Penakluk Ujung Dunia

Karya Bokor Hutasuhut Djvu, convert & Ebook : Dewi KZ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/ http://kangzusi.info/ http://cerita_silat.cc/

Penakluk Ujung Dunia Ayahanda Bokor menjadi mubaliq Islam di Tanah Batak. Karena itu, dia suka ikut menyusup hutan belantara, mendaki bukit dan lembah Bukit Barisan. Menyusup melewati Pintu Pohan, Parhitean, naik ke Tangga dan tembus ke Simalungun. Juga kembali melalui Dairi ke Tanah Samosir.

Dalam perjalanan, sering ngobrol sepanjang malam dengan para tetua, wakil masa silam, masih primitif, sederhana, tapi simpatik. Dengan para tetua itu. Bokor setempat tidur dan para tetua terus bercerita Di hutan, lembah, dan ngarai sudah biasa saja. Bertemu harimau dan binatang buas lain tak soal lagi. Dan, suatu kali, di suatu hutan, di atas dedahanan rimbun terdapat sarang tawon ruang pun memanjat poitu berusaha mengisap madu itu. Tapi, seseorang lantas ikut naik, memanjat pohon yang sama yang setelah bibir berdecap mengucap jampi, beruang itu menyisih . Dan, "Penakluk Ujung Dunia" berkisah pada sulitnya memperoleh lahan. Perang warga sering berkecamuk. Lantas Ronggur mencoba menerobos Sungai Titian Dewata untuk mencari daerah baru. Kepergiannya dikutuk karena melawan tradisi. Dan, setelah dia kembali dan berhasil menemukan daerah baru, justru dia akan dihukum gantung karena Ronggur tetap saja sudah melawan tradisi kepercayaan yang sudah hidup turun temurun. Sungguh menawan dan indah .... PENAKLUK UJUNG DUNIA Oleh: Bokor Hutasuhut Hak Pengarang dilindungi undangundang Desain Kulit: Sriwidodo Cetakan Pertama 1964 PT Pembangunan-Jakarta Cetakan Kedua 1988 Penerbit: PT Pustaka Karya Grafika Utama Jakarta

Sekilas Pengarang: BOKOR HUTASUHUT, lahir di Balige, Tanah Batak, Sumatra Utara 2 Juni 1934. Dalam catatan masuk HIS, hari lahir itu berubah menjadi 2 Juni 1933. Menurut ayahnya, H.A.M. Mangaraja Gende Hutasuhut, perubahan itu perlu jika ingin sekolah. Dalam catatan itu juga tercatat nama benar Buchari Hutasuhut agar kelak menjadi pengarang tafsir Quran. Sejak 1953 sudah menulis cerita pendek ke berbagai majalah sastera dan media budaya. Selain buku ini, juga sudah terbit buku "Tanah Kesayangan" dan "Datang Malam". Kini berdomisili di Medan.

Ketelitiannya di dalam melukiskan detail-detail ia gabungkan dengan rasa harmoni seni dalam bercerita mengenai watak manusia. tetapi orang Batak tulen yang menjadi sastrawan Indonesia. segi memandang persoalan sebagai sastrawan modern. lalu duduk dan menulis novel ini. plot.Kata Pengantar Bokor Hutasuhut punya gaya bercerita yang merupakan gabungan sifat formal dan bebas. Ia telah selesai melakukan wawancara dengan tradisinya dan dengan dinamika modern dari Indonesia Raya. Begitulah ia muncul sebagai sastrawan dengan gaya yang unik di antara sastraivan modern yang lain di Indonesia. Ia bukan photo copy kebudayaan Batak. Sedangkan kebebasannya. Marilah kita sekarang menikmatinya. Ia sangat sadar bahwa ia sedang menyelami dan melukiskan kehidupan masyarakat Batak yang unik tradisional kepada pembaca sastra modern pada umumnya. tetapi suatu karya sastra segar dengan latar belakang pengaruh tradisi kebudayaan Batak. Formalitasnya. Satu pertanda bahwa ia mengerti betul-betul apa yang ia tuliskan. formalitas tutur kata bahasa lisan menurut tradisi Batak. Sehingga hasilnya bukanlah sekedar laporan anthropolis akademis. Alangkah hidup detail-detail dari lukisannya. kebebasan penghayatan kebudayaan modem dari tradisi sastra modern. Rendra .

1 Satu-satu para lelaki keluar rumah. yang hulunya berukirkan wajah dan kepala manusia. memenuhi panggilan suara gong yang dipalu sesekali dekat unggun api yang ada di halaman perkampungan. Senja baru saja berlalu. tampaknya saling diam. Salah seorang di antaranya menyandang ulos-batak ragihidup. Hingga cahaya unggun api yang samar. terselip . Angin pegunungan berhembus. Di saat Kerajaan Marga yang mendiami kampung itu mengadakan musyawarah. tempat penghuni kampung selalu berkumpul di saat yang perlu. Di langit bintang gemerlapan. Para lelaki tambah banyak berkumpul. Di pinggang. Tangan kanan memegang tungkotpanaluan. belum seorang pun mengambil tempat. Kemudian kelompok manusia itu menjadi tambah hening. langsung menjadi pagar kampung. Tapi. dan hitam. Wajah para lelaki yang bermunculan di mulut pintu. satu sama lain. Dan. putih. di sebelah hulu. Mengikuti lingkaran rumah dan di tengah dikosongkan. Halaman kampung menjadi luas. wajah yang menampung sinar matahari penuh. Lebih dulu meliukkan pucuk bambu duri yang ditanam orang sekitar kampung. ditanam melingkar. tidak ada bulan. Dari jauh kedengaran suara ratap para perempuan. Wajah para lelaki tambah jelas kelihatan. Tapi. Nyalanya meliuk ditiup angin. tidak ada yang berkerisik. Bambu duri itu. cukup punya arti. memecahkan tanah batu untuk dijadikan persawahan. setelah cukup dekat unggun api. yang dimasak kerasnya hidup sehari-hari. Gong masih dipalu sesekali. sewaktu enam orang lagi lelaki datang mendekat. Wajah yang cukup matang dan keras. memancarkan rasa marah dan mendendam. kepalanya dibeliti bolat-an berwarna tiga jalin-menjalin: merah. serta dihiasi rambut manusia. Sengaja dikosongkan. Tapi. Para lelaki itu membentuk lingkaran seputar unggun api.

Yang berjalan di sebelah kanannya.pisau gajah-dompak. Sedang Datu Bolon Gelar Guru Marlasak menyandang kulit monyet yang sudah kering. tergenggam tombak yang hulunya berukirkan kepala manusia. pertanda dia Raja Nabegu. yang masih semarga dengan mereka. Di tangan kiri Raja Panggonggom. siap mendengar yang hendak diucapkannya. tapi raginya berbeda dengan yang dipakai oleh Raja Panggonggom. memakai bolatan juga. Raja Partahi dan Raja Namora. tergenggam sebilah pisau yang ujungnya berlumur darah merah. dan Datu Bolon Gelar Guru Mafla-sak. Pertanda dia Raja Panggonggom. Mereka mengambil tempat di sebelah hulu. di marga yang mendiami kampung itu. Sedang di tangannya. dia mengaju tanya. Semua mata diarahkan padanya berusaha mengikuti gerak-geriknya. Tempat mereka lebih tinggi dari yang lain. lebih dahulu dia menancapkan tungkotpanaluan ke tanah. warnanya hanya merah dan putih berjalinan. berjalan seseorang yang memakai bolatan warna merah saja. memakai bolatan warna putih. Raja Ni Huta yang memakai bolatan ini. Di sebelah kiri Raja Panggonggom. Dia juga menyandang ulos-batak. Sebelum duduk. Juga dia menyandang ulos-batak. Raja Namora. sedang mulutnya terus-terusan menguyah sirih dan meludah. mengiring pula Raja Partahi. Tapi. dan langsung memimpin para Raja Ni Huta dari kampung lain. yang sejak tadi dikosongkan. "Apakah sudah semua lelaki hadir di sini?" . Setelah mengangkat tangan kanan. pengerah tenaga rakyat. pertanda mereka pemegang perbekalan marga. tapi raginya berbeda dengan ragi yang disandang fyaja Panggonggom dan Raja Ni Huta. yang memegang kekuasaan adat dan hukum tertinggi di perkampungan itu. pertanda dia Raja Ni Huta. Kuping sudah. pemegang pimpinan para panglima dan para hulubalang perkasa. Di belakang mereka bertiga.

" sahut seseorang. tapi tidak berhiaskan rambut. tangannya menggenggam tombak berukirkan kepala manusia. Matanya merah nyala. Raja Panggonggom lalu mengatakan. Kembali Raja Panggonggom duduk.Setiap suku kata ditekankan kuat-kuat. disaputi kulit hitam . Dia berlari dengan langkah yang panjang dan cepat. "Apakah sudah berkumpul semua pemuda di sini?" tanyanya pula melanjut. hati yang berduka." "Si Ronggur belum hadir? Ke mana dia pergi?" Tidak ada yang menyahut. "Si Ronggur. membuat wajah para lelaki itu bermuraman. tapi bolatannya lebih kecil dari orang pertama. tetap kedengaran sesayup sampai ratap perempuan. kepalanya memakai bolatan warna hitan. Sedang dari kejauhan. yang langsung berdiri dari duduknya. hulubalang muda. "Sudah semua." sahut seseorang. "Ayoh. pergilah salah seorang dari kamu memanggilnya. muram mengandung marah yang menuntut dibalaskan. Tubuhnya yang sudah tua itu masih membayangkan bekas bentuk tubuh yang tegap di masa muda. Terus pergi melaksanakan perintah. pewarta bahwa dia sedang marah. Pertanda dia. Cepat saja diketahui bahwa tidak seorang pun perempuan hadir di antara para lelaki yang mengitari unggun api itu. Tongkat panaluan. Ratap inilah yang. Apakah harus aku yang pergi memanggilnya?" Hulubalang Muda cepat berdiri. "Belum. yang meratap kan kepiluan hati. "Siapa yang belum hadir?" tanya raja. dan menggenggam sebuah tombak. Suaranya yang beruntum keluar dengan cepat. yang juga memakai bolatan warna hitam. pertanda dia panglima marga atau hulubalang marga. pusaka nenek moyang turun-temurun dielusnya seketika.

