Penakluk Ujung Dunia

Karya Bokor Hutasuhut Djvu, convert & Ebook : Dewi KZ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/ http://kangzusi.info/ http://cerita_silat.cc/

Penakluk Ujung Dunia Ayahanda Bokor menjadi mubaliq Islam di Tanah Batak. Karena itu, dia suka ikut menyusup hutan belantara, mendaki bukit dan lembah Bukit Barisan. Menyusup melewati Pintu Pohan, Parhitean, naik ke Tangga dan tembus ke Simalungun. Juga kembali melalui Dairi ke Tanah Samosir.

Dalam perjalanan, sering ngobrol sepanjang malam dengan para tetua, wakil masa silam, masih primitif, sederhana, tapi simpatik. Dengan para tetua itu. Bokor setempat tidur dan para tetua terus bercerita Di hutan, lembah, dan ngarai sudah biasa saja. Bertemu harimau dan binatang buas lain tak soal lagi. Dan, suatu kali, di suatu hutan, di atas dedahanan rimbun terdapat sarang tawon ruang pun memanjat poitu berusaha mengisap madu itu. Tapi, seseorang lantas ikut naik, memanjat pohon yang sama yang setelah bibir berdecap mengucap jampi, beruang itu menyisih . Dan, "Penakluk Ujung Dunia" berkisah pada sulitnya memperoleh lahan. Perang warga sering berkecamuk. Lantas Ronggur mencoba menerobos Sungai Titian Dewata untuk mencari daerah baru. Kepergiannya dikutuk karena melawan tradisi. Dan, setelah dia kembali dan berhasil menemukan daerah baru, justru dia akan dihukum gantung karena Ronggur tetap saja sudah melawan tradisi kepercayaan yang sudah hidup turun temurun. Sungguh menawan dan indah .... PENAKLUK UJUNG DUNIA Oleh: Bokor Hutasuhut Hak Pengarang dilindungi undangundang Desain Kulit: Sriwidodo Cetakan Pertama 1964 PT Pembangunan-Jakarta Cetakan Kedua 1988 Penerbit: PT Pustaka Karya Grafika Utama Jakarta

Sekilas Pengarang: BOKOR HUTASUHUT, lahir di Balige, Tanah Batak, Sumatra Utara 2 Juni 1934. Dalam catatan masuk HIS, hari lahir itu berubah menjadi 2 Juni 1933. Menurut ayahnya, H.A.M. Mangaraja Gende Hutasuhut, perubahan itu perlu jika ingin sekolah. Dalam catatan itu juga tercatat nama benar Buchari Hutasuhut agar kelak menjadi pengarang tafsir Quran. Sejak 1953 sudah menulis cerita pendek ke berbagai majalah sastera dan media budaya. Selain buku ini, juga sudah terbit buku "Tanah Kesayangan" dan "Datang Malam". Kini berdomisili di Medan.

kebebasan penghayatan kebudayaan modem dari tradisi sastra modern. plot. Ketelitiannya di dalam melukiskan detail-detail ia gabungkan dengan rasa harmoni seni dalam bercerita mengenai watak manusia. Begitulah ia muncul sebagai sastrawan dengan gaya yang unik di antara sastraivan modern yang lain di Indonesia. Sehingga hasilnya bukanlah sekedar laporan anthropolis akademis. tetapi orang Batak tulen yang menjadi sastrawan Indonesia. Ia telah selesai melakukan wawancara dengan tradisinya dan dengan dinamika modern dari Indonesia Raya. Sedangkan kebebasannya. formalitas tutur kata bahasa lisan menurut tradisi Batak. Marilah kita sekarang menikmatinya. Formalitasnya. lalu duduk dan menulis novel ini. Alangkah hidup detail-detail dari lukisannya. Ia sangat sadar bahwa ia sedang menyelami dan melukiskan kehidupan masyarakat Batak yang unik tradisional kepada pembaca sastra modern pada umumnya. tetapi suatu karya sastra segar dengan latar belakang pengaruh tradisi kebudayaan Batak. Satu pertanda bahwa ia mengerti betul-betul apa yang ia tuliskan. Ia bukan photo copy kebudayaan Batak. Rendra . segi memandang persoalan sebagai sastrawan modern.Kata Pengantar Bokor Hutasuhut punya gaya bercerita yang merupakan gabungan sifat formal dan bebas.

cukup punya arti. Angin pegunungan berhembus. Salah seorang di antaranya menyandang ulos-batak ragihidup. putih. Di langit bintang gemerlapan. Senja baru saja berlalu. Wajah para lelaki tambah jelas kelihatan. Gong masih dipalu sesekali. satu sama lain. Dari jauh kedengaran suara ratap para perempuan. langsung menjadi pagar kampung. Hingga cahaya unggun api yang samar. setelah cukup dekat unggun api. terselip . Di saat Kerajaan Marga yang mendiami kampung itu mengadakan musyawarah. kepalanya dibeliti bolat-an berwarna tiga jalin-menjalin: merah. dan hitam. Wajah para lelaki yang bermunculan di mulut pintu. wajah yang menampung sinar matahari penuh. yang dimasak kerasnya hidup sehari-hari. tidak ada yang berkerisik. sewaktu enam orang lagi lelaki datang mendekat. tidak ada bulan. Wajah yang cukup matang dan keras. Mengikuti lingkaran rumah dan di tengah dikosongkan. Para lelaki tambah banyak berkumpul. memecahkan tanah batu untuk dijadikan persawahan. yang hulunya berukirkan wajah dan kepala manusia. Halaman kampung menjadi luas. Tapi. di sebelah hulu. Tapi. Kemudian kelompok manusia itu menjadi tambah hening. tampaknya saling diam. Bambu duri itu. Di pinggang. Nyalanya meliuk ditiup angin.1 Satu-satu para lelaki keluar rumah. belum seorang pun mengambil tempat. Lebih dulu meliukkan pucuk bambu duri yang ditanam orang sekitar kampung. memancarkan rasa marah dan mendendam. Sengaja dikosongkan. serta dihiasi rambut manusia. Tapi. Tangan kanan memegang tungkotpanaluan. tempat penghuni kampung selalu berkumpul di saat yang perlu. Dan. memenuhi panggilan suara gong yang dipalu sesekali dekat unggun api yang ada di halaman perkampungan. Para lelaki itu membentuk lingkaran seputar unggun api. ditanam melingkar.

Di belakang mereka bertiga. Sedang Datu Bolon Gelar Guru Marlasak menyandang kulit monyet yang sudah kering. Raja Partahi dan Raja Namora. Raja Ni Huta yang memakai bolatan ini. Dia juga menyandang ulos-batak. Tempat mereka lebih tinggi dari yang lain. pertanda dia Raja Nabegu. yang memegang kekuasaan adat dan hukum tertinggi di perkampungan itu. tapi raginya berbeda dengan ragi yang disandang fyaja Panggonggom dan Raja Ni Huta. yang masih semarga dengan mereka. Raja Namora. di marga yang mendiami kampung itu. memakai bolatan warna putih. Mereka mengambil tempat di sebelah hulu. tapi raginya berbeda dengan yang dipakai oleh Raja Panggonggom. Setelah mengangkat tangan kanan. sedang mulutnya terus-terusan menguyah sirih dan meludah. Juga dia menyandang ulos-batak. tergenggam sebilah pisau yang ujungnya berlumur darah merah. Sebelum duduk. pertanda mereka pemegang perbekalan marga. Pertanda dia Raja Panggonggom. yang sejak tadi dikosongkan. Kuping sudah. berjalan seseorang yang memakai bolatan warna merah saja. dan langsung memimpin para Raja Ni Huta dari kampung lain. siap mendengar yang hendak diucapkannya. lebih dahulu dia menancapkan tungkotpanaluan ke tanah. mengiring pula Raja Partahi. pertanda dia Raja Ni Huta. dia mengaju tanya. pemegang pimpinan para panglima dan para hulubalang perkasa. tergenggam tombak yang hulunya berukirkan kepala manusia. dan Datu Bolon Gelar Guru Mafla-sak. Di tangan kiri Raja Panggonggom. Semua mata diarahkan padanya berusaha mengikuti gerak-geriknya. memakai bolatan juga. Di sebelah kiri Raja Panggonggom. Tapi. warnanya hanya merah dan putih berjalinan.pisau gajah-dompak. Yang berjalan di sebelah kanannya. pengerah tenaga rakyat. "Apakah sudah semua lelaki hadir di sini?" . Sedang di tangannya.

tangannya menggenggam tombak berukirkan kepala manusia. Cepat saja diketahui bahwa tidak seorang pun perempuan hadir di antara para lelaki yang mengitari unggun api itu. Kembali Raja Panggonggom duduk. kepalanya memakai bolatan warna hitan. tetap kedengaran sesayup sampai ratap perempuan. yang juga memakai bolatan warna hitam. hulubalang muda. Tongkat panaluan. "Ayoh. Ratap inilah yang. muram mengandung marah yang menuntut dibalaskan. tapi tidak berhiaskan rambut. "Sudah semua. Suaranya yang beruntum keluar dengan cepat. Matanya merah nyala." "Si Ronggur belum hadir? Ke mana dia pergi?" Tidak ada yang menyahut." sahut seseorang. Raja Panggonggom lalu mengatakan. pergilah salah seorang dari kamu memanggilnya. yang langsung berdiri dari duduknya. pewarta bahwa dia sedang marah. "Apakah sudah berkumpul semua pemuda di sini?" tanyanya pula melanjut. Sedang dari kejauhan. yang meratap kan kepiluan hati. dan menggenggam sebuah tombak. "Si Ronggur. pertanda dia panglima marga atau hulubalang marga." sahut seseorang. disaputi kulit hitam . membuat wajah para lelaki itu bermuraman. Terus pergi melaksanakan perintah. hati yang berduka. tapi bolatannya lebih kecil dari orang pertama. Tubuhnya yang sudah tua itu masih membayangkan bekas bentuk tubuh yang tegap di masa muda. "Siapa yang belum hadir?" tanya raja. "Belum.Setiap suku kata ditekankan kuat-kuat. pusaka nenek moyang turun-temurun dielusnya seketika. Pertanda dia. Dia berlari dengan langkah yang panjang dan cepat. Apakah harus aku yang pergi memanggilnya?" Hulubalang Muda cepat berdiri.

Di hadapannya. sesuatu pertanda ketangkasan. Wajahnya yang berkerut-kerut. punya otot tubuh yang tegap dan masih berada di puncak kekuatan. menjadi merah padam. kulitnya yang hitam. segumpal daging yang dapat dipercaya kesehatan dan kekuatan yang terkandung di dalamnya. Dari jauh kelihatan dua orang pemuda mendekat. juga sudah agak tua. Sambil duduk. ototnya. Tapi. seperti merasakan sesuatu kesalahan. dan sinar matanya masih tetap bercahaya. "Kita harus menunggu anak itu lagi. Walau ada di antara mereka yang agak kecil." Tidak seorang pun yang berani menambahi cakapnya. "Apakah kau tidak mendengar gong dipalu? Apakah kau tidak mengetahui. apa arti gong yang dipalu dengan pukulan satu-satu? Apakah kau harus diajar untuk mendengar dan mengartikannya lagi? Bukankah kau sudah diajari Raja Nabegu?" tanya Raja Panggonggom cepat. keningnya yang lebar. para lelaki yang masih muda." jawab pemuda itu. wajah Raja Nabegu. kenapa Ronggur tidak bisa hadir sebelum golongan raja hadir di sana. "Kenapa kau tidak terus mematuhi panggilan? Kenapa kau melalaikannya? Apakah tubuhmu itu tidak dialiri darah merah yang diwariskan Almarhum ayahmu lagi?" . Raja Panggonggom menggerutu. ma-nyambut kehadiran mereka.yang cukup matang. yang tubuhnya setiap hari masih terus membentuk sebuah tubuh yang wajar. "Aku dapat mendengar dan mengartikannya. yang duduk sejajar dengannya. Para lelaki yang duduk di sampingnya. bernadakan kepercayaan akan diri sendiri. Paduka Raja. dan dari wajahnya memancar kebeningan tapi bercampur-baur dengan kematangan. namun garis di wajahnya. Sedang para pemuda.

lalu. yang pada tiap tubuhmu mengalir darah merah warisan nenek moyang. dan marga kita. Barulah kau dapat dikatakan seorang lelaki yang menghormati nama baik nenek moyangmu. Tapi. kalau begitu dengar dulu kataku. barulah pula kau wajar dihormati sebagai seorang lelaki. kenapa kau terlambat datang? Atau. margamu. dibakar perasaan dalam hati." Orang terdiam mendengarkan. Kupingku mendengarkan suara gong pusaka. Otot yang tegap itu menjadi mengencang. api semangat yang tidak boleh dipadamkan. nama baik rajamu. aku sedang memikirkan." "Tahukah kau bahwa ayahmu tidak pernah mengabaikan panggilan gong pusaka ini? Terlebih bila gong dipalu satusatu? Ataukah dengan sengaja kau melambatkan kedatanganmu karena kau bukan seorang lelaki? Jawab pertanyaanku dengan jujur. bila saat musyawarah diadakan. Paduka Raja. bagaimana aku harus melaksanakan perintah yang akan ditugaskan padaku. Supaya para arwah nenek moyang dan dewata tidak marah. Tubuh mereka berkeringat olehnya. Dan apa yang harus kuucapkan dalam pertemuan ini. Mata tiap orang menjadi merah dan gusar. Dan. Pada tiap wajah makin jelas kelihatan pancaran sesuatu cahaya yang tidak mau dipadamkan." "Kalau begitu. nama baik kampung. dalam tubuhku mengalir darah yang diwariskan ayahanda almarhum. Paduka Raja." "Paduka Raja. merahnya. Menatap wajah demi wajah dengan pandang tajam." "Nah. kau memang sengaja mengabaikan panggilannya?" "Aku tidak mengabaikannya. ."Masih. malah langsung membakar semangatku. "Semua lelaki yang ada di hadapanku." Raja Panggonggom menebarkan pandang ke sekitar.

" suaranya tegas dan pasti. Kalau paduka raja mengijinkan aku berbicara. sehingga dia meninggal. Para perempuan itu berduka. ratap yang menangiskan sebuah perpisahan. Penghinaan yang harus ditantang dengan sikap jantan. orang dari marga lain. Tapi. kita tidak berhak lagi disebut dan dihormati sebagai lelaki. Sekitar mayatnya duduk melingkar para perempuan. "Bicaralah____" . kemudian pada kelompok para lelaki. dengan darah merah yang memancarkan cahaya semangat yang tak akan padam pada tiap wajah kita. tidak saja kepiluan mendatangi diri. hendak kau katakan?" tanya Raja "Ya. Lalu tertumpu akhirnya ke tempat para raja. bila penghinaan yang sangat nista ini kita terima begitu saja. apa yang harus kami perbuat. "Perintahkan dengan cepat. lebih berat mendatang dari penghinaan yang dengan sengaja diarahkan marga lain yang membunuh Ama ni Boltung itu. ke dada salah seorang dari antara kamu." lanjut Raja Panggonggom. "tergenggam sebilah pisau. memang untuk itu kita berkumpul malam ini. yang tadi pagi sengaja ditusukkan orang. bila kita tidak menuntut balas. Meratap berkepanjangan. dari antara kita. Tentu kamu turut mendengar ratap mereka. Kita terkutuk. Matanya dilayangkan pada kelompok pemuda. ratap para perempuan itu. Sebuah penghinaan harus segera dilenyapkan. "Ada yang Panggonggom. bagi kita para lelaki."Pada tangan sebelah kiriku. perpisahan yang timbul karena perbuatan orang lain. Dan. Kuat meledak. Mayatnya sekarang terlentang kaku di Sopo Bolon. Supaya orang lain tidak berani mengulanginya terhadap marga kita!" "Ya. Berakhir dengan meledaknya ucapan. sesuatu yang mengharapkan penuntutan balas." Suara mendengung pada kelompok yang ada di depan raja. Ketahuilah." Ronggur berdiri. Yang menekan hati.

Tapi. Arwahnya tentu ditempatkan para dewata di tempat para hulubalang perkasa. rubuh ke atas tanah. Sudah sampai ke sana perluasan sawah. Yang menyerang Ama ni Boltung. dicabutnya nyawa mereka dengan ujung pisau. aku jalan-jalan sampai ke kaki bukit. Tidak kurang dari dua orang yang menyerang dirubuhkannya. kenapa persoalan begitu rupa tambah sering kita hadapi. dapatlah diketahui bahwa soalnya timbul karena pembagian air dan perbatasan sawah. yang sudah terlalu sering mengakibatkan pecahnya perang antara satu marga dengan marga lain. mula atau sebab timbulnya perkelahian itu. Soal yang sudah terlalu sering menimbulkan pertengkaran."Paduka Raja. Tidak kurang dari lima orang ma lah. hendaknya kita menelaah. tempat terhormat. "Soalnya. Dia masih sempat membawa korban." "Kuhormati kepahlawanan Ama ni Boltung. Tambah sering mengganggu ketenteraman hidup? Mengganggu kerukunan hidup di pantai Danau Toba ini?" Semua terdiam. yang tanahnya bercampur batu. Yang menjadi pokok persoalan sekarang menurut pendapatku. Tadi siang. Ronggur melanjutkan. tidak seorang saja. Dari keterangan Paduka Raja. hingga Ama ni Boltung yang sudah kita kenal keberanian dan ketangkasannya berkelahi. kenapa marga lain itu menancapkan ujung pisaunya ke dada Ama ni Boltung?" "Pisau itu mereka tancapkan ke dada Ama ni Boltung. Mereka menyerang sekaligus. antara satu lu hak dengan luhak lain. "tapi yang paling perlu kita pikirkan sekarang. Juga karena pertengkaran mengenai perbatasan sawah. Juga raja. Dan. Tanah batu yang cukup ." sahut Ronggur. seorang lagi luka pada tangannya. dapatkah Paduka Raja menceritakan pada kami. janganlah kita beranggapan bahwa Ama ni Boltung terlalu lalai menghadapi musuhnya. karena semakin sempitnya tanah yang dapat kita garap. karena persoalan pembagian air yang harus dialirkan ke sawah.

Kita tidak tahu. "Tapi. tiap suku tambah berkembang biak. Lihatlah. Mereka orang yang berani hidup. soal sebenarnya sudah kita ketahui. mencari daerah baru tempat perluasan marga." "Cukup. melanjutkan hidup keluarga dan marga. Inilah mula persoalan! Harus awal soal ini yang diatasi agar hal yang bisa menimbulkan perkelahian dan peperangan yang menumbuhkan luka dan duka di tiap hati dapat dihilangkan." "Paduka Raja.keras itu mereka pecahkan dengan cangkul yang diayunkan kedua tangan mereka.ya. "Usulmu memang bagus. Karena itulah." kata Ronggur pula tak mau henti. betapa sungguhnya tiap orang dan marga yang ada di sekitar danau ini mempertahankan hidupnya. "Kita harus mencari ." kata raja. Tidak bertambah luas. Mereka melinggis pinggiran gunung batu. Tapi. ke mana kita harus mencari tanah garapan baru? Sekitar kita. Berarti. Kami juga turut bekerja. Ini sudah terang menambah kesulitan hidup. Tangan kami juga turut lecet karena mengayun pacul ke tanah berbatu. membangun sebuah parit saluran air. Tanah yang dapat kita kerjakan masih tanah yang dulu juga. Y ang taat melaksanakan pesan nenek moyang masingmasing." "Apa maksudmu?" tanya Raja Panggonggom. "kami juga sudah mengetahui itu. tambah banyak mulut yang harus diberi makan dari hasil tanah yang itu juga. melingkar gunung batu yang tandus lagi tinggi. berakhir di mana . Keringat kami juga turut membasahi tanah batu. Orang tambah berebut pada air parit yang dangkal agar sawahnya lebih dan dapat lebih banyak menghasilkan padi." sahut Raja Panggonggom mengatasi dengung suara itu." Dengungan suara pun bangkit di tengah orang banyak. setiap orang menggunakan akal licik untuk memperoleh setapak tanah. supaya batu menjadi lumat agar bisa menghasilkan padi. "jadi.

yang menjelma menjadi binatang buas. Setiap orang jadi merasakan. Dan. karena mengganggu ketenteraman para dewata yang tidak tampak oleh mata kita. kemudian wajah para lelaki. Binatang buas akan membunuh tiap orang tanpa ampun. Sambil meludah merasa jijik atas ucapan Ronggur. Wajah Raja Panggonggom memancarkan sinar kemarahan. Kutuk dewata akan tiba. dikenal bernama Datu Bolon Gelar Guru Marla-sak. harus berusaha pula meluaskannya. apakah masih ada tanah datar di seberang pegunungan ini. yang dituliskan pada pustaka. namun sinar wajahnya masih tetap memancarkan sikap keyakinan. kita harus mempertahankan tiap jengkal dan tiap tapak tanah yang kita pusakai dan kuasai. Tapi. Pegunungan ini berlapislapis. bagaimanapun.gunung ini. telah dipermainkan Ronggur. Penjaga ini tidak senang pada orang yang berani melintas di sana. setiap sungai akan bermuara ke tanah landai. Lebih dulu ditatapinya wajah para raja. pagar alam yang sengaja dibuat para dewata. Ronggur sudah memancing kemarahan para dewata. Habis perkara." Dengung suara bangkit di tengah kelompok lebih gemuruh dari tadi. kita akan mengikuti sungai. . Caranya terserah pada kekuatan kita. Datu Bolon itu lebih merasakan." Ronggur tidak langsung menyahut. beralih pula pada wajah pemuda sebayanya. Dan. T iap puncak dijaga para dewata. apalagi orang tua yang duduk di belakangnya yang menyandang kulit kera yang sudah dikeringkan. Kita tidak dapat tahu. supaya kita tidak melintasi dan melewatinya. yang juga sejak tadi terus-menerus mengunyah sirih. Lalu katanya dengan suara perlahan tapi pasti: "Menurut cerita nenek moyang." "Sungai mana?" cepat Raja Panggonggom memotong. "Sungai Titian Dewata. Karena itu. Siapa yang mau membunuh diri dengan pekerjaan sia-sia itu? Karena itu. yang bermula dari salah satu teluk danau.

suatu kemurtadan. dia dapat mengatasi luapan marahnya. Sengaja diciptakan dewata untuk Titian Para Dewata menuju matahari.Tapi. "Kita tadi dengan sengaja telah membuka satu percakapan yang cukup panjang. Lihat. kau masih terlalu muda. Tapi. jalan arwah kita kelak ke dunia lain. terutama pula setelah suruhan kita diusir oleh marga yang membunuh Ama ni Boltung itu. agar hidupnya di dunia lain itu berbahagia. saat ini. Tapi. ke hidup lain. kalau kita tidak menuntut balas." Sikap Ronggur masih mau berbicara lagi. Hendaknya. kita tidak dapat mengikuti Sungai Titian Dewata bila hendak mencapai tanah landai. Raja Panggonggom memberi isarat. Alangkah sia-sia. orang yang dikutuk arwah nenek moyang. kalau kita tidak menghapus corengan arang yang di buat orang di wajah marga kita. Darah Ama ni Boltung masih melekat di sini. agar dia duduk. dengan sikap bijaksana yang melekat pada Raja Panggonggom. semua rakyatku. Karena kita tidak mau disebut orang murtad. percakapan itu tidak langsung penyebab kita kumpul di sini. Raja Panggonggom kembali berbicara. Orang tambah merasa dipermainkan Ronggur. pisau yang tergenggam di tangan kiriku ini. Anakku! Sungai Titian Dewata itu lain dari sungai biasa. Jadi. Gong sudah tidak dipalu orang lagi sehingga ratap perempuan dari Sopo Bolo tambah jelas kedengaran. berakhir di ujung dunia. Sungai Titian Dewata. Sungai Titian Dewata. tempat Mula Jadi Na Bolon bersemayam. masih basah malah. Tidak memberi kesempatan bicara lagi. Karena perintah itu. sidang kerajaan hari ini memutuskan: mengumumkan perang dengan marga yang membunuh Ama ni Boltung!" . tiba ke sana. di mana para dewata dan arwah nenek moyang bersemayam di sekita/ Mula Jadi Na Bolon. Tempat terhormat. lalu mengatakan: "Ronggur. memendam semua yang ada di dalam hati. Ronggur harus duduk.

. Raja Namora. Tunjukkanlah kebe-ranianmu. pendukung kehormatan marga. tunjukkanlah kehulubalanganmu. Raja Partahi. dan Raja Ni Huta. Mereka sekarang sedang menyiapkan segala sesuatu mengumpulkan . "setelah mengebumikan mayat Ama ni Boltung besok pagi. Sewaktu dia berbicara. seluruh hulubalangku. Musnahkan kampungnya. Setelah Raja Panggonggom duduk. Raja Partahi. akan membantu para hulubalang marga dari bidang masing-masing. Padamu sekarang terletak tugas untuk menghapus corengan arang dari wajah kita masing-masing. sebentar lagi akan berkumpul di sini. akan menyediakan alat peperangan untukmu. akan dikerahkan Raja Ni Huta menyediakan batu sungai peluru ambalangmu. akan menyediakan makanan bagimu. Rapat kerajaan hari ini. kampung yang didiami marga kita juga sebagai kampung perluasan. . Raja Nabegu berdiri. Janganlah siasiakan segala bantuan ini! Jadi. Wajahnya lebih tegas dan ganas dari Raja Panggonggom." kata Raja Nabegu selanjutnya. diumumkan awal peperangan dengan marga yang sangat angkuh itu. dari kampung sekitar. rampas. . . Sedang Raja ni Huta. mulai ma lam ini." jawab serentak. .!" para lelaki dan pemuda bertempik sorak menyambut putusan raja. lalu jadikan kampung perluasan bagi marga kita! Tawan rajanya! Jadikan budak setiap keturunannya . ."Huraa . Bunuh kalau melawan. wajahnya menjadi merah dan matanya menyinarkan cahaya marah yang tidak terpadam-kan. Raja Namora. dapat menerima dan mendukung putusan ini?" "Kami akan laksanakan dengan gigih. "Apakah seluruh rakyatku.!" Kelompok kembali bersorak. "Para perempuan. sehingga suara ratap perempuan tenggelam. Tangkaplah mereka di mana saja berjumpa. Suaranya deras mengalir dan mengguntur: "Para hulubalang.

Tenunglah dengan kekuatan batinmu! Panggillah para arwah nenek moyang melalui kekuatan sihirmu agar mereka membantu kita dalam peperangan. dengan putusan sidang kerajaan ini?" Tidak ada sahutan. tentu kau akan melaksanakan tugas pemuda. Mereka. Pada bayang pandangnya. Raja Panggonggom kembali berdiri." Kelompok kembali bersorak dan bertepuk tangan. Perbaiki perisaimu!" Lalu. Walaupun usulku ditolak. bagus. aku akan turut melaksanakan tugas. Pergi menyembelih beberapa ekor babi dan mengeluarkan alat perang dari tempat simpanan. Raja Partahi dan Raja Namora sudah menyisih dari khalayak ramai. "masihkah kau seorang pemuda?" "Seperti tampak Paduka Tuan. asahlah kapakmu! Tajamkan mata tombakmu! Perkuat tali ambalangmu. bisa . Sedang Raja Ni Huta telah menyediakan peralatan gondang. sebagai pemuda marga. "Ada di antara kalian yang tidak setuju dengan perintah ini. lengkap dengan pemain. beberapa mayat bergelimpangan di tanah. dia kembali duduk. Supaya kita berada di pihak yang menang. adik-adik kita yang setia. sudah tergambar darah merah basah menetes dari tiap tubuh." "Ya. Menatap bala tentara yang sudah penuh semangat. "Kau Ronggur!" tegur Raja Nagebu." "Kalau kau pemuda. Raja Panggonggom lalu mengatakan: "Bapa Paru Bolon Gelar Guru Marlasak. Panggillah para dewata agar memberkati seluruh laskar kita.pasukan untuk membantu kita. Apa sekalipun!" "Bagus. Ronggur menundukkan kepala.

Kemudian bersemadi entah beberapa lama. Di belakang Datu Bolon.mengalahkan musuh. telah kembali duduk di tempat semula. Setelah memberikan tanda. Datu Bolon meneriakkan dengan suaranya parau: mahluk halus penjaga rumah. mulai berdiri. Kemudian. Raja Namora. datanglah bersama kami bapak pargaul pargonci. Datu Bolon menemani mereka membasmi musuh. ludahnya yang merah karena mengunyah sirih. palulah gondang somba-somba Gondang pun dipalu. Orang pada berdiri. Kepala mereka menunduk-nunduk. dan supaya semangat terus mengapi tanpa mau padam sebelum musuh ditundukkan. Cepat pula diiringi Gondang . tempat kerajaan baru khalayak ramai. Maju ke tengah khalayak dan di sana membuka parhalaan. dirapatkan dikening. bersiap-siap mau manortor. duduk bersila di atas tanah. mahluk halus penjaga tanah yang tidak dapat dilihat mata semangat poyang tujuh keturunan kupanggil kau. dan Raja Ni Huta." Datu Bolon Gelar Guru Marlasak berdiri. Raja Partahi. Kemudian membaca jampi-jampi. dijadikan budak belian. gondang somba-somba. disemburkan ke sekitar. Tangan yang dua. Habis itu. memberi hormat pada arwah halus yang tadi dipanggil. bersujud. Datu Bolon meminta agar dimainkan pula gondang Mula jadi na Bolon sebagai penghormatan yang mutlak terhadap pencipta asal kehidupan dan yang kepadanya akan kembali segala yang hidup. mulutnya bergerak-gerak. Di saat itu.

menyusul Gondang Habonaran. agar Dewata Bataraguru memberi kekuatan jiwa bagi mereka dalam menghadapi musuh. Habis itu. Kembali sorak-sorai. Sebagai penutup. begitu pula untuk selanjutnya. Cepat-cepat dia mendekati kelompok kerajaan. baik kerajaan. lalu menyuruh mereka mereguk darah ayam yang masih mentah itu. Tapi. Kemudian. dipulasnya leher itu. baik dalam pertempuran. memberi keselamatan bagi mereka semua. supaya tiba ke tempat yang dicitakan. kemudian mengatakan. Datu Bolon langsung menjampi ayam itu." Raja Ni Huta cepat memberikan yang diminta Datu Bolon. sehingga menitikkan darah. "Bawalah ke mari seekor ayam jantan putih yang sudah bertaji. langsung dari leher ayam yang dipulasnya. Datu Bolon masih di tengah lingkaran. .Bataraguru. Melumpuhkan semangat musuh agar tidak berani menghadapi laskar mereka. sehingga mereka tidak mengenal menyerah. yaitu yang menunjukkan bahwa mereka memang berada di pihak yang benar. dan laskar menyambut dengan sorak-sorai dan gemuruh. Setiap yang berpihak pada kebenaran. dima inkan Gondang Husahatan. agar merahmati mereka. sampai kepada kemenangan akhir. Lalu menyusul Gondang Balabulan. Lalu Gondang Debata Sori mengikutinya agar dewata Sori memberi kebijaksanaan bagi para hulubalang dalam menyusun strategi perang. Gondang Sitio-tio. memohon pada seluruh dewata. kekuatan jiwa dalam menghadapi saat yang genting. agar Dewata Balabulan. Orang kembali duduk ke tempat masing-masing. pasti akan menang. Datu Bolon mengakhiri tortor itu dengan menjampikan pantun kemenangan: Mendaratlah perahu meniti ombak ketanah landai berangkat kita ke medan perang pantang pulang sebelum menang Semua. Dan. begitu pula para hulubalang. memurkai dan mengutuk musuh.

Kamu bisa menyusup dari sana ke tengah kampung tanpa dihalangi duri bambu yang rapat dan keras. Kucar-kacirkanlah mereka! Tawan setiap lelakinya yang masih hidup! Begitu pula para perempuan. entah berapa lama. Datu Bolon telah membagikannya pada golongan raja. Raja Ni Huta yang pangkat adik itu. masih muda.Bangkai ayam diletakkan di tengah kelompok. duduk dekat raja. Di sana bambu duri pagar desa. Raja Ni Huta yang tujuh orang itu. Raja Panggonggom menyambut mereka. telah tiba di sana. Meratapi mayat Ama ni Boltung. Bunuh kalau melawan atau berusaha melarikan diri!" Orang kembali bertempik sorak. Para laskarnya bersatu dengan laskar yang sejak tadi ada di sana. Dalam saat begitu. sebagai wakil para dewata memakan daging sembahan. Seranglah mereka dari segala arah. Raja Ni Huta dari kampung sekitar yang masuk pangkat adik. di tengah lingkaran. Lalu mereka mengambil tempat. Di saat begitu ratap perempuan dari Sopo Bolon kembali terdengar. Desak mereka sampai ke tepi kampung induk marganya. jadikanlah budak belian. Di saat dagingnya belum masak benar. hampir tidak kedengaran. Kembali dia bersemadi. gondang dipalu orang perlahan-lahan. Datu Bolon meloncat dari jongkoknya sambil berteriak dan memekik. yang berarti ada tujuh kampung lagi masuk lingkungan kerajaan marga itu. serbulah musuh. dengan basa-basi kerajaan. Setiap Raja Ni Huta pangkat . Ayam jantan putih tadi. mereka bakar langsung dengan bulunya sekali ke dalam api unggun. Seperti tidak tersangkakan. Kemudian berdiri tegak lurus. lalu mengatakan: "Besok pagi bila fajar pertama terbit. Pada tengah malam. lengkap dengan pasukan. kemudian melaporkan bahwa mereka sudah siap sedia melaksanakan perinlah dan pangkat abang mereka. Kamu bisa menerobos pertahanan kampung induknya dari arah timur.

adik itu. Para hulubalang. Dalam bergembira itu. menyelempangkan ulos-batak ke tiap pundak Raja Ni Huta yang tujuh itu. Lalu. tapi warna putihnya lebih kecil dari Raja Ni Huta yang berdiam di induk kampung marga. telah selesai menyusun strategi dan taktik peperangan sesuai dengan petunjuk Datu Bolon. yang diiringi oleh seluruh rakyat yang mereka bawa. Raja Ni Huta yang tujuh orang itu manortor bersama. Raja Panggonggom melanjutkan: Tujuh sisiku menghadap tiap penjuru indah mimpiku hulubalang perkasa punyaku Khalayak ramai serentak menyahut: Kami genggam tombak tombak pusaka godang bila raja bersama khalayak bahagia rakyatnya Lalu gondang pun kembali dipalu. bersama Raja Nagebu. kedengaran Raja Panggonggom berkata: Rotan ras rotan singorong mengikat keutuhan marga bersatu raja dan hulubalang menjunjung martabat marga Raja Ni Huta yang tertua menyahut: Berbaris kami seperti gajah di hutan balantara perintah raja menjadi suluh kami abdi abadi '. Pertemuan itu tidak bubar sampai pagi hari. Mereka terus margondang dan terus manortor. Raja Panggonggom turun dari tempatnya. terlupa terjun besok pagi ke kancah pertempuran. Tortor yang menunjukkan kesetiaan. Lalu. memakai bolatan juga. . Tuak dan daging babi terus dihidangkan sampai hampir setiap orang sempoyongan.

Seolah matahari mau membakar setiap tubuh manusia dan bumi. Dia harus turut. Mengacungacungkan senjata tajam. Wajah manusia itu tak ubah seperti wajah mereka sendiri. Bercampur baur dengan udara yang terik. marah. Kemudian menurun ke sawah yang baru dibajak. orang yang sedang dibius semangat. Jarak antara kedua pasukan itu dipisah sebuah sungai kecil yang airnya dangkal. Kemudian kerajaan. menghalau dingin dari tubuh sehingga keseimbangan pikirannya tetap terpelihara. untuk memasuki nasib yang tidak terduga. Batu yang dilemparkan ambalang. Mengisi seluruh lapangan terbuka. semua itu harus ditekan. Debu mengepul ke udara di tempat kering. Tak ubah seperti kerajaan marga mereka sendiri. yang punya tanah tipis dan di bawahnya batu alam yang keras. Mereka dihadang musuh pada sebuah sungai kecil. Dia melihat orang yang sedang menari. Kemudian jatuh mencari sasaran. Lengkap dengan Datu Bolonnya. Tapi. Di depan sekali berjalan para hulubalang. para lelaki yang marah itu. memusnahkan musuh. Kerajaan dari marga lain itu. Di sayap kanan dan kiri para laskar. Bersama terbitnya fajar pagi yang memancar dari balik puncak Dolok Simanuk-manuk. hardik dan hasutan. Manusia di seberang kali sana pun bertempik sorak. orang yang sedang bernyanyi. Pasukan dari marga lain itu. mendendam. beberapa orang di antara mereka akan jatuh menjadi korban dalam peperangan. kepala manusia. Sambil bertempik dan bersorak. Usulnya ditolak! Tapi. Dia tahu pasti. malah menjunjung putusan kerajaan. turut bersama laskarnya. Mati! Semua bayangan kemungkinan ini mempengaruhi pikiran dan perasaannya.Ronggur selalu menyisih dan meminum tuak seperlunya saja. semangat usul itu tetap berakar dalam hati. juga membawa senjata seperti yang mereka bawa. Lumpur berhamburan . Dari segala arah kedengaran pekik dan jeritan. berterbangan di udara. bergerak menuju sasaran. yang sudah dibius semangat itu.

lalu mengotori wajah manusia di tempat basah. Tempik dan sorak, pekik, hardik, dan hasutan terus menerus bergema. Pasukan kedua marga yang sedang marah itu, sorongmenyorong. Tidak ada yang mau kalah. Jarak antara keduanya bertambah dekat. Ambalang tidak digunakan lagi. Langsung tombak, panggada, dan kampak dipukulkan dan ditangkis perisai. Siapa yang jatuh, jatuh tersungkur tanpa diperdulikan, malah menimbulkan kegembiraan bagi orang yang dapat merubuhkannya. Kedua pasukan marga itu sudah sama-sama terjun ke dalam sungai. Di sana mereka bersicucukan, bersihantaman, dan bersipu-kulan dengan segala macam taktik dan cara. Matahari terus bersinar terik. Pasukan kedua marga itu sama banyak, sama kuat, dan sama berani. Sehari itu keadaan pertempuran tidak berobah. Beberapa orang yang luka di bawa ke garis belakang oleh para perempuan. Beberapa-orang yang mati dibawa ke garis belakang juga, tapi tidak sempat ditangisi. Anak-anak pun sudah turut serta. Mengumpulkan batu, yang segera diberikan pada para lelaki pemegang ambalang. Tapi, batu itu tidak sempat lagi dilemparkan dengan ambalang, langsung dilemparkan tangan. Dan terkadang tidak jarang, anak itu turut terjun ke tengah pertempuran untuk memukul atau dipukul. Bila senja tiba, kedua pasukan marga itu saling meninggalkan daerah pertempuran. Mereka disambut gendang dan tortor para orang tua, para perempuan, para gadis di induk kampung. Daging babi, tuak, terus diedarkan membakar semangat bertempur. Datu Bolon terus-menerus menjampi. Lalu, memberi nasihat baru. Dan, bila fajar terbit lagi, mereka kembali terjun ke daerah pertempuran. Di tengahnya, Ronggur mengamuk ke kiri dan ke kanan. Ronggur bersama beberapa pemuda menyusup ke depan, berusaha mengkucar-kacirkan daerah musuh. Susupan

mereka ini cepat diikuti gelombang kedua, ketiga, dan keempat, yang membuat pertahanan musuh tembus. Musuh kelabakan. Tapi, yang hendak dikucar-kacirkan itu, tidak mau menyerah begitu saja. Mereka juga mengadakan perbaikan pada pertahanannya dengan cepat. Lalu mengadakan pukulan balasan. T api, pasukan marga Ronggur mengadakan desakan yang terus-menerus, bertubi-tubi, sehingga garis pertahanan musuh mulai dipukul mundur. Sampai akhirnya mendekat ke kampung musuh. Malam itu pasukan marga Ronggur tidak kembali ke induk kampung. Mereka terus mengepung induk kampung musuh. Pagi berikutnya pasukan marga Ronggur menyerbu induk kampung musuh dari sebelah timur, seperti yang dinasihatkan Datu Bolon. Melalui bambu duri yang masih muda, mereka menerjang ke tengah kampung, dengan pekikan yang melengking. Dengan segala tenaga yang ada, marga yang diserbu itu mengadakan perlawanan. Ikut sudah para perempuan, baik yang tua begitu pula yang masih gadis. Tampaknya tidak akan habis perlawanan itu sebelum mereka mati semua. Mampus semua. Dari tempat ketinggian, sekali waktu Ronggur melihat, anak gadis Raja Nabegu kampung yang mereka serbu, turut mengadakan perlawanan. Rambutnya yang panjang terurai lepas. Dibasahi oleh keringat. Dilihat biji mata Ronggur sendiri, sudah ada dua tiga orang pasukan marganya ditumbangkan anak gadis itu. Dengan satu loncatan jarak jauh, Ronggur sudah berada di hadapan perempuan itu. Mata perempuan itu memancarkan sinar merah, mengapi, hendak menelan Ronggur bulat-bulat. Perempuan itu memukulkan penggada ke arah Ronggur. Tapi, Ronggur mengelak dengan melompat, dan peng-gadanya sendiri mengenai tengkuk perempuan itu sampai jatuh ke tanah. Dalam hati Ronggur berucap “Sungguh perempuan pemberani!"

