P. 1
Kaya Tapi Miskin

Kaya Tapi Miskin

|Views: 5|Likes:
Dipublikasikan oleh Fahrenno Asnawan
Karya : @fahrenno_
Karya : @fahrenno_

More info:

Published by: Fahrenno Asnawan on Jan 29, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/26/2014

pdf

text

original

Kaya tapi Miskin

Roni itulah namanya. Seorang anak jendral yang keinginanya selalu dituruti. Ia duduk di bangku kelas 9. Roni merupakan anak tunggal. Ia hidup bertetangga dengan Haike. Haike adalah teman satu kelas Roni. Mereka adalah murid dari SMP Bina Bangsa. Haike mendapatkan beasiswa di sekolah tersebut karena kepintarannya. Kehidupan Haike berbanding terbalik dengan Roni. Ayahnya hanya bekerja sebagai pedagang asongan. Ibunya menjadi TKI di Malaysia dan sampai saat ini belum ada kabar tentang dirinya. Roni memang kaya tetapi Roni tidak mempunyai banyak teman. Justru Haike yang punya banyak teman. Esok itu adalah hari Sabtu dimana murid diperbolehkan untuk membawa HP. Memang 2 bulan ini dari hari Senin sampai hari Jumat SMP Bina Bangsa tidak memperbolehkan muridnya untuk membawa HP. Roni pun membawa HP kesayangannya. Tidak bagi Haike. Haike tidak mempunyai HP. Walaupun tidak mempunyai HP Haike tidak malu. Roni berangkat ke sekolah menggunakan mobil. Sedangkan Haike hanya naik sepeda onthel yang sudah “reyot”. Sampai di sekolahan, Roni bergegas menuju kelas 9B. Alangkah terkejutnya Roni, teman-temannya mengerubuti Wowok. “Ada apa ini?” Tanya Roni kepada Fajar. “Itu, Wowok punya HP super canggih.” Jawab Fajar. “ Minggir, minggir..” kata Roni. “Wow, bagus amat HPmu Wok.” Kata Roni. “Iya dong.” Jawab Wowok. “Kamu beli dimana?”Tanya Roni penasaran. “Aku beli di Finlandia.” Jawab Wowok dengan gagah. “Coba kalau aku memiliki hp tersebut, aku akan sholat 7 kali sehari.” Gumam Haike dalam hati. Bel masuk berbunyi, Pak Lukas pun masuk ke kelas 9B untuk mengajar Seni Rupa. Pelajaran sangat membosankan. Tidak ada lelucon sedikit pun. Akhirnya bel istirahat berbunyi. Para siswa bersorak gembira. Datang saatnya Haike menitipkan Roti buatannya kepada Ibu Sukma salah satu pedagang di kantin SMP Bina bangsa. Haike sudah lama membuat roti untuk dijual di kantin sekolahan. Haike memang pintar membuat roti, khususnya roti isi kacang. Ibunya yang mengajarinya membuat roti. Jam menunjukkan pukul setengah dua, saatnya pak Santo membunyikan bel pulang sekolah. Para murid pun berhamburan keluar kelas. Roni dijemput dengan mobil mewahnya. Haike pun menaiki sepeda onthel kesayangannya yang sudah berbunyi seperti engsel pintu itu. “Pa, aku beliin hp baru dong!” Kata Roni di dalam mobil. “Iya Roni, bisa diatur” Jawab ayah. “Tetapi beli HPnya di Finlandia lho Pa!” Suruh Roni. “Iya Roni, besok kalau Papa gajian, Papa beliin” Jawab ayah Roni. Hari Senin Roni pergi ke sekolah hanya diantar dengan sepeda motor oleh pembantunya. Ayahnya ada tugas di pagi hari. Roni pun menuju ke ruang kelas perlahan-lahan dengan ditemani HP super canggih yang berada di tangannya. Temantemannya pun melihatnya dengan kagum. Saat itulah sifat buruk Roni muncul. Roni menyombongkan HP tersebut. Teman-temannya tidak suka dengan sifatnya. Sejak saat itu Roni dibenci teman satu kelas.

Bel pulang sekolah berbunyi. Sebelum anak- anak meninggalkan kelas, Pak Saido selaku kepala sekolah SMP Bina Bangsa mengumumkan bahwa hari Selasa besok siswa diharap membawa pakaian yang sudah tidak terpakai untuk disumbangkan kepada anak yatim. Sampai di rumah, Haike pun meliaht almarinya dan ternyata ada beberapa pakaiannya yang sudah tidak muat. Haike pun berniat menyumbangkan beberapa pakaiannya ke anak yatim besok. Keesokan harinya siswa berbondong-bondong pergi ke sekolahan membawa pakaian yang akan mereka sumbangkan. Saat pengumpulan pakaian oleh wali kelas masing-masing, ternyata Roni tidak membawa satu pakaian pun untuk disumbangkan. “Roni kenapa kamu tidak membawa pakaian?” Tanya ibu guru keheranan. “Pakaian saya bagus semua, Bu. Jadi, sayang kalau disumbangkan kepada anak yatim. Toh, mereka sudah memiliki pakaian.” Jawab Roni dengan lugas. “Dasar Roni, kaya tapi miskin hati!” Kata salah satu temannya memberanikan diri. “Bukan urusan kamu, pakaian-pakaian saya sendiri, terserah saya.” Sahut Roni. “Sudah-sudah..” kata ibu guru melerai mereka. Haike pun heran dengan Roni, ayahnya seorang jendral tetapi dia tidak mau menyumbangkan pakaiannya satu pakaian pun. Sejak saat itulah Roni dipanggil teman temannya “Si Kaya tapi Miskin”.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->