Anda di halaman 1dari 38

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Asma adalah kelainan saluran pernapasan yang sering terjadi pada anak.

Asma merupakan penyakit dengan karakteristik meningkatnya reaksi trakea dan bronkus oleh berbagai macam pencetus disertai dengan timbulnya penyempitan luas saluran nafas bagian bawah yang dapat berubah-ubah derajatnya secara spontan atau dengan pengobatan. Kira-kira 2-20% populasi anak dilaporkan pernah menderita asma. Sepertiga kasus-kasusnya, pada semua kelompok umur, permulaannya terjadi sebelum umur 10 tahun, seperempat kasus pada masa kanak-kanak terjadi dibawah umur 1 tahun. 2-5% anak sekolah adalah penderita penurunan asma. (sekitar Angka 1%) kejadiannya dengan memperlihatkan sejalan

meningkatnya umur, sampai tercapai umur 16 tahun. Penderita laki-laki 2 kali lebih banyak dibandingkan penderita wanita. Pada golongan usia anak merupakan usia yang rentan karena pada usia ini terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang paling optimal dalam siklus kehidupan. Sehingga diharapkan dapat dilakukan pencegahan atau deteksi dini akan kesakitan pada usia ini. sebagai petugas kesehatan bidan diharapkan mampu melakukan pencegahan, deteksi dini, pemberian asuhan pada anak terkait dengan penyakit asma. 1.2 Tujuan Makalah ini disusun untuk mengetahui: 1. Pengertian penyakit asma 2. Etiologi penyakit asma 3. Patogenesis terjadinya asma 4. Gambaran klinis penyakit asma 5. Macam-macam (varian) asma 6. Pemeriksaan pada penyakit asma

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 1

7. Diagnosis penyakit asma 8. Penanggulangan terjadinya serangan asma 9. Pencegahan terjadinya serangan asma 10. Prognosis penyakit asma 11. Konsep asuhan kebidanan pada anak dengan asma

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 2

BAB 2 TINJAUAN TEORI 2.1 Konsep Dasar Penyakit Asma Asma adalah penyakit paru dengan ciri khas yakni, saluran napas sangat mudah bereaksi terhadap berbagai rangsangan atau pencetus dengan manifestasi berupa serangan asma (Ngastiyah, 2005). Serangan asma dapar berupa sesak nafas ekspiratori yang paroksismal, berulang-ulang dengan mengi (wheezing) dan batuk yang disebabkan oleh konstriksi atau spasme otot bronkus, inflamasi 2.1.2 Etiologi Penyebab asma masih belum jelas. Diduga yang memegang peranan utama ialah reaksi berlebihan dari trakea dan bronkkus (hipereaktivitas bronkus). Hipereaktivitas bronkus itu belum diketahui jelas penyebabnya, diduga karena adanya hambatan sebagian sistem adrenergik, kurangnya enzim adenilsiklase dan meningginya tonus sistem parasimpatik. Keadaan demikian menyebabkan mudah terjadinya kelebihan tonus parasimpatik bila ada rangsangan sehingga terjadi spasme bronkus. Banyak faktor yang turut menentukan derajat reaktivitas atau iritabilitas tersebut. Faktor genetik, biokimiawi, saraf otonom, imunologis, infeksi, endokrin, psikologis, dan lingkungan lainnya, dapat turut serta dalam proses terjadinya manifestasi asma. Karena itu asma disebut penyakit yang multifaktorial. Asma (hiperreaktivitas bronkus) agaknya diturunkan secara poligenik. Alergi (atopi) salah satu faktor pencetus asma juga diturunkan secara genetik tapi belum pasti bagaimana caranya. mukosa bronkus dan produksi lendir kental yang berlebihan (Ilmu Kesehatan Anak FK UI, 2005).

2.1.1 Pengertian

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 3

2.1.3 Patogenesis Seperti telah dikemukakan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya asma, sehingga belum ada patogenesis yang dapat menerangkan semua penemuan pada penyelidikan asma. Salah satu sel yang memegang peranan penting pada patogenesis asma ialah sel mast. Sel mast dapat terangsang oleh berbagai pencetus misalnya alergen, infeksi, exercise, dan lain-lain. Sel ini akan mengalami degranulasi dan mengeluarkan bermacammacam mediator misalnya histamin, slow reacting substance of anaphylaxis (SRS-A) yang dikenal sebagai lekotrin, eoxinophyl chemotatic of anaphylaxis (ECF-A), neutrophyl chemotatic factor of anaphylaxis sidase (NCF-A), platelet activating factor (PAF), bradikinin, enzim-enzim dan peroksidase. Selain sel mast, sel basofil dan beberapa sel lain dapat juga mengeluarkan mediator. Bila alergen sebagai pencetus maka alergen yang masuk ke dalam tubuh merangsaang sel plasma atau sel pembentuk antibodi lainnya untuk menghasilkan antibodi reagenik, yang disebut juga imunoglobulin E (IgE). Selanjutnya IgE akan beredar dan menempel pada reseptor yang sesuai pada dinding sel mast. Sel mast yang demikian disebut sebagai sel mast yang tersensitisasi. Apabila alergen yang serupa masuk ke dalam tubuh, alergen tersebut akan menempel pada sel mast yang tersensitisasi dan kemudian akan terjadi degradasi dinding dan degranulasi sel mast. Mediator dapat bereaksi langsung dengan resptor di mukosa bronkus sehingga menurunkan siklik AMP kemudian terjadi bronkokonstriksi. Mediator dapt juga menyebabkan bronkokonstriksi dengan mengiritasi reseptor iritant. Major Basic Protein (MBP) enzim proteolitik dan peroksidase akan merusak penghubung antara sel epitel mukosa dan dengan demikian alergen dapat lebih masuk sampai sel mast submukosa.

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 4

Sel mast submukosa mengeluarkan mediator sehingga menambah jumlah mediator yang berada di lingkungan itu. Permeabilitas epitel dapat juga meningkat karena infeksi. Asap rokok dengan peningkatan aktivitas iritan. Mediator dapat pula meninggikan permeabilitas dinding kapiler sehingga IgE dan lekosit masuk ke dalam jaringan ikat bronkus. Dapat juga terjadi reaksi tipe III pada lekosit (reaksi kompleks antigen antibodi) kemudian terjadi kerusakan lekosit, lisosom keluar, kerusakan lekosit, lisosom keluar, kerusakan jaringan setempat dan pengeluaran prostaglandin serta mediator lainnya. Prostaglandin F2 (PGF2) menurunkan siklik AMP dan terjadi bronkokonstriksi. Lawan dari PGF2 adalah PGE1 yang meninggikan Lekotrin, siklik AMP dan PAF, menyebabkan bronkodilatasi. prostaglandin,

tromboksan, adalah hasil proses dari asam arachidonide. Ujung saraf vagus merupakan resptor batuk dan atau reseptor taktil (iritan) yang dapat terangsang oleh mediator, peradangan setempat, batuk dan pencetus bukan alergen lainnya sehingga terjadi refleks parasimpatik, kemudian bronkokonstriksi. Bila tingkat hiperaktivitas bronkus tinggi maka diperlukan jumlah pencetus sedikit, sebaliknya bila tingkat hipereaktivitas rendah, diperlukan jumlah pencetus yang banyak untuk menimbulkan serangan asma (Cockcroft dalam Ilmu Kesehatan Anak FK UI, 2005). Jadi pada anak banyak faktor yang mempengaruhi timbulnya serangan asma, atau dengan kaat lain asma pada anak merupakan penyakit yang multifaktorial. Fase-fase Terjadinya Obstruksi Bronkus Pada serangan asma terjadi obstruksi bronkus. Obstruksi bronkus dapat mulai yang ringan dan sebentar sampai yang berat dan lama serta mulai yang intermitten sampai yang terus-menerus. Terjadinya obstruksi bronkus dapt dimulai dari aktivitas biologik pada mediator sel mast dan dapat dibagi dalam 3 fase utama: 1. Fase Cepat dan Spasmogenik

