Anda di halaman 1dari 6

Abstract Ahir-ahir ini model komputer telah diaplikasikan untuk merangsang evolusi struktur mikro selama pemberian air

dalam model ic yang sudah dikembangkan di laboraorium kita, perubahan mikro struktur semen dan komponen2 lainnya seperti alite, yang dihitung berdasarkan peresapan individual partikel melalui sistem pemasukan. Aturan utama dalammodel pekerjaan ini adalah proses peredapan air secara kinestetik, pd handout ini berisi mengenai protokol buatan dan sifat dari alite dan silikat murni, dan pengaruhnya pada bagian2 lainnya yang dipelajari khususnya pada kalorimeter isotermal dan penyusutan kimia. Koefisien kinetik individu yg dipersatukan dengan model yg telah dijelaskan sebelumnya, itu menunjukan bahwa peresapan partikel tidak terpengaruh oleh psd dari kekuatan yang meresap, dan itu terlepas dari peresapan itu sendiri. 1. Pembukaan Lebih dari 10 tahun lalu, model komputer masih terus dikembangkan untuk merangsang evolusi peresapan semen, mengggunakan pendekatan yang beragam, (1,2,3,4,5), Pendekatan continum menggunakan partikel yang sangat kecil, begitu juga dengan ukuran pixel yang telah digunakan untuk model pendekatan ic seperti di laboratorium kita. Selain menghitung peresapan dari sistem pemasukan, model ini merupakan perkembangan mikrostuktur yang dihitung berdasarkan peresapan partikel secara individu. Rumus Avrami (6) yang sesuai dengan reaksi kinetik dari proses ketersediaan pertumbuhan dan pengintian, telah ditunjukan untuk mengefektifkan proses pengerasan awal semen (7,8,9,10). Bentuk S dari rumus dan sifat awal proses hidrasi semen dapat disamakan dengan pengintian dan pertumbuhan.penggunaan rumus ini dalam model umur awal semen kinetilk. Modifikasi dari rumus avrami untuk rata2 raksi, dapat digunakan untuk reaksi awal kinetik, reaksi kinetik C3S dapat ditulis sebagai

Dimana

adalah drajat hidrasi, t waktu dan k dan n adalah konstanta yang

tergantung pada jeni s material dan reaksi,

Rencana analisis dari darta scrivener (11) menunjukan bahwa rata2 perubahan panas dari contoh semen diproduksi dari semen yang dibagi menjadi partikel yang berbeda (1-a), Kurva semen yang sama dinormalkan oleh total area permukaan spasi semen, dapat dihitung dengan mengasumsikan partikel berukuran sama dari jarak yang sama dari mean geomatrik dari range yang ditunjukkan pada (1-b). Grafik ini menunjukan bahwa aliran bahang dan angka dari reaksinya secara langsung sesuai dengan total permukaan area partikelnya. Hal itu menunjukan bahwa penurunan pada kurva terjadi lebih cepat pada partikel yang lebih kecil, yang dapat melekat pada partikel yang digunakan pada reaksi tersebut. Fakta bahwa angka reaksi sesuai dengan area permukaan dikuatkan juga dg fakta bahwa sejak proses awal reaksi diatur oleh pelepasan material permukaan, area permukaan teratas akan menjadi awal dari reaksi yg lebih cpat. Hubungan yang sama antara angka hidrasi dan area permukaan spesifik telah diobservasi pula untuk kemasan tricalium silicater (12,13,14)

Bagaimanapun, untuk model aplikasi rumus avrami, membutuhkan angka reaksi dari individual partikel, tidak hanya sistem keseluruhan yang diketahui. Untuk mencek dan menyesuaikan rumus ini, penelitian ini akan dilaksanakan pada media spesi berdasarkan penyebaran ukuran ukuran partikel yang berbeda. Pengukuran angka reaksi dari bubuk C3S dari persebaran ukkuran partikel yang berbeda yang diproduksi di lab kita menggunakan prosedur yang berbeda, seperti kalorimeter, XRD dan pengkerutan kimia.

Handout ini mencatat bahwa kenaikan dibuat dalam alite buatan dan persebarannya dalam persebaran dg ukuran yang berbeda. Pengukuran hidrasi kinetik dengan menggunakan kalorimetr isothermal dan pengkerutan kimia telah dilakukan. Ahirnya, hasil pertama diperoleh dari perhitungan dari kurva kalorimeter dan gradasi non-overlaping berlawanan dengan rumus avrami yang kita bahas. 2. Sintesis dan karakteristik dari Tricalium silicate

Trikalsium silikat murni (C3S murni) yang dibuat dengan perbandingan 1 : 3 dg campuran stoichiometric antara bubuk quartz yang sangat murni dengan CaCO3 (keduanya merck), Setelah proses homogenitas didalam air, campuran tersebut akan dikeringkan dengan suhu 100C kemudian di press menjadi bentuk butir kecil seperti pelet dengan diameter 3.5 cm. Pelet tersebut dibakar dlm suhu 1650C selama 5 jam dan didinginkan tiba2. Langkah kerja diulangi teru menerus hingga tidak ada sisa2 pembakaran yang terdeteksi dengan sinar X-Ray (panalytical). Kristal C3S diremukkan dengan grinda selama 45 menit dan 12 jam dg bola penggilingan. C3S murni telah diidentifikasi menggunakan XRD seperti polymorph triclinix (TI) (14). Ukuran dari bubuk partikel ini diukur dengan teknik analisis granulometry. Kepastian ukuran penyebaran kristal C3S ini sangatlah kecil, sekitar 6 m, yang sama sekali tidak sama dengan OPC tersebut. Fakta penting lainnya tercatat peleburan butir kristal C3S menjadi gumpalan membuat kristal tersebut sangat sulit digrinda. Untuk menghancurkan gumpalan ini, dilakukan dengan grinda selama 45 menit dan 12 jam dg bola penggilingan. Protokol buatan yang baru untuk mendapatkan ukuran partikel yang lebih besar dikembangkan dengan menambahkan ion Al dan Mg. Alite telah disiapkan dengan mencampur kalsium karbonat, quartz angka tinggi, alumuniom oksida dan magnesium oksida. Combinasi acak telah dicek sesuai tabel 1. Untuk memperkirakan pengaruh pertumbuhan, ukuran dan komposisi ion Al dan Mg . Alasan kenapa ditambahkannya ion Al dan Mg kedalam campuran berada dalam proses pengintian dan pertumbuhan butirannya. Sedikit ion alumunium menaikan kuantitas fase cairan, meningkatkan kekentalan campuran, menjadikan penyebaran yang lebih baik dari bahan jenis kimia,dan memperbaiki pertumbuhan partikel besar dibandingkan dengan C3S murni. Ion Mg memperbaiki proses pembakaran dari campuran dan mendukung pelepasan reduksi sisa pembakaran (15,16,17). Protokol buatan yang sama dilakukan untuk C3S murni tetapi dengan suhu 1500C. Gambar

