Anda di halaman 1dari 11

IUCN

(International Union for Conservation of the Nature and Natural Resources) dan

CITES
(Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) IUCN Red List of Threatened Species atau disingkat IUCN Red List adalah daftar yang membahas status konservasi spesies binatang dan tumbuh-tumbuhan secara menyeluruh. Daftar ini diciptakan pada tahun 1963 dan merupakan otoritas panduan mengenai status keanekaragaman hayati. IUCN Red List memberikan gambaran taksonomi, distribusi spesies, analisa informasi taksa dan status konservasi secara global. Spesies diklasifikasikan ke dalam sembilan kelompok, diatur berdasarkan kriteriakriteria seperti jumlah populasi, penyebaran geografi dan resiko dari kepunahan.

Punah atau Extinct (EX) Telah punah di alam bebas atau Extinct in the Wild (EW) Kritis atau Critically Endangered (CR) Terancam punah atau Endangered (EN) Rentan atau Vulnerable (VU) Near Threatened (NT) Beresiko rendah atau Least Concern (LC) Data Deficient (DD) Not Evaluated (NE)

Kategori Kelangkaan Satwa yang digunakan di Indonesia, sesuai dengan IUCN


Red Data Book. Kategori 1 Kategori 2 Kategori 3 Kategori 4 Satwa yang telah mendekati kepunahan atau nyaris punah (Endangered) Satwa yang populasinya jarang atau terbatas dan mempunyai resiko punah (Restricted / Rage). Satwa yang sedang mengalami penurunan pesat dari populasi di alam bebas (Depleted / Vulnerable). Satwa yang terancam punah, tetapi belum dapat dipetakan tingkat kelangkaannya karena kekurangan data (indeterminate).

By: drh. Erdiansyah Rahmi, M.Si

Kategori konservasi IUCN dikeluarkan IUCN untuk membantu dalam melakukan klasifikasi terhadap spesies-spesies yang terancam kepunahan. Kategori konservasi IUCN telah mengalami beberapa kali revisi:

Kategori konservasi
Punah (Extinct; EX)

Suatu takson dinyatakan Punah apabila tidak ada keraguan lagi bahwa individu terakhir sudah mati. Takson diasumsikan punah ketika survai secara terus menerus pada habitat yang diketahui pada rentang waktu tertentu gagal untuk menemukan satu individu. Survai dilakukan sesuai dengan siklus kehidupan dari spesies yang dipelajari.

Punah di alam liar (Extinct in the wild; EW)

Sebuah takson dinyatakan punah di alam liar ketika taxon tersebut diketahui hanya bisa ditemui di penangkaran tertentu.

Kritis atau sangat terancam punah (Critically endangered; CR)

Sebuah takson dinyatakan Kritis atau sangat terancam akan kepunahan apabila memenuhi salah satu kriteria untuk sangat terancam punah sehingga dianggap sedang menghadapi resiko tinggi kepunahan di alam liar.

Genting (Endangered; EN)

Sebuah takson dinyatakan genting ketika dinyatakan memenuhi salah satu kriteria untuk keadaan genting, sehingga dianggap sedang menghadapi resiko tinggi kepunahan di alam liar.

By: drh. Erdiansyah Rahmi, M.Si

Rentan atau rawan (Vulnerable; VU)

Sebuah takson dinyatakan Rentan atau Rawan ketika data-data mengindikasikan kesesuaian dengan salah satu kriteria untuk Rentan atau Rawan, sehingga dianggap sedang menghadapi resiko tinggi kepunahan di alam liar. Hampir terancam (Near threatened; NT)

Sebuah takson dinyatakan hampir terancam apabila dalam evaluasi tidak memenuhi kategori Kritis, Genting, atau Rentan untuk saat ini tetapi mendekati kualifikasi atau hampir memenuhi kategori terancam dalam waktu dekat.

Resiko rendah (Least concern; LC)

Sebuah takson dinyatakan beresiko rendah ketika dievaluasi, tidak memenuhi kriteria Sangat terancam akan kepunahan, Terancam akan kepunahan, Rawam atau Mendekati terancam.

Informasi kurang (Data deficient; DD)

Sebuah takson dinyatakan "informasi kurang" ketika informasi yang ada kurang memadai untuk membuat perkiraan akan resiko kepunahannya berdasarkan distribusi dan status populasi.

Tidak dievaluasi (Not evaluated; NE)

Sebuah takson dinyatakan "tidak dievaluasi" ketika tidak dievaluasi untuk kriteria-kriteria di atas.

