Anda di halaman 1dari 7

PENGARUH KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP TERHADAP PENINGKATAN TUNTUTAN MASYARAKAT PERKOTAAN CINA PADA MASA PEMERINTAHAN HU JINTAO

Disusun oleh : Swastaji Agung Rahmadi

Esai opini ini akan mendiskusikan pengaruh isu kerusakan lingkungan hidup di Cina terhadap peningkatan tuntuan masyarakat perkotaan pada masa pemerintahan Hu Jintao. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa wilayah urban atau perkotaan berkontribusi besar terhadap produk domestik bruto Cina. Wilayah urban juga terkenal sebagai pusat industri nasional, di mana lebih dari separuh populasi Cina tinggal di wilayah ini. Saya yakin bahwa isu kerusakan lingkungan berpengaruh terhadap meningkatnya tuntutan masyarakat perkotaan. Maka dari itu, saya akan memusatkan fokus pembahasan esai opini ini pada tiga argumen. Pertama, cepatnya pertumbuhan ekonomi Cina berpengaruh terhadap percepatan kerusakan lingkungan. Kedua, dampak kerusakan lingkungan hidup terhadap menurunnya taraf hidup masyarakat perkotaan. Ketiga, respon masyarakat perkotaan dan tanggapan pemerintah PKC dalam melestarikan lingkungan hidup.

Pengaruh Cepatnya Pertumbuhan Ekonomi Cina pada Kerusakan Lingkungan. Cina saat ini menjadi sorotan dunia internasional karena transformasi yang begitu dinamis pada negara ini. Sebelum mengalami reformasi ekonomi pada masa Deng Xiaoping, Cina adalah negara terbelakang dengan ekonomi tertutup, populasi penduduk miskin terbesar di dunia, bencana kelaparan yang merajalela di seluruh penjuru negara terbesar di Asia Timur ini. Namun, setelah reformasi ekonomi hingga saat ini, keadaan tersebut berubah 180 derajat. Cina berhasil mencetak rekor pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia, dan berhasil menggeser posisi berbagai negara ekonomi terbesar, seperti Jerman, Jepang. Jumlah kelas menengah di tengah penduduk 1,3 miliyar jiwa ini meningkat berlipat-lipat, berkat keterbukaan ekonomi yang mendorong revolusi industri.1 Namun, industrialisasi yang terjadi terutama di wilayah urban, menimbulkan masalah baru yakni kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan hidup ini adalah akibat pemerintahan Cina yang sentralistis masih terlalu fokus pada pembangunan ekonomi, serta kesadaran masyarakat Cina sendiri yang belum terlalu peduli dengan dampak kerusakan lingkungan.
1

James C.F. Wang, Contemporary Chinese Politics: An Introduction, 4th edition, Prentice Hall International, New Jersey, 1992, p. 254.

Seiring berjalannya waktu, kerusakan lingkungan semakin buruk di Cina. Fakta

membuktikan bahwa dalam kebutuhan energi saja, Cina masih bergantung pada bahan bakar fosil yang tidak ramah lingkungan. Cina telah menjadi konsumen batubara terbesar di dunia. Padahal, batubara merupakan komoditas energi fosil terkotor yang mampu menimbulkan emisi penyumbang terbesar pada pemanasan global. Di lain pihak, ketahanan energi menjadi fokus utama Partai Komunis Cina dalam setiap rencana pembangunan lima tahunan. Energi adalah faktor utama sebagai penggerak industri dan ekonomi nasional. Namun, upaya pembangunan energi listrik secara masif di Cina menghadapi tekanan dari kelompok environmentalis dunia, agar senantiasa mempertimbangkan kelestarian lingkungan hidup, serta mengurangi emisi karbon penyumbang pemanasan global.2 Pencemaran udara dan krisis air akibat meluasnya pembangunan ekonomi adalah manifestasi kerusakan lingkungan terburuk yang dialami wilayah perkotaan Cina. Sistem operasi industri di Cina nampaknya belum memenuhi syarat dalam menjaga kelestarian lingkungan. Buktinya, hanya 20% pabrikpabrik di Cina yang sudah lolos uji amdal.3

Dampak Kerusakan Lingkungan Hidup terhadap Menurunnya Taraf Hidup Masyarakat Perkotaan. Wilayah urban atau perkotaan Cina identik dengan munculnya industri-industri, baik industri kecil, sedang, maupun besar. Wilayah urban juga identik dengan urbanisasi yang mendorong tumbuh suburnya bisnis properti, seperti rumah mewah, apartemen, hotel, kondominium, gedung-gedung komersial, dll. Sehingga, risiko yang ditimbulkan adalah pencemaran udara dari asap-asap industri maupun kendaraan bermotor, pencemaran air oleh limbah industri maupun rumah tangga. Kerusakan lingkungan itu semakin memperburuk kualitas hidup masyarakat perkotaan.4 Bahkan, di ibukota Beijing, asap-asap industri menyelimuti atmosfer, sehingga masyarakat Beijing rata-rata hanya memiliki kesempatan untuk melihat langit cerah sebanyak 101 hari dalam setahun.5 Memburuknya polusi air dan udara di Cina meningkatkan risiko kesehatan warganya. Data dari majalan Foreign Policy

Laurence J. Brahm, Chinas Century: The Awakening of the Next Economic Powerhouse, John Wiley & Sons (Asia) PTE LTD, Singapore, 2001, p. 199. 3 David L. Clason, World Regional Geography, 7th edition, Prentice Hall, New Jersey, 2001, p. 345. 4 Changhua Wu, Water Pollution and Human Health in China, Environmental Health Perspective, vol.107, no. 4, April 1999, p. 251. 5 Jim Yardley, Beijing Olympics Quest: Turn Smoggy Sky Blue, The New York Times (daring), 29 December 2007, <http://www.nytimes.com/2007/12/29/world/asia/29china.html>, diakses pada 9 Januari 2013.

menyebutkan bahwa lebih dari 400.000 orang di Cina meninggal dunia setiap tahun akibat penyakit yang dipicu oleh polusi udara dan air.6 Selanjutnya, pencemaran air juga semakin mempersulit warga perkotaan utnuk mengakses air bersih. Beberapa kota di Dataran Utara Cina, seperti Dalian, Beijing, Tianjin menikmati pertumbuhan ekonomi lebih dari 11 persen pada tahun 2007. Angka pertumbuhan penduduk juga meningkat tajam, seiring dengan meluasnya pembangunan perumahan mewah, apartemen, kondominuium bagi kelas menengah di wilayah urban tersebut. Namun, eksploitasi air tanah besar-besaran adalah dampak dari pembangunan tersebut, sehingga kelangkaan air sering melanda wilayah ini ketika musim kering setiap tahunnya. Sungaisungai besar sebagai sumber mata air wilayah urban juga tidak dapat dikonsumsi lagi akibat pencemaran logam berat industri ke aliran sungai. Zhang Zhongmin (pengusaha properti Beijing) mengatakan bahwa orang-orang yang akan membeli properti seperti rumah mewah, apartemen di wilayah Beijing akan berpikir dua kali tentang ketersediaan air bersih di masa mendatang.7 Nampaknya kesadaran publik Cina akan permasalahan lingkungan semakin meningkat akhir-akhir ini. Selama tiga dekade terakhir ini, air telah menjadi sumber alam yang sangat diperlukan oleh Cina dalam mempertahankan ekspansi ekonomi untuk menjadi kekuatan dunia. Eksploitasi air yang tidak arif dalam memenuhi permintaan yang terus meningkat di seluruh provinsi mengantarkan Cina ke arah krisis air. Kementerian Sains dan Teknologi Cina menyatakan bahwa negeri tirai bambu tersebut telah mengalami dampak buruk perubahan iklim pada lingkungan hidup, seperti naiknya permukaan air laut yang menjadi alarm peringatan bagi wilayah urban Cina. Wilayah urban Cina memiliki kepadatan penduduk yang sangat tinggi. Beberapa dekade terakhir ini, wilayah perkotaan telah bertransformasi menjadi daerah paling maju secara ekonomi, seperti Shanghai, Tianjin, Guangzhou, Shenzen, Hubei, Chongqing. Ahli lingkungan hidup Cina memperkirakan bahwa kenaikan satu meter air laut akan menenggelamkan 92.000 km wilayah pesisir, dan menggusur 67 Juta jiwa warga pesisir.8

Respon Masyarakat Urban dan Tanggapan Pemerintah PKC dalam Mengatasi Perubahan Iklim.
6 7

Minxin Pei, Asias Rise is Unstoppable, Foreign Policy Magazine, July-August 2009, p. 33. Jim Yardley, Beneath Booming Cities, Chinas Future Is Drying Up, The New York Times (daring), 28 September 2007, <http://www.nytimes.com/2007/09/28/world/asia/28water.html>, diakses pada 9 Januari 2013. 8 Duncan Clark, Which nations are most responsible for climate change?, The Guardian (daring), 21 April 2011, <http://www.guardian.co.uk/environment/2011/apr/21/countries-responsible-climatechange?intcmp=122>, diakses pada 9 Januari 2013.

Implikasi dari perubahan iklim tentunya akan menghambat pembangunan ekonomi dari berbagai daerah di seluruh dunia. Seperti dalam kasus Cina, kita melihat bahwa efek dari kerusakan lingkungan akan terlihat pada meningkatnya ketidakpuasan masyarakat perkotaan yang berpendidikan tinggi terhadap elit penguasa (PKC). Bedasarkan survei dari lembaga survei internasional Gallup, mayoritas publik Cina saat ini lebih memprioritaskan upaya penyelesaian masalah lingkungan dibanding pembangunan ekonomi. 57% orang dewasa di wilayah urban Cina yang disurvei pada tahun 2011 memilih upaya pelestarian lingkungan, walaupun akan berisiko membatasi pertumbuhan ekonomi nasional. Mereka yang cenderung abstain (9%) mengalami dilema memilih salah satu opsi, karena baik eksistensi ekonomi maupun lingkungan dinilai sama-sama penting bagi kehidupan mereka. 74% rakyat Cina yang tinggal di wilayah perkotaan cukup puas dengan upaya pemerintah saat ini dalam melestarikan lingkungan. Daerah urban sebagai pusat industri Cina mengalami kegelisahan akan risiko dampak lingkungan yang tercemar, karena berpotensi mengganggu pembangunan ekonomi, dan kesehatan masyarakat luas.9 Di stasiun televisi Beijing, banyak masyarakat menunggu di luar studio, untuk meminta kantor berita menyiarkan persoalan lingkungan, dengan harap reporter dapat mengangkat isu serius ini ke publik luas.10 Kesadaran politik masyarakat perkotaan mulai tumbuh di tengah permasalahan lingkungan yang cenderung tidak ditangani cepat oleh pemerintah. Menurut sebuah artikel yang ditulis oleh Ma Jun, sejak tahun 2002, jumlah pengaduan masyarakat kepada Kementerian Lingkungan Hidup meningkat sebesar 30% setiap tahun. Jumlah pengaduan tersebut mencapai angka 600.000 pada tahun 2004. Sedangkan, jumlah protes massa yang menuntut penyelesaian masalah perubahan iklim tumbuh sebesar 29% setiap tahunnya. Pada tahun 2007, ribuan massa turun ke jalan di Kota Hangzhou, untuk memprotes PKC di bawah pemerintahan Hu Jintao agar segera menyelesaikan masalah lingkungan. Cina dalam hal ini harus membuka akses kepada masyarakat dalam proses pembuatan kebijakan publik. Sehingga dapat memberikan semua orang kesempatan untuk partisipasi secara terbuka.11 Walaupun sejak tahun 2006, Cina telah menjadi negara kontributor emisi karbon terbesar di dunia, mengungguli Amerika Serikat. Namun, pemerintah Cina ternyata sudah
9

Daniela Yu & Anita Pugliese, Majority of Chinese Prioritize Environment over Economy, Gallup (daring), 8 Juni 2012, <http://www.gallup.com/poll/155102/majority-chinese-prioritize-environment-> diakses pada 10 Januari 2013. 10 Elisabeth C. Economy, China's Environmental Challenge: Political, Social and Economic Implications, Council on Foreign Relation (daring), 27 Januari 2010, <http://www.cfr.org/china/chinas-environmental-challengepolitical-social-economic-implications/p5573>, diakses pada 10 Januari 2013. 11 Ma Jun, How participation can help China's ailing environment, China Dialogue (daring), 31 Januari 2007, <http://www.chinadialogue.net/article/show/single/en/733-How-participation-can-help-China-s-ailingenvironment>, diakses pada 11 Januari 2013.

memulai berbagai upaya konkrit untuk mengurangi emisi karbon di tengah meningkatnya pertumbuhan ekonomi Cina, seperti pemanfaatan energi terbaharukan, dan manajemen lingkungan hidup.12 Cina memang masih bergantung pada batubara yang digunakan untuk menghasilkan sekitar 80 persen dari energi listrik. Tetapi, PKC berharap untuk menggeser dominasi batubara dengan menggunakan energi nuklir, hidro, tenaga angin, nuklir dan biomassa. Pemerintah diharapkan untuk mengeluarkan paket stimulus ekonomi untuk energi terbarukan sesegera mungkin.13 Partai Komunis Cina tengah berupaya untuk membangun proyek-proyek raksasa untuk mengatasi krisis air. Proyek tersebut seperti pembuatan saluran air yang menghubungkan air Sungai Yangtze ke wilayah urban utara, senilai 62 miliar dolar AS. Saluran air tersebut diharapkan dapat mendistribusikan air bersih sebesar 12 triliun galon air setiap tahunnya ke wilayah urban utara. Proyek ini akan selesai dibangun pada tahun 2050.14 Menurut saya, proyek pipanisasi ini lebih ramah lingkungan ketimbang tetap melakukan pengeboran air sumur yang akan berdampak pada menunrunnya permukaan tanah di dataran rendah. Penurunan tanah akan meningkatkan risiko terendamnya kawasan industri wilayah urban utara oleh air laut. Hal ini akan berbahaya bagi kelangsungan industri strategis di Cina. Walaupun banyak perkembangan progresif tentang upaya perbaikan kualitas lingkungan yang telah ditempuh Cina selama dua dekade terakhir ini, masalah lingkungan masih menjadi persoalan utama bagi pemerintah Cina untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Pemerintah perlu menanggapi tuntutan masyarakat yang sudah tidak bisa menikmati hidup harmonis dengan alam di tengah menurunnya kualitas lingkungan hidup. Pemerintah PKC yang sentralistik harus menyusun regulasi ekonomi ramah lingkungan di tengah dinamisnya perkembangan masyarakat Cina, terutama wilayah perkotaan. Kemampuan sumber daya alam dan lingkungan hidup Cina juga terbatas, maka dari itu, perlu adanya manajemen lingkungan yang baik. Tanpa upaya agresif dari negara untuk memerangi kerusakan lingkungan, kemungkinan masalah ini hanya akan memperburuk kehidupan warga perkotaan yang terus berkembang karena urbanisasi. PKC di bawah rezim Hu Jintao harus segera menyelesaikan masalah ini, tentunya jangan sampai visi harmonious society yang pernah menjadi visi kepemimpinannya, hanya sebuah ide mulia yang tidak pernah terlaksana.
12 13

Bill McKibben, Climate Change: Its Chinas Fault?, Foreign Policy Magazine, January-February 2009 Rujun Shen & Jacqueline Wong, CORRECTED-China solar set to be 5 times 2020 target-researcher , Reuters (daring), 5 May 2009, <http://www.reuters.com/article/2009/05/05/china-solar-idAFPEK12384620090505>, diakses pada 12 Januari 2013. 14 Jim Yardley, Beneath Booming Cities, Chinas Future Is Drying Up part II, The New York Times (daring), 28 September 2007, <http://www.nytimes.com/2007/09/28/world/asia/28water.html>, diakses pada 11 Januari 2013.

DAFTAR PUSTAKA Buku. Brahm, Laurence J. Chinas Century: The Awakening of the Next Economic Powerhouse. John Wiley & Sons (Asia) PTE LTD. Singapore. 2001. David L. Clason. World Regional Geography: Seventh Edition. Prentice Hall. New Jersey. 2001. Wang, James C.F. Contemporary Chinese Politics: An Introduction. Prentice Hall International. New Jersey. 1992.

Artikel Jurnal Ilmiah. Bill McKibben, Climate Change: Its Chinas Fault?, Foreign Policy Magazine, JanuaryFebruary 2009, p. 32. Changhua Wu, Water Pollution and Human Health in China, Environmental Health Perspective, vol.107, no. 4, April 1999, p. 251. Minxin Pei, Asias Rise is Unstoppable, Foreign Policy Magazine, July-August 2009, p. 33.

Artikel Daring. Daniela Yu & Anita Pugliese, Majority of Chinese Prioritize Environment over Economy, Gallup (daring), 8 Juni 2012, <http://www.gallup.com/poll/155102/majority-chineseprioritize-environment-> diakses pada 10 Januari 2013. Duncan Clark, Which nations are most responsible for climate change?, The Guardian (daring), 21 April 2011, <http://www.guardian.co.uk/environment/2011/apr/21/countries-responsible-climatechange?intcmp=122>, diakses pada 9 Januari 2013. Elisabeth C. Economy, China's Environmental Challenge: Political, Social and Economic Implications, Council on Foreign Relation (daring), 27 Januari 2010, <http://www.cfr.org/china/chinas-environmental-challenge-political-social-economicimplications/p5573>, diakses pada 10 Januari 2013.
6

Jim Yardley, Beijing Olympics Quest: Turn Smoggy Sky Blue, The New York Times (daring), 29 December 2007, <http://www.nytimes.com/2007/12/29/world/asia/29china.html>, diakses pada 9 Januari 2013. Jim Yardley, Beneath Booming Cities, Chinas Future Is Drying Up, The New York Times (daring), 28 September 2007, <http://www.nytimes.com/2007/09/28/world/asia/28water.html>, diakses pada 9 Januari 2013. Ma Jun, How participation can help China's ailing environment, China Dialogue (daring), 31 Januari 2007, <http://www.chinadialogue.net/article/show/single/en/733-Howparticipation-can-help-China-s-ailing-environment>, diakses pada 11 Januari 2013. Rujun Shen & Jacqueline Wong, CORRECTED-China solar set to be 5 times 2020 targetresearcher , Reuters (daring), 5 May 2009, <http://www.reuters.com/article/2009/05/05/china-solar-idAFPEK12384620090505>, diakses pada 12 Januari 2013.