Anda di halaman 1dari 82

BAHAN WORKSHOP PPST AHSP KELOMPOK KERJA BENDUNG

RPT0

RANCANGAN PEDOMAN TEKNIS BAHAN KONSTRUKSI BANGUNAN DAN REKAYASA SIPIL

Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis Volume II : Bendung Bagian 2 : Pekerjaan Detail Desain

ICS 93.010

BIDANG SUMBER DAYA AIR

SDA

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI .................................................................................................................. KATA PENGANTAR ..................................................................................................... PENDAHULUAN........................................................................................................... 1. 2. 3. 4. 4.1. 4.2. 4.3. RUANG LINGKUP ............................................................................................... ACUAN NORMATIF............................................................................................. ISTILAH DAN DEFINISI....................................................................................... KETENTUAN DAN PERSYARATAN................................................................... Penyediaan Data dan Fasilitas Penunjang .......................................................... Tenaga Ahli dan Tenaga Pendukung .................................................................. Persyaratan Pelaksanaan.................................................................................... i iii iv 1 1 2 4 4 4 4 5 5 6 7 7 8 8 9 9 9 10 10 10 10 10 10 10 11 13 13 13 13 13 15

5. PELAKSANAAN PEKERJAAN ............................................................................ 5.1. Pengumpulan Data Sekunder.............................................................................. 5.2. Survey.................................................................................................................. 5.3. Investigasi Sungai................................................................................................ 5.4. Penyelidikan Geoteknik Lapangan ...................................................................... 5.5. Uji Laboratorium................................................................................................... 5.6. Analisis Hidrologi ................................................................................................. 5.7. Analisis Laju Transport Sedimen ......................................................................... 5.8. Perencanaan Bendung ........................................................................................ 5.9. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) ............................................................... 5.10. Analisis Kelayakan Ekonomi................................................................................ 5.11. Nota Desain ......................................................................................................... 5.12. Penggambaran .................................................................................................... 5.13. Perhitungan BOQ................................................................................................. 5.14. Penyusunan Rencana Anggaran Biaya ............................................................... 5.15. Penyusunan Dokumen Pelelangan...................................................................... 5.16. Pekerjaan Lain-lain .............................................................................................. 5.17. Pelaporan ............................................................................................................ 5.18. Tenaga Ahli.......................................................................................................... 6. PENGENDALIAN MUTU .....................................................................................

7. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN .................................................................... 7.1. Pengukuran ......................................................................................................... 7.2. Dasar Pembayaran .............................................................................................. BIBLIOGRAFI ............................................................................................................... Lampiran A

Bagan Alir Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan Detail Desain Bendung serta Produk yang dihasilkan ............................................................. 16 17 29

Lampiran B.1 Contoh Kerangka Acuan Kerja Pekerjaan Detail Desain Bendung.... Lampiran B.2 Kriteria Desain Bangunan Bendung...................................................

Lampiran C1 Contoh Perhitungan Desain Bendung di Sungai (......) ...................... Lampiran C2 Contoh Perhitungan Ukuran Pintu Kayu dan Stang Pintu..................

68 76

ii

KATA PENGANTAR
Konsep pedoman ini merupakan hasil kajian dari berbagai pedoman spesifikasi teknik pekerjaan yang ada. Pembahasan dilakukan pada Kelompok Umum dari Gugus Kerja Pendayagunaan Sumber Daya Air pada Sub-Panitia Teknis sumber Daya Air yang berada dibawah naungan Panitia Teknis Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil, Departemen Pekerjaan Umum. Proses pembahasan yang dimulai dari Rapat Kelompok Bidang Keahlian, Rapat Gugus Kerja, Rapat Teknis dan Konsensus pada tingkat Sub-Panitia Teknis Sumber Daya Air yang kemudian Rapat Penetapan pada Panitia Teknis sesuai dengan mekanisme proses pembuatan pedoman di Departemen Pekerjaan Umum. Pelaksanaan pembahasan untuk masing-masing tingkatan harus dihadiri oleh anggota panitia, nara sumber, konseptor dan tim editor dari perumusan pedoman ini. Komposisi anggota panitia dan nara sumber harus memperhatikan keterwakilan para pemangku kepentingan yaitu antara lain : pemerintah, pakar, konsumen dan produsen dengan komposisi yang seimbang satu sama lain.

iii

PENDAHULUAN

Berdasarkan Undang-undang No.7 tahun 2004, tentang Sumber Daya Air bahwa pelaksanaan pembangunan sarana dan prasarana sumber daya air harus berdasarkan norma, standar, pedoman dan manual (NSPM). Sehubungan dengan hal tersebut, pada saat ini telah tersusun NSPM yang umumnya mengenai tata cara perencanaan, cara uji mutu pekerjaan dan spesifikasi teknis bahan serta konstruksi dari bangunan air yang akan dibangun. Pedoman ini disusun sesuai dengan masing-masing tahapan kegiatan yang terdiri dari survey, investigasi dan desain dimana dalam pelaksanaannya mengacu dan berpedoman pada norma, standar, pedoman dan manual (NSPM) yang tercantum pada Acuan Normatif. Pedoman ini mencakup kegiatan pengumpulan data sekunder (topografi, geologi permukaan, hidrologi), data primer (pengukuran topografi dan pemetaan, survey hidrometri, sampling sedimen dan penyelidikan geoteknik), analisis hidrologi, analisis hidrolika, desain hidraulik, perhitungan volume pekerjaan sebagai acuan dalam penyusunan rencana anggaran biaya, analisis ekonomi, analisis dampak lingkungan serta penyusunan dokumen tender yang diperlukan untuk penyelesaian dari pekerjaan pembangunan bendung. Kajian pada pedoman ini meliputi bangunan utama dan bangunan penunjang pada Bangunan Bendung yang berfungsi untuk irigasi. Adapun ruang lingkup desain bangunan pada bendung adalah sebagai berikut : 1) Lokasi tubuh bendung 2) Tubuh bendung (tetap dan gerak) 3) Intake 4) Bangunan peredam energi 5) Bangunan pembilas 6) Tembok sayap, tembok pangkal dan pengarah arus 7) Bangunan penahan batu 8) Lantai hulu dan hilir 9) Kantong lumpur 10) Peilschale 11) Jembatan inspeksi

iv

RPT0-Pd T-xx-xxxx

Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis Volume II : Bendung Bagian 2 : Pekerjaan Detail Desain
1. RUANG LINGKUP

Pedoman ini menetapkan ketentuan dan persyaratan, metode kerja pelaksanaan, pengendalian mutu serta pengukuran dan pembayaran untuk kegiatan detail desain bendung dalam pekerjaan pembangunan bendung. Pedoman ini dapat digunakan untuk kegiatan detail desain pengembangan baru, perbaikan dan up-grading. Pedoman ini mencakup kegiatan pengumpulan data sekunder yang berupa peta topografi, peta geologi regional, data hidrologi (curah hujan dan peta pos stasiun curah hujan), data kilmatologi (temperatur, kelembaban relatif, lama penyinaran dan kecepatan angin) dan data primer yang didapat dari hasil survey dan investigasi (pengukuran topografi dan pemetaan, penyelidikan geoteknik, survey hidrometri), analisis hidrologi, desain hidraulik, analisis konstruksi, gambar desain, perhitungan volume pekerjaan untuk menghitung rencana anggaran biaya. 2. ACUAN NORMATIF UU No. 7 Tahun 2004 : Undang-Undang tentang Sumber Daya Air

Undang-undang (UU) : Keputusan Menteri (KEPMEN) : KEPMEN KIMPRASWIL No. 257/PTS/M/2004 : Tata Cara Pembuatan Dokumen Pelelangan (Dokumen Tender) - KEPMEN KLH No. 17 Tahun 2001 : Jenis Rencana usaha dan/atau Kegiatan wajib dilengkapi dengan Analisa Menegenai Dampak Lingkungan Standar Nasional Indonesia (SNI) : SNI 03-1724-1989 : Tata Cara Perencanaan Hidrologi dan Hidraulik untuk Bangunan di Sungai SNI 03-2401-1991 : Tata Perencanaan umum Bendung SNI 03-2415-1991 : Metode Perhitungan Debit Banjir SNI 03-2819-1992 : Metode Pengukuran Debit Sungai dan Saluran Terbuka dengan Alat Ukur Arus Tipe Baling-Baling SNI 03-2820-1992 : Metode Pengukuran Debit Sungai dan Saluran Terbuka Dengan Pelampung Permukaan SNI 03-2822-1992 : Metode Pembuatan Lengkung Debit dan Tabel Sungai/Saluran dengan Analisis Grafis SNI 03-2830-1992 : Metode Perhitungan Tinggi Muka Air dengan Cara Pias berdasarkan Rumus Manning SNI 03-3444-1994 : Tata Cara Perhitungan Tinggi Muka Air Sungai Tampang Ganda dengan Cara Pias Berdasarkan Rumus Manning SNI 03-3961-1995 : Metode Pengujian Kadar Sedimen Layang Secara Gravimetri dengan Pengendapan SNI 03-3962-1995 : Metode Pengujian Distribusi Butir Sedimen Layang Secara Gravimetri dengan Ayakan

Rancangan Standar Nasional (RSNI) : - RSNI T-04-2002 : Tata Cara Desain Hidarulik Tubuh Bendung Tetap dengan Peredam Energi Tipe MDO dan MDS
1 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

Pedoman Teknis : 3. 3.1. Pd. T-01-2003-A Pd. T-01-2004-A Pd. T-09-2004-A Pd. T-02-2005-A Pd T-xx-200x-A Pd T-xx-200x-A Pd T-xx-200x-A Pd T-xx-200x-A Pd T-xx-200x-A Pd T-xx-200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bangunan Pengambil pada Bendung Tyrol : Perencanaan Hidraulik Bendung dan Pelimpah Bendungan Tipe Gergaji : Perencanaan Bendung Karet Isi Udara : Analisis Daya Dukung Tanah Fondasi Dangkal Bangunan Air : Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Kegiatan yang bersifat Umum, Bagian-2, Pekerjaan Pengukuran Topografi dan Pemetaan : Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Kegiatan yang bersifat Umum, Bagian-3, Pekerjaan Penyelidikan Geoteknik : Tata Cara Perencanaan Bendung Cerucuk : Tata Cara Perencanaan Bendung Bronjong : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung Tetap : Tata Cara Desain Bendung Gerak

Rancangan Pedoman Teknis :

ISTILAH DAN DEFINISI Bangunan Utama adalah semua bangunan yang dibangun di sungai dan di sepanjang sungai atau aliran air termasuk bendungan, untuk membelokkan air ke dalam jaringan irigasi agar dapat digunakan untuk keperluan irigasi. Biasanya dilengkapi dengan kantong lumpur agar bisa mengurangi kandungan sedimen berlebihan serta memungkinkan untuk mengukur debit air yang masuk.

3.1.1. Bendung adalah bangunan pelimpah melintang sungai, yang berfungsi untuk meninggikan muka air minimum pada bangunan pengambilan untuk keperluan irigasi. 3.1.2. Bendung gerak adalah bangunan berpintu yang dibuka selama aliran besar dengan masalah yang terjadi selama banjir tidak besar. Bendung gerak dapat digunakan untuk mengatur muka air di depan pengambilan agar air yang masuk tetap sesuai dengan kebutuhan irigasi. 3.1.3. Bendung tipe gergaji adalah bendung tetap dengan tata letak mercu pelimpah menyerupai gigi gergaji guna diperoleh lebar efektif pelimpah yang lebih panjang 3.1.4. Bendung saringan bawah (tyroll) adalah bendung dengan pengambilan pada dasar sungai, dilengkapi dengan beberapa tipe saringan, contoh : bendung tyroller 3.1.5. Lebar efektif bendung adalah panjang mercu bendung bruto dikurangi dengan lebar pilar dan pintu pembilas 3.1.6. Mercu adalah bagian atas dari pelimpah atau tanggul. 3.1.7. Ogee adalah salah satu tipe mercu bendung yang permukaannya mengikuti persamaan tertentu, hasil percobaan USCE. 3.1.8. Pangkal bendung adalah kepala bendung, abutment. 3.2. Bangunan pelengkap adalah bangunan-bangunan yang akan ditambahkan pada bangunan utama untuk keperluan pengukuran debit dan muka air sungai, pengoperasian pintu, peralatan komunikasi, jembatan di atas bendung, atau instalasi air tenaga mikro/mini.

3.2.1. Bangunan pembilas (penguras) adalah bangunan pada tubuh bendung tepat di hilir pengambilan, guna mencegah masuknya bahan sedimen kasar ke dalam jaringan
2 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

saluran irigasi (bisa juga berupa pembilas bawah/undersluice, shunt undersluice, atau pembilas bawah tipe boks) 3.2.2. Bangunan pengaman adalah bangunan untuk mencegah kerusakan konstruksi, misalnya: bangunan pelimpah samping, pembuang silang, dan sebagainya. 3.2.3. Bangunan pengambilan (intake) adalah bangunan berupa pintu yang digunakan untuk membelokkan air irigasi dari sungai agar sesuai dengan debit rencana dan pengelakan sedimen. 3.2.4. Bangunan penahan batu suatu bangunan yang ditempatkan di hulu bangunan pembilas bendung yang berfungsi sebagai alat untuk mencegah batu-batu dengan diameter tertentu yang akan masuk ke intake dan untuk menyimpangkan batu-batu dengan diameter tertentu yang menuju bangunan bilas. 3.2.5. Bangunan peredam energi adalah struktur dari bangunan di hilir tubuh bendung yang terdiri dari berbagai tipe, bentu dan di kanan kirinya dibatasi oleh tembok pangkal bendung dilanjutkan dengan tembok sayap hilir dengan bentuk tertentu. 3.2.6. Rip-rap adalah susunan bongkahan batu alam atau blok-blok beton buatan dengan ukuran dan volume tertentu yang digunakan antara lain sebagai tambahan peredam energi di hilir bendung dan berfungsi sebagai lapisan perisai untuk mengurangi kedalaman penggerusan setempat dan untuk melindungi tanah dasar di hilir peredam energi 3.3. Data geologi teknik/mekanika tanah adalah kondisi bahan lapisan pondasi, bahan konstruksi, sumber bahan timbunan, batu untuk pasangan batu kosong, agregat ntuk beton, batu belah untuk pasangan batu, dan parameter tanah yang harus digunakan bagi keperluan perencanaan. Data topografi adalah data yang berupa peta yang meliputi seluruh daerah aliran sungai, peta situasi letak bangunan, gambar-gambar potongan memanjang dan melintang sungai baik di sebelah hilir maupun hulu dari kedudukan bangunan utama. Debit rencana (design flood) adalah debit untuk perencanaan suatu bangunan atau saluran air. Desain hidraulik adalah tahapan kegiatan analisis terhadap hasil pradesain hidraulik dengan atau tanpa bantuan uji model hidarulik untuk menentukan bentuk dan ukuran yang tepat ditinjau dari segi hidarulik. Desain struktur adalah tahapan kegiatan untuk melengkapi hasil desain hidraulik agar didapat desain bangunan yang memenuhi persyaratan kekuatan dan kestabilan serta dapat dilaksanakan. Kedalaman konjugasi adalah hubungan antara tinggi kedalaman sebelum dan sesudah loncatan air. Pondasi dangkal adalah pondasi yang ditempatkan dengan kedalaman D di bawah permukaan tanah yang kurang dari lebar minimum pondasi (B). Tinggi energi adalah tinggi air di tambah tinggi tekanan dan tinggi kecepatan. Tinggi jagaan minimum adalah tinggi jagaan yang ditetapkan minimum berdasarkan besaran debit saluran.

3.4.

3.5. 3.6.

3.7.

3.8. 3.9. 3.10. 3.11.

4. KETENTUAN DAN PERSYARATAN Ketentuan dan persyaratan yang perlu diperhatikan dalam pedoman spesifikasi teknis pekerjaan detail desain bendung memuat : 4.1. Penyediaan Data dan Fasilitas Penunjang
1) Penyediaan oleh Pengguna Jasa 3 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

Data dan fasilitas yang disediakan oleh Pengguna Jasa yang dapat digunakan dan akan dipelihara oleh Penyedia Jasa : a) Laporan dan data yang akan diberikan kepada Penyedia Jasa yaitu berbagai laporan dan data yang tersedia dari hasil studi terdahulu b) Akomodasi dan Ruangan Kantor (sesuai kesepakatan) c) Pengguna jasa akan menunjuk petugas atau wakilnya yang bertindak sebagai pengawas atau pendamping (countepart), atau project officer (PO) dalam rangka pelaksanaan jasa konsultansi
2) Penyediaan oleh Penyedia Jasa

Penyedia Jasa akan menyediakan dan memelihara semua fasilitas dan peralatan yang dipergunakan untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan. a) Penyedia Jasa memfasilitasi : peralatan, laboratorium dan bahan yang sesuai untuk mencapai rencana mutu desain dan konstruksi. b) Penyedia Jasa harus memberikan hasil pekerjaan sesuai dengan rencana mutu desain atau rencana mutu konstruksi. Pekerjaan akan diperiksa sewaktu-waktu untuk menjamin terpenuhinya persyaratan teknis yang telah ditetapkan. Penyedia Jasa menanggung biaya pekerjaan tambahan/pengulangan bila ternyata hasil pekerjaannya tidak memenuhi persyaratan teknis menurut penilaian pihak Direksi Pekerjaan atau Nara Sumber yang ditunjuk oleh Pengguna Jasa. 4.2. Tenaga Ahli dan Tenaga Pendukung Dalam pelaksanaan pekerjaan perlu melibatkan personil baik tenaga ahli maupun tenaga pendukung dengan ketentuan dan persyaratan sebagai berikut : 1) Tenaga Ahli Tenaga ahli termasuk asisten dan staf tenaga ahli yang diperlukan dalam rangka penyelesaian pekerjaan harus berkompeten dibidangnya masing-masing dengan menyerahkan kualifikasi/sertfikasi dan curriculum vitae/daftar riwayat hidup. 2) Tenaga Pendukung Tenaga pendukung sifatnya mendukung tenaga ahli dalam penyelesaian pekerjaan baik dalam segi teknis, urusan administrasi serta kelancaran pelaksanaan pekerjaan. 4.3. Persyaratan Pelaksanaan Dalam hal persyaratan pelaksanaan pekerjaan, Penyedia Jasa harus memperhatikan berikut ini : 1) Jadwal Pelaksanaan Untuk perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan yang sebagaimana mestinya atas pekerjaan, Penyedia Jasa harus mempersiapkan Jadwal Pelaksanaan. Penyedia Jasa harus membuat Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan dalam bentuk Kurva-S yang menggambarkan seluruh kemajuan pekerjaan. 2) Diagram Batang (Bar-Chart) Penyedia Jasa harus membuat diagram batang yang menginformasikan tentang keterlibatan personil baik tenaga ahli, asisten, staf tenaga ahli dan staf pendukung yang berhubungan dengan penyerapan biaya yaitu keterlibatan orang -bulan. 5. PELAKSANAAN PEKERJAAN

Pelaksanaan pekerjaan yang perlu diperhatikan dalam pedoman spesifikasi teknik pekerjaan detail desain bendung meliputi :
4 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

5.1. Pengumpulan Data Sekunder Kegiatan pengumpulan data sekunder, meliputi : 1) Data Topografi Kegiatan yang dilakukan adalah pengumpulan data peta topografi yang sudah ada, dimana keadaan topografi suatu daerah akan mempengaruhi bentuk dan ukuran suatu DAS. Peta topografi yang dikumpulkan harus menampilkan kondisi tata guna lahan pada daerah studi, dimana kondisi tata guna lahan akan berpengaruh terhadap laju erosi, kecepatan aliran permukaan dan daya infiltrasi sesuai dengan SNI 03-1724-1989. Perolehan peta topografi dapat diperoleh pada Instansi yang berwenang, misalkan pihak Pengguna Jasa seperti PSDA berdasarkan peta yang ada serta skala dengan tingkat ketelitian yang ada. Jika di Instansi terkait tidak didapat maka pihak Penyedia Jasa dapat memperoleh di BAKOSURTANAL dengan skala minimum 1 : 250.000 atau yang lebih detail. 2) Data Hidrologi Kegiatan pengumpulan data hidrologi berupa pengumpulan peta stasiun curah hujan, besarnya curah hujan, data meteorologi, debit historis baik debit minimum, rata-rata dan debit maksimum pada suatu daerah aliran sungai (DAS) yang pelaksanaan kegiatannya sesuai dengan SNI 03-1724-1989. Berbagai data dan informasi dintaranya berupa : i. peta stasiun curah hujan dapat diperoleh pada instansi BMG dan mungkin juga Pengelola Sumber Daya Air (PSDA)

ii. data curah hujan harian (terbaru) dapat diperoleh pada instansi bmg dan mungkin juga Pengelola Sumber Daya Air (PSDA). iii. data meteorologi berupa kondisi temperatur udara, kelembaban relatif, lama penyinaran dan kecepatan angin. perolehan data dapat diperoleh pada instansi BMG iv. data debit terbaru dengan bisa periode harian maupun bulanan minimum selama 5 tahun, yang didapat pada bangunan-bangunan sungai eksiting misalkan bendung. 3) Data Geologi Teknik Kegiatan pengumpulan data geologi adalah pengumpulan peta geologi regional yang memuat jenis batuan, penyebaran jenis batuan, sifat fisik batuan serta tekstur dan struktur tanah dengan skala minimum 1:250.000 sesuai dengan KP01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan. Peta geologi regional dapat diperoleh di Direktorat Geologi Tata Lingkungan, jika tidak didapat maka pengumpulan data dapat diperoleh pada Instansi terkait. 4) Data Aspek Multisektor Kegiatan pengumpulan data aspek multisektor melakukan pengumpulan yang berupa informasi lingkungan yang menginformasikan tentang kondisi kependudukan dan penggunaan air sesuai dengan KP01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan. Informasi lingkungan dapat diperoleh dari dari BPS, PSDA, dan BAPEDAL. Data-data tersebut meliputi : i. komponen lingkungan fisik-kimia yang terdiri dari iklim, fisiografi dan geologi, hidrologi/kualitas air, ruang lahan dan tanah

ii. komponen biologi yang terdiri dari kondisi flora, fauna dan biota air iii. komponen sosial, ekonomi dan budaya yang meliputi jumlah penduduk, tingkat pendidikan, mata pencaharaian dan pendapatan asli daerah (pad) dan lain-lain. iv. rencana tata ruang wilayah
5 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

5.2. Survey Kegiatan survey yang diperlukan untuk keperluan kegiatan detail desain adalah sebagau berikut : 1) Pengukuran Topografi dan Pemetaan Pelaksanaan kegiatan pengukuran topografi dan pemetaan mengacu pada Pd T-xx200x, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Kegiatan yang bersifat Umum, Bagian2, Pekerjaan Pengukuran Topografi dan Pemetaan. Kegiatan ini akan dilakukan oleh Penyedia Jasa jika kondisi topografi daerah pekerjaan banyak mengalami perubahan alur sungai baik yang diakibatkan oleh bencana atau proses alamiah lainnya sehingga validitas data yang sudah ada diragukan lagi. Sesuai dengan KP-02, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986, tentang Kriteria Perencaan Bangunan Utama, pekerjaan pengukuran topografi dan pemetaan untuk keperluan kegiatan detail desain bendung meliputi : a) Pengukuran Topografi dan Pemetaan Situasi Sungai Pemetaan situasi sungai dimana bangunan utama akan dibuat dengan skala minimum 1 : 2000. Peta ini harus meliputi jarak 1,0 km ke arah hulu dan ke hilir dari letak bangunan bendung rencana dan melebar 250 m dari masing-masing tepi sungai. Peta ini juga harus dilengkapi dengan garis ketinggian setiap 1,0 m, kecuali dasar sungai diperlukan garis ketinggian setiap 0,50 m. Peta ini harus mencakup lokasi alternatif yang sudah diidentifikasi serta panjang yang diliput harus memadai agar diperoleh informasi mengenai bentu denah sungai dan juga untuk merencanan tata letak dan trase tanggul penutup. Peta situasi juga harus menampilkan titik-titik tetap (benchmark) yang ditempatkan di sekitar daerah pemetaan lengkap dengan koordinat dan elevasinya. b) Pengukuran Topografi dan Pemetaan Detail Situasi Bendung Pengukuran detail ini menghasilkan peta berskala 1 : 200 atau 1 : 500 untuk areal dengan luas 50 Ha. Peta detil harus memperlihatkan bagian-bagian lokasi bangunan utama secara lengkap. Peta ini harus dilengkapi dengan titik ketinggian dan garis ketinggian yang tepat setiap 0,25 m. 2) Survey Hidromteri Sesuai dengan SNI 03-2414-1991 pelaksanaan pengukuran debit perlu diperhatikan ketentuan dan persyaratan yang meliputi : i. lokasi pengukuran debit perlu diperhatikan faktor : kesesuaian dengan perencanaan ; mudah pencapaian dalam segala situasi dan kondisi; mampu melewatkan banjir; geomteri dan badan sungai harus stabil; adanya kontrol penampang; bagian alur sungai atau saluran yang terbuka lurus.

