Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH AGAMA QANAAH

Disusun oleh : Kelompok 5 1. Bambang .K. ( 02 ) 2. Hafidz Ahmad .B.( 12 ) 3. Krisna Slamet .R. ( 21 ) 4. Denis Dwi .P. ( 22 ) 5. Endah Dwi C. ( 30 )

SMPN I DAGANGAN TAHUN PELAJARAN 2009/2010

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-nya kepada kita semua. Dan atas ridho dan perlindungannya kami manyusun makalah ini dengan pembahasan tentang QANAAH . Makalah ini kami susun atas dasar tugas dari guru pembimbing kami. Selain itu makalah ini kami susun sebagai upaya untuk berperan serta menunjang program belajar siswa dan untuk menambah wawasan siswa agar lebih mengetahui hal-hal apa saja mengenai sifat terpuji pada manusia terutama QANAAH yang akan kami bahas kali ini. Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam menyusun makalah ini, meskipun kami telah berupaya semaksimal mungkin. Dan kami senantiasa menerima kritik dan saran pembaca tentang makalah kami ini. Akhir kata, kami sekelompok mengucapkan terima kasih dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua.

Madiun, NOVEMBER 2009

Penyusun

ii

Daftar Isi

Halaman judul.................................................................................. Kata pengantar................................................................................. Daftar isi .................................................................................. BAB I PENDAHULUAN............................................................. 1.1 Latar Belakang........................................................... 1.2 Tujuan Penulisan........................................................ 1.3 Manfaat Penulisan......................................................

i ii iii 1 1 1 1 2 2 2 3 3 3 5 5 5 5 6 6 6 7 8

BAB II PEMBAHASAN................................................................ 2.1 Pengertian Qanaah..................................................... 2.2 Dalil Naqli.................................................................... 2.3 Hakekat Qanaah......................................................... 2.4 Ciri-ciri Qanaah.......................................................... 2.5 Qanaah Dalam Kehidupan Sehari-hari.................... 2.6 Manfaaat Qanaah Dalam Kehidupan Pribadi......... 2.7 Manfaat Qanaah Dalam Kehidupan Bermasyarakat........................................................... 2.8 Kiat-kiat Agar Menjadi Qanaah............................... 2.9 Hikmah Qanaah.......................................................... BAB III PENUTUP......................................................................... 3.1 Kesimpulan................................................................. 3.2 Saran............................................................................ DAFTAR PUSTAKA....................................................................... LAMPIRAN ..................................................................................

iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Kami membuat makalah ini berdasarkan fenomena atau realita yang ada disekitar kita, kini sudah banyak orang yang sudah terlena akan dunia, contohnya adalah seseorang yang sangat mementingkan kepentingan dunia dari pada kepentingan akhirat yang kekal nanti. Itulah sebabnya kami menyusun makalah ini, 1.2 Tujuan Penulisan Makalah ini bertujuan untuk :

Sebagai pengingat agar tidak terlena akan dunia Memperteguh tekad dalam berikhtiar untuk mendapatkan rahmat Allah. Menghindarkan sifat rakus dan serakah 1.3 Manfaat Penulisan Manfaat dari makalah ini adalah agar pembaca dapat ingat akan kehidupan diakhirat dan tidak terlena pada kehidupan dunia yang fana ini.

BAB II PEMBAHASAN QANAAH


2.1 Pengertian Qanaah Qanaah artinya rela menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kurang yang berlebihan. Qanaah bukan berarti hidup bermalas-malasan, tidak mau berusaha sebaik-baiknya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Justru orang yang Qanaah itu selalu giat bekerja dan berusaha, namun apabila hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ia akan tetap rela hati menerima hasil tersebut dengan rasa syukur kepada Allah SWT. Sikap yang demikian itu akan mendatangkan rasa tentram dalam hidup dan menjauhkan diri dari sifat serakah dan tamak. 2.2 Dalil Naqli Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:


