Anda di halaman 1dari 5

TEURIMONG GEUNASEEH Syair azan terdengar dari ufuk ke ufuk pertanda bahwa kewajiban seorang muslim untuk memenuhi

panggilan-Nya telah tiba. Para iblis juga tak tinggal diam, mereka terus mengganggu anak cucu adam. Begitu juga dengan aku dan keluarga besar yang baru saja selesai mengilingi kota Banda Aceh dan langsung bergegas menuju ke Mesjid Bauturrahman di Seuramoe Mekkah itu. Namun ada juga orang yang telah terpengaruh dengan rasukan para iblis ( Nauzubillahi Min Zalik! ). Huuuftz... Rasa lelah kini telah menyelimuti jiwa dan ragaku setelah sampai di rumah. Tak heran jika setelah lepas shalat magrib aku langsung merebahkan ragaku di atas tempat tidur yang bisa dibilang seperti manoek keu marom karena tempatnya yang sudah agak masuk kedalam ditengahnya. Bagaimanapun hanya dia yang bisa mengerti aku disaat aku kelelahan. Ya..., dia memang benarbenar baik dan mendukung untuk diajak berkonsultasi dengan kenikmatan walau terkadang dia lupa didandanin, tetapi dia sekalipun tidak pernah mengeluh. Kali ini aku betulbetul tidak ingin menyita waktu tidur, walaupun perutku sudah saling sahut menyahut di dalamnya. Akan tetapi tak apalah, karena tidur itu adalah salah satu kenikmatan yang sangat sukar untuk ku dapatkan. Sehingga saat itu juga dengan tidur bisa membuat perutku jauh lebih kenyang. Gila memang, tetapi itulah kenyataanya. Tanpa pikir panjang mataku sedikit demi sedikit telah tertutup dan terlelap. Aku sungguh merasa asing dengan suasana yang kini berada disekililingku, sepertinya aku berada ditempat yang begitu asing. Aku sama sekali tidak merasa nyaman dengan tempat ini. Berlari tanpa arah yang pasti. Bagitu perintah hatiku. Namun selalu saja ada hambatan dan tantangan yang aku lalui. Jalan yang aku tuju itu buntu di pertengahannya, seperti dunia yang telah terpecah belah oleh kemarau yang panjang. Memang sering aku mendengar bahwa lempengan bumi kini telah menipis, tetapi aku tidak pernah terbayang akan jadi seperti ini. Di depanku sebuah jembatan menghubungkan ke seberang yang terlihat begitu tandus, layaknya padang pasir yang tidak ada kehidupan untuk makhluk yang ada di planet ini. Aku sangat heran, kenapa aku sampai berada disini, suatu fenomena yang tidak pernah aku bayangkan kini semakin menerkam. Aku berteriak sekuat tenaga tapi terasa suaraku hampir tak dapat lagi mengeluarkan nada nada seperti biasanya. Hal yang fatal, aku sama sekali tidak melihat dunia sebagaimana yang aku lihat biasanya, disini mengerikan. Jangankan untuk manusia, hewan dan tumbuhan tidak satu pun aku temukan.