Juga, sekali waktu menumbangkan seseorang yang sedang membidikkan tombaknya ke arah Raja Panggonggom marganya. Sewaktu Raja Panggonggom dan pengawalnya ke arah lain. Cepat Ronggur menyergap orang itu. Tapi, tangannya sendiri, lengannya, luka. Namun musuhnya dapat ditumbangkannya dengan menghantamkan penggada ke kepala musuh. Otak meleleh dari luka. Raja Panggonggom melihat ini semua. Luka di lengannya cepat dibalut Ronggur. Lalu terjun lagi ke tengah pertempuran yang dahsyat itu. Asap pun mulai mengepul. Rumah sudah mulai dibakar. Padi dari lumbung desa diangkut, juga harta rampasan perang. Para lelaki yang belum mati, begitu pula para perempuan yang belum mati, ditawan. Untuk dijadikan budak belian. Yang sampai keturunannya kelak akan tetap dan tidak bisa terangkat dari martabat budak. Tidak akan berhak lagi mengadakan pekerjaan adat. Harus patuh setiap saat mengerjakan apa saja yang diperintahkan tuannya. Kampung berdekatan dengan induk kampung itu sudah dibakar. Perang sudah berakhir. Kekalahan dipihak marga yang diserbu. Para rakyatnya yang masih hidup sudah ditawan, dirantai. Ronggur teringat pada perempuan yang ditumbangkannya. Cepat dia menuju ke sana. Keringat melelehi seluruh tubuhnya. Entah kenapa hatinya mengharapkan agar pukulannya hendaknya tidak terlalu keras. Dia mengharapkan, hendaknya perempuan itu masih hidup. Dia mau menawannya. Merasa bersyukur dia, perempuan itu masih merintih. Cepat dia mengambil air lalu diusapnya wajah perempuan itu dengan air. Kemudian diberinya minum. Didengarnya suara gadis itu perlahan mengatakan:

Menjadi sumber rintihan. Perempuan itu selalu meronta dan ingin melepaskan diri. terutama pada keluarga yang suaminya atau anak lelakinya jatuh sebagai pahlawan di medan laga. Sambil melangkah mereka lagukan nyanyi kemenangan. Nanti akan dibagi-bagikan pada tiap keluarga. lelaki yang sudah tua. karena mereka telah . seperti sudah turut lesu menyaksikan peperangan yang baru saja berakhir dan banyak menimbulkan korban. disuruh ibunya melambaikan tangan ke arah ayah. Begitu pula anak-anak yang masih digendong. Diusahakan agar tidak mengganggu kegembiraan para pahlawan yang menang perang. karena mati dalam pertempuran. Sampai mati!" margaku. tidak dikunjungi anak lelakinya lagi."Aku harus bersama kalian. Dengan pekik kemenangan pasukan laskar marga Ronggur menuju pulang ke induk perkampungan. Ronggur menarik tali yang mengikat perempuan yang ditawannya. hai lelaki Pertahankan martabat marga kita. abang mereka yang pulang dari peperangan sebagai pemenang. dan lelaki yang luka menyambut mereka. Tangan menarik para tawanan. para perempuan. Matahari sore dengan lembut memancarkan sinar. Sedang para perempuan yang tidak dikunjungi suaminya lagi. pergi bersama ke Sopo Bolon mengasingkan diri dari orang yang sedang bergembira. Di sana mereka meratap dengan lemah. Dia dapat menghargai keberanian dan semangat perlawanan yang dipunyai perempuan itu. Ronggur tersenyum mendengar rintihan itu. Sebagian disuruh mengangkut harta rampasan. Agar tidak mengotori rasa gembira pada Mula Jadi Na Bolon dan seluruh para dewata serta arwah nenek moyang. Di gerbang kampung. air mata. dan dendam. Lebihnya akan dimasukkan ke dalam lumbung desa. Ronggur tersenyum saja dan terus menarik tali dengan tabah.

dengan suka rela dimintakan pada setiap orang yang mau pindah ke kampung yang ditaklukkan itu. menjadikannya sebagai budak untuk membantu ibunya yang sudah tua mengerjakan urusan rumah. dalam pertempuran kau telah menyelamatkan nyawa kami. Sendirinya pula daerah taklukan mereka bertambah luas. Harta rampasan dibagi. Tapi. kehendakmu!" Ronggur memohonkan agar padanya diberi kekuasaan untuk terus menawan tawanannya. mencabuti rumput sawah bila saatnya tiba. akan dijadikan kampung perluasan bagi marga mereka. Gondang dipalu dan tortor kemenangan ditarikan orang bersama-sama.Beberapa ekor babi dipotong lagi dan darahnya diminum bersama. Kampung marga yang mereka kalahkan. Permintaan itu dikabulkan. yang dengan sendirinya mengangkat martabat marga dan raja mereka. Diizinkan mereka mendirikan rumah di situ.dipilihnya menjadi pemenang. Tanah persawahan rampasan juga ditentukan jatuh ke tangan siapa. Dia anak tunggal. dikuasakan pada Ronggur. ditunjuk . Yang harus tunduk ke induk kampung. Pada tiap kampung sebagai pelaksana adat dan penyelenggara hukum. Justru karena Ronggur tidak punya adik perempuan. karena dia belum berumah tangga. Katakanlah. Baik yang sudah mati begitu pula pada yang masih hidup. ditunjuk beberapa orang yang cukup berjasa menjadi Raja Ni Huta. Sawahnya akan diambil dan dibagibagikan. Dikatakan pula. jadi belum cukup dewasa dalam peralatan adat dan hukum. Upacara kemenangan pun diadakan. Sekarang giliran kami membalas jasamu yang besar itu. Raja Panggonggom melirik secara khusus pada Ronggur. Sebagai penutup upacara Raja Panggonggom mengucapkan terima kasih pada seluruh laskarnya. lalu. Jadilah kemudian kampung itu menjadi kampung perluasan marga. Raja Ni Huta induk kampung musuh yang ditaklukkan itu. Pun. . "Ronggur.

yang disetujui Ronggur sendiri. Sawahnya yang ada dekat induk kampung marganya diserahkan pada kerajaan. baik dari marga sendiri begitu pula dari marga lain yang masih banyak bertabur di sekitar danau. Sebagai gantinya diberikan kepadanya sawah yang dulu dimiliki Raja Nabegu dari marga yang mereka kalahkan. Tapi. Membangun perumahan baru di atas puing-puing reruntuhan. Untuk beberapa hari. Ronggur sendiri.seseorang menjadi walinya. Memang dia sudah menjadi Raja Ni Huta Muda dan Hulubalang Muda. menghapal jalannya pertempuran lalu memindahkannya ke bentuk yang dapat dinyanyikan. Pesta kemenangan dilangsungkan tiga hari tiga malam. ingatan orang masih tetap terpaut ke sana. orang masih tetap dipengaruhi suasana kegembiraan menang perang. Sejak hari itu. Mereka tebarkan dari mulut ke mulut sambil memetik kecapi. sehabis pesta kemenangan itu cepatcepat mengerahkan rakyat yang suka rela pindah ke induk kampung musuh yang dikuasakan padanya. orang tidak berani lagi atau tidak wajar lagi menyebut nama kecilnya. Orang selalu menyebut atau ." Beberapa orang ampangardang. menjadi tokoh keberanian dan ketangkasan serta kesetiaan termasuk nama Ronggur sendiri. Di sana sini Ronggur mendengar orang mengatakan: "Dengan cara beginilah kita harus menguasai tanah persawahan subur yang ada di sekitar danau untuk melanjutkan keturunan. cepat dilupakannya. Oleh tugas yang banyak dan memang dia sendiri ingin cepat melupakan saat menanjakkan marganya ke tingkat yang lebih tinggi dan meningkatkan kedudukan dirinya sendiri. Walaupun pesta sudah selesai. Beberapa nama pahlawan timbul. Ronggur dikenal orang sebagai Raja Ni Huta Muda merangkap Hulubalang Muda.

memanggilnya dengan Raja Ni Huta Muda dan Hulubalang Muda. Anak-anak sudah ada berlahiran. Anak lelaki diajar membaca dan menulis huruf Batak. pengganti yang mati dalam peperangan. Darah yang tercecer ke lumpur sawah sudah bercampur baur dengan tanah menjadi pupuk di musim mendatang. Lambat-laun kehidupan kembali tenang. menumbuk padi di halaman perkampungan sambil bernyanyi. dan menerima datangnya partandang. Sumber malapetaka tetap sama: air parit dan batas tanah. Lu hak anu berperang dengan luhak satu lagi. yang sempat melarikan diri. Tapi. Kuburan yang digali tempat abadi bagi orang yang mati. ccdw-kzaa 2 Rumah baru sudah berdiri pengganti rumah yang dulu terbakar. Yang membuat ingatan orang sudah menipis pada peperangan yang baru lewat. Pekerjaan orang kembali senggang. Juga mereka diajari memanjat pepohonan tinggi supaya tidak gamang. Orang yang kalah dijadikan budak. Yang agak besar. Cerita kepahlawanan disampaikan pada mereka. Para gadis belajar memintal benang dan bertenun. Tapi. Masa merumputi sudah lewat. Tidak tampak lagi warna merahnya. Padi di sawah sudah bunting. Jumlahnya lebih banyak malah. Saat yang baik bagi pemuda pergi martandang ke kampung paman mencari jodoh. sudah ditumbuhi rerumputan hijau. Bila bulan purnama. memencilkan diri ke tanah tandus di kaki bukit. diajari menggunakan senjata. pada mereka sampai juga berita dari sekitar danau: marga anu berperang dengan marga satu lagi. menjadi orang .

Orang buruan ini membuat rumahnya di dinding bukit dan gua. Masih merasa takut dia. Ronggur tidak merasa kuatir kalau budaknya itu melarikan diri. Karena itu. Tapi. keyakinan yang digenggamnya ini belum berani dia menyampaikannya pada orang lain. dia belum. wanita tawanan itu. Namun perasaan terpencil tetap menguasai diri Tio. justru karena gadis yang sebaya dengannya dari suku Ronggur tidak mengawaninya. ketenangan yang sekarang dikecap marganya masih tetap mengandung sesuatu kemungkinan yang menakutkan. akhirnya Tio. Karena memperoleh perlakuan yang baik itu. . dan berburu bersama anjingnya si belang.buruan. bagi Ronggur. Bila temannya sebaya sudah banyak berumah tangga. masih merasa kecil dia menurut anggapannya. Setiap warta pecahnya perang antara satu marga dengan marga lain selalu membuatnya berduka. Padanya tetap diberikan Ronggur kebebasan bergerak. Jadi. Dia masih tetap memandang dan memperlakukannya sebagai manusia yang punya hak. melawan tradisi yang sudah tertanam dan berurat akar di hati manusia yang ada di sekitarnya. Walau sudah sering diminta ibunya. Tak ubah seperti kebebasan yang ada pada orang merdeka. mengembara. dia lebih banyak menyendiri. Ini jugalah yang mendesaknya agar setiap hari pergi jauh dari kampung ke tempat terpencil yang jarang dikunjungi orang. Di sana dia menghabiskan hari. Dan. Dia yakin kalau memperoleh perlakuan yang baik budak itu tidak akan melarikan diri. merasa senang juga. Perlakuannya pada wanita tawanannya berbeda dengan perlakuan orang lain yang punya budak terhadap budak masing-masing. Dia boleh pergi ke padang-padang luas. dia masih tetap menampik.

Dia dibenturkan kembali pada kenyataan bahwa dia bukan orang merdeka. Tio dapat mengetahui tempat seekor pelanduk bersembunyi. Dia akan dapat ditangkap Ronggur. elang itu mengadakan putaran. Tio sedang mengikuti arah seekor elang terbang. akan mengejarnya ke mana saja. Matanya terus-menerus menangkap elang hitam yang terbang. Terkadang harus berlari kecil mengikuti elang yang terbang di atas. sesuatu keinginan selalu timbul di dadanya. Dengan lahap Ronggur akan memakan daging binatang buruan itu. Dari situ dia dapat melihat danau di bawah. Di saat putus asa mulai mencekam hati. lalu terus mengikuti arah elang itu pergi. Pertanda elang itu mau hinggap. yang sudah banyak menyambar ayam kampung. Berburu bisa membuat Tio asyik. Merasa kurang enak baginya untuk menghianati seseorang yang menghormati dirinya'dengan sewajarnya. yang dibakar dan dipanggang. yang belum pernah ditempuh manusia. Dengan mata tombaknya yang pasti arahnya. dengan lemparan ambalanganya yang deras. Atas bantuan si belang. Pertanda elang itu akan hinggap belum ada walau mendekat ke kaki bukit.Tio menyendiri sampai ke kaki bukit. Kalau lari saja? Ronggur sudah berbuat baik terhadapnya. Dan. Berkeliling pada satu lingkaran. Di hatinya timbul niat. tempat kawanan burung berondok. Kemudian membawanya pulang. Dapat dipastikan Tio bahwa . Ronggur tidak segan-segan melemparkan pujian yang menurut perasaan T io terkadang terlalu menyanjung. Namun keluh akhirnya mematikan keinginan itu. dia bisa membunuh binatang buruan itu. ingin pergi jauh. Ronggur selalu tertawa lebar bila dia pulang dengan hasil buruan. Seolah elang itu datang dari balik gunung dan hendak kembali ke balik gunung. Ronggur lelaki yang paling jahanam. Lagi pula kalau dia lari. setelah menyambar seekor induk ayam dari kampung. dia harus membunuh elang yang seekor itu. Hari itu.

Lalu melepaskan peluru. Elang itu jatuh ke tanah bersama gelepar lemah. Ronggur berkata: "Sudah mampus penyambar ayam yang paling jahanam ini." sahut Tio. gelepar akhir. Lalu. Wajah Tio menjadi merah padam dan merasa kesal bercampur malu. Suaranya halus dan menggetar. Seketika napasnya serasa terhenti melihat peluru ambalangnya mengenai sasaran atau tidak. Karena terkejut elang itu buru-buru mengepakkan sayapnya. Cepat dia mengayun ambalangnya. Si belang sudah mengerti bahwa mereka sedang mengadakan perburuan." Tio masih terpaku pada tempatnya. Tapi." "Aku tahu. Hulubalang Muda. Elang itu cepat menukik ke bawah setelah mengadakan putaran entah beberapa lama. sambarannya jatuh ke tanah." kata Ronggur. Merasa malu akan ketololannya. kenapa dia tidak menggunakan tombaknya? Sebuah tawa meledak di antara rimbunan ilalang. Elang itu mengarah ke lembah. Elang itu mengikutkan sambarannya ke bawah.pohon yang tinggi lagi rimbun dedaunannya. Sayang sekali peluru ambalangnya hanya mengenai buntut elang. dari arah lain sebuah tombak terbang cepat. Atau. Baru dia bergerak. . Ronggur sudah ada di hadapan Tio. kenapa peluru ambalangnya tidak mengenai dada elang jtu. Ronggur memanggilnya agar datang mendekat. kepaknya mengenai salah satu dahan. di situlah sarang elang itu. Langsung tertancap ke dada elang. Mau terbang. "Muncung tombakku tertancap di dadanya. Dan. pada salah satu dahannya. Saat yang baik itu tidak dilewatkan Tio. di mana batang pohon besar itu tertancap ke tanah. Tio terus mendekat menuruni jenjang lembah. Si belang berlari cepat ke tempat suara itu bersumber. Bersama senyum kemenangan. waktu itulah. "Lihat.

katakan aku yang menyuruhmu. "Tapi. Cukup begitu. Si belang kembali menjauh." Tio tambah tertunduk. Buntut elang kena membuat elang tidak bisa cepat terbang. "maukah kau berjanji akan melaksanakan permintaanku?" "Aku sudah ditakdirkan akan melaksanakan sebaik mungkin segala perintah Hulubalang Muda. kau Tio." mata Ronggur lama menatap wajah gadis itu. peluru ambalangmu sangat deras dan bagus arahnya." kata Ronggur seraya memegang bahu anak gadis itu. Lalu." "Hulubalang Muda terlalu melebih-lebihkannya. habis perkara. Ronggur menjauh." Pundak Tio cepat turun naik. si belang memagut ayam yang . Si belang sudah memagut tubuh elang dengan muncungnya. matanya. agar kau tidak memanggil aku dengan sebutan Hulubalang Muda atau Raja Ni Huta Muda lagi. Dan. Sebutlah namaku." sahut Tio.Ronggur menatapi T io lama-lama hingga T io menundukkan kepala menatap tanah. Membawanya ke dekat mereka berdua. lalu. Wajahnya memerah. tapi masih diusahakannya mengatakan. Kalau mereka menegur kau." "Dengarkan baik-baik. "sejak saat ini kuminta. belum tentu muncung tombakku bisa tertancap di dadanya. Walau sesuatu rasa menggelusak dalam dada. Ronggur. Kalau buntutnya tidak kena ambalangmu. "Itu yang sebenarnya. Di saat itulah aku mengayunkan tombakku. "Bukankah itu menurunkan derajat Hulubalang Muda?" "Sama sekali tidak! Kau harus melaksanakannya!" "Bagaimana nanti kalau didengar orang kampung dan ibu?" "Peduli apa dengan mereka? Sebut namaku. Yang mengurus mereka ialah aku.

"Tio. Lalu. Biar kunyalakan api. Tidur di ujung kakinya. Yang kemudian mendekat kepadanya sambil mengibaskan ekor. mulutnya tidak dapat lagi dikuasainya untuk tidak menyanyikan sebuah lagu. Matahari bersinar keras. Dibersihkannya perut kedua binatang itu. keluarkanlah isi perut elang dan ayam ini. Dagingnya tentu enak dimakan. Mata Ronggur agak mengantuk. Tidak jauh darinya. Lalu. menjauh lagi. Tio duduk melihat si belang. Si belang masih mengunyah tulang belulang elang dan ayam yang diberikan kepadanya.disambar elang tadi dan membawanya ke dekat Ronggur dan Tio. Ronggur menelentangkan tubuh di atas tanah batu yang cukup keras. Tio mengelus leher si belang dengan lembut. Kemudian dibawanya ke tempat Ronggur menghidupkan api. mulai membakarnya lengkap bersama bulu-bulunya. redup mengalun saat siang dan malam antara terik dan nyaman ." Tio berlari kecil membawa elang dan ayam itu ke parit kecil dekat situ yang mengalirkan air pegunungan yang jernih. di bawah pohon yang rindang. Perutnya terasa kenyang. Lalu. berpantun: Sanduduk di kaki bukit di atas batu ditimpa sinar matahari itulah siang melilit bumi sanduduk di kaki bukit di atas batu ditimpa sinar rembulan itulah malam. Cukup terik.

Kemudian anak ini akan menjadi dewasa. jumlah keturunannya bisa berlipat ganda. agar nama Muda dari belakang Hulubalangnya dihilangkan.mentari dan gemintang bagi beta tidak berbeda karena hatiku terkenang padamu Ronggur membiarkan Tio menyanyi walau hatinya merasa rawan. cepat pula ingatan itu dibarengi bahwa kalau dia berumah tangga. Dia merasa takut. itu berarti istrinya nanti akan melahirkan anak. Untuk melahirkan anak lagi. Dia disuruh ibunya pergi ke Samosir. perkampungan demi perkampungan dan berakhir pada tepian danau. Tio teringat pada masa kemerdekaannya. yaitu orang bertambah banyak sedangkan tanah yang dapat digarap masih tetap itu juga. pikirnya. pikir Ronggur. Dalam tiga keturunan saja. meruntuhkan kerukunan kehidupan mereka di tepi danau. Oleh nyanyi T io kembali Ronggur teringat akan permintaan ibunya. agar dia berumah tangga. Tentu. Tentu hasil yang dapat diberikan tanahnya akan terasa kurang menghidupi keturunannya. Agar langsung memegang Raja Ni Huta di kampungnya. lalu kawin lagi. Di bawah mereka melalui tingkat tanah yang terus menurun. ke kampung paman. yang mengintai dengan taringnya yang tajam. akan tiba saat itu. Tetapi. begitu pula atas usul Raja Panggonggom. Bila persoalan yang mencekamnya itu diluaskan pada keadaan sekitarnya dan dia tambah merasakan marabahaya yang sedang menantikan. Hasilnya akan terasa atau memang kurang untuk membekali orang yang hidup di sekitar . Pada suatu saat. Matahari tambah lama jadi melemah.

“Ah. kenapa kau tidak belajar memintal benang dan bertenun? Kau sudah harus mengurangi kegemaranmu pergi mengembara.danau. Tio tetap terdiam dan tertunduk. seperti gadis lain. "Ada yang salah?" tanya Ronggur pula.. tidak disadari Tio. Betapa berbahagia. kau harus belajar memintal dan bertenun Aku akan meminta izin pada Raja Panggonggom” Pada biji mata Tio menyinar cahaya kegembiraan. tapi pasti. Ronggur mengatakan. Yang paling baik campuran warnanya” . peperangan. betapa bersyukur aku. dan sendirinya pula akan lebih banyak kepiluan dan dendam bersarang di hati manusia. dari mulutnya lalu meledak kata. Dia selalu memikirkan. Dia menakutkan masa itu. Barulah Ronggur sadar bahwa seorang gadis yang berderajat budak tidak dibolehkan belajar memintal dan bertenun. "Betul kau bolehkan aku memintal dan bertenun? Betul kau akan meminta izin pada Raja Panggonggom? Aku akan bertenun seperti gadis lain dari margamu ?" "Ya. Hal begitu sudah tentu akan lebih banyak mengobarkan perkelahian. aku akan menenun ulos untukmu. Tio menatap ke arahnya. "Tio. Kau harus belajar memintal dan bertenun. Perlahan-lahan. apa usaha yang dapat ditempuh untuk melenyapkan ancaman dari masa itu? Ronggur cepat bangun dari goleknya. Aku. "Tio. akan kuusahakan sampai dapat” Karena gembira. Yang tidak disangka Ronggur mulanya. dia memeluk Ronggur sambil mengatakan dengan kegembiraan. Menenun ulos-batak ialah pekerjaan para gadis yang merdeka. Lalu. Ulos yang paling halus raginya. Ronggur menundukkan kepala." Warna duka membayang di wajah Tio. Tapi.

Ronggur membiarkan Tio begitu. Ada yang hendak kutunjukkan padamu. Barang siapa yang berani me layari sungai ke muara atau berusaha mencapai muara. Pada salah sebuah teluk dapat diketahui Ronggur bahwa di situlah bermula sungai Titian Dewata. Ronggur diam saja melihat perubahan kelakuan Tio itu. Sampai akhirnya Tio sadar sendiri." Mereka mendaki tanjakan bukit sampai tiba ke pundak pertama. Arwahnya akan dikutuki dewata." sahut Tio. "aku sudah pernah dibawa almarhum ayah dan ibu ke sana." kata T io. Matahari bertambah lemah sinarnya. sungai itu jalan arwah kita kelak. Dari sana jelas tampak oleh mereka lengkungan tepian danau. Tidak terik lagi. Telunjuknya mengarah ke teluk itu sambil mulutnya mengatakan. Beberapa saat terdiam. Sedang matanya dengan mesra menancap ke biji mata Tio." "Garis putih yang membelah dada persawahan yang sedang menghijau. "Dapat." "Menurut cerita orang tua. sungai itu berakhir ke ujung dunia. "Tio. menuju tempat Mula jadi Na Bolon. Dapat kau lihat dan perhatikan garis putih itu?" tanya Ronggur. Karena jatuh ke tebing ujung dunia. di sanalah bermula sungai T itian Dewata. "Tio. Kembali dia dihadapkan pada kenyataan. tidak akan kembali lagi. Tio menundukkan kepala perlahan-lahan. melepaskan pelukannya perlahan-lahan. Tapi. lalu dengan suara pasti dia mengatakan. Lalu. Begitu pula akhirnya Ronggur. itulah jaluran sungai. lalu menghilang atau seperti masuk menyusup ke perut pegunungan sebelah timur." "Aku tahu. mari ke pundak bukit pertama. . Ronggur menatap ke sekitar." "Tahu juga aku.

" "Entah bagaimana. juga sungai ini. Ada apa kiranya?" "Apakah kau tidak bisa punya pendapat sendiri?" "Apa maksudmu?" "Apakah kau tidak sering membaca pustaka di rumah ayahmu dulu?" "Sering. kau pun sependapat dengan mereka." "Kalau begitu. Aku bisa membaca dan menulis dengan baik. aku berpendapat bahwa sungai itu pun akan tiba ke tanah landai yang subur. sampai ke mana bisa seseorang nelayan menangkap ikan. lain dari sungai yang lain. janganlah marah padaku. Terus menatap ke arah sungai. Buktinya sampai sekarang tidak ada orang yang berani melintasi daerah yang telah ditentukan. sungai Titian Dewata berakhir ke ujung dunia." "Kepercayaan yang diwariskan kepada kita mengatakan. juga sudah kuselidiki dalam pustaka yang tua bahwa sungai itu tidak ada dikatakan berujung di akhir dunia. Aku tidak mengatakan yang lain.Ronggur diam seketika." "Menurut cerita yang ada di sana. memang begitu." dapat . Ronggur mengaju tanya padanya: "Apakah kau juga sependapat dengan mereka bahwa sungai itu berakhir di ujung dunia itu?" "Begitulah kata mereka." "Ya." "Begitu menurut cerita mereka. Sering sekali. setiap sungai menuju tanah landai dan subur. Sedang Tio melirik ke biji mata Ronggur yang menyinarkan sesuatu arti.

Dia akan tinggal di dunia ini. Angin turun. akan terus bertambah sempit. Dia mengharap dapat menggagalkan maksud Ronggur dengan ancaman begitu. "apakah kau berniat hendak melayarinya membuktikan kebenaranmu?" Tapi. "tapi. "Tapi. Keheningan mengambang di antara mereka. Akibatnya akan bertambah banyak pertengkaran yang memungkinkan pecahnya peperangan. Arwahmu akan tidak diterima dewata." lanjutnya pula." sahut Ronggur tanpa memperhatikan wajah Tio yang menjadi pucat. T api." potong Tio. aku melayarinya bukan bermaksud untuk membuktikan bahwa aku berada di pihak yang benar. Seperti perang antara margamu dengan margaku. angin sore yang nyaman. Dia takut kalau Ronggur benar-benar melayari sungai itu. aku memang mau melayarinya. sungai itu pun sama dengan sungai yang lain. Aku mau berusaha mencari tanah garapan baru. "Sudah lama niat ini menguasai dadaku." kata Ronggur. Ronggur cepat pula mengatakan: "Dengar dulu yang kumaksud. timbul bisikan dalam hatiku." . Tahukah kau Tio bahwa tanah selingkar danau ialah tanah subur? T ahukah kau. "Ya. Perasaan takutnya tambah mencekam. "Kenapa kau beranggapan bahwa sungai ini lain?" tanya Tio memecah sunyi. Dan. Dia akan jatuh ke tangan orang lain yang pasti akan memperlakukannya sebagai budak biasa. Yang berarti bunuh diri. setiap tahunnya bertambah sempit. daerah perluasan." "Itu berarti bunuh diri.Ronggur terdiam. tanah hubungkasan. Tio menjadi takut pada ucapannya itu. Tidak ada yang berkata. Kebebasan akan benar-benar direnggutkan orang. setiap tahunnya manusia yang hidup di sini yang memerlukan tanah garapan bertambah banyak juga? Akhirnya tanah yang tadinya terasa luas.

Ini sudah pasti. sudah berapa kali lagi peperangan terjadi di antara marga? Kalau tidak salah. dengan suaranya yang nyaring. aku mau mengatakan. harus ada usaha mencari tanah habungkasan. Tio tidak membumbuhi cakap Ronggur yang panjang itu. berani menantang segala cerita yang bersifat menakut-nakuti. Karena aku merasakan persoalan itu. dalam mimpi itu." Seketika Ronggur berhenti. Penuh pepohonan dan tanahnya begitu landai. harus mulai sekarang memulai kerja ke arah itu. kupikir. Dan. Wajahnya menjadi muram dan sedih. marga lain. "Janganlah bersedih. Dalam mimpi itu selalu aku dibawanya ke suatu tempat yang teduh. yang akan menimpa manusia yang hidup di sekitar danau di hari mendatang. aku menemui sebuah danau yang sangat luas. Berani menantang sesuatu yang dirasakan ialah satu kepercayaan bagi kebanyakan orang. dengan berani menantang segala aral-melintang. Cobalah turut mendengar berita bahwa setelah perang antara margamu dengan margaku selesai.Tio tertunduk. Tidak bermaksud aku mengingatkanmu ke saat kejatuhan margamu. karena kurasa kau dapat merasakannya. karena setitik air parit. akan tambah banyak terjadi. merintis jalan. Sampai ke mana dia tiba. aku diganggu mimpi. sudah ada tiga gelombang peperangan antara marga satu dengan. Dibiarkannya Ronggur meneruskan: "Sudah sering Tio. bila tanah habungkasan tidak ditemui. Orang yang berani dan bertanggung jawab akan masa datang. Mimpi menghimbau aku selalu dari tempat jauh. walaupun nyawaku sendiri menjadi taruhannya. peperangan itu akan bertambah banyak lagi timbul di masa mendatang. aku harus turut memikul bebannya. jauh lebih luas dari . Pertengkaran karena setapak tanah. sebelum saat itu tiba. Dan. Jadi. Aku tidak bermaksud membongkar yang sudah lewat. Tidak! Tapi. Mengajak aku memulai perjalanan mengikuti sungai.

Dibiarkan Ronggur. Dengan suara tersengalsengal. kemudian bertambah merah. menunjuk tanah habungkasan yang subur padaku?" "Ronggur. Kata orang. "barangkali." "Ronggur." "Aku takut mendengar ceritamu. Itu yang selalu menemani tidurku. Pada mulanya warna Jingga. wajah almarhum ayah. itu setan yang menyaru. selagi aku di dekatmu." Tio begitu saja menyandarkan kepalanya yang terhisak ke bahu Ronggur. Merangsangku di saat jaga. tanah tipis yang menyaputi batu alam yang keras. menelungkup di sana." "Jangan berkata begitu." "Tidak Tio. memanggil aku. akan merasakan tubuhnya kurang sehat. tetap sehat dan pikiranku tetap waras. Berobatlah cepat-cepat.Danau Toba yang kita kenal ini. dia mengatakan: "Barangkali itu godaan setan jahat. lembayung . Jangan sampai kekuasaan setan tertanam didirimu. Tanah yang kutemui dalam mimpi itu begitu gemburnya. Aku kau lihat sendiri. Wajah orang yang melambai aku dalam mimpi itu dan menuntun jalanku mirip sekali dengan wajahku. Tidak seperti tanah di s ini. Cerita itu." untuk pertama kalinya Tio menyebutnya hingga Ronggur merasakan satu desiran menyinggung hatinya. Orang yang digoda setan. Kau perlu berobat pada dukun. Sore dengan perlahan beralih pada senja." Wajah Tio bertambah pucat. Entah berapa lama. mirip sekali dengan wajahku. arwah almarhum ayah yang datang padaku. Tio berbuat begitu. "aku merasa takut! Aku takut!" "Janganlah takut. Apakah tidak mungkin." kata Tio lagi. mula duka cerita yang akan mendatangi diriku." "Tidak Tio.

dia sudah memilih teman yang akan diajak turut serta. di mana sebenarnya ayah dikuburkan. tidak terdapat atau dengan sengaja diadakan keharusan bahwa seorang budak harus belakangan makan. Si belang kadang berlari di depan mereka. Mereka sudah sering pulang terlambat. Mengikutkan arus Sungai Titian . Orang itu selalu mengajak aku agar memulai suatu perjalanan. Mereka menuju pulang. "Ceritalah kembali ibu. di riak danau. Dan.." kata Ronggur sesudah makin seraya melap mulut. Ibunya menyambut kedatangan mereka berdua di ambang pintu. Ronggur tidak mau begitu. Orang yang berpapasan dengan mereka tidak berapa mereka perdulikan.tambah jelas. Mereka makan bersama. "Ibu. karena kecelakaan dalam perburuan atau . Pada pikirannya. walaupun itu bertentangan dengan adat. Tari warna bermain di wajah danau. Jadi pada rumah itu.. selalu aku bertemu dengan seseorang yang wajahnya mirip benar dengan wajahku.. Sedang ibunya tidak berdaya melawan kehendak Ronggur. Meruntuhkan satu kepercayaan. Sambil menggonggong. Kemudian berlari lagi ke belakang. Ceritalah karena apa ayah meninggal dulu. Yang sendirinya menantang dan menghadapi segala kemungkinan. Tapi. yaitu memakan sisa tuannya. Karena sakit. bermarga. mungkin juga mula kelanjutan hidup keturunan. Tio mengikuti langkah Ronggur yang panjang dan cepat diayunkan. Tapi. Dengan cepat ibunya menyediakan makanan dan Tio membantu. Dalam mimpiku. Dia sudah harus mengadakan persiapan untuk perjalanan itu. yang menurul pertimbangannya masih tetap membawakan sifat dan kelakuan sebagai anak raja. mungkin juga satu perjalanan yang akan mengakhiri hidupnya sendiri. Angin tambah lemah. Ibunya pun merasa senang pada kelakuan Tio. hati Ronggur tambah digoda perjalanan yang harus dimulainya.

Ronggur? Apa katamu?" "Orang itu selalu mengajak aku. "Apa katamu." "Jangan lagi berkata begitu." . Ibu takut mendengarnya. tempat tinggal Datu Bolon itu sekarang. anak durhaka. Pergilah tanya bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan. ibu sudah tua. Dan. dikatakan para arwah. Bila aku katanya tidak mau melaksanakan permintaannya. ibu tidak mau mengatakan dan aku belum pernah berziarah ke kuburnya untuk meminta doa restu. Tarikan napas ibunya yang satu-satu lagi dalam jelas kedengaran. dia akan selalu berduka. aku akan pergi mencari sendiri. Dia yang tahu! Dialah teman ayahmu yang terakhir pergi jauh dari kampung kita ini. aku juga tidak tahu pasti. Kau tentu tahu. yang pulang kemudian. Dengan mata terbelalak akhirnya dia mengatakan. "Ibu. Dan. Di mana sebenarnya kubur ayah? Sampai begini besarku. hanya bekas Datu Bolon Guru Marsait Lipan. agar memulai perjalanan mengikuti arus Sungai Titian Dewata sampai ke muara. karena tidak pernah menziarahi kubur ayahnya?" Wajah ibunya tambah jelas memancarkan perasaan ketakutan. lalu: "Anakku. Tegak. katanya akan sia-sia. Keheningan menguasai ruang.Dewata sampai ke muara. Tarikan napas yang terputus-putus. Kerja yang dimulai di masa hidupnya." Ibunya mengangkat wajah." "Ibu. Kalau tidak. ceritalah. lerpaku mendengarkan. melesu lagi. di mana sebenarnya kuburan almarhum ayahmu. Anakku. Jangan lagi. Bukankah ibu mengatakan bahwa wa|ahku mirip benar dengan wajah almarhum ayah?" Ibunya tak langsung menyahut. Bukankah aku bisa dikatakan orang. Ayahmu tidak pernah lagi pulang. ceritalah. Tapi.

memaksa aku harus menyebut namanya. Dia tertunduk. Bu. perempuan itu. Bukan keinginanku. Dihempaskan kembali pada derajat yang tidak berharga. Tadi dikatakannya padaku. Tio menggerutu pada diri sendiri. Aku sudah berusaha mencegah. dia akan pergi memenuhi panggilan mimpinya. Kenapa lidahnya terus sefasih itu menyebut nama Ronggur. Kemudian ibu Ronggur menatap Tio. Dia sadar bahwa yang dihadapinya ialah ibu Ronggur. yang juga pada wajahnya bergantungan sesuatu ragam perasaan. Ibunya dan Tio melihat saja. membelitkan ulos ke lehernya. panggilan negeri jauh." "Dia menyuruhmu katakan?" "Benar begitu?" menyebut namanya? Itu kau "Benar. karena marah sudah lupa pada masalah yang sebenarnya dihadapi. yang tidak boleh menyebut nama tuannya. aku juga turut merasakan yang Ibu rasakan. Tapi. Tidak mau dan tidak dibolehkannya aku memanggilnya dengan Raja Ni Huta atau Hulubalang Muda. Dari tunduknya dia menyahut: "Dia yang menyuruh aku. Bu. Ibu tentu lebih tahu dariku bahwa dia tidak dapat dihalangi. dia terus berangkat. Bukankah sudah sifat Ronggur begitu?" "Apa katamu? Kau sebut namanya? Nama Hulubalang Muda kau sebut?" Tio terkejut. "Ibu. Didengarnya perempuan itu menghardik setelah lebih dulu menarik napas yang panjang lagi dalam: "Berani kau menyebut namanya? Apa kau pikir dia sama derajat dengan kau?" Seolah orang tua itu.Setelah Cepat Ronggur bangkit dari duduknya." .

kemudian menyuruh si belang melompatinya. Dia kenal pada jalan itu. Perasaan marah kembali mencair. Mula jadi Na Bolon. Menerobos gerbang perkampungan. Bu. Napasnya sesak. Gelap malam tidak diperdulikan." "Aku berjanji. Dia tak perlu takut karena tergelincir. Apakah dia tidak . Setelah melompati sebuah parit yang agak lebar. Tio. lalu: "Aku tahu bahwa perangaimu baik. Dibiarkannya si belang mengikuti. lindungilah anakku dari godaan setan. Tapi." "Tentu Ronggur sudah digoda setan. Tapi. Langsung dia menuju dangau kecil yang terpencil di satu ladang. Tanpa dipanggil. lalu perasaan takut mencekam dadanya.tahu tentang martabatnya yang begitu tinggi? O. Tidak disuruhnya supaya si belang pulang. kau tidak sepantasnya menyebut namanya. Ronggur sudah melintasi halaman perkampungan. Di pematang sawah yang kecil lagi licin dia melompat-lompat memilih jalan yang baik. si belang mengikutinya. mereka sudah berada di tanah perladangan yang di petak-petaki tanah yang ." Perempuan tua itu serasa dipukul kepalanya dan ulu hatinya. sekarang diberinya pula keizinan pada seorang budak belian menyebut namanya. Bu. dia menatap Tio."Benar. Penuhilah permintaanku ini. Sudah diizinkannya seorang budak belian makan bersama. dengan tersengal-sengal dan berusaha mengangkat kepala." Baru kembali ibu yang sudah tua itu teringat akan masalah yang sebenarnya dihadapinya." "Berjanjilah demi dewata. Bagaimana kalau tetangga mendengar kau menyebut namanya di depanku? Maukah kau memenuhi permintaanku ini?" "Akan kuusahakan. Jangan lagi sebut namanya.

Dikejauhan sudah kelihatan cahaya pelita yang menerobos dari celah dinding. Nak. Setelah memberi salam. kemudian diketahui Ronggur. berhadap-hadapan. Baik dalam suatu perkelahian. Dilompatinya pula tanah tinggi itu." .ditinggikan sebagai batas dan langsung pula menjadi pagar. Ruang tengahnya begitu kecil. minta pertolongan melihat nasib. Suara parau menyuruhnya masuk ke ruang dangau. Anakku?" tanya orang tua itu. Tangannya mengetuk pintu dengan lemah. Juga kerajaan tidak pernah lagi memintanya untuk menenung sesuatu maksud kerajaan. pikir Ronggur." kata Ronggur. Pakaian itu tidak ditanggalkannya walaupun orang tidak pernah lagi datang padanya minta diobati. dan kuku harimau. Tempat tujuan. apakah berhasil baik atau tidak. Supaya kerbau tidak merusakkan tanaman yang ada di ladang. meminta agar arwah nenek moyang dipanggil melindungi orang yang meminta tolong padanya. Pada dadanya. "Ada apa. Pada kedua lengan tangannya membelit kayu hitam. terletak tempat sirih yang terbuat dari kulit kera. ‘Pakaian datu’. Bapak akan menolongmu sebisa mungkin. Yang pernah dibunuhnya. Bercahaya ditimpa sinar pelita yang lemah. Di sebelah kanannya. bergantungan potongan gading gajah. izinkanlah aku mengajukan beberapa pertanyaan. beru kirkan bentuk ular sedang menjalar. "Bapak. Di depannya lesung pelumat s irih. Diberi pula berhiasan suatu benda mengkilat. Dia tambah menegaskan langkah. Mata orang tua itu tajam menumpu ke wajah Ronggur. taring. seperti matanya. begitu pula dalam perburuan. "Silakan. Ronggur duduk di lantai seperti orang tua itu sendiri. akar kayu yang dihitamkan dengan segala macam minyak dan lemak. Orang tua itu sedang mengunyah sirih.

" "Kenapa Bapak berkata begitu?" Lebih dulu orang tua itu menumpukan pandang ke mata Ronggur." "Ibumu tidak pernah menceritakannya padamu?" "Tidak. ibumu tidak mau menceritakan. Orang lain tidak. "Anakku. Dan. bila sesuatu hukuman yang harus ditimpakan pada orang yang memulai malapetaka itu. Kiranya." Orang tua itu menegakkan kepala. Bapak. Maafkan kesalahanku itu. ibumu mendendam padaku. Kemudian kau membenci aku. Dan. tidak menanam dendam ke dadamu." Orang tua itu menarik napas yang dalam. "Bapak juga sudah lama memikirkan bahwa pada satu saat. Ibu menyuruh aku menemui Bapak. atau berusaha untuk menuntut balas. tidak pernah. Aku juga harus mendukungnya. maka hukuman itu pun seharusnya ditimpakan padaku. aku harus menanyakannya pada Bapak. Orang tua itu memperbaiki duduknya. tidak menyangka pertanyaan begitu. selama ini kupikir. Begitu dalam. Lalu mengalirkan dendam itu ke tubuhmu. mulut manusia yang harus kita beri makan akan bertambah . Ibu sendiri pun tidak. kalau dikatakan bahwa kecelakaan itu punya mula dan sebab." "Apa maksud Bapak?" tanya Ronggur pula. maka mula dan sebab kecelakaan itu harus diletakkan di pundakku. Hanya Bapak kata ibu yang mengetahui dengan pasti. Lalu kembali dia mengaju tanya: "Ibumu menyuruh kau datang padaku?" "Ya. kalau aku mau tahu kubur almarhum ayah."Kata ibu. dan kenapa almarhum ayah menemui saat meninggalnya. "Anakku.

di kiri kanan kami hanyalah batu alam melulu. cepat tinggalkan biduk'. Agar pertengkaran karena setapak tanah dan yang bisa meledakkan satu peperangan bisa diatas i. ikutilah Sungai T itian Dewata. bapak cepat melompat ke pinggir sungai sambil berteriak: 'Ama ni Ronggur. Tapi. Yang bapak rasakan menyuruh bapak cepat meninggalkan tempat . Bertambah hari bertambah deras. Dia juga sepakat denganku.banyak." Orang tua itu terbatuk sebentar. sewaktu bapak melompat itu keseimbangan biduk hilang. Maka kami pun mulai mengadakan perjalanan mengikuti Sungai Titian Dewata tanpa memperoleh halangan dari kerajaan. Tapi. Sebuah lengkingan yang panjang menggema. Dan. apa yang kami temui? Pada suatu tempat tertentu. Sehingga hasil yang dapat diberikan tanah yang ada di sekitar kita tidak akan mencukupi. yang berbeda dengan hasil tenungku. Menanyakan arwah gaib yang tidak dapat dilihat mata. Tanah perluasan harus dicari dan ditemukan. Dihantamkan ke dinding batu yang keras. Waktu itu bapak masih memegang kekuasaan mutlak sebagai Datu Bolon Kerajaan. Bapakmu dan biduk lalu dihanyutkan arus yang menggila. Begitulah bapak memulai pertenungan. di tengahnya air sungai mengalir. Setelah mengunyah sirih lalu meludah dari celah lantai. air menuju ke sana. Sebuah terowongan batu. Air seperti mau membulat. "Hasil pertenungan itu kuceritakan pada ayahmu. bapakmu hulubalang yang dihormati kerajaan karena keberaniannya. Hingga akhirnya biduk yang kami tumpangi tidak terkendalikan. Mulut gua itu menganga seperti mau menelan. Karena tidak tahan menerima kenyataan ini. Pecah di sana. Itulah lengkingan yang paling akhir. Bapak menanyakan pada mereka di mana dapat ditemui tanah habungkasan yang subur. dia melanjutkan. setelah berhari-hari berkayu. mengikuti jalur sungai. semacam gua. Kami pun memulai perjalanan. Hasil tenung itu mengatakan pada bapak. Ayahmu begitu percaya akan hasil pertenungan bapak dan begitu percaya akan kekuatan gaibku.

Bapak mendengar usulmu. Dari matanya meleleh titikan air bening. Anakku. sejak itulah bapak tidak pernah lagi dipanggil kerajaan mengadakan pertenungan. Tafsir tenungku tidak benar. Membuat salah seorang sahabatku menjadi korban. berusaha mencari tanah habungkasan.itu. tapi bercampur baur dengan perasaan bangga dan gembira. Tidak pernah lagi kembali. Tidak pernah lagi orang datang meminta bantuan." Orang tua itu menundukkan kepala. Seperti berusaha mengingat sesuatu. agar orang mencari tanah habungkasan mengikuti arus Sungai Titian Dewata. bapak tetap juga mengikutinya. Dari tempatku yang tersembunyi itulah bapak melihat dan mendengar usulmu. Namun bapak masih menantikan ayahmu untuk beberapa hari. Dan. Bapak disisihkan dari pergaulan sehari-hari. Turut memikirkan apa yang dipikirkannya. Wajah Ronggur di samping merasakan perasaan duka. Tapi. menyanyikan kemenangannya dan kegagalan serta kekalahan kami” Orang tua terdiam sebentar. Tenungku salah. Memang mereka ." Suara orang tua itu menjadi tambah parau. Tapi. Bapak terpencil. Justru karena ada juga orang yang bisa atau turut merasakan apa yang dirasakannya. Sedang Ronggur khusuk mendengarkan. Di antara isaknya dia masih mengatakan dengan suara parau: "Maafkanlah kesalahanku. tempat bapak di tengah rimbunan bambu duri agar orang tidak melihat bapak. Tapi. Suara air yang bertemparasan ke dinding sungai yang terbuat dari batu alam yang hitam. dia tidak pernah lagi muncul. Kerongkongannya tersendat. berkerisik dan kuat. Anakku. pada upacara besar yang dilangsungkan di halaman perkampungan. Anakku. Dan. "Akhirnya bapak percaya bahwa ayahmu sudah menjadi korban atas kemurkaan dewata.

waktu dia dulu turut membela hasil tenungku. Ditoleh sedemikian rupa sehingga sumber kegagalan pertama dapat dilintasi.menemui kegagalan. Sampai ditemui satu kemenangan." "Seharusnya begitu. sahut Rongur sendiri atas segala pertanyaan yang timbul dalam dirinya. kepercayaan mereka tambah menebal juga. Malah kegagalan itu harus dibuat menjadi batu loncatan." "Apa maksudmu. seperti almarhum ayahmu sendiri. Setelah memperoleh kesimpulan ini. lalu menimbulkan korban yang tidak kecil harus dihormati. janganlah karena itu kita lantas menanggalkan satu cita yang tumbuh dalam dada kita. aku menghormati pendapat bapak tentang perlunya tanah habungkasan. yang tampak oleh mataku. Ronggur mengatakan: ”Bapak. Bapak. Malah bapak sendiri lalu disisihkan dari pergaulan. Anakku?" . Cita yang baik. Kegagalan yang ditemui bapak." "Itu risiko. jadi bapak mendengar usulku? Dan. orang yang ada di sekitar kita. Anakku." "Bapak. Aku mendengar usulmu. walau menemui kegagalan sekali. Agar kerajaan tidak menghalangi keberangkatan kami. Tapi. Risiko yang harus kita terima. Ah. yang punya kepercayaan bahwa Titian Dewata sungai dewata. darinya atau padanya tidak sewajarnya dialamatkan dendam. kemudian mengetahui kegagalanku dan meninggalnya ayahmu. Tapi. Tapi. waktu kau berbicara itu dengan suara yang lantang berani. apakah satu kegagalan harus dihukum dengan kutuk dan dendam? ‘Tidak’. Segala percobaan yang berusaha mendekati kebaikan dan mengupas kebenaran. telah lebih dulu memikirkannya bersama almarhum ayah?" “Benar. Hasil tenungku tidak diperlukan orang lagi.

lambat laun tambah ke hilir. aku harus melanjutkan pekerjaan yang gagal itu. Dasar perahu harus agak luas dibuat agar tidak mudah terbalik waktu melawan arus atau melalui arus. melayari sungai dengan biduk?" .Ronggur menarik napas yang dalam. "Sudah tiba saatnya. setelah mengalami kegagalan bahwa Sungai Titian Dewata memang jatuh ke ujung dunia?" Orang tua itu mendongakkan kepala. Kalau perahu terhantam ke sana pasti pecah. "Tapi. dia mengaju tanya pula: "Jadi." kata orang tua itu pula. Aku harus melanjutkannya. itu menatapi dan membiarkan Ronggur "Kata Bapak. Lalu. apakah menurut pendapat bapak. Dinding batunya begitu keras. "Arus itu. menjadi deras arusnya. pada pangkalnya mempunyai arus yang kencang. dengan suara pasti dia mengatakan. "dapat dikatakan cukup menggila. Bukankah arus menggila itu memang satu pertanda bahwa sungai akhirnya memang jatuh ke satu tempat yang maha dalam. ada baiknya kau pikirkan bahwa sesuatu sungai biasa. Pada pangkalnya tidak berapa deras arusnya. Tidak sempat berenang ke tepian. Tapi. penumpangnya akan dihanyutkan arus tanpa ampun. Lalu. "Ya. yang menurut kata orang di sekitar ialah ujung dunia?" Ronggur masih terdiam. Keningnya berkerut. Tapi. Yang lebih besar dari biduk. Bukankah itu pertanda bahwa sungai itu memang lain dari sungai biasa?" Ronggur terdiam. Dan." "Pikiran yang baik. sungai ini lain." "Kalau begitu harus diusahakan melayarinya dengan perahu." kata orang tua itu. Aku harus dapat mengatasinya." Orang tua berbicara.

