Anda di halaman 1dari 25

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi Trauma mata adalah tindakan sengaja maupun tidak disengaja yang menimbulkan perlukaan mata. Trauma mata merupakan kasus gawat darurat mata. Perlukaan yang ditimbulkan dapat ringan sampai berat atau menimbulkan kebutaan bahkan kehilangan mata.12 Trauma kimia adalah trauma yang disebabkan oleh bahan kimia, baik berupa cairan benda padat maupun gas. Zat kimia penyebab trauma dibagi menjadi 2 golongan, yaitu asam dan basa
16

. Trauma kimia pada mata dua

kali lebih sering pada bahan kimia yang bersifat basa dibandingkan bahan kimia yang bersifat asam. Bahan kimia yang bersifat basa lebih sering pada bahan seperti amoniak, sodium hidroksida, dan kapur. Sementara bahan yang bersifat asam dapat berupa sulpuric, sulpurous, hidrofluorik, acetic, dan cromic. Bahan kimia yang bersifat basa biasanya penetrasinya lebih dalam dibandingkan bahan kimia yang bersifat asam 1. 2. Anatomi dan Fisiologi Mata merupakan alat indra yang terdapat pada manusia. Secara konstan mata menyesuaikan jumlah cahaya yang masuk, memusatkan perhatian pada objek yang dekat dan jauh serta menghasilkan gambaran yang kontinu yang dengan segera dihantarkan ke otak. Mata kita terdiri dari bermacam-macam struktur sekaligus dengan fungsinya. Anatomi mata meliputi sklera, konjungtiva, kornea, pupil, iris, lensa, retina, saraf optikus, humor aqueus, serta humor vitreus yang masing-masingnya memiliki fungsi atau kerjanya sendiri. 17

Sklera (bagian putih mata) : merupakan lapisan luar mata yang berwarna putih dan relatif kuat.

Konjungtiva : selaput tipis yang melapisi bagian dalam kelopak mata dan bagian luar sklera.

Kornea : struktur transparan yang menyerupai kubah, merupakan pembungkus dari iris, pupil dan bilik anterior serta membantu memfokuskan cahaya.

Pupil : daerah hitam di tengah-tengah iris. Iris : jaringan berwarna yang berbentuk cincin, menggantung di belakang kornea dan di depan lensa; berfungsi mengatur jumlah cahaya yang masuk ke mata dengan cara merubah ukuran pupil.

Lensa : struktur cembung ganda yang tergantung diantara humor aqueus dan vitreus; berfungsi membantu memfokuskan cahaya ke retina.

Retina : lapisan jaringan peka cahaya yang terletak di bagian belakang bola mata; berfungsi mengirimkan pesan visuil melalui saraf optikus ke otak.

Saraf optikus : kumpulan jutaan serat saraf yang membawa pesan visuil dari retina ke otak.

Humor aqueus : cairan jernih dan encer yang mengalir diantara lensa dan kornea (mengisi segmen anterior mata), serta merupakan sumber makanan bagi lensa dan kornea; dihasilkan oleh prosesus siliaris.

Humor vitreus : gel transparan yang terdapat di belakang lensa dan di depan retina (mengisi segmen posterior mata).

Gambar 1. Anatomi mata

Bola mata terbagi menjadi 2 bagian, masing-masing terisi oleh cairan: 1. Segmen anterior : mulai dari kornea sampai lensa, berisi humor aqueus yang merupakan sumber energi bagi struktur mata di dalamnya. Segmen anterior sendiri terbagi menjadi 2 bagian (bilik anterior : mulai dari kornea sampai iris, dan bilik posterior : mulai dari iris sampai lensa). Dalam keadaan normal, humor aqueus dihasilkan di bilik posterior, lalu melewati pupil masuk ke bilik anterior kemudian keluar dari bola mata melalui saluran yang terletak ujung iris. 2. Segmen posterior : mulai dari tepi lensa bagian belakang sampai ke retina, berisi humor vitreus yang membantu menjaga bentuk bola mata.

a. Otot Mata, Saraf Mata, dan Pembuluh Darah Mata mempunyai otot, saraf serta pembuluh darah. Beberapa otot bekerja sama menggerakkan mata. Setiap otot dirangsang oleh saraf kranial tertentu. Tulang orbita yang melindungi mata juga mengandung berbagai saraf lainnya, yaitu :17

Saraf optikus membawa gelombang saraf yang dihasilkan di dalam retina ke otak.

Saraf lakrimalis merangsang pembentukan air mata oleh kelenjar air mata.

Saraf lainnya menghantarkan sensasi ke bagian mata yang lain dan merangsang otot pada tulang orbita. Arteri oftalmika dan arteri retinalis menyalurkan darah ke mata kiri dan

mata kanan, sedangkan darah dari mata dibawa oleh vena oftalmika dan vena retinalis. Pembuluh darah ini masuk dan keluar melalui mata bagian belakang.17

b. Fotoreseptor Mata. Sel-sel fotoreseptor di dalam mata terdiri atas dua jenis, yaitu sel-sel batang dan sel-sel kerucut. Pada manusia, terdapat sekitar 7 juta sel kerucut dan kurang lebih 125 juta sel batang untuk setiap mata. Sel-sel batang merupakan sel-sel yang sangat peka terhadap cahaya dengan intensitas rendah. Sel-sel batang berperan dalam proses penglihatan di malam hari atau tempat-tempat gelap untuk menghasilkan ketajaman pengelihatan yang rendah. Sayangnya, sel-sel batang tidak mampu mendeteksi warna. Sel-sel ini tersebar di seluruh retina, kecuali di fovea. Di dalam sel-sel batang terdapat pigmen fotosensitif rodopsin (warna merah muda atau ungu). Rodopsin hanya 1 jenis, sehingga hanya ada 1 jenis sel batang. Jika rodopsin terpapar atau menyerap cahaya, rodopsin akan terurai menjadi opsin dan retinal. Sebaliknya, jika tidak ada cahaya atau gelap, rodopsin akan terbentuk kembali. 17

Gambar 2. Fotoreseptor Pada mata

Perlu diketahui bahwa penguraian rodopsin menjadi opsin dan retinal jauh lebih cepat ketimbang pembentukannya kembali. Pada saat rodopsin menghilang, sel-sel kerucutlah yang digunakan untuk proses melihat.

Dalam keadaan gelap total, butuh sekitar 30 menit untuk membentuk kembali rodopsin sehingga kita dapat melihat. Itulah sebabnya kita tidak dapat langsung melihat dengan jelas ketika beralih dari tempat terang ke tempat yang sangat gelap. Berbeda dengan sel-sel batang, sel-sel kerucut peka terhadap intensitas cahaya yang tinggi dan perbedaan panjang gelombang sehingga berperan dalam proses penglihatan di siang hari atau di tempattempat terang. 3,17 Sel-sel kerucut menghasilka penglihatan dengan ketajaman yang tinggi. Sel kerucut hanya terdapat di fovea. Di dalam sel-sel kerucut terdapat pigmen fotosensitif iodopsin. Berdasarkan bentuknya, iodopsin dibagi 3. Masingmasing peka terhadap panjang gelombang cahaya yang berbeda. Ketiga jenis iodopsin tersebut peka terhadap warna merah, miru dan hijau. Karena itu maka sel-sel kerucut mampu mendeteksi warna. Berdasarkan iodopsin yang dikandungnya, sel-sel kerucut terbagi atas tiga jenis, yaitu sel kerucut biru, sel kerucut hijau, dan sel kerucut merah. Nama-nama tersebut berdasarkan warna cahaya yang diserap oleh sel-sel kerucut. Jika ketiga sel kerucut tersebut mendapatkan stimulasi yang sama, maka kita akan melihat warna putih. 3,17 3. Etiologi Trauma kimia biasanya disebabkan bahan-bahan yang tersemprot atau terpercik pada wajah. Trauma pada mata yang disebabkan oleh bahan kimia disebabkan oleh 2 macam bahan yaitu bahan kimia yang bersifat asam dan bahan kimia yang bersifat basa. Bahan kimia dikatakan bersifat asam bila mempunyai pH < 7 dan dikatakan bersifat basa bila mempunyai pH > 7.2 Bahan kimia bersifat asam contohnya asam sulfat, air accu, asam sulfit, asam hidrklorida, zat pemutih, asam asetat, asam nitrat, asam kromat, asam hidroflorida . Bahan kimia bersifat basa contohnya NaOH, CaOH, amoniak, Freon/bahan pendingin lemari es, sabun, shampo, kapur gamping, semen, tiner, lem, cairan pembersih dalam rumah tangga, soda kuat. Trauma bahan kimia dapat terjadi pada kecelakaan yang terjadi dalam laboratorium, industri, pekerjaan yang memakai bahan kimia, pekerjaan pertanian, dan peperangan memakai bahan kimia serta paparan bahan kimia dari alat-alat rumah tangga. Setiap trauma kimia pada mata memerlukan

tindakan segera. Irigasi daerah yang terkena trauma kimia merupakan tindakan yang harus segera dilakukan.11

4. Mekanisme cedera 1. Trauma Asam Pada Mata Asam dipisahkan dalam dua mekanisme, yaitu ion hidrogen dan anion dalam kornea. Molekul hidrogen merusak permukaan okular dengan mengubah pH, sementara anion merusak dengan cara denaturasi protein, presipitasi dan koagulasi. Koagulasi protein umumnya mencegah penetrasi yang lebih lanjut dari zat asam, dan menyebabkan tampilan ground glass dari stroma korneal yang mengikuti trauma akibat asam. Sehingga trauma pada mata yang disebabkan oleh zat kimia asam cenderung lebih ringan daripada trauma yang diakibatkan oleh zat kimia basa.2,14 Bahan kimia asam yang mengenai jaringan akan mengadakan denaturasi dan presipitasi dengan jaringan protein disekitarnya, karena adanya daya buffer dari jaringan terhadap bahan asam serta adanya presipitasi protein maka kerusakannya cenderung terlokalisir. Bahan asam yang mengenai kornea juga mengadakan presipitasi sehingga terjadi koagulasi, kadangkadang seluruh epitel kornea terlepas. Bahan asam tidak menyebabkan hilangnya bahan proteoglikan di kornea. Bila trauma diakibatkan asam keras maka reaksinya mirip dengan trauma basa. 14 Bila bahan asam mengenai mata maka akan segera terjadi koagulasi protein epitel kornea yang mengakibatkan kekeruhan pada kornea, sehingga bila konsentrasi tidak tinggi maka tidak akan bersifat destruktif seperti trauma alkali. Biasanya kerusakan hanya pada bagian superfisial saja. Koagulasi protein ini terbatas pada daerah kontak bahan asam dengan jaringan. Koagulasi protein ini dapat mengenai jaringan yang lebih dalam.2,14 Bahan kimia bersifat asam contohnya asam sulfat, air accu, dan lain sebagainya. Akibat ledakan baterai mobil, yang menyebabkan luka bakar asam sulfat, mungkin merupakan penyebab tersering dari luka bakar kimia pada mata. Asam Hidroflorida dapat ditemukan dirumah pada

cairan penghilang karat, pengkilap aluminum, dan cairan pembersih yang kuat. Asam hidroflorida adalah satu pengecualian dan dapat berefek seperti basa yang menyebabkan proses nekrosis liquefaksi karena ion florida mempunyai penetrasi yang lebih baik terhadap stroma kornea dibandingkan asam lainnya.8 Asam lemah ini secara cepat melewati membran sel, sama halnya seperti alkali. Ion fluoride dilepaskan ke dalam sel. Ion florida bergabung dengan kalsium dan magnesium masuk penetrasi ke dalam membentuk garam tak larut, dan memungkinkan menghambat enzim glikolitik dan bergabung dengan kalsium dan magnesium membentuk insoluble complexes. Garam larut dapat dibentuk dengan kation lain namun dapat terlepas dengan mudah. Ion florida terlepas dan merusak jaringan sementara kerusakan lain diakibatkan deplesi kalsium dan magnesium yang berujung pada disfungsi selular dan enzimatik.7 Nyeri lokal yang ekstrim bisa terjadi sebagai hasil dari immobilisasi ion kalsium, yang berujung pada stimulasi saraf dengan pemindahan ion potassium. Fluorinosis akut bisa terjadi ketika ion fluoride memasuki sistem sirkulasi, dan memberikan gambaran gejala pada jantung, pernafasan, gastrointestinal, dan neurologik.2, 5,14 .

Gambar 3. Trauma kimia asam Gambar 3 menunjukkan koagulasi protein yang berlaku pada mata akibat trauma asam, dan menimbulkan kekeruhan pada kornea, dimana yang 10

nantinya akan cenderung untuk masuk ke bilik depan mata dan bisa menimbulkan katarak. Patofisiologi dan Gejala Trauma Asam Pada Mata Bahan kimia asam

Asam cenderung berikatan dengan protein

Menyebabkan koagulasi protein plasma

Koagulasi protein ini, sebagai barrier yang membatasi penetrasi dan kerusakan lebih lanjut

Luka hanya terbatas pada permukaan luar saja.

Asam masuk ke bilik mata depan menimbulkan iritis dan katarak

Gangguan persepsi penglihatan

11

Gambar 4. Trauma kimia Gambar 4. menunjukkan mata yang pada bagian konjungtiva bulbi yang hiperemis dan pupil yang melebar karena peningkatan tekanan intraokular. Asam didefinisikan sebagai pendonor proton (H+). Kekuatan keasaman ditentukan dengan seberapa mudahnya melepas proton. Kekuatan asam diukur menggunakan skala pH dengan pH 1 merupakan asam. Bahan asam yang mengenai mata akan menyebabkan pengendapan atau penggumpalan protein namun bila konsentrasinya sedikit, tidak menimbulkan kerusakan dibandingkan bahan yang bersifat basa.12 Asam berdisosiasi menjadi ion hidrogen dan anion dalam kornea. Molekul hidrogen ini dapat menghancurkan permukaan okular dengan mengubah pH sedangkan anion menyebabkan protein mengalami denaturasi dan koagulasi. Anion dari asam dapat menyebabkan proses koagulasi pada epitel kornea, namun koagulasi protein ini dapat membantu mencegah penetrasi yang lebih lanjut dari asam ke dalam mata.8Sehingga efek trauma ini bersifat nonprogresif dan superfisial.

2. Trauma Basa Pada Mata Trauma basa biasanya lebih berat daripada trauma asam, karena bahanbahan basa memiliki dua sifat yaitu hidrofilik dan lipolifik dimana dapat secara cepat untuk penetrasi sel membran dan masuk ke bilik mata depan, bahkan sampai retina. Trauma basa akan memberikan iritasi ringan pada mata apabila dilihat dari luar. Namun, apabila dilihat pada bagian dalam

12

mata, trauma basa ini mengakibatkan suatu kegawatdaruratan. Basa akan menembus kornea, kamera okuli anterior sampai retina dengan cepat, sehingga berakhir dengan kebutaan. Pada trauma basa akan terjadi penghancuran jaringan kolagen kornea. Bahan kimia basa bersifat koagulasi sel dan terjadi proses safonifikasi, disertai dengan dehidrasi.2 Bahan alkali atau basa akan mengakibatkan pecah atau rusaknya sel jaringan. Pada pH yang tinggi alkali akan mengakibatkan safonifikasi disertai dengan disosiasi asam lemak membrane sel. Akibat safonifikasi membran sel akan mempermudah penetrasi lebih lanjut zat alkali. Mukopolisakarida jaringan oleh basa akan menghilang dan terjadi penggumpalan sel kornea atau keratosis. Serat kolagen kornea akan bengkak dan stroma kornea akan mati. Akibat edema kornea akan terdapat serbukan sel polimorfonuklear ke dalam stroma kornea. Serbukan sel ini cenderung disertai dengan pembentukan pembuluh darah baru atau neovaskularisasi. Akibat membran sel basal epitel kornea rusak akan memudahkan sel epitel diatasnya lepas. Sel epitel yang baru terbentuk akan berhubungan langsung dengan stroma dibawahnya melalui plasminogen aktivator. Bersamaan dengan dilepaskan plasminogen aktivator dilepas juga kolagenase yang akan merusak kolagen kornea.2 Selain itu gangguan penyembuhan epitel yang berkelanjutan dengan ulkus kornea dan dapat terjadi perforasi kornea. Kolagenase ini mulai dibentuk 9 jam sesudah trauma dan puncaknya terdapat pada hari ke 12-21. Biasanya ulkus pada kornea mulai terbentuk 2 minggu setelah trauma kimia. Pembentukan ulkus berhenti hanya bila terjadi epitelisasi lengkap atau vaskularisasi telah menutup dataran depan kornea. Bila alkali sudah masuk ke dalam bilik mata depan maka akan terjadi gangguan fungsi badan siliar. Cairan mata susunannya akan berubah, yaitu terdapat kadar glukosa dan askorbat yang berkurang. Kedua unsur ini memegang peranan penting dalam pembentukan jaringan kornea.2 Keadaan pH yang tinggi alkali akan mengakibatkan persabunan disertai dengan disosiasi asam lemak membrane sel. Akibat persabunan membrane sel akan mempermudah penetrasi lebih lanjut dari pada alkali.14 Mukopolisakarida jaringan oleh basa akan menghilang dan

13

terjadi penggumpalan sel kornea atau keratosis. Serat kolagen kornea akan bengkak dan stroma kornea akan mati. Akibat edem kornea akan terdapat serbukan sel polimorfonuklear ke dalam stroma kornea. Serbukan sel ini cenderung disertai dengan masuknya pembuluh darah baru atau neovaskularisasi. Akibat membran sel basal epitel kornea rusak akan memudahkan sel epitel diatasnya lepas. Sel epitel yang baru terbentuk akan berhubungan langsung dengan stroma dibawahnya melalui plasminogen activator. 13 Pada defek epitel kornea, plasminogen activator yang terbentuk merubah plasminogen menjadi plasmin. Plasmin melaui C3a mengeluarkan faktor hemotaktik untuk leukosit polimorfonuklear (PMN). Kolagenase laten berubah menjadi kolagenase aktif akibat terdapatnya tripsin, plasmin ketepepsin. Keratosit juga membentuk kolagenase akif melalui

kolagenase laten. Bersamaan dengan dilepaskan plasminogen aktivatir dilepas juga kolagenase yang akan merusak kolagen kornea. Akibatnya akan terjadi gangguan penyembuhan epitel yang berkelanjutan dengan tukak kornea dan dapat terjadi perforasi kornea. Kolagenase ini mulai dibentuk 9 jam sesudah trauma dan puncaknya terdapat pada hari ke 1221. Biasanya tukak pada kornea mulai terbentuk 2 minggu setelah trauma kimia. Pembentukan tukak berhenti hanya bila terjadi epitelisasi lengkap atau vaskularisasi telah menutup dataran depan kornea. Bila alkali sudah masuk ke dalam bilik mata depan maka akan terjadi gangguan fungsi badan siliar. Cairan mata susunannya akan berubah, yaitu terdapat kadar glukosa dan askorbat yang berkurang. Kedua unsur ini memegang peranan penting dalam pembentukan jaringan kornea.14 Patofisiologi Trauma Basa Pada Mata ditandai oleh 2 fase, yaitu fase kerusakan yang timbul setelah terpapar bahan kimia serta fase penyembuhan. Kerusakan yang terjadi pada trauma kimia yang berat dapat diikuti oleh hal-hal sebagai berikut: 2,5 Terjadi nekrosis pada epitel kornea dan konjungtiva disertai gangguan dan oklusi pembuluh darah pada limbus.

14

Hilangnya stem cell limbus dapat berdampak pada vaskularisasi dan konjungtivalisasi permukaan kornea atau menyebabkan kerusakan persisten pada epitel kornea dengan perforasi dan ulkus kornea bersih.

Penetrasi yang dalam dari suatu zat kimia dapat menyebabkan kerusakan dan presipitasi glikosaminoglikan dan opasifikasi kornea. Penetrasi zat kimia sampai ke kamera okuli anterior dapat menyebabkan kerusakan iris dan lensa. Kerusakan epitel siliar dapat mengganggu sekresi askorbat yang dibutuhkan untuk memproduksi kolagen dan memperbaiki kornea. Hipotoni dan phthisis bulbi sangat mungkin terjadi penyembuhan epitel kornea dan stroma diikuti oleh proses-proses berikut: Terjadi penyembuhan jaringan epitelium berupa migrasi atau pergeseran dari sel-sel epitelial yang berasal dari stem cell limbus Kerusakan kolagen stroma akan difagositosis oleh keratosit terjadi sintesis kolagen yang baru.

Patofisiologi trauma basa yang merusak mata : Bahan kimia alkali Pecah atau rusaknya sel jaringan disertai disosiasi asam lemak membran sel sehingga terjadi penetrasi lebih lanjut Mukopolisakarida jaringan menghilang dan terjadi penggumpalan sel kornea Serat kolagen kornea akan membengkak & kornea akan mati Edema terdapat serbukan sel polimorfonuklear ke dalam stroma, cenderung disertai masuknya pemb.darah (Neovaskularisasi) Dilepaskan plasminogen aktivator & kolagenase (merusak kolagen kornea) Terjadi gangguan penyembuhan epitel Berkelanjutan menjadi ulkus kornea atau perforasi ke lapisan yang lebih dalam 15

5. Manisfestasi Klinis Trauma kimia pada mata dapat didiagnosis berdasarkan anamnesis dari tanda dan gejala. Pasien umumnya mengeluh nyeri, fotofobia, pengelihatan kabur, dan adanya halo berwarna disekitar cahaya. Jika trauma kimianya parah, mata tidak menjadi merah namun akan tampak putih karena iskemia pada pembuluh darah konjungtiva. Perlu juga ditanyakan onset kejadian dan bahan kimia apa yang mengenai mata pasien. Pemeriksaan fisik dapat memakai senter, tetapi lebih baik menggunakan slitlamp. Beberapa tanda klinis yang dapat terjadi antara lain : 1. Penurunan visus mendadak akibat defek pada kornea berupa defek pada epitel kornea atau defek pada lapisan kornea yg lebih dalam lagi. Akan tetapi trauma asam akan membentuk sawar presipitat jaringan nekrotik yang cenderung membatasi penetrasi dan kerusakan lebih lanjut. 2. Edema pada kelopak mata disebabkan adanya peningkatan permeabilitas pembuluh darah. Kerusakan pada jaringan pada palpebra sehingga mata tidak dapat menutup sempurna dan terbentuknya jaringan parut pada palpebra. 3. Hiperemis konjungtiva hingga dapat terbentuknya kemosis.

Gambar 5. Kemosis

4.

Kerusakan pada kornea dapat bervariasi dari yang paling ringan, yaitu keratitis pungtata superfisial hingga defek epitel luas berupa erosi kornea, hilangnya epitel kornea hingga perforasi kornea. Walaupun jarang, perforasi kornea permanen dapat terjadi dalam beberapa hari hingga minggu pada trauma kimia parah yang tidak ditangani dengan baik . Pada defek epitel luas, hasil tes flouresin mungkin negatif.

16

5. Kabut stroma dapat bervariasi dari kornea bersih hingga opasifikasi sempurna. 6. Iskemik perilimbus merupakan indikator untuk prognosis penyembuhan kornea, karena stem sel di limbus yang berperan dalam repopulasi epitel kornea. Semakin luas iskemik yang terjadi di limbus, maka prognosis juaga semakin buruk. Tetapi keberadaan stem sel perilimbus yang intak tidak dapat menjamin terbentuknya reepitalial yang normal. 7. Terjadinya reaksi peradangan pada bagian anterior, reaksi yang terbentuk bervariasi dari flare sampai reaksi fibrinoid. Secara umum trauma basa lebih sering menyebabkan peradangan bilik mata depan akibat kemampuannya yang dapat menembus lapisan kornea. 8. Peningkatan tekanan intraokular (TIO) dapat terjadi secara mendadak akibat dari deformasi dan pengurangan serabut kolagen serta

keikutsertaan prostaglandin. Peningkatan TIO yang terus menerus secara langsung berhubungan dengan derajat kerusakan segmen anterior akibat peradangan.9

6. Klasifikasi Klasifikasi umum yang dipakai pada trauma kimia yakni Ralph, Hughes, Thoft dan DUA. Kunci atau elemen penting yang menentukan perluasan trauma kimia mata dan prognosis yakni:22 a. Total area epitel kornea yang mengalami trauma kimia b. Area defek epitel konjungtiva c. Derajat atau number of clock hours dari limbus yang mengalami iskemik d. Area dan derajat ketebalan dari opaksitas atau pengapuran kornea e. Peningkatan tekanan intara ocular (TIO) f. Menurunnya atau hilangnya kejernihan lensa Dua elemen terakhir menyatakan secara tidak langsung kerusakan struktur mata lebih dalam.Penyulit jangka panjang dari trauma kimia adalah glaucoma sudut tertutup, pembentukan jaringan parut kornea, simblefaron, enteropion, dan keratitis sika. Semakin banyak jaringan epitel perilimbus dan pembuluh

17

darah sclera maupun konjungtiva yang rusak, semakin buruk prognosisnya. Secara umum trauma asam memiliki nilai prognostik yang baik.23 Trauma kimia pada mata menurut Hughes diklasifikasi menjadi 4 stadium, yaitu:19 1. Stadium I Pada stadium ini terjadi iskemia limbus yang minimal atau tidak ada. 2. Stadium II Pada stadium II sudah terjadi iskemia yang kurang dari 2 kuadran limbus. 3. Stadium III Pada stadium III terjadi iskemia yang lebih dari 3 kuadran limbus, kornea tampak keruh dan pupil masih tampak. 4. Stadium IV Pada stadium IV sudah terjadi iskemia pada seluruh limbus, seluruh permukaan epitel konjungtiva dan bilik mata depan, seluruh kornea keruh dan pupil tidak tampak/tidak bisa di evaluasi. Klasifikasi trauma menurut Thoft20: Derajat Grade I Grade II Temuan klinis Kerusakan epitel kornea, iskemik tidak ada Prognosis Bagus

Kornea keruh, tapi iris masih tampak, Iskemik Bagus kurang dari 1/3 limbus

Grade III

Hilangnya epitel kornea secara total, stroma Sedang berkabut penampakan iris berkabut, Iskemik 1/3 to
1

/2 limbus

Grade IV

Kornea opak, Iris dan pupil tampak tidak jelas, Buruk Iskemil lebih dari 1/2 of limbus

18

Klasifikasi trauma kimia menurut DUA:21

Grade Prognosis

Temuan klinis

Keterlibatan konjunctiva

Very good

0 clock hours of limbal involvement

0%

II

Good

<3 clock hours of limbal involvement

<30%

III IV

Good Good guarded

>3-6 hours of limbal involvement to >6-9 hours of limbal involvement

>30-50% >50-75%

Guarded poor

to >9-<12 hours of limbal involvement

>75-<100%

VI

Very poor

Total limbus involved

100%

Klasifikasi RALPH untuk trauma kimia:20 Kode Prognosis Klinis Yang Ditemukan (Skor total merupakan nilai prognosis) 0 1 1 1 1 2

Hiperemis perilimbus Kemosis Iskemik perilimbus yang berbintik-bintik Epitel yang berkabut Epitel yang gundul dan berbintik-bintik Hilangnya epitel lebih dari 50%

19

Kekeruhan stroma ringan (iris masih terlihat) Pupil lonjong vertikal (long posterior ciliaries) Iridocyclitis Iskemik Perilimbus < 1/3 lingkaran Hilangnya epitel seluruhnya Kekeruhan Stroma sedang (iris hampir tidak terlihat) Iskemik perilimbus 1/3 to 1/2 lingkaran bertambahnya tekanan intra okular selama 23 jam pertama Kekeruhan stroma berat (Iris tidak terlihat) Iskemik perilimbus > 1/2 lingkaran

2 2 2 3

3 3

3 4 4

Skor Total

Kategori perlukaan

Prognosis

0 sampai 3

Perlukaan yang tidak signifikan

Pemulihan yang cepat tanpa gejala sisa Reepitelisasi yang cepat dan pembersihan kekeruhan stroma. Kembalinya visus 1-2 minggu Reepitelisasi 2-3 minggu Visus turun akibat kekeruhan yang persisten Umumnya pannus yang stabil berukuran 1-2 mm Tidak ada perforasi

4 sampai 6

Perlukaan yang ringan

7 sampai 9

Perlukaan sedang berat

20

10 sampai 12

Perlukaan berat

Reepitelisasi Pannus yang lambat Aktivitas colagenolitik dan meningkatnya aktivitas pembentukan pannus Perforasi mungkin terjadi Visus rendah karena pannus dan kekeruhan stroma Inflamasi menetap hingga 1 bulan Pannus yang padat Adanya perforasi Sikatrik kornea tervaskularisasi, katarak, and glukoma sekunder terjadi akibat masih di biarkannya bola mata

> 13

Worse cases

Gambar 6. Klasifikasi Trauma Kimia, (a) derajat 1, (b) derajat 2, (c) derajat 3, (d) derajat 4

21

7.

Diagnosis dan Pemeriksaan Penunjang Sistematis penegakan diagnosis dilakukan setelah pertolongan pertama

pada trauma kimia mata diberikan. Anastesi lokal akan sangat membantu agar pasien tenang sebelum dilakukan pemeriksaan mata yang seksama. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai tanda umum dan tanda komplikasi dari trauma kimia pada mata adalah; kejernihan dan keutuhan kornea, konjungtivalisasi kornea, neovaskularisasi, defek epitel kornea, derajat iskemik limbus dan tekanan intra okuli, simblefaron, dan edema. Selain itu dapat dilakukan pemeriksaan oftalmoskopi direk dan indirek juga dapat dilakukan (Lestari, 2010).

1. Anamnesis Terutama pada penderita yang bekerja di perusahaan, dimana benda logam memegang peranan. Harus ditanyakan apa pekerjaanya dan benda asing apakah kira-kiranya yang masuk ke dalam mata. 2. Pemeriksaan klinis Untuk mengetahui tempat masuknya benda asing tersebut, misalnya di kornea, lensa yang tamapak sebagai bercak putih. Kemudian diikuti perjalanan benda tersebut. 3. Tonometri Untuk mengetahui tekanan intraocular juga diperlukan mengingat terjadinya mekanisme yang menyebabkan terjadinya penyumbatan bahkan edem pada mata. Adanya diagnosis banding berupa glaukoma skunder jika pada hasil pemeriksaan TIO lebih dari normal (<20 mmHg).
5,10

4. Pemeriksaan pH Pemeriksaan pH bola mata secara berkala dengan kertas lakmus. Irigasi pada mata harus dilakukan sampai tercapai pH normal.5 5. Pemeriksaan lup atau slit lamp Pemeriksaan bagian anterior mata dengan lup atau slit lamp bertujuan untuk mengetahui kondisi mata.

22

8.Penatalaksanaan a. Tatalaksana Emergensi. 2 1. Irigasi Merupakan hal yang krusial untuk meminimalkan durasi kontak mata dengan bahan kimia dan untuk menormalisasi pH pada saccus konjungtiva yang harus dilakukan sesegera mungkin. Larutan normal saline (atau yang setara) harus digunakan untuk mengirigasi mata selama 15-30 menit samapi pH mata menjadi normal (7,3). Pada trauma basa hendaknya dilakukan irigasi lebih lama, paling sedikit 2000 ml dalam 30 menit. Makin lama makin baik. Jika perlu dapat diberikan anastesi topikal, larutan natrium bikarbonat 3%, dan antibiotik. Irigasi dalam waktu yang lama lebih baik menggunakan irigasi dengan kontak lensa (lensa yang terhubung dengan sebuah kanul untuk mengirigasi mata dengan aliran yang konstan.

2. Double eversi pada kelopak mata Dilakukan untuk memindahkan material yang terdapat pada bola mata. Selain itu tindakan ini dapat menghindarkan terjadinya perlengketan antara konjungtiva palpebra, konjungtiva bulbi, dan konjungtiva forniks.

3.Debridemen Pada daerah epitel kornea yang mengalami nekrotik sehingga dapat terjadi reepitelisasi pada kornea. 4. Medikamentosa.2 Trauma kimia ringan (derajat 1 dan 2) dapat diterapi dengan pemberian obatobatan seperti steroid topikal, sikloplegik, dan antibiotik profilaksis selama 7 hari. Sedangkan pada trauma kimia berat, pemberian obat-obatan bertujuan untuk mengurangi inflamasi, membantu regenerasi epitel dan mencegah terjadinya ulkus kornea.

Steroid bertujuan untuk mengurangi inflamasi dan infiltrasi neutofil. Namun pemberian steroid dapat menghambat penyembuhan stroma dengan menurunkan sintesis kolagen dan menghambat migrasi fibroblas. Untuk itu steroid hanya diberikan secara inisial dan di tappering off setelah 7-10 hari.

23

Dexametason 0,1% ED dan Prednisolon 0,1% ED diberikan setiap 2 jam. Bila diperlukan dapat diberikan Prednisolon IV 50-200 mg

Sikloplegik untuk mengistirahatkan iris, mencegah iritis dan sinekia posterior. Atropin 1% ED atau Scopolamin 0,25% diberikan 2 kali sehari.

Asam

askorbat

mengembalikan

keadaan

jaringan

scorbutik

dan

meningkatkan penyembuhan luka dengan membantu pembentukan kolagen matur oleh fibroblas kornea. Natrium askorbat 10% topikal diberikan setiap 2 jam. Untuk dosis sitemik dapat diberikan sampai dosis 2 gr.

Beta bloker/karbonik anhidrase inhibitor untuk menurunkan tekanan intra okular dan mengurangi resiko terjadinya glaukoma sekunder. Diberikan secara oral asetazolamid (diamox) 500 mg.

Antibiotik profilaksis untuk mencegah infeksi oleh kuman oportunis. Tetrasiklin efektif untuk menghambat kolagenase, menghambat aktifitas netrofil dan mengurangi pembentukan ulkus. Dapat diberikan bersamaan antara topikal dan sistemik (doksisiklin 100 mg).

5. Pembedahan. Pada stadium II (konjungtiva kemosis, degenerasi vaskuler dari epitel kornea) dan Stadium III (nekrose pada konjungtiva dan kornea, yang menjadi keruh dan anastesia samapai perforasi) perlu dilakukan tindakan pembedahan (operatif). Terapi pembedahan tambahan jika terdapat gangguan

penyembuhan luka setelah trauma kimiawi yang amat parah. Suatu transplantasi conjunctival dan limbal (stem cell transfer) dapat

mengganti sel induk yang hilang yang penting untuk penyembuhan kornea. Sehingga akan menyebabkan re-epitelisasi. Jika kornea tidak mengalami penyembuhan, suatu lem cyanoacrylate dapat digunakan untuk melekatkan suatu hard contact lens (epitel buatan) untuk membantu penyembuhan. Prosedur Tenons capsuloplasty (mobilisasi dan penarikan maju suatu flap [lembaran/sayap] dari jaringan subconjunctival ke kapsula Tenons untuk menutupi defek yang ada) dapat membantu menghilangkan defek pada konjunctiva dan sclera.7,9

24

b. Penatalaksanaan bedah lanjutan setelah mata stabil Lisis dari symblepharon untuk meningkatkan motilitas okuler dan palpebra. Bedah plastik pada palpebra untuk membebaskan bola mata. Ini hanya boleh dilakukan sekitar 12 sampai 18 bulan setelah cedera. Jika terdapat kehilangan total dari sel goblet, transplantasi dari mukosa nasal

biasanya menghilangkan nyerinya. Penetrating keratoplasty dapat dilakukan untuk mengembalikan pengelihatan. Karena kornea yang rusak sangat banyak mendapatkan vaskularisasi, prosedur ini diwarnai oleh banyaknya insidensi penolakan cangkokan. Kornea yang jernih jarang bisa didapatkan pada mata yang mengalami trauma parah bahkan dengan suatu cangkok kornea dengan tipe HLA yang sama dan terapi imunosupresif.9

c. Pembedahan Segera: Sifatnya segera dibutuhkan untuk revaskularisasi limbus, mengembalikan populasi sel limbus dan mengembalikan kedudukan forniks. Prosedur berikut dapat digunakan untuk pembedahan:

Pengembangan kapsul tenon dan penjahitan limbus bertujuan untuk mengembalikan vaskularisasi limbus juga mencegah perkembangan ulkus kornea.

Transplantasi stem sel limbus dari mata pasien yang lain (autograft) atau dar donor (allograft) bertujuan untuk mengembalikan epitel kornea menjadi normal.

Graft membran amnion untuk membantu epitelisasi dan menekan fibrosis

d. Pembedahan Lanjut. Pada tahap lanjut dapat menggunakan metode berikut:

Pemisahan bagian-bagian yang menyatu pada kasus conjungtival bands dan simblefaron.

Pemasangan graft membran mukosa atau konjungtiva. Koreksi apabila terdapat deformitas pada kelopak mata. Keratoplasti dapat ditunda sampai 6 bulan. Makin lama makin baik, hal ini untuk memaksimalkan resolusi dari proses inflamasi.

25

Keratoprosthesis bisa dilakukan pada kerusakan mata yang sangat berat dikarenakan hasil dari graft konvensional sangat buruk.2,17

9. Komplikasi.2,5 Komplikasi dari trauma mata juga bergantung pada berat ringannya trauma, dan jenis trauma yang terjadi. Komplikasi yang dapat terjadi pada kasus trauma basa pada mata antara lain: 1. Simblefaron, adalah gejala gerak mata terganggu, diplopia, lagoftalmus, sehingga kornea dan penglihatan terganggu. 2. Kornea keruh, edema, neovaskuler 3. Sindroma mata kering 4. Katarak trauma basa pada permukaan mata sering menyebabkan katarak. Komponen basa yang mengenai mata menyebabkan peningkatan pH cairan akuos dan menurunkan kadar glukosa dan askorbat. Hal ini dapat terjadi akut ataupun perlahan-lahan. Trauma kimia asam sukar masuk ke bagian dalam mata maka jarang terjadi katarak traumatik. 5. Glaukoma sudut tertutup 6. Entropion dan phthisis bulbi

Gambar 7. Simblefaron.

26

Gambar 8. Ptisis Bulbi. J. Prognosis. 6,8 Prognosis trauma kimia pada mata sangat ditentukan oleh bahan penyebab trauma tersebut. Derajat iskemik pada pembuluh darah limbus dan konjungtiva merupakan salah satu indikator keparahan trauma dan prognosis penyembuhan. Iskemik yang paling luas pada pembuluh darah limbus dan konjungtiva memberikan prognosa yang buruk. Bentuk paling berat pada trauma kimia ditunjukkan dengan gambaran cooked fish eye dimana prognosisnya adalah yang paling buruk, dapat terjadi kebutaan.

Gambar 9. cooked fish eye

Trauma kimia sedang samapai berat pada konjungtiva bulbi dan palpebra dapat menyebabkan simblefaron (adhesi anatara palpebra dan konjungtiva bulbi). Reaksi inflamasi pada kamera okuli anterior dapat menyebabkan terjadinya glaukoma sekunder.

27

Prognosis trauma kimia pada mata biasanya ditentukan berdasarkan klasifikasi huges. Klasifikasi Huges Ringan :

Prognosis baik Terdapat erosi epitel kornea Pada kornea tedaat kekeruhan yang ringan Tidak terdapat iskemia dan nekrosis kornea ataupun konjungtiva

Sedang :

Prognosis baik Terdapat kekeruhan kornea sehingga sulit melihat iris dan pupil secara terperinci

Terdapat iskemia dan nekrosis enteng pada kornea dan konjungtiva

Sangat berat :

Prognosis buruk Akibat kekeruhan kornea upil tidak dapat dilihat Konjungtiva dan sklera pucat

28