ii. pertimbangan hidraulik meliputi : pola aliran yang seragam dan mendekati sub kritis; tdak terkena pengaruh arus balik dan aliran lahar iii. lama dan periode pelaksanaan : lama pengukuran debit tergantung dari keadaan aliran pada saat pengukuran jika aliran rendah pengkuran debit dilaksanakan dua kali dalam sekali periode waktu pengukuran dan jika kondisi banjir pengukuran debit dilaksanakan sekali dalam periode waktu pengukuran sedangkan periode pelaksanaan pengukuran tergantung dari musim, jika musim kemarau pengukuran debit dilaksanakan cukup sekali dalam satu bulan dan jika musim penghujan pelaksanaan pengukuran dilaksanakan berulang kali paling sedikit 3 kali setiap bulannya iv. keandalan peralatan dan sarana penunjang; peralatan dan sarana penunjang harus dipelihara agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya antara lain dengan kalibrasi secara berkala, dibersihkan dan dirawat dengan baik
6 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

v. kemampuan tim pengukurnya Pelaksanaan pengukuran tinggi muka air, kecepatan dan debit dapat digunakan alat ukur arus tipe baling-baling. Cara pelaksanaan pengukuran dilakukan dengan merawas, menggunakan perahu, menggunakan jembatan dan menggunakan kerata gantung. Kedalaman pengukuran minimal 3,5 kali diameter baling-baling sesuai dengan SNI 032819-1992. Jika metode pelaksanaan pengukuran di atas tidak dapat dipergunakan karena berbagai hal, misal keadaan aliran membahayakan keselamatan petugas atau peralatannya; kecepatan aliran melampaui kemampuan spesifikasi alat menurut jenis alat ukur arus yang digunakan dan untuk mendapatkan debit sesaat maka dapat dilakukan pengukuran dengan pelampung permukaan sesuai dengan SNI 03-2820-1992. 5.3. Investigasi Sungai Kegiatan investigasi sungai dilakukan untuk mengetahui kondisi data-data fisik sungai. Data fisik sungai seperti kandungan dan ukuran sedimen; tipe dan ukuran sedimen dasar dan distribusi ukuran butir. Untuk mengetahui data fisik sungai dilakukan kegiatan sampling sedimen yang meliputi : 1) Sampling sedimen layang Pengambilan sampel sedimen layang dilakukan pada lokasi yang tidak terpengaruh adanya aliran balik yang diakibatkan oleh bangunan air dan sebelum dilakukan kegiatan pengambilan sampel perlu dilakukan kegiatan pengukuran yang meliputi penampang melintang dan debit. Perletakan peralatan pada lubang pengambilan harus berada 10 cm di atas dasar sungai sesuai SNI 03-3414-1994. 2) Sampling sedimen dasar Sampel diambil dari dasar sungai pada penampang memanjang dan penampang melintang ditempat yang dianggap dapat mewakili kondisi material dasar sungai setempat metode pengambilan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. 5.4. Penyelidikan Geoteknik Lapangan Kegiatan penyelidikan geoteknik lapangan diperlukan untuk mengetahui data karakteristik mekanika tanah lokasi bendung. Pelaksanaan kegiatan penyelidikan geoteknik lapangan mengacu pada pada Pd T-xx-200x, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Kegiatan yang bersifat Umum, Bagian-3, Pekerjaan Penyeldikan Geoteknik. Penyeldikan geoteknik lapangan yang diperlukan meliputi : 1) Pengeboran Pengeboran dilakukan pada lokasi sisi kanan dan sisi kiri dari lokasi tembok pangkal, dan pada as bendung masing-masing 1 titik pengeboran 2) Sumur Uji Sumur uji dilakukan pada lokasi calon sumber bahan material (borrow area) untuk pembangunan bendung. 3) Pengeboran Tangan (Hand Bor) Pengeboran tangan dilakukan pada lokasi calon tapak bangunan masing-masing 1 titik pengeboran. 5.5. Uji Laboratorium Uji laboratorium terdiri dari :
7 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

1) Laboratorium Sedimen Uji laboratorium sedimen diperlukan untuk mengetahui karakteristik sedimen yang terbawa oleh aliran sungai. Uji laboratorium sedimen meliputi : a) Sedimen layang i. Jika pengambilan contoh benda uji sedimen sesuai dengan SNI 03-3414-1994, maka metode pengujian laboratorium sedimen layang digunakan peralatan Piknometer sesuai dengan SNI 03-4145-1996 dengan tujuan mengetahui kadar sedimen layang.

ii. Jika pengambilan contoh benda uji sedimen layang dalam pengambilannya dilakukan dengan cara mencelupkan botol pada posisi berada 20 cm di bawah permukaan air dengan posisi mulut botol berlawanan dengan arah aliran maka metode pengujiannya dilakukan secara gravimetri dengan pengendapan sesuai SNI 03-3961-1995 dengan tujuan mengetahui kadar sedimen layang. Sedangkan untuk mengetahui distribusi butiran maka dilakukan uji gravimetri dengan ayakan sesuai SNI 03-3962-1995. b) Sedimen dasar Pengujian sampel sedimen dasar dilakukan berdasarkan ketentuan yang berlaku. 2) Penyelidikan geoteknik laboratorium Penyelidikan geoteknik laboratorium diperlukan untuk mengetahui index dan engineering properties, dalam pelaksanaannya mengacu pada Pd T-xx-200x, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Kegiatan yang bersifat Umum, Bagian-3, Pekerjaan Penyeldikan Geoteknik. Adapun uji tersebut meliputi : a) Index properties, mencakup : berat isi, berat jenis, kadar air, gradasi butiran dan batas-batas atterberg. b) Engineering properties, mencakup : direct shear test, unconfined compression test, tes konsolidasi dan compaction test. 5.6. Analisis Hidrologi Analisis hidrologi yang dilakukan dalam pelaksanaan kegiatan detail desain bendung mengacu pada KP-02, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986, tentang Kriteria Perencaan Bangunan Utama berupa debit banjir rancangan dengan periode ulang 100 tahun untuk tubuh bendung sedangkan untuk tinggi tanggul penutup banjir serta kontrol keamanan bangunan utama digunakan debit banjir kala ulang 1000 tahun. Pendekatan metode perhitungan frekwensi debit banjir yang dipengaruhi oleh debit, curah hujan, luas DAS serta karakteristik penutup lahan sesuai dengan SNI 03-2415-1991 adalah sebagai berikut : 1) Jika data debit sungai yang tersedia cukup panjang (> 20 tahun) ; maka digunakan metode analisis probabilitas frekuensi debit banjir, sehingga analisisnya dapat langsung dilakukan dengan Metode Gumbel, Log Pearson atau Log Normal ; 2) Jika data debit sungai yang tersedia < 20 tahun dan > dari 10 tahun maka digunakan metode analisis regional ; 3) Jika data debit yang tersedia antara 3 10 tahun maka digunakan metode puncak banjir di atas ambang ; 4) Jika data yang ada berupa parameter hujan dan karakteristik DAS, maka pendekatan analisisnya menggunakan metode empiris, yang terdiri : a) Metode Rasional, digunakan pada perencanaan sarana drainase dengan daerah tangkapan yang kecil (< 40 Ha)
8 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

b) Der Weduwen, digunakan untuk analisis debit banjir dari sebuah DAS dengan luas < 100 km2 c) Melchior, digunakan untuk analisis debit banjir dari sebuah DAS dengan luas > 100 km2 d) Haspers dan Mononobe digunakan untuk analisis debit banjir dari sebuah DAS tanpa memperhatikan luas DAS e) Metode Hidrograf Satuan f) Metode US Soil Conservation Service 5) Jika selang waktu pengamatan data hujan lebih panjang Model matematik digunakan apabila selang waktu pengamatan data hujan lebih panjang daripada pengamatan data debit selanjutnya yang selanjutnya digunakan untuk memperpanjang data aliran. 5.7. Analisis Laju Transport Sedimen Analisis laju transport sedimen baik sedimen dasar (bed load) maupun sedimen layang (suspended load) dengan parameter jenis material, diameter butir dan volume atau berat per satuan waktu, persamaan yang umum digunakan untuk analisa adalah Meyer-Peter dan Muller, Engelund-Hansen, Einstein dan Einstein-Brown sesuai dengan SNI 03-1724-1989. 5.8. Perencanaan Bendung Perencanaan bendung harus meliputi tentang panjang tinggi mercu bendung, mercu dan tubuh bendung, peredam energi, tembok sayap hilir, bangunan pengambil, bangunan pembilas, bangunan pengarah arus, tanggul penutup dan tanggul banjir, tembok pangkal bendung, saringan sampah dan batu bongkah, lantai undik atau dinding tirai, bangunan penangkap sedimen sesuai dengan SNI 03-2401-1991. 5.9. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 17 Tahun 2001 untuk kegiatan pembangunan bendung yang merlukan kajian ANDAL harus, jika bendung melayani areal irigasi seluas 2000 Ha Ruang lingkup kegiatan ANDAL meliputi : i. identifikasi semua rencana usaha dan atau kegiatan yang akan dilaksanakan, terutama yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup

ii. identifikasi komponen-kmponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak besar dan penting iii. perkiraan dan evaluasi usaha dan atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup iv. perumusan RKL dan RPL 5.10. Analisis Kelayakan Ekonomi Analisa kelayakan ekonomi akan dilakuakn dengan mengkaji tiga parameter ekonomi yaitu : i. Economic Internal Rate of Return (EIRR) ii. Benefit/Cost ratio (B/C ratio) iii. Net present value (NPV), Sebagai evaluasi terhadap kemungkinan penundaan atau perubahan schedule pelaksanaan pekerjaan juga akan dikaji aspek sensitivitas EIRR.

9 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

5.11. Nota Desain Penyedia Jasa harus membuat perencanaan rinci secara lengkap dengan dimensinya berdasarkan kajian hidrolis serta perhitungan struktur baik pada bangunan utama maupun bangunan penunjang. 5.12. Penggambaran Penggambaran hasil kegiatan meliputi gambar hasil pengukuran dan pemetaan, layout bendung dan bangunan pelengkapnya, potongan memanjang dan melintang bendung, detail bangunan utama dan bangunan penunjang bendung. Penggambaran mengacu pada KP-07, DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentan Kriteria Perencanaan Bagian Standar Penggambaran. 5.13. Perhitungan BOQ Berdasarkan gambar rencana rinci yang telah dibuat dilakukan perhitungan volume pekerjaan konstruksi secara rinci sesuai dengan pekerjaan konstruksi yang akan dilakukan. 5.14. Penyusunan Rencana Anggaran Biaya Penyusunan perhitungan rencana anggaran mengacu Pd T-xx-xxxx, Pedoman Analisa Harga Satuan Pekerjaan, Pekerjaan Pembangunan Bendung, Bagian-1, Perencanaan dan Detail Desain yang didasarkan pada : i. kuantitas dan harga satuan pekerjaan ii. harga satuan pekerjaan dihitung berdasarkan hasil dari perhitungan suatu analisis biaya iii. untuk menentukan harga satuan upah dan bahan dilakukan survey harga di lapangan dengan mengambil sampel sekurang-kurangnya 3 lokasi. Khusus untuk harga satuan bahan diperhitungkan harga beli di tempat penjualan atau diantar ke lokasi pekerjaan iv. menghitung biaya-biaya tambahan di luar biaya dari perhitungan volume seperti biaya persiapan, mobilisasi dan demobilisasi personil dan alat, dokumentasi, dewatering dll. 5.15. Penyusunan Dokumen Pelelangan Penyusunan dokumen lelang digunakan bagi keperluan pelelangan pekerjaan atau pengadaan barang maupun jasa. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Penyusunan Dokumen Lelang harus meliputi ketentuan-ketentuan, komponen bahan dan spesifikasi konstruksi, cara pengerjaan serta syarat pengendalian mutu sesuai dengan KEPMEN KIMPRASWIL No. 257/PTS/M/2004. 5.16. Pekerjaan Lain-lain 1) Mobilisasi dan Demobilisasi a) Mobilisasi adalah pengangkutan semua peralatan berdasarkan Jadwal Pelaksanaan yang harus diserahkan sesudah menerima Surat Penunjukan, dari tempat kantor ke lokasi pekerjaan. Mobilisasi staf kantor, tenaga kerja lapangan dan lain-lain, sudah termasuk dalam item mobilisasi. b) Demobilisasi Kegiatan Demobilisasi berupa pembongkaran tempat kerja oleh Penyedia Jasa pada saat akhir Kontrak termasuk pemindahan semua instalasi, peralatan dan perlengkapan dari tanah milik Pemerintah dan pengembalian kondisi tempat kerja menjadi kondisi seperti semula sebelum pekerjaan dimulai. 2) Foto Dokumentasi a) Penyedia Jasa harus menyerahkan foto-foto berwarna dengan ukuran post card (9 cm x 12 cm) kepada Direksi Pekerjaan untuk setiap kemajuan progress fisik di lapangan.
10 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

b) Pengambilan gambar/foto dapat dilakukan pada awal, selama dalam dan akhir pelaksanaan setiap jenis kegiatan. Foto ini harus ditempelkan pada laporan bulanan dan triwulanan yang diserahkan kepada Direksi Pekerjaan. Setiap hasil cetakan foto harus diberi tanggal pengambilan dan lokasinya. c) Pada akhir pelaksanaan Penyedia Jasa harus menyerahkan dua cetakan foto berwarna disusun album beserta negative filmnya atau image filenya. 3) Asuransi Ketentuan dan persyaratan yang perlu diperhatikan oleh Penyedia Jasa dalam perihal asuransi tenga kerja mengacu kepada ketentuan yang berlaku yang dikeluarkan oleh Depnaker dan Jamsostek. 5.17. Pelaporan Penyedia Jasa harus menyerahkan produk selama kegiatan pelaksanaan pekerjaan yang meliputi : 1) Laporan Pendahuluan Laporan Pendahuluan berisi antara lain:
-

Hasil kajian awal dan temuan permasalahan yang ada Rencana kerja Penyedia Jasa secara menyeluruh Mobilisasi tenaga ahli dan tenaga pendukung lainnya Jadwal kegiatan Penyedia Jasa

Laporan Pendahuluan harus dipresentasikan dan menginformasikan tentang metodologi pelaksanaan pekerjaan, hasil pengumpulan data, hasil kunjungan lapangan, dan rencana kerja berikutnya. Laporan akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal 2) Laporan Bulanan Laporan Bulanan berisi antara lain: Uraian permasalahan, hambatan dan temuan pada bulan tersebut. Daftar kegiatan yang dilakukan pada bulan berikutnya Daftar Rencana kegiatan pada bulan berikutnya Mobilisasi dan Demobilisasi personil dan Daftar Hadir personil dan kegiatan masingmasing pada bulan tersebut - Realisasi Progress Kemajuan pekerjaan yang disetujui oleh direksi
-

Laporan bulanan dilengkapi dengan foto dan peta yang menunjukkan lokasi yang telah diidentifikasi serta usulan penanganan, program dan jadwal kerja selanjutnya. 3) Laporan Interim Laporan Interim harus dipresentasikan dan menginformasikan tentang analisis debit banjir rancangan, hasil kegiatan pelaksanaan survey topografi, lokasi pengambilan sampel sedimen dan hasil uji laboratorium, lokasi investigasi geoteknik dan hasil laboratorium, serta konsep lokasi bendung. Laporan Interim akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambatlambatnya tanggal 4) Laporan Akhir Sementara Laporan Akhir Sementara harus dipresentasikan dan menginformasikan tentang kegiatan hasil detail desain yang mencakup antara lain : hasil Investigasi lanjutan topografi,
11 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

geoteknik, hidrologi, hidrolika, perhitungan desain, dan gambar Konstruksi bangunan sungai beserta bangunan fasilitasnya. Laporan Akhir Sementara akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal 5) Laporan Akhir Laporan ini berisi seluruh hasil perencanaan teknis termasuk metode pekerjaan desain, perhitungan desain, metode dan jadwal konstruksi, jadwal pelaksanaan, estimasi biaya, paket konstruksi dan lain-lain. Laporan akhir ini dibuat setelah didiskusikan dan disetujui pada konsep Laporan akhir (draft laporan akhir). Laporan Akhir merupakan revisi dan penyempurnaan dari Laporan Akhir Sementara dengan memperhatikan semua masukan, tanggapan, dan koreksi. Laporan Akhir Sementara akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal 6) Nota Desain Penyedia Jasa harus membuat perencanaan rinci secara lengkap dengan dimensinya berdasarkan kajian hidrolis serta perhitungan struktur baik pada bangunan utama maupun bangunan penunjang. Nota desain akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambatlambatnya tanggal 7) Dokumen Tender Dokumen Tender terdiri atas: a) b) c) d) rencana anggaran biaya (RAB) gambar desain A1, rangkap 3 (tiga), termasuk 1 kalkir gambar desain A3, rangkap 3 (tiga) dokumen tender, masing-masing rangkap 3 (tiga) meliputi: - tender Drawing - spesifikasi umum dan spesifikasi teknis - rencana Pelaksanaan Fisik dan Construction method - daftar Kuantitas dan Harga Satuan

Dokumen Tender akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambatlambatnya tanggal 8) Gambar Teknis Produk gambar yang harus diserahkan oleh Penyedia Jasa adalah sebagai berikut : a) peta situasi bangunan dengan skala 1 : 200 ; b) gambar potongan memanjang dan melintang bangunan bendung 1 : 100 1 : 200 c) gambar detail bangunan Skala 1 : 50 1 : 200. 5.18. Tenaga Ahli Tenaga ahli yang diperlukan untuk kegiatan detail desain adalah Team Leader, Ahli Hidrologi, Ahli Bendung, Ahli Geodesi, Ahli Geologi, Ahli Geoteknik, Ahli Lingkungan, Ahli Cost Estimate/Dokumen Tender dan Ahli Sosial-Ekonomi. 6. PENGENDALIAN MUTU

Pengendalian mutu yang perlu diperhatikan dalam pedoman spesifikasi teknis pekerjaan detail desain bendung harus memuat :
12 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

1) Diskusi Bulanan dilakukan dengan Pihak Pengguna Jasa untuk keperluan mengetahui sejauh mana progres pekerjaan dan pembahasan tentang kesulitan yang diperlukan 2) Diskusi Pendahuluan dilakukan dengan Pihak Pengguna Jasa untuk keperluan koordinasi awal pelaksanaan pekerjaan yang meliputi kegiatan survey, investigasi lapangan dan persetujuan produk yang berupa laporan pendahuluan 3) Diskusi Pertengahan dilakukan dengan Pihak Pengguna Jasa untuk menentukan arah pembahasan pemecahan masalah berdasarkan data kondisi lapangan dan proses persetujuan produk yang berupa laporan pertengahan 4) Diskusi Akhir dilakukan dengan Pihak Pengguna Jasa untuk keperluan pembahasan seluruh kegiatan pekerjaan 7. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

Pengukuran dan pembayaran yang perlu diperhatikan dalam pedoman spesifikasi teknis pekerjaan detail desain bendung harus memuat : 7.1. Pengukuran Kuantitas untuk pekerjaan perencanaan harus diukur berdasarkan biaya langsung personil yang meliputi keterlibatan tenaga ahli, tenaga penunjang dan asisten tanaga ahli serta biaya langsung non personil yang meliputi perjalanan dinas, survey dan investigasi, biaya operasional kantor dan diskusi dan pelaporan. Biaya langsung diukur berdasarkan daftar hadir tenaga ahli, asisten serta tenaga pendukung. Biaya langsung non personil diukur berdasarkan add cost. 7.2. Dasar Pembayaran Kuantitas pekerjaan detail desain yang diukur menurut ketentuan di atas, akan dibayar menurut satuan pengukuran dengan harga yang dimasukkan dalam Daftar Kuantitas dan Harga untuk masing-masing Mata Pembayaran yang terdaftar di bawah ini, dimana harga dan pembayaran tersebut.

No.

Uraian

Satuan Pengukuran OB Orang-hari Unit - Bulan Buah Kilometer Kilometer Buah Sampel Sampel Exemplar Lump-sum

1. 2.

Biaya Langsung Personil Biaya Langsung Non Personil : 2.1) Biaya Perjalanan Dinas 2.2) Biaya Operasional Kantor 2.3) Pengukuran dan Pemetaan - Pemasangan Patok BM dan CP - Pengukuran poligon dan situasi - Pengukuran cross-section 2.4) Penyelidikan Geologi 2.5) Analisis Laboratorium Mekanika Tanah 2.6) Survey dan Penyelidikan Sedimen dan Air 2.7) Biaya Pelaporan 2.8) Biaya Diskusi

13 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

Bibliografi
Badan Standardisasi Nasional, 2002, RSNI T-04-2002, Tata Cara Desain Hidarulik Tubuh Bendung Tetap dengan Peredam Energi Tipe MDO dan MDS, Jakarta Badan Standardisasi Nasional, 2003, Pd T-01-2003, Tata Cara Desain Hidarulik Bangunan Pengambil pada Bendung Tyrol, Jakarta Departemen Pekerjaan Umum, Puslitbang Pengairan, PT. Mediatama Saptakarya, 1995, Pedoman Teknis Sederhana Bangunan Pengairan untuk Pedesaan, Jakarta Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Badan Penelitian dan Pengembangan, 2002, SNI 03-1724-1989, Tata Cara Perencanaan Hidrologi dan Hidraulik untuk Bangunan di Sungai. Jakarta Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Badan Penelitian dan Pengembangan, 2002, SNI 03-2415-1991, Metode Perhitungan Debit Banjir, Jakarta Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Badan Penelitian dan Pengembangan, 2002, KP-02, Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan Utama, Jakarta. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Badan Penelitian dan Pengembangan, 2002, KP-04, Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan Utama, Jakarta. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Badan Penelitian dan Pengembangan, 2002, KP-07, Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan Utama, Jakarta. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, 2004, Pd T-09-2004-A, Perencanaan Bendung Karet Isi Udara, Jakarta. Pd T-xx-xxxx, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik Pekerjaan yang Bersifat Umum, Bagian 3, Pekerjaan Pengukuran dan Pemetaan Pd T-xx-xxxx, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik Pekerjaan yang Bersifat Umum, Bagian 4, Pekerjaan Penyelidikan Geoteknik Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, 2004, Perencanaan Hidraulik Bendung dan Pelimpah Bendungan Tipe Gergaji, Jakarta Mawardi, Erman, Drs., Dipl., AIT., Alfabeta CV, 2004, Desain Hidrolik Bendung Tetap untuk Irigasi Teknis, Bandung.

