Anda di halaman 1dari 10

Geografi Pariwisata

OBJEK WISATA TANAH LOT, TABANAN, BALI


Candra Eko Mawarid, 0906514765

Tentang Tanah Lot Tanah Lot adalah objek wisata di Bali yang berupa pura. Letak keunikan dari Tanah Lot adalah pura yang letaknya berada di batu karang yang berada di luar garis daratan tepatnya di laut, berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Tanah Lot sebenarnya merupakan bagian dari pura Dah Kayangan, terdiri dari dua pura yaitu pura Batu Bolong dan pura Enjung Galuh, keduanya terletak di tebing yang berada di lepas daratan Bali. Luas lokasi sekitar 202.830 m2 dan kelilingnya sekitar 2.509 m. Lokasi dan Akses Tanah Lot

sumber : www.tanahlot.net

Lokasi objek wisata Tanah Lot secara geografis berada pada wilayah Barat Daya pulau Bali. Secara administratif objek wisata Tanah Lot terletak di desa Beraban, kecamatan Kediri, Kebupaten Tabanan, provinsi Bali. Tanah Lot berbatasan langsung dengan : Utara Selatan Timur Barat : Sawah : Samudera Hindia : Bali Nirvana Resort : Samudera Hindia dan Sungai Kutikan

Untuk mencapai Tanah Lot, wisatawan menempuh jarak sekitar 13 km dari arah Barat kota Tabanan atau 25 km dari arah Barat kota Denpasar. Wisatawan dapat menggunakan jasa taksi, sewa mobil, sewa motor, atau jasa travel.

Kondisi Fisik Tanah Lot

Kontur topografi darat dan laut pulau Bali Tanah Lot

Gambaran 3 dimensi topografi dasar laut perairan Selatan pulau Bali

Tanah Lot

Sumber : Badan Geologi Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral

Tanah Lot merupakan pantai dengan jenis pantai berbatu dan memiliki tebing. Juga memiliki karang-karang yang besar dan kokoh. Pura yang menjadi objek utama berada di sebuah karang besar di luar dari garis tebing daratan pulau Bali. Sepanjang garis pantai mengalami terjangan ombak besar dari samudera Hindia. Untuk jenis batuan yang ada masih dipengaruhi Tuff dari aktivitas vulkanik di pulau Bali. Mengenai kondisi iklim masih dipengaruhi iklim Bali secara keseluruhan dan sangat dipengaruhi angin musim. Aktivitas pasang surut air laut menyebabkan pura Tanah Lot kadang berada di tengah laut kadang berada di daratan. Kondisi ekosistem pun juga di jaga dengan mempertahankan habitat terumbu karang dan beberapa organisme laut seperti ular laut.

Sejarah Pura Tanah Lot Secara bahasa Tanah Lot berarti tanah di tengah lautan sesuai dengan kondisinya, sebuah pura yang berada di batu karang di tengah laut. Menurut legenda, pura Tanah Lot dibangun pada abad ke-16 oleh seorang penyebar agama Hindu bernama Danghyang Nirartha. Pendeta yang berasal dari Blambangan ini di daerah Lombok juga dikenal dengan sebutan Tuan Semeru, merujuk pada sebuah nama gunung di Jawa Timur, yaitu Gunung Semeru.
Sumber : dokumentasi penulis (2011)

Kedatangan Dahnyang Nirartha ke Desa Beraban konon karena mengikuti petunjuk sinar suci yang memancar dari arah tenggara. Sinar ini ternyata menuju sebuah mata air suci yang di dekatnya terdapat sebuah batu karang yang berbentuk burung (masyarakat setempat menyebutnya gili beo, yang berarti tanah atau batu karang yang menyerupai burung). Di tempat ini, bersama para pengikutnya Danghyang Nirartha melakukan meditasi dan pemujaan kepada Dewa Penguasa Laut sembari menyebarkan agama Hindu kepada masyarakat setempat. Ulah Danghyang Nirartha ternyata kurang berkenan di hati pemimpin Desa Beraban, yaitu Bendesa Beraban Sakti. Bersama para pengikutnya, ia berencana menyerang Danghyang Nirartha supaya pergi dari Desa Beraban. Sang pendeta kemudian melindungi diri dengan memindahkan batu karang tempatnya bermeditasi ke tengah laut dan menciptakan ular laut berbisa dari selendangnya untuk melindungi tempat tersebut. Batu karang yang dipindahkan inilah yang kemudian disebut tanah lot, atau tanah di tengah laut. Menyaksikan kesaktian sang Pendeta, akhirnya Bendesa Beraban takluk dan menjadi pengikut setia Danghyang Nirartha. Oleh karena kesungguhannya, Danghyang Nirartha kemudian memberikan sebuah keris suci yang dikenal dengan nama Jaramenara atau Ki Baru Gajah kepada Bendesa Beraban. Saat ini, keris keramat itu disimpan di Puri Kediri dan diupacarai setiap Hari Raya Kuningan. Pada batu karang di tengah laut inilah kemudian Danghyang Nirartha mendirikan Pura Pakendungan yang lebih dikenal dengan nama Pura Luhur Tanah Lot. Sementara ular ciptaan Danghyang Nirartha masih ada di dalam kompleks pura sampai sekarang. Ular ini termasuk jenis ular laut yang mempunyai ciri-ciri berekor pipih, memiliki warna hitam berbelang kuning dan mempunyai racun tiga kali lebih kuat dari ular kobra.

Daya Tarik Utama Tanah Lot Pura Tanah Lot. Pura Tanah Lot yang berada di sebuah batu karang yang terletak di tengah laut dan berjarak sekitar 50 m dari pantai. Turis bisa mencapai pura jika dalam keadaan air surut, biasanya pada waktu sore hari. Ketika air pasang maka pura akan nampak berada di tengah laut dan turis tidak bisa mencapai pura. Sumber : dokumentasi penulis Sunset Terrace. Sunset terrace merupakan salah satu (2011) tempat di areal Tanah Lot yang menyediakan tempat yang tepat untuk menciptakan suasana yang tak terlupakan saat sunset berlangsung. Dengan keindahan panorama, turis dapat menikmati makan pagi dan makan siang yang mewah. Para turis juga dapat bersantai dengan ditemani makanan dan minuman sekaligus menikmati panorama pura Tanah Lot ketika air laut pasang. Terlebih bagian atraksi dari objek wisata Tanah Lot adalah ketika matahari terbenam. Mata Air Tawar. Mata air tawar yang muncul pada gua di batu karang pura Tanah Lot terus mengalir walaupun berada di laut. Warga setempat menyebutnya Tirta Pabersihan dan dianggap keramat. Turis dapat menggunakan air ini untuk membasuh muka karena katanya berkhasiat untuk awet muda dan kelancaran kehidupan. Air ini muncul sebagai air tanah tetapi karena faktor jenis tanah dan batuan di Tanah Lot yang keras dan jarak dengan akuifer yang dekat maka air dapat tetap muncul sebagai air tanah tanpa terpengaruh air laut. Ular Suci. Ular Suci yang menurut cerita merupakan ciptaan Danghyang Nirartha sebagai ular penjaga pura. Wisatawan dapat melihat atau memegang ular ini sambil meletakkan uang receh atau uang koin, memang ular ini tergolong ular berbisa namun selama terdapat pawangnya maka tidak ada reaksi yang berarti dari ular. Pada waktu melihat atau memegang ular ini wisatawan juga bisa melakukan permohonan. Ular ini termausk jenis ular laut dengan ciri warna tubuh hitam dengan cincin-cincin putih di sepanjang tubuhnya.

Sejarah Pengelolaan Tanah Lot Tanah Lot adalah sebuah Daya Tarik Wisata Khusus (DTWK), yang awalnya sudah dikenal sebagai obyek wisata dari tahun 1970-an. Cuma pada saat itu infrastruktur penunjang yang sangat minim dan hanya dikunjungi oleh wisatawan lokal pada hari-hari libur lokal seperti hari liburan sekolah, hari raya Galungan, Kuningan atau pada saat upacara di Pura Tanah Lot. Seiring berkembangnya sektor kepariwisataan Bali, dengan mengandalkan suasana Sunsetnya yang menawan Tanah Lot mengalami peningkatan

pengunjung baik dari domestik maupun mancanegara. Dan para pengunjung tidak saja berkunjung pada saat-saat liburan tetapi sudah rutin setiap hari terutama pada sore hari.
Sumber : dokumentasi penulis (2011)

Mengantisipasi Perkembangan ini Pemerintah Kabupaten Tabanan pada Tahun 1980 mempercayakan pengelolaan Tanah Lot kepada pihak Swasta, yaitu CV. Ary Jasa Wisata dengan sistem kontrak. Pengelolaan ini dimulai per 1 juni 1980 dengan harga tiket masuk pada saat itu Rp 100 per orang, dengan target pemasukan ke Pemerintah Daerah 3 Juta rupiah pertahun. Sistem kontrak ini terus berlangsung dengan mengalami perubahan target pencapaian pendapatan seiring peningkatan angka kunjungan dan peningkatan harga tiket masuk pada daya tarik wisata Tanah Lot. Situasi ini berlangsung sampai saat ketika pada awal tahun 2000, di ketahui bahwa kewajiban pihak swasta/nilai kontrak kepada Pemerintah kabupaten Tabanan pertahun menjadi Rp 380 juta pertahun. Dan pada saat itu harga tiket masuk sudah Rp 3300/orang dewasa dan Rp 1800/orang untuk anak-anak. Pada tahun 1999 dengan bergulirnya wacana otonomi daerah, masyarakat Beraban mencoba berjuang untuk bisa mengelola Daya Tarik Wisata Tanah Lot. Situasi pada saat masa perjuangan masyarakat Desa Beraban ini, memang menciptakan situasi yang cukup panas dilapangan, dan apalagi saat itu masyarakat baru tahu bahwa perpanjangan kontrak pemerintah dengan Pihak Swasta baru saja diperpanjang sampai tahun 2011 tanpa sepengetahuan pihak Desa Adat Beraban. Situasi ini membuat situasi dimasyarakat cukup panas dan akhirnya dengan menggunakan jalur kekuatan politik dan masyarakat, akhirnya di Legislatif dibentuklah PANSUS Pengkajian Kontrak Kerja Sama Pengelolaan Daya Tarik Wisata Tanah Lot antara pemerintah dengan Pihak swasta. Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang dan cukup panas maka disepakati bahwa dari 1 Juli 2000 sampai 19 April 2011, Daya Tarik Wisata Tanah Lot dikelola oleh tiga komponen yaitu Desa Adat Beraban, Pihak Swasta dan Pemerintah Daerah Kabupaten

Tabanan dengan pola sharing profit. Kesepakatan ini akhirnya tertuang pada Surat Perjanjian Kerja Sama Pengelolaan Objek Wisata Tanah Lot No:01/HK/2000 tertanggal 30 Juni 2000. Dan terbitnya Surat Keputusan Bupati Tabanan Nomor: 644 tahun 2000 tentang Pembentukan Badan Pengelola Obyek Wisata Tanah Lot. Sampai saat ini surat Perjanjian Kerja sama Pengelolaan Objek Wisata Tanah Lot telah mengalami revisi satu kali yaitu pada tahun 2002 yaitu menjadi Surat Perjanjian Kerjasama Pergelolaan Obyek Wisata Tanah Lot Nomor: 01/HK/2002. Setelah itu terakhir menjadi Surat Keputusan Bupati Tabanan Nomor : 62 TAHUN 2007. Perubahan perubahan pada Surat Keputusan Bupati ini lebih disebabkan hal hal teknis, seperti perubahan nama dan struktur jabatan yang ada, serta perubahan job description akibat dari perubahan struktur tersebut. Perubahan-perubahan ini terjadi akibat adanya evaluasi kinerja dan permasalahan-permasalahan yang dihadapi tiap tahunnya. Dan perubahan ini adalah merupakan hasil koreksi dan control manajemen Badan Pengelola Obyek Wisata Tanah Lot dalam upaya penyempurnaan. Konsep Pengelolaan Tanah Lot Tanah Lot sebagai sebuah tempat daya tarik wisata dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir ini mengalami peningkatan kualitas yang cukup pesat. Hal ini dapat kita lihat dari tingkat peningkatan angka kunjungan yang terus meningkat tiap tahunnya. Situasi ini terjadi tidak bisa dipisahkan dengan konsep pengelolaan yang diterapkan pada manajemen pengelola daya tarik wisata Tanah Lot saat ini. Konsep pengelolaan ini sangat berperanan penting dalam upaya manajemen melakukan tugas pengelolaannya. Adapun konsep pengelolaan daya tarik wisata Tanah Lot yang dimaksud adalah: 1. 2. 3. 4. Community responsibility Sustainable in tourism development Community based tourism development Equitable distribution of tourism development

Kaitan Antara Tanah Lot Terhadap Masyarakat Sekitar Masyarakat yang tinggal di sekitar objek wisata Tanah Lot merupakan penggerak inti dari keberlangsungan Tanah Lot. Sebagai objek wisata yang memiliki daya ketertarikan pada budaya dan bentang alamnya tentu yang menjadi komponen pentingnya masyarakatnya karena sebagai penggerak objek wisata. Masyarakat harus memahami bahwa Tanah Lot harus dijaga dan dipelihara dengan manajemen yang bagus dan professional, karena Tanah Lot selain merupakan obyek daya tarik wisata, yang terpenting adalah Tanah Lot merupakan Pura Dang Kahyangan, tempat pemujaan Umat Hindu yang harus tetap dijaga kesucian dan kelestariannya. Terlepas dari ada turis yang datang ataupun tidak ke wilayah ini, maka wajib hukumnya masyarakat setempat melestarikan keberadaan Pura ini. Kesadaran masyarakat akan hal ini merupakan faktor penting bagi keberlangsungan dari daya tarik wisata Tanah Lot. Masyarakat harus sadar bahwa kedatangan wisatawan ke Tanah Lot disebabkan oleh

keberadaan situs pura Tanah Lot yang didukung oleh budaya hidup masyarakat. Hal ini akhirnya mampu memberikan peluang ekonomi yang sangat besar bagi masyarakat setempat khususnya dan masyarakat Tabanan dan Bali pada umumnya. Daya tarik wisata Tanah Lot merupakan sebuah poin penting yang sangat berharga bagi seluruh masyarakat, khususnya bagi masyarakat Desa Adat Beraban. Keberadaan daya tarik wisata Tanah Lot secara nyata berdampak positif bagi perkembangan perekonomian masyarakat setempat. Dari hasil kontribusi yang diterima oleh Desa Adat Beraban telah mampu membebaskan masyarakat dari segala bentuk iuran pembangunan desa. Bahkan juga dari penerimaan oleh desa ini sebagian juga di kontribusikan langsung kepada masyarakat yang diberikan kepada masing masing Kepala Keluarga. Desa Adat di Bali memiliki tanggung jawab biaya upacara adat yang sangat besar, namun semenjak desa Adat Beraban ikut mengelola daya tarik wisata Tanah Lot dari tahun 2000 sampai saat ini, masyarakat tidak lagi berpikir membayar iuran untuk hal tersebut. Disisi lain dengan penerapan manajemen yang mengutamakan pelayanan, mampu menciptakan peluang pekerjaan baru (170 orang) bagi masyarakat dan memotivasi masyarakat untuk meningkatkan kualitas dirinya supaya mampu bersaing mendapatkan pekerjaan tersebut. Tanah Lot saat ini memiliki tidak kurang dari 460 pedagang (kios/artshop) yang 96% dari masyarakat lokal. Dampak langsung keberadaan daya tarik wisata Tanah Lot ini memang sangat kelihatan. Ketergantungan masyarakat Desa Adat Beraban dengan keberadaan daya tarik wisata Tanah Lot sangatlah tinggi. Begitu pula bahwa masih banyak bagian dari masyarakat beraban yang memiliki ketergantungan tidak langsung lainnya seperti supporting unit aspek ekonomi dari keberadaan para pedagang yang ada di Tanah Lot, contoh: jasa angkutan, pekerja kasar, dan lain sebagainya. Secara geografis masyarakat Beraban saat ini masih memiliki lahan persawahan dan lahan terbuka hijau tetapi mengingat Desa Adat Beraban merupakan bagian kawasan dari daya tarik wisata khusus Tanah Lot, maka secara langsung seluruh wilayah Desa Adat Beraban, merupakan bagian dari pengembangan Tanah Lot. Strategi dengan menempatkan masyarakat menjadi subjek dari pembangunan dan pengembangan dari daya tarik wisata Tanah Lot memberikan peluang yang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk ikut berinovasi dan mendukung segala program-program yang dilaksanakan oleh Badan Pengelola Daya Tarik Wisata Tanah Lot. Dengan membangun kepedulian masyarakat terhadap keberadaan Tanah Lot dan mereka sudah merasakan dampak positif dari pengelolaan yang ada, masyarakat saat ini sangat protektif terhadap keberadaan dan kesucian situs Pura Tanah Lot dan juga lingkungannya. Antusias umat melaksanakan kegiatan upacara sangat tinggi karena mereka tahu bahwa itu merupakan kewajiban yang harus mereka laksanakan dan juga sekaligus merupakan daya tarik bagi wisatawan. Begitu pula 8ocal8-sektor pengembangan ekonomi terutama yang berkaitan dengan pariwisata, mayoritas sudah berani diambil oleh masyarakat lokal. Seperti misalnya : koperasi jasa angkutan wisata yang dulunya dikuasai oleh investor luar, berdirinya usaha kecil menengah yang membuat cindera mata yang

dulunya ini didatangkan dari luar, dan jasa-jasa lain seperti fotografer, pelukis, penginapan, dan lain-lain.

Strategi Pemasaran Tanah Lot Media pemasaran yang dilakukan pengelola yaitu memasarkan dengan mengajak para wisatawan untuk datang ke Tanah Lot. Melalui media cetak atau pun elektronik untuk memasukkan iklan objek wisata Tanah Lot. Kemudian memulai langkah mengadakan acaraacara khusus di Tanah Lot sebagai penarik wisatawan. Acara seperti Tanah Lot Festival sangat menarik bagi wisatawan domestik maupun asing. Tidak hanya acara-acara yang memang sengaja diadakan oleh pihak pengelola tetapi acara-acara adat seperti upacara Odalan, Galungan, dan Kuningan juga dipromosikan untuk menarik perhatian para wisatawan yang akan datang. Event yang diadakan sangat berpengaruh terhadap jumlah wisatawan yang datang dan turut membawa nama Tanah Lot ke media-media yang ikut meliput event tertentu. Sehingga makin banyak orang yang datang tiap tahunnya, terjadi peningkatan wisatawan yang datang ke Tanah Lot. Apalagi dengan event di Tanah Lot bisa mengurangi ketakutan masyarakat terhadap Bali secara umumnya pasca tragedy bom Bali 1 dan 2. Bahkan yang meliput suatu event yang ada di Tanah Lot mencapai stasiun-stasiun televise internasional. Hal ini dianggap strategi yang jitu untuk memasarkan objek wisata Tanah Lot.

Sumber I Made Sujana,M.Par Kebijakan Strategi Promosi Objek Wisata Tanah Lot 2011
http://www.sujanatanahlot.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2:kebija kan-strategi-promosi-objek-wisata-tanah-lot&catid=3:artikel&Itemid=10

I Made Sujana,M.Par Konsep Pengelolaan Daya Tarik Wisata Tanah Lot 2011
http://www.sujanatanahlot.com/index.php?option=com_content&view=article&id=17:kons ep-pengelolaan-kawasan-daya-tarik-wisata-tanah-lot&catid=3:artikel&Itemid=10

Tentang Tanah Lot. Pemerintah Kabupaten Tabanan


http://www.tabanankab.go.id/potensi-daerah/pariwisata/369-tentang-tanah-lot Ichwan Dwi, Kondisi Geografi Tanah Lot http://one-geo.blogspot.com/2010/01/kondisigeografi-tanah-lot.html Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Laporan Tahunan Geologi 2006 http://www.bgl.esdm.go.id/dmdocuments/laptahgeologi06.pdf I Nyoman Mandia, Pembangunan Pariwisata Budaya Jurnal Kepariwisataa Indonesia, 2008

http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/3208299312.pdf http://www.tanahlot.net/home/ http://www.suarmas.com/tanah_lot.html http://www.bhutours.com/paketrupiah/obyek.php