Anda di halaman 1dari 20

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

PEMBAHASAN :

KONFLIK KASHMIR

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 5 ANGGOTA: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Imdar Asyatir Aulia Nur Rahman Ahmad sumantri Andre Ilham Rusdi Lail Viky Fadilah

Pendidikan KewargaNegaraan (PKN) KONFLIK KASMIR

SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) TEKNOLOGI DAN INDUSTRI PERGURUAN CIKINI


Jln. Alur Laut Blok NN No. 1 Plumpang, Jakarta Utara, Telp./Fax. (021) 493434

Assalamualaikum Wr. Wb

engan mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT, tidak lupa shalawat serta salam kepada baginda tertinggi Rasulullah .SAW, sebab dengan ridha dan

karunia-Nya Kami dapat membuat makalah Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) dengan lancar. Makalah ini berisikan tentang sejarah Kashmir hingga mencapai titik konflik Kashmir yang antara Negara India dan Pakistan. Pada dasarnya, penyusunan makalah ini bertujuan sebagai syarat pengambilan nilai untuk di KHS dan sebagai sarat terisinya nilai kompetensi khususnya di bidang PKN, serta Bahasa Indonesia. Kami menyadari bahwa isi dari laporan ini sangatlah jauh dari sempurna, begitu juga dari segi penulisan atau penyajian masih banyak kekurangannya, karena kami masih ada dalam tahap penbelajaran. Oleh karena itu, tidak lupa Penulis ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu, terutama kepada yang terhormat: Bapak DRS. Susiyanto, selaku kepala sekolah SMK Perguruan CIKINI. Bapak Tri Handito, S.pd, selaku guru mata pelajaran PKN. Ibu Kelastutik, S.Pd. Selaku wali kelas di kelas 2 EI (Elektronika Industri). Ibu Farida, S.Pd. Bapak Suroto, S. Si, dan Bapak Ervan Ricardo, selaku guru Seluruh pihak guru dan staff Tata Usaha di SMK Perguruan CIKINI. Dan adapun dengan selesainya makalah ini, kami sangat berharap serta berbahagia sekali jika bapak/ibu guru dapat memberikan kritik atau saran mengenai

mata pelajaran produktif.

Pendidikan KewargaNegaraan (PKN) KONFLIK KASMIR laporan ini, yang mana kritik dan saran dari bapak/ibu sangat berguna demi kesempurnaan laporan yang telah kami susun.

Wasalamualaikum Wr. Wb Jakarta, 18 Januari 2010 Penyusun,

Kelompok 5

KATA 2

PENGANTAR....

DAFTAR ISI 3

...

BAB 1 4-5

: PENDAHULUAN 1.1 1.2 1.3 Latar Belakang .. 4 Maksud Dan Tujuan . 4-5 Sistematika penulisan 5

BAB 2 2.1 2.2

: Latar Belakang Letak Geografis .. Gambaran Umum .. 3 6 7

Negara. 6-7

Pendidikan KewargaNegaraan (PKN) KONFLIK KASMIR BAB 3 : Pembahasan Materi (Konflik Kashmir) ... .. 3.1 3.2 3.3 3.4 BAB 4 16-18 8-15 Penyebab Konflik Kashmir ... Kemerdekaan Selama 72 Hari ... Perang Tetap Berlanjut .. Cara Penyelesaian Konflik . : 8-10 10-12 12-13 13-15

Kesimpulan ..

Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Pada saat sekarang ini banyak anak muda termasuk para siswa tidak terkecuali kami selaku pembuat serta penyusun makalah ini tidak memperdulikan tentang makna sebuah perjuangan, dan jerih payah para pejuang yang telah diraih oleh mereka. Jangankan menoleh kebelakang untuk melihat peristiwa sejarah masa lalu, untuk menghargai hasil yang telah diraih pun terkadang kita mengabaikannya.

Pendidikan KewargaNegaraan (PKN) KONFLIK KASMIR Oleh karena itu, saya selaku penulis ingin menuangkan tentang sejarah suatu Negara sejak Negara itu masih Berjaya hingga menjadi Negara yang miskin dan merosot menjadi Negara terbelakang. Walaupun dalam konteks ini atau dalam kutipan makalah ini bukan tentang Negara kita tercinta yaitu Indonesia yang kami terangkan. Tapi dengan adanya atau dijelaskannya makalah ini kepada para siswa nantinya khususnya seluruh anak kelas 2EI , semoga sesudahnya kita semua dapat memetik pelajaran apa saja yang dapat kita ambil terhadap perjuangan para pahlawan pembela tanah air dan agama sebelumnya. 1.2 Maksud Dan Tujuan 1.2.1 Maksud Pembuatan Makalah : Adapun maksud dilaksanakannya pembuatan makalah ini adalah : A. Membentuk kemampuan siswa untukl memahami dan menghargai jerih payah para pahlawan (baik itu membela tanah air ataupun agama). B. Memperluas, memantapkan, dapat menambah Indonesia C. Membantu siswa agar bisa membuat karya sastra, yang tentunya makalah ini. Bagaimana pembuatannya, kerangka makalahnya, dll. 1.2.2 Tujuan Pembuatan Makalah: Adapun tujuan siswa membuat makalah ini adalah : A. Agar siswa dapat memenuhi nilai di buku nilai mata pelajaran PKN, B. Sebagai materi pembahasan dalam proses pembelajaran setiap minggunya 1.3 Sistematika Penulisan Seperti layaknya karya ilmiah, dalam penulisan laporan ini Penulis menggunakan sistematika penulisan seperti biasanya. Dimana sistematika penulisan dalam laporan ini adalah sebagai berikut: 1. BAB 1 Pendahuluan 5 wawasan tentang sejarah serta konflik apa saja yang terjadi di Negara lain diluar

Pendidikan KewargaNegaraan (PKN) KONFLIK KASMIR Meliputi latar belakang, maksud dan tujuan, serta sistematika penulisan. 2. BAB 2 singkat 3. BAB III Tinjauan Umum Meliputi latar belakang berdirinya instansi, sejarah instansi, gambaran umum, serta sarana, prasarana dan peralatan instansi/perusahaan Aktivitas/ Proses Prakerin Bab ini menjelaskan susunan kegiatan saya selama melaksanakan PRAKERIN di PT. Hanyung Fujisei, yang meliputi setting perusahaan, dan macam-macam kegiatan. 4. BAB IV Pembahasan Materi/ Materi Yang Diberikan Bab ini penulis mencoba memflasback materi-materi yang di berikan selama di PT. Hanyung Fujisei. Bab ini meliputi produk yang diproduksi, division delivery product, sistem kerja

Latar Belakang Negara


6

Pendidikan KewargaNegaraan (PKN) KONFLIK KASMIR

2.1

Letak Geografis
Kashmir Letak adalah wilayah yang memiliki luas 222.236 kilometer. geografisnya 34.08 LU 74.83 BT. Wilayah negara tersebut terletak di wilayah jantung Asia. Dibagian bersinggungan negara bagian utara langsung India, kashmir dengan Himachal

Pradesh dan Punjab serta jammu. Di bagian barat berbatasan dengan North West Frontier, Pakistan dan Afghanistan. Disebelah timur kasmir berbatasan dengan provinsi Sinkiang, RRC dan Tibet. utara dan

2.2

Gambaran Umum
Sebagai salah satu dari 25 provinsi di India, Kashmir terdiri dari beberapa kawasan. Tetapi yang sering disebut, hanya Jammu dan Kashmir, sebab dua daerah itulah yang terbesar populasi penduduknya. Jammu dan Kashmir mempunyai tiga komponen berbeda, yakni Hindu di Jammu, Muslim di Lembah Kashmir, dan Budha mendominasi Ladakh di utara. Ibukota Kashmir, Srinagar, berada di kawasan Lembah Kashmir. Kashmir adalah negeri yang mayoritas penduduknya beragama muslim. Sekitar 85 % dari delapan juta penduduknya beragama Islam. Jumlah penduduknya sebesar 10.069.917, terbesar ke-18 didunia. Serta kepadatan penduduknya adalah 45,31/km. Pada awalnya, negeri ini dikenal dengan sebutan Surga Dunia, karena Tanahnya yang subur yaitu Lembah Kashmir yang letaknya antara Himalaya dan Gunung Pir Panjal, keindahan alamnya yang mempesona dan pemandangannya indah, dengan aliran sungai es Siachen diketinggian 6000 meter. Semua itu menjadikan Kashmir diberi julukan atas keindahan alamnya yang luar biasa yaitu A garden of eternal spring dan an iron fort to a palace of kings. Kekayaan alam Kashmir ini sedikitnya memberikan pemasukan devisa sekitar 400 juta dolar per tahun dari para pelancong. 7

Pendidikan KewargaNegaraan (PKN) KONFLIK KASMIR Keragaman populasi, berpadu dengan keindahan alam, membuat kawasan penghasil karpet dan kain ini, menjadi daeruah tujuan wisata, sampai era 90-an. Daerah Kargil, pernah dikunjungi 12 ribu wisatawan, hanya dalam jangka lima bulan. Wilayah Kashmir memiliki keuntungan yang sangat menggiurkan dari segi ekonomi. Kashmir merupakan obyek wisata yang terkenal dengan keindahan alamnya dan juga merupakan pusat industri wol, karpet, serta dengan tanahnya yang subur. Selain itu Kashmir merupakan tempat mengalirnya sungai-sungai besar Indus, Jhelum yang penting bagi sektor pertanian. Dibidang militer, lembah Kashmir adalah tempat yang sangat strategis bagi pertahanan negara dengan wilayahnya yang memiliki topografi pegunungan, serta merupakan wilayah dengan perbatasan dengan banyak negara seperti Afganistan, China, Tibet.

