Anda di halaman 1dari 17

Judul Penelitian: Monitoring dan Penyebaran data hasil sensoring waspmote Via GSM Bidang Ilmu : Telekomunikasi Latar

Belakang : Pembangunan yang begitu pesat di Kota Pekanbaru menimbulkan berbagai dampak positif yang juga diikuti dengan dampak negatif sebagai implikasi dari pembangunan itu sendiri. Beberapa dampak negatif nya adalah kemacetan, kualitas udara yang semakin buruk diakibatkan oleh debu-debu hasil pembangunan yang secara tidak langsung meningkatkan level kegersangan pada Kota Pekanbaru, ditambah lagi untuk memperlancar proses pembangunan beberapa pepohonan yang menjadi pusat produksi oksigen di Kota Pekanbaru harus ditebang untuk sementara waktu. Hal ini juga akan menyebabkan kualitas kesehatan masyarakat di Kota Pekanbaru menurun, karena dampak terkena Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) akan meningkat bersamaan dengan semakin memburuknya kualitas udara. Untuk itu diperlukan ada nya suatu system yang bekerja secara kontinu dalam memantau kualitas udara dan cuaca di Kota Pekanbaru serta dapat mengirimkan alarm tanda bahaya jika kualitas udara sudah sangat buruk dan dapat mengganggu kesehatan masyarakat. Pemerintah Kota Pekanbaru bukannya tidak melakukan tindakan akan hal ini, terbukti dengan pemasangan Air Quality Management System (AQMS) yang notabene merupakan proyek kerja sama antara Indonesia dengan Austria yang diimplementasi kan di 10 kota di Indonesia (Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Medan, Pekanbaru, Jambi, Pontianak dan Palangkaraya) dan sudah dimulai sejak tahun 1999. Namun, sampai saat ini pemantauan dan pengukuran kualitas udara dibeberapa kota di Indonesia masih tidak efektif, hal ini disebabkan oleh peralatan/sparepart yang telah aus (habis masa pakainya) serta komitmen

daerah yang kurang dalam pembiayaan operasional stasiun serta petugasnya. Sedangkan di 7 kota lainnya ada beberapa stasiun yang masih aktif beroperasi tapi datanya tidak dapat dikirim ke Main Center yang antara lain disebabkan oleh jaringan telpon dari stasiun ke Regional center. Saat ini Kota Pekanbaru memiliki 3 stasiun pemantau tetap yang berlokasi di Kulim, Sukajadi dan Tampan, 1 stasiun pemantau bergerak dan 2 papan display Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang terletak di Jalan Sudirman dan Jalan Nangka. Namun sistem yang ada tidak efektif dan seringkali papan display tersebut rusak tanpa perawatan. Informasi yang dipakai untuk mengindikasikan kondisi kualitas udara ambien salah satunya adalah ISPU. ISPU adalah angka yang tidak mempunyai satuan yang menggambarkan kondisi kualitas udara ambien di lokasi dan waktu tertentu yang didasarkan kapada dampak terhadap kesehatan manusia, nilai estetika dan mahluk hidup lainnya. Parameter yang dipakai untuk menghitung ISPU adalah seperti yang termuat didalam: Kep-45/MENLH/10/1997 dan Kep-107/KABAPEDAL/11/1997 yaitu: Partikulat Matter ukuran 10 mikron (PM10), Karbon Monoksida (CO), Sulfur Dioksida (SO2), Nitrogen Dioksida (NO2) dan Ozon (O3). Walaupun papan ISPU di pasang dibeberapa ruas jalan, namun warga kota tidak menyadari pentingnya informasi tersebut, dan tetap melakukan aktifitas diluar rumah tanpa alat pengaman pernafasan (masker), sehingga tingginya penderita infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) di Kota ini. Dengan pemgembangan wilayah kota yang pesat, pertambahan penduduk yang meningkat, penggunaan 2 papan display tersebut belumlah mencukupi dan efektif. Oleh karena itu, perancangan dan pembangunan sistem pemantauan dan pengukuran kulaitas udara dengan memanfaatkan perkembangan telekomunikasi terkini dirasa perlu untuk memudahkan pengoperasian, tingkat fleksibelitas yang tinggi, biaya yang efektif, serta jangkauan yang luas.

Penggunaan sistem terintegrasi jaringan sensor tanpa kabel berbasiskan Waspmote, Zigbee, GPS dan GPRS/GPS adalah solusinya, pemantauan dan pengukuran terhadap gas-gas berbahaya dapat dilakukan secara akurat dan real time. SMS peringatan kepada masyarakat dapat disebar luaskan dengan segera apabila kondisi kualitas udara membahayakan kesehatan manusia, dengan begitu kesadaran masyarakat akan bahaya pencemaran udara serta langkah pencegahan dapat dilakukan lebih dini. Sistem jaringan sensor tanpa kabel berbasiskan Zigbee terdiri dari beberapa nodes (Waspmote) yang terhubung secara topologi star. Masing-masing nodes akan mengirimkan dan menerima data melalui saluran komunikasi. Zigbee sebagai coordinator jaringan yang mengatur dan menginisialisasi jaringan dan memastikan setiap nodes terhubung dengannya.

Perumusah masalah : a. Pemantauan kualitas udara di Kota Pekanbaru yang masih belum efektif dengan hanya penggunaan 2 papan ISPU yang masih menggunakan teknologi lama dalam hal ini masi menggunakan system radio HF yang telah terpasang sejak tahun 1997, 15 tahun yang lalu. Oleh karena itu, perlu dirancang sebuah sistem yang terintegrasi, efektif dan tepat guna dengan menggunakan system teknik telekomunikasi terkini yaitu jaringan sensor Waspmote dan Zigbee, yang lebih mudah dalam operasionalnya dan biaya yang lebih efektif.. b. Kurang meluasnya informasi tentang kondisi kualitas udara kepada masyarakat dan hanya bergantung kepada dua papan ISPU sebagai media informasi publik. Kedua papan ini terletak hanya di daerah pusat perkotaan dan kurangnya perhatian masyarakat

terhadap kedua informasi pada papanini. Dengan sistem GPRS/GSM yang digunakan, penyampaian informasi ISPU dapat dilakukan melalui sms keseluruh masyarakat.

Tujuan Penelitian : Adapun tujuan penelitian adalah sebagai berikut: 1. melakukan perancangan dan pembangunan sistem pemantauan dan pengukuran kondisi kualitas udara Kota Pekanbaru melalui jaringan sensor tanpa kabel berbasiskan Waspmote dan Zigbee dan mengirimkan sms peringatan via GPRS/GSM.

Kontribusi/Penggunaan Penelitian :

a. Instansi pemerintah terkait Sistem jaringan sensor tanpa kabel berbasiskanWaspmote dan Zigbee yang digunakan untuk pemantauan dan pengukuran kualitas udara ini merupakan salah satu pemanfaatan teknologi telekomunikasi terkini. . Sistem ini juga menggabungkan system

telekomunikasi yang ada seperti GPRS/GSM dan GPS, sehingga lokasi setiap stasiun Waspmote yang diamati dapat dipantau secara kontinyu melalui sistem GPS dan peringatan alarm dapat dikirim keseluruh masyarakat melalui sistem GPRS/GSM apabila kondisi kualitas udara dalam keadaan yang membahayakan.

b. Masyarakat Diharapkan dengan diterapkannya system ini dapat memperluas penyampaian informasi kepada masyarakat secara efektif, yang tidak hanya bergantung kepada duapapan ISPU

yang sudah ada, sehingga langkah pencegahan dampak kesehatannya dapat dilakukan dengan lebih baik. Penyampaian informasi dengan sms merupakan cara yang paling sesuai untuk Kota Pekanbaru yang perkembangan penduduk serta pengembangan wilayahnya semakin meluas, dua papan yang terpasang di JalanSudirman dan Jalan Nangka tidaklah mencukupi. c. Universitas Jurnal ilmiah dapat dihasilkan melalui proyek ini dengan begitu meningkatkan reputasi universitas.

Tinjauan Pustaka : Pendahuluan Pembangunan yang begitu pesat di Kota Pekanbaru menimbulkan berbagai dampak positif yang juga diikuti dengan dampak negatif sebagai implikasi dari pembangunan itu sendiri. Beberapa dampak negatif nya adalah kemacetan, kualitas udara yang semakin buruk diakibatkan oleh debu-debu hasil pembangunan yang secara tidak langsung meningkatkan level kegersangan pada Kota Pekanbaru, ditambah lagi untuk memperlancar proses pembangunan beberapa pepohonan yang menjadi pusat produksi oksigen di Kota Pekanbaru harus ditebang untuk sementara waktu. Hal ini juga akan menyebabkan kualitas kesehatan masyarakat di Kota Pekanbaru menurun, karena dampak terkena Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) akan meningkat bersamaan dengan semakin memburuknya kualitas udara. Untuk itu diperlukan ada nya suatu system yang bekerja secara kontinu dalam memantau kualitas udara dan cuaca di Kota

Pekanbaru serta dapat mengirimkan alarm tanda bahaya jika kualitas udara sudah sangat buruk dan dapat mengganggu kesehatan masyarakat. Pemerintah Kota Pekanbaru bukannya tidak melakukan tindakan akan hal ini, terbukti dengan pemasangan Air Quality Management System (AQMS) yang notabene merupakan proyek kerja sama antara Indonesia dengan Austria yang diimplementasi kan di 10 kota di Indonesia (Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Medan, Pekanbaru, Jambi, Pontianak dan Palangkaraya) dan sudah dimulai sejak tahun 1999. Namun, sampai saat ini pemantauan dan pengukuran kualitas udara dibeberapa kota di Indonesia masih tidak efektif, hal ini disebabkan oleh peralatan/sparepart yang telah aus (habis masa pakainya) serta komitmen daerah yang kurang dalam pembiayaan operasional stasiun serta petugasnya. Sedangkan di 7 kota lainnya ada beberapa stasiun yang masih aktif beroperasi tapi datanya tidak dapat dikirim ke Main Center yang antara lain disebabkan oleh jaringan telpon dari stasiun ke Regional center. Saat ini Kota Pekanbaru memiliki 3 stasiun pemantau tetap yang berlokasi di Kulim, Sukajadi dan Tampan, 1 stasiun pemantau bergerak dan 2 papan display Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang terletak di Jalan Sudirman dan Jalan Nangka. Namun sistem yang ada tidak efektif dan seringkali papan display tersebut rusak tanpa perawatan. Informasi yang dipakai untuk mengindikasikan kondisi kualitas udara ambien salah satunya adalah ISPU. ISPU adalah angka yang tidak mempunyai satuan yang menggambarkan kondisi kualitas udara ambien di lokasi dan waktu tertentu yang didasarkan kapada dampak terhadap kesehatan manusia, nilai estetika dan mahluk hidup lainnya. Parameter yang dipakai untuk menghitung ISPU adalah seperti yang termuat didalam: Kep-45/MENLH/10/1997 dan Kep-107/KABAPEDAL/11/1997 yaitu: Partikulat Matter ukuran 10 mikron (PM10), Karbon Monoksida (CO), Sulfur Dioksida (SO2), Nitrogen Dioksida (NO2) dan Ozon (O3).

Walaupun papan ISPU di pasang dibeberapa ruas jalan, namun warga kota tidak menyadari pentingnya informasi tersebut, dan tetap melakukan aktifitas diluar rumah tanpa alat pengaman pernafasan (masker), sehingga tingginya penderita infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) di Kota ini. Dengan pemgembangan wilayah kota yang pesat, pertambahan penduduk yang meningkat, penggunaan 2 papan display tersebut belumlah mencukupi dan efektif. Oleh karena itu, perancangan dan pembangunan sistem pemantauan dan pengukuran kulaitas udara dengan memanfaatkan perkembangan telekomunikasi terkini dirasa perlu untuk memudahkan pengoperasian, tingkat fleksibelitas yang tinggi, biaya yang efektif, serta jangkauan yang luas. Penggunaan sistem terintegrasi jaringan sensor tanpa kabel berbasiskan Waspmote, Zigbee, GPS dan GPRS/GPS adalah solusinya, pemantauan dan pengukuran terhadap gas-gas berbahaya dapat dilakukan secara akurat dan real time. SMS peringatan kepada masyarakat dapat disebar luaskan dengan segera apabila kondisi kualitas udara membahayakan kesehatan manusia, dengan begitu kesadaran masyarakat akan bahaya pencemaran udara serta langkah pencegahan dapat dilakukan lebih dini. Sistem jaringan sensor tanpa kabel berbasiskan Zigbee terdiri dari beberapa nodes (Waspmote) yang terhubung secara topologi star. Masing-masing nodes akan mengirimkan dan menerima data melalui saluran komunikasi. Zigbee sebagai coordinator jaringan yang mengatur dan menginisialisasi jaringan dan memastikan setiap nodes terhubung dengannya.

Wireless sensor network (WSN) Wireless sensor network (WSN) adalah suatu infrastruktur jaringan wireless yang menggunakan sensor untuk memonitor kondisi fisik dan lingkungan sekitar, seperti sensor suhu,

suara, getaran,tekanan, gerakan, gelombang elektromagnetik, dan lainnya yang terhubung ke jaringan. Sensor-sensor tersebut akan mengubah data analog ke data digital. Selanjutnya data dikirim ke suatu node melalui media komunikasi yang digunakannya, seperti bluetooth, infrared, dan Wifi. Masingmasing node dalam jaringan sensor nirkabel dilengkapi dengan radio

tranciever atau alat komunikasi wireless lainnya, mikrokontroler kecil, dan sumber energi (biasanya baterai). Tipe sensor beserta contohnya yang bisa digunakan pada wireless sensor network : Tipe Sensor Temperatur Tekanan Optik Akustik Contoh Sensor Thermistor, thermocouple Pressure gauge, barometer, ionization gauge Photodiodes, phototransistors, infrared sensors, CCD sensors Piezoelectric resonators, microphones Strain gauges, tactile sensors, capacitive diaphragms, piezoresistive Mekanik cells Gerakan dan Accelerometers, gyroscopes, photo sensors Getaran Posisi GPS, ultrasound-based sensors, infrared-based sensors, inclinometer Capacitive and resistive sensors, hygrometers, MEMS-based humidity Kelembaban sensors

Radiasi

Ionization detectors, GeigerMueller counters

Arsitektur WSN Berikut contoh arsitektur WSN yang dapat diterapkan

Arsitektur WSN terdiri dari data acquisition network dan data distribution network. Monitoring dan sistem kontrol dilakukan oleh management center. Prinsip Kerja WSN ; Sensorboard mengumpulkan data berupa intensitas cahaya, temperatur, kelembaban, ataupun pergerakan objek dalam ruangan. Mote kemudian mengirimkan data sensing ke gateway. Gateway mengolah data sensing dan mengirimkannya ke server. Server memproses data dari gateway untuk ditampilkan. Bila sensor melaporkan parameter yang melewati batasan yang ditentukan, server memberi perintah pada kontroler.

Kontroler mengendalikan switch untuk menaikkan atau menurunkan kinerja peralatan listrik.

Teknologi Zigbee Teknologi Zigbee merupakan teknologi dengan data rate rendah (low data rate), biaya murah (low cost), protokol jaringan tanpa kabel yang ditujukan untuk otomasi dan aplikasi remote control. Zigbee terdiri dari kata Zig : gerakan zigzag, dan Bee: Lebah. Sehingga maknanya adalah penyampaian informasi berbentuk Zigzag dan caranya seperti lebah (membentuk sebuah jaringan). ZigBee Tergolong standar keluarga IEEE 802.15 bersama Bluetooth (802.15.1) dan UWB (802.15.3) dengan kode standar IEEE 802.15.4. Kecepatan komunikasi max 250kbps, Jarak maksimal komunikasi pendek (10m - 70m), dan menggunakan 3 band frekuensi yaitu Band frekuensi 915MHz (Amerika), 868MHz (Eropa), dan 2.4GHz (Jepang). Zigbee dan Bluetooth sama-sama berada dalam keluarga WPAN (Wireless Personal Area Network). Perbedaan Zigbee dan Bluetooth cukup banyak, mulai dari perbedaan kecepatan (date rate), jarak (range), dan kualitas layanan (QoS).

Kelebihan Zigbee Support untuk beberapa topologi jaringan seperti point-to-point, point-to-multipoint, dan jarngan mesh. Lebih mudah, bentuk kecil, murah, dan baterai tahan lama. Memiliki protocol stack yang sangat sederhana. Maksimal 65000 node per jaringan, tanpa harus melakukan pengaturan apapun. Tidak perlu base station atau access point komunikasi dapat secara acak (mesh network). Dapat mengirim data sepanjang 127 huruf (127 byte) mengurangi beban host CPU (hanya butuh komputer mikro 8 bit saja). Inisialisasi sistem 30ms cocok untuk peralatan sensor yang membutuhkan operasi kecepatan waktu ON/OFF nya tinggi.

Metode penelitian : Tahap 1: Survey lokasi yang ideal untuk pemasangan sensor. Tahap 2: Instalasi Waspmote dan Meshlium. Topologi system jaringan sensor tanpa kabel yang digunakan adalah topologi bintang dengan menggunakan 3 Waspmote dan 1 Meshlium sebagai gateway.

Sensor-sensor ini akan diletakkan di 3 (tiga) tempat yang terhubung dengan pusat data menggunakan system jaringan sensor tanpa kabel Zigbee. Setiap Waspmote dilengkapi dengan solar panel sebagai sumber listrik sehingga tidak tergantung kepada listrik PLN, hal ini membuat system ini lebih fleksibel untuk diletakkan dimana saja. Apabila sensor mendeteksi kadar konsentrasi gas-gas berbahaya mendekati ambang batas, alarm akan dihasilkan dan SMS akan dikirim melalui Meshlium sebagai gateway keperalatan handphone. Pengukuran dan pembacaan oleh sensor-sensor gas dilakukan secara realtime. Tahap 3: Memprogram Waspmotedan Meshlium serta mengkonfigurasi keseluruhan system untuk memastikan semua jaringan sensor terhubung dengan pusat data. Tahap 4: Pemantauan dan pengukuran dilakukan dengan Laptop melalui software yang sudah diinstal, hasil bacaan dapat dibaca secara real time. Pengaktifan GPS dan GPRS/GSM untuk pengiriman sms peringatan. Tahap 5: Penulisan jurnal ilmiah, laporan akhir dan seminar.

Jadwal Pelaksanaan No Kegiatan Menelusuri data-data dari 1 literatur tentang penelitian dan survey harga komponen. Lokasi penelitian Perpustakaan, internet dan Lab telekomunikasi. Lab telekomunikasi Perancangan modul sensor 2 udara Elektro FT UNRI Lab telekomunikasi Instalasi di tiga stasiun 3 pemantau Elektro FT UNRI Memprogram Waspmote dan 4 Meshlium, konfigurasi keseluruhan sstem Pengujian fungsi kerja modul 5 sensor udara 6 Tiga stasiun pemantau Lab telekomunikasi Jurusan Teknik Elektro FT UNRI Jurusan Teknik Jurusan Teknik 1 2 3 4 5 6

Pengaktifan GPS dan

Beberapa lokasi dan

GPRS/GSM untuk pengiriman sms peringatan

perlatan penerima peringatan (HP) Lab telekomunikasi

Pembuatan laporan akhir 7 penelitian. Elektro FT UNRI Jurusan Teknik

Organisasi Penelitian

No 1.

Nama Ahmad Darbi

NIDN/NIM 0907121200

Bidang Ilmu Mahasiswa Elektro konsentrasi Telekomnikasi

Alokasi Waktu (jam/minggu) 4

Uraian Tugas Peneliti

2. 3.

Dr Yusnita Rahayu, ST. MEng. Linna Oktaviana Sari , ST. MT

0004117504 Teknik Telekomunikasi 0015105910 Teknik Telekomunikasi

8 8

Pembimbing 1 Pembimbing 2

Prakiraan Biaya Penelitian Rekapitulasi anggaran penelitian Biaya Yang diusulkan No Jenis Pengeluaran (Rp x 1000) 1 2 3 Gaji dan Upah Bahan habis pakai dan peralatan Perjalanan Lain-lain (publikasi, seminar, 4 laporan) Jumlah 3.000 600 600 750 1.050

Daftar Pustaka Kementerian Negara Lingkungan Hidup. 2007. Memperkirakan Dampak Lingkungan Kualitas Udara, Deputi Bidang Tata Lingkungan Hidup Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Jakarta,

Kementerian Negara Lingkungan Hidup, 2011. Laporan Pemantauan Kualitas Udara Ambien Kontinyu (AQMS), Pusat Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan, Deputi Bidang Pembinaan Sarana Teknis dan Peningkatan Kapasitas, Kementerian Negara Lingkungan Hidup.

C. Schreiner, M. Branzila, A. Trandabat dan R.C. Ciobanu, 2006. Air Quality and Pollution Mapping System, Using Remote Measurements and GPS Technology, Global NEST Journal, Vol 8, No 3, pp 315-323.

Kavi K. Khedo, Rajiv Perseedos and Avinash Mungur, 2010,A Wireles Sensor Network Air Pollution Monitoring System, International Journal of Wireless & Mobile

Networks(IJWMN), Vol. 2, No. 2, pp 31 45.

Wawan Wardiana, 2003.Teknologi Pelaporan Kualitas Udara Pemaparan Hasil Litbang 2003, Bandung 29 -30 Juli 2003, Pusat Penelitian Informatika- LIPI.

Ade Cahyana dan Dicky Riyanto,Analisa Komunikasi Data Pada Laboratorium Kualitas Udara Bergerak, Pemaparan Hasil Litbang 2003, Bandung 29 -30 Juli 2003, Pusat Penelitian Informatika- LIPI.

Jong-Won Kwon,Yong-Man Park, Sang-Jun Koo, Hiesik Kim, 2007. Design of Air Pollution Monitoring System using ZigBee Networks for Ubiquitous-City, IEEE International Conference on Convergence Information Technology.

Nikheel A. Chourasia dan Surekha P. Washimkar, 2012. Zigbee Based Wireless Air Pollution Monitoring, International Conference on Computing and Control Engineering (ICCCE 2012), 12 & 13 Apri 2012.