Anda di halaman 1dari 12

ISU PENGAKTIFAN KEMBALI KOMANDO TERITORIAL (KOTER) SEBABAGI PROSES INSTITUSIONALISASI POLITIK MILITER INDONESIA Disusun oleh : Swastaji

Agung Rahmadi Abstraksi Dalam pembahasan essai dengan Tema : Militer & Politik ini, kami akan membahas essai berjudul Pengaktifan Kembali Komando Teritorial (Koter) Sebagai Proses Institusionalisasi Strategi Militer & Politik. Munculnya rencana untuk mengaktifkan kembali komando teritorial (koter) belakangan ini menjadi topik menarik di tengah-tengah masyarakat. Wacana pengaktifan kembali koter pada mulanya dilontarkan oleh Panglima TNI Jenderal Endriartono Sugiharto, ketika merespon perintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar TNI mengambil peran dalam menangkal, mencegah dan menindak terorisme. Pada peringatan HUT ke-60 TNI, Presiden Yudhoyono menyatakan bahwa Undangundang No. 34 Tahun 2004 tentang tugas TNI untuk melakukan operasi militer selain perang dalam mengatasi terorisme. Wacana pengaktifan kembali ini mulai menuai pro-kontra dari masyarakat. Pendapat pro didominasi oleh kalangan internal TNI, karena Koter dianggap perlu mengingat kondisi geografis Indonesia yang luas dan terdiri dari pulau-pulau remotearea, sehingga dengan pengaktifan kembali koter diharapkan pergerakan pasukan akan lebih cepat, pasukan akan lebih menguasai wilayahnya, serta pencegahan terhadap berbagai kekuatan-kekuatan yang bermaksud untuk merongrong NKRI akan dapat dilakukan oleh pasukan di wilayah itu. Berbeda dengan pihak kontra yang menilai bahwa Koter sama halnya dengan membuka luka lama saat era orde baru dimana kehadiran struktur TNI dari pusat hingga di tingkat bawahnya (Kodam, Korem, Kodim, Koramil bahkan Babinsa) sering dijadikan alat untuk mengontrol dan membatasi ruang publik, sehingga fungsi sosial politik koter inilah yang dikhawatirkan akan mengarah pada benih otoritarian seperti yang pernah terjadi pada era Orde Baru. Topik Koter menarik untuk diangkat karena isu rencana pengaktifan Koter ini telah menimbulkan beragam pandangan dari masyarakat serta LSM yang secara gradual dan proaktif telah menyuarakan bagaimana jika Koter ini benar-benar diaktifkan. Apa dampak politis dari pengaktifan Koter yang diajukan pemerintah khususnya terhadap kekuatan politik Indonesia saat ini merupakan pertanyaan yang akan kami jawab dalam pembahasan paper ini. Presentasi essai selanjutnya akan kami tampilkan dalam bentuk video wawancara dan presentasi slide.

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Wacana pengaktifan kembali koter pada mulanya dilontarkan oleh Panglima TNI

