Anda di halaman 1dari 80

Plan of Action

UPAYA PENINGKATAN PENEMUAN PASIEN TB PARU BTA POSITIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ANDALAS

Oleh : Irfan Kurnia Farid I Husien Desy Nofita Sari Elsa Safitry Masrul

Preseptor : Dr. Rima Semiarti, MARS

Penguji : Prof. Dr. dr. Indrawati Lipoto, M.Sc

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

Plan Of Action l 2

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Pembangunan kesehatan sebagai bagian dari pembangunan nasional yang dlaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan serta ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh Program pemberantasan penyakit menular mempunyai peranan dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian. Salah satu penyakit menular ini adalah kegiatan penanggulangan Tuberculosis (TB) menurut data Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1955, TB merupakan penyebab kematian ketiga terbesar setelah penyakit Kardiovaskuler dan penyakit Infeksi. Menurut laporan WHO (1999). Indonesia merupakan penyumbang penyakit TB terbesar nomor 3 di dunia setelah India dan Cina. Puskesmas merupakan ujung tombak peningkatan derajat kesehatan masyarakat, berfungsi sebagai pusat pelayanan kesehatan masyarakat, pusat pengembangan kesehatan masyarakat, dan juga sebagai peningkatan peran serta masyarakat dalam membangun kemandirian masyarakat. Untuk menanggulangi masalah TB ini pendekatan yang paling tepat saat ini harus dapat dilaksanakan secara sungguh-sungguh. Maka untuk mencapai tujuan pembangunan masalah TB ini dapat dilakukan dengan penerapan teknologi kesehatan secara tepat oleh petugas kesehatan dan didukung peran serta aktif masyarakat. Penyakit TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat di Indonesia. Tahun 1995, hasil SKRT menunjukan bahwa penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernapasan pada semua kelompok manusia, dan nomor satu dari golongan penyakit infeksi. Tahun 1999, WHO memperkirakan setiap tahun terjadi 583.000 kasus baru TB dengan kematian sekitar 140.000, secara kasus di Indonesia terdapat 130 penderita TB paru BTA positif dari 100.000 penduduk, pada tahun 1995-1998, cakupan penderita TB dengan strategi DOTS baru mencapai 10%. Pengobatan yang tidak teratur dan kombinasi obat tidak lengkap di masa lalu, diduga telah menimbulkan kekebalan ganda kuman TB terhadap OAT atau Multi Drug Resisten.

Plan Of Action l 3

Indikator nasional yang dipakai untuk menentukan keberhasilan pencapaian program TB adalah angka penemuan penderita (Case Detection Rate) minimal 70%, angka kesembuhan (Cure Rate) minimal 85%, angka konversi (Conversion Rate) minimal 80% dan angka kesalahan laboratorium (Error Rate) maksimal 5%. Berdasarkan laporan pelaksanaan Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit TB (P2P TB) Puskesmas Andalas dan surveilans tahun 2010 2011, didapatkan angka kejadian TB BTA (+) yang meningkat dari tahun 2010 sampai dengan 2011, yaitu 35 kasus pada tahun 2010 dan 66 kasus untuk tahun 2011. Berdasarkan laporan pelaksanaan program tuberkulosis paru tahun 2010 2012, didapatkan angka Case Detection Rate (CDR) tuberkulosis paru masih sangat rendah daripada yang diharapkan. Pada tahun 2010, angka Case Detection Rate (CDR) tuberculosis di wilayah kerja Puskesmas Andalas 28.2%, dengan penderita BTA + baru ditemukan sebanyak 35 kasus dari perkiraan BTA (+) sebanyak 124 kasus. Pada tahun 2011, terjadi peningkatan angka Case Detection Rate (CDR) tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Andalas mejadi 53.2%. Namun masih jauh dari target yang diharapkan menurut target nasional yaitu lebih dari 70%. Untuk triwulan I dan II tahun 2012, sudah ditemukan 30 kasus penderita baru TB BTA (+) dengan CDR TB 13,7%. Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa angka penemuan kasus TB dengan BTA(+) di wilayah kerja Puskesmas Andalas sudah semakin meningkat, namun belum memenuhi target Case Detection Rate (CDR) yang ditetapkan. Mengingat pentingnya pencapaian Case Detection Rate (CDR) dalam penanggulangan kasus tuberkulosis, maka penulis merasa perlu mengangkat masalah masih rendahnya pencapaian CDR TB di wilayah kerja Andalas dalam pembuatan Plain of Action (PoA).

1.2. Rumusan Masalah 1. Apa yang menyebabkan rendahnya cakupan penemuan suspek TB di wilayah kerja Puskesmas Andalas? 2. Apa faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya cakupan penemuan suspek TB di wilayah kerja Puskesmas Andalas? 3. Bagaimana alternatif solusi untuk masalah rendahnya rendahnya cakupan penemuan suspek TB di wilayah kerja Puskesmas Andalas?

Plan Of Action l 4

1.3. Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari pembuatan Plan of Action (PoA) ini adalah: 1. Mengidentifikasi masalah yang ada di Puskesmas Andalas. 2. Menetapkan prioritas masalah yang ada di Puskesmas Andalas. 3. Menganalisa penyebab timbulnya masalah yang menjadi prioritas. 4. Menemukan penyebab utama rendahnya cakupan penemuan suspek TB di wilayah kerja Puskesmas Andalas. 5. Menemukan solusi alternatif untuk menyeleaikan pemecahan rendahnya cakupan penemuan suspek TB di wilayah kerja Puskesmas Andalas. 6. Menentukan Plan of Action dari prioritas masalah yang ada di Puskesmas Andalas.

1.4. Manfaat Penulisan Dengan penulisan makalah ini, penulis mampu mengidentifikasi masalah kesehatan dan menentukan prioritas masalah serta dapat mencari solusi yang tepat sehingga nantinya dapat menjadi masukan bagi Puskesmas Andalas, serta penulisan makalah ini juga dapat menjadi media pembelajaran bagi kami dalam merancang suatu perencanaan di Puskesmas. Selain itu, diharapkan makalah ini dapat memberikan kontribusi kepada pihak Puskesmas dalam melaksanakan upaya peningkatan penemuan pasien baru BTA positif (Case Detection Rate = CDR) di wilayah kerja Puskesmas Andalas.

Plan Of Action l 5

BAB II GAMBARAN UMUM PUSKESMAS

2.1. Sejarah Puskesmas Puskesmas Andalas didirikan pada tahun 1975. Pertama kali dipimpin

oleh Dr. Tamrin dengan 6 orang pegawai yang terdiri dari 1 orang bidan, 1 orang perawat, 1 orang tenaga sanitasi, 1 orang pembantu bidan, 1 orang pembantu perawat dan 1 orang tenaga tata usaha dengan 11 program pokok. Wilayah kerja Puskesmas Andalas setelah pemekaran kota Padang menjadi 11 kecamatan, Alai masuk ke Padang Utara dan 3 buah Pustu di bawah Puskesmas Alai menjadi milik Puskesmas Andalas, sehingga pegawai Puskesmas Andalas juga bertambah menjadi 15 orang. 2.2. Keadaan Geografis Puskesmas Andalas terletak di kelurahan Andalas dengan luas 8.15 km2 dengan batas-batas sebagai berikut: - sebelah utara - sebelah selatan - sebelah barat - sebelah timur : Kecamatan Padang Utara, Kuranji : Kecamatan Padang Selatan : Kecamatan Padang Barat : Kecamatan Lubuk Begalung, Pauh

Puskesmas Andalas meliputi 10 kelurahan sebagai wilayah kerjanya. Kesepuluh kelurahan tersebut adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Kelurahan Sawahan Kelurahan Jati Baru Kelurahan Jati Kelurahan Sawahan Timur Kelurahan Simpang Haru Kelurahan Andalas Kelurahan Kubu Marapalam Kelurahan Kubu Dalam Parak Karakah Kelurahan Parak Gadang Timur

10. Kelurahan Ganting Parak Gadang

Plan Of Action l 6

Gambar 2.1. Peta wilayah kerja Puskesmas Andalas

2.3. Keadaan Demografis Data kependudukan Kecamatan Padang Timur sebagai wilayah kerja Puskesmas Andalas adalah: Tabel 2.1. Distribusi Penduduk menurut Kelurahan Tahun 2011 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kelurahan Kelurahan Sawahan Kelurahan Jati Baru Kelurahan Jati Kelurahan Sawahan Timur Kelurahan Simpang Haru Kelurahan Andalas Kelurahan Kubu Marapalam Kelurahan Kubu Dalam Parak Karakah Kelurahan Parak Gadang Timur Kelurahan Ganting Parak Gadang Jumlah Penduduk (jiwa) 5,438 6,798 10,207 6,646 4,274 9,785 6,309 10,964 8,217 13,294 81,932

Plan Of Action l 7

Tabel 2.2. Daftar Sasaran Kesehatan Puskesmas Andalas Tahun 2011 Kelurahan Sawahan Jati Baru Jati Sawahan Timur Kubu Marapalam Andalas Kubu Dalam Pr. Karakah Parak Gadang Timur Simpang Haru Ganting Parak Gadang Jumlah Bayi 153 161 250 128 152 221 250 188 141 251 1895 Balita Bumil 749 786 1223 629 741 1081 1226 922 689 1229 9275 168 177 275 142 167 243 275 207 155 276 2085 Bulin Buteki 160 169 262 135 160 232 263 198 148 263 1990 306 322 500 256 304 442 500 376 282 502 3790 WUS 1571 1650 2567 1321 1560 2268 2572 1934 1446 2579 19468 PUS 1076 1130 1758 904 1069 1554 1762 1325 991 1766 13335 Lansia 531 558 868 446 527 766 869 653 489 871 6578

2.4. Sarana dan Prasarana 2.4.1. Sarana dan Prasarana Kesehatan Wilayah kerja Puskesmas Andalas sangat luas, oleh karena itu untuk melayani masyarakat, Puskesmas Andalas memiliki 1 buah Puskesmas induk, dan 8 buah Puskesmas pembantu dan 1 buah Poskeskel yang tersebar di wilayah kerja Puskesmas Andalas, yaitu : 1. Puskesmas Pembantu Andalas Barat 2. Puskesmas Pembantu Parak Karakah 3. Puskesmas Pembantu Tarandam 4. Puskesmas Pembantu Ganting Selatan 5. Puskesmas Pembantu Jati Gaung 6. Puskesmas Pembantu Sarang Gagak 7. Puskesmas Pembantu Kubu Dalam 8. Puskesmas Pembantu Kampung Durian 9. Poskeskel Kubu Marapalam

Plan Of Action l 8

Untuk kelancaran tugas pelayanan terhadap masyarakat, Puskesmas Andalas mempunyai: 1 buah kendaraan roda empat (Puskel) 5 buah kendaraan roda dua Sarana kesehatan lain yang ada di wilayah kerja Puskesmas Andalas yaitu: Rumah Sakit Pemerintah Rumah Sakit Swasta Klinik Swasta Dokter Praktek Umum Dokter Praktek Spesialis Bidan Praktek Swasta Dukun Terlatih Kader aktif Pos KB Posyandu Balita Posyandu Lansia 2.4.2. Sarana dan Prasarana Umum Sarana dan prasarana umum di wilayah kerja Puskesmas Andalas: Taman kanak-kanak (TK) SD Negeri SD Swasta SMP/MTsN SMA/ SMK Perguruan tinggi Tempat ibadah Salon/ pangkas rambut Pasar : 34 buah :35 buah : 13 buah : 11 buah : 15 buah : 4 buah : 112 buah : 34 buah : 2 buah :3 :6 :6 : 51 orang : 15 orang : 30 orang : 2 orang : 352 orang : 12 pos : 88 buah : 8 buah

Plan Of Action l 9

2.5. Kondisi Sosial, Budaya dan Ekonomi Sebagian besar penduduk wilayah kerja Puskesmas Andalas beragama Islam yaitu sekitar 96%, beragama Kristen 2%, Hindu 1% dan Budha 1 %. Keadaan ekonomi penduduk sebagian besar menengah ke bawah. 2.6. Tenaga Kesehatan dan Struktur Organisasi Puskesmas Andalas mempunyai tenaga kesehatan yang bertugas di dalam gedung induk dan Puskesmas Pembantu. dengan rincian: 51 orang PNS, 7 orang tenaga PTT, 5 orang tenaga volunteer/honor. Tabel 2.3. Komposisi Ketenagaan yang ada di Puskesmas Andalas NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. JENIS KETENAGAAN Dokter Umum Dokter Gigi SKM Akademi Perawat Akademi Bidan Pengatur Gizi / AKZI Perawat Bidan Perawat Gigi Sanitarian Asisten Apoteker Analis SMU Jumlah PNS 4 3 4 5 6 1 6 7 1 2 3 3 6 51 8 1 2 5 1 7 1 1 1 PTT HONOR JML 4 3 5 6 13 2 6 8 1 2 3 4 8 65

Plan Of Action l 10

PIMPINAN PUSKESMAS Dr. Dessy M Siddik . TATA USAHA/ KEPEGAWAIAN RENNY NOVEMY R SKM

PERLENGKAPAN UMUM Ernawati Rostini Nofrizal Bahar, AmKL KEUANGAN Sumarni Yenti Reflinda

PERENCANAAN Ka. Puskesmas Tata Usaha Staf Medis

KOORDINATOR UPAYA KESEHATAN PERORANGAN Dr. Fanni Martias

KOORDINATOR UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT Drg. DWI FILIANA

UMUM

GIGI

PENGOBATAN : dr. FANNI MARTIAS ANNELTI ERNI BOTH NURHAYATI DEWI RAHAYU N EKA KURNIATI : drg. RATNI YUDHA drg. DWI FILIANA drg. VINELSIH drg. DAFNA MURNI BR GURUSINGA :

P2M Tb Paru : NURHAYATI SURVEILANS : ADETYOZA, Amk DBD : IRDAWATI, SKM ISPA : NELLY MURSITA DIARE : ERFITA IMUNISASI/RABIES : FERDINI DK,Amd,Keb MALARIA/LABOR : LIZA NURMAYA D,Amd,Ak JUFRIYANTI,Amd,Ak PROMKES : YUSMARNI,Amd,Kep KESLING : IRDAWATI,SKM GIZI : SALNIATY,AMG

KIA/KB A. IBU

SYAMSIWARTI RINI A, Amd, Keb B. ANAK : ADE MAILINA DOTI MAILINA C. KB : ARNITAWATI Hj. NELLY S, Amd,Keb PROGRAM PENUNJANG APOTIK : YENTI REFLINDA ELGUSNETI GUSTINAR NURSAM RR : AMRIANI NURHAYATI

PROGRAM TAMBAHAN UKS UKGS LANSIA KESORGA PERKESMAS : GUSNETI : MURNI BR GURUSINGA : LINA FIFRIANTI : SYAMSIWARTI : DEWI RAHAYU N,Amd,Kep

PUSTU PARAK KARAKAH IMELDA,Amd,Keb PUSTU TERANDAM ROZA PAHILDA

PUSTU JATI GAUNG ERNI NOFITA

PUSTU GANTING SELATAN SUSILAWATI,Amd,Keb PUSTU KUBU DALAM SYAFRIDA

PUSTU ANDALAS BARAT ELMIATI,Amd,Keb PUSTU KP. DURIAN ARIOSSDA,Amd,Keb

PUSTU SARANG GAGAK LUSSI NOFIARITA,Amd,Keb

Gambar 2.2 Struktur Organisasi Puskesmas Andalas

Plan Of Action l 11

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Definisi Penyakit Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis), sebagian besar kuman TB menyerang Paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya seperti otak, tulang, usus dan kelenjar limfe.1 3.2. Epidemiologi Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di dunia ini. Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. Pada bulan Maret 1993 WHO mendeklarasikan TB sebagai Global Health Emergency. TB dianggap sebagai masalah kesehatan dunia yang penting karena lebih kurang 1/3 penduduk dunia terinfeksi oleh mikobakterium TB. Pada tahun 1998 ada 3.617.047 kasus TB yang tercatat diseluruh dunia. Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB didunia, terjadi pada negara-negara berkembang.1 Laporan WHO tahun 2004 menyatakan bahwa terdapat 8,8 juta kasus baru tuberkulosis pada tahun 2002, 3,9 juta kasus dengan hasil BTA (Basil Tahan Asam) positif. Sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman tuberkulosis dan menurut regional WHO jumlah terbesar kasus TB terjadi di Asia Tenggara yaitu 33 % dari seluruh kasus TB di dunia, namun bila dilihat dari jumlah penduduk dunia maka terdapat 182 kasus per 100.000 penduduk. Di Afrika hampir 2 kali lebih besar dari Asia Tenggara yaitu 350 kasus per 100.000 penduduk. Demikian juga, kematian wanita akibat TB lebih banyak dari pada kematian kerana kehamilan, persalinan dan nifas.4 Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). Diperkirakan seorang pasien TB dewasa, akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20-30%. Jika ia meninggal akibat TB, maka akan kehilangan pendapatannya sekitar 15 tahun. Selain merugikan secara ekonomis, TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat.5

Plan Of Action l 12

Situasi TB didunia semakin memburuk, jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan terutama pada negara-negara yang dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah TB besar (high burden countries). Menyikapi hal tersebut, pada tahun 1993 WHO mencanangkan TB sebagai kedaruratan dunia (global emergency).5 Munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambahkan permasalahan TB. Koinfeksi dengan HIV akan meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan. Pada saat yang sama, kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (multidrug resistance=MDR) semakin menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan. Keadaan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani.5 Di Indonesia, TB masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat di Indonesia. Data World Health Organization (WHO) tahun 2006 menyatakan bahwa Indonesia sebagai penyumbang TB terbesar nomor 3 di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah kasus baru sekitar 539.000 kasus dan jumlah kematian sekitar 101.000 orang pertahun. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004 memperlihatkan bahwa insiden penyakit TB secara nasional telah turun dari 130/100.000 penduduk menjadi 110/100.000 penduduk. Di Indonesia Tuberkulosis adalah pembunuh nomor satu diantara penyakit menular dan merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan penyakit pernapasan akut pada seluruh kalangan usia.5 3.3. Etiologi Penyakit tuberculosis disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberkulosis. Bakteri ini berbentuk batang lurus atau sedikit melengkung, tidak berspora dan tidak berkapsul. Ukuran panjang sekitar 1 4 m dan lebar 0,3 0,6 m. Mycobacterium terdiri dari lapisan lemak yang cukup tinggi (60%). Penyusun utama dinding sel bakteri adalah asam mikolat, complex waxes, trehalosa dimicolat dan mycobacterial sulfolipids yang berperan dalam virulensi. Unsur lain yang terdapat pada dinding sel bakteri tersebut adalah polisakarida seperti arabinogalaktan dan arabinomatan. Struktur dinding sel yang kompleks tersebut menyebabkan bakteri bersifat tahan asam. Kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam ditempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant atau tertidur lama selama beberapa tahun.4

Plan Of Action l 13

3.4. Patogenesis Kuman Myccobacterium tuberculosis yang masuk melalui saluran nafas akan bersarang di jaringan paru sehingga akan terbentuk suatu sarang pneumoni, yang disebut dengan sarang primer atau afek primer. Sarang primer ini mungkin timbul di bagian mana saja dalam paru, berbeda dengan sarang reaktivasi. Dari sarang primer akan kelihatan peradangan saluran getah beningdi hilus (limfadenitis regional). Afek primer bersama-sama dengan limfangitis regional dikenal sebagai kompleks primer. Kompleks primer ini akan mengalami nasib salah satu dari yang berikut ini: 4 Sembuh dengan tidak meninggalkan cacat sama sekali Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas antara lain sarang Ghon, garis fibrotik, sarang perkapuran di hilus Menyebar dengan cara : Perkontinuitatum, menyebar kesekitarnya Penyebaran secara bronkogen, baik di paru bersangkutan atau paru yang disebelahnya atau tertelan Penyebaran secara hematogen dan limfogen, penyebaran ini berkaitan dengan daya tahan tubuh, jumlah dan virulensi kuman. Sarang yang ditimbulkan dapat sembuh spontan, tapin bila daya tahan tubuh menurun penyebaran dapat menimbulkan keadaan cukup gawat seperti tuberculosis milier, meningitis tuberculosis. Penyebaran melalui hematogen dapat menyebabkan tuberculosis pada organ yang diserang tersebut seperti tulang, ginjal. Semua kejadian diatas merupakan proses tuberculosis primer. Tuberculosis post primer muncul setelah bertahun-tahun kemudian setelah tuberculosis primer, biasanya terjadi pada umur 15-45 tahun. Bentuk tuberculosis inilah yang akan menyebabkan masalah kesehatan masyarakat, karena dapat menjadi sumber penularan.4

Plan Of Action l 14

3.5. Diagnosis 3.5.1. Gejala TB Gambaran klinis tuberculosis dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu gejala lokal dan gejala sistemik.5 1. Gejala lokal respiratori antara lain: Batuk batuk lebih dari 2 minggu Batuk berdahak dengan kadang disertai darah Sesak nafas Nyeri dada Gejala gejala diatas sangat bervariasi, mulai dari tidak ada gejala sampai gejala yang cukup berat tergantung dari luas lesi 2. Gejala sistemik seperti: Demam yang lebih dari sebulan Malaise Keringat malam walaupun sedang tidak beraktifitas Anoreksia Berat badan yang menurun dengan cepat Gejala-gejala tersebut diatas dijumpai pula pada penyakit paru selain tuberkulosis. Oleh sebab itu setiap orang yang datang dengan gejala tersebut diatas harus dianggap sebagai seorang Suspek tuberkulosis atau tersangka penderita TBC dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung.5 3.5.2. Pemeriksaan Fisik Pada tuberkulosis paru, kelainan yang didapat tergantung luas kelainan struktur paru. Pada awal perkembangan penyakit umumnya sulit untuk ditemukan kelainan. Pada pemeriksaan fisik ditemukan: 5 Inspeksi : Gerakan dinding dada simetris, namun kadang terdapat retraksi rongga dada, difragma dan mediastinum. Palpasi Perkusi Auskultasi : Fremitus biasanya meningkat : Tergantung dari beratnya TB, bisa dari pekak sampai redup : Suara nafas bronkial, amforik, suara nafas lemah, ronkhi basah
Plan Of Action l 15

3.5.3. Pemeriksaan Bakteriologis Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakan diagnosis, menilai keberhasilan pengobatan, dan menentukan potensi penularan. Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berturutan berupa Sewaktu Pagi Sewaktu (SPS): 5 S (sewaktu) : dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali. Pada saat pulang, suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua. P (pagi) : dahak dikumpulkan dirumah pada pagi hari kedua, segera setalah bangun tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK. S (sewaktu) : dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua, saat menyerahkan dahak pagi. Interpretasi pemeriksaan mikroskopik dibaca dalam skala IUATLD (International Union Against Tuberkulosis and Lung Disease): Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang disebut negatif Ditemukan 1 9 BTA dalam 100 lapang pandang hanya disebutkan dengan jumlah kuman yang ditemukan Ditemukan 10 99 BTA dalam 100 lapang pandang disebut + (+1) Ditemukan 1 10 BTA dalam 1 lapang pandang disebut ++ (+2) Ditemukan > 10 BTA dalam 1 lapang pandang disebut +++ (+3)

3.5.4. Pemeriksaan Radiologis Pada sebagian besar TB paru, diagnosis terutama ditegakkan dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks. Namun pada kondisi tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi sebagai berikut: 5 Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. Pada kasus ini pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis TB paru BTA positif

Plan Of Action l 16

Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotik non OAT.

Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang memerlukan penanganan khusus (seperti: pneumotoraks, pleuritis eksudatif, efusi perikarditis atau efusi pleural) dan pasien yang mengalami hemoptosis berat (untuk menyingkirkan bronkiektasis atau aspergiloma).

Gambaran radiologi yang dicurigai sebagai lesi aktif akan tampak bayangan berawan di segmen apikal dan posterior lobus atas paru dan segmen superior lobus bawah, ditemukan kavitas atau bayangan bercak milier. Pada lesi TB inaktif tampak gambaran fibrotik, kalsifikasi dan penebalan pleura

Plan Of Action l 17

Tersangka penderita TBC (suspek TBC)

Periksa dahak Sewaktu, Pagi, Sewaktu

Hasil BTA + + + + + -

Hasil BTA + - -

Hasil BTA - - -

Beri antibiotic Spektrum luas

Periksa Rontgen Dada Tidak ada perbaikan Ada perbaikan

Hasil mendukung TBC

Hasil tidak mendukung TBC

Ulang pemeriksaan dahak mikroskopik M

Penderita TBC BTA positif

m Hasil BTA +++ +++--

Hasil BTA ---

Periksa Rontgen dada

Gambar 3.1. Alur Diagnosis TB paru Sumber gambar: Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Edisi 2

Hasil mendukung TBC

Hasil Rontgen negatif

TBC BTA negative Rontgen positif

Bukan TBC, penyakit lain


Plan Of Action l 18

3.5.5. Diagnosis TB pada Anak Diagnosis TB pada anak sulit sehingga sering terjadi missdiagnose baik overdiagnose maupun underdiagnose. Pada anak-anak batuk bukan merupakan gejala utama. Pengambilan dahak pada anak biasanya sulit, maka diagnosis TB anak perlu kriteria lain dengan menggunakan sistem skor. Unit Kerja Koordinasi Respirologi PP IDAI telah membuat Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak dengan menggunakan sistem skor (scoring system), yaitu pembobotan terhadap gejala atau tanda klinis yang dijumpai. Pedoman tersebut secara resmi digunakan oleh program nasional penanggulangan tuberkulosis untuk diagnosis TB anak. Setelah dokter melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, maka dilakukan pembobotan dengan sistem skor. Pasien dengan jumlah skor yang lebih atau sama dengan 6, harus ditatalaksana sebagai pasien TB dan mendapat OAT (obat anti tuberkulosis). Bila skor kurang dari 6 tetapi secara klinis kecurigaan kearah TB kuat maka perlu dilakukan pemeriksaan diagnostik lainnya sesuai indikasi, seperti bilasan lambung, patologi anatomi, pungsi lumbal, pungsi pleura, foto tulang dan sendi, funduskopi, CT-Scan, dan lain lainnya. Tabel 3.1. Sistem skoring (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang TB
No. 1. Parameter Kontak TB 0 Tidak Jelas 1 2 Laporan keluarga, BTA (-) atau tidak tahu, BTA tidak jelas 3 BTA Positif

2.

Uji Tuberkulin

Negatif

Positif ( 10 mm, atau 5 mm pada keadaan imunosupresi) BGM pada KMS atau BB/U < 80% >2minggu >3minggu >1 cm, jumlah >1, tidak nyeri Ada pembengkakan Klinis Gizi Buruk (BB/U < 60%)

3. 4. 5. 6.

7.

8.

Berat Badan / Keadaan Gizi Demam tanpa sebab jelas Batuk Pembesaran Kel. limfe koli, aksila, inguinal Pembengkakan tulang atau sendi panggul, lutut, falang, Foto Thoraks

Normal/ tidak jelas

Sugestif TB

Plan Of Action l 19

Catatan : Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter. Batuk dimasukkan dalam skor setelah disingkirkan penyebab batuk kronik lainnya seperti Asma, Sinusitis, dan lain lain. Jika dijumpai skrofuloderma (TB pada kelenjar dan kulit), pasien dapat langsung didiagnosis tuberkulosis. Berat badan dinilai saat pasien datang (moment opname), lampirkan tabel badan badan. Foto toraks toraks bukan alat diagnostik utama pada TB anak Semua anak dengan reaksi cepat BCG (reaksi lokal timbul < 7 hari setelah penyuntikan) harus dievaluasi dengan sistem skoring TB anak. Anak didiagnosis TB jika jumlah skor > 6, (skor maksimal 13) Pasien usia balita yang mendapat skor 5, dirujuk ke RS untuk evaluasi lebih lanjut. Perlu perhatian khusus jika ditemukan salah satu keadaan di bawah ini: Tanda bahaya: kejang atau kaku kuduk, penurunan kesadaran, dan kegawatan lain, misalnya sesak napas Foto toraks menunjukkan gambaran milier, kavitas, efusi pleura Gibbus, koksitis

3.6. Klasifikasi 3.6.1. Klasifikasi berdasarkan tubuh yang terkena 1. Tuberkulosis paru Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru. Tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus.5 2. Tuberkulosis ekstra paru Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (perikardium), kelenjar limfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain lain.

Plan Of Action l 20

3.6.2. Klasifikasi berdasarkan pemeriksaan mikroskopik 1. Tuberkulosis paru BTA positif 5 Sekurang kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukan gambaran tuberkulosis 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT 2. Tuberkulosis paru BTA negative 5 Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif Foto toraks abnormal menunjukan gambaran tuberkulosis Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan

3.6.3. Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya 1. Kasus baru adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu) 2. Kasus kambuh (relaps) adalah pasien tuberkulosis yang sebelumya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur) 3. Kasus setelah putus berobat (default) adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif 4. Kasus setelah gagal (failure) adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. 5. Kasus pindahan (transfer in) adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya. 6. Kasus lain adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. Dalam kasus ini termasuk kasus kronik, yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan. 5

Plan Of Action l 21

3.7. Penemuan Penderita Tuberkulosis ( TB ) 3.7.1. Penemuan penderita tuberkulosis pada orang dewasa Penemuan penderita TBC dilakukan secara pasif artinya penjaringan tersangka penderita dilaksanakan pada mereka yang datang berkunjung ke unit pelayanan kesehatan.5 Penemuan secara pasif tersebut didukung dengan penyuluhan secara aktif baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka penderita cara ini biasa dikenal dengan sebutan passive promotive case finding ( penemuan penderita secara pasif dengan promosi yang aktif ). Selain itu semua kontak penderita TBC Paru BTA positif dengan gejala sama harus diperiksa dahaknya. Seorang petugas kesehatan diharapkan menemukan tersangka penderita sedini mungkin, mengingat tuberkulosis adalah penyakit menular yang dapat mengakibatkan kematian. Semua tersangkas penderita harus diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari berturut-turut yaitu sewaktu pagi sewaktu ( SPS ).5 3.7.2. Penemuan penderita tuberkulosis pada anak Penemuan penderita tuberkulosis pada anak merupakan hal yang sulit sebagian besar diagnosis tiberkulosis anak didasarkan atas gambar klinis gambar radiologis dan uji tuberkulin.5 3.8 Pengobatan 3.8.1. Tujuan Pengobatan yang dilakukan bertujuan untuk menyembuhkan penderita, mencegah kematian, mencegah kekambuhan, dan menurunkan tingkat penularan. 3.8.2. Prinsip pengobatan Obat TB diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis, dalam jumlah cukup dan dosis tepat selama 6-8 bulan, supaya semua kuman (termasuk kuman persister) dapat dibunuh. Dosis tahap intensif dan dosis tahap lanjutan ditelan sebagai dosis tunggal, sebaiknya pada saat perut kosong. Apabila paduan obat yang digunakan tidak adekuat (jenis, dosis dan jangka waktu pengobatan), kuman TBC akan berkembang menjadi kuman kebal obat (resisten). Untuk menjamin kepatuhan penderita menelan obat, pengobatan perlu dilakukan dengan pengawasan langsung (DOTS=Direcly Observed Treatment Shortcourse) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).5
Plan Of Action l 22

3.8.3. Jenis dan dosis OAT a) Isoniasid (H) Dikenal dengan INH, bersifat bakterisid, dapat membunuh 90% populasi kuman dalam beberapa hari pertama pengobatan. Obat ini sangat efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolik aktif yaitu kuman yang sedang berkembang, Dosis harian yang dianjurkan 5 mg/kgBB, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 10 mg/kg BB.5 b) Rifampisin ( R ) Bersifat bakterisid dapat membunuh kuman semidormant (persister) yang tidak dapat dibunuh oleh isoniasid dosis 10 mg/kgBB diberikan sama untuk mengobatan harian maupun intermiten 3 kal seminggu.5 c) Pirazinamid ( Z ) Bersifat bakterisid dapat membunuh kuman yang berada dalam sel dengan suasana asam. Dosis harian yang dianjurkan 25 mg/kg BB ,sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 35 mg/kg BB.5 d) Streptomisin ( S ) Bersifat bakterisid. Dosis harian yang dianjurkan 15 mg/kg BB sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu digunakan dosis yang sama penderita berumur sampai 60 tahun dasisnya 0,75 gr/hari sedangkan unuk berumur 60 tahun atau lebih diberikan 0,50 gr/hari.5 e) Etambulol ( E) Bersifat sebagai bakteriostatik. Dosis harian yang dianjurkan 15 mg/kg BB sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu digunakan dosis 30 mg/kg/BB.5 Pengobatan TBC diberikan dalam 2 tahap yaitu tahap intensif dan lanjutan;5 Tahap Intensif Pada tahap intensif (awal) penderita mendapat obat setiap hari dan diawasi langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan terhadap semua OAT terutama rifampisin. Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat biasanya penderita menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu sebagian besar penderita TBC BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) pada akhir pengobatan intensif.5
Plan Of Action l 23

Tahap Lanjutan Pada tahap lanjutan penderita mendapat jenis obat lebih sedikit, namum dalam jangka waktu yang lebih lama, pengawasan ketat dalam tahap intensif sangat penting untuk mencegah terjadinya kekebalan obat. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister (dormant) sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.5

3.8.4. Panduan OAT Di Indonesia WHO dan IUATLD (Internatioal Union Against Tuberculosis and Lung Disease) merekomendasikan panduan OAT Standar, yaitu:5 Kategori 1: 2HRZE / 4 H3R3 2HRZE / 4 HR 2HrZE / 6 HE Kategori 2: 2HRZES / HRZE /5H3R3E3 2HRZES / HRZE / 5HRE Kategori 3: 2HRZ / 4H3R3 2 HRZ / 4 HR 2HRZ / 6 HE Program Nasional Penanggulangan TBC di Indonesia menggunakan paduan OAT untuk kategori 1: 2HRZE/4H3R3, untuk kategori 2: 2HRZES/HRZE/5H3R3E3, dan untuk kategori 3: 2HRZ/4H3R3. Disamping ketiga kategori ini disediakan paduan obat sisipan (HRZE). Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk FDC (Fixed Drug Combination) dengan tujuan untuk memudahkam pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai satu (1) paket untuk satu (1) penderita dalam satu (1) masa pengobatan.5

Plan Of Action l 24

a. Kategori -1 ( 2HRZE / 4H3R3 ) Tahap intensif terdiri dari Isoniasid (H), Rifampisin (R), Pirasinamid (Z) dan Etambutol (E) Obat-obat tersebut diberikan setiap hari selama 2 bulan (2HRZE). Kemudian diteruskan dengan tahap lanjutan yang terdiri dari isoniasid (H) dan Rifampisin (R) diberikan tiga kali dalam seminggu selama 4 bulan (4H3R3).4 Obat ini diberikan untuk:5 Penderita baru TBC Paru BTA Positif Penderita TBC Paru BTA negatif Rontgen positif yang sakit berat dan Penderita TBC Ekstra Paru berat. b. Kategori 2 ( 2HRZES / HRZE / 5H3R3E3 ) Tahap intensif diberikan selama 3 bulan yang terdiri dari 2 bulan dengan Isoniasid (H), Rifampisin (R), Pirasinamid (Z),dan Etambutol (E) setiap hari. Setelah itu diteruskan dengan tahap lanjutan selama 5 bulan dengan HRE yang diberikan tiga kali dalam seminggu. Perlu diperhatikan bahwa suntikan streptomisin diberikan setelah pemderita selesai menelan obat.5 Obat ini diberikan untuk: Penderita kambuh (relaps) Penderita Gagal (failure) Penderita dengan Pengobatan setelah lalai (after default)

c. Kategori 3 ( 2HRZ / 4H3R3 ) Tahap intensif terdiri dari HRZ diberikan setiap hari selama 2 bulan ( 2HRZ ) diteruskan dengan tahap lanjutan terdiri dari HR selama 4 bulan diberikan 3 kali seminggu (4H3R3 ).5 Obat ini diberikan untuk: Penderita baru BTA negatif dan rontgen positif sakit ringan Penderita ekstra paru ringan yaitu TBC kelenjar limfe ( limfadenitis ) pleuritis eksudativa unilateral TBC kulit , tb tulang ( kecuali tulang belakang ) sendi dan kelenjar adrenal. d. OAT sisipan ( HRZE) Bila pada akhir tahap intensif pengobatan penderita baru BTA positif dengan kategori 1 atau penderita BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2 hasil pemeriksaan dahak masih BTA positif diberikan obat sisipan ( HRZE ) setiap hari selama 1 bulan.5
Plan Of Action l 25

3.8.6. Pengawasan Menelan Obat (PMO) Salah satu dari komponen DOTS adalah pengobatan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung. Untukmenjamin keteraturan pengobatan diperlukan seorang PMO.5 Persyaratan PMO Seseorang yang dikenal, dipercaya dan disetujui baik oleh petugas kesehatan maupun penderita. Selain itu harus disegani dan dihormati oleh penderita seseorang yang tinggal dekat dengan penderita Bersedia membantu penderita dengan sukarela Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan penderita Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan, misalnya Bidan di Desa, Perawat, Pekarya Sanitarian, juru imunisasi dll. Bila tidak ada petugas kesehatan yang memungkinkan , PMO dapat berasal dari kader Kesehatan, guru, anggota PPTI, PKK atau tokoh masyarakat lainnya atau anggota keluarga.5 Tugas Seorang PMO5 Mengawasi penderita TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan Memberi dorongan kepada penderita agar mau berobat teratur Mengingatkan penderita untuk pemeriksa ulang dahak pada waktu waktu yang telah ditentukan. Memberi penyuluhan pada anggota keluarga penderita TB yang mempunyai gejala-gejala tersangka TB untuk segera memeriksakan diri ke unit Pelayanan kesehatan. Informasi penting yang perlu dipahami PMO untuk disampaikan adalah TB bukan penyakit keturunan atau kutukan, TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur dengan mengikuti tahap intensif dan lanjutan. Penderita juga perlu mengetahui pentingnya berobat secara teratur karena itu pengobatan perlu diawasi, serta mengenali fek samping obat dan tindakan yang harus dilakukan bila terjadi efek samping tersebut.5

Plan Of Action l 26

3.9. Pemantauan dan Evaluasi Program Dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi, diperlukan suatu sistem pencacatan dan pelaporan baku yang dilaksanakan dengan baik dan benar.6 3.9.1. Formulir Pencatatan TB : a. Pencatatan di unit pelayanan kesehatan UPK (puskesmas, Rumah Sakit, BP4, klinik dan dokterpraktek swasta dll) dalam melaksanakan pencatatan menggunakan formulir:6 Daftar tersangka pasien (suspek) yang diperiksa dahak SPS (TB.06). Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak (TB.05). Kartu pengobatan pasien TB (TB.01). Kartu Identitas pasien TB (TB.02). Register TB UPK (TB.03 UPK). Formulir rujukan/pindah pasien (TB.09) Formulir hasil akhir pengobatan dari pasien TB pindahan (TB.10) Register Laboratorium TB (TB.04).

Khusus untuk dokter praktek swasta, penggunaan formulir pencatatan TB dapat disesuaikan selama informasi surveilans yang dibutuhkan tersedia. b. Pencatatan dan pelaporan di Kabupaten / Kota Dinas kesehatan Kabupaten / Kota menggunakanm formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut:6 Register TB Kabupaten Laporan Triwulan Penemuan dan Pengobatan Pasien TB (TB.07) Laporan Triwulan Hasil Konversi Dahak akhir Tahap Intensif(TB.11) Formulir Pemeriksaan Sediaan untuk Uji silang dan Analisis Hasil Uji silang Kabupaten Laporan OAT Data situasi Ketenagaan Program TB Data Situasi Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB

Plan Of Action l 27

c. Pencatatan dan Pelaporan di Propinsi Propinsi menggunakan formulir pencatatan dan Pelaporan sebagai berikut :6 Rekapitulasi Penemuan dan Pengobatan Pasien TB per kabupaten/ Kota Rekapitulasi Hasil Pengobatan per kabupaten / Kota Rekapitulasi Hasil Konversi Dahak per kabupaten / Kota Rekapitulasi Analisis Hasil Uji silang propinsi per kabupaten / Kota Rekapitulasi Laporan OAT perkabupaten / Kota Rekapitulasi Data situasi Ketenagaan Program TB Rekapitulasi Data situasi Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB.

3.9.2. Indikator Program TB Untuk menilai kemajuan atau keberhasilan penanggulangan TB digunakan beberapa indikator. Indikator penanggulangan TB secara Nasional ada 2 yaitu:6 Angka Penemuan Pasien baru TB BTA positif ( Case Detection Rate = CDR) Angka keberhasilan Pengobatan ( Success Rate = SR)

3.9.3. Cara Menghitung dan Analisa Indikator6 a. Angka Penjaringan Suspek Adalah jumlah suspek yang diperiksa dahaknya diantara 100.000 penduduk pada suatu wilayah tertentu dalam 1 tahun. Angka ini digunakan untuk mengetahui upaya penemuan pasien dalam suatu wilayah tertentu, dengan memperhatikan kecenderungan dari waktu ke waktu (triwulan/tahunan). Rumus : Jumlah suspek yang diperiksa Jumlah Penduduk Jumlah suspek yang diperiksa bisa didapatkan dari buku daftar suspek (TB.06) UPK yang tidak mempunyai wilayah cakupan penduduk, misalnya rumah sakit, BP4 atau dokter praktek swasta, indikator ini tidak dapat dihitung. X 100.000

Plan Of Action l 28

b. Proporsi Pasien TB BTA Positif diantara Suspek Adalah presentasi pasien BTA positif yang ditemukandiantara seluruh suspek yang diperiksa dahaknya. Angka ini menggambarkan mutu dari proses penemuan sampai diangnosis pasien, serta kepekaan menetapkan kriteria suspek. Rumus : Jumlah pasien TB BTA positif yang ditemukan Jumlah seluruh suspek TB yang diperiksa X 100%

Angka ini sekitar 5-15%. Bila angka ini terlalu kecil (< 5%) kemungkinan disebabkan: Penjaringan suspek terlalu longgar. Banyak orang yang tidak memenuhi kriteria suspek, atau Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium (negatif palsu).

Bila angka ini terlalu besar (> 15%) kemungkinan disebabkan: Penjaringan terlalu ketat atau Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium (positif palsu).

c. Angka Penemuan Kasus ( Case Detection Rate = CDR ) Adalah presentase jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dan diobati dibanding jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. Rumus : Jumlah pasien baru TB BTA Positif yang dilaporkan dalam TB.07 X 100% Perkiraan jumlah pasien baru TB BTA positif

Perkiraan jumlah pasien baru TB BTA positif diperoleh berdasarkan perhitungan angka insidens kasus TB paru BTA positif dikali dengan jumlah penduduk. Target Case Detection Rate Program Penanggulangan Tuberkulosis Nasional minimal 70%.

Plan Of Action l 29

d. Angka Keberhasilan Pengobatan Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan presentase pasien baru TB paru BTA positif yang menyelesaikan pengobatan (baik yang sembuh maupun pengobatan lengkap) diantara pasien baru TB paru BTA positif yang tercatat. Dengan demikian angka ini merupakan penjumlahan dari angka kesembuhan dan angka pengobatan lengkap. Cara perhitungan untuk pasien baru BTA positif dengan pengobatan kategori 1. Rumus : Jumlah pasien baru BTA positif ( sembuh + pengobatan lengkap) X 100% Jumlah pasien baru TB BTA positif yang diobati

Plan Of Action l 30

BAB IV PEMBAHASAN

4.1. Identifikasi Masalah Proses identifikasi masalah dilakukan melalui analisa data sekunder dan wawancara dengan penanggung jawab program di Puskesmas Andalas. Dari 6 program pokok yang dijalankan Puskesmas Andalas, yaitu 5 program bersifat promotif dan preventif, dan 1 program kuratif (pengobatan), perlu dilakukan identifikasi masalah pada masing-masing program. Dari program kesehatan lingkungan, promosi kesehatan, gizi, KIA dan KB, serta penanggulangan penyakit menular (P2M) masih terdapat beberapa kesenjangan antara pencapaian dengan target yang ditetapkan. Pada bidang pengobatan masih terdapat beberapa penyakit yang angka kejadiannya cukup tinggi. Target dan pencapaian setiap program pokok dapat dilihat pada Tabel 4.1 sampai Tabel Tabel 4.6. 4.1.1. Program Kesehatan Lingkungan Tabel 4.1. Target dan Pencapaian Program Kesehatan Lingkungan tahun 2011 No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Program Pengawasan TTU Pemeriksaan TP2M Survey Perumahan Monitoring TPS Pemeriksaan K5 Klinik Sanitasi Pemantauan DAMIU Target/ Indikator 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % Pencapaian 93,8 % 95 % 67,7 % 100 % 100 % 100 % 93,4 % Kesenjangan 6,2 % 5% 12,3 % 6,6 %

Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Andalas Tahun 2011

Plan Of Action l 31

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0

100 93.8

100 95

100

100 98.9

100 100

100 100

100

100

100 93.4

67.7

TARGET

PENCAPAIAN

Grafik 4.1. Target dan Pencapaian Program Kesehatan Lingkungan tahun 2011
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Andalas Tahun 2011

Program Kesehatan Lingkungan adalah bagian dari 6 Program Pokok Puskesmas yang merupakan upaya untuk meningkatkan kesehatan lingkungan dan pemukiman melalui upaya sanitasi dasar, pengawasan mutu lingkungan dan tempat umum, termasuk pengendalian pencemaran lingkungan dengan meningkatkan peran serta masyarakat dan keterpaduan pengelolaan lingkungan melalui analisis dampak lingkungan. Ada 8 program kegiatan dari Program Kesling, yaitu: Pengawasan Tempat-tempat Umum (Peng.TTU), Pemeriksaan Tempat Pengolahan Makanan (Pemrk.TPM), Survey Perumahan, Penyuluhan, Monitor Tempat Pembuangan Sampah (Mon.TPS), Pemeriksaan Kaki Lima (Permk.K5), Klinik Sanitasi dan Depot Air Isi Ulang. Berdasarkan laporan tahunan Puskesmas Andalas tahun 2011 masih terdapat beberapa program Kesling yang belum mencapai target 100%, diantaranya: program Pengawasan Tempat-Tempat Umum, Pengawasan Tempat

Pengelolaan Makanan, Survey Perumahan, Penyuluhan dan Pemeriksaan Depot Air Isi Ulang. Namun program yang masih sangat jauh dari target adalah program Survey Perumahan, yang hanya terpenuhi 67,7% dari 100% target.

Plan Of Action l 32

Untuk tahun 2011, terjadi keterlambatan penentuan target jumlah minimal rumah yang harus disurvey dari Dinas Kesehatan Kota untuk setiap wilayah kerja Puskesmas. Idealnya setiap rumah di wilayah kerja harus disurvey setiap tahunnya. Penilaian meliputi sarana sanitasi dasar, meliputi jamban keluarga (Jaga), saluran pembuangan air limbah (SPAL), dan tempat pengelolaan sampah (TPS). Untuk tahun 2011, ditetapkan oleh DKK meliputi 200 rumah setiap wilayah kerja puskesmas, untuk mewakili semua rumah di wilayah kerja. Namun karena keterbatasan sumber dana dan tenaga kesehatan, khususnya tenaga bagian Kesehatan Lingkungan, tidak semua rumah di wilayah kerja bisa dinilai Sarana Sanitasi Dasarnya. Dan sampai waktu akhir pelaporan yang ditentukan DKK, tim Kesling Puskesmas Andalas baru bisa mendatangi dan menilai 20 rumah dari 200 rumah yang ditentukan. Inilah yang menyebabkan pencaipaian survey perumahan untuk tahun 2011 masih belum memenuhi dari target. 4.1.2. Program Promosi Kesehatan Tabel 4.2. Target dan Pencapaian Penyuluhan Kesehatan Masyarakat (PKM) Program Promosi Kesehatan tahun 2011 No. Program Target (per tahun) Pencapaian (per tahun)

PKM (Penyuluhan Kesehatan Masyarakat) 1. Penyuluhan dalam gedung 2. Penyuluhan luar gedung 3. Penyuluhan keliling UKBM (Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat) 1. Kelurahan Siaga 2. PHBS 3. Poskestren (Pos kesehatan pesantren) 4. 5. Pos UKK (Unit Kesehatan Kerja) Pemanfaatan Toga

96x 960x 48x

112 x 1208 x 52 x

100% 65 % 100 % (2 pesantren) 100 % (10 pos) 100% (575 KK yang ada TOGA) 100 %

100% 63,88 % 100 % (2 Pesantren) 130% (13 pos) 100% (575 KK yang memanfaatkan TOGA) 100 %

6.

Pembinaan Batra (pengobatan tradisional)

Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Andalas Tahun 2011 Plan Of Action l 33

Dari enam program UKBM Promosi Kesehatan terdapat satu program yang belum mencapai target yaitu Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), yaitu 63,88% dari 65% target. PHBS merupakan bagian dari Program Promosi Kesehatan yang bertujuan untuk memberdayakan anggota rumahtangga agar sadar, mau dan mampu melakukan PHBS untuk memelihara dan meningkatkankesehatannya, mencegah resiko terjadinya penyakit dan melindungi diri dari ancaman penyakit serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan. Terdapat 10 indikator dalam pelaksanaan PHBS, yaitu: 1. Persalinan ditolong tenaga kesehatan 2. Memberi ASI eksklusif 3. Penimbangan balita tiap bulan 4. Menggunakan air bersih 5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun 6. Menggunakan jamban sehat 7. Membrantas jentik dirumah sekali seminggu 8. Makan buah dan sayur setiap hari 9. Melakukan aktivitas fisik setiap harinya 10. Tidak merokok didalam rumah

100 80 60 40 20 0

95.9 89.5 81.480.480.2 69.8 60.9

LINAKES AIR BERSIH


Target : 65%

JAMBAN TIMBANG JENTIK AKTIFITAS ASI EKS CTPS BUAH/SAYUR TDK MEROKOK

30.4 20.216.8

Grafik 4.2. Survei PHBS di Puskesmas Andalas Tahun 2011


Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Andalas Tahun 2011 Plan Of Action l 34

Tabel 4.3. Pencapaian Indikator PHBS di setiap Kelurahan tahun 2011 Kelurahan Indikator 1 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. I
96,4% 60,1% 80,3% 94% 20,5% 97% 78% 24,6% 51% 15,5%

II
98,6% 75% 80,2% 92,5% 37,2% 96% 82,2% 36,8% 72,9% 14,9%

III
90,5% 69% 75,4% 85,3% 41,2% 74,3% 69% 24,5% 25,3% 20,2%

IV
95% 60% 81,2% 83,1% 35% 76% 69,5% 21,3% 59,8% 16,2%

V
91% 58,4% 79,6% 78% 28,9% 80,3% 81,5% 19,6% 60,6% 12,9%

VI
90,4% 65% 80,2% 94% 29% 80% 79% 19,2% 60,6% 12,9%

VII
90,4% 59% 78,2% 83% 33,3% 79,5% 84% 19,4% 65% 17,2%

VIII
98% 69,2% 92,3% 100% 28% 99% 100% 21% 31,9% 16,8%

IX
95% 60,9% 80,4% 85% 24,3% 81,4% 80,2% 20,2% 31,9% 16,8%

X
95% 60,9% 80,4% 91% 26,5% 81% 80,2% 20,2% 59,1% 12,5%

Keterangan Indikator: 1. Persalinan kesehatan 2. 3. 4. 5. 6. 7. Memberi ASI eksklusif Penimbangan balita tiap bulan Menggunakan air bersih Mencuci tangan dengan sabun Menggunakan jamban sehat Membrantas jentik dirumah sekali seminggu 8. 9. Makan buah dan sayur setiap hari Melakukan aktivitas fisik setiap hari ditolong tenaga

Keterangan Kelurahan: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Kelurahan Sawahan Kelurahan Jati Baru Kelurahan Jati Kelurahan Sawahan Timur Kelurahan Simpang Haru Kelurahan Andalas Kelurahan Kubu Marapalam Kelurahan Kubu Dalam Parak Karakah 9. Kelurahan Parak Gadang Timur

10. Kelurahan Gt. Parak Gadang

10. Tidak merokok didalam rumah

Plan Of Action l 35

Survei PHBS di Puskesmas Andalas di lakukan untuk semua kelurahan dan diambil sampel 210 rumah tangga secara acak. Survei PHBS dilaksanakan satu kali setahun yaitu biasanya dilakukan di awal tahun. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa masih ada indikator PHBS yang masih belum mencapai target nasional (65%) di wilayah kerja Puskesmas Andalas, yakni : 1. Perilaku tidak merokok di dalam rumah (16.8%) 2. Makan buah dan sayur setiap hari (20.2%) 3. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun (30.4%) 4. Pemberian ASI Eksklusif (60.9%) Perilaku masyarakat untuk tidak merokok di dalam rumah masih belum mencapai target yang ditetapkan. Semua kelurahan masih menunjukkan angka yang masih rendah. Hal ini disebabkan masih minimnya pengetahuan masyarakat mengenai efek rokok terhadap kesehatan anggota keluarganya. Masyarakat masih beranggapan jika efek rokok hanya berefek terhadap kesehatan si perokok. Dalam survei PHBS ini masih banyak kepala rumah tangga yang masih merokok di dalam rumah ketika berada bersama anggota keluarga lainnya. Survei untuk indikator PHBS lain yang masih belum mencapai target adalah makan buah dan sayur setiap hari, dimana persentasenya masih 20.2%. Ini berarti bahwa masih banyak anggota keluarga rumah tangga yang masih belum mengkonsumsi minimal 3 porsi buah dan 2 porsi sayuran atau sebaliknya setiap hari. Dari data indikator PHBS dalam pencapaian MDGs didapatkan persentase penduduk yang cuci tangan pakai air bersih dan sabun yaitu 30,4%, angka ini masih jauh dari target nasional yaitu sebesar 65%. Disimpulkan terdapat kesenjangan sebesar 34,6% seperti yang terlihat pada grafik di atas. Daerah yang paling rendah pencapaian penduduk yang cuci tangan pakai air bersih dan sabun ini terdapat di Kelurahan Sawahan yakni 20,5% dari target 65% (kesenjangan 44,5%). Kelurahan Sawahan memiliki jumlah penduduk5.438jiwa. Indkator PHBS untuk pemberian ASI Eksklusif masih mencakup 60,9%. Pencapaian tersebut masih rendah bila dibandingkan dengan target yang diharapkan 65 % bayi yang ada mendapat ASI Eksklusif. Banyak faktor yang menyebabkan masih rendahnya capaian indicator ini adalah kurangnya informasi tentang manfaat dan keunggulan ASI, serta
Plan Of Action l 36

kurangnya pengetahuan ibu tentang upaya mempertahankan kualitas dan kuantitas ASI selama periode menyusui. Pada dasarnya belum tercapainya target program PHBS ini dikarenakan masih

rendahnya kesadaran masyarakat untuk menjalani pola hidup sehat secara disiplin, sehingga sangat sulit untuk terpenuhinya 10 indikator PHBS setiap harinya. Andalas merupakan wilayah padat penduduk, yang terdiri dari beragam lapisan masyarakat. Berbeda-bedanya tingkat ekonomi dan tingkat pendidikan maysarakat Andalas, menyebabkan makin sulitnya pengubahan pola hidup masyarakat. Selain itu masih kurang efektifnya usaha pen sosialisasian PHBS ke masyarakat, baik melalui penyuluhan maupun melalui penyebaran informasi PHBS melalui media-media seperti media elektronik, poster maupun leaflet. 4.1.3. Program Gizi Ada beberapa program Gizi di Puskesmas Andalas seperti yang terdapat di tabel 4.4 tetapi belum semua program tersebut yang memenuhi target. Dari program Gizi yang dilaksanakan di Puskesmas Andalas, kegiatan penimbangan Bayi dan Balita menunjukkan nilai N/D yang belum mencapai target yaitu 78,3% untuk N/D bayi dan 67% untuk N/D balita. Dari diskusi dengan petugas bagian Gizi dapat disimpulkan bahwa belum mencapai targetnya N/D bayi dan balita di Puskesmas Andalas antara lain disebabkan oleh : Kesadaran masyarakat yang masih kurang mengenai pentingnya peningkatan status gizi dan penimbangan tiap bulan bayi dan balita. Kurangnya kinerja kader untuk menginformasikan pentingnya penimbangan bayi dab balita Kurangnya inovasi-inovasi baru dalam pelaksanaan posyandu

Plan Of Action l 37

Tabel 4.4. Target dan Pencapaian Program Gizi tahun 2011


No Kegiatan Sasaran (jumlah) A 1 Penimbangan Bayi 2 B 1 D/S N/D BGM/D 1478 1353 1353 65,0% 80,0% <5,0% 1353 1060 1 91,5 78,3 0,08 -1,7% Target (%) Hasil (jumlah) Hasil (%) Ket.

Balita D/S N/D BGM/D 5910 4498 4498 65,0% 80,0% <5,0% 4498 3012 103 76,1 67,0 2,3 -13,0%

Distribusi Vit A Bulan Februari Bayi Anak Balita 1139 7375 95,0% 93,0% 1087 7014 95,4 95,1

Bulan Agustus Bayi Anak Balita 968 6630 1613 95,0% 93,0% 80,0% 921 5924 95,1 93,6

3 C 1 2 3 D 1

Ibu Nifas Distribusi Fe Fe1 Fe3 Ibu Nifas Kasus Gizi Buruk Indek BB/U Buruk Kurang

1776 1776 1613

90,0% 85,0% 80,0%

1882 2062 1707

106,0 116,1 100,9

7943 7943 300KK

<5% <5% 100%

5 41 10Kel

0,1 0,5 100

Pemeriksaan Garam Yodium

Plan Of Action l 38

4.1.4. Program KIA dan KB Tabel 4.5. Target dan Pencapaian Program KIA dan KB tahun 2011
No Kegiatan Sasaran (jumlah) 1 Pel.Kesehatan Bumil sesuai standar (K1) 2 Pel.Kesehatan Bumil sesuai standar (K4) 3 Persalinan Nakes 4 Deteksi Resti Nakes 5 Pelayanan Neonatus 6 Kunjungan bayi 7 Kunjungan balita 2085 1990 2085 1895 90 50 90 92 80 2085 90 116.3 100.9 16.4 104.2 86,7 80,1 5,3 33,6 Target (%) 95 106 Hasil (%) Ket.

50 40 30 20 10 0
24.3 16.9 17.7 13.0 13.7 24.3 11.3 13.6 16.2 15.5 16.4

TARGET

PENCAPAIAN

Grafik 4.3. Pencapaian Deteksi Resti Nakes Puskesmas Andalas Tahun 2011

Berdasarkan data diatas Deteksi ibu hamil resiko tinggi dan kunjungan bayi di puskesmas merupakan program-program dari KIA-KB Puskesmas Andalas yang masih belum mencapai target, yakni 16% untuk Deteksi Resiko tinggi ibu hamil dan 86% untuk kunjungan bayi.
Plan Of Action l 39

Masih rendahnya pencapaian program Deteksi Resiko Tinggi Ibu Hamil memang dikarenakan rendahnya jumlah ibu hamil yang ditemukan positif beresiko tinggi dalam kehamilan dibanding perkiraan jumlah ibu hamil beresiko tinggi di Puskesmas Andalas. Dilihat dari kunjungan ibu hamil yaitu K1 dan K4, jumlah ibu hamil yang berkunjung sudah melebihi target. Sehingga kemungkinan untuk tidak terdeteksinya ibu hamil beresiko tinggi sangat rendah.

100

90

80

70

60

50

40

30

20

10

0 SAWAHAN KUNJUNGAN BAYI TARGET 86.2 92 JATI BARU 86.3 92 JATI 87.0 92

SAWAHAN TIMUR 89.1 92

KB. MARAPALAM 87.3 92

ANDALAS 88.5 92

KB.DLM.PRK. KRKH 86.0 92

PRK. PDG. TIMUR 85.7 92

SP. HARU 85.3 92

GT.PARAK GADANG 86.2 92

PUSKESMAS 86.7 92

Grafik 4.4 Pencapaian kunjungan bayi puskesmas andalas tahun 2011 Dari grafik 4.4 dapat dilihat bahwa pencapaian kunjungan bayi pada di wilayah kerja puskesmas Andalas tahun 2011 belum memenuhi target yang ditetapkan yaitu 92%. Jumlah sasaran bayi tahun 2011 adalah 1.613 bayi. Sedangkan jumlah bayi yang telah mendapatkan empat kali pelayanan kesehatan sesuai standar selama tahun 2011 adalah 1.399 bayi. Ini memberikan persentase hasil 86,7 % sehingga belum memenuhi target yang ditetapkan yaitu 92%. Hal ini bisa dikarenakan terdapatnya beberapa indikator untuk kunjungan.

Plan Of Action l 40

Seorang bayi itu dihitung telah memenuhi kriteria kunjungan apabila ia memenuhi 4 syarat: 1. Mengikuti DDTK 4 kali setahun. 2. Imunisasi dasar lengkap. 3. Melakukan penimbangan minimal 8 kali menjelang usia 1 tahun. 4. Mendapat vit A satu kali. Apabila keempat syarat ini sudah terpenuhi, barulah dikatakan bayi itu sudah melakukan kunjungan ke Puskesmas. Mungkin hal inilah yang menyebabkan masih belum tercapainya target kunjungan bayi dan balita di Puskesmas Andalas ini. 4.1.5. Program P2M Tabel 4.6. Target dan Pencapaian Program P2M tahun 2011
No. 1. Program Imunisasi Kontak I - HB<7HR - BCG - DPT/HB1 - Polio Imunisasi Kontak II - DPT/HB3 - Polio4 - Campak CDR TB Kasus DBD Target/ Indikator 95 % 95 % 95 % 95 % Pencapaian 92,1 % 96,2 % 96,3 % 95 % Kesenjangan 2,9 % Ket *

2.

3. 4.

5.

Kasus diare

85 % 86,9 % 85 % 86,7 % 85 % 86,7 % 70 % 51 % 19 % <20 kasus/ 180 kasus/ 160 kasus/ 100.000 100.000 100.000 penduduk penduduk penduduk 33 % 0,2 % -

* *

Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Andalas Tahun 2011

Berdasarkan tabel 4.6. terdapat program P2M di Puskesmas Andalas yang belum mencapai target yaitu imunisasi HB0 yaitu 92,1% , rendahnya CDR TB (case detection rate TB) yaitu 51% dan insiden kasus DBD yang masih tinggi untuk tahun 2011 sebanyak 180 kasus/ 100.000 penduduk. Rendahnya pencapaian imunisasi HB0 disebabkan kurangnya koordinasi antara Puskesmas andalas dengan BPS (Bidan Praktek Swasta), beberapa klinik bersalin dan Rumah Sakit Swasta yang ada diwilayah kerja Puskesmas Andalas dalam hal pelaporan jumlah pemberian imunisasi dasar di tempat-tempat tersebut.
Plan Of Action l 41

Case Detection Rate (CDR) TB adalah presentase jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dan diobati dibanding jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. CDR menggambarkan cakupan penemuan pasien baru BTA positif pada wilayah tersebut. CDR TB Puskesmas Andalas yaitu 51% masih dari CDR Program Penanggulangan Tuberkulosis Nasional (70%). Hal ini dikarenakan : Beban kerja petugas kesehatan yang masih tinggi, dikarenakan keterbatasan dana dan sumber daya manusia di Puskesmas Andalas Kurangnya koordinas dengan pelayanan kesehatan swasta (kerjasama lintas sektor) Rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat tentang penyakit TB Paru

Sedangkan untuk Kasus DBD yang masih tinggi di Puskesmas Andalas disebabkan oleh : Kurang intensifnya sosialisasi petugaskesehatan mengenai penularan, pencegahan, dan bahaya penyakit DBD. Sebenarnya untuk penyuluhan mengenai DBD, dulu rutin dilakukan di sekolah-sekolah melalui integrasi dengan program UKS, BIAS, di posyandu, dan ditempat-tempat umum seperti mesjid. Namun sejak tahun 2009 program-program penyuluhan tentang DBD ini menjadi berkurang, dikarenakan keterbatasan sumber daya manusia dan dana yang ada di Puskesmas Andalas. Dengan keterbatasan yang ada, petugas kesehatan d Puskesmas Andalas masih berusaha untuk melakukan penyuluhan tentang DBD kemasyarakat, melalui pembagian leaflet-leaflet ke masyarakat, walaupun masih kurang intensif. Kurangnya peran serta masyarakat dalam mensukseskan program kebersihan lingkungan seperti gotong royong dan terhentinya program Jumat bersih Masih kurangnya partisipasi masyarakat dalam melaksanakan program 3M Plus. Masih susahnya mengubah perilaku masyarakat seperti kebiasaan masyarakat yang menggantung pakaian, membiarkan genangan air lama pada tempat-tempat disekitar rumah, yang dapat menjadi tempat peristirahatan nyamuk. Terhentinya program penyuluhan intensif di seluruh sekolah SD dan SLTP seKecamatan Padang Timur Tidak terlaksananya lagi program JUMANTIK berkala, sejak 5 tahun ini Masih banyaknya barang-barang bekas yang menjadi sumber perindukan nyamuk. Masih banyaknya selokan (saluran air) yang airnya tidak mengalir dan tertutup

Plan Of Action l 42

4.1.6. Pengobatan

Grafik 4.5. Penyakit terbanyak pada kunjungan di Puskesmas Andalas tahun 2011 Terlihat bahwa angka kejadian ISPA jauh lebih tinggi dibandingkan 9 penyakit lainnya. ISPA merupakan salah satu penyakit berbasis lingkungan. Sehingga angka kejadian kasus ISPA sangat dipengaruhi oleh keadaan sanitasi lingkungan dan tingkat pengetahuan masyarakat. Keadaan wilayah Andalas yang padat penduduk dengan keadaan sanitasi lingkungan yang masih buruk dan ditambah dengan tingkat polusi udara yang cukup tinggi menyebabkan cepatnya penyebaran ISPA. Selain itu masih rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai ISPA dan penyebarannya membuat angka kejadian ISPA di wilayah Puskesmas Andalas masih tinggi.

Plan Of Action l 43

4.2 Penentuan Prioritas Masalah Banyaknya masalah yang ditemukan dalam program Puskesmas tidak memungkinkan untuk diselesaikan sekaligus atau seluruhnya, sehingga perlu dilakukan penentuan prioritas masalah.Dalam hal ini metode yang kami gunakan adalah teknik scoring. Dari masalah tersebutakan dibuat Plan of Action untuk meningkatkan dan memperbaiki mutu pelayanan. Kriteria skoring yang digunakan adalah sebagai berikut: Urgency (merupakan masalah yang penting untuk diselesaikan) Nilai 1 : tidak penting Nilai 2 : kurang penting Nilai 3 : cukup penting Nilai 4 : penting Nilai 5 : sangat penting Kemungkinan Intervensi Nilai 1 : tidak mudah Nilai 2 : kurang mudah Nilai 3 : cukup mudah Nilai 4 : mudah Nilai 5 : sangat mudah Biaya Nilai 1 : sangat mahal Nilai 2 : mahal Nilai 3 : cukup mahal Nilai 4 : murah Nilai 5 : sangat murah Kemungkinan meningkatkan mutu Nilai 1 : sangat rendah Nilai 2 : rendah Nilai 3 : sedang Nilai 4 : tinggi Nilai 5 : sangat tinggi

Plan Of Action l 44

Tabel 4.7. Penilaian Prioritas Masalah Berdasarkan Sistem Skoring


No 1. 2. 3. 4. 5. 6. Identifikasi Masalah Survey perumahan PHBS (RT Sehat) Pencapaian N/D Bayi dan Balita Pencapaian Imunisasi HB0 Penemuan Penderita TB (CDR) DBD Deteksi bumil resiko tinggi Urgensi 2 4 3 2 4 4 Kemungkinan Intervensi 3 2 2 2 3 2 Biaya 4 4 2 4 4 4 Mutu 2 4 4 3 4 4 Skor Total 11 14 11 11 15 14 Prioritas VII III V VI I II

7.

12

IV

1. Survey perumahan Urgensi: 2 - Melakukan survei perumahan tidak mengubah secara langsung derajat kesehatan karena hanya berupa pendataan keadaaan lingkunan rumah masyarakat. - Belum tercapainya target survei perumahan di wilayah kerja Andalas lebih dikarenakan keterlambatan informasi yang diterima petugas kesling dari DKK mengenai jumlah minimal sample rumah yang harus disurvei. Kemungkinan intervensi: 3 - Daerah geografis di wilayah kerja tidak sulit untuk dijangkau. - Untuk melakukan survey perumahan kesetiap rumah di wilayah kerja Puskesmas Andalas, membutuhkan waktu yang cukup lama, mengingat jumlah tenaga kesehatan yang terbatas, khususnya tenaga bagian program Kesehatan Lingkungan. - Hanya memerlukan petugas serta transportasi untuk survey ke lapangan.

Plan Of Action l 45

Biaya: 4 - Biaya yang dibutuhkan murah dan sudah ada anggaran dana untuk ongkos harian petugas. Mutu: 2 - Survei perumahan hanya bertujuan untuk mengetahui kesehatan sanitasi lingkungan perumahan dan belum banyak memberikan dampak terhadap peningkatan mutu pelayanan Puskesmas. 2. PHBS (rumah tangga sehat) Urgensi: 4 - Tingginya angka kejadian penyakit berbasis lingkungan di wilayah kerja Puskesmas Andalas. - Masih rendahnya jumlah rumah tangga sehat di wilayah kerja Puskesmas Andalas. Kemungkinan intervensi: 2 - Berhubungan dengan perilaku dan kesadaran individu yang tidak mudah untuk diintervensi serta membutuhkan waktu yang lama untuk mengubahnya. - Untuk mencapai tumah tangga sehat harus terpenuhi 10 indikator PHBS tersebut, sehingga apabila 1 saja tidak terpenuhi, maka belum bisa dikatakan rumah tangga sehat. Hal ini meningkatkan jumlah rumah tangga yang tidak sehat. Biaya: 4 - Biaya yang dibutuhkan untuk penyuluhan kepada masyarakat murah karena tidak ada masalah dengan biaya ongkos harian untuk penyuluhan. Mutu: 4 - Dengan meningkatnya perilaku hidup bersih dan sehat dapat mencegah berbagai macam penyakit dan akan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. 3. Pencapaian N/D bayi dan balita Urgensi: 3 - Masih rendahnya angka N/D dari bayi dan balita yang ditimbang di wilayah kerja Puskesmas Andalas.

Plan Of Action l 46

- Berat badan bayi dan balita yang tidak meningkat bisa mengakibatkan risiko terjadinya gizi kurang dan mempengaruhi tumbuh kembang bayi dan balita tersebut. Kemungkinan intervensi: 2 - Intervensi terkait dengan edukasi mengenai pola asuh dan pemberian asupan gizi tambahan, hal ini juga berkaitan dengan sikap ibu dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan anaknya. - Masih terbatasnya tenaga program gizi dalam melakukan kegiatan pemantauan status gizi bayi dan balita secara rutin - Dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk menaikkan angka N/D Biaya: 2 - Biaya yang dibutuhkan besar untuk penyuluhan dan pemberian asupan tambahan. Mutu: 4 - Dengan meningkatnya angka N/D serta pertumbuhan dan perkembangan anak yang normal bisa melahirkan generasi yang sehat dan lebih produktif. 4. Pencapaian imunisasi HB0 Urgensi: 2 - Mayoritas ibu yang sudah sadar akan kepentingan imunisasi HB0, hanya sebagian kecil yang belum melakukan imunisasi HB0 pada bayinya. - Tidak ditemukan kasus Hepatitis B pada bayi di Puskesmas Andalas. - Rendahnya pencapaian imunisasi HB0 di Puskesmas Andalas berkaitan dengan kurangnya kerjasama mitra Puskesmas seperti rumah sakit swasta, bidan praktek swasta, ataupun mitra lainnya dalam hal pelaporan data imunisasi HB0. Kemungkinan intervensi: 2 - Dibutuhkan peran serta Dinas Kesehatan dan instansi terkait untuk terciptanya kerjasama semua mitra kesehatan Puskesmas Andalas dalam hal pelaporan data pemberian imunisasi HB0. Biaya: 4 - Imunisasi HB0 diberikan gratis oleh Puskesmas.

Plan Of Action l 47

Mutu: 3 - Dengan memberikan imunisasi dapat mencegah secara dini penularan penyakit Hepatitis B terutama penularan melalui jalan lahir dari ibu. 5. Penemuan penderita TB (CDR) Urgensi: 4 Masih rendahnya penemuan kasus TB BTA + jika dibandingkan dengan perkiraan jumlah penderita TB+ yang ada sehingga risiko penularan penyakit TB masih tinggi di masyarakat. - Mudahnya terjadi penularan kasus TB karena wilyah kerja Puskesmas Andalas merupakan daerah padat penduduk . - Masih kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai gejala penyakit TB dan penularannya, mengakibatkan kemungkinan angka suspek TB masih rendah di wilayah kerja Puskesmas Andalas, hal ini memungkinkan meningkatnya penularan TB karena masih banyaknya penderita yang tidak terjaring. Kemungkinan intervensi: 3 - Adanya program pemerintah dalam pengobatan TB seperti pemberian obat TB gratis (OAT), DOTS/ PMO akan lebih mendukung upaya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat - Intervensi secara aktif hanya bisa melalui penyuluhan,sedangkan untuk penjaringan dilakukan secara pasif artinya penjarinan tersangka penderita TB dilaksanakan pada mereka yang datang berkunjung berobat ke Puskesmas. Biaya: 4 - Pemeriksaan sputum jika ada warga yang dicurigai menderita TB tidak dipungut biaya Mutu: 4 - Penyakit TB dapat menurunkan produktivitas dan kinerja penderitanya, maka dengan penemuan penderita TB diharapkan mereka dapat segera diobati dan dapat kembali beraktivitas sehingga derajat kesehatan masyarakat wilayah kerja Puskesmas Andalas dapat juga meningkat. - Dengan banyaknya penemuan penderita suspek TB, diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat TB diwilayah kerja Puskesmas Andalas.
Plan Of Action l 48

6. Demam Berdarah Dengue (DBD) Urgensi: 4 - Beberapa wilayah kerja Puskesmas Andalas termasuk wilayah endemik DBD dengan jumlah kasus yang tinggi, serta salah satu wilayahnya menjadi KLB di bulan Januari 2012. - Keterlambatan penanganan kasus dapat menyebabkan penderita jatuh pada keadaan syok yang dapat berujung pada kematian. Kemungkinan intervensi: 2 - Sulit dilakukan karena yang perlu ditangani adalah perilaku dan kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan dan perilaku 3M+. - Keadaan demografi wilayah kerja Puskesmas Andalas yang padat penduduk sulit untuk diintervensi. Biaya: 4 - Pencegahan DBD cukup dengan membersihkan lingkungan. - Intervensi perilaku dapat dilakukan dengan penyuluhan. Mutu: 4 - Dengan berkurangnya kasus DBD, angka kesakitan dan kematian akibat DBD akan berkurang, sehingga derajat kesehatan masyarakat akan meningkat. - Dengan menjaga kebersihan lingkungan, akan mengurangi angka kejadian penyakit lainnya. 7. Deteksi Ibu Hamil Resiko Tinggi Urgensi: 4 - Angka kematian ibu menjadi salah satu indikator derajat keehatan suatu negara, sehingga bila angka ini meningkat maka derajat kesehatan di negara tersebut bisa dikatakan masih rendah. Hal ini berkaitan dengan kesehatan ibu tersebut saat sedang hamil, melahirkan, dan setelah melahirkan. - Rendahnya deteksi ibu hamil resiko tinggi memungkinkan keterlambatan dalam penanganan kasus yang berakibat kematian ibu sehingga dapat meningkatkan angka kematian ibu.

Plan Of Action l 49

- Rendahnya tingkat pengetahuan ibu hamil serta lingkungan sekitarnya mengenai kehamilan yang beresiko menjadi salah satu penghambat pendeteksian ibu hamil resiko tinggi. Kemungkinan intervensi: 2 - Rendahnya deteksi ibu hamil resiko tinggi berkaitan dengan tingkat keadaran dan pengetahuan para ibu yang masih rendah, sehingga sulit untuk diintervensi. - Intervensi secara aktif hanya bisa melalui penyuluhan, sedangkan untuk penjaringan ibu hamil resiko tinggi dilakukan secara pasif saat mereka datang ke Puskesmas untuk memeriksakan kandungannya. Biaya: 2 - Biaya yang diperlukan untuk penyuluhan tidak terlalu tinggi tapi biaya untuk pemeriksaan lanjutan untuk ibu hamil yang dicurigai cukup mahal. Mutu: 4 - Dengan meningkatnya penemuan penemuan ibu hamil resiko tinggi, diharapkan dapat menurunkan angka kematian ibu karena keterlambatan penanganan kasus kehamilan bermasalah diwilayah kerja Puskesmas Andalas. - Dengan menurunnya angka kematian ibu, diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Andalas. Dari penilaian prioritas masalah di atas, kami mengambil prioritas yang pertama untuk Plan of Action yaitu rendahnya penemuan penderita TB (CDR) di wilayah kerja Puskesmas Andalas. Penulis menganggap perlu untuk menganalisis rendahnya penemuan penderita TB (CDR) di wilayah kerja Puskesmas Andalas guna mencari solusi dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam kegiatan tersebut.

Plan Of Action l 50

4.3. Hasil Pengamatan 4.3.1. Data Kejadian Tuberkulosis di Puskesmas Andalas Tabel 4.8. Surveilans Terpadu Penyakit Berbasis Puskesmas di wilayah kerja Puskesmas Andalas Tahun 2010 Jenis Penyakit TB BTA + TB klinis 2010 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des 2 70 2 48 6 56 1 71 2 65 6 69 2 59 3 46 3 68 3 85 59 5 73 35 769 Total Total

Tabel 4.9. Surveilans Terpadu Penyakit Berbasis Puskesmas di wilayah kerja Puskesmas Andalas Tahun 2011 Jenis Penyakit TB BTA + TB klinis 2011 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des 6 62 3 60 5 82 14 39 4 43 4 34 5 54 5 75 3 5 6 73 6 74 66 732 Total

55 81

Tabel 4.10. Surveilans Terpadu Penyakit Berbasis Puskesmas di wilayah kerja Puskesmas Andalas pada januari- juli Tahun 2012 Jenis Penyakit TB BTA + TB klinis 2012 Jan 5 68 Feb 4 82 Mar 3 63 Apr 11 61 Mei 3 54 Jun 4 76 Jul 8 112 38 516 Total

Berdasarkan laporan pelaksanaan Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit TB (P2TB) dan surveilans tahun 2010 Juli 2012, didapatkan angka kejadian TB yang meningkat dari tahun 2010 sampai dengan Juli 2012.

Plan Of Action l 51

250

200

150

Tahun 2010 Tahun 2011

100

Tahun 2012

50

0 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV

Grafik 4.6. Perbandingan Kejadian TB di Puskesmas Andalas dari Tahun 2010 Juli 2012

900 800 700 600 500 400 300 200 100 0 2010 2011 Januari- Juli 2012

TB BTA + TB paru klinis

Gafik 4.7. Perbandingan Kejadian TB BTA + dan klinis di Puskesmas Andalas dari Tahun 2010 juli 2012

Plan Of Action l 52

Tabel 4.11. Data Surveilens Menurut Kelompok Usia pada Tahun 2010
NO 1 2 KASUS TB Paru BTA + TB paru klinis <15 tahun 43 15-59 tahun 32 513 > 60 tahun 3 203 Total 35 759

5% 26% <15 tahun 15-59 tahun >60 tahun 69%

Grafik 4.3. Data Surveilens kasus TB Menurut Kelompok Usia pada Tahun 2010

Tabel 4.11. Data surveilens Menurut Kelompok Usia pada Tahun 2011
NO 1 2 KASUS TB Paru BTA + 1 TB paru klinis 39 551 142 60 5 732 <15 tahun 15-59 tahun > 60 tahun Total 66

5% 18% <15 tahun 15-59 tahun > 60 tahun 77%

Grafik 4.4 Data Surveilens kasus TB Menurut Kelompok Usia pada Tahun 2011
Plan Of Action l 53

Tabel 4.12. Data Surveilens Menurut Kelompok Usia pada bulan januari juli tahun 2012
NO 1 2 KASUS TB Paru BTA + TB paru klinis <15 tahun 1 30 15-59 tahun 33 396 > 60 tahun 4 90 Total 38 516

17%

7% <15 tahun 15-59 tahun > 60 tahun 76%

Grafik 4.4. Data Surveilens kasus TB Menurut Kelompok Usia pada Januari- Juli Tahun 2011

Tabel 4.13. Sebaran Penderita TB Paru yang Berobat di Puskesmas Andalas tahun 2010-Juli 2012 Menurut Kelurahan
Tahun 2010 2011 Jan-Juli 2012 I 4 5 6 II 3 2 III 3 4 9 IV 2 4 2 V 4 3 VI 7 8 4 VII 11 16 12 VIII 3 IX 7 5 9 X 6 3

Ket: I.

Sawahan

V. VI.

Simpang Haru Kubu Marapalam

IX. Kb. Dalam Pr. Karakah X. Ganting Parak Gadang

II. Jati Baru III. Jati IV. Sawahan Timur

VII. Andalas VIII. Pr. Gadang Timur

Plan Of Action l 54

Pada tahun 2010, angka kejadian TB tercatat 769 kasus. Kasus tertinggi terdapat pada kelurahan Andalas sebesar 11 kasus, Sedangkan pada Kelurahan Jati Baru, Simpang Haru, Parak Gadang Timur, dan Ganting Parak Gadang tidak ditemukan kasus TB. Pada tahun 2011 terjadi peningkatan kasus TB, dimana sebaran daerah tertinggi masih ada di kelurahan Andalas. Di semua kelurahan ditemukan kasus TB baru. Pada semester I tahun 2012 penemuan kasus TBsebaran tertinggi masih tinggi di kelurahan andalas dan pada kelurahan Parak Gadang Timur tidak ditemukan kasus TB. 4.3. Data Case Detection Rate (CDR) TB Paru di Puskesmas Andalas Berdasarkan laporan pelaksanaan program tuberkulosis paru tahun 2010 Juli 2012, didapatkan angka Case Detection Rate (CDR) tuberkulosis paru masih sangat rendah daripada yang diharapkan.

Tabel 4.14 Angka Case Detection Rate (CDR) Tuberkulosis Paru di Puskesmas Andalas Tahun 2010
Tahun Triwulan Target BTA (+) Penemuan BTA (+) Baru 2010 I II III IV Total 35 36 35 36 142 8 11 6 10 35 22,8 30,5 17,1 27,7 24,6 CDR (%)

Tabel 4.15 Angka Case Detection Rate (CDR) Tuberkulosis Paru di Puskesmas Andalas Tahun 2011
Tahun Triwulan Target BTA (+) Penemuan BTA (+) Baru 2011 I II III IV Total 31 31 31 31 124 20 22 13 11 66 64,5 70,9 41,9 35,5 53,2 CDR (%)

Plan Of Action l 55

Tabel 4.16 Angka Case Detection Rate (CDR) Tuberkulosis Paru di Puskesmas Andalas Tahun 2012
Tahun Triwulan Target BTA (+) Penemuan BTA (+) Baru 2012 I II Total 31 31 62 12 18 30 38.7 58 48.35 CDR (%)

80 70 60 50 40 30 20 10 0 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV 2010 2011 2012

Grafik 4.5. Case Detection Rate (CDR) Tuberkulosis Paru di Puskesmas Andalas Tahun 2010- Juli 2012 setiap triwulan

70 60 50 40 30 20 10 0 Tahun 2010 Tahun 2011 Januari- Juli 2012 Target CDR

Grafik 4.6. Case Detection Rate (CDR) Tuberkulosis Paru di Puskesmas Andalas Tahun 2010-Juli 2012
Plan Of Action l 56

Penemuan kasus TB dilakukan melalui penjaringan penderita yang dicurigai/suspek TB yang berobat ke sarana kesehatan. Perkiraan TB Paru BTA (+) adalah 1,6/1000 penduduk. Case Detection Rate (CDR) atau angka penemuan penderita TBC BTA (+) adalah persentase jumlah penderita baru BTA positif yang ditemukan dibandingkan jumlah penderita baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut.

4.3.3 Program Penemuan Kasus Tuberkulosis di Puskesmas Andalas Penemuan penderita tuberkulosis dilakukan secara pasif, artinya penjaringan tersangka penderita dilaksanakan pada mereka yang datang berkunjung ke unit pelayanan kesehatan. Puskesmas hanya melaksanakan penyuluhan secara perorangan kepada

tersangka tuberkulosis dan jarang melakukan penyuluhan secara berkelompok. Begitu pula dengan media promosi seperti poster dan leaflet sangat sedikit terdapat di tempat-tempat pelayanan kesehatan, sedangkan di tempat umum tidak ada sama sekali. Keadaan ini menyebabkan pengetahuan masyarakat mengenai penyakit tuberkulosis sangat minim, di tambah kelemahan cara pasif dimana petugas hanya menunggu di

pelayanan kesehatan yang menyebabkan penemuan tersangka tuberkulosis rendah. Menurut Depkes RI (2002) penemuan secara pasif tersebut harus didukung penyuluhan yang aktif, baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat yang lebih dikenal dengan passive promotive case finding. Cara penemuan tersangka tuberkulosis secara pasif di puskesmas tidak memperlihatkan hasil yang baik, dimana penemuan suspek tuberkulosis dan CDR tidak mencapai target yang ditetapkan. Aspek positif dari data yang ada adalah walaupun CDR rendah (karena penemuan pasif) tetapi target cure rate tercapai, ini menunjukkan bahwa 85% dari yang ditemukan sembuh berarti ada pemutusan rantai penularan dengan sekitarnya. Dengan CDR yang masih rendah walaupun yang ditemukan 85% sembuh ternyata masih banyak penderita TB dilapangan belum ketemu dan diobati yang merupakan sumber penularan. Dengan cara sekarang akan sulit untuk meningkatkan CDR.

Plan Of Action l 57

4.4 Analisis Sebab Akibat Masalah Berdasarkan penilaian prioritas,yang menjadi prioritas masalah di puskesmas pauh adalah rendahnya angka pencapaian penemuan kasus TB baru.Dari hasil observasi dan diskusi dengan pimpinan puskesmas dan petugas puskesmas maka didapatkan beberapa sebab dari masalah yang terjadi.

Tabel 4.17. Analisis Faktor Penyebab Masalah


No Faktor penyebab Masalah Teknik Identifikasi Masalah Manusia Indikator Keterangan

Kader P2 TB

Tidak adanya kader yang khusus untuk program P2TB sehingga tidak optimalnya penemuan kasus P2TB di lapangan.

Wawancara dengan penanggung jawab program P2TB dan kepala Pusksmas.

Dalam program TB minimal terdapat 1 kader P2TB untuk 1 kelurahan.

Terdapat 4 orang kader yang tersebar di 88 Posyandu yang ada di wilayah kerja Puskesmas Andalas. Setiap kader bertanggung jawab untuk pelaksanaan semua program yang ada di Puskesmas, tidak secara khusus menangani masalah TB. Selain itu, para kader juga tidak diberikan reward untuk pelaksaanan program sehingga motivasi untuk penemuan kasus terutama kasus TB kurang.

Plan Of Action l 58

No

Faktor penyebab

Masalah

Teknik Identifikasi Masalah

Indikator

Keterangan

Masyarakat

Masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit TB, dan program penanggulangan TB paru di Puskesmas.

Kuesioner yang dibagikan ke pasien yang berkunjung ke Puskesmas dan wawancara dengan penanggung jawab program P2TB.

Dari 20 responden didapatkan bahwa masyarakat yang punya pengetahuan tinggi 15 %, sedang 20%, rendah 65 %.

Adanya stigma di masyarakat bahwa TB paru adalah penyakit yang memalukan

Wawancara dengan masyarakat dan penyebaran kuesioner

Dari 20 responden didapatkan bahwa masyarakat yang menganggap TB paru sebagai penyakit yang memalukan 50%.

Tenaga Kesehatan

Kinerja petugas P2TB di Puskesmas kurang Optimal.

Wawancara dengan penanggung jawab program P2TB dan kepala Puskesmas.

Puskesmas Rujukan Mikroskopis dan Puskesmas Pelaksana Mandiri : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih yaitu 1 dokter, 1 petugas TB, dan 1 tenaga laboratorium.

Puskesmas Andalas memiliki 2 orang petugas laboratorium. Selain itu, Puskesmas Andalas memiliki 1 orang petugas P2TB, dan kurang aktif dalam menjalankan program TB.