14 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

LAMPIRAN A Bagan Alir Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan Detail Desain Bendung serta Produk yang dihasilkan
MULAI

Pengumpulan Peta Topografi

Pengumpulan Peta Geologi Regional

Pengumpulan Data Hidrologi & Peta DAS

Pengumpulan Data Sosek

Pengumpulan Data Multisektor

LAPORAN PENDAHULUAN

DISKUSI PENDAHULUAN

TIDAK

YA

Pengukuran Topografi

Penyelidikan Geoteknik Lapangan

Survey Hidrometri : -Sampling Sedimen -Pengukuran tinggi muka air, kecepatan dan debit

PEMETAAN & PENGGAMBARAN

Penyelidikan Geoteknik Laboratorium

Uji sampling sedimen Laboratorium

Analisis Hidrologi (Debit Banjir Rancangan)

Analisis Hidarulika dan Transport Sedimen

Analisis Sosek

KONSEP DESAIN BENDUNG

LAPORAN INTERIM

TIDAK

DISKUSI INTERIM

YA

FINAL DESAIN BENDUNG ALBUM GAMBAR DESAIN

ANALISIS EKONOMI TEKNIK

Penysunan Andal

Penyusunan BOQ dan RAB

DRAFT FINAL LAPORAN AKHIR

DISKUSI LAPORAN AKHIR

TIDAK

YA

FINAL LAPORAN AKHIR , terdiri : - Laporan Akhir - Laporan Analisis Sosek - Laporan Kajian Andal - Laporan Investigasi Geoteknik - Laporan Survey Pengukuran Topografi dan Pemetaan - Gambar Teknik - BOQ dan RAB - Dokumen Tender

SELESAI

15 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

LAMPIRAN B (Normatif) Lampiran B.1 Contoh Kerangka Acuan Kerja Pekerjaan Detail Desain Bendung

Pekerjaan Detail Desain Bendung di DAS............. Kabupaten................... 1. LATAR BELAKANG Cakupan isi latar belakang dalam penyusunan kerangka acuan kerja, menguraikan : - Menginformasikan tentang letak administratif daerah pekerjaan - Menginformasikan kondisi daerah pekerjaan yang meliputi kondisi topografi, geologi regional, kondisi klimatologi, kondisi hidrologi serta ekositem pada daerah pekerjaan - Kendala-kendala yang perlu diantisipasi dalam pelaksanaan pekerjaan - Maksud dan tujuan secara global dengan adanya kegiatan MAKSUD DAN TUJUAN Maksud dari pekerjaan ini adalah untuk menyusun rencana pelaksanaan pekerjaan pada ........, kajian perencanaan pendahuluan dan kajian kelayakan ekonomis pekerjaan dengan tujuan untuk rnendapatkan hasil survey dan investigasi secara menyeluruh serta konsep perencanaan bangunan pengambilan untuk keperluan irigasi. 2.2. Tujuan Tujuan dari pekerjaan ini adalah untuk melakukan kajian terhadap rencana pembangunan bendung untuk keperluan irigasi beserta kajian ekonomis dan lingkungan dari pembangunan bendung. 3. SASARAN Sasaran dari pelaksanaan kegiatan detail desain pembangunan bendung adalah mengoptimalkan pengambilan air dari sumber air dengan tujuan peningkatan hasil panen pada daerah pekerjaan 4. 5. NAMA DAN ORGANISASI PENGGUNA JASA Satuan Kerja Sementara..................................... SUMBER PENDANAAN Pelaksanaan kegiatan ini diperlukan biaya kurang lebih Rp .....,- (..................Rupiah) termasuk PPN dibiayai APBN-P tahun Anggaran ........ 6. LINGKUP, LOKASI KEGIATAN, DATA DAN FASILITAS PENUNJANG SERTA ALIH PENGETAHUAN Lingkup pekerjaan yang dilakukan oleh Penyedia Jasa adalah sebagai berikut : 6.1.1. Pengumpulan Data Sekunder Kegiatan pengumpulan data sekunder, meliputi : a) Data Topografi Kegiatan yang dilakukan adalah pengumpulan data peta topografi yang sudah ada, dimana keadaan topografi suatu daerah akan mempengaruhi bentuk dan ukuran suatu DAS. Peta topografi yang dikumpulkan harus
16 dari 77

2.

2.1. Maksud

6.1. Lingkup Kegiatan

RPT0-Pd T-xx-xxxx

menampilkan kondisi tata guna lahan pada daerah studi, dimana kondisi tata guna lahan akan berpengaruh terhadap laju erosi, kecepatan aliran permukaan dan daya infiltrasi sesuai dengan SNI 03-1724-1989. Perolehan peta topografi dapat diperoleh pada Instansi yang berwenang, misalkan pihak Pengguna Jasa seperti PSDA berdasarkan peta yang ada serta skala dengan tingkat ketelitian yang ada. Jika di Instansi terkait tidak didapat maka pihak Penyedia Jasa dapat memperoleh di BAKOSURTANAL dengan skala minimum 1 : 250.000 atau yang lebih detail. b) Data Hidrologi Kegiatan pengumpulan data hidrologi berupa pengumpulan peta stasiun curah hujan, besarnya curah hujan, data meteorologi, debit historis baik debit minimum, rata-rata dan debit maksimum pada suatu daerah aliran sungai (DAS) yang pelaksanaan kegiatannya sesuai SNI 03-1724-1989. Berbagai data dan informasi dintaranya berupa : i. peta stasiun curah hujan dapat diperoleh pada instansi BMG dan mungkin juga Pengelola Sumber Daya Air (PSDA)

ii. data curah hujan harian (terbaru) dapat diperoleh pada instansi bmg dan mungkin juga Pengelola Sumber Daya Air (PSDA). iii. data meteorologi berupa kondisi temperatur udara, kelembaban relatif, lama penyinaran dan kecepatan angin. perolehan data dapat diperoleh pada instansi BMG iv. data debit terbaru dengan bisa periode harian maupun bulanan minimum selama 5 tahun, yang didapat pada bangunan-bangunan sungai eksiting misalkan bendung. c) Data Geologi Teknik Kegiatan pengumpulan data geologi adalah pengumpulan peta geologi regional yang memuat jenis batuan, penyebaran jenis batuan, sifat fisik batuan serta tekstur dan struktur tanah dengan skala minimum 1:250.000 sesuai dengan KP01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan. Peta geologi regional dapat diperoleh di Direktorat Geologi Tata Lingkungan, jika tidak didapat maka pengumpulan data dapat diperoleh pada Instansi terkait. d) Data Aspek Multisektor Kegiatan pengumpulan data aspek multisektor melakukan pengumpulan yang berupa informasi lingkungan yang menginformasikan tentang kondisi kependudukan dan penggunaan air sesuai dengan KP01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan. Informasi lingkungan dapat diperoleh dari dari BPS, PSDA, dan BAPEDAL. Data-data tersebut meliputi : i. komponen lingkungan fisik-kimia yang terdiri dari iklim, fisiografi dan geologi, hidrologi/kualitas air, ruang lahan dan tanah

ii. komponen biologi yang terdiri dari kondisi flora, fauna dan biota air iii. komponen sosial, ekonomi dan budaya yang meliputi jumlah penduduk, tingkat pendidikan, mata pencaharaian dan pendapatan asli daerah (PAD) dan lain-lain. iv. rencana tata ruang wilayah
17 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

6.1.2. Survey Kegiatan survey yang diperlukan untuk keperluan kegiatan detail desain adalah sebagau berikut : a) Pengukuran Topografi dan Pemetaan Pelaksanaan kegiatan pengukuran topografi dan pemetaan mengacu pada Pd T-xx-200x, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Kegiatan yang bersifat Umum, Bagian-2, Pekerjaan Pengukuran Topografi dan Pemetaan. Kegiatan ini akan dilakukan oleh Penyedia Jasa jika kondisi topografi daerah pekerjaan banyak mengalami perubahan alur sungai baik yang diakibatkan oleh bencana atau proses alamiah lainnya sehingga validitas data yang sudah ada diragukan lagi. Sesuai dengan KP-02, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986, tentang Kriteria Perencaan Bangunan Utama, pekerjaan pengukuran topografi dan pemetaan untuk keperluan kegiatan detail desain bendung meliputi : i. Pemetaan situasi sistem sungai Pemetaan situasi sungai dimana bangunan utama akan dibuat dengan skala minimum 1 : 2000. Peta ini harus meliputi jarak 1,0 km ke arah hulu dan ke hilir dari letak bangunan bendung rencana dan melebar 250 m dari masing-masing tepi sungai. Peta ini juga harus dilengkapi dengan garis ketinggian setiap 1,0 m, kecuali dasar sungai diperlukan garis ketinggian setiap 0,50 m. Peta ini harus mencakup lokasi alternatif yang sudah diidentifikasi serta panjang yang diliput harus memadai agar diperoleh informasi mengenai bentu denah sungai dan juga untuk merencanan tata letak dan trase tanggul penutup. Peta situasi juga harus menampilkan titik-titik tetap (benchmark) yang ditempatkan di sekitar daerah pemetaan lengkap dengan koordinat dan elevasinya.

ii. Pengukuran detail situasi bendung Pengukuran detail ini menghasilkan peta berskala 1 : 200 atau 1 : 500 untuk areal dengan luas 50 Ha. Peta detil harus memperlihatkan bagian-bagian lokasi bangunan utama secara lengkap. Peta ini harus dilengkapi dengan titik ketinggian dan garis ketinggian yang tepat setiap 0,25 m. b) Survey Hidromteri Sesuai dengan SNI 03-2414-1991 pelaksanaan pengukuran debit perlu diperhatikan ketentuan dan persyaratan yang meliputi : i. lokasi pengukuran debit perlu diperhatikan perencanaan ; mudah pencapaian dalam mampu melewatkan banjir; geomteri dan adanya kontrol penampang; bagian alur terbuka lurus. faktor : kesesuaian dengan segala situasi dan kondisi; badan sungai harus stabil; sungai atau saluran yang

ii. pertimbangan hidraulik meliputi : pola aliran yang seragam dan mendekati sub kritis; tdak terkena pengaruh arus balik dan aliran lahar iii. lama dan periode pelaksanaan : lama pengukuran debit tergantung dari keadaan aliran pada saat pengukuran jika aliran rendah pengkuran debit dilaksanakan dua kali dalam sekali periode waktu pengukuran dan jika kondisi banjir pengukuran debit dilaksanakan sekali dalam periode waktu pengukuran sedangkan periode pelaksanaan pengukuran tergantung dari musim, jika musim kemarau pengukuran debit dilaksanakan cukup sekali dalam satu bulan dan jika musim penghujan
18 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

pelaksanaan pengukuran dilaksanakan berulang kali paling sedikit 3 kali setiap bulannya iv. keandalan peralatan dan sarana penunjang; peralatan dan sarana penunjang harus dipelihara agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya antara lain dengan kalibrasi secara berkala, dibersihkan dan dirawat dengan baik v. kemampuan tim pengukurnya Pelaksanaan pengukuran tinggi muka air, kecepatan dan debit dapat digunakan alat ukur arus tipe baling-baling. Cara pelaksanaan pengukuran dilakukan dengan merawas, menggunakan perahu, menggunakan jembatan dan menggunakan kerata gantung. Kedalaman pengukuran minimal 3,5 kali diameter baling-baling sesuai dengan SNI 03-2819-1992. Jika metode pelaksanaan pengukuran di atas tidak dapat dipergunakan karena berbagai hal, misal keadaan aliran membahayakan keselamatan petugas atau peralatannya; kecepatan aliran melampaui kemampuan spesifikasi alat menurut jenis alat ukur arus yang digunakan dan untuk mendapatkan debit sesaat maka dapat dilakukan pengukuran dengan pelampung permukaan sesuai dengan SNI 03-2820-1992. 6.1.3. Investigasi Sungai Kegiatan investigasi sungai dilakukan untuk mengetahui kondisi data-data fisik sungai. Data fisik sungai seperti kandungan dan ukuran sedimen; tipe dan ukuran sedimen dasar dan distribusi ukuran butir. Untuk mengetahui data fisik sungai dilakukan kegiatan sampling sedimen yang meliputi : a) Sampling sedimen layang Pengambilan sampel sedimen layang dilakukan pada lokasi yang tidak terpengaruh adanya aliran balik yang diakibatkan oleh bangunan air dan sebelum dilakukan kegiatan pengambilan sampel perlu dilakukan kegiatan pengukuran yang meliputi penampang melintang dan debit. Perletakan peralatan pada lubang pengambilan harus berada 10 cm di atas dasar sungai sesuai dengan SNI 03-3414-1994. b) Sampling sedimen dasar Sampel diambil dari dasar sungai pada penampang memanjang dan penampang melintang ditempat yang dianggap dapat mewakili kondisi material dasar sungai setempat metode pengambilan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. 6.1.4. Penyelidikan Geoteknik Lapangan Kegiatan penyelidikan geoteknik lapangan diperlukan untuk mengetahui data karakteristik mekanika tanah lokasi bendung. Pelaksanaan kegiatan penyelidikan geoteknik lapangan mengacu pada pada Pd T-xx-200x, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Kegiatan yang bersifat Umum, Bagian-3, Pekerjaan Penyeldikan Geoteknik. Penyeldikan geoteknik lapangan yang diperlukan meliputi : a) Pengeboran Pengeboran dilakukan pada lokasi sisi kanan dan sisi kiri dari lokasi tembok pangkal, dan pada as bendung masing-masing 1 titik pengeboran b) Sumur Uji Sumur uji dilakukan pada lokasi calon sumber bahan material (borrow area) untuk pembangunan bendung.
19 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

c) Pengeboran Tangan (Hand Bor) Pengeboran tangan dilakukan pada lokasi calon tapak bangunan masingmasing 1 titik pengeboran. 6.1.5. Uji Laboratorium Uji laboratorium terdiri dari : a) Laboratorium Sedimen Uji laboratorium sedimen diperlukan untuk mengetahui karakteristik sedimen yang terbawa oleh aliran sungai. Uji laboratorium sedimen meliputi : 1. Sedimen layang i. Jika pengambilan contoh benda uji sedimen sesuai dengan SNI 033414-1994, maka metode pengujian laboratorium sedimen layang digunakan peralatan Piknometer sesuai SNI 03-4145-1996 dengan tujuan mengetahui kadar sedimen layang.

ii. Jika pengambilan contoh benda uji sedimen layang dalam pengambilannya dilakukan dengan cara mencelupkan botol pada posisi berada 20 cm di bawah permukaan air dengan posisi mulut botol berlawanan dengan arah aliran maka metode pengujiannya dilakukan secara gravimetri dengan pengendapan sesuai SNI 033961-1995 dengan tujuan mengetahui kadar sedimen layang. Sedangkan untuk mengetahui distribusi butiran maka dilakukan uji gravimetri dengan ayakan sesuai SNI 03-3962-1995. 2. Sedimen dasar Pengujian sampel sedimen dasar dilakukan berdasarkan ketentuan yang berlaku. b) Penyelidikan geoteknik laboratorium Penyelidikan geoteknik laboratorium diperlukan untuk mengetahui index dan engineering properties, dalam pelaksanaannya mengacu pada Pd T-xx200x, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Kegiatan yang bersifat Umum, Bagian-3, Pekerjaan Penyeldikan Geoteknik. Adapun uji tersebut meliputi : 1. Index properties, mencakup : berat isi, berat jenis, kadar air, gradasi butiran dan batas-batas atterberg. 2. Engineering properties, mencakup : direct shear test, unconfined compression test, tes konsolidasi dan compaction test. 6.1.6. Analisis Hidrologi Analisis hidrologi yang dilakukan dalam pelaksanaan kegiatan detail desain bendung mengacu pada KP-02, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986, tentang Kriteria Perencaan Bangunan Utama berupa debit banjir rancangan dengan periode ulang 100 tahun untuk tubuh bendung sedangkan untuk tinggi tanggul penutup banjir serta kontrol keamanan bangunan utama digunakan debit banjir kala ulang 1000 tahun. Pendekatan metode perhitungan frekwensi debit banjir yang dipengaruhi oleh debit, curah hujan, luas DAS serta karakteristik penutup lahan sesuai SNI 032415-1991 adalah sebagai berikut : 1. jika data debit sungai yang tersedia cukup panjang (> 20 tahun) ; maka digunakan metode analisis probabilitas frekuensi debit banjir, sehingga
20 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

analisisnya dapat langsung dilakukan dengan Metode Gumbel, Log Pearson atau Log Normal ; 2. jika data debit sungai yang tersedia < 20 tahun dan > dari 10 tahun maka digunakan metode analisis regional ; 3. jika data debit yang tersedia antara 3 10 tahun maka digunakan metode puncak banjir di atas ambang ; 4. jika data yang ada berupa parameter hujan dan karakteristik DAS, maka pendekatan analisisnya menggunakan metode empiris, yang terdiri : Metode Rasional, digunakan pada perencanaan sarana drainase dengan daerah tangkapan yang kecil (< 40 Ha) - Der Weduwen, digunakan untuk analisis debit banjir dari sebuah DAS dengan luas < 100 km2 - Melchior, digunakan untuk analisis debit banjir dari sebuah DAS dengan luas > 100 km2 - Haspers dan Mononobe digunakan untuk analisis debit banjir dari sebuah DAS tanpa memperhatikan luas DAS - Metode Hidrograf Satuan - Metode US Soil Conservation Service 5. jika selang waktu pengamatan data hujan lebih panjang Model matematik digunakan apabila selang waktu pengamatan data hujan lebih panjang daripada pengamatan data debit selanjutnya yang selanjutnya digunakan untuk memperpanjang data aliran.
-

6.1.7. Analisis Laju Transport Sedimen Analisis laju transport sedimen baik sedimen dasar (bed load) maupun sedimen layang (suspended load) dengan parameter jenis material, diameter butir dan volume atau berat per satuan waktu, persamaan yang umum digunakan untuk analisa adalah Meyer-Peter dan Muller, Engelund-Hansen, Einstein dan Einstein-Brown sesuai dengan SNI 03-1724-1989. 6.1.8. Perencanaan Bendung Perencanaan bendung harus meliputi tentang panjang tinggi mercu bendung, mercu dan tubuh bendung, peredam energi, tembok sayap hilir, bangunan pengambil, bangunan pembilas, bangunan pengarah arus, tanggul penutup dan tanggul banjir, tembok pangkal bendung, saringan sampah dan batu bongkah, lantai undik atau dinding tirai, bangunan penangkap sedimen sesuai dengan SNI 03-2401-1991. 6.1.9. Analisis Dampak Lingkungan Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 17 Tahun 2001 untuk kegiatan pembangunan bendung yang merlukan kajian ANDAL harus, jika bendung melayani areal irigasi seluas 2000 Ha Ruang lingkup kegiatan ANDAL meliputi : i. identifikasi semua rencana usaha dan atau kegiatan yang akan dilaksanakan, terutama yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup ii. identifikasi komponen-kmponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak besar dan penting iii. perkiraan dan evaluasi usaha dan atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup iv. perumusan RKL dan RPL
21 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

6.1.10. Analisis Kelayakan Ekonomi Analisa kelayakan ekonomi akan dilakuakn dengan mengkaji tiga parameter ekonomi yaitu : i. Economic Internal Rate of Return (EIRR) ii. Benefit/Cost ratio (B/C ratio) iii. Net present value (NPV), Sebagai evaluasi terhadap kemungkinan penundaan atau perubahan schedule pelaksanaan pekerjaan juga akan dikaji aspek sensitivitas EIRR. 6.1.11. Nota Desain Penyedia Jasa harus membuat perencanaan rinci secara lengkap dengan dimensinya berdasarkan kajian hidrolis serta perhitungan struktur baik pada bangunan utama maupun bangunan penunjang. 6.1.12. Penggambaran Penggambaran hasil kegiatan meliputi gambar hasil pengukuran dan pemetaan, layout bendung dan bangunan pelengkapnya, potongan memanjang dan melintang bendung, detail bangunan utama dan bangunan penunjang bendung. Penggambaran mengacu pada KP-07, DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentan Kriteria Perencanaan Bagian Standar Penggambaran. 6.1.13. Perhitungan BOQ Berdasarkan gambar rencana rinci yang telah dibuat dilakukan perhitungan volume pekerjaan konstruksi secara rinci sesuai dengan pekerjaan konstruksi yang akan dilakukan. 6.1.14. Penyusunan Rencana Anggaran Biaya Penyusunan perhitungan rencana anggaran mengacu Pd T-xx-xxxx, Pedoman Analisa Harga Satuan Pekerjaan, Pekerjaan Pembangunan Bendung, Bagian-1, Perencanaan dan Detail Desain yang didasarkan pada : i. kuantitas dan harga satuan pekerjaan ii. harga satuan pekerjaan dihitung berdasarkan hasil dari perhitungan suatu analisis biaya iii. untuk menentukan harga satuan upah dan bahan dilakukan survey harga di lapangan dengan mengambil sampel sekurang-kurangnya 3 lokasi. Khusus untuk harga satuan bahan diperhitungkan harga beli di tempat penjualan atau diantar ke lokasi pekerjaan iv. menghitung biaya-biaya tambahan di luar biaya dari perhitungan volume seperti biaya persiapan, mobilisasi dan demobilisasi personil dan alat, dokumentasi, dewatering dll. 6.1.15. Penyusunan Dokumen Pelelangan Penyusunan dokumen lelang digunakan bagi keperluan pelelangan pekerjaan atau pengadaan barang maupun jasa. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Penyusunan Dokumen Lelang harus meliputi ketentuan-ketentuan, komponen bahan dan spesifikasi konstruksi, cara pengerjaan serta syarat pengendalian mutu sesuai dengan KEPMEN KIMPRASWIL No. 257/PTS/M/2004. 6.2. Lokasi Kegiatan Lokasi pelaksanaan Kabupaten......... pekerjaan berada di Sungai.............Kecamatan ...........

6.3. Data dan Fasilitas Penunjang Serta Alih Pengetahuan 6.3.1. Penyediaan Data dan Fasilitas Penunjang
22 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

1) Penyediaan oleh Pengguna Jasa

Data dan fasilitas yang disediakan oleh Pengguna Jasa yang dapat digunakan dan akan dipelihara oleh Penyedia Jasa : a) Laporan dan data yang akan diberikan kepada Penyedia Jasa yaitu berbagai laporan dan data yang tersedia dari hasil studi terdahulu b) Akomodasi dan Ruangan Kantor (sesuai kesepakatan) c) Pengguna jasa akan menunjuk petugas atau wakilnya yang bertindak sebagai pengawas atau pendamping (countepart), atau project officer (PO) dalam rangka pelaksanaan jasa konsultansi
2) Penyediaan oleh Penyedia Jasa

Penyedia Jasa akan menyediakan dan memelihara semua fasilitas dan peralatan yang dipergunakan untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan. a) Penyedia Jasa memfasilitasi : peralatan, laboratorium dan bahan yang sesuai untuk mencapai rencana mutu desain dan konstruksi. b) Penyedia Jasa harus memberikan hasil pekerjaan sesuai dengan rencana mutu desain atau rencana mutu konstruksi. Pekerjaan akan diperiksa sewaktu-waktu untuk menjamin terpenuhinya persyaratan teknis yang telah ditetapkan. Penyedia Jasa menanggung biaya pekerjaan tambahan/pengulangan bila ternyata hasil pekerjaannya tidak memenuhi persyaratan teknis menurut penilaian pihak Direksi Pekerjaan atau Nara Sumber yang ditunjuk oleh Pengguna Jasa. 6.3.2. Tenaga Ahli dan Tenaga Pendukung Dalam pelaksanaan pekerjaan perlu melibatkan personil baik tenaga ahli maupun tenaga pendukung dengan ketentuan dan persyaratan adalah sebagai berikut : 1) Tenaga Ahli Tenaga ahli termasuk asisten dan staf tenaga ahli yang diperlukan dalam rangka penyelesaian pekerjaan harus berkompeten dibidangnya masing-masing dengan menyerahkan kualifikasi/sertfikasi dan curriculum vitae/daftar riwayat hidup. 2) Tenaga Pendukung Tenaga pendukung sifatnya mendukung tenaga ahli dalam penyelesaian pekerjaan baik dalam segi teknis, urusan administrasi serta kelancaran pelaksanaan pekerjaan. 6.3.3. Persyaratan Pelaksanaan Dalam hal persyaratan memperhatikan berikut ini : 1) Jadwal Pelaksanaan Untuk perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan yang sebagaimana mestinya atas pekerjaan, Penyedia Jasa harus mempersiapkan Jadwal Pelaksanaan. Penyedia Jasa harus membuat Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan dalam bentuk Kurva-S yang menggambarkan seluruh kemajuan pekerjaan. 2) Diagram Batang (Bar-Chart) Penyedia Jasa harus membuat diagram batang yang menginformasikan tentang keterlibatan personil baik tenaga ahli, asisten, staf tenaga ahli dan staf pelaksanaan pekerjaan, Penyedia Jasa harus

