Anda di halaman 1dari 31

Definisi

Fraktur yang mengenai tulang radius ulna karena rudapaksa termasuk fraktur dislikasi proximal atau distal radioulnar joint (Fraktur Dislokasi Galeazzi dan Montegia)

Fraktur Galeazzi: adalah fraktur radius distal disertai dislokasi atau subluksasi sendi radioulnar distal. Fraktur Monteggia: adalah fraktur ulna sepertiga proksimal disertai dislokasi ke anterior dari kapitulum radius Klasifikasi Bado:

- Fraktur 1/3 tengah / proksimal ulna dengan angulasi anterior disertai dislokasi anterior kaput radius

- Fraktur 1/3 tengah / proksimal ulna dengan angulasi posterior disertai dislokasi posterior kaput radii dan fraktur kaput radii

Fraktur ulna distal processus coracoideus dengan dislokasi lateral kaput radii

- Fraktur ulna 1/3 tengah / proksimal ulna dengan dislokasi anterior kaput radii dan fraktur 1/3 proksimal radii di bawah tuberositas bicipitalis

b. Ruang lingkup

Fraktur dialisis radius dan ulna Fraktur-dislokasi Galeazi Fraktur-dislokasi Monteggia.

c. Pemeriksaan Klinis

Patofisiologis

Mekanisme trauma pada antebrachii yang paling sering adalah jatuh dengan outstreched hand atau trauma langsung. Gaya twisting menghasilkan fraktur spiral pada level tulang yang berbeda. Trauma langsung atau gangguan angulasi menyebabkan fraktur transversal pada level tulang yang sama. Bila salah satu tulang antebrachii mengalami fraktur dan menglami angulasi, maka tulang tersebut menjadi lebih pendek terhadap tulang lainnya. Bila perlekatan dengan wrist joint dan humerus intak, tulang yang lain akan mengalami dislokasi (fraktur dislokasi Galeazzi/ Monteggia)

Pemeriksaan Klinis

Fraktur radius ulna

Deformitas di daerah yang fraktur: angulasi, rotasi (pronasi atau supinasi) atau shorthening Nyeri Bengkak Pemeriksaan fisik harus meliputi evaluasi neurovascular dan pemeriksaan elbow dan wrist. Dan evaluasi kemungkinan adanya sindrom kompartemen

Fraktur Galeazzi

Fraktur sepertiga distal radius dengan dislokasi radioulnar joint distal. Fragmen distal angulasi ke dorsal. Pada pergelangan tangan dapat diraba tonjolan ujung distal ulna. Fraktur dislokasi Galeazzi terjadi akibat trauma langsung pada wrist, khususnya pada aspek dorsolateral atau akibat jatuh dengan outstreched hand dan pronasi forearm. Pasien dengan nyeri pada wrist atau midline forearm dan diperberat oleh penekanan pada distal radioulnar joint

Fraktur Monteggia

Fraktur setengan proksimal ulna dengan dislokasi radioulnar joint proksimal. Pasien dengan fraktur-dislokasi Monteggia datang dengan siku yang bengkak, deformitas serta terbatasnya ROM karena nyeri khususnya supinasi dan pronasi. Kaput radius bisanya dapat di palpasi.Harus dilakukan pemeriksaan neurovascular dengan teliti oleh karena Bering terjadi cedera saraf periper n radialis atau PIN.