Kurangnya inisiatif kepala dan petugas Puskesmas untuk mencari dana selain dana yang telah dianggarkan oleh DKK untuk P2TB

Wawancara dengan penganggung jawab program P2TB,

Salah satu strategi program P2TB adalah

Tidak ada sumber dana dari pihak lain selain

peningkatan kerjasama dari DKK (berupa dana BOK) untuk program P2TB di Puskesmas Andalas.

pimpinan Puskesmas, dengan pihak terkait dan bendahara Puskesmas. melalui advokasi, komunikasi dan mobilisasi sosial

Plan Of Action l 59

No

Faktor penyebab

Masalah

Teknik Identifikasi Masalah Material

Indikator

Keterangan

1.

Kurangnya media informasi seperti papan informasi, poster, pamflet, dan leaflet tentang penyakit TB paru di Puskesmas tempattempat umum.

Wawancara dengan penanggung jawab program P2TB, penanggung jawab program promkes, dan kepala Puskesmas, serta wawancara dengan masyarakat setempat.

Saluran/media dalam proses komunikasi dapat berbentuk rapat, pertemuan-pertemuan, percakapan, seminar peningkatan pengetahuan, radio, rekaman, televisi, film, demonstrasi, latihan, surat kabar, majalah dan buku. Penggunaan multi media untuk penyampaian pesan dengan inten-sitas yang tinggi akan memberikan pengaruh yang mendalam terhadap penerima pesan dan sebaliknya.

Kurang dimanfaatkannya papan pengumuman baik itu di Puskesmas ataupun di Posyandu serta di tempat-tempat umum untuk menginformasikan kepada masyarakat tentang pentingnya penyakit TB paru dan penemuan dini kasus baru TB.

Metode 1. Kurangnya penyuluhan di dalam dan luar gedung mengenai penyakit dan program penanggulangan TB Paru di puskesmas. Wawancara dengan penanggung jawab program P2TB. Bentuk-bentuk mobilisasi sosial penanggulangan TB berupa kampanye, penyuluhan dan diskusi berkelompok (1xsebulan), kunjungan rumah dan konseling Penyuluhan seputar TB Paru masih sangat minim dan informasi yang diberikan oleh kader saat posyandu tidak optimal.

Plan Of Action l 60

No

Faktor penyebab

Masalah

Teknik Identifikasi Masalah

Indikator

Keterangan

2.

Kurang optimalnya kerja sama lintas sektor dalam hal alur rujukan antara petugas di Dokter Praktek Swasta(DPS), Rumas Sakit di wilayah kerja Puskesmas Andalas dengan petugas P2TB di Puskesmas Andalas.

Wawancara dengan penanggung jawab program P2TB dan kepala Puskesmas.

Secara umum konsep pelayanan di Balai Pengobatan dan DPS sama dengan pelaksanaan pada rumah sakit dan BP4. Klinik dan DPS dapat merujuk pasien dan spesimen ke puskesmas, minimal untuk pelaporan kasus TB setiap bulannya.

Banyak tersangka atau penderita TB yang berobat di RS, Praktek Dokter Umum atau Dokter Spesialis Swasta, sedangkan data jumlah tersangka atau penderita tersebut langsung dilaporkan ke DKK, dan pihak Puskesmas tidak meminta kembali data tersebut kepada pihak RS, Praktek Dokter Umum atau Dokter Spesialis Swasta maupun DKK.

Kurangnya penjelasan oleh petugas mengenai cara pengeluaran dahak secara benar kepada pasien

Wawancara dengan pemegang program P2TB dan pimpinan puskesmas.

Diagnosis TB melalui pemeriksaan kultur atau biakan dahak merupakan metode baku emas. Pemeriksaan 3 spesimen (SPS) dahak.

Petugas laboratorium belum menjelaskan kepada penderita mengenai cara pengeluaran dahak yang benar. Puskesmas Andalas merupakan PRM yang memberikan pelayanan laboratorium mikroskopis deteksi BTA dengan pewarnaan Ziehl Neelsen
Plan Of Action l 61

No

Faktor penyebab

Masalah

Teknik Identifikasi Masalah Lingkungan

Indikator

Keterangan

1.

Wilayah kerja Puskesmas yang cukup luas membuat masyarakat lebih mau berobat ke tempat pengobatan yang lebih terdekat dibandingkan dengan ke Puskesmas.

Wawancara dengan pemegang program P2TB dan pimpinan Puskesmas

Dalam pelaksanaan di Puskesmas, dibentuk kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) yang terdiri dari Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM), dengan dikelilingi oleh kurang lebih 5 (lima) Puskesmas Satelit (PS). Pada keadaan geografis yang sulit, dapat dibentuk Puskesmas Pelaksana Mandiri PPM) yang dilengkapi tenaga dan fasilitas pemeriksaan sputum BTA.

Puskesmas Andalas memiliki wilayah kerja untuk 10 kelurahan.

Plan Of Action l 62

Manusia Kader P2 TB Tidak adanya kader yang khusus untuk program P2TB sehingga tidak optimalnya penemuan kasus P2TB di lapangan. Masyarakat Masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit TB Paru dan program penanggulangan TB paru di Puskesmas. Adanya stigma di masyarakat bahwa TB paru adalah penyakit yang memalukan Tenaga Kesehatan Kinerja tenaga kesehatan khususnya petugas P2 TB di Puskesmas kurang optimal Kurangnya inisiatif kepala dan petugas Puskesmas untuk mencari dana lain di luar dana yang telah dianggarkan oleh DKK.

Metode
Kurangnya penyuluhan di dalam dan luar gedung mengenai penyakit TB Paru, cara pengambilan sampel dahak yang benar, program penanggulangan TB Paru di Puskesmas. Kurang optimalnya kerja sama lintas program dalam hal alur rujukan antara petugas di Balai Pengobatan dengan petugas P2 TB Kurangnya penjelasan oleh petugas mengenai cara pengeluaran dahak secara benar kepada pasien

Rendahnya penemuan kasus baru TB Paru di Wilayah kerja Puskesmas Andalas

Material
Kurangnya pemanfaatan media informasi seperti papan informasi, poster, pamflet, dan leaflet tentang penyakit TB paru di Puskemas dan tempat-tempat umum. Kurang optimalnya alokasi dana pemerintah untuk pelaksanaan kegiatan penemuan dini kasus baru TB

Lingkungan
Wilayah kerja Puskesmas yang cukup luas membuat masyarakat lebih mau berobat ke tempat pengobatan yang lebih terdekat dibandingkan dengan ke Puskesmas

Diagram 4.1 Diagram Ischikawa Rendahnya penemuan kasus baru TB di wilayah kerja Puskesmas Andalas

63

4.5. Alternatif pemecahan masalah 4.5.1. Manusia Tidak adanya kader yang khusus untuk program P2TB sehingga tidak optimalnya penemuan kasus P2TB di lapangan. Rencana : Pembentukan kader yang khusus untuk program P2TB pada setiap Posyandu yang ada di wilayah kerja. Pelaksana : Kepala Puskesmas yang bekerja sama dengan pejabat setempat. Pelaksanaan : Merekrut kader baru dan memberikan pelatihan kader. Sasaran Waktu Tempat Target : Masyarakat setempat. : Minggu ketiga bulan Oktober 2012. : Puskesmas. : Adanya kader khusus untuk P2TB yang membantu dalam pencapaian target penemuan kasus baru TB paru, serta mengaktifkan kader tersebut sebagai kader pengawas minum obat (PMO). Menjadikan pasien yang sudah sembuh dari TB untuk menjadi kader P2TB di daerahnya. Masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit TB, dan program penanggulangan TB paru di Puskesmas dan danya stigma di masyarakat bahwa TB paru adalah penyakit yang memalukan Rencana : Melakukan penyuluhan individu dan massal di dalam dan di luar gedung mengenai bahaya dan perlunya pengobatan dini pada TB. Pelaksana : Petugas pemberantasan penyakit TB (P2TB), petugas kesehatan, dan kader pemberantasan penyakit TB (P2TB). Pelaksanaan : - Dalam gedung : Sebelum pelayanan/pengobatan untuk penyuluhan massal dan selesai pengobatan untuk pasien yang datang dengan keluhan batuk lama atau berdarah. - Luar gedung : Penyuluhan massal saat Majlis Talim, kegiatan PKK, karang taruna, wirid remaja dan sekolahsekolah di setiap kelurahan Sasaran : Pengunjung puskesmas Andalas dan posyandu serta masyarakat di wilayah kerja. Waktu : 1 x sebulan di dalam dan 1x 6 bulan di luar gedung di tiap kelurahan.
Plan Of Action l 64

promosi

Tempat Target

: Di puskesmas, posyandu, balai pemuda, masjid dan kantor lurah. : - Dalam gedung : Semua pengunjung puskesmas mendapat

penyuluhan tentang pemberantasan penyakit TB. - Luar gedung : Penyuluhan diikuti oleh minimal 100 orang disetiap kelurahan Kinerja petugas P2TB di Puskesmas kurang Optimal. Rencana : mengusulkan kepada kepala puskesmas untuk menambah petugas penanggung jawab program P2TB menjadi 2 orang sehingga menambah frekuensi petugas kesehatan untuk turun ke lapangan dalam rangka penyuluhan terutama jika ditemukan satu atau lebih penderita TB di daerah tersebut Pelaksana : Petugas pemberantasan penyakit TB (P2TB) Sasaran Waktu Tempat Target : Petugas Puskesmas : incidental : Di puskesmas. : Pemegang program lebih optimal dalam menjalankan programnya

Kurangnya inisiatif kepala dan petugas Puskesmas untuk mencari dana lain di luar dana yang telah dianggarkan oleh DKK untuk pelaksanaan program P2TB di Puskesmas Andalas Pelaksana : Kepala Puskesmas Pelaksanaan: Diskusi dan Musyawarah mengenai komitmen politis dengan para pengambil keputusan, termasuk pihak Kecamatan dan Kelurahan serta pemuka masyarakat Sasaran Waktu Target : para pengambil keputusan : Rapat Lintas Sektoral : danya sumber dana lain untuk biaya operasional Program P2TB

Plan Of Action l 65

4.5.2. Material Kurangnya pemanfaatan media informasi seperti papan informasi, poster, pamflet, dan leaflet tentang penyakit TB paru di Puskemas dan tempat-tempat umum Rencana : Penyebaran leaflet dan penempelan poster mengenai penyakit tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Andalas Pelaksana : Petugas Promosi Kesehatan, petugas P2TB dan kader P2TB. Pelaksanaan : Penyebaran leaflet sewaktu penyuluhan di Posyandu dan penyebaran leaflet pada pengunjung Puskesmas. Penempelan poster di puskesmas dan tempat-tempat umum lainnya. Sasaran Waktu Tempat Target : Masyarakat di wilayah kerja puskesmas Andalas : Leaflet ditempel pada waktu penyuluhan. : Puskesmas, Posyandu dan tempat-tempat umum. : Minimal tertempel 5 buah poster di setiap kelurahan pada tempattempat, seperti kantor, pasar, sekolahan dan mesjid. Dan minimal tersebar 20 lembar leaflet tiap penyuluhan. Penemuan Kasus TB masih dilakukan secara pasif. Rencana : Pemberian reward untuk setiap kader P2TB yang dapat menemukan kasus baru TB paru di wilayahnya. Pelaksana : Kepala Puskesmas dan pemegang program. Pelaksanaan: Musyawarah dalam staff meeting Puskesmas dalam penyediaan anggaran khusus untuk pemberian reward pada kader yang dapat menemukan kasus baru TB paru. Sasaran Waktu Target : Kader P2TB. : Oktober 2012. : Tersedianya dana khusus untuk memberikan reward pada setiap kader yang dapat menemukan kasus baru TB paru.

Plan Of Action l 66

4.5.3. Metode Kurangnya informasi yang lengkap mengenai penyakit TB di puskesmas dan posyandu serta tempat umum diwilayah kerja puskesma Andalas. Rencana : Mengadakan penyuluhan dengan menggunakan sarana audiovisual dalam penyuluhan-penyuluhan tentang TB. Pelaksana : Petugas Promosi Kesehatan, petugas P2TB, dan kader kesehatan. Pelaksanaan: Membuat film pendek tentang TB dan bahayanya. Sasaran Waktu Tempat Target : Masyarakat di wilayah kerja puskesmas. : Setiap dilakukan penyuluhan. : Di puskesmas, posyandu, dan kantor lurah. : Tercapainya penyuluhan yang informative, komunikatif dan menarik.

4.5.4. Lingkungan Wilayah kerja Puskesmas Andalas yang luas Rencana : Pembentukan kelurahan bebas TB

Pelaksana : Dokter Puskesmas, pimpinan puskesmas, pemegang program P2TB, camat, kepala lurah, kader, bidan Pelaksanaan : Sosialisasi mengenai kriteria kelurahan bebas TB, pelatihan kader khusus, pengenalan dan pelaksanaan program-program pemberantasan P2TB Sasaran : Masyarakat di kelurahan Andalas dengan angka kejadian TB tertinggi di wilayah kerja Puskesmas Andalas. Waktu Tempat Target : Setahun. : Kelurahan Andalas. : Terciptanya kelurahan yang bebas TB sehingga diharapkan dapat menurunkan angka kasus TB yang kemudian menjadi percontohan bagi 9 kelurahan lain.

Plan Of Action l 67

BAB V RENCANA PELAKSANAAN PROGRAM

5.1. Tahap Persiapan Langkah awal pelaksanaan program ini adalah pengumpulan data, berupa data jumlah kasus TB di wilayah kerja Puskesmas Andalas dari tahun 2010 hingga Juli 2012 dan data keberhasilan pencapaian program-program di Puskesmas Andalas. Data ini didapat dari laporan Surveilens dan laporan tahunan Puskesmas Andalas tahun 2010-2012. Data aparatur dan tokoh masyarakat masing-masing kelurahan juga dibutuhkan, ini didapatkan dari kantor lurah pada sepuluh kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Andalas. Pendataan dilakukan pada minggu kedua dan ketiga bulan September 2012. Setelah didapatkan data-data di atas, dilakukan diskusi pada minggu IV bulan September 2012 dengan pimpinan Puskesmas tentang program-program yang akan dilakukan. Selanjutnya dilakukan koordinasi dengan staf-staf Puskesmas serta advokasi dengan stakeholder pada minggu I-II Oktober 2012 untuk mendapatkan dukungan program dan membina kerjasama lintas sektor untuk mensukseskan program ini. Advokasi juga dilakukan pada instansi-instansi setempat yang diharapkan mau berkontribusi dalam pembentukan kader P2TB dan dalam kegiatan penyuluhan mengenai tuberkulosis yang diadakan rutin setiap posyandu dilakukan di setiap kelurahan serta dalam pembentukan kelurahan bebas TB di kelurahan Andalas.

