Anda di halaman 1dari 9

PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM PESISIR KECAMATAN PANTAI LABU DENGAN PENDEKATAN PARTISIPATIF

Chorina Ginting, Tunjung W. Suharso, Nindya Sari Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Jalan MT. Haryono No. 167, Malang 65145, Indonesia chorina.ginting@gmail.com
ABSTRAK Potensi sumber daya alam pesisir yang sangat beragam seharusnya dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir yang ada di kawasan tersebut. Namun ternyata masyarakat tidak dapat memanfaatkan potensi yang mereka miliki karena keterbatasan pengetahuan yang ada pada mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik sumber daya alam dan masyarakat kawasan pesisir yang ada di Kecamatan Pantai Labu, ben tuk dan tingkat partisipasi masyarakat dalam mengelola sumber daya alam pesisir tersebut, serta menyusun arahan pengelolaan sumber daya alam pesisir Kecamatan Pantai Labu dengan pendekatan partisipatif. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian diban tu dengan menggunakan analisis de skriptif, analisis kebijakan, analisis akar masalah, analisis akar tujuan, dan analisis partisipatif. Bila dilihat dari hasil penelitian, sumber daya alam pesisir yang terdapat di Kecamatan Pantai Labu adalah perikanan, mangrove, padang lamun, terumbu karang, pertanian pesisir, dan sumber daya mineral. Setiap sumber daya alam pesisir tersebut memiliki masalah dalam pengelolaannya. Namun permasalahan tersebut bisa disebabkan oleh satu permasalahan utama. Permasalahan utama y ang ditemukan dalam penelitian ini adalah kurangnya pengelolaan sumber daya alam pesisir yang disebabkan oleh kurangnya partisipasi masyarakat serta rendahnya pengetahuan masyarakat untuk mengelola secara optimal. Bila dilihat dari tangga partisipasi Arnstein, tingkat partisipasi masyarakat di Kecamatan Pantai Labu masih mencapai tingkat informing. Pemecahan masalah yang ada akan dapat diselesaikan apabila masyarakat diikutsertakan dalam setiap proses perencanaan dan pemerintah bekerja sama dalam setiap pro ses pengelolaan sumber daya alam pesisir yang ada di wilayah studi. Kata kunci : pengelolaan, masyarakat, sumber daya alam pesisir ABSTRACT The diversity of coastal natural resources should be used optimally to improve the welfare of the coastal communities in the region. However people apparently can not optimize the potency due to the lack of knowledge. The purpose of this study is to investigate the characteristics of natural resources and coastal communities, form and level of community participatio n in managing coastal natural resources in the Kecamatan Pantai Labu, and then arrange referrals coastal natural resources management Kecamatan Pantai Labu through a participatory approach. The analysis uses descriptive method, policy analysis, cause-effect analysis, and participatory analysis. If it is seen from the study, coastal natural resources which is located in the Kecamatan Pantai Labu are fisheries, mangroves, seagrass, coral reefs, coastal agriculture, and mineral resources . Every coastal natural resources have a problem in its management . But these problems can be caused by one major problem. The main problem found in this study is the management of coastal natural resources caused by lack of community participation and lack of knowledge to mana ge optimally. When viewed from Arnstein's participation ladder, the level of community participation in the Kecamatan Pantai Labu still reach in the informing level. Based on this research, each issue will be resolved if the community and government work together in each process of managing coastal natural resources in the region. Key words : management, community, coastal natural resources