Klasifikasi Fraktur dislokasi Monteggia menurut Bado:

Fraktur 1/3 tengah / proksimal ulna dengan angulasi anterior disertai dislokasi anterior kaput radius Fraktur 1/3 tengah / proksimal ulna dengan angulasi posterior disertai dislokasi posterior kaput radii dan fraktur kaput radii Fraktur ulna distal processes coracoideus dengan dislokasi lateral kaput radio Fraktur ulna 1/3 tengah / proksimal ulna dengan dislokasi anterior kaput radii dan fraktur 1/3 proksimal radii di bawah tuberositas bicipitalis

d. Kontra indikasi Operasi

Keadaan umum jelek

e. Pemeriksaan Penunjang

X Ray dengan dua proyeksi

Teknik Penanganan terapi konservatif dan operasi

Metode Penanganan Konservatif

Prinsipnya dengan melakukan traksi ke distal dan kembalikan posisi tangan berubah akibat rotasi

Posisi tangan dalam arah benar dilihat letak garis patahnya

- 1/3 proksinal posisi fragmen proksimal dalam supinasi untuk dapat kesegarisan fragmen distal supinasi

- 1/3 tengah posisi radius netral maka posisi distal netral

- 1/3 distal radius pronasi maka posisi seluruh lengan pronasi, setelah itu dilakukan immobilisasi dengan gips atas siku

Metode Penanganan Operatif

- Empat eksposur dasar yang direkomendasikan

Straight ulnar approach untuk fraktur shaft ulna Volar antecubital approach untuk fraktur radius proximal Dorsolateral approach untuk fraktur shaft radius, mulai dari kapitulum radius sampai distal shaft radius Palmar approach untuk fraktur radius 1/3 distal

- Posisikan pasien terlentang pada meja operasi. Meja hand sangat membantu untuk memudahkan operasi. Tourniquet dapat digunakan kecuali bila didapatkan lesi vaskuler.

- Ekspos tulang yang mengalami fraktur sesuai empat prinsip diatas.

- Reposisi fragmen fraktur seoptimal mungkin

- Letakkan plate idealnya pada sisi tension yaitu pada permukaan dorsolateral pada radius, dan sisi dorsal pada ulna. Pada 1/3 distal radius plate sebaiknya diletakkan pada sisi volar untuk menghindari tuberculum Lister dan tendon-tendon ekstensor.

- Pasang drain, luka operasi ditutup lapis demi lapis

f. Komplikasi

Malunion Kompartemen sindrom Cross union Atropi sudeck Trauma N. Medianus Rupture tendo ekstensor sendi pergelangan tangan, pronasi, supinasi, fleksi palmar, pergerakan serta ekstensi

g. Mortalitas

Pada umumnya rendah

h. Perawatan Pasca Bedah

- Perawatan luka operasi pada umumnya

- Drain dilepas 24-48 jam post operatif atau sesuai dengan produksinya

- Elevasi lengan 10 cm di atas jantung

- Mulai latihan ROM aktif dan pasif dari jari-jari, pergelangan tangan, siku sesegera mungkin setelah operasi

i. Follow Up

- Fisioterapi aktif ROM tangan, pergelangan dan siku

- Buat X Ray kontrol 6 minggu dan 3 bulan sesudahnya

- Penyembuhan biasanya setelah 16-24 minggu, selama ini hindari olah raga kontak dan mengangkat beban lebih dari 2 kilogram.

Definisi Fraktur Radius

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. (Brunner & Suddarth, Buku Ajar Medikal Bedah, 2002, hal. 2357).

Fraktur adalah patah tulang biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik (Sylvia A., Patofisiologi, 1995).

Fraktur radius adalah fraktur yang terjadi pada tulang radius akibat jatuh dan tangan menyangga dengan siku ekstensi. (Brunner & Suddarth, Buku Ajar Medikal Bedah, 2002, hal. 2372). 2. Klasifikasi Fraktur

Fraktur tertutup

Fraktur dengan kulit utuh melewati tempat fraktur dimana tulang tidak menonjol keluar melewati kulit.

Fraktur terbuka

Robeknya kulit pada tempat fraktur, luka berhubungan dengan kulit ke tulang. Oleh sebab itu fraktur berhubungan dengan lingkungan luar, sehingga berpotensi terjadi infeksi. Fraktur terbuka lebih lanjut dibedakan menjadi 3 berdasarkan beratnya fraktur.