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 5

Jika ada pencetus terjadilah peningkatan tahanan saluran nafas yang cepat dalam 10-15 menit. Reaksi tersebut dapat hilang segera baik secara kemotaktik saluran antagonis spontan netrofil nafas. maupun sejalan Fase H1 dengan dengan ini H2 bronkodilator seperti simpatomimetik (beta agonis). Terdapat peninggian faktor meningkatnya secara tahanan atau cepat dan

kemungkinan besar melalui kerja histamin terhadap otot polos langsung histamin sebelumnya. Keadaan ini tidak dipengaruhi oleh pemberian kortikosteroid beberapa saat sebelumnya. Tetapi pemberian kortikosteroid untuk beberapa hari sebelumnya dapat mencegah dapat mencegah reaksi ini. 2. Fase Lambat dan Lama Rangsangan bronkus oleh alergen spesifik menyebabkan peninggian tahanan saluran nafas yang menghebat meksimum setelah 6-8 jam. Petogenesis reaksi yang tergantung pada IgE, biasanya berhubungan dengan pengumpulan netrofil 4-8 jam setelah rangsangan. Reaksi lambat mungkin juga mempunyai peranan pada reaksi lambat karena mediator ini menyebabkan kontraksi otot polos bronkus yang lama dan edema submukosa. Reaksi lambat dapat dihambat oleh pemberian kromoglikat, kortikosteroid dan ketotifen sebelumnya. 3. Fase Inflamasi sub-akut atau kronik Asma yang berlanjut yang tidak diobati atau kurang terkontrol berhubungan dengan inflamasi di dalam dan di sekitar bronkus. Pada otopsi ditemukan infiltrasi bronkus oleh eosinofil dan sel monokuler. Sering ditemukan sumbatan bronkus oleh mukus yang lengket dan kental. Infiltrasi eosinofil dan sel-sel monokuler terjadi akibat faktor kemotaktik dari sel mast seperti ECF-A. Akhir-akhir ini ditemukan mediator PAF yang dihasilkan oleh sel mast, basofil dan makrofag yang dapat menyebabkan

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 6

hipertrofi otot polos dan kerusakan mukosa bronkus. Kedua kelainan bronkus ini juga sering didapatkan otopsi anak yang meninggal karena yang asma. lebih PAF kuat. juga menyebabkan biasanya bronkokonstriksi Kortikosteroid

memberikan hasil yang baik. Diduga ketotifen dapat juga mencegah fse ketiga ini. Sumbatan bronkus oleh mukus ini bahkan dapat terlihat sampai alveoli. Mukus selain mengandung sel eosinofil juga mungkin mengandung sel-sel lainnya, kristal Charcot-Leyden dan spiral Curshmann. Eosinofil di dinding bronkus, dahak dan darah merupakan tanda yang penting. 2.1.4 Gambaran Klinis Dengan mengetahui gambaran klinis asma pada anak, maka dapat dilihat luas permasalahan dan seberapa jauh perlu dikerjakan upaya untuk mencegah serangan asma. Berbagai pembagian asma pada anak telah banyak dikemukakan. Gambaran klinis sesuai dengan pembagian asma menurut Phelan dkk dalam Ilmu Kesehatan Anak FK UI, adalah sebagai berikut: 1. Asma Episodik yang Jarang Biasanya terdapat pada anak umur 3-6 tahun. Serangan umumnya dicetuskan oleh infeksi virus saluran nafas bagian atas. Banyaknya serangan 3-4 kali dalam satu tahun. Lamanya serangan paling lama beberapa hari saja dan jarang merupakan serangan yang berat. Gejala-gejala yang timbul lebih menonjol pada malam hari. Mengi (wheezing) dapat berlangsung sekitar 3-4 hari. Sedangkan batuk-batuknya dapat berlangsung 10-14 hari. Manifestasi alergi lainnya misalnya eksim jarang didapatkan pada golongan ini. tumbuh kembang anak biasanya baik. Diluar serangan tidak ditemukan kelainan. Waktu remisi berminggu-

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 7

minggu sampai berbulan-bulan. Golongan ini merupakan 7075% dari populasi asma anak. 2. Asma Episodik Sering Pada golongan ini serangan pertama terjadi pada umur

sebelum 3 tahun. Pada permulaan, serangan berhubungan dengan infeksi saluran nafas akut. Pada umur 5-6 tahun dapat terjadi serangan tanpa infeksi yang jelas. Biasanya orang tua menghubungkan dengan perubahan udara, adanya alergen, aktivitas fisik, dan stres. Banyak kasus yang tidak jelas pencetusnya. Banyak serangan 3-4 kali dalam satu tahun dan tiap kali serangan beberapa hari sampai beberapa minggu. Frekuensi serangan paling tinggi pada umur 8-13 tahun. Pada golongan lanjut kadang-kadang sukar dibedakan dengan golongan asma kronik atau persisten. Umumnya gejala paling jelek terjadi pada malam hari dengan batuk dan mengi yang dapat mengganggu tidur. Pemeriksaan fisik di luar serangan tergantung pada frekuensi serangan. Bila waktu antara serangan lebih 1-2 minggu, biasanya tidak ditemukan kelainan fisik. Hay fever dapat ditemukan pada golongan ini. Eksim dapat ditemukan, tetapi lebih jarang bila dibandingkan dengan golongan asma kronik atau persisten. Golongan ini merupakan 28% dari populasi asma anak, dan pada golongan ini jarang ditemukan gangguan pertumbuhan. 3. Asma Kronik atau Persisten Pada 25% anak golongan ini serangan pertama terjadi sebelum umur 6 bulan, 75% sebelum umur 3 tahun. Lima puluh persen anak terdapat mengi yang lama 2 tahun pertama dan pada 50% sisanya serangannya episodik. Pada umur 5 6 tahun akan lebih jelas terjadinya obtruksi saluran nafas yang persisten dan hampir selalu terdapat mengi tiap hari. Pada malam hari sering terganggu oleh batuk dan mengi. Aktivitas

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 8

fisik sering menyebabkan mengi. Dari waktu ke waktu terjadi serangan yang berat dan sering memerlukan perawatan rumah sakit. Terdapat juga golongan yang jarang mengalamai serangan berat, hanya sesak sedikit dan mengi hampir sepanjang waktu. Setelah mendapat penanganan yang tepat biasanya baru disadari mengenai bahwa asma ada pada perbedaan anak itu dibandingkan serta sebelum mendapatkan penanganan. Anak dan orang tua baru menyadari permasalahannya. Obstruksi jalan nafas mencapai puncaknya pada umur 8 14 tahun, setelah biasanya terjadi perubahan. Pada umur dewasa muda 50% dari golongan ini tetap meenderita asma persisten atau sering. Jarang yang beatul betul bebas mengi pada umur dewasa muda. Pada pemeriksaan fisik jarang yang normal. Dapat terjadi perubahan bentuk toraks seperti dada burung (pigeon chest), barrel chest dan terdapat sulkus Harrison. Pada golongan ini dapat terjadi gangguan pertumbuhan yaitu bertubuh kecil. Kemampuan aktivitas fisiknya berkurang, sering tidak dapat melakukan olah raga dan kegiatan biasa lainnya. Demikian pula penderita sering tidak masuk sekolah sehingga mengganggu prestasi belajarnya. Sebagian kecil ada juga yang mengalami gangguan psikosial. 2.1.5 Macam-macam (varian) Asma Disamping tiga golongan besar tersebut diatas terdapat bentuk asma yang tidak dapat begitu saja dimasukkan kedalamnya. 1. Asma episodik berat dan berulang Dapat terjadi pada smua umur, tetapi biasanya pada anak kecil dan umur sebelum sekolah. Serangan biasanya berat dan sering memerlukan perawatan rumah sakit. Biasanya berhubungan dengan infeksi virus saluran nafas. Di luar serangan biasanya normal dan tanda tanda alergi tidak

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 9

menonjol. Serangan biasanya hilang pada umur 5 6 tahun. Tidak tedapat obstruksi saluran nafas yang persisten. 2. Asma persisten pada bayi Mengi yang persisten dengan thakipnu untuk beberapa hari atau beberapa minggu. Dapat terjadi pada beberapa anak umur 3 12 bulan. Mengi biasanya terdengar jelas kalau anak sedang aktif dan tidak tedengar kalau anak sefang tidur. Keadaan umum anak biasanya tetap baik dan tumbuh kembangnya juga baik. Beberapa anaka bahkan menjadi gemuk sehingga ada istilah fat happy whezzer. Gambaran rntgen paru biasanya normal. Keadaan mengi yang persisten ini kemungkinan besar berhubungan dengan kecilnya saluran nafas pada golongan umur ini. Gejala obstruksi saluran nafas pada golongan ini lebih banyak disebabkan oleh edema mukosa dan hipersekresi daripada spasme ototnya. 3. Asma hipersekresi Biasanya terdapat pada anak kecil dan permulaan umur sekolah. Gambaran utama serangan terdaptnya batuk, suara nafas bederak (krek krek, krok - krok) dan mengi. Pada pemeriksaan fisik didapatkan ronki basah kasar dan ronki kering. Jenis ini sering keliru diobati sebagai bronkitis infeksi, karena kadang kadang menginya tidak jelas. 4. Asma karena beban fisik (excercise inducted asthma) Serangan asma setelah melakukan kegiatan fisik sering dijumpai pada asma episodik sering dan pada asma kronik persisten. bertambah. berhasil. Disamping Biasanya itu terdapat anak golongan besar dan asma akil yang baliq. manifestasi klinisnya baru timbul setelah ada beban fisik yang pada Penganggulangan asma jenis ini termasuk yang biasanya

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 10

5.

Asma dengan alergan atau sensitivitas spesifik. Pada kebanyakan anak asma biasanya banyak faktor yang dapat mencetuskan serangan asma, tetapi pada anak yanga serangan asmanya timbul segera setelah tekena alergen misalnya bulu binatang, minum aspirin, zat warna tartrazine atau makan makanan atau minuman yang mengandung zat pengawet bisulfit. Pada golongan ini jelas hasilnya. penghindaran biasanya

6.

Bentuk malam Bentuk malam banyak terdapat pada semua golongan asma. Bentuk terjadi karena inflamasi mukosa, edema dan produksi mukus yang banyak. Bila gejala menginya tak jelas maka tak jarang salah diagnosis. Yaitu pada golongan asma anak yanf berumur 2 6 tahun dengan gejala utama serangan baatuk malam yang keras dan kering. Batuk biasanya terjadi pada jam 1 4 pagi, dan sering mengganggu tidur sianak dan keluarganya. Pada golongan ini sering didapatkan tanda adanya alergi pada anak dan keluarganya.

7.

Asma yang memburuk paada pagi hari (early morning dipping) Disamping umumnya asma lebih sering timbul gejalanya pada malam hari, ada juga golongan yang gejalanya paling buruk jam 1 4 pagi. Keadaan demikian dapat terjadi secara teratur atau intermiten. Keadaan ini diduga berhubungan dengan irama diurnal kaliber saluran nafas yang pada golongan ini sangat menonjol.

Gejala klinis Serangan akut yang spesifik jarang dilihat sebelum anak berumur 2 tahun. Secara klinis asma dibagi dalam 3 stadium, yaitu : Stadium I

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 11

Waktu terjadinya ederma dinding bronkus, batuk paroksismal karena iritasi dan batuk kering. Sputum yang kental dan mengumpal merupakan benda asing yang merangsang batuk. Stadium II Sekresi bronkus bertambah banyak dan batuk dengan dahak yang jernih dan berbusa. Pada stadium ini anak akan mulai merasa sesak nafas berusaha bernafas lebih dalam. Eksperium memanjang dan terdengar bunyi mengi. Tampak otot nafas tambahan turut bekerja. Terdapat retraksi suprasternal, epigastrium dan mungkin juga sela iga. Anak lebih senang duduk dan membungkuk, tangan menekan pada tepi tempat tidur atau kursi. Anak tampak gelisah, pucat dan sianosis sekitar mulut. Thoraks membungkuk ke depan dan lebih bulat serta bergerak lambat pada pernapasan. Pada anak yang lebih kecil, cenderung terjadi pernapasan abdominal, retraski suprasternal, dan interkonstae. Stadium III Obstruksi atau spasme bronkus lebih berat, aliran udara sangat sedikit sehingga suara napas hampir tak terdengar. Stadium ini sangat berbahaya karena sering disangka ada perbaikan. Juga batuk seperti ditekan. Pernapasan dangkal, tidak teratur dan frekuensi napas yang mendadak tinggi. 2.1.6 Pemeriksaan 2.1.6.1 Pemeriksaan Fisik Hasil yang didapat tergantung stadium serangan serta lamanya serangan serta jenis asmanya. Pada asma yang ringan dan sedang tidak ditemukan kalainan fisik di luar serangan. Pada inspeksi telihat pernafasan cepat dan sukar, disertai batuk batuk paroksismal, kadang kadang terdapat suara 'wheezing' (mengi), eksperium memanjang, pada inspirasi terlihat retraksi daerah supraklavikular, suprasternal, epigastrium dan sela iga. Pada asma kronik terlihat bentuk toraks emfisematus, bongkok ke depan, sela iga melebar, diameter anteroposterior toraks

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 12

bertambah. Pada perkusi terdengar hipersonor seluruh toraks, terutama bagian bawah posterior. Daerah pekak jantung dan hati mengecil. Pada auskultasi mula mula bayi nafas kasar / mengeras, tapi pada stadium lanjut suara nafas melemah atau hampir tidak terdengar karena aliran udara sangat lemah. Dalam keadaan normal fase ekspirasi 1/3 - 1/2 dari fase inspirasi, pada waktu serangan fase ekspirasi memanjang. Terdengar juga ronki kering dan ronki basah serta suara lendir bila banyak sekresi bronkus. Tinggi dan berat badan perlu diperhatikan dan bila mungkin juga hubungannya dengan tinggi badan kedua orang tua. Asma sendiri merupakan penyakit yang dapat menghambat perkembangan anak. Gangguan pertumbuhan biasanya terdapat pada asma yang sangat berat. Anak perlu diukur tinggi dan berat badannya pada tiap kali kunjungan, karena perbaikan akibat pengobatan sering dapat dinilai dari perbaikan pertumbuhannya. Bentuk toraks perlu diperhatikan untuk melihat adanya dada burung atau sulkus Harrison sebagai tanda obstruksi jalan nafas yang lama. Tanda ini hanya ditemukan pada asma yang berat dan menahun dengan pengeloalaan asma yang tidak adekuat sebelumnya. Tanda tanda yang berhungan dengan tingkat obstruksi jalan nafas pada waktu pemeriksaan umumnya tidak atau kurang dapat dipercaya dan sangat tergantung pada kemammpuan pengamat. Hal yang lebih baik ialah mencari tanda tanda yang berhubungan dengan hiperinflasi dada, seperti misalnya hiperresonansi, retraksi subkostal, tarikan trakea dan tegangannya otot otot skalenus. Bentuk kuku jari seperti tabuh genderang jarang sekali didapat, bila ditemukan dapat menunjukkan kemungkinan adanya penyakit lain. Tiap anak perlu pemeriksaan fisik lengkap pada kunjungan pertama. Penting diperhatikan keadaan kulit, saluran nafas bagian atas dan telinga.

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 13

2.1.6.2

Pemeriksaan lanjutan

Pemerikasaan lanjutan yang perlu dilakukan : 1. Uji faal paru Pemerikasaan ini sangat berguna untuk menilai asma meliputi diagnosis dan pengelolaannya. Uji faal paru dikerjakan untuk menentukan derajat obstruksi, menilai hasil provokasi bronkus, menilai hasil pengobatan dan mengikuti perjalanan penyakit. Pemeriksaan faal paru yang penting pada asma ialah PEFR, FEV1, PVC, FEV1/ FVC. Uji faal paru tidak selalu mudah dilaksanakan, terutama pada anak di bawah umur 5 6 tahun. Sebaiknya tiap anak dengan asma diuji faal parunya pada tiap kunjungan. 'Peak flow meter' adalah yang pali sederhana, sedangkan dengan spirometer memberikan data lebih lengkap. Volume kapasitas paksa (FVC), aliran puncak ekspirasi (PEFR) dan rasio FEV1/FVC berkurang > 15% dari nilai normalnya. Perpanjangan waktu ekspirasi paksa biasanya ditemukan, walaupun PEFR dan FEV1/FVC hanya berkurang sedikit. Inflasi berlebihan yang biasanya telihat secara klinis akan digambarkan sebagai meningginya isi total paru (TLC), isi kapasitas residu fungsional dan isi residu. Diluar serangan, faal paru tersebut umumnya akan kembali normal kecuali pada asma yang berat (Lihat gambar 3a,3b ) Uji provokasi bronkus dilakukan bila siagnosis masuk diragukan. Tujuannya untuk menunjukkan adanya hiperreaktivitas bronkus. Uji provokasi bronkus dapat dilakukan dengan histamin, methacholin, beban lari, udara dingin, uap air, dan alergen. Yang sering dilakukan adalah cara 1,2 dan 3. Hiperreaktivitas positif bila PEFR, FEV1 turun >15% dari nilai sebelum uj provokasi dan setelah diberi bronkodilator nilai normal akan tercapai lagi. Bila PEFR dan

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 14

FEV1 sudah rendah dan setelah diberi bronkodilator naik >15% ini berarti hiperreaktivitas positif dan uji provokasi tidak perlu. 2. Foto rontgen toraks Pemeriksaan ini perlu dilakukan dan pada foto akan tampak corakan paru yang meningkat. Hiperinflasi terdapat pada serangan akut dan pada asma kronik. Atelektasis juga sering ditemukan. Setiap anak penderita asma yang berkunjung pertama kalinya perlu dibuat foto rntgen parunya. Foto ini dibuat terutama untuk menyingkirkan kemungkinan ada penyakit lain. Foto perlu diulang bila ada indikasi misalnya dugaan adanya pneumonia atau pneumotoraks. Rntgen foto sinus paranasalis perlu juga bila asmanya sulit terkontrol. 3. Pemerikasaan darah, eosinofil dan uji tuberkulin Pemeriksaan eosinofil dalam darah, sekret hidung dan dahak dapat menunjang diagnosis asma. Eosinofil dapat ditemukan pada darah tepi, sekret hidung dan sputum. Dalam sputum dapat ditemukan kristal Charcot Leyden dan spiral curshman. Bila ada infeksi mungkin akan didapatkan pula lekositosis polimorfonokleus. Uji tuberkulin penting bukan saja karena di Indonesia masih banyak tuberkulosis, tetapi juga karena kalau ada tuberkulosis dan diobati, asmanyapun mungkin sukar dikontrol. 4. Uji kulit alergi dan imunologi Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara goresan atau tusuk. Masing masing cara mempunyai keuntungan dan kerugiannya. Alergen yang digunakan adalah alergen yang banyak didapat di daerahnya. tersebut Hasil positif Kedua positif ini harus cara palsu dapat dicocokkan uji kulit dengan keadaan dapt dan penderita sehari hari. Bila ada hubungan yang jelas baru uji kulit berarti. hasil alergi tersebut kecil memberikan diingat dalam persentase dengan

mempunyai korelasi yang baik dengan IgE yang beredar. Perlu bahwa reaksi ditekan pemberian anthistarmin.

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 15

Pemerikasaan IgE atau mungkin IgE spesifik dapat memperkuat diagnosis dan menentukan pengelolannya. Tetapi bila tidak ditemukan kelainan ini diagnosis asma belum dapat disingkirkan. Uji alergi kulit berguna untuk menunjukkan alergen yang potensial sebagai pencetus. Hasil uji alergi kulit haru dihubungkan dengan keadaan klinis, dan bila cocok itulah alergen pencetus yang sesuai. Untuk menentukan hal itu, sebenarnyaada pemeriksaan yang lebih tepat, yaitu uji provokasi bronkus dengan alergen bersangkutan. 2.1.7 Diagnosis Serangan batuk dan alergi yang berulang sering lebih nyata pada malam hari, atau bila ada beban fisik sangat karakteristik untuk asma sehingga diagnosis pada umumnya mudah dibuat. Walaupun demikian cukup banyak asma anak dengan batuk kronik berulang, terutama terjadi pada malam hari ketika hendak tidur, disertai sesak, tetapi tidak jelas mengi dan sering didiagnosis sebagai bronkitis kronik. Pada anak demikian yang sudah dapat melakukan uji faal paru (provokasi bronkus) sebagian besar akan terbukti adanya sifat sifat asma. Selanjutnya bila diberi obat asma akan menunjukkan perbaikan yang nyata. Batuk malam yang menetap dan yang tidak berhasi diobatai dengan obat batuk yang biasa dan kemudian cepat menghilang setelah mendapat bronkodilator, sangat mungkin merupakan batuk bentuk asma. Diagnosis banding Mengi dan dispneu ekspiratoir dapat terjadi pada bermcam macam keadaan yang menyebabkan obtruksi pada saluran nafas. 1. Pada bayi adanya korpus alienum disaluran nafas dan esofagus atau kelenjar timus yang menekan trakea. 2. Penyakit paru kronik yang berhubungan dengan bronkektasis kistik. 3. Bronkitis akut, biasanya mengenai anak dibawah umur 2 tahun

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 16

dan terbanyak dibawah umur 6 bulan dan jarang berulang. 4. Bronkitis. Tidak ditemukan eosinofilia, suhu biasanya tinggi dan tidak herediter. Bila sering berulang dan kronik biasanya disebabkan oleh asma. 5. Tuberkulosis kelenjar limfe didaerah trakeobronkial. 6. Asma kardial. Sangat jarang pada anak. Dispneu paroksismal terutama malam hari dan biasanya didapatkan tanda tanda kelainan jantung. 7. Kelainan trakea dan bronkus, misalnyatrakeobronkomalasi dan stenosis bronkus. Asma pada bayi dan anak kecil sering didiagnosis sebagai bronkitis asmatika, wheezy cold', bronkitis dengan mengi, bronkiolotis berulang, dan lainlainnya. Diagnosis demikian dapat menyesatkan. Komplikasi Bila serangan asma sering terjadi dan telah berlangsung lama, maka akan terjadi emfisema dan mengakibatkan perubahan bentuk toraks yaitu toraks membungkuk ke depan dan memanjang. Pada foto rontgen toraks terlihat diafragma letaknya rendah, gambaran jantung menyempit, corakan hilus kiri dan kanan bertambah. Pada asma kronik dan berat dapat terjadi bentuk dada burung dara dan tamoak sulkus Harrison. Bila sekret banyak dan kental, salah satu bronkus dapat tersumber sehingga dapat terjadi atelektasis pada lobus segmen yang sesuai. Mediastinum tertarik ke arah atelektasis. Bila atelektasis belangsung lama dapat berubah menjadi bronkiektasis, dan bila ada infeksi akan terjadi bronkopneumonia. Serangan asma yang terus menerus dan berlangsung beberapa asmatikus. jantung. 2.1.8 Penatalaksanaan Bila tidak ditolong dengan hari serta berat dapat dan tidak diatasi dengan obat obat yang biasa disebut status semestinya menyebabkan kematian, kegagalan pernafasan dan kegagalan

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 17

Tujuan tatalaksana serangan asma adalah: 1. Meredakan penyempitan jalan napas secepatnya 2. mengurangi hipoksemia 3. Mengembalikan secepatnya 4. Rencana tatalaksana untuk mencegah kekambuhan Penderita asma yang mengalami serangan dan biasanya datang ke klinik segera dilakukan tatalaksana awal yaitu pemberian 2 agonis secara nebulasi. Boleh ditambahkan garam fisiologis dan mukolitik pada cairan nebulasi. Nebulasi dapat diulang dua kali selang 20 menit, pada pemberian ketiga dapat ditambahkan antikolinergik. Tatalaksana awal ini juga berfungsi untuk menentukan derajat serangan asma, karena penilaian secara klinis tidak selalu dapat dilakukan dengan cepat dan jelas. Jika pada penilaian awal penderita jelas mengalami serangan asma berat, langsung diberikan nebulasi 2 agonis dikombinasi dengan antikolinergik. Jika tidak mempunyai alan nebulasi dapat diganti dengan adrenalin subkutan 0,01 ml/kgBB/kali, maksimal 0,3ml/kali. a. Serangan ringan Bila pasien menunjukkan respon yang b aik dengan sekali nebulasi berarti derajat serangannya ringan. Penderita diobservasi 1-2 jam, bila tetap baik pasien boleh pulang. Berikan 2 agonis (hirupan atau oral) untuk diteruskan di rumah, kemudian kontrol ke unit rawat jalan 24-48 jam sesudahnya untuk dievaluasi ulang. Bila pencetus serangan adalah infeksi virus, dapat ditambahkan steroid oral 3-5 hari. Selain itu bila pasien sebelum serangan sudah mendapatkan obat pengendali, obat tersebut diteruskan sampai reevaluasi di klinik rawat jalan. Tetapi bila setelah diobservasi 2 jam gejala timbul lagi, pasien diperlakukan dalam katergori serangan sedang. fungsi paru kedalam keadaan normal

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 18

b. Serangan sedang Serangan sedang yaitu apabila pasien hanya menunjukkan respon parsial (incomplete respons) setelah pemberian nebulasi dua atau tiga kali. Pasien perlu dievaluasi dan ditangani di ruang rawat sehari, dan sebaiknya pasien dipasang jalur parenteral dengan oksigen tetap diberikan. Berikan steroid oral seperti prednison, prednisolon, atau triamsinolon. Nebulasi dengan 2 agonis diberikan tiap 2 jam (boleh ditambah antikolinergik). Jika dalam waktu 8-12 jam klinis tetap baik, pasien diperbolehkan pulang dengan dibekali obat seperti pasien serangan ringan yang pulang. Akan tetapi bila dalam 8-12 jam responnya tidak baik, pasien dimasukkan ruang rawat inap. c. Serangan berat Pasien kategori ini bila diberi tiga kali nebulasi tidak menunjukkan respons (poor respons) yaitu gejala dan tanda serangan masih ada. Pasien harus dirawat di ruang inap. Oksigen 2-4 lt/menit diberikan sejak awal termasuk saat nebulasi. Pasang jalur parenteral dan lakukan foto toraks. Koreksi cairan, bila ada dehidran dan atasi asidosis bila ada. Steroid intravena tiap 6-8 jam secara bolus. Nebulasi 2 agonis dan anti kolinergik tiap 1-2 jam, jika dalam 4-6 kali pemberian terjadi perbaikan klinis, pemberian nebulasi menjadi tiap 4-6 jam. Aminofilin intravena dengan dosis awal 4-6 mg/KgBB/jam diberikan dalam 20-30 menit selanjutnya untuk rumatan 0,5-1 mg/KgBB/jam. Bila membaik, nebulasi diteruskan tiap 6 jam hingga 24 jam dan aminofilin serta steroid diganti oral. Jika dalam 24 jam pasien stabil, pasien dapat dipulangkan. 2.1.9 Pencegahan serangan asma pada anak Pencegahan serangan asma terdiri dari, tatalaksana non farmakologis dan tatalaksana farmakologis. Pencegahan serangan

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 19

asma lebih penting dari mengatasi serangan. Anak yang menderita asma harus dapat tumbuh dan berkembang dengan layak sesuai umurnya. Dengan demikian penggunaan obat harus benar-benar dipertimbangkan keuntungan dan kerugiannya yang tidak boleh mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. 2.1.9.1 Tatalaksana non farmakologis Tatalaksana non farmakologis atau upaya menghindari faktor pencetus asma terdiri dari: 1. Menghindari factor pencetus asma Macam-macam pencetus asma a. Alergen Bahan alergen dapat berupa alergen hirup dan alergen makanan. Faktor alergi dianggap mempunyai peranan pada sebagian besar anak dengan asma. disamping itu, hiperreaktivitas saluran napas juga merupakan faktor yang penting. Bila tingkat hiperreaktivitas bronkus tinggi, diperlukan jumlah alergen yang sedikit dan sebaliknya jika hiperreaktivitas rendah diperlukan jumlah antigen yang lebih tinggi untuk menimbulkan serangan asma. Sensitisasi tergantung pada lama dan intensitas hubungan dengan bahan alergen berhubungan dengan umur. Bayi dan anak kecil sering berhubungan dengan isi dari debu rumah, misalnya tungau, serpih atau bulu binatang, spora jamur yang terdapat di rumah. Usahakan kamar tidur dan ruang keluarga bebas debu serta singkirkan binatang peliharaan dari rumah. Lebih baik lagi bila tidak memelihara binatang berbulu. Ventilasi ruangan agar diperbaiki untuk mengurangi kelembaban kamar. Dengan bertambahnya umur makin banyak jenis alergen pencetusnya. Asma karena makanan sering terjadi pada bayi dan anak kecil. Hindari makanan yang sering dapat menyebabkan alergi seperti ikan laut, ayam, telur, kacang tanah/hijau, buah-buahan dan coklat.

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 20

b. Infeksi Biasanya infeksi virus, terutama pada bayi dan anak. Virus yang menyebabkan ialah respiratory syncytial virus (RSV) dan virus parainflluenza. Kadang-kadang karena bakteri misalnya pertusis dan streptokokus, jamur, misalnya aspergillus dan parasit seperti askaris. c. Iritan Hairspray, minyak wangi, obat semprot nyamuk, asap rokok, bau tajam dari cat, SO2, dan polutan udara lainnya dapat memacu terjadinya serangan asma. Iritasi hidung dan batuk sendiri dapat menimbulkan refleks bronkokonstriksi. d. Cuaca Perubahan tekanan udara, perubahan suhu udara, angin, dan kelembaban udara dihubungkan dengan percepatan terjadinya serangan asma. menghindari cuaca dingin dapat mengurangi serangan. e. Kegiatan jasmani Kegiatan jasmani berat misalnya berlari atau naik sepeda dapat memicu serangan asma. bahkan tertawa dan menangis yang berlebihan dapat merupakan pencetus. Pasien dengan faal paru di bawah optimal amat rentan terhadap kegiatan jasmani. Pilihlah olah raga yang sesuai untuk penderita asma seperti berenang, senam, dan bila mungkin latihan pernapasan. Usahakan latihan pemanasan atau beri obat pencegahan sebelum berolah raga.

f.

Infeksi saluran napas Infeksi virus pada sinus, baik sinusitis akut maupun kronik dapat memudahkan terjadinya asma pada anak. Rhinitis

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 21

alergika dapat memberatkan asma melalui mekanisme iritasi atau refleks. g. Faktor psikis Faktor psikis merupakan pencetus yang tidak boleh diabaikan dan sangat kompleks. Tidak adanya perhatian dan/atau tidak mau mengakui persoalan yang berhubungan dengan asma oleh anak sendiri/keluarganya Sebaliknya akan terlalu menggagalkan takut terhadap usaha adanya pencegahan.

serangan atau hari depan anak dapat memperberat serangan asma. Upayakan penderita tidak terganggu emosinya seperti rasa cemas, tegang, dan takut. Usahakan untuk mengatasi problem atau konflik yang mungkin timbul antara orang tua, penderita, dan antara saudara yang lain, termasuk juga problem di sekolah antara penderita dengan teman atau gurunya. Seluruh keluarga agar dilibatkan untuk mengurangi stress psikologis penderita. 2. Pendidikan kesehatan pasien dan keluarganya Karena banyak orang tua pasien yang belum memahami penyakit ini, perlu penyuluhan yang memadai agar orang tua dan anggota keluarga mengenal seluk beluk asma seperti perjalanan penyakitnya, pemberian obat yang baik serta mengenal efek sampingnya yang mungkin timbul dan mengenal faktor-faktor pencetus serangan asma. sebaiknya para gurupun mengenal penyakit anak didiknya sehingga dapat diupayakan mencegah serangan asma seperti menghindari tebaran debu atau kegiatan olah raga yang berat dan dapat melakukan tindakan yang diperlukan bila murid mengalami serangan asam di sekolah. 2.1.9.2 Tatalaksana farmakologis Konsensus Nasional Asma Anak 2000, pada Berdasarkan

tatalaksana tampak bahwa bila dalam penatalaksanaan suatu derajat asma sudah ada adekuat tetapi responnya tidak baik dalam

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 22

6-8 minggu maka derajatnya berpindah ke yang lebih kuat. Sebaiknya bila respon baik dalam waktu 6-8 minggu maka derajatnya beralih ke yang lebih ringan. Obat yang digunakan disini untuk mengatasi masalah dasar asma yaitu inflamasi kronik saluran napas. Karena itu obat-obatan tersebut berguna sebagai pengendali (controller) atau sebagai obat pencegah atau profilaksis. Dengan demikian obat-obatan ini dapat digunakan terus-menerus dalam waktu yang relatif lama, tergantung derajat asma dan responnya terhadap pengobatan. 1. Asma episodik jarang (asma ringan) Tidak diperlukan pengobatan profilaksis, karena serangan jarang timbul. Bila ada serangan baru diberikan obat pereda asma berupa bronkodilator 2 agonis hirupan atau oral, dan bila tidak ada dapat diberikan teofilin. 2. Asma episodik sering (asma sedang) Karena serangan lebih sering dan mengganggu aktivitas, perlu anti inflamasi sebagai pengendali. Disini digunakan kromoglikat hirupan dengan dosis minimum 10mg 2-4 kali perhari dipakai selama 6-8 minggu, kemudian dievaluasi hasilnya. Bila sudah terkendali kromoglikat dikurangi pemberiannya menjadi 2-3 kali perhari. Obat ini paling aman untuk anak dan efek sampingnya ringan yaitu kadang menyebabkan batuk. Pemberian steroid hirupan dosis rendah digunakan bila pemberian kromoglikat tidak berhasil. Sedangkan antihistamin non sedatif (misalnya ketotifen) dapat dipertimbangkan penggunaannya bila penderita mengalami kesulitan menggunakan hirupan atau untuk asma tipe rinitis. 3. Asma persistent a. Asma berat Termasuk asma berat jika setelah 6-8 minggu kromoglikat gagal mengendalikan gejala dan 2 agonis hirupan tetap

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 23

diperlukan lebih dari 3 kali tiap minggu. Disini diperlukan steroid hirupan dimulai dari dosis rendah. Penggunaan beklometason atau budesonid dengan dosis 200mg/hari cukup aman bahkan sampai 400mg/hari. Pengaruh pada poros hipotalamus-hipofisis-adrenal mulai tampak bila dipakai dipakai dosis 800mg/hari. Apabila perbaikan klinis mantap selama 1-2 bulan, maka dosis steroid dapat dikurangi bertahap. Sementar itu penggunaan 2 agonis sebagai obat pereda tetap diteruskan. b. Asma sangat berat Jika setelah terapi diatas selama 6-8 minggu asmanya belum terkendali maka berarti menderita asma sangat berat. Selain steroid hirupan, perlu ditambah dengan 2 agonis kerja panjang atau 2 agonis lepas terkendali atau teofilin lepas lambat. Jika setelah ditambah obat tersebut asma tetap terkendali, perlu ditambah steroid oral dengan dosis 12mg/kgBB/hari. Dosis kemudian diturunkan sampai dosis terkecil. 2.1.10Prognosis Prognosis jangka panjang asma anak pada umumnya baik. Sebagian besar asma anak hilang atau berkurang dengan bertambahnya umur. Sekitar 50% asma episodik jarang sudah menghilang pada umur 10-14 tahun dan hanya 15% yang menjadi asma kronik pada umur 21 tahun. 20% asma episodik sering tidak timbul pada masa akil baliq, 60% tetap sebagai asma episodik sering dan sisanya sebagai episodik jarang. Hanya 5% dari asma kronik/persisten yang dapat menghilang pada umur 21 tahun, 20% menjadi asma episodik sering, hampir 60% tetap sebagai asma kronik/persisten dan sisanya menjadi asma episodik jarang. Secara keseluruhan dapat dikatakan 70-80% asma anak bila diikuti sampai dengan umur 21 tahun asmanya sudah menghilang. Faktor yang mempengaruhi prognosis asma anak adalah:

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 24

- umur ketika serangan pertama timbul, seringnya serangan asma, berat ringannya serangan asma, terutama pada 2 tahun sejak mendapat serangan asma. - banyak sedikitnya faktor atopi pada diri anak dan keluarganya. - menderita atau pernah menderita eksema infatil yang sulit diatasi. - lamanya minum air susu ibu. - apakah bapak/ibu atau teman/serumah merokok. Polusi udara yang lain di rumah atau di luar rumah juga dapat mempengaruhi. - penghindaran alergen yang dimakan sejak hamil dan pada waktu meneteki. - jenis kelamin, kelainan hormonal dan lain-lain.

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 25

2.2

Konsep Dasar Asuhan Kebidanan pada Anak dengan Asma 1. Identitas Umur : pada asma sepertiga kasus-kasusnya, pada semua kelompok umur, permulaannya terjadi sebelum umur 10 tahun, seperempat kasus pada masa kanak-kanak terjadi dibawah umur 1 tahun, 2-5% anak sekolah adalah penderita asma. Jenis kelamin: penderita laki-laki 2 kali lebih banyak dibandingkan penderita wanita. 2. Keluhan utama Alasan atau keluhan yang menonjol pada pasien asma untuk datang ke tempat pelayanan kesehatan yaitu gangguan pernapasan yang dapat berupa sesak napas yang berulang-ulang dan atau mengi (wheezing), batuk, produksi lendir kental yang berlebihan. 3. Riwayat penyakit sekarang Didapatkan adanya keluhan sesak napas dengan atau tanpa batuk, produksi lendir kental yang berlebihan. Pada golongan asma kronik atau persisten dapat terjadi gangguan pertumbuhan yakni bertubuh kecil. Kemampuan aktivitas kurang, tidak dapat melakukan olah raga atau aktivitas fisik yang terlalu berat, sebagian kecil dapat mengalami gangguan psikososial. Dapat disertai atau tanpa alergi terhadap makanan tertentu, suhu udara, bahan alergen lain misal bulu binatang, debu, dll. 4. Riwayat penyakit yang pernah diderita

2.2.1 Subyektif

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 26

Penyakit apa saja yang pernah diderita dan pernakah pasien mengalami keluhan yang sama sebelumnya. 5. Riwayat penyakit keluarga Di dalam keluarga apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit asma atau penyakit lain. 6. Pola fungsi kesehatan - Pola gizi : pada golongan asma kronik atau persisten dapat terjadi gangguan kecil pertumbuhan yakni bertubuh

karena adanya penurunan nafsu makan. Dapat disertai dengan atau tanpa alergi terhadap makanan tertentu (sering pada bayi dan anak kecil). - Pola aktivitas : pada golongan asma kronik atau persisten kemampuan aktivitas kurang, tidak dapat melakukan olah raga atau aktivitas fisik yang terlalu berat. - Pola istirahat dan tidur : pasien dengan asma sering mengalami gangguan istirahat atau tidur karena gejala paling sering muncul pada malam hari. 7. Kondisi lingkungan Faktor lingkungan sangat mempengaruhi terjadinya asma terutama sirkulasi udara yang buruk, kotor (berdebu), lingkungan yang dekat dengan kawasan industri yang menimbulkan bau tajam atau polutan udara sehingga dapat memacu serangan asma, perubahan suhu udara, dan lingkungan dengan udara yang lembab. 2.2.2 Obyektif 1. Pemeriksaan fisik

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 27

- Pengukuran nafas normal.

TTV,

pada

pasien

asma

biasanya

terdapat

kesulitan bernapas dengan frekuensi nafas lebih dari frekuensi - Pada asma kronik atau persisten bisa terjadi penurunan berat badan - Inspeksi dapat ditemukan sumbatan oleh sekret pada hidung, perubahan bentuk thoraks seperti dada burung (pigeon chest), barrel chest, tampak terdapat retraksi suprasternal, epigastrium dan mungkin juga sela iga. - Auskultasi dapat ditemukan bunyi wheezing 2. Pemeriksaan lanjutan - Uji faal paru Dikerjakan untuk menentukan derajat obstruksi, menilai hasil provokasi bronkus, menilai hasil pengobatan dan mengikuti perjalanan penyakit. Alat yang digunakan adalah peak flow meter, caranya anak diminta untuk meniup flow meter bebrapa kali (sebelumnya menarik napas dalam melalui mulut kemudian menghembuskan dengan kuat) dan dicatat hasil yang terbaik. - Foto thoraks Foto thoraks terutama dilakukan pada anak yang baru berkunjung pertama kali di poliklinik, untuk menyingkirkan kemungkinan adanya penyakit lain. Pada pasien asma yang kronik akan terlihat jelas adanya kelainan berupa hiperinflasi atau atelektasis. - Pemeriksaan darah Hasilnya akan terdapat eosinofilia pada darah tepi dan sekresi hidung. Bila tidak eosinofilia kemungkinan bukan asma. selain itu juga dilakukan uji tuberkulin dan uji kulit menggunakan alergen untuk mencocokkan dengan riwayat penyakit. - Pemeriksaan radioalergosorben (RAST)

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 28

Mengukur daya antibodi IgE terhadap antigen tertentu. Uji hanya bermanfaat bila kadar IgE cukup tinggi. 2.2.3 Assessment 1. Diagnosa : Anak usia ..tahun, dengan asma 2. Masalah : - Cemas karena kurangnya pengetahuan orang tua tentang penyakit asma - Gangguan bernapas - Gangguan aktivitas - Gangguan istirahat atau tidur

2.2.4 Planning 1. Memberikan penjelasan mengenai kondisi anak kepada orang tua. 2. Bila anak sedang mendapat serangan asma, memberikan penjelasan kepada orang tua atau keluarga tentang hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi keluhan seperti : - Memberikan obat yang dapat menghilangkan spasme pada bronkusnya yang telah disiapkan sebagai obat emergensi setiap saat terjadi serangan. - Membantu mendudukkan pasien, biasanya pasien yang sedang mendapat serangan asma akan lebih senang duduk di pinggir tempat tidur dengan tangan berpengang pada tepi tempat tidur atau bila di kursi berpegang pada tepi kursi.

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 29

- Bila sedia O2, ajarkan untuk memberi O2 sampai 2 liter atau lebih jika sesak sekali (terutama dianjurkan dan diajarkan kepada keluarga pasien yang menderita asma berat). - Pakaian yang mengganggu pernapasannya supaya dilepas saja. Jika memakai baju agar kancingnya dibuka. - Usahakan agar udara ruangan cukup mengandung O2 bila perlu jendela dibuka tetapi anak jangan ditempatkan didepan jendela (bahaya terkena angin langsung). 3. Bila anak tidak sedang mendapat serangan asma, memberikan pendidikan kepada orang tua atau keluarga tentang hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya asma dengan menghilangkan faktor pencetusnya, yaitu: - Pasien atau orang tua harus mengenal tanda akan terjadi serangan asma. - Cara memberikan obat bronkodilator sebagai pencegahan bila dirasakan anak akan mengalami asma. Apakah dengan aerosol/semprot atau oral, dan sebagainya serta mengetahui obat mana yang masih efektif bila anak mendapat serangan. - Mencegah serangan asma dengan menghilangkan faktor pencetusnya, misal debu rumah, bau-bau yang merangsang, makanan tertentu, dan lain-lain seperti yang telah diterangkan pada bab pencegahan serangan asma. - Menjaga kesehatan anak dengan memberi makanan yang bergizi tetapi menghindari makanan yang mengandung alergen bagi anaknya. - Kapan anak harus dibawa konsultasi. Persediaan obat tidak boleh sampai habis. Lebih baik jika obat tinggal untuk 1-2 kali pemakaian anak sudah dibawa kontrol ke dokter. Atau bila anak batuk/pilek walaupun belum terlihat sesak napas harus segera dibawa berobat. 4. Memberikan oksigen bila diperlukan

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 30

5. Memberikan dan mengawasi pemberian obat sesuai dengan advis dokter 6. Memberikan aktivitas ringan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak. 7. Melibatkan anak dalam mengatur jadwal harian dan memilih aktivitas sesuai dengan yang diinginkan (bila anak sudah mengerti).

BAB 3 TINJAUAN KASUS ASUHAN KEBIDANAN PADA ANAK Z DENGAN ASMA Tanggal : 13 April 2010 Bidan : Dwi Izzati Jam : 11.00 WIB

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 31

3.1

Subyektif 1. Identitas Nama Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat Register Nama ayah Usia Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat : An. Z : islam : SD :: Perum. ITS blok N no. 157 Surabaya - (031)5997732 : 11028195 : Tn. D : 45 tahun : islam : S1 : PNS : Perum. ITS blok N no. 157 Surabaya - (031)5997732 Tanggal lahir : 23 Desember 1998 Suku bangsa : Jawa

Jenis kelamin : laki-laki

Suku bangsa : Jawa

2. Keluhan Utama Pasien mengatakan tidak ada keluhan, datang berniat untuk kontrol 3. Riwayat penyakit sekarang Ibu pasien mengatakan saat ini anaknya tidak ada keluhan, sebelumnya pasien pernah datang periksa dengan keluhan sesak berulang, didahului dengan batuk dan pilek selama 4 hari. 4. Riwayat penyakit yang pernah diderita

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 32

Ibu pasien mengatakan anaknya mempunyai riwayat batuk sejak usia 2 tahun, riwayat sesak sejak usia 2 tahun. Tidak ada riwayat penyakit menular atau sistemik lain yang pernah diderita pasien. 5. Riwayat penyakit keluarga Ibu pasien mengatakan, di dalam keluarganya tidak ada yang pernah atau sedang menderita asma. Tidak ada yang menderita penyakit menular atau sistemik lainnya. 6. Pola fungsi kesehatan a. Pola gizi : ibu pasien mengatakan anaknya tidak mengalami gangguan makan, namun alergi dengan ikan laut. Bila setelah mengkonsumsi b. Pola aktivitas : ibu pasien buah semangka ibu mengaku anaknya selalu sesak. mengatakan sehari-hari anaknya tidak mengalami gangguan aktivitas (sekolah, les, dan mengaji), namun apabila terjadi serangan asma anak mengalami gangguan. c. Pola istirahat dan tidur : ibu pasien mengatakan, pola istirahat dan tidur tidak terganggu apabila tidak terjadi serangan asma (tidur siang 2 jam, tidur malam 8 jam). Namun apabila serangan asma terjadi, anaknya tidak bisa tidur malam karena serangan sesak dirasa lebih berat saat malam hari.

7. Kondisi lingkungan Ibu mengatakan tinggal di perumahan sejak 11 tahun, jumlah orang yang tinggal serumah yaitu 4 orang. Pasien sekamar dengan 1 orang kakak, kakak tidak merokok atau mempunyai

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 33

riwayat asma. tempat tidur yang digunakan yaitu spring bed. Bahan bakar yang digunakan elpiji, di rumah memakai kipas angin, obat nyamuk elektrik. Di rumah pasien dan keluarga mempunyai binatang peliharaan yaitu kucing. 3.2 Obyektif 1. Pemeriksaan fisik Kesadaran : compos mentis BB/TB TTV : 43 kg/145 cm : TD Kepala Leher Dada RR Suhu: 36,7 :
o

: 18x/menit

: tidak ada icterus, konjungtiva tidak pucat, pada hidung tidak terdapat sekret : tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening : simetris, pernapasan reguler, tidak terdapat retraksi dinding dada, auskultasi tidak terdengar bunyi ronkhi atau wheezing

Abdomen Tangan Kaki

: hepar tidak teraba, lien tidak teraba : simetris, tidak ada kelainan kongenital : simetris, tidak ada kelainan kongenital : tidak dilakukan

2. Pemeriksaan penunjang Tes tuberkulin Foto rntgen : tanggal 1-3-2010, interpretasi hasil oleh dokter (terdapat penebalan hilus, PC bronchovascular pattun, terdapat penebalan mukosa sinus maksilaris dekstra dan sinistra) Uji faal paru : tanggal 16-3-2010, interpretasi hasil oleh dokter FVC = 81,3%, FEV1 = 72,6%, FEV1/FVC = 89,3% yang berarti bentuk kurva tidak cekung. 3.3 Assessment 1. Diagnosa :

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 34

Anak Z usia 11 tahun 3 bulan, dengan asma 2. Masalah : - Cemas karena kurangnya pengetahuan orang tua mengenai asma terutama penanganan pertama bila sewaktu-waktu terjadi serangan asma. 3.4 Planning 1. Memberikan penjelasan mengenai kondisi anak kepada orang tua. 2. Memberikan penjelasan kepada orang tua tentang hal-hal yang dapat dilakukan untuk penanganan awal atau untuk mengurangi keluhan bila anak sedang mendapat serangan asma seperti : - Memberikan obat yang dapat menghilangkan spasme pada bronkusnya yang telah disiapkan sebagai obat emergensi setiap saat terjadi serangan. - Membantu mendudukkan pasien, biasanya pasien yang sedang mendapat serangan asma akan lebih senang duduk di pinggir tempat tidur dengan tangan berpengang pada tepi tempat tidur atau bila di kursi berpegang pada tepi kursi. - Bila sedia O2, ajarkan untuk memberi O2 sampai 2 liter atau lebih jika sesak sekali. - Pakaian yang mengganggu pernapasannya supaya dilepas saja. Jika memakai baju agar kancingnya dibuka. - Usahakan agar udara ruangan cukup mengandung O2 bila perlu jendela dibuka tetapi anak jangan ditempatkan didepan jendela (bahaya terkena angin langsung). 3. Memberikan pendidikan kepada orang tua tentang hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya asma dengan menghilangkan faktor pencetusnya, yaitu: - Pasien atau orang tua harus mengenal tanda akan terjadi serangan asma.

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 35

- Cara memberikan obat bronkodilator sebagai pencegahan bila dirasakan anak akan mengalami asma. Apakah dengan aerosol/semprot atau oral, dan sebagainya sesuai advis dokter serta mengetahui obat mana yang masih efektif bila anak mendapat serangan. - Mencegah serangan asma dengan menghilangkan faktor pencetusnya, misal debu rumah, bau-bau yang merangsang, makanan tertentu, dan lain-lain. - Menjaga kesehatan anak dengan memberi makanan yang bergizi tetapi menghindari makanan yang mengandung alergen bagi anaknya, dalam hal ini ikan laut. - Kapan anak harus dibawa konsultasi. Persediaan obat tidak boleh sampai habis. Lebih baik jika obat tinggal untuk 1-2 kali pemakaian anak sudah dibawa kontrol ke dokter. Atau bila anak batuk/pilek walaupun belum terlihat sesak napas harus segera dibawa berobat. 4. Menjelaskan kepada orang tua untuk memberi aktivitas ringan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak. 5. Menjelaskan kepada orang tua agar melibatkan anak dalam mengatur jadwal harian dan memilih aktivitas sesuai dengan yang diinginkan. 6. Memberikan obat sesuai advis dokter: Steroid intranasal 1 dd puff I Cetirizine 1x10 mg 7. Menjadwalkan kunjungan ulang atau kontrol 2 minggu lagi (advis dokter) atau sewaktu-waktu bila dirasa ada keluhan.

BAB 4 PEMBAHASAN

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 36

Asma adalah penyakit paru dengan ciri khas yakni, saluran napas sangat mudah bereaksi terhadap berbagai rangsangan atau pencetus dengan manifestasi berupa serangan asma. Asma terjadi karena dipengaruhi oleh banyak faktor untuk itulah penyebab penyakit ini dianggap multifaktorial. Penyebab asma dapat dikarenakan faktor genetik ataupun karena adanya pencetus. Faktor pencetus asma dapat berupa alergen (misal, makanan, debu rumah, bulu binatang, dan lain-lain), iritan, infeksi, cuaca, kegiatan jasmani, infeksi saluran napas, atau faktor psikis. Terdapat kesesuaian antara teori dengan kasus, dalam hal ini alergi ikan laut oleh pasien dapat memicu terjadinya serangan asma. Diagnosis asma dapat ditegakkan melaui pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan penunjang diantaranya uji faal paru, foto rontgen toraks, uji kulit alergi dan imunologi, pemerikasaan darah, eosinofil dan uji tuberkulin. Walaupun tidak selengkap sesuai apa yang dijelaskan dalam teori, terdapat kesesuaian antara teori dan kenyataan, dalam kasus ini penegakan diagnosis dilakukan setelah dilakukan pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan penunjang yaitu uji faal paru dan foto rntgen.

DAFTAR PUSTAKA

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 37

Necel,

2009, Asma Bronkiale, Retrieved: 11 April 2010, from http://translate.googleusercontent.com/translate_c? hl=id&langpair=en| id&u=http://www.scribd.com/doc/3806310/PATHOPHYSIOLOGY-OFBRONCHIALASTHMA&rurl=translate.google.co.id&usg=ALkJrhhXw76hiW6 Hm1yHfoYn3TvO-pFYmw

Nelson, Waldo E ,MD, Behrman, Richard E, Kliegman, Robert, Arvin, Ann.M Editor Bahasa Inndonesia Prof. DR. dr. A. Samik Wahab, Sp.A (K), 2000. Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15 volume 2. Jakarta: EGC Ngastiyah, 2005. Perawatan Anak Sakit edisi 2. Jakarta : EGC Price, SA, 2005. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta : EGC Rahajoe, Nastiti N, Supriyatno, Bambang, Setyanto, D.B, 2008. Buku Ajar Respirologi. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia 2008 Rudolph, Abraham M, Hoffman, Julien, I.E, Rudolph, Colin, 2006. Buku Ajar Pediatri Rudolph volume 3. Jakarta: EGC Shining, E.J, Tehupuring, 2002. Buku Prosiding Simposium Terapi Rasional Asma Bronkhial II. Surabaya: Hang Tuah University Press Short, John Rendle, Gray, O.P, Dodge, J.A, 1994. Ikhtisar Penyakit Anak Edisi Keenam Jilid satu. Jakarta: Binarupa Aksara Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 2005. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak: Suplemen Buku Kuliah 3. Jakarta: FKUI

Asuhan kebidanan pada anak dengan asma | 38