5.2. Tahap Pelaksanaan 5.2.1. Pertemuan antara Promkes, pemegang program P2TB, pimpinan puskesmas tentang kinerja dan kendala yang dihadapi di lapangan serta disiplin kerja. Pada pertemuan ini juga membahas mengenai pemberdayaan tenaga kesehatan lain di puskesmas untuk membantu jalannya Program P2TB. Di pertemuan ini juga diadakan perumusan tentang pembentukan kelurahan bebas TB yang akan dilaksanakan di kelurahan Andalas. Pertemuan diadakan 1 kali 3 bulan bertempat di Puskesmas. Pertemuan ini mulai dilakukan pada minggu III Oktober 2012. Pada pertemuan ini akan dibicarakan mengenai pembentukan kader P2TB dan mengenai program pemberian reward untuk setiap kader P2TB yang dapat menemukan kasus baru TB paru di wilayahnya

Plan Of Action l 68

5.2.2. Pertemuan antara Promkes, pemegang program P2TB,PWS, kader, lurah, camat, Pimpinan puskesmas tentang kegiatan sosialisasi program kelurahan bebas TB yang akan dilakukan di Majlis Talim, kegiatan PKK, karang taruna, wirid remaja, sekolahsekolah di kelurahan Andalas. Pertemuan dilakukan pada minggu IV Oktober 2012. 5.2.3. Pertemuan antara petugas posyandu, kader, Pembina wilayah setempat (PWS) dan pemegang program P2TB membahas mengenai kegiatan penyuluhan mengenai

bahaya dan perlunya pengobatan dini pada TB. Pertemuan dilakukan pada minggu IV Oktober 2012. 5.2.4. Pelatihan kader yang khusus untuk program P2TB dan kelurahan bebas TB. Sejumlah kader dikumpulkan di Puskesmas dan kegiatan dilaksanakan pada minggu pertama bulan November 2012. Materi akan diberikan oleh dokter puskesmas atau pemegang program TB serta akan disosialisasikan mengenai pemberian reward bagi kader P2TB,kader Posyandu dan PWS. 5.2.5. Pertemuan dengan pihak RS, dokter praktek swasta, untuk membicarakan pelaporan dan membuat MOU pelaporan setiap temuan kasus kasus TB ke Puskesmas dilaksanakan pada minggu ke IV Oktober 5.2.6. Rapat evaluasi pencapaian angka CDR yang dilakukan antara pemegang program P2TB, kader, staf peskesmas lainnya, dengan pimpinan puskesmas. Rapat ini dilakukan 1 x 3 bulan. Dimulai pada minggu I bulan Desember 2012. 5.2.7. Pembuatan proposal pengajuan dana untuk program P2TB dan kelurahan bebas TB kepada instansi swasta di kelurahan Andalas. Proposal akan dimasukkan pada minggu IV Oktober 2012. 5.2.8. Pembagian leaflet dan brosur, penempelan poster mengenai tuberkulosis. Penyebaran leaflet, brosur serta poster dilakukan pada minggu III Oktober minggu II November. Media informasi akan disebar di puskesmas setiap kelurahan dan ditempelkan di posyandu, kantor lurah, BPS, DPS dan klinik.

5.3. Tahap monitoring dan Evaluasi Tahap ini betujuan untuk mengetahui kesuksesan jalannya kegiatan. Monitoring rutin dilakukan setiap bulan setelah pelaksanaan program. Dilakukan evaluasi untuk

mengidentifikasi kendala-kendala yang ditemukan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut dan mencari solusinya. Evaluasi program dan kelurahan bebas TB dilakukan tiap 3 bulan pada saat Lokakarya Mini.
Plan Of Action l 69

Tabel 5.1 Plan of Action Program Upaya Peningkatan Penjaringan Suspek TB paru baru di Wilayah Kerja Puskesmas Andalas
No. 1. Kegiatan Tahap persiapan: - Pengumpulan data jumlah kasus TB di wilayah kerja Puskesmas Andalas dari tahun 2010 hingga Juli 2012 dan data keberhasilan pencapaian program-program di Puskesmas Andalas. - Diskusi dengan pimpinan Puskesmas dengan staf-staf Puskesmas serta DKK - Pertemuan dengan instansiinstansi terkait seperti camat, lurah, dan pihak swasta - Evaluasi kinerja petugas pemegang program P2TB - Membuat program khusus tentang P2TB - Membuat penetapan anggota yang berperan serta dalam program P2TB selanjutnya - Membuat rencana pengoptimalan leaflet dan poster - Adanya anggaran dana yang jelas untuk penyediaan media informasi - Untuk mendapatkan dukungan program dan membina kerjasama lintas sektor untuk mensukseskan program ini Pemegang program Pimpinan P2TB, Laporan tahunan Ruang rapat puskesmas, dilaksanakan pada Tujuan Penanggung Jawab Unsur yang Terlibat Tenaga Sarana Tempat dan Waktu

pimpinan dan jajaran puskesmas, puskesmas. laporan tahunan P2TB, rapat puskesmas.

puskesmas.

ruang - Minggu IV bulan staf September 2012 dan - Minggu I-II Oktober 2012

Plan Of Action l 70

2.

Tahap pelaksanaan: - Perumusan tentang pembentukan kelurahan bebas TB - Pembentukan kader yang khusus untuk program P2TB - Program pemberian reward untuk setiap kader P2TB yang dapat menemukan kasus baru TB paru di wilayahnya - Penyuluhan mengenai bahaya dan perlunya pengobatan dini pada TB - Sosialisasi program kelurahan bebas yang akan dilakukan di Majlis Talim, kegiatan PKK, karang taruna, wirid remaja di kelurahan Andalas - Pembuatan proposal pengajuan dana untuk program P2TB dan kelurahan bebas TB kepada instansi swasta di kelurahan Andalas - Adanya kader khusus untuk P2TB yang membantu dalam pencapaian target penemuan kasus baru TB paru, serta mengaktifkan kader tersebut sebagai kader pengawas minum obat (PMO). - Menambah pengetahuan masayarakat mengenai TB - Terciptanya kelurahan yang bebas TB sehingga diharapkan dapat menurunkan angka kasus TB. - Tercapainya penyuluhan yang informatif, komunikatif dan menarik. - Kelancaran penyediaan media informasi tentang TB Petugas pemegang Petugas program pembina P2TB, pemegang wilayah program Papan informasi, poster, infocus. Penyuluhan tempat di

pelaksanaan

leaflet, Wirid, advokasi di Kantor Padang, Andalas, dilaksanakan mulai Wako Puskesmas

setempat, pimpinan P2TB, Puskesmas, instansi pembina terkait. wilayah setempat, pimpinan Puskesmas, instansi terkait. Pembina wilayah, DKK pemko. dan

minggu III Oktober 2012

Plan Of Action l 71

- Pertemuan dengan pihak RS, dokter praktek swasta, untuk membicarakan pelaporan setiap temuan kasus kasus TB - Pembagian leaflet dan brosur, penempelan poster mengenai tuberkulosis

3.

Tahap evaluasi: - Rapat internal - Rapat lintas program (Lokmin), Evaluasi berkala sehingga kendala yang ditemukan bisa ditindaklanjuti. Petugas ppemegang program P2TB perangkat puskesmas dan pimpinan Puskesmas. Petugas ppemegang program P2TB perangkat puskesmas dan pimpinan Puskesmas. - Survey langsung setiap bulan ke kelurahan. Ruang rapat puskesmas. - Rapat internal dan lokmin setiap 3 bulan.

Plan Of Action l 72

Tabel 5.2. Indikator Keberhasilan Rencana Pelaksanaan Program

No 1

Kegiatan Pembentukan kader yang khusus untuk program P2TB serta pemberian reward untuk setiap kader P2TB

Indikator keberhasilan Setiap kelurahan minimal memiliki 1 kader P2TB yang aktif

Sumber dana DKK

Penanggung Jawab Pemegang program P2TB, Kepala Puskesmas

Penyuluhan mengenai bahaya dan perlunya pengobatan dini pada TB

Dilakukannya penyuluhan dan diskusi berkelompok(1xsebulan), kunjungan rumah dan konseling

DKK dan BOK

Pemegang program P2TB, kader P2TB dan pimpinan Puskesmas

Pembentukan dan pembinaan kelurahan bebas TB

Terbentuknya 1 kelurahan bebas TB dalm waktu satu tahun

DKK dan sumber dana lain (anggaran dana dari perusahaan swasta, LSM, ormas)

Pemegang program P2TB, Pembina wilayah setempat, pimpinan Puskesmas.

Pembagian leaflet dan brosur, penempelan poster mengenai tuberculosis

Minimal

tertempel

Pemegang program P2TB, Pembina wilayah

poster di tempat strategis pada kelurahan. Minimal lembar tersebar leaflet 20 tiap masing-masing

penyuluhan.

Plan Of Action l 73

Tabel 5.3 Time Schedule Pelaksanaan Kencana Kerja

Bulan No Kegiatan 10 I II III IV I II 11 III IV I II 12 III IV 1 2 3 4 5 6

Pertemuan antara Promkes, pemegang program P2TB, pimpinan puskesmas tentang pelaksanaan program TB dan perumusan kelurahan bebas TB

Pertemuan antara petugas posyandu, kader, dan pimpinan puskesmas membahas mengenai kegiatan penyuluhan mengenai bahaya dan perlunya pengobatan dini TB

Plan Of Action l 74

Bulan No Kegiatan I 3 Pertemuan antara Promkes, pemegang program P2TB, kader, lurah, camat, Pimpinan puskesmas tentang kegiatan sosialisasi kelurahan bebas TB II 10 III IV I II 11 III IV I II 12 III IV 1 2 3 4 5 6

Pelatihan kader yang khusus untuk program P2TB

Pertemuan dengan pihak RS, dokter praktek swasta, untuk membicarakan pelaporan setiap temuan kasus kasus TB ke Puskesmas

Plan Of Action l 75

Bulan No Kegiatan I 6 Rapat evaluasi pencapaian angka CDR yang dilakukan antara pemegang program P2TB, kader, staf peskesmas lainnya, dengan pimpinan puskesmas II 10 III IV I II 11 III IV I II 12 III IV 1 2 3 4 5 6

Pembuatan proposal pengajuan dana untuk program P2TB dan kelurahan bebas TB kepada instansi swasta di kelurahan Andalas

Pembagian leaflet dan brosur, penempelan poster mengenai TB

Plan Of Action l 76

Bulan No Kegiatan I 10 Monitoring II 10 III IV I II 11 III IV I II 12 III IV 1 2 3 4 5 6

11

Evaluasi

Plan Of Action l 77

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Pencapaian Puskesmas Andalas untuk indikator Case Detection Rate (CDR) TB paru pada tahun 2011 adalah 53,2% . Target Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2010 adalah 70% . Hal-hal yang dapat menyebabkan CDR TB paru belum mencapai target adalah Tidak adanya kader yang khusus untuk program P2TB Masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit TB, dan program penanggulangan TB paru di Puskesmas. Adanya stigma di masyarakat bahwa TB paru adalah penyakit yang memalukan. Kinerja tenaga kesehatan khususnya petugas P2TB di Puskesmas kurang optimal. Kurangnya inisiatif kepala dan petugas Puskesmas untuk mencari dana lain di luar dana yang telah dianggarkan oleh DKK. Untuk pelaksanaan program P2TB Kurangnya pengetahuan cara pengambilan dahak yang benar dan tentang penanggulangan penyakit TB paru di puskesmas, serta kinerja tenaga kesehatan yang tidak optimal . Kurangnya pemanfaatan media informasi dalam penyampaian program P2TB Kurangnya penyuluhan di dalam dan di luar Puskesmas mengenai penyakit TB Paru Kurang optimalnya kerja sama lintas sektor dalam hal alur rujukan antara petugas di Dokter Praktek Swasta, dengan petugas P2TB di Puskesmas Andalas. Wilayah kerja Puskesmas yang cukup luas membuat masyarakat lebih mau berobat ke tempat pengobatan yang lebih terdekat dibandingkan dengan ke Puskesmas.

Berdasarkan analisis masalah yang ada, dibuatlah beberapa alternative pemecahan masalah, diantaranya : Pembentukan kader yang khusus untuk program P2TB pada setiap Posyandu yang ada di wilayah kerja. Melakukan penyuluhan individu dan massal di dalam dan di luar gedung mengenai bahaya dan perlunya pengobatan dini pada TB. Penyebaran leaflet dan penempelan poster mengenai penyakit tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Andalas

Plan Of Action l 78

5.2 Saran

Pemberian reward untuk setiap kader P2TB yang dapat menemukan kasus baru TB paru di wilayahnya. Mengadakan penyuluhan dengan menggunakan sarana audiovisual dalam penyuluhan-penyuluhan tentang TB. Pembentukan kelurahan bebas TB

Diharapkan kepada : 1. Penanggung jawab P2TB dapat : Melakukan penyuluhan rutin kepada masyarakat mengenai penyakit TB paru (aspek klinis dan mitos yang beredar di masyarakat), pengambilan dahak yang benar, dan program puskesmas tentang penanggulangan TB paru yang dilaksanakan 2x setahun. Memanfaatkan media informasi seperti poster, leaflet dan pamflet untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat di wilayah kerja puskesmas andalas tentang TB paru. 2. Pihak Puskesmas secara umum dapat meningkatkan hubungan kerjasama yang baik dengan mitra puskesmas seperti instansi pemerintahan terkait dan pihak swasta demi kelangsungan kelurahan bebas TB yang akan dibangun. 3. Masyarakat Meningkatkan kemauan masyarakat untuk memeriksakan diri kepuskesmas apabila telah mengalami beberapa gejala dari gejala TB yang ada Kepada masyarakat yang telah sembuh dari penyakit TB diharapkan dapat berperan aktif sebagai kader P2TB dalam pencarian dan pelacakan penemuan kasus baru penyakit TB disetiap posyandu pada masing2 wilayah tempat tinggalnya sendiri.

Plan Of Action l 79

DAFTAR PUSTAKA

1. Depkes RI. 2008. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta 2. Alsagaff, Hood dan Abdul Mukty (editor). 2008. Dasar Dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya: Airlangga University Press. 3. Crofton, John dkk. 2002. Tuberkulosis Klinis. Jakarta: Widya Medika 4. Sudoyo, W. Aru. dkk. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta : Pusat Penerbitan IPD FKUI 5. Sub Direktorat TB Departemen Kesehatan RI 2008. lembar Fakta TB. Jakarta: Depkes RI Diakses dari www.depkes.go.id tanggal 25 Juni 2012 6. WHO.2008. Indonesia Profil dalam WHO Report 2008 in Global Tuberkulosis control. Deakses dari www.WHO.org tanggal 25 Juni 2012. 7. Puskesmas Andalas. 2010. Laporan Tahunan Puskesmas Andalas tahun 2010 8. Puskesmas Andalas. 2011. Laporan Tahunan Puskesmas Andalas tahun 2011 9. Puskesmas Andalas 2012. Laporan SP2TP Puskesmas Andalas tahun 2012. 10. Puskesmas Andalas 2012. Laporan Tahunan P2 TB Paru Puskesmas tahun 2010-2011

Plan Of Action l 80