P. 1
007 pd pasarjaya

007 pd pasarjaya

4.96

|Views: 1,863|Likes:
Dipublikasikan oleh Indoplaces

More info:

Published by: Indoplaces on Jun 21, 2007
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/14/2013

pdf

text

original

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

HASIL PEMERIKSAAN SEMESTER II TAHUN ANGGARAN (TA) 2005

ATAS PENDAPATAN DAN BIAYA (AUDIT DENGAN TUJUAN TERTENTU) TAHUN BUKU 2004 DAN 2005 PADA PERUSAHAAN DAERAH PASAR JAYA DI JAKARTA

AUDITORAT UTAMA KEUANGAN NEGARA IV PERWAKILAN III BPK-RI DI JAKARTA

Nomor : ………………….. Tanggal : …………………..

DAFTAR ISI Hal Kesimpulan I. Gambaran Umum 1. Tujuan Pemeriksaan ……………………………………………………. 2. Sasasan Pemeriksaan …………………………………………………… 3. Metode Pemeriksaan …………………………………………………..... 4. Jangka Waktu Pemeriksaan ……………………………………………... 5. Obyek Pemeriksaan ………………………………………....................... 6. Cakupan Pemeriksaan Dan Total Penyimpangan Yang Ditemukan ......... II. Hasil Pemeriksaan Sistem Pengendalian Intern 1. 2. 3. Struktur Organisasi................................................................................... Sumber Daya Aparatur............................................................................. Tata Laksana............................................................................................. a. Kebijakan ............................................................................................. b. Kerjasama Dengan Pihak Ketiga ......................................................... c. Pembayaran Dan Pengeluaran Beban Operasional/Lain-lain 13 13 14 Perusahaan.......................................................................................... d. Pengawasan ..................................................................................... ... e. Pencatatan ........................................................................................... III. IV. Hasil Pemeriksaan Tindak Lanjut Temuan Pemeriksaan 1. Pencatatan Akuntansi Atas Pendapatan BPP Ditangguhkan Dari Kerjasama Penggunaan Tempat Untuk Pemasangan Dan Penempatan Antena Tower Dan Shelter Di Pasar Glodok Unit Area 7 Tahun 2004 Sebesar Rp24.841.920,00 Dan Tahun 2005 Sebesar Rp23.291.310,00 (Sampai September 2005) Tidak Tepat .................................................... 2. Pembayaran Sewa Kontrak Dari PT Prolita Sarana Harja Sebesar Rp60.000.000,00 Dilaksanakan Terlambat ............................................... 18 16 15 9 10 11 11 12 1 1 1 2 2 7

i

3. Penerapan Persentase Tarif Biaya Pengelolaan Pasar (BPP) Belum Sesuai Dengan Ketentuan Yang Telah Ditetapkan Sehingga

Mengakibatkan Kurangnya Penerimaan BPP Untuk Tahun 2004 Senilai Rp51.629.246,80 Dan Tahun 2005 Senilai Rp95.957.528,08................... 4. Prosedur Kenaikan Gaji Dan Tunjangan Direksi PD Pasar Jaya Tidak Sesuai Ketentuan ....................................................................................... 5. PD Pasar Jaya Kurang Menyetorkan Pembagian Laba BUMD Ke Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Sebesar Rp2.582.441.451,50 ............... 6. Pemberian Tunjangan Kegiatan Kerja Tidak Sesuai Ketentuan Sebesar Rp55.727.737,50 ....................................................................................... 7. PD Pasar Jaya Kurang Menyetor Retribusi Kebersihan Lingkungan Sebesar Rp1.677.142.500,00 .................................................................... 8. Pembangunan Tempat Penampungan Sementara Eks Pedagang Pasar Melawai Senilai Rp3.516.988.293,82 Tidak Sesuai Ketentuan ................ 9. Kerjasama Pembangunan Perubahan Tampak Muka Pasar Jatinegara Merugikan PD Pasar Jaya Sebesar 31 29 26 24 23 21 19

Rp3.603.797.474,99............................ 10. PT Inter Wahana Nuansa Kurang Menyetorkan Kewajiban Sebesar Rp8.469.825.000,00 Kepada PD Pasar Jaya Dalam Kerjasama Pembangunan Peremajaan Dan Penataan Pasar Santa Dan Belum Dikenakan Denda Sebesar Rp477.984.126,73 (Per tanggal 28 Oktober 2005).......................................................................................................... 11. PT Reka Tiga Er Belum Menyetorkan Pembagian Keuntungan Atas Kerjasama Penataan Lahan Parkir Perumnas Klender Sebesar Rp77.000.000,00 Termasuk Pajak Dan Belum Membayarkan Denda Atas Keterlambatan Pembayaran Kewajiban Sebesar Rp6.255.062,38 .... 12. Kerjasama Pembangunan Dan Pengembangan Pasar Pluit Merugikan PD Pasar Jaya Sebesar Rp1.536.549.956,00 Dan Tidak Ada Kejelasan Kepemilikan Atas Asset Senilai Rp2.432.171.028,14 .............................. 13. PT Mutiara Permata Indah Kurang Menyetorkan Fee Pemasaran Atas Kerjasama Pelaksanaan Pekerjaan Pengembangan Pasar Cipulir 49 43 40 35

ii

Wilayah

Jakarta

Selatan

Sebesar

Rp279.701.238,00

............................................... 14. Kerjasama Pembangunan Dan Pengembangan Pasar Cibubur Merugikan PD Pasar Jaya Sebesar Rp3.844.200.000,00, Denda Keterlambatan Yang Belum Dipungut Sebesar Rp2.296.922.104,62, PPN Belum 51

Dikenakan Atas Biaya Proyek Sebesar Rp4.588.635.270,00 Serta Ketidakjelasan Status Kepemilikan Aset Senilai Rp36.213.160.513,00 ........................... 15. PT Priamanaya Djan International Kurang Menyetorkan Kewajiban Sebesar Rp70.000.000.000,00 Kepada PD Pasar Jaya Dalam Kerjasama Pembangunan Atas Pasar Tanah Abang, Ketidakjelasan Status Kepemilikan Asset Senilai Rp777.184.000.000,00 Dan Perhitungan Biaya Non Fisik Belum Dikenakan PPN Sebesar 60 55

Rp16.474.099.082,59... 16. PT Mutiara Permata Indah Belum Menyetorkan Pembagian Keuntungan Atas Kerjasama Pelaksanaan Pekerjaan Pengembangan Pasar Cipulir Wilayah Jakarta Selatan Sebesar Rp8.841.100.836,14 ............................. 17. Pekerjaan Tambah Kurang Pada Pekerjaan Pembangunan Pasar Induk Kramatjati Oleh PT Tritunggal Sentra Sejahtera Tidak Didukung Dengan Berita Acara Kesepakatan Dengan Pihak PD Pasar Jaya ............. 64

Lampiran-lampiran

iii

KESIMPULAN

Berdasarkan ketentuan Pasal 23 E Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pasal 2 Undang-Undang No.5 Tahun 1973, dan Undang-Undang No.15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI) telah melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas Pendapatan dan Biaya Tahun Buku (TB) 2004 dan TB 2005 pada Perusahaan Daerah Pasar Jaya di Jakarta. Pemeriksaan dilakukan dengan berpedoman pada Standar Audit Pemerintahan (SAP) Tahun 1995 dan Panduan Manajemen Pemeriksaan (PMP) BPK-RI Tahun 2002. Tujuan pemeriksaan adalah untuk menguji dan menilai, apakah informasi keuangan telah disajikan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan, entitas yang diperiksa telah mematuhi persyaratan kepatuhan terhadap peraturan keuangan tertentu, dan Sistem Pengendalian Intern (SPI) dari entitas tersebut baik terhadap laporan keuangan maupun terhadap pengamanan atas kekayaan telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. Sasaran pemeriksaan atas Pendapatan dan Biaya diarahkan pada pengurusan

dan pertanggungjawaban keuangan perusahaan, pengelolaan pendapatan dan piutang, pengelolaan biaya operasional dan hutang jangka pendek, pembelian

barang/pemborongan pekerjaan/investasi dan hutang jangka panjang, pemenuhan kewajiban kepada Negara/Daerah, serta kerjasama dengan pihak ketiga dengan luas
cakupan pemeriksaan TB 2004 sebesar Rp931.518.776.659,56 atau 83,52% dari Realisasi Anggaran sebesar Rp1.115.282.687.310,00 dan TB 2005 sebesar Rp833.805.429.255,86 atau 85,17 % dari Realisasi Anggaran (s.d. Juni) sebesar Rp979.026.599.054,13. Tanpa mengurangi keberhasilan yang dicapai, dari hasil pemeriksaan dapat disimpulkan bahwa pada TB 2004 dan TB 2005 ditemukan penyimpangan terhadap azas ketaatan senilai Rp946.207.685.249,67 atau 53,60% dari Realisasi Anggaran Pendapatan dan Biaya yang diperiksa sebesar Rp1.765.324.205.915,42 yaitu:

1. Penyimpangan TB 2004 atas pendapatan sebesar Rp76.471.166,80 dari realisasi anggaran pendapatan yang diperiksa sebesar Rp809.662.206.475,56 merupakan temuan kekurangan penerimaan sebesar Rp51.629.246,80 dan temuan administratif sebesar Rp24.841.920,00 dan atas biaya sebesar Rp1.402.621.187,50 dari realisasi anggaran biaya yang diperiksa sebesar Rp121.856.570.184,00 merupakan temuan yang

berindikasi kerugian sebesar Rp51.355.237,50 dan temuan administratif sebesar Rp1.351.265.950,00. 2. Penyimpangan TB 2005 atas pendapatan sebesar Rp935.174.814.150,05 dari realisasi anggaran pendapatan yang diperiksa sebesar Rp772.661.955.236,53 merupakan temuan yang berindikasi kerugian sebesar Rp78.208.022.686,00, kekurangan penerimaan sebesar Rp41.114.168.612,91 dan temuan administratif sebesar

Rp815.852.622.851,14 dan atas biaya sebesar Rp9.553.778.745,32 dari realisasi anggaran biaya yang diperiksa sebesar Rp61.143.474.019,33 merupakan temuan berindikasi kerugian sebesar Rp4.372.500,00, dan temuan administratif sebesar Rp9.549.406.245,32. Penyimpangan tersebut di atas pada dasarnya terjadi karena pelaksanaan SPI yang kurang efektif, khususnya mengenai prosedur kerja dan ketaatan pada azas yang tidak sepenuhnya dilaksanakan baik oleh para Pelaksana maupun oleh Penanggung Jawab kegiatan Pengelolaan Pendapatan dan Biaya. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, BPK-RI menyarankan agar kelemahankelemahan yang ada diatasi, kekurangan penerimaan dan kelebihan pembayaran yang merugikan segera ditagih dan disetorkan ke PD Pasar Jaya, para Pelaksana dan Penanggung Jawab kegiatan Pengelolaan Pendapatan dan Biaya yang lalai melaksanakan tugas dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Kepala Perwakilan III BPK-RI di Jakarta

Hadi Priyanto NIP. 240000961

Hasil Pemeriksaan I. Gambaran Umum 1. Tujuan Pemeriksaan Untuk menguji dan menilai apakah : a. Informasi keuangan telah disajikan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan b. Entitas yang diperiksa telah mematuhi persyaratan kepatuhan terhadap peraturan keuangan tertentu c. Sistem pengendalian intern dari entitas tersebut baik terhadap laporan keuangan maupun terhadap pengamanan atas kekayaan telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. 2. Sasaran Pemeriksaan Untuk mencapai tujuan pemeriksaan tersebut, maka sasaran pemeriksaan diarahkan pada : a. Pengurusan dan pertanggungjawaban keuangan perusahaan b. Pengelolaan pendapatan dan piutang c. Pengelolaan biaya operasional dan hutang jangka pendek d. Pembelian barang/pemborongan pekerjaan/investasi dan hutang jangka panjang e. Pemenuhan kewajiban kepada Negara/Daerah f. Kerjasama dengan pihak ketiga 3. Metode Pemeriksaan Pemeriksaan pada PD Pasar Jaya akan memberikan suatu penilaian terhadap pelaksanaan Rencana Kegiatan dan Anggaran Perusahaan (RKAP) dan Sistem Pengendalian intern, serta akurasi penyajian informasi keuangan dengan melakukan pengujian secara uji petik (sampling). Pengujian dilakukan berdasarkan hasil uji materialitas dan pengujian dengan pendekatan resiko melalui suatu proses pemeriksaan dokumen, pemeriksaan fisik dan konfirmasi dengan pihak-pihak terkait atas pelaksanaan kegiatan pengelolaan pendapatan, pengendalian biaya, kerjasama dengan pihak ketiga dan aktivitas pendukung lainnya.

1

4. Jangka Waktu Pemeriksaan Pemeriksaan dilaksanakan berdasarkan Surat Tugas Kepala Perwakilan III BPK-RI No. 62/ST/XIV.3-XIV.3.2/10/2005 tanggal 10 Oktober 2005 selama 25 hari kalender terhitung mulai tanggal 11 Oktober 2005 sampai dengan tanggal 24 November 2005.

5. Obyek Pemeriksaan a. Uraian Singkat Mengenai Obyek Yang Diperiksa 1) Pendirian PD Pasar Jaya PD Pasar Jaya didirikan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur KDKI No.16.3/3/2/15/1966 Tahun 1966 tanggal 24 Desember 1966 dan disahkan oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) dengan Surat Keputusan (SK) No. EKBANG 818/13-305 Tahun 1967. Bentuk dan status

Perusahaan ini ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Perda) No.7 Tahun 1982 yang mendapat pengesahan Mendagri dengan SK No.511-231-181 tanggal 19 April 1983. Perda tersebut diundangkan dalam Lembaran Daerah Khusus Ibukota Jakarta No.34 Tahun 1983 seri D No.33 tanggal 12 Juli 1983, yang kemudian diubah dengan Perda No.7 Tahun 1992 tanggal 21 Juli 1992 yang tercantum dalam Lembaran Daerah No.4 Tahun 1993. Terakhir diubah dengan Perda No.12 Tahun 1999 tanggal 31

Desember 1999 yang diundangkan dalam Lembaran Daerah Propinsi DKI Jakarta No.35 Tahun 1999 tanggal 31 Desember 1999 . 2) Tujuan dan Kegiatan PD Pasar Jaya Maksud dan tujuan didirikannya PD Pasar Jaya adalah untuk melakukan pengurusan pasar dalam rangka pengembangan perekonomian daerah serta menunjang anggaran daerah dan pertumbuhan perekonomian nasional. Untuk mencapai tujuan tersebut, tugas pokok PD Pasar Jaya adalah melaksanakan pelayanan umum dalam bidang perpasaran, membina pedagang pasar, ikut membantu menciptakan stabilitas harga dan kelancaran distribusi barang dan jasa di pasar. Jumlah tempat usaha pada masing-masing area pelaksana adalah sebagai berikut:

2

No.

Area

Jumlah Awal Tahun 2004

Mutasi

Tambah
4 6 120 50 189 39 12 1 8 1 426

Kurang
5 136 110 1 1 1 3 251 15 518

Jumlah Akhir Tahun 2004

1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

2 Area 01 Tanah Abang Area 02 Senen Blok III Area 03 Pramuka Area 04 Palmerah Area 05 Rawabadak Area 06 Koja Area 07 Glodok Area 08 Cengkareng Area 09 HWI Area 10 Jembatan Merah Area 11 Grogol Area 12 Cipulir Area 13 Mayestik Area 14 Minggu Area 15 Rumput Area 16 Kramatjati Area 17 Sunan Giri Area 18 Jatinegara Area 19 Perumnas Klender Area 20 Induk Kramatjati JUMLAH

3 8.168 8.293 5.869 3.528 3.751 3.820 7.326 3.808 3.461 2.737 5.442 4.984 5.374 4.559 4.395 4.311 4.347 5.414 4.929 3.879 98.395

6 8.168 8.293 5.739 3.528 3.751 3.710 7.445 3.858 3.460 2.925 5.481 4.996 5.374 4.560 4.403 4.311 4.345 5.414 4.678 3.684 98.303

Jumlah tempat usaha awal Tahun 2004 adalah sebanyak 98.395. Selama Tahun 2004 terjadi penambahan sebanyak 426 tempat usaha (0,43%) dan pengurangan sebanyak 518 tempat usaha (0,53%). Sehingga jumlah akhir Tahun 2004 adalah sebanyak 98.303 tempat usaha. Jumlah tempat usaha awal Tahun 2005 adalah sebanyak 98.303. Selama Tahun 2005 terjadi penambahan sebanyak 62 tempat usaha (0,06%) dan pengurangan sebanyak 415 tempat usaha (0,42%). Sehingga jumlah sampai Triwulan II Tahun 2005 adalah sebanyak 97.950 tempat usaha dengan rincian sebagai berikut:

3

No. 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Area 2 Area 01 Tanah Abang Area 02 Senen Blok III Area 03 Pramuka Area 04 Palmerah Area 05 Rawabadak Area 06 Koja Area 07 Glodok Area 08 Cengkareng Area 09 HWI Area 10 Jembatan Merah Area 11 Grogol Area 12 Cipulir Area 13 Mayestik Area 14 Minggu Area 15 Rumput Area 16 Kramatjati Area 17 Sunan Giri Area 18 Jatinegara Area 19 Perumnas Klender Area 20 Induk Kramatjati JUMLAH

Jumlah Mutasi Awal Tahun Tambah Kurang 2005 3 4 5 8.168 8.293 5.739 3.528 3.751 3.710 415 7.445 2 3.858 3.460 2.925 5.481 4.996 29 5.374 4.560 4.403 2 4.311 4.345 19 5.414 10 4.678 3.684 98.303 62 415

Jumlah Akhir (s.d Juni 2005) 6 8.168 8.293 5.739 3.528 3.751 3.295 7.447 3.858 3.460 2.925 5.481 5.025 5.374 4.560 4.405 4.311 4.364 5.424 4.678 3.864 97.950

3) Total Aset, Laba (Rugi) dan Opini Auditor Independen Laporan keuangan PD Pasar Jaya untuk dua Tahun terakhir adalah sebagai berikut:
(dalam rupiah) Tahun KAP Total Aset 739.133.840.654 749.947.320.832 Laba (Rugi) sebelum Pajak 20.404.103.672 34.169.986.389 Pendapat Auditor WTP WTP

2003 Doli, Bambang & Sudarmadji 2004 Doli, Bambang & Sudarmadji

4) Perkembangan Aktiva dan Passiva (Kewajiban dan Ekuitas) PD Pasar Jaya Perkembangan aktiva dan passiva PD Pasar Jaya untuk tiga Tahun terakhir adalah sebagai berikut:

4

(dalam juta rupiah)
Uraian 1 Aktiva Lancar Kas dan Setara Kas Piutang Usaha Piutang Lain-lain Biaya Dibayar Dimuka Pajak Dibayar Dimuka Pendapatan Yang Masih Harus Diterima Jumlah Aktiva Lancar Aktiva Tidak Lancar Penyertaan Aktiva Tetap Aktiva Pajak Tangguhan Aktiva Lain-lain JUMLAH AKTIVA Tahun 2003 2 Tahun 2004 3 Tahun 2005 (s.d Juni 2005) 4 Kenaikan(Penurunan) 5 3-2 29.488,95 (9.902,90) 134,57 (249,74) 10,56 (18,70) 19.462,74 6 4-3 11.200,26 (64.212,00) (541,42) 7.360,04 18.431,00 (27.762,13) % Naik (Turun) 7 5:2 0,43 (0,10) 0,16 (0,14) (1,00) 0,12 8 6:3 0,11 (0,76) (0,56) 4,63 1745,58 (0,15)

68.672,20 94.448,49 823,72 1.840,32 18,70 165.803,42

98.161,15 84.545,59 958,29 1.590,58 10,56 185.266,17

109.361,41 20.333,59 416,87 8.950,62 18.441,55 157.504,04

1.600,00 547.677,89 1.163,59 22.888,94 739.133,84

5.200,00 539.038,46 1.626,56 18.816,14 749.947,32

8.349,99 538.135,43 76.988,75 780.978,21

3.600,00 (8.639,43) 462,97 (4.072,80) 10.813,48

3.149,99 (903,03) (1.626,56) 58.172,62 31.030,89

2,25 (0,02) 0,40 (0,18) 0,01

0,61 (0,002) (1,00) 3,09 0,04

Dari data tersebut di atas menunjukkan bahwa jumlah aktiva dan passiva PD Pasar Jaya pada Tahun 2004 meningkat dari Tahun 2003 sebesar Rp10.813.480.178,00 atau 1,46%. Begitu juga pada Tahun 2005 sampai dengan Bulan Juni terjadi peningkatan aktiva dan passiva sebesar Rp31.030.889.713,04 atau 4,14%.

5) Perkembangan Hasil Usaha Perkembangan hasil usaha PD Pasar Jaya untuk tiga Tahun terakhir adalah sebagai berikut:
(dalam juta rupiah)
Realisasi Laba (Rugi) Uraian Pendapatan Beban Operasional Laba Operasional Pendapatan Lain-lain Beban Lain-lain Laba Sebelum Pajak Tahun 2003 Tahun (Rp) 2004 (Rp) % RKAP (Rp) Tahun 2004 Realisasi (Rp) % Tahun 2005 Realisasi RKAP (Rp) s.d Juni (Rp)

%

157.340,81 189.335,22 120,33 326.070,01 189.335,22 143.543,72 160.017,97 111,48 141.560,40 131.493,49 13.797,09 29.317,26 212,49 184.509,61 57.841,74 20.886,25 10.417,45 49,88 11.822,99 6.721,97 (14.279,23) (5.564,72) 38,97 (159.005,96) (80.355,83) 20.404,10 34.169,99 167,47 37.326,64 (15.792,12)

58,07 92,89 31,35 56,86 50,54 42,31

233.491,67 115.136,04 49,31 158.401,76 77.244,62 48,76 75.089,91 37.891,43 50,46 16.810,52 3.415,49 20,32 (32.830,52) (2.252,24) 6,86 59.069,91 39.054,68 66,12

Dari data tersebut di atas menunjukkan bahwa realisasi laba sebelum pajak PD Pasar Jaya Tahun 2004 dan 2005 (s.d Juni) mengalami penurunan dari anggarannya masing-masing sebesar 42,31% dan 66,12%.

5

b. Perkembangan Rasio Keuangan dan Kinerja PD Pasar Jaya 1) Rasio Keuangan
Keterangan TB 2004 TB 2005 (s.d Juni)

A. Keuangan 1. Umum - Return on Assets (ROA) 3,57 % - Return on Equity (ROE) 8,67 % - Return on Investment (ROI) 5,95 % 2. Keuangan Profit Margin 16,58 % 3. Kemampuan / kondisi - Current Ratio 311,93 % - Quick Ratio 228,39 % - Working Capital to Sales 411,94 % - Solvabilias 212,57 % - Debt to Equity Ratio 96,54 % 4. Utilitas Investasi - Day’s of Account Receivables 9 hari (Piutang IBPP) - Day’s of Account Receivables 180 hari (Piutang IPbP) B. Operasional - Kenaikan Biaya Produksi - Tingkat Pengisian Tempat Usaha c. Ratio Sumber Daya Manusia - T.U. Tersedia / Jumlah Pegawai - T.U. Produktif / Jumlah Pegawai - Pendapatan / Jumlah Pegawai - Pendapatan / Biaya Pegawai

6,25 % 9,71 % 7,26 % 32,94 % 415,78 % 288,69 % 676,34 % 229,96 % 84,42 % 10 hari 175 hari

83,42 % 98,77 %

67,06 % 98,77 %

47,47 TU 43,98 TU 88.652.488,56 3,09

48,39 TU 44,89 TU 56.885.396,49 4,49

2) Kinerja Perusahaan Perkembangan kinerja perusahaan jika dilihat berdasarkan Indikator Utama (Rentabilitas, Likuiditas dan Solvabilitas) dan Indikator Tambahan (Profit Margin, Ratio Operasi dan Produktivitas Tenaga Kerja) adalah sebagai berikut:

a) Tahun 2004
Kriteria Penilaian Satuan Unit Bobot (1) Indikator Utama 1. Rentabilitas 2. Likuiditas 3. Solvabilitas % % % 70 % 52,5 % 8,75 % 8,75 % 9,00 % 624,22 % 181,90 % 8,67 % 311,93 % 212,57 % 96,34 49,97 116,86 50,58 4,37 10,23 Target (2) Realisasi (3) Nilai (4=3/2) Nilai Bobot (5=1x4)

6

Indikator Tambahan 1. Profit Margin 2. Ratio Operasi 3.Produktivitas Tenaga Kerja JUMLAH % % %

30 % 10 10 10 18,18 % 81,82 % 81.018.274,18 16,58 % 83,42 % 88.652.488,56 91,19 101,96 109,42 9,12 10,20 10,94 95,43

b) Tahun 2005 (s.d Juni)
Kriteria Penilaian Satuan Unit Bobot (1) Indikator Utama 1. Rentabilitas 2. Likuiditas 3. Solvabilitas Indikator Tambahan 1. Profit Margin 2. Ratio Operasi 3.Produktivitas Tenaga Kerja JUMLAH % % % % % % 70 % 52,5 8,75 8,75 30 % 10 10 10 33,20 % 66,80 % 57.742.759,39 32,94 % 67,06 % 56.885.396,49 99,22 100,39 98,52 9,92 10,04 9,85 97,28 10,57 % 446,34 % 181,47 % 9,71 % 415,78 % 229,96 % 91,86 93,15 126,72 48,22 8,15 11,09 Target (2) Realisasi (3) Nilai (4=3/2) Nilai Bobot (5=1x4)

6. Cakupan pemeriksaan Cakupan Pemeriksaan pada PD Pasar Jaya untuk Tahun 2004 dan Tahun 2005 (s.d. Juni) adalah sebagai berikut:
No. Tahun 2004 I a. Penerimaan Pendapatan Operasional - Iuran Pengelolaan Pasar - Pemeliharaan Pasar & Prasarana - Kerjasama dengan Pihak III - Perijinan & Administrasi Jumlah b. Pendapatan Lain-lain Jumlah penerimaan II a. b. Pengeluaran Beban Operasional Lain-lain 160.017.966.910,00 5.564.723.134,00 116.423.639.062,00 5.432.931.122,00 72,76 97,63 74.748.521.495,00 58.698.106.525,00 47.777.668.150,00 8.110.925.926,00 189.335.222.096,00 10.417.454.337,00 199.752.676.433,00 50.462.726.861,00 25.375.930.317,47 47.777.668.150,00 2.611.506.344,06 126.227.831.672,53 8.481.786.054,23 134.709.617.726,76 67,51 43,23 100 32,19 66,67 81,42 67,44 Perkiraaan Realisasi (Rp) Nilai yang Diperiksa (Rp) Audit Coverage Ratio (%)

7

Jumlah pengeluaran

165.582.690.044,00

121.856.570.184,00

73,59

Tahun 2005 (s.d Juni) I a. Penerimaan Pendapatan Operasional - Iuran Pengelolaan Pasar - Pemeliharaan Pasar & Prasarana - Kerjasama dengan Pihak III - Perijinan & Administrasi Jumlah b. Pendapatan Lain-lain Jumlah penerimaan II a. b. Pengeluaran Beban Operasional Lain-lain Jumlah pengeluaran 77.244.616.723,66 2.252.235.285,71 79.496.852.009,37 59.030.700.542,62 2.112.773.476,71 61.143.474.019,33 72,80 93,81 76,91 53.699.420.800,28 32.149.767.832,13 23.602.791.689,43 5.684.062.168,32 115.136.042.490,16 3.415.494.009,56 118.551.536.499,72 24.417.126.637,00 13.811.846.583,70 23.602.791.689,43 4.832.666.559,94 66.664.431.470,07 3.117.134.275,92 69.781.565.745,99 45,47 42,96 100 85,02 57,90 91,26 58,86

Dari cakupan pemeriksaan Tahun 2004 dan 2005 (s.d Juni) untuk Pendapatan sebesar Rp204.491,18 juta atau 64,24% dari realisasi anggaran sebesar Rp318.304,21 juta ditemukan penyimpangan sebesar Rp123.286,15 juta atau 91,52%. Sedangkan cakupan pemeriksaan Tahun 2004 dan 2005 (s.d Juni) untuk Biaya sebesar Rp183.000,04 juta atau 74,67% dari realisasi anggaran sebesar Rp245.079,54 juta ditemukan penyimpangan sebesar Rp1.335,36 juta atau 0,73%. Rekapitulasi hasil pemeriksaan atas Pendapatan dan Biaya PD Pasar Jaya Tahun 2004 dan Tahun 2005 (s.d. Juni) dimuat dalam daftar pada halaman berikut ini.

8

DAFTAR REKAPITULASI HASIL PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA DALAM SEMESTER II TAHUN ANGGARAN 2005 BUMD Tahun Anggaran : Perusahaan Daerah Pasar Jaya : 2005 Total Nilai Temuan Yang Ditemukan Pada Saat Pemeriksaan Jml 8 21 Nilai 9 940,292.78 % 10 59.42% Jml 11 5 RINCIAN TEMUAN Ketertiban dan Ketaatan (2K) Indikasi Kerugian Nilai 12 78,208.02 % 13 4.94% Kekurangan Penerimaan Jml 14 10 Nilai 15 41,165.81 % 16 2.60% Jml 17 6 Administrasi Nilai 18 820,918.94 % 19 51.88% Jml 20 21 Jumlah 2K Nilai 21 940,292.78 % 22 59.42%

NO.

Nama Obrik/Sasaran Jenis Entitas 2 PENDAPATAN DAN ASSET PENDAPATAN TB 2004 TB 2005 (s.d Juni) ASSET TB 2004 TB 2005 Penyimpangan Terhadap Azas Ketaatan Pencatatan Akuntansi Atas Pendapatan BPP Ditangguhkan Dari Kerjasama Penggunaan Tempat Untuk Pemasangan Dan Penempatan Antena Tower Dan Shelter Di Pasar Glodok Unit Area 7 Tahun 2004 Sebesar Rp24.841.920,00 Dan Tahun 2005 Sebesar Rp23.291.310,00 (Sampai September 2005) Tidak Tepat Pembayaran Sewa Kontrak Dari PT Prolita Sarana Harja Jml 3 13

Jumlah Anggaran

Jumlah Realisasi

Nilai yang Diperiksa 6 1,582,324.17 204,491.19 134,709.62 69,781.57 1,377,832.98 674,952.59 702,880.39

% Cakrik

1

4 2,119,120.71 588,195.18 337,892.99 250,302.19 1,530,925.53 749,947.32 780,978.21

5 1,849,229.75 318,304.22 199,752.68 118,551.54 1,530,925.53 749,947.32 780,978.21

7 85.57%

a.

1

1

48.13

1

48.13

1

48.13

b. Sebesar Rp60.000.000,00 Dilaksanakan Terlambat Penetapan Persentase Tarif Biaya Pengelolaan Pasar (BPP) Belum Sesuai Dengan Ketentuan Yang Telah c. Ditetapkan Penerimaan Sehingga BPP Mengakibatkan Tahun 2004 Kurangnya Senilai

1

1

60.00

1

60.00

1

60.00

1

1

147.59

1

147.59

1

147.49

Untuk

Rp51.629.246,80 Dan Tahun 2005 Senilai Rp95.957.528,08 Pembangunan Tempat Penampungan Sementara Eks d. Pedagang Melawai Senilai Rp3.516.988.293,82 Tidak Sesuai Ketentuan Kerjasama Pembangunan Pasar Jatinegara Merugikan PD e. Pasar Jaya Sebesar Rp3.603.797.474,99 PT Inter Wahana Nuansa Kurang Menyetorkan Kewajiban Sebesar Rp8.469.825.000,00 Kepada PD Pasar Jaya f. Dalam Kerjasama Pembangunan Peremajaan Dan

1

1

3,516.99

1

3,516.98

1

3,516.98

1

2

3,603.80

1

2,827.27

1

776.53

2

3,603.80

1

1

8,947.81

1

8,947.81

1

8,947.81

Penataan Pasar Santa Dan Belum Dikenakan Denda Sebesar Rp477.984.126,73 (per tanggal 28 Oktober 2005) PT Reka Tiga Er Belum Menyetorkan Pembagian Keuntungan Atas Kerja Sama Penataan Lahan Parkir Perumnas Klender dan Belum Membayarkan Denda Atas Keterlambatan Pembayaran Kewajiban Sebesar Rp77.000.000,00 Dan Rp6.255.062,38 Kerja Sama Pembangunan Dan Pembangunan Pasar Pluit Merugikan PD Pasar Jaya Sebesar Rp1.536.549.956,00 Dan Tidak Ada Kejelasan Kepemilikan Atas Asset Senilai Rp2.432.171.028,14 PT Mutiara Permata Indah Kurang Menyetorkan Fee Pemasaran Atas Kerjasama Pelaksanaan Pekerjaan Pengembangan Pasar Cipulir Wilayah Jakarta Selatan Sebesar Rp279.701.238,00 Kerja Sama Pembangunan Dan Pengembangan Pasar Cibubur Merugikan PD Pasar Jaya Sebesar Rp3.844.200.000,00, Denda Keterlambatan Yang Belum Dipungut Sebesar Rp2.296.922.104,62, PPN Belum Dikenakan Atas Biaya Proyek Sebesar Rp4.588.635.270,00 Serta Ketidakjelasan Status Kepemilikan Aset Senilai Rp36.213.160.513,00 PT Priamanaya Djan International Kurang Menyetorkan Kewajiban Sebesar Rp70.000.000.000,00 Kepada PD Pasar Jaya Dalam Kerja Sama Pembangunan Atas Pasar Tanah k. Abang, Ketidakjelasan Status Kepemilikan Asset Senilai Rp777.184.000.000,00 Dan Perhitungan Biaya Non Fisik Belum Dikenakan PPN Sebesar Rp16.474.099.082,59 PT Mutiara Permata Indah Belum Menyetorkan Pembagian l. Keuntungan Atas Kerja Sama Pelaksanaan Pekerjaan Pengembangan Pasar Cipulir Wilayah Jakarta Selatan Sebesar Rp7.511.264.456,14 Adanya Kelemahan Klausul Dalam Perjanjian Kerjasama Pekerjaan Pembangunan Pasar Induk Kramatjati Dan m. Belum Adanya Berita Acara Tambah Kurang Atas 1 1 1 1 1 1 7,511.26 1 7,511.26 1 7,511.26 1 3 865,182.60 1 70,000.00 1 16,474.10 1 778,708.50 3 865,182.60

g.

1

1

83.26

1

83.26

1

83.26

h.

1

2

3,968.72

1

1,536.55

1

2,432.17

2

3,968.72

i.

1

1

279.70

1

279.70

1

279.70

j.

1

5

46,942.92

2

3,844.20

2

6,885.56

1

36,213.16

5

46,942.92

Pekerjaan Tambah Kurang Pada Pekerjaan Pembangunan Pasar Induk Kramatjati Oleh PT Tritunggal Sentra Sejahtera

BIAYA TB 2004 TB 2005 (s.d. 30 Juni 2005) Penyimpangan Terhadap Azas Ketaatan Prosedur Kenaikan Gaji dan Tunjangan Direksi PD Pasar Jaya Tidak Sesuai Ketentuan Pemberian Tunjangan Kegiatan Kerja Tidak Sesuai Ketentuan Sebesar Rp55.727.737,50

4

491,798.64 300,566.36 191,232.28

245,079.54 165,582.69 79,496.85

183,000.04 121,856.57 61,143.47

74.67%

4

5,914.91

3.23%

1

55.73

0.03%

-

-

-

3

5,859.18

3.20%

4

5,914.91

3.23%

a. b.

1 1

1 1

1,599.60 55.73 1 55.73

1

1,599.60

1 1

1,599.60 55.73

PD Pasar Jaya Kurang Menyetorkan Pembagian Laba c. BUMD Ke Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Sebesar Rp2.582.441.451,50 d. PD Pasar Jaya Kurang Menyetor Retribusi Kebersihan Lingkungan Sebesar Rp1.677.142.500,00 Jumlah

1

1

2,582.44

1

2,582.44

1

2,582.44

1

1

1,677.14

1

1,677.14

1

1,677.14

17

2,610,919.35

2,094,309.29

1,765,324.21

84.29%

25

946,207.69

53.60%

6

78,263.75

4.43%

10

41,165.81

2.33%

9

826,778.12

46.83%

25

946,207.69

53.60%

8

II. Hasil Pemeriksaan Sistem Pengendalian Intern (SPI) Hasil pengujian SPI atas penyusunan dan penyajian Laporan Keuangan dan atas kegiatan pengelolaan pendapatan dan pengendalian biaya Tahun 2004 dan Tahun 2005 pada PD Pasar Jaya adalah sebagai berikut : 1. Struktur Organisasi Dalam rangka mewujudkan sasaran dan tujuan organisasi tersebut, berdasarkan Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No 70 Tahun 2005 tanggal 8 Juni 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja PD Pasar Jaya Provinsi DKI Jakarta, PD Pasar Jaya memiliki struktur organisasi yang terdiri dari Badan Pengawas, Direksi, Unsur Staf dan Unsur Pelaksana. a. Badan Pengawas Badan Pengawas mempunyai tugas mengawasi kegiatan operasional PD Pasar Jaya, memberikan pendapat dan saran kepada Gubernur terhadap pengangkatan dan pemberhentian direksi, memberikan pendapat dan saran kepada Gubernur terhadap program kerja yang dianjurkan oleh Direksi, memberikan pendapat dan saran kepada Gubernur terhadap laporan keuangan perusahaan, dan memberikan pendapat dan saran atas laporan kinerja PD Pasar Jaya. Badan Pengawas paling banyak tiga orang dengan susunan keanggotaan terdiri atas Ketua, Sekretaris dan Anggota. Gubernur. b. Dewan Direksi Direksi terdiri dari Direktur Utama, Direktur Administrasi, Direktur Operasi, Direktur Perencanaan dan Hukum. Sampai saat ini, PD Pasar Jaya hanya memiliki Direktur Utama, Direktur Administrasi, dan Direktur Operasi. Direktur Utama mempunyai tugas diantaranya memimpin dan mengendalikan semua kegiatan PD Pasar Jaya, menyampaikan Rencana Kerja Lima Tahunan dan RKAP Tahunan kepada Badan Pengawas, mengurus dan mengelola kekayaan PD Pasar Jaya, menetapkan kebijakan perusahaan (corporate strategy) dan Badan Pengawas bertanggung jawab kepada

mengkoordinasikan pelaksanaan secara konsisten, mewakili PD Pasar Jaya baik di dalam maupun di luar pengadilan. Direktur Administrasi mempunyai tugas memimpin dan mengkoordinasikan kegiatan penyusunan RKAP, penggalian sumber pendanaan perusahaan serta pengendalian pengelolaan keuangan, kekayaan perusahaan, pembinaan pegawai, dan

9

kegiatan administrasi umum dan kehumasan, serta melaksanakan tugas-tugas lainnya yang diberikan Direktur Utama. Direktur Operasi mempunyai tugas memimpin dan mengkoordinasikan kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pembangunan, perawatan pasar, kegiatan promosi, pemasaran dan perizinan tempat usaha, pembinaan pedagang, pengembangan usaha, pengelolaan kawasan pasar, dan fasilitas pasar dan prasarana lainnya serta melaksanakan tugas-tugas lainnya yang diberikan Direktur Utama. 2. Sumber Daya Aparatur Sampai dengan bulan Juni 2005, PD Pasar Jaya memiliki pegawai sebanyak 2.024 orang, atau mengalami penurunan pegawai sebanyak 47 orang dari jumlah pegawai PD Pasar Jaya per 31 Desember 2004 sebanyak 2.071 orang. Sedangkan selama Tahun 2004, jumlah pegawai mengalami penurunan sebanyak 149 orang dari jumlah pegawai pada Tahun 2003 sebanyak 2.220 orang. Berdasarkan hasil penilaian, Direksi telah memiliki kompetensi dan keahlian yang memadai dalam merumuskan kebijakan atas pengelolaan dan operasional pada PD Pasar Jaya, mengendalikan dan melakukan pengawasan atas kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan. Terdapat beberapa hal yang kurang diperhatikan oleh Direksi, salah satunya adalah Direksi kurang mentaati peraturan yang berlaku bagi PD Pasar Jaya (Temuan Pemeriksaan No.4 dan No.9). Selanjutnya dalam pelaksanaan pengelolaan PD Pasar Jaya, Direksi dibantu oleh Unsur Staf yang terdiri dari satu Satuan Pengawasan Intern (SPI) dan delapan divisi. Selain itu Direksi dibantu oleh Unsur Pelaksana yang terdiri dari Unit Area dan Unit Perparkiran. Berdasarkan kompetensi dan keahlian menunjukkan bahwa kompetensi dan keahlian yang diperlukan untuk menduduki suatu jabatan tertentu kurang diperhatikan oleh pihak manajemen PD Pasar Jaya. Dari pemeriksaan secara garis besar dapat disimpulkan bahwa kurangnya koordinasi antar divisi. Selain itu

diketahui juga peranan Manajer Divisi Hukum kurang cermat dan kurang mentaati peraturan yang berlaku (dapat dilihat pada Temuan Pemeriksaan No.2 dan No.10), Manajer dan Asisten Manajer Divisi Keuangan kurang optimal dalam melaksanakan tugasnya (Temuan Pemeriksaan No.2 dan No.7), Asisten Manajer Administrasi Area kurang cermat dalam mencatat transaksi keuangan (Temuan Pemeriksaan No.1).

10

3. Tata Laksana Kegiatan pengelolaan seluruh aktivatas perusahaan (tata laksana) adalah suatu kegiatan untuk meyakinkan bahwa kebijakan dan prosedur yang ditetapkan telah sesuai dengan tujuan dan sasaran organisasi dan untuk meyakinkan bahwa kebijakan dan prosedur tersebut telah dilaksanakan oleh manajemen dengan sebaik-baiknya. Hal-hal yang terpenting dalam kegiatan tata laksana adalah sebagai berikut : a. Kebijakan PD Pasar Jaya setiap Tahun membuat Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) yang disahkan oleh Gubernur Provinsi DKI Jakarta, sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengelolaan pendapatan dan biaya. Penyusunan RKAP diusulkan oleh masing-masing area/unit kerja dengan dikoordinir oleh Divisi Keuangan sebelum Tahun buku yang bersangkutan. RKAP disusun berdasarkan asumsi dan hasil evaluasi atas pelaksanaan RKAP Tahun buku sebelumnya, perkembangan ekonomi, kebijakan-kebijakan pemerintah dan daerah. Setelah dilakukan pembahasan antara Direksi, para Manajer dan Badan Pengawas, RKAP perusahaan kemudian diusulkan Direksi kepada Gubernur melalui Badan Pengawas untuk mendapatkan pengesahan. Direksi melaksanakan RKAP yang sudah disahkan tersebut dengan melakukan evaluasi dan penyesuaian setiap triwulan. Untuk Tahun 2004, Gubernur Provinsi DKI Jakarta telah menerbitkan Surat Keputusan No.4214/2003 tanggal 31 Desember 2003 tentang RKAP PD Pasar Jaya Provinsi DKI Jakarta Tahun 2004. Untuk Tahun 2005, Gubernur Provinsi DKI Jakarta telah menerbitkan Surat Keputusan No.2840/2004 tanggal 31 Desember 2004 tentang RKAP PD Pasar Jaya Provinsi DKI Jakarta Tahun 2005. Dalam setiap RKAP yang diterbitkan, PD Pasar Jaya menetapkan beberapa hal yang dijadikan sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan operasional PD Pasar Jaya, yaitu diantaranya sebagai berikut: 1) Rencana Kerja Rencana kerja untuk PD Pasar Jaya Tahun 2004 yang terdiri atas : a) Alat Produksi dan Utilitasnya yang meliputi memprogramkan lahan untuk dijadikan lahan pembuangan akhir sampah; melakukan privatisasi perparkiran; perawatan dan perbaikan bangunan yang rusak; optimalisasi penerimaan MCK dengan penetapan O.E sesuai hasil survey; dan penataan pedagang kaki lima dengan diberlakukannya tarif baru.

11

b) Program di Bidang Tenaga Kerja yang meliputi adanya perubahan struktur organisasi serta kebijakan pemberian tunjangan perusahaan dan tunjangan jabatan maupun uang makan/transport; pemberian dana pensiun baik yang habis masa tugasnya ataupun pensiun maupun mengundurkan diri atas permintaan sendiri; dan memberikan peningkatan tunjangan kesejahteraan dan kesehatan bagi pegawai dan keluarganya. c) Program Pemasaran, yaitu melakukan kegiatan pameran pembangunan, pemasangan umbul-umbul, iklan media elektronik, sponsor dan pentas lainnya. Rencana kerja untuk PD Pasar Jaya Tahun 2005 yang terdiri atas : a) Organisasi, yaitu memprioritaskan perubahan Badan Hukum dari PD menjadi PT agar lebih luwes dalam pengelolaan pasar, akan segera diusulkan kepada Gubernur Provinsi DKI Jakarta melalui Badan Pengawas. b) Manajemen, yaitu mengembangkan sistem informasi manajemen untuk memberikan kemudahan pengambilan keputusan serta meningkatkan manajemen pengelolaan. c) Perencanaan dan Pengembangan yang menitikberatkan tindak lanjut dan program Tahun 2005 untuk mengantisipasi pengelolaan perusahaan di masa mendatang dalam menghadapi tantangan. d) Sumber Daya Manusia yang menitikberatkan pemberdayaan pegawai secara efektif dan efisien melalui Penyusunan Standar Kebutuhan Pegawai, Pensiun Dini, Pendidikan dan Pelatihan, serta penambahan pegawai baru. 2) Rencana Anggaran Rencana anggaran meliputi proyeksi Laba (Rugi), Proyeksi Neraca, Proyeksi Investasi, dan Proyeksi Arus Kas yang dijadikan pedoman dalam melakukan pengelolaan keuangan PD Pasar Jaya untuk Tahun berikutnya. Dalam pelaksanaannya, masih terdapat pengendalian yang kurang memadai atas penyerahan hak kepemilikan dan ketidakjelasan status kepemilikan atas aset yang dibangun oleh pihak ketiga.

b. Kerjasama dengan Pihak Ketiga Prosedur pelaksanaan kerjasama pada umumnya diawali dengan kesepakatan bersama dalam bentuk Memorandum Of Understanding/MOU yang kemudian dituangkan dalam bentuk perjanjian kerjasama. Kelemahan pelaksanaan kerjasama 12

dengan prosedur tersebut adalah tidak adanya rekanan pembanding, baik dalam hal penawaran harga maupun kualitas pekerjaan. Persyaratan administrasi sesuai yang diminta dalam SK Gubernur No.39/2002 maupun SK Direksi No.420/2003 tentang Ketentuan Pelaksanaan Kerjasama PD Pasar Jaya dengan Pihak Ketiga dilengkapi hanya sebagai formalitas belaka. Misalnya Surat Keterangan Bank yang menyatakan kemampuan rekanan dalam mendanai pekerjaan baru ada setelah perjanjian disepakati. Akibatnya, banyak rekanan yang melakukan wan prestasi terhadap perjanjian kerjasama yang telah disepakati karena tidak mampu mendanai pekerjaan dan tidak melunasi kewajiban pembayaran kompensasi penggunaan lahan kepada PD Pasar Jaya (Temuan Pemeriksaan No.9, 10, 11, 12,13, 14,15,16). Dalam pembangunan TPS eks Melawai, PD Pasar Jaya memberikan pekerjaan kepada kontraktor tanpa didasari Surat Perintah Kerja, sehingga kerjasama pemborongan pekerjaan tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum dan tidak ada batasan biaya yang mengikat diantara pihak-pihak yang bersepakat. Pekerjaan tambah kurang juga tidak dituangkan dalam bentuk addendum yang disetujui kedua belah pihak, akan tetapi dilaksanakan tambah kurang pekerjaan terlebih dulu baru kemudian diformalkan dalam bentuk Berita Acara.

c. Pembayaran dan Pengeluaran Beban Operasional/Lain-lain Perusahaan Prosedur Pembayaran dan pengeluaran beban operasional dan pengeluaran lainlain PD Pasar Jaya sebagian besar berdasarkan surat keputusan Direksi. Untuk halhal tertentu, Direksi tidak mengeluarkan surat keputusan yang dapat dijadikan dasar dalam penetapan besarnya pengeluaran dan bentuk pertanggungjawaban pengeluaran biaya tersebut belum diatur. Berdasarkan hasil pengujian terhadap aspek Sistem Pengendalian Intern, prosedur pembayaran dan pengeluaran beban operasional dan pengeluaran lain-lain tersebut belum memadai karena terdapat pengeluaran yang tidak sesuai dengan surat keputusan direksi seperti diungkap dalam Temuan Pemeriksaan No.6. Pemeriksaan lain menunjukkan pula adanya kesalahan prosedur dalam menetapkan kenaikan gaji seperti yang tercantum pada Temuan Pemeriksaan No.4. d. Pengawasan Untuk memenuhi kebutuhan pengendalian manajemen yang lebih baik, berdasarkan Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No.70 Tahun 2005 tanggal 8

13

Juni 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja PD Pasar Jaya Provinsi DKI Jakarta, dibentuk suatu Satuan Pengawasan Intern (SPI) yang dipimpin oleh seorang Kepala yang langsung bertanggung jawab kepada Direktur Utama. Tugas pokok SPI adalah sebagai berikut : 1) Memantau dan menjaga agar kegiatan perusahaan tidak menyimpang dari ketentuan yang berlaku; 2) Melaksanakan kegiatan pengawasan operasional keuangan, usaha, pembangunan, kepegawaian, perencanaan, teknologi informasi, hukum dan keamanan ketertiban, umum dan kehumasan; 3) Menyusun dan mengembangkan pedoman pengawasan; 4) Menyusun Program Kerja Kegiatan Pengawasan Tahunan (PKPT); 5) Menyusun dan menyampaikan laporan hasil pengawasan; 6) Mengkoordinasikan pengawasan eksternal; 7) Memberikan saran dan masukan hasil temuan pengawasan kepada Dirut. Berdasarkan temuan-temuan pemeriksaan dapat disimpulkan bahwa kinerja SPI belum optimal dalam melakukan kegiatan pengawasan.

e.

Pencatatan Dalam melakukan pencatatan transaksi keuangan, PD Pasar Jaya menggunakan

Modul Akuntansi yang disusun oleh Drs. Hans dan Rekan. Modul akuntansi tersebut belum dimutakhirkan sesuai dengan kondisi perusahaan yang sekarang. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa terdapat kesalahan pencatatan transaksi keuangan seperti yang tercantum dalam Temuan Pemeriksaan No.1.

Berdasarkan hasil pemeriksaan atas berbagai aspek dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan dan terhadap kegiatan pengelolaan pendapatan dan biaya PD Pasar Jaya, aspek-aspek pengendalian dalam kerangka Sistem Pengendalian Intern telah dirancang secara memadai, akan tetapi dilaksanakan kurang efektif khususnya mengenai prosedur kerja, pembukuan, penyusunan dan penyajian informasi keuangan serta pengawasan atas pelaksanaan pekerjaan. Kelemahankelemahan SPI tersebut turut andil dalam terjadinya berbagai penyimpangan seperti diungkap dalam Temuan-temuan Pemeriksaan lainnya. Kelemahan-kelemahan tersebut dapat dilihat dalam Bab IV Temuan Pemeriksaan.

14

III. Hasil Pemeriksaan Tindak Lanjut PD Pasar Jaya telah diperiksa oleh BPK-RI terakhir pada Tahun 2003 dengan 18 temuan dan 33 saran. Dari 33 saran tersebut, 24 saran telah ditindaklanjuti oleh PD Pasar Jaya, dan sembilan saran sudah ditindaklanjuti tapi belum sesuai dengan saran BPK-RI. Hasil konfirmasi kepada Kepala SPI PD Pasar Jaya menyatakan bahwa sudah ada perkembangan penyelesaian tindak lanjut atas temuan BPK-RI tersebut, akan tetapi belum disampaikan kepada BPK-RI secara resmi. Berdasarkan hasil Pemantauan Tindak lanjut atas hasil pemeriksaan BPK-RI Tahun 2003, terdapat sembilan tindak lanjut yang belum sesuai dengan rekomendasi BPK-RI, dengan rincian temuan sebagai berikut: − Pemungutan denda atas keterlambatan pembayaran kewajiban oleh pelaksana pengembang sebesar Rp4.687.774.061,47 − Pemungutan PPN atas penyerahan fisik bangunan hasil kerjasama dan PPN atas tempat usaha masing-masing sebesar Rp16.417.811.404,25 dan Rp6.148.231.845,76 − Kekurangan penerimaan dari bagian keuntungan dari PT DMN sebesar Rp855.352.679,06 − Kelebihan pembayaran kepada PT ATT untuk pekerjaan struktur pembangunan Blok D yang tidak sesuai RAB sebesar Rp105.510.705,84 − Iuran Pembangunan Pasar (IPbP) pembuatan counter lantai satu Pasar Pluit sebesar Rp105.600.000,00 − Kewajiban pembayaran retribusi pelayanan persampahan belum dipenuhi sebesar Rp1.030.816.450,00. − Pengenaan denda atas keterlambatan penyerahan Pembangunan Optimalisasi Penambahan Bangunan Blok B dan D Pasar Tanah Abang dan Pembangunan Peremajaan Pasar Pluit belum diterima sebesar Rp343.619.904,60 dan Rp406.741.938,92. BPK-RI tidak memperoleh data hasil pengawasan oleh Divisi Satuan Pengawasan Intern PD Pasar Jaya, sehingga tidak diketahui permasalahan yang diungkapkan berikut tindak lanjutnya

15

IV. Temuan Pemeriksaan Penyimpangan yang ditemukan pada saat pemeriksaan adalah sebesar Rp944.365.288.450,29 atau 45,09% dari Realisasi Anggaran Pendapatan dan Biaya dan Aktiva yang diperiksa pada TB 2004 dan TB 2005 (s.d Juni 2005) sebesar Rp2.094.309.286.364,13 adalah penyimpangan terhadap azas ketaatan, dengan uraian temuan sebagai berikut : 1. Pencatatan Akuntansi Atas Pendapatan BPP Ditangguhkan Dari Kerjasama Penggunaan Tempat Untuk Pemasangan Dan Penempatan Antena Tower Dan Shelter Di Pasar Glodok Unit Area 7 Tahun 2004 Sebesar Rp24.841.920,00 Dan Tahun 2005 Sebesar Rp23.291.310,00 (Sampai September 2005) Tidak Tepat

PD Pasar Jaya pada Tahun 2004 melaksanakan Perjanjian Kerjasama dengan PT Solu Sindo Kreasi Pratama tentang Perjanjian Penggunaan Tempat Untuk Pemasangan Dan Penempatan Antena Tower Dan Shelter Di Pasar Glodok Unit Area 7. Kerjasama tersebut dituangkan dalam suatu Perjanjian Kerjasama (PKS) No.189/1.824.552.1 tanggal 31 Agustus 2004. Biaya Pemakaian Tempat disepakati sebesar Rp154.219.000,00 dengan cara pembayaran dimuka untuk masa pemakaian tempat selama 5 Tahun (15 Agustus 2004–14 Agustus 2009), dengan rincian sebagai berikut (berdasarkan Perjanjian Kerjasama): Sewa Kontrak Tempat untuk Antenna Sewa Kontrak Tempat untuk Shelter PPN 10% atas Sewa Kontrak BPP Shelter dan Antenna PPN 10% dari BPP Pengawasan Teknis Bantuan Alat Kebersihan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 43.200.000,00 28.800.000,00 7.200.000,00 52.290.000,00 5.229.000,00 7.500.000,00 10.000.000,00

Dari data di atas diketahui bahwa Pendapatan BPP Yang Diterima Dimuka adalah sewa kontrak tempat untuk antenna, sewa kontrak tempat untuk shelter dan BPP shelter dan antenna senilai Rp124.290.000,00 (Rp43.200.000,00 + Rp28.800.000,00 + Rp52.290.000,00) untuk 5 Tahun (60 bulan). Jadi pendapatan yang diterima tiap bulan adalah Rp2.071.500,00 (Rp124.290.000,00 : 60). Berdasarkan hasil perhitungan BPK-RI atas data-data yang tercantum dalam perjanjian kerjasama diketahui bahwa Pendapatan BPP Yang Ditangguhkan untuk Tahun 2004 adalah sebesar Rp116.004.000,00 (Rp124.290.000,00 - (4 bulan x 16

Rp2.071.500,00)). Sedangkan menurut Laporan Keuangan Triwulan IV Tahun 2004, Pendapatan BPP Yang Ditangguhkan adalah sebesar Rp91.162.080,00 sehingga terdapat selisih sebesar Rp24.841.920,00 (Rp116.004.000,00 – Rp91.162.080,00). Untuk Tahun 2005 Pendapatan BPP Yang Ditangguhkan adalah sebesar Rp97.360.500,00 (Rp116.004.000,00 – (9 bulan x Rp2.071.500,00)). Sedangkan

menurut Laporan Keuangan Triwulan III Tahun 2005 Pendapatan BPP Yang Ditangguhkan adalah sebesar Rp74.069.190,00 sehingga terdapat selisih sebesar Rp23.291.310,00 (Rp97.360.500,00 – Rp74.069.190,00).

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 30 Bab II No. 4.2 yang menyatakan bahwa pembayaran sewa guna usaha/lease payment selama Tahun berjalan yang diperoleh dari

penyewagunausaha diakui dan dicatat sebagai pendapatan sewa. Pendapatan sewa harus diakui dan dicatat berdasarkan metode garis lurus sepanjang masa sewaguna usaha, meskipun pembayaran sewaguna usaha mungkin dilakukan dengan jumlah yang tidak sama setiap periode.

Atas kesalahan pengakuan Pendapatan BPP Yang Ditangguhkan tersebut, Area 07 Glodok belum melakukan koreksi sehingga mengakibatkan pencatatan atas akun Pendapatan BPP Yang Ditangguhkan di Laporan Keuangan Tahun 2004 tidak mencerminkan Pendapatan BPP Yang Ditangguhkan yang sesungguhnya,

disebabkan oleh kurangnya pemahaman petugas administrasi Area 07 Glodok atas ketentuan yang berlaku.

Atas permasalahan tersebut PD Pasar Jaya menyatakan bahwa pencatatan atas pengakuan pendapatan BPP atas penempatan dan pemasangan antena Tower dan Shelter di Pasar Glodok lebih besar karena masa pengakuan pendapatan tersebut dihitung lebih lama. Untuk TB 2005 telah dilakukan koreksi pencatatan.

BPK-RI menyarankan Direksi PD Pasar Jaya agar memberikan teguran tertulis kepada Asisten Manajer Administrasi Area 07 Glodok supaya lebih cermat dalam mencatat transaksi akuntansi perusahaan dan melakukan koreksi Laporan Keuangan TB 2004 sebesar Rp24.841.920,00 sehingga kesalahan saldo pendapatan

17

BPP yang ditangguhkan tersebut tidak berpengaruh ke Tahun-Tahun berikutnya serta lebih aktif dalam melakukan koordinasi dengan kantor pusat dalam hal penerapan metode akuntansi yang ada.

2. Pembayaran Sewa Kontrak Dari PT Prolita Sarana Harja Sebesar Rp60.000.000,00 Dilaksanakan Terlambat

PD Pasar Jaya pada Tahun 2005 menyewakan eks kantor cabang PD Pasar Jaya berupa gedung berlantai 2 (dua) dengan luas tanah 731 m2 yang beralamat di Jalan Alaydrus No.36 Area 11 Grogol, wilayah Jakarta Pusat kepada PT Prolita Sarana Harja untuk jangka waktu 2 (dua) Tahun senilai Rp60.000.000,00. Perjanjian antara PD Pasar Jaya dengan PT Prolita Sarana Harja tersebut dituangkan dalam Perjanjian Sewa Kontrak No.62/1.824.552.5 tanggal 18 Maret 2005. Berdasarkan pemeriksaan atas buku kas PD Pasar Jaya pada tanggal 24 Oktober 2005 diketahui bahwa penerimaan dari PT Prolita Sarana Harja sampai dengan tanggal tersebut di atas ternyata belum ada. Selain itu, di dalam perjanjian sewa kontrak tersebut tidak diatur mengenai suatu sanksi/denda jika salah satu pihak melakukan wanprestasi. Atas permasalahan tersebut, PT Prolita Sarana Harja telah memenuhi kewajibannya pada tanggal 27 Oktober 2005 sebesar Rp69.300.000,00, dengan rincian kewajiban dan pokok denda sebesar 5% Rp60.000.000,00, sebesar PPN 10% sesuai sebesar kuitansi

Rp6.000.000,00

Rp3.300.000,00

No.0146/PDPSJ/X-2005 tanggal 27 Oktober 2005.

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan: a. Pasal 5 ayat (1) perjanjian sewa kontrak yang menyatakan bahwa Pihak Kedua (PT Prolita Sarana Harja) harus membayar biaya sewa kontrak kepada Pihak Pertama (PD Pasar Jaya) untuk jangka waktu 2 (dua) Tahun sebesar Rp60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah) tunai belum termasuk PPN 10% yang harus disetorkan ke Asisten Manajer (Assman) Divisi Kas & Pajak Kantor Pusat PD Pasar Jaya pada saat penandatanganan perjanjian.
b.

Keppres No.80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah pada bagian kesebelas, paragraf pertama, Pasal 29 ayat (1) butir h yang menyatakan bahwa kontrak sekurang-kurangnya memuat 18

ketentuan mengenai cidera janji dan sanksi dalam hal para pihak tidak memenuhi kewajibannya. 3. Penerapan Persentase Tarif Biaya Pengelolaan Pasar (BPP) Belum Sesuai Dengan Ketentuan Yang Telah Ditetapkan Mengakibatkan Kurangnya Penerimaan BPP Untuk Tahun 2004 Senilai Rp51.629.246,80 Dan Tahun 2005 Senilai Rp95.957.528,08

PD Pasar Jaya sebagai suatu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang melakukan pengurusan pasar dan fasilitas perpasaran lainnya, memperoleh beberapa jenis pendapatan, yang salah satunya adalah Pendapatan Iuran Pengelolaan Pasar yang terdiri atas Pendapatan Iuran Pengelolaan Pasar Bulanan, Pendapatan Iuran Pengelolaan Pasar Harian, Pendapatan Perpanjangan Hak Pakai, dan Pendapatan Sewa Kontrak. Untuk Tahun 2004, PD Pasar Jaya telah merealisasikan Pendapatan Iuran Pengelolan Pasar Bulanan sebesar Rp46.868.057.985,97 dan pada Tahun 2005 (sampai dengan Juni) sebesar Rp30.645.863.505,09. Penetapan tarif BPP ini telah diatur dalam Keputusan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta No.939/2004 tanggal 21 April 2004 tentang Penyesuaian Tarif Pengelolaan Pasar Di Pasar-Pasar Perusahaan Daerah Pasar Jaya Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang ditindaklanjuti dengan Keputusan Direksi Perusahaan Daerah Pasar Jaya No.232/2004 tanggal 9 Agustus 2004 tentang Pedoman Pelaksanaan Penerapan Tarif Pengelolaan Pasar Di Pasar-Pasar PD Pasar Jaya. Penerapan tarif berdasarkan kedua ketentuan di atas mulai diberlakukan terhitung sejak tanggal 1 Juni 2004. Hasil uji petik atas dokumen-dokumen yang terkait dengan pendapatan Iuran Pengelolaan Pasar, salah satu dokumen Daftar Penulisan Pengelolaan Pasar Bulanan yang antara lain berisikan data nama-nama pedagang, nomor tempat berjualan, luas tempat dagangan, macam dagangan, tarif dan besarnya persentase yang dikenakan, diketahui bahwa masih terdapat beberapa pasar di PD Pasar Jaya yang menerapkan persentase tarif BPP dibawah ketentuan yang telah ditetapkan, dengan jumlah kekurangan penetapan sebesar Rp147.586.774,88, terdiri dari Tahun 2004 sebesar Rp51.629.246,80 dan Tahun 2005 sebesar Rp95.957.528,08 (Rincian lihat lampiran 1).

19

Kondisi tersebut di atas tidak sesuai dengan Keputusan Direksi Perusahaan Daerah Pasar Jaya No. 232/2004 tentang Pedoman Pelaksanaan Penerapan Tarif Pengelolaan Pasar di Pasar-Pasar PD Pasar Jaya Lampiran III dan Lampiran XII yang antara lain menetapkan sebagai berikut:

No

Pasar

Potensi Pasar C B C C C A

Kenaikan /Thn (%) 10% 8% 7% 6% 6% 15% 2004 (%)

Penerapan Tahun Berikutnya 2005 (%) 60 % 68 % 72 % 76 % 76 % 55 % 2006 (%) 70 % 76 % 79 % 82 % 82 % 70 % 2007 (%) 80 % 84 % 86 % 88 % 88 % 85 % 2008 (%) 90% 92% 93% 94% 94% 100 % 2009 (%) 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 2010 (%) -

1 2 3 4 5 6

Cempaka Putih Pramuka/Burung/Matraman Palmeriam Cikini Ampiun Hias Rias Cipulir

50 % 60 % 65 % 70 % 70 % 40 %

Masalah ini mengakibatkan berkurangnya penerimaan PD Pasar Jaya dari Pendapatan Iuran Pengelolaan Pasar Bulanan untuk Tahun 2004 sebesar Rp51.629.246,80 dan Tahun 2005 sebesar Rp95.957.528,08 (Rincian Terlampir), yang disebabkan oleh PD Pasar Jaya dhi. pihak-pihak yang terkait dengan penagihan Pendapatan Iuran Pengelolaan Pasar Bulanan kurang tegas dalam menerapkan besarnya persentase tarif Iuran Pengelolan Pasar Bulanan yang telah ditetapkan.

Atas permasalahan tersebut PD Pasar Jaya menyatakan bahwa SK Gubernur baru terbit tanggal 21 April 2004 sehingga membutuhkan waktu untuk sosialisasi kepada para pedagang dan dari sosialisasi tersebut disepakati bahwa penyesuaian tarif BPP mulai diterapkan secara bertahap mulai Bulan Juni 2004

BPK-RI menyarankan Direksi PD Pasar Jaya agar memberikan teguran tertulis kepada Manajer masing-masing area supaya lebih optimal dalam melakukan pengawasan di areanya dan kepada Supervisor masing-masing Pasar untuk melakukan penagihan Iuran Pengelolaan Pasar Bulanan secara lebih intensif sesuai ketentuan yang berlaku.

20

4. Prosedur Kenaikan Gaji Dan Tunjangan Direksi PD Pasar Jaya Tidak Sesuai Ketentuan

Pada Tahun 2004, gaji dan tunjangan Direksi PD Pasar Jaya mencapai Rp958.893.600,00 atau mengalami kenaikan sebesar Rp799.625.950,00 (502,06%) dibandingkan Tahun 2003 sebesar Rp159.267.650,00. Sementara pada Tahun 2005 (s.d. 31 Oktober 2005) gaji dan tunjangan mencapai sebesar Rp799.974.000,00 atau mengalami kenaikan sebesar Rp (0,04%) dibandingkan Tahun 2004. Hasil pemeriksaan atas dokumen berupa surat usulan kenaikan gaji dan tunjangan Direksi dari Ketua Badan Pengawas kepada Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta tanggal 8 Maret 2004, Surat Sekretaris Daerah atas nama Gubernur Provinsi DKI Jakarta kepada Ketua Badan Pengawas PD Pasar Jaya

No.1727/087.415 tanggal 28 Juni 2004 tentang Persetujuan Kenaikan Gaji Dan Tunjangan Direksi PD Pasar Jaya, dan Surat Permohonan Persetujuan Kenaikan Gaji Dan Tunjangan Direksi dari Direktur Utama PD Pasar Jaya ke Gubernur Provinsi DKI Jakarta No.77/087.41 tanggal 11 Januari 2005, menunjukkan hal-hal sebagai berikut: a. Kenaikan gaji dan tunjangan Direksi diusulkan oleh Badan Pengawas dengan surat usulan Nomor 023/BP-PJ/III/2004 tanggal 8 Maret 2004. b. Sebagai dasar perbandingan atas besarnya gaji dan tunjangan yang diusulkan Badan Pengawas (seperti yang dicantumkan pada surat Badan Pengawas tersebut) adalah gaji dan tunjangan Direktur Utama PT Mitra Pratama Sejati. c. Kenaikan gaji dan tunjangan Direksi PD Pasar Jaya didasarkan pada Surat Persetujuan Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta atas nama Gubernur No.1727/087.415 tanggal 28 Juni 2004. d. Gaji dan tunjangan Direksi PD Pasar Jaya yang disetujui Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta meliputi gaji, tunjangan perusahaan, tunjangan jabatan, transport/bensin, bantuan pulsa dan tunjangan khusus dengan besaran nilai yang bervariasi diantara Direksi dengan ketentuan maksimal Direktur Utama sebesar Rp30 juta, Direktur Administrasi dan Direktur Operasional sebesar Rp27 juta. e. Sampai dengan saat pemeriksaan, tanggal 16 November 2005, surat Keputusan/Ketetapan dari Gubernur belum ada. f. Surat Persetujuan Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta tertanggal 28 Juni 2004 tersebut berlaku surut sejak tanggal 1 Januari 2004 dengan alasan kenaikan 21

gaji dan tunjangan Direksi tersebut sudah dianggarkan dalam RKAP. Atas keterangan tersebut Tim pemeriksa tidak dapat memperoleh penjelasan lebih lanjut, baik dari Divisi Sumber Daya Manusia (SDM), Divisi Perencanaan maupun dari Divisi Keuangan. g. Berdasarkan data gaji dan tunjangan Direksi dari Divisi SDM menunjukkan bahwa gaji dan tunjangan Direktur Utama adalah sebesar Rp28.695.000,00 (95% dari persetujuan), Direktur Administrasi sebesar Rp25.627.750,00 (94,92% dari persetujuan) dan Direktur Operasional sebesar Rp25.585.050,00 (94,76% dari persetujuan). Hasil konfirmasi kepada Manajer Divisi SDM menyatakan bahwa penerapan gaji dan tunjangan Direksi tersebut didasarkan pada kemampuan PD Pasar Jaya.

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Daerah No.12 Tahun 1999 Pasal 19 Ayat (2) tentang Perusahaan Daerah Pasar Jaya yang menyatakan bahwa Besarnya gaji dan tunjangan Direksi PD Pasar Jaya ditetapkan oleh Gubernur atas usul Direksi melalui Badan Pengawas.

Ketidaksesuaian tersebut mengakibatkan kenaikan gaji dan tunjangan Direksi sebesar Rp1.599.599.950,00 (Tahun 2004 sebesar Rp799.625.950,00 dan Tahun 2005 sebesar Rp799.974.000,00) tidak sah, yang disebabkan oleh Badan Pengawas yang menilai ketidaklayakan antara gaji/tunjangan dengan tanggung jawab Direksi dan besarnya gaji/tunjangan Direksi tersebut berkaitan juga dengan besarnya honorarium Badan Pengawas (40% dari gaji/tunjangan Direksi).

Atas permasalahan tersebut PD Pasar Jaya menyatakan bahwa gaji dan tunjangan Direksi PD Pasar Jaya masih di bawah standar dibandingkan Direksi BUMD / PT milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sehingga Badan Pengawas menganggap bahwa dengan besarnya tugas dan tanggung jawab yang ada, kenaikan gaji dan tunjangan tersebut masih dalam standar yang normal, juga dibandingkan laba PD Pasar Jaya yang setiap Tahun makin meningkat.

BPK-RI menyarankan Gubernur Provinsi DKI Jakarta agar memberikan teguran tertulis kepada Badan Pengawas dan Direksi PD Pasar Jaya atas pelaksanaan kenaikan gaji yang tidak sesuai ketentuan yang berlaku dan supaya segera 22

mengajukan permohonan persetujuan Gubernur untuk kenaikan gaji dan tunjangan Direksi sesuai ketentuan yang berlaku.

5. PD Pasar Jaya Kurang Menyetorkan Pembagian Laba BUMD Kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Sebesar Rp2.582.441.451,50

PD Pasar Jaya sebagai salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkewajiban menyumbangkan kontribusinya kepada Anggaran Daerah Provinsi DKI Jakarta sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan. Berdasarkan Laporan Rugi Laba untuk Tahun yang berakhir tanggal 31 Desember 2004 yang dikeluarkan KAP Doli-Bambang-Sudarmadji tanggal 29 April 2005, diketahui bahwa laba bersih yang diperoleh PD Pasar Jaya adalah sebesar Rp24.922.648.703,00. Dari laba bersih tersebut maka 50% untuk Anggaran Daerah adalah sebesar Rp12.461.324.351,50 ( 50% x Rp24.922.648.703,00). Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap Surat Tanda Setoran (STS), diketahui bahwa PD Pasar Jaya sudah menyetorkan sebanyak Rp9.878.882.900,00. Rincian STS sebagai bukti pembayaran ke Kas Daerah adalah sebagai berikut : Tgl Setor 24-Mar-05 22-Jul-05 19-Aug-05 22-Jul-05 No. STS 01/III/PJ/2005 02/VII/PJ/2005 03/VIII/PJ/2005 02/XI/PJ/2005 Jumlah Bilyet Giro Nomor Tanggal 939541 23-Mar-05 048776 21-Jul-05 104672 16-Aug-05 048787 11-Nov-05 Nilai (Rp) 2.357.000.000,00 2.357.000.000,00 2.582.441.450,00 2.582.441.450,00 9.878.882.900,00

Dari uraian di atas diketahui bahwa PD Pasar Jaya kurang menyetorkan pembagian laba kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebesar

Rp2.582.441.451,50 (Rp12.461.324.351,50 – Rp9.878.882.900,00).

Hal tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No.12 Tahun 1999 tentang Perusahaan Daerah Pasar Jaya Bab XII tentang Penetapan Penggunaan Laba Pasal 42 yang menyatakan Penggunaan Laba bersih PD Pasar Jaya setelah dikurangi penyusutan dan pengurangan lainnya yang wajar ditetapkan salah satunya 50% untuk anggaran daerah.

23

Ketidaksesuaian tersebut mengakibatkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kurang menerima pendapatan dari Pembagian Laba dari PD Pasar Jaya sebesar Rp2.582.441.451,50.

Ketidaksesuaian tersebut disebabkan adanya pertimbangan untuk menjaga likuiditas keuangan PD Pasar Jaya sehingga Setoran PAD dilakukan secara mengangsur. Divisi Keuangan mengajukan jadwal pembayaran (dengan mengacu pada besarnya setoran PAD yang sudah dihitung) kepada Direktur Administrasi. Setelah mendapat persetujuan dari Direktur Administrasi, maka baru dilakukan penyetoran ke Kas Daerah.

Atas permasalahan tersebut Pihak PD Pasar Jaya menyatakan akan segera melunasi kekurangan setoran pembagian laba sebelum lewat Tahun 2005.

BPK-RI menyarankan Gubernur Provinsi DKI Jakarta agar memerintahkan Badan Pengawas memberikan teguran tertulis kepada Direksi PD Pasar Jaya supaya di masa yang akan datang dalam memenuhi kewajibannya kepada Daerah dilakukan secara tepat waktu dan segera menyetorkan kekurangan setoran PAD TB 2004 sebesar Rp2.582.441.451,50 ke Kas Daerah dan menyampaikan bukti setor ke BPKRI.

6. Pemberian Tunjangan Kegiatan Kerja Tidak Sesuai Ketentuan Sebesar Rp55.727.737,50

PD Pasar Jaya dalam Tahun 2004 mengeluarkan Biaya Perjalanan Dinas Dalam Kota sebesar Rp1.139.596.460,00 diantaranya terdapat Tunjangan Kegiatan Kerja (TKK). Sedangkan pada Tahun 2005, oleh Divisi Keuangan TKK Tunjangan Kegiatan

dimasukkan sebagai Uang Makan dan Transport Pegawai.

Kerja tersebut dikeluarkan dengan maksud sebagai uang lelah dalam pelaksanaan kegiatan operasional yang diberikan menurut tingkatan jabatan. Dasar ketentuan dari Tunjangan Kegiatan Kerja berupa persetujuan dari Direktur Administrasi dan Keuangan atas Nota Dinas dari Kepala Bagian Akuntansi No.1208/073.521 tanggal 10 Desember 1998.

24

Berdasarkan wawancara dengan pejabat terkait, uang Tunjangan Kegiatan Kerja (TKK) diberikan satu kali untuk satu kegiatan dan TKK berbeda dengan Biaya Perjalanan Dinas. Perbedaan antara TKK dengan Biaya Perjalanan Dinas adalah TKK menunjuk suatu kegiatan tanpa melihat berapa lama kegiatan tersebut dilakukan, sedangkan di dalam Biaya Perjalanan Dinas disebutkan tempat yang dituju dan besarnya tergantung berapa hari kegiatan tersebut dilakukan. Hasil pemeriksaan terhadap bukti-bukti pengeluaran berupa SPMU beserta lampirannya, diketahui bahwa terdapat pengeluaran untuk TKK yang melebihi ketentuan yang sudah disetujui oleh Direksi sebesar Rp55.727.737,50, terdiri dari Rp51.355.237,50 untuk Tahun 2004 dan Rp4.372.500,00 untuk Tahun 2005 (Rincian di lampiran 2).

Hal tersebut tidak sesuai dengan Nota Dinas dari Kepala Bagian Akuntansi No.1208/073.521 tanggal 10 Desember 1998 yang sudah disetujui oleh Direksi yang menyatakan bahwa acuan/standar besarnya TKK maksimal yaitu : Direktur Utama Direksi PD Pasar Jaya Ka Satuan Pengawasan Intern Ka Bidang Ka Sub Bidang/Pengawas Staf Rp250.000,00 Rp225.000,00 Rp200.000,00 Rp175.000,00 Rp150.000,00 Rp125.000,00

Ketidaksesuaian tersebut merugikan PD Pasar Jaya sebesar Rp55.727.737,50, yang disebabkan oleh Divisi Keuangan dan Divisi-divisi lain dalam mengajukan Tunjangan Kegiatan Kerja belum konsisten menerapkan ketentuan yang sudah berlaku. Atas permasalahan tersebut Pihak PD Pasar Jaya menyatakan bahwa di masa yang akan datang akan melakukan evaluasi ketentuan yang ada dan disesuaikan dengan kondisi yang ada.

BPK-RI menyarankan Badan Pengawas agar memerintahkan Direksi PD Pasar Jaya memberikan teguran tertulis kepada para Manajer Divisi supaya di masa yang akan datang menerapkan ketentuan yang berlaku untuk Tunjangan Kegiatan Kerja secara konsisten dan menyetorkan kembali kelebihan pembayaran Tunjangan 25

Kegiatan Kerja sebesar Rp55.727.737,50 dengan menyampaikan bukti setoran tersebut kepada BPK-RI.

7. PD Pasar Jaya Kurang Menyetor Retribusi Kebersihan Lingkungan Sebesar Rp1.677.142.500,00

Sampai dengan Bulan Juli 2005, pengelolaan sampah di seluruh pasar milik Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jaya dilakukan oleh Unit Angkutan. Kegiatan Unit Angkutan adalah melakukan pengumpulan sampah-sampah dari pasar-pasar kemudian mengangkut dan membuangnya di TPA Bantar Gebang. Berdasarkan Keputusan Direksi PD Pasar Jaya No.246/2005 tanggal 30 Agustus 2005 tentang Likuidasi Unit Usaha Angkutan PD Pasar Jaya, maka Unit Angkutan tidak lagi mengelola sampah, selanjutnya berdasarkan Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 2043/2004 tanggal 3 September 2004 tentang Pengalihan Pengangkutan Sampah Pasar dari PD Pasar Jaya Provinsi DKI Jakarta Kepada Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta, maka pengelolaan sampah dialihkan ke Dinas Kebersihan. Hasil pemeriksaan BPK-RI terakhir pada Tahun 2003 atas Pelaksanaan Kegiatan PD Pasar Jaya Tahun 2002 dan 2003 mengungkapkan bahwa PD Pasar Jaya tidak memenuhi kewajiban membayar retribusi pelayanan persampahan sesuai dengan ketentuan sebesar Rp1.030.816.450,00. Atas hasil pemeriksaan itu, sampai saat ini Pihak PD Pasar Jaya belum melakukan tindak lanjut. Hasil pemeriksaan atas dokumen berupa Laporan Hasil Operasi Angkutan Sampah Pasar Tahun 2004 dari Unit Angkutan diketahui bahwa jumlah sampah yang diangkut dari Bulan Januari s.d. Desember 2004, adalah sebanyak 353.516 m3. Sedangkan jumlah sampah yang diangkut Bulan Januari s.d. Juli 2005 adalah sebanyak 225.100,50 m3. Pemeriksaan terhadap bukti pengeluaran berupa SPMU Tahun 2004 dari Divisi Keuangan menunjukkan bahwa jumlah pembayaran retribusi LPA yang telah dilakukan adalah sebesar Rp1.215.940.000,00 atau untuk volume pembuangan sampah sebanyak 243.188 m3. Dengan demikian terdapat selisih kurang pembayaran sebanyak 110.328 m3 (353.516 m3 – 243.188 m3) sampah atau senilai Rp551.640.000,00. Pada Tahun 2005, jumlah sampah yang diangkut untuk periode Bulan Januari s.d. Juli Tahun 2005 adalah sebesar 225.100,50 m3. Atas pengangkutan sampah 26

tersebut, pihak PD Pasar Jaya belum melakukan pembayaran retribusi LPA senilai Rp1.125.502.500,00. Dengan demikian jumlah keseluruhan retribusi kebersihan lingkungan yang belum disetor PD Pasar Jaya untuk Tahun 2004 dan 2005 (s.d. Juli 2005) adalah sebesar Rp1.677.142.500,00, dengan rincian sebesar Rp551.640.000,00 untuk Tahun 2004 dan sebesar Rp1.125.502.500,00 untuk Tahun 2005. Rinciannya dapat dilihat dalam tabel berikut ini:
No. Bukti SPMU Nomor Tanggal Volume Pembuangan Sampah (m ) yang disetor 19.741,00 18.180,00 19.750,00 19.134,00 19.767,00 19.223,00 19.897,00 19.868,00 19.197,00 19.868,00 19.868,00 28.695,00 243.188,00 Jumlah JUMLAH KESELURUHAN Hasil operasi 28.623,00 26.193,00 29.154,00 28.510,00 30.062,00 29.702,00 31.424,00 30.437,00 30.268,00 30.438,00 27.576,00 31.129,00 353.516,00 30.620,50 28.996,50 31.128,50 34.050,00 35.555,00 33.257,00 31.493,00 225.100,50 selisih
3

Bulan Tahun 2004 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Tahun 2005 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli

Tarif Retribusi (Rp) 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00

Jumlah (Rp)

147/B/R 29/B/R 21/B/R 97/B/R 146/B/R 52/B/R 135/B/R 10/B/R 143/B/R 187/B/R 188/B/R 194/B/R

0.350/073.526.4 0.562/073.526.4 0.836/073.526.4 0.921/073.526.4 1.111/073.526.4 1.344/073.526.4 1.585/073.526.4 1.823/073.526.4 2.031/073.526.4 2.645/073.526.4 2.644/073.526.4 0.655/073.526.4 Jumlah

18-02-2004 26-03-2004 07-05-2004 17-05-2004 15-06-2004 21-07-2004 19-08-2004 23-09-2004 18-10-2004 28-12-2004 28-12-2004 23-03-2005

8.882,00 8.013,00 9.404,00 9.376,00 10.295,00 10.479,00 11.527,00 10.569,00 11.071,00 10.570,00 7.708,00 2.434,00 110.328,00 30.620,50 28.996,50 31.128,50 34.050,00 35.555,00 33.257,00 31.493,00 225.100,50

44.410.000,00 40.065.000,00 47.020.000,00 46.880.000,00 51.475.000,00 52.395.000,00 57.635.000,00 52.845.000,00 55.355.000,00 52.850.000,00 38.540.000,00 12.170.000,00 551.640.000,00 153.102.500,00 144.982.500,00 155.642.500,00 170.250.000,00 177.775.000,00 166.285.000,00 157.465.000,00 1.125.502.500,00 1.677.142.500,00

5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00

Hasil konfirmasi dengan pejabat terkait, diketahui bahwa pada Tahun 2004, PD Pasar Jaya tidak melakukan pemeriksaan ulang (cross check) antara data dari Dinas Kebersihan dengan Laporan Hasil Operasi Angkutan Sampah dari Unit Angkutan PD Pasar Jaya. Sedangkan untuk Tahun 2005, karena adanya pengalihan pengangkutan sampah dari PD Pasar Jaya ke Dinas Kebersihan sehingga terjadi stagnasi, dan pihak Dinas Kebersihan pun sampai saat ini belum memberikan laporan mengenai sampah yang sudah diangkut ke TPA Bantar Gebang.

27

Hal tersebut tidak sesuai dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut: a. Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 117 Tahun 2000 tanggal 17 Oktober 2000 tentang Petunjuk Teknis Pemungutan Retribusi Kebersihan Lingkungan Di Provinsi DKI Jakarta, yaitu : Pasal 2 ayat (1) tentang Jenis pelayanan kebersihan lingkungan butir (f) yang menyatakan penyediaan lokasi pembuangan/pemusnahan akhir sampah (LPA) Pasal 2 ayat (2) yang menyatakan bahwa pelayanan kebersihan lingkungan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) diantaranya butir f, dipungut retribusi dengan menggunakan sarana pemungutan berupa SKRD, SKRD Jabatan, SKRD Tambahan. Pasal 7 yang menyatakan bahwa Wajib Retribusi harus mengajukan permohonan secara tertulis kepada Gubernur dhi. Kepala Dinas

Kebersihan/Suku Dinas Kebersihan untuk mendapatkan jasa pelayanan kebersihan lingkungan. Berdasarkan permohonan jasa pelayanan tersebut maka dilakukan penghitungan besarnya retribusi kebersihan lingkungan yang terutang menurut tarif yang berlaku. Jatuh tempo pembayaran Retribusi Kebersihan lingkungan yang terurang adalah 30 hari terhitung sejak tanggal diterbitkannya SKRD. b. Peraturan Daerah No. 3 Tahun 1999 tentang Retribusi Daerah Pasal 110 butir f yang menyatakan bahwa tarif retribusi untuk penyediaan lokasi

pembuangan/pemusnahan akhir sampah yang disediakan oleh Pemerintah Daerah adalah sebesar Rp5.000,00/m3.

Ketidaksesuaian tersebut mengakibatkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kurang menerima pendapatan dari Retribusi Kebersihan Lingkungan sebesar Rp1.677.142.500,00, yang disebabkan oleh Kepala Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta kurang cermat dalam menetapkan besarnya SKRD dan Manajer Divisi Keuangan PD Pasar Jaya lalai dalam menerapkan ketentuan yang berlaku tentang jangka waktu pembayaran.

Atas permasalahan tersebut Pihak PD Pasar Jaya menyatakan kewajiban PD Pasar Jaya tersebut akan dikompensasikan setelah Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta mengembalikan seluruh biaya yang sudah dikeluarkan PD Pasar Jaya selama

28

selang waktu sebelum pengalihan pengelolaan kebersihan dari PD Pasar Jaya kepada Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta.

BPK-RI menyarankan Gubernur Provinsi DKI Jakarta agar memberikan teguran tertulis kepada: a. Kepala Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta supaya lebih cermat dalam menetapkan besarnya SKRD dan menerbitkan SKRD Tambahan bagi PD Pasar Jaya atas kekurangan penetapan Retribusi Kebersihan Lingkungan Tahun 2004 sebesar Rp551.640.000,00, b. Direksi PD Pasar Jaya supaya menyetorkan kekurangan Retribusi Kebersihan Lingkungan Tahun 2004 dan 2005 sebesar RP1.677.142.500,00 dan

menyampaikan bukti setornya ke BPK-RI serta menegur secara tertulis Manajer Divisi Keuangan supaya di masa yang akan datang melaksanakan kewajiban secara tepat waktu sesuai ketentuan.

8. Pembangunan Tempat Penampungan Sementara Eks Pedagang Pasar Melawai Senilai Rp3.516.988.293,82 Tidak Sesuai Ketentuan

Pada Bulan Oktober 2005, PD Pasar Jaya membangun Tempat Penampungan Sementara (TPS) sebanyak 1.078 kios/los/tempat usaha sebagai upaya menampung para pedagang eks Pasar Melawai yang terbakar pada bulan Agustus 2005. Rencana Anggaran Biaya yang diajukan Divisi Teknik untuk pembangunan TPS tersebut adalah sebesar Rp3.516.988.293,82. Hasil pemeriksaan fisik di lapangan pada tanggal 28 Oktober 2005 yang dilakukan oleh auditor didampingi Staf SPI, Manager Operasional Area 13 dan Kepala Pasar Melawai menunjukkan keadaan sebagai berikut: a. Pembangunan dilakukan tanpa didasarkan pada Surat Perintah Kerja (SPK), yang di dalamnya antara lain mencantumkan uraian pekerjaan, jangka waktu pelaksanaan dan biaya/nilai pekerjaan. Hasil konfirmasi ke Divisi Teknik

menyatakan SPK baru dalam proses penyusunan. Pembangunan dilakukan karena kondisi darurat perlunya penampungan bagi pedagang eks Pasar Melawai yang terbakar sebelum puasa dan Hari Raya Idul Fitri.

29

b. Pembangunan TPS tersebut dilakukan oleh tiga developer tanpa disertai pembagian wilayah yang dibangun. Rincian pembangunan oleh developer dengan area yang dibangun adalah sebagai berikut: Developer Hutauruk membangun Blok F-G Developer H.Agus membangun Blok B Developer Taufik membangun Blok A, C, D dan E

c. Sampai dengan saat pemeriksaan, tanggal 28 Oktober 2005, ketiga developer belum mengajukan penawaran harga dan belum ditentukan harga yang paling rendah. d. Pedagang mulai menempati TPS sejak sekitar awal Oktober 2005 e. Tempat Penampungan Sementara (TPS) tidak hanya diperuntukkan bagi pedagang eks Pasar Melawai yang terbakar. Tempat usaha yang telah dibangun belum seluruhnya dioperasionalkan. Hasil konfirmasi di lapangan menunjukkan bahwa sebagian tempat usaha yang dibangun di blok E dan F juga direncanakan diperuntukan bagi Pedagang Pasar Melawai di bangunan Aldiron dan Bowling Center yang telah habis masa hak pakainya. f. Kualitas pembangunan tempat usaha beragam antara developer yang satu dengan yang lain. Hasil wawancara dengan Kepala Pasar Melawai menyatakan bahwa hasil pembangunan developer Hutauruk kualitasnya lebih bagus dibanding developer yang lain.

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Keputusan Presiden No.80 Tahun 2003 Pasal 31 Ayat (5) tentang Pengadaan Barang dan Jasa yang antara lain menyatakan Untuk pengadaan dengan nilai di atas Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah), bentuk kontrak berupa kontrak pengadaan barang/jasa (KPBJ) dengan jaminan pelaksanaan sebesar 5% dari nilai kontrak kepada pengguna barang/jasa

Ketidaksesuaian tersebut mengakibatkan Perikatan antara PD Pasar Jaya dengan ketiga developer tidak mempunyai kepastian hukum dan harga yang dibayarkan tidak dapat diyakini sebagai harga terendah, yang disebabkan oleh faktor ekstern berupa desakan dari pedagang eks Pasar Melawai yang terbakar untuk segera menempati tempat usaha penampungan dan perintah lisan dari Gubernur Provinsi DKI Jakarta sedangkan PD Pasar Jaya menanggapi kebutuhan tersebut dengan mengesampingkan ketentuan yang berlaku bagi PD Pasar Jaya selaku BUMD. 30

Atas permasalahan tersebut Pihak PD Pasar Jaya menyatakan bahwa pelaksanaan tersebut semata-mata karena force majeur yang memerlukan penanganan secara cepat. Berdasarkan Berita Acara Kesepakatan Harga antara PD Pasar Jaya dengan pelaksana yang ditunjuk tanggal 21 Nopember 2005 ditetapkan bahwa nilai pekerjaan yang disepakati adalah sebesar Rp. 2.773.720.261,66 (Dua Milyar Rupiah).

BPK-RI menyarankan Gubernur Provinsi DKI Jakarta agar memerintahkan Badan Pengawas memberikan teguran tertulis kepada Direksi PD Pasar Jaya supaya memperhatikan ketentuan yang berlaku bagi PD Pasar Jaya dalam melaksanakan kegiatannya dengan mengeluarkan Surat Perintah Kerja (SPK) kepada pelaksana pekerjaan dan mempertanggungjawabkan pengeluaran sebesar Rp2.773.720.261,66 untuk pembangunan TPS eks Pedagang Pasar Melawai sebagai harga paling efisien dan pemanfaatannya sesuai dengan yang direncanakan.

9. Kerjasama Pembangunan Pasar Jatinegara Merugikan PD Pasar Jaya Sebesar Rp3.603.797.474,99

PD Pasar Jaya pada Tahun 2004 melakukan perikatan kerja sama dengan rekanan bernama Sudirman dalam rangka Pembangunan Perubahan Tampak Muka Pasar Jatinegara. Kerjasama tersebut dituangkan dalam Perjanjian Kerjasama No.69/1.824.541 tanggal 8 April 2004 senilai Rp12.315.055.000,00, terdiri dari Biaya Fisik sebesar Rp11.033.375.000,00 dan Biaya Non Fisik sebesar Rp1.281.680.000,00. Dengan Addendum No.203/-1.824.541 ditetapkan bahwa Biaya Fisik bertambah sebesar Rp2.586.866.961,44 dan Biaya Non Fisik bertambah Rp109.683.159,16 sehingga keseluruhan Biaya Proyek bertambah sebesar Rp2.696.550.120,00 (pembulatan) menjadi sebesar Rp15.011.605.120,00. Jangka waktu pelaksanaan pembangunan adalah 208 hari (s.d. 2 Nopember 2004) dan jangka waktu pemeliharaan 90 hari kalender (s.d. 31 Januari 2005). Jangka waktu pemasaran 10 bulan sejak tanggal perjanjian (s.d. 8 Pebruari 2005). Pembangunan dan Perubahan Tampak Muka Pasar Jatinegara telah dinyatakan selesai dilaksanakan dengan Berita Acara Serah Terima I No.234/1.712.6 tanggal 1

31

Nopember 2004 dan Berita Acara Serah Terima II No.41/1.712.0 tanggal 16 Pebruari 2005. Berdasarkan Perjanjian Kerjasama tersebut dapat diuraikan hak dan kewajiban kedua belah pihak sebagai berikut: Hak dan kewajiban PD Pasar Jaya, yaitu: a. PD Pasar Jaya berhak atas kompensasi penyediaan lahan dan bangunan hasil pengembangan beserta fasilitas dan fasilitas umum dalam keadaan layak pakai. b. PD Pasar Jaya berkewajiban: − Memberikan ijin kepada rekanan untuk melakukan pengembangan − Memberikan ijin kepada rekanan untuk menempatkan peralatan dan material untuk pelaksanaan di lapangan − Membantu rekanan untuk menjaga keamanan selama pelaksanaan pekerjaan. Hak dan kewajiban rekanan (Sudirman), yaitu: a. Sudirman (rekanan) berhak: Melakukan pembangunan sesuai perjanjian kerjasama tersebut. Melakukan pemasaran atas seluruh tempat usaha/kios selama 10 bulan sejak tanggal perjanjian (s.d. Pebruari 2005) Menerima pembayaran atas harga jual tempat usaha/kios langsung dari pembeli Setelah masa pemasaran/masa kerjasama berakhir, rekanan diperlakukan sebagai pemakai tempat atas tempat usaha yang belum terjual. b. Rekanan berkewajiban: Membantu PD Pasar Jaya mengurus segala perijinan yang diperlukan dengan sepenuhnya menanggung biayanya. Menjaga keamanan dan kebersihan di sekitar lokasi proyek Menjamin keamanan an keselamatan pekerja

Hasil pemeriksaan atas dokumen berupa Perjanjian Kerjasama, Buku Harian Kas dan Bank, Laporan Pemantauan Pembayaran oleh Rekanan dari Divisi Kas dan Pajak serta hasil konfirmasi dengan Manajer Divisi Hukum menunjukkan bahwa: a. Perjanjian kerjasama tidak dibuat dengan akte notaris. b. Penetapan Sudirman sebagai rekanan tidak disertai dan didukung dengan curriculum vitae sebagai seorang developer sehingga tidak dapat dilakukan penilaian atas kualifikasinya selaku developer.

32

c. Prosedur Penunjukan dan penetapan Sudirman sebagai rekanan tidak melalui prosedur yang seharusnya. Dalam lampiran kontrak/perjanjian kerjasama tidak disertakan dokumen-dokumen berupa proposal/studi kelayakan yang dibuat oleh rekanan. Kerjasama tersebut juga tidak melalui tahap kesepakatan bersama/MOU terlebih dahulu. d. Tidak ada garansi bank (Bank Guarantee), yang ada hanya surat keterangan bank tentang kemampuan secara finansial. Akan tetapi surat keterangan bank tersebut baru dibuat tanggal 16 April 2004 sedangkan Perjanjian Kerjasama dibuat tanggal 8 April 2004. e. Sebagai perseorangan yang melakukan perikatan bisnis, Sudirman tidak menyertakan daftar kekayaan sebagai bukti bahwa Sudirman mempunyai jaminan atas pembangunan yang dilakukan. f. Sampai dengan pemeriksaan, tanggal 22 Nopember 2005, Tim Pemeriksa baru menerima IMB dengan No.05979/IMB/2004 tanggal 28 Juni 2004, akan tetapi Tim Pemeriksa belum memperoleh ijin prinsip pembangunan dari

Gubernur/Badan Pengawas atas pembangunan Pasar Jatinegara. g. PD Pasar Jaya hanya bisa melakukan komunikasi dengan Sudirman melalui surat (dengan alamat yang tertera dalam Kartu Tanda Penduduk) dan Handphone (karena Sudirman tidak menyertakan nomor telepon permanen). h. Sampai dengan pemeriksaan, tanggal 22 Nopember 2005, diketahui bahwa Sudirman baru melunasi kewajibannya sebesar Rp3.382.935.448,00 dari keseluruhan sebesar Rp6.210.208.178,00. Dengan demikian Sudirman masih mempunyai tunggakan kewajiban sebesar Rp2.827.272.730,00, yang merupakan kewajiban kompensasi penggunaan lahan. i. Sampai dengan berakhirnya jangka waktu pemasaran oleh Sudirman, tanggal 8 Pebruari 2005, Sudirman tidak memberikan laporan hasil pemasaran tempat usaha dan masih menunggak Biaya Pengelolaan Pasar (BPP) selama 3 bulan (September s.d. Nopember @ Rp54.622.721,00) sebesar Rp163.868.163,00 per tanggal 22 Nopember 2005. Kondisi tersebut tidak sesuai dengan: a. Keputusan Direksi No.420/2003 tanggal 13 Nopember 2003 tentang Ketentuan Pelaksanaan Kerjasama Perusahaan Daerah Pasar Jaya Dengan Pihak Ketiga:

33

-

Pasal 6 Ayat 1 Huruf b yang menyatakan apabila pihak ketiga berupa perorangan, maka rekanan tersebut harus memiliki bonafiditas dan kredibilitas berbentuk Bank Guarantee dan minimal 40% dari nilai proyek.

-

Pasal 8 yang antara lain menyatakan prosedur kerjasama didahului dengan penyampaian proposal dari rekanan kepada PD Pasar Jaya dan kemudian dibahas serta dituangkan dalam MOU. Kemudian Badan Pengawas

memberikan ijin prinsip, dilakukan penghitungan biaya proyek baik fisik maupun non fisik, dan dituangkan dalam suatu perjanjian kerjasama. b. Perjanjian Kerjasama No.69/-1.824.541 tanggal 8 April 2004 dan Addendum No.203/1.824.541 tanggal 16 September 2004: Pasal 8 butir d yang menyatakan setelah masa pemasaran/masa kerjasama berakhir masih terdapat tempat usaha yang belum laku terjual, maka rekanan diperlakukan sebagai pemakai tempat dan diberlakukan ketentuan perpasaran yang berlaku di PD Pasar Jaya. Pasal 17 butir (2) yang menyatakan Pihak kedua/rekanan akan dikenai denda sebesar 1%o per hari untuk keterlambatan pembayaran kewajiban yang jatuh tempo dari biaya kompensasi.

Ketidaksesuaian

tersebut

merugikan

PD

Pasar

Jaya

sebesar

Rp3.603.797.474,99, dengan rincian kompensasi penggunaan lahan sebesar Rp2.827.272.730,00, denda keterlambatan pembayaran sebesar Rp612.656.581,99 dan tunggakan Biaya Pengelolaan Pasar selama tiga bulan (September s.d. Nopember 2005) sebesar Rp163.868.163,00, yang disebabkan oleh: a. Itikad tidak baik dari rekanan dengan menunda pembayaran kewajibannya. b. Kelalaian PD Pasar Jaya dalam penetapan Sudirman sebagai rekanan dengan mengabaikan ketentuan yang berlaku dan kurang tegas dalam menerapkan sanksi sesuai perjanjian kerjasama yang telah disepakati.

Atas permasalahan tersebut Pihak PD Pasar Jaya menyatakan bahwa keterlambatan pembayaran oleh Sudirman karena penjualan kios yang belum mencapai 100% dan PD Pasar Jaya akan segera melakukan pencatatan di Notaris.

BPK-RI menyarankan Gubernur Provinsi DKI Jakarta agar:

34

a. Memberikan teguran tertulis kepada Direksi PD Pasar Jaya supaya di masa yang akan datang lebih memperhatikan dan mentaati ketentuan yang berlaku bagi PD Pasar Jaya dalam memilih rekanan untuk pelaksanaan kerjasama b. Memerintahkan Direksi PD Pasar Jaya untuk menegur secara tertulis kepada Sudirman dan memerintahkan Sudirman melaksanakan kewajibannya dengan menyetorkan ke Kas PD Pasar Jaya sebesar Rp3.603.797.474,99 dan menyampaikan bukti setor kepada BPK-RI serta tidak menyertakan Sudirman dalam daftar rekanan untuk pelaksanaan kerjasama di masa yang akan datang.

10. PT Inter Wahana Nuansa Kurang Menyetorkan Kewajiban Sebesar Rp8.469.825.000,00 Kepada PD Pasar Jaya Atas Kerjasama Pembangunan Peremajaan Dan Penataan Pasar Santa Dan Belum Dikenakan Denda Sebesar Rp477.984.126,73 (Per tanggal 28 Oktober 2005)

Pembangunan Peremajaan dan Penataan Pasar Santa dilakukan sesuai Perjanjian Kerjasama yang dilakukan di depan notaris Pinarti Yohanna, SH, M. Hum No.1.tanggal 12 Juli 2004 oleh PT Inter Wahana Nuansa senilai

Rp42.102.809.500,00 belum termasuk PPN sebesar 10%. Perjanjian kerjasama tersebut didasarkan pada MOU No.73/1.824.541 tanggal 12 April 2004. Jangka waktu pelaksanaan kontrak selama 18 bulan (12 Juli s.d. 9 Oktober 2005) dan jangka waktu pemeliharaan selama 90 hari kalender (s.d 7 Januari 2006). Jangka waktu pemasaran yang diperjanjikan adalah 4 Tahun 6 bulan (s.d. 12 Januari 2009). Sampai dengan saat pemeriksaan, tanggal 28 Oktober 2005, terdapat satu kali addendum atas perjanjian yang sudah disepakati tentang perubahan jadual pembayaran kompensasi penggunaan lahan. Berita Acara Serah Terima Pekerjaan belum pernah dilakukan. Lingkup pekerjaan sesuai perjanjian adalah Tahap Perencanaan, Perijinan, Pembangunan Tempat Penampungan Sementara untuk pedagang lama, Tahap Pembangunan Proyek Pasar Santa, Tahap Pemasaran dan Tahap Serah Terima Bangunan Pasar Santa. Berdasarkan perjanjian tersebut PD Pasar Jaya memperoleh hak dan kewajiban sebagai berikut: Hak PD Pasar Jaya, yaitu : a. Memperoleh bangunan baru beserta fasilitasnya.

35

b. Memperoleh kompensasi penggunaan lahan sebesar Rp8.500.000.000,00 (belum termasuk PPN 10%) c. Memperoleh Biaya Pengawasan Proyek sebesar Rp655.860.000,00 (belum termasuk PPN dan PPh). d. Memperoleh Biaya Pengendalian Teknis sebesar Rp196.758.000,00 (belum termasuk PPN dan PPh). e. Bersama-sama PT Inter Wahana Nuansa menyusun konsep dasar pembangunan Proyek Pasar Santa (meliputi aspek skematik desain perencanaan, jenis bangunan, konsep penataan ruang luar dan pengembangan lingkungan).

Kewajiban PD Pasar Jaya, yaitu : a. Menyediakan lahan untuk pembangunan dan pengelolaan Proyek Pasar Santa beserta fasilitasnya. b. Membantu pihak kedua dalam penyelesaian proses perijinan. c. Menjamin bahwa tanah Pasar Santa adalah sah dan tidak dalam sengketa. d. Membebaskan PT Inter Wahana Nuansa dari tuntutan pihak manapun berkait dengan pemanfaatan tanah Pasar selama masa perjanjian. e. Memindahkan pedagang lama ke TPS yang telah disediakan rekanan. f. Mengeluarkan SIPT Tahunan, SHPTU dan perjanjian pemakaian tempat usaha. g. Melakukan sosialisasi kepada pedagang. h. Membantu para pedagang memperoleh fasilitas kredit dari bank yang diajukan rekanan. Sedangkan PT Wahana Inter Nuansa memperoleh hak berupa wewenang untuk membangun dan menunjuk pelaksana pembangunan proyek, melakukan pemasaran tempat usaha dan menerima pembayaran dari hasil penjualan tempat usaha tersebut. Kewajiban yang harus dilakukan PT Wahana Inter Nuansa adalah mengasuransikan bangunan Pasar Santa selama masa pembangunan dan pemasaran tempat usaha, membangun Tempat Penampungan Sementara untuk para pedagang lama dan membayar biaya-biaya kompensasi penggunaan lahan, biaya pengawasan proyek dan biaya pengendalian teknis. Hasil pemeriksaan atas dokumen berupa MOU, Perjanjian Kerjasama, Mutasi Harian Bank dan Kas dari Sub Divisi Akuntansi dan Laporan Pemantauan atas kewajiban-kewajiban pembayaran dari rekanan dari Sub Divisi Kas dan Pajak serta hasil pemeriksaan fisik di lapangan yang dilakukan auditor didampingi SPI dan 36

Asisten Manajer Operasional Area 13 pada tanggal 28 Oktober 2005 menunjukkan bahwa: a. Dokumen pendukung perjanjian kerjasama belum menyertakan referensi bank yang menyatakan kemampuan finansial dari rekanan untuk membangun Bangunan Pasar Santa. b. Sampai dengan saat pemeriksaan, tanggal 28 Oktober 2005, auditor belum memperoleh polis asuransi bangunan Pasar Santa. Menurut keterangan Divisi Umum dan Divisi Hukum (keterangan lisan Manajer Divisi Umum, Staf Divisi Umum dan Staf Divisi Hukum tanggal 10 Nopember 2005) PD Pasar Jaya tidak pernah menerima/mengetahui polis asuransi pembangunan Pasar Santa. c. Addendum Perubahan Pembayaran Kompensasi Lahan Jadual No.25/-1.824.541 tanggal 3 Februari 2005 didasarkan pada Surat PT Inter Wahana Nuansa No.022/SK/IWN/XI/2004 tanggal 26 Nopember 2004 yang menyatakan alasan permohonan perubahan jadual adalah karena adanya perubahan/restrukturisasi kepemilikan serta perubahan atas design bangunan. Dengan demikian permohonan perubahan jadual baru dilakukan setelah PT Inter Wahana Nuansa terlambat membayar kewajiban sebesar Rp3.432.793.000,00 diluar PPN dan PPh (2 kali angsuran Kompensasi Lahan sebesar Rp3.400.000.000,00 dan 5% dari Biaya Pengawasan Proyek sebesar Rp32.793.000,00). d. Sampai dengan tanggal 28 Oktober 2005, PT Wahana Inter Nuansa baru dua kali melakukan kewajiban membayar biaya-biaya yang disyaratkan dalam perjanjian kerjasama yaitu Kompensasi Penggunaan Lahan sebesar Rp850.000.000,00 pada tanggal 30 Desember 2004 dan tambahan Biaya Kompensasi Penggunaan Lahan sebesar Rp148.041.667,00 serta angsuran I Biaya Pengawasan Proyek sebesar Rp32.793.000,00 pada tanggal 25 Oktober 2005. e. Atas keterlambatan pembayaran oleh PT Inter Wahana Nuansa, PD Pasar Jaya telah mengirimkan surat peringatan/teguran sebanyak dua kali, yaitu: Surat Dirut PD Pasar Jaya No.100/1.713 tanggal 12 Januari 2005 Surat Dirut PD Pasar Jaya No.1772/073 tanggal 16 Juni 2005

f. Pembangunan di lapangan dilakukan oleh PT Hutama Karya dan baru mencapai tahap pengerukan dan penanaman tiang pancang. g. Klausul perjanjian kerjasama tidak mencantumkan sanksi atas keterlambatan pembayaran kewajiban.

37

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan: a. Keputusan Presiden No.80 Tahun 2003 Pasal 29 Ayat (1) huruf h tentang Pengadaan Barang Dan Jasa yang menyatakan bahwa kontrak setidak-tidaknya memuat ketentuan mengenai cidera janji dan sanksi dalam hal para pihak tidak memenuhi kewajibannya. b. Perjanjian Kerjasama No.1.- tanggal 12 Juli 2004 yang menyatakan kewajiban PT Wahana Inter Nuansa untuk membayar: 1) Pasal 7 yang menyatakan bahwa kewajiban berupa kompensasi penggunaan lahan sebesar Rp8.500.000.000,00 (belum termasuk PPN) secara tunai dengan rincian: Angsuran I Angsuran II Angsuran III Angsuran IV Rp1.700.000.000,00 pada tanggal 9 Oktober 2004 Rp1.700.000.000,00 pada tanggal 9 Nopember 2004 Rp2.975.000.000,00 pada tanggal 9 Mei 2005 Rp2.125.000.000,00 pada tanggal 9 Desember 2005

yang diubah berdasarkan Addendum No.25/-1.824.541 tanggal 3 Pebruari 2005 Pasal 2 dengan rincian: Sebesar Rp850.000.000,00 pada tanggal 30 Desember 2004 Sebesar Rp2.550.000.000,00 secara angsuran: Angsuran I sebesar Rp850.000.000,00 pada tanggal 23 Mei 2005 Angsuran II sebesar Rp850.000.000,00 pada tanggal 23 Juni 2005 Angsuran III sebesar Rp850.000.000,00 pada tanggal 23 Juli 2005 Sebesar Rp5.100.000.000,00 secara angsuran: Angsuran I sebesar Rp1.020.000.000,00 pada tanggal 23 Agustus 2005 Angsuran II sebesar Rp1.020.000.000,00 pada tanggal 23 September 2005 Angsuran III sebesar Rp1.020.000.000,00 pada tanggal 23 Oktober 2005 Angsuran IV sebesar Rp1.020.000.000,00 pada tanggal 23 Nopember 2005 Angsuran V sebesar Rp1.020.000.000,00 pada tanggal 23 Desember 2005 Dan dikenai tambahan kompensasi lahan sebesar Rp148.041.667,00 pada tanggal 30 April 2005 2) Pasal 12 yang menyatakan bahwa kewajiban berupa Biaya Pengawasan Proyek sebesar Rp655.860.000,00 (belum termasuk PPN) secara tunai yaitu

38

angsuran I sebesar 5% (Rp32.793.000,00) pada saat penandatanganan perjanjian dan 95% lainnya dibayar sesuai progress pekerjaan di lapangan. 3) Pasal 13 yang menyatakan bahwa kewajiban berupa Biaya Pengendalian Teknis sebesar Rp196.758.000,00 (belum termasuk PPN dan PPh) dibayar secara pro rata selama masa konstruksi.

Masalah ini mengakibatkan kerugian bagi PD Pasar Jaya sebesar Rp8.947.809.126,73 (Kompensasi Penggunaan Lahan sebesar Rp7.650.000.000,00, Biaya Pengawasan Proyek sebesar Rp623.067.000,00, Biaya Pengendalian Teknis sebesar Rp196.758.000,00 dan denda sebesar Rp477.984.126,73) atas kerjasama Pembangunan, Peremajaan dan Penataan Pasar Santa dengan PT Inter Wahana Nuansa.

Hal ini disebabkan oleh PD Pasar Jaya lalai dalam mencantumkan klausul sanksi/denda keterlambatan pembayaran dalam perjanjian kerjasama, dan kurang selektif dalam memilih rekanan termasuk dalam menilai kemampuan finansial rekanan serta kurang tegas dalam menerapkan sanksi.

Atas permasalahan tersebut Pihak PD Pasar Jaya menyatakan bahwa sanksi/denda telah dicantumkan bagi penyelesaian pembangunan saja.

BPK-RI menyarankan Gubernur Provinsi DKI Jakarta agar memerintahkan: a. Badan Pengawas menegur secara tertulis Direksi PD Pasar Jaya supaya di masa yang akan datang mentaati ketentuan yang berlaku bagi PD Pasar Jaya dalam melaksanakan kerjasama dengan pihak ketiga, b. Direksi PD Pasar Jaya menegur secara tertulis Manajer Divisi Hukum supaya di masa yang akan datang lebih cermat dalam mencantumkan klausul perjanjian sesuai ketentuan yang berlaku bagi PD Pasar Jaya, c. Direksi PD Pasar Jaya menegur secara tertulis dan memerintahkan PT Inter Wahana Nuansa untuk segera menyetorkan kewajibannya (termasuk denda) sebesar Rp8.947.809.126,73 serta menyampaikan bukti setornya ke BPK-RI dan tidak menyertakan PT Inter Wahana Nuansa dalam daftar rekanan untuk pelaksanaan kerjasama di masa yang akan datang.

39

11. PT Reka Tiga Er Belum Menyetorkan Pembagian Keuntungan Atas Kerjasama Penataan Lahan Parkir Perumnas Klender Sebesar Rp77.000.000,00 Termasuk Pajak Dan Belum Membayarkan Denda Atas Keterlambatan Pembayaran Kewajiban Sebesar Rp6.255.062,38

Dalam rangka pembangunan dan pengembangan pasar-pasar di lingkungan usaha PD Pasar Jaya, telah dilakukan kerja sama dengan PT Reka Tiga Er melalui Perjanjian No.32/-1.824.541 tanggal 16 Februari 2005 tentang Perjanjian Kerjasama Pekerjaan Penataan Lahan Parkir Pasar Perumnas Klender Unit Area 19 Wilayah Jakarta Timur, dengan biaya sebesar Rp1.478.735.249,18 (belum termasuk PPN) yang terdiri dari Biaya Fisik sebesar Rp1.250.285.000,00 dan Biaya Non Fisik sebesar Rp228.450.249,18 yang ditanggung sepenuhnya oleh PT Reka Tiga Er. Jangka waktu pelaksanaan kerja sama 18 bulan, mulai tanggal 16 Februari 2005 s.d. 15 Agustus 2006. Dan masa pemeliharaan 90 hari, mulai tanggal 15 Juni 2005 s.d. 13 Agustus 2005. Lingkup pekerjaan sesuai perjanjian meliputi pekerjaan persiapan, pekerjaan sipil dan finishing kios, pekerjaan mekanikal dan elektrikal, pekerjaan luar dan pekerjaan pemasaran. Berdasarkan perjanjian tersebut PD Pasar Jaya dan PT Reka Tiga Er memperoleh hak dan kewajiban sebagai berikut: Hak dan kewajiban PD Pasar Jaya, yaitu: a. PD Pasar Jaya berhak atas kompensasi penggunaan lahan sebesar

Rp350.000.000,00 belum termasuk pajak. b. PD Pasar Jaya berhak atas Biaya Pengawasan Proyek sebesar Rp39.745.887,32 belum termasuk pajak. c. PD Pasar Jaya berhak atas Biaya Pengendalian Proyek sebesar Rp26.451.573,28. d. PD Pasar Jaya berkewajiban menerbitkan Perjanjian Pemakaian Tempat Usaha serta menerbitkan SIPTU dan Sertifikat Hak Pemakaian Tempat Usaha. Hak dan kewajiban PT Reka Tiga Er, yaitu: a. PT Reka Tiga Er berhak memasarkan tempat usaha hasil penataan lahan parkir selama 18 bulan sejak perjanjian ditandatangani. b. PT Reka Tiga Er berhak mengelola lahan parkir baik selama masa pemasaran maupun setelah selesai masa pemasaran.

40

c. PT Reka Tiga Er berkewajiban membayar Kompensasi Penggunaan Lahan sebesar Rp350.000.000,00, Biaya Pengawasan Proyek sebesar Rp39.745.887,32 dan Biaya Pengendalian Proyek sebesar Rp26.451.573,28. Kompensasi Penggunaan Lahan dibayarkan secara angsuran sebagai berikut:
Jenis Kewajiban Kompensasi Penggunaan Lahan Angsuran I II III IV V I II III IV I II III IV Nilai (Rp) 70.000.000,00 70.000.000,00 70.000.000,00 70.000.000,00 70.000.000,00 17.245.887,32 7.500.000,00 7.500.000,00 7.500.000,00 11.451.573,28 5.000.000,00 5.000.000,00 5.000.000,00 PPN (Rp) 7.000.000,00 7.000.000,00 7.000.000,00 7.000.000,00 7.000.000,00 1.724.588,73 750.000,00 750.000,00 750.000,00 1.145.157,32 500.000,00 500.000,00 500.000,00 Jumlah Angsuran (Rp) 77.000.000,00 77.000.000,00 77.000.000,00 77.000.000,00 77.000.000,00 18.970.476,00 8.250.000,00 8.250.000,00 8.250.000,00 12.596.730,61 5.500.000,00 5.500.000,00 5.500.000,00 Tanggal Bayar 16-02-2005 15-04-2005 01-07-2005 15-09-2005 15-12-2005 16-02-2005 01-03-2005 01-04-2005 02-05-2005 16-02-2005 01-03-2005 01-04-2005 02-05-2005

Biaya Pengawasan Proyek

Biaya Pengendalian Proyek

Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa PT Reka Tiga Er kurang membayar Kompensasi Penggunaan Lahan sebesar Rp70.000.000,00 (belum termasuk PPN). Pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan bahwa pembayaran kewajiban Kompensasi Penggunaan Lahan, Biaya Pengawasan Proyek, dan Biaya Pengendalian Proyek mengalami keterlambatan akan tetapi belum seluruhnya dikenakan denda, sebagaimana terlihat di bawah ini :
Tanggal Jatuh Tempo 16-02-2005 16-02-2005 15-04-2005 01-07-2005 15-09-2005 16-02-2005 16-02-2005 01-03-2005 01-04-2005 02-05-2005 16-02-2005 16-02-2005 01-03-2005 01-04-2005 02-05-2005 Tanggal Bayar 17-02-2005 12-07-2005 12-07-2005 10-10-2005 24-11-2005 17-02-2005 12-07-2005 12-07-2005 10-10-2005 10-10-2005 17-02-2005 12-07-2005 12-07-2005 10-10-2005 10-10-2005 Lama Tertunggak (hari) 1 146 88 101 70 1 146 133 192 161 1 146 133 192 161

No. 1

Jenis Kewajiban Kompensasi Peng. Lahan (Pokok) Kompensasi Peng. Lahan (PPN) Kompensasi Peng. Lahan Kompensasi Peng. Lahan Kompensasi Peng. Lahan Biaya Pengawasan Proyek (Pokok) Biaya Pengawasan Proyek (PPN) Biaya Pengawasan Proyek Biaya Pengawasan Proyek Biaya Pengawasan Proyek Biaya Pengendalian Proyek (Pokok) Biaya Pengendalian Proyek Biaya Pengendalian Proyek Biaya Pengendalian Proyek Biaya Pengendalian Proyek

Nilai (Rp) 70.000.000,00 7.000.000,00 77.000.000,00 77.000.000,00 77.000.000,00 17.245.887,32 1.724.588,73 8.250.000,00 8.250.000,00 8.250.000,00 11.451.573,28 1.145.157,33 5.500.000,00 5.500.000,00 5.500.000,00

2

3

Atas keterlambatan tersebut telah dilakukan satu kali teguran atau penagihan pada tanggal 12 Mei 2005 untuk kewajiban yang seharusnya dibayarkan pada tanggal 1 Maret 2005. Selanjutnya dari denda tersebut terdapat denda yang belum dibayarkan

41

sehubungan kesalahan perhitungan denda untuk pembayaran tanggal 12 Juli 2005 kurang dikenakan sebesar Rp865.062,00 dengan rincian sebagai berikut : Perhitungan denda (Rincian di lampiran 3) Denda yang dibayarkan tanggal 12 Juli 2005 Selisih Rp10.144.430,38 Rp 9.279.368,00 Rp 865.062,38

Diketahui pula bahwa angsuran IV Kompensasi Penggunaan Lahan yang jatuh tempo tanggal 15 September 2005 belum diterima. Atas keterlambatan tersebut dikenakan denda sebesar 1%o per hari untuk 70 hari keterlambatan sebesar Rp5.390.000,00 (Rincian dalam lampiran 2).

Hal tersebut tidak sesuai dengan : a. Perjanjian Kerjasama No.32/-1.824.541 tentang Pekerjaan Penataan Lahan Parkir Pasar Perumnas Klender Unit Area 19 Wilayah Jakarta Timur Pasal 7 mengenai skedul pembayaran kewajiban Kompensasi Penggunaan Lahan, Pasal 8 mengenai Biaya Pengawasan Proyek, dan Pasal 9 mengenai dan Biaya pengendalian Proyek, b. Keputusan Direksi PD Pasar Jaya No.420/2003 tentang Ketentuan Pelaksanaan Kerjasama Perusahaan Daerah Pasar Jaya dengan Pihak Ketiga : 1) Pasal 2 yang menyatakan dasar kerjasama adalah untuk memenuhi kepentingan kedua belah pihak dengan mengadakan ikatan, yaitu : a) Untuk kepastian hukum dan rasa aman mematuhi ketentuan tertulis yang telah disetujui bersama, b) Memberikan manfaat dan keuntungan yang proporsional dan wajar bagi kedua belah pihak. 2) Pasal 4 butir (6) yang menyatakan bahwa tujuan kerjasama adalah saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. 3) Keputusan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta No.39 Tahun 2002 tentang Ketentuan Pelaksanaan Kerjasama Perusahaan Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta dengan Pihak Ketiga, Pasal 4 yang menyatakan bahwa tujuan kerjasama adalah untuk mengembangkan usaha yang sudah ada atau sedang berjalan atau membentuk usaha baru dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, menggerakkan

perekonomian Daerah, dan meningkatkan keuntungan sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah, sesuai dengan tugas pokok Perusahaan Daerah.

42

Hal

tersebut

mengakibatkan rincian

PD

Pasar

Jaya

dirugikan Lahan

sebesar sebesar

Rp76.255.062,38

(dengan

Kompensasi

Penggunaan

Rp70.000.000,00 belum termasuk pajak dan denda yang kurang terima sebesar Rp6.255.062,38) dan Negara dirugikan dari PPN sebesar Rp7.000.000,00 yang belum diterima.

Hal tersebut disebabkan Sub Divisi Kas & Pajak tidak teliti melakukan perhitungan atas pengenaan denda dan kurang aktif melakukan penagihan atas pembayaran kewajiban dari para developer.

Atas permasalahan tersebut Pihak PD Pasar Jaya telah memberikan peringatan kepada rekanan, sedangkan keterlambatan pembayaran disebabkan selang waktu pencairan bilyet giro.

BPK-RI menyarankan Badan Pengawas agar memerintahkan Direksi PD Pasar Jaya menegur secara tertulis kepada: a. Asisten Manajer Sub Divisi Kas dan Pajak agar di masa yang akan datang lebih cermat dalam penghitungan denda dan lebih aktif dalam melakukan penagihan, b. PT Reka Tiga Er atas keterlambatan pembayaran tersebut dan segera menyetorkan kewajibannya sebesar Rp76.255.062,38 dan PPN sebesar Rp7.000.000,00 serta menyampaikan bukti setor ke BPK-RI dan tidak menyertakan PT Reka Tiga Er dalam daftar rekanan untuk pelaksanaan kerjasama di masa yang akan datang.

12. Kerjasama Pembangunan Dan Pengembangan Pasar Pluit Merugikan PD Pasar Jaya Sebesar Rp1.536.549.956,00 Dan Tidak Ada Kejelasan Kepemilikan Atas Asset Senilai Rp2.432.171.028,14

PD Pasar Jaya pada Tahun 2002 melakukan perikatan kerjasama yang dilegalisasi oleh Notaris Teddy Anwar, SH No.6754 A/L/U/2002 tanggal 17 Mei 2002 dengan rekanan bernama PT Gita Duta Arsitama (GDA) dalam rangka Pembangunan Dan Pengembangan Pasar Pluit Wilayah Jakarta Utara. Kerjasama tersebut dituangkan dalam Perjanjian Kerjasama No.137/-1.824.541 tanggal 17 Mei 2002 senilai Rp18.568.095.575,17, terdiri dari Biaya Fisik sebesar 43

Rp13.248.875.450,74, Biaya Non Fisik sebesar Rp3.900.896.579,36, Biaya Penyambungan PLN sebesar Rp86.436.000,00, Biaya Penyambungan PDAM Rp7.000.000,00 dan PPN 10% (atau sebesar Rp1.324.887.545,07). Jangka waktu pelaksanaan pembangunan adalah 15 bulan (28 Pebruari 2002 s.d. 28 Mei 2003) dan jangka waktu pemeliharaan tiga bulan (28 Mei 2003 dan 28 Agustus 2003). Masa pemasaran 18 bulan (28 Mei 2003 s.d. 28 Nopember 2004) dan masa hak pakai tempat usaha berlaku 20 Tahun terhitung sejak serah terima bangunan. Berdasarkan Perjanjian Kerjasama tersebut dapat diuraikan hak dan kewajiban kedua belah pihak sebagai berikut: Hak dan kewajiban PD Pasar Jaya, yaitu: a. PD Pasar Jaya berhak atas hasil peremajaan pembangunan Pasar Pluit. b. PD Pasar Jaya berkewajiban: Memberikan ijin kepada developer untuk membangun dan melaksanakan pekerjaan pembangunan peremajaan Pasar Pluit Memberikan ijin kepada developer untuk memasuki lokasi pasar untuk melaksanakan serta menempatkan peralatan dan material untuk pelaksanaan pekerjaan di lapangan Membantu developer mengurus segala perijinan Menjaga keamanan dan kelancaran lalu lintas selama pelaksanaan pekerjaan Bertanggungjawab atas pengurusan dan pelaksanaan

penempatan/pemindahan pedagang ke tempat penampungan sementara (TPS), dan memindahkan kembali dari TPS ke bangunan permanen, melaksanakan sosialisasi proyek dan program pemindahan pedagang, pengundian dan pembongkaran bangunan lama. Hak dan kewajiban rekanan (PT GDA), yaitu: a. PT GDA memperoleh hak untuk melakukan pemasaran tempat usaha dan menerima serta memiliki seluruh hasil pemasaran b. Kewajiban PT GDA: Membayar pembagian keuntungan dan goodwill sebesar Rp1.796.905.322,65. Membayar biaya pengawasan proyek sebesar Rp222.421.479,67 Membayar biaya pengendalian teknis sebesar Rp315.491.460,53 Membayar biaya kompensasi pensertifikatan tanah sebesar Rp49.305.000,00 Membayar penggantian biaya pengelolaan pasar sebesar Rp72.000.000,00

44

-

Membayar biaya peralatan kebersihan dan kantor berupa biaya pengadaan peralatan kontainer sampah sebesar Rp10.000.000,00 dan biaya pengadaan peralatan kantor sebesar Rp10.000.000,00 Hasil pemeriksaan atas dokumen berupa Perjanjian Kerjasama, Buku Harian

Kas dan Bank, Laporan Pemantauan Pembayaran oleh Rekanan dari Divisi Kas dan Pajak serta hasil konfirmasi lewat telepon dengan Manajer Divisi Hukum tanggal 21 Nopember 2005 menunjukkan bahwa: a. Penunjukan dan penetapan PT GDA sebagai rekanan tidak melalui prosedur yang seharusnya. Dalam kontrak/perjanjian kerjasama tidak disertakan dokumendokumen berupa surat penetapan pemenang lelang atau penunjukan langsung PT GDA. Kerjasama tersebut juga tidak melalui tahap kesepakatan bersama (Memorandum of Understanding/MOU) terlebih dahulu. Tim pemeriksa tidak dapat melakukan konfirmasi lebih jauh atas prosedur penunjukan PT GDA sebagai rekanan karena tidak ada personal pada Divisi Hukum PD Pasar Jaya yang mengetahui prosedur pemilihan PT GDA sebagai developer Pembangunan dan Peremajaan Pasar Pluit (Konfirmasi telah dilakukan kepada Manajer Divisi Hukum). b. Sebagai perusahaan yang melakukan perikatan bisnis, PT GDA tidak menyertakan daftar kekayaan sebagai bukti bahwa PT GDA mempunyai jaminan atas pembangunan yang dilakukan dan tidak ada surat keterangan dari Bank yang menyatakan PT GDA mampu secara finansial atas pekerjaan yang akan dilaksanakan. c. Tidak ada klausul sanksi/denda atas keterlambatan penyerahan hasil pekerjaan dan atas pembayaran kewajiban-kewajiban oleh Pihak Kedua (PT GDA). d. PT GDA dan PD Pasar Jaya telah sepakat melakukan serah terima atas hasil pembangunan dan peremajaan Pasar Pluit berdasarkan Berita Acara (BA) Serah Terima Pertama No.112/1.712.6 tanggal 6 Mei 2003. Berdasarkan BA Serah Terima tersebut PT GDA masih bertanggung jawab atas pemeliharaan selama 90 hari terhitung sejak tanggal 1 Maret 2003 dan bertanggung jawab atas jaminan konstruksi bangunan selama lima Tahun sejak tanggal 1 Maret 2003. Hasil pemeriksaan lebih lanjut atas BA Serah Terima tersebut menunjukkan bahwa hasil pekerjaan yang diserahterimakan adalah lantai 1 dan lantai 2 dari keseluruhan 5 (lima) lantai menurut Rencana Anggaran Biaya (RAB).

45

e. Sampai dengan pemeriksaan, tanggal 21 Nopember 2005, diketahui bahwa PT GDA baru melunasi kewajibannya sebesar Rp939.573.306,85 dari keseluruhan kewajiban sebesar Rp2.476.123.262,85. Dengan demikian terdapat tunggakan kewajiban sebesar Rp1.536.549.956,00. Rincian pembayaran kewajiban oleh PT GDA adalah:
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. Tanggal 16/07/2002 17/01/2002 16/07/2002 19/08/2002 17/10/2002 17/12/2002 17/01/2003 16/07/2002 19/08/2002 17/10/2002 17/12/2002 17/01/2003 17/12/2002 17/01/2003 16/07/2002 19/08/2002 17/10/2002 17/12/2002 17/01/2003 17/01/2003 17/01/2003 Jumlah Nilai (Rp) 89.845.266,00 284.510.009,00 22.421.480,00 40.000.000,00 40.000.000,00 40.000.000,00 40.000.000,00 15.491.461,00 60.000.000,00 60.000.000,00 60.000.000,00 60.000.000,00 24.652.500,00 24.652.500,00 2.000.000,00 14.000.000,00 14.000.000,00 14.000.000,00 14.000.000,00 10.000.000,00 10.000.000,00 939.573.216,00 Keterangan Pembagian keuntungan Pembagian keuntungan Biaya Pengawasan Biaya Pengawasan Biaya Pengawasan Biaya Pengawasan Biaya Pengawasan Biaya Pengendalian Teknik Biaya Pengendalian Teknik Biaya Pengendalian Teknik Biaya Pengendalian Teknik Biaya Pengendalian Teknik Biaya Sertifikat Biaya Sertifikat Biaya Pengelolaan Pasar Biaya Pengelolaan Pasar Biaya Pengelolaan Pasar Biaya Pengelolaan Pasar Biaya Pengelolaan Pasar Biaya Pengadaan Biaya Pengadaan

f. Sampai dengan berakhirnya jangka waktu pemasaran oleh PT GDA, tanggal 28 Nopember 2004, PT GDA tidak memberikan laporan hasil pemasaran tempat usaha kepada PD Pasar Jaya. g. Hasil pemeriksaan fisik Auditor didampingi Staf SPI (Satuan Pengawasan Internal) PD Pasar Jaya dan Supervisor Pasar Pluit tanggal 17 Nopember 2005 menunjukkan bahwa: 1) Sekeliling dinding Lantai 4 telah retak dan permukaan lahan parkir dekat pintu masuk sebelah barat serta gardu listrik dan ruang genset turun + 10 cm dari permukaan tanah. 2) Pekerjaan lantai 3, 4 dan lantai atap senilai Rp2.432.171.028,14 tidak dapat dipertanggungjawabkan karena sampai dengan berakhirnya jangka waktu pelaksanaan pembangunan belum dilakukan serah terima dan terdapat beberapa item pekerjaan yang belum selesai dikerjakan, dengan rincian:

46

No.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21

Lantai

Jenis Pekerjaan

Uraian Pekerjaan

Nilai (Rp)
17.895.467,74 29.431.445,33 54.017.433,37 8.046.705,30 18.465.654,24 10.266.531,00 49.208.896,44 6.610.758,72 32.376.670,00 24.000.490,00 46.905.502,00 66.485220,00 195.337.740,00 36.046.274,00 48.236.760,00 14.574.480,00 125.000,00 14.040.000,00 132.825.000,00 2.000.000,00 1.550.000.000,00 3.000.000,00 72.275.000,00 2.432.171.028,14

Lantai 4 Pekerjaan struktur Lantai Atap Pekerjaan struktur

Lantai 4 Lantai Atap

Halaman keseluruhan keseluruhan keseluruhan

1 bh tangga type V 2 bh tangga type V Musholla & R. Pengelola Ruang mesin Atap R. Musholla Atap R. Mesin Lift Konsol lantai atap Atap selasar Pekerjaan Arsitektur Pek Atap Overstek Pekerjaan Arsitektur Pek Plafond Pekerjaan Arsitektur Pek dinding&plesteran Pek kusen pintu/jendela Pek atap Pek lantai Pek Plafond Pek Pengecatan Pek sanitair legkap Pek Sarana Luar Grill tutup saluran dr plat besi strip Pekerjaan mekanikal Pek exhaustfan&AC Test&commisioning Pek sistem elevator & Pek Pengadaan & Pemasangan Elevator escalator Test & cmmissioning Telepon system Pek instalasi,fixtures dan armatures Jumlah

3) Terdapat pekerjaan sarana luar yang berbeda dengan RAB akan tetapi belum dilakukan addendum atau BA tambah kurang pekerjaan, yaitu pekerjaan jalan/ halaman parkir (aspal hotmix) senilai Rp198.522.720,00 yang diganti dengan paving blok. 4) Terdapat penambahan pekerjaan sesuai disposisi Manajer Divisi Hukum tetapi tidak diperoleh bukti tambahan mengenai pekerjaan tambahan tersebut.

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan: a. Keputusan Presiden No.80 Tahun 2003 Pasal 29 Ayat (1) huruf h tentang Pengadaan Barang Dan Jasa yang menyatakan bahwa kontrak setidak-tidaknya memuat ketentuan mengenai cidera janji dan sanksi dalam hal para pihak tidak memenuhi kewajibannya. b. Perjanjian Kerjasama No.137/1.824.541 tanggal 17 Mei 2002 tentang Pembangunan Peremajaan Pasar Pluit Wilayah Jakarta Utara: Pasal 1 Ayat (2) dan (3) yang menyatakan Pihak Kedua melaksanakan kerjasama pembangunan Peremajaan Pasar Pluit sesuai dengan gambar dan RAB yang telah disetujui oleh kedua belah pihak dan setiap terjadi perubahan

47

atas rencana, perubahan gambar dan rencana kerja harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Pihak Pertama Pasal 15 Ayat (1) yang menyatakan Pihak Kedua (rekanan) harus menyerahkan kepada Pihak Pertama hasil Peremajaan Pembangunan Pasar Pluit dalam rangka serah terima paling lambat tanggal 28 Mei 2003.

Masalah tersebut mengakibatkan: a. PD Pasar Jaya mengalami kerugian sebesar Rp1.536.549.956,00 (atas kewajiban yang belum dibayarkan). b. Tidak ada kejelasan status kepemilikan atas aset lantai 3, 4 dan lantai atap senilai Rp2.432.171.028,14 karena perjanjian kerjasama sudah berakhir tapi belum selesai dan belum dilakukan serah terima pekerjaan

Hal tersebut disebabkan: a. PD Pasar Jaya lalai dalam menerapkan prosedur pemilihan rekanan dan lalai dalam mencantumkan klausul sanksi/denda sehingga tidak dapat melakukan tindakan hukum apapun kepada rekanan yang melakukan wan prestasi. b. Adanya itikad tidak baik dari rekanan untuk tidak melaksanakan kewajiban sesuai klausul kerjasama yang telah dilakukan.

Atas permasalahan tersebut Pihak PD Pasar Jaya merencanakan akan melakukan pembatalan pada akhir 2005.

BPK-RI menyarankan Gubernur agar memerintahkan Badan Pengawas menegur secara tertulis: a. Direksi PD Pasar Jaya supaya di masa yang akan datang mentaati ketentuan dalam prosedur pemilihan rekanan dan agar menegur secara tertulis Manajer Divisi Hukum agar di masa yang akan datang lebih cermat dalam mencantumkan klausul perjanjian sesuai ketentuan yang berlaku bagi PD Pasar Jaya. b. Direksi PD Pasar Jaya supaya menegur secara tertulis PT Gita Duta Arsitama atas keterlambatan pembayaran kewajibannya dan memerintahkan agar segera menyetorkan kewajibannya sebesar Rp1.536.549.956,00 dan segera membuat addenddum atas perjanjian yang ada dengan mencantumkan klausul sanksi/denda

48

mengenai penyelesaian pembangunan Pasar Pluit Lantai 3,4 dan Lantai Atap berikut serah terima bangunan tersebut.

13. PT Mutiara Permata Indah Kurang Menyetorkan Fee Pemasaran Atas Kerjasama Pelaksanaan Pekerjaan Pengembangan Pasar Cipulir Wilayah Jakarta Selatan Sebesar Rp279.701.238,00

Dalam rangka pembangunan dan pengembangan pasar-pasar di lingkungan usaha PD Pasar Jaya, telah dilakukan kerja sama dengan PT Mutiara Permata Indah melalui Perjanjian No.192/-1.824.541 tanggal 3 Juli 2003 tentang Perjanjian Pekerjaan Pengembangan Pasar Cipulir Wilayah Jakarta Selatan yang kemudian direvisi kembali dengan Addendum Perjanjian No.16/-1.824.541 tanggal 21 Januari 2004. Di dalam Addendum Perjanjian dijelaskan bahwa di samping mendapatkan pembagian keuntungan, Pihak Pertama dan Pihak Kedua mendapat fee pemasaran masing-masing sebesar 1,25% dari total penjualan seluruh tempat usaha. Perhitungan fee pemasaran sampai dengan Juli 2005 adalah sebagai berikut:
No. 1 2 3 4 5 6 Nilai Penjualan Prosentase /Pemasaran (Rp) (%) 04 Februari s.d. 30 April 2004 20.857.262.825,00 1,25 01 Mei s.d. 31 Juli 2004 3.972.337.600,00 1,25 01 Agustus s.d. 31 Oktober 2004 2.629.124.050,00 1,25 01 November 2004 s.d. 31 Januari 2005 2.639.546.500,00 1,25 01 Februari s.d. 30 April 2005 271.814.950,00 1,25 01 Mei s.d. 31 Juli 2005 315.395.250,00 1,25 Total Fee Pemasaran Periode Pembagian Keuntungan (Rp) 260.715.785,00 49.654.220,00 32.864.051,00 32.994.331,00 3.397.687,00 3.942.441,00 383.568.515,00

Sampai dengan pemeriksaan, tanggal 17 November 2005, PD Pasar Jaya telah menerima fee pemasaran dari PT Mutiara Permata Indah sebesar Rp103.867.277,00 dengan rincian sebagai berikut: Tanggal STSU Pembayaran 25 Agustus 2004 Fee Pemasaran Tahap I 29 September 2004 Kekurangan Fee Pemasaran 23 November 2004 Fee Pemasaran Tahap II 28 Juli 2005 Fee Pemasaran Tahap III dan IV Total fee pemasaran yang diterima Nilai (Rp) 37.010.722,00 2.362.387,00 27.501.836,00 36.992.332,00 103.867.277,00

49

Dari data di atas maka diketahui bahwa jumlah fee pemasaran yang masih belum diterima PD Pasar Jaya s.d. Juli 2005 adalah sebesar Rp279.701.238,00 (Rp383.568.515,00 - Rp103.867.277,00). Berdasarkan konfirmasi diperoleh keterangan bahwa Sub Divisi Kas & Pajak tidak dapat melakukan penagihan kepada PT Mutiara Permata Indah karena tidak mempunyai dasar penagihan. Perhitungan dan hasil perhitungan dari pembagian keuntungan hanya dilaporkan oleh SPI (Satuan Pengawas Intern) kepada para Direktur.

Hal tersebut tidak sesuai dengan : a. Addendum Perjanjian No.16/-1.824.541 Pasal 3 (1) tentang Addendum Perjanjian Kerjasama Pembangunan dan Pengembangan Pasar Cipulir Area 12 Wilayah Jakarta Selatan, tentang Pembagian Keuntungan yang menyatakan bahwa atas pelaksanaan perjanjian kerjasama ini Pihak Pertama dan Pihak Kedua telah sepakat bahwa Pembagian Keuntungan Pembangunan dan Pengembangan Pasar Cipulir akan dihitung secara proporsional dan akan ditinjau setiap 3 (tiga) bulan sekali. b. Keputusan Direksi PD Pasar Jaya No.420/2003 tentang Ketentuan Pelaksanaan Kerjasama Perusahaan Daerah Pasar Jaya dengan Pihak Ketiga : 1) Pasal 2 yang menyatakan bahwa dasar kerjasama adalah untuk memenuhi kepentingan kedua belah pihak dengan mengadakan ikatan, yaitu : Untuk kepastian hukum dan rasa aman mematuhi ketentuan tertulis yang telah disetujui bersama, Memberikan manfaat dan keuntungan yang proporsional dan wajar bagi kedua belah pihak. 2) Pasal 3 yang menyatakan bahwa maksud dan tujuan kerjasama adalah untuk meningkatkan profitabilitas, efisiensi, produktifitas dan efektivitas PD Pasar Jaya dalam upaya menjalankan dan mengembangkan usaha. 3) Butir 6 Pasal 4 yang menyatakan bahwa tujuan kerjasama adalah saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. c. Keputusan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta No.39 Tahun 2002 tentang Ketentuan Pelaksanaan Kerjasama Perusahaan Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta dengan Pihak Ketiga, Pasal 4 yang menyatakan bahwa tujuan kerjasama adalah untuk mengembangkan usaha yang sudah ada atau 50

sedang berjalan atau membentuk usaha baru dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, menggerakkan perekonomian daerah, dan meningkatkan keuntungan sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah, sesuai dengan tugas pokok Perusahaan Daerah.

Hal

tersebut

mengakibatkan

PD

Pasar

Jaya

dirugikan

sebesar

Rp279.701.238,00 yang disebabkan oleh: a. Tidak adanya koordinasi antar Divisi. b. Kelalaian Pihak Direksi tidak memberikan perintah kepada Sub Divisi Kas & Pajak untuk menagih Setoran Pembagian Keuntungan kepada Pihak Developer.

Atas permasalahan tersebut Pihak PD Pasar Jaya menyatakan fee pemasaran tersebut bukan merupakan keuntungan kerjasama tapi berdasarkan nilai penjualan tempat usaha, penagihan sesuai hasil evaluasi setiap 3 bulan sekali. BPK-RI menyarankan Gubernur Provinsi DKI Jakarta agar memerintahkan Badan Pengawas supaya: a. Menegur secara tertulis Direksi PD Pasar Jaya atas lemahnya kordinasi antar Divisi dalam PD Pasar Jaya dhi Divisi Hukum dan Divisi Keuangan b. Memerintahkan Direksi PD Pasar Jaya agar menegur secara tertulis PT Mutiara Permata Indah atas keterlambatannya memenuhi kewajibannya dan

memerintahkan PT MPI untuk segera menyetorkan kewajiban sebesar Rp279.701.238,00, c. Memerintahkan Direksi PD Pasar Jaya agar menegur secara tertulis Manajer Divisi Keuangan dan Asisten Manajer Divisi Kas Dan Pajak supaya melakukan pengendalian dan penagihan secara lebih aktif.

14. Kerjasama Pembangunan Dan Pengembangan Pasar Cibubur Merugikan PD Pasar Jaya Sebesar Rp3.844.200.000,00, Denda Keterlambatan Yang Belum Dipungut Sebesar Rp2.296.922.104,62, PPN Belum Dikenakan Atas Biaya

Proyek Sebesar Rp4.588.635.270,00 Serta Ketidakjelasan Status Kepemilikan Aset Senilai Rp36.213.160.513,00

PD Pasar Jaya pada Tahun 2004 melakukan perikatan kerjasama yang dilegalisasi oleh Notaris Ny.Heidi Ratnawati Porwayla, SH No.10/L/2004 tanggal 7 51

Oktober 2004 dengan rekanan bernama PT Deva Adhines dalam rangka Pembangunan Dan Pengembangan Pasar Cibubur Unit Area 16 Wilayah Jakarta Timur. Kerjasama tersebut dituangkan dalam Perjanjian Kerjasama No.223/1.824.541 tanggal 7 Oktober 2004 senilai Rp45.886.352.700,00, terdiri dari biaya fisik sebesar Rp36.213.160.513,00 dan biaya non fisik sebesar Rp9.673.192.186,00. Jangka waktu pelaksanaan pembangunan adalah 12 bulan (s.d. 5 Oktober 2005) dan jangka waktu pemeliharaan 90 hari (s.d. 3 Januari 2006). Masa pemasaran 48 bulan terhitung sejak pembangunan proyek dan masa hak pakai tempat usaha berlaku 20 Tahun terhitung sejak serah terima bangunan. Hasil pemeriksaan atas dokumen berupa Perjanjian Kerjasama, Buku Harian Kas dan Bank, Laporan Pemantauan Pembayaran oleh rekanan dari Divisi Kas dan Pajak serta hasil konfirmasi kepada pihak-pihak terkait menunjukkan bahwa: a. Klausul perjanjian kerjasama pada Pasal 2 menyatakan bahwa Biaya Proyek sebesar Rp45.886.352.700,00 tanpa mengenakan PPN 10% atau sebesar Rp4.588.635.270,00. b. Sebagai perusahaan yang melakukan perikatan bisnis, PT Deva Adhines tidak menyertakan daftar kekayaan sebagai bukti bahwa PT Deva Adhines mempunyai jaminan atas pembangunan yang dilakukan dan tidak ada surat keterangan dari Bank yang menyatakan PT Deva Adhines mampu secara finansial atas pekerjaan yang akan dilaksanakan. c. Sampai dengan pemeriksaan, tanggal 22 Nopember 2005, diketahui bahwa PT Deva Adhines baru melunasi kewajibannya sebesar Rp1.240.700.000,00 dari keseluruhan kewajiban sebesar Rp7.531.634.000,00. Hasil analisa lebih lanjut menunjukkan adanya kewajiban yang jatuh tempo tetapi belum dilunasi berupa kompensasi penggunaan lahan sebesar Rp3.844.200.000,00 (per 22 Nopember 2005). Rincian pembayaran kewajiban oleh PT Deva Adhines adalah: No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Tanggal Nilai (Rp) 03/01/2005 640.700.000,00 08/10/2004 160.000.000,00 21/10/2004 160.000.000,00 25/10/2004 160.000.000,00 08/10/2004 40.000.000,00 21/10/2004 40.000.000,00 25/10/2004 40.000.000,00 Jumlah 1.240.700.000,00 Keterangan Pembagian keuntungan Biaya Pengawasan Biaya Pengawasan Biaya Pengawasan Biaya Pengendalian teknis Biaya Pengendalian teknis Biaya Pengendalian teknis

52

d. Atas keterlambatan pembayaran kewajiban dan penyelesaian pembangunan, PT Deva Adhines dikenakan denda sebesar Rp2.296.922.104,62 (dengan rincian denda sebesar Rp558.690.400,00 untuk keterlambatan pembayaran kompensasi penggunaan lahan dan sebesar Rp1.738.231.704,62 untuk keterlambatan penyelesaian pembangunan). Rincian perhitungan denda atas keterlambatan pembayaran kewajiban dan keterlambatan pelaksanaan pembangunan adalah sebagai berikut:
Tanggal Pemeriksaan Tanggal Seharusnya Keterlambatan (hari) Nilai Pembayaran (Rp) Nilai Denda (Rp)

Rincian keterlambatan pembayaran kewajiban 22/11/2005 22/03/2005 245 1.281.400.000,00 22/11/2005 22/06/2005 153 1.281.400.000,00 22/11/2005 21/10/2005 32 1.281.400.000,00 03/01/2005 22/12/2004 12 640.700.000,00 Jumlah denda pembayaran yang terlambat

313.943.000,00 196.054.200,00 41.004.800,00 7.688.400,00 558.690.400,00

Rincian keterlambatan pembayaran kewajiban
22/11/2005 05/10/2005 48 36.213.160.513,00 Jumlah denda pelaksanaan pembangunan yang terlambat 1.738.231.704,62 1.738.231.704,62

e. Sampai dengan pemeriksaan, tanggal 22 Nopember 2005, belum dilakukan addendum atas perjanjian yang dilakukan. Keterangan ini diperoleh berdasarkan konfirmasi dari Divisi Hukum dan Manajer Area 16. f. Hasil pemeriksaan fisik pada tanggal 11 Nopember 2005 menunjukkan pembangunan belum selesai dilaksanakan. Berdasarkan Progress Report dari Konsultan Pengawas (PT Santika Consulindo) pembangunan mencapai 61,521%. Atas keterlambatan pelaksanaan pembangunan tersebut belum dikenakan denda keterlambatan.

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan: a. Undang-Undang No.18 Tahun 2000 Pasal 1 Angka 5,6, dan 7 yang menyatakan bahwa jasa pada setiap kegiatan pelayanan berdasarkan suatu perikatan/perbuatan hukum yang menyebabkan suatu barang/fasilitas/kemudahan/hak

tersedia/dipakai/termasuk jasa yang dilakukan dikenakan sebagai obyek PPN. b. SK Direksi No.420/2003 tanggal 13 Nopember 2003 tentang Ketentuan Pelaksanaan Kerjasama Perusahaan Daerah Pasar Jaya Dengan Pihak Ketiga

53

Pasal 6 Ayat 1 Huruf a yang menyatakan pihak ketiga harus memiliki bonafiditas dan kredibilitas berbentuk bank guarantee dan minimal 40% dari nilai proyek. c. Perjanjian Kerjasama No.223/1.824.541 tanggal 7 Oktober 2004 tentang Pembangunan Dan Pengembangan Pasar Cibubur Area 16 Wilayah Jakarta Timur: 1) Pasal 4 yang menyatakan Pihak Kedua berkewajiban membayar kompensasi penggunaan lahan sebesar Rp6.407.000.000,00 belum termasuk PPN secara angsuran : Angsuran I sebesar Rp640.700.000,00 pada tanggal 22 Desember 2004 Angsuran II sebesar Rp1.281.400.000,00 pada tanggal 22 Maret 2005 Angsuran III sebesar Rp1.281.400.000,00 pada tanggal 22 Juni 2005 Angsuran IV sebesar Rp1.281.400.000,00 pada tanggal 21 Oktober 2005 2) Pasal 15 Ayat (1) yang menyatakan Pihak Kedua (rekanan) harus menyerahkan kepada Pihak Pertama hasil Pembangunan dan

Pengembangan Bangunan Pasar Cibubur dalam rangka serah terima paling lambat tanggal 5 Oktober 2005. 3) Pasal 17 Ayat (1) dan (2) yang menyatakan bahwa rekanan akan dikenai denda sebesar 1%o per hari terhadap setiap hari keterlambatan laporan penyelesaian pekerjaan dari nilai fisik proyek dan 1%o per hari terhadap setiap hari untuk keterlambatan pembayaran kewajiban yang jatuh tempo.

Masalah ini mengakibatkan: a. Kerugian Negara dan tidak diterimanya PPN sebesar Rp4.588.635.270,00 b. PD Pasar Jaya mengalami kerugian sebesar Rp3.844.200.000,00 (atas kewajiban yang belum dibayarkan) dan kekurangan penerimaan dari denda keterlambatan yang belum dipungut sebesar Rp2.296.922.104,62. c. Tidak ada kejelasan status kepemilikan atas aset senilai Rp36.213.160.513,00 karena perjanjian kerjasama sudah berakhir tapi belum selesai dan belum dilakukan serah terima pekerjaan.

Hal tersebut disebabkan oleh: a. Kurangnya pemahaman kedua belah pihak yang melakukan perjanjian terhadap peraturan perpajakan. 54

b. PD Pasar Jaya lalai dalam menerapkan prosedur pemilihan rekanan dan kurang tegas dalam menerapkan klausul sanksi/denda kepada rekanan.

Atas permasalahan tersebut menyatakan telah memberikan peringatan dan akan minta bukti setor pembayaran kewajiban dan PPN dari PT Deva Adhines.

BPK-RI menyarankan Gubernur Provinsi DKI Jakarta agar memerintahkan Badan Pengawas supaya menegur secara tertulis Direksi PD Pasar Jaya dan memerintahkan Direksi PD Pasar Jaya untuk: a. Menegur secara tertulis Manajer Divisi Hukum supaya di masa yang akan datang lebih cermat dalam mencantumkan klausul perjanjian sesuai ketentuan yang berlaku bagi PD Pasar Jaya. b. Menegur secara tertulis PT Deva Adhines atas keterlambatannya memenuhi kewajibannya dan supaya segera menyetorkan kewajibannya sebesar

Rp3.844.200.000,00, denda keterlambatan sebesar Rp2.296.922.104,62 dan PPN sebesar Rp4.588.635.270,00 serta menyampaikan bukti setornya ke BPK-RI dan tidak mengikutsertakan PT Deva Adhines dalam daftar rekanan untuk pelaksanaan kerjasama di masa yang akan datang.

15. PT Priamanaya Djan International Kurang Menyetorkan Kewajiban Sebesar Rp70.000.000.000,00 Kepada PD Pasar Jaya Atas Kerjasama Pembangunan Pasar Tanah Abang, Ketidakjelasan Status Kepemilikan Asset Senilai Rp777.184.000.000,00 Dan Perhitungan Biaya Non Fisik Belum Dikenakan Denda Sebesar Rp 16.474.099.082,59

PD Pasar Jaya pada Tahun 2003 melakukan perikatan kerja sama di depan Notaris Yualita Widyadhari, SH dengan PT Priamanaya Djan International dalam rangka Pembangunan Pasar Tanah Abang Blok A, Sebagian Blok C dan Blok E Serta Jembatan Antara Blok A dan Blok D Beserta Seluruh Fasilitas Penunjang (Mekanikal Dan Elektrikal) Dan Fasilitas Umum Berikut Prasarana, Sarana Serta Utilitas Lainnya. Kerjasama tersebut dituangkan dalam Perjanjian Kerjasama. No.1.tanggal 20 Oktober 2003 senilai Rp777.184.000.000,00 terdiri dari Biaya Fisik sebesar Rp556.766.882.475,60, PPN 10% atas Biaya Fisik atau sebesar Rp55.676.688.247,56 dan Biaya Non Fisik sebesar Rp164.740.990.825,92. 55

Perjanjian kerjasama tersebut didasarkan pada kesepakatan bersama/Memorandum Of Understanding (MOU) No.264/1.824.541 tanggal 24 September 2003. Jangka waktu pelaksanaan pembangunan adalah 18 bulan sejak diperolehnya semua ijin secara lengkap dan dilakukannya pemancangan tiang pertama pembangunan atau selambat-lambatnya 15 Desember 2003 dan jangka waktu pemeliharaan 90 hari kalender. Masa pemasaran berhak dilakukan PT Priamanaya selama dilaksanakannya pembangunan dan selama masa pengelolaan. Jangka waktu pengelolaan dan pemeliharaan bangunan selama 5 (lima) Tahun terhitung sejak dimulainya pembangunan. Hasil pemeriksaan atas dokumen berupa Perjanjian Kerjasama, Buku Harian Kas dan Bank, Laporan Pemantauan Pembayaran oleh rekanan dari Divisi Kas dan Pajak serta hasil konfirmasi kepada Manajer Divisi Hukum tanggal 21 Oktober 2005 menunjukkan bahwa: a. Perhitungan PPN sebesar 10% hanya dikenakan terhadap perhitungan Biaya Fisik, sementara Biaya Non Fisik sebesar Rp164.740.990.825,92 belum dikenakan PPN 10%. Atas pengenaan PPN tersebut, belum diperoleh bukti pembayarannya oleh PT Priamanaya. b. Klausul perjanjian kerjasama pada Pasal 4 Ayat 4.1 menyatakan bahwa pembayaran kompensasi penyediaan tanah dilakukan secara bertahap: − Tahap pertama sebesar Rp30.000.000.000,00 pada saat penandatanganan perjanjian dan sebesar Rp30.000.000.000,00 dengan cara penyetoran ke rekening penampung. − Tahap kedua sebesar Rp60.000.000.000,00 akan dibayar pada saat penandatanganan Berita Acara Serah Terima Pertama bangunan. Kompensasi penyediaan tanah sebesar Rp30.000.000.000,00 yang seharusnya dibayarkan pada saat penandatanganan perjanjian (20 Oktober 2003) baru dibayarkan tanggal 23 Nopember 2003 (berdasarkan mutasi transaksi harian Bank Mandiri). Serah Terima Pertama bangunan juga belum dilakukan sampai dengan batas akhir pelaksanaan (Bulan Juni 2005). c. Klausul perjanjian kerjasama pada Pasal 11 Angka 11.3 menyatakan bahwa pengalihan hak pengelolaan dan penyerahan hak kepemilikan akan dilakukan dengan persyaratan sekurang-kurangnya 95% dari tempat usaha/kios telah terjual/terpasarkan. Apabila tempat usaha/kios yang terjual belum mencapai 95% maka PD Pasar Jaya sepakat memperpanjang masa pengelolaan masing-masing 56

untuk jangka waktu satu Tahun s.d. penjualan mencapai 95%, dengan ketentuan rekanan mengajukan permohonan tertulis kepada PD Pasar Jaya sekurangkurangnya 6 (enam) bulan sebelum berakhirnya masa pengelolaan. Klausul tersebut dapat diartikan bahwa hak pengelolaan dan hak kepemilikan baru akan diserahkan kembali kepada PD Pasar Jaya apabila penjualan tempat usaha telah mencapai 95%. Berdasarkan konfirmasi lisan kepada Asisten Manajer Administrasi Area 1 menyatakan bahwa sampai dengan pemeriksaan, tanggal 23 Nopember 2005, Area 1 belum pernah menerima laporan pemasaran/laporan hasil penjualan tempat usaha/kios dari PT Priamanaya. d. Klausul perjanjian kerjasama pada Pasal 12 Angka 12.1 menyatakan bahwa PD Pasar Jaya akan menunjuk Konsultan Pengawas untuk melakukan pengawasan pelaksanaan proyek, dengan biaya didasarkan pada pembayaran nilai aktual (riil) yang dibayarkan oleh PT Priamanaya. Hasil analisa lebih lanjut menunjukkan bahwa tidak ada pasal lain yang mengatur tata cara pembayaran Konsultan Pengawas. e. Tidak ada klausul sanksi/denda atas keterlambatan penyerahan hasil pekerjaan dan atas pembayaran kewajiban-kewajiban oleh Pihak Kedua (PT Priamanaya). f. Sampai dengan 21 Oktober 2005 belum dilakukan Addenddum atas Perjanjian Kerjasama sebelumnya, yang ada baru berupa surat persetujuan Direksi dan sampai dengan pemeriksaan, tanggal 22 Nopember 2005, tim pemeriksa belum pernah menerima Addenddum. g. Sampai dengan pemeriksaan, tanggal 22 Nopember 2005, belum dilakukan Serah Terima atas hasil pembangunan, sementara berdasarkan perjanjian pelaksanaan pembangunan selambat-lambatnya berakhir Bulan Juni 2005 (18 Bulan sejak pemancangan tiang pertama pembangunan). h. Hasil pemeriksaan fisik di lapangan, tanggal 15 Nopember 2005, menunjukkan bahwa pembangunan belum selesai dan masih terdapat pekerjaan di lantai 12 A. Sedangkan berdasarkan laporan bulanan Konsultan Pengawas PT Ciriajasa CM Bulan September 2005 diketahui pekerjaan mencapai 100% untuk pekerjaan pondasi dan D-wall, 100% untuk pekerjaan struktur, 95,054% untuk pekerjaan arsitektur dan 94,07% untuk pekerjaan Mekanikal dan Elektrikal (M/E). i. Sampai dengan tanggal 22 Nopember 2005, PT Priamanaya baru menyelesaikan kewajibannya sebesar Rp80.000.000.000,00 dari keseluruhan kewajiban berupa

57

kompensasi penyediaan tanah sebesar Rp150.000.000.000,00 belum termasuk PPN, dengan rincian pembayaran sebagai berikut: − Tanggal 23 Oktober 2003 sebesar Rp30.000.000.000,00 berdasarkan bukti berupa mutasi transaksi dari Bank Mandiri, tanpa disertai bilyet giro. Transaksi yang dilakukan adalah overbooking. − Tanggal 5 Januari 2004 sebesar Rp30.000.000.000,00 dengan bukti bilyet giro nomor AA724584 tanggal jatuh tempo 27 Nopember 2003 yang dicatat oleh Sub Divisi Akuntansi sebagai pemindahbukuan atas pencairan bilyet giro tersebut. − Tanggal 21 Oktober 2005 sebesar Rp10.000.000.000,00 dengan bukti bilyet giro nomor BH 325955. − Tanggal 11 November 2005 sebesar Rp10.000.000.000,00 dengan bukti bilyet giro nomor BH 328510. i. Klausul perjanjian kerjasama pada Pasal 26 menyatakan PT Priamanaya tidak dapat mengalihkan sebagian atau seluruh kerjasama yang tertuang dalam perjanjian kerjasama kepada pihak ketiga manapun tanpa persetujuan tertulis dari PD Pasar Jaya. Hasil pemeriksaan di lapangan menunjukkan bahwa pembangunan dilaksanakan oleh beberapa kontraktor dan bahkan untuk pekerjaan elevator dilakukan oleh PT Superhelindo Jaya, sub kontraktor dari PT Jaya Kencana. Atas pengalihan tersebut, PD Pasar Jaya belum pernah membuat persetujuan tertulis karena tidak pernah ada permohonan persetujuan dari PT Priamanaya.

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan: a. Undang-Undang No.18 Tahun 2000 Pasal 1 Angka 5,6, dan 7 yang menyatakan bahwa jasa pada setiap kegiatan pelayanan berdasarkan suatu perikatan/perbuatan hukum yang menyebabkan suatu barang/fasilitas/kemudahan/hak

tersedia/dipakai/termasuk jasa yang dilakukan dikenakan sebagai obyek PPN. b. Keputusan Presiden No.80 Tahun 2003 Pasal 29 Ayat (1) Huruf h tentang Pengadaan Barang Dan Jasa yang menyatakan antara lain bahwa kontrak

setidak-tidaknya memuat ketentuan mengenai cidera janji dan sanksi dalam hal para pihak tidak memenuhi kewajibannya.

58

c. Perjanjian Kerjasama No.1 tanggal 20 Oktober 2003 tentang Pembangunan Pasar Tanah Abang Blok A: − Pasal 4 yang menyatakan bahwa PT Priamanaya berkewajiban membayar kompensasi penyediaan tanah sebesar Rp150.000.000.000,00, tahap

kedua/terakhir dilakukan pada saat Serah Terima pembangunan. − Pasal 11 Angka 11.1 Ayat (1) yang menyatakan bahwa pembangunan proyek akan diselesaikan dalam 18 bulan terhitung sejak diperolehnya ijin dan dilakukannya pemancangan tiang pertama pembangunan atau selambatlambatnya 15 Desember 2003. − Pasal 26 yang menyatakan bahwa PT Priamanaya tidak dapat mengalihkan sebagian atau seluruh kerjasama yang tertuang dalam perjanjian kepada pihak ketiga manapun tanpa persetujuan tertulis dari PD Pasar Jaya.

Masalah ini mengakibatkan: a. Negara dirugikan dari PPN atas Biaya Non Fisik sebesar Rp16.474.099.082,59 yang tidak diterima oleh Kas Negara. b. PD Pasar Jaya belum menerima dan tidak dapat memanfaatkan dana sebesar Rp70.000.000.000,00 oleh PT Priamanaya. c. PD Pasar Jaya tidak dapat melakukan pengendalian atas penyerahan hak kepemilikan dan tidak ada kejelasan status kepemilikan atas aset senilai Rp777.184.000.000,00 tersebut. d. Atas pengalihan pekerjaan dari PT Priamanaya kepada Kontraktor-kontraktor lain, PD Pasar Jaya tidak dapat melakukan pengendalian atas kualitas bangunan e. PD Pasar Jaya harus mengeluarkan dana sebesar Rp1.524.500.000,00 kepada konsultan pengawas, yaitu PT Ciriajasa CM (sesuai perjanjian kerjasama jasa konstruksi pengawasan pembangunan Blok A antara PD Pasar Jaya dengan PT Ciriajasa No.270/1.824.541 tanggal 2 Oktober 2003.

Hal tersebut terjadi karena: a. Kurangnya pemahaman para pihak yang bersepakat atas peraturan perpajakan. b. PT Priamanaya tidak paham atas kewajiban-kewajiban yang tercantum dalam klausul perjanjian kerjasama khususnya mengenai penyampaian laporan tentang persentase penjualan tempat usaha/kios.

59

c. Serah Terima pembangunan Blok A yang mundur tanpa batasan waktu yang pasti dan sampai melebihi jangka waktu dalam kontrak. d. PD Pasar Jaya lalai dalam mencantumkan klausul sanksi/denda dalam perjanjian.

Atas permasalahan tersebut Pihak PD Pasar Jaya menyatakan bahwa akan melakukan pembahasan dengan konsulenhukum atas pekerjaan non fisik yang belum dikenakan PPN dan akan meminta laporan hasil pemasaran kepada PT Priamanaya dalam rangka pemantauan dan pengendalian atas status pengelolaan Pasar Tanah Abang Blok A.

BPK-RI menyarankan Gubernur Provinsi DKI Jakarta agar memerintahkan Badan Pengawas menegur secara tertulis Direksi PD Pasar supaya: a. Lebih tegas dalam melakukan pengendalian atas hak pengelolaan Pasar Tanah Abang Blok A dan pembangunannya dengan memerintahkan PT Priamanaya menyetorkan kewajiban pembayaran PPN sebesar Rp16.474.099.082,59 dan menyampaikan laporan pemasaran tempat usaha setiap bulan dan segera melakukan serah terima hasil pembangunan kepada PD Pasar Jaya, b. Segera menyusun perjanjian yang mengatur tata cara pembayaran Konsultan Pengawas oleh PT Priamanaya sehingga PD Pasar Jaya tidak mengeluarkan dana sebesar Rp1.524.500.000,00, c. Menegur secara tertulis Manajer Divisi Hukum supaya lebih cermat dalam menyusun klausul perjanjian sesuai ketentuan yang berlaku.

16. PT Mutiara Permata Indah Belum Menyetorkan Pembagian Keuntungan Atas Kerjasama Pelaksanaan Pekerjaan Pengembangan Pasar Cipulir Wilayah Jakarta Selatan Sebesar Rp8.841.100.836,14

Dalam rangka pembangunan dan pengembangan pasar-pasar di lingkungan usaha PD Pasar Jaya, telah dilakukan kerja sama dengan PT Mutiara Permata Indah (PT MPI) melalui Perjanjian No.192/-1.824.541 tanggal 3 Juli 2003 tentang Perjanjian Pekerjaan Pengembangan Pasar Cipulir Wilayah Jakarta Selatan yang kemudian direvisi kembali dengan Addendum Perjanjian No.16/-1.824.541 tanggal 21 Januari 2004. Biaya pelaksanaan pekerjaan ditetapkan sebesar

Rp40.915.350.988,23 belum termasuk PPN yang terdiri dari Biaya Fisik sebesar 60

Rp34.707.100.056,09, Biaya Non Fisik sebesar Rp6.085.995.942,14, dan Biaya Penyambungan PLN sebesar Rp122.225.000,00, yang ditanggung sepenuhnya oleh PT MPI. Jangka waktu pelaksanaan kerja sama terdiri dari: − Masa persiapan 3 bulan, mulai tanggal 1 Juli 2003 s.d. 1 Oktober 2003; − Masa pelaksanaan 36 bulan, mulai tanggal Oktober 2006; − Masa pemasaran, yang telah disesuaikan dengan Addendum Perjanjian No.16/1.824.541, 60 bulan, mulai tanggal 2 Oktober 2003 s.d. 2 Oktober 2008. 2 Oktober 2003 s.d. tanggal 2

Atas kerja sama ini, Pihak PT MPI mempunyai beberapa kewajiban kepada PD Pasar Jaya antara lain: − Pembagian keuntungan proporsional sesuai dengan pemasaran tiap triwulan, − Pembagian fee pemasaran, − Biaya pengawasan, − Biaya pengendalian teknis, − Penggantian Biaya Pengelolaan Pasar. Untuk pembagian keuntungan dan fee pemasaran, Satuan Pengawasan Intern (SPI) PD Pasar Jaya secara periodik melakukan perhitungan berdasarkan Laporan Pemasaran dari pihak PT MPI. Addendum atas perjanjian mengatur tentang kesepakatan bersama atas besarnya fee pemasaran, akan tetapi addenddum tersebut tidak meniadakan kewajiban PT MPI dalam pembagian keuntungan kepada PD Pasar Jaya. Selama periode berjalan, Pihak PT MPI secara rutin membayarkan setoran fee pemasaran pada Pihak PD Pasar Jaya. Namun belum sekali pun membayar setoran untuk pembagian keuntungan. Berdasarkan Laporan SPI No.45/1.91 tanggal 24 Februari 2005 tentang Laporan Analisa Pembagian Keuntungan PD Pasar Jaya Atas Kerja Sama Pembangunan/Peremajaan Pasar Cipulir, Pihak PT MPI sampai dengan Triwulan IV Tahun 2004 mempunyai tunggakan kewajiban untuk membayar pembagian keuntungan kepada PD Pasar Jaya sebesar Rp2.394.099.178,00. Laporan ini tembusannya disampaikan kepada para Direktur PD Pasar Jaya.

61

Dari hasil perhitungan pembagian keuntungan secara proporsional dari hasil pemasaran, pembagian keuntungan yang menjadi hak PD Pasar Jaya sampai dengan Juli 2005 adalah sebesar Rp8.841.100.836,14:
Periode 04 Februari s.d. 30 April 2004 01 Mei s.d. 31 Juli 2004 01 Agustus s.d. 31 Oktober 2004 01 November 2004 s.d. 31 Januari 2005 01 Februari s.d. 30 April 2005 01 Mei s.d. 31 Juli 2005 Total Nilai Penjualan Rp20.857.262.825,00 Rp 3.972.337.600,00 Rp 2.629.124.050,00 Rp 2.639.546.500,00 Rp Rp 271.814.950,00 315.395.250,00 Prosentase (%) 72,03 72,03 72,03 72,03 72,03 72,03 40 40 40 40 40 40 Pembagian Keuntungan Rp6.009.394.565,14 Rp1.144.509.909,31 Rp 757.503.221,29 Rp 760.506.137,58 Rp Rp 78.315.323,39 90.871.679,43

Rp30.685.481.175,00

Rp8.841.100.836,14

Sampai saat ini PD Pasar Jaya belum pernah menerima pembagian keuntungan dari PT MPI, dengan demikian jumlah pembagian keuntungan yang masih belum diterima adalah: Jumlah Total Keuntungan s.d. Juli 2005 Jumlah Pembagian Keuntungan yang sudah diterima Jumlah yang masih belum diterima Rp8.841.100.836,14 Rp 0

Rp8.841.100.836,14

Sub Divisi Kas & Pajak bertanggung jawab untuk menegur atau menagih Pihak Developer jika terlambat melakukan pembayaran dari semua kewajiban yang timbul dari kerja sama dengan Pihak Ketiga. Namun dalam hal ini, Sub Divisi Kas & Pajak tidak dapat melakukan penagihan kepada PT MPI karena tidak mempunyai dasar penagihan. Perhitungan dan hasil perhitungan dari pembagian keuntungan hanya dilaporkan oleh SPI kepada para Direktur.

Hal tersebut tidak sesuai dengan: a. Pasal 3 (1) Addendum Perjanjian No.16/-1.824.541 tentang Addendum Perjanjian No.192/-1.824.541 tanggal 3 Juli 2003 tentang Perjanjian Kerja Sama Pembangunan dan Pengembangan Pasar Cipulir Area 12 Wilayah Jakarta Selatan, tentang Pembagian Keuntungan yang menyatakan bahwa atas pelaksanaan perjanjian kerja sama ini Pihak Pertama dan Pihak Kedua telah sepakat bahwa Pembagian Keuntungan Pembangunan dan Pengembangan Pasar Cipulir akan dihitung secara proporsional dan akan ditinjau setiap 3 (tiga) bulan sekali. b. Keputusan Direksi PD Pasar Jaya No.420/2003 tentang Ketentuan Pelaksanaan Kerjasama Perusahaan Daerah Pasar Jaya dengan Pihak Ketiga: 62

− Pasal 2 yang menyatakan bahwa dasar kerja sama adalah untuk memenuhi kepentingan kedua belah pihak dengan mengadakan ikatan, yaitu : 1) Untuk kepastian hukum dan rasa aman mematuhi ketentuan tertulis yang telah disetujui bersama, 2) Memberikan manfaat dan keuntungan yang proporsional dan wajar bagi kedua belah pihak. − Pasal 3 yang menyatakan bahwa maksud dan tujuan kerja sama adalah untuk meningkatkan profitabilitas, efisiensi, produktivitas dan efektivitas PD Pasar Jaya dalam upaya menjalankan dan mengembangkan usaha. − Pasal 4 butir (6) yang menyatakan bahwa tujuan kerja sama adalah saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. c. Keputusan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta No.39 Tahun 2002 tentang Ketentuan Pelaksanaan Kerjasama Perusahaan Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta dengan Pihak Ketiga Pasal 4 yang menyatakan bahwa tujuan kerjasama adalah untuk mengembangkan usaha yang sudah ada atau sedang berjalan atau membentuk usaha baru dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, menggerakkan perekonomian daerah, dan meningkatkan keuntungan sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah, sesuai dengan tugas pokok Perusahaan Daerah.

Hal

tersebut

mengakibatkan

PD

Pasar

Jaya

dirugikan

sebesar

Rp8.841.100.836,14 atas pembagian keuntungan yang belum disetor oleh PT MPI, yang terjadi karena kelalaian Direksi PD Pasar Jaya tidak memberikan perintah kepada Sub Divisi Kas & Pajak untuk menagih setoran Pembagian Keuntungan kepada Pihak Developer.

Atas permasalahan tersebut Pihak PD Pasar Jaya menyatakan bahwa PT MPI sudah menyetorkan sebesar Rp1.329.836.380,00 dari keseluruhan pembagian keuntungan sebesar Rp4.991.332.277,97 yang keseluruhannya akan diperoleh pada Bulan Desember 2005.

Atas tanggapan PD Pasar Jaya yang menyatakan bahwa PT MPI sudah menyetorkan sebesar Rp1.329.836.380,00 dari keseluruhan pembagian keuntungan sebesar Rp4.991.332.277,97, sampai dengan tanggal 24 November 2005 BPK-RI 63

belum memperoleh hitungan pembagian keuntungan tersebut dan belum menerima bukti pembayaran sebesar Rp1.329.836.380,00.

BPK-RI menyarankan Gubernur Provinsi DKI Jakarta agar memerintahkan Badan Pengawas memberikan teguran tertulis kepada Direksi PD Pasar Jaya atas kelalaiannya dan diperintahkan supaya menyampaikan bukti setoran PT MPI sebesar Rp1.329.836.380,00 kepada BPK-RI serta diinstruksikan untuk menegur secara tertulis kepada: a. PT MPI supaya segera memenuhi kewajibannya dengan menyetorkan pembagian keuntungan sebesar Rp7.511.264.456,14 (Rp8.841.100.836,14 –

Rp1.329.836.380,00) dan menyampaikan bukti setornya kepada BPK-RI. b. Manajer Divisi Keuangan dan Asisten Manajer Divisi Kas dan Pajak supaya di masa yang akan datang lebih tegas dan cermat dalam melakukan pengendalian dan penagihan kepada rekanan. 17. Pekerjaan Tambah Kurang Pada Pekerjaan Pembangunan Pasar Induk Kramatjati Oleh PT Tritunggal Sentra Sejahtera Tidak Didukung Dengan Berita Acara Kesepakatan Dengan Pihak PD Pasar Jaya

Dalam rangka pembangunan dan pengembangan pasar-pasar di lingkungan usaha PD Pasar Jaya, telah dilakukan kerjasama dengan PT Tritunggal Sentra Sejahtera melalui Perjanjian No.033/-1.824.541 tanggal 31 Januari 2002 tentang Perjanjian Kerjasama Pekerjaan Pembangunan Pasar Induk Kramatjati Wilayah Jakarta Timur yang kemudian direvisi kembali dengan Addendum Perjanjian No.43/1.824.541 tanggal 5 Februari 2003. Biaya pelaksanaan pekerjaan ditetapkan sebesar Rp284.789.946.516,36 sudah termasuk PPN yang terdiri dari Biaya Fisik sebesar Rp167.818.758.390,30, Biaya Non Fisik sebesar Rp100.189.312.287,03, dan Biaya PPN 10% dari Biaya Fisik sebesar Rp16.781.875.839,03, yang ditanggung sepenuhnya oleh PT Tritunggal Sentra Sejahtera. Jangka waktu pelaksanaan kerja sama terbagi menjadi masa persiapan 3 bulan, mulai tanggal 1 Februari s.d. 30 April 2002, dan masa pelaksanaan 36 bulan, mulai tanggal 1 Mei 2002 s.d. 30 April 2005. Berdasarkan Addendum Perjanjian waktu pelaksanaan kerjasama berubah menjadi masa persiapan 3 bulan, mulai

64

tanggal 5 Februari s.d. 30 April 2003, dan masa pelaksanaan 36 bulan, mulai tanggal 1 Mei 2003 s.d. 30 April 2006. Atas kerja sama ini, Pihak PT Tritunggal Sentra Sejahtera mempunyai beberapa kewajiban kepada PD Pasar Jaya antara lain pembagian keuntungan, biaya studi penelitian, biaya pengawasan, biaya pengendalian teknis, biaya kompensasi pensertifikatan tanah, kompensasi atas penggunaan lahan (biaya pengelolaan pasar), dan biaya materai dan legalisasi notaris pedagang. Sebelum dilakukan Addendum Perjanjian, PT Tritunggal Sentra Sejahtera telah melakukan pembayaran kewajiban dengan rincian sebagai berikut: No. 1. 2. 3. 4. 5. Kewajiban Pembagian Keuntungan Biaya Pengawasan Biaya Pengendalian Teknik Kompensasi atas Penggunaan Lahan Biaya Studi Penelitian Tanggal Bayar 6 Februari 2002 6 Februari 2002 6 Februari 2002 6 Februari 2002 1 Juli 2002 Jumlah (Rp) 663.756.990,54 279.900.936,42 397.022.604,86 128.000.000,00 50.000.000,00

Semua pembayaran kewajiban tersebut dikembalikan dan disusun skedul baru pembayaran kewajiban menurut Addendum Perjanjian sebagai berikut:
No. Jenis Kewajiban Angsuran Nilai (Rp) PPN (Rp) PPh Ps 23 (Rp) Jumlah Netto (Rp) 663.756.990,54 420.486.837,88 50.000.000,00 44.886.363,64 44.886.363,64 279.900.936,42 76.112.807,09 397.022.604,86 107.961.432,60 128.000.000,00 35.840.000,00 05-02-2003 Tgl Bayar 05-02-2003

-

-

-

-

Pembagian Keuntungan Pembayaran 1 780.890.577,11 0 117.133.586,57 Untuk Angsuran 1 s.d. Angsuran 30 dibayarkan tiap bulan tiap tanggal 10 dari bulan Okt 2003 s.d Maret 2006 sebesar Biaya Studi Penelitian Angsuran I 48.780.487,80 4.878.048,78 3.658.536,59 Angsuran II 43.791.574,28 4.379.157,43 3.284.368,07 Angsuran III 43.791.574,28 4.379.157,43 3.284.368,07 Biaya Pengawasan Pembayaran I 264.057.487,19 26.405.748,72 10.562.299,49 Untuk Angsuran 1 s.d. Angsuran 30 dibayarkan tiap bulan tiap tanggal 10 dari bulan Okt 2003 s.d Maret 2006 sebesar Biaya Pengendalian Pembayaran I 374.549.627,23 37.454.962,72 14.981.985,09 Teknik Untuk Angsuran 1 s.d. Angsuran 30 dibayarkan tiap bulan tiap tanggal 10 dari bulan Okt 2003 s.d Maret 2006 sebesar Kompensasi Pembayaran I 136.170.212,77 5.446.808,51 13.617.021,28 Penggunaan Lahan Untuk Angsuran 1 s.d. Angsuran 30 dibayarkan tiap bulan tiap tanggal 10 dari bulan Okt 2003 s.d Maret 2006 sebesar

05-02-2003 01-12-2003 01-05-2004 05-02-2003

05-02-2003

Dari pemeriksaan diketahui bahwa pembayaran kewajiban sering mengalami keterlambatan, sebagaimana terlihat pada tabel berikut:
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Jenis Kewajiban Angsuran IV Angsuran V Angsuran VI (tidak ada STSU) Angsuran VII Angsuran VIII Angsuran IX Angsuran X Angsuran XI Angsuran XII Nilai (Rp) 640.401.076,00 640.401.076,00 640.401.076,00 640.401.076,00 640.401.076,00 640.401.076,00 794.151.076,00 642.688.736,00 Jatuh Tempo 10-01-2004 10-02-2004 10-03-2004 10-04-2004 10-05-2004 10-06-2004 10-07-2004 10-08-2004 10-09-2004 Dibayarkan 12-01-2004 10-02-2004 12-04-2004 13-05-2004 10-06-2004 14-07-2004 16-08-2004 10-09-2004 Lama Tertunggak 2 hari 0 hari hari 2 hari 3 hari 0 hari 4 hari 6 hari 0 hari

65

10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23.

Angsuran XIII Angsuran XIV Angsuran XV Angsuran XVI Angsuran XVII Angsuran XVIII Angsuran XIX Angsuran XX Angsuran XXI Angsuran XXII Angsuran XXIII Angsruan XXIV Angsruan XXV Angsuran XXVI

642.688.736,00 528.448.269,00 114.240.467,00 642.688.736,00 642.688.736,00 642.688.736,00 642.688.736,00 642.688.736,00 642.688.736,00 642.688.736,00 642.688.736,00 642.688.736,00 642.688.736,00 642.688.736,00 642.688.736,00

10-10-2004 10-11-2004 10-11-2004 10-12-2004 10-01-2005 10-02-2005 10-03-2005 10-04-2005 10-05-2005 10-06-2005 10-07-2005 10-08-2005 10-09-2005 10-10-2005 10-11-2005

12-10-2004 12-11-2004 23-11-2004 13-12-2004 11-01-2005 11-02-2005 10-03-2005 12-04-2005 11-05-2005 10-06-2005 12-07-2005 10-18-2005 14-09-2005 10-10-2005 10-11-2005

2 2 13 3 1 1 0 2 1 0 2 0 4 0 0

hari hari hari hari hari hari hari hari hari hari hari hari hari hari hari

Atas keterlambatan tersebut tidak diatur ketentuan mengenai sanksi/denda jika terdapat keterlambatan pembayaran kewajiban. Hasil cek fisik menunjukkan adanya pekerjaan tambah kurang yang belum disepakati bersama dan belum dituangkan dalam Berita Acara Pekerjaan Tambah Kurang antara lain: a. Terdapat penurunan tinggi kolom, dari 9 meter ke 6 meter, dan dari 6 meter ke 5 meter, b. Terdapat penambahan jumlah tangga 9 menjadi tiap gang, c. Terdapat penambahan turbin untuk papan ventilasi, d. Belum adanya papan kios, e. Perubahan rubber bumper yang diganti cas stopper, f. Hand railing sudah tidak ada di tempat, g. Bangunan A3 sudah ditempati, tapi Berita Acara Serah Terima belum ada (Berita Acara peninjauan bersama untuk serah terima dilakukan tanggal 29 Agustus 2005, diproses oleh Divisi Teknik), h. Hasil penghitungan fire extinguisher di gudang: 1) Merk Apron Type AP-25P, APK dengan serbuk kimia kering, sebanyak 75 buah, 2) Merk Apron Type AP-60P, APK dengan serbuk kimia kering, sebanyak 29 buah, Jumlah total fire extinguisher 104 buah, i. Terdapat tambahan bangunan baru, yang digunakan sebagai Ruang Direksi Developer, dibangun bulan Maret 2005.

66

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan: a. Keputusan Direksi PD Pasar Jaya No.420/2003 tentang Ketentuan Pelaksanaan Kerjasama Perusahaan Daerah Pasar Jaya dengan Pihak Ketiga: − Pasal 2 yang menyatakan bahwa dasar kerjasama adalah untuk memenuhi kepentingan kedua belah pihak dengan mengadakan ikatan, yaitu: 1) Untuk kepastian hukum dan rasa aman mematuhi ketentuan tertulis yang telah disetujui bersama, 2) Memberikan manfaat dan keuntungan yang proporsional dan wajar bagi kedua belah pihak. − Pasal 3 yang menyatakan maksud dan tujuan kerjasama adalah untuk meningkatkan profitabilitas, efisiensi, produktifitas dan efektivitas PD Pasar Jaya dalam upaya menjalankan dan mengembangkan usaha. − Pasal 4 Ayat 6 yang menyatakan bahwa tujuan kerjasama adalah saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. b. Keputusan Direksi Perusahaan Daerah Pasar Jaya No.420 Tahun 2003 tanggal 28 Februari 2002 tentang Ketentuan Pelaksanaan Kerjasama Perusahaan Daerah Pasar Jaya dengan Pihak Ketiga, Pasal 8 Ayat 5 tentang Prosedur Kerjasama yang menyatakan bahwa atas dasar persetujuan Badan Pengawas Perusahaan Daerah Pasar Jaya disusun perjanjian kerjasama yang memuat antara lain : 1) Bentuk kerjasama 2) Obyek kerjasama 3) Hak dan kewajiban serta resiko dari pihak ketiga 4) Jangka waktu kerjasama 5) Force majeur 6) Sanksi dan denda 7) Pembatalan Perjanjian 8) Penyesalan perselisihan 9) Kompensasi kerjasama 10) Addendum Perjanjian 11) Beban pajak dan bea materai 12) Dan lain-lain yang dianggap perlu 13) Penutup. c. Pasal 17 Addendum Perjanjian No.43/-1.824.541 tanggal 5 Februari 2005:

67

− ayat 1 yang menyatakan bahwa Pihak Kedua harus melaksanakan pekerjaan tambah kurang sebagaimana dimaksud pada Pasal 22 Perjanjian No.033/1.824.541 tanggal 31 Januari 2002, − ayat 2 yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan pekerjaan tambah kurang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal adalah pekerjaan di luar RAB, gambar, dan spesifikasi yang telah disepakati.

Hal tersebut mengakibatkan: a. Kecenderungan pihak Developer, dalam hal ini PT Tritunggal Sentra Sejahtera, untuk menunda pembayaran kewajiban, b. Melaksanakan pekerjaan tambah kurang tidak sesuai dengan prosedur.

Hal tersebut disebabkan: a. Kelalaian Divisi Hukum dalam menyusun Surat Perjanjian Kerjasama b. Kurangnya pemahaman mengenai klausul-klausul dalam Perjanjian dan Addendum Perjanjian oleh kedua belah pihak.

Atas permasalahan tersebut Pihak PD Pasar Jaya

menyatakan bahwa PT

Tritunggal Sentra Sejahtera telah menjamin dengan menyerahkan Bilyet Giro di muka sesuai dengan tanggal jatuh tempo dalam Perjanjian.

Atas tanggapan PD Pasar Jaya yang menyatakan bahwa PT Tritunggal Sentra Sejahtera telah menjamin dengan menyerahkan Bilyet Giro di muka sesuai dengan tanggal jatuh tempo dalam Perjanjian, sampai dengan tanggal 24 November 2005 BPK-RI belum diperlihatkan Bilyet Giro dimaksud.

BPK-RI menyarankan Gubernur Provinsi DKI Jakarta agar memerintahkan Badan Pengawas menegur secara tertulis Direksi PD Pasar Jaya atas kelalaiannya dalam mengendalikan pelaksanaan pembangunan dan supaya menegur secara tertulis dan tegas: a. Manajer Divisi Hukum supaya di masa yang akan datang lebih cermat dalam mencantumkan klausul perjanjian sesuai ketentuan yang berlaku bagi PD Pasar Jaya, antara lain mengenai keharusan mencantumkan sanksi/denda pembayaran dan penyelesaian pembangunan. 68

b. Manajer Divisi Keuangan dan Asisten Manajer Sub Divisi Kas dan Pajak supaya lebih tegas dan cermat dalam melakukan pengendalian dan penagihan kepada rekanan yang sudah jatuh tempo. c. Manajer Teknik yang kurang aktif memantau pekerjaan tambah kurang yang dilakukan rekanan pelaksana.

69

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->