Penakluk Ujung Dunia

Karya Bokor Hutasuhut Djvu, convert & Ebook : Dewi KZ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/ http://kangzusi.info/ http://cerita_silat.cc/

Penakluk Ujung Dunia Ayahanda Bokor menjadi mubaliq Islam di Tanah Batak. Karena itu, dia suka ikut menyusup hutan belantara, mendaki bukit dan lembah Bukit Barisan. Menyusup melewati Pintu Pohan, Parhitean, naik ke Tangga dan tembus ke Simalungun. Juga kembali melalui Dairi ke Tanah Samosir.

Dalam perjalanan, sering ngobrol sepanjang malam dengan para tetua, wakil masa silam, masih primitif, sederhana, tapi simpatik. Dengan para tetua itu. Bokor setempat tidur dan para tetua terus bercerita Di hutan, lembah, dan ngarai sudah biasa saja. Bertemu harimau dan binatang buas lain tak soal lagi. Dan, suatu kali, di suatu hutan, di atas dedahanan rimbun terdapat sarang tawon ruang pun memanjat poitu berusaha mengisap madu itu. Tapi, seseorang lantas ikut naik, memanjat pohon yang sama yang setelah bibir berdecap mengucap jampi, beruang itu menyisih . Dan, "Penakluk Ujung Dunia" berkisah pada sulitnya memperoleh lahan. Perang warga sering berkecamuk. Lantas Ronggur mencoba menerobos Sungai Titian Dewata untuk mencari daerah baru. Kepergiannya dikutuk karena melawan tradisi. Dan, setelah dia kembali dan berhasil menemukan daerah baru, justru dia akan dihukum gantung karena Ronggur tetap saja sudah melawan tradisi kepercayaan yang sudah hidup turun temurun. Sungguh menawan dan indah .... PENAKLUK UJUNG DUNIA Oleh: Bokor Hutasuhut Hak Pengarang dilindungi undangundang Desain Kulit: Sriwidodo Cetakan Pertama 1964 PT Pembangunan-Jakarta Cetakan Kedua 1988 Penerbit: PT Pustaka Karya Grafika Utama Jakarta

Sekilas Pengarang: BOKOR HUTASUHUT, lahir di Balige, Tanah Batak, Sumatra Utara 2 Juni 1934. Dalam catatan masuk HIS, hari lahir itu berubah menjadi 2 Juni 1933. Menurut ayahnya, H.A.M. Mangaraja Gende Hutasuhut, perubahan itu perlu jika ingin sekolah. Dalam catatan itu juga tercatat nama benar Buchari Hutasuhut agar kelak menjadi pengarang tafsir Quran. Sejak 1953 sudah menulis cerita pendek ke berbagai majalah sastera dan media budaya. Selain buku ini, juga sudah terbit buku "Tanah Kesayangan" dan "Datang Malam". Kini berdomisili di Medan.

formalitas tutur kata bahasa lisan menurut tradisi Batak. Sedangkan kebebasannya. Alangkah hidup detail-detail dari lukisannya. lalu duduk dan menulis novel ini. Ketelitiannya di dalam melukiskan detail-detail ia gabungkan dengan rasa harmoni seni dalam bercerita mengenai watak manusia. Sehingga hasilnya bukanlah sekedar laporan anthropolis akademis. Begitulah ia muncul sebagai sastrawan dengan gaya yang unik di antara sastraivan modern yang lain di Indonesia. Ia sangat sadar bahwa ia sedang menyelami dan melukiskan kehidupan masyarakat Batak yang unik tradisional kepada pembaca sastra modern pada umumnya.Kata Pengantar Bokor Hutasuhut punya gaya bercerita yang merupakan gabungan sifat formal dan bebas. Formalitasnya. Marilah kita sekarang menikmatinya. kebebasan penghayatan kebudayaan modem dari tradisi sastra modern. Satu pertanda bahwa ia mengerti betul-betul apa yang ia tuliskan. Ia bukan photo copy kebudayaan Batak. tetapi orang Batak tulen yang menjadi sastrawan Indonesia. Ia telah selesai melakukan wawancara dengan tradisinya dan dengan dinamika modern dari Indonesia Raya. segi memandang persoalan sebagai sastrawan modern. tetapi suatu karya sastra segar dengan latar belakang pengaruh tradisi kebudayaan Batak. Rendra . plot.

Tapi. Wajah yang cukup matang dan keras. yang hulunya berukirkan wajah dan kepala manusia. tempat penghuni kampung selalu berkumpul di saat yang perlu. Dan. setelah cukup dekat unggun api. Di pinggang. Halaman kampung menjadi luas. Mengikuti lingkaran rumah dan di tengah dikosongkan. Wajah para lelaki yang bermunculan di mulut pintu. Tapi. di sebelah hulu. dan hitam. Salah seorang di antaranya menyandang ulos-batak ragihidup. Nyalanya meliuk ditiup angin. Para lelaki tambah banyak berkumpul. satu sama lain. Tapi. memancarkan rasa marah dan mendendam. ditanam melingkar. yang dimasak kerasnya hidup sehari-hari. putih. langsung menjadi pagar kampung. Di saat Kerajaan Marga yang mendiami kampung itu mengadakan musyawarah. memecahkan tanah batu untuk dijadikan persawahan. Di langit bintang gemerlapan. memenuhi panggilan suara gong yang dipalu sesekali dekat unggun api yang ada di halaman perkampungan. kepalanya dibeliti bolat-an berwarna tiga jalin-menjalin: merah. Kemudian kelompok manusia itu menjadi tambah hening. Wajah para lelaki tambah jelas kelihatan. Tangan kanan memegang tungkotpanaluan. Bambu duri itu. Hingga cahaya unggun api yang samar. tampaknya saling diam.1 Satu-satu para lelaki keluar rumah. cukup punya arti. Angin pegunungan berhembus. Lebih dulu meliukkan pucuk bambu duri yang ditanam orang sekitar kampung. Sengaja dikosongkan. belum seorang pun mengambil tempat. Dari jauh kedengaran suara ratap para perempuan. serta dihiasi rambut manusia. Para lelaki itu membentuk lingkaran seputar unggun api. tidak ada yang berkerisik. terselip . Gong masih dipalu sesekali. wajah yang menampung sinar matahari penuh. sewaktu enam orang lagi lelaki datang mendekat. tidak ada bulan. Senja baru saja berlalu.

Sedang Datu Bolon Gelar Guru Marlasak menyandang kulit monyet yang sudah kering. Tempat mereka lebih tinggi dari yang lain. Yang berjalan di sebelah kanannya.pisau gajah-dompak. pertanda mereka pemegang perbekalan marga. Di sebelah kiri Raja Panggonggom. pemegang pimpinan para panglima dan para hulubalang perkasa. memakai bolatan juga. dia mengaju tanya. dan Datu Bolon Gelar Guru Mafla-sak. Tapi. lebih dahulu dia menancapkan tungkotpanaluan ke tanah. Mereka mengambil tempat di sebelah hulu. yang masih semarga dengan mereka. pengerah tenaga rakyat. Raja Ni Huta yang memakai bolatan ini. Setelah mengangkat tangan kanan. warnanya hanya merah dan putih berjalinan. pertanda dia Raja Ni Huta. Raja Namora. Semua mata diarahkan padanya berusaha mengikuti gerak-geriknya. Di tangan kiri Raja Panggonggom. pertanda dia Raja Nabegu. Sebelum duduk. Pertanda dia Raja Panggonggom. mengiring pula Raja Partahi. Di belakang mereka bertiga. tapi raginya berbeda dengan ragi yang disandang fyaja Panggonggom dan Raja Ni Huta. siap mendengar yang hendak diucapkannya. yang sejak tadi dikosongkan. tergenggam sebilah pisau yang ujungnya berlumur darah merah. berjalan seseorang yang memakai bolatan warna merah saja. memakai bolatan warna putih. sedang mulutnya terus-terusan menguyah sirih dan meludah. dan langsung memimpin para Raja Ni Huta dari kampung lain. Dia juga menyandang ulos-batak. tapi raginya berbeda dengan yang dipakai oleh Raja Panggonggom. Raja Partahi dan Raja Namora. Kuping sudah. "Apakah sudah semua lelaki hadir di sini?" . tergenggam tombak yang hulunya berukirkan kepala manusia. Sedang di tangannya. yang memegang kekuasaan adat dan hukum tertinggi di perkampungan itu. di marga yang mendiami kampung itu. Juga dia menyandang ulos-batak.

tangannya menggenggam tombak berukirkan kepala manusia. pusaka nenek moyang turun-temurun dielusnya seketika.Setiap suku kata ditekankan kuat-kuat. yang langsung berdiri dari duduknya. Pertanda dia. muram mengandung marah yang menuntut dibalaskan. disaputi kulit hitam . tapi bolatannya lebih kecil dari orang pertama. Ratap inilah yang. hulubalang muda. yang juga memakai bolatan warna hitam. Apakah harus aku yang pergi memanggilnya?" Hulubalang Muda cepat berdiri. tapi tidak berhiaskan rambut. "Siapa yang belum hadir?" tanya raja. kepalanya memakai bolatan warna hitan. Sedang dari kejauhan. "Belum. Dia berlari dengan langkah yang panjang dan cepat. Kembali Raja Panggonggom duduk. Suaranya yang beruntum keluar dengan cepat. pewarta bahwa dia sedang marah. Tubuhnya yang sudah tua itu masih membayangkan bekas bentuk tubuh yang tegap di masa muda." sahut seseorang. "Apakah sudah berkumpul semua pemuda di sini?" tanyanya pula melanjut. Matanya merah nyala. Cepat saja diketahui bahwa tidak seorang pun perempuan hadir di antara para lelaki yang mengitari unggun api itu. tetap kedengaran sesayup sampai ratap perempuan. "Si Ronggur. "Ayoh. "Sudah semua. dan menggenggam sebuah tombak. Raja Panggonggom lalu mengatakan. Tongkat panaluan. yang meratap kan kepiluan hati." sahut seseorang. membuat wajah para lelaki itu bermuraman. pertanda dia panglima marga atau hulubalang marga. pergilah salah seorang dari kamu memanggilnya." "Si Ronggur belum hadir? Ke mana dia pergi?" Tidak ada yang menyahut. Terus pergi melaksanakan perintah. hati yang berduka.

juga sudah agak tua. namun garis di wajahnya. keningnya yang lebar. para lelaki yang masih muda. wajah Raja Nabegu. Dari jauh kelihatan dua orang pemuda mendekat. Tapi. Wajahnya yang berkerut-kerut. "Apakah kau tidak mendengar gong dipalu? Apakah kau tidak mengetahui. ma-nyambut kehadiran mereka. Sambil duduk. yang duduk sejajar dengannya. apa arti gong yang dipalu dengan pukulan satu-satu? Apakah kau harus diajar untuk mendengar dan mengartikannya lagi? Bukankah kau sudah diajari Raja Nabegu?" tanya Raja Panggonggom cepat. "Aku dapat mendengar dan mengartikannya. "Kenapa kau tidak terus mematuhi panggilan? Kenapa kau melalaikannya? Apakah tubuhmu itu tidak dialiri darah merah yang diwariskan Almarhum ayahmu lagi?" . yang tubuhnya setiap hari masih terus membentuk sebuah tubuh yang wajar. Paduka Raja. Walau ada di antara mereka yang agak kecil. sesuatu pertanda ketangkasan. segumpal daging yang dapat dipercaya kesehatan dan kekuatan yang terkandung di dalamnya. Raja Panggonggom menggerutu. dan sinar matanya masih tetap bercahaya. ototnya. menjadi merah padam.yang cukup matang." jawab pemuda itu. "Kita harus menunggu anak itu lagi. dan dari wajahnya memancar kebeningan tapi bercampur-baur dengan kematangan. punya otot tubuh yang tegap dan masih berada di puncak kekuatan." Tidak seorang pun yang berani menambahi cakapnya. bernadakan kepercayaan akan diri sendiri. kenapa Ronggur tidak bisa hadir sebelum golongan raja hadir di sana. Sedang para pemuda. seperti merasakan sesuatu kesalahan. kulitnya yang hitam. Di hadapannya. Para lelaki yang duduk di sampingnya.

Kupingku mendengarkan suara gong pusaka. barulah pula kau wajar dihormati sebagai seorang lelaki." Raja Panggonggom menebarkan pandang ke sekitar. nama baik rajamu. kau memang sengaja mengabaikan panggilannya?" "Aku tidak mengabaikannya. dalam tubuhku mengalir darah yang diwariskan ayahanda almarhum. merahnya." "Kalau begitu. "Semua lelaki yang ada di hadapanku. Paduka Raja. kalau begitu dengar dulu kataku. Paduka Raja." Orang terdiam mendengarkan. Dan apa yang harus kuucapkan dalam pertemuan ini. kenapa kau terlambat datang? Atau. Barulah kau dapat dikatakan seorang lelaki yang menghormati nama baik nenek moyangmu. malah langsung membakar semangatku. Dan."Masih. Tubuh mereka berkeringat olehnya." "Paduka Raja. dan marga kita. margamu. Tapi. yang pada tiap tubuhmu mengalir darah merah warisan nenek moyang. Mata tiap orang menjadi merah dan gusar. bagaimana aku harus melaksanakan perintah yang akan ditugaskan padaku. Supaya para arwah nenek moyang dan dewata tidak marah. Menatap wajah demi wajah dengan pandang tajam. Otot yang tegap itu menjadi mengencang. lalu. bila saat musyawarah diadakan. Pada tiap wajah makin jelas kelihatan pancaran sesuatu cahaya yang tidak mau dipadamkan." "Nah. . api semangat yang tidak boleh dipadamkan. nama baik kampung. aku sedang memikirkan." "Tahukah kau bahwa ayahmu tidak pernah mengabaikan panggilan gong pusaka ini? Terlebih bila gong dipalu satusatu? Ataukah dengan sengaja kau melambatkan kedatanganmu karena kau bukan seorang lelaki? Jawab pertanyaanku dengan jujur. dibakar perasaan dalam hati.

Tentu kamu turut mendengar ratap mereka. Supaya orang lain tidak berani mengulanginya terhadap marga kita!" "Ya. Tapi. Lalu tertumpu akhirnya ke tempat para raja. Meratap berkepanjangan. bagi kita para lelaki. perpisahan yang timbul karena perbuatan orang lain. Kuat meledak. bila kita tidak menuntut balas. Mayatnya sekarang terlentang kaku di Sopo Bolon. ke dada salah seorang dari antara kamu." Ronggur berdiri. kita tidak berhak lagi disebut dan dihormati sebagai lelaki. dari antara kita. Yang menekan hati. Penghinaan yang harus ditantang dengan sikap jantan. ratap yang menangiskan sebuah perpisahan. Kalau paduka raja mengijinkan aku berbicara. Sekitar mayatnya duduk melingkar para perempuan. Kita terkutuk. ratap para perempuan itu. orang dari marga lain."Pada tangan sebelah kiriku. sesuatu yang mengharapkan penuntutan balas. Matanya dilayangkan pada kelompok pemuda. kemudian pada kelompok para lelaki. "Bicaralah____" . "tergenggam sebilah pisau. Ketahuilah. "Ada yang Panggonggom. hendak kau katakan?" tanya Raja "Ya. Sebuah penghinaan harus segera dilenyapkan. "Perintahkan dengan cepat. memang untuk itu kita berkumpul malam ini. lebih berat mendatang dari penghinaan yang dengan sengaja diarahkan marga lain yang membunuh Ama ni Boltung itu." suaranya tegas dan pasti. dengan darah merah yang memancarkan cahaya semangat yang tak akan padam pada tiap wajah kita. tidak saja kepiluan mendatangi diri. Para perempuan itu berduka. yang tadi pagi sengaja ditusukkan orang. Berakhir dengan meledaknya ucapan. apa yang harus kami perbuat. bila penghinaan yang sangat nista ini kita terima begitu saja. Dan." Suara mendengung pada kelompok yang ada di depan raja." lanjut Raja Panggonggom. sehingga dia meninggal.

dicabutnya nyawa mereka dengan ujung pisau. dapatlah diketahui bahwa soalnya timbul karena pembagian air dan perbatasan sawah. Tapi. Tadi siang."Paduka Raja. Tidak kurang dari dua orang yang menyerang dirubuhkannya." "Kuhormati kepahlawanan Ama ni Boltung. antara satu lu hak dengan luhak lain. Juga karena pertengkaran mengenai perbatasan sawah. Arwahnya tentu ditempatkan para dewata di tempat para hulubalang perkasa. yang sudah terlalu sering mengakibatkan pecahnya perang antara satu marga dengan marga lain. Yang menyerang Ama ni Boltung. Tidak kurang dari lima orang ma lah. kenapa marga lain itu menancapkan ujung pisaunya ke dada Ama ni Boltung?" "Pisau itu mereka tancapkan ke dada Ama ni Boltung. dapatkah Paduka Raja menceritakan pada kami. Juga raja." sahut Ronggur. karena persoalan pembagian air yang harus dialirkan ke sawah. karena semakin sempitnya tanah yang dapat kita garap. mula atau sebab timbulnya perkelahian itu. hingga Ama ni Boltung yang sudah kita kenal keberanian dan ketangkasannya berkelahi. tidak seorang saja. seorang lagi luka pada tangannya. hendaknya kita menelaah. tempat terhormat. Ronggur melanjutkan. Sudah sampai ke sana perluasan sawah. Mereka menyerang sekaligus. yang tanahnya bercampur batu. Soal yang sudah terlalu sering menimbulkan pertengkaran. Tanah batu yang cukup . Dia masih sempat membawa korban. "Soalnya. aku jalan-jalan sampai ke kaki bukit. janganlah kita beranggapan bahwa Ama ni Boltung terlalu lalai menghadapi musuhnya. "tapi yang paling perlu kita pikirkan sekarang. rubuh ke atas tanah. kenapa persoalan begitu rupa tambah sering kita hadapi. Tambah sering mengganggu ketenteraman hidup? Mengganggu kerukunan hidup di pantai Danau Toba ini?" Semua terdiam. Dan. Dari keterangan Paduka Raja. Yang menjadi pokok persoalan sekarang menurut pendapatku.

Kita tidak tahu. tiap suku tambah berkembang biak. ke mana kita harus mencari tanah garapan baru? Sekitar kita." "Cukup. tambah banyak mulut yang harus diberi makan dari hasil tanah yang itu juga." kata Ronggur pula tak mau henti." "Paduka Raja." kata raja. "jadi. Tapi. setiap orang menggunakan akal licik untuk memperoleh setapak tanah. membangun sebuah parit saluran air. Tanah yang dapat kita kerjakan masih tanah yang dulu juga. Mereka melinggis pinggiran gunung batu. Lihatlah. "Kita harus mencari . supaya batu menjadi lumat agar bisa menghasilkan padi. Karena itulah. mencari daerah baru tempat perluasan marga. soal sebenarnya sudah kita ketahui. Mereka orang yang berani hidup. Berarti. Y ang taat melaksanakan pesan nenek moyang masingmasing. "Usulmu memang bagus.keras itu mereka pecahkan dengan cangkul yang diayunkan kedua tangan mereka. Kami juga turut bekerja. "Tapi. "kami juga sudah mengetahui itu. Orang tambah berebut pada air parit yang dangkal agar sawahnya lebih dan dapat lebih banyak menghasilkan padi. betapa sungguhnya tiap orang dan marga yang ada di sekitar danau ini mempertahankan hidupnya.ya. melanjutkan hidup keluarga dan marga. Tangan kami juga turut lecet karena mengayun pacul ke tanah berbatu. Keringat kami juga turut membasahi tanah batu." sahut Raja Panggonggom mengatasi dengung suara itu. melingkar gunung batu yang tandus lagi tinggi." "Apa maksudmu?" tanya Raja Panggonggom." Dengungan suara pun bangkit di tengah orang banyak. Inilah mula persoalan! Harus awal soal ini yang diatasi agar hal yang bisa menimbulkan perkelahian dan peperangan yang menumbuhkan luka dan duka di tiap hati dapat dihilangkan. berakhir di mana . Ini sudah terang menambah kesulitan hidup. Tidak bertambah luas.

Tapi." "Sungai mana?" cepat Raja Panggonggom memotong. kita akan mengikuti sungai. Sambil meludah merasa jijik atas ucapan Ronggur. Binatang buas akan membunuh tiap orang tanpa ampun.gunung ini. setiap sungai akan bermuara ke tanah landai. beralih pula pada wajah pemuda sebayanya. Habis perkara. Karena itu. yang menjelma menjadi binatang buas. Lebih dulu ditatapinya wajah para raja. yang bermula dari salah satu teluk danau. supaya kita tidak melintasi dan melewatinya. harus berusaha pula meluaskannya. Datu Bolon itu lebih merasakan. yang dituliskan pada pustaka. Penjaga ini tidak senang pada orang yang berani melintas di sana." Ronggur tidak langsung menyahut. apalagi orang tua yang duduk di belakangnya yang menyandang kulit kera yang sudah dikeringkan. namun sinar wajahnya masih tetap memancarkan sikap keyakinan. Pegunungan ini berlapislapis. Caranya terserah pada kekuatan kita. "Sungai Titian Dewata. Setiap orang jadi merasakan. yang juga sejak tadi terus-menerus mengunyah sirih." Dengung suara bangkit di tengah kelompok lebih gemuruh dari tadi. apakah masih ada tanah datar di seberang pegunungan ini. kemudian wajah para lelaki. Dan. Siapa yang mau membunuh diri dengan pekerjaan sia-sia itu? Karena itu. bagaimanapun. Ronggur sudah memancing kemarahan para dewata. T iap puncak dijaga para dewata. telah dipermainkan Ronggur. pagar alam yang sengaja dibuat para dewata. Kita tidak dapat tahu. dikenal bernama Datu Bolon Gelar Guru Marla-sak. Kutuk dewata akan tiba. Lalu katanya dengan suara perlahan tapi pasti: "Menurut cerita nenek moyang. Wajah Raja Panggonggom memancarkan sinar kemarahan. kita harus mempertahankan tiap jengkal dan tiap tapak tanah yang kita pusakai dan kuasai. . Dan. karena mengganggu ketenteraman para dewata yang tidak tampak oleh mata kita.

dengan sikap bijaksana yang melekat pada Raja Panggonggom. berakhir di ujung dunia. kalau kita tidak menghapus corengan arang yang di buat orang di wajah marga kita. Sungai Titian Dewata. "Kita tadi dengan sengaja telah membuka satu percakapan yang cukup panjang. Gong sudah tidak dipalu orang lagi sehingga ratap perempuan dari Sopo Bolo tambah jelas kedengaran. Karena perintah itu. masih basah malah. tempat Mula Jadi Na Bolon bersemayam. Tapi. terutama pula setelah suruhan kita diusir oleh marga yang membunuh Ama ni Boltung itu. Darah Ama ni Boltung masih melekat di sini. semua rakyatku. suatu kemurtadan." Sikap Ronggur masih mau berbicara lagi. kita tidak dapat mengikuti Sungai Titian Dewata bila hendak mencapai tanah landai. tiba ke sana. Sengaja diciptakan dewata untuk Titian Para Dewata menuju matahari. Alangkah sia-sia. Raja Panggonggom kembali berbicara. lalu mengatakan: "Ronggur. ke hidup lain. Jadi. Tapi. memendam semua yang ada di dalam hati. percakapan itu tidak langsung penyebab kita kumpul di sini. di mana para dewata dan arwah nenek moyang bersemayam di sekita/ Mula Jadi Na Bolon. Anakku! Sungai Titian Dewata itu lain dari sungai biasa. Karena kita tidak mau disebut orang murtad.Tapi. Raja Panggonggom memberi isarat. dia dapat mengatasi luapan marahnya. agar hidupnya di dunia lain itu berbahagia. sidang kerajaan hari ini memutuskan: mengumumkan perang dengan marga yang membunuh Ama ni Boltung!" . Hendaknya. kalau kita tidak menuntut balas. kau masih terlalu muda. Tidak memberi kesempatan bicara lagi. Ronggur harus duduk. Lihat. Orang tambah merasa dipermainkan Ronggur. jalan arwah kita kelak ke dunia lain. orang yang dikutuk arwah nenek moyang. Tempat terhormat. saat ini. agar dia duduk. Sungai Titian Dewata. pisau yang tergenggam di tangan kiriku ini.

Tunjukkanlah kebe-ranianmu. Janganlah siasiakan segala bantuan ini! Jadi.!" para lelaki dan pemuda bertempik sorak menyambut putusan raja. sebentar lagi akan berkumpul di sini. kampung yang didiami marga kita juga sebagai kampung perluasan. Raja Namora. Raja Partahi. rampas. dan Raja Ni Huta. Raja Nabegu berdiri. dari kampung sekitar." kata Raja Nabegu selanjutnya. pendukung kehormatan marga. .!" Kelompok kembali bersorak. "Para perempuan. lalu jadikan kampung perluasan bagi marga kita! Tawan rajanya! Jadikan budak setiap keturunannya . Setelah Raja Panggonggom duduk. Mereka sekarang sedang menyiapkan segala sesuatu mengumpulkan . akan menyediakan alat peperangan untukmu. diumumkan awal peperangan dengan marga yang sangat angkuh itu. "Apakah seluruh rakyatku. Padamu sekarang terletak tugas untuk menghapus corengan arang dari wajah kita masing-masing. akan dikerahkan Raja Ni Huta menyediakan batu sungai peluru ambalangmu. . Bunuh kalau melawan. tunjukkanlah kehulubalanganmu. Suaranya deras mengalir dan mengguntur: "Para hulubalang. dapat menerima dan mendukung putusan ini?" "Kami akan laksanakan dengan gigih. . Wajahnya lebih tegas dan ganas dari Raja Panggonggom. Rapat kerajaan hari ini." jawab serentak."Huraa . seluruh hulubalangku. akan membantu para hulubalang marga dari bidang masing-masing. Musnahkan kampungnya. . "setelah mengebumikan mayat Ama ni Boltung besok pagi. mulai ma lam ini. Raja Namora. . Sewaktu dia berbicara. Tangkaplah mereka di mana saja berjumpa. Sedang Raja ni Huta. . wajahnya menjadi merah dan matanya menyinarkan cahaya marah yang tidak terpadam-kan. Raja Partahi. akan menyediakan makanan bagimu. sehingga suara ratap perempuan tenggelam.

Mereka. Pergi menyembelih beberapa ekor babi dan mengeluarkan alat perang dari tempat simpanan. bagus." "Kalau kau pemuda. bisa . lengkap dengan pemain. Raja Partahi dan Raja Namora sudah menyisih dari khalayak ramai. Panggillah para dewata agar memberkati seluruh laskar kita. "masihkah kau seorang pemuda?" "Seperti tampak Paduka Tuan. Ronggur menundukkan kepala. Walaupun usulku ditolak. Menatap bala tentara yang sudah penuh semangat. sudah tergambar darah merah basah menetes dari tiap tubuh. aku akan turut melaksanakan tugas. asahlah kapakmu! Tajamkan mata tombakmu! Perkuat tali ambalangmu." "Ya. Raja Panggonggom kembali berdiri. Supaya kita berada di pihak yang menang. Tenunglah dengan kekuatan batinmu! Panggillah para arwah nenek moyang melalui kekuatan sihirmu agar mereka membantu kita dalam peperangan. Raja Panggonggom lalu mengatakan: "Bapa Paru Bolon Gelar Guru Marlasak. "Kau Ronggur!" tegur Raja Nagebu. tentu kau akan melaksanakan tugas pemuda." Kelompok kembali bersorak dan bertepuk tangan. Sedang Raja Ni Huta telah menyediakan peralatan gondang. Apa sekalipun!" "Bagus.pasukan untuk membantu kita. sebagai pemuda marga. Pada bayang pandangnya. "Ada di antara kalian yang tidak setuju dengan perintah ini. dia kembali duduk. Perbaiki perisaimu!" Lalu. beberapa mayat bergelimpangan di tanah. dengan putusan sidang kerajaan ini?" Tidak ada sahutan. adik-adik kita yang setia.

datanglah bersama kami bapak pargaul pargonci. gondang somba-somba. dirapatkan dikening. Habis itu. dan supaya semangat terus mengapi tanpa mau padam sebelum musuh ditundukkan. Datu Bolon menemani mereka membasmi musuh. Raja Partahi. Cepat pula diiringi Gondang . telah kembali duduk di tempat semula. tempat kerajaan baru khalayak ramai. dan Raja Ni Huta.mengalahkan musuh. Kemudian. Kepala mereka menunduk-nunduk. ludahnya yang merah karena mengunyah sirih. memberi hormat pada arwah halus yang tadi dipanggil. Orang pada berdiri. dijadikan budak belian. Di saat itu. bersujud. palulah gondang somba-somba Gondang pun dipalu. mulai berdiri. Kemudian membaca jampi-jampi. Tangan yang dua. Datu Bolon meminta agar dimainkan pula gondang Mula jadi na Bolon sebagai penghormatan yang mutlak terhadap pencipta asal kehidupan dan yang kepadanya akan kembali segala yang hidup. Di belakang Datu Bolon. bersiap-siap mau manortor. duduk bersila di atas tanah. Datu Bolon meneriakkan dengan suaranya parau: mahluk halus penjaga rumah." Datu Bolon Gelar Guru Marlasak berdiri. Raja Namora. Maju ke tengah khalayak dan di sana membuka parhalaan. disemburkan ke sekitar. Setelah memberikan tanda. mahluk halus penjaga tanah yang tidak dapat dilihat mata semangat poyang tujuh keturunan kupanggil kau. Kemudian bersemadi entah beberapa lama. mulutnya bergerak-gerak.

begitu pula para hulubalang. dipulasnya leher itu. supaya tiba ke tempat yang dicitakan. begitu pula untuk selanjutnya. Setiap yang berpihak pada kebenaran. menyusul Gondang Habonaran. sehingga menitikkan darah. memohon pada seluruh dewata." Raja Ni Huta cepat memberikan yang diminta Datu Bolon. agar Dewata Balabulan. Datu Bolon langsung menjampi ayam itu. Habis itu. pasti akan menang. dima inkan Gondang Husahatan. memurkai dan mengutuk musuh. kekuatan jiwa dalam menghadapi saat yang genting. yaitu yang menunjukkan bahwa mereka memang berada di pihak yang benar. lalu menyuruh mereka mereguk darah ayam yang masih mentah itu. Melumpuhkan semangat musuh agar tidak berani menghadapi laskar mereka. memberi keselamatan bagi mereka semua. agar Dewata Bataraguru memberi kekuatan jiwa bagi mereka dalam menghadapi musuh. Dan. baik dalam pertempuran. Orang kembali duduk ke tempat masing-masing. agar merahmati mereka. Datu Bolon mengakhiri tortor itu dengan menjampikan pantun kemenangan: Mendaratlah perahu meniti ombak ketanah landai berangkat kita ke medan perang pantang pulang sebelum menang Semua. langsung dari leher ayam yang dipulasnya. baik kerajaan.Bataraguru. Lalu Gondang Debata Sori mengikutinya agar dewata Sori memberi kebijaksanaan bagi para hulubalang dalam menyusun strategi perang. dan laskar menyambut dengan sorak-sorai dan gemuruh. Gondang Sitio-tio. "Bawalah ke mari seekor ayam jantan putih yang sudah bertaji. Kemudian. sampai kepada kemenangan akhir. Tapi. sehingga mereka tidak mengenal menyerah. Datu Bolon masih di tengah lingkaran. . Lalu menyusul Gondang Balabulan. kemudian mengatakan. Sebagai penutup. Kembali sorak-sorai. Cepat-cepat dia mendekati kelompok kerajaan.

Datu Bolon telah membagikannya pada golongan raja. yang berarti ada tujuh kampung lagi masuk lingkungan kerajaan marga itu. lengkap dengan pasukan. Kucar-kacirkanlah mereka! Tawan setiap lelakinya yang masih hidup! Begitu pula para perempuan. dengan basa-basi kerajaan. Seranglah mereka dari segala arah. Kamu bisa menyusup dari sana ke tengah kampung tanpa dihalangi duri bambu yang rapat dan keras. Dalam saat begitu. Kemudian berdiri tegak lurus. Bunuh kalau melawan atau berusaha melarikan diri!" Orang kembali bertempik sorak.Bangkai ayam diletakkan di tengah kelompok. sebagai wakil para dewata memakan daging sembahan. Setiap Raja Ni Huta pangkat . kemudian melaporkan bahwa mereka sudah siap sedia melaksanakan perinlah dan pangkat abang mereka. Pada tengah malam. mereka bakar langsung dengan bulunya sekali ke dalam api unggun. Raja Ni Huta dari kampung sekitar yang masuk pangkat adik. Raja Panggonggom menyambut mereka. di tengah lingkaran. Kembali dia bersemadi. duduk dekat raja. lalu mengatakan: "Besok pagi bila fajar pertama terbit. Raja Ni Huta yang pangkat adik itu. Seperti tidak tersangkakan. Meratapi mayat Ama ni Boltung. Para laskarnya bersatu dengan laskar yang sejak tadi ada di sana. Kamu bisa menerobos pertahanan kampung induknya dari arah timur. entah berapa lama. masih muda. Desak mereka sampai ke tepi kampung induk marganya. Datu Bolon meloncat dari jongkoknya sambil berteriak dan memekik. Di saat dagingnya belum masak benar. Raja Ni Huta yang tujuh orang itu. Di sana bambu duri pagar desa. gondang dipalu orang perlahan-lahan. serbulah musuh. telah tiba di sana. jadikanlah budak belian. Ayam jantan putih tadi. Lalu mereka mengambil tempat. Di saat begitu ratap perempuan dari Sopo Bolon kembali terdengar. hampir tidak kedengaran.

terlupa terjun besok pagi ke kancah pertempuran. Dalam bergembira itu. Tortor yang menunjukkan kesetiaan. Tuak dan daging babi terus dihidangkan sampai hampir setiap orang sempoyongan.adik itu. bersama Raja Nagebu. telah selesai menyusun strategi dan taktik peperangan sesuai dengan petunjuk Datu Bolon. Lalu. Raja Ni Huta yang tujuh orang itu manortor bersama. Para hulubalang. . yang diiringi oleh seluruh rakyat yang mereka bawa. tapi warna putihnya lebih kecil dari Raja Ni Huta yang berdiam di induk kampung marga. kedengaran Raja Panggonggom berkata: Rotan ras rotan singorong mengikat keutuhan marga bersatu raja dan hulubalang menjunjung martabat marga Raja Ni Huta yang tertua menyahut: Berbaris kami seperti gajah di hutan balantara perintah raja menjadi suluh kami abdi abadi '. Mereka terus margondang dan terus manortor. memakai bolatan juga. Raja Panggonggom melanjutkan: Tujuh sisiku menghadap tiap penjuru indah mimpiku hulubalang perkasa punyaku Khalayak ramai serentak menyahut: Kami genggam tombak tombak pusaka godang bila raja bersama khalayak bahagia rakyatnya Lalu gondang pun kembali dipalu. Raja Panggonggom turun dari tempatnya. Pertemuan itu tidak bubar sampai pagi hari. menyelempangkan ulos-batak ke tiap pundak Raja Ni Huta yang tujuh itu. Lalu.

Di sayap kanan dan kiri para laskar. Mengisi seluruh lapangan terbuka. berterbangan di udara. juga membawa senjata seperti yang mereka bawa. Dia tahu pasti. turut bersama laskarnya. semua itu harus ditekan. Mereka dihadang musuh pada sebuah sungai kecil. kepala manusia. Kerajaan dari marga lain itu. Bersama terbitnya fajar pagi yang memancar dari balik puncak Dolok Simanuk-manuk.Ronggur selalu menyisih dan meminum tuak seperlunya saja. mendendam. Mengacungacungkan senjata tajam. Lumpur berhamburan . yang sudah dibius semangat itu. Usulnya ditolak! Tapi. Di depan sekali berjalan para hulubalang. bergerak menuju sasaran. orang yang sedang dibius semangat. hardik dan hasutan. menghalau dingin dari tubuh sehingga keseimbangan pikirannya tetap terpelihara. Seolah matahari mau membakar setiap tubuh manusia dan bumi. Kemudian menurun ke sawah yang baru dibajak. semangat usul itu tetap berakar dalam hati. Lengkap dengan Datu Bolonnya. yang punya tanah tipis dan di bawahnya batu alam yang keras. beberapa orang di antara mereka akan jatuh menjadi korban dalam peperangan. orang yang sedang bernyanyi. Sambil bertempik dan bersorak. Dari segala arah kedengaran pekik dan jeritan. Tak ubah seperti kerajaan marga mereka sendiri. Kemudian kerajaan. malah menjunjung putusan kerajaan. memusnahkan musuh. Bercampur baur dengan udara yang terik. Kemudian jatuh mencari sasaran. para lelaki yang marah itu. Pasukan dari marga lain itu. Dia harus turut. Batu yang dilemparkan ambalang. untuk memasuki nasib yang tidak terduga. Jarak antara kedua pasukan itu dipisah sebuah sungai kecil yang airnya dangkal. Mati! Semua bayangan kemungkinan ini mempengaruhi pikiran dan perasaannya. Tapi. Wajah manusia itu tak ubah seperti wajah mereka sendiri. Dia melihat orang yang sedang menari. marah. Debu mengepul ke udara di tempat kering. Manusia di seberang kali sana pun bertempik sorak.

lalu mengotori wajah manusia di tempat basah. Tempik dan sorak, pekik, hardik, dan hasutan terus menerus bergema. Pasukan kedua marga yang sedang marah itu, sorongmenyorong. Tidak ada yang mau kalah. Jarak antara keduanya bertambah dekat. Ambalang tidak digunakan lagi. Langsung tombak, panggada, dan kampak dipukulkan dan ditangkis perisai. Siapa yang jatuh, jatuh tersungkur tanpa diperdulikan, malah menimbulkan kegembiraan bagi orang yang dapat merubuhkannya. Kedua pasukan marga itu sudah sama-sama terjun ke dalam sungai. Di sana mereka bersicucukan, bersihantaman, dan bersipu-kulan dengan segala macam taktik dan cara. Matahari terus bersinar terik. Pasukan kedua marga itu sama banyak, sama kuat, dan sama berani. Sehari itu keadaan pertempuran tidak berobah. Beberapa orang yang luka di bawa ke garis belakang oleh para perempuan. Beberapa-orang yang mati dibawa ke garis belakang juga, tapi tidak sempat ditangisi. Anak-anak pun sudah turut serta. Mengumpulkan batu, yang segera diberikan pada para lelaki pemegang ambalang. Tapi, batu itu tidak sempat lagi dilemparkan dengan ambalang, langsung dilemparkan tangan. Dan terkadang tidak jarang, anak itu turut terjun ke tengah pertempuran untuk memukul atau dipukul. Bila senja tiba, kedua pasukan marga itu saling meninggalkan daerah pertempuran. Mereka disambut gendang dan tortor para orang tua, para perempuan, para gadis di induk kampung. Daging babi, tuak, terus diedarkan membakar semangat bertempur. Datu Bolon terus-menerus menjampi. Lalu, memberi nasihat baru. Dan, bila fajar terbit lagi, mereka kembali terjun ke daerah pertempuran. Di tengahnya, Ronggur mengamuk ke kiri dan ke kanan. Ronggur bersama beberapa pemuda menyusup ke depan, berusaha mengkucar-kacirkan daerah musuh. Susupan

mereka ini cepat diikuti gelombang kedua, ketiga, dan keempat, yang membuat pertahanan musuh tembus. Musuh kelabakan. Tapi, yang hendak dikucar-kacirkan itu, tidak mau menyerah begitu saja. Mereka juga mengadakan perbaikan pada pertahanannya dengan cepat. Lalu mengadakan pukulan balasan. T api, pasukan marga Ronggur mengadakan desakan yang terus-menerus, bertubi-tubi, sehingga garis pertahanan musuh mulai dipukul mundur. Sampai akhirnya mendekat ke kampung musuh. Malam itu pasukan marga Ronggur tidak kembali ke induk kampung. Mereka terus mengepung induk kampung musuh. Pagi berikutnya pasukan marga Ronggur menyerbu induk kampung musuh dari sebelah timur, seperti yang dinasihatkan Datu Bolon. Melalui bambu duri yang masih muda, mereka menerjang ke tengah kampung, dengan pekikan yang melengking. Dengan segala tenaga yang ada, marga yang diserbu itu mengadakan perlawanan. Ikut sudah para perempuan, baik yang tua begitu pula yang masih gadis. Tampaknya tidak akan habis perlawanan itu sebelum mereka mati semua. Mampus semua. Dari tempat ketinggian, sekali waktu Ronggur melihat, anak gadis Raja Nabegu kampung yang mereka serbu, turut mengadakan perlawanan. Rambutnya yang panjang terurai lepas. Dibasahi oleh keringat. Dilihat biji mata Ronggur sendiri, sudah ada dua tiga orang pasukan marganya ditumbangkan anak gadis itu. Dengan satu loncatan jarak jauh, Ronggur sudah berada di hadapan perempuan itu. Mata perempuan itu memancarkan sinar merah, mengapi, hendak menelan Ronggur bulat-bulat. Perempuan itu memukulkan penggada ke arah Ronggur. Tapi, Ronggur mengelak dengan melompat, dan peng-gadanya sendiri mengenai tengkuk perempuan itu sampai jatuh ke tanah. Dalam hati Ronggur berucap “Sungguh perempuan pemberani!"

