaran penanggulangan kejadian DBD yang dilaksanakan oleh petugas kesehatan

Kelompok kerja operasioanal (pokjanal) yang dibentuk ini merupakan suatu system informasi yang dapat bekerja sebagai saluran informasi yang efektif pada masyarakat dan pemerintah. Melalui Sistem in- formasi manajemen tersebut data, informasi dilapangan dapat diperoleh secara akurat dan akan mampu mendukung dalam pembuatan keputusan yang baik. Sampai saat ini obat atau vaksin untuk penyakit DBD belum ada, sehingga cara satu-satunya untuk mencegah penyakit ini adalah dengan memutus rantai penularan dengan menghilangkan vektor penularannya yaitu Aedes aegipty. Pelaksanaan pemberantasan nyamuk sampai dengan saat ini masih sama yaitu masih bersifat reaktif belum bersifat proakatif. Untuk mendapatkan data rinci penyakit dari masyarakat perlu dilakukan survai yang disebut dengan survai mawas diri oleh kader inti yang juga meru- pakan anggota pokjanal.

Survai Mawas Diri (SMD)

a. Survai dimaksudkan untuk ;

Mengetahui penyebaran jentik nyamuk Aedes agypti di masing-masing RW/Dusun/Lingkun- gan.

Menggali pendapat masyarakat tentang cara dan kesediaan masyarakat untuk membasmi jentik nyamuk penular di massing-masing RW/Dusun/Lingkungan

b. SMD dilaksanakan oleh kader inti dengan mengunjungi kurang lebih 30 rumah yang dipilih secara acak dari tiap RW/Dusun/Lingkungan

c. Pada tiap rumah tersebut dilakukan ;

Pemeriksaan jentik yang menyatakan ada atau tidaknya jentik.(menggunakan formulir SMD-1)

Wawancara dengan kepala Keluarga/Ibu rumah tangga tentang pemberantasan jentik, frekwensi kunjungan dan kesediaan “iuran”(sebagai acuan dapat digunakan Formulir SMD-2

d. Hasil SMD dari tiap RW/Dusun/Lingkungan dianalisa oleh kader inti bersama petugas kesehatan (dengan menggunakan format SMD-3) sehingga diperoleh;

Angka bebas jentik (ABJ) yaitu prosentase rumah yang tidak ditemukan jentik, Contoh: Dari 30 rumah yang diperiksa di RW/Dusun/Lingkungan 01, 20 rumah diantaranya tidak ditemu- kan jentik maka;

ABJ RW/Dusun/Lingkungan 01 = 20/30 x 100% = 67%

Pendapat masyarakat :

a) Cara pemberantasan jentik

b) Pelaksanaan dan frekwensi kunjungan rumah berkala

Endang Tri Sudaryanti KEBIJAKAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL

DALAM PENANGGULANGAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

57

Secara umum upaya yang telah dilakukan untuk membasmi vector DBD adalah;

1. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan penggerakan peran serta masyarakat melalui kelom- pok-kelompok yang dikenal dengan nama kelompok kerja operasional (pokjanal). Pokjanal ini be- rada pada tiap wilayah.

2. Aktifitas Pokjanal memberikan penekanan Pola Perilaku Hidup Sehat (PHBS) Berikut tabel yang akan menunjuk strata PHBS dan kesehatan lingkungan.

Tabel 2 Data kesehatan Lingkungan di Kabupaten Gunung Kidul Tahun 2010

Jenis Saran (target 60%)

Cakupan (%)

Rumah sehat

50, 98

TUPM, meliputi: Resto/WM/IM/JB

64, 92

Institusi dibina kesehatan

60, 54

Sumber: Kesling Dinkes Kab. Gunung Kidul

Cakupan data rumah sehat di Kab. Gunung Kidul pada tahun 2010 menunjukkan angka kurang dari target yang diharapkan. Tempat-tempat umum dan istitusi yang dibina kesehatan lingkungan oleh petugas kesehatan belum semuanya dilakukan. Hal ini karena keterbatasan tenaga dibandingkan dengan jumlah sarana yang tidak seimbang.

3. Aksi kebersihan secara serentak dan penyemprotan pada tempat yang diduga menjadi sarang ny- amuk Aksi ini perlu dipenuhi dengan baik karena perkembangan nyamuk dari telur sampai nyamuk memerlukan waktu 7-10 hari sehingga bila aksi tidak dapat serentak perkembangan nyamuk akan dapat meningkat dengan cepat. Pelaksanaan dilakukan dengan 3M (menguras, menutup dan men- gubur/menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air). Karenanya aksi ini harus dijadikan gerakan proaktif yang dilakukan sepanjang tahun dengan intensitas menjelang musim hujan

4. Kegiatan abatisasi Abatisasi dilakukan secara selektif, tidak semua rumah dilakukan abatisasi, hanya rumah-rumah yang terdapat jentik nyamuk berdasarkan pemantauan jentik berkala oleh kader jumantik dan pada tendon air dilakukan setiap 3 bulan sekali. Pada wilayah yang berpotensi DBD seyogyanya dilaku- kan abatisasi lebih sering dan rutin agar pengembangan nyamuk dapat dikurangi.

5. Fogging/Pengasapan pada wilayah tertentu Fogging atau pengasapan dilakukan dengan pertimbangan-pertimbangan khusus dari analisis Di- nas Kesehatan Kabupaten dan dilakukan sebagai cara terakhir jika cara lain telah diupayakan tetapi hasilnya belum dapat memperbaiki keadaan. Pengasapan sebaiknya juga dilakukan cukup rutin meskipun dengan waktu yang tidak sering untuk membantu percepatan kematian nyamuk. Secara umum tindakan kebijakan mempunyai dua tujuan utama; regulasi dan alokasi. Tindakan regulasi adalah tindakan yang dirancang untuk menjamin kepatuhan terhadap standard dan prose- dur tertentu. Tindakan alokasi adalah tindakan yang membutuhkan masukan yang berupa uang, waktu personil dan alat. Tindakan alokatif untuk memenuhi kebutuhan yang memadai membu- tuhkan cukup dana, waktu, personel, dan alat yang memang menjadi pemikiran sangat penting. Sementara itu dana untuk kesehatan pada Kab, Gunung Kidul masih jauh dari yang diharapkan. Prosentasi APBD Kesehatan terhadap APBD Kabupaten adalah 11,35% (termasuk gaji 54,6%) masih dibawah yang diamanatkan yaitu 15% dari APBD Kabupaten (tidak termasuk gaji.

58

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

Oleh karena itu dalam penelitian kebijakan ini perlu ada skenario yang dibuat guna meningkatkan kinerja pelaksana, maka untuk hal ini dapat dilakukan dengan;

Skenario 1;

Pokjanal-pokjanal yang terbentuk dari tingkat Kabupaten, kecamatan, desa/dusun harus dioptimal- kan dalam melaksanakan tugas pada levelnya masing-masing dengan cara meningkatkan motivasi dalam bentuk remunerasi dan punishment. Remunerasi dapat berupa penghasilan tambahan diluar gaji bula- nan pegawai negeri. Meningkatkan petugas Juru Pemantau Jentik (Jumantik) secara kualitatif maupun kuantitatif. Secara kualitatif bekal pengetahuan dan kecakapan terus ditingkatkan, sedang secara kuan- titas jumlahnya diperhitungkan dengan nisbah atau rasio ideal perbandingan tertentu antara jumlah petugas : jumlah penduduk. Bersamaan dengan itu penegakan hukum dalam bentuk sanksi hukum yang jelas bagi tim pokjanal yang tidak melaksanakan tugas dengan baik. Antonius Wawan Koban (peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute) merekomendasikan perlunya merevisi UU No. 4 Tahun 1984 tentang Wabah penyakit menular terutama pasal 6 dan pasal 14 yang mengatur sanksi pelanggaran dan kelalaian dalam upaya pemberantasan wabah penyakit menular, sehingga partisipasi masyarakat merupa- kan keharusan, bukan hanya himbauan dengan sanksi yang jelas dan diberlakukan dengan tegas seperti misalnya sanksi denda uang atau penjara bila terjadi pelanggaran atau kelalaian.

Skenario 2; Seiring dengan orientasi penciprtaan good governance sebagai paradigma pelayanan publik saat ini dimana sinergi peran ketiga unsur governance yakni pemerintah, sektor swasta dan masyarakat sipil, maka dalam pemberantasan wabah penyakit menular dan berbahaya termasuk penyakit demam berda- rah yang selama ini sepenuhnya ditangani pemerintah sendiri dapat diserahkan kepada pihak selain pemerintah sendiri. Artinya pemerintah perlu memikirkan dan mengatur atau membuat kebijakan yang membuka peluang sektor swasta maupun masyarakat sipil (lembaga swadaya masyarakat) untuk ikut am- bil bagian dalam program ini. Dalam Skenario ke – 2 ini pemerintah dapat merumuskan aturan-aturan teknis bagi pihak ketiga yang akan ikut ambil bagian dalam pemberantasan penyakit menular utamanya menyangkut mekanisme atau prosedural, tenaga pelaksana, sarana/prasarana, waktu pelaksanaan, keten- tuan biaya dan sebagainya.

Daftar Pustaka

BPS, Bappenas, UNDP, Indonesia Laporan pembangunan Manusia 2004, Ekonomi dari Demokrasi: Mem- biayai Pembangunan Manusia Indonesia, Jakarta 2004 Murdick, et al, 1984, Sistem Informasi Untuk Manajemen Modern, Erlangga Jakarta Neuman, L.W, 1997, Social Reseach Methodes: Qualitative & Quantitative Approach. Boston: Allyn Ba- con. Dinas Kesehatan, Sub Dinas Perencanaan, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul 2010, Profil Kesehatan Kabupaten Gunungkidul Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen PPM & PL) Departemen Kesehatan RI, 1987, Petunjuk Pelaksanaan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan Wabah Demam Berdarah Dengue (DBD), Jakarta, Departeman Kesehatan RI Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen PPM & PL) Departemen Kesehatan RI, 1995, Pokok-pokok kegiatan dan Pengelolaan Gerakan Pemberantasan Sa- rang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN-DBD) Lampiran 6, Jakarta Departemen Kesehatan RI

Endang Tri Sudaryanti KEBIJAKAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL

DALAM PENANGGULANGAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

59

Dunn, William N, 1981, Public policy Analysis, Pearson Prentice Hall, New Yersey Denhardt, J.V. And Denhardt, R.B., 2003; The New Public Service: Serving, Not Steering, Armonk: M.E. Sharpe.

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI INSTITUSI LOKAL SIMPAN PINJAM DI DUSUN SINDET, KELURAHAN TRIMULYO KECAMATAN JETIS KABUPATEN BANTUL

Zulianti

zuliantikunden@yahoo.co.id

Program Studi Sosiologi STISIP Kartika Bangsa Yogyakarta

Abstract

The era of globalization and liberalization require financial institutions to implement the financial system following the demands of the international financial institutions. This is because the existence of financial institutions can not be separated from the international financial institutions ranging from service users (customers) and facilities such as a credit card, debit card, or atm. Banks that do not provide facilities and product excellence will not get high profits. The facility as well as the course the various products that carry consequences for prospective clients and customers. As a result of requirements for prospective creditor banks that complicate the rural poor above the poverty in rural areas untouched by the banking system and have difficulty accessing bank to obtain venture capi- tal. This is because the poor do not have the conditions stipulated by the bank. The impact is strongly felt by the rural poor who need capital for home-based businesses. The role of microfinance as a spearhead in poverty reduction has gained recognition nationally and in- ternationally. In the hamlet Sindet, micro and small businesses, better known by the people’s economy is the largest group of economic actors in the economy. Micro economic enterprises is one of the savings and loan business in general has advantages such as providing jobs for local residents, the local use of natural resources and create value-added rural economic development.

Keywords : Financial institutions, Microfinance, Micro economic enterprises

A. Latar belakang masalah

Era globalisasi serta liberalisasi menuntut lembaga keuangan menerapkan sistem keuangan mengi- kuti tuntutan lembaga keuangan internasional. Hal ini disebabkan karena eksistensi lembaga keuangan tidak lepas dari lembaga keuangan internasional mulai dari pengguna jasa (nasabah ) maupun fasilitas seperti kartu kredit, debit, maupun atm. Bank yang tidak memberikan keunggulan fasilitas maupun produk tidak akan mendapatkan keuntungan yang tinggi. Adanya fasilitas serta produk yang bermacam tersebut tentusaja membawa konsekwensi bagi calon nasabah maupun nasabah. Persyaratan dan ketentuan umum menjadi nasabah pada Bank Pembangunan Daerah

1. Persyaratan Nasabah baru : Mengisi Formulir Permohonan menjadi Penabung, Mengisi Formulir Pembukuan Rekening Tabungan, Mengisi formulir Data Pribadi serta identitas / dokumen, Mengi- si Surat Surat Pernyataan Penunjukan Ahli Waris ( Yang di tunjuk dan Penabung.

Zulianti PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI INSTITUSI LOKAL

61

SIMPAN PINJAM DI DUSUN SINDET, KELURAHAN TRIMULYO KECAMATAN JETIS KABUPATEN BANTUL

Akibat persyaratan bagi calon kreditor bank yang menyulitkan masyarakat miskin pedesaan tersebut diatas maka masyarakat miskin pedesaan tidak tersentuh oleh perbankan serta mengalami kesulitan un- tuk mengakses perbankan untuk memperoleh modal usaha . Hal ini disebabkan karena masyarakat mis- kin tidak memiliki syarat yang ditentukan oleh bank. Dampak tersebut sangat dirasakan oleh masyarakat miskin pedesaan yang memerlukan modal untuk usaha rumahan. Peranan keuangan mikro sebagai ujung tombak dalam pengentasan kemiskinan telah mendapat pengakuan secara nasional dan internasional . Di dusun Sindet, pelaku usaha mikro dan kecil yang lebih dikenal dengan ekonomi rakyat merupakan kelompok pelaku ekonomi terbesar dalam perekonomian. Usaha ekonomi mikro yang salah satu usahanya adalah simpan pinjam pada umumnya memiliki ke- unggulan antara lain penyediaan lapangan pekerjaan bagi penduduk setempat, pemanfaatan sumberdaya alam lokal serta menciptakan nilai tambah pembangunan ekonomi desa. Disamping itu usaha mikro dan koperasi mempunyai peran strategis dalam memobilisasi dana dan sumber daya lainnya guna mengem- bangkan usaha masyarakat setempat. - (admin@ybul.or.id.www.ybul.or.id) Melihat kondisi seperti ini mendorong warga dusun Sindet, Kelurahan Trimulyo, kecamatan Jetis, kabupaten Bantul bergerak mancari solusi dari masalah yang mereka hadapi. Kegiatan yang dilakukan masyarakat dusun Sindet adalah dengan menggunakan sarana yang sudah ada selama ini yaitu yaitu usa- ha simpan pinjam. Dalam upaya membantu masyarakat yang memerlukan modal masyarakat bergotong royong menggali modal usaha lewat tabungan dan iuran warga yang kemudian dipinjamkan kewarga melalui simpan pinjam warga. Usaha ini selanjutnya oleh warga dusun Sindet diberi nama usaha simpan pinjam KTW Boma Prawoto Gati.

A. Permasalahan

Seberapa besar usaha simpan pinjam dapat membantu modal usaha keluarga miskin?.

B. Tujuan penulisan

1. Untuk mengetahui manfaat dari simpan pinjam yang diselenggarakan oleh masyarakat di dusun Sindet.

2. Untuk mengetahui model pemberdayaan masyarakat dusun Sindet.

C. Pembahasan

1. Pemberdayaan Masyarakat Dusun Sindet Melalui Usaha Simpan Pinjam

Dusun Sindet sebagaian besar adalah merupakan daerah pegunungan dengan kondisi penduduk mayoritas mempunyai pekerjaan sebagai petani penggarap atau buruh. Pekerjaan sebagai buruh men- gakibatkan pendapatan mereka tidak menentu. Kondisi inilah yang mendorong masyarkat dusun Sindet bergandeng tangan untuk membangun kembali usaha simpan pinjam yang sudah mulai pudar. Usaha Simpan pinjam tersebut mereka mulai dengan menggali simpanan dalam bentuk tabungan , simpanan sukarela serta simpanan wajib yang kemudian mereka kelola dan dipinjamkan kembali pada warga yang membutuhkan. Kegiatan simpan pinjam oleh KTW ( Kelompok Tani Wanita ) di dusun Sindet pertama kali didi- rikan pada tahun 1983 , dan mengambil nama Boma Prawoto Gati ( Tanah Yang Tandus Karena Ada Upaya Dengan Diolah Akan Menghasilkan ). Kegiatan ini mengalami kevakuman selama beberapa tahun dan mengalami defisit . Hal ini disebabkan karena belum ada aturan yang jelas mengenai simpan pinjam, sehingga mengakibatkan kredit macet . Sedangkan aturan simpan pinjam tersebut mempunyai arti yang

62

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

sangat penting bagi kelangsungan usaha simpan pinjam. Hal ini sesui dengan pendapat Frans Wiryanto Jomo yang menyatakan bahwa dalam usaha simpan pinjam ( Koperasi ) harus ada aturan yang mengatur hak dan kewajiban anggota maupun pengurus demi kelangsungan usaha ( Frans Wiryanto Jomo , 1986) Kesulitan masyarakat miskin dalam mengakses bank untuk memperoleh modal menggugah kesa- daran masyarakat mengenai arti penting usaha simpan pinjam dilingkungan mereka. Pada tahun 2000 kegiatan simpan pinjam mulai menggeliat. Kegiatan ini tidak begitu saja bangkit dan berjalan , terdapat beberapa kendala yang dihadapi . Untuk mengetahui kendala yang dihadapi usaha simpan pinjam pe- nulis berusaha menanyakan pada pengurus yang diwakili oleh ibu Umi Yulfah yang sekaligus sebagai sie usaha. Dari hasil wawancara yang dilakukan diketahui bahwa kendala tersebut adalah :

1. Membangun kembali kepercayaan masyarakat . Pengalaman buruk masa lalu yaitu kredit macet pada usaha simpan pinjam mengakibatkan masyarakat tidak begitu saja mudah pencaya terhadap munculnya kembali simpan pinjam.

