Yasmini F

Blok Reproduksi FK UII TA 2008/2009

 Masa

nifas adalah:.. Adalah waktu yang diperlukan untuk pulihnya alat kandungan kepada keadaan normal 6 minggu/ 42 hari  Alat genitalia interna dan eksterna berangsur pulih seperti keadaan sebelum hamil

uterus. Keadaan umum  Keadaan payudara dan puting  Dinding perut  TFU. adneksa . adanya hernia  Keadaan perineum  Kandung kemih  sistokel. tonus m sphincter ani  Fluor albus  Keadaan servik. uretrokel  Rektum  rektokel.

nekrosis pars anterior hipofisis postpartum . embolisme dan trombophlebitis. trombosis. Infeksi nifas  Kelainan lain dan penyakit lain dalam nifas • Kelainan pada mammae • Kelainan pada uterus • Kelainan lain dalam nifas  inkontinensia urin dan feses.

simfisis Tak teraba 1000 gr 500 gr 14 hari 42 hari 56 hari 350 gr Sebesar hamil 2 50 gr mg normal 30 gr .Involusi Plasenta lahir 7 hari Tinggi fundus Berat uterus sepusat Pertengahan pusat.

.

warna putih campur darah  Lokia serosa  7-14 hari. sisa darah  Lokia sanguinolenta 3-7 hari . sisa mekoneum. Lokia rubra 1-3 hari berisi sel decidua. lanugo. warna putih . vernik kaseosa. warna kekuningan  Lokia alba 14 hari.

 Adalah infeksi/ radang pada alat genitalia pada masa nifas  Peningkatan suhu badan > 38 C berturutturut selama 2 hari dalam 10 hari postpartum  Lokia menjadi media kultur yang baik bagi kuman .

 Menjadi penyebab tersering kematian maternal  menurun dengan meningkatnya pengetahuan tentang sebab dan pencegahan. . penemuan obat-obat baru  Organisme menyerang bekas implantasi plasenta atau pada laserasi/ luka-luka di jalan lahir oleh penghuni normal dari serviks dan jalan lahir atau dari luar.

.

bekuan darah Ketuban pecah dini Perdarahan/ anemia Malnutrisi/ kelelahan Infeksi saat hamil Manipulasi penolong Infeksi nosokomial Hubungan seks menjelang persalinan  bila mengakibatkan ketuban pecah Infeksi intrapartum .           Persalinan lama Tindakan operasi persalinan Tertinggalnya plasenta/selaput.

vagina. Lokal  terbatas pada perineum. vulva. endometrium • Pembengkakan luka episiotomi • Pernanahan • Perubahan warna • Lokia campur nanah • Mobilisasi terbatas nyeri • Nyeri tekan pada uterus • Temperatur naik .A. serviks.

 Jenis infeksi yang paling sering : endometritis  kuman masuk melalui bekas insersio plasenta menyebar ke seluruh endometrium. • Faktor risiko endometritis: chorioamnionitis. alat monitor intrauterin (kateter pressure intrauterine. ketuban pecah dini. pemeriksaan dalam (tidak steril). • Pada postpartum endometritis infeksi bisa mengenai endometrium. . miometrium hingga parametrium.

dan sepsis. pelvik abses disertai bakteriemia. parametritis. septik pelvic tromboplebitis. ooforitis. • Endometritis yang tidak diterapi secara adekuat dapat menyebar langsung atau secara limfogen. Diantara kuman penyebab Streptocoocus Grup B. Escherichia coli. Enterococcus faecalis. • Sepsis puerpuralis merupakan salah satu penyebab kematian maternal yang penting.• Pada endometritis infeksi secara asenden terjadi oleh mikrobia penghuni vagina dan servik. . salpingitis. menyebabkan terjadinya pelvic peritonitis.

pembuluh limfe. nadi naik. PIEMIA • Tampak sakit dan lemah • Temperatur > 39C.B. RR naik. Umum  penyebaran dari infeksi lokal melalui vena. permukaan endometrium  SEPTIKEMIA. TD dapat turun • Keadaan gelisah sampai koma • Gangguan involusi uterus • Lokia berbau dan bernanah .

vena ovarii. Pada septikemia •  kuman-kuman dari sarangnya di uterus langsung masuk ke peredaran darah umum dan menyebabkan infeksi umum  dibuktikan dg pembiakan kuman dari darah  Piemia •  trombophlebitis vena-vena di uterus dan sinus- sinus tempat insersi plasenta menjalar ke vena uterina. vena hipogastrika. melepaskan emboli shg terjadi abses .