Juga, sekali waktu menumbangkan seseorang yang sedang membidikkan tombaknya ke arah Raja Panggonggom marganya. Sewaktu Raja Panggonggom dan pengawalnya ke arah lain. Cepat Ronggur menyergap orang itu. Tapi, tangannya sendiri, lengannya, luka. Namun musuhnya dapat ditumbangkannya dengan menghantamkan penggada ke kepala musuh. Otak meleleh dari luka. Raja Panggonggom melihat ini semua. Luka di lengannya cepat dibalut Ronggur. Lalu terjun lagi ke tengah pertempuran yang dahsyat itu. Asap pun mulai mengepul. Rumah sudah mulai dibakar. Padi dari lumbung desa diangkut, juga harta rampasan perang. Para lelaki yang belum mati, begitu pula para perempuan yang belum mati, ditawan. Untuk dijadikan budak belian. Yang sampai keturunannya kelak akan tetap dan tidak bisa terangkat dari martabat budak. Tidak akan berhak lagi mengadakan pekerjaan adat. Harus patuh setiap saat mengerjakan apa saja yang diperintahkan tuannya. Kampung berdekatan dengan induk kampung itu sudah dibakar. Perang sudah berakhir. Kekalahan dipihak marga yang diserbu. Para rakyatnya yang masih hidup sudah ditawan, dirantai. Ronggur teringat pada perempuan yang ditumbangkannya. Cepat dia menuju ke sana. Keringat melelehi seluruh tubuhnya. Entah kenapa hatinya mengharapkan agar pukulannya hendaknya tidak terlalu keras. Dia mengharapkan, hendaknya perempuan itu masih hidup. Dia mau menawannya. Merasa bersyukur dia, perempuan itu masih merintih. Cepat dia mengambil air lalu diusapnya wajah perempuan itu dengan air. Kemudian diberinya minum. Didengarnya suara gadis itu perlahan mengatakan:

terutama pada keluarga yang suaminya atau anak lelakinya jatuh sebagai pahlawan di medan laga. Dengan pekik kemenangan pasukan laskar marga Ronggur menuju pulang ke induk perkampungan."Aku harus bersama kalian. Begitu pula anak-anak yang masih digendong. Ronggur menarik tali yang mengikat perempuan yang ditawannya. lelaki yang sudah tua. Matahari sore dengan lembut memancarkan sinar. Menjadi sumber rintihan. Perempuan itu selalu meronta dan ingin melepaskan diri. dan dendam. Dia dapat menghargai keberanian dan semangat perlawanan yang dipunyai perempuan itu. karena mati dalam pertempuran. tidak dikunjungi anak lelakinya lagi. para perempuan. dan lelaki yang luka menyambut mereka. Ronggur tersenyum saja dan terus menarik tali dengan tabah. Ronggur tersenyum mendengar rintihan itu. Lebihnya akan dimasukkan ke dalam lumbung desa. Di gerbang kampung. air mata. karena mereka telah . pergi bersama ke Sopo Bolon mengasingkan diri dari orang yang sedang bergembira. Agar tidak mengotori rasa gembira pada Mula Jadi Na Bolon dan seluruh para dewata serta arwah nenek moyang. Sedang para perempuan yang tidak dikunjungi suaminya lagi. Sambil melangkah mereka lagukan nyanyi kemenangan. Sebagian disuruh mengangkut harta rampasan. hai lelaki Pertahankan martabat marga kita. Nanti akan dibagi-bagikan pada tiap keluarga. Diusahakan agar tidak mengganggu kegembiraan para pahlawan yang menang perang. disuruh ibunya melambaikan tangan ke arah ayah. abang mereka yang pulang dari peperangan sebagai pemenang. seperti sudah turut lesu menyaksikan peperangan yang baru saja berakhir dan banyak menimbulkan korban. Sampai mati!" margaku. Di sana mereka meratap dengan lemah. Tangan menarik para tawanan.

kehendakmu!" Ronggur memohonkan agar padanya diberi kekuasaan untuk terus menawan tawanannya.Beberapa ekor babi dipotong lagi dan darahnya diminum bersama. Dia anak tunggal. Tapi. Kampung marga yang mereka kalahkan. Sekarang giliran kami membalas jasamu yang besar itu. Raja Ni Huta induk kampung musuh yang ditaklukkan itu. Raja Panggonggom melirik secara khusus pada Ronggur. Harta rampasan dibagi. Dikatakan pula. ditunjuk . Tanah persawahan rampasan juga ditentukan jatuh ke tangan siapa. Pun. . Upacara kemenangan pun diadakan. Pada tiap kampung sebagai pelaksana adat dan penyelenggara hukum. lalu. Sawahnya akan diambil dan dibagibagikan. Baik yang sudah mati begitu pula pada yang masih hidup. Sendirinya pula daerah taklukan mereka bertambah luas. akan dijadikan kampung perluasan bagi marga mereka. Justru karena Ronggur tidak punya adik perempuan. yang dengan sendirinya mengangkat martabat marga dan raja mereka. jadi belum cukup dewasa dalam peralatan adat dan hukum. Katakanlah. ditunjuk beberapa orang yang cukup berjasa menjadi Raja Ni Huta. dengan suka rela dimintakan pada setiap orang yang mau pindah ke kampung yang ditaklukkan itu. Jadilah kemudian kampung itu menjadi kampung perluasan marga. Yang harus tunduk ke induk kampung. Permintaan itu dikabulkan. Gondang dipalu dan tortor kemenangan ditarikan orang bersama-sama. Sebagai penutup upacara Raja Panggonggom mengucapkan terima kasih pada seluruh laskarnya. mencabuti rumput sawah bila saatnya tiba. "Ronggur. dikuasakan pada Ronggur. menjadikannya sebagai budak untuk membantu ibunya yang sudah tua mengerjakan urusan rumah. dalam pertempuran kau telah menyelamatkan nyawa kami. Diizinkan mereka mendirikan rumah di situ.dipilihnya menjadi pemenang. karena dia belum berumah tangga.

menjadi tokoh keberanian dan ketangkasan serta kesetiaan termasuk nama Ronggur sendiri. Di sana sini Ronggur mendengar orang mengatakan: "Dengan cara beginilah kita harus menguasai tanah persawahan subur yang ada di sekitar danau untuk melanjutkan keturunan. Pesta kemenangan dilangsungkan tiga hari tiga malam. Walaupun pesta sudah selesai. Ronggur sendiri. Ronggur dikenal orang sebagai Raja Ni Huta Muda merangkap Hulubalang Muda." Beberapa orang ampangardang. Tapi. baik dari marga sendiri begitu pula dari marga lain yang masih banyak bertabur di sekitar danau. Sejak hari itu. Oleh tugas yang banyak dan memang dia sendiri ingin cepat melupakan saat menanjakkan marganya ke tingkat yang lebih tinggi dan meningkatkan kedudukan dirinya sendiri. orang tidak berani lagi atau tidak wajar lagi menyebut nama kecilnya. Sebagai gantinya diberikan kepadanya sawah yang dulu dimiliki Raja Nabegu dari marga yang mereka kalahkan. yang disetujui Ronggur sendiri. Sawahnya yang ada dekat induk kampung marganya diserahkan pada kerajaan. Membangun perumahan baru di atas puing-puing reruntuhan. cepat dilupakannya. orang masih tetap dipengaruhi suasana kegembiraan menang perang.seseorang menjadi walinya. Beberapa nama pahlawan timbul. ingatan orang masih tetap terpaut ke sana. Orang selalu menyebut atau . sehabis pesta kemenangan itu cepatcepat mengerahkan rakyat yang suka rela pindah ke induk kampung musuh yang dikuasakan padanya. Mereka tebarkan dari mulut ke mulut sambil memetik kecapi. menghapal jalannya pertempuran lalu memindahkannya ke bentuk yang dapat dinyanyikan. Untuk beberapa hari. Memang dia sudah menjadi Raja Ni Huta Muda dan Hulubalang Muda.

sudah ditumbuhi rerumputan hijau. Juga mereka diajari memanjat pepohonan tinggi supaya tidak gamang. Cerita kepahlawanan disampaikan pada mereka. Tidak tampak lagi warna merahnya. Padi di sawah sudah bunting. Anak-anak sudah ada berlahiran. Darah yang tercecer ke lumpur sawah sudah bercampur baur dengan tanah menjadi pupuk di musim mendatang. yang sempat melarikan diri. Pekerjaan orang kembali senggang. memencilkan diri ke tanah tandus di kaki bukit. Yang membuat ingatan orang sudah menipis pada peperangan yang baru lewat. pengganti yang mati dalam peperangan. Anak lelaki diajar membaca dan menulis huruf Batak. Masa merumputi sudah lewat. menjadi orang . Para gadis belajar memintal benang dan bertenun. menumbuk padi di halaman perkampungan sambil bernyanyi. Lu hak anu berperang dengan luhak satu lagi. Lambat-laun kehidupan kembali tenang. Tapi.memanggilnya dengan Raja Ni Huta Muda dan Hulubalang Muda. Saat yang baik bagi pemuda pergi martandang ke kampung paman mencari jodoh. Tapi. ccdw-kzaa 2 Rumah baru sudah berdiri pengganti rumah yang dulu terbakar. Jumlahnya lebih banyak malah. Yang agak besar. Kuburan yang digali tempat abadi bagi orang yang mati. dan menerima datangnya partandang. pada mereka sampai juga berita dari sekitar danau: marga anu berperang dengan marga satu lagi. Orang yang kalah dijadikan budak. Sumber malapetaka tetap sama: air parit dan batas tanah. Bila bulan purnama. diajari menggunakan senjata.

dia masih tetap menampik. Tapi. melawan tradisi yang sudah tertanam dan berurat akar di hati manusia yang ada di sekitarnya. Masih merasa takut dia. Di sana dia menghabiskan hari. dia belum. akhirnya Tio. justru karena gadis yang sebaya dengannya dari suku Ronggur tidak mengawaninya. dia lebih banyak menyendiri. Dan. wanita tawanan itu. Karena memperoleh perlakuan yang baik itu. . merasa senang juga.buruan. Setiap warta pecahnya perang antara satu marga dengan marga lain selalu membuatnya berduka. Orang buruan ini membuat rumahnya di dinding bukit dan gua. Tak ubah seperti kebebasan yang ada pada orang merdeka. ketenangan yang sekarang dikecap marganya masih tetap mengandung sesuatu kemungkinan yang menakutkan. Jadi. Bila temannya sebaya sudah banyak berumah tangga. mengembara. Dia yakin kalau memperoleh perlakuan yang baik budak itu tidak akan melarikan diri. Ronggur tidak merasa kuatir kalau budaknya itu melarikan diri. Walau sudah sering diminta ibunya. Dia boleh pergi ke padang-padang luas. bagi Ronggur. Dia masih tetap memandang dan memperlakukannya sebagai manusia yang punya hak. Karena itu. Namun perasaan terpencil tetap menguasai diri Tio. Padanya tetap diberikan Ronggur kebebasan bergerak. Ini jugalah yang mendesaknya agar setiap hari pergi jauh dari kampung ke tempat terpencil yang jarang dikunjungi orang. keyakinan yang digenggamnya ini belum berani dia menyampaikannya pada orang lain. dan berburu bersama anjingnya si belang. Perlakuannya pada wanita tawanannya berbeda dengan perlakuan orang lain yang punya budak terhadap budak masing-masing. masih merasa kecil dia menurut anggapannya.

Lagi pula kalau dia lari. Ronggur lelaki yang paling jahanam. Di hatinya timbul niat. Merasa kurang enak baginya untuk menghianati seseorang yang menghormati dirinya'dengan sewajarnya. lalu terus mengikuti arah elang itu pergi. yang dibakar dan dipanggang. Ronggur selalu tertawa lebar bila dia pulang dengan hasil buruan. elang itu mengadakan putaran. Dapat dipastikan Tio bahwa . yang sudah banyak menyambar ayam kampung. ingin pergi jauh. Terkadang harus berlari kecil mengikuti elang yang terbang di atas. Berburu bisa membuat Tio asyik. Dan. dengan lemparan ambalanganya yang deras. dia bisa membunuh binatang buruan itu. Atas bantuan si belang. akan mengejarnya ke mana saja. Berkeliling pada satu lingkaran. Dia dibenturkan kembali pada kenyataan bahwa dia bukan orang merdeka. dia harus membunuh elang yang seekor itu. Kemudian membawanya pulang. Pertanda elang itu mau hinggap. setelah menyambar seekor induk ayam dari kampung. sesuatu keinginan selalu timbul di dadanya. Dari situ dia dapat melihat danau di bawah. Tio sedang mengikuti arah seekor elang terbang. Matanya terus-menerus menangkap elang hitam yang terbang. Tio dapat mengetahui tempat seekor pelanduk bersembunyi. Namun keluh akhirnya mematikan keinginan itu. tempat kawanan burung berondok. Pertanda elang itu akan hinggap belum ada walau mendekat ke kaki bukit. Dengan lahap Ronggur akan memakan daging binatang buruan itu. Kalau lari saja? Ronggur sudah berbuat baik terhadapnya. Di saat putus asa mulai mencekam hati.Tio menyendiri sampai ke kaki bukit. Dia akan dapat ditangkap Ronggur. Seolah elang itu datang dari balik gunung dan hendak kembali ke balik gunung. Ronggur tidak segan-segan melemparkan pujian yang menurut perasaan T io terkadang terlalu menyanjung. yang belum pernah ditempuh manusia. Hari itu. Dengan mata tombaknya yang pasti arahnya.

Mau terbang." "Aku tahu. Langsung tertancap ke dada elang. Si belang sudah mengerti bahwa mereka sedang mengadakan perburuan. Ronggur berkata: "Sudah mampus penyambar ayam yang paling jahanam ini. kepaknya mengenai salah satu dahan. waktu itulah. Suaranya halus dan menggetar. Cepat dia mengayun ambalangnya. Tio terus mendekat menuruni jenjang lembah. Elang itu mengikutkan sambarannya ke bawah. Dan. Atau. Elang itu jatuh ke tanah bersama gelepar lemah. gelepar akhir. Elang itu cepat menukik ke bawah setelah mengadakan putaran entah beberapa lama. kenapa peluru ambalangnya tidak mengenai dada elang jtu. "Muncung tombakku tertancap di dadanya." kata Ronggur. dari arah lain sebuah tombak terbang cepat. Hulubalang Muda. . Seketika napasnya serasa terhenti melihat peluru ambalangnya mengenai sasaran atau tidak. Elang itu mengarah ke lembah. Ronggur sudah ada di hadapan Tio. Tapi. Wajah Tio menjadi merah padam dan merasa kesal bercampur malu. Lalu. Si belang berlari cepat ke tempat suara itu bersumber. di mana batang pohon besar itu tertancap ke tanah. Saat yang baik itu tidak dilewatkan Tio." Tio masih terpaku pada tempatnya. di situlah sarang elang itu. Baru dia bergerak." sahut Tio. pada salah satu dahannya. Lalu melepaskan peluru. sambarannya jatuh ke tanah.pohon yang tinggi lagi rimbun dedaunannya. kenapa dia tidak menggunakan tombaknya? Sebuah tawa meledak di antara rimbunan ilalang. Ronggur memanggilnya agar datang mendekat. Merasa malu akan ketololannya. "Lihat. Sayang sekali peluru ambalangnya hanya mengenai buntut elang. Karena terkejut elang itu buru-buru mengepakkan sayapnya. Bersama senyum kemenangan.

" sahut Tio. Dan. lalu. Cukup begitu." "Hulubalang Muda terlalu melebih-lebihkannya. "Tapi. Wajahnya memerah. peluru ambalangmu sangat deras dan bagus arahnya." mata Ronggur lama menatap wajah gadis itu. Kalau mereka menegur kau. Sebutlah namaku. kau Tio. Buntut elang kena membuat elang tidak bisa cepat terbang. Ronggur. katakan aku yang menyuruhmu. belum tentu muncung tombakku bisa tertancap di dadanya. Membawanya ke dekat mereka berdua. Si belang kembali menjauh. Si belang sudah memagut tubuh elang dengan muncungnya. Ronggur menjauh. "Bukankah itu menurunkan derajat Hulubalang Muda?" "Sama sekali tidak! Kau harus melaksanakannya!" "Bagaimana nanti kalau didengar orang kampung dan ibu?" "Peduli apa dengan mereka? Sebut namaku. Lalu." Tio tambah tertunduk." "Dengarkan baik-baik. tapi masih diusahakannya mengatakan. "sejak saat ini kuminta. Yang mengurus mereka ialah aku." Pundak Tio cepat turun naik." kata Ronggur seraya memegang bahu anak gadis itu.Ronggur menatapi T io lama-lama hingga T io menundukkan kepala menatap tanah. Kalau buntutnya tidak kena ambalangmu. habis perkara. Walau sesuatu rasa menggelusak dalam dada. matanya. Di saat itulah aku mengayunkan tombakku. si belang memagut ayam yang . "maukah kau berjanji akan melaksanakan permintaanku?" "Aku sudah ditakdirkan akan melaksanakan sebaik mungkin segala perintah Hulubalang Muda. "Itu yang sebenarnya. agar kau tidak memanggil aku dengan sebutan Hulubalang Muda atau Raja Ni Huta Muda lagi.

Tidak jauh darinya. Lalu. Tidur di ujung kakinya." Tio berlari kecil membawa elang dan ayam itu ke parit kecil dekat situ yang mengalirkan air pegunungan yang jernih. Si belang masih mengunyah tulang belulang elang dan ayam yang diberikan kepadanya. Cukup terik. keluarkanlah isi perut elang dan ayam ini. Dibersihkannya perut kedua binatang itu. Tio duduk melihat si belang. Dagingnya tentu enak dimakan. berpantun: Sanduduk di kaki bukit di atas batu ditimpa sinar matahari itulah siang melilit bumi sanduduk di kaki bukit di atas batu ditimpa sinar rembulan itulah malam.disambar elang tadi dan membawanya ke dekat Ronggur dan Tio. mulai membakarnya lengkap bersama bulu-bulunya. menjauh lagi. Lalu. Kemudian dibawanya ke tempat Ronggur menghidupkan api. redup mengalun saat siang dan malam antara terik dan nyaman . Perutnya terasa kenyang. Matahari bersinar keras. mulutnya tidak dapat lagi dikuasainya untuk tidak menyanyikan sebuah lagu. Tio mengelus leher si belang dengan lembut. Lalu. Ronggur menelentangkan tubuh di atas tanah batu yang cukup keras. Biar kunyalakan api. "Tio. Yang kemudian mendekat kepadanya sambil mengibaskan ekor. di bawah pohon yang rindang. Mata Ronggur agak mengantuk.

Matahari tambah lama jadi melemah. yaitu orang bertambah banyak sedangkan tanah yang dapat digarap masih tetap itu juga. Agar langsung memegang Raja Ni Huta di kampungnya. agar nama Muda dari belakang Hulubalangnya dihilangkan. cepat pula ingatan itu dibarengi bahwa kalau dia berumah tangga. Tentu hasil yang dapat diberikan tanahnya akan terasa kurang menghidupi keturunannya. Tetapi. Tentu. Dalam tiga keturunan saja. jumlah keturunannya bisa berlipat ganda.mentari dan gemintang bagi beta tidak berbeda karena hatiku terkenang padamu Ronggur membiarkan Tio menyanyi walau hatinya merasa rawan. Oleh nyanyi T io kembali Ronggur teringat akan permintaan ibunya. Kemudian anak ini akan menjadi dewasa. itu berarti istrinya nanti akan melahirkan anak. Dia disuruh ibunya pergi ke Samosir. lalu kawin lagi. Untuk melahirkan anak lagi. Tio teringat pada masa kemerdekaannya. akan tiba saat itu. pikirnya. Bila persoalan yang mencekamnya itu diluaskan pada keadaan sekitarnya dan dia tambah merasakan marabahaya yang sedang menantikan. pikir Ronggur. begitu pula atas usul Raja Panggonggom. ke kampung paman. meruntuhkan kerukunan kehidupan mereka di tepi danau. Di bawah mereka melalui tingkat tanah yang terus menurun. agar dia berumah tangga. perkampungan demi perkampungan dan berakhir pada tepian danau. yang mengintai dengan taringnya yang tajam. Dia merasa takut. Pada suatu saat. Hasilnya akan terasa atau memang kurang untuk membekali orang yang hidup di sekitar .

Yang tidak disangka Ronggur mulanya. “Ah. kau harus belajar memintal dan bertenun Aku akan meminta izin pada Raja Panggonggom” Pada biji mata Tio menyinar cahaya kegembiraan. tidak disadari Tio. Lalu. Betapa berbahagia. kenapa kau tidak belajar memintal benang dan bertenun? Kau sudah harus mengurangi kegemaranmu pergi mengembara. seperti gadis lain. Tio tetap terdiam dan tertunduk. dan sendirinya pula akan lebih banyak kepiluan dan dendam bersarang di hati manusia. Menenun ulos-batak ialah pekerjaan para gadis yang merdeka. "Ada yang salah?" tanya Ronggur pula. Perlahan-lahan. dia memeluk Ronggur sambil mengatakan dengan kegembiraan. aku akan menenun ulos untukmu. akan kuusahakan sampai dapat” Karena gembira. Aku. betapa bersyukur aku. "Tio. Tapi. Ulos yang paling halus raginya. Dia selalu memikirkan. tapi pasti. dari mulutnya lalu meledak kata. apa usaha yang dapat ditempuh untuk melenyapkan ancaman dari masa itu? Ronggur cepat bangun dari goleknya. Kau harus belajar memintal dan bertenun. Tio menatap ke arahnya. peperangan. Ronggur menundukkan kepala. Yang paling baik campuran warnanya” . Dia menakutkan masa itu." Warna duka membayang di wajah Tio.danau. "Betul kau bolehkan aku memintal dan bertenun? Betul kau akan meminta izin pada Raja Panggonggom? Aku akan bertenun seperti gadis lain dari margamu ?" "Ya. Barulah Ronggur sadar bahwa seorang gadis yang berderajat budak tidak dibolehkan belajar memintal dan bertenun. "Tio. Ronggur mengatakan. Hal begitu sudah tentu akan lebih banyak mengobarkan perkelahian..

mari ke pundak bukit pertama. Barang siapa yang berani me layari sungai ke muara atau berusaha mencapai muara." kata T io. "Tio." "Menurut cerita orang tua. "Tio. Karena jatuh ke tebing ujung dunia.Ronggur membiarkan Tio begitu. Dari sana jelas tampak oleh mereka lengkungan tepian danau. ." "Tahu juga aku. "Dapat. Kembali dia dihadapkan pada kenyataan. lalu menghilang atau seperti masuk menyusup ke perut pegunungan sebelah timur. Matahari bertambah lemah sinarnya. sungai itu jalan arwah kita kelak. Sampai akhirnya Tio sadar sendiri. Tapi. Tidak terik lagi. Ronggur diam saja melihat perubahan kelakuan Tio itu. di sanalah bermula sungai T itian Dewata. tidak akan kembali lagi. melepaskan pelukannya perlahan-lahan. sungai itu berakhir ke ujung dunia." "Garis putih yang membelah dada persawahan yang sedang menghijau. itulah jaluran sungai. Dapat kau lihat dan perhatikan garis putih itu?" tanya Ronggur. Tio menundukkan kepala perlahan-lahan. Beberapa saat terdiam." Mereka mendaki tanjakan bukit sampai tiba ke pundak pertama. Ada yang hendak kutunjukkan padamu. Pada salah sebuah teluk dapat diketahui Ronggur bahwa di situlah bermula sungai Titian Dewata. Ronggur menatap ke sekitar." sahut Tio. Telunjuknya mengarah ke teluk itu sambil mulutnya mengatakan. Sedang matanya dengan mesra menancap ke biji mata Tio. Begitu pula akhirnya Ronggur. "aku sudah pernah dibawa almarhum ayah dan ibu ke sana. lalu dengan suara pasti dia mengatakan. menuju tempat Mula jadi Na Bolon." "Aku tahu. Arwahnya akan dikutuki dewata. Lalu.

" "Ya. sampai ke mana bisa seseorang nelayan menangkap ikan. Buktinya sampai sekarang tidak ada orang yang berani melintasi daerah yang telah ditentukan. aku berpendapat bahwa sungai itu pun akan tiba ke tanah landai yang subur." dapat . Aku bisa membaca dan menulis dengan baik. lain dari sungai yang lain." "Kalau begitu. Terus menatap ke arah sungai." "Entah bagaimana." "Kepercayaan yang diwariskan kepada kita mengatakan. janganlah marah padaku.Ronggur diam seketika. Aku tidak mengatakan yang lain." "Begitu menurut cerita mereka. kau pun sependapat dengan mereka. juga sudah kuselidiki dalam pustaka yang tua bahwa sungai itu tidak ada dikatakan berujung di akhir dunia. sungai Titian Dewata berakhir ke ujung dunia." "Menurut cerita yang ada di sana. Sedang Tio melirik ke biji mata Ronggur yang menyinarkan sesuatu arti. memang begitu. Ada apa kiranya?" "Apakah kau tidak bisa punya pendapat sendiri?" "Apa maksudmu?" "Apakah kau tidak sering membaca pustaka di rumah ayahmu dulu?" "Sering. setiap sungai menuju tanah landai dan subur. juga sungai ini. Sering sekali. Ronggur mengaju tanya padanya: "Apakah kau juga sependapat dengan mereka bahwa sungai itu berakhir di ujung dunia itu?" "Begitulah kata mereka.

akan terus bertambah sempit." potong Tio. aku memang mau melayarinya." "Itu berarti bunuh diri. Tahukah kau Tio bahwa tanah selingkar danau ialah tanah subur? T ahukah kau. Seperti perang antara margamu dengan margaku. "Sudah lama niat ini menguasai dadaku." kata Ronggur. daerah perluasan. timbul bisikan dalam hatiku. Dia takut kalau Ronggur benar-benar melayari sungai itu. "Kenapa kau beranggapan bahwa sungai ini lain?" tanya Tio memecah sunyi. sungai itu pun sama dengan sungai yang lain. "Tapi." . Akibatnya akan bertambah banyak pertengkaran yang memungkinkan pecahnya peperangan. Dan." lanjutnya pula. setiap tahunnya bertambah sempit.Ronggur terdiam. "apakah kau berniat hendak melayarinya membuktikan kebenaranmu?" Tapi. T api. Tio menjadi takut pada ucapannya itu. "tapi. aku melayarinya bukan bermaksud untuk membuktikan bahwa aku berada di pihak yang benar. Dia akan jatuh ke tangan orang lain yang pasti akan memperlakukannya sebagai budak biasa. tanah hubungkasan. Dia akan tinggal di dunia ini. Dia mengharap dapat menggagalkan maksud Ronggur dengan ancaman begitu." sahut Ronggur tanpa memperhatikan wajah Tio yang menjadi pucat. Yang berarti bunuh diri. setiap tahunnya manusia yang hidup di sini yang memerlukan tanah garapan bertambah banyak juga? Akhirnya tanah yang tadinya terasa luas. Aku mau berusaha mencari tanah garapan baru. Angin turun. Arwahmu akan tidak diterima dewata. "Ya. Kebebasan akan benar-benar direnggutkan orang. Tidak ada yang berkata. Ronggur cepat pula mengatakan: "Dengar dulu yang kumaksud. Perasaan takutnya tambah mencekam. Keheningan mengambang di antara mereka. angin sore yang nyaman.

Aku tidak bermaksud membongkar yang sudah lewat. harus ada usaha mencari tanah habungkasan. sudah ada tiga gelombang peperangan antara marga satu dengan. jauh lebih luas dari . Berani menantang sesuatu yang dirasakan ialah satu kepercayaan bagi kebanyakan orang. Dan. bila tanah habungkasan tidak ditemui. Penuh pepohonan dan tanahnya begitu landai. sudah berapa kali lagi peperangan terjadi di antara marga? Kalau tidak salah. Dan. Karena aku merasakan persoalan itu. harus mulai sekarang memulai kerja ke arah itu. Jadi. peperangan itu akan bertambah banyak lagi timbul di masa mendatang. Sampai ke mana dia tiba.Tio tertunduk. Tidak bermaksud aku mengingatkanmu ke saat kejatuhan margamu. Tio tidak membumbuhi cakap Ronggur yang panjang itu. yang akan menimpa manusia yang hidup di sekitar danau di hari mendatang. Dalam mimpi itu selalu aku dibawanya ke suatu tempat yang teduh. akan tambah banyak terjadi. Cobalah turut mendengar berita bahwa setelah perang antara margamu dengan margaku selesai. Mengajak aku memulai perjalanan mengikuti sungai. aku harus turut memikul bebannya. karena setitik air parit. "Janganlah bersedih. sebelum saat itu tiba. dengan suaranya yang nyaring. Dibiarkannya Ronggur meneruskan: "Sudah sering Tio." Seketika Ronggur berhenti. kupikir. aku mau mengatakan. merintis jalan. Pertengkaran karena setapak tanah. aku menemui sebuah danau yang sangat luas. berani menantang segala cerita yang bersifat menakut-nakuti. marga lain. Ini sudah pasti. karena kurasa kau dapat merasakannya. aku diganggu mimpi. Mimpi menghimbau aku selalu dari tempat jauh. dalam mimpi itu. walaupun nyawaku sendiri menjadi taruhannya. Orang yang berani dan bertanggung jawab akan masa datang. Wajahnya menjadi muram dan sedih. Tidak! Tapi. dengan berani menantang segala aral-melintang.

Itu yang selalu menemani tidurku. memanggil aku. Sore dengan perlahan beralih pada senja. Jangan sampai kekuasaan setan tertanam didirimu. akan merasakan tubuhnya kurang sehat. wajah almarhum ayah. Tio berbuat begitu." "Aku takut mendengar ceritamu. Kata orang. Aku kau lihat sendiri." "Tidak Tio. mirip sekali dengan wajahku. Berobatlah cepat-cepat. Merangsangku di saat jaga. Orang yang digoda setan. Tanah yang kutemui dalam mimpi itu begitu gemburnya." "Tidak Tio." Tio begitu saja menyandarkan kepalanya yang terhisak ke bahu Ronggur. selagi aku di dekatmu. dia mengatakan: "Barangkali itu godaan setan jahat. Kau perlu berobat pada dukun. Dengan suara tersengalsengal. Apakah tidak mungkin. lembayung . "aku merasa takut! Aku takut!" "Janganlah takut." untuk pertama kalinya Tio menyebutnya hingga Ronggur merasakan satu desiran menyinggung hatinya. Entah berapa lama. mula duka cerita yang akan mendatangi diriku.Danau Toba yang kita kenal ini. Tidak seperti tanah di s ini. Cerita itu. arwah almarhum ayah yang datang padaku." Wajah Tio bertambah pucat." "Ronggur. tanah tipis yang menyaputi batu alam yang keras." "Jangan berkata begitu. menunjuk tanah habungkasan yang subur padaku?" "Ronggur. tetap sehat dan pikiranku tetap waras. Wajah orang yang melambai aku dalam mimpi itu dan menuntun jalanku mirip sekali dengan wajahku." kata Tio lagi. itu setan yang menyaru. Pada mulanya warna Jingga. menelungkup di sana. "barangkali. Dibiarkan Ronggur. kemudian bertambah merah.

di mana sebenarnya ayah dikuburkan. Ronggur tidak mau begitu. Orang itu selalu mengajak aku agar memulai suatu perjalanan.. mungkin juga satu perjalanan yang akan mengakhiri hidupnya sendiri. Orang yang berpapasan dengan mereka tidak berapa mereka perdulikan. Tio mengikuti langkah Ronggur yang panjang dan cepat diayunkan. Kemudian berlari lagi ke belakang. Pada pikirannya. selalu aku bertemu dengan seseorang yang wajahnya mirip benar dengan wajahku. di riak danau. Dalam mimpiku. Angin tambah lemah. Meruntuhkan satu kepercayaan. Karena sakit. Mengikutkan arus Sungai Titian . Ceritalah karena apa ayah meninggal dulu. yang menurul pertimbangannya masih tetap membawakan sifat dan kelakuan sebagai anak raja. Dia sudah harus mengadakan persiapan untuk perjalanan itu. "Ceritalah kembali ibu. yaitu memakan sisa tuannya. Jadi pada rumah itu.. Mereka sudah sering pulang terlambat. dia sudah memilih teman yang akan diajak turut serta.. Tapi. "Ibu. walaupun itu bertentangan dengan adat. tidak terdapat atau dengan sengaja diadakan keharusan bahwa seorang budak harus belakangan makan. Tapi. Yang sendirinya menantang dan menghadapi segala kemungkinan. Mereka makan bersama. Sedang ibunya tidak berdaya melawan kehendak Ronggur. hati Ronggur tambah digoda perjalanan yang harus dimulainya. Mereka menuju pulang. Sambil menggonggong. mungkin juga mula kelanjutan hidup keturunan. Tari warna bermain di wajah danau. karena kecelakaan dalam perburuan atau . Si belang kadang berlari di depan mereka." kata Ronggur sesudah makin seraya melap mulut. Ibunya pun merasa senang pada kelakuan Tio.tambah jelas. Ibunya menyambut kedatangan mereka berdua di ambang pintu. bermarga. Dan. Dengan cepat ibunya menyediakan makanan dan Tio membantu.

ceritalah. tempat tinggal Datu Bolon itu sekarang. hanya bekas Datu Bolon Guru Marsait Lipan." . Kau tentu tahu. "Ibu. Keheningan menguasai ruang. Ronggur? Apa katamu?" "Orang itu selalu mengajak aku." Ibunya mengangkat wajah. Dan. di mana sebenarnya kuburan almarhum ayahmu.Dewata sampai ke muara. Anakku. "Apa katamu. ceritalah. Tapi." "Ibu. Dengan mata terbelalak akhirnya dia mengatakan. Bukankah ibu mengatakan bahwa wa|ahku mirip benar dengan wajah almarhum ayah?" Ibunya tak langsung menyahut. Bila aku katanya tidak mau melaksanakan permintaannya. katanya akan sia-sia. Tarikan napas yang terputus-putus. yang pulang kemudian." "Jangan lagi berkata begitu. aku juga tidak tahu pasti. ibu sudah tua. Ibu takut mendengarnya. Tegak. karena tidak pernah menziarahi kubur ayahnya?" Wajah ibunya tambah jelas memancarkan perasaan ketakutan. Kalau tidak. Tarikan napas ibunya yang satu-satu lagi dalam jelas kedengaran. ibu tidak mau mengatakan dan aku belum pernah berziarah ke kuburnya untuk meminta doa restu. Ayahmu tidak pernah lagi pulang. melesu lagi. lerpaku mendengarkan. dikatakan para arwah. Di mana sebenarnya kubur ayah? Sampai begini besarku. agar memulai perjalanan mengikuti arus Sungai Titian Dewata sampai ke muara. Dia yang tahu! Dialah teman ayahmu yang terakhir pergi jauh dari kampung kita ini. lalu: "Anakku. Pergilah tanya bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan. Dan. anak durhaka. Kerja yang dimulai di masa hidupnya. Bukankah aku bisa dikatakan orang. aku akan pergi mencari sendiri. dia akan selalu berduka. Jangan lagi.

panggilan negeri jauh. Dia tertunduk. dia akan pergi memenuhi panggilan mimpinya." . karena marah sudah lupa pada masalah yang sebenarnya dihadapi." "Dia menyuruhmu katakan?" "Benar begitu?" menyebut namanya? Itu kau "Benar. Dia sadar bahwa yang dihadapinya ialah ibu Ronggur. Kemudian ibu Ronggur menatap Tio. Kenapa lidahnya terus sefasih itu menyebut nama Ronggur. Dari tunduknya dia menyahut: "Dia yang menyuruh aku. Bukankah sudah sifat Ronggur begitu?" "Apa katamu? Kau sebut namanya? Nama Hulubalang Muda kau sebut?" Tio terkejut. dia terus berangkat. perempuan itu. Tio menggerutu pada diri sendiri. Tadi dikatakannya padaku. Tidak mau dan tidak dibolehkannya aku memanggilnya dengan Raja Ni Huta atau Hulubalang Muda. yang juga pada wajahnya bergantungan sesuatu ragam perasaan. Bukan keinginanku.Setelah Cepat Ronggur bangkit dari duduknya. Bu. Didengarnya perempuan itu menghardik setelah lebih dulu menarik napas yang panjang lagi dalam: "Berani kau menyebut namanya? Apa kau pikir dia sama derajat dengan kau?" Seolah orang tua itu. Bu. Ibunya dan Tio melihat saja. Ibu tentu lebih tahu dariku bahwa dia tidak dapat dihalangi. memaksa aku harus menyebut namanya. Dihempaskan kembali pada derajat yang tidak berharga. "Ibu. aku juga turut merasakan yang Ibu rasakan. yang tidak boleh menyebut nama tuannya. Tapi. Aku sudah berusaha mencegah. membelitkan ulos ke lehernya.

Napasnya sesak. mereka sudah berada di tanah perladangan yang di petak-petaki tanah yang . Penuhilah permintaanku ini. Tapi. Sudah diizinkannya seorang budak belian makan bersama. lalu: "Aku tahu bahwa perangaimu baik." "Berjanjilah demi dewata. Tanpa dipanggil. Gelap malam tidak diperdulikan. lalu perasaan takut mencekam dadanya. Tio."Benar. lindungilah anakku dari godaan setan. Di pematang sawah yang kecil lagi licin dia melompat-lompat memilih jalan yang baik." "Tentu Ronggur sudah digoda setan. Dia tak perlu takut karena tergelincir. Ronggur sudah melintasi halaman perkampungan. Dia kenal pada jalan itu. Apakah dia tidak . Perasaan marah kembali mencair. Mula jadi Na Bolon. Tapi. kemudian menyuruh si belang melompatinya. kau tidak sepantasnya menyebut namanya. sekarang diberinya pula keizinan pada seorang budak belian menyebut namanya. Menerobos gerbang perkampungan. Bagaimana kalau tetangga mendengar kau menyebut namanya di depanku? Maukah kau memenuhi permintaanku ini?" "Akan kuusahakan. si belang mengikutinya. Bu. dengan tersengal-sengal dan berusaha mengangkat kepala. Dibiarkannya si belang mengikuti." Perempuan tua itu serasa dipukul kepalanya dan ulu hatinya. dia menatap Tio. Tidak disuruhnya supaya si belang pulang. Bu." Baru kembali ibu yang sudah tua itu teringat akan masalah yang sebenarnya dihadapinya. Jangan lagi sebut namanya. Setelah melompati sebuah parit yang agak lebar. Langsung dia menuju dangau kecil yang terpencil di satu ladang." "Aku berjanji.tahu tentang martabatnya yang begitu tinggi? O.

"Bapak. "Ada apa. Anakku?" tanya orang tua itu. begitu pula dalam perburuan. meminta agar arwah nenek moyang dipanggil melindungi orang yang meminta tolong padanya. kemudian diketahui Ronggur. Pada dadanya. bergantungan potongan gading gajah. izinkanlah aku mengajukan beberapa pertanyaan. ‘Pakaian datu’. seperti matanya. Di depannya lesung pelumat s irih. minta pertolongan melihat nasib. taring. Diberi pula berhiasan suatu benda mengkilat. apakah berhasil baik atau tidak. Mata orang tua itu tajam menumpu ke wajah Ronggur. berhadap-hadapan. Dikejauhan sudah kelihatan cahaya pelita yang menerobos dari celah dinding. Bapak akan menolongmu sebisa mungkin. Nak.ditinggikan sebagai batas dan langsung pula menjadi pagar. dan kuku harimau. Tangannya mengetuk pintu dengan lemah. Di sebelah kanannya." . Dia tambah menegaskan langkah. Dilompatinya pula tanah tinggi itu. Bercahaya ditimpa sinar pelita yang lemah. Pakaian itu tidak ditanggalkannya walaupun orang tidak pernah lagi datang padanya minta diobati. Yang pernah dibunuhnya. pikir Ronggur. Orang tua itu sedang mengunyah sirih. Ruang tengahnya begitu kecil. Juga kerajaan tidak pernah lagi memintanya untuk menenung sesuatu maksud kerajaan. Ronggur duduk di lantai seperti orang tua itu sendiri. Pada kedua lengan tangannya membelit kayu hitam. Suara parau menyuruhnya masuk ke ruang dangau. Setelah memberi salam. Supaya kerbau tidak merusakkan tanaman yang ada di ladang. akar kayu yang dihitamkan dengan segala macam minyak dan lemak. terletak tempat sirih yang terbuat dari kulit kera." kata Ronggur. beru kirkan bentuk ular sedang menjalar. Tempat tujuan. "Silakan. Baik dalam suatu perkelahian.

Begitu dalam. Dan. tidak menyangka pertanyaan begitu. kalau aku mau tahu kubur almarhum ayah." "Kenapa Bapak berkata begitu?" Lebih dulu orang tua itu menumpukan pandang ke mata Ronggur. Ibu sendiri pun tidak. atau berusaha untuk menuntut balas. "Anakku. Maafkan kesalahanku itu. Orang lain tidak." "Apa maksud Bapak?" tanya Ronggur pula. maka mula dan sebab kecelakaan itu harus diletakkan di pundakku." Orang tua itu menarik napas yang dalam. kalau dikatakan bahwa kecelakaan itu punya mula dan sebab. ibumu mendendam padaku."Kata ibu. Lalu mengalirkan dendam itu ke tubuhmu. selama ini kupikir. mulut manusia yang harus kita beri makan akan bertambah . Bapak. ibumu tidak mau menceritakan. Kemudian kau membenci aku. "Bapak juga sudah lama memikirkan bahwa pada satu saat. dan kenapa almarhum ayah menemui saat meninggalnya." "Ibumu tidak pernah menceritakannya padamu?" "Tidak. maka hukuman itu pun seharusnya ditimpakan padaku. bila sesuatu hukuman yang harus ditimpakan pada orang yang memulai malapetaka itu. tidak pernah. Lalu kembali dia mengaju tanya: "Ibumu menyuruh kau datang padaku?" "Ya. Ibu menyuruh aku menemui Bapak. Aku juga harus mendukungnya. "Anakku. tidak menanam dendam ke dadamu." Orang tua itu menegakkan kepala. Dan. Orang tua itu memperbaiki duduknya. Kiranya. aku harus menanyakannya pada Bapak. Hanya Bapak kata ibu yang mengetahui dengan pasti.

" Orang tua itu terbatuk sebentar. sewaktu bapak melompat itu keseimbangan biduk hilang. Yang bapak rasakan menyuruh bapak cepat meninggalkan tempat . Dia juga sepakat denganku. Dihantamkan ke dinding batu yang keras. Pecah di sana. dia melanjutkan. Tapi. di tengahnya air sungai mengalir. Tapi. Sebuah terowongan batu. cepat tinggalkan biduk'. Menanyakan arwah gaib yang tidak dapat dilihat mata. yang berbeda dengan hasil tenungku. Itulah lengkingan yang paling akhir. bapak cepat melompat ke pinggir sungai sambil berteriak: 'Ama ni Ronggur. Kami pun memulai perjalanan. Hasil tenung itu mengatakan pada bapak. Bapakmu dan biduk lalu dihanyutkan arus yang menggila. air menuju ke sana. Sehingga hasil yang dapat diberikan tanah yang ada di sekitar kita tidak akan mencukupi. Agar pertengkaran karena setapak tanah dan yang bisa meledakkan satu peperangan bisa diatas i. bapakmu hulubalang yang dihormati kerajaan karena keberaniannya. di kiri kanan kami hanyalah batu alam melulu.banyak. semacam gua. Air seperti mau membulat. ikutilah Sungai T itian Dewata. Sebuah lengkingan yang panjang menggema. Dan. Hingga akhirnya biduk yang kami tumpangi tidak terkendalikan. Bertambah hari bertambah deras. "Hasil pertenungan itu kuceritakan pada ayahmu. Begitulah bapak memulai pertenungan. mengikuti jalur sungai. Setelah mengunyah sirih lalu meludah dari celah lantai. Mulut gua itu menganga seperti mau menelan. Maka kami pun mulai mengadakan perjalanan mengikuti Sungai Titian Dewata tanpa memperoleh halangan dari kerajaan. Tanah perluasan harus dicari dan ditemukan. Bapak menanyakan pada mereka di mana dapat ditemui tanah habungkasan yang subur. Ayahmu begitu percaya akan hasil pertenungan bapak dan begitu percaya akan kekuatan gaibku. apa yang kami temui? Pada suatu tempat tertentu. Karena tidak tahan menerima kenyataan ini. Waktu itu bapak masih memegang kekuasaan mutlak sebagai Datu Bolon Kerajaan. setelah berhari-hari berkayu.

Tapi. sejak itulah bapak tidak pernah lagi dipanggil kerajaan mengadakan pertenungan. "Akhirnya bapak percaya bahwa ayahmu sudah menjadi korban atas kemurkaan dewata. Tidak pernah lagi kembali. menyanyikan kemenangannya dan kegagalan serta kekalahan kami” Orang tua terdiam sebentar. Bapak terpencil. Namun bapak masih menantikan ayahmu untuk beberapa hari. Tidak pernah lagi orang datang meminta bantuan. Kerongkongannya tersendat. Tapi. tempat bapak di tengah rimbunan bambu duri agar orang tidak melihat bapak. Dan." Orang tua itu menundukkan kepala. Bapak mendengar usulmu. berkerisik dan kuat. Suara air yang bertemparasan ke dinding sungai yang terbuat dari batu alam yang hitam. Seperti berusaha mengingat sesuatu.itu. Tafsir tenungku tidak benar. Anakku. Membuat salah seorang sahabatku menjadi korban. dia tidak pernah lagi muncul. Turut memikirkan apa yang dipikirkannya. Anakku. Memang mereka . agar orang mencari tanah habungkasan mengikuti arus Sungai Titian Dewata. Justru karena ada juga orang yang bisa atau turut merasakan apa yang dirasakannya. Dan. berusaha mencari tanah habungkasan. Dari tempatku yang tersembunyi itulah bapak melihat dan mendengar usulmu. Dari matanya meleleh titikan air bening. bapak tetap juga mengikutinya. tapi bercampur baur dengan perasaan bangga dan gembira." Suara orang tua itu menjadi tambah parau. Wajah Ronggur di samping merasakan perasaan duka. Tenungku salah. Sedang Ronggur khusuk mendengarkan. Di antara isaknya dia masih mengatakan dengan suara parau: "Maafkanlah kesalahanku. pada upacara besar yang dilangsungkan di halaman perkampungan. Tapi. Bapak disisihkan dari pergaulan sehari-hari. Anakku.

" "Apa maksudmu. sahut Rongur sendiri atas segala pertanyaan yang timbul dalam dirinya. Ah. Risiko yang harus kita terima. Segala percobaan yang berusaha mendekati kebaikan dan mengupas kebenaran. Ditoleh sedemikian rupa sehingga sumber kegagalan pertama dapat dilintasi. yang tampak oleh mataku. kepercayaan mereka tambah menebal juga. janganlah karena itu kita lantas menanggalkan satu cita yang tumbuh dalam dada kita. Cita yang baik. waktu kau berbicara itu dengan suara yang lantang berani. jadi bapak mendengar usulku? Dan. aku menghormati pendapat bapak tentang perlunya tanah habungkasan. lalu menimbulkan korban yang tidak kecil harus dihormati. Malah bapak sendiri lalu disisihkan dari pergaulan. Setelah memperoleh kesimpulan ini." "Bapak. Anakku. orang yang ada di sekitar kita. Sampai ditemui satu kemenangan.menemui kegagalan. Malah kegagalan itu harus dibuat menjadi batu loncatan. darinya atau padanya tidak sewajarnya dialamatkan dendam. Ronggur mengatakan: ”Bapak. apakah satu kegagalan harus dihukum dengan kutuk dan dendam? ‘Tidak’. Tapi. Aku mendengar usulmu. Agar kerajaan tidak menghalangi keberangkatan kami. Anakku?" . yang punya kepercayaan bahwa Titian Dewata sungai dewata." "Seharusnya begitu. Hasil tenungku tidak diperlukan orang lagi. waktu dia dulu turut membela hasil tenungku. Tapi. Tapi. Bapak. telah lebih dulu memikirkannya bersama almarhum ayah?" “Benar." "Itu risiko. kemudian mengetahui kegagalanku dan meninggalnya ayahmu. Kegagalan yang ditemui bapak. walau menemui kegagalan sekali. seperti almarhum ayahmu sendiri.