" "Boleh jadi riamnya lebih dalam. Tapi. Karena arus sesuatu riam tidak akan begitu kencang dan begitu menggila. kalau begitu yang kita hadapi hanyalah arus sungai yang menggila. Agar perahu tidak dihanyutkan arus dengan sesuka hatinya. Dan. Karena hasil tenungku sampai saat ini tetap berpendapat bahwa sungai itu tidak jatuh ke ujung dunia." "Maksudmu?" "Batu sebesar kepala manusia atau sebesar kepala kerbau kita ikat. Agar kami direstui dan diberkati para dewata dan arwah nenek moyang. aku harus melayarinya dengan perahu yang jauh lebih besar dari biduk." . begitu pula arwah almarhum ayah. Tidak cukup kemudi saja menahan kencangnya perahu. Dan." Orang tua itu menundukkan kepala."Tidak dapat kupastikan. setiap itu pula batu itu kita jatuhkan ke dalam air sebagai penahan. Anakku. Tapi." "Nah. Boleh jadi arus menggila karena sungai melalui riam yang banyak ditemui pada sesuatu sungai. Talinya kita ikatkan pada buritan perahu." "Boleh saja kita berpendapat begitu. harus menggunakan batu pemberat. Mengiakan lalu mulutnya mengatakan: "Satu pikiran yang baik. Karena pendapat ini jugalah membuat bapak disisihkan orang. darimu. sewaktu melintasi arus sungai harus menggunakan tenaga pembantu." "Karena itulah." "Nah. Setiap melintasi arus yang tambah kencang. dengan akal begitulah aku bermaksud melayari Sungai Titian Dewata sampai ke muara." "Juga tidak dapat bapak jawab. kenyataan keadaan sungai itu tidak dapat dipungkiri. kumohonkan doa restu.

" kata orang tua itu seraya pundak Ronggur ditepuk-tepuk. yang punya dasar yang lebih datar dari perahu biasa. Anakku. perjalanan itu akan kumulai. dibaliknya pagi. kurasa lebih besar manfaatnya dari apa saja. Kau akan menghadapi rintangan kepercayaan orang yang ada di sekitarmu."Bapak akan membantumu. Sesudah ini s iap semua. Tapi. untuk pertama kali sete lah bertahun-tahun ada orang meminta pertolongan doa restunya. Ah. "Anakku." "Doa Bapak yang akan mengiringi langkahku." Orang tua itu merasa gembira bercampur bangga karena ada orang yang sependapat dengan dia. beritahukan pada bapak kelak." Ronggur meminta diri. . Orang tua itu melepaskannya menerjang kelam malam yang pekat. Mata orang tua menyinarkan cahaya kemenangan. berusaha menembus segala kegelapan yang menyungkup keadaan sekitar. kalaulah bapak masih muda. aku mau mempersiapkan peralatan yang kuperlukan dulu. kapan kau hendak memulai perjalanan itu. "Dan. sedang mulutnya mengatakan dengan suara pasti: "Anakku. aku akan datang memberitahukannya pada Bapak. sambil Malam sudah jauh. masih punya tenaga yang kuat. doakanlah agar anakmu ini selamat dalam perjalanan. Sebuah perahu yang agak besar. Dadanya diangkat. Dan. Beberapa gulungan tali ijuk yang kuat." "Baik. Bapak. Karena itu kekuatan jiwa dan tekad yang padu harus kau punyai dan kau pupuk selalu dalam hati. bapak akan turut bersamamu. Si belang berlari-lari mengibaskan ekor. di samping Ronggur. Matanya bersinar. Tenaga gaib yang dipunyainya." kata Ronggur. Karena. perjalanan ini tidak mudah.

panjang. meregangkan tubuh seperti mengendorkan urat yang dibekukan dingin pagi berkabut rendah. tapi sudah tambah menipis dengan bertambah tingginya hari. Si belang sering menggonggong. . dan menembus kabut. Tapi. lebih kental. tampaknya. dan rendah. Ronggur sudah berada di halaman bersama T io dan si belang. yang berisikan alat kecil. Perkampungan tambah tertinggal di bawah. Di pundaknya disandangkan sumpit bertali. Tangan kanan Ronggur menggemggam kampak. dari gerak-geriknya si belang gembira. Pundak Tio juga menyandang sumpit bertali yang berisikan beras. Jalanan terus menanjak. Mereka terus melangkah. Air yang biru tidak dapat dilihat pandang. Bergegas. Orang tidak ada di halaman. Semua teggelam ke perut kabut. Mereka tampaknya akan mengadakan perjalanan yang tidak dapat dikatakan pendek masanya. Matanya sering tertumpu ke pinggang Ronggur yang menyelipkan panggada. kabut di sana lebih tebal. Karena seperti tahu bahwa mereka akan mengadakan perjalanan yang lama dan jauh dari lingkungan perkampungan. Masih juga dibalut kabut. tangan kirinya menggenggam tombak. Di tubuhnya membelit tali ambalang.ccdw-kzaa 3 Kabut pagi masih rendah menyungkup tanah. Ronggur melangkah cepat. begitu pula Pulau Samosir dan T uktuk Sigaol. Langsung rombongan kecil itu mengarah ke kaki bukit sebelah barat. Tio tetap mengiring dari belakang bersama si belang. Lewat perkampungan danau. Tangannya juga menggenggam kampak dan tombak.

Pada tempat tertentu tampak tumpukan bambu duri yang melingkar. jalanan menanjak. sudah mulai bangkit. seperti hendak menjangkau Samosir. bertambah lama bertambah jelas tampak. Ini semua dapat dilihat setelah melalui tingkatan sawah yang padinya sedang bunting. Di sebelah lain Tuktuk Tarabunga menjulur ke depan. Air danau biru tenang di pagi hari tanpa angin. suluh abadi yang dikenal mereka sejak masa kanak. secara berangsur perlahan. sekarang sudah tampak isinya.Kabut yang rendah tambah terangkat. Biasanya. tambah jauh berada di bawah. dedaunan padi yang menghijau. Asap sudah mengepul dari kampung itu. Matahari memberi sinar. Terkadang mereka seperti tenggelam di padang ilalang yang cukup tinggi. Tidak banyak mereka mengeluarkan kata. Pertanda perkampungan. Lidah ilalang yang bergoyangan. Akhirnya keputihan yang pekat tadi yang merupakan satu bundaran yang tidak berujud. terkadang menyayati daging mereka dengan tipis. Tergesa tampaknya. Mereka meneruskan langkah. lalu ilalang itu bergoyangan. Setiap saat. si raja hutan. Langkah mereka begitu cepat diayunkan. Satu dua biduk berlayar di permukaan danau. penangkap ikan yang bekerja semalaman mengayuh menuju pantai. Karena ingin cepat tiba ke tempat yang dituju. Untuk kemudian secara perlahan mulai menyisih dari tanah. Matahari tambah tinggi berlayar di langit dan sinarnya terus menerus tambah terik. Terasa pedih juga bila sayatan kecil itu dibasahi keringat. Untuk tampak kembali pada tempat di mana ilalang agak rendah. Angin yang berdesir di lidah ilalang yang tinggi. Permukaan danau. pertanda pengisi kampung sudah bangun dari tidurnya. tepian Pulau Samosir dan Tuktuk Sigaol. Itu yang membuat . bersembunyi di sana menanti mangsa. dan perkampungan serta danau. Samosir dan Tuktuk Sigaol berhadapan. tambah jauh mereka di atas.

dilincahkan sebagai sahutan. Dia tidak menggonggong lagi." Tio tidak menyahut. siap sedia dipergunakan. Tercecer bertumpuk di sana sini. di teluk di mana Sungai T itian Dewata bermula. Melihat Ronggur bersikap begitu. Dari sana tampak lebih jelas lagi. melalui tingkatan dinding teluk. Beriak-riak. didasarnya hutan yang mereka tuju. Utara. Matahari terus berlayar di langit dan mereka terus melangkah di bumi. Mata Ronggur lama tertancap ke sana. Agar kita tidak kemalaman mencari tempat bermalam. kenapa sungai itu harus diadakan dewata. cukup hijau. Dedaunan yang rapat didukung pepohonan yang tumbuh di sana. tapi terus mengikuti tuannya. Sawah menghijau oleh dedaunan padi yang sudah panjang dan sudah bunting. ketakutan bercampur baur dengan penyesalan. Langkahnya tambah dipercepat dan diperpanjang. Kelompok bambu duri pertanda perkampungan tambah banyak dapat mereka lihat dari sana. Di tangannya terus tergenggam tombak dan kampak. kita sudah harus menuruni lembah berhutan yang ada di salah satu lekuk danau. Dalam hati terucap kata: akan kutembus kau sampai ke muara. danau yang biru. Lidah si belang terjulur merah dan berbuih. berair. "juga untuk memilih dahan pohon yang baik untuk tempat tidur. Alis matanya terangkat. Bermula dari pantai danau. Mereka menuruni lembah berhutan yang tidak berapa luas. mereka menatap ke sekitar. Barat." kata Ronggur. dada Tio bernadakan lagu lain. "Sebelum matahari condong ke barat. Pandang bebas diarahkan ke mana suka. menampung . berakhir ke kaki bukit. hanya ke arah belakang yang kandas pada pegunungan.Ronggur tetap was-was. dan teduh. Dari tempat ketinggian. Tapi. Mereka sudah dapat mencium bau dedaunan yang segar.

Yang mungkin pula menimbulkan peperangan marga. tapi sebagai pembayar bagiannya kerajaan lain harus memberikan kerbau pada kerajaannya. yang di tempati beberapa marga. Tapi. harus mengadakan pertemuan kerajaan. Jadi. sudah beberapa kali dilangsungkan sidang kerajaan dengan kerajaan. Jaringan dahan dan rantingnya. Yang bisa membuat satu luhak berkelahi dengan luhak lain. Kerajaan marga lain yang juga mendengar berita itu dengan tandas pula menyatakan maksud masing-masing. kerajaan marganya sudah memutuskan membuka hutan itu untuk dijadikan tanah persawahan. Masalah itu memang hangat dibicarakan. Kalau hutan itu dibuka. Satu marga mengusulkan. Akhirnya setiap kerajaan marga yang berdekatan. antara marga sendiri pun akan ada pertengkaran. mendukung dedaunan. boleh marganya tidak memperoleh tanah bagian. buatan alam. Di induk kampung marga Ronggur juga sudah pernah diadakan pertemuan. hingga tanahnya tetap teduh dan berair. belum sampai ke taraf yang menentukan. hasilnya masih tetap sama: belum memperoleh kata mupakat. Bila satu luhak telah menang. Sampai sekarang memang belum ada satu marga pun yang mempunyainya. Pada mulanya . untuk membicarakan masalah hutan itu. Untuk membuka hutan itu lalu membagi-bagikan tanahnya bagi warga marganya. Ronggur sudah tahu bahwa mulai panen tahun muka. Begitulah.sinar matahari. tapi. Tapi. dari tanah hutan yang tidak seberapa luas itu. Dedaunan gugur me lapisi permukaan tanah. marganya harus memperoleh bagian. permadani yang lembut. setiap marga merasakan bahwa kerajaannya punya hak atas hutan itu. Tapi. bersamaan dengan niat itu kerajaan marga lain juga telah memutuskan untuk membuka hutan itu untuk dijadikan tanah persawahan marganya. bisa saja timbul peperangan yang berturut-turut. Tapi.

Ronggur kembali duduk." kata Ronggur lagi. "Bila selesa i makan. . Memberi beberapa jemput untuk si belang. kemungkinan pecahnya peperangan begitu besar. lalu melanjut pada yang lebih kecil. Tanah perluasan buat sementara. kumpulkanlah ranting kering. Hanyalah tempat singgahan sementara sebelum tiba ke saat yang ditakutkan Ronggur. Memperbaiki jalan pernapasan. akhirnya dapat memindahkan beberapa keluarga ke sana. lantas mengatakan: "Tolong berikan sebungkus. Dan. sebelum peperangan dari perebutan hutan itu meledak. Untuk bahan bakar api unggun malam hari. Diambilnya sebungkus untuknya. Mereka menurun ke lembah berhutan dielus angin sore yang nyaman. Tio mengiakan. Berbuih. peperangan kerajaan marga. Ronggur duduk melepas lelah pada teduhan sebuah pohon. Lidahnya terjulur ke luar. bila marga lain itu tetap merasakan bahwa kerajaannya punya hak juga atas hutan itu. Menutup mata. tanpa memperdulikan kepentingan kerajaan marga lain. sudah jelas garisnya: peperangan tidak terelakkan lagi. Si belang. Suatu kerajaan yang memperolehnya.peperangan luhak. untuk membuka hutan itu. Namun untuk merebutnya. Menelentangkan diri. Hendaknya. pikir Ronggur. atas putusan kerajaan Ronggur." padaku nasi yang kau bawa itu Tio cepat memberikan. Kesejukannya telah memberikan kesegaran bagi mereka yang sehari penuh dipanggang sinar matahari. mendudukkan diri tidak jauh darinya. Tepi hutan. Karena luasnya tidak seberapa. dia bisa lebih dulu menemui tanah habungkasan.

"Biarlah di tanah. Sebaliknya. dia sudah dapat mencium dari jarak jauh. Penciumannya cukup tajam. Dia akan terus menggonggong lalu membuat kita bangun. Di bawah dahan mereka bakar api unggun." kata Ronggur pula. tapi mendatar. lalu dibawanya ke bawah pohon tempat mereka bermalam. Agar terhindar dari gangguan binatang buas. Dihidupkannya api." Lagi-lagi T io mengiakan. Ronggur pergi menyusuri tepian hutan. Tapi. Sebentar lagi matahari akan tenggelam. Juga bisa mengusir dingin malam. Dahan yang patah dari sesuatu pohon dipotong." Begitu tergesa mereka menyiapkan sesuatunya. Mula-mula dibakar ranting. Bila bahaya datang. "Si belang di mana tidur?" tanya Tio. Agak gepeng sedikit. Ditatapi Tio terus sampai Ronggur hilang ke antara pepohonan atau tenggelam kerimbunan rerumputan yang tinggi. Membuat lobang pada salah satu sisi jurang tidak sempat lagi. Di mana tubuh enak ditelentangkan. Tidak terlalu bulat. Ronggur memilih dahan yang baik untuk tempat tidur. cukup besar. Tio tidak hanya mengumpulkan reranting. Dahan yang dipilih Ronggur untuknya dan untuk T io tidak berjauhan."Hari sudah sore. Tidak sekali banyak. Bara memanas di bawah bila sudah ada dahan sebesar betis yang habis dimakan api. . dan tidak vertikal. Dan tetap ada nyala menjilam. Baru Tio memulai mengonggokkan ranting di lapisan bawah diatasnya dahan. Di sini cepat gelap. yang bercabang dua. "kita memilih dahan tempat bermalam. agar nyamuk tidak banyak mengganggu. Potongan dahan kayu yang sebesar betisnya dionggokkannya kenyala api menjilam. sedikit demi sedikit supaya api tidak mati. Lantas memberi bantuan.

sudah kutemui kumpulan pohon maranti batu. senja.Ya. Tapi. Tapi. tak seorang pun dapat menghalanginya untuk mengerjakannya. ." “Harus pohon maranti batu?" tanya Tio menyeling. mengendorkan maksudnya. yang dikatakan sikap jantan yang berani. yang baik dijadikan perahu. harus turut baranya dipadamkan baru tidak mengandung panas lagi. yang dapat mencegahnya. Sehingga apa yang dilihat itulah. atau dia sendiri akan musnah. bila hendak memadaminya. bagaimanapun kumpulan pohon maranti batu yang masih muda itu. pikirnya. Ronggur dapat diibaratkan seperti api unggun. Di tikungan jalan tikus menanjak sana. Sedang panjang batangnya yang lurus hendaknya melebihi tiga depa. Sambil tersenyum Ronggur berkata: "Kau pandai menyalakan api. Ronggur melihat api yang sudah menyala dan memberi kilatan cahaya pada sekitar. masih menyimpan bara kehidupan yang cukup besar didasarnya. Seperti api unggun itu sendiri. Tingkah lakunya yang dapat dilihat atau yang muncul kepenglihatan. sesuatu yang dipikirnya dan dirasakannya punya kebenaran. Dedaunan yang merimbun menampung cahaya matahari yang sudah lemah. belum kutemui maranti batu yang cukup tua. Dari jauh sudah kedengaran siulan Ronggur datang mendekat. Pohon yang kuperlukan harus cukup tua lagi besar. Begitu pula dengan tekad perjalanannya yang akan menempuh Sungai Titian Dewata tak satu pun kekuatan baik melalui kemesraan dan kasih. sudah menjadi pertanda bahwa di hutan ini akan kutemui pohon yang kuperlukan. mengandung bahaya lagi yang bisa membakar dan menghanguskan. baik melalui ancaman bahaya yang mungkin ditemuinya. yang cepat menjadi kelam. Walaupun itu berarti dia akan merombak kepercayaan yang sudah tertanam di dasar hati penduduk turun-temurun.

" “Aku akan mengerjakan. Menatap entah ke mana saja. Apakah Ronggur pergi sendiri. dia ingin ikut. Semua perahu yang baik dibuat dari jenis kayu itu. Binatang akan pergi menjauh. Lagi." Kemudian Tio terdiam. Memintal ijuknya menjadi tali. Sudah ada yang tua. Airnya bening. maka itu sangat lain soalnya. kalau bisa sebesar pergelangan tangan. Dan. namun T io bila memang Ronggur harus berangkat juga. Walaupun tubuh Ronggur cukup tegap menyimpan . Jangan lebih dulu menebang kayu. Tapi. “Besok pagi benar. kekuatan tubuhnya memberi jaminan. Sangat kuperlukan nanti dalam perjalanan. kutemui pula parit kecil. Kita harus mengadakan pengintaian. akalnya yang cukup banyak. Itulah kerjamu." Tio mendengarkan." sahut Tio. Keberaniannya. walau susah mengerjakannya karena kayunya cukup keras. daya apungnya sangat baik. bangunlah. Jadi. Ronggur melanjutkan: “Sewaktu aku meneruskan perjalananku lebih ke atas. Di tepi parit banyak kulihat bekas jejak binatang buruan. Matanya seperti bermimpi. banyak pohon aren liar tumbuh. Harus pula panjang. agar ada daging persediaan. kuperlukan dalam perjalanan. mereka tidak akan mati kelaparan. bila diingatnya bahwa Ronggur akan menyusuri sungai Titian Dewata mencapai muara. bila bersama Ronggur. Suara kampak yang berlaga dengan pohon kayu bisa menakutkan binatang. Tahukah kau di sebelah hulu parit. kita tidak akan kekurangan daging di sini. Dalam hati selalu mengiring tanya. Begitu yakin dia bahwa kemana pun dia pergi. Tapi meranti batu tidak mudah busuk walau direndam dalam air dan dipanggang terik matahari. Kau harus menebang pohon aren yang sudah tua itu. tidak mengajaknya? Betapa pun ancaman yang tumbuh dari maksud perjalanan itu. Membunuh beberapa ekor binatang itu.“Ya. Harus cukup besar.

Jengkrik dengan kerisiknyayang nyaring dan di kejauhan gonggong dan salak anjing liar selalu membuat si belang mendongakkan kepala. Tapi. Mendengarkan dan meraba sumber suara itu.tenaga yang kuat. Nyala menjilam dari unggun api. Sekitar menjadi terang dan panas.. Yang dibuat dari bambu. penimba air harus dibawa serta. Ronggur turun ke bawah. apakah Ronggur tidak dapat membaca apa yang tersirat dicerlang matanya? Malam hari. Hingga jilam yang mau padam tadi. Dalam hayalnya Ronggur sudah menggambarkan bentuk perahu yang hendak dibuatnya. Sudah di reka-rekanya bahwa dasar perahu harus mendatar. apalagi kalau dilanggar ketentuannya. ikatannya jangan dipintal mati. Kurang wajar rasanya dia menasihati perjalanan yang sudah diputuskan Ronggur harus ditempuh. Ya. bisa mengikuti arus sungai walau melalui riam. Dinding perahu harus agak tinggi agar tidak dimasuki temperasan air yang memercik. Si belang duduk di . Ronggur menyuruh Tio mengikatkan tubuh ke dahan kayu yang bercabang. berbentuk gepeng. Karena mungkin saja diperlukan pada saat tertentu. pikirnya. Malam begitu dekatnya. agar tidak jatuh sewaktu diri lelap tidur. semuanya itu tidak berarti. Tapi. Biarlah tidak bisa dikayuh cepat. Tambah jauh malam nyala itu tambah mengecil. jangan melancip. Menimpakan beberapa potong lagi dedahanan ke atas api. Tapi. dekat unggun api. Harus bisa dibuka dengan cepat. Binatang rimba mulai bernyanyi. Jilam-nya begitu tinggi. namun untuk menghadapi ketentuan dewata. Si belang di bawah. akalnya banyak. Kalau dewata berkehendak. Ronggur juga mengikatkan tubuhnya ke dahan tempatnya tidur. kembali menyala. Biarlah perahu agak lamban jalannya. lalu tampak bara membara. siapa pula dapat menantangnya? Entah kenapa perasaan takut itu tambah hari tambah dalam mencekam di hatinya. Namun dia tidak mengatakan.

tanah dekat api melihat jilam api yang terkadang meliuk ditiup angin lalu. "Perahu yang kubuat," lanjut Ronggur berbicara pada diri sendiri setelah dia kembali me letakkan diri dan mengikat tubuhnya ke dahan kayu itu. Harus bisa memuat penumpang sebanyak tujuh orang paling sedikit. Dasar perahu harus lebih lebar dari perahu biasa, agar tidak mudah oleng waktu melintasi riam sungai. Juga agar mudah menjaga keseimbangan. Sudah dibayangkan, siapa yang akan diajaknya serta. Akan diminta kesediaan mereka menemaninya. Dan, ke dalam yang tujuh orang itu, tidak termasuk Tio. Perjalanan yang menanggung risiko begitu berat, bukanlah pekerjaan perempuan. Lagi, Tio perlu dekat ibu. Membantu mengerjakan sawah bila saat panen tiba. Siapa ttliu, boleh jadi perjalanan itu sangat panjang. Dikiranya pula, bila setiap hari dia mengerjakan perahu, dalam dua kali purnama tenggelam dan terbit lagi sudah bisa selesai. Berarti sepulangnya dari hutan itu, padi telah menguning di sawah. Sehabis panen, dia akan memulai perjalanan itu. Seketika, teringat dia atas maksud kerajaan marganya untuk membuka hutan itu menjadi tanah persawahan. "Ah," pikirnya pula, "dari orang yang sangat dekat dengan Raja Panggonggom, diperolehnya keterangan bahwa s iasat itu baru gertakan saja pada kerajaan marga sekitar. Untuk menduga sampai di mana kesungguhan kerajaan marga lain itu untuk menguasai hutan itu. "Tapi, betapa pun," pikirnya pula, "hutan itu akan dibuka orang juga. Dan, darinya timbul satu ancaman pada ketenteraman hidup. Karena setiap kerajaan marga merasakan sama-sama berhak atas hutan yang kecil itu."

"Tio, kau sudah tidur?" tanyanya. Tidak ada sahutan. "Ah," pikirnya, "Tio sudah tidur." Dan, dia masih belum bisa memejamkan mata. Pikirannya terus berbicara dan bercerita dan mereka-reka bentuk masa datang. Dia tidak tahu pasti, kapan dia jatuh tertidur. Kokok ayam hutan membangunkan mereka. Cepat Ronggur turun dari dahan. Begitu pula Tio. Setelah meregangkan tubuh beberapa saat, menguapkan mulut. "Enak tidurmu malam tadi?" tanya Ronggur. Tio hanya menundukkan kepala. Sekitar masih remang. Masih pagi benar. Tapi, bila mereka pergi ke pinggir hutan, tahulah mereka bahwa matahari sebenarnya sudah muncul di atas pundak Dolok Simanuk-manuk yang dapat mereka tatap dari mulut teluk. Dedaunan yang rimbun menghalangi sinar matahari jatuh menimpa wajah mereka. Cepat-cepat Ronggur mengajak Tio mendekat ke parit yang dikatakannya semalam. Perlahan-lahan mereka mendekat, seolah-olah tidak menimbulkan buny i. Walau melalui ranting-ranting kering yang berserakan di atas tanah. Ronggur menunjukkan sekumpulan pelanduk yang sedang minum dan bermain-main di parit kecil itu. "Lihat," bisik Ronggur. "Bidiklah yang sebelah sana, yang kepalanya berbelang putih. Aku membidik yang kakinya berbelang." Tio mengiakan dengan anggukan. Bersama mereka mengayunkan tombak yang cepat melayang. Lalu, tertancap ke sasaran. Karena terkejut, pelanduk lain melarikan diri. Sedang pelanduk yang dikenai tombak melengking dan berusaha melarikan diri beberapa jauh, membawa luka di tubuh yang mengucurkan darah. Untuk itu, si belang cepat bangkit dan mengadakan pengejaran. Digigitnya kaki pelanduk itu sampai tidak berdaya. Sampai rubuh ke tanah. Kemudian si belang menggonggong, mewartakan kepada tuannya di mana pelanduk tergeletak.

Ronggur dan Tio cepat mendekat. Mereka kuliti binatang itu. Dagingnya mereka potong tipis-tipis. Mereka jemur di atas batu yang langsung menampung sinar matahari penuh tanpa dihalangi dedaunan. Sehari itu, si belang disuruh menjaga agar tidak dicuri burung gagak. Rongur memilih dinding jurang yang baik digali untuk membuat lubang perlindungan, tidak jauh dari parit kecil agar mudah mengambil air. Berdua mereka menggali. Mulut lubang dibuat besar, hingga bisa masuk dengan leluasa. Sedang ruang dalam agak luas. Mereka bisa menyangkutkan ulosbatak sebagai batas tempat tidur masing-masing. Sampai jauh malam mereka mengerjakan lubang itu. Peralatan mereka simpan di sana. Begitu pula dengan daging hasil pemburuan tadi pagi yang harus dijemur besok harinya, karena belum cukup kering untuk disimpan. Mereka gembira karena sudah memperoleh daging yang dibutuhkan dan sudah punya lubang perlindungan. Ronggur bisa tidur nyenyak malam itu, begitu pula T io. Di mulut lubang si belang tidur-tiduran. Seperti menjaga kemungkinan adanya gangguan binatang buas. Pagi itu, Ronggur melanjutkan mencari kayu. Dia menyuruk-nyuruk di bawah rerantingan, menyibak rerumputan yang terkadang berduri dan melukai tubuhnya dengan garisgaris kecil. Tapi sudah dapat menitikkan darah untuk kemudian membeku Agak jauh di tengah hutan, baru ditemui pohon yang dicari. Besar batang pohon, tiga kali pelukannya. Panjang batang pohon yang tegak lurus, sekira tiga depa. Diperiksanya batang pohon itu baik-baik, hingga dia yakin bahwa pohon itu sudah cukup tua. Dikulitinya batang pohon sekira sejengkal, lalu tampak kayu yang sudah berminyak. Kemudian dipanjatnya. Diperiksa, apakah tidak terlalu banyak mata kayunya. Tahulah dia bahwa kayu itu cukup baik dijadikan perahu. Langsung saja Ronggur mulai mendahaninya, agar waktu tumbang nanti

dua tiga biji dipilihnya untuk dijadikan galah. Bila daging sudah mulai habis. kemudian direndam dengan air. Dari dedahanan kayu yang ditebang Ronggur. Bila air sungai tidak berapa dalam bisa digunakan membantu jalannya perahu. Tio langsung menebang aren yang sudah tua. Batang pohon itu dipotong. dimakan pengganti beras. Dua biji lagi kayu yang tidak berapa besar ditebang Ronggur. Ujungnya dilancipkan kemudian dipacakkan ke tanah. Dengan dibantu Tio. Ijuknya cepat berlepasan satu sama lain bila pohonnya sudah kering. Sedang batang pohon maranti batu yang sudah tumbang itu. Begitulah mereka saling mengerjakan tugas masingmasing. kembali mereka mengadakan pemburuan.tidak menyangkut pada pepohonan lain yang bisa menimbulkan cacat pada pohon itu. Dibuatnya pula pacakan begitu dua lagi. Katanya sekali waktu pada Tio. Bersilangan. Belahan pohon aren dijemur di bawah terik matahari. Tanah di sekitar pohon itu dibersihkan. Sedang persediaan beras tampaknya tidak berkurang-kurang karena persediaan tepung umbi aren. Umbi aren diasingkan untuk ditumbuk. Persilangan itu diikat dengan rotan kuat-kuat. diukurnya. dengan mencucukkan galah ke dasar sungai lalu menyorongkan. Lebihnya dibuang. yang panjang lagi kurus. Batangnya dibelah. Sesudah selesai menjemur daging hasil buruan semalam dan menyuruh si belang menjaga. Tepat sepanjang yang diperlukannya. Ronggur menaikkan batang pohon maranti batu itu ke atas . lalu ditapis untuk diasingkan tepungnya Yang baik. di tanah yang tidak terlindung. Atau. mendorongkan perahu yang mau terhempas ke tepian berbatu dengan menjolokkan galah ke pinggir sungai berbatu. Ijuk yang berlepasan itu bisa dipintal menjadi tali yang cukup kuat. galah itu sangat diperlukan dalam melayari sungai.

Membentuk semacam dinding yang baik. Bila dasar perahu dan dinding perahu bertambah terbentuk. Bentuk lobang yang dibuat Ronggur di batang kayu itu.pacakan yang berupa galangan itu. mengambil tuntutan dari bagian dalam perahu. pada bagian hulu dan buritan tidak berapa dalam. kemudian hulunya diketok perlahan. Satu menghadap ke depan. Pada bagian buritan dan hulu perahu. Ronggur harus hati-hati memilih. Tuhil itu ditancapkan lebih dulu. tidak pula boleh terlalu tebal. alat yang yang terbuat dari batu yang tajam muncungnya. Begitu pula dasarnya. dipahatnya semacam ukiran. agar dinding perahu tidak terlalu tipis lalu mudah pecah. . Agar perahu tidak berat atau agar daya apung perahu cukup baik dan punya keseimbangan. Setelah bentuk lobang itu agak nyata. Dia harus memperhatikan benar. Di sana batang pohon itu dikulitinya. Karena itu. berhatihati. tebal kedua sisi dinding perahu. kapak tidak berapa dipergunakan Ronggur lagi. Langsung bersatu dengan tubuh perahu. Tapi. Di atas pacakan. diusahakan agar sama. Ronggur beralih pula menukil bagian luar. ditelanjangi. Dasarnya sengaja diperluas. Dari sebelah mana harus dimulai penukilan membentuk semacam lobang di batang kayu itu. yang nanti menjadi tempat pemenumpang. Dengan tuhil Ronggur melanjutkan membentuk lobang atau memperhalus bekas makanan kampak. Dia harus memilih dasar perahu yang terbuat dari bagian batang yang tidak banyak mata kayunya. Tapi. perahu akan bocor. bagian batang mana yang harus dijadikan dasar perahu. batang pohon itu bisa dibalik-balikkan. Di atas pacakan itu Ronggur mulai membuat perahu. satu lagi menghadap ke belakang. di bagian perut lebih dalam dan luas. Mata kayu biasanya mudah lepas dari kesatuan kayu dan bila sudah lepas. menggambarkan kepala harimau. Dikeluarkannya tuhil.

Kulit telapak tangan berlecetan di sana-sini. ijuknya sudah dipintal menjadi tali. dindingnya tebal dibuat di sana. Kayu bersilang itu diputarkan pada tumpukan ijuk yang dicerai-beraikan. Mencerai-beraikan. dia harus mencari pohon aren lagi. disatukan. Tapi. Bila buritan dan hulu perahu retak atau pecah. sudah kering sehingga ijuk mengikut pada putaran kayu itu. Dia harus menyusur lebih ke hulu parit lagi. Ijuk yang keras sering menusuk kulit telapak tangan. Menapis agar diperoleh tepungnya. Dan. kasar. yang sudah dua jalur itu. melepaskan ijuknya dari batangnya. sendirinya saja bagian perut perahu akan pecah. Ijuk yang mengikut itu. Menjemur. Merendam ke air. Menebang. Tapi. Membelahnya. hitam. justru karena di buritan dan di hulu perahulah terletak tenaga sesuatu perahu tersimpan. Ronggur mengatakan tali yang dipintalnya masih kurang banyak. tahulah Tio. Dipilin tangan demikian rupa sehingga berbentuk tali yang jalin-menjalin. setelah pohon aren yang tua habis ditumbangkan Tio di tempat itu. Menyisihkan umbinya. dan kokoh. Bila batang aren sudah kering. Alat pemintal. Tahan air. Pohon aren yang setumpuk itu sudah pada tumbang. Lalu dimulainya memutar-mutarkan kayu bersilang tadi ke tumpukan ijuk.Buritan dan hulu perahu. Tio harus mencari pohon aren baru untuk ditebang. asal saja jangan dibakar api. Dibuat bersilang. sehingga bisa mengucurkan darah. ialah dua potong kayu sebesar pergelangan tangan. Dan. yang diusahakan sebesar yang dikehendaki dan sudah cukup panjang diikatkan pada pepohonan yang ada di sekitarnya. . Waktu saat memintal ijuk tiba. Karena itu. betapa susahnya memintal ijuk pohon aren. Ijuk yang memanjang. T ahan panas matahari. Kemudian melahirkan kulit baru yang lebih tebal dan lebih tahan menghadapi ijuk. Kemudian memintalnya menjadi tali.

belukar. Sebelah kanannya. Tiba-tiba dia sadar bahwa menemui sarang babi hutan yang mempunyai anak yang masih kecil. Bila dia mundur ke sana dan mengadakan pertahanan. Dia harus menghadapi serangan babi itu. Dari jauh sudah terlihat daun aren yang panjang itu. suara dengusan babi. menyerang sampai mangsanya terjepit. Jalan menyingkir sudah tidak ada. Dengusan napas babi tambah mendekat. tidak menguntungkan. mencari pohon aren. Tidak ada batang kayu yang dekat yang bisa dipanjat untuk menghindar bila babi itu menyerang. Tapi. Padahal babi hanya bisa menyerang dari satu arah. Dari depannya. Sadarlah dia. matanya masih sipit. Induk babi yang baru melahirkan dan masih menyusukan tentu cukup galak dan tetap diiringi jantannya. bila babi jantan itu sudah bertaring. Dan. dia harus menghadapi segala kemungkinan. itu dengusan induk babi. Dibulatkannya tekad. Dielusnya perlahan tubuh anak babi yang masih lembut. betapa gembira dia karena dia menemui sarang babi hutan. Sebelah kedua sisinya. masih ada semacam dinding tanah sebelum menembus ke jalan tikus itu. Setiba di bawah pohon aren itu. jalan tikus yang sempit. yang harus dihadapinya hanyalah satu arah saja. didengarnya dengusan babi dari semak yang ada di atasnya. Ke sana dia menuju. Babi itu akan menyeruduk maju ke depan. Waktu dia berpaling.Tio menyuruki rimbunan kekayuan yang agak rendah. Yang masih punya bulu begitu halus dan menggelikan telapak tangan. Anak babi hutan lima ekor. . Muncungnya yang panjang kemudian akan ditusukkan ke bagian tubuh yang lunak. juga mengandung mara bahaya yang mengancam di samping kegembiraan. Dilihatnya keadaan sekitar. Walau dia tahu seekor babi hutan tidak akan terus jatuh ketika pukulan pertama mengenai tubuh atau kepalanya. yaitu depannya.

taringnya akan digunakan mencabik-cabik daging mangsanya. Menggigil juga dia. Sambil mundur perlahan, matanya tetap awas dan terus diarahkan ke sumber dengusan. Tapi, pikirannya masih dapat mengingat bahwa bila babi menyerang selalu membabi buta. Langsung saja menyergap ke depan tanpa rem. Dalam saat begitu, seseorang yang lincah dan tidak gugup, dengan meloncat ke kiri atau ke kanan, bisa mengelak serangan. Bisa mengelak serangan babi sambil menggunakan kesempatan itu menghantamkan panggada atau kampak yang ada di tangan. Tiba-tiba si belang menggonggong. Begitu nyaring suaranya. Taringnya ditunjukkan, putih tajam dan kukuh. Dalam hati, Tio mengharap Ronggur dapat mendengar dan mengerti maksud gonggongan si belang. Dua ekor babi sekaligus sudah berada di hadapannya, di tempat terbuka yang sempit. Seekor dari babi itu sudah bertaring, yang jantan. Mata kedua babi itu merah menyala. Keduanya mengais-ngais tanah, bergaya, mengambil ancang-ancang memulai serangan. Tio terus mundur sampai mendekat ke satu sudut tanah tinggi yang keras. Matanya terus awas, mengikuti sikap dan gerak-gerik babi yang dua ekor itu. B ila babi menyeruduk maju tanpa rem, di saat dia harus melompat ke kiri atau ke kanan, dia harus terus cepat pula mengayunkan kampak yang ada di tangannya, sambil harus terus awas menantikan serangan babi yang seekor lagi. Si belang masih terus menggonggong dengan nyaring dan bersikap menanti. Karena itu, babi itu belum menyerang. Gonggong si belang cepat berhenti karena babi jantan menyerang si belang. Si belang melompat ke samping. Babi jantan terdorong ke depan. Si belang cepat melompat ke punggung babi itu. Si belang sudah berada di punggung babi. Tapi, sebelum si belang memperoleh posisi yang baik, babi itu masih sempat mempergunakan taringnya sehingga leher si

belang kena dan mengeluarkan darah. Tapi, si belang tidak lagi melepaskan pundak babi jantan itu. T aringnya yang tajam dan kukuh ditancapkan ke bagian punggung leher babi. Babi itu menggelepar dan berlari dengan berputar untuk menjatuhkan si belang dari pundaknya. Namun si belang tidak melepaskan gigitannya lagi. Darah babi muncrat. Namun, belum ada pertanda babi itu mau mengalah. Akhirnya, babi itu berlari ke satu batang pohon yang besar, mendorongkan pundaknya agar si belang terjepit. Dengan kaki belakangnya, si belang menahan dorongan itu. Taringnya tambah dalam ditancapkan ke daging babi. Babi betina melihat babi jantan dalam keadaan payah mulai mengambil ancang-ancang akan menyerang. Waktu itu, secepat kilat tangan Tio mengayunkan kampak, berusaha menghantamkan ke bagian punggung leher babi. Tapi, yang kena bagian punggung belakang saja. Babi itu cepat berpaling. Panggada yang ada di tangan Tio diayunkan beruntun, menghantam kepala babi itu. Tapi, babi itu terus maju mendorong, mendesak T io ke sisi tanah tinggi. Terkadang didorong ke rimbunan lalang yang ada di sekitar. Tio tetap berusaha menjaga arah mundur. Tapi, justru karena serangan babi itu yang terkadang berubah arah, sekali waktu dia tergelincir juga. Dia tersandar ke pohon aren yang berduri tajam. Duri pohon aren menusuk punggungnya. Terasa sakit. Cepat babi itu mundur ke belakang dan cepat pula melompat ke depan bermaksud menjepit T io ke batang pohon aren. Tapi, secepat itu pula Tio mengelak. Namun, betisnya sempat disambar babi dengan muncungnya. Luka menggaris, darah mengucur. Tio memperbaiki posisi sambil menghantamkan panggada ke sana ke mari, menghalangi jalan maju babi itu. Sekarang, Tio sudah bersandar ke dinding tanah tinggi yang keras. Kembali babi itu mengambil ancang-ancang mundur beberapa

langkah. Tio berhenti mengayunkan panggada. melengah.

Seperti

Dan, saat ini dipergunakan babi dengan menyeruduk cepat ke depan. Saat genting. Dan, Tio cepat mengelak ke samping. Kepala babi terhantam ke dinding tanah tinggi yang keras. Kampak yang tadi tertancap di pundak babi menjadi lepas. Cepat dipungut Tio, lalu menghantamkan kampak ke leher babi yang belum sempat berpaling. Akhirnya babi itu tidak berdaya sama sekali. Tergeletak di tanah dengan mata yang masih memancarkan sinar kemarahan. Kaki belakang si belang semakin lemah menahan dorongan babi jantan. Pantatnya sudah mulai kena ke batang pohon. Tio masih begitu payah. Napasnya satu-satu dan tubuhnya mandi keringat. Betisnya terasa pedih mengucur darah. Hingga dia untuk beberapa saat tinggal melihat saja. Napasnya tersengal. Urat sarafnya begitu tergoncang. Dan, secara perlahan diketahuinya, si belang sedang berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan bersamaan dengan mengendornya urat saraf itu. Bersikap mengayun kampak, Tio maju perlahan. Tapi, waktu itulah sebuah tombak yang sudah cukup dikenalnya tertancap ke perut babi. Ronggur telah ada di sana dengan tubuh berkeringat. Matanya menyala marah. Ototnya mengencang. Ujung tombak satu lagi dipegang Ronggur kuat-kuat, hingga mata tombak tambah dalam tertanam ke perut babi. Kemudian Ronggur memerintahkan agar si belang melompat dari pundak babi. Begitu si belang me lompat menjauh, secepat itu pundak babi dihantam Ronggur dengan kampak. Babi itu akhirnya rubuh ke tanah. Tergeletak di tanah dengan gelepar lemah. Ronggur melihat Tio terduduk di tanah dengan napas tersengal. Di dekat seekor babi betina yang terkapar. Si belang masih menggonggong babi yang tidak berdaya itu dengan moncong berlumur merah darah babi. Tapi, lehernya luka kena taring babi.

