Anda di halaman 1dari 37

Apakah Filsafat Itu?

Beberapa Kesalah-pahaman Apakah sesungguhnya filsafat itu? Pertanyaan demikian itu telah diajukan sejak lebih dari dua puluh abad yang silam dan hingga kini tetap dipertanyakan banyak orang. Berbagai jawaban telah diberikan sebagai upaya untuk menjelaskan apakah sesungguhnya filsafat itu, namun tidak pernah ada jawaban yang dapat memuaskan semua orang. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa banyaknya jawaban yang diberikan justru semakin mengaburkan masalah yang hendak dijelaskan. Dengan demikian, persoalannya menjadi semakin rumit. Apakah benar demikian? Kenyataannya sampai sekarang ini, masih banyak orang yang mengira bahwa filsafat adalah sesuatu yang serba rahasia, mistis, dan aneh. Ada pula yang menyangka bahwa filsafat adalah suatu kombinasi antara astrologi, psikologi, dan teologi. Tak mengherankan apabila di toko toko buku terkemuka sekalipun sering terlihat penempatan buku buku filsafat dicampur baurkan begitu saja dengan buku buku astrologi, psikologi, dan teologi. Selain itu, karena filsafat juga disebut sebagai mater scientiarum atau induk segala ilmu pengetahuan, maka cukup banyak pula orang yang menganggap filsafat sebagai ilmu yang paling istimewa, ilmu yang menduduki tempat paling tinggi dari antara seluruh ilmu pengetabuan yang ada. Karena itu, filsafat hanya dapat dipaharni oleh orang orang jenius. Filsafat hanya dapat dipelajari oleh orang orang yang memiliki kernampuan intelektual luar biasa. Sehubungan dengan anggapan itu, ada. banyak mahasiswa yang sengaja menghindari mata pelajaran filsafat karena dianggap terlampau sukar dan pelik. Sebaliknya, ada pula yang berpendapat bahwa filsafat itu tidak berharga untuk dipelajari. Filsafat tidak lebih dari sekedar lelucon yang tak bermakna alias "omongkosong". Apa gunanya mernpelajari filsafat yang tidak sanggup memberi petunjuk tentang bagaimana seseorang dapat meningkatkan keuntungan bagi perusahaannya? Apa gunanya mempelajari filsafat yang tak mampu memberi petunjuk tentang bagaimana merancang sebuah bangunan yang bisa memikat banyak orang sehingga laku dipasarkan? Apa gunanya mempelajari filsafat yang tidak dapat memberi petunjuk tentang bagaimana berternak ayarn yang paling berhasil? Singkatnya, mereka hendak mengatakan bahwa filsafat tidak memiliki kegunaan praktis. Ada pula yang berpendapat bahwa filsafat hanyalah sejenis "ilmu" yang mengawang tanpa merniliki dasar pijakan konkret yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Karena filsafat berbicara tentang apa saja, padahal suatu disiplin ilmu hanya mengacu pada satu objek tertentu, maka filsafat tidak dapat dikatakan sebagai suatu disiplin ilmu. Di kalangan para rohaniwan dan teolog, ada pula yang memperlakukan filsafat hanya sebagai ancilla theologiae, yakni sebagai budak atau pelayan teologi. Sebagai pelayan teologi, filsafat bertugas menformulasikan argumentasi argurnentasi yang kuat untuk membela keyakinan dan ajaran agarna, tanpa memperdulikan apakah cara yang

Handout - Filsafat

ditempuh itu benar dan sahih. Bahkan, ada juga rohaniwan dan teolog yang menuding filsafat sebagai alat iblis yang terkutuk. Karena itu, harus ditolak oleh semua orang beriman. Dalam percakapan, sehari hari, acap kali kita dengar ada orang yang mengatakan, "Falsafah saya adalah..." atau "Filsafat pengusaha yang berhasil itu dan sebagainya. Apakah sebenarnya yang dimaksudkan dengan ungkapan ungkapan tersebut? Apakah arti istilah "falsafah" atau "filsafat" yang digunakan dalam ungkapan ungkapan tersebut di atas? Istilah "falsafah" atau "filsafaf 'yang digunakan dengan cara itu sesungguhnya mengacu kepada. sikap, pandangan, dan gagasan yang dipegang oleh seseorang untuk men hadapi segala persoalan dan tantangan yang harus diatasinya. Ada lagi orang orang yang hendak menawarkan. "jasa baik dengan berupaya membedakan pernakaian istilah "falsafah" dan. "filsafaf dalam penggunaan praktis sehari hari, namun. malah berakibat semakin rancu. Ada juga yang mengatakan bahwa karena semua orang berpikir, sesungguhnya semua orang adalah filsuf. Apakah benar setiap orang yang berpikir itu adalah filsuf Jika benar demikian, berarti berpikir adalah berfilsafat, dan berfilsafat adalah berpikir. Jadi, pemikiran (sebagai hasil berpikir) adalah filsafat, dan filsafat adalah pemikiran. Memang benar orang yang berfilsafat itu berpikir, tetapi tidak semua yang berpikir berarti pula berfilsafat. Untuk berpikir secara filsafati, ada persyaratan persyaratan tertentu yang harus dipenuhi. Kesimpangsiuran pendapat dan pandangan yang telah dikemukakan itu belum menyentuh keanekaragaman gagasan gagasan filsafati yang acap kali saling bertentangan" satu sama lain. Konsep konsep filsafati yang saling bertentangan sering pula menimbulkan pertikaian tak terdamaikan yang membuat filsafat semakin dianggap kacau balau. Tentu saja, hal itu menimbulkan kesan buruk terhadap filsafat. Oleh sebab itu, dapat dipahami apabila ada orang yang berpendapat bahwa filsafat merupakan sesuatu yang tidak jelas, kacau balau, tidak ilmiah, penuh dengan pertikaian dan perselisihan pendapat, tidak mengenal sistern dan metode, tidak tertib, dan juga tidak terarah. Tidak mengherankan pula jika ada yang menawarkan pemikiran untuk menertibkan filsafat karena menganggap filsafat tidak tertib. Akan tetapi, dapat dibayangkan bagaimanakah jadinya suatu filsafat bila ditertibkan. Tidakkah ia akan menjadi begitu "kurus" dan sangat "kerdil" karena kehilangan ruang gerak dan wawasan? Pada masa kini ada sebagian orang yang mengatakan bahwa filsafat telah berada di penghujung jalan. Filsafat telah menempuh perjalanan yang sangat panjang dan kini harus berhenti. Pengembaraannya telah berakhir, dan tidak ada lagi sesuatu pun yang dapat dilakukannya. Filsafat sebagai induk segala ilmu pengetahuan telah berhasil melahirkan berbagai ilmu pengetahuan yang kini telah mandiri. Ilmu ilmu pengetahuan alam (natural sciences), ilmu ihnu pengetahuan sosial (social sciences), dan seluruh disiplin ilmu lainnya satu per satu telah memisahkan diri dari filsafat dan telah tumbuh menjadi dewasa. Filsafat selaku induk segala ilmu pengetahuan kini telah renta dan mandul. la tak mampu dan memang tak mungkin lagi untuk mengandung dan rnelahirkan. Karena itu, benar benar tidak berguna lagi.

Handout - Filsafat

Beberapa kesalah pahaman dan kekeliruan tersebut justru menunjukkan ketidaktahuan tentang apa sesungguhnya filsafat. Memang pengamatan sekilas terhadap keberadaan filsafat dapat menyesatkan. Akan tetapi, apabila benar benar disimak secara lebih serius dan lebih mendalam, filsafat akan semakin diminati, semakin menarik, semakin mernikat, dan semakin memukau. Pengertian dan Definisi Filsafat Secara. etiniologis, istilah "filsafat", yang merupakan padanan kata falsafah (bahasa Arab) dan philosophy (bahasa Ingris), berasal dari bahasa Yunani (philosophia). Kata philosophia merupakan kata majeMuk yang terdiri dari kata. philos dan sophia. Kata sophia berarti kekasih, bisa juga berarti sahabat. Adapun philos berarti kebijaksanaan atau kearifan, bisa juga berarti pengetahuan. Jadi, secara harfiah philosophia berarti yang mencintai kebijaksanaan atau sahabat pengetahuan. Oleh karena istilah philosophia telah di Indonesiakan menjadi "filsafat", seyogyanya ajektivanya ialah "filsafati" dan. bukan "filosofis". Apabila mengacu kepada orangnya, kata yang tepat digunakan ialah "filsuf ' dan bukan "filosof'. Kecuali bila digunakan kata "filosofi" dan bukan "filsafat", maka ajektivanya yang tepat ialah "filosofis", sedangkan yang mengacu kepada orangnya ialah kata "filosof'. Menurut tradisi kuno, istilah philosophia digunakan pertama kali oleh Pythagoras (sekitar abad ke 6 SM). Ketika diajukan pertanyaan apakah ia seorang yang bijaksana, dengan rendah hati Pythagoras menjawab bahwa ia hanyalah philosophia, yakni orang yang mencintai pengetahuan. Akan tetapi, kebenaran kisah itu sangat diragukan karena pribadi dan kegiatan Pythagoras telah bercampur dengan berbagai legenda; bahkan, tahun kelahiran dan. kematiannya pun tak diketahui dengan pasti. Yang jelas, pada masa Sokrates dan Plato, istilah philosophia sudah cukup populer. Untuk memahami apa sebenarnya filsafat itu, tentu saja tidak cukup hanya mengetahui asal usul dan arti istilah yang di gunakan, melainkan juga harus memperhatikan konsep dan definisi yang diberikan oleh para filsuf menurut pemahaman mereka masing masing. Akan tetapi, perlu pula dikatakan bahwa konsep dan definisi yang diberikan oleh para filsuf itu tidak sama. Bahkan, dapat dikatakan bahwa setiap filsuf memiliki konsep dan membuat definisi yang berbeda dengan filsuf lainnya. Karena itu, ada yang mengatakan bahwajumlah konsep dan definisi filsafat adalah sebanyakjumlah filsuf itu sendiri. Berikut ini, akan diketengahkan beberapa konsep dan definisi yang kiranya memadai untuk memberi gambaran lebih jelas tentang apakah filsafat itu. Para filsuf pra Sokratik mempertanyakan tentang awal atau asal mula alam dan berusaha menjawabnya dengan menggunakan logos atau rasio tanpa meminta bantuan mythos atau mitos. Oleh sebab itu, bagi mereka, filsafat adalah ilmu. yang berupaya untuk memahami hakikat alarn dan realitas ada dengan mengandalkan akal budi. Plato memiliki berbagai gagasan tentang filsafat. Antara lain, Plato pernah mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran yang asli dan murni. Selain itu, ia juga

Handout - Filsafat

mengatakan bahwa filsafat adalah penyelidikan tentang sebab sebab dan asas asas yang paling akhir dari segala sesuatu yang ada. Aristoteles (murid Plato) juga memiliki beberapa gagasan mengenai filsafat. Antara lain, ia mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang senantiasa berupaya mencari prinsip prinsip dan penyebab penyebab dari realitas ada. la pun mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berupaya mempelajari "peri ada selaku peri ada" (being as being) atau peri ada sebagaimana adanya" (being as such). Rene Descartes, filsuf Prancis yang termasyhur dengan argumen je pense, donc je suis, atau dalam bahasa Latin cogito ergo sum ("aku berpikir maka Aku ada"), mengatakan bahwa filsafat adalah himpunan dari segala pengetahuan yang pangkal penyelidikannya adalah mengenai Tuhan, alam, dan manusia. Bagi William James, filsuf Amerika yang terkenal sebagai tokoh pragmatisme dan pluralisme, filsafat adalah suatu upaya yang luar biasa hebat untuk berpikir yang jelas dan terang. R.F. Beerling, yang pernah menjadi guru besar filsafat di Universitas Indonesia, dalam bukunya Filsafat Dewasa Ini mengatakan bahwa filsafat "memajukan pertanyaan tentang kenyataan seluruhnya atau tentang hakikat, asas, prinsip dari kenyataan" Beerling juga mengatakan bahwa filsafat adalah suatu usaha untuk mencapai radix, atau akar kenyataan dunia wujud uga akar pengetahuan tentang diri sendiri. Konsep atau gagasan dan definisi filsafat yang begitu banyak tidak perlu membingungkan, bahkan sebaliknya justru menunjukkan betapa luasnya samudera filsafat itu sehingga tidak terbatasi oleh sejumlah batasan yang akan mempersempit ruang gerak filsafat. Perbedaan perbedaan itu sendiri merupakan suatu keharusan bagi filsafat sebab kesamaan dan kesatuan pemikiran serta pandangan justru akan mematikan dan menguburkan filsafat untuk selama lamanya. II. Asal Mula Filsafat Empat Hal yang Melahirkan Filsafat Bagaimanakah filsafat tercipta? Apa yang menyebabkan manusia berfilsafat? Sesungguhnya ada empat hal yang merangsang manusia untuk berfilsafat, yaitu ketakjuban, ketidakpuasan, hasrat bertanya, dan keraguan. Ketakjuban. Banyak filsuf mengatakan bahwa yang menjadi awal kelahiran filsafat ialah thaumasia (kekaguman, keheranan, atau ketakjuban). Dalam karyanya yang bejudul Metafisika, Aristoteles mengatakan bahwa karena ketakjuban manusia mulai berfilsafat. Pada mulanya manusia takjub memandang benda benda aneh di sekitamya, lama kelamaan ketakjubannya semakin terarah pada hal hal yang lebih Was dan besar, seperti perubahan dan peredaran bulan, matahari, bintang bintang, dan asal mula alam semesta. Istilah ketakjuban menunjuk dua hal penting, yaitu bahwa ketakjuban itu pasti memiliki subjek dan objek. Jika ada ketakjuban, sudah tentu ada yang takjub dan ada sesuatu yang menakjubkan. Ketakjuban hanya mungkin dirasakan dan dialami oleh makhluk yang

Handout - Filsafat

selain berperasaan juga berakal budi. MakhIuk yang seperti itu sampai saat ini yang diketahui hanyalah manusia. Jadi, yang takjub adalah manusia. jika subjek dari ketakjuban itu manusia, apakah yang menjadi objek ketakjuban itu? Objek ketakjuban ialah segala sesuatu yang ada dan yang dapat diamati. Itulah sebabnya, bagi Plato pengamatan terhadap bintang bintang, matahari, dan langit merangsang manusia uniuk melakukan penelitian. Penelitian terhadap apa yang diamati demi memahami hakikatnya itulah yang melahirkan filsafat. Pengamatan yang dilakukan terhadap objek ketakjuban bukanlah hanya dengan mata, melainkan juga dengan akal budi. Pengamatan akal budi tidak terbatas hanya pada objek objek yang dapat dilihat dan diraba; melainkan juga terhadap benda benda yang dapat dilihat tetapi tidak dapat diraba, bahkan terhadap hal hal yang abstrak, yaitu yang tak terlihat dan tak teraba. Oleh karena itu pula, Immanuel Kant bukan hanya takjub terhadap langit berbintang b6itang di atas, melainkan juga terpukau memandang hukum moral dalam hatinya, sebagaimana yang tertulis pada kuburannya: coelum stellatum supra me, lex moralis intra me. Ketidak-puasan. Sebelum filsafat lahir, berbagai mitos dan mite memainkan peranan yang amat penting dalam. kehidupan manusia. Berbagai mitos dan mite berupaya menjelaskan asal mula dan peristiwa peristiwa yang tedadi di alarn semesta serta sifat sifat peristiwa itu. Akan tetapi, ternyata penjelasan dan keterangan yang diberikan oleh mitos mitos dan mite mite itu makin lama makin tidak mernuaskan manusia. Ketidakpuasan itu membuat manusia terus menerus mencari penjelasan dan keterangan yang lebih pasti dan meyakinkan. Kenyataannya memang demikian. Ketidakpuasan akan membuat manusia melepaskan segala sesuatu yang tak dapat memuaskannya, lalu ia akan berupaya menemukan apa yang dapat memuaskannya. Manusia yang tidak puas dan terus menerus mencari penjelasan dan keterangan yang lebih pasti itu lambat laun mulai berpikir secara rasional. Akibatnya, akal budi semakin berperan. Berbagai mitos dan mite yang diwariskan oleh tradisi turun temurun semakin tersisih dari perannya semula yang begitu besar. Ketika rasio berhasil menurunkan mitos mitos dan mite mite dari singgasananya, lahirlah filsafat, yang pada masa itu mencakup seluruh ilmu pengetahuan yang ada dan telah dikenal. Hasrat bertanya. Ketakjuban manusia telah melahirkan pertanyaan pertanyaan, dan ketidakpuasan manusia membuat pertanyaan pertanyaan itu tak kunjung habis. Pertanyaan tak boleh dianggap sepele karena pertanyaanlah yang membuat kehidupan serta pengetabuan manusia berkembang dan maju. Pertanyaanlah yang membuat manusia melakukan pengamatan, penelitian, dan penyelidikan. Ketiga hal itulah yang menghasilkan penemuan baru yang semakin memperkaya manusia dengan pengetahuan yang terus bertambah. Karena itu, pertanyaan merupakan sesuatu yang hakiki bagi manusia. Menurut Sartre, kesadaran pada manusia senantiasa bersifat bertanya yang sungguh sungguh bertanya. Hasrat bertanya membuat manusia mempertanyakan segalanya. Pertanyaan pertanyaan yang diajukan itu tidak sekedar terarah pada wujud sesuatu, melainkan juga terarah pada dasar dan hakikatnya. Inilah yang menjadi salah satu ciri khas filsafat. Filsafat selalu mempertanyakan

Handout - Filsafat

sesuatu dengan cara berpikir radikal, sampai ke akar akamya, tetapi juga bersifat universal. Jika dikatakan bahwa manusia mempertanyakan segalanya, berarti manusia bukan hanya mempertanyakan segala sesuatu yang berada di luar dirinya. Manusia juga mempertanyakan dirinya sendiri yang memiliki hasrat bertanya. Bahkan, ia juga dapat mempertanyakan pertanyaan pertanyaan yang sedang Diperta-nyakannya itu. Itulah yang membuat filsafat itu ada, tetap ada, dan akan terus ada. Filsafat akan berhenti apabila manasia telah berhenti bertanya secara radikal dan universal. Keraguan. Manusia selaku penanya mempertanyakan sesuatu dengan maksud untuk memperoleh kejelasan dan keterangan mengenai sesuatu yang dipertanyakannya itu. Tentu saja hal itu berarti bahwa apa yang dipertanyakannya itu tidak jelas atau belum terang. Karena sesuatu itu tidak jelas atau belum terang, manusia perlu dan harus bertanya. Pertanyaan yang di ajukan untuk memperoleh kejelasan dan keterangan yang pasti pada hakikatnya merupakan suatu pemyataan tentang adanya aporia (keraguan atau ketidakpastian dan kebingungan) di pihak manusia yang bertanya. Memang ada yang mengatakan bahwa setiap pertanyaan yang diajukan oleh seseorang sesungguhnya senantiasa bertolak dari apa yang telah diketahui oleh si penanya lebih dahulu. Bukankah setiap orang yang bertanya itu sedikit banyak telah memiliki bayangan atau gambaran dari apa yang dipertanyakannya? Jika tidak, ia tidak akan dapat mengajukan pertanyaan itu. Oleh karena itu, sebagaimana yang dikutip oleh Beerling, Spinoza mengatakan:
Saya bertanya padamu, siapakah yang dapat mengetahui bahwa ia mengerti sesuatu, kalau dari mula mulanya ia tak mengerti tentang hal itu, artinya, siapakah yang dapat mengeiahui bahwa sesuatu adalah pasti baginya, Mau dari mula mula hal itu sudah tak pasti baginya?

Akan tetapi, karena apa yang diketahui oleh si penanya baru merupakan gambaran yang samar, maka ia bertanya. la bertanya karena masih meragukan kejelasan dan kebenaran dari apa yang telah diketahuinya. Jadi, jelas terlihat bahwa keraguanlah yang turut merangsang manusia untuk bertanya dan terus bertanya, yang kemudian menggiring manusia untuk berfilsafat. Proses Kelahiran Filsafat Filsafat, sebagai bagian dari kebudayaan manusia yang arnat menakjubkan, lahir di Yunani dan dikembangkan sejak awal abad ke 6 SM. Proses kelahiran filsafat itu membutuhkan waktu yang arnat panjang. Ketika suku suku bangsa Hellenes menyerbu masuk ke tanah Yunani sekitar tahun 2000 SM, mereka masih merupakan pengembara pengembara kasar yang belum mengenal peradaban. Mereka baru berhasil menaklukkan Yunani dan menyingkirkan penduduk aslinya setelah mereka mengambil alih peradaban dan kebudayaan pencluduk asli, yanc, pada masa itu telah mencapai tingkat cukup mengagumkan,

Handout - Filsafat

Selanjutnya, kendati orang orang Yunani telah memperoleh tempat pernukiman yang tetap, banyak di antara mereka yang gemar merantau, khususnya ke dunia Timur yang saat itu telah memiliki peradaban dan kebudayaan yang tinggi. Mereka merantau sampai ke Mesir dan Babylonia yang telah mengembangkan pengetahuan tulis menulis, astronomi, dan maternatika, yang prinsip dasarnya telah diletakkan oleh bangsa Sumeria. Bagaimanapun juga, orangorang Yunani tentu saja berhutang budi kepada orang orang Sumeria yang telah menernukan sistem hitungan sixagesimal yang didasarkan atas jumlah enam sebagai satuan kelipatan sehingga mereka telah mengenal pernbagian waktu: satu jam terdiri dari enam puluh menit dan satu menit terdiri dari enarn puluh detik. Bangsa Sumeria jugalah yang menentukan pembagian lingkaran ke dalam tiga ratus enam puluh derajat. Memang, orang orang Yunani berhasil mengolah berbagai i1mu pengetahuan yang mereka peroleh dari dunia Timur itu menjadi benar benar rasionalili niah dan berkenbang pesat. Pemikiran rasional ilmiah itulah yang melahirkan filsafat. Para filsuf Yunani pertama, yang mulai berfilsafat di Asia Kecil, sebenarnya adalah ahli ahli matematika, astronomi, ilmu bumi, dan berbagai ilmu pengetahuan lainnya. Karena itu, pada tahap awal, filsafat mencakup seluruh ilmu pengetahuan. Para filsuf Yunani pertama tersebut dikenal sebagai filsuf filsuf alam. Mereka berpikir tentang alam: apakah inti nya, bagaimanakah menerangkan peri adanya dan apakah sifat sifatnya yang paling hakiki. Dengan demikian, filsafat yang pertama lahir adalah filsafat alam. Akan tetapi, filsafat pada masa awal itu sulit untuk diuraikan dan dipaparkan secara jelas dan pasti karena banyak filsuf tidak menulis sesuatu apa pun sehingga ajaran mereka hanya dapat diketahui dari orang lain. Ada juga filsuf filsuf yang menulis, tetapi sebagian karya tulis mereka hilang sehingga yang tinggal hanya beberapa fragmen. Ada pula yang hanya tersisa satu atau dua kalimat yang kebetulan dikutip oleh pernikir lainnya. Terlepas dari keadaan dan keberadaan para filsuf yang baru mengembangkan filsafat itu, yang penting dicatat ialah bahwa mereka telah berani mengayunkan langkah awal yang amat menentukan bagi perturnbuhan dan perkembangan filsafat serta ilmu pengetahuan. Mereka berani menolak dan meninggalkan cara berpikir yang irasional dan tidak logis, kemudian mulai menempuh jalan pemikiran rasional ilmiah yang semakin lama semakin sistematis. cara berpikir rasional ilmiah itu pulalah yang menghasilkan gagasan gagasan yang terbuka untuk diteliti oleh akal budi. Selain itu, kebenarannya dapat didiskusikan lebih Ian ut demi meraih konsep konsep baru dan kebenaran kebenaran baru yang diharapkan lebih sesuai dengan realitas sesungguhnya. III Berpikir Radikal Berfilsafat berarti befpikir secara radikal. Filsuf adalah pemikir yang radikal. Karena berpikir secara radikal, ia tidak akan pernah terpaku Sifat Dasar Filsafat

Handout - Filsafat

hanya pada fenomena suatu entitas tertentu. la tidak akan pernah berhenti hanya pada suatu wujud realitas tertentu. Keradikalan berpikimya itu akan senantiasa mengobarkan hasratnya untuk menemukan akar seluruh kenyataan. Bila dikatakan bahwa filsuf selalu berupaya menemukan radix seluruh kenyataan, berarti dirinya sendiri sebagai suatu realitas telah termasuk ke dalamnya sehingga ia pun berupaya untuk mencapai akar pengetahuan tentang dirinya sendiri. Mengapakah radix atau akar realitas begitu penting untuk ditemukan? Ini karena bagi seorang filsuf, hanya apabila akar realitas itu telah ditemukan, segala sesuatu yang bertumbuh di atas akar itu akan dapat dipahami. Hanya apabila akar suatu permasalahan telah ditemukan, permasalahan itu dapat dimengerti sebagaimana mestinya. Berpikir radikal tidak berarti hendak mengubah, membuang, atau menjungkirbalikkan segala sesuatu, melainkan dalam arti yang sebagaimana mestinya, yaitu Berpikir radikal tidak berarti hendak mengubah, membuang atau menjungkir-balikkann segala sesuatu, melainkan dalam arti yang sebenarnya yaitu berpikir secara mendalam , untuk mencapai akar permasalahan yang dipermasalahkan. Berpikir radikal justru hendak memperielas realitas lewat penemuan serta pemahaman akan akar realitas itu sendiri. Mencari Asas Filsafat bukan hanya mengacu kepada bagian tertentu dari realitas, melainkan kepada keseluruhannya. Filsafat senantiasa berupaya menemukan asas yang paling hakiki dari keseluruhan realitas. Seorang filsuf akan selalu berupaya untuk menemukan asas yang paling hakiki dari realitas. Para filsuf Yunani, yang terkenal sebagai filsuf filsuf alam, mengamati keanekaragaman. realitas di alam semesta, lalu berpikir dan bertanya, "Tidakkah di balik keanekaragaman itu hanya ada suatu asas?" Mereka lalu mulai mencari asa (asal usul, asas pertama) alam semesta. Thales mengatakan bahwa asas pertama alam semesta itu adalah air, Anaximandros mengatakan yang tidak terbatas, dan Anaximenes mengatakan udara. Adapun bagi Empedokles ada empat akar segala sesuatu yang membentuk realitas alam semesta, yaitu api, udara, tanah, dan air Mencari asas pertama. berarti juga berupaya menemukan sesuatu yang menjadi esensi realitas. Dengan menemukan esensi suatu realitas, realitas itu dapat diketahui dengan pasti dan menjadi jelas. Mencari asas adalah salah satu sifat dasar filsafat. Memburu Kebenaran Filsuf adalah pemburu kebenaran. Kebenaran yang diburunya adalah kebenaran hakiki tentang seluruh realitas dan setiap hal yang dapat dipersoalkan. Oleh seb ab itu, dapat dikatakan bahwa berfilsafat berarti memburu kebenaran. tentang segala sesuatu.

Handout - Filsafat

Tentu saja kebenaran yang hendak digapai bukanlah kebenaran. yang meragukan. Untuk memperoleh kebenaran. yang sungguh sungguh dapat dipertanggungjawabkan, setiap kebenaran yang telah diraih harus senantiasa terbuka untuk dipersoalkan kembali dan. diuji demi meraih kebenaran. yang lebih pasti. Demikian seterusnya. Jelas terlihat bahwa kebenaran filsafati tidak pemah bersifat mutlak dan final, melainkan terus bergerak dari suatu kebenaran menuju kebenaran baru yang lebih pasti. Kebenaran yang baru ditemukan itu juga terbuka untuk dipersoalkan kembali demi menemukan kebenaran yang lebih meyakinkan. Dengan deinikian, terlihat bahwa salah satu sifat dasar filsafat ialah senantiasa mernburu kebenaran. Upaya memburu kebenaran itu adalah demi kebenaran itu sendiri, dan kebenaran yang diburu adalah kebenaran yang lebih meyakinkan serta lebih pasti. Mencari Kejelasan Salah satu penyebab lahirnya filsafat ialah keraguan. Untuk menghilangkan keraguan diperlukan kejelasan . Ada filsuf yang mengatakan bahwa berfilsafat be rarti berupaya medndapatkan kejelasan dan penjelasan mengenai seluruh realitas. Ada pula yang mengatakan bahwa filsuf senantiasa mengejar kejelasan pengertian (clarity of understanding). Geisler dan Feinberg mengatakan bahwa ciri khas penelitian filsafati ialah adanya usaha keras demi meraih kejelasan intelektual (intellectual clarity).' Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa berpikir secara filsafati berarti berusaha memperoleh kejelasan. Mengejar kejelasan berarti harus bejuang dengan gigih untuk mengeliminasi segala sesuatu yang tidak jelas, yang kabur, dan yang gelap, bahkan juga yang serba rahasia dan berupa teka teki. Tanpa kejelasan, filsafat pun akan menjadi sesuatu yang mistik, serba rahasia, kabur, gelap, dan tak mungkin dapat menggapai kebenaran. Jelas terlihat bahwa berfilsafat sesungguhnya merapakan suatu perjuangan untuk mendapatkan kejelasan pengertian dan kejelasan seluruh realitas. Perjuangan mencari kejelasan itu adalah salah satu sifat dasar filsafat. Berpikir Rasional Berpikir secara radikal, mencari asas, memburu. kebenaran, dan mencari kejelasan tidak mungkin dapat berhasil dengan baik tanpa berpikir secara rasional. Berpikir secara rasional berarti berpikir logis. sistematis. dan kritis. Berpikir logis adalah bukan hanya sekedar menggapai pengertian pengertian yang dapat diterima oleh akal sehat, melainkan agar sanggup menarik kesimpulan dan mengambil keputusan yang tepat dan benar dari premis premis yang digunakan. Berpikir logis juga menuntut pemikiran yang sistematis. Pemikiran yang sistematis ialah rangkaian pemikiran yang berhubungan satu sama lain aling berkaitan secara logis. Tanpa berpikir yang logis sistematis dan koheren, tak mungkin diraih kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan.

Handout - Filsafat

10

Berpikir kritis berarti membakar kemauan untuk terus menerus mengevaluasi argumen argumen yang mengklaim diri benar. Seorang yang berpikir kritis tidak akan mudah menggemnggam kebenaran sebelum kebenaran itu dipersoalkan dan benar benar diuji terlebih dahulu. Berpikir logis sistematis kritis adalah ciri utama berpikir rasional. Adapun berpikir rasional adalah salah satu sifat dasar filsafat. IV. Peranan Filsafat Menyimak sebab sebab kelahiran filsafat dan proses perkembangannya, sesungguhnya filsafat telah memerankan sedikitnya tiga peranan utama dalam sejarah pemikiran manusia. Ketiga peranan yang telah diperankannya itu ialah sebagai pendobrak, pembebas, dan pembimbing. Pendobrak Berabad abad lamanya intelektualitas manusia tertawan dalam penjara tradisi dan kebiasaan. Dalam penjara itu, manusia terlena dalam mistik yang penuh sedak dengan hal hal serba rahasia yang terungkap lewat berbagai mitos dan mite. Manusia menerima begitu saja segala penuturan dongeng dan takhayul tanpa mempersoalkannya lebih lanjut. Orang beranggapan bahwa karena segala dongeng dan takhayul itu merupakan bagian yang hakiki dari warisan tradisi nenek moyang, sedang tradisi itu benar dan tak dapat diganggu gugat, maka dongeng dan takhayul itu pasti benar dan tak boleh diganggu gugat. Oleh sebab itu, orang orang Yunani, yang dikatakan memiliki "suatu rasionalitas yang luar biasa",juga pemah percaya kepada dewa dewi yang duduk di meja perjamuan di Olympus sambil menggoncangkan kahyangan dengan sorakan dan gelak tawa tak henti hentinya. Mereka percaya kepada dewa dewi yang saling menipu satu sama lain, licik sering memberontak, dan kadang kala seperti anak anak nakal Keadaan tersebut berlangsung cukup lama. Kehadiran filsafat telah mendobrak pintu pintu dan tembok tembok tradisi yang begitu sakral dan selama itu tak boleh diganggu gugat. Kendati pendobrakan itu membutuhkan waktu yang cukup panjang, kenyataan sejarah telah membuktikan bahwa filsafat benar benar telah berperan selaku pendobrak yang mencengangkan. Pembebas Filsafat bukan sekedar mendobrak pintu penjara tradisi dan kebiasaan yang penuh dengan berbagai mitos dan mite itu, melainkan juga merenggut manusia keluar dari dalam penjara itu. Filsafat membebaskan manusia dari ketidaktahuan dan kebodohannya. Demikian pula, filsafat membebaskan manusia dari belenggu cara berpikir yang mistis dan mitis. Sesungguhnya, filsafat telah, sedang, dan akan terus berupaya membebaskan manusia dari kekurangan dan kemiskinan pengetahuan yang menyebabkan manusia menjadi picik dan dangkal. Filsafat pun membebaskan manusia dari cara berpikir yang tidak teratur dan tidak

Handout - Filsafat

11

jernih. Filsafat juga membebaskan manusia dari cara berpikir tidak kritis yang membuat manusia mudah menerima kebenaran kebenaran semu yang menyesatkan. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa filsafat membebaskan manusia dari segala jenis "penjara" yang hendak mempersempit ruang gerak akal budi manusia. Pembimbing Bagairnanakah filsafat dapat membebaskan manusia dari segala jenis penjara" yang hendak mempersempit ruang gerak akal budi manusia itu? Sesungguhnya, filsafat hanya sanggup melaksanakan perannya selakupembimbing. Filsafat membebaskan manusia dari cara berpikir yang mistis dan mitis dengan membimbing manusia untuk berpikir secara rasional. Filsafat membebaskan manusia dari cara. berpikir yang picik dan dangkal dengan membimbing manusia untuk berpikir secara luas dan lebih mendalam, yakni berpikir secara universal sambil. berupaya mencapai radix dan menernukan esensi suatu pemasalahan. Filsafat membebaskan manusia dari cara berpikir yang tidak teratur dan tidak jernih dengan membimbing manusia untuk berpikir secara sistematis dan logis. Filsafat membebaskan manusia dari cara berpikir yang tak utuh dan begitu fragmentaris den an membimbing, manusia untuk berpikir secara integral dan koheren.

V. Kegunaan Flsafat Bagi Ilmu Pengetahuan Tatkala filsafat lahir dan mulai tumbuh, ihmu pengetahuan masih merupakan bagian yang tak terpisahkan dari filsafat. Pada masa itu, para pernikir yang terkenal sebagai filsuf adalah juga ilmuwan. Para filsuf pada masa itu adalah juga ahli ahli maternatika, astronomi, ilmu burni, dan berbagai ilmu pengetahuan lainnya. Bagi mereka, ilmu. pengetahuan itu. adalah filsafat, dan filsafat adalah ilmu pengetahuan. Dengan demikian, jelas terlihat bahwa pada mulanya Ifilsafat mencakup seluruh ilmu pengetahuan. Cara berpikir filsafati telah mendobrak pintu serta tembok tembok tradisi dan kebiasaan, bahkan telah menguak mitos dan mite serta meninggalkan cara berpikir mistis. Lalu pada saat yang sama telah pula berhasil. mengembangkan cara berpikir rasional, luas dan mendalam, teratur dan terang, integral dan koheren, metodis dan sistematis, logis, kritis, dan analitis. Karena itu, ilmu pengetahuan pun semakin bertumbuh subur, terus berkembang, dan menjadi dewasa. Kemudian, berbagai ilmu pengetahuan yang telah mencapai tingkat kedewasaan penuh satu demi satu mulai mandiri dan meninggalkan filsafat yang selama itu telah mendewasakan mereka. Itulah sebabnya, filsafat disebut sebagai mater scientiarum atau induk segala ilmu pengetahuan. Itu merupakan fakta yang tidak dapat diingkari, yang dengan jelas menunjukkan bahwa ia

Handout - Filsafat

12

benar benar telah menampakkan kegunaannya lewat melahirkan, merawat, dan mendewasakan berbagai ilmu pengetahuan yang begitu berjasa bagi kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan dikatakan begitu berjasa bagi kehidupan urnat manusia karena lewat ilmu pengetahuan manusia telah dimungkinkan meraih kemajuan yang sangat menakjubkan dalam segala bidang kehidupan. Teknologi canggih yang semakin mencengangkan dan fantastis merupakan, salah satu produk dari ilmu pengetahuan. Abad abad terakhir ini, dalam peradaban dan kebudayaan Barat, ilmu pengetahuan telah berperan sedemikian rupa sehingga telah menjadi tumpuan harapan banyak orang. Memang harus diakui betapa pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan sehingga manusia mulai percaya bahwa ilmu pengetahuan benar benar mahakuasa. Manusia semakin terpukau. oleh pesona ilmu pengetahuan, dan hal itu telah membuat begitu banyak orang mendewakan ilmu pengetahuan. Bagi mereka, ilmu pengetahuan adalah segala segalanya. Mereka berupaya untuk rneyakinkan semua orang bahwa ilmu pengetahuan dapat menyelesaikan segala persoalan. Anggapan itu dikukuhkan oleh berbagai penemuan yang menggemparkan dan tampilnya teori teori serta metode metode baru yang lebih meyakinkan kegunaan dan ketepatannya. sehingga semakin mengembangkan, suatu optimisme yang hampir tak terbatas. Kemajuan ilmu pengetahuan, yang arnat mempesonakan itu telah membuat banyak orang menjadi sinis terhadap filsafat. Orang orang mulai meragukan kegunaan filsafat. Banyak orang yang menganggap filsafat hanya sebagai suatu benda antik yang layak dipajang di dalam museum. Filsafat sudah terlampau "tua" untuk "mengandung" dan "melahirkan" suatu ilmu pengetahuan baru. Filsafat tidak bisa menghasilkan sesuatu apa pun j uga, schingga sama sekali tidak berguna lagi. Benarkah ilmu pengetahuan telah sanggup merengkuh langit dan menguasai alarn Semesta? Ternyata itu hanya merupakan suatu impian yang harus segera, dilepaskan tatkala menghadapi kenyataan sesungguhnya. Fakta menunjukkan bahwa hasil hasil yang dapat diraih oleh ilmu pengetahuan bersifat sementara, maka senantiasa membutuhkan perbaikan dan penyernpurnaan. Senantiasa ada batas yang membatasi ilmu pengetahuan. Yang pasti, ilmu pengetahuan senantiasa dibatasi oleh bidang penelitian yang sesuai dengan kekhususannya. Itu mernbuat ilmu pengetahuan hanya sanggap meneliti bagian bagian kecil (sesuai dengan bidangnya) dari seluruh realitas. Filsafat adalah ilmu yang tak terbatas karena tidak hanya menyelidiki suatu bidang tertentu dari realitas yang tertentu saja. Filsafat senantiasa mengajukan pertanyaan tentang seluruh kenyataan yang ada. Filsafat pun selalu mempersoalkan hakikat, prinsip, dan. asas mengenai seluruh realitas yang ada, bahkan apa saja yang dapat dipertanyakan, termasuk filsafat itu sendiri. Ketakterbatasan filsafat yang demikian itulah yang amat berguna bagi ilmu pengetahuan. Itu karena ketakterbatasan filsafat tidak melulu berguna selaku penghubung antar disiplin ilmu pengetahuan. Akan tetapi, dengan ketakterbatasannya itu, filsafat sanggup merneriksa,

Handout - Filsafat

13

mengevaluasi, mengoreksi, dan lebih menyernpurnakan prinsip prisip dan asas asasyang melandasi berbagai ilmu pengetahuan itu. Dalam Kehidupan Praktis Filsafat memang abstrak, namun tidak berarti filsafat sama sekali tidak bersangkut paut dengan kehidupan sehari hari yang konkret. Keabstrakan filsafat tidak. berarti bahwa filsafat itu tak memiliki hubungan apa pun juga dengan kehidupan nyata setiap hari. Kendati tidak memberi petunjuk praktis tentang bagaimana bangunan yang artistik dan elok, filsafat sanggup membantu manusia pemahaman tentang apa itu artistik dan elok dalam kearsitekturan sehingga nilai keindahan yang diperoleh lewat pemahaman itu akan menjadi patokan utama bagi pelaksanaan pekerjaan pembangunan tersebut. Filsafat menggiring manusia ke pengertian yang terang dan pemahaman yang jelas. Kemudian, filsafat itu juga menuntun manusia ke tindakan dan perbuatan yang konkret berdasarkan pengertian yang terang dan pernaharnan yang jelas.

VI. Pembagian Flsafat Seperti telah dikemukakan sebelumnya, pada tahap awal kelahiran filsafat apa yang disebut filsafat itu sesungguhnya mencakup seluruh ilmu, pengetahuan. Kemudian, filsafat itu berkembang sedemikian rupa menjadi semakin rasional dan semakin sistematis. Seiring dengan perkernbangan itu, wilayah pengetahuan manusia semakin luas dan bertambah banyak, tetapijuga semakin mengkhusus. Lalu lahirlah berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang satu per satu mulai mernisahkan diri dari filsafat. Kendati berbagai disiplin ilmu pengetahuan telah memisahkan diri dari filsafat, tidak berarti filsafat telah menjadi begitu miskin sehingga tinggal terarah hanya kepada satu permasalahan pokok, dengan wilayah pengetahuan yang semakin sempit dan pada suatu saat akan lenyap sama sekali. Kenyataannya, masalah masalah pokok yang dihadapi filsafat tak pernah berkurang. Karena banyaknya masalah pokok yang harus dibahas dan dipecahkan, filsafat pun dibagi ke dalam bidang bidang studi yang

Handout - Filsafat

14

sesuai dengan kelompok permasalahan pokok yang dihadapinya. Bidang bidang studi filsafat juga disebut sebagai cabang cabang filsafat. Pembagian bidang bidang studi atau cabang cabang filsafat, sejak kelahirannya hingga pada masa kini, tak pemah sama kendati itu tidak berarti sama sekali berbeda. Jika disimak dengan cermat, sesungguhnya isi setiap cabang filsafat itu senantiasa memiliki kesamaan satu sarna lain. Aristoteles mehibagi filsafat ke dalam tiga bidang studi sebagai berikut: Filsafat 1. Filsafat Spekulatif/Teoretis Filsafat Praktika Filsafat Produktif

Filsafat Spekulatif atau Teoretis. Filsafat spekulatif atau teoretis bersifat objektif. Termasuk dalam bidang ini ialah fisika metafisika, biopsikologi, dan sebagainya. Tujuan utama filsafat spekulatif ialah pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri. 2. Filsafat Praktika. Filsafat praktika memberi petunjuk dan pedoman. bagi tingkah laku manusia yang baik dan sebagaimana mestinya. Termasuk dalam bidang ini ialah etika dan politik. Sasaran terpenting bagi filsafat praktika ialah membentuk sikap dan perilaku yang akan mernampukan manusia untuk bertindak dalam terang pengetahuan itu. 3. Filsafat Produktif. Filsafat produktif ialah pengetahuan yang membimbing dan menuntun manusia, menjadi produktif lewat suatu keterampilan khusus. Termasuk dalam bidang ini ialah kritik sastra, retorika, dan estetika. Adapun sasaran utama yang hendak dicapai lewat filsafat ini ialah agar manusia sanggup menghasilkan, sesuatu, baik secara teknis maupun secara puitis dalam terang pengetahuan yang benar. Logika yang oleh Aristoteles disebut analitika (untuk meneliti argumentasi yang berangkat dari proposisi yang benar) dan dialektika untuk meneliti argumentasi yang diragukan kebenarannya) tidak dimasukkan ke dalam salah satu bidang tersebut. Ini karena menurut Aristoteles analitika dan dialektika adalah metode dasar bagi pengembangan ketiga bidang filsafat tersebut. Christian Wolff (1679 1754), seorang filsuf rasionalis Jerman pengikut Leibniz, membagi filsafat ke daldm cabang cabang sebagai berikut: Logika Ontologi Kosmologi Psikologi Teologi Naturalis Etika

Filsafat

Will Durant, dalam bukunya yang berjudul The Story of Philosophy yang diterbitkan sejak tahun 1926, mengemukakan lima bidang studi filsafat'

Handout - Filsafat

15

sebagai berikut: Logika Estetika Filsafat Etika Politika Metafisika Logika. Logika adalah studi tentang metode berpikir dan metode penelitian ideal, yang terdiri dari observasi, introspeksi, deduksi dan induksi, hipotesis dan eksperimen, analisis dan sintesis, dan sebagainya. Estetika. Estetika adalah studi tentang bentuk ideal dan keindahan. Estetika disebut juga sebagai filsafat seni (philosophy of art ) Etika. Etika adalah studi tentang perilaku ideal. Politika. Politika adalah studi tentang organisasi sosial yang ideal, yaitu tentang monarki, aristokrasi, demokrasi, sosialisme, anarkisme, dan sebagainya. Metafisika. Metafisika terdiri dari ontologi, filsafat psikologi, dan epistemologi.

1.

2. 3. 4. 5.

Para penulis ENSIE (Eerste Nederlandse Systenzatich Ingerichte Ency clopaedie) membagi filsafat ke dalam sepuluh cabang sebagai berikut: Metafisika Logika Epistemologi Filsafat Ilmu Filsafat Naturalis Filsafat Kultural Filsafat Sejarah Estetika Etika

Filsafat

The World University Encyclopedia membagi filsafat ke dalam cabang cabang sebagai berikut: Sejarah Filsafat Metaffisika Filsafat Epistemologi Logika Etika Estetika Masih banyak pembagian lain yang ditawarkan oleh para filsuf. Akan tetapi, saat ini pada umumnya filsafat dibagi ke dalam enam bidang studi atau cabang utama sebagai berikut. 1. Epistemologi 2. Metafisika: Ontologi Kosmologi Teologi metafisik Antropologi 4. Logika

Handout - Filsafat

16

5. 6. 7. Keenam

Etika Estetika Filsafat tentang berbagai disiplin ilmu cabang filsafat itulah yang akan dibicarakan berikut ini. VII. Epistemologi

Epistemologi adalah suatu cabang filsafat yang bersangkut paut dengan teori pengetahuan. Etimologis, istilah epistemologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata, yaitu entargil episteme (pengetahuan) dan logos (kata, pikiran, percakapan, atau i1mu). jadi, epistemologi berarti kata, percakapan tentang pengetahuan atau i1mu pengetahuan. Secara tradisional, yang menjadi pokok persoalan dalam epistemologi ialah sumber, asal mula, dan sifat dasar pengetahuan; bidang, batas, dan jangkauan pengetahuan; serta validitas dan reliabilitas (reability) dari berbagai klaim terhadap pengetahuan. Oleh sebab itu rangkaian pertanyaan yang biasa diajukan untuk mendalami permasalahan yang dipersoalkan di dalam epistemologi adalah sebagai befikut: Apakah pengetahuan itu? Apakah yang menjadi sumber dan dasar pengetahuan Apakah pengetahuan itu berasal dari pengamatan, pengalaman, atau akal budi? Apakah pengetahuan itu adalah kebenaran yang pasti ataukah hanya merupakan dugaan? Berikut ini akan dipaparkan secara ringkas beberapa pokok persoalan yang dipersoalkan di dalam epistemologi. Tentang Pengetahuan Jika dikatakan bahwa seseorang mengetahui sesuatu , itu berarti ia memiliki penggtahqan tentang sesuatu itu. Dengan demikian, pengetahuan adalah suatu kata yang digunakan untuk menunjuk kepada apa yang diketahui oleh seseorang tentang sesuatu. Apabila si Paimun yang baru pulang dari Tokyo menceritakan bahwa Tokyo itu kota yang sangat besar, jalan rayanya lebar lebar, hampir semua bangunannya bertingkat, warga kotanya ramah, dan sebagainya, maka semua yang dituturkannya itu adalah pengetahuannya tentang Tokyo. Kita mengetahui bahwa satu ditambah satu adalah dua, sepu1uh kali sepuluh adalah seratus. Kita pun mengetahui bahwa ada bermacam macam warna: merah, putih, hitam, dan sebagainya. Kita juga mengetahui bahwa rumah, meja, sungai, laut, gunung, dan manusia adalah bagian dari lingkungan hidup kita. Semua yang kita ketahui tentang sesuatu itu adalah pengetahuan. Pengetahuan senantiasa memiliki subjek, yakni yang mengetahui, karena tanpa ada yang mengetahui tidak mungkin ada pengetahuan. Jika ada subjek, pasti ada pula objek, yakni sesuatu yang ihwalnya kita ketahui atau hendak kita ketahui. Tanpa objek, tidak mungkin ada pengetahuan. Pengetahuan bertautan erat dengan kebenaran karena demi mencapai kebenaranlah pengetahuan itu eksis. Kebenaran ialah kesesuaian pengetahuan dengan objeknya. Ketidaksesuaian pengetahuan

Handout - Filsafat

17

dengan objeknya disebut kekeliruan. Suatu objek yang ingin diketahui senantiasa memiliki begitu banyak aspek yang amat sulit diungkapkan secara serentak. Kenyataannya, manusia hanya mengetahui beberapa aspek dari suatu objek itu, sedangkan yang lainnya tetap tersembunyi baginya. Dengan demikian, jelas bahwa amat sulit untuk mencapai kebenaran yang lengkap dari objek tertentu, apalagi mencapai seluruh keb&naran dari segala sesuatu yang dapat dijadikan objek pengetahuan. Pengetahuan dapat dibagi ke dalam figa jenis sebagai berikut: 1. Pengetahuan biasa (ordinary knowledge). Pengetahuan ini terdiri dari pengetahuan nir ilmiah dan pengetahuan pra ilmiah. Pengetahuan nir ilmiah adalah hasil pencerapan dengan indra terhadap objek tertentu yang dijumpai dalam kehidupan sehari hari dan termasuk pula pengetahuan intuitif. Pengetahuan pra ilmiah merupakan hasil pencerapan inderawi dan pengetahuan yang merupakan hasil pemikiran rasional yang tersedia untuk diuji lebih lanjut kebenarannya dengan menggunakan metode metode ilmiah. Pengetahuan ilmiah (scientific knowledge). Pengetahuan i1miah adalah pengetahuan yang diperoleh lewat penggunaan metode metode i1miah yang lebih menjamin kepastian kebenaran yang dicapai. Pengetahuan yang demikian dikenal j uga dengan sebutan science. Pengetahuan filsafati (philosophical knowledge). Pengetahuan filsafati diperoleh lewat pemikiran rasional yang didasarkan pada pemahaman, penafsiran. spekulasi, penilaian kritis, dan pemikiran pemikiran yang logis, analitis dan sistematis Pengetahuan filsafati adalah pengetahuann yang berkaitan dengan hakikat, prinsip, dan asas dari seluruh realitas yang dipersoalkan selaku objek yang hendak diketahui.

2.

3.

Sumber Sumber Pengetahuan Apakah sebenamya yang menjadi sumber pengetahuan? Para filsuf memberi jawaban yang berbeda beda terhadap pertanyaan itu. Plato, Descartes, Spinoza, dan Leibniz mengatakan bahwa akal budi atau rasio adalah sumber utama bagi pengetahuan, bahkan ada yang secara ekstrem menekankan bahwa akal. budi adalah satu satunya sumber bagi pengetahuan. Para filsuf yang mendewakan akal budi itu berpendapat bahwa setiap keyakinan atau pandangan yang bertentangan dengan akal budi tidak mungkin benar. Bagi mereka, pikiran memiliki fungsi yang amat penting dalam proses mengetahui. Beberapa filsuf lainnya, seperti Bacon, Hobbes, dan Locke, menyatakan bahwa bukan akal budi, melainkan pengalaman indrawilah yang menjadi sumber utama bagi pengetahuan. Kendati memang ada perbedaan pandangan di antara mereka sendiri, mereka semua sependapat bahwa pada dasamya pengetahuan bergantung pada pancaindra manusia serta pengalaman pengalaman indranya, dan bukan pada rasio. Mereka juga mengklaim bahwa seluruh ide dan konsep manusia sesungguhnya berasal dari pengalaman. Tidak ada ide atau

Handout - Filsafat

18

konsep yang di dalam dirinya sendiri bersifat apriori. Mereka mengatakan bahwa semua ide dan konsep itu sesungguhnya aposteriori. Jika benar bahwa seluruh ide dan konsep manusia bergantung pada pengalaman, maka sesungguhnya seluruh pengetahuan manusia itu pun bersifat aposteriori. Akan tetapi, para filsuf itu mengakui juga bahwa tidak semua pengetahuan manusia secara langsung bergantung pada pengalaman, melainkan apabila ditelusuri lebih lanjut, pada akhirnya akan terlihat bahwa pengetahuan sesungguhnya berasal dari pengalaman. John Locke mengatakan bahwa selulurh ide manusia berasal secara langsung dari sensasi dan lewat refieksi terhadap ide-ide sensatif itu sendiri. Tidak ada suatu apa un juga alam akal budi manusia yang tidak berasal dari pengalaman indrawi. Immanuel Kant, yang filsafatnya tidak sealiran dengan John Locke, juga ,berpendapat bahwa kendati seluruh ide dan konsep manusia bersifat apriori sehingga ada kebenaran apriori, ide dan konsep itu hanya dapat diaplikasikan bila ada pengalaman. Tanpa pengalaman, seluruh ide dan konsep serta kebenaran apriori tidak akan pernah dapat diaplikasikan. Dengan kata lain, Kant hendak mengatakan baliwa akal budi manusia hanya dapat berfungsi sebagaimana mestinya apabila dihubungkan dengan pengalaman. Dengan demikian, Kant memperdamaikan kedua pandangan tersebut yang selama itu senantiasa saling bertentangan. Adakah Pengetahuan yang Benar dan Pasti? Apakah mungkin ada pengetahuan yang benar dan pasti? Apakah pengetahuan itu dapat dipercaya? Apakah manusia benar benar dapat mengetahui dan dengan demikian dapat memiliki pengetahuan yang dapat dipercaya? Telah banyak filsuf yang berupaya untuk menjawab pertanyaan pertanyaan tersebut. Para penganut skeptisisme pada urnumnya sependapat bahwa segala sesuatu, termasuk yang dianggap "sudah pasti", dapat saja disangsikan kebenarannya. Untuk membenarkan diri, secara ekstrem. mereka berpegang pada ungkapan Sokrates yang mengatakan bahwa apa yang saya ketahui ialah bahwa saya tidak mengetahui apa apa (All that I know is that I know nothing). Dengan demikian, mereka hendak menegaskan bahwa sesungguhnya tidak ada pengetahuan yang pasti dan mutlak. Pyrrho (365 - 275 SM) yang dikenal sebagai pencipta. skeptisisme sistematis pertama (yang tak pernah menulis apa pun) dan Timon dari Phlius (320 230 SM), murid Pyffho, serta Sextus Empiricus (abad 2 M), penulis Outlines of Pyrrhonism, menyatakan bahwa kita harus senantiasa menyangsikan segala sesuatu yang dianggap benar karena sesungguhnya tidak ada yang benar benar dapat diketahui dengan pasti. Pengalaman menunjukkan bahwa ada banyak pandangan yang sering kali saling bertentangan, tetapi tidak pernah dapat ditentukan yang mana benar dan yang mana salah karena tidak ada kriteria yang dapat digunakan untuk itu. John Wilkins (1614 1672) dan Joseph Glanvill (1636 1680), yang keduanya adalah anggota awal dari the Royal Society, the British Scientific Organization, membedakan antara pengetahuan tertentu yang