Ronggur menarik napas yang dalam. dengan suara pasti dia mengatakan. setelah mengalami kegagalan bahwa Sungai Titian Dewata memang jatuh ke ujung dunia?" Orang tua itu mendongakkan kepala. itu menatapi dan membiarkan Ronggur "Kata Bapak. lambat laun tambah ke hilir. Dan. "Ya. menjadi deras arusnya. apakah menurut pendapat bapak. Tapi. penumpangnya akan dihanyutkan arus tanpa ampun. Bukankah arus menggila itu memang satu pertanda bahwa sungai akhirnya memang jatuh ke satu tempat yang maha dalam. Dinding batunya begitu keras. "Arus itu." kata orang tua itu pula. dia mengaju tanya pula: "Jadi. "Tapi." Orang tua berbicara. Keningnya berkerut. Bukankah itu pertanda bahwa sungai itu memang lain dari sungai biasa?" Ronggur terdiam." "Pikiran yang baik. Pada pangkalnya tidak berapa deras arusnya. ada baiknya kau pikirkan bahwa sesuatu sungai biasa. Lalu. pada pangkalnya mempunyai arus yang kencang. Dasar perahu harus agak luas dibuat agar tidak mudah terbalik waktu melawan arus atau melalui arus. Tapi. Tidak sempat berenang ke tepian. sungai ini lain. Lalu. Aku harus melanjutkannya." "Kalau begitu harus diusahakan melayarinya dengan perahu. "dapat dikatakan cukup menggila. melayari sungai dengan biduk?" . Kalau perahu terhantam ke sana pasti pecah." kata orang tua itu. yang menurut kata orang di sekitar ialah ujung dunia?" Ronggur masih terdiam. Yang lebih besar dari biduk. "Sudah tiba saatnya. aku harus melanjutkan pekerjaan yang gagal itu. Aku harus dapat mengatasinya.

Dan. Boleh jadi arus menggila karena sungai melalui riam yang banyak ditemui pada sesuatu sungai. setiap itu pula batu itu kita jatuhkan ke dalam air sebagai penahan." "Boleh jadi riamnya lebih dalam. dengan akal begitulah aku bermaksud melayari Sungai Titian Dewata sampai ke muara. Agar perahu tidak dihanyutkan arus dengan sesuka hatinya. Tapi. Karena arus sesuatu riam tidak akan begitu kencang dan begitu menggila." "Nah. kalau begitu yang kita hadapi hanyalah arus sungai yang menggila." Orang tua itu menundukkan kepala. Dan. Anakku. Tapi. Talinya kita ikatkan pada buritan perahu. begitu pula arwah almarhum ayah. kenyataan keadaan sungai itu tidak dapat dipungkiri. Karena pendapat ini jugalah membuat bapak disisihkan orang." "Boleh saja kita berpendapat begitu. aku harus melayarinya dengan perahu yang jauh lebih besar dari biduk. harus menggunakan batu pemberat." "Maksudmu?" "Batu sebesar kepala manusia atau sebesar kepala kerbau kita ikat." "Karena itulah. kumohonkan doa restu." . Tidak cukup kemudi saja menahan kencangnya perahu." "Juga tidak dapat bapak jawab."Tidak dapat kupastikan. darimu. Setiap melintasi arus yang tambah kencang. sewaktu melintasi arus sungai harus menggunakan tenaga pembantu. Agar kami direstui dan diberkati para dewata dan arwah nenek moyang. Mengiakan lalu mulutnya mengatakan: "Satu pikiran yang baik." "Nah. Karena hasil tenungku sampai saat ini tetap berpendapat bahwa sungai itu tidak jatuh ke ujung dunia.

Kau akan menghadapi rintangan kepercayaan orang yang ada di sekitarmu. Sesudah ini s iap semua. di samping Ronggur." kata Ronggur. masih punya tenaga yang kuat. Tenaga gaib yang dipunyainya. Orang tua itu melepaskannya menerjang kelam malam yang pekat. Matanya bersinar. Beberapa gulungan tali ijuk yang kuat. berusaha menembus segala kegelapan yang menyungkup keadaan sekitar. perjalanan itu akan kumulai." kata orang tua itu seraya pundak Ronggur ditepuk-tepuk." "Baik. kapan kau hendak memulai perjalanan itu. Bapak. aku akan datang memberitahukannya pada Bapak. Tapi. Dadanya diangkat. beritahukan pada bapak kelak."Bapak akan membantumu. perjalanan ini tidak mudah. sedang mulutnya mengatakan dengan suara pasti: "Anakku. dibaliknya pagi. Karena itu kekuatan jiwa dan tekad yang padu harus kau punyai dan kau pupuk selalu dalam hati. yang punya dasar yang lebih datar dari perahu biasa." "Doa Bapak yang akan mengiringi langkahku. untuk pertama kali sete lah bertahun-tahun ada orang meminta pertolongan doa restunya. sambil Malam sudah jauh. Ah. Anakku. kalaulah bapak masih muda. Dan. kurasa lebih besar manfaatnya dari apa saja." Orang tua itu merasa gembira bercampur bangga karena ada orang yang sependapat dengan dia. . Karena. bapak akan turut bersamamu. Si belang berlari-lari mengibaskan ekor. doakanlah agar anakmu ini selamat dalam perjalanan. aku mau mempersiapkan peralatan yang kuperlukan dulu. Sebuah perahu yang agak besar. Mata orang tua menyinarkan cahaya kemenangan. "Dan. "Anakku." Ronggur meminta diri.

Air yang biru tidak dapat dilihat pandang. kabut di sana lebih tebal. Jalanan terus menanjak. Lewat perkampungan danau. yang berisikan alat kecil. Mereka terus melangkah. Di pundaknya disandangkan sumpit bertali. Di tubuhnya membelit tali ambalang. lebih kental. meregangkan tubuh seperti mengendorkan urat yang dibekukan dingin pagi berkabut rendah. Bergegas. begitu pula Pulau Samosir dan T uktuk Sigaol. Langsung rombongan kecil itu mengarah ke kaki bukit sebelah barat. Tangan kanan Ronggur menggemggam kampak. Tangannya juga menggenggam kampak dan tombak. Pundak Tio juga menyandang sumpit bertali yang berisikan beras. dan menembus kabut. dan rendah. Si belang sering menggonggong. Semua teggelam ke perut kabut. Ronggur melangkah cepat. Mereka tampaknya akan mengadakan perjalanan yang tidak dapat dikatakan pendek masanya. Orang tidak ada di halaman. Tapi. Matanya sering tertumpu ke pinggang Ronggur yang menyelipkan panggada. . Tio tetap mengiring dari belakang bersama si belang. panjang. Ronggur sudah berada di halaman bersama T io dan si belang.ccdw-kzaa 3 Kabut pagi masih rendah menyungkup tanah. tapi sudah tambah menipis dengan bertambah tingginya hari. Masih juga dibalut kabut. Karena seperti tahu bahwa mereka akan mengadakan perjalanan yang lama dan jauh dari lingkungan perkampungan. Perkampungan tambah tertinggal di bawah. tangan kirinya menggenggam tombak. dari gerak-geriknya si belang gembira. tampaknya.

jalanan menanjak. Ini semua dapat dilihat setelah melalui tingkatan sawah yang padinya sedang bunting. Lidah ilalang yang bergoyangan. tambah jauh mereka di atas. si raja hutan. Tidak banyak mereka mengeluarkan kata. Untuk tampak kembali pada tempat di mana ilalang agak rendah. Terasa pedih juga bila sayatan kecil itu dibasahi keringat. tepian Pulau Samosir dan Tuktuk Sigaol. Mereka meneruskan langkah. terkadang menyayati daging mereka dengan tipis. Biasanya. Itu yang membuat . Karena ingin cepat tiba ke tempat yang dituju. Samosir dan Tuktuk Sigaol berhadapan. Pada tempat tertentu tampak tumpukan bambu duri yang melingkar. Pertanda perkampungan. seperti hendak menjangkau Samosir. sekarang sudah tampak isinya. Akhirnya keputihan yang pekat tadi yang merupakan satu bundaran yang tidak berujud. Satu dua biduk berlayar di permukaan danau. Permukaan danau.Kabut yang rendah tambah terangkat. Setiap saat. Terkadang mereka seperti tenggelam di padang ilalang yang cukup tinggi. suluh abadi yang dikenal mereka sejak masa kanak. bertambah lama bertambah jelas tampak. dan perkampungan serta danau. tambah jauh berada di bawah. penangkap ikan yang bekerja semalaman mengayuh menuju pantai. Langkah mereka begitu cepat diayunkan. Angin yang berdesir di lidah ilalang yang tinggi. secara berangsur perlahan. bersembunyi di sana menanti mangsa. lalu ilalang itu bergoyangan. Matahari tambah tinggi berlayar di langit dan sinarnya terus menerus tambah terik. pertanda pengisi kampung sudah bangun dari tidurnya. sudah mulai bangkit. Matahari memberi sinar. Di sebelah lain Tuktuk Tarabunga menjulur ke depan. Untuk kemudian secara perlahan mulai menyisih dari tanah. Tergesa tampaknya. dedaunan padi yang menghijau. Air danau biru tenang di pagi hari tanpa angin. Asap sudah mengepul dari kampung itu.

Dia tidak menggonggong lagi. Dari tempat ketinggian." kata Ronggur." Tio tidak menyahut. dan teduh. Bermula dari pantai danau. didasarnya hutan yang mereka tuju. melalui tingkatan dinding teluk. Tapi. tapi terus mengikuti tuannya. Beriak-riak. Lidah si belang terjulur merah dan berbuih. hanya ke arah belakang yang kandas pada pegunungan. Langkahnya tambah dipercepat dan diperpanjang. mereka menatap ke sekitar. di teluk di mana Sungai T itian Dewata bermula. Mereka sudah dapat mencium bau dedaunan yang segar. Tercecer bertumpuk di sana sini. dada Tio bernadakan lagu lain. cukup hijau. Kelompok bambu duri pertanda perkampungan tambah banyak dapat mereka lihat dari sana. Melihat Ronggur bersikap begitu. Mata Ronggur lama tertancap ke sana. Pandang bebas diarahkan ke mana suka. Utara. Mereka menuruni lembah berhutan yang tidak berapa luas. Agar kita tidak kemalaman mencari tempat bermalam.Ronggur tetap was-was. berakhir ke kaki bukit. Barat. kenapa sungai itu harus diadakan dewata. berair. Dedaunan yang rapat didukung pepohonan yang tumbuh di sana. Sawah menghijau oleh dedaunan padi yang sudah panjang dan sudah bunting. Matahari terus berlayar di langit dan mereka terus melangkah di bumi. danau yang biru. Di tangannya terus tergenggam tombak dan kampak. dilincahkan sebagai sahutan. Dari sana tampak lebih jelas lagi. Dalam hati terucap kata: akan kutembus kau sampai ke muara. ketakutan bercampur baur dengan penyesalan. "Sebelum matahari condong ke barat. siap sedia dipergunakan. "juga untuk memilih dahan pohon yang baik untuk tempat tidur. kita sudah harus menuruni lembah berhutan yang ada di salah satu lekuk danau. Alis matanya terangkat. menampung .

bersamaan dengan niat itu kerajaan marga lain juga telah memutuskan untuk membuka hutan itu untuk dijadikan tanah persawahan marganya. permadani yang lembut. antara marga sendiri pun akan ada pertengkaran. Sampai sekarang memang belum ada satu marga pun yang mempunyainya. sudah beberapa kali dilangsungkan sidang kerajaan dengan kerajaan. yang di tempati beberapa marga. Kalau hutan itu dibuka. belum sampai ke taraf yang menentukan. hingga tanahnya tetap teduh dan berair. dari tanah hutan yang tidak seberapa luas itu. Di induk kampung marga Ronggur juga sudah pernah diadakan pertemuan. Pada mulanya . mendukung dedaunan. hasilnya masih tetap sama: belum memperoleh kata mupakat. Tapi. Tapi. Satu marga mengusulkan. setiap marga merasakan bahwa kerajaannya punya hak atas hutan itu. untuk membicarakan masalah hutan itu. Begitulah.sinar matahari. bisa saja timbul peperangan yang berturut-turut. harus mengadakan pertemuan kerajaan. Bila satu luhak telah menang. Masalah itu memang hangat dibicarakan. Kerajaan marga lain yang juga mendengar berita itu dengan tandas pula menyatakan maksud masing-masing. tapi. Untuk membuka hutan itu lalu membagi-bagikan tanahnya bagi warga marganya. marganya harus memperoleh bagian. Tapi. buatan alam. kerajaan marganya sudah memutuskan membuka hutan itu untuk dijadikan tanah persawahan. Dedaunan gugur me lapisi permukaan tanah. Jadi. boleh marganya tidak memperoleh tanah bagian. Yang mungkin pula menimbulkan peperangan marga. Tapi. Ronggur sudah tahu bahwa mulai panen tahun muka. Jaringan dahan dan rantingnya. Yang bisa membuat satu luhak berkelahi dengan luhak lain. tapi sebagai pembayar bagiannya kerajaan lain harus memberikan kerbau pada kerajaannya. Akhirnya setiap kerajaan marga yang berdekatan.

Memperbaiki jalan pernapasan. Memberi beberapa jemput untuk si belang. Mereka menurun ke lembah berhutan dielus angin sore yang nyaman. Hendaknya. dia bisa lebih dulu menemui tanah habungkasan. Lidahnya terjulur ke luar. Menelentangkan diri. Tanah perluasan buat sementara. Tepi hutan. Ronggur duduk melepas lelah pada teduhan sebuah pohon. Hanyalah tempat singgahan sementara sebelum tiba ke saat yang ditakutkan Ronggur. lantas mengatakan: "Tolong berikan sebungkus. peperangan kerajaan marga. bila marga lain itu tetap merasakan bahwa kerajaannya punya hak juga atas hutan itu." kata Ronggur lagi. Menutup mata. tanpa memperdulikan kepentingan kerajaan marga lain. lalu melanjut pada yang lebih kecil. Ronggur kembali duduk. kumpulkanlah ranting kering. mendudukkan diri tidak jauh darinya. Si belang. Dan. atas putusan kerajaan Ronggur. Tio mengiakan. Berbuih.peperangan luhak. Diambilnya sebungkus untuknya. Kesejukannya telah memberikan kesegaran bagi mereka yang sehari penuh dipanggang sinar matahari. Karena luasnya tidak seberapa. . sebelum peperangan dari perebutan hutan itu meledak. kemungkinan pecahnya peperangan begitu besar. "Bila selesa i makan. Namun untuk merebutnya. untuk membuka hutan itu." padaku nasi yang kau bawa itu Tio cepat memberikan. sudah jelas garisnya: peperangan tidak terelakkan lagi. pikir Ronggur. akhirnya dapat memindahkan beberapa keluarga ke sana. Suatu kerajaan yang memperolehnya. Untuk bahan bakar api unggun malam hari.

" Lagi-lagi T io mengiakan. lalu dibawanya ke bawah pohon tempat mereka bermalam. Sebaliknya. dia sudah dapat mencium dari jarak jauh. Juga bisa mengusir dingin malam. Dahan yang dipilih Ronggur untuknya dan untuk T io tidak berjauhan."Hari sudah sore. Dia akan terus menggonggong lalu membuat kita bangun. Di mana tubuh enak ditelentangkan. "Biarlah di tanah. Lantas memberi bantuan. "kita memilih dahan tempat bermalam. dan tidak vertikal. Dahan yang patah dari sesuatu pohon dipotong. Agak gepeng sedikit. Dihidupkannya api. cukup besar." kata Ronggur pula. agar nyamuk tidak banyak mengganggu. tapi mendatar. Penciumannya cukup tajam. Tidak sekali banyak. "Si belang di mana tidur?" tanya Tio. sedikit demi sedikit supaya api tidak mati. Ditatapi Tio terus sampai Ronggur hilang ke antara pepohonan atau tenggelam kerimbunan rerumputan yang tinggi. yang bercabang dua. Bara memanas di bawah bila sudah ada dahan sebesar betis yang habis dimakan api. Baru Tio memulai mengonggokkan ranting di lapisan bawah diatasnya dahan. Tapi. Membuat lobang pada salah satu sisi jurang tidak sempat lagi. Agar terhindar dari gangguan binatang buas. Tio tidak hanya mengumpulkan reranting. Mula-mula dibakar ranting. Di bawah dahan mereka bakar api unggun. Tidak terlalu bulat. Ronggur memilih dahan yang baik untuk tempat tidur. Sebentar lagi matahari akan tenggelam. Ronggur pergi menyusuri tepian hutan. Dan tetap ada nyala menjilam. . Potongan dahan kayu yang sebesar betisnya dionggokkannya kenyala api menjilam." Begitu tergesa mereka menyiapkan sesuatunya. Di sini cepat gelap. Bila bahaya datang.

Ronggur melihat api yang sudah menyala dan memberi kilatan cahaya pada sekitar. Sambil tersenyum Ronggur berkata: "Kau pandai menyalakan api. belum kutemui maranti batu yang cukup tua. sesuatu yang dipikirnya dan dirasakannya punya kebenaran. atau dia sendiri akan musnah. Pohon yang kuperlukan harus cukup tua lagi besar. ." “Harus pohon maranti batu?" tanya Tio menyeling. Begitu pula dengan tekad perjalanannya yang akan menempuh Sungai Titian Dewata tak satu pun kekuatan baik melalui kemesraan dan kasih. Tapi. Dari jauh sudah kedengaran siulan Ronggur datang mendekat. mengendorkan maksudnya. masih menyimpan bara kehidupan yang cukup besar didasarnya. Sehingga apa yang dilihat itulah. yang baik dijadikan perahu. tak seorang pun dapat menghalanginya untuk mengerjakannya. Dedaunan yang merimbun menampung cahaya matahari yang sudah lemah. yang dikatakan sikap jantan yang berani. bila hendak memadaminya. Walaupun itu berarti dia akan merombak kepercayaan yang sudah tertanam di dasar hati penduduk turun-temurun. senja. pikirnya. sudah kutemui kumpulan pohon maranti batu. sudah menjadi pertanda bahwa di hutan ini akan kutemui pohon yang kuperlukan. Ronggur dapat diibaratkan seperti api unggun. bagaimanapun kumpulan pohon maranti batu yang masih muda itu. Seperti api unggun itu sendiri. Tingkah lakunya yang dapat dilihat atau yang muncul kepenglihatan. Tapi. Sedang panjang batangnya yang lurus hendaknya melebihi tiga depa. yang cepat menjadi kelam. baik melalui ancaman bahaya yang mungkin ditemuinya. harus turut baranya dipadamkan baru tidak mengandung panas lagi. mengandung bahaya lagi yang bisa membakar dan menghanguskan. Di tikungan jalan tikus menanjak sana. yang dapat mencegahnya.Ya.

kutemui pula parit kecil. Harus cukup besar. bila diingatnya bahwa Ronggur akan menyusuri sungai Titian Dewata mencapai muara. bangunlah. akalnya yang cukup banyak." Kemudian Tio terdiam. Sangat kuperlukan nanti dalam perjalanan. kekuatan tubuhnya memberi jaminan. Dan. Apakah Ronggur pergi sendiri. Begitu yakin dia bahwa kemana pun dia pergi. Keberaniannya. Ronggur melanjutkan: “Sewaktu aku meneruskan perjalananku lebih ke atas. walau susah mengerjakannya karena kayunya cukup keras. banyak pohon aren liar tumbuh. Jangan lebih dulu menebang kayu. mereka tidak akan mati kelaparan. agar ada daging persediaan. Kau harus menebang pohon aren yang sudah tua itu. Itulah kerjamu. Tapi. Dalam hati selalu mengiring tanya. Memintal ijuknya menjadi tali. Tapi meranti batu tidak mudah busuk walau direndam dalam air dan dipanggang terik matahari. Menatap entah ke mana saja." sahut Tio. Matanya seperti bermimpi. Binatang akan pergi menjauh." Tio mendengarkan. namun T io bila memang Ronggur harus berangkat juga.“Ya. Sudah ada yang tua. Semua perahu yang baik dibuat dari jenis kayu itu. Membunuh beberapa ekor binatang itu. kalau bisa sebesar pergelangan tangan. kuperlukan dalam perjalanan. dia ingin ikut. Suara kampak yang berlaga dengan pohon kayu bisa menakutkan binatang. Harus pula panjang." “Aku akan mengerjakan. Walaupun tubuh Ronggur cukup tegap menyimpan . Di tepi parit banyak kulihat bekas jejak binatang buruan. Lagi. Airnya bening. bila bersama Ronggur. Tahukah kau di sebelah hulu parit. kita tidak akan kekurangan daging di sini. tidak mengajaknya? Betapa pun ancaman yang tumbuh dari maksud perjalanan itu. maka itu sangat lain soalnya. Jadi. Kita harus mengadakan pengintaian. daya apungnya sangat baik. “Besok pagi benar.

Jilam-nya begitu tinggi. Biarlah tidak bisa dikayuh cepat.tenaga yang kuat. pikirnya. Tapi. Sekitar menjadi terang dan panas. bisa mengikuti arus sungai walau melalui riam. ikatannya jangan dipintal mati. Harus bisa dibuka dengan cepat. Sudah di reka-rekanya bahwa dasar perahu harus mendatar. penimba air harus dibawa serta. Ronggur turun ke bawah. Dalam hayalnya Ronggur sudah menggambarkan bentuk perahu yang hendak dibuatnya. Tapi. namun untuk menghadapi ketentuan dewata. Kurang wajar rasanya dia menasihati perjalanan yang sudah diputuskan Ronggur harus ditempuh. semuanya itu tidak berarti. berbentuk gepeng. Ronggur menyuruh Tio mengikatkan tubuh ke dahan kayu yang bercabang. Malam begitu dekatnya. Kalau dewata berkehendak. Namun dia tidak mengatakan. dekat unggun api. kembali menyala.. Tambah jauh malam nyala itu tambah mengecil. Tapi. Jengkrik dengan kerisiknyayang nyaring dan di kejauhan gonggong dan salak anjing liar selalu membuat si belang mendongakkan kepala. Menimpakan beberapa potong lagi dedahanan ke atas api. Nyala menjilam dari unggun api. Ronggur juga mengikatkan tubuhnya ke dahan tempatnya tidur. Hingga jilam yang mau padam tadi. jangan melancip. Mendengarkan dan meraba sumber suara itu. siapa pula dapat menantangnya? Entah kenapa perasaan takut itu tambah hari tambah dalam mencekam di hatinya. apakah Ronggur tidak dapat membaca apa yang tersirat dicerlang matanya? Malam hari. apalagi kalau dilanggar ketentuannya. Si belang di bawah. Dinding perahu harus agak tinggi agar tidak dimasuki temperasan air yang memercik. agar tidak jatuh sewaktu diri lelap tidur. lalu tampak bara membara. Karena mungkin saja diperlukan pada saat tertentu. akalnya banyak. Yang dibuat dari bambu. Biarlah perahu agak lamban jalannya. Ya. Si belang duduk di . Binatang rimba mulai bernyanyi.

tanah dekat api melihat jilam api yang terkadang meliuk ditiup angin lalu. "Perahu yang kubuat," lanjut Ronggur berbicara pada diri sendiri setelah dia kembali me letakkan diri dan mengikat tubuhnya ke dahan kayu itu. Harus bisa memuat penumpang sebanyak tujuh orang paling sedikit. Dasar perahu harus lebih lebar dari perahu biasa, agar tidak mudah oleng waktu melintasi riam sungai. Juga agar mudah menjaga keseimbangan. Sudah dibayangkan, siapa yang akan diajaknya serta. Akan diminta kesediaan mereka menemaninya. Dan, ke dalam yang tujuh orang itu, tidak termasuk Tio. Perjalanan yang menanggung risiko begitu berat, bukanlah pekerjaan perempuan. Lagi, Tio perlu dekat ibu. Membantu mengerjakan sawah bila saat panen tiba. Siapa ttliu, boleh jadi perjalanan itu sangat panjang. Dikiranya pula, bila setiap hari dia mengerjakan perahu, dalam dua kali purnama tenggelam dan terbit lagi sudah bisa selesai. Berarti sepulangnya dari hutan itu, padi telah menguning di sawah. Sehabis panen, dia akan memulai perjalanan itu. Seketika, teringat dia atas maksud kerajaan marganya untuk membuka hutan itu menjadi tanah persawahan. "Ah," pikirnya pula, "dari orang yang sangat dekat dengan Raja Panggonggom, diperolehnya keterangan bahwa s iasat itu baru gertakan saja pada kerajaan marga sekitar. Untuk menduga sampai di mana kesungguhan kerajaan marga lain itu untuk menguasai hutan itu. "Tapi, betapa pun," pikirnya pula, "hutan itu akan dibuka orang juga. Dan, darinya timbul satu ancaman pada ketenteraman hidup. Karena setiap kerajaan marga merasakan sama-sama berhak atas hutan yang kecil itu."

"Tio, kau sudah tidur?" tanyanya. Tidak ada sahutan. "Ah," pikirnya, "Tio sudah tidur." Dan, dia masih belum bisa memejamkan mata. Pikirannya terus berbicara dan bercerita dan mereka-reka bentuk masa datang. Dia tidak tahu pasti, kapan dia jatuh tertidur. Kokok ayam hutan membangunkan mereka. Cepat Ronggur turun dari dahan. Begitu pula Tio. Setelah meregangkan tubuh beberapa saat, menguapkan mulut. "Enak tidurmu malam tadi?" tanya Ronggur. Tio hanya menundukkan kepala. Sekitar masih remang. Masih pagi benar. Tapi, bila mereka pergi ke pinggir hutan, tahulah mereka bahwa matahari sebenarnya sudah muncul di atas pundak Dolok Simanuk-manuk yang dapat mereka tatap dari mulut teluk. Dedaunan yang rimbun menghalangi sinar matahari jatuh menimpa wajah mereka. Cepat-cepat Ronggur mengajak Tio mendekat ke parit yang dikatakannya semalam. Perlahan-lahan mereka mendekat, seolah-olah tidak menimbulkan buny i. Walau melalui ranting-ranting kering yang berserakan di atas tanah. Ronggur menunjukkan sekumpulan pelanduk yang sedang minum dan bermain-main di parit kecil itu. "Lihat," bisik Ronggur. "Bidiklah yang sebelah sana, yang kepalanya berbelang putih. Aku membidik yang kakinya berbelang." Tio mengiakan dengan anggukan. Bersama mereka mengayunkan tombak yang cepat melayang. Lalu, tertancap ke sasaran. Karena terkejut, pelanduk lain melarikan diri. Sedang pelanduk yang dikenai tombak melengking dan berusaha melarikan diri beberapa jauh, membawa luka di tubuh yang mengucurkan darah. Untuk itu, si belang cepat bangkit dan mengadakan pengejaran. Digigitnya kaki pelanduk itu sampai tidak berdaya. Sampai rubuh ke tanah. Kemudian si belang menggonggong, mewartakan kepada tuannya di mana pelanduk tergeletak.

Ronggur dan Tio cepat mendekat. Mereka kuliti binatang itu. Dagingnya mereka potong tipis-tipis. Mereka jemur di atas batu yang langsung menampung sinar matahari penuh tanpa dihalangi dedaunan. Sehari itu, si belang disuruh menjaga agar tidak dicuri burung gagak. Rongur memilih dinding jurang yang baik digali untuk membuat lubang perlindungan, tidak jauh dari parit kecil agar mudah mengambil air. Berdua mereka menggali. Mulut lubang dibuat besar, hingga bisa masuk dengan leluasa. Sedang ruang dalam agak luas. Mereka bisa menyangkutkan ulosbatak sebagai batas tempat tidur masing-masing. Sampai jauh malam mereka mengerjakan lubang itu. Peralatan mereka simpan di sana. Begitu pula dengan daging hasil pemburuan tadi pagi yang harus dijemur besok harinya, karena belum cukup kering untuk disimpan. Mereka gembira karena sudah memperoleh daging yang dibutuhkan dan sudah punya lubang perlindungan. Ronggur bisa tidur nyenyak malam itu, begitu pula T io. Di mulut lubang si belang tidur-tiduran. Seperti menjaga kemungkinan adanya gangguan binatang buas. Pagi itu, Ronggur melanjutkan mencari kayu. Dia menyuruk-nyuruk di bawah rerantingan, menyibak rerumputan yang terkadang berduri dan melukai tubuhnya dengan garisgaris kecil. Tapi sudah dapat menitikkan darah untuk kemudian membeku Agak jauh di tengah hutan, baru ditemui pohon yang dicari. Besar batang pohon, tiga kali pelukannya. Panjang batang pohon yang tegak lurus, sekira tiga depa. Diperiksanya batang pohon itu baik-baik, hingga dia yakin bahwa pohon itu sudah cukup tua. Dikulitinya batang pohon sekira sejengkal, lalu tampak kayu yang sudah berminyak. Kemudian dipanjatnya. Diperiksa, apakah tidak terlalu banyak mata kayunya. Tahulah dia bahwa kayu itu cukup baik dijadikan perahu. Langsung saja Ronggur mulai mendahaninya, agar waktu tumbang nanti

Batangnya dibelah. Lebihnya dibuang. Tio langsung menebang aren yang sudah tua. Belahan pohon aren dijemur di bawah terik matahari. Ronggur menaikkan batang pohon maranti batu itu ke atas . Dengan dibantu Tio. Bila air sungai tidak berapa dalam bisa digunakan membantu jalannya perahu. kemudian direndam dengan air. Tepat sepanjang yang diperlukannya. Ijuk yang berlepasan itu bisa dipintal menjadi tali yang cukup kuat. dua tiga biji dipilihnya untuk dijadikan galah. Atau. Persilangan itu diikat dengan rotan kuat-kuat. yang panjang lagi kurus. Dari dedahanan kayu yang ditebang Ronggur. dimakan pengganti beras. galah itu sangat diperlukan dalam melayari sungai. lalu ditapis untuk diasingkan tepungnya Yang baik. kembali mereka mengadakan pemburuan. Ujungnya dilancipkan kemudian dipacakkan ke tanah. Dibuatnya pula pacakan begitu dua lagi. diukurnya. Batang pohon itu dipotong. Bersilangan. Sedang batang pohon maranti batu yang sudah tumbang itu. mendorongkan perahu yang mau terhempas ke tepian berbatu dengan menjolokkan galah ke pinggir sungai berbatu. Katanya sekali waktu pada Tio. Bila daging sudah mulai habis.tidak menyangkut pada pepohonan lain yang bisa menimbulkan cacat pada pohon itu. di tanah yang tidak terlindung. Tanah di sekitar pohon itu dibersihkan. Sedang persediaan beras tampaknya tidak berkurang-kurang karena persediaan tepung umbi aren. Ijuknya cepat berlepasan satu sama lain bila pohonnya sudah kering. Umbi aren diasingkan untuk ditumbuk. Dua biji lagi kayu yang tidak berapa besar ditebang Ronggur. dengan mencucukkan galah ke dasar sungai lalu menyorongkan. Begitulah mereka saling mengerjakan tugas masingmasing. Sesudah selesai menjemur daging hasil buruan semalam dan menyuruh si belang menjaga.

tebal kedua sisi dinding perahu. Langsung bersatu dengan tubuh perahu. Begitu pula dasarnya. Bila dasar perahu dan dinding perahu bertambah terbentuk. perahu akan bocor. Dasarnya sengaja diperluas. Tuhil itu ditancapkan lebih dulu. kapak tidak berapa dipergunakan Ronggur lagi. kemudian hulunya diketok perlahan. Di atas pacakan itu Ronggur mulai membuat perahu. Dikeluarkannya tuhil. alat yang yang terbuat dari batu yang tajam muncungnya. Satu menghadap ke depan. Setelah bentuk lobang itu agak nyata. berhatihati. Di atas pacakan. bagian batang mana yang harus dijadikan dasar perahu. Membentuk semacam dinding yang baik. Tapi. Karena itu. Mata kayu biasanya mudah lepas dari kesatuan kayu dan bila sudah lepas. ditelanjangi. menggambarkan kepala harimau. di bagian perut lebih dalam dan luas. . Ronggur harus hati-hati memilih. dipahatnya semacam ukiran. agar dinding perahu tidak terlalu tipis lalu mudah pecah. Dari sebelah mana harus dimulai penukilan membentuk semacam lobang di batang kayu itu. tidak pula boleh terlalu tebal. mengambil tuntutan dari bagian dalam perahu. Di sana batang pohon itu dikulitinya. Tapi. Pada bagian buritan dan hulu perahu. Agar perahu tidak berat atau agar daya apung perahu cukup baik dan punya keseimbangan.pacakan yang berupa galangan itu. pada bagian hulu dan buritan tidak berapa dalam. Dia harus memilih dasar perahu yang terbuat dari bagian batang yang tidak banyak mata kayunya. yang nanti menjadi tempat pemenumpang. batang pohon itu bisa dibalik-balikkan. diusahakan agar sama. Ronggur beralih pula menukil bagian luar. Dengan tuhil Ronggur melanjutkan membentuk lobang atau memperhalus bekas makanan kampak. satu lagi menghadap ke belakang. Bentuk lobang yang dibuat Ronggur di batang kayu itu. Dia harus memperhatikan benar.

Ijuk yang memanjang. Alat pemintal. dindingnya tebal dibuat di sana. Ronggur mengatakan tali yang dipintalnya masih kurang banyak. Menapis agar diperoleh tepungnya. T ahan panas matahari. ijuknya sudah dipintal menjadi tali. Bila batang aren sudah kering. Merendam ke air. Karena itu. yang sudah dua jalur itu. Kulit telapak tangan berlecetan di sana-sini. dia harus mencari pohon aren lagi. ialah dua potong kayu sebesar pergelangan tangan. Kemudian memintalnya menjadi tali.Buritan dan hulu perahu. melepaskan ijuknya dari batangnya. Tapi. . justru karena di buritan dan di hulu perahulah terletak tenaga sesuatu perahu tersimpan. Tio harus mencari pohon aren baru untuk ditebang. Dan. Menyisihkan umbinya. setelah pohon aren yang tua habis ditumbangkan Tio di tempat itu. Tahan air. hitam. sendirinya saja bagian perut perahu akan pecah. betapa susahnya memintal ijuk pohon aren. Dia harus menyusur lebih ke hulu parit lagi. tahulah Tio. asal saja jangan dibakar api. Kayu bersilang itu diputarkan pada tumpukan ijuk yang dicerai-beraikan. yang diusahakan sebesar yang dikehendaki dan sudah cukup panjang diikatkan pada pepohonan yang ada di sekitarnya. Menjemur. Menebang. Tapi. Waktu saat memintal ijuk tiba. Lalu dimulainya memutar-mutarkan kayu bersilang tadi ke tumpukan ijuk. Kemudian melahirkan kulit baru yang lebih tebal dan lebih tahan menghadapi ijuk. sudah kering sehingga ijuk mengikut pada putaran kayu itu. Pohon aren yang setumpuk itu sudah pada tumbang. Mencerai-beraikan. Dibuat bersilang. Bila buritan dan hulu perahu retak atau pecah. sehingga bisa mengucurkan darah. Dipilin tangan demikian rupa sehingga berbentuk tali yang jalin-menjalin. Dan. Ijuk yang keras sering menusuk kulit telapak tangan. Ijuk yang mengikut itu. kasar. dan kokoh. Membelahnya. disatukan.

Tidak ada batang kayu yang dekat yang bisa dipanjat untuk menghindar bila babi itu menyerang. masih ada semacam dinding tanah sebelum menembus ke jalan tikus itu. Anak babi hutan lima ekor. itu dengusan induk babi. Dari depannya. Muncungnya yang panjang kemudian akan ditusukkan ke bagian tubuh yang lunak. Bila dia mundur ke sana dan mengadakan pertahanan. Sebelah kedua sisinya. belukar. Ke sana dia menuju. Setiba di bawah pohon aren itu. Dibulatkannya tekad. juga mengandung mara bahaya yang mengancam di samping kegembiraan. yaitu depannya. yang harus dihadapinya hanyalah satu arah saja. Sadarlah dia. mencari pohon aren. Jalan menyingkir sudah tidak ada.Tio menyuruki rimbunan kekayuan yang agak rendah. Walau dia tahu seekor babi hutan tidak akan terus jatuh ketika pukulan pertama mengenai tubuh atau kepalanya. tidak menguntungkan. Tiba-tiba dia sadar bahwa menemui sarang babi hutan yang mempunyai anak yang masih kecil. matanya masih sipit. Induk babi yang baru melahirkan dan masih menyusukan tentu cukup galak dan tetap diiringi jantannya. betapa gembira dia karena dia menemui sarang babi hutan. Tapi. Dari jauh sudah terlihat daun aren yang panjang itu. suara dengusan babi. Dengusan napas babi tambah mendekat. Sebelah kanannya. didengarnya dengusan babi dari semak yang ada di atasnya. menyerang sampai mangsanya terjepit. jalan tikus yang sempit. . dia harus menghadapi segala kemungkinan. Dilihatnya keadaan sekitar. Yang masih punya bulu begitu halus dan menggelikan telapak tangan. Padahal babi hanya bisa menyerang dari satu arah. Dan. Babi itu akan menyeruduk maju ke depan. Dia harus menghadapi serangan babi itu. Dielusnya perlahan tubuh anak babi yang masih lembut. bila babi jantan itu sudah bertaring. Waktu dia berpaling.

taringnya akan digunakan mencabik-cabik daging mangsanya. Menggigil juga dia. Sambil mundur perlahan, matanya tetap awas dan terus diarahkan ke sumber dengusan. Tapi, pikirannya masih dapat mengingat bahwa bila babi menyerang selalu membabi buta. Langsung saja menyergap ke depan tanpa rem. Dalam saat begitu, seseorang yang lincah dan tidak gugup, dengan meloncat ke kiri atau ke kanan, bisa mengelak serangan. Bisa mengelak serangan babi sambil menggunakan kesempatan itu menghantamkan panggada atau kampak yang ada di tangan. Tiba-tiba si belang menggonggong. Begitu nyaring suaranya. Taringnya ditunjukkan, putih tajam dan kukuh. Dalam hati, Tio mengharap Ronggur dapat mendengar dan mengerti maksud gonggongan si belang. Dua ekor babi sekaligus sudah berada di hadapannya, di tempat terbuka yang sempit. Seekor dari babi itu sudah bertaring, yang jantan. Mata kedua babi itu merah menyala. Keduanya mengais-ngais tanah, bergaya, mengambil ancang-ancang memulai serangan. Tio terus mundur sampai mendekat ke satu sudut tanah tinggi yang keras. Matanya terus awas, mengikuti sikap dan gerak-gerik babi yang dua ekor itu. B ila babi menyeruduk maju tanpa rem, di saat dia harus melompat ke kiri atau ke kanan, dia harus terus cepat pula mengayunkan kampak yang ada di tangannya, sambil harus terus awas menantikan serangan babi yang seekor lagi. Si belang masih terus menggonggong dengan nyaring dan bersikap menanti. Karena itu, babi itu belum menyerang. Gonggong si belang cepat berhenti karena babi jantan menyerang si belang. Si belang melompat ke samping. Babi jantan terdorong ke depan. Si belang cepat melompat ke punggung babi itu. Si belang sudah berada di punggung babi. Tapi, sebelum si belang memperoleh posisi yang baik, babi itu masih sempat mempergunakan taringnya sehingga leher si

belang kena dan mengeluarkan darah. Tapi, si belang tidak lagi melepaskan pundak babi jantan itu. T aringnya yang tajam dan kukuh ditancapkan ke bagian punggung leher babi. Babi itu menggelepar dan berlari dengan berputar untuk menjatuhkan si belang dari pundaknya. Namun si belang tidak melepaskan gigitannya lagi. Darah babi muncrat. Namun, belum ada pertanda babi itu mau mengalah. Akhirnya, babi itu berlari ke satu batang pohon yang besar, mendorongkan pundaknya agar si belang terjepit. Dengan kaki belakangnya, si belang menahan dorongan itu. Taringnya tambah dalam ditancapkan ke daging babi. Babi betina melihat babi jantan dalam keadaan payah mulai mengambil ancang-ancang akan menyerang. Waktu itu, secepat kilat tangan Tio mengayunkan kampak, berusaha menghantamkan ke bagian punggung leher babi. Tapi, yang kena bagian punggung belakang saja. Babi itu cepat berpaling. Panggada yang ada di tangan Tio diayunkan beruntun, menghantam kepala babi itu. Tapi, babi itu terus maju mendorong, mendesak T io ke sisi tanah tinggi. Terkadang didorong ke rimbunan lalang yang ada di sekitar. Tio tetap berusaha menjaga arah mundur. Tapi, justru karena serangan babi itu yang terkadang berubah arah, sekali waktu dia tergelincir juga. Dia tersandar ke pohon aren yang berduri tajam. Duri pohon aren menusuk punggungnya. Terasa sakit. Cepat babi itu mundur ke belakang dan cepat pula melompat ke depan bermaksud menjepit T io ke batang pohon aren. Tapi, secepat itu pula Tio mengelak. Namun, betisnya sempat disambar babi dengan muncungnya. Luka menggaris, darah mengucur. Tio memperbaiki posisi sambil menghantamkan panggada ke sana ke mari, menghalangi jalan maju babi itu. Sekarang, Tio sudah bersandar ke dinding tanah tinggi yang keras. Kembali babi itu mengambil ancang-ancang mundur beberapa

langkah. Tio berhenti mengayunkan panggada. melengah.

Seperti

Dan, saat ini dipergunakan babi dengan menyeruduk cepat ke depan. Saat genting. Dan, Tio cepat mengelak ke samping. Kepala babi terhantam ke dinding tanah tinggi yang keras. Kampak yang tadi tertancap di pundak babi menjadi lepas. Cepat dipungut Tio, lalu menghantamkan kampak ke leher babi yang belum sempat berpaling. Akhirnya babi itu tidak berdaya sama sekali. Tergeletak di tanah dengan mata yang masih memancarkan sinar kemarahan. Kaki belakang si belang semakin lemah menahan dorongan babi jantan. Pantatnya sudah mulai kena ke batang pohon. Tio masih begitu payah. Napasnya satu-satu dan tubuhnya mandi keringat. Betisnya terasa pedih mengucur darah. Hingga dia untuk beberapa saat tinggal melihat saja. Napasnya tersengal. Urat sarafnya begitu tergoncang. Dan, secara perlahan diketahuinya, si belang sedang berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan bersamaan dengan mengendornya urat saraf itu. Bersikap mengayun kampak, Tio maju perlahan. Tapi, waktu itulah sebuah tombak yang sudah cukup dikenalnya tertancap ke perut babi. Ronggur telah ada di sana dengan tubuh berkeringat. Matanya menyala marah. Ototnya mengencang. Ujung tombak satu lagi dipegang Ronggur kuat-kuat, hingga mata tombak tambah dalam tertanam ke perut babi. Kemudian Ronggur memerintahkan agar si belang melompat dari pundak babi. Begitu si belang me lompat menjauh, secepat itu pundak babi dihantam Ronggur dengan kampak. Babi itu akhirnya rubuh ke tanah. Tergeletak di tanah dengan gelepar lemah. Ronggur melihat Tio terduduk di tanah dengan napas tersengal. Di dekat seekor babi betina yang terkapar. Si belang masih menggonggong babi yang tidak berdaya itu dengan moncong berlumur merah darah babi. Tapi, lehernya luka kena taring babi.

Lalu tahulah dia. membuat sarang babi yang sekaligus menjadi kurungan bagi anak babi itu. Ronggur kembali menghadiahkan senyum. Masih merasa capek. betis Tio luka. Tio masih tetap terduduk. Tio terus saja menceritakan mula perkelahian dengan babi itu. Kemudian isi perut babi itu dibuang. punggungnya bergaris-garis bekas tusukan duri. Sedang anak babi yang lima ekor itu akan mereka bawa pulang ke kampung." Cepat Ronggur menghidupkan api. merasa malu dia dilihat Ronggur dalam kepayahan. Tio menjalin rotan. Seketika terasa mulut luka itu perih hingga T io harus menjerit kecil. sedang si belang melengking perlahan. lukamu perlu cepat diobati. Malam harinya. Baru kemudian daging babi itu dipotong kecil-kecil. Kedua ekor babi itu dibakar sampai kulitnya hangus. Di saat kita kehabisan daging. di situ pula kau merubuhkan babi yang dagingnya enak. Mencari dedaunan untuk ramuan mengobati luka Tio dan si belang. Lagi pula lukamu tidak berapa dalam. Hanya begitu. Ronggur mengangkat dagunya perlahan." ucap Ronggur. Cepat Ronggur menjauh. Ramuan itu membunuh bisa. Tapi. sedang pada Tio dihadiahkan senyum manis. "Kau telah mengadakan perlawanan yang cukup berani dan berarti. dipelihara menjadi babi peliharaan yang jinak. Ronggur mendekati T io. mereka lanjutkan memanggang daging babi itu dalam gua. Ronggur mengelus punggung si belang agar tabah. Ramuan dedaunan itu dilekatkannya ke luka Tio dan si belang. Sepotong paha diberikan kepada si belang . juga luka si belang. Dan. Tanpa diminta Ronggur. Mata mereka bertemu. Dijemur di panas matahari supaya kering dan tahan disimpan.Dengan senyum. Begitu juga luka s i belang. "Tidak berapa lama akan tidak terasa apa-apa. Lukamu akan cepat sembuh.