Pendidikan KewargaNegaraan (PKN) KONFLIK KASMIR

Pembahasan Materi (Konflik Kashmir)


3.1 Penyebab Konflik Kahmir
Sebelum Kerajaan Islam Mughol berkuasa pada tahun (1526-1858), Kashmir dikuasai oleh kerajaan Budha dan Hindu. Kemudian Kerajaan Mughol runtuh karena mengalami kekalahan dalam perang melawan Kerajaan Inggris dalam peristiwa Sepoy Muntiny. Akibatnya, seluruh daratan India dikuasai oleh Inggris termasuk Kashmir. Sebelum tahun 1947, semasa pemerintahan Maharaja Hari Singh wilayah Kashmir yang se luas 222.236 km, terbagi atas Azad Kashmir (northern Area), Kashmir Valley (kashmir), Jammu, dan Ladakh. Tahun 15 Agustus 1947, berakhirnya kekuasaan Hari Singh. Azad Kashmir memproklamirkan dan merayakan kemerdekaan bahwa Kashmir ikut Pakistan, Daerah Aksai Chin (bagian dari Ladakh) dikuasai China Kashmir, serta Jammu, Ladakh pun menjadi negara bagian India. Semua Negara yang 1.1 Gbr. Hari singh tadinya adalah satu Negara menjadi terpisah satu per satu, namun semua itu segera dihentikan oleh tentara kerajaan Kashmir dengan kekerasan, dan sejak saat itulah tragedi di Kashmir bermula. Setelah kekuasaan Hari sing berkhir,

bergantilah kekuasaan/ tahta itu kepada Sultan Akbar, ia menaklukan Kashmir tahun 1586, selanjutnya silih berganti di bawah kekuasaan penguasa Islam kerajaan Moghul. Setelah keruntuhan kerajaan Moghul. Di tahun 1819 Sikh Ranjit Singh menguasai Kashmir, tetapi 9

Pendidikan KewargaNegaraan (PKN) KONFLIK KASMIR akibat kerapuhan pemerintahannya maka kekaisarannya hancur dan jatuh ketangan Inggris pada saat Inggris mengambilalih Punjab dirinya sendiri) dari 1.2 Gbr. Ranjit Sin di tahun 1846. Kashmir kemudian dijual kepada Maharaja Ghulab Singh (yang menobatkan

Jammu seharga 7.5 juta Rupee (sekitar US$ 166) dibawah Perjanjian Amritsar. Ghulab Singh juga menguasai Ladakh, Zanskar, Gilgit dan Baltistan dibawah kontrolnya. Dilanjutkan oleh para penerus Maharajah, yang ditandai dengan beberapa pemberontakan oleh rakyat Kashmir, yang sebagian besar saat ini adalah Muslim. Di tahun 1889 Maharajah Ghulab Singh kehilangan kekuasaan administratif atas Kashmir akibat memburuknya kondisi pada daerah perbatasan. Inggris kemudian mengembalikan kekuasaan penuh kepada Dogra untuk memerintah di tahun 1921. Pada masa ini Masyarakat Muslim Kashmir mulai mendapatkan tekanan dari pemerintahan Hindu Dogra. Sejak saat itu penduduk muslim pun tentunya mendapat tekanan kuat dari penguasa Hindu. Pendidikan dan lapangan pekerjaan muslim menjadi tersisih. Tahun 1931 penduduk muslim melakukan gerakan protes dengan sebutan Tehreek I-jihad. Gerakan itu menyebabkan terjadinya kerusuhan, yang kemudian pemerintah mengubah kebijaksanaan dengan memberikan peluang mendirikan partai politik kepada penduduk muslim Kashmir. Pendapat lain mengtakan, bahwa Berdasarkan asumsi dasar dari teori realisme, maka saya akan mencoba menganalisa penyebab terjadinya konflik India-Pakistan. Realisme mempunyai pandangan pesimis atas sifat dasar manusia, dimana manusia selalu cemas akan keselamatan dirinya akan hubungan persaingannya dengan yang lain. Selain itu realisme juga sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keamanan nasional dan kelangsungan hidup suatu negara. Persoalan adu kekuatan antara India-Pakistan juga menjadi faktor lain yang menyebabkan meruncingnya konflik. Kedua negara baik India maupun Pakistan sering melakukan adu kekuatan militer melalui uji coba senjata nuklir. Hal ini sesuai dengan teori Balance of Power (BOP) dimana ketika ada suatu negara yang dianggap mengancam, maka negara yang merasa terancam tersebut akan balik mengancam. Situasi ini kemudian telah berubah menjadi Balance of 10