2. Adanya kecurigaan masyarakat terhadap penggunaan dana usaha simpan pinjam. Masyarakat men- ganggap pengurus mempunyai keleluasaan dalam menggunakan uang simpan pinjam.

Dari kendala yang ada tersebut menuntut pengurus bekerja ekstra untuk membuktikan bahwa ang- gapan masyarakat tersebut tidaklah benar diera kebangkitan simpan pinjam tersebut. Penataan kembali dilakukan olah pengurus dengan membuat aturan main dalam usaha simpan pinjam. Aturan memuat hak, kewajiban serta sangsi baik bagi pengurus maupun anggota jika mangkir dalam kegiatan usaha sim- pan pinjam. Setelah tiga tahun berjalan usaha simpan pinjam mampu membuktikan keseriusan pengu- rus mengelola usaha simpan pinjam. Bukti keseriusan pengurus dalam mengelola usaha simpan pinjam dibuktikan dengan cara melakukan laporan perkembangan usaha simpan pinjam dan laporan keuangan yang dilakukan tiap tahun yaitu tiap tanggal 29 Juni.

Berikut adalah laporan keuangan usaha simpan pinjam dusun Sindet tahun 2007.

keuangan usaha simpan pinjam dusun Sindet tahun 2007. Fato laporan tahunan keuangan KTW Boma dusun Sindet

Fato laporan tahunan keuangan KTW Boma dusun Sindet tahun 2007.

Usaha simpan pinjam di dusun Sindet saat ini menjadi kepercayaan masyarakat setempat. Keperca- yaan masyarakat tersebut terlihat dari jumlah peserta simpan pinjam yang saat ini mencapai 213 orang. Jumlah tersebut adalah keseluruhan dari jumlah rumah tangga yang ada di dusun tersebut ( Data Se- kunder Simpan Pinjam KTW Boma 2007) Hal ini disebabkan beberapa keunggulan dari usaha simpan pinjam dibandingkan dengan perbankan. Kelebihan tersebut seperti apa yang dikemukakan oleh Frans Wiryanto Jomo manfaat simpan pinjam tersebut adalah :

Zulianti PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI INSTITUSI LOKAL

63

SIMPAN PINJAM DI DUSUN SINDET, KELURAHAN TRIMULYO KECAMATAN JETIS KABUPATEN BANTUL

1. Usaha simpan pinjam merupakan sumber modal bagi usaha kecil. Bagi pemilik usaha kecil untuk meminjam pada rentenir akan membuat terjerat pada besarnya bunga, sedangkan pinjam pada perbankan memerlukan persyaratan yang berbelit.

2. Usaha simpan pinjam mendidik hidup hemat.

3. Usaha simpan pinjam membina martabat manusia. Usaha ini mampu memberi pertolongan pada anggota yang membutuhkan biaya mendadak yang tidak mungkin didapatkan pada lembaga keuangan.

4. Usaha simpan pinjam sarana memberdayakan masyarakat melalui kerjasama. Usaha simpan pin- jam ukan merupakan usaha perorangan melainkan usaha bersama. Usaha simpan pinjam mengu- tamakan kerjasama antara anggota dan pengurus (Frans Wiryanto Jomo ; 1986)

Simpan pinjam digalakkan oleh warga karena usaha simpan pinjam bukan hanya masyarakat bisa meminjam saja tetapi juga menabung. Hal ini seperti pendapat dari Frans Wiryanto Jomo dalam buku- nya Membangun Masyarakat, dikemukakan bahwa usaha simpan pinjam bukanlah merupakan suatu usaha pinjam dimana seseorang bisa meminjam saja tetapi suatu usaha yang bisa membina anggotanya untuk menabung. Oleh karena itu usaha simpan pinjam harus membawa dampak kesejahteraan anggota tidak hanya menanamkan sikap senang pinjam ( Frans Wiryanto Jomo 1986). Pendapat Frans Wiryanto Jomo yang menyatakan usaha simpan pinjam dapat memupuk gemar menabung tampak pada Kelompok Wanita Tani Boma dimana modal usaha pada kelompok tersebut di- peroleh dari simpanan atau tabungan anggota yang berupa : Simpanan pokok Rp 5.000,00 ; Simpanan wajib bagi yang mendapat pinjaman sebesar Rp. 10.000 ; Simpanan sukarela diperuntukkan bagi ang- gota yang mau menabung. Tabungan ini dimanfaatkan warga untuk menabung dalam mempersiapkan memenuhi kebutuhan seperti biaya sekolah, pembelian motor. Tabungan sukarela inilah yang memper- cepat perkembangan modal usaha simpan pinjam KTW Boma. Disamping itu modal usaha simpan pinjam diperoleh pula dari jasa pinjaman anggota yaitu sebesar 2%/ bulan dengan model pembagian hasil 60 % untuk penabung dan 40% untuk peminjam. Dari jum- lah persentasi bunga yang ditetapkan oleh KTW Boma cukup besar, tetapi ini merupakan salah satu daya tarik bagi penabung disamping itu hal ini tidak merugikan peminjam karena jasa pinjaman dibagikan kembali pada anggota yang terdiri dari penabung dan peminjam dalam 2 tahun sekali. Perhatian pemerintah pada usaha KTW Boma dituangkan dalam bentuk bantuan modal sebesar Rp. 25.000.000,00 . Dana tersebut merupakan dana hibah Departemen Pertanian bagi pemberdayaan kelompok tani wanita . Dana tersebut oleh KTW Boma dimanfaatkan sebagai modal tambahan dalam usaha simpan pinjam.

Foto pertemuan rutin dan kegiatan simpan pinjam KTW Boma dusun Sindet.

sebagai modal tambahan dalam usaha simpan pinjam. Foto pertemuan rutin dan kegiatan simpan pinjam KTW Boma
sebagai modal tambahan dalam usaha simpan pinjam. Foto pertemuan rutin dan kegiatan simpan pinjam KTW Boma

64

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

Kepercayaan masyarakat Sindet terhadap usaha simpan pinjam terbukti dengan banyaknya modal yang tergali dari masyarakat setempat. serta meningkatnya jumlah usaha rumahan didusun Sindet . Dana yang tergali sejak tahun 2000 hingga tahun 2007 sebesar Rp 301.331.850,00. (Sumber : pembu- kuan simpan pinjam KTW Boma ) Menurt pengurus KTW Boma modal tersebut dipinjamkan kepada anggota sebagai modal usaha. Hingga saat ini KTW Boma mampu memberikan pinjaman modal sebesar 2 juta sampai 3 juta pero- rang dengan jumlah peminjam pada tiap kali pertemuan sebanyak 10 orang. Pinjaman diberikan pada anggota secara bergilir dengan maksud agar semua anggota dapat memanfaatkan pinjaman tersebut. Pengembalian pinjaman diangsur maksimal 20 kali dan diangsur tiap dua minggu sekali. Angsuran dua munggu sekali dimaksudkan agar peminjam tidak keberatan dalam mengangsur pinjaman . Perkembangan hasil pemberdayaan masyarakat dengan memanfaatkan usaha simpan pinjam pada usaha rumahan yang ada di dusun Sindet saat ini ada 70% dari jumlah penduduk yang ada. Semula jumlah usaha rumahan sebanyak 30 % dari jumlah penduduk yang ada. ( Sumber : Sindet dalam angka

2007).

Jenis usaha yang ada didusun sindet adalah :

Jenis Usaha Masyarakat Dusun Sindet tahun 2007

No

Jenis Usaha

Jumlah 2000

Jumlah th 2007

1

Pembuat jenang ketan

1

3

2

Pembuat wajid dan jadah

1

4

3.

Pembuat tempe

2

7

4

Warung makan

1

5

5

Warung klontong

5

13

6

Pengolah ubi gadung

30 ( musiman)

47 ( musiman)

7

Pembuat rempeyek

3

8

8

Pembuat susu kedelai

-

4

9

Pengrajin sulaman

10

25

10

Penjahit

1

2

11

Warung angkringan

-

2

12

Penjual gorengan

1

5

13

Peternak bebek

4

8

Sumber : Sindet dalam angka 2007.

Melihat data tersebut dari jumlah modal yang terkumpul serta jumlah usaha kescil masyarakat yang ada maka dapat diketahui bahwa proses pemberdayaan masyarakat dusun Sindet dengan memanfaatkan usaha simpan pinjam dapat dikatakan berhasil karena dengan usaha simpan pinjam telah mampu men- ingkatkan perekonomian masyarakat miskin tanpa harus menggantungkan diri pada bantuan yang tidak memberikan penyelesaian pada masalah kemiskinan yang dihadapi. Hal tersebut sejalan denga apa yang diukemukakan Pranarka dan Moeljarto dalam buku Manajemen Pemberdayaan karangan Randi R Wrihatnolo bahwa pemberdayaan adalah :

Zulianti PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI INSTITUSI LOKAL

65

SIMPAN PINJAM DI DUSUN SINDET, KELURAHAN TRIMULYO KECAMATAN JETIS KABUPATEN BANTUL

1. Pemberdayaan adalah penghancuran kekuasaan atau power to nobady. Pandangan ini didasarkan pada keyakinan bahwa kekuasaan telah mengalienasi serta menghancurkan manusia dari eksisten- sinya.

2. Pemberdayaan adalah pemberian kekuasaan pada setiap orang atau power to everybody. Hal ini di- dasarkan adanya keyakinan bahwa kekuasaan yang terpusat akan menimbulkan abuse dan cender- ung mengalienasi hak normative manusia yang tidak berkuasa.

3. Pemberdayaan adalah penguatan kepada yang lemah tanpa menghancurkan yang kuat . ( Randi R Wrihatnolo ; 2007).

Foto usaha kecil masyarakat dusun Sindet yang memanfaatkan jasa usaha simpan pinjam sebagai modal usaha.

memanfaatkan jasa usaha simpan pinjam sebagai modal usaha. Peternak bebek milik bapak Arjo memanfaatkan pinjaman KTW

Peternak bebek milik bapak Arjo memanfaatkan pinjaman KTW Boma sebagai modal usaha.

Arjo memanfaatkan pinjaman KTW Boma sebagai modal usaha. Warung makan ibu Siti Industri rumah tangga pembuatan

Warung makan ibu Siti

pinjaman KTW Boma sebagai modal usaha. Warung makan ibu Siti Industri rumah tangga pembuatan bakso goreng.

Industri rumah tangga pembuatan bakso goreng.

Boma sebagai modal usaha. Warung makan ibu Siti Industri rumah tangga pembuatan bakso goreng. Warung klontong

Warung klontong ibu Anton

66

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

D. Model Pemberdayaan Masyarakat Dusun Sindet.

Dalam kondisi mutakhir seperti sekarang ini banyak pilihan prespektif pemberdayaan masyarakat. Randhi R. Wrihatnolo mengemukakan bahwa perpektif pemberdayaan masyarakat dimulai dengan perspektif tindakan untuk komunitas , tindakan ini biasanya dilakukan terhadap golongan minoritas atau kelompok yang kurang beruntung . Selanjutnya adalah perpektif gerakan sosial untuk merangsang kapasitas pembangunan lokal secara partisipatif. Saat ini perspeltif yang marak dipergunakan adalah perspektif pembangunan yang digerakkan masyarakat . Perspektif ini dapat didefinisikan sebagai kontrol keputusan dan sumber daya oleh komunitas (Ran- dhi R. Wrihatnolo ; 2007). Lebih lanjut dikemukakan Randhi bahwa konsep pembangunan yang digerak- kan masyarakat relevan pada kondisi skala kecil , tidak komplek dan membutuhkan kerjasama lokal serta pengelolaan kelompok dalam komunitas memungkinkan diklakukan secara akrab. Keberhasilan pemberdayaan masyarakat dusun Sindet melalui ekonomi mikro yang salah satu jenis usaha simpan pinjam disebabkan karena mereka menerapkan partisipasi pada semua anggota simpan pinjam. Arti penting partisipasi pada pemberdayaan dikemukakan oleh Midgley

participation

refers to an active process whereby beneficiaries influence the direction and axecution of develp-

ment project rather than merely receive a shere of project beneficts.

( Randhi R. Wrihatnolo; 2007).

Keterlibatan masyarakat dusun Sindet dalam usaha simpan pinjam dimulai dari tahap pembuatan keputusan, penerapan keputusan, penikmatan hasil serta evaluasi . Partisipasi mendukung masyarakat untuk sadar akan situasi dan masalah masalah yang dihadapi serta berusaha mencari solusi dari masalah yang dihadapi masyarakat. Untuk mengetahui bentuk partisipasi anggota KTW Boma, penulis menanyakan pada anggota yaitu pada ibu Sunarni . Dari pertanyaan yang diajukan yaitu apa yang ibu lakukan dalam persiapan pemben- tukan KTW Boma , serta partisipasinya pada pelaksanaan usaha simpan pinjam. Dari pertanyaan terse- but diketahui bahwa bentuk partisipasi dalam pembuatan keputusan terlihat dari adanya usulan-usulan anggota mengenai aturan-aturan simpan pinjam. Partisipasi dalam penerapan keputusan terlihat dari kepatuhan seluruh anggota dan pengurus pada aturan yang berlaku serta kemauan anggota untuk me- negur pada anggota maupun pengurus jika terjadi pelanggaran terhadap aturan yang berlaku. Demikian pula dalam evaluasi, anggota KTW Boma tidak segan - segan mengajukan pertanyaan jika terjadi ke- janggalan laporan. (Sumber hasil wawancara dengan informan.).

E. Kesimpulan

Pemberdayaan masyarakat dusun Sindet dengan memanfaatkan istitusi lokal yang ada yaitu gotong royong yang diujudkan dalam bentuk usaha simpan pinjam. Usaha simpan pinjam merupakan salah satu unit usaha mikro. Keberhasilan pemberdayaan masyarakat di dusun Sindet disebabakan karena be- berapa faktor :

1. Kerja keras baik pengurus maupun anggota dalam menggali modal awal yang berupa simpanan pokok serta simpanan sukarela.

2. Transparansi kagiatan dan laporan keuangan yang dilakukan pengurus.

3. Partisipasi anggota pada kegiatan usaha simpan pinjam mulai dari penentuan aturan sampai pada pelaksanaan serta evaluasi kegiatan.

4. Kesadaran masyarakat akan arti penting kemandirian. Tidak menggantungkan pada bantuan dari pihak lain.

Dari hasil obeservasi yang dilakukan tersebut diketahui bahwa pemberdayaan masyarakat dapat ber-

hasil dan berjalan terus jika ada kesadaran dari masyarakat akan arti penting kemandirian. Jika hal terse-

but sudah ada maka akan muncul

rasa memiliki pada program pemberdayaan.

Zulianti PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI INSTITUSI LOKAL

67

SIMPAN PINJAM DI DUSUN SINDET, KELURAHAN TRIMULYO KECAMATAN JETIS KABUPATEN BANTUL

Daftar pustaka

Sunartiningsih , Agnes ; Pemberdayaan Masyarakat Melalui Institusi Lokal, Universtas Gadjah Mada,

2004

Sunartiningsih , Agnes ; Strategi Pemberdayaan Masyarakat, Universtas Gadjah Mada, 2004. Wrihatnolo, Randy R dan Riant Nugroho Dwijowijoto, Manajemen Pemberdayaan , Sebuah Pengantar Dan Panduan Untuk Pemberdayaan Masyarakat, PT Elex Media Komputindo, 2007.

Wiryanto Jomo, Frans , Membangun Masyarakat, Alumni Bandung, 1986. Sindet Dalam Angka 2007. Pembukuan simpan pinjam KTW Boma Prawoto Gati admin@ybul.or.id.www.ybul.or.id. tanjabbarkab.go.id/ekonomi/index2.php?isinye=&id )

REMAJA, SEKOLAH, DAN PERGAULAN BEBAS:

(Studi di SMTA Berbasis Agama Islam di Kota Purwokerto)

Mintarti dan Nanang Martono nmintarti@yahoo.co.id, nanang_martono@yahoo.co.id

Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

ABSTRACT

The purpose of this research were: (1) to know the perception of Islam religion-based senior high school students to free-sex relationships of the youth groups, (2) to know the relationship of Islam religion-based senior high school students inside the school environment and it regulation mechanism, (3) to know the relationship of senior high school students outside the school. This study was basically a qualitative research. On the basis of the difficulty to obtain the required matched informant, this study used survey method. The study location was in Purwokerto City, namely at three Islam religion-based high schools. The main subjects of this study were male and female students of those schools. The data were obtained via the distributions of questionaires, deep interviews, and observation using “observer as participant” type. The conclusion of this study were: (1) the students of Islam religion-based high schools define the free intra-sex relationships as extensive, obstructive or deviate shape of relationships, normatively, socially, or religiously. In their opinions, the current free intra-sex relationship in the youth environment has been in the category of “worrying” and “severe”. The free intra-sex relationships in their opinions can cause the negative impact, even destroy the life of the doers, (2) in the Islam religion-based high schools the intra- sex relationships were controlled by same regulation, that are not always in the written form. The details of the regulations is usually forwarded orally by the teachers, (3) although the intra-sex interactions were limited in the schools, however, outside the schools the interactions are freely conducted constantly. Most of the students (84.15%) said that they have boy or girl-friends.

Keywords: student, free intra-sex relationships, Islam religion-based high school

PENDAHULUAN

Munculnya pemberitaan mengenai video porno yang dimainkan oleh tiga orang yang diduga artis papan atas Indonesia pada akhir minggu pertama bulan Juni 2010 kembali menyentak benak banyak orang dari berbagai kalangan. Tidak kurang dari menteri bahkan presiden pun ikut berkomentar dan memberikan pendapatnya (Kompas, 19 Juni 2010). Demikian luasnya pemberitaan di seputar kasus itu, membuat Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memberi peringatan kepada sejumlah stasiun televisi untuk tidak menayangkan potongan gambar dari video yang menghebohkan itu. Begitu pula Komnas Perlind- ungan Anak Indonesia (KPAI) juga memberi komentar keras terhadap beredar luasnya video yang den- gan mudah dapat diunduh dari internet. Hal itu didasari oleh kekhawatiran banyak pihak akan dampak negatif dari beredar luasnya pemberitaan itu terhadap para remaja bahkan anak-anak.

Mintarti dan Nanang Martono

(Studi di SMTA Berbasis Agama Islam di Kota Purwokerto)

REMAJA, SEKOLAH, DAN PERGAULAN BEBAS:

69

Merebaknya video porno tersebut dengan didukung oleh kemudahan mengaksesnya, telah memberi andil bagi terjadinya tindak asusila yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal itu bukan saja dilakukan oleh orang dewasa melainkan juga oleh anak-anak di bawah umur. Kasus lima orang bocah laki-laki yang semuanya berusia di bawah 11 tahun, memperkosa dua orang bocah perem- puan berumur 5 tahun dan 7 tahun, merupakan contoh dari kejadian yang mengerikan itu (Amarula,

2011).

Kenyataan-kenyataan pahit di dalam masyarakat itu mengharuskan orang tua untuk makin waspada. Salah satu bentuk kewaspadaan tersebut adalah dengan memasukkan anak-anaknya di sekolah-sekolah berbasis agama. Di sekolah tersebut anak bukan hanya dibekali dengan ilmu-ilmu umum, melainkan juga ilmu-ilmu agama yang porsinya jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang diberikan di sekolah umum. Di sekolah itu pun pergaulan anak-anak – dalam konteks relasi antara laki-laki dan perempuan - menjadi lebih terbatas.

Di dalam masyarakat terdapat berbagai sekolah berbasis agama khususnya agama Islam. Sekolah-

sekolah tersebut ada yang dikelola oleh pemerintah di bawah Kementerian Agama seperti Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) sampai dengan Madrasah Aliyah Neg- eri (MAN). Selain itu, pihak swasta/masyarakat melalui organisasi-organisasi keagamaannya juga banyak yang menyelenggarakan pendidikan berbasis agama ini. Dapat disebut di sini antara lain, sekolah-sekolah Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan Nahdhatul Ulama yang biasanya menggunakan nama Ma’arif.

Di era sekarang ini, sekolah berbasis agama Islam cukup banyak diminati masyarakat. Kenyataan

bahwa masyarakat semakin berminat untuk memasukkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah berbasis aga- ma Islam ini juga tampak di Kota Purwokerto. Fenomena tersebut di satu sisi menggembirakan karena di tengah gempuran persoalan dekadensi moral, agama masih dijadikan tempat berpaling dan berfungsi sebagai penjaga moral. Namun pada sisi yang lain, kekhawatiran masih tetap membayangi. Sudah sele- saikah permasalahan dengan menyekolahkan anak-anak ke lembaga pendidikan berbasis agama? Pertanyaan ini layak untuk diajukan mengingat bahwa dewasa ini pergaulan di kalangan remaja su- dah makin bebas. Berbagai penelitian maupun survei yang dilakukan di berbagai kota di Indonesia juga makin memperkuat fakta adanya perubahan pola pergaulan di kalangan anak-anak muda. Kesimpulan survei terbaru dari KPAI menyatakan bahwa sebanyak 32 persen remaja usia 14-18 tahun di Jakarta, Bandung, dan Surabaya mengaku pernah melakukan hubungan seksual. Terungkap pula bahwa perilaku tak pantas para remaja itu dipicu oleh muatan pornografi yang mereka akses dengan mudahnya di inter- net (Silalahi, 2011). Atas dasar fenomena tersebut, maka kajian mengenai permasalahan ini menjadi menarik dan pent- ing untuk dilakukan. Kajian ini ditujukan kepada kalangan remaja yang dalam hal ini adalah siswa-siswi yang duduk di bangku Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMTA) karena di usia inilah gejolak emosi dan ketertarikan kepada lawan jenis sedang tumbuh dan berkembang dengan sangat pesat. Kajian terhadap tema ini menjadi cukup strategis untuk dilakukan agar masyarakat terutama para orang tua yang memi- liki anak-anak di usia remaja dapat selalu waspada dalam mengawasi pergaulan putra-putrinya, dan tidak sekedar menyerahkannya kepada sekolah bahkan yang berbasis agama sekali pun. Rumusan masalah penelitian ini adalah “bagaimana pergaulan di kalangan remaja yang bersekolah di SMTA berbasis agama Islam?” Secara lebih spesifik, pertanyaan tersebut akan diurai dalam pertanyaan- pertanyaan yang lebih rinci sebagai berikut: (1) bagaimana pandangan siswa SMTA berbasis agama Islam terhadap pergaulan bebas di kalangan remaja? (2) bagaimana pergaulan antara siswa laki-laki dan perem- puan di sekolah tersebut? (3) apakah ada mekanisme di sekolah yang mengatur tata cara pergaulan antara siswa laki-laki dan perempuan? Jika ada, bagaimana mekanisme tersebut diberlakukan? (4) bagaimana pergaulan antara siswa laki-laki dan perempuan di luar sekolah?

70

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

KAJIAN PUSTAKA

1. Peran Lembaga Pendidikan Islam dalam Masyarakat

Di dalam masyarakat, lembaga persekolahan selain berfungsi sebagai sarana transformasi kebudayaan, juga menjadi tempat bagi generasi muda untuk bersosialisasi,serta mengenal teman-teman sebaya dari berbagai latar belakang sosial budaya yang beragam. Pertemanan antar remaja yang duduk di bangku SMP dan SMA biasanya menumbuhkan rasa solidaritas yang sangat kuat. Akibatnya, tidak mengheran- kan apabila perilaku mereka mudah menjadi seragam karena faktor imitasi atau meniru di antara teman- teman sebaya mereka. Jika yang ditiru adalah hal-hal yang baik atau positif, seperti belajar bersama dalam kelompok studi atau hobi-hobi positif lainnya, tentu tidak menimbulkan masalah. Namun sebaliknya, apabila peniruan yang dilakukan sudah menyangkut hal-hal yang negatif seperti merokok, mengonsumsi narkoba, sampai mengakses hal-hal berbau pornografi dari internet, hal seperti ini seringkali membuat orang tua di rumah cemas dan khawatir. Menyadari akan pentingnya lingkungan sekolah bagi pergaulan putra-putri remajanya, banyak orang tua yang kemudian melirik lembaga pendidikan berbasis agama seperti pesantren dan sekolah-sekolah berbasis agama Islam sebagai tempat anak-anak menuntut ilmu. Ketertarikan orang tua untuk memasuk- kan anak-anaknya ke lembaga pendidikan berbasis agama Islam antara lain karena kurikulumnya yang bernilai “plus”, dalam arti selain mengajarkan ilmu-ilmu umum juga mengajarkan ilmu agama. Dengan bekal ilmu agama, siswa menjadi lebih tahu serta paham akan norma-norma dan nilai-nilai ajaran agama, sehingga diharapkan akan menjadi benteng moral di dalam berperilaku. Antusiasme orang tua untuk menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah berbasis agama Islam membuat makin tumbuh suburnya sekolah-sekolah ini. Berbagai kalangan pun kini tidak ragu-ragu lagi untuk mendirikan sekolah berbasis agama Islam, tidak terkecuali di Kabupaten Banyumas. Menurut data Kemenag Kabupaten Banyumas, ada 13 MA (Madrasah Aliyah), 43 MTs (Madrasah Tsanawiyah), dan 139 MI (Madrasah Ibtidaiyah), 112 RA/BA(Raudlatul Athfal/Bustanul Athfal). Jumlah ini belum termasuk sekolah-sekolah Islam di bawah koordinasi Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas (Umar,

2010).

Meskipun besarnya jumlah sekolah Islam tidak selalu identik dengan kualitasnya, paling tidak hal itu mencerminkan tumbuhnya gairah masyarakat untuk menjadikan agama sebagai basis moral. Berba- gai kelemahan dan kekurangan yang masih terdapat di sejumlah sekolah Islam pun tidak berarti bahwa sekolah jenis ini tidak dapat memberi sumbangsih yang besar bagi masyarakat. Kajian terhadap novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang dilakukan oleh Mintarti, dkk. (2009) menunjukkan bahwa se- kolah didefinisikan dan dimaknai sebagai institusi sosial yang memerdekakan walaupun secara fisik tidak layak sebagai sebuah tempat belajar. Artinya, sekolah berfungsi sebagai pembebas dari jerat kebodohan, motivator bagi murid-muridnya untuk maju, dan sekaligus sebagai penjaga nilai-nilai moral. Kisah yang didasarkan pada pengalaman pribadi penulisnya saat bersekolah di SD Muhammadiyah yang miskin dan hampir roboh di Belitong itu menjadi bukti bahwa sekolah Islam berperan cukup besar dalam melepas- kan masyarakat dari belenggu kebodohan. Dari sekolah miskin itulah justru lahir orang yang mempu- nyai mimpi melambung tinggi dan terus berusaha mewujudkan mimpinya itu hingga berhasil. Sekolah Islam, dalam kisah ini menjadi sumber energi yang besar untuk maju.

2. Remaja dan Sekolah

Bagi remaja, sekolah dapat menjadi tempat yang menyenangkan namun dapat pula menjadi tempat yang membosankan dan membelenggu. Dilema institusi pendidikan bernama sekolah ini disebabkan oleh fungsi manifesnya yaitu sebagai tempat transformasi ilmu pengetahuan, dan fungsi latennya seba- gai tempat untuk memperpanjang masa remaja. Sebagai sarana transformasi ilmu pengetahuan, sekolah

Mintarti dan Nanang Martono

(Studi di SMTA Berbasis Agama Islam di Kota Purwokerto)

REMAJA, SEKOLAH, DAN PERGAULAN BEBAS:

71

membuat kurikulum dan berbagai aturan yang mengikutinya yang mengikat dan memaksa siswa untuk patuh sehingga mereka menjadi individu yang tidak bebas. Di sisi lain, di tempat ini pula para siswa berusia remaja itu bertemu dengan teman-teman sebaya mereka, baik laki-laki maupun perempuan se- hingga dari situ terciptalah interaksi yang menyenangkan. Dengan bersekolah, para remaja juga tidak dituntut untuk segera menikah dan menjadi orang tua dengan segala kewajiban yang berat. Akibatnya, masa remaja pun menjadi lebih panjang. Panjangnya masa remaja menjadi masa yang menyenangkan karena mereka dapat bebas bermain dan mengekspresikan diri sesuai dengan keinginan mereka. Secara definitif, terdapat berbagai interpretasi mengenai remaja. Partini dan Asriani (dalam Azca, Margono, dan Wildan: 2011) menyebutkan bahwa berdasarkan usia, menurut WHO terdapat dua kat- egori usia untuk mendudukkan remaja, yakni remaja awal 10-14 tahun dan remaja akhir 15-20 tahun. Sementara dalam konseptualisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) remaja adalah subjek yang sama dengan pemuda yakni seseorang yang berada dalam rentang usia 15-20 tahun. Definisi remaja yang hanya dijelaskan melalui ukuran usia tertentu, secara psikologis dan sosial menjadi sulit untuk dibenar- kan. Pada hakikatnya remaja bukan sebagai subjek yang mandiri dalam konteks Indonesia. Remaja hanya sebagian dari fase yang secara sosial melekat pada diri pemuda. Terlepas dari interpretasi tentang penyebutan remaja atau pemuda, pada rentang usia antara 15- 20 tahun pada umumnya mereka sedang menuntut ilmu di jenjang SMTA. Pada masa usia ini, secara sosiologis mereka sedang dalam posisi yang rentan terhadap pengaruh dari luar. Mereka juga senang berkumpul bersama kelompok seusianya bahkan terkadang sulit untuk keluar dari peer groupnya terse- but. Dengan karakteristik yang demikian itu maka bagi remaja di tahap ini, sekolah menjadi tempat yang ”indah” karena di tempat itulah sosialisasi dengan teman-teman sebayanya baik laki-laki maupun per- empuan berjalan lebih intens. Mulai tumbuhnya perasaan tertarik terhadap lawan jenis atau yang secara umum lebih dikenal dengan istilah ”jatuh cinta”, juga menjadikan sekolah menjadi lahan subur terjalin- nya hubungan antara remaja laki-laki dan perempuan atau yang lebih populer disebut dengan istilah pac- aran. Kenyataan bahwa pada masa SMTA inilah remaja mulai mengenal ”cinta”, kadangkala membuat mereka lupa diri sehingga mudah terjerumus kepada pergaulan yang terlalu bebas tanpa mengindahkan norma-norma sosial dan agama. Hasil penelitian di Denpasar mengenai perilaku seks remaja sekolah menyatakan bahwa bahwa dari

766 responden, terdapat 526 responden yang menyatakan mereka telah melakukan aktivitas seksual sep-

erti pelukan, 458 responden sudah berciuman bibir, 202 responden sudah pernah mencium leher (neck-

ing), disusul 138 responden sudah menggesek-gesekkan alat kelamin tanpa berhubungan seks (petting),

103 responden sudah pernah hubungan seksual, dan 159 menyatakan aktivitas seksual lain selain yang

disebutkan tadi (Rasmini, 2007). Studi tersebut menunjukkan bahwa para siswa di SMTA telah mengenal aktivitas seksual yang cukup jauh. Kenyataan tersebut mengharuskan orang tua lebih waspada dalam mengawasi putra pu- trinya. Demikian pula dengan pihak sekolah khususnya sekolah-sekolah berbasis agama Islam, sudah seharusnya membuat mekanisme yang memungkinkan bagi tumbuhnya kesadaran para siswa untuk tidak melakukan hal-hal yang belum boleh mereka lakukan. Kesadaran menjadi penting artinya karena hal itu merupakan pendorong dari dalam (faktor internal). Di tengah kepungan faktor eksternal berupa suguhan materi berbau pornografi dari media massa baik cetak maupun elektronik yang begitu mudah diakses, dorongan untuk mengontrol diri yang tumbuh dari dalam akan lebih efektif hasilnya dibanding paksaan yang hanya akan melahirkan ketaatan semu.

3. Review Studi Terdahulu

Studi pertama, dilakukan oleh Oktiva (2010) dengan judul “Hubungan Antara Tingkat Pengeta- huan mengenai Kesehatan Reproduksi Remaja dan Pola Asuh Orang Tua dengan Sikap Remaja men-

72

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

genai Seks Bebas di SMA N 1 Tawangsari Sukoharjo”. Ada beberapa kesimpulan dari studi tersebut. Pertama, pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi siswa di SMA N 1 Tawangsari Sukoharjo sebagian besar baik; kedua, pola asuh orang tua siswa di SMA N 1 Tawangsari Sukoharjo sebagian besar otoritatif, ketiga, sikap remaja mengenai seks bebas pada siswa SMA N 1 Tawangsari Sukoharjo sebagian besar baik, keempat, ada hubungan yang sedang antara pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi dengan sikap remaja mengenai seks bebas pada siswa SMA N 1 Tawangsari Kabupaten Sukoharjo. Semakin baik peningkatan pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi, maka sikap remaja mengenai seks bebas juga semakin baik, dan kelima, terdapat hubungan yang rendah antara pola asuh orang tua dengan sikap remaja mengenai seks bebas pada siswa SMA N 1 Tawangsari Kabupaten Sukoharjo. Hasil peneli- tian menunjukkan bahwa siswa yang memiliki pola asuh otoritatif memiliki sikap mengenai seks bebas lebih baik daripada siswa yang memiliki pola asuh permisif. Studi 2 dilakukan oleh Rahman (2010) dengan judul “Implikasi Pemahaman Nilai-nilai Keagamaan terhadap Perilaku Kenakalan Remaja (Studi Deskriptif Analitis di SMP Yayasan Budi Bakti Bandung)”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: pertama, pemahaman remaja SMP Yayasan Budi Bakti (YBB) terhadap nilai-nilai keagamaan masih parsial, belum secara utuh dan mendalam. Nilai-nilai keagamaan (aqidah, syariah dan akhlak) yang menunjukkan aktivitas rohani dan jasmani dalam wujud perintah, lar- angan, dan ibadah, juga dengan kualitas nilai baik dan buruk tidak difahami seutuhnya; kedua, kenaka- lan remaja yang dominan dilakukan adalah yang bersifat amoral, sedangkan yang sifatnya melanggar hukum hanya dilakukan oleh sebagian kecil remaja dengan berbagai faktor baik internal maupun ekster- nal; ketiga, nilai-nilai keagamaan yang dipahami dengan baik, kemudian beramal sejauh isi ajaran Islam, memiliki implikasi positif terhadap perilaku remaja, dengan ciri khas tidak akan melakukan hal-hal yang merugikan atau menyimpang. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dikatakan bahwa pemahaman nilai-nilai keagamaan memiliki implikasi yang signifikan terhadap perilaku kenakalan remaja, sehingga pembinaan moral melalui agama terhadap remaja dan remaja delinkuen layak dilakukan dengan lengkap secara teoritis dan aplikatif baik di keluarga, sekolah serta masyarakat. Studi 3 berjudul “Kenakalan Siswa Madrasah Salafiyah Ula (Studi Kasus di Kelas 5 MSU Al Ukhuwah Joho, Sukoharjo Tahun Ajaran 2007/2008)” yang dilakukan oleh Setiawan (2010). Hasil penelitian yang diperoleh adalah bahwa bentuk-bentuk kenakalan yang terjadi adalah kenakalan yang sudah di luar batas kewajaran yang dampaknya sebagian besar merugikan orang lain dan sebagian kecil merugikan diri sendiri. Faktor-faktor yang menjadi sebab dari munculnya kenakalan-kenakalan pada kasus ini lebih banyak berasal dari faktor eksternal, yaitu kondisi fasilitas sekolah yang sementara ini belum memadai, peraturan dan kegiatan yang dirasa cukup mengikat, sarana dan metode pengajaran yang kurang adaptif dengan tuntutan pembelajaran serta faktor media massa dan lingkungan pergaulan di lingkungan rumah yang kurang mendapat pengawasan. Kesimpulan yang bisa diambil secara umum dari penelitian ini ada- lah keadaan lingkungan pergaulan sangat berpengaruh terhadap perasaan dan perilaku komunitasnya. Ketiga hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa sikap remaja terhadap pergaulan bebas khu- susnya dan kenakalan remaja pada umumnya dipengaruhi oleh banyak faktor. Di antaranya adalah pola asuh orang tua di rumah, lingkungan pergaulan di sekolah, serta tingkat religiusitas dari individu remaja itu sendiri. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa pemahaman yang baik terhadap ajaran agama berimplikasi positif terhadap upaya menangkal kenakalan remaja. Namun demikian, penelitian-penelitian tersebut tidak satu pun yang mengambil fokus pada persoa- lan pergaulan bebas di lingkungan sekolah berbasis agama Islam. Mengingat bahwa pemahaman yang baik terhadap ajaran agama serta lingkungan pergaulan di sekolah memberi andil bagi muncul atau tidaknya kenakalan remaja termasuk sikap remaja terhadap pergaulan bebas, maka penelitian yang akan dilakukan ini menjadi menarik untuk dilaksanakan. Kajian ini ingin melihat apakah sekolah-sekolah berbasis agama Islam khususnya yang ada di kota Purwokerto telah benar-benar menjadi lingkungan