Kulit binatang buruan sudah pada mengering. la asik menyabik-nyabiknya di mulut lobang perlindungan. ditumbuhi bulu lagi. Tanah begitu lembut dan berair. sekarang sudah ringan. tinggal segaris saja. hanya tinggal bekas kecil saja. semua peralatan bersama kelima anak babi dimuat. begitu pula perbandingan berat hulu perahu dan buritan perahu. mereka tidak pulang melalui jalan darat. Di dalam perahu. Kemudian mereka menarik tali itu dan terseretlah perahu. kedua sisi dinding perahu. mereka tidak menakutkan dasar perahu bolong dibuat batu. Setiba di tepi danau. Ronggur dan Tio menurunkan perahu itu dari galangan. Sedang luka di betisnya sudah sembuh. jadi. tidak diingatnya lagi betapa perasaannya waktu menghadapi kedua ekor induk binatang itu. Begitu pula anak babi yang lima ekor itu sudah punya bulu yang agak kasar. Dengan tali yang dipintal Tio. Ronggur mengikat perahu itu pada hulunya. sudah sama. Mereka langsung menuju tepian danau yang ada di mulut teluk. Dan. Ronggur sudah selesai menghaluskan bekas tuhilannya. Ronggur dan Tio mengosongkan perahu. Perahu yang dikerjakan Ronggur tambah berbentuk dan mulai mengarah ke tarap penyelesa ian. Si belang mengikut dan menggonggong. tapi tidak. Perahu yang cukup besar yang bisa memuat tujuh orang penumpang bersama peralatan. Hendak mereka bawa pulang. Mereka harus menguji keseimbangan perahu dulu dengan mengapungkan di permukaan danau. Bila Tio berma in dengan anak babi itu.sebagai hadiah. Tali yang dipintal Tio sudah beberapa depa dan sudah ada lima gulungan besar yang selesai. Pada penglihatan mata. Karena jalanan menurun dan dedaunan membusuk di lapisan tanah. tahulah . Batang pohon maranti batu yang dulu begitu berat. matanya sudah terbuka. dan jinak. Begitu pula luka di leher si belang.

Mereka menuju pulang. juga si belang. Kembali perahu didaratkan. Membuang bagian yang tidak berguna. namun dia masih mengharapkan. ternyata dapat ditembus air. lebih berat dari sisi kiri. kembali segala peralatan dimuat ke dalam perahu. apa yang bagi penglihatan mata sudah punya keseimbangan yang sama. Ronggur lalu merekatnya dengan getah pohon damar. Juga mata kayu yang ada di dasar perahu yang tidak dapat dielakkan sejak mula. Perahu yang begitu rupa. mereka harus bermalam lagi untuk beberapa malam di tepi danau. Tapi. tidak dihiraukan. hendaknya Ronggur dapat kembali dengan selamat. perahu kembali diapungkan. tidak baik dibawa berlayar. Bila lekuk teluk telah dilewati. Setelah itu selesai. Karena dasar perahu agak luas terasa pendayungan agak berat. bersama kelima ekor anak babi itu. Senja hari. bagi T io sendiri setelah mengayuh perahu di permukaan danau.dia. Ronggur menipiskan bahagian haluan lagi. Bila keseimbangan perahu telah diperoleh. Sampai tercapai keseimbangan. Mereka berkayuh dan berkayuh. Apakah Ronggur akan kembali lagi? Wa lau dia tahu bahwa sesuatu ancaman sedang menanti Ronggur. mereka telah berada di danau bebas. setelah diuji masih mempunyai perbedaan. Tapi. sebelum perahu rampung benar. Haluan perahu terlalu berat. malam sudah melingkup segala. sehingga perahu selalu oleng ke kanan. Walaupun Ronggur sudah duduk di buritan perahu. Jadi. ke teluk di mana bermula Sungai T itian Dewata sudah ada. Sisi kanan perahu harus lebih direndahkan dan ditipiskan pada bahagiannya yang masih tebal. kembali dia teringat bahwa saat berpisah dengan Ronggur sudah semakin dekat. haluan itu masih bergaya mau tenggelam. Ronggur mencampakkan pandang jauh. Tahu pulalah dia bahwa bagian sisi kanan perahu. Tari warna berma in di riak danau. Ronggur .

Bulan mencurah cahaya. menggaris cahaya putih. ada baiknya diserahkan saja pada orang lain. Harus terus turun ke sawah memotong padi. sehabis memotong padi." Tio hanya menundukkan kepala. Bila gelombang membesar. Kita tidak punya waktu mengasuh lagi. bulan semakin mengundurkan diri. kebisuan yang meraja. saatku berangkat tiba. Tanah yang diimpikan setiap orang. kemudian di ufuk timur. Menari bersama riak danau. aku tahu." kata Ronggur. Aku tidak bisa lagi berlama-lama mengundurkan saat keberangkatanku. maka terhamparlah depan mereka persawahan yang bermula dari tepian danau. padi telah menguning di sawah. secara berangsur. Tapi. Maka sekitar diselubungi kegelapan. Tapi. Bertambah larut malam. B intang gemerlapan di langit. apakah ada perahu lain yang bersilangan dengan mereka. "Ya. Tio lebih banyak diam dan tenggelam ke dasar perasaannya: bagaimana kelak kalau Ronggur sudah berangkat? Apakah orang masih memperlakukannya dengan baik? Sedang Ronggur diamuk satu kepercayaan bahwa dia akan menaklukkan Sungai Titian Dewata bahwa dia yakin. Permukaan danau kembali memantulkannya ke langit. Mardege. Sinar matahari telah meng-kuakkan tabir kegelapan. "Tio. Sepanjang malam mereka terus berkayuh di permukaan danau yang tenang dan tidur.menyuruh Tio agar duduk di haluan perahu." "Dan. antara mereka berdua. Sungai Titian Dewata akan membawanya ke tanah landai lagi subur. Perahu terus dikayuh. Subuh baru telah lahir bersamanya lahir hari baru dengan harapan baru. perlahan. Suasana yang romantis. berakhir pada kaki pegunungan batu. memperhatikan jalan. Ronggur tinggal tersenyum karena .

Dia lalu di sana. atau memang dia belum tahu sebabnya. serpihan air yang dilemparkan ombak tidak dapat memasuki perahu. Ronggur melangkah dengan dada diangkat. Menyapa di sana-sini. . Kalau tidak ditegor lebih dulu. Dan. itupun ccdw-kzaa 4 Hari itu juga. begitu pula Tio. ada yang mengejek. mereka telah tiba ke tepian danau perkampungan.gelombang danau tidak dapat mengolengkan perahunya. Orang sudah banyak memanen padi di sawah. Tampaknya setiap orang enggan bersapaan dengan Ronggur. Belum siang benar. Selagi Ronggur dan Tio membuat perahu di hutan. Tapi. sebagian besar. Ibunya melepaskan dengan tatapan pilu. Ronggur belum dapat mengartikan. semua itu tidak berapa diacuhkan Ronggur. tidak ada yang berani terang-terangan mengeluarkan pendapat. tidak gembira menyambut kedatangannya bersama perahu yang dibuatnya sendiri. Tapi. sebelum Ronggur sempat mengasuh. kenapa mereka pada membisu. Sebagian lagi. Orang mencampak pandang pada mereka. Para penangkap ikan me lihat mereka. masih sembunyi. Pada umumnya orang tak dapat menyetujui maksud itu. dan memperoleh jawaban sekedarnya saja. terutama rakyat yang langsung berada di bawah lindungannya sebagai Raja Ni Huta. Tidak seorang pun menanya tentang perahunya dan kapan dia berangkat. walaupun tidak secara terangterangan. orang sudah saling berbisik membicarakan maksud Ronggur hendak melayari Sungai Titian Dewata mencapai muara. utusan kerajaan datang. menyuruh Ronggur menghadap ke Sopo Bolon.

tempat Mula jadi Na Bolon mengedari dunia setiap saat. duduk berjajar Raja Partahi. yang selalu dipanggil menghadiri sidang kerajaan. Di belakang mereka. Hanya Raja Ni Huta dari induk kampung marga yang duduk sejajar dengan Raja Panggonggom. Tempat para dewata dan arwah menghadap Mula jadi Na Bolon. Memperoleh lalapan dari tiap mata itu. sidang kerajaan akan diadakan hari itu. Raja Panggonggom sudah duduk di tempat dengan wajah murung. Karena ada seorang manusia yang hendak meruntuhkan atau sama sekali tidak mengindahkan kepercayaan yang mereka anut. bila yang hendak dibahas hal penting. Dewata akan murka dan menghancurkan orang yang berani melanggar peraturannya. Ronggur telah dinantikan kerajaan yang lengkap. Matahari. Diapit oleh para tua kampung. Raja Namora. Di Sopo Bolon. Dia terus tahu. sebagian merasa kasihan melihat Ronggur. membuat Ronggur . Dan. Mulut tidak mengucapkan sepatah kata. Orang pada diam sewaktu Ronggur memasuki ruang Sopo Bolon. Ronggur duduk di barisan Raja Ni Huta. itu berarti sudah melanggar ketentuan dewata. begitu pula dari matahari Mula jadi Na Bolon. pertanda warta yang kurang baik. Segala Raja Ni Huta dari tiap kampung yang didiami marga mereka telah ada di sana. hadir pula Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Pada tempat tertentu. karena maksud perjalanan itu menantang kepercayaan rakyat yang sudah tertanam turun-temurun. Bila seseorang berani melewati batas yang sudah ditentukan sampai di mana boleh seseorang berlayar. tapi sebagian lagi merasa terhina. Semua mata diarahkan padanya. menuju matahari terbit. Di kiri kanan Raja panggonggom. Raja Nabegu. melihat orang jahat membuat kejahatan untuk diganjar kelak di hidup lain. untuk melihat manusia yang mengerjakan hal yang baik. Kasihan dan ejek. duduk para Raja Ni Huta.Satu sama lain saling mengeluarkan pendapat bahwa Sungai Titian Dewata.

perasaan kaku itu berangsur menghilang dari tubuhnya. tahulah Ronggur bahwa hal yang akan dibicarakan bersangkut-paut dengan maksud perjalanannya menembus Sungai Titian Dewata. Untuk pertama kalinya orang tua itu menghadiri sidang kerajaan dengan terang-terangan. Malah menurut sebagian orang. menjemput tongkat panaluan dari tempatnya. Memperhatikan gerakgeriknya. Terutama Ronggur. Dari suasana dalam Sopo Bolon. Tongkat itu digenggam. "Semua kerajaan. dan bermaksud merubuhkan sesuatu yang kita percayai. hatinya tambah . "tampaknya mengancam. yaitu bekas Datu Gelar Guru Marsait Lipan. "Hal itu. Pertanda pertemuan dimulai. Karena." Melalui ucapan Raja Panggonggom sebagai kata pembukaan rapat. Yang bisa menimbulkan kegaduhan yang tidak kecil di kalangan rakyat. pagar kesatuan marga. orang tua yang bijaksana. Orang tua itu menyambutnya dengan senyum yang dibalasnya selintasan. Menyimak yang diucapkan Raja Panggonggom.agak kaku juga sikapnya. dito-pangkan agar berdiri tegak lurus. Sewaktu Ronggur mengalih pandang tahulah dia bahwa Raja Panggonggom terus menerus menancapkan pandang ke arahnya. sewaktu matanya tertumpu pada orang tua yang duduk di sudut yang agak remang itu. tahulah Ronggur bahwa sidang akan membahas sesuatu hal yang sangat penting tampaknya. yang bertanggung jawab akan kelanjutan hidup marga dan keturunan kita kelak. ada sesuatu hal yang sangat penting kita bicarakan dan bahas bersama. Lalu Raja Panggonggom mengangkat tangan yang sebelah kanan. Karena itu. akan mendatangkan mara bahaya pada seluruh rakyat dan kerajaan." Hadirin pada diam semua." lanjut Raja Panggonggom. kami undang hari ini menghadiri pertemuan kerajaan di Sopo Bolon ini. Tapi. Ruangan tetap hening.

lalu menyokongnya? Apakah mereka semua akan menjadi musuh. Ronggur sudah mengakui terus terang sehingga jalan rapat tidak terlalu repot dan berbelit.gedebak-gedebuk. Ronggur. dia mengharap agar . tanah habungkasan itu harus dicari. dia melanjutkan: "Ronggur. kami dengar kabar kau sudah menyelesaikan perahu yang akan kau pergunakan menyusuri Sungai Titian Dewata untuk mencapai muara. Dia yakin." sahut Ronggur." lanjut Raja Panggonggom. seseorang yang berani melayari Sungai T itian Dewata sampai ke muara berarti akan sampai ke tanah landai yang subur. jalannya pertemuan itu. yang menantang maksud perjalanan itu? "Karena hal ini sangat menentukan. Karena kau bermaksud akan mencapai tanah habungkasan. "Nah. Camkanlah baikbaik pentingnya maksud pertemuan ini. kenapa kau begitu bernafsu hendak mencari Sungai T itian Dewata?" Ronggur disuruh berdiri. Apakah berita itu benar?" "Benar. kita harus mengucapkan terimakasih padanya. Atau. setelah mencampakkan pandang ke sekitar. Tanah yang dimimpikan tiap orang. Karena itu. dia lalu membeberkan hal yang kan dialam i marga mereka kelak bila tanah habungkasan tidak ditemui. Setelah mencampakkan pandang pada Ronggur. menantikan putusan rapat. dia berpendapat. Dia menarik napas. sehingga putusan itu nanti menjadi pendapat kita yang mutlak. katanya selanjutnya. coba ceritakan pada kami. Karena itu." Raja Panggonggom berhenti sebentar. Untuk itu. Paduka Raja. "kami berpendapat harus melalui musyawarah lengkap yang boleh mengambil putusan tertentu terhadapnya. yang disampaikan orang itu ternyata benar. Dan. yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. sidang yang terhormat. Apakah ada orang yang bisa diharapkannya untuk membela maksud perjalanannya itu.

Lama sesudah itu baru tanah memberi hasil pada kita. Ronggur melanjutkan." Dalam hati kecilnya Raja Panggonggom menghormati sikap terus terang dan keberanian yang dimiliki Ronggur. maka soalnya menjadi lain." "Sudah siap semua yang ingin kau ucapkan?" tanya Raja Panggonggom. karena maksud perjalanan itu sendirinya pula membelakangi kepercayaan rakyat dan kepercayaan sendiri. "Ronggur. Rapat hening. Percikan air tidak mudah masuk ke perahu karena dinding perahu kubuat agak tinggi. Dari s ikapnya tampak bahwa dia sama sekali tidak mengingini mendengarkan ucapan Ronggur. Paduka Raja!" jawab Ronggur lalu kembali duduk bersila di lantai. "Sudah. katanya tegas. . Sungai T itian Dewata tidak berakhir di ujung dunia. Tak ubah seperti mengerjakan sawah. Tidak mudah oleng waktu melalui arus riam sungai. tahukah kau bahwa perjalananmu itu sangat berbahaya?" "Benar Paduka Raja!" sahut Ronggur. "Aku telah memilih kayu yang paling baik jenisnya. Tapi.kerajaan memberi izin padanya untuk menyusuri sungai itu sampai ke muara dan membolehkan beberapa orang menjadi kawannya. Daya apung perahu sangat baik. Pada mulanya kita harus berani membuang tenaga dan waktu untuk mencangkul tanah. seseorang yang berusaha mencapai sesuatu kebajikan akan selalu menghadapi risiko. Hanya wajah Datu Bolon Gelar Guru Marlasak yang menjadi merah padam mendengar semua omongannya. "Perjalanan ini menghadapi risiko yang tidak kecil. Seketika Ronggur berhenti. Tapi. Dasarnya lebih lebar dari perahu biasa.

aku akan tiba ke tanah landai di muara sungai."Ronggur. tapi bertujuan untuk kepentingan bersama. berartilah aku digoda setan. Selanjutnya mimpi itu selalu mengatakan padaku. Mimpi itu selalu mengajak aku agar memulai satu perjalanan. Turun temurun. Mulutnya cepat-cepat mengeluarkan kata: "Ronggur! Menurut kepercayaan kami. Mimpi itu mewartakan bahwa bila aku melayarinya. Aku telah rela menerima dan memikul segala risiko itu. aku seorang manusia yang telah menyia-nyiakan satu kesempatan. Jadi. kau pasti akan mendapat bencana. karena maksud perjalanan ini tidaklah untuk kesenangan perseorangan saja. Tanah landai itu begitu luas. menurut hukum yang diwariskan kepada kami." Datu Bolon Gelar Guru Marlasak cepat berdiri. Dadanya naik turun dengan cepat. Tapi. Bisa menampung kebutuhan kita dan keturunan kita kelak akan persawahan. memang padaku diajarkan kepercayaan begitu rupa." "Paduka Raja. Wajahnya memancarkan sinar kemarahan. berilah kesempatan padaku untuk membuktikannya atau aku sendiri akan musnah. Tidakkah kau tahu bahwa Sungai Titian Dewata itu sungai yang jatuh ke ujung dunia? Sungai Titian Dewata jalan para dewata dan arwah menghadap Mula Jadi Na Bolon. maksudku tidak di situ saja. Tapi. bila warta mimpi itu tidak dapat kutunjukkan dalam kenyataan. ada baiknya kau . izinkanlah aku untuk memikul segala risiko itu bila yang kurasakan dan kupikirkan itu salah!" "Bagaimana pendapatmu tentang Sungai T itian Dewata?" "Paduka Raja. aku selalu digoda mimpi. Aku orang yang tidak dapat dikatakan seorang lelaki. bila aku tidak memulai perjalanan itu. yaitu menyusuri Sungai Titian Dewata." "Apakah kau tidak mungkin digoda setan?" potong Raja Panggonggom. sebelum bencana itu menimpa dirimu. "Paduka Raja.

Kerukunan keluarga akan hancur. tapi semua marga akan dikutuknya. dengan hentakan kasar mengatakan. aku melihat dari kenyataan sesuatu perhitungan yang hasilnya pasti tiba. "Ronggur. Padi di sawah akan tidak menjadi.mengurungkan niat itu." tiba-tiba suara Raja Nagebu meninggi. tidak ada lagi sesuatu hal yang bisa mengurungkan niatmu. Yang kuhormati arwah halus penjaga diri dan yang dapat dipanggilnya untuk membisikkan sesuatu pendengarannya. Kerajaan kita akan berakhir pada suatu yang menyedihkan. Kemarahan dewata tidak saja menimpa dirimu. yang menanti saat meledak sehingga ketenteraman hidup terganggu dan kucarkacir. Tidakkah dapat kau rasakan ancaman mara bahaya yang akan timbul dan menimpa warga marga itu?" "Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Kalau cuma kau yang dikutuk dewata tidaklah menjadi soal besar. kau juga harus tahu karena yang kau tantang itu hukum dewata. Justru karena memperhitungkan hal itulah aku mengambil kesimpulan. justru karena keinginanmu untuk mengharungi Sungai Titian Dewata. tanah habungkasan perlu dicari. "Begitulah rasanya. Soalnya bila Datu Bolon meninjau dari sudut gaib. "Apa yang menggoda hatimu? Apakah kau dengan perjalananmu yang akan menimbulkan bencana dan yang telah menimbulkan huru-hara terpendam di kalangan rakyat dan para hulubalang. yang kuhormati kebenaran tenungnya. "Seperti tidak ada sesuatu kekuatan yang dapat menghentikan orang mengisi perutnya. Tapi." "Kalau begitu. ini menyangkut seluruh marga kita. masih kau katakan untuk memperjuangkan kelanjutan . bencana yang mungkin meruntuhh-an kelangsungan hidup marga. Aku percaya bahwa Datu Bolon pun memikirkan hal itu." jawab Ronggur dengan tabah dan tenang. Diusahakan menemukan." sindirnya pula dengan halus dan tenang. Aku selalu memperhitungkan dan tetap merasakan." kata Datu Bolon menyindir. T api.

"Ronggur. Raja Nagebu. kau belum perlu menguatirkan makanan untuk mereka. Jadi. Sekali-kali tidak. menunjukkan bahwa kau lebih berani dari setiap hulubalang kita. Dan tahulah paduka raja bahwa permintaan bantuan dari lumbung desa setiap tahunnya bertambah banyak juga? Sehingga kita tidak bisa lagi mengadakan pesta pujaan terhadap Mula Jadi Na Bolon dengan besar-besaran? Inilah semua yang jadi persoalan. Kalaulah yang kuimpikan bisa nyata dalam kenyataan tidak bermaksud aku disebut penemunya. Juga aku tahu. sawah yang dikuasakan padaku memang cukup memberi nafkah. Dalam saat itu. bidang sawah yang diserahkan atau dipercayakan kerajaan padamu cukup luas lagi subur. tapi kita semua. Raja Namora. . Marga kita. Raja Panggonggom mengadakan sidang kecil dengan para Raja Partahi. kau memang sengaja mencari nama. Maksudku jauh dari dugaan tuanku. Belum perlu menguatirkannya. Wajahnya bertambah merah. sehingga patentengan menantang hukum dewata? Ronggur menantang hukum dewata bukanlah keberanian. pokok persoalan sekarang di sini bukanlah aku. dan Raja Ni Huta dari induk kampung. Biar kau mengambil seorang istri atau lebih. kemudian istrimu itu melahirkan anak banyak." "Paduka Raja Nagebu. bukan diriku dan bukan pula hanya diri tuanku saja. Tahukah paduka raja bahwa banyak dari marga ya'ng hanya punya tanah beberapa bidang dan hanya dapat menghasilkan padi yang cukup untuk makanan sekedarnya saja? Dan mereka terus saja melahirkan anak. bila untukku sendiri dan jaluran keturunanku langsung." Seketika dia diam. T api. tapi ketololan." Keadaan menjadi sunyi. Lalu melanjutkan. Jelaslah sebenarmya kau mengimpikan sesuatu yang maha mulia dialamatkan pada dirimu. Hasil sawahmu memberi jaminan. anak yang perlu kita beri makan. pemegang tampuk dan penggerak para hulubalang perkasa.hidup marga dan keturunan? Atau.

almarhum ayah kami memberi izin pada bapak untuk mengharungi sungai tersebut. Dalam igaunya selalu mengatakan. yang akan diumumkan pada seluruh marga. Di s itulah mendapat kenahasan. bagaimana?" tanya Raja Panggonggom. yang kutemui berbeda dengan hasil tenungku. sebagai undang-undang kerajaan yang tidak boleh dibantah. Bagaimanakah hasilnya?" Orang tua itu berbicara perlahan. Tiba-tiba saja Panggonggom menyuruh bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan. Dia tidak pernah lagi pulang. Mereka berbicara perlahan. "Bapak bekas Datu Bolon. sehingga beliau memperoleh luka yang mengakibatkan kewafatannya. "Ayah Ronggur memperoleh cedera dalam perjalanan itu." "Selanjutnya. Dia temanku. yang pernah meminta izin pada almarhum ayah kami. menceritakan kegagalannya dulu mengharungi Sungai Titian Dewata. Jelas tampak mereka sedang mengambil ketentuan dan keputusan rapat. berbicara pada hadirin." "Sesudah itu?" "Aku sendiri pulang ke mari. Almarhum ayah paduka raja diserang seekor harimau dengan tiba-tiba. "Memang benar Paduka Raja bahwa aku pernah meminta agar diberi izin mengharungi Sungai Titian Dewata. tapi dari tiap wajah memancar kesungguhan. "Pembalasan dewata telah datang. Karena almarhum ayah paduka raja. untuk mengharungi Sungai Titian Dewata. tetap juga menerimaku kembali. Tapi. Pembalasan dewata telah datang!" . sabahat karibku. Tapi. Kami mengalami kegagalan.Kemudian mereka panggil pula Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Menurut pustaka kerajaan. yang mewariskan kedudukan Raja Panggonggom pada kami. tidak lama kemudian kami mengadakan pemburuan.

Raja Panggonggom mengatakan: "Kita telah sama mendengarkan cerita bahwa Ronggur hendak mengharungi Sungai Titian Dewata untuk mencari tanah habungkasan. telah mendengarkan satu pengakuan dari seseorang yang pernah mengharungi Sungai Titian Dewata. Ronggur!" Ronggur terdiam beberapa saat. apa yang dimaksudkannya itu karena mengizinkan bapak mengharungi Sungai T itian Dewata dan menerima bapak pulang kembali?" "Tidak dapat maksudnya. Apakah setelah mendengar pengakuan ini kau masih bermaksud meneruskan niatmu? Berilah jawaban." Ronggur terdiam. yang menimbulkan kemarahan para dewata. Ronggur telah melupakan riwayat nenek moyang dan berusaha merombak kepercayaan yang kita anut atau menurut kata Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. telah menghina kepercayaan yang kita anut. sesuatu maksud baik harus dibatalkan? Apakah tidak hanya satu kebetulan saja hal nahas itu mendatang?" "Kutanya padamu. Bintikan keringat melebihi keningnya. apakah kau masih bermaksud meneruskan niatmu atau mengurungkan setelah mendengar pengakuan bekas Datu Bolon yang sudah disisihkan orang dari kehidupan ramai? Lain tidak! Dia membawa kenahasan bagi kerajaan."Apakah tidak mungkin. boleh juga begitu "Hadirin semua. Dia dihadapkan sudah pada saat yang menentukan. . Tapi. Tapi. Lalu sebelum Ronggur memberi keputusan. Maksud yang baik. terutama kau Ronggur." Hening sejenak. apakah karena satu kegagalan." kupastikan. Golongan raja kembali mengadakan sidang kilat. Belum memberi sesuatu pilihan yang menentukan. Ronggur. Akhirnya dia mengatakan: "Paduka yang bijaksana.

marga kita tidak akan menganggap serangan itu serangan yang langsung pada marga kita. dari gangguan setan. Bila dia mulai me langkah dari gerbang kampung memulai perjalanan. jalan para dewata dan para arwah menuju matahari terbit tempat Mula Jadi Na Bolon bersemayam. maka dia tidak berhak lagi mencantumkan marga kita di belakang namanya. Biarlah kami dan marga kita disebut pengecut. dan dari gangguan perampok di tengah jalan."Saran yang dapat kami ajukan pada Ronggur. namun melawan dewata kita tidak mau. Kami tidak mau mengulangi kenahasan yang pernah menimpa almarhum ayah kami. agar tidak membolehkan rakyat yang ada dikampungnya membantu dan mengikuti perjalanan Ronggur. Ronggur sendiri yang harus memikul risikonya. siapa saja yang membantunya mengharungi Sungai Titian Dewata. kau akan tidak dianggap anggota marga lagi. Kalau kau Ronggur tidak dapat menerima syarat ini. Bila kau mengalami kegagalan kemudian kau pulang ke kampung ini. dan menjadi undang-undang bagi kita semua. Kau akan ditangkap dan dijadikan budak belian. Sawah yang telah dipercayakan padanya disita kerajaan. Ibunya yang sudah tua akan dibelanjai langsung oleh lumbung desa. "Jadi kami umumkan pada semua Raja Ni Huta. ialah bila Ronggur meneruskan niat itu. untuk menimpa . hendaknya urungkan dan batalkan niatmu sebelum terlambat. akan turut dikutuk oleh dewata. gelar Hulubalang Muda dicabut kembali!" "Dia tidak boleh memakai nama kerajaan kita untuk melindungi diri dari kutukan dewata. Kalau ada orang yang membunuhnya dalam perjalanan. tidak seorang pun dari warga yang dibolehkan mengikuti dan membantu perjalanannya. Begitu pula gelar Raja Ni Huta Muda. Dirangsum ala kadarnya!" "Syarat ini kami ajukan justru karena kami berpegang pada satu kepercayaan: siapa saja yang mengikuti perjalanan Ronggur.

diri kami sendiri. biar kami tahu mengambil sikap. Pikirkan baik-baik Ronggur. sehabis mengucapkan pilihan itu. bagi kalian semua. Sejak tadi di luar Sopo Bolon. Tidak sanggup mengangkat kepala. janganlah sekali-kali mencoba untuk menentang kepercayaan yang kita anut bersama. hasil penemuan itu akan tetap kuhadiahkan bagi margaku. Dan. Bersabung dengan petir dan kilat. Dan. kau tidak dapat memberikan keputusan? Kau merasa takut dan bimbang? Karena itu kami sarankan." kata Raja Panggonggom memecah kesepian. Ronggur masih tertunduk juga. berilah jawaban di tempat ini juga. janganlah menghina diri sendiri. ibuku. Aku. Pada kening Ronggur menitik keringat. akhirnya Ronggur berdiri dengan menghentak: "Semua pertaruhan yang dibebankan ke pundakku aku terima." kata Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. "Ronggur. Di wajah Datu Bolon Gelar Guru Marlasak dan Raja Nagebu membayang kepuasan." Keadaan menjadi hening. Para Raja Ni Huta lain dengan takjim menerima undang-undang Raja Panggonggom. Karena itu. katakanlah pilihanmu. Membakar dada Ronggur. . Bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan menundukkan kepala. tidak berhak lagi memanen padi dari sawahku yang sedang menguning. bila aku menemui tanah habungkasan yang landai lagi subur. Nada suaranya mengejek. "Ronggur. Dengan satu janji. secepat mungkin aku akan berangkat. Dengan wajah merah serta sinar mata yang manyala. Pada wajah dan sikapnya tergambar bahwa mereka akan melaksanakannya sebaik mungkin. Belum berdiri untuk menyatakan pilihan. Orang semua mengangkat kepala dibuatnya." Suaranya mengguntur mengalahkan suara petir yang bersabung di luar Sopo Bolon. hujan turun menderu.

tubuh Ronggur masih menggetar tidak karena merasa dingin. seperti patung tanpa nyawa. menceritakan semua keputusan rapat dan pilihannya sendiri. walau udara begitu dingin. Bu. Tapi. Yang sepantasnya tidak wajar lagi hidupnya disusahi. menatap padanya. Ibunya jadi kaku tegang. Orang yang berhenti memotong padi dan berteduh di dangau melihatnya begitu saja. Di antara isaknya sendiri dia mengatakan: "Maafkanlah aku. Katakanlah Bu. angin. dan halilintar yang bersabung dengan petir. Otot Ronggur mengeras. sewaktu matanya tertumpu ke biji mata ibunya yang berseri. Aku akan minta maaf pada kerajaan atas kelancanganku. yaitu kepahitan dan kegetiran hidup di saat hari tuanya. mencapai kampung di mana dia sebelum itu memegang tampuk Raja Ni Huta Muda dan Hulubalang Muda. Ibunya cepat mengangkat wajah. Gonggong si belang menyambut di tangga rumah. Tangan. Tidak mau berteduh ke dangau yang ada di tengah sawah. Aku akan menuruti ibu. Pertanda berita yang kurang baik. Dia menerjang ke tengah hujan. dia tidak memperdulikan keadaan alam itu. tapi karena marah. Aku telah mempersusah hidupmu. Dilihatnya Ronggur basah kuyup. Sebelum ditanya Ronggur dengan suara lantang karena masih marah. wajahnya memerah. Maafkan anakmu ini. apa yang harus kuperbuatl" . Cepat Ronggur mendekat. yang mulai digenangi air bening tipis. Katakanlah. Terus melangkah melewati sawah yang pematangnya menjadi licin. Aku harus menggagalkan niat perjalananku itu. dia sadar bahwa orang tua itu telah dihadapkannya pada satu kenyataan. dia terus melangkah cepat di atas pematang yang licin.Ronggur terus meninggalkan ruang Sopo Bolon. dadanya panas. Perasaannya terbakar. kaki. lalu menyembah sujud di kaki perempuan tua itu. Pintu rumah cepat dibuka Tio. Tapi. aku tidak boleh pergi.

tapi disambung pula. tidak mau anak lelaki berhati betina." Sambil berkata Tio mendekat. Tangan ibunya yang sudah mengkerut." Perempuan tua itu tidak mengucurkan air mata lagi. kau tidak boleh mengurungkan niatmu lagi. mengitari tebing curam. mempertaruhkan keyakinan diri. menginginkan setetes dua air melalui kerongkongan kering. anaknya bungsu. Kau tidak boleh membatalkan yang telah kau pilih. Telah tabah menerima segala yang tiba. lalu duduk di sisi anak beranak itu. Mengusap perlahan sambil lalu mengeringkannya. Tidak cepat ibunya menyahut. .Perasaan marahnya telah mencair. "Bawalah daku bersamamu. tanpa memperdulikan arti haus dan dahaga. Seorang lelaki yang berani mengatakan maksudnya. karena anaknya di sarang." Seketika ibu tua berhenti. Kau telah mengatakan dalam pertemuan raja dengan berani. menghadapi wajah dan mata ibunya yang bersedih. tapi dapat disebut jantan. Telah rela melepas anaknya sulung. Jadilah. Kau harus meneruskannya. jangan tinggalkan daku. untuk pergi selamanya. demi hasrat diri yang tidak mau melihat ibu kandung yang sudah tua mengalami kesusahan. Segala air mata telah dihamburkan dari dasarnya sampai kering. bila berani tidak mengingkari janji. anakku sulung anakku bungsu. Harus begitu kau. Segala tekad menjadi kendur. mencari mata air yang bening. membelai kepalanya yang masih basah. Bawalah daku. Kemudian mengatakan perlahan-lahan: "Ronggur. mengikuti lingkaran pegunungan. seorang lelaki berhati jantanl Ibumu ini. suaranya sudah tambah jelas dan tabah: "Seperti terbangnya burung ambaroba. Keheningan merayap di ruang mereka berada. Perempuan tua itu tidak mengisak lagi. walau apa yang akan terjadi. Sendu. Tapi dipecahkan suara halus yang bermula dari T io.

Ronggur melepaskan diri dari pelukan ibunya. Aku sudah maklum. diukir dengan huruf Batak. hujan rasanya tidak akan henti. ibu Ronggur merenggangkan pelukannya dari tubuh Ronggur. Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan datang ke sana. Tidak ada lagi satu kekuatan yang dapat menghalangi maksudnya. "Tio. Olehnya tekad Ronggur kembali pada pijakan semula begitu kokoh." Lama Ronggur menatapi wajah Tio yang sudah punya kepastian sinarnya. Di tengah malam buta. Di rumah itu orang terus sibuk. berkerisik dan bunyinya begitu ngilu pada pendengaran. Bila kelak kita tidak bisa kembali lagi agar Mula Jadi Na Bolon tidak murka padamu. agar selamat dalam perjalanan. katakanlah bahwa arwahku kau bawa serta sebagai sembahanmu padanya. ccdw-kzaa . Bila fajar pagi terbit pertanda hari baru tiba mereka sudah harus berangkat. Angin melanggari pucuk dan batang bambu duri. terbuat dari jalinan benang berwarna tujuh. Halilintar dan guruh terus bersabung. Perlahan pula. Angin di luar tambah kencang. Supaya terhindar dari godaan setan. Yang berukirkan kakek kesatuan keturunan mereka yang langsung. yang tertancap ke biji matanya tanpa mengedip. Ibunya menyelipkan pisau gajah lompak ke pinggang Ronggur. apa yang akan kutemui bila tafsiran mimpiku meleset?" "Aku sudah tahu. Menyiapkan yang perlu mereka bawa. Dia menjampi Ronggur dan Tio. Kemudian pada Ronggur diberikannya ajimat yang terbuat dari besi putih. pisau pusaka turun-temurun. Mereka menyongsong terbitnya fajar. Juga pada Tio diberinya ajimat. Lalu menatap dalam ke biji mata Tio. dapatkah kau menduga kemungkinan yang bisa saja menimpa diriku dalam perjalanan? Tahukah kau.Perlahan.

kabut mengental. di kala dingin mencekam. Pulau Samosir Tuktuk Sigaol tidak tampak. Ronggur menatap pada ibunya. sudah di tempatnya. kampak. tumbang. Pengayuh. panggada. Juga mereka bawa mata pancing serta talinya. Tanah lembab pertinggal hujan semalam. Tapi. tak terduga . memikat hati orang di sekitarnya. Beras sesumpit. . Hijaunya dedaunan dapat juga dilihat pandang. Lalu pada orang tua itu. "Belitkanlah pada tubuhmu. ambalang. jika bertambah jauh ke tengah. Tempat begitu lapang. keberanian yang tidak gentar menghadapi sesuatu soal pada saatnya. Pada leher Ronggur membelit ulos batak ragi purada yang dibelitkan ibunya. Pengganti tangan bunda . Mencari bekas kehidupan masa lalu di sana. permukaan danau. . Disumpit lain daging kering. Bertambah segar karena mengandung butir air. Tapi.5 Masih pagi benar. Air danau alangkah dinginnya. Tombak. penimba air. dan sesumpit batu sungai yang keras. dan si belang sudah berada dalam perahu. Ronggur. galah. Karena itu dia banyak mempunyai teman. Tio. dibelitkan ulos batak ragi purada yang diiringi kata. Dua tiga biji bambu duri terbelintang di tengah jalan. sebelum perahu hilang ditelan kabut. Di darat kabut tipis saja. Tingkah lakunya yang sopan serta ramah-tamah. di saat dia harus meninggalkan perkampungan itu untuk satu perjalanan yang belum tentu akhirnya. Beberapa depa saja dapat ditembus pandang.. dicampakkan pandang ke tengah kampung." Hanya perempuan tua itu dan bekas Datu Bolon di tepian danau mengantar mereka. Udara cukup dingin. Orang lain sudah dilarang untuk mengantarkan mereka. melalui renggangan batang bambu duri. Begitu juga pada leher Tio.

Melepasnya. tidak hentinya lambaian dilepaskan dari tepian. Si belang pun seperti tahu. Tangan terkulai tak ada lagi yang hendak dilambai. Bekas Datu Bolon menyabari. kabut tambah menipis lalu menghilang. Bila sinar matahari pagi telah muncul dari puncak Dolok Simanuk-manuk. Untuk digantikan warna putih saja pada akhirnya. mengiakan. Temannya sebaya banyak yang mati di saat itu. Teringat pula saat kejatuhan marganya dan dia sendiri. Tio berdiri. Tahulah dia. Setetes dua air-mata membasahi pipi. Di mana dia pernah disanjung puja. betapa pahit perasaan mencekam hati untuk meninggalkan tanah tempat lahir. Perlahan pula tepian menghilang dari pemandangan. Perahu bergerak perlahan meninggalkan tepian. tapi tidak boleh pamitan. malah lebih dari itu akan dipunyainya. Perlahan perahu memasuki daerah yang dilingkungi kabut tebal. Matanya jauh mengedari tanah yang sudah cukup dikenalnya. Cepat dihapus agar tidak sempat dilihat Ronggur. walau sebenarnya dia tidak dapat meyakini bujukan itu. "Mereka akan berhasil. Tangan mereka membalas lambaian kedua orang tua yang mengantarkan mereka." bujuk bekas Datu Bolon. tinggi melengking. harus menjadi budak belian. ibunya mencampakkan diri ke pohon hariara yang besar itu. selagi martabat marganya belum runtuh. Sebelum pferahu ditelan kabut. perjalanan mereka sekali ini amat panjang. Tidak dilihat Ronggur lagi.nasibnya. Meratap panjang. Kemudian menuntunnya pulang ke rumah. tidak seorang pun dari temannya yang dibolehkan mengantarkan. dibesarkan. ." Perempuan tua itu menundukkan kepala. Tersedu di sana. Di sebelah haluan perahu. "Semua yang dikorbankan Ronggur untuk perjalanan ini akan kembali padanya. dan diasuh. mereka akan pulang membawa berita baik dan menggembirakan. punya teman.

keberanian yang jantan. Tapi. tidak tahu menghargai diri sebagai manusia yang dapat membedakan arti dan hakikat manusia merdeka dengan budak belian? Ah. Riwayat Ronggur berakhir di s itu saja. walau perahu agak susah dikayuh dan walau hati masingmasing masih diselubungi sakitnya perpisahan dengan kaum kerabat. Perahu terasa berat dikayuh. Ronggur di buritan langsung menjadi pengemudi. Perahu yang dikayuh Ronggur dan Tio maju perlahan. yang mempunyai otot yang tegap. Walaupun Tio tetap merasakan bahwa dia akan aman selalu bila berdekatan dengan Ronggur. Bukankah itu berarti penghinaan akan martabat diri. katanya dalam hati sendiri. Haluannya tumpul. yaitu menjadi budak belian orang. setiap perahu tambah jauh dikayuh. dan sopan santun yang manis. hidupnya ke tangan nasib yang telah tertentu belangnya. Ronggur telah dianggap mati. sikap ramah tamah. tanpa pamit. dengan tanah tempat dibesarkan. Karena dasarnya agak lebar. mereka masing-masing melaksanakan tugas. Antara keduanya belum mengucap sesuatu kata. bila diri tahu perbedaan antara menjadi seorang budak belian dengan manusia merdeka dan diri tidak berpihak kemerdekaan itu. hatinya merasa kecut juga mendatangi ajal yang ada di depan. Sambil berkayuh. Mereka berdua terus mengkayuh. bukankah itu berarti memberikan tubuhnya. dihiburnya diri. mereka mengharapkan dapat pula sambil lalu menangkap beberapa ekor ikan. kalau dia tidak ikut. Tio mendayung ke hulu. Beberapa biji mata pancing yang sudah diumpani dijatuhkan Tio ke danau. tekad hati yang bulat. seseorang . namun pada saat itu. maka Raja Panggonggom mencoret nama Ronggur dari silsilah keturunan marga.Kerajaan sudah tahu bahwa Ronggur bersama Tio telah berangkat. Menahan air atau menghempang kelajuan perahu. yang akan memperlakukannya seperti memperlakukan hewan. Tapi.

Satu keuntungan bagi tiap manusia. daun pembungkusnya tidak ada. seekor ikan mas yang sudah cukup besar. Bila aku memilih jalan yang ditempuhnya. kupikir dan kurasakan. Lalu dia bertanya pada Ronggur: "Kita apakan ikan ini? Kita ura?" "Ya." Dengan sedih akhirnya Tio mengatakan. untuk membebaskan diri dari belenggu yang menindas harga diri itu." kata Ronggur pula. ura saja. harus rata. T idak menciptakannya menjadi hewan. Isi perutnya dibuang Tio. Tapi. menggelepar di permukaan air. yang bisa mempergunakan tiap kesempatan yang ada. "Tapi. Itulah risiko. matahari leluasa melemparkan sinarnya. "Tangkap dengan jaring. yang telah menciptakannya menjadi manusia. Disisikinya. Banyak bikin asamnya. Kabut sudah terangkat. itulah kehidupan." . kata Tio selanjutnya pada diri sendiri. mengatasinya. Manusia lahiratau dilahirkan memang untuk menghadapi risiko. Dan. Tidak lama kemudian.yang tidak dapat mengucapkan terima kasih pada Mula Jadi Na Bolon. Tapi. Biar cepat masak. "Sentak pancing yang ada di sebelah kananmu!" teriak Ronggur yang sekaligus membangunkan Tio dari renungan. memang diri mampus karena tidak dapat mengatasi risiko itu. Tangannya cepat menggapai tali pancing. Walau apa bentuk nasib yang menanti di depan. ada bila aku bersama Ronggur. Tio mengikuti petunjuk itu. Dan. Atau. Dengan sebuah pukulan panggada pada kepala. diri telah me laksanakan tugas kehidupan sebaik-baiknya. lalU tercapailah idaman hati. Biar masaknya rata pula. kesempatan. ikan itu melepaskan gelepar akhirnya.

