Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Ketahanan pangan merupakan hal yang sangat penting dan strategis, mengingat pangan merupakan kebutuhan dasar manusia. Hak atas pangan merupakan bagian yang penting dalam bagian hak asasi manusia. Tingkat mutu Pola konsumsi pangan yang masih belum beragam, bergizi dan seimbang di Indonesia terutama di Sulawesi Utara menunjukan bahwa keadaan ketahanan pangan yang belum maksimal. Hal ini ditunjukan berdasarkan hasil survei Badan Ketahanan Pangan Sulawesi Utara, dari skor Pola Pangan Harapan (PPH) baru sebesar 87,8 atau kurang dari skor PPH ideal sebesar 100 (BKP SULUT, 2011). Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dan tersedianya pangan secara cukup, baik dalam jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Ketahanan Pangan itu sendiri tidak sematamata hanya mencakup aspek produksi saja, tetapi mencakup aspek yang lebih luas yaitu ketersediaan, distribusi dan konsumsi . Aspek konsumsi merupakan merupakan bagian penting dalam mencapai ketahanan pangan yang maksimal. (BKP SULUT, 2011). Program diversifikasi merupakan salah satu pilar ketahanan pangan yang dapat membantu terwujudnya pola pangan harapan yang maksimal.Pemerintah Indonesia sejak tahun 1960-an telah merintis upaya perbaikan kualitas makanan dan gizi keluarga melalui berbagai program atau kegiatan perbaikan menu makanan rakyat. Upaya tersebut diawali dengan pelaksanaan Applied Nutrition Program (ANP) yang merupakan cikal bakal program Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK). Kemudian sejak tahun 1990, di Departemen Pertanian untuk memperbaiki gizi dan peningkatan pendapatan keluarga miskin terutama di pedesaan telah melaksanakan Program Diversifikasi Pangan dan Gizi (Badan Ketahanan Pangan Departemen Pertanian, 2009). Kegunaan PPH dapat diimplementasikan dalam perencaan kebutuhan konsumsi dan penyediaan pangan, oleh sebab itu PPH merupakan instrumen untuk

menilai situasi konsumsi pangan penduduk, baik dari segi jumlah maupun komsumsi pangan menurut jenis pangan, skor PPH merupakan indikator mutu gizi dan keragaman konsumsi pangan sehingga dapat digunakan untuk merencanakan kebutuhan konsumsi pangan tahun-tahun berikutnya. Dengan pendekatan PPH, maka perencanaan produksi dan penyediaan pangan dapat didasarkan pada patokan imbangan komoditas seperti yang telah terumuskan dalam PPH (9 kelompok pangan), untuk mencapai sasaran kecukupan pangan dan gizi penduduk). Konsumsi pangan yang tidak beragam, menu makanan, mutu gizi dan status gizi sangat berpengaruh pada gangguan fisik, mental dan kecerdasaan, semakin tinggi skor mutu gizi konsumsi pangan semakin kecil pula resiko penyakit sehingga hasilnya berdampak pada pembangunan sumber daya manusia yang sehat, tangguh fisik, mental dan cerdas. Oleh sebab itu pendekatan pembangunan kesehatan pangan perlu diarahkan untuk mengkonsumsi pangan beragam, bergizi, dan seimbang, dengan jalan menumbuhkan minat melalui Gerakan Percepatan Penganekaragam Konsumsi Pangan (BKP SULUT, 2011). Badan Ketahanan Panganmerupakan Lembaga Teknis Daerah yang

merupakan unsur pendukung tugas Gubernur mempunyai tugas melaksankan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik dibidang Ketahanan Pangan. Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara memiliki fungsi yang diatur sesuai dengan SK Gub. No. 4 tahun 2010 dan visi yaitu terwujudnya Ketahanan Pangan Tingkat Rumah Tangga Menuju Kemandirian Pangan dan Kesejahteraan Masyarakat dan mempunyai landasan hukum yaitu Peraturan Gubernur No.18 Tahun 2010 tentang Gerakan Percepatan

Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal (BKP SULUT 2011). Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik membahas tentang gambaran program diversifikasi pangan di Sulawesi Utara melalui kegiatan magang Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi tahun 2012.

1.2 Tujuan Magang 1.2.1 Tujuan Umum

Diharapkan selesai mengikuti kegiatan magang, peserta magang telah mampu dan terampil dalam mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan praktik yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi, serta memperoleh gambaran mengenai tugas, fungsi dan tanggung jawab Sarjana Kesehatan Masyarakat di Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara. 1.2.2 Tujuan Khusus

1.2.2.1.Bagi Peserta Magang 1. Mampu mengidentifikasi dan menjelaskan tentang organisasi,sistem

manajemen, prosedur kerja dan ruang lingkup pelayanan di Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara. 2. Mampu mengidentifikasi masalah, merumuskan dan memberikan alternatif pemecahan masalah (problem solving) yang ada di Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara. 3. Mampu melakukan tindakan-tindakan standar yang umum dilaksanakan dalam bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat, ditekankan pada bidang minat Gizi Kesehatan Masyarakat. 4. Mampu bekerja sama dengan orang lain dalam satu tim sehingga diperoleh manfaat bersama baik bagi peserta magang maupun di Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara. 1.2.2.2.Bagi Fakultas dan Tempat Magang 1. Fakultas mendapat masukan yang berguna untuk penyempurnaan kurikulum dalam upaya mendekatkan diri dengan kebutuhan pasar kerja. 2. Memberikan masukan yang bermanfaat bagi Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara. 3. Membina dan meningkatkan kerja sama antara Fakultas Kesehatan MasyarakatUniversitas Sam Ratulangidengan Badan Ketahanan

PanganProvinsi Sulawesi Utara.

