Anda di halaman 1dari 33

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Di masa lalu sistem kesehatan hanya berorientasi pada penyakit, apabila telah sakit, barulah dilakukan pengobatan. Mereka yang sakit akan dirawat di rumah sakit, setelah dinyatakan sembuh dipulangkan kembali, dan jika merka kembali diterpa oleh penyakit yang sama, mereka akan dirawat kembali. Hal ini berlangsung secara terus menerus, hingga akhirnya masyarakat sadar bahwa diperlukan suatu rangkaian usaha untuk memelihara kesehatan mereka, di mana perawatan dan pengobatan di rumah sakit hanyalah bagian kecil dari ragkaian usaha tersebut. Efektivnya suatu pengobatan juga dipenggaruhi oleh pola pelayanan kesehatan yang ada, serta sikap dan keterampilan para pelaksananya, juga dipengaruhi oleh lingkungan, sikap, pola hidup pasien dan keluarganya. Selan itu juga dibutuhkan kerjasama yang positif antara tenaga pelaksana dengan keluarga pasien. Jika pasien dan keluarganya memiliki pengetahuan dan partisipasi yang baik dalam upaya pencegaha dan pengobatan yang baik, tentunya hal ini akan membantu dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) berusaha untuk mengembangkan pengertian pasien, keluarga dan para pengunjung rumah sakit tentang upaya pencegahan dan pengobatan penyakitnya. Selain itu, PKRS juga berusaha menggugah kesadaran dan minat pasien, keluarga dan pengunjung rumah sakit untuk berperan aktif dalam usaha penyembuhan dan pencegahan penyakit. Hal ini membuktikan bahwa, PKRS merupakan program yang tak dapat dipisahkan dari sebuah pelayanan rumah sakit.

1.2 TUJUAN Makalah ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada para pembaca tentang Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS), sebagai salah satu

bagian dari pelayanan rumah sakit. Sehingga nantinya para pembaca mampu berperan aktif dalam program PKS demi peningkatan derajat kesehatan masyarakat

1.3 RUANG LINGKUP Dalam makalah ini penulis akan membahas mengenai: a. Pengertian PKRS b. Dasar Hukum pelaksanaan PKRS c. Sejarah PKRS d. Standar PKRS e. Tujuan PKRS f. Media dan metoda yang digunakan dalam PKRS g. Evaluasi PKRS h. Sasaran PKRS i. Program- program PKRS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI 2.1.1 DEFINISI PROMOSI KESEHATAN Promosi menyangkut kesehatan pendidikan, adalah kombinasi berbagai dan dukungan: peraturan

organisasi,

kebijakan,

perundangan untuk perubahan lingkungan dan perilaku yang menguntungkan kesehatan (Green and Ottoson, 1998). Menurut Depks RI tahun 2002 promosi kesehatan adalah proses pemberdayaan masyarakat agar mampu memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Sukidjo Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa promosi

kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat melalui peningkatan perilaku dan lingkungan yang kondusif untuk hidup sehat. Health promotion is a programs are designed to bring about changes within people, organization, communities, and their environment (VicHealth, 1996) Health Promotion is the process of enabling individuals and communities to increase control over the determinants of health and there by improve their health (WHO:2003). Jadi dapat disimpulkan bahwa promosi kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat itu sendiri. 2.1.2 DEFINISI RUMAH SAKIT Rumah sakit adalah salah satu sarana kesehatan tempat menyelenggarakan upaya kesehatan. Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan pendekatan pemeliharaan,

peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan

(rehabilitatif), yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan (Siregar, 2004). Berdasarkan Undang-Undang tentang rumah sakit no.44 tahun 2009, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. 2.1.3 DEFINISI PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT (PKRS) Upaya yang dilakukan oleh rumah sakit untuk meningkatkan kemapuan pasien, klien, dan kelompok- kelompok masyarakat, agar pasien dapat mempercepat penyembuhan dan rehabilitasinya, klien dan kelompok- kelompok ,masyarakat dapat mandiri dalam meningkatkan kesehatannya, mencegah masalahmasalah kesehatan, dan

mengembangkan upaya kesehatan bersumber daya masyarakat, melalui pembelajaran dari, oleh, untuk, dan bersama mereka, sesuai sosial budaya mereka, serta didukung oleh kebijkan publik yang berwawasaan kesehatan (Pusat Promosi Kesehatan, Kemenkes : 2012).

2.2 SEJARAH PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT Promosi kesehatan di rumah sakit telah dilaksanakan sejak tahun 1994 dengan nama Promosi Kesehatan Masyarakat Rumah Sakit (PKMRS). Pada tahun 2003, nama itu berubah menjadi Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS). Banyak kegiatan yang dilakukan dalam pengembangan PKRS mulai dari penyusunan program PKRS, advokasi dan sosialisasi PKRS kepada direktur rumah sakit pemerintah, pelatihan PKRS, pengembangan dan distribusi media serta pngembangan model PKRS. Namun, dalam pelaksanaan PKRS dalam kurun waktu 15 tahun belum juga menunjukkan hasil yang maksimal. Komitmen yang tidak kuat dari direktur rumah sakit juga mempengaruhi kesinambungan PKRS ini.

2.3 ISU STRATEGIS Dilihat dari sejarahnya, beberapa isu strategis muncul dalam PKRS, yaitu: a. Sebagian rumah sakit belum menjadikan PKRS sebagai salah satu kebijakan upaya pelayanan kesehatan di rumah sakit. b. Sebagian besar rumah sakit blum memnuhi hak pasiennya untuk mengetahui informasi mengenai pencegahan dan pengobatan penyakitnya c. Sebagian rumah sakit belum memnuhi tempat kerja yang aman, brsih dan sehat. d. Sebagian rumah sakit kurang menggalang kemitraan dalam menigkatkan upaya pelayanan yang bersifat preventif dan promotif.

2.4 FALSAFAH Setiap orang memiliki filosofi dalam melakukan berbagai tindakannya sebagai salah satu pendorong yang kuat bagi mereka dalam bertindak. PKRS sendiri memiliki filosofi bahwa setiap individu dan kelompok mempunyai hak dan potensi untuk mnentukan pilihan mereka terhadap hal- hal yang berkaitan dengan kesehatannya, karena sebagian besar masalah kesehatan itu muncul dari perilaku merka sendiri. Ditambah lagi dengan insting pada individu dan kelompok untuk mempertahankan diri, semakin menguatkan untuk merka terlibat dalam upaya memecahkan masalah kesehatan yang terjadi.