Di sana mereka memasak nasi lalu makan siang. kenapa orang tidak menegurnya dengan ramah lagi. Beberapa kali mereka berpapasan dengan penangkap ikan. Si belang tidak sering lagi menggonggong. Mereka tidak memenggal perjalanan melalui tengah danau. Matahari tambah tinggi dan terik. tapi karena . Lalu dibaluri dengan kunyit. Tepian yang dipilih ialah lepian yang jauh dan kampung yang banyak bertebar sepanjang pantai danau. Gelombang mulai menggila. Cepat dipungut Tio. Sedang ikan yang diura itu. Ikan diasami. tidak seorang pun dari penangkap ikan yang melambaikan tangan dan menyapa mereka. Perahu mulaii menunduk nunduk mengikuti alun gelombang. Hingga perjalanan menjadi bertambah jauh. agar cepat jauh dari manusia yang sudah digoda setan jahat itu. Kemudian dibungkus baik-baik. Lalu me lompat dari perahu ke tepian berpasir basah. Matahari leluasa melemparkan sinarnya dan membakar mereka berdua. Bila sinar matahari sudah tidak terik lagi. baru bebeiapa hari kemudian dapat dibuka dari bungkusannya untuk dimakan. Beberapa tangkai dedaunan yang cukup lebar dijatuhkan ke tanah. Sekarang Ronggur sudah dapat mengartikan. Tapi. Lalu.Ronggur mencampak pandang ke pinggir danau. Selalu mengikuti pantai. Para penangkap ikan itu menatap dengan dungu ke arah mereka. sudah lebih banyak diam dan tiduran di perut perahu. cepat mengkayuh sampan masing-masing. Sampan penangkap ikan sudah sunyi dari danau. justru karena perahu mereka tidak punya atap. turut si belang. Cepat dia menujukan haluan perahu ke tepian. Pada mulanya dia selalu menggonggong perahu dan sampan yang berpapasan dengan mereka. kembali mereka melanjutkan perjalanan. Daging kering masih ada. Ronggur mengkayuh melalui ke tepian. Mereka melanjutkan perjalanan. Seolah tidak tertembus hawa. langsung memanjat sebuah pohon berdaun lebar.

dapat mereka terka bahwa itu kuburan nenek moyang yang pertama merambah mendirikan perkampungan. Kuburan nenek moyang yang pertama membuka satu perkampungan. Dia menarik napas yang dalam. sambil menjulurkan lidah. Tio tidak memikirkan itu. dan beriak. akhirnya si belang sendiri pun tinggal diam saja melihat mereka. bercampur keruh. "Sebelum sore benar. Perahu dan sampan nelayan yang terdampar ke sana karena tidak hati-hati. Jadi orang yang berlayar di sana harus hati-hati. secara perlahan-lahan akan ditelan pasir hidup itu. Tanda pasir hidup dapat diketahui dari permukaan air danau yang agak memutih. selalu dikebumikan di gerbang kampung. Titik putih yang besar itu." . Biar kita dapat terus menyusuri sungai sampai ke tempat yang jarang perkampungannya. Siapa tahu. Titik kecil yang bermunculan di sana menatap ke arah mereka. "Percepatlah mengayuh T io. pada pikirannya mendatang pengenalan bahwa mereka telah memasuki lekuk danau yang pada salah satu tepiannya. membalas gonggongnya.orang yang ada dalam sampan atau perahu yang digonggongnya tidak me lambaikan tangan. bermula Sungai Titian Dewata. ada yang menuding. Meneliti awal sungai. Sedang Ronggur memperhatikan permukaan air dengan awas. di antara mereka ada yang bermaksud jahat pada kita. Juga agar dapat kita bedakan. bergerak dibawa arus. Terlalu rapat perkampungannya. tepian danau kembali dirimbuni rumpun bambu duri dengan rapat. Pertanda perkampungan. Pasir hidup selalu berpindah tempat. tidak ada yang melambaikan tangan. Setelah dua hari berkayuh. Tapi. Kita tak dapat menepi di sini. antara permukaan air yang aman dan jebakan pasir hidup. kita sudah harus memasuki mulut sungai. Pada mulut sungai banyak terdapat gugusan pasir hidup." kata Ronggur. Dapat mereka tentukan melalui titik putih itu bahwa itulah gerbang perkampungan. Tapi. Orangnya bisa selamat kalau pandai berenang.

. oleh kebisuan itu. Kepercayaan itu yang melarang mereka untuk bercakap dengan kita. Tapi. Tidak mengapa. Sebelum jauh malam. Si belang kalau sudah capek duduk. kepercayaan itu membuat mereka bisu. orang itu tetap juga di tempatnya. seperti menjenggak. Mengibaskan ekor pada punggung Tio. Riak yang seperti disorong ke satu arah. tapi masih perlahan. punya arus. Dari sekian banyak orang. Tio bolak-balik melihat pada orang banyak. Teruslah mengayuh. yang diketahui Ronggur sudah lain dari kesatuan marganya. orang mencampak pandang ke arah mereka. kulihat. Perasaan mereka tumpul dibuatnya. Teruslah mengayuh. kemudian pada Ronggur yang terus mengayuh dan menjaga kemudi dengan hati-hati. Mula sungai. Apakah mereka tidak bisa mengucapkan sepatah kata?" "Kepercayaan mereka sama dengan yang dianut margaku. Atau. Teruskan mengayuh. Melihat mereka dengan dungu. Cahaya senja sudah bermain di permukaan air yang beriak. Riak itu. Sedang mereka sudah berbeda marganya dari margamu. karena tidak dapat membantu tuannya. Pada kedua tepian pangkal sungai. tetap bergerak." "Tidak seorang pun dari mereka yang mengaju tanya pada kita. Si belang sudah pernah menggonggong ke arah mereka. terkadang berjalan hilir mudik dalam perahu.Tio mempercepat kayuhannya. Oleh tatapan itu. Si belang akhirnya capek sendiri. walau masih perlahan. Tampaknya si belang seperti menyesal. Tapi. kau lihat mereka itu?" "Ya. Tio menjadi gelisah. Menonton tanpa menggunakan perasaan. tetap disorong sesuatu tenaga untuk ditibakan ke satu tempat. seorang pun tidak ada yang menyapa mereka. "Ronggur. jangan ambil perduli. banyak orang berdiri. begitu pula pada kaki Ronggur.

Aku mau turut." "Teruslah berkayuh. Senja di langit bertambah tua. Si belang mengikut. hadiah yang membuat mereka gugup." "Mata mereka tidak bercahaya. Biar cepat kita jauh dari tatapan mereka." Tio meneruskan mengayuh. Menggonggong. Ronggur berhenti berkayuh." Ronggur tambah terdiam. Setelah beberapa hari tidak mendengar suara orang lain yang mencakapkan mereka. Belum bisa menghayutkan perahu. suara orang itu seperti hadiah yang besar. Disuruh T io diam. sebelum mereka menjauh benar. Ronggur mendongakkan kepala. Mereka masih harus mengayuh kuat-kuat. Tidak berkerisik. Dan. agar perahu melaju. seseorang memanggil nama Ronggur. Seperti suara setan yang bangkit dari dunia jauh. Arus sungai masih lemah. tapi yang begitu diam dan bisu. Seperti mata ikan yang mati. seperti patung. Merahnya mewarnai segala. Aku ngeri melihatnya dan merasa terpukau berhadapan dengan manusia yang begitu banyak. Diikuti Tio. "bawalah aku bersama kalian.hendaknya kita sudah sampai ke tempat yang cukup jauh dari perkampungan mereka. rasanya. mencari dari mana suara itu datang. Tio. Hampir tidak dapat mempercayai pendengarannya. dari satu tempat yang ketinggian lagi sunyi. Seseorang berlari di pematang sawah sambil melambaikan tangan. napasnya masih tersengal. si belang sekali lagi menggonggong ke arah tumpukan orang yang diam bisu itu. Orang itu sudah berada di tepian sungai. . "Ronggur. Si belang mempertajam penciuman. Untuk akhir kalinya." kata orang itu. Mulanya begitu lemah dan jauh. Agar godaan darinya tidak lama mempengaruhi tekad diri.

Apa maksudmu?" tanya Ronggur kembali." Ronggur dan Tio tambah terdiam mendengarkan permohonan orang itu. "Kenapa kau harus ikut?" tanya Ronggur. permohonan yang tidak diduga sama sekali. aku tidak perduli. Aku kalah berjudi. Lolom. Aku mau turut. Di saat mereka disisihkan dari sekitar. Aku mau turut." "Jadi kau sengaja mau mencari malapetaka?" "Ya. Karena aku memang dengan sengaja mencari kecelakaan pada diri sial ini. bila ada teman samasama mati. "Bawalah aku bersama kalian. Dia belum yakin benar akan pendengarannya. Kudengar kau. Tapi." "Kudengar kau. Ronggur. Namun hutangku masih bertumpuk. Bawalah aku. lebih tenteram kurasa hati. Tepikanlah perahu itu biar masuk aku. kenapa orang itu mau turut. Sungguh sial nasib menimpa diriku. seperti kalian. dari alam kehidupan mereka sehari-hari. Daripada aku membunuh diri. sengaja mendatangi kecelakaan yang bisa . Aku mau ikut. gantung diri. kau dengarkah aku? Aku si Lolom. Tidak bermaksud jahat aku. Justru karena tahu ada teman sama-sama mati. Sawahku sudah tergadai. agar dibolehkan turut serta. Seperti kau. Kawanmu sejak kecil. Membuat Ronggur ingin tahu. Karena aku takut sendirian menuju negeri jauh itu. Bawalah aku. di saat itu pula seseorang dari anggota masyarakat yang menyisihkan itu memohon pada mereka. "Aku tahu perjalananmu mendatangkan ajal."Ronggur. lebih baik kurasa. Bawalah aku." "Kau pikir kami sengaja mencari kematian dengan melayari sungai ini? Atau. biar aku tidak merasakan kesunyian di saat nyawa berpisah dari tubuh.

Tio membenamkan pengayuh ke air hingga air muncrat ke atas. "Ah." suara si Lolom mulai ringan dan lincah. Kami mau mencari penghidupan yang lebih sempurna. Biar ada temanmu sama-sama mati. lalu mulai mendayung. jangan bersilat kata. Bawalah aku Ronggur. Kau karena menyintai seorang budak. Biar ada pula temanku sama-sama mati. dan aku mau turut. "Perjalanan kami tidak wajar dikotori seorang penjudi yang mau bunuh diri. kenapa dia harus mengatakannya." Wajahnya memerah. Mencapai tanah luas tempat habungkasan. Aku akan menutup mata dan mulut. "Bukankah kau dengan sengaja mencari sumber malapetaka dengan melayari Sungai T itian Dewata ini?" "Tidak." jawab Ronggur tegas. Itu soalmu. Bukankah karena tidak tahan menanggung malu di dunia ini. "Perjalanan yang menuju atau mencari tanah habungkasan. kau me larikan diri dari kehidupan ini dengan dalih mencari tanah habungkasan bersama budakmu itu? Bawalah aku. "Kenapa kau berkata begitu. Dan. Percayalah. ia tidak tahu. Aku tidak bermaksud mempengaruhi perasaan cinta yang tumbuh di hati kalian berdua. pula. tidak seperti semula lagi." jawab Tio kasar." Dengan hentakan kasar. Kawan. Lolom?" "Karena kau Ronggur. kematian. jatuh cinta pada budakmu. Aku karena kalah berjudi. Dari kita sebenarnya sama sialnya. Walaupun sebab kita berbeda. Kau sengaja mencari kecelakaan.mengakibatkan kematian?" tanya Ronggur matanya memancarkan cahaya benci. di saat kalian bercumbuan. Memang budakmu itu manis. Sebenarnya dia sendiri memang sependapat . Habis perkara. Sinar "Apa maksudmu?" kembali Lolom bertanya.

tapi dicegah Ronggur dengan membenamkan kemudi ke air." Seketika Ronggur terdiam. kau telah menggoda dan menjerumuskan seorang sahabatku ke lembah kehinaan. biarpun begitu. tidak wajar rasanya. Lain tidak. Aku juga mempercayainya. marilah sama-sama mati. perjalanan yang bermaksud baik itu dikotori seseorang yang memang sengaja mau bunuh diri. dari kerajaan. kau penggoda keparat. Itulah berita yang tersiar luas di antara penduduk. dan datu bolon.dengan orang lain. Aku kalah berjudi. Ronggur jatuh cinta. dari para orang tua. sayang sekali apa sebabnya kau mau ikut dengan kami. Tapi. Lolom terkekeh lupa akan masalahnya sendiri. karena setiap saat kau menggodanya dan kata orang. Aku juga tidak dapat mempercayai bila seseorang yang melayari sungai ini. Aku yang mau bunuh diri. Nasibmu jauh lebih celaka dari nasib kita semua. "Kenapa kau diam. Lolom?" tanya Ronggur keras “Kau masih bertanya. kau sedang bunting. Akhirnya Ronggur mengatakan: "Lolom. Ronggur? Karena tepat apa yang kukatakan?" Ronggur masih diam. Karena itu. dengan Lolom bahwa perjalanan itu akan kandas di karang kecelakaan. kawan. Tidak menyahut. Jatuh cinta pada seorang budak. Kemudian Lolom melanjutkan. tanganlah berkata aku membawa sial padamu. "Apa kau katakan budak manis? Apakah kau tidak dengan sengaja mengotori hidup si Ronggur? Dengan wajahmu yang manis. Bawalah aku. masih mengatakan akan mencari tanah habungkasan. Kalau alasanmu berbeda dari alasan yang kau katakan . Kalian telah bersetubuh sebelum meminta izin dari Mula Jadi Na Bolon. Bagiku itu omong kosong dan dusta paling besar. Tio sudah hendak mendayung perahu." "Siapa mengatakan itu padamu.

" "Tapi. walau kau kawanku. masa datang orang banyak. Betapa aku berterima kasih karena kau mau menemani aku seraya bersedia memikul segala akibatnya. Hasilnya kelak akan kuserahkan pada semua orang." jawab Ronggur dengan suara kuat. Seseorang yang dengan sengaja mau bunuh diri padanya akan datang malapetaka. bawalah aku biar ada temanku sama-sama mati. berperang karena setapak tanah. Itu saja soalnya. sewajarnya pula aku menolak permohonanmu. tapi sebaliknya. "Perjalanan yang kumulai ini bertujuan baik. Aku akan menemui tanah habungkasan. . Yang kuminta padamu. dialah yang bernasib sial. agar semua orang terlepas dari ancaman yang selalu mengikuti hidupnya. Karena itu. betapa gembira hatiku menerima kehadiranmu. Kami masih tetap mengharapkan dan memohon agar dewata menunjuki jalan kami. Yang kelak hasilnya akan dikecap setiap orang." "Jangan mencari dalih lagi. Kita akan sama-sama mati bila kita sama-sama melayari sungai ini. karena kau seorang. "Sudah kukatakan aku tidak dapat mempercayainya. Tidak wajar mengorbankan nasib orang yang begitu banyak. Aku takut mati sendiri. benar. aku tidak mencari kematian dengan sengaja. Karena itu dan karena aku tahu pepatah lama. seseorang penjudi yang kalah. Sungai ini akan membawaku ke tanah landai yang subur. karena aku tidak mau mencari ma lapetaka. Sendirinya pula aku akan buktikan bahwa kepercayaan yang tertanam di hati kita selama ini mengenai sungai ini salah.itu. Kemudian Ronggur melanjutkan: "Aku mau buktikan Lolom bahwa yang kuimpikan atau yang diwartakan mimpiku padaku. agar kutukan dewata padamu karena kau mau bunuh diri tidak turut menimpa kami. Karena aku tidak mau bunuh diri." kata Lolom menghentak." Lolom masih tertawa di pinggir sungai. Agar nasib sialmu. bersibunuhan karena setetes air parit. carilah.

Begitu pula agar tidak ada tempat bagi sanak saudara. bagi anak yang masih kecil. karena aku segala penjudi yang kalah. Yaitu. menagih hutang. Agar kubur kalian tidak ada jadi pertinggal di dunia ini. ke mana perginya akal sehatmu yang selama ini kau punyai? Ya. aku pun bermaksud begitu. menerjunkan diri ke ujung dunia agar bangkai kalian tidak dapat dikuburkan. Nah. kalian tidak mau pula membawa aku serta. dan datangilah sendiri ajal yang akan merenggutkanmu dari kehidupan ini!" Sambil tertawa dan perutnya berguncang-guncang. tempat mencampakkan segala penjelasan di atas pusaraku. dengan pengap-pengap dia memohon: "Ronggur. Matanya menyala merah. membuat Ronggur tertegun. memang kau masih menggunakan akal sehat itu. walau dia sudah berlari-lari di tepian. perahu sudah mulai dikayuh Ronggur dan Tio. apa yang harus kuperbuat? Aku takut mati kalau aku sendiri yang menghadapinya. Kembali dia berhenti mendayung. waktu Lolom sadar bahwa kencang perahu tambah tak dapat diikutinya lagi. Lolom mengatakan: "Ronggur. dia berusaha agar marahnya tidak meledak. Penjudi yang kalah main. dia berkata dengan kuat lagi tajam: . Dia mencampak pandang ke daratan. Menyuruh Tio berhenti pula mendayung. membuat hidup mereka menjadi morat-marit. kalau mati tidak wajar menunjukkan kuburnya agar tidak ada lagi tempat bagi mengunjungnya. Lalu. Hendak mereka jadikan aku budak. "sampai hatikah kau melihat aku manjadi budak?" Ratapan si Lolom yang tambah meninggi. kau dengarkah aku?" ratapnya mulai meninggi. Ronggur." Waktu Lolom berkata. Dan. Dan. Tapi.tempuhlah sendiri. aku yang sudah rela mati.

Untuk ikut serta dalam perjalanan ini kau tidak boleh. "Kalau berjudi bagimu sangat baik. Agar kau tahu betapa nikmatnya mimpi akan kemerdekaan. Agar kau bisa kembali menjadi seorang yang merdeka." "Dan. Agar kau tahu dan menyadari bahaya main judi. sehingga kau tidak mau lagi mempermainkannya di perjudian." "Begitu percaya kau Ronggur bahwa kau akan menemui tanah habungkasan. agar kau tahu. dari penjara perasaan yang meracuni diri sendiri. merasakan pahitnya menjadi seorang budak. Dan." "Mimpiku telah mewartakan padaku. janganlah dulu bunuh diri. Harapanmu terletak pada hasil perjalanan ini. Tapi. Kelak aku akan membawa berita padamu bahwa tanah habungkasan telah kutemui. semua terletak pada hasil perjalanan ini. Kau boleh pindah ke sana dan kau kembali menjadi orang merdeka. yang turut merasakan pahitnya derita seorang budak." "Lantas. karena orang lain itu pun ingin hidup lalu berusaha menguasai setapak tanah. pahitnya perasaan diri sendiri justru harus membunuh orang lain. Aku tidak bersedia mengorbankan perjalanan ini pada nasib sial yang akan menimpamu. apa yang harus kuperbuat?" tanya Lolom pula melanjut dan memotong cakap Ronggur. Sekarang biarlah dulu kau rasakan betapa sakitnya menjadi budak orang lain. Kau telah menghina aku. Pesanku padamu. Karena kau memang sengaja mencari kematian. kau kawanku sejak kecil. ."Lolom. maka kau pun akan mendoakan agar perjalanan ini memperoleh hasil seperti yang diharapkan. bagiku itu tidak mengapa. bila kau pun nanti turut menanggungnya. Untuk bisa terlepas dari belenggu itu. Dan perasaanku selama ini. mempunyai setetes air parit telah memaksa aku harus mencapai tanah habungkasan. betapa berharganya sebuah kemerdekaan.

" Ronggur dan Tio kembali mendayung. sangat Sebelum Lolom sempat mengatakan sesuatu. Kalau malam. di saat Ronggur dan Tio melepas lelah. . mereka akan melanjutkan perjalanan itu. bila kau memang ingin berbakti. Dengan tercengang Lolom melepas mereka. disela tangis itu dia mengharapkan. karenanya dia belum mau mati. si belang kebanyakan tiduran. Agar tidak terguncang perasaan mereka bila kelak menerima warta penemuanku atas tanah habungkasan. Bulan mulai memancar di langit mencurahkan sinar ke bumi. karena doa seorang yang didengarkan Mula Jadi Na Bolon. Ronggur telah melanjutkan: "Di samping itu. kembali dia meratap dan menangis. bila pagi terbit lagi. Secara perlahan arus sungai mulai terasa. Hanya satu-satu pepohonan tumbuh di tepian. selagi perahu dikayuh. Si belang disuruh berjaga. Yang mungkin berbeda malah menantang kepercayaan yang mereka anut selama ini. sesudah dia sadar bahwa perahu Ronggur sudah menjauh dan melaju. Tapi. Perahu terus melancar. Suruhlah mereka bersiap menerima sebuah warta kebenaran.Bertobatkah. Memang begitu selalu. Tidak berdaun rindang. Dan. Harapan masih ada walau masih begitu samar. Setelah merasakan bahwa mereka sudah cukup jauh dari perkampungan. Menjadi suluh bagi Ronggur dan Tio mengikuti jalur sungai. agar Ronggur dan Tio berhasil. wartakanlah pada orang semargamu bahwa anggapan mereka akan perjalanan kami ini tidak benar sama sekali. Perahu ditambatkan. Ronggur mendaratkan perahu." tobat. sehingga dia bisa kembali menjadi orang merdeka. Meranggas. Dan. dia yang berjaga. Tanah datar yang terdiri dari tanah batu di kiri-kanan sungai. Memilih tempat bermalam.

Karena itu. Menurut keterangan bekas Datu Bolon. dan masing-siang. sepatah kata. setiap itu pula T io memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Ronggur tidak mengucapkan. agar kelajuan perahu dapat dikendalikan. Walau matahari tidak terik. pandang yang meminta penjelasan. Dan. Atau. memulai jalan darat. Satu dua batu jangkar sudah dijatuhkan Ronggur. bila mereka mulai melewati batas itu besok pagi. untuk merasakan getar air. Pertanda mereka akan bermalam di sana. namun Ronggur mendaratkan perahu ke pinggir sungai. yang menganga bergaya mau menelan. Tapi. mendaki sebuah pundak bukit. mengadakan peninjauan. Itulah mula gua yang diceritakan bekas Datu Bolon. Kediam-diaman. dia harus bertambah hati-hati. Lalu menyuruh Tio menghidupkan api. Kembali dia ke tempat Tio. Sejauh mata memandang yang dilihat hanya batu padas saja. T io akan menarik napas yang panjang. Pada hari selanjutnya. tidak jarang Ronggur melengketkan telinga ke permukaan air. hatinya bergoncang dalam dada. bila arus bertambah deras. Sedang sungai seolah terus menuju satu arah yang jauh. Dia pergi ke tempat ketinggian. Arus sungai sudah cukup deras.Setiap hari arus sungai tambah terasa. yang mencampakkan pandang padanya. mereka telah tiba ke batas yang boleh ditempuh manusia. Bila Ronggur kembali mengangkat kepala. Tekadnya harus bertambah bulat dan kukuh memasukinya. tetap diperhatikan dan dipelajari Ronggur. tapi diusahakan agar tidak kedengaran pada Ronggur. dia harus mulai mencari mulut gua yang diceritakan Datu Bolon. Dan. Perasaan masing-masing saling mengajuk nasib yang menanti mereka. . menerjang terus ke perut bukit. Menembus bukit. Dan. setiap Ronggur mengerjakannya sambil memejamkan mata. Bila suara gemuruh air sungai berbantingan ke dinding batu mulai kedengaran.

Menyinari kiri-kanan sungai yang tidak punya tanda kehidupan. Mereka tidak perlu lagi mengayuh. tidak ada sepenggal kayu atau bekas api. bulan muncul. tepat dari belahan jalur sungai. pada pagi berikut melihat matahari muncul dari satu kekosongan. Atau. Dia mencari kekuatan hati dari elusan itu. Dalam lobang. desiran arus sungai kedengaran bangkit. Tengah malam. lalu menutupi wajah bulan. Angin kencang datang dari hulu sungai. sekarang bisa mengasoh. Jadi tidak dari pundak Dolok Simanuk-manuk lagi. mendesis. Tangannya mengelus leher si belang yang duduk di sampingnya. Hingga batu jangkar sudah tiga biji dijatuhkan. Arus sungai sudah dapat menghanyutkan perahu malah terlalu liar. Bila mereka mendarat ke pinggiran lagi. hari itu mereka tidak menemui sesuatu. di atap batu. Hanya arus sungai yang bertambah kencang. tidak seperti lobang alam yang pernah mereka temui. Membangkitkan riak yang . Awan hitam merayap dan menjalar. Mereka masih selamat. Dikejauhan. Buru-buru Tio menghidupkan api. mereka temui sebuah lobang alam pada s isi sungai yang agak tinggi. Wajahnya bersikap menantang dan begitu tegang. Lobang yang bersisi berlantai dan beratap batu. Dingin.Ronggur dan Tio. Tidak pernah didatangi manusia layaknya. Namun mereka meneruskan perjalanan juga. terbuat dari batu alam. seperti yang mereka kenal. Tapi. susut karana terus-terusan direndam air. Beberapa potong kayu diangkutnya dari perahu. bila diperhatikan benar. melontarkan perasaan yang tertekan. Tandus dan kosong. Nyala api menari-nari di dinding batu. Telapak tangan Tio yang sudah lecet dan keputihan. Mulut tambah terkatup. Tangannya pasti menggenggam ulu kemudi. Keadaan sekitar menjadi pekat. Walau sudah jauh melewati batas yang boleh didatangi manusia. Tetap meneliti keadaan. Dari jalur sungai dikejauhan. Terus saja Ronggur mencampakkan pandang ke kejauhan.

Satu-satu halilintar mengkilap membelah bumi. selain hai yang penting saja. walau dia tahu Ronggur tidak pergi jauh. Bersabung halilintar dan guruh. memperhatikan sekitar dan mempelajari arah dan mata angin yang menggalau. menatap ke sekitar. Begitu cepat suasana alam berubah. Kulit tangannya masih tetap pucat dan menyusut. Seperti: "Besok pagi kita melanjutkan perjalanan sebelum matahari terbit. Seperti marah karena ada orang yang berani berlayar melewati batas yang sudah ditentukan. Dia selalu begitu. keadaan udara cukup terang benderang oleh sinar bulan yang nyaman. Diiringi suara guntur yang mau memecahkan segala. atau semua serba seperti menakut-nakuti. Tidurlah. Semuanya serba asing dan menakutkan. dia merasa sepi atau merasa takut. walau tidak mengatakan sesuatu. sudah melonggarkan perasaan tertekan. selimuti dirimu dengan kulit binatang berbulu. Ronggur pergi ke tepian sungai memperkokoh ikatan tambatan perahu.tidak dapat dikatakan kecil. Dipisah langit-langit gua yang terbuat dari batu alam. Baru beberapa saat yang lalu. Beberapa saat dia berdiri di sana. menyengkak. Dia merasa lebih tenteram bila Ronggur di dekatnya." Mendengar cakap yang sepenggal itu saja. cukup gelisah permukaan sungai. Dan. Kekelaman yang abadi. dia tidak akan menyahut. Permukaan sungai naik. Kepekatan menyeluruh menelan segala. tapi melaksanakan yang dimaksudkan Ronggur. Selagi Ronggur tidak ada dekatnya. tidak mengetahui bahwa Ronggur tepat berada di atasnya. pertanda mula kecelakaan yang akan menimpa diri. hujan turun seperti dicurahkan dari langit. Si belang mendekat pada Tio. Lantas pergi ke atas gua alam itu. yang menumbuhkan berbagai ragam anggapan. perubahan alam begitu rupa menimbulkan prasangka dalam diri. Dalam saat begitu. Biar terasa panas. Tio yang tepat berada di bawahnya. . Riak sungai menjadi besar dan tambah gelisah. Memanaskan diri dekat api.

tersenyum di bawah selimut kulit berbulu. "Kau belum tidur juga? Belum mengantuk?" Tio menyurukkan kepala ke bawah kulit binatang. Besok. riak sudah membesar sudah menyerupai ombak danau. Dengan membungkuk dia menuju mulut gua. Tidak apa-apa. angin. air tidak mungkin menggenangi mulut gua di mana mereka berada. Permukaan sungai menaik. Di luar hujan. lalu mengatakan. kilat.Malam itu Ronggur agak lama baru kembali." Tio malu akan ketololan dan ketakutannya. Ronggur tersenyum. lalu dikaiskan. Kulit binatang itu tidak cukup panjang untuk menyelimuti tubuhnya sekaligus. Dia . Namun perasaan keadaan sekitar. kalau tangan itu akan hangus terbakar. Lalu mundur. Telapak tangan ditelempapkan ke tubuh. seperti Tio sendiri. Tio bangkit dari duduknya. Tapi. Ronggur tersenyum. Perasaan sak wasangka tambah mencekam diri. Dalam hatinya dia merasa geli atas kelakuan Ronggur. Begitu dekat hingga Tio yang melihatnya merasa ngeri. Dia menyesali diri kenapa dia harus terpekik. karena dia tahu bahwa mereka sudah berada di daerah yang berbahaya. Si belang sekali ini sudah tertidur. tubuhnya tertumbuk ke tubuh Ronggur yang berdada telanjang. dia tahu. daerah yang belum pernah dimasuki manusia. Sambil memalingkan pandang Ronggur berkata. bila badai telah teduh. yang dengan sendirinya kakinya menjadi telanjang. "Pergilah tidur. T io terpekik karena terkejut. Butiran air berjatuhan. Hendak melihat ke mana Ronggur pergi atau di mana Ronggur berada. ketika itu juga. dan guruh masih bersabung. Dari goleknya dia melihat Ronggur mengeringkan tubuh. Mendekatkan telapak tangan ke jilaman api. kita akan meneruskan perjalanan. Tidak disadarinya matanya dapat ditangkap pandangan Ronggur. Kemudian Ronggur berjongkok dekat api. Sedang Ronggur merasa geli pula atas kelakuan Tio yang menyurukkan kepala ke bawah selimut buru-buru.

Api sudah padam. dia pun tahu. Menjerangkan air yang ditampung dari pinggir sungai. Ronggur menutup kedua belah kupingnya. Tambah lama tambah banyak. Cahaya putih sudah menerobos dari mulut lobang waktu Ronggur membuka mata kembali. dunia lain. justru karena dia tahu.menggolekkan diri. namun bias cahayanya tidak dapat menembus awan yang bergumpal dengan sempurna. takut kalau kelepak lemah itu henti. Suara mendesis yang bersumber dari sungai itu sangat menyayat atau menyengat pendengaran. Dia mendekati salah satu lobang kecil. Kampret itu ditumpukkan. Patah sayap. Waktu kepalanya dijulurkan dari mulut lobang untuk mengetahui keadaan cuaca. Walau matahari sudah terbit dan agak tinggi. Dengan kayu itu. Heh. Tidak tahu dia Tio sudah bangun. Suara yang timbul atau seolah datang dari dunia jauh. Lalu dia mengambil sebatang kayu. Desis lidah air masih terus mengganggu pendengaran. Di samping itu. pikirnya. Dalam gua menjadi dingin kembali. Kelepak itu berasal dari lobang-lobang kecil yang banyak di langit-langit gua. bahwa cuaca masih tetap seburuk kemaren. Juga si belang. dicoloknya tiap lobang. Tio belum bangun. Kampret berjatuhan. Membaringkan diri. Tapi. Di sini banyak kampret. Terus menghidupkan api. sudah mulai me lemah. Enak dimakan. Perlahan dia bangkit. daging kampret enak dimakan. Merasa bersyukur. Ma lah menggulungkan tubuhnya sampai bengkok untuk melawan dingin. Matanya diliarkan menatap langit-langit. Waktu nyala api me loncat-loncat dan menari-nari di dinding gua. . angin yang bersabung dan hujan yang menderu di luar belum henti. Didengarnya kelepak lemah di langit-langit gua. Dengan malas Ronggur kembali masuk ke dalam lobang. memejamkan mata dengan paksa. lalu dia dapat memastikan bahwa sesuatu yang bernyawa masih ada di sana. Asik dia dengan pekerjaannya.

Tio diam saja mendengarkan. Enak juga dimakan. mereka akan meneruskan perjalanan. Sambil meneguk air simar palia yang pahit kental lagi panas. Jangan sia-siakan. telah menunjukkan kesetiaan hingga berani pergi ke mana saja. "Kau menjaganya dengan baik kalau begitu. dia telah berani memilih perjalanan tanpa nasib. Tio menjaga bibit itu dengan baik. dia sebagai perempuan. Cepat benar sudah masak. bersama seorang lelaki yang dipercayainya kejujuran dan keberaniannya. padi yang bisa mengurangi rasa laparnya bila mereka memang jatuh ke ujung dunia. kita meneruskan perjalanan. Ronggur menyambung: "Teruskan jaga baik-baik. Atau. Bakarlah. menemui tanah habungkasan atau menemui ajal. Yang terasa tidak punya akhir dan ujung. Bila angin dan hujan teduh. di mana kau bikin pundi-pundi tempat bibit itu? Sudah berapa hari tidak kulihat." Tio memegang pinggangnya yang agak menonjol." Kampret itu mereka panggang. bibit itu sangat penting dan perlu bagi kita. Atau. Dia telah menunjukkan kesetiaan sebagai budak pada tuannya. Padanya. Di tanah habungkasan yang kita tuju. Teruslah jaga baik-baik. sekarang telah menjadi sama. Ingatan Ronggur cepat meloncat." kata Ronggur. .Ronggur berpaling." Cakapnya punya kepastian seolah mereka akan menemui tanah habungkasan yang dimimpikan. mulut mengunyah daging kampret yang manis. Jajan arwahnya dalam perjalanan menghadap Mula Jadi Na Bolon. lalu: "Di sini banyak kampret. Tio menundukkan kepala. Dan. Itu saja pun baginya cukuplah. Pundipundi itu diikatkan di pinggangnya. langsung dengan bulunya. Cepat dia mengaju tanya: "Tio. Disambutnya juga senyum itu. Tio tersenyum tapi tertunduk. Bila angin dan hujan reda. meninggalkan nasib yang malarig di belakang. rasa dingin dan kantuk cepat menghilang. Bibit pertama yang akan mereka tanam di tanah habungkasan.

Dia melengking kecil. Batu jangkar sudah tujuh buah dijatuhkannya. Perubahan pada kedua tepi sungai tambah nyata. Cahaya yang menerobos ke dalam gua tambah terang juga. terbuat dari batu alam yang hitam. Bila arus bertambah kencang. tambah beda dengan tepian sungai yang sudah mereka lewati. membuang butir-butir air yang melengket pada bulunya. Tepian sungai menjadi tambah tinggi juga. Karena. Pendengaran terus dipertajam Ronggur. menghadang sungai. bila air sungai jatuh ke akhir dunia. mula dari impiannya. Air yang bertemperasan ke dinding tepian batu. tanah subur yang landai. Gelisah tidak pernah henti. Tapi.Karena itu dia hanya menelan air liur mendengar omongan Ronggur yang punya kepastian itu. Bahaya. dapat dikuasai karena dibantu batu jangkar itu. lalu memulai perjalanan lagi. Itulah gunung Batu yang diterobos air sungai yang arusnya bertambah deras. namun kelajuan perahu terus bertambah kencang. Atau. Ronggur dan Tio bersama si belang cepat-cepat meninggalkan gua. Tali temalinya bertegangan diseret perahu. Tapi. Air sungai terus menerus mengarah ke satu bukit yang seolah tegak berdiri. Dan. Karena itulah. Tambah lama tambah berbentuk semacam terowongan. air terus menerobos. namun suara gemuruh belum ada kedengaran. atau ujung dunia. Seperti tidak terkendalikan. Angin tambah melemah dan hujan sudah mulai teduh. dia masih meneruskan penyusuran itu. atau suara lengkingan itu tersekat dalam kerongkongan. Sudah lebih dari lima batu jangkar dijatuhkan Ronggur. kelajuan perahu terus bertambah. berangsur secara perlahan. pikir Ronggur. batu jangkar terus . masih jauh. berdesis dan muncrat ke sana kemari. tentunya menimbulkan suara gemuruh yang dahsyat. Tapi. Menyusuri sungai. desis air yang menyayat pendengaran itu tetap juga. terhunjam ke dada bumi. Si belang menggoyangkan tubuh.

Pada tiap riam. Dan. keadaan begitu bertambah jauh menyusuri sungai. Kelokan sungai yaitu patah tambah sering mereka temui. Dan. Mereka tidak bisa lagi dengan leluasa melihat matahari. Pada puncaknya yang masih bisa dijangkau mata tidak ada sesuatu yang tumbuh. Air sungai menjadi lebih dingin dan hitam. selain dari tumbuhan kerdil yang tidak berdaun hijau. Namun mereka tetap berlayar. Begitu curam dinding batu itu. Sebuah kata pun tidak ada yang diucapkan. Sekitar menjadi taram-temaram. Segala perasaan dikerahkan meraba yang menanti di depan.dijatuhkan. bertambah memanjang. Melanjutkan perlawanan terhadap arus sungai yang setiap saat bertambah kencang juga. bermula dari air yang bertemperasan ke sisi sungai dan lebih hebat pada salah . tanpa mau melepaskan seketika saja pun selagi perahu terus berlari dibawa arus. bisa juga temperasan masuk ke dalam perahu. Dan pada setiap akhir kelokan riam sungai teap ditemui. terkadang wajah Ronggur sendiri disembur air. Air yang bertemperasan pada dinding batu tambah mendesis dan menyayat pendengaran. Tio cepat menimbanya. Pada riam yang lebih curam. yang terus memegang kemudi. Membuat mereka terkadang tidak dapat mengetahui peredaran waktu dengan pasti. walau dinding perahu sudah tinggi dibuat. air sungai gelisah warna putih melambung ke atas. Ronggur hanya tinggal menunggui kemudi. membuangnya kembalinya ke sungai. Mata terus-terusan ditancapkan ke depan. Begitu seterusnya. Ada kalanya sinar matahari seperti tidak sampai pada permukaan sungai karena disungkup kedua dinding batu yang bertemu puncaknya. Tepian sungai yang terbuat dari batu alam bertambah tinggi juga. Tahulah Ronggur suara desisan air yang menyayat pendengaran itu. Pancing yang diumpankan Tio tidak pernah lagi mengenal Ikan bertambah jarang atau memang tidak ada sama sekali.

Mereka harus hati-hati melewatinya. di tengah si belang. Biarpun dia tahu bahwa sungai sangat dalam. Tidak sedikit terlempar ke dalam perahu. Air yang bertumbukan dengan batu mencuat itu menjadi gelisah dan liar. dan nasib sudah teraba bentuknya. Bertemperasan. Suara air yang bertemperasan ke dinding batu. Dalam saat begitu. Sudah lebih sepuluh batu jangkar yang mereka jatuhkan. Seperti mereka berada dalam satu lembah yang sempit diapit kedua sisinya yang tinggi. Air seperti membulat. Peralatan mereka menjadi basah. terasa sangat membosankan. Cepat . Celah dinding sungai di atas bertambah kecil juga. Tapi. Dada dipukul detak hati yang tambah mengencang. Perut perahu menjadi tergenang air. Begitu pula tepian sungai yang landai. Selain kayu bakar tidak ada. terus menerus mengisi pendengaran. Kelanjutan perahu terus juga menggila. Tio harus cepat menimbanya. mereka harus menahan dingin malam yang menyiksa. perahu akan pecah remuk. Tio di hulu perahu Ronggur di buritan. menghadang. tahulah Ronggur bahwa sungai amat dalam. Bila terdampar ke sana. Mereka lalu tidur dalam perahu tanpa unggun api. Terlebih pula tidak ada yang menyelingi. Karena itu.satu tikungan. Arus sungai terus menerus bertambah kencang dan tambah menggila. menghidupkan api dalam perahu berarti bunuh diri. mereka hanya bisa menambatkan perahu ke salah satu tungkul batu yang mencuat. wajah Ronggur terus menantang ke depan. Meneliti dan menduga sesuatu yang sedang menanti. tapi pada tikungan yang dilalui terkadang ada juga batu muncul ke permukaan air. Begitu menyiksa terasa. pandang mereka sering ketemu. kalau cahaya yang menerobos dari celah dinding sungai di atas itu me lemah. Mereka tidak ada lagi menemui gua alam. Air membiru sudah seperti menghitam. Dari warna biru permukaan yang sudah menghitam itu. jadi.

Walau terkadang hanya tertumpu ke dinding batu pertanda sebuah tikungan. Arus sungai menggila Batu jangkar sudah lebih duapuluh biji dijatuhkan. tambah nyala: mengguruh. Tio tidak terus-terusan atau tidak tekun lagi menatap ke depan saja. yang berarti pekerjaan Tio tidak ada. Tio tertunduk. Mulanya sangat lemah sekali. Begitu pula Ronggur yang berada di buritan perahu. Suasana tambah menekan. ke mana diri akan dibawanya. agar kepala Tio tidak tersangkut pada salah satu lingkungan dinding sungai yang terkadang begitu rendah. Tio menyelimuti diri dan juga si belang. Wajah Ronggur agak pucat juga dibuatnya. dia selalu melemparkan pandang ke depan dan menggunakan segala perasaan. Dan. Ronggur seperti tidak me lihatnya.dipalingkan. Mata Ronggur terus memandang ke depan. Tapi. Tikungan bertambah sering ditemui. bila utusan cahaya kembali menerobos celah dinding sungai di atas itu. Atau. Namun perahu seperti diseret dan dilarikan setan saja kencang nya. Hanya air sungai yang dingin diteguk sehabis cuci muka. mereka akan meneruskan perjalanan lagi. Arus sungai tambah menggila. tapi cepat saja Ronggur menyuruhnya agar duduk kembali. Dinding sungai bertambah tinggi dan tandus. Jiwa tambah terasa dihantam habis-habisan. menempuh jalur sungai yang tidak dapat teraba. Suara yang lemah itu. T idak mereguk air panas lagi di pagi hari. Ronggur. Sudah sering dia berpaling ke belakang menatapi. Agar tatapannya tidak terhalang. Tambah lama tambah nyata. yang selalu mendekat padanya dengan lengkingnya yang tersekat dalam kerongkongan. Bila temperasan air yang melemparkan air ke perut perahu tidak ada. yang bangkit di depan itu. Mengancam nadanya. mengancam siapa saja . Terkadang Tio berdiri meregangkan tubuh yang kaku. Bibirnya gemetaran.

memohonkan ampun atas keangkuhan mereka berdua. Lalu terus ke depan. Tapi. Memercik ke sana ke mari. sambil berteriak: "Ronggur. tingginya alangkah jauh lagi curam. "Ronggur. melengking. Matanya sebentar melihat ke kiri dan ke kanan. Dia masih meneruskan pelayaran. Tiba-tiba saja biasan cahaya mencurah ruah. Suara gemuruh di depan tambah jelas. Seperti tidak terdaki layaknya. Pecah. Yang telah berani menantang ketentuan dewata. Tio tidak bisa lagi menimbanya. Tiba-tiba saja Tio menghantamkan tangan ke haluan perahu. Walau air tidak tertumpuk pada salah satu batu yang mencuat di permukaan sungai. kau tidak mendengarkan aku? Mendaratlah ke tepi. Sering dia menyebut nama dewata. meledak teriakan panjang dari mulutnya: . Dengan tidak berapa dikuasa iya pula. Apakah kau mau bunuh diri?" Berbaur akhirnya dengan suara gemuruh di depan dan desis air dan suara riak sungai yang menari gila. Tidak dengar suara gemuruh yang mengancam itu?" Masih tidak diperdulikannya. Perahu terangguk-angguk dan tergoncang. Begitu liar.yang berani mendekat. Ronggur menatap ke depan dan pendengarannya terus dipertajam. Tapi. Banyak terlempar ke dalam perahu. Namun Ronggur belum mendaratkan perahu. Jangan teruskan lagi mengikuti sungai. Tio terus menjerit. Dalam jeritannya sering dia memanggil nama almarhum ayah bundanya. celah dinding melebar di atas. namun riak air sudah seperti gelombang. Suara gemuruh itu seperti suara dari sesuatu benda yang jatuh ke satu tempat yang amat dalam. mendaratlah. Urat saraf Tio seperti lumpuh karena terus-terusan ditekan suasana ketegangan. cepat bertukar tempat. Namun Ronggur tidak memperdulikan atau tidak mendengarkan.

dengarlah aku. dia mengangkat kepala. Talinya tetap sangkut pada sebuah gundukan batu yang mencuat agak panjang dan besar. . pipinya basah kuyup oleh air mata. kokoh tertanam." Tio mengerjakan semua yang dimaksud Ronggur. Sedang Ronggur tambah memperkuat tambatan mengikat pinggangnya dengan tali. kuatkan dulu hatimu bahwa kau sanggup mendakinya. Dia menatapi Ronggur dengan biji mata yang tergenang air mata. Mungkin tidak ada air di sana. Tiba-tiba saja tangan Ronggur mengayunkan tali ke dinding sebelah kanan. jagalah dirimu. "Si belang bagaimana?" . Aku cinta padamu . Kau lihat dinding sebelah kanan itu? Kita harus mendakinya ke atas. dia mulai mendaki. Tapi." kata Ronggur. Perahu sudah tertambat dan sudah terhenti walau arus sungai berusaha melarikannya. . . Ronggur mengangkat kepala mendengar jeritan Tio itu. sedang ujung satu lagi dibebaskan. Dan. Kemudian bambu itu isilah dengan air. Dapat dipercaya. Marilah dulu makan daging kering. dulu mendahului riaknya. dan sebuah gulungan lagi disandang. Air sungai tambah membulat dan berlari kencang. Sewaktu Tio merasakan bahwa perahu mereka tergoncang kuat karena ada yang menarik dan ada yang menahan. isaknya belum henti. Kita harus meninjau dari sana. yang meledak dari dasar hatinya. kita memerlukan air barangkali di atas sana."Ronggur. Kedua pelupuk matanya. "Hapuslah mata dan pipimu. cepat dihentikan T io dengan teguran. . Aku tidak sanggup melihat mata yang digenangi air mata yang bening. Tapi. Biar kita punya tenaga. sebelum itu. . diri kita berdua . Kita masih harus menempuh perjalanan yang jauh." Perahu tambah dalam dan kuat anggukannya. Supaya kita dapat tahu yang ada di depan. . "Keringkanlah. Dinding sungai agak landai tapi tetap mendaki ke atas." lalu tangisnya berkepanjangan. "Ronggur.

Suara yang menakutkan dan mengancam itu terus bergema. Kau perlu turut ke atas agar ada nanti yang menarik peralatan-peralatan kecil ke atas. yang untuk beberapa hari lamanya tidak mereka lihat. di perutnya si belang menatap ke arah mereka sambil menjulur lidah. yang sudah beberapa hari basah saja. Atau. Tio membelitkan bungkusan yang berisikan bekal. keadaan tetap sunyi. Dari sana sudah dapat kembali mereka tatap keluasan langit. Walau sinar matahari melemah. Agak mencong jalannya tapi terus mendaki setapak demi setapak. Terkadang Tio menatap ke bawah melihat perahu mereka yang terangguk-angguk. namun merasa lemah juga mata menatap yang sudah sering ditatap tapi yang buat beberapa hari tidak ditatap."Biarlah tinggal dulu di perahu. tali itu bisa ditahannya kalau Ronggur sendiri yang tergelincir. Kemajuan pendakian itu lambat sekali. kita memang sudah harus mendarat di sini. Tio memegang ujung tali satu lagi yang ujungnya dikaitkan pada pinggang Ronggur sebagai pegangan. Namun tetap pasti. Tidak vertikal. Aku akan turun lagi. Ronggur maju menanjak sambil terus membuat semacam anak tangga pada batu padas. Atau. Tajam lidah batu alam seperti menusuk telapak kakinya. Tapi. . Tidak ada pertanda kehidupan. Mengikat peralatan itu dan membawa si belang ke atas. Supaya ada tempatnya bergantung kalau dia tergelincir. Tak ubahnya mereka seperti baru keluar dari satu lobang alam yang kelam lagi sunyi." Di pinggangnya diselipkan penggada dan kampak digenggam. Si belang menggonggong kecil. yang tidak memberi kesempatan pada mereka untuk menatap keluasan langit. Kita perlu mengadakan peninjauan. baru dia mendarat. Tangga demi tangga dibuat Ronggur dan didaki. lehernya digoyang-goyangkan. Lebih dulu dielusnya leher si belang. yang terus diikuti Tio. Mereka sudah di pertengahan pendakian.

agar dapat ditangkap pendengaran. Di kanan. Di sebelah kiri. Tidak bertepi dan tidak bermula. Betapa bersukur hati Ronggur. Itu pun tidak jauh-jauh ditatap. tidak memberi kegembiraan. Karena itu." selalu katanya. dia sering membesarkan hati Tio. hari sudah sore. Sebelum gelap mereka sudah harus sampai di puncak. waktu tangannya sudah dapat menggapai puncak yang dituju. T idak jauh lagi. Tapi. Angin meniup. Di depan sekali suara mengguruh itu menanti. karena ada sesuatu yng menyungkap. namun Ronggur melarang meminum air sekali banyak-banyak. Keringat meleleh dari tubuh masing-masing. yang mengancam. sebentar lagi. Ronggur tahu. Seperti memancur. . Teruslah mendaki. tapi suara yang mengancam kehidupan dengan liar mengguruh di depan. putih kental seperti kabut. "Sebentar lagi. seperti diselaputi sesuatu dan tidak punya dasar tampaknya. hanya sejalur batu tandus dan di sana-sini berlidah tajam. tidak mampu menembus keputihan yang mengental. lembah yang dasarnya sungai yang menggila arusnya. Setiba di puncak. awan rendah. Tidak bisa perlahanlahan. perasaan lega itu tidak lama mengisi ruang dada. jaluran batu padas yang lebarnya hanyalah barang sedepa. Penemuan ini membuat hati terpukau.Yang ada hanya gemuruh yang menakutkan. Tidak lebih. Ke arah depan dan belakang. Dan arah matahari dan lemahnya sinar. Atau." Mereka harus bercakap kuat-kuat. lembah putih. agak licin di sini. tahulah mereka yang ditemui. hatihati. agar bisa lebih mendaki tanjakan. Tapi. Matahari memancarkan sinar kemerahan yang lemah. "kita sudah sampai ke atas. Tidak ada satu suara pertanda kehidupan. Sudah cukup haus Tio.

Sekeliling begitu dingin membeku. Berlagak mau . dia membimbing tangan Tio." kata Tio pelan sekali. Ronggur berjalan di depan. sempoyongan. Tidak berapa lama tari warnanya menghias langit. Dapat juga mereka temui tempat yang agak luas sedikit. menggenggam tali lebih kuat dan begitu dekat di belakang Ronggur. tanpa percaya diri. Terasa ngilu. ke jurang tanpa dasar. Seperti mengantar mereka ke tempat tujuan akhir. Gigi gemelatukan. Tambah lama menjadi hitam. tidak ada lagi sinar cahaya percaya diri. Senja tambah samar. salak si belang dari dasar sebelah kiri kedengaran. Karena dia pun seperti kehilangan semangat. Lidah batu yang tajam menusuk telapak kaki. Namun tanpa bicara. Karena. Ronggur membiarkan. Melangkah berserah diri. Tio tidak berani jauh-jauh dari Ronggur. awan rendah menyungkap. Sebelah atas mereka. T idak tampak bintang atau bulan. bergerak ke depan perlahan-lahan. Ronggur menoleh kepadanya seenak tanpa mengatakan sesuatu. Geraknya seperti gerakan yang bermula dari kedalaman. "Kita akan mati lemas di sini. Sesayup sampai. Tekad hati yang padu menjadi cair. sekira tiga empat depa luas jaluran di sana. Dia gamang. Mereka memutuskan untuk bermalam di sana. cepat kelam. Awan rendah menyungkap semua atau memang langit begitu rendah. Mereka terus melangkah. Tio di belakang. jalannya begitu licin. Melangkah begitu saja. T idak ada yang dapat dibakar. Kental. Sesekali mereka hendak tergelincir jatuh ke bawah.Berlagak mau melumpuhkan dan mematikan tekad hati yang sepadu-padunya. Pada sinar matanya. Bisu. Satu sama lain tidak bisa mengeluarkan pendapat. Mati. Mereka rasakan langit begitu dekat. Tubuh menggigil. Tio lantas saja memeluk tubuh Ronggur dengan gemetar.

melingkar. dunia jauh lagi as ing. Tidak pernah hujan begini tipis. Tapi. desis air sungai yang bertemperasan ke dinding sungai. "Apakah sudah pagi?" "Aku tidak tahu. dipikirnya hujan turun. Ronggur tidak dapat tidur walau tubuh cukup capek dan payah. Berusaha mengikuti perobahan alam kalau memang perobahan itu ada. Lama-lama hitam pekat itu beralih pula. Lagi-lagi Tio mengaju tanya. Ada juga dirasakannya kebenaran yang diucapkan Tio itu. Ronggur terus membuka mata. Semalaman matanya terus terbuka." kata Tio pula. Pada satu saat angin bertiup dari arah depan." Kembali mereka diam. Tapi. kita sudah basah. Namun mata hanya dapat menembus sekira empat lima depa saja. Tapi. Melumpuhkan perasaan yang ada dalam diri. kepekatan yang menghitam itu sudah kembali agak memutih. dapat kembali ditatap. sampai di situ saja. "Apakah hujan?" tanya Tio." katanya menasihati walau diri sendiri bimbang. Butiran air halus memerciki tubuh mereka. "Aku tidak tahu. Suara gemuruh. tapi begitu lemah. sekira empat lima depa. lagu tunggal yang abadi. . tetaplah waspada. tapi menakutkan. Akhirnya dapat diketahui Ronggur. Tio. Sampai payah bernapas. "Ke mana lagi kita harus pergi?" tanya Tio pula. Lagu kematian yang hendak mengantarkan para arwah ke tempat abadi. Tio jatuh tertidur sambil menggulungkan atau melipatkan kakinya dekat ke dadanya. Seperti ada utasan cahaya putih. Air begitu tipis." "Barangkali kita sudah terjebak. Tapi.menyelimuti segala. "janganlah berkata begitu. Sekitar.

akhirnya muncul kembali."Tabahlah. "Kalau kita surut. "kita tidak bisa lagi menempuh jalan sungai. Kembali dia teringat pada s i belang. "Sekalipun kita harus kembali ke tempat asal. mencari tangga yang dibuatnya semalam. pikir Ronggur. Kemurnian cita yang digenggam kembali memberi suluh pada keyakinan. pada perahu. Dengan perahu itu dia akan mendatangi tempat Mula Jadi Na Bolon. Bila perintah datang. tentu dapat melembutkan hati Mula Jadi Na Bolon yang pengasih penyayang itu. tapi marilah dengan tabah mendekatinya." bujuk Ronggur. Tio memegang ujung tali di atas. Beberapa saat kembali hening. Semua peralatan itu akan menjadi saksi di depan Mula Jadi Na Bolon. Tio terdiam. tapi dengan alasan kenapa dia harus mengarungi Sungai Titian Dewata." kata Tio pula. dia mau menghembuskan napas dengan tenang di perut perahu itu. ganjarannya. dia harus menjemput si belang dan peralatan serta perahu itu kembali. ke tempat Mula jadi Na Bolon." "Kita terjebak di s ini. Tapi. secara berangsur." sahut Ronggur. kita telah melaksanakan tugas kehidupan. tentu tidak bisa melawan arus yang menggila." sahut Ronggur. "Ya. aku tahu. Ronggur mencampak pandang ke sebelah kiri. Dia mulai menuruni anak tangga yang dibuatnya semalam. pada peralatan yang masih tinggal di sana. melalui . kepercayaan akan diri sendiri. Sedang Ronggur setelah dicekam habishabisan oleh perasaan takut. Lalu diputuskan. tentang tujuan citanya." "Tidak terjebak. Bilapun Mula Jadi Na Bolon murka." Tio terdiam. Perahu itu seperti rumah dan tempatnya terakhir. Marilah tabah menerima upahnya. Kalaupun ajal tiba.

goyangan tali yang digoncang Ronggur, Tio mengulurkan tali lebih panjang. Sesampai di bawah, Ronggur mengikat peralatan kecil. Dengan berteriak sekuatnya, sekerasnya, disuruhnya agar Tio menarik. Tio menarik. Kemudian menjatuhkan tali lagi ke bawah. Ronggur mengikat perahu baik-baik. Mengisi air pada bambu tempat air yang dilobangi ruasnya, tapi ruas sebelah bawah tidak dilobangi. Air bisa tersimpan baik di sana. Kemudian dituntunnya si belang. Kembali dia mendekat ke atas. Merabaraba. Terkadang harus digendongnya si belang. Si belang seperti tahu marabahaya yang sedang mereka hadapi. Dia menuruti segala petunjuk Ronggur dengan baik. Setiba dipuncak, bersama dengan Tio, ditarik mereka perahu ke atas. Perlahan-lahan agar tidak terbanting ke tebing bukit batu, yang bisa membuat perahu pecah. Mereka masukkan semua barang bawaan ke perut perahu. Tapi, kampak terus digenggam, sedang di pinggang menyelip panggada. Dia tambah yakin lagi pada diri sendiri. Perjalanan itu tidak boleh surut dan tidak boleh henti. Harus terus maju. Sampai tiba ke tempat yang menentukan. Diputuskan akan terus mengikuti jaluran batu yang tidak berapa luas itu ke depan. Ronggur di depan. Tio di belakang. Mereka pikul perahu, jalan sempit terkadang, luas terkadang. Keadaan masih tetap sama. Hanya beberapa depa dapat ditembus pandang. Kabut tebal atau awan rendah menyungkup segala dengan putihnya yang padu. Tambah maju ke depan, suara gemuruh itu bertambah jelas. Dan, alas yang mereka pijak seperti mempunyai getaran kecil. Digoncang sesuatg tenaga yang maha kuat dan dahsyat. Membuat hati kembali tertekan. Namun dengan tabah serta keberanian yang bangkit perlahan-lahan, Ronggur terus memelopori perjalanan rombongan yang kecil itu. Menuju tempat yang menentukan, mimpinya benar atau memang mimpi itu godaan setan jahat. Si belang mengikuti langkah

Ronggur, dekat sekali di belakangnya. Si belang tidak berani mendahului ke depan. Tidak menggonggong. Hanya melengking kecil. Cahaya putih yang lemah itu menjadi tambah lemah lagi. Keadaan sekitar kembali menghitam. Ruang hampa. Kembali mereka mencari tempat istirahat. Air tipis halus itu, sudah terus-terusan menghambur dari asalnya yang tidak tahu di mana. Ronggur mengosongkan peralatan mereka dari perut perahu. Kemudian, perahu dibalikkan. Disuruhnya Tio dan si belang berondok ke sana, agar tidak terus-menerus diperciki air tipis. Dia sendiri tetap di luar. Tidak hentinya melihat sekitar, walau yang dapat ditembus pandang hanya beberapa depa saja. Dingin mencekam. Ronggur tidak tahu, Tio menggigil juga dalam sungkupan perahu, kedinginan. Wajah dan bibirnya menjadi pucat. Tapi, Tio tidak mau mengatakan. Tidak ada sumber panas yang bisa menyamankan sedikit. Kembali warna putih yang lemah itu mendatang dari segala arah. Tapi, begitu lemah. Kembali mereka melanjutkan perjalanan, mengikuti jaluran setapak itu. Keadaan cuaca masih tetap seperti semula. Terkadang jaluran itu mendaki, tapi terkadang menurun, untuk mendatar lagi. Jalanan bergelombang. Terkadang melurus, tapi tidak jarang memenggok ke kiri dan ke kanan. Mereka mengikutinya dengan tabah. Tapi, harus lebih hatihati, jalanan bertambah licin. Air tipis tambah tetap berhamburan dari sumbernya. Suara gemuruh di depan yang membosankan itu, tetap mengguruh. Si belang tidak berani lagi berjalan sendiri. Dia harus dimasukkan ke perut perahu, didukung. Beban bertambah berat. Di saat tubuh mulai melesu. Di saat kepercayaan terakhir mulai merenggang dari tubuh T io.

Sambil mengisak, Tio meminta, agar mereka menghentikan perjalanan. Dia mendudukkan diri begitu saja. Tempat itu agak luas sedikit. Sehingga mereka bisa agak leluasa sedikit bergerak. Namun harus tetap hati-hati. Karena basah, licin. "Ada apa Tio?" tanya Ronggur sambil mendekat. Tio menundukkan kepala. Mengisak terus. Wajahnya memucat. Bibirnya gemetar. Dingin. Sambil duduk di depan Tio, Ronggur mencari dagunya. Diangkatnya perlahan dengan telapak tangan yang menggetar juga karena basah. Ditatapnya wajah, bibir, dan mata Tio yang memucat sayu "Kau capek Tio?" Belum ada sahutan. "Katakanlah." "Katakanlah." Tapi, begitu bening dan terasa agung. Ronggur tidak dapat memancarkan sinar merah lagi di matanya. "Marilah menanti hari esok di s ini, bila hari esok masih ada. Marilah menanti apa saja di sini, apa saja," Tio lalu menundukkan kepala. Melepaskan dagunya dari telapak tangan Ronggur. Air berhamburan terus, membasahi tubuh mereka. Tio mulai menggigil. Si belang juga. Terus membulatkan tubuh dalam perahu, tidak berani turun. "Katakanlah, apa yang harus kita kerjakan lagi Tio," kata Ronggur melemah. "Aku telah membawamu ke tempat yang hampa ini. Apakah kita harus pulang ke kampung halaman, yang telah melemparkan aku, yang tidak menerima aku lagi menjadi warganya? Nasib telah tertentu di sana, nasib yang malang menanti diri. Katakanlah Tio, aku akan mengikutinya.” "Marilah berhenti di sini," sahut Tio akhirnya. "Kupikir tidak ada lagi gunanya kita meneruskan perjalanan ini. Marilah pasrah di s ini. Berserah dengan hati bulat ke tangan Mula Jadi Na Bolon. Bawalah daku padanya sebagai sembahanmu, agar

" Suaranya begitu lemah. Barangkali." Perlahan." Arwah nenek moyang Tio akan menerima arwahnya di tempat yang baik. Sambil mengisak dia mengatakan. Ronggur? Sungguh?" "Ya. aku yang membawa kenahasan ini padamu. "Kalaupun kita mati. sebagai orang yang sama hak. kembali Ronggur mengangkat dagu Tio. Ditatapnya lama biji mata yang sayu itu. Marilah berpasrah diri di depan Mula Jadi Na Bolon. Tidak ada sembahan kubawa ke hadapan Mula jadi Na Bolon. ." Tio terdiam. Ronggur. Berhadapan dengan kenyataan ini hatinya jadi bersorak gembira. Maafkanlah aku. Jauh-jauh. terhormat. membuai mereka berdua. Mendudukkannya. Tio menjatuhkan diri ke ujung kaki Ronggur. melengket di sana beberapa saat. Dia tambah mendekatkan bibirnya ke bibir Ronggur. Jari jemarinya meraba pergelangan Tio. selain diri sendiri. Matinya. Air mata yang menggenangi pelupuk matanya tidak bersumber dari kepiluan dan ketakutan lagi. Terayun dan dibuai sebuah lagu yang selama ini terpendam di dasarnya. seperti kau lihat. Tio sudah merdeka kembali. sama-sama orang merdeka. Sesuatu benda hangat tapi lembut menyentuh bibirnya. direnggutkannya gelang yang dipakai Tio. "Kau merdekakan aku. Tapi.Mula Jadi Na Bolon tidak marah padamu. Lalu dilanjutkan Ronggur. lupa hal yang menghadang di depan. bermula dari perasaan gembira. Walau apa yang telah kita temui. Lalu dengan hentakan kasar. "Janganlah kembali ke sana. pertanda dia seorang budak belian. lupa siksaan. mati bersama. mati seorang manusia yang merdeka. ya barangkali. Gelang itu dicampakkan Ronggur sekuat tenaga. Sekarang berlomba bermunculan. Lupa kepahitan.

Berani mengarungi segala kemungkinan. "semuanya. Sampai tahu kepastian yang akan kita temui. ." kata Tio dengan tegas. . "maukah kau." Ronggur tersenyum. karena ada cita tergenggam di tangan dan di hati." "Tidak." "Tio." kata Tio tegas. "marilah melanjutkan perjalanan."Ronggur. Memohon ampun atas keangkuhanku. istriku. Lalu. Sudah terlalu kelam untuk melanjutkan perjalanan. "Aku cinta padamu ." Tio menangkap leher Ronggur. Kita harus maju. Boleh jadi. tidak ada akhir. Lagi pula kita telah menemui yang kita cari di sini. bila kita mati. lalu menciumi bibir Ronggur lagi dengan bertubi-tubi. Tio tersenyum. permulaan yang tidak punya akhir.." Tio memperbaiki duduknya. Yang tabah bersama suami mengarungi kehidupan. "Kita harus istirahat dulu di sini. karena mau turut mempertaruhkan keyakinan suaminya. di sini akhirnya. Ke tempat para dewata bersemayam. dari mulutnya keluar kata. Ronggur memimpin doa: Mula Jadi Na Bolon Asal mula dari segala kehidupan Padanya kembali karena dia yang punya Terimalah kedatangan kami Hambamu . Istri yang paling setia. "Marilah bersujud ke hadapan Mula Jadi Na Bolon. aku akan mengatakan pada Mula Jadi Na Bolon bahwa arwahmu bukanlah sembahanku. Kita tidak boleh pulang." bisik Ronggur. Hanya permulaan. Telapak tangan Tio masih terus mengelus rambut Ronggur yang basah." Ronggur tersenyum. Tapi. yang telah membawamu ke tempat ini.

terusterusan berhamburan. batas ruang dan waktu tidak berarti lagi. Bersama mereka menyuruk ke perut perahu yang dibalikkan. Perlahan . Si belang keluar dari sungkupan perahu. Menggigil kedinginan. baik waktu. Sekitar menjadi kelam kembali.Karena keangkuhan yang berbenah dalam diri Kami telah tiba di s ini Melanggar peraturanmu! Ronggur menggenggam tangan Tio. seperti tidak mau dipisah lagi. walau dia dan Tio berpelukan di bawah telungkupan perahu. Karena cinta telah punya laut dan pelabuhan. Berjaga di luar perahu. Dan. air tipis itu. baik ruang. lalu dilanjutkan: Karena darimu mula cinta Napasmu sangkala cinta Satukanlah aku dan Tio Suami isteri yang dihidupi api cinta Tebarkanlah api cinta Tiuplah api cinta Membakar dada kami Dari saat ke saat tanpa akhir! Kembali mereka berdua berdekapan. ccdw-kzaa 6 Ronggur terbangun.

Perlahan me lepaskan pelukan Tio. lalu dijulurkannya kepala melalui celah. katakanlah dulu sudah pagi. Tapi. yang ada hanyalah kehampaan yang tidak bertepi. Tapi. Dari mulutnya perlahan berbisik. perobahan pada yang hendak kita temui. "Kenapa kau buruburu bangun? Apalagi yang mengejarmu? Bukankah sudah semua kita lalui dan sekarang kita hanya tinggal menantikan yang akan terjadi." "Wajahmu capek kelihatan. tapi sampai kini masih hidup dan mengenal hari. Dia telah mengenal kabut pegunungan dan danau sejak kecil. permulaan dari segalanya?" Ucapan manja bercampur kekanakan. Masih seperti saat lalu.diungkapnya pinggir perahu. dan waktu kini. ." "Apa sudah pagi?" tanya Tio. Bermalas-malas. lalu seperti! anak kecil. Kita sudah beranggapan bahwa tidak ada lagi hari." kata Tio. Tapi. "Aku tidak tahu. kabut yang begini rupa tebalnya dan lamanya belum pernah ditemui sebelum itu. Lihatlah sekitar. "Semalam atau ya saat lalu. Tapi. Hingga waktu lewat. bila tangan digapaikan ke atas. hari lalu. Masih disungkup kabut atau awan rendah yang masih tebal. Cahaya putih yang lemah sudah ada lagi. membangkitkan iba Ronggur. hanya masih begitu lemah. kita sudah berpendapat bahwa kita tidak akan melihat dan mengecap saat lain lagi. dengan tegas dia menyahut. dia menciumi pundak Ronggur. Hari yang kita harapkan membawa perobahan pada nasib yang mendatangi diri. Atau. Atau. Kembali tangannya dilingkarkan di leher Ronggur. Waktu itulah Tio bangun. yang sudah ditopang oleh batu yang diganjalkan. hari yang kita nantikan kemaren. awan rendah belum pernah melingkupi tanah serendah itu. Langit seperti di atas kepala saja dan dapat dijangkau tangan.

Namun tetap naik atau berusaha naik ke atas. Sinar yang dipancarkannya sedang mengadakan perlawanan atau berusaha menghancurkan kabut putih atau awan rendah itu." "Kita masih mengharapkan?" "Selalu. "Lihat." kata Tio. Tidak kau lihat? Lihat ke bawah sana. Begitu putih hingga memijarkan sinar. "Lihat. Mereka mencuci muka dengan melapkan tangan saja karena wajah mereka tetap basah. Panas tubuh mereka berdua yang merapat. Tio terus merapatkan tubuhnya ke tubuh Ronggur. namun pandangnya masih tetap disungkup diputihan. Tapi. karena dia tetap kedinginan yang tambah lama tambah bermaksud membekukan diri. Tio tersenyum. putih dan lebih putih dari semua." Tampak oleh mereka berdua sebuah benda putih yang kecil tapi bundar. Dengan mengulurkan lidah. janganlah pergunakan harapan untuk harapan saja. "apa kau pikir itu?" "Apa maksudmu?" tanya Tio. bisa sebagai bedeng."Tidak mengapa. Untuk menyingkirkannya. mengatasi segalanya. Lurus ke depan. Deru . beberapa titik air dapat ditelan sebagai sarapan pagi. tapi sinar lemah. bisa menimbulkan panas. Di arah darimana bermula angin itu. Ronggur berusaha menatap sekitar. Harapan. bergerak dengan lamban seperti bermalas-malas. satu-satunya api yang dapat membakar semangat hidup. Perlahan dirasakannya angin bangkit. Dibaliknya terkandung kegembiraan dan harapan selalu. Merapatkan kepalanya ke pundak Ronggur." "Cakapmu tidak dapat kuartikan. Tapi." kata Ronggur kemudian. Agar bisa dapat dilihat mata apa sebenarnya yang ada di sana. seperti itulah gayanya. Harapan harus dapat melahirkan sesuatu yang berwujud dalam kenyataan kerja.

Kuping benda bundar putih tidak memperdulikannya. Mereka belum pernah melihat tamasya alam begitu rupa. Detak hati yang menandakan diri anak manusia biasa. entah berapa lama mereka tenggelam dalam keadaan begitu. Mereka memang tidak tahu lagi. mendaki ke ketinggian. Dalam saat begitu rupa. matahari tetap berada di atas. segala perasaan mencurah keluar. Hati mereka menjadi tambah menduga. Hati berdenyut juga walau sudah punya tekad. sekali hapus saja akan hilang tapi cepat melengket di sana butir air yang lain. Mulut mereka ternganga. Bila butiran air tambah menebal melengket di wajah. apalagi yang harus mereka hadapi. Sesuatu benda putih yang bundar mengadakan perlawanan terhadap sesuatu yang melingkupi segala dengan warna putih. tapi tidak berwujud. dia memerlukan kelembutan yang bermula . Tapi. rnatahari bisa dilihat seperti berada di bawah. hampir menyerupai bundar matahari yang mereka kenal. Bundarnya. Benda putih bundar itu merangkak perlahan. bersedia menerima segala tiba. kenapa pandang mereka terpaut mengikuti gerak perlahan yang menanjak itu. di rambut hingga menyusahkan mata untuk menatap. Tidak disadari mereka. Namun mata mereka terus mengikuti gerak lamban dan malas dari benda putih yang semakin tinggi itu. sewaktu ditutupi awan di langit.yang terus menderu di depan memberi gendang layaknya. mereka tahu. Mata mereka terus mengikuti gerak ma las dari benda putih yang bundar itu. Dan. Tidak mati-mati. Biar sesaat pun. mengikuti perjalanan benda bundar yang lemah itu. Mulanya tipis. bila sudah menebal. dihapus dengan telapak tangan. Mereka belum dapat menduga. Mereka tidak pernah memikirkan bahwa pada satu saat dan tempat yang berobah. Lama kelamaan menjadi tebal. warta yang akan timbul darinya. Tidak disadari mereka. Dari tubuh Ronggur sendiri.

Kalau mati. Lidahnya dijulurkan. sungkupan awan rendah bercampur kabut tambah menipis juga dari sekitar. Bertambah garang cahaya yang memancar darinya. namun dasarnya belum tampak atau memang tidak punya dasar. cepat Tio memanggil kembali. Tebing yang tidak berapa curam itu . Perobahan yang tidak tersadari. Seperti menanti sesuatu yang menentukan akan tiba. kata hatinya ke diri sendiri. Tapi. Bila cuaca bertambah terang. Mereka ikuti terus dengan tabah. tidak bergerak. ke samping dan ke sekitar. seperti melemaskan otot. takut kalau Tio menjadi takut. Si belang turut duduk dekat mereka. si belang mulai sering melangkah ke depan dan ke belakang. Tio mendekatkan pipinya ke pipi Ronggur. Mulut jurang sungai tambah berbentuk. Tapi. Jarak yang dapat ditangkap pandang bertambah jauh dan luas. dasarnya belum tampak sama sekali. Dia tambah mengeratkan pelukannya ke pinggang Tio. dan merasa ngeri. Perlahan sekali sehingga tidak terasa. Begitu pula mulut jurang di sebelah kanan. Jauh ke belakang dapat dilihat Ronggur. Tambah jauh jarak yang dapat ditangkap pandang. Tebing jurang tambah menghitam. Benda bundar yang putih itu bertambah tinggi juga. Tapi. takut kalau si belang terjerumus ke mulut jurang yang belum tampak dasarnya. marilah mati berpelukan.dari tubuh Tio. Dia tidak mau mengatakannya pada Tio. di sana tebing tidak berapa curam. Apakah benda putih itu akan menyuluh jurang yang tidak berdasar? Pandang sudah bisa mereka campakkan barang sepuluh depa ke depan. dengan tidak mau tahu pada mereka berdua yang mengikuti geraknya terus menerus. suatu harapan telah menggeliat dalam hatinya. Mata mereka terus mengikuti gerak perlahan yang terus menanjak di depan bermalas-malas. Bisa dituruni. bila hendak turun ke lembah di seberang kanan. Melihat ke arah yang mereka tatap.

Pucuk dedaunan itu seperti berombak ditiup angin lalu. . Tidak berapa sulit malah." Ronggur gugup. Karena dengan itu. yang dapat dilihat kehijauan yang merata. Angin pegunungan. Dapat dirasakan Tio. karena tidak menduga walau itu yang dicari dan diharapkan. "Ronggur. gugup sekali.menurut perhitungannya. angin pagi. itu dedaunan dari pucuk pepohonan yang tinggi. Lalu dia mengatakan perlahan: . terhempang kehijauan yang sangat luas. melalui tingkatan pundak bukit. Ronggur. membuat suhu tubuhnya menjadi naik. Sejauh mata memandang. itulah tanah habungkasanmu. "Dan. "Ronggur. Dia telah membawamu ke tanah habungkasan yang maha luas. Tidak dapat menyahut dengan segera. Ronggur. Dapat ditangkap dengan pandang sekarang. mereka telah menemui. lebat berimbun. Api dalam dirinya kembali menyala atau bara yang untuk beberapa saat tertimbun oleh debu. karena dengan itu mereka telah dibebaskan dari kungkungan yang mencekam dan mengancam. itulah yang ditunjukkan mimpi dan perkataan gaib dalam mimpimu." pekik Tio meninggi sambil mempererat pelukannya ke pinggang Ronggur. Semangatnya kembali hidup secara perlahan. "itu matahari! Itu matahari! Mula hidup! Itu matahari!" Cepat Ronggur berpaling. Sungkupan kabut dan awan rendah tambah menipis dan terangkat. Kehijauan yang maha lebat lagi datar. itulah tanahmu. jauh di bawah.dan —" dengan gugup. Matanya menitikkan air bening. Terbelalak mata mereka melihat sinar yang tambah terang. bisa dituruni secara perlahan. sekarang debu itu telah menyisih sehingga merahnya bara kembali rrienjilamkan panas menyala.

marilah mengucapkan sukur pada Mula Jadi Na Bolon. tidak tanah itu saja yang ditunjukkan mimpi padaku. sebelum itu. "aku cinta padamu Tio. Apakah hutannya banyak menyimpan binatang buruan. sayang!" Pandang lama bertemu. sudah bisa pula melemas. Kau. yang mau bungkas ke sana. Tapi. Ronggur membiarkannya begitu beberapa saat. Tapi." Tio menggigit bibir. dia mengatakan pula. Lama Ronggur menumpa pandang ke biji matanya. Apakah baik dijadikan tanah persawahan. "Itu bukan tanahku. menanamkan pandang ke dasar bening matamu. lalu Ronggur melingkarkan tangannya ke tubuh Tio dengan ketat. Tidak tanah habungkasan itu saja. juga tanah orang lain. Setelah memberi kecupan pada bibirnya. . Tanah kita berdua. Ronggur menegakkan Tio dari sujudnya. yang membuat kita dapat melihat tanah habungkasan yang dijanjikannya dan membuat aku dapat dengan jelas melihat wajahmu. T angannya terus menerus mengelus rambut Tio yang panjang lagi lembut dan lemas. izinkanlah aku mengatakan sesuatu kata yang telah lama terpendam di hati. Sambil tersedu karena terharu. dia menelungkupkan kepala ke dada Ronggur yang bidang."Tio. kata Ronggur kemudian. tapi basah. Istriku." Beberapa saat keduanya terdiam. Matanya menitikkan air bening. Kita harus menyelidiki keadaan tanah di sana. T anah keturunan kita. yang telah mengirim matahari untuk kita. Tidak mengganggu. lalu. Perlahan. sebelum kita memulai perjalanan ke sana. Tapi. "Perjalanan kita masih jauh. "Juga kau. yang pasti banyak dan akan terus berkembang. Tanah anak kita." Mereka bersujud ke arah matahari. juga tanahmu. "Tio. Tapi." "Apa lagi?" tanya Tio terbodoh. yang sekarang.

dia ketahui. hingga agak besar. setelah beberapa hari terendam di air. sedang ia memegang ujung tali."Kita akan terus mengikuti aliran sungai menuju tanah landai. Lalu dia mengikat pinggangnya dengan tali. memijak tanah. lebih landai. kemudian terdampar ke batu padas." kata Ronggur. Lalu menyuruh Tio turun. Tio menerima di bawah. Betapa nikmatnya panas jilam api. Mereka tentukan untuk bermalam di sana. agak curam. mereka dapat melihat gundukan perbukitan di sebelah kanan. sampai akhirnya perahu sendiri. Serpihan air tipis yang menghujani itu tidak sampai lagi ke sana. mengibaskan ekor biar cepat kering. Membuat anak tangga. Hari sudah sore. termasuk si belang. ialah terusan Sungai T itian Dewata. sampai tiba ke tanah datar di bawah. Kemudian dia sendiri turun sambil menuntun si belang. Begitu seterusnya. dari sana. Sudah bisa mereka berjemur di sana. Lalu dibakar menghidupkan api. Tapi. sesuatu garis putih yang membelah kehijauan. mengeringkan tubuh dan memanaskan tubuh. tapi masih begitu tipis. dibasahi titikan air yang terus menghujani mereka. setelah beberapa lama tidak merasainya. Kembali dia memanjat. Rumput kering. dijalin begitu rupa. Dia turun sendirian ke gundukan tanah pertama. ujung yang lain diikatkan ke pinggang Tio." Tio mengikuti arah yang dimaksudkan Ronggur. Untuk pertama kali kembali mereka lengkap bersama alatnya. Mereka sudah sama berada di gundukan pertama. menurun ke gundukan kedua. Si belang menggoncangkan tubuh. Kemudian diturunkannya satu-satu peralatan. Jalan ke gundukan pertama." kata Ronggur kemudian. "lihat terus ke sebelah timur sana. Melalui dinding batu yang tidak berapa curam. tanah melapisi batu. . yang mempunyai tanah. "Itulah jalan yang baik ditempuh.

Kemudian Tio mengiringi tiupan seruling itu dengan nyanyi: Bila bulan di awan purnama Di tepi danau aku menanti Wajahmu menghias tanda masa Mengajak daku ke dunia mimpi Ronggur berhenti meniup nyanyian itu: seruling. Lagu yang mesra ditiupnya perlahan. dia melanjutkan Pohon aren di belah dua Tempat berayun monyet berdua Janji telah memadu Pinang sebelah dibagi dua Lalu berdua mereka melanjutkan: Terbang engkau elang Hinggap di kayu rindang Ke mana engkau sayang . Malah seperti menjadi pertanda. sekarang seperti melengkapi irama seruling yang ditiup Ronggur. Tidak menakutkan dan mengancam lagi. Gemuruh air dibalik bedeng terus kedengaran.Malam itu keinginan Ronggur untuk meniup seruling memuncak. Agar seseorang yang menyusuri sungai jangan meneruskan penyusuran lagi. tapi agar memulai menempuh jalan darat.

memayung dedaunan hijau. Si belang duduk menjauh.Kasihku tetap mendendang Kemudian hanya T io melanjutkan sedang Ronggur kembali meniup seruling: Kalaulah benar warta impian Ditimang beta dengan sayang Sinar purnama empuk menayang Haribaanmu lagu impian Tio meletakkan kepala ke pangkuan Ronggur. Tapi. keadaan sekitar bertambah terang. Pemandangan seperti pagi kemaren. Begitulah secara perlahan dan hati-hati. Di atas kepala. Sehabis sarapan pagi mereka melanjutkan perjalanan. di . perobahan tempat mengadakan perbedaan. Malam terus melanjut. Sinar matahari hanya dari celah dedaunan saja sampai ke tanah. Dilapisi dedaunan yang gugur sudah membusuk. Kemudian secara berangsur perlahan. Memejamkan mata dengan manja. memaling pandang. Pagi terbit lagi. Membentuk lapisan tanah yang lembut dan berair. Tanah cukup lembab dan basah. akhirnya sampai juga mereka ke tanah landai di bawah. Seperti taktik kemaren juga. Membuat mereka agak susah bergerak. Bola putih itu pada mulanya lemah sinarnya dan berada seperti di bawah mereka. Kaki mereka terbenam sampai ke lutut terkadang. sedang kemaren dedaunan itu masih berada di bawah mereka. Api unggun yang kecil itu terus menari dan menari.

Di satu tempat di arah depan. sinar matahari lebih leluasa tiba ke tanah. tapi airnya berputar dengan cepat. mata terus ditancapkan pada benda jatuh itu. karena suara gemuruh bertambah hebat dan terasa menggoncangkan. Kekayuan yang tinggi dan besar batangnya seperti tiang abadi yang bergaya mendukung langit. Sesuatu benda putih mengapas putih melambung ke atas. betapa ternganga mulut mereka melihat benda itu. tapi sudah ditumbuhi kekayuan yang tua. Jalanan terus menurun. Kemudian jatuh ke bawah bergulung-gulung. tanpa takut dasar perahu bolong. Mereka meneruskan perjalanan yang agak melingkar. agar tidak runtuh lalu menimpa bumi serta penghuninya. Si belang berlari ke sana ke mari dan menggonggong. Getaran bumi tambah terasa. membentuk telaga yang agak luas pada tempat jatuhnya. itulah air terjun yang tidak hentinya menerjunkan diri. la mengalir dengan besarnya ke arah timur. agar kembali tiba ke sungai. Di sana-sini terbentuk curup di lingkungan yang gelisah itu yang bisa menenggelamkan apa saja yang jatuh ke tengah curup itu. Tio merapatkan tubuhnya pada Ronggur. Tapi. Membuat dedaunan sekitarnya bergoyangan. . Tergoncang. Dan.sana bisa mereka tarik perahu bersama peralatan lain. Itulah kelanjutan sungai. Berpedoman pada ingatan pemandangan kemaren sore di mana terusan sungai berada. Seperti menuruni pundak perbukitan. Merasa takut kalau batu yang membentuk jaluran kejatuhan air itu akan runtuh lalu menimpa mereka. Mereka menyisih cepat dari sana. Di sana-sini dedaunan gugur membentuk lapisan tanah yang lembut. walau suara gemuruh tambah jelas dan memekakkan telinga. Ke sana mereka menuju. Kala di bawah arusnya melingkar dan membikin kepala pusing bila lama-lama menatapnya.

Mereka tebang beberapa pohon aren. Dengan memilih jalan agak melingkar mereka menurun terus ke bawah. benda putih mengkabut bermula dari air jatuh pertama. Lalu mereka jemur. Si belang melompat ke depan. jarak jatuhnya lebih pendek dan lebih landai dari yang pertama. mempunyai tumbuhan yang bersamaan dengan tumbuhan yang ada di bidang tanah yang mereka tinggalkan. Terus mereka menghilir mengikuti tepian sungai. Ronggur mengatakan.Di arah depan kembali kedengaran suara gemuruh. si belang keluar dari semak mengejar seekor kijang. "Itu pohon aren. Arus sungai kembali menggila. Ronggur tidak melewatkan kesempatan baik itu. Mereka menatap ke atas. Mereka ambil umbinya. "Kalau begitu. Beberapa saat kemudian. Tapi. Kita tidak menguatirkan mati kelaparan. mereka memutuskan untuk bermalam di sana. Umbinya bisa kita jadikan bahan makanan. Tapi. Sampai akhirnya arus sungai tidak beriam lagi. Tidak punya prasangka pada manusia yang memburunya " "Lihat. di sini banyak binatang buruan. Kijang terguling ke tanah. Pengganti beras. membuat mereka tidak langsung berkayuh melalui sungai. Menurut perhitungan Ronggur sudah dapat memulai pelajaran dari sana. Sehingga busa air tidak terlalu hebat sewaktu jatuh. Bila beras habis. Kembali mereka temui air terjun. tetap mengikut pinggiran sungai. Binatangnya juga begitu. tapi tidak sekuat yang tadi lagi. Masuk semak." Tambah tahulah mereka tanah yang mereka temui itu. Sambil menguliti. Dan. Biarpun Tio memanggilnya. karena hari sudah agak sore. dan tumbuk . Dengan tombaknya cepat dia membunuh kijang yang tercengang itu. tercengang melihat Tio dan Ronggur. la meloncat ke depan. Lagi masih begitu jinak binatang itu. Sampai akhirnya berada di tempat jatuhnya air kedua. ujung tombak tertancap di dadanya." kata Tio pula.

karena dia belum perlu mengkayuh. Dedahanan terlalu rendah terkadang. menjelma kepada penglihatan. sekitar mereka sekarang berwarna hijau dan tanah mengambangkan bau kesuburan. Mereka tidak menguatirkan kehabisan bahan bakar. Kemana saja mata diarahkan.lalu direndam lagi kemudian ditapis untuk mengambil tepungnya. menjaga keseimbangan kelajuan perahu. segar lagi lebat. Beberapa buah batu jangkar masih dijatuhkan. Terkadang sungai seperti ditutupi dedaunan hijau yang merimbun di atasnya. Walaupun sudah menghilir arus sungai masih kencang. seperti raksasa dalam dongeng. Untuk beberapa hari mereka tinggal di situ. hari sudah mengarah sore. Tapi. Tio lebih banyak memperhatikan sekitar. tetap tertumpu pada pohon yang besar lagi tinggi. bergeletakan dahan kering yang patah dari batangnya. Bila cahaya itu melemah. tahulah mereka. Memilih dahan kayu yang baik untuk tempat bermalam. Sehingga sinar matahari tidak sampai ke permukaan sungai. Dan. Dari celah renggangan dedaunan. ibarat penopang langit agar tidak jatuh ke atas tanah. Dengan melampaui riak air yang terkadang menghempas ke batu yang muncul di sana-sini. sinar matahari terus memberi suluh abadi. Cepat mereka meminggirkan perahu. Tapi. mereka harus lebih hati-hati menjaga kemudi. Sungai terus menerus membelah hutan belantara. Di sana-sini berletakan ranting kering. Tidak bisa berdiri dengan leluasa. Untuk digantikan dahan lain mendukung dedaunan yang lebih hijau. . melalui riam yang liar di tikungan sungai yang patah. biarpun begitu perasaan Ronggur begitu pasti bahwa mereka akan tiba ke tanah yang lebih landai dan lebih baik. Ronggur dapat merasakan bahwa batang kayu yang besar itu dapat digunakan selanjutnya untuk kepentingan kehidupan.

Arus sungai tambah perlahan. Tapi. mereka menghilir sungai. yang ditiupkan musik alam ke dalam diri atau untuk menyiutkan nada musik yang memadat dalam rongga dada. Bila mereka bosan dengan sungai. Ronggur meniup seruling dan Tio bernyanyi. Beberapa buah batu jangkar sudah diangkat ke atas. Ronggur selalu mengukur dalamnya sungai dengan tali yang di ujungnya diikat batu sebagai pemberat. Batu jangkar sudah diangkat. seperti berlomba keluar untuk disuarakan. ccdw-kzaa 7 Bertambah hari. itulah dalam sungai. Perasaan dalam dada masing-masing. masih ada juga dijatuhkan. Di depannya tali yang terbenam. dan bila mereka bermalam di sana dan biasanya lebih lama daripada bila mereka tidur di dahan. Tapi. mereka mendarat ke tepian. meneriakkan kegembiraan. Ronggur selalu menghirup udara dalam-dalam. Sedang si belang berlari kian kemari. Arus sungai tambah perlahan. Pundak pegunungan .Perjalanan diteruskan menuju ke timur. Ingin dia menghirup habis segala kebebasan yang diberikan alam padanya. Luas sungai tambah lebar. Sering Ronggur memanjat kayu yang tinggi. menatap dari arah mana mereka datang dan menduga hendak ke mana mereka dibawa sungai yang diikuti itu. memelopori sebuah perburuan bila fajar pagi tiba. Untuk mencari bentuk kata. Arus masih dapat menghanyutkan perahu walau dengan perlahan. Bila mereka menemui gua alam di tepi sungai. menggonggong dan menyalak. kata yang paling sesuai diucapkan dengan yang dirasakan dalam hati. mereka belum perlu mengayuh. namun dia tidak sanggup menghabiskannya. menghilir sungai.