23 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

pendukung yang berhubungan dengan penyerapan biaya yaitu keterlibatan orang -bulan. 7. METODOLOGI Metodologi yang dilakukan dalam perencanaan ini yaitu pengumpulan data sekunder (topografi, hidrologi, geologi regional), pengumpulan data primer (survey pengukuran dan pemetaan, survey hidrometri dan penyelidikan geoteknik), pengolahan data dan perencanaan bangunan utama dan penunjang bendung. 8. 9. JANGKA WAKTU PELAKSANAAN Jangka waktu pelaksanaan kegiatan ini ....... (....................) hari kalende. PERSONIL TENAGA AHLI Keperluan tenaga ahli untuk penyelesaian pekerjaan ini adalah sebagai berikut : 1. Ketua Tim (Team Leader) Ketua Tim disyaratkan seorang Ahli Sumber Daya Air Profesional Utama/Ahli Teknik Sipil (S1/S2/S3), berpengalaman dalam bidang Sumber Daya Ait dalam kegiatan perencanaan, pelaksanaan pembangunan, O&P bangunan air, dengan pengalaman minimal 10 tahun. 2. Tenaga Ahli Sungai Tenaga Ahli Sungai adalah Ahli Sumber Daya Air Profesional Madya/Ahli Teknik Sipil (S1/S2/S3), berpengalaman dalam bidang Sumber Daya Air dalam kegiatan perencanaan, pelaksanaan pembangunan, O&P bangunan air, dengan pengalaman minimal 8 tahun. 3. Tenaga Ahli Hidrologi Tenaga Ahli Hidrologi adalah Ahli Sumber Daya Air Profesional Madya /Ahli Teknik Sipil (S1/S2/S3), berpengalaman dalam bidang Sumber Daya Air dalam kegiatan perencanaan, pelaksanaan pembangunan, O&P bangunan air, dengan pengalaman minimal 7 tahun. 4. Tenaga Ahli Hidraulik Struktur Tenaga Ahli Hidraulik Struktur adalah Ahli Sumber Daya Air Profesional Madya /Ahli Teknik Sipil (S1/S2/S3), berpengalaman dalam bidang Sumber Daya Air dalam kegiatan perencanaan, pelaksanaan pembangunan, O&P bangunan air, dengan pengalaman minimal 8 tahun. 5. Tenaga Ahli Geodesi Tenaga ahli yang disyaratkan adalah Sarjana Geodesi Strata Satu (S.1) lulusan universitas perguruan tinggi negeri atau yang disamakan yang berpengalaman melaksanakan pekerjaan dibidang Geodesi subbidang Survey Topografi sekurangkurangnya.6 (enam) Tahun Lulusan pendidikan Sarjana Geodesi (S1) dengan pengalaman kerja minimal 5 tahun. 6. Tenaga Ahli Geoteknik Tenaga Ahli Geoteknik adalah Ahli Sumber Daya Air Profesional Madya/Ahli Teknik Sipil (S1/S2/S3), berpengalaman dalam bidang Sumber Daya Air dalam kegiatan perencanaan, penyelidikan dan supervisi geoteknik dengan pengalaman minimal 10 tahun 7. Tenaga Ahli Lingkungan Tenaga ahli yang disyaratkan adalah Sarjana Biologi Strata Satu (S1) lulusan universitas pergururan tinggi negeri atau yang disamakan yang berpengalaman
24 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

melaksanakan pekerjaan dibidang Lingkungan subbidang Analisis Lingkungan sekurang-kurangnya 5 (lima) Tahun. Sebagai pelaksana dan penanggung jawab pekerjaan pengembangan Sumber Daya Air di bidang lingkungan. 8. Tenaga Ahli Sosial Ekonomi Tenaga ahli yang disyaratkan adalah Sarjana Ekonomi Strata Satu (S.1) lulusan universitas pergururan tinggi negeri atau yang disamakan yang berpengalaman melaksanakan pekerjaan dibidang Analisis Ekonomi subbidang Analisis Sosial Ekonomi sekurang-kurangnya.5 (lima) Tahun. Ahli Sosial - Ekonomi bertugas melakukan evaluasi dan analisis bidang ekonomi yang meliputi : Analisa Nilai Bersih Sekarang (NPV), Nisbah Biaya Keuntungan (BCR), dan Tingkat Pengembalian Internal (IRR) dan Titik Impas (BEP) serta menganalisis dampak sosial yang mungkin akan timbul akibat dari pelaksanaan pembangunan konstruksi. 9. Tenaga Cost Estimate dan Dokumen Tender Tenaga ahli yang disyaratkan adalah Sarjana Teknik Sipil (S1) lulusan universitas/perguruan tinggi negeri atau yang disamakan yang berpengalaman melaksanakan pekerjaan di bidang estimasi biaya pelaksanaan pembangunan bangunan sipil teknis berikut spesifikasi teknik dan dokumen tender, sekurangkurangnya 5 (lima) tahun. 10. Chief Surveyor Tenaga Chief Surveyor dengan reputasi yang baik, lulusan Sarjana Muda Teknik Geodesi dengan pengalaman minimal 7 (tujuh) tahun atau STM Bangunan Air, atau lebih baik dari pendidikan tenaga survey dan pemetaan (PTSP) dengan pengalaman sedikitnya 8 (delapan) tahun dalam menangani pengkuran topografi dibidang keairan antara lain : sungai, irigasi, dan lain-lain. 11. Chief Draftman Tenaga Chief Draftman AutoCAD dengan reputasi yang baik, lulusan Sarjana Muda Teknik Sipil dengan pengalaman minimal 5 (lima) tahun atau STM Bangunan air dengan dengan pengalaman minimal 8 (delapan) tahun dalam menangani gambargambar dibidang keairan. 10. KELUARAN Keluaran dari pelaksanaan kegiatan detail desain meliputi : 1. Nota Desain 2. Gambar Teknis 3. Gambar Pengukuran Topografi dan Pemetaan 11. LAPORAN Jenis laporan dan gambar yang akan diserahkan oleh Penyedia Jasa kepada Pengguna Jasa adalah : 1. Laporan Pendahuluan Laporan Pendahuluan harus dipresentasikan dan menginformasikan tentang metode-metode yang akan digunakan Penyedia Jasa dalam pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan. Laporan Pendahuluan akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal 8 Juli 2005 2. Laporan Bulanan Laporan Bulanan menginformasikan tentang pelaksanaan progres pekerjaan dan tahap pelaksanaan pekerjaan untuk bulan berikutnya
25 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

Laporan Bulanan akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tiap seminggu sebelum akhir bulan 3. Laporan Interim Laporan Interim harus dipresentasikan dan menginformasikan tentang analisis debit banjir rancangan, hasil kegiatan pelaksanaan survey topografi, lokasi pengambilan sampel sedimen dan hasil uji laboratorium, lokasi investigasi geoteknik dan hasil laboratorium, serta konsep perencanaan bendung Laporan Interim akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal 15 Agustus 2005 4. Laporan Akhir Laporan Akhir harus dipresentasikan dan menginformasikan tentang analisis debit banjir rancangan, analisis laju sedimen, dimensi dan layout check dam, analisis dampak lingkungan hidup (ANDAL) dan analisis Benefit/Cost Ratio dan Economic Internal Rate of Return, rencana anggaran biaya. Laporan Akhir akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal 4 Desember 2005 5. Gambar Teknis Produk gambar yang harus diserahkan oleh Penyedia Jasa adalah sebagai berikut : i. peta situasi bangunan dengan skala 1 : 200 ; ii. gambar potongan memanjang dan melintang bangunan bendung 1 : 100 1 : 200 iii. gambar detail bangunan Skala 1 : 50 1 : 200. Album gambar akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal 4 Desember 2005 6. Dokumen tender Dokumen Tender terdiri atas: i. ii. iii. iv. rencana anggaran biaya (RAB) gambar desain A1, rangkap 3 (tiga), termasuk 1 kalkir gambar desain A3, rangkap 3 (tiga) dokumen tender, masing-masing rangkap 3 (tiga) meliputi: - tender drawing - spesifikasi umum dan spesifikasi teknis - rencana pelaksanaan fisik dan construction method - daftar kuantitas dan harga satuan

Dokumen Tender akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal 4 Desember 2005 7. Laporan Penunjang Laporan penunjang dalam kegiatan ini meliputi : i. Buku Ukur dan Laporan Pengukuran Topografi dan Pemetaan Buku ukuran dan laporan pengukuran topografi dan pemetaan harus diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal 15 Agustus 2005 Laporan Penyelidikan Geoteknik harus diserahkan oleh Penyedia Jasa selambat-lambatnya tanggal 15 Agustus 2005 iii. Laporan Analisis Dampak Lingkungan
26 dari 77

ii. Laporan Penyelidikan Geoteknik

RPT0-Pd T-xx-xxxx

Laporan Analisis Dampak Lingkungan harus diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal 15 Agustus 2005 iv. Laporan Analisis Ekonomi Laporan Laporan Analisis Ekonomi harus diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal 15 Agustus 2005 12. PENGENDALIAN MUTU Agar dalam pelaksanaan pekerjaan memenuhi sasaran maka perlu dilakukan pembahasan seperti berikut ini : 1. Diskusi Bulanan dilakukan dengan Pihak Pengguna Jasa untuk keperluan mengetahui sejauh mana progres pekerjaan dan pembahasan tentang kesulitan yang diperlukan 2. Diskusi Pendahuluan dilakukan dengan Pihak Pengguna Jasa untuk keperluan koordinasi awal pelaksanaan pekerjaan yang meliputi kegiatan survey, investigasi lapangan dan persetujuan produk yang berupa laporan pendahuluan 3. Diskusi Pertengahan/Interim dilakukan dengan Pihak Pengguna Jasa untuk menentukan arah pembahasan pemecahan masalah berdasarkan data kondisi lapangan dan proses persetujuan produk yang berupa laporan pertengahan/interim 4. Diskusi Akhir dilakukan dengan Pihak pembahasan seluruh kegiatan pekerjaan Pengguna Jasa untuk keperluan

27 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

Lampiran B.2 Kriteria Desain Bangunan Bendung Kriteria desain bendung disusun berdasarkan jenis bangunannya, dengan susunan sebagai berikut : 1) Bendung Cerucuk Sederhana a) Pertimbangan perencanaan Pertimbangan perencanaan bendung ini adalah merupakan saran pengalihan air dari badan sungai yang biasanya digunakan di pedesaan karena mempunyai teknologi yang sederhana baik konstruksi maupun cara pembuatannya pembuatannya dapat dikerjakan sendiri oleh masyarakat desa dengan biaya yang relatif murah sesuai Pd T-xx-200x : Tata Cara Perencanaan Bendung Cerucuk b) Persyaratan perencanaan Berdasarkan Pd T-xx-200x : Tata Cara Perencanaan Bendung Cerucuk persyaratan yang perlu diperhatikan adalah bendung ini ditempatkan pada ruas sungai yang relatif lurus dan dasarnya tidak terlalu keras dengan lebar dasar sungai tidak lebih dari 10 meter. c) Bagian-bagain dan Dimensi Bendung Cerucuk Bagian-bagian dan dimensi bendung cerucuk sesuai dengan Pd T-xx-200x : Tata Cara Perencanaan Bendung Cerucuk sebagai berikut : (1) Tubuh bendung, adapun dimensinya adalah sebagai berikut :
-

panjang tubuh bendung (B) maksimal 10,0 m; tinggi bendung (H) maksimal 1,0 m; lebar mercu bendung (M) minimal 1,0 m; pangkal bendung masuk ke tebing sungai (D) minimal 1,0 m; jarak tiang pada baris cerucuk (a) paling panjang 1,0 m; jarak antar baris cerucuk (b) paling panjang 0,5 m; lebar galian pangkal bendung (L) paling pendek sebesar M + 1,0 m material bahan tubuh bendung adalah kayu atau bambu jenis keras

1. Tubuh bendung 2. Sayap bendung 3. Lantai hilir bendung

Gambar B.1 Bagian-bagian bendung cerucuk (2) Sayap bendung, dimensinya ditentukan sebagai berikut :
- bagian belakang sayap diperkuat dengan kayu/bambu mendatar yang diikatkan

pada tiang-tiang sayap dengan tali pengikat dan diberi tiang penunjang agar sayap menjadi satu kesatuan yang kokoh; jumlah baris penguat sayap paling sedikit 2 baris dan jarak tiang-tiang penujang paling panjang 1,0 m
28 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

- panjang sayap bagian hulu yang sejajar tebing sungai dibuat sampai ke tepi

hulu mulut bangunan pengambilan (intake) yang selanjutnya sayap dibuat miring dengan sudut 450 - panjang sayap hilir yang sejajar dengan tebing sungai dibuat paling sedikit sampai ke ujung lantai hilir, kemudian sayap dibuat miring dengan sudut 450 (3) lantai hilir, dimensinya ditentukan dengan ketentuan sebagai berikut :
- panjang lantai hilir paling minimal adalah 3,0 m; - lantai hilir bendung terbuat dari hamparan bahan pengisi yang berupa batu kali

15 - 30 cm anyaman bambu atau karung plastik yang diisi pasir.

Gambar B.2 Kontruksi sayap bendung cerucuk 2) Bendung Bronjong a) Pertimbangan perencaaan Pertimbangan perencanaan bendung ini adalah merupakan saran pengalihan air dari badan sungai yang biasanya digunakan di pedesaan karena mempunyai teknologi yang sederhana baik konstruksi maupun cara pembuatannya pembuatannya dapat dikerjakan sendiri oleh masyarakat desa dengan biaya yang relatif murah sesuai Pd T-xx-200x-A : Tata Cara Perencanaan Bendung Bronjong b) Persyaratan perencanaan Berdasarkan Pd T-xx-200x-A : Tata Cara Perencanaan Bendung Bronjong persyaratan persyaratan yang perlu diperhatikan adalah bendung ini ditempatkan pada ruas sungai yang relatif lurus dan dasarnya relatif stabil atau berbatu dengan lebar dasar sungai tidak lebih dari 15 meter. c) Bagian-bagain dan Dimensi Bendung Bronjong Bagian-bagian dan dimensi bendung bronjong sesuai dengan Pd T-xx-200x : Tata Cara Perencanaan Bendung Bronjong sebagai berikut : (1) tubuh bendung - panjang tubuh bendung maksimal (B) maksimal 15,0 m; - tinggi bendung (H) maksimal 2,0 m; - lebar mercu bendung (M) minimal 2,0 m; - pangkal bendung masuk ke tebing sungai (D) minimal 2,0 m

29 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

Gambar B.3 Potongan tubuh dan lantai hilir bendung bronjong (2) sayap bendung - panjang sayap bagian hulu dibuat sampai ke tepi hulu mulut bangunan pengambilan (intake) - panjang sayap hilir dibuat paling harus lebih dari panjang dari lantai hilir (3) lantai hilir panjang lantai hilir bendung minmal 3,0 m.

Gambar B.4 3) Bendung Tyrol a) Pertimbangan Perencaanaan

Sayap hulu dan hilir bendung bronjong

Dalam pelaksanaan desain bangunan pengambil Tyrol hendaknya dilakukan evaluasi perbandingan dengan kemungkinan penyadapan air cara lain seperti bendung biasa sesuai Pd T-01-2003. b) Persyaratan Perencanaan Bangunan pengambil Tyrol dan bangunan pelengkapnya harus didesain berdasarkan Pd T-01-2003, harus memperhatikan persyaratan berikut : i. berada di sungai torensial dengan angkutan sedimen yang sangat berfluktuasi dan membawa batu gelundung ii. jenis ini dipilih jika dijumpai bahaya kerusakan bangunan akibat benturan angkutan sedimen batu gelundung dan benda padat lainnya; jika ditemui kesulitan penyadapan air sungai akibat beralihnya alur air sungai dan gejala pengendapan di sungai yang menghalangi pemasukan air ke bangunan pengambil; dan dipilih untuk menghindari gangguan keseimbangan morfologi sungai yang relatif besar akibat pembendungan atau dampak negatif lainnya karena adanya pembendungan; iii. struktur saringan dibuat sederhana, tahan benturan dan gesekan angkutan sedimen dan benda padat lainnya, tahan vibrasi dan mudah dibersihkan;

30 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

iv. bangunan pengambil Tyrol hanya sesuai untuk dibangun pada ruas sungai dengan angkutan sedimen dominan fraksi kasar, dan prosentase muatan fraksi dengan diameter 5 mm tidak lebih dari 25 persen dari jumlah angkutan sedimen total. v. bangunan pengambil Tyrol harus dilengkapi dengan penangkap pasir, sehingga harus tersedia lahan, lokasi dan perbedaan tinggi (head) untuk fasilitas bangunan tersebut; vi. bangunan pengambil Tyrol jangan dipilih jika diperkirakan menuntut cara-cara operasi, biaya eksploitasi, dan pemeliharaan yang sulit dan mahal. c) Persyaratan Kemanan Bangunan Bangunan pengambil Tyrol dan bangunan pelengkap lainnya perlu didesain dengan memperhatikan keamanan bangunan ditinjau dari segi hidraulik, struktural, operasi dan pemeliharaan. (1) Kemanan hidraulik Bangunan pengambil Tyrol dan bangunan pelengkapnya harus diperhitungkan aman terhadap :
- bahaya luapan pada bangunan tembok pangkal, tembok sayap udik dan hilir; - bahaya penggerusan setempat, degradasi dasar sungai dan penggerusan

tebing;
- bahaya erosi buluh akibat aliran di bawah dan di samping bangunan; - bahaya kavitasi; - bahaya akibat perubahan perilaku sungai.

(2) Kemanan Struktural Bangunan pengambil Tyrol dan bangunan pelengkapnya harus memenuhi persyaratan kekuatan dan kestabilan struktur baik secara satu kesatuan maupun bagian per bagian dengan rincian meliputi :
- kekuatan terhadap benturan batu dan angkutan benda padat lainnya; - kestabilan bangunan terhadap guling, geser dan penurunan.

(3) Keamanan Operasi dan Pemeliharaan i. keamanan operasi : bangunan pengambil Tyrol dan bangunan pelengkap seperti pintu pengatur debit, penangkap pasir dan bagian-bagiannya agar didesain untuk dapat dioperasikan dengan mudah, aman dan efisien;

ii. pemeliharaan : untuk menjaga fungsi dan keamanan bangunan setelah beroperasi diperlukan pemeliharaan dan pemantauan berkala; hal-hal yang perlu dipelihara yaitu :
- saringan dari sumbatan batu, sampah dan mengganti batang-batang yang

rusak;
- pembersihan berkala gorong-gorong pengumpul dari endapan sedimen

secara hidraulik;
- pembilasan penangkap pasir secara periodik. - pemeliharaan dan perbaikan lapisan tahan aus dan rip-rap

d) Desain Hidraulik Pelaksanaan pekerjaan yang perlu diperhatikan dalam detail desain bendung adalah sebagai berikut : (1) Pra Desain Hidraulik Kegiatan pra desain meliputi :
31 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

(a) Persiapan pekerjaan yaitu pengumpulan, evaluasi dan analisis data. Data yang diperlukan yaitu : i.
-

data topografi berupa : peta yang meliputi daerah aliran sungai dengan skala 1 : 50.000; peta situasi sungai di lokasi bangunan dengan skala 1 : 2000 dan peta detail dengan skala minimum 1 : 5000

ii. data morfologi sungai seperti geometri sungai, data hidrograf aliran sungai dan perubahan-perubahan yang terjadi pada dasar sungai secara horisontal maupun vertikal; iii. data geometri sungai berupa : bentuk dan ukuran alur, palung, lembah sungai, kemiringan dasar sungai; iv. data angkutan sedimen berupa : gradasi material dasar sungai, laju dan gradasi angkutan sedimen dasar; v. data hidrograf aliran sungai seperti : aliran banjir, frekuensi kejadian debit banjir, kurva massa aliran dan tinggi muka air sungai; vi. data geoteknik diantaranya : geomorfologi, stratigrafi dan struktur geologi serta kegempaan di daerah calon lokasi vii. data mekanika tanah : seperti sifat fisik tanah dan batauan serta sifat teknik tanah di sekitar calon lokasi; viii. data bahan bangunan : sumber dan jumlah bahan yang tersedia, jenis dan ketahanan umur, sifat fisik dan teknik bahan bangunan serta persyaratan kualitas bahan bangunan; ix. data lingkungan dan ekologi (b) peninjauan lapangan : untuk memeriksa tingkat ketelitian data; mendapat masukan data morfologi sungai dan sifat sungai, mengetahu dan memperkirakan masalah yang akan timbul; (c) penentuan lokasi bangunan harus dipilih berdasarkan studi perbandingan atas beberapa alternatif dengan mempertimbangkan fungsi bangunan dan faktor-faktor lain; topografi, morfologi sungai dan medan sekitarnya; geoteknik; lingkungan; pelaksanaan bangunan; dan mobilitas peralatan; (d) penentuan debit desain mencakup : i. debit desain banjir dengan kala ulang 100 tahun digunakan untuk mendesain bangunan pelimpah dan tembok pangkal; ii. debit desain sebesar debit alur penuh untuk bangunan peredam energi iii. debit andalan tertentu sesuai kebutuhan untuk kebutuhan irigasi dan kebutuhan pembilasan sedimen di gorong-gorong pengumpul serta penangkap pasir (2) Penentuan Bentuk dan Dimensi Bangunan Penentuan bentuk dan dimensi bangunan bendung tyrol sesuai dengan Pd. T-012003-A adalah sebagai berikut : (a) panjang mercu i. diperhitungkan terhadap kemampuan melewatkan debit banjir rencana dengan tinggi jagaan yang cukup; ii. sama dengan lebar rata-rata sungai stabil atau pada debit penuh alur dan umumnya ditentukan sebesar 1,2 kali lebar sungai rata-rata pada ruas sungai yang stabil;
32 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

iii. material konstruksi untuk mercu digunakan pasangan dengan lapisan tanah aus (batu candi) (b) panjang saringan Ditentukan berdasarkan debit desain kebutuhan dan debit untuk membilas sedimen di gorong-gorong pengumpul dan penangkap sedimen terpenuhi; (c) tinggi mercu Untuk penempatan saringan ditentukan sedikit lebih tinggi dari dasar sungai dengan maksud; i. untuk kebutuhan tinggi energi bagi pembilasan dan kebutuhan pengendalian angkutan sedimen serta menghindarkan terjadinya timbunan sedimen dan sampah di atas saringan; ii. tinggi mercu maksimal 0,5 m dari dasar tanah (d) saringan didesain sederhana, kuat, mudah pelaksanaannya dengan : i. jenis : ditentukan seperti bentuk pagar tidur; plat baja berlubang-lubang dan atau susunan saringan yang dibagi atas beberapa bagian atau kompartemen; bentuk batang saringan : ditentukan dengan bentuk bulat; bentuk profil T dan bentuk kepala rel kereta api; penempatan saringan : ditempatkan di atas mercu atau sedikit lebih ke hilir mercu dengan posisi datar atau dengan kemiringan tertentu yang mempertimbangkan ; faktor debit yang disadap; diameter butir angkutan sedimen yang tidak dikehendaki masuk ke gorong-gorong pengumpul; celah dan kemiringan saringan : ditentukan dengan pertimbangan debit yang harus disadap dan diameter butir angkutan sedimen dasar yang tidak dikehendaki masuk ke gorong-gorong pengumpul; celah saringan maksimum 30 mm; panjang saringan ke arah sungai : dihitung dengan memperhatikan debit yang harus disadap; kapasitas penyadapan dengan memperhatikan parameter-parameter sebagai berikut ; - kapasitas lewat gorong-gorong pengumpul; - bukaan pintu pengatur debit; - muka air di dalam gorong-gorong pengumpul; - jenis ukuran dan tata letak pemasangan batang saringan; - kemiringan, panjang, lebar, diameter, prosentase bukaan dari saringan; - tinggi muka air di udik saringan; - debit sungai dan panjang bentang Tyrol; - keadaan agradasi, endapan sedimen di udik dan di atas saringan; - sumbatan pada lubang saringan;

ii. iii.

iv.

v.

(e) Gorong-gorong pengumpul didesain dengan : i. tipe; tentukan dasar gorong-gorong pengumpul seperti bentuk setengah lingkaran, lengkung dan datar; ii. lebar; tentukan lebar gorong-gorong pengumpul dengan mempertimbangkan kebutuhan untuk mengalirkan debit yang di sadap; lebar gorong-gorong pengumpul yaitu jarak antara dua dinding goronggorong pengumpul; iii. panjang; tentukan panjang gorong-gorong pengumpul dengan mempertimbangkan kemampuan menyadap debit sungai dan debit yang dibutuhkan untuk pembilasan dan kebutuhan; panjang gorong-gorong pengumpul disesuaikan dengan panjang saringan; iv. kemiringan dasar; tentukan kemiringan dasar gorong-gorong pengumpul agar dapat menghanyutkan sedimen yang ada di dalam gorong-gorong
33 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

pengumpul; untuk menghindarkan pengendapan sedimen di dasar gorong-gorong pengumpul, kemiringan minimum dasar gorong-gorong pengumpul, 0min dapat ditentukan dengan pendekatan awal berdasarkan rumus berikut:

I 0 min = 0,20

D7 q7
6

dengan pengertian: D = diameter butir sedimen terbesar yang mungkin lolos saringan pengambil, [m] q = debit yang disadap per unit panjang bentang saringan pengambil, [m3/det/m] v. kapasitas gorong-gorong pengumpul; usahakan kapasitas gorong-gorong pengumpul lebih besar dari debit yang dibutuhkan untuk debit kebutuhan dan debit untuk pembilasan sedimen yang terdapat di dalam goronggorong pengumpul dan di penangkap sedimen (f) tubuh bangunan bagian hilir Bentuk tubuh bangunan bagian hilir saringan dapat dibuat tegak, miring dengan kemiringan tertentu (g) peredam energi Lengkapi bangunan dengan peredam energi untuk mencegah penggerusan setempat seperti halnya pembuatan peredam energi pada bendung; peredam energi dapat dipilih antara lain tipe cekung, dengan memperhitungkan : i. ii. iii. iv. v. debit desain untuk bangunan peredam energi; tinggi terjunan; penggerusan setempat; degradasi dasar sungai yang akan terjadi; benturan dan abrasi angkutan batu gelundung; bangunan Tyrol dapat juga dibuat tanpa peredam energi, jika dibangun di atas batuan keras.

(h) pintu pengatur debit Lengkapi gorong-gorong pengumpul dengan pintu pengatur debit; yang ditempatkan di bagian akhir gorong-gorong pengumpul dengan dinding penghalang banjir; dan pintu pembilas serta pintu-pintu intake; (i) tembok pangkal Tentukan bentuk dan ukuran tembok pangkal dengan cara: i. tinggi tembok pangkal ditentukan dengan memperhatikan debit desain untuk kapasitas pelimpahan ditambah dengan tinggi jagaan tertentu; ii. panjang tembok pangkal ditentukan oleh dimensi tubuh bangunan dan peredam energi; iii. bentuk tembok pangkal dapat dibuat tegak atau miring; jika miring kemiringan minimum 1 : 1 iv. material konstruksi dari pasangan batu (j) tembok sayap udik dan hilir Lengkapi bangunan dengan tembok sayap dengan memperhatikan : i. bentuk dan dimensi peredam energi; ii. geometri sungai di hilir dan sekitarnya; iii. kedalaman penggerusan setempat dan degradasi dasar sungai yang akan terjadi;
34 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

iv. stabilitas tebing ; v. tinggi muka air hilir pada debit desain ditambah dengan tinggi jagaan; (k) lantai udik dan dinding tirai Dimensinya ditentukan dengan memperhatikan hal-hal seperti berikut : i. permeabilitas tanah; ii. penggerusan setempat; iii. pengurangan daya angkat air yang dapat melebihi kekuatan dan stabilitas bangunan; (l) bangunan penangkap sedimen: Lengkapi bangunan Tyrol dengan bangunan penangkap sedimen yang bentuk dan ukurannya diperhitungkan terhadap : i. jumlah endapan yang harus ditampung ; ii. frekwensi pembilasan endapan secara hidraulik.

Tembok sayap udik


A

Gorong-gorong pengumpul

Tubuh Bendung

Lantai udik

Saringan

Tembok pangkal

Tembok sayap hilir

Pintu pengatur debit


A

Penangkap pasir

Denah

Gambar B.5

Denah bendung Tyrol

35 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

Mercu

Saringan
SEPANJANG 80 m RAIL DIPOTONG BAGIAN BAWAHNYA
N

Batu candi

Gambar B.6 Detail penampang saringan pengambil


Puncak Tembok pangkal Mercu Bagian awal Bagian akhir

Lantai udik

Tubuh bendung

Gambar B.7 Potongan memanjang dan melintang gorong-gorong pengumpul 4) Bendung Pelimpah Mercu Bulat a) Pertimbangan Perancanaan Dalam pelaksanaan desain bangunan bendung pelimpah dengan mercu bulat harus direncanakan dengan seksama agar aman terhadap rembesan sesuai dengan Pd Txx-200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung. b) Persyaratan Perencanaan Berdasarkan Pd T-xx-200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung bendung pelimpah mercu bulat di desain dengan meperhatikan persyaratan : i. lokasi, tinggi mercu, debit banjir rencana dan stabilitas pelu didesain dengan mengacu pada acuan normatif ii. bendung pelimpah biasa sesuai dibangun pada sungai yang berlokasi di pertengahan (middle) iii. jenis ini dipilih jika material yang hanyut bersama sungai berfluktuasi dan bahan angkutannya besar iv. dasar sungai yang tidak rawan gerusan c) Persyaratan Keamanan Bangunan

R. 8O O,

Batu candi Batu candi


M

Gorong-gorong penyalur Mercu

Penangkap pasir

Pintu pengatur debit

Potongan Memanjang
Mercu Saringan Gorong-gorong penyalur Lapisan tanah aus (Batu candi) Batu bongkah

Potongan melintang

36 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

Bangunan bendung pelimpah mercu bulat dan bangunan pelengkap lainnya perlu didesain dengan memperhatikan keamanan bangunan ditinjau dari segi hidraulik, struktural, operasi dan pemeliharaan. (1) Kemanan hidraulik Bangunan utama dan bangunan pelengkapnya harus diperhitungkan aman terhadap :
- bahaya luapan pada bangunan tembok pangkal, tembok sayap udik dan hilir; - bahaya penggerusan setempat, degradasi dasar sungai dan penggerusan

tebing;
- bahaya erosi buluh akibat aliran di bawah dan di samping bangunan; - bahaya kavitasi; - bahaya akibat perubahan perilaku sungai.

(2) Kemanan Struktural Bangunan utama dan bangunan pelengkapnya harus memenuhi persyaratan kekuatan dan kestabilan struktur baik secara satu kesatuan maupun bagian per bagian dengan rincian meliputi :
- kekuatan terhadap benturan batu dan angkutan benda padat lainnya; - kestabilan bangunan terhadap guling, geser dan penurunan.

(3) Keamanan Operasi dan Pemeliharaan i. keamanan operasi : bangunan utama dan bangunan pelengkap seperti pintu pengatur debit, penangkap pasir dan bagian-bagiannya agar didesain untuk dapat dioperasikan dengan mudah, aman dan efisien;

ii. pemeliharaan : untuk menjaga fungsi dan keamanan bangunan setelah beroperasi diperlukan pemeliharaan dan pemantauan berkala; hal-hal yang perlu dipelihara yaitu :
- saringan dari sumbatan batu, sampah dan mengganti batang-batang yang

rusak;
- pembersihan berkala gorong-gorong pengumpul dari endapan sedimen

secara hidraulik;
- pembilasan penangkap pasir secara periodik. - pemeliharaan dan perbaikan lapisan tahan aus dan rip-rap

d) Desain Hidraulik Pelaksanaan pekerjaan yang perlu diperhatikan dalam detail desain bendung adalah sebagai berikut : (1) Pra Desain Hidraulik Kegiatan pra desain meliputi : (a) Persiapan pekerjaan yaitu pengumpulan, evaluasi dan analisis data. Data yang diperlukan yaitu : i.
-

data topografi berupa : peta yang meliputi daerah aliran sungai dengan skala minimal 1 : 50.000; - peta situasi sungai di lokasi bangunan dengan skala 1 : 2000 dan peta detail dengan skala minimum 1 : 5000

ii. data morfologi sungai seperti geometri sungai, data hidrograf aliran sungai dan perubahan-perubahan yang terjadi pada dasar sungai secara horisontal maupun vertikal;
37 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

iii. data geometri sungai berupa : bentuk dan ukuran alur, palung, lembah sungai, kemiringan dasar sungai; iv. data angkutan sedimen berupa : gradasi material dasar sungai, laju dan gradasi angkutan sedimen dasar; v. data hidrograf aliran sungai seperti : aliran banjir, frekuensi kejadian debit banjir, kurva massa aliran dan tinggi muka air sungai; vi. data geoteknik diantaranya : geomorfologi, stratigrafi dan struktur geologi serta kegempaan di daerah calon lokasi vii. data mekanika tanah : seperti sifat fisik tanah dan batauan serta sifat teknik tanah di sekitar calon lokasi; viii. data bahan bangunan : sumber dan jumlah bahan yang tersedia, jenis dan ketahanan umur, sifat fisik dan teknik bahan bangunan serta persyaratan kualitas bahan bangunan; ix. data lingkungan dan ekologi (b) peninjauan lapangan : untuk memeriksa tingkat ketelitian data; mendapat masukan data morfologi sungai dan sifat sungai, mengetahu dan memperkirakan masalah yang akan timbul; (c) penentuan lokasi bangunan harus dipilih berdasarkan studi perbandingan atas beberapa alternatif dengan mempertimbangkan fungsi bangunan dan faktor-faktor lain; topografi, morfologi sungai dan medan sekitarnya; geoteknik; lingkungan; pelaksanaan bangunan; dan mobilitas peralatan; (d) penentuan debit desain mencakup : i. debit desain banjir dengan kala ulang 100 tahun digunakan untuk mendesain bangunan pelimpah dan tembok pangkal; ii. debit desain sebesar debit alur penuh untuk bangunan peredam energi iii. debit andalan tertentu sesuai kebutuhan untuk kebutuhan irigasi dan kebutuhan pembilasan sedimen di gorong-gorong pengumpul serta penangkap pasir (2) Penentuan Bentuk dan Dimensi Bangunan Penentuan bentuk dan dimensi bangunan bendung pelimpah mercu bulat sesuai dengan Pd T-xx-200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung adalah sebagai berikut : (a) panjang mercu i. diperhitungkan terhadap kemampuan melewatkan debit banjir rencana dengan tinggi jagaan yang cukup; ii. sama dengan lebar rata-rata sungai stabil atau pada debit penuh alur dan umumnya ditentukan sebesar 1,2 kali lebar sungai rata-rata pada ruas sungai yang stabil; iii. material konstruksi untuk mercu digunakan pasangan dengan lapisan tanah aus (batu candi) i. ii. iii. iv. mercu dipilh bulat karena mudah dalam pelaksanaan; lebih tahan terhadap benturan batu gelundung, bongkah dan sebagainya; persyaratan minimum radius mercu bendung yaitu 0,7 h < R < h; kemiringan hilir kaki pelimpah 1 : 1 dengan tujuan menghindari kavitasi

(b) bentuk dan dimensi mercu;

(c) tinggi mercu; didesain untuk kebutuhan tinggi energi bagi penyadapan, pembilasan dan kebutuhan pengendalian angkutan sedimen serta menghindarkan terjadinya timbunan sedimen dan sampah;
38 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

i.

tidak lebih dari 4,0 m dan minimum 0,5 H (tinggi muka air di hulu bendung); ii. jika lebih maka perlu dilakukan pengaturan peninggian elevasi dasar lantai hulu bendung. (d) tinggi muka air di atas mercu; i. maksimum tinggi muka air 4,0 m; ii. jika > 4,0 m maka perlu dilakukan pelebaran bendung; iii. jika pelebaran tidak memungkinkan lagi maka perlu dilakukan uji model. (e) bangunan pengambilan tunggal kriteria desain bangunan pengambilan sesuai dengan Pd T-xx-200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung Tetap, sebagai berikut : perletakan berada pada tikungan luar sungai dengan sudut pengambilan 900 atau menyudut (450600) terhadap sumbu bangunan pembilas; ii. lubang pengambilan ditentukan berdasarkan kebutuhan air maksimum baik untuk pemasokan maupun pembilasan di kantong lumpur; iii. jika pengambilan menggunakan pintu yang dioperasikan secara manual maka lebar pintu maksimal 2,5 m (f) bangunan pengambilan ganda (bendung pelimpah biasa) kriteria desain bangunan pengambilan sesuai dengan Pd T-xx-200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung Tetap, sebagai berikut : i. terjadi jika kondisi daerah irigasi berada di kanan dan kiri bendung; pintu intake ditempatkan di pilar pembilas; ii. gorong-gorong penyeberang aliran di tempatkan di dalam tubuh bendung dengan kecepatan aliran 2,5 m/dt; iii. pembilas sedimen ditempatkan di pengeluaran gorong-gorong; iv. trashrack di pasang di mulut bangunan intake dan pembilas yang terbuat dari pipa besi bulat berjarak 20 cm (g) lantai bangunan pengambilan kriteria desain lantai bangunan pengambilan sesuai dengan Pd T-xx-200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung Tetap, sebagai berikut : i. ditentukan datar dengan ketinggian sama dan 0,5 m di atas plat undersluice; ii. jika bangunan pembilas tanpa undersluice maka tinggi lantai diatas lantai hulu bendung : - 0,5 m, jika sungai mengakut lanau; - 1,0 m, jika sungai mengakut pasir dan kerikil; - 1,5 m, jika sungai mengakut pasir dan kerikil; (h) pilar bangunan pengambilan Dibangun jika lebar intake lebih dari 1,0 m dengan kriteria sesuai dengan Pd T-xx-200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung Tetap : i. bentuk awal bulat dan tegak atau dengan kemiringan; ii. bagian hilir dapat dibuat tegak atau dengan kemiringan; iii. ketebalan pilar sekitar 0,7 m 1,0 m; sponeng untuk perletakan pintu (i) bangunan pembilas kriteria desain bangunan pembilas sesuai dengan Pd T-xx-200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung Tetap, sebagai berikut :
39 dari 77

i.

RPT0-Pd T-xx-xxxx

i. lebar pembilas total 1/6 1/10 dari lebar bendung; ii. bangunan dilengkapi dengan pilar-pilar dan pintu; iii. bentuk pilar bagian hulu bulat dengan jari-jari pembulatan setengah lebar pilar; iv. bagian hilir runcing dengan jari-jari peruncingan 2 x lebar pilar; v. bentuk bagian hulu tegak dan berawal dari bagian muka kepala bendung; vi. kemiringan bagain hilir dapat diambil dengan perbandingan 1 : n; vii. lebar pilar sisi bagian luar dapat diambil sampai dengan 2,0 m; viii. lebar sisi bagian dalam 1,0 m dan 1,5 m; ix. mercu pintu pembilas ditentukan sama tinggi dengan elevasi mercu bendung atau 0,10 m lebih tinggi dari elevasi mercu bendung; x. lebar pintu pembilas maksimum 2,5 m (operasi manual). (j) pembilas undersluice kriteria desain lantai bangunan pembilas undersluice sesuai dengan Pd T-xx200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung Tetap, sebagai berikut : i. ii. iii. iv. bangunan pintu pembilas diletakkan segaris dengan sumbu bendung; mulut undersluice mengarah ke hulu; lebar mulut undersluice harus lebih besar dari 1,2 x lebar intake; panjang undersluice ditentukan berdasarkan perletakan hulu intake dan tinggi undersluice minimum 1,0 m; v. bentuk lantai datar

(k) pembilas shunt undersluice kriteria desain lantai bangunan pembilas shunt undersluice sesuai dengan Pd T-xx-200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung Tetap, sebagai berikut : i. ii. iii. iv. v. vi. dibangun jika material angkutan sungai masih dimungkinkan batu gelundung; mulut undersluice mengarah ke samping; tinggi lubang minimum 1,0 m; lebar lubang disesuaikan dengan lebar intake dan pembilas; tembok pangkal bagian hulu segaris dengan bagian luar pembilas; bagian hulu dilengkapi dengan bangunan boulder screen dan dinding banjir

(l) tembok baya-baya; kriteria desain lantai bangunan tembok baya-baya sesuai dengan Pd T-xx200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung Tetap, sebagai berikut : i. penempatan menerus ke arah hulu dari pilar pembilas bagian luar/sisi bendung; ii. bentuk mengecil ke arah hulu sebesar setengah lebar tembok pilar; iii. tinggi mercu minimal 0,5 m di atas bendung dengan panjang ke arah hulu sama dengan lebar mulut undersluice dan tidak menghalangi pengaliran ke intake (m) bangunan penahan batu; Lengkapi bangunan intake dengan bangunan penahan batu dimana penempatan dan komponen bangunan sesuai dengan Pd T-xx-200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung Tetap adalah sebagai berikut : i. ditempatkan di hulu intake/undersluice; ii. komponen bangunan terdiri dari barisan cerucuk pipa dengan diameter sebesar 0,15 m dan jarak antar tiang sebesar diameter butir yang akan tertahan;
40 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

iii. balok beton pengikat dengan ukuran lebar 0,5 0,7 m, tebal 0,2 0,4 m serta pada ketinggian minimal 1,0 m dari atas mercu bendung; iv. pondasi tiang yang kedalamannya disesuaikan dengan elevasi dasar sungai dan lantai undersluice (n) peredam energi : Lengkapi bangunan dengan peredam energi untuk mencegah penggerusan setempat dengan memperhatikan : i. ii. iii. iv. debit desain untuk bangunan peredam energi; tinggi terjunan; penggerusan setempat; degradasi sungai setempat

Pemilihan tipe peredam energi : i. tipe MDO dan MDS - tipe MDO digunakan di sungai aluvial dengan angkutan sedimen dominan fraksi pasir, kerikil dan kerakal; - tipe MDS digunakan terutama di sungai aluvial dengan angkutan sedimen dominan fraksi pasir dan kerikil; - tinggi air hulu bendung dibatasi maksimum 4,0 m; - tinggi pembendungan (dihitung dari elevasi mercu bendung sampai dengan elevasi dasar sungai di hilir) maksimum 10,0 m RSNI T-042002. ii. tipe cekung kriteria desain lantai bangunan pembilas shunt undersluice sesuai dengan Pd T-xx-200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung Tetap, sebagai berikut :
- sungai dengan kemiringan dasar curam dengan angkutan sedimen yang

terbawa aliran adalah batu gelundung;


- terbentuk pusaran dasar balik searah jarum jam; - dasar sungai cukup keras

iii. tipe ganda Lokasi bendung berada pada sudetan sungai dengan ketinggian lebih dari 10,0 m sesuai dengan Pd T-xx-200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung Tetap (o) tembok pangkal Tentukan bentuk dan ukuran tembok pangkal dengan cara : i. tinggi tembok pangkal ditentukan dengan memperhatikan debit desain untuk kapasitas pelimpahan ditambah dengan tinggi jagaan tertentu; ii. panjang tembok pangkal ditentukan oleh dimensi tubuh bangunan dan peredam energi; iii. bentuk tembok pangkal dapat dibuat tegak atau miring; iv. ujung tembok pangkal ke arah hilir (Lpi) ditempatkan di tengah-tengah panjang lantai peredam energi sesuai dengan RSNI T-04-2002: Lpi = Lb + 0,5 Ls v. panjang tembok pangkal di bagian hulu (Lpu) bagian yang tegak di hitung dari sumbu mercu bendung sesuai dengan RSNI T-04-2002: 0,50 Ls Lpu Ls

41 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

(p) tembok sayap hulu dan hilir Lengkapi bangunan dengan tembok sayap dengan memperhatikan: i. bentuk dan dimensi peredam energi; ii. geometri sungai di hilir dan sekitarnya; iii. prediksi kedalaman penggerusan setempat dan degradasi dasar sungai yang akan terjadi; iv. stabilitas tebing; v. tinggi muka air hilir pada debit desain ditambah dengan tinggi jagaan; vi. panjang tembok sayap hulu ditentukan : - kemiringan tembok diambil 1 : 1 - pertemuan dengan tembok pangkal dibuat menyudut kurang lebih dari 450 - bagi tebing yang tidak jauh dari sisi tembok pangkal bendung, ujung tembok sayap hulu dilengkungkan masuk ke tebing dengan panjang total tembok pangkal ditambah sayap hulu sesuai dengan RSNI T-042002: 1,0 Ls Lsu 1,5 Ls
- bagi tebing sungai yang jauh dari sisi tembok p[angkal bendung atau

palung sungai di hulu bendung yang relatif jauh lebih lebar dibandingkan dengan lebar pelimpah bendung maka tembok sayap hulu perlu diperpenjang dengan tembok pengarah arus yang panjangnya diambil minimum sesuai dengan RSNI T-04-2002: 2 x Lpu vii. panjang tembok sayap hilir (Lsi) : - kemiringan tembok diambil 1 : 1 - panjang tembok dihitung dari ujung hilir lantai peredam energi diambil sesuai dengan RSNI T-04-2002 : Ls Lsi 1,5 Ls viii. jika tinggi tembok sayap lebih dari 4,0 m maka perlu dibuat bertangga dengan : Lsi Lsu Lpu Ls = panjang tembok sayap hilir dari ujung hilir lantai peredam energi ke hilir, meter = panjang tembok sayap hulu, meter = panjang tembok pangkal hulu bendung dari sumbu mercu bendung ke hulu, meter = panjang labtai peredam energi, meter

(q) lantai hulu dan hilir Dimensi bangunan pelengkap ini dtentukan dengan memperhatikan permeabilitas tanah, kemungkinan degradasi dasar sungai dan penggerusan setempat di hilir bangunan, dan kebutuhan pengurangan daya angkat air. Hal itu dilakukan agar tidak meliebihi kekuatan dan stabilitas bangunan. (r) rip-rap Lengkapi bangunan dengan rip-rap yang berfungsi sebagai pelindung bangunan terhadap bahaya penggerusan sesuai dengan Pd T-xx-200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung Tetap, dengan kriteria : i. ditempatkan di bagian hilir ambang akhir sepanjang tembok sayap hilir; ii. material rip-rap berupa bongkahan batu dengan kriteria bulat, padat, keras dengan berat jenis batu 2,4 t/m3; iii. material rip-rap berupa blok beton dengan 1,0 x 1,0 x 1,0 m dan 0,5 x 0,5 x 0,5 m;
42 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

iv. kedalaman penanaman sekitar 2,0 m pada bagian hilir ambang dan 1,5 m pada bagian kaki tembok sayap hilir (s) kantong lumpur Lengkapi bangunan dengan kantong lumpur mengacu pada KP-04 SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 dengan memperhatikan : i. ii. iii. iv. v. berada di hilir intake dengan bentuk dan ukuran sesuai dengan kondisi material sedimen; kemiringan sungai harus cukup curam; Kecepatan aliran dalam kantong lumpur bersifat sub kritis, sehingga partikel yang telah mengendap tidak menghambur lagi; Kecepatan aliran tidak boleh kurang dari 0,30 m/dt; Panjang kantong lumpur biasanya berkisar antara 200 m untuk bahan sedimen kasar sedangkan 500 m untuk partikel-partikel yang halus

(t) papan duga muka air Lengkapi bangunan dengan papan duga muka air mengacu pada KP-04 SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 dengan ketentuan : i. papan duga dipasang dengan ketinggian nol pada mercu bendung atau pada elevasi yang tepat sesuai dengan ketinggian titk nol yang dipakai ii. papan duga terbuat dari plat baja yang dilapisi bahan logam enamel iii. warna yang digunakan adalah putih untuk alas dan biru untuk huruf dan angka (u) jembatan inspeksi jembatan lalu lintas orang, pilar-pilarnya ditempatkan di mercu bendung atau sedikit di hulu bendung; ii. jembatan lalu lintas kendaraan, pilar-pilarnya ditempatkan di hulu bendung; Persyaratan desain mengacu pada KP-02 SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 i.

43 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

Gambar B.8 Denah bangunan bendung tetap

Gambar B.9 Potongan melintang dan memanjang tubuh bendung pelimpah bulat

44 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

Gambar B.10 Tipikal bangunan penahan batu

Gambar B.11 Tipikal bangunan peredam energi tipe ganda 5) Bendung Pelimpah Tipe Gergaji a) Pertimbangan Perencanaan Dalam rencana penerapan bangunan bendung dengan pelimpah tipe gergaji hendaknya dilakukan evaluasi perbandingan dengan kemungkinan penerapan bendung tipe lain, seperti bendung tetap dengan pelimpah biasa, bendung karet, atau bendung gerak sesuai Pd T-01-2004-A b) Persyaratan Perencanaan Bendung pelimpah tipe gergaji harus didesain berdasarkan Pd T-01-2004-A, dengan memperhatikan persyaratan berikut : i. Lokasi, tinggi mercu, debit banjir rencana dan stabilitas perlu didesain dengan mengacu pada acuan normatif; ii. Bendung dengan pelimpah tipe gergaji kurang sesuai untuk dibangun pada sungai dengan angkutan material dasar sungai batu gelundung dan atau jika sungai tersebut membawa batang-batang pohon dalam jumlah yang tinggi sehingga diperkirakan akan menimbulkan masalah benturan yang dapat merusak bangunan dan tau tumpukan sampah yang dapat mengakibatkan penurunan kapasitas pelimpahan bendung; iii. Struktur tubuh bendung tipe gergaji relatif ramping, berkaitan dengan hal ini maka stabilitas dan kekuatan bagian-bagian struktur serta penyaluran gaya ke pondasi bangunan perlu di analisis dengan cermat; iv. Untuk memenuhi persyaratan kekuatan struktur, jari-jari mercu perlu diambil lebih besar atau sama dengan 0,10 m.

45 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

c) Persyaratan Kemanan Bangunan Bangunan bendung dan bangunan pelengkap lainnya perlu didesain dengan memperhatikan kemanan bangunan ditinjau dari segi hidraulik, struktural, operasi dan pemeliharaan sesuai dengan SNI 03-1724-1989, yang meliputi : (1) Kemanan hidraulik Bangunan utama dan bangunan pelengkapnya harus diperhitungkan aman terhadap :
- bahaya luapan pada bangunan tembok pangkal, tembok sayap udik dan hilir; - bahaya penggerusan setempat, degradasi dasar sungai dan penggerusan

tebing;
- bahaya erosi buluh akibat aliran di bawah dan di samping bangunan; - bahaya kavitasi; - bahaya akibat perubahan perilaku sungai.

(2) Kemanan Struktural Bangunan pengambil utama dan bangunan pelengkapnya harus memenuhi persyaratan kekuatan dan kestabilan struktur baik secara satu kesatuan maupun bagian per bagian dengan rincian meliputi :
- kekuatan terhadap benturan batu dan angkutan benda padat lainnya; - kestabilan bangunan terhadap guling, geser dan penurunan.

(3) Keamanan Operasi dan Pemeliharaan i. keamanan operasi : bangunan utama dan bangunan pelengkap seperti pintu pengatur debit, penangkap pasir dan bagian-bagiannya agar didesain untuk dapat dioperasikan dengan mudah, aman dan efisien;

ii. pemeliharaan : untuk menjaga fungsi dan keamanan bangunan setelah beroperasi diperlukan pemeliharaan dan pemantauan berkala; hal-hal yang perlu dipelihara yaitu :
- saringan dari sumbatan batu, sampah dan mengganti batang-batang yang

rusak;
- pembersihan berkala gorong-gorong pengumpul dari endapan sedimen

secara hidraulik;
- pembilasan penangkap pasir secara periodik. - pemeliharaan dan perbaikan lapisan tahan aus dan rip-rap

d) Desain Hidraulik Pelaksanaan pekerjaan yang perlu diperhatikan dalam detail desain bendung adalah sebagai berikut : (1) Pra Desain Hidraulik Kegiatan pra desain meliputi : (a) Persiapan pekerjaan yaitu pengumpulan, evaluasi dan analisis data. Data yang diperlukan yaitu : i.
-

data topografi berupa : peta yang meliputi daerah aliran sungai dengan skala minimum 1 : 50.000; - peta situasi sungai di lokasi bangunan dengan skala 1 : 2000 dan peta detail dengan skala minimum 1 : 5000

46 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

ii. data morfologi sungai seperti geometri sungai, data hidrograf aliran sungai dan perubahan-perubahan yang terjadi pada dasar sungai secara horisontal maupun vertikal; iii. data geometri sungai berupa : bentuk dan ukuran alur, palung, lembah sungai, kemiringan dasar sungai; iv. data angkutan sedimen berupa : gradasi material dasar sungai, laju dan gradasi angkutan sedimen dasar; v. data hidrograf aliran sungai seperti : aliran banjir, frekuensi kejadian debit banjir, kurva massa aliran dan tinggi muka air sungai; vi. data geoteknik diantaranya : geomorfologi, stratigrafi dan struktur geologi serta kegempaan di daerah calon lokasi vii. data mekanika tanah : seperti sifat fisik tanah dan batauan serta sifat teknik tanah di sekitar calon lokasi; viii. data bahan bangunan : sumber dan jumlah bahan yang tersedia, jenis dan ketahanan umur, sifat fisik dan teknik bahan bangunan serta persyaratan kualitas bahan bangunan; ix. data lingkungan dan ekologi (b) peninjauan lapangan : untuk memeriksa tingkat ketelitian data; mendapat masukan data morfologi sungai dan sifat sungai, mengetahu dan memperkirakan masalah yang akan timbul; (c) penentuan lokasi bangunan harus dipilih berdasarkan studi perbandingan atas beberapa alternatif dengan mempertimbangkan fungsi bangunan dan faktor-faktor lain; topografi, morfologi sungai dan medan sekitarnya; geoteknik; lingkungan; pelaksanaan bangunan; dan mobilitas peralatan; (d) penentuan debit desain mencakup : i. debit desain banjir dengan kala ulang 100 tahun digunakan untuk mendesain bangunan pelimpah dan tembok pangkal; ii. debit desain sebesar debit alur penuh untuk bangunan peredam energi iii. debit andalan tertentu sesuai kebutuhan untuk kebutuhan irigasi dan kebutuhan pembilasan sedimen di gorong-gorong pengumpul serta penangkap pasir (2) Penentuan Bentuk dan Dimensi (a) bentuk dan tata letak gigi i. pelimpah dengan bentuk dasar segitiga menghasilkan kapasitas pelimpahan terbesar. Namun demikian, dinding-dinding pelimpah bagian ujung hulu dan hilir pada bentuk segitiga sangat dekat. Keadaan ini mengakibatkan pelimpah bentuk segitiga sangat peka terhadap efek muka air hilir dan mudah kehilangan aerasi akibat tumbukan aliran menyilang yang jatuh dari dinding-dinding pelimpah. ii. pada pelimpah dengan bentuk dasar persegi panjang terjadi pengkonsentrasian aliran menuju pelimpah. keadaan ini menimbulkan depresi terhadap muka air di atas pelimpah dan mengakibatkan penurunan kapasitas pelimpah. iii. bentuk dasar trapesium memberikan efektifitas pelimpahan yang terbaik. (b) pengaruh tinggi muka air hulu i. pelimpah gergaji memberikan kinerja sangat baik untuk besaran

h rendah. p

47 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

ii. pada kondisi

h tinggi, debit dan kecepatan aliran menuju pelimpah p

menjadi besar sehingga akan terjadi kontraksi aliran. Keadaan ini mengakibatkan sebagian besar pelimpah bekerja dengan tinggi tekan aliran yang lebih rendah daripada tinggi tekan aliran di sungai/saluran di hulu pelimpah. iii. berkaitan dengan karakteristik ini, disarankan agar tinggi muka air hulu maksimum diambil pada domain

(c) besar nilai pelipatan panjang pelimpah, i.

h 0,5 p Ig b Ig b

secara umum dapat dikatakan bahwa nilai pelipatan kapasitas pelimpahan akan naik setara dengan pertambahan nilai nilai . Namun demikian, untuk

Ig b

> 8 akan diperoleh keadaan pertambahan kapasitas pelimpahan

yang tidak sebanding dengan tuntutan biaya yang diperlukan untuk memperpanjang pelimpah; ii. untuk pelimpah dengan

Ig b

= 8, pelipatan kapasitas pelimpahan sangat

peka terhadap kenaikan muka air hulu. Pelipatan kapasitas pelimpahan turun dengan tajam untuk harga

h 0,2; p

iii. jika dalam desain bendung gergaji dapat dilakukan pembatasan muka air hulu hingga

pelimpah bendungan tipe gergaji diambil dalam domain, iv. jika tinggi muka air hulu dapat dibatasi hingga pelipatan panjang pelimpah dapat diambil hingga (d) besar sudut antara dinding sisi dan arah aliran,

h maksimum = 0,5, disarankan agar nilai pelipatan panjang p Ig

h 0,25, maka nilai p Ig b


6

i. kapasitas pelimpah akan naik seiring dengan peningkatan sudut ii. untuk mengoptimalkan karakteristik ini, disarankan agar dipilih bentuk gigi trapesium dengan besar sudut = 0,75 maks, dengan maks adalah besar sudut segi tiga terbesar yang dapat dicapai untuk menghasilkan harga pelipatan panjang pelimpah tertentu (e) aerasi dan muka air hilir i. tanpa aerasi yang baik, kapasitas pelimpah bendung gergaji kana menurun. aerasi dapat dilaukan dengan memasang pipa pemasik udara di bagian hilir mercu ii. penerapan bendung dan pelimpah gergaji pada kondisi aliran tidak sempurna perlu dihindari
48 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

(f) bentuk mercu pelimpah i. bentuk mercu pelimpah sangat berpengaruh terhadap kapasitas pelimpahan. ii. bentuk mercu setengah lingkaran mempunyai koefisien pelimpahan (c), yang lebih besar daripada koefisien pelimpahan mercu dengan bentuk tajam (c). iii. jika kapasitas pelimpahan suatu bendung atau pelimpah bendungan tipe gergaji dengan besar pelipatan panjang mercu

Ig b

dan nilai koefisien

pelimpahan ct adalah sebesar Qt, kapasitas pelimpahan bendung gergaji dengan ct/c x Qt (g) bangunan pengambilan tunggal kriteria desain bangunan pengambilan sesuai dengan Pd T-xx-200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung Tetap, sebagai berikut : perletakan berada pada tikungan luar sungai dengan sudut pengambilan 900 atau menyudut (450600) terhadap sumbu bangunan pembilas; ii. lubang pengambilan ditentukan berdasarkan kebutuhan air maksimum baik untuk pemasokan maupun pembilasan di kantong lumpur; iii. jika pengambilan menggunakan pintu yang dioperasikan secara manual maka lebar pintu maksimal 2,5 m (h) bangunan pengambilan ganda (bendung pelimpah biasa) kriteria desain bangunan pengambilan sesuai dengan Pd T-xx-200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung Tetap, sebagai berikut : i. terjadi jika kondisi daerah irigasi berada di kanan dan kiri bendung; pintu intake ditempatkan di pilar pembilas; ii. trashrack di pasang di mulut bangunan intake dan pembilas yang terbuat dari pipa besi bulat berjarak 20 cm (i) lantai bangunan pengambilan kriteria desain lantai bangunan pengambilan sesuai dengan Pd T-xx-200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung Tetap, sebagai berikut : i. ditentukan datar dengan ketinggian sama dan 0,5 m di atas plat undersluice; ii. jika bangunan pembilas tanpa undersluice maka tinggi lantai diatas lantai hulu bendung : - 0,5 m, jika sungai mengakut lanau; - 1,0 m, jika sungai mengakut pasir dan kerikil; - 1,5 m, jika sungai mengakut pasir dan kerikil; (j) pilar bangunan pengambilan Dibangun jika lebar intake lebih dari 1,0 m dengan kriteria sesuai dengan Pd T-xx-200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung Tetap : i. bentuk awal bulat dan tegak atau dengan kemiringan; ii. bagian hilir dapat dibuat tegak atau dengan kemiringan; iii. ketebalan pilar sekitar 0,7 m 1,0 m; sponeng untuk perletakan pintu i.

Ig b

yang sama tetapi dengan koefisien pelimpahan c adalah Qg =

49 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

(k) bangunan pembilas kriteria desain bangunan pembilas sesuai dengan Pd T-xx-200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung Tetap, sebagai berikut : i. lebar pembilas total 1/6 1/10 dari lebar bendung; ii. bangunan dilengkapi dengan pilar-pilar dan pintu; iii. bentuk pilar bagian hulu bulat dengan jari-jari pembulatan setengah lebar pilar; iv. bagian hilir runcing dengan jari-jari peruncingan 2 x lebar pilar; v. bentuk bagian hulu tegak dan berawal dari bagian muka kepala bendung; vi. kemiringan bagain hilir dapat diambil dengan perbandingan 1 : n; vii. lebar pilar sisi bagian luar dapat diambil sampai dengan 2,0 m; viii. lebar sisi bagian dalam 1,0 m dan 1,5 m; ix. mercu pintu pembilas ditentukan sama tinggi dengan elevasi mercu bendung atau 0,10 m lebih tinggi dari elevasi mercu bendung; x. lebar pintu pembilas maksimum 2,5 m (operasi manual). (l) pembilas undersluice kriteria desain lantai bangunan pembilas undersluice sesuai dengan Pd T-xx200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung Tetap, sebagai berikut : i. ii. iii. iv. bangunan pintu pembilas diletakkan segaris dengan sumbu bendung; mulut undersluice mengarah ke hulu; lebar mulut undersluice harus lebih besar dari 1,2 x lebar intake; panjang undersluice ditentukan berdasarkan perletakan hulu intake dan tinggi undersluice minimum 1,0 m; v. bentuk lantai datar

(m) pembilas shunt undersluice kriteria desain lantai bangunan pembilas shunt undersluice sesuai dengan Pd T-xx-200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung Tetap, sebagai berikut : i. ii. iii. iv. v. vi. dibangun jika material angkutan sungai masih dimungkinkan batu gelundung; mulut undersluice mengarah ke samping; tinggi lubang minimum 1,0 m; lebar lubang disesuaikan dengan lebar intake dan pembilas; tembok pangkal bagian hulu segaris dengan bagian luar pembilas; bagian hulu dilengkapi dengan bangunan boulder screen dan dinding banjir

(n) tembok baya-baya; kriteria desain lantai bangunan tembok baya-baya sesuai dengan Pd T-xx200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung Tetap, sebagai berikut : i. penempatan menerus ke arah hulu dari pilar pembilas bagian luar/sisi bendung; ii. bentuk mengecil ke arah hulu sebesar setengah lebar tembok pilar; iii. tinggi mercu minimal 0,5 m di atas bendung dengan panjang ke arah hulu sama dengan lebar mulut undersluice dan tidak menghalangi pengaliran ke intake (o) bangunan penahan batu; Lengkapi bangunan intake dengan bangunan penahan batu dimana penempatan dan komponen bangunan sesuai dengan Pd T-xx-200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung Tetap adalah sebagai berikut :
50 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

i. ditempatkan di hulu intake/undersluice; ii. komponen bangunan terdiri dari barisan cerucuk pipa dengan diameter sebesar 0,15 m dan jarak antar tiang sebesar diameter butir yang akan tertahan; iii. balok beton pengikat dengan ukuran lebar 0,5 0,7 m, tebal 0,2 0,4 m serta pada ketinggian minimal 1,0 m dari atas mercu bendung; iv. pondasi tiang yang kedalamannya disesuaikan dengan elevasi dasar sungai dan lantai undersluice (p) peredam energi : Lengkapi bangunan dengan peredam energi untuk mencegah penggerusan setempat dengan memperhatikan : i. ii. iii. iv. debit desain untuk bangunan peredam energi; tinggi terjunan; penggerusan setempat; degradasi sungai setempat

Pemilihan tipe peredam energi : i. tipe MDO dan MDS - tipe MDO digunakan di sungai aluvial dengan angkutan sedimen dominan fraksi pasir, kerikil dan kerakal; - tipe MDS digunakan terutama di sungai aluvial dengan angkutan sedimen dominan fraksi pasir dan kerikil; - tinggi air hulu bendung dibatasi maksimum 4,0 m; - tinggi pembendungan (dihitung dari elevasi mercu bendung sampai dengan elevasi dasar sungai di hilir) maksimum 10,0 m RSNI T-042002. ii. tipe cekung kriteria desain lantai bangunan pembilas shunt undersluice sesuai dengan Pd T-xx-200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung Tetap, sebagai berikut :
- sungai dengan kemiringan dasar curam dengan angkutan sedimen yang

terbawa aliran adalah batu gelundung;


- terbentuk pusaran dasar balik searah jarum jam; - dasar sungai cukup keras

(q) tembok pangkal Tentukan bentuk dan ukuran tembok pangkal dengan cara : i. tinggi tembok pangkal ditentukan dengan memperhatikan debit desain untuk kapasitas pelimpahan ditambah dengan tinggi jagaan tertentu; ii. panjang tembok pangkal ditentukan oleh dimensi tubuh bangunan dan peredam energi; iii. bentuk tembok pangkal dapat dibuat tegak atau miring; iv. ujung tembok pangkal ke arah hilir (Lpi) ditempatkan di tengah-tengah panjang lantai peredam energi sesuai dengan RSNI T-04-2002: Lpi = Lb + 0,5 Ls v. panjang tembok pangkal di bagian hulu (Lpu) bagian yang tegak di hitung dari sumbu mercu bendung sesuai dengan RSNI T-04-2002: 0,50 Ls Lpu Ls (r) tembok sayap hulu dan hilir Lengkapi bangunan dengan tembok sayap dengan memperhatikan: i. bentuk dan dimensi peredam energi;
51 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

ii. geometri sungai di hilir dan sekitarnya; iii. prediksi kedalaman penggerusan setempat dan degradasi dasar sungai yang akan terjadi; iv. stabilitas tebing; v. tinggi muka air hilir pada debit desain ditambah dengan tinggi jagaan; vi. panjang tembok sayap hulu ditentukan : - kemiringan tembok diambil 1 : 1 - pertemuan dengan tembok pangkal dibuat menyudut kurang lebih dari 450 - bagi tebing yang tidak jauh dari sisi tembok pangkal bendung, ujung tembok sayap hulu dilengkungkan masuk ke tebing dengan panjang total tembok pangkal ditambah sayap hulu sesuai dengan RSNI T-042002: 1,0 Ls Lsu 1,5 Ls
- bagi tebing sungai yang jauh dari sisi tembok p[angkal bendung atau

palung sungai di hulu bendung yang relatif jauh lebih lebar dibandingkan dengan lebar pelimpah bendung maka tembok sayap hulu perlu diperpenjang dengan tembok pengarah arus yang panjangnya diambil minimum sesuai dengan RSNI T-04-2002: 2 x Lpu vii. panjang tembok sayap hilir (Lsi) : - kemiringan tembok diambil 1 : 1 - panjang tembok dihitung dari ujung hilir lantai peredam energi diambil sesuai dengan RSNI T-04-2002 : Ls Lsi 1,5 Ls viii. jika tinggi tembok sayap lebih dari 4,0 m maka perlu dibuat bertangga dengan : Lsi Lsu Lpu Ls = panjang tembok sayap hilir dari ujung hilir lantai peredam energi ke hilir, meter = panjang tembok sayap hulu, meter = panjang tembok pangkal hulu bendung dari sumbu mercu bendung ke hulu, meter = panjang labtai peredam energi, meter

(s) lantai hulu dan hilir Dimensi bangunan pelengkap ini dtentukan dengan memperhatikan permeabilitas tanah, kemungkinan degradasi dasar sungai dan penggerusan setempat di hilir bangunan, dan kebutuhan pengurangan daya angkat air. Hal itu dilakukan agar tidak meliebihi kekuatan dan stabilitas bangunan. (t) rip-rap Lengkapi bangunan dengan rip-rap yang berfungsi sebagai pelindung bangunan terhadap bahaya penggerusan sesuai dengan Pd T-xx-200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung Tetap, dengan kriteria : i. ditempatkan di bagian hilir ambang akhir sepanjang tembok sayap hilir; ii. material rip-rap berupa bongkahan batu dengan kriteria bulat, padat, keras dengan berat jenis batu 2,4 t/m3; iii. material rip-rap berupa blok beton dengan 1,0 x 1,0 x 1,0 m dan 0,5 x 0,5 x 0,5 m; iv. kedalaman penanaman sekitar 2,0 m pada bagian hilir ambang dan 1,5 m pada bagian kaki tembok sayap hilir
52 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

(u) kantong lumpur Lengkapi bangunan dengan kantong lumpur mengacu pada KP-04 SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 dengan memperhatikan : i. ii. iii. iv. v. berada di hilir intake dengan bentuk dan ukuran sesuai dengan kondisi material sedimen; kemiringan sungai harus cukup curam; Kecepatan aliran dalam kantong lumpur bersifat sub kritis, sehingga partikel yang telah mengendap tidak menghambur lagi; Kecepatan aliran tidak boleh kurang dari 0,30 m/dt; Panjang kantong lumpur biasanya berkisar antara 200 m untuk bahan sedimen kasar sedangkan 500 m untuk partikel-partikel yang halus

(v) papan duga muka air Lengkapi bangunan dengan papan duga muka air mengacu pada KP-04 SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 dengan ketentuan : i. papan duga dipasang dengan ketinggian nol pada mercu bendung atau pada elevasi yang tepat sesuai dengan ketinggian titk nol yang dipakai ii. papan duga terbuat dari plat baja yang dilapisi bahan logam enamel iii. warna yang digunakan adalah putih untuk alas dan biru untuk huruf dan angka 6) Bendung Gerak dengan Pintu a) Pertimbangan Perencanaan Berdasarkan Pd T-xx-200x-A : Tata Cara Desain Bendung Gerak bendung gerak akan dipilih dengan pertimbangan jika peninggian dasar sungai akibat konstruksi bendung tetap tidak dapat diterima dikarenakan mempersulit pembuangan air atau membahayakan pekerjaan sungai yang telah ada akibat peninggian muka air. b) Persyaratan Perencanaan Berdasarkan Pd T-xx-200x-A : Tata Cara Desain Bendung Gerak bendung gerak akan didesain dengan memperhatikan persyaratan : i. kemiringan sungai relatif kecil atau datar; ii. peninggian dasar sungai yang diakibatkan oleh konstruksi bendung tetap tidak dapat diterima karena akan mempersulit pembuangan air atau membahayakan pekerjaan sungai yang telah ada; iii. debit banjir tidak bisa dilewatkan dengan aman melalui bendung tetap; iv. berada pada lapisan tanah pondasi yang kuat. c) Persyaratan Kemanan Bangunan Bangunan bendung dan bangunan pelengkap lainnya perlu didesain dengan memperhatikan kemanan bangunan ditinjau dari segi hidraulik, struktural, operasi dan pemeliharaan sesuai dengan SNI 03-1724-1989, yang meliputi : (1) Kemanan hidraulik Bangunan utama dan bangunan pelengkapnya harus diperhitungkan aman terhadap :
- bahaya luapan pada bangunan tembok pangkal, tembok sayap udik dan hilir; - bahaya penggerusan setempat, degradasi dasar sungai dan penggerusan

tebing;
- bahaya erosi buluh akibat aliran di bawah dan di samping bangunan; - bahaya kavitasi; - bahaya akibat perubahan perilaku sungai. 53 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

(2) Kemanan Struktural Bangunan utama dan bangunan pelengkapnya harus memenuhi persyaratan kekuatan dan kestabilan struktur baik secara satu kesatuan maupun bagian per bagian dengan rincian meliputi :
- kekuatan terhadap benturan batu dan angkutan benda padat lainnya; - kestabilan bangunan terhadap guling, geser dan penurunan.

(3) Keamanan Operasi dan Pemeliharaan i. keamanan operasi : bangunan utama dan bangunan pelengkap seperti pintu pengatur debit, penangkap pasir dan bagian-bagiannya agar didesain untuk dapat dioperasikan dengan mudah, aman dan efisien;

ii. pemeliharaan : untuk menjaga fungsi dan keamanan bangunan setelah beroperasi diperlukan pemeliharaan dan pemantauan berkala; hal-hal yang perlu dipelihara yaitu :
- saringan dari sumbatan batu, sampah dan mengganti batang-batang yang

rusak;
- pembersihan berkala gorong-gorong pengumpul dari endapan sedimen

secara hidraulik;
- pembilasan penangkap pasir secara periodik. - pemeliharaan dan perbaikan lapisan tahan aus dan rip-rap

d) Desain Hidraulik Pelaksanaan pekerjaan yang perlu diperhatikan dalam detail desain bendung adalah sebagai berikut : (1) Pra Desain Hidraulik Kegiatan pra desain meliputi : (a) Persiapan pekerjaan yaitu pengumpulan, evaluasi dan analisis data. Data yang diperlukan yaitu : i.
-

data topografi berupa : peta yang meliputi daerah aliran sungai dengan skala minimum 1 : 50.000; - peta situasi sungai di lokasi bangunan dengan skala 1 : 2000 dan peta detail dengan skala minimum 1 : 5000

ii. data morfologi sungai seperti geometri sungai, data hidrograf aliran sungai dan perubahan-perubahan yang terjadi pada dasar sungai secara horisontal maupun vertikal; iii. data geometri sungai berupa : bentuk dan ukuran alur, palung, lembah sungai, kemiringan dasar sungai; iv. data angkutan sedimen berupa : gradasi material dasar sungai, laju dan gradasi angkutan sedimen dasar; v. data hidrograf aliran sungai seperti : aliran banjir, frekuensi kejadian debit banjir, kurva massa aliran dan tinggi muka air sungai; vi. data geoteknik diantaranya : geomorfologi, stratigrafi dan struktur geologi serta kegempaan di daerah calon lokasi vii. data mekanika tanah : seperti sifat fisik tanah dan batauan serta sifat teknik tanah di sekitar calon lokasi; viii. data bahan bangunan : sumber dan jumlah bahan yang tersedia, jenis dan ketahanan umur, sifat fisik dan teknik bahan bangunan serta persyaratan kualitas bahan bangunan; ix. data lingkungan dan ekologi
54 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

(b) peninjauan lapangan : untuk memeriksa tingkat ketelitian data; mendapat masukan data morfologi sungai dan sifat sungai, mengetahu dan memperkirakan masalah yang akan timbul; (c) penentuan lokasi bangunan harus dipilih berdasarkan studi perbandingan atas beberapa alternatif dengan mempertimbangkan fungsi bangunan dan faktor-faktor lain; topografi, morfologi sungai dan medan sekitarnya; geoteknik; lingkungan; pelaksanaan bangunan; dan mobilitas peralatan; (d) penentuan debit desain mencakup : i. debit desain banjir dengan kala ulang 100 tahun digunakan untuk mendesain bangunan pelimpah dan tembok pangkal; ii. debit desain sebesar debit alur penuh untuk bangunan peredam energi iii. debit andalan tertentu sesuai kebutuhan untuk kebutuhan irigasi dan kebutuhan pembilasan sedimen di gorong-gorong pengumpul serta penangkap pasir (2) Penentuan Bentuk dan Dimensi (a) panjang bendung i. diperhitungkan terhadap kemampuan melewatkan debit banjir rencana dengan tinggi jagaan yang cukup; ii. sama dengan lebar rata-rata sungai stabil atau pada debit penuh alur dan umumnya ditentukan sebesar 1,2 kali lebar sungai rata-rata pada ruas sungai yang stabil;

(b) Pertimbangan pemilihan tipe pintu Penetapan pintu didasarkan berbagai pertimbangan yang antara lain berdasarkan tujuan penggunaan, lokasi pemasangan, besarnya harga dan biaya exploitasi dan pemeliharaan (c) Lantai bendung Lantai bendung harus mempunyai kemampuan dalam mendukung beban yang ada di atasnya dan menjamin kerapatan terhadap rembesan air. Sebagai tambahan kadang-kadang dibutuhkan untuk penyangga di antara pilar-pilar bendung dan apabila pilar-pilar bendung juga akan dipakai sebagai bendung pengelak sementara, maka pilar-pilar tersebut harus mempunyai stabilitas yang memadai. (d) Pilar Bendung Bentuk penampang pilar bendung harus ramping dan pada pinggir hulunya dibentuk setengah lingkaran, tetapi pada pada pinggir hilirnya agak lonjong atau berbentuk busur yang runcing. Lebar dan panjang pilar bendung ditetapkan berdasarkan lebar jembatan inspeksi, dimensi mekanisme penggerak daun pintu dan perhitungan stabilitas mekanis. Celah diperlukan untuk memasang perapat pintu diperhitungkan untuk menentukan sponing pintu. Perapat bawah supaya dapat bertumpu pada landasan pintu yang dipasang di atas permukaan lantai bendung sedang perapat samping harus dibuat dengan konstruksi yang mudah dibongkar pasang untuk memudahkan pemeriksaan dan perbaikan. Tinggi pilar bendung harus lebih tinggi dari elevasi muka air banjir rencanan tanggul untuk menjamin keamanan pilar-pilar pintu dan menjamin jagaan antar MAT dan gelagar jembatan inspeksi.
55 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

(e) Pilar Pintu Pilar pintu ditentukan berdasarkan tipe pintu yang digunakan sebagai tubuh bendung. Tinggi ditentukan berdasarkan kemudahan operasi pintu termasuk tinggi perlengkapan mekanisme pengangkat daun pintu dan tambahan untuk tinggi jagaan (f) Ruang Operasi Pintu Ruang operasi pintu dilengkapi panel dan peralatan pengatur pintu, sperti tomnol-tombol mekanisme pembukaan-penutupan pintu yang ditempatkan di atas pilar (g) Elevasi Sisi Atas Daun Pintu Elevasi sisi atas daun pintu ditentukan berdasarkan kenaikan elevasi muka air banjir yang diinginkan. (h) Bangunan pembilas kriteria desain bangunan pembilas sesuai dengan Pd T-xx-200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung Tetap, sebagai berikut : i. ii. iii. lebar pembilas total 1/6 1/10 dari lebar bendung; bangunan dilengkapi dengan pilar-pilar dan pintu; bentuk pilar bagian hulu bulat dengan jari-jari pembulatan setengah lebar pilar; iv. bagian hilir runcing dengan jari-jari peruncingan 2 x lebar pilar; v. bentuk bagian hulu tegak dan berawal dari bagian muka kepala bendung; vi. kemiringan bagain hilir dapat diambil dengan perbandingan 1 : n; vii. lebar pilar sisi bagian luar dapat diambil sampai dengan 2,0 m; viii. lebar sisi bagian dalam 1,0 m dan 1,5 m; ix. mercu pintu pembilas ditentukan sama tinggi dengan elevasi mercu bendung atau 0,10 m lebih tinggi dari elevasi mercu bendung; (i) tembok baya-baya kriteria desain lantai bangunan tembok baya-baya sesuai dengan Pd T-xx200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung Tetap, sebagai berikut : i. ii. iii. penempatan menerus ke arah hulu dari pilar pembilas bagian luar/sisi bendung; bentuk mengecil ke arah hulu sebesar setengah lebar tembok pilar; tinggi mercu minimal 0,5 m di atas bendung dengan panjang ke arah hulu sama dengan lebar mulut undersluice dan tidak menghalangi pengaliran ke intake

(j) tembok pangkal Tentukan bentuk dan ukuran tembok pangkal dengan cara : i. tinggi tembok pangkal ditentukan dengan memperhatikan debit desain untuk kapasitas pelimpahan ditambah dengan tinggi jagaan tertentu; ii. panjang tembok pangkal ditentukan oleh dimensi tubuh bangunan dan peredam energi; iii. bentuk tembok pangkal dapat dibuat tegak atau miring; iv. ujung tembok pangkal ke arah hilir (Lpi) ditempatkan di tengah-tengah panjang lantai peredam energi sesuai dengan RSNI T-04-2002: Lpi = Lb + 0,5 Ls v. panjang tembok pangkal di bagian hulu (Lpu) bagian yang tegak di hitung dari sumbu mercu bendung sesuai dengan RSNI T-04-2002:
56 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

0,50 Ls Lpu Ls (k) tembok sayap hulu dan hilir Lengkapi bangunan dengan tembok sayap dengan memperhatikan: i. bentuk dan dimensi peredam energi; ii. geometri sungai di hilir dan sekitarnya; iii. prediksi kedalaman penggerusan setempat dan degradasi dasar sungai yang akan terjadi; iv. stabilitas tebing; v. tinggi muka air hilir pada debit desain ditambah dengan tinggi jagaan; vi. panjang tembok sayap hulu ditentukan : - kemiringan tembok diambil 1 : 1 - pertemuan dengan tembok pangkal dibuat menyudut kurang lebih dari 450 - bagi tebing yang tidak jauh dari sisi tembok pangkal bendung, ujung tembok sayap hulu dilengkungkan masuk ke tebing dengan panjang total tembok pangkal ditambah sayap hulu sesuai dengan RSNI T-042002: 1,0 Ls Lsu 1,5 Ls
- bagi tebing sungai yang jauh dari sisi tembok p[angkal bendung atau

palung sungai di hulu bendung yang relatif jauh lebih lebar dibandingkan dengan lebar pelimpah bendung maka tembok sayap hulu perlu diperpenjang dengan tembok pengarah arus yang panjangnya diambil minimum sesuai dengan RSNI T-04-2002: 2 x Lpu vii. panjang tembok sayap hilir (Lsi) : - kemiringan tembok diambil 1 : 1 - panjang tembok dihitung dari ujung hilir lantai peredam energi diambil sesuai dengan RSNI T-04-2002 : Ls Lsi 1,5 Ls viii. jika tinggi tembok sayap lebih dari 4,0 m maka perlu dibuat bertangga dengan : Lsi Lsu Lpu Ls = panjang tembok sayap hilir dari ujung hilir lantai peredam energi ke hilir, meter = panjang tembok sayap hulu, meter = panjang tembok pangkal hulu bendung dari sumbu mercu bendung ke hulu, meter = panjang labtai peredam energi, meter

(l) lantai hulu dan hilir Dimensi bangunan pelengkap ini dtentukan dengan memperhatikan permeabilitas tanah, kemungkinan degradasi dasar sungai dan penggerusan setempat di hilir bangunan, dan kebutuhan pengurangan daya angkat air. Hal itu dilakukan agar tidak meliebihi kekuatan dan stabilitas bangunan. (m) Rip rap Lengkapi bangunan dengan rip-rap yang berfungsi sebagai pelindung bangunan terhadap bahaya penggerusan sesuai dengan Pd T-xx-200x-A : Tata Cara Desain Hidraulik Bendung Tetap, dengan kriteria : i. ditempatkan di bagian hilir ambang akhir sepanjang tembok sayap hilir; ii. material rip-rap berupa bongkahan batu dengan kriteria bulat, padat, keras dengan berat jenis batu 2,4 t/m3;
57 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

iii. material rip-rap berupa blok beton dengan 1,0 x 1,0 x 1,0 m dan 0,5 x 0,5 x 0,5 m; iv. kedalaman penanaman sekitar 2,0 m pada bagian hilir ambang dan 1,5 m pada bagian kaki tembok sayap hilir (n) Perlengkapan lainnya i. Sumber tenaga listrik cadangan Pada pintu-pintu air yang sumber tenaga utamanya diperoleh dari jaringan komersil, maka diperlukan adanyalistrik cadangan. ii. Gedung pusat operasi pintu Dalam gedung ini terdapat kantor, ruang pembangkit listrik cadangan, ruang operasi, ruang operasi, ruang petugas jaga malam dan lain-lain iii. Alat ukur tinggi muka air Alat ukur tinggi muka air dipasang di hulu dan hilir bendung. Pada bangunan penerus, maka alat ukur tinggi muka air dipasang, di dalam kolam tunggu. Tinggi muka air pada masin-masing lokasi dapat dibaca langsung dari dalam ruang operasi. iv. Sarana penerangan Sarana penerangan yang memadai haruslah dipasang untuk menerangi daun pintu, jembatan inspeksi, ruang operasi dan semua tempat-tempat yang diperlukan untuk kelancaran operasi pintu. v. Tangga inspeksi Tangga inspeksi harus diadakan pada permukaan perkuatan lerang tanggul kiri dan tanggul kanan baik di lereng belakang maupun di lereng depan. Lebar efektif tangga minimum 1 mdan terbuat dari blok-blok beton. vi. Tangga untuk ruang operqasi pintu Konstruksi dan lokasi tangga supaya disesuaikan dengan keadaan sekitarnya, keseimbangan antara pilar pintu dan ruang operasi serta keamanan terhadap kemungkinan kecelakaan 7) Bendung Karet a) Pertimbangan Perencanaan Pertimbangan pemilihan bendung karet berdasarkan Pd T-09-2004-A adalah sebagai berikut :
- Alternatif penerapan bendung jenis lain yang lebih murah tanpa mengabaikan

efektifitasnya bagi tujuan dibangunnya bendung;


- Bendung karet hanya diterapkan pada kondisi yang apabila digunakan bendung

tetap akan menimbulkan peningkatan ancaman banjir yang sulit diatasi;


- Alternatif bendung karet dipilih apabila bendung gerak jenis lain tidak bisa

menjamin kepastian pembukaan bendung pada saat banjir datang, mengingat daerah yang harus diamankan terhadap ancaman banjir datang, mengingat daerah yang harus diamankan terhadap ancaman banjri merupakan kawasan penting. b) Persyaratan Perencanaan Persyaratan pemilihan bendung karet berdasarkan Pd T-09-2004-A adalah sebagai berikut : i. Kondisi alur sungai, meliputi :
58 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

- kondisi aliran sub-kritis pada sungai muara - tidak terjadi sedimentasi yang sedemikian berat sehingga mengganggu

mekanisme kembang-kempisnya tabung karet


- tidak mengangkut sedimen kasar - aliran sungai tidak mengangkut sampah yang besar dan keras - air sungai tidak mengandung limbah kimia yang bisa bereaksi dengan karet

ii. Bahan, harus memenuhi persyaratan :


- tabung karet terbuat dari bahan yang elastis, kuat, kedap udara, tidak mudah

terabrasi dan tahan lama


- perencanaan bahan karet baik jenis, kekuatan maupun dimensi hendaknya

disesuaikan dengan kemampuan produsen untuk menyediakannya iii. Operasi dan Pemeliharaan
- Radiasi sinar ultraviolet terhadap karet tubuh bendung harus dikurangi - Bendung

semaksimal mungkin karet harus diamankan dari gangguan manusia yang tidak bertanggung jawab.

c) Persyaratan Kemanan Bangunan Bangunan bendung dan bangunan pelengkap lainnya perlu didesain dengan memperhatikan kemanan bangunan ditinjau dari segi hidraulik, struktural, operasi dan pemeliharaan sesuai dengan SNI 03-1724-1989, yang meliputi : (1) Kemanan hidraulik Bangunan utama dan bangunan pelengkapnya harus diperhitungkan aman terhadap :
- bahaya luapan pada bangunan tembok pangkal, tembok sayap udik dan hilir; - bahaya penggerusan setempat, degradasi dasar sungai dan penggerusan

tebing;
- bahaya erosi buluh akibat aliran di bawah dan di samping bangunan; - bahaya kavitasi; - bahaya akibat perubahan perilaku sungai.

(2) Kemanan Struktural Bangunan utama dan bangunan pelengkapnya harus memenuhi persyaratan kekuatan dan kestabilan struktur baik secara satu kesatuan maupun bagian per bagian dengan rincian meliputi :
- kekuatan terhadap benturan batu dan angkutan benda padat lainnya; - kestabilan bangunan terhadap guling, geser dan penurunan.

(3) Keamanan Operasi dan Pemeliharaan i. keamanan operasi : bangunan utama dan bangunan pelengkap seperti pintu pengatur debit, penangkap pasir dan bagian-bagiannya agar didesain untuk dapat dioperasikan dengan mudah, aman dan efisien; ii. pemeliharaan : untuk menjaga fungsi dan keamanan bangunan setelah beroperasi diperlukan pemeliharaan dan pemantauan berkala; hal-hal yang perlu dipelihara yaitu : - saringan dari sumbatan batu, sampah dan mengganti batang-batang yang rusak; - pembersihan berkala gorong-gorong pengumpul dari endapan sedimen secara hidraulik; - pembilasan penangkap pasir secara periodik. - pemeliharaan dan perbaikan lapisan tahan aus dan rip-rap
59 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

d) Desain Hidraulik Pelaksanaan pekerjaan yang perlu diperhatikan dalam detail desain bendung adalah sebagai berikut : (1) Pra Desain Hidraulik Kegiatan pra desain meliputi : (a) Persiapan pekerjaan yaitu pengumpulan, evaluasi dan analisis data. Data yang diperlukan yaitu : i.
-

data topografi berupa : peta yang meliputi daerah aliran sungai dengan skala minimum 1 : 50.000 atau yang lebih detail; - peta situasi sungai di lokasi bangunan dengan skala 1 : 2000 dan peta detail dengan skala minimum 1 : 5000

ii. data morfologi sungai seperti geometri sungai, data hidrograf aliran sungai dan perubahan-perubahan yang terjadi pada dasar sungai secara horisontal maupun vertikal; iii. data geometri sungai berupa : bentuk dan ukuran alur, palung, lembah sungai, kemiringan dasar sungai; iv. data angkutan sedimen berupa : gradasi material dasar sungai, laju dan gradasi angkutan sedimen dasar; v. data hidrograf aliran sungai seperti : aliran banjir, frekuensi kejadian debit banjir, kurva massa aliran dan tinggi muka air sungai; vi. data geoteknik diantaranya : geomorfologi, stratigrafi dan struktur geologi serta kegempaan di daerah calon lokasi vii. data mekanika tanah : seperti sifat fisik tanah dan batauan serta sifat teknik tanah di sekitar calon lokasi; viii. data bahan bangunan : sumber dan jumlah bahan yang tersedia, jenis dan ketahanan umur, sifat fisik dan teknik bahan bangunan serta persyaratan kualitas bahan bangunan; ix. data lingkungan dan ekologi (b) peninjauan lapangan : untuk memeriksa tingkat ketelitian data; mendapat masukan data morfologi sungai dan sifat sungai, mengetahu dan memperkirakan masalah yang akan timbul; (c) penentuan lokasi bangunan harus dipilih berdasarkan studi perbandingan atas beberapa alternatif dengan mempertimbangkan fungsi bangunan dan faktor-faktor lain; topografi, morfologi sungai dan medan sekitarnya; geoteknik; lingkungan; pelaksanaan bangunan; dan mobilitas peralatan; (d) penentuan debit desain mencakup : i. debit desain banjir dengan kala ulang 100 tahun digunakan untuk mendesain bangunan pelimpah dan tembok pangkal; ii. debit desain sebesar debit alur penuh untuk bangunan peredam energi iii. debit andalan tertentu sesuai kebutuhan untuk kebutuhan irigasi dan kebutuhan pembilasan sedimen di gorong-gorong pengumpul serta penangkap pasir (2) Penentuan Bentuk dan Dimensi (a) elevasi mercu bendung Mercu bendung diletakkan pada elevasi yang diperlukan untuk pelayanan muka air pengambilan, atau didasarkan pada perhitungan bagi penyediaan volume tampungan air di hulu bendung. (b) pembendungan
60 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

Tinggi bendung harus dibatasi untuk menghindari terjadinya : i. ancaman banjir di daerah hulu; ii. peningkatan energi terjunan yang berlebihan; iii. vibrasi yang akan merusak tabung karet Tinggi pembendungan maksimum ditetapkan tidak melebihi 0,3 H, dengan H adalah tinggi bendung. Pembendungan maksimum ini menentukan elevasi muka air pengempisan yang merupakan batas muka air tertinggi karena bendung karet harus sudah dikempiskan Pd T-09-2004-A. Untuk mengurangi besarnya vibrasi, pada tubuh bendung bisa diberi sirip yang letaknya di sebelah hilir mercu, atau jika pada kondisi mengempis, sirip berada pada ujung hilir lipatan. (c) Penampungan dan pelepasan Ketika bendung karet mengembang, di hulu bendung akan terjadi penampungan air. Pada alur sungai yang relatif lebar dan landai, volume tampungan cukup berarti sebagai penyediaan air tawar di daerah pantai. Pada bendung dengan volume tampungan yang besar sedangkan debit aliran relatif kecil, pengisian tampungan untuk mencapai muka air normal memerlukan waktu yang lama. Untuk menghindari pelepasan volume tampungan pada operasi pengempisan, bisa digunakan sistem panelisasi bendung Pd T-09-2004-A. (d) peredaman energi i. energi terjunan Energi terjunan diperhitungkan untuk kemungkinan yang paling membahayakan yaitu pada kondisi dengan asumsi sebagai berikut :
- muka air hulu setinggi muka air pengempisan; - terjadi v-notch hingga mencapai dasar tubuh bendung;

ii. kolam peredam energi Jenis dan dimensi kolam peredam energi direncanakan dengan metode yang berlaku, dengan prinsip :
- elevasi lantai ditentukan agar loncat air terjadi tepat pada ujung terjunan,

blok pemecah arus bisa ditambahkan jika diperlukan.


- panjang lantai ditentukan hingga ujung hilir loncat air

Penghitungan muka air hilir harus mempertimbangkan kemungkinan terjadinya degradasi dasar sungai. Struktur hidraulik kolam harus mempertimbangkan terjadinya pusaran air sebagai akibat aliran tidak merata karena timbulnya V-notch Pd T-09-2004-A. (e) sirip (fin) Sirip yang diletakkan di sebelah hilir/bawah mercu bendung sepanjang tabung karet berfungsi untuk menahan agar limpasan air dari atas mercu bendung tidak menempel menuruni sisi hilir tabung karet, dengan pertimbangan bahwa uliran air yang menempel tersebut tidak stabil dan akan menyebabkan terjadinya vibrasi ataupun osilasi Pd T-09-2004-A. Prinsip penentuan lebar dan letak sirip adalah sebagai benkut : i. menghindari menempelnya aliran limpasan di hilir bendung pada posisi setinggi mungkin; ii. tidak mempengaruhi aliran limpasan sempurna di atas mercu bendung
61 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

(f) bahan karet tubh bendung Lembaran karet terbuat dari bahan karet asli atau sintetik yang elastik, kuat, keras, dan tahan lama. Pada umumnya bahan karet yang digunakan memiliki spesifikasi sebagai berikut : i. kekerasan tes abrasi menggunakan metode H18 dengan beban 1 kg pada putaran 1000 kali tidak melampaui 0,8 m3/mil ii. kuat tarik kuat tarik pada suhu normal 150 kg/cm2 kuat tarik pada suhu 100 120 kg/cm2 Bahan karet diperkuat dengan susunan benang nilon yang memberikan kekuatan tarik sesuai dengan yang dibutuhkan untuk menahan gaya. Bahan dasar karet umumnya digunakan karet sintetis seperti ethylene propylene diene monomer (EPDM), chloroprene rubber (CR), dan lain-lain. Untuk mengurangi goresan oleh benda tajam/keras, permukaan luar karet bisa dilapisi dengan bahan keramik sesuai dengan Pd T-09-2004-A. (g) perencanaan instalasi i. lubang angin Lubang angin merupakan lubang bagi pemasukan dan pengeluaran udara pada tabung karet. Jumlah lubang minimum dua lokasi, yaitu di kedua ujung tabung karet dengan memasang pipa baja dalam tabung. Hal ini diperlukan untuk menghindari terjebaknya udara pada satu sisi tabung karet ketika terjadi v-notch yang bisa menutup rongga tabung karet. Lubang angin bisa dibuat lebih dari dua, yang diletakkan merata di sepanjang pipa baja dalam tabung karet sesuai dengan Pd T-09-2004-A. ii. pompa dan saluran udara Pompa udara harus disediakan untuk mengembangkan tabung karet. Pemompaan udara ke dalam tabung karet harus dilengkapi dengan instrumen pengontrol tekanan udara (manometer) sesuai dengan Pd T-092004-A. iii. Sistem otomatisasi Prinsip keja sistem otomatisasi adalah apabila muka air sungai di hulu bendung sudah mencapai muka air pengempisan yang direncanakan, akan terjadi aliran masuk ke dalam sistem, yang diatur untuk menggerakan tuas pembuka tutup saluran udara dari tabung karet. Sistem penggerak tuas yang biasa digunakan, antara lain sebagai berikut :
- Sistem ember, aliran air ditampung dalam suatu ember yang diikatkan

pada kotak otomatisasi. Dengan makin besar berat ember, posisi ember akan turun hingga memutar tuas pembuka tutup saluran udara. - Sistem pengapungan, aliran air ditampung dalam suatu bak yang di dalamnya dipasang pelampung. Pelampung diikat dengan tali yang dihubungkan dengan kotak otomatisasi. Jika muka air naik, pelampung ikut naik dan menggerakkan tuas pembuka tutup saluran udara sesuai dengan Pd T-09-2004-A.

62 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

Gambar B.12 Denah dan potongan melintang bendung karet 8) Perencanaan stabilitas a) Fondasi Fondasi bendung karet dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu fondasi langsung yang dibangun di atas lapisan tanah yang kuat dan fondasi tidak langsung (dengan tiang pancang) yang dibangun pada lapisan lunak. Pada fondasi langsung, fondasi bendung karet yang menahan bangunan atas yang relatif ringan membutuhkan massa yang lebih besar untuk menjaga stabilitas terhadap penggulingan dan penggeseran. Untuk penghematan biaya konstruksi, fondasi dibuat dari sel-sel beton bertulang yang diisi dengan pasangan batu.

