Anda di halaman 1dari 6
Analisis Film “ A Thousand Words ” OLEH:  SANTI SUGIANTO 2012100215 AKUNTANSI KALBIS INSTITUTE

Analisis Film “A Thousand Words

Analisis Film “ A Thousand Words ” OLEH:  SANTI SUGIANTO 2012100215 AKUNTANSI KALBIS INSTITUTE

OLEH:

SANTI SUGIANTO

2012100215

AKUNTANSI KALBIS INSTITUTE

STUDI KASUS

A Thousand Words

Film "A Thousand Words" bercerita, Jack McCall seorang bos pada sebuah agen besar yang bekerja sebagai smooth talker. Sifatnya selalu licik dan akan berkata apasaja bahkan sebuah kebohongan sekalipun untuk mendapatkan apa yang di inginkan dan mengambil keuntungan dari orang-orang. Permainan katanya tidak hanya ia gunakan saat ia bekerja saja tetapi dalam kehidupan sehari-harinya sekalipun tetapi ia gunakan. Jack McCall adalah orang yang egois yang sering membuat jengkel orang-orang di sekitarnya seperti assistant dan istrinya.

Kepandaian Jack mengolah kata memang sudah teruji berkali-kali. Pria ini selalu berhasil mengajak orang-orang menulis buku untuk perusahaannya. Sampai suatu hari dia di perintahkan untuk menemui seorang guru spiritual ala Deepak Chopra bernama Sinja yang percaya pada pencerahan. Jack di tugaskan oleh atasannya untuk mendapatkan persetujuan atas buku karangan Dr.Sinja. Dengan modal kebohongan akhirnya Jack berhasil mendapatkan persetujuan itu.

Suatu hari takdir buruk menghampirinya, dia mendapat kutukan atas kebohongannya selama ini. Di halaman belakang rumahnya, tumbuhlah sebatang pohon. Awalnya dia kaget dan tidak percaya melihatnya. Tiba-tiba dia teringat pohon itu mirip dengan pohon Boddhi yang tumbuh di area perguruan spiritual Dr. Sinja. Besoknya, Jack menelepon dan meminta Sinja untuk dateng kerumahnya. Saat Dr. Sinja melihat pohon itu, dia merasa ada yang aneh dengan pohon itu karena setiap Jack mengeluarkan setiap kata daun-daun di pohon itu akan gugur satu per-satu. Jack mempunyai kesempatan berbicara hanya 1000 kata. Ketika daun-daun di pohon itu mulai habis maka kesehatan Jack juga akan menurun, dan jika daun di pohon itu benar-benar habis dia akan meninggal.

Takdir yang mengahampiri Jack semakin buruk. Karena dia akan ditinggalkan Dr. Sinja pergi ke Bolivia untuk 3 hari dan itu artinya Jack tidak dapat berbicara sepatah kata pun selama 3 hari, jika dia masih ingin hidup. Sayangnya, semua itu memperburuk kondisi keluarganya, istrinya mulai salah paham dengan sikap Jack, dan istrinya pergi dari rumah dengan membawa putranya. Tidak hanya keluarganya, nasib buruk juga melanda pekerjaanya dia dipecat karena dianggap

gila oleh atasannya. Hanya ada satu orang yang mengerti kondisinya saat itu, assistant pribadinya di kantor. Namanya Aaron Wiseberger. Hanya Aaron yang dapat mengerti apa yang dibicarakan oleh Jack dengan bahasa isyarat yang diberikan, dan saat kembalinya Sinja barulah diketahui bahwa Jack harus berbuat baik tidak hanya perilaku tapi juga cara bicara. Tapi yang terjadi daun terakhir jatuh saat Jack sedang di makam ayahnya, Raymond Jack McCall. Tiba-tiba awan mendung dan hujan deras mulai mengguyur. Jack jatuh tersungkur ke tanah, tapi suatu keajaiban menghampirinya. Tiba-tiba ponselnya berdering dan dia perlahan mulai meraih ponselnya. Aaron menghubungi Jack untuk memberitahu bahwa pohon boddhi dibelakang rumahnya itu daunnya telah kembali seperti semula dan justru kini berbunga.

Dan diakhir cerita Jack memiliki pekerjaan baru yaitu sebagai penulis buku yang judulnya sama seperti judul film ini “A Thousand Words”. Kekuasaan Jack di kantor kini beralih pada Aaron, dan kejadian yang dialami Jack kini juga dialami oleh assistannya. Aaron mendapat kiriman berupa pohon kecil yang dapat menggugurkan daunnya jika Aaron berbicara. Akhirnya Jack kembali berkumpul bersama keluargannya dan menata ulang hidupnya yang lama.

