Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN KEGIATAN PENCEGAHAN DAN PENANGULANGAN PENYAKIT MENULAR / TIDAK MENULAR(E.

1) IMUNISASI DIFTERI DAN TETANUS

Oleh: dr. Danang Tejo P.

LAPORAN KEGIATAN PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR / TIDAK MENULAR (E.1)

Disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh surat tanda selesai internship.

Disahkan oleh: Pendamping Penyusun

dr. Sinta Wulan Sari


NIP.19750826 200801 2 006

dr. Danang Tejo P.


Dokter Internship

KEGIATAN IMUNISASI DIFTERI DAN TETANUS

A. Latar Belakang

Penyakit menular masih merupakan masalah kesehatan utama masyarakat Indonesia, disamping mulai meningkatnya masalah penyakit tidak menular. Penyakit menular tidak mengenal batas-batas daerah administratif, sehingga pemberantasan penyakit menular membutuhkan kerjasama antar daerah, misalnya antar propinsi, kabupaten/kota bahkan antar negara. Penyakit adalah gangguan terhadap kesehatan yang dapat menyerang seluruh makhluk hidup, termasuk manusia. Ada begitu banyak jenis penyakit yang ada di muka bumi ini. Ada jenis penyakit menular dan ada pula yang tidak menular. Dalam medis, penyakit menular atau penyakit infeksi adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh sebuah agen biologi (seperti virus, bakteria atau parasit), bukan disebabkan faktor fisik (seperti luka bakar) atau kimia (seperti keracunan). Ada banyak cara penularan suatu penyakit. Penularan ini terjadi karena bibit penyakit yang sedang menghinggapi penderitanya berpindah ke tubuh orang lain. Mengetahui cara penularan ini sangat penting untuk mencegah perluasan epidemi berbagai penyakit. Kalau penyakit menular diibaratkan musuh, untuk memenangi pertempuran perlu mengenali faktor yang terkait dengan musuh itu.

Kapasitas dinas kesehatan dikembangkan agar mampu membuat jejaring kerja dengan stakeholders (para pihak) di wilayah kerjanya. Misalnya dengan rumah sakit dan instansi lain. Jika mendapat informasi pada awal keberadaan penyakit menular atau adanya faktor risiko kesehatan, dinas kesehatan bisa segera mengambil tindakan yang diperlukan. Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya mengandung makna bahwa tugas utama sektor kesehatan adalah memelihara

dan meningkatkan kesehatan segenap warga negaranya, yakni setiap individu , keluarga dan masyarakat Indonesia, tanpa meninggalkan upaya menyembuhkan penyakit dan atau memulihkan kesehatan penderita. Untuk terselenggaranya tugas ini penyelenggaraan upaya kesehatan yang harus diutamakan adalah yang bersifat promotif dan preventif yang didukung oleh upaya kuratif dan atau rehabilitatif. Agar dapat memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat diperlukan pula terciptanya lingkungan yang sehat, dan oleh karena itu tugas-tugas penyehatan lingkungan harus pula lebih diprioritaskan.

B. Pendahuluan

Menurut Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI (P2M&PL Depkes RI) Prof Dr dr Umar Fahmi Achmadi MPH ada empat faktor yang berperan dalam dinamika transmisi penyakit menular, yaitu sumber penyakit, vektor, barrier (penghalang) antara vektor dengan populasi yang berisiko serta kekebalan manusia. Identifikasi, intervensi dan pengelolaan terhadap keempat faktor plus faktor kelima, yaitu perawatan penderita penyakit menjadi satu kesatuan simpul manajemen bisa meningkatkan upaya pemberantasan penyakit menular. Hal ini menjadi tantangan bagi para pengelola program kesehatan di daerah (kabupaten/kota) di era desentralisasi. Sumber penyakit atau penderita penyakit perlu segera ditemukan dan diobati sampai sembuh. Jika ini dilakukan, keberadaan vektor tidak akan berarti, karena tak ada sumber dari virus, bakteri ataupun parasit yang bisa ditularkan. Pencegahan sejumlah penyakit menular juga bisa dilakukan dengan meningkatkan kekebalan tubuh manusia, yaitu melakukan imunisasi. Karenanya, cakupan imunisasi perlu ditingkatkan dan dijaga tetap tinggi. Hal ini membantu penduduk untuk tetap sehat dan produktif. Salah satu penyakit menular yang sering muncul di masyarakat dan ditakuti yaitu Tetanus dan Difteri. Diperlukan upaya menggiatkan warga dalam rangka pencegahan penyakit Difteri dan Tetanus. Untuk itu perlu diadakan kegiatan preventif penyakit Difteri dan Tetanus di seluruh wilayah Indonesia pada umumnya termasuk di kelurahan Purwokerto Kulon, Purwokerto Selatan mengingat hal tersebut sangat berpengaruh terhadap keberhasilan program pencegahan Difteri dan Tetanus.

C. Tujuan Tujuan kegiatan preventif penyakit Difteri dan Tetanus di Kelurahan Purwokerto Kulon ini adalah untuk menambah kekebalan tubuh terhadap penyakit Difteri dan Tetanus sehingga diharapkan dapat mencegah penyakit tersebut khususnya pada anak-anak serta meningkatkan kesehatan masyarakat pada umumnya.

D. Sasaran Sasaran dari kegiatan ini adalah anak-anak SD kelas 1 di SDN Karang Klesem I dan II.

E. Target Target yang ingin dicapai dari kegiatan preventif penyakit Difteri dan Tetanus ini meliputi: 1. Memberikan informasi kepada anak-anak serta orang dewasa di sekitarnya mengenai Difteri dan Tetanus serta pentingnya imunisasi penyakit tersebut. 2. Menurunnya angka kejadian Difteri dan Tetanus di wilayah setempat. F. Bentuk kegiatan Bentuk kegiatan yang dilakukan yaitu berupa penyuntikan vaksin serta edukasi mengenai Difteri dan Tetanus.

G. Pelaksanaan a. Tempat b. Tanggal c. Waktu d. Peserta e. Tema H. Proses Kegiatan : Ruang Kelas SDN Karang Klesem I dan II, Kec.Purwokerto Selatan. : 27 Juli 2011 : 09.00 11.00 WIB : 60 orang anak SD kelas 1 : Imunisasi Difteri dan Tetanus

- Petugas memperkenalkan diri kepada pihak sekolah serta menjelaskan maksud dan tujuan kedatangannya. - Melakukan informed consent kepada pihak sekolah serta peserta imunisasi. - Proses penyuntikan vaksin. - Edukasi terhadap peserta dan pihak sekolah. - Penutupan.

IMUNISASI DIFTERI DAN TETANUS

A. IMUNISASI 1. Pengertian Imunisasi adalah proses memicu sistem kekebalan tubuh seseorang secara artifisial yang dilakukan melalui vaksinasi (imunisasi aktif) atau melalui pemberian antibodi (imunisasi pasif). Vaksinasi adalah suatu tindakan dengan sengaja memberikan paparan pada suatu antigen berasal dari suatu patogen. Imunisasi aktif akan menstimulasi sistem imun host untuk menghasilkan antibodi dan respon imun selular untuk melindungi host dari agen penyebab. Imunisasi pasif dilakukan dengan cara memberikan antibodi yang dibentuk diluar tubuh host kedalam tubuh host. Dilihat dari cara timbulnya maka terdapat dua jenis kekebalan, yaitu kekebalan pasif dan kekebalan aktif. Kekebalan pasif adalah kekebalan yang diperoleh dari luar tubuh, bukan dibuat oleh individu itu sendiri. Kekebalan pasif bekerja cepat tapi tidak bertahan dalam waktu lama karena akan dimetabolisme tubuh. 2. Manfaat Imunisasi Manfaat utama dari imunisasi adalah menurunkan angka kejadian penyakit, kecepatan maupun kematian akibat penyakit-penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi. 3. Jenis Vaksin

Jenis Vaksin
Bacterial
WHOLE CELL :
BCG Pertussis Cholera Live typhoid TOXOID : Tetanus Diphtheria Pertussis toxin SURFACE Ag : Acellular pertussis POLYSACCHARIDE : Meningo Pneumo Typhim Vi CONJUGATE POLYSACCHARIDE : Hib

Viral
WHOLE VIRUS :
Measles Mumps Rubella Varicella Poliomyelitis IPV OPV Yellow Fever Rabies Hepatitis A SPLIT VIRUS Influenza RECOMBINANT SURFACE Ag : Hepatitis B

4. Kontraindikasi Imunisasi f. Penyakit demam akut g. Imunodefisiensi h. Ibu hamil, leukemia, limfoma, obat imunosupresi, terapi radiasi. i. Terapi gama globulin, transfusi darah. j. Riwayat alergi sebelumnya terhadap vaksin yang sama. 5.Jadwal Imunisasi

6. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan imunisasi a. Status imun penjamu b. Faktor genetik penjamu c. Kualitas dan kuantitas vaksin 7. Respon Imun pada Imunisasi

Pemberian vaksin sama dengan pemberian antigen pada tubuh. Jika terpajan oleh antigen, baik secara alamiah maupun melalui pemberian vaksin, tubuh akan bereaksi untuk menghilangkan antigen tersebut melalui sistem imun. 8. Imunisasi pada Remaja Pada usia sekolah dan remaja diperlukan vaksinasi ulang atau booster untuk hampir semua jenis vaksinasi dasar yang ada pada usia lebih dini. Masa tersebut sangat penting untuk dipantau dalam upaya pemeliharaan kondisi atau kekebalan tubuh terhadap berbagai macam penyakit infeksi yang disebabkan karena kuman, virus maupun parasit dalam perjalanannya menuju dewasa.

B. IMUNISASI DIFTERI DAN TETANUS 1. Imunisasi DPT Imunisasi DPT adalah suatu vaksin 3-in-1 yang melindungi terhadap difteri, pertusis dan tetanus. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang fatal. Pertusis (batuk rejan) adalah infeksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan yang melengking. Pertusis berlangsung selama beberapa minggu dan dapat menyebabkan serangan batuk hebat sehingga anak tidak dapat bernafas, makan atau minum. Pertusis juga dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti pneumonia, kejang dan kerusakan otak.Tetanus adalah infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang. Vaksin DPT adalah vaksin 3-in-1 yang bisa diberikan kepada anak yang berumur kurang dari 7 tahun. Biasanya vaksin DPT terdapat dalam bentuk suntikan, yang disuntikkan pada otot lengan atau paha. Imunisasi DPT diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada saat anak berumur 2 bulan (DPT I), 3 bulan (DPT II) dan 4 bulan (DPT III); selang waktu tidak kurang dari 4 minggu. Imunisasi DPT ulang diberikan 1 tahun setelah DPT III dan pada usia prasekolah (5-6 tahun). Jika anak mengalami reaksi alergi terhadap vaksin pertusis, maka sebaiknya diberikan DT, bukan DPT. Setelah mendapatkan serangkaian imunisasi awal, sebaiknya diberikan booster vaksin Td pada usia 14-16 tahun kemudian setiap 10 tahun (karena vaksin hanya memberikan perlindungan selama 10 tahun, setelah 10 tahun perlu diberikan booster). Hampir 85% anak yang mendapatkan minimal 3 kali suntikan yang mengandung vaksin difteri, akan memperoleh perlindungan terhadap difteri selama 10 tahun.

DPT sering menyebakan efek samping yang ringan, seperti demam ringan atau nyeri di tempat penyuntikan selama beberapa hari. Efek samping tersebut terjadi karena adanya komponen pertusis di dalam vaksin. Pada kurang dari 1% penyuntikan, DPT menyebabkan komplikasi berikut: 1. 2. demam tinggi (lebih dari 40,5 Celsius). kejang - kejang demam (resiko lebih tinggi pada anak yang sebelumnya pernah mengalami kejang atau terdapat riwayat kejang dalam keluarganya). 3. syok (kebiruan, pucat, lemah, tidak memberikan respon). Jika anak sedang menderita sakit yang lebih serius dari pada flu ringan, imunisasi DPT bisa ditunda sampai anak sehat. Jika anak pernah mengalami kejang, penyakit otak atau perkembangannya abnormal, penyuntikan DPT sering ditunda sampai kondisinya membaik atau kejangnya bisa dikendalikan. 1-2 hari setelah mendapatkan suntikan DPT, mungkin akan terjadi demam ringan, nyeri, kemerahan atau pembengkakan di tempat penyuntikan. Untuk mengatasi nyeri dan menurunkan demam, bisa diberikan asetaminofen (atau ibuprofen). Untuk mengurangi nyeri di tempat penyuntikan juga bisa dilakukan kompres hangat atau lebih sering menggerak-gerakkan lengan maupun tungkai yang bersangkutan. 2. Imunisasi DT Difteri adalah suatu penyakit akut yang bersifat toxin-mediated disease dan disebabkan oleh kuman gram positif Corynebacterium diphteriae. Produksi toksin terjadi hanya bila kuman tersebut mengalami lisogenasi oleh bakteriofag yang mengandung informasi genetik toksin. Tetanus adalah suatu penyakit akut, bersifat fatal disebabkan oleh eksotoksin bakteri Clostridium tetani. Clostridium tetani adalah bakteri gram positif, berbentuk batang, bersifat anaerobik, dan mampu menghasilkan spora berbentuk drumstick. Kuman ini sensitif terhadap suhu panas dan tidak bisa hidup dalam lingkungan beroksigen. Sebaliknya, spora tetanus sangat tahan panas, dan kebal terhadap beberapa antiseptik. Spora dapat tetap hidup dalam autoklaf bersuhu 121C selama 10-15 menit. Kuman ini banyak tersebar dalam kotoran dan debu jalanan, usus dan tinja kuda, domba, anjing, kucing, tikus, dan lainnya. Kuman ini masuk melalui luka dan dalam suasana anaerobik, kemudian terjadi produksi toksin (tetanospasmin) dan menyebar melalui darah dan limfe. Toksin ini kemudian menempel pada reseptor sistem saraf. Gejala utama penyakit ini timbul akibat toksin tetanus mempengaruhi pelepasan neurotransmitter, yang berakibat penghambatan impuls inhibisi. Akibatnya terjadi

kontraksi serta spastisitas otot yang tidak terkontrol, kejang dan gangguan sistem saraf autonom.

Imunisasi DT memberikan kekebalan aktif terhadap toksin yang dihasilkan oleh kuman penyebab difteri dan tetanus. Vaksin DT dibuat untuk keperluan khusus, misalnya pada anak yang tidak boleh atau tidak perlu menerima imunisasi pertusis, tetapi masih perlu menerima imunisasi difteri dan tetanus. Jadwal Pemberian: 1. Menurut ADAI (2008), dT/TT diberikan sebanyak 1 dosis pada remaja usia 12 tahun yang sudah melengkapi vaksinasi DTP/DTaP. Dosis dT atau TT adalah 0,5 ml, diberikan secara intramuskular, pada daerah deltoid. 2. Remaja yang memerlukan vaksin tetanus toksoid dalam manajemen luka harus diberikan dT jika remaja tersebut belum pernah mendapat dT. Jika Td tidak tersedia berikan TT (tetanus toksoid).

Menurut CDC (2006) terdapat 3 jenis reaksi yang dapat dijumpai setelah vaksinasi: 1. Reaksi ringan berupa sakit, merah dan bengkak, demam ringan paling tidak 37C, sakit kepala, lelah, mual, muntah, diare, sakit perut, menggigil, sakit sendi, ruam, pembengkakan kelenjar getah bening regional. 2. Reaksi sedang berupa demam lebih dari 38,8C, mual, muntah, diare, sakit perut, sakit kepala. 3. Reaksi berat belum pernah dilaporkan terjadi pada remaja, tetapi pernah ditemukan pada orang dewasa. Reaksi ini berupa gangguan sistem saraf pusat. 4. Selain reaksi lokal yang dijumpai pada tempat suntikan bisa juga dijumpai pembengkakan lengan yang ektensif dan reaksi Arthus. Reaksi Arthus adalah vaskulitis lokal yang terjadi karena adanya deposit komples antigen-antibodi. Kompleks antigen-antibodi ini terjadi jika terdapat titer vaksin yang tinggi serta titer antibodi yang tinggi. Tanda-tanda reaksi Arthus adalah sakit, bengkak, indurasi, edema, perdarahan, dan nekrosis pada tempat suntikan. Gejala timbul 4-12 jam setelah vaksinasi. Kontraindikasi: 1. Reaksi anafilaksis pada pemberian sebelumnya, baik terhadap vaksin maupun komponennya.

2. Alergi berat terhadap latex. 3. Ensefalopati (koma atau kejang) dalam waktu 7 hari setelah vaksinasi. 4. Keadaan lain dapat dinyatakan sebagai perhatian khusus (precaution), sebelum pemberian vaksin pertusis berikutnya bila pada pemberian pertama dijumpai, hiperpireksia, keadaan hipotonik-hiporesponsif dalam 48 jam, kejang dalam 3 hari sesudahnya, reaksi Arthus, dan Guillain-Barre Syndrome. 5. Reaksi tipikal lokal yang sering dijumpai adalah sakit pada daerah injeksi, merah, indurasi, demam dan sakit kepala. 3. Imunisasi TT Imunisasi tetanus (TT, tetanus toksoid) memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tetanus. ATS (Anti Tetanus Serum) juga dapat digunakan untuk pencegahan (imunisasi pasif) maupun pengobatan penyakit tetanus. Kepada ibu hamil, imunisasi TT diberikan sebanyak 2 kali, yaitu pada saat kehamilan berumur 7 bulan dan 8 bulan. Vaksin ini disuntikkan pada otot paha atau lengan sebanyak 0,5 mL. Efek samping dari tetanus toksoid adalah reaksi lokal pada tempat penyuntikan, yaitu berupa kemerahan, pembengkakan dan rasa nyeri.