PRINSIP PENGGUNAAN ANTIBIOTIK

09.07 Febri Irawanto No comments

PRINSIP PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DAN SELEKSI TERAPI EMPIRIK PNEUMONIA

PENDAHULUAN
Penyakit infeksi merupakan kelompok penyakit yang amat sering dijumpai di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Penyakit infeksi dapat mengenai organ atau sistem pada tubuh manusia seperti sistem pernafasan, pencernaan, saluran kencing, mata, saraf, kulit, rambut, kuku dan sebagainya. Dalam keadaan lanjut infeksi bahkan merupakan ancaman kematian karena septikemia merupakan keadaan yang tidak mudah diatasi meskipun ruang rawat intensif serta berbagai peralatan canggih dan obat-obat mutakhir tersedia. Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, infeksi menjadi persoalan besar karena lingkungan yang tidak bersahabat, gaya hidup yang tidak menunjang kesehatan, dan daya beli masyarakat terhadap pengobatan terbatas. Semua itu masih ditambah dengan kebiasaan menkonsumsi sendiri antimikroba yang dapat diperoleh secara mudah. Masalah menjadi lebih pelik manakala galur kuman resisten mulai tumbuh dan munculnya jamur sebagai patogen pengganti. Perkembangan seperti itu akan diikuti oleh diproduksinya antimikroba baru yang harganya sangat mahal dan tidak dapat dijangkau oleh masyarakat kita pada umumnya. Antibiotik pada infeksi pernafasan merupakan dasar terapi, dimana penggunaannya bervariasi tergantung umur, tipe pneumonia (komuntias atau nosokomial), adanya penyakit penyerta dan beratnya penyakit. Terapi initial dimulai dengan pemberian terapi empirik antibiotik spektrum luas sampai didapatkan hasil test

PRINSIP PENGGUNAAN ANTIBIOTIK 1. meningitis dan osteomielitis penggunaan bakterisid lebih disukai. sehingga sambil menunggu hasil tersebut pasien diberi terapi anti mikroba secara empirik.9 % ukuran inokulum. endokarditis. Dikenal istilah daya hambat minimal (MIC) dan daya bunuh minimal (MBC) yaitu konsentrasi minimum yang dibutuhkan untuk menghambat pertumbuhan bakteri pada 90 % inokulum dan daya bunuh minimum untuk mematikan bakteri pada 99. Pemberian anti mikroba yang tepat harus berdasarkan biakan kuman dan uji kepekaan anti mikroba. Pada keadaan tertentu yang berhubungan dengan neutropenia.diagnostik dimana dapat diberikan antibiotik untuk patogen penyebab secara spesifik. Bakterisid berarti bersifat membunuh bakteri dengan cara tanpa untuk menghambat sintesa dinding sel bakteri ataupun menghambat fungsi metabolisme dari organisme. Sedangkan bakteriostatik menghambat pertumbuhan bakteri mempengaruhi dinding sel dan bersam host memberikan perlawanan mengeliminasi bakteri. Perbedaan ini tidak sepenuhnya dapat diaplikasikan pada penggunaan antibiotik dimana pada beberapa jenis antibiotik bersifat bakterisid pada mikroorganisme tertentu dan bakteriostatik pada bakteri lainnya. . Pemberian anti mikroba secara empirik dilakukan berdasarkan data Peta Kuman dan pola kepekaan anti mikroba yang diperoleh dari waktu sebelumnya. Pemberian antibiotik berdasarkan kerentanan bakteri penyebab. Mekanisme Kerja Secara umum dikenal istilah bakterisid dan bakteriostatik. Tetapi biakan kuman dan uji kepekaan ini memerlukan waktu beberapa hari. Pada beberapa kasus patogen penyebab tidak dapat ditemukan sehingga terapi empirik dilanjutkan sesuai dengan respon penderita. Sebagai contoh MIC berarti sensitivitas patogen terhadap antibiotik spesifik dengan asumsi konsentrasi yang dibutuhkan untuk mematikan dapat meningkat dalam serum meskipun konsentrasi dalam paru lebih rendah dibandingkan serum.

Penetrasi Kedalam Paru Konsentrasi dalam paru tergantung dari permeabilitasi kapiler pada sisi infeksi (sirkulasi bronkhial). konsentrasi dalam paru tidak tergantung inflamasi Quinolon Makrolide baru : azitromisin. Lokalosasi patogen penting peranannya misalkan organisme intraseluler seperti Legionella pneumophila dan Chlamydia pneumoniae secara baik dieradikasi oleh obat yang konsentrasinya di makrofag tinggi. ada tidakanya transpor aktif untuk antibiotik didalam paru. konsentrasi dalam paru tergantung inflamasi Aminoglikosida Beta laktam : Sefalosporin Monobactam Karbapenem Penisilin TERAPI ANTIBIOTIK EMPIRIK UNTUK INFEKSI PERNAFASAN . Konsentrasi antibiotik didalam parenkim paru tergantung dari sirkulasi kapiler bronkhial. derajat daya ikat protein terhadap obat.2. klaritromisin Tetrasiklin Klindamisin Kombinasi trimetroprim dan sulfametoksazol Penetrasi Buruk : Relatif lipid insoluble. Pada tabel 1. Penetrasi Antibiotik ke dalam Saluran Pernafasan Penetrasi Baik : Lipid soluble. dibawah ini diperlihatkan tabel penetrasi antibiotik kedalam sekresi respiratori Tabel 1.

Keadaan ini disebabkan karena :  Test diagnostik memiliki keterbatasan dimana etiologi spesifik hanya terdapat pada setengah penderita. Tetapi biakan kuman dan uji kepekaan ini memerlukan waktu beberapa hari.. umur. Agar efektif terapi antibiotik harus cepat dan tepat Pada penelitian didapatkan keadaan INFEKSI SALURAN PERNAFASAN berat yang membaik dengan pemberian awal antibiotik spektrum luas secara empirik namun hasil akhir tidak meningkat dengan diidentifikasinya patogen spesifik sebagai penyebab. sehingga sambil menunggu hasil tersebut pasien diberi terapi anti mikroba secara empiris. Terapi empiris adalah terapi yang dimulai pada penderita yang sakit karena terinfeksi yangh diduga oleh kuman yang biasanya menjadi penyebab. Pada orangtua pertumbangkan pula aspirasi (sering tenang) dan organisme anaerob harus dicurigai. Agen penyebab terutama Streptococcus pneumonioae.Hingga kini penyakit infeksi masih merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang utama di Indonesia. Pada orang tua dan perokok Hemophilus influenzae sering menjadi etiologi. Pemberian anti mikroba secara empiris dilakukan berdasarkan data Peta Kuman dan pola kepekaan anti mikroba yang diperoleh dari waktu sebelumnya. faktor komorbid dan pola epidemiologi. Untuk mengatasi hal ini diperlukan terapi anti mikroba yang tepat berdasarkan biakan kuman dan uji kepekaan anti mikroba. Terapi empirik pada INFEKSI SALURAN PERNAFASAN merupakan hal mendasar. Memungkinkan dilakukan karena bakteriologis dapat dirediksi berdasarkan beratnya penyakit pneumonia. Patogen atypical .    Prediksi Patogen Penyebab Hal mendasar pada empirik terapi adalah patogen penyebab dapat di prediksi dan merupakan petunjuk terhadap seleksi antibiotik.

1 Kuman Klebsiella pneumoniae (54.5%) Cephalosporin – III Azitromicin Gentamicin .5%) Antimikroba Cephalosporin – III Gentamicin Cotrimoxazol 2 Moraxella catharrhalis (26.dan virus sering pada anak muda dan sehat. RS Persahabatan. Pada S. data disajikan berdasarkan kuman yang dominan dan antibiotik yang sensitif : Tabel 2. Pada orangtua dengan penyakit kronis gram negatif banyak menjadi penyebab dan pada INFEKSI SALURAN PERNAFASAN berat pikirkan adanya infeksi Pseudomonas aeruginosa. POLA KUMAN SALURAN PERNAFASAN DAN PEMILIHAN ANTIBIOTIK Data kuman ini diambil dari data kuman yang ada di RSUPN Cipto Mangunkusumo. dan RS Kangker Darmais sampai tahun 2001. Pola Kuman Saluran Nafas Atas No. diabetes dan gagal ginjal pikirkan Staphilococcus aureus. Resistensi penisilin dipikirkan pada keadaan terapi antibiotik 3 bulan kebelakang dan penderita debil serta penyakit imunosupresif. dan dipublikasikan oleh Bagian Patologi Klinik FKUI Jakarta 2002. Saluran Nafas Atas Sampel diambil dari Laring dan Faring. pneumonia yang resisten sedang terhadap penisilin diberikan penisilin dosis tinggi dan sefalosporin genersi ketiga. Pada pneumonia paska influensa.

Cara non invasif yang sering dilakukan adalah menggunakan spesimen berupa sputum yang dibatukkan. Kuman Antimikroba . Tabel 4. tetapi cara ini sangat invasif.3 4 Escheria coli (19%) Staphylococcus aureus Saluran Nafas Bawah Permasalahan pada saluran nafas bawah adalah teknik pengambilan spesimen. 1 2 3 4 5 Kuman Klebsiella pneumoniae Actinobacter Pseudomonas Staphylococcus Streptococcus ICU (Intensive Care Unit) Pemeriksaan sputum pada pasien di ICU menunjukan hasil yang berbeda baik pola kumannya dan sesitivitasnya. Pola Kuman Saluran Nafas pada Pasien di ICU No. sayangnya angka kontaminasi cukup tinggi. Tabel 3. Cara yang dianggap paling baik untuk memperoleh spesimen kuman adalah aspirasi transthorakal. Cara lain adalah dengan sikatan bronkus. Pola Kuman Saluran Nafas Bawah (Pneumonia) No. tetapi cara ini sulit dan hanya dilakukan pada kasus dimana respon terapi buruk.

Piperacilin Monobactam : Aztreonam Carbapenems : Imipenem Obat dengan aktivitas anti gram negatif yang baik : Clindamycin. Disisi lain patogen penyebab pada keadaan berat dapat diprediksikan. Imipenem. Ampicilin Sulbactam. Cefpirome Ticarcilin. Amoxycilin asam Klavulanat. Penicilin dosis tinggi .1 2 3 Pseudomonas (33%) Klebsiella pneumoniae (22%) MRSA (Methicilin Aminoglikosida Cephalosporin – III & IV Resistant Vancomycin Staphylococcus aureus) Terapi Empirik dengan Antibiotik Spektrum Luas dan Hasilnya Patogen penyebab tidak teridentifikasi lebih dari separuh kasus. Cefoperazone Quinolon : Ciprofloxacin Cephalosporin generasi IV : Cefepime. Kondisi ini menurunkan angka kematian dan meningkatkan kelangsungan hidup. Cefoxitin. REGIMEN SPESIFIK UNTUK TERAPI EMPIRIK INFEKSI PERNAFASAN Obat dengan aktivitas anti pseudomonas : Prinsip Terapi : dua anti pseudomonas Aminoglikosid : Tobramycin. Gentamicin Cephalosposrin : Ceftazidime. Metronidazole. Amikacin. Chloramphenicol. Untuk itu digunakan antibiotik spektrum luas utamanya makrolide intravena dan sefalosporin generasi kedua atau ketiga atau dengan agen beta laktam. Netilmycin.

(Manual of Antibiotics and Infectious Diaseases. Tabel 6. Kegunaan Antibiotik berdasarkan jenis kuman No. Ofloxacin. aureus Mycop. C. pneumoniae. Imipenem. Influenza. Piperasilin. Eritromisin Bronkhitis Aspirasi Pneumonia Pneumonia CAP Clindamycin Makrolide atau Levofloxacin Penicilin G Vankomycin ditambah makrolide atau levofloxacin Pneumonia HAP Pierasilin tazobactam. Diphteriae Strep.Obat yang aman digunakan pada penderita dengan penyakit Liver : Aminoglikosid. MRSA Empirik Penicilin V Alternativ Makrolide. aureus. aureus Imipenemm atau meronem tambah gentamicin. Meropenem. Amoxycilin as. Tabel 5. Kultur dan Resistensi test. Terapi Empirik berdasarkan Dugaan Kuman Penyakit Pharingitis Organisme Grup A. cephalosporin. S. Legionella. Grup A. Ampicilin. Pneumoniae. Cystic Fibrosis Pseudomonas aeriginosa. Diagnosis : Preparat Gram. aureus. 9th ed) 2002. Penicilin G. S. virus S. Pneumoniae Virus. Treatment & Prevention. Imipenem. H. Chlamidia Pneu. dan gentamicin Nafcilin. Cefuroxim. atau tobramisin dan ceftazidime. ampicilin-sulbactam TMP/SMX atau claritromycin atau cefuroxim Sinusistis Amoxyciliin. Lippincott Williams & Wilkins. Bordetella pertusis Mixed bakteri oropharink dan anaerob S. M. Aureus . Pneumoniae. pneumoniae. Clav. pneumoniae. Obat Penisilin biasa 1 Penisilin Natural Penisilinase – Resistant Penisilin 1 Oxacilin 2 Flucloxacilin Gram (+) +++ ++ ++ Gram (-) Anaerobik ++ + + Keterangan Spektrum luas Spesifik untuk : Staph. Cephalexin. C Streptoccus Coryne. atau tobramisin. Obat pilihan untuk aspirasi pneumonia : Clindamycin Metronidazole. Klebs. Cefoxitin. Strptococcus Staph.

Meropenem Makrolide 1 Erytromicin 2 Azytromicin 3 Clarytromycin 4 Roxytromisin 5 Diritromycin No. Aureus & Enterococcus Spektrum luas Baik untuk infeksi dengan kuman anaerob Antipseudomonas Aminopenisilin 1 Amoxisilin 2 Ampisilin 3 Amox asam Clavulanat 4 Ampi Sulbactam ++ ++ ++1/2 ++ ++ ++ ++1/2 ++ ++1/2 ++1/2 Penisilin dengan aktivitas anti pseudominas : 1 Piperasilin/ ++ Tazobactam Monobactam 1.Glycopeptide 1 Vancomycin +++ - 1/2 Spesifik untuk : Staph. Aztreonam - ++1/2 + +++ - Sebagai pengganti aminoglikosida pd Renal Failure Harga Mahal Carbapenem 1 Imipenem-Cilastin 2. Obat Tetracyclin 1 Doxyciclin 2 Tetracyclin Aminoglikosid 1 Amikacin 2 Gentamicin 3 Tobramicin 4 Netilmicin 5 Streptomycin Quinolon 1 Ciprofloxacin 2 Norfloxacin 3 Ofloxacin 4 Fleroxacin 5 Pefloxacin 6 Rosoxacin 7 Sparfloxacin New Fuoroquinolon 1 Levofloxacin 2 Gatifloxacin 3 Moxifloxacin Generasi I Cephalosporin 1 Cephalexin +++ +++ ++1/2 ++1/2 +++ +++ +1/2 ++ +++ +++ + +1/2 ESO : GI upset Gram (+) ++ Gram (-) ++ Anaerobik +1/2 Keterangan + +++ - Anti Pseudomonas OAT + +++ Terbaik untuk Pseudomonas Severe UTI ++ ++ ++ +++ + + Aktivitas anaerobik lebih baik +++ - - .

Pneumoniae Streptokokus Pyogenes.= Tidak ada aktifitas pada mikroorganisme + = Aktifitas cukup pada mikroorganisme ++ = Aktifitas baik pada mikroorganisme +++ = Aktifitas sangat baik pada mikroorganisme Sedangkan apabila kuman penyebab sudah diketahui berdasarkan hasil kultur maka kita perlu untuk menyesuiakan perubahan terapi berdasarkan Drug of Choice kuman tersebut. Vancomycin Trimetropim Sulfametoksazole . Cefaclor. Cefoperazone. Ceftizoxime Generasi IV Cephalosporin 1 Cefepime 2 Cefirome Obat Golongan lain 1 Clindamycin 2 Chloramphenikol 3 Co Trimoxazol 4 Metronidazole +++ +++ ++ Baik untuk strain bakteri resisten Baik untuk anaerob DOC Typhoid Untuk anaerob ++ ++1/2 ++1/2 - ++1/2 ++1/2 - +++ ++1/2 ++1/2 Keterangan : .B. F. Obat Generasi III Cephalosporin 1 Ceftriaxone 2 3 4. Drug Of Choice Antibiotik berdasarkan Biakan Kuman Bakteri Moraxella catarrhalis DOC Co-Amoxiclav Cefalosporin Trimethoprim Sulfametoksazole Penicilin G Penisinil G atau V Ditambah Gentamisin Penicilin G + Aminoglikosida Vancomycin Alternativ Makrolide. C. Streptokokus Viridans Staphylococcus Aureus. Erytromisin. Fluoroquinolon Gram Positif Kokus Pneumokokus Strep. Methicilin Resistant Amoxyxilin. Cephalosporin. Cephradine Generasi II Cephalosporin 1 Cefuroxim 2 Cefoxitin 3. Ceftazidime Cefotaxim ++1/2 ++ ++ ++ + ++1/2 Baik untuk anaerob Gram (+) ++ Gram (-) +++ Anaerobik ++ Keterangan Baik untuk MDR typhoid Baik untuk antipseudomonas Baik untuk meningitis Cefetamet. Cefamandole No. Makrolide Cephalosporin I. G. Cefotiam. Vancomycin Semua Beta Laktam. Cefixime. Cefprozil. Tabel 7. Ceftibuten.2 Cefazolin 3 Cefalotin. hemolitikus grup A.

