Anda di halaman 1dari 37

REFERAT DOKTER MUDA DIFFICULT PATIENT

OLEH
I Nyoman Rian W Femmy Magdalena Punu Christin Karwelo Gloria Kristina Liko Maretha Dewi A.S ( 06700153 ) ( 07700084 ) ( 07700082 ) ( 07700118 ) ( 07700149 )

PEMBIMBING dr. H.M. Nurtjahjo, Sp. F., SH

LAB./ SMF ILMU KEDOKTERAN KEHAKIMAN RSU DR. SOETOMO

KATA PENGANTAR
Bersama ini kami panjatkan syukur atas kehadirat Allah SWT karena dengan keterbatasan waktu dan bahan bacaan, penulis dapat menyelesaikan tugas referat ini berjudul Difficult Patient ini. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. dr. Ahmad Yudianto, SpF, SH, M.Kes selaku Kepala Instalasi Ilmu Kedokteran Forensik RSU Dr.Soetomo, dan dr. Hoediyanto, SpF(K) selaku Ketua SMF Ilmu Kedokteran Forensik RSU Dr.Soetomo. Kepada dr. H. Nurtjahjo, Sp.F, S.H yang telah membimbing kami dalam penyusunan referat ini. Tentu penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak lain yang belum disebutkan yang telah membantu terselesaikannya referat ini. Sudah tentu apa yang penulis sajikan masih jauh dari harapan dan bahkan mungkin masih banyak terdapat kesalahan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan koreksi serta masukan yang membangun dari siapa saja yang membacanya agar terdapat kesempurnaan pada penulisan - penulisan selanjutnya. Akhirnya, penulis berharap semoga referat ini bisa diambil manfaat dan hikmah bagi siapa saja yang membacanya. Amin.

Surabaya, Februari 2012

Kelompok DM UWKS F Pare Kepaniteraan Muda IKF Periode 2 Januari-12 Februari 2012

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Daftar Isi. Bab I Pendahuluan Bab II Permasalahan.. Bab III Kesimpulan. Daftar Pustaka

1 2 3 5 35 36

BAB I PENDAHULUAN
I. 1. Latar Belakang Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menemui terjadinya kematian, baik yang terjadi diluar maupun didalam rumah sakit, tua muda, besar kecil, mendadak maupun tak terduga, wajar ataupun tidak wajar. Sebagai dokter, kita harus siap dan mampu untuk menyikapinya dan bertindak dengan baik dan benar sesuai dengan standar profesi dan prosedur yang berlaku. Kematian merupakan kata yang memiliki konsekuensi hukum, terlebih pada terjadinya kematian tidak wajar. Oleh karenanya memerlukan kejelasan sebab dan cara terjadinya. Dalam proses peradilan, Rumah Sakit (bidang kedokteran forensik) dalam hal ini dokter, bertugas membantu proses peradilan dalam pembuatan Visum et Repertum untuk penyidik. Ilmu dengan Kedokteran Forensik adalah cabang dari ilmu kedokteran yang mengaplikasikan nilai-nilai dan ilmu kedokteran untuk masalah yang berkaitan

hukum. Tugas utama dari sistim medikolegal dalam menangani kematian

berdasarkan aspek hukum yaitu memastikan sebab dan cara kematian, untuk mengidentifikasi korban yang tidak dapat dikenali, untuk memastikan waktu kematian dan luka, untuk mengumpulkan barang bukti dari tubuh jenazah yang dapat digunakan untuk membuktikan atau tidak membuktikan seseorang bersalah atau tidak, dan untuk mengkonfirmasi atau menyangkal jumlah kemungkinan cara kematian terjadi, untuk mencatat luka, untuk menjelaskan bagaimana kematian terjadi, untuk mencatat adanya penyakit alamiah yang telah ada, untuk memastikan atau menyingkirkan faktor-faktor yang dapat menyebabkan kematian, dan untuk menyediakan saksi ahli jika kasus tersebut disidangkan. Kematian yang menjadi perhatian petugas medis dalam hal ini petugas forensik umumnya mencakup kategori berikut: kematian dengan kekerasan (kecelakaan, pembunuhan dan bunuh diri), kematian yang mencurigakan, kematian mendadak dan tidak diharapkan, dan kematian tanpa saksi mata.

Pada kematian tidak wajar, baik yang disebabkan pembunuhan, bunuh diri, maupun kecelakaan, jenazah merupakan barang bukti. Sehingga penyidik akan meminta bantuan dokter untuk mencari penyebab pasti dari kematiannya. I. 2. Perumusan Masalah 1. Apakah pengertian dan batasan dari kematian tidak wajar? 2. Bagaimanakah peraturan hukum di Indonesia mengatur tatalaksana terhadap terjadinya kematian tidak wajar di RS? 3. Bagaimanakah seharusnya prosedur tindakan dokter dalam terjadinya kematian tidak wajar di RS? 4. Bagaimanakah prosedur tatalaksana pihak RS dalam terjadinya kematian tidak wajar di RS? 5. Apa saja peran keluarga dalam proses penatalaksanaan kematian tidak wajar? 6. Bagaimanakah prosedur tuntutan hukum terhadap RS? 7. Apa saja langkah-langkah yang bisa ditempuh untuk mencegah tuntutan hukum terhadap RS dalam terjadinya kematian tidak wajar? I.3. Tujuan 1. Dapat menjelaskan apakah definisi dan batasan dari kematian tidak wajar, dan juga tatalaksana dan aspek hukum di rumah sakit yang terkait dengannya. 2. Mengetahui sejauh mana peranan dokter, RS, dan kepolisian dalam penanganan kematian tidak wajar, termasuk dalam hal ini proses otopsi dan pembuatan VeR untuk penyidikan 3. Mengetahui prosedur tuntutan hukum terhadap RS 4. Mengetahui sejauh mana peran keluarga, termasuk hak dan kewajibannya dalam proses penanganan kasus kematian tidak wajar

BAB II PEMBAHASAN
II. 1. Kematian dan Batasan Mati adalah proses yang berlangsung secara berangsur. Tiap sel dalam tubuh manusia mempunyai daya tahan yang berbeda-beda terhadap adanya oksigen dan karenanya, mempunyai saat kematian yang berbeda pula. Bagi dokter, kepentingan bukan terletak pada tiap butir sel tersebut, tetapi pada kepentingan manusia itu sebagai satu kesatuan yang utuh. Berbicara tentang kematian, menurut cara terjadinya maka ilmu pengetahuan membedakan dalam 3 jenis kematian, yaitu : 1. orthothanasia, yaitu kematian yang terjadi karena suatu proses alamiah 2. dysthanasia, yaitu kematian yang terjadi secara tidak wajar 3. euthanasia, yaitu kematian yang terjadi dengan pertolongan atau tidak dengan pertolongan dokter Dalam tubuh manusia, ada tiga organ penting yang selalu dilihat dalam penentuan kematian seseorang, yaitu jantung, paru-paru, dan otak (khususnya batang otak). Diantara ketiga organ itu, kerusakan permanen pada batang otak tidak dapat dinyatakan hidup lagi. Sedangkan penentuan kapan seseorang dinyatakan mati, dikenal beberapa konsep tentang mati seperti : 1. mati sebagai berhentinya darah mengalir, yang diatur pada pasal 1 ayat (9) PP No.18/ 1981 2. mati sebagai saat terlepasnya nyawa dari tubuh 3. hilangnya kemampuan tubuh secara irreversibel 4. hilangnya manusia secara permanen untuk kembali sadar dan melakukan interaksi sosial IDI dengan Surat Keputusan No.231/PB/A-4/07/90, menyatakan bahwa seseorang dapat dinyatakan mati apabila: 1. fungsi spontan pernafasan dan jantung telah berhenti secara pasif atau irreversibel.

2. bila terbukti telah terjadi kematian batang otak Macam-macam Kematian : 1. Somatic Death Pada mati somatik fungsi pernafasan dan peredaran darah telah berhenti, sehingga terjadi anoxia yang lengkap dan menyeluruh dalam jaringan-jaringan sehingga proses aerobik dalam sel-sel berhenti. Sebagian proses anaerobik masih berlangsung, beberapa jaringan masih dapat hidup terus selama beberapa waktu. 2. Mati Suri Termasuk dalam stadium somatic death, ini terjadi karena proses vital dalam tubuh menurun sampai tahap minimum untuk kehidupan, sehingga secara klinis sama dengan orang mati 3. Celluler Death Dalam stadium kematian seluler baru timbul tanda-tanda kematian. Tanda-tanda tersebut meliputi : 1. suhu tubuh jenazah menurun 2. timbul lebam mayat 3. timbul kaku mayat 4. perubahan pada kulit 5. perubahan pada bola mata (khususnya di kornea) 6. perubahan biokimia 7. proses pembusukan 8. kadang-kadang ada proses mumifikasi dan adipocere 4. Mati Batang Otak (MBO) Pengertian dari Mati Batang Otak adalah kerusakan seluruh isi neuronal intrakranial yang irreversibel. Dengan diketahuinya Mati Batang Otak maka dapat dikatakan secara keseluruhan tidak dapat dikatakan hidup lagi sehingga alat bantu dapat dihentikan.