Pendidikan KewargaNegaraan (PKN) KONFLIK KASMIR Terror. Selain itu mengapa konflik India-Pakistan terjadi karena kedua negara berusaha untuk mencapai kepentingan nasional (National Interest) masingmasing Negara. Dalam hal ini adalah terkait dengan pemilikan wilayah Kashmir. Dalam kasus ini Pakistan menganggap bahwa India telah mencaplok wilayah Khasmir dan hal ini menjadi salah satu alasan mengapa kemudian konflik terjadi. Beberapa penyebab konflik yang lain adalah karena tentara India diberikan impunitas untuk tidak dikenakan hukuman atas tindakan kekerasan yang mereka lakukan (special powers) melalui sebuah Akta Angkatan Bersenjata Jammu dan Kashmir. Pemerintah India juga menolak peran Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sebagai pihak ketiga untuk menyelesaikan sengketa dengan alasan bahwa Kashmir adalah urusan bilateral India dan Pakistan. Yang jadi persoalan, mayoritas penduduk Kashmir adalah muslim. Di teritori yang dikuasai India, misalnya, dari 8 juta penduduknya, hampir 6 juta muslim. Sedang penduduk di Azad kashmir, 99 Persen muslim. Karena faktor agama inilah, konflik yang semula hanya persoalan 'wilayah' jadi melebar. Konflik ini lebih kompleks lagi, karena di dalam konflik antar agama itupun, masih ada konflik aliran. India sendiri mengklaim bahwa konflik Kashmir bukan karena agama. Buktinya, sewaktu India dan Pakistan belum merdeka, negeri Kashmir amanaman saja. Meski sebagian besar penduduknya muslim dan pemerintahannya Hindu, tapi di Kashmir tak ada konflik. Sama seperti India ketika di bawah Sultan Akbar -- meski mayoritas Hindu dan diperintah oleh muslim, India aman dan sejahtera. Islam di Kashmir, menurut pihak India, yang berkembang adalah sufisme yaitu ajaran yang lebih mementingkan spiritual. Ajaran sufisme Islam ini tidak berbenturan secara konfrontatif dengan spiritualisme Hindu. Mereka bisa bekerjasama.Sebagai contoh, Sultan Akbar dan tiga generasi sesudahnya berhasil membangun kerajaan besar Islam di India dengan konsep sufisme itu tadi. Kerajaan Kashmir yang mayoritas Islam dan Jammu yang mayoritas Hindu keduanya di bawah kerajaan Hindu sebelum terbawa arus 'permusuhan' Pakistan dan India, juga hidup aman, sejahtera, dan rakyatnya saling menghormati. Pakistan balik menuduh India sengaja memutar-balikkan fakta untuk menguasai Kashmir. Bagi Pakistan, penduduk Kashmir yang sebagian besar Islam, 11

Pendidikan KewargaNegaraan (PKN) KONFLIK KASMIR selayaknya masuk dalam Pakistan. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah kenapa timbul konflik? Semua ini terjadi karena kepentingan politik dan kekuasaan.

3.2

Kemerdekaan Selama 72 Hari


Di tahun 1947, Mahatma Ghandi memimpin bangsa India untuk merdeka dari penjajahan Inggris dengan perjuangan yang gigih. Tapi perjuangan itu memang mahal sekali. Pada saat Gandhi memimpin pergerakan umat Hindu, Mohammed Ali Jinnah sedang berjuang bersama umat Muslim. Jinnah menuntut pemisahan India menjadi dua bagian: Muslim dan Hindu. Ketika Inggris angkat kaki dari India, Liga Muslim mendirikan negara Pakistan (berasal dari Propinsi Pakistan Barat) dan Banglades. Kerusuhan merebak ketika minoritas Muslim dan Hindu merasa terjebak di beberapa daerah, dan dalam waktu 1 minggu 1/2 juta manusia tewas. Gandhi yang renta bersumpah untuk berpuasa hingga kerusuhan berhenti, dan hal itu dilakukannya hingga membahayakan kesehatannya sendiri. Pada saat yang sama, Inggris kembali untuk membantu mengembalikan keadaan. Keadaan kembali aman, kecuali daerah Kashmir. Selama masa pembagian India di tahun 1947, Jammu & Kashmir adalah salah satu dari 560 Princely States, yang bukan merupakan daerah teritori dibawah hukum Negara Inggris tetapi berada dibawah wewenang langsung Kerajaan Inggris. Hukum yang berlaku saat itu memberikan kebebasan untuk bergabung dengan India atau Pakistan, atau tetap berdiri sendiri. Pada tanggal 19 Juli 1947 Kongres Muslim memberikan keputusan resmi melawan India, yaitu tetap berdiri sendiri. Tetapi suara mereka tidak mewakili suara seluruh rakyat, terutama tidak adanya dukungan dari pihak Hindu. Pada tanggal 15 August sebagai batas akhirnya, Maharajah Hari Singh merasa berkeberatan, dan secara otomatis negara bagian Jammu & Kashmir menjadi berdiri sendiri.. Setelah itu , Jammu dan Kashmir telah terbagi menjadi 2 bagian, akibat terjadinya fraksi antara Muslim dan Hindu. Maharajah yang merasa ngeri atas perang antar suku kemudian menyetujui untuk menggabungkan Kashmir kedalam India berdasarkan sebuah Perjanjian Asesi pada tanggal 26 Oktober 1947. Perjanjian Asesi inilah yang hingga kini masih merupakan isu perselisihan antara India dan Pakistan, yang mempersoalkan kesyahan dari perjanjian ini, dengan mununjuk bahwa India tidak pernah mengadakan referendum seperti 12

Pendidikan KewargaNegaraan (PKN) KONFLIK KASMIR yang direncanakan oleh Gubernur Jenderal India, Lord Mountbatten akan diadakan tanggal 27 Oktober 1947. Gerakan yang dilakukan oleh Mohammed Ali Jinnah, yang menjadi pendiri negara Pakistan, menambah kesengsaraan di daerah ini. Menurut otobiografi Sheikh Abdullah, ketika seorang aktifis National Conference, Ali Mohammad Tariq, bertanya kepada Jinnah sesaat setelah pembagian daratan India, apakah masa depan Kashmir akan diputuskan oleh rakyat Kashmir. Dia sangat terkejut atas jawaban Jinnah: Biarkan mereka mati!. Pakistan memutus suplai komiditi penting seperti garam, bahan bakar ke Jammu & Kashmir; dan juga suplai surat berharga dan sejenis uang koin kepada Imperial Bank di Kashmir. Karena jalan yang menghubungkan antara Kashmir dan India berada di wilayah Pakistan, permasalahan menjadi semakin rumit akibat timbulnya protes dari Maharaja, yang sekarang menikmati dukungan Sheikh Abdullah untuk memimpin India. Untuk mendukung gerakan Muslim mencapai kekuasaan di Pakistan, Jinnah mengijinkan sekelompok suku dari perbatasan propinsi Barat Laut untuk menggertak Kashmir. Selama tiga hari penduduk Kashmir menjadi korban perampasan masal, kerusuhan dan pemerkosaan, yang membuat India segera mengirimkan pasukannya ke Kashmir. Ketika pasukan India mendarat di lapangan terbang Srinagar (ibukota Kashmir) pada pukul 9.00 malam tanggal 27 Oktober 1947, Pakistan telah menguasai sepertiga daerah Kashmir, dan pertempuran dahsyat terjadi hingga tahun 1948. Gencatan senjata diadakan pada tanggal 1 January 1949 dengan membuat garis demarkasi di Jammu & Kashmir, yang memisahkan daerah: sebelah Timur (lembah Kashmir, Jammu dan Ladakh) dijaga oleh pasukan India, sebelah Barat (dikenal sebagai Azad [Bebas] Kashmir), diawasi oleh Pakistan. Pasukan PBB hingga saat ini masih menjaga daerah persengkataan tersebut sejak tahun 1949.

3.3

Peperangan tetap berlanjut


Di tahun 1957 negara bagian Jammu & Kashmir bergabung dengan tahun 13 negara 1965, kesatuan India hebat dibawah sebuah konstitusi baru. Di peperangan

Pendidikan KewargaNegaraan (PKN) KONFLIK KASMIR pecah lagi, dimana India menguasai lembah diantara Dras dan sungai Suru. Mereka mengembalikan daerah tersebut kepada Pakistan sesuai dengan perjanjian terhadap Pakistan, dan kembali mengambilalih daerah tersebut ketika pecah perang sipil di Pakistan Timur pada tahun 1971. Di tahun 1987, Front Muslim Bersatu dibentuk, melakukan lobi dan memenangkan hak untuk mengadakan pemilihan umum di Kashmir pada tahun 1989. Hanya sebagian kecil masyarakat yang mengikuti pemungutan suara, yang menyebabkan Kongres Nasional memegang kekuasaan. Pemimpin partai, Dr. Farooq Abdullah, seorang Muslim, mengundang para pemimpin yang bertikai untuk berunding, tapi tidak memberikan hasil. Pada akhir tahun itu juga muncul perjuangan baru untuk kemerdekaan Kashmir. Jumlah pasukan separatis berkembang dari ratusan menjadi ribuan, yang sebagian besar adalah proPakistan Hizbul-Mujahideen. Front Liberasi Jammu & Kashmir (JKLF) merupakan kelompok pro-independen yang terbesar, tapi pengaruhnya semakin melemah. Kelompok lainnya bergabung dibawah payung Kongres Hurriyat (Kemerdekaan), yang berkampanye dengan cara damai untuk mengakhiri keberadaan India di Kashmir. India membubarkan pemerintahan negara bagian tersebut dan menempatkannya berada langsung dibawah pengawasan gubernur. Dari 26 Januari 1990 dan seterusnya, penduduk Kashmir mengalami jam malam selama 8 bulan berturut-turut sebagai penerapan hukum darurat. Lebih dari 1/2 juta tentara India dikirimkan untuk menjaga Kashmir. Di bulan Mei 1999, terjadi serangan oleh kelompok Muslim yang didukung Pakistan yang mengakibatkan India melakukan serangan balasan di Kargil, Dras dan Batalik, tiga sektor yang paling strategis antara Srinagar dan Ladakh. Kondisi di lembah antara Dras dan sungai Suru dikelilingi pertempuran paling tinggi di dunia. oleh pegunungan, Ladakh berada pada ketinggian sekitar 2.100m (7.000ft), menjadikannya arena

14

Pendidikan KewargaNegaraan (PKN) KONFLIK KASMIR Kemelut antara Negara Kashmir, Pakistan serta India pun tidak berhenti sampai di situ. Pada tahun 1998, India yang meluncurkan lima buah nuklir kepada Negara Pakistan, selain itu juga india mengerahkan ratusan ribu serdadu untuk menyerang Pakistan. Dari hal itu, Pakistan pun mengira bahwa india telah memancing palestina untuk balapan senjata saat itu. Palestina pun tidak mau kalah, Negara itu pun meluncurkan nuklir sebanyak enam buah kepada india. Peluncuran rudal serta nuklir itu pun berlanjut hingga tahun 2001.

3.4

Cara Penyelesaian Konflik


Berdasarkan asumsi dari teori realisme situasi damai dikatakan dapat terjadi ketika terjadi Balance of Power yaitu dimana terdapat dua kekuatan yang secara relatif sama kuat, yang kemudian akan saling mengancam, namun tidak saling menyerang. Situasi ini, berdasarkan teori realisme disebut sebagai situasi yang damai. Dalam kasus konflik India-Pakistan, hal ini juga terjadi dimana baik India maupun Pakistan sama-sama saling mengancam melalui penempatan rudalrudal baik India maupun Pakistan di daerah perbatasan. Selain itu, realisme mempunyai asumsi bahwa salah satu alternatif cara penyelesaian konflik adalah dengan perang. Hal ini kemudian terkenal dengan istilah Civis Pasum Para Bellum yang berarti jika ingin berdamai maka bersiaplah untuk berperang. Maka berdasarkan asumsi teori realisme, cara penyelesaian konflik yang terbaik antara India dan Pakistan adalah dengan perang. Hakikatnya persetujuan Soviet Union (SU) dengan Amerika Syarikat (AS) pada tahun 1972 yang berhasil membentuk Strategic Arms Limitation Talks (SALT I) dalam mewujudkan kawalan dalam pembinaan senjata nuklir, sistem pelancar senjata nuklir dan sebagainya oleh kedua-dua negara dapat dijadikan sebagai model yang dapat diaplikasikan sebagai jalan penyelesaian terhadap masalah India dan Pakistan. Walaupun dalam era Perang Dingin menyaksikan AS dan Soviet Union terlibat dalam persaingan kuasa dan senjata yang sangat berisiko mampu mencetuskan peperangan, namun ia berhasil dielakkan atau dihindari melalui persetujuan pembentukan SALT I. Keberhasilan SALT I telah mampu memupuk keyakinan dan kepercayaan antara kedua-dua kuasa besar dunia yang secara langsung memperluaskan kerjasama 15

Pendidikan KewargaNegaraan (PKN) KONFLIK KASMIR mengadakan pengawasan terhadap penghasilan senjata ofensif dan pengurangan dari segi kekuatan persenjataan antara negara dalam SALT II pada tahun 1979. Model SALT ini sebenarnya boleh diaplikasikan dalam masalah hubungan ada India dan Pakistan. Persetujuan kedua-dua negara ini untuk mengadakan pengawasan terhadap persenjataan pasti akan meningkatkan keyakinan dan kepercayaan antara negara yang secara langsung meredakan dilema keselamatan serta mengurangkan risiko tercetusnya peperangan. Perlu kita pahami dalam fenomena persaingan senjata, seperti penghasilan, pemilikan dan pembangunan persenjataan oleh sesebuah negara akan mengundang kepada terwujudnya kesan sampingan ke atas negara lain dengan timbulnya ancaman yang jelas ataupun sebagai dilema keselamatan. Dengan tiadanya usaha dan tatacara pengawasan dalam penghasilan dan pemilikan persenjataan oleh India dan Pakistan, hal ini justru akan membuat peluang untuk munculnya konflik menjadi sangat besar. Proses ini sebenarnya dapat kita lihat dalam skenario pemilikan nuklir oleh India yang dibangunkan semenjak 1960-an telah mencetuskan fenomena persaingan senjata dengan seterunya di mana Pakistan turut membangunkan nuklear pada 1970-an untuk memastikan sistem pertahanan dan ketenteraannya tidak ketinggalan dan seimbang. Persaingan pesat ini telah membawa kepada peningkatan risiko konflik yang lebih besar yaitu peperangan nuklir yang meletus pada tahun 1998. Walaupun berbagai usaha dan desakan masyarakat dunia berhasil menghalang peperangan meletus antara kedua-dua negara ini (Pakistan-india) pada tahun 1998, namun hal ini tidak berarti risiko peperangan antara IndiaPakistan telah reda. Sebaliknya uji coba senjata nuklir yang sering dijalankan oleh kedua-dua negara mampu membuka ruang kepada meletusnya ketegangan seperti mana yang telah dilalui pada tahun 1998. Pembentukan SALT di antara India dan Pakistan akan merintis kepada pembinaan keyakinan antara negara. Peningkatan keyakinan yang kukuh akan membawa kepada hubungan yang baik dan mendorong kaedah diplomasi dijadikan sebagai langkah dalam menyelesaikan masalah-masalah yang membelenggu hubungan kedua-dua negara.

16

Pendidikan KewargaNegaraan (PKN) KONFLIK KASMIR

Kesimpulan
17

Pendidikan KewargaNegaraan (PKN) KONFLIK KASMIR Jadi kesimpulan dari konflik Kashmir adalah : Jammu dan Kashmir adalah Negara yang didominasi Islam dan Hindu. Islam 64,19%, atau 3.843.305 jiwa, yang berkosentrasi di Kashmir (94,96%). Awalnya jumlah penduduk muslim di Jammu dan Kashmir 7 juta. Akibat konflik yang berlarut, banyak yang eksodus ke Azad Kashmir, terutama dari Jammu, yang pada tahun 1941 penduduk muslim 61%, kini tinggal 30%. Di daerah Ladakh sebagian besar (51%) adalah beragama Budha. Ledakan konflik Kashmir dimulai karena keinginan masyarakat Muslim untuk membentuk pemerintahan yang berdiri sendiri serta terpisah dengan India dengan mayoritas Hindu. Hal ini terbukti dengan berdirinya Pakistan menjadi negara yang merdeka pada 14 Agustus 1947. Louis Mountbatten, Raja Muda Inggris di India sebagai perwakilan pemerintah Inggris pada akhir persetujuan pembagian India menjadi negara Muslim dan non-Muslim menyatakan bahwa negara-negara kepangeranan (Princely States) dapat memilih untuk bergabung dengan salah satu dari kedua negara tersebut dengan mempertimbangkan komposisi agama negara mereka, kondisi geografik serta harapan rakyatnya. Faktanya berbicara lain karena Jammu Kashmir berada dalam kekuasaan pemimpin yang beragama Hindu, dalam tindakannya Maharaja Harry Singh bertindak ragu untuk tidak memilih India ataupun Pakistan dan ini menimbulkan keresahan rakyat Jammu Kashmir yang mayoritas ingin bergabung dengan Pakistan karena dari segi historis, emosional dan kultural Kashmir memiliki kedekatan dengan Pakistan karena faktor agama yang sama yaitu Islam, karena dari sekitar 12.000.000 jiwa penduduk Jammu-Kashmir 77 % persen adalah Muslim. Kemudian yang terjadi adalah terbaginya Jammu Kashmir menjadi dua friksi besar antara Muslim (Kashmir) dan Hindu (Jammu). Sikap Harry Singh ini menimbulkan kemarahan rakyat Kashmir dengan melakukan protes yang dibantu oleh Pakistan yang berdampak pada semakin terdesaknya posisi Harry Singh.

Hasil penelitian Sumber Pemberontakan Kashmir : Sumber tuntutan kemerdekaan Kahsmir bukan hal sederhana, tetapi bersifat multiple : 1. Sumber primordial 18

Pendidikan KewargaNegaraan (PKN) KONFLIK KASMIR Pengalaman sebagai bangsa terjajah, dan keyakinan mereka secara historis mempunyai identitas yang berbeda dengan kelompok etnik lainnya. Identitas terkenal mereka adalah Kashmiriyat (Kashmiriness), identitas yang memberikan ekslusivitas agama, bahasa, dan teritori. Apabila muslim lainnya di India menggunakan bahasa Urdu sedang orang Hindu menggunakan bahasa Hind, Kashmir menggunakan bahasa Khasmiri.Mereka merasa memiliki alasan sejarah, kultural, dan geografis (yang terisolasi). 2. Sumber Konstekstual (1) Sumber politik Intervensi New Delhi yang membuat rakyat Kahsmir semakin tidak percaya, serta semakin banyaknya masyarakat Kashmir yang berpendidikan. Sulitnya warga Kashmir masuk institusi militer dan lembaga pemerintahan, dan pembatasan media massa. Juga banyak tokoh politik vokal yang diintimidasi atau ditangkap seperti Syed Ali Shah Geelani m(Jamaat-i-Islam), Abdul Gani Lone (Pepoples Conference), Maulana Abbas, Qqazi Nissar, Abdul ghani Bhat (Muslim United Front). (2) Sumber Ekonomi Bukan faktor utama, tetapi berpengaruh terutama dalam diskriminasi perolehan pekerjaan dan pendidikan. Kashmir justru termasuk negara yang angka kemiskinannya di bawah rata-rata India, walau daerah ini terus dilanda konflik politik. (3) Sumber sosial (a) Kebijakan beragama diskriminatif, sebagai misal Konstitusi India 1950 yang memberikan kebebasan menjalankan ibadah, sering tidak sesuai dengan juklak atau kenyataan yang ada (Edwin MB Tambunan: 2004). Sebagai contoh pembatasan kegiatan dakwah, pengkaderan dan pendidikan Islam yang dibatasi oleh pemerintah India. Kegiatan keagamaan Islam sering dibatasi karena dikhawatirkan akan merangsang konflik dengan Hindu. Kebijakan ini juga berlaku di Kashmir yang secara sosiologis berbeda dengan penduduk India di tempat lainnya. (b) Kebijakan bahasa, dengan penggunaan bahasa Hindi sebagai bahasa nasional, dan bahasa Inggris dalam bahasa birokrasi atau bahasa kantor dan merupakan bahasa wajib di sekolah dianggap Kashmir sebagai ancaman terhadap bahasa Kahsmiri. 19

Pendidikan KewargaNegaraan (PKN) KONFLIK KASMIR (c) Munculnya sentimen pemeluk Hindu menjelang akhir tahun 1980-an yang menuntut persatuan nasional atas dasar kebudayaan dan agama yang seragam. Kemudian muncul Shiv Sena, Bajran Dal, Vish-wa Hindu, Parishad, dan Partai Bharatiya Janata Party (BJP) yang kesemuanya bersatu di bawah Hindutva yang menginginkan Hindu dijadikan sebagai acuan pokok dalam penyelenggaraan Negara (4) Sumber Konstruktif Tiga kelompok sumber pejuang Kashmir : (a) (b) (c) Para plebisit front mereka yang menentang pendudukan India, menginginkan aksesi dengan Pakistan Politisi dan pejabat sipil yang tersingkir Kaum muda yang idealis dan militant Adapun akibat kibat yang ditimbulkan perang Kashmir adalah rasa takut. Selain dari kesulitan ekonomi yang diderita oleh semua pihak yang terlibat, India dan Pakistan mengadakan perlombaan senjata nuklir. Dengan China sebagai negara tetangga yang juga memiliki sengketa wilayah dengan India, dan Pakistan melepaskan sebagian dari Kashmir kepada China terlebih dahulu, maka kehidupan jutaan manusia menjadi pertaruhan. Ketika daratan tersebut dibagi dua pada tahun 1947, Mahatma Gandhi menyatakan bahwa daratan Kashmir berdiri diatas lingkaran kekacauan bagaikan contoh gemilang dari kehidupan sekuler. Saat ini, baik pihak pemerintahan India maupun pihak pemerintahan Pakistan saling mengadakan pembersihan etnis, dan kedua-duanya tetap menolak kemerdekaan Kashmir. Badan Amnesti Internasional dan Badan Hak Azazi Manusia sedunia telah menyatakan adanya pelanggaran hak azazi manusia yang dilakukan oleh kedua belah pihak yang berseteru.

20