2.5 DASAR HUKUM a. UU RI no. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan 1) Pasal 7 Setiap orang berhak mendpatkan informasi dan edukasi tentang kesehatan yang seimbang dan bertanggung jawab. 2) Pasal 8 Setiap orang berhak memperoleh informasi tentang data kesehatannya dirinya termasuk tindakan dan pengobatan yang telah dan akan diterimanya dari tenaga kesehatan. 3) Pasal 10

Setiap orang berkewajiban menghormati hak orang lain dalam upaya memperoleh lingkungan yang sehat baik fisik, biologi, maupun sosial. 4) Pasal 11 Setiap orang berkewajiban berperilaku hidup sehat untuk mewujudkan, mempertahankan, dan memajukan kesehatan yang setinggi- tingginya. 5) Pasal 17 Pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan informasi, edukasi, dan fasilitas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan yang setinggi- tingginya. 6) Pasal 18 Pemerintah bertanggungjawab meberdayakan dan mendorong peran aktif masyarakat dalam segala bentuk upaya kesehatan. 7) Pasal 47 Upaya kesehatan diselenggarakan dalam betuk kegiatan dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang diselenggarakan secara terpadu, menyeluruh dan berkesinambungan. 8) Pasal 55 Ayat (1) Pemerintah wajib menetapkan standar mutu pelayanan kesehatan. Ayat (2) Standar mutu pelayanan kesehatan sebagaiman dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan pemerintah. 9) Pasal 62 Ayat (1) Peningkatan kesehatan merupakan segala bentuk upaya yang dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah dan/atau masyarakat untuk mengoptimalkan kesehatan melalui kegiatan penyuluhan, penyebarluasan informasi, atau kegiatan lain untuk menunjang tercapainya hidup sehat. Ayat (2)

Pencegahan penyakit merupakan segala bentuk upaya yang dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat untuk menghindari atau mengurangi risiko, masalah, dan dampak buruk akibat penyakit. Ayat (3) Pemerintah dan pemerintah daerah menjamin dan menyediakan fasilitas untuk kelangsungan upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. Ayat (4) Ketentuan lebih lanjut tentang upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit diatur dengan Peraturan Menteri. 10) Pasal 115 Ayat (1) Kawasan tanpa rokok antara lain: a. fasilitas pelayanan kesehatan; b. tempat proses belajar mengajar; c. tempat anak bermain; d. tempat ibadah; e. angkutan umum; f. tempat kerja; dan g. tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan. Ayat (2) Pemerintah daerah wajib menetapkan kawasan tanpa rokok di wilayahnya. 11) Pasal 168 Ayat (1) Untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang efektif dan efisien diperlukan informasi kesehatan. Ayat (2) Informasi kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui sistem informasi dan melalui lintas sektor.

Ayat (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. b. UU RI no. 44 tahun 2009 tentang RS 1) Pasal 1, Ayat (1) Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang

menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. 2) Pasal 4 Rumah Sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna. 3) Pasal 10 ayat (2) Bangunan rumah sakit paling sedikit terdiri atas ruang butir m) ruang penyuluhan kesehatan masyarakat rumah sakit; 4) Pasal 29 Setiap Rumah Sakit mempunyai kewajiban: butir a) memberikan informasi yang benar tentang pelayanan Rumah Sakit kepada masyarakat; 5) Pasal 32 Setiap pasien mempunyai hak: butir d) memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional c. SK Menteri Kesehatan no. 267/MENKES/SK/II/2010 Tentang Penetapan Road Map Reformasi Kesehatan Masyarakat, di mana hal ini tidak terpisahkan dengan Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2012- 2014. Salah satu Prioritas Reformasi Kesehatan yang dimaksud adalah Rumah Sakit Indonesia Kelas Dunia ( World Class Hospital ). d. SK Menkes nomor 659/MENKES/per/VIII/2009 Tentang Rumah Sakit Indonesia Kelas Dunia ( World Class Hospital ).

2.6 STANDAR PKRS 2.6.1 Kebijakan Manajemen Setiap rumah sakit harus memiliki kebijakan tertulis mengenai PKRS. Kebijakan ini diimplementasikan sebagai bagian dari

peningkatan kualitas pelayanan kesehatan RS secara keseluruhan. Tujuan dari kebijakan manajemen ini adalah untuk pelaksanaan PKRS sebagai bagian integral peningkatan kualitas manajemen

organisasi. Substandard dari kebijakan manajemen ini antara lain: a. RS memiliki kebijakan tertulis mengenai PKRS. b. RS membentuk unit kerja PKRS. c. RS memiliki tenaga pengelola PKRS. d. RS memiliki alokasi dana untuk melaksanakan PKRS. e. RS memiliki perencanaan PKRS secara berkala. f. RS memiliki sarana / peralatan untuk pelaksanaan PKRS. g. RS mensosialisasikan PKRS di seluruh jajaran rumah sakit. h. RS meningkatkan kappasitas tenaga pengelola RS. i. RS melaksanakan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan PKRS. 2.6.2 Kajian Kebutuhan Masyarakat Rumah Sakit Rumah sakit harus melakukan kajian tentang kebutuhan promosi kesehatan untuk pasien, keluarga pasien, dan para pengunjung serta masyarakat yang ada di sekitar rumah sakit. Tujuannya untuk memperoleh gambaran tentang informasi yang dibutuhkan pasien, keluarga pasien, pengunjung serta masyarakat sekitar rumah sakit sebagai dasar pelaksanaan promosi kesehatan. Substandar dari poin ini adalah: a. RS menyediakan instrument kajian kebutuhan pasien, keluarga pasien, pengunjung dan masyarakat sekitar RS. b. RS melakukan kajian promosi kesehatan. c. RS mempunyai rancangan promosi kesehatan bagi pasien, keluarga pasien, pengunjung dan masyarakat sekitar rumah sakit.

2.6.3 Pembeedayaan Masyarakat RS Rumah sakit menjamin adanya pemberdayaan masyarakat RS dalam promosi kesehatan. Tujuannya agar masyarakat RS

meningkatkan daya dan perannya dalam mengatasi masalah dan atau mencegah masalah kesehatan yang dihadapinya. Substandard dari poin ini adalah: a. RS memberikan informasi yang jelas mengenai kondisi pasien. b. RS harus memastikan bahwa masyarakat RS memiliki akses yang baik untuk memperoleh informasi tentang masalah kesehatan mereka. c. RS melaksanakan promosi kesehatan di dalam dan luar ruangan. 2.6.4 Tempat Kerja yang Aman, Bersih dan Sehat RS menjamin tempat kerja yang aman, bersih dan sehat. Oleh karena itu RS memastikan upaya- upaya yang menyangkut kebersihan dan kelengkapan sarana dan prasarana yang ada untuk melaksanakan PHBS. Tujuannya adalah untuk mewujudkan tempat kerja yang aman, bersih dan sehat. Substandard dari poin ini adalah: a. RS memlihara sarana dan prasarana kesehatan lingkungan RS. b. RS menjadi kawasan tanpa rokok. 2.6.5 Kemitaraan Melaksanakan kemitraan dengan sektor lain (lintas sektoral) lain, dunia usaha dan swasta lainnya dalam upaya pelaksanaan PKRS baik di dalam maupun luar gedung. Tujuannya untuk mengoptimalisasikan kegiatan PKRS. Substandar dari poin ini adalah: a. RS mengidentifikasi mitra potensial dalam rangka menggalang kemitraan berkaitan dengan pelaksanaan PKRS. b. RS mempunyai jejaring kerjasama dengan sektor lain, dunia usaha dan bidang swasta lain c. Membuat kerjasama lintas sektoral.

10

2.7 TUJUAN PKRS a. Tujuan Umum Terciptanya masyarakat rumah sakit yang menerapkan PHBS melalui perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku pasien/ klien RS serta pemeliharaan lingkungan RS dan termanfaatkannya dengan baik semua pelayanan yang disediakan RS b. Tujuan Khusus 1) Bagi pasien:
a) Mengembangkan perilaku kesehatan (healthy behavior):

Promosi kesehatan di rumah sakit mempunyai tujuan untuk mengembangkan pengetahuan, sikap, dan perilaku (praktik) tentang kesehatan, khususnya yang terkait dengan masalah atau penyakit yang diderita oleh pasien yang yang perlu bersangkutan. diberikan atau

Pengetahuan

atau

pengertian

dikembangkan untuk pasien adalah pengetahuan tentang penyakit yang diderita pasien, mencakup: jenis penyakit, tanda-tanda atau gejala penyakit, penyebab penyakit atau bagaimana proses terjadinya penyakit, bagaimana cara penularan penyakit (bila penyakit tersebut menular), dan bagaimana cara mencegah penyakit tersebut. Dari segi perilaku atau praktik yang harus dilakukan atau dianjurkan kepada pasien adalah tindakan yang harus dilakukan untuk terhindar atau mencegah penyakit tersebut. Apabila pengetahuan, sikap, dan perilaku ini dipunyai oleh pasien, maka pengaruhnya, antara lain: 1. Mempercepat kesembuhan dan pemulihan pasien. 2. Mencegah terserangnya penyakit yang sama atau mencegah kekambuhan penyakit. 3. Mencegah terjadinya penularan penyakit kepada orang lain, terutama keluarganya.

11

4. Menyebarluaskan pengalamannya tentang proses penyembuhan kepada orang lain, sehingga orang lain dapat belajar dari pasien tersebut.
b) Mengembangkan perilaku pemanfaatan fasilitas kesehatan (health

seeking behavior) Pengetahuan, sikap, dan praktik (perilaku) pemanfaatan secara tepat oleh pasien akan mempercepat proses penyembuhan. Bagi pasien yang kurang pengetahuan tentang penyakit yang diderita, kadang-kadang mencari pengobatan yang tidak tepat misalnya ke dukun atau para-normal, sehingga dapat memperpanjang proses penyembuhan. Oleh sebab itu, promosi kesehatan terhadap pasien dengan memberikan pengetahuan yang benar tentang penyakit, terutama cara penyembuhannya maka pasien akan mencari penyembuhan dengan tepat. 2) Bagi Keluarga Keluarga adalah merupakan lingkungan sosial yang paling dekat dengan pasien. Proses penyembuhan dan terutama pemulihan terjadi bukan hanya semata-maka karena faktor rumah sakit, tetapi juga faktor keluarga. Oleh sebab itu, promosi kesehatan bagi keluarga pasien penting karena dapat:
a) Membantu mempercepat proses penyembuhan pasien:

Dalam proses penyembuhan penyakit, bukan hanya faktor obat dan terapi lain saja, tetapi juga faktor psikologis dari pasien. Lebihlebih penyakit tidak menular seperti jantung koroner, hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jiwa, dan sebagainya, faktor psikososial sangat berperan. Dalam mewujudkan lingkungan psikososial ini, keluarga sangat penting peranannya. Oleh karena itu, promosi kesehatan perlu dilakukan juga bagi keluarga pasien.
b) Keluarga tidak terserang atau tertular penyakit:

Dengan melakukan promosi kesehatan kepada keluarga pasien, mereka akan mengetahui dan mengenal penyakit yang diderita oleh

12

anggota

keluarganya

(pasien),

cara

penularan,

dan

cara

pencegahannya. Keluarga pasien tentunya akan berusaha untuk menghindar agar tidak terkena penyakit atau tertular penyakit seperti yang diderita oleh anggota keluarga yang sakit tersebut.
c) Membantu agar tidak menularkan penyakitnya ke orang lain:

Keluarga pasien yang telah memperoleh pengetahuan tentang penyakit dan cara-cara penularannya, maka keluarga tersebut diharapkan dapat membantu pasien atau keluarganya yang sakit untuk tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain, terutama kepada tetangga atau teman dekatnya. 3) Bagi Rumah Sakit Banyak orang berpendapat bahwa promosi kesehatan di rumah sakit dapat merugikan rumah sakit itu sendiri. Alasan mereka, karena promosi kesehatan di rumah sakit merepotkan, menambah tenaga, waktu, dan biaya. Di samping itu apabila pasien cepat sembuh karena promosi kesehatan maka pendapatan rumah sakit akan menurun. Memang ini logika yang mungkin benar, tetapi terlalu sederhana. Pengalaman-pengalaman dari rumah sakit yang telah melaksanakan promosi kesehatan (dulu penyuluhan kesehatan) justru membuktikan bahwa promosi kesehatan di rumah sakit ini mempunyai keuntungan bagi rumah sakit itu sendiri antara lain:
a) Meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit:

Dengan meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, khususnya rumah sakit, maka pasien mengunjungi rumah sakit tidak sekedar untuk memperoleh perawatan atau pengobatan saja, tetapi juga ingin pelayanan yang berkualitas, yang nyaman dan yang ramah. Pasien ingin pelayanan yang holistik bukan hanya pelayanan fisik, tetapi juga pelayanan psikososial. Promosi kesehatan pada prinsipnya adalah salah satu bentuk pelayanan psikososial. Oleh sebab itu, penerapan promosi

13

kesehatan di rumah sakit adalah merupakan upaya meningkatkan mutu rumah sakit.
b) Meningkatkan citra rumah sakit:

Penerapan promosi kesehatan di rumah sakit diwujudkan dalam memberikan informasi-informasi tentang berbagai masalah

kesehatan atau penyakit dan masing-masing dengan jenis pelayanannya. Di masing-masing titik pelayanan rumah sakit disediakan atau diinformasikan tentang hal-hal yang berkaitan dengan proses penyembuhan pasien. Di tempat loket pendaftaran, di ruang tunggu, di tempat pemeriksaan, di tempat pengambilan obat, di ruang perawatan, dan sebagainya, selalu dilakukan penjelasan atau pemberian informasi terkait dengan apa yang harus diketahui dan dilakukan oleh pasien. Oleh sebab itu, promosi kesehatan ini dapat memberikan kesan kepada pasien dan keluarga pasien bahwa rumah sakit tersebut pelayanannya baik.
c) Meningkatkan angka hunian rumah sakit (BOR)

Dari pengalaman rumah sakit yang telah melaksanakan promosi kesehatan, menyatakan bahwa kesembuhan pasien menjadi lebih pendek dari sebelumnya. Hal ini berarti bahwa promosi kesehatan dapat memperpendek hari rawat pasien, yang akhirnya meningkatkan turn over. Dengan menurunnya hari rawat pasien ini dapat membawa dampak bahwa rumah sakit yang bersangkutan baik, karena pasien yang dirawatnya cepat sembuh, yang berarti meningkatkan pamor rumah sakit tersebut. Selanjutnya akan berakibat meningkatkan angka hunian rumah sakit tersebut (Board Occupancy Rate), sebagai salah satu indikator pelayanan rumah sakit yang baik.

2.8 PRINSIP DASAR PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT Dalam mengembangkan promosi kesehatan rumah sakit, beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:

14

a. Promosi kesehatan di rumah sakit dikhususkan untuk individu-individu yang sedang memerlukan pengobatan dan/atau perawatan di rumah sakit. Di samping itu, promosi kesehatan di rumah sakit juga ditujukan kepada pengunjung rumah sakit, baik pasien rawat jalan, maupun keluarga pasien yang mengantar atau menemani pasien di rumah sakit. Keluarga pasien juga perlu diperhatikan dalam promosi kesehatan di rumah sakit, karena keluarga pasien diharapkan dapat membantu atau menunjang proses penyembuhan dan pemulihan keluarganya yang sakit (pasien). b. Promosi kesehatan di rumah sakit pada prinsipnya adalah pengembangan pengertian atau pemahaman pasien dan keluarganya terhadap masalah kesehatan atau penyakit yang dideritanya. Pasien dan keluarganya harus mengetahui hal-hal yang terkait dengan penyakit yang dideritanya seperti: penyebab penyakit tersebut, cara penularan penyakit (bila penyakit menular), cara pencegahannya, proses pengobatan yang tepat dan sebagainya. Apabila pasien atau keluarga pasien memahami penyakit yang dideritanya, diharapkan akan membantu mempercepat proses

penyembuhan, dan tidak akan terserang oleh penyakit yang sama. c. Promosi kesehatan di rumah sakit juga mempunyai prinsip pemberdayaan pasien dan keluarganya dalam kesehatan. Hal ini dimaksudkan, apabila pasien sudah sembuh dan kembali ke rumahnya, mereka mampu melakukan upaya-upaya preventif (pencegahan) dan promotif

(peningkatan) kesehatannya, utamanya terkait dengan penyakit yang telah dialami. d. Promosi kesehatan di rumah sakit pada prinsipnya adalah penerapan proses belajar kesehatan di rumah sakit. Artinya semua pengunjung rumah sakit, baik pasien maupun keluarga pasien memperoleh pengalaman atau pembelajaran dari rumah sakit, bukan saja melalui informasi atau nasihat-nasihat dari para petugas rumah sakit, tetapi juga dari apa yang dialami, didengar, dan dilihat di rumah sakit. Penampilan rumah sakit yang bersih, nyaman, aman, dan teduh, serta penampilan para petugas rumah sakit, terutama dokter dan perawat, yang bersih dan rapi, ramah,

15

murah senyum, dan sebagainya, rumah sakit yang membelajarkan pasien atau keluarga pasien tentang kesehatan.

2.9 SASARAN PKRS Sasaran promosi kesehatan rumah sakit adalah masyarakat rumah sakit, yang dikelompokkan menjadi kelompok orang sakit (pasien), kelompok orang yang sehat (keluarga pasien dan pengunjung rumah sakit), dan petugas rumah sakit. Secara rinci sasaran promosi kesehatan di rumah sakit ini diuraikan sebagai berikut:
a. Penderita (pasien) pada berbagai tingkatan penyakit:

Pasien yang datang ke rumah sakit sangat bervariasi, baik dilihat dari latar belakang sosioekonominya, maupun dilihat dari tingkat keparahan penyakit dan jenis pelayanan yang diperlukan. Dari sudut tingkat penyakitnya, dibedakan menjadi pasien dengan penyakit akut, dan pasien dengan penyakit kronis. Dari jenis pelayanan yang diperlukan, dibedakan dengan adanya pasien rawat jalan yang tidak memerlukan rawat inap, dan pasien rawat inap dengan indikasi memerlukan perawatan inap. Promosi kesehatan dengan berbagai jenis sasaran pasien ini dengan sendirinya dijadikan dasar untuk menentukan motode dan strategi promosi dan penyuluhannya.
b. Kelompok atau individu yang sehat:

Pengunjung rumah sakit yang sehat antara lain keluarga pasien yang mengantarkan atau menemani pasien, baik pasien rawat jalan maupun rawat inap. Di samping itu, para tamu rumah sakit lain yang tidak ada kaitannya langsung dengan pasien juga merupakan kelompok sasaran yang sehat bagi promosi kesehatan di rumah sakit. Teknik dan metode promosi kesehatan untuk kelompok sasaran ini tentu berbeda dengan promosi kesehatan bagi orang sakit atau pasien. Kelompok sasaran orang sehat di rumah sakit ini penting untuk dijadikan sasaran promosi kesehatan, karena mereka ini akan dapat menunjang proses penyembuhan pasien baik pada

16

waktu masih dalam perawatan di rumah sakit, maupun bila sudah pulang ke rumah.
c. Petugas RS

Petugas rumah sakit secara fungsional dapat dibedakan menjadi: petugas medis, para medis, dan non-medis. Sedangkan secara structural dapat dibedakan menjadi: pimpinan, tenaga administrasi, dan tenaga teknis. Apapun fungsi dan strukturnya, semua petugas rumah sakit mempunyai kewajiban untuk melakukan promosi atau penyuluhan kesehatan untuk pengunjung rumah sakit, baik pasien maupun keluarganya, di samping tugas pokok mereka. Oleh sebab itu, sebelum mereka melakukan promosi dan penyuluhan kepada pasien dan keluarga pasien, mereka harus dibekali kemampuan promosi dan penyuluhan kesehatan. Agar mereka mempunyai kemampuan tersebut, maka harus diberikan pelatihan tentang promosi dan pendidikan kesehatan.

2.10

TEMPAT DAN KESEMPATAN PKRS Pada waktu pasien akan menjalani perawatan di rumah sakit atau pasien

yang akan berobat jalan di rumah sakit, sudah tentu pasien akan melewati serangkaian prosedur yang telah ditentukan oleh rumah sakit tersebut. Misalnya, untuk pasien rawat jalan prosedur yang dilalui sekurang-kurangnya adalah:
a. Pendaftaran b. Masuk ke ruang tunggu c. Masuk ke ruang pemeriksaan d. Ke apotek atau tempat pengambilan obat e. Pembayaran di kasir, dan seterusnya.

Di tempat-tempat atau bagian-bagian tersebut idealnya merupakan tempattempat untuk dilaksanakan promosi atau penyuluhan kesehatan, terkait dengan pelayanan yang diberikan. Namun demikian tidak semua titik pelayanan tersebut efektif untuk dilakukan promosi kesehatan. Tempat-tempat atau

17

bagian-bagian pelayanan rumah sakit yang potensial dilakukan promosi kesehatan, antara lain sebagai berikut: a. Di ruang tunggu Di ruang tunggu adalah tempat yang baik untuk melakukan promosi dan penyuluhan kesehatan. Karena pada umumnya, di ruang itulah pasien atau para pengantar berkumpul dalam waktu yang ralatif lama untuk menunggu giliran pemeriksaan atau memperoleh obat. Di ruang ini dapat dilakukan penyuluhan kesehatan langsung atau ceramah kesehatan, ataupun penyuluhan kesehatan tidak langsung misalnya menggunakan rekaman radio kaset atau video kaset. Pasien atau para pengantar pasien umumnya merasa jenuh pada saat menunggu giliran, sehingga waktu tersebut sangat baik bila digunakan untuk memberikan informasi-informasi atau pesanpesan kesehatan agar mencegah kegelisahan dan kejenuhan pasien atau keluarga pasien. Di samping itu, di ruang tunggu juga disediakan leaflet-leaflet atau selebaran-selebaran yang dapat dibaca oleh pasien atau keluarga pasien. Leaflet atau selebaran berisikan pesan-pesan atau informasi-informasi terkait dengan penyakit-penyakit tertentu. Demikian pula dinding-dinding ruang tunggu perlu ditempel poster-poster yang berisikan pesan-pesan kesehatan. b. Di kamar periksa Di kamar periksa dokter, dokter gigi atau bidan, merupakan tempat dan kesempatan yang baik memberikan pesan-pesan kesehatan, khususnya yang terkait dengan masalah kesehatan ataupun penyakit pasien. Sambil memeriksa pasien atau setelah selesai memeriksa pasien, petugas kesehatan atau dokter dapat menjelaskan tentang penyakit yang diderita pasien, penyebabnya, perjalanan penyakitnya, cara penularannya, cara pencegahannya, dan pengobatan yang diberikan. Pasien dalam kondisi sakit dan ingin segera sembuh dari penyakitnya, apabila diberikan pesanpesan, informasi-informasi, atau anjuran-anjuran yang berkaitan dengan

18

penyakitnya, akan lebih mudah mematuhi atau menjalankannya dibanding mereka yang dalam keadaan sehat. Untuk menunjang promosi dan penyuluhan kesehatan pada kesempatankesempatan tersebut, seyogyanya ruang periksa dilengkapi dengan alatalat peraga atau gambar-gambar terkait dengan penyakit tertentu. Misalnya: kerangka manusia, pantom, gambar-gambar anatomi tubuh, gambar jenis-jenis makanan bergizi, skema perjalanan suatu penyakit, dan sebagainya. c. Di ruang perawatan Di ruang perawatan peran perawat sangat penting karena di tempat ini, perawat mempunyai waktu yang relatif banyak untuk berkomunikasi dengan pasien, dibanding dengan petugas yang lain. Perawat di ruang rawat berkewajiban untuk memberikan obat, melayani kebutuhan pasien yang lain seperti makan, minum, membantu ke kamar mandi, dan sebagainya. Pada kesempatan-kesempatan itulah, perawat dapat

menyampaikan pesan-pesan dan atau anjuran-anjuran yang harus dipatuhi oleh pasien dalam rangka penyembuhannya. Seorang perawat pada waktu mengambil sampel darah, pada waktu mengukur tekanan darah pasien, dan sebagainya, dapat sekaligus memberikan penyuluhan kesehatan terkait dengan yang dihadapi oleh pasien tersebut.

2.11

MATERI PKRS Materi atau isi promosi kesehatan di rumah sakit adalah mencakup pesan-

pesan dan informasi-informasi kesehatan yang disampaikan kepada pasien atau keluarga pasien. Materi promosi kesehatan di rumah sakit ini dapat dikelompokkan menjadi 3 yakni: a. Pesan kesehatan yang terkait dengan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan:

19

Pesan-pesan kesehatan yang terkait dengan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan ini mencakup perilaku hidup sehat (healthy behavior), antara lain: 1) Makan dengan menu atau susunan makanan dengan gizi seimbang. 2) Aktivitas fisik secara rutin, termasuk olahraga dan kegiatan-kegiatan lainnya seperti tugas dan pekerjaan sehari-hari yang mengeluarkan tenaga. 3) Tidak merokok atau minum minuman keras seperti alkohol. 4) Mengelola dan mengendalikan stres untuk memelihara kesehatan. 5) Istirahat cukup karena istirahat dapat mengendorkan keteganganketegangan yang dialami oleh seseorang. b. Pesan-pesan kesehatan yang terkait dengan pencegahan serangan penyakit: Pasien yang sudah sembuh dari penyakit, bias saja terserang penyakit yang sama (kambuh). Di samping itu, apabila penyakit itu menular maka kemungkinan penyakit itu tertularkan kepada orang lain. Oleh sebab itu pesan-pesan tentang pencegahan berbagai macam penyakit perlu dikemas dalam media leaflet atau poster. Pesan-pesan tersebut sekurang-kurangnya mencakup: 1) Gejala atau tanda-tanda penyakit. 2) Penyebab penyakit. 3) Cara penularan penyakit. 4) Cara pencegahan penyakit. c. Pesan-pesan kesehatan yang terkait dengan proses penyembuhan dan pemulihan: Pasien yang datang ke rumah sakit, baik untuk rawat jalan atau rawat inap, tujuan akhirnya adalah agar sembuh dari sakit dan pulih kesehatannya. Masing-masing penyakit mempunyai proses penyembuhan yang berbedabeda. Oleh sebab itu, informasi atau pesan-pesan kesehatan yang terkait dengan proses penyembuhan dan pemulihan itu adalah merupakan isi promosi kesehatan di rumah sakit.

20

2.12

BENTUK METODE PROMOSI KESEHATAN DI RUMAH SAKIT Istilah atau nama rumah sakit di Indonesia memang tidak

menggantungkan diri dari segi promosi kesehatan. Karena rumah sakit yang merupakan terjemahan dari bahasa Belanda memberikan kesan yang tidak menyenangkan, menyeramkan, sakit, tidak enak, dan tidak nyaman. Di negara-negara maju, rumah sakit disebut Hospital atau keramahtamahan, sehingga bertentangan dengan kesan rumah sakit seperti disebutkan di atas. Oleh sebab itu promosi kesehatan rumah sakit seyogyanya menciptakan kesan rumah sakit tersebut menjadi tempat yang menyenangkan, tempat untuk beramah tamah, dan sebagainya. Untuk mengubah kesan tersebut seyogyanya bentuk atau pola promosi kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi: a. Pemberian contoh: Tahap pertama yang diperlukan untuk mengubah kesan rumah sakit yang menyeramkan tersebut adalah dengan menampilkan bangunan fisik dan fasilitas rumah sakit itu antara lain sebagai berikut: 1) Bangunan dan lingkungan rumah sakit yang bersih dan rapi. Cat bangunan rumah sakit tidak harus putih seperti biasanya atau pada umumnya. Ruangan atau kamar perawatan dapat menggunakan cat yang warna-warni. Dari hasil penelitian mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, membuktikan bahwa pasien yang dirawat di ruangan yang dicat berwarna, lebih cepat sembuh dibandingkan pasien yang dirawat di ruangan yang hanya bercat putih. 2) Kamar mandi dan WC harus bersih dan tidak menimbulkan bau tidak enak, tetapi justru berbau wangi. Air bersih seharusnya mengalir dengan lancar dan cukup sebagai sarana untuk kebersihan kamar mandi dan WC. 3) Tersedianya tempat sampah dimana-mana, baik di luar ruangan maupun di dalam ruangan, rumah sakit yang kurang menyediakan tempat sampah yang cukup, berarti tidak menjadikan rumah sakit itu kondusif untuk berperilaku bersih bagi pasien dan pengunjung lainnya.

21

4) Tersedianya taman hidup atau kebun di sekitar rumah sakit. Taman yang indah atau kebun bunga di rumah sakit dapat menghilangkan kesan yang kering, sakit, yang kurang ramah, dan formal seperti perkantoran. Taman di rumah sakit akan menimbulkan kesan yang sejuk, sehat, senyum, dan ramah. 5) Petugas atau karyawan rumah sakit sangat penting untuk menimbulkan kesan kesehatan, kebersihan, dan kesan keramahtamahan. Oleh sebab itu, kebersihan dan cara berpakaian petugas rumah sakit, terutama dokter dan perawat yang secara langsung berkontak dengan pasien adalah perlu dijaga dan dipertahankan supaya tetap bersih dan rapi. b. Penggunaan Media Media promosi atau penyuluhan kesehatan di rumah sakit merupakan alat bantu dalam menyampaikan pesan-pesan kesehatan kepada para pasien dan pengunjung rumah sakit lainnya. Media promosi yang layak digunakan di rumah sakit diantaranya dalam bentuk cetakan: leaflet, flyer, selebaran, poster, dan spanduk, serta dalam bentuk media elektronik, yakni radio kaset dan video kaset. Leaflet dan selebaran didistribusikan atau disediakan di ruang-ruang tunggu, atau di lobi rumah sakit, agar mudah dijangkau oleh para pengunjung rumah sakit. Media elektronik, baik radio kaset maupun video kaset yang berisi pesan kesehatan bagi pasien dan keluarga pasien dapat digunakan di ruang-ruang tunggu atau ruang rawat inap. Khusus media elektronik yang digunakan di ruang-ruang rawat antara lain penggunaan sound system yang

dikendalikandari ruang tertentu dapat menyampaikan pesan-pesan dalam rangka proses penyembuhan pasien di ruang rawat. Di samping itu, melalui media elektronik ini juga dapat digunakan untuk program musik, dan siraman rohani untuk menghibur dan memperkuat iman para penderita atau pasien. c. Promosi dan Penyuluhan Langsung Penyuluhan langsung dapat dilakukan secara terstruktur atau terprogram, tetapi juga dapat dilakukan secara tidak terstruktur atau terprogram.

22

Penyuluhan langsung secara terprogram harus direncanakan secara baik, dan ditangani oleh petugas yang khusus mempunyai kemampuan bidang promosi kesehatan, khususnya media. Bentuk program promosi langsung tidak terprogram dapat dilakukan oleh para petugas medis dan paramedis yang langsung berhadapan dengan pasien. Berdasarkan sasaran promosi kesehatan, bentuk promosi kesehatan dapat dilaksanakan pada:
1) Individual

Penyuluhan atau promosi kesehatan secara individual dilakukan dalam bentuk konseling. Konseling dilakukan oleh dokter, perawat, atau petugas gizi terhadap pasien atau keluarga pasien yang mempunyai masalah kesehatan khusus, atau penyakit yang dideritanya.
2) Kelompok

Promosi atau penyuluhan langsung dengan sasaran kelompok dilakukan di ruang tunggu bagi penyakit-penyakit sejenis, misalnya ruang tunggu penyakit dalam, ruang tunggu penyakit THT, ruang tunggu bagian anak, dan sebagainya. Penyuluhan langsung kelompok juga dapat dilaksanakan dengan mengumpulkan pasien dengan kasus sejenis di ruangan tertentu. Metode penyuluhan kelompok, seperti ceramah, diskusi kelompok, simulasi, dan bermain peran (role play) tepat digunakan dalam promosi kesehatan ini.
3) Massa

Bagi seluruh pengunjung rumah sakit, baik pasien maupun keluarga pasien dan tamu rumah sakit, adalah sasaran promosi kesehatan dalam bentuk ini. Promosi kesehatan dengan sasaran semacam ini perlu penyesuaian bentuk promosi kesehatannya adalah dengan

menggunakan metode penyuluhan massa, seperti penggunaan poster dan spanduk. Seperti halnya promosi kesehatan di tatanan-tatanan lainnya, pada umumnya promosi kesehatan dengan menggunakan metode langsung dan metode tidak langsung.

23

1) Secara langsung: Metode penyuluhan langsung digunakan pada waktu penyuluhan langsung, yakni apabila antara sasaran (pasien dan keluarga pasien) bertatap muka dengan petugas kesehatan sebagai promoter kesehatan. Oleh sebab itu, metode yang digunakan adalah ceramah, diskusi kelompok, simulasi, dan bermain peran. 2) Secara tidak langsung: Promosi atau penyuluhan secara tidak langsung berarti

menggunakan media, dan antara petugas promosi kesehatan tidak dapat bertatap muka dengan pasien atau keluarga pasien sebagai clients. Oleh sebab itu, maka metode promosi secara tidak langsung ini selalu menggunakan media atau alat bantu pendidikan atau promosi, misalnya: leaflet, booklet, selebaran, poster, radio kaset, video kaset, dan sebagainya.

2.13

PEMANTAUAN DAN EVALUASI PKRS Pemantauan dan evaluasi dilakukan berdasarkan standar PKRS.

Pemantauan dilakukan terhadap perkembangan dari masukan (input), proses, dan keluaran (out put). Evaluasi dilakukan terhadap dampak dari PKRS yang telah diselenggarakan. a) Indikator Masukan (input) Masukan yang perlu diperhatikan adalah yang berupa komitmen, sumberdaya manusia, sarana/peralatan, dan dana. b) Indikator Proses Proses yang dipantau adalah proses pelaksanaan PKRS. c) Indikator Keluaran (out put) Keluaran yang dipantau adalah keluaran dari kegiatan yang dilaksanakan, baik secara umum maupun secara khusus. d) Indikator Dampak Indikator dampak mengacu pada tujuan dilaksanakannya PKRS yaitu berubahnya pengetahuan, sikap dan perilaku pasien/ klien rumah sakit,

24

serta terpeliharanya lingkungan rumah sakit dan dimanfaatkannya dengan baik semua pelayanan di RS. Oleh sebab itu kondisi ini sebaiknya dinilai setelah PKRS berjalan beberapa lama yaitu melalui kegiatan evaluasi.

25

BAB III PEMBAHASAN


3.1 LATAR BELAKANG Efektivnya suatu pengobatan di rumah sakit dipengaruhi oleh pola pelayanan kesehatan yang ada, serta sikap dan keterampilan para pelaksananya, juga dipengaruhi oleh lingkungan, sikap, pola hidup pasien dan keluarganya. Selan itu juga dibutuhkan kerjasama yang positif antara tenaga pelaksana dengan keluarga pasien. Jika pasien dan keluarganya memiliki pengetahuan dan partisipasi yang baik dalam upaya pencegaha dan pengobatan yang baik, tentunya hal ini akan membantu dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Pola pelayanan yang dilakukan bukan hanya yang berkaitan dengan kuratif dan rehabilitatif, tapi juga ditekankan kepada preventif dan promotif. Untuk itulah, di rumah sakit perlu diadakan promosi kesehatan, sebagai salah satu upaya untuk mengoptimalkan pemberdayaan masyarakat dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Salah satu pendekatan promotif yang dapat dilakukan di rumah sakit adalah dengan memberikan pemahaman terkait dengan masalah kesehatan seperti demam berdarah. Demam berdarah adalah contoh kecil permasalahan kesehatan di masyarakat yang memiliki kaitan erat dengan lingkungan kehidupan sekitar mereka.

3.2 SASARAN 3.2.1 SASARAN PRIMER Sasaran primer dari kegiatan ini adalah para pasien yang telah menderita penyakit demam berdarah maupun mereka yang masih dalam gejala demam berdarah. 3.2.2 SASARAN SEKUNDER

26

Sasaran sekunder dari kegiatan ini adalah keluarga pasien serta pengunjung atau klien yang datang ke rumah sakit. 3.2.3 SASARAN TERSIER Sasaran tersier dari kegiatan ini adalah para petugas yang bekerja di rumah sakit. 3.3 TUJUAN Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat rumah sakit mengenai demam berdarah itu sendiri. Pemaham yang diberikan dapat berupa pengertian demam berdarah, gejala demam berdarah, cara pengobatan demam berdarah, dan langkah- langkah untuk mencegah terjadinya demam berdarah. 3.3.1 Definisi Demam Berdarah Demam dengue/DF dan demam berdarah dengue/DBD (dengue haemorrhagic fever/DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan/atau nyeri sendi yang disertai lekopenia, ruam, limfadenopati, trombositopeniadan diathesis hemoragik. Pada DBD terjadi perembesan plasma ditandai oleh hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit) yang atau

penumpukan cairan di rongga tubuh. Sindrom renjatan dengue (dengue shock syndrome) adalah demam berdarah dengue yang ditandai oleh renjatan/syok (Suhendro, Nainggolan, Chen, 2006). 3.3.2 Etiologi / Gejala Demam dengue dan demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue, yang termasuk dalam genus Flavivirus, keluarga Flaviviridae. Flavivirus merupakan virus dengan diameter 30nm terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul 4 x 106. Dengue fever atau demam dengue merupakan penyakit panas akut yang ditandai dengan panas 2-7 hari disertai 2 atau lebih gejala berikut : a. Sakit kepala b. Nyeri belakang mata c. Nyeri pada otot dan/atau sendi

27

d. Ruam e. Manifestasi perdarahan baik dengan tes provokasi dengan

menggunakan tourniket tensimeter atau timbul spontan berupa bintikbintik/bercak perdarahan di kulit yang berwarna merah keunguan dan biasanya tidak hilang dengan penekanan. f. Hasil laboratorium menunjukkan leukopenia (jumlah sel darah putih yang kurang dari normal) Tipe panas dengue fever juga khas, yaitu tipe panas punuk onta (saddle back fever), yaitu panas tinggi beberapa hari, lalu turun dalam beberapa hari kemudian naik lagi. 3.3.3 Tipe- Tipe Demam Berdarah a. Dengue Haemorrhagik Fever Dengue Haemorrhagik Fever atau demam berdarah dengue merupakan demam dengue yang disertai dengan gejala/tanda berikut: 1. Perdarahan yang nyata, yang bisa berupa hasil tes tourniket yang positif; bintik-bintik perdarahan di tubuh; mimisan, gusi berdarah; hingga muntah warna kehitaman seperti kopi atau berak seperti petis yang merupakan tanda perdarahan saluran cerna bagian atas . 2. Hasil laboratorium menunjukkan trombositopenia (jumlah trombosit yang kurang dari normal). 3. Kebocoran plasma darah yang ditandai dengan hasil lab PCV meningkat lebih dari 20%, penimbunan cairan di rongga perut (ascites) atau di rongga paru (efusi pleura), atau tanda-tanda syok WHO, organisasi kesehatan dunia, menyebutkan bahwapada demam berdarah dengue tahap awal bisa disertai dengan gejalagejala yang lain misalnya gejala saluran nafas (batuk, pilek) atau saluran pencernaan (mual, muntah, sakit perut, diare). Hal inilah yang menyebabkan demam berdarah dengue sering dikira penyakit flu/diare biasa mengingat gejala hampir sama dengan penyakit yang lain.

28

b. Dengue Shock Syndrome Dengue shock syndrome (DSS) merupakan demam berdarah dengue yang disertai dengan gejala-gejala syok yaitu nadi cepat dan kecil, ujung-ujung tangan dan kaki dingin, tekanan darah turun atau hilangnya kesadaran dari si sakit. Pada kondisi ini biasanya si sakit tidak panas sebagaimana gejala sebelumnya. DSS ini sering terjadi pada hari ke-4 hingga ke-7 periode sakit. Bentuk penyakit inilah yang paling sering menyebabkan kematian. c. Demam Berdarah Klasik
Demam berdarah menunjukkan gejala yang umumnya berbeda-beda tergantung usia pasien. Gejala yang umum terjadi pada bayi dan anak-anak adalah demam dan munculnya ruam. Sedangkan pada pasien usia remaja dan dewasa, gejala yang tampak adalah demam tinggi, sakit kepala parah, nyeri di belakang mata, nyeri pada sendi dan tulang, mual dan muntah, serta munculnya ruam pada kulit.Penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia) dan penurunan keping darah atau trombosit (trombositopenia) juga seringkali dapat diobservasi pada pasien demam berdarah. Pada beberapa epidemi, pasien juga menunjukkan pendarahan yang meliputi mimisan, gusi berdarah, pendarahan saluran cerna, kencing berdarah (haematuria), dan pendarahan berat saat menstruasi (menorrhagia).

3.3.4 Pengobatan Bila seseorang diperkirakan hanya menderita demam dengue dan belum dapat dipastikan menderita demam berdarah dengue pengobatannya biasanya dengan istirahat (bed rest), pemberian obat penurun panas tanpa perlu antibiotika, makan disesuaikan nafsu makannya (tidak harus bubur), serta minum yangcukup. Hanya penderita yang mengalami panas yang sangat tinggi dan tidak bisa minum (misal karena muntah terus) yang perlu opname karena cairan diberikan melalui infus. Bila si sakit ini tidak opname/rawat inap, maka dia perlu kembali berobat bila ada tanda-tanda : a. Nyeri pada perut, atau

29

b. Tanda-tanda perdarahan pada kulit baik berupa bintik-bintik atau c. Bercak merah keunguan, atau tanda-tanda perdarahan yang lain misal mimisan, gusi berdarah, muntah kehitaman atau berak seperti petis, atau d. Si sakit tampak loyo, lemas, dan pada perabaan terasa dingin terutama di kedua tangan dan kaki. Gejala-gejala di atas dapat merupakan gejala dari demam berdarah dengue. Bila setelah diperiksa laboratorium dipastikan si sakit menderita DBD, maka pengobatan selanjutnya adalah pemberian cairan infus sesuai dengan kondisinya saat itu. Pemberian cairan infus ini dilakukan untuk mengimbangi kebocoran plasma yang terjadi pada DBD. Bahkan pada penderita-penderita yang mengalami perdarahan dapat diberikan transfusi darah. 3.3.5 Pencegahan Virus dengue ditularkan pada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Cara mencegah demam berdarah dengue yang efektif adalah pengendalian vektor penyakit yaitu nyamuk Aedes agypti dengan jalan : a. Fogging, atau pengasapan insektisida. Cara ini memiliki kekurangan karena hanya dapat memberantas nyamuk dewasa, bukan larva; hanya memiliki jangkauan 100-200 m dari pusat pengasapan serta adanya kecenderungan nyamuk mengalami kekebalan terhadap insektisida. b. Pencegahan gigitan nyamuk dengan menggunakan selambu, atau obatobat yang dioleskan ke kulit. Beberapa tanaman seperti zodia, geranium dan lavender ternyata disebutkan dapat mencegah gigitan nyamuk. c. Pemberian obat-obatan pembasmi larva,seperti abate, pada tempat penampungan air d. Pemberantasan sarang nyamuk, seperti yang telah dicanangkan oleh pemerintah melalui program 3 M : menguras bak air, menutup tempat yang mungkin menjadi sarang berkembang biak nyamuk, mengubur barang-barang bekas yang bisa menampung air. Cara ini menurut beberapa penelitian adalah cara yang paling efektif, namun paling sulit untuk dilakukan karena membutuhkan peran serta seluruh masyarakat.

30

3.4 METODA Metoda promosi ini adalah metoda langsung dengan menggunakan media cetak maupun media elektronik, baik secara individu maupun kelompok.

3.5 TEMPAT Banyak tempat yang bisa digunakan untuk melakukan promosi kesehatan, baik dalam ruangan dan luar ruangan. Di sini penulis mengambil tempat promosi di dalam ruangan, seperti ruangan tunggu.

31

BAB IV PENUTUP 4.1 SIMPULAN Banyak pihak yang bertanggung jawab dalam usaha peningkatan derajat kesehatan masyarakat, salah satunya rumah sakit. Sebagai lembaga penyedia pelayanan kesehatan, baik secara preventif, kuratif, rehabilitatif, dan promotif. Atas dasar alasan tersebut, di rumah sakit perlu diadakan promosi kesehatan, untuk memberi pemahaman yang mendalam kepada masyarakat rumah sakit mengenai pencegahan dan pengobatan suatu penyakit. Tujuan akhir dari kegiatan ini adalah untuk memberdayakan masyarakat dalam hal meningkatkan status kesehatan mereka.

4.2 SARAN Promosi kesehatan di rumah sakit harus lebih dikembangkan lagi agar pemberdayaan masyarakat lebih optimal, sehingga status kesehatan yang diharapkan dapat tercapai.

32

DAFTAR PUSTAKA

http://repository.upi.edu/operator/upload/s_kom_060873_chapter2.pdf http://repository.usu.edu Pusat Promosi Kesehatan Kementerian Republik Indonesia. Standar Promosi Kesehatan di Rumah Sakit (PKRS). 2010 www.scribd.com www.search-documen.com

33