4. Membuka peluang kerja bagi para lulusan untuk berkarir di Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara.

1.3 Manfaat Magang 1.3.1 Bagi Mahasiswa 1. Mendapatkan pengalaman dan keterampilan yang berhubungan dengan bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat, khususnya Gizi Kesehatan Masyarakat. 2. Terpapar dengan kondisi dan pengalaman kerja di lapangan. 3. Mendapatkan pengalaman menggunakan metode analisis masalah yang tepat terhadap permasalahan yang ditemukan di Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara. 4. Memperkaya kajian dalam bidang ilmu kesehatan masyarakat terutama sesuai bidang minat Gizi Kesehatan Masyarakat. 5. Penemuan baru mengenai analisis permasalahan dan kiat-kiat pemecahan masalah kesehatan. 6. Memperoleh gambaran peluang kerja bagi Sarjana Kesehatan Masyarakat. 7. Mendapat bahan untuk penulisan skripsi / karya ilmiah. 1.3.2 Bagi Tempat Magang 1. Tempat magang dapat memanfaatkan tenaga terdidik dalam membantu penyelesaian tugas-tugas yang ada sesuai kebutuhan di Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara. 2. Badan Ketahanan Pangan mendapatkan alternatif calon pegawai / karyawan yang telah dikenal kualitas dan kredibilitasnya. 3. Turut berpartisipasi dalam peningkatan kualitas pendidikan perguruan tinggi dalam menciptakan lulusan yang berkualitas, trampil dan memiliki pengalaman kerja. 1.3.3 Bagi Fakultas 1. Laporan magang dapat menjadi salah satu bahan audit internal kualitas pengajaran. 2. Memperkenalkan program kepada stakeholders terkait.

3. Terbinanya jaringan kerja sama dengan Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara dalam upaya meningkatkan keterkaitan dan kesepadanan antara substansi akademik dengan pengetahuan dan keterampilan sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam pembangunan kesehatan masyarakat.

1.4 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Magang Waktu pelaksanaan magang selama 3 minggu 4 hari, yaitu mulai dari tanggal 25 Juni 2012sampai dengan 19 juli 2012 dan tempat pelaksanaan magang di Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara.

BAB II GAMBARAN UMUM

2.1. Analisis Situasi Umum 2.1.1 Tugas dan Fungsi Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara.

2.1.1.1 Tugas Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara. Sesuai dengan peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Utara Nomor 4 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Lembaga Teknis Daerah dan Lembaga Lain Provinsi Sulawesi Utara, maka tugas Badan Ketahanan Pangan merupakan unsur pendukung tugas Gubernur yang mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik di bidang ketahanan pangan. 2.1.1.2 Fungsi Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud, Badan Ketahanan Pangan menyelenggarakan fungsi : 1. 2. Perumusanan kebijakan teknis. Penyusunan perencanaan, pengkoordinasian, dan pembinaan pelaksanaan tugas. 3. Pemberian dukungan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah di bidang ketahanan pangan. 4. Penyelenggaraan urusan administrasi, kesekretariatan, ketersediaan pangan, distribusi dan harga pangan, konsumsi pangan, dan keamanan dan kerawanan pangan. 5. Pelaksanaaan tugas lain yang diberikan oleh Gubernur.

2.1.2. Visi dan Misi Badan Ketahanan Pangan 2.1.2.1 Visi Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara Berpijak dari visi, misi, sasaran pembangunan pertanian Provinsi Sulawesi Utara, maka visi Pembangunan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara Tahun 20112015 adalah Terwujudnya Ketahanan Pangan Tingkat Rumah TanggaMenuju Kemandirian Pangan danKesejahteraan Masyarakat.

Pengertian visi Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara yakni: 1. Ketahanan Pangan adalahkondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. 2. Kemandirian Pangan adalahkemampuan produksi pangan dalam negeri (daerah) yang didukung kelembagaan ketahanan pangan yang mampu menjamin pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup di tingkat rumah tangga, baik jumlah, mutu, keamanan, maupun harga yang terjangkau, yang didukung oleh sumber-sumber pangan yang beragam sesuai dengan keragaman lokal. 2.1.2.2. Misi Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara 1. Meningkatkan profesionalisme, kualitas, kinerja dan pelayanan aparatur pemerintah bidang ketahanan pangan. 2. Mengembangan koordinasi terkait dan dalam sinergitas peran dan fungsi antar

stakeholder/instansi

perumusan

kebijakan,

pelaksanaan,

pemantauan dan evaluasi. 3. Mendorong dan memfasilitasi peran serta masyarakat dalam mewujudkan ketahanan pangan pada tingkat rumah tangga dan daerah berbasis sumberdaya dan budaya lokal. 4. Memantapkan diversifikasi konsumsi pangan sebagai pilar utama dalam perwujudan ketahanan pangan. 5. Memantapkan kelembagaan ketahanan pangan masyarakat sebagai pemacu dan pemicu pembangunan ketahanan pangan menuju kemandirian pangan. 6. Meningkatkan kualitas dan kuantitas kebijakan di bidang ketahanan pangan melalui pengkajian dan analisis ketahanan pangan. 2.1.3. Letak Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara terletak dijalan Martadinata No. 9 Manado, Sulawesi Utara.

2.1.4. Ketenagaan Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara memiliki jumlah pegawai sebanyak 71 pegawai, terdiri dari laki-laki 35 pegawai dan perempuan 36 pegawai dengan tingkat pendidikan yang beragam: S2 berjumlah 4 pegawai, S1 berjumlah 28 pegawai, D3 berjumlah 3 pegawai, dan SLTA berjumlah 36 pegawai. 2.1.5. Wilayah Kerja Wilayah kerja Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara meliputi 15 kabupaten/kota di Sulawesi Utara, yaitu sebagai berikut: 1. Kabupaten Kepulauan Sangihe 2. Kabupaten Kepulauan Talaud 3. Kabupaten Minahasa 4. Kabupaten Minahasa Selatan 5. Kabupaten Minahasa Utara 6. Kota Tomohon 7. Kabupaten Bolaang Mongondow 8. Kota Manado 9. Kota Bitung 10. Kabupaten Minahasa Tenggara 11. Kabupaten Bolaang Mongondow Utara 12. Kota Kotamobagu 13. Kabupaten Kepulauan SITARO 14. Kabupaten Bolaang Timur 15. Kabupaten Bolaang Selatan

2.2.1.5. Struktur Organisasi Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara Struktur organisasi Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara dapat dilihat pada Gambar 1.
KEPALA BADAN Ir. P. Rene Hosang, M.Si

SEKRETARIS Ir. Lucia R. Turangan, Msi. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL


KEPALA SUB BAGIANHUKUM dan KEPEGAWAIAN Dra. Ventje F. Malonda KEPALA SUB BAGIAN PERENCANAAN dan KEUANGAN Della D. Pontoh, STP, MS KEPALA SUB BAGIANUMUM

Dra. Jans D. Mongkaren

KEPALA BIDANG KETERSEDIAAN PANGAN

KEPALA BIDANG DISTRIBUSI dan HARGA PANGAN Ir. Norry Kapojos

KEPALA BIDANG KONSUMSI PANGAN

KEPALA BIDANG KEAMANAN dan KERAWANAN PANGAN Ir. Hilbert Takaendengan

Ir. Grietje Andries

Ir. Grace K.I. Kumaat

KEPALA SUB BIDANG SUMBER DAYA PANGAN

KEPALA SUB BIDANG DISTRIBUSI PANGAN

KEPALA SUB BIDANG TEKNOLOGI PANGAN

KEPALA SUB BIDANG MUTU dan KEAMANAN PANGAN Ir. Tri Teguh Santoso

Meity B. Ngantung, SE, MM

Herman Sonda, SPt

Radhiah Hamadi, STP, Msi.

