Anda di halaman 1dari 110

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

LATAR BELAKANG MASALAH Pembahasan tentang sejarah Islam tentu tidak terlepas dari pembahasan tentang sumber-sumber rujukannya. Sejarah Islam sendiri bukan sekedar dongeng atau hikayat yang sebagian besarnya dinukil berdasarkan Konon. Pembahasan tentangya dibangun atas kajian ilmiah melalui dukungan referensi yang valid. Sebab seseorang tidak mungkin bisa menggambarkan peristiwa sejarah secara tepat apabila sumbernya tidak otentik1. Namun problem yang dihadapi kemudian adalah ketika umat Islam dituntut menatap kembali sejarah yang telah berlalu lebih dari seribu tahun. Ada beberapa kendala yang menghalangi pandangan tersebut. Sehingga tidak menghasilkan suatu pandangan yang benar-benar jernih dan utuh. Oleh karena itu, Muammad Qub dalam buku Kaifa Naktubu At Trikh Al Islm, menyarankan untuk menulis ulang sejarah umat Islam. Ada beberapa hal yang mengharuskan umat Islam untuk menyusun kembali sejarahnya. Hal tersebut ditempuh untuk mengetahui bagaimana sebenarnya sejarah Islam ditulis. Antara lain adalah: Pertama, literatur sejarah umat Islam yang ditulis oleh para Ulama terdahulu merupakan sebuah kompilasi sejarah yang demikian besar. Hal itu terjadi karena para Ulama sangat memegang amanah ilmiah. Sehingga para Sejarawan menulis yang mereka ketahui dan mereka dengar dalam literatur sejarah. Meskipun isinya merupakan pengulangan atau saling bertentangan satu sama lain atau bahkan sesuatu yang jauh memungkinan untuk terjadi.2 Kedua, literatur sejarah yang ditulis pada masa modern baik oleh orientalis maupun para peneliti atau orang-orang yang terpengaruh oleh para Sejarawan, lebih menggunakan alur cerita yang menarik, mudah dicerna dan
1 Al Khams, Utsmn bin Muammad, Inilah Faktanya, Meluruskan Sejarah Umat Islam Sejak Wafat Nabi Saw Hingga Terbunuhnya usain Bin Al Ra, Terj. Syafarudin, (Jakarta: Penerbit Imam Syafii, 2012), p.vi 2 Muammad Qub, Kaifa Naktubu At Trikh Al Islam, (Kairo-Mesir: Dr Asy Syuruq, 1992), p.11-12.

dapat memberikan pemahaman yang cepat kepada pembacanya. Namun banyak dari literatur tersebut ditulis tidak dengan semangat amanah ilmiah atau memang ditujukan untuk suatu tujuan tertentu. Sehingga banyak terjadi distorsi dan penarikan kesimpulan yang berlebihan. Ketiga, dalam mengkaji sejarah Islam sering mengembalikan segala sesuatu kepada faktor-faktor politik, peperangan, ekonomi dan sebagainya. Sehingga seakan-akan agama ini hanyalah sebuah budaya yang sama dengan budaya yang lain. Tidak mempunyai sentuhan syari.3 Keempat, dalam mengkaji sejarah Islam sering melupakan hubungan antara karakteristik umat ini, yang telah diunggulkan Allah Swt dari kondisi kemanusiaan dengan segala aspeknya. Umat Islam bukan hanya sekedar sebuah fenomena sejarah yang kebetulan timbul ke permukaan. Namun umat Islam adalah umat tauhid yang besar dan telah dipilih Allah Swt sebagai saksi atas seluruh manusia. Demikian juga sering melupakan pengaruh yang dihasilkan oleh umat Islam terhadap kemanusiaan sepanjang sejarah.4 Dari keempat uraian di atas dapat menggambarkan secara singkat tentang bagaimana sejarah Islam ditulis. Hal ini penulis kaitkan dengan keotentikan sejarah dalam peristiwa pembunuhan usain bin Al ra yang tidak terlepas dari distorsi sebagaimana yang terjadi pada sejarah Islam yang lain. Peristiwa Karbala terjadi pada tanggal 10 Muarram 61 H (9 atau 10 Oktober 680 M) di Karbala, Irak. Pada waktu itu terjadi pertempuran antara pendukung dan keluarga usain bin Al ra dengan pasukan militer yang dikirim oleh Yazd bin Muawiyah, Khalifah Bani Umayyah saat itu. Pihak usain bin Al ra terdiri dari anggota keluarga Nabi Muammad Saw dan beberapa pengikutnya sekitar 72 sampai 128 orang yang terdiri dari beberapa wanita dan anak-anak dari keluarganya. Di pihak lain, pasukan bersenjata Yazd bin Muwiyah dipimpin oleh Umar bin Saad berjumlah 4.000 sampai 10.000 yang berakhir pada terbunuhnya usain bin Al ra.5
Muammad Qub, p.18 Ibid, p.24-26 5 Ibnu Katsr, Al Bidyah Wa An Nihyah, Dr Al Kutub Al Ilmiyyah (Beirt: Dr Al Kutub Al Ilmiyyah, 1403 H), p.VIII/161-165
3 4

Peristiwa ini menyisakan kontroversi yang sangat signifikan dalam tubuh kaum Muslimin. Bagi kaum Syah peristiwa ini sangat menyakitkan dan menyudutkan daulah Umayyah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas terbunuhnya cucu Nabi Saw di Karbala. Bahkan tidak sedikit kecamankecaman yang mereka tujukan kepada para sahabat. Dalam literatur Ahlus Sunnah diungkapkan bahwa sejarah pertumpahan darah yang terjadi di Karbala ditulis dan diberi tambahan-tambahan yang justru dapat menimbulkan fitnah perpecahan di tengah umat Islam. Di antaranya adalah: Pertama, ketika hari pembunuhan usain bin Al ra, langit menurunkan hujan darah lalu menempel di pakaian dan tidak pernah hilang sedangkan langit nampak berwarna merah yang tidak pernah terlihat sebelum itu.6 Kedua, tidak diangkat sebuah batu melainkan di bawahnya terdapat darah penyembelihan usain bin Al ra.7 Ketiga, mereka juga menisbatkan kepada Raslullah Saw sebuah perkataan yang diambil dari ayat: Mereka ini adalah titipanku pada kalian, kemudian Allah Swt menurunkan ayat: Katakanlah Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.8. Ibnu Taimiyah menuturkan: Apakah masuk akal Raslullah Saw menitipkan kepada makhluk, padahal Allah Swt tempat penitip yang terbaik. Sedangkan ayat yang mereka anggap diturunkan Allah Swt berkenaan dengan peristiwa pembunuhan usain bin Al ra merupakan satu bentuk kebohongan. Karena ayat ini terdapat dalam surat As Syr dan surat ini Makkiyah. Allah Swt menurunkan surat ini sebelum Al bin Ab lib ra dan Fimah menikah.9 Dalam literatur Syah terdapat ulasan-ulasan yang megisyaratkan akan keterlibatan kaum Syah dalam pembunuhan usain bin Al ra. Hal ini akan semakin menarik untuk diulas karena data-data yang ditulis oleh para Ulama
6 7

Ibnu Taimiyah, Minhjus Sunnah An Nabawiyah, (Tanpa Penerbit: 1969), p.IV/517 Ibid, p.IV/517 8 QS. asy Syr : 42-23 9 Ibnu Taimiyah, op.cit, p.IV/518

Syah tidak selalunya menyudutkan daulah Umayyah. Data-data tersebut menjadi suatu yang urgen demi menjaga amanah ilmiah dalam pengungkapan kronologi peristiwa dan pengambilan kesimpulan kajian. Di antara isyarat tersebut adalah: Pertama, Muammad bin Al bin Ab lib ra, yang dikenal dengan nama Ibnu Al anafiyyah, menasehati saudaranya, usain bin Al ra. Ia berkata: Wahai Saudaraku engkau telah mengetahui pengkhianatan penduduk Kufah terhadap ayah dan saudaramu, asan bin Al ra. Aku khawatir engkau akan mengalami seperti yang mereka alami.10 Kedua, ketika usain bin Al ra berpidato di hadapan orang-orang Kufah menyinggung ulah dan perilaku mereka pada masa lampau terhadap ayah dan saudaranya dengan mengatakan: Jika kalian tidak melaksanakan dan menepati janji kalian, bahkan kalian membatalkan baiat (sumpah setia) kalian kepadaku, maka hal seperti itu tidaklah aneh. Kalian telah melakukannya terhadap ayah, saudara dan pamanku, Muslim bin Aql. Orang yang berhasil ditipu oleh kalian benar-benar tertipu.11 Padahal dalam literatur Syah dijelaskan bahwa sebelum keberangkatan usain bin Al ra ke Kufah, mereka telah mengirim surat sebanyak 12.00012. Bahkan mereka juga sudah berbaiat melalui Muslim bin Aql atas nama usain bin Al ra sebanyak 18.000 orang13. Berangkat dari berbagai kesimpang-siuran tersebut penulis berkeinginan untuk membahas dalam bentuk skripsi berjudul Pembunuhan usain bin Al ra (Studi komparatif antara perspektif Syah dan Ahlus Sunnah). Upaya ini penulis tempuh dalam rangka mengungkap bagaimana fakta yang terjadi di Karbala dan mengungkap siapa yang paling bertangung jawab atas terbunuhnya usain bin Al ra serta memberikan solusi bagaimana seharusnya seorang Muslim menyikapi tragedi Karbala, agar tidak berlebih-lebihan dalam

Ibnu aws, Al Luhuf, (Qom: Mansyurat Asy Syarf Ar R), p.39 Maalimul Madrasatain. p.III/71-72 12 Ibnu Katsr, p, VIII/149 13 Ibid, p. 167
10 11

menyikapinya, apalagi sampai menghina para sahabat yang terlibat dalam peristiwa tersebut. 1.2. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang di atas penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana sejarah peristiwa pembunuhan usain bin Al ra menurut Syah

dan Ahlus Sunnah?


1.3. TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN

Penelitian dari kajian ini bertujuan untuk :


1. Mengungkap sejarah peristiwa pembunuhan usain bin Al ra menurut

Syah dan Ahlus Sunnah. 1.4. KONTRIBUSI PENELITIAN Setelah penelitian ini selesai diharapkan mampu memberikan kontribusi yang bermanfaat baik secara teoritis dan praktis. 1. Secara teoritis Sebagai sumbangan karya ilmiah bagi perkembangan ilmu pengetahuan bagi kalangan akademisi, hasil penelitian ini diharapkan juga bisa dijadikan sebagai pedoman bagi para peneliti untuk melakukan penelitian labih lanjut. 2. Secara praktis Sebagai sumbangan pemikiran dan wawasan khazanah Islamiyah yang ilmiah bagi masyarakat luas dalam bidang Aqdah. 1.5. KAJIAN PUSTAKA Sejauh penelitian penulis, kajian yang menyoal secara khusus tentang kontroversi pembunuhan usain bin Al ra menurut Syih dan Ahlus Sunnah tidak tersusun dalam bentuk satu buku utuh, namun hanya terdapat dalam subsub pembahasan dalam literatur-literatur yang berkenaan dengan masalah tersebut.
5

Adapun salah satu buku pegangan yang penulis jadikan literatur utama adalah buku Minhjus Sunnah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau menulis buku ini dalam rangka mengkritisi berbagai klaim keliru Syah yang terkandung dalam buku Minhjul Karmah yang ditulis oleh asan bin Ysuf Al Hill. Sedangkan dalam literatur sejarah penulis juga mendapatkan dalam buku Al Kmil Fi At Trikh yang ditulis oleh Ibnu Atsr. Al Bidyah Wa An Nihyah yang ditulis oleh Ibnu Katsr. Maqtal Al usain oleh Abdur Razaq Al Msawi Al Mukarram. Nahjul Balghah oleh Muammad Ar Ri bin Al asan Al Msawi. Penulis juga mendapati kronologi kejadian pembunuhan usain bin Al ra dalam buku-buku adts. Semisal, a Bukhri, a Muslim dan yang lainnya, berserta buku-buku syarahnya. Adapun tulisan-tulisan yang lain hanyalah tulisan-tulisan dalam bentuk artikel dan tulisan lepas yang kebanyakan terdiri dari statemen yang mengandung berbagai kontroversi saling membantah dalam jejaring sosial internet dan lain sebagainya. Dari data tersebut penulis mengamati bahwa sampai saat ini belum ada penelitian mengenai kontroversi yang mengkomparasikan antara literatur Syah dan Ahlus Sunnah dalam bentuk skripsi. Sehingga dengan hadirnya skirpsi ini dapat mengungkap berbagai kesimpang-siuran dalam peristiwa tersebut. 1.6. METODE PENELITIAN 1.6.1. Jenis penelitian Dalam penelitian ini untuk mendapatkan data yang valid maka penulis akan menggunakan metode library research (tinjauan pustaka). Tinjauan Pustaka mempunyai arti peninjauan kembali pustaka-pustaka yang terkait (review of related literature).14 Sehingga dalam penulisan ini untuk
Achmad Djunaidi, Penulisan Tinjauan (http://mpkd.ugm.ac.id/weblama/homepageadj/support/materi/metlit-i/a05-metlittinjaupustaka.pdf) 31/10/2010 pukul 12:30.
14

Pustaka

mengetahui perihal pembunuhan usain bin Al ra penulis meneliti dari berbagai sumber literatur yang bersumber dari Syah dan Ahlus Sunnah. 1.6.2. Tehnik pengumpulan data Untuk mendapatkan data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode dokumentasi15. Dokumentasi merupakan metode pengumpulan data dengan cara mengambil data yang berasal dari dokumen asli atau data-data literatur16 kemudian dikelompokan menjadi dua, yaitu; data primer (utama) dan data sekunder (penunjang). 1.6.3. Analisis data Dari penjelasan diatas maka dalam menganalisa data tersebut digunakan metode analisa yang dilakukan dengan jalan content analysis. Metode ini untuk menganalisa secara langsung pada buku-buku primer yang berkaitan degan peristiwa terkait. Karena dinilai menimbulkan berbagai kejanggalan, ketidak beresan, kelemahan dan kesalahan.17 Dalam menganalisa data yang ada juga digunakan metode Komparatif, yaitu menganalisa data yang berbeda dalam literatur Syah maupun Ahlus Sunnah, dengan cara membandingkan untuk mencari yang lebih kuat atau untuk mencari kemungkinan untuk mengkompromikannya.18 1.7. SISTEMATIKA PENULISAN Sebagai penjabaran lebih lanjut bagi penelitian ini, maka pembahasan yang direncanakan meliputi empat bab sebagai berikut: Didalam bab pertama, terdiri dari pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kontribusi penelitian, metode penelitian dan sistematika penulisan skripsi.

Gulo, W. Metodologi penelitian, (Jakarta: Grasindo, 2005), p. 123. A. Aziz Alimul Hidayat, Metode Penelitian Keperawatan Dan Teknik Analisis Data, (Jakarta: Penerbit Salemba Medika, 2007), p. 88. 17 H. Hadari Nawawi & H. Mimi martini; Penelitian Terapan (Gadjah Mada University Prees) 18 Neuman. Lawrence, Sosial Research Methods, (USA, 2000), p.401
16

15

Pada bab kedua, terdiri dari landasan teori yaitu sekilas biografi usain bin Al ra, deskripsi Syah, deskripsi Ahlus Sunnah, pembunuhan usain bin Al ra, dengan menjelaskan latar belakang terjadinya peristiwa tersebut, kronologi, dan bagaimana sikap Syah dan Ahlus Sunnah. Pada bab ketiga, terdiri dari analisa penulis dalam mengkomparasikan tentang pembunuhan usain bin Al ra antara perspektif Syah dan Ahlu s Sunnah, penyebab perbedaan sikap antara keduanya dan mengungkap jati diri pembunuh usain bin Al ra serta mengenai keterlibatan Yazd bin Muawiyyah dalam peristiwa tersebut. Pada bab keempat, terdiri dari kesimpulan penulis beserta saran dan kritik.

BAB II LANDASAN TEORI


2.1. Biografi usain bin Al ra

2.1.1. Nasabnya Beliau adalah usain bin Al ra bin Ab lib bin Abdil Mulib bin Hsyim bin Abdi Manf bin Quay Al Quraisy Al Hsyim. Kun-yahnya Ab 'Abdillah. Seorang Imm yang mulia, cucu yang merupakan salah satu bunga kehidupan Raslullah Saw di dunia dan kesayangannya di samping asan ra. Kedua orang tuanya adalah Al bin Ab lib dan Fimah Az Zahr binti Raslullah Saw. Dilahirkan pada tanggal 5 Syabn tahun keempat Hijriyah, dan jarak umur antara beliau dengan asan, kakaknya, menurut sebagian Ulama adalah satu kali masa suci ditambah masa kehamilan19. usain bin Al ra memiliki enam anak: yaitu Al bin usain Al Akbar; panggilannya adalah Ab Muammad, dan ibunya bernama Syahzanah, putri Kaisar Yazdarjid, ia termasuk yang selamat dari peristiwa Karbala, Al bin usain Al Asghar; ibunya bernama Laila binti Murrah bin Urwah bin Masd Ats Tsaqaf, ia terbunuh di Karbala, Jafar bin usain; ibunya adalah dari suku Qudaah, ia meninggal saat usain bin Al masih hidup, selanjutnya adalah Abdullah bin usain; terbunuh di Karbala, Sukainah binti usain; ibunya bernama Rabab binti Imru Al Qais bin Adi dari suku Kalb dan Mad. Rabab juga ibu dari Abdullah bin usain, dan Fimah binti usain; ibunya bernama Ummu Ishq binti alhah bin Ubaidillah dari Taim.20 2.1.2. Bentuk fisik dan sifatnya Secara fisik usain bin Al ra lebih mirip dengan Raslullah Saw pada bagian dada sampai kaki, sementara asan bin Al ra lebih mirip dengan
Ibnu Katsr, p.VIII/149 Al Mufd, Sejarah Amrul Muminn Al bin Ab lib As & Para Imam Ahlul Bait Nabi Saw, Terj. Muhammad Anis Maulachela & Ilyas Hasan, (Jakarta: Lentera, 2007), p.495-496
20

19

Raslullah Saw pada wajahnya21. Paska usain bin Al ra terbunuh, kepalanya dibawa ke hadapan Ubaidullah bin Ziyd di Kufah. Sesampainya di sana, Ubaidullah menggosok-gosok kepala usain bin Al ra dengan sebatang kayu seraya memasukannya ke mulutnya, dan berkata: Alangkah bagus giginya Anas bin Mlik berkata: Demi Allah Swt aku akan mendoakan keburukan untukmu. Sungguh aku melihat sendiri Raslullah Saw mencium mulut usain bin Al ra tempat engkau memasukan kayumu itu.22 Dalam riwayat yang lain Anas berkata: usain bin Al ra merupakan orang yang termasuk paling mirip dengan Raslullah Saw23. Tentang sifat usain bin Al ra lainnya, antara lain sebagaimana yang dibawakan oleh Adh Dhahab rahimahullah dari riwayat Sad bin Amr, ia berkata: "Sesungguhnya asan ra pernah berkata kepada usain bin Al ra: Betapa ingin aku memiliki sebagian kekerasan hatimu. Lalu usain bin Al ra menjawab: Dan betapa ingin aku memiliki sebagian kelembutan lidahmu24. 2.1.3. Kemuliaannya Beliau memiliki kedudukan mulia di sisi Raslullah Saw dan sangat dicintainya. Dari Ibnu Ab Numi, ia berkata: "Aku mendengar Abdullah bin Umar ra ketika ditanya oleh seseorang yang datang dari Irak tentang hukum orang yang berihram. kata Syubah: Saya menduga ia bertanya tentang hukum membunuh lalat. Maka Abdullah bin 'Umar berkata: "Lihatlah orangorang Irak bertanya tentang hukum membunuh seekor lalat, padahal mereka telah membunuh putra dari putri Raslulah Saw. Padahal Nabi Saw telah bersabda:


A Ibnu Katsr, p.VIII/150 A abrn, Sulaimn bin Amad. Mujam Al Kabr, no.5017, p.V/206; Al Asqalani, Amad bin ajar, Fatul Bri Syarah a Al Bukhri, (Beirt: Dr Al Kutub Al Ilmiyyah, 1989), Kitb Fadhaa-ilush Shahabah, Bab Manaaqibul Hasan WAl usain, no.3748 23 Al Albni, a Sunan At Tirmidhi, (Riy: Maktabah Al Marif, 1420 H/2000 M), p.III/540, no.3778 24 Adh Dhahabi, Siyr Alm Nubal, (Kairo-Mesir: Muassasah Ar Rislah, 1422 H/2001 M), p.III/287
22 21

10

"Keduanya (asan dan usain) adalah dua buah tangkai bungaku di dunia"25. Adh Dhahabi rahimahullah dalam Siyar Alm Nubal26 menyebutkan riwayat dari Jbir ra yang ketika melihat usain bin Al ra masuk ke dalam Masjid mengatakan: Barangsaiapa yang ingin melihat seorang sayyid (pemuka) dari para pemuda ahli jannah maka lihatlah usain bin Al ra ini. Saya mendengar hal itu dari Raslullah Saw"27. Dalam kitb yang sama, adh Dhahabi rahimahullah membawakan riwayat dari Ummu Salamah, ia berkata: "Sesungguhnya Nabi Saw menyelimuti Al, Fimah serta kedua anaknya (asan dan usain) dengan sebuah selimut, kemudian beliau Saw bersabda:

" .". : ! :
"Ya Allah Swt, mereka adalah ahli bait putriku dan kesayanganku. Ya Allah Swt, hilangkanlah kotoran dari mereka, dan sucikanlah mereka dengan sesuci-sucinya. Aku (Ummu Salamah) bertanya: Apakah aku termasuk mereka?. Beliau Saw menjawab: "Sesungguhnya engkau menuju kepada kebaikan"28. Raslullah Saw juga bersabda:


"usain termasuk bagian dariku dan aku termasuk bagian darinya, Allah Saw akan mencintai siapa saja yang mencintai usain. Dan usain adalah satu umat di antara umat-umat yang lain dalam kebaikannya"29.
Al Asqalani, Fatul Bri Syarah a Al Bukhri, p.VII/95, no.3753 Adh Dhahabi, p.III/282-283 27 Dikatakan oleh pentahqiq Siyar Alm Nubal bahwa para perawinya adalah para perawi yang dipakai dalam Kitb a, kecuali Ar Ar Rab bin Sad, tetapi ia tsiqah (terpercaya) 28 adts ini dikatakan oleh Adh Dhahabi bahwa isnad-nya jayyid (baik), diriwayatkan dari beberapa jalan dari Syahr. Sementara pentaqq mengatakan, adts itu a dengan syawhidnya. Lihat Adh Dhahabi, p.III/283 29 adts ini hasan, diriwayatkan oleh Imm Tirmidzi dan Imm Ibnu Majah. Lihat Al Albni, a Sunan At Tirmidhi, p.III/539 no. 3775 Dan Al Albni, a Sunan Ibnu Mjah, (Riy: Maktabah Al Marif, 1417 H/1997 M), p.I/64-65, no.118-143
25 26

11

Demikianlah kedudukan usain bin Al ra, beliau sempat hidup bersama Raslullah Saw selama sekitar lima tahun. Raslullah Saw sangat menyayangi dan memuliakannya sebagaimana menyayangi dan memuliakan asan ra hingga beliau Saw wafat. Sepeninggal Raslullah Saw, Ab Bakar, 'Umar dan Utsmn ra pun sangat mencintai, memuliakan dan mengagungkannya. Dan usain bin Al ra selalu menyertai ayahnya, Al bin Ab lib ra sampai wafatnya.
2.1.4.

adts nubuwah tentangnya

Jauh hari sebelum usain bin Al ra wafat, Raslullah Saw pernah menceritakan bahwa usain bin Al ra akan wafat dalam keadaan terbunuh. Adh Dhahabi rahimahullah membawakan beberapa riwayat tentang itu, di antaranya dari Al ra, ia berkata: Aku datang kepada Raslullah Saw ketika kedua mata beliau bercucuran air mata, lalu beliau bersabda: "Jibril baru saja datang, ia menceritakan kepadaku bahwa usain bin Al ra kelak akan mati dibunuh. Kemudian Jibril berkata: "Apakah engkau ingin aku ciumkan kepadamu bau tanahnya?" Aku menjawab: "Ya. Jibril lalu menjulurkan tangannya, ia menggenggam tanah satu genggaman. Lalu ia memberikannya kepadaku. Sehingga karena itulah aku tidak kuasa menahan air mataku.30 Para Ulama berselisih pendapat tentang kapan usain bin Al ra wafat. Tetapi, Adh Dhahabi, Ibnu Katsr dan Ibnu ajar Al Asqalani rahimahumullah lebih menguatkan bahwa wafatnya pada hari Asyra bulan Muarram tahun 61 H31. Sedang umurnya juga diperselisihkan, ada yang mengatakan 58 tahun, 55 tahun dan 60 tahun. Tetapi Ibnu ajar rahimahullah menguatkan bahwa umur beliau 56 tahun32.

Lihat Adh Dhahabi, p.III/288-289. Pentahqiq kitb ini (Muammad Naim Al Arqasusy dan Mamn Shagharjiy) mengatakan, adts itu dan yang senada diriwayatkan oleh Imm Amad, Thabrani dan lain-lain, sedangkan para perawinya oleh Al Haitsami dikatakan sebagai para perawi yang tsiqah. 31 Lihat Adh Dhahabi, p.III/318, Ibnu Katsr, p.VIII/172, Al Asqalani, Tahdhb At Tahdhb, (India: Mabaah Majlis D-irah Al Marif An Nizhmiyah, Tanpa Tahun), p.II/356 32 Al Asqalani, Tahdhb At Tahdhb p.II/356
30

12

Demikianlah biografi usain bin Al ra bin Ab lib ra secara ringkas. Adapun tempat yang selama ini dianggap sebagai kuburan usain bin Al ra atau kuburan kepala usain bin Al ra di Sym, di Asqalan, di Mesir atau di tempat lain, maka itu adalah dusta, tidak ada bukti sama sekali. Karena semua Ulama dan Sejarawan yang dapat dipercaya tidak pernah memberikan kesaksian tentang hal itu. Bahkan mereka menyebutkan bahwa kepala usain bin Al ra dibawa ke Madinah dan dikuburkan di sebelah kuburan asan ra33.

33

Lihat Ibnu Taimiyah, Majm Fatw, (Beirt: Muassasah Ar Risalah, 1997), p.XXVII/465

13

2.2. Deskripsi Syah

2.2.1. Secara bahasa Kata Syah bermakna: ( Pengikut), ( Penolong),

( Teman dekat).
2.2.1.1. Penggunaan kata Syah dalam Al Quran

Kalimat Syah dalam derivasinya yang bermakna secara bahasa, yang termaktub di dalam Al Quran adalah: Pertama, bermakna firqah (kelompok), umat atau jamah (kumpulan) orang. Allah Swt berfirman,


Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap Syah siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Ar Rahman (Yang Maha Pemurah)34. Maksud dari Tiap-tiap Syah adalah Dari tiap kelompok jamah dan umat. Kedua, bermakna firqah (golongan). Allah Swt berfirman,


Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah dien-Nya dan mereka menjadi Syah tidak ada tanggung jawabmu sedikut pun terhadap mereka.35 Maksud dari Mereka menjadi Syah adalah Golongan.36 Ketiga, bermakna serupa. Firman Allah Swt,


QS. Maryam: 69 QS. Al Anam: 159 36 Ri, Muammad Rasyd bin Al, Tafsr Al Quranul akm (Tafsir Al Manar), (Mesir: Al Hai-ah Al Miriyah Al mah Lil Kitb, 1990), p.VIII/214
35 34

14

Dan sungguh telah Kami binasakan Asy Syah dari kalian, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran.37 Maksud dari Asy Syah dari kalian adalah Yang serupa dengan kalian dalam kekufuran, dari umat-umat yang terdahulu.38 Keempat, bermakna pengikut, teman dekat, dan penolong. Allah Swt berfirman,


Maka didapatinya di dalam kota dua orang laki-laki yang berkelahi, yang seorang dari Syahnya (Bani Israil) dan seorang lagi dari musuhnya (kaum Firaun), maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya, lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu.39 2.2.2. Secara istilah Dalam mendefinisikan Syah secara istilah para Ulama berbeda pendapat: Pertama, Syah adalah setiap orang yang berwali kepada Al ra dan Ahlul Baitnya. Sebagaimana perkataan Al Fairuz Abdi, Nama ini sesungguhnya telah umum atas setiap orang yang berwali kepada Al ra dan Ahlul Baitnya sehingga jadilah nama khusus bagi mereka. Kedua, Syah adalah orang-orang yang menolong Ahlul Bait dan meyakini Immahnya (kepemimpinannya) Al ra, dan khalfah yang sebelumnya adalah menlimi beliau.

QS. Al Qamar: 51 A abri, Ibnu Jarr, Jmi Al Bayn An Tawl Ayil Qur-n, (Beirt: Dr Al Fikr, 1984), p.XXVII/112 39 QS. Al Qaa: 15 dan lihat juga Al Azhar, Muammad bin Amad, Tahdhb Al Lughah, (Beirt: Dr Iya-ut Turts Al Arab, 2001), p.III/63
38

37

15

Ketiga, Syah adalah orang-orang yang lebih mengutamakan Al ra daripada Utsmn ra. Keempat, Syah adalah setiap kelompok yang mengutamakan Al ra atas Khulaf Ar Rsyidn sebelumnya, dan ia berpendapat bahwa Ahlul Bait adalah orang yang paling berhak menjadi khalfah. Dari empat pendapat di atas, pendapat yang paling rjih (tepat) adalah pendapat keempat. Karena kesesuainnya dengan konteks Syah sebagai suatu kelompok yang mempunyai pemikiran-pemikiran dan ideologi-ideologi tertentu.40 2.2.3. Pokok-pokok ajarannya Pertama, pada rukun Iman Syah hanya memiliki 5 rukun iman, tanpa menyebut keimanan kepada para Malikat, Rasl, Qaa dan Qadar- yaitu: Tauhid (kesaan Allah Swt), Al Adl (keadilan Allah Swt), Nubuwah (kenabian Saw), Immah (kepemimpinan Imm), dan Maad (hari kebangkitan dan pembalasan).41 Kedua, pada rukun Islam Syah tidak mencantumkan Syahadatain dalam rukun Islam, yaitu; lat, Zkat, Puasa, Haji, dan Wilyah (perwalian).42 Ketiga, pada Al Quran Syah meyakini bahwa Al Quran sekarang ini telah diubah, ditambahi atau dikurangi dari yang seharusnya, seperti, Wa inkumtum f raibim mimma nazzaln al abdin f Alyin fa t bi sratim mim mitslih.43 Ada tambahan F Alyin dari teks asli Al Quran yang berbunyi, Wa inkumtum f raibim mimma nazzaln al abdin fa t bi sratim mim mitslih.44. Karena itu mereka meyakini bahwa Ab Abdillah (Imm Syah) berkata, Al Quran yang dibawa oleh Jibrl as kepada Muammad Saw
Iwaji, Ghlib bin Al, Firaq Al Muairah, (Riy: Maktabah Laynah, 1993), p.1/132-133 Lihat Aqaidul Immyah oleh Muammad Ridha Mudhaffar dll. 42 Lihat Al Kulaini, Muammad bin Yaqb, Al Kfi, (Beirt: Dr At Taruf, 1411 H/1990 M), p.II/18 43 Al Kulaini, Kitbul Hujjah, p.I/417 44 QS. Al baqarah/2:23
40 41

16

adalah 17.000 ayat.45 Al Quran mereka yang berjumlah 17.000 ayat itu disebut Mushaf Fimah.46 Keempat, pada para Sahabat Syah meyakini bahwa para Sahabat sepeninggal Nabi Saw, mereka murtad, kecuali beberapa orang saja, seperti: Al Miqdd bin Al Aswad, Ab Dhar Al Ghifry dan Salmn Al Frisy.47 (ada tambahan lagi dari ibnul arabi) 2.2.4. Kemunculan dan perkembangannya Para Ulama berbeda pendapat tentang periode munculnya Syah: Pertama, Syah muncul sejak zaman Raslullah Saw, ketika mereka menyeru kepada persatuan dan kelompok Al ra. Pendapat ini dijadikan dalil oleh Muammad usain Az Zainu; dari kalangan Ulama Syah dan lainnya.48 Dalil itu disebutkan juga oleh an Nubakhti dalam kitb Firaq-nya49 dan ditegaskan oleh Khumaini50 pada masa sekarang. Bahkan asan Asy Syairzi berpendapat, Islam tak lain hanyalah Syah, dan Syah tak lain adalah Islam. Islam dan Syah adalah dua nama yang sama, karena hakikat yang satu yang telah Allah Swt turunkan dan telah disebarkan oleh Raslullah Saw.51 Kedua, Syah muncul ketika Perang Jaml, peperangan ini dikenal juga dengan perang unta, yaitu perang yang terjadi di Barah, Irak pada tahun 656 masehi, antara pasukan yg berpihak pada Al bin Ab lib dan pasukan yang berpihak kepada Aisyah yang menginginkan keadilan atas terbunuhnya khalfah terdahulu yaitu Utsmn bin Affn.52 Ketiga, Syah muncul pada akhir kepemimpinan Utsmn ra dan kuat pada masa Al ra. Keempat, Syah muncul setelah terbunuhnya usain bin Al ra.
Al Kulaini, Al Kafi fil Ushul, p.II/634 Ibid, Al Kafii fil Ushul, p.I/240-241 47 Ibid, Ar-Raudhah minal Kafi, p.VIII/245, Al Ushul minal Kafi, p.II/244 48 Iwaji, p.1/132-133 49 ahir, Isan Ilhi, Asy Syah Wa At Tasyayu, (Pakistan: Idarah Tarjuman As Sunnah, 1984), p.19 50 Al Khumah Al Islamiyah, p.136 51 As Salamu Al usainiyah, p.11 52 Ibnu An Nadm, Al Fahrasat, (Beirt: Maktabah Khiy, Tanpa Tahun), p.249
46 45

17

Ini adalah pendapat Kamal Muafa Syaibi, dia adalah orang Syah, dia berpendapat bahwa Syah muncul setelah terbunuhnya usain.53 Kelima, Syah muncul pada saat Perang iffn; Pertempuran ini terjadi di antara dua kubu yaitu, Muawiyah bin Ab Sufyan dan Al bin Ab lib di tebing Sungai Furat yang kini terletak di Syria (Sym) pada 1 afar tahun 37 Hijriyah. yang berakhir dengan mengadakan Tahkim (perundingan damai) antara keduanya. Ini adalah pendapat sebagian dari Ulama Syah, sebagaimana pendapat Al Khurasani, Ab amzah, dan Ab tim, begitu juga para Ulama lainnya, seperti Ibnu Hazm dan Amad Amn.54 Adapun pendapat pertama, yaitu yang mengatakan bahwa Syah itu sudah ada sejak zaman Nabi Saw, adalah pendapat yang melampui batas, bohong, dan tidak dapat diterima oleh nalar maupun ucapan, karena Raslullah Saw diutus oleh Allah Saw untuk mengeluarkan manusia dari keliman menuju cahaya, dan dari paganisme (penyembah berhala) kepada tauhid. Adapun pendapat yang benar adalah pendapat yang kelima yang berpendapat bahwa Syah muncul setelah perang iffn- yaitu ketika pecahnya Khawrij dan berkumpulnya mereka di Nahrawain. 55 Ajaran Syah timbul sebagai akibat dari pengaruh keyakinankeyakinan orang Persia yang menganut agama raja dan warisan nenek moyang. Orang-orang Persia telah memberikan andil besar dalam proses pertumbuhan Syah untuk membalas dendam terhadap Islam yang telah menghancurluluhkan kekuatan mereka dengan mengatasnamakan Islam sendiri. Ide Syah bercampur aduk dengan ide-ide yang datang dari keyakinankeyakinan di Asia seperti Budhisme, Brahmaisme, dan mereka-mereka yang berkeyakinan tentang adanya Reinkernasi dan Pantheisme.
Asy Syaib, Kmil Mutafa, A ilatu Baina At Taawuf Wa At Tasyayu, (Beirt: Drul Andalus, 1982), p.23 54 ahir, p.25 55 Iwaji, p.1/134-135
53

18

Syah mengadopsi ide-idenya dari Yahudisme yang telah membawa tapak-tapak berhalaisme. Pendapat mereka tentang Al ra, para Imm, dan Ahlul Bait (keluarga Raslullah Saw) mendapat titik temu dengan pendapatpendapat orang Kristen tentang Isa Almasih (Yesus Kristus), yaitu menuhankannya. Orang-orang Syah hampir mirip dengan orang-orang Kristen dalam memperingati hari-hari besar, memperbanyak gambar dan patung, dan membuat-buat sesuatu yang luar biasa dan mengembalikannya kepada Imm. Mengenai perkembangan Syah pada abad pertama hijriyah belum merupakan aliran yang solid sebagai trend yang mempunyai berbagai macam keyakinan seperti yang berkembang pada abad kedua hijriyah dan abad-abad berikutnya. Pokok-pokok penyimpangan Syah pada periode pertama:
a. keyakinan bahwa Imm sesudah Raslullah Saw adalah Al bin Ab lib

ra, sesuai dengan sabda Nabi Saw. Karena itu para khalifah dituduh merampok kepemimpinan dari tangan Al bin Ab lib ra .
b. Keyakinan bahwa Imm mereka maksum (terjaga dari salah dan dosa). c. Keyakinan bahwa Al bin Ab lib ra dan para Imm mengetahui rahasia

ghaib, baik yang lalu maupun yang akan datang. Ini berarti sama dengan menuhankan Al ra dan para Imm mereka.
d. Keyakinan tentang ketuhanan Al bin Ab lib ra yang dideklarasikan

oleh para pengikut Abdullah bin Sab dan akhirnya mereka dihukum bakar oleh Al bin Ab lib ra karena keyakinan tersebut.
e. Keyakinan mengutamakan Al bin Ab lib atas Ab Bakar dan Umat

bin Khaab ra. Padahal Al ra sendiri mengambil tindakan hukum cambuk 80 kali terhadap orang yang meyakini kebohongan tersebut.
f. Keyakinan mencaci maki para Sahabat atau sebagian Sahabat seperti

Utsman bin Affan ra dan yang lainnya.56

Lihat Dirasat fil Ahwa Firaq Wal Bida wa Mauqifus Salaf minha, Dr. Nashir bin Abdul Karim Al Aql p. 237

56

19

Pada abad kedua hijriyah, perkembangan keyakinan Syah semakin menjadi-jadi sebagai aliran yang mempunyai berbagai perangkat kayakinan baku dan terus berkembang sampai berdiri dinasti Fimiyah di Mesir dan dinasti ofawiyah di Iran. Terakhir aliran tersebut tarangkat kembali dengan revolusi Khumaini dan dijadikan sebagai aliran resmi negara Iran sejak 1979 hingga saat ini57.
2.2.5. Sebutan lain Syah 2.2.5.1. Immiyah Itsna Asyriyah

Syah Immmiyah adalah sekte terbesar di antara sekian banyak firqah Syah. Pada masa sekarang apabila disebut Syah maka yang dimaksud adalah Syah Immiyah. Karena Syah Immiyah telah mencakup sebagian besar pendapat-pendapat dan aqdah yang dianut oleh firqah-firqah Syah yang ada58. Syah Immiyah Itsna Ashriyah adalah sebuah kelompok yang berpegang teguh kepada keyakinan bahwa Al ra adalah yang berhak mewarisi khilfah setelah Raslullah Saw wafat, dan bukan Ab Bakar, Umar ataupun Utsmn. Mereka meyakini adanya 12 Imm. Imm yang terakhir menurut mereka mengasingkan diri, masuk dalam sebuah gua di Samara (sebuah kota di Irak dekat sungai Tigris, arah utara Baghdad). Sekte Immiyah inilah yang bertentangan dengan Ahlus Sunnah dalam pemikiran dan ide-idenya yang spesifik. Mereka sangat berambisi untuk menyebarkan madhhabnya ke segenap penjuru dunia Islam59. Dua belas Imm yang dijadikan Imm oleh dan untuk mereka adalah sebagai berikut:
1. Al bin Ab lib ra, digelari dengan Al Murtaa. Khalfah keempat

Khulaf Ar Rsyidin, menantu Raslullah Saw, dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam di Masjid Kufah pada tanggal 17 Raman tahun 40 H.
57 58

Tim Ulin Nuha, Dirsatul Firq, (Solo: Pustaka Arafah, 2010), p.90-91 Ibid, p.82 59 Ibid, p.82

20

2. asan bin Al, digelari Al Mujtaba. 3. usain bin Al ra, digelari Asy Syahd. 4. Al Zainal bidn bin usain (80-122 H), digelari As Sajjad. 5. Muammad Bqir bin Al Zainal bidn (wafat tahun 114 H), digelari

Al Bqir.
6. Jafar diq bin Muammad Bqir (wafat tahun 148 H), digelari A

diq.
7. Musa Kim bin Jafar diq (wafat tahun 183 H), digelari Kim

(yang mampu menahan diri).


8. Al Ria bin Msa Kim (wafat tahun 203 H), digelari Ar Ria. 9. Muammad Jawwad bin Al Ria (195- 226 H), digelari At Taqy. 10. Al Hadi bin Muammad Jawwad (212-254 H), digelari An Naqy. 11. asan Askari bin Al Hadi (232-260 H), digelari Az Zaky. 12. Muammad Mahdi bin Muammad Al Askari yang digelari Imm Al

Muntaar (Imm yang dinantikan). Diyakini bahwa Imm yang ke dua belas telah masuk ke dalam gua.60 Secara historis, di antara tokoh-tokohnya yang menonjol ialah Abdullah bin Sab, seorang Yahudi dari Yaman, yang berpura-pura memeluk Islam. Dialah sebenarnya sutradara berkobarnya fitnah terhadap khalfah Utsmn ra hingga beliau terbunuh, dan selanjutnya Al ra dan pengikutnya menjadi sasaran rekayasanya. Ia pernah berkata ketika masih menganut agama Yahudi, bahwa Yusa bin Nn telah mendapat warisan dari Msa Alaihissalm, sebagaimana di dalam Islam, bahwa Al ra, juga telah mendapat wasiat dari Muammad Saw. Kehidupan Abdullah bin Sab berpindah-pindah dari Madinah ke Mesir, Kufah, Fusa, dan Barah, kemudian berkata kepada Al ra, Engkau, Engkau! dengan maksud engkaulah Allah Swt. Sesuatu yang mendorong Al ra memutuskan untuk membunuhnya, tetapi Abdullah bin Abbas menasihatinya agar keputusan itu tidak dilaksanakan. Kemudian Abdullah bin Sab dibuang ke Madain. Namun upaya Abdullah bin Sab
60

Tim Ulin Nuha, p.82-83

21

untuk menanamkan ajarannya di kalangan umat Islam tak pernah berhenti. Demikianlah Abdullah bin Sab sebagai biang keladi bagi berlangsungnya peperangan antara Al dan Muawiyah (dalam perang iffn) juga antara Al dan Aisyah (dalam perang Jaml)61. Sekte Syah Immiyah dewasa ini tersebar di Iran, dan terpusat di negara tersebut. Sebagian mereka banyak pula di Irak. Keberadaan mereka terbentang luas sampai ke Pakistan. Di samping itu, mereka juga mempunyai sekte di Libanon. Adapun di Syiria, jumlahnya sedikit, tetapi mempunyai hubungan yang kuat dengan Nuairiyah yang juga termasuk Syah ekstrim.62
2.2.5.2. Ismliyah

Disebut juga Tujuh Imm; dinamakan demikian sebab mereka percaya bahwa Imm hanya tujuh orang dari Al bin Ab lib, dan mereka percaya bahwa Imm tujuh ialah Isml. Urutan Imm mereka yaitu: Al bin Ab lib, asan bin Al, usain bin Al ra, Al bin usain, Muammad bin Al, Jafar bin Muammad, dan terakhir adalah Isml bin Jafar (721-755 H), ia adalah anak pertama Jafar A diq dan kakak Msa Al Kim63. 2.2.5.3. Zaidiyah Disebut juga lima Imm; dinamakan demikian sebab mereka merupakan pengikut Zaid bin Al bin usain bin Al ra bin Ab lib. Mereka dapat dianggap moderat karena tidak menganggap ketiga khalifah sebelum Al tidak sah. Urutan Imm mereka yaitu: Al bin Ab lib, asan bin Al, usain bin Al ra, Al bin usain, dan terakhir Zaid bin Al 658-740 H, juga dikenal dengan Zaid bin Al

Tim Ulin Nuha, p.84 Al Juhani, Mni Ibnu ammad, Al Mausah Al Muyassarah F Adyn Wa Al Madhhib Wa Al Ahzb Al Muirah, (Riya: Dr An Nadwah, 1418 H), I/55-60 63 Tim Ulin Nuha, Op.cit., p.84
62

61

22

Asy-Syahd, ia adalah anak Al bin usain dan saudara tiri Muammad Al Bqir64.
2.2.5.4. Rfiah

Dalam Minhj As Sunnah, Ibnu Taimiyah mengemukakan alasan mengapa ada sekte Syah yang disebut Rfiah. Menurut Ibnu Taimiyah, Dikatakan kepada Al Imm Amad, Siapa itu Rfiah? Beliau menjawab, Orang yang mencela Ab Bakar dan Umar. Karena alasan inilah mereka dinamakan Rfiah. Sebab mereka meninggalkan Zaid bin Al tatkala beliau loyal kepada kedua khalfah (Ab Bakar dan Umar) sedangkan mereka benci kepada keduanya. Sehingga orang yang membenci mereka berdua dinamakan Rfiah65.
2.2.5.5. Nuairiyah

Nuairiyah adalah sebuah gerakan kebatinan yang muncul pada abad ketiga hijriyah. Para penganutnya dikenal sebagai orang-orang Syah ekstrim yang meyakini adanya sifat ketuhanan pada diri Al ra, dengan demikian mereka menganggapnya Tuhan. Tujuan pencetus gerakan ini adalah untuk menghancurkan Islam dan memecah belah persatuannya. Mereka senantiasa menyertai orang-orang yang menyerbu bumi umat Islam. Penjajahan Perancis menanamkan orang-orang Nuairiyah di Syiria dengan sebutan Alawiyyin untuk mengelabuhi dan menutupi hakikat mereka yang sebenarnya.66 Pendiri sekte ini ialah Ab Syuaib Muammad bin Nushair Al Bashri An Numairi (wafat tahun 207 H), sezaman dengan tiga orang Imm Syah, yaitu, Al Al Hadi (Imm kesepuluh, asan Al Asykari (Imm kesebelas), dan Muammad Al Mahdi (Imm keduabelas). Orang-orang Nuairiyah menduduki kawasan pegunungan Nuairiyah di Ladziqiyah. Pada akhir-akhir ini mereka tersebar di kota-kota Syiria yang
64 65

Tim Ulin Nuha, p.85 Ibnu Taimiyah, Majmu Al Fatawa, p.IV/435 66 Wamy, p.402

23

bertetangga dengan mereka. Sejumlah besar orang Nuairiyah ada juga yang menduduki sebelah barat Anatolia, yang dikenal dengan nama Takhtajiyah dan Hatsabun. Sementara yang bertempat tinggal di sebelah timur Anatolia disebut Qazl Basyih. Di beberapa bagian kawasan Turki dan Albania dikenal dengan nama Baktasyiah. Ada juga yang tinggal di Persia Turkistan, dan dikenal dengan nama Ula Ilahiyah. Dan sebagian lagi ada pula yang hidup di Lebanon dan Palestina67. Masih banyak lagi penamaan Syah yang biasa dipakai untuk mewakili aqdah mereka, Namun penulis mencukupkan lima nama di atas saja, karena pada hakikatnya semua Syah mempunyai keyakinan dasar yang sama yaitu setiap kelompok yang mengutamakan Al ra atas Khulaf Ar Rsyidn sebelumnya, dan ia berpendapat bahwa Ahlul Bait adalah orang yang paling berhak menjadi khalfah. Perbedaannya berkisar pada penuhanan Al bin Ab lib ra sebagaimana yang diyakini oleh Nuairiyah dan pengkafiran para Sahabat sebagaimana yang diyakini oleh Immiyah Itsna Asyariyah, sedangkan Zaidiyah tidak sampai menuhankan Al bin Ab lib, bahkan Zaidiyah tidak mengkafirkan Ab Bakar dan Umar, hanya mengutamakan Al bin Ab lib atas Utsmn saja, sehingga dengan keyakinan ini Zaidiyah dianggap paling dekat keyakinannya dengan Ahlus Sunnah.

67

Ibid, p.408

24

2.3.Deskripsi Ahlus Sunnah Wal Jamah

2.3.1. Pengertian Sunnah 2.3.1.1. Secara bahasa Kata As Sunnah mempunyai bentuk jamak yaitu As Sunan. Secara bahasa berarti sejarah (perjalanan hidup) dan jalan (metode) yang ditempuh. Ibnu Manr rahimahullah berkata, Sunnah makna awalnya adalah jalan yang ditempuh oleh para pendahulu yang akhirnya ditempuh oleh orang lain sesudahnya.68 At Tanawy rahimahullah berkata, As Sunnah secara bahasa adalah jalan, baik jalan itu terpuji (baik) maupun buruk.69 Ibnu Atsr rahimahullah berkata, Dalam adts berulang kali disebutkan kata As Sunnah dan pecahan katanya. Asal maknanya adalah sejarah hidup dan jalan yang ditempuh.70 Makna ini juga disebut dalam adts, Kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal sehasta demi sehasta, sampai kalau mereka masuk lubang biawak pun kalian akan ikut. Para Sahabat bertanya, Apakah mereka orang Yahudi dan Nashrani wahai Raslullah Saw? Beliau menjawab, Siapa lagi kalau bukan mereka.71 Begitu juga bila dikatakan, alat witir itu Sunnah maka maknanya adalah jalan atau hal yang diperintahkan dan dilaksanakan para Sahabat dan Raslullah Saw.72 Dalam penggunannya, apabila disebutkan kata As Sunnah maka maknanya adalah jalan kebaikan saja. Ia Ahlus Sunnah, maka maknanya, Ia adalah orang yang menempuh jalan yang lurus dan terpuji.73

Ibnu Manr, Lisnul Arab, (Beirut: Dr Al Fikr, Tanpa Tahun), p.XIII/220, Bab Sunan Al Azhamy, Dirst F Al adts An Nabawy Wa Trikhu At Tadwni, (Beirut: Al Maktab Al Islmy,1992), p.I/1 70 Ibnu Atsr, An Nihyah F Gharbil adts, (Beirt: Maktabah Al Ilmiyyah, Tanpa Tahun), p.II/223 71 a Bukhri 3456, Fathul Bari p.VI/495; An Naisbr, Muslim bin Al ajj b Al usain Al Qusyair, a Muslim, (Beirt: Dr At Turts Al Arab, Tanpa Tahun), no.2669, 6781 72 Al Mahmud, Mauqifu Ibnu Taimiyah Minal Asyirah, (Riydh: Maktabah Ar Rusyd, 1995), p.I/23 73 Tim Ulin Nuha, p.18
68 69

25

2.3.1.2. Secara istilah Makna As Sunnah berbeda-beda tergantung dari disiplin ilmu apa dalam memandangnya,74 dalam studi Aqdah makna As Sunnah adalah seperti yang disebutkan oleh Dr. Ibrhm Al Buraikn, beliau berkata, Makna As Sunnah berarti mengikuti Aqdah A aa (keyakinan yang benar) yang Tsbitah (solid) berdasarkan pada Al Quran dan Sunnah Raslullah Saw. Beliau juga mengatakan, As Sunnah merupakan ungkapan untuk sikap Ittiba (mengikuti) manhaj Al Kitb dan As Sunnah An Nabawiyah dalam persoalan Ushul (pokok) dan Fur (cabang).75 Berdasarkan penjelasan singkat di atas bisa di pahami bahwa Ahlus Sunnah adalah orang yang mengikuti Sunnah dan berpegang teguh dengannya, yaitu para Sahabat dan setiap Muslim yang mengikuti jalan mereka sampai hari kiamat. Sehingga Ahlus Sunnah bukan monopoli golongan tertentu, dan lebih dari itu Ahlus Sunnah bukan sekedar nama, akan tetapi ia merupakan Manhaj (jalan hidup) para Sahabat. Maka janganlah kita terjebak dengan pengakuan, karena ukurannya bukan nama, namun sesuai atau tidaknya amalan hidupnya dengan petunjuk Raslullah Saw dan para Sahabat76.
2.3.2.

Pengertian Jamah Kata Jamah secara bahasa berarti kelompok, bersatu, lawan dari

2.3.2.1. Secara bahasa kata berpecah belah. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah adts yang menerangkan perpecahan umat Islam menjadi tujuh puluh tiga golongan, disebutkan bahwa golongan yang selamat hanya satu yaitu jamah, dalam

Lihat Al Khtib, Muhammad Ujaj, As Sunnah Qabla At Tadwn, (Beirut: Dr Al Fikr, 1997), p.18-20; Al Azhamy, p.I/1; Al Mahmud, p.I/24-26; Ibnu Taimiyah, Majmu Fatawa, p.IV/155; Ibnu Taimiyah, Minhajus Sunnah An Nabawiyah, (Tanpa Penerbit, 1406 H), p.II/163 75 Al Buraikan, Al Madkhl Li Ad Dirsah Al Aqdah Al Islmiyah, (Dr As Sunnah, 1414 H), p.12 76 Tim Ulin Nuha, p.19

74

26

riwayat lain M Ana Alaihi wa Ab (apa yang Saya Saw dan para sahabatku berada di atasnya).77 2.3.2.2. Secara istilah Para Ulama berbeda pendapat dalam memberikan definisi Jamah secara istilah. Secara global pendapat mereka dapat dikelompokan menjadi lima pendapat, yaitu78: Pertama, yang dimaksud dengan jamah adalah generasi Sahabat. Dalam adts-adts tentang jamah disebutkan bahwa yang selamat adalah M Ana Alaihi wa Ab yaitu apa yang Saya Saw dan para sahabatku berada di atasnya. Ini merupakan pendapat khalifah Umar bin Abdul Azz. Dengan artian ini setiap orang yang beramal berdasarkan Al Quran dan As Sunnah sesuai pemahaman generasi Sahabat bisa disebut Ahlus Sunnah Wal Jamah. Kedua, yang dimaksud dengan jamah adalah para Ulama Mujtahidin dari kalangan Ulama adts, Ulama fikih, dan Ulama-Ulama lain. Yang berpendapat demikian adalah Imm Muammad bin Mubrak, Isq bin Rahawaih, Imm Tirmidhi, para Ulama Ushul fikih dan sekelompok Ulama salaf. Ketiga, yaitu kesepakata umat Islam dalam suatu masalah tertentu. Bila seluruh umat Islam telah mengadakan Ijma (kesepakatan) maka wajib bagi mereka untuk mengikutinya. Orang yang menyelisihinya tidak termasuk sebagai Ahlus Sunnah. Misalnya umat Islam telah sepakat tentang wajibnya alt lima waktu. Orang yang berpendapat alt lima waktu itu tidak wajib, maka ia tidak termasuk Ahlus Sunnah. Banyak para Ulama yang mengembalikan pendapat ketiga ini kepada pendapat kedua karena
Lihat As Syaibn, Amad bin Muammad bin anbal, Musnad Imm Amad bin anbal, (Muassasah Ar Rislah, 1421 H/2001 M), p.IV/120; Abad, Ab A ayyib Syamsy Al aq Al Am, Awnul Mabd Syarah Sunan Ab Dwd, (Tanpa Tahun Penerbit), no.4597; Al Hakim p.I/128, Ad Drim, Abdullah bin Abdurraman, Sunan Ad Drim, (Beirt: Dr Al Kitb Al Arab, 1407 H), no.2521; disahihkan Albani dalam As aah p.204. 78 Al Asqalani, Fatul Bri, p.XIII/37; Al Ayni, Umdatul Qri Syarah a Al Bukhri, (Syirkah Maktabah Wa Mabaah Muafa Al Bby Al Halaby, 1972), p.XXIV/195; Asy Syibi, Ab Isq Ibrhm bin Msa, Al Itim, (Saudi Arabia: Dr Ibnu Affan), p.II/260-265
77

27

pada dasarnya yang berijma itu bukan umat Islam secara umum namun Ulama Mujtahidin. Keempat, kelompok mayoritas umat Islam (Sawdul aam). Artinya jika suatu hal telah diyakini dan dijalankan oleh umat Islam maka yang meyelisihinya terhitung orang yang sesat dan bukan termasuk Ahlus Sunnah. Pendapat ini merupakan pendapat Ab Masd Al Anri, Uqbah bin Amr bin Tsalabah Al Anri, dan Abdullah bin Masd. Kelima, makna jamah adalah pemerintahan negara Islam atau khilfah Islmiyah dengan seorang Imm atau khalfah. Siapa taat pada Imm berarti mengikuti jamah dan siapa yang membangkang atau memberontak berarti bukan Ahlus Sunnah Wal Jamah. Orang yang mati dalam keadaan membangkang pada Imm yang sah, maka ia mati seperti orang yang mati dalam keadaan jahiliyah. Yang berpendapat demikian adalah A bri, Ibnu Arabi, dan Al Mubrakfri. Dari kelima pendapat di atas, para Ulama menyimpulkan bahwa makna jamah pada dasarnya berkisar pada dua makna pokok79: Pertama, aspek ilmiah; yaitu bersepakat atas satu Aqdah, satu manhj yang benar yaitu Al Quran dan As Sunnah serta memahaminya sebagaimana pemahaman generasi Sahabat, Tbin, Tbiut Tabin dan Ulama Mujtahidin sesudahnya yang terpercaya terhadap kedua sumber Islam ini. Pendapat ini merangkum pendapat pertama hingga keempat. Dalam hal ini jamah artinya mengikuti kebenaran meskipun ia sendirian, dan meninggalkan kebatilan meski kebatilan itu dianut oleh mayoritas manusia di muka bumi ini. Ibnu Masd berkata, Jamah adalah apa yang sesuai dengan kebenaran meski engkau sendirian.80

A awi, alah, Jamah Al Muslimn Mafhmuha Wa Kaifiyatu Luzmiha F Wqiina Al Muir, (Dr A afwah, 1413 H), p.21; Baady, Jaml bin Amad Basyr, Wujb Luzm Al Jamah Wa Tarqi At Tafaruq, (Dr Al Waan Li Nasyr, 1412 H), p.96-97 80 asan, Utsmn bin Al, Minhj Al Istidll Al Masil Itiqd Inda Ahlis Sunnah Wa Al Jamah, (Riy: Maktabah Ar Rusyd, 1413 H), p.38-39; Al Llik-i, Syarah Ul Al Itiqd Ahlus Sunnah Wal Jamah, (Riya: Maktabah Laynah, 1993), p.I/108
79

28

Asy Syibi berkata, Sudah jelas bahwa jamah dengan makna ini tidak mensyaratkan banyak sedikitnya pengikut, tapi yang disyaratkan adalah sesuai tidaknya dengan kebenaran sekalipun diselisihi oleh mayoritas umat manusia.81 Kedua, aspek politik; berjamah artinya berkumpul dan hidup di bawah sebuah negara Islam, di bawah kepemimpinan seorang Imm atau khalfah yang sah secara syari. Ini merupakan pendapat kelima dalam makna jamah seperti yang sudah diterangkan di atas. Selain para Ulama Salaf yang telah disebutkan di atas, para Ulama kontemporer juga menyebutkan hal ini. Dr. Ria Nasan Al Mui dalam tahqq dan dirsahnya (telaah) atas kitb Al Ibnah An Syarati Al Firqah An Njiyah karangan Ibnu Baah mengatakan, Bab ini menguatkan bahwa berjamah itu wajib dan keluar dari jamah itu tidak boleh, baik jamah dalam arti berkumpulnya umat Islam di bawah kepemimpinan seorang Imm maupun berkumpulnya umat Islam di atas satu Aqdah.
2.3.3.

Pengertian Ahlus Sunnah Wal Jamah

Seperti telah dijelaskan, Sunnah merupakan ungkapan kesetiaan mengikuti manhj Al Quran dan As Sunnah dalam segala dimensinya, baik yang prinsipil (ushul) maupun yang non-prinsipil (furu). Sedangkan kata jamah berarti orang-orang yang berkumpul. Tapi yang dimaksud dengan jamah dalam terminologi syariat Islam adalah Raslullah Saw, para Sahabatnya, Tabin, dan semua generasi yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Raslullah Saw telah ditanya tentang siapakah yang termasuk golongan yang selamat. Maka beliau Saw terkadang menjawab, Yang mengikuti Aku dan para sahabatku tapi di lain waktu beliau Saw menjawab, Al Jamah. Dengan demikian maka yang dimaksud Ahlus Sunnah Wal Jamah sebagai kata majemuk adalah orang yang mengikuti Aqdah Islam yang
81

Asy Syibi, p.I/149

29

benar, komitmen dengan manhj Raslullah Saw bersama para Sahabat, Tabin dan semua generasi yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Raslullah Saw bersabda, Hendaklah kamu berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah para khalfah yang lurus sesudahku, gigitlah ia dengan gigi gerahammu.82
2.3.4.

Sebab penamaan Ahlus Sunnah Wal Jamah

Menurut Ibnu Taimiyah Ahlus Sunnah Wal Jamah adalah madhhab yang sudah ada sejak dulu. Ia sudah dikenal sebelum masa Ab anfah, Mlik, Syfii, dan Amad. Ahlus Sunnah adalah madhhab Sahabat yang diterima dari Nabi Muammad Saw. Barang siapa menentang itu, menurut pandangan Ahlus Sunnah berarti ia pembuat bidah.83 Dan jika pada suatu masa atau di suatu tempat terjadi penisbatan madhhab Ahlus Sunnah terhadap seorang Ulama atau Mujaddid (pembaharu), maka hal itu bukan karena Ulama tersebut telah menciptakan sesuatu yang baru atau mengada-ada. Pertimbangannya semata-mata karena ia selalu menyerukan manusia agar kembali kepada As Sunnah. Adapun mengenai awal penamaan Ahlus Sunnah Wal Jamah atau Ahlul adts ialah ketika terjadinya perpecahan dengan munculnya berbagai golongan sesat serta banyaknya bidah dan penyimpangan. Pada saat itulah Ahlus Sunnah menampakan identitasnya yang berbeda dengan yang lain, baik dalam Aqdah maupun manhj mereka. Namun pada hakikatnya, mereka itu hanya merupakan proses kelanjutan dari apa yang dijalankan Raslullah Saw dan para Sahabatnya. Para Ulama seperti Syaikul Islam Ibnu Taimiyah dan Imm Abdul Qdir Al Baghdadi menyebutkan bahwa dinamakan Ahlus Sunnah Wal Jamah kerena mengikuti jalan, petunjuk, dan sunnah Raslullah Saw 84. Nama tersebut sebagai pembeda dari firqah-firqah (golongan) sesat yang
As Syaibn, Musnad Imm Amad, p.IV/126-127 Ibnu Taimiyah, Minhju Sunnah, p.III/482 84 Ibnu Taimiyah, Majmu Fatawa, III/157; Al Baghdd, Abdul Qhir bin ahir bin Muammad. Al Farqu Bainal Firaq, (Beirt: Dr Al Afq Al Jaddah, 1977), p.361
82 83

30

menyimpang dari apa yang telah dituntunkan oleh Raslullah Saw dan sudah tersebar luas ketika itu.
2.3.5.

Sebutan lain Ahlus Sunnah Wal Jamah adts adalah ucapan Raslullah Saw. Ahlul adts adalah orang-orang

2.3.5.1. Ahlul adts yang menisbatkan kepada orang yang menjadikan adts Raslullah Saw sebagai salah satu sumber penerimaan aqdah Islam yang benar. Dalam hal ini sama saja apakah mereka itu Ulama adts atau Ulama fikih atau Ulama ul fikih atau orang-orang yang zuhud atau lainnya. Penamaan mereka sebagai Ahlul adts dimaksudkan untuk membedakan dengan Ahlul Kalam (filosof) yang menganggap bahwa kalam mereka harus didahulukan atas adts Raslullah Saw dalam bidang aqdah. Alasannya adts itu hanya memberikan indikasi yang bersifat hipotesis (anni) sedangkan akal mereka memberi indikasi yang bersifat yakin (mulaq). Dengan demikian adts-adts Raslullah Saw dalam bidang .aqdah sama sekali tidak berguna. Ahlul adts semakna dengan Ahlus Sunnah, artinya mereka ini kelompok umat Islam yang paling berpegang teguh kepada sunnah Raslullah Saw dan Jamah. Kerenanya Imm Amad mengatakan, Kalau mereka (Jamah) itu bukan Ahlul adts, saya tidak tahu lagi siapa mereka itu. Imm Ab Ismail A abni dalam kitb beliau yang berjudul Aqdatus Salaf Abul adts, menyatakan, Mereka itu mengikuti Nabi Saw dan para Sahabat beliau yang mereka itu laksana benang. Mereka mengikuti Salafus li dari kalangan Imm-Imm dalam dien ini dan Ulama kaum Muslimin dan berpegang teguh dengan apa yang para Ulama berpegang teguh padanya, yaitu dien yang kuat dan kebenaran yang nyata dan membenci Ahlul Bidah yang membuat bidah dalam dien, tidak mencintai mereka dan tidak pula bersahabat dengan mereka.85
85

Ahlus Sunnah Wal Jamah Maalim Al Inthilaqati Al Kubra, p.54

31

2.3.5.2. Ahlul Atsr

Secara bahasa kata Atsr maknanya bekas, sisi atau pengaruh. Adapun secara syarinya maka ada dua pendapat para Ulama. Mayoritas Ulama mengatakan bahwa atsr khusus untuk perkataan dan perbuatan Sahabat dan Tabin. Sedang untuk Nabi Saw, mereka menyebutnya dengan adts atau sunnah. Namun demikian pendapat mayoritas Ulama lebih kuat, dikatakan, Atsru adtsan, artinya, Aku meriwayatkan sebuah adts. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Al Irqi dan Ibnu ajar.86 Maka dalam hal ini, Ahlus Sunnah sering juga disebut dengan Ahlul Atsr. Ahlus Sunnah disebut dengan Ahlul Atsr karena mereka mengikuti atsr-atsr yang diriwayatkan dari Raslullah Saw dan para Sahabat. 2.3.5.3. Salaf Makna Salaf secara bahasa adalah orang yang terdahulu sesuai urutan waktu (pendahulu, nenek moyang). Salaf artinya jamah (kelompok pendahulu). Salaf juga bermakna para pendahulu dari bapak-bapak dan kerabat yang secara umur dan kemuliaannya lebih tinggi. Adapun secara syari para Ulama menyatakan bahwa makna salaf tidak jauh dari makna Sahabat, Tabin, Tabiut Tabin dari kalangan para Ulama, dan Imm terpercaya yang telah diakui keilmuan dan ittibanya terhadap Al Quran dan As Sunnah. Yaitu para Ulama yang tidak terkena tuduhan bidah baik bidah Mufassiqah (kefasikan) ataupun Mukaffirah (kekafiran).87
2.3.5.4. Firqah An Njiyah

Selain Ahlus Sunnah, Ahlul adts, Ahlul Atsr, dan Salaf; Ahlus Sunnah Wal Jamah juga sering disebut dengan Firqah An Njiyah,
86 87

As Suy, Jalludin, Tadrbu Ar Rwi, (Riya: Dr A ayyibah, 1422 H), p.VI/109 Al Buraikan, p.14

32

didasarkan pada adts-adts yang menerangkan akan pecahnya umat Islam menjadi 73 golongan, dimana 72 golongan akan tersesat dan yang selamat (najiyah) hanya satu saja yaitu M Ana Alaihi wa Abi (apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya), Ahlus Sunnah dan dalam lafal lain disebutkan jamah.88
2.3.5.5. ifah Man rah (Kelompok yang menang, ditolong Allah

Swt) ifah Manrah adalah nama lain dari Ahlus Sunnah Wal Jamah yang disebutkan dalam adts-adts yang menyebutkan hal ini. Di antara adts-adts tersebut adalah yang diriwayatkan oleh Sahabat Mughirah dari Nabi Saw bahwa beliau bersabda, Akan senantiasa ada manusia dari umatku yang menang (berada di atas kebenaran) sampai datang pada mereka urusan (keputusan) Allah Swt sedang mereka dalam keadaan ahirn (menang).89 Golongan yang mendapat pertolongan sebagaimana yang disebut dalam adts-adts Raslullah Saw adalah golongan pejuang dari kalangan Ahlus Sunnah Wal Jamah yang memang layak untuk memperoleh pertolongan Allah Swt, baik secara moral maupun material. Pertolongan Allah Swt itu misalnya: ilmu yang a (benar), perilaku yang lurus terhadap sunnah-sunnah (ketetapan) Allah Swt di alam semesta, serta melaksanakan hal-hal yang dijadikan Allah Swt sebagai wasilah (perantara) untuk mencapai hasil yang diharapkan. Jika tidak, atau jika hanya sekedar iman dan mengikuti aqdah Ahlus Sunnah tanpa menjalankan hal-hal yang bisa mendatangkan kemenangan serta tanpa menjalankan sunnah-sunnah Allah Swt di alam semesta dengan tidak melebihkan seseorang atas selainnya- maka Allah Swt tidak akan menjamin pertolongan, kemenangan,

Maalim Al Inthilaqi Al Kubra, p.58-62 Bukhri, p.VIII/149 dengan lafal Kelompok di atas kebenaran, p.VIII/189, Muslim, p.171, Darimi, p.437, Amad, IV/244,252,348 dengan lafal Berperang di atas jalan kebenaran, A abrn, Sulaimn bin Amad. Mujam Al Kabr, no.959,960,962 dengan lafal Sampai datang kiamat kepada mereka.
89

88

33

dan kekuasaan di muka bumi, sebagaimana telah dijanjikan-Nya buat hamba-hamba-Nya yang lih dan ikhl.90 Maka jelaslah bahwa golongan yang mendapat pertolongan itu adalah golongan Ahlus Sunnah Wal Jamah. Golongan ini selalu melaksanakan fikih yang a yang mengacu pada salaf dan para Imm. Golongan ini senantiasa menjalankan hal-hal yang bisa mendatangkan kemenangan sehingga sudah selayaknya Allah Swt memberi mereka pertolongan. Mereka juga sama sekali tidak memperdulikan orang-orang yang menentang, meremehkan, atau merendahkan mereka.91
2.4. Pembunuhan usain bin Al as menurut Syah

2.4.1. Latar belakang peristiwa


2.4.1.1. Pengangkatan Yazd bin Muwiyah dan penolakan usain bin

Al as membaiatnya Menurut Al Yaqbi, Yazd segera memegang tampuk kepemimpinan di awal bulan Rajab tahun 60 Hijriyah paska wafatnya Muwiyah. Karena itulah, ia harus mengukuhkan posisinya di atas para pembesar agar mereka tunduk kepadanya, termasuk para pembesar Bani Hsyim sekalipun. Ia segera menulis surat kepada bawahannya di Madinah, Al Walid bin Ubah bin Ab Sufyan, yang isinya, Jika suratku ini telah sampai, datangkanlah usain bin Al as dan Abdullah bin Zubar. Mintalah kepada mereka untuk membaiatku. Jika keduanya menolak, pukul tengkuknya dan kirim kepala mereka kepadaku. Atur juga agar orang-orang mau membaiatku jika ada yang menolak, jalankanlah hukumannya, termasuk usain dan Abdullah bin Zubar. Wassalam.92 Menurut Syah sejak awal Yazd telah mengambil jalan pintas, dengan memerintahkan orang-orang untuk membunuh usain bin Al ra hanya karena menolak berbaiat. Kemampuan sekutu usain bin Al as
Tim Ulin Nuha, p.27 Ibid, p.27 92 Idris Al usaini, Karena usain bin Al Aku Syah, Terj. Muhdhor Assegaf, (Jakarta: Penerbit Cahaya, 2008), p.346
91 90

34

tidak sanggup membendung kejahatan dan keliman Yazd. Bahkan Yazd tidak segan-segan mempersiapkan keinginan kotornya, yaitu membunuh usain bin Al as dan Abdullah bin Zubar, bila utusan Yazd datang mereka berkata, Kami segera datang menemuimu bersama orang-orang. Marwan memberi Isyarat kepada Al Walid untuk mencegah keduanya keluar. Namun pihak sekutu usain bin Al as mampu membutakan Al Walid sehingga dia tidak tahu kalau keduanya sudah keluar. Maka keluarlah usain bin Al as menuju Makkah, dan tinggal beberapa hari di sana, sampai penduduk Kufah mengirimkan banyak surat. Mereka menyatakan diri sudah kembali kepada usain bin Al ra di bawah komando Ibnu Ab Hani dan Sad bin Abdillah. Isi surat tersebut adalah sebagai berikut, Bismillahirrahmanirrahim. Kepada usain bin Al ra, dari para pengikutnya yang Mukmin dan Muslim, Amma badu. Mari segera kembali. Orang-orang sudah menanti Anda. Mereka tidak memiliki Imm selain Anda. Maka bergegaslah. Sekali lagi, bergegaslah. Wassalam.93
2.4.1.2. usain

mengirim Muslim bin Aql dan penghianatan

penduduk Kufah terhadapnya Setelah itu usain bin Al ra mengirim utusannya, Muslim bin Aql untuk menyuruh mereka membaiat usain bin Al ra.94 Sesampainya di Kufah Muslim bin Aql tinggal di rumah Al Mukhtr bin Ubaid, yang sekarang disebut rumah Salmi bin Musayyib. Kaum Syah mulai mengunjunginya dan memberikan baiat kepadanya atas nama usain bin Al ra, hingga mencapai 18.000 orang. Karenanya Muslim menulis surat kepada usain untuk memberikan informasi tentang baiat kaum Syah Kufah dan mendesak beliau untuk segera datang.95 Keberadaan Muslim bin Aql lambat laun terdengar oleh Numan bin Basyr yang menjabat sebagai gubernur Kufah saat itu. Namun Numan
Idris Al usaini, p.346-347 Al Mufid, Sejarah Amrul Muminn Ali bin Ab lib As & Para Imm Ahlul Bait Nabi Saw, (Jakarta: Lentera, 2007), p.392 95 Al Mufid, p.394
93 94

35

tidak bertindak tegas dalam menuntaskan masalah ini. Sehingga seorang sekutu Bani Umayyah, Abdullah bin Muslim bin Rabiah Al Hadrami yang tidak sepakat dengan Numan menulis surat kepada Yazd bin Muwiyah: Muslim bin Aql telah datang ke Kufah. Kaum Syah telah membaiatnya atas nama usain bin Al ra bin Ab lib. Jika engkau merasa perlu, maka kirimlah seorang yang kuat, yang akan melaksanakan perintahmu dan bertindak dengan cara yang sama seperti engkau melawan musuhmu. Numan bin Basyr adalah seorang yang lemah atau bertindak lemah.96 Ketika surat itu sampai kepada Yazd, ia lalu memanggil Sarjun, seorang pembantu Muwiyah, dan bertanya: Apa pendapatmu tentang usain yang telah yang telah mengirim Muslim bin Aql ke Kufah untuk mengambil baiat atas nama dirinya aku juga tahu bahwa Numan adalah seorang yang lemah. Aku pun memperoleh berita yang buruk tentangnya. Siapakah menurutmu yang seharusnya aku tunjuk untuk menjadi gubernur Kufah? Saat itu Yazd sedang kesal dengan Ubaidullah bin Ziyd. Karena itu Sarjun menjawab: Apakah engkau berpikir jika Muwiyah masih hidup dan menasehatimu, maka engkau akan melaksanakan nasehat itu. Ya. Jawab Yazd.97 Sarjun lalu membuat sepucuk surat penunjukan untuk Ubaidullah bin Ziyd sebagai gubernur Kufah: Inilah nasehat Muwiyah yang ia perintahkan sebelum meninggal. Karenanya gabungkan dua kota, Barah dan Kufah dibawah kekuasaan Ubaidullah. Aku akan lakukan itu. Aku akan mengirim surat kuasa yang telah ditulis ayahku untuk Ubaidullah bin Ziyd. Jawab Yazd.

96 97

Ibid, p.395 Ibid, p.395

36

Setelah itu ia memanggil Muslim bin Amr Al Bahili untuk diutus mengantarkan surat berikut kepada Ubaidullah: Pengikutku di Kufah telah menginformasikan kepadaku bahwa Ibnu Aql ada di sana dan berkomplot untuk menyebarkan pemberontakan di antara kaum Muslimin. Karena itu jika engkau selesai membaca surat ini, segeralah ke Kufah dan carilah Ibnu Aql sampai ketemu, seperti engkau mencari manik-manik. Ikat ia dengan rantai, lalu bunuh atau usir ia. Wassalam. Dengan cara seperti ini Yazd memberinya kekuasaan atas Kufah agar Muslim bin Amr pergi menemui Ubaidullah di Barah untuk menyampaikan ketetapan dan surat itu. Ubaidullah memerintahkan agar persiapan segera dilakukan dan keberangkatan ke Kufah dilakukan besoknya. Ketika meninggalkan Barah, ia mengangkat saudaranya Utsmn, sebagai wakilnya. Ia menuju Kufah bersama Muslim bin Amr, Syuraik bin Awar Al Haritsi, keluarga dan rombongan lainnya.98 Ketika sampai di Kufah, ia mengenakan surban hitam dan berkerudung. Sementara berita tentang keberangkatan usain bin Al as telah sampai di telinga masyarakat yang sedang mengharapkan kedatangan beliau. Ketika melihat Ubaidullah, mereka mengira ia adalah usain. Ketika melewati kerumunan orang Ubaidullah mengucapkan salam. Mereka berkata: Selamat datang wahai putra Raslullah Saw kedatangan anda adalah sesuatu yang menggembirakan. Ia melihat sambutan hangat masyarakat kepada usain sebagai sesuatu yang dapat mempersulit dirinya. Ketika jumlah mereka telah begitu banyak sehingga dapat menjadi penghalang, Muslim bin Amr berkata: Ini adalah gubernur Ubaidullah bin Ziyd. Ia melanjutkan perjalanan hingga sampai di istana gubernur pada malam hari. Sejumlah besar orang, yang tidak ragu kalau dia adalah usain, tetap mengerumuninya. Numan bin Basyr menolak ia dan rombongan. Salah seorang dari rombongan menyeru kepadanya untuk membukakan
98

Al Mufid, p.396

37

pintu. Namun Numan karena masih mengira kalau ia adalah usain, naik ke balkon dan menyeru ke bawah: Aku memohon kepada Allah Swt di hadapanmu, kalau engkau tidak menarik diri dariku, demi Allah, aku tidak akan menyerahkan jabatan (amanah)-ku kepadamu, namun aku tak ingin memerangimu. Ibnu Ziyd tidak menjawabnya. Namun ia semakin mendekat ketika Numan di balkon istana. Lalu ia mulai berkata kepadanya: Buka. Engkau belum membuka. Sungguh engkau melewati malam yang panjang (di malam itu engkau tidur bukannya memerintah). Seorang lelaki di belakangnya mendengar itu, dan ia pun segera mundur menuju kumpulan orang-orang Kufah yang sedang mengikuti Ibnu Ziyd dan mengiranya sebagai usain. Ia lalu berkata: Saudara-saudara sekalian, ini adalah Ibnu Murjanah.99 Demi Allah yang tiada tuhan selain Dia. Numan pun segera membukakan pintu, dan ia pun masuk. Mereka lalu membanting pintu di hadapan orang-orang yang seketika itu bubar.100 Berita tentang kedatangan Ubaidullah bin Ziyd terdengar oleh Muslim bin Aql, ia memutuskan untuk meninggalkan rumah Al Mukhtr dan pindah ke rumah Hani bin Urwah. Orang-orang Syah mulai mengunjungi rumah Hani bin Urwah secara sembunyi-sembunyi agar tidak terlihat oleh Ubaidullah, dan saling berpesan untuk merahasiakan keberadaan Muslim bin Aql.101 Namun lambat laun persembunyian Muslim bin Aql tercium oleh Ubaidullah bin Ziyd sehingga ia dan sekutunya memutuskan untuk membunuh Muslim bin Aql tanpa ada pembelaan sedikitpun dari penduduk Kufah yang telah mengikrarkan sumpah setiannya kepada usain bin Al as. Sehingga sesaat sebelum Muslim bin Aql gugur ia berucap, Allahu Akbar, lalu memohon ampun kepada Allah dan bershalawat. Setelah itu berkata, Ya Allah Swt berikanlah keputusan hukum antara kami dan orang-orang yang telah mengundang kami (penduduk Kufah-Syah),
99

Sebutan untuk Ubaidullah bin Ziyd, yang dirujuk dari nama Ibunya Al Mufid, p.397 101 Ibid, p.398
100

38

yang berbohong kepada kami, dan yang meninggalkan kami. Dan Muslim bin Aql pun terbunuh secara lim.102 Setelah itu giliran Hani bin Urwah yang ikut dibunuh karena bersekutu dengan Muslim bin Aql. Sesaat sebelum terbunuh ia sempat mencari pendukungnya (penduduk Kufah) namun tidak ada satu pun yang menolongnya, hingga munculah dihadapannya seorang budak Turki milik Ubaidullah bernama Rasyd, menghantamnya dengan pedang, sedangkan Hani dalam keadaan terbelenggu rantai, namun serangan Rasyd tidak mengubah keadaanya. Hani pun berteriak: Kepada Allah kita kembali. Ya Allah aku mohon rahmat dan keridhaan-Mu, lalu Rasyid menghantamnya lagi hingga meninggal.103
2.4.1.3. usain bin Al as mulai berangkat ke Kufah dan

nasehat agar tidak melanjutkan perjalanannya Muslim bin Aql memulai perlawanan di Kufah hari selasa 8 Dhulijjah 60 H. Dan ia terbunuh hari Rabu, 9 Dhulijjah (pada tahun yang sama) di hari Arfah, usain as berangkat dari Makkah menuju Irak bertepatan dengan hari perlawanan Muslim bin Aql di Kufah, bertepatan pula dengan Hari Tarwiyah,104 setelah tinggal di Makkah sejak hari-hari terakhir Syaban dan berlanjut di bulan Raman, Syawl, Dhulqadah, hingga delapan hari pertama di bulan Dhulijjah 60 H. Selama beliau tinggal di Makkah, sejumlah orang Makkah dan Barah menemui beliau, bergabung bersama keluarga dan pembantu-pembantu beliau.105 Ketika memutuskan untuk berangkat menuju Irak, terlebih dahulu usain bin Al as melakukan awaf dan sai. Kemudian beliau
A abar, Muammad bin Jarr, Trkh abar (Trkh Al Umam Wa Ar Rusul Wa Al Mulk), (Beirt: Drul Kutub Al Ilmiyah, 1407 H), p.V/378; Al Masd, Al bin usain bin Al, Murj Adh Dhahab Wa Madin Al Jauhar, (Drul Fikr, 1393 H), p.III/6; Dikisahkan bahwa sebelum Muslim dibunuh, ia sempat melakukan perlawanan dan Ibnu Ziyd memanggil Bakar bin Humran Al Ahmari dan berkata kepadanya: Naiklah (saat itu mereka sedang berada di puncak istana) engkau akan menjadi orang pertama yang akan memotong kepalanya. 103 Lihat proses pembunuhan Muslim bin Aql dan Hani bin Urwah dalam Al Mufid, p.418-419 104 Hari Tarwiyah adalah satu hari sebelum hari Arafah. Yaitu ketika para jamah haji mengumpulkan air dari sumur zam-zam. 105 Al Mufid, p.422
102

39

menanggalkan pakaian ihram beliau setelah melaksanakan umrah. Karena beliau tidak dimungkinkan untuk menunaikan haji, karena khawatir tertangkap dan diserahkan kepada Yazd bin Muwiyah. Kemudian beliau segera berangkat bersama anak-anak, keluarga, serta pengikut setia beliau. Sementara beliau belum memperoleh kabar tentang Muslim bin Aql.106 Diriwayatkan bahwa Farazdaq, seorang penyair berkata: Aku melaksanakan ibadah haji bersama ibuku tahun 60 H. Aku sedang mengendarai unta ibuku ketika aku memasuki kota suci Makkah. Di sana aku bertemu usain bin Al as yang sedang meninggalkan Makkah ditemani beberapa orang lelaki yang membawa pedang dan perisai. Rombongan siapakah ini? Aku bertanya usain bin Al as. Jawab salah seorang dari mereka Lalu aku memberikan salam kepada beliau dan berkata: Semoga Allah menjamin diri anda dan mengabulkan keinginan anda, demi ayah dan ibuku, wahai putra Raslullah. Namun apa yang membuat anda tergesa-gesa meninggalkan haji Jika aku tidak bergegas pergi, aku akan ditangkap, Jawab beliau as. Lalu beliau bertanya kepadaku: Siapakah engkau? Seorang Arab, jawabku. Dan beliau tidak bertanya lebih jauh. Katakan kepadaku tentang masyarakat yang engkau tinggalkan, tanya beliau. Anda mengajukan pertanyaan yang baik. Hati mereka bersama anda, namun pedang mereka diarahkan ke anda. Keputusan telah datang dari langit, dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. Jawabku Engkau berkata benar tentang berbagai urusan yang menjadi milik Allah. Setiap waktu Dia terlibat berbagai urusan. Jika nasib telah diputuskan seperti apa yang kita inginkan dan kita menjadi puas karenanya, kita memuji Allah karena rahmat-Nya. Hanya Dia saja tempat kita mencari pertolongan dan tempat kita bersyukur. Meski nasib mungkin menghalangi harapan-

106

Ibid, p.422

40

harapan kita, namun Allah tidak pernah menjauhkan orang-orang yang benar niatnya dan berhati takwa, jawab beliau. Benar semoga Allah pada akhirnya membawa anda ke apa yang menjadi tujuan anda dan menjaga anda terhadap berbagai ancaman. kataku Lalu aku bertanya kepada beliau mengenai janji dan tata cara haji. Beliau pun menjelaskannya. Kemudian beliau melanjutkan perjalanan sembari mengucapkan salam dan kami pun berpisah.107 Ketika usain bin Al as meninggalkan Makkah, Yahya bin Said bin Al A berpapasan dengan beliau bersama sekelompok orang. Mereka diutus untuk menemui usain bin Al as oleh Amr bin Sad.108 Pulanglah, perintah mereka. Namun beliau menolak dan terus melanjutkan perjalanan. Kedua kelompok itu pun berhadapan untuk saling menyerang dengan cambuk masing-masing. Akhirnya beliau dapat melanjutkan perjalanan, hingga tiba di At Tanim. Di sana beliau menjumpai gerombolan berunta yang datang dari arah Yaman. Beliau lalu menyewa unta-unta itu sebagai tambahan kekuatan untuk beliau maupun pengikut-pengikut beliau. Kemudian beliau berkata kepada pemiliknya: Siapa dari kalian yang ingin ikut bersama kami ke Irak, kami akan membayar ongkos sewanya dan engkau akan memperoleh perjalanan yang baik. Dan bila kalian ingin berpisah dari kami di suatu jalan, maka kam tetap akan membayar ongkos sewa atas perjalanan yang telah ditempuh.109 Sebagian ikut beliau dan sebagian lagi menolaknya. Abdullah bin Jafar mengutus kedua anaknya, Aun dan Muammad, untuk menyusul beliau dan memberikan sepucuk surat kepada beliau yang isinya: Aku memohon kepada engkau di hadapan Allah agar engkau kembali setelah membaca surat ini. Aku sangat khawatir langkah yang engkau tempuh akan membawa kehancuranmu dan keluargamu. Jika engkau binasa hari ini, maka cahaya di bumi ini akan padam, karena engkau adalah standar
107 Ibnu Atsam dalam Al Futuh, p.V/77. Al Khawarizmi, Muwaffiq bin Amad, Maqtalu Al usain, (Qom: Mansyurat Maktabati Al Mufd), p.I/223; Ibnu Syahr Asywab, p.IV/95. Al Majlisi, Bihr Al Anwr, (Beirt: M-assasah Waf, 1403 H), p.XL/365 108 Gubernur Makkah yang ditetapkan oleh Yazd 109 Al Mufid, p.423-424

41

bagi orang-orang yang memperoleh petunjuk dan harapan bagi orang-orang beriman. Jangan bergegas dalam perjalananmu, karena aku akan mengirimkan surat lagi. Wassalam. Abdullah bin Jafar lalu pergi ke Amr bin Sad dan memintanya untuk menulis surat kepada usain guna menawarkan jaminan keamanan dan berjanji untuk memperlakukanya dengan baik, agar beliau mau kembali. Amr bin Sad kemudian menulis sepucuk surat kepada usain as seperti apa yang diinginkan Abdullah bin Jafar. Ia mengirimkannya melalui saudaranya, Yahya bin Sad, dan Abdullah. Mereka menyusul beliau sebagaimana yang dilakukan oleh kedua anak Abdullah. Keduannya menyerahkan surat Amr kepada usain as dan berusaha sekuat tenaga untuk membujuk beliau agar mau kembali. Aku bertemu Raslullah Saw dalam tidurku, dan beliau memerintahkanku untuk melakukan apa yang sedang aku lakukan sekarang ini jawab usain as Mimpi apakah itu? Tanya mereka Aku belum bercerita kepada siapa pun, dan aku tidak akan bercerita sampai aku menemui tuhanku Swt, jawab beliau Ketika Abdullah bin Jafar telah putus asa membujuk beliau, ia pun mengatakan kepada kedua anaknya, Aun dan Muammad untuk tetap bersama usain dan pergi berjuang bersama beliau. Sementara ia sendiri kembali bersama Yahya bin Sad ke Makkah. usain as cepat-cepat menuju Irak, hingga tiba di Dhaturriqa.110 Ketika mengetahui perjalanan usain bin Al as dari Makkah ke Kufah, Ubaidullah bin Ziyd mengirim uain bin Numair si pimpinan tentara untuk tinggal di Qadisiyah dan membentuk pasukan perlindungan bagi Qadisiyah dan Khaffan, juga bagi Qadisiyah dan Al Ququanah. Ia menginformasikan juga kepada orang-orangnya bahwa usain sedang menuju Irak.111
110 111

Al Mufid, p.424-425 Ibid, p.425

42

Ketika tiba di Al ajar, daerah di sekitar Ban Ar Rumah, usain mengutus Qais bin Musyir A idawi untuk menemui penduduk Kufah. usain bin Al ra belum memperoleh kabar terbaru tentang Muslim bin Aql. Beliau menulis surat kepada mereka: Bismillahirrahmanirrahim, Dari usain bin Al ra Kepada saudara-saudara Mumin dan Muslim, Salamun Alaikum Segala puji bagi Allah yang tiada Tuhan selain Dia. Surat Muslim bin Aql telah sampai di tanganku, memberikan informasi tentang keputusan dan kesepakatan masyarakat kalian untuk mendukung kami dan untuk memperjuangkan hak-hak kami. Aku telah memohon kepada Allah agar memberikan kebaikan kepada kami dan membalas keputusan kalian itu dengan pahala yang paling besar. Aku berangkat menuju kalian dari Makkah pada tanggal 8 Dhulhijjah, bertepatan dengan hari Tarwiyyah. Bila utusanku telah sampai kepada kalian, maka bersegeralah untuk urusan kalian karena aku akan segera datang kepada kalian dalam beberapa hari lagi. Wassalamualaikum warahmatullah. Sebelumnya Muslim bin Aql sudah mengirimkan surat kepada usain as tujuh belas hari sebelum dibunuh. Dan isi surat orang Kufah kepada usain antara lain mengatakan: Di sini ada seratus ribu pedang. Jangan ditunda-tunda. Qais bin Musyir membawa surat usain ke Kufah. Namun ketika tiba di Qadisiyah Huain bin Numair yang sudah dipersiapkan oleh Ubaidullah untuk mencegah rombongan usain menahannya dan kemudian mengutusnya untuk menemui Ubaidullah bin Ziyd.112 Sesampainya dihadapan Ubaidullah Qais diperintah naik mimbar untuk mengutuk usain bin Al ra. Qais pun naik mimbar. Dan setelah memuji dan bertasbih kepada Allah, Qais berkata: Saudara-saudara, orang ini usain bin Al as- sebaik-baik makhluq Allah swt, putra Fimah binti
112

Al Mufid, p.246

43

Rasl Saw. Aku diutus olehnya untuk menemui kalian. Berilah jawaban untuknya. Lalu Qais malah mengutuk Ubaidullah bin Ziyd berserta ayahnya. Dan memohonkan ampun serta berdoa bagi Al bin Ab lib ra. Ubaidullah segera meyuruh orang untuk melemparkan Qais dari atas istana. Mereka pun lalu melempar Qais, dan tubuh Qais pun terhempas, seorang lelaki bernama Abdul Mlik bin Umair Al Lakhmi mendekatinya untuk kemudian menggorok lehernya.113 Sementara kejadian ini berlangsung usain tetap melanjutkan perjalanan dalam keadaan tidak tahu apapun. usain berulang kali bertemu orang dalam perjalanannya di ataranya ketika beliau sampai di daerah bermata air. Dia bertemu seseorang yang bernama Abdullah bin Muti. Dan beliau juga bertemu Abdullah bin Sulaimn dan Al Munr bin Musyamil keduanya dari suku Asad, mereka berdua menyusul dari Makkah setelah menuntaskan haji dan bertemu di Ats Tsalabiyyah. Mereka yang bertemu usain pada intinya menginginkan agar usain kembali ke Makkah sebagaimana yang dilakukan oleh Farazdak dan Abdullah bin Jafar sebelumnya. Kali ini bahkan Abdullah bin Sulaiman dan Al Mundzir bin Musyamil memberi tahu usain kalau Muslim bin Aql dan Hani bin Urwah telah dibunuh. usain beristrija Inna lillahi wa inna ilayhi rajiun semoga Allah merahmati mereka berdua. usain mengulang ucapan ini beberapa kali. Beliau pun menawari keluarga Muslim bin Aql yang telah ditinggal mati ayah mereka. Anak-anak Muslim bin Aql menjawab: Demi Allah, kami tak akan kembali sebelum dapat membalas atau sebelum merasakan yang ayah kami rasakan. 114

Ibid, p.426 Lihat Al Mufid, p.427, 430-431 dikisahkan ada seorang lagi yang senasib dengan Muslim bin Aql dan Hani bin Urwah, yaitu Abdullah bin Yaqthur. Lihat Tim Almul Hidyah, Teladan Abadi Imam usain, Terj. Abdullah Beik, (Jakarta: Al Huda, 1428 H/2007 M), p.193
114

113

44

usain bin Al as kemudian mengeluarkan pernyataan tertulis untuk dibacakan di hadapan orang-orang: Bismillahirrahmanirrahim Kabar tentang pembunuhan Mengerikan atas diri Muslim bin Aql, Hani bin Urwah dan Abdullah bin Yaqur telah sampai ke telinga kita. Syah kita telah meninggalkan kita. Kalau di antara kalian ada yang mau pergi meninggalkan kami silahkan saja bisa pergi dengan leluasa tanpa digelayuti rasa bersalah. Orang-orang pun mulai meninggalkan usain bin Al ra. Dan kini yang tersisa tinggalah orang-orang yang memang mengikuti usain sejak dari Madinah menuju Makkah sampai ke Kufah ditambah sejumlah kecil orang yang bergabung dengan usain. Beliau melakukan itu karena sadar bahwa orang-orang Arab mengikuti dirinya karena mengira usain akan ke sebuah daerah yang penduduknya setia kepadanya ternyata sebaliknya-. Dan usain tak mau bersama mereka tanpa tahu sepenuhya hendak ke mana sebenarnya.115
2.4.1.4. Pertemuan usain bin Al as Dengan Al urr bin Yazd

Dalam perjaanannya usain bin Al ra singgah. Tak lama setelah memasang tenda, rombongan usain bin Al as didatangi seribu pasukan kuda yang dipimpin oleh Al urr bin Yazd. Pasukan yang tampak siap berperang itu berjajar di depan usain bin Al ra dan para sahabatnya yang juga siap bertempur dengan mengikatkan sarung pedang masing-masing di pinggang.116 Gurun sahara semakin memanas. Matahari memanggang setiap kepala. usain bin Al ra dan para sahabatnya memerintahkan para pengikutnya supaya air yang masih tersisa diminum dan diminumkan kepada kuda-kuda mereka. Hingga tengah hari itu suasana masih relatif tenang. Begitu waktu alt uhur tiba, Imm memerintah seorang
115 116

Al Mufid, p.431 Tim Almul Hidyah, p.194.

45

pengikutnya yang bernama Hajjaj bin Masruq Al Ja'fi untuk mengumandang adhan. Seusai adhan, beliau berdiri di depan pasukan Al urr untuk menyampaikan suatu kata kepada mereka yang beliau pandang sebagai orang-orang Kufah tersebut.117 Hai orang-orang! Seru usain bin Al as setelah menyatakan pujian kepada Allah dan salawat kepada Rasl-Nya. Aku tidaklah datang kepada kalian kecuali setelah aku didatangi surat-surat dari kalian. Kalian, orangorang Kufah, telah mengundangku. Kalian memintaku datang karena kalian merasa tidak memiliki pemimpin, dan agar kemudian membimbing kalian kepada jalan yang benar. Oleh sebab inilah aku pun bergerak ke arah kalian. Kini aku telah datang. Jika kalian masih berpegang pada janji kalian, maka aku akan menetap bersama kalian. Jika tidak, maka aku akan kembali ke negeriku.118 Rombongan pasukan berkuda yang diajak bicara oleh usain bin Al as itu terdiam seribu bahasa. Tak ada seorang yang angkat bicara. 119 Beliau kemudian memerintahkan muadhin tadi untuk mengumandangkan iqmah setelah meminta Al urr supaya menunaikan alt bersama pasukannya sebagaimana usain bin Al as juga alt bersama para pengikut setianya. Uniknya, Al urr menolak alt sendiri. Dia meminta alt berjamah di belakang beliau. Kedua rombongan kemudian bergabung dalam alt dhuhur berjamah yang dipimpin usain bin Al as.120 Seusai alt, kedua rombongan itu kembali ke perkemahan masingmasing. Beberapa lama kemudian kedua rombongan ini bergabung kembali untuk menunaikan alt aar berjamah dipimpin oleh usain bin Al as. Seusai alt aar beliau mengutarakan khutbah yang diawali dengan pujian kepada Allah dan disusul dengan pernyataan sebagai berikut: Amma ba'du. Hai orang-orang,...kata-kata kalian sekarang sudah tidak seperti yang kalian katakan dalam surat-surat kalian yang telah datang
117 118

Abatasya Islamic Website, Tragedi Karbala, (http://abatasya.net), p.24 Tim Almul Hidyah, Op.cit., p.195 119 Nasikh Attawarikh, p.II/145 120 Al Mufid, p.II/79; Al Futuh, p.V/85. Al Khawarizmi, Maqtalul usain, p.I/596

46

menyerbuku bersama para utusan kalian, maka aku akan pergi meninggalkan kalian.121 Al urr menjawab: Aku tidak tahu menahu tentang surat-surat yang engkau katakan itu. usain bin Al as memerintahkan Aqabah bin Sam'an untuk mengambil surat-surat itu supaya diperlihatkan kepada Al urr. Setelah melihat surat-surat itu, Al urr mengatakan: Aku bukan bagian dari mereka yang mengirim surat-surat itu kepadamu. Aku hanya diperintahkan untuk menyosong bala tentaramu dan menggiringmu hingga kamu menyerah di depan Ubaidullah bin Ziyd. Kata-kata Al urr rupanya tak diduga sebelumnya oleh usain bin Al as. Kata-kata ini mengundang kegeraman beliau. Beliau memerintahkan para pengikutnya untuk membongkar kembali tenda-tenda yang terpasang kemudian bergerak lagi sambil mengendarai kuda-kuda mereka. Perintah usain bin Al as pun mereka laksanakan. Namun begitu hendak bergerak, jalan rombongan usain bin Al as dihadang oleh pasukan Al urr. Semoga kematianmu menimpa ibu, hai Al urr, apa yang kamu inginkan dari kami? Seru usain bin Al as gusar. Engkau menyebut-nyebut ibumu, seandainya bukan engkau, aku pasti juga mengucapkan kata-kata yang sama, tapi aku tahu ibumu adalah wanita yang sangat patut dimuliakan. Kata Al urr.122 Lantas apa maumu? Tanya Imm lagi. Aku ingin kamu bersamaku untuk datang kepada Ibnu Ziyd. Aku tidak akan pernah bersamamu. Aku ditugaskan supaya tidak melepaskanmu kecuali setelah kamu aku bawa ke Kufah dan aku serahkan kepada Ibnu Ziyd. Wahai usain, demi Allah, jagalah jiwamu, aku yakin engkau akan terbunuh jika kamu berperang.

121 122

Nasikh Attawarikh, p.II/145. Al Futuh, p.V/87. Al Khawarizmi, Maqtalul usain, p.I/332 Al Mufid, p.II/80

47

Apakah kamu hendak menakut-nakuti dengan kematian, dan apakah urusan kalian akan selesai jika aku terbunuh?! Aku akan pergi dan kematian bukanlah sesuatu yang hina bagi seorang kesatria apabila kebenaran sudah diniatkan, perang dilakukan demi Islam, jiwa dikorbankan di atas jalan orang-orang yang li, dan diri terpisah dari orang-orang yang celaka dan para pendurhaka. Kata-kata usain bin Al ra ini mulai menyentuh hati Al urr. Al urr mendekati usain bin Al as sambil memerintahkan pasukan bergerak mengikuti perjalanan beliau. Selama perjalanan terjadi dialog antara beliau dan Al urr hingga ketika sampai di lembah Baiah beliau mengatakan: Kalau kamu hendak berperang denganku maka aku siap berduel denganmu.123 Al urr menjawab: Aku tidak ditugaskan berperang denganmu. Aku hanya ditugaskan menyerahkan dirimu kepada Drul Imrah. Jika engkau tidak berkenan ikut aku ke Kufah, maka silahkan engkau kembali ke Madinah atau kota lain agar aku bisa bebas dari beban tanggungjawabku. Kalau tidak, maka aku akan menuliskan surat kepada Ibnu Ziyd agar dia menentukan apa yang harus aku lakukan. Di lembah Baiah ini semua rombongan berhenti, dan keduanya pun kembali ke perkemahan masingmasing.124 Sampai pada tahap ini usain bin Al as masih bersikukuh untuk meneruskan perjalanan menuju Kufah walaupun sudah beberapa kali dihimbau untuk tidak melanjutkan perjalanan. Dan Allah Swt lah yang akan menjawab semua skenario agung-Nya melalui khib Nubuwah yang telah masyhr terlantun dari lisan Nabi-Nya Saw, bahwa usain bin Al as akan menemui ajalnya di Karbala.
2.4.2.

Kronologi pembunuhan usain bin Al as di Karbala

2.4.2.1. usain bin Al as tiba di Karbala


Diskusi antara usain bin Al as dengan Al urr terdapat dalam. Al Khawarizmi, Maqtal Al usain, p.I/229. Al Majlisi, p.XL/375 124 Abatasya Islamic Website, p.26
123

48

Tentang keberadaan usain bin Al as di Karbala diriwayatkan bahwa ketika beliau tiba di padang ini kuda yang beliau tunggangi tiba-tiba berhenti. Kuda itu tidak bergeming dan memaku, kendati beliau sudah menarik tali kekangnya kuat-kuat agar beranjak dari tempatnya berdiri. Beliau lalu mencoba menunggangi kuda lain, namun hasilnya tetap sama, kuda kedua itu juga tak menggerakkan kakinya. Karena itu, usain bin Al as nampak mulai curiga sehingga bertanya: Apakah nama daerah ini? Orang-orang menjawab: Qadisiyah. Adakah nama lain?, tanya Imm lagi. Sti' Al Furat. Selain itu ada nama lain lagi? Karbala... Mendengar jawaban terakhir ini usain bin Al as segera berucap: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari karb (kegundahan) dan bal (malapetaka).125 Imm lalu berseru kepada para pengikutnya: Kita berhenti disini, karena di sinilah akhir perjalanan kita, di sinilah tempat tumpahnya darah kita, dan di sinilah tempat kita dikebumikan.126 usain bin Al as memerintahkan seluruh rombongan berhenti dan mendirikan tenda sambil memperjelas keadaan dan keputusan berikutnya yang akan diambil.127 Sementara itu Ubaidullah bin Ziyd sudah mendapat laporan bahwa usain bin Al as berada di Karbala. Dia mengirim surat kepada beliau berisikan desakan agar beliau membaiat Yazd. Ubaidullah mengancam usain bin Al as pasti akan mati jika tetap menolak memberikan baiat. usain bin Al as membaca surat itu kemudian melemparkannya jauh-jauh sambil berkata kepada kurir Ubaidullah, bahwa surat itu tidak akan dibalas oleh beliau. Ubaidullah murka setelah mendengar laporan
125 126

Nasikh Attawarikh juz hal.168 Al Majlisi, p.XLIV/382 127 Tim Almul Hidyah, p.199

49

sang kurir tentang sikap usain bin Al ra ini. Dipanggilnya Umar bin Sa'ad, orang yang sangat mendambakan jabatan sebagai gubernur di kota Rey. Cepat pergi! Seru Ubaidullah kepada Umar. Habisi usain, setelah itu datanglah kemari lalu pergilah ke Rey untuk menjabat di sana selama 10 tahun.128 Umar bin Sa'ad meminta waktu satu hari untuk berpikir, dan Ubaidullah pun memberinya kesempatan itu. Umar kemudian berunding dengan teman-temannya. Dia disarankan supaya tidak menerima tugas untuk membunuh cucu Rasl itu. Namun, saran itu tidak meluluhkan hatinya yang sudah dilumuri ambisi untuk bertahta. Maka, dengan memimpin 4.000 pasukan dia bergerak menuju Karbala. Begitu tiba di Karbala, mulai penganiayaan terjadi terhadap usain bin Al ra beserta rombongannya. Umar bin Sa'ad bahkan tak segan-segan mencegah mereka untuk mendapatkan seteguk air minum.129 usain bin Al as dan Umar bin Saad sempat berdiskusi singkat. usain bin Al as menjelaskan sikap beliau dan rombonganya. usain bin Al as mengajaknya bergabung. Beliau juga menjelaskan beberapa alasan menjunjung kebenaran dan kewajiban untuk menghilangkan segala bentuk keliman dan tindakan destruktif lainnya. usain bin Al as pun memaparkan perubahan sikap para pendukungnya dan janji-janji mereka yang semula mendukungnya. Namun Umar bin Saad adalah perlaksana tugas yang baik. Dia menuruti semua keinginan rezim Bani Umayyah. Oleh karenanya segala tujuan dan ambisinya adalah melaksanakan perintah Ubaidullah bin Ziyd untuk memaksa usain bin Al as berbaiat kepada Yazd. Umar bin Saad mengutarakan hal ini kepada usain bin Al as. Hanya ada dua pilihan dari tawaran berbaiat atau beliau dan seluruh keluarga serta sahabatnya dibunuh.130
Al Irbili, Kasyful Ghummah F Marifatil -immah, (Beirt: Dr Al Ahw, 1405 H), p.V/225 129 Sugan Nameh Al Muammad hal.227 130 Al Mufid, p.II/85. Al Futuh, V/98. Al Majlisi, p.XL/284 A ibris, Al Fal bin Al asan, Almul War Bi Almil Huda, Ta dan Talq Al Al Ghifr, (Beirt: Drul Marifah, 1399
128

50

2.4.2.2. Malam Asyura Umar bin Saad berangkat pada sore hari kamis tanggal 9 Muharram hari Tasyua-. Begitu juga Syimr bin Dhul Jausyan. Syimr berdiri di hadapan para sahabat usain bin Al as kemudian bertanya, Di mana anakanak keponakan kami, yaitu anak-anak Imm Al dari Ummul Bann, Abbs, Jafar, Abdullah dan Utsmn. usain bin Al ra menyeru kepada mereka, Jawablah pertanyaanya, sekalipun dia fasik, karena dia adalah paman kalian. Mereka dianggap keponakannya karena Ummul Banin dan Syimr adalah sama-sama dari Bani Kilab. Salah satu dari mereka menjawab dengan bertanya, Apa yang kamu inginkan dari kami? Syimr menjawab, Kalian aku jamin keamanaannya, maka janganlah kalian celakakan diri kalian dengan bergabung bersama saudara kalian usain as, namun nyatakan kepatuhan kalian kepada Yazd. Mereka menjawab dengan tegas, Semoga Allah mengutukmu dan mengutuk pemberi keamananmu. Apakah jiwa kami dalam keadaan aman, sementara putra Raslullah tidak memiliki keamanan atas jiwanya? Kedua belah pihak terlibat adu mulut yang sengit hingga akhirnya usain bin Al as memerintahkan Abbs untuk menemui mereka dan merundingkan hingga esok pagi. Umar bin Saad pun mengabulkan penundaan hingga besok.131 Pada malam perundingan suasana menjadi damai, usain bin Al ra dan para sahabatnya menghidupkan malamnya dengan alt, istighfar, dan doa. Suara mereka terdengar seperti suara lebah. Di antara mereka ada yang sujud, rukuk, berdiri, dan duduk. Sembari mendengar usain bin Al as dan rombongannya melakukan ibadah, 33 orang pasukan Umar bin Saad berlalu lalang menjaga pasukan usain bin Al as.132
H), p.I/451. Al Khawarizmi, Maqtalul usain, p.I/245 131 Tim Almul Hidyah, p.202-203 132 Ibid, p.206

51

2.4.2.3. Hari Asyura dan peringatan usain bin Al as terhadap

pasukan Kufah Malam perdamaian telah berlalu dan kini terbitlah hari yang menakutkan. Hari Asyura. Hari kesyahdan usain bin Al as dan para Ahlul Baitnya. usain bin Al ra dihadapkan pada jumlah yang tak seimbang. Pasukan Yazd yang dipimpin Umar bin Saad semakin mendekat dan mengepung usain bin Al as dan rombongannya. usain bin Al as mengetahui tekad mereka untuk membunuh beliau jika tidak membaiat Yazd. Kemudian beliau memperingati pasukan Kufah dengan berkhutbah sebagai berikut: Amma Badu. Lihatlah siapa diriku, telusurilah garis keturunanku kemudian lihatlah siapa diri kalian. Apakah layak bagi kalian membunuhku dan menginjakinjak kehormatanku. Bukankah aku putra dari putri Nabi kalian. Bukankah aku putra penerima wasiat Nabi kalian. Bukankah aku putra dari anak pamannya yang pertama kali mengimaninya. Bukankah Hamzah pemimpin para syuhada itu adalah pamanku. Bukankah Jafar A ayyar yang terbang ke jannah dengan dua sayapnya adalah pamanku. Bukankah kalian pernah mendengar Nabi bersabda tentang aku dan saudaraku sebagai penghulu pemuda Jannah. Jika kalian mempercayaiku dan itu adalah kebenaran, demi Allah aku tidak pernah berbohong sejak aku tahu bahwa Allah membenci para pembohong. Jika kalian tidak mempercayaiku, maka ada orang-orang yang kalian bisa bertanya kepadanya, seperti Jabir bin Abdullah Al Anr, Ab Sad Al Khudr, Sahl bin Saad As Sid, Zaid bin Arqam dan Anas bin Mlik, pasti mereka akan memberi kesaksian bahwa mereka pernah mendengar sabda itu dari Raslullah Saw tentang diriku dan saudaraku. Apakah hal itu tidak mampu menggagalkan niat kalian untuk membunuhku. Jika kalian ragukan bahwa aku adalah putra dari putri Nabi kalian. Demi
52

Allah saat ini tidak ada di dunia ini dari barat hingga timur selain diriku dan putra dari putri Nabi kalian. Celakalah kalian. Apakah kalian membunuhku karena menuntut balas pembunuhan yang kulakukan atas seorang dari kalian. Ataukah karena uang yang aku rampas. Ataukah karena menegakan hukum qia.133 Tak ada satu pun dari mereka yang menjawab. Kemudian beliau melanjutkan: Wahai Syabt bin Rubi. Wahai Hajjar bin Abjur. Wahai Qais bin Asyats. Wahai Yazd bin arits. Bukankah kalian telah mengirim surat kepadaku. Qais bin Asyats menjawab.Aku tidak memahami apa yang engkau katakan. Terimalah tawaran untuk ikut di bawah kepemimpinan Yazd. usain bin Al as berkata: Demi Allah aku tidak akan menyerahkan tanganku dengan hina. Aku tidak akan mengakui sebagaimana pengakuan seorang budak. Wahai hamba-hamba Allah, aku berlindung kepada tuhanku dan tuhan kalian agar kalian tidak merajamku. Aku berlindung kepada tuhanku dan tuhan kalian dari setiap orang yang sombong yang tidak meyakini hari perhitungan.134 Mereka tidak terpengaruh sedikitpun dan tetap memegang pendirian semula. Mereka hanya menginginkan perang tenggelam dalam kebatilan mereka. Mereka menjawab ajakan usain bin Al as seperti kaum Madyan menjawab seruan Nabi mereka, seperti yang Allah abadikan di dalam Al Quran: Kami tidak banyak memahami apa yang engkau katakan, kami melihatmu sebagai orang yang lemah135
2.4.2.4. Al urr bergabung dalam barisan usain bin Al as

Dari sekian banyak pasukan Umar bin Saad, hanya Al urr bin Yazd Ar Riyahi beberapa orang yang terpengaruh ucapan usain bin Al as. Dia menyesali apa yang pernah dilakukannya kepada usain bin Al as.
133 134

Tim Almul Hidyah, p.209-210 Tim Almul Hidyah, p.211 135 Qs. Hud: 91

53

Dia menarik pelana kudanya keluar dari barisan dan mendekati pasukan usain bin Al as. Kemudian kembali lagi ke barisannya semula. Dia dicekam kekalutan dan kebingungan, dia berkata, Demi Allah Swt aku sedang menimbang-nimbang diriku antara jannah dan neraka, antara dunia dan akhirat. Semestinya tidak ada jalan lain bagi seorang yang berakal kecuali memilih jannah dan akhirat. Akhirnya dia menghentak kudanya untuk bergabung ke pasukan usain bin Al as. Al urr kemudian berbicara lagi, Demi Allah Swt aku tidak menganggap taubatku sudah diterima kecuali dengan berperang bersamamu dan terbunuh demi menyelamatkan jiwamu wahai putra Raslullah Saw. Setelah itu ia berkhutbah di hadapan pasukan Umar bin Saad mengingatkan mereka akan surat yang mereka tulis dan undangan mereka serta menasehati mereka agar tidak memerangi usain bin Al as. Lalu dia maju ke medan laga dan bertempur dengan pasukan musuh hingga akhirnya diserbu dan gugur sebagai syahd.136
2.4.2.5. Peperangan dimulai dan kesyahdan usain bin Al as

Sebelum peperangan benar-benar pecah. usain bin Al as sempat mengingatkan kembali kepada pasukan Kufah dan menuntut undangan yang telah mereka khianati.137 Namun peperangan sudah tidak mungkin terelakan dan kedua pasukan yang tidak seimbang itu pun saling menyerang dan terus berkecamuk sehingga pengikut usain bin Al as gugur satu demi satu begitu juga dari pasukan Umar bin Saad. Sampai pada suatu keadaan dimana usain bin Al as harus berjuang seorang diri. Tak ada lagi yang dapat membantunya. Beliau menyeru, Adakah yang siap menjunjung kehormatan Rasllulah Saw? Al Zainal Abidn yang sedang sakit tidak mengikuti perang hendak keluar dari kemah. Kondisinya yang lemah menyebabkan beliau terhuyung tak mampu membawa pedang. Ia ingin membantu usain bin Al as, namun
136 137

Al Mufid, p.II/99. Al Futuh, p.V/113. Al Majlisi, p.V/15 Tim Almul Hidyah, p.213-214

54

dilarang

oleh

beliau

dan

memerintah

Ummu

Kultsum

untuk

menyelamatkannya.138 Ahli sejarah mencatat bahwa ketika usain bin Al as kembali ke kemahnya, Syimr bin Dhul Jausyan menghampirinya bersama segerombolan eksekutor lainya. Mereka mengepung usain bin Al as. Mlik bin Nar Al Kindi maju menyerang beliau. Mengarahkan pedangnya kearah kepala usain bin Al as hingga kepala beliau berlumuran darah. Syimr bin Dhul Jausyan memerintah tentara berkuda dan pejalan kaki mengepung beliau. Pasukan panah diperintah memanahnya dari segala penjuru. Sekali dilepas ratusan anak panah melesat. Anak panah-anak panah itu menancap ke tubuh suci usain bin Al as hingga tubuh beliau seperti seekor landak. Dalam kondisi demikian, Syimr mendekatinya. Saat itu Zainab keluar dari kemah dan berteriak memanggil Umar bin Saad. Celaka engkau wahai Umar. Apakah Ab Abdillah dibunuh, sedangkan engkau duduk menontonnya? Umar diam seribu bahasa. Kemudian Zainab berteriak lagi, Adakah seorang Muslim di antara kalian? tak seorang pun menjawab.139 Sampai pada titik ini Umar bin Saad dan sebagian pasukan lainya tak berkutik mereka hanya bisa terdiam membisu tak bergeming sedikitpun. Sungguh pemandangan yang sangat memilukan. Syimr berteriak dan memanggil pasukan pejalan kaki, Celakalah kalian, mengapa kalian hanya menonton? Binasalah kalian, seranglah orang ini dari segala penjuru. Zurah bin Syark memukul beliau dari belakang tepat mengenai pundak kiri beliau hingga patah. Seorang lagi memukul lehernya. Sinan bin Anas menusuk tubuh usain bin Al as. Saat itulah tubuh beliau yang disanggah anak-anak panah menancap tersungkur ke bumi. Khuli bergegas mendekati beliau untuk merenggut kepala usain bin Al as. Namun tiba138 139

Ibid, p.220-221 Tim Almul Hidyah, p.223

55

tiba tangannya gemetar tak kuasa melakukannya. Syimr bin Dhul Jausyan berteriak, Semoga Allah melumpuhkan tanganmu, mengapa tanganmu gemetar demikian? Kemudian Syimr yang sedari tadi melihat turun dari kudanya dan menyembelih leher usain bin Al as. Dengan demikian nyawa usain telah direnggut melalui Syimr bin Dhul Jausyan.140 Hari itu langit menjadi lusuh, suasana menjadi gelap. Hanya garis merah memanjang di langit tampak menakutkan. Inilah peringatan Allah atas orang-orang yang menumpahkan darah-darah suci dan menginjak-injak seluruh kehormatan Allah Swt.141
2.4.3.

Sikap Syah terhadap pembunuh usain bin Al as

Syah mengatakan usain bin Al as adalah Imm yang wajib ditaati; tidak boleh menjalankan suatu perintah kecuali dengan perintahnya, tidak boleh melakukan alt jamah kecuali di belakangnya atau orang yang ditunjuknya, baik alt lima waktu ataupun alt Jum'at dan tidak boleh berjihad melawan musuh kecuali dengan izinnya dan lain sebagainya.142 Kaum Syah juga menyikapi hari pembunuhan usain bin Al as sebagai perayaan yang dirayakan setiap tahunnya. Dalam perayaan tersebut kaum Syah melakukan ritual memukul diri, meratap, menangisi kepergian usain bin Al as. Di dalam ritual itu juga diadakan ceramah mengenang tragedi Karbala. Sekaligus melaknat dan mencaci orang-orang yang tertuduh paling bertanggung jawab atas kematian cucu Nabi Saw, tak terkecuali Yazd bin Muwiyah.143 Ritual penyiksaan diri pada hari 'Asyura di Karbala dimulai pada abad ke-4 Hijriyah pada masa dinasti Al Buwaih. Kemudian berlanjut pada masa dinasti Al Fimiyah. Acara tersebut sekarang ini diselenggarakan di negaranegara berpenduduk mayoritas Syah. Seperti Iran, Irak, India, Syria, dll.144
140 141

Al Mufid, p.II/99. Al Futuh, p.V/113. Al Majlisi, p.V/15 Al Irbili, p.II/9; A ibris, p.I/429 142 Al Khams, p.259 143 Al Iniqal Al Shaab Fil Madhhab Wal Mutaqad, p.368-369 144 Lihat Man Qatalal usain, hal: 60

56

Ad Dimastni menegaskan: Meratapi kematian usain dengan berteriak-teriak hukumnya wajib aini (wajib atas setiap pribadi).145 Ayatullah Al 'Uma Syaikh Muammad usain An Nti berkata, Tidak ada masalah tentang hukum bolehnya memukul pipi dan dada dengan tangan sampai merah dan menghitam. Dan lebih ditekankan lagi, memukul pundak dan punggung dengan rantai sampai kulit kemerahan dan gosong. Bahkan lebih ditekankan lagi jika hal itu menyebabkan keluarnya darah. Begitu pula mengeluarkan darah dari kening dan puncak kepala dengan pedang.146 Jafar bin Muammad bin Qulawaih Qummi, salah satu tokoh paling diagungkan dalam sekte Syah, dalam kitbnya Kmiluz Ziyrt meriwayatkan:

) ( :
Dari Ab Jafar Alaihissalam dia berkata: Allah telah menciptakan tanah Karbala 24 ribu tahun sebelum Allah menciptakan Kabah, Dan Allah telah menyucikan dan memberkatinya. Tanah Karbala tersebut sudah dalam keadaan suci dan berkah semenjak makhluk Allah (yang lain) belum tercipta, dan akan senantiasa demikian sampai Allah menjadikannya tanah yang paling utama di surga.147

..
Lihat Man Qatalal usain, hal: 60 Lihat Man Qatalal usain, hal: 60 147 Ibnu Qlawaih, Jafar bin Muammad, Kmiluz Ziyrt, (Najf: Al Mabaah Al Murtaawiyah, 1356 H), no. 280 dan 284
145 146

57

..
Barangsiapa mendatangi kuburan Husein (Karbala) pada selain hari Ied disertai pengakuan akan haknya, maka Allah mencatat untuknya 20 kali haji dan 20 kali umrah yang mabrur dan maqbul (diterima). Barangsiapa mendatanginya di hari Ied, maka Allah mencatat 100 kali haji dan 100 kali umrah untuknya. Dan barangsiapa mendatangi kuburan usein di Hari Arafah disertai pengakuan akan haknya, maka Allah mencatat untuknya 1000 kali haji dan 1000 kali umrah yang mabrur dan maqbul, plus pahala 1000 kali berperang bersama Nabi utusan atau Imm yang adil.148


Andaikata aku bertutur tentang keutamaan ziarah ke makam (Husein bin Al) dan keistimewaan makamnya, niscaya kalian akan meninggalkan Haji, dan tidak akan ada satu pun di antara kalian akan menunaikan Haji. Celaka engkau, tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah telah menjadikan Karbala sebagai tanah haram yang aman dan berkah, jauh sebelum Allah menjadikan Makkah sebagai tanah haram?149

" ) : ( - :
Imm Jafar mengatakan: Sesungguhnya Allah lebih dulu melihat para peziarah kuburan usain bin Al di malam Arafah sebelum Dia melihat
Al Kulaini, Furu Al Kfi: 1/324, Ibnu Qlawaih, p.169. Nukilan dari Nashir Al Al Qofri, Uul Mahab Asy Syah. (Tanpa Penerbit: 1414 H), p.2/460 149 Al Majlisi, 33/101, Ibnu Qlawaih, p.266
148

58

orang-orang yang wukuf di Arafah. (Seorang perawi berkata: Bagaimana bisa begitu?), Ab Abdillah (Jafar) berkatasebagaimana klaim Syah: Karena pada orang-orang yang wukuf di Arafah itu, ada anak-anak zina, sedangkan para peziarah kuburan usain (di hari Arafah) tidak ada satu pun anak hasil zina.150
2.5. Pembunuhan usain bin Al ra menurut perspektif Ahlus Sunnah

2.5.1. Latar belakang peristiwa


2.5.1.1. Pengangkatan Yazd bin Muwiyah dan penolakan usain bin

Al ra membaiatnya Pembahasan mengenai latar belakang peristiwa pembunuhan usain bin Al ra bermula saat pembaiatan Yazd dan penolakan usain bin Al ra untuk membaiatnya, serta keluarnya usain bin Al ra dari Makkah menuju Kufah151. Ibnu Katsr menjelaskan dalam kitb Al Bidyah Wa An Nihyah bahwa ketika Yazd dibaiat menjadi Khalfah pada tahun 60 H. Umurnya ketika itu 34 tahun. Namun usain bin Al ra dan Abdullah bin Zubar ra belum membaiatnya, padahal keduanya berada di Madinah. Ketika keduanya diminta membaiat Yazd, Abdullah bin Zubar ra berkata pada para utusan Yazd, Aku akan pikirkan malam ini, kemudian aku akan beritahukan pendapatku. Mereka berkata, Baiklah kalau begitu. Ketika malam sudah tiba, dia keluar dari Madinah dan lari menuju Makkah. Dia urung membaiat Yazd152. Ketika usain bin Al ra dihadapkan kepada utusan Yazd dan dikatakan padanya, Lakukanlah baiat secara sembunyi-sembunyi, tapi aku akan membaiat secara terang-terangan di depan orang-orang. Mereka berkata: Baiklah kalau begitu. Ketika malam telah tiba, dia pun keluar dari Madinah untuk menyusul Abdullah bin Zubar ra153.
150

Al Ksyni, Al Faidh, Al Wfi, (Asfan-Iran: Maktabah Al bin Ab lib, 1406 H), p.8/222 Lihat Ibnu Katsr, pada peristiwa-peristiwa tahun 60 H, p.VIII/161 152 Ibid, pada peristiwa-peristiwa tahun 60 H, p.VIII/161 153 Ibid, pada peristiwa-peristiwa tahun 60 H, p.VIII/161
151

59

2.5.1.2. Penduduk Irak mengirimkan surat kepada usain bin Al ra

Berita tentang usain bin Al ra yang tidak membaiat Yazd bin Muwiyah ra rupanya telah terdengar oleh penduduk Irak. Mereka tidak menyukai Yazd bin Muwiyah, bahkan mereka tidak menyukai Muwiyah. Mereka hanya menginginkan Al dan anak-anaknya. Kemudian penduduk Kufah mengirimkan surat-surat kepada usain bin Al ra. Di dalam surat-surat itu, mereka semua mengatakan: Kami telah membaiatmu. Kami tidak sudi orang selainmu. Kami tidak membaiat Yazd, tetapi hanya membaiatmu. Surat-surat semakin banyak berdatangan kepada usain bin Al ra, hingga mencapai lebih dari 500 pucuk surat. Semuanya datang dari penduduk Kufah, mengajaknya untuk datang ke tempat mereka.154
2.5.1.3. usain bin Al ra mengirim Muslim bin Aql

usain bin Al ra mengirimkan sepupunya, Muslim bin Aql bin Ab lib ra untuk mempelajari dan mengetahui lebih jauh keadaan yang sebenarnya di sana, serta melihatnya dari dekat. Setelah tiba di Kufah, Muslim bin Aql mencari informasi sampai dia mengetahui bahwa masyarakat memang menolak Yazd bin Muwiyah ra. Mereka hanya menginginkan usain bin Al ra. Muslim tinggal di rumah Hani bin Urwah. Lantas orang-orang datang berbondong-bondong untuk membaiat Muslim bin Aql atas nama usain bin Al ra 155. An Numn bin Basyr ketika itu menjadi gubernur Yazd bin Muwiyah ra untuk daerah Kufah. Saat mendengar berita bahwa Muslim bin Aql berada di Kufah dan penduduk mendatanginya dan membaiatnya atas nama usain bin Al ra, An Numan pura-pura tidak tahu dan tidak terlalu peduli dengan masalah ini. Namun beberapa orang bawahan An Numan datang menemui Yazd di Sym dan mengabarinya tentang apa
154 155

Al Khams, p.229 A abar, p.III/318

60

yang terjadi. Mereka menceritakan bahwa Muslim telah dibaiat oleh orangorang, sementara An Numn bin Basyr tidak terlalu memperhatikan masalah ini156.
2.5.1.4. Pengangkatan Ubaidullah bin Ziyd menjadi Gubernur

Kufah Mendengar laporan para bawahan An Numan, Yazd memerintahkan supaya An Numan dicopot dari jabatannya, dan mengirim Ubaidullah bin Ziyd sebagai penggantinya menjadi gubernur Kufah. Ketika itu, Ubaidullah adalah gubernur Barah. Ubaidullah diserahi mandat untuk menangani Kufah dan Barah sekaligus157. Ubaidullah tiba di Kufah pada malam hari dengan memakai cadar. Ketika dia lewat di depan orang-orang, dia memberi salam kepada mereka, dan mereka pun menjawab seraya mengatakan : Wa alaikumus salam, wahai putra anak perempuan Raslullah Saw. Mereka menyangka bahwa itu adalah usain bin Al ra yang telah tiba pada malam hari secara sembunyi-sembunyi sambil mengenakan cadar158. Melihat hal tersebut Ubaidullah sadar bahwa masalah ini memang sudah serius. Masyarakat sedang menunggu kedatangan usain bin Al ra. Seketika itu juga dia masuk ke istana dan mengirimkan bekas budaknya yang bernama Maqil untuk mempelajari lebih jauh keadaan yang tengah terjadi, dan mencari tahu siapa otak yang mengatur masalah ini159. Maqil kemudian pergi dengan menyamar sebagai seorang yang datang dari Hims dengan membawa 3 ribu dinar untuk membantu usain bin Al ra. Dia bertanya kepada orang-orang dan akhirnya dia ditunjukan rumah Hani bin Urwah. Dia pun masuk dan bertemu dengan Muslim bin Aql, kemudian membaiat dan memberikan dana sebesar 3 ribu dinar. Sejak itu, dia rutin datang ke sana selama beberapa hari, sampai dia tahu
156 157

Al Khams, Op.cit., p.230 Al Khams, p.231 158 Ibid, p.231 159 Ibid, p.232

61

keadaan mereka. Setelah itu, ia kembali ke tempat Ubaidullah bin Ziyd untuk memberi informasi yang ia dapat160.
2.5.1.5. Keluarnya usain bin Al ra menuju Kufah

Setelah keadaan kondusif dan banyak orang yang sudah membaiat Muslim bin Aql, Muslim mengirimkan surat kepada usain bin Al ra supaya dia datang ke Kufah karena segala sesuatunya sudah siap. Maka usain bin Al ra pun keluar dari Makkah pada hari Tarwiyah161. Sementara itu Ubaidullah sudah mengetahui apa yang dilakukan oleh Muslim bin Aql. Ia lantas berkata, Bawa Hani bin Urwah ke hadapanku! Tidak lama kemudian Hani bin Urwah pun didatangkan ke hadapannya. Ia kemudian mengintrograsinya: Dimana Muslim bin Aql? Hani menjawab: Aku tidak tahu. Ubaidullah kemudian memanggil Maqil, menyuruhnya masuk dan bertanya kepada Hani, Kenalkah engkau dengan orang ini? Hani menjawab, Ya. Ia pun terkejut dan baru tahu bahwa itu hanyalah siasat Ubaidullah bin Ziyd belaka. Ubaidullah kemudian bertanya lagi kepadanya, Di mana Muslim bin Aql? Dia Menjawab, Demi Allah swt, seandainya dia berada di bawah telapak kakiku ini, niscaya aku tidak akan pernah mengangkatnya. Ubaidullah lantas memukulnya dan memerintahkannya supaya dia dipenjara.
2.5.1.6. Pengkhianatan Orang-orang Kufah terhadap Muslim bin Aql

Kabar dipenjaranya Hani akhirnya terdengar oleh Muslim bin Aql. Ia kemudian keluar bersama 4.000 orang dan mengepung istana Ubaidullah. Para peduduk Kufah juga ikut serta dalam pengepungan itu. Ketika itu, Ubaidullah sudah bersama dengan para tokoh masyarakat. Ia berkata kepada mereka, Perintahkan orang-orang untuk meninggalkan

160 161

Ibid p.232 Al Mufid, p.422

62

Muslim bin Aql. Ia juga menjanjikan imbalan-imbalan kepada mereka dan menakut-nakuti mereka dengan datangnya tentara Sym. Maka mulailah para pemuka masyarakat memerintahkan supaya Muslim bin Aql ditinggalkan. Para ibu berdatangan dan meminta agar anaknya kembali, seseorang datang minta saudaranya pulang, memimpin suku datang dan melarang orang-orang mendekati Muslim bin Aql, sampai yang tersisa dari 4.000 itu hanya 30 orang saja162. Bahkan ketika menjelang malam yang tersisa hanya Muslim bin Aql saja. Mereka semua telah pergi. Muslim ditinggalkan sendiri, berjalan menyusuri jalanan Kufah, tidak tahu ke mana tujuannya. Ia kemudian mengetuk pintu rumah seorang perempuan dari Kindah dan berkata kepadanya, Tolong, aku minta air. Perempuan itu merasa tidak mengenalnya, lalu dia pun bertanya: Siapa anda? Muslim menjawab: Aku Muslim bin Aql. Lalu, dia pun menceritakan apa yang telah terjadi tentang orang-orang yang telah meninggalkanya, sementara usain bin Al ra akan segera datang, karena dia telah mengirim surat kepadanya supaya datang. Akhirnya, perempuan itu memasukannya ke sebuah rumah di sampingya, serta membawakannya air dan makanan. Akan tetapi anak dari perempuan itu bergegas mengabari Ubaidullah bin Ziyd tentang keberadaan Muslim bin Aql. Maka Ubaidullah mengirim 70 orang untuk mengepungnya. Muslim melawan mereka, tapi akhirnya ia menyerah ketika mereka menjamin keamanan untuk dirinya. Ia kemudian digelandang ke istana gubernur, tempat Ubaidullah bin Ziyd berada. Setelah Muslim masuk, Ubaidullah bertanya, Apa yang menyebabkan dirimu melakukan kudeta ini? Muslim menjawab, Karena kami telah memberikan baiat kami kepada usain bin Al ra. Ubaidullah berkata, Bukankah kalian telah membaiat Yazd? Ubaidullah juga berkata, Aku akan membunuhmu. Muslim berkata, Izinkan aku berwasiat. Ubaidullah berkata, Silahkan anda berwasiat.

162

Al Khams, p.232

63

Muslim menoleh kemudian melihat Umar bin Saad bin Ab Waqqash, lantas berkata padanya, Engkau orang yang paling dekat hubungan keluarganya deganku. Kemarilah aku ingin berwasiat kepadamu. Muslim kemudian membawanya ke samping rumah dan berpesan kepadanya supaya mengirimkan seseorang untuk menemui usain bin Al ra dan memintanya agar kembali ke Madinah. Umar pun mengirimkan seseorang untuk mengabari usain bin Al ra bahwa masalah ini sudah selesai, dan penduduk Kufah telah menipunya. Muslim mengucapkan kalimat yang populer, Bawalah keluargamu pulang, dan janganlah engkau tertipu dengan penduduk Kufah. Karena penduduk Kufah telah membohongimu dan juga membohongiku. Sementara, pendapat seorang pembohong tidak dapat diterima. Muslim bin Aql terbunuh pada hari Arafah. Sementara usain bin Al ra keluar dari Makkah pada hari Tarwiyah, sehari sebelum terbunuhnya Muslim bin Aql.
2.5.1.7. Desakan para Sahabat agar usain bin Al ra tidak ke Kufah

Sebenarya para sahabat banyak yang berusaha melarang usain bin Al ra datang ke Kufah, di antaranya: Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbs, Abdulah bin Amr bin Al A, Ab Sad Al Khudri, Abdullah bin Az Zaubair ra dan saudara-saudara usain bin Al ra sendiri, Muammad bin Al anafiyyah. Ketika mereka mengetahui bahwa usain ingin pergi ke Kufah, mereka sontak mencegahnya.163 Berikut adalah perkataan-perkataan sebagian dari para Sahabat tersebut: Pertama, Abdullah bin Abbs ra. Ketika usain bin Al ra hendak keluar, Abdullah bin Abbs berkata, Seandainya bukan karena khawatir orang-orang tidak menghinaku

163

Al Khams, p.234

64

dan menghinamu, niscaya aku akan pengang kepalamu erat-erat supaya engkau tidak bisa pergi164 Kedua, Ibnu Umar. Asy Syabi menuturkan bahwasannya Ibnu Umar ra tengah berada di Makkah ketika mendengar berita perginya usain bin Al ra ke Irak. Kemudian dia menyusulnya dengan menempuh perjalanan selama 3 hari. Setelah bertemu ia bertanya, Engkau hendak kemana? usain bin Al ra menjawab, Ke Irak. Ia mengatakan itu seraya mengeluarkan surat-surat yang dikirim dari Irak, yang menyebutkan dukungan penduduk Irak terhadap dirinya. Ia berkata, Ini surat-surat dan baiat mereka.165 Ibnu Umar ra berkata, Engkau jangan pergi ke tempat mereka. Namun usain bin Al ra enggan kembali, dan tetap bersikukuh melanjutkan perjalanan. Maka, Ibnu Umar ra berkata: Aku ingin memberitahumu sebuah adts; suatu ketika Jibril datang kepada Nabi Saw dan meyuruhnya untuk memilih antara dunia atau akhirat. Maka, beliau memilih akhirat dan enggan terhadap dunia. Engkau ini adalah darah daging beliau. Demi Allah swt, janganlah seorang pun dari kalian memegang jabatan kepemimpinan lagi. Tidaklah Allah swt memalingkan jabatan kepemimpinan itu dari kalian kecuali Dia menginginkan yang terbaik bagi kalian. Tetapi usain bin Al ra tetap enggan mengurungkan niatnya. Melihat hal itu, Ibnu Umar ra kemudian memeluknya seraya menangis dan berkata, Semoga Allah swt melindungi dirimu dari pembunuhan.166 Ketiga, Abdullah bin Zubar ra Ia bertanya kepada usain bin Al ra, Engkau ingin pergi ke mana? Apakah engkau ingin pergi ke tempat kaum yang telah membunuh ayah dan saudaramu? Janganlah engkau pergi.167 Akan tetapi usain bin Al ra enggan kembali dan tetap ingin pergi.
164 165

Ibnu Katsr, p.VIII/161 Ibnu Katsr, p.VIII/162 166 Ibid, p.VIII/162 167 Ibid, p.VIII/163

65

Keempat, Ab Said Al Khudri ra Ia berkata, Wahai Ab Abdullah, aku ingin menasehatimu dan aku benar-benar menyayangi kalian. Aku sudah mendengar kabar bahwa kelompok pengikutmu di Kufah telah menyuratimu dan mengajakmu untuk pergi ke tempat mereka. Padahal aku telah mendengar ayahmu berkata tentang mereka, Demi Allah swt, aku telah bosan dan marah kepada mereka. Mereka pun telah bosan dan marah kepadaku. Mereka sama sekali tidak pernah menepati janji. Siapa saja yang mendapat dukungan mereka, maka dia telah mendapat anak panah yang tumpul. Demi Allah swt, mereka sama sekali tidak mempunyai niat dan tekad untuk membela suatu urusan. Mereka juga sama sekali tidak mempunyai kesabaran dalam peperangan.168 Selain para sahabat, ada juga orang yang menasehati usain bin Al ra untuk tidak pergi. Di antaranya adalah sang penyair Farazdak. Ketika usain bin Al ra keluar dan bertemu Farazdak, usain bin Al ra bertanya kepadanya, Engkau dari mana? Farazdak menjawab, Dari Irak. usain bin Al ra bertanya, Bagaimana keadaan penduduk Irak? Farazdak menjawab, Hati-hati mereka memihakmu, tetapi pedang-pedang mereka memihak Bani Umayyah. Tetapi meski begitu usain bin Al ra tetap bersikeras dan berkata, Hanya Allah swt tempat meminta pertolongan.169
2.5.1.8. usain bin Al ra sampai di Qadisiyah

Kabar tentang penangkapan dan pembunuhan Muslim bin Aql ra akhirnya sampai kepada usain bin Al ra melalui utusan yang dikirim oleh Umar bin Saad ra. Setelah itu usain bin Al ra berniat untuk kembali. Maka usain bin Al ra meminta pendapat anak-anak Muslim bin Aql. Mereka pun berkata, Tidak, demi Allah kami tidak akan kembali sampai kami menuntut balas atas kematian ayah kami. usain bin Al ra pun setuju dengan pendapat mereka.

168 169

Ibnu Katsr, p.VIII/163 Ibid, p.VIII/168

66

Setelah Ubaidullah mengetahui kabar kepergian usain bin Al ra ke Kufah, dia memerintahkan Al urr bin Yazd At Tamim untuk bergerak dari Kufah disertai 1.000 pasukan pertama untuk menyongsong kedatangan usain bin Al ra di tengah perjalanan. Akhirnya dia pun bertemu usain bin Al ra di sebuah tempat dekat Qadisiyah170. Al urr berkata kepada usain bin Al ra, Anda ingin ke mana wahai putra dari anak perempuan Raslullah Saw? usain bin Al ra menjawab , Ingin ke Irak. Al urr berujar, Aku perintahkan anda untuk kembali, supaya Allah swt tidak menurunkan fitnah kepada diriku dengan sebab anda. Pulanglah ke tempat asalmu, atau anda pergi ke Sym, tempat Yazd bin Muwiyah ra berada. Jangan datang ke Kufah. usain bin Al ra enggan menuruti perintah itu. Ia tetap berjalan menuju Irak . Al urr bin Yazd kemudian menghadang dan melarangnya. usain bin Al ra berkata, Celaka engkau! Menjauhlah engkau dariku! Al urr bin Yazd menjawab: Demi Allah swt seandainya perkataan tadi keluar dari orang Arab selainmu, niscaya aku akan menghukumnya dan juga ibunya. Tapi aku tidak dapat melakukan hal itu terhadap dirimu, karena ibumu adalah pemimpin kaum wanita di Jannah.171
2.5.2.

Kronologi pembunuhan usain bin Al ra di Karbala Sampai pada tahap ini usain bin Al ra tetap bersikeras untuk

2.5.2.1. usain bin Al ra tiba di Karbala

melanjutkan perjalanan. Beliau tidak menghiraukan peringatan dari para Sahabat dan himbauan dari Al urr untuk kembali ke Madinah. usain bin Al ra memilih untuk tetap melanjutkan perjalanannya dan berhenti di sebuah tempat bernama Karbala. Ia bertanya, Apa nama tempat

Percakapan Antara usain bin Al ra dan Al urr bisa dilihat di Ibnu Katsr, p.VIII/168 dan A abar, p.III/305 171 A abar, p.III/305
170

67

ini? orang-orang menjawab: Karbala. Ia pun berkata: Itu menunjukan karbun (kesedihan) dan bal-un (ujian)172. Mendengar hal itu Ubaidullah bin Ziyd mengutus tentara Umar bin Saad dengan jumlah 4.000 orang, ia berbicara kepada usain bin Al ra dan mengajaknya pergi menuju Irak, tempat Ubaidullah berada. Namun lagi-lagi usain bin Al ra enggan menurutinya. Ketika usain bin Al ra melihat keadaan semakin genting, ia pun berkata kepada Umar bin Saad, Aku memberimu 3 opsi, pilihlah mana yang engkau inginkan. Umar bertanya, Apa saja opsi itu? usain bin Al ra berkata: Engkau biarkan aku pulang, atau pergi ke salah satu perbatasan kaum Muslimin, atau aku pergi ke tempat Yazd di Sym agar aku menaruh tanganku di atas tangannya untuk membaiatnya. Umar bin Saad berkata: Baiklah tapi engkau sebaiknya mengirim seseorang kepada Yazd, dan aku akan mengirim seseorang kepada Ubaidullah bin Ziyd. Kita tunggu apa hasilnya. Yang sangat disayangkan usain bin Al ra tidak mengirim utusan kepada Yazd, sementara itu Umar bin Saad mengirim utusan kepada Ubaidullah bin Ziyd. Ketika utusan telah sampai dihadapan Ubaidullah bin Ziyd dan mengabarinya bahwa usain bin Al ra berkata, Aku memberimu 3 pilihan, maka Ubaidullah pun tidak keberatan dengan pilihan mana saja yang akan diambil oleh usain bin Al ra. Namun ketika itu ada seorang yang bernama Syimr bin Dhul Jausyan bersama Ubaidullah bin Ziyd. Dia termasuk orang yang dekat dengan Ubaidullah. Syimr berkata, Tidak, demi Allah swt sebaiknya anda saja yang putuskan, dan dia harus menerima keputusanmu. Ubaidullah tertarik dengan pendapatnya, lalu berkata, Baiklah, dia harus menerima keputusanku.173 Ubaidullah lantas mengirimkan Syimr bin Dhul Jausyan, dan berkata kepadanya, Pergilah untuk menemui Umar bin Saad sampai usain bin Al ra bersedia menerima keputusanku. Jika Umar bin Saad menerima hal
172 173

Percakapan antara usain bin Al dan Umar bin Saad bisa dilihat Ibnu Katsr, p.VIII/168 Ibnu Katsr, p.VIII/189

68

ini, maka biarkan dia tetap sebagai paglima. Tetapi jika dia menolak, maka engkaulah penggantinya. Sebelumnya Ubaidullah mempersiapkan pasukan Umar bin Saad yang berjumlah 4.000 orang untuk berangkat ke Rayy, dan berkata kepadanya, Selesaikan masalah usain bin Al ra lebih dahulu, setelah itu barulah pergi ke Rayy. Dia juga menjanjikannya akan diangkat sebagai gubernur wilayah itu. Maka Syimr bin Dhul Jausyan pun pergi. Kabar bahwa usain bin Al ra harus rela tunduk pada putusan Ubaidullah terdengar oleh usain bin Al ra. Ia lantas berkata: Demi Allah swt aku tidak akan pernah tunduk kepada keputusan Ubaidullah selama-lamanya.
2.5.2.2. usain bin Al ra Mengingatkan tentara Kufah agar takut

kepada Allah Swt Ketika itu jumlah orang yang ikut bersama usain bin Al ra adalah 72 penunggang kuda. Sedangkan jumlah tentara Kufah adalah 5.000 orang. Ketika kedua pasukan sudah berhadapan usain bin Al ra berkata kepada tentara Ubaidullah, Berpikir dan introspeksilah diri kalian! Pantaskah kalian memerangi orang sepertiku? Aku ini adalah cucu Raslullah Saw dari putrinya dan hanya akulah cucu Raslullah Saw yang masih hidup di muka bumi. Raslullah Saw pernah bersabda tentang diriku dan saudaraku: Dua orang ini (asan dan usain bin Al ra) adalah pemimpin para pemuda penduduk jannah.174 usain bin Al ra mulai mengajak mereka untuk meninggalkan Ubaidullah bin Ziyd dan bergabung bersamanya. Maka 30 orang di antara mereka pun bergabung bersama usain, termasuk Al urr bin Yazd At Tamim, panglima garda depan pasukan Ubaidullah bin Ziyd. Melihat hal itu ada orang yang berkata kepada Al urr bin Yazd, Engkau datang ke

Sunan Tirmidzi, Kitb Al Manaqib, Bab Al Hasan dan Al usain, No.3768, adts ini dhaif menurut riwayat dari usain dan a menurut riwayat dari Kudzaifah, Ab Said dan selain mereka berdua.
174

69

sini bersama kami sebagai panglima garda depan namun sekarang kau dengan (pasukan) usain? Al urr menanggapi, Celakalah kalian, demi Allah swt aku sedang memberi pilihan kepada diriku antara jannah dan neraka. Dan demi Allah swt aku hanya akan memilih jannah walaupun tubuhku dipotong-potong dan dibakar. Ketika itu hari kamis, usain bin Al ra melaksanakan alt uhur dan aar, dan beliau menjadi Imm bagi dua kelompok pasukan itu, yaitu pasukan Ubaidullah bin Ziyd dan pengikutnya. Sebelumnya usain bin Al ra berkata kepada mereka, Kalian mengangkat Imm kalian, kami juga demikian. Mereka menjawab, Tidak, kami ingin menjadi makmum alt di belakangmu. Maka mereka pun mengerjakan alt uhur dan aar diimmi oleh usain bin Al ra. Ketika waktu maghrib hampir tiba, mereka memajukan kuda-kuda mereka menuju ke arah usain bin Al ra yang selalu membawa pedangnya. Ketika ia yang baru tidur sejenak melihat mereka bergerak, ia bertanya kepada para pengikutnya: Apa-apaan ini? Para pengikut usain bin Al ra berkata, Pergilah ke tempat mereka, dan ajaklah mereka berbicara, kemudian tanyakan pada mereka: Apa yang mereka inginkan? Maka pergilah 20 orang penunggang kuda di antara mereka, termasuk Al Abbas bin Al bin Ab lib, saudara usain bin Al ra (dari ibu yang lain). Mereka pun mengajak pasukan Ubaidullah berbicara dan bertanya kepada mereka. Pasukan itu pun menjawab: usain bin Al ra harus tunduk pada keputusan Ubaidullah bin Ziyd atau berperang! Mereka menjawab, Tunggu dahulu sampai kami beritahu Ab Abdullah usain bin Al ra. Mereka lalu bergegas menuju ke tempat usain bin Al ra dan memberitahunya. usain bin Al ra berkata, Katakan kepada mereka, Berilah kami waktu malam ini. Besok kami kabari kalian. Aku ingin alt menghadap Rabbku, karena aku suka mengerjakan alt untuk Rabbku. usain bin Al ra menghabiskan malam

70

itu untuk mengerjakan alt dan meminta ampunan kepada Allah Swt serta berdoa kepada-Nya, diikuti oleh para pengikut setianya.175
2.5.2.3. Perang af

Pada hari jumat berkobarlah peperangan antara dua pasukan tersebut, karena usain bin Al ra menolak untuk menyerah kepada Ubaidullah bin Ziyd. Perang ini terjadi antara dua pasukan yang tidak seimbang. Para pengikut usain bin Al ra memandang bahwa percuma saja menghadapi pasukan sebanyak ini. Satu-satunya keinginan mereka adalah mati membela usain bin Al ra. Mereka pun gugur satu persatu di hadapan usain bin Al ra, sampai semuanya gugur tidak ada yang tersisa dari mereka kecuali usain bin Al ra dan anaknya yang sedang sakit, Al bin usain. Hanya tinggal usain bin Al ra sendirian. Sepanjang siang tidak ada seorang pun yang berani mendekat ke arahnya, karena mereka takut mendapat petaka bila membunuhnya. Situasi ini terus berlangsung sampai kemudian Syimr bin Dhul Jausyan datang, kemudian berseru, Celakalah kalian! Semoga ibu-ibu kalian kehilangan kalian, kepung dan bunuh dia. Mereka pun maju dan mengerubungi usain bin Al ra. Ia berjuang di tengah-tengah mereka dengan pedangnya, sehingga berhasil membunuh siapa saja yang bisa dibunuh. Namun keberanian saja tidak cukup sanggup untuk mengalahkan jumlah yang banyak. Syimr berseru, Celakalah kalian apa yang kalian tunggu Mereka pun maju hingga usain bin Al ra terbunuh. Orang yang secara langsung membunuh usain bin Al ra adalah Sinn bin Anas An Nakhai. Dialah yang memotong kepala usain bin Al ra. Ada yang mengatakan yang membunuh secara langsung adalah Syimr bin Dhul Jausyan semoga Allah Swt membinasakan mereka. Setelah usain bin Al ra terbunuh, kepalanya dibawa ke hadapan Ubaidullah bin Ziyd di Kufah. Sesampainya di sana, Ubaidullah menggosok-gosok kepala usain bin Al ra dengan sebatang kayu seraya
175

Al Khams, p.242

71

memasukannya ke mulutnya, dan berkata: Alangkah bagus giginya Anas bin Mlik berkata: Demi Allah Swt aku akan mendoakan keburukan untukmu. Sungguh aku melihat sendiri Raslullah Saw mencium mulut usain bin Al ra tempat engkau memasukan kayumu itu.176 Ibrahim An Nakhai berkata: Seandainya aku termasuk orang-orang yang ikut dalam pembunuhan usain bin Al ra, kemudian aku dimasukan ke dalam Jannah, niscaya aku akan sangat malu lewat di depan Raslullah Saw dan wajahku dilihat oleh beliau.177
2.5.2.4. Mereka yang ikut terbunuh bersama usain bin Al ra

Anak-anak Al bin Ab lib yang ikut terbunuh bersama usain bin Al ra adalah, Jafar, Abbs, Ab Bakar, Muammad, dan Utsman. Anak-anak usain bin Al ra yang terbunuh adalah Abdullah dan Al Al Akbar bukan Al Zainal Abidin. Sementara yang terbunuh dari anak-anak asan bin Al ra adalah Abdullah, Al Qasim, dan Ab Bakar. Dari anak-anak Aql adalah Aun dan Muammad dan yang lainnya.178 Total semua keluarga Raslullah Saw yang gugur dalam peristiwa tersebut ada delapan belas orang. Dari nama-nama para korban ada yang bernama Ab bakar dan Utsman, kedua nama tersebut dipakai oleh Ahlul Bait, namun kaum Syiah tidak menyukai nama tersebut karena keduannya adalah nama khalfah sebelum Al bin Ab lib yang diklaim telah merampas kekhilafahan Al paska wafatnya Raslullah Saw.
2.5.3.

Sikap Ahlus Sunnah terhadap pembunuhan usain bin Al ra

Sikap Ahlus Sunnah terhadap pembunuhan usain bin Al ra adalah dengan menyatakan bahwa usain bin Al ra bukanlah pemberontak. Sebab kedatangannya ke Irak bukan untuk memberontak. Seandainya ingin
176 At Thabrani, Mujamul Kabir, no.5017, p.V/206. a Bukhri, Kitb Fadhaa-ilush Shahabah, Bab Manaaqibul Hasan WAl usain, no.3748 177 At Thabrani, Mujamul Kabir, no.2829, p.III/112 dan sanadnya a 178 Khalfah bin Khayya, Trikh Khalfah bin Khayya, (Riy: Dr A ayyibah, 1405 H), p.234

72

memberontak, beliau bisa mengerahkan penduduk Makkah dan sekitarnya yang sangat menghormati dan menghargai beliau. Karena saat usain bin Al ra di Makkah, kewibaannya mengalahkan wibawa para Sahabat lain yang masih hidup pada masa itu di Makkah. Beliau seorang alim dan ahli ibadah. para Sahabat sangat mencintai dan menghormatinya. Karena beliaulah Ahlul Bait yang paling besar pada waktu itu. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah memberikan komentar tentang terbunuhnya usain bin Al ra sebagai berikut: Ketika usain bin Al ra terbunuh pada hari Asyura, yang dilakukan oleh sekelompok orang lim yang melampaui batas, dan dengan demikian berarti Allah Swt telah memuliakan usain bin Al ra untuk memperoleh kematian sebagai syahd, sebagaimana Allah Swt juga telah memuliakan Ahlul Baitnya yang lain dengan mati syahd, seperti Hamzah, Jafar, ayahnya yaitu Al dan lain-lain dengan mati syahd. Dan mati syahd inilah salah satu cara Allah Swt untuk meninggikan kedudukan serta derajat usain bin Al ra. Maka ketika itulah sesungguhnya usain bin Al ra dan saudaranya, yaitu asan bin Al ra menjadi pemuka para pemuda Ahli Jannah.179 Syaikhul Islam juga mengomentari para pembunuh usain bin Al ra dengan mengatakan: usain bin Al ra telah dimuliakan Allah Swt dengan mati syahd pada hari Asyura. Dengan peristiwa Karbala Allah Swt juga berarti telah menghinakan pembunuhnya serta orang-orang yang membatu pembunuhan terhadapnya atau orang-orang yang senang dengan pembunuhan itu. usain bin Al ra memiliki contoh yang baik dari para syuhad yang mendahuluinya. Sesungguhnya usain bin Al ra dan saudaranya merupakan dua orang pemuka dari para pemuda Ahli Jannah. Keduanya merupakan orang-orang yang dibesarkan dalam suasana kejayaan Islam, mereka berdua tidak sempat mendapatkan keutamaan berhijrah, berjihad dan bersabar menghadapi beratnya gangguan orang kafir sebagaimana dialami oleh para Ahlul Baitnya yang lain. Karena itulah Allah Swt memuliakan keduanya
179

Lihat Ibnu Taimiyah, Majm Fatwa, p.XXV/302

73

dengan mati syahd sebagai penyempurna bagi kemuliaannya dan sebagai pengangkatan bagi derajatnya agar semakin tinggi. Pembunuhan terhadap usain bin Al ra ini merupakan musibah besar. Dan Allah Swt mensyariatkan agar hamba-Nya ber-istirja (mengucapkan inn lillhi wa inn ilaihi rjin) ketika mendapatkan musibah dengan firman-Nya:

. ..
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orangorang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inn lillhi wa inn ilaihi rjin"180. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."181 Ahlus Sunnah juga mengklarifikasi mengenai riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa langit menurunkan hujan darah, tembok-tembok berlumuran darah, dan tidak seorang pun mengangkat batu kecuali dia melihat darah di bawahnya, atau tidak seorang pun menyembelih unta kecuali semua bagian unta itu akan menjadi darah, ini semua adalah kebohongan dan omong kosong belaka. Riwayat ini tidak mempunyai sanad yang a kepada Nabi Saw, atau kepada seorang pun dari mereka yang sezaman dengan peristiwa ini. Semua riwayat-riwayat tersebut sanadnya terputus dan hanya diriwayatkan oleh mereka yang hidup setelah peristiwa ini.182 Dari pernyataan sikap tersebut tidak diragukan lagi bahwasanya peristiwa terbunuhnya usain bin Al ra merupakan musibah besar yang menimpa umat Islam. Karena tidak ada lagi cucu laki-laki dari anak perempuan Raslullah Saw yang masih hidup, selain dia. Kini ia telah
180 181

Lihat Ibnu Taimiyah, Majm Fatwam, p.IV/511 Qs. Al Baqarah: 2/155-157 182 Lihat Ibnu Katsr, pada peristiwa-peristiwa tahun 61 H

74

terbunuh secara teraniaya dan sebagaimana yang menimpa Ahlul Baitnya. Peristiwa terbunuhnya usain bin Al ra ini, bagi dunia Islam merupakan sebuah musibah. Namun bagi usain bin Al ra sendiri ini adalah sarana untuk mati syahd, kemuliaan, pengangkatan derajat, dan kedekatan kepada Allah Swt. Sebab Allah Swt telah memilihnya pindah ke akhirat menuju Jannah-Nya, sebagai pengganti dari dunia yang keruh ini.183 Ahlus Sunnah juga menyayangkan kepergian usain bin Al ra ke Kufah. Sebagaimana para pembesar Sahabat yang telah berusaha melarangnya pergi ke sana pada saat itu. Dengan perginya usain bin Al ra, orang-orang lim dan keji itu mendapat kesempatan menyakiti cucu Raslullah Saw sampai mereka membunuhnya dalam keadaan teraniaya dan syahd. Peristiwa terbunuhnya usain bin Al ra berdampak kerusakan dan fitnah yang tidak akan terjadi bila ia tetap di Madinah.184 Namun inilah takdir Allah Swt. Apa yang Allah Swt tadirkan pasti terjadi, walaupun manusia tidak menghendakinya dan dan sunatullah (ketetapan Allah) telah membuktikan betapa dahsyatnya kebenaran adts nubuwah tentang terbunuhnya usain bin Al ra ini. Dan dengannya kaum Muslimin harus lebih berhati-hati dalam mengambil kesimpulan yang berlebihan terkait peristiwa tersebut, apalagi sampai menghina Sahabat yang terlibat di dalamnya. Peristiwa terbunuhnya usain bin Al ra tidak lebih dahsyat daripada terbunuhnya para Nabi. Kepala Yahya bin Zakariya as dijadikan bayaran kepada seorang pelacur, dan Nabi Zakariya as juga dibunuh. Demikian juga dengan Umar bin Khab, Utsmn bin Affn, Al bin Ab lib ra. Mereka semua lebih utama dibadingkan usain bin Al ra. Oleh karena itu Ahlus Sunnah menyatakan bahwa seseorang tidak boleh menampar-nampar wajahnya atau merobek-robek pakaiannya dan lain-lainnya jika mengingat terbunuhnya usain bin Al ra pada hari Asyura. Karena Nabi Saw bersabda:
183 184

Al Khams, p.257 Al Khams, p.257

75


Bukan termasuk golonganku orang yang menampar-nampar pipinya dan merobek-robek pakaiannya (ketika ada yang meninggal dunia).185 Beliau juga bersabda:


Aku berlepas diri dari A liqah, Al liqah, dan Asy Syqah.186 A liqah artinya orang yang menjerit-jerit. Al liqah artinya orang yang mencukur rambutnya. Asy Syqah artinya orang yang merobek-robek pakaiannya (yang dilakukan untuk menyesali kematian seseorang). Beliau juga bersabda: Sungguh jika orang yang meratapi mayit tidak bertaubat maka pada hari kiamat nanti dia akan memakai baju dari kudis dan pakaian dari ter yang panas.187 Ahlus Sunnah memberikan solusi dalam menyikapi suatu musibah sepert ini adalah dengan mengatakan apa yang difirmankan oleh Allah Swt: (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inn lillhi wa inn ilaihi rjin (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).188

a Bukhri, Kitb Al Janiz, Bab Laisa Minna Man Syaqq Al Juyyub, no.1294 dan a Muslim, Kitb Al Imm, Bab Tahriim Dharbil Khudud, no.103. 186 a Buhari, Kitb Al Al Janiz, Bab M Yunha Anil Halqi Indal Mushibah, no.1296 dan a Muslim, Kitb Al Imm, Bab Tahriim Dharbil Khudud wa Syaqqil Juyyub Wad Duaa bi DawAl Jahiliyyah, no.140, 167. 187 a Muslim, Kitb Al Al Janiz, Bab At Tasydiid Fi Niyaahah, no.934 188 Qs.Al Baqarah: 156
185

76

BAB III ANALISA


3.1.Komparasi perspektif antara Syah dan Ahlus Sunnah

terhadap

pembunuhan usain bin Al ra Pada bab kedua telah dipaparkan perihal pembunuhan usain bin Al ra berikut sikap Syah maupun Ahlus Sunnah menurut perspektif masing-masing. Banyak perkara yang menurut penulis perlu dijelaskan lebih detail. Sehingga upaya komparasi perspektif antara Syah dan Ahlus Sunnah dapat terwujud. Meskipun pada sisi tertentu ada perkara-perkara yang sama sekali tidak dapat dikompromikan. Setidaknya ada tiga pertanyaan penting yang harus dijawab untuk mengetahui perkara mana saja yang dapat dikompromikan dan tidak dapat dikompromikan. Pertanyaan tersebut antara lain: Pertama, Apa yang melatar belakangi usain bin Al ra menolak berbaiat kepada Yazd bin Muwiyah? Kedua, siapakah penduduk Kufah yang dimaksud dalam peristiwa Karbala? Ketiga, bagaimana seharusnya kaum Muslimin menyikapi peristiwa Karbala? Dengan sedikitnya tiga pertanyaan ini diharapkan akan menambah keutuhan berfikir dalam mengambil kesimpulan terhadap petaka yang telah menimpa cucu Raslullah Saw dan para Ahlul Baitnya.
3.1.1.

Latarbelakang usain bin Al ra menolak berbaiat kepada

Yazd bin Muwiyah Syah berpendapat bahwa usain bin Al ra ingin melakukan revolusi kepemimpinan yang telah direbut oleh Bani Umayyah 189. Awalnya berpusat pada saat tragedi Saqifah pasca wafatnya Raslullah Saw yang berakibat pemindahan khilafah dari tangan legal, yaitu Imm Al as. Para pendukung Saqifah menyerukan kewajiban bergabung dengan jamah, mengharamkan
189

Tim Almul Hidyah, p.139-140

77

tindakan-tindakan yang memecah belah umat dan mewajibkan untuk taat kepada pemimpin terpilih. Maka Imm Al as telah berusaha maksimal dengan seluruh kemampuan untuk memperbaiki tindakan-tindakan destruktif yang dilakukan oleh para khalfah yang dijamin terpelihara dari kesalahan. Semua itu disaksikan oleh usain bin Al as dengan jelas, apalagi pada masa pemerintahan Utsman.190 Kemudian pada zaman kepemimpinan kakaknya, usain bin Al as menyaksikan menyaksikan dan memahami seluruh pasal-pasal oleh perdamaian Muwiyah yang yang ditandatangani Imm asan as dan Muwiyah. usain bin Al as perjanjian tersebut dilanggar memanipulasi perjanjian tersebut. Muwiyah menjadikan agama sebagai tameng untuk merealisasikan konspirasi biadabnya.191 Keadaan pada zaman usain bin Al as sama sekali berbeda. Setelah kematian Muwiyah, menurut pandangan usain bin Al as yang mam,192 pada saat yang sama beliau adalah pemegang tampuk kepemimpinan yang sah, tidak ada cara lain kecuali melawan Yazd. Sangat tidak logis dan tidak memiliki landasan jika usain bin Al as menerima kepemimpinan Yazd dan Bani Umayyah.193 Ditambah lagi surat-surat yang dilayangkan oleh penduduk Kufah kepada beliau adalah sebuah legalitas politik beliau yang membuktikan bahwa kebangkitan bukanlah masalah personal dan keinginan pribadi beliau.194 Namun karena bujukan dari penduduk Kufah yang menginginkan beliau menjadi Khalfah. Sedangkan Ahlus Sunnah dalam menyikapi hal ini melihat pada peristiwa paska terbunuhnya Al bin Ab lib ra195. Al Qadhi Ab Bakar
Tim Almul Hidyah, p.139-140 Ibid, p.140 192 Kaum Syiah berkeyakinan bahwa setiap Imm mereka mam terbebas dari kesalahan dan dosa sebagaimana yang dimiliki oleh para Nabi. 193 Ibid, p.140 194 Ibid, p.142 195 Dalam pembahasan ini penulis tidak akan membahas lebih lanjut tentang bagaimana kepemimpinan empat Khulafaur Rasyidin dan berbagai kontroversi yang terjadi di dalamnya. Tetapi penulis akan mencukupkan pada paska terbunuhnya Al bin Ablib ra dilanjutkan kepada pemerintahan Hasan bin Al ra yang kemudian melakukan perjanjian damai kepada Muwiyah.
191 190

78

berkata, Ucapan Syah bahwa Al mewasiatkan khilfah kepada asan, adalah batil. Al tidak mewasiatkan kepada siapapun196, akan tetapi baiat untuk asan terlaksana berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin, asan bin Al ra lebih berhak dari pada Muwiyah daripada banyak orang selainnya. Lalu mediasi berakhir dengan pengunduran dirinya dari perkara ini demi melindungi darah umat agar ridak tertumpah dan bukti kebenaran janji Nabi Saw melalui sabdanya di mimbar, Anakku ini adalah sayid, mudah-mudahan Allah mendamaikan dengannya dua kelompok besar dari kaum Muslimin.197 Maka janji terlaksana dan baiat untuk Muwiyah sah dan hal itu merupakan wujud harapan Nabi Saw terhadap kepemimpinannya terhadap kaum Muslimin, beliau Saw bersabda: Khalifah (akan berlangsung) tiga puluh tahun kemudian ia menjadi kerajaan. Jika dihitung mulai dari diangkatnya Ab Bakar sampai pengunduran diri asan bin Al ra maka jumlanya adalah tiga puluh tahun tidak lebih dan tidak kurang sehari pun. adts yang berupa sanjungan kepada asan sekaligus berita gembira dengan ini, adalah terwujudnya perdamaian melalui tangan beliau dan penyerahan perkara ini darinya kepada Muwiyah merupakan akad dari asan untuk Muwiyah. Hal itu terjadi di sebuah tempat bernama Maskan di sungai Dujail, pada bulan Rabul Awal tahun 41 H. Tahun tersebut dinamakan Ammul Jamah (tahun perdamaian) karena kaum Muslimin berjamah setelah sebelumnya terpecah dan mereka mulai berkonsentrasi kepada perang keluar dan penaklukan serta menyebarkan dakwah Islam.198
Sekaligus berpindahnya kepemimpinan Islam kepada Bani Umayyah sampai pada pengangkatan Yazd bin Muwiyah dan penolakan usain bin Al ra terhadapnya. 196 Bahwa orang-orang berkata kepada Al ra Angkatlah pengganti (sebagai khalifah) bagi kami. Al ra menjawab, Tidak, akan tetapi aku membiarkan kalian sebagaimana Rasulullah Saw membiarkan kalian kepadanya... Imm Amad meriwayatkan dalam musnadnya, p.I/30, no.1078 dan 1/156, no.1339, sanadnya a. 197 a Bukhri, Kitb Ash Shulh, Bab ke-9, p.III/169 dan Bukhri juga meriwayatkan dalam Manaqib Hasan Wa usain, Kitb Fadhail Ash Shahabah, Bab ke-22, p.IV/216. 198 Muhibbuddin Al Khtib dalam tahqiq dan taliq, Lihat Ibnul Arabi, Meluruskan Sejarah, Menguak Tabir Fitnah, Sejak Raslullah Wafat Hingga Masa Bani Umayyah, Terj. Izzudin

79

Ibnu Taimiyah berkata: adts tentang asan

menjelaskan bahwa

perdamaian di antara dua kelompok merupakan perkara terpuji yang dicintai Allah Swt dan Rasl-Nya. Adapun apa yang dilakukan oleh asan dari itu, maka ia termasuk keutamaan dan jasa besarnya yang dipuji oleh Nabi Saw.199 Jika dikatakan bukankah di antara Sahabat terdapat orang yang lebih pantas memegang perkara ini daripada Muwiyah. Maka jawabannya banyak, akan tetapi Muwiyah memiliki beberapa keunggulan, yaitu: Umar menyatukan seluruh Sym di bawah kepemimpinan Muwiyah, manakala dia mengetahui keluhuran hidupnya, pelaksanaanya terhadap tugas menjaga kehormatan Islam dan mengamankan perbatasan, perbaikannya terhadap bala tentara, kemenangannya atas musuh dan keahliannya dalam memimpin rakyat.200 Semua itu sebagai bukti kredibilitas Muwiyah sebagai seorang pemimpin yang layak. Raslulullah Saw dan Ahlul Bait bersaksi bahwa Muwiyah adalah seorang yang fakih. Dari adts Ibnu Mulaikah bahwa seseorang berkata kepada Ibnu Abbs: Apakah engkau memiliki sesuatu pendapat tentang Amrul Muminn Muwiyah, karena dia tidak berwitir kecuali dengan satu rakaat. Ibnu Abbas menjawab, Dia seorang yang fakih.201 Dari Nabi Saw bahwa beliau bersabda kepada Muwiyah: Ya Allah jadikanlah dia pemberi petunjuk, yang diberi petunjuk, dan berikanlah petunjuk dengannya,202 Beliau juga bersabda kepada Muwiyah: Ya Allah ajarilah dia Al Kitb dan isab dan lindungilah dia dari adhab.203

Karimi, (Jakarta: Pustaka Sahifa, 1431 H/2010 M), p.278-279 199 Ibnu Taimiyah, Minhjus Sunnah, p.II/242 200 Ibid, p.III/185 201 a Bukhri, Kitb Manaqib Ash Shahabah, Bab ke-28, p.IV/219 202 Jamiut Tirmidzi, Kitb Manaqib, Bab ke-47, sanadnya a 203 Rawi-rawi doa Nabi Saw untuk Muwiyah dari kalangan sahabat lebih banyak dari sekedar dihitung. Lihat Ibnu Katsr, VIII/120-121 dan biografi Muwiyah pada huruf Mim dalam Kitb Tarikh Daimasyq, Ibnu Asakir.

80

Nabi Saw juga bergembira karena bermimpi melihat perang Muwiyah dalam adts Ummu aram bahwa beberapa orang dari umatnya mengarungi lautan biru sebagai raja di atas singgasana, atau layaknya raja di atas singgasananya, dan hal itu terjadi pada masa kepemimpinan Muwiyah, adits tersebut sebagai berikut: Sesungguhnya Nabi Saw pernah tidur qailulah (tidur sejenak) di rumah Ummu aram. Beliau bangun sambil tertawa karena beliau bermimpi melihat orang-orang dari umatnya berperang dijalan Allah Swt mengarungi birunya lautan bagaikan raja-raja di atas singgasana. Kemudian beliau meletakan kepalanya lalu tidur lagi, lalu beliau bangun dengan mimpi yang sama. Ummu aram berkata kepada beliau, Doakan aku kepada Allah agar aku termasuk dari mereka. Raslullah Saw bersabda: Engkau berada bersama orang-orang pertama.204 Ibnu Katsir berkata: Maksud Nabi Saw adalah tentara Muwiyah ketika menyerang Qubru dan menaklukannya pada tahun 27 H pada masa Utsmn bin Affn dengan Muwiyah sebagai panglima, setelah beliau membangun angkatan laut Islam pertama dalam sejarah, Ummu aram menyertai suaminya Ubaidah bin mit ditambah Ab Darda, Ab Dhar dan lain-lain. Ummu aram gugur di jalan Allah Swt, kuburannya di Qubru sampai hari ini. Ibnu Katsr berkata: Kemudian panglima pasukan kedua adalah Yazd bin Muwiyah dalam menyerang Qastantiniyah. Dia berkata: Ini adalah salah satu tanda kebenaran nubuwah yang paling agung.205 Sebelum Muwiyah wafat, dia mengangkat anaknya Yazd sebagai penggantinya. Sehingga tersebar isu kontroversial antara dirinya dengan Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubar, dan Abdurrahman bin Ab Bakar. Hal ini sudah diklarifikasi oleh Ibnul Arab dalam kitbnya Al Awim Minal Qawim. Bahwa setelah Muwiyah memanggil mereka bertiga satu-persatu ke dalam kemahnya. Muwiyah keluar lalu beliau naik mimbar, beliau berkata: Kami mendengar pembicaraan orang-orang yang
204 205

a Bukhri, Kitb Al Jihad, Bab ke-3, III/201 dan Muslim, Kitb Imarah, no.160. Ibnu Katsir, p.VIII/229

81

bernada sumbang. Mereka mengeklaim bahwa Ibnu Umar, Abdullah bin Zubar dan Abdurrahman bin Ab Bakar tidak membaiat Yazd, padahal mereka telah mendengar, menaati, dan membaiat kepadanya.206 Namun yang dipermasalahkan adalah tentang sikap Muwiyah yang telah meninggalkan yang lebih utama dengan tidak menjadikan pengangkatan anaknya menggunakan Syura (pemilihan secara musyawarah oleh dewan yang dibentuk), ia langsung mengkhususkannya kepada salah seorang kerabatnya lebih-lebih anaknya sendiri dan meninggalkan apa yang diisyaratkan oleh Abdullah bin Zubar untuk melakukan syura, lalu Muwiyah mengangkat anaknya, mengakadkan baiat untuknya dan orangorang membaiatnya, meskipun ada juga yang tidak membaiat. Baiatpun terwujud secara syari karena ia sah dengan satu orang, dan ada yang berpendapat dengan dua orang.207 Jika dikatakan untuk siapa syarat-syarat Immah. Maka umur bukan termasuk syaratnya dan tidak terbukti ada syarat yang tidak terpenuhi oleh Yazd.208 Jika dikatakan di antarannya adalah Adalah (keadilan) dan ilmu, sementara Yazd sendiri bukan orang adil dan alim. Maka dengan apa seseorang mengetahui dia tidak berilmu dan tidak adil. Jika Yazd tidak memiliki keduanya niscaya ia telah disinggung oleh tiga orang utama yang mengusulkan kepada Muwiyah agar tidak melakukan baiat untuknya tadi. Akan tetapi mereka hanya mempermasalahkan keputusan dalam perkara ini yang diambil oleh Muwiyah, di mana yang mereka inginkan adalah syura.209 Jika dikatakan ada yang lebih unggul daripada Yazd dalam Adalah dan ilmu, seratus bahkan seribu. Ibnul Arabi menyebutkan bahwa kepemimpinan orang yang utama padahal ada yang lebih utama adalah masalah khilafiyah (perselisihan pendapat) di antara para Ulama.210
206 207

Lihat selengkapnya; Ibnul Arabi, p.302-307 Ibid, p.314-315 208 Ibid, p.315 209 Ibid, p.315-316 210 Ibnul Arabi, p.316

82

Adapun tentang predikat Adalah maka kesaksian untuknya telah diberikan oleh salah seorang Ahlul Bait Muammad bin Al bin Ab lib dalam dialognya terhadap Ibnu Mui yang menuduh Yazd seorang fasik, pemabuk dan tuduhan lainnya pada saat terjadi pemberontakan di Madinah terhadap Yazd. Muammad berkata: Aku tidak melihat apa yang kalian katakan padanya. Aku telah hadir kepadanya dan tinggal bersamanya. Aku melihatnya menjaga alt, memilih kebaikan, bertanya tentang fikih dan berpegang pada sunnah.211 Tentang ilmu maka apa yang lazim darinya bagi orang sepertinya dalam kedudukan sepertinya, dia memilikinya secara memadai bahkan lebih dari memadai. Al Mada meriwayatkan bahwa salah seorang Ahlul Bait; Ibnu Abbs datang kepada Muwiyah setelah asan bin Al ra wafat, Yazd datang kepada Ibnu Abbs. Dia duduk sebagai orang yang berbela sungkawa ketika Yazd berdiri dari sisinya, Ibnu Abbas berkata: Jika Bani Harb (nisbah kepada bapaknya Ab Sufyan) pergi, maka pergilah Ulama manusia.212 Dari riwayat-riwayat dan keterangan di atas menunjukan akan keabsahan kepemimpinan Muwiyah dan Yazd yang diridhai oleh para Ahlul Bait dan Sahabat secara umum. Adapun penolakan yang dilakukan oleh usain bin Al ra maka walaupun hal tersebut tidak dibenarkan namun status beliau dalam masalah tersebut adalah Mujtahid jika benar, maka mendapatkan dua pahala, jika salah maka satu pahala.213 Sebenarnya beliau sudah ditahan dengan berbagai cara dan upaya beberapa Sahabat namun penduduk Kufahlah yang memicu dengan ratusan surat yang terus membujuk berangkat dan berakhir pada kesyahdannya. Ini adalah bukti kebenaran adts Nubuwah yang agung. Yang patut dijadikan pelajaran bagi orangorang yang berfikir.
3.1.2.
211 212

Jati diri penduduk Kufah

Ibnu Katsir, p.VIII/233 Ibid, p.VIII/228 213 Ibnul Arabi, O.cit., p.345

83

Syah berpendapat bahwa yang dimaksud penduduk Kufah adalah Bani Umayyah, sehingga semua perkataan yang mengarah kepada penduduk Kufah seluruhnya disematkan kepada Bani Umayyah. Namun ada juga yang mengatakan bahwa orang-orang Kufah saat itu adalah masyarakat yang paling memusuhi Yazd dan mencintai usain bin Al as lebih darinya. Sebenarnya Ahlus Sunnah dan Syah sepakat bahwa pembunuh usain bin Al ra adalah penduduk Kufah. Namun yang aneh adalah kesimpulan yang berbeda terhadap status penduduk Kufah sebenarnya. Jika memang yang dituduhkan Syah itu benar, maka hal tersebut sangat sulit untuk dinalar. Mengingat tidak didapatkan riwayat yang secara tegas mengatakan bahwa Bani Umayyah yang membujuk usain bin Al ra untuk pergi ke Kufah, dan suatu yang mustahil juga bagi Bani Umayyah mengirimkan surat kepda usain bin Al ra untuk menggulingkan rezimnya sendiri. Dalam hal ini penulis menukilkan isyarat tegas Ibnul Arabi dengan mencantumkan sub judul dalam kitbnya Al Awim Minal Qawim, beliau mencantumkan celaan Ahlul Bait kepada Syah disebutkan bahwa seorang penulis kitb At Tuhfah Al Itsna Al Asyariyyah berkata: Allamah Syah pada zaman ini. Syaikh ibatuddin Asy Syahrastani, menukil apa yang diriwayatkan oleh Al Jahiz dari Khuzaimah Al Asadi, yang berkata: Aku masuk ke Kufah bersamaan dengan berangkatnya usain bin Al ra bersama keluargannya dari Karbala kepada Ubaidullah bin Ziyd. Aku melihat wanita-wanita Kufah pada saat itu sedang berdiri meratap dengan merobekrobek leher baju, aku mendengar Al bin usain berkata dengan suara lemah.Wahai penduduk Kufah, kalian menangisi kami padahal kalianlah yang membunuh kami.214 siapa lagi yang meratap dan merobek baju selain Syah, penAku melihat Zainab binti Al, aku tidak melihat wanita yang lebih jelas pembicaraan dari padanya, dia berkata,Wahai orang-orang Kufah wahai para penghianat dan para pengecut, kubur tidak tertutup, tanah yang landai tidak tenang, kalian hanyalah seperti seorang perempuan yang menguraikan
214

Ibnul Arabi, p.339-340

84

benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kalian menjadikan sumpah (baiat) sebagai alat penipuan di antaramu. Katahuilah yang ada pada kalian hanyalah kebencian dan kesialan, tabiat darah dan tipu daya musuh. Kalian tidak lain kecuali seperti rumput hijau di atas kotoran atau perak di atas wanita di liang lahat. Begitu buruk apa yang kalian lakukan, Allah Swt memurkai kalian dan kalian akan kekal di dalam adhab. Apakah kalian menangis? Demi Allah Swt menangislah kalimat sindiran kepada Syah, pen-, demi Allah Swt kalian pantas menangis, banyaklah menangis dan sedikitlah tertawa, kalian berhasil meraih aib dan keburukannya, kalian tidak akan menghilangkannya dengan mencuci setelahnya selama-lamanya.215 Dalam literatur sejarah yang membahas tentang peristiwa Karbala penulis tidak mendapatkan ada yang mengatakan bahwa Bani Umayyah ada yang berbaiat kepada usain bin Al ra, bahkan yang terjadi justru sebaliknya, yaitu mengingatkan usain bin Al ra untuk berbaiat kepada Yazd. Para Sahabat dan sebagian masyarakat juga menahan usain untuk pergi menemui penduduk Kufah. Fakta ini menyatakan bahwa Bani Umayyah terlepas dari tuduhan membaiat usain bin Al ra apalagi sampai mengundangnya ke Kufah. Yang sebenarnya terjadi adalah orang-orang Syah yang mengundang dan berbaiat kepada usain bin Al ra namun kemudian mengkhianatinya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penyebab terbunuhnya usain bin Al ra adalah orang-orang Syah Kufah sendiri.
3.1.3.

Menyikapi peristiwa Karbala

Syah berpendapat bahwa peristiwa Karbala adalah peristiwa yang sangat memilukan dan mereka sangat bersedih ketika mengenang tragedi tersebut. Alasan mereka yang populer adalah karena yang terbunuh di dalamnya terdiri dari para Ahlul Bait Nabi Saw terutama cucu beliau sendiri, usain bin Al ra. Hal tersebut yang kemudian melatarbelakangi mereka untuk mengenang dan meratapi setiap tahunnya. Mereka melakukan ritual
215

Ibid, p.339-340

85

berupa meratap, memukuli diri sampai berdarah-darah bahkan mereka juga melaknat Bani Umayyah terutama Yazd bin Muwiyah sebagai manusia yang paling bertanggung jawab atas kematian usain bin Al ra. Peringatan tersebut dinamakan peringatan hari Asyura atau peringatan Karbala. Dalam menyikapi hal ini Ibnu Taimiyah mengelompokan umat manusia menjadi tiga golongan: dua golongan yang ekstrim dan satu berada di tengahtengah.216 Golongan Pertama: Mengatakan bahwa pembunuhan terhadap usain bin Al ra itu merupakan tindakan benar. Karena usain bin Al ra memberontak kapada pemimpin217 dan ingin memecah belah kaum Muslimin. Raslullah Saw bersabda :


"Jika ada orang yang mendatangi kalian dalam keadaan urusan kalian berada dalam satu pemimpin lalu pendatang hendak memecah belah jamah kalian, maka bunuhlah dia, siapa pun orangnya"218 Kelompok pertama ini mengatakan bahwa usain bin Al ra datang saat urusan kaum Muslimin berada di bawah satu pemimpin yaitu Yazd bin Muawiyah dan usain bin Al ra hendak memecah belah umat atau dalam kata lain pemberontak. Sebagian lagi mengatakan bahwa usain bin Al ra merupakan orang pertama yang memberontak kepada penguasa. Kelompok ini melampaui batas, sampai berani menghinakan usain bin Al ra. Inilah kelompok Ubaidullah bin Ziyd, Hajjj bin Yusf dan lain-lain. Sedangkan Yazd bin Muwiyah tidak seperti itu. Meskipun tidak menghukum Ubaidullah, namun sebenarnya ia tidak menghendaki pembunuhan ini.219

Ibnu Taimiyah, Minhajus Sunnah, p.IV/553 Hiqbah Minat Tarikh, p.259 218 a Muslim, Kitb Al Imarah, Bab Hukmu Man Farraqa AmrAl Muslimin Wa Huwa Mujtami, no.1852 219 Ibnu Taimiyah, Minhajus Sunnah, p.IV/553
217

216

86

Golongan Kedua: Mereka mengatakan usain bin Al ra adalah Imm yang wajib ditaati; tidak boleh menjalankan suatu perintah kecuali dengan perintahnya; tidak boleh melakukan alt jamah kecuali di belakangnya atau orang yang ditunjuknya, baik alt lima waktu ataupun alt Jum'at dan tidak boleh berjihad melawan musuh kecuali dengan izinnya dan lain sebagainya. Ini adalah pendapat Syah.220 Kelompok pertama dan kedua ini berkumpul di Irak. Hajjj bin Ysuf adalah pemimpin golongan pertama (mereka disebut juga Nashibi). Ia sangat benci kepada usain bin Al ra dan merupakan sosok yang lim. Sementara kelompok kedua dipimpin oleh Mukhtr bin Ab Ubaid yang mengaku mendapat wahyu dan sangat fanatik dengan usain bin Al ra. Orang inilah yang memerintahkan pasukannya agar menyerang dan membunuh Ubaidullah bin Ziyd dan memenggal kepalanya. Pasukan Mukhtr bin Ab Ubaid ini disebut juga dengan At Tawwabun yaitu orang-orang yang menyesal tidak membela usain bin Al ra padahal mereka telah sumpah setia untuk membela dan membaiatnya.221 Golongan Ketiga: Yaitu Ahlus Sunnah Wal Jamah yang tidak sejalan dengan pendapat golongan pertama, juga tidak dengan pendapat golongan kedua. Mereka mengatakan bahwa usain bin Al ra terbunuh dalam keadaan terlimi dan mati syahd222. Inilah keyakinan Ahlus Sunnah Wal Jamah, yang selalu berada di tengah antara dua kelompok.223 Sebagaimana sabda Nabi Saw:


asan dan usain bin Al ra adalah dua pemimpin para pemuda penduduk Jannah.224 Ahlus Sunnah juga menegaskan bahwa usain bin Al ra bukanlah pemberontak. Sebab kedatangannya ke Irak bukan untuk memberontak. Seandainya mau memberontak, beliau bisa mengerahkan penduduk Makkah
220 221

Ibid, p.IV/553. Hiqbah Minat Tarikh, p.259 Ibnu Taimiyah, Minhajus Sunnah, Op.cit., p.IV/553 222 Hiqbah Minat Tarikh, Op.cit., p.259 223 Ibnu Taimiyah, Minhajus Sunnah, Op.cit., p.IV/553. 224 Jamiut Tirmidzi, Kitb Al Manaqib, Bab Manaqibul Hasan wAl usain bin Al ra, no.3768

87

dan sekitarnya yang sangat menghormati dan menghargai beliau. Karena saat usain bin Al ra di Makkah, kewibaannya mengalahkan wibawa para Sahabat lain yang masih hidup pada masa itu di Makkah. Beliau seorang alim dan ahli ibadah. Para Sahabat sangat mencintai dan menghormatinya. Karena beliaulah Ahlul Bait yang paling besar.225 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: Setelah peristiwa terbunuhnya usain bin Al ra, orang-orang membuat dua bidah: Pertama, bidah kesedihan dan ratapan yang dilakukan pada setiap hari Asyura dengan menampar-nampar wajah, tangisan, kehausan, dan lantunan syair kesedihan. Juga hal-hal lain yang ditimbulkan oleh perbuatan-perbuatan ini, seperti mencaci dan melaknat para salaf dan memasukan orang yang tidak berdosa bersama pelaku yang sebenarnya, sampai mencela para Sahabat. Kemudian cerita terbunuhnya usain bin Al ra, yang kebanyakan adalah kebohongan, dibacakan dalam peringatan tersebut. Tujuan orang yang membuat acara ini adalah membuka pintu fitnah dan perpecahan umat. Kalau tidak demikian maka apa maksud mereka mengulang-ulang pembacaan peristiwa ini setiap kuburan.226 Kedua, bidah senang-senang dan gembira ria, membagikan manisan, dan menggembirakan keluarga pada hari terbunuhnya usain bin Al ra.227 Biah pertama dilakukan Syah dan bidah kedua dilakukan Nashibi. Keduanya dibuat karena pada saat itu di Kufah ada orang-orang yang membela Ahlul bait, yang dipimpin oleh Al Mukhtr bin Ubaid, seorang pembual yang mengaku dirinya sebagai Nabi, dan ada pula orang-orang yang membenci Ahlul Bait, diantaranya Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi. Padahal bidah tidak boleh diberantas dengan bidah serupa, tetapi dengan menegakkan sunnah Nabi Saw sesuai dengan perintah Allah Swt: tahun dengan melukai diri sampai berdarah, mengagungkan dan bergantung pada masa lampau, serta mengusap-usap

225 226

Ibnu Taimiyah, Minhajus Sunnah, p.IV/553 Ibid, p.V/554 227 Ibnu Taimiyah, Minhajus Sunnah, p.IV/553

88

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:"Inn lillh wa inn ilaihi rjin (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).228 Ibnu Katsr rahimahullah berkata: "Setiap Muslim akan merasa sedih atas terbunuhnya usain bin Al ra. Sesungguhnya dia adalah salah seorang dari generasi terkemuka kaum Muslimin, juga salah seorang Ulama di kalangan para Sahabat, dan anak dari putri kesayangan Raslullah Saw. Ia adalah seorang ahli ibadah, seorang pemberani dan pemurah. Tentang apa yang dilakukan Syah (di hari 'Asyura) seperti bersedih-sedih dan berkeluhkesah merupakan tindakan tidak pantas. Boleh jadi, itu mereka lakukan adalah karena pura-pura dan riya. Sesungguhnya ayah usain ('Ali bin Ab Thlib ra) jauh lebih afdhal (utama) darinya. Beliau juga meninggal dalam keadaan terbunuh. Akan tetapi, mereka tidak menjadikan hari kematiannya sebagai hari berkabung layaknya hari kematian usain bin Al ra (yang diperingati). 'Ali bin Ab Thlib ra terbunuh pada hari Jum'at saat keluar rumah mau melaksanakan alt ubuh, pada tanggal 17 Raman, tahun 40 Hijriyah.229 Allah Swt telah memanggil Raslullah Saw, penghulu anak Adam di dunia dan akhirat, sama seperti para Nabi sebelumnya Alaihimussalam. Namun tidak ada seorang pun menjadikan hari wafat beliau sebagai hari bela sungkawa, atau melakukan perbuatan yang serupa dengan orang-orang Syiah pada hari kematian usain. Tidak seorang pun menyebutkan bahwa terjadi sesuatu sebelum atau sesudah hari kematian mereka, seperti apa yang disebutkan Syiah pada hari kematian usain. Seperti terjadinya gerhana matahari, adanya cahaya merah di langit dan lain-lain riwayat batil, pen-"230 Syaikh Fil Ar Rmi rahimahullah, seorang Ulama Dinasti Utsmniyah mendudukkan kesalahan Syah dalam masalah ini dengan menyatakan: "Adapun menjadikan tanggal sepuluh Muarram sebagai hari berduka karena terbunuhnya usain bin Al ra yang dilakukan kaum Syiah,
228 229

Qs.Al Baqarah: 156 Ibnu Katsr, p.VIII/208 230 Ibnu Katsr, p.VIII/208

89

hal itu adalah perbuatan orang-orang sesat sewaktu di dunia. Tetapi mereka mengira telah melakukan sesuatu yang amat baik. Padahal Allah Swt dan Rasl Saw saja tidak pernah memerintahkan untuk menjadikan hari musibah para Nabi atau hari kematian mereka sebagai hari berduka. Apalagi terhadap hari kematian orang-orang yang kedudukannya di bawah mereka.231 Pada kesempatan lain beliau menyatakan: "Di antara bentuk bid'ah yang dilakukan sebagian manusia pada hari 'Asyura adalah menjadikan hari tersebut sebagai hari berduka. Mereka meratap dan bersedih serta menyiksa diri pada hari tersebut. Disamping itu mereka mencaci para Sahabat Raslulullah Saw yang telah meninggal, berdusta atas nama keluarga Nabi Saw, dan melakukan berbagai kemungkaran lainnya yang dilarang di dalam Al Qur'an dan Sunnah Raslullah Saw serta kesepakatan kaum Muslimin.232 Sesungguhnya usain bin Al ra telah dimuliakan Allah Swt dengan menjadikannya sebagai orang yang mati syahd pada hari tersebut. Dia dan saudaranya asan adalah dua pemuda penghuni Jannah. Sekalipun terbunuhnya dua orang bersaudara tersebut merupakan musibah besar, akan tetapi Allah Swt mensyariatkan bagi kaum Muslimin ketika mengalami musibah untuk mengucapkan kalimat istirj' (inn lillh wa inn ilaihi rajin).233 Adapun melakukan sesuatu yang dilarang Nabi Saw pada hari peringatan musibah setelah berlalu dalam masa yang cukup lama, perbuatan ini dosanya akan lebih besar lagi. Apalagi jika disertai dengan memukulmukul muka, merobek-robek baju, berteriak-teriak yang merupakan kebiasaan bangsa Jahiliyyah, melaknat dan mencaci orang-orang Mukmin (para Sahabat Nabi Radhiyallahu 'anhum), serta membantu orang-orang zindiq untuk merusak Islam.234 Raslullah Saw telah menerangkan hukum menyiksa diri atas peristiwa musibah yang menimpa seseorang dalam adts berikut ini:
231 232

Majlisul Abrr majlis, no.37 Ibid, no.37 233 Ibid, no.37 234 Lihat Majlisul Abrr majlis no 37

90


"Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul muka, merobek-robek baju dan berteriak-teriak seperti orang-orang jahiliyah"235 Dalam adts lain, Raslullah Saw bersabda:

: . :
"Ada empat perkara yang termasuk perkara jahiliyah terdapat di tengah umatku; berbangga dengan kesukuan, mencela keturunan (orang lain), meminta hujan dengan bintang-bintang dan meratapi mayat" Kemudian beliau Saw menambahkan: "Wanita yang meratapi mayat apabila tidak bertaubat sebelum meninggal, ia akan dibangkit pada hari kiamat dengan memakai mantel dari tembaga panas dan jaket dari penyakit kusta"236 Ab Musa Al Asy 'ari ra berkata:

, ,
"Aku berlepas diri orang-orang yang Raslullah Saw berlepas diri dari mereka. Sesungguhnya Raslullah Saw berlepas diri dari wanita yang mencukur rambutnya, wanita yang berteriak-teriak dan wanita yang merobekrobek baju (saat ditimpa musibah)"237
3.2.Jati diri para pembunuh usain bin Al ra

Pelaku pembunuhan usain bin Al ra secara langsung yang masyhur ada dua orang, yaitu Sinan bin Anas An Nakhai dan Syimr bin Dhul Jausyan. Sementara yang menjadi otak pembunuhan ini adalah Ubaidullah bin Ziyad. Padahal dulunya, Ubaidullah dan Syimr ini termasuk pendukung Al (Syiatu Al). Kesimpulan ini merujuk kepada berapa alasan berikut:

235
236

Bukhri dan Muslim Muslim 237 Bukhri dan Muslim

91

Pertama, Ubaidullah bin Ziyad dimasukkan oleh A si ulama Syah- di dalam kitbnya Ar Rijl, ke dalam sahabat-sahabat Al bin Ab lib ra.238 Kedua, Syimr bin Dhul Jausyan dikomentari oleh An Namizi Asy Syahrudi ulama Syah- : Pada perang iffn ia berada dalam barisan pasukan Amrul Muminn Al bin Abi lib ra.239 Ketiga, Sejarah tidak akan melupakan peranan Syits bin Rib di dalam pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala. Syits bin Rib adalah seorang Syiah tulen, pernah menjadi duta kepada Al di dalam peperangan iffn, sentiasa bersama usain. Dia juga yang menjemput usain ke Kufah untuk mencetuskan pemberontakan terhadap kerajaan pimpinan Yazd. Ulama Syah memaparkan bahwa dialah yang mengepalai 4.000 orang bala tentera untuk menentang usain dan dialah orang yang pertama-tama turun dari kudanya untuk memenggal kepala Sayyidina Husain.240 Dr. Utsman bin Muammad Al Khmis ulama Ahlus Sunnah- dalam bukunya iqbah Minat Trikh menyebutkan bahwa para pembunuh usain bin Al ra mendapatkan siksa dunia sebelum siksa akhirat. Ia menegaskan bahwa orang yang memerintahkan untuk membunuh usain bin Al ra adalah Ubaidullah bin Ziyad. Tidak lama setelah usain bin Al ra terbunuh, Ubaidullah juga dibunuh oleh Al Mukhtr bin Ubaid sebagai balasan terhadap terbunuhnya usain bin Al ra. Padahal Al Mukhtr ini termasuk di antara mereka yang meninggalkan Muslim bin Aql.241 Penduduk Kufah ingin menebus dosa mereka sendiri karena beberapa alasan sebagai berikut: Pertama, meninggalkan Muslim bin Aql yang menyebabkan ia terbunuh, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang bergerak membelanya. Kedua, ketika usain bin Al ra berangkat menuju Kufah, tidak ada seorang pun di antara mereka yang membelanya kecuali yang dilakukan oleh
A si, Rijl A si, (Najf: Al Mabaah Al aidariyyah, 1961), bagian ke-120, p.54 Asy Syahrudi, An Namizi, Mustadrakt Ilm Ar Rijl Al adts, (Qumm: Muassasah An Nasyr Al Islmi, 1425 H), bagian ke-6899, p.IV/220 240 Khulashatu Al Mashaaib, hal. 37 241 Al Khams, p.245
238 239

92

Al urr bin Yazd At Tamim dan segelintir orang dari pasukannya. Penduduk Kufah justru meninggalkannya. Oleh karena itu pada peringatan Karbala para pengikut Syah, memukul-mukul dada-dada mereka dan melakukan hal-hal yang menurut mereka bisa menghapus kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh nenek moyang mereka dan seperti itulah klaim mereka selama ini.242 Dari Umarah bin Umair ulama Ahlus Sunnah-, dia menuturkan: Ketika kepala Ubaidullah dan teman-temannya didatangkan, kemudian dibariskan di halaman masjid, aku pun mendekat, lalu aku mendengar orangorang berkata: Telah datang, telah datang. Maka tiba-tiba seekor ular merambat melewati kepala-kepala itu, kemudian masuk ke lubang hidung Ubaidullah bin Ziyd, dan diam di sana beberapa saat. Setelah itu ular itu keluar dan pergi sampai tidak kelihatan lagi. Selanjutnya mereka berkata lagi: Telah datang, telah datang. Ular yang tadi menghilang datang lagi dan melakukan hal serupa sebanyak dua atau tiga kali.243 Inilah pembalasan dari Allah Swt kepada orang yang punya andil besar dalam pembunuhan usain bin Al ra. Dari Ab Raja Al Aridi, dia berkata: Janganlah kalian mencela Al dan Ahlul Bait, karena mereka adalah tetangga kita dari Balhujin - Salah satu
kabilah Arab-. Lantas seseorang menyela apakah kalian tidak melihat orang

fasik ini (maksudnya usain bin Al ra) semoga Allah Swt membunuhnya. Maka Allah Swt menimpakan kepada orang tadi dengan penyakit kaukab244 di kedua bola matanya, kemudian Allah Swt menjadikannya buta.245 Sebelum mengungkap lebih jauh tentang jati diri para pembunuh usain bin Al ra, perlu disebutkan kilas balik sejarah beberapa tahun sebelumnya,

Pasukan Al Mukhtr yang menuntut balas atas terbununya usain bin Al ra menamakan diri mereka pasukan At Tawabbun (yang bertaubat) sebagai pengakuan dari mereka atas keteledoran mereka terhadap usain bin Al ra. Inilah awal mula munculnya Syah dalam bentuk gerakan politik. Sementara dalam bentuk pemahaman aqidah dan fiqih, kemunculannya lama setelah peristiwa ini, yaitu beberapa waktu setelah runtuhnya Daulah Bani Umayyah. 243 Jaamiut Tirmidzi, Kitb Al Manqib, Bab Manaaqibul Hasan wal usain, no.3780. At Tirmidzi berkata: adts ini hasan a. 244 Kaukab adalah noda putih yang mengenai mata. Kadang-kadang, menyebabkan hilangnya penglihatan 245 A abran, Mujamul Kabir, p.III/2830, sanad adts ini a
242

93

yaitu pada masa Al bin Ab lib dan asan bin Al ra yang mengungkapkan kekesalannya kepada para pendukung mereka (Syah-nya).
a. Al bin Ab lib ra dan pendukungnya

Al bin Ab lib ra mengeluhkan para pendukungnya, yaitu penduduk Kufah (Syah-nya Al ra) . Ia berkata dalam kita Nahjul Balghah: Umat-umat terdahulu takut terhadap keliman para pemimpinnya, tapi aku justru takut terhadap keliman rakyatku. Aku mengajak kalian untuk berjihad, namun tidak ada yang menyambut ajakanku. Aku berbicara pada kalian kepada kebaikan secara rahasia dan terang-terangan, tetapi kalian tidak patuh. Aku nasehati kalian, tetapi kalian tidak menerima. Apakah kalian ada, tetapi pada hakikatnya tidak ada? Apakah kalian para hamba sahaya, tetapi seolah-olah sebagai majikan.246 Aku bacakan hukum kepada kalian, namun kalian lari darinya. Aku nasehati kalian dengan nasehat yang bagus, namun kalian lari darinya. Aku ajak kalian untuk berjihad terhadap pembelot, tetapi belum sempat aku mengakhiri perkataanku, kalian sudah membubarkan diri,247 kembali ke tempat kalian, dan kalian memanipulasi nasehat-nasehat yang telah diberikan. Aku meluruskan kalian pada pagi hari, namun sore harinya kalian kembali padaku dalam keadaan bengkok laksana punggung ular. Yang memberi nasehat telah melemah, tertapi orang yang dinasehati makin mengeras.248 Wahai orang-orang yang tubuhnya hadir di sini tapi pikirannya tidak tahu di mana, yang berbeda-beda keinginannya, dan yang menjadi ujian bagi para pemimpinnya, teman kalian tunduk kepada Allah Swt, sedangkan kalian mendurhakai-Nya. Aku sungguh sangat berharap demi Allah Swt- Muwiyah akan menukar kalian dariku, seperti

Nahjul Balghah, (Beirt: Dr At Taaruf), p.I/187-189 Ayyadiya saba (dalam teks asli) adalah ungkapan yang dijadikan sebagai perumpamaan dalam hal perpecahan. Lihat: Lisaanul Arab, kolom 248 Nahjul Balaghah, p.I/187-189
247

246

94

menukar dinar dengan dirham, dimana dia mengambil dariku sepuluh orang di antara kalian dan memberiku seorang dari mereka. Wahai penduduk Kufah, aku diuji melalui kalian dengan lima masalah: Pertama, kalian tuli tapi mempunyai pendengaran Kedua, kalian bisu tapi bisa berbicara Ketiga, kalian buta tapi mempunyai penglihatan Keempat, kalian pengecut ketika menghadapi peperangan Kelima, tidak ada di antara kalian teman yang dapat dipercaya ketika mendapat ujian. Celakalah kalian! Kalian seperti kawanan unta kehilangan penggembalanya, jika digiring dari satu sisi dia lari ke sisi yang lain.249 Tidak hanya sampai di situ, bahkan mereka juga menuduh Al bin Ab lib ra sebagai pembohong. Syarif Ar Radhi ulama Syahmeriwayatkan dari Amrul Muminn Al bin Ab lib ra berkata: Amma badu. Wahai penduduk Irak, kalian itu seperti wanita hamil yang ketika kehamilannya telah sempurna, ia keguguran, suaminya mati, menjanda dalam waktu yang lama, dan pusakanya diwarisi orang yang hubungan kekeluargaannya sangat jauh dengannya. Demi Allah Swt aku tidak mendatangi kalian dengan sukarela. Tapi aku datang kepada kalian dengan terpaksa. Aku sudah mendengar bahwa kalian mengatakan Al berbohong semoga Allah Swt membinasakan kalian- kepada siapa Aku pernah berbohong?250 Al bin Ab lib ra juga berkata: Semoga Allah Swt memerangi kalian, kalian mencemari hatiku dengan nanah, memenuhi dadaku dengan amarah, mencekokiku dengan kesedihan, seteguk demi seteguk, dan kalian merusak pikiranku dengan kedurhakaan dan pengkhianatan.251
b. asan bin Al ra dan pendukungnya
249 250

Ibid, p.I/187-189 Nahjul Balaghah, p.I/118-119 251 Ibid, p.I/187-189

95

asan bin Al ra berkata: Demi Allah Swt Muwiyah jauh lebih baik dari pada mereka (Syah-nya asan bin Al ra). Mereka mengaku bahwa mereka pendukungku yang loyal, padahal mereka ingin sekali membunuhku. Demi Allah Swt seandainya Muwiyah melakukan perjanjian damai denganku yang akan menyelamatkan diriku, dan aku merasa aman dengan keluargaku, maka ini jauh lebih baik daripada mereka (orang-orang Syah Kufah) membunuhku, yang mengakibatkan keluarga dan istriku terlantar. Seandainya aku berperang melawan Muwiyah, maka pasukan Muwiyah akan menyeretku kepadanya dalam keadaan selamat.252 asan bin Al ra juga berkata: Wahai penduduk Irak, aku meninggalkan kalian disebabkan tiga hal: Pertama, pembunuhan yang kalian lakukan terhadap ayahku Kedua, luka yang kalian torehkan padaku Ketiga, hartaku yang telah kalian rampas.253
c. Penghianatan penduduk Kufah dan merekalah para pembunuh usain bin

Al ra Setelah menyimak keluhan Al bin Ab lib dan asan bin Al ra terhadap pendukungnya. Penulis akan menyebutkan perkataan Muammad bin Al bin Ab lib, yang dikenal dengan nama Ibnu Al Hanafiyyah saat menasehati saudaranya, usain bin Al ra. Ia berkata: Wahai saudaraku engkau telah mengetahui penghianatan penduduk Kufah terhadap ayah dan saudaramu. Aku juga takut engkau akan mengalami seperti yang mereka alami.254 Penyair yang terkenal dengan nama Farazdak berkata kepada usain bin Al ra, ketika usain bin Al ra bertanya tentang para pendukungnya yang akan ia datangi: Hati-hatilah mereka memang bersamamu, tapi pedang mereka selalu mengancamu. Hanya saja takdir
An Nadwah, p.III/208 dan Fii Rihaab Ahlul Bait, p.270 Laqaad Syayyaanil usain, p.283 254 Ibnu Thawus, p.39. Asyuraa, Al Ihsai, p.115. Al Majalis Al Fakhirah, Abdul usain, p.75. Muntahal Amaal, p.I/454. dan Alaa Khuthal usain, p.96.
253 252

96

itu turun dari langit (Allah Swt), dan Allah Swt dapat melakukan apa saja yang Dia kehendaki. usain bin Al ra berkata: Engkau benar segala sesuatu memang milik Allah Swt. Setiap hari Dia selalu mengurus makhluk-Nya. Jika memang takdir Allah Swt turun sesuai dengan yang kita suka dan inginkan, maka kita memuji-Nya atas segala nikmat-Nya. Dialah tempat meminta tolong agar dapat mensyukuri nikmat. Tetapi jika ketentuan tidak sesuai dengan harapan, maka Allah Swt tidak akan jauh dari orang yang kebenaran adalah niatnya dan ketakwaan adalah perilakunya.255 Ketika usain bin Al ra berpidato di depan orang-orang Kufah, ia menyinggung ulah dan perilaku mereka masa lampau terhadap ayah dan saudaranya: Jika kalian tidak melaksanakan dan tidak menepati janji kalian, bahkan kalian membatalkan baiat kalian kepadaku, maka hal seperti itu tidaklah aneh. Kalian telah melakukannya terhadap ayah, saudara, dan pamanku, Muslim bin Aql. Orang yang berhasil ditipu oleh kalian benar-benar tertipu.256 Beliau juga diketahui telah mendoakan keburukan untuk mereka dengan kata-katanya: Binasalah kamu ! Tuhan akan membalas bagi pihakku di dunia dan di akhirat..Kamu akan menghukum diri kamu sendiri dengan memukul pedang-pedang di atas tubuhmu dan mukamu akan menumpahkan darahmu sendiri. Kamu tidak akan mendapat keberuntungan di dunia dan kamu tidak akan sampai kepada hajatmu. Apabila mati nanti sudah tersedia azab Tuhan untukmu di akhirat. Kamu akan menerima azab yang akan diterima oleh orang-orang kafir yang paling dahsyat kekufurannya.257 Berikut beberapa kesaksian Ahlul Bait dan para ulama Syiah terkait pembunuhan usain yang dilakukan oleh penduduk Kufah:
a. Al bin usain bin Al ra yang terkenal dengan nama Zainal Abdin
Al Majalis Al Fakhirah, p.79. Alaa Khutal usain, p.100. Maalimul Madrasatain, p.III/72. Maalish Sibthain, p.I/275. Bahrul Ulum, p.194, Nafsul Mahmum, p.172. Khairul Ash-haab, p.39 dan Tuzhlamuz Zahraa, p.170 257 Baqir Majlisi Jilaau AlUyun, hal. 409
255 256

97

Al bin usain bin Al ra mengecam para pengikutnya yang mengkhianati dan membunuh ayahnya, ia berkata: Wahai manusia aku benar-benar ingin bertanya kepada kalian, ingatkah kalian ketika kalian mengirimkan surat kepada ayahku, kemudian kalian menipunya? Kalian menjanjikan kepadanya kesetiaan dan baiat, tetapi kalian memerangi dan meninggalkannya. Sungguh perbuatan itu akan membinasakan kalian. Alangkah jelek pikiran kalian, dengan mata yang mana kalian akan melihat Raslullah Saw ketika bertanya kepada kalian: Kalian telah membunuh keluargaku dan menodai kehormatanku. Kalian bukanlah umatku. Maka bergemuruhlah suasana dengan tangisan para wanita yang mengharu biru dari segala penjuru. Mereka saling berkata: Celakalah kalian disebabkan apa yang kalian lakukan Al bin usain bin Al ra kemudian berkata: Semoga Allah Swt mengasihi orang yang menerima nasehatku dan melaksanakan wasiatku menyangkut Allah Swt dan RaslNya serta keluarganya. Karena dalam diri Raslullah Saw terdapat suri teladan yang baik bagi kita. Mendengar perkataan tersebut mereka pun serentak berkata: Kami semua akan mendengar, patuh dan menjagamu, kami tidak akan meremehkanmu dan tidak akan juga membenci dirimu. Perintahlah kami semaumu semoga Allah Swt meramatimu. Kami akan memerangi orang yang engkau perangi. Kami akan berdamai dengan orang yang engkau ajak berdamai. Kami benar-benar akan membawa Yazd dan kami akan berlepas diri dari orang yang menlimimu dan menlimi kami. Al bin usain bin Al ra berkata: Mustahil wahai para pengkhianat dan para pecundang. Aku akan mengikuti keinginan kalian. Apakah kalian juga akan mengkhianatiku seperti yang kalian lakukan terhadap orangtuaku? itu tidak akan pernah aku lakukan, demi Rabb yang menciptakan unta-unta, luka itu belum sembuh. Ayahku dan keluarganya terbunuh kemarin. Aku tidak akan lupa dengan kisah meninggalnya Raslullah Saw, keluarganya, serta ayahku dan anak-anaknya. Kesedihan
98

itu selalu hadir setiap saat. Pahitnya masih terasa di tenggorokan dan kerongkonganku. Duri itu masih tetap bersarang di dadaku.258 Ketika Imm Zainal Abdin lewat dan melihat penduduk Kufah sedang meratap dan menangis, ia membentak mereka seraya berkata: Kalian ratapi dan menangisi kami (Ahlul Bait) siapakah yang membunuh kami?259
b. Ummu Kulsum binti Al rah

Ummu Kultsum berkata: Wahai orang-orang Kufah (Syah) alangkah jahatnya kalian. Kenapa kalian meninggalkan dan membunuh usain? Kalian rampas dan warisi harta bendanya, kalian tawan istriistrinya, dan kalian susahkan dia? Maka celaka dan jauhlah kalian dari rahmat Allah Swt. Musibah apa yang telah menimpa kalian, dosa apa yang telah kalian pikul di punggung kalian, darah siapa yang telah kalian tumpahkan, istri-istri siapa yang kalian tawan, anak-anak siapa yang kalian rampas, dan harta benda siapa yang kalian rampok? Kalian telah membunuh laki-laki terbaik setelah Nabi Saw. Rasa kasih sayang telah dicabut dari hati kalian.260
c. Zainab binti Al rah

Zainab binti Al rah ketika berbicara di hadapan kumpulan orang yang menyambutnya dengan isak tangis dan jeritan berkata: Apakah kalian benar-benar menangis dan meratap? Demi Allah Swt menangislah kalian banyak-banyak dan tertawalah sedikit. Karena kalian telah mendapatkan cela dan kehinaannya. Dan kalian tidak akan pernah bisa

Khutbah ini disebutkan oleh A abras dalam A abras, Amad bin Al bin Ab lib, Al Itijj, (Beirt: Muassasah Al Alam, 1401 H), p.II/32 .; Ibnu awus, p.92; Al Amin dalam Lawaaijul Asyjaan, p.158. Abbas Al Qummi dalam Muntahal Amaal, I/157, usain Kurani dalam Rihlah Karbala, p.183. Abdurrazaq Al Muqrim dalam Maqtalul usain, p.317. Murtadha Iyad dalam Maqtalul usain, Cet.4, 1996, p.87 dan diulang oleh Abbas Al Qummi dalam Nafsul Mahmum, p.360. Radhi Al Qazwini juga menyebutkannya dalam Tuhlamuz Zahraa, p.262. 259 Ibnu awus, p.86. Nafsul Mahmum, p.357. Maqtalul usain, Murtadha Iyad, p.83. dan Tuhlamuz Zahraa, p.257 260 Ibnu awus, p.91. Nafsul Mahmum, p.363. Maqtalul usain, Al Muqrim, p.316. Lawaaijul Asyjaan, p.157. Maqtalul usain, Murtadha Iyad, p.86 dan Tuzhlamuz Zahraa, p.261.
258

99

membersihkannya untuk selama-lamanya. Bagaimana bisa kalian mencuci dosa pembunuhan terhadap keturunan penutup para Nabi?261 Dalam riwayat lain disebutkan bahwasanya Zainab binti Al rah mengeluarkan kepalanya dari tandu yang membawanya sambil berkata kepada para penduduk Kufah: Diamlah wahai orang-orang Kufah. Kaum laki-laki dari kalangan kalian membantai kami (Ahlul Bait), sementara kaum wanita kalian menangisi kami. Maka Allah Swt lah yang akan menjadi hakim di antara kami dan kalian pada hari Kiamat.262
d. Jawad Muadditsi

Jawad Muadditsi ulama Syah- berkata: Semua penyebab ini mengakibatkan Imm Al menerima dua kepahitan dari mereka, Imm asan menghadapi pengkhianatan mereka, Muslim bin Aql terbunuh di tengah-tengah mereka secara teraniaya, dan usain bin Al ra terbunuh kehausan di Karbala, sebuah tempat di dekat Kufah, di tangan tentara Kufah.263
e. usain Kurani

usain Kurani ulama Syah- berkata: Penduduk Kufah tidak hanya membelot dari usain bin Al ra, bahkan disebabkan sikap mereka yang tidak berpendirian, mereka mengambil sikap ketiga, yaitu mulai berlomba-lomba menuju Karbala untuk memerangi usain bin Al ra. Di Karbala mereka memulai berlomba-lomba mengukir sejarah dengan perbuatan-perbuatan yang membuat syaitan senang dan membuat Allah Swt murka.264 usain Kurani juga berkata: Kita juga akan menemukan perbuatan lain yang menunjukan kemunafikan orang-orang Kufah, yakni Abdullah bin Hauzah At Tamim berdiri di depan usain bin Al ra dan berteriak lantang: Adakah usain di antara kalian? Padahal orang ini adalah salah seorang penduduk Kufah. Padahal kemarin dia termasuk pendukung Al.
MaAl usain Fi Nahdhatihi, p.295 Abbas Al Qummi dalam Nafsul Mahmum, p.365. Radhi bin Nabi Al Qazwini dalam Tuzhlamuz Zahraa, p.264 263 Mausuah Asyura, p.59 264 Fii Rihlah Karbala, p.60-61
261 262

100

Dan kemungkinan dia termasuk orang yang mengirimkan surat kepada usain atau memberikan dukungan kepadanya untuk menjadi khalfah. Tapi setelah itu dia berkata: Wahai usain bergembiralah dengan neraka.265
f. Murta Muahari

Murta Muahari ulama Syah- berkata: Tidak diragukan lagi bahwa penduduk Kufah adalah pendukung Al, dan yang membunuh usain bin Al ra adalah pendukungnya sendiri (Syiah-nya usain).266 Murtadha Muthahari juga berkata: Kita tetapkan bahwa kisah ini teramat penting dari sisi ini. Kita mengatakan bahwa usain terbunuh di tangan orang yang mengaku Islam-, bahkan di tangan Syah, 50 tahun setelah wafatnya Raslullah Saw. Itu suatu hal yang mengherankan, sebuah teka-teki yang aneh dan sangat menarik perhatian.267 Sementara yang memberi perintah dan senang dengan terbunuhnya usain adalah Ubaidullah bin Ziyad. Yang melakukan pembunuhan secara langsung terhadap usain adalah Syimr bin Dhul Jausyan dan Sinan bin Anas An Nakhai iffn.268
g. Kim Al Ihsi An Najfi

itu ironi, mengingat mereka bertiga

termasuk pendukung Al dan termasuk personil Al dalam perang

Kim Al Ihsi An Najfi ulama Syah- berkata: Pasukan yang keluar memerangi usain bin Al ra berjumlah 300.000 orang. Semuanya penduduk Kufah. Tidak ada orang Sym, Hijaz, India, Pakistan, Sudan, Mesir, dan Afrika di antara mereka. Mereka semua adalah orang-orang Kufah, berkumpul dari berbagai kabilah.269
h. Musn Al Amn

Muhsin Al Amin ulama Syah- berkata: Ada 20.000 orang penduduk


265 266

Irak

membaiat

usain

dan

mengkhianatinya,

lalu

Fii Rihlah Karbala, p.60-61 Al Malhamatul usainiyyah, p.I/129 267 Al Malhamatul usainiyyah, p.III/94 268 Ibid,p.III/94 269 Asyura, p.89

101

memeranginya. Padahal baiat itu masih mereka pegang. Hingga akhirnya mereka membunuhnya,270
i. Q Nrullah Syustri

Q Nrullah Syustri ulama Syah- juga menulis di dalam bukunya Majlis AlMuminn bahwa setelah sekian lama (kurang lebih 4 atau 5 tahun) usain terbunuh, pemimpin orangorang Syah mengumpulkan orangorang Syah dan berkata, Kita telah memanggil usain dengan memberikan janji akan taat setia kepadanya, kemudian kita berlaku curang dengan membunuhnya. Kesalahan kita sebesar ini tidak akan diampuni kecuali kita berbunuh-bunuhan sesama kita. Dengan itu berkumpulah sekian banyak orangorang Syiah di tepi Sungai Furat sambil mereka membaca ayat yang artinya, Maka bertaubatlah kepada Tuhan yang telah menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu.271 Kemudian mereka saling membunuh sesama diri mereka sendiri. Inilah golongan yang dikenal dalam sejarah Islam dengan gelaran At Tawbn.272 Dari semua kesaksian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa ternyata pembunuh usain bin Al ra di Karbala adalah orang-orang Syah Kufah yang mengkhianati sampai pada taraf membunuh cucu Nabi Saw tercinta. Bahkan Ahlul Bait dan ulama-ulama Syah pun mengakui hal tersebut. Lantas mengenai tuduhan-tuduhan yang ditujukan kepada Bani Umayyah adalah semata-mata hanya untuk mengalihkan isu politik saja. Seakan-akan Yazd bin Muwiyah dan Bani Umayyah lah yang paling bertanggung jawab atas peristiwa memilukan ini.
3.3.Keterlibatan Yazid bin Muawiyyah dalam pembunuhan usain bin

Al ra
Al ml, Musin Al Amn, Aynusy Syah, (Damaskus: Mabuah bin Zaidn, Tanpa Tahun), p.I/26 271 Qs. Al Baqarah: 54 272 Q Nrullah Syustri, Majlis AlMuminn
270

102

3.3.1.

Posisi Yazd bin Muawiyyah terkait pembunuhan usain bin

Al ra Yazd bin Muawiyyah tidak mempunyai andil dalam pembunuhan usain bin Al ra. Pernyataan ini bukan dalam rangka pembelaan terhadap Yazd semata, tetapi pembelaan terhadap kebenaran.273 Perlu diingat bahwa Yazd mengirim Ubaidullah bin Ziyad sekedar untuk menghalangi masuknya usain bin Al ra ke Kufah dan dia tidak memerintahkan supaya usain bin Al ra dibunuh, adapun tuduhan Syah bahwa Yazd telah merencanakan pembunuhan tersebut adalah tidak benar. Bahkan usain bin Al ra sendiri berbaik sangka kepada Yazd seperti dalam perkataanya: Biarkan aku pergi ke tempat Yazd, kemudian aku taruh tanganku di atas tangannya (berbaiat).274 Ibnu Taimiyah berkata: Yazd bin Muwiyah tidak pernah memerintahkan pembunuhan terhadap usain bin Al ra. Demikian menurut kesepakatan para Ulama ahli adts. Akan tetapi hanya memerintahkan Ibnu Ziyd supaya melarang usain memasuki wilayah Irak. Saat berita terbunuhnya usain terdengar oleh Yazd, dia menampakan kesedihan yang mendalam atas peristiwa ini. Dari sikapnya yang diam mematung terdengar tangisannya. Dia tidak pernah menawan satu pun perempuan dari keluarga usain bin Al ra. Tetapi sebaliknya dia menghormati keluarga usain bin Al ra, membebaskan mereka sampai dia mengembalikan mereka ke negri mereka.275 Mengenai riwayat yang menyebutkan penghianaan terhadap wanitawanita keluarga Raslullah Saw mereka dibawa ke Sym sebagai tawanan dan dihinakan disana, semua ini adalah riwayat yang tidak benar. Sebaliknya Bani Umayyah sangatlah menghormati Bani Hsyim. Karena itu ketika Al Hajjaj bin Yusuf menikahi Fthimah binti Abdullah bin Jafar, Abdul Mlik bin Marwan tidak menyetujuinya. Yazd memerintahkan Al Hajjaj supaya

273 274

Lihat uraian detainnya di Al Khams, p.261-266 Al Khams, p.261 275 Ibnu Taimiyah, Minhjus Sunnah, p.IV/557-559

103

melepaskan dan menceraikannya. Mereka memuliakan Bani Hsyim, bahkan tidak ada seorang pun perempuan Bani Hsyim yang tertawan.276 Perempuan-perempuan Bani Hsyim pada waktu itu terhormat dan dimuliakan. Karena itu riwayat yang menyebutkan bahwa kepala usain bin Al ra dikirim kepada Yazd ini juga tidak benar. Yang benar kepala usain bin Al ra tetap berada di tangan Ubaidullah bin Ziyad di Kufah. usain bin Al ra sendiri kemudian dimakamkan, akan tetapi tidak diketahui dimana kuburannya. Pendapat yang masyhur mengatakan, ia dikuburkan di Karbala, tempat ia dibunuh277, para ulama dan sejarawan juga menyebutkan bahwa ia dikuburkan di Madinah.278
3.3.2.

Sikap moderat terhadap Yazd

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: Orang-orang yang memerangi Yazd pecah menjadi tiga kelompok: dua kelompok berlebihan dan satu lagi moderat. Pertama, kelompok ini amat fanatik dan sangat mencintai Yazd. Bahkan mereka mengatakan bahwa Yazd adalah Nabi dan dia Mashum.279 Kedua, mereka sangat anti kepada Yazd dan membencinya bahkan mengkafirkannya. Kelompok ini mengatakan bahwa Yazd adalah orang munafik yang pura-pura menampakkan keislaman tapi menyembunyikan kemunafikan serta benci kepada Nabi Saw.280 Mereka menisbatkan Syair ini kepada Yazd ketika usain bin Al ra terbunuh maupun ketika Yazd melakukan tindakannya pada orang-orang Harrah: Oh, andai nenek moyangku yang mati di Badar menyaksikan Kesedihan orang Khazraj akibat tertembus tombak Telah kami bunuh pemuka mereka
Ibid, p.IV/557-559 Al Khams, p.262 278 Lihat Ibnu Taimiyah, Majm Fatwa p.XXVII/465 279 Ibnu Taimiyah, Mukhtaar Minhjus Sunnah An Nabawiyah, (ana: Dr u idq, 1426 M/2005 M) p.I/346 280 Ibid, p.I/346
277 276

104

Dan itu membalas kekalahan kami di Badar Mereka juga menisbatkan syair berikut kepada Yazd: Saat rombongan itu tampak dan terlihat kepala-kepalanya Di atas tanah Jirun, burung gagak pun meracau, Sedang aku berkata: meratap atau tidak sama saja, Sungguh telah kutunaikan pada Nabi hutangku Syaikhul Islam melanjutkan penjelasannya, sekaligus mewakili pendapat ketiga mengatakan: Pendapat dua kelompok ini tidak benar. Yazd adalah salah seorang penguasa kaum Muslimin, serta salah seorang khalfah mereka. Jadi sekali lagi ditegaskan, pendapat kedua kelompok ini tidak benar.281 Mengenai terbunuhnya usain bin Al ra, tidak diragukan lagi bahwa dia terbunuh dalam keadaan teraniaya dan syahd, sebagimana orang-orang yang terbunuh dalam keadaan teraniaya dan syahd seperti dirinya. Siapa pun yang terlibat atau senang terhadap pembunuhan usain bin Al ra, maka ia termasuk orang yang maksiat kepada Allah Swt dan Rasl-Nya. Sungguh ini adalah musibah yang menimpa umat Islam, baik yang terbunuh dari kalangan keluarga usain bin Al ra ataupun bukan. Pembunuhan ini bagi usain bin Al ra adalah mati syahd. Dengan itu derajat dan kedudukannya di sisi Allah Swt akan dinaikan.282
3.3.3.

Larangan mencela Yazd bin Muwiyah

Di antara kejadian penting yang terjadi pada zaman pemerintahan Yazd adalah perang Harrah,283 perang terhadap Abdullah bin Zubar ra dan permbunuhan terhadap usain bin Al ra. Karena peristiwa-peristiwa inilah sebagian orang membolehkan melaknat Yazd, di samping ada pula orangorang yang melarangnya.

Ibnu Taimiyah, Mukhtaar Minhjus Sunnah An Nabawiyah, p.I/346 Ibid, p.I/346 283 Perang ini terjadi ketika penduduk Madinah memberontak kepada Yazd. Ketka itu Yazd menghalalkan Madinah (membolehkan perang dan pertumpahan darah di kota ini) selama tiga hari. Al Khams, p.264
281 282

105

Apabila merujuk pada kaidah hukum maka orang yang membolehkan laknat tersebut terlebih dahulu harus menetapkan tiga hal.284 Pertama, menetapkan bahwa Yazd benar-benar fasik. Kedua, menetapkan bahwa Yazd belum bertaubat dari kefasikannya; mengingat orang kafir saja diterima taubatnya oleh Allah Swt, apalagi orang fasik. Ketiga, menetapkan bolehnya melaknat sosok tertentu. Hukum melaknat sosok tertentu yang sudah meninggal yang tidak dilaknat Allah Swt dan Rasl-Nya- hukumnya adalah haram. Dalilnya adts a dari Nabi Saw bahwa beliau bersabda:


Janganlah kalian mencela orang-orang yang sudah mati, karena mereka telah mendapatkan apa yang sudah mereka kerjakan.285 Agama Allah Swt tidaklah tegak di atas caci maki. Akan tetapi, tegak di atas akhlaq yang mulia. Caci maki sama sekali bukanlah bagian dari agama Allah Swt. Bahkan Raslullah Saw bersabda:


Mencaci seorang Muslim adalah kefasikan, dan memeranginya adalah kekufuran.286 Hal ini sebagaimana yang telah diungkapkan di atas, jika memang benar Yazd itu seorang fasik. Hanya Allah Swt yang maha mengetahui hal ini. Bahkan dalam sebuah riwayat a, Nabi bersabda:


Tentara pertama yang memerangi kota kaisar (konstantinopel), dosa mereka diampuni.287

Ibid, p.264 a Bukhri, Kitb Al Al Janiz, Bab M Yunha an Sabbil Amwaat, no.1393 286 Muttafaq Alaih: a Bukhri, Kitb Al Iman, Bab Khauful Mumin an Yuhbath Amaluh, no.48. a Muslim, Kitb Al Iman, Bab Bayan Qaulin Nabi Saw Shibatul Muslim Fusuq wa Qitaluhu Kufrun, no.64 287 a Bukhri, Kitb Al Jihad, Bab M Qiila Fii Qitaalir Ruum, no.2924.
285

284

106

Pasukan yang disebut-sebut dalam adts ini, ketika itu di bawah panglima Yazd bin Muwiyah. Disebutkan pula bahwa yang ikut serta dalam pasukan ini di antaranya adalah Ibnu Umar, Ibnu Zubar, Ibnu Abbs, dan Ab Ayyb ra pada tahun 49 H. Ibnu Katsr berkata: Yazd melakukan kesalahan yang fatal ketika memerintahkan gubernurnya, Muslim bin Uqbah, pada perang Harrah untuk menghalalkan Madinah selama tiga hari. Apalagi dengan terjadinya pembunuhan terhadap beberapa Sahabat dan anak-anak mereka.288 Pada akhirnya urusan Yazd bin Muwiyah kita serahkan kepada Allah Swt, sebagaimana yang dikatakan oleh Adh Dhahabi: Kita tidak mencaci makinya dan tidak pula mencintainya.289 Seseorang yang menemui Imm Ab Zurah Ar Rzi, kemudian berkata kepadanya: Aku membenci Muwiyah. Ab Zurah bertanya: Mengapa? orang itu menjawab: Karena dia memerangi Al tanpa alasan yang dibenarkan Islam. Imm Ar Rzi pun menyatakan: Rabbnya Muwiyah maha pengasih. Musuh Muwiyah juga pengasih. Lalu apa urusanmu dengan mereka (Al dan Muwiyah)?290
3.3.4.

Kesedihan Yazd atas gugurnya usain bin Al ra dan

sikapnya kepada keluarganya A abri menyebutkan bahwa ketika keluarga usain datang kepada Ibnu Ziyd pada waktu isy, dia menyediakan rumah untuk mereka, memberi mereka harta, nafkah dan pakaian kemudian memberangkatkan mereka kepada Yazd.291 Profesor Darruzah berkata.Ini membuktikan bahwa riwayat-riwayat yang menetapkan mumalah yang baik dari Ubaidullah bin Ziyd, kemudian dari Yazd kepada anak usain yang masih kecil, anak-anak perempuan dan istrinya, tangisan Yazd atasnya dan keikutsertaan
288 289

Ibnu Katsr, p.VIII/220 Adh Dhahabi, p.IV/36 290 Ibnu Asakir, Tarikh Dimisyqi, 291 A abari dalam Ibnul Arabi, p.338

107

keluarganya, laki-laki dan perempuan dalam hal itu adalah lebih a daripada riwayat-riwayat yang menyatakan kekerasannya dan kebrutalannya kepada mereka, lebih-lebih tidak terjadi perang yang sengit yang mengobarkan emosi dan kemarahan dimana akibatnya harus dipikul oleh para wanita dan anak-anak. Apa yang terjadi telah terjadi di luar keinginan mereka bahkan mereka sendiri membencinya.292 Di antara bukti-bukti atas hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh A abri dan Ibnu Qutaibah sekaligus, yaitu kelanjutan hubungan baik dan surat menyurat antara Yazd dengan Al bin usain, dan sikap Al bin usain sesaat setelah pemberontakan Madinah di mana mereka meriwayatkan bahwa Al dan kerabatnya tidak terlibat pada gerakan itu. Dan bahwa Yazd mewasiatkan kepada panglimanya dan memintanya mendekat kepadanya dan menyampaikan kepadanya bahwa suratnya telah sampai kepadanya dan bahwa orang-orang buruk itu telah menyibukannya darinya. Panglima Yazd menyambut Al bin usain dengan ramah dan mempersilahkannya duduk di kursi kebesaran dan menyampaikan surat Yazd kepadanya.293 Fakta mumalah sebagai bukti dari kebohongan para pembohong yang menyatakan bahwa Ahlul Bait ditawan, dinaikan ke punggung unta tanpa pelana paska gugurnya usain. Ini adalah kedustaan yang jelas. Umat Muammad Saw tidak menghalalkan menawan wanita Bani Hsyim, mereka memerangi usain karena takut padanya. Karena diisukan usain akan merebut kerajaan mereka. Ketika usain gugur perkaranya selesai dan keluarganya dipulangkan ke Madinah. Akan tetapi kebodohan Syah294 kepada hal tersebut adalah puncak dalam masalah ini. Tidak ragu bahwa pembunuhan usain bin Al ra termasuk dosa besar, pelaku dan orang yang rela kepadanya berhak atas adhab, akan tetapi pembunuhan terhadap usain tidak lebih besar daripada pembunuhan terhadap bapaknya, tidak pula lebih besar daripada pembunuhan terhadap iparnya Umar dan tidak pula lebih besar daripada pembunuhan terhadap suami bibinya, Utsmn bin Affn ra.
292 293

Darruzah, p.VIII/384 A abar, p.IV/379, Al Immah Wa As Siyasah, p.I/2 294 Dalam Kitbnya Ibnu Arabi menyebut Syah dengan sebutan Rafidhah

108

Yang menyayat hati lagi adalah bahwa orang-orang munafik yang berbibir manis dari kota Kufah yang mengundang usain mengangkatnya sebagai khalfah untuk menjadi pengikut setianya (Syah-nya)-, mereka itulah yang menipunya dan berlepas diri darinya, merekalah penyebab utama terbunuhnya usain bin Al ra di Karbala dan kemudian mereka menangisinya.295 Wallahu Alam.

295

Ibnul Arabi, 339

109

BAB IV SIMPULAN DAN SARAN 4.1. SIMPULAN 4.2. KETERBATASAN PENELITIAN 4.3. SARAN

110