By: drh. Erdiansyah Rahmi, M.Si

Kategori IUCN Mengenai Satwa Terancam Punah


Sebuah takson dikategorikan 'punah' jika tidak terdapat suatu keraguan bahwa individu terakhir telah punah. Jika takson tersebut diketahui hanya terdapat di penangkaran, fasilitas budidaya atau sebagai populasi yang hidup di luar daerah penyebaran aslinya, maka takson tersebut disebut 'punah di alam'. Sebuah taxon dimasukkan kedalam kategori 'kritis' jika diketahui memenuhi kriteria sebagai berikut: 1. populasinya di alam diperkirakan telah mengalami penurunan setidaknya 80% selama 10 tahun atau tiga generasi; 2. daerah penyebarannya diperkirakan kurang dari 100 km2 atau luas daerah yang ditempati kurang dari 10 km2; 3. populasinya diperkirakan kurang dari 250 individu dewasa dan diperkirakan terus berkurang setidaknya 25% dalam 3 tahun atau satu generasi. Sebuah takson dimasukkan kedalam kategori 'genting' jika diketahui memenuhi kriteria berikut: 1. populasinya diperkirakan mengalami penurunan setidaknya 50% dalam 10 tahun atau tiga generasi; 2. daerah penyebarannya kurang dari 5000 km 2 atau daerah yang ditempatinya kurang dari 500 km2; 3. populasi individu dewasa diperkirakan kurang dari 2.500; 4. analisis kuantitatif menunjukkan kemungkinan punah di alam setidaknya 20% dalam 20 tahun atau 5 generasi.

Sebuah takson tertentu dikatakan 'rentan' jika memenuhi kriteria berikut: 1. populasinya diperkirakan mengalami penurunan setidaknya 20% dalam 10 tahun atau tiga generasi; 2. daerah peneyebarannya diperkirakan kurang dari 20.000 km 2 atau daerah yang ditempatinya kurang dari 2.000 km2, populasi individu dewasa diperkirakan kurang dari 10.000 dan analisis kuantitatif menunjukkan kemungkinan punah di alam setidaknya dalam 100 tahun.

By: drh. Erdiansyah Rahmi, M.Si

CITES
Latar belakang Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) atau konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar spesies terancam adalah perjanjian internasional antar negara yang disusun berdasarkan resolusi sidang anggota World Conservation Union (IUCN) tahun 1963. Konvensi bertujuan melindungi tumbuhan dan satwa liar terhadap perdagangan internasional spesimen tumbuhan dan satwa liar yang mengakibatkan kelestarian spesies tersebut terancam. Selain itu, CITES menetapkan berbagai tingkatan proteksi untuk lebih dari 33.000 spesies terancam. Tidak ada satu pun spesies terancam dalam perlindungan CITES yang menjadi punah sejak CITES diberlakukan tahun 1975. Pemerintah Indonesia meratifikasi CITES dengan Keputusan Pemerintah No. 43 Tahun 1978. APAKAH .CITES. ..? o CITES (Convention

on

International

Trade

in

Endangered

Species) atau

konvensi perdagangan internasional untuk spesies-spesies tumbuhan dan satwa liar, merupakan suatu pakta perjanjian yang berlaku sejak tahun 1975. Pemerintah Indonesia telah meratifikasi konvensi tersebut dengan Keputusan Pemerintah No. 43 Tahun 1978. o CITES merupakan satu-satunya perjanjian atau traktat (treaty) global dengan focus pada perlindungan spesies tumbuhan dan stawa dan satwa liar terhadap perdagangan internasional yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku, yang mungkin akan membahayakan kelestarian tumbuhan dan satwa liar tersebut, o CITES merupakan perjanjian yang memuat tiga lampiran (appendix) yang terdiri dari : a. Appendix I yang memuat daftar dan melindungi seluruh spesies tumbuhan dan satwa liar yang terancam dari segala bentuk perdagangan internasional secara komersial, By: drh. Erdiansyah Rahmi, M.Si

b. Appendix II yang memuat daftar dari spesies yang tidak terancam kepunahan, tetapi mungkin akan terancam punah apabila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan, c. Appendix III yang memuat daftar spesies tumbuhan dan satwa liar yang telah dilindungi di suatu negara tertentu dalam batas-batas kawasan habitatnya, dan memberikan pilihan (option) bagi negara-negara anggota CITES bila suatu saat akan dipertimbangkan untuk dimasukkan ke Appendix II, bahkan mungkin ke Appendix I