II. 2. Pemeliharaan Jenazah di RS

Pemeliharaan jenazah di RS merupakan hal yang sangat penting. Setiap penderita yang meninggal di RS harus dicatat sebagai penderita keluar mati, setelah dokter yang bertugas menentukan hal kematian, dan menandatangani surat kematian. Pada rekam medik atau catatan medik harus dibuat catatan mengenai kematian itu dan harus pula dicatat diagnosa akhir dan diagnosa kematian oleh dokter yang bertanggung-jawab, dalam waktu yang secepatnya. Setelah observasi selama dua jam di bagian rawat inap, maka jenazah dikirim ke kamar jenazah dengan perhatian khusus diberikan pada pencatatan identitas yang tepat pada kartu identifikasi, yang dikaitkan pada ibu jari kaki jenazah. Pemeliharaan selanjutnya diserahkan pada pihak keluarga, badan usaha pemeliharaan dan penguburan jenazah atau kepada pihak RS, sesuai dengan prosedur yang berlaku di kamar jenazah. Prosedur tetap ini harus merupakan peraturan tertulis yang ditandatangani oleh direktur RS dan ditempatkan di papan pengumuman, sehingga mudah dibaca oleh khalayak ramai. Bayi yang lahir mati dan bayi baru lahir yang meninggal, tidak dibuatkan rekam medik tersendiri, tetapi tetap harus dibuatkan surat keterangan bayi lahir mati atau surat keterangan kematian bayi baru lahir dan dilakukan pemeliharaan jenazah dan surat-suratnya disimpan bersama rekam medik ibunya. KUHAP pasal 133 ayat (3) Mayat yang dikirim kepada Ahli Kedokteran Kehakiman atau dokter pada RS harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilaksanakan dengan diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.

II. 3. Kematian Tidak Wajar


Kematian tidak wajar atau disthanasia bila diartikan secara harfiah yaitu dys yang berarti sukar, nyeri, buruk, tidak teratur, abnormal; dan thanatos yang berarti kematian. Adapun definisi kematian mendadak adalah kematian yang datang tidak terduga dan tidak diharapkan, dengan batasan waktu yang nisbi. Batasannya adalah kurang dari 48

jam sejak timbul gejala pertama, namun ada juga pendapat yang batasannya kurang dari 24 jam. Setiap kematian mendadak atau tidak terduga harus diperlakukan sebagai kematian yang tidak wajar sebelum dapat dibuktikan bahwa kematian itu karena sebab yang wajar. Adapun proses kematian antara lain dapat dibagi menjadi kematian alami, bunuh diri, pembunuhan, kelalaian medik, kecelakaan, ataupun kematian yang tidak jelas penyebabnya. Hal-hal yang perlu dilaporkan ialah; 1)setiap penderita yang datang sudah meninggal di poliklinik, 2) setiap penderita yang dalam keadaan agone (hampir meninggal) datang di poliklinik dan tidak diketahui dengan pasti riwayat penyakitnya, 3) setiap penderita yang meninggal di poliklinik sebelum diperiksa dokter dan tidak diketahui riwayat penyakitnya, 4) setiap penderita yang meninggal di poliklinik tetapi belum diketahui riwayat penyakitnya dan belum dapat ditegakkan diagnosa penyakitnya dan sebab kematiannya, 5) setiap penderita yang ada kecurigaan atau persangkaaan kecelakaan, keracunan, kesalahan, atau kejahatan tindak pidana, 6) setiap penderita yang meninggal mendadak atau tidak terduga. Pihak kepolisian yang akan menentukan apakah perlu dilakukan otopsi.

II. 4. Kematian Penderita dan Aspek Hukum Profesi Dokter


Menurut Undang-Undang Praktek Kedokteran No.29 tahun 2004 Pasal 50 dan Pasal 51, Hak dan kewajiban Dokter atau Dokter Gigi adalah : 1. 2. 3. 4. Pasal 50 : memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional; memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar prosedur operasional; memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya; menerima imbalan jasa. Pasal 51 : Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai hak

Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai kewajiban:

I II

memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional kebutuhan medis pasien; merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan;

III merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia; IV melakukan pertolongan darurat atas dasar peri-kemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya; dan menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran atau kedokteran gigi. Dalam melakukan profesinya, seorang dokter mungkin saja dituntut berdasar pasal 359, 360, atau 360 KUH Pidana tentang mengakibatkan orang mati atau luka karena salahnya, dan andaikata dinyatakan bersalah, maka mungkin masih akan dituntut ganti rugi berdasar pasal 1365, 1366, 1367, 1370, atau 1371 KUH Perdata. Pasal 106 KUHAP memungkinkan penyidik yang menerima laporan dari RS atau keluarga penderita atau orang lain untuk segera melakukan tindakan penyidikan yang diperlukan. Bahkan adalah kewajiban setiap orang, berdasar pasal 108 KUHAP, untuk mengajukan laporan kepada penyidik, baik lisan diikuti kemudian secara tertulis, atau langsung laporan tertulis, dalam hal ada kemungkinan tindak pidana. Bagi RS dan dokter yang melaporkan kematian mendadak atau tidak terduga, yang juga dalam rangka kewajibannya untuk melindungi penderita, dan berjaga-jaga terhadap tuduhan tuntutan dari pihak diluar RS, sudah tentu hal tersebut membutuhkan kesadaran hukum yang tinggi, kepribadian bersih dan jujur dari para petugas di RS. Bagi dokter yang menangani penderita mati mendadak atau tidak terduga di RS, dianjurkan supaya: 1) segera melaporkan kematian itu kepada atasannya atau Direktur RS, dan kemudian 2) segera memintakan persetujuan tertulis dari keluarga terdekat dari penderita, untuk otopsi jenazah. Apabila keluarga penderita menolak memberi persetujuan tertulis untuk otopsi, maka diusahakan keluarga penderita menandatangani keterangan penolakan tertulis, dan jikalau keluarga penderita menolak menandatangani keterangan penolakan tertulis, maka dibuatkan berita acara penolakan tersebut dan

10

ditandatangani oleh dokter dan dua petugas RS sebagai saksi. Tanpa otopsi, penyebab kematian yang pasti tidak dapat ditentukan, dan karenanya maka tidak mungkin dibuktikan kekurangan, kelalaian, kekhilafan, kecerobohan, atau kesalahan dokter dalam menjalankan profesinya, kecuali ada bukti lain yang menguatkan. Bahwa kelainan pada otak seperti stroke jelas merupakan salah satu sebab kematian mendadak, dan selalu mengejutkan bagi keluarga penderita maupun dokter dan perawat, tidak selalu mudah diterima bagi keluarga penderita, apalagi kalau tidak ada pemberitahuan sedikitpun oleh dokter akan kemungkinan itu, tidak ada pemeriksaan X-foto atau USG atau CT-Scan kepala, dan hanya ada gejala hilang kesadaran mendadak, maka dapat saja dituduhkan karena kesalahan dokter. Adapun bila seorang dokter mendapati terjadinya kematian tidak wajar diluar RS, maka dokter harus menunggu surat permintaan Visum et Repertum dari penyidik yang berwenang. Informed Consent Hal-hal yang perlu diinformasikan kepada pasien atau keluarganya meliputi : a. Deskripsi dan lama prosedur Perlu diuraikan lagi meliputi alat yang akan digunakan, bagian tubuh mana yang akan diotopsi. b. Alasan perlunya dilakukan tindakan otopsi c. Tujuan tindakan otopsi tersebut, yaitu : o Diagnostik o Medikolegal d. Tidak adanya tindakan alternatif untuk mengetahui sebab pasti kematian e. Kerugian yang akan atau mungkin dialami jika menolak tindakan otopsi tersebut f. Perkiraan biaya otopsi Surat Kematian Adapun surat kematian pada kasus kematian tidak wajar, baru diberikan apabila telah dilakukan otopsi. Apabila keluarga menolak otopsi, maka ada tiga kemungkinan : 1) Pulang paksa maka dokter tidak dapat memberikan surat kematian;

11

2) Polisi mencabut surat Visum et Repertum atas dasar penolakan keluarga maka jenazah boleh dibawa pulang dan dokter bisa memberikan surat kematian; 3) Polisi tetap menghendaki Visum et Repertum keluarga tetap menolak tetap dilakukan otopsi dengan perlindungan pihak kepolisian (keluarga bisa dituntut dengan pasal 222 KUHP apabila menghalangi otopsi) dokter memberikan surat kematian. Setelah kasus terjadi penganiayaan dokter yang melakukan otopsi oleh sekelompok preman di Jakarta, maka apabila pihak keluarga bersikeras tetap menolak hingga terjadi kecenderungan membahayakan dokter yang melakukan otopsi, sesuai surat edaran No. 1342/ Menkes/ SE/ XII/ 2001 tentang pelaksanaan otopsi forensik, maka pada keadaan luar biasa, dengan surat pernyataan penyidik, otopsi dapat dilaksanakan tanpa persetujuan keluarga atau pihak-pihak yang perlu diberitahu, dengan syarat selama berlangsung otopsi sampai penyerahan mayat kepada keluarga atau pihak-pihak tertentu dimaksud, penyidik dapat menjamin keamanan dan keselamatan para dokter ahli kedokteran kehakiman yang bersangkutan termasuk keamanan sarana dan prasarana dimana otopsi tersebut dilakukan dari gangguan/ ancaman pihak-pihak yang bersangkutan dengan mayat tersebut. Untuk itu penyidik menandatangani surat pernyataan bahwa segala akibat dilakukan otopsi menjadi tanggung jawab penyidik. Malpraktek Istilah dan definisi tentang MALPRAKTEK tidak ada, baik didalam KUHP maupun didalam UU No.23/ 1992 Tentang Kesehatan. Yang tercantum pada kedua Undang-Undang tersebut adalah kata KELALAIAN. Kelalaian adalah suatu kejadian akibat dokter tidak menjalankan tugas profesinya sebagaimana seharusnya. Dikemukakan adanya Three Element of Liability yaitu : Adanya kelalaian yang dapat dipermasalahkan ( Culpability ) Adanya kerugian (Damages) Adanya hubungan kausal (Causal Relationship) Pidana : Untuk kelalaian, yang berlaku bagi setiap orang, diatur dalam : Pasal 359, Pasal 360, Pasal 361

Sanksi Hukum

12

Tindakan Perdata Medik Berdasar Hukum (iusdelicto) Berdasarkan KUH Perdata pasal 1365, 1366 dst yang mengatur tentang perbuatan melanggar hukum maka ada / tidak adanya hubungan secara pribadi dalam hal-hal tertentu tidak mempunyai pengaruh atas beban tanggung jawab terhadap kerugian yang ditimbulkan. Suatu tindakan/ non-tindakan dari seseorang yang mengakibatkan timbulnya kerugian kepada orang lain, diharuskan untuk memberi ganti kerugian. KUH Perdata pasal 1365 berbunyi : Setiap tindakan melanggar hukum yang mengakibatkan kerugian kepada orang lain , mewajibkan orang yang karena kesalahannya menyebabkan kerugian itu, untuk mengganti kerugian tersebut. KUH Perdata Pasal 1366 berbunyi : Namun tidak saja karena kesalahan diri sendiri secara pribadi, tetapi seseorang pun bertanggung jawab atas kerugian yang diderita orang lain karena akibat yang ditimbulkan oleh orang-orang yang dibawah perintahnya. Disini berlaku prinsip barang siapa menimbulkan kerugian, pada orang lain harus memberikan ganti rugi atas kerugian tersebut. Kemungkinan-kemungkinan malpraktek perdata dapat terjadi untuk hal-hal sebagai berikut : Wanprestasi (pasal 1239 KUH Perdata) Perbuatan melanggar hukum (pasal 1365 KUH Perdata) Melalaikan kewajiban (pasal 1367 KUH Perdata) Kelalaian yang mengakibatkan kerugian (pasal 1366 KUH Perdata)

Pasal 53 UU Kesehatan No.23 Tahun 1992 Ayat 1 Tenaga Ayat 2 Tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk mematuhi standar profesi dan menghormati hak pasien kesehatan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya

13

Ayat 3 Tenaga kesehatan, untuk kepentingan pembuktian, dapat melakukan tindakan medis terhadap seseorang dengan memperhatikan kesehatan dan keselamatan yang bersangkutan. Ayat 4 Ketentuan mengenai standar profesi dan hak hak pasien sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan Pasal 54 UU Kesehatan No.23 Tahun 1992 Ayat 1 Terhadap tenaga yang melakukan kesalahan atau kelalaian dalam melaksanakan profesinya dapat dikenakan tindakan disiplin Ayat 2 Penentuan ada tidaknya kesalahan atau kelalaian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditentukan oleh Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan Ayat 3 Ketentuan mengenai pembentukan, tugas, fungsi, dan tata kerja Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan ditetapkan dengan Keputusan Presiden Pasal 55 UU Kesehatan No.29 Tahun1992 Ayat 1 Setiap orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan. Ayat 2 Ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku Kecelakaan medik (Medical Misadventure, Misadventure, Accident) Disamping istilah kelalaian medik masih ada pula pengertian kecelakaan medik yang perlu dibedakan. Baik kelalaian maupun kecelakaan medik, keduanya mengakibatkan kerugian pada pasien. Bedanya : yang satu dapat dipersalahkan, yang satu lagi tidak. Hal ini disebabkan karena di dalam Hukum Kedokteran yang paling penting bukanlah akibatnya, tetapi cara bagaimana sampai terjadinya, bagaimana tindakan itu dilakukan sehingga sampai terjadi akibat yang merugikan. Inilah yang

14

paling penting untuk diketahui. Untuk mengetahuinya dipakailah tolok ukur, yaitu: Etik Kedokteran dan Standard Profesi Kedokteran. Sebagaimana diketahui, Hukum Pidana pertama-tama melihat dahulu akibat yang ditimbulkan, baru motif dari tindakan tersebut. Suatu ciri yang berbeda adalah bahwa kecelakaan medik (medical mishap, misadventure, accident) adalah sesuatu yang dapat dimengerti dan dibenarkan, tidak dipersalahkan, sehingga tidak dihukum. Lain halnya dengan kelalaian medik (medical negligence) yang bisa tergolong delik pidana. Maka untuk mengetahui dengan jelas apa yang dimaksudkan dengan kecelakaan medik haruslah dilihat di dalam kepustakaan Hukum Pidana. Dalam hubungan dokter-pasien, seorang dokter hanya berusaha sedapat mungkin untuk menyembuhkan pasiennya (inspanningsverbintenis). Namun ia harus mempergunakan segala ilmunya, kepandaian, ketrampilan, serta pengalaman yang dimilikinya, disamping tentu harus hati-hati dan teliti. Dokter sama sekali tidak memberikan jaminan akan penyembuhan. Hal ini memang juga tidak mungkin mengingat banyaknya variasi yang terdapat di dalam setiap kasus, seperti : macam penyakit, usia, komplikasinya, taraf tingkat penyakit yang berbeda-beda dan hal-hal yang meliputi daya tahan tubuh. Kesemua ini tidaklah sama. Setiap orang mempunyai ciri khusus tersendiri dan dapat dikatakan bahwa dalam ilmu kedokteran tidak ada dua kasus yang persis sama. Sebagai Saksi Ahli Kalau KUH Pidana Pasal 322 dan PP No.10 tahun 1966 mewajibkan dokter menyimpan rahasia kedokteran, sebaliknya KUHAP pasal 108 mewajibkan setiap pegawai negeri melaporkan setiap terjadinya peristiwa yang merupakan tindak pidana, dan dokter pegawai negeri tidak terkecuali. Berdasarkan ketentuan dalam Regelemen Indonesia yang diperbarui (pasal 277), menyatakan bahwa seorang dokter dijamin hak undur diri. Hal tersebut juga disebut dalam KUHAP pasal 170. Dokter dalam menjalankan profesinya dapat diminta untuk bertindak sebagai ahli (KUHAP pasal 7), konsultan medis (pasal 29), dokter pribadi untuk tersangka (pasal 58), saksi dengan keahlian khusus (pasal 65), dokter atau ahli kedokteran kehakiman (pasal 133), dan saksi ahli (pasal 133, 161, 162,179, 183, 186 dan 187).

15

Khusus sebagai saksi ahli, dokter harus selalu memperhatikan standar profesi yang berasaskan proporsionalitas dan subsidiaritas dalam memberi pendapat, bila terdakwa adalah seorang dokter juga. Selanjutnya, seorang saksi ahli harus memahami betul setiap pertanyaan jaksa atau hakim sebelum menjawab, karena setiap kata yang diucapkan bisa merugikan diri sendiri atau orang lain, termasuk dokter terdakwa. Jangan mau dipancing, dijerumuskan, atau didikte oleh jaksa maupun hakim. Junjung tinggi harga diri sebagai seorang saksi ahli.

II. 5. Kematian Penderita dan Aspek Hukum RS


Hingga saat ini belum ada suatu peraturan yang mengatur mengenai hukum di RS di Indonesia, terutama yang menguraikan secara terperinci mengenai hak dan kewajiban pasien, tanggung jawab RS, tanggung jawab hukum RS, dan tanggung jawab RS terhadap pasien dan pihak ketiga (keluarga pasien, pengunjung, leveransir, dan lainlain). Hingga saat ini hukum yang telah diatur adalah yang berkaitan dengan tugas tenaga medik dalam pelayanan RS, seperti rekam medis, persetujuan tindakan medik (Informed Consent). Apabila seorang direktur RS mendapat laporan dari bawahannya tentang terjadinya kematian tidak wajar di lingkup RS, maka ia harus mengklarifikasi terlebih dahulu tentang kejelasan proses kematian tersebut, apakah 1) penderita datang sudah meninggal di poliklinik, 2) penderita dalam keadaan agone (hampir meninggal) datang di poliklinik dan tidak diketahui dengan pasti riwayat penyakitnya, 3) penderita meninggal di poliklinik sebelum diperiksa dokter dan tidak diketahui riwayat penyakitnya, 4) penderita meninggal di poliklinik tetapi belum diketahui riwayat penyakitnya dan belum dapat ditegakkan diagnosa penyakitnya dan sebab kematiannya, 5) penderita ada kecurigaan atau persangkaaan kecelakaan, keracunan, kesalahan, atau kejahatan tindak pidana, 6) penderita yang murni meninggal mendadak atau tidak terduga. Setelah itu maka kejadian kematian ini dilaporkan kepada kepolisian. Pihak kepolisian yang akan menentukan apakah perlu dilakukan otopsi atau tidak.

16

Pelayanan RS a. b. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 938/ MENKES/ SK/ XI/ 1992 tentang Pedoman Organisasi RS umum. Peraturan Menteri Kesehatan R.I No. 159b/ MENKES/ PER /II/ 1988 tentang RS. Peraturan lainnya yang berkaitan dengan tugas tenaga medik dalam pelayanan RS ialah : PERMENKES No. 585/MENKES/PER/XII/1989 tentang rekam medis PERMENKES No. 585/MENKES/PER/XII/1989 tentang persetujuan tindakan medik ( Informed Consent). Keputusan DirJenYan Med No. 78/RS.Um.Dik. tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyelenggaraan Rekam Medis/ Medical Record di RS. Peraturan khusus untuk RS swasta antara lain : 8. 9. PERMENKES No.920/ MENKES/ PER/ XII/ 1986 tentang Upaya Pelayanan Kesehatan Swasta di bidang medik Keputusan Menkes No. 806b/ Menkes/ SK/ XII/ 1987, tentang klasifikasi RS umum swasta. 10. Keputusan DirJen. Yan. Med. No. HK. 00. 06. 3. 5.5797 tentang Petunjuk Pelaksanaan Upaya Pelayanan Kesehatan swasta di bidang Medik Spesialis. Tuntutan Hukum Secara garis besar tuntutan hukum dapat dibedakan menjadi; 1) tuntutan pidana, 2) tuntutan perdata, dan 3) tuntutan administratif. Berbagai kasus tuntutan hukum telah bermunculan, hal tersebut selayaknya memicu semangat untuk selalu mengedepankan kualitas pelayanan kesehatan yang professional. Tuntutan pidana terjadi karena dakwaan dilakukan kejahatan atau pelanggaran seperti yang diatur dalam KUH Pidana. Tuntutan perdata dapat terjadi karena gugatan telah dilakukan; 1) tindakan melawan hukum (onrechmatige daad), karena pelanggaran hukum administratif, pelanggaran disiplin atau tata tertib yang tidak dapat dipidana atau dituntut perdata, misalnya yang diatur dalam Undang-Undang No.23 tahun 1992 tentang Kesehatan, pasal 54 dan 55, atau Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1966 tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran.

17

Kelalaian dalam bidang perumahsakitan Kelalaian dalam bidang perumahsakitan bisa menyangkut RSnya itu sendiri (yang diwakili oleh Direkturnya) dalam bidang-bidang yang berkaitan dengan manajemen dan policy RSnya. Termasuk juga tindakan para karyawan (dokter, perawat, bidan, paramedik lainnya dan juga tenaga non-medik) jika sampai menimbulkan kerugian pada pasien. Dahulu sebuah RS adalah immune terhadap tuntutan. Karena fungsinya adalah bersifat menolong orang sakit, social, amal (charity) dan tidak bertujuan untuk mencari keuntungan. Dapat dikatakan bahwa kurang lebih 80% dari tuntutan malpraktek medik terhadap dokter terjadinya di RS. Walaupun tidak di dalam semua kasus RSnya turut dituntut, tetapi nama RS itu turut tersangkut juga. Karena biasanya jika ada suatu tuntutan di pengadilan, okupansi RS (BOR) biasanya akan mengalami penurunan, walaupun mungkin untuk sementara waktu. Namun terlepas dari segalanya, RS itu sendiri sebagai suatu institusi juga mempunyai kewajiban dan tanggungjawab untuk memberikan pelayanan yang baik kepada pasien (duty of due care). Salah satu kewajiban dari RS adalah harus menyediakan peralatan medik yang baik. Baik bukan berarti RS harus menyediakan segala sesuatunya yang termahal, atau harus melengkapi dirinya dengan segala peralatan medik yang baru ditemukan, tetapi ia harus menyediakan peralatan standar medik yang umum dan menjaga agar peralatan tersebut selalu tersedia dan siap pakai. Mencegah Tuntutan Hukum terhadap RS Jalan paling efektif untuk mencegah tuntutan hukum ialah dengan cara preventif. Banyak kasus membuktikan bahwa ketidakserasian hubungan dokter-pasien-RS sering merupakan akibat lemah atau kurangnya komunikasi. Kondisi tersebut seringkali berujung sengketa yang menjadi tuntutan hukum. Untuk menghindari tuntutan hukum kepada RS, diperlukan langkah penerapan dan pemantapan etiko-legal yang efektif. Para pekerja medis (dokter, perawat, operator, dsb) yang bekerja di RS mempunyai tugas utama untuk memberi perawatan yang selayaknya kepada pasien yang sakit maupun terluka. Untuk mencapai tujuan tersebut, pekerjaan para pekerja medis harus

18

dikaji sesuai patokan dari pemerintah atau dari standard RS tersebut. Selain diadakan audit terhadap pekerjaan para pekerja medis, mereka diwajibkan untuk meneliti kembali pekerjaan mereka, dengan jalan mengadakan pertemuan berkala untuk mengkaji pekerjaan mereka. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah tuntutan hukum di RS :

Dokter, perawat, teknisi, dsb (staff medik) bekerja melakukan pelayanan kesehatan berdasarkan standar baik yang ditetapkan oleh pemerintah maupun oleh RS. Mengadakan pengkajian ulang berkala terhadap pekerjaan mereka berlandaskan standar ditetapkan oleh pemerintah maupun oleh RS. Setelah dikaji ulang, pelaporan tersebut diserahkan kepada para staff medical audit untuk dichek kembali berdasarkan standar yang sudah ada. Berikut adalah beberapa kualifikasi standar yang ditetapkan oleh pemerintah

maupun oleh RS berkaitan dengan hukum: 1. Pernyataan tertulis mengenai kualifikasi yang dibutuhkan oleh seorang staff medik untuk dapat bekerja di RS 2. Prosedur tertulis (Prosedur Tetap) yang harus dipatuhi oleh staff medik dalam hal menangani pasien, Prosedur tertulis termasuk penerapan, kebijaksanaan yang harus diambil, dan perjanjian yang harus diikuti. 3. Alur organisasi dari staff medik, yang mengacu spesifik pada staff medik tertentu 4. Pernyataan tertulis dan jelas untuk melarang menarik biaya apapun diluar biaya yang telah ditetapkan oleh RS 5. Kebijaksanaan untuk menjaga rekam medis tetap akurat dan lengkap, dan harus dilengkapi pada saat pasien keluar dari RS 6. Kebijaksanaan untuk mengadakan pertemuan berkala para staff medik 7. Pernyataan yang menyatakan bahwa dokter yang merawat pasien memiliki tanggung jawab untuk melihat semua pada saat tindakan operasi, dan mengambil jaringan untuk pemeriksaan patologis lebih lanjut, dan selanjutnya akan dilaporkan. 8. Kebijaksanaan untuk melakukan pemeriksaan rutin terhadap seluruh pasien yang diberi kewenangan, dan untuk pelaporan untuk diagnosis sebelum operasi.

19

Kecuali pada saat darurat, tidak ada pasien yang diharuskan untuk operasi sebelum rekam medis lengkap, yang harus disertakan pada saat diagnosis preoperatif. 9. Peraturan yang mengijinkan operasi bedah atau prosedur berbahaya lainnya, hanya apabila ada pernyataan tertulis dari pasien atau orang yang bertanggung jawab terhadap pasien. Hal ini dilakukan untuk menghindari tuntutan hukum, kesalahpahaman dengan pasien, keluarga yang terkait, dan lain-lain. 10. Peraturan yang memaksa bahwa semua perintah dokter harus tertulis dan di tandangani oleh dokter yang melayani/mengadakan perawatan. 11. Pernyataan tertulis yang memberi otoritas penuh pada pihak administrasi RS dalam hal memberikan pelayananan kepada pasien 12. Pernyataan yang berisi bahwa operasi kandungan, tindakan kuretase, atau operasi sterilisasi tidak akan diadakan kecuali setelah diadakan konsultasi paling tidak dengan salah satu staff umum. Konsultasi harus ditulis mengenai apa saja yang ditemukan dan rekomendasi yang diberikan, dan laporan ini dijadikan satu dalam rekam medis pasien. Update - Hospital Bylaws Di Indonesia, legal framework yang mengatur RS yaitu 1) Konstitusi Korporasi (AD-ART PT/ Yayasan pemilik aset RS, dan PP Perjan), 2) Undang Undang dan Peraturan Pemerintah tentang RS, 3) Kebijakan Kesehatan Pemerintah setempat (Policy Ka DIN KES), 4) Hospital Bylaws, 5) Kebijakan/ Peraturan Penyelenggaraan RS (SOP, job-desc), dan 6) Aturan Hukum Umum (KUHAP, KUHP, KUH Perdata, UU Lingkungan, UU Tenaga Kerja). Pelayanan kesehatan di Indonesia saat ini bisa dibilang amburadul, bahkan banyak sekali terjadi konflik internal sendiri, baik antar provider kesehatan itu sendiri (dokter vs manajemen RS, dokter vs sesama dokter, maupun dokter vs tenaga kesehatan lain), maupun konflik internal RS (manajemen RS vs pemilik aset, dan antar pemilik aset itu sendiri). Oleh karena itu diperlukan suatu Governance (mekanisme kendali suatu pranata sosial (korporasi atau komunitas) terhadap unsur unsurnya agar berperilaku secara adekuat untuk memelihara eksistensi pranata tersebut) yang baik. Ada dua governance, yaitu Corporate

20

Governance (yaitu lembaga RS dan Badan Hukum Pemilik RS) dan Clinical Governance (yaitu lembaga komunitas staf medis di sebuah RS, dan tentu saja Komite Medis RS tersebut). Governing Body/ Governing Board (Badan Pengampu) ialah badan yang mempunyai kekuasaan untuk menetapkan kebijakan dan kontrol atas aktifitas RS . Governing Body ini ialah Dewan Penyantun, Dewan Pengawas, Dewan Komisaris, Dewan Pengarah, Dewan Pengurus, Steering Committee, sekaligus Majelis Wali Amanah, sehingga oleh karenanya tentu saja juga sebagai Penanggungjawab tertinggi dari RS. Apakah hospital bylaws itu? Selama ini beredar asumsi keliru tentang hospital bylaws ini, yaitu 1) Peraturan teknis operasional RS, 2) standard operational procedures, 3) Peraturan Direksi RS, dan 4) mengatur hubungan RS dengan karyawannya dan masalah - masalah administratif. Padahal sebenarnya hospital bylaws adalah segala kegiatan yang menyangkut masalah politis pembagian kewenangan di RS, dan bukannya kegiatan yang menyangkut masalah teknis manajemen perumahsakitan. Hospital bylaws ini berperan sebagai internal legislation of a hospital, sebagai konstitusi RS yang ditetapkan oleh pemilik/ wakilnya, juga mengatur adanya keberadaan dan mekanisme pengambilan keputusan oleh triad di RS. Jadi, pada intinya hospital bylaws ini menetapkan dan mengatur peran, tugas, kewajiban, kewenangan, tanggung jawab, dan hubungan kerja antara Badan Pengampu (Governing Body), Eksekutif (Corporate Governance), dan Staf Klinis (Clinical Governance). Pada kasus kematian tidak wajar, jikalau ada tuntutan terhadap RS, maka harus ditujukan kepada Governing Body alias Badan Pengampu. Selanjutnya sesuai dengan Hospital Bylaws maka Badan Pengampu akan memproses lebih lanjut, apakah terjadinya kematian tidak wajar tersebut terkait dengan masalah teknis operasional RS (koordinasi dengan Corporate Governance/ CEO/ Eksekutif) atau masalah penanganan medis (koordinasi dengan Clinical Governance/ Staf Klinis). II. 6. Kematian Penderita dan Aspek Hukum Bagi Keluarga Kedudukan seorang warga negara sebagai obyek hukum membuatnya sangat terikat dengan aturan hukum yang berlaku. Dalam hal ini yang dimaksud adalah

21

keluarga orang yang mengalami kematian tidak wajar. Sebagai keluarga korban, mereka tentu memiliki respon yang berbeda-beda satu antara lain. Ada yang mungkin menginginkan kejadian mati tidak wajar itu ditutup-tutupi karena dipandang membuat aib keluarga, ada yang pasrah saja terhadap peraturan yang berlaku, dan adapula yang bahkan menginginkan kejelasan penyebab kematian bila mungkin kematian itu karena sebab kriminalitas. Oleh karenanya kasus kematian tidak wajar sebagai peristiwa yang memiliki implikasi kuat di bidang hukum memerlukan pengaturan yang jelas. Kematian tidak wajar dalam RS RS sebagai tempat dokter melakukan pelayanan kesehatan bisa menjadi tempat kejadian kematian tidak wajar. Disini kami melihat penyebabnya dapat karena tindakan dokter dan non tindakan dokter. Yang disebabkan oleh tindakan dokter dibedakan menjadi kematian akibat medical malpractice dan kematian akibat resiko medik. Sedang kematian yang bukan akibat tindakan perawatan adalah bunuh diri, pembunuhan dan kecelakaan yang kebetulan terjadi di RS. Pelaporan Apapun sebab kematiannya, semua itu akan mengundang kecurigaan penyidik, dan kejadian-kejadian ini merupakan delik biasa yang tidak memerlukan seorang pengadu untuk dapat memproses kasus tersebut dan penuntutan tersebut tidak dapat ditarik kembali. Dalam hal kematian dalam masa perawatan kesehatan, pada umumnya pihak keluarga yang mengajukan tuntutan baik atas kemauan mereka sendiri maupun dengan dorongan-dorongan dari pihak-pihak tertentu. Prosedur yang banyak terjadi , pihak keluarga akan langsung mengadakan tuntutan terhadap RS maupun terhadap dokter yang merawat. Terhadap kasus seperti ini RS seharusnya berusaha menginvestigasi apakah benar perawatan pasien sudah sesuai prosedur baku dalam hal ini komite medik RS memegang peranan penting. Dalam kasus ini jenazah merupakan barang bukti untuk mengungkap apakah ada unsur kriminalitas. Untuk itu jenazah harus diotopsi sehingga sebab kematiannnya dapat diketahui. Hal ini memiliki dasar hukum KUHAP pasal 133 ayat 1 yang mengatakan : dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka,

22

keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangn ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya, yang bila berupa surat berwujud visum et repertum. Sebelum dilakukan otopsi, pihak penyidik akan memberitahukan pada keluarga bahwa jenazah akan diotopsi. Dasar hukumnya ialah pada KUHAP pasal 134 ayat 1 dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah mayat tidak mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga korban Adakalanya pihak keluarga merasa keberatan jika jenazah harus diotopsi, oleh Karena itu penyidik wajib memberikan penjelasan pada keluarga mengenai tuuan dilakukannya otopsi dengan mengacu pada KUHAP pasal 134 ayat 2 yang berbunyi : dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan dengan sejelas-jelasnya tentang maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut. Jika keluarga tetap keberatan maka pihak keluarga dipersilahkan menghadap polisi untuk mengutarakan keberatannya. Dalam instruksi Kapolri INS/E/IX/75 ditentukan siapa yang boleh mencabut permintaan Visum et Repertum: Bila ada keluarga korban/mayat keberatan jika diadakan visum et Repertum bedah mayat maka adalah kewajiban dari petugas Polri c.q. pemeriksa untuk secara persuasif memberikan penjelasan perlu dan pentingnya otopsi untuk kepentingan penyidikan, kalau perlu , bahwa ditegakkannya pasal 222 KUHP (barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya sembilan bulan atau denda sebanyak-banyaknya empat ribu lima ratus rupiah) Pada dasarnya penarikan/pencabutan kembali Visum et Repertum tidak dapat dibenarkan. Bila tepaksa Visum et Repertum yang sudah diminyta harus diadakan pencabutan/penarikan kembali, mak hal tersebut hanya dapat diberikan oleh Komandankomandan Kesatuan paling rendah tingkat Komres (Kapolres) dan untuk kota besar hanya oleh Kapolwil Tabes Pada kenyataannya proses otopsi ini sulit dihindari karena untuk menolak diperlukan pengurusan yang rumit karena harus melalui prosedur meminta persetujuan pembatalan otopsi dari polisi berpangkat tertentu serta terdapat batasan waktu seperti tertera pada KUHAP pasal 134 ayat 3, apabila dalamwaktu dua hari tidak ada tanggapan

23

appun dari keluarga atau pihak yang perlu diberitahu tidak diketemukan, penyidik segera melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat 3 KUHAP tentang pengaturan pengiriman mayat kepada bagian forensik . Kadang polisi menyetujui permintaan keluaga supaya tidak dilakukan otopsi tetapi minta pada keluarga dari yang menginggal dunia pernyataan tertulis bahwa jika dikemudian hari ada hal-hal yang tidak dapat diterimanya begitu saja kematian korban dan mayat harus digali, maka segala sesuatu ditanggung oleh keluarga dan keluarga tidak akan menuntut siapapun juga. Siapa yang berhak mewakili keluarga dalam penolakan otopsi ? Tentu saja adalah keluarga yang berhak memberi persetujuan tindakan medik. Peraturan Menteri Kesehatan No 585/MENKES/PER/IX/1989 memuat keterangan tentang persetujuan tindakan medik dan dalam hal ini bisa diberlakukan untuk penolakan tindakan medik. Yang berhak adalah keluarga terdekat yaitu suami atau istri, anak yang sudah dewasa, orang tuanya, saudara kandung yang sudah dewasa atau walinya yang lain. Kriteria dewasa berbeda menurut beberapa dasar. menurut hukum Perdata yaitu berusia 21 tahun dan lebih atau sudah pernah menikah menurut UU Perkawinan yaitu laki-laki 18 tahun atau lebih, wanita 16 tahun atau lebih menurut hukum adat di Jawa yaitu sudah lepas dari asuhan orang tua atau sudah bekerja/berpenghasilan sendiri menurut UU Perburuhan, berusia 18 tahun atau lebih menurut hukum Pidana, berusia 16 tahun atau lebih menurut UU Pemilihan Umum, berusia 17 tahun atau lebih Setiap persetujuan ataupun penolakan tertulis harus menyertakan adanya saksi. Dalam hal ini menurut kami, dokter yang merawat dan dokter ruangan dari pihak RS dan keluarga dari korban sudah cukup sebagai saksi. Polri adalah penyidik tunggal untuk perkara kriminal dan dalam pencabutan permintaan visum et repertum tidak boleh dipengaruhi siapapun dari luar. Penyidik sendirilah yang harus bertanggung jawab atas segala sesuatu yang kemudian timbul dari tindakan pencabutan permintaan visum et repertum.

24

Bila permintaan visum et repertum dicabut konsekuensinya dokter tidak melakukan pemeriksaan apapun, dokter hanya menyatakan korban meninggal dan pada keluarga diberikan surat yang diperlukan untuk pemakaman. II. 7. Otopsi Pelaksanaan otopsi di kamar jenazah dilakukan berdasarkan peraturan khusus sebagai berikut: 1) harus ada surat perintah untuk melakukan otopsi dari direktur RS untuk otopsi klinis, atau dari polisi untuk otopsi forensik, 2) harus ada surat kuasa atau surat persetujuan dari keluarga terdekat atau orang yang berhak memberi persetujuan atau kuasa untuk dilakukan otopsi, 3) otopsi harus dilakukan oleh dokter ahli patologi atau dokter lain dari RS yang berwenang, 4) harus dibuat laporan lengkap dari otopsi yang hanya dapat diberikan kepada pemberi perintah otopsi, dengan copy yang disimpan dibagian catatan medik, bagian patologi dan diarsip dokter ahli patologi, 5) semua surat perintah, surat kuasa, atau surat persetujuan tersebut diatas harus disimpan dibagian catatan medik RS. Otopsi telah memberi sumbangan yang tidak ternilai bagi kemajuan pengetahuan ilmiah dan peningkatan ilmu kedokteran dan merupakan cara pemeriksaan terakhir yang menyempurnakan semua pemeriksaan kedokteran lainnya. Otopsi juga merupakan cara pengawasan terhadap semua tindakan kedokteran bagi penderita yang bersangkutan (medical audit). Setiap RS seharusnya melampaui batas minimum angka otopsi 25% dari semua kematian di RS tersebut, termasuk semua otopsi pada kasus mati kurang dari 24 jam perawatan inap di RS yang masih belum cukup untuk dilakukan pemeriksaan untuk menegakkan diagnosa. Otopsi juga ditujukan untuk pengawasan terhadap kemungkinan kekurangan, kelalaian, kekhilafan, kecerobohan, kesalahan tindakan medis sekalipun, serta kemungkinan telah terjadi trauma (misalnya false route) atau pidana (misalnya euthanasia) yang tak terduga atau tidak diketahui sebelumnya. Seorang dokter yang sadar akan kemungkinan kekurangan yang tidak sengaja, tidak akan takut akan tindakan otopsi pada penderitanya yang meninggal; bahkan seorang dokter yang bertanggung jawab dan belum dapat menegakkan diagnosa penyakit dan sebab kematian yang pasti, akan segera meminta dilakukan otopsi. Penyakit pada alat pencernaan dan penyakit pada alat pernafasan biasanya tidak menyebabkan kematian

25

mendadak atau kematian tidak terduga. Demikian juga penyakit ginjal, hepar maupun penyakit kurang gizi dan kurang darah. Apabila penyakit tersebut diatas dikeluarkan dari daftar sebab kematian oleh penyakit karena tidak menyebabkan kematian mendadak atau tidak terduga, maka penyebab kematian mendadak atau tidak terduga di Indonesia mestinya juga mengikuti pola yang sama seperti di negara maju. Bagi kemajuan ilmu kedokteran di Indonesia dan untuk menerapkan etika RS Indonesia dan peraturan perundang-undangan di Indonesia, seharusnya setiap kematian mendadak atau tidak terduga, dan setiap kematian yang tidak diketahui sebabnya dengan pasti, kecuali harus dilaporkan kepada yang berwajib, juga harus dilaporkan kepada polisi sebagai penyidik dan penyelidik umum; juga yang terjadi atau ditemukan di RS dan apalagi kalau ada kecurigaan atau persangkaan, sekecil apapun, tentang kemungkinan adanya kecelakaan, kesalahan, atau kejahatan/ pidana yang dapat menjadi urusan dikemudian hari. RS bertanggung-jawab dalam hal pelaporan tersebut dan RS harus membantu dan mengikuti prosedur dan instruksi kepolisian. Otopsi klinis sebagai pemeriksaan final diagnostik pelengkap dan pembanding, merupakan salah satu tindakan quality control (pengawasan mutu) pelayanan medik yang belum cukup disadari di Indonesia. Di negara yang sudah maju, ijin operasional suatu RS diberikan kalau memenuhi minimal 50% otopsi klinis dari total kematian di RS tersebut, dan penderita yang meninggal tanpa diagnosis yang jelas tidak dapat dikebumikan atau dikremasi sebelum dilakukan otopsi klinis. Di Indonesia, ketentuan mengenai otopsi diatur di dalam UU No. 23/1992 tentang Kesehatan: Pasal 70 Ayat (1) Dalam melaksanakan penelitian dan pengembangan dapat dilakukan bedah mayat untuk penyelidikan sebab kematian serta pendidikan tenaga kesehatan Ayat (2) Bedah mayat hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian atau kewenangan untuk itu dan dengan memperhatikan norma yang berlaku dalam masyarakat

26

Ayat (3) Ketentuan mengenai bedah mayat sebagaimaana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah Penjelasan Ayat (1) Bedah mayat yang dilakukan untuk mengetahui dengan pasti diagnosis penyakit atau kelainan yang menjadi sebab kematian disebut bedah mayat klinis. Hasil penyelidikan ini dapat digunakan untuk mengembangkan cara penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehqatan. Bedah mayat dapat pula digunakan untuk kepentingan pendidikan yang disebut bedah mayat anatomis. Selain itu bedah mayat dapat juga dilakukan untuk pembuktian, baik yang berkaitan dengan peristiwa pidana maupun peristiwa hukum lainnya, yang disebut sebagai bedah mayat forensik Ayat (2) Bedah mayat adalah tindakan medis dengan melakukan pembedahan tubuh mayat sesuai dengan prosedur teknis ilmiah tertentu. Oleh karena itu harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu. Pelaksanaan tindakan medis tersebut dilakukan dengan memperhatikan norma yang berlaku dalam masyarakat yaitu norma hukum, norma agama, norma kesusilaan dan norma kesopanan. Pasal 77 Pemerintah berwenang mengambil tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dan atau sarana kesehatan yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan Undang-Undang ini. Pasal 82 Ayat (1) e Barangsiapa yang tanpa keahlian dan kewenangan dengan sengaja melakukan bedah mayat sebagaimana dimaksud dalam pasal 70 ayat (2) dipidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah)

27

Catatan
Menurut penjelasan Menteri Kesehatan, dalam keadaan darurat, bedah mayat

dapat dilakukan oleh setiap dokter, terutama apabila mayat tersebut harus segera dibedah karena merupakan barang bukti yang akan rusak apabila harus menunggu tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dalam bidang tersebut. Mengenai bedah mayat sebagai barang bukti di pengadilan dalam perkara pidana diatur di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

II. 8. Visum et Repertum


Istilah Visum et Repertum sampai sekarang masih dipakai, baik oleh para tenaga kesehatan maupun oleh para penegak hukum, meskipun tidak tercantum di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHP). Hal ini dapat dimaklumi apabila kita simak beberapa alasan yang mendasari yaitu: 1) Belum adanya undang undang yang mencabut istilah Visum et Repertum yang tercantum di dalam Staatsblad/Lembaran Negara Tahun 1937 Nomor 350, 2) Di dalam Standar Pelayanan Medis yang disusun oleh Ikatan Dokter Indonesia dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan pada Tahun 1993 masih dipakai istilah Visum et Repertum, 3) Istilah tersebut telah menyatu dengan para tenaga kesehatan dan para penegak hukum yang tampaknya sulit untuk diganti dengan istilah yang lain. Staatsblad Tahun 1937 No.350: Visa Reperta (Visum et Repertum) adalah laporan tertulis untuk yustisi yang dibuat oleh dokter berdasarkan sumpah, tentang segala hal yang dilihat dan ditemukan pada benda yang diperiksa menurut pengetahuan yang sebaikbaiknya. KUHAP Pasal 187 butir c Surat sebagaimana tersebut pada Pasal 184 ayat (1) c, dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah adalah :

28

Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya. Pengertian ahli dalam pasal di atas tidak hanya untuk ahli dalam bidang kedokteran tetapi juga ahli dalam bidang lain. Visum et Repertum bisa tentang kasus perkosaan, dimana keterangan ini biasanya diberikan oleh dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan, dan jika ahli ini tidak ada maka diberikan oleh dokter ahli kedokteran kehakiman atau dokter umum. Masalah yang sering timbul ialah bahwa korban dikirim terlambat, beberapa hari bahkan beberapa bulan setelah kasus tersebut terjadi, sehingga hasil pemeriksaan tidak menunjukkan keadaan yang sebenarnya lagi. Misalnya luka pada tubuh dan genetalia eksterna telah sembuh, sel mani dalam liang sanggama negatif, dan sebagainya. Namun pada umumnya kebanyakan visum et repertum ialah tentang pemeriksaan/ otopsi kedokteran kehakiman. Penyidik, dalam hal ini biasanya POLRI sering meminta visum et repertum kepada seorang dokter dalam perkara penganiayaan dan pembunuhan. Keterangan yang diberikan haruslah objektif tanpa pengaruh dari mereka yang berkepentingan dalam perkara itu. Perlu pula keterangan itu dibuat dengan teliti dan mudah dipahami oleh awam, berdasarkan apa yang dilihat, supaya tidak perlu dipanggil lagi ke muka sidang pengadilan untuk memberikan tambahan keterangan. Yang berhak meminta Visum et Repertum ialah PENYIDIK, yaitu: 1. Penyidik POLRI (Pasal 133 ayat (1) KUHAP) 2. Polisi Militer /POM (Keputusan PANGAB NO. KEP/04/P/II/1984 dan Instruksi KAPOLRI No. POL.:INS/E/20/IX/75 butir 10). KUHAP Pasal 133 ayat (1) Dalam hal penyedikan untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan, ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan ahli lainnya. Pada prinsipnya semua dokter mampu membuat Visum et Repertum sesuai dengan pendidikan yang diperolehnya pada waktu melakukan kepaniteraan di

29

Laboratorium Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran. Namun demikian ada beberapa peraturan yang harus diperhatikan dalam pelaksanaannya. Menurut standar Pelayanan Medis yang disusun oleh Ikatan Dokter Indonesia dan diterbitkan oleh Departemen Kesehatan RI tahun 1993 yang antara lain mengatur tentang pemeriksaan Kedokteran Forensik terhadap jenazah: - Untuk daerah yang tidak memiliki dokter spesialis kedokteran forensik, pemeriksaan dilakukan oleh dokter umum serendah-rendahnya di RS kelas D. Untuk pemeriksaan penunjang, dilakukan rujukan ke dokter spesialis kedokteran forensik. - Untuk daerah yang memiliki dokter spesialis kedokteran forensik, pemeriksaan forensik atas jenazah dilakukan oleh dokter spesialis kedokteran forensik diRS/instansi tempat tugas dokter spesialis kedokteran forensik tersebut.

Catatan
Pemeriksaan penunjang dalam bidang kedokteran forensik meliputi: Pemeriksaan toksikologi terhadap spesimen yang berasal dari kasus Pemeriksaan histopatologi terhadap spesimen yang berasal dari kasus Pemeriksaan anthropologi pada kasus identifikasi Pemeriksaan /teknik superimposisi pada kasus identifikasi Pemeriksaan laboratorium forensik meliputi: a. Pemeriksaan getah paru dan pemeriksaan desktruksi jaringan paru pada kasus tenggelam b. Pemeriksaan terhadap rambut pada kasus identifikasi c. Pemeriksaan pembuktian serta identifikasi terhadap cairan/bercak semen pada kasus kejahatan seksual. Pada kasus identifikasi jenazah dan bayi yang dikira tertukar yang terjadi di Surabaya pada tahun 1995, Laboratorium Ilmu Kedokteran Forensik FK. Unair RSUD. Dr. Soetomo menggunakan teknik tes DNA fingerprinting dengan cara mengirimkan sample ke Analytical/Genetic pemeriksaan kedokteran forensik. kedokteran forensik

30

Testing Center (AGTC) di Denver, Colorado, USA dengan hasil yang sangat memuaskan. Tata Cara Permintaan Visum et Repertum Jenazah 1. KUHAP Pasal 133 ayat (2) menyebutkan: Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat atau pemeriksaan bedah mayat. Penjelasan: Keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan ahli, sedangkan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan. Catatan Kami tidak setuju bila hanya keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman/forensik saja yang disebut keterangan ahli, karena setiap dokter mempunyai keahlian khusus dan dapat membuat visum et repertum. Dengan demikian keterangan yang dibuat oleh dokter yang bukan ahli kedokteran kehakiman adalah keterangan ahli sebaiknya disebut dalam KUHAP Pasal 1 butir 28 yang berbunyi : Keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seseorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan. Berdasarkan dari uraian diatas, maka seorang dokter adalah seorang ahli, karena memiliki keahlian khusus, yaitu ahli dalam bidang kedokteran. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa : Visum et repertum harus diminta oleh penyidik secara tertulis dan ditujukan pada seorang dokter, tidak harus kepada seorang ahli kedokteran forensik.