KEPALA SUB BIDANG PENGEMBANGAN CADANGAN PANGAN Ir. Jaily T. Wangko

KEPALA SUB BIDANG AKSES dan HARGA PANGAN Ir. Laila Kiay Mardjo

KEPALA SUB BIDANG PENGANEKARAGAMAN KONSUMSI PANGAN Jemmy Jopy Pandey, SE

KEPALA SUB BIDANG KERAWANAN PANGAN

Drs. P. J. Ronald Sepang

Gambar 2.1 Struktur Organisasi Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara

2.2. Analisis Situasi Khusus Salah satu bidang dari empat (4) bidang yang ada di Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara adalah Bidang Konsumsi Pangan. Di bidang inilah penempatan selama 4 (empat) minggu pelaksanaan magang. 2.2.1. Deskripsi Tentang Organisasi Bidang Konsumsi Pangan Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara Bidang Konsumsi Pangan mempunyai struktur organisasi yakni sebagai berikut: 1. Kepala Bidang Konsumsi Pangan 2. Kepala Sub Bidang Teknologi Pangan 3. Kepala Sub Bidang Penganekaragaman Konsumsi Pangan 4. Staf-Staf 2.2.2. Tugas dan Fungsi Bidang Konsumsi Pangan Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara 2.2.2.1. Tugas Bidang Konsumsi Pangan Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara Tugas dari Bidang Konsumsi Pangan ini sesuai dengan Peraturan Gubernur Sulawesi Utara Nomor 67 Tahun 2008 tentang Uraian Tugas Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara yakni Bidang Konsumsi Pangan melaksanakan tugas penyelenggaraan di Bidang Teknologi Pangan dan Penganekaragaman Konsumsi Pangan serta tugas lain yang diberikan oleh Kepala Badan. 2.2.2.2. Fungsi Bidang Konsumsi Pangan Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud, Bidang Konsumsi Pangan mempunyai fungsi yakni sebagai berikut: 1. Pemberian pelayanan administrasi dilingkungannya 2. Penyusunan rencana dan pelaporan kegiatan 3. Pengkoordinasian pelaksanaan tugas konsumsi pangan 4. Penyelenggaraan urusan teknologi pangan 5. Penyelenggaraan urusan penganekaragaman konsumsi pangan Bidang Konsumsi Pangan terdapat 2 (dua) sub bidang yakni Sub Bidang Teknologi Pangan dan Sub Bidang Penganekaragaman Konsumsi Pangan. Adapun tugas dari kedua sub bidang tersebut adalah sebagai berikut:

10

1. Tugas Sub Bidang Teknologi Pangan adalah sebagai berikut: a. Melaksanakan pelayanan administrasi dan mengkoordinasikan

pelaksanaan tugas. b. Melakukan pengembangan teknologi pengolahan pangan alternatif khas daerah. c. Identifikasi dan pengumpulan bahan/informasi teknologi pangan yang diterapkan industri rumah tangga serta masyarakat umumnya. d. Membuat bahan rekomendasi dan sosislisasi teknologi terapan pengolahan pangan alternatif khas daerah yang padat gizi dimasyarakat. e. Melakukan monitoring dan fasilitasi penerapan teknologi pengolahan panganalternatif khas daerah (pangan lokal) pada industri rumah tangga. f. Melaksanakan uji coba dan rekayasa ulang teknik pengolahan pangan lokal untuk menghasilkan produk olahan pangan yang bergizi. g. Menyusun pengembangan makanan tradisional daerah dan makanan khas nusantara. h. Membuat bahan pembinaan, sosialisasi dan pengawasan mutu makanan jajanan. i. Membuat dan menyusun laporan kegiatan. j. Melaksanakan tugas lain yang diberikan Kepala Bidang. 2. Tugas Sub Bidang Penganekaragaman Konsumsi Pangan a. Melaksanakan pelayanan administrasi dan mengkoordinasikan

pelaksanaan tugas. b. Menyusun identifikasi jenis dan kemampuan penyediaan pangan lokal dalam rangka pengembangan penganekaragamanan konsumsi pangan dan gizi. c. Membuat bahan/data untuk pelaksanaan gerakan percepatan

pengembangan dan penganekaragaman konsumsi pangan dan gizi berbasis pangan lokal. d. Melaksanakan peningkatan peran serta masyarakat untuk berpartisipasi aktif mengembangkan penganekaragaman konsumsi sesuai potensi wilayah.

11

e. Mengumpulkan dan menghimpun bahan/data dan penyusunan rumus Pola Pangan Harapan (PPH). f. Melaksanakan pemantauan pengembangan penganekaragaman konsumsi pangan dan gizi berdasarkan Pola Pangan Harapan. g. Menyusun optimasi pemanfaatan pekarangan dan potensi sumber daya pangan lainnya dalam pengembangan penganekaragaman konsumsi pangan dan gizi masyarakat. h. Membuat bahan informasi/data serta analisis pola konsumsi pangan dan gizi masyarakat. i. Membuat bahan dalam rangka penyusunan pola bimbingan dan sesuai sosialisasi penganekaragaman konsumsi pangan dan gizi masyarakat. j. Menyusun petunjuk teknis gerakan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan dan gizi. k. Membuat dan menyusun laporan kegiatan. l. Melaksanakan tugas lain yang diberikan Kepala Bidang.