Vancomycin Vancomycin. Kulit : Rash. Ciprofloxacine. Urtikaria. Pruritus GI : Mual. muntah. Claritromycin. Erytromycin Doxyciclin Farmakologis Antibiotik Ceftriaksone Efek samping : Lokal : Phlebitis. peningkatan liver enzim . Ceftriaxone Cephalosporin III Azitromisin. nyeri. Tetraciclin. Ampicilin. Gram Negative Batang Haemophilus Influenza Klebsilellae pneumoniae Legionella sp Pseudomonas Aeriginosa Cefotaxim. peradangan pada tempat suntikan General : Anafilaksis. nyeri perut. Chloramphenocol Ciprofloxacin. peradangan pada tempat suntikan General : Anafilaksis. drug fever. Pruritus GI : Mual. Ceftizoxims. muntah. diare. eosinophilia. Trimetropim Sulfametoksazole. Ofloxacin. Ciprofloxacin Aminoglikoside + Antipseudomonal penisilin Pseudomonas Pseudomallei Ceftazidime Pseudomonas Mallei Spirochetes : Mycoplasma Pneumoniae Chlamydia Pneumoniae Strptomycin + Tetraciclin Azytromycin. Clindamycin. Leukoplakia.Staphilococus non Penisilinase Staphilococcus Penisilinase Penicilin G Penisilinase resistant Penisilin Cephalosporin I. Claritromisin Ceftazidime + Aminoglokoside atau ciprofloxacin Imipenem + Aminoglokoside atau ciprofloxacin Chloramphenicol. Urtikaria. CoAmoxiklav Chloramphenicol + Tetraciclin Doxycycline Eritromycin. Anemia Interaksi Obat : Potensiasi renal toxicity dengan obat nefrotoksik lain Ceftazidime. diare. atralgia. candidiasis. Cephalosporin. Kulit : Rash. Ampicilin Sulbactam Imipenem. candidiasis. Claritromycine. Co-Amoxyclav. eosinophilia. Cefotaxime. peningkatan liver enzim Renal : peningkatan BUN transient Hematologis : Eosinophilia. nyeri perut. Aminoglikosides. atralgia. Cefoperazone Efek samping : Lokal : Phlebitis. nyeri. drug fever.

Kejang Interaksi Obat : Dengan gansiklovir dapat menyebabkan kejang Trimetroprim Sulfamethoxazole Efek samping : General : Kern Ikterus Kulit : Dermatitis. Quinolone Efek Samping : CNS : nyeri kepala Interaksi obat : Menginhibisi metabolisme dari teofilin Antacid dan sucralfat menghambat absorpsi Golongan penisilin Efek samping : General : Anafilaksis. colitis CNS : Somnolen. Urtikaria. False (+) untuk glukosa urine. diare. Azithromysin Efek samping : Lokal : Thrombophlebitis. tremor. nyeri. False (+) Commbs Test Clarithromycin.Renal : peningkatan BUN transient Hematologis : Eosinophilia. Colitis Hepatotoxic : bila disuntikan IM meningkatkan SGOT Interaksi obat : Antagonis eritromycin Imipenem Efek samping : General : Drug Fever Lokal : Thrombophlebitis. Kulit : Rash. Tinitus. Urtikaria. edema. Anemia Interaksi Obat : Potensiasi renal toxicity dengan obat nefrotoksik lain . muntah. nephritis. nyeri perut. nyeri. muntah. muntah. peradangan pada tempat suntikan Kulit : Rash. Leukoplakia. Steven Johnson Syndrome. Pruritus GI : Mual. . drug fever. Urtikaria. diare Renal : intertitial nephritis Hematologis : Anemia hemolitik pada dosis tinggi Interaksi Obat : Inaktivasi aminoglikosida pada dosis tinggi Clindamycin GI : Diare. serum sikness. pruritus GI : Mual. insomnia. vertigo Interaksi Obat : Meningkatkan konsentrasi CPZ teofilin ranitidin dan omeprazole dalam serum. dispepsia CNS : Confuse. nyeri perut. diare. Photosensityfity GI : Mual. peradangan pada tempat suntikan Kulit : Rash.

Anemia defisiensi asam folat. Trombositopenia. Anemia Hemolitik pada insufisiensi G6PD. Leukopenia pada AIDS Interaksi Obat : Inaktivasi aminoglikosida pada dosis tinggi Posted in: Penyakit Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda 0 komentar: Poskan Komentar . muntah Renal : ATN Hematologis : Agranulositosis.GI : Mual.