Mintarti dan Nanang Martono

(Studi di SMTA Berbasis Agama Islam di Kota Purwokerto)

REMAJA, SEKOLAH, DAN PERGAULAN BEBAS:

73

yang baik dan aman bagi siswa untuk terhindar dari pergaulan bebas, dan apakah tingginya muatan keagamaan pada kurikulum sekolah tersebut dapat terinternalisasi dengan baik kepada para siswanya.

Metode Penelitian

Penelitian ini pada dasarnya adalah penelitian kualitatif. Namun demikian, dalam praktiknya karena mempertimbangkan sulitnya mendapatkan informan yang dibutuhkan secara tepat, maka penelitian ini juga menggunakan survei yang merupakan bagian dari metode kuantitatif, dengan cara membagikan kuesioner kepada siswa di sekolah-sekolah yang telah ditetapkan sebagai lokasi penelitian. Hasil yang diperoleh dari survei dengan kuesioner tersebut, kemudian dijadikan dasar untuk memilih dan me- nentukan informan-informan yang diperlukan dalam penelitian ini. Para informan tersebut selanjutnya diwawancarai secara lebih mendalam agar diperoleh data yang lebih dalam.

1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini mengambil lokasi di Kota Purwokerto, yaitu di SMTA berbasis agama Islam. Dengan mempertimbangkan perimbangan negeri-swasta dan organisasi massa Islam terbesar yang ada di Indone- sia yang menaungi sekolah-sekolah tersebut, maka penelitian ini menetapkan tiga sekolah yang terdiri atas satu sekolah negeri dan dua sekolah swasta. Atas dasar etika penelitian, maka dalam laporan peneli- tian ini ketiga sekolah tersebut cukup disebut dengan sekolah A, B, dan C. Pertimbangan untuk tidak menyebut nama sekolah secara terbuka diambil karena untuk tetap menjaga kerahasiaan dan nama baik (citra) sekolah-sekolah tersebut.

2. Subjek Penelitian

Subjek utama penelitian ini adalah para siswa baik laki-laki maupun perempuan di sekolah-sekolah berbasis agama Islam yang telah dilipih sebagai lokasi penelitian. Di masing-masing sekolah diberikan 30 kuesioner sehingga jumlah seluruhnya adalah 90. Namun demikian, tidak semua kuesioner dapat kem- bali dan terisi semua. Kuesioner yang kembali dan terisi berjumlah 82. Jumlah responden yang bersedia menjadi informan penelitian ini ada 11 orang yang terdiri atas 6 siswa laki-laki dan 5 siswa perempuan. Subjek pendukungnya adalah guru dan pengelola sekolah (kepala sekolah, wakil kepala sekolah).

3. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan cara memberikan kuesioner, wawancara mendalam dan ob- servasi dengan tipe observer as participant.

4. Metode Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan terdiri atas dua tahap. Pertama adalah dengan memeriksa hasil pengisian kuesioner dengan cara menghitung distribusi frekuensi dari jawaban-jawaban yang diberikan oleh responden. Tahap kedua adalah analisis kualitatif mengenai hasil wawancara dengan informan.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Pandangan Siswa terhadap Pergaulan Bebas

Sejumlah pengertian yang dapat disarikan dari kuesioner yang dibagikan kepada para siswa di tiga sekolah yang menjadi sasaran penelitian ini menunjukkan bervariasinya jawaban mereka terhadap per- tanyaan “apa yang dimaksud dengan pergaulan bebas?” Berikut ini adalah ringkasan pendapat para re- sponden:

74

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

Tabel 1 Pendapat Responden Mengenai Pergaulan Bebas

No.

Sekolah

Definisi/Pendapat mengenai Pergaulan Bebas

1

A

Pergaulan yang tidak baik, yang melebihi batas dan yang menyimpang dari norma dan nilai moral agama.

Bermain yang tidak menggunakan waktu.

Segala sesuatu yang dilakukan oleh para remaja yang tanpa dipikir resiko baik dan buruknya.

Free sex

2.

B

Pergaulan yang di luar norma-norma bergaul dalam masyarakat.

Masa pergaulan yang mengikuti perkembangan jaman di usia pubertas.

Pergaulan yang jauh dari pengawasan guru dan orang tua (minum minuman keras, obat-obatan terlarang, clubbing, dan seks).

Pergaulan yang berdampak buruk pada pelaku.

Pergaulan remaja yang tidak sewajarnya (berlebihan) dari batas usianya.

3.

C

Pergaulan yang menjurus kepada situasi yang salah dan tidak seharusnya (terjerumus).

Pergaulan yang semaunya sendiri, melewati batas norma sosial dan agama, tanpa tahu akibat untuk diri sendiri dan orang lain.

Pergaulan/tindakan yang di luar batas kewajaran untuk usianya.

Pergaulan remaja yang melampaui batas kewajaran yang dapat membuat moral remaja rusak, bahkan hancur.

Pergaulan yang berlebihan.

Sumber: Data primer, 2011.

Berdasarkan Tabel 1, dapat diketahui bahwa menurut responden pada intinya yang disebut den- gan pergaulan bebas adalah pergaulan yang melebihi, melewati, melanggar, atau menyimpang dari norma-norma baik sosial maupun agama. Mereka juga menyebutkan bahwa pergaulan bebas da- pat berdampak buruk bahkan menghancurkan hidup pelakunya. mengonsumsi obat-obat terlarang, clubbing hingga melakukan seks bebas. Dari tabel tersebut juga dapat diketahui bahwa para responden mengetahui dampak negatif yang ditimbulkan dari pergaulan bebas. Secara lebih spesifik, informan pe- nelitian ini memberikan pandangannya mengenai pergaulan bebas di kalangan remaja, sebagaimana tampak dari pernyataan-pernyataan berikut ini:

Mengkhawatirkan sampai ke sana-sana luar nikah”.(KF).

“Mengkhawatirkan, karena di kalangan remaja saat ini sungguh sangat tidak bermoral dan tidak ada sopan santunnya sama sekali. Contoh saja bagi mereka yang sedang pacaran. Ujung-ujungnya pasti melakukan hal

di

maksudnya remaja sekarang itu udah nggak kayak dulu. Sekarang pacaran itu terlalu

ya

maksudnya,

itu lho

kebanyakan

pacaran sekarang itu kan udah nyampe hamil

hamil

yang negatif. Saya pribadi juga jujur seperti itu

“Pergaulan bebas saat ini sudah mengkhawatirkan, karena banyak remaja yang sudah rusak atau tidak bener

ha

ha ha ha ha

”(MGS).

akibat pergaulan bebas

Contohnya

saya ini

he

he he he

”(RAM)

“Pergaulan bebas remaja sekarang tu udah parah

kayaknya

banyak anak-anak di bawah umur udah mengalami

hal-hal yang seharusnya tu belum mereka alami, tapi udah dialami sekarang

ya

kayak gitu menurut aku” (PSN).

Terkait dengan dampak pergaulan bebas, lebih lanjut para informan mengemukakan pendapat mereka seperti yang mereka nyatakan berikut ini:

Mintarti dan Nanang Martono

(Studi di SMTA Berbasis Agama Islam di Kota Purwokerto)

REMAJA, SEKOLAH, DAN PERGAULAN BEBAS:

75

“Dampak bagi diri saya sendiri ya sangat merugikan lah

wong tua. Bila ketahuan hamil

di luar nikah akan dikeluarin dari sekolah, dan nama baik sekolah pasti tercemar” (MGS).