Catatan
Dokter yang melakukan bedah jenazah tanpa permintaan tertulis dari penyidik dapat dijatuhi sanksi pidana karena dianggap merusak jenazah dan melakukan tindakan tanpa kewenangan. KUHP pasal 406 ayat (1)

31

barangsiapa dengan sengaja dan dengan melawan hukum, menghancurkan, merusakkan, membuat sehingga tak dapat dipakai lagi atau menghilangkan barang yang sama sekali atau sebagian kepunyaan orang lain, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan atau denda sebanyak-banyaknya empat ribu lima ratus rupiah. Disamping itu keluarga atau ahli warisnya dapat menggugat ganti rugi berdasarkan KUH Perdata. II. Pasal 1365 Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut. III. Pasal 1366 Setiap orang bertanggung jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan kelalaian atau kurang hati-hatinya. IV. Pasal 1367 Seorang tidak saja bertanggung jawab untuk kerugian yang disebabkan perbuatannya sendiri, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan perbuatan orang-orang yang menjadi tanggungannya atau disebabkan oleh barangbarang yang berada dibawah pengawasannya 2. Surat permintaan Visum et repertum/SPVR harus dibuat dengan menggunakan format sesuai dengan kasus yang sedang ditangani. 3. SPVR harus ditandatangani oleh penyidik yang syarat kepangkatan dan pengangkatannya diatur dalam bab 2 pasal 2 peraturan Pemerintah nomor 27 Tahun 1983. Kewajiban penyidik terhadap keluarga korban KUHAP Pasal 134 mengatur tentang kewajiban penyidik terhadap keluarga korban : 1. Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah mayat tidak mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada korban.

32

2. Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan sejelas-jelasnya tentang maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut. 3. Apabila dalam waktu 2 x 24 jam tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau pihak yang diberitahukan tidak ditemukan, penyidik segera melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) Undang-undang ini. Sanksi hukuman bagi yang menghalang-halangi pemeriksaan. Setiap orang yang menghalang-halangi pemeriksaan mayat, dapat dijatuhi pidana berdasarkan KUHAP pasal 222 yang berbunyi : Barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan, dipidana dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah Sanksi bagi dokter yang menolak permintaan penyidik. Setiap dokter yang mempunyai kewenangan dan keahlian untuk melakukan pemeriksaan terhadap mayat, baik periksa luar maupun bedah jenazah dapat dijatuhi pidana berdasarkan KUHAP pasal 216 apabila ia dengan sengaja tidak memenuhi permintaan penyidik tanpa alasan yang sah. 1. Barang siapa dengan sengaja tidak menurut perintah atau permintaan keras, yang dilakukan menurut peraturan perundang-undangan oleh pegawai negeri yang diwajibkan mengawasi atauoleh pegawai negeri yang diwajibkan atau yang dikuasakan mengusut atau memeriksa tindak pidana, demikian juga barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan suatu pekerjaan yang diusahakan oleh salah seorang pegawai negeri itu untuk menjalankan suatu peraturan undang-undang, dipidana dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah. 2. Yang disamakan dengan pegawai negeri yang tersebut dalam bagian pertama ayat diatas ini adalah semua orang yang menurut peraturan undang-undang selalu atau sementara diwajibkan menjalankan suatu jabatan umum apapun juga. 3. Kalau pada melakukan kejahatan itu belum lagi dua tahun sesudah pemidanaan yang dahulu menjadi tetap karena kejahatan yang semacam itu juga, maka pidana itu dapat ditambah sepertiganya.

33

BAB III KESIMPULAN


1. Kematian tidak wajar / disthanasia diartikan secara harfiah yaitu dys berarti sukar, nyeri, buruk, tidak teratur, abnormal; dan thanatos berarti kematian. Adapun kematian mendadak yaitu kematian yang datang tidak terduga, tidak diharapkan, dengan batasan waktu yang nisbi. Batasannya kurang dari 48 jam sejak timbul gejala pertama, ada juga pendapat batasannya kurang dari 24 jam. 2. Saat ini belum ada peraturan khusus di Indonesia yang mengatur secara lengkap dan spesifik tentang tatalaksana dalam kasus kematian tidak wajar di RS, yang ada hanya UU yang mengatur profesi dokter dan tenaga kesehatan lainnya dalam menangani pasien, selebihnya KUHP, KUHAP, yang menjelaskan tentang proses penyidikan; dan KUH Perdata tentang proses ganti rugi. 3. Bagi dokter yang menangani penderita mati mendadak atau tidak terduga di RS, dianjurkan supaya: 1) segera melaporkan kematian itu kepada atasannya atau Direktur RS, dan kemudian 2) segera memintakan persetujuan tertulis dari keluarga terdekat dari penderita, untuk otopsi jenazah. 4. Apabila seorang direktur RS mendapat laporan dari bawahannya tentang terjadinya kematian tidak wajar di lingkup RS, maka ia harus mengklarifikasi terlebih dahulu tentang kejelasan proses kematian tersebut, apakah 1) penderita datang sudah meninggal di poliklinik, 2) penderita dalam keadaan agone (hampir meninggal) datang di poliklinik dan tidak diketahui dengan pasti riwayat penyakitnya, 3) penderita meninggal di poliklinik sebelum diperiksa dokter dan tidak diketahui riwayat penyakitnya, 4) penderita meninggal di poliklinik tetapi belum diketahui riwayat penyakitnya dan belum dapat ditegakkan diagnosa penyakitnya dan sebab kematiannya, 5) penderita ada kecurigaan atau persangkaaan kecelakaan, keracunan, kesalahan, atau kejahatan tindak pidana, 6) penderita yang murni meninggal mendadak atau tidak terduga. Setelah itu maka kejadian kematian ini dilaporkan kepada kepolisian. Pihak kepolisian yang akan menentukan apakah perlu dilakukan otopsi atau tidak.

34

5. Pihak keluarga selayaknya memahami akan importancy dan urgency dari otopsi pada terjadinya kematian tidak wajar, sehingga tidak pada tempatnya untuk menolak terlebih menghalangi otopsi. Namun juga harus diingat bahwa keluarga tetap berhak untuk memperoleh informasi yang perlu diketahui, untuk mencegah agar tidak terjadi kesalahpahaman yang bisa berujung pada tuntutan hukum. 6. Pada kasus kematian tidak wajar, jikalau ada tuntutan terhadap RS, maka harus ditujukan kepada Governing Body alias Badan Pengampu. Selanjutnya sesuai dengan Hospital Bylaws maka Badan Pengampu akan memproses lebih lanjut, terjadinya kematian tidak wajar tersebut terkait dengan masalah teknis operasional RS (koordinasi dengan Corporate Governance/ CEO/ Eksekutif) atau masalah medis (koordinasi dengan Clinical Governance/ Staf Klinis). 7. Dokter dan semua staf medik WAJIB untuk menjaga performa dan selalu berhati-hati dan teliti, untuk mencegah terjadinya kelalaian ataupun kecelakaan medik yang bisa berakibat kematian tidak wajar . Perlu adanya hubungan yang baik antara tenaga kesehatan dengan pasien sehingga para tenaga kesehatan dapat mencegah adanya tuntutan hukum. Dalam melakukan semua tindakan medik para tenaga kesehatan wajib untuk melakukan informed consent, sehingga terjadi pasien dan keluarga dapat mengetahui dengan jelas, dan kemudian bisa memutuskan dengan logis untuk menyetujui atau tidak tindakan medis yang akan dilakukan kepadanya .

35

DAFTAR PUSTAKA
1. Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik, Edisi Pertama. Surabaya: Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, 2005. 2. Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Ilmu Kedokteran Forensik, Edisi Pertama. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1997. 3. Darsono, Soeraryo, dr., Sp.PA, Sp.B, Etik Hukum Kesehatan, Edisi I. Semarang : Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, 2004. 4. Haroen, A. Annaningsih, Soeparto Pitono, R. Hariadi, et al, Etik dan Hukum di Bidang Kesehatan, Edisi Pertama. Surabaya : Komite Etik RSU Dr. Soetomo, 2001. 5. Herkutanto, Dr.,FACLM, SH, Hospital Bylaws, Menyikapi Ancaman Hukum Terhadap Praktek Kedokteran, Presentasi. 2004. 6. J. Guwandi, SH, Kelalaian Medik (Medical Negligence). Edisi Kedua. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1994. 7. Jusuf Hanafiah,M, Amir Amri, Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan, Edisi Ketiga. Jakarta : EGC, 1994. 8. Kematian dan Euthanasia, Mading Ruang Kuliah Forensik RSU dr. Soetomo. Surabaya, 2005. 9. KUHAP (Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana). Surabaya : Karya Anda, 1994. 10. KUHP (Kitab Undang Undang Hukum Pidana). Surabaya : Karya Anda, 1994. 11. KUH Perdata (Kitab Undang Undang Hukum Perdata). Surabaya : Karya Anda, 1994. 12. Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Indonesia, Kode Etik Kedokteran Indonesia dan Pedoman Pelaksanaan Kode Etik Kedokteran Indonesia, Jakarta : Ikatan Dokter Indonesia, 2001. 13. Undang - Undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Bandung : Fokumedia, 2004.

36

14. Undang - Undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran, Bandung : Fokusmedia, 2004. 15. Waluyadi, SH, Ilmu Kedokteran Kehakiman dalam Perspektif Peradilan dan Aspek Hukum Praktek Kedokteran, Edisi Pertama. Jakarta : Djambatan, 2001.

37