Wajahnya yang berkerut-kerut." Tidak seorang pun yang berani menambahi cakapnya. segumpal daging yang dapat dipercaya kesehatan dan kekuatan yang terkandung di dalamnya." jawab pemuda itu. bernadakan kepercayaan akan diri sendiri. Sambil duduk. "Kenapa kau tidak terus mematuhi panggilan? Kenapa kau melalaikannya? Apakah tubuhmu itu tidak dialiri darah merah yang diwariskan Almarhum ayahmu lagi?" . ma-nyambut kehadiran mereka. yang duduk sejajar dengannya. juga sudah agak tua. yang tubuhnya setiap hari masih terus membentuk sebuah tubuh yang wajar. wajah Raja Nabegu. "Kita harus menunggu anak itu lagi. Walau ada di antara mereka yang agak kecil. kulitnya yang hitam. apa arti gong yang dipalu dengan pukulan satu-satu? Apakah kau harus diajar untuk mendengar dan mengartikannya lagi? Bukankah kau sudah diajari Raja Nabegu?" tanya Raja Panggonggom cepat. Tapi. para lelaki yang masih muda. "Apakah kau tidak mendengar gong dipalu? Apakah kau tidak mengetahui. Para lelaki yang duduk di sampingnya. "Aku dapat mendengar dan mengartikannya. Di hadapannya. menjadi merah padam. seperti merasakan sesuatu kesalahan. dan sinar matanya masih tetap bercahaya. Raja Panggonggom menggerutu. Paduka Raja. sesuatu pertanda ketangkasan. kenapa Ronggur tidak bisa hadir sebelum golongan raja hadir di sana.yang cukup matang. keningnya yang lebar. ototnya. dan dari wajahnya memancar kebeningan tapi bercampur-baur dengan kematangan. Sedang para pemuda. punya otot tubuh yang tegap dan masih berada di puncak kekuatan. namun garis di wajahnya. Dari jauh kelihatan dua orang pemuda mendekat.

"Semua lelaki yang ada di hadapanku. Dan. Menatap wajah demi wajah dengan pandang tajam. kenapa kau terlambat datang? Atau." Raja Panggonggom menebarkan pandang ke sekitar. dan marga kita. dibakar perasaan dalam hati. Paduka Raja." Orang terdiam mendengarkan." "Tahukah kau bahwa ayahmu tidak pernah mengabaikan panggilan gong pusaka ini? Terlebih bila gong dipalu satusatu? Ataukah dengan sengaja kau melambatkan kedatanganmu karena kau bukan seorang lelaki? Jawab pertanyaanku dengan jujur. Pada tiap wajah makin jelas kelihatan pancaran sesuatu cahaya yang tidak mau dipadamkan. Kupingku mendengarkan suara gong pusaka. merahnya. api semangat yang tidak boleh dipadamkan. yang pada tiap tubuhmu mengalir darah merah warisan nenek moyang. bagaimana aku harus melaksanakan perintah yang akan ditugaskan padaku." "Nah. margamu. kau memang sengaja mengabaikan panggilannya?" "Aku tidak mengabaikannya. aku sedang memikirkan. bila saat musyawarah diadakan. lalu." "Paduka Raja. Tubuh mereka berkeringat olehnya. Barulah kau dapat dikatakan seorang lelaki yang menghormati nama baik nenek moyangmu. nama baik kampung. barulah pula kau wajar dihormati sebagai seorang lelaki. kalau begitu dengar dulu kataku. Paduka Raja."Masih. . nama baik rajamu." "Kalau begitu. Otot yang tegap itu menjadi mengencang. Supaya para arwah nenek moyang dan dewata tidak marah. Mata tiap orang menjadi merah dan gusar. dalam tubuhku mengalir darah yang diwariskan ayahanda almarhum. malah langsung membakar semangatku. Dan apa yang harus kuucapkan dalam pertemuan ini. Tapi.

" lanjut Raja Panggonggom." Suara mendengung pada kelompok yang ada di depan raja. ratap yang menangiskan sebuah perpisahan. memang untuk itu kita berkumpul malam ini. Ketahuilah." Ronggur berdiri. bila kita tidak menuntut balas. perpisahan yang timbul karena perbuatan orang lain. "Perintahkan dengan cepat. Sebuah penghinaan harus segera dilenyapkan. "Ada yang Panggonggom. kemudian pada kelompok para lelaki. "tergenggam sebilah pisau. Para perempuan itu berduka. apa yang harus kami perbuat. kita tidak berhak lagi disebut dan dihormati sebagai lelaki. tidak saja kepiluan mendatangi diri. ke dada salah seorang dari antara kamu. hendak kau katakan?" tanya Raja "Ya."Pada tangan sebelah kiriku. sehingga dia meninggal. bagi kita para lelaki. Penghinaan yang harus ditantang dengan sikap jantan. Matanya dilayangkan pada kelompok pemuda. yang tadi pagi sengaja ditusukkan orang. Berakhir dengan meledaknya ucapan. "Bicaralah____" . Yang menekan hati. Kalau paduka raja mengijinkan aku berbicara. Mayatnya sekarang terlentang kaku di Sopo Bolon. Tapi. Supaya orang lain tidak berani mengulanginya terhadap marga kita!" "Ya. lebih berat mendatang dari penghinaan yang dengan sengaja diarahkan marga lain yang membunuh Ama ni Boltung itu. dari antara kita. Tentu kamu turut mendengar ratap mereka." suaranya tegas dan pasti. ratap para perempuan itu. Dan. bila penghinaan yang sangat nista ini kita terima begitu saja. Sekitar mayatnya duduk melingkar para perempuan. Kita terkutuk. sesuatu yang mengharapkan penuntutan balas. dengan darah merah yang memancarkan cahaya semangat yang tak akan padam pada tiap wajah kita. Kuat meledak. Meratap berkepanjangan. Lalu tertumpu akhirnya ke tempat para raja. orang dari marga lain.

hendaknya kita menelaah. Ronggur melanjutkan. Yang menyerang Ama ni Boltung. janganlah kita beranggapan bahwa Ama ni Boltung terlalu lalai menghadapi musuhnya. Tambah sering mengganggu ketenteraman hidup? Mengganggu kerukunan hidup di pantai Danau Toba ini?" Semua terdiam. yang sudah terlalu sering mengakibatkan pecahnya perang antara satu marga dengan marga lain. "tapi yang paling perlu kita pikirkan sekarang. Yang menjadi pokok persoalan sekarang menurut pendapatku. dapatkah Paduka Raja menceritakan pada kami. dicabutnya nyawa mereka dengan ujung pisau. tidak seorang saja. Tanah batu yang cukup . hingga Ama ni Boltung yang sudah kita kenal keberanian dan ketangkasannya berkelahi. Arwahnya tentu ditempatkan para dewata di tempat para hulubalang perkasa. karena semakin sempitnya tanah yang dapat kita garap. antara satu lu hak dengan luhak lain. Mereka menyerang sekaligus. tempat terhormat. Tadi siang. Juga karena pertengkaran mengenai perbatasan sawah." "Kuhormati kepahlawanan Ama ni Boltung." sahut Ronggur. seorang lagi luka pada tangannya. yang tanahnya bercampur batu. kenapa marga lain itu menancapkan ujung pisaunya ke dada Ama ni Boltung?" "Pisau itu mereka tancapkan ke dada Ama ni Boltung. Soal yang sudah terlalu sering menimbulkan pertengkaran. Juga raja. dapatlah diketahui bahwa soalnya timbul karena pembagian air dan perbatasan sawah. Tapi. kenapa persoalan begitu rupa tambah sering kita hadapi. Tidak kurang dari lima orang ma lah. karena persoalan pembagian air yang harus dialirkan ke sawah."Paduka Raja. mula atau sebab timbulnya perkelahian itu. Tidak kurang dari dua orang yang menyerang dirubuhkannya. rubuh ke atas tanah. aku jalan-jalan sampai ke kaki bukit. Dia masih sempat membawa korban. Dan. Dari keterangan Paduka Raja. "Soalnya. Sudah sampai ke sana perluasan sawah.

Tapi. berakhir di mana . Orang tambah berebut pada air parit yang dangkal agar sawahnya lebih dan dapat lebih banyak menghasilkan padi. "Tapi.ya. Inilah mula persoalan! Harus awal soal ini yang diatasi agar hal yang bisa menimbulkan perkelahian dan peperangan yang menumbuhkan luka dan duka di tiap hati dapat dihilangkan." kata raja. Tidak bertambah luas. Kami juga turut bekerja. Keringat kami juga turut membasahi tanah batu. Karena itulah. Ini sudah terang menambah kesulitan hidup. "kami juga sudah mengetahui itu. tiap suku tambah berkembang biak. soal sebenarnya sudah kita ketahui. Tangan kami juga turut lecet karena mengayun pacul ke tanah berbatu." "Paduka Raja. Lihatlah." "Apa maksudmu?" tanya Raja Panggonggom. "jadi. Berarti." Dengungan suara pun bangkit di tengah orang banyak. "Usulmu memang bagus. Mereka orang yang berani hidup. Y ang taat melaksanakan pesan nenek moyang masingmasing.keras itu mereka pecahkan dengan cangkul yang diayunkan kedua tangan mereka. "Kita harus mencari . betapa sungguhnya tiap orang dan marga yang ada di sekitar danau ini mempertahankan hidupnya. tambah banyak mulut yang harus diberi makan dari hasil tanah yang itu juga. Tanah yang dapat kita kerjakan masih tanah yang dulu juga. melanjutkan hidup keluarga dan marga." kata Ronggur pula tak mau henti. ke mana kita harus mencari tanah garapan baru? Sekitar kita. supaya batu menjadi lumat agar bisa menghasilkan padi. setiap orang menggunakan akal licik untuk memperoleh setapak tanah." "Cukup. membangun sebuah parit saluran air. Mereka melinggis pinggiran gunung batu. Kita tidak tahu. mencari daerah baru tempat perluasan marga. melingkar gunung batu yang tandus lagi tinggi." sahut Raja Panggonggom mengatasi dengung suara itu.

