Anda di halaman 1dari 4

Lawang Sewu Membahas tentang arsitektur atau bangunan tua di Indonesia, tentu tak bisa lepas dari sebuah

bangunan legendaris yang berdiri kokoh di Kota Semarang, tepatnya di kawasan Simpang Lima, yaitu Lawang Sewu. Bangunan yang artinya adalah seribu pintu ini, sesungguhnya bukan nama sebenarnya yang diberikan untuk bangunan ini. Nama tersebut menjadi legendaris karena banyaknya jumlah pintu yang terdapat pada gedung keno ini. Dahulu, Lawang Sewu yang bergaya art deco adalah kantor perusahaan kereta api Belanda, NV Nederlandsch Indische Spoorweg Mastshappij (NIS) dan bangunan ini merupakan salah satu karya terbaik arsitek Prof. Jacob K. Klinkhamer dan B.J. Oudang. Pemerintah Kota Semarang sendiri telah menetapkan Lawang Sewu sebagai salah satu gedung yang dilindungi. Predikat ini layak disandang oleh Lawang sewu karena gedung ini juga merupakan saksi sejarah Indonesia saat pecahnya perang sengit selama 5 hari di Semarang, antara Angkatan Muda Kereta Api melawan kompetai dan Kido Buati, Jepang.

2. Candi Prambanan Situs Candi Hindu yang terbesar di Indonesia dan Sudah ditetapkan UNESCO sebagai cagar budaya dunia sejak tahun 1991. Bagunan candi yang sangat luar biasa, Struktur candi ini menggambarkan secara jelas kepercayaan dalam agama Hindu, yakni TRIMURTI maka Candi ini memiliki 3 Candi utama yang melambangkan hal tersebut. Ketiga candi terbut adalah Candi Wisnu, Candi Brahma, dan Candi Siwa yang semuanya menghadap ke Timur.Masing- masing candi utama memiliki satu candi pendamping yakni Garuda untuk Candi Wisnu, Angsa untuk Candi Brahma dan Nandini untuk candi Siwa. Setiap candi utama juga memiliki 2 candi apit, 4 candi kelir, dan 4 candi sudut. Sedangkan pada halaman terdapat 224 candi.Candi Siwa merupakan candi yang tertinggi dan terdapat 4 ruangan, ruangan utama berisi Arca Siwa, kemudian Arca Durga (istri Siwa juga disebut sebut sebagai arca Putri Roro Jonggrang), Agastya (guru Siwa), dan Ganesha (putra Siwa). Sedangkan disebelah selatan Candi Siwa ada Candi Brahma yang terdiri dari satu ruangan saja berisi Arca Brahma demikian juga disebelah utaranya adalah Candi Wisnu disini juga terdirti satu ruangan saja yang berisi Arca Wisnu. Candi Prambanan merupakan tempat selalu dituju wisatawan saat berkunjung di Yogyakarta. 3. Keraton Yogyakarta Dengan menempati area seluas 1,3 km persegi keraton dibangun dengan konsep kosmologi jawa yakni alam terbagi menjadi 3 bagian yakni atas sebagai tempat para dewa kemudian bagian tengah sebagai tempat manusia dan bawah sebagai tempat kekuatan jahat, sedangkan bagian atas dan bawah dibagi lagi masing masing menjadi 3 bagian yang seluruhnya jadi 7 bagian. Bagian tersebut adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Lingkungan Alun alun utarasampai siti Hinggil utara Keben atau kemandungan utara Sri Manganti Pusat Kraton Kemagangan Kemandungan Kidul Alun alun selatan sampai siti hinggil selatan

Sedangkan secara tata ruang keraton di susun dengan pola kosentrik yakni : 1. Lapisan luar, disini terdapat Alun alun utara dan selatan dengan masing masing antributnya. Alun alun utara dengan Masjid Agung, Pekapalan, Pagelaran dan pasar yang membentuk catur gatara tunggal. Alun alun Selatan dengan Kandang Gajah kepatihan sebagai prasaranan birokrasi dan Benteng sebagai prasarana militer 2. Lapisan kedua, Siti Hinggil merupakan halaman dengan pelataran yang ditinggikan. Ini juga terdapat di sisi utara dan selatan. Siti Hinggil utara ada bangsal witana dan bangsal manguntur tangkil tempat untuk mengadakan upacara kenegaraan, sedangkan siti hinggil selatan digunakan untuk melihat latihan keprajuritan. Bagian terakhir pada lapisan kedua ini adalah supit urang/pamengkang yaitu jalan yang melingkari Siti Hinggil. 3. Lapisan ketiga berupa Pelataran Kemandhungan utara dan selatan. Ini merupakan ruang transisi menuju pusat. Pada pelataran kemandungan utara terdapat bangsal pancaniti sebagai tempat sultan melakukan pengadilan khusus perkara yang ditangani raja. Selain itu sebagai ruang tunggu abdi dalem untuk menghadap raja. 4. Lapisan ke empat terdiri dari Pelataran Sri Manganti dengan bangsal Sri manganti sebagai ruang tunggu menghadap raja, dibagian ini juga terdapat bangsal trajumas di utara pelataran kemagangan dan bangsal kemagangan disisi selatannya. 5. Lapisan akhir adalah merupakan pusatnya yakni terdapat pelataran kedhaton yang terdiri dari Tratag, Pendhopo, pringgitan dalem. Sebagai penghubung antar pelataran dibatasi dengan benteng dan gerbang sehingga terdapat 9 gerbang pada 9 pelataran dan nama gerbang tersebut adalah Gerbang Pangurakan, Gerbang Brajanala, Gerbang Srimanganti, Gerbang Danapratapa, Gerbang Kemagangan, Gerbang Gadung Mlathi, Gerbang Kamandhungan, Gerbang Gadhing, dan Gerbang Tarub Agung.

1. Lawang Sewu Discussing about the architecture or the old buildings in Indonesia, certainly can not be separated from a legendary building that stood firm in the city of Semarang, precisely in the Simpang Lima, the Sewu Lawang. The building which means "a thousand doors" is, in fact not his real name given to this building. These names became legendary because of the large number of doors located on the building's keno. Previously, Lawang Sewu art deco style is Dutch railway company office, NV Nederlandsch Indische Spoorweg Mastshappij (NIS) and the building is one of the best works of the architect Prof. Jacob K. Klinkhamer and B.J. Oudang. Semarang City Government has established himself as one of Lawang Sewu protected buildings. Predicate is worth girded by sewu Lawang because the building was also a witness to the history of Indonesia as a fierce war for 5 days in Semarang, between the Young Railway against Buati kompetai and Kido, Japan

2. Prambanan temple The world's largest Hindu temple in Indonesia, and has been set as a UNESCO world cultural heritage since 1991. Buildings extraordinary temple, the temple structure clearly illustrates the belief in Hinduism, the Trimurti then the temple has three main temples representing it. Terbut third temple is Vishnu, Brahma Temple and Shiva Temple are all facing each Timur.Masing main temple has accompanying temple namely Garuda for Vishnu, Swan to Brahma Temple and Nandini for Shiva temple. Each main temple has two temples wedge, 4 color temples and 4 corner temples. While there are 224 pages candi.Candi Shiva temple is the tallest and has 4 rooms, main room contains Shiva statue, then Durga (Shiva's wife was also named as the statue of Princess Roro Jonggrang), Agastya (Shiva's teacher), and Ganesha (son Shiva). While the south of Shiva temple there is Brahma temple consists of one room only contains image of Brahma as well as adjacent to the north it is the Vishnu Temple here also terdirti only one room that contains a statue of Vishnu. Prambanan temple is a tourist destination is always during a visit in Yogyakarta. 3. Kraton Yogyakarta By occupying an area of 1.3 square miles palace built by the Javanese cosmology concept of nature is divided into 3 parts, namely on the place of the gods then the center as a place where humans and lower as the forces of evil, while the top and bottom of each subdivided into 3 parts which are all so 7 parts. These sections are:
1. Alun Square neighborhood north north until siti Hinggil

2. Keben or kemandungan north 3. Sri Manganti 4. Kraton Center 5. Kemagangan 6. Kemandungan Kidul 7. Alun square Siti Hinggil south to south While the spatial palace in stacking pattern kosentrik namely: 1. The outer layer, here are the main Alun north and south respectively Her antribut. Alun square north to the Grand Mosque, Pekapalan, Pagelaran and markets that make up a single gatara chess. Alun - South Square with Cage the Elephant kepatihan as prasaranan bureaucracy and Fort as a military infrastructur

2. The second layer, Siti Hinggil a page with an elevated courtyard. It is also located on the north and south. Siti Hinggil witana north there are wards and ward Manguntur Tangkil place to hold ceremonies, while Siti Hinggil south used to seeing military exercises. The last part of the second layer is supit urang / pamengkang the road that circles Siti Hinggil. 3. The third layer in the form of the Court Kemandhungan north and south. It is a transitional space toward the center. In the north there are court wards kemandungan pancaniti as the sultan did a special court cases handled king. Also as a waiting room for the courtiers of the king. 4. The fourth layer consists of the Court of Sri Sri Manganti Manganti the ward as a waiting room before the king, this section there is also a ward in the north yard kemagangan trajumas and ward kemagangan southern side. 5. The final layer is that there is a central courtyard comprising Kedhaton Tratag, Pendhopo, pringgitan palace. As a liaison between the court is limited to the castle and the gates so that there are 9 gates at 9 the court and the name of the gate is the Gate Pangurakan, Brajanala Gate, Gate Srimanganti, Danapratapa Gate, Gate Kemagangan, Gadung Mlathi Gate, Gate Kamandhungan, Gadhing Gate and the Gate of Supreme Tarub .