Anda di halaman 1dari 95

Valentine

Posted on13 Februari 2010by Wibisono Sastrodiwiryo | 3 Komentar Ami heboh membongkar-bongkar almari. Dia mencari baju yang berwarna pink. Setidak-tidaknya yang bernuansa pink. Ada pesta Valentine di kampus. Warna itu menjadi tiket masuk. Warna lain akan ditolak. Kecuali mau beli kaus oblong dari panitia yang berwarna pink. Tapi harganya selangit. Buat apa beli kaus oblong 200 ribu, kan pakainya juga hanya sekali,kata Ami terus membongkar. Bu Amat ikut membantu Ami mencari-cari, sampai-sampai terlambat menyiapkan makan malam. Amat langsung protes. Kenapa sih pakai ikut-ikutan valentin-valentinan. Itu kan bukan budaya kita! Ami dan ibunya tidak peduli. Mana makannya? Nanti maag-ku kumat! Bu Amat tak mendwengar. Ia terus membantu Ami mencari. Amat jadi kesal. Tapi makin dia kesal, makin Ami dan Bu Amat lebih tidak peduli. Amat jadi marah. Dia salin pakaian, lalu keluar rumah. Ke mana Pak? Mau ikut valentine! kata Amat tanpa menoleh. Amat ke tukang sate di tikungan. Dia mau makan enak. Tapi ternyata tidak jualan. Orangnya kelihatan mau berangkat kundangan. Dia tersenyum melihat Amat datang. Mau ke situ juga Pak Amat? Ke situ ke mana? Mau cari makan ini. Kenapa tutup? Kan hari besar pak Amat. Ah sejak kapan tukang sate ikut-ikutan valentine? Bukan. Saya mau ke tempat Yuk Lee, kan ada makan-makan. Pak Amat mau ke situ juga kan? Lee? Ya Sejak kapan di situ diundang Yuk Lee? Ya namanya juga silaturahmi Pak Amat. Tidak perlu undangan. Kalau kita tahu ya harus datang. Saya kan langganan tetap dia dulu waktu masih jualan kue. Ayo ikutan. Ah, mau cari makan ni! Makan di situ saja, pasti enak semua! Yuk Lee pasti seneng kalau Pak Amat datang. Ayo Pak! Tukang sate itu menstater motornya. Ya sudah, ikut sampai di alun-alun, nanti turun di situ, makan ketupat! Amat naik ke boncengan. Tapi kemudian tidak turun di alun-alun, sebab asyik ngobrol. Tahu-tahu sudah sampai ke rumah Lee. Lho kok jadi ke sini? kata Amat kaget. Tukang sate hanya nyengir. Amat hampir saja mau kabur, tapi Lee muncul. Dia berteriak menyapa tukang sate. Waktu melihat Amat dia langsung datang dan mengguncang tangan Amat. Terimakasih pak Amat, terimakasih sudah datang. Tumben ini. Mimpi apa saya Pak Amat mau datang? Kebetulan semua pada sedang makan ini. Ayo cepetan masuk, Pak Amat. Jangan di luar, ke dalam saja! Amat dan tukang sate dibawa masuk ke dalam rumah. Ternyata dalam rumah lebar dan mewah. Padahal darii luar kelihatan sederhana. Lee memang kaya-raya, tapi tidak pernah pamer menunjukkan kekayaannya. Dia mulai dari jualan kue. Tiap hari istri dan anak-anaknya keliling. Lama-lama meningkat. Dasar ulet, sekarang tokonya ada lima. Mobilnya banyak. Tapi hubungannya dengan orang-orang yang dulu menjadi langganan kuenya tetap baik. Terimakasih Pak Amat, sudah mau datang ke rumah kami,kata istri Lee menyambut. Amat kemudian diperkenalkan kepada ketujuh putra-putri Lee. Ada yanhg sekolah di Amerika. Ada yang di Australia. Ada yang di Singapura. Ada juga yang di Hong Kong. Yang paling besar di rumah membantu Lee. Amat malu sekali, seakan-akan Lee tahu dia datang untuk cari makan. Mula-mula Amat hanya sekedar nyicip. Tapi setelah melihat tukang sate dan tamu-tamu lain makan dengan rakus, Amat jadi lupa daratan. Ia makan sekenyang-kenyangnya. Banyak sekali tamu datang silih berganti. Lee tak sempat lagi ngobrol dengan Amat. Dan ketika

pulang, tak sempat lagi pamitan, sebab tamu semakin malam semakin melimpah. Diam-diam Amat dan tukang sate itu meninggalkan rumah Lee. Heran sudah kaya raya begitu, tamu-tamunya semua kok kelas naik motor seperti kita. Nggak ada mobil-mobil mewah ya,kata Amat. Tukang sate ketawa. Yang naik mobil nggak akan mau datang Pak Amat. Kenapa? Pasti malu, Lho kenapa? Kan silaturahmi? Nanti dikira cari Ang Pao. Ang Pao? Ya. Kalau buat kita sih rezeki. Orang-orang pakai mobil itu mana mau dapat amplop begini,:kata tukang sate merogoh dari sakunya dan menyerahkan pada Amat, ini untuk Pak Amat! Amat terkejut menerima amplop itu. Untuk saya ini? Ya untuk pak Amat. Bukannya untu di situ saja. Saya sudah dapat Pak Amat. Tadi istri Lee sengaja ngasih lewat saya, dia tahu pak Amat pasti tidak akan mau kalau dikasih langsung. Amat tertegun. Gimana? Apa untuk saya saja? Sekarang jelas. Banyak yang datang ke rumah Lee, karena mengejar ang pao. Amat jadi malu. Ia ingin sekali mengembalikan amplop itu. Tapi tak mungkin. Itu bisa jadi salah paham. Gimana pak Amat? Untuk saya saja? Hampuir saja Amat mau menyerahkan amplop itu. Tapi jari tangannya merasakan amplop itu tebal. Ia jadi merasa saying. Ini tradisi mereka ya? Betul pak Amat. Setiap tahun saya selalu ke situ. Tahun lalu juga. Isinya lumayan. Bagaimana itu untuk saya saja? Tapi ini tradisi mereka kan? Betul pak Amat. Bukan soal uangnya, tapi soal tradisi kan? Kita menghormati tradisi kan? Betul. Ya sudah. Demi silahturahmi, saya terima ini. Terimakasih sudah ngajak ke situ tadi. Tapi amplopnya untuk saya kan? Amat menggeleng. Meskipun Lee tidak melihat, kalau amplop ini saya berikan situ, berarti saya tidak menghargai Lee. Itu tidak baik. Jadi saya terima saja untuk silahturahmi. Amat lalu mengulurkan tangan. Mereka bersalaman. Tukang sate nampak gembira. Yuk Lee pasti senang sekali Pak Amat menerima amplop itu. Tadinya istrinya sudah berpesan, kalau pak Amat tidak mau, ya buat saya saja. Apa buat saya saja Pak Amat? Amat ketawa. Tanpa menjawab lagi dia pulang. Rasanya tubuhnya berisi. Di kantungnya ada amplop yang menurut ketebalannya tidak akan kurang dari satu juta. Sambil bersiul-siul, Amat masuk ke dalam rumah. Ami kelihatan nongkrong di depan televisi bersama Bu Amat. Lho tidak ikut valentine? Nggak ada baju pink. Beli saja! Duitnya dari mana? Amat ketawa. Dia merogoh amplop dan menyerahkan pada Ami. Nih. Lebihnya untuk Ibu. Ami dan Bu Amat melirik amplop itu dengan heran. Amat langsung saja menembak. Kita ini masyarakat plural, jadi harus bisa hidup saling menghargai. Itu namanya silahturahmi,kata Amat. Ami diam saja. Coba kalau tadi ngomong begitu, Ami sudah berangkat,kata Bu Amat, Bapak ini selalu terlambat!

3 Komentar Ditulis pada cerpen Di-tag valentine Pendet


Posted on24 Agustus 2009by Putu Wijaya | 22 Komentar Ini bukan hanya masalah tari pendet. Bukan hanya masalah orang Bali. Ini harga diri kita sebagai bangsa. Kita tersinggung! Pulau direbut, hutan dicuri, TKI disiksa bahkan ada yang mati. Warisan budaya, tarian, bahkan masakan diklaim sebagai milik mereka. Ini sudah melanggar hukum. Satu kali oke, kedua kali masih oke, tapi kalau sudah berkali-kali namanya menantang. Kalau dibiarkan nanti jadi kebiasaan. Kita bisa dianggap bangsa kelas dua yang boleh diremehkan. Tidak! Kita harus marah! Apa mau mereka memanas-manaskan tungku yang sudah mendidih? Mentangmentang kaya! Sakit hati karena pernah kita ganyang? Oke sekarang kita juga sakit hati. Dan berkali-kali! Kepala sudah beku karena coba dididingin-dinginkan. Kita tidak tahan lagi, kita harus ganyang!. Sabar! potong Amat menghentikan latihan pidato Ami, sebagai reaksi iklan parawisata Malaysia yang mengklaim tari pendet sebagai bagian warisan budayanya. Sabar? Tenang! Kita harus menyikapi semuanya dengan bijak. Bapak masih mau bijak padahal sudah habis-habisan dibajak? Ya, tapi coba lihat dari segi positipnya. Itu kan hanya iklan. Katanya yang buat bukan orang setempat tapi dibuatkan oleh apa itu namanya, Discovery Channel? Siapa pun yang membuat, tapi itu kan dipakai sebagai promosi negara? Negara mesti bertanggungjawab. Kecuali kalau negara menganggap perbuatan mengklaim punya negara lain itu bukan kejahatan. Itu namanya negara pencuri! Stttttt ! Tenang Ami. Jangan cepat darah tinggi! Coba lihat segi positipnya! Dalam kriminalitas tidak ada yang positip! Ada! Dengerin! Justru itu bagus. Karena turis yang dipikat untuk pergi ke sana, lama-lama akan tahu, tari pendet itu rumahnya bukan di situ, tapi di Bali. Kalau mau nonton pendet, jangan ke situ, tapi ke Bali. Nah, jadi itu kan iklan gratis buat kita? Promosinya dia yang bayar, manfatnya kita yang sikat! Ami melotot. Bapak sudah kena virus kapitalisme! Apa-apa selalu diukur dari kepentingan dagang. Persetan dengan keuntungan! Parawisata tidak berarti kita menjual kehormatan! Harga diri harus dipertahankan sampai titik darah penghabisan! Bangsa yang tidak punya harga diri lagi, adalah bangsa budak? Bangsa kelas kambing! Ekonomi kita memang lagi berantakan, pamor kita juga sedang pudar, rakyat kita miskin hanya makan tempe dan tahu, tapi tidak berarti kita akan diam saja kalau diinjak. Sekarang baru tarian dan lagu, lama-lama kepala kita akan diambil. Kita sudah merebut kemerdekaan dengan revolusi berdarah, bukan dihadiahkan seperti mereka. Kita harus bertindak sebelum terlambat!! Tapi tari pendet kan sudah lama kurang ditarikan lagi, Ami. Untuk menyambut tamu, sudah ada tari-tari baru yang diciptakan. Untung ada iklan itu yang membuat kita jadi ingat kembali tari pendet. Kita harus bisa mengambil hikmahnya. Kalau tidak ada klaim Malysia atas tari pendet itu, kita mungkin lama-lama sudah lupa! Ami bengong,. Ia melihat bapaknya seperti melihat hantu.. Hanya matanya yang memancarkan amarah yang sudah tidak tertahankan. Kemudian tanpa menjawab sepatah, pun, dia langsung pergi. Sampai malam, ia belum kembali. Hanya pesannya di atas secarik kertas muncul, diantar oleh temannya. Ami nginap di rumah teman! Bu Amat kontan melabrak suaminya. Ini gara-gara Bapak! Gara-gara aku? Ya! Bapak salah! Salahku apa? Bapak melarang Ami marah sama Malaysia! Aku tidak melarang, tapi ..

Tapi melarang! Memang. Karena ngomongnya sudah tidak karuan. Boleh marah, tapi jangan sampai memakimaki begitu! Kenapa tidak. Kan sudah berapa kali kita dihina. Berapa TKW yang sudah babak belur bahkan mati. Masak diam saja. Betul, kata Ami, sekarang baru tari-tarian, kalau kita diam saja, nanti kepala kita akan diambil! Jangan melebih-lebihkan begitu. Lagipula kita kan punya tetangga yang mantunya orang Malaysia. Kalau mereka dengar, anak kita marah-marah sama Malaysia, bisa-bisa mantunya tersinggung. Memang itu maksud Ami! Makanya dia latihan pidato keras-keras di rumah. Biar mereka dengar hati kita panas! Tapi nanti kita malah berantem dengan tetangga. Biarin! Lebih baik berantem sekarang, daripada nanti kalau sudah dendamnya makin banyak! Kalau begitu namanya tidak bijaksana. Ngapaian bijak, kalau kita diinjak-injak. Bijak, sopan dan santun itu ada batasnya. Kalau tidak, sama juga dengan budak. Apa kita ini budak? Amat terdiam. Sana jemput Ami dan minta maaf! Karena Bu Amat begitu serius, Amat menyerah. Dengan menekan perasaan, dia pinjam sepeda tetangga dan menjemput Ami. Ami, Bapak disuruh minta maaf oleh Ibu kamu dan harap pulang. Tidak baik anak perawan sebesar kamu nginap di rumah orang. Ami mengangguk. Bapak tidap perlu minta maaf. Bapak minta maaf dan pulanglah. Tidak. Bapak tidak usah minta maaf. Umpama seorang presiden dalam sebuah negara, Bapak tidak boleh cepat marah kepada negara tetangga, meskipun jelas negara itu sudah mengekspor kejahatan ke tempat kita. Karena kalau presiden marah, bisa terjadi perang. Tapi harus ada yang marah, untuk mencegah jangan sampai kejahatan itu berubah menjadi kebiasaan. Itu sebabnya Ami marah. Meskipun Ami punya banyak teman-teman di Malaysia yang akan kaget karena Ami marah. Tapi kepentringan Ami tidak ada artinya dengan kepentingan negara. Jadi Ami harus marah. Bapak memang sudah sepantasnya bersikap bijak, karena tetangga kita mantunya Malaysia, jadi kita harus menghormatinya, karena kita adalah bangsa yang santun. Kita bukan bangsa penjahat! Amat tertegun. Jadi kamu mengerti, mengapa Bapak bersikap bijak? Mengerti sekali. Bapak tidak boleh ikut marah. Nanti kita bisa berkelahi dengan tetangga. Cukup Ami saja yang marah! Ini masalah strategi! Amat manggut-manggut. Bagus. Kalau begitu kamu dewasa Ami. Bapak bangga sekali. Sekarang mari kita pulang. Tidak. Kenapa? Karena Ami marah. Kalau Ami pulang, mantu tetangga kita, orang Malaysia itu akan tidak percaya bahwa kelakuan negaranya sudah membuat harga diri bangsa kita tersimnggung. Ini bukan hanya masalah tari pendet, bukan hanya masalah orang Bali, tapi harga diri bangsa Indonesia! Tapi bagaimana kalau dia tidak peduli? Itu dia! Memang mereka tidak pernah peduli! Mereka selalu menganggap persoalan kita adalah persoalan sepele. Itulah yang membuat Ami darah tinggi!kata Ami sambil menutup pintu keraskeras. Jakarta 23-8-09

22 Komentar Ditulis pada cerpen Di-tag pendet Rendra

Posted on8 Agustus 2009by Putu Wijaya | 6 Komentar Kebudayaan Jawa adalah kebudayan kasur tua! kata Rendra dengan tandas dalam sebuah diskusi di Yoga pada akhir tahun 60-an, kata seorang budayawan yang diwawancari di televisi itu. Banyak orang tersinggung dan kaget. Itu bukan saja terlalu berani tetapi juga kurangajar. Kebudayaan Jawa yang tinggi, berciri kontemplasi dan melahirkan monumen yang mencengangkan dunia seperti Borobudur, Prambananan, buku Nagara Kertagama, Arjuna Wiwaha dan sebagainya itu, bagaimana mungkin hanya sebuah kasur tua? Burung merak dari Solo yang lahir pada 1935 itu kemudian dianggap sebagai orang gila yang besar mulut. Mentang-mentang baru pulang dari Amerika, tak seenak perutnya ia bisa menilai jawa yang begitu dihormati oleh semua orang. Apakah itu yang kemudian menyebabkan Rendra, penyair Ballada Orang-Orang Tercinta itu kemudian diusir dari Yogya ke Jakarta? Tidak. Sama sekali tidak. Ia justru mengeluarkan seruan yang mengejek para seniman yang sudah ramai-ramai hijrah ke Jakarta, mengejar nama dan duit. Ia berseru, berjanji, mirip sebuah sumpah, ia akan terus bertahan di Yogya. Menampik budaya kota, hidup dekat dengan lingkunganserta alam. Dan hadir untuk menunjukkan eksistensi pedalaman. Tetapi kenapa bidan Bengkel Teater yang tersohor karena ciptaannya yang bernama teater minikata itu, tiba-tiba kemudian boyongan ke Jakarta. Ia menghuni sebuah kawasan luas di pinggiran kota Depok. Dalam sebuah wilayah lengkap dengan sawah serta kolam. Bahkan memiliki sebuah pemakaman keluarga yang juga terbuka bagi para seniman. Di situ terbaring maestro piata artistik Rujito dan miskus yang melejit tiba-tiba menjadi sebuah legenda, si maniak kopi, Si tak gendong-gendong: Mbah Surip Karena ia mengambil tafsir baru. Mempertahankan tradisi itu, bukan kulitnya, tapi isinya. Hidup di kota pun penting, asal jiwanya tetap jiwa yang alami. Bahkan itu perlu bagi orang kota yang sudah habis-habisan terkena polusi. Ia ke Jakarta untuk menyelamatkan Jakarta! Mas Willy, begitu panggilan akrabnya, tidak kemudian menjadi manusia terkutuk yang dikeluarkan oleh orang yang merasa dirinya orang jawa. Ia bahkan mendapat kemulyaan di malam purnama yang indah, malam Jumat, menjelang bulan Ramadhan. Dan kepergiannya dihadiri oleh ribuan orang yang mengalir memadati seluruh pelataran kawasan Bengkel Teater sehingga membuat jalanan pun macat. Kenapa? Karena ternyata di balik kata-katanya yang pedas, yang membuat telinga merah, di balik apa yang dimaksudkannya dengan kebudayaan kasur tua, tersimpan niat yang mulia. Dia ingin membebaskan tradisi dari virus-virus jahat, yang dalam perjalanannya menembus zaman sudah dititipkan oleh kekuasaan dan tangan-tangan jahil. Ia ingin membebaskan tradisi dari asesoris dan muatan temporer yang membuat tradisi menjadi beban berat dan menyiksa bahkan melukai para pewaris. Ia ingin mencuci kembali tradisi, sehingga esensinya, rohnya yang bernama kearifan lokal bersinar kembali dengan gemilang! Si Burung Meraklah yang kemudian memberi tafsir baru terhadap apa yang disebut nrimo, pasrah, gotong-royong dan sebagainya yang sudah diselewengkan menjadi tempat menyembunyikan kemalasan alias didaur-ulang. Dengan memberikan tafsir baru, ia membuat seluruh kebijakan, ilmu hidup yang diturunkan oleh tradisi Jawa menjadi dinamis, alias tidak melempem. Ia membuat tradisi Jawa tidak lagi kolot, melempem, tetapi bernas, aktual dan menyelamatkan para pewarisnya dari benturan-benturan zaman. Amat terkejut. Ia memandang orang yang bicara di di layer kaca itu dengan mata tak berkedip. Tak sabar. Ia kemudian mencecer. Maksud Bapak, mas Willy sudah membuat kebudayaan jawa kembali pada kearifan lokalnya? Persis! Almarhum membuat kebudyaan jawa menjadi dinamis? Betul Pak Amat. Seperti desa-kala-patra bagi orang Bali? Itu maksud saya! Seratus untuk pak Amat! Amat terpekik. Yes! Tak puas hanya memekik, Amt kemudian menggebrak meja. Betul! Makanya dia dinamakan Burung Merak! Bu Amat bergegas datang. Sabar Pak, sabar. Telat satu menit saja sudah main pukul meja! kata Bu Amat meletakkan kopi

yang dipesan suaminya. Jangan suka marah, main drama seperti pemain-pemain sioentron itu. Yang wajar-wajar saja. Amat memegang tangan istrinya yang mau kembali ke dapur, sambil menunjuk ke televisi. Lihat Bu, begitu banyak orang datang dalam pemakaman mas Rendra. Dia itu pantas mendapat bintang Maha Putra! Betul, dengan semua perbuatan, tindakan serta pemikirannya, Mas Willy adalah orang yang mengajarkan kepada kita untuk bersikap berani melawan, kara wajah di televisi itu lagi.melanjutkan, dia memberikan toladan untuk berani mengemukakan pendapat, bersikap kritis kepada penguasa yang sudha bertindak sewenang-wenang, karena tidak mengoyomi rakyat dan memikirkan kesejahteraan bangsa, tetapi menumpuk keuntungan untuk dirinya sendiri. Mas Rendra mengajak kita untuk berani berkata jujur. Ia seorang pahlawan! Bu Amat nyeletuk. Kalau dia memang pahlawan, kenapa tidak dimakamkan di makam pahlawan? Makam Pahlawan? Dia tidak akan mau! Kenapa? Karena dia tidak mau terikat oleh kehormatan. Dia pasti lebih senang lepas-bebas di dalam masyarakat, sehingga bisa bergaul dengan semua orang. Itu kan kata Bapak! Bu Amat kemudian ngeloyor kembali ke dapur. Amat tercengang. Ya itu kataku. Itu memang kataku. Aku berkata untuk almarhum, sebab dia sudah tidak mampu lagi berkata. Apa salahnya kita menafsirkan apa yang akan dikatakannya, setelah orangnya tidak ada? Apa salahnya akuyang akan mengatakan apa yang hendak dikatakan oleh Michael Jackson, Mbah Surip dan Mas Rendra. Kita harus mengungkapkan apa yang tidak bisa lagi dikatakannya. Betul tidak? tanya Amat kemudian kepada Ami ketika Ami kembali dari kampus. Ami mengangguk acuh tak acuh. Itu namanya penafsiran, Pak. Memang. Kita kan harus menafsirkan apa yang sudah dilakukan dan diperbuat oleh almarhum, karena almarhum sendiri sudah tidak sanggup berkata? Orang-orang yang berbicara di televisi itu semua begitu, ketika mengomentari Mbah Surip dan mas Willy. Kita harus memberikan tafsir! Masak tidak boleh? Siapa yang melarang? Ibumu! Apa salah Ibu melarang? Karena Bapakmu tidak mau ada orang berkata lain! damprat Bu Amat yang muncul kembali sambil membawa pisang goreng. Katanya Mas Rendra yang meninggal itu seorang Empu yang mengajarkan murid-muridnya untuk memberi tafsir baru. Kenapa kalau Ibu memberi tafsir baru pada tafsirnya, dilarang? Yes! teriak Ami tiba-tiba. Itu artinya dia orang besar. Orang besar kalau meninggal selalu membuat kita yang ditinggalkannya berpikir. Bertengkar juga berpikir. Jadi Jacko, Mbah Surip dan Mas Rendra itu memang orang hebat. Titik. Ayo sekarang ganti channel tv-nya. Itu ada tembak-menembak dengan teroris yang diduga Nurdin Top! Bukan maunya orang besar saja yang harus diperhatikan, mauku juga! Jakarta 7 Agustus

6 Komentar Ditulis pada cerpen Di-tag burung merak, mas willy, rendra BOM
Posted on20 Juli 2009by Wibisono Sastrodiwiryo | 5 Komentar Giliran Amat menangis di depan televisi. Ia meratapi korban terorisme yang sudah meledakkan bom di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton Hotel, di Jakarta. Pagi 17 Juli yang tenang dan indah sejak berlangsungnya Pemilu 09 yang damai dan mendapat banyak pujian dari mancanegara, kontan buyar. Pasar modal tertegun walau pun tak sampai guncang. Presiden SBY yang memberikan pidatonya pun sempat terdiam, bagai menahan kepedihan untuk tidak menangis, mengingat ekonomi yang

sudah membaik dan kedamaian yang mulai tumbuh menjadi rontok. Bahkan klab sepakbola Manchester United yang direncanakan datang hari Sabtu dan menginap di hotel yang terkena bom, membatalkan laganya dengan PSSI All Star. Aku heran masih ada saja orang yang menginginkan negeri kita ini kacau,kata Amat kepada para tetangga yang bergunjing di tepi jalan.Aku heran ada orang yang tega membunuh manusia lain dengan tanpa peduli. Bukan hanya sembilan nyawa yang sudah jadi korban, seperti yang aku dengar di televisi, tetapi ribuan bahkan jutaan. Orang-orang itu punya anak, istri, keluarga, famili dan negara. Aku yang jauh dari Jakarta dan tidak kenal kepada korban, merasa ikut kehilangan, karena kematian itu berarti juga kematian perdamaian, ancaman langsung kepada nyawa kita! Para tetangga manggut-manggut. Seorang pemuda menjawab. Itulah politik, Pak Amat. Politik? Ya. Apa yang terjadi tidak bisa dilihat dari apa yang kejadian di depam mata kita saja, Pak Amat. Harus dihubungkan dengan sebab musababnya yang paling jauh dan tujuannya yang paling jauh. Dan mungkin sekali bagi orang yang kurang pengetahuan seperti kita, hubungan itu sama sekali tidak ada. Bukan karena tak ada, tapi karena kita sudah tidak mampu merasakan, karena tidak melihatnya. Amat terkejut. Maksudnya? Ya sudah saya katakana tadi, ini politik. Amat penasaran. Dia mulai marah. Artinya apa kalau itu politik? Tidak perlu ada artinya. Ini hanya untuk mengingatkan orang untuk kembali kepada apa yang sudah dilupakan! Apa yang sudah dilupakan? Keadilan dan kebenaran. Keadilan siapa? Kebenaran siapa? Keadilan dan kebenaran mereka yang dilupakan! Dengan cara menempuh jalan yang tidak adil dan tidak benar? Bukan jalannya yang harus dinilai, tapi tujuannya Pak Amat! Itu namanya menghalalkan segala cara! Itu kan kata Pak Amat. Jadi Anda setuju hotel Marriot dan yang satu lagi itu di bom? Anda sutuju Bali dua kali dibom? Mata Amat berapi-api. Orang itu tidak menjawab. Dia buru-buru pergi. Teroris! umpat Amat. Anarkhis! Tangan Bu Amat lalu membelai pundak Amat. Sudah Pak, jangan terlalu dijiwai nanti bludreknya kumat! Amat menarik nafas panjang. Aku heran, kenapa orang bisa dicuci otaknya sampai segalanya menjadi terbalik-balik. Masak dia menyuruh kita melupakan bom yang membunuh orang ini, lalu melihat sebab awalnya yang tidak kita tahu, lalu memikirkan tujuan akhirnya yang kita juga tidak tahu. Jangan-jangan dia sendiri juga tidak tahu! Ya namanya juga otaknya sudah dicuci! Gudang dicuci memang bisa kosong. Pakaian dicuci pemutih juga bisa kehilangan warna. Tapi masak manusia yang sudah diisi oleh pendidikan, susila, budi pekerti bahkan agama, bisa dicuci? Sebersih-bersihnya dicuci pasti nuraninya masih ada! Kecuali memang orangnya sakit! Ya itu dia. Makanya mereka milih-milih siapa yang harus dicuci. Tak semua otak bisa dicuci! Tapi ternyata sekarang semua orang bisa dicuci oltaknya, Bu! Bukan hanya yang buta huruf saja, yang doktor pun bisa dicuci. Jadi kita memang sudah kehilangan nurani. Kita semua sudah memasuki zaman kaliyuga! Kita semua sudah edhan! Bu Amat menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia memanggil Ami. Coba tenangkan bapakmu Ami, pikirannya sudah ngelantur lagi. Ami melirik bapaknya. Mata Amat masih terus tertancap ke layar kaca mengikuti laporn sekitar Bom Marriott 2. Kadang-kadang dia ngomong sendiri. Ayolah Ami, jangan biarkan bapakmu begitu! Habis Ami harus ngapain? Ya ajak bapakmu jangan melihat segala sesuatu dari buruknya saja, ambil segi baiknya.

Ami terperanjat. Segi baiknya? Apa ada segi baiknya dari tindakan terorisme membom hotel dan membunuh orang yang tidak bersalah? Ibu kok jadi ikut-ikutan jadi korban cuci otak?! Sebaliknya dari menemani bapaknya, Ami lalu masuk ke kamar mandi dan men yanyikan lagu Slank dengan seenaknya Inikah demokrasi, setiap orang boleh berbuat seenak perut sendiri . . .. Bu Amat tertegun. Waktu Bom Bali yang pertama dia sangat terguncang. Takut, ngeri, merasa terancam dan berharihari tidak enak makan. Pada kejadian Bom Bali Kedua, ia memang masih tertekan, tapi segalanya kemudian menjadi biasa. Setelah itu, mendengar cerita bom dan terorisme di manap-mana, ia sama sekali tenang. Seakan-akan semuanya itu memang bagian dari asesoris kehidupan politik. Ketika muncul berita Bom Marriot 2, ia sempat terdiam sebentar. Matanya menancap ke televisi. Tapi kemudian ia tidak merasakan apa-apa lagi, karena banyak hal lain yang masih harus diperhatikan. Kematian si Raja Pop Michael Jackson masih hangat. Banyak peristiwa aneh di sekitar Pemilu 09 yang menyangkut para caleg gagal, masih seru. Perhatiannya pada Bom Marriot 2 memang jadi kurang untuk tidak mengatakan sama sekali tidak ada. Ia tidak tahu mengapa ia menjadi seperti beku. Mungkin karena begitu banyak yang sudah terjadi sejak menjelang reformasi. Penculikan. Orang hilang. Bencana alam. Korupsi. Manusia makan mayat. Ibu membunuh anaknya. Anak dijual oleh ibunya. Teror dan bom di mana-mana. Dulu, suami atau anaknya sakit saja ia sudah menangis. Mendengar orang menyanyikan Indonesia Raya di saat pengibaran bendera pada upacara peringatan 17 Agustus, ia bisa mengucurkan air mata. Hidup semakin keras, manusia menjadi semakin tabah. Kalau tidak begitu, kita semua akan kalah,bisik Bu Amat menjawab pertanyaannya sendiri. Tiba-tiba terdengar Amat mengumpat di depan televisi. Kurang ajar! Bangsat!! Sebuah pikiran mendadak menukik ke dalam kepala Bu Amat. Ia terkejut dan jadi gemetar. Benarkah ia menjadi lebih baik? Apa betul dengan menjadi lebih keras orang bertambah kuat? Apakah air mata, tangis dan haru itu tanda kelemahan? Benarkah berhenti menangis. membutakan mata kepada apa yang ada di sekeliling adalah kiat untuk hidup selamat. Bu Amat terpesona. Ia cepat-cepat menilai kembali dirinya. Melihat di mana ia sedang berdiri. Lalu ia melihat dirinya di atas sebuah bukit. Di puncak bukit yang bergetar. Sebentar lagi ia akan melayang turun dan terhempas ke lembah yang hgelap di sana. Kurang ajar! Bangsat! terdegar umpat Amat lebih keras. Bu Amat tersentak. Aduh, jangan -jangan aku sendiri yang sudah kena cuci otak, karena menganggap semua bombom itu sudah biasa,bisik Bu Amat dengan terkejut.Jangan-jangan aku yang sudah dimatikan rasa oleh cuci otak itu! Perlahan-lahan Bu Amat mendekati suaminya yang masih terus melotot di depan televisi. Ia lupakan dulu curhat La Toya, kakak perempuan Michael Jackson yang merasa yakin adiknya mati dibunuh. Ia lupakan dulu Bom Bali 1 dan 2 yang menelan ratusan korban. Ia lupakan tsunami yang sudah melalap lebih dari seratus ribu manusia. Ia hanya memandang ke satu titik. Layar kaca. Bom Marriott 2. Bu Amat melihat darah. Anggota badan manusia berserakan. Kepala, tangan, kaki, semua terpisah dari tubuhnya. Isi perut terburai. Memang bukan 200 atau seratus ribu, tapi hanya sembilan. Tapi itu darah dan isi perut yang sesungguhnya. Ia merasa darah dan isi perutnya sendiri yang terburai. Kepala, tangan dan kakinya yang terputus dari badan. Begitu saja rasa ngeri, takut dan putus asa setrentak menggebrak dan mematahkan seluruh benteng pertahanan yang sudah membuatnya beku. Tak kuasa lagi menahan diri, Bu Amat menjerit. Tolooooongggggggggggg! Jakarta 17 Juli 09 Menjelang jam 08, bom meledak di Hotel Marriott dan Ritz Carlton Hotel.

5 Komentar Ditulis pada cerpen 2009

Posted on31 Desember 2008by Putu Wijaya | 8 Komentar Di koran muncul kabar buruk tentang 2009. Bencana dahsyat bisa menimpa Indonesia. Kawasan Asia-Pasifik menghadapi era mala petaka dalam skala besar yang bisa menewaskan sampai satu juta orang pada satu waktu. Sabuk Himalaya, China, Filipina, Indonesia, mempunyai resiko yang paling besar, menurut laporan ilmiah dari badan pemerintah Geoscience Australia. Gempa bumi, angin topan, letusan gunung dan tsunami akan menyerbu wilayah yang berpenduduk padat Amat tertegun. Apakah ini yang disebut kiamat? tanyanya kepada istrinya. Bu Amat menjawab enteng. Bukan. Bukan bagaimana?! Pemanasan global sudah menyebabkan perubahan iklim. Kita manusia sudah merusakkan bumi dan sekarang akan menerima ganjaran kita. Bersiap-siap saja. Siap-siap bagaimana? Ya menghadapi bencana. Tidak usah! Kok tidak usah? Biar saja itu nanti kan diurus oleh koran-koran. Amat tercengang. Ia cepat-cepat meninggalkan istrinya yang dianggapnya tidak pernah peka terhadap masalah-masalah dunia. Ibu kamu itu berpikirnya terlalu sempit,kata Amat curhat pada Ami, setiap kali diajak rembugan masalah dunia, dia tidak peka. Terlalu menyepelekan. Sama sekali tidak mau peduli. Masak kita akan menghadapi kiamat, dia tenang-tenang saja?! Tapi kalau soal kenaikan harga beras atau cabe baru lima puluh sen dia sudah mencak-mencak! Amat lalu mencari informasi ke tetangga. Apa ada yang membaca berita adanya bahaya di tahun baru. Ternyata tak beda dengan Bu Amat, semuanya hanya mendengarkan sebagai berita jauh yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan diri mereka. Amat malah diajak tukar pikiran tentang resesi ekonomi yang menyebabkan bukan hanya Amerika tetapi di Jepang juga terjadi PHK besarbesaran. Kalau negara-negara kaya saja sudah kalang kabut seperti itu, apalagi kita yang akan menghadapi pemilihan umum dengan segala macam persoalan kita yang tidak pernah selesai, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, disintegrasi dan hilangnya kesadaran bahwa kita ini masyarakat majemuk yang penuh perbedaan. Pak Amat sudah tahu akan memilih siapa nanti sebagai presiden? Kasih masukan dong! Amat kecewa sekali. Akhirnya dia hanya bisa duduk menyepi sendirian di sebuah kursi tua di belakang rumah. Sambil memandang ke tembok yang penuh lumut, ia mencoba untuk menyapa tahun 2009. Apakah kau benar-benar datang dengan segala bencana itu atau semua itu sengaja kamu tebarkan supaya manusia berhati-hati mulai sekarang, sehingga malapetaka itu batal terjadi? Tahun 2009 tiba-tiba menyeruak dari balik tembok, menghampiri Amat. Kamu bertanya padaku tua bangka? Amat kaget. Ya. Betul! Kenapa suara kamu begitu ketus? Sebab kabar ilmiah dari Australia mengatakan kamu akan datang memberondong dengan malapetaka gempa, letusan gunung, tsunami dan membunuh 1 juta orang dalam satu gebrakan! O ya? Ya! Kau jangan akting pura-pura tidak tahu! Kamu pikir para penonton semuanya bodoh seperti sinetron-sinetron di layer kaca itu? Kalau mau datang, datanglah secara kesatria. Mari kita selesaikan semuanya secara jantan! Suara kamu seperti menantang! Memang! Kenapa? Apa kita tidak bisa bersahabat? Buat apa bersahabat kalau kamu datang mau menghancurkan dunia. Kita blak-blakan saja. Tidak perlu meniru para pemain politik itu! Tahun 2009 menghampiri Amat lebih dekat.

Jangan terlalu dekat, ini rumahku! Apa aku tidak boleh duduk supaya kita bisa ngomong dengan tenang? Jangankan duduk, masuk pun tidak akan aku izinkan! Kenapa? Menghadapi musuh hanya ada dua kemungkinan. Membunuh atau dibunuh! Ah Amat, kau masih dikuasia oleh semangat revolusi merebut kemerdekaan di zaman kolonial! Memang! Kolonialisme belum lenyap dari negeri ini. Penjajahan politik sudah kita tendang, tapi masih ada penjajahan ekonomi dan penjajahan budaya. Dua-duanya harus di bunuh. Belum selesai itu, kau sudah datang lagi sebagai musuh yang lain. Pergi! Jangan dekati rumah kami ini! Apa kamu tidak tahu negeri ini, bangsa ini sudah ratusan tahun menderita. Apa kami tidak boleh istirahat sebentar dan bahagia sedikit? Kamu zalim! Tahun 2009 terkejut. Kau bilang aku zalim? Ya! Membunuh satu orang saja orang bisa dihukum mati, kamu membunuh satu juta, tidak ada hukumannya lagi. Pergi! Kam zalimi kami! 2009 terhenyak. Heee! Jangan berhenti lama di rumahku ini, nanti tetangga menyangka aku antek kamu! Pergi! Kalau tidak aku akan berteriak memanggil orang-orang untuk menghajar kamu! Amat berteriak. Tapi 2009 tak bergerak.. Dengan panic AMat berlari ke kamar mengambil samurai yang disimpannya di bawah tempat tidur. Sambil menghunus pedang karatan itu ia muncul kembali dengan sikap siap menebas. Tetapi 2009 sudah mundur kembali ke tembok. He mau ke mana kamu? Pergi. Aku malu datang kalau kalian semua tidak menghendaki aku. Tanpa menunggu jawaban Amat, 2009 lalu memanjat tembok dan melompat entah ke mana. Waktu itu, mendadak Amat merasa nyawanya sendiri yang melompat. Perasaannya tiba-tiba kosong. Badannya lemas. Lalu ia tergigit oleh sepi yang begitu menusuknusuk. Tangannya gemetar. Samurai di genggamannya terlepas. Untung saja Bu Amat dan Ami sudah ada di dekatnya. Mereka cepat menyambut samurai yang hampir saja melukai kaki Amat. Siapa Pak? Amat menunjuk ke tembok. Dia pergi, dia tak jadi datang! Panggil dia! Kejar dia sebelum hilang!! Siapa? Amat berteriak makin keras nyaris kalap. Kejar dia! Panggil! Lebih baik dia datang biar bawa bencana, daripada pergi meninggalkan kita. Kembaliii! Jangan tinggalkan kami di sini! Kembaliii!!

8 Komentar Ditulis pada Uncategorized Di-tag tahun baru TEATER KAMPUS


Posted on3 November 2008by Putu Wijaya | 10 Komentar Pengantar diskusi 23 Oktober 08 di UNNES Membaca 42 naskah dan menonton 42 VCD peserta Festamasio IV 2008 yang nanti akan berlangsung di Jakarta bagi saya adalah sebuah kesempatan melihat, bagaimana peta teater di kampus dewasa ini. Sudah lama saya merasa bahwa ada sesuatu yang perlu dirembug dalam kehidupan teater di kampus. Dalam sebuah pertemuan teater kampus di Solo beberapa tahun yang lalu, saya menyarankan agar teater kampus, tidak hanya menjadi permainan anak kampus yang sibuk dengan persoalan kampus saja, tetapi kehidupan teater yang bebas. Saya menulis kredo untuk teater kampus. Jangan sampai teater kampus merasa leluasa membuat kesalahan dan pertunjukan yang di bawah kualitas, dengan alasan bahwa teater bagi mereka hanya sekedar selingan/hobi di samping kesibukan akademinya. Sebagai gudang pengetahuan dan pusat penggodokan intelektual muda, kampus lewat teater seharusnya memberi lampu terang pada kehidupan teater Indonesia. Harus menjadi pelopor, sebagaimana yang terjadi juga di beberapa kampus mancanegara. Teater kampus ditonton dengan

penuh penghormatan dari masyarakat, bahkan sering memberikan langkah besar dan inovasi. Kesan saya selama menyaksikan 42 VCD dari berbagai kampus di seluruh Indonesia tersebut adalah: besarnya pengaruh teater tradisi pada persembahan masing-masing teater. Unsur-unsur visual dalam semua VCD sangat menonjol, lebih dari unsur verbal-nya. Bagi saya ini hal yang positip. Musik, tari ditampilkan kadangkala lebih besar porsinya dari seni akting. Ini adalah ciri-ciri tontonan. Kekuatan teater tradisi kita memang bukan pada realisme tetapi pada stilisasi. Kalau ini disadari dan dikembangkan secara terarah, benar-benar akan menjadi kekuatan dan keunikan. Tetapi kalau ditanggapi keliru, apalagi kalau teater dipetakan kepada teater Barat, akan terjadi konflik yang tidak hanya membingungkan tetapi menyesatkan sehingga perkembangan teater di kampus akan selalu gagap. Penyutradaraan, penataan adegan dan set, seni laku atara teater yang realis dan teater tontonan berbeda. Yang pertama mengacu pada teori-teori realisme yang memang sudah berkembang pada teater Barat. Yang kedua pada upacara bersama di mana tidak batas lagi antara penonton dan tontonan. Yang kedua juga dipelajari dengan sungguh-sungguh oleh para dramawan Barat, tetapi yang kemudian lebih diarahkan pada eksperimentasi sehingga terpisah dari kehidupan nyata. Sementara hal tersebut masih hidup dalam kenyataan kehidupan kita. Ini memerlukan pemahaman yang jernih, kalau tidak, kita akan mempelajari jatidiri kita lewat cermin Barat. Hasilnya adalah kegagapan. Teater tradisi yang asli bagus, tetapi ketika kita mencoba menempelkannempelkannya, akan terjadi sesuatu yang kosong, kehilangan jiwa. Aspek penulisan lakon dal;am Festasimo IV masih rawan. Kebanyakan naskah tidak ditulis oleh orang yang trampil dan menguasai media teater. Titik pusat jadi hanya pada cerita. Tetapi cerita pun tidak menarik karena tidak ada ide yang segar, unik dan orisinal. Itu terjadi karena nampaknya naskah tidak ditulis oleh pengarang, tetapi oleh orang lapangan yang punya kebutuhan mendesak pada adanya naskah. Aspek pemeranan seni akting kurang didasari pengetahuan tentang seni laku yang khusus panggung, Proyeksi yang merupakan salah beda antara seni laku di panggung dan seni laku di layar kaca/layar perak kurang dipahami. Kadang muncul gaya permainan yang benar-benar mencontoh gaya bermain di sinetron yang sok wajar tetapi kemudian ternyata tidak wajar. Kadang ada usaha memproyeksikan laku begitu teateral sehingga over acting. Sesuatu yang harusnya disampaikan secara realis menjadi amat teateral (baca berlebihan) sehingga tontonannya sama sekali tidak menarik. Aspek penyutradaraan juga menunjukkan kelemahan. Sebuah naskah yang buruk, di tangan sutradara yang baik, bisa menjadi menarik. Dan sebaliknya naskah yang punya kemungkinan bagus bila dioleh dengan tanpa ketrampilan ( interpretasi, kreasi, sudut pandang) akan jadi tontonan yang gagal. Tidak selamanya di kampus ada sutradara. Untuk itu kampus harus membuka diri. Rela mengundang sutradara tamu dari kampus lain atau dari kelompok teater di luar kampus. Sebuah pertunjukan yang tidak dipersiapkan oleh seorang sutradara yang benar-benar sutradara, akan membuat pertunjukan tak punya arah. Hanya penataan set dan musik yang mulai menunjukkan kemajuan. Ini mungkin karena pasokan dari musik tradisi yang memang amat kaya dan dari mereka-mereka yang benar-benar menguasai bidangnya. Ini menjelaskan kembali bahwa teater memang memerlukan partisipasi dari berbagai bidang, karena teater memang cabang kesenian yang merangkum hampir semua bidang kesenian. Selama ini yang sering terjadi, banyak bidang ditangani oleh mereka yang tak punya keahlian sehingga hasilnya menjadi amatiran. Sudah waktunya kini untuk melihat teater sebagai sebuah ilmu. Karenanya memerlukan pembelajaran. Banyak sekali buku-buku teater yang dapat menjelaskan seluk-beluk teater. Masing-masing jenis teater memiliki langkah, acuan dan bahkan cara pendekatan yang berbeda. Apabila teater kampus memperhatikan semua itu, akan ada usaha memilih jenis teater yang mana yang paling sesuai dengan materi mau pun sarana yang ada di dalam kampus. Ketepatan memilih jenis teater itu akan mempengaruhi hasil yang akan dicapai. Tontonan adalah sebuah istilah yang berasal dari pertunjukan teater tradisi/rakyat. Kata yang sederhana itu menjelaskan sesuatu yang sangat luas dan mendasar. Selama ini yang sering hilang dari berbagai pertunjukan teater adalah unsur tontonannya. Sesuatu menjadi tontonan karena sesuatu itu menarik, membuat penasaran, menghibur, komunikarif, memberikan pengetahuan dan sebagainya. Untuk itu diperlukan sebuah perencanaan. Dan untuk membuat perencanaan, harus ada studi dan strategi. Bertambah jelas lagi bahwa teater adalah sebuah proyek yang mencakup

banyak hal, tak hanya seni akting. Inilah yang sering diabaikan dalam produksi teater, khususnya teater kampus.

10 Komentar Ditulis pada sambutan, teater Di-tag kampus Pluralitas


Posted on2 November 2008by Putu Wijaya | 1 Komentar Soempah Pemoeda 1928 mengajak kita semua untuk satu dalam nusa, bangsa dan bahasa. Hanya dengan cara seperti itu, impian yang datang saat kebangkitan Nasional 1908 tentang sebuah Indonesia yang merdeka tercapai. Maka dari Sabang sampai ke Merauke: Jawa, Bali, Nusa Tenggara Tinur, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Irian semua berpikir tentang sesuatu yang satu:Indonesia. Usaha utu berhasil setelah 37 tahun. Ketika Bung Karno membentangkan dasar negara pada 1 Juni 1945, yang kemudian selalu kita peringati sebagai Hari kelahiran Panca Sila, muncul pita yang dicengkeram kaki burung garuda dalam lambang negara Panca Sila: Bhineka Tunggal Ika. Ada hal yang dulu diredam atau ditunda mulai diungkap secara terus-terang. Kita mengakui bahwa kendati satu, di Indonesia ada banyak perbedaan. Baik suku, adat-istiadat, agama dan sebagainya. Tetapi dengan semangat gotongroyong semua perbedaan itu kita yakini akan bisa hidup rukun berdampingan. Selanjutnya setengah abad dalam era kemerdekaan, kita hidup dalam semangat satu Soempah Pemoeda dan kenyataan bhineka seperti yang diakui oleh Panca Sila. Dan ini bukan hal yang mudah. Beberapa peristiwa berdarah muncul, (DI TII, Kahar Muzakar, PRRI PERMESTA) karena perbedaan tak selamanya bisa disatukan. Dan persatuan tak berarti meluluhkan perbedaan. Namun seluruh peristiwa-peristiwa itu masih diterima sebagai dinamika dari negeri baru yang sedang mencoba mengukuhkan eksistensinya di atas kaki sendiri. Setelah 52 tahun merdeka, pada 1997, terjadi reformasi. Indonesia yang satu mulai diragukan. Persatuan mulai dituduh sebagai kezaliman pusat kepada daerah-daerah. Beberapa wilayah (Aceh, Papua, Riau) mau merdeka. Bentrokan agama terjadi di Maluku dan Palu. Insiden etnis terjadi di Pontianak. Di Jakarta sendiri muncul FPI, Betawi Rembug yang berusaha menegakkan keadilan dan kebenaran yang mereka yakini tanpa mempedulikan kepentingan kelompok lain. RUU APP yang bergegas hendak ditetapkan oleh pemerintah ditentang keras di Bali, Papua, Jawa Barat. Bahkan Bali mengancam hendak memisahkan diri, karena pasal-pasal RUU dirasa melanggar konsep kebhinekaan dan menjurus ke mono kultur. Banyak lagi masalah lain, misalnya masalah pembubaran Ahmadyah. Perbedaan semakin jelas. Dan perbedaan itu nampak seakan-akan cenderung menolak untuk hidup berdampingan. Soempah Pemoeda terasa tidak sakti lagi. Sumpah Pemuda lebih merupakan sebuah seremoni rutin yang lebih mengutamakan perayaannya, bukan esensi janji bersatu. Maka otonomi daerah pun dielu-elukan sabagai jawaban yang membuat raja-raja dan kerajaan kecil bermunculan di wilayah NKRI. Pluralisme mulai pelan-pelan diyakini sebagai sebuah cacad kalau bukan dosa. Ini masalah yang serius. Apalagi kalau diterapi dengan obat petn yang keliru. Apakah kecenderungan disintegrasi itu terjadi karena yang bertolak-belakang mutlak tidak dimungkinkan berstau? Atau itu sebuah rekayasa politik? Mungkinkah itu hanya kekecewaan terhadap pemerintah sebelumnya yang mengabaikan nasib daerah? Atau karena ada perubahan nilai dalam mengartikan apa yang disebut berbeda dan bersatu? Maka membicarakan pluralisme budaya sekarang adalah saat yang tepat. Pertama-tama yang bisa kita korek: benarkah masyarakat Indonesia adalah mayarakat plural. Memang betul, selama ini kita sudah mengaku bahwa kita masyarakat yang menjemuk. Karena kita terdiri dari banyak suka bangsa dengan bahasa dan adat istiadat yang berbeda. Tetapi kalau diusut, perbedaan tersebut masih bersifat horisontal. Baik bahasa mau pun adat-istiadat, banyak bukti, kita di Indonesia satu sama lain masih memiliki banyak persamaan, kecuali Irian yang sekarang disebut Papua. Gotong-royong itu sendiri misalnya, di mana-mana dikenal. Barangkali itu sebabnya tidak sulit untuk bersumpah satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Tidak ada halangan bagi bahasa Melayu pasar yang sebenarnya tergolong bahasa kelompok minoritas menjadi bahasa persatuan Indonesia. Tidak ada masalah serius yang terjadi karena perbedaan suku dan adat istiadat di masa penjajahan.

Kalau ada, itu rekayasa adudomba kolonial untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Baru di masa kemerdekaan kita mengalami berbagai guncangan. Dan itu tidak semata-mata karena adanya gesekan horisontal, tetapi karena doktrin vertikal yang dihembus oleh kehidupan idiologi, agama dan kelas masyarakat (baca: strata sosial). Sekarang kita mesti berhati-hati. Baik idiologi, agama dan strata sosial adalah perangkat lunak. Manusia sebagai perangkat kerasnya sangat menentukan kehidupan idiologi, agama dan pengelompokan akibat perbedaan strata sosial itu. Kita tidak dapat mengutak-atik perangkat lunak sebab itu masalah keyakinan dan menyangkut masalah seluruh dunia. Yang bisa kita sentuh adalah manusia-manusianya. Para pemimpin partai, pemuka agama dan para konglomerat. Mereka-mereka inilah yang mesti diteliti, benarkah sudah menjalankan fungsinya dengan baik dan tidak sebaliknya mempergunakan perangkat lunak untuk kepentingan pribadinya. Kemajemukan yang ada di Indonesia, adalah bagian dari warna kebun bunga seperti yang pernah diucapkan oleh Mao dan dikutip oleh Bung Karno. Maknanya bukan kekurangan tetapi justru kelebihan. Masyarakat sudah lama mengantisipasi perbedaan dengan caranya masing-masing yang kemudian tersimpan dalam kearifan lokal. Kita kenal misalnya di mana-mana ada kebiasaan untuk menghormati tamu. Sesuatu yang datang dari luar, meski pun berbeda, diberikan hak hadir. Di Bali ada yang disebut menyame-braye dan mepisage, bagaimana menjalin hubungan dengan sanak-keluarga dan handai taulan. Ada juga yang disebut nempahan raga, bagaimana menempatkan diri di antara orang banyak (yang mungkin sekali berbeda). Masih ada lagi yang disebut desa-kala-patra yakni keterpagutan setiap orang kepada tempatwaktu dan suasana. Dengan begitu setiap orang dituntut untuk membuat harmoni dengan lingkungannya (yang mungkin sekali berbeda). Kendati begitu, pada Pemilihan Umum pertama di tahun 1955, sejumlah orang memberontak di Bali dan menjadi gerombolan. Banjar terpecah. Sebuah keluarga membagi tempat ibadahnya dan membuat tembok. Semuanya karena politik. Benarkah perbedaan idiologi yang memecah masyarakat? Hal senada bisa juga dipertanyakan pada agama dan strata sosial. Banyak bukti menunjukkan bahwa yang hidup dan bergerak dalam masyarakat itu bukan idiologi. Buktinya banyak orang dengan tanpa beban pindah dari satu partai ke pantai yang lain yang berbeda idiologinya. Kepentinganlah yang sudah memacu perbedaan itu. Di balik kepentingan itu ada pimpinan. Pimpinanlah yang sudah menciptakan perbedaan. Karena hanya dengan perbedaan itulah ia mungkin akan mencapai kemenangan. Pluralisme di Indonesia bermasalah, karena pemimpin dan pemukanya bermasalah.Salah satu dari 17 rekomendasi Kongres Kebudataan 2003 di Bukittinggi adalah menyarankan agar para pemuka agama ikut aktif berpartisipasi mengawasi umatnya dan membrikan sanksi kepada mereka yang menyimpang dari ajaran yang diperintahkan oleh agama. Ini mengandung ratio bahwa dalam alam kemerdekaan di mana hak azasi manusia dijaga bersama, sudah waktunya tidak lagi menyentuh perangkat lunak, tetapi mengalihkan perhatian pada perangkat berat. Benarkan manusia-manusia pemimpin dan pemuka di Indonesia sudah menjalankan fungsinya dengan baik dan benar? Bila para pemimpin dan pemuka di Indonesia masih tetap lebih mengedepankan kepentingan kelompok, golongan dan pribadinya, dibandingkan dengan kepentingan nasional/bangsa/masyarakat, pluralisme akan menjadi jalan pintas untuk menciptakan kehancuran Indonesia. Pluralisme akan menjadi pembunuhan diri apabila perangkat kuat sakit dan bertindak semena-mena dalam menafsirkan dan menjalankan perangkat lunak. Banyak yang bisa diplajari dari kearifan lokal. Untuk itu perlu dilakukan reinterpretasi, reposisi dan kodifikasi yang berkesinambungan pada kearifan-kearifan lokal di berbagai kawasan Tanah Air. Dengan modal itu diharapkan akan dapat untuk menyehatkan atau meluruskan kembali perangkat keras yang mengalami konsleuting sesuai dengan konteksnya masing-masing. Karena membuat aturan umum sebagaimana yang terlihat dalam jiwa pasal-pasal RUU Pornography yang cenderung menafikan kebhinekaan, menerobos ruang privat masyarakat dan mengarah pada mono kultur, akan membawa kita pada pemiskinan dan kebangkrutan budaya.

1 Komentar Ditulis pada pemikiran Di-tag pluralitas PORNOGRAPHY

Posted on1 November 2008by Putu Wijaya | 6 Komentar Jadi begitulah. RUU PORNOGRAPHY lolos di DPR. Banyak orang bersedih.Tetapi yang lain berpesta, seakan-akan segala kebejatan berhasildiberantas. Di rumah, anakku Ami nampak kesakitan. Ia bahkan tak maupergi ke kampus padahal ada tentamen. Aku terpaksa menghibur. Beginilah resikonya hidup dalam alam demokrasi Ami. Yang menangadalah yang lebih banyak, meskipun belum tentu lebih bener. Jaditabahlah hadapi kenyataan. Ami mengangguk. Tapi wajahnya tambah berat. Sudah Ami, terima saja. Orang yang menang adalah orang yang beranimenerima kenyataan. Kalau kamu bisa menerima kenyataan kalah ini, kamubukan pihak yang kalah. Sedangkan orang yang menang suara, padahalbelum tentu mereka benar, apabila tak belajar dari yang kalah, kenapakamu dan teman-teman kamu begitu menentang RUU itu, mereka adalahorang yang kalah. Karena mereka hanya memikirkan kemenangan, bukanmemikirkan keselamatan negeri dan seluruh rakyatnya yang 220 juta jiwadengan panutan budaya yang berbeda-beda. Kepala Ami semakin berat. Bahkan matanya nampak berkaca-kaca. Lalu airmatanya jatuh berderai. Aku jadi cemas. Sudah Ami. Kalau begini caranya kamu menerima kekalahan, sebentarlagi bukan air mata kamu saja yang jatuh tetapi juga kepala kamu. Dankalau sampai kepala kamu biarkan jatuh, artinya kamu tidak hidup lagidengan otak tetapi rasa semata-mata. Perasaan itu baik, memang baik.Rasalah yeng menyelaraskan kita sehingga kita bisa membangun harmoni.Tetapi keselarasan itu sendiri perlu laras. Kalau tidak, rasa kamusendiri juga tidak laras. Kamu memerlukan kepalamu untuk mengarahkan,mengerem, meredam perasaan agar jangan berkelebihan. Karena kehidupanini seperti gado-gado yang penuh dengan berbagai bumbu dengan rasayang berbeda-beda. Kamu harus mencampur dengan cermat dan menakarnyaawas. Kalau tidak hidupmu akan menjadi pedes, asin, pahit ataukemanisan. Manis itu memang enak, tapi kalau berlebihan akan membuatmuak. Sudah cukup! Seratus butir air mata sudah lebih dari cukup untukmeratapi kemenangan RUU Porno ini, jangan ditambah-tambah lagi! Tapi Ami justru menangis semakin pilu. Ia tersedu-sedu. Air matanyatidak lagi hanya menetes, tetapi menyembur. Seluruh pipinya banjir.Bukan hanya itu. Ingusnya ikut berleleran. Aku panik. Aku menarik handuk yang membelit di kepala dan meletakkandi tangan Ami. Dengan handuk itu Ami mengusap air matanya. Tetapisemakin diusap, air mata itu semakin membanjir. Waduh, kalau begini caranya menghadapi kekalahan kamu akan semakinkalah dan mereka yang sudah menang akan semakin menang. Jadisebenarnya bukan kebenaran kamu di dalam menentang RUU itu yang kalah,tetapi kamu sendiri. Kamu sendiri sekarang yang membunuh sendirikebenaran yang kamu perjuangkan itu. Karena walau pun sekarangdinyatakan kalah, sesungguhnya kebenaran yang kamu perjuangkan tidaksalah. Karena tanpa ada RUU Pornography pun sebenarnya kita sudah bisamemberantas pornography, asal saja kita mau bertindak dan aparatpelaksana yang bertugas untuk itu rajin, tegas, desiplin dan tidakangin-anginan atau kucing-kucingan melakukannya, karena Undang UndangHukum Pidana, Undang-Undang Popok Pers, Undang-Undang Penyiaran sudahmemberikan kita hak bahkan kewajiban untuk memberantas kecabulan yangditontonkan arau diperjualbelikan di ruang publik. Jadi Ami, kamusebenarnya tidak kalah, kamu hanya ditunda menang, tahu! Handuk kecil itu tak mampu lagi menahan kucuran airdari mata Ami. Iaterpaksa memerasnya seperti mengeringkan cucian. Aku terkejut. Aduh Ami, ternyata kamu tidak bisa diajak berunding. Kemenangan itutidak harus kelihatan. Kemenangan yang sebenarnya nampak sebagaikekalahan, sehingga orang yang sebenarnya kalah tidak akan marah,tetapi malah gembira dan merasa bahwa sebenarnya merekalah yang menangpadahal mereka itulah pecundangnya. Bayangkan! Bayangkan!Ami menutup mukanya dengan handuk. Aku rengutkan handuk itu. Kamu ini sedang meratapi kekalahan atau sedang menikmati kekalahan?Ayo lihat kenyataan. Dengerin! Lihat! Bagaimana mau memberantaskecabulan kalau memberikan definisi saja gagap. Undang-undang iniseperti orang memberikan pisau tumpul kepada seorang anak yang disuruhmembersihkan lemak dari daging-dagingnya. Dia tidak akan mengiris, diaakan mencocokcocok, lalu membanting, akhirnya dia tidak bisa mengiristetapi mencacah dan kemudian menggigit sampai daging itu remuk, karenamemang itulah tujuannya. Hancur luluh jadi satu! Mono kultur! Kalaudaging itu sudah remuk akan mudah untuk digiling sebab dia memangbukannya mau mengiris daging tapi membuat bakso. Makanya jangandilawan

sekarang nanti dia tambah buas. Bisa-bisa kamu yang dibakso.Biarkan saja, karena pisau itu sudah di tangannya. Baru kalau diagagal nanti, kita beritahu pisaunya yang salah. Lagi pula lemak yangdipisahkan itu bukan mau dibuang tetapi di tempatkan pada tempat yangsemestinya dan dibuat supaya berguna. Karena tidak semua kolesterolitu jahat. Mengerti? Ami mengangguk. Bagus, kalau kamu mulai mengerti sekarang, dengar. Di balik setiapkegagalan selalu ada janji. Dengan kekalahan ini kamu akan belajar,tidak cukup suara keras, tidak cukup mata melotot, tetapi dalamberjuang harus memakai taktik dan strategi. Mengalah juga adalahsebuah taktik dan sebuah strategi. Jadi terimalah kekalahan inisebagai awal kemenangan yang baru. Ami memandangku seperti bertanya. O caranya? Caranya bagaimana mengubah kekalahan dengan kemenangan?Gampang. Ikutlah rayakan kemenangan mereka ini dengan berteriak lebihkeras. Ganyang kecabulan! Seret wanitawanita yang bergoyangmempertontonkan tubuhnya lempar ke penjara. Dera mereka yang menjualkecabulan. Masuki rumah penduduk semua, bongkar laci dan almari,bahkan singkap sprei dan kasurnya, jangan-jangan mereka menyimpanpornography. Tak hanya itu. Selidiki apa isi kepala orang. Tidak hanyayang kelihatan di ruang publik, yang tersimpan dalam rumah pribadibahkan dalam ruang pikiran pun harus diusut. Kalau ada yang cabul,setidak-tidaknya kita anggap cabul, seret, denda milyardan danjebloskan ke penjara. Dan kalau ternyata orangnya adalah pemimpin,apalagi pemuka, hukumannya sepuluh kali lipat!Ami tiba-tiba berhenti menangis. Jadi dengan kata lain, Ami sayang, kita kacaukan kemenangan merekaAmi. Seperti yang mereka usulkan. Sebagai anggota masyarakat kitaboleh ikut campur berpartisipasi memberantas kebaculan. Dan karenabatasan cabul kebetulan kabur, spiel dan flewksibel yang kita sebutkecabulan itu bukan saja ketelanjangan badan, juga ketelanjanganrohani. Kalau ada orang berbuat semena-mena hanya untuk kepentinganpribadi, golongan dan kaumnya sendiri tanpa mempedulikan kebhinekaanseperti yang dipesankan oleh pita di kaki Burung Garuda Lambang negaraPanca Sila, maka orang itu adalah tokoh pornograpghy yang juga bisadiseret, didenda dan dihukum. Mari kita balikkan arah RUU Pornographyini bukan untuk menentang kebhinekaan tetapi merayakan kebhinekaan.Jadi kita dukung RUU Pornography! Tiba-tiba saja aku tertawa puas, seperti menemukan akhir yang indahdari pencarianku yang sudah begitu panjang. Ya Tuhan aku temukan sudutterang di dalam kegelapan ini. Kaum perempuan yangb selama ini sudahjadi korban dan bulan-bulanan mesti m encari sendiri jalan terangnya.Dan aku dapatkan sekarang! Aku habiskan semua semburan ketawaku. Ajaib, mata Ami pun berhenti meneteskan air. Mukanya mulai berseri.Lalu dia mengangkat tangan mengajakku tos. Dengan gembira akumenyambut hangat kebangkitan anakku tepat pada peringatan 80 tahunSumpah pemuda dan 100 tahun kebangkitan nasional. Terimakasih Mama, bisik Ami sembari kemudian memeluk dan menciumku. Terimakasih, Mama sudah membantu melewatkan sakit perut Ami karenadatang bulan.

6 Komentar Ditulis pada cerpen Di-tag pornography, ruu Cantik


Posted on8 Oktober 2008by Putu Wijaya | 11 Komentar Gubernur marah besar. Panitia pemilihan Ratu Kecantikan 2008 dipanggil. Mereka dicecer dengan berbagai pertanyaan. Mengapa dari 9 wanita tercantik pilihan masyarakat tidak seorang pun adalah putri daerah? Kalau begitu apa gunanya ada pemilihan Ratu Kebaya, Ratu Dangdut, Ratu Kaca Mata, Ratu Mercy, Kontes Mirip Bintang, Miss ini-itu yang setiap bulan diadakan di mall-mall sampai salonsalon kecantikan kagetan kayak jamur di musim hujan? Apa betul putri daerah kita tidak ada yang cantik. Berarti kebanyakan mereka semua akan jadi perawan tua, karena pria kuta lebih mengagumi putri-putri dari luar sana? Ini tragedi! Tapi ini kan hanya kegiatan hura-hura yang informal Pak? Memang! Tapi masak bintang-bintang Hollywood itu yang dibilang cantik. Itu kan karena kalian hanya lihat di film. Film itu sudah penuh dengan tipuan gambar. Baik kameranya, tata lampunya dan sudut pandangnya sudah direkayasa sedemikian rupa sehingga kerbau pun kalau dirancang

seperti itu akan keliahatan aduhai. Coba kalau kalian lihat kenyataannya. Tulang-tulangnya yang besar, kakinya yang berbulu, kulitnya yang sepereti mayat dan bau kejunya yang mana tahan, kalian akan menyesal sudah sesat memilih idola. Realistis sedikit! Jangan terus bermimpi! Putriputri daerah kita semuanya cantik. Hanya karena kalian lihat setiap hari saja, kecantikannya kalian lupakan. Seperti gajah yang tak nampak karena adanya di pelupuk mata. Kalian harus belajar menghargai milik sendiri! Panitia tidak berani menjawab. Gubernur sedang asyik dengan kemarahannya. Kalau dipotong bisa parah. Coba apa kreteria kalian menentukan kecantikan sampai bintang-bintang film yang doyan gontaganti pasangan itu dianggap yang paling cantik. Apa kecantikan wajah itu diukur dari panjang hidung atau keberaniannya memperlihatkan badan sehingga mengundang nafsu. Bagaimana dengan kecantikan kepribadian dan moral serta kecerdasan. Apa itu bukan bagian dari kreteria yang menetapkan seseorang itu cantik? Kami tidak memberikan kreteria, Pak. Itu terserah mereka yang mengirimkan jawaban. Jadi ngawur? Bukan Pak. Kami hanya tidak memberikan batasan apa itu kecantikan. Karena ukuran kecantikan itu kan subyektif, jadi kami serahkan pada para pembaca saja. Itu namanya tidak bertanggungjawab! Panitia bingung. Maksud Bapak, kami harus bertanggungjawab? Ya dong! Sebagai warganegara yang baik, saudara harus bisa mempertanggungjawabkan kontes yang saudara adakan! Kalau itu sudah, Pak. Kami sudah umumkan jumlah suara yang masuk. Urutannya jelas. Kami akan segera memilih pemenang di antara pemilih dengan cara memilih kartu pos mereka pada malam selamatan ulang tahun media kami. Bagaimana kalau satu orang mengirim 1000 kartu pos? Boleh saja, Pak, asal mereka menempel juga stiker yang ada di majalah kami. Kalau begitu, bisa saja 9 perempuan tercantik itu bukan tercantik berdasarkan pilihan rakyat kita semua, tapi pilihan beberapa orang yang mau kirim kartu pos dan mampu membeli majalah Anda? Memang begitu, Pak! Umumkan dong! Untuk apa Pak? Ya itu tanggungjawab saudara sebagai penyelenggara! Tidak perlu, Pak, sebab mereka sudah tahu. Tidak bisa! Saudara harus mengumumkan bahwa 9 wanita tercantik ini bukan pilhan kita, tapi pilihan yang mengirim jawaban saja. Dan karena yang mengirim jawaban hanya beberapa ribu, tidak mencerminkan jutaan warga kita, berarti kemenangan mereka palsu. Mereka bukan 9 wanita tercantik. Memang bukan, Pak! Kalau begitu umumkan dong! Pertemuan selesai. Gubernur tak ada waktu lagi untuk berdebat, sebab harus terbang ke luar negeri menghadiri sebuah Festival yang diselenggarakan oleh negara sahabat. Para panitia segera berunding. Kemudian pihak perusahaan mendesak agar himbauan Gubernur dilaksanakan, karena menyangkut keselamatan majalah. Setelah mempertimbangkan masak-masak, panitia mengambil jalan tengah. Keputusan pemenang dibatalkan, karena dianggap ada indikasi sudah terjadi kekisruhan akibat kurangnya kriteria. Pemilihan akan akan diulang. Sebagai kompensasi, hadiah yang rencananya diberikan kepada para pemilih, dilipatgandakan.. Ada protes, tetapi tidak terlalu berarti. Lomba pun dimulai kembali. Pilihan dibatasi sebatas orangorang cantik di dalam negeri. Kriterianya pun dicantumkan dengan jelas. Bukan hanya kecantikan phisik yang terpakai, tetapi juga kecantikan kepribadian. Beberapa kreteria juga menggiring calon pemilih untuk memilih ratu-ratu hasil pemilihan berbagai kontes di daerah. Hasilnya amat mengagetkan. Dari sembilan wanita tercantik di dalam negeri, ternyata lima di antaranya adalah wadam. Memang cantik tetapi sebenarnya lelaki Guberbur yang baru pulang dari luar negeri terkejut. Di bandara, ia sudah ngomel di depan para wartawan, karena merasa tidak puas.

Panitia kembali diundang berdialog. Kenapa saudara sampai membiarkan 5 wanita adam masuk ke dalam 9 wanita cantik di negeri ini? Panita ketawa. Jangan ketawa ini serius! Peserta mungkin mulai sadar bahwa pemilihan yang kami lakukan adalah pemilihan main-main, Pak! Tidak ini tidak main-main. Ini cerminan dari perasan mereka yang sejujurnya. Kalau itu betul, Pak. Karena tidak formal dan tidak ada sanksi apa-apa, para pemilih itu mengungkapkan apa adanya. Saya kira karena kriterianya bukan hanya elemen phisik tetapi juga kepribadian, pilihan mreka kami anggap wajar, Pak. Mereka yang terpilih memang sangat professional. Profesional apaan! Itu pilihan yang salah. Itu cerminan bahwa masyarakat kita sedang sakit! Panitia mengangguk. Kok memngangguk? Saya kira itu ada benarnya, masyarakat kita sedang sakit! Tidak! Masyarakat kita masyarakat yang sehat, bukan masyarakat yang sakit. Saudara yang sudah membuat mereka sakit. Saya minta keputusan ini dicabut. Tidak boleh ada wadam yang dipuji sebagai 9 wanita cantik. Ini salah kaprah! Panita bengong. Maksud Bapak kami harus mengulangi pemilihan ini sekali lagi? Tidak usah! Tapi ganti pemenangnya dengan ini! Gubernut mengeluarkan secarik kertas dari kantungya. Cabut nama-nama itu dan gantikan dengan nama-nama ini! Kita bukan masyarakat yang sakit!

11 Komentar Ditulis pada cerpen Di-tag cantik Suap


Posted on7 Oktober 2008by Putu Wijaya | 1 Komentar Seorang tamu datang ke rumah saya. Tanpa mengenalkan dirinya, dia menyatakan keinginannya untuk menyuap. Dia minta agar di dalam lomba lukis internasional, peserta yang mewakili daerahnya dimenangkan. Seniman yang mewakili kawasan kami itu sangat berbakat.katanya memujikan, keluarganya memang turun-temurun adalah pelukis kebangaan wilayah kami. Kakeknya dulu adalah pelukis kerajaan yang melukis semua anggota keluarga raja. Sekarang dia bekerja sebagai opas di kantor Gubernuran, tetapi pekerjaan utamanya adalah melukis. Kalau dia menang, seluruh dunia akan menolehkan matanya ke tempat kami yang sedang mengalami musibah kelaparan dan kemiskinan, karena pusat lebih sibuk mengurus soal-soal politik daripada soal-soal kesejahteraan. Dua juta orang yang terancam kebutaan, tbc, mati muda, akan terselamatkan. Saya harap Anda sebagai manusia yang masih memiliki rasa belas kasihan kepada sesama, memahami amanat ini. Ini adalah perjuangan hak azasi yang suci. Saya langsung pasang kuda-kuda. Maaf, tidak bisa. Tidak mungkin sama sekali. Juri tidak akan menjatuhkan pilihan berdasarkan kemanusiaan, tetapi berdasarkan apakah sebuah karya seni itu bagus atau tidak. Tapi bukankah karya yang bagus itu adalah karya yang membela kemanusiaan dan bermanfaat bagi manusia? Betul. Tapi meskipun membela kemanusiaan, tetapi kalau tidak dipersembahkan dengan bagus, atau ada yang lebih bagus, di dalam sebuah kompetisi yang adil, yang kurang bagus tetap tidak akan bisa menang. Orang yang mau menyuap itu tersenyum. Bapak mengatakan itu, sebab kami tidak menjanjikan apa-apa? Sama sekali tidak! Ya! Lalu dia mengulurkan sebuah cek kosong yang sudah ditanda-tangani. Saya langsung merasa tertantang dan terhina. Tetapi entah kenapa saya diam saja. Kilatan cek itu membuat darah saya

beku. Kalau wakil kami menang, Bapak boleh menuliskan angka berapa pun di atas cek kontan ini dan langsung menguangkannya kapan saja di bank yang terpercaya ini. Saya bergetar. Itu sebuah tawaran yang membuat syok. Kalau ragu-ragu silakan menelpon ke bank bersangkutan, tanyakan apakah ada dana di belakang rekening ini, kalau Anda masih was-was. Kami mengerti kalau Anda tidak percaya kepada kami. Zaman sekarang memang banyak penipuan bank Saya memang tidak percaya. Tapi saya tidak ingin memperlihatkannya. Anda tidak percaya kepada kami? Bukan begitu. Jadi bagaimana? Apa Anda lebih suka kami datang dengan uang tunai? Boleh. Begitu? Berapa yang Anda mau? Saya tak menjawab. Satu milyar? Dua milyar? Lima milyar? Saya terkejut. Bangsat. Dia seperti sudah menebak pikiran saya. Kita transparan saja. Saya gelagapan. Apalagi kemudian dia mengeluarkan sebuah amplop. Nampak besar dan padat. Kami tidak siap dengan uang tunai sebanyak itu. Tapi kebetulan kami membawa sejumlah uang kecil yang akan kami pakai sebagai uang muka pembelian mobil. Silakan ambil ini sebagai tanda jadi, untuk menunjukkan bahwa kami serius memperjuangkan kemanusiaan. Dia mengulurkan uang itu. Kalau pada waktu itu ada wartawan yang menjepret, saya sudah pasti akan diseret oleh KPK, lalu diberi seragam koruptor. Saya tak berani bergerak, walau pun perasaan ingin tahu saya menggebu-gebu, berapa kira-kira uang di dalam amplop itu. Silakan. Tiba-tiba saya batuk. Itu reaksi yang paling gampang kalau sedang kebingungan. Tetapi batuk saya yang tak sengaja itu sudah berarti lain pada tamu itu. Dia merasa itu sebagai semacam penolakan. Dia merogoh lagi tasnya, lalu mengeluarkan sebuah amplop yang lain. Maaf, bukan saya tidak menghargai Anda, tapi kami memang tidak biasa membawa uang tunai. Kalau ini kurang, sore ini juga kami akan datang lagi. Asal saya mendapat satu tanda tangan saja sebagai bukti untuk saya laporkan. Atau Anda lebih suka menelpon, saya hubungkan sekarang. Cepat sekali dia mengeluarkan HP dan menekan nomor-nomor sebelum saya sempat mencegah. Hallo, hallo . Saya memberi isyarat untuk menolak. Tapi orang itu terlalu sibuk, mungkin sengaja tidak mau memberi saya kesempatan. Waktu itu anak saya yang baru berusia 4 tahun berlari dari dalam. Dia memeluk saya. Saya cepat menangkapnya. Tapi sebelum tertangkap, anak itu mengubah tujuannya. Dia mengelak dan kemudian mengambil kedua amplop yang menggeletak di atas meja. Ade, jangan! Tapi amplop itu sudah dilarikan keluar. Adeee jangan! Saya bangkit lalu mengejar anak saya yang ngibrit ke halaman membawa umpan sogokan itu.. Merasa dikejar anak saya berlari. menyelamatkan diri. Ade jangan! Anak saya terus kabur melewati rumah tetangga. Para tetangga ketawa melihat saya berkejarkejaran dengan anak. Mereka mungkin menyangka itu permaianan biasa. Ade jangan itu punya Oom! Terlambat. Anak saya melemparkan kedua amplop itu ke dalam kolam. Kedua-duanya. Ketika saya tangkap, dia diam saja. Matanya melotot menentang mata saya. Seakan-akan dia marah, karena bapaknya sudah mengkhianati hati nurani. Padahal saya sama sekali tidak bermaksud menerima suapan itu. Saya hanya memerlukan waktu dalam menolak. Saya kan belum berpengalaman disuap. Apalagi menolak suap. Itu memerlukan keberanian mental. Baik menerima mau pun menolaknya. Kedua amplop itu langsung tenggelam. Sudah jelas sekali bagaimana beratnya. Perasaan saya rontok. Dengan menghilangkan akal sehat saya lepaskan anak saya, lalu terjun ke kolam. Dengan kalap saya gapai-gapai. Tapi kedua amplop itu itu tak terjamah. Pata tetangga muncul dan bertanya-tanya. Heran melihat saya yang biasa jijik pada kolam yang sering dipakai tempat buang hajat besar itu, sekarang justru menjadi tempat saya berenang. Bukan hanya berenang, saya juga menyelam untuk menggapai-gapai. Tidak peduli ada bangkai ayam dan

kotoran manusia, mplop itu harus ditemukan. Dengan berapi-api saya terus mencari. Kalau kedua amplop itu lenyap, berarti saya sudah makan suap. Hampir setengah jam saya menggapai-gapai menyelusuri setiap lekuk dasar kolam.Tak seorang pun yang menolong. Semua hanya memperhatikan kelakuan saya. Saya juga tidak bisa menjelaskan, bahaya. Hari gini, siapa yang tidak perlu uang? Ketika istri saya muncul dan berteriak memanggil baru saya berhenti. Bang! Tamunya mau pulang! Cemas, gemas dan kecewa saya keluar dari kolam. Badan saya penuh lumpur. Di kepala saya ada tahi. Orang-orang melihat kepada saya dengan jiiiiiiiigik bercampur geli. Istri saya bengong. Tapi saya tidak peduli. Anak saya hanya ketawa melihat bapaknya begitu konyol. Eling Dik, eling, kata seorang tetangga tua sebab menyangka saya kemasukan setan. Abang kenapa sih? tanya istri saya galak dan penuh malu. Saya tidak berani menjawab terus-terang. Kalau saya katakan anak saya melemparkan dua amplop uang, semuanya akan terjun seperti saya tadi untuk mencari. Ya kalau dikembalikan. Kalau tidak? Mereka yang akan kaya dan saya yang masuk penjara. Untuk menghindarkan kemalangan yang lain, saya hanya menggeleng. Diinjak pikiran kacau saya pulang. Tapi tamu itu sudah kabur. Tak ada bekasnya sama sekali. Seakan-akan ia memang tidak pernah datang. Sampai sekarang pun ia tidak pernah muncul lagi. Saya termenung. Apa pun yang saya lakukan sekarang, saya sudah basah. Tak menolak dengan tegas, berarti saya sudah menerima. Ketidakmampuan saya untuk tidak segera menolak, karena kurang pengalaman, tak akan dipercaya. Siapa yang akan peduli. Masyarakat sedang senangsenangnya melihat pemakan suap digebuk. Kalau bisa mereka mau langsung ditembak mati tanpa diadili lagi. Dan kenapa saya terlalu lama bego. Melongo adalah pertanda bahwa saya diam-diam punya keinginan menerima. Aduh malunya. Tapi coba, siapa yang tidak ingin ketimpa rezeki nomplok. Orang kecil memang selalu tidak beruntung. Sedekah ikhlas pun sering difitnah sebagai suap. Seakan-akan orang kecil memang paling tidak mampu melawan naswibnya. Sementara pada orang gedean sudah jelas sogokan masih diposisikan semacam tanda kasih. Sudah jangan kayak orang bego, cepetan madi dulu, bau! bentak istri saya. Saya terpaksa cepat-cepat masuk ke kamar mandi. Setelah telanjang dan mengguyur badan, baru saya sadari betapa kotor dan busuknya saya. Berkali-kali saya keramas dan membarut tubuh dengan sabun, tapi bau kotoran itu seperti sudah masuk ke dalam daging. Cepat mandinya, bungkusannya sudah ketemu! teriak istri saya sambil menggendor pintu. Darah saya tersirap. Hanya dengan menyelempangkan handuk menutupi aurat, saya keluar. Mana? Seorang anak tetangga, teman main anak saya mengacungkan kedua amplop itu. Badannya kuyup penuh kotoran. Rupanya dia nekat terjun meneruskan misi saya yang gagal karena dia tidak rela Ade saya strap. Terimakasih! kata saya menyambut kedua amplop itu, sambil kemudian memberikan uang untuk persen. Limapuluh ribu? teriak istri saya memprotes. Lalu ia mengganti uang itu dan menggantikannya dengan tiga lembar uang ribuan. Masak ngasih anak limapuluh ribu, yang bener aja! Tapi .. . Ah sudah! Tidak mendidik! Saya tidak berdebat lagi, karena anak itu sudah cukup senang dengan tiga ribu. Lalu ia melonjak dan berlari keluar seperti kapal terbang, langsung ke warung. Pasti membeli makanan chiki-chiki sampah yang membuat usus bolong.. Kedua amplop uang itu saya bawa ke kamar mandi. Dengan hati-hati saya bersihkan tanah dan kotorannya. Untung amplopnya kuat terbuat dari semacam kertas plastik jadi tahan air. Uang tidak akan turun harganya hanya karena belepotan kotoran. Apa itu? sodok istri saya ingin tahu. Saya cepat-cepat menghindar sambil menyembunyikan amplop itu dalam handuk. Kalau dia tahu itu uang, ide-ide busuknya akan muncul. Kalau itu dibiarkan berkembang, akhirnya saya akan masuk penjara. Saya tidak percaya bahwa hanya wanita yang lemah pada uang. Laki-laki sama saja. Tetapi saya kenal betul dengan ibu si Ade. Dia sudah terlalu capek hidup dalam kampung kumuh. Sudah lama dia menginginkan masa depan yang lebih baik terutama setelah Ade lahir,

yang belum mampu bahkan mungkin tak akan bisa saya berikan. Baginya pasti tidak ada masalah suaminya masuk penjara, asal masa depan anaknya cerah. Saya naik ke atap rumah untuk menjemur amplop itu supaya benar-benar kering. Saya tunggu di sana dengan menahan panas matahari, takut kalau ada tangan jahil mengambilnya. Keputusan sudah diambil, saya tidak akan menerimanya. Saya akan mengembalikan, kalau orang itu datang lagi. Dia pasti sengaja pergi untuk menjebloskan saya terpaksa menerima. Tidak, saya tidak pernah mimpi akan menjadi pelaku suap. Tapi sepuluh hari berlalu. Orang itu tidak muncul-muncul juga. Lomba pun memasuki saat penentuan. Melalui perdebatan yang sangat sengit, akhirnya dicapai kata sepakat. Dengan sangat mengejutkan pemenangnya adalah calon yang dimintakan dukungan oleh penyuap daerah itu. Terus-terang saya termasuk yang ikut memberikan suara pada kemenangan tersebut. Bukan karena suap. Jagoan daerah itu memang berhak mendapatkannya. Bahkan juara kedua apalagi ketiga masih jauh di bawahnya. Kemenangan itu dinilai wajar oleh semua orang. Diterima baik oleh masyarakat. Sama sekali tidak ada suara-suara kontra. Satu bulan berlalu. Lomba itu sudah menjadi lampau. Saya pun memperoleh jarak yang cukup untuk menyiapkan perasaan menghadapi kedua amplop itu. Meski sudah saya sembunyikan dengan begitu rapih, tapi kalau lagi sepi, kadang-kadang amplop itu saya bawa ke tempat sunyi di depan rumah dan timang-timang. Rasanya aneh, kunci untuk mengubah masa depan ada di tangan, tapi saya cukup hanya memandangi. Kemiskinan terasa tidak begitu menggasak lagi, didekat senjata yang bisa membalikkan semuanya setiap saat. Mau tak mau saya terpaksa mengakui, betapa dahsyatnya arti uang. Suka tidak suka ternyata harus diakui memang uang mampu menenteramkan. Namun saya sudah bersikap menolak. Sayang sekali roda kehidupan yang membenam saya di bawah terus, akhirnya mulai menang. Memasuki bulan kedua, ketika pemilik amplop itu tidak muncul-muncul juga, pikiran saya bergeser. Suap adalah dorongan yang membuat kita terpaksa melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani dan merugikan orang banyak. Saya tidak melakukan itu. Orang juga tidak memprotes keputusan yang diambil juri. Apa perlu saya cek, adakah semua juri juga sudah disodori amplop seperti saya? Saya kira itu berlebihan. Keputusan kami yang diterima baik, adalah bukti bahwa kemenangan itu tepat. Orang tidak berhak menuduh saya atau kami disuap hanya karena kebetulan kemenangannya sama dengan yang dikehendaki penyuap itu. Maksud saya orang yang mencoba menyuap itu. Pada bulan ketiga, saya capek menunggu. Lelah juga dipermainkan oleh ketegangan. Kenapa saya mesti menolak nasib baik yang sudah di tangan. Istri saya sudah tidak mau lagi tidur dengan saya. Anak saya kontet karena gizinya kurang. Utang di warung sudah tak terbayar sehingga lewat saja sudah rasa dihimpit oleh hina dan malu. Akhirnya setelah berdoa berkali-kali dan meminta ampun kepada Tuhan, saya memutuskan nekat. Apa boleh buat biarlah saya masuk penjara kalau saya memang terbukti nanti makan suap. Tapi sedikitnya saya sudah sudah bisa membahagiakan keluarga dengan memperbaiki rumah dan membeli motor seperti tetangga saya. Kenapa orang lain boleh bahagia dan saya hanya kelelap kemiskinan karena membela kesucian. Jauh lebih baik makan suap meskipun dihukum, daripada dihukum sebab kena suap tanpa sempat tanpa selembat pun menikmati manis suapnya. Baiklah, hari ini kita memasuki sesuatu yang baru.kata saya pada anak-istri malam itu sambil menunjukkan kedua amplop uang itu, aku sudah mengambil keputusan bahwa ini adalah hak kita, karena sudah 3 bulan 10 hari pemiliknya tidak kembali. Bukan salah kita. Masak hanya tetangga yang berhak betulin rumah dan beli motor, kita sendiri makan tahi sampai mati. Ini! Saya terimakan kedua amplop itu ke tangan istri saya. Istri saya diam saja. Anak saya nampak menahan diri. Dia tidak berani menyambar lagi seperti dulu. Ayo dibuka saja! Istri saya tiba-tiba menunduk dan menangis. Lho kok malah nangis. Abang jangan salah sangka begitu. Salah sangka bagaimana? Jangan menyangka yang tidak-tidak. Yang tidak-tidak apa? Aku tidak capek karena kita miskin, tapi karena aku sakit. Aku juga sudah mulai tua sekarang, Bang. Aku diam karena tidak mau memberati perasaan Abang. Bukan apa-apa. Aku tidak mau Abang memaksa diri menerima suap hanya untuk menyenangkan hatiku. Jangan. Aku masih kuat

menderita kok. Masih banyak orang lain yang lebih jelek nasibnya dari kita. Dia berdiri dan meletakkan kedua amplop itu di depan saya. Jangan memaksakan sesuatu yang tidak baik, nanti tidak akan pernah baik. Dia menggayut tangan Ade, lalu membawanya ke dapur. Anak saya menurut tapi dia melirik kepada saya lalu menatap ke kedua amplop itu. Kemudian diam-diam menunjuk dengan telunjuknya. Saya menghela nafas dalam. Disikapi oleh istri seperti itu, kenekatan saya justru bertambah. Memang anak dan istri saya tidak usah ikut bertanggungjawab. Biar saya sendiri nanti yang masuk neraka, asal mereka tidak. Dari jendela saya lihat perbaikan rumah tetangga menjadi dua lantai sudah hampir rampung. Suara motornya kedengaran yang nyaring melengking menusuk malam, membuat saya panas. Tiba-tiba terpikir sesuatu. Kenapa anak saya tadi menunjuk ke amplop. Apa maksudnya? Apa itu sebuah peringatan? Saya menatap amplop yang menjadi bersih karena sering saya belai itu. Tibatiba saya terperanjat. Di satu sisinya ternyata ada belahan. Dari situ nampak terbayang isinya. Tangan saya gemetar. Saya sambar amplop itu dan intip isinya. Kemudian dengan bernafsu, barang yang sempay saya berhalakan itu saya kupas. Darah saya seperti muncrat keluar semua ketika menemukan di dalamnya bukan uang tetapi hanya tumpukan kertas-kertas putih. Dengan kalap saya terkam bungkusan kedua dan preteli. Sama saja. Isinya juga hanya kertas. Di situ mata saya mulai gelap. Ini pasti perbuatan tetangga jahanam itu. Dia temukan amplop itu, lalu gantikan isinya, baru dia suruh anaknya supaya menyerahkan kepada saya. Bangsat. Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin dia bisa meningkatduakan rumahnya dan membeli motor? Saya S2 dia SMP saja tidak tamat. Dengan gelap jelalatan karena geram saya keluar rumah. Jelas sekali sekarang. Mungkin ketika anak saya lari-lari berkejar-kejatan dengan Ade, kedua amplop itu sudah direbut oleh tetangga. Setelah tahu isinya, mereka langsung ganti. Dan ketika saya mencebur ke dalam kolam mereka punya kesempatan untuk memeriksa isinya dan mengganti. Itu kejahatan. Manusia sekarang sudah rusak moralnya karena uang. Tidak ada lagi perasaan persaudaraan, menjarah, merampok uang orang lain sudah jadi semacam kiat dan keberanian. Dengan kalap saya sambar batu-batu. Tak peduli apa kata orang, lalu saya lempari rumah tetangga bajingan itu. Kaca-kaca pintu yang baru dipasang saya hancutkan. Motornya juga saya hajar. Bangsat! Aku yang disuap! Aku yang dijebloskan ke bui dan neraka, kamu yang enak-enak menikmati! Bajingan! Hampir saja rumah barunya saya bakar, kalau saja para tetangga tidak keburu menyerbu dan kemudian menghajar saya habis. Mata saya bengkak, tak mampu melihat apa-apa. Hanya telinga saya masih bisa menangkap isak tangis istri dan jerit histeris anak saya.

1 Komentar Ditulis pada cerpen Di-tag suap Menguji Uji Coba RUU Pornografi
Posted on6 Oktober 2008by Putu Wijaya | 3 Komentar Yang semula bernama RUU APP (Rencana Undang-Undang Anti Pornografi Pornoaksi) dan kini bernama RUU P (Rencana Undang-Undang Tentang Pornogragi) telah menjadi bahan pertengkaran. Di tengah berbagai kesulitan hidup yang menerpa tak putus-putusnya, RUU tersebut sudah ikut membelah masyarakat dan bangsa Indonesia. Demo dari yang pro dan yang kontra terjadi di seluruh kawasan Nusantara. Tetapi seperti pelari marathon yang tangguh, RUU itu terus meluncur hendak menyarangkan dirinya di gawang pengesahan dari orang nomor satu Indonesia. Mengambil tempat di Ruang Kartini, Kemeneg Pemberdayaan Perempuan, Rebo 17 September, diadakaj Uji Publik yang dibanjiri oleh para peminat yang tak semua diperkenankan masuk. Dimulai dengan penjelasan bagaimana perjalanan panjang RUU itu sampai ke draft ketiga, kini ditanggung tidak lagi akan menjegal kebebasan seniman, tidak akan menodai kebhinekaan adat dan tradisi, berpihak pada perempuan dan membela anak-anak. Saran-saran dan kritik sudah diserap dengan mengubah redaksi dan memperbaiki pasal-pasal yang kini dapat dianggap sebagai sudah menampung baik suara yang pro maupun yang kontra. Penyair dan budayawan Taufiq Ismail kemudian membuka acara tanya jawab dengan dua lembar

pendapatnya yang menjelaskan bagaiman bahayanya pornografi dan betapa rawannya sudah masyarakat Indonesia diobrak-abrik oleh jaringan yang memakai lokomotif neo-liberalisme itu. Aliran SMS (Sastra Mashab Selangkang), angkatan FAK (Fiksi Alat Kelamin) dalam Gerakan Syahwat Merdeka telah membuat anak-anak kita jadi sasaran dan korban dalam skala sangat besar. Empat koma dua juta situs porno dunia dan seratus ribu situs porno Indonesia di internet adalah bagian air bah pornografi yang merajalela karena adanya dukungan dari kelompok permisif dan adiktif. Seniman tidak perlu mengeluh bila merasa terkekang karenanya, tulis penyair penulis lirik lagu Panggung Sandiwara itu. Tuangkan kreativitas menggarap tema kemiskinan, kebodohan dan ketidak-adilan di negeri kita. Ketiga tema besar ini jauh lebih urgen digarap bersama dan bermanfaat bagi bangsa, ketimbang tema syahwat yang destruksinya (bersama komponenkomponen lain) ternyata luar biasa. Pembicara berikutnya mengeritik cara-cara melakukan uji coba yang dianggapnya tidak layak itu. Materi RUU yang hendak dibicarakan tidak dibagikan secukupnya sehingga mayorits yang hadir tak memiliki apa yang mau dibicarakan. Definisi pornografi yang sejak awal sudah dianggap cacad dan biang pertikaian, masih belum sempurna. Pasal-pasal yang kabur dan mengandung kemungkinan banyak interpretasi yang diancam dengan berbagai hukuman. Kemungkinan masyarakat berperan-serta di dalam pencegahan pornografi akan membuat pembenaran beberapa kalangan melakukan tindakan main hakim sendiri, sebagai selama ini sudah kerap terjadi. RUU yang belum naik kelas ini mestinya dibicarakan secara terbuka bukannya buru-buru diresmikan, ujarnya. Kesan yang muncul dari pertemuan Uji Coba itu adalah bahwa pornografi memang harus dilawan,.dibendung dan dihabisi karena sangat berbahaya. Tapi satu pihak menganggap bahwa jalan yang terbaik ke arah itu adalah dengan cepat-cepat mengesahkan RUU Pornografi yang sudah panjang perjalanannya itu. Pihak lain menyambut bahwa tidak seorang pun yang membela pornografi. Tetapi tanpa adanya RUU Pornografi pun, tindakan tegas pemberantasan pornografi sudah memiliki landasan hukuman, tinggal eksekusi yang belum sungguh-sungguh secara jelas dan berkesinambungan dilakukan. Bagi mereka, masalahnya bukan RUU-nya, tetapi rumusasn RUU itu menjebak dan menggiring ke arah mono kultur yang bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika. Persoalan pro dan kontra pornografi tidak sama dengan persoalan pro dan kontra RUU Pornografi. Yang pertama adalah masalah moral. Ini menyangkut ruang privat. Bila negara sudah ikut mengurusi ruang privat, sementara begitu banyak persoalan ruang publik yang terbengkalai, itu hanya akan berarti mengelakkan diri dari tanggungjawab yang sebenarnya. Ruang privat sudah ada pengaturnya sendiri yakni agama dan pendidikan. Mari kita percayakan kepada para pemukanya untuk membereskan iman dari para warganya. Kalau memang sudah terjadi kebejatan, baru kalau ulah pribadi itu sampai mengganggu ruang publik, negara bertindak. Dan sudah ada beberapa undang-undang yang dapat dijadikan landasan hukum untuk tindakan mengayomi rakyat itu. Kalau toh mau menambah dengan yang baru (RUU P) penambahan itu tidak boleh melempas isinya. Sementara RUU Pornografi adalah taktik dan strategi negara dalam mengeksekusi tindakan pengamanan. Bila dalam hajat itu terjadi perbedaan pendapat, harus dibicarakan secara proposional dan kepala dingin di mana letak perbedaannya. Tak ada kaitannya lagi dengan pro dan kontra pornografi, sebab pornografi memang sepakat mau dilawan. Jangan sampai kita salah pukul atau sengaja salah memukul. Apalagi digiring orang untuk bukan memukul yang hendak kita pukul, tetapi sesuatu yang seharusnya kita hormati bersama, misalnya keberagaman. Uji coba mestinya diartikan duduk bersama dan saling mendengarkan. Mengupas satu per satu pasal-pasal RUU Pornografi di samping mengevaluasi mengapa kita masih memerlukan sebuah undang-undang lagi. Kalau memang kuat alasannya untuk membuat undang-undang, mengapa tidak. Untuk itu masyarakat berhak untuk diyakinkan. Tetapi kalau memang tidak perlu, karena, masalahnya bukan belum ada atau kurang undangundang, tetapi hanya tidak ada tindakan pelaksanaan (memberantas pornografi), kenapa mesti membuat undang-undang baru? Jangan-jangan ada udang di balik baru. Seperti ada penumpang gelap di dalam kasus RUU Pornografi ini. Untuk itu harus ada investigasi. Selaku pribadi, saya sangat berterimakasih pada Taufiq Ismail yang mengingatkan serta

menyadarkan kita bahwa pornografi adalah kejahatan yang terorganisir secara rapih sehingga bukan saja harus dilawan dengan keras tetapi juga cerdas, taktis dan lihai. Untuk itu jangan sampai langkah kita terbelokkan menjadi saling menikam, sehingga kita lalai bagaikan Niwatakawaca yang akhirnya terbunuh saat ketawa terbahak-bahak karena menang. Betul sekali, seniman tak perlu merasa terkengkang, jangankan selangkangan dan syahwat yang dilarang, kemiskinan, kebodohan dan ketidakadilan tak boleh dibicarakan seperti di masa Orde Baru pun, para seniman yang kreatif masih tetap bisa menghasikan master piece. Untuk itu mari kita buat definisi pornografi yang afdol. Juga saya ingin berterimakasih pada mereka, saudara-saudara saya yang menentang RUU Pornografi dan melakukan demo di Bali, Papua dan sebagainya. Mereka mengingatkan saya bahwa kewajiban negara untuk melindungi rakyatnya jangan sampai menjarah ruang privat. Apalagi memberi peluang orang bertindak main hakim sendiri terhadap apa yang tidak berkenan pada adat dan tradisi serta keyakinannya, karena itu menodai kesepakatan hidup damai berdampingan dalam perbedaan dan melanggar hukum. Walhasil, mari kita waspadai dan usir semua penumpang gelap yang ingin menyelusuf di seluruh aspek/gerbong kehidupan kita, kedok apa pun yang dipakainya. RUU Pornografi generasi ketiga yang diuji coba masih memerlukan pembahasan.