" "Sungai mana?" cepat Raja Panggonggom memotong. Ronggur sudah memancing kemarahan para dewata. yang juga sejak tadi terus-menerus mengunyah sirih. Sambil meludah merasa jijik atas ucapan Ronggur. Siapa yang mau membunuh diri dengan pekerjaan sia-sia itu? Karena itu. harus berusaha pula meluaskannya. yang menjelma menjadi binatang buas. kita harus mempertahankan tiap jengkal dan tiap tapak tanah yang kita pusakai dan kuasai. apalagi orang tua yang duduk di belakangnya yang menyandang kulit kera yang sudah dikeringkan. Datu Bolon itu lebih merasakan. Penjaga ini tidak senang pada orang yang berani melintas di sana. karena mengganggu ketenteraman para dewata yang tidak tampak oleh mata kita. Kita tidak dapat tahu. Caranya terserah pada kekuatan kita. namun sinar wajahnya masih tetap memancarkan sikap keyakinan. Karena itu. Dan. Setiap orang jadi merasakan. Habis perkara. apakah masih ada tanah datar di seberang pegunungan ini." Ronggur tidak langsung menyahut. Wajah Raja Panggonggom memancarkan sinar kemarahan. "Sungai Titian Dewata. beralih pula pada wajah pemuda sebayanya. bagaimanapun. Lalu katanya dengan suara perlahan tapi pasti: "Menurut cerita nenek moyang. yang bermula dari salah satu teluk danau. Binatang buas akan membunuh tiap orang tanpa ampun. yang dituliskan pada pustaka.gunung ini. kita akan mengikuti sungai. T iap puncak dijaga para dewata. setiap sungai akan bermuara ke tanah landai. supaya kita tidak melintasi dan melewatinya. telah dipermainkan Ronggur. Dan. Pegunungan ini berlapislapis. pagar alam yang sengaja dibuat para dewata. . dikenal bernama Datu Bolon Gelar Guru Marla-sak. Kutuk dewata akan tiba." Dengung suara bangkit di tengah kelompok lebih gemuruh dari tadi. Lebih dulu ditatapinya wajah para raja. Tapi. kemudian wajah para lelaki.

kau masih terlalu muda. Raja Panggonggom memberi isarat. Orang tambah merasa dipermainkan Ronggur. Lihat. Hendaknya. Jadi. jalan arwah kita kelak ke dunia lain. Ronggur harus duduk. memendam semua yang ada di dalam hati. Alangkah sia-sia. ke hidup lain. dia dapat mengatasi luapan marahnya. di mana para dewata dan arwah nenek moyang bersemayam di sekita/ Mula Jadi Na Bolon. Gong sudah tidak dipalu orang lagi sehingga ratap perempuan dari Sopo Bolo tambah jelas kedengaran. masih basah malah. kita tidak dapat mengikuti Sungai Titian Dewata bila hendak mencapai tanah landai. Tidak memberi kesempatan bicara lagi. orang yang dikutuk arwah nenek moyang. Raja Panggonggom kembali berbicara. Karena perintah itu. Darah Ama ni Boltung masih melekat di sini. terutama pula setelah suruhan kita diusir oleh marga yang membunuh Ama ni Boltung itu. Karena kita tidak mau disebut orang murtad. tempat Mula Jadi Na Bolon bersemayam. agar hidupnya di dunia lain itu berbahagia. lalu mengatakan: "Ronggur. semua rakyatku. berakhir di ujung dunia. Tempat terhormat. Anakku! Sungai Titian Dewata itu lain dari sungai biasa." Sikap Ronggur masih mau berbicara lagi. tiba ke sana. pisau yang tergenggam di tangan kiriku ini.Tapi. percakapan itu tidak langsung penyebab kita kumpul di sini. sidang kerajaan hari ini memutuskan: mengumumkan perang dengan marga yang membunuh Ama ni Boltung!" . Sungai Titian Dewata. Sengaja diciptakan dewata untuk Titian Para Dewata menuju matahari. kalau kita tidak menuntut balas. Tapi. Tapi. kalau kita tidak menghapus corengan arang yang di buat orang di wajah marga kita. agar dia duduk. suatu kemurtadan. Sungai Titian Dewata. dengan sikap bijaksana yang melekat pada Raja Panggonggom. "Kita tadi dengan sengaja telah membuka satu percakapan yang cukup panjang. saat ini.

!" para lelaki dan pemuda bertempik sorak menyambut putusan raja. akan menyediakan alat peperangan untukmu. . Mereka sekarang sedang menyiapkan segala sesuatu mengumpulkan . Bunuh kalau melawan. Raja Namora."Huraa . "Para perempuan. Raja Namora. sehingga suara ratap perempuan tenggelam. Padamu sekarang terletak tugas untuk menghapus corengan arang dari wajah kita masing-masing. . sebentar lagi akan berkumpul di sini. Raja Partahi. Setelah Raja Panggonggom duduk. seluruh hulubalangku. tunjukkanlah kehulubalanganmu. Tunjukkanlah kebe-ranianmu. diumumkan awal peperangan dengan marga yang sangat angkuh itu. Musnahkan kampungnya. Tangkaplah mereka di mana saja berjumpa. "Apakah seluruh rakyatku. akan menyediakan makanan bagimu." jawab serentak. Wajahnya lebih tegas dan ganas dari Raja Panggonggom. . pendukung kehormatan marga.!" Kelompok kembali bersorak. akan dikerahkan Raja Ni Huta menyediakan batu sungai peluru ambalangmu. Janganlah siasiakan segala bantuan ini! Jadi. dan Raja Ni Huta. dari kampung sekitar. lalu jadikan kampung perluasan bagi marga kita! Tawan rajanya! Jadikan budak setiap keturunannya . . "setelah mengebumikan mayat Ama ni Boltung besok pagi. Sewaktu dia berbicara. Rapat kerajaan hari ini. kampung yang didiami marga kita juga sebagai kampung perluasan. . wajahnya menjadi merah dan matanya menyinarkan cahaya marah yang tidak terpadam-kan. rampas. dapat menerima dan mendukung putusan ini?" "Kami akan laksanakan dengan gigih. Suaranya deras mengalir dan mengguntur: "Para hulubalang. akan membantu para hulubalang marga dari bidang masing-masing. mulai ma lam ini. Raja Partahi." kata Raja Nabegu selanjutnya. . Raja Nabegu berdiri. Sedang Raja ni Huta.

Mereka. "Kau Ronggur!" tegur Raja Nagebu. Sedang Raja Ni Huta telah menyediakan peralatan gondang. adik-adik kita yang setia. Apa sekalipun!" "Bagus. lengkap dengan pemain. Perbaiki perisaimu!" Lalu. aku akan turut melaksanakan tugas. asahlah kapakmu! Tajamkan mata tombakmu! Perkuat tali ambalangmu. Pergi menyembelih beberapa ekor babi dan mengeluarkan alat perang dari tempat simpanan. dengan putusan sidang kerajaan ini?" Tidak ada sahutan. dia kembali duduk. sudah tergambar darah merah basah menetes dari tiap tubuh. Pada bayang pandangnya.pasukan untuk membantu kita." "Kalau kau pemuda. bisa ." Kelompok kembali bersorak dan bertepuk tangan. Raja Panggonggom lalu mengatakan: "Bapa Paru Bolon Gelar Guru Marlasak. tentu kau akan melaksanakan tugas pemuda. Raja Partahi dan Raja Namora sudah menyisih dari khalayak ramai. beberapa mayat bergelimpangan di tanah. Supaya kita berada di pihak yang menang." "Ya. Raja Panggonggom kembali berdiri. Panggillah para dewata agar memberkati seluruh laskar kita. Menatap bala tentara yang sudah penuh semangat. Walaupun usulku ditolak. bagus. Ronggur menundukkan kepala. "masihkah kau seorang pemuda?" "Seperti tampak Paduka Tuan. Tenunglah dengan kekuatan batinmu! Panggillah para arwah nenek moyang melalui kekuatan sihirmu agar mereka membantu kita dalam peperangan. "Ada di antara kalian yang tidak setuju dengan perintah ini. sebagai pemuda marga.

Kemudian membaca jampi-jampi. Raja Partahi. bersiap-siap mau manortor. Di saat itu. Tangan yang dua. ludahnya yang merah karena mengunyah sirih. Datu Bolon meminta agar dimainkan pula gondang Mula jadi na Bolon sebagai penghormatan yang mutlak terhadap pencipta asal kehidupan dan yang kepadanya akan kembali segala yang hidup. Datu Bolon meneriakkan dengan suaranya parau: mahluk halus penjaga rumah. bersujud. Kemudian bersemadi entah beberapa lama. Kemudian. mulai berdiri. Cepat pula diiringi Gondang . Kepala mereka menunduk-nunduk. tempat kerajaan baru khalayak ramai. Di belakang Datu Bolon. disemburkan ke sekitar. Setelah memberikan tanda. datanglah bersama kami bapak pargaul pargonci. dan supaya semangat terus mengapi tanpa mau padam sebelum musuh ditundukkan. mahluk halus penjaga tanah yang tidak dapat dilihat mata semangat poyang tujuh keturunan kupanggil kau. memberi hormat pada arwah halus yang tadi dipanggil. mulutnya bergerak-gerak. duduk bersila di atas tanah. Raja Namora. Maju ke tengah khalayak dan di sana membuka parhalaan.mengalahkan musuh. Orang pada berdiri." Datu Bolon Gelar Guru Marlasak berdiri. Datu Bolon menemani mereka membasmi musuh. dan Raja Ni Huta. palulah gondang somba-somba Gondang pun dipalu. gondang somba-somba. Habis itu. dirapatkan dikening. telah kembali duduk di tempat semula. dijadikan budak belian.

Cepat-cepat dia mendekati kelompok kerajaan. "Bawalah ke mari seekor ayam jantan putih yang sudah bertaji. memurkai dan mengutuk musuh. kemudian mengatakan. menyusul Gondang Habonaran. begitu pula untuk selanjutnya. . dima inkan Gondang Husahatan. langsung dari leher ayam yang dipulasnya.Bataraguru." Raja Ni Huta cepat memberikan yang diminta Datu Bolon. agar Dewata Bataraguru memberi kekuatan jiwa bagi mereka dalam menghadapi musuh. dipulasnya leher itu. Kemudian. sehingga mereka tidak mengenal menyerah. begitu pula para hulubalang. dan laskar menyambut dengan sorak-sorai dan gemuruh. memberi keselamatan bagi mereka semua. supaya tiba ke tempat yang dicitakan. sehingga menitikkan darah. kekuatan jiwa dalam menghadapi saat yang genting. agar merahmati mereka. Dan. baik kerajaan. Datu Bolon masih di tengah lingkaran. Setiap yang berpihak pada kebenaran. Orang kembali duduk ke tempat masing-masing. Kembali sorak-sorai. Lalu menyusul Gondang Balabulan. sampai kepada kemenangan akhir. memohon pada seluruh dewata. agar Dewata Balabulan. yaitu yang menunjukkan bahwa mereka memang berada di pihak yang benar. Habis itu. Lalu Gondang Debata Sori mengikutinya agar dewata Sori memberi kebijaksanaan bagi para hulubalang dalam menyusun strategi perang. Sebagai penutup. Gondang Sitio-tio. lalu menyuruh mereka mereguk darah ayam yang masih mentah itu. Tapi. Datu Bolon mengakhiri tortor itu dengan menjampikan pantun kemenangan: Mendaratlah perahu meniti ombak ketanah landai berangkat kita ke medan perang pantang pulang sebelum menang Semua. baik dalam pertempuran. Datu Bolon langsung menjampi ayam itu. pasti akan menang. Melumpuhkan semangat musuh agar tidak berani menghadapi laskar mereka.