Grade I : disertai kerusakan pada kulit yang minimal kurang dari 1 cm. Grade II : seperti pada grade I dengan kulit dan luka memar pada otot. Grade III : luka lebih dari 6-8 cm dengan kerusakan pada pembuluh darah.

Fraktur komplit

Patah yang melintang ke seluruh tulang dan sering berpindah dari posisi normal.

Fraktur inkomplit

Meluasnya garis fraktur yang melewati sebagian tulang dimana yang mengganggu kontinuitas seluruh tubuh. Tipe fraktur ini disebut juga green stick atau fraktur hickoristik.

Fraktur comminuted

Fraktur yang memiliki beberapa fragmen tulang.

Fraktur patologik

Fraktur yang terjadi sebagai hasil dari gangguan tulang yang pokok, seperti osteoporosis. Garis fraktur membentuk sudut oblique (sekitar 45o) pada batang atau sendi pada tulang.

Fraktur longitudinal

Garis fraktur berkembang secara longitudinal.

Fraktur transversal

Garis fraktur menyilang lurus pada tulang.

Fraktur spiral

Garis fraktur berbentuk spiral mengelilingi tulang.

2.

Anatomi Fisiologi Tulang Radius

Tulang membentuk rangka penunjang dan pelindung bagi tubuh dan tempat untuk melekatnya otot-otot yang menggerakkan kerangka tubuh.

Komponen-komponen utama dari jaringan tulang adalah mineral-mineral dan jaringan organik (kolagen dan proteoglikon). Kalsium dan fosfat membentuk suatu kristal garam (hidroksida patit), yang tertimbun pada matriks garam (hidroksia patit) yang tertmbun pada matriks kolagen dan proteaglikan matriks organik tulang disebut juga sebagai suatu osteoid. (Sylvia, A. Price, Patofisiologi, Buku II, Edisi 4, Penerbit EGC, 1995).

Tulang tersusun atas sel, matriks protein dan deposit mineral. Sel-selnya terdiri atas tiga jenis dasar osteoblas, osteosit dan osteoklas. Osteoblas berfungsi dalam pembentukan tulang dengan mensekresi matriks tulang.

Osteosit adalah sel dewasa yang terlibat dalam pemeliharaan fungsi tulang dan terletak dalam osteum (unit matriks tulang). Osteoklas adalah sel multinuklear (berinti banyak) yang berperan dalam penghancuran, resorbsi dan remodeling tulang.

Radius adalah tulang di sisi lateral lengan bawah merupakan tulang pipa dengan sebuah batang dan dua ujung dan lebih pendek dari tulang ulna. Ujung atas radius kecil dan memperlihatkan kepala berbentuk kancing dengan permukaan dangkal yang bersendi dengan kapitulum dari humerus. Sisi-sisi kepala radius bersendi dengan takik radial dari ulna. Di bawah kepala terletak leher dan di bawah serta di sebeelah medial dari leher ada tuberositas radii, yang dikaitkan pada tendon dan insersi otot bisep.

Batang radius. Di sebelah atas batangnya lebih sempit dan lebih bundar daripada di bawah dan melebar makin mendekati ujung bawah. Batangnya melengkung ke sebelah luar dan terbagi dalam beberapa permukaan, yang seperti pada ulna memberi kaitan kepada flexor dan pronator yang letaknya dalam di sebelah anterior dan di sebelah posterior memberi kaitan pada extensor dan supinator di sebelah dalam lengan bawah dan tangan.

Ujung bawah agak berbentuk segiempat dan masuk dalam formasi dua buah sendi. Persendian inferior dari ujung bawah radius berbendi dengan ska foid dan tulang semilunar dalam formasi persendian pergelangan tangan. Permukaan persendian di sebelah medial dari yang bawah bersendi dengan kepala dari ulna dalam formasi persendian radio-ulna inferior. Sebelah lateral dari ujung bawah diperpanjang ke bawah menjadi prosesus stiloid radius.

Fungsi dari tulang pada lengan bawah atau tulaang radius adalah untuk pronasi dan supinasi harus dipertahankan dengan menjaga posisi dan kesejajaran anatomik yang baik. Proses Penyembuhan Tulang

Kebanyakan patah tulang sembuh melalui osifikasi endokondial ketika tulang mengalami cedera, fragmen tulang tidak hanya ditambal dengan jaringan parut, namun tulang mengalami regenerasi sendiri. Ada beberapa tahapan dalam penyembuhan tulang :

Inflamasi

Dengan adanya patah tulang, tulang mengalami respon yang sama dengan bila ada cedera di lain tempat dalam tubuh. Terjadi perdarahan dalam jaringan yang cedera dan terjadi pembentukan hematoma pada tempat patah tulang. Ujung fragmen tulang mengalami devitalisasi karena terputusnya pasokan darah. Tempat cedera kemudian akan diinvasi oleh makrofag (sel darah putih besar), yang akan membersihkan daerah tersebut. Terjadi inflamasi, pembengkakan dan nyeri. Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dan hilang dengan berkurangnya pembengkakan dan nyeri.

Proliferasi Sel

Dalam sekitar 5 hari, hematoma akan mengalami organisasi. Terbentuk benangbenang fibrin dalam jendalan darah, membentuk jaringan untuk revaskularisasi dan invasi fibroblast dan osteoblast.

Fibroblast dan osteoblast (berkembang dan osteosit, sel endotel, sel periosteum) akan menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen pada patahan tulang.

Pembentukan kalus

Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi lain sampai celah sudah terhubungkan. Fragmen patahan tulang digabungkan dengan jaringan fibrus, tulang rawan dan tulang serat imatur. Bentuk kalus dan volume yang dibutuhkan untuk menghubungkan defek-secara langsung berhubungan dengan jumlah kerusakan dan pergeseran tulang.

Osifikasi

Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam 2-3 minggu patah tulang melalui proses penulangan endokondrial.

Remodeling

Tahap akhir perbaikan tulang meliputi pengambilan jaringan mati dan reorganisasi tulang baru ke susunan struktural sebelumnya. Remodeling memerlukan waktu berbulan-bulan sampai bertahun-tahun tergantung beratnya modifikasi tulang yang dibutuhkan, fungsi tulang, dan pada kasus yang melibatkan tulang kompak dan kanselus stres fungsional pada tulang.

3.

Etiologi Fraktur Radius

Penyebab paling umum fraktur adalah :

Benturan/trauma langsung pada tulang antara lain : kecelakaan lalu lintas/jatuh.

Kelemahan/kerapuhan struktur tulang akibat gangguan penyakti seperti osteoporosis, kanker tulang yang bermetastase.

4.

Patofisiologi Fraktur Radius

Fraktur kaput radii sering terjadi akibat jatuh dan tangan menyangga dengan siku ekstensi. Bila terkumpul banyak darah dalam sendi siku (hemarthosis) harus diaspirasi untuk mengurangi nyeri dan memungkinkan gerakan awal.

Bila fraktur mengalami pergeseran dilakukan pembedahan dengan eksisi kaput radii bila perlu. Paska operasi lengan dimobilisasi dengan bebat gips posterior dan sling. Fraktur pada batang radius dan ulna (pada batang lengan bawah) biasanya terjadi pada anak-anak. Baik radius maupun ulna keduanya dapat mengalami patah. Pada setiap ketinggian, biasanya akan mengalami pergeseran bila kedua tulang patah.

Dengan adanya fraktur dapat menyebabkan atau menimbulkan kerusakan pada beberapa bagian. Kerusakan pada periosteum dan sumsum tulang dapat mengakibatkan keluarnya sumsum tulang terutama pada tulang panjang. Sumsum kuning yang keluar akibat fraktur terbuka masuk ke dalam pembuluh darah dan mengikuti aliran darah sehingga mengakibatkan emboli lemak. Apabila emboli lemak ini sampai pada pembuluh darah yang sempit dimana diameter emboli lebih besar daripada diameter pembuluh darah maka akan terjadi hambatan aliran darah yang mengakibatkan perubahan perfusi jaringan.

Kerusakan pada otot atau jaringan lunak dapat menimbulkan nyeri yang hebat karena adanya spasme otot di sekitarnya. Sedangkan kerusakan pada tulang itu sendiri mengakibatkan perubahan sumsum tulang (fragmentasi tulang) dan dapat menekan persyaratan di daerah tulang yang fraktur sehingga menimbulkan gangguan syaraf ditandai dengan kesemutan, rasa baal dan kelemahan.

Click here to download pathway

5.

Tanda dan Gejala Fraktur Radius

Nyeri hebat pada daerah fraktur dan nyeri bertambah bila ditekan/diraba. Tidak mampu menggerakkan lengan/tangan. Spasme otot. Perubahan bentuk/posisi berlebihan bila dibandingkan pada keadaan normal.

Ada/tidak adanya luka pada daerah fraktur. Kehilangan sensasi pada daerah distal karena terjadi jepitan syarat oleh fragmen tulang. Krepitasi jika digerakkan. Perdarahan. Hematoma. Syok Keterbatasan mobilisasi.

6.

Pemeriksaan Diagnostik Fraktur Radius

Foto rontgen pada daerah yang dicurigai fraktur. Pemeriksaan lainnya yang juga merupakan persiapan operasi antara lain :

Darah lengkap

Golongan darah

Masa pembekuan dan perdarahan.

EKG

Kimia darah.

7.

Therapi/Penatalaksanaan Medik

Ada beberapa prinsip dasar yang harus dipertimbangkan pada saat menangani fraktur :

Rekognisi

Pengenalan riwayat kecelakaan, patah atau tidak, menentukan perkiraan yang patah, kebutuhan pemeriksaan yang spesifik, kelainan bentuk tulang dan ketidakstabilan, tindakan apa yang harus cepat dilakukan misalnya pemasangan bidai.

Reduksi

Usaha dan tindakan untuk memanipulasi fragmen tulang yang patah sedapat mungkin kembali seperti letak asalnya.

Cara penanganan secara reduksi :

Pemasangan gips

Untuk mempertahankan posisi fragmen tulang yang fraktur.

Reduksi tertutup (closed reduction external fixation)

Menggunakan gips sebagai fiksasi eksternal untuk memper-tahankan posisi tulang dengan alat-alat : skrup, plate, pen, kawat, paku yang dipasang di sisi maupun di dalam tulang. Alat ini diangkut kembali setelah 1-12 bulan dengan pembedahan.

Debridemen

Untuk mempertahankan/memperbaiki keadaan jaringan lunak sekitar fraktur pada keadaan luka sangat parah dan tidak beraturan.

Rehabilitasi

Memulihkan kembali fragmen-fragmen tulang yang patah untuk mengembalikan fungsi normal.

Perlu dilakukan mobilisasi

Kemandirian bertahap.

8.

Komplikasi Fraktur Radius

Komplikasi awal setelah fraktur adalah syok.

Bisa berakibat fatal dalam beberapa jam setelah cedera.

Sindroma kompartemen

Masalah yang terjadi saat perfusi jaringan dalam otot kurang dari yang dibutuhkan untuk kehidupan jaringan.

Tromboemboli Infeksi.

B. 1.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN Pengkajian

a.

Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan

Kebiasaan beraktivitas tanpa pengamanan memadai.

Adanya kegiatan yang beresiko cedera.

Adanya riwayat penyakit yang bisa menyebabkan jatuh.

b.

Pola nutrisi metabolik

Adanya gangguan nafsu makan karena nyeri.

c.

Pola tidur dan istirahat

Pola tidur terganggu karena nyeri.

d.

Pola aktivitas dan latihan

Ada riwayat jatuh/terbentur ketika sedang beraktivitas/kecelakaan lain.

Tidak kuat menahan beban.

Ada perubahan bentuk/pemendekan pada bagian yang kontraktur.

e.

Pola persepsi dan kognitif

Biasanya mengeluh nyeri pada daerah fraktur

Mengeluh kesemutan/baal

Kurang pemahaman tentang keadaan luka dan prosedur tindakan.

f.

Pola konsep diri dan persepsi diri

Adanya ungkapan ketidakberdayaan karena cedera.

Rasa khawatir akan dirinya, tidak mampu beraktivitas seperti sebelumnya.

g.

Pola hubungan peran

Peran terganggu karena adanya nyeri.

Kecemasan akan tidak mampu menjalankan kewajiban memenuhi kebutuhan keluarga.

h.

Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stres.

Ekspresi sedih

Merasa terasing di rumah sakit.

Kaji kecemasan klien.

2.

Diagnosa Keperawatan

Pre-Operasi

1)

Nyeri b.d spasme otot, kerusakan akibat fraktur.

2)

Ketidakmampuan beraktivitas b.d fraktur dan cidera jaringan sekitar.

3)

Resiko tinggi terjadi infeksi b.d fraktur terbuka kerusakan jaringan lunak.

4)

Gangguan pola tidur b.d nyeri.

Post Operasi

1)

Nyeri b.d luka operasi.

2)

Risiko tinggi terjadi komplikasi post operasi b.d immobilisasi.

3)

Ketidakmampuan beraktivitas b.d pemasangan gips dan fiksasi.

4)

Risiko tinggi terjadi infeksi b.d luka post operasi.

5) Kurang pengetahuan klien tentang perubahan tingkat aktivitas yang boleh dilakukan dan perawatannya saat di rumah.

6) Gangguan harga diri b.d perubahan peran dan perubahan bentuk fisik atau tubuh.

3.

Perencanaan Keperawatan

a.

Pre-Operasi

Nyeri b.d spasme otot, kerusakan akibat fraktur.

HYD :

Nyeri berkurang atau terkontrol

Klien mengatakan nyeri berkurang.

Ekspresi wajah tenang.

Rencana Tindakan :

1)

Observasi tanda-tanda vital (TD, S, N, P)

R/ Peningkatan tanda-tanda vital menunjukkan adanya nyeri.

2)

Kaji keluhan nyeri klien : lokasi, intensitas, karakteristik.

R/ Menentukan tindakan yang tepat sesuai kebutuhan klien.

3)

Beri posisi yang nyaman sesuai anatomi tubuh manusia.

R/ Posisi sesuai anatomi tubuh membantu relaksasi sehingga mengurangi rasa nyeri.

4)

Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam.

R/ Nafas dalam mengendorkan ketegangan syaraf.

5)

Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips.

R/ Menghilangkan nyeri dan mencegah kesalahan posisi tulang yang cedera.

6)

Beri therapi analgetik sesuai program medik.

R/ Analgetik menghambat pembentukan prostaglandin pada otak dan jaringan perifer.

Ketidakmampuan beraktivitas b.d fraktur dan cidera jaringan sekitar.

HYD :

Kebutuhan hygiene, nutrisi dan eliminasi.

Klien dapat melakukan aktivitas secara bertahap sesuai kemampuan klien dan sesuai program medik.

Rencana Tindakan :

1)

Kaji tingkat kemampuan beraktivitas klien.

R/ Menentukan intervensi yang sesuai dengan kebutuhan klien.

2)

Observasi tanda-tanda vital (TD, S, N, P)

R/ Sebagai data dasar dalam melakukan tindakan keperawatan.

3)

Bantu klien dalam pemenuhan kebutuhan yang tidak dapat dilakukan sendiri.

R/ Kerjasama antara perawat dan klien mengefektifkan tercapainya hasil dari tindakan keperawatan.

4)

Dekatkan alat-alat yang dibutuhkan.

R/ Klien dapat memenuhi kebutuhan yang dapat dilakukan sendiri dengan cepat.

5)

Libatkan keluarga dalam membantu pemenuhan kebutuhan klien.

R/ Membantu memenuhi kebutuhan klien.

Resiko tinggi terjadi infeksi b.d fraktur terbuka kerusakan jaringan lunak.

HYD :

Infeksi tidak terjadi

Tidak ada kemerahan, pus, peradangan

Leukosit dalam batas normal

Tanda-tanda vital stabil.

Rencana Tindakan :

1)

Observasi tanda-tanda vital (S, TD, N, P)

R/ Peningkatan tanda-tanda vital menunjukkan adanya infeksi.

2)

Jaga daerah luka tetap bersih dan kering.

R/ Luka yang kotor dan basah menjadi media yang baik bagi perkembangbiakan bakteri.

3)

Tutup daerah luka dengan kasa steril.

R/ Kasa steril menghambat masuknya kuman ke dalam luka.

4)

Rawat luka fraktur dengan teknik aseptik.

R/ Mencegah dan menghambat perkembangbiakan bakteri.

5)

Beri therapi antibiotik sesuai program medik.

R/ Antibiotik menghambat hidup dan berkembang biaknya bakteri.

b.

Post-Operasi

Nyeri b.d luka operasi

HYD :

Nyeri berkurang sampai dengan hilang.

Ekspresi wajah tenang.

Rencana Tindakan :

1)

Observasi tanda-tanda vital (TD, S, N, P)

R/ Peningkatan tanda-tanda vital menunjukkan adanya nyeri.

2)

Kaji keluhan, lokasi, intensitas dan karakteristik nyeri.

R/ Menentukan tindakan yang tepat sesuai kebutuhan klien.

3)

Ajarkan tehnik relaksasi nafas dalam.

R/ Nafas dalam dapat mengendorkan ketegangan sehingga dapat mengurangi rasa nyeri.

4)

Beri posisi yang nyaman pada tulang yang fraktur sesuai anatomi.

R/ Posisi anatomi membuat rasa nyaman dan melancarkan sirkulasi darah.

5)

Anjurkan klien untuk imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring.

R/ Mengurangi nyeri dan mencegah kesalahan posisi tulang.

6)

Beri therapi analgetik sesuai program medik.

R/ Menghambat dan menekan rangsang nyeri ke otak.

Ketidakmampuan beraktivitas b.d pemasangan gips atau fiksasi.

HYD :

Kebutuhan hygiene, nutrisi, dan eliminasi terpenuhi.

Klien dapat melakukan aktivitas secara bertahap sesuai kemampuan klien dan sesuai program medik.

Rencana Tindakan :

1)

Observasi tanda-tanda vital (S, N, TD, P)

R/ Sebagai data dasar untuk menentukan tindakan keperawatan.

2)

Kaji tingkat kemampuan klien dalam beraktivitas secara mandiri.

R/ Menentukan tindakan keperawatan sesuai kondisi klien.

3) Bantu klien dalam pemenuhan kebutuhan hygiene nutrisi, eliminasi yang tidak dapat dilakukan sendiri.

R/ Kerjasama antara perawat dan klien yang baik mengefektif-kan pencapaian hasil dari tindakan keperawatan yang dilakukan.

4)

Dekatkan alat-alat dan bel yang dibutuhkan klien.

R/ Klien dapat segera memenuhi kebutuhan yang dapat dilakukan sendiri.

5)

Libatkan keluarga dalam membantu pemenuhan kebutuhan klien.

R/ Kerjasama antara perawat dan keluarga klien akan membantu dalam mencapai hasil yang diharapkan.

6) Anjurkan dan bantu klien untuk mobilisasi fisik secara bertahap sesuai kemampuan klien dan sesuai program medik.

R/ Mobilisasi dini secara bertahap membantu dalam proses penyembuhan.

Resiko tinggi terjadi komplikasi post operasi b.d immobilisasi.

HYD :

Komplikasi setelah operasi tidak terjadi.

Rencana Tindakan :

1)

Kaji keluhan klien

R/ Mengetahui masalah klien.

2)

Observasi tanda-tanda vital (TD, N)

R/ Untuk mendeteksi adanya tanda-tanda awal komplikasi.

3)

Anjurkan klien mobilisasi secara bertahap

R/ Meningkatkan pergerakan sehingga dapat melancarkan aliran darah.

4)

Kolaborasi dengan dokter.

R/ Mengetahui dan mendapatkan penanganan dengan tepat.

Resiko tinggi terjadi infeksi b.d luka post operasi.

HYD :

Infeksi post operasi tidak terjadi.

Klien tidak mengalami infeksi tulang.

Rencana Tindakan :

1)

Observasi tanda-tanda vital (TD, N, S, P)

R/ Peningkatan tanda-tanda vital menunjukkan adanya infeksi.

2)

Rawat luka operasi dengan tehnik aseptik.

R/ Mencegah dan menghambat berkembang biaknya bakteri.

3)

Tutup daerah luka dengan kasa steril.

R/ Kasa steril menghambat masuknya kuman dalam luka.

4)

Jaga daerah luka tetap bersih dan kering.

R/ Luka yang kotor dan basah menjadi media yang baik bagi perkembangbiakan bakteri.

5)

Beri terapi antibiotik sesuai program medik.

R/ Antibiotik menghambat hidup dan berkembang biaknya bakteri.

Kurang pengetahuan tentang perubahan tingkat aktivitas yang boleh dilakukan dan perawatan di rumah b.d kurang informasi.

HYD :

Klien dapat mengetahui aktivitas yang boleh dilakukan dan perawatan saat di rumah.

Rencana Tindakan :

1)

Kaji tingkat pengetahuan klien tentang penatalaksanaan perawatan di rumah.

R/ Mengukur sejauh mana tingkat pengetahuan klien.

2) Ajarkan dan anjurkan klien untuk melakukan latihan pasif dan aktif secara teratur.

R/ Dengan latihan aktif dan pasif diharapkan mencegah terjadinya kontraktur pada tulang.

3)

Berikan kesempatan pada klien untuk dapat bertanya.

R/ Hal kurang jelas dapat diklarifikasikan kembali.

4)

Anjurkan klien untuk mentaati terapi dan kontrol tepat waktu.

R/ Mencegah keadaan yang dapat memperburuk keadaan fraktur.

5) Anjurkan klien untuk tidak mengangkat beban berat pada tangan yang fraktur.

R/ Mencegah stres tulang.

4.

Discharge Planning

a. Anjurkan klien untuk meneruskan latihan aktif dan pasif yang telah diperoleh selama klien dirawat di rumah sakit.

b. Anjurkan klien untuk tidak mengangkat beban berat pada tangan yang fraktur, bila memang terpaksa lebih baik dengan menggeser saja.

c. Anjurkan klien untuk mengkonsumsi TKTP, tinggi kalsium, tinggi vitamin untuk proses penyembuhan tulang.

d. Anjurkan klien untuk mentaati terapi pengobatan dan kontrol yang tepat waktu.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8 volume 3, Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Black, Joyce M (1997). Medical Surgical Nursing, Clinical Management for Continuity of Care. 5th edition, 3rd volume. Philadelphia. W.B Saunders Company. Carpenito, Lynda Jual (1997). Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktek Klinis. Edisi keenam, Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Doengoes, Marilynn. E (2000). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3, Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Evelyn. C. Pearce (1999). Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Cetakan ke-22, Jakarta. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Umum. Price, Sylvia. A (1995). Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Edisi 4 buku 2. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.