o CITES merupakan komitmen dari 145 negara anggota mengenai prinsip-prinsip yang dikembangkan oleh CITES secara khusus, bahwa perdagangan dalam bentuk apapun dari spesies tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi telah menjamin kelestariannya; o CITES merupakan suatu proses dimana negara-negara anggotanya berkerja bersama untuk menjamin bahwa perdagangan tumbuhan dan satwa liar dilaksanakan sejalan dengan perjanjian CITES, o CITES merupakan suatu badan administrasi yang berkantor pusat di Geneva, Swiss, dan menyediakan dokumen-dokumen asli dalam tiga bahasa: Inggris, Perancis dan Spanyol. o CITES merupakan pertemuan musiman/dua kali setahun (biennial) dari negaranegara anggotanya yang menghadiri konferensi tersebut selama 2(dua) minggu, dimana mereka mengevaluasi sejauh mana perjanjian yang tersebut berkaitan berjalan, dengan

menetapkan

pemecahan

masalah

atas

isu-isu

kebijaksanaan, dan menentukan daftar spesies yang dilindungi dan memerlukan tindakan seperlunya, o CITES merupakan suatu konferensi yang juga memperbolehkan kehadiran organisasiorganisasi non pemerintah yang tidak mempunyai hak voting, dan menaruh perhatian pada masalah konservasi, kesejahteraan binatang,

perdagangan, .zoological., dan minat-minat keilmuan. Kehadiran organisasiorganisasi tersebut biasanya memberikan informasi dan data-data tambahan mengenai isu-isu lingkungan yang kompleks, serta masukan-masukan yang konstruktif dalam upaya perlindungan tumbuhan dan satwa liar By: drh. Erdiansyah Rahmi, M.Si

CITES merupakan satu-satunya perjanjian global dengan fokus perlindungan spesies tumbuhan dan satwa liar. Keikutsertaan bersifat sukarela, dan negara-negara yang terikat dengan konvensi disebut para pihak (parties). Walaupun CITES mengikat para pihak secara hukum, CITES bukan pengganti hukum di masing-masing negara. CITES hanya merupakan rangka kerja yang harus dijunjung para pihak yang membuat undang-undang untuk implementasi CITES di tingkat nasional. Seringkali, undangundang perlindungan tumbuhan dan satwa liar di tingkat nasional masih belum ada (khususnya para pihak yang belum meratifikasi CITES), hukuman yang tidak seimbang dengan tingkat kejahatan, dan kurangnya penegakan hukum terhadap perdagangan satwa liar.[4]. Di tahun 2002 hanya terdapat 50% para pihak yang bisa memenuhi satu atau lebih persyaratan dari 4 persyaratan utama yang harus dipenuhi: (1) keberadaan otoritas pengelola nasional dan otoritas keilmuan, (2) hukum yang melarang perdagangan tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi CITES, (3) sanksi hukum bagi pelaku perdagangan, dan (4) hukum untuk penyitaan barang bukti. [5] Naskah konvensi disepakati 3 Maret 1973 pada pertemuan para wakil 80 negara di Washington, D.C.. Negara peserta diberi waktu hingga 31 Desember 1974 untuk menandatangani kesepakatan, dan CITES mulai berlaku tanggal 1 Juli 1975. Setelah melakukan ratifikasi, menerima, atau menyetujui konvensi, negara-negara yang menandatangani konvensi disebut para pihak (parties). Di tahun 2003, semua negara penanda tangan CITES telah menjadi para pihak. Negara yang belum menandatangani dapat ikut serta menjadi para pihak dengan menyetujui CITES. Di bulan Agustus 2006 tercatat sejumlah 169 negara telah menjadi para pihak dalam CITES. Sekretariat CITES berkantor di Geneva, Swiss dan menyediakan dokumen-dokumen asli dalam bahasa Inggris, Perancis, dan Spanyol. Pendanaan kegiatan sekretariat dan Konferensi Para Pihak (COP) berasal dari dana perwalian yang merupakan sumbangan para pihak. Dana perwalian tidak bisa digunakan para pihak untuk meningkatkan taraf implementasi atau pelaksanaan CITES. Dana perwalian hanya untuk kegiatan sekretariat, sedangkan para pihak dalam melaksanakan kegiatan yang berkaitan By: drh. Erdiansyah Rahmi, M.Si

dengan CITES harus mencari pendanaan eksternal (dilakukan NGO dan dana bilateral).[5] Kriteria untuk Apendiks dan Prosedur Pemasukan Jenis ke Apendiks