Handout - Filsafat

19

sempurna (infallitably certain knowledge). Mereka berpendapat bahwa tidak seorang pun manusia dapat meraih pengetahuan yang sempurna karena kernampuan manusia telah cacat dan rusak. Adapun pengetahuan tertentu yang telah pasti, misalnya matahari terbit dari timur setiap hari, api menghanguskan, terkena air basah, dan sebagainya, merupakan pengetahuan yang tidak perlu diragukan lagi. David Hume (1711 1776 menyerang dasar dasar pengetahuan empiris. la mengatakan bahwa tidak ada suatu generalisasi pengalaman yang dapat dibenarkan secara rasional. Demikian pula, proposisi mengenai pengalaman tidak perlu, karena seseorang dengan mudah akan dapat membayangkan suatu dunia di mana proposisi itu keliru. Sebagai contoh, "matahari akan terbit besok pagi" adalah sebuah generalisasi dari pengalaman atau realitas. Akan tetapi, hal itu sebenamya tidak perlu karena kita dapat membayangkan suatu dunia yang mirip dunia kita yang mataharinya tidak terbit besok pagi. Bagi Hume, generalisasi induktif sama sekali bukan suatu proses berpikir, melainkan sekedar mengharap bahwa hal yang sama akan berulang kembali dalam. kondisi dan situasi yang sama. Albert Camus (1913 1960) melukiskan manusia yang berupaya mengukur sifat dan menakar makna dari sesuatu yang pada hakekatnya tak bermakna dan alam yang absurb dalam bukunya Myth of Sisyphus. Manusia Sisyphus mengenal betul seluruh keberadaannya dalam kondisi yang begitu buruk dan amat menyedihkan. la tidak berharap untuk meraih kebenaran dan juga tidak pernah mengantisipasi akhir dari segala pergumulannya. Bagi Camus, sesungguhnya tidak ada makna, tidak ada pengetahuan yang benar secara objektif, dan juga tidak ada nilai objektif Pandangan pandangan para pemikir yang menyangsikan segala sesuatu, termasuk yang dianggap oleh banyak orang sebagai yang sudah pasti kebenarannya, sejak semula disanggah oleh pemikir pemikir lainnya. Sebagai contoh adalah Augustinus dan Thomas Reid (penyanggah David Hume). Augustinus (354 - 430) mengatakan bahwa ungkapan "manusia tidak dapat mengetahui apa apa" menunjukkan bahwa ungkapan itu sendiri sudah merupakan suatu pengetahuan. Oleh sebab itu, bagi Augustinus, pendapat para filsuf yang demikian itu secara rasional tidak konsisten. Selanjutnya, Augustinus mengatakan bahwa jika ungkapan "manusia tidak mengetahui apa apa" itu keliru atau salah, berarti tidak ada masalah. Apabila ungkapan itu benar, berarti ungkapan itu mengandung pertentangan dalam dirinya sendiri (self-contradictory) karena bagaimanapun juga sekurang kurangnya kita mengetahui dengan pasti tentang satu hal, yakni kita tahu bahwa kita tidak dapat mengetahui apa apa. Thomas Reid (1710 - 1796), yarig hidup sezaman dengan David Hume, kendati memahami dan menghargai argumen argumen Berkeley dan Hume, menganggap bahwa konklusi Hume keliru. Reid menyanggah presuposisi sentral Hume yang mengatakan bahwa kepercayaan kepercayaan kita yang sangat mendasar haruslah dilbenarkan oleh argumen argumen rasional filsafati. Reid mengatakan bahwa bukti bukti rasional filsafati yang dikehendaki Hume itu sesungguhnya tidak pantas dan tidak tepat. Ini karena argumen argumen rasional filsafati itu sendiri akan terus menerus mernerlukan argumen argumen rasional filsafati

Handout - Filsafat

20

sampai tak terbatas (ad infinitum). Reid mengatakan pula bahwa kepercayaan kepercayaan yang sangat mendasar itu tidaklah dilandaskan pada praanggapan yang membuta begitu saja, melainkan justru mencerminkan konstitusi rasionalitas kita, yang sanggup pula mengenal lewat intuisi. Kepercayaan kepercayaan yang sangat mendasar itu menjadi landasan bagi seluruh pembuktian pembuktian lain kendati dirinya sendiri tak terbuktikan. Kesahihan Pengetahuan Didalam epistemologi, adabeberapa teorikesahihan pengetahuan,antara lain teori kesahihan koherensi, teori kesahihan korespondensi, teori kesahihan pragmatis, teori kesahihan semantik, dan teori kesahihan logikal yang berlebih lebihan. Teori Kesahihan Koherensi (Coherence Theory of Truth) menegaskan bahwa suatu proposisi (pernyataan suatu pengetahuan) diakui sahih jika proposisi itu memiliki hubungan dengan gagasangagasan dari proposisi yang sebelumnya yang juga sahih dan dapat dibuktikan secara logis sesuai dengan ketentuan ketentuan logika. Teori Kesahihan Korespondensi/Saling Bersesuaian (Correspondence Theory of Truth) mengatakan bahwa suatu pengetahuan itu sahih apabila proposisi bersesuaian dengan realitas yang menjadi obyek pengetahuan itu. Kesahihan korespondensi itu memiliki pertalian yang erat dengan kebenaran dan kepastian indrawi. Dengan demikian, kesahihan pengetahuan itu dapat dibuktikan secara langsung. Teori Kesahihan Pragmatis (Pragmatical Theory of Truth) menegaskan bahwa pengetahuan itu sahih jikalau proposisinya memiliki konsekuensi konsekuensi kegunaan atau benar benar bermanfaat bagi pengetahuan itu. Teori kesahihan pragmatis adalah teori kesahihan yang telah dikenal secara tradisional. Teori Kesahihan Semantik (Semantic Theory of Truth) adalah teori yang menekankan arti dan makna suatu proposisi. Bagi teori kesahihan semantik, proposisi harus menunjukkan arti dan makna sesungguhnya yang mengacu kepada referen atau realitas dan bisajuga ard definifif dengan menunjuk ciri khas yang ada. Teori Kesahihan Logikal yang berlebih lebihan (Logical Superfluity Theory of Truth) hendak menunjukkan bahwa proposisi logis yang memiliki term berbeda tetapi berisi informasi sama tak perlu dibuktikan lagi, atau ia telah menjadi suatu bentuk logik yang berlebih lebihan. Contoh: siklus adalah lingkaran atau lingkaran adalah bulatan dan sebagainya. Dengan demikian, proposisi lingkaran itu bulat tak perlu dibuktikan lagi kebenarannya.

Handout - Filsafat

21

VIII. Metafisika Istilah metafisika berasal dari bahasa. Yunani meta physika (sesudah fisika). Istilah ini merupakan judul yang diberikan oleh Andronikos dari Rhodes terhadap empat belas buku yang ditulis oleh Aristoteles, yang ditempatkan sesudah fisika yang terdiri dari delapan buku. Aristoteles sendiri tidak menggunakan istilah metaflsika dan fisika, melainkan filsafat pertama untuk metafisika dan filsafat kedua untuk fisika. Kata metafisika itu saat ini memiliki berbagai bagai arti. Metafisika bisa berarti upaya untuk mengkarakterisasi eksistensi atau realitas sebagai satu keseluruhan. Istilah ini bisajuga berarti sebagai usaha untuk menyelidiki alam yang berada di luar pengalaman atau menyelidiki apakah hakikat yang berada di balik realitas. Akan tetapi, secara urnurn dapat dikatakan bahwa metafisika adalah suatu pernbahasan filsafati yang komprehensif mengenai seluruh realitas atau tentang segala sesuatu yang ada. Metafisika biasanya dibagi s.ebagai berikut. 1 . Metafisika Urnum atau Ontologi 2. Metafisika Khusus, yang terdiri dari Kosmologi Teologi metafisik Filsafat antropologi Metafisika Umum atau Ontologi Metafisika umum, yang juga populer dengan nama ontologi, membahas segala sesuatu yang ada secara menyeluruh dan sekaligus. Pembahasan itu dilakukan dengan membedakan dan memisahkan eksistensi yang sesungguhnya dari penampakan atau penampilan eksistensi itu. Pertanyaan pertanyaan ontologis yang utarna dan paling sering diajukan adalah sebagai berikut: Apakah realitas atau ada yang begitu beraneka ragam dan berbeda beda pada hakekatnya satu atau tidak? Apabila memang benar satu, apakah gerangan yang satu itu? Apakah eksistensi yang sesungguhnya dari segala sesuatu yang ada itu merupakan realitas yang tampak atau tidak? Ada tiga teori ontologis yang terkenal. Idealisme Teori ini mengajarkan bahwa ada yang sesungguhnya berada di dunia segala sesuatu yang tampak dan mewujud nyata dalam alam indrawi hanya merupakan gambaran atau bayangan yang sesungguhnya, yang berada di dunia ide. Dengan kata lain, re alitas yang sesungguhnya yang kelihatan, melainkan yang tidak kelihatan. Tokoh idealisme subjektif, George Berkeley (1685 - 1753), menyatakan bahwa satu satunya realitas yang sesungguhnya ialah aku subjektif yang spiritual. Bagi Berkeley Lak ada substansi material dan sebagainya, seperti kursi dan meja, karena semuanya itu hanya merupakan koleksi ide yang ada

Handout - Filsafat

22

dalam alarn pikiran sejauh yang dapat diserap. Eksponen idealisme transendental, Immanuel Kant (1724 1804), berpendapat bahwa objek pengalaman kita, yaitu yang ada dalam ruang dan waktu, tidak lain daripada penampilan dari yang tak memiliki eksistensi dan independen di luar pemikiran kita. Idealisme objektif yang dikembangkan oleh George Wilhelm Friedrich Hegel (1770 183 1) menegaskan bahwa segala sesuatu yang ada adalah satu bentuk dari satu pikiran. Materialisme Materialisme menolak hal hal yang tidak kelihatan. Bagi materialisme, ada yang sesungguhnya adalah yang keberadaannya semata mata bersifat material atau sama sekali bergantung pada material. Jadi, realitas yang sesungguhnya adalah alarn kebendaan, dan segala sesuatu yang mengatasi alarn kebendaan itu haruslah dikesampingkan. Oleh sebab itu, seluruh realitas hanya mungkin dijelaskan secara materialistis. Leukippos dan Demokritos (460 370 SM) mengatakan bahwa seluruh realitas bukan cuma satu, melainkan terdiri dari begitu banyak unsur dan unsur unsur itu, tidak terbagi, maka disebut atom (dari bahasa Yunani yang berarti tidak dapat diba gi). Atom atom itu adalah bagian materi yang sangat kecil yang tidak berkualitas dan senantiasa bergerak karena adanya ruang kosong. Jiwa manusia pun terdiri dari atom atom. Thomas Hobbes (1588 1679) berpendapat bahwa seluruh reallitas adalah materi yang tidak bergantung pada, gagasan dan pikiran kita. Setiap kejadian adalah gerak yang terjadi oleh keharusan, maka seluruh realitas yang tidak lain dari materi itu senantiasa berada di dalam gerak. Ludwig Andreas Feuerbach (1804 1872) menekankan bahwa materi haruslah menjadi titik pangkal dari segala sesuatu. Bagi Feuerbach, alam material adalah realitas yang sesungguhnya. Adapun karena manusia adalah bagian dari alam material itu, manusia adalah satu realitas yang konkret. Menurut Feuerbach, agama dan Tuhan hanyalah impian manusia yang begitu egoistis demi meraih kebahagiaan bagi dirinya sendmii. Dualisme Dualisme mengajarkan bahwa substansi individual terdiri dari dua tipe fundamental yang berbeda dan tak dapat direduksikan kepada yang lainnya. Kedua tipe fundamental dari substansi itu ialah material dan mental. Dengan demikian, dualisme mengakui bahwa realitas terdiri dari materi atau yang ada secara fisis dan mental atau yang beradanya tidak kelihatan secara fisis.. Dualisme harus dibedakan dari. monisme dan pluralisme. Monisme dan pluralisme adalah teori tentang jumlah substansi dan bukan mempersoalkan tipe fundamental dari substansi itu. Memang ada filsafat pluralistis yang bersifat dualistis, misalnya Cartesianisme, tetapi ada pula yang tidak. Metaflsika Khusus: Kosmologi

Handout - Filsafat

23

Etimologis, istilah kosmologi berasal dari dua kata Yunani: kosmos dan logos. Kosmos berarti dunia atau ketertiban yang merupakan lawan dari chaos (kacau balau atau tidak tertib). Logos berarti kata, percakapan atau ilmu. Jadi, kosmologi berarti percakapan tentang dunia, atau alam dan ketertiban yang paling fundamental dari seluruh realitas. Kosmologi memandang alam. sebagai suatu totalitas dari fenomena dan berupaya untuk memadukan spekulasi metafisika dengan evidensi ilmiah di dalam. suatu kerangka yang koheren. Hal hal yang biasa disoroti dan dipersoalkan ialah mengenai ruang dan waktu, perubahan, kebutuhan, kemungkinan kemungkinan, dan keabadian. Metode yang digunakan bersifat rasional dan justru hal itulah yang membedakannya dari berbagai bagai kisah asal mula dan struktur alam. Metafisika Khusus: Teologi Metarlsik Teologi metafisik sering juga dikenal dengan nama theodicea kendati sesungguhnya theodicea hanyalah merupakan bagian dari teologi metafisik. Theodicea sebenarnya hanya membahas dan membenarkan kepercayaan kepada Allah Yang Mahakuasa di tengah tengah realitas kejahatan yang merajalela di dunia ini. Teologi metafisik mempersoalkan eksistensi Allah yang dibahas secara terlepas dari kepercayaan agama. Eksistensi Allah hendak dipahami secara rasional. Konsekuensinya, Allah menjadi sistem filsafat yang perlu dianalisis dan dipecahkan lewat metode ilmiah. Apabila Allah dilepaskan dari kepercayaan agama, hasil analisis dan pernbahasan yang diperoleh bisa berupa satu dari beberapa kemungkinan berikut ini: Allah tidak ada. Tidak dapat dipastikan apakah Allah ada atau tidak. Allah ada tanpa dapat dibuktikan secara rasional. Allah ada, dengan bukti rasional.

Beberapa filsuf terkenal, seperti Anselmus, Descartes, Thomas Aquinas, dan Immanuel Kant, telah berupaya membuktikan bahwa Allah itu benar benar ada. Bukti bukti rasional yang mereka ketengahkan, antara lain adalah sebagai berikut. 1. Argumen Ontologis: Semua manusia memiliki ide tentang Allah. Sementara itu. diketabui pula bahwa kenyataan atau realitas senantiasa lebih sempurna daripada ide. Dengan demikian, Tuhan pasti ada dan realitas adanya itu pasti lebih sernpurna daripada ide manusia tentang Tuhan. rgumen Kosmologis: Setiap akibat pasti punya sebab. Dunia (kosmos) adalah akibat. Karena itu, dunia pasti memiliki sebab di luar dirinya sendiri. Penyebab adanya dunia itu adalah Tuhan. Argumen. Teleologis: Segala sesuatu ada tujuannya. Sebagai contoh: mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan kaki untuk bedalan. Karena. segala sesuatu memiliki tujuan, itu berarti seluruh realitas tidak terjadi dejigan sendirinya, nelainkan dijadik an oleh yan mengatur tujuan itu. Pengatur tujuan itu adalah Tuhan.

2. 3.

Handout - Filsafat

24

4.

Argumen Moral: Manusia bermoral karena dapat membedakan yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, dan seterusnya. Itu menunjukkan bahwa ada dasar dan sumber moralitlas. Dasar dan sumber moralitas itu adalah Allah.

Filsafat Stoa yang panteistis mengajarkan bahwa segala sesuatu dijadikan oleh kekuatan ilahi, yaitu kekuatan alam. Kekuatan ilahi itu menjiwai segala sesuatu. Alam semesta dikuasai oleh logos, yakni rasio Allah. Logos yang adalah rasio Allah itu adalah juga tata tertib dunia, yang menciptakan segala sesuatu, mengatur, serta menuntun segala sesuatu menuju suatu tujuan. Segala sesuatu, telah ditentukan oleh hukum logos, yaitu nasib yang tak dapat diubah. Sesungguhnya, determinisme stoisisme yang amat terkenal adalah barangkali yang paling jelas dan paling tegas dari seluruh ajaran metafisika yang panteistis. Filsafat panteistis Benedictus (Baruch) Spinoza (1632 1677) mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada adalah Allah dan tidak ada sesuatu apa pun yang tidak tercakup di dalam Allah. Ia juga menegaskan bahwa sesungguhnya tidak ada suatu apa pun yang dapat berada tanpa Allah. Skeptisisme secara umum meragukan segala keyakinan yang telah digenggam selama ini. Sesungguhnya, tak dapat dipastikan apakah Allah benar benar ada atau tidak. Mungkin Allah ada, tetapi mungkin juga tidak. Skeptisisme merupakan pintu yang terbuka lebar ke arah ateisme dalam arti ateisme teoretis, yaitu suatu paham yang berupaya mempertanggungjawabkan secara filsafati keyakinan bahwa Tuban tidak ada. David Hume (1711 - 1776) menegaskan bahwa tidak ada bukti yang benar benar sahih yang dapat membuktikan bahwa Allah ada dan bahwa la menyelenggarakan dunia ini. Hume menolak eksistensi Allah dan kebenaran agama, bahkan ia juga menolak gagasan tentang Allah, serta menganggap bahwa moralitas semata mata hanyalah perasaan manusia belaka. Terhadap perasaan itu sendiri, akal sehat tidak memiliki wewenang untuk mengendalikan atau mengawasinya, Ludwig Feuerbach (1804 1872) menyatakan bahwa reliogi tercipta oleh hakikat manusia itu sendiri, yaitu egoismenya dan hasratnya akan kebahagiaan. Apa yang tidak dimilikinya tetapi begitu didambakannya dilukiskannya sebagai realitas yang terdapat pada yang ilahi. Oleh karena itu, Allah adalah gambaran dari keinginan manusia, yang dianggap dan diyakini sungguh sungguh ada. Dengan teori proyeksi, Feuerbach menunjukkan bahwa Allah tidak lain daripada apa yang diinginkan manusia. Friedrich Nietzche (1844 - 1900) menyatakan bahwa konsep tentang Allah dalam agama Kristen adalah konsep yang paling buruk dan rusak dari seluruh konsep tentang Allah karena Allah dianggap sebagai Allah dari orang orang yang lemah. Allah dari orang orang lemah adalah Allah yang lemah pula. Akhirnya, ia sampai pada kesimpulan yang menggemparkan, yaitu bahwa Allah sudah mati. Manusia hanya akan menjadi manusia super jika ia mampu menerima kenyataan atau kematian Allah itu. Kernatian Allah membebaskan manusia dari

Handout - Filsafat

25

keadaannya yang lumpuh oleh ajaran ajaran untuk rendah hati, lemah lembut, takluk, dan sebagainya. Sigmund Freud (1856 1939) menyatakan bahwa Allah itu memiliki tiga fungsi utama bagi kehidupan praktis manusia di dunia ini: 1. Allah dianggap penguasa alam. Oleh kariena itu, den& menyembahNya, manusia akan dapat mengatasi kecemasannya terhadap alam yang begitu dahsyat. 2. Keyakinan agamis memperdamaikan manusia dengan nasibnya yang mengerikan, terutama kematian. 3. Allah memelihara dan menjaga agar ketentuan ketentuan dan peraturan peraturan. kultur akan dilaksanakan. Kehidupan moral merupakan tempat khusus bagi Allah untuk berperan. Segala perbuatan yang baik akan memperoleh ganjaran, sedangkan segala. perbuatan jahat akan dihukum. Hukuman itu akan berlangsung di dunia "seberang" sesudah kematian karena di sanalah segala ganti rugi terhadap kesusahan dan penderitaan akan diperoleh dan kejahatan akan dibalas setimpal dengan perbuatan manusia. Freud kemudian menyimpulkan bahwa religi adalah suatu ilusi yang berasal dari semacam infantilisme atau sifat kekanak-kanakan. Dengan demikian, bagi Freud, Allah hanyalah ilusi. Metafisika Khusus Filsafat Antropologi Filsafat antropologi adalah bagian metafisika kbusus yang mempersoalkan apakah manusia itu? Apakah hakikat manusia? Bagaimanakah hubungannya dengan alam dan sesamanya? Dengan kata lain, filsafat antropologi berupaya me nemukan jawaban atas pertanyaan pertanyaan tersebut sebagaimana adanya, baik menyangkut esensi, eksistensi, status, maupun relasirelasinya. Sebenarnya, sudah sejak zaman purba, manusia dipersoalkan secara filsafati. Eyglaoras mengajarkan keabadian jiwa manusia dan perpindahannya ke dalam jasad hewan apabila manusia telah mati, dan jika hewan itu mati akan berpindah lagi kejasad lainnya, demikian seterusnya. Perpindahan jiwa yang demikian itu merupakan suatu proses penyucian jiwa. Jiwa itu akan kembali ke tempat asalnya di langit apabila proses penyuciannya telah selesai. Untuk membebaskan jiwa dari perpindahan itu, manusia harus berpantang terhadap jenis makanan tertentu, taat terhadap peraturan peraturan yang berlaku dalam lingkungan persekutuan Pythagorean, bermusik, dan berfilsafat. Demokritos (460 370 SM) mengajarkan bahwa manusia adalah materi. Jiwa pun adalah materi yang terdiri dari atom atom khusus yang bundar, halus dan licin, oleh sebab itu tidak saling mengait satu sama lain. Demikian juga atom atom yang berbentuk lain. Dengan demikian, atom atom jiwa gampang menempatkan diri di antara atom atom lainnya dan menyebar ke seluruh tubuh manusia. Plato ( 428-348 SM) mengajarkan bahwa manusLia terdiri dari tubuh dan jiwa. Tubuh adalah musuh jiwa. Karena tubuh penuh dengan berbagai kejahatan dan jiwa berada di dalam tubuh yang demikian itu, maka tubuh merupakan penjara jiwa. Jiwa manusia terdiri dari tiga bagian, yaituvo o~ nous (akal), Ougo~ thumos (semangat), dan

Handout - Filsafat

26

EictOligiot epithumia (nafsu). Karena pengaruh nafsu, jiwa manusia terpenjara dalam tubuh. Aristoteles (384 322 SM) menyatakan bahwa manusia merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Tubuh dan jiwa hanya merapakan dua segi dari manusia yang satu. Tubuh adalah materi sedangkan jiwa adalah bentuk. Manusia merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, maka konsekuensinya ialah pada saat manusia mati, baik tubuh maupun jiwa, kedua duanya mati. Itu berarti jiwa manusia tidak abadi. Dengan kata lain, sama sekali tidak ada kehidupan sesudah kematian. Kematian adalah akhir dari segala galanya. Namun, Aristoteles juga mengakui bahwa ada bagian dari jiwa itu yang tidak dapat mati. Selanjutnya, dualisme Descartes (1596 1650).menegaskan bahwa tubuh dan jiwa adalah dua hal vang sangat berbeda dan harus dipisahkan. Tubuh adalah suatu mesin yang terdiri dari bagian bagiannya yang begitu kompleks. Adapun jiwa adalah sesuatu yang tidak terbagi, tidak terbatasi oleh ruang dan waktu, ditandai oleh kegiatan rohani, seperti berpikir, berkehendak, dan sebagainya. Kendati berbeda dan terpisah, tubuh dan jiwa itu memiliki pertautan yang erat satu sama lainnya, bagaikan kapal dan juru mudinya. George Berkeley (1685 1753) berpendapat bahwa jiwa manusia adalah pusat segala realitas yang tampak. Penolakannya terhadap materi menunjukan bahwa Berkeley adalah seorang spiritualis. Akan tetapi, idealisme subjektif spiritualis Berkeley tidak berpangkal pada yang abstrak, melainkan pada yang konkret, yang diperoleh lewat pengamatan indrawi. Sesuatu itu dikatakan ada karena dapat dilihat dan dirasakan. Jadi, kebenaran sesuatu itu tergantung pada yang melihat dan yang merasa. Yang melihat dan yang merasa itu adalah yang hadir dalam tubuh manusia, yaitu roh. Tubuh tidak lebih dari tanda kehadiran roh. Sebaliknya, Feuerbach mengajarkan bahwa di balik alam tidak ada Allah. Demikian pula di balik tubuh tidak ada iiwa. Jelas terlihat bahwa Feuerbach adalah seorang materialis karena ia menyangkal segi rohani manusia. Feuerbach sendiri tidak mau menyebut ajarannya sebagai materialisme, melainkan organisme. la menyatakan bahwa manusia bukan mesin seperti yang diajarkan oleh penganut materialisme. Feuerbach menunjukkan bahwa ia menolak materialisme dengan mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk hidup yang organis. Selaku makhluk hidup yang organis manusia senantiasa berhubungan secara konkret dengan sesamanya. Ungkapan itu sekaligus menunjukkan status manusia. Feuerbach menandaskan bahwa tubuh menunjukkan manusia sebagai makhluk yang tidak tertutup dalam dirinya sendiri dan yang dengan akar budinya menyadari bahwa ia senantiasa berad a dalam relasi aku engkau.

Handout - Filsafat

27

IX Logika Istilah logika pertama kali digunakan oleh Zeno dari Citium (334 262 SM), pendiri Stoisisme. Logika adalah istilah yang dibentuk dari kata Yunani logikos yang berasal dari kata benda logos. Kata logos berarti sesuatu yang diutarakan, suatu pertimbangan akal (pikiran), kata, percakapan, dan bahasa. Logikos berarti mengenai sesuatu yang diutarakan, mengenai suatu pertimbangan akal (pikiran), mengenai kata, mengenai percakapan, atau yang berkenaan dengan bahasa. Dengan demikian, secara etimologis, logika berarti suatu pertimbangan akal atau Pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Sebagai ilmu, logika disebut juga logike episteme atau logica scientia yang berarti i1mu logika, namun sekarang ini lazim disebut logika saja. Telah banyak definisi logika yang dikemukakan oleh para ahli yang pada urnumnya memiliki persamaan, selain juga perbedaan. Dari sekian banyak definisi itu dapatlah dikatakan bahwa logika adalah cabang ilmu filsafat yang menyusun, mengembangkan, dan membahas asas-asas, aturan-aturan formal dan prosedur normatif, serta kriteria yang sahih bagi penalaran dan penyimpulan demi mencapai kebenaran yang dapat dipertanggung-jawabkan secara rasional. Hukum Dasar Logika Ada empat hukum dasar dalam logika yang oleh John Stuart Mill (1806-1873) disebut sebagai postulat postulat universal semua penalaran (universal postulates of all reasonings) dan oleh Friedrich Uberweg (1826 -1871) disebut sebagai aksioina inferensi. Tiga dari keempat hukum dasar itu dirumuskan oleh Aristoteles, sedangkan yang satu lagi ditambahkan kemudian oleh Gottfried Wilhelm Leibniz (1646 1716). Keempat hukum dasar itu. Adalah 1. 2. Hukum Identitas (Principium IdentitatislLaw ofIdentity) yang menegaskan bahwa sesuatu itu adalah sama dengan dirinya sendiri. Rumusnya : P = P. Hukum Kontradiksi (Principium ContradictionislLaw of Contradiction) yang menyatakan bahwa sesuatu itu pada waktu yang sama tidak dapat sekaligus memiliki sifat tertentu dan juga tidak memiliki sifat tertentu itu. Rumusnya: tidak mungkin P = Q dan sekaligu P # Q

Handout - Filsafat

28

3.

4.

Hukum Tiada Jalan Tengah (Principium Exclusi Tertii/Law ofExcluded Middle) yang mengungkapkan bahwa sesuatu itu pasti memiliki suatu sifat tertentu atau tidak memiliki sifat tertentu itu dan tidak ada kemungkinan lain. Jadi P = Q atau P # Q. Hukum Cukup Alasan (Principium Rationis Sufficientis/Law of Sufficient Reason) yang menjelaskan bahwa jika tejadi perubahan pada sesuatu, perubahan itu haruslah berdasarkan alasan yang cukup. Itu berarti tidak ada perubahan yang ter_adi dengan tiba tiba tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional, Hukum ini merupakan pelengkap hukum identitas.

Konsep dan Term Suatu objek, material atau non material, yang dipahami atau dimengerti, hanya mungkin dipahami atau dimengerti karena akal budi menangkap objek itu sebagaimana objek itu ada. Memahami suatu objek berarti akal budi menangkap objek itu sehingga kendati realitas objek itu tidak ada lagi, akal budi sanggup melahirkannya kembali lewat kata kata atau bahasa. Pemahaman atau pengertian sebagi hasil "tangkapan" akal budi itulah yang disebut konsep. Jadi, konsep merupakan hasil tangkapan akal budi terhadap suatu objek yang diungkapkan lewat kata kata. Konsep atau pengertian sering juga disebut verbum mentale, Terminus mentalis, ide, dan sebagainya. Dalam logika, konsep yang diungkapkan lewat kata atau kata kata disebut term. Jadi, term adalah wujud konsep. Konsep yang dinyatakan melalui term senantiasa memiliki kamprehensi atau konotasi dan ekstensi atau denotasi. Komprehensi /konotasi adalah ciri atau isi yang termuat dalam konsep itu, sedangkan ekstensi/denotasi adalah kuantitas dan luas konsep itu. Hukum yang berlaku bagi hubungan komprehensi dan ekstensi itu ialah apabila komprehensi bertambah, ekstensi berkurang, dan apabila komprehensi berkurang, ekstensi bertambah; apabila ekstensi bertambah, komprehensi berkurang, dan apabila eks tensi berkurang, komprehensi bertambah. Term selaku wujud konsep dapat dibedakan menjadi berbagai jenis, misalnya term abstrak (kesejahteraan, kebahagiaan), term konkret (Plato, kuda, kelapa), term kolektif (karyawan, mahasiswa), term umum (manusia, hewan, tumbuh tumbuhan), term singular (Republik Indonesia, Presiden Indonesia yang pertama), dan sebagainya. Proposisi Proposisi atau keterangan adalah pernyataan (statement) dalam bentuk kalimat yang rnerupakan rangkaian dari term term yang dapat memiliki nilai benar atau salah Tiga bagian terpenting dalam proposisi adalah subjek, predikat, dan kopula. Subjek adalah term pokok dalam proposisi, dan predikat

Handout - Filsafat

29

adalah term yang menyebut sesuatu mengenai subjek, sedangkan kopula ialah penghubung antara subjek dan predikat. Sebenarnya ada berbagai jenis proposisi, namun semuanya dapat disederhanakan menjadi empat jenis dengan lambang A, E, I, dan 0. A adalah proposisi univ&sal afirmatif. E adalah proposisi universal negatif. I adalah proposisi partikular afirmatif. 0 adalah proposisi partikular negatif. Contoh contoh: Proposisi A: Semua filsuf adalah manusia. semua S (subjek) adalah P (predikat) semua S = P Proposisi E: Tak seorang pun filsuf adalah kera. S semua S tidaklah P semua, S # P Proposisi I: Sebagian manusia adalah filsuf sebagian S adalah P sebagian S = P Proposisi 0: SEbagaian manusia bukanlah filsuf. sebagian S bukan P sebagian S # P Inferensi Langsung Inferensi adalah suatu proses penarikan konklusi dari sebuah atau lebih proposisi. Ada dua cara yang biasa ditempuh dalam inferensi, yaitu inferensi deduktif dan inferensi induktif. Inferensi deduktif terdiri dari inferensi langsung dan inferensi tidak langsung (inferensi silogistis). Inferensi langsung adalah penarikan konklusi hanva, dari sebuah premis (proposisi yang digunakan untu penan konklusi). Konklusi yang ditarik tidak boleh lebih luas, dari premisnya. Ada lima jenis penalaran langsung, yaitu inversi, konversi, obversi , kontraposisi, dan oposisi. Inversi Invesi ialah penalaran langsung dengan cara menegasikan subyek proposisi premis dan menegasikan atau tidak menegasikan predikat proposisi premis. Jika inversi dilakukan dengan menegasikan baik subjek maupun predikat proposisi premis, inversi itu disebut inversi lengkap. Apabila inversi dilakukan dengan menegasikan subjek proposisi premis, sedangkan predikatnya tidak dinegasikan, inversi itu disebut inversi sebagian. Proposisi premis disebut invertend dan proposisi konklusi disebut inverse. Langkah yang ditempuh sangat sederhana: o Untuk memperoleh inversi lengkap, negasikanlah subjek dan predikat invertend, lalu ubahlah pembilang subjek dari universal menjadi partikular.

Handout - Filsafat

30

Untuk memperoleh inversi sebagian, negasikanlah subjek invertend, sedangkan predikatnya tetap dipeftahankan (tidak berubah), lalu ubahlah pembilang subjek dari universal menjadi partikular. Karena hanya subjek yang memiliki pembilang universal yang dapat diinversi, itu berarti hanya proposisi A dan E yang dapat diinversikan, sedangkan proposisi I dan 0 tlidak dapat diinversikan. o Contoh contoh: 1. Inversi Proposisi A Inversi lengkap Invertend: Semua filsuf adalah rnanusia. (A) Inverse : Sebagian bukan filsuf adalah bukan manusia. (1) Inversi sebagian Invertend: Semua filsuf adalah manusia. (A) Inverse: Sebagian bukan filsuf adalah manusia. (1) 2. Inversi Proposisi E Inversi lengkap Invertend : Semua filsuf bukan kera. (E) Inverse: Sebagian bukan filsuf bukan bukan kera. (0) Inversi sebagian Invertend : Semua filsuf bukan kera. (E) Inverse: Sebagian bukan filsuf bukan kera. (0) Dari contoh contoh tersebut, jelas terlihat bahwa inversi proposisi A hasilnya ialah proposisi I, baik untuk inversi lengkap maupun untuk inversi sebagian. Demikian pula proposisi E, jika diinversi akan menjadi proposisi 0, baik untuk inversi lengkap maupun untuk inversi sebagian. Konversi Konversi adalah jenis penarikan konklusi secara langsung dengan membalikkan atau mempertukarkan term predikat menjadi term subyek, dan term subyek menjadi term predikat. Kuantitas term subjek dan predikat harus sama dan tetap sama sebelum dan sesudah dikonversi: keduanya berdistribusi atau keduanva tidak berdistribusi. Term subyek dan term predikat yang sama sama berdistribusi terdapat pada proposisi E dan proposisi I. Demikian pula kualitas konvertend (proposisi yang hendak dikonversi) dan konverse (proposisi yang telah dikonversi) harus tetap sama. Jadi, jika konvertend afirmatif, konverse nya pun harus afirmatif, dan jika konvertend negatif, konverse nya pun harus negatiL Agar kohk1usi benar, ketentuan berikut ini harus diperhatikan : o Jika proposisi A dikonversikan, hasilnya adalah proposisi I o Jika proposisi E dikonversikan, hasilnya tetap proposisi E o Jika proposisi I dikonversikan, hasilnya tetap proposisi I o Adapun proposisi O tidak dapat dikonversikan Contoh contoh

Handout - Filsafat

31

1. Obversi Proposisi A Bagian Kedua: Cabang cabang Filsafat Premis: Semua presiden adalah manusia. (A) Konklusi: Semua presiden bukan bukan manusia. (E) 2. Obversi Proposisi E Premis: Semua serigala bukan manusia. (E) Konklusi: Semua serigala. adalah bukan manusia. (A) 3. Obversi Proposisi I Premis: Sebagian manusia adalah pernikir. (1) Konklusi: Sebagian manusia bukan bukan pernikir. (0) 4. Obversi Proposisi 0 Premis: Sebagian manusia bukan pelawak. (0) Konklusi: Sebagian manusia adalah bukan pelawak. (1) Kontraposisi Kontraposisi ialah penarikan konklusi secara langsung dengan jalan menukar posisi subjek dan predikat yang telah dinegasikan terlebih dahulu. Proposis konklusinya disebut kontra positif. Dalam kontraposisi,jelas terlihat bahwa sesungguhnya arti atau makna proposisi kontrapositif tetap ekuivalen dengan arti atau makna proposisi premis. Adapun langkah langkah yang dilempuh dalam proses kontraposisi sebagai berikut: 1. Negasikanlah term subjek dan term predikatnya. 2. Konversikanlah term subjek dan term predikat yang telah dinegasikan itu, Dengan kontraposisi, hanya ada dua proposisi premis yang memiliki kontrapositfL Dengan kata lain, hanya ada dua jenis proposisi yang dapat dikontraposisikan . Proposisi Proposisi Proposisi Proposisi A dapat dikontraposisikan. E tidak dapat dikontraposisikan. I tidak dapat dikontraposisikan. 0 dapat dikontraposisikan.

Contoh contoh: 1. Kontraposisi Proposisi A Premis: Semua filsuf adalah manusia. Konklusi: Semua bukan manusia adalah bukan filsuf. 2. Kontraposisi Proposisi E Tidak dapat dikontraposisikan. 3. Kontraposisi Proposisi I Tidak dapat dikontraposisikan. 4. Kontraposisi Proposisi 0 Premis: Sebagian demonstran bukan mahasiswa. Konklusi: Sebagian bukan mahasiswa bukan bukan demonstran. Oposisi

Handout - Filsafat

32

Oposisi adalah penalaran Iangsung yang proposisi konklusinya merupakan oposisi dari proposisi premis dengan term subyek predikat yang sama. Hubungan antara proposisi A E I 0 mengandung empat jenis oposisi. Keempat jenis oposisi itu adalah sebagai berikut: 1. Kontrari menunjukkan oposisi antara proposisi A dan E. 2. Subkontrari menunjukkan oposisi antara proposisi I dan 0. 3. Subalternasi menunjukkan oposisi antara proposisi A, 1, dan antara proposisi E dan 0. 4. Kontradiktori menunjukkan oposisi antara proposisi A, 0, dan antara proposisi E dan 1. Itu dapat digambarkan sebagai berikut. Semua pendidik adalah guru bukan guru Semua pendidik

Kontrari

Kontradiktori Subaltemasi

Subalternasi

I Suibkontrari Sebagian pendidik bukan guru guru Catatan:

Sebagian

pendidik

bukan

1. Oposisi Subaltemasi A I dan E o Jika proposisi A benar, proposisi I pun benar. o Jika proposisi I benar, belum tentu, proposisi A benar. o Bila proposisi E benar, proposisi 0 pun be nar. o Bila proposisi 0 benar, belum tentu proposisi E benar. 2. Oposisi Kontrari A E: o Jika proposisi A benar, proposisi E salah. o Jika proposisi E benar, proposisi A salah. 3. Oposisi Subkontrari I o Tidak mungkin kedua duanya salah. o Bisa pula kedua duanya benar. 4. Oposisi Kontradiktori A 0 dan I E: o Jika proposisi A benar, proposisi 0 salah. o Jika proposisi 0 benar, proposisi A salah.

Handout - Filsafat

33

o o

Bila proposisi I benar, proposisi E salah. Bila proposisi E benar, proposisi I salah.

Inferensi Silogistis Inferensi silogistis adalah inferensi deduktif dengan menggunakan silogisme. Silologisme. Silogisme ialah penarikan konklusi secara tidak langsung yang merupakan bentuk formal dari penalaran d eduktif. Karena silogisme adalah inferensi deduktif , konklusinya tidak akan lebih umum dari premis-premisnya. Premis adalah proposisi proposisi yang digunakan untuk penarikan konklusi. Konklusi ialah proposisi yang menyatakan hasil inferensi yang dilakukan' berdasarkan proposisi proposisi yang menjadi premis premis suatu inferensi. Proposisi proposisi yang menjadi premis premis dalam suatu silogisme disebut anteseden. Preclikat konklusi disebut term mayor, dan subjek konklusi disebut term minor. Itu disebut demikian karena ekstensi predikat konklusi senantiasa lebih luas daripada subjeknya. Premis yang mengandung term mayor disebut premis mayor, sedangkan prernis yang mengandung term minor disebut premis minor. Term yang tidak terdapat pada proposisi konklusi namun ada di kedua premis disebut term tengah (terminus medius). Contoh silogisme: Semua filsuf adalah manusia. Plato adalah filsuf. Jadi, Plato adalah manusia. Catatan: manusia adalah term mayor Plato adalah term minor filsuf adalah tenn tengah. Proposisi I adalah premis mayor Proposisi 2 adalah premis minor Proposisi I dan 2 disebut anteseden. Proposisi 3 adalah konkl,usi. Ada empat pola yang digunakan dalam inferensi silogistis dan ada sembilan belas bentuk silogisme yang sahih. Keempat pola tersebut adalah sebagai berikut : Pola I MP Sm Sp Pola II: PM Sm Sp Pola III: NIP MS SP Pola IV. PM NIS SP

Catatan: M: term tengah S: term minor P: term mayor Kedelapan belas bentuk silogisme yang sahih adalah sebagai berikut: Pola Premis Mayor Premis Minor Konklusi Nama I A A A Barbara I E A E Celarent I A I I Darii I E 1 0 Ferio II A E E Camestres II E A E Cesare II A 0 0 Baroco II E 1 0 Festino

Handout - Filsafat

34

III III III III III IV IV IV IV IV

A E A E I A A E E I

A A I 1 A A E A I A X Etika

I 0 I 0 I I E O O I

Darapti Felapton Datisi Ferison Disamis Bramantis Camenes Fesapo Fresison Dimaris

Etika sering kali disebut sebagai filsafat moral. Istilah etika berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani: ethos dan ethikos. Ethos berarti sifat, watak, kebiasaan, tempat yang biasa. Ethikos berarti susila, keadaban, atau kelakuan dan perbuatan yang baik. Istilah moral berasal dari kata Latin mores, yang merupakan be ntuk ja mak dari mos, yang berarti adat istiadat atau kebiasaan, watak, kelakuan, tabiat, dan cara hidup. Dalam sejarah filsafat Barat, etika adalah cabang filsafat yang arnat berpengaruh sejak zaman Sokrates (470 399 SM). Etika membahas baik buruk atau benar tidaknya tingkah laku dan tindakan manusia serta sekaligus menyoroti kewajiban kewajiban manusia. Etika tidak mempersoalkan apa atau siapa manusia itu, tetapi bagaimana manusia seharusnya berbuat atau bertindak. Ada berbagai pembagian etika yang dibuat oleh para ahli etika. Beberapa ahli mernbagi etika ke dalam dua bagian, yakni etika deskritptif dan etika nor matif. Ada pula yang membagi ke dalam etika normatif dan metaetika. Ahli lain mernbagi ke dalam tiga bagian atau tiga bidang studi, yaitu etika deskriptif, etika normatif, dan metaetika. Etika Deskriptif Etika deskriptif menguraikan dan menjelaskan kesadaran dan pengalaman moral secara deskirfiptif. Ini dilakukan dengan bertolak dari kenyataan bahwa ada berbagai fenomena moral yang dapat digambarkan dan diuraikan secara i1miah, seperti yang dapat dilakukan terhadap fenomena 'spiritual lainnya, misaInya religi dan seni. Oleh karena itu, etika deskriptif digolongkan ke da1am ilmu pengetahuan empiris dan berhubungan erat dengan sosiologi. Dalam hubungannya dengan sosiologi, etika deskriptif berupaya menemukan dan menjelaskan kesadaran, keyakinan, dan pengalaman moral dalam suatu kultur tertentu. Etika deskriptif dapat dibagi ke dalam dua bagian: pertama, sejarah moral, yang meneliti cita cita, aturan aturan, dan norma norma moral yang pernah diberlakukan dalam kehidupan manusia pada kurun waktu dan suatu tempat tertentu atau dalam suatu lingkungan besar yang mencakup beberapa bangsa; kedua, fenomenologi moral, yang berupaya menemukan arti dan makna moralitas dari berbagai fenomena moral yang ada. Fenomenologi moral tidak bermaksud menyediakan

Handout - Filsafat

35

petunjuk petunjuk atau patokan patokan moral yang perlu dipegang oleh manusia. Karena itu, fenomenologi moral tidak mempennasalahkan apa yang benar dan apa yang salah. Etika Normatif Etika normatif kerap kali juga disebut filsafat moral (moral philosophy) atau juga disebut etika filsafati (philosophical ethics). Etika normatif dapat dibagi ke dalam dua teori . yaitu teori teori nilai (theories of value) dan, teori teori keharusan (theories ofobligation). Teori teori nilai mempersoalkan sifat kebaikan, sedangkan teon teori keharusan membahas tingkah laku. Ada pula yang membagi etika normatif ke dalam dua golongan sebagai berikut: konsekuensialis (teleologikal) dan non konsekuensialis (deontologikal). Konsekuensialis (teleologikal) berpendapat bahwa moralitas suatu tindakan ditentukan oleh konsekuensinya. Adapun nonkonsekuensialis (deontologikal) berpendapat bahwa moralitas suatu tindakan ditentukan oleh sebab sebab yang menjadi dorongan dari tindakan itu, atau ditentukan oleh sifat sifat hakikinya atau oleh keberadaannya yang sesuai dengan ketentuan ketentuan dan prinsip prinsip tertentu. Teori teori nilai (theories of value) bisa bersifat monistis, bisa juga bersifat pluralistis. Aliran hedonisme, baik hedonisme spiritualis maupun hedonisme materialistis sensualistis, merupakan salah satu bentuk dan wujud dari teori nilai yang monistis. Aliran aliran hedonistis dan nonhedonistis juga dimasukkan ke dalam golongan konsekuensialis atau teleologikal. Aliran utilitarianisme Bentham dan Mill, karena menekankan kebahagiaan terbesar bagi jumlah yang terbesar , bersifat hedonistis maka masuk ke dalam golongan konsekuensialis atau telcolocikal. Adapun aliran utilitananisme idea More dan Randall masuk ke dalam konsekuensialls atau teleologikal yang nonhedonistis. Demikian juga, aliran perfeksionisme Aristoteles dan Green, yang menekankan perkembangan penuh latau, kesempurnaan diri sebagai tujuan akhir yang dapat dicapai oleh manusia, tergolong ke dalam konsekuensialisme nonhedonistis. Baik teleologikal maupun deontologikal dapat dimasukkan ke dalam teori keharusan (theories of obligation). Salah satu aliran yang terkenal dalam teori keharusan yang teleologikal ialah aliran egoisme. Salah satu versi egoisme mengajarkan bahwa tolok ukur bagi penilaian benar salahnya suatu tindakan ialah dengan mempertimbangkan untung ruginya tindakan itu bagi si pelaku sendiri. Egoisme menegaskan bahwa manusia memiliki hak untuk berbuat apa saja yang dianggap menguntungkan dirinya. Dalam teori keharusan yang deontologikal, tampillah aliran formalisme. Para pemikir formalis mengatakan bahwa akibat (konsekuensi) bukan hanya tidak mampu, melainkan juga tidak relevan untuk menilai suatu tindakan atau perbuatan, Bagi para formalis, yang paling penting dan paling menentukan ialah motivasi, Motivasi yang baik akan membuat tindakan atau perbuatan pasti benar kendati akibat perbuatan itu sendiri ternyata buruk. Metaetika

Handout - Filsafat

36

Metaetika merupakan suatu studi analitis terhadap disiplin etika. Metaetika baru muncul pada abad ke 20, yang secara khusus menyelidiki dan menetapkan arti serta makna istilah istilah normatif dan pemyataan pemyataan etis yang membenarkan atau menyalahkan suatu. tindakan. Istilah istilah normatif yang scring mendapat perhatian khusus, antara lain, keharusan, baik, buruk, benar, salah, yang terpuji, yang tidak terpuji, yang adil, yang semestinya, dan sebagainya. Ada beberapa teori yang disodorkan oleh aliran aliran yang cukup terkenal dalam metaetika. Teori teori tersebut ialah teori naturalistis dari naturalisme, teori intuitif dari intuisionisme, teori kognitif dan kognitifisme, subyektif dari subjektivisme, teori emotif dari emosivisme, teori imperatif dan teori skeptis dari skeptisisme. Teori naturalistis mengatakan bahwa istilah istilah moral sesungguhnya menamai hal hal atau fakta fakta Yang pelik dan rumit. Istilah istilah normatif etis, seperti baik dan benar, dapat disamakan dengan istilah istilah deskriptif, Yang dikehendaki Tuhan, yang diidamkan, atau yang biasa. Teori naturalistis juga berpendapat bahwa pertimbangan pertimbangan moral dapat dilakukan lewat penyelidikan dan penelitian ilmiah. Teori kognitivis mengatakan bahwa pertimbangan pertimbangan moral tidak selalu benar, sewaktu waktu bisa keliru. Itu berarti keputusan moral bisa benar dan bisa salah. Selain itu, pada prinsipnya pertimbangan pertimbangan moral dapat menjadi subjek pengetahuan atau kognisi. Teori kognitivis dapat bersifat naturalistis dan dapat juga bersifat non naturalistis. Teori intuitif berpendapat bahwa pengetahuan manusia tentang yang baik dan yang salah diperoleh secara intuitif. Teori intuitif menolak kemungkinan untuk memberi batasan batasan non normatif terhadap istilah istilah normatif etis. Bagi teori intuitif, pengetahuan manusia tentang Yang baik dan Yang salah itu jelas dengan sendirinya karena manusia dapat merasa dan mengetahui secara langsung apakah nilai hakiki suatu hal. itu baik atau buruk, atau benar tidaknya suatu tindakan. Teori subjektif menekankan bahwa pertimbangan pertimbangan moral sesungguhnya hanya dapat mengungkapkan fakta fakta subjektif tentang sikap dan tingkah laku manusia. Pertimbangan pertimbangan moral itu tidak mungkin dapat mengungkapkan fakta fakta objektif. Karena itu, apabila seseorang mengatakan bahwa sesuatu itu benar, sebenarnya, ia mengatakan bahwa ia menyetujui sesuatu itu benar demikian. Sebaliknya, apabila ia mengatakan sesuatu itu salah, sesungguhnya ia hanya mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap apa Yang dikatakan salah itu. Teori emotif menegaskan bahwa pertimbangan pertimbangan moral tidak mengungkkapkan sesuatu apa pun yang dapat disebut salah atau benar kendati hanya secara subjektif. Pertimbangan pertimbangan moral tidak lebih dari suatu ungkapan emosi semata mata. Menurut teori emotif, istilah istilah etis tidak memiliki makna apa pun kecuali hanya sebagai tanda dari luapan perasaar. dan, dalam hal ini, sama saja seperti rintihan, seruan, umpatan, dan sebagainya. Teori imperatif berpendapat bahwa pertimbangan pertimbangan moral sesungguhnja bukanlah ungkapan dari sesuatu Yang dapat dinilai

Handout - Filsafat

37

salah atau. Dengan demikian, tak satu pun istilah moral yang dapat mernuat sesuatu yang boleh disebut salah atau benar. Teori imperatif mengatakan bahwa istilah istilah moral itu sesungguhnya hanya merukan istilah istlah samaran dari keharusan keharusan ataupun perintah perintah Jadi apabila. dikatakan "kebohongan itu tidak baik, Yang dimaksudkan ialah, 'jangan berbohong". Jika dikatakan "kebaikan adalah terpuji dan benar", Yang dimaksudkan ialah 'lakukanlah Yang baik". Teori teori emotif dan imperatif dapat dimasukkan ke dalam nonkogni tivisme. Teori subjektif tidak dapat disebut "nonkogrativis, tetapi juga tak dapat disebut kognitivis. Akan tetapi, subjektivisme, emotivisme, dan imperativisme dapat dimasukkan ke dalam skeptisisme. Yang dapat digolongkan ke dalam skeptisisme ialah teori teori Yang mengajarkan bahwa sesungguhnya tidak ada keberaran moral Yang mengatakan moralitas tidak memiliki dasar rasional; Yang mengemukakan bahwa prinsip prinsip moral tidak dapat dibuktikan kebenarannya; Yang berpendapat bahwa salah benamya suatu hal itu hanyalah semata mata soal adat, kebiasaan, ataupun selera; atau Yang mengatakan bahwa norma norma etis tidak mutlak. Karena itu, relativisme pun termasuk ke dalam skeptisisme karena mengajarkan bahwa norma norma etis itu bersifat relatif dan hanya. benar serta berlaku dalain suatu lingkungan budaya tertentu dalam kurun waktu tertentu pula.

Anda mungkin juga menyukai