Lalu tahulah dia. Tio masih tetap terduduk. Tanpa diminta Ronggur." Cepat Ronggur menghidupkan api. juga luka si belang. Mencari dedaunan untuk ramuan mengobati luka Tio dan si belang. Lagi pula lukamu tidak berapa dalam. di situ pula kau merubuhkan babi yang dagingnya enak. Ramuan itu membunuh bisa. "Tidak berapa lama akan tidak terasa apa-apa. Di saat kita kehabisan daging." ucap Ronggur. Ramuan dedaunan itu dilekatkannya ke luka Tio dan si belang. Sedang anak babi yang lima ekor itu akan mereka bawa pulang ke kampung. Cepat Ronggur menjauh. Ronggur mengelus punggung si belang agar tabah. Masih merasa capek. Hanya begitu. Dan. Begitu juga luka s i belang. merasa malu dia dilihat Ronggur dalam kepayahan. Baru kemudian daging babi itu dipotong kecil-kecil. Ronggur mengangkat dagunya perlahan. "Kau telah mengadakan perlawanan yang cukup berani dan berarti. Sepotong paha diberikan kepada si belang . Kedua ekor babi itu dibakar sampai kulitnya hangus. Ronggur mendekati T io.Dengan senyum. Malam harinya. sedang pada Tio dihadiahkan senyum manis. Tapi. Tio terus saja menceritakan mula perkelahian dengan babi itu. Seketika terasa mulut luka itu perih hingga T io harus menjerit kecil. membuat sarang babi yang sekaligus menjadi kurungan bagi anak babi itu. sedang si belang melengking perlahan. Tio menjalin rotan. dipelihara menjadi babi peliharaan yang jinak. Ronggur kembali menghadiahkan senyum. lukamu perlu cepat diobati. Lukamu akan cepat sembuh. Dijemur di panas matahari supaya kering dan tahan disimpan. betis Tio luka. mereka lanjutkan memanggang daging babi itu dalam gua. Kemudian isi perut babi itu dibuang. punggungnya bergaris-garis bekas tusukan duri. Mata mereka bertemu.

semua peralatan bersama kelima anak babi dimuat. Hendak mereka bawa pulang. begitu pula perbandingan berat hulu perahu dan buritan perahu. Kemudian mereka menarik tali itu dan terseretlah perahu. jadi. Karena jalanan menurun dan dedaunan membusuk di lapisan tanah. kedua sisi dinding perahu. sekarang sudah ringan. Begitu pula anak babi yang lima ekor itu sudah punya bulu yang agak kasar. Ronggur dan Tio mengosongkan perahu. Ronggur mengikat perahu itu pada hulunya. tapi tidak. Begitu pula luka di leher si belang. Bila Tio berma in dengan anak babi itu. tinggal segaris saja. tidak diingatnya lagi betapa perasaannya waktu menghadapi kedua ekor induk binatang itu. Di dalam perahu. dan jinak. hanya tinggal bekas kecil saja. Tanah begitu lembut dan berair. Mereka harus menguji keseimbangan perahu dulu dengan mengapungkan di permukaan danau. Ronggur dan Tio menurunkan perahu itu dari galangan. Dan. Si belang mengikut dan menggonggong. la asik menyabik-nyabiknya di mulut lobang perlindungan. Kulit binatang buruan sudah pada mengering. sudah sama. mereka tidak pulang melalui jalan darat. Ronggur sudah selesai menghaluskan bekas tuhilannya. mereka tidak menakutkan dasar perahu bolong dibuat batu. matanya sudah terbuka. Tali yang dipintal Tio sudah beberapa depa dan sudah ada lima gulungan besar yang selesai. Pada penglihatan mata. ditumbuhi bulu lagi. Mereka langsung menuju tepian danau yang ada di mulut teluk. Dengan tali yang dipintal Tio. Perahu yang dikerjakan Ronggur tambah berbentuk dan mulai mengarah ke tarap penyelesa ian. Perahu yang cukup besar yang bisa memuat tujuh orang penumpang bersama peralatan.sebagai hadiah. Sedang luka di betisnya sudah sembuh. tahulah . Setiba di tepi danau. Batang pohon maranti batu yang dulu begitu berat.

Membuang bagian yang tidak berguna. setelah diuji masih mempunyai perbedaan. apa yang bagi penglihatan mata sudah punya keseimbangan yang sama. tidak dihiraukan. tidak baik dibawa berlayar. Ronggur mencampakkan pandang jauh. Tari warna berma in di riak danau. Walaupun Ronggur sudah duduk di buritan perahu. juga si belang.dia. Bila lekuk teluk telah dilewati. Jadi. ke teluk di mana bermula Sungai T itian Dewata sudah ada. kembali segala peralatan dimuat ke dalam perahu. Mereka berkayuh dan berkayuh. Tahu pulalah dia bahwa bagian sisi kanan perahu. Karena dasar perahu agak luas terasa pendayungan agak berat. lebih berat dari sisi kiri. sehingga perahu selalu oleng ke kanan. ternyata dapat ditembus air. bagi T io sendiri setelah mengayuh perahu di permukaan danau. Haluan perahu terlalu berat. Ronggur . Kembali perahu didaratkan. kembali dia teringat bahwa saat berpisah dengan Ronggur sudah semakin dekat. Setelah itu selesai. sebelum perahu rampung benar. haluan itu masih bergaya mau tenggelam. Ronggur menipiskan bahagian haluan lagi. perahu kembali diapungkan. Sampai tercapai keseimbangan. malam sudah melingkup segala. Bila keseimbangan perahu telah diperoleh. Tapi. Tapi. Mereka menuju pulang. mereka harus bermalam lagi untuk beberapa malam di tepi danau. bersama kelima ekor anak babi itu. Sisi kanan perahu harus lebih direndahkan dan ditipiskan pada bahagiannya yang masih tebal. mereka telah berada di danau bebas. Senja hari. hendaknya Ronggur dapat kembali dengan selamat. Juga mata kayu yang ada di dasar perahu yang tidak dapat dielakkan sejak mula. Ronggur lalu merekatnya dengan getah pohon damar. Perahu yang begitu rupa. Apakah Ronggur akan kembali lagi? Wa lau dia tahu bahwa sesuatu ancaman sedang menanti Ronggur. namun dia masih mengharapkan.

memperhatikan jalan. saatku berangkat tiba. Harus terus turun ke sawah memotong padi. menggaris cahaya putih. perlahan." Tio hanya menundukkan kepala. "Tio. Suasana yang romantis. kemudian di ufuk timur. sehabis memotong padi. Perahu terus dikayuh. padi telah menguning di sawah. Tapi. apakah ada perahu lain yang bersilangan dengan mereka. secara berangsur. Sinar matahari telah meng-kuakkan tabir kegelapan. Bulan mencurah cahaya.menyuruh Tio agar duduk di haluan perahu. ada baiknya diserahkan saja pada orang lain." kata Ronggur. Aku tidak bisa lagi berlama-lama mengundurkan saat keberangkatanku. Ronggur tinggal tersenyum karena . Tio lebih banyak diam dan tenggelam ke dasar perasaannya: bagaimana kelak kalau Ronggur sudah berangkat? Apakah orang masih memperlakukannya dengan baik? Sedang Ronggur diamuk satu kepercayaan bahwa dia akan menaklukkan Sungai Titian Dewata bahwa dia yakin. "Ya. Sungai Titian Dewata akan membawanya ke tanah landai lagi subur. berakhir pada kaki pegunungan batu. bulan semakin mengundurkan diri." "Dan. Bila gelombang membesar. Mardege. Maka sekitar diselubungi kegelapan. maka terhamparlah depan mereka persawahan yang bermula dari tepian danau. Sepanjang malam mereka terus berkayuh di permukaan danau yang tenang dan tidur. Subuh baru telah lahir bersamanya lahir hari baru dengan harapan baru. Tanah yang diimpikan setiap orang. Menari bersama riak danau. Permukaan danau kembali memantulkannya ke langit. Bertambah larut malam. Kita tidak punya waktu mengasuh lagi. kebisuan yang meraja. Tapi. antara mereka berdua. B intang gemerlapan di langit. aku tahu.

Menyapa di sana-sini. Tidak seorang pun menanya tentang perahunya dan kapan dia berangkat.gelombang danau tidak dapat mengolengkan perahunya. ada yang mengejek. Dan. Sebagian lagi. semua itu tidak berapa diacuhkan Ronggur. sebagian besar. sebelum Ronggur sempat mengasuh. Selagi Ronggur dan Tio membuat perahu di hutan. Pada umumnya orang tak dapat menyetujui maksud itu. Tampaknya setiap orang enggan bersapaan dengan Ronggur. kenapa mereka pada membisu. Ronggur melangkah dengan dada diangkat. . terutama rakyat yang langsung berada di bawah lindungannya sebagai Raja Ni Huta. atau memang dia belum tahu sebabnya. Kalau tidak ditegor lebih dulu. utusan kerajaan datang. dan memperoleh jawaban sekedarnya saja. tidak ada yang berani terang-terangan mengeluarkan pendapat. mereka telah tiba ke tepian danau perkampungan. Ibunya melepaskan dengan tatapan pilu. Tapi. menyuruh Ronggur menghadap ke Sopo Bolon. masih sembunyi. Tapi. Para penangkap ikan me lihat mereka. walaupun tidak secara terangterangan. Orang sudah banyak memanen padi di sawah. begitu pula Tio. serpihan air yang dilemparkan ombak tidak dapat memasuki perahu. tidak gembira menyambut kedatangannya bersama perahu yang dibuatnya sendiri. Dia lalu di sana. Belum siang benar. orang sudah saling berbisik membicarakan maksud Ronggur hendak melayari Sungai Titian Dewata mencapai muara. itupun ccdw-kzaa 4 Hari itu juga. Ronggur belum dapat mengartikan. Orang mencampak pandang pada mereka.

Ronggur duduk di barisan Raja Ni Huta. menuju matahari terbit. duduk para Raja Ni Huta. sidang kerajaan akan diadakan hari itu. Tempat para dewata dan arwah menghadap Mula jadi Na Bolon. Mulut tidak mengucapkan sepatah kata. yang selalu dipanggil menghadiri sidang kerajaan. karena maksud perjalanan itu menantang kepercayaan rakyat yang sudah tertanam turun-temurun. Raja Nabegu. Karena ada seorang manusia yang hendak meruntuhkan atau sama sekali tidak mengindahkan kepercayaan yang mereka anut. sebagian merasa kasihan melihat Ronggur. Segala Raja Ni Huta dari tiap kampung yang didiami marga mereka telah ada di sana. Raja Namora. Di Sopo Bolon. Hanya Raja Ni Huta dari induk kampung marga yang duduk sejajar dengan Raja Panggonggom. Orang pada diam sewaktu Ronggur memasuki ruang Sopo Bolon. bila yang hendak dibahas hal penting. Memperoleh lalapan dari tiap mata itu. tapi sebagian lagi merasa terhina. Kasihan dan ejek. Dan. membuat Ronggur . begitu pula dari matahari Mula jadi Na Bolon. melihat orang jahat membuat kejahatan untuk diganjar kelak di hidup lain. hadir pula Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Semua mata diarahkan padanya. Dewata akan murka dan menghancurkan orang yang berani melanggar peraturannya. duduk berjajar Raja Partahi. Ronggur telah dinantikan kerajaan yang lengkap. Di kiri kanan Raja panggonggom.Satu sama lain saling mengeluarkan pendapat bahwa Sungai Titian Dewata. Matahari. itu berarti sudah melanggar ketentuan dewata. Bila seseorang berani melewati batas yang sudah ditentukan sampai di mana boleh seseorang berlayar. pertanda warta yang kurang baik. untuk melihat manusia yang mengerjakan hal yang baik. Diapit oleh para tua kampung. Di belakang mereka. Pada tempat tertentu. tempat Mula jadi Na Bolon mengedari dunia setiap saat. Raja Panggonggom sudah duduk di tempat dengan wajah murung. Dia terus tahu.

Lalu Raja Panggonggom mengangkat tangan yang sebelah kanan. akan mendatangkan mara bahaya pada seluruh rakyat dan kerajaan. yang bertanggung jawab akan kelanjutan hidup marga dan keturunan kita kelak. Karena. menjemput tongkat panaluan dari tempatnya. Tapi. ada sesuatu hal yang sangat penting kita bicarakan dan bahas bersama. dito-pangkan agar berdiri tegak lurus. Malah menurut sebagian orang. Ruangan tetap hening. Pertanda pertemuan dimulai. pagar kesatuan marga." lanjut Raja Panggonggom. orang tua yang bijaksana. "tampaknya mengancam. "Hal itu. dan bermaksud merubuhkan sesuatu yang kita percayai. Sewaktu Ronggur mengalih pandang tahulah dia bahwa Raja Panggonggom terus menerus menancapkan pandang ke arahnya. Orang tua itu menyambutnya dengan senyum yang dibalasnya selintasan. hatinya tambah . sewaktu matanya tertumpu pada orang tua yang duduk di sudut yang agak remang itu. yaitu bekas Datu Gelar Guru Marsait Lipan. Dari suasana dalam Sopo Bolon." Hadirin pada diam semua.agak kaku juga sikapnya. Yang bisa menimbulkan kegaduhan yang tidak kecil di kalangan rakyat. Untuk pertama kalinya orang tua itu menghadiri sidang kerajaan dengan terang-terangan. Menyimak yang diucapkan Raja Panggonggom. "Semua kerajaan. Karena itu. Memperhatikan gerakgeriknya." Melalui ucapan Raja Panggonggom sebagai kata pembukaan rapat. Tongkat itu digenggam. tahulah Ronggur bahwa hal yang akan dibicarakan bersangkut-paut dengan maksud perjalanannya menembus Sungai Titian Dewata. kami undang hari ini menghadiri pertemuan kerajaan di Sopo Bolon ini. Terutama Ronggur. tahulah Ronggur bahwa sidang akan membahas sesuatu hal yang sangat penting tampaknya. perasaan kaku itu berangsur menghilang dari tubuhnya.

tanah habungkasan itu harus dicari. Dia yakin. sidang yang terhormat. sehingga putusan itu nanti menjadi pendapat kita yang mutlak. dia lalu membeberkan hal yang kan dialam i marga mereka kelak bila tanah habungkasan tidak ditemui. Setelah mencampakkan pandang pada Ronggur." lanjut Raja Panggonggom. dia melanjutkan: "Ronggur. Dan. kita harus mengucapkan terimakasih padanya. Karena itu. katanya selanjutnya. Untuk itu. Karena kau bermaksud akan mencapai tanah habungkasan. "kami berpendapat harus melalui musyawarah lengkap yang boleh mengambil putusan tertentu terhadapnya. menantikan putusan rapat." Raja Panggonggom berhenti sebentar. lalu menyokongnya? Apakah mereka semua akan menjadi musuh." sahut Ronggur. Karena itu. kenapa kau begitu bernafsu hendak mencari Sungai T itian Dewata?" Ronggur disuruh berdiri. Ronggur. kami dengar kabar kau sudah menyelesaikan perahu yang akan kau pergunakan menyusuri Sungai Titian Dewata untuk mencapai muara. Ronggur sudah mengakui terus terang sehingga jalan rapat tidak terlalu repot dan berbelit. jalannya pertemuan itu. coba ceritakan pada kami.gedebak-gedebuk. dia berpendapat. Atau. Tanah yang dimimpikan tiap orang. "Nah. setelah mencampakkan pandang ke sekitar. yang menantang maksud perjalanan itu? "Karena hal ini sangat menentukan. yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Dia menarik napas. Apakah ada orang yang bisa diharapkannya untuk membela maksud perjalanannya itu. yang disampaikan orang itu ternyata benar. Paduka Raja. dia mengharap agar . Camkanlah baikbaik pentingnya maksud pertemuan ini. Apakah berita itu benar?" "Benar. seseorang yang berani melayari Sungai T itian Dewata sampai ke muara berarti akan sampai ke tanah landai yang subur.

Lama sesudah itu baru tanah memberi hasil pada kita. katanya tegas. Ronggur melanjutkan. "Sudah. Hanya wajah Datu Bolon Gelar Guru Marlasak yang menjadi merah padam mendengar semua omongannya. Dasarnya lebih lebar dari perahu biasa. "Perjalanan ini menghadapi risiko yang tidak kecil. seseorang yang berusaha mencapai sesuatu kebajikan akan selalu menghadapi risiko. maka soalnya menjadi lain. Paduka Raja!" jawab Ronggur lalu kembali duduk bersila di lantai. Sungai T itian Dewata tidak berakhir di ujung dunia. "Aku telah memilih kayu yang paling baik jenisnya. Dari s ikapnya tampak bahwa dia sama sekali tidak mengingini mendengarkan ucapan Ronggur. . Tak ubah seperti mengerjakan sawah. Rapat hening. Tapi. Daya apung perahu sangat baik. karena maksud perjalanan itu sendirinya pula membelakangi kepercayaan rakyat dan kepercayaan sendiri." "Sudah siap semua yang ingin kau ucapkan?" tanya Raja Panggonggom. Seketika Ronggur berhenti. Pada mulanya kita harus berani membuang tenaga dan waktu untuk mencangkul tanah.kerajaan memberi izin padanya untuk menyusuri sungai itu sampai ke muara dan membolehkan beberapa orang menjadi kawannya. tahukah kau bahwa perjalananmu itu sangat berbahaya?" "Benar Paduka Raja!" sahut Ronggur. Tapi. "Ronggur." Dalam hati kecilnya Raja Panggonggom menghormati sikap terus terang dan keberanian yang dimiliki Ronggur. Tidak mudah oleng waktu melalui arus riam sungai. Percikan air tidak mudah masuk ke perahu karena dinding perahu kubuat agak tinggi.

tapi bertujuan untuk kepentingan bersama. Tapi. memang padaku diajarkan kepercayaan begitu rupa. sebelum bencana itu menimpa dirimu. ada baiknya kau . kau pasti akan mendapat bencana. Tanah landai itu begitu luas. menurut hukum yang diwariskan kepada kami. Mimpi itu selalu mengajak aku agar memulai satu perjalanan. berilah kesempatan padaku untuk membuktikannya atau aku sendiri akan musnah." Datu Bolon Gelar Guru Marlasak cepat berdiri. Aku telah rela menerima dan memikul segala risiko itu." "Apakah kau tidak mungkin digoda setan?" potong Raja Panggonggom. Tapi. aku akan tiba ke tanah landai di muara sungai. aku selalu digoda mimpi. Mulutnya cepat-cepat mengeluarkan kata: "Ronggur! Menurut kepercayaan kami. bila warta mimpi itu tidak dapat kutunjukkan dalam kenyataan. Mimpi itu mewartakan bahwa bila aku melayarinya. yaitu menyusuri Sungai Titian Dewata. karena maksud perjalanan ini tidaklah untuk kesenangan perseorangan saja. "Paduka Raja. maksudku tidak di situ saja. Bisa menampung kebutuhan kita dan keturunan kita kelak akan persawahan. Jadi. Turun temurun." "Paduka Raja. aku seorang manusia yang telah menyia-nyiakan satu kesempatan."Ronggur. izinkanlah aku untuk memikul segala risiko itu bila yang kurasakan dan kupikirkan itu salah!" "Bagaimana pendapatmu tentang Sungai T itian Dewata?" "Paduka Raja. Wajahnya memancarkan sinar kemarahan. Tidakkah kau tahu bahwa Sungai Titian Dewata itu sungai yang jatuh ke ujung dunia? Sungai Titian Dewata jalan para dewata dan arwah menghadap Mula Jadi Na Bolon. bila aku tidak memulai perjalanan itu. berartilah aku digoda setan. Dadanya naik turun dengan cepat. Selanjutnya mimpi itu selalu mengatakan padaku. Aku orang yang tidak dapat dikatakan seorang lelaki.

justru karena keinginanmu untuk mengharungi Sungai Titian Dewata. Kerukunan keluarga akan hancur. Kerajaan kita akan berakhir pada suatu yang menyedihkan. Padi di sawah akan tidak menjadi. "Seperti tidak ada sesuatu kekuatan yang dapat menghentikan orang mengisi perutnya. yang kuhormati kebenaran tenungnya. T api. aku melihat dari kenyataan sesuatu perhitungan yang hasilnya pasti tiba. tapi semua marga akan dikutuknya. kau juga harus tahu karena yang kau tantang itu hukum dewata." jawab Ronggur dengan tabah dan tenang. tidak ada lagi sesuatu hal yang bisa mengurungkan niatmu. yang menanti saat meledak sehingga ketenteraman hidup terganggu dan kucarkacir." kata Datu Bolon menyindir. Tapi. Aku selalu memperhitungkan dan tetap merasakan. masih kau katakan untuk memperjuangkan kelanjutan . "Begitulah rasanya. Tidakkah dapat kau rasakan ancaman mara bahaya yang akan timbul dan menimpa warga marga itu?" "Datu Bolon Gelar Guru Marlasak." sindirnya pula dengan halus dan tenang.mengurungkan niat itu. bencana yang mungkin meruntuhh-an kelangsungan hidup marga. Diusahakan menemukan. tanah habungkasan perlu dicari. Kalau cuma kau yang dikutuk dewata tidaklah menjadi soal besar. "Apa yang menggoda hatimu? Apakah kau dengan perjalananmu yang akan menimbulkan bencana dan yang telah menimbulkan huru-hara terpendam di kalangan rakyat dan para hulubalang. Justru karena memperhitungkan hal itulah aku mengambil kesimpulan. Kemarahan dewata tidak saja menimpa dirimu. Soalnya bila Datu Bolon meninjau dari sudut gaib." tiba-tiba suara Raja Nagebu meninggi. dengan hentakan kasar mengatakan. ini menyangkut seluruh marga kita. Yang kuhormati arwah halus penjaga diri dan yang dapat dipanggilnya untuk membisikkan sesuatu pendengarannya." "Kalau begitu. "Ronggur. Aku percaya bahwa Datu Bolon pun memikirkan hal itu.

bila untukku sendiri dan jaluran keturunanku langsung. Raja Panggonggom mengadakan sidang kecil dengan para Raja Partahi. Lalu melanjutkan. Belum perlu menguatirkannya. pemegang tampuk dan penggerak para hulubalang perkasa. Kalaulah yang kuimpikan bisa nyata dalam kenyataan tidak bermaksud aku disebut penemunya. kau memang sengaja mencari nama.hidup marga dan keturunan? Atau. Jelaslah sebenarmya kau mengimpikan sesuatu yang maha mulia dialamatkan pada dirimu. tapi kita semua. Maksudku jauh dari dugaan tuanku. Sekali-kali tidak. Raja Nagebu. bukan diriku dan bukan pula hanya diri tuanku saja. Dan tahulah paduka raja bahwa permintaan bantuan dari lumbung desa setiap tahunnya bertambah banyak juga? Sehingga kita tidak bisa lagi mengadakan pesta pujaan terhadap Mula Jadi Na Bolon dengan besar-besaran? Inilah semua yang jadi persoalan. Tahukah paduka raja bahwa banyak dari marga ya'ng hanya punya tanah beberapa bidang dan hanya dapat menghasilkan padi yang cukup untuk makanan sekedarnya saja? Dan mereka terus saja melahirkan anak. Wajahnya bertambah merah." "Paduka Raja Nagebu. anak yang perlu kita beri makan. kau belum perlu menguatirkan makanan untuk mereka." Keadaan menjadi sunyi. Raja Namora. pokok persoalan sekarang di sini bukanlah aku. Marga kita. Dalam saat itu. Juga aku tahu. Jadi. Hasil sawahmu memberi jaminan. tapi ketololan. menunjukkan bahwa kau lebih berani dari setiap hulubalang kita. sehingga patentengan menantang hukum dewata? Ronggur menantang hukum dewata bukanlah keberanian. Biar kau mengambil seorang istri atau lebih. kemudian istrimu itu melahirkan anak banyak. bidang sawah yang diserahkan atau dipercayakan kerajaan padamu cukup luas lagi subur. dan Raja Ni Huta dari induk kampung. T api. . sawah yang dikuasakan padaku memang cukup memberi nafkah. "Ronggur." Seketika dia diam.

"Ayah Ronggur memperoleh cedera dalam perjalanan itu. untuk mengharungi Sungai Titian Dewata. tapi dari tiap wajah memancar kesungguhan. bagaimana?" tanya Raja Panggonggom. Dia tidak pernah lagi pulang. Menurut pustaka kerajaan. Di s itulah mendapat kenahasan. yang kutemui berbeda dengan hasil tenungku." "Sesudah itu?" "Aku sendiri pulang ke mari. Pembalasan dewata telah datang!" . Tapi. Tapi. "Pembalasan dewata telah datang. "Memang benar Paduka Raja bahwa aku pernah meminta agar diberi izin mengharungi Sungai Titian Dewata. sehingga beliau memperoleh luka yang mengakibatkan kewafatannya. sabahat karibku. yang mewariskan kedudukan Raja Panggonggom pada kami. almarhum ayah kami memberi izin pada bapak untuk mengharungi sungai tersebut. Bagaimanakah hasilnya?" Orang tua itu berbicara perlahan. "Bapak bekas Datu Bolon. Dia temanku. Kami mengalami kegagalan. berbicara pada hadirin. menceritakan kegagalannya dulu mengharungi Sungai Titian Dewata.Kemudian mereka panggil pula Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Almarhum ayah paduka raja diserang seekor harimau dengan tiba-tiba. tetap juga menerimaku kembali." "Selanjutnya. tidak lama kemudian kami mengadakan pemburuan. Mereka berbicara perlahan. Karena almarhum ayah paduka raja. yang pernah meminta izin pada almarhum ayah kami. yang akan diumumkan pada seluruh marga. Jelas tampak mereka sedang mengambil ketentuan dan keputusan rapat. Tiba-tiba saja Panggonggom menyuruh bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan. sebagai undang-undang kerajaan yang tidak boleh dibantah. Dalam igaunya selalu mengatakan.

Akhirnya dia mengatakan: "Paduka yang bijaksana. Maksud yang baik. Dia dihadapkan sudah pada saat yang menentukan." kupastikan. Tapi. Belum memberi sesuatu pilihan yang menentukan. telah mendengarkan satu pengakuan dari seseorang yang pernah mengharungi Sungai Titian Dewata."Apakah tidak mungkin. Tapi. apakah kau masih bermaksud meneruskan niatmu atau mengurungkan setelah mendengar pengakuan bekas Datu Bolon yang sudah disisihkan orang dari kehidupan ramai? Lain tidak! Dia membawa kenahasan bagi kerajaan. Raja Panggonggom mengatakan: "Kita telah sama mendengarkan cerita bahwa Ronggur hendak mengharungi Sungai Titian Dewata untuk mencari tanah habungkasan." Ronggur terdiam. apa yang dimaksudkannya itu karena mengizinkan bapak mengharungi Sungai T itian Dewata dan menerima bapak pulang kembali?" "Tidak dapat maksudnya. Ronggur!" Ronggur terdiam beberapa saat. telah menghina kepercayaan yang kita anut. Ronggur telah melupakan riwayat nenek moyang dan berusaha merombak kepercayaan yang kita anut atau menurut kata Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Apakah setelah mendengar pengakuan ini kau masih bermaksud meneruskan niatmu? Berilah jawaban. boleh juga begitu "Hadirin semua. Bintikan keringat melebihi keningnya. Ronggur. sesuatu maksud baik harus dibatalkan? Apakah tidak hanya satu kebetulan saja hal nahas itu mendatang?" "Kutanya padamu. ." Hening sejenak. terutama kau Ronggur. yang menimbulkan kemarahan para dewata. Lalu sebelum Ronggur memberi keputusan. apakah karena satu kegagalan. Golongan raja kembali mengadakan sidang kilat.

marga kita tidak akan menganggap serangan itu serangan yang langsung pada marga kita. Ibunya yang sudah tua akan dibelanjai langsung oleh lumbung desa. Kau akan ditangkap dan dijadikan budak belian. jalan para dewata dan para arwah menuju matahari terbit tempat Mula Jadi Na Bolon bersemayam. Biarlah kami dan marga kita disebut pengecut. Bila kau mengalami kegagalan kemudian kau pulang ke kampung ini. gelar Hulubalang Muda dicabut kembali!" "Dia tidak boleh memakai nama kerajaan kita untuk melindungi diri dari kutukan dewata. agar tidak membolehkan rakyat yang ada dikampungnya membantu dan mengikuti perjalanan Ronggur. "Jadi kami umumkan pada semua Raja Ni Huta. dan dari gangguan perampok di tengah jalan. Dirangsum ala kadarnya!" "Syarat ini kami ajukan justru karena kami berpegang pada satu kepercayaan: siapa saja yang mengikuti perjalanan Ronggur. akan turut dikutuk oleh dewata. hendaknya urungkan dan batalkan niatmu sebelum terlambat. Sawah yang telah dipercayakan padanya disita kerajaan. Bila dia mulai me langkah dari gerbang kampung memulai perjalanan."Saran yang dapat kami ajukan pada Ronggur. Begitu pula gelar Raja Ni Huta Muda. untuk menimpa . Kalau kau Ronggur tidak dapat menerima syarat ini. Kalau ada orang yang membunuhnya dalam perjalanan. Kami tidak mau mengulangi kenahasan yang pernah menimpa almarhum ayah kami. ialah bila Ronggur meneruskan niat itu. maka dia tidak berhak lagi mencantumkan marga kita di belakang namanya. dan menjadi undang-undang bagi kita semua. kau akan tidak dianggap anggota marga lagi. tidak seorang pun dari warga yang dibolehkan mengikuti dan membantu perjalanannya. Ronggur sendiri yang harus memikul risikonya. siapa saja yang membantunya mengharungi Sungai Titian Dewata. namun melawan dewata kita tidak mau. dari gangguan setan.

secepat mungkin aku akan berangkat. Tidak sanggup mengangkat kepala. janganlah sekali-kali mencoba untuk menentang kepercayaan yang kita anut bersama." Suaranya mengguntur mengalahkan suara petir yang bersabung di luar Sopo Bolon. . bagi kalian semua. janganlah menghina diri sendiri. Dengan satu janji. Belum berdiri untuk menyatakan pilihan. Bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan menundukkan kepala. ibuku. tidak berhak lagi memanen padi dari sawahku yang sedang menguning. Pikirkan baik-baik Ronggur. Membakar dada Ronggur. Ronggur masih tertunduk juga. hujan turun menderu. Dan. berilah jawaban di tempat ini juga. "Ronggur. biar kami tahu mengambil sikap. Dan. akhirnya Ronggur berdiri dengan menghentak: "Semua pertaruhan yang dibebankan ke pundakku aku terima. Di wajah Datu Bolon Gelar Guru Marlasak dan Raja Nagebu membayang kepuasan." kata Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Pada kening Ronggur menitik keringat. bila aku menemui tanah habungkasan yang landai lagi subur. Para Raja Ni Huta lain dengan takjim menerima undang-undang Raja Panggonggom. hasil penemuan itu akan tetap kuhadiahkan bagi margaku. Nada suaranya mengejek. katakanlah pilihanmu." kata Raja Panggonggom memecah kesepian." Keadaan menjadi hening. Sejak tadi di luar Sopo Bolon. Orang semua mengangkat kepala dibuatnya. sehabis mengucapkan pilihan itu. Bersabung dengan petir dan kilat. Dengan wajah merah serta sinar mata yang manyala. Pada wajah dan sikapnya tergambar bahwa mereka akan melaksanakannya sebaik mungkin. Aku. "Ronggur. Karena itu.diri kami sendiri. kau tidak dapat memberikan keputusan? Kau merasa takut dan bimbang? Karena itu kami sarankan.

walau udara begitu dingin. Dia menerjang ke tengah hujan. tubuh Ronggur masih menggetar tidak karena merasa dingin. Tapi. wajahnya memerah. dadanya panas. Maafkan anakmu ini. Tidak mau berteduh ke dangau yang ada di tengah sawah. Aku akan minta maaf pada kerajaan atas kelancanganku. menatap padanya. seperti patung tanpa nyawa. lalu menyembah sujud di kaki perempuan tua itu. Yang sepantasnya tidak wajar lagi hidupnya disusahi. Aku telah mempersusah hidupmu. Cepat Ronggur mendekat. angin.Ronggur terus meninggalkan ruang Sopo Bolon. Pintu rumah cepat dibuka Tio. Tapi. Orang yang berhenti memotong padi dan berteduh di dangau melihatnya begitu saja. dia tidak memperdulikan keadaan alam itu. Bu. menceritakan semua keputusan rapat dan pilihannya sendiri. Gonggong si belang menyambut di tangga rumah. sewaktu matanya tertumpu ke biji mata ibunya yang berseri. aku tidak boleh pergi. Di antara isaknya sendiri dia mengatakan: "Maafkanlah aku. Pertanda berita yang kurang baik. kaki. Sebelum ditanya Ronggur dengan suara lantang karena masih marah. yang mulai digenangi air bening tipis. Terus melangkah melewati sawah yang pematangnya menjadi licin. Katakanlah Bu. Tangan. Dilihatnya Ronggur basah kuyup. apa yang harus kuperbuatl" . dan halilintar yang bersabung dengan petir. dia terus melangkah cepat di atas pematang yang licin. Ibunya cepat mengangkat wajah. Aku akan menuruti ibu. yaitu kepahitan dan kegetiran hidup di saat hari tuanya. tapi karena marah. mencapai kampung di mana dia sebelum itu memegang tampuk Raja Ni Huta Muda dan Hulubalang Muda. Otot Ronggur mengeras. Ibunya jadi kaku tegang. dia sadar bahwa orang tua itu telah dihadapkannya pada satu kenyataan. Katakanlah. Perasaannya terbakar. Aku harus menggagalkan niat perjalananku itu.

Keheningan merayap di ruang mereka berada. mengitari tebing curam. Seorang lelaki yang berani mengatakan maksudnya. jangan tinggalkan daku. mencari mata air yang bening. Segala tekad menjadi kendur. Harus begitu kau. Kemudian mengatakan perlahan-lahan: "Ronggur. Tapi dipecahkan suara halus yang bermula dari T io.Perasaan marahnya telah mencair. tanpa memperdulikan arti haus dan dahaga. "Bawalah daku bersamamu. seorang lelaki berhati jantanl Ibumu ini. Bawalah daku. mempertaruhkan keyakinan diri. Sendu. Mengusap perlahan sambil lalu mengeringkannya. Kau tidak boleh membatalkan yang telah kau pilih. lalu duduk di sisi anak beranak itu. anaknya bungsu. Perempuan tua itu tidak mengisak lagi. tapi disambung pula. Kau harus meneruskannya. untuk pergi selamanya. Tidak cepat ibunya menyahut. karena anaknya di sarang. Tangan ibunya yang sudah mengkerut. Segala air mata telah dihamburkan dari dasarnya sampai kering. Telah rela melepas anaknya sulung. Telah tabah menerima segala yang tiba." Seketika ibu tua berhenti. Jadilah. tapi dapat disebut jantan. walau apa yang akan terjadi. suaranya sudah tambah jelas dan tabah: "Seperti terbangnya burung ambaroba. Kau telah mengatakan dalam pertemuan raja dengan berani. demi hasrat diri yang tidak mau melihat ibu kandung yang sudah tua mengalami kesusahan. kau tidak boleh mengurungkan niatmu lagi. anakku sulung anakku bungsu. membelai kepalanya yang masih basah. menghadapi wajah dan mata ibunya yang bersedih. tidak mau anak lelaki berhati betina." Sambil berkata Tio mendekat. bila berani tidak mengingkari janji. mengikuti lingkaran pegunungan." Perempuan tua itu tidak mengucurkan air mata lagi. . menginginkan setetes dua air melalui kerongkongan kering.

dapatkah kau menduga kemungkinan yang bisa saja menimpa diriku dalam perjalanan? Tahukah kau. Olehnya tekad Ronggur kembali pada pijakan semula begitu kokoh. Perlahan pula. yang tertancap ke biji matanya tanpa mengedip. Bila fajar pagi terbit pertanda hari baru tiba mereka sudah harus berangkat. Mereka menyongsong terbitnya fajar. ibu Ronggur merenggangkan pelukannya dari tubuh Ronggur." Lama Ronggur menatapi wajah Tio yang sudah punya kepastian sinarnya. Ronggur melepaskan diri dari pelukan ibunya. Lalu menatap dalam ke biji mata Tio. Di tengah malam buta. Ibunya menyelipkan pisau gajah lompak ke pinggang Ronggur. katakanlah bahwa arwahku kau bawa serta sebagai sembahanmu padanya. Supaya terhindar dari godaan setan. agar selamat dalam perjalanan. Menyiapkan yang perlu mereka bawa. terbuat dari jalinan benang berwarna tujuh. berkerisik dan bunyinya begitu ngilu pada pendengaran. Angin melanggari pucuk dan batang bambu duri. Angin di luar tambah kencang. Tidak ada lagi satu kekuatan yang dapat menghalangi maksudnya. ccdw-kzaa .Perlahan. "Tio. Kemudian pada Ronggur diberikannya ajimat yang terbuat dari besi putih. hujan rasanya tidak akan henti. Juga pada Tio diberinya ajimat. Aku sudah maklum. apa yang akan kutemui bila tafsiran mimpiku meleset?" "Aku sudah tahu. Di rumah itu orang terus sibuk. Bila kelak kita tidak bisa kembali lagi agar Mula Jadi Na Bolon tidak murka padamu. Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan datang ke sana. Dia menjampi Ronggur dan Tio. diukir dengan huruf Batak. pisau pusaka turun-temurun. Halilintar dan guruh terus bersabung. Yang berukirkan kakek kesatuan keturunan mereka yang langsung.

dicampakkan pandang ke tengah kampung. Karena itu dia banyak mempunyai teman. permukaan danau. tumbang. "Belitkanlah pada tubuhmu. Beberapa depa saja dapat ditembus pandang. Ronggur. Tapi. . Juga mereka bawa mata pancing serta talinya. Pada leher Ronggur membelit ulos batak ragi purada yang dibelitkan ibunya. Udara cukup dingin. jika bertambah jauh ke tengah. Tanah lembab pertinggal hujan semalam. Bertambah segar karena mengandung butir air. Air danau alangkah dinginnya. memikat hati orang di sekitarnya. Tio. Ronggur menatap pada ibunya. Mencari bekas kehidupan masa lalu di sana. . Tapi. Pengganti tangan bunda ." Hanya perempuan tua itu dan bekas Datu Bolon di tepian danau mengantar mereka. penimba air. dan si belang sudah berada dalam perahu. sebelum perahu hilang ditelan kabut.. di kala dingin mencekam. di saat dia harus meninggalkan perkampungan itu untuk satu perjalanan yang belum tentu akhirnya. dan sesumpit batu sungai yang keras. Tempat begitu lapang. kampak. Di darat kabut tipis saja. Begitu juga pada leher Tio. panggada. Hijaunya dedaunan dapat juga dilihat pandang. keberanian yang tidak gentar menghadapi sesuatu soal pada saatnya. Tingkah lakunya yang sopan serta ramah-tamah. Pulau Samosir Tuktuk Sigaol tidak tampak. kabut mengental. galah. Lalu pada orang tua itu. Tombak. sudah di tempatnya. ambalang. melalui renggangan batang bambu duri. dibelitkan ulos batak ragi purada yang diiringi kata. Beras sesumpit. Disumpit lain daging kering. Orang lain sudah dilarang untuk mengantarkan mereka. tak terduga . Pengayuh. Dua tiga biji bambu duri terbelintang di tengah jalan.5 Masih pagi benar.

ibunya mencampakkan diri ke pohon hariara yang besar itu. "Mereka akan berhasil. perjalanan mereka sekali ini amat panjang. Tio berdiri. mengiakan. tapi tidak boleh pamitan. Di sebelah haluan perahu. dibesarkan. Si belang pun seperti tahu. Perahu bergerak perlahan meninggalkan tepian. Di mana dia pernah disanjung puja." bujuk bekas Datu Bolon. tinggi melengking. walau sebenarnya dia tidak dapat meyakini bujukan itu. dan diasuh. Sebelum pferahu ditelan kabut. Meratap panjang. "Semua yang dikorbankan Ronggur untuk perjalanan ini akan kembali padanya. Bila sinar matahari pagi telah muncul dari puncak Dolok Simanuk-manuk. tidak hentinya lambaian dilepaskan dari tepian. Perlahan perahu memasuki daerah yang dilingkungi kabut tebal. Melepasnya. Cepat dihapus agar tidak sempat dilihat Ronggur. Untuk digantikan warna putih saja pada akhirnya. Bekas Datu Bolon menyabari. punya teman. Tahulah dia. kabut tambah menipis lalu menghilang. Tangan terkulai tak ada lagi yang hendak dilambai. Setetes dua air-mata membasahi pipi. malah lebih dari itu akan dipunyainya. mereka akan pulang membawa berita baik dan menggembirakan. harus menjadi budak belian." Perempuan tua itu menundukkan kepala. Tersedu di sana. Tidak dilihat Ronggur lagi. Temannya sebaya banyak yang mati di saat itu. Teringat pula saat kejatuhan marganya dan dia sendiri. Tangan mereka membalas lambaian kedua orang tua yang mengantarkan mereka. Perlahan pula tepian menghilang dari pemandangan. betapa pahit perasaan mencekam hati untuk meninggalkan tanah tempat lahir.nasibnya. selagi martabat marganya belum runtuh. tidak seorang pun dari temannya yang dibolehkan mengantarkan. Kemudian menuntunnya pulang ke rumah. . Matanya jauh mengedari tanah yang sudah cukup dikenalnya.

dihiburnya diri. Karena dasarnya agak lebar. Perahu yang dikayuh Ronggur dan Tio maju perlahan. yang mempunyai otot yang tegap. yaitu menjadi budak belian orang. Ronggur telah dianggap mati. Beberapa biji mata pancing yang sudah diumpani dijatuhkan Tio ke danau. seseorang . Tapi. bukankah itu berarti memberikan tubuhnya. sikap ramah tamah. dengan tanah tempat dibesarkan. Walaupun Tio tetap merasakan bahwa dia akan aman selalu bila berdekatan dengan Ronggur. yang akan memperlakukannya seperti memperlakukan hewan. bila diri tahu perbedaan antara menjadi seorang budak belian dengan manusia merdeka dan diri tidak berpihak kemerdekaan itu. setiap perahu tambah jauh dikayuh.Kerajaan sudah tahu bahwa Ronggur bersama Tio telah berangkat. Mereka berdua terus mengkayuh. namun pada saat itu. maka Raja Panggonggom mencoret nama Ronggur dari silsilah keturunan marga. dan sopan santun yang manis. mereka mengharapkan dapat pula sambil lalu menangkap beberapa ekor ikan. hidupnya ke tangan nasib yang telah tertentu belangnya. Antara keduanya belum mengucap sesuatu kata. tanpa pamit. Tio mendayung ke hulu. Haluannya tumpul. Ronggur di buritan langsung menjadi pengemudi. kalau dia tidak ikut. Tapi. hatinya merasa kecut juga mendatangi ajal yang ada di depan. mereka masing-masing melaksanakan tugas. Bukankah itu berarti penghinaan akan martabat diri. walau perahu agak susah dikayuh dan walau hati masingmasing masih diselubungi sakitnya perpisahan dengan kaum kerabat. Perahu terasa berat dikayuh. keberanian yang jantan. Riwayat Ronggur berakhir di s itu saja. katanya dalam hati sendiri. tekad hati yang bulat. Menahan air atau menghempang kelajuan perahu. Sambil berkayuh. tidak tahu menghargai diri sebagai manusia yang dapat membedakan arti dan hakikat manusia merdeka dengan budak belian? Ah.

Tangannya cepat menggapai tali pancing. "Tapi. lalU tercapailah idaman hati." Dengan sedih akhirnya Tio mengatakan. Biar masaknya rata pula. matahari leluasa melemparkan sinarnya. Itulah risiko. Disisikinya. itulah kehidupan. Satu keuntungan bagi tiap manusia. Walau apa bentuk nasib yang menanti di depan. "Tangkap dengan jaring. memang diri mampus karena tidak dapat mengatasi risiko itu. Tapi. daun pembungkusnya tidak ada. yang telah menciptakannya menjadi manusia. untuk membebaskan diri dari belenggu yang menindas harga diri itu. Lalu dia bertanya pada Ronggur: "Kita apakan ikan ini? Kita ura?" "Ya. Kabut sudah terangkat." . ada bila aku bersama Ronggur. Dan. mengatasinya. Banyak bikin asamnya. Dan. kesempatan. Dengan sebuah pukulan panggada pada kepala. diri telah me laksanakan tugas kehidupan sebaik-baiknya.yang tidak dapat mengucapkan terima kasih pada Mula Jadi Na Bolon. Bila aku memilih jalan yang ditempuhnya. ura saja. ikan itu melepaskan gelepar akhirnya. seekor ikan mas yang sudah cukup besar. menggelepar di permukaan air. Atau. Tapi. Biar cepat masak." kata Ronggur pula. T idak menciptakannya menjadi hewan. kata Tio selanjutnya pada diri sendiri. yang bisa mempergunakan tiap kesempatan yang ada. harus rata. Tidak lama kemudian. Tio mengikuti petunjuk itu. Isi perutnya dibuang Tio. Manusia lahiratau dilahirkan memang untuk menghadapi risiko. "Sentak pancing yang ada di sebelah kananmu!" teriak Ronggur yang sekaligus membangunkan Tio dari renungan. kupikir dan kurasakan.

Sekarang Ronggur sudah dapat mengartikan. Mereka melanjutkan perjalanan. langsung memanjat sebuah pohon berdaun lebar. Selalu mengikuti pantai. Cepat dipungut Tio. sudah lebih banyak diam dan tiduran di perut perahu. Ikan diasami. Perahu mulaii menunduk nunduk mengikuti alun gelombang. Beberapa kali mereka berpapasan dengan penangkap ikan. tapi karena . Gelombang mulai menggila. Tapi. kembali mereka melanjutkan perjalanan. Ronggur mengkayuh melalui ke tepian. kenapa orang tidak menegurnya dengan ramah lagi. Para penangkap ikan itu menatap dengan dungu ke arah mereka. Kemudian dibungkus baik-baik. Seolah tidak tertembus hawa. justru karena perahu mereka tidak punya atap.Ronggur mencampak pandang ke pinggir danau. Di sana mereka memasak nasi lalu makan siang. Hingga perjalanan menjadi bertambah jauh. tidak seorang pun dari penangkap ikan yang melambaikan tangan dan menyapa mereka. turut si belang. Bila sinar matahari sudah tidak terik lagi. agar cepat jauh dari manusia yang sudah digoda setan jahat itu. Cepat dia menujukan haluan perahu ke tepian. cepat mengkayuh sampan masing-masing. Beberapa tangkai dedaunan yang cukup lebar dijatuhkan ke tanah. baru bebeiapa hari kemudian dapat dibuka dari bungkusannya untuk dimakan. Sampan penangkap ikan sudah sunyi dari danau. Matahari tambah tinggi dan terik. Pada mulanya dia selalu menggonggong perahu dan sampan yang berpapasan dengan mereka. Matahari leluasa melemparkan sinarnya dan membakar mereka berdua. Lalu me lompat dari perahu ke tepian berpasir basah. Si belang tidak sering lagi menggonggong. Tepian yang dipilih ialah lepian yang jauh dan kampung yang banyak bertebar sepanjang pantai danau. Daging kering masih ada. Lalu dibaluri dengan kunyit. Lalu. Mereka tidak memenggal perjalanan melalui tengah danau. Sedang ikan yang diura itu.