Dunia ini dibanding akhirat tiada lain hanyalah seperti jika seseorang diantara kalian mencelupkan jarinya ke lautan, maka hendaklah dia melihat air yang menempel di jarinya setelah dia menariknya kembali. (Diriwayatkan Muslim, AtTirmidzi, Ibnu Majah). Kita sebagai orang yang beriman tidak pernah mengenal putus asa dalam berusaha. Karena putus asa merupakan perbuatan orang kafir. Allah berfirman sebagai berikut :


Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir". (Q.S. Yusuf : 87)

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.(Surah al-Furqan ( 25 ):67)

Beruntunglah orang yang memasrahkan diri, dilimpahi rizki yang sekedar mencukupi dan diberi kepuasan oleh Allah terhadap apa yang diberikan kepadanya. (Diriwayatkan Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad dan Al-Baghaw 2.3 Hakekat Qanaah Hakekat qanaah adalah meyakini sepenuhnya bahwa Allah memberikan hasil tersebut sudah dengan pertimbangan dan terkandung maksud yang baik terhadap hambanya bagi penerimanya. Manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya, hendaklah selalu husnu dzan (berprasangka baik) kepada Allah SWT. Allah tidak pernah akan membuat kesengsaraan kepada salah seorang hamba-Nya, kecuali hamba itu membuat kesengsaraan sendiri. Orang yang memiliki sifat qanaah digambarkan oleh Rasulullah dalam Haditsnya : "Sungguh bahagialah orang yang Islam dan ia mencukupkan diri dengan rejekinya dan merasa qanaah kepada Allah dengan apa yang diberikan kepadanya. " (HR. Muslim) 2.4 Ciri-ciri Qanaah Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa orang yang qanaah akan memiliki ciri-ciri antara lain : Bersyukur dengan segala pemberian Allah SWT. Redha di atas segala ketentuan Allah SWT. Sentiasa berlapang dada dengan ujian dan takdir Allah SWT. Maksud hadis; Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah mendapat kebaikan maka akan diuji dengan suatu musibah. (Riwayat Al-Bukhari) Sentiasa berbaik sangka dengan Allah SWT yakin dengan Qadha dan QadarNya. Tidak keluh kesah tenang. Tidak berputus asa. Sentiasa berfikiran positif. Sentiasa memandang orang yang di bawah berbanding dengan orang di atas. 2.5 Qanaah dalam kehidupan sehari-hari Qanaah seharusnya merupakan sifat dasar setiap muslim, karena sifat tersebut dapat menjadi pengendali agar tidak surut dalam keputusasaan dan tidak terlalu maju dalam keserakahan. Qanaah berfungsi sebagai stabilisator dan dinamisator hidup seorang muslim. Dikatakan stabilisator, karena seorang muslim yang mempunyai sifat Qanaah akan selalu berlapang dada, berhati tentram, merasa kaya dan berkecukupan, bebas dari keserakahan, karena pada hakekatnya kekayaan dan kemiskinan terletak pada hati bukan pada harta yang dimilikinya. Bila kita perhatikan banyak orang yang lahirnya nampak berkecukupan bahkan mewah, namun hatinya penuh diliputi keserakahan dan kesengsaraan, sebaliknya banyak orang yang sepintas lalu seperti kekurangan namun hidupnya tenang, penuh

kegembiraan, bahkan masih sanggup mengeluarkan sebagian hartanya untuk kepentingan sosial. Nabi SAW bersabda dalam salah satu hadisnya :

3 Dari Abu Hurairah r.a. bersabda Nabi SAW : Bukanlah kekayaan itu banyak harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati". ( H.R.Bukhari dan Muslim) Karena hatinya senantiasa merasa berkecukupan, maka orang yang mempunyai sifat Qanaah, terhindar dari sifat loba dan tamak, yang cirinya antara lain suka meminta-minta kepada sesama manusia karena merasa masih kurang pusa dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Disamping itu Qanaah juga berfungsi sebagai dinamisator, yaitu kekuatan batin yang selalu mendorong seseorang untuk meraih kemajuan hidup berdasarkan kemandirian dengan tetap bergantung kepada karunia Allah. Berkenaan dengan Qanaah ini, Nabi Muhammad SAW telah memberikan nasehat kepada Hakim bin Hizam sebagaimana terungkap dalam riwayat berikut ini : Dari Hakim bin Hizam r.a. Ia berkata : saya pernah meminta kepada Rasulullah SAW dan beliaupunmemberi kepadaku. Lalu saya meminta lagi kepadanya, dan beliaupun tetap memberi. Kemudian beliau bersabda : Hai Hakim ! harta ini memang indah dan manis, maka siap yang mengambilnya dengan hati yang lapang, pasti dieri berkat baginya, sebaliknmya siapa yang mengambilnya dengan hati yang rakus pasti tidak berkat baginya. Baaikan orang makan yang tak kunjung kenyang. Dan tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah. Berkata Hakim ; Ya Rosulullah ! Demi Allah yang mengutus engkau dengan kebenaran, saya tidak akan menerima apapun sepeningal engkau sampai saya meninggal dunia. Kemudian Abu Bakar RA. (sebagai Khalifah) memanggil Hakim untuk memberinya belanja ( dari Baitul Mal) tetapi ia menolaknya dan tidak mau menerima sedikitpun pemberian itu. Kemudian Abu Bakar berkata : Whai kaum muslimin ! saya persaksikan kepada kalian tentang Hakim bahwa saya telah memberikan haknya yang diberikan Alah padanya". (H.R.Bukhari dan Muslim ) Qanaah itu bersangkut paut dengan sikap hati atau sikap mental. Oleh karena itu untuk menumbuhkan sifat Qanaah diperlukan latihan dan kesabaran. Pada tingkat pemulaan mungkin merupakan sesuatu yang memberatkan hati, namun jika sifat Qanaah sudah membudaya dalam diri dan telah menjadi bagian dalam hidupnya maka kebahagiaan didunia akan dapat dinikmatinya, dan kebahagiaan di akhirat kelak akan dicapainya. Nabi Muhammad SAW bersabda dalam salah satu hadisnya : Qanaah itu adalah simpanan yang tak akan pernah lenyap". (H.R.Thabrani) demikianlah betapa pentingnya sifat Qanaah dalam hidup, yang apabila dimiliki oleh setiap orang dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari akan mendorong terwujudnya masyarakat yang penuh dengan ketentraman, tidak cepat putus asa, dan bebas dari keserakahan, serta selalu berfikir positif dan maju. Betapa tidak, karena sebenarnya dalam Qanaah terkandung unsur pokok yang dapat membangun pribadi muslim yang menerima dengan rela apa adanya,

memohon tambahan yang pantas kepada Allah serta usahadan ikhtiar, menerima ketentuan Allah dengan sabar, bertawakkal kepada Allah, dan tidak tertarik oleh tipu daya dunia.

4 2.6 Manfaat Qanaah dalam kehidupan pribadi Dalam kehidupan seorang muslim, sifat qanaah dapat memberikan manfaat antara lain sebagai berikut : a. Jiwa akan tetap tentram b. Terhindar dari sifat tamak dan dengki c. Menimbulkan hati yang sadar dan penuh ketabahan d. Terhindar dari kekhawatiran dan keresahan e. Selalu puas terhadap nikmat yang Allah berikan f. Sadar atas segala segala cobaan dari Allah

2.7 Manfaat Qanaah dalam kehidupan bermasyarakat Masyarakat akan menjadi baik jika dimulai dari kehidupan pribadi yang baik. Begitu pula manfaat qanaah dalam kehidupan bermasyarakat, karena adanya manfaat qanaah dalam kehidupan pribadi, maka otomatis dalam kehidupan bermasyarakat pun akan bermanfaat. Manfaat-manfaaat tersebut sebagai berikut : a. Terjalin hubungan yang harmonis dalam kehidupan bermasyarakat b. Tercipta masyarakat yang senantiasa jujur satu sama lain dalam setiap perbuatan. c. Terhindar dari sifat suka menyakiti dan menfitnah d. Terhindar dari sifat saling iri dan dengki. 2.8 Kiat-kiat menjadi qanaah Berikut ini beberapa kiat menuju qanaah yang jika kita laksanakan maka dengan izin Allah seseorang akan dapat merealisasikan nya. Di antaranya yaitu: a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) Memperkuat keimanan kepada Allah SWT Yakin bahwa risky telah tertulis Memikirkan ayat-ayat Al-Quran yang agung Mengetahui hikmah perbedaan rizki Banyak memohon Qanaah pada Allah Menyadari bahwa rizki tidak diukur dengan kepandaian Melihat ke bawah dalam dunia Melihat bagaimana keadaan mereka dalam menyikapi dunia Menyadari beratnya tanggung jawab harta Melihat realita bahwa orang fakir dan orang kaya tidak jauh berbeda

2.9 Hikmah Qanaah Sifat Qanaah akan sangat besar manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya : a) Menentramkan batin dan membahagiakan hidup. b) Selalu rela dengan segala ketentuan Allah c) Memperteguh tekad dalam berikhtiar untuk mendapatkan rahmat Allah.

d) Menghindarkan sifat rakus dan serakah

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan


Berdasarkan kenyataan demikian ada beberapa contoh dan posisi masing-masing dari pemungsian sifat qanaah dalam rangka menetralisir sifatsifat yang dianggap berlebihan, dan semestinya kita miliki untuk diterapkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, yakni Realistis atau keterbukaan, menetralisir sifat frustasi, putus asa, atau rasa optimisme yang berlebihan Menerima apa adanya, menetralisir sifat-suifat suka mengeluh dan sifat sombong karena merasa paling kaya, paling hebat, paling mampu dan sebagainya Dinamis, menetralisir sifat-sifat statis, malas, dan sifat labil atau meledak-ledak Penuh gairah dan semangat (motivasi), menetralisir sifat-sifat masa bodoh, cuek, dan sifat mengejar keduniaan semata Tenang, kestabilan jiwa, menetralisir sifat-sifat resah, gelisah, dan terlalu ambisi yang negatif atau ambisius Optimis, menetralisir sifat-sifat pesimis, fatalis, atau terlalu yakin sehingga ujub dan takabur Dermawan, berada di antara sifat kikir dan pemboros atau mubadzir Syukur nikmat, tawakkal, taqwa, menetralisir sifat-sifat iri hati, dengki, hasud, dan kufur nikmat. Demikianlah betapa pentingnya sifat Qanaah dalam hidup, yang apabila dimiliki oleh setiap orang dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari akan mendorong terwujudnya masyarakat yang penuh dengan ketentraman, tidak cepat putus asa, dan bebas dari keserakahan,seta selal berfikir positif dan maju. Betapa tidak, karena sebenarnya dalam Qanaah terkandung unsur pokok yang dapat membangun pribadi muslim yang menerima dengan rela apa adanya, memohon tambahan yang pantas kepada Allah serta usahadan ikhtiar, menerima ketentuan Allah dengan sabar, bertawakkal kepada Allah, dan tidak tertarik oleh tipu daya dunia.

3.2

Saran
Adapun saran yang dapat dikemukakan adalah jika sifat Qanaah sudah membudaya dalam diri dan telah menjadi bagian dalam hidupnya maka kebahagiaan didunia akan dapat dinikmatinya, dan kebahagiaan di akhirat kelak akan dicapainya.

Daftar Pustaka

Tim, Alkarina, 2005, AKU SENANG BELAJAR Akidah Akhlak, Arafah Mitra Utama, Surakarta, Cetakan Pertama Anonym ,2007, Qanaah, http://paismpn4skh.wordpress.com/2009/11/qanaah Anonym ,2008, Qanaah, http://id.wordpress.com/2009/tag/akhlakterpuji/ Anonym , 2008, Qanaah, http://alexking.org/project/wordpress/populary.contesr Anonym , 2007, Qanaah Dan Tasamuh, http://islamhouse.com

LAMPIRAN