Kriteria untuk Apendiks CITES Jika perdagangan. internasional dari suatu jenis mungkin atau berpotensi untuk memiliki dampak negatif terhadap populasi jenis tersebut di alam, maka negara anggota berhak untuk mengajukan kepada CITES agar jenis tersebut dimasukkan kedalam salah satu dari tiga kategori: Apendiks I, II atau III. Jenis yang termasuk kedalam Apendiks 1 adalah jenis yang jumlahnya di alam sudah sangat sedikit dan dikhawatirkan akan punah. Perdagangan komersial untuk jenis-jenis yang termasuk kedalam Apendiks 1 ini sama sekali tidak diperbolehkan. Suatu jenis yang pada saat ini tidak termasuk kedalam kategori terancam punah, namun memiliki kemungkinan untuk terancam punah jika perdagangannya tidak diatur, dimasukkan dalam Apendiks II. Perdagangan terhadap jenis yang termasuk Apendiks II ini dapat diperbolehkan, selama Management Authority dari negara pengekspor mengeluarkan izin ekspor. Management Authority mengeluarkan izin ekspor

berdasarkan saran dari Scientific Authority, setelah Scientific Authority mengadakan kajian yang menyimpulkan bahwa perdagangan jenis satwa atau tumbuhan tersebut tidak akan membahayakan kelestariannya di alam. Kriteria dasar mengenai Apendiks III tidak jauh berbeda dari Apendiks II. Perbedaannya adalah jenis yang termasuk dalam Apendiks III diberlakukan khusus oleh suatu negara tertentu. Perlu ditambahkan bahwa untuk Apendiks I dan II, ketentuan tersebut berlaku untuk semua range countries, yaitu negara-negara di mana suatu jenis dalam Apendiks dapat ditemukan. Jika terdapat perbedaan pendapat antar range countries sehingga tidak semua range countries sepakat untuk memasukkan suatu jenis kedalam Apendiks, maka jenis tersebut dimasukkan kedalam Apendiks III dan berlaku hanya untuk negara yang menginginkan untuk memasukkan jenis tersebut ke daftar Apendiks. Untuk melakukan ekspor maka negara yang telah memasukkan suatu jenis dalam Apendiks III harus mengeluarkan izin ekspor, sementara negara By: drh. Erdiansyah Rahmi, M.Si

lainnya harus mengeluarkan surat keterangan mengenai asal dari spesimen tersebut (certificate of origin).

Kriteria CITES Kriteria CITES didasarkan atas tiga Apendiks untuk menentukan status suatu spesies tertentu. Kriteria ini telah dituangkan dalam Res. Conf. 9.24 yang terdiri dari kriteria biologi dan kriteria perdagangan untuk Apendiks I dan II, prinsip kehati-hatian (precautionary measures). KRITERIA APPENDIKS CITES terdiri dari tiga apendiks:

Apendiks I: daftar seluruh spesies tumbuhan dan satwa liar yang dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional Apendiks II: daftar spesies yang tidak terancam kepunahan, tapi mungkin terancam punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan Apendiks III: daftar spesies tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi di negara tertentu dalam batas-batas kawasan habitatnya, dan suatu saat peringkatnya bisa dinaikkan ke dalam Apendiks II atau Apendiks I.

Sebuah takson dimasukkan kedalam Apendiks 1 jika memenuhi salah satu kriteria biologi berikut: 1. memiliki populasi yang kecil di alam (<5.000); 2. memiliki penyebaran yang terbatas (<10.000 km2); dan 3. jumlah individu di alam mengalami penyusutan sebanyak 20% dalam 10 tahun atau tiga generasi atau 50% dalam lima tahun atau dua generasi. Selanjutnya sebuah takson yang dipengaruhi oleh kegiatan perdagangan dapat dimasukkan ke Apendiks 1 jika: 1. 2. 3. 4. diketahui diperdagangkan; memiliki kemungkinan untuk diperdagangkan; memiliki potensi adanya permintaan secara internasional; akan diperdagangkan jika tidak dimasukkan ke Apendiks 1.

Sebuah takson dimasukkan kedalam Apendiks II jika: 1. bila tidak dilakukan pengaturan perdagangan, maka takson tersebut akan naik ke daftar Apendiks I pada masa mendatang; By: drh. Erdiansyah Rahmi, M.Si

2. pemanenan mengakibatkan efek yang merugikan terhadap spesies tersebut; 3. orang awam akan sulit untuk membedakannya dari spesies yang telah masuk kedalam Apendiks I atau II; 4. spesies tersebut adalah anggota dari suatu takson yang kebanyakan anggotanya telah masuk Apendiks 1 atau II.