.

.

infus cairan. vitamin. Perbaikan  Terapi keadaan umum • Tranfusi.  Uteronika uteri . penurun panas infeksi untuk mengeluarkan isi cavum Antibiotika broadspektrum.

 Perbaiki anemia.  peralatan steril. gizi baik  Mencegah partus lama.  mencegah terjadinya perdarahan banyak.  meminimalkan trauma.  pemeriksaan dalam dilakukan bila ada indikasi .

galaktokel. embolisme dan nekrosis pars anterior hipofisis postpartum  Kelainan .pada mammae  bendungan asi/ mrangkai. mastitis/ abses payudara. kelainan puting  Kelainan pada uterus  subinvolusi. trombosis. perdarahan nifas sekunder  Kelainan lain dalam nifas  inkontinensia urin dan feses.

Air susu terkumpul pada suatu bagian pada mamae menyebabkan tumor kistik. . • Galaktokel  sumbatan saluran oleh asi yang membeku. Produksi asi berlimpah sementara bayi belum pandai minum. Kelainan pada mammae: • bendungan asi/ mrangkai  mammae keras pada perabaan dan nyeri.

Bila terjadi abses. incisi dilakukan sejajar dg duktus lactiferus  untuk mencegah kerusakan duktus laktiferus • Kelainan puting  datar atau cekung . Mammae membesar. tanda peradangan (+).• Mastitis/ abses payudara  infeksi terjadi melalui luka pada puting susu. Jika tidak segera ditangani dapat menjadi abses. nyeri.

.

ibu tidak menyusui. atau pemberian estrogen. IUFD. kompres es. • Dapat dengan pembebatan. Penghentian laktasi • Dilakukan pada stillbirth. .

 Lokia bertambah banyak. Kelainan pada uterus: • Subinvolusi  proses mengecilnya uterus terganggu. mioma uteri. endometritis. kdg perdarahan. • perdarahan nifas sekunder  Terjadi ≥24 jam pasca persalinan .  Penyebab : retensi sisa plasenta.

• trombosis. Abnormalitas lain masa nifas: • inkontinensia urin dan feses. embolisme  perubahan susunan darah  saat terlepas plasenta kadar fibrinogen dan faktor pembekuan meningkat  perubahan laju peredaran darah  peredaran darah dalam kaki menjadi lebih lambat  perlukaan lapisan intima pembuluh darah .

 Hipofisis berinvolusi sesudah persalinan dan diduga pengaruh syok pada hipofisis yang berinvolusi dapat menimbulkan nekrosis pada pars anterior.  Terdapat agalaktia.• Nekrosis pars anterior hipofisis postpartum (sindrom Sheehan). gejala insufisiensi pada alat-alat lain yang fungsinya dipengaruhi hormon pars anterior hipofisis (glandula thiroid. amenorea.  terjadi tidak lama sesudah persalinan akibat syok karena perdarahan. glandula suprarenalis). .

Obstetric & Gynecologic Emergencies. Wiknjosastro H. Current Obstetric & Gynecology Diagnosis & Treatment. 1994. 8th edition. Luesley DM. An evidencebased text for MRCOG. Jakarta. 2004. 5. Pearlman MD. Baker PN. . 4. DeCherney AH. 1994. A Lange medical book. McGraw-Hill Companies. Cunningham FG. Dyne PL. 3. MacDonald PC. Arnold. American Collage of Emergency Physicians. Jakarta. 1995. 2. Diagnosis and Management. Gant NF. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Obstetrics and Gyneacology. Obstetri Williams. Pernoll ML. 2004. Jakarta.1. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka. Tintinalli JE.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful