P. 1
Dewatering

Dewatering

|Views: 227|Likes:
Dipublikasikan oleh veerroon

More info:

Published by: veerroon on Jan 28, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/18/2015

pdf

text

original

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING

VI - 1

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING
6.1 TINJAUAN UMUM Pelaksanaan konstruksi bangunan air misalnya bendung yang perlu selalu diperhatikan adalah teknik pelaksanaan konstruksi bendung yang didalamnya terkait teknik pembebasan area konstruksi bendung dari gangguan air (sistem dewatering). Sering kali gambar desain bangunan air (bendung) tidak disertai teknik pelaksanaannya sehingga memaksa kontraktor pelaksana harus membuat teknik pelaksanaan termasuk pelaksanaan sistem dewateringnya yang kadang-kadang menggunaan perhitungan yang.diragukan ketepatannya. Pada umumnya nilai dewatering dalam kontrak selalu dihitung Lump Sum, dan tidak jarang ternyata setelah pelaksanaan dewatering ini membengkak. Hal tersebut dikarenakan perencanaan dan gambar konstruksi pengelak aliran air tidak jelas bahkan tidak ada. Cofferdam dan diversion adalah konstruksi yang lazim digunakan dalam sistem dewatering. Konstruksi ini sering tidak dimasukkan dalam RAB tersendiri. Pada hal bisa jadi konstruksi ini cukup besar biayanya dan merupakan kunci keberhasilan pelaksanaan konstruksi bendung. Untuk menghindari membengkaknya biaya dewatering, maka cofferdam dan diversion perlu direncanakan dengan baik. 6.2 PERENCANAAN KONSTRUKSI Kontraktor yang berpengalaman mungkin tidak menjadi masalah besar dalam pembuatan konstruksi sistem dewatering (cofferdam dan diversion channel), tetapi sering hal tersebut tidak disertai perhitungan teknis yang memadai dan hanya mengandalkan pengalaman. Perencanaan diversion akan berpengaruh dalam perencanaan cofferdam. Bila dikehendaki tinggi cofferdam tertentu maka lebar diversion channel harus dicoba-coba
LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA - JAWA TENGAH

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING

VI - 2

sedemikian rupa sehingga dicapai luasan penampang yang mampu melewatkan debit rencana (Qd). Bila lebar diversion channel tidak dibatasi, maka tinggi cofferdam bisa lebih rendah, atau dengan nilai h tetap dan b dicoba-coba maka akan didapatkan nilai Q
Lewat =

Qd

Pada pendimensian konstruksi sistem dewatering untuk rencana pelaksanaan Bendung Gerak Tulis, nilai yang diketahui adalah lebar diversion channel. Jadi yang akan dicoba-coba untuk mendapatkan Qd adalah tingginya. Hal ini karena lebar diversion channel dibatasi oleh situasi lokasi penempatan diversion channel dan teknik pelaksanaanya. Artinya dengan B tetap dan H dicoba-coba sampai mendapatkan nilai Q yang mendekati Qd.

H
Hn Hd H1 H d = H untuk m endapatkan Q d B bernilai tetap

Q1

Qd

Qn

Q

Gambar 6.1 Grafik hubungan h dan Q Sebelum perencanaan diversion channel dan cofferdam dalam rencana pelaksanaan Bendung Gerak Tulis dimulai, maka ada beberapa data yang diperlukan dari hasil analisa pada bab sebelumnya, data design teknis struktur bendung dan data tanah hasil penelitian dilapangan. Design struktur Bendung Gerak Tulis sekali lagi tidak disajikan dalam laporan ini sesuai dengan batasan masalah. 6.2.1 Data Hasil Analisa Hidrologi Dari hasil analisa hidrologi didapatkan : Qd Sungai Tulis = 409,631 m3/dtk Qd Anak Sungai Tulis = 60,939 m3/dtk
LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA - JAWA TENGAH

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING

VI - 3

6.2.2 Data Teknis Design Struktur Bendung Dari gambar design struktur Bendung Gerak Tulis yang telah ada. Ada beberapa data yang akan diperlukan dalam perencanaan konstruksi, yaitu : ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ Bentang Dam Lebar Spillway Lebar Fluishing Sluice Elevasi Puncak Dam Elevasi Terendah Dam = 76,5 m =3x8m =1x6m = + 670,00 m = + 649,00 m

Elevasi Mercu Spillway = + 652,00 m

6.2.3 Data Mekanika Tanah Dari hasil penelitian mekanika tanah dilapangan didapatkan data mekanika tanah lokasi Bendung Gerak Tulis sebagai berikut : ▪ ▪ ▪ γ tanah dasar / asli C tanah dasar / asli Ø anah asli = 2,42 t/m3 = 0,42 t/m3 = 35 0

6.3 PERENCANAAN DIVERSION CHANNEL Berdasarkan rencana plan view yang telah didapatkan dalam bab 5, maka untuk mempermudah dalam perhitungan rencana penampang diversion dapat dibuat dalam beberapa segmen/stasiun.

LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA - JAWA TENGAH

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING

VI - 4

Mulu

t Up s tream

M Contr ercu ol Str uktur e A Coffer xist of d am U pstrea m

1:m

1:m

0+01 6

AX IS OF DIV

0+00

ERSION CH

0+01 0

ANNELL

Sta. 00 +027

.5

1:m

Axist of Cofferdam Downstream

1: m

1:m

1:m

0+020

Sta. 0

Sta. 0

Sta. 00+042

Sta. 0

m 1:

Sta. 00+057

Sta. 00+72.6

Sta. 00+084 .6

Sta. 0

Sta. 00+091.72

M u lu

t D ow

n s tre

am

00 Sta.

+1 0 8

.1 6

Gambar 6.2 Plan view diversion channel Sebelum kita merencanakan penampang memanjang diversion channel yang didalamnya menyangkut elevasi, dimensi hidrolis, dan kemiringan/slope maka sebagai patokan dalam perencanaannya adalah elevasi mulut upstream (u/s) diversion, mulut downstream (d/s) diversion serta letak mercu control strukture. Ketiga segmen ini harus diperhatikan dalam kaitan untuk mendapatkan aliran hidrolika yang baik. Dari peta topografi dan rencana/plan view diversion channel didapatkan data : » » Panjang diversion channel Elev. terendah dasar sungai asli : Di depan mulut upstream Di depan mulut downstream = ± 653,5 m = ± 646 m = 108,16 m

6.3.1 Elevasi Rencana Segmen Diversion sebagai Patokan Perhitungan A. Elevasi Rencana Mulut U/s Diversion Channel (Sta. 00+00) Dari peta topografi dan plan view diversion channel didapatkan data bahwa elevasi terendah dasar sungai asli di depan mulut u/s adalah ± 653,5 m. Berdasarkan
LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA - JAWA TENGAH

Hal ini untuk menghindari terjadinya aliran backwater masuk ke mulut d/s yang dapat mengganggu aliran di saluran diversion channel.16. » Elevasi MA saat diversion channel melepaskan Qd Elevasi MA ini perlu diketahui agar elevasi mulut d/s tidak berada dibawah elevasi MA terutama saat penampang sungai menampung debit rencana yang dilepaskan diversion channel. mulut u/s diversion harus di tempatkan pada elevasi yang lebih rendah dari + 653. Dari peta topografi dan plan view diversion channel dapat diketahui elevasi dasar penampang sungai terendah di depan mulut d/s adalah : + 646 m. Dengan memperhatikan hal-hal diatas maka elevasi rencana mulut d/s diversion channel direncanakan ditempatkan pada elevasi + 649. LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA .1 m dengan elevasi ma + 649. Elevasi Rencana Mulut D/s Diversion Channel (Sta.16) Mulut d/s adalah segmen akhir dari diversion channel sebagai pelepas aliran air dari saluran dan dikembalikan lagi ke penampang sungai seperti semula.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI . Dengan perhitungan passing capacity pada saat Qd dilepaskan didapat tinggi ma + 3.2 m. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum merencanakan penempatan mulut d/s diversion channel yaitu : » Elevasi terendah penampang sungai di depan mulut d/s.1 m. B. 00+0108.4 pada Sta. 00+108. Berdasarkan hal di atas maka mulut u/s diversion channel direncanakan pada elevasi + 653.5 prinsip hidrolika maka agar aliran air dapat mudah mengalir masuk ke penampang diversion channel.5 m.JAWA TENGAH .

00 +6 47 +6 .00 ut Mul nstream Dow D5 +6 46 .00 M u lu +653. Mercu control strukture harus direncanakan karena bagian ini nantinya akan berfungsi penting sebagai titik yang digunakan untuk menghitung elevasi ma di sepanjang saluran diversion serta berfungsi juga untuk menghasilkan sifat aliran (dalam saluran terbuka) yang direncanakan.00 .00 48 . Biasanya sifat aliran yang diharapkan dengan adanya mercu tersebut adalah aliran superkritis.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI . topografi dan rencana mulut downstream diversion channel C. LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA .6 +655.4 Pot.3 Pot.00 +654.00 Gambar 6.00 RSI ON CH A NN ELL t U ps D1 LI KA tre a m L TU IS Gambar 6. topografi dan rencana mulut upstream diversion channel AX IS O FD IV E + 6 60 .JAWA TENGAH +6 49 .0 +6 0 50 . Mercu Control Struktur (MCS) Mercu control struktur adalah bangunan sejenis ambang pelimpah seperti pada bangunan spillway pada bendungan.

.. So = 0 dan Hn ∞...... So=Scr dan Hn = Hcr..7 Sifat aliran dalam saluran terbuka Ada 4 Sifat aliran dalam saluran terbuka yang bisa ditentukan dengan bilangan Froude (fr).. y = kedalaman hidrolik (m)....Saluran landai. Artinya dengan A lebih kecil maka diperlukan kecepatan yang lebih besar untuk dapat melewatkan Qd yang bisa dihasilkan dengan nilai slope yang besar.... g = percepatan gravitasi (9...... b. Kondisi aliran superkritis diharapkan dapat melewatkan debit yang besar dengan dimensi saluran yang ekonomis.. Untuk perencanaan diversion channel Bendung Gerak Tulis direncanakan disepanjang diversion channel dalam kondisi aliran superkritis (meluncur)...107) Di mana : V = kecepatan (m/dtk).....G Rangga Raju........ Aliran diam c. Fr > 1........BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI . (6... Fr < 1..K.... Saluran terjal..... Saluran kritis. Fr = 1.... So<Scr dan Hn > Hcr.. Saluran datar. Aliran kritis Fr = 0..... So>Scr dan Hn < Hcr...... Dengan slope yang besar maka akan didapatkan kecepatan yang besar saat melewatkan debit rencana (Qd) dengan dimensi penampang (A) yang lebih ekonomis dari pada kondisi aliran subkritis/kritis........JAWA TENGAH .... Aliran superkritis (meluncur) Bilangan Froude: Fr = V g× y .......1) (Aliran Melalui Saluran Terbuka.. tipe saluran berupa saluran terjal (steep channel) dimana So > Scr dan Hn < Hcr .81 m/dtk2).. kemiringan dasar saluran (So) dan kemiringan kritis (Hcr) yaitu : a.... Aliran sub kritis (mengalir) d.Hal... Hal ini dipengaruhi oleh faktor slope/kemiringan saluran. LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA ..

8 » Perencanaan Mercu Control Strukture : Untuk menghasilkan aliran superkritis disepanjang diversion channel maka mercu control struktur di tempatkan di hulu. 00+010) Bagian ini berfungsi sebagai penuntun dan pengarah aliran agar aliran tersebut senantiasa dalam kondisi hidrolika yang baik. 00+010) Elevasi u/s mercu control strukture = + 654 m (Sta.2. 00+016) 6.Peluncur Bagian berbentuk Terompet Kolam Peredam Energi Gambar 6. Dengan detail rencana sebagai berikut : ▪ ▪ ▪ Jarak Axist mercu control stuktur dari mulut upstream = 10 m (sta.3.2 Perencanaan Penampang Memanjang Diversion Channel Sebenarnya belum ada cara perhitungan yang benar-benar mantap dalam merencanakan diversion channel.Pengatur Aliran Ambang Pelimpah Bagian Transisi Sal. Hasil perencanaan tersebut harus dicek apakah mampu memenuhi aliran hidrolika yang baik dan menghasilkan aliran superkritis di sepanjang saluran. 00+010) Elevasi d/s mercu control struktur = +653 m (Sta.1 Saluran Pengarah Aliran (Sta. Axist Of Struktur Sal.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .3.5 Skema umum type bangunan pelimpah 6. kecepatan masuknya aliran air supaya ≤ 4 m/dtk dan lebar saluran makin mengecil ke LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA .Pengarah Sal. Pada saluran pengarah aliran ini.JAWA TENGAH . 00+00 S/d Sta. Oleh karena itu untuk membantu dan mendukung dalam merencanakan diversion channel. digunakan metode pada perencanaan bangunan pelimpah dengan memperhatikan aspek-aspek lainnya.

Disamping itu. Berdasarkan pengujian-pengujian yang ada saluran pengaruh aliran ditentukan sebagai berikut : Vo H V V 4 m/dtk P 15H 1 2 w Gambar 6.9 arah hilir. aliran helisoidal akan meningkatan beban hidrodinamis pada bangunan pelimpah tersebut. 00+00) = 20 m ▪ Lebar mercu control stuktur (Sta.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .6 Saluran pengarah aliran dan ambang pengatur debit pada bangunan pelimpah Direncanakan : ▪ Lebar mulut u/s diversion channel (Sta. bentuk. maka aliran akan bersifat helisoidal dan kapasitas pengalirannya akan menurun. Selain didasarkan pada kedua persyaratan tersebut.JAWA TENGAH . Apabila kecepatannya melebihi 4 m/dtk. dan dimensi saluran pengarah aliran biasanya disesuaikan pula dengan kondisi topografi setempat serta dengan persyaratan hidrolika yang baik. 00+010) lebih kecil dari mulut u/s = 13 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA . Kedalaman dasar saluran pengarah aliran biasanya diambil lebih besar dari 1/5 x tinggi rencana limpasan diatas mercu ambang pelimpah.

00+00 1 0.2 Dimensi Hidrolis Sta. 00+010 1 0.631 m3/dtk B = 12 m m = 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA .10 Dimensi Hidrolis Sta.2 Mercu Control Strukture + 654 Gambar 6.7 Rencana penampang saluran pengarah Perhitungan : » Ketinggian air kritis (Hcr) di atas mercu Diketahui: ▪ ▪ ▪ Qd = 409.7 + 653.JAWA TENGAH .

...2 13 13 13 13 13 13.971 0.09 2456495.Suripin. ...56 167797..56 1.68 0.Suripin..........JAWA TENGAH .channel) Q2 ×T = 1 ..56 167797.52 2407947.....990 0...62 4......2 0.. Penampang dianggap berbentuk persegi Hcr = 3 Qd ....81 x {(B+m/2xHcr)}^3 5 Q^2 6 Hasil (7) = 6*4/5 Ket 1 2 3 4 5 4. g × A3 (6.....66 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA .......Hal.......56 167797..........08 2360063.. B2 × g 2 (6... Penampang nonpersegi (sesuai dengan desain penampang div.....65 4.........952 ≈1 Dari hasil perhitungan diatas didapatkan Hcr dengan nilai yang hampir sama...11 a..156) Maka : Hcr = 3 Qd B2 × g 2 = 3 409..2 0...........56 167797.023 0.94 2250890....91 13...81 = 4.3) (Sistem Drainase Berkelanjutan...2 0.6312 13 2 × 9....17 2281720...57 4.66 m b....037 1..2 0...55 4........2) (Sistem Drainase Berkelanjutan.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .........03 167797..........91 13...Hal.........1 Perhitungan trial error Hcr penampang non persegi No Hcr 1 m 2 B 3 B+mHcr 4 9.92 13.......... Diambil Hcr yang lebih besar yaitu dianggap berpenampang persegi = 4.....159) Q 2 × ( B + mH cr ) B + B + mH cr )× H g × {( 2 3 cr } =1 Tabel 6..93 13.

00+010) Bagian ini berfungsi sebagai pengatur debit air (Qoutflow) yang melintasi bangunan pelimpah. Dalam perhitungan tinggi muka air di sepanjang saluran pengelak (diversion channel) diperlukan suatu titik kontrol sebagai titik awal perhitungan.66 = 0. 00+016) A.5H 1 ≥2 Gambar 6.JAWA TENGAH .12 » Ketinggian W W/ 1 x Hcr 5 1 x 4. Konstruksi mercu inilah yang akan dijadikan sebagai titik kontrol struktur untuk menghitung tinggi muka air di sepanjang diversion channel dengan persamaan garis energi. Qd H Qoutflow= Qd Terjadi endapan/ W penampang tidak effektif R = 0.2. Di titik kontrol ini dapat dihitung tinggi muka air kritisnya (Hcr) dengan menggunakan suatu rumus.8 Mercu Control Strukture LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI . Untuk menghasilkan aliran kritis agar dapat diketahui Hcr dilakukan dengan peninggian dasar saluran berupa konstruksi mercu.93 m 5 W/ 6. Ambang Penyadap/Mercu Control Strukture (Sta.2 Saluran Pengatur Aliran (Sta. Dalam perencanaan diversion channel dianggap Qoutflow = Qd karena pada ketinggian W akan terjadi endapan material sungai sehingga penampang tidak efektif.3. 00+010-Sta.

93 = 0. 00+010) Radius r = ½ W = ½ 0. Saluran transisi direncanakan agar Qd yang akan disalurkan tidak menimbulkan aliran terhenti atau back water.465 m ……(diambil r = 0. » Data Perencanaan : ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ Elevasi rencana mulut u/s diversion (Sta. Pada perencanaan diversion channel untuk rencana pelaksanaan Bendung Gerak Tulis direncanakan menggunakan ambang bebas dengan bentuk sederhana tanpa lengkungan pada bagian hilir. kemudian horizontal dan di sisi hilir kemiringannya 1: ≥2. ambang berbentuk bendung pelimpah. 00+20. 00+016) = + 653 m » Direncanakan : B. downstream mercu control struktur (Sta. Sebenarnya belum ada cara yang paling baik dalam LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI . diikuti lingkaran dengan r = ½ W.5) Saluran transisi biasanya diperlukan untuk menghubungkan penampang yang bentuk dan dimensinya berbeda antara bagian mercu dan dan saluran peluncur. Saluran Transisi (Sta. Tetapi hasil perencanaannya nantinya akan dikontrol agar bisa menghasilkan aliran superkritis. 00+00) = + 653. 00+016–Sta. Bagian depan berbentuk tegak (1:1).JAWA TENGAH . maka direncanakan seefisien dan semudah mungkin dalam pelaksanaanya. Parameter tersebut diambil mengingat kegunaan diversion channel bersifat sementara karena nantinya akan dibongkar. ambang berbentuk bendung pelimpah menggantung.5 m) = + 654 m Elev. 00+010) Kemiringan bagian downstream = 1:5 Elev.2 m W diasumsikan terjadi endapan material Jarak control stukture dari mulut upstream = 10 m (Sta.13 Sebenarnya ada berbagai macam type ambang penyadap yang biasa digunakan dalam konstruksi spillway (pelimpah) pada bendungan antara lain ambang bebas. Upstream mercu control struktur (Sta.

14 merencanakan bentuk saluran transisi hanya berdasarkan pengalaman dan pengujianpengujaian model hirolika. Untuk bangunan pelimpah yang relative kecil biasanya sudut penyempitan ke arah hilir pada saluran transisi adalah 12.00+016) ▪ B3 =9m =7m ▪ Sudut Inklinasi = 12.9 Skema bagian transisi saluran pengarah pada bangunan pelimpah Dengan ketentuan tersebut diatas dan dengan memperhatikan keadaan topografi yang ada maka : » Direncanakan : ▪ B2 (Sta.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .5° terhadap sumbu saluran peluncur. Bentuk saluran transisi ditentukan sebagai berikut : B1 12.JAWA TENGAH .2 = 0.5° B2 Y L Gambar 6. Akan tetapi bila kondisi topografi yang kurang menguntungkan kadang–kadang memaksa pembuatan dinding saluran melebihi sudut inklinasi tersebut.02 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA .5° ▪m ▪S = 0.

00+010 5.2 1:5 + 653 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .0 Sta.09 = + 652.Sta. (Sta. 00+020.91 m Qd Terjadi endapan/ penampang tidak effektif Qoutflow= Qd + 654 r = 0.00+016 .5 S 0.5 Gambar 6.∆H = (+ 653) . Sta.02 Sta.10 Penampang memanjang saluran pengatur LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA .5 m ………………………….5 ∆H = 0.0.5 = 4.15 » Perhitungan : ⎛9−7⎞ ▪ y= ⎜ ⎟ ⎝ 2 ⎠ =1m ▪ L = y/tgθ = 1 tg12.5) Elevasi Sta.00+020.00+020.5 = Elev.0 1.5 + 653. 00+016 4. 00+00 10 Sta.5 + 652.91 Sta.09 m Elev.JAWA TENGAH .02 = = ∆H L ∆H 4. 00+020.

11 Rencana dimensi hidrolis saluran transisi 6.2 Sta.JAWA TENGAH . Konstruksi saluran peluncur cukup kukuh dan stabil dalam memikul semua beban yang timbul.2 Gambar 6.3.00+020. Biaya konstruksi diusahakan seekonomis mungkin.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI . 00+020. Dalam merencanakan saluran peluncur harus memenuhi kriteria : ▪ ▪ ▪ Air yang melimpah dari saluran pengatur mengalir dengan lancar tanpa hambatanhambatan hidrolis.00+016 1 0.5 – Sta.3 Saluran Peluncur (Sta.5 1 0. LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA .16 Sta.2.16) Saluran peluncur pada bangunan spillway bendungan berfungsi untuk membawa debit air yang telah melewati saluran pengatur menuju konstruksi kolam peredam energi. 00+108.

72) » Dimensi hidrolis Sta.02 » Dimensi hidrolis Sta.00+072. Kemiringan dan elevasi diatur dengan menyesuaikan data yang sudah didapatkan.00+091. rencana mulut d/s (Sta. saluran transisi (Sta.4 m Perhitungan : a. Diketahui : ▪ ▪ Elev.16) = + 649. 00+020.17 Saluran peluncur untuk diversion channel sendiri direncanakan sebagai berikut : ▪ Lay out lurus dan melengkung pada bagian saluran berbentuk terompet karena menyesuaikan dengan letak palung sungai agar debit air yang dilepaskan ke penampang sungai dapat segera mengalir.91 m Elev.6 Direncanakan : ▪ ▪ B=7m m = 0.JAWA TENGAH .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI . Saluran dengan lay out relative lurus (Sta.2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA .00+020. 00+020.6-Sta.00+091. 00+020.6 1 0.5-Sta.00+72.72 Direncanakan : ▪ ▪ B=7m m= 1 Sta.5-Sta.5-Sta.00+072. 00+108.5) = + 652. ▪ ▪ Penampang melintang berbentuk trapesium.

Direncanakan : ▪ ▪ B = 11 m m=1 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA .00+108.18 Sta.72 s/d Sta.6-Sta.00+72.00+091.Dimensi Hidrolis Saluran Peluncur Bagian Lurus b.72Sta.JAWA TENGAH . sedikit demi sedikit dapat dikurangi dengan melebarkan penampang sehingga aliran tersebut menjadi lebih stabil.00+091.16) Bagian yang berbentuk terompet pada ujung saluran peluncur pada Sta.16 bertujuan agar aliran dari saluran peluncur yang merupakan aliran super kritis dan mempunyai kecepatan tinggi. Saluran dengan lay out melengkung berbentuk terompet (Sta.72 1 1 Gambar 6.00+108.00+091.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .12.

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING

VI - 19

Sta.00+091.72

B4

B5

Gambar 6.13. Bagian berbentuk terompet pada ujung hilir saluran peluncur

1 1

Gambar 6.14 Rencana Dimensi Hidrolis Sta.00+108,16

c. Rencana kemiringan (slope) saluran Sta.00+020,5-Sta/108,9 Dalam menentukan slope saluran sebagai patokannya adalah pada Sta.00+108,16 (mulut d/s) dimana sudah direncanakan berelevasi + 649,4 m.

LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA - JAWA TENGAH

Di

v er A x i s s io t O nC f ha n n

el

S ta + .00 1 08 .16

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING

VI - 20

»

Nilai Slope dan elevasi saluran Sta.00+020,5-Sta 00+72,6 Diketahui :

Elevasi Sta. 00+020,5 = + 652,91 m

Direncanakan :

S Sta.00+020-Sta.00+072.6 = 0,02

Perhitungan :
»

Elv. Sta. 00+072,6 L = Jarak Sta. 00+020,5 -Sta. 00+072,6 = 52,1 m S =
∆H L ∆H 52,1

0,02 =

∆H = 1,042 Elv. Sta. 00+072,6 = Elv. Sta. 00+020,5 - ∆H = + 652,91 m - 1,042 = + 651,868 m
»

Nilai Slope dan Elevasi saluran Sta. 00+72,6 s/d Sta 00+0108,16 Diketahui :
▪ ▪

Elevasi Sta. 00+72.6 = + 651,868 m Elv. Sta 00+108,16 (mulut d/s diversion) = + 649,4 m

Perhitungan :

Besar slope (S) Sta. 00+072,6 – Sta. 00+108,16 L = Jarak Sta. 00+072,6 – Sta. 00+108,16 = 35,56

LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA - JAWA TENGAH

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING

VI - 21

∆H = Beda elevasi antara Sta. 00+072,6 - mulut downstream = (+ 651,868) – (+ 649,4) = 2,468 m S= =
∆H L

2,468 35,56

= 0,0694

+ 652.91

0 .02

+ 651.868 + 650.541
0 .0 6 94

Saluran Lurus Saluran Peluncur

Saluran Melengkung Bentuk Terompet

+ 649.4

Sta.00+020

Sta.00+072.6 Sta.00+091.72

Sta.00+108.9

Gambar 6.15.Elevasi dan slope saluran peluncur

Untuk lebih jelasnya elevasi rencana dan slope masing-masing stasiun dapat dilihat dalam tabel 6.2 berikut:
Tabel 6.2 Rekapitulasi perhitungan elevas dasari dan slope
No Stasiun 1 1 Sta.00+00 10.00 2 Sta.00+010 6.00 3 Sta.00+016 4.50 0.0200 0.0900 0.2000 1.0000 653.000 Elev.Renc. d/s Control Strukrur 0.0140 0.8000 654.000 Elev.Renc. u/s Control Strukture Jarak (L) m 2 Kemiringan (S) 3 ∆Z m 4 Elevasi Dasar m 5 653.200 Keterangan 6 Elev.Renc. Mulut U/s

LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA - JAWA TENGAH

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING

VI - 22

4

Sta.00+020.5 6.50 0.0200 0.1300

652.910

5

Sta.00+027 15.00 0.0200 0.3000

652.780

6

Sta.00+042 15.00 0.0200 0.3000

652.480

7

Sta.00+057 15.60 0.0200 0.3120

652.180

8

Sta.00+072.6 12.00 0.0694 0.8328

651.868

9

Sta.00+084.6. 7.12 0.0694 0.4941

651.035

10

Sta.00+091.72 4.88 0.0694 0.3387

650.541 ≈ Elev Renc.mulut d/s diversion

11

Sta.00+108.16

649.400

6.3.2.4 Peredam Energi

Konstruksi ini berfungsi untuk menghilangkan atau setidak-tidaknya mengurangi energi aliran dengan kecepatan tinggi agar tidak merusak tebing ,jembatan, jalan dan bangunan lain di sebelah hilir bangunan. Mengingat fungsi diversion channel hanya bersifat sementara karena nantinya akan dibongkar maka kolam peredam energi tidak direncanakan untuk efesiensi biaya. Selain itu di bagian hilir diversion channel hanya terdapat tebing, tidak terdapat bangunan dan instalasi yang harus dilindungi. Sementara untuk melindungi tebing dari gerusan dapat dilakukan dengan perkuatan lereng.
6.3.2.5 Detail Hasil Perencanaan

Dari rencana dan analisa perhitungan diatas maka dapat dibuat desain diversion channel secara detail.sebagai berikut:

LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA - JAWA TENGAH

0 1 1: Sta.72 VI + Gambar 6.6 V Sta.2 1:0 II III 1:0.2 V 0+01 6 III 0+020 .6 Sta.16.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI -23 A Coffer xist of dam U pstrea m I 1:0. 0 Sta. 00+091. 00+04 2 S ta .2 1:0.2 IV Sta. 00 +027 1:1 Axist of Cofferdam Downstream 1: 0. VI + 108 . 00+084 . 0 00 S ta . 00+057 Sta. 0 Sta. 00+72.5 IV AXIS OF DI 0+00 I 0+01 0 II VERSION CH ANNELL Sta.16 Sta. Detail lay out diversion channel LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . 7 .

Penampang V-V Pot.00+042 Sta.2 Pot.00 +653.00+010 Sta. Penampang IV-IV VI .91 + 652.JAWA TENGAH Pot.868 6.16 1 0. Penampang II-II Pot.18 + 651.B-B dan rencana dimensi hidrolis diversion channel .17.00+000 Sta.00+072.5 Sta.4 % + 654.40 Sta.94 % + 652.00+057 Sta.+ 653.00+091.20 1:5 R = 0.6 Sta.00+108.5 1.2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA .6 Sta. Penampang ( I-I ) 1 1 1 0. Pot.541 + 649. Penampang VI-VI Pot.48 + 651.24 Gambar 6.72 Sta.00+020.00+027 Sta.00+016 Sta.7 BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 1 0. Penampang III-III 1 1 Pot.2 Mercu Control Strukture 1 0.78 + 652.00+084.035 + 650.00 2% + 652.

....Hidrolika II....Hal 154) V V 12 Z1 + h1 + = Z 2 + h2 + 2 + h f 2g 2g 1 24 4 3 123 4 4 E1 E2 2 S 0 ∆x + E1 = E 2 + S f ∆x ∆x = E1 − E 2 S0 − S F Sf = n 2Q 2 Ar 2 × Rr 4 / 3 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .. V1²/2g Sf hf=Sf x ∆x h1 V2²/2g h2 ∆z = So ∆x ∆x Gambar 6...4 PERHITUNGAN KEDALAMAN HIDROLIS Data Perencanaan : ▪ ▪ Qd = 409..20 di atas dapat diperoleh persamaan sebagai berikut : V V 12 ∆z + h1 + = h2 + 1 + h f ................BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI -25 6.... 631m3/dtk Sifat aliran super kritis (So < Scr .......... 2g 2g 1 24 1 24 4 3 4 3 E1 E2 2 (6.......4) (Bambang Triatmodjo....18 Skets perhitungan muka air Dari gambar 6... Hcr > Hn) Kedalaman hidrolis saluran diversion channel dapat dihitung dengan menggunakan persamaan garis energi dengan titik awal perhitungan di mercu control strukture......

4.1 Kedalaman Air Kritis (Hcr) di atas Mercu Perhitungan Hcr diperlukan untuk mengontrol sifat aliran terutama pada Hcr diatas mercu control structure (Hc).2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .0 0 + 0 1 0 S ta .0 0 + 0 1 6 Gambar 6.2 0 ta .631 m3/dtk B = 12 m m = 0.0 0 Zc D a tu m 1 :5 H1 + 653 + 6 5 3 . » Ketinggian air kritis (Hcr) di atas mercu Diketahui: ▪ ▪ ▪ Qd = 409.19 Hubungan tinggi muka air di Mercu Control Strukture 6. Hcr ini adalah ketinggian MA yang harus dihitung terlebih dahulu sebagai titik awal untuk menghitung ketinggian muka air disepanjang saluiran.4 % + 6 5 4 .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Di mana : E = Tinggi energi (m) hf = tinggi kehilangan energi (m) Ar = Luas penampang rata-rata (m) Rr = Jari-jari hidrolis rata-rata (m) So= kemiringan dasar saluran Sf = kemiringan garis energi B V b ²/2 g G a ris E n e rg i (S f) VI -26 C H fc 1 V c ²/2 g H f1 V 1 ²/2 g H A ZB B Hc 1 .0 0 + 0 0 0 S ta .

.....66 6.2) = 0.00+00 ) Diketahui : Hcr = Hc = 4.... Hubungan tinggi ma di B dan C » HMA B (Sta........ = 1...2 0 S ta ..5) (Suripin...... 00+00-Sta..0 0 + 0 0 0 S ta .......66 = 6...5 x 4.....66 m ∆Z = (+ 654) – (+653...00+016) B V b ²/2 g C H fc V c ²/2 g H A B E m in H c 1 .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Qd B2 × g 3 2 VI -27 Hcr = 3 = 409....0 0 D a tu m + 6 5 3 + 6 5 3 .0 0 + 0 1 0 Gambar 6.4 % + 6 5 4 .81 = 4.....99 m =7m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH (6..5 x Hcr ....6312 13 2 × 9...... Pengarah dan Pengatur Aliran (Sta..20.2 Hma Sal..............8 m Tinggi Enegi Total diatas Mercu (Emin) Emin = 1. Sistem Drainase Kota Berkelanjutan) ...4.

66 m =9m = 0.66 2 ⎣ ⎦ = 62.631m3/dtk Bc Hc B1 m ∆x = 13 m = 4.2 =6m ∆Z = 1 Di mana : Vn = Qd An ⎡ B + ( B + mHc) ⎤ Ac = ⎢ ⎥ × Hc 2 ⎦ ⎣ ⎡13 + (13 + 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Hma B = Emin+∆Z = 7 + 0.752 m2 PC = BC + H C + 1.02 H C = 13 + 4.66 = 22.66 + 1.02 × 4.00+016 ) Diketahui : Qd = 409.2 × 4.66 m » HMA 1 (Sta.66) ⎤ = ⎢ ⎥ × 4.8 = 7.00+010 ) VI -28 Hcr = Hc = 4.4132 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .8 m » HMA C (Sta.

02 H 1 = = = AC + A1 2 RC + R1 2 n 2Q 2 Ar 2 × Rr 4 / 3 = Sf × ∆x = Sf × 6 Persamaan Energi titik C-1: ∆Z + EC = E1 + hf1 ∆Z + H C + VC V = H 1 + 1 + hf1 2g 2g 2 2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .8 m ⎡ B + ( B + mH 1 ) ⎤ A1 = ⎢ ⎥ × H1 2 ⎣ ⎦ ⎡ 9 + (9 + 0.02 H 1 = 9 + 2.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING RC = = AC PC 62.2 × H 1 ) ⎤ =⎢ ⎥ × H1 2 ⎣ ⎦ = [9 + 0.1H 1 ]× H 1 P1 = B1 + H 1 + 1.4132 VI -29 = 2.752 22.02 × H 1 R1 = Ar Rr Sf hf1 = A1 P1 (9 + 0.1H 1 ) × H 1 9 + 2.

6312 = H1 + + hf1 2 (2 × 9.5699747 8.0027806 6.799759071 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .373 + hf 1 Tabel 6.0028124 0.5699724 8.80 5.66 62.81) × {(9 + 0.83 m Contoh perhitungan kehilangan energi (hf) di titik C-1.82 5.0027933 0.7701267 2.5700229 8.0168359 0.5700294 8.1 H 1 ) × H 1 }2 E1 Sf1 ∆x hf 1 E+hf Ket 1 2 (3)=1+2 4 5 (6)=4*5 (7) = 3+6 8 1 2 3 4 5 6 5.0027996 0.85 2.7399747 2.0167596 0.5867701 8.7499724 2.4132 2.3 Perhitungan trial error H1 8552 .66 + 409.00 6.2 4. 373 No H1 {( 9 + 0 .75156 22.0167977 0.5867511 8.7600229 2.5868588 8.81 5.1H 1 ) × H 1 }2 8552.5701363 0.83 5.0028060 0. Tabel 6.81) × 62.0166839 8.1H 1 ) × H 1 } 7.752 2 (2 × 9.00 6.4 Contoh perhitungan hf Titik B m 11 m 2 H m 3 A m2 ⎡ B + ( B + mH ) ⎤ 4 = ⎢ ⎥× H 2 ⎣ ⎦ P m 5 = B + H + mH R m 6=(A/P) C 13 0.84 5.5701267 8.00 6.7201363 8.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Qd 2 2 VI -30 ∆Z + H C + 2 g × Ac = H1 + Qd 2 2 2 g × A1 + hf1 1 + 4.0168742 0.7300294 2.5870009 8.00 0.832 = H 1 + {(9 + 0.00 6.0027870 0.6312 409.0167217 0.00 6.5867343 8.5868202 ≈ (∆Zc+Ec) Kesimpulan : Kedalaman air H1 = 5.

76724 55.21 59.82 5.0 2 0.01668 Sf m 6 7 8 n 2Q 2 9 = 2 Ar × Rr 3.716 20.2.75 3499.0027 0.2 0.41 Prata2 m 2=(P1/P 2) 21.817 2.0 2 0.85 4 /3 1 0 6 6 6 6 6 6 37.83 5.97056 56.84 3.75 2.62 Rrata2 n m 3=(R1/R 2) 2.0027 0.75 37.66561 55.0 2 0.7362 20.81 5.74 2.84 3.4.689029485 2.2 0.77 0.64 3505.75 37.0027 0.75 37.693579767 ∆ x Arata2 m2 1=(A1/A 2) 59.0027 0.74 2.684465331 2.84 3.36 59.66 3511.70 3523.75 37.6 3 409.682178027 2. Untuk mengetahui sifat aliran setelah adanya konstruksi mercu (Sta.7766 20.6 3 409. A.16 59.2 0.2 55.0 2 0.75 37.00+072.6) 1 0. 00+020.686749147 2.2 0.0027 0.0027 6.84 5.6 3 409.31 59.84 3.1 Kontrol Sifat Aliran Aliran yang terjadi dalam diversion channel bersifat superkritis yang dinyatakan dalam bilangan Fr > 1.8 5.68 3517.7968 20.01672 0.75 4 0.2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .74 2.0 2 Q m3/dt k 5 409.56 21.5-Sta.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING hcoba2 m 11 VI -31 R m 6=(A/P) Titik B m 2 m 3 A m2 ⎡ B + ( B + mH ) ⎤ 4 = ⎢ ⎥× H 2 ⎣ ⎦ P m 5 = B + H + mH 1 5.0 2 0.01684 0.7564 20.6 3 409.00+010) perlu diketahui kedalaman air normal (Hn) sebelum adanya mercu.58 21.59 21.84 3.26 59.07225 20.01676 0.01687 0.85 9 9 9 9 9 9 0.74 2. Kedalaman Air Normal (Hn) » Ruas I (Sta.86889 55. Hcr > Hn.6 3 409.691306355 2.74 3529.01680 0.6 3 n2*Q 2 (Arata) ^2 (Rrata)^4 /3 hf m 11=9 x 10 0.2 0.564 55.61 21.57 21.

02*Hn m 3 R (m) m ( 4 )= 2/3 5 6 7 V= 9.88884 14.1Hn)*Hn m2 2 P= 7+2.43R 2 / 3 Q =AxV Tabel 6.021/ 2 0.77 3.223994 7 <Qd <Qd LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI -32 Gambar 6.015 = 9.4941 7 404.1Hn ) × Hn P = 7 + 1.9055 14.02 Hn ⎠ V = = 1 × R 2 / 3 × S 1/ 2 n 1 × R 2 / 3 × 0.5 Perhitungan trial error Hn ruas I N o Asumsi Hn (m) 1 A= (7+0.6356 1.02 Hn ⎛ A⎞ R=⎜ ⎟ ⎝P⎠ ⎛ (7 + 0.78 27.43*R^(2/3) (m/det) Q=V*A (m3/det) Keteranga n Q = Qd 402.02 Hn + Hn = 7 + 2.2 =2% B + ( B + mHn) × Hn 2 Perhitungan : A= = (7 + 0.9029 1.1Hn) × Hn ⎞ =⎜ ⎟ ⎝ 7 + 2.81129 27.21 Rencana Dimensi hidrolis ruas I Diketahui : ▪ B ▪ m ▪ S =7m = 0.6154 14.723010 1 2 3.4806 14.

0+072.735123 VI -33 <Qd ≈Qd <Qd Kesimpulan : Kedalaman air normal (Hn) pada pot ruas I = 3.5211 14.12161 14.60-Sta.22 Rencana Dimensi Hidrolis ruas II Diketahui : ▪ ▪ ▪ B= 7 m m=1 S = 6.6962 1.79 3.726343 3 4 5 3.9082 1.94 % Perhitungan : A= = B + ( B + m × Hn) × Hn 2 7 + (7 + Hn) × Hn 2 = (7 + 0.9109 1.80 3.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 405.5346 2 407.96641 28.04400 28. 0+091.9135 14.27)) 1 1 Gambar 6.6558 14.80 m » Ruas II (Sta.5076 14.6760 14.81 27.41Hn LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .41Hn = 7 + 2.5Hn) × Hn P = 7 + Hn + 1.230053 6 408.

41*Hn m R m ( 4 )= 1 2 3 2/3 5 6 7 V= 17.91205 18.23 2.302 12.09645 18.4532 1.6281 22.41Hn ⎠ VI -34 1 V = × R 2 / 3 × S 1/ 2 n = 1 × R 2 / 3 × 0.82 17.4624 1.44086 11 <Qd <Qd ≈Qd <Qd <Qd Kesimpulan : Kedalaman air normal (Hn) pada ruas II = 2.3261 12.24 17.2 2.4578 1.22 m B.015 = 17.5Hn)*Hn m2 P= 7+2.3743 12.21 2.1888 12.06941 / 2 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING ⎛ A⎞ R= ⎜ ⎟ ⎝P⎠ ⎛ (7 + 0.4670 22.6755 44 403.48744 07 412.22 2.4847 22.5804 22.3984 1.4485 1. Kontrol Sifat Aliran LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .60548 99 406.67697 1 2 3 4 5 2.563*R^(2/3) (m/det) Q=V*A (m3/det) Keteranga n Q = Qd 400.0042 18.5326 22.6 Perhitungan trial error Hn ruas II N o Asumsi Hn (m) A= (7+0.54231 45 409.563R 2 / 3 Q= A x V Tabel 6.3502 12.5Hn) × Hn ⎞ =⎜ ⎟ ⎝ 7 + 2.

........ Kontrol Kecepatan di Mulut Upstream (Aliran super kritis) Kecepatan air saat memasuki mulut upstream diversion V ≤ 4 m/dtk agar tidak terjadi aliran yang bersifat helisoidal..8) ⎤ = ⎢ ⎥ × 7.... C...81 m/dtk Fr = = V1 g × H1 7......294 m2 VB = = Qd AB 409.......83 (Aliran super kritis) = 1........7 × 7................... V1 = = Qd B × H1 409..............31 m/dtk ≤ 4 m/dtk ....294 = 2.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI -35 Kontrol sifat aliran diperlukan untuk mengontrol sifat aliran yang dihasilkan di titik 1 (Sta...033 > 1 .... (aman) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .............83 = 7.................80 m Hcr1 > Hn 1....00+016) dengan adanya konstruksi mercu........ Hcr = 4...631 177...8 2 ⎣ ⎦ = 177.......... ...... VB = Qd AB ⎡ B + ( B + mH B ) ⎤ AB = ⎢ ⎥× HB 2 ⎣ ⎦ ⎡ 20 + (20 + 0.....81 9..66 m H1n = 3...631 9 × 5..........81× 5.................

3 Hma Sal. Gambar persamaan garis energi di diversion channel dapat dilihat pada gambar di bawah ini.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI -36 6.4. Peluncur (Sta. LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .00+0108.00+016-Sta.16) Untuk menghitung elevasi muka air di saluran ini digunakan persamaan energi antara penampang dibagian hulu dan penampang dibagian hilir saluran. Transisi Dan Sal.

00 Zc Hf7 V7²/2g Hf8 V8²/2g Garis Energi (Sf) H1 1:5 H2 H3 H4 H5 + 652.035 Z7 H8 + 650.23 Garis energi di sepanjang diversion channel LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .868 Z6 Hf9 V9²/2g + 652.94% H7 + 651.541 Z8 H9 + 649.48 Z4 6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI -37 B Vb²/2g C Garis Energi (Sf) Hfc 1 Hf1 V1²/2g 2 3 4 5 6 7 8 9 Vc²/2g Hf 2 V2²/2g Hf3 V3²/2g Hf4 V4²/2g Hf5 V5²/2g Hf6 V6²/2g HB Hc + 654.78 Z3 2% H6 + 651.00 + 652.8% + 653.91 Z2 + 652.40 Gambar 6.20 1.18 Z5 A+ 653.

00+072.1300 Sta.6.0694 0.00+020.8000 Sta.6 6 12.0694 0.12 0.00 0.141 Sta.00+00 B 10.3000 Sta. 7 7.0200 0.0200 0.00+091.00+010 C 6.00 0.50 0.00 0. ∆x.4941 Sta.00+108.60 0.38 Sta.0200 0.00 0.16 9 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .0900 Sta.00+027 3 15.50 0.8328 Sta.00+084.00+057 5 15.0000 Sta.0200 0.00+016 1 4.slope antar stasiun Jarak Stasiun 1 Titik (∆x) m 2 3 4 Kemiringan (S) ∆Z m 5 VI .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6.0694 1.7 Rekapitulasi perhitungan ∆z.3120 Sta.0200 0.72 8 16.00+042 4 15.0180 0.3000 Sta.44 0.5 2 6.00 0.2000 1.

39 Dalam perhitungan HMA di sepanjang saluran menggunakan tahapan dan metode yang sama dengan perhitungan HB.00+010) = 4.00+016) = 5.3 m HC (Sta.5) Diketahui : ∆Z =0.83 m VI . HMA 2 (Sta.09 m ∆x = 4.57 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Dari perhitungan sebelumnya telah didapatkan HMA pada : HB (Sta. H1 dengan menggunakan persamaan energi pada penampang y (upstream)dan z (downstream) : ∆Z + EY = EZ + hfZ V V ∆Z + ( H Y + Y ) = ( H Z + Z ) + hf Z 2g 2g Di mana : V= Q A 2 2 V2 Q2 = 2g 2g × A2 Sf = n 2Q 2 Ar 2 × Rr 4 / 3 hfZ = Sf × ∆x = Sf × 10 Ar Rr = = AY + AZ 2 RY + RZ 2 A.8 m H1 (Sta. 00+020.5 m E1 = 8.00+00) = 7.

1H 2 ) × H 2 } 409.23851789 3.9535609 9.8 6.02 H m R= m A P 2 7 0. 00+020.003753 0.5 hf 2 (6)=4*5 0.86889 20.373 + hf 2 Tabel 6.7 6.0156204 E+hf (7) = 3+6 9.0168883 0.7766 2.0159246 0.5mH ) × H m2 P = B + H + 1.40 A = (B + 0. {(7 + 0. 02 H 2 Persamaan energi titik 1-2 ∆Z+E1 = E2 + hf2 0.66 = H 2 + {(7 + 0.5 4.9 7 8552 373 .5 4.83 55.0168883 0.6312 2 + hf 2 8.935786 9.57 = H 2 + (2 × 9.037636291 2.2 H2 (7 + 0.9520228 9.6 6.003539 0.943805439 E2 (3)=1+2 9.1H 2 ) × H 2 7 + H 2 + 1 .938518 9.13578565 3.1H 2 )× H 2 7 + H 2 + 1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Karakteristik Penampang 1 Titik B m m H m VI .346117778 3.5 4.9630060 9.1H 2 ) × H 2 }2 8552.003608 0.0165582 0.81) × {(7 + 0.346117778 3.5 4.1H 2 ) × H 2 }2 2 3.689029 Karakteristik Penampang 2 Titik B m m H m A = (B + 0.02 H 2 ( 7 + 0 .946118 9.8 Perhitungan trial error H2 No H2 1 1 2 3 4 5 6 6.5mH ) × H m2 P = B + H + 1.9630060 9.943805 Sf 4 0.0162371 0.003471 ∆x 5 4.2 5.5 4.946118 9.937636 9.9550761 9.8 m (Sta.6 6.09 + 8.02 H m R= m A P 1 9 0.5) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .003680 0.9594258 Ket 8 ≈ (∆Z1+E1) Dengan cara trial error diperoleh : H2 = 6.003753 0.

06879 10.736 2.87212 3.03858 0.518519 Karakteristik Penampang 3 Titik B m m H m A = (B + 0.9 Perhitungan trial error H3 No H3 {(7 + 0.004672 0.0991543 10.2 H3 (7 + 0.6312 2 + hf 3 {(7 + 0.5 6.5 6.936 = H 3 + 10.373 E3 Sf 3 ∆x hf 3 E+hf Ket 2 1 (3)=1+2 4 5 (6)=4*5 (7) = 3+6 8 1 2 3 6.2 6.02 H m R= m A P 2 7 0. 00+027) VI .936 m Karakteristik Penampang 2 Titik B m m H m A = (B + 0.02 H m R= m A P 3 7 0.04212 10.81) × {(7 + 0.1H 3 ) × H 3 } 2 3.004603 0.5mH ) × H m2 P = B + H + 1.0299187 0.224 20.1 6.85858 8552 .1H 3 ) × H 3 } 8552. HMA 3 (Sta.8 52.13 + 9.0684373 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .5 0.373 + hf 3 409.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING B.1H 3 ) × H 3 }2 Tabel 6.17 6.18 10.5 m E2 = 9.02 H 3 Persamaan energi titik 2-3 ∆Z +E2 = E3 + hf3 0.5mH ) × H m2 P = B + H + 1.0720350 10.004593 6.1H 3 ) × H 3 7 + H 3 + 1.13 m ∆x = 6.41 Diketahui : ∆Z =0.0298552 10.96879 3.1H 3 ) × H 3 7 + H 3 + 1.0303686 0.066 = H 3 + (2 × 9.02 H 3 (7 + 0.

19 6.2 6.19 47.1H 4 ) × H 4 }2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .5mH ) × H m2 P = B + H + 1.1H 4 ) × H 4 } 409.1H 4 ) × H 4 7 + H 4 + 1.0296658 10.03172 10.004583 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 4 5 6 6.02 H 4 (7 + 0.035 = H 4 + (2 × 9.81) × {(7 + 0.418073 Karakteristik Penampang 4 Titik B m m m H A = (B + 0.355 = H 4 + 8552 .0580490 VI .373 + hf 4 {(7 + 0.02 H 4 Persamaan energi titik 3-4 ∆Z +E3 = E4 + hf4 0.5 0.02838 0.004574 0.5 6.16161 19.02 H m R= m A P 3 7 0.42 ≈ (∆Z2+E2) Dengan cara trial error diperoleh H3 = 6. HMA 4 (Sta.1H 4 )× H 4 7 + H 4 + 1.03512 10.02 H m R= m A P 4 7 0.0297288 0.5mH ) × H m2 P = B + H + 1.0297919 0.3 + 10.0614448 10.21 3.83172 3.2 6.3 m ∆x = 15 m E3 = 10.84512 3. 00+042) Diketahui : ∆Z =0.19 m (Sta.6312 2 + hf 4 10 .004564 6.0649074 10.5038 2.81838 10.2 H4 (7 + 0.5 6. 00+027) C.035 m Karakteristik Penampang 3 Titik B m m H m A = (B + 0.

02 H 5 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .37999 10.77 4.02 H m R= m A P 4 7 0.3307316 ≈ (∆Z3+E3) Dengan cara trial error diperoleh H4 = 5.341685 Karakteristik Penampang 5 Titik B m m H m A = (B + 0.005846 0.76 5.47446 10.005998 0.6352 2.29352 10.6 5.10 Perhitungan trial error H4 No H4 VI .76 m (Sta.1H 5 ) × H 5 7 + H 5 + 1.0864730 0.373 E4 Sf 4 ∆x hf 4 E+hf Ket 1 (3)=1+2 4 5 (6)=4*5 (7) = 3+6 8 1 2 3 4 5 6 5.006012 0.1H 5 )× H 5 7 + H 5 + 1.58 5.78999 4.25119 10.5mH ) × H m2 P = B + H + 1.2512 m Karakteristik Penampang 4 Titik B m m H m A = (B + 0.76 43.7 5.59352 4.2 H5 (7 + 0.3811986 10.77163 4.0901767 0.3376662 10. 00+042) D.24446 0.005765 0. 00+057) Diketahui : ∆Z =0.0899651 0.37163 10.2 5.005984 0.1H 4 ) × H 4 }2 2 8552 .3 m ∆x = 15 m E4 = 10.43 {(7 + 0.0862736 10.02 H 5 (7 + 0.5mH ) × H m2 P = B + H + 1.005752 15 15 15 15 15 15 0.63776 18. HMA 5 (Sta.38844 10.0897543 0.4786196 10.4613868 10.0876833 0.4699521 10.80844 4.59 5.02 H m R= m A P 5 7 0.49119 4.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6.

6312 2 VI .6 m E5 = 10.006960 0.55889 10. 00+057) E.11 Perhitungan trial error H5 No H5 {(7 + 0.5521447 10.006757 0.95984 4. HMA 6 (Sta.6 5.312 m ∆x = 15.7766664 10.1H 5 ) × H 5 }2 2 8552 .1043959 0.006626 15 15 15 15 15 15 0.373 E5 Sf 5 ∆x hf 5 E+hf Ket 1 (3)=1+2 4 5 (6)=4*5 (7) = 3+6 8 1 2 3 4 5 6 5.94054 4.44 + hf 5 10 .51 5.44135 10.1013552 0.3 5.60) Diketahui : ∆Z =0.0993972 10.5616896 10.15889 4.45054 10.66964 10.45054 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .81) × {(7 + 0.52 5.1H 5 ) × H 5 } 409.006790 0.5512 = H 5 + 8552 .1016038 0.5427082 10.36964 5.2512 = H 5 + (2 × 9.1H 5 ) × H 5 }2 Tabel 6.5 5.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Persamaan energi titik 4-5 ∆Z +E4 = E5 + hf5 0.373 + hf 5 {( 7 + 0.37163 0.51 m (Sta.3 + 10.1070292 0.77163 10.92135 4.45984 10.006774 0.4710297 ≈ (∆Z4+E4) Dengan cara trial error diperoleh H5 = 5.007135 0.6632877 10. 00+072.1018532 0.4 5.

62388 0.5mH ) × H m2 P = B + H + 1.2 H6 (7 + 0.79299 10.60) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .7644421 10.2 5.59299 5.373 {(7 + 0.007579 0.65801 10.1179321 0.1H 6 ) × H 6 }2 2 E6 Sf 6 ∆x hf 6 E+hf Ket 1 (3)=1+2 4 5 (6)=4*5 (7) = 3+6 8 1 2 3 4 5 6 5.1173322 10.1185364 0.373 + hf 6 {( 7 + 0.6312 2 + hf 6 10 .7762447 10.2 5.66964 10.007540 0.32 5.45 A = (B + 0.3 5.4505 = H 6 + (2 × 9.6 15.1H 6 )× H 6 7 + H 6 + 1.9146173 10.1216244 0.6 15.007560 0.6 15.60601 18.63513 10.7881736 10.30513 5.02 H 6 Persamaan energi titik 5-6 ∆Z +E5 = E6 + hf6 0.763 = H 6 + 8552 .32651 5.34801 5.12 Perhitungan trial error H6 No H6 8552 .81) × {(7 + 0.007796 0.28388 10.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Karakteristik Penampang 5 Titik B m m H m VI .64651 10.6 15. 00+072.02 H m R= m A P 6 7 0.007521 15.7527647 10.6 0.1176316 0.5mH ) × H m2 P = B + H + 1.1H 6 ) × H 6 7 + H 6 + 1.1H 6 ) × H 6 }2 Tabel 6.1H 6 ) × H 6 } 409.02 H 6 (7 + 0.007598 0.31 5.34 5.33 5.1182337 0.294846 Karakteristik Penampang 6 Titik B m m H m A = (B + 0.7412115 ≈ (∆Z5+E5) Dengan cara trial error diperoleh H6 = 5.02 H m R= m A P 5 7 0.51 41.36964 5.312 + 10.1302 2.6 15.32 m (Sta.

373 + hf 7 {( 7 + 0 .009812 12 12 12 12 12 12 0.8328 + 10.64651 = H 7 + (2 × 9.27721 0.77 3.11774 11.5 H 7 ) × H 7 }2 Tabel 6.5115 11.4722 11.76 3.62235 7.72125 7.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING F.5H 7 ) × H 7 7 + H 7 + 1.46 Diketahui : ∆Z =0.4333 11.41H 7 Persamaan energi titik 6-7 ∆Z +E6 = E7 + hf7 0.11869 0.47125 11.009972 0.52517 7.6312 2 + hf 7 11 .32 A = (B + 0.1H 7 ) × H 7 }2 2 E7 Sf ∆x hf 7 E+hf Ket (3)=1+2 4 5 (6)=4*5 (7) = 3+6 8 1 2 3 4 5 6 3.009892 0.5H 7 )× H 7 7 + H 7 + 1.79 3.41H 7 (7 + 0.11917 0.8328 m ∆x = 12 m E6 = 10.373 {( 7 + 0 .11822 0.010012 0.11965 0.009931 0.43158 11. 479 = H 7 + 8552 .3949 ≈ (∆Z6+E6) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .5mH ) × H m2 40.257936 Karakteristik Penampang 7 ` B m m H m A = (B + 0.009852 0.07024 P = B + H + 1.8 7.6) VI .5913 11.57355 7.13 Perhitungan trial error H7 No H7 1 8552 .41H m R= m A P 7 7 1 H7 (7 + 0.2 m 2. HMA 7 (Sta.39235 11.47721 11.35355 11.81) × {(7 + 0.31517 11.67158 7.41H m 17.78 3.12014 0.7464 R= A P 6 0. 00+084.64651 m Karakteristik Penampang 6 Titik B m 7 m H m 5.5 H 7 ) × H 7 } 409.75 3.5512 11.5mH ) × H m2 P = B + H + 1.

47 Diketahui : ∆Z =0.41H m 16.5H 8 )× H 8 7 + H 8 + 1.81) × {(7 + 0.41H 8 Persamaan energi titik 7-8 : ∆Z +E7 = E8 + hf8 0.6312 2 + hf 8 11.3536 = H 8 + (2 × 9.6) G. HMA 8 (Sta.4941 m ∆x = 7.373 + hf 8 {(7 + 0.5 H 8 ) × H 8 } 409.085948 Karakteristik Penampang 8 Titik B m 7 m H m H8 A = (B + 0.5H 8 ) × H 8 7 + H 8 + 1.78 m (Sta.848 = H 8 + 8552 .72) VI . 00+084.5mH ) × H m2 33.41H 8 (7 + 0. 0+091.6042 P = B + H + 1.5 H 8 ) × H 8 }2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .78 2.1098 R= m A P 7 7 1 3.3536 m Karakteristik Penampang 7 Titik B m m H m A = (B + 0.41H m R= m A P 8 1 (7 + 0.4941 + 11.5mH ) × H m2 P = B + H + 1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Dengan cara trial error diperoleh : H7 = 3.12 m E7 = 11.

HMA 9 (Sta.41H 9 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .63431 0.7614 m Karakteristik Penampang 8 Titik B m m H m A = (B + 0.41H m R= m A P 9 11 1 H9 (7 + 0.76140 11.5H 9 ) × H 9 7 + H 9 + 1.0920861 11.141 m ∆x = 16.8114680 11. 00+0108.02857 7.71857 11.12 7.12 7.13470 8.44 m E8 = 11.12 0.0928975 0.16) Diketahui : ∆Z =1.05001 Karakteristik Penampang 9 Titik B m m H m A = (B + 0.013163 0.8688 2.68 3.84848 11.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6.012933 7.71 8.12 7.72) H.7264002 ≈ (∆Z7+E7) Dengan cara trial error diperoleh H8 = 3.012990 0.68 32.5 H 8 ) × H 8 }2 2 E8 Sf 8 ∆x hf 8 E+hf Ket 1 (3)=1+2 4 5 (6)=4*5 (7) = 3+6 8 1 2 3 4 5 6 3.5H 9 )× H 9 7 + H 9 + 1.373 {( 7 + 0 .67 3. 00+091.80470 11.8547040 11.14 Perhitungan trial error H8 No H8 VI .5mH ) × H m2 P = B + H + 1.48 8552 .7687019 11.12 7.0941313 0.0937178 0.013105 0.08140 8.92431 11.7 3.5312 15.9426069 11.0924907 0.5mH ) × H m2 P = B + H + 1.0933065 0.68 m (Sta.67621 11.013047 0.66 3.18848 8.41H m R= m A P 8 7 1 3.97621 7.8984151 11.013221 0.12 7.41H 9 (7 + 0.69 3.

6312 + hf 9 2 (2 × 9. b.54074 12.35 2.38 2.5 H 9 ) × H 9 }2 Tabel 6.45763 12.16) 6.017257 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Persamaan energi titik 8-9 ∆Z +E8 = E9 + hf9 1.5H 9 ) × H 9 }2 2 E9 Sf 9 ∆x hf 9 E+hf Ket 1 (3)=1+2 4 5 (6)=4*5 (7) = 3+6 8 1 2 3 4 5 6 2.016829 16. Aliran sub kritis (mengalir) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .9070050 12.44 16.39 2.97573 12.017149 0. Aliran diam Fr = 0.06763 9.373 {(11 + 0.2819292 0.5 H 9 ) × H 9 } VI .37 2.44 16.017041 0.81) × {(11 + 0.2801609 0.6523932 ≈ (∆Z8+E8) Dengan cara trial error diperoleh H9 = 2.2784071 0.44 16.141 + 11.16074 10.15 Perhitungan trial error H9 No H9 8552.37 m (Sta.2855103 0.7614 = H 9 + 409.4 10.44751 10.8209002 12.36 2.62508 12.9024 = H 9 + 8552 .0830244 12.37573 0.71066 12.4.25508 10.44 16.4 Kontrol Sifat Aliran Sepanjang Diversion Channel Rumus: V = Fr = Qd B × H1 V g×H Keterangan : a.2837123 0. Fr < 1.35066 10.9943725 12.2766677 13.373 + hf 9 {(11 + 0.44 16.79751 12.49 12 .44 0. 00+108.7360365 12.016935 0.017367 0.

008394128 4.00+016 Sta.000 0.00+108.35 2 1. 0 60.454 10.02 Mulut Upstream Mercu Control Strukture LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . Aliran kritis Fr = 1.700 653.02 652.1 9 5.21 3 1. Sloope.00+010 Sta. VI .00+020.64 7 3.792554138 7.5 25.5.224209299 6.747456773 6.00+00 Sta.50 d.7 6 5.517020686 7.6 6 5.54 2 2.3 2 3.8 26.3 40.00+027 Sta.00 0 15.6 Sta.000 0.5 Sta.1 Rekapitulasi Perhitungan Muka Air. Lantai m 4 Sloope Ket 6 5 1 2 3 4 Sta.16 Sifat aliran sepanjang diversion channel Sta Dimensi Hidrolis Qd m3/dtk 409.63 1 409.15 9 10.44 5 1. Fr > 1.00+084.63 1 B m 2 0 1 3 9 7 7 7 7 7 7 7 1 1 H m 7.562559091 8.8 4.7 2 Sta.63 1 409.660 5.014 654.00+020.63 1 409.800 4.821794272 0.71 3 8.626 6.1 V m/dtk 2. Aliran superkritis (meluncur) Tabel 6.6 8 2.107219005 7.62 0 11.352081338 7.6 52.63 1 409.3 38.63 1 409.63 1 409.9 43.762 7.00+042 Sta.2 26.52 3 2.63 1 409.6 37.17 Rekapitulasi perhitungan ma No 1 STASIUN 2 HMA m 3 Elev.30 0 1.00 0 1.48 1 15.5 7.910 0.63 1 409.25 9 Sub Kritis Kritis Superkritis Superkritis Superkritis Superkritis Superkritis Superkritis Superkritis Superkritis Superkritis segmen setelah mercu segmen sebelum mercu (9.1 6 6.089482737 6.734 9.00+016 Sta.3 7 A m2 156.5 46.76125728 7.03 2 1.8 3 6.7 8 3.6 Sta. 5 Sifat aliran Fr Ket Sta.00+091.00+072.90 2 15.63 1 409.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING c.81*H)^0.00+00 Sta. dan Lantai Tabel 6.5 PERHITUNGAN TOP OF WALL DIVERSION CHANNEL 6.07 7 1.00+010 Sta.63 1 409.5 1 5.200 0.00+057 Sta.2 653.807 8.7 6.830 6.

480 0.6 8.5-00+027 00+027-00+072.760 5.00+072.800 6. MA + w Segmen diversion yang perlu di perhatikan adalah pada Sta.680 0.00+042 Sta.320 3.5 00+020.00+00-Sta.0694 649.16 7.188 654.72 00+091.190 5.610 658. dimana tinggi muka air berbedabeda dan dengan memperhatikan letak konstruksi cofferdamnya.00+016 diversion) = MA di Sta.2 Perhitungan Tinggi dan Elevasi Top of Wall (Dinding) Tinggi dinding diversion channel harus mampu menampung Qd dengan tinggi MA tertentu dan tanpa melimpas ke daerah konstruksi.780 0.190 5.00+108.00+057 Sta.700 6. maka untuk mempermudah pelaksanaan pekerjaan di lapangan serta mempermudah perhitungan stabilitas konstruksi.6 00+072.300 7. dimana MA di cofferdam (Sta.180 0.510 5.780 3.970 657.16 6. Elev.00+027 Sta.72 Sta.00+016.320 3.0694 650.280 661.370 652.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 5 6 7 8 9 10 11 Sta.6-91. Mengingat panjang diversion cukup panjang.800 5.51 Mulut Downstream 6.00+091.5 0.570 657.821 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .6 Sta.541 0.6 0.920 4.788 654.000 659. top of wall diversion = elevasi muka air + tinggi jagaan = Elv. Dinding diversion pada segmen ini selain harus ditambah tinggi jagaan juga harus memperhatikan elevasi MA di cofferdam di Axist of cofferdam (Sta.210 659.02 652. Top of Wall diversion dibagi dalam 5 tipe yang ditampilkan dalam tabel berikut: Tabel 6.035 0.6 Sta.00+016 pada diversion).500 660.680 2.02 651.02 652.300 6.72-00+108.6 0.868 0.400 VI .0694 651.221 661.18 Tipe diversion channel (top of wall) Tipe Sta Hma Tetinggi m w m H top of Wall m Elevasi MA m Elev Top of Wall m I II III IV V 00+000 s/d 00+020.00+084.5.6 0.00+00.

00+000 Sta.91 + 652.40 BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH cofferdam terutama bila cofferdam di desain boleh mengalami limpasan. Sta.57 + 657.68 1.00+108.00+010 Sta.00+042 Sta.035 + 650.00+057 Sta.24.00+020.50 + 659.00+091. Rencana Top of Wall Diversion Channel VI .94% A.00+027 Sta.48 + 652.21 A+ 653.00+000-Sta. + 654. Elev.00+016 Sta.5 Sta.541 + 649. MA dan Elev.82 + 653.6 Sta.78 + 651.4% 1:5 + 653 + 652.79 Top of Wall Diversion + 660.Catatan : B C 3 4 6 8 7 1 2 5 9 + 661.00+084.868 6.00+072.52 Elevasi top of wall pada Sta.18 + 651.6 Sta.00+016 tergantung pada elevasi MA di .2 2% + 654 + 652.72 Sta.16 Gambar 6.

Selain permasalahan utama di atas. tetapi dalam hal tertentu dapat juga direncanakan untuk sesekali mengalami over topping. Cofferdam biasanya direncanakan tidak mengalami over topping.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .6 PERENCANAAN COFFERDAM 6. Cofferdam untuk pelaksanaan Bendung Gerak PLTA Tulis direncanakan tipe timbunan batu yang sesekali mengalami over topping (cofferdam limpas) dengan tinggi limpasan tertentu. Tetapi bila dengan perencanaan cofferdam timbunan batu zonal biasa yang relative murah pasti akan hancur bila terjadi limpasan.53 6.1 Tinjauan Umum Cofferdam berfungsi melindungi daerah/area pelaksanaan pekerjaan bendung dari pengaruh aliran air. yang tidak boleh dilupakan adalah adanya konstruksi jalan existing disisi cofferdam yang masih difungsikan sebelum jalan relokasi selesai dilaksanakan. Bila cofferdam upstream yang dipilih tidak boleh LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . 6. Pemilihan cofferdam ini didukung oleh beberapa faktor dimana factor-faktor tesebut lebih menguntungkan untuk mendukung rencanan pelaksanaan bendungnya. Oleh karena cofferdam boleh mengalami limpasan. maka dimensi stone covering dan lain-lain perlu dikontrol terhadap kecepatan limpasan dan kemungkinan adanya genangan yang akan memudahkan batu-batu tersebut bergeser dari tempat kedudukan semula. Permasalahan yang timbul adalah dengan perencanaan cofferdam (cofferdam upstream) yang mampu mengatasi debit lebih besar akan mahal dan design cofferdam yang betul-betul tahan terhadap limpasan pasti juga akan mahal padahal fungsi konstruksi ini hanya sementara.2 Permasalahan Dari data instansi pemerintah dan masyarakat sekitar didapatkan informasi bahwa debit yang lebih besar dari debit design diversion channel (Q10) akan sering terjadi dan bahkan dimungkinkan terjadi debit yang lebih besar lagi selama pelaksanaan bendung. Aliran air tersebut dapat berupa debit sungai atau limpasan dan lain-lain.6.6.

2. di ketahui bahwa di lokasi konstruksi banyak sekali terdapat batu gunung. Berdasarkan permasalahan dan analisa diatas. 6. Bila pengambilan dan pengangkutan stock material timbunan cofferdam di luar/tidak di sekitar Kali Tulis hal ini dapat menyulitkan saat pengiriman ke lokasi pekerjaan mengingat tingkat kesulitan dalam pencapaian daerah konstruksi bendung cukup tinggi. maka elevasi ma dengan Q > Qd akan lebih tinggi sehingga dikhawatirkan elevasi mercunya akan melebihi elevasi jalan existing di axist of cofferdam.1 Potensi dan Batasan Material Setempat Dari informasi masyarakat dan pelaksana pekerjaan Bendung Gerak Tulis. Dengan demikian material yang dapat diharapkan untuk dapat dipakai sebagai konstruksi adalah batu gunung. Untuk mempermudah pemecahan permasalahan masalah maka perlu di ketahui terlebih dahulu hal-hal sebagai berikut : ▪ Potensi dan batasan material setempat.2 Data Pelaksanaan Konstruksi LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . ▪ Batasan lain.6. Sementara untuk analisa perencanaannya cofferdam downstream yang perlu diperhatikan hanya fenomena backwater (air masuk area konstruksi dari arah downstream). Bila dipaksakan menggunakan cofferdam tanpa melimpas maka diperlukan tambahan pekerjaan lain terkait dengan adanya konstruksi jalan existing ini agar air bisa di bendung dan tidak masuk ke area konstruksi.54 mengalami limpasan.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .2. tetapi sedikit material clay. dan tidak ada pasir yang baik untuk konstruksi.6. Padahal jalan existing ini nantinya juga akan direlokasi seperti yang telah dijelaskan dalam Bab V. ▪ Data pelaksanaan konstruksi. ▪ Alternatif pemilihan yang mungkin.. misalnya dengan peninggian jalan existing. Hal ini bila dilihat dari segi biaya sangat tidak ekonomis. 6. cofferdam (cofferdam upstream) yang akan direncanakan untuk pelaksanaan Bendung Gerak Tulis direncanakan boleh mengalami sesekali limpasan dan dengan perencanaaan yang seefisien mungkin.

3 Batasan Lain Dari analisa sebelumnya diketahui : Waktu pelaksanaan tidak boleh mundur panjang karena akan terkait dengan pekerjaan lain Di sisi axist of cofferdam terdapat jalan existing yang belum boleh dibongkar sebelum jalan relokasi selesai dilaksanakan.6. b.627 m3/dtk 6. tetapi ada beberapa pertimbangan yang harus dipertimbangkan antara lain : konstruksi mahal. Cofferdam dengan urugan timbunan batu Alternatif ini sangat mungkin dilaksanakan mengingat material batu yang tersedia dilapangan cukup banyak.6. keuntungan lain adalah konstruksi tidak rumit dan relatif murah.2.4 Alternatif Pemilihan Cofferdam a. maka perlu dikontrol diameter batu pada cofferdam yang diijinkan sehingga batu tersebut tidak akan larut/terlarut oleh limpasan.2. pembongkaran sulit. Tetapi oleh karena cofferdam direncanakan sesekali boleh mengalami over topping (melimpas). Data perencanaan : Qd = Q10 = 409. Cofferdam dari Concrete Alternatif konstruksi ini sangat mungkin tahan terhadap limpasan. Berdasarkan hal-hal diatas maka alternatif ini tidak direkomendasikan.631 m3/dtk QdLimpas = Q50 = 462. pelaksanaan relatif lama. Di hulu axist of upstream cofferdam terdapat inlet drain (saluran kecil) yang merupakan anak Kali Tulis Q inlet drain = 60. harus mendatangkan pasir dari luar daerah.939 m3/dtk 6.55 Cofferdam di rencanakan boleh sesekali mengalami over topping (melimpas) dan direncanakan Qdlimpas > Qd.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI . LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .

Skema dan type dari bendungan urugan dapat di.19 Skema dan type dari bendungan urugan Type Skema Umum Keterangan LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . Gabungan/modifikasi (urugan batu dan concrete) VI . Limpasan yang terjadi dapat melarutkan batuan terutama dibagian hilir dan puncak cofferdam sehingga bagian-bagiann tersebut perlu diperkuat dengan lapisan concrete dan jaring-jaring dari baja tulangan . seperti: diversion channel.7 PEMILIHAN TIPE COFFERDAM Pada hakekatnya cofferdam dengan timbunan material merupakan salah satu jenis bendungan urugan.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING c. 6.ihat dalam tabel berikut ini : Tabel 6. Perencanaan konstruksi cofferdam secara umum menggunakan metode perencanaan bendungan urugan untuk membantu dalam perencanaan dengan memperhatikan aspek lain. 6. Bendungan urugan sekat : Bendungan urugan dengan sekat (facing) tidak lulus air di lereng udik. Cofferdam type ini paling sesuai untuk dilaksanakan bila cofferdam didesain boleh mengalami sesekali over topping (melimpas).56 Type gabungan/modifikasi ini adalah cofferdam dengan urugan batu dan concrete serta jaring-jaring dari baja tulangan. kemudahan pelaksanaan.7. Bendungan urugan zonal/majemuk: timbunan yang membentuk tubuh bendungan terdiri dari batuan dengan gradasi yang berbeda-beda dalam urutan pelapisan tertentu.1 Tipe cofferdam Urugan Ditinjau dari penempatan serta susunan bahan yang membentuk tubuh bendungan urugan digolongkan dalam 3 type yaitu : Bendungan urugan homogen: bahan pembentuk tubuh bendungan terdiri dari tanah yang hampir sejenis dan gradasi hampir seragam. dan kontur penampang sungai.

tetapi dilengkapi tirai kedap air di udiknya. Bendungan Zonal/ urugan majemuk Zone Transisi CL Bendungan Inti Miring Zone Inti Kedap Air 1 Apabila bahan pembentuk tubuh bendungan terdiri dari bahan yang lulus air. tetapi dilengkapi dengan inti hilir kedap air yang Zone Lulus Air m Zone Lulus Air Zone Transisi berkedudukan miring ke CL BendunganInti Tegak Zone Inti Kedap Air 1 Apabila bahan pembentuk tubuh bendungan terdiri dari bahan yang lulus air.57 CL Apabila 80 % dari seluruh bahan pembentuk tubuh bendungan bahan Drainase terdiri dari yang bergradasi hamper sama.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Bendungan Homogen Zone Kedap Air Zone Lulus Air 1 m VI . Apabila nahan pembentuk CL Bendungan Tirai Zone Lulus Air Zone Kedap Air 1 m tubuh bendungan terdiri dari bahan yang lulus air. tetapi dilengkapi dengan inti kedap air yang Zone Lulus Air m Zone Lulus Air Zone Transisi Drainase berkedudukan vertical LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .

Hal terpenting dari empat faktor tersebut di atas adalah mengenai hal-hal yang bersangkutan dengan usaha-usaha mendapatkan kwalitas serta kwantitas bahan–bahan tubuh bendungan urugan yang terdapat di daerah sekitar tempat kedudukan calon bendungan. pengangkutan. ▪ Kondisi penggarapan/pengerjaan bahan tersebut (pengalian. penimbunan.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Bendungan Sekat Zone Lulus Air Zone Sekat 1 m VI . lembaran daerah sekitar tempat kedudukan calon bendungan. lembaran beton bertulang. terutama untuk bahan pada zone kedap air. Cofferdam downstream : Zonal inti tegak biasa. pengolahan. Mengingat potensi daerah di sekitar Kali Tulis dan desain cofferdam (boleh mengalami over topping pada cofferdam upstream) yang telah di sebutkan sebelumnya maka: Direncanakan : Cofferdam Upstream : Zonal inti tegak dengan modifikasi (pengabungan material urugan dengan beton dan tulangan). aspal plastik. ▪ Kondisi alur sungai.58 CL Apabila bahan pembentuk tubuh bendungan terdiri dari bahan yang lulus air. Penentuan suatu type bendungan urugan yang paling cocok didasarkan pada beberapa faktor : ▪ Kualitas serta kwantitas bahan–bahan tubuh bendungan urugan yang terdapat di beton. LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . tetapi dilengkapi dengan Drainase dinding tidak lulus air di lereng biasanya udiknya terbuat yang dari lembaran baja tahan karat. ▪ Kondisi lapisan tanah pondasi pada tempat kedudukan calon bendungan. dll).

Elev.00 .00+016) = + 661. 00+0 D2 S ta . 0 0+0 00+0 2 0 .0 a 00 +0 + 655.50 m .00 AXIS +6 CH AN NE LL 60 ERD S ta .1 Tinggi Cofferdam Upstream Diketahui : Elev. EXISTIN + 66 1.5. HMA cofferdam = HMA di Sta.00+00 diversion = 661. Jalan existing di Axist of Cofferdam = + 661.25 Plan view cofferdam upstream 6.8.00 +654.00 m. 0 0+02 7 Gambar 6.80 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .80 G + 653. Top of Wall Diversion (Sta.8 PERENCANAAN COFFERDAM UPSTREAM TA N U JE M BA OF R EFER E NC E UP S T REAM JALA N Elv.5 16 S ta .00 IV E TRE RS I UPS AX IS O C2 AM FD AXI S OF AM COF F ON L TU D1 LI M ul A ut U p str K eam 0 S t+ 65.59 6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI . 10 S ta .

75 LAPORAN TUGAS AKHIR 1 1 m m PERENCANAAN SISTEM DEWATERING 1 1 PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS + 656.00 BANJARNEGARA – JAWA TENGAH + 661. 6.0 m Elevasi tanah dasar asli (NGL) di hulu : + 655.3 (diambil B = 5 m) Kemiringan Cofferdam Upstream Kemiringan cofferdam ditentukan oleh material yang akan digunakan dengan memperhatikan situasi.6 (9.0 = 4.50 ah A sl i (N GL) + 652.50) = 9. tanah dasar (NGL) di Axist of Reference Cofferdam = +653... tanah dasar cofferdam di Axist of Ref.50 + 661. VI .00 .50) + 9.5 m Elev mercu = (+ 651. H = (+ 661.75 Dengan perhitungan kemiringan tersebut maka di Axist of reference Cofferdam didapat : Elevasi tanah dasar asli (NGL) di hilir : + 652. Lebar Mercu Cofferdam Upstream Lebar mercu cofferdam minimum dihitung berdasarkan persamaan sebagai berikut B = 3.0 B = 3. kondisi dan posisi Axist of Dam agar cofferdam (bagian hilir) tidak mengganggu pekerjaan bendung itu sendiri (memberikan space/ruang cukup).5)1/3 – 3.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Elev..T an + 651.60 Elev.3 m.5 m.00) – (+ 651.00 m Elev mercu lebih rendah 0.5 = + 661.6 H1/3 – 3. maka tidak diperlukan tinggi jagaan pada cofferdam upstream. Direncanakan : Kemiringan Hulu = 1:2 Kemiringan Hilir = 1:1. 6.62 m .8..00 El ev .2. Karena cofferdam upstream ini didesain boleh melimpas.5 m Axist of Cofferdam 2 1.8.8 m dari elevasi jalan existing sehingga tidak diperlukan pekerjaan tambahan untuk konstruksi jalan existing. renc..00 Top of W all Diversion + 661.. Cofferdam = + 651.

Zone Inti Kedap Air Bahan yang dipakai untuk lapisan kedap air dapat berasal dari tanah dan tanah liat (clay). 6.8. Tanah maupun tanah liat yang dipakai sebagai bahan timbunan lapisan kedap air ini haruslah memenuhi persyaratan utama untuk bahan kedap air.1. hal ini ditentukan oleh nilai koefisien filtrasinya. Hal ini untuk mencegah penurunan yang terlalu besar. Lapisan kedap air harus mempunyai tingkat permeabilitas yang rendah. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya rembesan air melalui lapisan kedap air yang bersangkutan.4. ▪ tingkat deformasi yang rendah.26 Lebar mercu dan kemiringan cofferdam 6. yaitu : ▪ koefisien filtrasi serta kekuatan geser yang diinginkan. Sebagai standar koefisien filtrasi (k) bahan zone kedap air supaya tidak melebihi nilai 1 x 10-5 cm/det.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI . ▪ tidak mengandung zat-zat organis serta bahan mineral yang mudah terurai lebih dari 5 %.8. ▪ mudah pelaksanaan pemadatannya. Dalam zone kedap air pada hakekatnya semakin halus butiran suatu bahan maka koefisien LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .4 Material Konstruksi Pada umumnya dalam pembuatan rencana teknis bendungan zonal dibuat sedemikian rupa sehingga baik ke arah hilir maupun ke arah hulu dari inti kedap air tersusun berurutan dari bahan-bahan yang permeabilitasnya semakin meningkat.61 Gambar 6.

Gambar 6.Hasil–hasil penelitian menunjukkan bahwa apabila suatu bahan dimana butiran halus yang dapat melalui saringan No.200 lebih rendah dari 7% maka bahan tersebut biasanya lulus air .27 Gradasi bahan material cofferdam Direncanakan : Lapisan (zone) inti kedap air cofferdam menggunakan : LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH ..maka bahan tersebut juga tidak bisa digunakan untuk bahan kedap air.Apabila lebih dari 50 % yang dapat melalui saringan tersebut. Gradasi bahan kedap air biasanya mempunyai ukuran butiran seperti tertera pada gambar.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI . 1989).62 filtrasinya semaki rendah dan Untuk mendapatkan nilai (k) yang memenuhi syarat untuk lapis kedap air biasanya diperkirakan berdasarkan prosentase butiran tanah yang lolos saringan No. 300 (Suyono Sosrodarsono.

75 m. LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . ▪ Kemiringan zone transisi= 1: 0. serta faktor besarnya debit filtrasi yang harus diluluskan.2 Zona Transisi/Filter VI . maka dalam pelaksanaannya filter dari bahan semacam ini dapat mencapai ketebalan antara 2 s/d 3 meter.8. ▪ Kemiringan zone filter = 1: 0. Sebagai contoh dapat kiranya diikuti uraian sbb: ▪ Apabila diperoleh bahan pasir sungai berbutir hampir seragam dan butirannya berbentuk bulat dengan koefisien filtrasi K = 1 x 10-2 ~ 1 x 10-3 cm/dtk maka secara teoritis bahan seperti ini dapat di gunakan sebagai filter dengan ketebalan antara 20 s/d 30 cm saja. Penentuan ketebalan lapisan transisi bukan hanya di dasarkan pada perhitunganperhitungan teoritis. 6.25.63 Zona-zone timbunan tanah dan zone-zone timbunan batu pada tubuh cofferdam dipisahkan dengan suatu zone-zone peralihan. ▪ Akan tetapi dengan mempertimbangkan faktor-faktor praktis dan faktor keamanan baik pada saat penimbunannya. tetapi juga dipertimbangkan faktor-faktor praktis serta faktor keamanan lainnya. Bahan yang bisa digunakan dalam zone transisi adalah pasir dan kerikil. Zone-zone dengan ketebalan tipis biasanya disebut lapisan filter sedangkan zone yang tebal biasanya disebut zone transisi.3 m.4. ▪ Tebal zone filter = 0. Berdasarkan hal tersebut diatas maka untuk lapisan transisi/filter cofferdam direncanakan : ▪ Bahan/material = sandy clay. saat exploitasinya.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING ▪ Bahan/material = clay ( lempung).25. Zone peralihan berfungsi mencegah kemungkinan lepasnya butiran-butiran halus bahan pengisi pada lapisan yang dilindunginya akibat aliran air. Bahan-bahan tersebut supaya mempunyai kekuatan geser dan kemampuan meluluskan air yang memadai. ▪ Tebal lapisan transisi = 0. ▪ K maks = 1 x 10-5 cm/det. ▪ Nilai Kmaks = 1 x 10-3 cm/det.

A.64 6.1 Perhitungan Dimensi dan Kontrol Batuan di Hilir Dibagian hilir cofferdam upstream perlu ditinjau dimensi batuannya karena adanya limpasan. dan air di sela-sela lapisan yang ada sesudah permukaan air turun. PERHITUNGAN DIMENSI BATUAN COFFERDAM 6.00+016) = + 661. Top of Wall (Sta.8.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI . maka hal ini akan lebih memudahkan pelaksanaannya.00 m Elev.00 m (FWL) Elev. air hujan. 6.9.631 m3/dtk (aman) Q50 = 462. Material yang digunakan sebagai bahan timbunan lapisan ini merupakan material batuan kasar dengan gradasi yang cukup baik. Cofferdam upstream untuk pelaksanaa Bendung Gerak Tulis direncanakan diperbolehkan sesekali terjadi limpasan dengan debit yang lebih besar dari debit rencana (Qd) pada perhitungan diversion channel.627 m3/dtk (melimpas) Elev ma = + 661.3 Lapisan Pelindung dan Penyangga Merupakan lapisan yang berfungsi untuk melindungi dan menyangga muatan yang bekerja serta berguna untuk mengeringkan air yang berasal dari lapisan kedap air. Perhitungan Tinggi Limpasan Data perhitungan : ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ Qd = Q10 = 409.00+00-Sta. Mengingat potensi di sekitar area konstruksi banyak dijumpai batuan gunung. Adapun dalam pemilihan diameter batuan untuk lapisan ini harus dicek/dikontrol terlebih dahulu agar material batuan tersebut mampu menahan gayagaya yang bekerja.9.5 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .4. Cofferdam Ups = + 661.50 m L cofferdam = 44. Untuk lapisan (zone) pelindung dan penyangga cofferdam upstream sebagai konstruksi sistem dewatering pada pelaksanaan pembangunan Bendung Gerak Tulis direncanakan : ▪ Bahan/material : Batuan gunung.

.5 x H13/2 = 62..82) b = panjang konstruksi (m) Hi = kedalaman air disebelah hulu ambang (tinggiu limpasan) a...00+010 (Mercu Control Strukture) = 13 m CL Jalan Existing Lama 1 Cofferdam Upstream + 661.00 + 661...19 H13/2 b..... (6.b......704 C b H23/2 = 1...... hal 322) Di mana: c = angka koefisien bentuk penampang (bentuk persegi empat = 0............704 C b H13/2 = 1......82 x 44.H13/2.. Channel = Q1 + Q2 Rumus: Q = 1.28 Hubungan konstruksi cofferdam u/s dan diversion channel Dari gambar diatas...Channel (Q2) = 1.65 B div Channel Sta.......20 Perhitungan trial error h limpasan N o H1 (limpasan) Elev MA H1^(3/2 ) H2^(3/2) H2 Q1 Q2 Qtot Ket LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH ..BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING ▪ VI .... Teknik Bendungan........c.704 x 0. Channel QDiv..... Melalui Cofferdam QCofferdam (Q1) = 1.... 627 m3/dtk = QLewat Cofferdam + QLewat Div.5) (Sodibyo..704 x 1 x 13 x H23/2 = 22...704.2 Mercu Control Strukture + 654 Gambar 6.15 H23/2 Tabel 6.. Melalui Div.5 2 1 0... maka debit yang mengalir saat terjadi Q50 = QDL : Q50 = 462...

00+042 + 661.00 0.31962 7 19.00+027.20 0.29852 472.4 6 7.98395 409.30 0.56155 10.46 0.00+027 Sta.29773 426.50 + 661.2977 3 432.00000 0 0.3 0 7.25 1 1.72351 4 20.52025 9 19.5253 1 446.46 661.5 Sta. Jika segmen ini mampu melewatkan Q50 = QDL maka dengan adanya tinggi jagaan dipastikan segmen diversion lainnya juga akan mampu melewatkan Q50 = QDL.20 661.46 m B.08944 3 0.70 7 7.00+016 Sta.29 Hub limpasan cofferdam dan tinggi Top of Wall LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .00 0.16431 7 0.21 0. Hal ini di karenakan di stasiun tersebut adalah segmen awal diversion yang berhubungan langsung dengan cofferdam upstream.47 1 Axist of Cofferdam 1 + 656. Kapasitas Penampang Diversion terhadap Q50 Perhitungan ini berkaitan dengan tinggi top of wall yang telah direncanakan apakah masih mampu melewatkan Q50 = QDL tanpa melimpas ke cofferdam (bagian hilir) dan area pekerjaan bendung.5 Sta.66 m3/dtk (8)=6+7 409.00+010 Sta.00+018.1068 7 469.7 0 0.30 661.35355 3 m 4 5 18.25 1 + 659.39936 21.00+00-Sta.6978 8 494.21722 19.20259 ≈ Qd ≈ Q50 Dari trial error di atas didapat : ▪ ▪ ▪ Q1 = 19.1865 4 9 1 2 3 4 5 0.5 + 652 Gambar 6.00000 5.18 *(3) m3/dtk (7 )= 22.36663 3 m3/dtk (6 )= 62.75 + 651. Segmen diversion yang akan ditinjau adalah segmen dari Sta.31198 7 0.30 2 Top of Wall Diversion + 661.39 m3/dtk (limpas cofferdam) Q2 = 443.2 0 7.00 661.50 661.37549 8 21.00 + 660.1 *(3) VI . Sta.00+020.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING m 1 m 2 3 0.175 m3/dtk (lewat diversion) HmaLimpas di cofferdam = 0.00+00 Sta.88966 450.96376 435.

00+00-Sta. Diketahui: ▪ ▪ ▪ ▪ Q1 = 19.00+027 7.39 m3/dtk (limpas cofferdam) Q2 = 443.00+016 Gambar hubungan Hma pada saat masuk (Sta.00+000 Sta.660 5.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .00+016 Sta.00+020.27.190 » Perhitungan ▪ Hma di Sta.0 0 + 0 1 6 Gambar 6.67 Dalam menghitung kemampuan penampang diversion pada saat terjadi Q50.175 m3/dtk (lewat diversion) HmaLimpas di cofferdam = 0.4 % 1 :4 + 653 A S ta .2 0 1 . maka yang perlu diperhatikan adalah kenaikan MA akibat bertambahnya debit yang lewat dalam diversion.30 Hma di Mercu Control Strukture LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . B C 1 + 6 5 4 .5 Sta.00+010 Sta.0 0 + 0 0 0 S ta .800 4.830 6.00+00) dan saat di mercu control strukture (Sta.700 6.00+010) dapat di lihat dalam gambar 6.46 m Hma diversion channel saat dilewati Qd: Sta Hma m Sta.0 0 + 0 1 0 S ta .0 0 + 6 5 3 .

00+016-Sta.00+027 menggunakan persamaan energi.00+027 Perhitungan di Sta. dimana langkah perhitungan telah dijelaskan pada subbab sebelumnya.68 Rumus: Hcr = 2 × H1 3 H1 = HB – Z ▪ Hma di Sta. maka perhitungan dan hasilnya dapat dilihat dalam tabel-tabel berikut ini : 2 2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . 00+016-Sta.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .Energi: ∆Z + EY = EZ + hfZ V V ∆Z + ( H Y + Y ) = ( H Z + Z ) + hf Z 2g 2g Berdasarkan rumus-rumus perhitungan di atas. Rumus Pers.

46 H MA di mercu (Hcr) (9)=(2/3)*8 m 4.20 Sta.67 658.00 661.500 Ket 12 Div.667 4.MA Sta.00+00 5 m 653.46 Q1 2 m3/dtk 0.46 Elv.22 Hasil perhitungan Hma (dengan persamaan energi) saat Q50 = QDL Sta Hma m Sta.00+00 4 m 661.8 8.26 H1 (8)=4-7 m 7 7.29773 450.00 19.00+020.97 Sta.00+010) 7 m 654 654 VI -69 Kondisi HL 1 m 0 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6.00+00 (6)=4-5 m 7.60 Sumber: Hasil Perhitungan LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .00+010 4.25 Sta.00+000 8.00+027 6.40 Q2 3 m3/dtk 409.2 H MA di Sta.973 Elv.2 653.627 m3/dtk Sumber :Hasil Perhitungan Tabel 6.5 7. MA Sta 00+010 (10)=7+9 m 658. Dasar Sta.631 m3/dtk) Melimpas (Q50 = 462.00+016 6.MA Cofferdam = Elv.97 Elv Top of Wall 11 m 661. dasar Mercu (Sta.26 Sta. Mampu Menampung Tidak Melimpas (Qd = 409.21 Hma di mercu control strukture untuk awal perhitungan Hma akibat Q50 Elv.29852 Elv.

70 Tabel 6.91 652.26 4.50 661. Top of Wall m 661.97 659.190 H MA QL m 8.16 659.00+027 Jarak m 0 10 16 20.20 7.0 0 10 16 Stasiun 20.5 27 Elv.830 659.970 Elv MA (Q50) m 661.00+020.5 Sta.20 660.000 658.0 661.0 659.79 Elv MA (Qd) m 661.25 6.50 8.2 654 653 652.50 661.23 Perhitungan kemampuan diversion saat Qd da Q50 Sta Sta. dasar Sta m 653.30 6.800 4.46 658.50 660.00+000 Sta.830 6.38 Elv.31 Digram kemampuan H Top of Wall terhadap kenaikan Hma dalam kondisi Qd dan Q50 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .00+010 Sta.78 H MA Qd m 7.57 Mampu Menampung Mampu Menampung Mampu Menampung Mampu Menampung Mampu Menampung Ket Sumber: Hasil Perhitungan Kemampuan H Top of Wall Terhadap Kenaikan H MA 662.50 7.00+016 Sta.0 Elev.660 658.0 657.700 6.0 658.MA (m) Hma (QD) Hma (Q50=QDL) H Top of Wall 660.973 6.60 H dinding m 8.21 659.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .30 7.610 658.5 27 Gambar 6.660 5.

5 H ) ) 2 × 9.09 × 44. 5 − 0.71 + 658.034 m ▪ Titik B (ZB = 6.50 + 661.5 H ) ) 2 × 9.00 + 655.5 × 0.00 Gambar 6.48 m/dtk hA = 20 13.5 = 0. Dimensi dan Kontrol Batuan di Hilir + 661.46) = 13.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING B.5 m) VA = = (2 g ( Z A − 0.5 = 0.39 m3/dtk = 20 m3/dtk (limpas cofferdam) ▪ Titik A ( ZA = 9.5 m) VB = = (2 g ( Z B − 0.041 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .81 × (6.46) = 11.32 Limpasan pada cofferdam » Perhitungan: Diketahui: Q1 = 19.00 + 652.48 × 44.5 × 0.5 − 0.81 × (9.00 VI .09 m/dtk hB = 20 11.

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING ▪ Titik C VI ...0155 m/dtk < 13.65 × 9.1 » Kontrol Diameter Batuan ▪ Dititk A : + 652 m ..0 log = 1.5 = 0...2 m ρ W = 1.01 × 44...8 x log 1.48 m/dtk 6h D 6 × 0.. VA=13.46) = 8...056 m » Perencanan diameter batuan Direncanakan: D = 0...0 t / m 3 ρ S = 2....48 m/dtk ..1 − 1 1 = = 1...01 m/dtk hC = 20 8..1 t / m 3 ∆= ρ S − ρW ρw 2.81 × (3....5 − 0.81 × 0. 2 Metode Isbash (1935) V cr = 1.5 H ) ) 2 × 9.034 m.72 VC = = (2 g ( Z C − 0..2 1.2 * 1. h A = 0. V cr = ∆gD * 1.0 log = 1...5 × 0.034 0..02 = 0..2 2∆gD (tidak stabil) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .

2 0......041 0.... Metode Goucharov V cr = 0.053 m/dtk < 11.73 (tidak stabil) 8....041 m. 3..........2 = 0..09 m/dtk .......8 × 0... V cr = ∆gD * 1..162 m/dtk < 11...... ▪ Dititk B = + 655.....2 (tidak stabil) = 0.48 m/dtk.. VB = 11......2 = 3... 3.65 × 9...48 m/dtk ...75 log = 0...053 m/dtk < 13.8h * ∆gD D 8....2 0..... 2 Metode Isbash (1935) V cr = 1..034 * 1.09 m/dtk..2 = 3...........81 × 0...81 × 0.........8 x log 1.81 × 0.65 × 9.81 × 0....2 2 × 1....0 log 6h D 6 × 0...65 × 9......65 × 9....81 × 0..8h * ∆gD D 8...BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING = 1....2 2∆gD (tidak stabil) = 1.......75 log 8............ (tidak stabil) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .23 = 0.346 m/dtk < 11..0 log = 1....8 × 0.75 log VI ..75 log = 0...2 2 × 1. h B =0.....1 m .. Metode Goucharov V cr = 0...041 × 1.2 = 1.09 m/dtk (tidak stabil) 1.2 * 1...09 m/dtk .65 × 9.....236 m/dtk < 13..

..0 log = 1........0 log 6h D 6 × 0.. Kesimpulan : ▪ ▪ (tidak stabil) Bila menggunakan QDL = Q50 maka akan terjadi limpasan di cofferdam upstream sebesar Q1 = 19......81 × 0.........8 x log 1.2 0.................81 × 0...68 = 0.74 1..2 m di hilir (pada posisi A.............2 2 × 1.. Metode Goucharov V cr = 0.8h * ∆gD D 8....056 × 1.65 × 9.01 m/dtk ......75 log (tidak stabil) 8..01 m/dtk ....75 log = 0.01 m/dtk VI ...B. karena itu perlu diberi penguat (concrete dan tulangan) di bagian hilir dan mercu bendung.81 × 0..2 2∆gD (tidak stabil) = 1.... Bila cofferdam upstream dalam keadaan menahan debit rencana dengan LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH ...BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING ▪ Dititk C = + 658..2 = 0...2 m . 2 Metode Isbash (1935) V cr = 1.2 = 1.01 m/dtk ...9.053 m/dtk < 8.65 × 9... 6..3 Perhitungan Dimensi dan Kontrol Batuan Di Hulu Dibagian hulu cofferdam upstream telah diketahui ada inlet drain yang merupakan anak Kali Tulis dimana arah alirannya diperkirakan akan menghantam cofferdam... V cr = ∆gD * 1.. VC = 8. Dari hasil perhitungan stabilitas batuan cofferdam upstream terhadap debit limpasan dengan D = 0..056 m ...39 m3/dtk setinggi 0....65 × 9....8 × 0..2 * 1.2 = 3.46 m. 3.C) akan terlarut/bergerak.....41 m/dtk < 8..528 m/dtk < 8. h C = 0..056 0.

00 F REF AXIS O +655.00 A AM LL PA AS N LA JA EREN CE C OFFE RDA M + 657.00 + 656.8 + 657 + 656 Gambar 6.00 +658.00 KA LI L TU IS Gambar 6.33 Detail situasi dan kontur di inlet drain + 658. maka dikhawatirkan akan terjadi olakan (turbulence) akibat adanya petemuan aliran Kali Tulis dengan inlet drain.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .00 B +653.00 N TA BA JEM +660.00 +654. Efek olakannya bisa menyebabkan bergesernya material batuan di hulu cofferdam upstream.75 tinggi ma tetentu.34 Pot. A-B LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . A JALAN RELOKASI +659.

5 x h P1 = 2.939 m3/dtk (debit inlet drain/anak Kungai Tulis) S = 658.8 − 656 60 = 0.0467 1 / 2 0.5 + 2h R1 = = A1 P1 2.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .5 + 2h 1 2/3 V1 = × R1 × I 1 / 2 n = 1 2/3 × R1 × 0. Perhitungan Tinggi dan Kecepatan Aliran Inlet Drain » Diketahui: Qas = 60.0467 n = 0.35 Box coffer pada jembatan A.76 Gambar 6.01R2/3 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .5 × h 2.012 = 18.012 (angka kekasaran manning saluran) » Perhitungan: A1 = 2.

24 Perhitungan trial error hma dan V di inlet drain No h m b m P m A m2 R^(2/3) m V m/dtk Q1 m3/dtk Qtot m3/dtk VI .551846 0.01122 5.77 Ket 1 2 3 4 5 6 0.5 3.244547 8.547763 0.55 0.61 0.5 2.15659 15.55587 6.62636 62.065846 9.62 2.3 3.5 2.72 3. a in C o ffe Terjadi olakan/turbelence ram U p s tre a m Ka Dive rsion Gambar 6.5 0.75 1 1.503378 0.5 3.36 Skets pertemuan dua aliran LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH li In l et Dr Tu lis .06958 ≈ Q as Dari tabel trial error diatas didapat : ▪ ▪ h = 0.525 1.99273 8.5 1.5 2.939 m/dtk B.25 1.865219 9.74 0.5 2.125269 9.938747 10.97819 32.79783 15.388269 0.32923 59.6 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Q1 = V1 x A1 Qtot = 4 x Q1 Tabel 6.3 0.125269 11.7 3.1 3.4 0.50108 45.5 2.451153 0. Kontrol Stabilitas Batuan Terhadap Turbulence Effect Turbulence effect (olakan) terjadi karena adanya pertemuan aliran air dengan kecepatan tertentu dari Kali Tulis dan dari inlet drain di upstream cofferdam yang dapat menggeser posisi batuan di hulu cofferdam dari kedudukan semula.51739 20.61 m V = 9.19131 60.33231 14.

02 m/dtk Diameter batu dicoba = 0.4 m/dtk Turbulence effect V cr = 4.78 Q L = 6 0 .37 Terjadinya olakan/turbulence Diketahui: ▪ h1 = 0.0 log = 2.65 × 9. V cr = ∆gD *1.7 (turbulence effect coeffisiennt) » Kecepatan Izin V1 = 60.61 m ▪ Q1 = 60.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .3 m » Kontrol Diameter Batuan 1.0 log 6h D 6×5 0.9 3 9 m 3 /d tk Terjadi olakan/turbelence + 661.81 × 0.00 Qd + 656 B = 12 m Gambar 6.3 * 1.3 = 1.939 12 × 5 = 1.939 m3/dtk ▪ h2 = 5 m ▪ b Inlet drain (jembatan) = 12 m ▪ α = 0.4 x α (turbulence effect) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .2 x log 100 = 4.

........75 log (stabil) 8...........BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING = 4....2 2∆gD VI ...........65 × 9.7 = 3..3 = 0.....65 × 9............74 x α = 3...74 x 0... Kesimpulan : (stabil) Cofferdam pada bagian hulu menggunakan material batu Dmin = 0..74 m/dtk Turbulence effect V cr = 3. 3...... 2. Metode Goucharov V cr = 0....3 = 3..62 m/dtk > 1.....3 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH ...8h * ∆gD D 8.............2 2 × 1.58 x α = 3....58 m/dtk Turbulence effect V cr = 3..08 m/dtk > 1...8 × 5 × 1...7 = 2.... Metode Isbash (1935) V cr = 1..81 × 0.......79 (stabil) = 1....75 log = 3.51 m/dtk > 1....7 = 2.81 × 0.505 x 0.02 m/dtk .02 m/dtk ........02 m/dtk ..4 x 0...3 0......

00 1.25 1 + 661.Dmin = 0.25 1 KETERANGAN A = Lapisan Pelindung (Rockfill.Dmin = 0.K maks = 1 x 10^-5 cm/dtk) E = Lapisan Pelindung (Rockfill.2 m) 1 Tulangan Baja Lap.3 m) B = Lapisan Filter (Sandy Clay.00 1 2 0.K maks = 1 x 10^-3 cm/dtk) D = Lapisan Transisi (Sandy Clay.K maks = 1 x 10^-3 cm/dtk) C = Lapisan Inti Kedap Air (Clay.5 Axist of Cofferdam E D Elev.75 0.38 Detail Cofferdam Upstream dan material penyusunnya LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . Beton ah Asli (N + 656 A C B + 651.Tan GL) + 652 Gambar 6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI -80 + 661.

3.10 ANALISA STABILITAS COFFERDAM UPSTREAM 6.39 Skema garis depresi » Garis depresi untuk Zone Inti Kedap Air (Core) Diketahui : h = 9.237 = 4.97º d = 0.525 m α = 75.374 m l2 = 7.l1 + l2 = 8.8 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .237 m Y0 = h 2 + d 2 − d = 9.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 6. Formasi Garis Depresi Tubuh Cofferdam Tanpa Drainase Kaki G a ris D e p re s i M o d ifik a s i m m 1 m 1 VI .338 m yo = 2.6734 x + 18.237 2 − 8.5 2 + 8.1 Stabilitas Cofferdam Terhadap Aliran Filtrasi A. x + y0 = 8.81 1 m 1 Gambar 6.10.168 m 2 Parabola bentuk dasar dapat diperoleh dengan persamaan : 2 y = 2 y0 .50 m (kondisi FSL) l1 = 2.

338 1 − 0.4 9 9.0 3 6.82 -2.3 1 5.2424 ∆a a + ∆a = 5.726 m C ∆a = = 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Dari pers.97o berdasarkan grafik pada gambar 6.317 m a + ∆ a = 5.4 C = ξ a/(a+ξ a) 0.726 .2 2 6.726 = 1.1.0 180 Gambar 6.8 60 <α<180 60<ξ >180 0 0 0.317 = 4.1675 0.0 0 4.40 didapat nilai: C= ∆a = 0.7 4 7.23 a + ∆a ∆a a + ∆a maka : a + ∆a = = y0 1 − cos α 4.9 8 9.1 30 60 90 120 = sudut bidang singgung ξ α = sudut bidang singgung 150 0.23 x 5.3 5 7.726 a = 5.3 Bidang vertikal 0.4 7 8.2 0.41 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .9 6 8. di atas diperoleh koordinat parabola sebagai berikut : x (m) y (m) VI .40 Grafik hubungan antara sudut bidang singgung (α) dengan Untuk α = 75.

5 Garis Depresi Modifikasi + 652 Gambar 6.0016 Dari persamaan di atas dapat diperoleh koordinat parabola sebagai berikut : x (m) y (m) -0.02 0.059 16 1.41 Garis depresi cofferdam LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .75 0.801 10 0.41 + 661 1 2 0.000 0 0.040 2 0.02 m 2 Persamaan bentuk dasar garis depresi dapat diperoleh dengan persamaan : y = 2h2 x + h2 2 = 0.25 1 + 661 1.402 4 0.83 Diketahui : k1 = 1 x 10-5 cm/dtk (Zone Core) k2 = 1 x 10-3 cm/dtk (Zone Lulus air) K1 × y0 K2 h2 = = 0.567 6 0.694 8 0.895 12 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING » Garis Depresi Zone Lulus Air VI .132 Hasil perhitungan formasi garis depresi dapat dilihat pada gambar 6.08 x + 0.04 m h2 = 0.25 1 1 + 656 Core + 651.981 14 1.

5 Gambar 6... Rumus : Qf = ∑ q × B .. Kapasitas Aliran Filtrasi (Seepage) VI .................. Lintang yang di lalui air filtrasi per unit lebar (m2) + 661 0.......Bendungan Type Urugan.25 1 + 661 + 658 + 655 + 652 + 652 A B C + 656 + 651...42 Skema perhitungan seepage LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH ........BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING B... Kapasitas aliran filtrasi perlu dihitung untuk persiapan pekerjaan kolam penampungan dan pompa.................................84 Kapasitas aliran filtrasi adalah kapasitas rembesan air yang mengalir ke hilir melewati core (zone inti kedap air) tubuh dan pondasi cofferdam.........00 0...25 1 + 661. (6.5) (Suyono Sosrodarsono.......Hal 166) q = k ×i× A i= ∆h L dimana : Qf = debit aliran filtrasi (m3/dtk) q k i = kapasitas filtrasi per unit panjang tubuh cofferdam (m3/dtk) = koeffisien filtrasi core (cm/dtk) = gradien hidrolis B = lebar cofferdam (m) A = luas pot.

5x10-3 ≤ 2 % x 409. Bolck m 2 ∆h m (3) = 1 .64865 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI ..25 6 7.5 0.75 9.1E-05 Qf total 35 30 10 6.631 1. Tinjauan Terhadap Gejala Sufosi (Piping) dan Sembulan (Boiling) Kecepatan aliran keluar ke atas permukaan lereng hilir.........3E-05 2... dimana komponen vertikalnya dapat mengakibatkan terjadinya perpindahan butiran-butiran bahan cofferdam.. Oleh karena itu.. Secara teoritis dapat dihitung dengan menggunakan rumus sbb : LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH ..7 2.8E-04 2. kecepatannya disebut kecepatan kritis.......25 9..2E-04 6..3 652..5x10-3 m3/dtk Syarat : Qf ≤ 2 % Qinflow 1......2 Panjang Rata2 m 4 (5)= 3/4 i Ketebalan Rata2 m 6 q m3/dtk/m (8)=5*6*7 B m 9 Qf m3/dtk (10)=8*9 A B C 661 661 661 655 653....85 Gambar 6..92105 2.75 2....7 8.. (memenuhi) C.25 Perhitungan Seepage Elev.1E-04 1..84153 0. MA Block m 1 Elev.5x10-3 m3/dtk ≤ 8.....192 m3/dtk .15 9. kecepatan aliran filtrasi dalam tubuh dan pondasi cofferdam perlu di batasi.5E-03 Dari tabel perhitungan di atas didapat debit seepage total Qf = 1....43 Pot Penampang melintang cofferdam Diketahui : k = 1x10-5 cm/dtk Tabel 6.8E-05 2.3 1..

20) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .0 t (tiap m3) wtot = w1-ww w1 = 1.8 t/m3 γw = 1.i = k× ∆h l Di mana : K = koefisien filtrasi = 1 x 10-5 m/det i = gradien debit rata-rata = 0.81 = 2.8 × 9.8 t (tiap m3) ww = 1.81 m/det² F = luas permukaan yang menampung aliran filtrasi per m2 Diketahui : γclay = 1. g F .γ Di mana : c = kecepatan kritis (m/dtk) γw = Berat jenis air ( t/m3) w1 = berat efektif bahan per m3 g = gravitasi = 9.8 – 1 = 0.86 c= w1 .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .8 m/det 1×1 ▪ Kecepatan rembesan yang terjadi V = k .8 t (tiap m3) ▪ Kecepatan kritis Ccr = 0.0 t/m3 wtot = 1.804 (dari tabel 6.

.... (6.. stabilitas lereng yang ditinjau terutama di sebelah hilir......45)..31) dan gambar (6. 6.. maka tekanan air pori masih tertinggal di dalam lapisan timbunan dimana kecepatan hilangnya sangat lambat sehingga timbunan masih terisi air dan dalam keadaan basah maka beratnya menjadi bertambah besar karena tekanan air ke atas tidak ada lagi...10... Tanah timbunan masih mengandung kadar air pada saat proses pemadatan timbunan sehingga tekanan air pori besar pengaruhnya terhadap stabilitas cofferdam.. (6. Semakin tinggi permukaan air adalah merupakan keadaan yang berbahaya. Pada Saat Air Cofferdam Mencapai Elevasi Penuh Pada saat cofferdam terisi penuh maka terjadi aliran filtrasi (rembesan) tetap..33) dan gambar (6......804 = 8. Dalam kondisi ini.32)....47)... LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH ..46) b...48) c. stabilitas lereng yang ditinjau adalah lereng sebelah hulu dan hilir.04 x 10-7 m/det < Ccr . Hasil perhitungan dan gambar bidang luncur dapat dilihat pada tabel (6... (6.87 aman Keadaan berbahaya yang harus ditinjau di dalam perhitungan stabilitas lereng cofferdam adalah : a. Hasil perhitungan dan gambar bidang luncur dapat dilihat pada tabel (6..BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING V = 1 x 10 −5 × 0..........30). Pada Saat Cofferdam Baru Selesai Dibangun (Belum Dialiri Air) Dalam kondisi ini.. (6.... Pada Saat Cofferdam Mengalami Penurunan Air Mendadak (Rapid Drawdown) Pada saat cofferdam terisi penuh maka tekanan air pori sangat besar dan saat terjadi rapid drawdown. Dalam kondisi ini stabilitas lereng yang ditinjau adalah lereng sebelah hulu....2 Stabilitas Lereng Cofferdam Upstream VI .

88 Hasil perhitungan dan gambar bidang luncur dapat dilihat tabel (6. L = Panjang lengkung lingkaran (m). U = Tekanan air pori pada tiap irisan bidang luncur. T = Beban komponen tangensial dari berat tiap irisan bidang luncur ( t ).34) . (6.44 Sketsa perhitungan longsor Di mana : Fs = factor keamanan. Ne = Komponen vertical beban seismic pada tiap irisan bidang luncur.(6.50) Untuk perhitungan kestabilan terhadap longsor diatas berikut : Fs = ∑{Cl + ( N − U − Ne ) tanφ } ≥ 1.2 ∑ (T + Te) digunakan persamaan o R 1 4 5 m 6 7 8 9 m 1 1 2 3 m 1 Core m 1 Gambar 6. N = Beban komponen vertical dari berat tiap irisan bidang luncur ( t ).49). C = angka kohesi setiap irisan bidang luncur (t/m2).35) dan gambar (6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI . LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . e = Intensitas seismic horizontal. Te = Komponen tangensial beban seismic pada tiap irisan bidang luncur.

27 Percepatan Dasar Gempa Periode Ulang (tahun) 10 Percepatan dasar gempa (Ac) (cm/dt²) 98.40-0.40 Tabel 6.21 215.00 1.60-1.20-0.80 564.2.90 1.81 271.10.20-1.54 Sumber : DHV Consultant 1991 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . 6.80 Banjarnegara Sumber : DHV Consultant 1991 F 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .26 Koefisien Gempa Zone Koefisien (Z) Keterangan A B C D E 1.35 322.60 0.72 181.90-2.62 151.20 0.35 482.1 Perhitungan Intensitas Seismic Horizontal (e) Tabel pembagian zone gempa di Indonesia yang digunakan untuk membantu perhitungan dapat dilihat di bawah ini sedangka peta pembagian wilayah gempa dapat dilihat dalam Bab II.: Tabel 6.42 20 50 100 200 500 1000 5000 10000 119.89 Dalam perhitungan analisa stabilitas cofferdam diatas direncanakan memasukkan beban akibat pengaruh seismic (gempa).80-1.

42 × = 0.7 × 98.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6.41.10.42 cm/dt² V = 1 g V g 1 980 = 980 cm/dt² Perhitungan nilai e e = z .5 m Formasi Garis Depresi tertera dalam gambar 6.75 = + 661 m = 9. = 0.2 Perhitungan Stabilitas Cofferdam terhadap Longsor » Data Teknis Cofferdam Upstream Diketahui: ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ Tinggi Cofferdam Lebar Mercu Kemiringan Hulu Kemiringan Hilir Elevasi MA (FSL) Tinggi Air = 9.1 1.9 1.28 Faktor Koreksi Tipe Batuan Faktor (V) VI .2 (Sumber : DHV Consultant 1991) Dari data pada tabel-tabel di atas.7 Ac = 98.0 Aluvium Soft Aluvium 1.90 Rock Foundation Diluvium (Rock Fill Dam) 0.5 m =5m =1:2 = 1 : 1.07 6. LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .2. Ac . maka dapat ditentukan nilai : ▪ Koefisien gempa ▪ Percepatan dasar gempa ▪ Faktor koreksi ▪ Percepatan grafitasi z = 0.

91 Intensitas Seismik (E) Zone Kedap Air/core (clay) Zone Lulus Air (Batuan) 4.00 2.07 » Rumus Perhitungan Stabilitas Lereng Cofferdam: Fs = ∑{Cl + ( N − U − Ne) tanφ } ≥ 1.00 γSat (t/m3) 2.29 Data perencanaan teknis material sebagai dasar perhitungan Zone C (t/m2) Ø Tan Ø γBasah (t/m3) 1.2 ∑(T + Te) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Direncanakan: Spesifikasi material lapisan cofferdam Tabel 6.80 2.00 0.00 25 42 0.20 VI .46 0.90 0.

2 5 1 + 6 5 1 . 09 + 6 6 1 . Kondisi Cofferdam Baru Selesai Dibangun (Belum Dialiri Air/Kosong) ▪ Lereng Hulu VI .0 0 1 2 3 0 .00 1 Gambar 6.0 0 1 4 5 2 6 7 8 9 1 .92 o R =1 7.45 Skema bidang luncur lereng hulu cofferdam pada kondisi baru dibangunn ▪ Lereng Hilir o 21 .7 5 1 + 6 5 6 .2 5 1 C o re 0 .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 1.25 1 7 6 5 4 3 + 651.0 0 Gambar 6.00 11 10 9 1.00 8 0.50 2 + 652.2 R= 1 2 + 661.5 0 + 6 5 2 .75 1 + 656.25 1 C ore 0.46 Skema bidang luncur lereng hilir cofferdam pada kondisi baru dibangunn LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 2.47 Skema bidang luncur lereng hulu cofferdam pada kondisi elevasi MA penuh ▪ Lereng Hilir o 21 .50 0. Cofferdam dalam Kondisi Mencapai Elevasi MA Penuh ▪ Lereng Hulu VI .00 8 0. 09 + 661.25 1 G aris D epres i + 652.75 1 4 + 656.48 Skema bidang luncur lereng hilir cofferdam pada kondisi elevasi MA penuh LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .50 2 1 + 652.25 1 7 6 5 4 3 + 651.00 1 + 661.25 1 C ore + 651.00 2 1 3 0.75 1 + 656.00 2 11 10 9 1.2 R= + 661.00 Gambar 6.00 1 5 2 6 7 + 661.00 8 9 1.00 G aris D epresi Gambar 6.25 1 C ore 0.93 o R =1 7.

MA + 658.2 5 1 G a ris D e p re si + 6 5 2 .00) o R =1 7.0 0 + 6 5 1 .2 5 1 C o re 0 .5 0 Gambar 6. MA + 658.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 3.50) VI .2 5 1 C o re 0 .00) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .0 0 8 9 1 .5 0 3 4 1 5 2 6 7 + 6 6 1 .50 Skema bidang luncur lereng hulu cofferdam pada kondisidraw dowm ( Elv.49 Skema bidang luncur lereng hulu cofferdam pada kondisidraw dowmi( Elv. 09 + 6 6 1 .7 5 1 + 6 5 6 .94 o R =1 7.2 5 1 G a ris D e p re si + 6 5 2 . 09 + 6 6 1 . Cofferdam dalam Kondisi Draw Down Di Hulu ▪ Draw down di Hulu (Elv.0 0 + 6 5 6 .50) ▪ Draw down (Elv.0 0 + 6 5 8 .0 0 + 6 5 1 . MA + 657. MA + 657.0 0 8 9 1 .0 0 1 2 3 4 5 2 6 7 + 6 6 1 .5 0 Gambar 6.0 0 1 + 6 5 7 .7 5 1 0 .0 0 1 2 0 .

757 6.4 0 2.40 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .40 0 1.955 2.948 8 0.85 8 1.84 1.20 8.6 7 16.8 2 U = uL/cos α t/m 4.6 7 16.2 8 γB t/m 3 2.0 7 0.30 30.39 6 3.4 0 2.80 0 1.858 1.87 4.38 15.80 0 1.50 4.75 + 43.80 0 3.669 0 0.0 7 0.59 16.0 0 30.82 5 4.02 1.39 3 2.1 6 18.18 7.000 0 0.4 0 2.4 0 2.481 5.974 1 0.4 0 2.105 4 0.90 6.1 1 4.81 2 1.99 13.45 11.35 0.80 0 1.41 6.9 9 0.743 3 α e sin α cos α T = W sin α t/m -1.526 8 0.56 4.43 + 7.06 3 H m 1.0 0 0.396 3.994 4 1.210 6 0.907 0 0.0 7 0.33 1 1.39 u= h*γw t/m2 1.7 5 8 9 Jumla h 6.764 3.0 1 12.31 C t/m 2 CL t/m 0.11 0.014 28.5 1 17.05 12.825 4.00 7 7.0 7 0.7 9 6.13 7 1.40 0.000 1.68 0.42 9 1.105 4 0.06 8.59 0.47 7.15 16.13 1.076 9.30 Perhitungan stabilitas lereng kondisi baru selesai dibangun (air kosong) di hulu Pias B m 1 2 3 4 5 6 2.9 4 14.795 8.99 Wto t t/m 5.T t/m -0.890 0.29 43.1 7 3.94 -4.58 3.226 3 0.5 2 17.6 4 2.8 3 8.054 L m 2.4 0 2.0 7 0.7 9 41.16 Ne = e.09 9 4.08 0.90 5 3.05 0.8 3 8.62 Te = e*N t/m 0.00 0.06 > 1.76 0.80 0 1.1 0 W t/m 5.40 11.51 4.4 2 24.1 5 5.47 7.977 6 0.24 0.9 8 6.160 15.393 2.00 6.0 7 0.994 4 0.47 0.421 0 0.05 4 4.42 3.1 0 2.0 7 0.546 3.82 7.850 0 0.0 8 -6.45 11.01 12.08 5 3.95 5 2.94 14.5 1 11.22 8.176 -0.86 12.80 2 1.98 6.1 0 2.59 0.43 1.08 -0.9 4 14.0 7 0.84 5 1.80 0 1.81 1 1.89 7 2.43 10.534 N = W cos α t/m 5.30 =2.1 1 6.5 2 4.14 7 19.9 0 31.06 0.000 0 0.316 0 0.0 7 0.8 9 7.00 4 2.3 0 4.11 VI -95 (N-NeU)tan θ t/m 0.26 7.2 (aman) 28.20 8.5 2 17.4 0 2.79 5 A m2 2.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6.76 4 3.7 5 Fs = 30.

96 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .

40 2.56 6.07 0.40 2.00 34.45 1.74 3.59 0.81 1.3732 36.7719 17.22 8.000 0.800 1.77 2.738 1.091 1.800 1.40 0.001 2.7431 0.000 1.07 0.90 19.800 1.2 (aman) 52.07 0.343 0.99 12.334 52.6935 13.10 1.750 1.119 0.00 2.00 24.86 8.02 3.070 0.5000 0.52 9.16 0.68 0.00 4.00 2.9466 16.307 3.82 1.561 Ne = e.20 1.04 2.10 19.77 16.5406 9.400 2.838 1.17 1.45 15.94 1.617 0.54 0.07 -0.51 1.460 0.07 0.635 4.72 12.025 1.31 Perhitungan stabilitas lereng kondisi elevasi MA penuh di hilir Pias 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 B m 2.82 1.50 1.64 2.8290 0.66 17.362 Jumlah H m 1.75 4.000 1.00 42.47 19.07 0.1706 C t/m3 CL t/m 0.251 9.73 20.11 > 1.704 0.20 1.545 0.20 1.810 9.808 1.T t/m 0.22 0.36 1.800 1.60 1.7705 0.6602 3.10 W t/m 3.305 0.63 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .216 N= W cos α t/m 4.93 -6.52 6.99 -2.47 17.20 1.40 2.73 0.9135 0.184 0.800 1.02 1.646 0.1668 0.68 5.037 0.04 3.674 7.48 4.00 36.2499 0.8660 0.800 2.575 8.53 γB t/m3 2.60 0.5592 0.20 1.25 2.00 30.533 0.183 1.900 0.48 1.20 2.90 8.373 = 2.10 0.07 10.0969 6.06 0.9966 0.43 2.60 14.303 1.938 7.385 1.61 4.29 A m2 1.07 0.07 0.763 1.27 7.20 0.537 L m 2.20 21.40 2.3256 0.233 8.864 0.54 0.56 1.800 1.18 15.72 0.58 16.577 0.853 1.42 6.02 3.800 1.9942 1.86 3.2546 11.72 Wtot t/m 4.20 1.58 5.03 1.54 1.66 18.80 12.10 1.61 FS = 36.82 1.68 2.1676 94.00 0.400 4.57 4.20 2.913 2.70 9.875 1.18 9.00 50.025 2.175 U= uL/cos α t/m 1.10 5.6691 0.610 0.38 1.505 u= h*γw t/m2 0.18 14.74 1.07 0.63 0.78 15.96 VI -97 (N-NeU)tan θ t/m 3.0000 0.0000 0.0819 0.800 1.6374 α E sin α cos α T=W sin α t/m -0.51 20.428 1.360 6.1080 0.9683 0.294 3.9860 0.9127 1.40 2.337 1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6.01 Te = e*N t/m 0.4932 12.63 10.70 4.87 1.07 0.61 + 94.07 0.73 12.307 + 9.022 1.47 4.9455 0.85 8.822 0.61 0.4067 0.79 15.40 1.82 2.00 0.000 0.39 3.29 1.20 21.97 2.83 7.800 1.56 1.

0 7 0.14 7 7.7 8 3.32 Perhitungan stabilitas lereng kondisi draw down di hulu (Elev.89 7 2.28 2.56 0.38 0.977 6 0.0 7 1.850 0 3.316 0 0.08 6 3.51 9.000 8.93 1.43 0.80 0 3.1 0 W t/m 5.743 3 7.545 8.14 2 1.80 2 4.80 0 0.87 7.0 7 0.98 3.1 0 1.20 8.52 3.226 3 0.08 0.81 2 3.79 -0.86 1.228 9.49 8.82 5 4.14 0.54 -0.5 1 6.01 0.000 0 0.4 9 2.74 3 1.45 0 1.0 7 0.812 7.05 0.5) Pias B m 2.44 0.81 1 1.929 8.4 3 2.00 2.05 4 4.0 7 0.19 30.53 1.07 3.69 10.22 8.2 7 5.45 0.00 -6.66 0.8 2 0.955 1.974 1 α e sin α cos α T = W sin α t/m N = W cos α t/m Te = e*N t/m Ne = e.445 2.05 4.0 0 30.4 0 1.421 0 0.4 0 1.06 8.8 9 7.63 0.66 0.71 4.0 0 0.994 4 0.5 2 1.0 0 1.0 7 0.87 2.0 0 1.42 9.27 15.825 4.09 9 6.56 3.80 0 1.6 0 0.4 0 1.41 0.11 1.00 4 0.0 7 0.44 8.0 0 1.68 11.982 6.03 2.3 0 4.39 6 3.858 L m 2.334 4.37 0 1.80 0 1.93 0 A m2 5.64 10.994 4 -0.05 0.735 8.58 -0.907 0 0.56 9.18 2.5 8 4.90 0 0.56 4.105 4 0.33 1 H m 2.00 4 6.80 0 0.764 1.05 Wto t t/m 13.23 3.T t/m u= h*γw t/m2 1.2 8 9.978 8.74 5.9 0 6.4 3 1.955 9.9 8 0.49 5 6 2.7 5 18.85 8 1.7 9 0.84 5 1.4 0 1.59 0.36 1.4 2 24.12 5 3.06 1.26 3.54 4 1.948 8 0.7 5 9 Jumla h 41.04 0.76 4 1.8 2 1.64 10.22 7 3.1 0 1.8 2 1.0 8 0.1 7 2.9 9 0.6 2 γ t/m 3 1.4 0 1.1 1 6.2 2 12.30 0. MA + 658.39 6 U = uL/cos α t/m 4.2 2 6.0 7 0.59 0.87 5 2.526 8 0.42 9 1.33 4 0.57 (N-NeU)tan θ t/m 3.030 3.054 7.46 8 31.65 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .4 0 1.41 6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI -98 Tabel 6.80 0 2.95 5 0.000 0 0.210 6 0.105 4 0.08 3 1.97 0.1 6 18.4 4 4.78 7.68 0.0 0 1.669 0 0.40 6 0.68 2.396 1.06 4 1.48 C t/m 2 CL t/m 1 -1.69 0.0 7 0.4 0 1.80 0 1.

65 = 1.99 FS = 30.2 (aman) 18.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .27 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .74 + 5.93 > 1.75 + 15.

0 0 30.05 Wto t t/m 13.84 5 1.5 8 4.9 0 -6.9 9 0.68 6.3 0 4.526 8 0.68 2.88 2.51 9.955 1.T t/m u= h*γw t/m2 1.7 5 19.4 2 24.421 0 0.06 4 1.0 7 0.907 0 -0.669 0 0.64 10.105 4 0.00 0.39 6 3.316 0 0.33 1 0.14 0.00 3 4 5 6 0.46 8 31.40 6 0.396 3.764 3.4 0 1.210 6 0.00 5.61 0.05 4.37 (N-NeU)tan θ t/m C t/m 2 CL t/m 1 -1.000 0 0.0 8 0.57 0.80 0 1.43 0.4 0 1.4 0 1.1 0 1.14 7 7.20 8.79 2.304 2.56 6.05 12.03 0.87 7.53 1.44 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .2 7 5.7 9 0.6 2 γ t/m 3 1.90 0.08 2 0.825 4.45 0.994 4 0.743 3 7.22 8.0 0 1.6 0 0.66 0.8 2 1.06 0.334 4.0 7 0.2 2 0.545 8.8 9 7.76 4 3.850 0 3.1 1 6.86 1.42 9.98 4.87 2.000 0.97 8.1 0 W t/m 2.0 7 0.2 8 6.80 0 1.56 -0.79 -0.22 7 3.2 0 1.86 1.81 2 1.8 2 1.68 11.08 3 1.1 0 1.56 9.97 8.4 0 1.20 2.000 0 0.68 0.03 3.0 7 0.08 6 3.20 -0.977 6 0.33 4 H m 0.18 7.81 1 1.38 0.0 0 0.902 2.858 L m 2.2 2 6.7 5 9 Jumla h 41.8 2 0.974 1 α e sin α cos α T = W sin α t/m N = W cos α t/m Te = e*N t/m Ne = e.02 1.4 0 1.69 10.97 8.0 0 2.98 0 1.56 9.90 0 0. MA + 657) Pias B m 2.37 0 1.030 3.87 0.60 0.11 1.4 0 1.00 6.56 4.994 4 1.04 0.26 3.0 7 0.1 7 0.054 4.445 2.9 8 6.228 6.05 4 4.04 1.9 2 4.139 4.49 0.80 0 3.0 7 0.64 10.41 0 1.00 4 3.98 6.0 0 1.69 0.982 6.34 -0.39 6 U = uL/cos α t/m 4.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI -100 Tabel 6.80 0 1.4 3 2.735 8.56 0.93 0 A m2 2.0 7 0.1 6 18.42 9 1.948 8 0.0 7 0.89 7 2.226 3 0.19 30.80 0 1.95 5 2.4 3 1.59 0.978 8.05 0.82 5 4.09 9 6.28 2.85 8 0.4 0 1.105 4 0.33 Perhitungan stabilitas lereng kondisi draw down di hulu (Elev.23 2.80 2 1.87 5 2.0 7 0.80 0 1.44 0.

2 (aman) 19.56 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .75 + 6.44 = 1.51 > 1.98 + 4.101 30.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING FS = VI .

4 t/m3 γsat batuan = 2.5 m = 0.83 m (lebar bagian yang berbahaya (pada axist of reference)) L cofferdam = 44.4 m Hmaterial = 9.0 0 Gambar 6.51 Material timbunan LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH Axist of Cofferdam .2 5 1 1 . Rumus : σterjadi = ∑V ≤σ A » Perhitungan Untuk mempermudah perhitungan cofferdam upstream dan sebagai faktor keamanan dianggap cofferdam upstream memiliki dimensi yang sama sepanjang penampang melintang sungai. yaitu pada kondisi baru selesai dibangun karena material cofferdam masih dalam kondisi jenuh sehingga tekanan air pori besar (gaya vertikal besar). dihitung dalam kondisi yang paling membahayakan. Diketahui: σ γsat clay γbeton = 42 t/m2 (data hasil penyelidikan di lapangan) = 2.1 t/m3 (data teknis material cofferdam) = 2.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 6.0 0 1 2 0 .5 0 0 .10.0 0 C o re (C la y ) + 6 5 1 .4 t/m3 (data teknis material cofferdam) Bcofferdam = 34.5 m Htot Hbeton = 9.7 5 + 6 5 6 .102 Dalam perhitungan terhadap bahaya penurunan.2 5 1 1 + 6 5 2 .3 Stabilitas Cofferdam Upstream terhadap Penurunan VI .1 m + 6 6 1 .

4 m = 5 x 0.84 × 9.1 = 4208. Volume Beton di atas Mercu B =5m t = 0.67 × 9.8 m3 ▪ Volume Timbunan Batuan B1 = 9.316 t ▪ Timbunan Batuan V = Volume x γsat LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .5 = 2767.1 + × 14.2 x 44.67 m A = 5 + 8.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING a.82 m A = 1 1 × 9.1 2 = 62.103 B1 = 5 m B2 = 8.2 x 44.8 x 2.2 m2 V = 112.84 m B2 = 14.5 = 89 m3 Gaya vertikal ▪ V1 = B x t x L Timbunan Clay V = Volume x γsat = 2767.5 = 4993.82 × 9. Volume Timbunan ▪ Volume Timbunan Clay VI .1 m3 b.4 x 44.1 2 2 = 112.2 m2 V = 62.

6....44 t ▪ VI .....6 t/m2 ≤ 42 t / m 2 .......4 = 11983. Direncanakan: Type Cofferdam : Cofferdam Inti Zonal Tegak LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH ...4 = 213....44 +213.. Perbedaan utama dengan cofferdam upstream adalah pada cofferdam downstream direncanakan tidak mengalami limpasan sehingga tidak memerlukan tambahan perkuatan (tulangan dan beton) cukup dengan cofferdam zonal biasa....83 × 44........11 PERENCANAAN COFFERDAM DOWNSTREAM Dalam merencanakan cofferdam downstream......6 t Total gaya vertikal = 4208.316 + 11983..1 x 2..4 ≤ 42 t / m 2 34.5 (aman) = 10. prinsipnya hampir sama dengan perencanaan cofferdam upstream terutama dalam pemilihan material dan type cofferdam..4 t Tegangan tanah terjadi σterjadi = = ∑V ≤σ A 16405......6 = 16405....BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING = 4993.104 Material Beton V = Volume x γbeton = 89 x 2....

105 + +665.4 m ▪ Elev.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING +6 VI .00 .00+108. 00 AXIS OF REFERENC COFFERDAM DOWNST REAM +655.77 ) + 0.52 Plan view cofferdam downstream 6.00+108.00+108.27 m ▪ Elev.77 m ▪ Elev.16 = + 649.00 + 65 0 A X IS O F DO W N STREA M C O FFERDA M S C4 D4 Mul ut D own s tr e D5 Gambar 6.MA di Sta.2 m Elev.27 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .11.00 JALA N AS PAL +655. Top of Wall Diversion Sta. tanah dasar cofferdam di Axist of Ref.1 Tinggi Cofferdam am Diketahui : ▪ Elev.3 m Direncanakan ▪ Tinggi jagaan w = 0.16 (FWL) = + 651. mercu cofferdam = (+ 651.00 LAM A +6 50 . tanah dasar Asli (NGL) di Axist of Reference = +647.4 = + 652. Cofferdam = + 647. lantai dasar diversion Sta.16 = + 652.4 m ▪ Elev.

00+108.25 1 Mulut Downstream + 649.82 Top of Wall Diversion + 652.27) – (+ 646.6 H1/3 – 3.3 Kemiringan Cofferdam (diambil B = 3.80 Elev. Tujuannya agar tidak mengganggu pekerjaan bendung itu sendiri (memberikan space/ruang cukup) dan aliran back water tidak terjadi.0 = 3. 6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING H cofferdam d/s = (+ 652.68 2 1 0.5 m) Kemiringan cofferdam ditentukan oleh material yang akan digunakan dengan memperhatikan situasi dan kondisi.75 1 0.77 (FWL) 1...4 + 647.34 m . Axist of Dam agar cofferdam serta posisi mulut downstream diversion.6 Sta.2 Sta..106 Lebar mercu cofferdam minimum dihitung berdasarkan persamaan sebagai berikut: B = 3..00 + 646..00+091.00+084.6 (5..92 + 654.11.47 m 6..27 + 653..16 + 656.8) = 5..2 Lebar Mercu Cofferdam VI .2 m ▪ Elevasi tanah dasar asli (NGL) di hilir = + 648 m Sta.11. Direncanakan: ▪ Kemiringan hulu (bagian yang kontak dengan air) = 1:2 ▪ Kemiringan hilir = 1:1.25 1 A xist of Cofferdam + 651...75 Dengan kemiringan tersebut maka di Axist of Reference cofferdam didapat : ▪ Elevasi tanah dasar asli (NGL) di hulu = + 647.0 B = 3.47)1/3 – 3.20 + 648..Tanah Asli (NGL) Gambar 6.53 Cofferdam Downstream LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .

4 Material Konstruksi VI .3 m = 1: 0.25 = 0.75 m = 1: 0.25 » Zona Transisi/filter » Zone Pelindung Bahan/material : Batuan gunung D min = 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 6.2 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .107 Type Cofferdam = Cofferdam Inti Zonal Tegak Material Urugan: » Zonal Kedap Air (Core) ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ Material : Clay (K maks = 1 x 10-5 cm/det) Bahan/material Nilai Kmaks Tebal zone filter Kemiringan zone filter Tebal lapisan transisi Kemiringan zone transisi = sandy clay = 1 x 10-3 cm/det = 0.11.

25 1 2 1 KETERANGAN A = Zone Pelindung (Rockfill.2 m) + 647.2 m) B = Zone Filter (Sandy Clay.Dmin = 0.Dmin = 0.K maks = 1 x 10^-5 cm/dtk) E = Zone Pelindung (Rockfill.27 1 1.54 Detail Cofferdam Downstream dan material penyusunnya LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI -108 + 652.K maks = 1 x 10^-3 cm/dtk) C = Zone Inti Kedap Air (Clay.K maks = 1 x 10^-3 cm/dtk) D =Zone Transisi (Sandy Clay.Tanah Asli (NGL) B + 646.20 E + 648 D C A Elev.75 0.25 1 0.80 A xist of Cofferdam Gambar 6.

947 m yo = 0.242 m l2 = 4.25 1 0.37 2 − 5. Stabilitas Cofferdam terhadap Aliran Filtrasi A.37 = 1. Formasi Garis Depresi Tubuh Cofferdam tanpa Drainase Kaki VI .96º d = 0.109 1.993 m α = 75.3.12 ANALISA STABILITAS COFFERDAM DOWNSTREAM 6.l1 + l2 = 5.97 m (kondisi FWL) l1 = 1.9735 m 2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .37 m Y0 = h 2 + d 2 − d = 4.55 Skema garis depresi » Garis Depresi untuk Zone Inti Kedap Air (Core) Diketahui : h = 4.97 2 + 5.1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 6.25 1 Garis Depresi Modifikasi Gambar 6.75 1 2 1 0.12.

947 1 − 0.2 7 5.9 1 2.582 .8 6 5.2426 ∆a a + ∆a maka : a + ∆a = = = 2.6 m = 2.6 = 1. di atas diperoleh koordinat parabola sebagai berikut : x (m) y (m) -0.9 4 4.6 8 5.791 Dari pers.110 Parabola bentuk dasar dapat diperoleh dengan persamaan : 2 y = 2 y0 .58 = 0.982 m » Garis Depresi Zone Lulus Air Diketahui : k1 = 1 x 10-5 cm/dtk (Zone Core) k2 = 1 x 10-3 cm/dtk (Zone Lulus air) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .23 x 2.9735 0.9 9 6.96o berdasarkan grafik pada gambar 6.8 2 3.4 3 3.582 m C ∆a a = = 0.23 a + ∆a y0 1 − cos α 1.4 5 4.2 Untuk α = 75.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI . x + y0 = 3.894 x + 3.40 didapat nilai : C= ∆a = 0.0 0 1.0.

000 0 0.77 (FWL) Garis Depresi Modifikasi + 648.27 1.20 Gambar 6.04 m h2 = 0.25 1 0.801 10 0.0016 Dari persamaan di atas dapat diperoleh koordinat parabola sebagai berikut : x (m) y (m) -0.132 Hasil perhitungan formasi garis depresi dapat dilihat pada gambar 6.00 + 646.08 x + 0.981 14 1.895 12 0.25 1 + 651.040 2 0.75 1 2 1 0.059 16 1.111 = 0.80 + 647. Rumus : Qf = ∑q× B LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .402 4 0.02 0.02 m 2 Persamaan bentuk dasar garis depresi dapat diperoleh dengan persamaan : y = 2h2 x + h2 2 = 0.694 8 0.56 + 652.567 6 0. Kapasitas Aliran Filtrasi (Seepage) Untuk perhitungan menggunakan metode yang sama pada perhitungan cofferdam upstream.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING h2 = K1 × y0 K2 VI .56 Garis depresi cofferdam B.

2 7.013 4.4E-05 5.25 1 Garis Depresi Modifikasi + 648.77 651.02 4 i (5)= 3/4 0.7E-05 Qf total B 8 11.757 647.07 ∆h (3) = 1 -2 4.58 Pot Penampang melintang cofferdam Diketahui : k = 1x10-5 cm/dtk Tabel 6.77575 2.68017 0.1 0.20 Gambar 6.943 2.25 1 + 651.67 9. MA Elev. Bolck 1 651.27 1.80 C + 647.3E-06 5.00 A B + 646.42500 Ketebalan Rata2 6 1.1E-04 Dari tabel perhitungan di atas didapat debit seepage total Qf = 4.57 Skema perhitungan seepage Gambar 6.9 6.34 q (7)=k*5*6 7.6E-05 2.77 (FWL) 1 0.7 Qf (9)=7*8 8.7E-04 4.1 642.77 2 647.34 Perhitungan debit seepage No.77 651.6 4.75 1 2 0.112 + 652.5E-06 7. Block A B C Elev.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .1 x10-4 m3/dtk Syarat : Qf ≤ 2 % Qinflow LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .7 Panjang Rata2 4 5.

....8 t/m3 γw = 1..... g F ..8 t (tiap m3) ww = 1.i = k× ∆h l LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH ..γ Di mana : c = kecepatan kritis (m/dtk) γw = Berat jenis air ( t/m3) w1 = berat efektif bahan per m3 g = gravitasi = 9... Tinjauan Terhadap Gejala Sufosi (Piping) dan Sembulan (Boiling) Rumus : c= w1 .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 4.. VI .1x10-4 ≤ 2 % x 409.631 4.8 × 9.8 m/det 1×1 Kecepatan rembesan yang terjadi : V = k ............81 m/det² F = luas permukaan yang menampung aliran filtrasi per m2 Diketahui : γclay = 1.81 = 2...0 t/m3 wtot = 1.1x10-4 m3/dtk ≤ 8.......8 – 1 = 0.192 m3/dtk ....113 (memenuhi) C.....8 t (tiap m3) ▪ Kecepatan kritis Ccr = ▪ 0.......0 t (tiap m3) wtot = w1-ww w1 = 1.

.114 V = 1 x 10 −5 × 0....38)......40)....... 6..12.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Di mana : k i = koefisien filtrasi = 1 x 10-5 m/det = gradien debit rata-rata = 0...5 m =1:2 = 1 : 1. (6.42).816 VI ..64) 6.43) dan gambar (6.75 = + 651. (6.1 x 10-7 m/det < Ccr........77 m = 4.......12...59). (6..97 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH ... Pada Saat Cofferdam Mengalami Penurunan Air Mendadak (Rapid Drawdown) Hasil perhitungan dan gambar bidang luncur dapat dilihat tabel (6.1 Perhitungan Stabilitas Cofferdam terhadap Longsor » Data Teknis cofferdam Downstream Diketahui: ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ Tinggi cofferdam Lebar mercu Kemiringan hulu Kemiringan hilir Elevasi MA (FSL) H ma = 5... (6. (6.816 = 8. (6...39) dan gambar (6.47 m = 3.2.2 Stabilitas Lereng Cofferdam Downstream Aman Keadaan berbahaya yang harus ditinjau di dalam perhitungan stabilitas lereng cofferdam downstream sama dengan keadaan berbahaya pada cofferdam upstream yaitu: a.60) b.41) dan gambar (6. Pada Saat Cofferdam Baru Selesai Dibangun (Belum Dialiri Air) Hasil perhitungan dan gambar bidang luncur dapat dilihat pada tabel (6.63)..61).62) c.... Pada Saat Air Cofferdam Mencapai Elevasi Penuh Hasil perhitungan dan gambar bidang luncur dapat dilihat pada tabel (6......

00 Tan Ø 0.00 γ Sub t/m3 1.40 Intensitas Seismik (E) 0.00 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING ▪ VI .46 0.10 1.56 Direncanakan: ▪ Spesifikasi material lapisan Tabel 6.40 γw t/m3 1.35 Data perencanaan teknis material sebagai dasar perhitungan Zone Zone Kedap Air/Clay Zone Lulus Air/Batuan C t/m2 4.00 42.90 γBasah t/m3 1.10 2.20 γSat t/m3 2.2 ∑(T + Te) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .115 Formasi garis depresi (seepage) tertera dalam gambar 6.07 » Rumus Perhitungan Stabilitas Lereng Cofferdam : Fs = ∑{Cl + ( N − U − Ne) tanφ } ≥ 1.82 2.00 Ø derajad 25.

75 1 5 4 0.25 1 6 2 1 0.00 + 6 46.20 Gambar 6.25 1 + 648.0 6 7 1 .2 5 1 2 1 4 3 2 1 + 64 7.23 + 652.25 1 6 5 C ore 0.27 = 12 .Kondisi Cofferdam Baru Selesai Dibangun (Belum Dialiri Air/Kosong) ▪ Lereng Hulu o R + 6 52.20 + 6 48.60 Skema bidang luncur lereng hilir cofferdam pada kondisi baru dibangunn LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .116 1.75 1 0 .59 Skema bidang luncur lereng hulu cofferdam pada kondisi baru dibangunn ▪ Lereng Hilir o R= 9.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .27 1.80 + 647.00 1 2 3 Core + 646.80 Gambar 6.

20 Gambar 6. Kondisi Cofferdam Pada saat Mencapai Elevasi MA Penuh ▪ Lereng Hulu o R 2 =1 .0 6 + 652.75 1 5 4 0.25 1 + 648.2 3 + 652.00 1 2 3 Core + 646.62 Skema bidang luncur lereng hilir cofferdam pada kondisi elevasi MA penuh LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .27 1.00 1 0.77 2 1 Garis Depresi + 648.25 1 6 2 1 0.61 Skema bidang luncur lereng hulu cofferdam pada kondisi elevasi MA penuh ▪ Lereng Hilir o R= 9.80 Gambar 6.20 Core + 646.25 1 4 3 2 1 + 647.25 1 + 651.27 7 1.117 2.75 6 5 0.80 + 647.

63 Skema bidang luncur lereng hulu cofferdam pada kondisidraw dowm ( Elv.25 m) ▪ Draw Down di Hulu (Elv.75 m) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . MA + 650.20 Gambar 6.25 1 + 651.20 Gambar 6.27 7 1.27 6 5 0.80 4 3 2 1 + 647.25 1 Core + 646.0 6 + 652.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .25 1 + 651.80 4 3 2 1 + 648. MA + 648.75 6 5 0.118 3.77 2 1 Garis Depresi + 648.77 2 1 Garis Depresi + 648.25 m) o R 2 =1 .25 Core + 646.75 + 647. Cofferdam Dalam Kondisi Draw Down di Hulu ▪ Draw Down di Hulu (Elv.25 1 + 650.00 1 0.0 6 7 1.75 ) o R = 12 . MA + 650.75 + 652.64 Skema bidang luncur lereng hulu cofferdam pada kondisidraw dowm ( Elv.00 1 0. MA + 648.

840 2.40 2.31 7.871 6 0.62 2.11 4.08 4.645 2.40 2.09 Fs = 25.520 2.89 -10.03 1.927 0.67 0.17 6.93 -0.06 10.90 -0.000 1.17 0.246 3.76 22.40 2.247 1.28 16.07 4.97 10.078 7.748 0 0.07 0.69 2.06 0.07 -0.88 17.000 2.07 0.693 1.000 2.07 0.145 0.000 0 0.200 1.900 2.01 5.503 24.7952 0.14 1.600 3.500 2.65 > 1.10 2.4901 0.00 0.68 16.40 2.10 5.30 14.940 15.57 0.1637 0.78 14.93 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .40 2.57 0.124 2.2 (aman) 24.00 9.031 2.471 2.38 8.31 10.90 2.20 4.09 + 22.11 0.49 6.06 10.07 0.42 19.28 10.58 52.78 -0.983 0 1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI -119 Tabel 6.36 8.15 0.66 7.246 3.50 6.24 3.000 2.51 0.48 10.07 + 4.00 25.01 1.435 5.20 7.943 3 0.07 0.92 1.89 5.35 41.01 0.92 1.88 17.T t/m u = h*γw t/m2 L m U = uL/cos α t/m (N-NeU)tan θ t/m C t/m2 CL t/m 1 2 3 4 5 6 7 Jumla h 2.705 2.100 3.11 9.20 0.734 8.35 0.78 14.3318 0.600 3.002 2.39 4.600 1.17 1.700 3.78 14.340 2.67 9.313 2.09 4.932 2.72 =1.72 25.10 2.40 0.600 0.75 1.986 5 0.0000 0.38 5.38 29.36 2.36 Perhitungan stabilitas lereng kondisi baru selesai dibangun (air kosong) di hulu B Pias m H m A m2 γ t/m 3 W t/m Wtot t/m α e sin α cos α T = W sin α t/m N = W cos α t/m Te = e*N t/m Ne = e.606 4 -0.1834 0.000 1.6637 0.07 0.57 0.100 3.

00 25.800 A m2 1.800 L m 2.51 0.40 2.0000 0.18 4.51 6.000 1.50 6.7568 C t/m2 0.60 15.41 6.07 0.57 Wtot t/m 4.8242 0.000 2.00 12.39 -0.46 4.580 1.07 0.00 2.284 8.T t/m -0.98 2.7367 0.29 1.50 11.067 0.30 15.576 N= W cos α t/m 4.756 =1.264 u = h*γw t/m2 1.09 1.2234 0.9773 0.07 0.540 3.4474 0.540 2.156 7.07 0.84 4.917 2.47 + 16.07 0.540 2.230 0.40 2.17 VI -120 U= uL/cos α t/m 2.00 CL t/m 0.10 16.23 10.40 2.85 -2.47 Fs = 25.15 16.58 42.59 Te = e*N t/m 0.20 15.8943 0.9747 1.33 6.60 15.83 8.230 3.0000 0.16 2.571 0.576 + 4.30 7.6762 0.91 0.770 21.23 6.56 0.7 3.63 > 1.10 2.33 Ne = e.210 H m 1.2 (aman) 21.230 3.5663 α e sin α cos α T=W sin α t/m -0.343 0.60 15.40 2.79 6.513 0.66 2.07 0.47 25.250 3.66 2.37 Perhitungan stabilitas lereng kondisi baru selesai dibangun (air kosong) di hilir Pias B m 1 2 3 4 5 6 Jumlah 2.55 55.75 3.110 2.10 2.00 4.82 10.32 2.50 18.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6.79 10.000 1.57 12.33 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .2118 0.18 γ t/m3 2.18 7.000 0.250 3.000 3.23 26.000 3.30 15.05 2.54 9.10 W t/m 4.84 4.90 (N-NeU)tan θ t/m 1.06 1.14 0.962 0.25 5.580 1.328 3.18 2.

90 γ t/m3 1.6637 0.07 0.80 -10.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6.40 1.64 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .2 (aman) 17.48 C t/m2 CL t/m 0.32 3.88 0.860 1.14 > 1.700 3.10 1.031 2.710 5 1.12 4.00 12.026 3.99 1.58 52.12 5.41 22.7952 0.42 19.15 0.46 25.07 0.14 0.00 9.14 0.111 1.57 0.145 0.09 25.40 1.57 0.600 L m 2.59 + 4.27 u= h*γw t/m2 0.15 2.860 0.11 VI -121 (N-NeU)tan θ t/m 9.00 1.71 4.471 2.645 2.330 3.78 Ne = e.40 1.07 0.31 9.75 5.00 1.340 1.693 1.813 1.0000 0.50 6.57 0.000 0.932 2.70 8.3318 0.246 1.59 12.35 29.4901 0.00 1.38 0.850 3.00 1.85 0.350 0.72 7.00 12.64 41.916 N= W cos α t/m 12.13 Te = e*N t/m 0.30 0.124 U= uL/cos α t/m 2.000 2.84 0.313 9.07 0.49 3.11 5.07 4.855 2.71 6.00 -0.09 2.940 10.86 2.79 0.82 W t/m 9.24 3.07 0.08 0.99 0.85 4.00 1.38 8.70 6.1834 0.67 Wtot t/m 12.40 1.46 = 2.37 2.35 0.860 3.00 9.9830 1.9433 α e sin α cos α T=W sin α t/m -2.38 Perhitungan stabilitas lereng kondisi elevasi MA penuh di hulu Pias 1 2 3 4 B m 2.33 6.246 3.520 2.600 0.95 5.800 2.09 FS = 25.100 0.0000 0.200 H m 3.82 1.100 3.64 0.8716 4.09 + 22.860 1.64 0.1637 0.00 -0.705 2.68 1.302 17.00 0.10 1.6064 8.22 1.7480 0.20 1.59 9.20 0.59 0.002 2.67 0.81 12.86 2.000 2.500 A m2 9.07 0.40 1.01 5.39 4.21 11.16 0.000 2.00 0.585 8.72 10.000 2.29 3.T t/m -0.07 0.64 12.12 2.85 1.900 6 7 Jumlah 2.9865 0.93 3.38 11.

57 0.61 2.20 1.05 7.240 5 6 Jumlah 2.20 3.00 5.20 1.870 0.07 0.680 2.5663 5.57 5.90 0.23 Te = e*N t/m 0.8242 0.52 3.10 1.05 3.26 γ t/m3 2.363 0.50 4.82 1.20 1.917 1.07 0.23 0.000 0.500 2.736 0.51 0.39 Perhitungan stabilitas lereng kondisi elevasi MA penuh di hilir Pias B m 1 2.91 0.000 1.92 0.9773 0.75 2.820 0.28 7.00 1.95 0.540 2.006 5.500 3.840 2.00 2.47 FS = 25.40 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .T t/m -0.20 1.20 1.00 12.777 11.7367 0.67 VI -122 (N-NeU)tan θ t/m 1.66 13.489 0.4962 25.07 1.052 u= h*γw t/m2 0.180 1.10 1.00 0.55 55.750 L m 2.2234 0.07 0.51 0.740 N= W cos α t/m 3.750 1.58 0.194 1.2 (aman) 16.31 1.11 0.01 + 3.9747 α e sin α cos α T=W sin α t/m -0.30 5.41 0.650 2.70 10.04 4.46 2.50 Wtot t/m 3.41 0.979 13.09 3.62 12.04 4.82 0.68 24.45 C t/m2 CL t/m 11.82 1.49 = 2.127 1.8943 6.46 4.23 Ne = e.0000 0.40 2.2118 0.60 26.110 H m 0.000 2.210 0.10 W t/m 2.95 0.05 0.40 2.0000 0.18 U= uL/cos α t/m 1.60 1.000 1.66 2.47 + 24.07 0.07 0.17 3.66 2.00 2.81 0.680 A m2 1.64 1.64 0.98 0.31 12.66 12.4474 0.47 0.00 25.75 2 3 2.82 1.500 1.650 0.77 -0.000 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6.000 2.00 0.52 10.20 1.40 0.57 > 1.40 0.6762 0.840 1.11 7.66 2.40 2.24 0.79 3.61 15.343 4 0.20 42.000 0.000 2.810 16.

09 + 8.705 1.500 A m2 6.11 2.41 8.000 L m 2.9830 1.22 1.0000 0.24 9.313 2.42 19.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6.900 2.67 10.145 0.40 1.32 0.0000 0.07 0.246 0.10 2.9433 0.100 3.471 2.79 0.00 9.67 0.00 0.16 + 3.9865 0.07 0.15 2.59 0.860 1.000 2.831 3.662 2.8716 0.345 4.330 2.534 3.09 25.01 5.860 1.20 4.57 0.07 0.07 0.940 U= uL/cos α t/m 2.48 1.00 25.40 1.65 0.69 6.08 5.10 1.64 -10.31 9.24 12.37 2.600 3.91 = 1.00 1.37 10.38 29.11 9.T t/m -0.14 0.62 0.07 3.69 8.10 2.05 9.00 2.40 1.66 4.64 Wtot t/m 9.528 8.12 0.00 1.7480 0.07 0.246 3.693 1.124 2.05 8.100 3.10 1.1637 0.07 0.00 VI -123 (N-NeU)tan θ t/m 5. MA + 650.93 3.95 9.860 0.96 4.95 9.51 8.85 1.90 8.00 0.000 1.111 1.84 Ne = e.50 6.49 0.99 Te = e*N t/m 0.23 0.09 FS = 25.82 1.66 6.2 (aman) 17.6064 α e sin α cos α T=W sin α t/m -1.700 3.16 N= W cos α t/m 8.00 1.30 0.63 0.25) Pias B m 1 2 3 4 5 6 7 Jumlah 2.600 3.58 52.35 41.01 C t/m2 CL t/m 0.40 1.200 H m 2.40 1.91 4.800 2.56 0.38 8.661 0.000 1.64 0.07 0.90 γ t/m3 1.3318 0.68 10.08 9.7952 0.82 W t/m 6.84 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .11 0.1834 0.39 4.813 1.520 2.4901 0.000 1.05 -4.21 -0.002 2.62 > 1.57 0.6637 0.09 u= h*γw t/m2 0.20 7.24 3.932 2.67 0.302 17.40 Perhitungan stabilitas lereng kondisi draw down di hulu (Elev.95 2.340 1.645 2.47 1.031 2.29 0.

30 0.62 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .38 29.40 1.313 2.302 17.57 0.645 2.421 3.000 2.50 6.002 2.00 0.05 9.500 A m2 6.05 + 3.67 10.9865 0.031 2.56 0.246 3.41 9.23 0.46 0.08 9.00 0.90 6.57 0.100 3.932 2.14 0.29 8.99 Te = e*N t/m 0.89 1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6.31 4.10 1.9433 0.56 9.60 0.85 1.9830 1.10 2.68 10.693 1.7480 0.940 U= uL/cos α t/m 2.31 6.38 8.05 6.000 1.2 (aman) 17.860 0.705 0.24 12.07 0.40 1.3318 0.813 1.96 1.7952 0.62 2.07 0.82 W t/m 6.95 0.000 1.00 1.01 5.39 4.800 2.0000 0.58 52.00 VI -124 (N-NeU)tan θ t/m 5.520 2.05 -0.T t/m -0.35 41.62 Ne = e.09 + 9.37 2.00 25.471 0.000 2.47 1.860 1.310 2.60 8.51 = 1.200 H m 2.67 > 1.08 5.07 0.79 0.07 0.67 0.09 u= h*γw t/m2 0.6637 0.900 2.246 3.67 0.340 1.40 1.860 1.68 10.93 3. MA + 657) Pias 1 2 3 4 5 6 7 Jumlah B m 2.07 0.00 1.64 10.11 9.0000 0.82 1.12 0.345 4.07 0.15 2.62 0.42 19.05 N= W cos α t/m 8.00 4.89 -0.41 Perhitungan stabilitas lereng kondisi draw down di hulu (Elev.20 4.31 9.51 8.8716 0.145 0.600 3.00 9.100 3.22 1.59 0.111 1.4901 0.87 1.40 1.32 0.10 0.09 25.49 6.20 7.11 0.40 1.528 8.64 Wtot t/m 9.07 3.10 1.51 C t/m2 CL t/m 0.661 0.124 2.600 3.000 L m 2.90 γ t/m3 1.07 0.64 0.700 3.24 3.10 2.1637 0.09 FS = 25.1834 0.6064 α e sin α cos α T=W sin α t/m -1.60 8.

17 2 A= LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . Diketahui: σ γsat clay γsat batuan γbeton Bcofferdam Lcofferdam Htot Hmaterial Hbeton = 42 t/m2 (data hasil penyelidikan di lapangan) (data teknis material cofferdam) (data teknis material cofferdam) = 2.3 m a.15 m 3.6 m = 5.5 + 5.5 m B2 = 5.51 m (lebar bagian yang berbahaya (pada axist of reference)) = 21.125 Dalam perhitungan terhadap bahaya penurunan.2 Stabilitas Cofferdam Downstream terhadap Penurunan VI .47 m = 5.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 6.15 × 5.17 m = 0.1 t/m3 = 2.12. Rumus: σterjadi = ∑V ≤σ A » Perhitungan Untuk mempermudah perhitungan cofferdam downstream dan sebagai faktor keamanan dianggap cofferdam upstream memiliki dimensi yang sama sepanjang peenampang melintang sungai.4 t/m 3 = 21. dihitung dalam kondisi yang paling membahayakan. yaitu pada kondisi baru selesai dibangun karena material cofferdam masih dalam kondisi jenuh sehingga tekanan air pori besar (gaya vertikal besar). Volume timbunan ▪ Volume Timbunan Clay B1 = 3.2.4 t/m3 = 2.

48 m 1 1 × 6.36 x 21.72 t LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .3 m3 b.116 m2 V =33.3 x 21.98 x 2.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING = 22.88 × 5.4 = 1716.1 = 1014.88 m B2 = 9.17 2 2 A= = 33.98 m3 ▪ Volume Timbunan Batuan VI .6 = 715.3 x 2.48 × 5.68 m3 Gaya vertikal ▪ Tmbunan Clay V = Volume x γsat = 482.6 = 22.36 m2 V = 22. Volume Beton di atas Mercu B t V1 = 3.3 m =Bxtx L = 3.116 x 21.26 t ▪ Timbunan Batuan V = Volume x γsat = 715.6 = 482.5 x 0.5 m = 0.126 B1 = 6.17 + × 9.

20 Gambar 6.13 PERENCANAAN COFFERDAM (KISDAM) Setelah pelaksanaan pekerjaaan tubuh bendung 1 telah selesai di laksanakan dan cofferdam upstream telah di bongkar maka pintu bendung (spillway) dan flushing sluice yang telah selesai dikerjakan bisa digunakan untuk melepaskan/melewatkan aliran air dari hulu ke hilir bendung tanpa melalui diversion channel.72 +54.25 1 + 648.00 + 647.4 t Tegangan yang terjadi σterjadi = ∑V ≤σ A = 2785.51 × 21.432 t Total gaya vertikal = 1014.80 2 1 0.68 x 2. Tetapi sebelum dilakukan pembongkaran cofferdam upstream dibuat terlebih dahulu siuatu konstruksi LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .4 = 54.25 1 Core (Clay) + 646.75 1 0.127 V = Volume x γbeton = 22.6 = 6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING ▪ Material Beton VI .65 Material timbunan cofferdam downstream 6.26 + 1716.27 1.4 ≤ 42 t / m 2 21.00 t/m2 ≤ 42 t / m 2 + 652.432 = 2785.

Dianggap konstruksi tersebut adalah pelimpah sempurna.128 sejenis cofferdam kecil (kisdam) yang di rencanakan dapat melindungi pelaksanaan pekerjaan tubuh bendung 2 dari aliran air. mengingat cofferdam tersebut difungsikan hanya selama pelaksanaan pekerjaan tahap 3 (tubuh bendung 2) yang di perkirakan waktu pelaksanaanya lebih cepat dari pekerjaan tahap 2 (tubuh bendung 1).32 = 658. Cofferdam ini didesain dengan debit banjir yang lebih rendah dari Qd cofferdam upstream.551 m3/dtk = 6 m (dari data gambar design) = + 652 m (dari data gambar design) = 2.42 t/m2 = 42 t/m2 Diketahui : B Spillway 3 tubuh bendung 1 = 8 m (dari data gambar design) 6.704 c b H3/2 = 1. MA = (+ 652) + 6. Qd 378.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .551 H2 = 1. Direncanakan : ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ Type cofferdam = cofferdam concrete Qd = Q5 thn B Flushing Sluice Elev. mercu spillway γ tanah dasar/asli ø tanah asli C Teg tanah izin ( σ ) = 378.42 t/m3 = 35o = 0.704 x 1 x (8+6) x H3/2 = 6.32 m Elev.32 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .1 Elevasi MA di Kisdam Elevasi muka air di kisdam bisa dicari dengan menghitung elevasi muka air di atas spillway dan flushing Sluice.13.

0 0 .00) = 8.2 Rencana Dimensi Kisdam Diketahui : ▪ ▪ ▪ ▪ Hw pintu = 6.13.66 Spillway dan Flushing Sluice tampak atas 6.3 2 Direncanakan : + 6 5 0 .129 M DA K IS R E A M T UPS S p ill w ay 2 B S p ill w ay 3 F lu sh in g S lu ic e Gambar 6.0 0 Gambar 6.67 Rencana dimensi kisdam LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH KI D O SD A W M NS TR EA M +650 . lantai kisdam = + 650.0 0 + 6 5 0 .32 m Elev MA di pintu = + 658.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .32 m Elv.32) – (+ 650.32 m + 6 5 8 .00 Hma di kisdam = (+ 658.

3 7.32 + 650.271 3.68 Dimensi kisdam 6.130 B4 w 2.00 Gambar 6.42 γ Sat t/m3 2.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Direncanakan : D D1 D2 B B1 B2 B3 VI .0 + 658.5 1 1 3.42 Teg tanah izin ( σ ) t/m2 42 Untuk mempermudah perhitungan.5 2 1.3 1. gaya-gaya yang bekerja di kisdam dapat dilihat dalam gambar di bawah ini : LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .13.49 γ w t/m3 1 γ sub t/m3 1.4 Ka Kp 0.69 C t/m2 0.49 γ Beton t/m3 2.00 + 650.6 1.3 Analisa Stabilitas » Gaya –Gaya yang Bekerja Data Perhitungan : γ t/m3 2.

K 7 .P u 6 .P p 4 .P H 5 .P a 3 .O = = = = = = = B e r a t S e n d iri D iv e rs io n T e k a n a n T a n a h A k t if T e k a n a n T a n a h P a s if T e k a n a n H i r o s ta ti s T e k a n a n U p lift G aya G em pa T it ik G u l in g K o n s t r u k s i Gambar 6.69 Gaya-gaya yang bekerja pada kisdam LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .G 2 .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI -131 w K1 K2 PHh Pp1 K3 P a1 K6 K4 K5 o Pp2 Pp3 K et : 1 .

144 23.6240 87. Berat Sendiri (G) Tabel 6.3 σ t/m3 3 2.04 Lengan m 5 6.4 PG t (4)=1*2*3 22.00 4.5 4.32 9.4 2. 7 G1 G2 G3 G4 1 3.3 1.5 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .33 3.6700 Ket.5 7.Gaya Vertikal VI .368 39.42 Perhitungan Berat Sendiri G B m 1 H m 2 9.2080 169.4 2.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING A.132 o Gambar 6.75 4.4 14.32 1.7500 59.4 2.25 MG tm (6)=4*5 134.70 Gaya-gaya arah vertikal 1.

3 1.4 x 1 = 39.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING G5 G6 2 1 1.4 3.632 1.33 = 169.83 Contoh : Tiap 1 meter panjang PG2 = ½ x B x H x γB x L = ½ x 3..5 x 9.12 1.32 x 1 x 1 = 8.32 t MPHV = PHV x Lengan (jarak titik berat ke O) = 8.0720 MT 2.1600 10.133 4.32 x 2.32 m ∆H = beda tinggi energi ma (m) ∑L = Panjang total rembesan = ∑ LV + 1/3 ( ∑ LH ) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .144 t MG2 = PG2 x Lengan (jarak titik berat ke O) = 39.24 tm 3.3 PG Total VI .56 103. Tekanan Uplift (PU) Px Px Hx Lx = Hx − ( Lx × ∆H ) ∑L = gaya angkat pada titik x (t/m2) = tinggi titik x dari muka air di hulu (m) = panjang rembesan di titik x (m) = 8.6600 466.32 x 7 = 58. Tekanan Hidrostatis Vertikal (PHV) Tiap 1 meter panjang PHV = B x H x γw x L = 1 x 8.62 tm 2.4 2.33 6.144 x 4.

0 8.262 -4.742 A m2 7.379 6.62 8.250 5.43 Perhitungan Gaya Uplift Titik Lane 1 LV 2 LH 3 1/3*LH 4 Lx 5 0 Hx 6 8.8 x Mutot Momen tm -55.167 4.681 -3.895 -17.5 1.262 -3.37 2.00 U B m U1 U2 U3 U4 U5 U6 1 1 4.3 8.681 3.91 0.39.333 0.241 .32) 8.152 .37 m 4.742 -49.32 (Lx/∑L)*∆h 7 0.640 1.5 4.279 -5.206.39 Lengan m 7.000 1.63 0.164.0 4.3 2.456 5.000 7.536 2.8 x Putot PU t -7.92 9.990 .190 -28.94 4.5 2 2 H m 7.29 7.44 6.32 A A-B B B-C C C-D D E-D E E-F F 1.909 -0.125 m Lv LH = Panjang rembesan vertikal = Panjang rembesan horizontal VI .456 -5.0 PX (8) = 6-7 8.742 ∑ σ t/m3 1 1 1 1 1 1 0.3 2.359 -121.000 1.3 - 1.631 3.3853721 4.190 28.92 − ( = 6.5 7.32 1.262 3.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING = (AB+BC+DE+EF)+ 1/3CD = 8.13 9.374 1.50 1.91 6.909 0.92 KET MG Contoh : PxD = HxD − ( LxD × ∆H ) ∑L = 10.134 Tabel 6.125 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .92 10.366 -1.3 3.62 10.44 × 8.83 8.

681 x 4.681 t MPU3 = PU3 x Lengan (jarak titik berat ke O) = 28.374 x 1 x 1 = 28.25 = 121.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tiap 1 meter panjang PU3 = B x H x γw x L = 4.135 Tekanan uplift digunakan sebagai angka keamanan. Pu = 80 % x ∑ Pu = 80 % x 49.895 tm VI .393 t Mpu = 80 % x ∑Mpu = 80 % x 206.922 tm LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .24 = 39.5 x 6. Maka untuk effisiensi dimensi tekanan uplift di ambil (50-100%) = 80 % dari tekanan uplift total. mengingat sangat kecil kemungkinan pada saat ma maksimal bersamaan dengan terjadinya gempa.152 = 164.

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING B.271 Kp = tg 2 × (45 + ) 2 = tg 2 × (45 + = 3.271 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .136 K1 K2 PHh K3 Pp1 Pa1 K6 K4 K5 o Pp2 Pp3 Gambar 6.6 × 0.6 m σa1 = γsub × h × ka = (2.49 − 1) × 2.69 Tekanan Tanah Aktif (Pa) φ 35 ) 2 h = 2.71 Gaya-gaya arah horizontal 1. Tekanan Tanah (P) Koefisien Tekanan Tanah Aktif (Ka) dan Pasif (Kp) Ka = tg 2 × (45 − ) 2 = tg 2 × (45 − φ 35 ) 2 = 0. Gaya Horizontal VI .

6 × 1 2 = 0.69 = 23.20 t LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .44 t/m2 σP2 = 2c K P = 2 × 0.42 0.6 × 1 2 VI .6 × 3.614 t/m2 σp3 = γ × h × Kp = 2.137 = 1.6 m σP1 = 2c Ka = 2 × 0.271 = 0.42 3.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING = 1.42 × 2.69 = 1.05 × 2.57 t Pp2 = σ P 2 × h × L = 1.36 t Tekanan Tanah Pasif (Pp) h = 2.05 t/m2 Tiap 1 meter panjang 1 Pa1 = × σ a1 × h × L 2 = 1 × 1.44) × 2.614 × 2.22 t/m2 Tiap 1 meter panjang 1 Pp1 = × σ P1 × h × L 2 = 1 × (0.6 × 1 = 4.

57 4.92 t/m2 Tiap 1 meter panjang 1 PHh = × σ Hh × hw × L 2 = 1 × 10.20 30.59 0.378 33.43 0.44 Perhitungan gaya tekanan tanah γ Gaya t/m2  1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 1 Pp3 = × σ P 3 × h × L 2 = 1 × 23.138 = 30.00 -0.582 MG 2.00 0.18 -1.08 -12.365 34.62 x 2.34 = 139.92 = 10. Tekanan Hidrostatis Horizontal (PHh) hw = 10.92 × 10.36 0.00 -13.92 m σHh = γ w × hw = 1 × 10.22 × 2.61 23.186 t Tabel 6.22 ∑Pa ∑Pp ∑PH P t 2 Lengan m 3 -0.00 0.92 × 1 2 = 59.488 Ket 5 Pa1 Pp1 Pp2 Pp3 -1.44 1.05 0.62 t MPHh = PHh x Lengan (jarak titik berat ke O = 59.51 tm LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .43 MP tm (4)=2*3 0.6 × 1 2 VI .

Uplift (Pu) Total -7.047 -21.14 x 0.075 tm Rekapitulasi Gaya Tabel 6.254 -59.31 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .56 524.623 33.45 Perhitungan gaya gempa K PG t 1 E 2 K t (3)=1*2 Lengan m 4 Mk tm 5=3*4 Ket K1 K2 K3 K4 K5 K6 22.065 0.39 72.49 -164.960 4.07 0.639 0.04 3.690 MG Contoh : K1 = PG2 x E = 39.2542 5.07 0.63 Momen MT tm 466.650 0.07 0.407 = 12.650 0.12 1.1092 -7.07 -1.332 -12.07 = 2.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 3.6380 -0.24 -21.407 0.095 0.5658 -2.69 -139.52 -12.9828 -0.433 0.320 58. Gaya Gempa (K) VI .37 39.296 8.07 0.433 -9.139 K =ExG E = Intensitas Seismik Horizontal = 0.92 -338.74 x 4.582 -33.74 t MK2 = PG2 x Lengan (jarak titik berat ke O) = 2.46 Rekapitulasi gaya-gaya Gaya NO Jenis Gaya H t V t 103.2184 -0.56 Total 0.07 (berdasarkan Zone pembagian wilayah gempa) G = Berat sendiri diversion (ton) Tabel 6.07 0.075 -1.40 14.14 23.7401 -1.Tanah (P) Pa & Pp Tek.07 MG tm 1 2 3 4 5 Berat Konstruksi (PG) Gaya Gempa (K) Gaya Hidrostatis (PH) Tek.62 -39.

6-0.296 = 1.31 − 338.5 328.5 ⎞ 1 − 2.25 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .5 ∑MG VI .2 − 1.75 ) Sf = 0.5 b.56 = 2.55 ≥ 1.5 c.62 72. Stabilitas Terhadap Guling ∑ MT ≥ 1.19 ≤ 1.140 Sf = Sf = 524.56 m e ⎛B ⎞ 1 =⎜ − X ⎟ ≤ * B ⎝2 ⎠ 6 ⎛ 7.7 × 72. Exentrisitas X = ∑M −∑M ∑ Pv T G = 524.53 ≥ 1.31 ≥ 1.56 ≥ 1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING » Kontrol Stabilitas a.62 Sf = 1.2 − 1.5 dimana : f = koefisien gesekan = ( 0.5 33.5 =⎜ ⎝ 2 ⎠ 6 = 1.56 ⎟ ≤ * 7. Stabilitas Terhadap Geser Sf = f ∑P ∑P V H ≥ 1.

14.1 Kolam Penampungan Kolam penampungan di tempatkan pada elevasi terendah dari hilir cofferdam upstream agar debit rembesan (Qf) dapat dengan mudah mudah masuk ke kolam penampungan.19 ⎞ × ⎜1 − ⎟ ≤ 42 7. Terhadap tegangan tanah VI .46 ≥ 0 t / m 2 6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING d. LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .0 t/m2 ▪ σMaks = ∑ PV ⎛ 6e ⎞ ⎜1 + ⎟ ≤ σ B*L⎝ B⎠ 72.13.5 × 1 ⎝ 7.4 Penulangan Kisdam Perhitungan penulangan kisdam disajikan dalam perhitungan penulangan diversion channel untuk mempermudah pembahasannya.5 ⎠ = = 0. 6.19 ⎞ × ⎜1 + ⎟ ≤ 42 7.141 Dari hasil penyelidikan tanah di dapat : σ = 42.5 × 1 ⎝ 7.5 ⎠ 2 = = 18.14 PEKERJAAN KOLAM PENAMPUNGAN DAN POMPA Debit rembesan yang melewati cofferdam upstream dan masuk ke area pekerjaan bendung direncanakan ditampung dalam suatu kolam penampungan yang kemudian debit rembesan segera di pompa keluar dari area agar tidak menggenang dan mengganggu pekerjaan konstruksi. 6. Kolam penampungan direncanakan dapat menampung Qf yang terjadi.56 ⎛ 6 × 1.56 ⎛ 6 × 1.89 ≤ 42 t / m ▪ σMin = ∑ PV ⎛ 6e ⎞ × ⎜1 − ⎟ ≥ 0 B*L ⎝ B⎠ 72.

2 + 0.2 m dari dasar kolam sebagai tampungan.002 m3/dtk Kolam direncanakan mampu menampung debit rembesan selama 2 jam =7200 dtk.2 m dari dasar kolam. Dimensi rencana kolam L=3m B=3m H = 1.0015 m3/dtk =0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING A.142 Diketahui : ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ Qf = 0. kemudiaan baru dilakukan pemompaan.2 m w = 0.72 Dimensi kolam penampungan Kapasitas kolam = L × B × ( H + w) = 3 × 3 × (1.2 m Direncanakan : Gambar 6. Pompa berhenti dioperasikan pada ketinggian ma 0. Pompa di rencanakan dioperasikan ketika ma di kolam mencapai ketinggian 1.6 m3 V inflow = Q x ∆t = 0.8 m3 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .0015 x 7200 = 10. Dimensi Kolam penampungan VI .2) = 12.

03 m3/dtk Digunakan pompa dengan kapasitas 0.2 – 0.05 m3/dtk Elevasi hilir cofferdan upstream = + 651.00+042).80 m ▪ ▪ ▪ ▪ Htot kolam = 1.4 m Elev.2 = 1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .00) – w = (+ 651.143 V out flow (dibuang) = 3 x 3 x (1. maka: Q out flow = Q pompa = 9 300 = 0.00) – 0. Debit di kolam akan dibuang masuk ke diversion channel (Sta. Diketahui : ▪ ▪ ▪ ▪ Qf =Q inflow = 0. Daya Pompa Pompa ditempatkan sedemikian rupa dari kolam penampungan agar tidak menganggu pekerjaan tubuh bendung. dasar kolam = + 651-1.1 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .05 m3/dtk B.2) = 9 m3 Direncanakan pompa dioperasikan selama 5 menit = 300 dtk untuk dapat membuang V outflow.2+0.4 = + 649.60 m Elev.24 m Digunakan pipa Ø 10 cm = 0.00 m Hma di kolam = (+ 651.2 = + 650.02 m3/dtk Q pompa = 0.00+042) = + 658. ma diversion channel (Sta.

..144 + 658..24 P + 650..73 Rencana sistem pompa Dengan memperhatikan gambar di atasdan hasil pengukuran pada peta didapat: Ltot = L1+L2+L3+L4+L5+L6 = 22 m Perhitungan: V= = Q A 0.............. Hidrolika II) Tinggi tekan statis Hs = (+658..8) = 7................03) D 2g LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .(650.. Hf primer = kehilangan energi akibat gesekan = f× L V2 × (koefisien gesekan pipa f diambil 0.......... ▪ ▪ (6........12 4 = 6..05 1 × 3..80 + 649.44 m Kehilangan energi hf a.37 m/dtk Tinggi tekan efektif (Hm) Hm = Hs + hf ......6) (Bambang Triatmojo..BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI ...............60 Pipa 10 cm Gambar 6.....24) ......14 × 0...

05 × 29.81 koefisien belokan k (sudut 90 o) = 1 = 8.34 2 × 0.195 m Hm = Hs + hf Hm = 7. Hf sekunder = kehilangan energi akibat belokan pipa (ada 4 belokan pipa) = 4 x (k × = 4 x (1× V2 ) 2g 6. Perbedaaan type tersebut juga berdasarkan perbedaan muka air.145 = 0.8 = 24.44 + (13. LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .15 DIMENSI DAN STABILITAS DINDING DIVERSION CHANNEL Dinding diversion sepanjang diversion channel dapat diklasifikasikan dalam 5 tipe untuk mempermudah pelaksanaan di lapngan.52 + 8.16 ( Hp) 75 * 0.52 m b.81 VI . ketinggian crest dinding diversion yang disesuaikan dengan hasil pendimensian cofferdam sehingga gaya-gaya yang bekerja akan bebeda pada tiap stasiun.34 2 ) 2 × 9. Untuk tiap type dinding yang sama dgunakan pada kondisi yang paling tidak menguntungkan untuk cek terhadap stabilitas.81 * γ * Q * H m ηo ( watt ) P = P = γ *Q * Hm ( Hp ) 75 *η o 1000 × 0.03 × = 13.1 2 × 9..BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 22 6.16 m Daya pompa yang dibutuhkan P= 9.195) = 29.30 Hp ~ 25 Hp 6.

00+027) Type 1II (Sta.5-00+027 00+027-00+072.19 5.00+108.72-00+108.5 00+020.72 00+091.68 8.72) Type V (Sta.8 6.92 4.16) Dari hasil perhitungan sebelumnya telah didapatkan data yang disajikan berikut ini: Tabel 6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI .6) Type IV (Sta.00+020.6-00+091.3 7.00+072.28 Dalam Perhitungan dimensi dinding diversion channel nantinya berdasarkan tabel di atas dengan memperhatikan kondisi yang paling membahayakan untuk kontrol stabilitasnya. 00+020.7 6.5-Sta.5) Type II (Sta. 00+027-Sta. 00+00-Sta.8 5.6 00+072. 00+091.00+091.16 7.47 Tipe dinding diversion channel Tipe Sta.3 6.146 Lima type dinding diversion tersebut yaitu : ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ Type I (Sta. LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .32 3. H MATertinggi m H top of Wall m IA IB II III 1V 00+00-00+020.2-Sta.6-Sta. 00+072.

15.1 Rencana Dimensi Dinding VI . maka secara umum gaya-gaya yang bekerja pada dinding diversion pada tiap type dapat dilihat pada gambar di bawah ini.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 6.147 Gambar 6.74 Rencana dimensi dinding diversion channel Untuk mempermudah perhitungan. Dimana titik guling nya (o) berbeda akibat gaya-gaya yang bekerja pada tiap type juga berbeda LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .

G 2.Pa 3.PH 5. Gaya-gaya yang bekeja pada dinding type I dan V Tanah Timbunan Cofferdam Pa1 VI -148 K1 Pp1 K2 Pa2 Pa3 PHhp PHha Pp4 Pp3 o K3 K6 K4 K5 Pa4 Pa5 Pp2 Ket : 1.K 7.Pp 4.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING A.O = Berat Sendiri Diversion = Tekanan Tanah Aktif = Tekanan Tanah Pasif = Tekanan Tanah Vertikal = Tekanan Hirostatis = Tekanan Uplift = Gaya Gempa = Titik Guling Konstruksi Gambar 6.75 Gaya yang bekerja pada dinding tipe I dan V LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .Ptv 4.Pu 6.

dan IV VI -149 K1 K2 PHh Pp1 K3 P a1 K6 K4 K5 o Pp2 Pp3 K et : 1 .P a 3 . Gaya-gaya yang bekerja pada dinding type II.P tv 4 .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING B.O = = = = = = = = B e r a t S e n d i r i D iv e r s io n T e k a n a n T a n a h A k tif T e k a n a n T a n a h P a s if T e k a n a n T a n a h V e r tik a l T e k a n a n H ir o s t a tis T e k a n a n U p lif t G aya G em pa T itik G u lin g K o n s tr u k s i Gambar 6.P H 5 .P u 6 .III.G 2 .III dan IV LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .P p 4 .76 Gaya yang bekerja pada dinding tipe II.K 7 .

4 Ka Kp 0.48 Data tanah asli di area diversion channel γ t/m3 2. Tanah asli Tabel 6.75 ) Exentrisitas x = ∑M ∑ Pv T − ∑MG ⎛B ⎞ 1 e =⎜ − X ⎟ ≤ *B ⎝2 ⎠ 6 Tegangan Tanah σMaks = σMin = ∑ PV ⎛ 6e ⎞ ⎜1 + ⎟ ≤ σ B*L⎝ B⎠ ∑ PV ⎛ 6e ⎞ × ⎜1 − ⎟ ≥ 0 B*L ⎝ B⎠ » Data Perhitungan: a.69 C t/m2 0.49 γw t/m3 1 γsub t/m3 1.6-0.5 ∑MG Stabilitas Terhadap Geser Sf = f ∑P ∑P V H ≥ 1.2 ≈ 1.5 Di mana : f = koefisien gesekan = ( 0.42 Teg tanah izin ( σ ) t/m2 42 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 6.42 γBeton t/m3 2.15.2 Analisa Stabilitas VI – 150 Rencana dimensi dinding diversion channel meliputi pondasi dan badan diversion dimana harus aman terhadap : Stabilitas Terhadap Guling Sf = ∑ MT ≥ 1.42 γsat t/m3 2.271 3.

1 Ka Kp 0. Tabel 6.406 Kp = tg 2 × (45 + ) 2 = tg 2 × (45 + = 2.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING ▪ VI – 151 Koefisien Tekanan Tanah Aktif (Ka) dan Pasif (Kp) Tanah Asli Ka = tg 2 × (45 − ) 2 = tg 2 × (45 − φ 35 ) 2 = 0.49 Data teknis material tanah timbunan cofferdam γw t/m3 1 γ t/m3 1.46 φ 35 ) 2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .0 Koefisien Tekanan Tanah Aktif (Ka) dan Pasif (Kp) Timbunan Tanah Cofferdam Ka = tg 2 × (45 − ) 2 = tg 2 × (45 − φ 25 ) 2 = 0.69 φ 35 ) 2 b.271 Kp = tg 2 × (45 + ) 2 = tg 2 × (45 + = 3.406 2.82 γsat t/m3 2.1 γsub t/m3 1.464 c t/m2 4. Tanah timbunan cofferdam.

61 m » Rencana Dimensi Tabel 6.65 2. 00+020.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 6.15.1 Type I (Sta. u/s dan titik gulingnya = 5.3 Perhitungan Dimensi dan Stabilitas 6.5) VI – 152 Diketahui : Hma tertinggi = 7.7 2.3 m H coff di axist of cofferdam u/s = 7.8 m Hma Rembesan = 7.8-7.Sta.8 m (Sta.15.75 0.00+00) Hma berbahaya terkait posisi axist of coff.5 0.50 Rencana dimensi dinding tipe I D m D1 m D2 m B m B1 m B2 m B3 m B4 m 1.19 m (lihat perhitungan aliran seepage) ∆h = 7.2 1 0.83 (Sta.19 = 0.00+016) H top of Wall = 8. 00+00.3.85 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .75 7.

656 -16.51 Perhitungan Berat Sendiri G B m 1 H m 2 8.675 5.7 7.Berat Sendiri Tabel 6. Gaya Vertikal a.4 2.5945 -0.2 3.1561 -68.4 2.77 Dimensi dinding diversion tipe 1 » Analisa Stabilitas • Gaya yang Bekerja (lihat gambar 6.35 2.295 Lengan m 5 1.5746 -46.03 2.13025 -13.96 6.711 Ket 7 Total MT LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .55 3.9 62.75 0.00 Gambar 6.75) 1.3 0.4 2.50 MA Rembesan Tanah Timbunan Cofferdam Upstream + 653.4 2.565 0.4 2.75 γ t/m3 3 2.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 153 + 661.3 0.892 12.4 G1 G2 G3 G4 G5 G6 0.65 2.667 MG tm (6)=4*5 -17.85 1 PG t (4)=1*2*3 12.75 0.3 8.75 0.325 2.948 26.6 2.6 -162.

216 x 5.945 5.52 Perhitungan tekanan tanah vertikal TV B m 1 2.202 2.5407 9.18 7.850 2.775 3.55 = 68. Tekanan Hidrostatis Vertikal (PHV) Tiap 1 meter panjang PHV = B x H x γw x L LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .181 1.172 -33.5746 tm b.82 1. Tekanan Tanah Vertikal (Ptv) VI – 154 Tabel 6.82 1.18 Total Ptv t (4)=1*2*3 3.7 x 8.2159 2.379 Ket 7 MT Contoh: Tiap 1 meter panjang Ptv1 = B4 x H x γ x L = 2.4 x 1 = 26.570 Mtv tm (6)=4*5 -18.62 7.023 -190.336 H m 2 γ t/m3 3 1.775 3.85 x 0.572 -8.7570 Lengan m 5 5.572 tm c.82 x 1 = 3.1 1.6392 0.336 0.1 TV 1 TV2 TV3 TV4 TV5 0.216 t M Ptv1 = Ptv1x Lengan (jarak titik berat ke O) = 3.775 = 18.62 0.1120 22.850 2.394 -0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Contoh : Tiap 1 meter panjang PG2 = ½ x B x H x γB x L = ½ x 2.62 0.218 -130.2492 37.82 1.3 x 2.948 x 2.892 t MG2 = PG2 x Lengan (jarak titik berat ke O) = 12.62 x 1.

75 3.73 0.68 7.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING = 1 x 5.06 6.83 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .70 4.93 8.18 A A-B B B-C C C-D D E-D E E-F F 0.68 8.93 7.00 PX (8) = 6-7 7.75 1.25 3.36 m ∆H = beda tinggi energi ma (m) ∑L = Panjang total rembesan = ∑ LV + 1/3 ( ∑ LH ) = (AB+BC+DE+EF)+ 1/3CD = 6.915 tm (MT) d.18 (Lx/∑L)*∆h 7 0.73 6.18 0.81 7.95 1.83 x 0.12 2.5 = 2.35 1.83 x 1 x 1 = 5.947 0.95 7.78 7.36 7.813 m Lv LH = Panjang rembesan vertikal = Panjang rembesan horizontal Tabel 6.73 5.53 Perhitungan tekanan uplift Titik Lane 1 LV 2 LH 3 1/3*LH 4 Lx 5 0 Hx 6 7.83 t MPHV = PHV x Lengan (jarak titik berat ke O) = 5.20 1. Tekanan Uplift (PU) VI – 155 Px Px Hx Lx = Hx − ( Lx × ∆H ) ∑L = gaya angkat pada titik x (t/m2) = tinggi titik x dari muka air di hulu (m) = panjang rembesan di titik x (m) = 1.81 6.75 - 0.15 0.

730 -0.813 Diketahui: Tanah Asli Ka = 0.675 3.85 2.263 tm 2.85 3.35 1 1 Total H m 7.373 -6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING γw t/m3 VI – 156 U U1 U2 U3 U4 U5 U6 B m 2.663 0. Gaya Arah Horizontal a.233 0.73 m Tiap 1 meter panjang PU3 = B x H x γw x L = 3.730 0.73 x 1 x 1 = 25.893 t M PU3 = PU3 x Lengan (jarak titik berat ke O) = 25.365 0.00 A m2 22.663 -0.35 x 7.73 0.263 1.272 Ket MG Contoh : PxD = HxD − ( = 8.73 1.207 3.500 0.881 1.373 6.893 0.893 -0.222 69.95 0.893 x 2.333 206.36) 6.81 × 1.68 − ( = 7.231 -25.16 7.500 1 1 1 1 1 1 PU t -22.231 25.675 = 69.271 Kp = 3.22 6. Tekanan Tanah Horizontal LxD × ∆H ) ∑L 4.667 Momen tm 130.775 5.390 Lengan m 5.69 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .35 3.300 2.500 -56.

18 7.000 -0.21105 3.885 0.61359 -8.76011 -0.09745 -0.458 × 0.45426 -39.250 4.61359 -8.18 1.312 36.60569 -5.42038 -6.82 1.968 -49.45813 3.271 0.406 0.29396 11.000 0.42 0.09745 -0.54 Perhitungan tekanan tanah horizontal h Gaya m 1 H2 m 2 γ t/m3 3 C t/m2 4 5 6 Ka Kp σ t/m2 7 σtot t/m2 8 P t 9 Lengan m 10 Mp tm (11)=9*10 Ket 12 Pa1 Pa2 Pa3 Pa4 Pa5 Pp1 Pp2 Pp3 Pp4 0.8 1.69 0.000 0.650 0.000 1.5 7.1 1.45813 3.62 0.66 MT Contoh : σa1 = γ × h × ka = 1.62 7.406 Kp = 2.45813 0.1 1.18 7.142 t LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .156 14.271 - 2.45813 0.82 1.82 1.000 0.137 4.43728 -1.053 -131.43728 -1.406 0.14334 0.271 3.000 0.147 0.69 23.406 0.62 × 1 2 = 0.5 1.271 0.24715 0.49 1.82 × 0.345 3.62 × 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tanah Timbunan cofferdam VI – 157 Ka = 0.6896 0.65593 -2.324 0.18 1.42 - 0.114 -184.18536 8.022 -25.21105 5.5 7.18 7.458 t/m2 Tiap 1 meter panjang 1 Pa1 = × σ a1 × h × L 2 = 1 × 0.24715 ∑Pa ∑Pp ∑PH 0.406 = 0.5 1.250 1.271 3.49 - - 0.46 Tabel 6.14202 3.53439 0.60569 -5.5 1.546 4 0.54625 2.464 - 0.54374 8.406 0.

86 x 1.143 -45.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING MPa1 = Pa1 x Lengan (jarak titik berat ke O) = 0.33 × 1 2 = 26.7580 10.33 t/m2 Tiap 1 meter panjang PHh 1 = × σ Hh × hw × L 2 = 1 × 7.053 35.8936 1.8644 37.69 1 1 7.55 Perhitungan tekanan hidrostatis Gaya h m 1 γw t/m3 2 σ t/m2 3 PH t 4 Lengan m 5 MH tm (6)=4*5 Ket 7 Php Pha 7.68 Total -26.33 8.490 81.33 = 7.33 8.86 t MPHh = PHh x Lengan (jarak titik berat ke O) = 26.156 tm b.5) = 7.33 m σHh = γ w × hw = 1× 7.49 tm LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .137 = 1. Tekanan Hidrostatis Horizontal (PHh) VI – 158 Tabel 6.33 × 7.563 MG Contoh: hw = (5.83+1.693 2.142 x 8.693 = 45.

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING
c. Gaya Gempa

VI – 159

K =ExG E = Intensitas Seismik Horizontal = 0,07 (berdasarkan Zone pembagian wilayah gempa) G = Berat sendiri diversion (ton) Tabel 6.56 Perhitungan gaya gempa
K PG t 1 12.95 26.89 12.96 6.03 2.57 0.90 E 2 K t (3)=1*2 0.9064 1.8824 0.9072 0.4221 0.1796 0.0630 4.3607 Lengan m 4 4.900 3.517 0.375 0.375 0.250 0.250 Mk tm 5=3*4 4.44116 6.61991 0.34020 -0.15829 -0.04489 -0.01575 11.18235 Ket 6

K1 K2 K3 K4 K5 K6

0.07 0.07 0.07 0.07 0.07 0.07
Total

MG

Contoh : K2 = PG2 x E = 26,89 x 0,07 = 1,882 t MK2 = K2 x Lengan (jarak titik berat ke O) = 1,882 x 3,517 = 5,94 tm (-) •
Rekapitulasi

Tabel 6.57 Rekapitulasi gaya yang bekerja
NO Jenis Gaya H Gaya V 62.295 Momen MT MG -162.711 11.182 -2.915 35.563

1 2 3 4

5

Berat Konstruksi Gaya Gempa Gaya Hidrostatis Tek.Tanah Pa & Pp Ptv Tek.Uplift Total

4.36065 10.8936 -25.053

5.83

-9.79917

37.7570 -56.390 49.49247

-131.660 -190.379
-487.66546

206.272 253.01734

LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING
» Kontrol Stabilitas a. Stabilitas Terhadap Guling
∑ MT ≥ 1,2 ≈ 1,5 ∑MG

VI – 160

Sf = Sf =

487,665 ≥ 1,2 ≈ 1,5 253,02

Sf = 1,93
b. Stabilitas Terhadap Geser
Sf = f

∑P ∑P

V H

≥ 1,5

dimana : f = koefisien gesekan = ( 0,6-0,75 )
Sf = 0,7 × =

49,492 ≥ 1,5 9,799

3,54 ≥ 1,5

c. Exentrisitas

x

= =

∑M −∑M ∑ Pv
T

G

487,665 − 253,02 49,492

= 4,74 m

e

⎛B ⎞ 1 =⎜ − X ⎟ ≤ * B ⎝2 ⎠ 6 ⎛ 7,2 ⎞ 1 =⎜ − 4,74 ⎟ ≤ * 7,2 ⎝ 2 ⎠ 6 = - 1,14 ≤ 1,2

LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING
d. Terhadap tegangan tanah

VI – 161

Dari hasil penyelidikan tanah didapat :

σ = 42,0 t/m2
σMaks = ∑ P ⎛ 6e ⎞ V ⎜1 + ⎟ ≤ σ B*L ⎝ B⎠ 6 × 1,14 ⎞ 49,492 ⎛ × ⎜1 + ⎟ ≤ 42 7,2 ⎠ 7,2 × 1 ⎝
2

=

= 13,41 ≤ 42 t / m

σMin =

∑ PV ⎛ 6e ⎞ × ⎜1 − ⎟ ≥ 0 B*L ⎝ B⎠ 49,492 ⎛ 6 × 1,14 ⎞ × ⎜1 − ⎟≥0 7,2 ⎠ 7,2 × 1 ⎝

=

= 0,34 ≥ 0 t / m 2

6.15.3.2 Type II (Sta. 00+20,5-Sta.00+027)

Hma tertinggi = 6,7 m (Sta.00+020,5) H top of wall = 7,3 m
» Rencana Dimensi

Tabel 6.58 Rencana dimensi dinding tipe II
D m D1 m 0.75 D2 m 0.75 B m 7 B1 m B2 m 0.65 B3 m 2.6 B4 m 3.25 Ht m

1.5

0.5

1.8

LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING

VI – 162

+ 660.21

+ 652.91

Gambar 6.78 Dimensi dinding diversion tipe 1I

LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH

75 Total Lengan m 5 6.88 2.388 22.45 55.65 2.4 2.98 3.79 Gaya-gaya arah vertikal a.50 4.3375 3.Berat Sendiri Tabel 6.989 G1 G2 G3 G4 G5 G6 7.6 7 3.75 0.4 2.75 0.4 2.75 0.4 2. Gaya Arah Vertikal o Gambar 6.1000 28.4 2.25 3.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING » Analisis Stabilitas VI – 163 • Gaya –Gaya yang Bekerja (lihat gambar 6.6 5.0000 265.25 0.5 H m 2 γ t/m3 3 2.3209 113.67 MG tm (6)=4*5 70.5004 44.7776 KET 7 MT LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .59 Perhitungan Berat Sendiri B G m 1 0.18 4.776 12.4 PG t (4)=1*2*3 11.3 7.925 0.5188 6.76) 1.85 2.3 0.17 6.

8 x 2.396 x 3. Tekanan Tanah Vertikal (Ptv) VI – 164 B4 B’ = 3.25 x 1.42 x 1 = 1.64 x 1.64 m (hasil pengukuran) Tiap 1 meter panjang Ptv1 = B4 x H x γtanah x L = 3.3 x 2.8 x 2.5 tm b.157 t M Ptv1 = Ptv1x Lengan (jarak titik berat ke O) = 14.25 m = 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Contoh : Tiap 1 meter panjang PG2 = ½ x B x H x γB x L = ½ x 2.776 x 4.98 = 113.6 x 7.01 tm (MT) Ptv2 = ½ x B’ x H x γtanah x L = ½ x 0.396 t M Ptv1 = Ptv2x Lengan (jarak titik berat ke O) = 1.625 = 23.776 t MG2 = PG2 x Lengan (jarak titik berat ke O) = 22.157 x 1.4 x 1 = 22.42 x 1 = 14.83 tm (MT) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .46 = 4.

35 x 6.9 m ∑L = Panjang total rembesan = ∑ LV + 1/3 ( ∑ LH ) = (AB+BC+DE+EF)+ 1/3CD = 6.464 Momen tm 23.75 = 22.82 m Lv = Panjang rembesan vertikal LH = Panjang rembesan horizontal LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .157 1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6.8364 27.35 t (+) MPHV = PHV x Lengan (jarak titik berat ke O) = 3.8415 Ket VI – 165 MT c.7 x 1 x 1 = 3.553 Lengan m 1.625 3.396 15.5 x 6. Tekanan Hidrostatis Vertikal (PHV) Tiap 1 meter panjang PHV = B x H x γw x L = 0.60 Perhitungan tekanan tanah vertikal PV t 14.0051 4. Tekanan Uplift (PU) Px = Hx − ( Lx × ∆H ) ∑L Px = gaya angkat pada titik x (t/m2) Hx = tinggi titik x dari muka air di hulu (m) Lx = panjang rembesan di titik x (m) ∆H = beda tinggi energi ma (m) = 4.613 tm (MT) d.

5 0.113 -40.75 1.113 Total γw t/m3 1 1 1 1 1 1 Pu t -3.5 3.238 m Tiap 1 meter panjang PU3 = B x H x γw x L = 3.80 U B m U1 U2 U3 U4 U5 U6 0.750 6.167 MU tm -23.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6.235 3.82 7.45 8.9) 6.91 7.25 x 6.417 1.026 -20.75 3.789 -6.2 − ( LxD × ∆H ) ∑L 2.325 -0.851 -16.235 0.264 1.456 0.25 H m 6.25 3.07 6.778 3.25 1.026 20.0 PX (8) = 6-7 6.039 -5.089 3.2 8.08 0.667 4.01 6.70 0.73 6.45 6.265 -10.911 0.039 5.265 10.0 4.65 2.25 3.7 0.456 -0.335416016 3.4 4.264 t M PU3 = PU3 x Lengan (jarak titik berat ke O) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .25 3.875 5.313 -11.171 -98.82 = 6.146 A m2 3.75 - (Lx/∑L)*∆h 7 0.2 2.235 x 1 x 1 = 20.901 0.63 Perhitungan tekanan uplift Titik Lane 1 LV 2 LH 3 1/3*LH 4 Lx 5 0 Hx 6 6.5 1.7 VI – 166 A A-B B B-C C C-D D E-D E E-F F 0.527 KET MG Contoh : PxD = HxD − ( = 8.078 -156.73 × 4.102 6.9 6.09 1.625 2.264 -1.2 7.162 Lengan m 6.

875 = 98.271 Kp = 3.69 • Tekanan Tanah Aktif (Pa) h =2m σa1 = γsub × h × ka = (2.49 − 1) × 1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING = 20. Tekanan Tanah Horizontal (Pap) Diketahui: Ka = 0.80 Gaya-gaya arah horizontal a.786 tm 2.271 = 0.264 x 4.5 × 0. Gaya Arah Horizontal VI – 167 K1 K2 PHh K3 Pp1 Pa1 K6 K4 K5 Pp2 o Pp3 Gambar 6.606 t/m2 Tiap 1 meter panjang 1 Pa1 = × σ a1 × h × L 2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .

42 3.69 = 29.44 t/m2 h = 3.271 = 0.606 × 1.61 × 3.5 × 1 2 = 0.42 0.3 m σP2 = 2c K P = 2 × 0.42 × 3.32 t 1 Pp3 = × σ P 3 × h × L 2 = 1 × 29.3 × 1 2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .44) × 1.5 m σP1 = 2c Ka = 2 × 0.3 × 3.69 = 1.33 t Pp2 = σ P 2 × h × L = 1.47 t/m2 Tiap 1 meter panjang 1 Pp1 = × σ P1 × h × L 2 = 1 × (0.5 × 1 2 VI – 168 = = 0.47 × 3.61 t/m2 σp3 = γ × h × Kp = 2.3 × 1 = 5.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 1 × 0.454 t • Tekanan Tanah Pasif (Pp) h = 1.

44 1.61 29.79 17. Gaya Gempa (K) K=ExG E = Intensitas seismik horizontal LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .00 0.00 4.821 0.62 t (-) MPHh = PHh x Lengan (jarak titik berat ke O = 33. Tekanan Hidrostatis Horizontal (PHh) hw σHh = 8.271 - 0.983 = 66.62 -0.25 0.3 3.5 1.42 0.62 x 1.49 2.623 t Tabel 6.3 1.271 0.2 m = γ w × hw = 1× 8.32 48.02 21.35 0.42 2.924 MT b.33 5.68 tm (MG) c.69 ∑ Pa ∑ Pp ∑ PH 0.61 0.64 Perhitungan tekanan tanah horizontal Pap h m 1 VI – 169 γ t/m3 Ka 3 C t/m2 4 Kp 5 σ t/m2 6 Pap t 7 Lengan m 8 Map tm (9)=7*8 Ket 10 Pa1 Pp1 Pp2 Pp3 1.2 = 8.32 3.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING = 48.948 53.69 3.454 53.11 0.454 0.2 t/m2 Tiap 1 meter panjang PHh 1 = × σ Hh × hw 2 = 1 × 8.90 0.2 2 = 33.47 -0.2 × 8.5 3.32 0.

61 -66.331 0.Tanah (Pt) Pa & Pp Ptv Tek.919 -33.84 338.350 16.075 -0.65 Perhitungan gaya gempa K PG t 1 E 2 K t (3)=1*2 Lengan m 4 MK tm 5=3*4 VI – 170 Ket 6 K1 K2 K3 K4 K5 K6 Total 11.68 1 2 3 4 5 Berat Konstruksi (PG) Gaya Gempa (K) Gaya Hidrostatis (PH) Tek.4095 -0.593 t MK2 = PG2 x Lengan (jarak titik berat ke O) = 1.183 0.16 34.400 3.07 0.99 Momen tm MT MG 265.78 -8.45 0.07 0.8820 -0.7972 -1.60 5.508 -5.375 0.53 -231.07 0.07 -0.154 0.821 3.07 = 1.375 0.620 53.051 0.9192 4.701 MG Contoh : K2 = PG2 x E = 22.5943 -0.0315 -3.008 -8.76 x 0.553 -40.07 0.70 22.78 12.07 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING = 0.593 x 3.2048 -0.071 tm (MG) • Rekapitulasi Gaya Tabel 6.Uplift (Pu) Total -3.282 15.07 (berdasarkan Zone pembagian wilayah gempa) G = Berat sendiri diversion (ton) Tabel 6.92 27.66 Rekapitulasi gaya yang bekerja NO Jenis Gaya H Gaya t V 55.250 0.73 21.91 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .250 -3.39 22.16 -156.183 = 5.93 0.85 2.

2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH . Exentrisitas x = = ∑M −∑M ∑ Pv T G 336. Stabilitas Terhadap Guling ∑ MT ≥ 1.5 c.2 ≈ 1.91 Sf = 1.2 ≈ 1.5 16.5 231.6-0.91 34.16 ≥ 1.06 m e ⎛B ⎞ 1 =⎜ − X ⎟ ≤ * B ⎝2 ⎠ 6 ⎛7 ⎞ 1 = ⎜ − 3.75 ) Sf = 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING • Kontrol Stabilitas a.501 ≥ 1.7 × = 34. Stabilitas Terhadap Geser Sf = f ∑P ∑P V H ≥ 1 .73 ≥ 1.44 ≤ 1.2 1.5 dimana : f = koefisien gesekan = ( 0.73 = 3.06 ⎟ ≤ * 7 ⎝2 ⎠ 6 = 0.16 − 231.46 b.5 ∑MG VI – 171 Sf = Sf = 338.

Terhadap tegangan tanah VI – 172 Dari hasil penyelidikan tanah di dapat : σ = 42.73 ⎛ 6 × 0.3.44 ⎞ × ⎜1 + ⎟ ≤ 42 7 ⎠ 7 ×1 ⎝ 2 = 6.3.4 B4 m 3 Ht m 1.00+00) = 6.19 m (Sta.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING d.67 Rencana dimensi dinding tipe III D m 1.00+072.08 ≥ 0 t / m 2 6. Type III (Sta.6) Hma tertinggi H top of wall = 6.3 D1 m D2 m 0.15.84 ≤ 42 t / m σMin = = ∑ PV ⎛ 6e ⎞ × ⎜1 − ⎟ ≥ 0 B*L ⎝ B⎠ 34.6 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .0 t/m2 σMaks = = ∑ PV ⎛ 6e ⎞ ⎜1 + ⎟ ≤ σ B*L⎝ B⎠ 34.44 ⎞ × ⎜1 − ⎟≥0 7 ×1 ⎝ 7 ⎠ = 3.8 m » Rencana Dimensi Tabel 6.7 0.65 0.5 B1 m B2 m B3 m 2.73 ⎛ 6 × 0.65 B m 6. 00+27-Sta.5 0.

6800 9.57 + 652.81 Dimensi dinding diversion tipe III » Analisis Stabilitas Perhitungan analisis stabilitas tipe III = analisis tipe II ▪ Gaya yang Bekerja 1.68 Rekapitulasi perhitungan gaya arah vertikal GAYA ARAH VERTIKAL Besar P Gaya t Berat Sendiri (PG) PG1 PG2 PG3 PG4 PG5 P Momen t/m M 55.0864 32.77 o Gambar 6.34 0.68 2.792 19.39 46.926 PG6 ∑ 2.Gaya Arah Vertikal Tabel 6.584 10.9550 21.0008 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 173 + 659.14 4.4050 207.8144 90.0600 4.

799 -51.18 44.085 -76.6854 -1.680 M 12.07 0.3438 M -19.926 -5. Gaya Arah Horizontal Tabel 6.5762 22.231 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .697 -8.05005 -28.69 Rekapitulasi perhitungan gaya arah horizontal GAYA ARAH HORIZONTAL Besar P Gaya t Hidrostatis (PHh) PHh ∑ Tek.9494 13.25 Pp1 Pp2 Pp3 ∑ Gempa K1 K2 K3 -0.088 -8.Tanah Vertikal (Ptv) Ptv1 Ptv2 ∑ -0.34 0.06 18.998 -0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 174 Hidrostatis (PHv) PHv ∑ Uplift (PU) PU1 P 3.095 3.184 -0.2342 3.Tanah (Pa.095 -1.441 -12.014 -17.776 -3.630 -123.11 14.7098 -2.799 M -0.3438 19.902 -3.315 -34.5130 1.3709 -0.095 P M 19.Pp) Pa1 P -28.4624 Sumber: Hasil Perhitungan P 2.00 4.28 4.160 PU2 PU3 PU4 PU5 PU6 ∑ Tek.465 -4.342 18.05005 P Momen t/m M -51.97 P M 0.84 40.

0832 ≤ 42 2.93 Momen MT MG 207. Tanah 2.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 175 K4 K5 K6 ∑ -0.46 -123.Tanah (Pt) Pa & Pp Ptv Tek.6) H top of wall = 5.050 44.8782 0.15.576 -34.68 267.2848 -6. Type IV Hma tertinggi = 5.968 3.4.70 Rekapitulasi gaya yang bekerja NO Jenis Gaya H Gaya V 46.1638 0.285 -28.32 m (Sta.857 Sumber Hasil Perhitungan • Rekapitulasi Gaya Tabel 6.5331 ≥ ≥ Syarat 1.006 -3.80 1 2 3 4 5 Berat Konstruksi (PG) Gaya Gempa (K) Gaya Hidrostatis (PH) Tek.3718 ≤ 1.34 -51.25 22.92 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .9743 ≥ 0 Sumber: Hasil Perhitungan 6.Uplift (Pu) Total -3.3.06 -182.00 -6.035 -0.106 -0.16 13.095 13.86 19.633 29.46 1.44 18.00+072.0273 0.3276 0.083 Maks Min 6.34 • Kontrol Stabilitas Tabel 6.5 X E 4 Teg.2-1.71 Rekapitulasi perhitungan kontrol stabilitas CEKKING 1 2 3 Guling Geser Exentrisitas Hasil 1.5 1.

72 Rencana dimensi dinding tipe IV D D1 D2 B B1 B2 B3 B4 Ht 1 0.82 Dimensi dinding diversion tipe 1V » Analisis Stabilitas Perhitungan analisis stabilitas tipe IV= analisis stabilitas tipe II ▪ Gaya yang bekerja 1.5 + 657.5 0.5 0. Gaya Arah Vertikal Tabel 6.73 Rekapitulasi perhitungan gaya arah vertikal GAYA ARAH VERTIKAL Besar P Momen Gaya t t/m Berat Sendiri (PG) PG1 PG2 PG3 P 8.5248 14.87 Gambar 6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING » Rencana Dimensi VI – 176 Tabel 6.9 1.208 7.1472 21.6000 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .79 + 651.6 2 2.5 6 0.3290 60.2 M 44.

7000 144.015 -53.780 -6.96 P -0.3640 1.0868 2.680 -26.9712 -19.00 3.12 1.30 12.2642 2.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 177 PG4 PG5 PG6 ∑ Hidrostatis (PHv) PHv ∑ Uplift (PU) PU1 3.66 P -2.065 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .702 P 10.737 M 15.333 -3.9197635 11.Pp) Pa1 P -19.0928 P M 13.Tanah (Pa.74 Rekapitulasi perhitungan gaya arah horizontal GAYA ARAH HORIZONTAL Besar P Momen Gaya t t/m Hidrostatis (PHh) PHh ∑ Tek.804 -3.114 -89.22 4.087 -32.446764 15.03 0.5967 -2.615 -9.2950 15.737 -0.03 27.9712 P -0.1040 3.74 0.20 M -32. Gaya Arah Horizontal Tabel 6.8227 18.698 -0.03 9.3 35.087 M 0.866 -7.Tanah (Pt) Pt1 Pt2 ∑ -0.36 M Pp1 Pp2 Pp3 ∑ Gempa K1 0.91 31.2442 2.527 0.680 M PU2 PU3 PU4 PU5 PU6 ∑ Tek.2950 -15.003 -12.66 2.

3.456 -19.5040 -0.30 -32.1218 -0.5 1.99 -89.460 -0.Tanah (Pt) Pa & Pp Ptv Tek.004 -4.6764 ≥ ≥ Syarat 1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 178 K2 K3 K4 K5 K6 ∑ -0.15.72-Sta. Tanah 2.75 Rekapitulasi gaya yang bekerja NO Jenis Gaya H Gaya V 35.5 Type V (Sta.70 22.24 -4.5 X E 4 Teg.4565 -2.76 Rekapitulasi perhitungan kontrol stabilitas CEKKING 1 2 3 Guling Geser Exentrisitas Hasil 1.50 12.956 2.572 ▪ Rekapitulasi Gaya: Tabel 6.8291 0.28 m Hma H coff Hma Rembesan = 3.0210 -2.36 18.1709 4.00+108.529 11.57 15.2≈1.971 31.9946 -0.660 9.Uplift (Pu) Total -2.50 1.126 0.0 42 0 Maks Min 6.34 ▪ Kontrol Stabilitas Tabel 6.09 1 2 3 4 5 Berat Konstruksi (PG) Gaya Gempa (K) Gaya Hidrostatis (PH) Tek.1087 ≤ ≤ ≥ 1.00+091.16) Diketahui : H top of Wall = 4.09 189.2184 -0.020 0.68 m = 1.729 m = 1.447 -26.09 Momen MT MG 144.68 -126.055 0.3905 3.30 m (lihat perhitungan seepage) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .

82 + 652.3 = 0.0 2.77 Rencana dimensi dinding tipe V D (m) D1 (m) D2 (m) B (m) B1 (m) B2 (m) B3 (m) B4 (m) 1.729-1.429 m » Rencana Dimensi VI – 179 Tabel 6.0 0.6 2.0 0.0 1.83 Dimensi dinding diversion tipe V LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING ∆h = 1.27 MA Rembesan Tanah Timbunan Cofferdam Downstream + 650.5 0.5 6.54 Gambar 6.4 + 654.

8 6.6000 7.0104 -58.3360 0.1894 0.4000 66.0013 0.6220 6.6061 3.604 -0.Tanah (Pt) Ptv1 Ptv2 Ptv3 Ptv4 Ptv5 ∑ 7. Gaya Arah Vertikal VI – 180 Tabel 6.6 28.320 P 3.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING » Analisis Stabilitas Perhitungan analisis stabilitas tipe V = analisis stabilitas tipe I ▪ Gaya yang Bekerja 1.133 -5.78 Rekapitulasi perhitungan gaya arah vertikal GAYA ARAH VERTIKAL Besar P Gaya t Berat Sendiri (PG) PG1 PG2 P 6.003 -12.570 M 18.8861 12.44 0.2 3.296 -2.1597 7.9676 0.8 P -2.8160 M 13.001 33.383 0.8160 -16.7952 P 21.12 1.1632 10.272 Momen t/m M 8.191 -0.1760 6.3490 3.552 1.984 12.889 0.0122 23.955 4.4671 33.2832 PG3 PG4 PG5 PG6 ∑ Hidrostatis (PHv) PHv ∑ Uplift (PU) PU1 PU2 PU3 PU4 PU5 PU6 ∑ Tek.8074 M -16.907 -1.8373 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .8227 0.

47 0.903 M Pa1 Pa2 Pa3 Pa4 Pa5 Pp1 Pp2 Pp3 Pp4 ∑ Gempa K1 K2 K3 K4 K5 K6 ∑ 0.35 0.017 -0.00 0.46 -10.0157 0.41 0.03 0.Tanah (Pa.81 -0.64 M 1. Gaya Arah Horizontal VI – 181 Tabel 6.20 -8.38 1.03 -12.7190 0.03 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING 2.5040 0.749 -11.Pp) P -10.4314 0.00 0.126 -0.53 P 0.705 -10.13 0.572 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .007 2.608 0.9512 2.44 -1.07 0.645 -8.1008 0.139 1.055 -0.3062 P M -11.2184 0.00 -0.61 -2.0420 2.385 0.79 Rekapitulasi perhitungan gaya arah horizontal GAYA ARAH HORIZONTAL Besar P Momen Gaya t t/m Hidrostatis (PHh) PHhp Phha ∑ Tek.

2-1.Momen Guling 2.80 9.816 -10.16.572 6.5 ≥ 1.1 Tulangan Dinding Diversion Channel Perhitungan tulangan dinding diversion channel dibagi dalam dua segmen yaitu: Badan diversion channel Pondasi dinding diversion channel Dinding dan pondasi diversion channel dianggap sebagai balok dengan lebar pada arah memanjang b = 100 cm LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .52 Syarat ≥ 1.3062 2.535 2.81586983 36.Geser 3.142 -11.7952 Momen tm MT -66.81 Rekapitulasi perhitungan kontrol stabilitas CEKKING 1.903 -10.Uplift Total 2.015664 -8.8 -16.8373 -12.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING ▪ Rekapitulasi Gaya VI – 182 Tabel 6.Tanah Pa & Pp Ptv Tek.525 12.320 17.792 36.643 -58.532 1.11290682 5 ▪ Kontrol Stabilitas Tabel 6.Exentrisitas X E 4.53 -0.570 -163.5 3.16 TULANGAN DINDING DIVERSION CHANNEL DAN KISDAM 6.622 33.24 ≤ ≤ ≥ 1 42 0 6.807 MG 1 2 3 4 Berat Konstruksi Gaya Gempa Gaya Hidrostatis Tek.80 Rekapitulasi gaya yang bekerja NO Jenis Gaya H Gaya t V 28.Tegangan Tanah Maks Min Hasil 4.

1 Perhitungan Tulangan Dinding Tipe I dan V Potongan Struktur dan gaya yang bekerja tiap potongan untuk keperluan penulangan dinding diversion channel type diversion ini adalah sebagai berikut : LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .16.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 183 b = 1 0 0 cm D aerah T ek an d D aerah T arik Gambar 6.1.84 Tulangan penampang balok Dimana : H = tinggi total balok P = selimut beton d = tinggi efektif (jarak dari serat tekan ke titik berat tulangan tarik) Dalam perhitungan tulangan dinding diversion direncanakan beton dan tulangannya mempunyai karakteristik sebagai berikut : fc = 20 Mpa (200 kg/cm2) fy = 400 Mpa (400 kg/cm2) 6.

8 m = 7. Gaya-Gaya yang Bekerja Hdiv channel = 8. Gaya dan Penulangan Badan Diversion (Pot.18 m 1.3 m Hma = 5.85 Gaya yang bekerja pada tiap potongan dinding tipe I & V Contoh perhitungan: » Diversion Channel Tipe I Diketahui: Hcofferdam ∆h = 7.83 m Hrembesan = 7.8 – 7.62 m Hdiv.channel = 8.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tanah Timbunan Cofferdam Pa1 VI – 184 Pp1 Hw PHp K1 Pa2 K2 Hma Rembesan II y I III I Pa3 PHa y II K P1 H Min L P2 III E F P4 P3 A B C D I J Maks G Gambar 6.18 m LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .3 m Hw = 5.18 = 0.83 m Hw rembesan = 7.I-I) a.

99) + 25.83 x 1 = 5.943 = -33.01 tm PHha = ½ x σ Hha x hw = ½ x 7.18 t/m2 Tiap 1 meter panjang PHhp = ½ x σ Hh x hw x L = ½ x 5.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 185 Tekanan Hidrostatis Horizontal (PHh) σ Hhp = hw x γw = 5.786 tm MPHtot = -33.18 x 1 = 7.83 t/m2 σ Hha = hw x γw = 7.99 x 1.83 x 1 = -16.68 tm LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .69 = 28.18 = 25.83 x 5.01+61.99 t MPHp = PHp x y = -16.776 = 8.776 x = 61.69 tm PHtot 7.18 3 = (-16.776 t MPHa = PHa x y = 25.18 x 7.

155.49 tm LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .142 t = 3.81 tm Mpa3 = Pa3 x y = 11.064 = -114.76 t = Pa1 x y 2 = 0.049 + 11.54 t = -39.064 tm Ptot MPtot = 0.76 x 7.8 2 = .81 + 27.788 t = 1.29 x 7.29 t = 11.142 + 3.54 x 7.54 -39.142 x (7.18 3 = 27.62) 3 = 1.29 + 11.155.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tekanan Tanah VI – 186 Dari hasil perhitungan stabilitas diversion channel telah di dapatkan nilai: Pa1 Pa2 Pa3 Pp1 Mpa1 = 0.62 .62 tm Mpp1 = Pp1 x y = -39.049 tm Mpa2 = Pa2 x y = 3.18 2 = 11.76 = -24.8 − × 0.

961 = .786 -24.94.5.906 x 8.8.3 3 = .49 .0.788 .77 = 142.906 t = .68 .882 x 8.8.5 x 94.788 t MKtot = 3.882 = .79 t ▪ Momen Ultimate Mu = 1.788 = 18.201 = .961 tm Momen dan Gaya Geser Ultimate MtotI-I VtotI-I = 28.76 tm Mk2 = K1 x y = 1.1.114.76 + 5.155 tm = 1421.906 + 1.2.3.201 tm Ktot = 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Gaya Gempa VI – 187 Dari hasil perhitungan stabilitas diversion channel telah di dapatkan nilai: K1 K2 = .3 2 = .882 t Mk1 = K1 x y = 0.6 kNm LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .2.77 tm = 8.

9 kN b.6 = 2 b×d 1 × 3.× 32 2 = 3284 mm = 3.284 2 = 131.79 = 28.82 kN/m Dari buku “Grafik dan Tabel Perhitungan Beton Bertulang” hal 45 dengan karakteristik : fc = 20 Mpa fy = 400 Mpa Mu = 131.6 kNm Mu 1421.185 t = 281. Penulangan Dinding dianggap sebagai balok dengan lebar dan tinggi : b = 1000 mm h = 3350 mm Direncanakan : Tulangan Utama D 32 Tebal selimut beton (P) = 50 mm 1 d = Ht-P.284 m Mu = 1421.50.5 x 18.82 kN/m b×d 2 maka dengan interpolasi didapat : LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING ▪ Geser Ultimate VI – 188 Vu = 1.× D 2 1 = 3350.

0017 ρmaks = 0.00039 Dari buku “Dasar-Dasar Perencanaan Beton Bertulang” hal.14x 162x (1000/125) = 6430.50-52 didapat: ρ min = 0.0006 − 0.144 mm2 Digunakan D 16-150 Asterpasang = 3.0163 Karena ρ < ρ min 0.0003) + 0.63 kN Vc = 0.72 = 1286.8 mm2 ▪ Tulangan Utama As min Digunakan D 32-125 As Terpasang = 3.14x 82 x (1000/150) = 1339.82 − 100) × (0.0017) = ρ min× b × d = 0.17 × 20 × 1000 × 3284 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .0017 x 1000 x 3284 = 5582.72 mm2 > As min ▪ Tulangan Bagi As min = 20 % x 6430.00039 < 0.73 mm2 > As min ▪ Tulangan Geser Vu = 297.0017 (digunakan ρ min = 0.0003 (200 − 100) VI – 189 ρ = = 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING (131.17 × f 'c × b × d = 0.

6 x 2496.86 Tekanan tanah pada pondasi type I a.1 N = 2496.02 kN (tidak diperlukan tulangan geser) 2.41 t/m2 σ min Hd = 0.7 = 1498. III-III) Dari hasil perhitungan tegangan tanah pada stabilitas diversion sebelumnya di telah didapatkan nilai: σ maks = 13.34 t/m2 = 1.41 − 0. Gaya dan Penulangan Pondasi (Pot.7 kN Ǿ Vc = 0.63 kN < 1498.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 190 = 2496704.2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .II-II IJ IL = BD BL IJ 1 = (13.02 kN Vu < φVc 297.34) 7.II-II dan Pot. Gaya dan Penulangan Pada Pot.5 m II III II K L P1 P2 III H I J G E F P4 P3 A B C D Gambar 6.

31 tm Momen Ultimate Mu = 1.41 = 0.25 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .125 t = 11.46 tm = 5 kN Penulangan Direncanakan : Tulangan Utama D 25 1 d = Ht-P.× D 2 = 150-5-1.31 = 0.34 × ) + 0.75 = 1.34 + 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 191 IJ = 1.34 × 1× 1) + ( × 1.75 t Gaya Geser Ultimate Vu = 1.41× ( × 1) 2 3 = 0.5 x 0.82 × 1× 1) 2 = 0.3 kN Momen Ultimate 1 1 MII-II = (0.5 x 0.82 t/m2 Gaya Geser Ultimate 1 DII-II = ( KL × HK × 1) + ( × IJ × IL × 1) 2 1 = (0.

42 kN/m maka tanpa interpolasi di dapat : ρ = 0.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 192 = 143.0003 Dari buku “Dasar-Dasar Perencanaan Beton Bertulang” hal.0017 x 1000 x 1437.52 x (1000/200) = 2453.75 cm 5 Mu = 2 b×d 1× 1.0017) As min = ρ min× b × d = 0.75 mm2 » Tulangan Utama Digunakan D 25-200 AsTerpasang = 3.0017 ρmaks = 0.0017 (digunakan ρ min = 0.5 = 2443.13 mm2 > As min LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .42 kN/m Dari buku “Grafik dan Tabel Perhitungan Beton Bertulang” hal 45 dengan karakteristik : fc = 20 Mpa fy = 400 Mpa Mu b×d 2 = 2.14 x 12.4375 2 = 2.0163 Karena ρ < ρ min 0.50-52 didapat : ρ min = 0.0003 < 0.

24 t/m2 Gaya Geser Ultimate 1 VIII-III = ( AC × AE × 1) + ( × CD × CG × 1) 2 1 = (8.46 kN = 0.878 kN Ǿ Vc = 0.2 CD = 5.17 = 8.878 = 655.24 × 2. Gaya dan Penulangan Pada Pot III-III CD CG = BD BL CD 2.13 = 490.73 kN (tidak diperlukan tulangan geser) b.63 mm2 Digunakan D 12-200 AsTerpasang = 3.224 N = 1092.5 = 1092878.17 × f 'c × b × d = 0.34) 7.2 mm2 > As min » Tulangan Geser Vu Vc = 18.85 × 1) 2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .85 = (13.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING » Tulangan Bagi VI – 193 As min = 20 %x 2453.6 x 1092.17 t/m2 AC = 13.85 × 1) + ( × 5.17 × 20 × 1000 × 1437.46 kN < 655.41-5.73 kN Vu < φVc 18.17 × 2.41 − 0.14x 62 x(1000/200) = 565.

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 194 = 23.606 tm = 386.85 = 46.484 × × 2.8 kN Momen Ultimate 1 2 MIII-III = (23.× D 2 = 150-5-1.1 kN Penulangan Direncanakan: Tulangan Utama D 25 d 1 = Ht-P.4375 2 = 186.366 × ( × 2.366 = 30.1 1 × 1.5 x 30.85) + 7.275 t = 462.75 cm = 1.85) 2 3 = 25.484+ 7.85 kN/m Dari buku “Grafik dan Tabel Perhitungan Beton Bertulang” hal 45 dengan karakteristik : f’c fy = 20 Mpa = 400 Mpa LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .74 = 38.4375 m Mu b×d2 = 386.5 x 25.74 tm Mu = 1.85 t Vu = 1.25 = 143.

50-52 didapat : ρ min = 0.0017 x 1000 x 1437.0163 Karena ρ < ρ min 0.14x 62 x (1000/200) = 565.125 = 490.85 kN/m maka dengan interpolasi di dapat : ρ = (186.52 x (1000/200) = 2453.75 mm2 » Tulangan Utama Digunakan D 25-200 AsTerpasang = 3.00056 Dari buku “Dasar-Dasar Perencanaan Beton Bertulang” hal.0017 ρmaks = 0.63 mm2 Digunakan D 12-200 AsTerpasang = 3.00056 < 0.5 = 2443.0003) + 0.14x12.0003 (200 − 100) = 0.0017 (di gunakan ρ min = 0.0006 − 0.2 mm2 > As min LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .85 − 100) × (0.0017) As min = ρ min× b × d = 0.125 mm2 > As min » Tulangan Bagi As min = 20 %x 2453.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Mu b×d 2 VI – 195 = 186.

III dan IV Potongan Strukture dan gaya yang bekerja tiap potongan untuk keperluan penulangan dinding diversion channel type ini adalah sebagai berikut : Hw PHh K1 II I y K2 III Pp1 I Pp2 II K P1 H Min L P2 III E F P4 P3 A B C D I J Maks G Gambar 6.8 kN Vc = 0.2 Perhitungan Tulangan Dinding Type II.1.8 kN < 655.17 × f 'c × b × d = 0.5 = 1092878.6 x 1092.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING » Tulangan Geser VI – 196 Vu = 462.17 × 20 × 1000 × 1437.224 N = 1092.16.III & IV LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .878 = 655.73 kN (tidak diperlukan tulangan geser) 6.878 kN Ǿ Vc = 0.73 kN Vu < φ Vc 462.87 Gaya yang bekerja pada tiap potongan dinding type II.

Gaya dan Penulangan Pada Badan Diversion (Pot.79 x 3.7 m = hw x γw = 6.445x 2.79 t = 1.7 m Tekanan Hidrostatis (PHh) Hw = 6.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 197 Contoh perhitungan : » Diversion Channel Type II 1. Gaya-Gaya yang Bekerja Hdiv.233 = 50.883 tm Mk2 = K1 x y = 1.594 x 2.65 = 2.7 x 6.13 tm Gaya Gempa Dari hasil perhitungan stabilitas diversion channel telah di dapatkan nilai : K1 K2 = 0.3 m Hma = 6.channel = 7.7 x 1 = 6.7 = 22.445 t MPHh = PHh x y = 22.7 t/m2 σ Hh PHh = ½ x σ Hh x hw = ½ x 6.594 t Mk1 = K1 x y = 0.23 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .I-I) a.

384 t MKtot = 2.594 = 2.68 tm 1.466 x = 8.42x1.8 3 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .42 3.8 = 14.61 t/m2 Pp2 = σp 2 x h = 1.8 2 σ PP 3 = γ × h × Kp = 2.79 + 1.8x3.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 198 = 5.466 t MPp3 = 14.8 = 2.898 x = 2.8 m σ PP 2 = 2 × c Kp = 2× 0.69 = 1.883 + 5.55 = 8.074 t/m2 Pp3 = ½ x σp3 x h = ½ x 16.69 = 16.898 t MPp2 = 2.074 x 1.433 tm Tekanan Tanah ht = 1.55 tm Ktot = 0.61 tm 1.61 x 1.

384 -17.905 tm = 709.61+8.364 = 7.05 kNm Vu = 1.29 = 47. Direncanakan : Tulangan Pokok D 32 Tebal selimut beton (P)= 50 mm LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 199 PPPtot = 2.198 t = 112 kN a.364 t MPptot = 2.465 t Mu = 1.5 x 7.466 = 17.5 x Mtot = 1.13 +8.27 = 70.27 tm Vd = PHh + Ktot-PPP = 22. Penulangan Dinding dianggap sebagai balok dengan lebar dan tinggi: b = 1000 mm h = 3250 mm.68 = 11.29 tm Momen dan Geser Ultimate Mtot = MPHh+MKtot-MPptot = 50.5 x 47.465 = 11.445+2.5 x Vd = 1.898 +14.433-11.

8 mm2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .0003 Dari buku “Dasar-Dasar Perencanaan Beton Bertulang” hal.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 200 d 1 = Ht-P.× D 2 1 = 3250.184 2 = 70 kN/m2 Dari buku “Grafik dan Tabel Perhitungan Beton Bertulang” hal 45 dengan karakteristik : f’c fy = 20 Mpa = 400 Mpa Mu = 70 kN/m b×d 2 maka tanpa interpolasi di dapat : ρ = 0.0163 Karena ρ < ρ min 0.35 kNm Mu 709.0017) As min = ρ min× b × d = 0.0017 = 0.× 32 2 = 3184 mm = 3.0017 (di gunakan ρ min = 0.0017 x 1000 x 3184 = 5412.50-52 didapat: ρ min ρmaks = 0.50.184 m Mu = 718.65 = 2 b×d 1× 3.0003 < 0.

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING
▪ Tulangan Utama

VI – 201

Digunakan D 32-125 As Terpasang = 3,14 x 162 x (1000/125) = 6430,72 mm2 > As min
▪ Tulangan Bagi

As min

= 20 %x 6430,72 = 1286,144 mm2

Digunakan D 16-150 Asterpasang = 3,14x 82 x (1000/150) = 1339,73 mm2 > As min
▪ Tulangan Geser

Vu Vc

= 122,23 kN = 0,17 ×
f 'c × b × d

= 0,17 × 20 × 1000 × 3184 = 2420677,75 N = 2420,7 kN Ǿ Vc = 0,6 x 2420,7 = 1452,4 kN Vu < φVc 122,23 kN < 1452,4 kN (Tidak diperlukan tulangan geser)
2. Gaya dan Penulangan Pada Pondasi (Pot.II-II dan Pot. III-III)

Diketahui: Hd = 1,5 m Dari hasil perhitungan tegangan tanah pada stabilitas diversion channel telah di dapat nilai:

σ maks = 6,84 t/m2
σ min = 3,08 t/m2
LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING

VI – 202

II

III

II
K L
P1 P2

III
H I J G E F
P4

P3

A B C D

Gambar 6.88 Tekanan tanah pada pondasi type II
a. Gaya dan Penulangan Pot.II-II

IJ IL = BD BL IJ 0,5 = (6,84 − 3,08) 7

IJ

= 0,27 t/m2

Gaya Geser Ultimate

1 VII-II = ( KL × HK × 1) + ( × IJ × IL × 1) 2 1 = (3,08 × 0,5,×1) + ( × 0,27 × 0,5 × 1) 2 = 1,54 + 0,0675 = 1,61 t
LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING

VI – 203

Vu

= 1,5 x 1,61 = 2,415 t = 24,15 kN

Momen Ultimate

MII-II = (1,54 ×

0,5 1 ) + 0,0675 × ( × 0,5) 2 3

= 0,396 tm Mu = 1,5 x 0,396 = 0,59 tm = 5,9 kN
Penulangan

Direncanakan : Tulangan Utama D 25 1 d = Ht-P- × D 2 = 150-5-1,25 = 143,75 cm
Mu 5,9 = b × d 2 1× 1,4375 2

= 2,86 kN/m Dari buku “Grafik dan Tabel Perhitungan Beton Bertulang” hal 45 dengan karakteristik : f’c fy = 20 Mpa = 400 Mpa

Mu = 2,86 kN/m b×d 2

maka tanpa interpolasi di dapat :

ρ

= 0,0003

LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING

VI – 204

Dari buku “Dasar-Dasar Perencanaan Beton Bertulang” hal.50-52 didapat:

ρ min

= 0,0017

ρmaks = 0,0163
Karena ρ < ρ min 0,0003 < 0,0017 (di gunakan ρ min = 0,0017) Asmin = ρ min× b × d = 0,0017 x 1000 x 1437,5 = 2443,75 mm2
» Tulangan Utama

Digunakan D 25-200 AsTerpasang = 3,14 x 12,52 x (1000/200) = 2453,13 mm2
» Tulangan Bagi

As min

= 20 % x 2453,13 = 490,63 mm2

Digunakan D 12-200 AsTerpasang = 3,14x 62 x (1000/200) = 565,2 mm2 > As min
» Tulangan Geser

Vu Vc

= 24,15 kN = 0,17 ×
f 'c × b × d

= 0,17 × 20 × 1000 × 1437,5 = 1092878,224 N = 1092,878 kN Ǿ Vc = 0,6 x 1092,878 = 655,73 kN
LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING

VI – 205

Vu < φVc 24,15 kN < 655,73 kN (tidak diperlukan tulangan geser)
b. Gaya dan Penulangan Pot III-III

CD CG = BD BL CD 3,25 = (6,84 − 3,08) 7

CD = 1,746 t/m2 AC = 6,84-1,746 = 5,094 t/m2
Gaya Geser Ultimate

1 VIII-III = ( AC × AE × 1) + ( × CD × CG × 1) 2 1 = (5,094 × 3,25 × 1) + ( × 1,746 × 3,25 × 1) 2 = 16,56 + 2,84 = 19,4 t Vu = 1,5 x 19,4 = 29,09 t = 290,9 kN
▪ Momen Ultimate

MIII-III = (16,56 ×

3,25 2 ) + 2,84 × ( × 3,25) 2 3

= 33,06 tm Mu = 1,5 x 33,06 = 49,6 tm = 490,6 kNm

LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH

BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING
Penulangan

VI – 206

Direncanakan: Tulangan Utama D 25 d 1 = Ht-P- × D 2 = 10-5-1,25 = 143,75 cm = 1,4375 m
Mu b×d2

=

490,6 1 × 1,43752

= 237,42 kN/m Dari buku “Grafik dan Tabel Perhitungan Beton Bertulang” hal 45 dengan karakteristik : f’c fy = 20 Mpa = 400 Mpa = 237,42 kN/m

Mu b×d 2

maka dengan interpolasi di dapat :

ρ

=

(237,42 − 200) × (0,0010 − 0,0006) + 0,0006 (300 − 200)

ρ

= 0,00095

Dari buku “Dasar-Dasar Perencanaan Beton Bertulang” hal.50-52 didapat :

ρ min = 0,0017

ρmaks = 0,0163
Karena ρ < ρ min 0,00095 < 0,0017 (di gunakan ρ min = 0,0017) As min = ρ min× b × d
LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH

14x12.73 kN (tidak diperlukan tulangan geser) Dengan perhitungan yang sama maka penulangan untuk semua type dinding diversion disajikan dalam tabel berikut ini : LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .75 mm2 » Tulangan Utama Digunakan D 25-200 AsTerpasang = 3.9 kN < 655.6 x 1092.63 mm2 Digunakan D 12-200 AsTerpasang = 3.14x 62 x (1000/200) = 565.5 = 2443.2 mm2 > As min » Tulangan Geser Vu Vc = 290.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 207 = 0.878 = 655.73 kN Vu < φVc 290.13 mm2 > As min » Tulangan Bagi As min = 20 %x 2453.5 = 1092878.52 x (1000/200) = 2453.878 kN Ǿ Vc = 0.17 × 20 × 1000 × 1437.224 N = 1092.9 kN = 0.0017 x 1000 x 1437.17 × f 'c × b × d = 0.13 = 490.

Hal ini mengingat bentuk dan jenis gaya-gaya yang bekerja pada tiap potongan kisdam sama dengan bentuk dan gaya-gaya yang bekerja pada dinding diversion channel tipe II. Konstruksi Tul Utama mm VI – 208 Tul Bagi mm I / Sta.6-00+091.82 Rekapitulasi tulangan dinding diversion channel TIPE DIVERSION / STA.: LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .72-Sta.72 V / Sta.16.00+108.2 Penulangan Kisdam Penulangan kisdam menggunakan metode/cara perhitungan yang dama dengan perhitungan tulangan dinding diversion channel tipe II.16 6.00+20.5-00+027 III / Sta.00+091.00+027-00+072.5 Dinding Diversion Pondasi Dinding Diversion Pondasi Dinding Diversion Pondasi Dinding Diversion Pondasi Dinding Diversion Pondasi D 32-125 D 25-200 D 32-125 D 25-200 D 32-150 D 25-200 D 32-150 D 25-300 D 32-150 D 25-300 D 16-150 D 12-200 D 16-150 D 12-200 D 16-150 D 12-200 D 16-150 D 12-300 D 16-150 D 12-300 II / Sta.00+072.00+00-00+020.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING Tabel 6.6 IV/ Sta. Diketahui: Dimensi kisdam dapat dilihat pada gambar berikut.

32 + 650. Gaya Yang Bekerja Pada Badan (Pot.89 Dimensi kisdam A.90 Gaya yang bekerja pada badan LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .00 + 650.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 209 + 658.00 Gambar 6. I-I) PHh K1 II I y K2 III I III II Gambar 6.

II-II dan III-III) VI – 210 II III II K P1 H P2 III E F P4 P3 A B C D L I J G Gambar 6. Gaya Yang Bekerja Pada Pondasi (Pot. direncanakan tanah dasar dan talud dilindungi dengan pasangan beton.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING B. didapt tulangan untuk kisdam.83 Tulangan kisdam Kisdam Konstruksi Tul Utama mm Tul Bagi mm Upstream dan Downstream Badan kisdam Pondasi kisdam D 32-100 D 32-150 D 16-100 Ø 12-100 6. Tabel 6.17 KONSTRUKSI LANTAI DAN DINDING SAYAP DIVERSION Konstruksi lantai dan dinding sayap diperlukan untuk melindungi tanah dasar dan talud/tebing dari gerusan akibat kecepatan aliran air yang melalui diversion channel. Hal ini mengingat debit yang LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .91 Gaya yang bekerja pada pondasi Dengan menggunakan metode/tahap perhitungan tulangan yang sama dengan perhitungan tulangan dinding diversion channel tipe II. Dalam perencanaan sebelumnya.

hal. Tomigo.126) Di mana: T = tractive force/gaya gesek aliran yang diizinkan (kg/m2) 2 T dasar ⋅sal = 5. Suyono dan ir.1 Kontrol Tanah Dasar dan Talud Tanpa Konstruksi Pelindung Perhitungan disini bertujuan untuk mengetahui apakah tanah dasar dan talud di area diversion channel masih tetap aman dari bahaya gerusan walaupun tanpa konstruksi pelindung (konstruksi lantai dan sayap). K onstruksi Lantai & Sayap Diversion 1 m Gambar 6. » Kontrol Tractive Force dan Kecepatan Aliran a.92 Konstruksi rencana lantai dan sayap diversion channel 6.Kontrol Tractive Force (Gaya Gesek) Aliran Rumus: T = c×γ w × R× I < T (Perbaikan dan Pengaturan Sungai Sungai ir.17.10 kg/m2 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 211 melalui diversion channel cukup besar sehingga kecepatan alirannya dapat menggerus tanah yang dilewatinya. Jakarta 1985.39 kg/m . T talud = 4. M.

Kontrol Kecepatan Aliran Rumus: V = k × R 2 / 3 × I 1/ 2 < V (Perbaikan dan Pengaturan Sungai Sungai ir. Suyono dan ir.50 m/dtk LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .25 k2 = koreksi kecepatan jika trace saluran relatif lurus = 1 Vm = kecepatan aliran rata-rata yang diizinkan pada material dasar saluran V sandtone Ø 15-100 mm = 2. M.76 γw = berat jenis air (1000 kg/m2) A (m) P R = jari-jari hidrolis = A = luas penampang hidrolis (m2) P = keliling penampang hidrolis (m) I = kemiringan dasar saluran b. Tomigo.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 212 C = koefisien gesek pada dasar saluran = 1 koefisien gesek pada talud/tebing = 0. Jakarta 1985. hal.126) Di mana: k = koefisien kekasaran strickler k dasar saluran batuan sandstone 40-50 k material beton = 60-70 R = jari-jari hidrolis = A (m) P A = luas penampang hidrolis (m2) P = keliling penampang hidrolis (m) I = kemiringan dasar saluran V = kecepatan aliran yang diizinkan (m/dtk) = k1 x k2 x Vm k1 = koreksi kecepatan jika kedalaman air > 3m = 1.

39 kg / m 2 .91× 0..50 = 3. Kontrol Kecepatan Aliran V = k × R 2 / 3 × I 1/ 2 < V V = k1 x k2 x Vm V Sandstone = 1.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 213 Perhitungan: » Kontrol tanah dasar dan talud di Sta. (material dasar saluran dan talud tergerus) LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH ...02 ≤ 5. 00+020.00+072..032 kg/m2 ≥ 4.89 m/dtk > 3.4): B =7m m = 0..39 kg / m 2 = 38.76 ×1000 ×1.8 m A = 28.912 / 3 × 0. (tanah talud/tebing tergerus) b....021 / 2 < 3...91× 0.25 x 1.02 ≤ 4. T Talud (tanah dasar tergerus) = c × γ w × R × I ≤ T Talud = 0...2 m I =2% Hn = 3..10 kg / m 2 ....2 kg/m2 ≥ 5.10 kg / m 2 = 29.00 x 2......125 m/dtk V = k × R 2 / 3 × I 1/ 2 < V = 50 × 1.044 m2 P = 14.91 m a.6 Diketahui (dari tabel 6..125 m / dtk = 10.125 m / dtk .5-Sta.. Kontrol Tractive Force Aliran Tdasar⋅sal = c × γ w × R × I ≤ T dasar ⋅sal = 1× 1000 × 1.68 m R = 1...

16) Diketahui (dari tabel 6..39 kg / m 2 .0694 ≤ 5.458 × 0. (tanah dasar tergerus) T Talud = c × γ w × R × I ≤ T Talud = 0.06941 / 2 < 3...0694 ≤ 4.125 m / dtk LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH ..2 m A = 18. (tanah talud/tebing tergerus) b.94 % Hn = 2.BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 214 » Kontrol tanah dasar dan talud di Sta..6-Sta..004 m2 P = 12. Kontrol Tractive Force Aliran Tdasar⋅sal = c × γ w × R × I ≤ T dasar⋅sal = 1× 1000 ×1.39 kg / m 2 = 101.90 kg/m2 ≥ 4.35 m R = 1.458 × 0..18 kg/m2 ≥ 5. Kontrol Kecepatan Aliran Kecepatan izin V = k1 x k2 x Vm V Sandstone = 1.10 kg / m 2 .25 x 1.10 kg / m 2 = 76..00+108.76 × 1000 × 1. 00+072..458 m a.125 m/dtk Kecepatan terjadi V = k × R 2 / 3 × I 1/ 2 < V = 50 × 1...50 = 3.458 2 / 3 × 0.00 x 2..5): B =7m m =1m I = 6.

..2 Tulangan Lantai dan Sayap Fungsi dari konstruksi ini hanya untuk memperkuat dasar dan talud diversion channel dari bahaya erosi....BAB VI PERENCANAAN KONSTRUKSI SISTEM DEWATERING VI – 215 = 16..94 m/dtk > 3. 6......2 m Penulangan Tulangan Utama Ø 12-250 mm Tulangan Bagi Ø 8-250 LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM DEWATERING PADA RENCANA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BENDUNG GERAK TULIS BANJARNEGARA – JAWA TENGAH .125 m / dtk . maka untuk mempermudah aspek pekerjaan di lapangan maka disepanjang saluran diversion channel: Direncanakan : ▪ ▪ Tebal beton pelindung = min 0. dasar dan talud akan tergerus maka saluran diversion channel perlu dilindungi dengan pasangan beton (sesuai dengan perencanaan awal). (material dasar saluran dan talud tergerus) Dari hasil perhitungan diatas..17.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->