PENDAHULUAN Potensi sumber daya pesisir yang tersebar di negara Indonesia harusnya merupakan salah satu modal dasar dalam pembangunan ekonomi nasional. Namun, hingga saat ini pemanfaatan potensi sumber daya pesisir dan kelautan di Indonesia dilihat belum berlangsung secara optimal dan terpadu. Hal ini antara lain disebabkan oleh masih lemahnya kebijaka n pengelolaan sumber daya alam pesisir dan kelautan. Wilayah pesisir Kecamatan Pantai Labu tentunya juga memiliki potensi sumber daya alam yang sangat beraneka ragam dan hal itu juga terlihat dari potensi yang dimiliki oleh Kecamatan Pantai Labu sebagai s alah satu penyumbang potensi di Kabupaten Deli Serdang. Namun potensi tersebut ternyata belum diberdayakan dengan optimal oleh masyarakat ataupun pemerintah. Secara alamiah potensi pesisir di daerah tersebut dimanfaatkan langsung oleh masyarakat yang bertempat tinggal di kawasan tersebut yang pada umumnya terdiri dari nelayan. Nelayan di pesisir Kecamatan Panyai Labu ini memanfaatkan kekayaan laut mulai dari ikan, rumput laut, terumbu karang dan sebagainya untuk memenuhi kebutukan hidupnya. Pada umumnya potensi pesisir dan kelautan yang di manfaatkan oleh nelayan terbatas pada upaya pemenuhan kebutuhan hidupnya sendiri. Potensi tersebut belum dikelola dengan baik sehingga kesejahteraan masyarakat secara umum dapat meningkat. Menurut Dahuri (2001) pengelolaan sumber daya alam pesisir adalah suatu proses penyusunan dan pengambilan keputusan secara rasional tentang pemanfaatan wilayah pesisir beserta segenap sumber daya alam yang terkandung di dalamnya secara berkelanjutan. Oleh karena itu dibutuhkan suatu pengelolaan dimana
2

terdapat keterlibatan masyarakat dan pemerintah dalam memanfaatkan sumber daya alam pesisir yang mereka miliki. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik sumber daya alam kawasan pesisir dan masyarakat yan g ada di Kecamatan Pantai Labu, mengidentifikasi dan menganalisis bentuk dan tingkatan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam pesisir di Kecamatan Pantai Labu, serta memberikan arahan pengelolaan sumber daya alam pesisir yang ada di Kecamatan Pantai Labu dengan menggunakan pendekatan partisipatif. METODE PENELITIAN Penelitian tentang pengelolaan sumber daya alam pesisir Kecamatan Pantai Labu dengan pendekatan partisipatif ini merupakan penelitian deskripstif. Penelitian ini menggunakan beberapa metode, yaitu : 1. Metode Pengumpulan Data Pengumpulan datanya dilakukan dengan survey primer dan survey sekunder. Survey primer ini dilakukan dengan observasi lapangan, kuisioner, wawancara, dan RRA-PRA. Data yang diperoleh dari survey primer ini ad alah kondisi, bentuk pengelolaan, dan permasalahan dalam mengelola sumber daya alam pesisir yang ada, serta karakteristik masyarakat dan bentuk partisipasi yang ada dalam pengelolaan sumber daya alam pesisir tersebut. Survey sekunder dilakukan dengan studi kepustakaan serta dokumen dari instansi-instansi terkait. 2. Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a. Metode deskriptif Analisis deskripstif ini menghasilkan suatu gambaran karakteristik pesisir, sumber day a

alamnya, dan masyarakat yang ada di wilayah studi dengan menggunakan analisis data eksplanatori. b. Metode evaluatif Metode evaluasi ini akan digunakan untuk mengetahui bagaimana bentuk pengelolaan yang dilakukan oleh masyarakat dan apa permasalahan dalam mengelola tersebut. Analisis yang digunakan dalam metod e ini adalah analisis kebijakan, analisis kesesuaian sumber daya alam pesisir, dan analisis akar masalah. c. Metode pengembangan Metode pengembangan ini akan membantu dalam menyusun suatu rencana pengelolaan sumber daya alam pesisir yang ada di wilayah studi. Analisis yang dilakukan dengan menggunakan analisis partisipatif dan akar tujuan. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Karakteristik sumber daya alam dan masyarakat kawasan pesisir yang ada di Kecamatan Pantai Labu Kecamatan Pantai Labu memiliki enam desa yang termasuk dalam desa pesisir yaitu Desa Bagan Serdang, Desa Denai Kuala, Desa Paluh Sibaji, Desa Pantai Labu Pekan, Desa Rugemuk, dan Desa Sei Tuan dengan panjang garis pantai yang dimiliki oleh Kecamatan Pantai Labu adalah 14,77 km.

Gambar 1 Peta Penggunaan Lahan Wilayah Studi 3

Sumber daya alam pesisir yang dimiliki desa pesisir di Kecamatan Pantai Labu ini adalah : a. Perikanan Kecamatan Pantai Labu merupakan penghasil ikan paling banyak di Kabupaten Deli Serdang tahun 2009 yaitu 6.211,60 ton dengan jenis ikan yang paling banyak ditangkap oleh nelayan di Kecamatan Pantai Labu adalah ikan kembung, tenggiri, pari, dan lain-lain. Selain itu juga terdapat kerang dan udang. Bentuk pengelolaan perikanan yang telah dilakukan di desa pesisir Kecamatan Pantai Labu ini masih sangat sederhana dan belum dimanfaatkan secara maksimal. Alat tangkap dan kapal penangkap ikan yang dipergunakan nelayan kebanyakan masih sangat sederhana dan bukan milik mereka sendiri. Perikanan budidaya yang ada di Kecamatan Pantai Labu masih sangat sedikit dikembangkan demikian pula pengolahan hasil perikanannya masih sangat tradisional dan tidak dioptimalkan dengan baik. b. Hutan Mangrove Luas kawasan mangrovenya adalah 580,03 Ha dengan k lasifikasi rusak berat seluas 380,69 Ha, rusak sedang seluas 38,74 Ha, dan yang masih baik seluas 160,6 Ha (Hasil Inventarisasi dan Identifikasi Mangrove BPDAS Asahan-Barumun dan SWP DAS Wampu Sei Ular Tahun 2006) . Beberapa jenis mangrove yang dominan di antaranya adalah Aegiceras comiculatum (prepat), Akora cuculata, Avicennia sp (api-api), Bruguiera sp (tumu dan lindur), Rhizophora sp (bakau), Sonneratia sp (pedada), dan Xylocerpus sp (nyirih). Hutan mangrove yang ada di Kecamatan Pantai Labu ini belum terkelola dengan baik. Banyak mangrove yang digunakan untuk bahan kayu bakar namun masyarakat tidak menggunakan pemilihan terhadap mangrove yang mereka pergunakan. Salah satu usaha binaan pemerintah dalam mengelola mangrove berada di

Desa Rugemuk dengan memb uat penanaman mangrove sistem empang parit.

Gambar 2 Peta Kondisi Mangrove Wilayah Studi

c. Padang Lamun Perairan Kecamatan Pantai Labu juga pernah memiliki Sembilan jenis padang lamun yang tergolong dua suku (family) yaitu Patamogetonacea yan g memiliki 3 marga dan 5 jenis serta Hydrocharitoceae memiliki 3 marga dan 4 jenis. Kepunahan padang lamun ini terjadi karena semakin banyaknya nelayan-nelayan kapal besar yang menjaring di perairan tempat tumbuhnya padang lamun tersebut sehingga merusak ekosistem dari padang lamun tersebut. Selain itu masyarakat dan pemerintah juga belum ada melakukan bentuk pengelolaan. d. Terumbu Karang Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat setempat dan pemerintah desa, pantai Kecamatan Pantai Labu sudah tidak memi liki ekosistem terumbu karang. Sebelum adanya pukat harimau yang masuk ke pantai Kecamatan Pantai Labu terumbu karang ini masih ada karena pantainya sendiri termasuk ke dalam perairan dangkal. Sampai saat ini belum ada usaha untuk penanaman kembali terumbu karang di perairan mereka.

e. Pertanian Pesisir Pertanian pesisir yang terdapat di Kecamatan Pantai Labu adalah padi, kelapa sawit, dan nipah. Areal persawahan yang ada di desa -desa pesisir ini menggunakan sistem tadah hujan sehingga penanamannya hanya satu kali setahun. Tanaman nipah ini merupakan pembatas wilayah pesisir sehingga banyak terdapat di desa -desa pesisir Kecamatan Pantai Labu. Pengolahan pertanian pesisir yang telah dilakukan oleh masyarakat Kecamatan Pantai Labu masih sangat sederhana seperti pembuatan anyaman daun nipah dan menurut mereka hasil yang didapat tidak terlalu banyak. f. Sumber Daya Mineral Sumber daya mineral yang ada di Kecamatan Pantai Labu adalah batu kerikil, pasir, dan lempung yang termasuk ke dalam bahan galian C. Bahan galian lainnya berupa pasir kuarsa terdapat sepanjang pantai. Pengelolaan sumber daya mineral yang ada di wilayah studi ini belum dioptimalkan dengan baik. Masyarakat di desa-desa pesisir yang ada di Kecamatan Pantai mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan. Pekerjaan sebagai nelayan sekarang ini dianggap sebagai pekerjaan sambilan karena pekerjaan sebagai nelayan penuh tidak mampu lagi mencukupi kebutuhan hidup nelayan dan keluarganya. Jika pada malam hari para nelayan mencari ikan di laut maka pada siang hari mereka ada yang berdagang dan bertani. Selain menangkap ikan di laut, masyarakat nelayan Kecamatan Pantai Labu juga melakukan budidaya ikan di kolam. Masyarakat yang bekerja sebagai nelayan penuh hanya sekitar 1.741 orang, nelayan sambilan 4.465 orang , dan nelayan sambilan tambahan 106 orang.

2%

Bentuk dan tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam pesisir di Nelayan Sambilan 71% Nelayan Sambilan Kecamatan Pantai Labu 71% Desa-desa pesisir Kecamatan Pantai Nelayan Sambilan Labu memiliki kelompok-kelompok Tambahan Nelayan Sambilan Tambahan yang berhubungan dengan sumber daya Gambar 3 Prosentase Jumlah Nelayan di alam pesisir tersebut yaitu kelompok Kecamatan Pantai Labu Tahun 2009 nelayan, kelompok mangrove, dan kelompok simpan pinjam. Pembentukan Hampir sebagian besar dari nelayan kelompok ini hanya bertujuan untuk di desa-desa pesisir Kecamatan Pantai pengajuan dana ataupun bantuan Labu ini merupakan nelayan pekerja materi/fisik dan keanggotaannya yaitu nelayan yang hanya mencari ikan terbatas pada sanak saudara atau di laut tanpa memiliki alat-alat tetangga terdekat. penangkap ataupun kapal. Peralatan Tabel 1 Kelembagaan Pesisir yang Ada yang mereka pakai merupakan milik di Wilayah Studi tokeh sehingga hasil perikanan yang mereka dapatkan kemudian harus dijual kembali kepada tokeh ataupun dengan sistem bagi hasil kepada tokeh tersebut. Dengan hasil melaut yang mereka peroleh seringkali pendapatan yang mereka dapatkan hanya bisa dipergunakan untuk kebutuhan sehari hari mereka. Adapun karakteristik sosial yang dimiliki oleh masyarakat pesisir Berdasarkan hasil kuisoner yang Kecamatan Pantai Labu sesuai dengan disebarkan ke 100 orang, 90% karakteristik masyarakat pesisir yang masyarakat mau berpartisipasi dalam disebutkan oleh Arif Satria dalam jurnal mengelola sumber daya alam pesisir Karakteristik Masyarakat Pesisir yaitu yang ada di desa mereka masing -masing masyarakat sangat bergantung pada dan 10% lainnya memilih tidak mau mengelola sumber daya alam yang terlibat karena berbagai alasan. tersedia di lingkungannya terutama Masyarakat kebanyakan mau perairan laut, masyarakat pesisir berpartisipasi dengan menyumbangkan Kecamatan Pantai Labu sangat tenaga (27%) dan menyumbangkan bergantung pada musim di laut terutama tenaga serta pikiran mereka (23%). nelayan, pengetahuan masyarakat Alasan masyarakat yang tidak mau pesisir Kecamatan Pantai Labu didapat berpartisipasi kebanyakan karena secara turun temurun (berasal dari mereka merasa tidak punya sesuatu nenek moyangnya), masyarakat pesisir yang dapat diberikan (4%) ataupun Kecamatan Pantai Labu khususnya mereka juga tidak memiliki alasan yang nelayan masih mempercayai adanya jelas (4%), selebihnya karena mereka kekuatan magis laut ditandai dengan malas untuk berpartisipasi (2%). masih adanya upacara jamu laut , dan Dimensi partisipasi yang terdapat di kaum wanita memiliki peranan yang kawasan pesisir Kecamatan Pantai Labu penting dalam meningkatkan ekonomi bila didasarkan pada John M. Cohen rumah tangga. dan Norman T. Uphoff adalah
27%

2% 27%

Nelayan Penuh 2. Nelayan Penuh

masyarakat hanya diikutsertakan dalam proses pemanfaatan hasil program sedangkan dalam proses pengambilan keputusan, pelaksanaan program, d an partisipasi dalam penilaian masyarakat merasa belum dilibatkan oleh pemerintah. Bila dilihat dari tangga partisipasi Arnstein maka tingkatan partisipasi masyarakat desa pesisir Kecamatan Pantai Labu hanya mencapai tingkatan informing. Masyarakat memang diberikan kesempatan untuk menyampaikan aspirasinya, namun keputusan tentang pengambilan program tersebut tetap diserahkan kepada pemerintah.

a.

Program Pengelolaan Sumber Daya Akan Pesisir dan Lingkungan Pengelolaan setiap sumber daya alam pesisir yang dapat dilakukan di Kecamatan Pantai Labu adalah : Program pengelolaan perika nan Program pengelolaan perikanan yang dapat dilakukan adalah memperkenalkan budidaya perikanan sehingga masyarakat nelayan khususnya tidak lagi terlalu bergantung pada hasil perikanan laut, meningkatkan nilai ekonomi dari hasil perikanan yang ada dengan cara mengolahnya menjadi sesuatu yang lebih bernilai tinggi , melakukan program penataan, rehabilitasi, dan inventarisasi tambak tambak baik yang masih ada ataupun berpotensial untuk dikembangkan serta menerapkan tambak tumpang sari atau empang parit atau silvofishery.

Gambar 4 Posisi Masyarakat Kecamatan Pantai Labu dalam Tangga Partisipasi Arnstein

Gambar 5 Tambak Sistem Silvofishery

3.

Pengelolaan sumber daya alam pesisir yang ada di Kecamatan Pantai Labu dengan menggunakan pendekatan partisipatif Arahan pengelolaan sumber daya alam pesisir Kecamatan Pantai Labu dengan menggunakan pendek atan partisipatif ini dapat dikelompokkan menjadi enam bagian, yaitu :

Program pengelolaan mangrove Program pengelolaan mangro ve yang dapat dilakukan adalah menentukan batas-batas sempadan dan jalur hijau di sekitar pantai dan sungai yang ada di Kecamatan Pantai La bu, merehabilitasi mangrove yaitu dengan melakukan inventarisasi kerusakan, penanaman kembali, dan p embibitan jenis-jenis mangrove, menanam mangrove di bibir pantai de ngan menggunakan sistem zonasi , mengolah kayu mangrove yang dapat dipergunakan untuk mena mbah

penghasilan masyarakat dengan tetap memperhatikan sistem tebang pilih.

Gambar 7 Peta Rencana Daerah Penanaman Terumbu Karang Gambar 6 Peta Rencana Daerah Penanaman Mangrove

Program pengelolaan padang lamun Pedoman pengelolaan padang lamun yang dapat dilakukan adalah menghindari pengerukan dan penimbunan pada lokasi yang didominasi oleh padang lamun , menghindari atau meminimalkan setiap erosi atau penumpukan di sekitar daerah padang lamun, memperbaharui dan memodifikasi prosedur pembuangan limbah cair, melakukan inventarisasi, identifikasi, dan pemetaan serta mengadakan rekonstruksi padang lamun. Program pengelolaan terumbu karang Pedoman pengelolaan terumbu karang yang dapat dilakukan adalah mencari berbagai sumber alternatif bahan konstruksi dan kalsium karbonat untuk mencegah penambangan dan kehilangan sumber daya ala m yang tidak dapat diperbaharui, tidak melakukan pengerukan yang menyebabkan teraduknya sedimentasi dan membuat air keruh atau d i arah hulu dari terumbu karang, menghindari pencemaran dan peningkatan nutrient ke dalam ekosistem terumbu karang, dan melakukan rehabilitasi atau menanam kembali terumbu karang yang telah rusak.
7

Program pengelolaan pertanian pesisir Pengelolaan yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan pengolahan tanaman nipah sehingga memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dan mengelola pertanian sawah dengan baik sehingga air laut tidak bercampur ke dalam sawah. Program pengelolaan sumber daya mineral Pengelolaan sumber daya mineral ini membutuhkan peratura n yang dapat membatasi jumlah pengerukan pasir oleh pihak swasta. b. Program Pengembangan Kapasitas Sumber Daya Manusia Program pengembangan kapasitas sumber daya manusia yang dapat dilakukan adalah memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang pengelolaan sumber daya alam pesisir yang dapat dilakukan di desa mereka , meningkatkan kapasitas masyarakat lokal di dalam pengelolaan sumber daya alam pesisir secara berkelanjutan baik dalam pengetahuan, keterampilan, maupun perubahan perilaku misalnya memberikan pendidikan informal atau pelatihan, serta menyelenggarakan pendidikan latihan bagi aparat pemerintah desa tentang pemahaman pengelolaan sumber daya alam pesisir sehingga pemerintah dapat membantu

masyarakat untuk mengelola sumber daya alam tersebut. c. Program Pengembangan Ekonomi Wilayah Pesisir Program yang dapat dilakukan untuk mengembangkan perekonomian masyarakat adalah mengembangkan infrastruktur dan lembaga -lembaga penunjang ekonomi, merubah pola pikir masyarakat tentang keuntungan lembaga ekonomi, memberikan pinjaman modal melalui koperasi atau kelompok simpan pinjam yang ada di setiap desa, serta pengawasan dari pemerintah terhadap kestabilan harga jual ikan di tempat pelelangan ikan agar masyarakat nelayan tidak dirugikan. d. Program Pengembangan Infrastruktur Infrastruktur ini akan menunjang pengembangan yang akan dilakukan oleh masyarakat pesisir Kecamatan Pantai Labu. Pengembangan infrastruktur yang dapat dilakukan yaitu dengan modernisasi teknologi yang dilakukan baik dari alat tangkapnya ataupun kapal penangkap ikan. e. Program Pengembangan Sosial, Budaya, dan Kelembagaan Pengoptimalan fungsi sosial, kebudayaan, dan kelembagaan yang dapat dilakukan adalah mempertahankan peran penting wanita dalam membantu peningkatan ekonomi rumah tangga, mempertahankan ritual jamu laut dan merencanakan dengan lebih terjadwal sehingga dapat dimanfaatkan menjadi obyek wisata tahunan bagi Kecamatan Pantai Labu , serta merestrukturisasi fungsi dan tugas kelembagaan yang ada di setiap desa. f. Program Pengoptimalan Partisipasi Masyarakat Metode yang dapat dilakukan dalam mengelola wilayah pesisir adalah melibatkan masyarakat lokal secara aktif dalam setiap proses. Pengoptimalan partisipasi masyarak at yang dapat dilakukan adalah mengajak masyarakat untuk mempertimbangkan,
8

menyusun, dan mengevaluasi program pengelolaan sumber daya alam pesisir yang dilakukan di desa mereka sehingga partisipasi masyarakat akan naik sampai kepada tahap citizen control dan mengajak masyarakat berpartisipasi dengan menyumbangkan tenaga, pikiran, dan materi/dana mereka. Pengoptimalan partisipasi masyarakat yang dapat dilakukan di Kecamatan Pantai Labu adalah dengan melibatkan masyarakat untuk ikut dalam kegiatan kelompok-kelompok kelembagaan pesisir yang ada. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kecamatan Pantai Labu ini memiliki enam desa pesisir yaitu Desa Bagan Serdang, Desa Denai Kuala, Desa Paluh Sibaji, Desa Pantai Labu Pekan, Desa Rugemuk, dan Desa Sei Tuan dengan panjang gari s pantai yang dimiliki adalah 14,77 km. Sumber daya alam pesisir yang masih terlihat kuantitasnya adalah perikanan baik itu laut maupun budidaya, hutan mangrove, pertanian pesisir, dan sumber daya mineral. Sedangkan untuk padang lamun dan terumbu karang sudah tidak ada lagi populasinya karena kerusakan yang disebabkan oleh tekno logi dan manusia. Berdasarkan hasil kuisioner masyarakat Kecamatan Pantai Labu mau untuk berpartisipasi dalam mengelola sumber daya alam pesisir tersebut dan kebanyakan sanggup untuk memberikan tenaga dan pikirannya. Bila dilihat dari tangga partisipasi arnstein maka tingkatan partisipasi masyarakat berada pada tingkatan informing. Oleh karena itu dibutuhkan pengelolaan yang lebih optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yaitu berupa pengelolaan sumber daya alam pesisir dan lingkungan yang sesua i dengan ketentuan, pengembangan

kapasitas sumber daya manusia, pengembangan ekonomi wilayah pesisir, pengembangan infrastruktur, pengembangan sosial-budayakelembagaan, dan pengoptimalan partisipasi masyarakat. Saran Saran yang dapat diberikan adalah perlunya dukungan nyata dan sosialisasi aktif dari pemerintah dalam mengelola sumber daya alam pesisir di Kecamatan Pantai Labu. Selain itu perlu adanya penelitian lanjutan untuk membuat rencana pengelolaan terpadu dan zoning regulation untuk wilayah pesisirnya.

http://saepudinonline.wordpress.c om/2010/07/01/metodepenelitian-hukum/ (diakses September 2010) Dahuri, Rokhmin dkk. 2004. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Jakarta: PT. Pradnya Paramita. Satria, Arif. 2009. Pesisir dan Laut untuk Rakyat. Bogor: IPB Press.

DAFTAR PUSTAKA Arief, Arifin. 2003. Hutan Mangrove Fungsi dan Manfaatnya. Yogyakarta: Kanisius. Arnstein, Sherry. 1969. A Ladder of Citizen Participation. Journal of the American Planning Association, Volume 35, No. 4, Juli 1969. http://lithgowschmidt.dk/sherry-arnstein/ladderof-citizen-participation.html (diakses Juli 2010) Bappeda Kabupaten Deli Serdang. 2006. Laporan Akhir Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir Kabupaten Deli Serdang . Lubuk Pakam: Bappeda Kabupaten Deli Serdang. BP DAS Asahan Barumun dan SWP DAS Wampu-Sei Ular. 2006. Hasil Inventarisasi dan Identifikasi Mangrove BPDAS Asahan-Barumun dan SWP DAS Wampu Sei Ular. Medan: BP DAS Asahan Barumun dan SWP DAS Wampu-Sei Ular. Cohen, John M. dan Norman T. Uphoff. 1980. Participations Place in Rural Development: Seeking Clarity Through Specificity.
9