“Akan menghancurkan masa depan dan mencoreng nama baik diri sendiri. Keluarga akan dibuat malu, sekolah juga kena dampak negatif karena masyarakat memandang gurunya kurang bener dalam menghadapi anak yang terkena pergaulan bebas” (RAM).

gan pergaulan bebas

jangan sampai saya kembali lagi terjerumus den-

dan

cukup

satu kali saja. Kasihan orang tua kita

ngisin-isini

“Untuk diri sendiri, masa depan seperti madesu (masa depan suram), nama baik orang tua dan sekolah terce- mar, dalam masyarakat juga dikucilin, dijauhin sama orang dan teman-teman” (INS).

kalau

udah terkena pergaulan bebas secara otomatis susah kan diterima dimana-mana. Keluarga jelas pasti malu,

wong anaknya baru segini masih sekolah kok udah gitu

“Ya pokoke merusak masa depan gitu lah

ya

jelas merusak tubuh, ke depannya bingung mau gimana

(PSN).

Temuan ini menjadi menarik untuk ditelaah lebih lanjut. Pengakuan mereka menunjukkan ke- jujuran atas apa yang mereka lakukan, tetapi pada sisi yang lain pengakuan ini sekaligus mengungkap fakta bahwa bersekolah di lembaga pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai keagamaan dengan porsi lebih banyak bukan merupakan jaminan atau secara otomatis akan menjamin terjaganya perilaku siswa. Temuan ini juga dapat menjadi indikasi bahwa nilai-nilai keagamaan yang disosialisasikan sekolah masih kurang terinternalisasi dengan baik ke dalam diri para siswa.

2. Pergaulan Siswa Laki-laki dan Perempuan di Sekolah dan Mekanisme Pengaturannya

Sebagai sekolah dengan basis pendidikan agama, ketiga sekolah yang menjadi lokasi penelitian ini sudah barang tentu memiliki aturan-aturan khusus yang tidak ditemui di sekolah-sekolah umum yang tidak berbasis pendidikan agama. Aturan-aturan tersebut terutama berkaitan dengan persoalan relasi antara siswa laki-laki dan siswa perempuan, lebih khusus lagi mengenai siswa yang berpacaran. Dalam masalah ini, agama Islam memandang manusia sebagai makhluk yang amat mulia, sehingga kehadiran- nya di dunia ini juga harus melalui cara-cara yang terhormat. Oleh karena itu, hubungan antara laki-laki dengan perempuan pun diatur sedemikian rupa agar tetap dalam bingkai kesucian yang bermartabat. Mengingat ajaran yang demikian itulah maka sekolah-sekolah yang berbasis agama Islam sudah ba- rang tentu berusaha untuk menerapkannya melalui berbagai aturan yang membatasi relasi antara siswa laki-laki dan siswa perempuan. Aturan-aturan tersebut ada yang dibakukan secara tertulis, dan ada pula yang hanya berupa aturan lisan atau kebiasaan di sekolah tersebut. Namun demikian, tidak semua in- forman mengetahui dan memahami adanya aturan itu utamanya aturan tertulis, sehingga jawaban mere- ka pun bervariasi. Pernyataan berikut ini berasal dari informan yang menyatakan tidak adanya aturan tertulis:

“Ya gak ada sih

sebenere

gak ada aturan tertulis

ya

palingan cuma ditegur tok, gak ada sanksi

tapi

kalau yang

udah berlebihan kayak mesum ya diskorsing atau dikeluarin” (OS).

Selain yang dengan tegas menyatakan tidak adanya aturan tertulis di sekolahnya, ada pula informan yang tidak tahu atau ragu-ragu mengenai ada tidaknya aturan tertulis dari sekolah yang mengatur men- genai relasi antara siswa laki-laki dan perempuan. Berikut ini pernyataan mereka:

di sekolah sini sih anak laki-laki gak boleh

boncengan sama anak cewek. Misal kayak kemarin ada yang masuk ke gerbang sekolah masih boncengan cowok

cewek yaa

boleh pulang bareng. Misale lagi istirahat cerita berduaan, terus deket-deketan gitu nggak

apa

“Kalau aturan tertulis belum tahu malah, kayaknya sih gak ada

Kalau

itu ditegur. Mungkin kalau di sekolah lain, yaa perasaan gak ada peraturan kayak gitu” (AH).

nggak

salaman

juga nggak boleh. Duh

“Ya kayak itu

boleh, apalagi sampe ketahuan pegangan tangan, pasti nggak boleh nggak ya? Tahunya dari lisan, jadi gurunya yang ngomong” (KF).

ditulis

76

JURNAL SOSIOPUBLIKA VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2012

Selain yang tegas menyatakan tidak ada aturan tertulis dan yang ragu-ragu atau tidak tahu akan adanya aturan, ada juga informan yang menyatakan aturan itu ada meski hanya berupa aturan lisan.

sekolah agama dilarang, seperti di

sini. Kalau aturan, ada yang tertulis dan tidak tertulis. Guru yang ngasih tahu, wali kelas masuk mengarahkan laki-laki dan perempuan dipisah. Semua aturan dikasih tahu dari awal masuk” (INS).

Atu-

“Kalau di sekolah biasa, kalau duduk laki dan perempuan kan boleh

Kalau

“Larangannya paling kalau di kelas duduknya dipisahin, barisannya dibedain, gitu ran tertulis sih nggak ada, paling kebiasaan aja” (PSN).

udah

paling gitu aja

boleh duduk cowok sama cewek, kalau di sekolah umum kan boleh

bareng. Nggak boleh berpacaran di sekolah. Kalau melanggar, dibilangin secara lisan dulu, terus dikasih skors, habis itu kalau dibilangin nggak bisa baru dikeluarin.” (RD)

Bervariasinya jawaban dari para informan menunjukkan bahwa aturan-aturan tersebut tidak sepe- nuhnya diketahui dan dipahami oleh para siswa. Ketika hal ini dicek ke pihak sekolah dan guru diperoleh informasi bahwa sekolah sebenarnya memiliki aturan tertulis mengenai jenis-jenis pelanggaran beserta nilai angka kredit dan sanksinya. Berdasarkan daftar pelanggaran tersebut dapat langsung diketahui jum- lah poin pelanggarannya dan sanksi yang diterima siswa. Jenis pelanggaran tersebut terbagi menjadi tiga kategori yaitu ringan, sedang, dan berat. Masing-masing jenis pelanggaran di tiga kategori itu memiliki nilai angka kredit dengan rentang nilai dari 1-100. Dalam aturan tertulis yang ada di sekolah A, tidak ada satu pun aturan yang menyebutkan secara khusus dan eksplisit mengenai relasi antara siswa laki-laki dan perempuan. Aturan dengan judul “Pera- turan Tata Tertib Siswa” No.322/I03.22/SMA Dip/U.2/2011 itu berisi sembilan bab. Meskipun tidak secara eksplisit dan khusus menyebutkan mengenai relasi antara siswa laki-laki dengan perempuan, pada bab terakhir dari peraturan tersebut terdapat pasal yang menyebutkan “segala sesuatu yang belum tercan- tum dalam peraturan ini akan ditentukan kemudian”. Pasal inilah yang barangkali menjadi dasar bagi diterapkannya aturan pemisahan tempat duduk antara siswa laki-laki dengan perempuan sebagaimana dikemukakan oleh PSN dan RD yang merupakan siswa di sekolah A tersebut.

“Ya ada

kalau

di sekolah agama

nggak

3. Pergaulan Siswa di Luar Sekolah

Khusus untuk masalah yang berkaitan dengan relasi antara siswa laki-laki dan perempuan, secara umum hasil penelitian menunjukkan hal yang cukup mengejutkan. Berdasarkan kuesioner yang mereka isi tampak bahwa pergaulan antara siswa laki-laki dan perempuan dapat dikatakan tidak ada bedanya dengan teman-teman mereka yang bersekolah di sekolah umum. Hal tersebut tercermin dari fakta bahwa hampir semua responden menyatakan memiliki pacar. Bahkan wawancara lebih dalam terhadap sejum- lah responden yang dipilih secara acak untuk dijadikan informan menunjukkan ada di antara mereka yang pergaulan dengan pacarnya sudah terlalu jauh. Tabel di bawah ini menunjukkan informasi mengenai responden yang menyatakan memiliki pacar dan tidak di tiga sekolah lokasi penelitian:

Tabel 2. Pernyataan Responden Mengenai Kepemilikan Pacar

No.

Nama Sekolah

Punya Pacar

Tidak Punya Pacar

 

Jumlah

1.

A 17

 

(20,73%)

9 (10,98%)

26

(31,71%)

2.

B 29

(35,37%)

1

(1,22%)

30

(36,59%)

3.

C 23

(28,05%)

3

(3,66%)

26

(31,71%)

 

Jumlah

69 (84,15%)

13 (15,85%)

82 (100%)

Sumber: Data primer, 2011.

Mintarti dan Nanang Martono

(Studi di SMTA Berbasis Agama Islam di Kota Purwokerto)

REMAJA, SEKOLAH, DAN PERGAULAN BEBAS:

77

Secara umum, dalam masalah hubungan dengan lawan jenis, saat pertama kali memunyai pacar, mereka berada di usia yang cukup dini. Tabel 3 berikut ini akan memperjelas hal tersebut:

Tabel 3 Saat pertama kali mempunyai pacar

 

Saat pertama kali punya pacar

 

Sekolah

 

Jumlah

No.

 

A

 

B

C

1.

Di

SD

3

(3,66%)

6

(7,32%)