Jadi orang yang berlayar di sana harus hati-hati. Pada mulut sungai banyak terdapat gugusan pasir hidup. Biar kita dapat terus menyusuri sungai sampai ke tempat yang jarang perkampungannya. tidak ada yang melambaikan tangan. "Percepatlah mengayuh T io. tepian danau kembali dirimbuni rumpun bambu duri dengan rapat. dan beriak. Dia menarik napas yang dalam. Sedang Ronggur memperhatikan permukaan air dengan awas. secara perlahan-lahan akan ditelan pasir hidup itu." kata Ronggur. Kuburan nenek moyang yang pertama membuka satu perkampungan. sambil menjulurkan lidah. Setelah dua hari berkayuh. bercampur keruh." . dapat mereka terka bahwa itu kuburan nenek moyang yang pertama merambah mendirikan perkampungan. Meneliti awal sungai. Kita tak dapat menepi di sini. Tapi. Juga agar dapat kita bedakan. Dapat mereka tentukan melalui titik putih itu bahwa itulah gerbang perkampungan. bermula Sungai Titian Dewata. kita sudah harus memasuki mulut sungai. di antara mereka ada yang bermaksud jahat pada kita. ada yang menuding. Titik kecil yang bermunculan di sana menatap ke arah mereka. bergerak dibawa arus. antara permukaan air yang aman dan jebakan pasir hidup. Orangnya bisa selamat kalau pandai berenang. akhirnya si belang sendiri pun tinggal diam saja melihat mereka. Siapa tahu. Titik putih yang besar itu. membalas gonggongnya. pada pikirannya mendatang pengenalan bahwa mereka telah memasuki lekuk danau yang pada salah satu tepiannya.orang yang ada dalam sampan atau perahu yang digonggongnya tidak me lambaikan tangan. Tanda pasir hidup dapat diketahui dari permukaan air danau yang agak memutih. Tio tidak memikirkan itu. Tapi. Perahu dan sampan nelayan yang terdampar ke sana karena tidak hati-hati. selalu dikebumikan di gerbang kampung. Pertanda perkampungan. Pasir hidup selalu berpindah tempat. Terlalu rapat perkampungannya. "Sebelum sore benar.

begitu pula pada kaki Ronggur. kemudian pada Ronggur yang terus mengayuh dan menjaga kemudi dengan hati-hati. Teruskan mengayuh. Teruslah mengayuh. tapi masih perlahan. Perasaan mereka tumpul dibuatnya. oleh kebisuan itu. Mengibaskan ekor pada punggung Tio. yang diketahui Ronggur sudah lain dari kesatuan marganya. Tapi. punya arus." "Tidak seorang pun dari mereka yang mengaju tanya pada kita. Apakah mereka tidak bisa mengucapkan sepatah kata?" "Kepercayaan mereka sama dengan yang dianut margaku. . Si belang akhirnya capek sendiri. tetap disorong sesuatu tenaga untuk ditibakan ke satu tempat. Riak yang seperti disorong ke satu arah. Melihat mereka dengan dungu. Tio bolak-balik melihat pada orang banyak. kau lihat mereka itu?" "Ya. seorang pun tidak ada yang menyapa mereka. Menonton tanpa menggunakan perasaan. orang itu tetap juga di tempatnya. Tidak mengapa. Riak itu.Tio mempercepat kayuhannya. Kepercayaan itu yang melarang mereka untuk bercakap dengan kita. Tio menjadi gelisah. kulihat. terkadang berjalan hilir mudik dalam perahu. Sedang mereka sudah berbeda marganya dari margamu. Dari sekian banyak orang. seperti menjenggak. orang mencampak pandang ke arah mereka. Sebelum jauh malam. Si belang sudah pernah menggonggong ke arah mereka. walau masih perlahan. Oleh tatapan itu. Tapi. Pada kedua tepian pangkal sungai. tetap bergerak. Mula sungai. Teruslah mengayuh. banyak orang berdiri. kepercayaan itu membuat mereka bisu. jangan ambil perduli. Cahaya senja sudah bermain di permukaan air yang beriak. Atau. "Ronggur. Si belang kalau sudah capek duduk. Tampaknya si belang seperti menyesal. karena tidak dapat membantu tuannya.

Disuruh T io diam. Tidak berkerisik. Agar godaan darinya tidak lama mempengaruhi tekad diri. Arus sungai masih lemah. Hampir tidak dapat mempercayai pendengarannya. Si belang mengikut.hendaknya kita sudah sampai ke tempat yang cukup jauh dari perkampungan mereka. Seperti suara setan yang bangkit dari dunia jauh. Ronggur berhenti berkayuh. Belum bisa menghayutkan perahu. Tio." "Mata mereka tidak bercahaya. si belang sekali lagi menggonggong ke arah tumpukan orang yang diam bisu itu. sebelum mereka menjauh benar. suara orang itu seperti hadiah yang besar. Untuk akhir kalinya. Mereka masih harus mengayuh kuat-kuat. rasanya. Merahnya mewarnai segala." "Teruslah berkayuh. Seperti mata ikan yang mati. Si belang mempertajam penciuman." Ronggur tambah terdiam. Aku ngeri melihatnya dan merasa terpukau berhadapan dengan manusia yang begitu banyak. Diikuti Tio. seperti patung. Seseorang berlari di pematang sawah sambil melambaikan tangan." Tio meneruskan mengayuh. Setelah beberapa hari tidak mendengar suara orang lain yang mencakapkan mereka. Senja di langit bertambah tua. napasnya masih tersengal. dari satu tempat yang ketinggian lagi sunyi." kata orang itu. Biar cepat kita jauh dari tatapan mereka. Orang itu sudah berada di tepian sungai. "bawalah aku bersama kalian. agar perahu melaju. Aku mau turut. Mulanya begitu lemah dan jauh. mencari dari mana suara itu datang. hadiah yang membuat mereka gugup. Menggonggong. Ronggur mendongakkan kepala. "Ronggur. . seseorang memanggil nama Ronggur. Dan. tapi yang begitu diam dan bisu.

Daripada aku membunuh diri."Ronggur. Aku mau turut. Sungguh sial nasib menimpa diriku. seperti kalian. Tapi. Kudengar kau. lebih baik kurasa. Tepikanlah perahu itu biar masuk aku. sengaja mendatangi kecelakaan yang bisa . Lolom. Karena aku memang dengan sengaja mencari kecelakaan pada diri sial ini. Seperti kau." Ronggur dan Tio tambah terdiam mendengarkan permohonan orang itu. "Kenapa kau harus ikut?" tanya Ronggur. di saat itu pula seseorang dari anggota masyarakat yang menyisihkan itu memohon pada mereka. Namun hutangku masih bertumpuk. Di saat mereka disisihkan dari sekitar. "Aku tahu perjalananmu mendatangkan ajal. Aku mau turut. Apa maksudmu?" tanya Ronggur kembali. Bawalah aku. Aku kalah berjudi. bila ada teman samasama mati." "Jadi kau sengaja mau mencari malapetaka?" "Ya. Karena aku takut sendirian menuju negeri jauh itu. permohonan yang tidak diduga sama sekali. aku tidak perduli. "Bawalah aku bersama kalian. lebih tenteram kurasa hati. dari alam kehidupan mereka sehari-hari. Bawalah aku. Aku mau ikut. Dia belum yakin benar akan pendengarannya. Sawahku sudah tergadai. agar dibolehkan turut serta. Ronggur." "Kudengar kau. Tidak bermaksud jahat aku. Justru karena tahu ada teman sama-sama mati. kenapa orang itu mau turut. kau dengarkah aku? Aku si Lolom. biar aku tidak merasakan kesunyian di saat nyawa berpisah dari tubuh. Kawanmu sejak kecil. gantung diri. Bawalah aku." "Kau pikir kami sengaja mencari kematian dengan melayari sungai ini? Atau. Membuat Ronggur ingin tahu.

kematian. pula. Biar ada pula temanku sama-sama mati. di saat kalian bercumbuan. Sinar "Apa maksudmu?" kembali Lolom bertanya. Sebenarnya dia sendiri memang sependapat ." Dengan hentakan kasar. Bukankah karena tidak tahan menanggung malu di dunia ini. kenapa dia harus mengatakannya.mengakibatkan kematian?" tanya Ronggur matanya memancarkan cahaya benci." jawab Tio kasar. Memang budakmu itu manis. Kawan." Wajahnya memerah. "Bukankah kau dengan sengaja mencari sumber malapetaka dengan melayari Sungai T itian Dewata ini?" "Tidak. Aku tidak bermaksud mempengaruhi perasaan cinta yang tumbuh di hati kalian berdua." jawab Ronggur tegas. jangan bersilat kata. "Perjalanan kami tidak wajar dikotori seorang penjudi yang mau bunuh diri. Tio membenamkan pengayuh ke air hingga air muncrat ke atas. Dari kita sebenarnya sama sialnya. Percayalah. Aku akan menutup mata dan mulut. Aku karena kalah berjudi. Dan." suara si Lolom mulai ringan dan lincah. Bawalah aku Ronggur. kau me larikan diri dari kehidupan ini dengan dalih mencari tanah habungkasan bersama budakmu itu? Bawalah aku. "Perjalanan yang menuju atau mencari tanah habungkasan. Kau sengaja mencari kecelakaan. ia tidak tahu. Kami mau mencari penghidupan yang lebih sempurna. lalu mulai mendayung. Mencapai tanah luas tempat habungkasan. Lolom?" "Karena kau Ronggur. Walaupun sebab kita berbeda. "Ah. Itu soalmu. Habis perkara. Biar ada temanmu sama-sama mati. tidak seperti semula lagi. Kau karena menyintai seorang budak. jatuh cinta pada budakmu. "Kenapa kau berkata begitu. dan aku mau turut.

dengan orang lain. Ronggur? Karena tepat apa yang kukatakan?" Ronggur masih diam. Bawalah aku. perjalanan yang bermaksud baik itu dikotori seseorang yang memang sengaja mau bunuh diri." "Siapa mengatakan itu padamu. Bagiku itu omong kosong dan dusta paling besar. Kalian telah bersetubuh sebelum meminta izin dari Mula Jadi Na Bolon. Itulah berita yang tersiar luas di antara penduduk. kau telah menggoda dan menjerumuskan seorang sahabatku ke lembah kehinaan." Seketika Ronggur terdiam. dari para orang tua. Lolom?" tanya Ronggur keras “Kau masih bertanya. Lolom terkekeh lupa akan masalahnya sendiri. masih mengatakan akan mencari tanah habungkasan. Lain tidak. biarpun begitu. tanganlah berkata aku membawa sial padamu. "Kenapa kau diam. Kalau alasanmu berbeda dari alasan yang kau katakan . Aku kalah berjudi. Kemudian Lolom melanjutkan. kawan. dari kerajaan. tidak wajar rasanya. Ronggur jatuh cinta. Tio sudah hendak mendayung perahu. Akhirnya Ronggur mengatakan: "Lolom. sayang sekali apa sebabnya kau mau ikut dengan kami. Aku juga mempercayainya. Tapi. "Apa kau katakan budak manis? Apakah kau tidak dengan sengaja mengotori hidup si Ronggur? Dengan wajahmu yang manis. tapi dicegah Ronggur dengan membenamkan kemudi ke air. kau penggoda keparat. karena setiap saat kau menggodanya dan kata orang. Nasibmu jauh lebih celaka dari nasib kita semua. Aku yang mau bunuh diri. dan datu bolon. dengan Lolom bahwa perjalanan itu akan kandas di karang kecelakaan. kau sedang bunting. Karena itu. Aku juga tidak dapat mempercayai bila seseorang yang melayari sungai ini. marilah sama-sama mati. Tidak menyahut. Jatuh cinta pada seorang budak.

karena kau seorang. Karena aku tidak mau bunuh diri. carilah." "Tapi. aku tidak mencari kematian dengan sengaja. Yang kuminta padamu. Sendirinya pula aku akan buktikan bahwa kepercayaan yang tertanam di hati kita selama ini mengenai sungai ini salah. Hasilnya kelak akan kuserahkan pada semua orang. bawalah aku biar ada temanku sama-sama mati." jawab Ronggur dengan suara kuat. agar kutukan dewata padamu karena kau mau bunuh diri tidak turut menimpa kami. dialah yang bernasib sial. betapa gembira hatiku menerima kehadiranmu. Yang kelak hasilnya akan dikecap setiap orang. "Perjalanan yang kumulai ini bertujuan baik." "Jangan mencari dalih lagi. Kita akan sama-sama mati bila kita sama-sama melayari sungai ini. . Karena itu dan karena aku tahu pepatah lama. sewajarnya pula aku menolak permohonanmu. benar. Kemudian Ronggur melanjutkan: "Aku mau buktikan Lolom bahwa yang kuimpikan atau yang diwartakan mimpiku padaku. "Sudah kukatakan aku tidak dapat mempercayainya. Kami masih tetap mengharapkan dan memohon agar dewata menunjuki jalan kami. berperang karena setapak tanah. Agar nasib sialmu. karena aku tidak mau mencari ma lapetaka.itu. walau kau kawanku. Karena itu." Lolom masih tertawa di pinggir sungai. Aku takut mati sendiri." kata Lolom menghentak. bersibunuhan karena setetes air parit. Seseorang yang dengan sengaja mau bunuh diri padanya akan datang malapetaka. seseorang penjudi yang kalah. Aku akan menemui tanah habungkasan. Itu saja soalnya. Tidak wajar mengorbankan nasib orang yang begitu banyak. Sungai ini akan membawaku ke tanah landai yang subur. tapi sebaliknya. agar semua orang terlepas dari ancaman yang selalu mengikuti hidupnya. Betapa aku berterima kasih karena kau mau menemani aku seraya bersedia memikul segala akibatnya. masa datang orang banyak.

Agar kubur kalian tidak ada jadi pertinggal di dunia ini. kau dengarkah aku?" ratapnya mulai meninggi. Dan. dia berusaha agar marahnya tidak meledak." Waktu Lolom berkata. Penjudi yang kalah main. bagi anak yang masih kecil. memang kau masih menggunakan akal sehat itu. Begitu pula agar tidak ada tempat bagi sanak saudara. apa yang harus kuperbuat? Aku takut mati kalau aku sendiri yang menghadapinya. Nah. Dan. Lalu. aku pun bermaksud begitu. perahu sudah mulai dikayuh Ronggur dan Tio. Ronggur. karena aku segala penjudi yang kalah. menerjunkan diri ke ujung dunia agar bangkai kalian tidak dapat dikuburkan. aku yang sudah rela mati. dan datangilah sendiri ajal yang akan merenggutkanmu dari kehidupan ini!" Sambil tertawa dan perutnya berguncang-guncang. Matanya menyala merah. Dia mencampak pandang ke daratan. ke mana perginya akal sehatmu yang selama ini kau punyai? Ya. menagih hutang. walau dia sudah berlari-lari di tepian. dia berkata dengan kuat lagi tajam: . Tapi. "sampai hatikah kau melihat aku manjadi budak?" Ratapan si Lolom yang tambah meninggi. kalau mati tidak wajar menunjukkan kuburnya agar tidak ada lagi tempat bagi mengunjungnya. Lolom mengatakan: "Ronggur. Yaitu. Kembali dia berhenti mendayung. membuat hidup mereka menjadi morat-marit. dengan pengap-pengap dia memohon: "Ronggur. tempat mencampakkan segala penjelasan di atas pusaraku. Menyuruh Tio berhenti pula mendayung. kalian tidak mau pula membawa aku serta. waktu Lolom sadar bahwa kencang perahu tambah tak dapat diikutinya lagi. membuat Ronggur tertegun. Hendak mereka jadikan aku budak.tempuhlah sendiri.

Kelak aku akan membawa berita padamu bahwa tanah habungkasan telah kutemui. . Harapanmu terletak pada hasil perjalanan ini. betapa berharganya sebuah kemerdekaan. Agar kau bisa kembali menjadi seorang yang merdeka." "Begitu percaya kau Ronggur bahwa kau akan menemui tanah habungkasan. Kau telah menghina aku. Untuk ikut serta dalam perjalanan ini kau tidak boleh. Aku tidak bersedia mengorbankan perjalanan ini pada nasib sial yang akan menimpamu. "Kalau berjudi bagimu sangat baik. bila kau pun nanti turut menanggungnya. Agar kau tahu betapa nikmatnya mimpi akan kemerdekaan. maka kau pun akan mendoakan agar perjalanan ini memperoleh hasil seperti yang diharapkan. merasakan pahitnya menjadi seorang budak." "Lantas. semua terletak pada hasil perjalanan ini. dari penjara perasaan yang meracuni diri sendiri. Agar kau tahu dan menyadari bahaya main judi. agar kau tahu. pahitnya perasaan diri sendiri justru harus membunuh orang lain. Kau boleh pindah ke sana dan kau kembali menjadi orang merdeka. Dan perasaanku selama ini. Sekarang biarlah dulu kau rasakan betapa sakitnya menjadi budak orang lain."Lolom. sehingga kau tidak mau lagi mempermainkannya di perjudian. Pesanku padamu." "Mimpiku telah mewartakan padaku." "Dan. janganlah dulu bunuh diri. karena orang lain itu pun ingin hidup lalu berusaha menguasai setapak tanah. yang turut merasakan pahitnya derita seorang budak. Karena kau memang sengaja mencari kematian. bagiku itu tidak mengapa. apa yang harus kuperbuat?" tanya Lolom pula melanjut dan memotong cakap Ronggur. kau kawanku sejak kecil. Untuk bisa terlepas dari belenggu itu. mempunyai setetes air parit telah memaksa aku harus mencapai tanah habungkasan. Dan. Tapi.

si belang kebanyakan tiduran. agar Ronggur dan Tio berhasil. sesudah dia sadar bahwa perahu Ronggur sudah menjauh dan melaju. Setelah merasakan bahwa mereka sudah cukup jauh dari perkampungan. sehingga dia bisa kembali menjadi orang merdeka. bila pagi terbit lagi. Harapan masih ada walau masih begitu samar. Ronggur mendaratkan perahu. Tidak berdaun rindang. di saat Ronggur dan Tio melepas lelah." Ronggur dan Tio kembali mendayung. dia yang berjaga." tobat. sangat Sebelum Lolom sempat mengatakan sesuatu. Dengan tercengang Lolom melepas mereka. Perahu ditambatkan. Menjadi suluh bagi Ronggur dan Tio mengikuti jalur sungai. Perahu terus melancar. Memang begitu selalu. Bulan mulai memancar di langit mencurahkan sinar ke bumi. Tanah datar yang terdiri dari tanah batu di kiri-kanan sungai. . Kalau malam. Meranggas.Bertobatkah. karena doa seorang yang didengarkan Mula Jadi Na Bolon. Memilih tempat bermalam. Tapi. Hanya satu-satu pepohonan tumbuh di tepian. Si belang disuruh berjaga. Dan. selagi perahu dikayuh. Dan. Yang mungkin berbeda malah menantang kepercayaan yang mereka anut selama ini. mereka akan melanjutkan perjalanan itu. karenanya dia belum mau mati. Suruhlah mereka bersiap menerima sebuah warta kebenaran. Agar tidak terguncang perasaan mereka bila kelak menerima warta penemuanku atas tanah habungkasan. disela tangis itu dia mengharapkan. Secara perlahan arus sungai mulai terasa. Ronggur telah melanjutkan: "Di samping itu. wartakanlah pada orang semargamu bahwa anggapan mereka akan perjalanan kami ini tidak benar sama sekali. bila kau memang ingin berbakti. kembali dia meratap dan menangis.

mereka telah tiba ke batas yang boleh ditempuh manusia. Pada hari selanjutnya. Perasaan masing-masing saling mengajuk nasib yang menanti mereka. pandang yang meminta penjelasan. memulai jalan darat. Dan. agar kelajuan perahu dapat dikendalikan. T io akan menarik napas yang panjang. Kembali dia ke tempat Tio. Tapi. mengadakan peninjauan. tetap diperhatikan dan dipelajari Ronggur. Arus sungai sudah cukup deras. Atau. Dan. dia harus bertambah hati-hati. Ronggur tidak mengucapkan. dan masing-siang. bila mereka mulai melewati batas itu besok pagi. tapi diusahakan agar tidak kedengaran pada Ronggur. Itulah mula gua yang diceritakan bekas Datu Bolon. Sedang sungai seolah terus menuju satu arah yang jauh. yang menganga bergaya mau menelan. Bila Ronggur kembali mengangkat kepala. dia harus mulai mencari mulut gua yang diceritakan Datu Bolon.Setiap hari arus sungai tambah terasa. sepatah kata. . untuk merasakan getar air. Tekadnya harus bertambah bulat dan kukuh memasukinya. mendaki sebuah pundak bukit. tidak jarang Ronggur melengketkan telinga ke permukaan air. Menurut keterangan bekas Datu Bolon. setiap Ronggur mengerjakannya sambil memejamkan mata. Menembus bukit. bila arus bertambah deras. Kediam-diaman. Sejauh mata memandang yang dilihat hanya batu padas saja. menerjang terus ke perut bukit. yang mencampakkan pandang padanya. setiap itu pula T io memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Walau matahari tidak terik. Dan. Satu dua batu jangkar sudah dijatuhkan Ronggur. Bila suara gemuruh air sungai berbantingan ke dinding batu mulai kedengaran. Karena itu. namun Ronggur mendaratkan perahu ke pinggir sungai. hatinya bergoncang dalam dada. Dia pergi ke tempat ketinggian. Pertanda mereka akan bermalam di sana. Lalu menyuruh Tio menghidupkan api.

lalu menutupi wajah bulan. Tangannya mengelus leher si belang yang duduk di sampingnya. Telapak tangan Tio yang sudah lecet dan keputihan. Keadaan sekitar menjadi pekat. mereka temui sebuah lobang alam pada s isi sungai yang agak tinggi. Hingga batu jangkar sudah tiga biji dijatuhkan. Awan hitam merayap dan menjalar. Tidak pernah didatangi manusia layaknya. tepat dari belahan jalur sungai. Dari jalur sungai dikejauhan. Atau. Tapi. Hanya arus sungai yang bertambah kencang. tidak ada sepenggal kayu atau bekas api. terbuat dari batu alam. Terus saja Ronggur mencampakkan pandang ke kejauhan. Menyinari kiri-kanan sungai yang tidak punya tanda kehidupan. bulan muncul. Arus sungai sudah dapat menghanyutkan perahu malah terlalu liar. Namun mereka meneruskan perjalanan juga. Jadi tidak dari pundak Dolok Simanuk-manuk lagi. seperti yang mereka kenal. Tandus dan kosong. mendesis. hari itu mereka tidak menemui sesuatu. Angin kencang datang dari hulu sungai. sekarang bisa mengasoh. Lobang yang bersisi berlantai dan beratap batu. Dia mencari kekuatan hati dari elusan itu. di atap batu. Mulut tambah terkatup. bila diperhatikan benar. Wajahnya bersikap menantang dan begitu tegang. Bila mereka mendarat ke pinggiran lagi. melontarkan perasaan yang tertekan. Buru-buru Tio menghidupkan api. Tengah malam. Tangannya pasti menggenggam ulu kemudi. Dalam lobang. Tetap meneliti keadaan. Walau sudah jauh melewati batas yang boleh didatangi manusia. Membangkitkan riak yang .Ronggur dan Tio. pada pagi berikut melihat matahari muncul dari satu kekosongan. desiran arus sungai kedengaran bangkit. Mereka masih selamat. Dingin. Beberapa potong kayu diangkutnya dari perahu. Mereka tidak perlu lagi mengayuh. tidak seperti lobang alam yang pernah mereka temui. Nyala api menari-nari di dinding batu. susut karana terus-terusan direndam air. Dikejauhan.

atau semua serba seperti menakut-nakuti. dia tidak akan menyahut. Memanaskan diri dekat api. tidak mengetahui bahwa Ronggur tepat berada di atasnya. sudah melonggarkan perasaan tertekan. Diiringi suara guntur yang mau memecahkan segala. cukup gelisah permukaan sungai. Beberapa saat dia berdiri di sana. Lantas pergi ke atas gua alam itu. walau tidak mengatakan sesuatu. Tidurlah. Riak sungai menjadi besar dan tambah gelisah. Satu-satu halilintar mengkilap membelah bumi. selimuti dirimu dengan kulit binatang berbulu. Kulit tangannya masih tetap pucat dan menyusut. Selagi Ronggur tidak ada dekatnya. Semuanya serba asing dan menakutkan. menyengkak. perubahan alam begitu rupa menimbulkan prasangka dalam diri. menatap ke sekitar. Dia merasa lebih tenteram bila Ronggur di dekatnya. keadaan udara cukup terang benderang oleh sinar bulan yang nyaman. Permukaan sungai naik. Kepekatan menyeluruh menelan segala. yang menumbuhkan berbagai ragam anggapan. . Bersabung halilintar dan guruh. pertanda mula kecelakaan yang akan menimpa diri. tapi melaksanakan yang dimaksudkan Ronggur. Ronggur pergi ke tepian sungai memperkokoh ikatan tambatan perahu. Baru beberapa saat yang lalu. Seperti marah karena ada orang yang berani berlayar melewati batas yang sudah ditentukan. Dipisah langit-langit gua yang terbuat dari batu alam. memperhatikan sekitar dan mempelajari arah dan mata angin yang menggalau. Si belang mendekat pada Tio. Kekelaman yang abadi." Mendengar cakap yang sepenggal itu saja. hujan turun seperti dicurahkan dari langit. Seperti: "Besok pagi kita melanjutkan perjalanan sebelum matahari terbit. Tio yang tepat berada di bawahnya. dia merasa sepi atau merasa takut. selain hai yang penting saja. Begitu cepat suasana alam berubah. Dia selalu begitu. Biar terasa panas. Dan. Dalam saat begitu. walau dia tahu Ronggur tidak pergi jauh.tidak dapat dikatakan kecil.

Dari goleknya dia melihat Ronggur mengeringkan tubuh. air tidak mungkin menggenangi mulut gua di mana mereka berada.Malam itu Ronggur agak lama baru kembali. Lalu mundur. tubuhnya tertumbuk ke tubuh Ronggur yang berdada telanjang." Tio malu akan ketololan dan ketakutannya. Di luar hujan. Tidak disadarinya matanya dapat ditangkap pandangan Ronggur. Dia . Telapak tangan ditelempapkan ke tubuh. riak sudah membesar sudah menyerupai ombak danau. Si belang sekali ini sudah tertidur. seperti Tio sendiri. Namun perasaan keadaan sekitar. Sedang Ronggur merasa geli pula atas kelakuan Tio yang menyurukkan kepala ke bawah selimut buru-buru. Kulit binatang itu tidak cukup panjang untuk menyelimuti tubuhnya sekaligus. Ronggur tersenyum. yang dengan sendirinya kakinya menjadi telanjang. Dia menyesali diri kenapa dia harus terpekik. Begitu dekat hingga Tio yang melihatnya merasa ngeri. kilat. kalau tangan itu akan hangus terbakar. daerah yang belum pernah dimasuki manusia. Kemudian Ronggur berjongkok dekat api. Tapi. kita akan meneruskan perjalanan. Tidak apa-apa. Perasaan sak wasangka tambah mencekam diri. Dalam hatinya dia merasa geli atas kelakuan Ronggur. Mendekatkan telapak tangan ke jilaman api. Dengan membungkuk dia menuju mulut gua. lalu mengatakan. dan guruh masih bersabung. Besok. "Pergilah tidur. T io terpekik karena terkejut. dia tahu. Butiran air berjatuhan. "Kau belum tidur juga? Belum mengantuk?" Tio menyurukkan kepala ke bawah kulit binatang. bila badai telah teduh. karena dia tahu bahwa mereka sudah berada di daerah yang berbahaya. angin. lalu dikaiskan. tersenyum di bawah selimut kulit berbulu. ketika itu juga. Permukaan sungai menaik. Sambil memalingkan pandang Ronggur berkata. Hendak melihat ke mana Ronggur pergi atau di mana Ronggur berada. Ronggur tersenyum. Tio bangkit dari duduknya.

Lalu dia mengambil sebatang kayu. angin yang bersabung dan hujan yang menderu di luar belum henti. justru karena dia tahu. Dengan malas Ronggur kembali masuk ke dalam lobang. Menjerangkan air yang ditampung dari pinggir sungai. Di sini banyak kampret. Suara yang timbul atau seolah datang dari dunia jauh. Perlahan dia bangkit. Patah sayap. Kampret berjatuhan. Di samping itu. dicoloknya tiap lobang. Tambah lama tambah banyak. Kampret itu ditumpukkan. Dengan kayu itu. Waktu nyala api me loncat-loncat dan menari-nari di dinding gua. Asik dia dengan pekerjaannya. sudah mulai me lemah. Enak dimakan. Suara mendesis yang bersumber dari sungai itu sangat menyayat atau menyengat pendengaran. bahwa cuaca masih tetap seburuk kemaren. Dia mendekati salah satu lobang kecil. Tidak tahu dia Tio sudah bangun. memejamkan mata dengan paksa. Cahaya putih sudah menerobos dari mulut lobang waktu Ronggur membuka mata kembali. dia pun tahu. Merasa bersyukur. pikirnya. daging kampret enak dimakan. Dalam gua menjadi dingin kembali. Terus menghidupkan api. dunia lain. namun bias cahayanya tidak dapat menembus awan yang bergumpal dengan sempurna. Walau matahari sudah terbit dan agak tinggi. Ronggur menutup kedua belah kupingnya. Api sudah padam. Matanya diliarkan menatap langit-langit. Waktu kepalanya dijulurkan dari mulut lobang untuk mengetahui keadaan cuaca. Heh. Ma lah menggulungkan tubuhnya sampai bengkok untuk melawan dingin. Tio belum bangun. Kelepak itu berasal dari lobang-lobang kecil yang banyak di langit-langit gua. Didengarnya kelepak lemah di langit-langit gua. lalu dia dapat memastikan bahwa sesuatu yang bernyawa masih ada di sana. Desis lidah air masih terus mengganggu pendengaran. Membaringkan diri. Tapi. Juga si belang. takut kalau kelepak lemah itu henti. .menggolekkan diri.

Tio menundukkan kepala. menemui tanah habungkasan atau menemui ajal. Enak juga dimakan. bibit itu sangat penting dan perlu bagi kita. sekarang telah menjadi sama." Cakapnya punya kepastian seolah mereka akan menemui tanah habungkasan yang dimimpikan. Cepat dia mengaju tanya: "Tio. Di tanah habungkasan yang kita tuju. Dia telah menunjukkan kesetiaan sebagai budak pada tuannya." Kampret itu mereka panggang. lalu: "Di sini banyak kampret. Disambutnya juga senyum itu. Bakarlah. Teruslah jaga baik-baik. telah menunjukkan kesetiaan hingga berani pergi ke mana saja. langsung dengan bulunya. di mana kau bikin pundi-pundi tempat bibit itu? Sudah berapa hari tidak kulihat. "Kau menjaganya dengan baik kalau begitu. Ronggur menyambung: "Teruskan jaga baik-baik. dia telah berani memilih perjalanan tanpa nasib. Tio menjaga bibit itu dengan baik. meninggalkan nasib yang malarig di belakang. kita meneruskan perjalanan. Atau. Jangan sia-siakan. dia sebagai perempuan." kata Ronggur. Cepat benar sudah masak. mulut mengunyah daging kampret yang manis." Tio memegang pinggangnya yang agak menonjol. Itu saja pun baginya cukuplah. Dan. Bila angin dan hujan teduh. mereka akan meneruskan perjalanan. Padanya. Sambil meneguk air simar palia yang pahit kental lagi panas. Jajan arwahnya dalam perjalanan menghadap Mula Jadi Na Bolon. Tio tersenyum tapi tertunduk. . Pundipundi itu diikatkan di pinggangnya. padi yang bisa mengurangi rasa laparnya bila mereka memang jatuh ke ujung dunia.Ronggur berpaling. Ingatan Ronggur cepat meloncat. bersama seorang lelaki yang dipercayainya kejujuran dan keberaniannya. rasa dingin dan kantuk cepat menghilang. Yang terasa tidak punya akhir dan ujung. Atau. Tio diam saja mendengarkan. Bila angin dan hujan reda. Bibit pertama yang akan mereka tanam di tanah habungkasan.

lalu memulai perjalanan lagi. tanah subur yang landai. Tepian sungai menjadi tambah tinggi juga. Air sungai terus menerus mengarah ke satu bukit yang seolah tegak berdiri. Air yang bertemperasan ke dinding tepian batu. pikir Ronggur. namun kelajuan perahu terus bertambah kencang. membuang butir-butir air yang melengket pada bulunya. dapat dikuasai karena dibantu batu jangkar itu. Ronggur dan Tio bersama si belang cepat-cepat meninggalkan gua. Tambah lama tambah berbentuk semacam terowongan. terhunjam ke dada bumi. Batu jangkar sudah tujuh buah dijatuhkannya. masih jauh. Bahaya. menghadang sungai. Tapi. Pendengaran terus dipertajam Ronggur. Tapi. Atau. batu jangkar terus . Dia melengking kecil. kelajuan perahu terus bertambah. Cahaya yang menerobos ke dalam gua tambah terang juga. Menyusuri sungai. Tapi. Si belang menggoyangkan tubuh. namun suara gemuruh belum ada kedengaran. tentunya menimbulkan suara gemuruh yang dahsyat. Perubahan pada kedua tepi sungai tambah nyata. berdesis dan muncrat ke sana kemari. Karena. Bila arus bertambah kencang. Itulah gunung Batu yang diterobos air sungai yang arusnya bertambah deras. Karena itulah. berangsur secara perlahan. terbuat dari batu alam yang hitam. air terus menerobos.Karena itu dia hanya menelan air liur mendengar omongan Ronggur yang punya kepastian itu. mula dari impiannya. desis air yang menyayat pendengaran itu tetap juga. dia masih meneruskan penyusuran itu. Gelisah tidak pernah henti. Dan. Tali temalinya bertegangan diseret perahu. Sudah lebih dari lima batu jangkar dijatuhkan Ronggur. atau suara lengkingan itu tersekat dalam kerongkongan. tambah beda dengan tepian sungai yang sudah mereka lewati. atau ujung dunia. bila air sungai jatuh ke akhir dunia. Angin tambah melemah dan hujan sudah mulai teduh. Seperti tidak terkendalikan.

Air yang bertemperasan pada dinding batu tambah mendesis dan menyayat pendengaran. Namun mereka tetap berlayar. Segala perasaan dikerahkan meraba yang menanti di depan. Tepian sungai yang terbuat dari batu alam bertambah tinggi juga. yang terus memegang kemudi. bertambah memanjang. Dan. tanpa mau melepaskan seketika saja pun selagi perahu terus berlari dibawa arus. Mereka tidak bisa lagi dengan leluasa melihat matahari. walau dinding perahu sudah tinggi dibuat. Ada kalanya sinar matahari seperti tidak sampai pada permukaan sungai karena disungkup kedua dinding batu yang bertemu puncaknya. air sungai gelisah warna putih melambung ke atas. Membuat mereka terkadang tidak dapat mengetahui peredaran waktu dengan pasti. Pada puncaknya yang masih bisa dijangkau mata tidak ada sesuatu yang tumbuh. bermula dari air yang bertemperasan ke sisi sungai dan lebih hebat pada salah . Tahulah Ronggur suara desisan air yang menyayat pendengaran itu. Melanjutkan perlawanan terhadap arus sungai yang setiap saat bertambah kencang juga. Sebuah kata pun tidak ada yang diucapkan. selain dari tumbuhan kerdil yang tidak berdaun hijau. Kelokan sungai yaitu patah tambah sering mereka temui. Pada riam yang lebih curam. Sekitar menjadi taram-temaram. keadaan begitu bertambah jauh menyusuri sungai. Begitu curam dinding batu itu. bisa juga temperasan masuk ke dalam perahu. Ronggur hanya tinggal menunggui kemudi. terkadang wajah Ronggur sendiri disembur air. membuangnya kembalinya ke sungai. Dan.dijatuhkan. Dan pada setiap akhir kelokan riam sungai teap ditemui. Mata terus-terusan ditancapkan ke depan. Pada tiap riam. Begitu seterusnya. Air sungai menjadi lebih dingin dan hitam. Pancing yang diumpankan Tio tidak pernah lagi mengenal Ikan bertambah jarang atau memang tidak ada sama sekali. Tio cepat menimbanya.

Meneliti dan menduga sesuatu yang sedang menanti. tahulah Ronggur bahwa sungai amat dalam. Karena itu. Tio di hulu perahu Ronggur di buritan. perahu akan pecah remuk. mereka hanya bisa menambatkan perahu ke salah satu tungkul batu yang mencuat. Biarpun dia tahu bahwa sungai sangat dalam. Perut perahu menjadi tergenang air. wajah Ronggur terus menantang ke depan. kalau cahaya yang menerobos dari celah dinding sungai di atas itu me lemah. Mereka lalu tidur dalam perahu tanpa unggun api. Tidak sedikit terlempar ke dalam perahu. Celah dinding sungai di atas bertambah kecil juga. Peralatan mereka menjadi basah. Begitu menyiksa terasa. menghidupkan api dalam perahu berarti bunuh diri. Mereka tidak ada lagi menemui gua alam. di tengah si belang. Mereka harus hati-hati melewatinya. dan nasib sudah teraba bentuknya. Seperti mereka berada dalam satu lembah yang sempit diapit kedua sisinya yang tinggi. Sudah lebih sepuluh batu jangkar yang mereka jatuhkan. Suara air yang bertemperasan ke dinding batu. Begitu pula tepian sungai yang landai. Tapi. terus menerus mengisi pendengaran. Cepat . mereka harus menahan dingin malam yang menyiksa. terasa sangat membosankan. Tio harus cepat menimbanya.satu tikungan. pandang mereka sering ketemu. Air membiru sudah seperti menghitam. tapi pada tikungan yang dilalui terkadang ada juga batu muncul ke permukaan air. Terlebih pula tidak ada yang menyelingi. menghadang. Dari warna biru permukaan yang sudah menghitam itu. Dalam saat begitu. Arus sungai terus menerus bertambah kencang dan tambah menggila. Bila terdampar ke sana. Bertemperasan. jadi. Air yang bertumbukan dengan batu mencuat itu menjadi gelisah dan liar. Dada dipukul detak hati yang tambah mengencang. Kelanjutan perahu terus juga menggila. Air seperti membulat. Selain kayu bakar tidak ada.

Terkadang Tio berdiri meregangkan tubuh yang kaku. mengancam siapa saja . Tio menyelimuti diri dan juga si belang. Dinding sungai bertambah tinggi dan tandus. yang selalu mendekat padanya dengan lengkingnya yang tersekat dalam kerongkongan. agar kepala Tio tidak tersangkut pada salah satu lingkungan dinding sungai yang terkadang begitu rendah. bila utusan cahaya kembali menerobos celah dinding sungai di atas itu. Arus sungai menggila Batu jangkar sudah lebih duapuluh biji dijatuhkan. Bibirnya gemetaran.dipalingkan. Mengancam nadanya. Namun perahu seperti diseret dan dilarikan setan saja kencang nya. Begitu pula Ronggur yang berada di buritan perahu. Tapi. Tambah lama tambah nyata. Walau terkadang hanya tertumpu ke dinding batu pertanda sebuah tikungan. Bila temperasan air yang melemparkan air ke perut perahu tidak ada. Wajah Ronggur agak pucat juga dibuatnya. Mata Ronggur terus memandang ke depan. Tio tertunduk. Dan. Jiwa tambah terasa dihantam habis-habisan. ke mana diri akan dibawanya. menempuh jalur sungai yang tidak dapat teraba. Suasana tambah menekan. Agar tatapannya tidak terhalang. Mulanya sangat lemah sekali. Ronggur. yang bangkit di depan itu. Sudah sering dia berpaling ke belakang menatapi. Arus sungai tambah menggila. Atau. yang berarti pekerjaan Tio tidak ada. mereka akan meneruskan perjalanan lagi. Tikungan bertambah sering ditemui. Ronggur seperti tidak me lihatnya. Tio tidak terus-terusan atau tidak tekun lagi menatap ke depan saja. tambah nyala: mengguruh. Hanya air sungai yang dingin diteguk sehabis cuci muka. dia selalu melemparkan pandang ke depan dan menggunakan segala perasaan. T idak mereguk air panas lagi di pagi hari. tapi cepat saja Ronggur menyuruhnya agar duduk kembali. Suara yang lemah itu.

Dia masih meneruskan pelayaran. cepat bertukar tempat. Perahu terangguk-angguk dan tergoncang. Dalam jeritannya sering dia memanggil nama almarhum ayah bundanya. mendaratlah. meledak teriakan panjang dari mulutnya: . Seperti tidak terdaki layaknya. "Ronggur. Tiba-tiba saja biasan cahaya mencurah ruah. Walau air tidak tertumpuk pada salah satu batu yang mencuat di permukaan sungai. Urat saraf Tio seperti lumpuh karena terus-terusan ditekan suasana ketegangan. Memercik ke sana ke mari. melengking. Yang telah berani menantang ketentuan dewata. Tidak dengar suara gemuruh yang mengancam itu?" Masih tidak diperdulikannya. Namun Ronggur belum mendaratkan perahu. namun riak air sudah seperti gelombang. Jangan teruskan lagi mengikuti sungai. Pecah. Tapi. Ronggur menatap ke depan dan pendengarannya terus dipertajam. Tio terus menjerit. Matanya sebentar melihat ke kiri dan ke kanan. Tiba-tiba saja Tio menghantamkan tangan ke haluan perahu.yang berani mendekat. Lalu terus ke depan. tingginya alangkah jauh lagi curam. memohonkan ampun atas keangkuhan mereka berdua. celah dinding melebar di atas. Dengan tidak berapa dikuasa iya pula. Tio tidak bisa lagi menimbanya. Sering dia menyebut nama dewata. Banyak terlempar ke dalam perahu. sambil berteriak: "Ronggur. Apakah kau mau bunuh diri?" Berbaur akhirnya dengan suara gemuruh di depan dan desis air dan suara riak sungai yang menari gila. kau tidak mendengarkan aku? Mendaratlah ke tepi. Suara gemuruh itu seperti suara dari sesuatu benda yang jatuh ke satu tempat yang amat dalam. Namun Ronggur tidak memperdulikan atau tidak mendengarkan. Begitu liar. Suara gemuruh di depan tambah jelas. Tapi.

kita memerlukan air barangkali di atas sana. Air sungai tambah membulat dan berlari kencang. Kita masih harus menempuh perjalanan yang jauh. Marilah dulu makan daging kering. dulu mendahului riaknya. "Keringkanlah. Kedua pelupuk matanya. dengarlah aku. . yang meledak dari dasar hatinya. Kemudian bambu itu isilah dengan air. . kuatkan dulu hatimu bahwa kau sanggup mendakinya. Tiba-tiba saja tangan Ronggur mengayunkan tali ke dinding sebelah kanan."Ronggur. Biar kita punya tenaga. dia mengangkat kepala. sebelum itu." Perahu tambah dalam dan kuat anggukannya. Tapi." lalu tangisnya berkepanjangan. "Hapuslah mata dan pipimu. Dan. Tapi. Talinya tetap sangkut pada sebuah gundukan batu yang mencuat agak panjang dan besar. Supaya kita dapat tahu yang ada di depan. isaknya belum henti. dan sebuah gulungan lagi disandang. sedang ujung satu lagi dibebaskan. Ronggur mengangkat kepala mendengar jeritan Tio itu. "Si belang bagaimana?" . "Ronggur. Kita harus meninjau dari sana. Kau lihat dinding sebelah kanan itu? Kita harus mendakinya ke atas. dia mulai mendaki. . Sedang Ronggur tambah memperkuat tambatan mengikat pinggangnya dengan tali. Aku tidak sanggup melihat mata yang digenangi air mata yang bening. . . jagalah dirimu. Aku cinta padamu . diri kita berdua . Perahu sudah tertambat dan sudah terhenti walau arus sungai berusaha melarikannya. kokoh tertanam." kata Ronggur. Dia menatapi Ronggur dengan biji mata yang tergenang air mata. . cepat dihentikan T io dengan teguran." Tio mengerjakan semua yang dimaksud Ronggur. Sewaktu Tio merasakan bahwa perahu mereka tergoncang kuat karena ada yang menarik dan ada yang menahan. Dinding sungai agak landai tapi tetap mendaki ke atas. Dapat dipercaya. Mungkin tidak ada air di sana. pipinya basah kuyup oleh air mata.