Raja Ni Huta yang pangkat adik itu. yang berarti ada tujuh kampung lagi masuk lingkungan kerajaan marga itu. Kemudian berdiri tegak lurus. Seranglah mereka dari segala arah. Setiap Raja Ni Huta pangkat . Di saat dagingnya belum masak benar. Seperti tidak tersangkakan. lalu mengatakan: "Besok pagi bila fajar pertama terbit. Raja Panggonggom menyambut mereka. gondang dipalu orang perlahan-lahan. Datu Bolon meloncat dari jongkoknya sambil berteriak dan memekik. entah berapa lama. kemudian melaporkan bahwa mereka sudah siap sedia melaksanakan perinlah dan pangkat abang mereka. Dalam saat begitu. Meratapi mayat Ama ni Boltung. Ayam jantan putih tadi. Kembali dia bersemadi. Kamu bisa menerobos pertahanan kampung induknya dari arah timur. di tengah lingkaran. Datu Bolon telah membagikannya pada golongan raja. dengan basa-basi kerajaan. hampir tidak kedengaran. Desak mereka sampai ke tepi kampung induk marganya. duduk dekat raja. Raja Ni Huta dari kampung sekitar yang masuk pangkat adik. Para laskarnya bersatu dengan laskar yang sejak tadi ada di sana. masih muda. sebagai wakil para dewata memakan daging sembahan. Kamu bisa menyusup dari sana ke tengah kampung tanpa dihalangi duri bambu yang rapat dan keras. serbulah musuh. Raja Ni Huta yang tujuh orang itu. mereka bakar langsung dengan bulunya sekali ke dalam api unggun. Di sana bambu duri pagar desa. Bunuh kalau melawan atau berusaha melarikan diri!" Orang kembali bertempik sorak. Kucar-kacirkanlah mereka! Tawan setiap lelakinya yang masih hidup! Begitu pula para perempuan.Bangkai ayam diletakkan di tengah kelompok. Di saat begitu ratap perempuan dari Sopo Bolon kembali terdengar. jadikanlah budak belian. Lalu mereka mengambil tempat. Pada tengah malam. telah tiba di sana. lengkap dengan pasukan.

Mereka terus margondang dan terus manortor. yang diiringi oleh seluruh rakyat yang mereka bawa. Tortor yang menunjukkan kesetiaan. Lalu. . Lalu. bersama Raja Nagebu. Pertemuan itu tidak bubar sampai pagi hari. Dalam bergembira itu. Raja Ni Huta yang tujuh orang itu manortor bersama. tapi warna putihnya lebih kecil dari Raja Ni Huta yang berdiam di induk kampung marga.adik itu. Raja Panggonggom turun dari tempatnya. kedengaran Raja Panggonggom berkata: Rotan ras rotan singorong mengikat keutuhan marga bersatu raja dan hulubalang menjunjung martabat marga Raja Ni Huta yang tertua menyahut: Berbaris kami seperti gajah di hutan balantara perintah raja menjadi suluh kami abdi abadi '. Raja Panggonggom melanjutkan: Tujuh sisiku menghadap tiap penjuru indah mimpiku hulubalang perkasa punyaku Khalayak ramai serentak menyahut: Kami genggam tombak tombak pusaka godang bila raja bersama khalayak bahagia rakyatnya Lalu gondang pun kembali dipalu. memakai bolatan juga. terlupa terjun besok pagi ke kancah pertempuran. menyelempangkan ulos-batak ke tiap pundak Raja Ni Huta yang tujuh itu. Para hulubalang. Tuak dan daging babi terus dihidangkan sampai hampir setiap orang sempoyongan. telah selesai menyusun strategi dan taktik peperangan sesuai dengan petunjuk Datu Bolon.

mendendam. Batu yang dilemparkan ambalang. Di depan sekali berjalan para hulubalang.Ronggur selalu menyisih dan meminum tuak seperlunya saja. Lengkap dengan Datu Bolonnya. semua itu harus ditekan. marah. orang yang sedang dibius semangat. Kemudian kerajaan. Tapi. berterbangan di udara. untuk memasuki nasib yang tidak terduga. Mengisi seluruh lapangan terbuka. hardik dan hasutan. Debu mengepul ke udara di tempat kering. yang punya tanah tipis dan di bawahnya batu alam yang keras. Lumpur berhamburan . Sambil bertempik dan bersorak. Usulnya ditolak! Tapi. Kemudian menurun ke sawah yang baru dibajak. Mengacungacungkan senjata tajam. Mereka dihadang musuh pada sebuah sungai kecil. Manusia di seberang kali sana pun bertempik sorak. semangat usul itu tetap berakar dalam hati. Dia harus turut. Wajah manusia itu tak ubah seperti wajah mereka sendiri. Kerajaan dari marga lain itu. kepala manusia. Dia melihat orang yang sedang menari. Pasukan dari marga lain itu. yang sudah dibius semangat itu. Seolah matahari mau membakar setiap tubuh manusia dan bumi. Dia tahu pasti. Bersama terbitnya fajar pagi yang memancar dari balik puncak Dolok Simanuk-manuk. memusnahkan musuh. turut bersama laskarnya. malah menjunjung putusan kerajaan. Dari segala arah kedengaran pekik dan jeritan. Di sayap kanan dan kiri para laskar. orang yang sedang bernyanyi. Mati! Semua bayangan kemungkinan ini mempengaruhi pikiran dan perasaannya. menghalau dingin dari tubuh sehingga keseimbangan pikirannya tetap terpelihara. bergerak menuju sasaran. Jarak antara kedua pasukan itu dipisah sebuah sungai kecil yang airnya dangkal. para lelaki yang marah itu. beberapa orang di antara mereka akan jatuh menjadi korban dalam peperangan. Bercampur baur dengan udara yang terik. juga membawa senjata seperti yang mereka bawa. Tak ubah seperti kerajaan marga mereka sendiri. Kemudian jatuh mencari sasaran.

lalu mengotori wajah manusia di tempat basah. Tempik dan sorak, pekik, hardik, dan hasutan terus menerus bergema. Pasukan kedua marga yang sedang marah itu, sorongmenyorong. Tidak ada yang mau kalah. Jarak antara keduanya bertambah dekat. Ambalang tidak digunakan lagi. Langsung tombak, panggada, dan kampak dipukulkan dan ditangkis perisai. Siapa yang jatuh, jatuh tersungkur tanpa diperdulikan, malah menimbulkan kegembiraan bagi orang yang dapat merubuhkannya. Kedua pasukan marga itu sudah sama-sama terjun ke dalam sungai. Di sana mereka bersicucukan, bersihantaman, dan bersipu-kulan dengan segala macam taktik dan cara. Matahari terus bersinar terik. Pasukan kedua marga itu sama banyak, sama kuat, dan sama berani. Sehari itu keadaan pertempuran tidak berobah. Beberapa orang yang luka di bawa ke garis belakang oleh para perempuan. Beberapa-orang yang mati dibawa ke garis belakang juga, tapi tidak sempat ditangisi. Anak-anak pun sudah turut serta. Mengumpulkan batu, yang segera diberikan pada para lelaki pemegang ambalang. Tapi, batu itu tidak sempat lagi dilemparkan dengan ambalang, langsung dilemparkan tangan. Dan terkadang tidak jarang, anak itu turut terjun ke tengah pertempuran untuk memukul atau dipukul. Bila senja tiba, kedua pasukan marga itu saling meninggalkan daerah pertempuran. Mereka disambut gendang dan tortor para orang tua, para perempuan, para gadis di induk kampung. Daging babi, tuak, terus diedarkan membakar semangat bertempur. Datu Bolon terus-menerus menjampi. Lalu, memberi nasihat baru. Dan, bila fajar terbit lagi, mereka kembali terjun ke daerah pertempuran. Di tengahnya, Ronggur mengamuk ke kiri dan ke kanan. Ronggur bersama beberapa pemuda menyusup ke depan, berusaha mengkucar-kacirkan daerah musuh. Susupan

mereka ini cepat diikuti gelombang kedua, ketiga, dan keempat, yang membuat pertahanan musuh tembus. Musuh kelabakan. Tapi, yang hendak dikucar-kacirkan itu, tidak mau menyerah begitu saja. Mereka juga mengadakan perbaikan pada pertahanannya dengan cepat. Lalu mengadakan pukulan balasan. T api, pasukan marga Ronggur mengadakan desakan yang terus-menerus, bertubi-tubi, sehingga garis pertahanan musuh mulai dipukul mundur. Sampai akhirnya mendekat ke kampung musuh. Malam itu pasukan marga Ronggur tidak kembali ke induk kampung. Mereka terus mengepung induk kampung musuh. Pagi berikutnya pasukan marga Ronggur menyerbu induk kampung musuh dari sebelah timur, seperti yang dinasihatkan Datu Bolon. Melalui bambu duri yang masih muda, mereka menerjang ke tengah kampung, dengan pekikan yang melengking. Dengan segala tenaga yang ada, marga yang diserbu itu mengadakan perlawanan. Ikut sudah para perempuan, baik yang tua begitu pula yang masih gadis. Tampaknya tidak akan habis perlawanan itu sebelum mereka mati semua. Mampus semua. Dari tempat ketinggian, sekali waktu Ronggur melihat, anak gadis Raja Nabegu kampung yang mereka serbu, turut mengadakan perlawanan. Rambutnya yang panjang terurai lepas. Dibasahi oleh keringat. Dilihat biji mata Ronggur sendiri, sudah ada dua tiga orang pasukan marganya ditumbangkan anak gadis itu. Dengan satu loncatan jarak jauh, Ronggur sudah berada di hadapan perempuan itu. Mata perempuan itu memancarkan sinar merah, mengapi, hendak menelan Ronggur bulat-bulat. Perempuan itu memukulkan penggada ke arah Ronggur. Tapi, Ronggur mengelak dengan melompat, dan peng-gadanya sendiri mengenai tengkuk perempuan itu sampai jatuh ke tanah. Dalam hati Ronggur berucap “Sungguh perempuan pemberani!"

Juga, sekali waktu menumbangkan seseorang yang sedang membidikkan tombaknya ke arah Raja Panggonggom marganya. Sewaktu Raja Panggonggom dan pengawalnya ke arah lain. Cepat Ronggur menyergap orang itu. Tapi, tangannya sendiri, lengannya, luka. Namun musuhnya dapat ditumbangkannya dengan menghantamkan penggada ke kepala musuh. Otak meleleh dari luka. Raja Panggonggom melihat ini semua. Luka di lengannya cepat dibalut Ronggur. Lalu terjun lagi ke tengah pertempuran yang dahsyat itu. Asap pun mulai mengepul. Rumah sudah mulai dibakar. Padi dari lumbung desa diangkut, juga harta rampasan perang. Para lelaki yang belum mati, begitu pula para perempuan yang belum mati, ditawan. Untuk dijadikan budak belian. Yang sampai keturunannya kelak akan tetap dan tidak bisa terangkat dari martabat budak. Tidak akan berhak lagi mengadakan pekerjaan adat. Harus patuh setiap saat mengerjakan apa saja yang diperintahkan tuannya. Kampung berdekatan dengan induk kampung itu sudah dibakar. Perang sudah berakhir. Kekalahan dipihak marga yang diserbu. Para rakyatnya yang masih hidup sudah ditawan, dirantai. Ronggur teringat pada perempuan yang ditumbangkannya. Cepat dia menuju ke sana. Keringat melelehi seluruh tubuhnya. Entah kenapa hatinya mengharapkan agar pukulannya hendaknya tidak terlalu keras. Dia mengharapkan, hendaknya perempuan itu masih hidup. Dia mau menawannya. Merasa bersyukur dia, perempuan itu masih merintih. Cepat dia mengambil air lalu diusapnya wajah perempuan itu dengan air. Kemudian diberinya minum. Didengarnya suara gadis itu perlahan mengatakan:

Matahari sore dengan lembut memancarkan sinar. dan lelaki yang luka menyambut mereka. pergi bersama ke Sopo Bolon mengasingkan diri dari orang yang sedang bergembira. Begitu pula anak-anak yang masih digendong. Ronggur menarik tali yang mengikat perempuan yang ditawannya. disuruh ibunya melambaikan tangan ke arah ayah. air mata. Ronggur tersenyum saja dan terus menarik tali dengan tabah. karena mati dalam pertempuran. Menjadi sumber rintihan. lelaki yang sudah tua. Sambil melangkah mereka lagukan nyanyi kemenangan. tidak dikunjungi anak lelakinya lagi. para perempuan. Ronggur tersenyum mendengar rintihan itu. Sampai mati!" margaku. Sebagian disuruh mengangkut harta rampasan. karena mereka telah . Dengan pekik kemenangan pasukan laskar marga Ronggur menuju pulang ke induk perkampungan. abang mereka yang pulang dari peperangan sebagai pemenang. seperti sudah turut lesu menyaksikan peperangan yang baru saja berakhir dan banyak menimbulkan korban. Perempuan itu selalu meronta dan ingin melepaskan diri. dan dendam. Dia dapat menghargai keberanian dan semangat perlawanan yang dipunyai perempuan itu. terutama pada keluarga yang suaminya atau anak lelakinya jatuh sebagai pahlawan di medan laga. Diusahakan agar tidak mengganggu kegembiraan para pahlawan yang menang perang."Aku harus bersama kalian. Nanti akan dibagi-bagikan pada tiap keluarga. Di sana mereka meratap dengan lemah. Di gerbang kampung. Sedang para perempuan yang tidak dikunjungi suaminya lagi. Tangan menarik para tawanan. hai lelaki Pertahankan martabat marga kita. Lebihnya akan dimasukkan ke dalam lumbung desa. Agar tidak mengotori rasa gembira pada Mula Jadi Na Bolon dan seluruh para dewata serta arwah nenek moyang.

Beberapa ekor babi dipotong lagi dan darahnya diminum bersama. Harta rampasan dibagi. "Ronggur. dalam pertempuran kau telah menyelamatkan nyawa kami. Sawahnya akan diambil dan dibagibagikan. mencabuti rumput sawah bila saatnya tiba. Kampung marga yang mereka kalahkan. Gondang dipalu dan tortor kemenangan ditarikan orang bersama-sama. Yang harus tunduk ke induk kampung. Baik yang sudah mati begitu pula pada yang masih hidup. Raja Panggonggom melirik secara khusus pada Ronggur. Sendirinya pula daerah taklukan mereka bertambah luas. Sekarang giliran kami membalas jasamu yang besar itu. Pada tiap kampung sebagai pelaksana adat dan penyelenggara hukum. Pun. Upacara kemenangan pun diadakan. menjadikannya sebagai budak untuk membantu ibunya yang sudah tua mengerjakan urusan rumah. . Dia anak tunggal. lalu. ditunjuk . Sebagai penutup upacara Raja Panggonggom mengucapkan terima kasih pada seluruh laskarnya. Permintaan itu dikabulkan. kehendakmu!" Ronggur memohonkan agar padanya diberi kekuasaan untuk terus menawan tawanannya. Jadilah kemudian kampung itu menjadi kampung perluasan marga. Tanah persawahan rampasan juga ditentukan jatuh ke tangan siapa. Dikatakan pula. yang dengan sendirinya mengangkat martabat marga dan raja mereka. jadi belum cukup dewasa dalam peralatan adat dan hukum. Justru karena Ronggur tidak punya adik perempuan. Katakanlah. akan dijadikan kampung perluasan bagi marga mereka. dikuasakan pada Ronggur. ditunjuk beberapa orang yang cukup berjasa menjadi Raja Ni Huta. Raja Ni Huta induk kampung musuh yang ditaklukkan itu. Tapi. Diizinkan mereka mendirikan rumah di situ.dipilihnya menjadi pemenang. karena dia belum berumah tangga. dengan suka rela dimintakan pada setiap orang yang mau pindah ke kampung yang ditaklukkan itu.

Walaupun pesta sudah selesai. baik dari marga sendiri begitu pula dari marga lain yang masih banyak bertabur di sekitar danau. cepat dilupakannya. Beberapa nama pahlawan timbul. Sejak hari itu. yang disetujui Ronggur sendiri. Mereka tebarkan dari mulut ke mulut sambil memetik kecapi. Tapi. Memang dia sudah menjadi Raja Ni Huta Muda dan Hulubalang Muda. Ronggur dikenal orang sebagai Raja Ni Huta Muda merangkap Hulubalang Muda.seseorang menjadi walinya. orang masih tetap dipengaruhi suasana kegembiraan menang perang. Di sana sini Ronggur mendengar orang mengatakan: "Dengan cara beginilah kita harus menguasai tanah persawahan subur yang ada di sekitar danau untuk melanjutkan keturunan. menjadi tokoh keberanian dan ketangkasan serta kesetiaan termasuk nama Ronggur sendiri. ingatan orang masih tetap terpaut ke sana. Pesta kemenangan dilangsungkan tiga hari tiga malam. Ronggur sendiri. Sebagai gantinya diberikan kepadanya sawah yang dulu dimiliki Raja Nabegu dari marga yang mereka kalahkan. Orang selalu menyebut atau ." Beberapa orang ampangardang. Sawahnya yang ada dekat induk kampung marganya diserahkan pada kerajaan. sehabis pesta kemenangan itu cepatcepat mengerahkan rakyat yang suka rela pindah ke induk kampung musuh yang dikuasakan padanya. Untuk beberapa hari. Membangun perumahan baru di atas puing-puing reruntuhan. Oleh tugas yang banyak dan memang dia sendiri ingin cepat melupakan saat menanjakkan marganya ke tingkat yang lebih tinggi dan meningkatkan kedudukan dirinya sendiri. menghapal jalannya pertempuran lalu memindahkannya ke bentuk yang dapat dinyanyikan. orang tidak berani lagi atau tidak wajar lagi menyebut nama kecilnya.

Tidak tampak lagi warna merahnya. Cerita kepahlawanan disampaikan pada mereka. dan menerima datangnya partandang. Bila bulan purnama. Jumlahnya lebih banyak malah. Kuburan yang digali tempat abadi bagi orang yang mati. Yang agak besar. sudah ditumbuhi rerumputan hijau. memencilkan diri ke tanah tandus di kaki bukit. Anak lelaki diajar membaca dan menulis huruf Batak. Saat yang baik bagi pemuda pergi martandang ke kampung paman mencari jodoh. yang sempat melarikan diri. Lambat-laun kehidupan kembali tenang. Juga mereka diajari memanjat pepohonan tinggi supaya tidak gamang. pengganti yang mati dalam peperangan. Tapi. Darah yang tercecer ke lumpur sawah sudah bercampur baur dengan tanah menjadi pupuk di musim mendatang. Lu hak anu berperang dengan luhak satu lagi. Tapi. diajari menggunakan senjata. menumbuk padi di halaman perkampungan sambil bernyanyi. Yang membuat ingatan orang sudah menipis pada peperangan yang baru lewat. Para gadis belajar memintal benang dan bertenun. Anak-anak sudah ada berlahiran. Masa merumputi sudah lewat. menjadi orang . Pekerjaan orang kembali senggang. pada mereka sampai juga berita dari sekitar danau: marga anu berperang dengan marga satu lagi. ccdw-kzaa 2 Rumah baru sudah berdiri pengganti rumah yang dulu terbakar.memanggilnya dengan Raja Ni Huta Muda dan Hulubalang Muda. Sumber malapetaka tetap sama: air parit dan batas tanah. Padi di sawah sudah bunting. Orang yang kalah dijadikan budak.

ketenangan yang sekarang dikecap marganya masih tetap mengandung sesuatu kemungkinan yang menakutkan. dan berburu bersama anjingnya si belang. Karena itu. melawan tradisi yang sudah tertanam dan berurat akar di hati manusia yang ada di sekitarnya. keyakinan yang digenggamnya ini belum berani dia menyampaikannya pada orang lain. Namun perasaan terpencil tetap menguasai diri Tio. Masih merasa takut dia. Bila temannya sebaya sudah banyak berumah tangga. Walau sudah sering diminta ibunya. justru karena gadis yang sebaya dengannya dari suku Ronggur tidak mengawaninya. bagi Ronggur. dia masih tetap menampik. Di sana dia menghabiskan hari. akhirnya Tio.buruan. dia belum. Ini jugalah yang mendesaknya agar setiap hari pergi jauh dari kampung ke tempat terpencil yang jarang dikunjungi orang. Orang buruan ini membuat rumahnya di dinding bukit dan gua. masih merasa kecil dia menurut anggapannya. dia lebih banyak menyendiri. Dia yakin kalau memperoleh perlakuan yang baik budak itu tidak akan melarikan diri. wanita tawanan itu. Tapi. mengembara. Dia masih tetap memandang dan memperlakukannya sebagai manusia yang punya hak. . merasa senang juga. Dia boleh pergi ke padang-padang luas. Tak ubah seperti kebebasan yang ada pada orang merdeka. Dan. Padanya tetap diberikan Ronggur kebebasan bergerak. Perlakuannya pada wanita tawanannya berbeda dengan perlakuan orang lain yang punya budak terhadap budak masing-masing. Ronggur tidak merasa kuatir kalau budaknya itu melarikan diri. Setiap warta pecahnya perang antara satu marga dengan marga lain selalu membuatnya berduka. Karena memperoleh perlakuan yang baik itu. Jadi.

Namun keluh akhirnya mematikan keinginan itu. Pertanda elang itu mau hinggap. Dari situ dia dapat melihat danau di bawah. Di hatinya timbul niat. Dengan mata tombaknya yang pasti arahnya. setelah menyambar seekor induk ayam dari kampung. Ronggur selalu tertawa lebar bila dia pulang dengan hasil buruan. Lagi pula kalau dia lari. Hari itu. Dengan lahap Ronggur akan memakan daging binatang buruan itu. Dapat dipastikan Tio bahwa . Ronggur lelaki yang paling jahanam. Terkadang harus berlari kecil mengikuti elang yang terbang di atas. elang itu mengadakan putaran. Merasa kurang enak baginya untuk menghianati seseorang yang menghormati dirinya'dengan sewajarnya. Tio dapat mengetahui tempat seekor pelanduk bersembunyi. yang dibakar dan dipanggang. Kalau lari saja? Ronggur sudah berbuat baik terhadapnya. Dia dibenturkan kembali pada kenyataan bahwa dia bukan orang merdeka. Kemudian membawanya pulang. Tio sedang mengikuti arah seekor elang terbang. Berburu bisa membuat Tio asyik. Seolah elang itu datang dari balik gunung dan hendak kembali ke balik gunung. Atas bantuan si belang. Di saat putus asa mulai mencekam hati. akan mengejarnya ke mana saja. ingin pergi jauh. sesuatu keinginan selalu timbul di dadanya. Dia akan dapat ditangkap Ronggur. dia harus membunuh elang yang seekor itu. yang sudah banyak menyambar ayam kampung. tempat kawanan burung berondok. Dan.Tio menyendiri sampai ke kaki bukit. Berkeliling pada satu lingkaran. lalu terus mengikuti arah elang itu pergi. Ronggur tidak segan-segan melemparkan pujian yang menurut perasaan T io terkadang terlalu menyanjung. dia bisa membunuh binatang buruan itu. yang belum pernah ditempuh manusia. Matanya terus-menerus menangkap elang hitam yang terbang. Pertanda elang itu akan hinggap belum ada walau mendekat ke kaki bukit. dengan lemparan ambalanganya yang deras.

Ronggur memanggilnya agar datang mendekat. Merasa malu akan ketololannya." "Aku tahu. Tapi. Atau. Elang itu cepat menukik ke bawah setelah mengadakan putaran entah beberapa lama. Seketika napasnya serasa terhenti melihat peluru ambalangnya mengenai sasaran atau tidak." kata Ronggur. Ronggur berkata: "Sudah mampus penyambar ayam yang paling jahanam ini. . Sayang sekali peluru ambalangnya hanya mengenai buntut elang. Karena terkejut elang itu buru-buru mengepakkan sayapnya. Hulubalang Muda. Langsung tertancap ke dada elang. Wajah Tio menjadi merah padam dan merasa kesal bercampur malu. dari arah lain sebuah tombak terbang cepat. kenapa dia tidak menggunakan tombaknya? Sebuah tawa meledak di antara rimbunan ilalang." Tio masih terpaku pada tempatnya. sambarannya jatuh ke tanah. kepaknya mengenai salah satu dahan. Tio terus mendekat menuruni jenjang lembah. waktu itulah. di mana batang pohon besar itu tertancap ke tanah. Elang itu mengikutkan sambarannya ke bawah. Suaranya halus dan menggetar. Elang itu mengarah ke lembah." sahut Tio. Si belang sudah mengerti bahwa mereka sedang mengadakan perburuan. kenapa peluru ambalangnya tidak mengenai dada elang jtu. Ronggur sudah ada di hadapan Tio.pohon yang tinggi lagi rimbun dedaunannya. Mau terbang. Bersama senyum kemenangan. di situlah sarang elang itu. Lalu. Baru dia bergerak. Cepat dia mengayun ambalangnya. Lalu melepaskan peluru. "Lihat. "Muncung tombakku tertancap di dadanya. Dan. Elang itu jatuh ke tanah bersama gelepar lemah. gelepar akhir. pada salah satu dahannya. Si belang berlari cepat ke tempat suara itu bersumber. Saat yang baik itu tidak dilewatkan Tio.

Si belang kembali menjauh. Cukup begitu." kata Ronggur seraya memegang bahu anak gadis itu." "Hulubalang Muda terlalu melebih-lebihkannya. agar kau tidak memanggil aku dengan sebutan Hulubalang Muda atau Raja Ni Huta Muda lagi. Ronggur menjauh. "Bukankah itu menurunkan derajat Hulubalang Muda?" "Sama sekali tidak! Kau harus melaksanakannya!" "Bagaimana nanti kalau didengar orang kampung dan ibu?" "Peduli apa dengan mereka? Sebut namaku. Dan. "Tapi. Wajahnya memerah. katakan aku yang menyuruhmu. Buntut elang kena membuat elang tidak bisa cepat terbang. Ronggur." sahut Tio. tapi masih diusahakannya mengatakan. Membawanya ke dekat mereka berdua. Si belang sudah memagut tubuh elang dengan muncungnya. Yang mengurus mereka ialah aku. peluru ambalangmu sangat deras dan bagus arahnya. Walau sesuatu rasa menggelusak dalam dada. belum tentu muncung tombakku bisa tertancap di dadanya. matanya. "Itu yang sebenarnya. kau Tio.Ronggur menatapi T io lama-lama hingga T io menundukkan kepala menatap tanah. "sejak saat ini kuminta. lalu." "Dengarkan baik-baik. Kalau mereka menegur kau. habis perkara. Sebutlah namaku." Pundak Tio cepat turun naik. Kalau buntutnya tidak kena ambalangmu." Tio tambah tertunduk. si belang memagut ayam yang . "maukah kau berjanji akan melaksanakan permintaanku?" "Aku sudah ditakdirkan akan melaksanakan sebaik mungkin segala perintah Hulubalang Muda." mata Ronggur lama menatap wajah gadis itu. Di saat itulah aku mengayunkan tombakku. Lalu.

Dibersihkannya perut kedua binatang itu. "Tio. Matahari bersinar keras. Yang kemudian mendekat kepadanya sambil mengibaskan ekor. Tidur di ujung kakinya. Tidak jauh darinya. mulai membakarnya lengkap bersama bulu-bulunya. menjauh lagi. Mata Ronggur agak mengantuk. Tio mengelus leher si belang dengan lembut. Perutnya terasa kenyang. Lalu. Kemudian dibawanya ke tempat Ronggur menghidupkan api. Ronggur menelentangkan tubuh di atas tanah batu yang cukup keras. Biar kunyalakan api. Si belang masih mengunyah tulang belulang elang dan ayam yang diberikan kepadanya. mulutnya tidak dapat lagi dikuasainya untuk tidak menyanyikan sebuah lagu. Dagingnya tentu enak dimakan. keluarkanlah isi perut elang dan ayam ini. berpantun: Sanduduk di kaki bukit di atas batu ditimpa sinar matahari itulah siang melilit bumi sanduduk di kaki bukit di atas batu ditimpa sinar rembulan itulah malam. Lalu. di bawah pohon yang rindang." Tio berlari kecil membawa elang dan ayam itu ke parit kecil dekat situ yang mengalirkan air pegunungan yang jernih. redup mengalun saat siang dan malam antara terik dan nyaman . Lalu. Cukup terik. Tio duduk melihat si belang.disambar elang tadi dan membawanya ke dekat Ronggur dan Tio.

ke kampung paman. Oleh nyanyi T io kembali Ronggur teringat akan permintaan ibunya. perkampungan demi perkampungan dan berakhir pada tepian danau. jumlah keturunannya bisa berlipat ganda. Tentu. Untuk melahirkan anak lagi. Dia merasa takut. Hasilnya akan terasa atau memang kurang untuk membekali orang yang hidup di sekitar . Kemudian anak ini akan menjadi dewasa. Dalam tiga keturunan saja. Pada suatu saat. pikirnya. Di bawah mereka melalui tingkat tanah yang terus menurun. agar nama Muda dari belakang Hulubalangnya dihilangkan. Agar langsung memegang Raja Ni Huta di kampungnya. yaitu orang bertambah banyak sedangkan tanah yang dapat digarap masih tetap itu juga. Bila persoalan yang mencekamnya itu diluaskan pada keadaan sekitarnya dan dia tambah merasakan marabahaya yang sedang menantikan. Tentu hasil yang dapat diberikan tanahnya akan terasa kurang menghidupi keturunannya. agar dia berumah tangga. cepat pula ingatan itu dibarengi bahwa kalau dia berumah tangga. itu berarti istrinya nanti akan melahirkan anak. akan tiba saat itu. Tio teringat pada masa kemerdekaannya. meruntuhkan kerukunan kehidupan mereka di tepi danau. Dia disuruh ibunya pergi ke Samosir. yang mengintai dengan taringnya yang tajam.mentari dan gemintang bagi beta tidak berbeda karena hatiku terkenang padamu Ronggur membiarkan Tio menyanyi walau hatinya merasa rawan. Matahari tambah lama jadi melemah. pikir Ronggur. begitu pula atas usul Raja Panggonggom. lalu kawin lagi. Tetapi.

peperangan. "Tio. betapa bersyukur aku. Ronggur mengatakan. Aku. Betapa berbahagia. Yang tidak disangka Ronggur mulanya. kenapa kau tidak belajar memintal benang dan bertenun? Kau sudah harus mengurangi kegemaranmu pergi mengembara.. Ulos yang paling halus raginya. Ronggur menundukkan kepala. Hal begitu sudah tentu akan lebih banyak mengobarkan perkelahian. "Tio. kau harus belajar memintal dan bertenun Aku akan meminta izin pada Raja Panggonggom” Pada biji mata Tio menyinar cahaya kegembiraan. Menenun ulos-batak ialah pekerjaan para gadis yang merdeka. dia memeluk Ronggur sambil mengatakan dengan kegembiraan. akan kuusahakan sampai dapat” Karena gembira. tapi pasti. tidak disadari Tio. Kau harus belajar memintal dan bertenun. Lalu. "Betul kau bolehkan aku memintal dan bertenun? Betul kau akan meminta izin pada Raja Panggonggom? Aku akan bertenun seperti gadis lain dari margamu ?" "Ya. "Ada yang salah?" tanya Ronggur pula. Tio menatap ke arahnya. aku akan menenun ulos untukmu. Dia selalu memikirkan. dan sendirinya pula akan lebih banyak kepiluan dan dendam bersarang di hati manusia. dari mulutnya lalu meledak kata. Dia menakutkan masa itu. “Ah. Barulah Ronggur sadar bahwa seorang gadis yang berderajat budak tidak dibolehkan belajar memintal dan bertenun. seperti gadis lain.danau. Perlahan-lahan. Tio tetap terdiam dan tertunduk." Warna duka membayang di wajah Tio. apa usaha yang dapat ditempuh untuk melenyapkan ancaman dari masa itu? Ronggur cepat bangun dari goleknya. Tapi. Yang paling baik campuran warnanya” .

Begitu pula akhirnya Ronggur. Sedang matanya dengan mesra menancap ke biji mata Tio. melepaskan pelukannya perlahan-lahan. "Dapat. Karena jatuh ke tebing ujung dunia. "aku sudah pernah dibawa almarhum ayah dan ibu ke sana." "Aku tahu. itulah jaluran sungai. Sampai akhirnya Tio sadar sendiri. Ronggur menatap ke sekitar. sungai itu jalan arwah kita kelak. Ronggur diam saja melihat perubahan kelakuan Tio itu. Kembali dia dihadapkan pada kenyataan. tidak akan kembali lagi. Beberapa saat terdiam." "Tahu juga aku. menuju tempat Mula jadi Na Bolon. Barang siapa yang berani me layari sungai ke muara atau berusaha mencapai muara. di sanalah bermula sungai T itian Dewata. Pada salah sebuah teluk dapat diketahui Ronggur bahwa di situlah bermula sungai Titian Dewata. Dapat kau lihat dan perhatikan garis putih itu?" tanya Ronggur. lalu dengan suara pasti dia mengatakan. Tio menundukkan kepala perlahan-lahan." kata T io. Tapi." "Menurut cerita orang tua." sahut Tio. Dari sana jelas tampak oleh mereka lengkungan tepian danau. Telunjuknya mengarah ke teluk itu sambil mulutnya mengatakan. Matahari bertambah lemah sinarnya. Lalu. Ada yang hendak kutunjukkan padamu. "Tio. lalu menghilang atau seperti masuk menyusup ke perut pegunungan sebelah timur. mari ke pundak bukit pertama.Ronggur membiarkan Tio begitu. sungai itu berakhir ke ujung dunia." "Garis putih yang membelah dada persawahan yang sedang menghijau. . "Tio. Tidak terik lagi. Arwahnya akan dikutuki dewata." Mereka mendaki tanjakan bukit sampai tiba ke pundak pertama.

" "Ya. sampai ke mana bisa seseorang nelayan menangkap ikan. janganlah marah padaku. juga sungai ini. sungai Titian Dewata berakhir ke ujung dunia. kau pun sependapat dengan mereka." "Entah bagaimana.Ronggur diam seketika." dapat ." "Menurut cerita yang ada di sana. lain dari sungai yang lain. Sedang Tio melirik ke biji mata Ronggur yang menyinarkan sesuatu arti. Ada apa kiranya?" "Apakah kau tidak bisa punya pendapat sendiri?" "Apa maksudmu?" "Apakah kau tidak sering membaca pustaka di rumah ayahmu dulu?" "Sering." "Kalau begitu. Aku tidak mengatakan yang lain. Ronggur mengaju tanya padanya: "Apakah kau juga sependapat dengan mereka bahwa sungai itu berakhir di ujung dunia itu?" "Begitulah kata mereka. Buktinya sampai sekarang tidak ada orang yang berani melintasi daerah yang telah ditentukan. Aku bisa membaca dan menulis dengan baik. setiap sungai menuju tanah landai dan subur." "Begitu menurut cerita mereka. memang begitu. Terus menatap ke arah sungai. aku berpendapat bahwa sungai itu pun akan tiba ke tanah landai yang subur." "Kepercayaan yang diwariskan kepada kita mengatakan. juga sudah kuselidiki dalam pustaka yang tua bahwa sungai itu tidak ada dikatakan berujung di akhir dunia. Sering sekali.

" lanjutnya pula. timbul bisikan dalam hatiku. "tapi." sahut Ronggur tanpa memperhatikan wajah Tio yang menjadi pucat. Dia mengharap dapat menggagalkan maksud Ronggur dengan ancaman begitu. sungai itu pun sama dengan sungai yang lain. Tio menjadi takut pada ucapannya itu.Ronggur terdiam. "apakah kau berniat hendak melayarinya membuktikan kebenaranmu?" Tapi. aku memang mau melayarinya. Ronggur cepat pula mengatakan: "Dengar dulu yang kumaksud. Dan. tanah hubungkasan. Angin turun. setiap tahunnya manusia yang hidup di sini yang memerlukan tanah garapan bertambah banyak juga? Akhirnya tanah yang tadinya terasa luas. Dia akan jatuh ke tangan orang lain yang pasti akan memperlakukannya sebagai budak biasa. Arwahmu akan tidak diterima dewata." "Itu berarti bunuh diri. "Kenapa kau beranggapan bahwa sungai ini lain?" tanya Tio memecah sunyi. Dia takut kalau Ronggur benar-benar melayari sungai itu. Tahukah kau Tio bahwa tanah selingkar danau ialah tanah subur? T ahukah kau. "Sudah lama niat ini menguasai dadaku. T api. aku melayarinya bukan bermaksud untuk membuktikan bahwa aku berada di pihak yang benar. Keheningan mengambang di antara mereka. Akibatnya akan bertambah banyak pertengkaran yang memungkinkan pecahnya peperangan. Dia akan tinggal di dunia ini. "Ya." . Seperti perang antara margamu dengan margaku." potong Tio. Aku mau berusaha mencari tanah garapan baru. Yang berarti bunuh diri. Tidak ada yang berkata. akan terus bertambah sempit. "Tapi. angin sore yang nyaman. setiap tahunnya bertambah sempit. daerah perluasan." kata Ronggur. Perasaan takutnya tambah mencekam. Kebebasan akan benar-benar direnggutkan orang.

aku diganggu mimpi. dengan suaranya yang nyaring. Jadi. Berani menantang sesuatu yang dirasakan ialah satu kepercayaan bagi kebanyakan orang. Orang yang berani dan bertanggung jawab akan masa datang. bila tanah habungkasan tidak ditemui." Seketika Ronggur berhenti. Karena aku merasakan persoalan itu. Penuh pepohonan dan tanahnya begitu landai. aku mau mengatakan. Tidak! Tapi. Wajahnya menjadi muram dan sedih. Dibiarkannya Ronggur meneruskan: "Sudah sering Tio. Mimpi menghimbau aku selalu dari tempat jauh. karena setitik air parit. Sampai ke mana dia tiba. Dan. peperangan itu akan bertambah banyak lagi timbul di masa mendatang. walaupun nyawaku sendiri menjadi taruhannya. aku menemui sebuah danau yang sangat luas. Dan. dengan berani menantang segala aral-melintang. akan tambah banyak terjadi. Tidak bermaksud aku mengingatkanmu ke saat kejatuhan margamu. kupikir. yang akan menimpa manusia yang hidup di sekitar danau di hari mendatang. Tio tidak membumbuhi cakap Ronggur yang panjang itu. harus mulai sekarang memulai kerja ke arah itu. berani menantang segala cerita yang bersifat menakut-nakuti. Aku tidak bermaksud membongkar yang sudah lewat.Tio tertunduk. sebelum saat itu tiba. karena kurasa kau dapat merasakannya. marga lain. Ini sudah pasti. Pertengkaran karena setapak tanah. aku harus turut memikul bebannya. merintis jalan. jauh lebih luas dari . Dalam mimpi itu selalu aku dibawanya ke suatu tempat yang teduh. dalam mimpi itu. harus ada usaha mencari tanah habungkasan. "Janganlah bersedih. Mengajak aku memulai perjalanan mengikuti sungai. Cobalah turut mendengar berita bahwa setelah perang antara margamu dengan margaku selesai. sudah berapa kali lagi peperangan terjadi di antara marga? Kalau tidak salah. sudah ada tiga gelombang peperangan antara marga satu dengan.

" "Tidak Tio. Berobatlah cepat-cepat. menelungkup di sana. lembayung . memanggil aku. tanah tipis yang menyaputi batu alam yang keras. arwah almarhum ayah yang datang padaku. dia mengatakan: "Barangkali itu godaan setan jahat. "aku merasa takut! Aku takut!" "Janganlah takut. selagi aku di dekatmu." Tio begitu saja menyandarkan kepalanya yang terhisak ke bahu Ronggur. "barangkali. kemudian bertambah merah. Itu yang selalu menemani tidurku. Pada mulanya warna Jingga." "Jangan berkata begitu. Aku kau lihat sendiri." kata Tio lagi." "Ronggur. akan merasakan tubuhnya kurang sehat." Wajah Tio bertambah pucat. mirip sekali dengan wajahku. Sore dengan perlahan beralih pada senja. menunjuk tanah habungkasan yang subur padaku?" "Ronggur. Dengan suara tersengalsengal. Cerita itu." untuk pertama kalinya Tio menyebutnya hingga Ronggur merasakan satu desiran menyinggung hatinya. Apakah tidak mungkin. tetap sehat dan pikiranku tetap waras. Tanah yang kutemui dalam mimpi itu begitu gemburnya. Merangsangku di saat jaga. Kata orang. Tio berbuat begitu. Wajah orang yang melambai aku dalam mimpi itu dan menuntun jalanku mirip sekali dengan wajahku." "Aku takut mendengar ceritamu. Entah berapa lama. Jangan sampai kekuasaan setan tertanam didirimu. itu setan yang menyaru." "Tidak Tio. Kau perlu berobat pada dukun. Dibiarkan Ronggur. wajah almarhum ayah. Orang yang digoda setan. mula duka cerita yang akan mendatangi diriku. Tidak seperti tanah di s ini.Danau Toba yang kita kenal ini.

Karena sakit. tidak terdapat atau dengan sengaja diadakan keharusan bahwa seorang budak harus belakangan makan. mungkin juga satu perjalanan yang akan mengakhiri hidupnya sendiri. "Ibu. "Ceritalah kembali ibu. mungkin juga mula kelanjutan hidup keturunan. Si belang kadang berlari di depan mereka. Tari warna bermain di wajah danau. Mengikutkan arus Sungai Titian . yaitu memakan sisa tuannya. Tapi. Ibunya pun merasa senang pada kelakuan Tio." kata Ronggur sesudah makin seraya melap mulut. Dan. Ibunya menyambut kedatangan mereka berdua di ambang pintu. Jadi pada rumah itu. Mereka menuju pulang. Sedang ibunya tidak berdaya melawan kehendak Ronggur.. bermarga. Yang sendirinya menantang dan menghadapi segala kemungkinan. Tapi... di mana sebenarnya ayah dikuburkan. Dalam mimpiku. Mereka makan bersama. karena kecelakaan dalam perburuan atau . Ceritalah karena apa ayah meninggal dulu. di riak danau. Tio mengikuti langkah Ronggur yang panjang dan cepat diayunkan. Pada pikirannya. yang menurul pertimbangannya masih tetap membawakan sifat dan kelakuan sebagai anak raja. Orang yang berpapasan dengan mereka tidak berapa mereka perdulikan. hati Ronggur tambah digoda perjalanan yang harus dimulainya. Mereka sudah sering pulang terlambat. Dia sudah harus mengadakan persiapan untuk perjalanan itu.tambah jelas. Meruntuhkan satu kepercayaan. Angin tambah lemah. walaupun itu bertentangan dengan adat. Orang itu selalu mengajak aku agar memulai suatu perjalanan. Dengan cepat ibunya menyediakan makanan dan Tio membantu. dia sudah memilih teman yang akan diajak turut serta. Ronggur tidak mau begitu. selalu aku bertemu dengan seseorang yang wajahnya mirip benar dengan wajahku. Sambil menggonggong. Kemudian berlari lagi ke belakang.