~~ THE END ~~

ANALISIS

Dalam kehidupan, kita tidak pernah melewati hari tanpa berkomunikasi. Segala perilaku dapat disebut komunikasi jika melibatkan dua orang atau lebih. Komunikasi terjadi jika setidaknya suatu sumber membangkitkan respons pada penerima melalui penyampaian suatu pesan dalam bentuk tanda atau simbol, baik bentuk verbal (kata-kata) atau bentuk nonverbal (non kata-kata), tanpa harus memastikan terlebih dahulu bahwa kedua belah pihak punya sistem simbol yang sama. Komunikasi verbal yaitu komunikasi yang menggunakan kata-kata dalam penyampaian pesan atau informasinya, sedangkan komunikasi nonverbal merupakan proses komunikasi dimana pesan disampaikan tidak menggunakan kata-kata melainkan menggunakan ekspresi ataupun bahasa isyarat. Bahasa yang sering kita gunakan terdiri dari seperangkat simbol dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut sehingga dapat dipahami dan dimengerti oleh orang lain (Deddy Mulyana, 2005). Seperti yang dilakukan Jack McCall dalam film A thousand Words. Di film ini menceritakan bahwa Jack seorang bos agen besar yang pandai memainkan kata. Komunikasi yang dilakukan Jack saat itu merupakan komunikasi verbal.

Tidak semua orang dapat berkomunikasi nonverbal dengan baik. Alternatif lainnya yang dapat ia gunakan yaitu dengan menggunakan bahasa verbal dengan menyusun kata-kata ke dalam suatu pola yang memiliki arti atau makna dalam bentuk tertulis ataupun lisan. Bahasa verbal adalah sarana utama untuk menyatakan pikiran, perasaan, dan maksud kita (Deddy Mulyana 2010: 261). Fungsi bahasa sendiri adalah sebagai alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan gagasan (Jalaluddin Rakhmat, 1994). Penyampaian suatu pesan yang dilakukan oleh Jack memiliki suatu tujuan bahwa seseorang akan dapat menyetujui apapun permintaannya. Pekerjaan yang dilakukan Jack sangat erat kaitannya dengan komunikasi lisan karena definisi komunikasi lisan itu sendiri adalah suatu proses dimana seorang pembicara berinteraksi secara lisan dengan pendengar untuk mempengaruhi tingkah laku penerima.

Dalam pekerjaannya komunikasi yang dilakukan Jack termasuk komunikasi verbal yang efektif karena pesan yang dikirimkan Jack kepada lawan bicaranya dapat dimengerti dan efek respon

yang diberikan komunikan yaitu dengan menyetujui apapun permintaan Jack sekalipun yang dikatakan Jack adalah sebuah kebohongan besar.

Akibat Jack selalu memanfaatkan keahliannya dalam memainkan kata sehingga ia mendapatkan kutukan atas apa yang dikatakannya. Jack tidak dapat berbicara lagi karena setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya akan memperpendek umurnya. Akhirnya mulai saat itu ia berkomunikasi dengan bahasa isyarat atau biasanya disebut dengan komunikasi nonverbal. Dalam komunikasi nonverbal bentuk komunikasi ini mempunyai keterbatasan karena hanya dapat berkomunikasi menggunakan ekspresi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun (Djoko Purwanto, 2011:7), berbeda dengan komunikasi verbal yang menjelaskan dengan kata-kata. Karena terlalu terbiasa dengan komunikasi verbal kini Jack mendapat kesulitan dalam berkomunikasi. Maka ketika Jack terkena kutukan untuk tidak dapat berbicara, ia sangat kesulitan untuk berinteraksi dengan orang-orang sehingga orang-orang disekitarnya menganggap dia gila. Pesan yang ingin di sampaikan Jack tersembunyi dalam perilaku nonverbalnya sehingga komunikasi yang Jack lakukan termasuk komunikasi konteks tinggi yang kebanyakan pesannya bersifat implisit, tidak langsung dan tidak terus terang (Deddy Mulyana 2010: 328).

Dalam komunikasi konteks tinggi, penerima pesan atau pendengar diharapkan untuk "memahami yang tersirat" untuk dengan teliti disimpulkan atau menduga tujuan tersembunyi atau terkandung dari pesan lisan, dan untuk mengamati nuansa nonverbal dan kepelikannya dan meningkatkan pesan lisan itu (Ting-Toomey, 1999 : 100-101).

Gaya komunikasi konteks tinggi memiliki resiko yang cukup besar karena pembicaraan yang berputar-putar atau tidak langsung kepokok pembicaraan membuat orang yang terbiasa menggunakan komunikasi konteks rendah menjadi kesal seperti kesalahpahaman oleh istri Jack dengan sikap Jack yang setiap berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat dan membuat kejengkelan untuk asistantnya ketika berinteraksi dengannya. Basil Bernstein menjelaskan bahwa dalam komunikasi konteks-tinggi, pembicara menggunakan sedikit alternatif tetapi kemungkinan meramalkan polanya lebih besar; arti pesan dalam komunikasi konteks-tinggi lebih khusus.

DAFTAR PUSTAKA

Purwanto, Djoko (2011) Komunikasi Bisnis Edisi Keempat. PT Gelora Aksara Pratama: Jakarta.

Mulyana, Deddy (2010) Ilmu Komunikasi. PT Remaja Rosdakarya: Bandung

Mulyana, Deddy (2005) Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. PT Remaja Rosdakarya: Bandung

Rakhamat, Jalaludin (1994) Psikologi Komunikasi. PT Remaja Rosdakarya: Bandung

Effendy, Onong (1994) Ilmu Komunikasi: Teori dan praktek. PT remaja Rosdakarya: Bandung