Bila dipanggang bara api bisa padam. Tanah luas yang berlumpur semakin lebar mengikuti jalur sungai. Sudah agak menjauh. Dan. Pepohonan tidak lagi di tepian sungai seperti di hulu. Setiap hari tepian sungai bertambah luas. ditanamnya batu besar dan disambungkannya pada salah satu bagiannya. Si belang sudah mulai gemuk. Di garis batangnya melingkar. Sedang pada tepi sungai. Arus sungai tambah perlahan. Melalui pengenalan akan pundak pegunungan. udara panas itu tetap mengganggu. atau menembus celah pegunungan yang terdapat pada pertemuan bukit yang memanjang. Ikan yang cukup besar. tambah luas. bila bosan dengan ikan sungai. tanah berlumpur yang mengiring jaluran sungai. . Dalam waktu singkat ikan sudah ada yang menyambar. Walau mereka berada di naungan pepohonan rindang. Terkadang sampai berhari-hari mereka mengadakan pemburuan. Binatang buruan begitu banyak dan jinak. Dibiarkannya dada telanjang. Bulunya tebal berlinang. Lalu menatap ke arah hilir sungai. membuat Ronggur tidak kerasan memakai sehelai kain atau kulit binatang di bagian dadanya. Ronggur dapat menduga bahwa di balik pegunungan yang semakin menjauh itu. hutan lebat hijau di mana-mana menampung penglihatan. Membuat mereka harus mengayuh terkadang. Pancing tidak perlu berlama diumpankan. di situlah kampung halamannya. Ronggur selalu menelitinya dengan seksama. satu hal makin mereka rasakan. Karena lemaknya. mereka harus menaklukkan pundak bukit itu. udara bertambah panas. Selalu dibuatnya tanda pada pohon kayu yang dipanjatnya. Bila mereka hendak pulang ke sana melalui jalan darat.bertambah jauh di belakang sudah membiru. Pancing yang diumpankan Tio selalu mengena. T api.

dari lumut lumpur dia tahu bahwa tanah yang mereka temui itu lebih lemak dan subur dari tanah di kampung halaman. Ronggur menyuruh Tio terus mengayuh. dan menyelam. Sedang di hutan yang semakin menjauh dari tepian sungai itu. Cepatlah ke perahu. Membuat mereka sering terjun ke dalam sungai. Binatang itu memburu. bergerak. pada suatu hari. Jalan satusatunya untuk mempertahankan diri. Diperhatikan lunaknya. Binatang itu terus mengejar. walaupun matahari cukup terik. Tapi. Hanya udara yang bertambah panas itu saja yang membuat mereka agak merasa tidak senang. Cepat Tio mengatakan. Lengket dan tidak mengenakkan perasaan. "Ronggur. Lalu terus mengayuh.Digenggamnya tanah itu. sedang dia. dengan mempergunakan kampak. Panggada juga turut digunakan. tombak. sekelompok binatang yang sedang berendam di tanah lumpur. tapi cepat kering disapu angin lalu. agar keringat melengket itu bisa menghilang untuk datang dan untuk dihilangkan lagi. mereka temui pohon yang berbuah. Membuat mereka terkadang seharian hanya memakan buahan saja. Alangkah terkejutnya mereka. Membuat tubuh mereka selalu berkeringat. Perahu agak oleng sewaktu Ronggur menaikinya dari satu sisi. apakah bau lumpurnya sama dengan bau lumpur yang ada di kampung halaman. Udara seperti itu tidak pernah mereka temui di sekitar kampung halaman. awas. . Tubuh seperti berminyak jadinya." Ronggur berenang sekuat tenaga. mencucuknya. Buahnya lain dari buah mangga yang mereka kenal di kampung halaman. Terkadang diciumnya dengan hidung. panas itu masih tetap terasa. berenang. memukuli setiap ada binatang datang mendekat ke perahu. Lebih enak dan lezat. Walau terkadang matahari dilindungi awan. lalu mengejar. sewaktu Ronggur berenang mengikuti perahu yang menghilir. Ini tidak.

Menyusuri sungai. Begitu pandai berenang." sahut Ronggur. Lumpurnya bertambah lembut dan bertambah dalam dasarnya. Walaupun belum pernah mengenalnya namun naluri mereka dapat memastikan bahwa binatang itu binatang air yang membahayakan. kulitnya cepat kering dan dapat dilipat. Karena itu kulit binatang itu mereka bawa. Karena itu daging binatang itu mereka biarkan saja membusuk. Tanah juga lembut. bisa berobah menjadi keruh. Ronggur tetap memperhatikan dan mempelajari perobahan bentuk tepi sungai." kata Ronggur. Digantikan gelagah dan daun nipah. lebih dulu ada tanah yang hanya ditumbuhi ilalang. Dagingnya kurang enak dimakan. Sudah mulai keruh dan kotor. Bisa dibuat menjadi kantong tempat menyimpan alat. Bila digantungkan di pinggang kelembutannya selalu mengikutkan gerak-gerik pinggang. Pepohonan semakin jauh dari tepian sungai. Lihat.Satu dua ada yang mati di antara binatang itu. Bertambah ke hilir bertambah banyak anak sungai bersatu dengan sungai itu. Gembur. Mulutnya menganga lebar hendak menelan saja. "Tidak. "Inilah tanah yang kita cari. Tapi. Ekornya bergerigi dan begitu keras tampak. Kita harus tahu. sebelum tiba ke tepi hutan. begitu halus. Binatang itu belum pernah mereka lihat. Kenapa air yang tadinya begitu bening. Air sungai tidak sebening di hulu lagi. Tidak tahu mereka dari mana datangnya air keruh itu. Bisa ditebang pohonnya untuk dijadikan persawahan. Binatang yang mati dan dihanyutkan arus mereka tangkap. bagus untuk ditanami. sampai ke . Tanah landai yang sudah lama kumimpikan. Terapung. Bila mereka terus melalui tanah lumpur itu mendekat ke tepian hutan yang semakin jauh. tepi hutan tidak berapa lebat." "Apakah kita sampai di sini saja?" tanya Tio. "Inilah dia. "Kita harus meneruskan perjalanan.

Lalu mereka meneruskan penyusuran. Bisa membuat padi busuk. di saat itu. bermula dari kaki bukit. yang tidak sebesar sungai ini. Bertambah ke hilir. setelah beberapa lama. tidak baik dijadikan persawahan. Sehingga enak berlayar. Membuat mereka takut pada mulanya. Tidak perlu mendayung. T anah lumpur dan tumbuhannya.mana sungai ini. Lalu dapat memastikan bahwa tanah lumpur yang di tepian sungai benar. ada semacam getaran mengganggu jalan perahu. Sambil terus memperhatikan perobahan pada permukaan air. Langsung mencari tanah yang agak tiriggi. ke tempat yang tidak dapat memastikan. gelagah dan daun nipah menjadi tergenang. Di saat begitu arus sungai mengencang ke hilir. Terkadang sampai ke pucuk digenangi air. Kenapa permukaan sungai menaik. Tapi. "sungai yang ada di kampung halaman. Arus menghanyutkan . Ada semacam tenaga menahan. Dan. belum dapat kupastikan mengenai sungai ini." "Biasanya. Ronggur memperhatikan ini semua. Di muara tanah landai akan tambah lebar lagi. Itu sangat penting. Berombak. Apakah sungai ini juga akan bermuara ke danau?" "Danau apa?" tanya Ronggur pula. Karena sering tergenang. Harus lebih ke atas lagi. Dan. air sungai susut lagi. Sehingga mereka harus buru-buru mendarat ke tepi. Untuk bermuara ke danau. Walau mereka mengayuh sekuat tenaga. di mana muaranya. Air menjadi sangat keruh dan asin. sungai menjadi menggeliat." "Kebiasaan memang begitu."' jawab Ronggur." kata Tio. Ada kalanya perahu tidak dapat laju biar setapak pun ke depan. di samping arus semakin perlahan. Dan. "Aku hanya bertanya. Di sana mereka harus menggali tanah membuat sumur. dari mana air itu datang. permukaan sungai naik. Supaya ada air tawar.

di mana keadaan sekitar dan kejadian dapat dilupakan. diperhatikan dan disesuaikan waktunya. Dicocokkan dengan waktu peredaran bulan dan bintang. Agar tahu dengan pasti. Arus sungai menyongsong dengan kuat. Perahu tidak bisa dikayuh. terasalah permukaan sungai kembali menyusut. Ronggur bertambah was-was. Walau mereka sudah berkayuh dengan sekuat tenaga.perahu. Walau malam sudah bertambah jauh. Saat sungai menaik permukaannya dan saat sungai kembali ke tarap biasa. . Mereka terus berlayar. terus mereka lawan. Kemudian diputuskannya untuk terus melayari sungai. Karena begitu capek. Berkayuh dan berkayuh. arus mati. Tapi. Walau tidak ada ditemui kemajuan. Sehingga perahu mereka begitu lajunya dihanyutkan kembali ke hilir. "Apa lagi yang akan terjadi. mereka dapat melepas lelah. Mereka harus mengayuh dengan sekuat tenaga. Di saat begitu. Perahu terus dihanyutkan arus sungai. Kantuk telah membawa mereka ke alam tidur. Menjelang subuh. Malah mereka seperti disorong ke belakang. Berhadapan dengan keadaan baru ini. Tapi. Gelombang sungai mulai menggeliat. Malah hendak disorong ke belakang. Mereka terus melawan. Kemudian datang pula saat permukaan air sungai naik. mereka tertidur. Untuk tiba pula pada keadaan. itu yang perlu kita ketahui. Dan. mereka terus di dalam perahu dan terus mengayuh. Perahu seperti dihanyutkan kembali ke hulu. dan apa lagi yang akan ditemui pada perobahan sungai?" "Justru. mereka berdua terus berkayuh melawan air yang menyongsong itu." jawab Ronggur. saat permukaan sungai naik telah tiba. Biar permukaan sungai menaik atau menyusut. Sambil T io berkata. apa sebabnya dan apa akibatnya pada orang yang berlayar di saat begitu. kembali ke hulu.

" akhirnya Tio mengatakan dengan kagum. mencerminkan mukanya ke permukaan air. perahunya terapung dan mengangguk-angguk diperma inkan riak. lihat Tio. alangkah asin. Tidak terkungkung sedikit pun. Di sekitarnya. Pada penciuman terasa keluasan dan kebebasan udara. Kita tidak tahu ke mana berakhir air yang maha luas ini. lalu: "Lihat. Mereka mendaratkan perahu jauh ke . Di bagian punggung. Lalu menggonggong panjang. atau daratan yang hijau. air yang maha luas mengitari mereka." Tio memilin mata. tepian. kiri dan di hadapan. Benda ditepian yang menerima sinar matahari seperti menyala itu. jauh sudah. Berjajar memagar pantai. Tepian memutih ditimpa sinar matahari penuh. di sekitarnya. Cepat mereka mengayuh ke tepian. Si belang berada di haluan perahu. Membelalakkan pandang. Karena silau dan karena gonggong si belang. danau yang maha luas. "Danau. pasir putih. Nyiur. Tapi. Cepat Ronggur dan Tio mengayuh. melihat keluasan yang terhampar di depannya. Agak jauh kedalam bermula jajaran pohon kurus panjang dan hanya di bagian puncaknya ada daun kelapa. tapi danau yang sangat luas. Kemudian dipantulkan air ke atas kembali. Pada sisi kanan. Buru-buru Ronggur menyuruh T io duduk. air itu bertemu dengan kaki langit demi kaki langit.Sinar matahari sudah kembali menampari wajah alam dan wajah mereka sendiri yang tertidur di perut perahu." "Marilah ke tepi. mereka terbangun. Kita menemui danau. "Danau apa ini?" "Aku tidak tahu. Sinar matahari mencurah ruah. Alangkah terbelalaknya mata Ronggur sewaktu di hadapannya." ajak Tio. Sehingga lebih silau. Beda dengan pasir pantai danau yang mereka kenal di kampung halaman. Airnya. Tidak bisa diminum.

Tidak punya prasangka pada Ronggur dan Tio. Ronggur memanjat kelapa lalu memetik buahnya yang masih muda. Sekarang mereka sudah punya danau yang sangat luas malah. mereka buat atap sebuah dangau. namun sangat banyak mengandung ikan. Tambah siang ombak tambah membesar. Mereka minum air kelapa muda. menari dengan gaya yang bagus dan begitu jinak. ayam hutan. Ronggur dapat melemparnya. Pada tanah lumpur sekitar muara sungai. Walaupun daun nipah sudah kering. . Si belang menjemputnya. Karena udara panas. Menambatkannya pada pokok kelapa. Dengan moncongnya si belang menggigit dan membawa ke tempat mereka berdua duduk. dengan lagunya sendiri. Ikan yang besar. Dengan daun nipah itulah. Berdesir angin yang melewati atau membuat daun nyiur melambai. dan di tanah yang ditumbuhi ilalang sebagai pinggiran hutan. Burung putih berterbangan ke sana ke mari. Walaupun airnya asin. kijang sampai pada binatang buas yang ditakutkan: Harimau. Sedang pada hutan di sebelah punggung mereka. Mulai dari burung. jendelanya jauh lebih besar dari jendela rumah yang ada di kampung halaman. Sekarang mereka sudah punya rumah kembali.darat. gajah. Yang bergelung-gelung ombaknya dan memecah di pantai. namun tetap kuat dan tampak berminyak. banyak menyimpan binatang buruan. bertambah rimbun pohon gelagah dan daun nipah. putiknya akan cepat mendatang lagi dan berlipat ganda banyaknya. Sekuat kita memakainya. Tiangnya agak tinggi dibuat dari pohon bakau yang panjang dan lurus lagi kuat. Beberapa ekor kena dan jatuh ke tanah. Mereka lalu kenal juga binatang laut yang ada di tepian yang juga enak dimakan. diselang seling pohon bakau. "Di sini kelapa tidak akan habis." Sambil menatap keluasan air. Sehingga sambil bermalasmalas. Diseling T io.

Mereka cari tumpukan tanah yang agak datar di hutan dan ditumbuhi ilalang. walaupun tanahnya lumpur dan lembut karena selalu tergenang. . Bila mereka hendak membuka sawah percobaan. tempat istirahat atau bermalam. Pada hari pertama Ronggur tetap memperhatikan mula dan arah angin. terkadang sampai sedalam dada. angin daratyang bermula dari hutan di punggung mereka. di samping air hujan.beruang. bila pasang naik tanah lumpur itu tergenang. menjelang dini hari. buaya. Sedang waktu malam hari. tidak menetap saatnya. dibuka aliran parit. bertiup ke arah danau luas itu. Begitu pula saat sungai surut kembali. Mereka harus merambah hutan belukar agak ke pedalaman. Sehingga ada pengairan ke sawah itu. sangat baik. Kemudian dari hulu sungai yang belum asin airnya. Bila air surut permukaan sungai merendah. tidak baik dijadikan persawahan. Waktu siang hari angin dari arah danau luas bertiup ke darat. rawa itu kembali tampak. jauh dari tepi sungai. harus memilih tempat yang agak tinggi dan jauh dari pantai. bila merasa malas pulang ke rumah di tepi pantai. Arus ombak menghanyutkan perahu ke tepian. Tapi. Agar lebih mudah mengerjakan sawah percobaan itu. pasang air sungai yang membuat permukaan sungai naik dan sungai punya arus ke hulu. perahu agak tertahan menuju muara. Tapi. agak menusuk ke tengah hutan. Bila air sungai pasang. Akhirnya dapat mereka ketahui. bila air sungai surut perahu dilarikan arus ke tengah danau yang maha luas itu. Waktu itu bila berkayuh menuju tepian dari tengah. Dekat sawah itu mereka dirikan dangau. Tergantung pada hari bulan. Tanah lumpur itu. Dan. binatang air itu. dan di tepian sungai berpaya. Waktu itu sangat baik untuk memulai pelayaran ke tengah danau luas itu.

bila telah digenangi air. huma. antara marga. di ladang dengan hijau gemuk. Itulah ladang. Beberapa bidang lagi tanah telah diolah menjadi sawah percobaan. Pada malam hari. Setelah beberapa lama tanah yang digarap itu digenangi air yang dialirkan ke sana. Perang yang bisa terjadi di antara mereka. Ditiup angin . mengadakan penjagaan yang dibantu si belang. Di sana juga tanah dengan cepat menerima taburan bibit. agar rombongan babi hutan tidak turun dari hutan merusak sawah dan ladang percobaan itu. tanah itu tidak melapisi batu. Ini semua menanam harapan yang lebih sempurna dalam dada. tahulah Ronggur dan Tio.Persemaian telah digarap. Bila batang padi telah bertumbuhan di sawah. Tanah itu begitu gembur. Tanah yang mereka temui tanah yang dimimpikan setiap orang di kampung halaman. Waktu menancapkan cangkul ke dada tanah. Walau tidak punya air selain air hujan dan yang dikandung tanah. tanah begitu cepat menerima taburan bibit. mengambangkan kesuburan. Kemudian batang padi yang hijau gemuk itu. Kemudian bermunculan di atas tanah batang padi yang gemuk hijau. Usaha percobaan itu terus diluaskan ke tanah yang lebih tinggi dan agak susah didatangi air parit. walau itu yang diharapkan. antara suku dan antara luhak. tanah itu cepat menghitam. T anahnya cepat lembut. menjanjikan akan mendukung bulir padi yang bernas. yang mengakibatkan kematian dan kemelaratan. agar pertumbuhan batang padi tidak terganggu. kerja Ronggur dan Tio tinggal mencabuti rerumputan. sawah kering. bisa dihilangkan. bila tanah habungkasan ini ditunjukkan pada mereka. telah dihiasi bulir padi dengan mencuat ke atas tegak lurus. Merunduk ke tanah karena berisi. Cepat lunak dan cepat menjadi lumpur hitam yang lembut. Tidak tersangkakan. yang dapat mengurangi pertentangan yang bisa timbul antara kaum semarga.

Kekayuannya mereka ambil dari hutan sekitar yang begitu dekat. Padi yang menguning. Kemudian bulir itu semakin merunduk ke tanah. hingga mereka bisa tiba ke sana. tangkainya kokoh mendukung. Lagi pula. bila untuk mereka berdua saja. sambil melepas lelah dari kerja berat di sawah semusim panen itu. Saat mardege tiba. bila luas danau begitu rupa dihadiahkan pada orang di kampungnya. setiap itu pula. yang didirikan tidak jauh dari sawah percobaan itu. Dan. kemudian dipanen. Saat mardege tiba. Lalu hasil panen itu disimpan ke dalam lumbung. merunduk menguning kemudian dipanen. seharian mengadakan perjalanan menyusuri tepi pantai. Mereka tahu.terkadang. Atap daun nipah yang tidak mudah bocor. hasil panen percobaan itu tidak akan habis mereka makan sampai tiga kali jangka musim panen. dan bulir yang belum berisi itu bergoyangan perlahan. musim panen lebih pendek masanya di tanah habungkasan itu dari yang mereka kenal di kampung halaman. mereka tidak perlu lagi mengadakan pancang sebagai batas di danau. Membuat perasaan lebih kagum lagi atas ciptaan alam yang hebat dan sempurna itu. Ronggur dan Tio harus memperbesar dangau kecil itu. malah berlipat ganda luas air yang mereka temui. Ronggur dan Tio. Lalu hasil panen itu disimpan ke dalam lumbung. Ciptaan Mula Jadi Na Bolon. sebagai pertanda bahwa pancang itu perbatasan antara satu marga dengan marga lain tepi danau mana yang boleh di tempati suatu marga menangkap ikan. Mau dijadikan lumbung padi. yang banyak ditemui di muara sungai. Ronggur tahu. dan hati tambah berterima kasih atas tuntunan Mula Jadi Na Bolon. Setiap tambah jauh mereka berkayuh. Tidak bertepi dan tidak berujung. Bermula dari keluasan dan berakhir pada keluasan. yang didirikan tidak jauh dari sawah percobaan itu. Juga pelanggaran perbatasan .

menjanjikan kebahagiaan pada setiap orang. Janji harus ditepati. Modal yang pokok hanya satu. boleh pergi ke mana suka. Untuk kelanjutan hidupnya. dan menganggap diri yang dikurnia dewata seorang gila. Walau pada mulanya mereka menentangnya. ke tengah marganya yang sudah mencoret namanya dari silsilah marga. yang bisa menimbulkan sesuatu peperangan. Karena itu anakku. lalu dapat merasakan kenikmatan yang terkandung dalam kebenaran itu. tapi perlu diinsafkan agar mereka tahu. Pada pendengarannya. janganlah kau berkecil hati. Rangsang lain mulai mempengaruhi pikiran Ronggur. Menangkap ikan sekuat tenaga. Dia harus mewartakan berita penemuannya itu ke tengah keluarganya. keinginan untuk me lepaskan mereka dari berbagai rupa ancaman.di danau di kampung halaman. Agar manusia itu dapat pula mencicipi nikmatnya. Mereka tidak perlu dihancurkan. harus dengan tabah pula menyampaikan warta kebenaran itu pada orang yang ada di sekitarnya. Rindu pada ibu. kemauan bekerja. tambah sering mendengung suara bekas Datu Bolon yang sudah tua itu. kelanjutan keluarganya. bila kau menemui tanah . Janji yang selalu mengingatkan kampung halaman. Di danau yang maha luas itu. kalian akan menemui tanah habungkasan. Walau begitu pahitnya penerimaan orang di sekitarmu atas cita-citamu. bapak yakin. Seorang manusia yang ditunjuk dewata menemui kebenaran. katanya selalu. yang mempertajam perasaannya akan bahaya yang mengancam kerukunan hidup di kampung halaman. karena itu janji. Sekitar yang bermula dari keluasan itu dan berakhir pada keluasan itu. setiap orang dari setiap marga mana saja pun. sering menimbulkan perselisihan dan pertengkaran. hingga akhirnya turut merasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh kebenaran itu. melanjutkan hidup berkeluarga dan keturunan. pada bekas Datu-Bolon yang sudah tua itu. "Anakku.

untuk terus melawan arus." "Terima kasih." "Doa dan restuku akan selalu mengiringi perjalananmu. lalu melanjutkan. sangat susah. memaksa dan membuat orang yang menemui itu tidak mewartakan-nya pada orang lain. Harus kembali mengarungi sungai ke hulu. dan usaha menaklukkannya. tapi perjalanan untuk memenuhi janji yang dibuhul sebagai lelaki bersikap jantan. janji yang akan tetap ditepati. dia sudah dapat menggambarkan suasana perjalanan itu dalam kepala." kata orang tua itu. telah dapat diduganya. Ronggur telah menentukan kapan mereka memulai perjalanan pulang itu. janji yang kau buat sebagai lelaki." "Aku berjanji." "Aku bapak. "Doakanlah aku bapak. yang . malah beralih pada penemuan itu akan mengutuki diri. Perjalanan yang tentunya memayahkan. agar anakmu ini dilindungi Mula Jadi Na Bolon. Bapak. "Anakku. Lantas selanjutnya dia mengatakan. sesuatu penemuan yang bisa membuat orang gembira dan berbahagia. Karena janji yang dibuat lelaki. Memaksanya harus kembali ke kampung halaman. Karena itu. Karena itu. agar kerjamu tidak sia-sia. mewartakan penemuan itu." katanya." Dengungan percakapan itu tambah nyata dan jelas. sehingga orang lain tidak dapat menikmati arti dan nilai penemuan itu akan berkurang. melawan arus. Anakku. Tio diam saja mendengarkan sambil menundukkan kepala. bila keserakahan diri atau dendam yang bersarang dalam dada. tapi.habungkasan di rantau. penuhilah pula sebagai lelaki yang berhati jantan. Berjanjilah anakku. janji seorang lelaki. yang memerlukannya. Dari pengenalan akan pundak bukit. kau harus kembali kemari membawa berita ria itu. Berhadapan dengan kebisuan Tio. dia sudah membayangkan bahwa mereka akan menembus jalan darat. dari pengenalan akan celah pertemuan bukit dan usaha untuk menembusnya.

wajahmu pucat. Dan. yang akhir-akhir ini begitu nyata dan jelas. Ronggur mengatakan. Ronggur lalu berkata. Dan. airnya sangat baik buat minuman seorang ibu yang hendak dan baru melahirkan. Wajah Tio agak pucat waktu tengadah padanya. yang banyak tumbuh di pematang sawah di antara rerumputan. Kita harus menanti di sini. Darah Ronggur tersirap dibuatnya. "Kita memang masih belum bisa memulai perjalanan pulang. Dijerangkan terus menerus air panas dalam periuk tanah. berupa rintihan dan jeritan. masih tetap berusaha tersenyum. Tambah lama tambah sering dan menimbulkan perasaan nyeri. Tapi. Namun. dingindingin ditelempapkan ke perut Tio dan kening. Sambil tersenyum dan duduk dekat Tio. Barulah sadar arti perobahan bentuk tubuh istrinya." Cepat Ronggur pergi memetik daun ampapaga. sesuatu rintihan lepas juga dari celah bibir yang dikatupkan." "Kenapa wajahmu sepucat itu? Apa yang terjadi?" Wajah Tio seperti menanggungkan sesuatu. Bibirnya gemetaran. bila pandangnya bertemu dengan pandang Ronggur.tidak menyahut itu. direbus. Akhirnya Ronggur tahu. Tidak sakit. dia tidak mau lagi pergi jauh-jauh dari dekat Tio. yang selalu diancam bahaya di kampung halaman? Agar mereka dapat bebas dari ancaman yang selalu menakutnakuti mereka itu?" "Bukan itu alasannya. "Tio. "Apakah kau tidak ingin mewartakan berita ini pada sanak keluarga? Pada setiap orang. Tio merasakan sesuatu menggeliat dalam perutnya. sesuatu akan terjadi. Sesuatu tekanan mendesak hendak melalui kerongkongan. Bukan itu. ditahan. Daun ampapaga itu di dikeringkan di panas matahari. Tapi. walau Tio selalu . Biarlah perjalanan pulang ditangguhkan untuk beberapa lama. Bila sudah kering. Seperti orang sakit. Kau sakit?" "Tidak." sahut Tio. digigit oleh gigi sendiri.

Tidak usah repot. Setelah melengkingkan sebuah pekikan yang panjang lagi nyaring.mengatakan. sering juga membuat Ronggur harus mengatakan dalam kebingungan. ombak itu menggamitnya. "Apa yang harus kuperbuat? ke mana harus kucari dukun?" Dari sela rintihannya." Ronggur pura-pura tidak mendengarkan. Kening Tio yang berkeringat. "jangan repot. Tio menyahut. Semuanya akan menjadi beres. dan segumpal daging telah ditayang Ronggur dengan hati-hati. cukup merah. berjalan dengan baik. Dipotongnya jabang bayi dengan bambu yang ditajamkan pada kedua sisinya. cukup umur. Tio lalu memelas. Disunggingkan senyum sebagai sahutan. Bayi dimandikan. atau menangkap ikan. Hari berikutnya. Begitu sehat. Dalam kepala terbayang seorang anak lelaki yang sehat. Lelaki yang dapat memelopori orang menjelajah hutan belantara yang abadi itu. Atau. Hendaknya kehijauan daun padi dapat mengimbangi hijaunya daun pepohonan. dilap Ronggur dengan sayang. Tangisnya pertama menantang gemuruh ombak yang memecah di pantai. seperti warta pada dunia bahwa dia telah lahir." Balik Tio yang menasihati dan menenteramkan hati Ronggur. Saat kelahiran semakin dekat. agar orang tidak takut kelaparan. juga diharapkan agar anaknya seorang lelaki yang sanggup meniti gelombang yang besar di danau luas itu. T idak jarang. Mencapai daerah baru. Menoleh ke bayi yang baru dilahirkannya. Lelaki yang kelak sanggup mengolah tanah yang bidang menjadi persawahan. dan perasaan nyeri tambah memaksa Tio merintih. Pergilah berburu. Tio harus senyum pada . Anak lelaki meneriakkan suaranya pertama. Tio diberinya minum air ampapaga. "Aku tidak apa-apa. meniti ombak demi ombak yang begitu besar. Tio sudah dapat senyum. agar memulai perjalanan. anak kecil itu sudah digendong Ronggur sambil dinyanyikannya. Tak lama kemudian. seorang lelaki.

Ronggur sudah menjadi seorang ayah. katanya. "Tataplah dengan mata kanakmu. Ronggur sudah menggendong si anak ke tepi pantai bersama Tio. mereka pun memulai perjalanan pulang. ibu dan ayah dari anak lelaki yang sehat. . "Tio. luasnya danau yang ada di depanmu. dan danau yang maha luas ini.Ronggur dalam saat begitu bahagia. ke mana saja pun. meniti ombak demi ombak yang bergulung-gulung memecah di pantai.." Tio tidak membantah. Dia akan tetap mendampingi Ronggur. Kekerabatan dan keakraban berumah tangga tambah terjalin. Sedang yang ditinggalkan di tanah habungkasan masih banyak benar. akan penemuan-tanah habungkasan. sudah waktunya kita memulai perjalanan kembali ke kampung halaman. Bergaya seorang yang akan cukup kuat dan punya ketahanan serta keberanian. Tio. akan mereka tunjukkan sebagai bukti pada orang di kampung halaman. . Bahwa padi yang mereka bawa sepundi dulu sudah menjadi tiga pundi. . mencapai pantai lain. Tiga pundi padi yang bernas dibawa serta. Mulanya menyusuri sungai ke hulu . yang menanti dayungmu berkayuh di permukaannya. T idak habis dimakan sekeluarga dalam jangka tiga kali panen. Memberitakan dan mewartakan. Bermulalah perjalanan itu. Tio sudah menjadi seorang ibu. anak kita akan menjadi seorang pengarung danau yang maha luas ini kelak. Bertambah hari. Ronggur selalu mengatakan. maka Ronggur pun kembali mengatakan." Bila telah dua kali purnama timbul dan tenggelam. dan bertambah usia si anak. ccdw-kzaa 8 Setelah menyediakan segala sesuatu yang perlu dalam perjalanan.

Mereka berusaha. Jadi. tahulah dia. bukit tanah yang gembur. sendirinya pula usaha merintis jalan darat. seringan mungkin dan yang perlu saja dalam perjalanan. Airnya begitu bening dan dingin. Mempelajari jalur lembah dangkal yang banyak dalam hutan. mempelajari pintasan jalan yang lebih mudah ditempuh. selalu menggendong anaknya di punggung. bukit dan lembah tambah banyak mereka temui. bila kekayuan hutan sudah ditebang. permadani alam yang tebal lagi abadi. yang kelak dapat digunakan jalan pulang pergi antara kampung halaman dan tanah habungkasan. Ronggur selalu mengadakan tanda. Tidak tanah tipis melapisi batu alam.Beberapa potong kulit binatang buruan yang halus hulunya dan sudah dikeringkan dibawa serta. Memenggal-meng-gal hutan belantara. Begitu pula mengadakan tanda tertentu pada sesuatu pohon. dan memilih tanjakan yang tidak menaik untuk didaki. hitam mengandung kesuburan. . yang dilingkungi hamparan dedaunan hijau lebat. perjalanan pulang itu pun. Sampai tiba ke lempat arus mulai menderas dan susah dikayuh. yang dipanjat Ronggur untuk menentukan arah tempuh. Tanah di lembah dipelajari Ronggur baik-baik. tanah itu sangat baik dijadikan perladangan atau persawahan. Pada sesuatu mata air begitu. Tambah jauh mereka menyusup ke pedalaman hutan. Lembahnya tambah dalam dan perbukitannya tambah tinggi. bukanlah bukit batu seperti bukit tandus di kampung halaman. agar yang dibawa. T io. dan lebih aman daripada menyusuri Sungai T itian Dewata. Melalui pengenalannya akan tanah. Sedang pundak perbukitan yang juga ditumbuhi kekayuan tua. Sejuk. Tidak jarang pula mereka temui parit kecil yang bermula dari sesuatu dinding bukit yang bercelah. Baru mereka mulai menempuh jalan darat. Mereka sering berhenti di satu tempat sampai dua tiga hari. Mulanya mereka menyusuri sungai ke hulu. Tapi.

Apa yang ditakutkan Ronggur pada mulanya masih tetap tidak terjadi. Tapi. dia tersenyum kembali. T erus berusaha mengarahkan langkah ke tempat air terjun itu. dan sudah dapat melempar senyum di saat dia merasa senang. agak pendek di bawah naungan yang tebal itu. yang harus ditaklukkan. Tio memeluk anaknya. Mereka terus menyuruk di bawah hamparan dedaunan hijau yang abadi itu. bila lama-lama mereka berada di sana dan tidak ada sesuatu yang menyakiti tubuhnya. sambil berjaga. pundak bukit yang memanjang sebagai pagar dan batas tanah dataran tinggi kampung halaman dengan tanah habungkasan. Dalam saat begitu. Sedang Ronggur mengarahkan tatapan si anak ke air terjun yang memutih kapas itu. Dari sana baru mereka tentukan. beruang. Atau. Tapi. Menyisih dari tempat sesuatu binatang buas. kalau kepergok. celah bukit mana yang harus diterobos menuju kampung halaman. sarang binatang. jangka siang hari. Sehingga terasa. Dedahanan kekayuan yang berjalinan mendukung dedaunan lebat. harus mengadakan perlawanan mempertahankan diri. menghambat sinar matahari menimpa tanah. tidak jarang Ronggur dengan dibantu si belang. Bila si belang meringis dan mengarahkan penciumannya ke satu arah terus-terusan. Penciuman si belang banyak membantu keselamatan rombongan kecil itu. dan kelompok gajah. Ronggur selalu berusaha agar mereka dapat tiba kembali ke tempat air terjun itu. Dan. sebaik dia turut mendengar suara air terjun yang mengguruh. Tapi. tidak dapat melempar senyum.Dalam merintis jalan itu. Batu jaluran yang ditembus air sungai yang . Anak mereka yang sudah mendekat ketiga purnama usianya. di tengah hutan tidak jarang mereka bertemu dengan kumpulan binatang buruan yang enak dagingnya. tidak jarang pula mereka harus mempertahankan diri dari serangan binatang buas: harimau. cepat mereka mengalih langkah.

agar mudah kita memperoleh air. agar cukup daging untuk dimakan nanti dalam perjalanan. "Ya. Ronggur mengatakan. setelah beberapa lama mereka terpukau di tempatnya tegak. "Kita istirahat di sini untuk beberapa hari. dan berusaha menerobos celah bukit. Dan." Mereka menggali lobang perlindungan yang agak luas. Di pundak bukit gundul itu. yang menyerupai aum harimau. agar tidak ada serangga hinggap ke wajah anak yang sedang tidur nyenyak itu. Anak mereka ditidurkan di tanah beralaskan kulit binatang buruan yang lembut. benda putih diambangkan ke atas terus menerus. Melepas lelah. gemuruhnya tetap menderu. Tio memaling wajah pada Ronggur tanpa sahutan. Menjelang senja Ronggur dan Tio berhenti menggali lobang. Ekornya dikibaskan. Betapa indah. menaklukkan pundak demi pundak bukit. Sambil menggendong anaknya. Lagi pula dinding bukit sebelah sana. terdiri dari batu alam yang tidak keras.terjun. Bila lama kelamaan ditatapi jatuhnya air itu dan kuping biasa kembali mendengar suara mengguruh itu. Untuk dijadikan lobang perlindungan. masih tetap kokoh pada tempatnya. . Tari warna yang sempurna. payah ditemui binatang buruan. Aku akan memburu binatang buruan. Agar memberi ruang yang lapang bagi mereka." "Harus di sini kita istirahat?" tanya Tio. Di sampingnya duduk si belang seperti menjaga. Tidak terjadi reruntuhan. Agar tenaga kita pulih kembali. Mudah digali." kata Ronggur. Karena itu. perlu kita istirahat untuk beberapa hari. Jalan memotong ke kampung halaman. mereka namakan air terjun itu. Mata mereka patok menatapi permainan warna pelangi aneka rupa berpadu dengan air yang memutih kapas. "Lihat. Perjalanan begitu tentu berat. Ronggur dan Tio bekerja sama menggalinya. lihat Tio. "Tio. Dari sini kita akan mulai mendaki kaki pegunungan. Sampuran Harimau. Tapi.

Mencampakkan pandang ke sekitar. kenapa pekikan keras lagi sakit waktu melahirkan sang anak bercampur nikmat. tidak kedengaran. kaki bukit memanjang lagi tinggi. bila saat menyusukan tiba. Ronggur sudah pergi berburu bersama si belang. Tidak jarang dalam saat begitu. dan mengitari itu semua. sesuatu perasaan selalu menggeliat dalam dada. tahulah dia. bukit gundul. mengagumi lukisan alam yang sempurna. cicitnya tenggelam ditelan gemuruh air terjun yang jatuh. Sejak lahir anak itu sudah disusukannya dan sudah berapa lama itu berlangsung. meminta ditetekkan. Beberapa ekor burung terbang di udara." Tio mengikuti telunjuk jari Ronggur. Oi sebelah kanan. menuju hutan belantara luas. Pada hari berikutnya. di bawahnya tanah habungkasan yang mereka temui. dia duduk berjuntai di mulut gua. lagu yang menyuarakan perasaan kasih sayang: Pejamlah mata sayang seorang kenapa harus kerisik seperti . kenapa ada nyanyian alam terpendam pada dedaunan yang berdesir bila disentuh angin lalu. Nanar mereka menatapi tari warna pelangi yang aneka ragam itu. Tahulah dia. mencapai sarang. Sedang mulutnya akan mendendangkan lagu seorang ibu. tinggal Tio saja yang meluaskan mulut lobang perlindungan dan memperluas ruang dalam. dan mulut anak itu sudah mengisap-isap muncung buah dadanya. sumber kasih sayang abadi bagi seorang anak yang lahir dari rahimnya. Tapi. air terjun.Begitu indah kalau hujan tidak turun atau kalau kabut tidak menyungkup. Sayang sekali. Bila anaknya haus. rasa keibuan. dia memicingkan mata menikmati kesempurnaan rasa bahagia di saat mulut anaknya mengisap muncung buah dadanya.

Suatu perasaan merangsang dirinya. Sesekali dijinjingnya ikan yang dipancingnya. Tio selalu . Dia tidak dapat mengucapkan melalui bentuk kata yang cukup tepat. Boleh jadi di pundak pegunungan gundul sana. payah dijumpai binatang buruan. Bila Ronggur tidak pergi berburu. Dia sangat giat mengumpulkan daging binatang buruan. dia tambah sering mencampak pandang ke air terjun itu dengan berlama-lama." Mereka potong tipis daging binatang buruan itu. "kita harus banyak menyediakan daging.dedaunan berhalau ditiup angin lalu dunia terhampar di ujung kakimu Pejamlah mata anakku seorang menanti bapak kembali pulang dari tengah hutan belantara binatang buruan tersandung dibahu Pejamlah mata intanku sayang bila malam jatuh. terbayang di wajahnya. bulan gemintang kudekap kau pelukanku hangat Pejamlah mata buah hati bunda subuh tiba mula hari baru berjuta utasan cahaya matahari menyinari padang kembaramu Tidak jarang Ronggur pergi berburu seharian. Sedang mulutnya akan cepat mengatakan. agar cukup kering dan tahan lama. Tio menjemurnya di bawah sinar matahari. dia telah merasakan. Begitu tekun. Tapi. Kemudian mereka panggang di atas bara sampai kering. Sedang di siang hari.

Lama bibirnya bergerak-gerak. kulihat abang bertambah tekun melihatnya. yang ditimbulkan air terjun itu. "memang benar dugaanmu. Biji mata Tio begitu bening tapi jelas tampak tidak mengandung pengertian akan apa yang diucapkan Ronggur." Lama Ronggur menumpu pandang ke mata Tio. namun seucap kata belum melepas dari bibirnya. Kalau tidak bersama abang. Membangunkan Ronggur dari kebisuannya. aku merasa takut digertak suaranya yang terus menerus mengguruh itu. Malah dibuatnya sesuatu rasa bersyukur. ." "Manfaat apa?" tanya Tio terbodoh.memperhatikannya di saat begitu. Dan." "Tapi." "Kenapa begitu?" "Perasaan itu seperti membisikkan padaku bahwa a ir terjun ini mengandung suatu manfaat. justru karena adanya air terjun ini. Tak bosan. Ronggur menyahut. "kurasakan. Yang timbul dari air terjun ini. sambil mengatakan. "Aku tidak tahu Tio. alangkah susahnya dia untuk mengucapkan yang sedang bergolak di dadanya. aku tidak kerasan di s ini. Perasaan itu melumpuhkan segala ketakutanku pada air terjun itu. "Manfaat bagi kehidupan manusia. Menjanjikan sesuatu kebahagiaan pada manusia. Sekali waktu Tio mengganggunya dari menung menatapi air terjun itu. "Bertambah hari. Sedang Ronggur kemudian mengalih pandang ke air terjun itu. "Ada apa Bang?" tanya Tio." Seketika mereka bertatapan tanpa mengucapkan kata. "Ada sesuatu yang kurasakan. Tio." sahutnya. Ronggur merasakan." Sambil mengalih pandang pada Tio yaYig berdiri dekatnya.

darinya timbul bencana saja. Dan. nanti. Coba kalau diri diterjunkan bersama air terjun pasti lumat. "Kurasakan air terjun ini mempunyai suatu tenaga yang sangat besar dan kuat. "Di samping itu. Jangan lagi kutuk dia. arusnya gelisah membentuk suatu pusingan yang cepat. Karena tempat jatuhnya begitu tinggi dan curam. Akhirnya dia sendiri ingin mendengarkan yang dirasakan Ronggur." Tidak dapat Tio membumbui cakap Ronggur. Sungai Titian Dewata jatuh ke ujung dunia. bila tenaga yang terkandung di air terjun ini digunakan manusia untuk kehidupannya. Hingga tak seorang pun selama ini berani menyusurinya untuk mencapai tanah habungkasan." "Itu boleh jadi. Sekarang memang yang kita lihat." sahut Tio berusaha mengerti. Tapi. Darinya timbul anggapan selama ini. karena dia menjanjikan sesuatu kebahagiaan bagi kehidupan manusia di masa datang. maka tenaga yang disimpan air terjun ini bisa memberi arti yang bernilai bagi -kehidupan manusia." kata Ronggur selanjutnya. walau dia tidak dapat mengartikannya. binatang air yang menakutkan dan buas itu tidak bisa datang ke Danau Toba. "Karena itu. masih ada manfaat lain dikandung air terjun ini.membuat arus sangat deras. Air yang jatuh berputar pada lingkaran berbentuk kolam." "Apa lagi?" tanya Tio mendesak. yang bisa . haruslah merasa bersukur karena dia ada." Tio mencampak pandang ke tempat air terjun itu jatuh. Orang kelak akan dapat menggunakannya untuk kehidupannya. bila orang menggunakan tenaga yang terkandung di air terjun ini. entah kapan. Tapi. Selalu perasaanku berkata begitu. Bersukurlah. Namun dia tidak membantah seperti kebiasaannya yang tidak mau membantah cakap Ronggur. “jangan lagi takut padanya. maka hidup manusia akan lebih berbahagia.

mencapai sesuatu celah. Perjalanan yang memayahkan. Ronggur selalu memilih celah bukit tempat bermalam. Tio merasa ngeri melihatnya. terkadang hanya sepundak atau dua pundak bukit saja yang dapat mereka taklukkan. Dengan mengenali pundak bukit mencari celah pertemuan bukit. agar dia tidak membantah yang dikatakan dan dirasakan Ronggur. Jalanan yang harus ditempuh. . pertanda perkampungan. Perjalanan mereka agak lambat. T io takut dibuatnya. lalu menembusnya untuk kemudian terus lagi mendaki sampai pundak bukit ditaklukkan. lembah kampung halaman. T api. rombongan kecil itu terus mendaki pundak demi pundak bukit yang berlapis-lapis. Di sekitar tepian danau. langsung mendaki bukit. Dalam sehari. danau kesayangan. Mereka bertatapan untuk kembali mencampak pandang ke lembah perkampungan yang sudah sekian lama ditinggalkan. atau terkadang berlari di depan. Sesekali menyusur di tebingnya. Malah dia ingin turut merasakan yang dirasakan Ronggur. Tio menggendong anak mereka. Di tengahnya. Menggonggong dan menggunakan penciumannya. Dan. Lalu lembah dataran tinggi. yang dilingkari lapisan bukit demi bukit melingkar dan memanjang.menenggelamkan lalu menghancurkan sesuatu yang jatuh ke sana. tenang. tidak mau henti sebelum matahari tenggelam. bersama kebiruannya yang damai. menuruni lembah batas perbukitan yang berlapis-lapis itu untuk mendaki lagi. Si belang mengikut di belakang. Sedang Ronggur memikul peralatan. Setelah beberapa hari istirahat dan tenaga mereka sudah pulih kembali. telah berada kembali di hadapan pandang. akhirnya lapisan bukit itu dapat ditaklukkan. agar terlindung dari serangan angin yang cukup kuat. Tidak mengenal lelah. mereka melanjutkan perjalanan pulang. mengitari Pulau Samosir. bertumpuk rimbunan bambu duri. semua perasaan itu ditekannya habis-habis. tapi perasaannya belum juga merasakannya.

karena udara kembali dingin." Mereka menarik napas lega. di hadapan kita." . Dan. Akan jauh lebih payah daripada menaklukkan pundak bukit yang cukup tinggi. Dalam hayalnya Tio telah mengatakan pada diri sendiri bahwa dia akan membawa sisa anggota keluarga marganya ke tanah habungkasan. menanti tugas baru. "Itulah kampung nenek moyangmu. Tapi. ananda. satu perjalanan panjang. Diselimuti baik-baik sehingga tidak merasakan udara dingin. Kita harus menaklukkan dan menguasai alam pikiran orang di kampung halaman. kau harus tabah nanti menerima segala sikap yang mengejek dan menantang. atau membahayakan jiwa. yang mempercayai bahwa Sungai Titian Dewata berakhir ke ujung dunia. mengarungi rimba alam abadi. Yang mungkin menyakitkan hati. Tiba-tiba saja Ronggur memecah kesunyian itu. Kaulah seorang perempuan yang telah berani menemani aku menempuh satu perjalanan yang menantang keyakinan orang sekitar yang telah turun temurun menguasai alam pikiran mereka. Kau telah mengorbankan alam pikiranmu sendiiri untuk mengikuti jejakku. Pekerjaan begitu tidak akan mudah. setelah sekian lama harus menjadi budak orang lain. terutama Tio. Tapi. Aku berhutang budi padamu dan aku cinta padamu.Ronggur mengambil anak mereka dari gendongan T io. mengecap nikmat udara kemerdekaan. maka sendi kepercayaan mereka berarti digoyang. mereka telah memakai kulit binatang buruan yang halus bulunya. Karena itu. menembus Sungai Titian Dewata. Dia membayangkan betapa bahagia keluarga marganya. telah kita laksanakan dengan berhasil. menggantinya dengan kepercayaan baru tidaklah kerja mudah. "Tio. ketahuilah Tio. Merombak keyakinan seseorang. Bila hasil perjalanan ini kita sampaikan pada mereka. aku cinta padamu. Terlebih anak mereka. Tangan anak itu dituntunnya menunjuk ke arah perkampungan sambil mulut Ronggur berkata. agar bisa bebas dari nasib jelek yang menimpa marga. Walaupun dengan susah payah.