Jenderal Endriantono Sugiharto, ketika merespon perintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar TNI mengambil peran dalam menangkal, mencegah dan menindak terorisme. Sebagaimana kita ketahui pada saat peringatan HUT ke-60 TNI, Presiden SBY menyatakan bahwa Undang-undang No. 34 Tahun 2004 tentang TNI memberi tugas TNI untuk melakukan operasi militer selain perang dalam mengatasi terorisme.1 Ketika Presiden memerintahkan agar TNI ikut ambil bagian dalam penanggulangan terorisme nampaknya panglima TNI menangkap perintah tersebut sebagai sinyal yang memberikan kesempatan kepada TNI untuk kembali mengaktifkan koter. Pendapat pro yang lebih banyak didominasi dari kalangan internal TNI memandang bahwa koter ini diperlukan mengingat kondisi geografis Indonesia yang begitu luas dan terdiri dari pulau-pulau sehingga dengan pengaktifan kembali koter diharapkan pergerakan pasukan akan lebih cepat, pasukan juga akan lebih menguasai wilayahnya, serta menjadi upaya mencegah berbagai kekuatan-kekuatan yang bermaksud mengganggu stabilitas NKRI akan dapat dilakukan oleh pasukan di wilayah itu. Sebelumnya Kepala Staf Angkt. Darat Let.Jenderal Djoko Santoso saat diundang oleh Komisi DPR, menyebutkan adanya rencana penambahan 22 markas Komando Teritorial dengan pertimbangan belum mampunya TNI dalam menerapkan pola pertahanan sebagai negara kepulauan yang dipersiapkan untuk menghadapi perang konvensional, sehingga menurut beliau strategi pertahanan harus bertumpu ke darat2. Akibatnya, setelah melontarkan pernyataan ini berbagai LSM yang tergabung dalam Koalisi Keselamatan Masyarakat Sipil, seperti ELSAM, Imparsial, YLBHI, Kontras, Komnas HAM dan lembaga lainnya langsung menolak rencana tersebut. Hal ini merupakan wujud bahwa isu refungsionalisasi Komando Teritorial yang sebenarnya telah menjadi salah satu bagian dari tuntutan agenda reformasi saat ini masih sangat dicemaskan dampaknya oleh sebagian masyarakat terkait dampaknya bagi kekuatan politik nasional.
1

Merdeka.com, Presiden SBY Himbau Peran Aktif TNI Menindak Aksi Teroris (Online), <http://www.merdeka.com/politik/nasional/presiden-sby-himbau-peran-aktif-tni-menindak-aksi-terorisiva2ujg.html> diakses pada tanggal 18 November 2011 2 Jakarta indymedia, Angkatan Darat Kembali ke Wujud Aslinya (Online) <http://jakarta.indymedia.org/newswire.php?story_id=133&print_page=true> diakses pada tanggal 18 November 2011

1.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah yang kami ajukan dalam paper kami yang berjudul Isu Pengaktifan Kembali Komando Teritorial (Koter) Sebagai Proses Institusionalisasi Strategi Militer & Politik ini adalah Bagaimana dampak isu reaktivasi KOTER terhadap kekuatan politik Indonesia saat ini?

1.3 Hipotesis Isu pengaktifan kembali Koter (Komando Teritorial) kemungkinan akan

menimbulkan de javu bagi masyarakat Indonesia. Posisi militer pada masa Orde Baru sudah meninggalkan kesan yang kurang baik di hati masyarakat. Hal ini dikarenakan militer pada era Orde Baru dinilai terlalu berlebihan dalam menjalankan peran dan fungsinya. Tentara lebih gemar memerangi rakyatnya sendiri yang tidak sepaham dengan penguasa melalui pospos komando territorial saat orde baru yang tersebar hampir ke seluruh nusantara dari Aceh hingga Papua. Tantangannya adalah keberadaan koter disamping sebagai upaya menyebarkan usaha pertahanan negara, tentara juga sedikit diuji untuk melaksanakan fungsi sebenarnya yakni menjadi tentara professional yang menjaga integritas kedaulatan nasional. Hal inilah yang menyebabkan Indonesia sedikit enggan untuk mengaktifkan kembali komando territorial yang notabene berasal dari militer. Disisi lain, pengaktifan kembali komando territorial dianggap cukup efektif. Melihat dari pertahanan Negara yang baru-baru ini kurang mampu untuk melindungi Indonesia dari ancaman para teroris. Maka pengaktifan kembali komando territorial ini diharapkan dapat meningkatkan kekuatan dan pengawasan khususnya di daerah perbatasan dengan Negara tetangga. Namun, perlunya untuk memperjelas batasan-batasan peran dari komando territorial tersebut agar peristiwa yang telah lalu tidak terjadi kembali. Dengan kata lain jika sistem menjalankan fungsi serta peranan sebagaimana mestinya, maka fungsi dapat dijalankan dengan baik dan saling melengkapi satu sama lain. Apabila komando territorial tersebut dapat menjalankan fungsinya pertahanan murni tanpa ada penyelewengan seperti yang telah terjadi di era orde baru, maka akan menciptakan kesejahteraan dan keamanan yang selama ini diinginkan oleh masyarakat Indonesia. Namun, jika tidak maka pro-kontra isu refungsionalisasi Koter ini justru akan semakin meningkatkan kecemasan bagi masyarakat atas penyalahgunaan militer seperti yang telah terjadi melalui pengaktifan kembali koter saat ini. 3

1.4 Landasan Konseptual Landasan konseptual yang kami angkat dalam menganalisis pembahasan kami terkait Isu Pengaktifan Kembali Komando Teritorial (Koter) Sebagai Proses Institusionalisasi Strategi Militer & Politik ini adalah dengan menggunakan teori Huntington (1993) yang menyatakan bahwa prasyarat sebuah negara yang demokratis adalah bebasnya politik dari intervensi-intervensi militer. Sebuah proses politik yang demokratis dan bebas dari intervensi militer. Maka militer tidak boleh mendapatkan posisi yang kuat sebagai praetorian guard atau penjaga stabilitas rejim karena rawan disalahgunakan fungsi-fungsinya oleh tindakantindakan personal. Dengan kata lain, militer yang memiliki peran besar dalam politik cenderung selaras dengan kediktatoran dan personalisme politik. Dikaitkan dengan pengaktifan kembali Komando Teritorial sebagai salah satu sistem pertahanan militer di Indonesia, system ini memiliki nilai historis penyelewengan yang telah terjadi di masa pemerintahan presiden Soeharto atau pada masa Orde Baru. Di masa ini, gagasan mengenai militer yang profesional dan lepas dari aktivitas-aktivitas politik yang telah mengemuka tidak terjadi. Adanya doktrin Dwifungsi ABRI didaulatkan oleh rejim Orde Baru, dan menjadi awal Indonesia selalu dirundung masalah dominasi militer dalam politik. Padahal, setidaknya menurut Huntington pola tersebut merupakan kesalahan persepsi atas posisi militer yang seharusnya. Militer dapat melakukan peran politik yang disebut military bureaucratic authoritarian3 yang mana peran militer jika terlalu mendominasi dalam aktivitas politik, maka rawan penyalahgunaan fungsi dan bermuatan politis.

Terminologi yang diambil dari Guillermo ODonnel, Modernization and Bureucratic Authoritarian (Berkeley, Calif: Institute of International Studies, 1973).

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Isu Refungsionalisasi Komando Teritorial (KOTER) Saat Ini Munculnya keputusan politik mengaktifkan kembali komando teritorial telah dilakukan oleh Presiden SBY sejak 5 okt 2005 lalu yang menimbulkan pendapat pro dan kontra, hingga tahun 2011 ini Presiden SBY kembali menyampaikan pernyataan terkait penerapan kembali fungsi koter disaat memberikan amanat pada Hari Ulang Tahun (HUT) TNI ke-66, di Plaza Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, Rabu (5/10), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan kembali bahwa aksi terorisme, benturan di masyarakat, dan gerakan bersenjata kaum separatis itu, harus dicegah dan dihentikan. Hukum harus tetap berdiri tegas, aparat keamanan dan penegak hukum harus melindungi dan mengayomi rakyat.4 Aparat keamanan dan penegak hukum harus mampu melindungi dan mengayomi rakyat. Tidak boleh ada sekelompok orang atau sekelompok massa yang dibiarkan mengancam kedaulatan dan keselamatan negara. Tidak boleh pula kita membiarkan rakyat tidak berdosa menjadi korban ancaman terorisme, Aktifkan komando teritorial TNI !," kata Presiden.5 Harus kita akui bahwa sebenarnya TNI masih menggunakan dan mempunyai kemampuan untuk melakukan pembinaan teritorial. Hal ini dalam kaitan menjalankan tugas di tengah masyarakat seraya memelihara kedekatan prajurit TNI dengan rakyat Indonesia. Konsep pembinaan teritorial ini merupakan tugas TNI yang masih relevan untuk dilanjutkan. Konsep teritorial TNI menjadi mata dan telinga TNI dalam mengamankan wilayah NKRI dari ancaman terorisme dan semacamnya. Ini merupakan kenyataan yang diharapkan oleh presiden sebagai upaya memberantas dan menekan kekuatan-kekuatan terorisme dan pemberontakan yang mengancam keutuhan NKRI. Keberadaan Koter jika ditinjau dari perspektif historis (sejarah sosial dan politik Indonesia) telah memperlihatkan betapa besarnya kontribusi riil yang disumbangkan Koter dalam pertahanan integritas wilayah dan keutuhan bangsa ini, walaupun luka sejarah tetap ada di kalangan masyarakat Indonesia. Namun, yang harus diperhatikan saat ini terkait dinamika bangsa yang terus berkembang, Koter dalam sistem pertahanan-keamanan nasional Indonesia adalah konsensus bersama, bahkan telah dikukuhkan ke dalam Sishankamnas yang

Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, Presiden : Negara tidak boleh kalah dengan terorisme (online), 2011, 2001.http://www.setkab.go.id/mobile/index.php?pg=artikeldetail&articleid=2841 , diakses 30 November 2011 5 Ibid.

menjadi acuan dan hendak diimplementasikan untuk menjaga pertahanan dan keamanan NKRI.6 Tujuan pengaktifan kembali siskamhanas Komando Teritorial ini adalah untuk mencapai Tujuan Nasional (Tunas), dan Kepentingan Nasional (Kepnas). Karena kedua hal tersebut wajib dilindungi agar negara dapat menerapkannya demi pembangunan segala kehidupan berbangsa dan bernegara.

2.2 Komando Teritorial (KOTER) & Urgensinya Secara konvensional tugas dan fungsi militer di dalam negara adalah untuk mempertahankan keutuhan, keselamatan, serta kedaulatan negara dan bangsa. Oleh karenanya tugas dan fungsi pokok militer adalah untuk berperang dan memenangkan peperangan. Dengan kata lain, militer didirikan untuk menjaga dan mempertahankan ancaman yang akan mengganggu kesatuan wilayah, maupun kedaulatan bangsa dan negara. 7 Akan tetapi, kenyataan yang terjadi di Indonesia karena faktor kesejarahan pada era orde baru mengalami beberapa perubahan fungsi operasionalisasi. Secara struktural lembaga kemiliteran Indonesia dibagi menjadi beberapa bagian Koter-koter, antara lain Komando Daerah Militer (Kodam) di tingkat provinsi, Komando Resort Militer (Korem), di tingkat Kabupaten, dan Komando Rayon Militer (Koramil) di tingkat kecamatan. Komando teritorial ini sebagai langkah menyiapkan daerah dengan segala potensinya sebagai kekuatan pertahanan yang mampu mendeteksi secara dini segala kemungkinan bahaya dan ancaman terhadap negara. Inti kekuatannya adalah unsur masyarakat terlatih guna menambah kemampuan pertahanan yang dipelopori TNI. Pada saat perang gerilya dilakukan, hirarki teritorial tersebut akan mengambil alih birokrasi sipil dan bertugas memobilisasi seluruh potensi dan sumber daya yang diperlukan dalam perang gerilya. Identifikasi fungsi teritorial pada hakikatnya berupa pembinaan atau manajemen potensi nasional di daerah untuk mendukung kepentingan pertahanan dan keamanan, yang pada dasarnya merupakan fungsi pertahanan. Di masa lalu, itu dilakukan langsung oleh komando teritorial sebagai aparat TNI, sebagai kelanjutan dari tatanan yang berasal dari tahapan perjuangan kemerdekaan dalam bentuk pemerintahan gerilya.

6 7

Kiki Syahnakri, Aku Hanya Tentara, Penerbitan Kompas, Jakarta, 2009, halaman. 59. Yahya,A, Muhaimin, Bambu Runcing & Mesiu : Masalah Kebijakan Pembinaan Pertahanan Indonesia, 2008, Tiara Wacana, Yogyakarta, Hlm. 41.

Penyimpangan yang dilakukan dari penerapan koter ini secara jelas dari fenomena partisipasi politik atau peranan sosial-politik militer yang mencapai puncaknya pada masa Presiden Soeharto (1966/1968-1998). Secara structural, TNI dan POLRI bersama aparatur birokrasi dan kekuatan politik Golkar dijadikan mesin politik bagi penyanggah kekuasaan ekonomi-politik Jenderal Soeharto sebagai presiden. Sedemikian besar bobot dan lingkup kekuasaan yang dimiliki serta otoritas politik yang dimiliki militer sebagai penopang kekuasaan Presiden Soeharto, yang Menurut TNI dalam menyikapi masalah keamanan (terorisme) di indonesia yang kini kian marak, ada dua strategi keamanan yang komprehensif dalam menangani masalah tersebut. Pertama, negara memperluas ruang gerak aktor militer, sehingga aktor ini dapat menangkal semua bentuk ancaman. Kedua, negara mengembangkan aktor-aktor keamanan baru dan menjadikan TNI sebagai aktor militer yang hanya memiliki kompetensi untuk mengatasi masalah pertahanan negara. Konsekuensi dari alternatif kedua adalah perlunya dilakukan refungsionalisasi dan restrukturisasi institusi militer agar dapat berkonsentrasi untuk mengembangkan kompetensi dan kapabilitas dibidang pertahanan negara. Hal inilah yang menjadi landasan bagi militer dan pemerintah melihat urgensi Koter diterapkan kembali saat ini.

2.3 Pro-Kontra Refungsionalisasi Koter Di masa Orde Baru koter yang dikenal sebagai salah satu bentuk Dwifungsi ABRI sedikit banyak mengaburkan fungsi pertahanan dengan fungsi ketertiban, sosial, ekonomi, dan politik Indonesia yang pusarannya dapat dikatakan berada pada fungsi Koter. Koter ini dipraktikkan secara efektif dan berhasil dengan baik pada masa revolusi kemerdekaan (19451949) untuk mengusir tentara asing kolonial Belanda. Namun, setelah itu, tentara Indonesia praktis tidak pernah lagi menghadapi agresi tentara asing, kecuali untuk menumpas gerakan separatisme bersenjata pada tahun 1950-an, dalam perang perebutan Irian Barat pada 19611963, dan konfrontasi dengan Malaysia 1963-1966, serta dengan Timor-Timor antara tahun 1976-1999. Komando Teritorial (Koter) atau sekarang yang oleh TNI diganti istilah menjadi Komando Kewilayahan (Kowil) diyakini merupakan bentuk gelar kekuatan efektif dan efisien untuk menjaga dan mengamankan wilayah NKRI yang begitu luas. Namun konsep teritorial kewilayahan ini sampai kini tetap saja menimbulkan pro kontra di kalangan masyarakat, beberapa kalangan menganggap bahwa mengembalikan Koter di tengah masyarakat 7

merupakan upaya TNI untuk masuk dalam politik praktis. Keterlibatan TNI, terutama para purnawirawannya di pentas Pemilu Kepala Daerah (Pilkada) di beberapa daerah sangat potensial yang dikaitkan dengan Komando Teritorial ini. Pengaktifan kembali komando teritorial dianggap bukanlah hal yang bijak dan kurang tepat, karena koter dinilai tidak efektif untuk ancaman terorisme, tetapi potensial sebagai sarana untuk merevitalisasi instrumen politik militer yang seharusnya direformasi. Kalangan perwira menengah dan tinggi TNI telah berkembang kesadaran bahwa sumber apropriasi atau pemahaman diri ekonomi dan politik mereka makin terbatas, dan keistimewaan yang sempat dinikmati oleh para pendahulunya tidak tersedia lagi bagi mereka. Akibatnya, keterlibatan para purnawirawan TNI dalam Pilkada di berbagai daerah merupakan manifestasi dari keinginan untuk tetap memiliki akses terhadap sumberdaya politik dan ekonomi yang ada. Jika Pemerintah tidak segera meningkatkan kesejahteraan para prajurit dan perwira TNI, dikhawatirkan bahwa akan terjadi akses yang tidak diinginkan dalam pelaksanaan tugas mereka.8 Saat ini, pihak kontra berpendapat bahwa fungsi teritorial sebenarnya merupakan fungsi pemerintahan sipil di daerah. Namun, karena pengalaman pada masa lalu fungsi itu sepenuhnya ditangani oleh militer. Pembinaan teritorial seharusnya dimaksudkan untuk menyiapkan potensi wilayah untuk mendukung pertahanan yang tidak dala bentuk komando territorial. Namun, tidak sedikit kalangan elit politik negeri ini juga mendukung penuh pengaktifan kembali Komando Teritorial di samping kekhawatiran yang ada. Antara lain, yang dikutip oleh Yahya Sacaria (politisi Partai Demokrat, sekaligus anggota komisi I DPR RI) mengatakan bahwa koter hendaknya lebih menekankan fungsi serta kemampuan yang dimilikinya, sebagai mata-telinga terdepan untuk melakukan deteksi dini terhadap semua hakikat ancaman. Mulai dari terorisme, sabotase dan sebagainya. Menurut beliau, koter tetap harus berperan. Jadi, setelah mendapatkan informasi gangguan keamanan nasional, harus melaporkan yang sesuai dengan aturan berlaku. Apalagi, UU TNI telah jelas mengatur mengenai masalah ini. Dalam UU tersebut dijelaskan kalau Koter harus peka, tidak hanya terhadap masalah keamanan tradisional seperti perang, tetapi juga masalah non-tradisional,

B Kunto Wibisono, Reformasi Militer Terkendala Dipertahankannya Komando Teritorial, Antara News (online), 8 Juli 2008, <http://www.antaranews.com/view/?i=1215535529&c=NAS&s= >, diakses 28 November 2011

contohnya aksi terorisme, penyelundupan narkotika, dll, bahkan dapat berfungsi sebagai tanggap bencana alam yang sering terjadi di tanah air.9 Struktur atau sistem pertahanan komando territorial secara prinsipil dan pragmatis sebenarnya masih bisa dipertahankan. Secara implisit sistem koter ini rupanya telah mendapat perlindungan dari Undang-undang tentang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI No.34 Tahun 2004)10, sebagaimana tertera dalam Pasal 11 postur dan organisasi dengan Penjelasan-nya yang antara lain menyebutkan Dalam pelaksaan penggelaran kekuatan TNI, harus dihindari bentuk-bentuk organisasi yang dapat menjadi peluang bagi kepentingan politik praktis dan penggelarannya tidak selalu mengikuti struktur administrasi pemerintahan. 11

2.4 Isu Refungsionalisasi KOTER Terhadap Kekuatan Politik Indonesia Saat Ini Kekhawatiran sebagian rakyat Indonesia akan terulang dengan kembalinya Dwi Fungsi ABRI pada kasus pengaktifan kembali Komando Teritorial oleh petinggi negara yang menuai banyak pro-kontra. Kekhawatiran tersebut sangat wajar mengingat trauma historis yang masih melekat akibat tindakan TNI di masa Orde baru memanfaatkan Dwi Fungsi ABRI sebagai alat untuk menggapai politik praktis, menguasai bisnis, dan sekaligus keamanan negara. Alasan beberapa masyarakat yang menilai tindakan TNI yang cenderung represif ini harus menjadi perhatian khusus pemerintah untuk mempertimbangkan isu refungsionalisasi Komando Teritorial. Hal ini perlu dikaji untuk mendapatkan pemecahan yang memadai, setidaknya ada tiga hal yang dapat dijadikan referensi guna melakukan pengkajian ulang terhadap system komando teritorial ini. Pertama, supaya TNI tetap mendorong atau bahkan melakukan stabilisasi terhadap proses demokratisasi yang telah berlangsung sejak 1998. Kedua, agar pembinaan militer Indonesia menjadi lebih professional dan terus meningkat dalam melakukan tugsanya di bidang pertahanan. Ketiga, agar sistem pertahanan Indonesia dapat disesuaikan dalam konteks ancaman global yang sangat diwarnai oleh perkembangan
9

Mansyur Faqih, Koter bukan untuk politik praktis, Republika (online), 7 Oktober 2011, http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/10/07/lsp72n-koter-bukan-untuk-politik-praktis, diakses pada 30 November 2011. 10 Kementerian Pertahanan RI, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2004 Tentang Tentara Nasional Indonesia, <http://www.kemhan.go.id/modules.php?name=Content&pa=showpage&pid=19> , diakses pada Jumat, 2 Desember 2011. 11 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia (Yogyakarta: Pustaka Widyatma, 2004), hal. 68.

teknologi militer yang sophisticated atau sering disebut dengan Revolution in Military Affairs (RMA).12 Jika ketiga hal itu dapat dioptimalisasi melalui refungsionalisasi Koter maka justru pengaktifan Koter ini dapat menjadi sumber bagi kekuatan politik Indonesia saat ini. Sisi positifnya adalah pengaktifan kembali Komando Teritorial adalah keefektifannya dalam menjaga integrasi nasional. Mengingat, latar belakang bangsa Indonesia yang memiliki cakupan geografis yang luas, pluralitas masyarakat yang tinggi, dan kesenjangan di tiap daerah yang berpotensi terjadinya konflik vertikal maupun horizontal yang dapat mengancam keutuhan NKRI.13 Komando Teritorial yang berdasarkan regional daerah membantu proses keamanan yang lebih cepat daripada komando terpusat. Masalah keamanan yang dihadapi oleh Indonesia saat ini cenderung non-tradisional, seperti gerakan separatisme, terorisme, perdagangan manusia, dll. Itu sebabnya, para ahli politik dan militer menganggap pengaktifan kembali Komando Teritorial di barisan keamanan TNI saat ini merupakan hal yang perlu demi meningkatkan kekuatan pertahanan yang juga merupakan basis kekuatan politik Indonesia baik secara regional maupun internasional. Sehingga dari isu ini, dalam satu segi sistem komando territorial harus dimodifikasi sedemikian rupa hingga tidak lagi diterapkan seperti pada masa lalu dalam pemerintahan presiden Soeharto yang lebih banyak mempraktikkannya untuk kepentingan kekuasaan pemerintah. Secara meyakinkan, sistem komando teritorial bila dimodifikasi sesuai dengan perkembangan teknologi dan politik global maka akan mampu memberi dampak politis guna menopang kegiatan Indonesia di arena Internasional. Kemantapan sistem militer hampir selalu terkait dengan realisasi dan operasionalisasi politik luar negeri, jika stabilisasi nasional dapat dijaga oleh sistem pertahanan yang kuat, tentunya juga akan memudahkan Indonesia dalam mengimplementasi politik luar negerinya. Kecemasan bahwa Komando-komando territorial dapat mengarah pada pemanfaatan posisi struktural dalam melakukan otoritas-otoritas politik memang dapat terjadi namun dengan pengawasan dan kejelasan regulasi dari pemerintah akan menjamin terlaksananya fungsi koter yang seharusnya.

12

Yahya,A, Muhaimin, Bambu Runcing & Mesiu : Masalah Kebijakan Pembinaan Pertahanan Indonesia, 2008, Tiara Wacana, Yogyakarta, Hlm. 46. 13 Winarno, MA, Prof. Dr. Budi. (tahun). Sistem Politik Indonesia Era Reformasi, 2007, hlm. 21.

10

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

11

DAFTAR PUSTAKA Mabes TNI, TNI abad XXI : Langkah-langkah Reformasi Internal TNI Lanjutan (Tahap II), Jakarta, 2001. Lemhannas, Refungsionalisasi Teritorial dalam rangka Pertahanan Negara, Jakarta, 2001. Mabes TNI, Implementasi Paradigma Baru TNI dalam Berbagai Keadaan Mutakhir, Jakarta, 2001. Salim Said, DR, Restrukturisasi Komando Teritorial suatu Tinjauan Politik, Makalah pada Rakorter TNI 2001. Sajidiman Soerjohadiprodjo, Restrukturisasi Fungsi Koter di Era Reformasi, (Makalah), Jakarta, 2001. Yahya,A, Muhaimin, Bambu Runcing & Mesiu : Masalah Kebijakan Pembinaan Pertahanan Indonesia, Tiara Wacana, Yogyakarta, 2008.

12