3 Komentar Ditulis pada catatan, sosial Di-tag pornografi Teater Mandiri Lebaran di Korea
Posted on5 Oktober 2008by Putu Wijaya | 1 Komentar Setelah sukses di Praha dan Bratislava pada bulan Juni yang lalu, Teater Mandiri mendapat undangan untuk main di Korea. Direktur International FolkArt Festival of Yangju di Korea, Mr. Sohn Jin Chaek setelah bertandang ke markas Teater Mandiri di Astya Puri Cirendeu, melihat potongan pertunjukan dan berdiskusi tentang eksistensi Mandiri, langsung meminta Mandiri berpartisipasi dalam festival yang akan diikuti oleh beberapa negara itu, antara lain Thailan dan Jepang yang berlangsung tg 2 s/d 5 Oktober. Teater Mandiri akan berangkat pada hari Lebaran, 1 Oktober. Menurut Mr. Sohn (sutradara Michoo Theater Company yang konon menyutradarai pembukaan Olimpiade di Korea), pada awalnya memang Festival Yangju adalah Festival seni rakyat. Tetapi mulai tahun ini, ada perubahan besar. Seni rakyat digabungkan dengan seni kontemporer, untuk menambah warna festival. Buat Teater Mandiri kedua aspek itu memang selama ini sudah menjadi basis perjalananan Mandiri. Dengan mengangkat dan sekalian berguru pada seni tradisi dan seni rakyat, Teater Mandiri mengambil posisi pertunjukan sebagai tontonan. Penonton adalah bagian dan bisa langsung terlibat pada pertunjukan sehingga melahirkan peritiwa. Tidak hanya seni akting, tapi seni musik, tari, serta seni rupa juga dipergunakan serentak dalam tontonan sebagaimana yang dikenal dalam teater tradisi. Para pemain Teater Mandiri juga seperti di dalam teater rakyat, semuanya adalah pekerja. Karena waktunya pendek sedangkan ada keterbatasan dalam jumlah personal pendukung, Teater Mandiri memutuskan untuk mengusung kembali lakon ZERO yang sudah pernah sukses di Taipe, Cairo, Praha dan Bratislava. Hanya saja ZERO kali ini sudah mencapai generasi ke IV, dengan banyak perubahan serta tambahan sehingga nyaris menjadi pertunjukan baru. Rombongan Teater Mandiri yang dibiaya oleh festival hanya 8 orang,. Beruntunglah Egy Massadiah, anggota Teater Mandiri yang kini sudah menjadi produser berhasil mengerahkan dana sehingga jumlah personil ditingkatkanb menjadi 13 orang. Mereka itu adalah: Putu Wijaya (pemain dan sutradara), Yanto Kribo, Alung Seroja. Ucok Hutagaol, Wendy Nasution, Fien Hermini, Bambang Rsmantoro, Sukardi Djupri, Agung Wibisana, Dewi Pramunawati, Taksu Wijaya dan Egy Massadiah (semuany6a pemain) dengan Wahyu Sulasmoro sebagai pemusik. Sebagaimana biasa, Teater Mandiri juga meminta beberapa orang di Korea untuk ikut bermain, berkolaborasi, sehingga bukan hanya tontonan yang tercipta tetapi juga persentuhan kultural. Ini memang merupakan bagian dari missi Mandiri sejak dulu. Kami tak pernah lupa menempatkan tontonan sebagai alat untuk diplomasi publik. Menambah pengertian mancanegara pada Indonesia dan sebaliknyta mencoba lebih memahami mancanegara untuk membina persahabatan. Kami

berharap kiranya itu dapat ikut membantu menegakkan kembali citra Indonesia di mata mancanegara. (TEATER MANDIRI)

1 Komentar Ditulis pada berita Di-tag korea, lebaran Merdeka


Posted on12 September 2008by Putu Wijaya | 4 Komentar Agustus sudah berlalu..Satu dua kali hujan mulai turun. Bendera-bendera merah-putih yang berjajar di sepanjang jalan sudah lenyap. Memang ada juga beberapa pedagang yang masih saja ngotot memasang. Umumnya penduduk sudah menyimpan kembali benderanya untuk dikeluarkan lagi nanti tahun depan. Tetapi bendera merah-putih raksasa yang berkibar di rumah orang kaya itu masih belum diturunkan. Ini bukan tidak ada maksudnya, kata Amat curiga. Mengapa dulu dia segan memasang, tetapi sekarang justru bandel membiarkan bendera kepanasan dan kehujanan. Apakah kamu tidak perlu ke sana lagi dan bertanya, Ami? Ami menggeleng. Saya sudah kapok, Pak. Kalau Bapak mau silakan saja tapi jangan bawa-bawa Ami. Kenapa? Kami anak-anak muda tak tertarik lagi dengan sandiwara over actingnya itu. Apa maksudmu dengan over acting? Mantan wakil rakyat itu dengan segala macam caranya sedang berusaha memikat perhatian kita. Tak usah diladeni. Masih masih orang yang lebih pintar dari dia yang perlu kita perhatikan. Siapa? Kami. Kami siapa? Ami misalnya. Karena kamu anak muda? Jelas! Tapi apa kamu punya uang 5 milyar? Ami terbelalak. Amat segera berpakaian. Mengenakan sepatu dan baju batik. Ami terpaksa bertanya. Bapak mau ngapain? Ke rumah orang kaya itu. Menanyakan mengapa dia tidak menurunkan bendera? Tidak. Menagih janjinya untuk menyumbang 5 milyar. Kalau gagal, baru menanyakan mengapa dia tidak menyimpan bendera padahal sudah tahu sekarang kita hampir memasuki musim hujan. Kenapa Bapak jadi ngurus sumbangan orang? Sebab Bapak tidak mau dia menjadi terkenal hanya karena mengancam akan menytumbang 5 milyar. Kalau mau nyumbang, nyumbang saja seperak juga akan diterima baik. Jangan menyebar kabar sabun menyumbang 5 milyar tapi tidak ada prakteknya. Itu kan membuat semua orang mimpi. Ami masih terus hendak mendesak, tapi Amat menutup percakapan. Nanti saja kalau Bapak sudah pulang dari sana! Ami geleng-geleng kepala. Dia kasihan kepada bapaknya yang sudah tua dijadikan permainan oleh orang banyak. Ditokohkan sebagai nara sumber dan panutan. Tapi giliran menagih sumbangan didaulat untuk jalan kaki sendirian bagaikan pengemis pada orang kaya yang pasti tidak akan sudi membuka dompetnya dengan selembar rupiah pun. Apalagi 5 milyar. Orang kaya tidak akan mungkin berduit kalau tidak pelit. Lihat saja nanti hasilnya pasti nol! kata Ami mengadu pada ibunya. Biar saja Ami, daripada bapakmu ngerecokin di rumah, biar dia ke sana, siapa tahu beneran. Ibu jangan begitu. Meskipun sudah pensiun, tetapi Bapak itu masih sama bergunanya dengan orang lain, asal jangan memposisikan dirinya sudah tua. Tapi Bapakmu kan memang sudah tua. Memang, tapi keberadaan orang tua sama pentingnya dengan anak muda. Ya itu dia. Makanya Bapakmu sekarang ke sana mengusut sumbangan 5 milyar itu. Kalau

kejadian kan kita semua untung. Sekolah berdiri dan kita dapat 10 persen. Ami terkejut. Sepuluh persen apa? Lho kamu tidak tahu toh? Siapa saja yang berhasil mengumpulkan uang sumbangan untuk melanjutkan pembangunan gedung sekolah kita dapat bagian 10 persen dari sumbangan itu.. Ami tertegun. Andaikan benar, tak usah sepuluh, satu persen dari 5 milyar saja kehidupan keluarga Amat akan bersinar. Ami langsung bermimpi. Apa saja yang akan dia beli kalau missi bapaknya berhasil. Ia sampai terlena di kursi menunggu bapaknya pulang. Ketika Amat masuk rumah, ia heran melihat Ami menggeletak di kursi. Bangun Ami, nanti kamu masuk angin. Ami terkejut, tapi kemudian langsung bertanya. Bapak berhasil? Ya. Ami berteriak: yes! Stttt jangan teriak sudah tengah malam ini. Jadi Bapak akan dapat sepuluh persen? Ya. Sepuluh persen dari 5 milyar? Tidak. Dia mengubah angkanya. Berapa. Sepuluh milyar? Seratus ribu. Ah? Berapa? Seratus ribu. Lho kenapa? Bapak bilang kepada dia baik-baik. Tidak usahlah menyumbang sebanyak itu. Malah nanti akan menimbulkan persoalan dan pertengkaran kita di sini. Di mana-mana duit biasanya membuat cekcok. Jadi Bapak bilang, daripada kawasan kita yang damai ini menjadi neraka yang penuh dengan saling curiga-mencurigai, lebih baik jangan membuat persoalan. Sumbang yang wajar saja, seratus ribu sudah cukup untuk memancing para warga lain menyumbang. Ami ternganga. Aduh, Bapak kenapa jadi bego begitu? Karena Bapak tahu semua omongan 5 milyarnya itu hanya isapan jempol. Daripada dia terkenal karena hisapan jempolnya itu, kan lebih baik dipaksa bertindak yang konkrit saja dengan nyumbang seratus ribu. Itu untuk menutupi rasa malunya sudah keceplosan ngomong 5 milyar, sampai-sampai dia tidak berani lagi tinggal di rumah karena takut ditagih. Itu sebabnya selama ini dia menghilang bersama keluarganya, makanya benderanya tidak pernah diturunkan. Sekarang beres, dia sudah nyumbang seratus ribu, ini duitnya. Dan benderanya sudah diturunkan. Paham? Tidak. Amat terhenyak. Lalu menjatuhkan badannya ke kursi seperti nangka busuk. Bapak juga tidak paham. Mengapa dia mau. Padahal Bapak hanya mengertak maksudku supaya dia malu dan langsung nyumbang 5 milyar!

4 Komentar Ditulis pada cerpen Di-tag merdeka Pahlawan


Posted on27 Agustus 2008by Putu Wijaya | 8 Komentar Seorang seniman mendapat penghargaan. Tetapi tidak seperti di masa-masa yang lalu, hanya berupa piagam dan uang seupil. Ia ditimpa doku yang lebih besar dari yang diterima Susy Susanti ketika menggondol emas untuk bulutangkis di Olimpiade Dunia. Lima milyar. Rakyat terpesona. Tak menyangka seni bisa menelorkan rizki sehebat itu. Sudah cukup bukti dunia seni kering, banyak seniman mati sebagai kere. Menjadi seniman sudah dicap semacam kenekatan. Lebih dari 90 persen lamaran seniman ditolak oleh calon-mertuanya, kecuali ada komitmen mau banting stir cari pekerjaan lain yang lebih produktif. Masyarakat seniman berguncang. Angin segar itu membuat profesi seniman naik daun. Tapi berbareng dengan itu hadir pula dengki. Mengapa baru sekarang terjadi? Dan mengapa jatuhnya

kepada Dadu, yang langganan ngutang di warung tapi ogah bayar itu? Apa tidak ada pilihan yang lebih baik? Masak pemalas begitu dikasi hadiah. Ntar juga habis dipakai minum dan nyabo. Itu kan tidak mendidik. Cari dong kandidat yang lebih layak. Masak di antara 220 juta jiwa ini tidak ada yang lebih keren? Jurinya ada main! Dadu tidak peduli. Dengan tenang-tenang saja, ia menyiapkan penampilannya yang layak pada malam penerimaan hadiah. Ia ngutang beli jas dan dasi. Langsung itu jadi bahan omongan. Sialan, dulu ngaku alergi sama hadiah dari pemerintah. Sekarang baru diuncal duit gede ngibrit tak peduli nasib rakyat! Dasar penjilat! Pengkhianat! Mata duitan! Dadu sama sekali tidak goyah oleh sindiran itu.. Ia malah menganggapnya sebagai publikasi gratis. Hadiah itu diterimanya dengan senyum lebar. Wajahnya terpampang di halaman depan koran. Kelihatan bangga dan yakin pantas menerima kehormatan. Suara-suara penentangnya menjadi bertambah lantang. Kita sudah dibeli semua! Tidak ada lagi yang punya harga diri! Banci! Di situ Dadu baru naik darah. Bangsat! teriaknya mencak-mencak. Sejak kapan mereka berhak mengkomando siapa aku ah? Sejak kapan aku harus jadi budak dan menyerah dicocok-hidung oleh setan-setan yang mau menjadikan aku pahlawan itu! Aku ini si Dadu, anak miskin yang tidak mampu beli celana dalam. Makan juga nembak melulu! Aku bukan pahlawan kemiskinan yang menentang kemapanan. Aku bukan tentara bayaran yang mau bertempur untuk memuaskan mereka yang mau mengadu aku dengan pemerintah! Aku milik diriku yang yang akan aku pertahankan sampai titik darah penghabisan. Aku tidak akan terpancing oleh segala hasutan, provokasi, gerpol dan teror itu. Aku lakukan apa yang aku yakin baik aku lakukan. Persetan sama kalian semua! Jangan ganggu kemerdekaanku anjing! Kalian binatang semua! Nyamuk pers senang sekali Dadu kalap. Mereka segera merubung untuk memancing Dadu mengumpat lebih liar. Kalau ada yang berkelahi berita akan laku keras. Untung pacar Dadu mengingatkan. Sabar Bang. Hadiah baru diterima, darah abang jangan naik. Kalau struk atau kena serangan jantung, lima milyar tidak ada gunanya. Dadu tertegun. Tapi aku marah. Kenapa aku dipancing jadi pahlawan. Kenapa bukan mereka saja yang menjadikan dirinya pahlawan. Aku berhak menikmati hadiah ini. Memang. Coba dia yang jadi aku. Tidak usah lima milyar, lima juta juga sudah akan menyembah! Tidak usah ngomong begitu! Kenapa? Sebab itu yang memang mereka mau! Jadi mereka senang kalau aku marah? Persis! Kalau begitu biar aku marah saja terus supaya mereka puas dan berhenti mengganggu kita! Tak mungkin! Mengapa tidak? Sebab mereka menginginkan kamu menjadi seorang pahlawan!: Dadu tercengang. Itu dia yang aku tentang! Jangan. Itu jangan ditentang. Jadilah seorang pahlawan! Aku tidak sudi! Dengerin dulu! Mau denger tidak?!! Suara pacar Dadu mulai keras sehingga Dadu terpaksa diam. Tapi dia masih menggumam. Aku tidak mau jadi pahlawan kesiangan! Tidak usah. Tapi jadilah pahlawan, dengan cara kamu! Maksudmu? Jadilah pahlawan tetapi tidak dengar cara seperti yang mereka mau. Jadilah pahlawan menurut cara kamu sendiri! Memang itu yang aku lakukan! Tidak! Dengan marah kamu masih menjadi pahlawan dengan cara yang mereka mau! Dadu menyimak.

Maksudmu bagaimana? Terima penghargaan itu, karena itu sebuah pengakuan yang terhormat, tetapi kembalikan hadiahnya, karena lima milyar itu sudah membuat banyak orang merasa dirinya begitu miskin, sehingga mereka mengaum meminta kamu menolaknya! Dadu terdiam. Bagaimana? Dadu memejamkan matanya. Bagaimana? Dadu membuka mata dan menatap pacarnya sambil berkata lirih dan tenang. Ternyata kita berbeda. Berbeda? Ya. Aku mengingin penghargaan itu karena mereka sudah memberikannya. Dan aku juga menginginkan duit 5 milyar itu sebab aku memang berhak mendapatkannya! Aku sama sekali tidak tertarik menjadi pahlawan, sebab aku manusia biasa! Aku tetap akan menerima sebab aku berhak menjadi diriku! Mereka berpandangan. Tiba-tiba pacar Dadu memeluk erat sambil berbisik. Kamu benar-benar seorang pahlawan!

8 Komentar Ditulis pada cerpen Di-tag pahlawan, seniman Ada Tak Ada
Posted on24 Agustus 2008by Putu Wijaya | 4 Komentar Sajak buat peringatan Cak Nur Kucari sebuah kata untuk mengungkapkan cintaku Tak ada Kucari sebuah jalan untuk memacu seluruh hasratku Tak ada Kucari sebuah baskom untuk menampung seluruh inginku Tak ada Kucari sebuah makna untuk mengosongkan kandungan hatiku Tak ada Kucari wajahmu di mana-mana Tak ada Kucari nama yang tepat untukmu Tak ada Kucari ucapan yang layak untukmu Tak ada Kucari tempat yang pantas untukmu Tak ada Kucari rumah yang cocok untuk memenjarakan Tak ada Kucari hari ruang baik untuk mengabadikanmu Tak ada Kucari segala-galanya yang tak ada Tak ada Tak ada Kau tak ada Kau tak bisa dicari Kau selalu di sana di lubuk batin yang paling jauh

4 Komentar Ditulis pada sajak Di-tag cak nur Kebebasan

Posted on23 Agustus 2008by Putu Wijaya | 3 Komentar Ada anak perempuan yang tiba-tiba mengurung dirinya. Dia sama sekali tidak mau keluar rumah. Bahkan di dalam rumah ia lebih banyak mendekam di kamar. Hal ini mencemaskan keluarga dan menimbulkan curiga tetangga. Kalau tidak bunting tetapi tidak ketahuan siapa lakinya, mungkin itu tanda-tanda mau gila,analisa seorang tetangga. Keluarga langsung mengadu kepada yang berwajib.. Kami sudah difitnah, Pak. Kami bersumpah anak kami masih perawan. Dia siap membuktikan dengan pemeriksaan laboratorium. Tidak mungkin anak kami melakukan tindakan bejat. Jiwaraganya sehat. Anak kami waras, bahkan IQ-nya tinggi sekali. Dia hanya memutuskan tidak mau keluar rumah lagi sebab dia mau merdeka. Petugas yang mencatat pengaduan itu bingung. Mau merdeka? Ya. Tapi kita sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945! Itu kemerdekaan politik, Pak. Anak saya mau merdeka di dalam berekspressi. Petugas berhenti mencatat. Dia berpikir, lalu permisi ke belakang. Di belakang ia berunding dengan teman-temannya. Petugas lain, lebih senior, lalu muncul, menggantikan bertanya. Bapak tadi mengatakan bahwa kita belum merdeka? Bukan begitu, Pak. Saya mengatakan bahwa anak saya tidak keluar rumah, karena dia ingin merdeka di dalam berekspresi. Silakan. Kita kan sudah merdeka. Tapi itu tidak akan bisa dilakukan di luar rumah, Pak, sebab akan dituduh mengganggu kebebasan orang lain. Kami bisa diswiping. Petugas itu berpikir. Akhirnya bertanya dengan curiga. Tergantung dari apa yang mau Bapak lakukan! Berekspresi saja, Pak. Ya apa itu? Berbicara, berbuat, berpikir, bertingkah-laku, berpakaian, mengeluarkan pendapat dan sebagainya, Pak. Silakan. Selama itu tidak mengganggu ketertiban dan hak-hak orang lain, Bapak bebas melakukannya. Bahkan mengganggu pun silakan, asal itu hanya terjadi di dalam pikiran Bapak saja. Bukan saya, Pak. Anak saya. Saya melaporkan apa yang menimpa anak saya. Di mana dia sekarang? Di rumah, Pak. Sakit? Sama sekali tidak, Pak. Kenapa tidak datang sendiri melapor ke mari? Sebab dia konsisten dengan pendapatnya, Pak. Di luar rumah tidak bisa merdeka lagi berekspressi sekarang, karena akan dibatasi oleh kemerdekaan orang lain. Jadi dia sudah beberapa bulan ini berkurung rumah. Tapi itu pun tidak bisa, karena dia difitnah dikatakan bunting atau gila. Belakangan saya dengar ada yang menghasut, kalau gila harus dimasukkan ke Rumah Gila, kalau tidak akan mengganggu masyarakat. Jadi ada pihak-pihak yang menekan Bapak supaya memasukkan anak Bapak ke Rumah Sakit Gila? Arahnya pasti ke situ, Pak. Konkritnya Bapak kemari mau mengadukan . ? Fitnah, Pak! Petugas itu melihat ke mesin ketik. Setelah membaca ia mengeluarkan kertas dari ketikan itu sambil ngedumel. Kalau begitu ini salah. Jadi Bapak sudah ditekan oleh massa untuk mengirimkan anak bapak ke Rumah Sakit Gila! Bukan, bukan begitu, Pak. Petugas tertegun. Jadi bagaimana? Saya datang untuk meminta perlindungan. Berikanlah hak pada anak kami yang tidak ingin

keluar rumah. Sebab dia ingin bebas mengekspresikan dirinya di dalam rumah. Dengan tidak keluar rumah, sebenarnya anak saya kan mau memelihara kebebasan orang lain di luar rumah? Mestinya mereka berterimakasih, tetapi kenapa anak saya malah difitnah? Petugas itu menarik nagas panjang. Mengeluarkan rokok. Setelah beberapa kali hisap, ia meletakkan rokoknya, lalu permisi, masuk ke kamar atasannya. Tak berapa lama kemudian, atasannya muncul. Masih muda dan cakap. Selamat pagi, Pak, ada persoalan apa? Senyum dan keramahan petugas yang rupanya orang nomor satu di pos meluluhkan. Bapak yang mengadu itu. Ia langsung berpikir, kalau ada pemuda semacam itu melamar putrinuya, dia akan menyerah tanpa syarat. Ada masalah apa? Anak saya difitnah, Pak. Difitnah bagaimana? Difitnah bunting dan gila karena tidak keluar rumah, Pak. Kenapa tiak keluar rumah? Sebab dia merasa sekarang kemerdekaan sudah diartikan seenaknya oleh orang lain, sehingga kemerdekaan itu membuat orang lain tidak merdeka. Padahal kita kan sudah setengah abad merdeka, Pak. Anak saya merasa kebebasan berekspresinya terancam di luar rumah, jadi dia berkorban, tidak mau keluar rumah. Malah diserang oleh massa. Saya datang untuk mendapatkan perlindungan. Pejabat muda itu mengangguk. Putri Bapak itu seniman? Bapak yang mengadu itu mengeluarkan dompetnya, lalu menarik foto anak gadisnya. Anak saya ini, Pak. Semua tercengang melihat foto seorang gadis yang cantik dan sensual. Wah putri Bapak cantik sekali. Wajar masyarakat protes, kenapa orang secantik itu tidak mau keluar rumah lagi. Muka Bapak yang melapor itu tiba-tiba pucat. Ia lama terdiam. Kemudian dia seperti baru bangun tidur, buru-buru permisi dan membatalkan pengaduannya. Ternyata kita selalu bisa melihat segala sesuatu dari sudut yang lain. Itu sebenarnya makna kebebasan,bisiknya dengan sungguh-sungguh pada putrinya.

3 Komentar Ditulis pada cerpen Di-tag kebebasan Kekerasan


Posted on22 Agustus 2008by Putu Wijaya | 2 Komentar Warga menyerbu rumah Afandi. Ada kabar burung pelukis itu adalah bandar pornographi. Ketika massa menemukan lima buah lukisan bugil, kontan diseret ke lapangan. Lalu sambil berteriakteriak lukisan dibakar beramai-ramai. Afandi mencoba untuk mempertahankan haknya. Tetapi ia langsung digebuk babak belur. Rumahnya nyaris dibakar. Untung saja istrinya kemudian menyembah dan meminta ampun pada pimpinan massa. Tetapi dalam waktu 3 kali 24 jam, kamu harus minggat dari sini. Kalau kamu nekat masih berkeliaran berarti menantang! Akan kami sikat habis, sebab kami tidak mau hidup berdampingan dengan manusia bejat yang otaknya dikendalikan oleh setan! Istri Agandi menangis tersedu-sedu. Itu dianggap sebagai persetujuan. Afandi sendiri tak mengatakan apa-apa. . Tetapi air matanya tetes karena lukisan yang merupakan pantulan hati nuraninya hangus. Ia merasa dirinya ikut terbakar mati. Seluruh kegairahan hidupnya lenyap. Ketika istrinya membereskan barang-barang karena takut digempur lagi, Afandi tetap saja diam. Pelukis itu kemudian pindah ke kota. Tetapi hidupnya sudah ditakdirkan tidak tenang. Setiap hari ia didatangi oleh para wartawan yang haus berita. Semuanya mengorek-orek apa sebenarnya yang sudah terjadi. Seakan-akan bukan mencari fakta tapi ingin mencari apa yang mereka harapkan terjadi. Afandi yang sudah lemas jiwa-raganya, selalu menghindar. Dia bukan jenis pahlawan atau

pemberontak. Ia cenderung lari dari kepungan mata kuli tinta itu. Publikasi berbahaya. Karena itu akan mengundang malapetaka. Ia ingin banting stir, berhenti menjadi seniman. Lebih baik hidup tertindas daripada mati konyol, karena anak-anaknya masih kecil. Tetapi istri Afandi yang merasa disakiti secara tidak adil, sebaliknya. Ia menuturkan kekerasan yang dideritanya secara panjang lebar sampai ke ketiak-ketiak peristiwa dengan sangat rinci. Ia seperti bisa menghitung jumlah air matanya yang tumpah dan berapa memar yang diderita oleh suaminya karena tamparan, tendangan dan pukulan. Ia juga hapal semua kata-kata yang diucapkan oleh massa yang menggerebeknya. Lima buah lukisan yang yang harganya satu milyar sebuah dibakar seperti barang-barang maksiat. Kami diusir dan diancam akan dibunuh kalau masih tinggal di rumah yang kami beli dengan menjual semua harta warisan kami di kampung. Anak-anak putus sekolahnya dan sampai sekarang belum dapat sekolah lagi. Suami saya juga sudah berhenti melukis. Kenapa? Sebab dia tidak bisa melukis yang lain. Tidak bisa atau tidak mau? Tidak bisa dan tidak mau. Kenapa? Dia hanya mau dan hanya bisa melukis orang telanjang. O jadi suami ibu betul-betul pelaku pornographi? Istri Afandi terkejut. Wartawan cepat-cepat menjelaskan. Pornographi adalah semua usaha untuk memperlihatkan gambar telanjang yang berarti kecabulan. Apa betul suami ibu bandar kecabulan? tanya wartawan memancing. Istri Afandi masih belum selesai terkejut. Gambar telanjang apa saja yang sudah dibakar itu? Gambar anak-anak saya. Hanya itu? Gambar suami saya sendiri. Yang tiga lagi? Gambar saya. Yang lain? Gambar orang tua. Siapa dia? Pemimpin kita? Kata suami saya itu Bisma yang dalam pewayangan berkorban untuk bangsa dan negara. Terus yang lain? Yang kelima? Saya tidak tahu. Laki atau perempuan? Seperti laki-laki seperti perempuan. Banci? Bukan. Mirip siapa? Tidak tahu. Kata suami saya sih, itu hati nurani. Wartawan terkejut. Tuhan? Istri Afandi bengong dan langsung menutup mukanya ketika ada kilat cahaya lampu pijar dari para wartawan bertubi menghajar wajahnya. Esoknya sebuah berita muncul mengegerkan. Tuhan dibakar! Rumah Afandi yang sudah berhenti melukis kembali diserbu. Para pembaca koran marah. Yang mendengar berita itu lewat mulut orang lain juga marah. Massa yang dulu menyerbu rumah Afandi juga mendidih darahnya. Gila dasar budak setan! Belum kapok juga dia. Habisi saja! Mereka lalu berangkat ke kota dengan tekad bulat untuk membuat Afandi benar-benar bertobat. Tetapi begitu samnpai di pemukiman Afandi yang baru, mereka hanya menemukan puing-puing. Rumah kontrakan itu sudah tersikat habis oleh api berikut seratus rumah lain di sekitarnya. Konon karena ada yang sembarangan membuang puntung rokok. Pemburuan terhadap pelukis telanjang melalap 100 rumah warga yang tidak berdosa! kata seorang penyiar.

Para petugas keamanan berkeliaran di antara puing-puing dan kerumunan orang yang menonton sisa musibah itu. Ketika mereka menemukan sejumlah orang asing dari luar kota di antaranya ada yang membawa senjata tajam, langsung diamankan. Kelompok orang itu tak sudi ditangkap. Mereka menolak dan melawan. Akhirnya terjadi bentrokan yang memakan korban jiwa. Ini pembelajaran demokrasi! kata seorang pengamat.

2 Komentar Ditulis pada cerpen Di-tag afandi, lukisan Pilkada


Posted on21 Agustus 2008by Putu Wijaya | 3 Komentar Di depan Amat berdiri tiga orang kandidat gubernur. Mana yang harus dicoblos? Nomor satu, dua atau tiga? Amat bimbang. Ia tidak bisa memutuskan mana yang terbaik. Jadi mau nyoblos yang mana? desak Ami.. Itu rahasia, Ami. Terus-terang saja, Bapak bingung! Kenapa mesti bingung?! Habis ketiganya masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Sebagai pemilih, Bapak tidak mau salah pilih, kan?!. Betul! Jadi? Ya Bapak bingung. Ami tersenyum. Kalau begitu Bapak akan jadi golput? Ya! Ami terkejut. Jadi bapak tidak akan memilih? Amat berpikir sebentar lalu menjawab. Tidak! Ami kontan marah. Bapak sadar tidak, dengan tidak ikut memilih berarti sebenarnya Bapak sudah memilih yang akan menang. Dengan mematikan satu suara, berarti Bapak memperkecil jumlah pesaing. Itu berarti tanpa Bapak sadari, Bapak akan memilih yang dapat suara terbanyak, meskipun calon itu sebenarnya bukan pilihan Bapak. Bahkan mungkin calon yang paling Bapak hindari! Maksumu apa? Golongan putih itu tidak ada. Itu hanya teori. Prakteknya pasti menguntungkan suara mayoritas! Kalau mau jadi kesatria Bapak harus memilih! Amat tertawa. Bapak mau jadi orang biasa saja, Ami, ditawari lahir sekali lagi juga Bapak tidak ingin jadi kesatria! Bukan itu maksud Ami. Sebagai warga yang bertanggungjawab, Bapak harus menentukan pilihan! Jangan tidak memilih! Jangan juga memilih semuanya. Pilih satu. Kenapa takut mengambil resiko? Meskipun pilihan Bapak kalah atau berbeda dengan pilihan kami, itu jauh lebih baik, daripada mengacaukan pemilihan dengan jadi golput! Jangan ikut-ikutan jadi orang apatis dan sinis pada keadaan, Pak. Separuh dari yang membuat keadaan kita bertambah buruk adalah karena orang-orang yang pintar dan pantas seperti Bapak ini, tidak mau menentukan sikap, tidak berani mengambil resiko. Itu namanya enaknya sendiri! Bapak takut kalah ya? Itu namanya pengecut! Amat terdiam. Lalu dia berkonsultasi dengan Bu Amat. Anakmu itu menuduh aku ini pengecut. Bu Amat terkejut. Masak? Karena aku belum tahu siapa yang akan aku pilih jadi Gubernur dalam Pilkada. Bu Amat tambah terkejut lagi. Masak? Habis ketiga-tiganya punya kelebihan tetapi juga sama-sama punya kekurangan.

Ah masak? Lho jelas! Masak? Milih satu di antara tiga kan gampang sekali, Pak. Pilih yang paling ganteng saja! Amat kaget. Lho Ibu milih Gubernur kok seperti mau milih menantu? Ya apa bedanya? Menantu yang baik itu kan menantu yang akan merawat dan memperhatikan mertuanya. Amat tercengang. Wah, itu kebangetan. Kita ini memilih petinggi yang akan memimpin pemerintahan untuk mengayomi kita semua, kalau ukurannya hanya kebagusan bisa runyam masa depan kita. Jangan begitu, Bu! Memilih pemimpin itu harus berdasarkan program apa yang dijanjikan akan dilaksanakannya kalau nanti sudah menduduki kursi kekuasaan. Kalau programnya sesuai dengan kebutuhan kita, boleh dipilih. Kalau tidak, meskipun bagus jangan dipilih. Jadi dikacaukan! Itu kan pilihan Bapak. Pilihanku pokoknya yang paling bagus! Amat bingung. Coba mana yang paling bagus di antara yang tiga itu? Itu rahasia! Jangan begitu, Bu. Itu namanya ngawur! Jangan menilai calon pemimpin dari kebagusannya saja. Jangan hanya melihat apa yang sudah diperbuatnya. Meskipun bagus dan sudah banyak pujian atas perbuatannya, tetapi Ibu harus melihat apa orangnya tepat dan mampu untuk memimpin, melindungi dan mengayomi kita semua dengan berbagai masalah kita sekarang di depan ini. Ibu jangan hanya pakai perasaan, enaknya sendiri, harus pakai pikiran! Kalau salah pilih, berarti Ibu juga ikut menjerumuskan kita semua pada bahaya! Bu Amat terkejut. Wah kalau begitu, baiknya pilih yang mana? Nah kalau sudah begitu, berarti sebelum main coblos akan mikir, jangan asal coblos, apalagi ikutikutan. Harus pakai perhitungan! Bu Amat terdiam. Malam hari dia berkonsultasi dengan Ami. Ami, Bapakmu mengatakan Ibu ini ngawur karena memilih calon Gubernur dengan melihat kebagusannya! Ami tercengang. Lho, memilih itu memang ukurannya bagus. Kalau tidak bagus buat apa dipilih? Bapakmu bilang yang harus dipilih bukan yang bagus tetapi yang berguna. Yang bagus itu, ya, yang berguna. Dan yang berguna itu, ya, yang bagus! Kalau begitu yang mana? Satu atau dua atau tiga? Terserah Ibu.Tapi kalau boleh menyarankan, sebaiknya yang bagus dan berguna. Yang berguna tapi bagus. Yang mana? Ami tak menjawab. Ia langsung menghampiri Amat dan berbisik. Pemilihan itu bebas rahasia, Pak, Bapak jangan mempengaruhi pilihan Ibu. Amat menatap Ami. Bagaimana bisa memilih Ami, kalau tidak ada pengaruh yang membuat kita berani mengambil keputusan? Kamu juga sudah mencoba mempengaruhi Bapak, kan? Ami terseyum. Kalau begitu Bapak akan memilih? Ya!

3 Komentar Ditulis pada cerpen Di-tag amat Nguping


Posted on20 Agustus 2008by Putu Wijaya | 5 Komentar Bu Amat nguping pembicaraan Ami di telepon genggam dengan temannya di kampus. Sudah tinggal saja! kata Ami, buat apa setia-setia kalau orangnya begitu. Tampangnya juga jelek, miskin lagi. Kamu kok mau-maunya sama dia. Tinggal saja. Laki-laki tidak hanya satu di dunia ini Kamu jangan buta. Itu dia yang sudah menyebabkan dia jadi berani berbuat seenaknya

pada kamu. Sebab kamu terlalu sayang sama dia. Cinta boleh, tapi terlalu cinta itu berbahaya. Jangan-jangan kamu sudah kena peler! Bu Amat langsung kaporan pada suaminya. Bapak harus mengambil tindakan tegas! Tindakan apa? Ami tidak boleh bicara begitu! Kenapa? Itu kan bukan urusan Ami! Tapi apa salahnya Ami memberi nasehat kepada teman baiknya? Itu bukan nasehat, itu perintah! Kalau nanti hubungan mereka putus bagaimana? Ya itu hukum alam! Hukum alam apa! Itu berarti Ami ikut ambil bagian memutuskan hubungan orang. Ya apa salahnya? Salahnya, kalau ternyata pemutusan hubungan itu salah, nanti Ami juga yang kena getahnya. Dia akan menyangka bahwa Ami sengaja menghasut supaya mereka putus sebab Ami yang mau sama dia! Amat ketawa. Ibu ini kebanyakan nonton sinetron! Lho itu kenyataan! Bapak jangan munafik. Bapak juga dulu begitu kan? Tapi buktinya, Ibu kan jadinya kawin dengan aku. Coba dengan lelaki bejat itu, entah bagaimana nasibmu sekarang! Tapi orangnya jadi benci sekali sama kita! Biarin. Orang jahat itu mesti diberikan pelajaran tegas Bu. Kalau tidak, nanti kita yang akan dikejami sama dia. Berbuat kasar berbuat jahat sama bajingan itu boleh. Lihat saja, bagaimana kita menjerat koruptor dan tukantg-tukang suap itu. Kalau teleponnya tidak disadap , bagaimana kita dapat bukti kejahatannya. Mereka itu hantu-hantu semua tidak kelihatan. Jadi mesti dipancaing, dipergoki biar kapok, biar tahu rasa! Bu Amat termenung. Ia nampak tak senang. Malam hari Ami menyapa ibunya. Kenapa Bu? Ibu terganggu oleh ucapan bapakmu tadi siang. Kenapa? Bapak menyinggung perasaan Ibu? Bukan. Bapakmu bilang bahwa perlakuan kasar kepada orang jahat itu boleh. Tapi Ibu tidak setuju. Menurut Ibu, perlakuan kasar itu tidak boleh kepada siapa pun. Baik kepada orang baik, maupun kepada orang jahat. Ami mengangguk. Ibu lembut sekali. Bukan begitu. Kalau kita mau melawan kejahatan, tidak boleh dengan kejahatan. Itu sama saja, Maksud Ibu? Ya tunjukkan saja kepada orang jahat itu bahwa kejahatan itu tidak menghasilkan apa-apa. Kejahatan itu akan gagal. Dan kegagalan itu dengan cara menunjukkan bahwa kita tidak mau ikut jahat. Biar dia tahu tujuan tidak akan bisa dicapai dengan kejahatan. Ami bingung. Aku tidak mengerti, sebenarnya maksud Ibu apa? Bu Amat tidak menjawab. Ami penasaran, lalu mengadu kepada Amat. Ada apa dengan Ibu, Pak? Amat berpikir. Ada apa? Kok kelihatannya banyak pikiran sekarang? Katanya kejahatan tidak bisa dilawan dengan kejahatan. O itu? Ibumu tidak setuju kalau tukang suap dan koruptor itu ditangkap dengan cara menyadap telepon mereka. Ibu menganggap penyadapan itu bukan tindakan yang bagus. Tidak baik diberlakukan kepada siapa pun, bahkan kepada penjahat pun tidak boleh. Kenapa Ibu sampai pada kesimpulan itu? Amat terdiam. Kenapa?

Karena mungkin dia merasa bersalah sudah nguping kamu menghasut teman kamu supaya putus dengan pacarnya. Ami terkejut. Ah yang benar? Ya! Ibu kamu tidak setuju kamu kok berani-beraninya menyarankan agar teman kamu itu memutuskan pacarnya, meskipun orang itu jahat. Bapak lalu menunjukkan kepada Ibumu bahwa kejahatan itu harus dihentikan dengan kekasaran, sebab demi kebaikan, orang jahat itu harus dipaksa dengan cara apa pun melihat kejahatannya sendiri. Seperti KPK menjebak para tukang suap dan para koruptor. Kejahatan itu dibenarkan untuk menegakkan keadilan. Jadi nguping itu tidak apa-apa asal .. . Ami tiba tiba memberi isyarat supaya bapaknya diam, lalu bergegas mendekati ibunya di kamar yang masih melamun. Jadi ibu sudah nguping percakapan Ami dengan Lidia di kampus? todong Ami tiba-tiba. Bu Amat terkejut tetapi kemudian mengangguk. Ya. Maafkan Ibu Ami, tapi Ibu minta, jangan mencampuri urusan pribadi orang lain. Tak baik. Tapi itu bukan urusan pribadi. Kejahatan tidak usah dilawan dengan kejahatan. Kebaikan yang muncul dari kejahatan itu tidak akan langgeng. Kejahatan apa? Kamu menasehati orang supaya putus itu tidak baik. Tapi memang harus begitu! Jangan! Harus! Jangan, Ami! Lho ibu ini bagaimana, naskahnya memang begitu! Bu Amat tertegun. Naskah? Naskah apa? Ami tertawa. Yang ibu dengar itu kan latihan saya dengan Lidia. Karena waktunya tidak ada, kami latihan drama lewat telepon! Makanya jangan suka nguping!

5 Komentar Ditulis pada cerpen Di-tag amat Komunitas Budaya


Posted on19 Agustus 2008by Putu Wijaya | 3 Komentar Ketika seseorang mulai kaya, nampak perubahan pada rumah dan kendaraan yang dipakainya. Rumah idandani, iperbesar, diperlebar, ditingkatkan. Dibikin kerean dan kemudian dikelilingi oleh pagar. Kendaraan juga sama, jumlahnya bertambah, jenisnya meningkat dan diperkapi dengan sopir. Bila sebuah komunitas mulai meningkat kesejahteraannya, juga muncul berbagai ciri. Hubungan antara anggota masyarakat mulai merenggang. Setiap orang lebih cenderung lekat dengan para relasi dan teman kerjanya. Kehadirannya juga semakin jarang. Rumah hanya untuk tidur dan alamat surat. Sosoknya lebih sering di tempat lain, hotel, restoran, mall, tempat peristirahatan dan kota-kota wisata. Jadi apa sebenarnya yang meningkat dalam sebuah kemajuan. Pendapatan, kata Edy seorang pengusaha muda yang sedang melejit. Uang lebih sering datang dan dalam jumlah yang tidak terbatas. Dengan uang sagalanya bisa didapatkan. Fasilitas, kesejahteraan, perlindungan, kesenangan dan segala macam kemudahan termasuk cinta.! Ia menikah dengan seorang super model. Tapi uang yang sekarang dikeluarkan oleh Edy sejuta lebih banyak dari ketika ia masih hidup pas-pasan. Pendapatannya memang seringkali bisa 20 juta kali pendapatan sebelumnya. Namun dengan begitu banyak urusan yang harus diselesaikannya sekarang, apakah ia masih memiliki waktu untuk menikmati segala kemajuan yang diperolehnya itu. Bayangkan ada 10 rumah, tapi hampir tidak pernah ditempati karena dia selalu melakukan perjalanan dari hotel ke hotel. Yang menikmati justru sopir dan para pembantu. Istri cantik dan terkenal, tapi satu minggu belum tentu

bisa bersama-sama sebab keduanya punya jadwal ketat. Apakah sebuah kemajuan berarti minus kebahagiaan? Edy tertawa. Itu matematika kuno. Jawabannya juga sangat ketinggalan. Bukan begitu caranya bertanya sekarang. Bukan begitu caranya membuat ukuran sekarang. Bukan begitu caranya berbahagia sekarang. Dan bukan bahagia yang sekarang dikejar sebagai sasaran utama. Lalu apa? Pencapaian. Prestasi. Ukurannya? Ukurannya adalah rata-rata orang lain. Aku tidak mau menjadi orang rata-rata. Apa artinya kebahagiaan kalau kita sama saja dengan orang lain. Aku ingin di atas. Aku baru merasasenang, puas kalau sudah paling atas. Itu berarti kita berarti. Apa itu kebahagiaan atau bukan, tai kucing. Yang konkrit saja. Nomor satu dan paling depan! Pada suatu kali, Edy kedatangan lima orang pemuda yang mengaku ingin membuat komunitas budaya. Penasaran karena kelima pemuda itu sangat getol, Edy sengaja membatalkan beberapa acaranya, untuk menghajar para pemuda itu. Mula-mula ia pura-pura bertanya. Apa sebenarnya tujuan Anda semua memilih saya untuk diajak membuat komunitas budaya? Salah satu dari kelima pemuda itu menjawab. Karena Bapak orang yang sukses, bahkan sangat sukses. Kalau Bapak bisa membantu kami, kami yakin mereka yang sukses-sukses akan mengikuti. Selama ini, kesuksesan seperti dipisahkan dari komunitas budaya. Seakan-akan orang yang sukses adalah mereka yang memasang jarak dengan aktivitas budaya. Karena itu bapak menjadi sangat strategis untuk memulai budaya baru, yakni ikut membangun budaya kita yang dari segala aspeknya sedang mengalami kemerosotan. Ini sebuah investasi yang memang tidak bisa dinilai dengan angka, sebab keuntungannya tidak kelihatan, namun justru apabila berhasil akan membawa kita kepada tata nilai yang baru yang memperjelas apa sebenarnya sukses itu. Apa sebenarnya nomor satu itu. Apa sebenarnya menang itu. Dan pada akhirnya, apa sebenarnya bahagia itu. Edy tertawa. Saudara-saudara kalau begitu mau membuat sebuah revolusi kebudayaan? Kelima pemuda itu tersenyum. Wah, jangan memakai kata-kata itu, Pak Edy, sebab konotasinya dengan revolusi kebudyaan di China yang penuh darah. Ini bukan revolusi, Pak. Ini hanya kebangkitan, yang membuat mereka yang mampu untuk memalingkan perhatiannya untuk membangun negeri dengan cara lain. Bukan dengan gedung, mobil tetapi dengan buah-budi, dengan budaya. Kita sedang mengalami kemerosotan budaya, karena itu kita memerlukan komunitas-komunitas yang mencegah erosi dan abrasi itu berjalan dengan drastis. Minimal kita tidak akan runtuh dengan cara yang begitu konyol. Edy ketawa lagi Saya ketawa sebab saudara mengartikan pembangunan phisik itu sebagai kehancuran budaya. Kenapa saudara membenci kemewahan? Tunggu, jangan dijawab dulu, saya belum selesai. Orang bilang mobil satu itu cukup. Saya bilang keliru. Mobil sepuluh juga belum cukup. Sebab ada seratus urusan yang memerlukan 200 mobil yang bisa saling menggantikian satu sama lain kalau ada yang macat. Jadi segala kemajuan phisik yang Anda anggap kemajuan ini nampak berkelebihan, karena saudara-saudara mengukurnya dari gunung, dari dusun, dari gubuk-gubuk kumuh di pinggir sungai. Baru kalau Anda bisa mengukur dari Paris, London, New Yotk, Tokyo Anda akan setuju dengan saya bahwa kita masih primitif, meskipun sudah bangun jangan layang, mono rel, dan punya bus way. Kita masih kurang kerangsukan membangun. Gedung tinggi kita belum cukup tinggi. Kita harus bekerja lebih keras untuk mengumpulkan duit dan jangan membelanjakan duit untuk menahan pembangunan. Terus-terang, saya tidak tertarik. Komunita budaya Anda membuat orang berhenti bekerja, berhenti berambisi. Padahal kerja yang kita perlukan sekatang. Maaf, selamat siang. Pertemuan berakhir. Kelima pemuda idialis itu ditinggalkan begitu saja. Kwintasi yang sudah mereka siapkan karena menyangka akan bisa mengucurkan dana sedikitnya 100 juta dari Edy kalau bersedia menjadi pelindung komunitas budaya itu, gagal. Tetapi mereka tidak menyerah. Kelimanya lalu meninggalkan istana Edy yang dijaga oleh 20 orang satpam. Mereka lalu turun ke

rumah penduduk. Mengetuk hati anggota masyarakat yang penghasilannya pas-pasan. Menyumbangkan apa saja, untuk melahirkan komunitas budaya agar bisa menahan erosi dan abrasi moral yang sedang deras-derasnya terjadi. Terimakasih, penolakan pak Edy justru membuat kami semakin yakin, teguh dan percaya, komunitas budaya ini harus dilahirkan,kata mereka ketika membuat selamatan lahirnya komunitas budaya itu.

3 Komentar Ditulis pada cerpen Di-tag budaya Merdeka


Posted on18 Agustus 2008by Putu Wijaya | 1 Komentar Sungguh aneh suasana perayaan hari kemerdekaan yang ke-63, karena ditandai oleh bukan hanya kibaran sang saka. Berbagai umbul-umbul dengan kain warna-warni plus bendera-bendera partai berseliweran di mana-mana. Kadang di beberapa kawasan bahkan bendera-bendera partai nampak lebih seru berkibar. Amat ingin sekali mencabuti bendera-bendera itu, karena ia hanya ingin ada dua warna, merah dan putih minimal satu minggu sebelum dan sesudah peringatan hari proklamasi. Kalau bisa bahkan seharusnya sebulan penuh. Agustus harus dijadikan bulan berkibarnya hanya sang saka dwi warna. Bendera-bendera lain, kecuali bendera-bendera negeri sahabat, mesti tahu diri, mundur dulu. Apalagi tahun ini genap 100 tahun kebangkitan Nasional. Mestinya kita semua lebih mengedepankan kepentingan bersama!kata Amat gemas. Bu Amat dengan susah payah berusaha meredam kemarahan suaminya. Karena kalau itu dibiatkan lepas, bisa menimbulkan perkara. Kita mesti sadar kepada situasi sekarang, Pak,kata Bu Amat, tak usah terlalu melebih-lebihkan semangat perjuangan Bapak di masa lalu itu. Sekarang masa orang lebih memperjuangkan kepentingan diri sendiri dan golongan. Kalau tidak hati-hati bisa-bisa kita digilas! Amat mengerti. Memang, aku juga tidak sungguh-sungguh mau membersihkan jalan-jalan itu dari bendera partai. Karena walau pun kota diamuk oleh bendera-bendera partai menjadi lautan politik, tetapi semangat kebangsaan di dalam paling sedikit jiwaku tidak akan pernah padam. Bahkan justru tambah menggebu-gebu. Sekaranglah di saat orang sudah lupa pada kepentingan bersama, perasaan berkorbanku untuk kebersamaan semakin berkobar. Jadi aku justru berterimakasih pada bendera-bendera itu, karena membuat aku semakin cinta pada Tanah Air sementara banyak orang kian bejat! Malam hari Ami yang mendengar komentar Amat, menghampiri. Ami dengar Bapak sudah menyerah sekarang?! kata Ami bertanya dengan nada menuduh.. Amat terpesona. Ia memandang Ami tajam. Kamu bilang apa? Saya dengar Bapak sudah menyerah! Siapa bilang? Habis katanya Bapak dulu marah sebab kegairahan mengibarkan bendera merah-putih kalah dengan jor-joran pengibaran gendera partai politik. Betul! Kalau betul, kenapa sekarang adem ayem? Adem ayem bagaimana maksudmu? Bapak tidak lihat bendera yang dikibarkan rumah bertingkat tiga milik orang kaya itu? Maksudmu dia mengibarkan bendera partai? Ya. Ya itu hak dia. Tapi bendera partainya begitu besar dan megah, sementara bendera merah putihnya itu sepele sekali. Jangan-jangan itu bendera yang pernah kita buang dulu karena ukurannya terlalu kecil dan warnanya juga sudah belel! Masak? Coba Bapak lihar! Amat tergugah. Meskipun sudah hampir jam 10 malam, ia keluar dari rumah. Dengan bernafsu ia

pergi ke rumah bertingkat tiga milik orang kaya itu. Dan betul. Di depannya nampak bendera partai. Lalu agak ke samping bendera merah putih yang barangkali besarnya hanya seperlima dari bendera partai. Warnanya pun sudah lusuh. Tiba-tiba Amat merasa amat tersinggung. Darahnya mendidih. Tanpa perhitungan lagi, lalu dia memujit bel di gerbang. Selamat malam, pak Amat.kata tuan rumah menyambut Amat dengan ramah. Amat memasang muka seribu. Selamat malam. Silakan masuk, Pak Amat. Terimakmasih, saya tidak bermaksud untuk mengganggu ketenangan Bapak bertamu malammalam begini, tetapi hanya mau bertanya. Orang itu tertegun. Menanyakan apa Pak Amat? Ini bukan protes. Bukan juga kritik. Saya tidak mau mengganggu kebebasan Bapak, sebab kita hidup di alam demokrasi. Dan kita sama-sama mengerti apa arti kemerdekaan. Orang kaya itu tersenyum. Tentu saja pak Amat. Saya tidak bermaksud untuk merecoki, tapi hanya sekedar bertanya saja. Sama sekali bukjan menyindir. Kalau pertanyaan saya tidak dijawab pun saya mengerti. Karena itu bagian dari kemerdekaan. Saya hanya tidak bisa menahan diri saya untuk bertanya. Boleh? Orang kaya itu tersenyum karena tidak mengerti. Tentu saja boleh, Pak Amat. Bapak jangan tersinggung. Kenapa mesti tersinggung, kan Pak Amat tadi bilang hanya bertanya. Persis, hanya sekedar bertanya. Saya penasaran, saja ingin tahu. Apa sebenarnya motivasi atau tujuan, atau jangan-jangan karena ketidaksengajaan. Siapa tahu Bapak sendiri juga kurang periksa. Betul tidak? Orang kaya itu terdiam. Lalu menarik nafas dalam. Kemudian mengubah suaranya lembut. Pak Amay, begini. Saya sebenarnyta sejak awal sudah khawatir kalau akan terjadi apa-apa. Tetapi karena waktunya semakin mendesak, momentumnya nanti bisa hilang, saya terpaksa memberanikan diri saja untuk bertindak. Tetapi Pak Amat harap mengerti, segbenarnya sama sekali tidak ada maksud apa-apa. Tidak ada motivasi apa-apa. Semuanya saya lakukan dengan ikhlas dan jujur. Amat terkejut. Ikhlas dan jujur? Masak? Betul. Maaf, saya tidak percaya! Betul Pak Amat. Saya lihat komunitas kita ini dihuni oleh semua orang yang sopan-sopan dan baik. Sayang sekali kalau kita membiarkan masyarakat menyekolahkan anak-anaknya jauh. Biarlah kita dirikan bukan saja TK dan SD tapi juga SMP dan SMA bahkan kalau disetujui nanti juga akademi kejuruan. Karena itu saya beranikan untuk menyumbang 5 milyar, agar pembangunan sekolah itu bisa diteruskan daripada nanti hambruk karena sudah 3 tahun terbengkalai. Jadi begitu. Tak ada maksud apa-apa. Sama sekali tak ada keinginan saya untuk menguasai atau menyinggung warga semuanya yang sudah begitu baik menerima saya sebagai anggota di sini. Begitu, Pak Amat. Amat tertegun. Kepalanya pusing. Ia melirik ke samping. Ia melihat bendera partai yang besar itu bergerak sedikit disentuh angin malam. Ia menoleh ke samping yang lain. Terlihat sang saka, meskipun kecil, belel, tapi berkibar lebih gesit dan gagah. Amat tak mampu mengatakan apa-apa. Ia mati langkah. Lalu Anat mengulurkan tangannya untuk berjabatan sambil berbisik lirih:. Saya datang hanya untuk mengucapkan terimakmasih.

1 Komentar Ditulis pada cerpen Di-tag merdeka Kemerdekaan

Posted on17 Agustus 2008by Putu Wijaya | 3 Komentar Seorang maestro menyerahkan karyanya yang terbaru kepada Gubernur sebagai hadiah untuk Peringatan Hari Proklamasi yang ke-63. Pelukis yang karyanya sudah menembus angka 3 milyar di Balai Lelang Singapura itu, ingin mengabadikan namanya di Gubernuran. Tentu saja semua menyambut gembira. Gubernur menyelenggarakan resepsi khusus untuk pembukaan bungkusan lukisan dan sekaligus upacara penggantungan karya itu di ruang tamu Gubernuran. Seorang sutradara film yang yang filmnya lagi laku keras, ditarik dari tempat shooting film barunya, untuk mempimpin. Kalau China menyelenggarakan upacara pembukaan olimpiade begitu spektakuler, kita juga akan menandinginya dengan perayaan 17 Agustus yang tidak kalah pamornya,kata Gubernur. Para wartawan dikerahkan untuk hadir. Sekitar seribu orang tamu memenuhi ruang dalam dan halaman gubernuran. Di antaranya ada yang sengaja datang dari Jakarta, ingin menyaksikan peristiwa yang menelan biaya ratusan juta itu. Saudara-saudar hadirin, para tamu, undangan yang saya muliakan,kata Gubernur dengan wajah berseri-seri membuka malam peringatan itu. Sebentar lagi kita akan memasuki genap 63 tahun merdeka. Selama ini kita tidak meragukan partisipasi semua orang di dalam merebut, menjaga dan kemudian mempertahankan kemerdekaan. Tetapi malam ini benar-benar istimewa, karena kita akan melihat bukti bahwa seorang seniman, tidak lagi hanya sibuk mengurus seni, tapi juga ngutus bangsa dan negara. Pelukis besar kita ini, menunjukkan langkah konkrit, sumbangannya pada negara dengan menyumbangkan sebuah katyanya yang berjudul Kemerdekaan. Silakan dibuka! Semua berkeplok tangan. Lalu sorot menyala. Seorang penari muncul. Dengan lemah gemulai dia mendekati bungkusan lukisan dan mulai membukanya perlahan-lahan. Tetapi gagal. Kemudian muncul 10 penari laki-laki. Mereka menggebrak. Tetapi bungkusan itu masih tetap tidak bisa dibuka. Akhirnya muncul puluhan penari lagi. Mereka mengangkat lukisan itu. Cahaya lampur berpedar-pedar. Asap mengepul. Tapi bungkus lukisan itu masih belum terbuka. Lalu terdengar suara seorang yang menembangkan puisi: Tak mungkin membuka kemerdekaan sendiri. Tak bisa mengejar kebebasan terpisah-pisah. Duaratus dua puluh juta tangan harus bergerak seretak, satu hentakan untuk membuat masa depan menjadi nyata. Kemerdekaan adalah persatuan. Kemerdekaan adalah kebersamaan. Kemerdekaan adalah melupakan perbedaan dengan tulus ikhlas dan dengan cinta menempuh jalan bersama dalam damai. Tiba-tiba bungkus lukisan itu terurai. Nampak lukisan itu. Tetapi belum jelas. Masih terhalang oleh bungkus kertas dengan tulisan: Kemerdekaan. Semua orang lalu mengaraknya dan menggantungkannya di dinding. Sesudah itu perlahan-lahan semuanya kembali. Panggung pun sepi. Dengan diiringi lagu Rayuan Pulau Kelapa, Gubernur maju dan merobek kertas pembungkus. Lampu menyorot. Lalu terlihat lukisan itu secara utuh. Tetapi semua orang terkejut. Lukisan itu ternyata sebuah bendera merah-putih yang compang-camping karena tercabik-cabik angin. Di bawahnya nampak tumpukan mayat. Matahari kelihatan garang menyala menyemburkan api. Beberapa orang berdiri garang seperti hendak memotong tiang bendera dan menggantikannya dengan sebuah bendera yang lain. Ya Tuhan mengerikan sekali! bisik beberapa ibu pejabat. Gubernur pun bengong. Ia tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Para wartawan cepat bergerak mengabadikan lukisan itu dengan jepretan bertubi-tubi. Gubernur terlambar mengangkat tangan. Stop! Stop! Jangan dipotret! Para petugas muncul dan mengamankan. Terjadi keributan, karena wartawan-wartawan terus mendesak ingin memotret. Seorang petugas merebut kamera seorang wartawan. Yang punya kamera mempertahankan mati-matian. Akhirnya agar tidak menjadi kekacauan Gubernur terpaksa membiarkan lukisan itu dipotret. Tetapi kemudian ia berpidato panjang. Saudara-saudara, lukisan ini, adalah kesaksian dari seorang maestro yang sekarang hidupnya lebih banyak di luar negeri. Kata orang, semakin jauh orang, sebenarnya ia semakin pulang. Dari luar negeri, wajah negeri kita konon nampak lebih jelas. Inilah salah satu gambarannya. Kita boleh tidak suka,. Karena kita menginginkan wajah yang lebih baik. Tetapi atas nama kemerdekaan, inilah salah satu penglihatan tentang siapa sebenarnya kita. Apakah saudara-saudara setuju lukisan ini akan kita gantung di sini? Tidak ada yang menjawab. Mungkin sekali tidak berani. Bapak sendiri bagaimana? tanya seorang mahasiswa.

Selaku pribadi, saya memang ingin memajang lukisan maestro kita ini sebagai tanda penghormatan. Tetapi selaku gubernur, pejabat pilihan saudara-saudara sendiri, saya wajib menjalankan kehendak saudara-saudara. Jadi bukan perasaan saya yang penting, namun perasaan kalian semuanya. Apakah kalian setuju kalau lukisan yang melukiskan diri kita yang telanjang ini, kita gantung di sini agar semua tamu melihatnya? Tidak ada yang menjawab. Apakah saudara-saudara tidak malu telanjang bulat di depan tamu? Telanjang bulat bagaimana, Pak,tanya seorang Ibu. Bendera kita yang compang-camping dan sudah hampir terbakar, belum lagi ada orang hendak menggantikannya dengan bendera lain. Itu gambaran blak-blakan yang sama saja artinya kita bugil; tanpa selembar kain pun di depan orang. Betul tidak? Maksud Bapak porno? Gubernur berpikir tapi kemudian menjawab tegas. Ya, porno!! Semua terdiam. Kalau saudara-saudara setuju pornographi ini digantung di sini, di ruang tamu sehingga semua tamu melihatnya, selaku Gubernurb pilihan rakyat saya tidak bisa berkata lain, ya pasang saja. Tapi kalau saudara bilang kemerdekaan itu dibatasi oleh kemerdekaan otang lain yang tidak membenarkan kita memajang hal-hal yang bersifat porno, saya akan copot sekarang juga? Bagaimana? Tak ada yang menjawab. Bapak sendiri bagaimana? Lho, saya mewakili kepentingan saudara-saudara. Kalau saudara-saudara setuju, baik akan saya gantung. Tapi kalau tidak, buat apa digantung? Semuanya terdiam. Tiba-tiba sang maestro yang melukis Kemerdekaan itu maju.. Lebih baik jangan dipajang, Pak Gubernur! Gubernur mengernyitkan dahinya. Kenapa? Karena porno? Semula saya memang membuat lukisan Kemerdekaan ini untuk digantung di sini. Tetapi begitu tadi melihat sendiri dia sudah tergantung, hati saya berontak. Lebih baik Kemerdekaan digantung di dalam hati saja. Karena kalau sudah diobral begini, akan jadi porno, kita akan cepat sekali lupa!

3 Komentar Ditulis pada cerpen Di-tag 17 agustus, merdeka Surat Pada Gubernur
Posted on11 Juli 2008by Putu Wijaya | 8 Komentar Bapak Gubernur, saya Pak Amat, seorang di antara berjuta-juta warga lain. Saya mengucapkan selamat bertugas pada Bapak. Semoga dalam kepemimpinan Bapak, apa yang kita cita-cita akan tercapai, tulis Amat. Surat itu diperlihatkan pada tetangga. Bagaimana? Tetangga manggut-manggut. Hebat. Hebatnya apa? Ya Pak Amat sudah berani menulis surat pada Gubernut. Lho, apa salahnya? Pak Amat kenal dengan beliau? Siapa tidak kenal beliau. Kan sering ada di koran. Hebat. Tapi lebih hebat lagi kalau Pak Amat tambahkan sedikit. Apa? Itu jalan yang masuk ke kompleks kita kan rusak. Kalau bisa diperbaiki, kita semua akan senang sekali. Amat ketawa. Masak Gubernut ngurus jalan rusak. Jalan kampung lagi!

Lho kenapa tidak, Pak Amat. Beliau kan pemimpin kita. Beliau pelindung rakyat. Beliau bukan hanya milik orang-orang yang tinggal di hotel dan real estate. Beliau juga adalah milik kita yang hidup di kampung seperti kita ini. Seorang pemimpin yang baik wajib mengayomi seluruh rakyat. Jangankan jalan rusak, batin yang rusak pun jadi urusan beliau. Ingat ada pepatah: karena nila setitik rusak susu sebelangan. Benar nggak?!! Nah, pemimpinn yang baik itu memperhatikan semua sampai sekecil-kecilnya. Karena yang kecil itu justru sering menentukan!" Amat tesenyum. Kalau Pak Amat tidak percaya, coba periksa ke dapur. Masakan yang sudah disiapkan dengan susah-payah dan mahal, tapi kalau garamnya kelupaan, tidak akan ada rasanya. Ya tidak?! Kalau itu benar. Nah jangan menganggap remeh yang remeh Pak Amat. Yang sepele itu sangat penting. Yang kecil-kecil karena kecilnya sering dilupakan, akhirnya yang kecil-kecil itu jadi merusakkan segalagalanya! Kelebihan pemimpin adalah dia bisa melihat pentingnya soal-soal kecil. Orang biasa, tidak. Orang biasa hanya melihat hal-hal besar, yang megah, yang banyak, yangmahal. Itu sebabnya kita semua tidak jadi pemimpin. Pemimpin itu melihat apa yang tidak kita lihat, Pak Amat. Amat ketawa. Kalau begitu, jalan rusak itu tidak perlu lagi dilaporkan! Kenapa tidak? Kan tadi sudah bilang sendiri pemimpin melihat apa yang tidak dilihat orang lain! Tapi yang kecil-kecil itu kan banyaksekali, Pak Amat! Kalau ditunggu, nanti masa jabatannya sudah selesai, belum juga giliran perbaikannya datang. Makanya dilaporkan supaya dapat prioritas. Pak Amat mau tidak jalannan depan kompleks kita diaspal licin? Ya mau! Makanya surat kepada Pak Gubernur itu harus ditambahin! Amat tertawa. Jangan ketawa saja Pak Amat, tambahin! Ya, ya, nanti ditambahin,kata pak Amat menyudahi pembicaraan itu lalu cepat-cepat pulang. Di rumah Amat menceritakan usulan tetangga itu pada istrinya. Masak Gubernur disuruh mikirin jalan kampung rusak. Masalah yang kita hadapi sekarang kan besar sekali. Narkoba, Aids, kenaikan harga bensin, pemasan global, belum lagi korupsi. Jalan rusak itu kan soal kecil sekali. Kalau masyarakat mau bergotong-royong, sehari saja jalan itu sudah bisa dilalui mobil lagi. Ya kan Bu? Lagian kalan rusak ada baiknya, sebab dengan begitu mobil tidak lewat kompleks kita lagi. Pusing aku kalau kendaraan seliweran lagi memakai wilayah kita sebagai jalan pintas! Jadi usulan itu ditolak? Habis masak Gubernur mesti ngurus jalan kampung? Apa salahnya? Amat tercengang. Itu kan tugas bawahan Bu? Orang bawahan banyak urusannya, Pak. Kalau Gubernur tidak kasih perintah pasti yang lain-lain dulu yang diurus. Aku juga seneng kalau kendaraan umum bisa masuk ke kompleks kita lagi. Jadi kalau mau pergi ke mana begitu, tidak usah jalan kaki, apalagi bawa banyak barang! Jadi Ibu setuju? Ya, iyalah! Apa Gubernur turun gengsinya kalau memperbaiki jalan rusak? Ya tidak . Makanya! Makanya apa? Masukkan itu ke dalam surat Bapak kepada Gubernur itu! Amat ketawa. Ya sudah, nanti tak masukkan! kata Amat mengakhiri percakapan. Sambil melipat surat yang mau dikirimkannya Amat nongkrong depan pesawat televisi. Ia bengong melihat berita ada Manusia Kawat. Manusia yang tumbuh kawat-kawat dari perutnya. Ia tak habis pikir, mengapa semua itu bisa terjadi. Belum sampai pukul 11 malam, Amat teler, lalu menyerah di tempat tidur. Ia bermimpi bertemu Gubernut baru. Ia membacakan permintaan tetangga soal jalan rusak itu. Heran ternyata Gubernur menanggapi serius. Menurut beliau jalan itu memang sangat penting. Bukan hanya diperbaiki,

jalan itu akan diperlebar, sehingga menjadi jalan utama. Artinya akan ada penggusuran sekitar 20 meter. Itu berarti rumah tetangga yang mengusul perbaikan itu akan kena bongkar. Tiba-tiba tubuh Amat diguncang. Amat gelagapan bangun. Bu Amat berdiri di depannya dan berbisik panik. Pak! Batalkan Surat Kepada Gubernur itu! Batalkan saja! Kenapa? Di depan rumah ada 20 orang tetangga menunggu, Bapak! Kenapa? Mereka mau nitip. Nitip apa? Ada yang anaknya tidak bisa bayar SPP. Ada yang berkelahi dengan saudaranya soal warisan. Ada yang suaminya kawin lagi. Ada yang hutangnya belum dibayar padahal sudah 5 tahun nunggak. Ada juga yang minta bantuan karena di PHK. Ada yang dapat kasus tabrak lari. Ada yang minta santunan untuk membayar rumah sakit, kalau tidak istrinya tidak bisa keluar. Ada yang minta bantuan sebab mau kredit motor pingin jadi tukang ojek. Ada yang . Su

8 Komentar Ditulis pada cerpen Di-tag gubernur Dekrit


Posted on5 Juli 2008by Putu Wijaya | 1 Komentar Seorang bapak punya kesulitan besar ketika hendak mati. Ketiga anaknya ternyata tidak punya kesepakatan terhadap warisan. Yang pertama ingin menjual habis seluruhnya. Sawah, tegalan, kebun kelapa, hutan jati dan tambak lele sudah tidak cocok lagi dengan kita,katanya. Kita bukan petani lagi meskipun Bapak orang tani. Kami semua bukan tarzan tapi wiraswastawan. Kalau dipaksa bertani, kita akan bangkrut. Jual semua, kita perlu kapital untuk bersaing dalam era industri. Sekarang kita tidak hanya butuh makan, tapi hidup layak di atas garis kemiskinan! Tapi itu warisan leluhur, anakku! Warisan adalah harta untuk menyambung nafas kita agar darah terus mengalir. Sawah dan tegalan itu hanya wujud, bisa digantikan dengan pabrik dan barang-barang lain yang lebih produktif. Bapak jangan memberhalakan barang. Kalau warisan diartikan sempit, anak-cucu kejepit. Kuper, tidak berkembang padahal zaman sudah berubah. Jangan mensakralkan warisan, itu hanya benda mati untuk menolong hidup, bukan tujuan yang harus dibela dengan hidup-mati Anak yang keuda mendebat. Tidak bisa! Warisan tidak boleh diganggu gugat. Warisan harus tetap sebagaimana aslinya. Siapa yang berani mengubah kuwalat. Satu senti pun tidak bisa digeser, sacuil pun tidak bisa ditambah atau dikurangi. Harus tetap persis mutlak sebagaimana aslinya. Warisan bukan benda tetapi sabda, di baliknya ada pesan moral yang menjelaskan kepribadian dan jati diri kita. Kalau sampai warisan diabrak-abrik, berarti bunuh diri. Kalau mau dibagi bukan warisannya yang dibelah-belah, tetapi kewajiban mengawalnya yang harus digilir dengan adil! Itu hakekat dari mewarisi adalah mempertahankan sampai tidik darah penghabisan! Jadi kamu tidak mau dibagi? Jangan salah! Mau sekali! Tapi bukan berbagai hak, kita berbagi kewajiban mengawal! Anak ketiga tidak peduli. Warisan dijual supaya bisa kulakan atau dipertahankan sampai titik darah penghabisan, sama saja. Yang penting warisan harus bisa membuat hidup kita lebih sempurna. Kalau tidak, itu namanya bukan warisan tapi penindasan. Segala sesuatu yang menindas, apa pun namanya, tidak perlu diwarisi tapi dihabisi. Sebaliknya, segala sesuatu yang bisa mengangkat derajat kehidupan lebih baik, apa pun namanya, dari mana pun datangnya, harus diwarisi. Perbedaan yang meningkat jadi pertentangan itu, membuat Pak Tua tidak jadi mati. Nafsu hidupnya jauh lebih besar dari kewajiban untuk mati yang pada dasarnya datang dari hasrat memberikan kesempatan anak-anak berkembang. Lalu dia bertapa. Seperti Arjuna yang pergi ke gunung Indrakila ketika mencari panah Pasupati setelah dapat job membunuh Niwatakawaca. Bukan hanya tujuh tetapi tujuh juta bidadari datang menggoda imannya. Mereka merayu dengan segala macam cara.

Apa salahnya membagi warisan menjadi tiga, supaya semua anak-anak senang, bukankah sepertiga masih luas dan sama-sama punya potensi untuk menghidupi? Apa salahnya membiarkan anak-anak memilih masa depan mereka sendiri. Orang tua tidak boleh selamanya menggondeli! Apa artinya kamu gembar-gembor negeri ini sudah merdeka kalau kehendakmu yang tua bangka masih terus hidup menyiksa keturunanmu sehingga mereka tak punya kebebasan untuk memaknakan kemerdekaan sendiri. Itu zalim. Penjajahan yang dilakukan oleh bangsa sendiri, lebih mengerikan dari penjajahan bangsa asing, karena disertai keinginan untuk memusnahkan! Kamu tak mencintai putramu, kamu mencintai dirimu sendiri! Orang tua itu marah sekali. Ia kontan buka mata dan membentak. Diam! Warisan itu bukan milikku dan tidak pernah akan jadi milik siapa pun. Mewarisi itu bukan memiliki, tapi memikul tugas suci untuk mempertahankan, mengembangkan dan meneruskan. Kalau warisan ini dibagi tiga, satu generasi lagi harus dibagi lima, dan limapuluh generasi lagi akan dibagi 250 juta. Tanah yang luas dan kaya raya ini akan menjadi kepingan uang receh yang sepele sehingga hanya akan jadi kutu yang dengan seenaknya diinjak-injak oleh raksasa-rakasasa yang sekarang sudah jelalatan mau menelan kita kembali! Serta-merta tapanya gagal. Orang tua itu kembali ke rumah dengann tangan kosong. Naun ia sudah punya tekad bulat. Lalu anak-anaknya dipanggil. Kalian semua sudah besar. Sudah waktunya untuk mandiri. Kalian tidak perlu warisan, cari sendiri kehidupanmu. Warisan ini tidak jadi diwariskan, karena ini bukan kue, ini bukan barang tetapi cita-cita. Boleh tidak setuju, boleh marah bahkan boleh menentang, aku akan mempertahankannya. Boleh menyerang, itu berarti kita akan berperang! Tetapi aku tidak akan berkelahi dengan senjata, di dalam usiaku yang sudah tua bangka ini. Tenaga, suara dan uraturatku sudah lapuk, aku hanya punya kesetiaan dan keteguhan jiwa membela cita-cita! Kalau kamu berani serang aku! Orang tua itu menunggu siap untuk dilanda oleh putranya sendiri. Tetapi ajaib. Walau pun putraputranya semula begitu galak, mendengar suara orang tuanya yang lemah tetapi yakin, tak ada yang beranjak. Dan ketika orang tua itu roboh karena janjinya sudah sampai, ketiga putra itu dengan sigap serentak menyambut. Mereka bahu-membahu mengangkat tubuh almarhum dan memulyakan warisan yang diamanatkan oleh alamrahum sebagai cita-cita. Ayah, bisik salah seorang mewakili yang lain,.hasrat kami untuk membagi warisan, bukanlah pertanda pengkhianatan kepada cita-cita, sebagaimana yang dituduhkan orang. Itu fitnah. Sebaliknya dari ketidaksetiaan, ulah kami adalah upaya agar engkau memberikan kami suara yang tegas dan bulat. Karena keraguanmu mempertimbangkan terlalu lama keadilan dan kebenaran, bisa menjadi bayang-bayang kegelapan yang menyebabkan setan menggoda. Kita tidak perlu kebijakan dan kelayakan kita memerlukan kecepatan, keberanian dan ketepatan agar tidak mampus. Sekarang kami akan memulyakan hajatmu menyelamatkan warisan cita-cita ini! Kini lebih dari setengah abad berlalu. Warisan cita-cita itu terus berkibar dalam gelap dan terang, dalam badai dan taufan. Terus berkibar walau warnanya sudah belel dan compang-camping. Tetapi ketiga putra-putra itu menjadi tua bangka, sementara anak-cicitnya, duaratus duapuluh juta kembali ingin berbagi rizki, berteriak-teriak mau mencacah warisan dipreteli menurut kenyamanan masing-masing. Kembali terjadi keos. Apa daya? Tidak ada gunung lagi yang layak untuk bertapa. Semuanya sedang meletus. Panah Pasupati pun tidak cukup handal, karena yang diperlukan sekarang adalah duit, hukum dan wibawa. Ada kubu-kubu untuk berlindung tetapi milik kelompok yang cover chargenya mencekek di belakang. Apa daya? Seruan jangan memperlakukan warisan sebagai kue tart yang boleh dibagi, tetapi sebagai cita-cita, juga sudah terlalu klise. Ketiga putra putra itu pun sudah capek mendukung, mereka juga ingin menikmati sebelum terlanjur uzur. Apa daya? Masihkah keberanian, kecepatan dan ketepatan lebih berharga dari kebijakan dam kelayakan? Almarhum tiba-tiba hadir di depan kita dan berkata: Keberanian, ketepatan dan ketepatan itulah kebijakan dan kelayakan?

1 Komentar Ditulis pada cerpen Di-tag dekrit Damai

Posted on27 Juni 2008by Putu Wijaya | Tinggalkan Komentar Perlukah damai dideklarasikan? tanya Amat mengomentari Deklarasi Damai yang diselenggarakan di depan Kantor Gubernur, Renon Sabtu lalu. Ami yang terlibat di dalam kerepotan itu, menjawab dengan pertanyaan. Kalau tidak perlu kenapa? Amat terkejut. Sebab deklarasi itu sendiri adalah penanda pada adanya ketidakdamaian. Jadi sebaiknya bagaimana? Damai itu tidak dideklarasikan, tetapi dilaksanakan saja. Caranya? Amat berpikir. Dengan mengajak semua orang menghayati rasa damai, bukan meneriakkan perdamaian dengan deklarasi sehingga haungnya jadi begitu keras dan galak, karena akibatnya orang lain akan merasa bukannya damai tetapi terancam. Karena mau melindungi ketakutannya, lalu mereka ikut berteriak, untuk mengatasi rasa cemasnya. Akhirnya yang terjadi bukan damai tapi kekacauan! Masak? Habis, meneriakkan perdamaian dengan suara keras kan jadi serem? Amat tiba-tiba berteriak. Damai! Damia! Damai!!!!!! Bahkan kewmudian mengaum. Damaiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!! Stttt! Bapak! Begitu! Kamu saja sudah pusing dengar bapak teriak apalagi orang lain! Karena dengan diteriakkan perdamaian menjadi menakutkan. Kalau sudah begitu, nanti yang terjadi bukan damai, tetapi perang, dengan dalih damai. Jadi karena dideklarasikan, damai tidak akan terjadi tetapi menghilang! Kalau begitu artinya deklarasi damai salah dong? Salah besar! Seperti teori pendulum yang diyakini oleh almarhum mantan Mentri Kebudayaan Fuad Hassan! Kamu sendiri Yang sudah cerita pada Bapakl. Menurut beliau bahwa bila sesuatu berayun ke depan nanti dia juga akan berayun sama besarnya ke belakang! Jadi teriakan damai akan menghasilkan gaung tidak damai! Begitu? Karena Bapak tidak ikut? Betul. Aku berada di luar, jadi aku bisa melihat apa jeleknya! Tiba-tiba Bu Amat berlari masuk. Dengan panik dia menarik Amat keluar. Tolong Pak! Anak tetangga kita itu akhirnya berkelahi memperebutkan warisan! teriaknya. Amat dan Ami tercengang. Lho bukannya mereka sudah sepakat untuk membagi harta orang tuanya dengan damai?! Cepat tolong, Pak! Nanti mereka bunuh-bunuhan! Ami terlebih dahulu keluar. Amat masih berpikir. Ayo Pak! Jangan terlambat nanti darah tumpah! Karena Amat masih bengong, Bu Amat menyeret suaminya keluar. Benar saja. Di rumah tetangga, sudah banyak orang berkerumun. Tapi hanya menonton. Ttak seorang pun berani berbuat apa-apa. Ketiga bersaudara itu sudah sama-sama menghunus kelewang. Semuanya merasa berhak secara penuh untuk mewarisi rumah yang diwariskan oleh orang tua mereka. Ketika melihat Amat datang, Para tetangga menyisih memberikan jalan. Amat jadi gentar. Ternyata dia kembali menjadi kunci. Alangkah sialnya jadi orang tua. Kalau lagi senang-senang disisihkan, dianggap sudah jadi besi tua. Tapi gilitan ada masalah berbahaya langsung ditunjuk sebagai ujung panah. Ayo Pak Amat, suruh mereka damai! bisik para tetangga. Hatu-hati mungkin ada yang bawa pistol,bisik Bu Amat lirih membuat hati Amat semakin kecut. Perlahan-lahan Amat maju. Ketiga bersaudara itu sudah mencapai puncak ketegangan. Tangan masing-masing sudah menggenggam gagang kelewang. Kalau salah satu bergerak, akan terjadi pertempuran segitiga. Amat melihat ada sesuatu tersembul di balik baju masing-masing. Mungkin keris atau pisau. Yang jelas, itu saat yang amat sulit. Amat maju setapak-setapak, agar semuanya mengerti dia bukan mau berpihak. Tetapi kemudian dia terpaksa menghentikan langkahnya, karena ketiga orang itu tiba-tiba berdiri. Kelewangnya berkelebat. Sinarnya gemerlapan menyilaukan mata Amat.

Maaf, Bapak tidak ikut campur. Ketiganya mundur, tetapi mengangkat kelewang, seperti siap menebas. Sekujur badan Amat gemetar. Tetapi mata masyarakat yang berharap adanya perdamaian, membuat Amat tidak bisa lain kecuali melanjutkan. Bapak hanya mengingatkan bahwa, kalian bertiga sudah pernah bersepakat damai. Rumah ini tidak bisa dibagi. Rumah ini memang milik kalian bertiga. Tapi kalau dibagi akan hancur. Kalian sudah sepakat untuk menyerahkannya kepada warga untuk dijadikan milik bersama, tempat kita semuanya berkumpul. Kalau sekarang mau dijadikan milik pribadi, sebenarnya kalian tidak usah saling berkelahi. Kalian cukup memintanya kembali kepada warga, karena kalian mau memakainya sendiri. Kami warga pasti akan memberikan dengan rela, karena kalian juga adalah warga kami . Suara Amat hilang. Pikirannya sudah mengatakan, tetapi mulutnya tak mampu menyuarakan. Ia sudah sampai di puncak ketakutan. Beberapa detik lagi, ia akan roboh. Tetapi aneh. Ketidakberdayaannya itu justru memancarkan kekuatan dahsyar. Disaksikan oleh seluruh tetangga, ketiga pemuda yang sudah mau bacok-bacokan itu kemudian perlahan-lahan menurunkan kelewangnya. Mereka mundur, lalu berbalik dan pergi. Waktu Amat nyaris hambruk. Bu Amat dan Ami cepat memegang orang tua yang sudah setengah terkecing-kencing ketakutan itu. Warga mendekat lalu memberi selamat dan pujian. Amat dianggap sebagai juru selamat sekali lagi. Kemudian muncul kendaraan dari pos polisi. Para petugas dengan senjata di tangan berloncatan turun siap untuk mengamankan keadaan. Tetapi situasii sudah terkendali. Untung polisi cepat datang, kalau tidak?kata seorang ibu sambil mengurut dada. Bu Amat dan Ami memapah Amat pulang. Orang tua itu sudah kehabisan tenaga. Bapak bagaimana sih? Ceroboh amat! sesal Bu Amat pada Amat, Tadi bukannya memberikan peneduhan, malah membuat mereka tadi tambah marah. Kok ngomongnya begitu tadi? Untung Ami nelpon polisi, kalau tidak, entah apa jadinya tadi. Bapak sih tadi ngomong begitu, ketigatiganya malah mengangkat kelewang! Di rumah esoknya, setelah pikirannya tenang, Amat baru menjawab. Bukan karena polisi itu, tiga bersaudara itu berhenti berkelahi, Bu. Karena apa? Karena mereka sudah pernah melakukan kesepakatan damai! Kalau tidak ?

Leave a comment Ditulis pada cerpen Di-tag amat Kekerasan


Posted on6 Juni 2008by Putu Wijaya | Tinggalkan Komentar Tidak hanya di Monas, pada tanggal 1 Juni juga terjadi kebrutalan di rumahAmat. Apa pasal? Bu Amat mengobrak-abrik rumah dan membuang semua barang-barang siaminya yang dianggapnya sesat. Semua kenangan yang menyangkut perempuan lain dibakar, dibuang atau diberikan kepada tetangga,kata Amat lari dari rumah, mengungsi ke tetangga, karena tak kuat melihat kezaliman itu. Termasuk gambar bekas pacarku yang sudah jadi teman baik, bahkan sering bersilaturahmi ke rumah. Itu adalah kezaliman, pengaruh dari berbagai aksi berbagai organisasi yang kini seenaknya saja main hakim sendiri, mentang-mentang tidak pernah ditindak tegas! Ami yang menyusul Bapaknya berusaha mendinginkan suasana. Sebetulnya itu bukan kemauan murni dari Ibu. Lalu siapa? Itu namanya cemburu buta! Ibu hanya mengatakan, coba Ami, bersihkan segala meja, almari dan rak buku dari sampahsampah tidak penting yang disimpan bapakmu, kalau tidak, rumah akan jadi keranjang sampah, kata Ibu. Lalu Ami menyortir mana yang harus dibakar, dibuang, diberikan tetangga dan mana yang boleh disimpan. Kenapa semua foto dibakar. Itu pasti perintah Ibumu kan? Bukan. Itu inisiatip Ami sendiri. Sebelum Ibu melihatnya sendiri, lebih baik Ami bakar. Bapak mestinya berterimakmasih sebab Ami sudah menyelamatkan. Coba tidak, Ibu akan lihat semua. Satu foto saja sudah bisa bikin Ibu kena serangan jantung. Apalagi beberapa foto.

Itu bukan berapa lagi. Ada seratus dua puluh foto! Apalagi 120, Ibu bisa langsung angkat kopor, pulang ke kampung! Tapi apa salahnya menyimpan foto. Kan hanya foto? Bapak boleh berkata begitu. Tapi Ibu? Coba bayangkan sekarang kalau Bapak menemukan foto laki-laki lain di dompet Ibu, apa Bapak tidak curiga? Ya curiga dong kan Bapak suami Ibumu yang sah! Nah makanya! Tapi jangan langsung gebrak main bakar. Bapak akan tanya baik-baik. Kenapa foto itu di simpan. Kalau alasannya masuk akal, kenapa harus marah? Betul? Ya marah juga. Masak istri menyimpan foto lelaki lain. Poliandri itu namanya. Dilarang undangundang! Tidak bisa! Bagaimana dengan poligami? Poligami tidak dilarang, tapi Bapak juga anti poligami. Ibu kamu tahu itu. Jadi tidak perlu pakai main bakar-bakaran. Praktek kekerasan itu bertentangan dengan hakekat rumah-tangga yang harus saling cinta-mencintai! Nah itu sama dengan Ibu. Di dalam rumah hanya ada satu suami dan satu istri! Cocok! Makanya jangan main kekerasan! Lho Ibu tidak melakukan kekerasan, itu Ami yang melakukannya. Ibu malah tidak tahu! Amat termenung. Jadi ide melakukan kekerasan itu bukan dari Ibu kamu? Bukan! Itu inisiatip Ami. Jadi kalau Bapak mau marah, marah sama Ami saja! Jangan marah sama Ibu! Kalau kamu membakar, tapi Ibu kamu tidak melarang, artinya dia menyetujui. Dan kalau dia menyetujui, berarti dia memang meniatkan dan merencanakan. Salah! Salahnya di mana? Ibu pasti marah juga kalau tahu Ami sudah membakar, membuang dan memberikan kepada tetangga koleksi Bapak.. padahal Ibu hanya menyuruh membersihkan rumah dari sampah. Begitu! Jadi Bapak lebih baik pulang sekarang. Ibu sudah selesai masak. Mau pulang tidak? Atau mau berantem terus? Setelah berpikir panjang, menimbang untung-ruginya, Amat pulang mengikuti Ami. Masakan sudah terhidang. Amat langsung mengganyang. Bu Amat meladeni dengan mulut tertutup. Suasana jadi tegang. Kok diam saja,tanya Amat. Habis kalau ngomong nanti takut salah. Lebih baik diam. Jangan diam saja. Kalau ada apa-apa dibicarakan. Jangan main bakar seperti kejadian di Jakarta. Berbeda pendapat itu kan normal. Jangan langsung main kekerasan. Kekerasan apa? Itu foto-foto lama kenapa dibakar itu kan hanya dokumentasi? Foto apa? Itu foto Dik Nelly dan Dik Pertiwi, kok dibakar. Kan Ibu juga berteman baik dengan dia. Bu Amat terperanjat. Dia langsung masuk ke kamar Ami. Memang betul foto-foto koleksi bapak dibakar? Ami menjawab polos. Betul. Kenapa? Sebab di dalam rumah tangga hanya boleh ada satu suami dan satu istri! Maksudmu kamu curiga Bapak mau kawin lagi? Jangankan kawin lagi, punya pacar pun Ami tidak setuju! Bu Amat menggeleng-geleng. Ami kamu salah! Salah bagaimana? Ami kan mau melindungi Ibu! Salah!!! Bukan begitu caranya melindungi dan membela Ibu! Kalau betul mau melindungi Ibu, ada cara yang lebih baik. Bagaimana? Lebih baik Ibu bersaing dengan foto. Karena foto tetap saja foto. Daripada bersaing dengan

orangnya. Jadi ayo kembalikan foto-foto koleksi bapakmu itu sekarang juga! Di mana kamu simpan? Belum dibakar kan? Kembalikan, kalau tidak Ibu marah!!! Dengan berat hati Ami membuka alamarinya. Lalu menyerahkan 120 buah foto koleksi Amat. Bu Amat menjerit di dalam hati melihat foto-foto perempuan yang sudah membayang-bayangi hidup Amat itu. Lalu membawanya ke meja makan. Ini semua koleksi Bapak masih lengkap,kata Bu Amat sambil meletakkan semua foto itu di depan Amat, Silakan saja disimpan kalau masih sayang. Amat terperanjat. Setelah dapat menguasai pikirannya lagi, ia berhenti makan, lalu membawa foto-foto itu ke dapur dan membakarnya. Bau sangit foto yang terbakar memenuhi rumah, tercium oleh Bu Amat. Ia nampak sedih, karena kini ia tidak lagi bersaing dengan foto tetapi kembali berhadapan dengan orangnya yang asli.

Leave a comment Ditulis pada cerpen Di-tag amat, kekerasan Undangan ZERO di GKJ 7 Juni 2008
Posted on4 Juni 2008by Putu Wijaya | 3 Komentar Pertunjukan 7 Juni di GKJ, sebelum ke Praha dan Bratislava ZERO, sebuah usaha untuk tidak menyengketakan perbedaan bersama melangkah dengan tulus membina hidup yang lebih baik menghargai, menghormati serta memulyakan kehadiran orang lain.

SINOPSIS: Perang yang dikutuk hanya membawa kesengsaraan bagi yang kalah mau pun yang menang, masih terus saja berlangsung di mana-mana dengan berbagai alasan. Manusia membenci perang dan memimpikan perdamaian. Namun jalan yang ditempuh untuk mencapai perdamaian satu sama lain berbeda bahkan bertentangan. Dengan dalih menciptakan perdamaian, manusia pun akhirnya berkelahi untuk memenangkan upaya perdamaian yang dianggapnya paling benar dan adil.

ZERO adalah sebuah esei visual yang mencoba mengajak setiap orang untuk kembali ke wilayah nol tanpa keinginan tertentu kecuali menghormati dan mencintai sesama dengan berpegangan dari hati ke hati untuk mengakhiri peperangan. Pada 10 Juni, Teater Mandiri akan berangkat ke Praha, Republik Ceko membawa pementasan ZERO dalam rangka: 50 let Kulturni dahoda mezi Indonesii a Cekoslovenskem.(50 tahun kerjasama kebudayaan RI-Ceko) Pementasan yang diikuti oleh workshop untuk mengenalkan teater Indonesia di mancanegara itu akan diteruskan ke Bratislava. ZERO yang diciptakan pada tahun 2003, telah dimainkan di Tokyo, Taipeh, Hong Kong, Cairo, Singapura dan beberapa kota di Indonesia. PEMAIN: Yanto Kribo Alung Seroja Ucok Hutagaol Wendy Nasution Fien Herman Bei Kardi Agung Wibisana Umbu LP Tanggela Putu Wijaya. MUSIK: Moro (dan musik Harry Roesly & DKSB) Pimpro: Dewi Pramunawati SUTRADARA: Putu Wijaya

TEATER MANDIRI Teater Mandiri didirikan pada 1971 di Jakarta. Mula-mula hanya membuat pertunjukan untuk televisi, kemudian mulai main di TIM sejak 1974 dengan naskah ADUH. Pada 1989 mulai main di GKJ dengan naskah WAH. Sejak 1991 Teater Mandiri lebih memusatkan penampilannya ke mancanegara. Pementasan sudah dilakukan di Tokyo, Kyoto, Hong Kong, Taipeh, Singapura, Cairo, Hamburg, Brunei, New York, Middle Town. L.A dll. Teater Mandiri bukan organisasi tetapi sebuah komunitas peguyuban, tempat mengembangkan jati diri. Teater bukan tujuan, tetapi alat untuk mengembangkan, menumbuhkan dan menemukan diri. Teater Mandiri mendasarkan kerjanya pada Bertolak Dari Yang Ada untuk menciptakan Teror Mental. Mohon dukungannya.

3 Komentar Ditulis pada undangan Di-tag GKJ, zero Tiada Lagi Bang Ali
Posted on3 Juni 2008by Putu Wijaya | 2 Komentar Mantan Gubernur Jakarta yang tampan dan gagah itu sudah tidak ada lagi. Ia pergi dengan meninggalkan dua torehan yang tak terlupakan. Pertama, dia menunjukkan dengan jelas bagaimana seharusnya seorang Gubernur menjalankan tugasnya. Kedua, almarhumlah seorang yang berteriak dengan tindakannya mengatakan bahwa pembangunan phisik harus ditunjang oleh pembangunan kebudayaan. Bang Ali meletakkan dasar penataan kembali kota Jakarta yang sudah mirip dusun besar judul film Usmar Ismail sebelum menjadi rimba mall dan sarang sepeda motor seperti sekarang. Dengan keras, tegas dan penuh desiplin, Bang Ali menyisir wilayah kumuh ibukota dan menjadikan kota nomor satu di republik ini lebih beradab. Bandit-bandit dihalau. Para janggo yang bisa bertindak langsung di tempat demi melindungi masyarakat, menyebabkan keamanan mulai pulih. Di masa Bang Ali pula para banci pun mulai mendapat tempat yang pasti dan disebut waria. Tapi tidak sedikit yang tidak suka pada tindakannya. Lawan-lawan politiknya selalu mencemooh

dan mengatakan bahwa tindakannya terlalu brutal. Usahanya untuk mendapatkan keuangan daerah dari judi dianggap perbuatan maksiat. Klab malam dan diskotek yang tumbuh di masa itu pun dianggap sebagai kemunduran moral. Ketika terbukti apa yang dilakukannya disenangi oleh rakyat, lawannya masih mencoba mengejek bahwa apa yang dilakukan oleh Ali Sadikin bukan apa-apa, karena itu memang sudah seharusnya dilakukan oleh seorang Gubernur. Betul sekali. Membela kepentingan warga banyak sudah semestinya digenjot oleh seorang Gubernur. Tapi berapa Gubernur yang sudah berani melakukan tindakan-tindakan tegas tanpa pandang bulu untuk kepentingan warga? Hampir tak ada. Karena Bang Ali bukan hanya semata menata wajah kota. Ia juga menghidupkan kepercayaan warga pada pimpinan. Mengajak warga percaya bahwa pimpinannya bukan sedang memperkaya diri atau mau berpacu mengejar kursi yang lebih tinggi. Bang Ali menjadi sebuah contoh, Warga ibukota di masa Bang Ali, menyanyi dan menari di jalanan menyambut tahun baru. Panggung berserakan di seluruh Jakarta. Pimpinan dan rakyat lebur. Ini bukan hanya sebuah etalase bahwa tidak ada batas antara kawula dan gusti, tapi akibat dari sikap Bang Ali pada apa yang disebut pembangunan. Dialah orangnya yang tidak melihat pembangunan hanya sebagai pertumbuhan phisik semata, tetapi dibalur juga dengan keleluasaan rohani. Berdirinya Taman Ismail Marzuki pada 1968, adalah usaha untuk memelihara paru-paru budaya dalam kota metropolitan. Di sana ada ruang yang bebas bagi kreativitas. Tidak ada sensor dan kekangan, sehingga para seniman dan budayawan dapat bersuara, bergerak dan mencari kesempurnaan yang akan menata kemajuan-kemajuan dalam perkembangan phisik. TIM adalah sebuah sejarah yang gemilang, karena setelah dua decade, hasilnya nyata. Dia melahirkan tradisi baru. Membebaskan estetika Indonesia dari peta Barat, untuk kembali membumi pada akarnya. Seluruh cabang kesenian memberikan catatan yang sangat positif. Barat masih tetap diposisikan sebagai referensi, tetapi puncak-puncak karya yang terjadi selama 2 dekade di TIM, yang merupakan interaksi antara tradisi-modernisasi, melahirkan sebuah nara sumber baru yang memberikan arah Indonesia yang pasti. Memang keberadaan TIM kini, tidak lagi segagah dan semegah ketika berdirinya. Tetapi apa yang sudah terjadi, sudah tercatat dan akan bekerja terus. Pada setiap kesempatan yang baik, tradisi baru yang sudah lahir itu akan keluar dengan sendirinya sebagai pilar tempat para budayawan Indonesia berpegang ketika diamuk taufan globalisasi. Bang Ali kini tiada lagi. Tapi apa yang sudah dilakukannya tetap hidup. Membangun Jakarta tak cukup hanya menambah jalan layang, melahirkan busway, bikin mono reel, mencetak mall, membanjiri jalanan dengan motor, menghitamkan udara dengan asap knalpot dan membuat hiburan-hiburan yang berani dan kurang ajar, tetapi lebih dari itu, adalah menyehatkan kehidupan budaya. Dan itu hanya dengan satu pengakuan: bahwa manusia tidak hanya memerlukan kekayaan jasmani, tetapi juga kekayaan rohani: kedamaian dan kebahagiaan. Tidak berarti bahwa pemerintah harus membagi isi koceknya yang memang sudah kurang karena dikorupsi dari segala arah. Cukup dengan mengakui bahwa kebudayaan tak bisa ditinggalkan kalau memang mau bangkit, sebagaimana 100 tahun lalu sudah dimulai oleh para pendahulu kita dengan Kebangkitan Nasional. Banyak anak-anak muda yang datang pada saat jenazah Bang Ali disemayamkan di kediamannya di Jalan Borobudur. Mereka mendengar berbagai cerita bak dongeng, tentang saat saat di masa Bang Ali yang begitu asyik. Mata mereka mengatakan, seandainya separuh saja dari semua kisah itu benar, alangkah indahnya. Itu berarti betapa parahnya sudah keadaan. Betapa tak berdayanya apa yang kita namakan budaya kalau disandingkan dengan politik, ekonomi, teknologi. Seorang lelaki ngedumel di pinggir jalan, memandang jajaran prajurit Angkatan Laut yang berpakain putih-putih, menjelang jenazah diberangkatkan dengan upacara militer. Baru ini kali ada Gubernur yang berani mengaku terus-ternag bahwa beliau sudah gagal menangani kemacatatan dan kebanjiran. Saya dengar sendiri semuanya itu. Saya juga menari dan berjoget dengan beliau di depan Sarinah,katanya. Seorang karyawan di Taman Ismail Marzuki terkenang. Bagamana suatu kali Bang Ali ditolak oleh petugas jaga karena mau masuk Teater Besar dari belakang. Itu masa ketika desiplin benarbenar tegak di TIM. Tapi karena Bang Ali sangat perlu masuk, ia menerobos saja sambil menampar penjaga itu. Tapi kemudian ia kembali dan minta maaf. Ia sadar tindakannya keliru dan bangga bahwa penjaga itu sudah menjalankan tugasnya dengan sangat bagus. Saya sendiri sempat kena getahnya. Pada 1975, saat membuat pertunjukan teater berjudul LHO, di akhir pertunjukan di Teater Arena TIM, saya persilakan penonton keluar sebab pertunjukan akan

dilanjutkan di plaza. Kemudian saya minta semua pemain naik ke atas gerobak telanjang bulat. Gerobak ditarik keluar dan para pemain dicemplungkan ke kolam seperti sampah. Koran meributkan pertunjukan itu. Bang Ali mencak-mencak dan menuding saya dengan sangat keras. Kemudian seorang wartawan (Tjahjono) mewawancarai saya saat dipanggil Komdak, bagaimana pendapat saya. Saya katakan pada waktu itu, seandainya saya Gubernur, saya juga akan melakukan persis seperti apa yang dilakukan Ali Sadikin, memaki-maki saya. Belakangan saya ketahui bahwa Ali Sadikin dengan sengaja mendahului mengecam saya, karena dia tidak mau ada tangan lain menyentuh TIM. Saat itu TIM memang merupakan tempat bebas yang menggelisahkan penguasa, sehingga mereka gerah untuk mencekalnya. Semua itu menjelaskan bahwa cinta Ali Sadikin pada perkembangan budaya bukan hanya sekedar sedekahan dari orang yang berkuasa pada warganya yang butuh dukungan, tetapi karena sayang. Walau kini Bang Ali sudah tak ada, tapi ia tetap hidup di hati. Kini kita sudah punya sebuah contoh. Bahwa dalam kekuasaan selalu ada beberapa orang tempat kita boleh menggantungkan harapan. Kalau belum nampak mesti kita cari. Kalau belum ada mesti kita lahirkan. Kalau tidak ada juga, mesti kita jadikan.

2 Komentar Ditulis pada catatan Di-tag ali sadikin Panca Sila


Posted on2 Juni 2008by Putu Wijaya | 4 Komentar Amat minta dibuatkan nasi kuning. Untuk apa?tanya Bu Amat curiga. Merayakan kelahiran Panca Sila. Lho merayakan Panca Sila dengan nasi kuning? Ya sudah, kalau begitu ditambah dengan betutu ayam kampung! Bu Amat tercengang, kontan membentak. Kalau cuma mau makan betutu ayam kampung tidak usah pakai alasan merayakan Panca Sila! Nggak! Nggak ada waktu! Amat tidak membantah. Kalau dibantah, pasti nggak-nggaknya Bu Amat akan menjadi tidak. Tapi kalau tidak dibantah, biasanya tidak dari Bu Amat hanya sekedar gertakan, nanti pasti akan ada nasi kuning dan betutu. Tenang saja, kata Amat pada Ami, Bapak sudah hidup puluhan tahun dengan Ibumu itu, jadi sudah tahu segala sepak-terjangnya. Menghadapi dia harus pakai taktik strategi yang tepat. Pokoknya tetap saja undang teman-temanmu di kampus biar semua datang nanti pada hari Kesaktian Panca Sila ke rumah. Kita rayakan ultah falsafah negara yang sudah mengantarkan kita pada hidup damai dalam perbedaan itu. Sudah waktunya bangkit lagi setelah seratus tahun. Sudah terlalu banyak orang kini lupa dan bahkan mau menggantikan Panca Sila. Kita harus pertahankan!! Pada tanggal 1 Juni, Amat keramas dengan air bunga, lalu menggenakan stelan putih-putih. Sepanjang hari ia menyendiri, seperti masuk ke dalam sanubarinya. Hanya sekali-sekali ia mengintip ke arah dapur sambil mencium-cium apa sudah ada tanda-tanda betutu ayam kampung itu rampung. Ternyata tidak ada. Amat mulai deg-degan , Sore hari, Amat melirik ke meja makan. Tapi tidak ada perubahan. Istrinya yang siang tadi pamit karena ada pertemuan di rumah tetangga belum pulang. Amat mulai tidak yakin. Akhirnya ia masuk ke dapur dan memeriksa. Di situ ia kecewa sekali, karena nggak Bu Amat sekali ini memang berarti tidak. Amat masih mencoba untuk memeriksa ke dalam gudang di samping dapur. Jangan-jangan istrinya mau bikin kejutan. Tetapi di gudang hanya ada ayam. Jumlahnya masih lima ekor. Tak satu pun yang disembelih. Jelas sudah tidak akan ada nasi kuning dan betutu ayam kampung. Waktu Ami pulang dari kampus, Amat panik. Ami, Bapak salah perhitungan hari ini. Ibumu ternyata tak sempat masak karena ada pertemuan para ibu. Sampai sekarang belum pulang. Jadi kita akan menghadapi bahaya. Ami mengangguk tenang. Nggak apa, Pak. Tenang saja. Kita kan sudah 350 tahun dijajah, kita sudah biasa menghadapi bahaya.

Tapi kita akan malu besar, bagaimana kalau teman-teman kamu di kampus menanyakan nasi kuning dan betutu yang Bapak janjikan itu? Tenang saja, Pak. Bagaimana bisa tenang! Pasti mereka akan menuduh kita penipu? Memang. Aduh! Itu yang celaka! Kita menyambut Hari Kesaktian Panca Sila mestinya untuk membangun kepercayaan. Tapi ternyata kita sudah melakukan penipuan. Itu bisa tambah merusakkan Panca Sila! Ami mengernyitkan dahinya. Masak begitu? Ya! Kalian anak-anak muda kan sudah banyak sekali menyimpan kedongkolan dan ketidakpuasan. Makanya kalian semua cepat marah. Belum apa-apa pasti langsung maunya demo, turun ke jalan berteriak-teriak, menentang, menggempur apa saja. Bapak mengerti sekali itu. Sekarang akan tambah bukti lagi, aku tua bangka ini sudah mempermainkan mereka! Makanya kalau belum pasti Bapak jangan suka janji-janji. Habis kalau tidak dipikat begitu, mereka pasti tidak akan mau datang! Ami nampak beringas. O, jadi Bapak memancing mereka datang dengan nasi kuning dan betutu? Bapak pikir mereka ngiler nasi kuning dan betutu? Ya kan?! Ami tiba-tiba tertawa. Kok ketawa? Yang ngiler sama nasi kuning dan betutu itu kan Bapak! Teman-temanku itu sekarang lebih seneng makan pizza, burger atau fried chicken. Mereka sama sekali tidak tertarik pada pancingan Bapak itu. Mereka tertarik karena masih ada orang mau meryakan Panca Sila di rumahnya secara pribadi. Itu berarti Panca Sila bukan hanya barang dagangan yang dipajang sebagai slogan, tetapi dikembangkan di dalam rumah, di dalam diri. Mereka suka, jarena itu mereka akan datang. Amat tercengang. Jadi mereka tidak mengharapkan nasi kuning dan betutu? Apa Bapak tidak malu kalau teman-temanku datang merayakan kelahiran Panca Sila karena tertarik nasi kuning dan berutu?! Itu menghina! Ami tidak pernah bilang sama mereka ada nasi kuning dan betutu! Amat terkejut. Jadi kamu tidak pernah bilang ada nasi kuning dan betutu? Ngapain nasi kuning dan betutu! Itu namanya melecehkan kebesaran Panca Sila! Amat mengurut dada senang. Ia merasa amat bahagia. Malam hari, sekitar 15 orang teman-teman seperjuangan Ami datang. Peringatan diadakan dengan membacakan Pidato Bung Karno yang menandai kelahiran Panca Sila itu. Disusul dengan uraian dari salah seorang mahasiswa yang membentangkan Panca Sila dengan begitu bagusnya, sehingga Amat mnerasa seperti makan nasi kuning dengan betutu ayam kampung. Setelah peringatan Panca Sila yang sederhana namun khususk itu selesai, tiba-tiba salah seorang mahasiswa nyeletuk. Tapi mana nasi kuning dan betutu ayam kampungnya? Amat tersirap. Ia gugup. Buru-buru ia mencari Ami ke belakang, sebab ia tidak tahu bagaimana harus menjawab. Ami! Kenapa teman kamu menanyakan nasi kuning dan betutu ayam kampung? O ya? Ya! Padahal kamu kan sudah bilang, kamu tidak pernah mengundang mereka dengan nasi kampung dan ayam kuning! bentak Amat keliru-keliru karena panik. Ami tersenyum. Tenang, Pak. Mereka sudah biasa dibohongi. Dibohongi sekali lagi, mereka tidak akan apa-apa. Apalagi hanya janji betutu dan nasi kuning. Bangsa kita kan jago memaafkan. Lagipula kalau manusianya pembohong, tidak berarti Panca Silanya yang bohong! Ayo, kalau berani berbohong, Bapak harus berani juga menghadapi hasil kebohongan itu!kata Ami menyeret bapaknya kembali ke depan. Dengan sangat malu Amat terpaksa ikut. Ternyata di depan, para mahasiswa sedang rebutan nasi kuning dan betutu ayam kampung yang baru saja dibawa Bu Amat dari tetangga.

4 Komentar Ditulis pada cerpen Di-tag panca sila Bung Karno


Posted on1 Juni 2008by Putu Wijaya | 3 Komentar Ami bertemu dengan Bung Karno. Pak! Ya? Ada apa Ami? Kenapa Bapak tidak pernah kembali? Kenapa harus kembali? Sejarah untuk dipelajari bukan untuk diulangi. Tapi kami perlu Bapak. Memang. Sesuatu yang sudah tidak ada menjadi berguna, kalau tetap ada mungkin sia-sia. Tidak. Kalau Bapak ada, tidak akan begini jadinya. Itu rasa hormatmu pada yang sudah terjadi, yang harusnya membuat kamu bangkit bukannya menyerah. Kami sudah mencoba, Pak, tapi ternyata tidak ada di antara kami yang kalibernya cukup besar seperti Bapak. Bung Karno tersenyum. Kamu kurang sabar saja. Tidak! Kami sudah terlalu sabar. Kami sudah menunggu. Kami memberikan kesempatan, kepercayaan bahkan juga dukungan. Tetapi harapan kami selalu lebih besar dari apa yang terjadi. Itu namanya kurang sabar. Kami tidak bisa disuruh menunggu 350 tahun lagi. Kita sudah merdeka mestinya kita dapat menikmati kemerdekaan, bukan menjadi lebih perih. Kita tidak bisa lagi hanya menunggu dan pasrah, Pak. Kalau terlambat kita tidak akan dapat apa-apa! Lho kamu mau apa? Kemerdekaan kan sudah ada di tanganmu. Memang tetapi bukan hanya kemerdeaan politik. Kami juga ingin merdeka dari beban ekonomi. Kami tidak hanya ingin demokrasi politik, seperti pidato Bapak, kami juga perlu demokrasi ekonomi. Kan sudah banyak sekali ahlinya. Memang. Tapi masing-masing ahli punya pendapat berbeda. Yang kami dapat hanya pertentangan. Itu namanya demokrasi. Tidak Pak, bukan itu. Kami ingin makmur, sejahtera, aman supaya kami tenang. Seperti kata dalang dalam wayang, kami ingin Indonesia yang gemah-ripah kerta raharja loh jinawi. Bung Karno tertawa. O kamu juga suka wayang? Tokoh favoritmu siapa? Karna? Tidak, Pak. Bapak saya yang suka wayang. Saya lebih suka dongeng-dongeng baru seperti Harry Porter atau kisah-kisah seperti Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi. Bung Karno tertegun. Apa itu? Aku belum pernah dengar. Lho Bapak katanya kutu buku. Masak Bapak tidak pernah baca? Belum. Baca dong Pak. Nanti Bapak tahu apa yang terjadi sekarang ini. Beda sekali dengan dulu, Pak. Apa yang dulu tidak mungkin sekarang terjadi. Ini dunia yang lain sekali dengan apa yang Bapak alami dulu. Sekarang maling ayam bisa dipenjara seumur hidup, tapi rampok trilyunan dan membuat sengsara rakyat malah bisa berfoya-foya di luar negeri. Air putih pernah lebih mahal dari bensin Pak. Tapi bensin juga sekarang sudah mahal sekali. Di sini sekarang ada dosen yang jadi pemulung, Pak. O begitu? Ya! Makanya Bapak harus kembali. Kami memerlukan Bapak! Bukan Karno mengangkat tangannya. Tidak mungkin! Kenapa Pak? Bapak tidak cinta kepada kami? O kalau itu, lebih dari cinta.

Kalau cinta kembali dong! Tidak bisa. Karena cinta Bapak tidak akan kembali, supaya kamu bisa tumbuh sendiri. Dulu Bapak juga begitu! Sudah ya, Bapak harus pergi, ada undangan untuk bicara di depan PBB! Pak!!!! Tapi Bung Karno sudah pergi. Waktu Ami mencoba berdiri mengejar, tangannya dipegang oleh Pak Amat. Ami! Ami terkejut dan membuka matanya. Sudah siang kok ngelindur. Ayo bangun! Ami mengusap matanya. Saya mimpi ketemu Bung Karno. Ya siapa yang tidak. Juni kan bulan ulang tahunnya. Pengikutnya bahkan juga musuh-musuhnya pasti akan selalu ingat. Orang besar itu tidak pernah pergi. Tapi beliau bilang, tidak bisa kembali. Ya tidak perlu karena dia masih di sini! O masih di sini? Ya masih. Di mana? Panca Sila itu apa?! Ami mengangkat tangannya. Bukan itu. Kita memerlukan sosok seperti Bung Karno sekarang, supaya kita kembali bangga jadi orang Indonesia. Baru kalau kita bangga, kita akan bisa bangkit. Kalau tidak ada kebanggaan, tidak akan ada tenaga untuk bangkit. Makanya 100 tahun Kebangkitan Nasional kita masih menggeletak saja koma. Amat tertawa. Kamu masih ngelindur! Ami menggosok matanya. Ami bicara soal realita yang kita hadapi sekarang. Sampai mimpi Ami terus memikirkan negara dan bangsa. Bapak jangan meremehkan Ami gara-gara Ami masih muda. Amat tertawa. Kalau kamu benar-benar memikirkan realita, jangan hanya mimpi, itu lihat sudah jam berapa sekarang. Ayo bantu ibumu di dapur lagi masak! Amat membuka jendela kamar Ami. Sinar matahari menerobos masuk. Ami menutup matanya karena silau. Hari Minggu yang mestinya menjadi hari panjang untuk istirahat sudah rusak. Sudah bukan zamannya perempuan dilempar ke dapur. Ayo bangun! Ami berdiri kesal. Dia membanting bantal lalu menarik seprei. Tetapi ketika dia berbalik. Bung Karno berdiri di pintu dan tersenyum. Bapak terkejut mendengar curhatmu semalam. Tapi waktu kembali ke mari, lebih terkejut lagi melihat warga sedang kerja bhakti untuk membersihkan lingkungan, seperti di masa lalu. Ternyata tidak ada yang berubah, Ami. Gedung, kendaraan dan keadaan memang sudah lain, tetapi hati mereka masih sama. Hanya saja kamu harus berusaha melihatnya, seperti Ibumu yang sekarang sedang masak untuk dapur umum mereka itu. Coba lihat!

3 Komentar Ditulis pada cerpen Di-tag bung karno Nasionalisme


Posted on31 Mei 2008by Putu Wijaya | 2 Komentar Ary, guru menggambar di Sekolah Dasar 1 itu marah-marah. Anak-anak sudah diajak pergi ke mall untuk melukis. Tetapi hasilnya tetap saja gambar-gambar sawah, gunung dan matahari. Kadangkala ada tambahan gubuk, kerbau dan burung atau pohon kelapa. Tapi hanya itu. Selama 20 tahun dia mengajar, menghadapi 20 angkatan murid, tapi hasilnya sama,. Dia jadi kesel, lalu mencampakkan gambar itu ke tong sampah. Semua anak diberi angka lima. Anak-anak mengadu. Lalu Ary dipanggil Kepala Sekolah. Saya dengar anak-anak semuanya pintar menggambar. Tapi kenapa semuanya dapat angka lima

Pak Ary? Apa dasar penilaian pak Ary sudah mengikuti harga bensin sekarang? Ary, guru menggambar itu menjawab dengan bersemangat. Itu yang dia tunggu-tunggu. Sebenarnya begini Bu, :kata Ary menumpahkan perasaannya, sejak saya mulai mengajar di sini, gambar-gambar mereka saya kumpulkan. Ternyata tidak ada perkembangannya. Dari dulu sampai sekarang, sama saja.. Sejak listrik belum masuk, ke desa kita ini, sampai sekarang sudah ada mall dan di sekolah sudah pakai komputer, yang digambar tetap itu-itu saja. Tidak berkembang. Saya kira kita harus mengambil tindakan sekarang! Ibu Kepala Sekolah yang sedang memikirkan bagaimana caranya mencari dana untuk membangun gedung baru, hanya menanggapi sambil lalu. Sudahlah Pak Ary, biar saja. Pelajaran menggambar di sekolah kan tidak untuk mencetak pelukis. Hanya membuat mereka tidak buta warna. Itu juga sudah bagus. Tapi itu kan menunjukkan bahwa anak-anak itu tidak sadar kepada lingkungannya. Maksud Pak Ary? Ya sekarang kan sudah zaman reformasi, Bu. Sudah banyak perubahan. Tidak ada larangan lagi untuk mengungkapkan apa saja asal benar. Harga bensin naik. Banyak korupsi. Ada isu pemanasan global. Ada pilkada. Kerusuhan di mana-mana . Gedung sekolah kita hambruk karena angin topan beliung. Nah itu dia, Bu. Mestinya kan itu yang digambar. Ibu Direktur mengangguk. Kalau begitu ajak mereka menggambar di luar kelas, supaya melihat kenyataan. Sudah Bu! Mereka sudah dibawa ke mall. Terus! Tapi yang digambar sawah lagi, sawah lagi. Padahal mana ada sawah lagi di sini. Semua sudah jadi perumahan dan mall. Ibu Kepala Sekolah tercengang. O ya? Ya! Coba mana gambar-gambarnya? Pak Ary terpaksa mengambil kembali gambar-gambar itu dari keranjang sampah. Setelah dilihat satu per satu, Ibu Kepala Sekolah tercengang. Ia seperti lupa pada pembangunan gedung sekolahnya. Gambar anak-anak itu nampak memukaunya. Ia lalu menjejerkannya di lantai. Seluruh lantai kantor tertutup oleh gambar sawah, gunung dan matahari. Guru-guru lain yang hendak masuk tertegun. Mereka berdiri di sepanjang pintu, memandangi lantai kantor yang menjadi hamparan sawah. Aneh sekali. Tiba-tiba semuanya seakan-akan teringat masa lalu. Saat kota mereka masih hijau dengan jajaran sawah di sepanjang jalan. Belum ada real estate. Burung bangau waktu itu masih banyak. Dan matahari bersinar 12 jam karena tidak ada polusi. Ini kerinduan pada sawah-sawah kita yang sudah habis dijadikan rumah,kata Ibu Kepala Sekolah terharu. Mereka kebanyakan anak petani, jadi mungkin hati mereka masih tetap hati petani. Kalau mereka menggambar begini, saya kita mereka sudah mengekspresikan diri mereka dengan jujur, Pak Ary. Betul tidak? Ary tersenyum sinis. Maaf, Bu. Itu mungkin hanya perasaan Ibu. Mereka itu generasi baru yang tidak tahu dulu di sini banyak sawah. Betul. Tapi orang tua mereka pasti setiap malam bercerita tentang masa lalu. Ini adalah hasil percakapan itu. Saya kira ini baik sekali. Saya yakin ini pancaran dari nasionalisme, cinta kepada tanah air yang harus kita kita pupuk. Dan sebagai guru wajib kita mengerti. Ary ingin membantah, tetapi guru-guru lain mendukung. Saya kira angka lima tidak pantas untuk gambar-gambar yang bagus ini, Pak Ary. Saya dapat ide bagus. Saya minta gambar-gambar ini semuanya dipajang, dipamerkan di dinding sekolah, pasti pejabat dari Diknas Pusat yang akan menjadi tamu kita minggu depan akan tergerak. Siapa tahu beliau akan menyumbang pembangunan sekolah kita! Karena anak-anak ini menampilkan kebangkitan nasionalisme yang sangat kita perlukan sekarang setelah 100 tahun Kebangkitan Nasional ini. Tapi Bu, saya sendiri sudah meyiapkan lukisan-lukisan saya yang akan saya pamerkan untuk menyambut tamu-tamu itu. Lukisan pak Ary simpan saja untuk lain kali. Yang dipajang untuk menyambut mereka itu ini.

Saya yakin mereka akan tergerak dan akan memberikan kita sumbangan untuk pembangunan gedung yang sangat kita perlukan! Maaf. Bu, Jangan membantah. Kerjakan sekarang juga apa yang saya minta itu. Tolong Bapak-bapak Guru yang lain diatur semuanya ini supaya dipajang sekarang juga! Guru-guru lain langsung bertindak. Pak Ary sambil bersunggut-sunggut terpaksa ikut. Kesempatan yang sudah ditunggu-tunggunya, untuk memamerkan lukisan-lukisannya tentang pembangunan kota, kandas. Dengan berat hati ia memajang lukisan-lukisan sawah, gunung dan matahari yang sama sekali tidak punya selera artistik itu. Sehari sebelum tamu datang, semua lukisan itu sudah berderet rapih di dinding koridor sekolah. Tetapi malamn-malam, semua guru kembali dipanggil ke sekolah. Ibu kepala Sekolah puny aide baru. Saya begitu terperanjat ketika melihat lukisan-lukisan anak-anak kita itu berjejer di lantai. Hati saya langsung terketuk, teringat kepada masa lalu. Bagaimana pembangunan yang tidak terencana sudah merusakkan alam, sehingga anak-anak menjadi rindu ke masa lalu. Jadi saya ingin memberikan kesan yang sama pada para pejabat kita. Saya minta malam ini juga, lukisan itu dicopot dari dinding dan dijajarkan di lantai koridor, sehingga dia menjadi sawah-sawah kita di masa lalu! Semua guru tercengang. Tetapi mereka nampak menyukai ide tersebut. Dengan bergairah kemudian gambar sawah, gunung dan matahari itu dipasang di lantai berjajar sepanjang koridor. Pak Ary pun terpaksa ikut. Ketika tamu dari Diknas Pusat datang, muka Pak Ary kelihatan muram. Tetapi Ibu kepala Sekolah dengan sangat bersemangat, dia mempersilakan tamu-tamu masuk ke dalam gedung sekolah, sementara ia sendiri dan murid-,muriod serta guru lain menunggu di luar. Setengah jam kemudian para tamu keluar. Mereka mengangguk senang. Pimpinannya memberikan pujian dengan bersemangat. Ternyata gedung terpelihara begitu rapih. Kuar biasa! Saya tidak menduga sama sekali! Ini hebat! Walau pun kena puting beliung tetapi karena terawat, masih bisa dipergunakan. Ini menunjukkan Sekolah Dasar 1 memang pantas jadi panutanb! Semua bertepuk tangan gembira. Hanya Pak Ary menundukkan muka kesal. Jadi menurut hemat kami, kata pimpinan intu melanjutkan sambutannya, kira sampai 5 tahun ke depan, gedung sekolah ini masih layak pakai, masih bisa dipergunakan! Belum perlu ada pembangunan baru. Jadi dana pembangunan akan kita prioritaskan pada yang kerusakannya lebih parah! Ibu Kepala Sekolah terkejut. Tak sanggup bilang apa-apa lagi karena sudah dipuji setinggi langit. Tapi waktu dia melirik ke koridor, hatinya menjerit. Lukisan anak-anak yang berjajar di lantai itu, berantakan diinjak-injak. Banyak yang belepotan tanah dari sepatu-sepatu para tamu.

2 Komentar Ditulis pada cerpen Di-tag nasionalisme Harkitnas


Posted on20 Mei 2008by Putu Wijaya | Tinggalkan Komentar Anna berdiri di depan cermin menilai wajahnya. Ternyata ia memang sudah cukup tua. Lalu ia mulai memoles. Memberi dasar tebal menutupi kerut-kerutnya. Sesudah itu dengan hati-hati membentuk alis, garis mata, hidung, bibir dan kemudian pipi. Dua jam kemudian ia siap..Di cermin nampak muka baru. Rapih dan terkendali. Ketika Anna senyum, kemudian tertawa, melirik, terbelalak, terkejut, kaget, heran dan sebagainya, semuanya beres. Lalu ia menguji mulutnya berbicara.. Tiba-tiba anaknya muncul. Mama ngomong dengan siapa? Anna menunjuk ke wajah di atas cermin itu. Dengan dia. Siapa dia? Teman baik Mama. Kenapa bibirnya merah sekali?

Karena baju yang dipakainya juga merah. Kenapa alisnya kecil sekali? Karena dia cantik. Kenapa dia cantik? Karena dia harus menghadiri upacara peringatan Harkitnas. Anak itu berpikir. Mama ikut? Ya dong. Mama kan harus memberikan sambutan. Kenapa? Sebab Harkitnas itu sangat istimewa. Kenapa istimewa? Karena Harkitnas itu sejarah. Sejarah itu apa? Sejarah itu adalah sesuatu yang betul-betul terjadi. Bagaimana kalau tidak betul. Harus betul. Kalau tidak betul bukan sejarah. Anak itu lalu menunjuk lagi ke cermin. Dia juga betul? Ya tentu saja. Mana? Anna memalingkan wajah anaknya dari cermin agar menatap kepadanya. Ini dia. Anak itu lalu menatap ibunya dengan kagum sambil berbisik. Kamu cantik sekali. Memang. Kamu teman Mamaku? Ya. Tapi Mamaku tidak cantik. Jangan hanya lihat muka, hati Mama cantik kan?!. Bibirnya tidak merah. Nanti kalau Mama pakai baju merah, pasti bibir Mama juga akan merah. Tidak. Kok tidak? Aku tidak suka bibir merah. Kenapa? Sebab . . Anak itu kehabisan kata, lalu berpaling untuk mengingat-ingat. Ketika ia tidak ketemu apa yang mau diingatnya, ia kembali memandangi ibunya. Kenapa aku tidak suka bibir merah? Anna mengelus kepala anaknya. Sebab kalau Mama pakai bibir merah mencium kamu, kamu pasti menangis sebab pipimu jadi kotor, kan? Betul. Aku tidak suka pipiku kotor. Makanya, kalau sudah selesai dandan, Mama tidak akan mencium kamu lagi. Memeluk juga tidak, karena nanti dadanannya bisa rontok. Ya? Ya. Baik, kalau begitu Mama berangkat sekarang. Jangan nakal di rumah ya? Ya. Kasih da-da sama teman Mama. Anak itu menggeleng. Lho kenapa? Nggak usah. Kenapa nggak usah? Habisnya dia selalu bawa Mama pergi. Anna tertawa. O tidak. Bukan dia yang membawa Mama pergi. Dia justru yang Mama ajak pergi. Kalau tidak ada dia, nanti Mama kesepian di situ. Mama tidak sanggup di sana sendirian. Di situ orangnya

suka ngomong dan suka yang cantik-cantik. Kalau Mama sendiri yang datang, mereka akan bosan. Makanya Mama selalu bawa dia, supaya pekerjaan Mama beres. Kalau pekerjaan beres, nanti Mama bisa beliin kamu . apa? Anak itu menggeleng. Aku tidak mau dibeliin lagi. Lho katanya kemaren ingin Barby lagi? Nggak. Donat? Nggak. Anna terdiam. Habis apa dong? Aku nggak mau apa-apa. Masak? Sama sekali tidak mau apa-apa? Nggak. Aku mau Mama di rumah. Anna ketawa. Tapi hari ini Harkitnas sayang, Mama harus ke sana memberikan sambutan. Suruh dia saja. Kan orangnya cantik. Tidak bisa. Dia memang cantik tapi tidak bisa apa-apa. Hanya Mama yang bisa menjelaskan apa itu Harkitnas kepada para undangan. Katanya itu sejarah. Memang. Kenapa dia tidak tahu? Anna menarik nafas dalam. Karena dia cantik, karena dia muda dan karena dia tidak mau tahu.

Leave a comment Ditulis pada cerpen Di-tag harkitnas Hardiknas


Posted on2 Mei 2008by Putu Wijaya | 8 Komentar Ali mendapat inspirasi dari Elvira supir trans Jakarta Blok M-Kota yang memakai pakaian daerah Palembang pada hari Kartini. Semingggu sebelum dan sesudah Hari Pendidikan nasional (2 Mei), ia ke sekolah memakai pakaian daerah. Beberapa hari pertama, ia sempat menarik perhatian. Para murid tercengang. Tapi tidak ada yang berani bertanya. Semuanya hanya senyum-senyum menganggap guru itu mau sok nyentrik. Guruguru lain hanya pandang-pandangan. Mereka pikir Ali sedang berusaha untuk menarik perhatian. Ada kabar burung ia jatuh cinta pada Bu Ani, guru baru yang selalu mengajar dengan memakai baju kurung. Tetapi ketika Ali masih terus memakai pakaian daerah selama seminggu, Kepala Sekolah, kontan memanggil. Pak Ali, apa sebenarnya missi Pak Ali, mengajar dengan memakai pakaian daerah? Ali terkejut. Ia sendiri ketika pertama kali memakai pakaian daerah merasa kikuk. Tetapi setelah satu minggu, ia lupa itu pakaian daerah. Ia menganggapnya sebagai pakaian biasa. Baru ketika Kepala Sekolah menegur, ia sadar kembali ia sudah memakai pakaian daerah. Maaf Pak, saya tidak ada missi apa-apa. Saya hanya mencoba menyambut Hari Pendidikan Nasional, untuk mengingatkan anak-anak betapa pentingnya pendidikan. Sebab kebanyakan mereka nampaknya sekolah karena terpaksa, dipaksa oleh orang tuanya. Tapi kan hari Pendidikan sudah lewat? Betul, Pak. Berapa lama Pak Ali mau pakai pakaian daerah begini? Ya kalau diperkenankan, untuk seterusnya, Pak. Kepala Sekolah terkejut. Tapi kita kan sudah punya seragam sekolah. Pak Ali tidak suka seragam kita? Ini protes? Sama sekali tidak, Pak.. Kalau begitu, saya minta supaya Pak Ali kembali mengenakan seragam sekolah saja kalau sedang mengajar. Di luar sekolah terserah Pak Ali.

Ali tidak menjawab. Sebenarnya kalau tidak disuruh berhenti, ia memang sudah merencanakan untuk kembali mengajar dengan pakaian seragam guru. Tapi karena dilarang, tiba-tiba ia ingin melawan. Maaf Pak, kata Ali kemudian dengan sopan, apa memakai pakai daerah kalau sedang mengajar itu membuat ilmu yang kita ajarkan kepada murid-murid jadi cacad? Kepala sekolah ketawa. Tentu saja tidak. Kalau begitu apa salahnya guru memakai pakaian daerah ke sekolah, Pak? Tidak ada. Tapi kenapa saya dilarang? Karena sekolah kita sudah punya seragam untuk guru yang sedang mengajar. Kalau di luar jam pelajaran, Pak Ali memakai pakaian apa juga terserah. Kesepakatan sebaiknya tidak dilanggar, Pak Ali, nanti jadi preseden yang buruk Kita guru harus menjadi teladan murid-murid, Pak Ali. Ali terdiam. Kepala Sekolah merasa Ali sudah setuju. Tapi esoknya, Ali tetap saja mengajar dengan memakai pakaian daerag. Tentu saja ia kembali dipanggil. Pak Ali kelihatannya belum mengerti maksud saya, silakan memakai seragam guru kalau sedang mengajar. Kata Kepala Sekolah dengan nada mulai keras. Saya sudah mencoba, Pak. Tapi badan saya tidak mau berangkat kalau pakai seragam. Jadi saya terpaksa memakai pakaian daerah kembali. Kepala Sekolah hampir saja tersenyum karena jawaban itu lugu dan lucu. Tapi guru-guru lain yang mendengar percakapan itu sudah terlebih dahulu ketawa. Kepala Sekolah, lalu menaikkan suaranya. Kalau Pak Ali tidak mau mematuhi aturan sekolah, lebih baik jangan mengajar! Kenapa Pak? Sebab desiplin adalah salah satu yang lemah dalam pendidikan kita. Kita pintar membuat aturan, tetapi tidak mampu melaksanakannya, sehingga semua aturan itu mubazir. Kita baru saja memperingat Hari Pendidikan. Memegang desiplin adalah salah satu dari usaha yang konkrit kalau mau memperingati Hari Pendidikan dengan sungguh-sungguh. Pak Ali mengerti maksud saya? Saya mengerti. Bapak melarang saya mengajar memakai pakaian adat. Bukan.! Ali tercengang. Saya melarang semua guru di sini untuk melanggar kesepakatan yang sudah kita sepakati bersama. Guru kalau mengajar harus memakai pakaian seragam guru sebagaimana juga murid kalau masuk harus memakai pakaian seragam murid. Kita tidak hanya mendidik murid menjadi pintar, tetapi kita juga mendidik jiwa murid untuk dewasa dengan memegang tegun desiplin. Dan itu caranya dengan memberikan contoh. Saya tidak memperkenankan guru memberi contoh buruk, melanggar desiplin! Paham? Ali terkejut karena suara Kepala Sekolah lantang, sehingga guru-guru yang lain mendengar. Meskipun tidak menjawab, esoknya, Ali tetap saja ke sekolah memakai pakaian daerah. Ketika Ali hendak masuk gerbang sekolah, satpam langsung menahan. Maaf Pak Ali, kami tidak mengizinkan Bapak mengajar tanpa memakai pakaian seragam sekolah. Tapi ini pakaian daerah, ini lebih tinggi dari pakaian seragam sekolah. Maaf, Pak. Saya hanya menjalankan perintah. Dalam militer yang pangkatnya lebih tinggi, dihormati oleh yang pangkatnya di bawah. Tapi ini sekolah, Pak! Sama saja. Kalau mau belajar desiplin, militer adalah biangnya. Jadi kalau mau menegakkan desiplin harus menghormati yang pangkatnya lebih tinggi! Buka pintunya! Satpam itu bingung. Tapi ketika Ali mau masuk, satpam cepat menghalangi. Aku guru, aku mau mengajar! Saya hanya menjalankan tugas, Pak! Terjadi ketegangan. Tiba-tiba entah siapa mulai terjadi perkelahian. Murid-murid keluar dari ruangan dan kemudian rama-ramai melerai. Kedua belah pihak ditenangkan. Setelah semuanya reda, lalu Bu Ani maju dan berbicara kepada semuanya. Anak-anakku semua para pelajar, itulah tadi contoh ketidakseimbangan pendidikan kita. Sekolah seyogyanya menumbuhkan kecerdasan dan sekalian kebijakan, sehingga kita tidak perlu berantem karena hal-hal yang tidak perlu. Keplok tangan buat Pak Ali, Bapak Kepala Sekolah dan Satpam

yang sudah memerankan peranannya dengan bagus! Semua murid berikut para guru berkeplok riuh.

8 Komentar Ditulis pada cerpen Di-tag hardiknas Kartini


Posted on23 April 2008by Putu Wijaya | 7 Komentar Subuh hari pintu rumah Amat digedor. Seorang tetangga muda muncul di depan pintu dengan muka berbinar-binar. Pak Amat, anak saya sudah lahir, selamat dan sehat. Darah Amat yang tadinya sudah naik langsung surut. Bagus! Selamat! Anak pertama kan?! Betul Pak Amat. Tolong! Tolong? Kasih nama. Saya belum punya nama. Amat cepat berpikir. Hari Kartini baru saja lewat. Ia langsung menggapai. Beri nama Kartini! Bapak muda itu terpesona. Amat langusng cepat mengguncang tangannya. Tak usah nama yang muluk-mulul, apa artinya nama, biar anak itu sendiri uang mengubah namanya,. Siapa pun kamu sebut dia, kalau dia dididik dengan baik, dia akan jadi sejarah yang berguna bagi otang banyak. Selamat! Anak muda itu masih bengong, tapi Amat tidak memberinya kesempatan bertanya lagi, langusng menutupkan pintu lagi. Lagi asyik-asyiknya, ada saja yang ganggu. Masak subuh-subuh begini nanya minta nama segala, kata Amat sembari masuk kamar menghampiri Bu Amat. Kalau belum siap punya anak, kenapa bikin anak. Masak nama saja bingung, Nanti kalau beli susu, periksa dokter, pasti lebih bingung lagi. Sudah sampai di mana kita tadi, Bu? Bu ternyata sudah tidur pulas kembali. Amat kecewa berat. Tapu besoknya Bu Amat malah marah-marah. Bapak keterlaluan! Lho, bukannya Ibu yang keterlaluan! Baru ditinggal sebentar sudah ngorok lagi! Masak ngasih nama anak orang Kartini. Lho, memang kenapa? Ibu Raden Ajeng Kartini kan orang besar. Tokoh sejarah. Nama itu bukan soal sepele. Memberi nama anak harus dengan cita-cita, akan jadi apa anak itu kelak. Ibu Kartini kan sudah berjasa membangkitkan kaum perempuan di Indonesia supaya percaya diri. Dia itu hebat, Bu! Memang. Tapi tidak semua orang yang namanya Kartini bisa seperti RA Kartini! Makanya yang namanya usaha itu penting, jangan hanya bergantung dari nama tok. Itu namanya klenik. Nama sakti juga kalau pendidikannya tidak becus jadi sampah. Lihat itu anak tetangga kita namanya Gajah Mada, mau bapaknya supaya jadi orang besar, eh nyatanya cumakusir dokar. Mendingan Gajah Mada. Jelas. Kok Kartini! Lho tidak bisa dibandingkan begitu, Bu. Sebesar-besar Gajah Mada, orang Sunda benci sama dia. Sementara Kartini, walau pun hanya bangsawan Jawa, tapi perjuangannya sangat berarti untuk membebaskan kaum perempuan di seluruh Indonesia yang sampai sekarang nasibnya masih di bawah telapak kaki lelaki! Betul! Tapi kalau anak laki diberi nama Kartini, itu namanya sudah sinting! Amat terkejut. Lho, jadi anaknya laki-laki? Sejak 5 bulan lalu dokter sudah bilang lelaki. Kok kasih nama Kartini? Amat bengong. Ia cepat memakai sandal dan bergegas ke rumah tetangga itu. Anak muda itu sudah hampir hendak berangkat ke klinik bersalin membawa perlengkapan untuk istri dan anaknya. Terimakasih Pak Amat. Amat jadi salah tingkah. Dengan malu dia mengulurkan tangan minta maaf. Maaf, Bapak tidak tahu. Aku memberikan nama sembarangan. Jangan pakai nama itu!

Tidak apa Pak Amat. What is a name. Saya berterimakasih sekali Pak Amat tidak marah digedor subuh begitu. Namanya bagus. Amat bingung. Lho jangan ngasih nama anakmu Kartini! Tapi Raden Ajeng Kartini kan pahlawan Pak Amat. Saya harap nanti anak saya akan berguna kepada bangsa seperti Kartini. Jangan! Kenapa mesti kasih nama Kartini! Itu kan pemberian dari Pak Amat? Jabis aku kan tidak tahu,. asal nyeplos saja!. Anak muda itu tertawa. Nama Kartini itu bagus, Pak! Jangan! Anak muda itu tertawa lagi lalu pergi.. Aku kira dia tersingung dan menyindir. Masak aku kasih nama anak lakinya dengan nama perempuan, curhat Amat malam hari di meja makan. Makanya kalau ngomong jangan sembarangan,kata Bu Amat, anak itu sudah kaulan, apa pun nama yang diberikan oleh orang pada anaknya akan dia pakai. sebab sudah 11 tahun menikah belum punya anak. Amat terperanjat. Jadi dia serius akan memberi nama putranya Kartini? Iya iyalah! Amat tak jadi makan. Ia merasa bersalah. Ia menunggu di depan rumah sampai larut malam. Ketika anak muda itu pulang dari klinik, ia langsung menyapa. Gus, Kartini tadi datang menemui Bapak. Anak muda itu terkejut. Siapa Pak? Raden Ajeng Kartini. Anak muda itu tersenyum. Amat langsung mencecer. Boleh lanjutkan perjuanganku, bebaskan perempuan-perempuan Indonesia dari penindasan, kata RA Kartini. Merdekakan kaumku agar mendapat perlakuan setara dengan kaum lelaki. Tetapi tidak perlu menjadi lelaki. Hakekat perempuan tetap perempuan, lelaki tetap lelaki, karena itu laki perempuan akan bertemu untuk saling melengkapi. Kalau kamu menjadikan perempuan lelaki dan lelaki itu perempuan, kamu sudah menodai perjuanganku! Anak muda itu mengangguk Saya mengerti maksud Pak Amat. Kalau begitu jangan kasih nama anakmu Kartini! Tidak bisa Pak, sudah dicatatkan dalam akte kelahirannya. Tapi kamu tidak boleh mengubah anak lelaki menjadi perempuan! Anak saya perempuan Pak, bukan lelaki seperti yang diramalkan oleh Dokter.

7 Komentar Ditulis pada cerpen Di-tag kartini Sejarah


Posted on3 April 2008by Putu Wijaya | 5 Komentar Amat berdebat dengan seorang penulis muda sejarah. Sejarah itu tidak boleh diutak-atik!kata Amat. Penulis itu mendebat. Sejarah harus diperbaiki kalau salah, Oom! Sejarah tidak bisa salah! Bisa Oom! Tidak! Bisa! Tidak bisa! Oom kok ngotot! Sejarah itu ditulis oleh manusia. Dan manusia tidak ada yang sempurna. Sudah banyak buktinya sejarah dibelokkan menurut kemauan yang nulis!

Itu bukan sejarah! Penulis itu tercengang. Sejarah itu bukan yang ditulis, tetapi apa yang sudah kejadian! Memang. Tapi bagaimana kita tahu kejadiannya kalau tidak ditulis? Amat menggeleng. Pokoknya sejarah tidak boleh diutak-atik! Penulis muda tertawa. Dia merasa Amat belum sempat minum kopi hari itu, jadi pikirannnya sinting. Sambil senyum-senyum, Pak Amat ditinggalkan. Amat merasa keki. Ia masih penasaran. Sejarah itu memang ditulis,kata Amat kemudian di rumahnya kepada Ami. Tetapi berdasarkan fakta. Kalau faktanya terbukti salah, penulisan harus dilakukan kembali, mengganti yang salah dengan yang betul. Tetapi kalau setiap saat ternyata fakta terbukti salah dan penulisan kembali sejarah dilangsungkan berkali-kali, pantas dicurigai, mungkin faktanya ada yang keliru. Yak an Ami?! Ami mengangguk. Atas dasar pikiran itu, lanjut Amat,aku berpendapat, sebelum menuliskan kembali sejarah sehingga bunyinya jadi lain, apalagi bertolak-belakang, terlebih dahulu uji kembali faktanya benar-benar sudah afdol atau tambah menyimpang? Kalau sejarah sudah terlanjur ditulis kembali dengan fakta yang salah, akan sulit untuk dikembalikan lagi. Makanya aku bilang kepada professor kepala batu itu, bahwa sejarah tidak boleh diutak-atik! Ya tidak, Ami?! Betul. Jadi apa aku salah? Apanya yang salah? Kenapa aku jadi disalahkan? Apa hanya karena aku tidak punya gelar, jadi aku dianggap keliru? Tidak. Makanya! Jadi sejarah yang sebenar-benarnya sejarah adalah apa yang sudah benar-benar kejadian. Bukan apa yang ditulis. Tulisan itu kan gampang sekali diutak-atik. Sekarang bilang begini, besok bisa bilang begitu. Semuanya tergantung dari kemauan penulisnya saja. Buat apa percaya itu. Jadi jangan bilang semua yang ditulis itu sejarah! Amat lalu mengambil buku sejarah Bali yang ditulis anak muda itu.. Apa ini sejarah? Mentang-mentang dia yang nulis? Biar pun guru sejarah yang pakai gelar satu meter juga, kalau yang dia tulis ini tidak betul, ini bukan sejarah. Sejarah itu, adalah yang benarbenar kejadian, bukan yang ditulis! Bu Amat muncul mendengar suara suaminya berapi-api. Soal apa lagi ini? Amat langsung menurunkan suaranya, sebab guru sejarah itu ada hubungan keluarga dengan Bu Amat. Nggak apa-apa, hanya itu lho, keponakan kita itu, professor sejarah itu sudah menulis buku baru tentang sejarah Bali. Bu Amat mendekat dan mengambil buku itu. Ya dia rajin. Bapak sudah baca? Ya sudah. Bagus? Ya, namanya juga sejarah. Semuanya yang itu-itu juga. Masak? Tidak ada yang baru? Amat tertawa. Ibu ini bagaimana. Sejarah itu tidak ada yang baru. Semuanya sudah terjadi. Tapi dia bilang katanya ini banyak yang baru. Lain dari yang sudah pernah ditulis oleh penulis sebelumnya. Amat langsung main mata sama Ami. Tapi ketahuan. Kok malah main mata. Bapak tidak setuju? Amat tersenyum. Kalau bicara tentang sejarah, kita tidak boleh setuju atau tidak setuju. Apa yang sudah terjadi tidak bisa diubah-ubah. Kalau kita mau mengubah-ubah, itu namanya bukan sejarah, tapi mau merusak sejarah. Bu Amat mengernyitkan keningnya. Maksud Bapak, ponakanku ini sudah merusak sejarah? Amat tak bisa langsung menjawab. Dia mencoba minta bantuan pada Ami, tapi Ami sudah mencium akan bertiup angin buruk, dia buru-buru ke belakang pura-pura kebelet.

Jadi menurut Bapak, buku ini bukan sejarah? Amat tertawa. Bukan begitu, Bu. Ponakan kita itu, dengan buku ini sudah mencoba melihat dengan kaca-mata lain. Siapa sebenarnya yang berjasa dan siapa yang hanya kelihatan berjasa tetapi sebenarnya bukan. Bilang saja terus-terang Bapak menganggap ponakanku itu mau memutar-balik sejarah, karena dia sudah menyebut tokoh yang Bapak kritik itu pahlawan! Bukan begitu, Bu. Sebagai seorang anak muda yang sudah memiliki jarak dengan Bali, dia mencoba untuk mendudukkan sejarah setepat mungkin, dia berusaha untuk mengajak kita melihat dari sudut pandang yang berbeda. Jadi .. . Jadi keliru? Bukan keliru. Sejarah itu kan sesuatu yang sudah lewat. Kita hanya tahu separuh-separuh. Jadi setiap saat harus ditelusuri lagi sampai ketemu yang sesempur-sempurnanya. Setiap penulisan sejarah adalah sumbangan untuk kesempurnaan itu. Maksud Bapak, ini pengacauan sejarah? Bukan begitu .. Bu Amat langsung membanting buku itu ke meja. Jantung Amat hampir copot. Kalau dia keliru, meskipun keponakanku sendiri, tetap saja keliru! Masak bukan pahlawan dia puji-puji di sini sebagai pahlawan yang berjasa.Malu aku! Dan lebih malu lagi aku sebab Bapak sudah ikut-ikutan latah memuji dia!

5 Komentar Ditulis pada cerpen FTJ Roket Ke Persimpangan Jalan


Posted on2 April 2008by Putu Wijaya | 2 Komentar Dalam peringatan ulang tahun ke-2 FTI (Federasi Teater Indonesia) di Teater Studio TIM, di atas panggung, Didi Petet bertanya, apa gunanya teater, apa gunanya gedung pertunjukan ini? Slamet Raharjo kemudian melanjutkan dengan gugatan, mengapa teater tidak lagi seberingas seperti masa-masa Rendra di tahun 70-80an, menyuarakan hati nurani rakyat? Saya ingin berdiri dan menjawab. Datanglah ke Festival Teater Jakarta 2006 dan 2007. Lihat apa yang dilakukan oleh Teater Indonesia, Study Teater 24 dan Teater Mode. Tengoklah ratusan pengunjung memadati ruangan pertunjukan, terlibat tanpa memikirkan untung-rugi dan lebihkurang teater. Walau Jakarta lagi banjir, macat dan barangkali banyak di antara pengunjung yang hanya pas-pasan ongkos transport, mereka hadir. Mereka menunjukkan teater sebagaimana juga film Indonesia masih ada dan mereka mencintainya dengan cara mengunjunginya. Tetapi ternyata kemudian saya hanya memilih terpaku saja. Tak berani ngomong apa-apa. Bukan saja karena takut, sebab kedua mereka itu adalah orang-orang hebat di dalam teater, tetapi juga karena ada kemungkinan, jangan-jangan mereka benar. Meskipun sudah terasa tak akrab lagi dengan teater, karena waktu keduanya tersita untuk mengabdi film, ucapan mereka sebenarnya mengandung rasa. Di dalamnya ada kekecewaan bahkan sinisme yang sebenarnya bisa dikenali bersumber dari sayang. Cintalah yang membuat orang sayang, tetapi juga sekaligus benci. Kedua emosi itu adalah dinamika dari sebuah pertumbuhan, tanda sesuatu itu masih bergerak, mengalami pasang-surut, berdegup, walhasil hidup. Saya terus tak menjawab setelah pertemuan berakhir, karena percaya cinta mereka pada teater sebenarnya tak pernah luntur. Hanya saja mereka sedang memainkan sebuah peran karena di depannya mencorong ratusan pasang mata. Insting mereka sebagai pemain pasti berbisik, mesti ada sesuatu yang memikat untuk menyekap perhatian penonton. Itu sudah seni laku. Atau semua itu terucap karena memang kurang pandangan. Mereka begituj sibuk di tempat lain, tak ada waktu lagi untuk elihat semua yang terjadi. Padahal tak hanya langkah-langkah besar yang menentukan. Langkah kecil pun menjadi kunci. Apalagi ketika teater sudah mulai mencoba memasuki pasar. Sebelum TIM berdiri pada 1968, teater adalah benda asing dalam tontonan Indonesia. Teater tradisi, teater rakyat, memiliki seluruh wilayah tontonan. Teater yang dieknal sebagai sandiwara hanya terselip dalam malam perpisahan sekolah atau peringatan hari-hari bersejarah. Ada memang usaha untuk membuat teater menjadi hadir sebagai sebuah cabang kesenian yang utuh, tetapi

banyak kendala yang harus dihadapi. Tak ada gedung khusus untuk teater. Naskah-naskah teater sangat sedikit ditulis. Tak ada orang yang ingin melihat teater sebagai sebuah profesi. Teater hanya hobi. Sampai kemudian ATNI berdiri. Teater mulai dilihat sebagai ilmu. Sesuatu yang harus dipelajari dan menjanjikan masa depan (minimal waktu itu sebagai pemain film). Kemudian TIM berdiri. Ada gedung pementasan teater. Ada fasilitas. Dan DKJ menyelenggarakan sayembara penulisan naskah. Naskah-naskah teater mulai lahir. Semuanya itu langkah besar. Tetapi ketika Bengkel Teater menampilkan bentuk teater yang baru seperti mini kata. Ketika Rujito mengolah set panggung tidak dengan membangun set tapi cukup dengan kain-kain, level dan tata lampu. Ketika Teater Populer membangun p;ublik teater. Ketika Teater Kecil memasukkan surealisme dan rejiusitas. Ketika STB menggali idiom Sunda. Ketika Teater Mandiri, Teater Sae, Teater Kubur, mengganti kata-kata dengan idiom-idiom visual. Ketika Teater Saja memakai teater untuk statemen politik. Ketika Teater Koma menegakkan teater yang musikal. Ketika Teater Gandrik, mengangkat citra ketoprak. Ketika Teater Payung Hitam, Teater Garasi membawa pendekatan dengan cara resort sebelum melakukan pementasan. Dan sebagainya. Ketika semua langkah-langkah itu terjadi dalam saat yang bersamaan, perhatian masyarakat pun terpecah. Semuanya menjadi pernik-pernik yang tidak terawasi lagi, apalagi tidak dilaporkan dengan rajin dan akurat, bahkan sering keliru oleh para pengamat yang tidak benar-benar menguasai medianya. Maka langkah-langkah itu menjadi langkah-langkah kecil yang nyelimet. Penonton yang ingin menikmati pertunjukan tak mau pusing. Langkah-langkah itu baru akan kelihatan, kalau orang memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Itu memerlukan waktu. Memerlukan kesabaran. Tapi lihatlah apa yang terjadi pada penonton ketika daua orang actor itu, satu lulusan IKJ dan satu lagi karbitan ATNI berbicara. Setuju atau tidak pada apa yang mereka katakan, semua penonton terpukau. Mereka tidak melihatnya sebagai sebuah opini, karena itu memang bukan diskusi. Penampilan Didi dan Slamet dalam ultah FTI itu menjadi tontonan memikat, sebuah pertunjukan sendiri padahal konon tidak dirancang sebelumya. Didi mengaku ditodong tampil memngisi acara. Tapi walau tanpa persiapan, keduanya melakukannya dengan bagus. Keduanya sudah berhasil menciptakan teater paling tidak sekitar 15 menit. Bukan saja karena keduanya tampil bagus, tetapi karena penonton sendiri sudi mendukung dengan seluruh perhatian. Penonton nampak terlatih untuk menonton. Apa lagi namanya itu kalau bukan apresiasi. Membina apresiasi penonton adalah bagian dari kerja besar teater. Itu adalah salah satu hasil konkrit. Orang berdebat tentang bagaimana menumbuhkan apfresiasi masyarakat. Tetapi ketika itu sudah terlaksana, orang lupa menilainya. Saya merasa berkewajiban untuk memamerkan itu sebagai sebuah upaya teater yang dilupakan, karena orang terlalu sibuk bicara tentang bagaimana meningkatkan apresiasi. Sudah waktunya untuk menghhentikan kezaliman itu. Siapa bilang teater sudah tidak beringas lagi. Tiga dasa warsa yang lalu, dua orang yang diminta untuk membuat sambutan, mungkin akan berbicara formal sehingga yang terjadi bukan pertunjukan tetapi ceramah yang menyebalkan. Dari mana datangnya kepiawian Didi dan Slamet, kalau bukan dari sebuah dapur penggodokan yang suah bekerja keras. Didi di IKJ dan Teater Koma serta Didi Sena Mime. Slamet dari ATNI dan Teater Populer. Dua tungku yang pernah menyala dengan kobaran hebat di masa lalu. Tetapi kini masih berkobar walau tak banyak terlihat karena tertutup oleh peristiwa lain. Saya mungkin sudah mendramatisir. Tetapi bagaimana tidak, agar yang tidak terlihat bisa kelihatan. Yang terlewati menjadi keluar benang merahnya. Teater membuat segala sesuatu terdramatisir agar terproyeksi hingga penampakannya lebih nyata pada seluruh penonton. Tetapi sebaliknya, teater juga bisa membuat segala penampakan menjadi samara alias tak kelihatan, yang sangat berguna untuk menghindari berbagai penjegalan. Dalam keadaan yang tak kelihatan, ekpspressi lewat teater memang tak semua orang dapat langsung mengidentivikasinya. Karenanya perlu perhatin, referensik dan interpretasi. Teater sering memberikan PR. Kebetulan bidang pengamatan/telaah yang seharusnya dijaga dijaga oleh kritik, pada kehidupan tater kita lemah. Maka mata masyarakat setengah buta dalam teater bahkan pada umumnya di semua bidang kesenian. Banyak hal di dalam teater menjadi tidak nampak. Tetapi rasa cinta, tak harus dimulai dengan penampakan. Dia adalah rasa. Dan itu suka tidak suka, disadari atau tidak, akan terus tumbuh di luar kekuasaan kesadaran. Entah orang itu bernama Didi atau Slamet, atau setiap orang yang hadir pada malam itu. Kalau tidak, tak mungkin malam ulangn tahun Federasi Teater Indonesia itu kursi terisi penuh.

Teater masih terasa menyala di dalam dada semua yang hadir malam itu. Juga masih kenyal mengendap pada para pendukung dan penonton FTJ yang belum lama berlangsung di tempat yang sama. Itu membuktikan teater masih memiliki harga. Walau pun kursnya pada setiap pribadi berbeda-beda. Harga itulah yang menjadi penanda bahwa teater masih sama dengan yang dulu. Hanya sudut memandang saja yang membuat kesimpulannya jadi bisa bertentangan. Masing-masing orang, kembali kepada selera yang dibentuk oleh lingkungan dan fokusnya. Seperti terhadap makanan, pandangan pada teater pun diwarnai oleh selera. Sehingga wajar saja seorang pecandu ketoprak akan muntah kalau disuguh dengan spageti. Dan sebaliknya. Jadi wajar saja penonton yang mengharapkan teater memiliki komitmen sosial ala Rendra di tahun 70-an kecewa melihat teater-teater visual seperti Yel (Teater Mandiri, 1990), misalnya. Melihat Yel di Washington State, seorang professor ahli politik Indonesia bertanya heran, apa pertunjukan itu dapat izin keluar dari pemerintah. Bicara tentang tiga dasa warsa yang lalu, perbedaan selera itu sudah ada. Teater Populer dengan Teguh Karya, sudah meracik realisme yang membuat lingkaran penonton setia khususnya di Hotel Indonesia. Sementara Teater Kecil pimpinan Arifin C Noer menebarkan selera sangat berbeda yang dengan lingkaran penonton yang juga setia. Apalagi Bengkel Teater dengan W.S. Rendra, membetuk model selera yang lain lagi. Paling tidak ada 3 restoran teater pada masa itu di Jakarta. Belum lagi hidangan STB (Suyatna Anitun) dan Teater Lembaga (Wahyu Sihombing, Pramana Pmd, Djajakusuma). Serta berbagai kelompok teater dari Medan, Surabaya, Banjarmasin. Komitmen sosial pada teater yang pada tahun 70-an memang sangat dimulyakan. Waktu itu seni umumnya memang menjadi seperti ujung tombak. Situasi tertekan, langkanya kebebasan berekspresi, menyebabkan luapan emosi mengalir ke wilayah-wilayah bawah tanah. Dan teater sebagaimana juga yang sudah ditemukan oleh berbagai pengamatan mendalam, memang menampung seluruh ledakan emosional yang terlarang diekspresikan secara biasa. Konon teater bawah tanah selalu berkembang subur justru pada situasi yang penuh tekanan. Gerakan moral reformasi untuk meruntuhkan kekuasaan rezim Orde Baru yang dimulai 1998 sudah dilakukan secara begitu spektakuler dan teateral. Itu sebuah peristiwa yang luar biasa di dalam sejarah Indonesia sesudah revolusi, penumbangan Orde Lama dan persitiwa Malari. Tak hanya kegaduhan, ketegangan, tetapi juga terselip penjarahan, kekejian dan korban nyawa manusia. Apa lagi yang bisa dilakukan teater agar bisa lebih dahsyat lebih teateral dari seluruh rentetan kejadian yang masih berbuntut panjang sampai 10 tahun sekarang ini, demikian tulis salah seorang pengamat. Teater yang keras, kasar, frontal dan konkrit menyuarakan kebutuhan rakyat kecil, kini sudah muncul di jalanan dalam berbagai demo. Bukan hanya di TIM dan GKJ, di mana-mana, di media massa, televisi, radio, ceramah, diskusi, peradilan, olahraga, kehidupan selebriti lewat infoteinmen, sidang-sidang wakil rakyat, bahkan dalam renungan-tenungan relejius dan out bond, teater sudah digelar. Karena perannya sudah diambil-alih gerakan masa, di samping tak punya penyandang dana, teater kembali kepada hiburan, perenungan, penjelajahan dan pencarian-pencarian idiom baru. Suaranya pun kemudian kalah bising dibanding dengan berbagai teriakan para politikus. Tetapi bukan berarti teater tidak bicara. Suaranya pun masih ada. Hanya untuk itu diperlukan sedikit keringat untuk kesudaian mengarahkan mata, menajamkan telinga dan memberikan dalam tanda kutip: cinta. Festival Teater Jakarta yang sudah 2 kali penyelenggaraan ini (2006 dan 2007) direbut kembali oleh DKJ, adalah sebuah suara. Sebagai sebuah suara, memang bila harus diukur dari kehebohannya, teater jelas kalah. Bersaingan dengan suara kepanikan kenaikan harga bensin dan kedele, teater akan keok Melawan ramainya ekspressi kebencian menghujat pencaplokan hak cipta batik, angklung dan reog yang dicaplok, teater tak akan berdaya. Apalagi berita sakit dan meninggalnya Pak Harto, tak akan mampu disaingi oleh teater. Tapi jangan lupa, semua yang membungkam teater itu, adalah juga sebuah peristiwa spektakuler. Walhasil sebuah teater juga. Apa yang dulu hanya bisa terjadi di atas pentas, kini menular dan terproyeksikan secara konkrit dalam kehidupan. Khususnya sesudah reformasi, ketika hukum tak berdaya lagi menghadapi berbagai gejolak di dalam masyarakat yang semakin tak terkendali bahkan nyaris liar. Apa yang mendorong itu terjadi, kalau bukan hasil pelatihan teater? Teater punya andil untuk membuat masyarakat lebih vokal dan ekspresif. Gerakan Seni Rupa Baru di tahun 70-an mencetuskan sikap baru dalam penciptaan, pemaknaan

dan penikmatan seni rupa. Galeri bukan satu-satunya lagi tempat untuk memajang karya. Jalanan pun bisa. Di mana-mana bahkan apa pun bisa. Anda boleh menunjuk pada batu dan berkata, itu karyaku, asal Anda mampu meyakinkan orang. Konsep tentang apa itu karya, telah merangkul seni pertukangan, sehinggga seniman bisa/cukup menelorkan konsep, kemudian dengan tukang-tukang sebagai pelaksana karyanya. Revolusi/evolusi tersebut secara simultan juga terjadi pada bidang seni lain (tari, musik). Saya menyebutnya sebagai: tradisi baru. Tradisi baru adalah usaha (yang kemudian menjadi tradisi) untuk memetakan/menilai karya seni Indonesia tidak lagi pada hanya referensi Barat. Tetapi mengembalikannya pada seluruh pencapaian yang sudah terjadi di Indonesia . Untuk teater khususnya sesudah berdiri TIM, 1968. Di dalam teater, menilai karya teater tidak lagi mutlak satu-satunya tanpa ampunan dari referensi teater Barat. Barat dengan seluruh pencapaiannya, tetap hanya sebagai salah satu referensi saja. Yang utama kiblatnya adalah seluruh puncak-puncak pencapaian teater yang terjadi di Indonesia. Karena itu berasal dari sebuah pencapaian penggalian sukma teater tradisi dan persentuhannya dengan kenyataan masa kini. Sebagai contoh: pementasan Mini Kata, Odipus, Barjanji, Hamlet dari Bengkel Teater; pementasan Kapai-Kapai, Mega-Mega dari Teater Kecil; pementasan Jayaprana, Perkawinan Darah, Machbet dari Teater Populer; pementasan STB, pementasan Dongeng Dari Dirah, Metha Ekologi oleh Sardono W. Kusumo, pementasan Aduh, Lho, Ngeh dari Teater Mandiri, pementasan Bom Waktu, Opera Kecoak, Sampek Engtai dari Teater Koma, pementasan dari Teater Kubur, Teater Sae, Teater Payung Hitam, Teater Garasi, Teater Gandrik dan lain sebagainya. Itu semua bukan hanya sekedar pementasan, tetapi referensi. Memang sayang sekali, dalam soal dokumentasi teater Indonesia sangat lemah. Para pengamat pun tidak mencatat dengan lengkap pencapaian mendasar apa saja yang sudah ada di balik karyakarya tersebut. Sebagai akibatnya, segala yang pernah dicapai, tidak menjadi fondasi bagi langkah selanjutnya. Tak sedikit kejadian apa yang sudah dilakukan, apa yang sudah detemukan, jatuh-bangun dicari lagi untuk kemudian dirayakan kembali sebagai temuan baru. Inilah salah satu penyebab mengapa teater seperti berjalan di tempat bahkan mungkin mundur (kalau boleh memberi interpretasi bebas pada apa yang dikemukakan oleh Didi dan Slamet). Keadaan itu itu akan berbeda bila cara atau sudut pandangnya diubah. Fakta menunjukkan bahwa FTJ telah berlangsung 35 tahun tanpa sekali pun pernah alpa. Itu sejarah yang tidak mudah dicapai. Tapi apa pentingnya sebuah sejarah? Hanya untuk sekedar tumpukan data? Atau kebanggaan barangkali. Kebanggaan apa lagi? Indonesia yang memiliki teater tradisi sebagai gelontongannya warisan budaya di berbagai wilayah saja, terbengkalai. Hidup tak hendak, mati tak ingin. Apakah teater modern Indonesia ingin menambah beban? Wahyu Sihombing, dedengkot DKJ yang menjadi bidan lahirnya FTRJ (Festival Teater Remaja Jakarta) , mungkin tak membayangkan bahwa festival yang dimulainya itu akan berlangsung hingga 3 dasa warsa. Tujuan awalnya hanya menambah kelompok teater pemasok pertunjukan rutin di TIM selain yang sudah ada: Teater Populer, Teater Kecil, Bengkel Teater. Bagi pemenang 3 kali festival diberikan kesempatan menyandang predikat senior yang berhak main di TIM dengan mendapat subsidi biaya produksi dari DKJ. Pada masa itu mutlak DKJ merancang seluruh program TIM. PKJ TIM hanya pelaksana, kalau pun mau membuat program harus dengan persetujuan DKJ. Dalam kenyataan, lulusan FTRJ pamornya tak setara dengan kelompok senior terdahulu. Hidupnya sebagai kelompok pun tidak segigih kelompok senior yang dipimpin oleh tokoh sentral yang begitu perkasa sehingga nyaris seorang pemimpin spiritual. Belakangan FTRJ merasa perlu melepaskan predikat remaja, lalu menjadi FTJ. Tetapi pelaksanaannya menjadi rutin, karena biaya menipis dan diserahkan kepada Dinas Kesenian yang sepenuhnya ditangani GelanggangGelanggang Remaja. Ketika ada pertemuan memperdebatkan apakah FTJ harus dibubarkan, lalu diganti dengan kegiatan baru, saya melakukan pembelaan. FTJ harus direbut dan dipertahankan. Sebagai sebuah sejarah, FTJ bukan hanya sekedar seremoni rutin untuk menghabiskan anggaran dana. FTJ telah menjadi kantong yang menampung mula-mula ribuan remaja di seluruh Jakarta untuk berekspresi dengan wadah yang sehat. Teater tidak sekedar melatih remaja itu menjadi seniman, tetapi mengajarkan kiat-kiat hidup yang sangat berguna bagi mereka nanti kalau terjun ke masyarakat. Antara lain yang amat penting, bagaimana belajar bekerja sebagai sebuah tim. Setelah 35 tahun, banyak partisipan FTJ tidak remaja lagi, tetapi mereka terus setia mengikuti

festival. FTJ menjadi semacam komunitas besar untuk bertemu, bergaul dan berbagi pengalaman. Sebagai hakekat dari semua festival kesenian, festival menjadi sebuah investasi kultural yang hasilnya tidak bisa ditakar dengan waktu, volume dan angka. Bagaikan sebuah oase yang tetap menyediakan harapan, ada maupun tak ada musafir yang akan lewat, festival adalah sebuah uluran tangan sekaligus therapi sosial dalam masyarakat yang sudah semangkin kompleks seperti Jakarta, yang konon dipenuhi oleh berbagai jenis orang gila. Jakarta memerlukan banyak kantong-kantong penggembosan, pengembangan, pembelajaran, perenungan, selain berbagai institusi formal yang sudah ada. Dan saya mengucapkan syukur ketika DKJ yang baru, dengan tidak ragu-ragu merebut kembali FTJ. Dalam dua kali gebrakan, hasilnya konkrit. Dari hampir 60 peserta di tahun 2006, meningkat menjadi hampir 90 peserta di tahun 2007. Orang selalu melecehkan kwantitas dan memulyakan kwalitas. Dalam sebuah keramaian festival, kwalitas dan kwalitas saling tunjangp-menunjang. Tak mungkin hanya kwalitas. Kwantitas akan membawa kesemarakan dan melahirkan iklim berkompetisi yang lebih seru. Perimbangan keduanya akan menciptakan bukan saja pesta tetapi juga peristiwa kesenian. Dan sebuah peristiwa kesenian yang menjadi pesta adalah tanda apresiasi kesenian dalam hal ini teater, tidak hanya untuk kesemarakan teater sendiri, tetapi berguna juga bagi kehidupan pada umumnya. Penyelenggaraan FTJ oleh DKJ nampak jauh lebih serius dan professional. Di samping ada kompetis, juga ada diskusi dengan tema yang sudah dipilih oleh steering commeety. Ada pameran dan kemudian workshop disertai dengan pemutaran-pemutaran video pertunjukan. Pedoman festival yang sudah berusia 35 tahun, diolah kembali. Festival tidak lagi menempatkan dirinya sebagai lembaga pembibitan, tetapi kompetisi yang terbuka. Pemenangnya hanya satu kelompok terbaik. Dimungkinkan juga diikuti oleh kelompok dari luar Jakarta (bahkan mancanegara) dengan melalui seleksi oleh kurator yang ditunjuk DKJ. Di Jakarta sendiri, festival tetap dimulai dengan seleksi di Gelanggang. Pemenang tahun sebelumnya bisa langsung ikut pada babak final. Dengan peraturan yang yang disempurnakan itu, FTJ menjadi kantong budaya yang melebar. Kelompok teater di Jakarta juga akan tertantang untuk lebih berbenah, karena untuk menang tidak cukup hanya jadi macan kandang. Ini sebuah langkah yang sangat penting, untuk mengubah ekses psikologis yang terbawa oleh adanya tempelan kata remaja dalam festival. Istilah remaja mengandung makna pengampunan. Secara tak disadarai istilah itu mendorong pada situasi, akan-akan karena masih remaja, kelompok teater itu dimaklumi untuk belum professional. Ditolerir untuk masih membuat banyak kesalahan. Diperbolehkan untuk tetap berjiwa remaja. Walhasil teater oleh anak-anak remaja dan untuk kalangan remaja. Padahal sejak awal festival, Teater Ibukota pimpinan Abdi Wijono, misalnya, telah menunjukkan kematangan dengan menampilkan pertunjukan Aduh. Kata remaja kemudian menjadi racun yang, sadar tidak sadar, menghambat penjelajahan. Kedalaman pun tak terjadi. Komitmen ala kadarnya. Teater diseret untuk setia pada batasan umur tertentu. Apalagi pada kenyataannya banyak sekali kelompok teater yang pemainnya adalah anakanak sekolah. Teater pun seperti dipatok pada eksplorasi sekitar anak sekolah. Walaupun banyak peserta festival yang usianya sudah tua-tua, tuntutannya berkelanjutan masih tercekoki remaja. Usahanya pun menjadi terbatas. Masalah-masalah elementer di dalam pementasan, seperti interpretasi, pengemasan pertunjukan, pengemasan produksi, menjadi terus remaja. Di dalam FTJ yang sudah direbut oleh DKJ, masih ada riak-riak suasana tersebut. Kendati kehadiran Teater Indonesia, Study Teater 24 dan Teater Mode, sudah menunjukkan kecendrungan professional, ancaman penyakit itu masih terasa menghambat. Dalam kelanjutan FTJ yang sudah mulai terbuka, kompetisi akan lebih keras. Bila kelompok teater di Jakarta tidak segera berbenah, kemenangan akan direbut oleh kelompok luar Jakarta. Karena festival sudah meningkatkan hadiah yang diberikan kepada pemenang, festival dapat berlangsung lebih kompetitif dan menarik. Kelompok-kelompok teater yang selama ini dianggap senior, tidak kecil kemungkinan akan ikut berkompetisi. Bila itu terjadi dan sebaiknya dimulai, FTJ benar-benar akan memulai sebuah babakan baru. Tinggal pertanyaan siapkah DKJ sendiri, para pendukung teater sendiri dan kemudian para penyelenggara festival untuk tampil professional. Menjadi professional berarti melangkah pada satu pijakan yang sama sekali baru. Dalam kualitas, puncak-puncak pencapaian teater di Indonesia tak diragukan lagi adalah benar-benar hasil kerja

yang professional. Tetapi dalam kenyataannya, belum ada satu kelompok teater pun di Indonesia yang professional. Semuanya masih bertumpu pada semangat berkelompok sebagai sebuah peguyuban. Dan tak seorang pun yang sudah bisa hidup dari teater di Indonesia. Teater Koma dan Bengkel Teater, dua kelompok yang memiliki penonton ribuan, dan sanggup main berhari-hari, namun tetap sebuah peguyuban. Organisai dan menejemen produksi Teater Koma, misalnya, sudah terselenggara sangat professional (minimal bila dibandingkan dengan kelompok teater yang lain). Tetapi tidak sebagaimana yang sudah terjadi di dalam produksi film, produksi tidak mulai dengan kontrak. Produksi teater di Indonesia masih merupakan kerja gotongroyong dari seluruh anggota kelompok (dengan ada kemungkinan plus bintang tamu) yang memang disudahi dengan amplop honorarium. Profesionalitas akan memberikan efek psikologis yang baru. Solidaritas, rasa kekelompokan, gotong-royong yang dibelajarkan oleh teater selama ini, mungkin tidak lagi akan terjadi. Yang ada adalah pekerjaan. Teater akan hadir sebagai professi. Tantangan itu akan membawa suasana baru, yang memerlukan pembelajaran. Sebuah bahan diskusi yang bisa diagendakan di dalam FTJ. FTJ mungkin akan bertemu nanti dengan sebuah persimpangan yang akan merupakan langkah besar teater Indonesian yang baru. Di satu sisi, akann hadir sebuah mekanisme pasar yang mau tak mau harus didekati dengan pendekatan professional. Di sana teater suka tak suka akan menjadi barang komoditi. Uang akan menjadi sangat penting. Penonton menjadi raja. Dan teater akan menjadi sumber penghdipan yang akan membuat orang tidak segan-segan lagi menyerahkan hidupnya pada teater. Di sisi lain, teater tetap sebagai sebuah penjelajahan untuk berekspresi secara pribadi. Ini akan menampung semangat pembaruan dan meneruskan kehidupan peguyuban yang membuat teater tetap sebagai tempat pembelajaran kehidupan. Uang bukan tujuan. Dan teater hanya buat mereka yan g bersedia untuk berkorban, mengabdi dan mungkin dimaki-maki. Dalam kepala saya FTJ adalah sebuah roket yang dapat mengantar teater pada situasi persimpangan tersebut. Tanpa harus memberikan anjuran jalan mana yang lebih baik ditempuh. Dipulangkan mana yang baik pada yang berkepentingan saja.Tetapi untuk itu diberikan persiapan untuk memahami bahwa teater bukan hanya seni pertunjukan (hiburan), juga gagasan dan wawasan (ilmu), sebuah seni pengelolaan (menejemen), sebuah kehidupan organisasi dan pencarian dana yang harus produktif agar dapat terus menghidupi dirinya sendiri. Untuk kerja besar dan berat itu, FTJ tak cukup hanya mengandalkan dana dari pemerintah. Bahkan kalau perlu menghindarkannya, apabila itu menghambat. Jadi sebagaimana yang sudah terselenggrakan sekarang, FTJ sedikit demi sedikit menjadi sebuah badan yang mandiri, kendati tetap dikelola DKJ sehingga kebebasannya dalam berekspressi tidak terhambat. FTJ memerlukan lingkaran maecenas atau bapak angkat, tanpa suatu ikatan yang ketat, agar gerakannya semakin lincah, jitu, bebas tetapi terkendali.

2 Komentar Ditulis pada teater Di-tag FTI, FTJ Misteri Maaf dan Lupa
Posted on1 April 2008by Putu Wijaya | 2 Komentar Di Channel Asian News televisi Singapura, seorang pengamat mengatakan: Masyarakat Indonesia mungkin akan memaafkan (forgive) kesalahan Pak Harto tetapi tidak melupakannya (forget). Maaf adalah kata benda yang berarti ampunan. Diberikan kepada kesalahan, karena didorong oleh perasaan kasih, cinta , sayang maupun tak tega. Ketika menjadi kata kerja memaafkan, maknanya sebuah tindakan yang penuh dengan kebijakan yang bernuansa kemanusiaan yang tinggi. Lupa adalah kata keadaan yang berarti alpa. Semacam tanda kekurangawasan dari yang bersangkutan. Tetapi ketika menjadi kata kerja melupakan, mengandung makna melumpuhkan diri sendiri, sehingga seseorang menjadi alpa, tidak lagi ingat kepada sesuatu. Dalam praktek pergaulan, memaafkan dan melupakan seperti kucing-kucingan. Seseorang mungkin memaafkan, karena dia dapat melupakan kesalahan yang terjadi atas dasar kemanusiaan. Tetapi mungkin sekali dia memaksakan untuk memberikan maaf, untuk menyudahai perkara, tetapi belum tentu bisa menghapus apa yang sudah terjadi, apalagi kalau ditegaskan tidak bisa. Dengan melupakan, seseorang praktis seperti memaafkan sebuah kesalahan, meskipun atau

padahal, belum tentu begitu maksudnya. Mungkin ia sama sekali tak bisa memaafkan, jadi lebih baik melupakan saja, seakan-akan semua itu tidak pernah terjadi, sehingga ia bebas, tidak lagi terbebani.. Memaafkan mengandung rasa mengampuni, tetapi tidak menjanjikan untuk bersedia menganggap itu tak pernah terjadi. Tetap menuliskannya di dalam sejarah, namun tidak lagi dengan luapan emosi yang normal. Peristiwa tersebut dilirihkan, dikendorkan, digemboskan, dikerjain agar tak mampu menyentuh perasaan lagi. Melupakan adalah seperti membatalkan kejadian. Tak hanya menghapus dari kenangan tetapi juga mengeluarkan hal tersebut dari sejarah. Tapi di pihak lain, melupakan tak pernah mengampuni, tapi hanya ingin melenyapkan. Jadi memaafkan tak selamanya berarti melupakan. Namun melupakan, bila tak ada pernyataan secara formal, sebenarnya secara diam-diam memaafkan. Memaafkan dan melupakan adalah upaya mengganggu, membelokkan dan kemudian membatalkan apa yang sudah terjadi. Semuanya dilakukan demi menjaga harmoni yang hendak dipelihara sebagai aturan hidup bersama. Karena hidup adalah sebuah bebrayatan, hubungan kekeluargaan. Masyarakat adalah sebuah peguyuban. Di dalam peguyuban, individu bukan lagi pribadi, tetapi satu paket dengan orang lain. Melindungi diri berarti juga melindungi orang lain Setiap orang berkewajiban melindungi hak orang lain yang adalah keluarganya. Dan sebagai konsekuensinya, hak seseorang tidak dijaga dan diperjuangkan oleh masing-masing, tetapi oleh orang lain. Kita mengenal asas gotong-royong. Bahkan disepakati sebagai perasan dari kelima sila Panca Sila. Bergotong-royong, berarti mengangkat dan memboyong segala sesuatu bersama-sama. Kesalahan pribadi pun diangkat dan diboyong, sehingga tidak lagi menjadi tanggungan individu tapi tanggungan bersama. Dan karena sudah dikeroyok bersama, apa yang salah, dilupakan sumber sebenarnya. Individu pun boleh merasa bahwa ia sudah dimaafkan. Ini cocok dengan sifat bangsa kita yang terkenal dan kita banggakan sebagai gampang memaafkan dan mudah melupakan. Berbagai kejadian di dalam sejarah juga sudah membuktikan bangsa Indonesia dengan gampang memaafkan dan melupakan. Nestapa yang pernah dialami sebagai koloni Belanda, konon adalah penderitaan berat 3,5 abad. Masa pendudukan Jepang, walau hanya 3 tahun juga lebih dari neraka. Tetapi hubungan kita dengan Belanda dan Jepang sekarang sama baiknya dengan negara-negara lain. Demi persaudaraan, semuanya sudah kita maafkan dan lupakan. Apakah itu menunjukkan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang memiliki rasa kasih sayang yang tinggi? Bangsa yang menempatkan kemanusiaan sebagai primadona? Atau itu pertanda bahwa kita tidak memiliki kesadaran sejarah? Apakah kita bangsa yang terlalu mudah memberikan reinterpretasi dan reposisi terhadap segala sesuatu yang sudah terjadi. Di satu pihak reinterpretasi dan reposisi adalah kiat unggul yang mengandung tujuan untuk selalu memperbarui diri sehingga tetap aktual hingga selaras dengan zaman. Tetapi di belahan yang lain, keduanya juga bisa jadi racun yang membelokkan kita menjadi bangsa yang dengan mudah mengubah arti segala-galanya demi tujuan yang mau dicapai. Walhasil menghalalkan cara demi acara. Dengan mudah kita telah membongkar bangunan-bangunan bersejarah, misalnya dan menggantikannya dengan monumen-monumen baru untuk mall, tanpa ada perasaan rugi, risih apalagi bersalah. Tujuan yang ada di dalam agenda kita yang menjadi utama. Usaha untuk menyelamatkan warisan sejarah berupa dokumen, prasasti, benda-benda penemuan arkeologi pun jadi tak perlu, padahal harganya tak ternilai. Dokumentasi tak diurus. Gedung Arsip Negara dan Museum terbengkalai. Kita selalu mau melihat ke depan sambil melupakan masa lalu. Pada ujung-ujungnya, sejarah pun kita tulis berkali-kali kembali. Bukan untuk lebih mencocokkannya dengan fakta, tetapi lebih meyesuaikannya dengan kebutuhan kita yang ada di depan mata. Kita tak peduli akan kehilangan sejarah. Karena sejarah setiap kali dapat ditulis lagi menurut kemauan kita. Sejarah adalah kita sendiri. Peduli amat kalau itu membuat kita kehilangan karakter. Memaafkan dan melupakan dengan demikian mengandung arti yang berbeda lagi. Memaafkan berarti berpura-pura menerima yang salah, tidak sebagai kesalahan. Dan melupakan berarti memotong semua yang tidak kita perlukan, meskipun itu adalah fakta. Memaafkan dan melupakan dengan begitu jadi tindakan berbohong, menolak kehidupan nyata, untuk menjelmakan apa yang kita inginkan. Baik memaafkan dan melupakan bertemu sebagai tindakan yang sama-sama membelajarkan kita

jadi penipu. Membohongi diri sendiri, gemar cipoa pada orang lain. Mengingkari sejarah dan yang paling parah tak bermoral. Apakah memaafkan dan melupakan, masih bisa disebut sebagai perbuatan yang terpuji, kalau ujungya sudah membuat manusia menjadi tak sehat jiwanya? Pertanyaan ini tidak boleh tidak dijawab. Dan jawaban yang terbaik mungkin dengan tidak memberi harga mati pada setiap kata. Kamus sudah selalu menyediakan beberapa arti, pada semua kata. Kadangkala artinya bertentangan satu sama lain, tergantung dari konteksnya. Sebuah kata, tidak hanya mengandung pengertian, tetapi juga bertaburan rasa. Artinya tergantung dari iktidak manusia bersangkutan ketika mempergunakannya. Sangat berhubungan dengan: oleh siapa dan untuk siapa, dalam keadaan bagaimana, juga di mana, kapan, kata-kata itu dipergunakan. Memaafkan dan melupakan.tetap mengandung misteri.

2 Komentar Ditulis pada sosial Di-tag pak harto Dan Atau


Posted on31 Maret 2008by Putu Wijaya | Tinggalkan Komentar Setelah reformasi, ketika sentralisasi yang dianggap sebagai penjajahan pusat kepada wilayah berakhir, desentralisasi pun dipacu. Otonomi daerah menyebabkan terjadi berbagai pergeseran. Peran adat dan tradisi yang di masa Orde Baru diringkes untuk dibuang, digantikan dengan keseragaman dari pusat, kembali dihidupkan. Kearifan dan atau kebijakan lokal pun kini banyak dipacu. Revitalisasi kearifan dan atau kebijakan lokal menjadi semacam harapan. Dalam alenia di atas, dan-atau menunjukkan ambiguitas. Kearifan dan kebijakan sering dianggap sama, tapi juga bukan tidak mungkin dibedakan. Kearifan lokal adalah saripati adat dan tradisi. Di dalamnya terkandung kiat, resep bahkan juga tafsiran pada kehidupan masa datang. Wujudnya berupa aturan-aturan tak tertulis yang kemudian terbiasakan secara terus-menerus hingga menjadi adat. Tetapi berbeda dengan norma, kesepakatan bersama yang apabila dilanggar akan dikenakan sanksi moral oleh kehidupan bersama, kearifan lokal tidak mengandung sanksi. .Ia hanya menolong bepikir memecahkan persoalan. Dalam kearifan lokal ada akal dan rasa. Akal berarti kearifan lokal adalah hasil pemikiran. Rasa menunjukkan itu disesuaikan dengan keselarasan nikmat bersama yang disepakati oleh masyarakat bersangkutan. Kearifan tidak hanya dimaksudkan untuk membantu menegakkan harmoni hidup bersama saat terbentuknya saja, tetapi juga dapat terpakai sebagai perangkat kehiudpan, sampai ke masa yang akan datang. Kearifan lokal yang unggul, menjadi semacam falsafah kehidupan. Misalnya saja, apa yang dikenal dengan: desa-kala-patra di Bali, yakni keselarasan segala hal pada tempat-waktupsuasana. Desa-kala-patra adalah semacam converter untuk membuat segala sesuatu menjadi selaras. Orang yang terbiasa membiasakan ketiga unsur itu selaras dalam segala hal, dijamin akan bersilaturahmi dengan baik dengan berbagai perubahan dan perkembangan. Kearifan yang yang tidak unggul, tececer hanya menjadi perangkat kehidupan sementara. Ia ditinggalkan karena tidak merupakan resep yang tangguh lagi. Beberapa di antaranya mencoba bertahan, atau dipertahankan secara paksa oleh beberapa peminatnya, sehingga bukan menjadi perangkat kehidupan, tetapi justru penggganggu. Ia pun tak bisa lagi dipertahankan sebagai kebijakan lokal. Kebijakan mengandung pengertian aksi. Sebuah kebijakan dimaksudkan sebagai satu tindakan yang mengandung laku. Kebijakan juga adalah akal dan rasa tetapi dengan penekanan pada kebutuhannya untuk melakukan tindakan. Sementara kearifan lebih pada akal saja. Dan atau di alenia pertama tulisan ini, menunjukkan perbedaan nuansa kearifan dan kebijakan itu. Sama-sama hasil pemikiran dan endapan rasa. Tetapi yang pertama bersifat diam dan solid. Sedangkan yang kedua mengandung tenaga yang menuntut pelaksanaan yang lebih lanjut dalam mengatur kehidupan. Ketika Pak Harto sakit di Rumah Sakit Pertamina Jakarta, timbul perdebatan. Apakah kasus pengadilan Pak Harto diteruskan sampai tuntas? Jawabnya ya dan atau tidak. Dan atau dalam alenia di atas tidak menunjukkan ambiguitas. Ya jelas berkebalikan arti dengan tidak. Jawaban para tokoh-tokoh dalam masyarakat, juga awam pada umumnya, terhadap pertanyaan tersebut, memang hanya dua. Satu pihak tegas menolak, pihak lain tegas

minta diteruskan. Ya dan tidak, ya atau tidak. Dan maupun atau sama-sama menunjukkan dua yang berbeda. Penggunaan dan atau ingin lebih menanadaskan tidak ada ambiguitas. Sebenarnya dan atau tidak umum dalam bahasa percakapan. Juga tidak umum dalam bahasa formal. Walau pun bahasa Indonesia mengandung banyak ambiguitas karena tidak mengenal perbedaan bentuk dalam kata kerja (tense), tidak membedakan jenis kelamin pelaku , dan tidak mengenal bentuk tunggal dan jamak, dan atau jarang dipakai karena terasa membingungkan. Dan atau hanya dipakai dalam bahasa hukum. Kalau orang ingin memberi penegasan bahwa sesuatu itu bukan saja secara pengertian umum, tetapi juga secara hukum, dipastikan berstatus tertentu, tak bisa diperdebatkan lagi, dan atau dipakai. Maka dan atau pun menjadi mendua. Pertama mengandung ambiguitas dan yang lain menyatakan kepastian. Mendua adalah peristiwa yang biasa dan boleh dikata disukai dalam bahasa Indonesia. Kenyataan yang membawa kita pada satu keadaan tanpa kepastian itu, membuat bahasa sering gagal dalam posisi ketika sedang memberikan penilaian. Di alam resensi sebuah pertunjukan, misalnya, sering terdapat penilaian: agak terlalu berlebihan ; cukup baik sekali; masih belum sempurna sekali; sering sekali masih kurang siap. Apakah kekurangan itu disebabkan karena keseganan untuk menilai? Orang merasa kasar bila menilai secara blak-blakan. Atau tidak mampu menilai, sehingga bersembunyi dalam ketidakjelasan? Pertanyaan tersebut boleh ditarik lebih jauh sehingga menyangkuit hal yang lebih mendasar. Selama ini kita menerima bahwa bahasa dibentuk dan dibuat oleh manusia. Bahkan bahasa juga disepakati diciptakan untuk menegakkan kekuasaan. Tidak mungkinkah sebenarnya yang terjadi kini sebaliknya. Bukan bahasa yang diciptakan oleh manusia, tetapi bahasa yang menciptakan manusia macam apa yang mempergunakannya. Kalau ini benar, maka bahasa Indonesia adalah pahlawan yang berjasa telah mempersatukan Indonesia dan atau musuh bangsa Indonesia yang telah membentuk manusia Indonesia yang tidak punya kepastian sikap. Dalam alenia di atas, dan atau mengandung keraguan. Kata sambung dan di situ menunjukkan hal yang mendua. Bahwa ada dua peran yang ditemukan dalam bahasa Indonesia, yang saling bertentangan. Sedangkan atau mengajak memilih hanya salah satu peran saja. Walhasil berpulang bagi pengguna bahasa sendiri. Bahasa menyediakan kelemahan dan kekuatannya untuk dipergunakan. Manusia yang tak berdaya akan dilumat oleh bahasa yang ambigu, sedangkan manusia yang perkasa justru akan dilatih tanggap dan kreatif oleh keterbatasan bahasa. Karena keterbatasan juga berarti lentur, supel dan atau fleksibel.

Leave a comment Ditulis pada catatan Indah


Posted on30 Maret 2008by Putu Wijaya | 2 Komentar Jadi walau pun kita sulit makan, kita juga berkewajiban untuk ikut serta, berperan serta dalam pembudidayaan tanaman langka itu? tanya Alung dengan sinis kepada penceramah dari kelurahan. Petugas itu menjawab tegas. Betul, Pak Alung. Semua orang. Tidak laki tidak perempuan. Tidak kecil dan tidak besar, semua harus ikut! Tidak kaya tidak miskin! Betul, Pak Alung! Tidak kaya atau miskin, semua kita harus mendukung program ini! Dengan cara mulai sekarang, menanam pohon-pohon yang sudah langka, tidak menebang pohon yang sudah langka dan merawat pohon yang sudah langka, walau pun itu bukan milik kita. Sebab pohon itu adalah kekayaan alam kita, milik kita bersama! Bagaimana dengan pohon bakau, Pak? cecer Alung. Pohon apa itu? Itu lho pohon yang tumbuh di rawa-rawa yang biasa ada di pantai! Petugas kelurahan yang masih muda itu bingung. Yang mana ya? Ya sekarang sudah tidak ada lagi. Dulu di Ancol banyak. Tapi sekarang sudah jadi lahan hunian

karena diuruk. Maka arus air berubah. Ikan-ikan pun melakukan migrasi besar-besaran. Para nelayan kehilangan nafkah. Banjir di pantai lain Apa itu termasuk pohon langka? Ya kalau sekarang udah tidak banyak lagi, pasti akan langka. Pohon beringin juga yang ditebangi terus karena terlalu besar dan lebih baik lahannya dipakai bangun rumah, lama-lama akan jadi pohon langka. Coba ada berapa banyak pohon beringin yang masih ada di kota ini? Lama-lama nanti Bapak akan menganjurkan kami menanam beringin. Bayangkan saja, satu pohon beringin bisa untuk hunian sepuluh keluarga. Ya kan Pak? Pohon beringinnya hidup, tapi kami nanti jadi langka, karena mati satu per satu tidak punya rumah dan tidak ada yang memelihara! Kami ini sebenarnya pohon langka yang harus dipelihara itu, Pak!! Semua orang tepuk tangan. Petugas kelurahan itu juga ikut tertawa. Terimakasih pak Alung sudah menghibur kita. Memang kalau terlalu serius tidak baik. Dengan memakai humor seperti Srimulat, segalanya bisa masuk dengan ramah. Saya kira itu yang sekarang banyak dipakai oleh para pemimpin kita. Kalau ada banjir, kedele melonjak harganya, semuanya harus ditanggapi dengan senyum bahkan penduduk ibukota sendiri yang setiap tahun kebanjiran, kata pejabat kita masih biasa tersenyum. Terimakasih Pak Amat eh Pak Alung dan terimakmasih semuanya sudah mengikuti penjelasan ini dengan tertib. Ada pertanyaan? Tidak ada pertanyaan. Bukan karena tak ada yang mau ditanyakan, tetapi karena ceramah itu sudah terlalu lama. Sudah banyak yang ketiduran dan bosan mendengarnya. Amat sendiri diam saja, seakan-akan sudah puas. Tapi di rumah Alung ngamuk di meja makan. Terlalu! Gua diajarin oleh anak ingusan kemaren sore! katanya marah-marah, aku ini keturunan petani. Tanpa diajar pun aku suka tanaman. Aku berpikir seribu kali sebelum menebang pohon. Bahkan menebang pohon pisang pun aku masih mencari-cari dalam mimpi, apakah aku tidak membunuh hak hidup pisang itu. Bukankah kalau dibiarkan tumbuh akan membuahkan pisang yang bisa kita makan? Makanya waktu kebun mau dipinjam untuk dipakai pemilihan lurah dan pohon-pohon ditebangi aku marah. Sekarang gua dicekoki anak kemaren sore yang di rumahnya sendiri tidak ada satu jengkal tanah pun untuk tumbuh pohon. Ini kacau! Bu Ane membiarkan saja suaminya ngoceh. Karena sembari ngoceh, lelaki itu terus saja makan, sampai tambah 3 kali. Tak ada perempuan yang tidak bangga kalau suaminya melalap masakannya sampai tandas. Ani yang pulang telat, bingung, karena tidak ada sisa makanan. Bu, mana makanannya kok habis, Ani lapar ini! Bu Ane menunjuk ke suaminya yang sudah mendengkur di kursi karena kekenyangan. Mukanya menghadap ke layar televisi, tangannya memegang koran, tetapi ia tidur pulas. Dihabisin babe ya? Ya. Mungkin dia pikir kamu jajan di luar. Jajan apaan. Ani kan lagi nabung untuk nanti ke Bali akhir semester. Biasanya Babe makannya sedikit kan!? Ibu juga kira begitu. Padahal Ibu tadi masak sayur lodeh yang selalu dicacad itu. Masak sayur lodeh lagi, sayur lodeh lagi, sekali-sekali bikin burger atau spagetti kek, katanya. Ibu kesel. Akhirnya Ibu masakin sayur lodeh tok. Eh tahu-tahunya habis. O jadi Ibu hanya masak sayur lodeh? Ya. Kenapa? Ani mencibirkan bibirnya. Ibunya cepat berdiri mau ke dapur. Sudah jangan marah-marah. Masih ada sisanya, Ibu sembunyikan. Ayo makan, nanti masuk angin. Ani menggeleng. Wah kalau sayur lodeh sih, biarin saja habis. Ani sudah makan Kentucky Fried Chicken kok tadi ditraktir sama dosen. Ani langsung cepat-cepat masuk ke dalam kamar. Bu Ane ketawa. Nah bener kan. Begitu kelakuan anakmu itu, Pak. Kalau tidak ada ditanyakan. Kalau ada disiasia! Sama saja dengan tanaman langka itu! Bagus dia langka, jadi terpaksa sekarang mulai dirawat lagi! Alung membuka matanya. Dan kalau aku tidak tidur, aku juga tidak akan tahu, Ani itu lebih suka makan ayam goreng penuh kolesterol itu daripada sayur lodeh made in Bu Ane.

Makanya belajar mensyukuri sesuatu, jangan cepat marah! Sudah jangan kasih nasehat lagi, sudah malam. Tapi ngomong-ngomong, betul Ibu masih nyimpan sayur lodehnya? Daripada basi lebih baik aku sikat saja sekarang. Ambil Bu, sayur lodehmu sekali ini enak sekali. Ayo ambil! Bu Ane ketawa. Ambil apaan, kan tadi juga sudah disikat habis! Perasan tadi bilangnya ada yang disimpan. Habis, tandas! Alung meneguk air liurnya. Dia teringat betapa nikmatnya makan sayur lodeh tadi. Sekarang dia seperti orang ngidam. Bu Ane melirik suaminya. Ia jadi kasihan. Ya sudah, kalau begitu besok tak masakin sayur lodeh lagi! Jangan, jangan tidak usah! potong Alung cepat, masak tiap hari sayur lodeh. Yang bener aja! Langka itu indah!

2 Komentar Ditulis pada cerpen Ayat Ayat Cinta


Posted on29 Maret 2008by Putu Wijaya | 15 Komentar Film Ayat-Ayat Cinta meledak. Film ini diramalkan bisa mencapai 7 juta penonton,kata seorang pengamat. jauh melangkahi prestasi film Indonesia lain, termasuk mengalahkan sukses Naga Bonar. Tapi angka itu masih terlalu kecil kalau diingat penduduk Indonesia sekarang yang katakanlah sudah 220 juta. Jadi? Jadi jumlah penontonnya belum perlu dirayakan. Yang perlu dirayakan adalah bahwa Ayat-Ayat Cinta sudah membuat orang yang tidak pernah menonton film jadi nonton film! Bagaimana pula itu? Lihat saja siapa penontonnya. Mereka bukan penonton yang biasa nonton film-film setan dan hantu itu. Mereka adalah lapisan penonton baru, orang-orang yang ingin menikmati pesan dan moralitas yang hendak disampaikanoleh film itu, walau pun banyak yang kecewa karena novelnya konon lebih asyik! Begitu ya? Begitulah komentar yang pernah aku dengar dari para wanita yang beberapa kali baca novel itu, tetapi jugta sudah beberapa kali menonton filmnya. Memang apa yang baik dibaca, tidak selamanya baik ditonton. Apalagi banyak kendala dalam pembuatannya. Kendala waktu, biaya, lokasi, seperti yang diakui oleh pembuatnya. Kemilau air sungai Nil yang begitu indah di buku tidak muncul. Kata-katanya yang indah, niknat, sejuk, tidak keluar dalam gambar. Itu mungkin karena bukunya keluar duluan. Apa yang datang belakangan selalu terasa lebih jelek. Tidak. Itu tidak betul. Meskipun bukunya keluar duluan, kalau lebih jelek akan tetap lebih jelek. Kau jangan mengecilkan kecerdasan penonton. Mereka cukup mampu untuk mengatakan bagus dan jelek. Para penonton kita sudah cerdas sekarang. Mereka sudah lebih kritis. Mereka ingin yang terbaik. Kebanyakan film yang diambil dari buku tidak lebih bagus dari bukunya sendiri. Ya tidak? Ya. Nah, pendapat itu sendiri sudah mempengaruhi penonton. Semua orang akan langsung mengopy itu, meskipun jelas ia melihat sendiri filmnya lebih yahud. Tapi gua bukan jenis itu. Kalau begitu apa yang keberatanmu terhadap film Ayat-Ayat Cinta? Tidak suka saja. Karena kamu lebih senang membaca dan mengikuti khayalanmu sendiri? Itu sama dengan orang yang menikmati setan dan hantu lewat radio. Mereka lebih takut dibandingkan dengan menyaksikan film hantu dan setan. Membayangkan sendiri itu bisa tidak terbatas. Ah, itu kan masalah kejiwaan kamu sendiri, nggak bisa dipakai ukuran menilai. Lho aku juga tidak suka novelnya! Apa?

Biar berjuta-juta orang memuja, biar puluhan kali cetak ulang, tapi aku bilang novel itu tidak ada apa-apanya. Gile lhu! Gile apaa. Semua bilang itu novel hebat, makanya dibuat film. Coba kasih satu alasan saja kenapa elhu tidak suka novel Ayat-Ayat Cinta! Apa? Karena gua tidak doyan! Kenapa? Lhu jangan sok menentang arus! Bukan sok. Memang nggak doyan aja. Bukan mau menentang arus. Apa salahnya nggak demen? Mereka berpandangan. Gua nggak ngerti! Okelah ada yang bilang filmnya tidak sebagus novelnya, tapi menurut gue, novelnya bagus dan filmnya juga bagus! Medianya lain, tak bisa dibandingkan! Terserah! Lho jangan terserah, kita lagi diskusi ini! Memang! Kita sedang diskusi! Makanya kasih alasan dong! Kamu tidak bisa bilang tidak suka, tanpa alasan! Kenapa tidak? Ya itu dia yang namanya diskusi, elhu mesti beri alasan kalau elhu punya opini Jangan-jangan alasan elhu salah, gua bisa benerin sekarang! Itu baru diskusi. Soal selera tidak bisa didiskusi kan. Bukan soal selera! Lagu keroncong memang bukan lagu jazz, tapi kita bisa bandingkan mana di antaranya lebih baik menurut jenisnya. Mesti pakai otak dalam menilai! Aku tidak menilai pakai otak tapi rasa! Apalagi rasa! Maksud lhu? Perasaan lhu itu pasti ada sebab-sebabnya. Kalau tidak ada sebbnya, kamu tidak bakalan punya rasa. Orang bilang bir itu manis, karena dia sudah biasa minum. Bagi gua bir itu rasa kencing kuda. Jadi rasa tidak begitu saja ada, tetapi didorong kebiasaan. Nah elhu bilang film Ayat-Ayat cinta dan novelnya jelek, kenapa? Yang ditanya tidak menjawab. Jawab dong. Ntar lagi pintu biokop 4 dibuka, gua mau nonton Ayat-Ayat Cinta. Untuk kelima kalinya! Kelima? Yes! Bahkan besok untuk keenam kalinya, sebab aku diajak oleh bekas pacarku! Gila! Bekas pacarmu? Mau rujuk? Nggaklah. Doi juga ikutan. Kita ini kan generasi X yang tidak perlu musuhan sama mantan. Biasa-biasa saja. Tapi kenapa lhu nggak suka sama novel dan film Ayat-Ayat Cinta? Kasih satu alasan saja. Kalau tidak bisa satu, setengah okelah! Gua penasaran! Kenapa? Kapan lhu baca? Di mana lhu nonton? Gua belum pernah baca dan belum pernah nonton! Sialan! Lhu memang indonesia banget!

15 Komentar Ditulis pada cerpen Pahlawan


Posted on30 Januari 2008by Putu Wijaya | 1 Komentar Bung Karno, Bung Hatta, Pak Harto, dimakamkan di luar makam pahlawan, apakah itu tidak akan mengurangi wibawa makam pahlawan? tanya seorang tetangga. Pertanyaan itu menyebabkan Pak Slamet, pejuang kemerdekaan, tertegun. Banyak bintang jasa melekat di dadanya. Di dinding kamar bergantungan kenang-kenangan semasa perjuangan. Dharma-bhaktinya kepada negara tak perlu diragukan lagi. Orang yakin kalau Slamet meninggal, tempatnya di peristirahatan paling terhormat itu. Lalu Slamet berunding dengan istrinya. Bu, bagaimana nanti kalau aku jangan dikuburkan di makam pahlawan, tapi di pekuburan umum biasa saja? Bu Slamet terkejut. Ia tidak langsung menjawab suaminya, tetapi memanggil anak-anaknya untuk diajak berunding.

Bapakmu itu makin tua makin aneh. katanya, masak sekarang dia mau membuang semua jasajasanya yang sudah menyebabkan hidup kita semua menderita. Coba kalau dia tidak menghabiskan waktunya berjuang untuk membela bangsa dan negara, tapi jadi pedagang saja, barangkali dia sudah jadi konglomerat sekarang seperti yang lain-lain. Hidup kita pun tidak paspasan dan dihinakan seperti sekiarang ini. Coba kritik bapakmu itu, jangan punya niat macammacam lagi kalau sudah tua! Anak-anak Pak Slamet terbelah dalam dua kutub pendapat. Satu pihak setuju bapaknya, yang lain kontra. Yang kontra lalu maju dan mulai menggerpol. Saya dengar Bapak mau melepaskan hak Bapak untuk dimakamkan di makam pahlawan? Itu bukan hak, tetapi penghargaan negara bagi para pejuang. Ya apa pun namanya, tapi itu sebuah kehormatan yang baik untuk kita semua. Jadi berikanlah kesempatan kepada kami untuk berbangga dan berikanlah kesempatan negara untuk menghargai pahlawan-pahlawannya. Tapi aku bukan pahlawan. Pak, tanda jasa dan penghargaan yang setumpuk itu tidak bisa dibohongi. Semua orang tahu Bapak ini pahlawan. Aku bukan pahlawan! Jangan begitu, Pak! Aku tidak pernah merasa diriku jadi pahlawan! Lihat saja, apa akibatnya sekarang karena aku terlalu sibuk berjuang? Akibat tidak memperhatikan nasib keluarga, sekolah kalian semuanya putus. Kita tidak punya rumah sendiri. Kendaraan tidak ada. Di mana-mana kita tidak diterima karena kita tidak pakai dasi dan jas. Akibat bapak tidak punya kedudukan, ibumu dilecehkan oleh keluarganya! Aku orang yang gagal! Pak Slamet kemudian menutup mukanya dan menangis. Anak-anak terpaksa menyerah. Untung ibunya datang dan langsung membentak. Makanya! Kalau sudah sadar tidak punya apa-apa yang bisa dibanggakan, jangan sok membuang-buang kesempatan, tidak mau dimakamkan di makam pahlawan. Itu namanya tidak tahu diri! Egois! Sudah jangan mewek! Pahlawan kok menangis! Pak Slamet terpaksa menghentikann tangisnya. Pada kesempatan yang baik, dia kemudian mengadu kepada anak-anak yang menyetujui sikapnya. Meskipun aku ini pahlawan yang dulu selalu berjuang dan pantang menyerah menghadapi musuh yang galak seperti setan sekali pun, bisiknya supaya jangan sampai terdengar orang lain, tetapi kalau menghadapi masalah-masalah keluarga, terutama berhadapan dengan ibu kamu, aku menyerah. Dia tidak mengerti apa mauku. Anak-anaknya mendengarkan dengan penuh simpati. Jelek-jelek begini, aku juga ingin memberikan kebanggaan kepada kalian semuanya, karena aku tidak mampu memberikan kebahagiaan materi, seperti teman-temanku yang lain. Mereka punya naluri dagang, pintar melihat kesempatan dan berani menanggung resiko dan berspekulasi. Aku tidak. Bapakmu ini selalu ragu-ragu, tidak berani membuat keputusan. Aku ini keturunan abdi dalem. Jadi yang bisa aku lakukan hanya satu, mengabdi. Menjalankan tugasku sebaik-baiknya. Tetapi untuk hidup di zaman kemerdekaan, ternyata itu tidak cukup. Jadi Bapak sedih. Kamu mengerti jmaksud Bapak? Anak-anak Pak Slamet mengangguk. Syukurlah kalau masih ada kalian yang mengerti. Tapi lihat sekarang apa yang terjadi. Menjadi pahlawan pun bukan kebanggaan lagi. Karena sudah terlalu banyak pahlawan gadungan. Pahlawan kesiangan. Pahlawan karbitan. Kamu dengar itu di Bali, katanya ada orang yang resmi diangkat pahlawan, tapi sudah dibantah lagi oleh para pejuang lain yang mengetahui, bahwa yang bersangkutan bukan pahlawan. Dan periksa siapa-siapa sekarang yang dimakamkan di makam pahlawan. Tidak semuanya adalah orang-orang yang setara kelasnya dengan Pak Dirman. Makanya aku mengerti mengapa Bung Karno, Bung Hatta dan Pak Harto memilih dimakamkan di luar. Kamu mengerti sekarang maksudku? Anak-anak tak menjawab. Jadi sebenarnya dengan menolak dimakamkan di taman pahlawan, aku sebenarnya ingtin memberikan kebanggaan kepada kalian semua. Kepada ibu kamu, kepada keluarga besar kita. Biar orang-orang itu melihat, tidak semua orang sudah jatuh moralnya dan berebut keuntungdan dan kehormatan. Masih ada Bapakmu ini, dengan segala bintang jasa, penghormatan dan pengabdian jiwa-ragaku yang tanpa pamrih dalam mengabdi negara, kok masih mampu menolak kehormatan

tinggi untuk diabadikan di makam pahlawan. Jadi dengan tindakanku ini sebenarnya Bapak bukannya ingin memangkas kebanggaan kalian. Tidak! Tetapi justru menambah. Media massa nanti pasti akan heboh. Semua orang akan memuji. Lihat itu Pak Slamet, masih murni dan jujur sementara orang lain sudah tidak bisa dipercaya lagi. Begitu maksudku. Kalian paham? Anak-anak mengangguk. Aku tidak perlu disebut pahlawan atau tidak. Tidak diabadikan di makam pahlawan pun aku sudah pahlawan. Untuk apa terlalu banyak pahlawan bikin sejarah sumpek saja. Yang kita perlukan sekarang adalah perbuatan kepahlawanan. Ya kan?!! Anak-anak diam seribu bahasa. Tetapi bukan lantaran menyimak. Karena salah satu di antaranya diam-diam sudah sempat menyelidiki. Ternyata memang tidak ada kapling untuk Pak Slamet di Taman Pahlawan.

1 Komentar Ditulis pada cerpen Surga


Posted on29 Januari 2008by Putu Wijaya | Tinggalkan Komentar Pemakaman Jendral Besar Soeharto, bekas presiden Indonesia selama 32 tahun, berlangsung spektakuler. Seperti layaknya pemakaman orang penting dan kehilangan besar negara mengutip yang dinyatakan oleh beberapa petinggi mancanegara upacara yang dihadiri 2000 orang itu menjadi lembar terakhir almarhum yang sempurna. Semua presiden Indonesia kalau meninggal pemakamannya harus seperti ini,kata Amat selesai menonton pandangan mata peristiwa itu di layar televisi. Apakah upacara pemakaman akan menjadi jaminan almarhum akan masuk surga? tanya Ami menggoda. Amat tertegun. Maksudmu siapa? Pak Harto? Ami mengulang pertanyaannya. Apakah upacara menjamin perjalanan almarhum, siapa saja, sampai ke tempat yang semestinya di sana? O kalau itu, jawabnya, tidak. Upacara di dunia ini hanya usaha kita untuk menempatkan almarhum sebaik-baiknya di dunia. Di sana, urusan di sana. Kita tidak mungkin ikut campur. Tapi sudah pasti semua almarhum akan mendapat tempat yang semestinya. Tidak akan mungkin bisa terjadi salah kamar. Besar kecil upakara, tidak menjadi ukuran. Karma almarhum adalah ukurannya. Dan urusan karma Bu Amat memotong. Bapak ini suka bertele-tele. Pak Harto itu akan masuk surga atau tidak? Itu pertanyaan anakmu! Ya kan Ami? Ami tertawa. Bukan Bu, jangan salah sangka. Ami tidak menanyakan itu. Dia hanya ingin mengatakan bahwa upacara itu tidak menjamin apa-apa. Dan aku menegaskan, karma yang akan menjadi ukuran. Jadi . Jadi masuk surga atau tidak? Ya tidak tahu, itu kan urusan di sana. Bu Amat kecewa. Bapak ini selalu mutar-mutar kalau diajak ngomong. Bilang ya atau tidak apa susahnya? Ya atau tidak? Masuk surga atau tidak? Amat tertegun, lalu menjawab lirih. Aku tidak tahu. Ya sudah kalau tidak tahu, jawab tidak tahu, tidak usah ke sana-ke mari! Amat tak menjawab. Setelah istrinya masuk kamar lagi, ia baru menoleh paa Ami. Ami, di dalam pewayangan diceritakan, setelah perang Bharatayudha, ternyata Pandawa Lima yang selalu kita anggap tempatnya di kanan mewakili kebaikan, tidak masuk surga semua. Hanya Yudhistira yang masuk serta diikuti oleh seekor anjing. Jadi aturan di sana dengan di sini itu memang lain sama sekali. Kita hanya bisa menebak-nebak dan berusaha. Yak kan? Ami berpikir. Kenapa Bapak gugup waktu Ibu nanya Pak Harto masuk surga atau tidak?

Ya karena aku tidak tahu. Bohong! Amat terkejut, tetapi kemudian senyum. Betul. Sebenarnya aku punya pendapat. Hanya saja belum tentu pendapatku itu benar. Apa? Menurutku Pak Harto akan masuk surga. Ami kaget. O ya? Dengan segala karmanya itu almarhum akan masuk surga? Kenapa? Karena begitulah pendapatku. Jadi Bapak mendukung Pak Harto? Aku tidak bilang begitu. Aku hanya bilang beliau akan masuk surga. Kenapa kamu jadi marah kalau Bapak bilang almarhum akan masuk surga? Karena itu tidak adil! Ami langsung bangun, lalu masuk ke kamarnya. Ia menutup pintu keras-keras, sehingga Bu Amat kaget, lalu keluar. Ada apa Pak? Anakmu marah-marah lagi! Kenapa? Karena aku bilang Pak Harto akan masuk surga. Bu Amat yang sekarang tercengang. Kenapa? Apanya yang kenapa? Kenapa Pak Harto akan masuk surga? Amat tertawa. Kenapa tidak? Bu Amat tercengang. Dia lalu masuk kembali ke dalam kamar dan mengunci pintu. Amat hanya tertawa. Begitulah kita di dunia ini,kata Amat kemudian ngungsi ke pos keamanan bergabung dengan para petugas , karena tidak dibukakan pintu kamar, Kita lupa, jangankan dunia sana, yang ada di dunia ini saja, tidak semuanya kita ketahui. Kok mau bertengkar tentang apa yang terjadi di sana. Apa yang di sana akan berubah kalau, kita memenangkan pertengkaran di sini? Omong kosong! Sudahlah percaya saja, yang di sana nanti pasti akan adil seadil-adilnya. Pasti tepat. Nggak usah berusaha untuk main sogok segala! Itu kan kebiasaan kita di sini saja, kalau mau cari jabatan! Besar umpannya besar dapatnya! Kecil umpannya, kecil ikannya!, sambung para petugas spontan, meskipun tidak tahu apa yang sebenarnya dibicarakan Amat. Lha ya nggak?? Memangnya mancing!! Para petugas ketawa. Jadi sebaiknya bagaimana Pak Amat? Ya sudah, yang tak perlu dipikirkan jangan dibicarakan, yang tidak usah dibahas jangan dipertengkarkan! Kerja saja yang santai! Setuju pak Amat. Harus setuju. Mau betengkar bagaimana lagi, kita sama-sama tidak tahu, surga itu di mana?! Para petugas berhenti ketawa dan salah seorang menjawab sambil lalu. Kata orang tua saya, surga itu di dalam hati orang lain, Pak. Amat terkejut. Orang lain bagaimana? Bila kita bisa membahagiakan orang lain, itu surga.

Leave a comment Ditulis pada cerpen Pemakaman Bekas Presiden


Posted on28 Januari 2008by Putu Wijaya | Tinggalkan Komentar Opini televisi di Singapura cenderung menganggap almarhum Jendral Soeharto, presiden Indonesia selama 32 tahun, adalah bapak pembangunan. Masyarakat memaafkan apa yang sudah diperbuat oleh almarhum, tetapi mungkin tidak akan bisa melupakannya,komentar seorang

pengamat. Penghargaan atas jasa almarhum yang dianggap telah membangun ekonomi Indonesia yang terpuruk di bawah presiden Soekarno, dikabarkan datang dari pejabat di Philipina, Malaysia, Amerika, Jepang dan Singapura sendiri. Pak Harto didudukkan sebagai orang penting dan kepergiannya adalah sebuah kehilangan yang besar. Almarhum dianggap membawa perkembangan baru yang memberikan iklim lain pada Indonesia yang sebelumnya berkonfrontasi dengan Malaysia. Juga disebut-sebut jasa almarhum sebagai salah seorang pelopor terbentuknya ASEAN. Bung Franki yang sedang hendak menonton perayaan tahun baru China di Singapura, tertegun di depan pusat perbelanjaan Takasimaya, Orchard Street. Entah siapa yang mengirim, di HPnya muncul SMS: Tolak pengibaran bendera setengah tiang dan penyiaran televisi berkelebihan. Sebarkan! Begitu selesai membaca, SMS lain muncul lagi dari Jakarta. Manusia Indonesia pemaaf. Semua saluran televisi merasa tiba-tiba berada saat Orde Baru. Kini bahkan almarhum lebih hidup dan lebih berkuasa lagi. Franki cepat-cepat kembali ke kamar hotelnya. Lalu menonton upacara pemakaman almarhum di Astana Giri Bangun Solo, disaksikan oleh 2000 tamu-tamu. Di antaranya presiden SBY, wakil presiden, para pejabat dan tamu-tamu VIP dari mancanegara. Upacara berlangsung megah, layaknya kepergian seorang raja. Memang Channel News Asia sudah sejak kemaren mengikuti dengan cermat dan mendetail seluruh peristiwa. Komentar dari orang awam pun ditampilkan. Rata-rata mengemukakan bahwa almarhum adalah orang baik. Almarhum telah membangun ekonomi Indonesia. Bisa jadi ada cacadnya, tetapi kalau mau obyektif, keadaan sesudah almarhum memegang tapuk pemerintahan pun tidak lebih sehat,kata seorang warga Jakarta di kantornya. Walhasil, terasa positip. Franki termenung. Ia jadi teringat ketika bapaknya sendiri meninggal. Sedikit sekali yang mengantar. Keluarganya pun tak lengkap. Upacara berlangsung dengan sederhana bahkan nyaris papa. Orang mengucapkan duka setengah basa-basi. Tak ada yang merasa sedih, karena yang meninggal dianggap sudah waktunya pergi. Padahal Bapakmu itu sebenarnya belum tua. Pensiun pun belum,kata Ibu Franki, Tak pernah merecoki orang. Apa tugas-tugasnya dilaksanakan dengan baik. Tidak curang dalam soal uang. Hanya saja ia memang agak nakal, karena suka perempuan. Tapi ibu memaafkannya, karena memang itulah kelemahannya. Kemalangan datang beruntun setelah ayah Franky tak ada. Seseorang datang mengaku rumah yang ditempati keluarga Franky adalah milik mereka. Dulu itu dipinjam oleh almarhum. Karena sekarang almarhum sudah tak ada, pemiliknya akan mempergunakan sendiri. Pernyataan itu disertai dengan surat-surat lengkap, dikawal oleh RT dan RW serta petugas, terpaksa Franky dan ibunya pindah. Apakah ayah bisa masuk surga setelah meninggalkan kita dalam keadaan tuna wisma seperti ini?tanya Franky kalau lagi iseng. Ibunya hanya menjawab. Bapakmu sendiri pun mungkin menolak masuk surga, karena dia tahu dia sudah mentelantarkan kita seperti ini. Padahal dulu janjinya akan membahagiakan kita. Ibu sendiri tidak mendoakan supaya Bapak masuk surga. Tidak. Yang Ada Di Atas Sana pasti akan memberikan tempat yang semestinya sesuai dengan perilaku bapakmu. Kalau bapakmu karmanya memang buruk, untuk apa mendapat tempat yang baik. Pasti tempat baik hanya untuk orang yang baik. Dan kalau bapakmu memang baik, tak akan mungkin salah kamar di tempatkan di neraka. Franky melihat kembali ke layar kaca. Upacara sudah berakhir. Bunga telah dtaburkan dan tamutamu VIP sudah mulai pulang. Hanya rakyat yang masih ada di jalanan. Lalu Franky mengambil HP dan menjawab SMS liar itu. Semoga almarhum mendapat tempat yang semestinya di sana. Tapi setelah itu, ia tidak tahu bagaimana menjawab anjuran untuk menolak pengibaran bendera dan penyiaran tv yang berlebihan. Pasti pengirim SMS ini tak suka kalau almarhum terlalu dibesar-besarkan, sementara banyak hal yang masih perlu dijelaskan, kata Franki kepada istrinya, inilah demokrasi. Kita boleh dan bebas berpendapat. Asal kita kemudian tidak memaksakan apa yang kita inginkan itu terjadi. Karena kehendak orang banyak yang beralku. Kalau kalah suara, meskipun keki, mesti berani menerima, jangan lalu ngamuk dan memaksakan mau menang. Harus berjuang mengumpulkan lebih banyak

sauara , jangan maksa begini! Istri Franki melotot. Maksud Abang apa? SMS ini seperti orang marah dan memberi aku perintah! Itu karena Abang tidak setuju! Bukan! Aku cuma tidak suka caranya. Coba baca, masak dia bilang: sebarkan! Dia pikir, makin keras berteriak makin benar! Itulah jadinya pendidikan yang sudah ditanamkan oleh kekuasaan otoriter di masa lalu. Kita semua jadi terlatih jadi anarkhis! Mau menang sendiri! Bagaimana bisa belajar demokrasi kalau mau menang sendiri! Mau apa kalau nyatanya rakyat lebih banyak mencintai almarhum? Aku tidak mau menang sendiri, aku hanya menganjurkan! Abang saja yang terlalu sensitif! Franki terkejut. O jadi yang menulis SMS itu kamu? Istri Franki melotot. Kenapa jadi menuduh begitu? Habis kamu membela! Siapa yang membela? Membela apa? Kamu setuju upacara pemakaman almarhum begitu dibesar-besarkan, sampai tujuh hari bendera berkabung? Tapi itu layaknya untuk seorang bekas presiden! Semua p;residen kita yang mana pun harus begitu caranya dimakamkan! Kalau tidak, berarti dosa!

Leave a comment Ditulis pada catatan Kebun


Posted on14 Januari 2008by Putu Wijaya | 7 Komentar Dengan berapi-api Ami pulang mau merombak lapangan badminton di belakang rumah menjadi kebun.. Dalam rangka memerangi pemanasan global. Ibunya setuju. Untuk apa lapangan badminton, dipakai main juga tidak pernah. Mau jadi juara All England, hah! Cina tidak akan bisa dikalahkan lagi! katanya sinis. Kita harus mendukung program melawan pemanasan global, Pak, dengan cara menghijaukan rumah kita!kata Ami sambil mencari-cari cangkul. Amat marah sekali. Tetapi ia hanya bisa melakukannya di dalam hati. Kalau Bu Amat sudah mendukung, apa pun suaranya akan tenggelam. Istrinya memang sudah lama benci pada lapangan badminton yang sering dipakai oleh anak-anak tetangga main bola. Bola suka terlepas masuk ke dapur menghantam barang pecah belah. Padahal maksud dari lapangan badminton itu adalahn untuk bersosialisasi pada tetangga,kata Amat berkali-kali, Sebelum kita punya uang untuk membangun rumah buat Ami, ya kita manfaatkan jadi tempat main tetangga karena lingkungan kita ini memang sudah tidak punya tempat olahraga bersama. Dengan berolahraga bersama-sama, tidak berarti kita mau jadi juara All England tapi belajar hidup bermasyarakat ! Ayo Pak! Bantu Ami! Amat terpaksa turun tangan. Dengan berat ia mengayunkan pacul. Sementara Ami mencabut tiang pancang net. Bu Amat pergi ke tetangga minta beberapa potong cabang kembang sepatu untuk memulai penghijauan itu. Tak sampai satu jam, setelah keringat membasah ketiak dan jidat Ami, wanita muda itu menegak soft drink terlalu rakus. Ia terduduk kelelahan. Mukanya nampak pucat karena tidak biasa kerja berat. Bu Amat sendiri setelah menancapkan dua tiga batang cabang kembang sepatu, lalu masuk ke dapur. Katanya mau menyiapkan masakan istimewa bagi Amat yang sedang melawan pemanasan global. Lalu beberapa rekan mahasiswi Ami muncul dan mengajak Ami ke kampus. Akhirnya tinggal Amat dan paculnya. Dengan sedih Amat memandang lapangan yang sudah membuatnya dekat dengan para pemuda. Lapangan itu telah berjasa mempertemukan ia dengan anak-anak muda. Lapangan itu jadi tempat gaul yang sering dilupakan dalam pembangunan. Segala sesuatu yang terjadi di lingkungan jadi salintg diketahui dengan cepat. Sekarang semuanya itu akan berakhir.

mau dibangun berapa tingkat Pak Amat? sindir seorang tetangga. Amat hanya tersenyum. Jadi mau melawan pemanasan global? tanya seorang anak muda. Sebelum Amat menjawan, anak muda itu mengangguk. Bagus Pak. Kita sekarang memang sudah kehilangan kecintaan kita pada alam. Semua orang kalau punya uang pasti mau membangun rumah. Jadinya kita sesak tidak punya paru-paru untuk bernafas. Mudah-mudahan yang lain-lain mengikuti jejak Pak Amat. Anak muda yang lain, memandang dengan kecewa. Yah, Pak Amat, padahal minggu depan rencananya mau minjam tempat untuk pertandingan antar wilayah merebut juara 2008. Sekarang batal dah! Amat tak berusaha menanggapi. Ia hanya menjadi tambah sedih. Namun ia terus menlanjutkan mencangkul, karena sudah terlanjur. Sampai sore, ia hanya mampu mencangkul lapangan itu sekitar seperlimanya. Terpaksa dihentikan karena pinggangnya sakit. Malam hari Amat merintih di tempat tidur. Lebih banyak karena kecewa. Ia tak punya suara lagi di rumah. Kemauan anak dan istrinyalah yang selalu jalan. Ia memang suka mengalah dan memang lebih baik mengalah. Tetapi heran juga, ketika ia mengalah, anak-istrinya bukannya tahu diri, malahan tambah menjajah. Satu-satunya yang bisa aku lakukan untuk melawan ini adalah mengalahkan diriku sendiri. Penyakit tidak hanya dilawan dengan obat, tetapi sekarang bisa diusir dengan menikmati penyakit itu. Jadi kenapa aku harus mundur dan menyiksa perasaanku sendiri, padahal aku sudah terlanjur mencangkul? Aku harus menjadikan lapangan badminton itu kebun, kebun yang indah supaya dipuji oleh semua orang bahwa keluarga Amat ini sadar anti pada pemanasan global! kata Amat dalam hati. Dengan pikiran itu Amat baru bisa tidur pulas. Esoknya, pagi-pagi Amat sudah bangun. Ia langsung memakai celana pendek dan singlet. Kemudian dengan semangat yang luar biasa ia meneruskan mencangkul. Heran sekali, kalau kemaren dalam satu hari ia hanya mampu mencangkul seperlima lapangan, sekarang dalam tempo dua jam, hampir separuh lapangan sudah tergarap. Stop!!!! tiba-tiba teriak Ami yang nampaknya bangun kesiangan. Amat pura-pura tak mendengar, malah menambah cepat ayunan cangkulnya. Stopppp! teriak Ami lebih keras sambil menghampiri bapaknya.. Sudah, sudah Pak, jadi rusak dah lapangannya! Amat berhenti dann tercengang. Apa? Jadi rusak lapangannya! Memang dirusak, kan mau bikin kebuh untuk melawan pemanasan global! Itu nanti saja! Nanti bagaimana? Apa artinya kebun seupil beginji, kalau Amerika, Jepang, Australia dan Kanada sendiri tidak peduli. Dia yang bikin rusak ozon, kita yang disuruh kerja. Sudah tidak usah! Minggu depan lapangan ini mau dipinjam untuk seleksi cari juara 2008! Apa? Sebaiknya Bapak kembalikan lagi fungsinya! Pak Amat bengong. Bapak kembalikan lagi jadi lapangan, sebab Ami sudah bilang oke sama mereka. Kalau tidak, kita bisa malu! Amat takjub. Dia tidak bisa ngomong. Tapi mukanya menahan marah. Lalu datang istrinya. Sudah Pak, tidak apa. Kembalikan saja jadi lapangan badminton. Tentang pemanasan global, kita kan bisa menanam yang hijau-hijau di dalam pot. Itu lihat aku sudah mulai! Bu Amat menunjuk pada beberapa pot yang ditanami dengan cabe, tomat, seledri dan kembang sepatu yang batangnya kemaren diminta dari tetangga. Bapak balikkan saja lagi jadi lapangan badminton. Lagipula sebenarnya penghijauan yang lebih penting itu bukan di halaman kita, tetapi di d alam pikiran kita. Kalau pikiran kita hijau, dengan sendirinya segala tindakan kita akan ikut hijau memerangi pemanasan global! Amat melempar pacul, lalu istirahat. Sehariann ia termenung. Malam hari ketika Ami pulang dari kampus dan bertanya apa lapangan badminton sudah dibalikkan fungsinya lagi, Amat mengangguk.

Ya sudah. Dalam pikiranku kebun yang gagal itu sudah aku bangun lagi jadi lapangan badminton. Silakan main di situ dengan sepuasnya!

7 Komentar Ditulis pada cerpen Catatan Dewan Juri FTJ 07


Posted on11 Januari 2008by Putu Wijaya | 6 Komentar Dewan Juri FTJ yang terdiri dari: Putu Wijaya (ketua merangkap anggota), Jajang C Noer, Radhar Panca Dahana, Danarto. Seno Joko Suyono, mencatat beberapa hal penting dalam FTJ 07 yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan FTJ mendatang. Penyelenggaraan FTJ yang kembali dikelola oleh DKJ sejak 2006, telah menunjukkan penampakan yang menggembirakan. Penataan panggung, pengemasan tontonan telah mengalami kemajuan pesat. Demikian juga peningkatan hadiah yang dilambangkan dengan bentuk insentif rupiah. Semangat berkompetisi untuk festival yang telah berusia 35 tahun ini, kembali berkobar, sehingga jumlah peserta babak penyisihan yang sekitar 50-an meningkat menjadi 80-an. Memang masih jauh dari 141 grup ketika pertama kali festival dibuka oleh almarhum Wahyu Sihombing. Namun perkembangan tersebut menunjukkan perhatian dan kepercayaan telah kembali diberikan oleh masyarakat teater Jakarta. Kemajuan itu terjadi karena pihak penyelenggara (DKJ), baik steering committee maupun pelaksana produksi (project officer) di lapangan, nampak menyelenggarakannya dengan sungguhsungguh. Pedoman FTJ pun sudah mulai disempurnakan, disesuaikan dengan kebutuhan dan masih akan terus dikembangkan sampai benar-benar memenuhi hasrat para pekerja teater. Yang pasti, dalam babak final yang berlangsung di Teater Studio TIM dan Teater Luwes IKJ, antara tanggal 21 s/d 30 Desember, kendati hujan dan banjir tak henti-hentinya menggempur Jakarta, tetapi gedung pertunjukan selalu dipadati oleh penonton setiap hari. Bahkan pada hari terakhir penampilan banyak penonton berdiri dari awal sampai selesai karena tidak kebagian tempat duduk. Bahwa secara umum kualitas pencapaian artistik yang sudah terjadi di tahun 2006 berbeda dengan apa yang kini ada dalam FTJ 2007, adalah sebuah kenyataan yang harus direnungkan secara hatihati. Grup yang pernah muncul membawa janji ada yang tenggelam. Kelompok yang sudah hadir gemilang, ternyata tidak lagi tampil dengan seluruh taring dan darahnya. Ada apa? Kendati itu sebuah dinamika dari kehidupan yang panjang, tetapi tak urung menjadi tantangan. Pedoman FTJ yang sudah disempurnakan, akan memungkinkan peserta luar kota bahkan mancanegara ikut bertarung. Bersediakah pentolan-pentolan teater ibukota bila piala kemenangan akan direbut peserta luar Jakarta? Walhasil Jakarta mesti beringas, para pemenang di babak penyisihan yang mendapat tiket ke final, harus bertekad untuk tampil maksimal, sehingga piala-pila terbaik untuk semua katagori yang dikompetisikan tidak sampai diboyong keluar Jakarta. Berikut ini adalah pengamatan para juri dari kacamatanya masing-masing yang diharapkan akan menjadi bahan berjuang mengangkat festival di tahun depan. DANARTO: Lampu kuning bagi teater-teater yang mementaskan naskah absurd, agar tidak terkecoh dan meleset dalam melakukan penafsiran naskah. Acungan jari jempol bagi grup yang mementaskan naskah realis karena nampak memiliki kepercayaan diri yang kuat dan pertunjukannya sukses. Lampu merah bagi Komite Teater DKJ, agar segera membuat panduan yang diperlukan bagi naskah-naskah absurd yang hendak ditampilkan dalam FTJ 2008 JAJANG C NOER: Bila sutradara kurang mendalami lakon, tidak menguasai adegan dan tidak berusaha mencari apa yang bersembunyi di balik teks, para pemain akan melakukan kesalahan-kesalahan yang sudah sering terjadi. Mereka tidak akan tampil dengan penghayatan pada perannya, sehingga dialog keluar sebagai kata-kata yang tak bermakna. Yang akan tersaji hanya bentuk semata, gesture yang salah, ekspressi yang datar, phrashing kalimat dan kata yang keliru dan bloking yang tidak disertai dengan motivasi tetapi asal bergerak.

Akibatnya yang terparah adalah vokal menjadi buruk, artikulasi kata-kata tidak jelas, volume suara tidak memadai, keras bahkan berteriak namun tidak jelas. Pemahaman terhadap naskah, apakah itu naskah realis atau non realis, apakah itu komedi atau tragedi, akan membawa sutradara pada interpretasi dan konsep yang sesuai dengan benang merah naskah yang menjamin berhasilnya pementasan. SENO: Ada beberapa grup yang menunjukkan keberanian untuk melakukan penafsiran panggung. Misalnya dalam lakon Macbeth dari Teater Amoeba atau Merindukan Selamat Tinggal oleh teater Gonjang-Ganjing. Realisme ternyata tak pernah mati. Ada grup-grup yang bisa merawat dan menghidupkan naskahnaskah lama dengan interpretasi yang mendalam dan baik. RADHAR PANCA DAHANA: Elemen-elemen yang paling dasar dari sebuah kerja teater, dramaturgi dan mise-en scene penyutradaraan, yang antara lain menyangkut pemilihan naskah, pilihan bentuk artistik, pola pemeranan, penerjemahan set panggung hingga soal fungsi musik, sangat menentukan hasil akhir pementasan. Kalau hal-hal tersebut tidak dicermati dan dikuasai, pertunjukan akan kehilangan tidak hanya greget, kebulatan pesan tapi konsistensi dan koherensi, dua hal yang sangat vital dari sebuah karya seni. Untuk menghindarkan kesan stagnan di dalam FTJ diperlukan adanya workshop seputar dasardasar dramaturgi yang berkesinambungan. Untuk itu diperlukan kerjasama yang baik dari kalangan dalam maupun luar teater. PUTU WIJAYA: Tradisi Baru yang bangkit setelah satu dekade berdirinya TIM, membuat pemetaan teater modern Indonesia tidak lagi ke Barat, tetapi pada puncak-puncak karya yang telah muncul di TIM. Barat tetap menjadi referensi, namun dasar-dasar penilaian selalu dikembalikan kepada akar kearifan lokal dalam tradisi teater Indonesia yang begitu kaya. Keharusan untuk mementaskan naskah hasil sayembara DKJ di masa lalu, menyebabkan para peserta final mendapat beban yang relatif sama, yang menguji kemampuan mereka untuk mengekspresikan apa yang kini 35 tahun kemudian menjadi tema festival: realitas dan panggung pertunjukan. Tetapi memasuki 90-an sampai kini, keinginan untuk kembali pada naskah-naskah Barat yang tanpa disertai oleh kebutuhan yang sungguh-sungguh, apalagi tidak didukung oleh kekuatan kelompok, dapat mengganggu pencapaian di samping juga akan mengembalikan teater Indonesia pada referensi Barat, pada peta teater Barat Dalam keadaan seperti itu, peran sutradara amat penting. Kelompok-kelompok teater di Indonesia umumnya identik dengan sutradaranya. Mulai dari memahami kelemahan dan kekuatan kelompoknya, sampai pada memilih naskah, kemudian menganalisa naskah dan menyusun konsepnya, membuat fungsi sutradara bukan hanya sebagai pelatih pementasan, tetapi juga pemimpin kelompok. Bila mengalami kesulitan yang tidak bisa diatasinya sendiri, seorang sutradara bisa minta bantuan seorang dramaturg (ahli drama) yang bisa memberinya masukan, sehingga tidak melakukan kesalahan fatal dalam menafsirkan naskah. Di sudut lain, pembuatan naskah adalah bidang yang memerlukan perhatian khusus. Tidak semua kelompok memiliki seorang penulis. Bahkan tidak semua penulis bisa menyusun lakon, apalagi membuat naskah yang bagus dan tepat untuk dimainkan kelompoknya. Bila dipaksakan akibatnya akan merugikan pementasan. Untuk itu tema yang telah dipilih oleh DKJ sebagai bendera festival dalam setiap kali festival, benar-benar harus diikuti. Dan naskah yang sudah dibawakan dalam Babak Penyisihan ada baiknya dimungkinkan untuk dimainkan sampai ke final, kecuali kalau finalis tersebut memang ingin mengganti dengan naskah lain, asal tetap sesuai dengan tema festival. Demikian catatan kami para juri. Namun di atas semua catatan-catatan itu, kami bersyukur bahwa FTJ telah berhasil dilangsungkan dengan meriah dan menelorkan pemenang yang tidak berbeda kualitasnya dengan tahun lalu. Selamat berjuang, sampai ketemu lagi dalam pertarungan panggung yang lebih seru di tahun 2008. Jakarta, 30 Desember 2007 DEWAN JURI FTJ 07

6 Komentar Ditulis pada catatan Di-tag FTJ Dokter


Posted on9 Januari 2008by Putu Wijaya | 7 Komentar Pengantar Wibisono Sastrodiwiryo: Cerpen ini dibawakan dalam monolog oleh Putu Wijaya pada malam Anugrah FTI Award

Jajang C. Noer Seno Joko Suyono Radhar Panca Dahana Danarto Putu Wijaya

2007
Banyak yang tidak bisa diatasi oleh ilmu kedokteran. Bagaimana pembuahan di luar rahim, dalam bayi tabung, dipastikan akan menumbuhkan janin ketika dicangkok ke rahim ibu? Virus influenza, HIV, flue burung sampai sekarang masih dicari obatnya. Di luar itu masih ada musuh bayangan yang ampuh: dukun. Seperti kata Dokter John Manansang yang malang-melintang di belantara Boven Digul, masyarakat pedalaman cenderung menunda pergi ke dokter, karena lebih dulu mau konsultasi ke dukun. Kalau yang sakit sudah sekarat, baru dibawa ke Puskesmas. Biasanya pasien parah langsung diinfus, sehingga ketika maut tiba, masyarakat cenderung melihan jarum infuslah yang sudah membunuh. Sulit menjelaskan kalau sudah ajal, tanpa diinfus atau tidur di hotel bintang lima, manusia tetap mati. Pada suatu malam, saya dijemput untuk mengobati orang yang menurut dukun dapat kiriman ular berbisa dalam perutnya. Ketika sampai di Puskesmas, saya lihat tubuh orang itu sudah kaku. Dia pasti sudah meninggal di rumahnya. Tetapi keluarganya memaksa saya untuk mengeluarkan ular itu. Pak Dokter harus tolong kami. Dia itu kepala keluarga. Hidup-mati kami tergantung pada dia! Tapi sudah terlambat. Terlambat bagaimana, kami sudah bawa ke mari pakai taksi! Uang kami sudah banyak keluar! Tapi sebelum dibawa ke mari nampaknya dia sudah tidak ada! Itu tidak mungkin! Setiap hari lima orang dukun kami bergantian menjaga dia Tidak mungkin roh jahat itu bisa masuk lagi. Pak Dokter mesti keluarkan ular itu dari perutnya! Kalau toh itu benar ada ular dikirim ke perutnya, tidak ada gunanya, sebab orangnya sudah meninggal. Makanya keluarkan ular itu cepat, Pak Dokter jangan ngomong terus! Kami memang miskin, tidak bisa bayar, tapi ini kewajiban Dokter mesti tolong kita punya kepala keluarga! Jangan bikin kami tambah susah Dokter! Mentang-mentang kami orang kecil! Cepat bertindak! Saya disumpah untuk menjalankan praktek sesuai dengan ethik kedokteran. Tetapi di dalam hutan, itu tidak berlaku. Saya bisa dibunuh kalau tidak melakukan apa yang mereka minta, karena saya dokter, saya dianggap wajib bisa menyembuhkan orang sakit. Disaksikan keluarganya, saya bedah mayat itu. Saya buktikan tidak ada ular di perutnya seperti kata dukun. Dia mati karena kurang gizi dan salah menegak ramu-ramuan dukun. Tetapi meskipun sudah melihat kenyataan dengan mata kepalanya sendiri, keluarganya tidak percaya. Mereka malah menuduh saya yang sudah terlambat bertindak. Kalau pak Dokter langsung bertindak tadi, tidak akan terlambat. Terlambat bagaimana?! Kata dukun, ular itu sudah masuk ke dalam tulang-sumsumnya bersatu dengan darah. Di bawa ke China pun dia akan tetap mati, apalagi hanya ke Puskesmas yang fasilitasnya brengsek ini. Dokter tidak bertanggungjawab! Dokter harus bertindak!

Bertindak bagaimana lagi? Paling banter saya bisa menulis surat kematian pasien supaya bisa dibawa pulang! Tidak bisa! Kita tidak bisa bawa dia pulang dalam keadaan sudah jadi mayat. Dia harus terus hidup! Dia kita bawa ke mari untuk maksud supaya dia bisa sembuh. Masak Dokter mau kirim lagi dia pulang supaya jadi mayat. Kasihan keluarganya, Dokter! Dia itu andalan hidup keluarganya, tahu?! Dia tidak boleh mati! Tapi ajal itu di tangan Tuhan, kita hanya bisa berusaha! Makanya kau harus berusaha terus Dokter! Berusaha bagaimana lagi? Panggil! Kejar sekarang! Kejar ke mana? Ayo kejar! Kata dukun dia belum jauh. Paling berapa kilometer. Kalau Dokter cepat bertindak, tidak cuma ngobrol, dia pasri bisa disusul! Disusul? Ah, kau lambat sekali. Beta bilang kejar! Kejar! Mereka mendorong saya masuk ke dalam kamar, memaksa saya menarik orang mati itu kembali dari kematiannya. Mereka bahkan bilang siap membantu saya dengan senjata kalau nantinya harus berkelahi. Kami bisa panggil kawan-kawan yang lain sekarang untuk bantu. Kami juga punya saudara yang jadi perwira militer. Kita bisa pinjam senjata kalau memang perlu, asal habis jam kantor! Ayo Pak Dokter, jangan terlalu banyak diskusi, nanti terlambat lagi! Kau ini dokter atau mantri?! Saya terpaksa kembali ke dekat mayat itu. Sepanjang malam mereka berjaga di sekitar Puskesmas dengan segala macam senjata siap tempur. Ada yang menangis, berdoa dan menyanyi. Dukun pun terus menjalankan upacara, mengeluarkan jampi-jampi agar roh yang mereka anggap sudah diculik suku lain itu pulang. Saya bingung. Saya duduk di sisi mayat kehabisan akal. Apa yang harus saya lakukan untuk keluar dari persoalan yang tidak menyangkut bidang kedokteran itu. Saya tidak mengerti kehidupan di alam gaib. Akhirnya saya tertidur juga karena terlalu capek. Pagi-pagi pintu digedor. Orang-orang itu berteriak-teriak tidak sabar, ingin tahu apa hasilnya. Tubuh yang meninggal pun sudah mulai berbau. Wajahnya meringis kesakitan, seakan-akan minta cepat-cepat dikuburkan. Waktu itu saya tidak berpikir lagi seperti seorang dokter sebagaimana yang saya pelajari di kampus. Saya terpaksa menjadi dukun. Saya rogoh saku, gaji yang saya hendak kirim ke rumah masih utuh. Lalu saya buka pintu. Bagaimana? Tenang! Tenang bagaimana? Kami tidak mau Dokter bilang sudah gagal! Saya sudah berusaha.. Dan hasilnya? Lumayan. Ah, apa itu itu artinya lumayan, kita orang tidak suka! Itu bahasa orang birokrat yang suka menipu. Bilang saja terus-terang, berhasil atau tidak? Berhasil. Mereka tercengang. Jadi dia hidup lagi? Bapak-bapak mau dia hidup lagi atau tidak? Sudah pasti kita mau dia orang hidup lagi. Itu maka kita bawa dia ke mari! Saya sudah mencoba. Terus hasilnya? Itu, kata saya menunjuk pada mayat. Semuanya melihat melewati tubuh saya ke arah mayat itu. Saya berikan ruang agar mereka lewat, tapi tidak ada yang mau. Bau mayat itu menyebabkan semuanya tertegun. Dukun sendiri malah mundur selangkah.. Mereka semua nampak bimbang. Kebimbangan itu justru membangkitkan keberanian saya. Saya mulai tahu apa yang harus dilakukan. Ayo! Orang-orang itu tambah ragu-ragu, tak percaya apa yang saya katakan. Tak percaya apa yang sedang mereka lihat.

Jadi dia hidup lagi? Saya mengangguk. Mereka curiga. Tapi tidak ada yang berani memeriksa.. Kalau dia hidup mengapa tidak bergerak? Dan mengapa bau? Tadi dia sudah hidup, sekarang sedang tidur. Tidur? Ya.. Tidur untuk selamanya. Apa?!!!! Tapi dia meninggalkan pesan. Pesan apaan!? Kita tidak perlu pesan, kita hanya mau supaya dia hidup lagi!!! Saya tidak peduli apa yang mereka katakan. Lalu saya mengulurkan amplop uang gaji itu. Kata dia sebelum tidur, berikan ini kepada istri, anak-anak dan keluargaku yang aku tinggalkan. Sampaikan kepada mereka, tenang semua, biarkan aku istirahat sekarang, karena aku sudah lelah sekali, puluhan tahun berjuang menghidupi keluarga, aku tidak sanggup lagi bekerja! Orang-orang itu terdiam. Mereka hanya memandang amplop yang saya berikan. Tapi kemudian dukun perlahan-lahan maju. Ia memperhatikan amplop yang saya tunjukkan. Diendus-endusnya dari jauh. Setelah mengucapkan mantera lalu ia mengulurkan japit untuk mengambilnya. Setelah merobek dan mengeluarkan isinya, ia menghitung. Bahkan sampai tiga kali. Kemudian ia melihat kepada orang-orang itu, lantas membagikan uang sambil menahan beberapa di tangannya. Orang-orang itu menerima uang tanpa menanyakan apa-apa. Seakan-akan itu memang sudah hak mereka. Setelah dukun mengeluarkan mantera, mereka lalu bergerak. Beberapa orang menyanyi, yang lain menghampiri mayat, lalu membawa yang meninggal itu dengan tertib keluar dari Puskesmas untuk dikuburkan. Saya sama sekali tidak ingin mengatakan, bahwa saya sudah berhasil membeli kesedihan mereka dengan uang. Tidak. Saya sama sekali tidak melihat persoalan itu dari kaca-mata orang kota yang sinis. Apalagi jumlah yang saya berikan juga tidak banyak. Saya hanya mencoba memahami itu sebagai akibat ulah saya yang berhasil berbicara, menyampaikan duka yang amat berat bagi mereka itu, dengan bahasa yang mereka pahami. Barangkali mereka senang karena saya tidak menyalahkan dukun. Puas karena saya tidak mencela mereka terlambat membawa sang sakit ke Puskesmas. Tidak melecehkan keberatan atau protes mereka pada nasib, karena yang meninggal memang benar-benar dibutuhkan oleh keluarganya sebagai tiang kehidupan. Mungkin juga mereka senang karena saya tidak mengabaikan perasaan-perasaan mereka, karena saya tidak menganggap kebenaran kota sayalah yang paling benar. Tapi setelah itu banyak perubahan yang terjadi. Saya jadi terseret ke dalam situasi yang membuat saya lebih gagap. Saya ternyata sudah mengayunkan langkah ke dunia yang sama sekali asing. Begitu kejeblos, saya langsung kelelap, lantaran saya sama sekali tidak siap. Sejak itu saya sering diminta untuk mengobati mayat. Profesi saya sebagai dokter yang harus berhadapan dengan orang yang mau bertahan hidup, berubah menjadi pengurus orang mati. Walhasil saya sudah menyalahi sumpah. Berkhianat dan berdosa kepada almamater saya. Tak jarang yang dibawa pada saya mayat dukun yang sebelum mati sudah berkali-kali wanti-wanti agar nanti dibawa ke Puskesmas. Kalau saya tolak, bisa jadi konflik, karena saya sudah terlanjur dipercaya. Saya sudah memulai dan membangun sesuatu, kalau saya runtuhkan lagi, saya akan berhadapan dengan kekecewaan dan bukan tidak mungkin kekerasan. Setiap kali mengobati mayat, saya tidak punya kiat lain kecuali saya harus merogoh saku, mengeluarkan duit. Mengulur semacam pelipur, atau apa sajalah namanya, untuk mentolerir duka yang tak bisa mereka elakkan. Akibatnya saya cepat sekali bangkrut. Barang-barang saya jual satu per satu sampai saya kehilangan segala-galanya. Termasuk cincin pemberian ibu saya. Sementara itu kondisi kesehatan di daerah terpencil tambah rawan. Frekuensi orang mati terus saja bertambah dan semuanya dibawa ke Puskesmas, minta agar saya mengobatinya. Pernah saya sampai berpikir itu sudah sampai pada tingkat pemerasan. Saya tidak percaya orangorang pedalaman itu sesungguhnya sebodoh itu. Itu bukan kebodohan lagi tetapi justru kecerdasan. Itu kiat yang dengan lihai menyembunyikan dirinya di balik keluguan. Strategi orang bodoh untuk membunuh lawan pintar yang lebih kuasa dengan halus. Pada suatu malam, muncul di Puskesmas mayat seorang kepala suku. Badannya penuh dengan luka parang. Kepalanya sudah putus dari tubuhnya. Rombongan pengantarnya banyak sekali.

Hampir seluruh suku ikut mengarak memenuhi halaman Puskesmas Kami berkelahi mempertahankan kehormatan kami dari serangan suku buas., kata putra kepala suku, Sebelum perang, Bapa sudah berpesan kalau terjadi apa-apa supaya dibawa ke mari. Tolong hidupkan Bapa kami, Dokter, karena kalau sampai dia mati, berarti kami kalah dan malu besar! Kami mempertaruhkan kehormatan seluruh warga kami! Saya termenung di depan mayat itu. Kepalanya bisa saya sambung, tapi ke mana saya cari ganti nyawanya yang hilang? Para pejuang suku itu berjaga-jaga di sekitar Puskesmas dengan senjatasenjata mereka. Banyak di antaranya yang terluka, tetapi mereka tidak peduli. Mereka hanya ingin kepala sukunya kembali hidup supaya pertempuran bisa dilanjutkan. Saya bingung. Tak ada duit sepeser pun lagi di kantong. Lebih dari itu, duit tak akan mungkin dapat menyenangkan hati suku kaya yang merasa dipermalukan itu. Saya benar-benar cemas. Saya kira karir saya sebagai dokter sudah tamat. Di samping itu akhir hidup saya juga nampak sudah tiba. Mereka pasti akan kecewa sekali, karena saya memang bukan dukun yang sebenarnya. Perasaan berdosa yang sejak lama sudah menekan, sekarang menghajar saya. Saya sudah berpurapura jadi dukun, agar bisa nyambung dengan masyarakat, tetapi ternyata tidak cukup. Saya dituntut menjadi dukun yang sebenarnya. Itu mustahil. Mestinya saya sudah cabut sejak kasus pertama. Semalam suntuk saya tidak bisa memejamkan mata. Subuh, pintu dibuka dan anak kepala suku beserta seluruh prajurinya yang berang itu menatap saya. Berhasil Dokter? Tubuh saya gemetar. Jangan kecewakan kami Dokter! Saya tidak berani menjawab. Kehormatan buat kami paling penting. Kami boleh kelaparan karena tidak dapat binatang perburuan, boleh mati karena wabah penyakit, boleh kocar-kacir karena kebakaran, gempa, banjir, longsor atau letusan gunung berapi, tapi jangan sampai kalah dan menanggung malu. Bapa orang kebal yang selalu menang dalam pertempuran . Dia tidak boleh mati karena senjata lawan. Kehormatan kami akan hilang selama-lamanya. Lebih baik kami musnah daripada menanggung malu karena kalah! Saya paham itu. Kalau begitu hidupkan lagi Bapa. Saya sudah berusaha. Kami tidak mau hanya usaha. Kami mau ada hasil! Tapi .. . Kalau satu hari tidak cukup, kami bisa tunggu. Bila perlu sebulan atau setahun kami bisa tunggu di sini, asal dia bisa hidup lagi. Bapa saya itu raja. Apa artinya orang-orang ini, kalau Bapa tidak ada? Ya itu saya juga mengerti sekali. Kapal tidak bisa jalan tanpa nakhoda! Makanya hidupkan lagi Bapaku. Otaknya rusak juga tidak apa, asal hidup. Bapa saya itu lambang. Kami semua ada karena dia hidup. Kalau dia mati, kami semua akan mati. Apa Dokter perlu nyawa pengganti? Apa? Sepuluh bahkan seratus orang dari kami sekarang juga mau menyerahkan nyawanya asal bisa menggantikan nyawa Bapa. Hidupkan dia sekarang Dokter! Darah tumpah itu bisa diganti dengan tranfusi, tapi nyawa tidak mungkin. Tapi kau Dokter kan?! Betul. Orang-orang lain mati sudah kau hidupkan, kenapa bapa kami tidak? Apa bedanya? Bapaku itu selalu cinta perdamaian. Dia cinta kami semua. Dia selalu menyanyikan lagu kebangsaan dan memimpin upacara bendera, tidak seperti orang-orang lain yang pura-pura saja cinta supaya dapat uang dari negara, tapi cintanya palsu. Kenapa orang yang berjuang seperti Bapa dibiarkan mati? Ayo Dokter! Saya tidak sanggup menjawab. Dokter mau biarkan aku punya Bapa mati? Tidak. Kalau begitu hidupkan dia sebab dia sangat mencintai negara! Mengapa orang-orang yang tidak

mencintai negara dibiarkan hidup tapi Bapaku yang berjuang untuk negara tidak? Tolong Dokter! Beliau sekarang akan meneruskan perjuangan dari dunia maya, supaya musuh dapat diberantas. Anak kepala suku itu kaget. Maksud Dokter Bapaku mati? Saya tidak mampu menjawab. Anak kepala suku itu sangat kcewa. Mukanya langsung keruh. Semua pengikutnya marah lalu berteriak-teriak histeris. Mereka melolong seperti binatang liar. Saya ketakutan. Para prajurit itu mengangkat senjata seperti hendak mencencang apa saja yang ada di Puskesmas. Semua pegawai meloncat lari menyelamatkan diri. Karena bingung saya mundur menghampiri meja. Dengan panik, di belakang punggung tangan saya meraba-raba mencari sesuatu untuk bertahan. Kalau saya harus mati, saya tidak mau mati terlalu konyol. Kalau kalah, kalahlah dengan indah dan gagah, pesan orang tua saya waktu kecil. Harapan saya ada gunting, pisau atau barang tajam lainnya, tidak terkabul. Di laci, tangan saya hanya menemukan copotan besi bendera mobil yang dikibarkan pada peringatan hari kemerdekaan. Saya genggam besi itu, lalu mencoba mengambil posisi bertahan. Saya bukan lagi dokter, saya penakut yang tiba-tiba begitu mencintai hidup walau betapa pun brengseknya. . Diam!!!! teriak anak kepala suku itu dengan suara menggeledek. Teriakannya membuat semua terdiam. Saya gemetar. Besi bendera itu terlepas, tetapi cepat saya gapai lagi, itulah satu-satunya pegangan saya. Anak kepala suku itu menghampiri saya, hangat nafasnya membuat saya tersiraf. Jangan tembak!!! Dengan gemetar saya tunjukkan tiang bendera itu. Anak Kepala Suku tertegun. Ia memperhatikan tiang bendera yang berisi merah-putih kecil yang sudah kumal. Tiba-tiba saya melihat peluang. Lalau entah darimana datangnya keberanian, saya berbisik. Pahlawan tidak pernah mati. Semangat berjuang tidak bisa mati! Pemuda itu terpesona. Ia seakan-akan terpukul oleh suara saya. Orang-orang lain pun tegang. Mereka memandang kami dengan mata mencorong. Lutut saya tambah lemas. Saya tak sanggup lagi bicara. Apa pun yang akan terjadi, saya menyerah. Anak kepala suku itu menggapai tiang bendera. Saya kira sebentar lagi dia akan menusukkannya ke dada saya. Tapi ajaib, tidak. Pangeran itu memandang bendera kecil itu dengan takjub, lalu ia menunjukkan kepada teman-temannya. Semangat berjuang hidup terus tidak bisa mati! serunya. Sedetik hening. Tetapi kemudian semua meledak, bersorak gegap-gempita. Kemudian dengan khusuk mereka mengusung jasad almarhum dibawa ke desa mereka untuk dikebumikan. Sejak itu bukan orang mati, tetapi orang yang tidak mau mati yang datang ke Puskesmas. Mereka tidak hanya mencari obat, tetapi terutama kasih-sayang. Kalau pun kemudian karena sudah ajal, ada orang sakit yang mati, tapi Puskesmas tidak pernah lagi dianggap sebagai pembunuh. Saya sendiri tidak peduli lagi apakah saya masih seorang dokter atau sudah jadi dukun, saya hanya ingin mencintai saudara-saudara saya itu.

7 Komentar Ditulis pada cerpen Kembang Api


Posted on6 Januari 2008by Putu Wijaya | 1 Komentar Hujan yang mengguyur Ibukota tak membuat pesta kembang api mati angin. Begitu jam menunjuk ke waktu 00, langit malam yang suram ditoreh oleh ekor kembang api yang berhamburan dari rumah penduduk. Jakarta gemuruh bagai memasuki pertempuran. Dan itu berlangsung lama. Entah berapa ratus juta yang sudah hangus oleh pesta itu. Orang boleh saja mengeluh bahwa biaya itu kalau dialihkan untuk membantu kemiskinan, mungkin akan jauh lebih berguna. Namun Kleng, seorang penduduk di wilayah Ciputat, mengajak teman-temannya melihat itu sebagai pengurasan emosi yang sudah terlalu menjejali batin masyarakat Jakarta. Belum pernah ada malam tahun baru yang sebising ini,kata Kleng berkoar di jalanan, dulu paling banter hanya suara terompet memekakkan telinga.. Ini adalah pelampiasan kejengkelan dan ketidakpuasan rakyat jelata. Ini usaha menyembuhkan diri sendiri. Masyarakat marah melihat para pemimpin, wakil rakyat lebih memperjuangkan kepentingan diri sendiri dan golongan, daripada membela kebutuhan rakyat!

Esok harinya, Kleng dipanggil ke pos polisi. Kami mendapat laporan saudara semalam berteriak-teriak! Betul. Tapi itu bukan teriakan-teriak, Pak. Jadi apa? Itu suara hati! Suara hati? Bahasa populernya protes. Petugas mencatat. Memprotes apa? Perlakuan kepada rakyat! Perlakuan yang mana? Rakyat dibiarkan menanggung banyak persoalan sendiri sementaram para pemimpin sibuk mengurus kepentingannya sendiri! Pemimpin yang mana? Semua. Tapi pemimpin itu bukannya pilihan rakyat sendiri? Betul. Kalau begitu kenapa tidak memprotes rakyat yang memilihnya? Tidak bisa! Kenapa? Rakyat tidak bisa memprotes rakyat! Jadi para pemimpin hanya dijadikan kambing hitam? Ya! Kenapa? Karena itu bagian tugas pemimpin. Kalau ada kesalahan, bukan rakyat yang salah, tapi pemimpin yang harus mempertanggungjawabkannya! Kalau tidak mau, siapa suruh jadi pemimpin?! Petugas mencatat. Ada yang perlu saya jawab lagi? Petugas berpikir. Kemudian dia berbicara dengan temannya. Ada yang mau ditanyakan lagi kepada saya? Tidak. Sudah cukup. Bapak tidak mau menanyakan apa isi protes saya? Petugas itu menoleh kepada rekannya. Kemudian dia menggeleng. Tidak, sudah cukup. Tapi saya semalam sudah mengatakan bahwa kemeriahan kemaren sebenarnya adalah luapan ketidakpuasan dari seluruh rakyat yang selama ini ditahan-tahan sebab, rakyat sudah dipaksa untuk menghadapi sendiri bencana banjir, kemacatatn jalan raya setiap hari, kenaikan harga dengan berbagai alasan yang sebenarnya harus menjadi PR pejabat, kejahatan birokrasi yang semakin licin, korupsi, keanehan perilaku para wakil rakyat dan Itu kami sudah tahu. O ya? Petugas itu mengangguk. Ya. Kecuali kalau ada yang lain.. Kleng bingung. Apalagi kemudian ketika ia dipersilakan pulang.. Lho saya boleh pulang? Ya. Berarti saya bebas? Memang. Saya tidak ditangkap? Kenapa msti ditangkap? Kan saya sudah protes! Tapi saudara kan tadi sudah mengatakan itu hanya suara hati? Ya kan! Betul. Tapi saya kira saya dipanggil untuk ditangkap! Tidak. Saudara dipanggil untuk menjelaskan apa yang sudah saudara perbuat, agar kalau ada pertanyaan, kami bisa menjelaskannya. Sekarang karena sudah jelas, Saudara boleh pulang. Kleng tak bergerak. Ia nampak bengong. Silakan.

Kleng menggeleng. Saudara boleh pulang. Ya saya tahu. Tapi saya tidak mau. Tidak mau? Kenapa? Karena semua orang tahu, saya dipanggil, pasti akan ditangkap dan dijebloskan. Kalau sekarang saya keluar nanti saya dikira menyuap petugas. Petugas mau mencatat, tapi Kleng cepat-cepat mencegah. Jangan! Jangan! Itu hanya pikiran kotor saya, ampas kebencian dari masa lalu!

1 Komentar Ditulis pada cerpen Di-tag kleng 2008


Posted on1 Januari 2008by Putu Wijaya | 1 Komentar Memasuki 80 tahun Soempah Pemoeda, Pak Amat ingin menyepi. Ia mencoba merenungi makna Indonesia. Untuk itu ia sudah merencanakan tidak akan bicara, tidak tidur dan tidak makan dan minum, pendeknya melakukan tapa selama satu hari. Yang pertama protes adalah Bu Amat. Kalau Arjuna bertapa di Gunung Indrakila, itu karena ia ingin mendapatkan panah Pasupati, untuk membunuh Niwatakawaca. Bapak bertapa untuk mendapatkan apa? Ya, menghayati kembali apa itu Indonesia. Untuk apa? Ya dong! Karena sekarang kita sudah mengalami erosi kebangsaan. Kita perlu mengingat citacita para pejuang kita yang ingin membangun satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa yang bernama Indonesia. Hanya itu? Amat berpikir. Juga untuk melihat apa sebenarnya yang menjadi kesalahan .. . Bu Amat tak sabar. Ah kalau cuma maunya itu, tidak usah susah-susah bertapa, lebih baik Bapak antar aku ke pesta perkawinan, ada tiga sekaligus hari ini. Nanti jawaban satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa itu aku akan jelaskan di jalan, sebab aku masih ingat, itu kan pelajaran sejarah biasa di kelas 6 SD. Amat tak bisa membantah, akhirnya ia mengomel pada Ami. Lihat itu ibumu tambah tua tambah egois. Begitulah manusia, sama saja dengan kendaraan. Makin lama, meskipun dipelihara, tetap saja makin tua makin merongrong. Iiih kebangetan, masak Bapak menyamakan Ibu dengan kendaraan. Lho ini kenyataan. Ya bukan hanya Ibu kamu, kita semua manusia begitu, Bapak juga. Bapak terlalu sinis! Habis, masak nengok orang kawin itu lebih penting dari menyimak rasa kebangsaan. Kita kan sedang mengalami erosi dan abrasi nasionalisme. Kalau semua orang seperti ibumu itu, nasionalisme kita akan pudar dan kita akan menjadi bangsa yang tidak punya karakter. Tanpa kepribadian. Dan tanpa kepribadian kita akan selalu terombang-ambing dan akhirnya akan mengalami disintegrasi, perpecahan. Ya nggak? Kamu harus bisa berpikir rasional dan obyektif, Ami. Kamu sendiri sering bilang, perempuan-perempuan zaman sekarang tidak hanya emosional dan impulsif. Benar tidak? Kalau itu memang, tapi . Tidak ada tetapi, kehilangan rasa kebangsaan itu sangat berbahaya ! Ya tidak?! Ya. Kita sekarang sudah kehilangan patriotisme Ami!? Ah masak! Itu kan kata Bapak! Yakin. Lihat saja ketika hak cipta batik, tempe, keroncong, Rasa Sayange, reog Ponorogo dan sebagainya diambil orang, pejabat-pekabat kita tidak peduli, seakan-akan itu bukan urusan mereka. Nanti kepala kita diambil mereka juga akan menyalahkan yang punya kepala teledor, kurang waspada. Baru kalau kepalenya sendiri digondol, langsung mencak-mencak mengerahkan massa! Itu pejabatnya saja yang geblek, bukan semua kita!

Ah sama juga, pejabat itu kan cerminan watak rakyatnya dan rakyat itu imbas dari perilaku petingginya. Coba kritik Ibumu, supaya bangkit sedikit rasa nasionalismenya! Maksud Bapak, supaya Bapak tidak usah mengantarkan Ibu ke orang kawin? Amat nyengir. Ya itu juga! Kan Bapak sudah lama merencanakan untuk bertapa dalam menyambut tahun 2008! Bertapa? Kok seperti Arjuna dalam wayang Niwatakawaca! Lho memang, untuk mendapatkan pencerahan batin! Pencerahan batin atau kenikmatan batin waktu digoda? Maksudmu? Kata Ibu, Arjuna waktu bertapa di Gunung Indrakila itu digoda oleh 7 bidadari dengan tanpa selembar busana menutup tubuhnya. Bapak kali mau menikmati itu? Ah dasar, kamu sudah dilobi oleh ibu kamu! Ami tertawa. Begitulah kemudian Amat terpaksa membatalkan tapa untuk mengantar istrinya ke perhelatan kawin. Tapi ternyata bukan tiga, ada empat acara pernikahan. Tempatnya berjauhan. Dari pagi hingga malam , seperti kambing congek Amat salam-salaman. Pulang ke rumah, badannya rasa hancur digiling. Perutnya gembung karena kebanyakan makan, tetapi kakinya hampir copot. Sampai di rumah, baru hendak melepas baju batik, tiba-tiba datang tamu. Terpaksa Amat berbasabasi melayani, karena istrinya pusing akinat telat minum kopi. Sampai jam 10 malam tamu itu asyik menceritakan tetek-bengek keluarganya. Dalam hati Amat mengumpat-umpat karena semua itu tidak ada hubungan dengan dirinya. Ia dikunjungi untuk jadi pendengar. Itu bukan silaturahmi lagi, tetapi siksaan. Begitu tamu pulang, Amat mematikan lampu dan mengunci pintu. Tapi ketika merebahkan badannya di kursi, terdengar pertengkaran keras suami-istri di tetangga. Buka pintu! Buka pintu! Kalau tidak aku pecahin kaca! Amat kesal. Pertengkaran itu sudah terlalu sering terjadi. Masalahnya sama, kata-katanya juga sama. Orang bilang si Suami sedang datang puber ketiga, jadi lebih sering ngelayap. Sementara istrinya yang menjadi tiang rumah tangga dengan menerima cucian, mulai kesal. Sore hari dia tidak urung mengunci rumah, karena kesal melihat ulah suaminya.. Tiba-tiba terdengar suara kaca jendela pecah dan batu menghajar daun pintu. Bu Amat tersentak bangun, langsung minta Amat keluar, untuk melerai. Mula-mula Amat tidak mau, tapi ketika terdengar suara perkelahian, apalagi pintu rumah diketok tetangga, Amat mau tak kembali mengenakan sandalnya, lalu keluar. Amat memang dikenal sebagai tukang damai. Kalau ada masalah-masalah yang menyangkut lingkungan pemukiman, Amat selalu dianggap sebagai kunci. Karena Amat satu-satunya bekas pejuang yang masih hidup di lingkungan itu. Walau pun Amat sangat kesal dengan kedudukannya yang sama sekali tanpa imbalan itu, ia terpaksa mnjalankannya dengan hati berat. Biasanya kalau Amat datang, cepat atau lambat segalanya bisa teratasi. Tetapi kali ini hampir saja terjadi perkelahian sengit. Ternyata di dalam rumah ada seorang lelaki menginap yang mengaku saudara perempuan itu. Hampir saja suami yang sedang puber ketiga itu kalap. Ia sudah menghunus parang. Untung Amat tidak terlambat. Setelah mengusir lelaki tak dukenal itu, sang suami terus kalap hendak memotong tangan istrinya karena cemburu. Amat dengan sabar melerai. Ia dengarkan keluhan keduanya. Ia seret supaya kedunya menumpahkan unek-unek. Tiga jam semuanya baru terkuras. Masing-masing sesudah melampiaskan emosi, gembos dengan sendirinya, kemudian perdamaian dimulai. Amat baru bisa pulang setelah yakin tidak bakal terjadi apa-apa. Sudah lewat tengah malam, ketika Amat masuk ke dalam rumah. Ia ingin sekali disambut oleh istrinya sebagai pahlawan. Tetapi ternyata Bu Amat sudah tidur. Ami juga sudah pulas. Tinggal Amat sendirian. Enersi Amat yang terkuras karena menyelesaikan pertengkaran tetangga membangkitkan rasa kosong. Walau pun di pesta kawin ia sudah makan banyak, sekarang perutnya keroncongan. Tetapi sial, begitu membuka tutup nasi di meja makan, Amat kecewa lagi. Tidak ada apa-apa di situ. Air matang pun habis. Amat menganggap dirinya sudah diabaikan. Ia marah. Rasanya ia sudah melakukan berbagai kebaikan untuk rumah. Ia manjakan istri dan anaknya. Ia tidak pernah marah. Ia selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kekurangan dan kesalahannya sendiri, sehingga ia tidak pernah menyalahkan keadaan. Tidak pernah menuding orang lain. Ia lebih banyak menyesali

kekurangannya sendiri. Tetapi ternyata balasannya tak ada. Amat duduk terhenyak. Tidak ada seorang pun yang mencintaiku. Aku ternyata sendirian,keluh Amat. Amat berusaha memejamkan matanya sambil menselonjorkan kaki ke atas kursi. Tapi tak bisa. Segala macam hal-hal yang jelek teringat. Semua kegagalan-kegagalannya di masa lalu kembali mengejek-ejek. Ia semakin percaya dirinya orang yang sial. Tiba-tiba mendesak rasa haru. Ia menjadi seorang anak kecil kembali. Seorang anak yang selalu mengurus diri sendiri. Tidak seperti anak-anak lain yang dimanjakan oleh orang tuanya. Bahkan ketika mulai punya pacar, semua bekas pacarnya sibuk mengurus kepentingannya sendiri dan akhirnya kabur. Amat sekan-akan memang sudah ditakdirkan hanya jadi bulaan-bulanan. Kasihan pada dirinya sendiri, Amat menangis. Air mata mengucur deras di pipinya yang sudah mulai keriput. Tangis yang puluhan tahun tertunda dari masa lalu yang tak akan kembali. Tangis yang kadang-kadang baru dilepaskannya kalau ia yakin benar-benar sedang sendirian. Tanpa seorang penonton, air mata itu benar-benar menjadi tampungan kepedihan. Setelah menangis dalam, Amat merasa lebih lega. Kemudian datang malu, sebagaimana biasanya. Setua sekarang usianya, ia masih saja cengeng. Lalu dihapusnya matanya sampai benar-benar kering. Seluruh kesedihan itu digasaknya lagi masuk ke dalam kantung simpanan, untuk dikeluarkan lagi nanti, kalau ada kesempatan lain yang benar-benar pas. Amat bangkit dari kursi, lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Lampu kamar belum dimatikan. Nampak istrinya tergoleh tergolek di tempat tidur, seperti seonggok kayu yang tumbang. Ia memandangi istrinya lama. Nafas perempuan itu dalam dan lelap. Kelihatannya sangat nikmat. Ia tidur mati, terhanyut begitu jauh. Sama sekali tidak peduli suaminya yang sedang lapar, kesal, sunyi dan barusan tersedu-sedu mewek. Tiba-tiba kembali Amat merasa tersinggung. Talk ada sama sekali orang yang memperhatikan perasaannya. Lalu dengan kecewa ia menutupkan kembali pintu kamar, keluar ke teras. Udara sejuk tanda subuh akan datang menyentuh tubuhnya. Sekeliling sepi sekali. Hanya kesunyian yang masih terjaga. Sepi itu seakan-akan menegur dan menemaninya. Lalu Amat tersenyum. Ya hanya kamu temanku, sepi. Kamu telah mengembara melewati tahun demi tahun. Usiamu bertambah, pengalamanmu semakin banyak. Tetapi setiap kali tahun baru, kau tidak pernah tidak lupa datang dan menegurku. Setidak-tidaknya sapamu menyebabkan aku masih punya teman. Biarlah tak ada yang mencintaiku, biarlah anak dan istriku lebih mencintai dirinya, asal masih ada kamu yang menyapa, aku sudah merasa cukup lega, bisik Amat dalam hati. Malam bagai mendengar. Ia melenguh dan mengusap kepala Amat. Lembaran tahun baru muncul bagai sepasang tangan yang membelai. Amat merasa dinina-bobokkan. Baru beberapa menit duduk, ia langsung pulas dan terseret ke dalam mimpi yang tak bertepi. Pagi-pagi Bu Amat dan Ami menemukan Amat masih tertancap dalam dalam mimpinya di teras rumah. Kasihan Bapak, seharian dari pagi sampai tengah malam kemaren terpaksa bertapa, menahan perasannya, kata Ami. Ya, Ibu juga tak sampai hati melihat Bapakmu kelimpungan sendiri semalam, jawab Bu Amat, tapi apa boleh buat, bapakmu kan memang maunya bertapa, jadi waktu semalam ia masuk kamar, Ibu terus saja pura-pura tidur. Amat membuka mata. Apa? Ah nggak, Bapak kok tidur di luar. Tidak dingin? Amat menggeliat, merentang-rentangkan tubuhnya yang terasa kaku. Aku bertapa. O ya? Dapat panah Pasopatinya? Amat menggeleng. Aku tidak lulus. Waktu bidadari-bidadari itu menggoda dengan tidak memakai selembar pakaian pun di tubuhnya perasaanku aku terbawa. Kenapa! Amat tertawa. Sebab aku bukan Arjuna. Aku tidak mencari panah Pasopati. Aku manusia biasa saja yang lebih penting mengantar istri ke empat upacara perkawinan dalam satu hari, mendengarkan ocehan tamu bawel selama 3 jam dan menjadi hakim yang mendamaikan tetangga yang berkelahi karena

cemburu buta. Bu Amat nyengir karena merasa tersindir. Aku untung kalau begitu. Untung? Ya, karena Bapak bukan Arjuna. Arjuna kan doyan kawin. Ya syukurlah kalau Ibu merasa beruntung. Ibu memang beruntung. Kalau tidak, kamu tidak akan bisa tidur selelap itu semalam. Ya? Lama aku perhatikan kamu tidur. Orang yang tidak bahagia tidurnya pasti tidak karuan. Kamu nampak lelap sekali. Jadi karena takut mengganggu, aku tidur di luar. O jadi begitu?celetuk Ami nimbrung sambil mendekat. Ya. Banyak orang berbahagia tidak menyadari dia itu tidak bahagia. Itu yang menyebabkan kita tidak mensyukuri keadaan. Itu sebabnya kita sudah kehilangan rasa kebangsaan, bukan karena kita tidak mendapatkan apa-apa dalam kemerdekaan, tetapi karena kita tidak tahu, tidak mampu menikmati apa yang sudah diberikan oleh kemerdekaan itu. Itu yang sudah menyebabkan kita mengalami erosi dan abrasi kebangsaan sekarang. Kita tidak mampu menikmati hasil usaha kita sendiri, kita sibuk menjumlahkan kekurangan dan keluhan, akibatnya kita jadi tidak peka, buta dan merindukan yang lain, padahal semuanya itu sudah kita miliki! Bu Amat tak menjawab. Ia hanya main kedip-kedipan mata dengan Ami. Amat lalu masuk ke dalam rumah. Ia kelihatan puas karena sudah melampiaskan unek-uneknya. Tetapi begitu sampai di dalam, ia terkejut. Rumah nampaj berdandan. Meja makan memakai taplak baru, di atasnya ada vas dan bunga soka yang dipetik dari halaman belakang. Kopi panas, pisang goreng dan hidangan makan pagi yang mengepulkan bau sedap. Juga ada buah-buahan. Mau ada tamu siapa lagi?tanya Amat ketus. Bu Amat yang mengikuti suaminya menggeleng. Tidak ada. Itu untuk siapa? Ami menjawab. Untuk Bapak kan?! Aku? Ya. Kenapa? Karena Bapak kemaren sudah bertapa. Apa? Karena Bapak kemaren sudah bertapa. Amat ketawa malu. Ah sudahlah, itu tidak penting lagi. Untuk apa bertapa, kalau jawaban permasalahan kebangsaan bisa kita dapatkan dengan cara lain. Bertapa itu kan dalih lelaki yang tidak mau mengantarkan istrinya pergi ke kawinan. Untung saja Ibu memaksa aku kemaren, kalau tidak aku sudah jadi orang yang paling egois di dunia. Amat hendak terus ke kamar mandi. Tapi kepulan asap kopi itu terlalu menggoda. Akhirnya ia menghampiri meja, menarik kursi lalu duduk. Bu Amat dan Ami nimbrung. Minum saja dulu, Pak. Tapi aku belum mandi. Bapak lupa, bangun tidur, mulut kita banyak mengandung ensym yang sangat diperlukan tubuh untuk kekebaklan, justru bangun-tidur minum itu sehat. Ya, aku ingat. Amat lalu mengangkat gelas kopi dan menegaknya. Matanya terpejam karena nikmat. Cukup gulanya, Pak? Amat mengangguk dan mengecapkan bibirnya tanda nikmat. Kemudian ia meraih pisang goreng. Bapak mau makan sekalian?kata Bu Amat sambil menyiapkan piring. Boleh. Lalu mereka bersama-sama mulai makan. Sayup-sayup terdengar dari rumah tetangga yang semalam bertengkar, suara radio membawakan lagu yang lagi ngetop Kamu ketahuan, pacaran lagi. . Amat bersenandung mengikuti lagu. Bu Amat dan Ami tersenyum saling melirik.

Hari ini kamu bukannya ada janji mau camping dengan kawan-kawan kamu Ami? Ami menggeleng. Sudah dibatalkan. Kenapa? Ya dibatalkan saja. Amat menggeleng tak mengerti. Tiba-tiba ia melihat pada istrinya. Lho bukannya, kita harus pergi mengunjungi keponakanmu yang tunangan itu? Bu Amat menggeleng. Kan sudah kemaren. Amat terkejut. Bukannya hari ini? Kalau sudah kemaren, hari ini tidak usah. Amat mengernyitkan dahinya. Tapi kenapa? Ya nggak apa-apa. Tiba-tiba Amat terpagut. Lintasan pikiran itu mengagetkannya.. Astaga,kata Amat seperti disambar petir, kalian sengaja melakukan itu, supaya kita bisa kumpul makan dan merayakan tahun baru sama-sama hari ini? Baik Bu Amat maupun Ami tidak menanggapi. Ya? Kalian sengaja menumpuk acara kemaren supaya bisa berkumpul hari ini? Kalau toh ya, apa salahnya? kata Bu Amat seakanp-akan itu sesuatu yang ringan dan sepele. Tetapi Amat jadi begitu terpukul. Ya Tuhan! Ada dua orang perempuan yang sudah bertahun-tahun serumah denganku. Tetapi aku tidak pernah benar-benar mengerti, apa yang mereka lakukan,bisik Amat. Amat menatap anak istrinya dengan takjub. Kenapa aku tidak tahu semua itu? Kenapa kalian tidak suka menceritakan bahwa kalian melakukan semua itu untuk kita, untuk aku? Untuk membahagiakan lelaki tua yang bulikan dan egois ini? Kenapa aku tidak pernah memikirkan itu? BuAmat dan Ami diam-diam saja sekan-akan tidak terjadi apa-apa. Amat terpesona. Ia menjadi begitu malu karena baru ngeh, betapa cantiknya hari itu. Entah berapa banyak sudah hari-hari indah yang berlalu begitu saja yang tidak diketahuinya. Betapa tidak mampunya ia menikmati kerunia yang sampai ke tangannya. Seakan-akan ia adalah miniatur dari bangsa ini, yang bebal, buta, tidak mampu menilai hasil-hasil yang tercapai, sebagaimana tadi diucapkannya dengan pedih pada istrinya. Dengan menyesal Amat lalu memandangi istri dan anaknya dengan cara yang sangat berbeda. Menatapnya dengan perasan orang yang sangat bersalah. Ia merasa sekarang air matanya semalam benar-benar sebuah kekonyolan. Terimakasih,kata Amat kemudian dengan suara lirih, terimakasih, kalian sudah menolongku kemaren bertapa.

AIDS
Posted on1 Desember 2007by Wibisono Sastrodiwiryo | 3 Komentar Momok yang pernah paling ditakuti adalah AIDS, kata Ami memberikan ceramah, di depan sejumlah ibu kampung. Keadaan kehilangan kekebalan pada manusia itu sampai sekarang belum ada obatnya. Disepakati dunia sebagai pembunuh kejam akibat percaulan seks bebas. Akibat berganti-ganti pasangan dan melakukan hubungan seksual yang tidak wajar, khususnya di kalangan kaum homo. Penularannya yang lewat hubungan kelamin dan darah itu, kemudian merebak ke seluruh aktivitas manusia. Tranfusi darah, jarum suntik dan kemudian di klinik gigi antara lain, menggerus manusia yang tidak pernah melakukan kontak jasmani aneh-aneh. Bayi yang tak berdosa pun tak urung langsung terlahir mengidap AIDS. Tapi sesuai dengan pepatah, alah bisa karena biasa,lanjut Ami menyambung ceramahnya, karena terlalu sering didengung-dengungkan, telinga kita sendiri menjadi tebal dan tuli. Bahaya itu semakin lama semakin akrab dan akhirnya sekarang sudah tidak menakutkan lagi. Dulu siapa yang mengidap AIDS, akan dikucilkan bahkan ditembaki kalau mau berhubungan

dengan masyarakat. Sekarang malah diundang berceramah, agar masyarakat sadar bahwa orangnya tidak berbahaya, kecuali berhubungan badan atau darah kita kecipratan darahnya. Yang paling ditakuti sekarang sudah ganti dengan wajah baru. Ibu-ibu tahu apa itu? Para ibu yang mendengarkan ceramah tidak menjawab. Ami curiga sebagian besar nampaknya tidak mendengarkan apa yang sudah ia provokasikan. Mereka sibuk memikirkan bagaimana mencicil pel penghambat ketuaan yang ditawarkan oleh seorang ibu yang gencar menawarkan produk multi level. Sekarang yang paling berbahaya, yang nomor satu ditakuti, yang paling mengancam kita, bukan lagi HIV, bukan lagi AIDS, bukan lagi kehilangan kekebalan tubuh tetapi kehilangan kedudukan. Semua orang Indonesia sekarang takut kehilangan kursi. Kehilangan jabatan bukan hanya berarti kehilangan kehormatan dan kekuasaan, juga kehilangan kesejahteraan. Kedudukan sekarang sudah identik dengan uang. Tanpa kedudukan, orang akan bangkrut dan mati. Karena itu mereka yang sedang menjabat dengan berbagai cara berusaha untuk mempertahankan kursinya. Bila perlu dengan cara melawan hukum. Moral kita sudah jatuh. Itulah penyakit yang lebih membunuh dari kehilangan kekebalan, karena bukan hanya satu orang akan mati akibat tidak kebal, tetapi tetapi seluruh bangsa, 220 juta manusia akan lenyap karena tidak punya rasa yang bersih lagi. Terimakasih! Ibu-ibu bertepuk tangan gembira dan gegap gempita. Seakan-akan mendapat siraman kesejukan setelah lelah dihajar muntahan kata-kata Ami yang hampir satu jam itu. Semuanya mengucapkan selamat. Mereka memuji-muji kepasihan Ami dalam berbicara, juga karena dadanan dan rambutnya yang menarik. Tapi setelah itu mereka merubung ibu yang membawa pel penghambat ketuaan itu. Dengan loyo Ami pulang ke rumah. Kenapa keok seperti itu? tanya Amat menyambut. Apa ceramahmu gagal, Ami? Dari awal saya tahu akan gagal. Tetapi yang paling menyakitkan adalah karena tidak seorang pun yang memprotes ketika Ami bilang bahwa AIDS itu tidak berbahaya lagi. Amat terkejut. Kamu bilang begitu? Ya. Mata Amat semakin membelalak. Kenapa? Apa kamu kesleo? Kalau ucapan salah kan bisa diralat waktu itu juga? Bukan kesleo! Ami mengucapkan secara sadar bahkan berapi-api! Amat bengong. Aduh. Kenapa jadi bisa begitu? Karena nyatanya memang begitu! HIV, AIDS memang nomor satu sebagai pembunuh manusia. Tetapi kemerosotan akhlak yang menyebabkan seluruh bangsa kita kehilangan karakter, tidak punya harga diri, tidak punya rasa malu, tidak peduli kepada kemanusiaan, seenaknya saja melakukan pelanggaran hukum demi keuntungan diri dan golongannya, adalah pembunuh yang akan menghancurkan 220 juta manusia sekaligus. Itu lebih berbahaya seribu kali daripada AIDS! Amat terhenyak. Maksudmu bangsa kita sudah kehilangan harga diri? Bukan hanya itu, tetapi kehilangan otak, karena semuanya ingin hidup enak! Itu sudah melumpuhkan kita seribu kali lebih cepat dati AIDS! Amat memandang tajam Ami. Ami! Dan mereka semuanya percaya lalu bertepuk tangan memuji-muji! O ya? Ya! Malah ada yang menyindir, dasar anak Pak Amat! Apa nggak sakit! Muka Amat bersemu merah. Mereka bilang begitu? Ya. Ami kan jadi malu! Amat mengangguk-ngangguk. Seperti membayangkan bagaimana para ibu kampung itu menyalami anaknya. Wah, itu sangat dalam Ami! Apa? Bagaimana mereka tidak akan memujimu, kalau dalam usia semuda kamu, yang belum menikah,

cantik lagi, kamu kok menyadari penyakit apa yang sedang mengancam keselamatan kita sebagai bangsa! Kamu hebat. Bapak bangga kamu sudah mengatakan itu! Selamat! Amat langsung menepuk-nepuk pundak Ami. Lalu bergegas keluar, hendak menemui para ibu yang mengikuti ceramah, untuk mendengar sendiri secara langsung, pujian mereka kepada Ami. Ami kebingungan. Ia memandangi Amat seperti melihat hantu. Kenapa Ami. Bapakmu ngomong apa? tanya Bu Amat menghampiri. Ami menggeleng-gelengkan kepalanya. Kenapa? Kamu sakit? Ya. Ternyata benar. Semua orang sekarang sudah mengkaitkan segala-galanya dengan politik. Bukan hanya ibu-ibu itu saja, Bapak juga sama saja. Masak Bapak senang sekali waktu saya katakan bahwa AIDS dan HIV tidak lebih berbahaya dari krisis moralitas yang sedang menimpa bangsa kita sekarang. AIDS sudah dianggap enteng, yang paling penting sekarang bagaimana mencari kedudukan, karena itu berarti duit! Bagaimana kita akan memberantas AIDS yang semakin merebak bahkan di Bali ini, kalau pikiran kita sudah dikacaukan oleh politik terus? Bu Amat tersenyum. Kalau begitu, benar juag komentar ibu-ibu itu, isi ceramahmu bagus sekali. Apa? Mereka umumnya menangkap apa yang ingin kamu katakan, bukan yang kamu katakan Ami. Hanya saja karena orang sederhana, mereka tak mampu mengucapkannya, atau memberi komentar seperti yang kamu inginkan, ya paling banter mereka hanya bilang kamu cantik.