P. 1
Perda 1/2012

Perda 1/2012

|Views: 2|Likes:
Dipublikasikan oleh mustamu
Perda 1/2012
Perda 1/2012

More info:

Published by: mustamu on Jan 27, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/24/2014

pdf

text

original

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG RETRIBUSI DAERAH I.

UMUM Bahwa dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah yang nyata, luas dan bertanggung jawab, pemerintah daerah diberikan hak dan kewajiban untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahannya sendiri guna meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat. Untuk menyelenggarakan otonomi daerah dimaksud diperlukan pembiayaan yang bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), dan Pemerintah Daerah berhak untuk melakukan pungutan kepada masyarakat sebagai manifestasi dari kebijakan keuangan daerah yang dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan pembiayaan pemerintahan yang salah satunya bersumber pada retribusi daerah. Banyak upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah, antara lain dengan memungut berbagai macam jenis pajak dan retribusi daerah, yang berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 memang dimungkinkan, karena undang-undang tersebut hanya mengatur prinsip-prinsip dalam menetapkan jenis pajak dan retribusi yang dapat dipungut daerah, sehingga pemerintah daerah diberi kewenangan untuk menetapkan jenis retribusi selain yang telah ditetapkan. Pemberian peluang untuk menetapkan jenis retribusi baru yang semula diharapkan dapat meningkatkan penerimaan daerah, pada kenyataannya tidak cukup untuk menutupi kekurangan pembiayaan, tetapi justru mengakibatkan ekonomi biaya tinggi karena banyak terdapat tumpang tindih (overlappping) dengan pungutan yang dilakukan oleh pemerintah pusat dan angka ketergantungan pembiayaan pada dana alokasi dari pemerintah pusat masih tetap tinggi. Dengan

memberikan ketentuan baru bahwa jenis retribusi yang dapat dipungut oleh daerah hanyalah yang sudah ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun (close list) meskipun masih dibuka kemungkinan untuk ditetapkannya jenis retribusi baru dengan peraturan pemerintah sepanjang memenuhi kriteria yang ditetapkan dalam undang-undang tersebut. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 juga melakukan perubahan mekanisme pengawasan terhadap peraturan daerah tentang retribusi daerah. juga untuk menampung potensi yang dimiliki daerah guna memenuhi kriteria sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tetapi belum diatur dalam undang-undang dimaksud. pembentukan Peraturan Daerah tentang Retribusi Daerah ini dimaksudkan untuk menyesuaikan retribusi yang dipungut oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009. Selain itu terhadap daerah yang menetapkan kebijakan di bidang pajak daerah dan retribusi daerah yang melanggar ketentuan yang lebih tinggi restitusi.-2Dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang sekaligus mencabut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah beserta perubahannya. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 juga mengamanatkan bahwa dalam waktu 2 (dua) tahun setelah undang-undang tersebut ditetapkan maka peraturan daerah tentang retribusi daerah harus sudah disesuaikan. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 menerapkan sistem pengawasan preventif yaitu dengan cara bahwa setiap Peraturan Daerah tentang Pajak dan Retribusi sebelum dilaksanakan harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari pemerintah. Dengan TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 11 . sehingga dalam peraturan daerah ini terdapat ketentuan tentang pencabutan terhadap sebagian ketentuan dalam peraturan daerah yang mengatur masalah retribusi yang tidak lagi diatur dalam undang-undang pelayanan tetapi pada prakteknya serta masih menyelenggarakan kepada masyarakat pencabutan dikenakan sanksi berupa penundaan dana alokasi umum dan/atau dana bagi hasil atau terhadap seluruh peraturan daerah tentang retribusi yang sudah ada. Oleh karena itu. bahwa untuk meningkatkan efektivitas pengawasan terhadap retribusi yang dipungut daerah. Pemberian peluang tersebut selain untuk mengantisipasi penyerahan fungsi pelayanan dan perizinan dari pemerintah kepada daerah yang juga diatur dalam peraturan pemerintah.

Pasal 6 Cukup jelas. retribusi yang dipungut oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur diatur dalam 1 (satu) Peraturan Daerah tentang Retribusi Daerah. Pasal 10 Cukup jelas. Pasal 7 Cukup jelas. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas.-3Dengan pertimbangan efektivitas dan efisiensi. yaitu Retribusi Jasa Umum. Pasal 8 Cukup jelas. Retribusi Jasa Usaha dan Retribusi PerizinanTertentu yang masing-masing dibagi dalam jenis-jenis retribusi yang dipungut oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan struktur dan besaran tarif dicantumkan dalam lampiran yang dikelompokkan menurut obyek retribusi dan dikelompok masing-masing pemungut. II. Pasal 5 Cukup jelas. Pasal 9 Cukup jelas. Pasal 4 Cukup jelas. Pasal 3 Cukup jelas. Pasal 11 TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 11 . yang didalamnya sekaligus mengatur mengenai 3 (tiga) objek retribusi yang diatur dalam UndangUndang Nomor 28 Tahun 2009. Pasal 2 Cukup jelas.

Pasal 19 Cukup jelas. Pasal 24 Cukup jelas. Pasal 21 Cukup jelas. Pasal 17 Cukup jelas. Pasal 25 TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 11 . Pasal 13 Cukup jelas. Pasal 22 Cukup jelas. Pasal 15 Cukup jelas.-4Pasal 11 Cukup jelas. Pasal 12 Cukup jelas. Pasal 23 Cukup jelas. Pasal 20 Cukup jelas. Pasal 18 Cukup jelas. Pasal 14 Cukup jelas. Pasal 16 Cukup jelas.

Pasal 33 Cukup jelas. Pasal 37 Cukup jelas. Pasal 36 Cukup jelas. Pasal 35 Cukup jelas. Pasal 38 Cukup jelas. Pasal 26 Cukup jelas. Pasal 27 Cukup jelas.-5Pasal 25 Cukup jelas. Pasal 29 Cukup jelas. Pasal 39 TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 11 . Pasal 28 Cukup jelas. Pasal 32 Cukup jelas. Pasal 31 Cukup jelas. Pasal 30 Cukup jelas. Pasal 34 Cukup jelas.

Pasal 48 Cukup jelas. Pasal 42 Cukup jelas. Pasal 49 Cukup jelas. Pasal 44 Cukup jelas. bibit atau benih ikan dan bahan baku keramik. Pasal 46 Cukup jelas. Pasal 41 Cukup jelas. bibit ternak. Pasal 51 Cukup jelas. antara lain berupa bibit atau benih tanaman. Pasal 40 Cukup jelas. Pasal 47 Yang dimaksud hasil produksi usaha Pemerintah Provinsi. Pasal 43 Cukup jelas. Pasal 50 Cukup jelas.-6Pasal 39 Cukup jelas. Pasal 52 TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 11 . Pasal 45 Cukup jelas.

Pasal 62 TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 11 . Huruf b yang dimaksud dengan “pelayanan angkutan tidak dalam trayek” adalah pelayanan jasa angkutan orang yang sifat pelayanannya tidak dibatasi oleh wilayah administratif serta tidak berjadwal. Huruf c Yang dimaksud dengan “pelayanan angkutan yang menyimpang dari trayeknya untuk keperluan tertentu” adalah pelayanan jasa angkutan orang oleh perusahaan angkutan yang telah memiliki izin trayek untuk menggunakan kendaraan bermotor cadangannya menyimpang dari izin trayek yang dimiliki. baik berjadwal maupun tidak berjadwal. Pasal 60 Cukup jelas. Pasal 61 Cukup jelas. Pasal 55 Cukup jelas. Pasal 54 Cukup jelas.-7Pasal 52 Huruf a yang dimaksud dengan “pelayanan angkutan pada trayek tetap” adalah pelayanan jasa angkutan orang yang memiliki asal dan tujuan perjalanan tetap. Pasal 59 Cukup jelas. Pasal 56 Cukup jelas. Pasal 58 Cukup jelas. Pasal 57 Cukup jelas. Pasal 53 Cukup jelas. lintasan tetap.

Pasal 63 Cukup jelas. Pasal 67 Cukup jelas. Pasal 74 Cukup jelas. Pasal 64 Cukup jelas.-8Pasal 62 Cukup jelas. Pasal 69 Cukup jelas. Pasal 70 Cukup jelas. Pasal 71 Cukup jelas. Pasal 66 Cukup jelas. Pasal 73 Cukup jelas. Pasal 68 Cukup jelas. Pasal 72 Cukup jelas. Pasal 75 Cukup jelas. Pasal 76 TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 11 . Pasal 65 Cukup jelas.

LAMPIRAN TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 11 . Pasal 79 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “instansi yang melaksanakan pemungutan” adalah dinas/badan/lembaga yang melaksanakan pelayanan yang menjadi objek retribusi. Pasal 78 Cukup jelas. Pasal 82 Cukup jelas. Pasal 81 Cukup jelas. Pasal 84 Cukup jelas. Ayat (2) Pemberian besarnya insentif dilakukan melalui pembahasan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dengan Komisi yang membidangi keuangan. Pasal 83 Cukup jelas. Pasal 80 Cukup jelas. Pasal 77 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 86 Cukup jelas. Pasal 85 Cukup jelas.-9Pasal 76 Cukup jelas.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->