“maukah kau membawa sisa warga margamu ke tanah habungkasan?" "Tentu. Tidak menjadi bahan percakapan lagi. apalagi anakku. Matinya." Orang di kampung halaman sebenarnya telah lama melupakan mereka berdua. tidak berapa lama setelah Ronggur dan Tio berangkat dulu. . dan timbulnya kembali purnama. Kemudian sama-sama mereka mencampak pandang ke lembah di bawah. ke hadapan Mula Jadi Na Bolon. Tanpa mengatakan sesuatu.Lama Tio terdiam. menggendong anaknya. menatap ke arah yang sama. pulang ke tempat asalnya. Bertatapan dengan Ronggur." jawab Ronggur. Mendambakan bahagia dalam hidupnya. Perlahan Tio mengangkat kepalanya. mereka jaluran paman anakku. sedang tangan sebelah lagi. Kenangan terhadap mereka bertambah tipis lalu menghilang bersama bertukarnya penanggalan hari. Oi ujung kaki duduk si belang menjulurkan lidah. Ronggur mengelus rambutnya dengan sebelah tangan. Orang melupakan mereka dengan ucapan yang tumbuh dari kepercayaan mereka: "Dikutuk dewata dan para arwah. Jaluran famili yang harus kuhormati. karena terus menerus menanggung rindu dan tidak tahan mendengar ejekan yang diarahkan pada anaknya dan padanya sendiri." kata Tio. Tangan kiri Ronggur menggendong anaknya." Sedang ibu Ronggur. karena dia seorang ibu yang melahirkan anak durhaka. mati terkutuk. "Ronggur. Kemudian dengan tidak dapat dilawannya. tenggelam. tangan kanannya memeluk pinggang Tio. Dan di samping itu. lembah perkampungan. dia telah menyandarkan kepala ke bahu Ronggur. Arwahnya akan disumpahi Mula jadi Na Bolon. Dia mengisak di sana. "mereka anak manusia seperti kita. sudah tentu.

Tapi. Dia anak yang berbahagia. si anak durhaka itu?" "Dia akan pulang membawa berita ria bahwa tanah habungkasan yang dijanjikan para dewata telah ditemuinya. Kemudian orang itu me lanjutkan. Meneliti pundak bukit dan celah bukit yang ada di sebelah timur. Orang percaya. Tapi. melalui pukulan gondang yang dipalu dan mengorbankan beberapa ekor babi serta ayam putih. "Bukankah kau yang membuat ayah si Ronggur menemui ajal. Di saat mati. berakhirlah hidupnya. Dia masih tetap percaya. Ronggur anak yang memperoleh petunjuk secara langsung dari dewata. Tapi. arwahnya akan tidak diterima Mula Jadi Na Bolon dengan baik. selalu disahutnya dengan baik. membuat kemauan hidup melemah. Pertanyaan yang sebenarnya berupa ejekan yang diajukan orang padanya. tidak bosannya. dia telah dilahirkan untuk menyampaikan kehendak dan pesan dewata." "Apa kau katakan? Para dewata mengganti setan? Patutlah ramalan tenungmu tidak ada yang benar. setiap hari mencampakkan pandang ke arah matahari terbit.Pada mulutnya. "Sudah pulangkah Ronggur dari tanah habungkasan? Sudah ditemuinya tanah habungkasan yang dijanjikan setan itu? Kapan pulang." Orang lalu tertawa. setelah beberapa kali purnama tenggelam dan terbit lagi." "Bukan setan yang menggoda. dia tidak punya apa-apa. bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan. dan anaknya tidak pulang juga. Hingga dia dikebumikan tanpa upacara dan gondang. Ronggur dan Tio akan kembali membawa berita ria. karena kau ajak dia menyusuri Sungai T itian Dewata?" . Karena para dewata tidak diberi tahu atas kematiannya. ibu tua itu masih mengharapkan anaknya cepat kembali. Para dewata tidak akan datang menjemput arwahnya ke tempat yang baik me lalui Sungai Titian Dewata. Lalu.

Berita yang datang dari kampung sekitar. Orang yang kalah. lama kelamaan orang tidak mau lagi mengganggu. antara satu marga dengan marga lain. dan kaya. bila tertangkap. waktu itu pun. Persawahan dan perkampungan tambah banyak mereka kuasai. tenaganya tidak diminta orang membantu marga. "Orang gila. Orang membiarkan menatap ke arah matahari terbit setiap pagi. Membuat marga mereka menjadi lebih berkuasa.“Kami mengalami kegagalan yang mengakibatkan kecelakaan itu. yang dapat dihancurkan kerajaan marganya. Si tua gila. Orang tidak memanggilnya ke pertemuan marga dan ke sidang kerajaan marga. tekadku kurang kokoh waktu itu. Sehingga sudah sampai di pundak. Marga yang dikalahkan marganya itu. akhirnya harus membayar upeti pada kerajaan marga. ke tanah batu yang sama sekali tidak baik dijadikan persawahan. baik mengenai perdamaian. yang berakhir atas kemenangan marganya. Malah waktu marganya sendiri harus berperang karena memperebutkan hutan di teluk danau itu. Sedang yang sempat melarikan diri. orang menjadi ramai tertawa lalu pergi sambil berkata. . harus pula membayar upeti pada kerajaan marga mereka. Aku akui. dan antara satu lunak dengan luhak lain tidak disampaikan orang padanya. kuat. antara satu suku dengan suku lain. begitu pula mengenai peperangan yang terusmenerus meletus. Orang tidak mengacuhkannya lagi. Ayah Ronggur menemui ajal karena kecelakaan itu. menjadi orang buruan." Mendengar sahutan begitu. Malah orang sudah sependapat. Memutih uban. dia seperti tidak ada lagi. lalu meminta damai sete lah melepaskan haknya atas apa yang diperebutkan. Sedang kerajaan marga yang tidak sempat dihancurkan. Aku meloncat dari biduk membuat keseimbangan biduk hilang. Pipinya cekung." Tapi. pergi ke kaki bukit terpencil. dijadikan budak belian. mencakapinya. Orang tua itu membiarkan rambutnya panjang.

Setiap orang melahirkan anggapan dan duga demi duga. Tidak melesu. apa yang akan disampaikan penyelidik yang sudah dikirim kerajaan. Namun setiap orang lebih menginginkan bersikap menanti. Diputuskan untuk mengirim kurir penunggang kuda. "Mereka telah kembali. Mereka juga memang melihat ketiga titik yang bergerak itu. binatang liar lagi buas." Orang bertemperasan ke luar rumah lalu terus pergi ke gerbang kampung sebelah timur. tempat matahari muncul. Mereka sedang menuruni kaki gunung sebelah timur. Matahari bersinar terang. Hati tiap orang tambah gemuruh. menyelidiki keadaan sebenarnya. Karena gunung itu gunung angker menurut kepercayaan mereka. Pagi itu juga kerajaan marga mengadakan sidang. sinar matanya tetap mengandung sinar kepercayaan. Menatap dengan patok ke arah yang dimaksud orang tua itu. . Tapi. Mereka bawa juga dua ekor lagi kuda. Tidak ada awan di langit. pagi itu sinar mata tambah bening dan bersinar. Terlebih karena dia meneriakkan. Dan. Tapi. Sebanyak tiga orang penunggang kuda bergerak. Setiap saat benda yang bergerak itu mendekat atau menurun ke lembah perkampungan mereka. Apa yang akan terjadi. Dijauhan ada tiga benda kecil dilihatnya bergerak-gerak di kaki bukit sebelah timur. yang tidak punya beban. Apalagi bila orang menurun dari pundaknya. Percakapan menjadi simpang siur. Atau apa yang telah terjadi? Warta apa yang akan datang? Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Tanpa disadarinya dia bertempik dan berlari ke tengah kampung. masih mengatakan bahwa itu bukan rombongan Ronggur.Wajahnya bertambah lancip. sampai orang pada tercengang. Belum pernah seorang manusia pergi ke sana. Ronggur telah kembali dari tanah habungkasan. Kalau memang itu rombongan Ronggur supaya dibawa pulang.

seperti pagar . T ambah lama. tapi sayangnya pula anak yang telah dicoret dari silsilah marga karena digoda setan. Ronggur melompat dari punggung kuda. ketabahan. Setiap hati tambah bertanya. Tanpa kurang sesuatu. Kuda yang dua ekor lagi sudah ada penunggangnya. Mereka memberi sembah. Dataran yang landai. yang tidak pernah salah tafsir tenungnya. Tidak ada yang turun ke danau. dan kekuatan serta keuletannya. Lalu dari mulut Ronggur keluar kata: "Bapak. Suasana tambah tertekan. Tidak ada yang turun ke sawah. Bila senja telah mulai memerah di langit. Tiap orang seperti terpacak di tempat masing-masing. rombongan itu bertambah dekat. telah kembali ke tengah mereka. ditumbuhi pohon kelapa berjajar. Sedang dipangkuan Ronggur. Dengan bantuan doa Bapak. mereka sudah dapat melihat kepulan debu mengepul ke udara. dan berusaha meruntuhkan kepercayaan mereka yang bisa membuat dewata marah. telah kembali di tengah mereka. Anak yang sudah disangka mati dikutuk dewata. lalu terus mendekat ke orang banyak. Anak yang dikenal kecakapan. Ronggur. mencampakkan sinar yang beraneka warna ke permukaan danau. bersama dengan bertambah merahnya warna senja. Di belakangnya Tio menggendong bayi. anakmu ini telah menemukan tanah habungkasan yang sangat luas lagi landai. Dia tidak langsung menuju ke tempat raja yang juga hadir di sana. keberanian. mendekat pada orang tua yang berambut panjang putih itu. si belang menjulurkan lidah. juga menemui sebuah danau yang tidak bertepi tapi airnya asin. Tapi. Setelah menuntun Tio turun dari pundak kuda. Orang terus saja dapat mengenali bahwa penunggang kuda yang keempat. Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan. Setiap orang terdiam.Sampai sore orang semua tinggal menanti. Namun sangat banyak ikan. Penyelidik penunggang kuda sudah pulang.

tidak perlu takut kehabisan makanan.” "Di manakah itu. tidak perlu berkelahi karena setitik air parit. Sebenarnya bukan ujung dunia. Orang yang pergi ke sana. air harus menuruni sebuah lembah yang sangat curam. Tanah di sana tidak akan habis. Di sana kedamaian akan tercipta. tanah yang hijau tidak bertepi. Sungai Titian Dewata tidak pernah putus. Anakku?" tanya orang tua itu ber-napsu. namun tidak perlu takut kekurangan tanah. Setelah air terjun. Sungai Titian Dewata pada salah satu tempat. Orang yang pergi ke sana. "Di seberang ujung dunia. berapa keluarga yang dapat di tampung tanah habungkasan yang kau temui itu?" "Berapa keluarga? Ah. Lagi pula. memang mempunyai arus yang sangat deras." . Hutan menyimpan binatang buruan yang jinak. Tapi. Tapi. Setiap orang bisa punya anak berpuluh-puluh. sejauh mata memandang hanya tanah yang landai yang tampak. hutan belantara yang sangat hijau lagi luas. Tanah. alangkah gembur dan subur. Sampai bertemu dengan kaki langit. Jadi aku tidak dapat mengatakan berapa keluarga." "Anakku. apa yang kita takutkan bahwa penduduk akan sangat padat sedangkan tanah begitu sempitnya karena penemuan tanah habungkasan ini tidak jadi persoalan lagi. cobalah bapak bayangkan. membelah dada hutan belantara yang sangat lebat dan rimbun itu. Bukan tanah tipis menyaputi batu alam. Bapak. itulah pula mula tanah landai.tepian danau. Karena ada air terjun. semua keturunan si Raja Batak dapat di tampungnya sekaligus dan bersama keturunan yang akan datang tanpa menakutkan bahwa tanah garapan akan habis. karena setiap orang rajin bisa membuka tanah persawahan sesuka hatinya. Di punggungnya. jadi. tanah habungkasan. memberi imbangan akan luasnya danau yang ada di depannya. Sungai Titian Dewata terus mengalir. Tanah di sana sangat baik dijadikan persawahan.

aku memutuskan membawa tiga pundi saja sebagai bukti." "Terimalah ucapan terima kasihku padamu. sehingga lahir dalam melaksanakan petunjuk dewata. Tiba-tiba saja dia berkata. Setiap orang seharusnya mengucapkan terima kasih padamu dan pada Mula Jadi Na Bolon yang telah menciptakan tanah habungkasan itu. akan tidak perlu berulang. kau telah mengatakan segala dusta. Setiap orang akan memperoleh kebebasannya kembali mengerjakan tanah. Menjamin keperluan mereka sebelum saat .Sambil menitikkan air mata bening karena gembira. "Waktu aku berangkat dulu dari sini. lagi pula harus melalui pundak bukit dan celah bukit. suaranya terus lantang: "Ronggur. lalu." Orang banyak. Apakah buktinya bahwa kau telah menemukan tanah habungkasan seperti yang kau dustakan?" Ronggur mengeluarkan pundi yang tiga itu. kau telah melaksanakan petunjuk dewata. baik penduduk biasa. Anakku. Sekarang aku bawa tiga pundi padi yang bernas. orang tua itu lalu mengatakan: "Anakku. yang kemudian menimbulkan luka serta duka yang dalam dan lebih kejam lagi yang menimbulkan kemelaratan dan golongan tertindas. memancar sinar kebencian dan dendam. yang padinya begitu bernas. Anakku?" "Ya. di tanah habungkasan. karena perjalanan begitu jauh. bukankah begitu. kutinggalkan padi bagi keperluan orang yang mau pindah ke sana dalam taraf pertama. T api. Tapi. Bapak. Tapi. hanya sepundi kubawa. sehingga lahir dalam kenyataan. pun kerajaan. dari mata Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Pertempuran yang sering terjadi antara satu marga dengan marga lain atau antara satu luhak dengan luhak lain. semuanya terdiam mendengarkan percakapan itu. Sebenarnya hendak kubawa lebih banyak.

Dan. Karena persoalan. para dewata akan murka. itu semua. Kau telah membuat segala pekerjaan keji dan mengatakan kata yang keji. Dialah isteri paling setia. perempuan yang paling setia dan tabah. Marga yang kuat perkasa lagi kaya ini. Kalau tidak. Padi lebih cepat matang. anak siapa yang digendongnya itu? Anakmu? Kau mengawini atau memilih seorang budak menjadi ibu anakmu?" Datu Bolon Gelar Guru Marlasak tersenyum mengejek." "Aku tidak mempercayai cakapmu. aku jadikan dia istriku." 'Ke mana pergi gelang yang dipakai si Tio pertanda dia budak?. Dia tidak akan pernah menjadi budak lagi. marga yang dikurnia oleh dewata. jadi persoalan. bila kita mau mendengar cakap dusta ini. “Kita akan dikutuk para dewata dan arwah nenek moyang." Kerajaan yang lengkap cepat saja mengadakan sidang. Dengan suara menghentak. Demi menghormati kesetiaan dan ketabahannya. Wajah Ronggur memerah padam. Pada orang yang melakukannya. Dan. Kita dulu . sewaktu kami tiba ke tempat jatuhnya air Titian Dewata untuk pertama kalinya. Kami telah dipersatukan Mula Jadi Na Bolon secara langsung. Saat panen lebih pendek di sana daripada di sini. Dan. mengutuk marga ini. Bisa saja kau curi dari lumbung orang. Kau telah mengawini seorang budak belian yang diharamjadahkan orang merdeka. Lihatlah.panen tiba. betapa bernasnya padi ini. soal kepercayaan. kutuduhkan padamu dan aku meminta pertimbangan khalayak dan kerajaan. agar memilih bentuk hukuman yang pantas ditimpakan padamu. Tiga pundi soal gampang. Inilah persoalan yang sangat berat. "Tio telah menjadi isteriku. kau telah mengatakan bahwa Sungai Titian Dewata tidak jatuh ke ujung dunia. dapat dijatuhkan hukuman. Tapi. Kau telah menghancurkan kepercayaan kami. suara Datu Bolon memegang peranan yang penting. Dia telah kubebaskan. Dalamm rapat kerajaan.

agar para dewata yang telah melindungi kita. telah dua kali marga kita mengalahkan marga lain dalam peperangan? Hingga marga kita menjadi marga yang berkuasa. luhak kita. bila dia kembali ke kampung halaman ini. Tapi. akan menangkap menjadikannya budak belian. karena mereka telah menghina kepercayaan. Tapi. dan tak mau mendengarkan cakapnya. tak seorang pun dibolehkan menyentuhnya. tuntutanku: Menangkap dan menghukum si Ronggur bersama budak belian itu. lalu sama menyaksikan hukuman mati yang harus dijalani Ronggur bersama T io. Bukankah kita sudah harus bersyukur pada para dewata dan arwah nenek moyang. Tambah lama. besok pagi. akan dipalu canang ke tiap kampung yang dikuasa i marga itu. kuat. langsung di atas tanah. Bayi diletakkan di depan. Si belang mendekatkan moncongnya ke mulut anak itu. Ini perlu. yang telah membuat kita menang dalam peperangan tidak memurkai kita. menangkap Ronggur dan Tio. dan dihormati setiap marga? Dan. menjadi daerah taklukan kita?" Segala saran yang dilancarkan Datu Bolon gelar Guru Marlasak. mempengaruhi keputusan kerajaan. Ronggur dan Tio diikat pada batang pohon mangga yang besar. mereka. Hukum mati. suara anak menjadi parau. Karena dia telah mendustai kita dan dia telah membebaskan seorang budak marga tanpa persetujuan sidang kerajaan. Telah diputuskan pula. Lalu mengeluarkan perintah. Dekatnya si belang. sekarang tuntutanku tidak sampai di situ. Agar pengaruh yang dibiuskan Ronggur tidak mempengaruhi orang untuk seterusnya. Turut si belang menitikkan butir air dari matanya. tidak saja perasaan Tio dan Ronggur serasa disayat. akan memutuskan. Mendengar tangis bayi kecil itu. kaya. Lalu . untuk mengumpulkan mereka. Apak kecil itu menangis sejadinya. karena sebaik kita mencoret nama Ronggur dari silsilah marga.si Ronggur.

mengusulkan agar Ronggur mencabut kembali semua yang telah diucapkannya. . masih datang menemui Ronggur. Cepat saja berita yang dibawa Ronggur dan Tio menjalar ke mana-mana. Lalu lidah anak itu menjilat bibirnya. Raja Panggonggom bersama pengiringnya. Raja Panggonggom tidak mendengarkan. asal dia mau. Paduka Raja. Tapi. Hukuman bisa dientengkan. Malah dikatakannya: "Aku tidak dapat membenarkan yang salah." Tapi. Segala alat yang dibawa oleh Ronggur dan Tio ditumpukkan depan mereka. tak perlu hukum mati. Tidak berapa lama setelah senja berganti malam. Yang benar harus kukatakan benar. Semua akan dibakar. Bila matanya dicampakkan ke arah T io dan Ronggur. si belang memperoleh senyum terima kasih dari tuannya. Supaya bekas dari kejadian itu tidak tinggal sedikit pun.lidahnya dijulurkan si belang. tempat orang yang tidak berpunya. Sehingga air dari lidah si belang berpindah ke lidah anak itu. begitu pula sebaliknya. Bila fajar pagi terbit hukuman mati itu akan dilangsungkan. Sampai ke kaki bukit tempat orang melarat. Percayalah padaku. Si belang meringis kecil. Ronggur menolak sarat itu. Disapukannya ke bibir anak. setelah saran Ronggur ditolak kerajaan marga mereka. Ronggur harus bersedia menjadi budak. dan tempat persembunyian orang buruan. Mereka menegakkan kepala mendengar berita itu. Tangis anak itu mereda. Terutama setelah mereka memperoleh penjelasan langsung dari bekas Datu Bolon. juga ketiga pundi padi itu. begitu pula Tio dan anaknya. merasa gembira dapat mendiamkan tangis anak itu. Sampai basah. Kemudian lidah anak itu secara langsung disapu lidah si belang.

akhirnya memutuskan: Daripada mati dibunuh dan diburu di dada tanah batu yang gersang. Seseorang terus mendekat ke tempat Ronggur." Ronggur memberi isarat. menyelusup ke induk kampung marga Ronggur. dijaga tiga orang pengawal. Malam sudah jauh. Setelah mengitari kampung dan meneliti. Tiba-tiba saja si belang menggonggong. Tali temali yang mengikat Ronggur dan T io. mereka putuskan. sepuluh orang lelaki yang kuat tubuhnya. yang harus kita perbuat?" . Ronggur bertanya. mereka dapat melihat di mana Ronggur dan Tio diikat. Membuat ketiga pengawal itu terjaga. Bila Ronggur mati dibunuh orang yang tidak dapat mendengarkan penemuannya. "Apa.Bekas Datu Bolon itu mengatakan pada mereka bahwa yang mengetahui jalan ke tanah habungkasan itu hanyalah Ronggur. bersama bekas Datu Bolon di kaki bukit. Orang melarat dan orang buruan yang tinggal di gua kaki bukit itu akan selalu lari ke mana saja berpencar bila tentara kerajaan marga Ronggur datang menangkap mereka. Mereka harus membela Ronggur dan Tio. suruh si belang diam. Orang yang tidak berpunya dan orang buruan telah menantikan mereka. Mereka gendong bayi lalu mereka melarikan diri. Dan. "Ronggur. harus melepaskan mereka dari ancaman maut itu. Mati terbunuh. Malam itu juga. Sehingga si belang duduk dekat kakinya dan diam. Unggun api sudah mulai mengecil. Lengkap dengan senjata masing-masing. akhirnya mereka kembali tidur sambil menyepak si belang. Setelah mengucapkan terima kasih. maka tanah habungkasan itu akan kembali hilang. lebih baik mati menempuh jalan menuju ke tanah habungkasan. Karena mencium bau orang yang datang mendekat. Mereka semua akan menjadi orang yang sia-sia turun-temurun. lalu membisikkan. sekali sergap saja. ketiga pengawal yang sedang mengantuk itu tidak berdaya lagi. Keadaan sunyi. Dari celah bambu duri.

Merekalah yang berhak menerima berkah darinya. Membangunkan setiap orang. Sidang kerajaan dengan berangsangan. Sedang di induk kampung marga Ronggur. harus kau sampaikan pada setiap orang." "Ya. maka orang yang mau mendengarlah yang berhak menerima berkat darinya. "Bila mereka menemui Bapak. orang buruan ini karena kalah perang. Ayo." Bergeraklah mereka malam itu juga." kata Ronggur. ingin melihat tanah habungkasan dalam kenyataan. yang dipercayai beserta laskarnya yang terkenal keberanian dan kekuatannya.Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan»berkata. Bapak juga hendak mereka tangkap dan bunuh. yang mau mendengarkan berita penemuanmu. dipalu gong. Sehingga mereka dapat kembali mengecap alam kebebasan. Menyuluh jalan jurang dan lembah dalam. tangkap mereka. Kalau sebagian orang tidak mau merasakan arti yang dikandungnya. Raja Nabegu memerintahkan Hulubalang yang terkemuka. Aku ingin melihat apa yang dibisikkan para dewata padaku. Bawalah mereka ke tanah habungkasan. Ronggur dan Tio bersama anaknya dan si belang sudah lari. "Berita yang diturunkan para dewata padamu. Tanpa memandang dari marga mana mereka. . bunuh setiap orang yang memberi bantuan padanya. Memegang obor. mengejar dan menangkap Ronggur dan T io kembali. Mereka sudah tahu. Mereka inilah orang yang tidak berpunya. Dan. tidak dapat menerima kebenarannya. karena aku sudah sering melihatnya dalam mimpiku. otot mereka yang kencang itu dapat kembali digunakan mengolah tanah. Bapak akan ikut. dari golongan mana mereka." "Bapak juga harus ikut. belum pernah marga kita dihina orang begini rupa. Bapak juga walau dengan berjingkat. Membunuh setiap orang yang memberi bantuan pada Ronggur dan Tio.

Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Rombongannya merasa aneh juga terhadap tindakan begitu. Rombongan terus bergerak. agar arwah laskar yang wafat itu mengutuk perbuatan Ronggur dan Tio. Pada pagi berikutnya. Sedang Ronggur. Tempik dan sorak. turut serta dalam rombongan yang harus menangkap Ronggur dan Tio serta membunuh setiap orang yang memberi bantuan padanya. Yang diharapkan dipunyai oleh anaknya. cepat mengusung bangkai laskar marga yang telah mati ke Sopo Bolon. Malah . jalan mana mereka tempuh. memerintahkan anak lelakinya yang sulung. bergeraklah orang yang bertugas memburu rombongan Ronggur. Untuk sama-sama dibunuh oleh tiap warga marga.Sedang Raja Panggonggom. Malah bermalam. Supaya orang yang memburu dapat mengikuti jejak dan jalan mereka tempuh. Dia harus diimbangi dengan kelicikan pula. Malah dimintanya. kemarahan dan hasutan. Di sana disembayangkan. Pundak bukit pertama telah ditaklukkan. Di kala fajar pagi pertama menyingsing. Matahari semakin tinggi. agar orang menghidupkan api. Ini tidak. Mereka harus membunuh setiap anggota rombongan Ronggur dan menawan Ronggur hidup-hidup. Orang yang memburu juga terus bergerak. tetap menyuruh agar mengadakan tanda. Menandakan pada yang memburu bahwa mereka ada di sana. Ronggur menyuruh. agar mencelakakan Ronggur dan Tio bersama rombongannya. mengepulkan asap. anak lelaki Raja Nabegu dan Raja Ni Huta. Maunya mereka menghilangkan jejak. rombongan yang memburu telah tampak di kaki bukit yang mereka taklukkan. dialamatkan pada rombongan Ronggur. Di sana mereka istirahat. Raja Panggonggom memesankan dan mengingatkan bahwa Ronggur punya cukup akal yang licik. Kepada ketiga anak raja itu. untuk dihadiahkan pada sidang kerajaan. yang kelak menggantikan sebagai Raja Panggonggom bila dia wafat.

Lapangan datar hanya beberapa depa saja. Kemudian malam. Matahari kembali melemah. Pada hari ketujuh. yang merupakan pintu ke tanah habungkasan. Begitu pula rombongan yang memburu. Rombongan Ronggur istirahat. agar kedua rombongan selalu dipisah lembah. Dari baliknya. Sambil hasut menghasut. agar rombongannya tidak berada di dasar lembah. Tapi. Kedua rombongan dapat bertatapan. rombongan Ronggur telah melewati celah pertemuan bukit. Tapi. rombongan yang diburu dan memburu kembali bergerak. Ronggur tetap mengusahakan. Begitu pula rombongan yang memburu. mereka pun mulai bergerak. mereka laksanakan juga dengan sebaik mungkin. Harus memenggok ke kiri. Begitu terus-menerus. di bawah melalui pundak bukit yang menurun tanah habungkasan.memberitahukan pada musuh di mana mereka berada. Bila rombongan yang memburu sudah berada di pundak bukit pertama. Juga diusahakan. bila musuhnya berada di pundak bukit. Dendam kesumat pada rombongan yang memburu tambah menghebat. karena Ronggur sungguh-sungguh menyuruh. Begitu terus menerus. Bila rombongan yang memburu mulai mendaki bukit. hingga musuhnya dapat menjatuhkan batu untuk membunuh mereka. Sedang Ronggur hanya tersenyum saja. Setiba di balik bukit terus jurang dalam. Bermula terus jurang. Senja memerah. rombongan Ronggur sudah kembali mendaki ke pundak bukit kedua. dapat dilihat. Takut jatuh ke jurang dalam. beberapa jauh harus melalui di satu jalan . Terkadang antara kedua rombongan terjadi saling panggil-memanggil. Bila fajar kembali terbit. karena merasa diperma inkan. Tidak ada yang berani melanjutkan perjalanan di malam hari. Rombongan Ronggur menghidupkan api unggun. tapi dipisah lembah yang dalam. Tanpa menjatuhkan batu untuk menghancurkan yang memburu itu.

Dan. Setiap anggota rombongan Ronggur kagum menatap tanah datar yang luas dan hijau di bawah mereka. Setiap orang. menyerah atau mati. baik perempuan. mengambil kesempatan.sempit. Cepat berpaling dan melayangkan tombaknya ke arah Ronggur. Ronggur cepat berondok ke balik batu alam. agar rombongan yang memburu itu mendatangi celah bukit. di saat begitu. Tapi. Dengan lantang. Kalau tidak kamu sekalian akan kami bunuh. Menantikan rombongan yang memburu. Tiap orang disuruhnya menyiapkan senjata yang ada di tangan masing-masing. Melewati celah bukit. Dan. Lalu setiap orang mengucapkan rasa terima kasihnya. Dan." Rombongan yang memburu mengutuk pada diri sendiri. Di depanmu jurang dalam. Sedang dua tiga orang. disuruhnya memilih batu alam. pada satu tempat yang tidak menguntungkan. Ke jurang dalam. Kemudian orang yang tidak bersenjata. mereka telah ada di bawah rombongan Ronggur. Boleh pilih. yang bisa digulingkan. Lengkap senjata terhunus di tangan. Mendaki sedikit ke atas. anak Raja Ni Huta. Baru tiba kembali ke jalan yang agak luas. Rombongan yang memburu terus saja mengejar dengan semangat meluap. "Letakkan senjatamu. disuruhnya pergi ke mulut celah bukit. disuruh Ronggur membuangnya dan menyampakkannya jauhjauh. sebuah tombak balasan melayang ke bawah mengenai . Ronggur menyuruh tiap orang berondok ke sisi bukit. Setiap orang ternganga melihat putihnya air terjun yang menerobos bukit sebelah timur. Dengan terpaksa harus membuang senjata yang ada di tangannya. Semua orang mengerjakan perintah Ronggur. Juga dari sana dapat ditatap air terjun yang memutih. setiap orang yang memakai gelang pertanda budak. Mereka terjebak sudah. mula jalan menurun yang baik menuju tanah habungkasan. Memberi tanda pada mereka. Ronggur berteriak. yang diapit oleh bukit dan dinantikan mulut jurang menganga.

merambah jalan ke danau yang maha luas. derum air terjun yang jatuh. berpaling ke arah Ronggur. menyerah atau mati. Dan. benda memutih dikejauhan yang terus menerobos ke timur. Sekali lagi Ronggur berteriak. Setelah menundukkan kepala tanda memberi hormat." Anggota rombongan yang memburu itu. Justru karena warta itu bertentangan dengan kepercayaan yang kau anut selama ini. Sekarang mereka dengan mata kepala sendiri. Dengarlah dengan kupingmu sendiri. luasnya tanah hijau yang landai. yang airnya asin. Hulubalang yang memimpin rombongan itu. tapi banyak ikannya. Apakah kalian masih belum percaya?” Orang yang memburu pada terdiam dan tercengang. Tapi. Kalian semua berada di tempat yang tidak menguntungkan. apakah Sungai Titian Dewata berakhir ke ujung dunia? Dan. warta dari mula kehidupan. Dan. Lalu kedengaran suaranya meninggi: "Kau para lelaki yang kuat. itu . dengan terpaksa mencampakkan semua senjatanya ke mulut jurang. kalau kau sekarang mau membunuh kami. Mulut mereka ternganga." “Lihatlah. "Pilih antara dua. kau telah bisa melakukannya tanpa sesuatu halangan. telah menyaksikan kebenaran cerita Ronggur. di sebelah kananmu itulah air terjun yang kukatakan. Pergunakanlah mata kepalamu. di depanmu jauh di bawah sana. dia mengatakan: "Ronggur. Mereka disuruh Ronggur menghadap ke arah jurang. yang tidak punya kekuatan untuk menerima sesuatu warta kebenaran. seperti yang kuceritakan padamu. yang lalu jatuh ke mulut jurang dengan pekikan meninggi. Lihatlah sekarang dengan mala kepalamu sendiri. Harus tunduk pada Ronggur. membelah kehijauan hutan belantara itu. kelanjutan Sungai Titian Dewata.anak Raja Ni Huta. di saat mereka terjebak pula.

tapi sebagian lagi memberi pertimbangan lain. Yang sebenarnya juga anggota keluarganya. Kami telah mengikuti ajaran yang salah. Tanah luas masih tersedia untuk mereka walaupun aku mati. Ronggur." "Bagaimana caranya." katanya. dan bau kesuburan yang mengambang darinya telah kuhirup. sebagian ingin menuntut balas. bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan ke dekatnya.memang hakmu. Baru mulutnya mengatakan. "Bapak. "Kami telah me lihat air terjun yang kau ceritakan. Akulah yang pertama harus kau bunuh. Tapi. dan kami tidak punya kelapangan hati mendengar warta kebenaran darimu. Kau bisa menentukan. sekarang kau memperoleh jalan lain untuk mewartakannya kepada orang lain di kampung halaman. Untuk itu kami sewajarnya menerima hukuman. bagi Bapak. Aku pemimpin rombongan yang mengejarmu ini. "apa yang harus kuperbuat sekarang?" Lama orang tua itu terdiam. Dengan sendirinya pula mewartakan kepada kelompok marga lain. Yang melanjut dengan. Kau telah gagal mewartakan berita penemuanmu secara langsung. Aku akan tidak menyangsikan hidup anakku lagi. apakah mereka masih berhak hidup atau mati. Tapi matiku telah merasa senang. Lama Ronggur menatap tawanannya yang hendak menangkap pada mulanya. Justru karena aku telah melihat kebenaran ceritamu. ada sesuatu hal yang menguntungkan dalam saat ini. mula tanah datar yang maha luas. Dalam keadaan begitulah Ronggur memanggil orang tua." Ronggur membiarkan Hulubalang itu terus berkata. "Nasib mereka berada di tanganmu. Sesuatu perasaan yang bertentangan tumbuh dalam dada. Hijaunya telah kutatap. Tanah habungkasanmu. Ujung dunia yang kami sangka selama ini. marga yang masih merdeka. Tapi. Bapak?" ." Seketika keadaan hening.

"Di samping itu. Siapa saja di antara mereka yang punya hasrat pindah ke tanah habungkasan harus dibolehkan. Bapak tahu. Juga segala harta milik Bapak yang disita dulu." sahut orang tua itu cepat. Semua orang berhak memperoleh tanah. harus dikembalikan. kebenaran penemuanmu. Bapak tahu aku telah mengambil T io menjadi istriku. "Dan." "Lalu. Mora yang harus kuhormati. memang begitu menurut adat kita. tidak boleh dilupakan. aku harus menuntut pula bahwa semua keturunan marga Tio. "Saran yang baik."Tawanlah anak Raja Panggonggom. seluas dan selebar yang sanggup dia kerjakan." Orang tua itu menundukkan kepala mengiakan. Dan akan kutambahkan bahwa tidak marga kita saja yang berhak datang ke tanah habungkasan. Sedang ." Tersenyum Ronggur memperoleh saran itu. raja atau apa saja. Lalu disambutnya. harus dibebaskan dari perbudakan. Kemudian suruh pulang Hulubalang itu dengan pengiring kecil." "Karena itu. Tidak boleh dihalangi." "Ya. harus dijaga dan dipelihara. Semua orang berhak. Tugaskan padanya agar dia mewartakan pada kerajaan marga atas kebenaran ceritamu. itu sangat baik. anak Raja Nabegu. "aku harus menuntut pada kerajaan marga. akan sama dengan nasib Raja Ni Huta. maka nasib anak Raja Panggonggom dan anak Raja Nabegu. sejauh kita merantau. agar mengembalikan tanah persawahanku. Sesuatu harta pusaka turun-temurun yang mulanya dirambah nenek moyang. namun bona nipasogit. Tidak memandang apakah dia seorang budak. Karena bagaimanapun seperti adat kita. Bila mereka tidak juga mempercayainya." "Ya." kata Ronggur pula. kesatuan marga Tio sudah menjadi moraku. Semua marga berhak. yang dulu disita kerajaan dariku. Dan. Itu sangat penting.

Itulah sarat yang harus disampaikan Hulubalang pada kerajaan marga. Segala hasil pembicaraan disampaikan Ronggur dengan suara lantang pada Hulubalang. Selalu mereka mengadakan upacara di pangkal sungai. Tapi. Yang ditambahnya pula: "Dalam jangka dua purnama. ditambah pasukan kerajaan marga yang sudah insaf menuju ke timur. Mewartakan. ke tanah habungkasan. telah terbuka tembusan jalan baru. Jalan tempuhan. Daerah lain tambah banyak ditemui. harus dibebaskan dari perbudakan. Berilah kesempatan padaku. ditunjuk Ronggur mengiringi Hulubalang menuju kampung halaman. kebenaran penemuanmu. Utusan kerajaan marga. apakah saran itu diterima atau tidak. Mengiakan. Malah dengan sadar dia menambahkan." Hulubalang itu menyanggupi akan menyampaikan pesan. tambah lama. Sejak itu. Sedang rombongan Ronggur. Kemudian rombongan lain bertambah banyak menuju tanah habungkasan. nama tempat itu mereka sebut Porsea. aku akan bekerja keras menginsafkan orang. Baik melalui sungai atau jalan darat. tidak hanya yang dirintis Ronggur saja yang mereka kenal. tanpa sarat itu pun. "Karena aku sendiri telah melihat kebenaran ceritamu. Bila mereka sudah sampai di tempat yang mereka namakan . untuk berbakti.orang yang tidak bisa pindah karena sudah tua atau karena alasan lain. boleh kelak menempuh jalan yang mereka tandai. Yang lima orang itu pun telah bersedia menjadi saksi atas kebenaran penemuan Ronggur." Orang tua itu tersenyum. mempertebal keyakinan bahwa mereka akan dituntun para dewata dan arwah nenek moyang ke tanah habungkasan." Lima orang dari anggota yang memburu itu. utusan kerajaan sudah harus ada yang datang menemui mereka ke tanah habungkasan.

Bila mereka meneruskan perjalanan. Sedang bila kembali ke arah utara dari Rao-Rao. Lalu bisa kembali ke Toba. Dari Parhitean. tiba ke dataran tinggi Bonjol. Menembus terus ke daerah AngkolaSipirok-Pahae dan tembus ke Silindung. satu lagi menuju Dairi-Pakpak. Dari sana dapat mereka tatap pundak bukit yang tiga. Dan. telah menaklukkan pegunungan Pangaribuan. Dari pesisir Sibolga. mereka terus pergi ke arah timur. dapat mereka kenal pundak bukit yang ada di bagian pundak mereka. mereka akan tiba ke Parsoburan. pundak bukit di lingkungan Danau Parapat. mereka akan tiba ke Daerah T angga. akan tiba ke tanah habungkasan yang ditemui Ronggur. pundak pegunungan Toba telah dapat mereka tatap . bila mereka kembali mendaki pegunungan utara. Terus ke selatan. Sedang rombongan yang berangkat dari Pangoruran Samosir. Mereka tiba ke Pangkat. Tarutung. sampai ke daerah perbatasan Sumatera Barat. Tarutung. bila mereka memenggok ke selatan. airnya asin. tembus pula ke Rura Silindung. pesisir Sibolga. Dari Mandailing. mereka menemui pula sebuah danau yang luas. lalu mereka namakan itu Tiga Dolok. terus menurun dari sana ke pesisir Barus. Bila mereka dari Parhitean menuju ke utara. di mana rombongan Ronggur membuka perkampungan. bila mereka terus menurun. bisa mereka buka dua persimpangan. yaitu Rao-Rao. bisa turun kembali ke Pulau Samosir. Dari sana terus menembus ke daerah Simalungun. Satu menuju Tanah Karo. berteluk indah.Parhitean. Dari sana. Bila terus menyusur bukit sebelah barat. Di sini mereka bertemu dengan rombongan yang sejak Parsoburon terus mengarah Barat. akan menaklukkan pegunungan sebelah barat. kembali tiba ke lingkungan Danau Parapat. bila menuju ke arah barat. menurun ke pesisir Barus. Dari Dairi. berarti turun ke daerah Mandailing Raja. jadi bila mereka menuju ke sana. Dari T iga Dolok.

telah dialihkan semangatnya untuk menaklukkan pundak demi pundak bukit. Menerobos celah pertemuan bukit memanjang. Dari Angkola. yang menyimpan ikan banyak. merambah jalan di bawah naungan dedaunan belantara yang menghijau lebat. yaitu dari Tor Simago-mago. akan tiba ke daerah dataran yang luas. dan punya binatang buruan yang jinak lagi banyak. berhutan subur. yang tidak sedikit mengorbankan nyawa. Kemauan mempertahankan dan melanjutkan kehidupan. untuk menemui dataran luas. Airnya asin mengandung garam. ccdw-kzaa Daftar Istilah Ambalang= tali pelempar batu Ama Ni Bolpung= ayah si Bolpung Ampangngardang= juru perdamaian Ampataga= obat (luka) nama sejenis tumbuhan biasa dipakai untuk Berandak= bersembunyi/berlindung Bernas= berisi/berarti Bolatan= destar . daerah Asahan-Labuhan Batu. Padang Lawas. sampai bersedia mengorbankan pertarungan demi peperangan.dan kenal kembali. Semuanya untuk kelanjutan kehidupan dan mengembangkannya. mereka bisa bertemu dengan orang yang berangkat menuju tanah habungkasan yang ditemui Ranggur. Terus ke selatan. dataran lain. Untuk menemui danau yang maha luas. bila menembus ke selatan teru s.

.Bona Ni Pasolgit= kata ganti untuk kampung halaman Buhul = ikatan Bungkas= pindah Burung Ambaroba= burung pemakan padi.. berdada kuning Curup= cerutu Dibuhul= diikat Dolok= gunung Gelagah= rumput yg panjang Habungkasan= tanah baru Luhak= daerah Mora= keluarga pihak isteri Mula Jadi Na Bolon= T uhang Yg Maha Esa Parhelaan= pesta adat (hela= menantu pria Parhitaan= jembatan/perantara Pargaul=luwes Pargounci= grup yg memainkan gondang Patentengan= sombong . tidak terbaca sobek. Pisau Gajah Lompak= pedang sakti Pohon Hariara= pohon beringin Purada= jumbai-jumbai warna keemasan pada ulos Raja Ni Huta= kepala kampung Sampuran Harimau= air terjun si harimau ....

terdiri dari bermacam daun mentah.Sopo Bolon= rumah besar (rumah adat) Sanduduk = rumput putri malu Temterasan= lari kucar kacir Terhempang= terhampar Terpacak= tertanam/terpaku Tuhil= pahat Tongkat Panaluan= tongkat kepala adat (marga) Ura= makanan khas Batak. ccdw-kzaa . antara lain daun pepaya serta gula merah dan lainlain.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful