Anda di halaman 1dari 28

Oleh :

SARTIAN BATTUNG
0761050035

Pembimbing : dr. Tumpal A. Siagian, SpS


1

Epilepsi: keadaan bangkitan berulang akibat gangguan

fungsi otak secara intermitten, disebabkan lepasnya muatan listrik abnormal & berlebihan di neuron2 secara paroksismal, dan disebabkan oleh berbagai etiologi. Bangkitan epilepsi: manifestasi klinik dari bangkitan serupa (stereotipik), mendadak dan sementara dengan/tanpa perubahan kesadaran, disebabkan oleh hiperaktivitas listrik sekelompok sel saraf di otak, bukan oleh suatu penyakit otak akut (unprovoked). Sindrom epilepsi: sekumpulan gejala & tanda klinik epilepsi yang terjadi secara bersama-sama, berhubungan dengan etiologi, umur, onset, jenis bangkitan, faktor pencetus, dan kronisitas.
2

Idiopatik: penyebabnya tidak diketahui, umumnya mempunyai predisposisi genetik. 2. Kriptogenik: dianggap simtomatik, tetapi penyebabnya belum diketahui. Gambaran klinik sesuai dengan ensefalopati difus. 3. Simtomatik: disebabkan oleh kelainan/lesi pada susunan saraf pusat, misalnya cedera kepala, infeksi susunan saraf pusat, kelainan kongenital, lesi desak ruang, gangguan peredaran darah otak, toksik (alkohol dan obat), metabolik, kelainan neurodegeneratif.
1.
3

Faktor sensoris: cahaya yang berkedip-kedip, bunyi-bunyi yang mengejutkan, air panas. Faktor sistemis: demam, penyakit infeksi, obatobat tertentu golongan fenotiazin, klorpropamid, hipoglikemia, kelelahan fisik. Faktor mental: stress, gangguan emosi.

Klasifikasi International League Against Epilepsi (ILAE) 1981 untuk jenis bangkitan epilepsi : 1. Bangkitan parsial a. Bangkitan parsial sederhana: Motorik, Sensorik, Otonom, Psikik b. Bangkitan parsial kompleks

Bangkitan parsial sederhana yang diikuti dengan gangguan kesadaran Bangkitan parsial yang disertai gangguan kesadaran saat awal bangkitan

Bangkitan parsial yang menjadi umum sekunder 2. Bangkitan Umum Absence (lena), Mioklonik, Klonik, Tonik, Tonik klonik, Atonik 3. Tak tergolongkan.
c.
5

1.

Bangkitan umum lena Gangguan kesadaran secara mendadak (absence), berlangsung beberapa detik Selama bangkitan kegiatan motorik terhenti dan pasien diam tanpa rekasi Makin memandang jauh ke depan Mungkin terdapat automatisme Pemulihan kesadaran segera terjadi tanpa perasaan bingung Sesudah itu pasien melajutkan aktivitas semula.

2.

Bangkitan umum tonik klonik Dapat didahului prodromal seperti jeritan, sentakan, mioklonik Pasien kehilangan kesadaran, kaku (fase tonik) selama 10-30 detik, diikuti gerakan kejang kelojotan pada kedua lengan dan tungkai (klonik) selama 30-60 detik, dapat disertai mulut berbusa Selesai bangkitan pasien menjadi lemas (fase flaksid) dan tampak bingung Pasien sering tidur setelah bangkitan selesai

3.

Bangkitan parsial sederhana Tidak terjadi perubahan kesadaran Bangkitan dimulai dari tangan, tungkai atau muka (unilateral/fokal) kemudian menyebar pada sisi yang sama (Jacksonian march) Kepala mungkin berpaling ke arah bagian tubuh yang mengalami kejang Bangkitan parsial kompleks Bangkitan fokal disertai terganggunya kesadaran Sering diikuti oleh automatisme yang stereoti[ik seperti mengunyah, menelan, tertawa dan kegiatan motorik lainnya tanpa tujuan yang jelas Kepala mungkin berpaling ke arah bagian tubuh yang mengalami kejang
8

4.

5.

Bangkitan umum sekunder Berkembang dari bangkitan parsial sederhana atau kompleks yang dalam waktu singkat menjadi bangkitan umum Bangkitan parsial dapat berupa aura Bangkitan umum yang terjadi biasanya bersifat kejang tonik klonik.

Ada 3 langkah untuk menuju diagnosis epilepsi: 1. Pastikan apakah kejadian yang bersifat paroksismal menunjukkan bangkitan epilepsi atau bukan epilepsi. 2. Apabila benar terdapat bangkitan epilepsi, maka tentukanlah bangkitan yang ada temasuk jenis bangkitan apa. 3. Pastikan sindrom epilepsi apa yang ditunjukkan oleh bangkitan tadi, atau epilepsi apa yang diderita oleh pasien, dan tentukan etiologinya.
10

Pola/ bentuk bangkitan

Lama bangkitan
Gejala sebelum, selama dan pasca bangkitan Frekuensi bangkitan Faktor pencetus Ada/ tidak adanya penyakit lain yang diderita sekarang Usia pada saat terjadinya bangkitan pertama Riwayat pada saat dalam kandungan, persalinan/ kelahiran

dan perkembangan bayi/anak Riwayat terapi epilepsi sebelumnya Riwayat penyakit epilepsi dalam keluarga
11

Hal-hal yang perlu diperiksa antara lain adanya tanda-tanda dari gangguan yang berhubungan dengan epilepsi, misalnya: trauma kepala infeksi telinga atau sinus gangguan kongenital gangguan neurologik fokal atau difus kecanduan alkohol atau obat terlarang kanker.
12

Dilakukan sesuai dengan indikasi. Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan pencitraan otak Pemeriksaan EEG (Elektroensefalografi)

13

1. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan darah: Hb, leukosit, trombosit, hematokrit, sediaan hapus darah tepi, elektrolit (natrium, kalsium, kalium, magnesium), kadar gula, fungsi hati (gamma GT, SGOT, SGPT, alkali fosfatase), ureum, kreatinin, dan lain lain atas indikasi. Pemeriksaan cairan serebrospinal bila curiga ada infeksi SSP.

14

2. Pemeriksaan Pencitraan Otak Indikasinya:


Semua kasus bangkitan pertama yang diduga ada

kelainan struktural Adanya perubahan bentuk bangkitan Terdapat defisit neurologik fokal Epilepsi dengan bangkitan parsial Bangkitan pertama di atas usia 25 tahun Untuk persiapan tindakan pembedahan.

15

3. Pemeriksaan Elektroensefalogram (EEG) Indikasinya: Membantu menegakkan diagnosis epilepsi Menentukan prognosis pada kasus tertentu Pertimbangan dalam penghentian OAE Membantu dalam menentukan letak fokus Bila ada perubahan bentuk bangkitan (berbeda dengan bangkitan sebelumnya). Rekaman EEG sebaiknya dilakukan pada saat bangun, tidur, dengan stimulasi fotik, hiperventilasi, stimulasi tertentu sesuai pencetus bangkitan. Pola EEG khas epileptik baik terekam saat serangan maupun di luar serangan berupa: gelombang runcing, gelombang paku, runcing lambat, paku lambat.

16

Tujuan utama terapi epilepsi adalah tercapainya kualitas hidup optimal untuk pasien, sehingga diperlukan beberapa upaya, antara lain: menghentikan bangkitan mengurangi frekuensi bangkitan tanpa efek samping/dengan efek samping yang minimal menurunkan angka kesakitan dan kematian. Penatalaksanaan dapat dilakukan secara farmakologis (OAE) dan psikososial.
17

OAE mulai diberikan bila: Diagnosis epilepsi telah dipastikan (confirmed) Terdapat minimum 2 kali bangkitan dalam setahun Setelah pasien dan/atau keluarganya menerima penjelasan tentang tujuan pengobatan & telah diberitahu tentang kemungkinan efek samping OAE yang akan timbul. Terapi dimulai dengan monoterapi dengan OAE

pilihan sesuai dengan jenis bangkitan dan jenis sindrom epilepsi.

18

Pemberian obat dimulai dari dosis rendah,

dinaikkan bertahap sampai dosis efektif tercapai atau timbul efek samping Bila dengan dosis maksimum OAE pertama tidak dapat mengontrol bangkitan, perlu ditambahkan OAE kedua. Bila OAE kedua telah mencapai kadar terapi, maka OAE pertama diturunkan bertahap (tapering off). Penambahan OAE ketiga baru dilakukan setelah terbukti bangkitan tidak dapat diatasi dengan penggunaan dosis maksimal kedua OAE pertama.

19

Jenis Bangkitan

OAE Lini Pertama

OAE Lini Kedua

OAE lain yg dipertimbangkan Clonazepam Phenobarbital Phenytoin Acetazolamide

OAE yang sebaiknya dihindari

Bangkitan Umum Sodium Clobazam Tonik Klonik valproat Levetiracetam Lamotrigine Oxcarbazepin Topimirat carbamazepin Bangkitan Lena Sodium valproat Lamottrigine Clobazam Topimirat

Carbamazepin Gabapentin Oxcarbazepin

Bangkitan Mioklonik

Sodium valproat Topimirate

Clobazam Topimirat Levetiracetam Lamottrigine Piracetam

Carbamazepin Gabapentin Oxcarbazepin

20

Bangkitan Tonik

Sodium valproat Topimirate

Cobazam Levetracetam Topimirate

Phenobarbital Carbamazepin Acetazolamid Oxcarbazepine Phenitoin

Bangkitan Atonik

Sodium valproat Topimirate

Bangkitan Fokal dengan / tanpa Umum Sekunder

Carbamazepin Oxcarbamazepin Sodium valproat Topimirate Lamotrigine

Clobazam Gabapentin Levetiracetam phenitoin

Clonazepam Phenobarbital Acetazolamid

21

Bebas dari bangkitan setelah minimal 2 tahun

Gambaran EEG normal


Harus dilakukan secara bertahap, pada umumnya

25% dari dosis semula, setiap bulan dalam jangka waktu 3-6 bulan. Penghentian dimulai dari satu OAE yang bukan utama.

22

Pasien diberikan penerangan bahwa dengan

pengobatan yang optimal sebagian besar akan terbebas dari epilepsi. Pasien harus patuh dalam menjalani pengobatannya sehingga dapat bebas dari epilepsi dan dapat belajar, bekerja, dan bermasyarakat secara normal.

23

Definisi Status epileptikus (SE) adalah bangkitan yang berlangsung lebih dari 30 menit, atau adanya dua bangkitan atau lebih di mana diantara bangkitanbangkitan tadi tidak terdapat pemulihan kesadaran. Klasifikasi SE konvulsif (bangkitan umum tonik klonik) SE non-konvulsif (bangkitan bukan umum tonik klonik)
24

Stadium Stadium I (0-10 menit) Stadium II (1-60 menit)

Penatalaksanaan Memperbaiki fungsi kardio-respirasi Memperbaiki jalan nafas, pemberian oksigen, resusitasi Pemeriksaan status neurologis Pengukuran tekanan darah, nadi, suhu Monitor status metabolik, AGD, dan status hematologi Pemeriksaan EKG Memasang infus pada pembuluh darah besar dengan NaCl 0,9%. Bila akan digunakan 2 macam OAE pakai 2 jalur infus. Mengambil 50-100 cc darah untuk pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan lain sesuai dengan klinis. Pemberian OAE emergensi: Diazepam 0,2 mg/kg dengan kecepatan pemberian 5 mg/menit /IV dapat diulang bila kejang masih berlangsung setelah 5 menit Berilah 50 cc glukosa 50% pada keadaan hipoglikemia Pemberian Tiamin 250 mg intravena pada pasien alkoholisme Menangani asidosis dengan bikarbonat
25

Stadium III (0-60/90 menit)

Menentukan etiologi Bila kejang berlangsung terus setelah pemberian Lorazepam/Diazepam, beri Phenitoin iv 15-18 mg/kgbb dengan kecepatan 50 mg/menit (monitor tekanan darah dan EKG pada saat pemberian) Atau dapat pula diberikan Fenobarbital 10 mg/kg dengan kecepatan 100 mg/menit (monitor respirasi pada saat pemberian). Memulai terapi dengan vasopresor (Dopamin) bila diperlukan. Mengoreksi komplikasi

Stadium IV Bila kejang tetap tidak teratasi selama 30-60 menit, (30-90 menit) transfer pasien ke ICU, beri Propofol (2 mg/kgBB bolus iv, diulang bila perlu) atau Thiopentone (100-250 mg bolus iv pemberian dalam 20 menit, dilanjutkan dengan bolus 50 mg setiap 2-3 menit), dilanjutkan sampai 12-24 jam setelah bangkitan klinis atau bangkitan EEG terakhir, lalu tappering off. Memonitor bangkitan dan EEG, tekanan intrakranial, memulai pemberian OAE dosis rumatan. 26

Prognosis epilepsi bergantung pada beberapa hal, di

antaranya jenis epilepsi, faktor penyebab, saat pengobatan dimulai, dan ketaatan minum obat. Pada 50-70% penderita epilepsi serangan dapat dicegah dengan obat-obat, sedangkan sekitar 50% pada suatu waktu akan dapat berhenti minum obat. Serangan epilepsi primer, baik yang bersifat kejang umum maupun serangan lena mempunyai prognosis baik. Sebaliknya epilepsi yang serangan pertamanya mulai pada usia 3 tahun atau yang disertai kelainan neurologik dan atau retardasi mental mempunyai prognosis relatif jelek.

27

28