Anda di halaman 1dari 6

Penyakit ginjal kronik adalah suatu proses patofisiologis dengan etiologi yang beragam,mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang

progresif, dan pada umumnya berakhir dengangagal ginjal. Selanjutnya gagal ginjal adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang ireversibel, pada suatu derajat yang memerlukan terapi penggantiginjal yang tetap, berupa dialysis atau transplantasi ginjal.Penyakit ginjal kronik adalahkerusakan ginjal. Uremia adalah suatu sindrom klinik dan laboratorik yang terjadi pada semuaorgan akibat penurunan fungsi ginjal pada penyakit ginjal kronik Klasifikasi Gagal Ginjal Kronik Klasifikasi penyakit ginjal kronik didasarkan atas dua hal yaitu : atas dasar derajat (stage) penyakit dan atas dasar diagnosis etiologi..Klasifikasi atas dasar derajat penyakit, dibuat atas dasar LFG yang dihitung denganmempergunakan rumus Kockcroft-Gault sebagai berikut:LFG (ml/mnt/1,73m2)= (140-umur) x berat badan dibagi 72 x kreatinin plasma (mg/dl)Pada perempuan dikalikan 0,85.Klasifikasi penyakit ginjal kronik atas dasar derajat penyakitDerajatPenjelasan LFG(ml/mnt/1,73m2)1 Kerusakan ginjal dengan LFG normal atau Kerusakan ginjal dengan LFG ringan60-893 Kerusakan ginjal dengan LFG sedang 30902 594 Kerusakan ginjal dengan LFG berat 15-295 Gagal ginjal <>Klasifikasi atas dasar diagnosis etiologi , tampak pada tabel berikut:penyakit Tipe mayor (contoh)Penyakit ginjal diabetes Diabetes tipe 1 dan 2Penyakit ginjal non diabetes Penyakit glomerular ( penyakit otoimun, infeksi sistemik, obat, neoplasia)Penyakit vaskular (penyakit pembuluh darah besar, hipertensi, mikroangiopati)Penyakit tubulointerstisial(pielonefritis kronik, batu, obstruksi, keracunan obat)Penyakit kistik (ginjal polikistik)Penyakit pada transplantasi Rejeksi kronik, keracunan obat, (siklosporin)Penyakit recurrent(glomerular)transplant glomerulopathyGAMBARAN KLINISGambaran klinis pasien penyakit ginjal kronik, meliputi : Sesuai dengan penyakit yang mendasari seperti diabetes melitus, infeksi traktus urinarius, batutraktus urinarius, hipertensi, hiperurikemia, dsb Gejala komplikasinya antara lain : hipertensi, anemia, osteodistrofi renal, payah jantung,asidosis metabolik, dan gangguan keseimbangan dan elektrolit. Sindrom Uremik Bila GFR menurun 5-10% dari keadaan normal dan terus mendekati nol, maka pasien akanmenderita yang disebut sebagai sindrom uremik Manifestasi klinis sindrom uremik - Biokimia :o Asidosis metabolik (HCO3 serum 18-20 mEq/L) o Azotemia (penurunan GFR, menyebabkan peningkatan BUN, kreatinin)o Hiperkalemiao Hipermagnesemiao Hiperurisemia- Saluran kemih dan kelamino Poliuria berlanjut oligouria, lalu anuriao Nokturiao Berat jenis kemih tetap sebesar 1.010o Proteinuria, silinder o Hilangnya libido, amenore, impotensi dan sterilitas- Kardiovaskular o Hipertensio Retinopati dan ensefalopati hipertensif o Beban sirkulasi berlebiho Edemao Gagal jantung kongestif o Perikarditiso DisritmiaPernafasano Kusmaul, dispneao Edema paruo Pneumonitis- Hematologik o Anemiao Hemolisiso Kecenderungan pendarahano Menurunnya resistensi terhadap infeksiKulito Pucat, pigmentasio Perubahan pada rambut dan kuku (kuku mudah patah, tipis, bergerigi, ada garis merah-biruyang berkaitan dengan kehilangan protein)o Prurituso Kristal uremik o Kulit keringo Memar - Saluran cernao Anoreksia, mual, muntah, menyebabkan penurunan berat badano Nafas berbau amoniak o Rasa kecap logam, mulut kering, stomatitis, parotitiso Gastritis, enteritiso Pendarahan saluran cernao Diare- Metabolisme intermedier o Protein-intoleransi, sintesis abnormalo Karbohidrat-hiperglikemia, kebutuhan insulin menuruno Lemak-peninggian kadar trigliserida Neuromuskular o Mudah lelaho Otot mengecil dan lemaho Susunan saraf pusat : penurunan ketajaman mental, konsentrasi buruk, apati, letargi/gelisah,insomnia, kekacauan mental, komao Otot berkedut, asteriksis, kejango Neuropati perifer : konduksi saraf lambat, sindrom restless leg , perubahan sensorik padaekstremitas-parestesi, perubahan motorik-foot drop yng berlanjut menjadi paraplegia- Gangguan kalsium dan rangkao Hiperfosfatemia, hipokalsemiao Hiperparatiroidisme sekunder o Osteodistrofi ginjalo Fraktur patologik (demineralisasi tulang)o

Deposit garam kalsium pada jaringan lunak (sekitar sendi, pembuluh darah, jantung, paru-paru)o Konjungtivitis (uremik mata merah) DIAGNOSAGambaran LaboratorisGambaran laboratoris penyakit ginjal kronik meliputi :1. Sesuai dengan penyakit yang mendasarinya.2. Penurunan fungsi ginjal berupa peningkatan kadar ureum dan kreatinin serum, dan penurunanLFG yang dihitung menggunakan rumus Kockcroft Gault.3. Kelainan biokimiawi darah meliputi penurunan kadar hemoglobin, peningkatan kadar asamurat, hiper atau hipokalemia, hiponatremia, hiper atau hipokloremia, hiperfostatemia,hipokalsemia, asidosis metabolik.4. Kelainan urinalis meliputi proteinuria, hematuria, leukosuria, cast, isostenuria.Gambaran RadiologisGambaran radiologi penyakit ginjal kronik meliputi :1. Foto pdos abdomen bisa tampak batu radioopak 2. Pielografi intavena jarang dikerjakan3. Pielografi antegrad atau retrograd4. Ultrasonografi ginjal Bisa memperlihatkan ukuran ginjal yang mengecil, korteks yangmenipis, adanya hidronefrosis atau batu ginjal, kista, massa, kalsifikasi.5. Pemeriksaan Pemindaian ginjal atau renografi dokerjakan bila ada indikasi6. Renogram Menilai fungsi ginjal kiri dan kanan, lokasi gangguan (vaskular, parenkim,ekskresi) serta sisa fungsi ginjal Inkontinensia UrineInkontinensia Urine (IU) atau yang lebih dikenal dengan beser sebagai bahasa awam merupakansalah satu keluhan utama pada penderita lanjut usia. Inkontinensia urine adalah pengeluaran urintanpa disadari dalam jumlah dan frekuensi yang cukup sehingga mengakibatkan masalahgangguan kesehatan dan atau sosial...DEFINISIInkontinensia Urine (IU) atau yang lebih dikenal dengan beser sebagai bahasa awam merupakansalah satu keluhan utama pada penderita lanjut usia. Inkontinenensia urine adalah pengeluaranurin tanpa disadari dalam jumlah dan frekuensi yang cukup sehingga mengakibatkan masalahgangguan kesehatan dan atau sosial.Variasi dari inkontinensia urin meliputi keluar hanyabeberapa tetes urin saja, sampai benarbenar banyak, bahkan terkadang juga disertaiinkontinensia alvi (disertai pengeluaran feses) ETIOLOGISeiring dengan bertambahnya usia, ada beberapa perubahan pada anatomi dan fungsi organkemih, antara lain: melemahnya otot dasar panggul akibat kehamilan berkali-kali, kebiasaanmengejan yang salah, atau batuk kronis. Ini mengakibatkan seseorang tidak dapat menahan air seni. Selain itu, adanya kontraksi (gerakan) abnormal dari dinding kandung kemih, sehinggawalaupun kandung kemih baru terisi sedikit, sudah menimbulkan rasa ingin berkemih. PenyebabInkontinensia Urine (IU) antara lain terkait dengan gangguan di saluran kemih bagian bawah,efek obat-obatan, produksi urin meningkat atau adanya gangguan kemampuan/keinginan ketoilet. Gangguan saluran kemih bagian bawah bisa karena infeksi. Jika terjadi infeksi salurankemih, maka tatalaksananya adalah terapi antibiotika. Apabila vaginistis atau uretritis atrofi penyebabnya, maka dilakukan tertapi estrogen topical. Terapi perilaku harus dilakukan jika pasien baru menjalani prostatektomi. Dan, bila terjadi impaksi fe-ses, maka harus dihilangkanmisalnya dengan makanan kaya serat, mobilitas, asupan cairan yang adekuat, atau jika perlu penggunaan laksatif. Inkontinensia Urine juga bisa terjadi karena produksi urin berlebih karena berbagai sebab. Misalnya gangguan metabolik, seperti diabetes melitus, yang harus terusdipantau. Sebab lain adalah asupan cairan yang berlebihan yang bisa diatasi de-ngan mengurangiasupan cairan yang bersifat diuretika seperti kafein. Gagal jantung kongestif juga bisa menjadi faktor penyebab produksi urin meningkat danharus dilakukan terapi medis yang sesuai. Gangguan kemampuan ke toilet bisa disebabkanoleh penyakit kronik, trauma, atau gangguan mobilitas. Untuk mengatasinya penderita harusdiupayakan ke toilet secara teratur atau menggunakan substitusi toilet. Apabila penyebabnyaadalah masalah psikologis, maka hal itu harus disingkirkan dengan terapi nonfarmakologik ataufarmakologik yang tepat. Pasien lansia, kerap mengonsumsi obat-obatan tertentu karena penyakityang dideritanya. Nah, obat-obatan ini bisa sebagai 'biang keladi' mengompol pada orang-orang tua. Jika kondisi ini yang terjadi, maka penghentian atau penggantian obat jikamemungkinkan, penurunan dosis atau modifikasi jadwal pemberian obat.Golongan obat yang berkontribusi pada IU, yaitu diuretika, antikolinergik, analgesik, narkotik, antagonis adrenergicalfa, agonic adrenergic alfa, ACE inhibitor, dan kalsium antagonik.

Golongan psikotropikaseperti antidepresi, antipsikotik, dan sedatif hipnotik juga memiliki andil dalam IU. Kafein danalcohol juga berperan dalam terjadinya mengompol.Selain hal-hal yang disebutkan diatasinkontinensia urine juga terjadi akibat kelemahan otot dasar panggul, karena kehamilan, pascamelahirkan, kegemukan (obesitas), menopause, usia lanjut, kurang aktivitas dan operasi vagina.Penambahan berat dan tekanan selama kehamilan dapat menyebabkan melemahnya otot dasar panggul karena ditekan selama sembilan bulan. Proses persalinan juga dapat membuat otot-ototdasar panggul rusak akibat regangan otot dan jaringan penunjang serta robekan jalan lahir,sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya inkontinensia urine.Dengan menurunnya kadar hormon estrogen pada wanita di usia menopause (50 tahun ke atas), akan terjadi penurunan tonusotot vagina dan otot pintu saluran kemih (uretra), sehingga menyebabkan terjadinyainkontinensia urine. Faktor risiko yang lain adalah obesitas atau kegemukan, riwayat operasikandungan dan lainnya juga berisiko mengakibatkan inkontinensia.Semakin tua seseorangsemakin besar kemungkinan mengalami inkontinensia urine, karena terjadi perubahan struktur kandung kemih dan otot dasar panggul. PATOFISIOLOGI Inkontinensia urine dapat terjadi dengan berbagai manifestasi, antara lain: Fungsi sfingter yang terganggu menyebabkan kandung kemih bocor bila batuk atau bersin. Bisa juga disebabkan oleh kelainan di sekeliling daerah saluran kencing. Fungsi otak besar yang terganggu dan mengakibatkan kontraksi kandung kemih. Terjadi hambatan pengeluaran urine dengan pelebaran kandung kemih, urine banyak dalamkandung kemih sampai kapasitas berlebihan.Inkontinensia urine dapat timbul akibat hiperrefleksia detrusor pada lesi suprapons dansuprasakral. Ini sering dihubungkan dengan frekuensi dan bila jaras sensorik masih utuh, akantimbul sensasi urgensi. Lesi LMN dihubungkan dengan kelemahan sfingter yang dapat bermanifestasi sebagai stress inkontinens dan ketidakmampuan dari kontraksi detrusor yangmengakibatkan retensi kronik dengan overflow Ada beberapa pembagian inkontinensia urin,tetapi pada umumnya dikelompokkan menjadi 4:1. Urinary stress incontinence2. Urge incontinence3. Total incontinence4. Overflow incontinence*Stress urinary incontinence terjadi apabila urin secara tidak terkontrol keluar akibat peningkatantekanan di dalam perut. Dalam hal ini, tekanan di dalam kandung kencing menjadi lebih besar daripada tekanan pada urethra. Gejalanya antara lain kencing sewaktu batuk, mengedan, tertawa, bersin, berlari, atau hal lain yang meningkatkan tekanan pada rongga perut. Pengobatan dapatdilakukan secara tanpa operasi(misalnya dengan Kegel exercises, dan beberapa jenis obat-obatan), maupun secara operasi (cara yang lebih sering dipakai).*Urge incontinence timbul pada keadaan otot detrusor yang tidak stabil, di mana otot ini bereaksisecara berlebihan. Gejalanya antara lain perasaan ingin kencing yang mendadak, kencing berulang kali, kencing malam hari, dan inkontinensia. Pengobatannya dilakukan dengan pemberian obat-obatan dan beberapa latihan. *Total incontinence, di mana kencing mengalir keluar sepanjang waktu dan pada segala posisi tubuh, biasanya disebabkan oleh adanya fistula(saluran abnormal yang menghubungkan suatu organ dalam tubuh ke organ lain atau ke luar tubuh), misalnya fistula vesikovaginalis (terbentuk saluran antara kandung kencing denganvagina) dan/atau fistula urethrovaginalis (saluran antara urethra dengan vagina). Bila inidijumpai,dapat ditangani dengan tindakan operasi.*Overflow incontinence adalah urin yang mengalir keluar akibat isinya yang sudah terlalu banyak di dalam kandung kencing akibat otot detrusor yang lemah.Biasanya hal ini dijumpai pada gangguan saraf akibat penyakit diabetes, cedera pada sumsum tulang belakang, atau salurankencing yang tersumbat. Gejalanya berupa rasa tidak puas setelah kencing (merasa urin masihtersisa di dalam kandung kencing), urin yang keluar sedikit dan pancarannya lemah.Pengobatannya diarahkan pada sumber penyebabnya.PENATALAKSANAANSejauh ini, penatalaksanaan inkontinensia urine terdiri atas tiga kategori utama, yaitu terapinonfarmakologis

(intervensi perilaku), farmakologis, dan pembedahan. Terapi farmakologisumumnya memakai obat-obatan dengan efektivitas dan efek samping berbeda. Strategi pengelolaan optimal amat bergantung pada pasien, tipe inkontinensia, dan manfaat tiapintervensi, serta ketepatan identifikasi penyebab inkontinensia urine. Terapi yang sebaiknya pertama kali dipilih adalah terapi nonfarmakologis sebelum menetapkan menggunakan terapifarmakologis atau terapi pembedahan.Teknik ini hanya sedikit mengandung risiko pada pasiendan bermanfaat menurunkan frekuensi inkontinensia urine. Terapi utama dalam kelompok terapinon farmakologis dikenal sebagai Behavioral Therapies, yaitu berbagai intervensi yang diajarkan kepada pasien untuk memodifikasi perilaku kesehariannya terhadap kontrol kandung kemih. Disini termasuk: Pengaturan diet dan menghindari makanan/minuman yang mempengaruhi pola berkemih(seperti cafein, alkohol). Program latihan berkemih yaitu latihan penguatan otot dasar panggul (pelvic floor axercise,latihan fungsi kandung kemih (blandder training) dan program katerisasi intermitten. Latihan otot dasar panggul menggunakan biofeedback. Latihan otot dasar panggul menggunakan vaginal weight cone therapy. Selain behavioraltherapies, dikenal pula intervensi lain, yaitu dan pemanfaatan berbagai alat bantu terapiinkontinensia.Kombinasi antara terapi medikamentosa dan intervensi non farmakologis memberikan hasil pemulihan inkontinensia lebih baik. Penyulit terapi non farmakologis adalah perlunya kooperasi pasien untuk bekerjasama. Bila kerjasama tak terjalin, maka terapi tak akan berhasil. Olehkarenanya, diperlukan kecermatan dan ketelatenan tenaga medis dan paramedis untuk meyakinkan pasien dengan memberikan informasi yang benar dan mendampingi sertamengevaluasi secara teratur, sampai pemulihan maksimal tercapai.* Latihan Otot Dasar Panggul ( Plevic Floor Exercise )/ Kegel Exercise Latihan otot dasar panggul yaitu latihan dalam bentuk seri untuk membangun kembali kekuatan otot dasar panggul.Otot dasar panggul tak dapat dilihat dari luar, sehingga sulit untuk menilai kontraksinya secaralangsung. Oleh karena itu, latihannya perlu benar-benar dipelajari, agar otot yang dilatih adalahotot yang tepat dan benar. Keberhasilan akan dicapai bila:1. Pastikan bahwa pengertian pasien sama dengan yang anda maksud2. Latihan dilakukan tepat pada otot dan cara yang benar 3. Lakukan secara teratur, beberapa kali per hari4. Praktekkan secara langsung pada setiap saat dimana fungsi otot tersebut diperlukan5. Latihan terus, tiada hari tanpa latihan Sebagian pasien, sulit mengerjakan latihan ini. Merekamengasosiasikan kontraksi otot dasar panggul sebagai gerakan mengejan dengan konsentrasi pada otot dasar panggul. Hal ini salah, dan akan menimbulkan inkontinensia lebih parahlagi. Ada lagi yang mengartikannya sebagai gerakan mendekatkan kedua bokong,mengencangkan otot paha dan saling menekankan kedua lutut di sisi tengah. Gerakan ini takakanmenghasilkan penguatan otot dasar panggul, melainkan menghasilkan bokong yang bagus dan paha yang kuat.Program Latihan Dasar Kontraksi otot dasar panggul dilakukan dengan:a. Cepat : Kontraksi-relaks-kontraksi-relaks-dst b. Lambat : Tahan kontraksi 3-4 detik, dengan hitungan kontraksi 2-3-4-relaks, istirahat-2-3-4,kontraksi-2-3-4 relaks-istirahat-dst. Latihan seri gerakan cepat disusul dengan gerakan lambatdengan frekuensi sama banyak. Misalnya, 5 kali kontraksi cepat, 5 kali kontraksi lambat. Latihanini pun dikerjakan pada berbagai posisi, yaitu sambil berbaring, sambil duduk, sambilmerangkak, berdiri, jongkok, dll. Harus dirasakan bahwa pada posisi apapun otot yang berkontraksi adalah otot dasar panggul. Jangan harapkan keberhasilan akan segera muncul,karena otot dasar panggul dan otot sfingter yang lemah, serta tak biasa dilatih, cenderung cepatlelah. Bila keadaan letih (fatig) tercapai, maka inkontinensia

akan lebih sering terjadi. Olehkarena itu perlu dicari titik kelelahan pada setiap individu. Caranya, dilakukan dengan trial anderror. Lakukan kontraksi dengan frekuensi tertentu cepat dan lambat, misalnya 4 kali atau 5 kaliatau 6 kali dan tentukan frekuensi sebelum mencapai titik lelah dan otot menjadi lemah. Yangterakhir ini dapat dites dengan melakukan digital vaginal self asessment (vaginal toucher) yaitu, memasukkan dua jari tangan setelah dilumuri jelly, ke dalam vagina. Coba buka kedua jari arahantero-posterior dan minta pasien melawan gerakan tersebut dengan mengkontraksikan ototdasar panggul. Pada jari pemeriksaan akan terasa tekanan, ini berarti kekuatan otot positif,sekaligus dinilai, kekuatan tersebut lemah, sedang, atau kuat. Dapat diajarkan kepada pasien agar dia mampu melakukan sendiri digital vaginal self asessment. Bila fasilitas memenuhi, kekuatanotot dasar panggul dapat diukur dengan suatu alat tertentu. Awali latihan dengan frekuensilatihan kecil, yaitu 3, 4 dan 5 kali kontraksi setiap seri. Frekuensi kontraksi ini disebut dosiskontraksi dasar. Lakukan pada dosis awal, 10 seri perhari, sehingga bila kontraksi dasar adalah 4kali, maka perhari dilakukan kontraksi 4 cepat, 4 lambat, 10 kali = 80 kali kontraksi per hari.Ingat, tiada hari tanpa latihan. Dosis kontraksi dasar ditingkatkan setiap minggu, denganmenambahkan frekuensi kontraksi 1 atau 2, tergantung kemajuan. Lakukan semua dengan perlahan, tak perlu cepat-cepat. Pada akhir minggu ke IV, sebaiknya telah dicapai 200 kontraksi perhari. Pada awalnya, latihan terasa berat, tetapi kemudian akan terbiasa dan terasa ringan.Sebagai parameter keberhasilan, dapat dipakai:] Stop test Frekuensi miksi perhari Volume vaginal assessment*Bladder Training Adalah salah satu upaya untuk mengembalikan fungsi kandung kencing yangmengalami gangguan ke keadaan normal atau ke fungsi optimal neurogenik (UMN atau LMN),dapat dilakukan dengan pemeriksaan refleks-refleks:1. Refleks otomatik Refleks melalui saraf parasimpatis S2-3 dansimpatis T12-L1,2, yang bergabung menjadi n.pelvikus. Tes untuk mengetahui refleks ini adalah tes air es (ice water test).Test positif menunjukkan tipe UMN sedangkan bila negatif (arefleksia) berarti tipe LMN.2. Refleks somatic Refleks melalui n.pudendalis S2-4. Tesnya berupa tes sfingter ani eksternusdan tes refleks bulbokarvernosus. Jika tes-tes tersebut positif berarti tipe UMN, sedangkan bilanegatif berarti LMN atau tipe UMN fase syok spinal Langkah-langkah Bladder Training: 1.Tentukan dahulu tipe kandung kencing neurogeniknya apakah UMN atau LMN 2. Rangsangansetiap waktu miksi3. Kateterisasi:a. Pemasangan indwelling cathether (IDC)=dauer cathether IDC dapat dipasang dengan sistemkontinu ataupun penutupan berkala (clamping). Dengan pemakaian kateter menetap ini, banyak terjadi infeksi atau sepsis. Karena itu kateterisasi untuk bladder training adalah kateterisasi berkala. Bila dipilh IDC, maka yang dipilih adala penutupan berkala oleh karena IDC yangkontinu tidal fisiologis dimana kandung kencing yang selalu kosong akan mengakibatkankehilangan potensi sensasi miksi serta terjadinya atrofi serta penurunan tonus otot kk b. Kateterisasi berkala Keuntungan kateterisasi berkala antara lain: o Mencegah terjadinyatekanan intravesikal yang tinggi/overdistensi yang mengakibatkan aliran darah ke mukosakandung kencing dipertahankan seoptimal mungkin o Kandung kencing dapat terisi dandikosongkan secara berkala seakan-akan berfungsi normal o Bila dilakukan secara dini pada penderita cedera medula spinalis, maka penderita dapat melewati masa syok spinal secarafisiologis sehingga feedback ke medula spinalis tetap terpelihara o Teknik yang mudah dan penderita tidak terganggu kegiatan sehari-harinya*Latihan Otot Dasar Panggul dengan Biofeedback Biofeedback sering dimanfaatkan untuk membantu pasien mengenali ketepatan otot dasar panggul yang akan dilatih. Caranya adalahdengan menempatkan vaginal perineometer dan

dapat dimonitor melalui suara atau tampak kontraksi otot di kaca monitor. Pada penelitian, dibuktikan oleh Shepherd bahwa kombinasi latihan otot dasar panggul dengan biofeedback, meningkatkan keberhasilan penatalaksanaaninkontinensia (91 persen) dibandingkan kelompok kontrol tanpa biofeedback (55 persen).Penyempurnaan biofeedback saat ini, dapat sekaligus memonitor kontraksi dan relaksasi ototdasar panggul dan otot abdomen. Bahkan biofeedback dapat digunakan di rumah, untuk latihan pasien inkontinensia.Latihan Otot Dasar Panggul Menggunakan Vaginal Weight Cone Therapy Vaginal weight conetherapy adalah alat pemberat dengan berat antara 20 gr - 70 gr yang dimasukkan ke dalamvagina. Pasien diminta berdiri, berjalan normal, selama 15 menit dan harus menegangkan ototdasar panggul agar beban tersebut tidak jatuh. Dimulai dengan beban ringan dan kemudianditingkatkan latihan dilakukan dua kali perhari. Latihan dievaluasi dibandingkan dengan pemulihan inkontinensianya. Tentu saja pada saat menstruasi, latihan ini jangan dilakukan.Electrical stimulation (ES) Terapi stimulasi listrik untuk inkontinensia mulai diperkenalkan padamasa kini, terutama untuk multiple lower urinary tract disorders. Stimulasi ditujukan kepadasyaraf sacral otonomik atau syaraf somatik yang secara spesifik. Hasil terapi tergantung dari utuhtidaknya jaras syaraf antara sacral cord dan otot dasar panggul. Secara umum manfaat ES cukup baik, namun masih perlu penelitian lebih lanjut.*Alat Bantu Terapi Inkontinensia Banyak alat yang dirancang untuk membantu mengatasiinkontinensia, antara lain: Urinary Control Pad. Continence Shield. Urethral Occlusion Insert. Bladder Neck Prothesis. Vaginal Pessaries. Penile Cuffs and Clamps.