63 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

b) Stabilitas terhadap erosi bulu (piping) Panjang lintasan garis rembesan yang aman terhadap bahaya piping bisa dihitung dengan menggunakan metode seperti Bleigh, Lane, jaring aliran (flow net), dan sebagainya. Sebagai contoh, persyaratan kemanan terhadap bahaya piping menurut teori Lane adalah :

CL
dengan : LH = LV = H = CL =

(L /3) + L
H

H
panjang bagian horisontal permukaan dasar pondasi (m) panjang bagian vertikal permukaan dasar pondasi (m) beda tinggi muka air hlu dan hilir, diambil = H (m) koefisien Lane yang tergantung pada jenis tanah dasar pondasi

c) Stabilitas pondasi (1) Stabilitas terhadap penggulingan Pemeriksaan stabilitas terhadap penggulingan dihitung dengan persamaan :

S FR =

M M

T R

1,5

dengan : SFR adalah faktor keamanan terhadap guling MR adalah momen gaya-gaya penggulingan terhadap ujung hilir pondasi (Nm) MT adalah momen gaya-gaya penahan terhadap ujung hilir pondasi (Nm) (2) Stabilitas terhadap penggeseran Pemeriksaan stabilitas terhadap penggulingan dihitung dengan persamaan :

S FS =

F F

dengan : SFS adalah faktor keamanan terhadap geser FS adalah gaya-gaya penggeser (N) FT adalah gaya-gaya penahan (N) (3) Stabilitas terhadap gaya angkat

S FU =

F F

G U

1,2

dengan : SFU adalah faktor keamanan terhadap pengangkatan FU adalah gaya angkat air (N) FG adalah gaya berat pondasi dan kekuatan tarik tiang pancang (N) (4) Stabilitas tanah dasar Dengan asumsi menggunakan pondasi langsung, pemeriksaan stabilitas dihitung dengan rumus :

S FB =

dengan : SFB adalah faktor keamanan daya dukung tanah


64 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

adalah tegangan kasimum dasar pondasi (kPa) a adalah gaya dukung tanah yang dijinkan (kPa) Eksentrisitas gaya resultan dihitung dengan rumus :

e=

B M 2 V
adalah eksentrisitas gaya resultan (m) adalah lebar dasar pondasi (m) adalah momen terhadap gaya-gaya terhadap ujung hilir pondasi (Nm) adalah komponen gaya vertikal (N)

dengan : e B M V

Jika persyaratan tersebut terpenuhi, digunakan pondasi langsung dengan dimensi seperti yang direncanakan sebelumnya. Jika persyaratan tidak terpenuhi, harus menggunakan pondasi tiang pancang. Pada kondisi ini dimensi plat pondasi harus diubah menjadi kombinasi antara pelat penghubung dan seri tiang pancang. Pemeriksaan stabilitas terhadap penggeseran, penggulingan dan gaya angkat diulang kembali dengan memperhtiungkan juga kekuatan tiang pancang untuk menahan gaya angkat dan gaya horisontal. Perhitungan ini akan menentukan jumlah dan dimensi tiang pancang. Langkah selanjutnya adalah pemeriksaan stabilitas tanah dasar dengan struktur pondasi yang sudah ditetapkan di atas. (5) Persyaratan angka keamanan Angka keamanan terhadap penggulingan (SFS), eksentrisitas gaya resultan (e) pada penggulingan dan daya dukung tanah (SFB), ditunjukkan pada tabel di bawah ini : Tabel A.1 Kondisi Desain Normal Dengan gempa Banjir Pelaksanaan Persyaratan angka keamanan stabilitas pondasi SFS 1,5 1,2 1,5 1,2 e < B/6 < B/3 < B/6 < B/3 SFS 3 2 3 2

9) Uji model hidarulik 1) Uji model hidraulik perlu dilakukan terhadap pra desain untuk : a) mendapatkan bentuk dan ukuran hidraulik yang mantap; b) mempelajari hal-hal seperti berikut : i. gejala dan parameter aliran di sungai yang sulit diperoleh dari lapangan;gejala dan parameter aliran pada permukaan struktur; ii. perubahan gejala dan parameter aliran di sungai akibat adanya bangunan dan sebaliknya; 2) jenis model hidraulik meliputi : a) model sungai; b) model bangunan dan pelengkapnya;
65 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

c) model lengkap (sungai, bangunan dan pelengkapnya) dan model detil; 3) uji model hidraulik harus dilakukan oleh satu tim teknik hidraulik yang ahli dan berpengalaman baik dalam bidang uji model hidraulik maupun lapangan (survai, investigasi, disain dan operasi. 10) Desain hidraulik Desain hidraulik : 1) merupakan penyempurnaan pradesain hidraulik yang dilakukan dengan bantuan uji model hidraulik; 2) bangunan lain yang belum didesain pada pekerjaan pra desain; seperti fondasi bangunan, pintu-pintu, dilakukan pada pekerjaan desain struktur; 3) keluaran desain; berupa gambar-gambar desain, dengan skala gambar mengikuti standar yang berlaku; dan nota desain.

66 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

LAMPIRAN C Lampiran C.1 Contoh Perhitungan Desain Bendung di Sungai......................

1) Tahapan Desain Tahapan desain hidrolik bendung yaitu seperti berikut : i. Data awal seperti debit banjir desain sungai, debit penyadapan ke intake, keadaan hidrolik sungai, tinggi muka air sungai saat banjir, elevasi lahan yang akan diairi telah diketahui ii. Perhitungan untuk penentuan elevasi mercu bendung iii. Penentuan panjang mercu bendung iv. Penetapan ukuran lebar pembilas dan lebar pilar pembilas v. Perhitungan penentuan ketinggian elevasi muka air banjir di hulu bendung vi. Penetapan ukuran mercu bendung dan tubuh bendung vii. Perhitungan dimensi hidrolik bangunan intake viii. Penetapan tipe, bentuk, dan ukuran bangunan peredam energi ix. Perhitungan panjang lantai hulu bendung x. Penetapan dimensi bangunan tembok pangkal, tembok sayap hulu dan tembok sayapa hilir Kriteria desain : i. Tinggi muka air banjir di hulu bendung harus lebih rendah atau sama dengan 4 meter ii. Tinggi mercu bendung ke dasar sungai di hilir harus lebih rendah atau sama dengan 10 meter Desain mercu dan tubuh bendung dengan persyaratan, yaitu : i. Bentuk mercu bendung tipe bulat, jari-jari pembulatan satu radius ii. Bidang hilir tubuh bendung di bagian hilir mercu dibuat dengan kemiringan yang perbandingannya yaitu 1 : 1 2) Data i. Peta situasi sungai, skala 1 : 2000, dimana : - Lebar palung sungai antara 50 60 m - Elevasi dasar sungai rata-rata di sekitar rencana bendung + 82,70 ii. Peta daerah irigasi : - Luas daerah irigasi yang akan diairi 6,229 hektar - Elevasi lahan yang tertinggi yang akan diairi + 84,80 iii. Debit banjir desain sungai dan elevasi muka air hilir (tail water) pada Q100th = +85,56 m3/dt iv. Debit desain intake = 7,70 m3/dt 3) Perhitungan Hidrolik Bendung 3.1) Penentuan elevasi mercu bendung i. Elevasi mercu bendung dilakukan : - Tinggi sawah yang akan dialiri = +84,80 - Tinggi air di sawah yang diambil = 0,10 m - Kehilangan tekanan dari sawah ke saluran tersier = 0,10 m - Kehilangan tekanan dari saluran tersier ke saluran sekunder = 0,10 m - Kehilangan tekanan dari saluran sekunder ke saluran induk = 0,10 m - Kehilangan tekanan akibat kemiringan saluran induk ke sedimen trap = 0,15 m - Kehilangan tekanan akibat bangunan ukur = 0,40 m - Kehilangan tekanan akibat sedimen trap ke intake = 0,25 m - Kehilangan tekanan pada intake = 0,20 m - Kehilangan tekanan akibat eksploitasi = 0,10 m Jadi ketinggian elevasi mercu bendung = +86,30

67 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

ii. Perhitungan penetuan elevasi meru bendung dengan memperhatikan faktor tinggi tekanan yang diperlukan untuk pembilasan sedime. Bednugn ini direncanakan dilengkapi dengan penangkap sedimen dan bangunan pembilas lurus tipe undersluice. Penangkap sedimen direncanakan dengan ukuran seperti berikut : - Panjang penangkap sedimen = 70,0 m - Panjang saluran pengantar ke penangkap sedimen = 30,0 m - Kemiringan permukaan sedimen di penangkap sedimen = 0,00016 - Elevasi dasr penagkap sedimen di bagian hilir = +83,78 - Elevasi muka air di penangkap sedimen bagian hilir = +86,18 Cara perhitungan dilakukan seperti berikut : - Elevasi permukaan air di kantong sedimen bagian hulu El = 86,18 + (70 x 0,00016) = +86,19 m - Elevasi permukaan air di huu saluran pengantar/tepat di hilir intake El = 86,18 + (70 + 30) x 0,00016 = +86,20 m - Kehilangan tekanan pada intake diambil = 0,20 - Elevasi muka air di hulu intake : El = 86,20 + 0,20 El = 86,40 m - Kehilangan tekanan akibat eksploitasi diambil = 0,10 Jadi ketinggian elevasi mercu bendung +86,40 + 0,10 = +86,50 Kesimpulan : - Ketinggian elevasi mercu bendung berdasarkan elevasi sawah yang akan diairi +86,30 - Ketinggian elevasi mercu bendung berdasarkan kebutuhan tinggi tekanan yang diperlukan untuk pembilasan + 86,50 - Jadi ketinggian mercu bendung ditetapkan pada elevasi + 86,50 3.2) Penentuan panjang mercu bendung Panjang mercu bednung ditentukan 1,2 kali lebar sungai rat-rata. Lebar sungai direncana lokasi bendung bervariasi antara 50 m sampai dengan 55 m/ lebar sungai rata-rata diambil 52 m. Panujang mercu bendung yaitu 1,2 x 52 m = 62,4 m. Panjang mercu ditetapkan 62,0 m. 3.3) Penentuan lebar lubang dan pilar pembilas Lebar bangunan pembilas diambil 1/10 kali lebar sungai rata-rata yaitu 1/10 x 52,0 = 5,0 m. Pembilas dibuat 2 buah masing-masing 2,50 m. Lebar pilar pembilas ditetapkan 2 buah dengan lebar masing-masing pilar 1,50 m 3.4) Perhitungan panjang mercu bendung efektif Panjang mercu efektif dihitung dengan menggunakan rumus : Be = Bb 2(n Kp + ka) He Be = 62 2(2x0,01 + 0,1) He Be = 62 0,24 He 3.5) Perhitungan tinggi muka air banjir di hulu bendung Elevasi muka air banjir di hulu bendung dapat diketahui dengan menghitung tinggi energi dengan menggunakan persamaan seperti berikut : Qd = C x Be x He3/2 Koefisien debit pelimpah, C, nilainya dihitung dengan menggunakan persamaan : C = 3,97 (He/Hd)0,12 dimana He = Ha Dari persamaan diatas diperoleh nilai C = 2,19 Dari persamaan diatas tinggi energi dapat dihitung, yaitu : Qd = C x Be x He3/2 dimana : Qd = 700 m3/s Be = 62 0,24 He C = 2,19
68 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

Perhitungan dilakukan dengan cara trial dan error Langkah pertama diasumsikan bila nilai Be = 61,50 m Qd = C.Be.He3/2

Q He = d C.B e

700 He = 2,19 x 61,50

He = 3,00 m Langkah kedua diasumsikan nilai Be = 61,28 m Qd = C.Be.He3/2

Q He = d C.B e

700 He = 2,19 x 61,28

He = 3,07 m 3,00 m Nilai He diambil 3,00 m, sehingga Be dapat dihitung : Be = 62 0,24 He Be = 62 0,24 x 3 Be = 61,28 m Tinggi tekanan (Desain Head) Tinggi tekanan, Ha ditentukan dengan persamaan : He = He v2/2g v2/2g = 0 (diabaikan) He = 3,00 m Kesimpulan : - Tinggi muka air banjir di hulu bendung = He = 3,00 m - Elevasi muka air banjir = +86,50 + 3,0 = 89,50 m 3.6) Penentuan Jari-jari mercu bendung Nilai jari-jari mercu bendung ditentukan berdasarkan grafik hubungan antara tinggi muka air hulu, ha dan besarnya jari-jari (r) serta debit pengaturan lebar yang diterbitkan oleh DPMA. Dari grafik tersebut, untuk ha = Ha = 3,00 m dan q = 11,4 m3/dt/m3 diperoleh nilai r = 2,3 m. Diambil r = 2,50 m Dengan menggunakan grafik penentuan bahaya kavitasi di hilir mercu bendung yang juga diterbitkan oleh DPMA dapat diketahui bahaya kavitasi di hilir mercu bendung. Untuk nilai Ha = 3,00 m, dan r = 2,50 m, tekanan beradad di daerah positif, jadi tidak ada bahaya kavitasi. 3.7) Resume Perhitungan Hidrolik - Elevasi mercu bendung = +86,50 m - Panjang mercu bendung = 62,0 m - Lebar pembilas 2 x 2,50 m = 5,0 m - Lebar pilar pembilas 2 x 1,50 m = 3,0 m - Panjang bendung total = 70,0 m - Tinggi muka air di hulu bendung = 3,0 m - Elevasi muka air banjir = +89,50 m - Tinggi pembendungan = 3,0 m - Kemiringan tubuh bendung = 1:1

69 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

4) Perhitungan Dimensi Peredam Energi 4.1) Pemilihan Tipe Jenis sungai di daerah ini yakni aluvial dengan angkutan sedimen dominan fraksi pasir dan kerikil. Dengan memperhatikan jenis sungai tersebut, maka bangunan peredam energi yang dipilih disini yaitu lantai datar dengan ambang akhir berkotak-kotak atau tipe MDO. Dalam penggunaan tipe ini ditentukan bentuk mercu bulat dengan satu jari-jari pembulatan, bidang miring tubuh bendung bagian hilir permukaannya bentuk miring dengan perbandingan 1 : 1. 4.2) Grafik dan Rumus Dalam mendesain dimensi peredam energi tipe MDO ini digunakan grafik-grafik yang diterbitkan oleh DPMA. Grafik-grafik tersebut yaitu grafik untuk menentukan dimensi peredam energi tipe MDO yakni seperti berikut : - Grafik untuk penentuan kedalaman lantai peredam energi - Garfik untuk penentuan panjang lantai peredam energi - Parameter energi - Kedalaman lantai peredam energi dihitung dengan rumus :

E=

q g x z3

Ds = (Ds) (Ds/D2); Ds/D2 diperoleh grafik - Panjang lantai peredam energi dihitung dengan rumus : Ls = (Ds) (Ls/D2); Ls/D2 diperoleh grafik - Tinggi ambang akhir dihitung dengan rumus : a = (0,200,30)D2 - Lebar ambang akhir dihitung dengan rumus : b=2xa keterangan : E = paramter energi q = debit desain persatuan lebar pelimpah bendung (m3/dt/m) z = perbedaan tinggi muka air hulu dan hilir (m) g = percepatan gravitasi (m/dt2) Ds = kedalaman lantai peredam energi (m) a = tinggi ambang akhir (m) b = lebar ambang akhir (m) D2 = kedalaman air di hilir (m) 4.3) Desain dimensi peredam energi Debit desain per satuan lebar q = 700/61,28 q = 11,42 m3/dt/m z = 4,96 m g = 9,81 m/dt2 kedalaman air di hilir D2 = Y Q = C x L x Y3/2
70 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

Q = 700 m3/dt C = 1,70 (diperkirakan) L = bentang sungai rata-rata di hilir = 70,0 m

Q Y = CxL

700 Y = 1,7 x 70
E= q g x z3

= 3,26

Parameter energi

Panjang lantai dan kedalaman lantai peredam energi : L/D2 = 1,26; L/D2 diperoleh dari grafik MDO L = 1,26 x 7 = 8,28 8,00 m Kedalaman lantai peredam energi : D/D2 = 1,28; D/D2 diperoleh dari grafik MDO D = 1,28 x 3,26 = 4,173 4,20 m Tinggi ambang akhir : a = 0,3 x 3,26 a = 0,97 1,00 m lebar ambang akhir : b = 2a b = 2 x 1,0 b = 2,0 m 5) Perhitungan Bangunan Hidrolik Bangunan Intake 5.1) Bentuk Intake Intake didesain dengan bentuk biasa dengan lubang pengaliran terbuka dilengkapi dengan dinding banjir. Arah intake terhadap sumbu sungai dibuat tegak lurus. Lantai intake tanpa kemiringan dengan elevasi lantai sama tinggi dengan elevasi plat undersluice. 5.2) Dimensi Lubang Intake Dimensi lubang intake dihitung dengan persamaan :

Q = x b x a x 2 x g x z
dimana : Qi = debit intake = 7,70 m3/dt = koefisien debit = 0,85 b = lebar pintu (m) a = tinggi bukaan pintu (m) g = percepatan gravitasi (9,81 m/s2) z = kehilangan tinggi energi pada bukaan (m) Perbandingan antara lebar bukaan dan tinggi bukaan ditetapkan 2 : 1. Perhitungan :

Q = x b x a x 2x g x z
7,70 = 0,85 x b x 1,20 x 2 x 9,81 x 0,2
b = 7,7/2,02 = 3,81 b diambil 4,0 m; dibuat 2 bukaan sehingga lebar pintu 2 x 2,00 m Kesimpulan : Lebar bukaan pintu intake = 2 x 2,0 m Tinggi bukaan lubang intake = 1,20 m

71 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

5.3) Pemeriksaan Diamater Sedimen yang masuk ke Intake Rumus yang digunakan untuk memperkirakan diameter partikel yang akan masuk ke intake, yaitu : v = 0,396 x ((Qs 1) x d)0,5 dimana : v = kecepatan aliran, m/dt Qs = berat jenis partikel = 2,65 d = diameter partikel = m Kecepatan aliran yang mendekat ke intake di hitung dengan rumus : Q = A x v = m3/dt v = Q/A = m/dt dimana : Q = debit intake = 7,70 m3/dt A = luas penampang basah = m2 v = kecepatan aliran = m/dt Perhitungan : v = Q/A A = (2 x 2) x 1,20 = 4,80 m2 v = 7,70/4,80 v = 1,60 m/dt Diameter partikel : v = 0,396 ((Qs-1) x d)0,5 1,60 = 0,396 ((2,65-1) x d)0,5 d = 9,8 mm 5.4) Penetapan Dimensi Hidrolik Bangunan Pembilas Bangunan pembilas direncanakan dengan undersluice lurus. Dimensi lubang undersluice : - Lebar lubang = 2,50 m - Tinggi lubang = 1,25 m - Lebar mulut = 11,0 m - Lebar pilar = 1,50 m - Undersluice dibagi 2 bagian 5.5) Perhitungan bangunan ukur pada intake Tipe bangunan ukur pada intake yang dipilih yaitu jenis Crum de Guyter, karena debit intake besar. Perhitungan dilakukan sebagai berikut :

Q = C d x B x Y x 2 x g x (H Y ) K = Y/H atau Y = 0,63 H

Keterangan : Q = debit intake = 7,70 m3/dt Cd = koefisien debit, diambil 0,94 B = lebar bukaan pintu, m
72 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

Y = bukaan pintu, H = tinggi energi total di atas ambang di hulu pintu

Q = 0,94 x B x 0,63H x 2 x 9,81 x (H 0,63H )

Qmax = 1,594 x B x H3/2

B=
B=

Q max 1,594 x H 7,70


1,594 x 1
3 3 2

= 4,83 m = 4,80 m
2

Pintu dibuat dengan lebar masing-masing selebar 2,40 m. Perhitungan kehilangan tekanan (h) Anggapan Qmax/Qmin = = 3 h/H = 0,495 diperoleh dari grafik Ymin/H = 0,140 diperoleh dari grafik Jadi h = 0,495 x 1,20 = 0,594 m 0,60 m Bukaan pintu minimum (Ymin) Ymin = 0,140 x 1,20 = 0,17 m Bukaan pintu maksimum (Ymax) Ymax = 0,63 x 1,20 = 0,756 0,76 m 6) Perhitungan Panjang Lantai Hulu 6.1) Cara Perhitungan Perhitungan panjang lantai hulu dilakukan dengan cara seperti berikut : - Panjang rayapan (creep lenght) harus cukup panjang untuk memperkecil aliran bawah (seepage) - Tentukan dengan cara perkiraan awal bentuk pondasi bendung dan panjang lantai hulu - Gambarkan bentuk pondasi bendung dan panjang lantai hulu tersebut - Hitung panjang lantai hulu yang dibutuhkan - Jika panjang lantai hulu hasil perhitungan lebih panjang daripada yang dibutuhkan maka hasil perhitungan sudah memadai - Jika diperoleh sebaliknya maka ulangi perhitungan 6.2) Perhitungan panjang lantai hulu Rumus yang digunakan berdasarkan teori Lanes : L = Lv + 1/3 LH dimana : L = panjang total rayapan (m) LV = panjang vertikal rayapan (m) LH = panjang horisontal rayapan (m) Dalam desaini diambil nilai : L/H = 4 dimana : L = panjang rayapan (m) H = kehilangan tekanan (m) Perhitungan : Perhitungan dilaukan dengan kondisi tidak ada aliran dari hulu sehingga : Q = 0, jadi : H = 86,50 79,50 H = 7,00 m Panjang rayapan seharusnya : Lb > 4 x 7,00 = 28,00 m Berdasarkan gambar diperoleh : Lv = 2,5 + (6 x 1,5) + 3,80 + 1,5 + (2 x 2,0) + 4,25 + 1,98 Lv = 28,57 m
73 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

LH = 35,42 m LP = 28,57 + (35,42/3) m LP = 40,38 m Jadi Lb yang dibutuhkan = 28,0 m LP, hasil perhitungan = 40,38 m LP = 40,38 > Lb = 28,00 OK Panjang lantai hulu cukup memadai 7) Penentuan Dimensi Tembok Pangkal dan Tembok Sayap 7.1) Tembok Pangkal a) Ujung tembok pangkal bendung tegak ke arah hilir ditempatkan di tengah-tengah panjang lantai peredam energi. Dalam desain ini panjang dari mercu bendung sampai dengan ujung ambang akhir yaitu 18,0 m. Jadi ujung tembok pangkal bendung tegak ke arah hilir panjangnya 9,00 m. b) Panjang pangkal tembok bendung tegak bagian hulu dihitung dari mercu bendung, diambil sama dengan panjang lantai peredam energi yaitu 10,0 m c) Elevasi dekzerk tembok pangkal dilukis mercu : Elevasi mercu bendung +Ha+jagaan = +86,50 m +3,0 m +1,5 m = +91,00 d) Elevasi dekzerk tembok pangkal hilir mercu : Elevasi dasar sungai + D2 + jagaan = +82,75 m + 3,26 m + 1,5 m = 87,51 m 7.2) Tembok Sayap a) Panjang tembok sayap hilir Lsi = 1,5 Ls Lsi = 1,5 x 10,0 Lsi = 15,0 m b) Elevasi dekzerk tembok sayap hilir : + 87,51

74 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

Lampiran C 2 Contoh Perhitungan Ukuran Pintu Kayu dan Stang Pintu 1) Ukuran Tebal Pintu Ukuran pintu bilas direncanakan seperti gambar dibawah ini :

Lebar pintu Lebar teoritis Tinggi pintu Tinggi satu blok diambil Muka air banjir

= = = = =

2,00 m 2,16 m 2,20 m 2,00 m + 310,75 m

Gaya tekan air dihitung dengan rumus : P1 = w x h Gaya tekan lumpur dihitung dengan rumus :

1 sin P2 = 1 x s x h 2 x 1 + sin 2
dimana : s = berat jenis lumpur h = tinggi lumpur = 1,00 m = sudut geser lumpur = 300 Tekanan air dan lumpur - di bagian b

1 sin P1 = w h1 + 1 s h12 2 1 + sin

= 1x (5,75-0,20) + 0,5x1,6x(1-0,20) = 5,55 + 0,17 = 5,72 t/m - di bagian a

75 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

1 sin P2 = w h 2 + 1 s h 2 2 2 1 + sin
= 1 x 5,75 + 0,5 x 1,6 x 1/3 = 5,55 + 0,27 = 6,02 t/m Jadi Tekanan Total P = ((P1+P2)/2) x t = ((5,72+6,02)/2) x 0,20 = 1,174 t/m Momen maximum pada pintu : Mmax = 1/8 x q x l2 = 1/8 x 1,174 x 2,162 = 0,68467 tm = 68467 kg/cm Digunakan kayu jati d = 80 kg/cm2 Wperlu = M/d = 68467/80 = 855,84 cm2 W = 1/6 x t x b2

6x W . t 6 x 855,84 b= =16,02 cm 20 b=
Ukuran pintu direncanakan; Lebar = b = 16 cm Tinggi = t = 20 cm Kontrol tegangan = M/W = 68467/1/6 x 20 x 162 = 80 kg/cm2 ...........OK! 2) Ukuran Stang Pintu Pintu bilas direncanakan dengan ukuran seperti di bawah :

Lebar pintu Lebar antara slag tembaga Tinggi angkat Koefisiein geser

= 2,00 m = 2,16 m = 1,00 m = 0,4

Tekanan : Tekanan air pada P1 = 3,55 x 1000 = 3550 kg/m2 Tekanan air pada P3 = 5,75 x 1000 = 5750 kg/m2 Tekanan air =

P1 + P3 3550 + 5750 kg = = 4650 2 2 2 m

Jumlah tekanan pada pintu : 2,16 x 3,55 x 4,650 = 35,66 ton Kekuatan tarik = jumlah tekanan pada pintu x koefisien geser + berat sendiri pintu Berat sendiri kayu = 2,20 x 2,16 x 0,20 x 0,16 = 0,152 ton
76 dari 77

RPT0-Pd T-xx-xxxx

Berat sendiri besi = 0,70 ton Kekuatan tarik = 35,66 x 0,4 + (0,152 + 0,7) = 15,12 ton Untuk 1 stang = 15,12/2 = 7,558 ton Kekuatan tekan = jumlah tekanan pada pintu x koefisien geser berat sendiri pintu = 35,66 x 0,4 (0,152 + 0,7) = 14,264 0,852 = 13,412 ton Untuk 1 stang = 13,412/2 = 6,706 ton Perhitungan pada tarik : P = x x d2 x 6 (kg/mm) 7558 = x 3,14 x d2 x 6

d2 =

7558 1 x 3,14 x 6 4

= 1604,67

d = (1604,67)0,5 = 40,05 mm = 40 mm Perhitungan pada tekan :

2 EI i besi = 1 d 4 2 64 L 3 4 d E 5 x 6706 = E besi = 2.10 6 64 L2 5x P=

5 x 6706 = d4 =

313 d 4 2.10 6 L = 580 cm 64 x 580 2

5 x 6706 x 64 x 580 2 = 11643,35 31 x 2 x 1000000

d = 10,39 cm 11 cm Jadi ukuran stang pintu dengan diameter (d) = 11 cm

77 dari 77