. tali itu bisa ditahannya kalau Ronggur sendiri yang tergelincir. Namun tetap pasti. Walau sinar matahari melemah. baru dia mendarat. Tidak ada pertanda kehidupan. namun merasa lemah juga mata menatap yang sudah sering ditatap tapi yang buat beberapa hari tidak ditatap. Tajam lidah batu alam seperti menusuk telapak kakinya. Agak mencong jalannya tapi terus mendaki setapak demi setapak. Kemajuan pendakian itu lambat sekali. Suara yang menakutkan dan mengancam itu terus bergema." Di pinggangnya diselipkan penggada dan kampak digenggam. kita memang sudah harus mendarat di sini. Ronggur maju menanjak sambil terus membuat semacam anak tangga pada batu padas. Tangga demi tangga dibuat Ronggur dan didaki. keadaan tetap sunyi. yang terus diikuti Tio. lehernya digoyang-goyangkan. Supaya ada tempatnya bergantung kalau dia tergelincir. yang untuk beberapa hari lamanya tidak mereka lihat. Kita perlu mengadakan peninjauan. Tio memegang ujung tali satu lagi yang ujungnya dikaitkan pada pinggang Ronggur sebagai pegangan. Mengikat peralatan itu dan membawa si belang ke atas. Aku akan turun lagi. Atau. Terkadang Tio menatap ke bawah melihat perahu mereka yang terangguk-angguk. Lebih dulu dielusnya leher si belang. yang tidak memberi kesempatan pada mereka untuk menatap keluasan langit. yang sudah beberapa hari basah saja. Tak ubahnya mereka seperti baru keluar dari satu lobang alam yang kelam lagi sunyi."Biarlah tinggal dulu di perahu. Tidak vertikal. Si belang menggonggong kecil. Atau. Kau perlu turut ke atas agar ada nanti yang menarik peralatan-peralatan kecil ke atas. Dari sana sudah dapat kembali mereka tatap keluasan langit. Tapi. Mereka sudah di pertengahan pendakian. Tio membelitkan bungkusan yang berisikan bekal. di perutnya si belang menatap ke arah mereka sambil menjulur lidah.

hatihati." Mereka harus bercakap kuat-kuat. Keringat meleleh dari tubuh masing-masing. hari sudah sore." selalu katanya. Betapa bersukur hati Ronggur. agar bisa lebih mendaki tanjakan. Sudah cukup haus Tio. Tapi. tapi suara yang mengancam kehidupan dengan liar mengguruh di depan. Itu pun tidak jauh-jauh ditatap. putih kental seperti kabut. karena ada sesuatu yng menyungkap. Karena itu. Matahari memancarkan sinar kemerahan yang lemah. "kita sudah sampai ke atas. Setiba di puncak. seperti diselaputi sesuatu dan tidak punya dasar tampaknya. Ke arah depan dan belakang. agar dapat ditangkap pendengaran. Angin meniup. yang mengancam. "Sebentar lagi. tidak memberi kegembiraan. agak licin di sini. Ronggur tahu. lembah putih. . Tidak lebih. Teruslah mendaki. Penemuan ini membuat hati terpukau. Atau. sebentar lagi. Tapi. hanya sejalur batu tandus dan di sana-sini berlidah tajam. perasaan lega itu tidak lama mengisi ruang dada. namun Ronggur melarang meminum air sekali banyak-banyak. Seperti memancur. tidak mampu menembus keputihan yang mengental. Di sebelah kiri. Sebelum gelap mereka sudah harus sampai di puncak. Di depan sekali suara mengguruh itu menanti. Dan arah matahari dan lemahnya sinar. waktu tangannya sudah dapat menggapai puncak yang dituju.Yang ada hanya gemuruh yang menakutkan. tahulah mereka yang ditemui. Tidak ada satu suara pertanda kehidupan. Di kanan. jaluran batu padas yang lebarnya hanyalah barang sedepa. lembah yang dasarnya sungai yang menggila arusnya. dia sering membesarkan hati Tio. T idak jauh lagi. awan rendah. Tidak bertepi dan tidak bermula. Tidak bisa perlahanlahan.

Senja tambah samar. sempoyongan. menggenggam tali lebih kuat dan begitu dekat di belakang Ronggur. T idak ada yang dapat dibakar. Bisu. Terasa ngilu. Dapat juga mereka temui tempat yang agak luas sedikit. Tubuh menggigil. Mereka memutuskan untuk bermalam di sana. Melangkah berserah diri. Mereka rasakan langit begitu dekat. Gigi gemelatukan. Lidah batu yang tajam menusuk telapak kaki. Kental. "Kita akan mati lemas di sini. Melangkah begitu saja. Mereka terus melangkah. Ronggur membiarkan. Mati. Seperti mengantar mereka ke tempat tujuan akhir. Tambah lama menjadi hitam. Pada sinar matanya. Karena. Tidak berapa lama tari warnanya menghias langit. jalannya begitu licin. Ronggur menoleh kepadanya seenak tanpa mengatakan sesuatu. Berlagak mau . tanpa percaya diri. Tekad hati yang padu menjadi cair." kata Tio pelan sekali. sekira tiga empat depa luas jaluran di sana. Awan rendah menyungkap semua atau memang langit begitu rendah. Namun tanpa bicara. Dia gamang. cepat kelam. Tio tidak berani jauh-jauh dari Ronggur. Sekeliling begitu dingin membeku. dia membimbing tangan Tio. ke jurang tanpa dasar.Berlagak mau melumpuhkan dan mematikan tekad hati yang sepadu-padunya. salak si belang dari dasar sebelah kiri kedengaran. Satu sama lain tidak bisa mengeluarkan pendapat. Tio lantas saja memeluk tubuh Ronggur dengan gemetar. Sesekali mereka hendak tergelincir jatuh ke bawah. Sesayup sampai. Sebelah atas mereka. tidak ada lagi sinar cahaya percaya diri. Geraknya seperti gerakan yang bermula dari kedalaman. Karena dia pun seperti kehilangan semangat. T idak tampak bintang atau bulan. awan rendah menyungkap. Ronggur berjalan di depan. Tio di belakang. bergerak ke depan perlahan-lahan.

menyelimuti segala." kata Tio pula. lagu tunggal yang abadi." katanya menasihati walau diri sendiri bimbang. Lama-lama hitam pekat itu beralih pula. Namun mata hanya dapat menembus sekira empat lima depa saja. "Apakah hujan?" tanya Tio. tapi menakutkan. Tidak pernah hujan begini tipis. "Aku tidak tahu." "Barangkali kita sudah terjebak. Air begitu tipis. dipikirnya hujan turun. Tapi. Lagu kematian yang hendak mengantarkan para arwah ke tempat abadi. Tapi. Butiran air halus memerciki tubuh mereka. Akhirnya dapat diketahui Ronggur. Ada juga dirasakannya kebenaran yang diucapkan Tio itu. . "Apakah sudah pagi?" "Aku tidak tahu. Ronggur terus membuka mata. "janganlah berkata begitu. Semalaman matanya terus terbuka. Lagi-lagi Tio mengaju tanya. Suara gemuruh. Tapi. Berusaha mengikuti perobahan alam kalau memang perobahan itu ada. dapat kembali ditatap. kita sudah basah. "Ke mana lagi kita harus pergi?" tanya Tio pula. dunia jauh lagi as ing." Kembali mereka diam. Sampai payah bernapas. kepekatan yang menghitam itu sudah kembali agak memutih. Pada satu saat angin bertiup dari arah depan. tapi begitu lemah. Tapi. Melumpuhkan perasaan yang ada dalam diri. Ronggur tidak dapat tidur walau tubuh cukup capek dan payah. sekira empat lima depa. Tio jatuh tertidur sambil menggulungkan atau melipatkan kakinya dekat ke dadanya. melingkar. sampai di situ saja. Seperti ada utasan cahaya putih. Sekitar. desis air sungai yang bertemperasan ke dinding sungai. Tio. tetaplah waspada.

Tio memegang ujung tali di atas. Kemurnian cita yang digenggam kembali memberi suluh pada keyakinan." bujuk Ronggur. dia harus menjemput si belang dan peralatan serta perahu itu kembali. Semua peralatan itu akan menjadi saksi di depan Mula Jadi Na Bolon. Ronggur mencampak pandang ke sebelah kiri. tapi dengan alasan kenapa dia harus mengarungi Sungai Titian Dewata. aku tahu. "Kalau kita surut. Marilah tabah menerima upahnya. Beberapa saat kembali hening. tapi marilah dengan tabah mendekatinya." sahut Ronggur. ganjarannya. melalui . Kalaupun ajal tiba." "Tidak terjebak. "Ya. dia mau menghembuskan napas dengan tenang di perut perahu itu. tentu dapat melembutkan hati Mula Jadi Na Bolon yang pengasih penyayang itu. pada perahu. Bila perintah datang." sahut Ronggur. Dia mulai menuruni anak tangga yang dibuatnya semalam. pikir Ronggur. Bilapun Mula Jadi Na Bolon murka. mencari tangga yang dibuatnya semalam. Tio terdiam. Kembali dia teringat pada s i belang. kita telah melaksanakan tugas kehidupan. secara berangsur." Tio terdiam. tentu tidak bisa melawan arus yang menggila. Sedang Ronggur setelah dicekam habishabisan oleh perasaan takut."Tabahlah." "Kita terjebak di s ini. akhirnya muncul kembali. Perahu itu seperti rumah dan tempatnya terakhir. tentang tujuan citanya. Dengan perahu itu dia akan mendatangi tempat Mula Jadi Na Bolon. Lalu diputuskan." kata Tio pula. ke tempat Mula jadi Na Bolon. "kita tidak bisa lagi menempuh jalan sungai. "Sekalipun kita harus kembali ke tempat asal. kepercayaan akan diri sendiri. pada peralatan yang masih tinggal di sana. Tapi.

goyangan tali yang digoncang Ronggur, Tio mengulurkan tali lebih panjang. Sesampai di bawah, Ronggur mengikat peralatan kecil. Dengan berteriak sekuatnya, sekerasnya, disuruhnya agar Tio menarik. Tio menarik. Kemudian menjatuhkan tali lagi ke bawah. Ronggur mengikat perahu baik-baik. Mengisi air pada bambu tempat air yang dilobangi ruasnya, tapi ruas sebelah bawah tidak dilobangi. Air bisa tersimpan baik di sana. Kemudian dituntunnya si belang. Kembali dia mendekat ke atas. Merabaraba. Terkadang harus digendongnya si belang. Si belang seperti tahu marabahaya yang sedang mereka hadapi. Dia menuruti segala petunjuk Ronggur dengan baik. Setiba dipuncak, bersama dengan Tio, ditarik mereka perahu ke atas. Perlahan-lahan agar tidak terbanting ke tebing bukit batu, yang bisa membuat perahu pecah. Mereka masukkan semua barang bawaan ke perut perahu. Tapi, kampak terus digenggam, sedang di pinggang menyelip panggada. Dia tambah yakin lagi pada diri sendiri. Perjalanan itu tidak boleh surut dan tidak boleh henti. Harus terus maju. Sampai tiba ke tempat yang menentukan. Diputuskan akan terus mengikuti jaluran batu yang tidak berapa luas itu ke depan. Ronggur di depan. Tio di belakang. Mereka pikul perahu, jalan sempit terkadang, luas terkadang. Keadaan masih tetap sama. Hanya beberapa depa dapat ditembus pandang. Kabut tebal atau awan rendah menyungkup segala dengan putihnya yang padu. Tambah maju ke depan, suara gemuruh itu bertambah jelas. Dan, alas yang mereka pijak seperti mempunyai getaran kecil. Digoncang sesuatg tenaga yang maha kuat dan dahsyat. Membuat hati kembali tertekan. Namun dengan tabah serta keberanian yang bangkit perlahan-lahan, Ronggur terus memelopori perjalanan rombongan yang kecil itu. Menuju tempat yang menentukan, mimpinya benar atau memang mimpi itu godaan setan jahat. Si belang mengikuti langkah

Ronggur, dekat sekali di belakangnya. Si belang tidak berani mendahului ke depan. Tidak menggonggong. Hanya melengking kecil. Cahaya putih yang lemah itu menjadi tambah lemah lagi. Keadaan sekitar kembali menghitam. Ruang hampa. Kembali mereka mencari tempat istirahat. Air tipis halus itu, sudah terus-terusan menghambur dari asalnya yang tidak tahu di mana. Ronggur mengosongkan peralatan mereka dari perut perahu. Kemudian, perahu dibalikkan. Disuruhnya Tio dan si belang berondok ke sana, agar tidak terus-menerus diperciki air tipis. Dia sendiri tetap di luar. Tidak hentinya melihat sekitar, walau yang dapat ditembus pandang hanya beberapa depa saja. Dingin mencekam. Ronggur tidak tahu, Tio menggigil juga dalam sungkupan perahu, kedinginan. Wajah dan bibirnya menjadi pucat. Tapi, Tio tidak mau mengatakan. Tidak ada sumber panas yang bisa menyamankan sedikit. Kembali warna putih yang lemah itu mendatang dari segala arah. Tapi, begitu lemah. Kembali mereka melanjutkan perjalanan, mengikuti jaluran setapak itu. Keadaan cuaca masih tetap seperti semula. Terkadang jaluran itu mendaki, tapi terkadang menurun, untuk mendatar lagi. Jalanan bergelombang. Terkadang melurus, tapi tidak jarang memenggok ke kiri dan ke kanan. Mereka mengikutinya dengan tabah. Tapi, harus lebih hatihati, jalanan bertambah licin. Air tipis tambah tetap berhamburan dari sumbernya. Suara gemuruh di depan yang membosankan itu, tetap mengguruh. Si belang tidak berani lagi berjalan sendiri. Dia harus dimasukkan ke perut perahu, didukung. Beban bertambah berat. Di saat tubuh mulai melesu. Di saat kepercayaan terakhir mulai merenggang dari tubuh T io.

Sambil mengisak, Tio meminta, agar mereka menghentikan perjalanan. Dia mendudukkan diri begitu saja. Tempat itu agak luas sedikit. Sehingga mereka bisa agak leluasa sedikit bergerak. Namun harus tetap hati-hati. Karena basah, licin. "Ada apa Tio?" tanya Ronggur sambil mendekat. Tio menundukkan kepala. Mengisak terus. Wajahnya memucat. Bibirnya gemetar. Dingin. Sambil duduk di depan Tio, Ronggur mencari dagunya. Diangkatnya perlahan dengan telapak tangan yang menggetar juga karena basah. Ditatapnya wajah, bibir, dan mata Tio yang memucat sayu "Kau capek Tio?" Belum ada sahutan. "Katakanlah." "Katakanlah." Tapi, begitu bening dan terasa agung. Ronggur tidak dapat memancarkan sinar merah lagi di matanya. "Marilah menanti hari esok di s ini, bila hari esok masih ada. Marilah menanti apa saja di sini, apa saja," Tio lalu menundukkan kepala. Melepaskan dagunya dari telapak tangan Ronggur. Air berhamburan terus, membasahi tubuh mereka. Tio mulai menggigil. Si belang juga. Terus membulatkan tubuh dalam perahu, tidak berani turun. "Katakanlah, apa yang harus kita kerjakan lagi Tio," kata Ronggur melemah. "Aku telah membawamu ke tempat yang hampa ini. Apakah kita harus pulang ke kampung halaman, yang telah melemparkan aku, yang tidak menerima aku lagi menjadi warganya? Nasib telah tertentu di sana, nasib yang malang menanti diri. Katakanlah Tio, aku akan mengikutinya.” "Marilah berhenti di sini," sahut Tio akhirnya. "Kupikir tidak ada lagi gunanya kita meneruskan perjalanan ini. Marilah pasrah di s ini. Berserah dengan hati bulat ke tangan Mula Jadi Na Bolon. Bawalah daku padanya sebagai sembahanmu, agar

Jari jemarinya meraba pergelangan Tio. Lalu dilanjutkan Ronggur. Maafkanlah aku. kembali Ronggur mengangkat dagu Tio. Mendudukkannya. bermula dari perasaan gembira. Air mata yang menggenangi pelupuk matanya tidak bersumber dari kepiluan dan ketakutan lagi." Arwah nenek moyang Tio akan menerima arwahnya di tempat yang baik. "Janganlah kembali ke sana. selain diri sendiri. Tio sudah merdeka kembali. Berhadapan dengan kenyataan ini hatinya jadi bersorak gembira. Dia tambah mendekatkan bibirnya ke bibir Ronggur. melengket di sana beberapa saat. pertanda dia seorang budak belian. "Kau merdekakan aku." Perlahan. ya barangkali. Ronggur. Gelang itu dicampakkan Ronggur sekuat tenaga.Mula Jadi Na Bolon tidak marah padamu. Tapi. Lalu dengan hentakan kasar. sebagai orang yang sama hak. Ditatapnya lama biji mata yang sayu itu." Tio terdiam. Sekarang berlomba bermunculan." Suaranya begitu lemah. Sambil mengisak dia mengatakan. Lupa kepahitan. terhormat. Terayun dan dibuai sebuah lagu yang selama ini terpendam di dasarnya. "Kalaupun kita mati. . Matinya. Ronggur? Sungguh?" "Ya. mati seorang manusia yang merdeka. direnggutkannya gelang yang dipakai Tio. Marilah berpasrah diri di depan Mula Jadi Na Bolon. seperti kau lihat. lupa hal yang menghadang di depan. Tidak ada sembahan kubawa ke hadapan Mula jadi Na Bolon. membuai mereka berdua. mati bersama. Sesuatu benda hangat tapi lembut menyentuh bibirnya. Barangkali. Tio menjatuhkan diri ke ujung kaki Ronggur. aku yang membawa kenahasan ini padamu. sama-sama orang merdeka. Jauh-jauh. Walau apa yang telah kita temui. lupa siksaan.

"Ronggur." Ronggur tersenyum. Kita tidak boleh pulang." Ronggur tersenyum. Tio tersenyum." "Tidak." "Tio. bila kita mati. Boleh jadi. Lalu. Ronggur memimpin doa: Mula Jadi Na Bolon Asal mula dari segala kehidupan Padanya kembali karena dia yang punya Terimalah kedatangan kami Hambamu . Yang tabah bersama suami mengarungi kehidupan. "Aku cinta padamu . Istri yang paling setia. karena ada cita tergenggam di tangan dan di hati. Sampai tahu kepastian yang akan kita temui.." Tio menangkap leher Ronggur. Hanya permulaan. . aku akan mengatakan pada Mula Jadi Na Bolon bahwa arwahmu bukanlah sembahanku. Sudah terlalu kelam untuk melanjutkan perjalanan. "semuanya. Berani mengarungi segala kemungkinan. di sini akhirnya. istriku." kata Tio tegas." Tio memperbaiki duduknya. "Marilah bersujud ke hadapan Mula Jadi Na Bolon. permulaan yang tidak punya akhir. Telapak tangan Tio masih terus mengelus rambut Ronggur yang basah. "marilah melanjutkan perjalanan. karena mau turut mempertaruhkan keyakinan suaminya." kata Tio dengan tegas. . Lagi pula kita telah menemui yang kita cari di sini. yang telah membawamu ke tempat ini. "Kita harus istirahat dulu di sini. Ke tempat para dewata bersemayam." bisik Ronggur. Tapi. "maukah kau. Memohon ampun atas keangkuhanku. tidak ada akhir. lalu menciumi bibir Ronggur lagi dengan bertubi-tubi. Kita harus maju. dari mulutnya keluar kata.

walau dia dan Tio berpelukan di bawah telungkupan perahu. Menggigil kedinginan. Karena cinta telah punya laut dan pelabuhan. baik waktu. Berjaga di luar perahu. baik ruang. seperti tidak mau dipisah lagi. lalu dilanjutkan: Karena darimu mula cinta Napasmu sangkala cinta Satukanlah aku dan Tio Suami isteri yang dihidupi api cinta Tebarkanlah api cinta Tiuplah api cinta Membakar dada kami Dari saat ke saat tanpa akhir! Kembali mereka berdua berdekapan. Perlahan . Dan. terusterusan berhamburan. Sekitar menjadi kelam kembali. ccdw-kzaa 6 Ronggur terbangun. Bersama mereka menyuruk ke perut perahu yang dibalikkan. batas ruang dan waktu tidak berarti lagi. Si belang keluar dari sungkupan perahu.Karena keangkuhan yang berbenah dalam diri Kami telah tiba di s ini Melanggar peraturanmu! Ronggur menggenggam tangan Tio. air tipis itu.

diungkapnya pinggir perahu. Tapi. Masih disungkup kabut atau awan rendah yang masih tebal. "Semalam atau ya saat lalu. Waktu itulah Tio bangun. katakanlah dulu sudah pagi. Masih seperti saat lalu. Kembali tangannya dilingkarkan di leher Ronggur. kabut yang begini rupa tebalnya dan lamanya belum pernah ditemui sebelum itu. kita sudah berpendapat bahwa kita tidak akan melihat dan mengecap saat lain lagi. perobahan pada yang hendak kita temui. lalu seperti! anak kecil. dengan tegas dia menyahut." kata Tio. yang ada hanyalah kehampaan yang tidak bertepi. Kita sudah beranggapan bahwa tidak ada lagi hari. Perlahan me lepaskan pelukan Tio. lalu dijulurkannya kepala melalui celah. Tapi. Atau. Cahaya putih yang lemah sudah ada lagi. Lihatlah sekitar." "Wajahmu capek kelihatan. hanya masih begitu lemah. Atau. hari lalu. Tapi. . "Kenapa kau buruburu bangun? Apalagi yang mengejarmu? Bukankah sudah semua kita lalui dan sekarang kita hanya tinggal menantikan yang akan terjadi. awan rendah belum pernah melingkupi tanah serendah itu. Langit seperti di atas kepala saja dan dapat dijangkau tangan. tapi sampai kini masih hidup dan mengenal hari. Bermalas-malas. "Aku tidak tahu. Hingga waktu lewat. Tapi. yang sudah ditopang oleh batu yang diganjalkan. dan waktu kini. hari yang kita nantikan kemaren. Dari mulutnya perlahan berbisik. membangkitkan iba Ronggur. permulaan dari segalanya?" Ucapan manja bercampur kekanakan. Dia telah mengenal kabut pegunungan dan danau sejak kecil. Hari yang kita harapkan membawa perobahan pada nasib yang mendatangi diri. dia menciumi pundak Ronggur. bila tangan digapaikan ke atas." "Apa sudah pagi?" tanya Tio.

karena dia tetap kedinginan yang tambah lama tambah bermaksud membekukan diri. Sinar yang dipancarkannya sedang mengadakan perlawanan atau berusaha menghancurkan kabut putih atau awan rendah itu. Ronggur berusaha menatap sekitar. Agar bisa dapat dilihat mata apa sebenarnya yang ada di sana. bisa menimbulkan panas." kata Tio." "Cakapmu tidak dapat kuartikan. namun pandangnya masih tetap disungkup diputihan. Di arah darimana bermula angin itu. bergerak dengan lamban seperti bermalas-malas. tapi sinar lemah. Tidak kau lihat? Lihat ke bawah sana."Tidak mengapa. "Lihat. Perlahan dirasakannya angin bangkit. satu-satunya api yang dapat membakar semangat hidup. Begitu putih hingga memijarkan sinar. putih dan lebih putih dari semua. Deru . "apa kau pikir itu?" "Apa maksudmu?" tanya Tio." "Kita masih mengharapkan?" "Selalu." Tampak oleh mereka berdua sebuah benda putih yang kecil tapi bundar. seperti itulah gayanya. Tapi. Lurus ke depan. beberapa titik air dapat ditelan sebagai sarapan pagi. Untuk menyingkirkannya. Dengan mengulurkan lidah. Panas tubuh mereka berdua yang merapat. janganlah pergunakan harapan untuk harapan saja. Harapan harus dapat melahirkan sesuatu yang berwujud dalam kenyataan kerja. bisa sebagai bedeng. Tapi. Mereka mencuci muka dengan melapkan tangan saja karena wajah mereka tetap basah. Namun tetap naik atau berusaha naik ke atas. "Lihat. Harapan. mengatasi segalanya. Dibaliknya terkandung kegembiraan dan harapan selalu. Tio terus merapatkan tubuhnya ke tubuh Ronggur." kata Ronggur kemudian. Merapatkan kepalanya ke pundak Ronggur. Tio tersenyum.

yang terus menderu di depan memberi gendang layaknya. Biar sesaat pun. Kuping benda bundar putih tidak memperdulikannya. apalagi yang harus mereka hadapi. Dalam saat begitu rupa. Lama kelamaan menjadi tebal. Namun mata mereka terus mengikuti gerak lamban dan malas dari benda putih yang semakin tinggi itu. Bundarnya. Hati mereka menjadi tambah menduga. Hati berdenyut juga walau sudah punya tekad. tapi tidak berwujud. Mulut mereka ternganga. Mulanya tipis. bersedia menerima segala tiba. Tapi. Mata mereka terus mengikuti gerak ma las dari benda putih yang bundar itu. Detak hati yang menandakan diri anak manusia biasa. di rambut hingga menyusahkan mata untuk menatap. mengikuti perjalanan benda bundar yang lemah itu. Bila butiran air tambah menebal melengket di wajah. Sesuatu benda putih yang bundar mengadakan perlawanan terhadap sesuatu yang melingkupi segala dengan warna putih. warta yang akan timbul darinya. dihapus dengan telapak tangan. Benda putih bundar itu merangkak perlahan. rnatahari bisa dilihat seperti berada di bawah. Dari tubuh Ronggur sendiri. matahari tetap berada di atas. mereka tahu. dia memerlukan kelembutan yang bermula . Dan. bila sudah menebal. Tidak mati-mati. Mereka memang tidak tahu lagi. entah berapa lama mereka tenggelam dalam keadaan begitu. mendaki ke ketinggian. kenapa pandang mereka terpaut mengikuti gerak perlahan yang menanjak itu. segala perasaan mencurah keluar. Tidak disadari mereka. Tidak disadari mereka. sekali hapus saja akan hilang tapi cepat melengket di sana butir air yang lain. Mereka tidak pernah memikirkan bahwa pada satu saat dan tempat yang berobah. sewaktu ditutupi awan di langit. Mereka belum pernah melihat tamasya alam begitu rupa. hampir menyerupai bundar matahari yang mereka kenal. Mereka belum dapat menduga.

Seperti menanti sesuatu yang menentukan akan tiba. cepat Tio memanggil kembali. Bila cuaca bertambah terang. kata hatinya ke diri sendiri. Bertambah garang cahaya yang memancar darinya. Kalau mati. Mereka ikuti terus dengan tabah.dari tubuh Tio. suatu harapan telah menggeliat dalam hatinya. Tapi. Perobahan yang tidak tersadari. takut kalau si belang terjerumus ke mulut jurang yang belum tampak dasarnya. Bisa dituruni. dan merasa ngeri. tidak bergerak. Tebing jurang tambah menghitam. Perlahan sekali sehingga tidak terasa. si belang mulai sering melangkah ke depan dan ke belakang. takut kalau Tio menjadi takut. Tio mendekatkan pipinya ke pipi Ronggur. Tambah jauh jarak yang dapat ditangkap pandang. Dia tambah mengeratkan pelukannya ke pinggang Tio. Mulut jurang sungai tambah berbentuk. Lidahnya dijulurkan. seperti melemaskan otot. Jauh ke belakang dapat dilihat Ronggur. di sana tebing tidak berapa curam. dengan tidak mau tahu pada mereka berdua yang mengikuti geraknya terus menerus. marilah mati berpelukan. Jarak yang dapat ditangkap pandang bertambah jauh dan luas. dasarnya belum tampak sama sekali. bila hendak turun ke lembah di seberang kanan. Mata mereka terus mengikuti gerak perlahan yang terus menanjak di depan bermalas-malas. Si belang turut duduk dekat mereka. Tapi. ke samping dan ke sekitar. Benda bundar yang putih itu bertambah tinggi juga. Tebing yang tidak berapa curam itu . sungkupan awan rendah bercampur kabut tambah menipis juga dari sekitar. Melihat ke arah yang mereka tatap. Apakah benda putih itu akan menyuluh jurang yang tidak berdasar? Pandang sudah bisa mereka campakkan barang sepuluh depa ke depan. Dia tidak mau mengatakannya pada Tio. namun dasarnya belum tampak atau memang tidak punya dasar. Begitu pula mulut jurang di sebelah kanan. Tapi.

itu dedaunan dari pucuk pepohonan yang tinggi." pekik Tio meninggi sambil mempererat pelukannya ke pinggang Ronggur." Ronggur gugup. jauh di bawah. lebat berimbun. Sungkupan kabut dan awan rendah tambah menipis dan terangkat. Api dalam dirinya kembali menyala atau bara yang untuk beberapa saat tertimbun oleh debu. . gugup sekali. itulah tanah habungkasanmu. itulah yang ditunjukkan mimpi dan perkataan gaib dalam mimpimu. Ronggur. itulah tanahmu. Ronggur. terhempang kehijauan yang sangat luas. melalui tingkatan pundak bukit. karena dengan itu mereka telah dibebaskan dari kungkungan yang mencekam dan mengancam. sekarang debu itu telah menyisih sehingga merahnya bara kembali rrienjilamkan panas menyala. Pucuk dedaunan itu seperti berombak ditiup angin lalu. Dapat dirasakan Tio. Terbelalak mata mereka melihat sinar yang tambah terang.dan —" dengan gugup. membuat suhu tubuhnya menjadi naik. Dia telah membawamu ke tanah habungkasan yang maha luas.menurut perhitungannya. "Ronggur. yang dapat dilihat kehijauan yang merata. angin pagi. Angin pegunungan. "Dan. Kehijauan yang maha lebat lagi datar. karena tidak menduga walau itu yang dicari dan diharapkan. "itu matahari! Itu matahari! Mula hidup! Itu matahari!" Cepat Ronggur berpaling. Tidak berapa sulit malah. Lalu dia mengatakan perlahan: . Semangatnya kembali hidup secara perlahan. bisa dituruni secara perlahan. "Ronggur. Karena dengan itu. Sejauh mata memandang. Matanya menitikkan air bening. Dapat ditangkap dengan pandang sekarang. Tidak dapat menyahut dengan segera. mereka telah menemui.

"Itu bukan tanahku. yang pasti banyak dan akan terus berkembang. Istriku. Matanya menitikkan air bening. "Juga kau. yang mau bungkas ke sana. Tidak tanah habungkasan itu saja. Apakah hutannya banyak menyimpan binatang buruan. juga tanah orang lain. sebelum itu. tapi basah. Apakah baik dijadikan tanah persawahan. T angannya terus menerus mengelus rambut Tio yang panjang lagi lembut dan lemas. "Tio. dia mengatakan pula. "Perjalanan kita masih jauh. Tapi." Mereka bersujud ke arah matahari. Kita harus menyelidiki keadaan tanah di sana. marilah mengucapkan sukur pada Mula Jadi Na Bolon. Ronggur membiarkannya begitu beberapa saat. tidak tanah itu saja yang ditunjukkan mimpi padaku. Tanah anak kita. sudah bisa pula melemas. Kau. "aku cinta padamu Tio. Tapi. lalu. sebelum kita memulai perjalanan ke sana. juga tanahmu. Tidak mengganggu. yang telah mengirim matahari untuk kita. Setelah memberi kecupan pada bibirnya. Lama Ronggur menumpa pandang ke biji matanya. sayang!" Pandang lama bertemu. Tanah kita berdua. dia menelungkupkan kepala ke dada Ronggur yang bidang. menanamkan pandang ke dasar bening matamu."Tio. Perlahan. lalu Ronggur melingkarkan tangannya ke tubuh Tio dengan ketat." Beberapa saat keduanya terdiam. Ronggur menegakkan Tio dari sujudnya." "Apa lagi?" tanya Tio terbodoh. . yang sekarang. kata Ronggur kemudian. Tapi. yang membuat kita dapat melihat tanah habungkasan yang dijanjikannya dan membuat aku dapat dengan jelas melihat wajahmu. Sambil tersedu karena terharu. T anah keturunan kita. Tapi. izinkanlah aku mengatakan sesuatu kata yang telah lama terpendam di hati." Tio menggigit bibir.

menurun ke gundukan kedua. Serpihan air tipis yang menghujani itu tidak sampai lagi ke sana. Begitu seterusnya. "lihat terus ke sebelah timur sana. Kemudian dia sendiri turun sambil menuntun si belang. "Itulah jalan yang baik ditempuh. Tapi. lebih landai. Lalu dibakar menghidupkan api. mengeringkan tubuh dan memanaskan tubuh. Tio menerima di bawah. Kemudian diturunkannya satu-satu peralatan. Membuat anak tangga. yang mempunyai tanah. memijak tanah. mereka dapat melihat gundukan perbukitan di sebelah kanan. Lalu menyuruh Tio turun." Tio mengikuti arah yang dimaksudkan Ronggur. Mereka tentukan untuk bermalam di sana. Rumput kering. dijalin begitu rupa. Untuk pertama kali kembali mereka lengkap bersama alatnya. Betapa nikmatnya panas jilam api. Si belang menggoncangkan tubuh. termasuk si belang. dia ketahui. tapi masih begitu tipis. sampai tiba ke tanah datar di bawah. hingga agak besar. ialah terusan Sungai T itian Dewata."Kita akan terus mengikuti aliran sungai menuju tanah landai. mengibaskan ekor biar cepat kering. dari sana. Sudah bisa mereka berjemur di sana. setelah beberapa hari terendam di air." kata Ronggur kemudian. sedang ia memegang ujung tali. tanah melapisi batu. ujung yang lain diikatkan ke pinggang Tio. Lalu dia mengikat pinggangnya dengan tali. kemudian terdampar ke batu padas. Mereka sudah sama berada di gundukan pertama. dibasahi titikan air yang terus menghujani mereka. Melalui dinding batu yang tidak berapa curam. Jalan ke gundukan pertama. agak curam. Dia turun sendirian ke gundukan tanah pertama. setelah beberapa lama tidak merasainya. . sesuatu garis putih yang membelah kehijauan." kata Ronggur. sampai akhirnya perahu sendiri. Hari sudah sore. Kembali dia memanjat.

sekarang seperti melengkapi irama seruling yang ditiup Ronggur. Malah seperti menjadi pertanda. dia melanjutkan Pohon aren di belah dua Tempat berayun monyet berdua Janji telah memadu Pinang sebelah dibagi dua Lalu berdua mereka melanjutkan: Terbang engkau elang Hinggap di kayu rindang Ke mana engkau sayang . tapi agar memulai menempuh jalan darat. Tidak menakutkan dan mengancam lagi. Gemuruh air dibalik bedeng terus kedengaran. Lagu yang mesra ditiupnya perlahan. Kemudian Tio mengiringi tiupan seruling itu dengan nyanyi: Bila bulan di awan purnama Di tepi danau aku menanti Wajahmu menghias tanda masa Mengajak daku ke dunia mimpi Ronggur berhenti meniup nyanyian itu: seruling. Agar seseorang yang menyusuri sungai jangan meneruskan penyusuran lagi.Malam itu keinginan Ronggur untuk meniup seruling memuncak.

perobahan tempat mengadakan perbedaan. sedang kemaren dedaunan itu masih berada di bawah mereka. Kaki mereka terbenam sampai ke lutut terkadang. di . Sehabis sarapan pagi mereka melanjutkan perjalanan. Pemandangan seperti pagi kemaren. Tapi. Bola putih itu pada mulanya lemah sinarnya dan berada seperti di bawah mereka. Si belang duduk menjauh. akhirnya sampai juga mereka ke tanah landai di bawah. Membentuk lapisan tanah yang lembut dan berair. Tanah cukup lembab dan basah. Di atas kepala. memaling pandang. Sinar matahari hanya dari celah dedaunan saja sampai ke tanah. Memejamkan mata dengan manja. Membuat mereka agak susah bergerak. Api unggun yang kecil itu terus menari dan menari. Pagi terbit lagi. Seperti taktik kemaren juga. memayung dedaunan hijau. Malam terus melanjut. Kemudian secara berangsur perlahan. keadaan sekitar bertambah terang. Begitulah secara perlahan dan hati-hati. Dilapisi dedaunan yang gugur sudah membusuk.Kasihku tetap mendendang Kemudian hanya T io melanjutkan sedang Ronggur kembali meniup seruling: Kalaulah benar warta impian Ditimang beta dengan sayang Sinar purnama empuk menayang Haribaanmu lagu impian Tio meletakkan kepala ke pangkuan Ronggur.

membentuk telaga yang agak luas pada tempat jatuhnya. Di sana-sini terbentuk curup di lingkungan yang gelisah itu yang bisa menenggelamkan apa saja yang jatuh ke tengah curup itu. Kekayuan yang tinggi dan besar batangnya seperti tiang abadi yang bergaya mendukung langit. Tergoncang. itulah air terjun yang tidak hentinya menerjunkan diri. Getaran bumi tambah terasa. Dan. agar kembali tiba ke sungai. tanpa takut dasar perahu bolong. Di satu tempat di arah depan. tapi airnya berputar dengan cepat. Si belang berlari ke sana ke mari dan menggonggong. walau suara gemuruh tambah jelas dan memekakkan telinga. . Kemudian jatuh ke bawah bergulung-gulung. la mengalir dengan besarnya ke arah timur. Di sana-sini dedaunan gugur membentuk lapisan tanah yang lembut.sana bisa mereka tarik perahu bersama peralatan lain. Merasa takut kalau batu yang membentuk jaluran kejatuhan air itu akan runtuh lalu menimpa mereka. Tio merapatkan tubuhnya pada Ronggur. Mereka menyisih cepat dari sana. mata terus ditancapkan pada benda jatuh itu. Tapi. Kala di bawah arusnya melingkar dan membikin kepala pusing bila lama-lama menatapnya. Mereka meneruskan perjalanan yang agak melingkar. Seperti menuruni pundak perbukitan. karena suara gemuruh bertambah hebat dan terasa menggoncangkan. sinar matahari lebih leluasa tiba ke tanah. Membuat dedaunan sekitarnya bergoyangan. Ke sana mereka menuju. Sesuatu benda putih mengapas putih melambung ke atas. Itulah kelanjutan sungai. Berpedoman pada ingatan pemandangan kemaren sore di mana terusan sungai berada. agar tidak runtuh lalu menimpa bumi serta penghuninya. tapi sudah ditumbuhi kekayuan yang tua. Jalanan terus menurun. betapa ternganga mulut mereka melihat benda itu.

Binatangnya juga begitu. jarak jatuhnya lebih pendek dan lebih landai dari yang pertama. Umbinya bisa kita jadikan bahan makanan. Beberapa saat kemudian. Kijang terguling ke tanah. "Itu pohon aren. Ronggur mengatakan. Mereka menatap ke atas. la meloncat ke depan. Pengganti beras. ujung tombak tertancap di dadanya. Tapi. Terus mereka menghilir mengikuti tepian sungai. "Kalau begitu. Kembali mereka temui air terjun. Tapi. membuat mereka tidak langsung berkayuh melalui sungai. mereka memutuskan untuk bermalam di sana. Dan. Sampai akhirnya berada di tempat jatuhnya air kedua. Lagi masih begitu jinak binatang itu." kata Tio pula. si belang keluar dari semak mengejar seekor kijang. Bila beras habis. Kita tidak menguatirkan mati kelaparan.Di arah depan kembali kedengaran suara gemuruh. Sehingga busa air tidak terlalu hebat sewaktu jatuh. di sini banyak binatang buruan. Sambil menguliti. Mereka tebang beberapa pohon aren. Dengan memilih jalan agak melingkar mereka menurun terus ke bawah. tercengang melihat Tio dan Ronggur. Dengan tombaknya cepat dia membunuh kijang yang tercengang itu. Biarpun Tio memanggilnya. Sampai akhirnya arus sungai tidak beriam lagi. Si belang melompat ke depan. Menurut perhitungan Ronggur sudah dapat memulai pelajaran dari sana. Ronggur tidak melewatkan kesempatan baik itu. Masuk semak. Lalu mereka jemur. benda putih mengkabut bermula dari air jatuh pertama. tapi tidak sekuat yang tadi lagi. tetap mengikut pinggiran sungai." Tambah tahulah mereka tanah yang mereka temui itu. mempunyai tumbuhan yang bersamaan dengan tumbuhan yang ada di bidang tanah yang mereka tinggalkan. karena hari sudah agak sore. Arus sungai kembali menggila. dan tumbuk . Tidak punya prasangka pada manusia yang memburunya " "Lihat. Mereka ambil umbinya.

Bila cahaya itu melemah. menjaga keseimbangan kelajuan perahu. bergeletakan dahan kering yang patah dari batangnya. Mereka tidak menguatirkan kehabisan bahan bakar. Ronggur dapat merasakan bahwa batang kayu yang besar itu dapat digunakan selanjutnya untuk kepentingan kehidupan. Walaupun sudah menghilir arus sungai masih kencang. Beberapa buah batu jangkar masih dijatuhkan. mereka harus lebih hati-hati menjaga kemudi. hari sudah mengarah sore. Sehingga sinar matahari tidak sampai ke permukaan sungai. Sungai terus menerus membelah hutan belantara. Dari celah renggangan dedaunan. Tapi. Untuk digantikan dahan lain mendukung dedaunan yang lebih hijau. Untuk beberapa hari mereka tinggal di situ. Dedahanan terlalu rendah terkadang. Memilih dahan kayu yang baik untuk tempat bermalam. segar lagi lebat. Cepat mereka meminggirkan perahu. Terkadang sungai seperti ditutupi dedaunan hijau yang merimbun di atasnya. Dengan melampaui riak air yang terkadang menghempas ke batu yang muncul di sana-sini. seperti raksasa dalam dongeng. tahulah mereka. sinar matahari terus memberi suluh abadi. Dan. . Tapi. karena dia belum perlu mengkayuh. Di sana-sini berletakan ranting kering. sekitar mereka sekarang berwarna hijau dan tanah mengambangkan bau kesuburan. Tio lebih banyak memperhatikan sekitar. Kemana saja mata diarahkan. biarpun begitu perasaan Ronggur begitu pasti bahwa mereka akan tiba ke tanah yang lebih landai dan lebih baik. tetap tertumpu pada pohon yang besar lagi tinggi. menjelma kepada penglihatan. Tidak bisa berdiri dengan leluasa.lalu direndam lagi kemudian ditapis untuk mengambil tepungnya. melalui riam yang liar di tikungan sungai yang patah. ibarat penopang langit agar tidak jatuh ke atas tanah.

dan bila mereka bermalam di sana dan biasanya lebih lama daripada bila mereka tidur di dahan. Untuk mencari bentuk kata. mereka mendarat ke tepian. Sering Ronggur memanjat kayu yang tinggi. menatap dari arah mana mereka datang dan menduga hendak ke mana mereka dibawa sungai yang diikuti itu. Ronggur meniup seruling dan Tio bernyanyi. kata yang paling sesuai diucapkan dengan yang dirasakan dalam hati.Perjalanan diteruskan menuju ke timur. yang ditiupkan musik alam ke dalam diri atau untuk menyiutkan nada musik yang memadat dalam rongga dada. Tapi. ccdw-kzaa 7 Bertambah hari. Arus sungai tambah perlahan. Pundak pegunungan . Sedang si belang berlari kian kemari. Ronggur selalu menghirup udara dalam-dalam. Tapi. Di depannya tali yang terbenam. itulah dalam sungai. Luas sungai tambah lebar. seperti berlomba keluar untuk disuarakan. Perasaan dalam dada masing-masing. Ingin dia menghirup habis segala kebebasan yang diberikan alam padanya. Ronggur selalu mengukur dalamnya sungai dengan tali yang di ujungnya diikat batu sebagai pemberat. Arus masih dapat menghanyutkan perahu walau dengan perlahan. mereka belum perlu mengayuh. Beberapa buah batu jangkar sudah diangkat ke atas. masih ada juga dijatuhkan. Arus sungai tambah perlahan. menggonggong dan menyalak. memelopori sebuah perburuan bila fajar pagi tiba. Bila mereka menemui gua alam di tepi sungai. menghilir sungai. Bila mereka bosan dengan sungai. namun dia tidak sanggup menghabiskannya. Batu jangkar sudah diangkat. meneriakkan kegembiraan. mereka menghilir sungai.

udara bertambah panas. atau menembus celah pegunungan yang terdapat pada pertemuan bukit yang memanjang. Si belang sudah mulai gemuk. satu hal makin mereka rasakan. Selalu dibuatnya tanda pada pohon kayu yang dipanjatnya. Walau mereka berada di naungan pepohonan rindang. T api. Melalui pengenalan akan pundak pegunungan. Bulunya tebal berlinang. Dalam waktu singkat ikan sudah ada yang menyambar. Bila dipanggang bara api bisa padam. Tanah luas yang berlumpur semakin lebar mengikuti jalur sungai. Binatang buruan begitu banyak dan jinak. udara panas itu tetap mengganggu. membuat Ronggur tidak kerasan memakai sehelai kain atau kulit binatang di bagian dadanya. ditanamnya batu besar dan disambungkannya pada salah satu bagiannya. Terkadang sampai berhari-hari mereka mengadakan pemburuan. Dibiarkannya dada telanjang. Pancing tidak perlu berlama diumpankan. Pancing yang diumpankan Tio selalu mengena. Ikan yang cukup besar. Di garis batangnya melingkar. Sudah agak menjauh. tambah luas. . Dan. Lalu menatap ke arah hilir sungai. di situlah kampung halamannya. Ronggur selalu menelitinya dengan seksama. hutan lebat hijau di mana-mana menampung penglihatan. Pepohonan tidak lagi di tepian sungai seperti di hulu. Arus sungai tambah perlahan. Karena lemaknya. bila bosan dengan ikan sungai. Sedang pada tepi sungai. Ronggur dapat menduga bahwa di balik pegunungan yang semakin menjauh itu. Membuat mereka harus mengayuh terkadang.bertambah jauh di belakang sudah membiru. Setiap hari tepian sungai bertambah luas. tanah berlumpur yang mengiring jaluran sungai. Bila mereka hendak pulang ke sana melalui jalan darat. mereka harus menaklukkan pundak bukit itu.