Jujur, dari hati yang paling dalam, disini aku sangat ketakutan. Suasananya begitu mencekam, anginpun tak berani menampakkan dirinya, seolah seperti ada penguasa yang melarangnya untuk keluar. Namun, dengan segala keteguhan hati aku tetap terus memberanikan diri untuk mencari jalan keluar. Tidak.Tidakaku tidak boleh menyerah. where there is a will There is a way Bisikku dalam hati. Aku coba kerahkan segenap nyaliku, tapi air mataku tidak dapat terbendung lagi hingga tertetes begitu saja tanpa paksaan sedikitpun. kalaupun ini takdir yang harus aku alami, aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku terus berjalan menelusuri kegersangan yang seakan tak berujung. Mataku melirik kearah jam yang menempel di tangan kiriku, tetapi disana juga tidak kutemukan tandatanda kehidupan. Jarumnya menunjukkan pukul 00:00 wib dan tak lagi berdetak. Apakah arti ini semua.??? Batinku dipenuhi dengan tanya. Aku tidak pernah tahu mulai kapan jam ini mengeluh untuk berjalan yang akhirnya membuat dia pupus dari semangat. Namun semangatku tidak pernah pudar. Jalan yang aku tembus selalu tak menampakkan ujungnya. Bahkan membuat aku kembali berada di tengahtengah jembatan. Semua berputar pada porosnya. Seperti juga suaraku yang hanya berputar dalam mulutku, tak satu katapun yang bisa terucap. Segenap jiwaku merasa sangat gerah, aku merasa iba pada diriku sendiri. Bagaimana aku meniti jalan ini. Kini aku berada di jembatan gantung yang di bawahnya tidak sedikitpun terlihat air karena ia begitu dalam. Kekecewaan kini sungguh tak berubah. Aku mencoba meredam semua ini dengan bersabar dan beristighfar. Segenap jiwa kuhempas ke pemilik roh. Kugerakkan perlahan lidahku untuk melafazkan keagungan Allah. Terasa kerongkonganku mengalir lembut hawa yang segar. Perlahan semakin kugerakkan lidaku lebih cepat lagi. Walau masih terbata, terdengar lafaz istighfar meluncur dari mulutku. Aku mampu mengeluarkan suara. Kemudian kugemakan suaraku dengan terus bertasbih dan bertahmid. Alhamdulillah, tidak lama stelah itu, aku merasakan adanya sentuhan yang membuat jiwa dan tubuhku menjadi bugar kembali. Beberapa menit setelah itu aku juga merasakan adanya angin yang menyapaku dari berbagai penjuru. Betapa girang hatiku saat ini, walau tidak sepenuhnya tetapi setidaknya aku sudah agak tenang. Menurutku berarti tempat ini ada kehidupan. Secepat itu juga aku bergegas melanjutkan jalan untuk melewati jembatan tersebut. Sangking girangnya hampir saja kakiku masuk kedalam lobang kayu jembatan. kalau dilihat memang jembatan ini sudah tidak layak untuk dipakai lagi. Kini aku mulai berhatihati dan terus melangkah menyusuri jembatan. Dari jauh aku melihat seperti ada jalan yang baru dan itu artinya aku hampir bisa melewati jembatan tersebut.

Alhamdullillahirabbilalamin, terima kasih Ya Allah ! Engkau telah memberikan aku petunjuk. Sang surya hampir mulai redup, tampak dari arah Barat cahaya merah semakin terpencar dengan indah. Aku mempercepat langkah karena hari sudah hampir gelap, meskipun aku tak pernah tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Perjalanan ini tidak siasia, kini aku telah tiba di sudut jalan yang baru, puji syukurku tak henti hentinya aku panjatkan kepada sang khaliq. Namun ternyata ini bukan akhir dari hambatan yang aku hadapi, jalan yang aku tempuh masih membentang luas di permukaan aneh. Kali ini aku berdoa dengan suara yang keras, meski itu bukan sifat yang baik. Ya Allah.. sungguh besar keagungan-Mu. Tapi hamba hanyalah orang hina yang hidup dengan segala kekuranga Hamba sudah tidak sanggup lagi Ya Allah Hamba mohon, berilah pertolongan untuk hamba. Kini aku terpaku dan terdiam di sela sela gelapnya malam. Seakanakan tidak dapat lagi melihat realita kehidupan. Hhuuuuiuuuwiuuu. Hembusan angin masih menemaniku yang merupakan salah satu pertanda bahwa mereka ingin mengajakku untuk terus berjuang dan berusaha walau mereka tahu bahwa aku tidak sanggup dan ingin cepatcepat keluar dari tempat yang mengerikan ini. Namun, rasa lelah dan gelapnya malam yang semakin larut, aku putuskan untuk mencoba tidur sejenak. Sebelumnya tidak lupa pula, berdoa dengan penuh harap bahwa setelah aku terbangun dari tidur nanti aku akan menemukan jalan keluar dari sini. Belum begitu lelap rasanya tidurku, namun seperti aku mendengar suara yang sangat nyaring. Suara itu sudah tidak asing lagi bagiku. Tetapi apa yaa..?? Coba kerahkan ingatanku untuk mengenalinya. Apakah ini suara sangkalkala..?. Tidaak..Tidak, ini nggak mungkin. Aku berteriak histeris. Kemudian aku tersentak ketika tiba-tiba berada di suatu ruangan yang sangat gelap. Jangankan untuk menentukan arah, untuk berjalan saja aku masih meraba raba. Yang anehnya tempat ini justru membuat aku terasa nyaman. Astagfirullahal azim. Bukankah ini kamaku. Kenapa aku jadi sebodoh ini ? Masak kamar sendiri saja aku masih lupa-lupa ingat ? Keherananku semakin bertambah. Yang berdering itu kan jam beker kesayanganku yang dihadiahkan orang tuaku saat kecil dulu. Ya Ampun .ko bisa yaa? Sepertinya pikirku masih melayang laying. Heeeyyy inikan Cuma mimpi..! Tetapi memoriku kini juga masih memikirkan tentang yang tadi kualami dalam tidurku.

Ya Allah, sebenarnya apa yang sedang terjadi padaku. Mengapa waktu yang ditunjukkan jamku sekarang sama seperti apa yang ada dalam mimpiku ? Dengan segala kebimbangan aku keluar bersama rasa yang masih ragu dan berdiri di teras atas yang berada dekat dengan kamarku. Karena rumahku berada dekat dengan pusat kota Serambi Mekkah jadi aku dengan mudah bisa menghibur diri. Kebetulan malam ini malam minggu. Orangorang masih saja berlalu lalang meski sudah larut malam. Sorotan lampu terlihat dari sudut ke sudut, namun aku masih saja tetap tidak tenang. Mmimpi itu masih saja mengisi pikiranku. Sesekali aku maju lalu terdiam kemudian mundur, aku seperti orang sedang gelisah tak menentu. Setelah beberapa menit aku turun kebawah dan menuju ke dapur untuk mengambil segelas air, aku meneguknya perlahan. Dengan begitu aku berharap dapat menenangkan diri. Tetapi ternyata hal tersebut justru membuat hatiku lebih tidak nyaman. Pikiranku menjadi kacau, stress, frustasi, dan lebih ambruk dari sebelumnya. Kuputuskan untuk kembali ke atas dan berdiri kembali diteras. Tibatiba telpon selulerku berbunyi, dari nada suara yang terdengan menandakan ada pesan yang masuk. Ternyata pesan tersebut berasal dari salah satu kawanku yang kini sedang meniti pendidikannya di salah satu sekolah terfavorit di Aceh. Tepatnya di SMA UNGGUL, dialah salah satunya dari beberapa sahabat terbaikku. Dia sering mengirim pesan untukku ditengah larutnya malam. kon banwamaza tgamal an ? Oyaa tahajutan Yuukk! Hatiku terasa gemetar. Astagfirullahal azim !. Secepat kilat aku menuju ke kamar mandi untuk berwudhuk. Segera kutunaikan shalat Isya yang belum sempat kulakukan. Selepas shalat, bait-bait doa kuhaturkan ke Penguasa hidup. Ya Allah, mungkinkan mimpiku tadi teguranmu ? Maafkanlah hambamu yang hina ini, yang telah lupa akan kewajiban. Aku ambil Al Qur-an dan kubuka Surat Al Insyirah ayat 1 8. Kubaca berulang kali dengan isakan yang penuh dengan rasa bersalah. Tak lupa pula aku baca maknanya sambil menghayatinya. Bukankah kami telah melapangkan untukmu dadamu ? Dan kami telah menghilangkan darimu bebanmu yang memberatkan punggung-Mu.? Dan kami tinggikan bagimu sebutan ( Nama ) karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan) kerjakanlah dengan sungguhsungguh ( urusan yang lain ). Dan hanya kepada tuhan-Mu lah hendaknya kamu berharap.

Sekarang aku sudah merasa cukup tenang, karena sang penyejuk telah datang, dan telah memberi petunjuk atas apa yang aku jalani saat ini. Teurimong geunaseeh mimpi, Karena Mu aku bisa Bersama Mu aku bahagia Mimpi memanglah bunga tidur, tapi ada banyak hal yang mampu termaknai darinya. Setidaknya mimpi-mimpi indah mampu memberikan inspirasi bagi kita untuk terus berupaya meraihnya menjadi nyata. Nidji telah mengapresiasikannya dalam lagu Laskar Pelangi. Mimpi... Adalah kunci Untuk kita menaklukkan dunia Berlarilah tanpa arah Sampai engkau meraih Nya ........................ ***

_____________ Tentang Penulis Nurlina Fajri, ia adalah buah hati dari pasangan Sulaiman dan Amaliani yang dilahirkan di Ujung Rimba, Kabupaten Pidie pada tanggal 18 desember 1993. Ia berhasil menamatkan sekolah dasar pada tahun 2006 di SDN No. 1 Ujong Rimba dan melanjutkan ke MTsN Beureunuen hingga tahun 2009. Sekarang ia duduk di bangku kelas 2 Madrasah Aliyah Swasta JAIBS ( Jeumala Amal Islamic Boardoing School ) dan menjadi anggota bengkel tulis, karena hobbynya menulis. Selain itu ia juga aktif dalam organisasi OSMID ( Organisasi Murid Intra Dayah ) dan dpercayai oleh rekan rekannya dalam departemen penerangan ( Jurnalistic ) karena ketekunannya yang suka mencari infokrmasi dan menyampaikannya kepada public. Jika ingin lebih dekat denganku hubungi ( 085294924211 atau klik di www.Ina_princes@ymail.com )