12

BAB III HASIL KEGIATAN

3.1 Uraian Kegiatan Kegiatan magang dilaksanakan di Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara sejak tanggal 25 juni 2012 sampai dengan tanggal 19 juli 2012 sesuai dengan Pedoman Magang yang disediakan oleh Panitia Magang. Adapun dalam pelaksanaan kegiatan magang ini saya ditempatkan di Bidang Konsumsi Pangan. Dalam pelaksanaan magang ini, kami mengikuti sesuai hari kerja Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara yaitu dari hari Senin hingga Jumat. Secara umum kegiatan yang dilakukan dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Pertemuan dengan Kepala Sub Bagian Hukum dan Kepegawaian sekaligus Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Adapun pertemuan yang dilakukan menyangkut: a. Diskusi mengenai gambaran umum Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara. b. Diskusi mengenai maksud dan tujuan magang c. Pengarahan mengenai tempat lokasi kerja di Badan Ketahanan Pangan Sulawesi Utara. d. Pembimbingan selama berada di Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara tentang situasi dan permasalahan yang ditemukan pada bidang Konsumsi Pangan. 1. Diskusi tentang Undang-Undang No.7 tahun 1996 tentang pangan. 2. Penjelasan mengenai profil Badan Ketahanan Sulut. 2. Mengikuti apel pagi setiap hari Senin sampai dengan hari Jumat bersama seluruh staf dan pegawai yang ada di Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara. 3. Mengikuti Ibadah bersama staf dan pegawai yang dilaksanakan setiap hari Kamis dalam minggu ke II dan IV bulan berjalan. 4. Mencatat dan mengoreksi arsip SK. BKP sulawesi utara. 5. Turun Lapangan dalam rangka Survei Konsumsi Pangan di Kota Bitung

13

pada hari rabu, 27 juni 2012. 6. Rekapitulasi data Food Recall 24 jam dalam survei Konsumsi Pangan di Kota Bitung dan Minahasa Selatan. 7. Diskusi dengan petugas survei pola konsumsi makanan di Kota Bitung 8. Diskusi dengan Kepala Bidang Konsumsi Pangan dan Kepala Sub Bidang Teknologi Pangan, serta Kepala Sub Bidang Penganekaragaman Konsumsi Pangan. 9. Mengikuti kerja bakti di kantor Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara.

3.2. Identifikasi Masalah dan Prioritas Masalah Berdasarkan hasil kegiatan magang yang dilakukan dari tanggal 25Juni 2012 sampai dengan 19 Juli 2012 di Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara, ditemukan bahwa kualitas konsumsi penduduk sulawesi utara ini diketahui dari jenis pangan yang dikonsumsi. Jenis pangan yang beraneka ragam merupakan syarat penting untuk menghasilkan pola konsumsi yang bermutu gizi seimbang. Parameter yang digunakan untuk menilai tingkat keanekaragaman dan keseimbangan konsumsi pangan adalah Pola Pangan Harapan (PPH) yang memuat jenis dan jumlah kelompok pangan yang dianjurkan untuk dikonsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman. Sesuai hasil analisis data survei Pola konsumsi Pangan di Provinsi Sulawesi Utara pada tingkat rumah tangga tahun 2011 menunjukan bahwa : a. Masyarakat Sulawesi Utara mengkonsumsi pangan dalam jumlah yang masih kurang dari Angka Kecukupan Energi ideal sebesar 2.000 kkal/hari. Hal ini ditunjukan dalam jumlah kalori/energi yang dikonsumsi baru sebesar 1.975 kkal perkapita perhari, jumlah tersebut baru mencapai 98,7% dari rata-rata angka kecukupan energi ideal sebesar 2.000 kkal (WNPG 2004), namun dilihat dari klasifikasi tingkat konsumsi pangan termasuk dalam katergori normal. b. Tingkat mutu pola konsumsi Pangan masyarakat belum beragam, bergizi dan seimbang. Hal ini ditunjukan dari skor PPH baru sebesar 87,8 atau kurang dari PPH ideal sebesar 100.

14

c. Tingkat konsumsi pangan padi-padian menyumbangkan energi sebesar 1.159,5 kkal (58,7%) dari total energi 1.975 kkal. Dimana bahan pangan beras memberikan kontribusi terbesar yaitu 1.150,2 kkal, selanjutnya terigu 8,6 kkal, dan jagung 0,7 kkal. Sedangkan konsumsi energi pangan ini sudah melebihi jumlah konsumsi yang dianjurkan sebesar 1.000 kkal (WNPG2004). d. Tingkat konsumsi pangan umbi-umbian memberikan kontribusi energi sebesar 69,5 kkal (3,5%) dari total konsumsi energi sebesar 1.975. Dimana, energi tersebut berasal dari bahan pangan Ketela pohon 55,5 kkal, Ubi jalar 4,4 kkal, Sagu 0,2 kkal, dan Talas 8,9 kkal, serta kentang 0,6 kkal. Total konsumsi energi kelompok pangan umbi-umbian masyarakat Sulawesi Utara sebesar 69,5 kkal yang berarti masih dibawah dari konsumsi energi yang dianjurkan sebesar 120 kkal (WNPG 2004). e. Tingkat konsumsi pada kelompok pangan hewani menyumbangkan energi sebesar 196,0 kkal atau 9,9% dari total konsumsi energi 1.975 kkal, yang berarti konsumsi tersebut masih lebih rendah bila dibandingkan dengan konsumsi energi kelompok pangan yang dianjuran WNPG 2004 sebesar 240 kkal. f. Tingkat konsumsi pangan pada kelompok pangan minyak dan lemak memberikan kontribusi energi sebesar 287,2 kkal atau 14,5 % dari total konsumsi energi sebesar 1.975 kkal, yang berarti konsumsi tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan konsumsi energi kelompok pangan minyak dan lemak yang dianjurkan dalam WNPG 2004 sebesar 200 kkal. g. Tingkat konsumsi terhadap kelompok pangan buah/biji berminyak

menyumbangkan energi sebesar 36,9 kkal atau 1,9% dari total konsumsi energi 1.975 kkal, yang berarti konsumsi tersebut masih kurang dari konsumsi energi kelompok pangan buah/biji berminyak yang dianjurkan dalam WNPG 2004 sebesar 60 kkal. Tingkat konsumsi kelompok pangan sayur dan buah menyumbangkan energi sebesar 123,6 kkal atau 6,3% dari total konsumsi energi, yang berarti konsumsi tersebut melebihi total konsumsi energi kelompok pangan sayur dan buah yang dianjurkan WNPG 2004 sebesar 120 kkal. h. Tingkat konsumsi kelompok kacang-kacangan menyumbangkan energi

sebesar 40,3 kkal atau 2,0% dari total konsumsi energi tahuin 2011, yang berarti

15

konsumsi tersebut masih lebih rendah dari konsumsi energi yang dianjurkan WNPG 2004 sebesar 100 kkal. i. Tingkat konsumsi masyarakat terhadap kelompok pangan gula