Lengket dan tidak mengenakkan perasaan.Digenggamnya tanah itu. Terkadang diciumnya dengan hidung. awas." Ronggur berenang sekuat tenaga. sewaktu Ronggur berenang mengikuti perahu yang menghilir. sekelompok binatang yang sedang berendam di tanah lumpur. Panggada juga turut digunakan. Jalan satusatunya untuk mempertahankan diri. Diperhatikan lunaknya. sedang dia. mereka temui pohon yang berbuah. Sedang di hutan yang semakin menjauh dari tepian sungai itu. walaupun matahari cukup terik. Lalu terus mengayuh. Udara seperti itu tidak pernah mereka temui di sekitar kampung halaman. Ini tidak. bergerak. Cepat Tio mengatakan. tapi cepat kering disapu angin lalu. agar keringat melengket itu bisa menghilang untuk datang dan untuk dihilangkan lagi. dan menyelam. Cepatlah ke perahu. Walau terkadang matahari dilindungi awan. lalu mengejar. dengan mempergunakan kampak. berenang. Perahu agak oleng sewaktu Ronggur menaikinya dari satu sisi. tombak. Alangkah terkejutnya mereka. Binatang itu memburu. dari lumut lumpur dia tahu bahwa tanah yang mereka temui itu lebih lemak dan subur dari tanah di kampung halaman. "Ronggur. Tapi. mencucuknya. apakah bau lumpurnya sama dengan bau lumpur yang ada di kampung halaman. panas itu masih tetap terasa. Membuat mereka terkadang seharian hanya memakan buahan saja. Buahnya lain dari buah mangga yang mereka kenal di kampung halaman. Membuat mereka sering terjun ke dalam sungai. Binatang itu terus mengejar. memukuli setiap ada binatang datang mendekat ke perahu. Lebih enak dan lezat. . Membuat tubuh mereka selalu berkeringat. Tubuh seperti berminyak jadinya. Hanya udara yang bertambah panas itu saja yang membuat mereka agak merasa tidak senang. Ronggur menyuruh Tio terus mengayuh. pada suatu hari.

Karena itu kulit binatang itu mereka bawa. Bila mereka terus melalui tanah lumpur itu mendekat ke tepian hutan yang semakin jauh. lebih dulu ada tanah yang hanya ditumbuhi ilalang. kulitnya cepat kering dan dapat dilipat. Walaupun belum pernah mengenalnya namun naluri mereka dapat memastikan bahwa binatang itu binatang air yang membahayakan. sebelum tiba ke tepi hutan. Digantikan gelagah dan daun nipah." sahut Ronggur. sampai ke . Terapung. Bisa ditebang pohonnya untuk dijadikan persawahan.Satu dua ada yang mati di antara binatang itu. "Inilah dia. Tidak tahu mereka dari mana datangnya air keruh itu. Pepohonan semakin jauh dari tepian sungai. Binatang yang mati dan dihanyutkan arus mereka tangkap. Air sungai tidak sebening di hulu lagi. Menyusuri sungai. Gembur." kata Ronggur. "Tidak. Tanah juga lembut. Karena itu daging binatang itu mereka biarkan saja membusuk. Bila digantungkan di pinggang kelembutannya selalu mengikutkan gerak-gerik pinggang. Tapi. Kita harus tahu. bagus untuk ditanami. Ekornya bergerigi dan begitu keras tampak." "Apakah kita sampai di sini saja?" tanya Tio. bisa berobah menjadi keruh. Sudah mulai keruh dan kotor. begitu halus. Mulutnya menganga lebar hendak menelan saja. Binatang itu belum pernah mereka lihat. Lihat. Ronggur tetap memperhatikan dan mempelajari perobahan bentuk tepi sungai. Begitu pandai berenang. Bertambah ke hilir bertambah banyak anak sungai bersatu dengan sungai itu. Kenapa air yang tadinya begitu bening. "Inilah tanah yang kita cari. Bisa dibuat menjadi kantong tempat menyimpan alat. "Kita harus meneruskan perjalanan. Lumpurnya bertambah lembut dan bertambah dalam dasarnya. Dagingnya kurang enak dimakan. Tanah landai yang sudah lama kumimpikan. tepi hutan tidak berapa lebat.

Supaya ada air tawar. ada semacam getaran mengganggu jalan perahu. Di sana mereka harus menggali tanah membuat sumur. Ronggur memperhatikan ini semua. Langsung mencari tanah yang agak tiriggi." kata Tio. "sungai yang ada di kampung halaman. Harus lebih ke atas lagi. Sambil terus memperhatikan perobahan pada permukaan air. di mana muaranya. Bisa membuat padi busuk." "Kebiasaan memang begitu. Di saat begitu arus sungai mengencang ke hilir. Berombak. yang tidak sebesar sungai ini. Lalu mereka meneruskan penyusuran. Dan. dari mana air itu datang. Bertambah ke hilir. Karena sering tergenang." "Biasanya. di saat itu. Dan. Terkadang sampai ke pucuk digenangi air. Arus menghanyutkan . T anah lumpur dan tumbuhannya. belum dapat kupastikan mengenai sungai ini. Sehingga enak berlayar."' jawab Ronggur. di samping arus semakin perlahan. Ada kalanya perahu tidak dapat laju biar setapak pun ke depan. Di muara tanah landai akan tambah lebar lagi. Tapi. Walau mereka mengayuh sekuat tenaga. Sehingga mereka harus buru-buru mendarat ke tepi. permukaan sungai naik. tidak baik dijadikan persawahan. Itu sangat penting. Membuat mereka takut pada mulanya. setelah beberapa lama. Air menjadi sangat keruh dan asin.mana sungai ini. Untuk bermuara ke danau. Lalu dapat memastikan bahwa tanah lumpur yang di tepian sungai benar. sungai menjadi menggeliat. air sungai susut lagi. Kenapa permukaan sungai menaik. Tidak perlu mendayung. Dan. "Aku hanya bertanya. Ada semacam tenaga menahan. Apakah sungai ini juga akan bermuara ke danau?" "Danau apa?" tanya Ronggur pula. bermula dari kaki bukit. gelagah dan daun nipah menjadi tergenang. ke tempat yang tidak dapat memastikan.

Sehingga perahu mereka begitu lajunya dihanyutkan kembali ke hilir. Mereka terus melawan. Malah hendak disorong ke belakang. Gelombang sungai mulai menggeliat. Kemudian datang pula saat permukaan air sungai naik. itu yang perlu kita ketahui. Kemudian diputuskannya untuk terus melayari sungai." jawab Ronggur. Ronggur bertambah was-was. Berhadapan dengan keadaan baru ini. saat permukaan sungai naik telah tiba. mereka berdua terus berkayuh melawan air yang menyongsong itu. diperhatikan dan disesuaikan waktunya. Kantuk telah membawa mereka ke alam tidur. Dicocokkan dengan waktu peredaran bulan dan bintang. mereka dapat melepas lelah. Walau malam sudah bertambah jauh. Agar tahu dengan pasti. Sambil T io berkata. Walau tidak ada ditemui kemajuan. Menjelang subuh. Mereka harus mengayuh dengan sekuat tenaga. dan apa lagi yang akan ditemui pada perobahan sungai?" "Justru. Walau mereka sudah berkayuh dengan sekuat tenaga. Perahu terus dihanyutkan arus sungai. mereka terus di dalam perahu dan terus mengayuh. mereka tertidur. Perahu tidak bisa dikayuh. Malah mereka seperti disorong ke belakang. Biar permukaan sungai menaik atau menyusut. arus mati. Dan. Berkayuh dan berkayuh. Mereka terus berlayar. terus mereka lawan. Arus sungai menyongsong dengan kuat. terasalah permukaan sungai kembali menyusut. Tapi. . kembali ke hulu. Karena begitu capek. Perahu seperti dihanyutkan kembali ke hulu.perahu. di mana keadaan sekitar dan kejadian dapat dilupakan. "Apa lagi yang akan terjadi. Di saat begitu. Tapi. apa sebabnya dan apa akibatnya pada orang yang berlayar di saat begitu. Untuk tiba pula pada keadaan. Saat sungai menaik permukaannya dan saat sungai kembali ke tarap biasa.

Buru-buru Ronggur menyuruh T io duduk. Cepat mereka mengayuh ke tepian. Di bagian punggung. Tidak bisa diminum. Tapi. Agak jauh kedalam bermula jajaran pohon kurus panjang dan hanya di bagian puncaknya ada daun kelapa. Airnya. Membelalakkan pandang. di sekitarnya. Mereka mendaratkan perahu jauh ke . "Danau apa ini?" "Aku tidak tahu. atau daratan yang hijau. melihat keluasan yang terhampar di depannya. Si belang berada di haluan perahu. Tidak terkungkung sedikit pun. Pada penciuman terasa keluasan dan kebebasan udara. kiri dan di hadapan. Nyiur." Tio memilin mata. Alangkah terbelalaknya mata Ronggur sewaktu di hadapannya. "Danau. Pada sisi kanan. pasir putih. Karena silau dan karena gonggong si belang. Lalu menggonggong panjang. Beda dengan pasir pantai danau yang mereka kenal di kampung halaman. mencerminkan mukanya ke permukaan air. Benda ditepian yang menerima sinar matahari seperti menyala itu. Kita menemui danau.Sinar matahari sudah kembali menampari wajah alam dan wajah mereka sendiri yang tertidur di perut perahu. Kemudian dipantulkan air ke atas kembali. lalu: "Lihat. lihat Tio. Sinar matahari mencurah ruah. perahunya terapung dan mengangguk-angguk diperma inkan riak. Kita tidak tahu ke mana berakhir air yang maha luas ini. air itu bertemu dengan kaki langit demi kaki langit. Sehingga lebih silau. tapi danau yang sangat luas. Di sekitarnya. Berjajar memagar pantai. jauh sudah." "Marilah ke tepi. tepian. alangkah asin. danau yang maha luas. mereka terbangun." ajak Tio. air yang maha luas mengitari mereka. Cepat Ronggur dan Tio mengayuh." akhirnya Tio mengatakan dengan kagum. Tepian memutih ditimpa sinar matahari penuh.

." Sambil menatap keluasan air. Mereka lalu kenal juga binatang laut yang ada di tepian yang juga enak dimakan. namun sangat banyak mengandung ikan. Tidak punya prasangka pada Ronggur dan Tio. dan di tanah yang ditumbuhi ilalang sebagai pinggiran hutan. Walaupun daun nipah sudah kering. dengan lagunya sendiri. Dengan daun nipah itulah. Ronggur dapat melemparnya. Diseling T io. jendelanya jauh lebih besar dari jendela rumah yang ada di kampung halaman. Tambah siang ombak tambah membesar. Berdesir angin yang melewati atau membuat daun nyiur melambai. Sehingga sambil bermalasmalas. ayam hutan. Tiangnya agak tinggi dibuat dari pohon bakau yang panjang dan lurus lagi kuat. Sedang pada hutan di sebelah punggung mereka. Mulai dari burung. Pada tanah lumpur sekitar muara sungai. mereka buat atap sebuah dangau. Karena udara panas.darat. gajah. menari dengan gaya yang bagus dan begitu jinak. Ikan yang besar. Si belang menjemputnya. Beberapa ekor kena dan jatuh ke tanah. Ronggur memanjat kelapa lalu memetik buahnya yang masih muda. Sekuat kita memakainya. Walaupun airnya asin. banyak menyimpan binatang buruan. "Di sini kelapa tidak akan habis. Sekarang mereka sudah punya rumah kembali. Burung putih berterbangan ke sana ke mari. bertambah rimbun pohon gelagah dan daun nipah. Sekarang mereka sudah punya danau yang sangat luas malah. Mereka minum air kelapa muda. putiknya akan cepat mendatang lagi dan berlipat ganda banyaknya. diselang seling pohon bakau. namun tetap kuat dan tampak berminyak. kijang sampai pada binatang buas yang ditakutkan: Harimau. Yang bergelung-gelung ombaknya dan memecah di pantai. Dengan moncongnya si belang menggigit dan membawa ke tempat mereka berdua duduk. Menambatkannya pada pokok kelapa.

Tanah lumpur itu. Tapi. Arus ombak menghanyutkan perahu ke tepian. perahu agak tertahan menuju muara. Dan. dibuka aliran parit. Tergantung pada hari bulan. sangat baik.beruang. bila pasang naik tanah lumpur itu tergenang. Dekat sawah itu mereka dirikan dangau. tempat istirahat atau bermalam. Tapi. bila merasa malas pulang ke rumah di tepi pantai. Waktu itu bila berkayuh menuju tepian dari tengah. Pada hari pertama Ronggur tetap memperhatikan mula dan arah angin. pasang air sungai yang membuat permukaan sungai naik dan sungai punya arus ke hulu. di samping air hujan. Sehingga ada pengairan ke sawah itu. Mereka harus merambah hutan belukar agak ke pedalaman. jauh dari tepi sungai. Bila air sungai pasang. bila air sungai surut perahu dilarikan arus ke tengah danau yang maha luas itu. Waktu siang hari angin dari arah danau luas bertiup ke darat. dan di tepian sungai berpaya. . menjelang dini hari. bertiup ke arah danau luas itu. agak menusuk ke tengah hutan. harus memilih tempat yang agak tinggi dan jauh dari pantai. Agar lebih mudah mengerjakan sawah percobaan itu. walaupun tanahnya lumpur dan lembut karena selalu tergenang. Akhirnya dapat mereka ketahui. Begitu pula saat sungai surut kembali. binatang air itu. buaya. Bila air surut permukaan sungai merendah. angin daratyang bermula dari hutan di punggung mereka. tidak baik dijadikan persawahan. Waktu itu sangat baik untuk memulai pelayaran ke tengah danau luas itu. Bila mereka hendak membuka sawah percobaan. Mereka cari tumpukan tanah yang agak datar di hutan dan ditumbuhi ilalang. terkadang sampai sedalam dada. Sedang waktu malam hari. tidak menetap saatnya. rawa itu kembali tampak. Kemudian dari hulu sungai yang belum asin airnya.

Merunduk ke tanah karena berisi. antara marga. Setelah beberapa lama tanah yang digarap itu digenangi air yang dialirkan ke sana. yang dapat mengurangi pertentangan yang bisa timbul antara kaum semarga. tanah itu tidak melapisi batu. Tanah yang mereka temui tanah yang dimimpikan setiap orang di kampung halaman. Waktu menancapkan cangkul ke dada tanah. Beberapa bidang lagi tanah telah diolah menjadi sawah percobaan. Pada malam hari. Ditiup angin . Perang yang bisa terjadi di antara mereka. yang mengakibatkan kematian dan kemelaratan. T anahnya cepat lembut. bila telah digenangi air. sawah kering. Cepat lunak dan cepat menjadi lumpur hitam yang lembut. menjanjikan akan mendukung bulir padi yang bernas. huma. di ladang dengan hijau gemuk. Bila batang padi telah bertumbuhan di sawah. walau itu yang diharapkan. kerja Ronggur dan Tio tinggal mencabuti rerumputan. Kemudian bermunculan di atas tanah batang padi yang gemuk hijau. Usaha percobaan itu terus diluaskan ke tanah yang lebih tinggi dan agak susah didatangi air parit. mengambangkan kesuburan. Itulah ladang. Tanah itu begitu gembur. agar pertumbuhan batang padi tidak terganggu. bila tanah habungkasan ini ditunjukkan pada mereka. tanah itu cepat menghitam. tanah begitu cepat menerima taburan bibit. telah dihiasi bulir padi dengan mencuat ke atas tegak lurus. Tidak tersangkakan. Kemudian batang padi yang hijau gemuk itu.Persemaian telah digarap. bisa dihilangkan. mengadakan penjagaan yang dibantu si belang. Di sana juga tanah dengan cepat menerima taburan bibit. Walau tidak punya air selain air hujan dan yang dikandung tanah. agar rombongan babi hutan tidak turun dari hutan merusak sawah dan ladang percobaan itu. Ini semua menanam harapan yang lebih sempurna dalam dada. antara suku dan antara luhak. tahulah Ronggur dan Tio.

Padi yang menguning. Lagi pula. hasil panen percobaan itu tidak akan habis mereka makan sampai tiga kali jangka musim panen. Saat mardege tiba. Mau dijadikan lumbung padi. tangkainya kokoh mendukung. sambil melepas lelah dari kerja berat di sawah semusim panen itu. yang didirikan tidak jauh dari sawah percobaan itu. musim panen lebih pendek masanya di tanah habungkasan itu dari yang mereka kenal di kampung halaman. Dan. setiap itu pula. Atap daun nipah yang tidak mudah bocor. yang banyak ditemui di muara sungai. kemudian dipanen. malah berlipat ganda luas air yang mereka temui. Lalu hasil panen itu disimpan ke dalam lumbung. mereka tidak perlu lagi mengadakan pancang sebagai batas di danau. dan bulir yang belum berisi itu bergoyangan perlahan. Kemudian bulir itu semakin merunduk ke tanah. Membuat perasaan lebih kagum lagi atas ciptaan alam yang hebat dan sempurna itu.terkadang. Kekayuannya mereka ambil dari hutan sekitar yang begitu dekat. dan hati tambah berterima kasih atas tuntunan Mula Jadi Na Bolon. Bermula dari keluasan dan berakhir pada keluasan. Setiap tambah jauh mereka berkayuh. bila untuk mereka berdua saja. yang didirikan tidak jauh dari sawah percobaan itu. Ronggur dan Tio. Ciptaan Mula Jadi Na Bolon. merunduk menguning kemudian dipanen. Ronggur dan Tio harus memperbesar dangau kecil itu. Lalu hasil panen itu disimpan ke dalam lumbung. Tidak bertepi dan tidak berujung. Ronggur tahu. bila luas danau begitu rupa dihadiahkan pada orang di kampungnya. Juga pelanggaran perbatasan . Saat mardege tiba. Mereka tahu. hingga mereka bisa tiba ke sana. seharian mengadakan perjalanan menyusuri tepi pantai. sebagai pertanda bahwa pancang itu perbatasan antara satu marga dengan marga lain tepi danau mana yang boleh di tempati suatu marga menangkap ikan.

Walau pada mulanya mereka menentangnya. ke tengah marganya yang sudah mencoret namanya dari silsilah marga. Di danau yang maha luas itu. setiap orang dari setiap marga mana saja pun. Rindu pada ibu. Dia harus mewartakan berita penemuannya itu ke tengah keluarganya. dan menganggap diri yang dikurnia dewata seorang gila. pada bekas Datu-Bolon yang sudah tua itu. bapak yakin. kelanjutan keluarganya. Janji harus ditepati. yang bisa menimbulkan sesuatu peperangan. Agar manusia itu dapat pula mencicipi nikmatnya. lalu dapat merasakan kenikmatan yang terkandung dalam kebenaran itu. tambah sering mendengung suara bekas Datu Bolon yang sudah tua itu. janganlah kau berkecil hati. karena itu janji. harus dengan tabah pula menyampaikan warta kebenaran itu pada orang yang ada di sekitarnya. Walau begitu pahitnya penerimaan orang di sekitarmu atas cita-citamu. "Anakku. Sekitar yang bermula dari keluasan itu dan berakhir pada keluasan itu. Seorang manusia yang ditunjuk dewata menemui kebenaran. menjanjikan kebahagiaan pada setiap orang. katanya selalu. Untuk kelanjutan hidupnya. keinginan untuk me lepaskan mereka dari berbagai rupa ancaman. sering menimbulkan perselisihan dan pertengkaran. melanjutkan hidup berkeluarga dan keturunan. bila kau menemui tanah . Menangkap ikan sekuat tenaga. kemauan bekerja. Janji yang selalu mengingatkan kampung halaman. yang mempertajam perasaannya akan bahaya yang mengancam kerukunan hidup di kampung halaman. kalian akan menemui tanah habungkasan. Karena itu anakku. Pada pendengarannya. hingga akhirnya turut merasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh kebenaran itu. Rangsang lain mulai mempengaruhi pikiran Ronggur.di danau di kampung halaman. boleh pergi ke mana suka. Mereka tidak perlu dihancurkan. Modal yang pokok hanya satu. tapi perlu diinsafkan agar mereka tahu.

Perjalanan yang tentunya memayahkan. melawan arus. dan usaha menaklukkannya. Karena itu. Karena janji yang dibuat lelaki. lalu melanjutkan." kata orang tua itu. Anakku. tapi perjalanan untuk memenuhi janji yang dibuhul sebagai lelaki bersikap jantan. Ronggur telah menentukan kapan mereka memulai perjalanan pulang itu. dia sudah dapat menggambarkan suasana perjalanan itu dalam kepala.habungkasan di rantau. tapi. mewartakan penemuan itu. telah dapat diduganya. kau harus kembali kemari membawa berita ria itu." "Terima kasih. Karena itu." katanya. sangat susah. dari pengenalan akan celah pertemuan bukit dan usaha untuk menembusnya. Tio diam saja mendengarkan sambil menundukkan kepala. sehingga orang lain tidak dapat menikmati arti dan nilai penemuan itu akan berkurang. Lantas selanjutnya dia mengatakan. agar anakmu ini dilindungi Mula Jadi Na Bolon. Berjanjilah anakku. agar kerjamu tidak sia-sia. sesuatu penemuan yang bisa membuat orang gembira dan berbahagia. Bapak." Dengungan percakapan itu tambah nyata dan jelas." "Doa dan restuku akan selalu mengiringi perjalananmu. dia sudah membayangkan bahwa mereka akan menembus jalan darat." "Aku berjanji. "Anakku. janji seorang lelaki. janji yang kau buat sebagai lelaki. "Doakanlah aku bapak. Dari pengenalan akan pundak bukit. yang memerlukannya. bila keserakahan diri atau dendam yang bersarang dalam dada. untuk terus melawan arus. yang . janji yang akan tetap ditepati. memaksa dan membuat orang yang menemui itu tidak mewartakan-nya pada orang lain. malah beralih pada penemuan itu akan mengutuki diri." "Aku bapak. Berhadapan dengan kebisuan Tio. Harus kembali mengarungi sungai ke hulu. Memaksanya harus kembali ke kampung halaman. penuhilah pula sebagai lelaki yang berhati jantan.

Tapi. digigit oleh gigi sendiri. Kita harus menanti di sini. yang akhir-akhir ini begitu nyata dan jelas. "Tio. Darah Ronggur tersirap dibuatnya. Ronggur mengatakan. Barulah sadar arti perobahan bentuk tubuh istrinya. dingindingin ditelempapkan ke perut Tio dan kening. dia tidak mau lagi pergi jauh-jauh dari dekat Tio. Tambah lama tambah sering dan menimbulkan perasaan nyeri. Sesuatu tekanan mendesak hendak melalui kerongkongan. Namun.tidak menyahut itu. Biarlah perjalanan pulang ditangguhkan untuk beberapa lama. Ronggur lalu berkata. Daun ampapaga itu di dikeringkan di panas matahari. Sambil tersenyum dan duduk dekat Tio. wajahmu pucat." sahut Tio. Dijerangkan terus menerus air panas dalam periuk tanah. Kau sakit?" "Tidak. Bila sudah kering. Dan. Wajah Tio agak pucat waktu tengadah padanya. ditahan. Seperti orang sakit. yang banyak tumbuh di pematang sawah di antara rerumputan. sesuatu akan terjadi. Tio merasakan sesuatu menggeliat dalam perutnya." Cepat Ronggur pergi memetik daun ampapaga. airnya sangat baik buat minuman seorang ibu yang hendak dan baru melahirkan. "Apakah kau tidak ingin mewartakan berita ini pada sanak keluarga? Pada setiap orang. Akhirnya Ronggur tahu. Dan. direbus. Tidak sakit." "Kenapa wajahmu sepucat itu? Apa yang terjadi?" Wajah Tio seperti menanggungkan sesuatu. yang selalu diancam bahaya di kampung halaman? Agar mereka dapat bebas dari ancaman yang selalu menakutnakuti mereka itu?" "Bukan itu alasannya. Bibirnya gemetaran. Tapi. sesuatu rintihan lepas juga dari celah bibir yang dikatupkan. "Kita memang masih belum bisa memulai perjalanan pulang. berupa rintihan dan jeritan. bila pandangnya bertemu dengan pandang Ronggur. Bukan itu. walau Tio selalu . masih tetap berusaha tersenyum.

seorang lelaki. ombak itu menggamitnya.mengatakan. Bayi dimandikan. meniti ombak demi ombak yang begitu besar." Balik Tio yang menasihati dan menenteramkan hati Ronggur. dan perasaan nyeri tambah memaksa Tio merintih. anak kecil itu sudah digendong Ronggur sambil dinyanyikannya. Hari berikutnya. Tio diberinya minum air ampapaga. Hendaknya kehijauan daun padi dapat mengimbangi hijaunya daun pepohonan. Tio harus senyum pada . T idak jarang. "Aku tidak apa-apa. berjalan dengan baik. Setelah melengkingkan sebuah pekikan yang panjang lagi nyaring. Dipotongnya jabang bayi dengan bambu yang ditajamkan pada kedua sisinya. Tak lama kemudian. Tio sudah dapat senyum. Menoleh ke bayi yang baru dilahirkannya. Atau. Tangisnya pertama menantang gemuruh ombak yang memecah di pantai. Tio lalu memelas. juga diharapkan agar anaknya seorang lelaki yang sanggup meniti gelombang yang besar di danau luas itu. Tio menyahut. seperti warta pada dunia bahwa dia telah lahir. Anak lelaki meneriakkan suaranya pertama. Lelaki yang kelak sanggup mengolah tanah yang bidang menjadi persawahan. cukup merah. Tidak usah repot. Pergilah berburu. Dalam kepala terbayang seorang anak lelaki yang sehat. Kening Tio yang berkeringat. atau menangkap ikan. agar orang tidak takut kelaparan." Ronggur pura-pura tidak mendengarkan. agar memulai perjalanan. Lelaki yang dapat memelopori orang menjelajah hutan belantara yang abadi itu. dilap Ronggur dengan sayang. Mencapai daerah baru. dan segumpal daging telah ditayang Ronggur dengan hati-hati. Begitu sehat. cukup umur. sering juga membuat Ronggur harus mengatakan dalam kebingungan. Semuanya akan menjadi beres. "Apa yang harus kuperbuat? ke mana harus kucari dukun?" Dari sela rintihannya. Disunggingkan senyum sebagai sahutan. "jangan repot. Saat kelahiran semakin dekat.

katanya. Memberitakan dan mewartakan. Tiga pundi padi yang bernas dibawa serta. Dia akan tetap mendampingi Ronggur. Tio sudah menjadi seorang ibu. akan mereka tunjukkan sebagai bukti pada orang di kampung halaman. Tio." Tio tidak membantah. Bermulalah perjalanan itu. ibu dan ayah dari anak lelaki yang sehat. luasnya danau yang ada di depanmu. akan penemuan-tanah habungkasan. Ronggur sudah menjadi seorang ayah. Sedang yang ditinggalkan di tanah habungkasan masih banyak benar. Bertambah hari. Bahwa padi yang mereka bawa sepundi dulu sudah menjadi tiga pundi. ke mana saja pun.Ronggur dalam saat begitu bahagia. . . Ronggur selalu mengatakan. "Tataplah dengan mata kanakmu. dan bertambah usia si anak. Kekerabatan dan keakraban berumah tangga tambah terjalin. T idak habis dimakan sekeluarga dalam jangka tiga kali panen. . dan danau yang maha luas ini. "Tio. Mulanya menyusuri sungai ke hulu . anak kita akan menjadi seorang pengarung danau yang maha luas ini kelak. Ronggur sudah menggendong si anak ke tepi pantai bersama Tio. mencapai pantai lain. yang menanti dayungmu berkayuh di permukaannya. Bergaya seorang yang akan cukup kuat dan punya ketahanan serta keberanian. maka Ronggur pun kembali mengatakan. meniti ombak demi ombak yang bergulung-gulung memecah di pantai. sudah waktunya kita memulai perjalanan kembali ke kampung halaman." Bila telah dua kali purnama timbul dan tenggelam. mereka pun memulai perjalanan pulang. ccdw-kzaa 8 Setelah menyediakan segala sesuatu yang perlu dalam perjalanan..

dan memilih tanjakan yang tidak menaik untuk didaki. dan lebih aman daripada menyusuri Sungai T itian Dewata. Airnya begitu bening dan dingin. Lembahnya tambah dalam dan perbukitannya tambah tinggi. seringan mungkin dan yang perlu saja dalam perjalanan. Tambah jauh mereka menyusup ke pedalaman hutan. yang dipanjat Ronggur untuk menentukan arah tempuh. Mereka berusaha. sendirinya pula usaha merintis jalan darat. Mereka sering berhenti di satu tempat sampai dua tiga hari. Melalui pengenalannya akan tanah. yang kelak dapat digunakan jalan pulang pergi antara kampung halaman dan tanah habungkasan. bukanlah bukit batu seperti bukit tandus di kampung halaman. . agar yang dibawa. Tidak tanah tipis melapisi batu alam. Pada sesuatu mata air begitu. Memenggal-meng-gal hutan belantara. perjalanan pulang itu pun. Sejuk. tanah itu sangat baik dijadikan perladangan atau persawahan. selalu menggendong anaknya di punggung. T io. bila kekayuan hutan sudah ditebang. Begitu pula mengadakan tanda tertentu pada sesuatu pohon. hitam mengandung kesuburan.Beberapa potong kulit binatang buruan yang halus hulunya dan sudah dikeringkan dibawa serta. Tapi. Tidak jarang pula mereka temui parit kecil yang bermula dari sesuatu dinding bukit yang bercelah. Jadi. Sedang pundak perbukitan yang juga ditumbuhi kekayuan tua. Mulanya mereka menyusuri sungai ke hulu. permadani alam yang tebal lagi abadi. Baru mereka mulai menempuh jalan darat. bukit tanah yang gembur. bukit dan lembah tambah banyak mereka temui. yang dilingkungi hamparan dedaunan hijau lebat. Sampai tiba ke lempat arus mulai menderas dan susah dikayuh. tahulah dia. Ronggur selalu mengadakan tanda. mempelajari pintasan jalan yang lebih mudah ditempuh. Mempelajari jalur lembah dangkal yang banyak dalam hutan. Tanah di lembah dipelajari Ronggur baik-baik.

Apa yang ditakutkan Ronggur pada mulanya masih tetap tidak terjadi. tidak dapat melempar senyum. beruang. sambil berjaga. tidak jarang pula mereka harus mempertahankan diri dari serangan binatang buas: harimau. Dalam saat begitu. pundak bukit yang memanjang sebagai pagar dan batas tanah dataran tinggi kampung halaman dengan tanah habungkasan.Dalam merintis jalan itu. Bila si belang meringis dan mengarahkan penciumannya ke satu arah terus-terusan. Tapi. sarang binatang. agak pendek di bawah naungan yang tebal itu. tidak jarang Ronggur dengan dibantu si belang. bila lama-lama mereka berada di sana dan tidak ada sesuatu yang menyakiti tubuhnya. harus mengadakan perlawanan mempertahankan diri. Sehingga terasa. Tio memeluk anaknya. Ronggur selalu berusaha agar mereka dapat tiba kembali ke tempat air terjun itu. menghambat sinar matahari menimpa tanah. Anak mereka yang sudah mendekat ketiga purnama usianya. Penciuman si belang banyak membantu keselamatan rombongan kecil itu. Mereka terus menyuruk di bawah hamparan dedaunan hijau yang abadi itu. Dedahanan kekayuan yang berjalinan mendukung dedaunan lebat. Atau. kalau kepergok. Dari sana baru mereka tentukan. Batu jaluran yang ditembus air sungai yang . T erus berusaha mengarahkan langkah ke tempat air terjun itu. Menyisih dari tempat sesuatu binatang buas. dia tersenyum kembali. Sedang Ronggur mengarahkan tatapan si anak ke air terjun yang memutih kapas itu. jangka siang hari. celah bukit mana yang harus diterobos menuju kampung halaman. Tapi. dan kelompok gajah. dan sudah dapat melempar senyum di saat dia merasa senang. Dan. di tengah hutan tidak jarang mereka bertemu dengan kumpulan binatang buruan yang enak dagingnya. Tapi. sebaik dia turut mendengar suara air terjun yang mengguruh. yang harus ditaklukkan. cepat mereka mengalih langkah.

Tari warna yang sempurna. . Anak mereka ditidurkan di tanah beralaskan kulit binatang buruan yang lembut. benda putih diambangkan ke atas terus menerus. payah ditemui binatang buruan. Lagi pula dinding bukit sebelah sana. Ekornya dikibaskan." kata Ronggur. Tapi. menaklukkan pundak demi pundak bukit. mereka namakan air terjun itu. Agar memberi ruang yang lapang bagi mereka. Bila lama kelamaan ditatapi jatuhnya air itu dan kuping biasa kembali mendengar suara mengguruh itu. perlu kita istirahat untuk beberapa hari. Dari sini kita akan mulai mendaki kaki pegunungan. Sambil menggendong anaknya. agar tidak ada serangga hinggap ke wajah anak yang sedang tidur nyenyak itu." "Harus di sini kita istirahat?" tanya Tio. Agar tenaga kita pulih kembali. agar mudah kita memperoleh air. "Ya. Menjelang senja Ronggur dan Tio berhenti menggali lobang. yang menyerupai aum harimau. Perjalanan begitu tentu berat. Di sampingnya duduk si belang seperti menjaga. Betapa indah. Aku akan memburu binatang buruan. "Lihat. "Kita istirahat di sini untuk beberapa hari. agar cukup daging untuk dimakan nanti dalam perjalanan. Ronggur dan Tio bekerja sama menggalinya. setelah beberapa lama mereka terpukau di tempatnya tegak. Jalan memotong ke kampung halaman. Tio memaling wajah pada Ronggur tanpa sahutan.terjun. dan berusaha menerobos celah bukit. masih tetap kokoh pada tempatnya. Melepas lelah. Mata mereka patok menatapi permainan warna pelangi aneka rupa berpadu dengan air yang memutih kapas. lihat Tio. Untuk dijadikan lobang perlindungan. Karena itu. gemuruhnya tetap menderu. Sampuran Harimau. Ronggur mengatakan. Dan. "Tio." Mereka menggali lobang perlindungan yang agak luas. terdiri dari batu alam yang tidak keras. Tidak terjadi reruntuhan. Mudah digali. Di pundak bukit gundul itu.

Mencampakkan pandang ke sekitar. Sejak lahir anak itu sudah disusukannya dan sudah berapa lama itu berlangsung. sesuatu perasaan selalu menggeliat dalam dada. tahulah dia. air terjun. dan mulut anak itu sudah mengisap-isap muncung buah dadanya. dia duduk berjuntai di mulut gua. di bawahnya tanah habungkasan yang mereka temui. kenapa ada nyanyian alam terpendam pada dedaunan yang berdesir bila disentuh angin lalu. sumber kasih sayang abadi bagi seorang anak yang lahir dari rahimnya. dia memicingkan mata menikmati kesempurnaan rasa bahagia di saat mulut anaknya mengisap muncung buah dadanya. Sayang sekali. Beberapa ekor burung terbang di udara. bila saat menyusukan tiba. mencapai sarang. tidak kedengaran. Tapi." Tio mengikuti telunjuk jari Ronggur. lagu yang menyuarakan perasaan kasih sayang: Pejamlah mata sayang seorang kenapa harus kerisik seperti . Tahulah dia. Tidak jarang dalam saat begitu. Bila anaknya haus. menuju hutan belantara luas. Sedang mulutnya akan mendendangkan lagu seorang ibu. Oi sebelah kanan. dan mengitari itu semua. cicitnya tenggelam ditelan gemuruh air terjun yang jatuh. meminta ditetekkan. kenapa pekikan keras lagi sakit waktu melahirkan sang anak bercampur nikmat. rasa keibuan. Pada hari berikutnya.Begitu indah kalau hujan tidak turun atau kalau kabut tidak menyungkup. Nanar mereka menatapi tari warna pelangi yang aneka ragam itu. tinggal Tio saja yang meluaskan mulut lobang perlindungan dan memperluas ruang dalam. Ronggur sudah pergi berburu bersama si belang. kaki bukit memanjang lagi tinggi. mengagumi lukisan alam yang sempurna. bukit gundul.

Tio menjemurnya di bawah sinar matahari. "kita harus banyak menyediakan daging. Tio selalu .dedaunan berhalau ditiup angin lalu dunia terhampar di ujung kakimu Pejamlah mata anakku seorang menanti bapak kembali pulang dari tengah hutan belantara binatang buruan tersandung dibahu Pejamlah mata intanku sayang bila malam jatuh. bulan gemintang kudekap kau pelukanku hangat Pejamlah mata buah hati bunda subuh tiba mula hari baru berjuta utasan cahaya matahari menyinari padang kembaramu Tidak jarang Ronggur pergi berburu seharian. Dia sangat giat mengumpulkan daging binatang buruan. Begitu tekun. Bila Ronggur tidak pergi berburu. Dia tidak dapat mengucapkan melalui bentuk kata yang cukup tepat. dia telah merasakan. dia tambah sering mencampak pandang ke air terjun itu dengan berlama-lama. Suatu perasaan merangsang dirinya. Boleh jadi di pundak pegunungan gundul sana." Mereka potong tipis daging binatang buruan itu. Sedang di siang hari. Sesekali dijinjingnya ikan yang dipancingnya. agar cukup kering dan tahan lama. payah dijumpai binatang buruan. Sedang mulutnya akan cepat mengatakan. Tapi. Kemudian mereka panggang di atas bara sampai kering. terbayang di wajahnya.

aku tidak kerasan di s ini. "kurasakan. "Bertambah hari. Ronggur menyahut. yang ditimbulkan air terjun itu. Biji mata Tio begitu bening tapi jelas tampak tidak mengandung pengertian akan apa yang diucapkan Ronggur. sambil mengatakan. namun seucap kata belum melepas dari bibirnya." sahutnya. . Ronggur merasakan." "Kenapa begitu?" "Perasaan itu seperti membisikkan padaku bahwa a ir terjun ini mengandung suatu manfaat." Seketika mereka bertatapan tanpa mengucapkan kata. aku merasa takut digertak suaranya yang terus menerus mengguruh itu. Lama bibirnya bergerak-gerak. "Ada apa Bang?" tanya Tio. Membangunkan Ronggur dari kebisuannya." Sambil mengalih pandang pada Tio yaYig berdiri dekatnya. alangkah susahnya dia untuk mengucapkan yang sedang bergolak di dadanya." "Manfaat apa?" tanya Tio terbodoh. Sedang Ronggur kemudian mengalih pandang ke air terjun itu. Malah dibuatnya sesuatu rasa bersyukur. "Ada sesuatu yang kurasakan. "Manfaat bagi kehidupan manusia. Tak bosan. kulihat abang bertambah tekun melihatnya. justru karena adanya air terjun ini. Kalau tidak bersama abang. Dan. Sekali waktu Tio mengganggunya dari menung menatapi air terjun itu. Tio. "memang benar dugaanmu. Perasaan itu melumpuhkan segala ketakutanku pada air terjun itu." "Tapi. Menjanjikan sesuatu kebahagiaan pada manusia. Yang timbul dari air terjun ini." Lama Ronggur menumpu pandang ke mata Tio.memperhatikannya di saat begitu. "Aku tidak tahu Tio.

Akhirnya dia sendiri ingin mendengarkan yang dirasakan Ronggur. maka hidup manusia akan lebih berbahagia. binatang air yang menakutkan dan buas itu tidak bisa datang ke Danau Toba." Tidak dapat Tio membumbui cakap Ronggur. Jangan lagi kutuk dia. Sekarang memang yang kita lihat. haruslah merasa bersukur karena dia ada. darinya timbul bencana saja. "Kurasakan air terjun ini mempunyai suatu tenaga yang sangat besar dan kuat.membuat arus sangat deras. nanti. “jangan lagi takut padanya. Coba kalau diri diterjunkan bersama air terjun pasti lumat. maka tenaga yang disimpan air terjun ini bisa memberi arti yang bernilai bagi -kehidupan manusia. karena dia menjanjikan sesuatu kebahagiaan bagi kehidupan manusia di masa datang. bila orang menggunakan tenaga yang terkandung di air terjun ini. Darinya timbul anggapan selama ini. Bersukurlah." Tio mencampak pandang ke tempat air terjun itu jatuh." kata Ronggur selanjutnya. entah kapan. "Di samping itu. Tapi. Tapi. Karena tempat jatuhnya begitu tinggi dan curam. Air yang jatuh berputar pada lingkaran berbentuk kolam. Namun dia tidak membantah seperti kebiasaannya yang tidak mau membantah cakap Ronggur. masih ada manfaat lain dikandung air terjun ini. bila tenaga yang terkandung di air terjun ini digunakan manusia untuk kehidupannya. walau dia tidak dapat mengartikannya. yang bisa . "Karena itu. Dan. arusnya gelisah membentuk suatu pusingan yang cepat." "Apa lagi?" tanya Tio mendesak. Selalu perasaanku berkata begitu. Sungai Titian Dewata jatuh ke ujung dunia. Hingga tak seorang pun selama ini berani menyusurinya untuk mencapai tanah habungkasan. Orang kelak akan dapat menggunakannya untuk kehidupannya." "Itu boleh jadi." sahut Tio berusaha mengerti.

menuruni lembah batas perbukitan yang berlapis-lapis itu untuk mendaki lagi. atau terkadang berlari di depan. Lalu lembah dataran tinggi. Setelah beberapa hari istirahat dan tenaga mereka sudah pulih kembali. Sesekali menyusur di tebingnya. Perjalanan mereka agak lambat. tidak mau henti sebelum matahari tenggelam. Perjalanan yang memayahkan. akhirnya lapisan bukit itu dapat ditaklukkan. Jalanan yang harus ditempuh. semua perasaan itu ditekannya habis-habis. Dengan mengenali pundak bukit mencari celah pertemuan bukit. telah berada kembali di hadapan pandang. agar dia tidak membantah yang dikatakan dan dirasakan Ronggur. mereka melanjutkan perjalanan pulang. mencapai sesuatu celah. Di sekitar tepian danau. bertumpuk rimbunan bambu duri. Tidak mengenal lelah. Si belang mengikut di belakang. Tio merasa ngeri melihatnya. Sedang Ronggur memikul peralatan. yang dilingkari lapisan bukit demi bukit melingkar dan memanjang. T api. T io takut dibuatnya. rombongan kecil itu terus mendaki pundak demi pundak bukit yang berlapis-lapis. mengitari Pulau Samosir. Dan. langsung mendaki bukit. terkadang hanya sepundak atau dua pundak bukit saja yang dapat mereka taklukkan.menenggelamkan lalu menghancurkan sesuatu yang jatuh ke sana. tapi perasaannya belum juga merasakannya. tenang. Mereka bertatapan untuk kembali mencampak pandang ke lembah perkampungan yang sudah sekian lama ditinggalkan. agar terlindung dari serangan angin yang cukup kuat. Ronggur selalu memilih celah bukit tempat bermalam. bersama kebiruannya yang damai. pertanda perkampungan. Dalam sehari. Tio menggendong anak mereka. Malah dia ingin turut merasakan yang dirasakan Ronggur. lalu menembusnya untuk kemudian terus lagi mendaki sampai pundak bukit ditaklukkan. danau kesayangan. Menggonggong dan menggunakan penciumannya. lembah kampung halaman. Di tengahnya. .

