Anda di halaman 1dari 26

Fisika kuantum

Untuk universitas
BAB II
Dari fisika indonesia
Untuk memperoleh buku yang lainnya silahkan kunjungi blog
kami di http://www.fisika-indonesia.blogspot.com, blog kami
juga menyediakan berbagai macam materi tentang fisika mulai
smp, sma, universitas dan umum.
Gunakanlah buku ini seperlunya,dilarang keras mengdistribusikan
buku ini untuk keperluan komersial!
BAB II : Gelombang Partikel
43
Louis de Broglie (1892 1987),
warga Perancis, salah seorang
keluarga ningrat, yang karyanya
memberikan sumbangan yang
sangat berarti dalam dunia
kuantum, khususnya dualisme
gelombang partikel.
2.1 . Hipotesa de Broglie
Ketika diteliti kembali, kelihatannya agak ganjil bahwa
sekitar dua puluh tahun berlalu antara penemuan partikel dari
gelombang dalam tahun 1905 dan spekulasi bahwa partikel
dapat menunjukkan sifat gelombang dalam tahun 1924.
Namun, harus disadari, mengusulkan suatu hipotesis
revolusioner untuk menerangkan data yang tadinya penuh
misteri, adalah lain dengan mengajukan hipotesis yang sama
sama revolusioner dalam ketiadaan mandat eksperimen yang
kuat. Hal kedua inilah yang dilakukan de Broglie dalam tahun
1924 ketika ia mengusulkan bahwa materi mempunyai sifat
gelombang di samping partikel. Iklim intelektual yang
ditimbulkan oleh pengertian yang diajukan de Broglie yang
sangat menarik perhatian pada permulaan abad itu, sangat
berbeda dengan teori kuantum cahaya yang diajukan oleh
Einstein dan Planck yang hampir tidak menimbulkan reaksi
walaupun didukung secara empiris. Keberadaan gelombang de
Broglie secara eksperimental ditunjukkan orang pada tahun
1927, dan prinsip dualisme yang dinyatakannya merupakan titik
pangkal dari perkembangan mekanika kuantum oleh Erwin
Schrdinger dalam tahun tahun berikutnya.
Sebuah foton berfrekuensi

mempunyai momentum :
c
h
p

Yang dapat dinyatakan dalam panjang gelombang


sebagai :

h
p
Karena

= c, maka panjang gelombang foton


ditentukan oleh momentumnya menurut hubangan :
BAB II : Gelombang Partikel
44
p
h

(2.1)
de Broglie mengusulkan agar Persamaan (2.1) ini berlaku
umum yang bisa digunakan untuk partikel suatu materi atau
foton. Momentum suatu partikel bermassa m dan kecepatan v
ialah p = m v, dan panjang gelombang de Broglie-nya adalah :
v m
h

(2.2)
Makin besar momentum partikel itu makin pendek panjang
gelombangnya. Dalam Persamaan (2.2), m menyatakan massa
relativistik
( )
2
1
c
v
m
m
o

Seperti dalam kasus gelombang elektromagnetik,


aspek gelombang dan partikel sebuah benda yang bergerak
tidak dapat diamati pada saat yang sama. Jadi tidak ada artinya
jika kita mempertanyakan pernyataan yang benar. Apa yang
dapat kita kemukakan adalah bahwa pada keadaan tertentu
benda yang bergerak memperlihatkan sifat partikel. Sifat mana
yang tampak jelas bergantung pada perbandingan antara
panjang gelombang de Broglie dengan dimensinya serta
dimensi sesuatu yang berinteraksi dengannya.
de Broglie tidak memiliki bukti eksperimental yang
langsung bagi dugaannya. Namun, ia mampu memperlihatkan
bahwa konsep yang diajukannya dapat menjelaskan secara
wajar terdapatnya kuantisasi energi pembatasan harga energi
khusus yang harus dikemukakan sebagai postulat oleh Bohr
dalam model atomnya di tahun 1913. Dalam beberapa tahun
Persamaan (2.2) dibuktikan melalui ekspeimen yang menyang-
kut difraksi elekton oleh Kristal.
Dengan demikian, secara skematis kaitan antara
partikel dan gelombang dapat dinyatakan sebagai berikut.
BAB II : Gelombang Partikel
45
Gelombang
Secara eksperimental berperilaku
Max Planck
Partikel
Artinya, gelombang dapat bersifat sebagai partikel dan
sebaliknya partikel dapat berperilaku sebagai gelombang.
2.2 . Gelombang Materi
2.2.1. Wujud Gelombang Materi
Manifestasi gelombang yang tidak mempunyai
analogi dalam prilaku partikel Newtonian ialah gejala difraksi.
Dalam tahun 1927, Davisson dan Germer di Ameika Serikat
dan G. P. Thomson di Inggris secara bebas meyakinkan
hipotesis de Broglie dengan menunjukkan berkas elektron
terdifraksi bila berkas itu dihamburkan oleh kisi atom yang
teratur dari suatu Kristal. Kita akan membahas eksperimen
Davisson dan Germer karena tafsirannya lebih langsung.
Davisson dan Germer mempelajari elektron yang terhambur
oleh zat padat dengan memakai peralatan seperti pada Gambar
2.1.
Energi elektron dalam berkas primer, sudut jatuhnya
pada target, dan kedudukan detektor dapat diubah ubah.
Fisika klasik meramalkan bahwa elektron yang terhambur akan
muncul dalam berbagai arah dengan hanya sedikit
kebergantungan dari intensitas terhadap sudut hambur dan
lebih sedikit lagi dari energi elektron primer. Dengan memakai
blok nikel sebagai target, Davisson dan Germer membuktikan
ramalannya.
BAB II : Gelombang Partikel
46
Partikel
dihopotesiskan berlperilaku
Max Planck
Gelombang
Di tengah tengah pekerjaan tersebut terjadi suatu
peristiwa yang memungkinkan udara masuk ke dalam
peralatannya dan mengoksidasi permukaan logam. Untuk
menguasai oksida nikel murni, targetnya dikembalikan ke dalam
peralatan dan pengukurannya dilakukan lagi.
Sekarang ternyata hasilnya sangat berbeda dari
perisiwa seelumnya : sebagai ganti dari variasi yang kontinu
dari intensitas elektron yang terhambur terhadap sudut, timbul
maksimum dan minimum yang jelas teramati yang kedudukan-
nya bergatung pada energi elektron. Grafik polar yang biasa
digambarkan untuk intensitas elektron setelah peristiwa itu
ditunjukkan pada gambar 2.2. Metode plotnya dilakukan
sedemikian rupa sehingga intensitas pada setiap sudut
berbanding lurus dengan jarak kurva dari sudut itu dari titik
hamburannya. Jika intensitas sama untuk semua sudut hambur,
kurvanya akan berbentuk lingkaran dengan titik hambur
sebagai pusat.
BAB II : Gelombang Partikel
47
Elektron
beam
Detektor
Elektron
Berkas
Hambur
Berkas
datang
Gambar 2.1. Eksperimen Davisson - Germer
Dua pertanyaan segera timbul dalam pikiran : apakah
yang menjadi penyebab efek baru ini, dan mengapa tidak
muncul sebelum target nikel itu dipanggang ?
Hipotesis de Broglie mendorong tafsiran bahwa
gelombang elektron didifraksikan oleh target sama seperti sinar
X didifraksikan oleh bidang bidang atom dalam Kristal.
Tafsiran ini mendapat dukungan setelah disadari bahwa efek
pemanasan sebuah blok nikel pada temperatur tinggi
menyebabkan banyak kristal individual kecil yang membangun
blok tersebut bergantung menjadi kristal tunggal yang besar
yang atom atomnya tersusun dalam kisi yang teratur.
Marilah kita tinjau apakah kita dapat membuktikan
bahwa gelombang de Broglie merupakan penyebab dari hasil
Davisson Germer. Pada suatu berkas percobaan tertentu
berkas elektron 54 eV diarahkan tegak lurus pada target nikel,
dan maksimum yang tajam dalam distribusi elektron terjadi
pada sudut 50
o
dari berkas semula. Sudut datang dan sudut
hambur relatif terhadap suatu keluarga bidang, keduanya
bersudut 65
o
. jarak antara bidang dalam keluarga itu yang bisa
BAB II : Gelombang Partikel
48
40 V 44 V 48V 60 V
68 V
54 V
Berkas
datang
Berkas
datang
Berkas
datang
Berkas
datang
Berkas
datang
Berkas
datang
50
o
Gambar 2.2. Hasil Eksperimen Davisson Germer.
diukur melalui difraksi sinar X adalah 0,091 nm. Persamaan
Bragg untuk maksimum dalam pola difraksi ialah :
sin 2 d n
Di sini d = 0,091 nm dan = 65
0
; dengan menganggap n = 1,
panjang gelombang de Broglie dari elektron yang terdifraksi
adalah
Sekarang kita gunakan rumus de Broglie
v m
h

untuk
menghitung panjang gelombang yang diharapkan.
Energi kinetik 54 eV kecil dibnadingkan dengan energi diam
m
0
c
2
yaitu sebesar 5,1 x 10
5
eV, sehingga kita dapat
mengabaikan efek relativistik. Karena
maka momentum elektron itu adalah :


Jadi panjang gelombang elektron itu adalah :


Yang besarnya sesuai dengan panjang gelombang yang
diamati. Jadi eksperimen Davisson Germer menunjukkan
bukti langsung dari hipotesa de Broglie mengenai sifat
gelombang benda bergerak.
BAB II : Gelombang Partikel
49
Contoh 2.1.
Neutron termal pada temperatur 27
0
C digunakan untuk
menentukan jarak antar bidang ktristal NaCl. Hitung :
.a Panjang gelombang de Broglie neutron tersebut.
.b Jarak antar bidang kristal NaCl jika difraksi maksimum
pertama terdeteksi pada sudut 14,9
0
.
Penyelesaian :
a. Energi kinetik rata-rata neutron termal identik dengan
energi molekul gas ideal pada temperatur yang sama,

kT E
rata
2
3


( ) ( ) K 300 10 381 , 1
2
3
21


J
21
10 2145 , 6


Karena :
N
K rata
m
p
E E
2
2

, maka

rata N
E m p 2
; m
N
= massa neutron.
s kg m / 10 56 , 4
24

Dengan demikian, panjang gelombang de Broglie nya :
0
45 , 1
p
h

b. Dari Persamaan Bragg,


sin 2 d n
dengan n = 1, 2, 3, menyatakan puncak (maksimum)
ke n pola difraksi. Dari Persamaan tersebut diperoleh
jarak antar bidang kristal NaCl.
0
82 , 2
257 , 0 2
45 , 1 1
sin 2

n
d
BAB II : Gelombang Partikel
50
2.2.2. Penafsiran Fungsi Gelombang
Dalam gelombang air kuantitas yang berubah secara
berkala ialah tinggi permukaan air. Dalam gelombang bunyi,
tekanan udara. Dalam gelombang cahaya medan listrik dan
medan magnet yang berubah ubah. Apa yang berubahubah
dalam gelombang partikel ?
Kuantitas variabel yang memberi karakterisasi
gelombang de Broglie disebut fungsi gelombang yang diberi
isimbol (huruf Yunani psi). Harga fungsi gelombang yang
berkaitan dengan sebuah benda yang bergerak pada suatu
titik tertentu x, y, z dalam ruang pada saat t berpautan
dengan peluang untuk mendapatkan benda tersebut di
tempat tersebut pada saat t.
Namun sendiri tidak memiliki arti fisis langsung.
Terdapat alasan yang sederhan mengapa tidak dapat
langsung ditafsirkan berdasarkan eksperimen. Peluang
(kemungkinan) bahwa suatu benda berada di suatu tempat
pada suatu saat mempunyai harga antara dua batas : 0 yang
bersesuaian dengan keabsenannya, dan 1 bersesuaian dengan
kehadirannya. (Peluang 0,2 misalnya, menyatakan peluang 20
persen untuk mendapatkan benda itu). Namun, amplitude suatu
gelombang dapat berharga negatif tidak mempunyai arti. Jadi
itu sendiri tidak bisa merupakan kuantitas yang teramati.
Pernyataan di atas tidak berlaku untuk
2
| | , kuadrat
dari harga mutlak fungsi gelombang dikenal sebagai kerapatan
peluang. Peluang untuk secara eksperimental untuk
mendapatkan benda yang diberikan oleh fungsi gelombang
pada titik x, y, z pada saat t berbanding lurus dengan
harga
2
| | di tempat itu pada saat t. Harga
2
| | yang
besar menyatakan peluang yang besar untuk mendapatkan
benda itu, sedangkan harga
2
| | yang kecil menyatakan
peluang yang kecil untuk mendapatkan benda itu. Selama
2
| | tidak nol, terdapat peluang tertentu untuk mendapatkan
benda tersebut di tempat itu. Tafsiran ini mula mula
dikemukakan oleh Max Born pada tahun 1926.
BAB II : Gelombang Partikel
51
Terdapat perbedaan yang besar antara peluang
suatu kejadian dan kejadian itu sendiri. Walaupun kita
membicarakan fungsi gelombang yang memberikan suatu
partikel, menyebar dalam ruang, ini tidak berarti bahwa partikel
itu menyebar. Bila suatu eksperimen dilakukan untuk men-
deteksi elektron, misalnya, sebuah elektron dapat ditemukan
pada suatu tempat pada saat tertentu atau kita tidak
menemukannya; tidak terdapat sesuatu yang dinyatakan
sebagai 20 persen elektron. Namun, mungkin saja terdapat
peluang 20 persen bahwa suatu elektron dapat ditemukan di
tempat itu pada suatu saat, dan peluang inilah yang dinyatakan
sebagai
2
| | .
Di pihak lain, bila eksperimennya berkaitan dengan
banyak benda identik yang semuanya diberikan (digambarkan)
dengan fungsi gelombang yang sama , kerapatan yang
sebenarnya dari benda itu di x, y, z pada saat t berbanding
lurus dengan harga
2
| | .
Panjang gelombang de Broglie yang berkaitan dengan
sebuah benda bergerak dinyatakan dengan Persamaan
sederhana.
Menentukan sebagai fungsi kedudukan dan waktu biasanya
merupakan persoalan yang sulit.
2.3. Asas Ketidakpastian Heisenberg
2.3.1. Rumusan Umum Ketidakpastian Heisenberg
BAB II : Gelombang Partikel
52
Kenyataan bahwa sebuah partikel bergerak harus
dipandang sebagai group gelombang de Broglie dalam kedaan
tertentu alih alih sebagai suatu kuantitas yang terlokalisasi
menimbulakan batas dasar pada ketetapan pengukuran sifat
partikel yang dapat diukur misalnya kedudukan momentum.
Untuk menjelaskan faktor apa yang terlibat, marilah
kita meninjau group gelombang dalam gambar 2.3 berikut
Partikel yang bersesuaian dengan grup gelombang
ini dapat diperoleh dalam selang grup tersebut pada waktu
tertentu. Tentu saja kerapatan peluang
2
| | maksimum pada
tengah tengah grup, sehingga patikel tersebut mempunyai
peluang terbesar untuk didapatkan di daerah tersebut. Namun,
kita tetap mempunyai kemungkinan untuk mendapatkan partikel
pada suatu tempat jika
2
| | tidak nol.
Lebih sempit grup gelombang itu, lebih teliti
kedudukan partikel itu dapat ditentukan (Gambar 2.4a).
BAB II : Gelombang Partikel
53
Gambar 2.3. Group Gelombang
x
= ?
(a)
7
(b)
Gambar 2.4. (a) Group gelombang de Broglie terbatas. Posisi partikel dapat
ditentukan secara tepat tetapi panjang gelombangnya (karena momentum
partikel) tidak dapat ditetapkan. (b) Lebar group gelombang. Kini panjang
gelombang dapat ditentukan secara tepat tetapi bukan posisi partikel.
Namun, panjang gelombang pada paket yang sempit tidak
terdefinisikan dengan baik ; tidak cukup banyak gelombang
untuk menetapkan dengan tepat. Ini
berarti bahwa karena
v m
h

, maka momentum mv bukan
merupakan kuantitas yang dapat diukur secara tepat. Jika
melakukan sederetan pengukuran momentum, akan diperoleh
momentum dengan kisaran yang cukup lebar.
Sebaliknya, grup gelombang yang lebar seperti pada
gambar 2.4b memiliki panjang gelombang yang terdefinisikan
dengan baik. Momentum yang bersesuaian dengan panjang
gelombang ini menjadi kuantitas yang dapat ditentukan dengan
teliti, dan sederetan pengukuran momentum akan menghasil-
kan kisaran yang sempit. Akan tetapi di manakah kedudukan
partikel tersebut? Lebar grup gelombang tersebut menjadi
terlalu besar untuk menentukan kedudukan pada suatu waktu.
BAB II : Gelombang Partikel
54
Jadi kita sampai pada prinsip ketidakpastian : Tidak
mungkin kita mengetahui keduanya yaitu kedudukan dan
momentum suatu benda secara seksama pada saat yang
bersamaan. Prinsip ini dikemukakan oleh Werner Heisenberg
pada tahun 1927, dan merupakan salah satu hukum fisis yang
memegang peranan penting.
Persoalan berikutnya adalah mencari suatu besaran
yang mampu menampung dan mempresentasikan sifat sifat
partikel sekaligus sifat sifat gelombang. Dengan demikian
kuantitas tersebut harus bersifat sebagai gelombang tetapi tidak
menyebar melainkan terkurung di dalam ruang. Hal ini dipenuhi
oleh paket gelombang yang merupakan kumpulan gelombang
dan terkurung dalam ruang tertentu. Analisis yang formal
mendukung kesimpulan tersebut dan membuat kita mampu
untuk menyatakannya secara kuantitatif. Contoh yang paling
sederhana dari pembentukan grup gelombang, perhatikan
kombinasi dari dua gelombang bidang berikut :
( ) ( ) x k t A t x
1 1 1
cos ,
(2.3)
( ) ( ) x k t A t x
2 2 2
cos ,
Pinsip superposisi memberikan
( ) ( ) ( ) t x t x t x , , ,
2 1
+
1
]
1

,
_

+

,
_

+
x
k k
t A
R
2 2
cos
2 1 2 1

(2.4)
Dengan amplitudo A
R
1
]
1

,
_



,
_


x
k k
t A A
R
2 2
cos 2
2 1 2 1

(2.5)
Dalam bentuk grafik,
BAB II : Gelombang Partikel
55
Bila gelombang tunggalnya diperbanyak,
BAB II : Gelombang Partikel
56
+
=
Gambar 2.5. Superposisi dua gelombang tunggal
=

2,
k
2

1,
k
1
+
+

3,
k
3

4,
k
4
+
+
k
Gambar 2.6. Superposisi dari n gelombang
Tampak dari gambar 2.6 bahwa paket gelombang terlokalisasi
di daerah yang sebesar x dan lokalisasi ini yang diharapkan
sebagai posisi partikel klasik.
BAB II : Gelombang Partikel
57 x
Gambar 2.7. Kemungkinan posisi partikel di daerah x
Setelah mendapatkan barang yang dapat menyatakan
partikel sekaligus gelombang berikutnya harus dicari
perumusan matematisnya. Formalisme matematis untuk paket
gelombang yang terlokalisasi tersebut tidak lain adalah
transformasi Fourier.
(2.6)
Sebagai contoh, jika distribusi gelombang dengan vektor
gelombang k, g(k), diberikan seperti gambar.
Maka distribusi gelombang di dalam ruang koordinat f(x),
BAB II : Gelombang Partikel
58
- a / 2 + a / 2
k
g (k)
1/
Gambar 2.8. Distribusi g (k)





Grafiknya,
Dari uraian contoh dan gambar transformasi Fourier di
atas, diperoleh hubungan antara x dan k (atau p).
Hubungan antara x dan k bergantung pada bentuk paket
gelombang dan bergantung pada k, x didefinisikan. Perkalian
(x) (k) akan minimum jika paket gelombang berbentuk fungsi
Gaussian, dalam hal ini ternyata transformasi Fouriernya juga
BAB II : Gelombang Partikel
59
f(k)
6/a
4/a
2/a
4/a
2/a
6/a
x
Gambar 2.9. Transformasi Fourier dari g(k)
merupakan fungsi Gaussian juga. Jika x dan k diambil
deviasi standar dari fungsi (x) dan g(k), maka harga minimum
x k = . Karena pada umumnya paket gelombang tidak
memiliki bentuk Gaussian (bentuk lonceng), maka lebih realistis
jika hubungan antara x dan k dinyatakan sebagai berikut :
x k (2.7)
Panjang gelombang de Broglie untuk sebuah partikel
bermomentum p adalah :
Bilangan gelombang yang bersesuaian dengannya adalah :
Oleh karena itu, suatu ketidakpastian k dalam jumlah
gelombang pada gelombang de Broglie berhubugan dengan
hasil hasil partikel dalam suatu ketidakpastian p dalam
momentum partikel menurut Persamaan
Karena

Dan
4
h
p x
(prinsip ketidakpastian) (2.8)
BAB II : Gelombang Partikel
60
Persamaan ini menyatakan bahwa hasil kali ketidakpastian
kedudukan benda x pada suatu saat dan ketidakpastian
komponen momentum dalam arah x yaitu p pada saat yang
sama lebih besar atau sama dengan h / 4. Kita tidak mungkin
menentukan secara serentak kedudukan dan momentum suatu
benda. Jika diatur supaya x kecil yang bersesuaian dengan
paket gelombang yang sempit, maka p akan menjadi besar.
Sebaliknya, p direduksi dengan suatu cara tertentu, maka
paket gelombangnya akan melebar dan x menjadi besar.
Ketidakpastian ini bukan ditimbulkan oleh alat yang
kurang baik tetapi ditimbulkan oleh sifat ketidakpastian alamiah
dari kuantitas yang terkait. Setiap ketidakpastian instrumental
atau statistik hanya akan menambah besar hasil kali x p.
Karena kita tidak mengetahui secara tepat apa partikel itu atau
bagaimana momentumnya, kita tidak dapat menyatakan
apapun dengan pasti bagaimana kedudukan partikel itu kelak
dan seberapa cepat partikel tadi bergerak. Jadi, kita tidak
dapat mengetahui masa depan karena kita tidak mengetahui
masa kin.
Kuantitas h/2 sering muncul dalam fisika modern,
karena ternyata kuantitas itu merupakan satuan dasar dari
momentum sudut. Kuantitas ini sering disingkat dengan
(baca ; h bar) :
Selanjutnya, dalam buku ini kita akan memakai sebagai
pengganti h/2. Dinyatakan dalam , prinsip ketidakpastian
menjadi :
2

p x
(2.9)
BAB II : Gelombang Partikel
61
2.3.2. Perhitungan x p Untuk Berbagai Keadaan
Tetapan Planck berharga sangat kecil hanya
6,63 x 10
-34
J s sehingga pembatasan yang ditimbulkan oleh
prinsip ketidakpastian hanya penting dalam dunia atomik.
Dalam skala ini, prinsip ini sangat menolong untuk mengerti
banyak gejala. Perlu diingat bahwa batas bawah /2 untuk
x p sangat jarang dicapai : biasanya x p .
Bentuk lain dari prinsip ketidakpastian kadang
kadang berguna. Mungkin kita ingin mengukur energi E yang
dipancarkan pada suatu waktu selama selang waktu t dalam
suatu proses atomik. Jika energi berbentuk gelombang
elektromagnetik, batas waktu yang tersedia membatasi
ketepatan kita menentukan frekuensi

dari gelombang itu.


Marilah kita anggap paket gelombang itu sebagai satu
gelombang. Karena frekuensi gelombang yang sedang
dipelajari sama dengan bilangan yang kita hitung dibagi dengan
selang waktu, ketidakpastian frekuensi

dalam pengukuran
kita adalah :

Ketidakpastian energi yang bersesuaian ialah :
Sehingga
Perhitungan yang lebih teliti berdasarkan sifat paket gelombang
mengubah hasil tersebut menjadi :
BAB II : Gelombang Partikel
62
2

t E
(2.10)
Contoh 2.2. :
1. Atom hidrogen berjari jari 5,3 x 10
-11
m. Gunakan prinsip
ketidakpastian untuk memperkirakan energi elektron yang
dapat dimilikinya dalam atom itu.
Penyelesaian :
Di sini kita dapatkan untuk x = 5,3 x 10
-11
m,

Elektron yang momentumnya sebesar itu berperilaku
sebagai partikel klasik, dan energi kinetiknya adalah :
Yang sama dengan 3,4 eV, sebenarnya energi kinetik
elektron pada tingkat energi terendah dalam atom hidrogen
adalah 13,6 eV.
2. Sebuah elektron yang tereksitasi mengeluarkan kelebihan
energinya dengan memancarkan sebuah foton yang memiliki
frekuensi karakteristik tertentu. Periode rata rata yang
berlangsung antara eksitasi elektron dan saat
memancarkannya adalah 10
-8
s. Cari ketidakpastian energi
dan frekuensi foton itu.
BAB II : Gelombang Partikel
63
Penyelesaian :
Energi foton tertentu dengan besar :
Ketidakpastian frekuensi cahaya diberikan dalam bentuk :
*****************************
**************
BAB II : Gelombang Partikel
64
A. Pemahaman Konsep
1. Ketika sebuah elektron bergerak dengan suatu panjang
gelombang de Broglie tertentu, apakah elektronnya
terpental bolak-balik atau ke atas ke bawah pada jarak
panjang gelombang itu?
2. Kesulitan apakah yang ditimbulkan asas ketidakpastian bila
kita mencoba memungut sebuah elektron dengan sebuah
tang halus?
3. Apakah asas ketidakpastian berlaku bagi alam ataukan
hanya bagi hasil percobaan saja? Maksudnya, apakah
kedudukan dan momentum yang memang benar tidak pasti,
ataukah hanyalah pengetahuan kita tentang kedua besaran
tersebut? Apakah ada perbedaannya?
4. Asas ketidakpastian mengatakan bahwa semakin kita men-
coba membatasi kedudukan suatu objek, kita dapati objek
tersebut semakin cepat bergerak.Apakah asas ini yang
rupanya menyebabkan mengapa anda tidak dapat
menahan lama uang anda di dalam saku atau dompet
anda? Berikan suatu taksiran angka.
5. Kebanyakan atom tidaklah stabil sehingga mengalami
peluruhan radioaktif ke atom-atom lain. Usia-hidup bagi
peluruhan ini biasanya (khasnya) dalam orde hari hingga
tahun. Apakah menurut perkiraan anda asas ketidakpastian
akan menyebabkan suatu efek terukur dalam ketelitian
pengukuran kita terhadap massa atomnya?
6. Seringkali terjadi dalam fisika bahwa penemuan besar di-
lakukan secara kurang hati-hati. Apakah yang bakal terjadi
jika Davidson dan Germer menyetel tegangannya di bawah
32V?
7. Andaikanlah kita menutupi salah satu celah pada per-
cobaan dua-celah elektron dengan sebuah bahan ber-
pendar yang memancarkan foton cahaya jika sebuah
elektron melewatinya. Kemudian kita tembakkan sejumlah
elektron pada saat yang bersamaan menuju kedua celah
itu; terlihatnya kilasan cahaya (atau tidak) akan memberikan
BAB II : Gelombang Partikel
65
kita tentang celah mana yang dilewati elektron. Akibat
apakah yang ditimbulkan susunan ini terhadap pola
interfrensi? Mengapa?
8. Apakah mungkin Vfase lebih besar daripada C? Dapatkah
Vgrup lebih besar daripada C?
9. Dalam zat perantara tidak dispersif, berlaku Vgrup = Vfase
ini adalah cara lain untuk mengatakan bahwa semua
gelombang merambat dengan kecepatan fase yang sama,
tidak bergantung pada panjang gelombang masing-masing.
Apakah ini juga berlaku bagi (a) gelombang de Broglie? (b)
gelombang cahaya dalam gelas? (c) gelombang cahaya
dalam ruang hampa? (d) gelombang bunyi di udara?
Kesulitan apakah yang bakal kita hadapi ketika mencoba
berkomunikasi (lewat suara atau sinyal radio misalnya)
dalam zat perantara yang sangat dispersif.
10. Apabila prinsip de Broglie diterapkan dalam mendesain
mobil, bagaimana menurut kamu kendaraan seperti itu?
B. Penerapan Konsep
1. Tentukanlah potensial percepatan yang diperlukan agar
sebuah elektron mempunyai panjang gelombang de Broglie
1 .
2. Hitunglah energi sebuah foton yang berpanjang
gelombang 0,5 fermi.
3. Tunjukkan bahwa panjang gelombang de Broglie dari
suatu partikel kira-kira sama dengan panjang gelombang
sebuah foton yang berenergi sama, bila energi partikel
sangat besar dibandingkan dengan energi diamnya.
4. Tentukan kecepatan grup gelombang yang
berhubungan dengan panjang gelombang de Broglie :
p
h

5. Berkas neutron yang berenergi 0,083 eV dihamburkan
dari suatu sampel yang belum diketahui dan puncak refleksi
Bragg terpusat pada sudut 22
0
. Berapa jarak antar bidang-
bidang Bragg ?
BAB II : Gelombang Partikel
66
6. Neutron-neutron termal datang pada kristal NaCl (jarak
antar atom 2,81 ) dan mengalami difraksi orde pertama
dari bidang-bidang utama Bragg pada sudut 20
0
. Berapakah
energi neutron termal itu ?
7. Katakanlah momentum sebuah partikel dapat diukur
dengan ketelitian 0,001. Tentukanlah ketidakpastian
minimum dari posisinya jika :
(a) partikel bermassa 5 x 10
- 3
kg, dengan laju 2
m/s.
(b) Elektron bergerak dengan laju 1,8 x 10
8
m/s.
8. Berapa ketidakpastian posisi suatu foton yang
berpanjang gelombang 3000 , jika ketelitian pengukuran
panjang gelombang ini adalah 10
-6
.
9. Berapa ketidakpastian minimum keadaan energi sebuah
atom, jika sebuah elektronnya yang duduk pada keadaan
energi ini dalam selang waktu 10
8
s.
10. Lebar garis spektral dari panjang gelombang 4000
ialah 10
4
. Berapa waktu hidup rata-rata sistem atom
dalam keadaan berenergi demikian.
BAB II : Gelombang Partikel
67