Gambar 2 menunjukan pengaruh ion Al dan Mg dalam % terhadap pertumbuhan butiran. Komposisi C1 dan C2 yang mengandung ion Al menghasilkan ukuran partikel yang lebih besar dibandingkan dengan C3. Dari penemuan ini dapat disimpulakan bahwa ion Al memegang peran utama dalam pertumbuhan butiran. Ion Al secara otomatis menempatkan dirinya pada atom2 dan mampu menaikkan kuantitas fase cair, mendukung penyebaran partikel kimia, dan mendukung pertumbuhan butiran (15). Meskipun faktanya alumunium memegang peranan penting dalam pertumbuhan butiran, namun ion Mg juga mendukung peningkatan kekentalan campuran yang mendukung penyebaran masal dan peningkatan C3A ahir. MgO dikatakan dapat mengkatalisasi reaksi penyebaran dari C3A didalam fase cair, yang menghalangi pembentukan C3A dan medukung terbentuknya ion Al3+ ion yang interstitials dalam C3S (16). Lebih dari itu, MgO membantu meningkatkan persentase CaO di dalm fase cairan dengan memperbaiki kemampuan pembakaran kapur bebas (14). Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam ukuran partikel yang ditemukan saan pelet digerinda dengan siklus pemanasan. Efek dari pemansan suhu dapat dilihat pada gambar 3. Diharapkan bahwa suhu yang tinggi memberikan pertumbuhan gumpalan yang lebih baik. (penyebaran yang lebih baik dalam temteratur yang lebih tinggi). Gambar Bersasarkan dari karakteristik XRD dan granulomatry laser, C2 dipilih karena kemurniannya(monoclinic MIII polymorph) (14,18) telah diidentifikasi dengan XRD, struktur gumpalan (gambar4) dan perbandingan psd terdekat pada OPC (gambar2) untuk study kinetik hidrasi.C1 tidak cukup murni (kristalisasi dari C3A) dan C3 menunjukan kristal2 yang lebih kecil. Gradasi yang kecil dibutuhkan untuk mempelajari hidrasi kinetik yang diperoleh dengan rata2 penyaringan (ukuran penyaringan dari 50 dan 25m ) dari bagian yang lebih kasar dan dekankasi dlm isopropanol untuk partikel yang lebih kecil. Gradasi yang berbeda yg didapat, dapat dilihat pd gambar 5. Grafik 3. Pengaruh ukuran partiel dlm hidrasi kinetik

Pengaruh ukuran partikel alite dlm hidrasi kinetik telah diteliti dlm sebuah aliran bahang isothermal kalorimeter (TAM Air,Thermometric) dl suhu .Gradasi yang berbeda yang dihidrasi dengan perbandingan w/c 0.4 dan telah tercampur terjadi didalam kalorimeter, sehingga hidrasi dapat diawasi dari awal air ditambahkan ke sample. Pengkerutan kimia mengikuti rata2 dilatometri berdasarkan pd

pengembangan protokol Geiker (19). Metode ini melibatkan pengukururan dr peningkatkan volume semen ditambah air dengan membaca level air di dlam setabung air yang dihubungkan dengan pasta alite.dalam percobaan ini, perubahan tingkatan jumlah air di dlm pipet diikuti dengan foto rekaman setiap 10 menit kemudian foto itu diolah dengan softwere foto analisis untuk membaca penurunan volume. Bubuk gradasi dan perbandingan w/c dengan jumlah yang sama digunakan untuk percobaan kalorimeter isotermal. Hasil kalorimeter isotermal (gambar 6 kiri) menunjukan perubahan suhu yang lebih tinggi untuk gradasi partikel yang lebih baik. Ini dapat dijelaskan dengan fakta bahwa sejak partikel terkecil cenderung hancur lebih cepat, nilai reaksi awal diamati menjadi lebih tinggi dengan gradasi tersebut. Kecenderungan yang sama juga dpt dilihat dari penemuan pengkerutan kimia (gambar 6, kanan)nilai reaksi pengkerutan kimia ini sama cepatnya dengan nilai tertinggi pengkerutannya. Gambar Hasil dari Kalorimeter isotermal tidak sama dengan pengembangan dari rumus avrami yang dibahas sebelumnya, rumus 1 dapat ditulis sebagai berikut : Rumus Untuk nilai kecil dari k dan t, exponen dari rumus 2 dpt diabaikan, selanjutnya awal analisis independen dari kedua kurva menunjukan bahwa nilai dari n mendekati 2.0 dengan asumsi ini, rumus tersebut dapat ditulis : Rumus Rumus 3 dapat digunakan untuk analisis sederhana untuk mendapatkan perhitungan K . Sejak hubungan linear ini, bagian linear dari kurva perubahan panas (gb7) telah di ekstrak disesuaikan dengan perubahan waktu. Nilai yang

diperoleh dari penerapan K menyebabkan perubahan perhitungan area permukaan spesifik dari masing2 bubuk pada gambar 8. Permukaan spesifik ini dihitung dengan mengasumsikan campuran dari partikel dengan ukuran dan proporsi seperti bola menjadi partikel dengan ukuran dan persebaran yang berbeda. Gambar menunjukan sebelum terjadinya dominasi variasi linear dari K dengan permukaan spesifik. Selanjutnya, itu telah di teliti dalam