Terlebih anak mereka. telah kita laksanakan dengan berhasil. "Tio. menembus Sungai Titian Dewata. Kita harus menaklukkan dan menguasai alam pikiran orang di kampung halaman. di hadapan kita. Tapi. Karena itu. ananda. Merombak keyakinan seseorang. Bila hasil perjalanan ini kita sampaikan pada mereka. Tangan anak itu dituntunnya menunjuk ke arah perkampungan sambil mulut Ronggur berkata. ketahuilah Tio. Kau telah mengorbankan alam pikiranmu sendiiri untuk mengikuti jejakku. mengecap nikmat udara kemerdekaan. aku cinta padamu. Akan jauh lebih payah daripada menaklukkan pundak bukit yang cukup tinggi. mereka telah memakai kulit binatang buruan yang halus bulunya. Dalam hayalnya Tio telah mengatakan pada diri sendiri bahwa dia akan membawa sisa anggota keluarga marganya ke tanah habungkasan. Yang mungkin menyakitkan hati.Ronggur mengambil anak mereka dari gendongan T io. satu perjalanan panjang. menggantinya dengan kepercayaan baru tidaklah kerja mudah. maka sendi kepercayaan mereka berarti digoyang." Mereka menarik napas lega. Tiba-tiba saja Ronggur memecah kesunyian itu. Kaulah seorang perempuan yang telah berani menemani aku menempuh satu perjalanan yang menantang keyakinan orang sekitar yang telah turun temurun menguasai alam pikiran mereka. "Itulah kampung nenek moyangmu. setelah sekian lama harus menjadi budak orang lain. mengarungi rimba alam abadi. agar bisa bebas dari nasib jelek yang menimpa marga." . yang mempercayai bahwa Sungai Titian Dewata berakhir ke ujung dunia. Diselimuti baik-baik sehingga tidak merasakan udara dingin. atau membahayakan jiwa. karena udara kembali dingin. kau harus tabah nanti menerima segala sikap yang mengejek dan menantang. Walaupun dengan susah payah. Tapi. Dan. menanti tugas baru. Aku berhutang budi padamu dan aku cinta padamu. Pekerjaan begitu tidak akan mudah. Dia membayangkan betapa bahagia keluarga marganya. terutama Tio.

" jawab Ronggur. karena terus menerus menanggung rindu dan tidak tahan mendengar ejekan yang diarahkan pada anaknya dan padanya sendiri. Kenangan terhadap mereka bertambah tipis lalu menghilang bersama bertukarnya penanggalan hari." Orang di kampung halaman sebenarnya telah lama melupakan mereka berdua." Sedang ibu Ronggur.Lama Tio terdiam. mereka jaluran paman anakku. tenggelam. Mendambakan bahagia dalam hidupnya. Matinya. "Ronggur. pulang ke tempat asalnya. Kemudian sama-sama mereka mencampak pandang ke lembah di bawah. menatap ke arah yang sama. lembah perkampungan. Dan di samping itu. Orang melupakan mereka dengan ucapan yang tumbuh dari kepercayaan mereka: "Dikutuk dewata dan para arwah. “maukah kau membawa sisa warga margamu ke tanah habungkasan?" "Tentu. Ronggur mengelus rambutnya dengan sebelah tangan. tidak berapa lama setelah Ronggur dan Tio berangkat dulu. "mereka anak manusia seperti kita. mati terkutuk. dan timbulnya kembali purnama. Perlahan Tio mengangkat kepalanya. Tangan kiri Ronggur menggendong anaknya. karena dia seorang ibu yang melahirkan anak durhaka. Jaluran famili yang harus kuhormati. Dia mengisak di sana. sedang tangan sebelah lagi. . sudah tentu. ke hadapan Mula Jadi Na Bolon." kata Tio. menggendong anaknya. apalagi anakku. Tanpa mengatakan sesuatu. Oi ujung kaki duduk si belang menjulurkan lidah. Kemudian dengan tidak dapat dilawannya. Tidak menjadi bahan percakapan lagi. dia telah menyandarkan kepala ke bahu Ronggur. Arwahnya akan disumpahi Mula jadi Na Bolon. tangan kanannya memeluk pinggang Tio. Bertatapan dengan Ronggur.

"Sudah pulangkah Ronggur dari tanah habungkasan? Sudah ditemuinya tanah habungkasan yang dijanjikan setan itu? Kapan pulang. ibu tua itu masih mengharapkan anaknya cepat kembali. dia tidak punya apa-apa. karena kau ajak dia menyusuri Sungai T itian Dewata?" . setelah beberapa kali purnama tenggelam dan terbit lagi. dia telah dilahirkan untuk menyampaikan kehendak dan pesan dewata. tidak bosannya." "Apa kau katakan? Para dewata mengganti setan? Patutlah ramalan tenungmu tidak ada yang benar. "Bukankah kau yang membuat ayah si Ronggur menemui ajal." Orang lalu tertawa. Tapi.Pada mulutnya. dan anaknya tidak pulang juga. Meneliti pundak bukit dan celah bukit yang ada di sebelah timur. Tapi. Hingga dia dikebumikan tanpa upacara dan gondang. berakhirlah hidupnya. Dia anak yang berbahagia. Tapi. bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan. Orang percaya. setiap hari mencampakkan pandang ke arah matahari terbit. selalu disahutnya dengan baik. Para dewata tidak akan datang menjemput arwahnya ke tempat yang baik me lalui Sungai Titian Dewata. arwahnya akan tidak diterima Mula Jadi Na Bolon dengan baik. Di saat mati. membuat kemauan hidup melemah. si anak durhaka itu?" "Dia akan pulang membawa berita ria bahwa tanah habungkasan yang dijanjikan para dewata telah ditemuinya. Kemudian orang itu me lanjutkan. Karena para dewata tidak diberi tahu atas kematiannya. melalui pukulan gondang yang dipalu dan mengorbankan beberapa ekor babi serta ayam putih." "Bukan setan yang menggoda. Lalu. Ronggur dan Tio akan kembali membawa berita ria. Ronggur anak yang memperoleh petunjuk secara langsung dari dewata. Pertanyaan yang sebenarnya berupa ejekan yang diajukan orang padanya. Dia masih tetap percaya.

Aku akui. Berita yang datang dari kampung sekitar. ke tanah batu yang sama sekali tidak baik dijadikan persawahan. Membuat marga mereka menjadi lebih berkuasa. menjadi orang buruan. lalu meminta damai sete lah melepaskan haknya atas apa yang diperebutkan. antara satu suku dengan suku lain. orang menjadi ramai tertawa lalu pergi sambil berkata. Orang tidak memanggilnya ke pertemuan marga dan ke sidang kerajaan marga. bila tertangkap. Si tua gila. dia seperti tidak ada lagi. Sedang kerajaan marga yang tidak sempat dihancurkan. Malah orang sudah sependapat. dijadikan budak belian. harus pula membayar upeti pada kerajaan marga mereka. dan kaya. pergi ke kaki bukit terpencil. Persawahan dan perkampungan tambah banyak mereka kuasai. "Orang gila. mencakapinya. Ayah Ronggur menemui ajal karena kecelakaan itu. Sedang yang sempat melarikan diri. tekadku kurang kokoh waktu itu. antara satu marga dengan marga lain. kuat. baik mengenai perdamaian. dan antara satu lunak dengan luhak lain tidak disampaikan orang padanya. . begitu pula mengenai peperangan yang terusmenerus meletus." Tapi. Memutih uban.“Kami mengalami kegagalan yang mengakibatkan kecelakaan itu. Orang membiarkan menatap ke arah matahari terbit setiap pagi. Malah waktu marganya sendiri harus berperang karena memperebutkan hutan di teluk danau itu. Aku meloncat dari biduk membuat keseimbangan biduk hilang. yang dapat dihancurkan kerajaan marganya." Mendengar sahutan begitu. akhirnya harus membayar upeti pada kerajaan marga. tenaganya tidak diminta orang membantu marga. lama kelamaan orang tidak mau lagi mengganggu. waktu itu pun. Sehingga sudah sampai di pundak. yang berakhir atas kemenangan marganya. Orang tua itu membiarkan rambutnya panjang. Marga yang dikalahkan marganya itu. Orang yang kalah. Pipinya cekung. Orang tidak mengacuhkannya lagi.

binatang liar lagi buas. Apa yang akan terjadi. Percakapan menjadi simpang siur. Namun setiap orang lebih menginginkan bersikap menanti. Karena gunung itu gunung angker menurut kepercayaan mereka. sampai orang pada tercengang. Tidak melesu. Mereka bawa juga dua ekor lagi kuda. tempat matahari muncul. Setiap saat benda yang bergerak itu mendekat atau menurun ke lembah perkampungan mereka. Dijauhan ada tiga benda kecil dilihatnya bergerak-gerak di kaki bukit sebelah timur. Terlebih karena dia meneriakkan. Tapi.Wajahnya bertambah lancip. Tapi. Ronggur telah kembali dari tanah habungkasan. Hati tiap orang tambah gemuruh. "Mereka telah kembali. apa yang akan disampaikan penyelidik yang sudah dikirim kerajaan. Atau apa yang telah terjadi? Warta apa yang akan datang? Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Kalau memang itu rombongan Ronggur supaya dibawa pulang. yang tidak punya beban. Sebanyak tiga orang penunggang kuda bergerak. Setiap orang melahirkan anggapan dan duga demi duga. Apalagi bila orang menurun dari pundaknya. masih mengatakan bahwa itu bukan rombongan Ronggur. Dan. Matahari bersinar terang. Diputuskan untuk mengirim kurir penunggang kuda. Tidak ada awan di langit. pagi itu sinar mata tambah bening dan bersinar. Mereka sedang menuruni kaki gunung sebelah timur. Belum pernah seorang manusia pergi ke sana. sinar matanya tetap mengandung sinar kepercayaan. ." Orang bertemperasan ke luar rumah lalu terus pergi ke gerbang kampung sebelah timur. menyelidiki keadaan sebenarnya. Tanpa disadarinya dia bertempik dan berlari ke tengah kampung. Mereka juga memang melihat ketiga titik yang bergerak itu. Menatap dengan patok ke arah yang dimaksud orang tua itu. Pagi itu juga kerajaan marga mengadakan sidang.

T ambah lama. telah kembali di tengah mereka. Bila senja telah mulai memerah di langit. Tiap orang seperti terpacak di tempat masing-masing. Setelah menuntun Tio turun dari pundak kuda. mendekat pada orang tua yang berambut panjang putih itu. Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan. ketabahan. Ronggur. ditumbuhi pohon kelapa berjajar. bersama dengan bertambah merahnya warna senja. dan kekuatan serta keuletannya. Dengan bantuan doa Bapak. Tidak ada yang turun ke danau. Kuda yang dua ekor lagi sudah ada penunggangnya. yang tidak pernah salah tafsir tenungnya. Di belakangnya Tio menggendong bayi. mereka sudah dapat melihat kepulan debu mengepul ke udara. Mereka memberi sembah. Lalu dari mulut Ronggur keluar kata: "Bapak. Suasana tambah tertekan. Namun sangat banyak ikan. Tidak ada yang turun ke sawah. seperti pagar . si belang menjulurkan lidah. keberanian. juga menemui sebuah danau yang tidak bertepi tapi airnya asin. Tanpa kurang sesuatu. Dataran yang landai. Ronggur melompat dari punggung kuda. lalu terus mendekat ke orang banyak. Setiap orang terdiam. Penyelidik penunggang kuda sudah pulang. dan berusaha meruntuhkan kepercayaan mereka yang bisa membuat dewata marah. Anak yang sudah disangka mati dikutuk dewata. mencampakkan sinar yang beraneka warna ke permukaan danau. Dia tidak langsung menuju ke tempat raja yang juga hadir di sana. Tapi. anakmu ini telah menemukan tanah habungkasan yang sangat luas lagi landai.Sampai sore orang semua tinggal menanti. telah kembali ke tengah mereka. Setiap hati tambah bertanya. rombongan itu bertambah dekat. Sedang dipangkuan Ronggur. Orang terus saja dapat mengenali bahwa penunggang kuda yang keempat. Anak yang dikenal kecakapan. tapi sayangnya pula anak yang telah dicoret dari silsilah marga karena digoda setan.

Di sana kedamaian akan tercipta. namun tidak perlu takut kekurangan tanah. cobalah bapak bayangkan. alangkah gembur dan subur. Orang yang pergi ke sana. Sungai Titian Dewata tidak pernah putus. Sungai Titian Dewata terus mengalir. Bukan tanah tipis menyaputi batu alam. tanah habungkasan.” "Di manakah itu. semua keturunan si Raja Batak dapat di tampungnya sekaligus dan bersama keturunan yang akan datang tanpa menakutkan bahwa tanah garapan akan habis. jadi. Sampai bertemu dengan kaki langit. tidak perlu berkelahi karena setitik air parit. "Di seberang ujung dunia. Sebenarnya bukan ujung dunia. Orang yang pergi ke sana. membelah dada hutan belantara yang sangat lebat dan rimbun itu. Anakku?" tanya orang tua itu ber-napsu. Sungai Titian Dewata pada salah satu tempat. itulah pula mula tanah landai. hutan belantara yang sangat hijau lagi luas. memberi imbangan akan luasnya danau yang ada di depannya. Di punggungnya. karena setiap orang rajin bisa membuka tanah persawahan sesuka hatinya. Tapi. Lagi pula. sejauh mata memandang hanya tanah yang landai yang tampak. air harus menuruni sebuah lembah yang sangat curam. tidak perlu takut kehabisan makanan. berapa keluarga yang dapat di tampung tanah habungkasan yang kau temui itu?" "Berapa keluarga? Ah. Tanah di sana sangat baik dijadikan persawahan. Tanah di sana tidak akan habis. Setiap orang bisa punya anak berpuluh-puluh." "Anakku. Karena ada air terjun. Setelah air terjun. tanah yang hijau tidak bertepi. Jadi aku tidak dapat mengatakan berapa keluarga.tepian danau. apa yang kita takutkan bahwa penduduk akan sangat padat sedangkan tanah begitu sempitnya karena penemuan tanah habungkasan ini tidak jadi persoalan lagi. Bapak. memang mempunyai arus yang sangat deras. Tapi. Hutan menyimpan binatang buruan yang jinak. Tanah." .

lalu. kau telah melaksanakan petunjuk dewata. Sekarang aku bawa tiga pundi padi yang bernas. Menjamin keperluan mereka sebelum saat . T api. "Waktu aku berangkat dulu dari sini. Bapak. yang kemudian menimbulkan luka serta duka yang dalam dan lebih kejam lagi yang menimbulkan kemelaratan dan golongan tertindas.Sambil menitikkan air mata bening karena gembira. sehingga lahir dalam kenyataan. semuanya terdiam mendengarkan percakapan itu. Setiap orang seharusnya mengucapkan terima kasih padamu dan pada Mula Jadi Na Bolon yang telah menciptakan tanah habungkasan itu. Apakah buktinya bahwa kau telah menemukan tanah habungkasan seperti yang kau dustakan?" Ronggur mengeluarkan pundi yang tiga itu. sehingga lahir dalam melaksanakan petunjuk dewata. dari mata Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Pertempuran yang sering terjadi antara satu marga dengan marga lain atau antara satu luhak dengan luhak lain. Sebenarnya hendak kubawa lebih banyak. memancar sinar kebencian dan dendam." "Terimalah ucapan terima kasihku padamu. Setiap orang akan memperoleh kebebasannya kembali mengerjakan tanah. Anakku?" "Ya. kutinggalkan padi bagi keperluan orang yang mau pindah ke sana dalam taraf pertama. Tapi." Orang banyak. yang padinya begitu bernas. baik penduduk biasa. suaranya terus lantang: "Ronggur. lagi pula harus melalui pundak bukit dan celah bukit. kau telah mengatakan segala dusta. karena perjalanan begitu jauh. orang tua itu lalu mengatakan: "Anakku. Tapi. Anakku. di tanah habungkasan. Tiba-tiba saja dia berkata. aku memutuskan membawa tiga pundi saja sebagai bukti. akan tidak perlu berulang. hanya sepundi kubawa. pun kerajaan. bukankah begitu.

Dia tidak akan pernah menjadi budak lagi. Kau telah membuat segala pekerjaan keji dan mengatakan kata yang keji. Dan. Dia telah kubebaskan. "Tio telah menjadi isteriku. jadi persoalan. mengutuk marga ini. Kita dulu . agar memilih bentuk hukuman yang pantas ditimpakan padamu. Wajah Ronggur memerah padam. “Kita akan dikutuk para dewata dan arwah nenek moyang. sewaktu kami tiba ke tempat jatuhnya air Titian Dewata untuk pertama kalinya." 'Ke mana pergi gelang yang dipakai si Tio pertanda dia budak?. Demi menghormati kesetiaan dan ketabahannya. anak siapa yang digendongnya itu? Anakmu? Kau mengawini atau memilih seorang budak menjadi ibu anakmu?" Datu Bolon Gelar Guru Marlasak tersenyum mengejek. Kalau tidak. Pada orang yang melakukannya. Bisa saja kau curi dari lumbung orang. Dialah isteri paling setia. Saat panen lebih pendek di sana daripada di sini. Dalamm rapat kerajaan. Karena persoalan. soal kepercayaan. Lihatlah. Dan. Dan. Kau telah mengawini seorang budak belian yang diharamjadahkan orang merdeka. Tapi. Marga yang kuat perkasa lagi kaya ini. perempuan yang paling setia dan tabah." Kerajaan yang lengkap cepat saja mengadakan sidang. bila kita mau mendengar cakap dusta ini. Kau telah menghancurkan kepercayaan kami. dapat dijatuhkan hukuman. itu semua. marga yang dikurnia oleh dewata. Inilah persoalan yang sangat berat. Dengan suara menghentak.panen tiba. suara Datu Bolon memegang peranan yang penting. Tiga pundi soal gampang. kau telah mengatakan bahwa Sungai Titian Dewata tidak jatuh ke ujung dunia. Padi lebih cepat matang. kutuduhkan padamu dan aku meminta pertimbangan khalayak dan kerajaan." "Aku tidak mempercayai cakapmu. aku jadikan dia istriku. betapa bernasnya padi ini. Kami telah dipersatukan Mula Jadi Na Bolon secara langsung. para dewata akan murka.

menangkap Ronggur dan Tio. karena sebaik kita mencoret nama Ronggur dari silsilah marga. tak seorang pun dibolehkan menyentuhnya. kuat. tuntutanku: Menangkap dan menghukum si Ronggur bersama budak belian itu. untuk mengumpulkan mereka. Si belang mendekatkan moncongnya ke mulut anak itu. dan tak mau mendengarkan cakapnya. kaya. Ronggur dan Tio diikat pada batang pohon mangga yang besar. Bayi diletakkan di depan. Mendengar tangis bayi kecil itu. mempengaruhi keputusan kerajaan. Telah diputuskan pula. Lalu . Apak kecil itu menangis sejadinya. Tapi. Tapi. Turut si belang menitikkan butir air dari matanya. langsung di atas tanah. akan menangkap menjadikannya budak belian. mereka. Tambah lama. luhak kita. besok pagi. karena mereka telah menghina kepercayaan. telah dua kali marga kita mengalahkan marga lain dalam peperangan? Hingga marga kita menjadi marga yang berkuasa.si Ronggur. suara anak menjadi parau. yang telah membuat kita menang dalam peperangan tidak memurkai kita. akan dipalu canang ke tiap kampung yang dikuasa i marga itu. bila dia kembali ke kampung halaman ini. lalu sama menyaksikan hukuman mati yang harus dijalani Ronggur bersama T io. Dekatnya si belang. tidak saja perasaan Tio dan Ronggur serasa disayat. sekarang tuntutanku tidak sampai di situ. Agar pengaruh yang dibiuskan Ronggur tidak mempengaruhi orang untuk seterusnya. dan dihormati setiap marga? Dan. menjadi daerah taklukan kita?" Segala saran yang dilancarkan Datu Bolon gelar Guru Marlasak. Karena dia telah mendustai kita dan dia telah membebaskan seorang budak marga tanpa persetujuan sidang kerajaan. akan memutuskan. Ini perlu. agar para dewata yang telah melindungi kita. Hukum mati. Lalu mengeluarkan perintah. Bukankah kita sudah harus bersyukur pada para dewata dan arwah nenek moyang.

begitu pula sebaliknya. Sampai ke kaki bukit tempat orang melarat. Percayalah padaku. asal dia mau. Tangis anak itu mereda. Terutama setelah mereka memperoleh penjelasan langsung dari bekas Datu Bolon. Mereka menegakkan kepala mendengar berita itu. Si belang meringis kecil. tempat orang yang tidak berpunya. begitu pula Tio dan anaknya. Lalu lidah anak itu menjilat bibirnya. Cepat saja berita yang dibawa Ronggur dan Tio menjalar ke mana-mana. Sehingga air dari lidah si belang berpindah ke lidah anak itu. Malah dikatakannya: "Aku tidak dapat membenarkan yang salah. mengusulkan agar Ronggur mencabut kembali semua yang telah diucapkannya. Raja Panggonggom tidak mendengarkan. Hukuman bisa dientengkan. Bila fajar pagi terbit hukuman mati itu akan dilangsungkan. Disapukannya ke bibir anak. Raja Panggonggom bersama pengiringnya. si belang memperoleh senyum terima kasih dari tuannya. Segala alat yang dibawa oleh Ronggur dan Tio ditumpukkan depan mereka. Yang benar harus kukatakan benar. Ronggur harus bersedia menjadi budak. Bila matanya dicampakkan ke arah T io dan Ronggur. merasa gembira dapat mendiamkan tangis anak itu. Kemudian lidah anak itu secara langsung disapu lidah si belang. Semua akan dibakar. Ronggur menolak sarat itu. Tapi. Tidak berapa lama setelah senja berganti malam. tak perlu hukum mati. Sampai basah. Supaya bekas dari kejadian itu tidak tinggal sedikit pun. juga ketiga pundi padi itu.lidahnya dijulurkan si belang. Paduka Raja. dan tempat persembunyian orang buruan." Tapi. . setelah saran Ronggur ditolak kerajaan marga mereka. masih datang menemui Ronggur.

Mereka semua akan menjadi orang yang sia-sia turun-temurun. mereka dapat melihat di mana Ronggur dan Tio diikat. Mereka gendong bayi lalu mereka melarikan diri. akhirnya memutuskan: Daripada mati dibunuh dan diburu di dada tanah batu yang gersang. Dari celah bambu duri. Membuat ketiga pengawal itu terjaga. bersama bekas Datu Bolon di kaki bukit. akhirnya mereka kembali tidur sambil menyepak si belang. Malam itu juga. suruh si belang diam. Sehingga si belang duduk dekat kakinya dan diam. Unggun api sudah mulai mengecil. "Apa. mereka putuskan. Keadaan sunyi. Ronggur bertanya. Setelah mengucapkan terima kasih. Tiba-tiba saja si belang menggonggong. Mati terbunuh. yang harus kita perbuat?" . Bila Ronggur mati dibunuh orang yang tidak dapat mendengarkan penemuannya. Karena mencium bau orang yang datang mendekat. lalu membisikkan.Bekas Datu Bolon itu mengatakan pada mereka bahwa yang mengetahui jalan ke tanah habungkasan itu hanyalah Ronggur." Ronggur memberi isarat. Mereka harus membela Ronggur dan Tio. maka tanah habungkasan itu akan kembali hilang. lebih baik mati menempuh jalan menuju ke tanah habungkasan. dijaga tiga orang pengawal. Dan. Orang melarat dan orang buruan yang tinggal di gua kaki bukit itu akan selalu lari ke mana saja berpencar bila tentara kerajaan marga Ronggur datang menangkap mereka. Seseorang terus mendekat ke tempat Ronggur. menyelusup ke induk kampung marga Ronggur. Orang yang tidak berpunya dan orang buruan telah menantikan mereka. Tali temali yang mengikat Ronggur dan T io. Malam sudah jauh. Lengkap dengan senjata masing-masing. "Ronggur. harus melepaskan mereka dari ancaman maut itu. sekali sergap saja. sepuluh orang lelaki yang kuat tubuhnya. ketiga pengawal yang sedang mengantuk itu tidak berdaya lagi. Setelah mengitari kampung dan meneliti.

" Bergeraklah mereka malam itu juga. Sedang di induk kampung marga Ronggur. Tanpa memandang dari marga mana mereka. tidak dapat menerima kebenarannya. bunuh setiap orang yang memberi bantuan padanya. Memegang obor. karena aku sudah sering melihatnya dalam mimpiku. Dan. yang mau mendengarkan berita penemuanmu. dipalu gong.Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan»berkata. Membunuh setiap orang yang memberi bantuan pada Ronggur dan Tio. maka orang yang mau mendengarlah yang berhak menerima berkat darinya. yang dipercayai beserta laskarnya yang terkenal keberanian dan kekuatannya. Bapak juga hendak mereka tangkap dan bunuh." "Ya. mengejar dan menangkap Ronggur dan T io kembali." kata Ronggur. Bapak juga walau dengan berjingkat. Sehingga mereka dapat kembali mengecap alam kebebasan. ingin melihat tanah habungkasan dalam kenyataan. tangkap mereka. . Aku ingin melihat apa yang dibisikkan para dewata padaku." "Bapak juga harus ikut. Mereka sudah tahu. harus kau sampaikan pada setiap orang. Raja Nabegu memerintahkan Hulubalang yang terkemuka. Sidang kerajaan dengan berangsangan. Bawalah mereka ke tanah habungkasan. "Berita yang diturunkan para dewata padamu. otot mereka yang kencang itu dapat kembali digunakan mengolah tanah. "Bila mereka menemui Bapak. Menyuluh jalan jurang dan lembah dalam. Bapak akan ikut. belum pernah marga kita dihina orang begini rupa. Ayo. Kalau sebagian orang tidak mau merasakan arti yang dikandungnya. Ronggur dan Tio bersama anaknya dan si belang sudah lari. dari golongan mana mereka. Membangunkan setiap orang. Merekalah yang berhak menerima berkah darinya. orang buruan ini karena kalah perang. Mereka inilah orang yang tidak berpunya.

Matahari semakin tinggi. Rombongannya merasa aneh juga terhadap tindakan begitu. Untuk sama-sama dibunuh oleh tiap warga marga. Orang yang memburu juga terus bergerak. cepat mengusung bangkai laskar marga yang telah mati ke Sopo Bolon. agar mencelakakan Ronggur dan Tio bersama rombongannya. bergeraklah orang yang bertugas memburu rombongan Ronggur. agar orang menghidupkan api. Tempik dan sorak. Raja Panggonggom memesankan dan mengingatkan bahwa Ronggur punya cukup akal yang licik. Malah dimintanya. anak lelaki Raja Nabegu dan Raja Ni Huta. jalan mana mereka tempuh. Yang diharapkan dipunyai oleh anaknya. Ronggur menyuruh. agar arwah laskar yang wafat itu mengutuk perbuatan Ronggur dan Tio. turut serta dalam rombongan yang harus menangkap Ronggur dan Tio serta membunuh setiap orang yang memberi bantuan padanya. Maunya mereka menghilangkan jejak. Malah bermalam. Sedang Ronggur. memerintahkan anak lelakinya yang sulung. Di sana disembayangkan. Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Kepada ketiga anak raja itu. Pundak bukit pertama telah ditaklukkan. Di kala fajar pagi pertama menyingsing. Dia harus diimbangi dengan kelicikan pula. Supaya orang yang memburu dapat mengikuti jejak dan jalan mereka tempuh. rombongan yang memburu telah tampak di kaki bukit yang mereka taklukkan. Di sana mereka istirahat. yang kelak menggantikan sebagai Raja Panggonggom bila dia wafat. Ini tidak.Sedang Raja Panggonggom. Rombongan terus bergerak. untuk dihadiahkan pada sidang kerajaan. Malah . Menandakan pada yang memburu bahwa mereka ada di sana. dialamatkan pada rombongan Ronggur. tetap menyuruh agar mengadakan tanda. Mereka harus membunuh setiap anggota rombongan Ronggur dan menawan Ronggur hidup-hidup. kemarahan dan hasutan. Pada pagi berikutnya. mengepulkan asap.

Sedang Ronggur hanya tersenyum saja. di bawah melalui pundak bukit yang menurun tanah habungkasan. rombongan yang diburu dan memburu kembali bergerak. hingga musuhnya dapat menjatuhkan batu untuk membunuh mereka. Terkadang antara kedua rombongan terjadi saling panggil-memanggil. Bila fajar kembali terbit. Bermula terus jurang. Bila rombongan yang memburu mulai mendaki bukit. Bila rombongan yang memburu sudah berada di pundak bukit pertama. bila musuhnya berada di pundak bukit. Rombongan Ronggur istirahat. Tidak ada yang berani melanjutkan perjalanan di malam hari. Begitu terus-menerus. tapi dipisah lembah yang dalam. yang merupakan pintu ke tanah habungkasan. karena merasa diperma inkan. Dari baliknya. Rombongan Ronggur menghidupkan api unggun. Setiba di balik bukit terus jurang dalam. rombongan Ronggur sudah kembali mendaki ke pundak bukit kedua. Tanpa menjatuhkan batu untuk menghancurkan yang memburu itu. Dendam kesumat pada rombongan yang memburu tambah menghebat. agar kedua rombongan selalu dipisah lembah. Tapi. Ronggur tetap mengusahakan. Senja memerah. beberapa jauh harus melalui di satu jalan . Lapangan datar hanya beberapa depa saja. Sambil hasut menghasut. Begitu pula rombongan yang memburu. dapat dilihat. Tapi.memberitahukan pada musuh di mana mereka berada. Begitu pula rombongan yang memburu. mereka laksanakan juga dengan sebaik mungkin. Kedua rombongan dapat bertatapan. Matahari kembali melemah. agar rombongannya tidak berada di dasar lembah. mereka pun mulai bergerak. Begitu terus menerus. Harus memenggok ke kiri. Kemudian malam. Takut jatuh ke jurang dalam. Juga diusahakan. rombongan Ronggur telah melewati celah pertemuan bukit. karena Ronggur sungguh-sungguh menyuruh. Pada hari ketujuh.

Ronggur menyuruh tiap orang berondok ke sisi bukit. Di depanmu jurang dalam. sebuah tombak balasan melayang ke bawah mengenai . Lalu setiap orang mengucapkan rasa terima kasihnya.sempit. Dan. Setiap orang. anak Raja Ni Huta. pada satu tempat yang tidak menguntungkan. Rombongan yang memburu terus saja mengejar dengan semangat meluap. Melewati celah bukit. Boleh pilih. Kalau tidak kamu sekalian akan kami bunuh. Memberi tanda pada mereka. setiap orang yang memakai gelang pertanda budak." Rombongan yang memburu mengutuk pada diri sendiri. Mendaki sedikit ke atas. agar rombongan yang memburu itu mendatangi celah bukit. mengambil kesempatan. Menantikan rombongan yang memburu. Tiap orang disuruhnya menyiapkan senjata yang ada di tangan masing-masing. Sedang dua tiga orang. Mereka terjebak sudah. Baru tiba kembali ke jalan yang agak luas. Juga dari sana dapat ditatap air terjun yang memutih. Dengan terpaksa harus membuang senjata yang ada di tangannya. yang bisa digulingkan. mereka telah ada di bawah rombongan Ronggur. Kemudian orang yang tidak bersenjata. Cepat berpaling dan melayangkan tombaknya ke arah Ronggur. disuruh Ronggur membuangnya dan menyampakkannya jauhjauh. yang diapit oleh bukit dan dinantikan mulut jurang menganga. Ke jurang dalam. disuruhnya pergi ke mulut celah bukit. menyerah atau mati. Semua orang mengerjakan perintah Ronggur. Tapi. Ronggur berteriak. Dan. Setiap anggota rombongan Ronggur kagum menatap tanah datar yang luas dan hijau di bawah mereka. baik perempuan. Setiap orang ternganga melihat putihnya air terjun yang menerobos bukit sebelah timur. Lengkap senjata terhunus di tangan. Ronggur cepat berondok ke balik batu alam. Dengan lantang. disuruhnya memilih batu alam. mula jalan menurun yang baik menuju tanah habungkasan. Dan. di saat begitu. "Letakkan senjatamu.

" “Lihatlah. luasnya tanah hijau yang landai. yang airnya asin. Mereka disuruh Ronggur menghadap ke arah jurang. di sebelah kananmu itulah air terjun yang kukatakan. seperti yang kuceritakan padamu. merambah jalan ke danau yang maha luas. menyerah atau mati. kelanjutan Sungai Titian Dewata. Dengarlah dengan kupingmu sendiri. Dan. Tapi. Justru karena warta itu bertentangan dengan kepercayaan yang kau anut selama ini.anak Raja Ni Huta. di saat mereka terjebak pula. Hulubalang yang memimpin rombongan itu. tapi banyak ikannya. "Pilih antara dua. membelah kehijauan hutan belantara itu. Dan. dengan terpaksa mencampakkan semua senjatanya ke mulut jurang. Pergunakanlah mata kepalamu. Lihatlah sekarang dengan mala kepalamu sendiri. di depanmu jauh di bawah sana. kalau kau sekarang mau membunuh kami. apakah Sungai Titian Dewata berakhir ke ujung dunia? Dan. Setelah menundukkan kepala tanda memberi hormat. Lalu kedengaran suaranya meninggi: "Kau para lelaki yang kuat. dia mengatakan: "Ronggur. warta dari mula kehidupan. derum air terjun yang jatuh. Harus tunduk pada Ronggur. Mulut mereka ternganga. kau telah bisa melakukannya tanpa sesuatu halangan. yang lalu jatuh ke mulut jurang dengan pekikan meninggi. itu . Sekarang mereka dengan mata kepala sendiri. telah menyaksikan kebenaran cerita Ronggur. berpaling ke arah Ronggur. yang tidak punya kekuatan untuk menerima sesuatu warta kebenaran. benda memutih dikejauhan yang terus menerobos ke timur." Anggota rombongan yang memburu itu. Sekali lagi Ronggur berteriak. Kalian semua berada di tempat yang tidak menguntungkan. Apakah kalian masih belum percaya?” Orang yang memburu pada terdiam dan tercengang.

Baru mulutnya mengatakan. Kami telah mengikuti ajaran yang salah. Kau telah gagal mewartakan berita penemuanmu secara langsung. Lama Ronggur menatap tawanannya yang hendak menangkap pada mulanya. Ujung dunia yang kami sangka selama ini. marga yang masih merdeka. Tapi matiku telah merasa senang. Tanah luas masih tersedia untuk mereka walaupun aku mati. Sesuatu perasaan yang bertentangan tumbuh dalam dada." Ronggur membiarkan Hulubalang itu terus berkata. Aku pemimpin rombongan yang mengejarmu ini. ada sesuatu hal yang menguntungkan dalam saat ini. mula tanah datar yang maha luas. Aku akan tidak menyangsikan hidup anakku lagi. Tapi. Bapak?" . Dalam keadaan begitulah Ronggur memanggil orang tua. Yang melanjut dengan. sebagian ingin menuntut balas. "Bapak. "Nasib mereka berada di tanganmu. Justru karena aku telah melihat kebenaran ceritamu. Tapi. "Kami telah me lihat air terjun yang kau ceritakan." Seketika keadaan hening. Yang sebenarnya juga anggota keluarganya." katanya. "apa yang harus kuperbuat sekarang?" Lama orang tua itu terdiam. bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan ke dekatnya. dan kami tidak punya kelapangan hati mendengar warta kebenaran darimu. tapi sebagian lagi memberi pertimbangan lain. Ronggur. apakah mereka masih berhak hidup atau mati.memang hakmu. Untuk itu kami sewajarnya menerima hukuman. Hijaunya telah kutatap. Akulah yang pertama harus kau bunuh. Dengan sendirinya pula mewartakan kepada kelompok marga lain. sekarang kau memperoleh jalan lain untuk mewartakannya kepada orang lain di kampung halaman. bagi Bapak. dan bau kesuburan yang mengambang darinya telah kuhirup. Tanah habungkasanmu. Kau bisa menentukan." "Bagaimana caranya.

kebenaran penemuanmu. "Dan. seluas dan selebar yang sanggup dia kerjakan. Tidak boleh dihalangi. Tugaskan padanya agar dia mewartakan pada kerajaan marga atas kebenaran ceritamu. Bapak tahu. Juga segala harta milik Bapak yang disita dulu. Kemudian suruh pulang Hulubalang itu dengan pengiring kecil. Mora yang harus kuhormati. sejauh kita merantau. Semua orang berhak. Bila mereka tidak juga mempercayainya. Dan akan kutambahkan bahwa tidak marga kita saja yang berhak datang ke tanah habungkasan. akan sama dengan nasib Raja Ni Huta." Orang tua itu menundukkan kepala mengiakan. raja atau apa saja. agar mengembalikan tanah persawahanku. Tidak memandang apakah dia seorang budak. kesatuan marga Tio sudah menjadi moraku. Semua orang berhak memperoleh tanah. itu sangat baik." kata Ronggur pula. Karena bagaimanapun seperti adat kita." Tersenyum Ronggur memperoleh saran itu. harus dijaga dan dipelihara. Sedang . Dan. Lalu disambutnya. anak Raja Nabegu." "Ya. memang begitu menurut adat kita. yang dulu disita kerajaan dariku. "aku harus menuntut pada kerajaan marga. tidak boleh dilupakan. "Saran yang baik. "Di samping itu." sahut orang tua itu cepat." "Lalu."Tawanlah anak Raja Panggonggom. namun bona nipasogit. Siapa saja di antara mereka yang punya hasrat pindah ke tanah habungkasan harus dibolehkan. maka nasib anak Raja Panggonggom dan anak Raja Nabegu. Semua marga berhak. Sesuatu harta pusaka turun-temurun yang mulanya dirambah nenek moyang. Itu sangat penting. harus dikembalikan. aku harus menuntut pula bahwa semua keturunan marga Tio." "Karena itu. harus dibebaskan dari perbudakan. Bapak tahu aku telah mengambil T io menjadi istriku." "Ya.

"Karena aku sendiri telah melihat kebenaran ceritamu. tidak hanya yang dirintis Ronggur saja yang mereka kenal. ditambah pasukan kerajaan marga yang sudah insaf menuju ke timur. boleh kelak menempuh jalan yang mereka tandai. kebenaran penemuanmu. Baik melalui sungai atau jalan darat. tambah lama. Daerah lain tambah banyak ditemui." Orang tua itu tersenyum. Utusan kerajaan marga. utusan kerajaan sudah harus ada yang datang menemui mereka ke tanah habungkasan. Segala hasil pembicaraan disampaikan Ronggur dengan suara lantang pada Hulubalang. ditunjuk Ronggur mengiringi Hulubalang menuju kampung halaman. Jalan tempuhan. Berilah kesempatan padaku.orang yang tidak bisa pindah karena sudah tua atau karena alasan lain. Kemudian rombongan lain bertambah banyak menuju tanah habungkasan. Mewartakan. Yang lima orang itu pun telah bersedia menjadi saksi atas kebenaran penemuan Ronggur." Lima orang dari anggota yang memburu itu. ke tanah habungkasan. Selalu mereka mengadakan upacara di pangkal sungai. aku akan bekerja keras menginsafkan orang." Hulubalang itu menyanggupi akan menyampaikan pesan. telah terbuka tembusan jalan baru. Tapi. Mengiakan. nama tempat itu mereka sebut Porsea. Sejak itu. Yang ditambahnya pula: "Dalam jangka dua purnama. Itulah sarat yang harus disampaikan Hulubalang pada kerajaan marga. mempertebal keyakinan bahwa mereka akan dituntun para dewata dan arwah nenek moyang ke tanah habungkasan. Sedang rombongan Ronggur. untuk berbakti. Malah dengan sadar dia menambahkan. harus dibebaskan dari perbudakan. Bila mereka sudah sampai di tempat yang mereka namakan . tanpa sarat itu pun. apakah saran itu diterima atau tidak.

bila mereka terus menurun. Tarutung. Dari Dairi. pesisir Sibolga. bila mereka kembali mendaki pegunungan utara. bila mereka memenggok ke selatan. Dari Mandailing. berarti turun ke daerah Mandailing Raja. Dari sana. kembali tiba ke lingkungan Danau Parapat. dapat mereka kenal pundak bukit yang ada di bagian pundak mereka. Dari pesisir Sibolga. yaitu Rao-Rao. Bila mereka meneruskan perjalanan. bila menuju ke arah barat. satu lagi menuju Dairi-Pakpak. berteluk indah. Dari T iga Dolok. sampai ke daerah perbatasan Sumatera Barat. tembus pula ke Rura Silindung. terus menurun dari sana ke pesisir Barus. Terus ke selatan. Bila terus menyusur bukit sebelah barat. mereka menemui pula sebuah danau yang luas. bisa turun kembali ke Pulau Samosir. mereka terus pergi ke arah timur. pundak bukit di lingkungan Danau Parapat. akan tiba ke tanah habungkasan yang ditemui Ronggur. Bila mereka dari Parhitean menuju ke utara. Mereka tiba ke Pangkat. Dari sana dapat mereka tatap pundak bukit yang tiga. jadi bila mereka menuju ke sana. mereka akan tiba ke Daerah T angga. Dari Parhitean. akan menaklukkan pegunungan sebelah barat. Dan.Parhitean. Sedang bila kembali ke arah utara dari Rao-Rao. Di sini mereka bertemu dengan rombongan yang sejak Parsoburon terus mengarah Barat. Dari sana terus menembus ke daerah Simalungun. Satu menuju Tanah Karo. mereka akan tiba ke Parsoburan. airnya asin. telah menaklukkan pegunungan Pangaribuan. di mana rombongan Ronggur membuka perkampungan. Menembus terus ke daerah AngkolaSipirok-Pahae dan tembus ke Silindung. lalu mereka namakan itu Tiga Dolok. pundak pegunungan Toba telah dapat mereka tatap . Tarutung. tiba ke dataran tinggi Bonjol. bisa mereka buka dua persimpangan. Sedang rombongan yang berangkat dari Pangoruran Samosir. Lalu bisa kembali ke Toba. menurun ke pesisir Barus.

telah dialihkan semangatnya untuk menaklukkan pundak demi pundak bukit. Dari Angkola. akan tiba ke daerah dataran yang luas. mereka bisa bertemu dengan orang yang berangkat menuju tanah habungkasan yang ditemui Ranggur. Menerobos celah pertemuan bukit memanjang. yaitu dari Tor Simago-mago. Kemauan mempertahankan dan melanjutkan kehidupan. untuk menemui dataran luas. daerah Asahan-Labuhan Batu. yang tidak sedikit mengorbankan nyawa. Airnya asin mengandung garam. Semuanya untuk kelanjutan kehidupan dan mengembangkannya. dataran lain.dan kenal kembali. bila menembus ke selatan teru s. dan punya binatang buruan yang jinak lagi banyak. Padang Lawas. merambah jalan di bawah naungan dedaunan belantara yang menghijau lebat. sampai bersedia mengorbankan pertarungan demi peperangan. yang menyimpan ikan banyak. Terus ke selatan. berhutan subur. ccdw-kzaa Daftar Istilah Ambalang= tali pelempar batu Ama Ni Bolpung= ayah si Bolpung Ampangngardang= juru perdamaian Ampataga= obat (luka) nama sejenis tumbuhan biasa dipakai untuk Berandak= bersembunyi/berlindung Bernas= berisi/berarti Bolatan= destar . Untuk menemui danau yang maha luas.

Bona Ni Pasolgit= kata ganti untuk kampung halaman Buhul = ikatan Bungkas= pindah Burung Ambaroba= burung pemakan padi. Pisau Gajah Lompak= pedang sakti Pohon Hariara= pohon beringin Purada= jumbai-jumbai warna keemasan pada ulos Raja Ni Huta= kepala kampung Sampuran Harimau= air terjun si harimau .. berdada kuning Curup= cerutu Dibuhul= diikat Dolok= gunung Gelagah= rumput yg panjang Habungkasan= tanah baru Luhak= daerah Mora= keluarga pihak isteri Mula Jadi Na Bolon= T uhang Yg Maha Esa Parhelaan= pesta adat (hela= menantu pria Parhitaan= jembatan/perantara Pargaul=luwes Pargounci= grup yg memainkan gondang Patentengan= sombong . tidak terbaca sobek.....

Sopo Bolon= rumah besar (rumah adat) Sanduduk = rumput putri malu Temterasan= lari kucar kacir Terhempang= terhampar Terpacak= tertanam/terpaku Tuhil= pahat Tongkat Panaluan= tongkat kepala adat (marga) Ura= makanan khas Batak. terdiri dari bermacam daun mentah. antara lain daun pepaya serta gula merah dan lainlain. ccdw-kzaa .