menyumbangkan energi sebesar 59,8 kkal atau 3,0% dari total konsumsi energi, yang berarti konsumsi tersebut dibawah konsumsi energi kelompok gula yang dianjurkan WNPG 2004 sebesar 100 kkal. Selanjutnya hasil survei juga menunjukan bahwa konsumsi gula pasir memberikan konstribusi sebesar 57,0 kkal, sementara gula aren hanya sebesar 2,8 kkal. j. Secara umum komsumsi protein masyarakat Sulawesi Utara telah mencapai 54 gram/kapita/hari. Kebijakan pangan dari pemerintah yang dahulu belum memberikan perhatian yang seimbang terhadap pangan non-beras (diversifikasi pangan), disamping itu program pendidikan gizi dan pangan bagi masyarakat juga belum memadai. Berbagai bahan pangan lokal seperti umbi-umbian, jangung, sagu dan sebagainya dianggap sebagai bahan pangan alternatif, yang berakibat pada pola konsumsi pangan masyarakat yang didominasi oleh bahan pangan beras. Hal ini terlihat jelas dengan data yang ada pada Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara yakni konsumsi padi-padian warga Sulawesi Utara sangat tinggi yakni 60,84% yang telah melebihi target yang ditetapkan yakni 50%. Data mengenai Pola Pangan Harapan (PPH) Sulawesi Utara dapat dilihat pada Tabel3.1 (BKP SULUT 2011). Tabel 3.1. Konsumsi Energi per Kelompok Pangan dan Skor PPH Berdasarkan Survei Pola Konsumsi Pangan di Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2011
Kelompok Pangan Kalo ri 1159 69,5 196, 287, 36,0 40,3 59,8 123, 2,1 1975 Perhitungan Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Skor %AK Bobo Skor Skor % Aktu E t AKE Maks. al 58,7 3,5 9,9 14,5 1,9 2,0 3,0 6,3 0,1 100 58,0 3,5 9,8 14,4 1,8 2,0 3,0 6,2 0,1 98,7 0,5 0,5 2,0 0,5 0,5 2,0 0,5 5,0 0,0 11,5 29,4 1,8 19,8 7,3 0,9 4,1 1,5 31,3 0,0 96,1 29,0 1,7 19,6 7,2 0,9 4,0 1,5 30,9 0,0 94,9 25,0 2,5 24,0 5,0 1,0 10,0 2,5 30,0 0,0 100 Skor PPH 25,0 1,7 19,6 5,0 0,9 4,0 1,5 30,0 0,0 87,8

Padi-Padian Umbi-Umbian Pangan Hewani Minyak dan Lemak Buah/Biji Berminyak Kacang-Kacangan Gula Sayur dan Buah Lain-Lain Total
(Sumber: BKP SULUT, 2011)

16

Tabel 3.2. Komposisi Pangan Beragam, Bergizi dan Seimbang (per kapita perhari) sesuai Susunan Pola Pangan Harapan Nasional
Kelompok Pangan Padi-Padian Umbi-Umbian Pangan Hewani Minyak dan Lemak Buah/Biji Berminyak Kacang-Kacangan Gula Sayur dan Buah Lain-Lain Total
(Sumber: BKP SULUT, 2011)

Berat (gram) 275 100 150 20 10 35 30 250 -

Energi (kkal) 1000 120 240 200 60 100 100 120 60 2000

%AKE/G 50,0 6,0 12,0 10,0 3,0 5,0 5,0 6,0 3,0 100

Skor PPH 25,0 2,5 24,0 5,0 1,0 10,0 2,5 30,0 0,0 100,0

Berdasarkan perbandingan antara Tabel 3.1 dan Tabel 3.2, dapat dilihat bagaimana konsumsi pangan di Provinsi Sulawesi Utara, khususnya dalam golongan padi-padian. Terlihat jelas sesuai data yang ada bahwa konsumsi padipadian telah melebihi dari PPH ideal yang ditetapkan. Dimana sesuai dengan PPH Ideal, seharusnya konsumsi padi-padian adalah sebesar 50,0 %AKE/G, namun pada Tabel 3.1 terlihat konsumsi padi-padian di Sulawesi Utara telah melebihi PPH ideal yakni sebesar 61,3%AKE.Adapun kelompok Pangan Hewani, kacangkacangan yang masih jauh dari angka ideal, serta kelompok pangan yang lainnya yang belum memenuhi PPH ideal yang ditetapkan. Hal ini dikatakan menjadi suatu masalah karena terlihat melalui data yang ada, Pola Pangan Harapan (PPH) di Sulawesi Utara tahun 2011, konsumsi beras masyarakat melebihi dari PPH ideal, konsumsi umbi-umbian yang belum memenuhi PPH ideal, pangan hewani yang masih dibawah PPH ideal, dan kelompok pangan yang lain yang belum sesuai dengan ketentuan ideal PPH yang ditetapkan sesuai Susunan Pola Pangan Harapan Nasional yang didapatkan dalam Hasil Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi tahun 2004, seperti yang terlihat pada Tabel 3.2. Berdasarkan hasil analisis data survei pola konsumsi pangan Provinsi Sulawesi Utara tersebut ditemukan suatu masalah bahwa program diverifikasi konsumsi pangan yang belum maksimal.Hal ini dilihat dari belum tercapainya

17

pola konsumsi masyarakat yang bergizi seimbang, beragam, dan aman yang dinyatakan dalam Pola Pangan Harapan (PPH).

3.3. Alternatif Pemecahan Masalah Beberapa upaya Badan Ketahanan Provinsi Sulawesi Utara dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan yaitu : 1. Pengembangan industri pangan lokal berupa pemberian fasilitas alat pengolahan bahan pangan berupa alat penepung di daerah Sanger, Bolaang Mongondow, Minahasa, Minahasa tenggara yang semuanya 180 kelompok. 2. Pemanfaatan pekarangan rumah berupa kegiatan percontohan desa intensif pekarangan yang berjumlah 180 kelompok pada tahun 2010 sampai 2012. Kegiatan ini dilaksanakan dengan pemberian bibit benih tanaman. 3. Sosialisasi pangan beragam, bergizi dan seimbang di seluruh kabupaten/kota Provinsi Sulawesi Utara. 4. Setiap tahun dalam memperingati Hari Pangan Sedunia (HPS), diadakan lomba cipta menu yang berbahan pangan lokal (umbi-umbian, sagu, jagung) non beras disertai menyusun menu makan keluarga selama sehari. Lomba ini dilakukan secara berjenjang mulai dari tingkat Kecamatan, Kabupaten, Provinsi sampai tingkat pusat. Semuanya dilakukan guna meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya Diversifikasi Pangan 5. Pemberian bantuan dana oleh Badan Ketahanan Pangan Sulawesi Utara kepada sekolah-sekolah untuk pengadaan makanan bagi murid-murid di sekolah. Dalam hal ini pihak sekolah diberi hak mengolah makanan bergizi seimbang, bervariasi, dan aman. 6. Badan Ketahanan Pangan melaksanakan program penganekaragaman makananberupa program one day no rice yaitu satu hari tanpa mengkonsumsi nasi, serta program Percepatan Penganekaragaman

Konsumsi Pangan (P2KP).

18

Dari beberapa upaya tersebut, dilakukan analisis menentukan alternatif pemecahan masalah. 1. Strengtnees (Kekuatan)

SWOT untuk

a. Adanya kebijakan pemerintah daerah yang tertuang dalam Peraturan Gubernur Nomor 18 tahun 2010 tentang Gerakan Percepatan

Penganekaragamanan Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal. b. Adanya sosialisasi kepada kelompok masyarakat maupun sekolah-sekolah. c. Adanya bantuan berupa bibit tanaman dan alat pengolahan bahan pangan pada beberapa kelompok masyarakat. d. Adanya lomba cipta menu. e. Terjalin kerjasama antara pihak Badan Ketahanan Pangan Sulawesi Utara dengan Mahasiswa Fakultas Pertanian dalam pengolahan pangan. 2. Weakness (Kelemahan) a. Kurang maksimalnya sosialisasi yang dilakukan karena keterbatasan tenaga. b. Belum meratanya pemberian bantuan baik berupa bibit tanaman maupun alat pengolahan bahan pangan di Provensi Sulawesi Utara. 3. Opportunity (Peluang) a. Adanya lomba cipta menu dapat merangsang masyarakat dalam mendukung program diversifikasi ini, yaitu berupa terciptanya beraneka ragam makanan dari berbagai bahan pangan. b. Kerjasama dengan Mahasiswa Fakultas Pertanian dalam pengolahan pangan dapat meningkatkan teknologi pengolahan bahan pangan. 4. Threat (Ancaman) a. Pembagian daerah sosialisasi yang tidak merata di Sulawesi Utara. b. Kurangnya partisipasi masyarakat dalam melaksanakan program

Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan. Dari penjabaran prioritas masalah dengan menggunakan SWOT, maka ditemukan alternatif pemecahan masalahnya,sebagai berikut : 1. Meningkatan Sosialisasi program diversifikasi pangan di seluruh kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Utara.

19

2.

Peningkatan bantuan pengadaan alat pengolahan pangan secara merata di seluruh Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Utara.

3.

Pelatihan dan pemberdayaan kelompok masyarakat melalui pengembangan industri pangan lokal.

3.4. Kontribusi Bagi Instansi dan Peserta Magang Sesuai Tujuan dan Manfaat Magang 3.4.1. Bagi Institusi Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara Pelaksanaan magang di Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara diharapkan dapat menghasilkan masukan dan pemikiran baik dalam pelaksanaan maupun evaluasi kegiatan terhadap masalah-masalah yang ada di Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara terlebih khusus di Bidang Konsumsi Pangan. Melalui kegiatan magang ini diharapkan dapat menciptakan kerjasama yang baik antara pihak Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara dengan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi. 3.4.2. Bagi Mahasiswa Manfaat dari pelaksanaan magang ini bagi mahasiswa sendiri adalah sebagai berikut: a. Memperoleh pengalaman dalam kegiatan survei pola konsumsi pangan masyarakat dan pengetahuan dalam menghitung Pola Pangan Harapan (PPH) di provinsi Sulawesi Utara. b. Memperoleh pengetahuan secara menyeluruh tentang bagaimana orientasi kerja di Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Utara.

20

BAB IV PEMBAHASAN

4.1. Sekilas Mengenai Diversifikasi Konsumsi Pangan Pangan merupakan kebutuhan manusia yang paling asasi, sehingga ketersediaan pangan bagi masyarakat harus selalu terjamin. Manusia dengan segala kemampuannya selalu berusaha mencukupi kebutuhannya dengan berbagai cara. Kecukupan pangan bagi suatu bangsa merupakan suatu hal yang sangat strategis. Oleh karena itu sudah kewajiban pemerintah untuk menyediakan pangan yang cukup baik dari segi jumlah, mutu dan ketersediaannya yang terjangkau. Sehingga Kondisi ketahanan pangan dapat terpenuhi sesuai dengan undang-undang No. 7 Tahun 1996 yang menyatakan bahwa pengertian ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan yang tercermin dari tersedianya pangan secara cukup, baik dalam jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Konsep diversifikasi pangan bukan suatu hal baru dalam peristilahan kebijakan pembangunan pertanian di Indonesia karena konsep tersebut telah banyak dirumuskan dan diinterprestasikan oleh para pakar. Kasryno et al. (1993) memandang diversifikasi pangan sebagai upaya yang sangat erat kaitannya dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, pembangunan pertanian di bidang pangan dan perbaikan gizi masyarakat, yang mencakup aspek produksi, konsumsi, pemasaran, dan distribusi. Sementara Suhardjo (1998) menyebutkan bahwa pada dasarnya diversifikasi pangan mencakup tiga lingkup pengertian yang saling berkaitan, yaitu diversifikasi konsumsi pangan, diversifikasi ketersediaan pangan, dan diversifikasi produksi pangan. Kedua penulis tersebut

menterjemahkan konsep diversifikasi dalam arti luas, tidak hanya aspek konsumsi pangan tetapi juga aspek produksi pangan. Pakpahan dan Suhartini (1989) menetapkan konsep diversifikasi hanya terbatas pangan pokok, sehingga diversifikasi konsumsi pangan diartikan sebagai pengurangan konsumsi beras yang dikompensasi oleh penambahan konsumsi bahan pangan non beras. Secara lebih tegas, Suhardjo dan Martianto (1992) menyatakan dimensi diversifikasi konsumsi pangan tidak hanya terbatas pada diversifikasi konsumsi makanan pokok, tetapi juga makanan pendamping. (Anonim, 2010)

21

Dimensi diversifikasi pangan secara jelas dapat dibedakan antara apa yang dimaksud diversifikasi produksi pangan atau diversifikasi konsumsi pangan atau kedua-duanya. Konsep harus dipahami secara jelas, sehingga dimensi mana yang akan digunakan juga akan jelas, tidak tumpang tindih. Dimensi diversifikasi konsumsi pangan tidak hanya terbatas pada pangan pokok tetapi juga pangan jenis lainnya, karena konteks diversifikasi tersebut adalah untuk meningkatkan mutu gizi masyarakat secara kualitas dan kuantitas, sebagai usaha untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Upaya diversifikasi pangan masih perlu ditingkatkan guna menurunkan tingkat ketergantungan masyarakat terhadap beras. Sebab saat ini tingkat konsumsi beras di Indonesia mencapai 139 kilogram (kg) per kapita per tahun.Dinilai dari segi kesehatan setiap manusia membutuhkan gizi seimbang yang bukan diperoleh dari satu jenis saja. Jadi nasi bukan merupakan makanan satu-satunya penentu kesehatan (Anonim, 2012). Pemerintah sebagai penjamin terhadap ketersediaan pangan bagi warga negaranya, tidak bisa hanya terpaku kepada ketersediaan beras saja. Harus ada suatu diversifikasi pangan untuk menjamin ketahanan pangan. Pola pikir masyarakat Indonesia harus mampu diubah bahwa pangan itu hanya beras saja, sehingga budaya kalau belum makan nasi sama saja belum makan yang melekat di warga kita bisa ditanggalkan. Diversifikasi harus digalakkan dengan berusaha mengkonsumsi atau mengganti pola makan nasi dengan pangan lainnya seperti mie, ubi, sagu, dan lainnya yang nilai gizi dan kalorinya setara dengan nasi. China dan Vietnam mempunyai kebudayaan untuk memakan mie, India mempunyai kebudayaan memakan roti. Indonesia mempunyai beragam makanan, seperti Pecel, Gado-gado, Papeda dan lainnya yang tak kalah dengan China dan Vietnam dengan mie-nya, dan India dengan rotinya. Jumlah penduduk Indonesia yang pada saat sekarang ini merupakan suatu angka yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan pangannnya, sehingga tak heran bila ketahanan pangan Indonesia yang tidak pernah tertanggulangi akan menimbulkan ancaman kelaparan yang akhirnya dapat menimbulkan kerawanan terhadap kestabilan keamanan bangsa. Hal ini mengisyaratkan bahwa pemantapan ketahanan pangan harus dilakukan dengan diversifikasi pangan, mengandalkan

22

keunggulan keragaman sumberdaya bahan pangan, kelembagaan dan budaya (termaksuk budaya dan kebiasaan pangan) lokal, mengutamakan produksi dalam negeri, dan menjamin tersedianya pangan dan nutrisi dalam jumlah dan mutu yang dibutuhkan pada tingkat harga yang terjangkau, dan peningkatan pendapatan masyarakat terutama petani dan nelayan. (Anonim, 2010)

4.2. Manfaat Diversifikasi Pangan Hipocrates, seorang filosof Yunani menyatakan bahwa makanan mempunyai manfaat penting untuk pemeliharaan kesehatan dan penyembuhan penyakit.Dalam pernyartaannya tersirat bahwa ada zat-zat tertentu dalam makanan yang apabila dikonsumsi akan membantu membangun kesehatan seseorang. Sebaliknya, apabila zat tersebut tidak diperoleh dari makanan yang dikonsumsi, maka dapat menimbulkan penyakit.Kemudian hasil analisis kandungan gizi pada berbagai jenis pangan menunjukan tidak ada satu jenis pangan pun yang mengandung zat gizi yang lengkap yang mampu memenuhi semua zat gizi yang di butuhkan oleh manusia, kecuali ASI. Itupun hanya untuk bayi yang berusia 4-6 bulan lebih dari usia itu memerlukan makanan tambahan (Anonim, 2012). Kebijakan diversifikasi konsumsi pangan sangat diperlukan. Selain peningkatan kualitas sumberdaya manusia, dampak positif dari kebijakan diversifikasi konsumsi pangan antara lain memperkuat ketahanan pangan Indonesia, meningkatkan pendapatan petani dan agroindustri pangan, serta menghemat devisa negara (Anonim, 2012).

4.3. Program Diversifikasi Pangan di Sulawesi Utara Penganekaragaman konsumsi pangan seharusnya mengkonsumsi anekaragam pangan dari berbagai kelompok pangan, baik pangan pokok (sumber energi), lauk pauk (sumber protein nabati dan hewani), sayur maupun buah (sumber vitamin dan mineral) dalam jumlah yang cukup (Pusat Pengembangan Konsumsi Pangan, 2010). Salah satu parameter yang dipakai untuk menilai tingkat keanekaragaman dan keseimbangan konsumsi pangan adalah Pola Pangan Harapan (PPH). Secara fungsional, PPH dapat dikenal dengan istilah konsumsi pangan yang beragam,

23

bergizi dan berimbang yang dinyatakan dalam skor mutu pangan dengan nilai 100. Berdasarkan hasil Suvei Konsumsi Pangan tahun 2011 di Provinsi Sulawesi Utara, ditemukan bahwa konsumsi pangan khususnya golongan padipadian telah melebihi target konsumsi yang ditetapkan sesuai Susunan Pola Pangan Harapan Nasional yang bersumber dari Hasil Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi tahun 2004 yang terlihat pada Tabel 2. Hal ini menunjukan bahwa Program Diversifikasi Pangan di Propinsi Sulawesi Utara belum berjalan secara maksimal. Terjadinya kondisi seperti akibat dari belum maksimalnya pelaksanaan program dari pihak Badan Ketahanan Pangan (BKP) Provinsi Sulawesi Utara sehingga pelaksanaan program belum dapat mencakup seluruh masyarakat yang ada di Sulawesi Utara. Dalam pelaksanaan program ini, terdapat kendala yang berasal dari masyarakat itu sendiri dimana budaya masyarakat Sulawesi Utara dalam hal konsumsi pangan yang memiliki asumsi bahwa belum dikatakan makan kalau belum makan nasi. Hal ini akibat dari kurangnya kesadaran masyarakat itu sendiri akan konsumsi pangan beragam, bergizi, dan berimbang. Selain itu hal ini diakibatkan karena kurangnya kesadaran masyarakat dalam pemanfaatan pekarangan guna menanam berbagai sumber pangan lokal. Pihak Badan Ketahanan Pangan sendiri telah melakukan berbagai kegiatan untuk menanggulangi kendala yang ada di masyarakat seperti yang telah dijelaskan di atas yaitu dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut: a. Festival Pangan/ Lomba Cipta Menu tingkat Provinsi. Festival Pangan tahun 2010 dilaksanakan dalam bentuk Lomba Kreasi Cipta Menu Pangan Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman berbasis Potensi Sumberdaya Wilayah dan Displey Aneka Olahan Pangan Lokal. Kegiatan ini dilaksanakan bersamaan dengan acara peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke 30 tahun 2010 Tingkat Provinsi Sulawesi Utara pada tanggal 29 Oktober 2010 di pendopo Kantor Bupati Kabupaten Minahasa Utara. b. Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP).

Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk sosialisasi mengenai Program

24

Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan di Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Utara. c. Pengembangan industri pangan lokal yaitu pemberian fasilitas alat pengolahan bahan pangan berupa alat penepung di daerah Sangihe, Bolaang Mongondow, Minahasa, Minahasa tenggara yang semuanya 180 kelompok. d. Pemanfaatan pekarangan rumah berupa kegiatan percontohan desa intensif pekarangan yang berjumlah 180 kelompok pada tahun 2010 sampai 2012. Kegiatan ini dilaksanakan dengan pemberian bibit benih tanaman.

25

BAB V PENUTUP

5.1. Kesimpulan Berdasarkan data yang ada Program Diversifikasi Pangan di Propinsi Sulawesi Utara belum berjalan secara maksimal, sehingga pola konsumsi makanan belum memenuhi angka maksimal Pola Pangan Harapan. Terjadinya kondisi seperti akibat dari belum maksimalnya pelaksanaan program dari pihak Badan Ketahanan Pangan (BKP) Provinsi Sulawesi Utara yang dapat dilihat dari : 1. Pola Pangan Harapan yang belum mencapai titik maksimal 2. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pola konsumsi makanan yang bergizi seimbang, beranekaragam, dan aman bagi kesehatan 3. Kurangnya pelatihan kader dalam menunjang program diversifikasi pangan di Provinsi Sulawesi Utara dalam mensosialisasikan program diversifikasi. 4. Belum meratanya bantuan bibit tanaman dan alat pengolahan bahan pangandi seluruh wilayah Provinsi Sulawesi Utara Program diversifikasi makanan tetap harus dilakukan. Selain dapat

meningkatkan derajat kesehatan di masyarakat, juga dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dapat meningkatkan pendapatan bagi masyarakat tersebut.

5.2. Saran Berdasarkan masalah tersebut, maka saran yang dapat beberapa hal yang harus dilakukan yaitu : 1. Harus diadakannya pelatihan tenaga program diversifikasi pangan untuk mensosialisasikan program diversifikasi pangan. Kerja sama dengan berbagai pihak seperti sekolah dan kelompok masyarakat dapat membantu terbentuknya kader atau tenaga diversikasi yang dapat mempromosikan program-program yang ada. 2. Anggaran Badan Ketahanan Pangan harus ditingkatkan terutama dalam pengadaan alat pengolahan pangan dan penyediaan bibit tanaman unggul di masyarakat.

26

3. Pengawasan juga harus terus dilakukan tershadap semua pihak yang terkait dalam program diversifikasi pangan ini.

27

DAFTAR PUSTAKA

Fakultas Kesehatan Masyarakat Unsrat. 2012. Panduan Magang. Manado Almatsier, Sunita.2009. Prinsip Dasar Ilmi Gizi. PT SUN: Jakarta Anonim, 2009, Program Diversifikasi, dilihat 18 agustus 2012, (http://bkp.deptan.go.id/file/petapangan/) Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kota Manado. 2011: Profil badan pelaksana penyuluhan dan ketahanan pangan. Manado. Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat. 2010. PT RajaGrafindo Persada:Jakarta Peraturan Pemerintah No.28 tahun 2004 Tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan Peraturan Daerah Kota Manado No. 05 tahun 2008 Tentang Organisasi dan Tata Kerja

28

LAMPIRAN

29

30

Lampiran 2 Tabel 3.1. Konsumsi Energi per Kelompok Pangan dan Skor PPH Berdasarkan Survei Pola Konsumsi Pangan di Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2011
Kelompok Pangan Kalo ri 1159 69,5 196, 287, 36,0 40,3 59,8 123, 2,1 1975 Perhitungan Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Skor %AK Bobo Skor Skor % Aktu E t AKE Maks. al 58,7 3,5 9,9 14,5 1,9 2,0 3,0 6,3 0,1 100 58,0 3,5 9,8 14,4 1,8 2,0 3,0 6,2 0,1 98,7 0,5 0,5 2,0 0,5 0,5 2,0 0,5 5,0 0,0 11,5 29,4 1,8 19,8 7,3 0,9 4,1 1,5 31,3 0,0 96,1 29,0 1,7 19,6 7,2 0,9 4,0 1,5 30,9 0,0 94,9 25,0 2,5 24,0 5,0 1,0 10,0 2,5 30,0 0,0 100 Skor PPH 25,0 1,7 19,6 5,0 0,9 4,0 1,5 30,0 0,0 87,8

Padi-Padian Umbi-Umbian Pangan Hewani Minyak dan Lemak Buah/Biji Berminyak Kacang-Kacangan Gula Sayur dan Buah Lain-Lain Total
(Sumber: BKP SULUT, 2011)

31

Lampiran 3 Tabel 3.2. Komposisi Pangan Beragam, Bergizi dan Seimbang (per kapita perhari) sesuai Susunan Pola Pangan Harapan Nasional
Kelompok Pangan Padi-Padian Umbi-Umbian Pangan Hewani Minyak dan Lemak Buah/Biji Berminyak Kacang-Kacangan Gula Sayur dan Buah Lain-Lain Total
(Sumber: BKP SULUT, 2011)

Berat (gram) 275 100 150 20 10 35 30 250 -

Energi (kkal) 1000 120 240 200 60 100 100 120 60 2000

%AKE/G 50,0 6,0 12,0 10,0 3,0 5,0 5,0 6,0 3,0 100

Skor PPH 25,0 2,5 24,0 5,0 1,0 10,0 2,5 30,0 0,0 100,0

32