Anda di halaman 1dari 10

Nasihat Imam Husein as.

Daftar Isi
Daftar Isi .................................................................................................................................................. 1 Nasihat Imam Husein as: Pengaruh Melanggar Perintah Allah .............................................................. 2 Nasihat Imam Husein as: Perangkap Tersembunyi Allah ....................................................................... 3 Nasihat Imam Husein as: Jangan Menisbatkan Dosamu Kepada Allah .................................................. 4 Nasihat Imam Husein as: Sabar Melawan Hawa Nafsu .......................................................................... 5 Nasihat Imam Husein as: Menjauhi Hawa Nafsu .................................................................................... 6 Nasihat Imam Husein as: Mencari Keridhaan Allah Swt ......................................................................... 7 Nasihat Imam Husein as: Pembenaran Lebih Buruk dari Dosa ............................................................... 8 Nasihat Imam Husein as: Takut Kepada Allah......................................................................................... 9 Nasihat Imam Husein as: Kemuliaan dalam Takwa .............................................................................. 10

Nasihat Imam Husein as: Pengaruh Melanggar Perintah Allah

Pengaruh Melanggar Perintah Allah Seseorang menulis surat kepada Imam Husein as dan meminta kepada beliau agar menasihatinya dengan kalimat yang singkat. Imam Husein as menjawab suratnya: "Seseorang yang berusaha meraih sesuatu lewat jalan melanggar perintah Allah Swt, maka apa yang diharapkannya dengan cepat terlepas dari tangannya, sementara apa yang ditakutinya segera menghampirinya." (Tsiqah al-Islam Kulaini, al-Kafi, Tehran, Entesharat Eslami, 1397 Hq, cet 2, 2/373) Setiap kali seseorang ingin melakukan perbuatan baik, maka hal penting yang harus diperhatikannya adalah menjaga agar pendahuluan perbuatan baik itu sesuai dengan tujuan perbuatan itu sendiri. Sama seperti keinginan seseorang yang ingin membangun sebuah gedung yang kokoh dan indah. Demi merealisasikannya, maka material bangunan dan alat yang dipakai harus sesuai dengan tujuan pembuatan gedung itu. Bila orang itu tidak menggunakan material yang baik dan berkualitas, maka tidak dapat diharapkan ia dapat membuat sebuah gedung yang layak dan sesuai dengan keinginannya. Oleh karenanya, selama material batu bata tidak berasal dari bahan yang benar, maka pembuatan dinding tidak akan kokoh. Begitu juga ketika manusia melakukan pekerjaan dengan cara melanggar perintah Allah Swt. Secara lahiriah orang itu memang benar meraih keuntungan, mampu mencegah kerugian dan mencapai tujuan yang diinginkannya. Namun pada hakikatnya ia meraih satu hal tapi kehilangan sesuatu yang lebih penting. Karena pada gilirannya pengaruh dosa yang dilakukannya akan mencengkeramnya. Kebaikan hakiki tidak akan pernah sampai kepada pelaku dosa. Selain itu, harus diketahui bahwa pengaruh dosa dan melanggar perintah Allah Swt akan memunculkan kemurkaan Allah Swt. Bila Allah telah murka, maka orang yang mendapat murka-Nya akan terjauhkan dari kebaikan dan semakin dekat kepada bencana dan kesulitan. Manusia dalam kehidupannya harus senantiasa melangkah di jalan yang mendekatkan dirinya kepada Allah Swt. Dalam kondisi yang demikian, Allah juga akan memperbaiki kekurangan dalam pekerjaannya dan mencukupi kebutuhannya. Dengan demikian, sudah selayaknya bagi manusia 2

untuk tetap berharap kepada rahmat dan kehendak ilahi. Manusia harus percaya bahwa kekuasaan Allah Swt berada di atas kekuatan yang ada dan dengan kekuasaan-Nya Allah mampu mengabulkan keinginannya sekalipun dalam kondisi yang paling sulit, bahkan yang di luar dari jangkauan pemikiran manusia. (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi) Sumber: Pandha-ye Emam Hossein.

Nasihat Imam Husein as: Perangkap Tersembunyi Allah

Imam Husein as berkata: "Perangkap Tersembunyi Allah Swt untuk hambanya adalah memberikannya nikmat yang banyak, tapi mengambil taufik untuk bersyukur kepada-Nya." (Ibnu Syu'bah Harani, Tuhaf al-Uqul, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1304 Hq, hal 250) Kita sebagai manusia senantiasa, tanpa mengenal waktu, memohon pelbagai nikmat dari Allah Swt, tapi pada saat yang sama kita juga harus meminta taufik bagaimana bersyukur dan memanfaatkannya yang benar.

Bersyukur kepada Allah Swt atas nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita pada dasarnya menjadi penyebab bertambahnya nikmat dan turunnya berkah. Sebaliknya, tidak bersyukur dan menentang perintah Allah Swt membuat nikmat berkurang dan rahmat Allah Swt menjauhi kita. Pertanyaan yang perlu diajukan mengenai masalah ini, mengapa sebagian orang yang jauh dari ketaatan kepada Allah dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat yang diberikan, justru mendapatkan nikmat yang banyak dan hidup dalam kesejahteraan? Jawaban atas pertanyaan ini dapat ditemukan dalam ucapan Imam Husein as. Menurut beliau, kesejahteraan dan kemudahan yang tidak dibarengi dengan bersyukur pada hakikatnya adalah perangkap ilahi bagi manusia. Ketika seseorang telah terperangkap dalam gelimang kenikmatan tanpa syukur, bukan hanya membuat manusia itu tidak dapat menemukan jalan keselamatan, tapi setiap hari ia semakin tersesat, lupa dan menambah dosa. Orang seperti ini di akhirat akan mendapat dosa azab yang pedih.

Al-Quran juga mengatakan, "Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangaur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui." (QS. al-A'raf: 182) (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi) Sumber: Pandha-ye Emam Hossein.

Nasihat Imam Husein as: Jangan Menisbatkan Dosamu Kepada Allah

Imam Husein as berkata:

"Setiap orang yang menisbatkan perbuatan dosanya kepada Allah Swt, berarti ia telah melakukan kebohongan besar tentang Allah." (Mohammad bin Mohsen Alam al-Huda Kashani, Ma'adin alHikmah, Qom, Jameeh Modarresin, 1407 Hq, cet 2, jilid 2, hal 45, hadis 103) Sebagian manusia setiap kali melakukan perbuatan dosa, jiwanya tersiksa dan untuk membebaskan dirinya dari ketersiksaan ini, mereka menisbatkan dosa dan perbuatannya yang salah kepada alam. Mereka menyebut dosa yang dilakukannya sudah merupakan hukum alam. Orang-orang seperti ini terkadang menisbatkan dosa-dosa yang dilakukannya kepada Allah Swt. Mereka mengatakan bahwa kondisi kehidupan yang membuat mereka melakukan dosa dan kesalahan. Bila orang-orang seperti ini mau sedikit saja berpikir, mereka pasti sampai pada satu kesimpulan bahwa manusia diciptakan bebas berkehendak. Yakni, ia bebas menentukan untuk melakukan satu pekerjaan atau tidak. Oleh karenanya, kondisi sulit kehidupan yang dihadapinya tidak pernah menafikan ikhtiar dari dirinya. Ia dalam kondisi paling sulitpun dapat melindungi dirinya dari perbuatan dosa. Karena tidak benar bahwa manusia terpaksa dalam melaksanakan pekerjaannya. Bila manusia terpaksa dalam perbuatannya, maka tidak bermakna Hari Kiamat, surga dan neraka. Dengan melihat kenyataan ini, Imam Husein as menasihati agar jangan ada orang yang menisbatkan perbuatan dosanya kepada Allah. Seakan-akan yang menggerakkannya untuk berbuat dosa adalah Allah. Padahal dengan melihat ke dalam dirinya, dengan mudah ia mengetahui dirinya bebas berlaku. Itulah mengapa Imam Husein as mengatakan bahwa menisbatkan dosa kepada Allah merupakan kebohongan paling besar. (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Sumber: Pandha-ye Emam Hossein.


4

Nasihat Imam Husein as: Sabar Melawan Hawa Nafsu

Imam Husein as berkata:


"Bersikap yang sabar ketika engkau harus melakukan kebenaran, tapi tidak menyukainya. Begitu juga bersabarlah ketika hawa nafsu mengajakmu dan engkau menyukainya." (Halwani, Nuzhah anNazhir wa Tanbih al-Khatir, Qom, Moasseseh al-Imam al-Mahdi af, 1408 Hq, jilid 1, hal 85, hadis 18) Bersikap sabar menghadapi tuntutan hawa nafsu dan berbuat dosa merupakan ciri khas orang yang beriman. Al-Quran juga menyebut keteguhan untuk tidak berbuat dosa sebagai ciri-ciri seorang muslim yang hakiki, "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu." (1) Di dunia modern saat ini, simbol-simbol dosa dan perangkap setan untuk menyimpangkan pemikiran dan moral manusia sudah semakin banyak dan beragam. Satu-satunya cara untuk menghadapi godaan ini adalah kesabaran. Karena sekalipun seorang manusia memiliki kesempurnaan, tapi tidak sabar dalam menghadapi kecenderungan dan ajak hawa nafsu, maka dengan mudah ia akan kehilangan imannya hanya dengan sedikit menunjukkan kelemahan. Dengan sedikit kelezatan yang didapatkan dari berbuat dosa, ia harus melewati seluruh usianya dalam penyesalan. (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Catatan: 1. QS. Fusshilat: 30 Sumber: Pandha-ye Emam Hossein.

Nasihat Imam Husein as: Menjauhi Hawa Nafsu

Imam Husein as berkata: "Jauhi hawa nafsu! Karena semuanya menyesatkan dan akhirnya adalah neraka." (Sayid Nur Allah Tostari, Ihqaq al-Haq, Qom, Entesharat Ketab Khaneh Marashi Najafi, jilid 1, hal 11, hadis 591) Para nabi senantiasa memperingatkan manusia untuk tidak mengikuti hawa nafsunya. Menurut mereka, hawa nafsu merupakan musuh paling kuat. Bila hawa nafsu diberi kesempatan, maka dengan mudah hawa nafsu membinasakan manusia. Mengikuti keinginan hawa nafsu secara perlahan-lahan akan berdampak pada semakin menurunnya kekuatan akal dan kehendak manusia. Akhirnya, orang yang mengikuti hawa nafsu akan melakukan pekerjaan tanpa memperhatikan akibatnya yang sangat merugikan. Dengan demikian, keutamaan akhlak di mata orang yang mengikuti hawa nafsu menjadi semakin tidak bernilai. Sebaliknya, kebobrokan moral semakin menguat dalam dirinya. Menurut Imam Husein as, orang yang seperti ini hanya akan mendapat kemurkaan Allah dan akhirnya diseret ke neraka. Dalam al-Quran, mengikuti hawa nafsu menjadi sumber segala kesesatan.(1) Al-Quran senantiasa memperingatkan manusia akan bahaya mengikuti hawa nafsu. Itulah mengapa al-Quran menyebut kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat berada dalam lingkaran tidak mengikuti hawa nafsu. (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Catatan: 1. QS. al-An'am: 119 dan an-Nazi'at: 40)

Nasihat Imam Husein as: Mencari Keridhaan Allah Swt

Imam Husein as berkata, "Seseorang yang berusaha mencari keridhaan Allah, tapi manusia tidak suka dengannya, maka Allah akan mencukupinya dalam urusannya dengan manusia. Barangsiapa yang berusaha mencari keridhaan manusia, maka usahanya akan berakhir pada kemurkaan Allah. Allah akan menyerahkan urusannya kepada manusia." (Syeikh Mufid, al-Ikhtishash, Qom, Jameeh Modarresin Hawzeh Elmiyeh, 1418 Hq, cet 6, hal 225) Betapa banyak perbuatan dan pekerjaan manusia yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari yang menyebabkan keridhaan Allah Swt, tapi pada saat yang sama manusia justru membencinya. Tapi terkadang yang terjadi adalah sebaliknya. Pekerjaan itu menyebabkan manusia senang, tapi diiringi dengan kemurkaan Allah Swt. Kita harus jujur kepada diri sendiri. Dalam kondisi yang demikian, kita harus mengedepankan keridhaan siapa? Lalu kemudian kita berbuat dengan dasar itu. Secara umum kita akan menjawab, siapa yang paling penting bagi kita, maka dialah yang akan kita dahulukan. Kita berusaha untuk meraih keridhaannya. Ketika kita mengakui bahwa tidak ada yang lebih dicintai oleh seorang mukmin selain Allah Swt, maka tentu saja seorang mukmin akan berusaha dalam segala perbuatannya untuk meraih keridhaan Allah Swt. Karena dalam keridhaan Allah itulah terdapat keridhaan manusia. Tak syak, mereka yang dalam hidupnya hanya berpikir untuk meraih keridhaan manusia, sekalipun belum tampak kemurkaan Allah, tapi yang akan dicapainya dalam kehidupannya adalah kekalahan dan kegagalan. Hasilnya adalah terlepas, sendiri dan asing dari Allah Swt. (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Sumber: Pandha-ye Emam Hossein.

Nasihat Imam Husein as: Pembenaran Lebih Buruk dari Dosa

Pembenaran Lebih Buruk dari Dosa


Imam Husein as berkata: "Betapa banyak perbuatan dosa yang lebih baik dari pembenaran dosa itu sendiri." (Hassan bin Mohammad Dailami, A'lam ad-Din, Qom, Moasseseh Alu al-Bait as, 1366, hal 298) Sebagian orang setelah melakukan perbuatan dosa berusaha menentramkan hatinya dengan menunjukkan dirinya sebagai orang baik. Untuk itu ia berusaha menjustifikasi dan mencari alasan guna mencitrakan kesalahannya sebagai perbuatan baik. Perbuatan ini bukan saja, secara perlahanlahan, membuat keburukan perbuatan dosa hilang dari mata mereka, tapi secara bertahap menyebabkan mereka melakukan perbuatan dosa yang lebih besar. Di sinilah kita dapat memahami ucapan Imam Husein as bahwa terkadang perbuatan dosa masih lebih baik, ketimbang mencari alasan dan membenarkannya. Solusi untuk meninggalkan dosa dengan istighfar dan taubat, bukan malah mencari alasan dan pembenaran. Orang yang melakukan dosa, semestinya berusaha untuk menebus dan mengganti apa yang dilakukannya, bukan justru membuat jalan lebih lapang untuk menambah perbuatan dosa. Ini merupakan perangkap setan yang senantiasa membisikkan keinginan untuk mendapatkan sesuatu lebih banyak. Perangkap yang akan menyeret manusia melakukan keburukan. Pada saat yang sama, setan menggambarkan orang yang telah melakukan dosa tidak punya jalan untuk kembali. Oleh karenanya, bila kita menginginkan kebaikan dunia dan akhirat, hendaknya kita meninggalkan dosa kecil dan besar, agar tidak berusaha mencari alasan, apa lagi mencari pembenarannya. Jangan menambah dosa yang telah dilakukan dengan mencari pembenarannya. (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Sumber: Pandha-ye Emam Hossein.

Nasihat Imam Husein as: Takut Kepada Allah

Waktu itu Imam Husein as hendak mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat. Tiba-tiba wajahnya pucat pasi akibat takut kepada Allah. Badannya gemetar. Ketika ada yang bertanya kepadanya, "Mengapa ketika hendak menunaikah shalat, badan Anda terlihat gemetar?" Imam Husein as menjawab, "Sudah selayaknya seseorang yang akan berdiri di hadapan Allah Swt, pemilik dunia dan maha kuasa, wajahnya pucat dan sendi-sendinya bergetar.(Mohammad bin Mohammad Sabzavar, Jami' al-Akbar wa al-Atsar, Qom, Entesharat Mostafavi, 1341 Hq, hal 166) Setiap manusia ketika berhadapan dengan seseorang yang memiliki posisi tinggi, maka ia akan memberikan penghormatan sesuai dengan tingkat pengetahuan dan informasi yang dimilikinya tentang orang tersebut. Semakin tinggi pengetahuannya, maka akan semakin dalam juga penghormatannya. Sebaliknya, seseorang akan semakin kurang ajar ketika tidak mengetahui sedang berhadapan dengan siapa. Siapa saja yang hendak menunaikan shalat dan tahu akan menghadap Allah Swt, pencipta seluruh alam, bahkan dengan sedikit memikirkan keagungan dan keindahan Allah Swt, maka tanpa sadar ia akan menunjukkan ketidakmampuannya. Selain lisan dan hatinya mengakui kebesaran Allah Swt, pada saat yang samai ia mengakui betapa kerdilnya dirinya. Bila pengetahuan manusia tentang Allah Swt semakin banyak dan sempurna, maka pengaruhnya pada diri dan jiwa manusia semakin besar. Itulah mengapa para Imam as dengan pengetahuannya yang sempurna akan Allah Swt, ketika akan melaksanakan shalat dan berdiri di hadapan Allah Swt yang Maha Kuasa, wajah mereka terlihat pucat dan tubuhnya bergetar. (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Sumber: Pandha-ye Emam Hossein.

Nasihat Imam Husein as: Kemuliaan dalam Takwa


Imam Husein as berkata: "Kemuliaan dan kebesaran hati ada pada takwa ilahi." (A'lam ad-Din, hal 298)
Takwa berarti menjaga dan dalam istilah maknanya melindungi diri dari penentangan atas perintah ilahi dan melaksanakan perintah Allah Swt serta meraih keridhaan-Nya. Ketika tujuan dari penciptaan manusia adalah menjadi hamba Allah Swt, maka takwa ilahi menjadi manifestasi paling indah dari penghambaan ini. Perhatian manusia kepada prinsip takwa membuat mereka semakin dekat dengan tujuan penciptaan. Inilah kesempurnaan hakiki, kemuliaan dan kemurahan hati manusia. Allah Swt dalam al-Quran berfirman, "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa." (QS. al-Hujurat: 12) (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Sumber: Pandha-ye Emam Hossein.

10

Anda mungkin juga menyukai