Apendiks CITES berisi sekitar 5.000 spesies satwa dan 28.000 spesies tumbuhan yang dilindungi dari eksploitasi berlebihan melalui perdagangan internasional. Spesies terancam dikelompokkan ke dalam apendiks CITES berdasarkan tingkat ancaman dari perdagangan internasional, dan tindakan yang perlu diambil terhadap perdagangan tersebut. Dalam apendiks CITES, satu spesies bisa saja terdaftar di lebih dari satu kategori. Semua populasi Gajah Afrika (Loxodonta africana) misalnya, dimasukkan ke dalam Apendiks I, kecuali populasi di Botswana, Namibia, Afrika Selatan, dan Zimbabwe yang terdaftar dalam Apendiks II.

Apendiks I - sekitar 800 spesies Spesies yang dimasukkan ke dalam kategori ini adalah spesies yang terancam punah bila perdagangan tidak dihentikan. Perdagangan spesimen dari spesies yang ditangkap di alam bebas adalah ilegal (diizinkan hanya dalam keadaan luar biasa). Satwa dan tumbuhan yang termasuk dalam daftar Apendiks I, namun merupakan hasil penangkaran atau budidaya dianggap sebagai spesimen dari Apendiks II dengan beberapa persyaratan. Otoritas pengelola dari negara pengekspor harus melaporkan non-detriment finding berupa bukti bahwa ekspor spesimen dari spesies tersebut tidak merugikan populasi di alam bebas. Setiap perdagangan spesies dalam Apendiks I memerlukan izin ekspor impor. Otoritas pengelola dari negara pengekspor diharuskan memeriksa izin impor yang dimiliki pedagang, dan memastikan negara pengimpor dapat memelihara spesimen tersebut dengan layak. Satwa yang dimasukkan ke dalam Apendiks I, misalnya gorila, simpanse, harimau dan subspesiesnya, singa Asia, macan tutul, jaguar cheetah, gajah Asia, beberapa populasi gajah Afrika, dan semua spesies Badak (kecuali beberapa subspesies di Afrika Selatan)[1]. Apendiks II - sekitar 32.500 spesies

Spesies dalam Apendiks II tidak segera terancam kepunahan, tapi mungkin terancam punah bila tidak dimasukkan ke dalam daftar dan perdagangan terus berlanjut. Selain itu, Apendiks II juga berisi spesies yang terlihat mirip dan mudah keliru dengan spesies yang didaftar dalam Apendiks I. Otoritas pengelola dari negara pengekspor harus melaporkan bukti bahwa ekspor spesimen dari spesies tersebut tidak merugikan populasi di alam bebas.[2] By: drh. Erdiansyah Rahmi, M.Si

Apendiks III - sekitar 300 spesies

Spesies yang dimasukkan ke dalam Apendiks III adalah spesies yang dimasukkan ke dalam daftar setelah salah satu negara anggota meminta bantuan para pihak CITES dalam mengatur perdagangan suatu spesies. Spesies tidak terancam punah dan semua negara anggota CITES hanya boleh melakukan perdagangan dengan izin ekspor yang sesuai dan Surat Keterangan Asal (SKA) atau Certificate of Origin (COO).[3] Amandemen Amandemen harus didukung mayoritas dua pertiga para pihak dan bisa dilakukan sewaktu sidang luar biasa Konferensi Para Pihak (COP), bila sepertiga dari para pihak menyatakan sidang harus dilakukan. Amandemen Gaborone yang disetujui di Gaborone, Botswana, 30 April 1983 memungkinkan forum kerjasama ekonomi regional untuk berpartipasi dalam CITES. Pertimbangan keberatan (Pasal XXIII Reservations[4]) menyangkut spesies tertentu dapat dinyatakan para pihak.

Referensi 1. Hutton and Dickinson 2000 Endangered Species Threatened Convention: The Past, Present and Future of CITES. Africa Resources Trust, London. 2. Stiles 2004 The Ivory Trade and Elephant Conservation Environmental Conservation 31 (4) 309-321. 3. Apakah "CITES"?. Departemen Kehutanan Republik Indonesia. URL diakses pada 12 Februari 2007 4. Zimmerman 2003 The Black Market for Wildlife: Combating Transnational Organized Crime in the Illegal Wildlife Trade Vanderbilt Journal of Transnational Law 36 1657 5. Reeve 2000 Policing International Trade in Endangered Species: the CITES Treaty and Compliance Earthscan: London 6. Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar. Departemen Kehutanan RI. URL diakses pada 12 Februari 2007

By: drh. Erdiansyah Rahmi, M.Si