Ibu takut mendengarnya. "Apa katamu. dia akan selalu berduka. ibu tidak mau mengatakan dan aku belum pernah berziarah ke kuburnya untuk meminta doa restu. Pergilah tanya bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan. aku juga tidak tahu pasti. Kalau tidak. melesu lagi. Tegak. karena tidak pernah menziarahi kubur ayahnya?" Wajah ibunya tambah jelas memancarkan perasaan ketakutan. ceritalah. lalu: "Anakku. ceritalah. Dia yang tahu! Dialah teman ayahmu yang terakhir pergi jauh dari kampung kita ini.Dewata sampai ke muara. Dan. Bukankah aku bisa dikatakan orang. katanya akan sia-sia. "Ibu. Anakku. yang pulang kemudian. lerpaku mendengarkan. Kerja yang dimulai di masa hidupnya. ibu sudah tua. Ayahmu tidak pernah lagi pulang. di mana sebenarnya kuburan almarhum ayahmu. Di mana sebenarnya kubur ayah? Sampai begini besarku." "Ibu. Ronggur? Apa katamu?" "Orang itu selalu mengajak aku." "Jangan lagi berkata begitu. hanya bekas Datu Bolon Guru Marsait Lipan." Ibunya mengangkat wajah. Dan." . Bukankah ibu mengatakan bahwa wa|ahku mirip benar dengan wajah almarhum ayah?" Ibunya tak langsung menyahut. Kau tentu tahu. aku akan pergi mencari sendiri. tempat tinggal Datu Bolon itu sekarang. Jangan lagi. agar memulai perjalanan mengikuti arus Sungai Titian Dewata sampai ke muara. anak durhaka. Keheningan menguasai ruang. Tarikan napas ibunya yang satu-satu lagi dalam jelas kedengaran. dikatakan para arwah. Tapi. Bila aku katanya tidak mau melaksanakan permintaannya. Tarikan napas yang terputus-putus. Dengan mata terbelalak akhirnya dia mengatakan.

"Ibu. Ibu tentu lebih tahu dariku bahwa dia tidak dapat dihalangi. karena marah sudah lupa pada masalah yang sebenarnya dihadapi. Dihempaskan kembali pada derajat yang tidak berharga. Kemudian ibu Ronggur menatap Tio. Bukankah sudah sifat Ronggur begitu?" "Apa katamu? Kau sebut namanya? Nama Hulubalang Muda kau sebut?" Tio terkejut. Didengarnya perempuan itu menghardik setelah lebih dulu menarik napas yang panjang lagi dalam: "Berani kau menyebut namanya? Apa kau pikir dia sama derajat dengan kau?" Seolah orang tua itu. Bu. membelitkan ulos ke lehernya. yang tidak boleh menyebut nama tuannya." . Tidak mau dan tidak dibolehkannya aku memanggilnya dengan Raja Ni Huta atau Hulubalang Muda. aku juga turut merasakan yang Ibu rasakan. Bu. Dia sadar bahwa yang dihadapinya ialah ibu Ronggur. Dari tunduknya dia menyahut: "Dia yang menyuruh aku.Setelah Cepat Ronggur bangkit dari duduknya. Tapi. panggilan negeri jauh. Ibunya dan Tio melihat saja." "Dia menyuruhmu katakan?" "Benar begitu?" menyebut namanya? Itu kau "Benar. Kenapa lidahnya terus sefasih itu menyebut nama Ronggur. Tio menggerutu pada diri sendiri. Aku sudah berusaha mencegah. yang juga pada wajahnya bergantungan sesuatu ragam perasaan. Tadi dikatakannya padaku. Dia tertunduk. perempuan itu. dia akan pergi memenuhi panggilan mimpinya. memaksa aku harus menyebut namanya. Bukan keinginanku. dia terus berangkat.

Tanpa dipanggil. Menerobos gerbang perkampungan. Di pematang sawah yang kecil lagi licin dia melompat-lompat memilih jalan yang baik. Bagaimana kalau tetangga mendengar kau menyebut namanya di depanku? Maukah kau memenuhi permintaanku ini?" "Akan kuusahakan. Penuhilah permintaanku ini. Tidak disuruhnya supaya si belang pulang. Langsung dia menuju dangau kecil yang terpencil di satu ladang." "Berjanjilah demi dewata." "Aku berjanji. Perasaan marah kembali mencair. Gelap malam tidak diperdulikan. Bu. lalu: "Aku tahu bahwa perangaimu baik. Apakah dia tidak ."Benar.tahu tentang martabatnya yang begitu tinggi? O. lindungilah anakku dari godaan setan. Napasnya sesak. Dia kenal pada jalan itu. Sudah diizinkannya seorang budak belian makan bersama." "Tentu Ronggur sudah digoda setan. Jangan lagi sebut namanya. Dia tak perlu takut karena tergelincir. Setelah melompati sebuah parit yang agak lebar." Baru kembali ibu yang sudah tua itu teringat akan masalah yang sebenarnya dihadapinya. sekarang diberinya pula keizinan pada seorang budak belian menyebut namanya. Bu. dia menatap Tio. Mula jadi Na Bolon. kemudian menyuruh si belang melompatinya. Ronggur sudah melintasi halaman perkampungan. kau tidak sepantasnya menyebut namanya." Perempuan tua itu serasa dipukul kepalanya dan ulu hatinya. Tapi. dengan tersengal-sengal dan berusaha mengangkat kepala. lalu perasaan takut mencekam dadanya. Tio. si belang mengikutinya. mereka sudah berada di tanah perladangan yang di petak-petaki tanah yang . Tapi. Dibiarkannya si belang mengikuti.

Di sebelah kanannya. akar kayu yang dihitamkan dengan segala macam minyak dan lemak. Tempat tujuan. Di depannya lesung pelumat s irih.ditinggikan sebagai batas dan langsung pula menjadi pagar. Ruang tengahnya begitu kecil. pikir Ronggur. dan kuku harimau. Baik dalam suatu perkelahian. minta pertolongan melihat nasib. Juga kerajaan tidak pernah lagi memintanya untuk menenung sesuatu maksud kerajaan. Anakku?" tanya orang tua itu. Suara parau menyuruhnya masuk ke ruang dangau. kemudian diketahui Ronggur. Setelah memberi salam. ‘Pakaian datu’. Pada dadanya." kata Ronggur. meminta agar arwah nenek moyang dipanggil melindungi orang yang meminta tolong padanya. "Silakan. izinkanlah aku mengajukan beberapa pertanyaan. begitu pula dalam perburuan. Diberi pula berhiasan suatu benda mengkilat. terletak tempat sirih yang terbuat dari kulit kera. Dilompatinya pula tanah tinggi itu. Pakaian itu tidak ditanggalkannya walaupun orang tidak pernah lagi datang padanya minta diobati. Ronggur duduk di lantai seperti orang tua itu sendiri." . bergantungan potongan gading gajah. Bercahaya ditimpa sinar pelita yang lemah. Dia tambah menegaskan langkah. Tangannya mengetuk pintu dengan lemah. Supaya kerbau tidak merusakkan tanaman yang ada di ladang. beru kirkan bentuk ular sedang menjalar. Nak. "Ada apa. berhadap-hadapan. Mata orang tua itu tajam menumpu ke wajah Ronggur. seperti matanya. taring. Yang pernah dibunuhnya. Bapak akan menolongmu sebisa mungkin. Pada kedua lengan tangannya membelit kayu hitam. apakah berhasil baik atau tidak. "Bapak. Orang tua itu sedang mengunyah sirih. Dikejauhan sudah kelihatan cahaya pelita yang menerobos dari celah dinding.

Lalu kembali dia mengaju tanya: "Ibumu menyuruh kau datang padaku?" "Ya. Maafkan kesalahanku itu. dan kenapa almarhum ayah menemui saat meninggalnya. "Bapak juga sudah lama memikirkan bahwa pada satu saat." Orang tua itu menarik napas yang dalam. maka mula dan sebab kecelakaan itu harus diletakkan di pundakku. Lalu mengalirkan dendam itu ke tubuhmu. Orang lain tidak. kalau aku mau tahu kubur almarhum ayah. Dan. tidak pernah. Kemudian kau membenci aku. Bapak. Ibu menyuruh aku menemui Bapak. maka hukuman itu pun seharusnya ditimpakan padaku. aku harus menanyakannya pada Bapak. Dan. selama ini kupikir. atau berusaha untuk menuntut balas. ibumu tidak mau menceritakan." Orang tua itu menegakkan kepala. ibumu mendendam padaku. Kiranya. tidak menyangka pertanyaan begitu. Aku juga harus mendukungnya. Begitu dalam. tidak menanam dendam ke dadamu. Hanya Bapak kata ibu yang mengetahui dengan pasti." "Ibumu tidak pernah menceritakannya padamu?" "Tidak. mulut manusia yang harus kita beri makan akan bertambah . Ibu sendiri pun tidak. "Anakku. bila sesuatu hukuman yang harus ditimpakan pada orang yang memulai malapetaka itu." "Apa maksud Bapak?" tanya Ronggur pula. kalau dikatakan bahwa kecelakaan itu punya mula dan sebab."Kata ibu." "Kenapa Bapak berkata begitu?" Lebih dulu orang tua itu menumpukan pandang ke mata Ronggur. Orang tua itu memperbaiki duduknya. "Anakku.

Air seperti mau membulat. dia melanjutkan. Kami pun memulai perjalanan. Menanyakan arwah gaib yang tidak dapat dilihat mata. Yang bapak rasakan menyuruh bapak cepat meninggalkan tempat . air menuju ke sana. Sehingga hasil yang dapat diberikan tanah yang ada di sekitar kita tidak akan mencukupi. Hingga akhirnya biduk yang kami tumpangi tidak terkendalikan. Setelah mengunyah sirih lalu meludah dari celah lantai. di tengahnya air sungai mengalir. Tapi. ikutilah Sungai T itian Dewata. Sebuah lengkingan yang panjang menggema. Waktu itu bapak masih memegang kekuasaan mutlak sebagai Datu Bolon Kerajaan. Dihantamkan ke dinding batu yang keras. Pecah di sana. Tapi. Bapak menanyakan pada mereka di mana dapat ditemui tanah habungkasan yang subur. bapak cepat melompat ke pinggir sungai sambil berteriak: 'Ama ni Ronggur." Orang tua itu terbatuk sebentar. yang berbeda dengan hasil tenungku. Ayahmu begitu percaya akan hasil pertenungan bapak dan begitu percaya akan kekuatan gaibku. Dia juga sepakat denganku.banyak. Bertambah hari bertambah deras. Bapakmu dan biduk lalu dihanyutkan arus yang menggila. apa yang kami temui? Pada suatu tempat tertentu. Maka kami pun mulai mengadakan perjalanan mengikuti Sungai Titian Dewata tanpa memperoleh halangan dari kerajaan. di kiri kanan kami hanyalah batu alam melulu. Agar pertengkaran karena setapak tanah dan yang bisa meledakkan satu peperangan bisa diatas i. Mulut gua itu menganga seperti mau menelan. "Hasil pertenungan itu kuceritakan pada ayahmu. bapakmu hulubalang yang dihormati kerajaan karena keberaniannya. sewaktu bapak melompat itu keseimbangan biduk hilang. setelah berhari-hari berkayu. semacam gua. Sebuah terowongan batu. cepat tinggalkan biduk'. Dan. Hasil tenung itu mengatakan pada bapak. Karena tidak tahan menerima kenyataan ini. mengikuti jalur sungai. Begitulah bapak memulai pertenungan. Tanah perluasan harus dicari dan ditemukan. Itulah lengkingan yang paling akhir.

Memang mereka . Bapak terpencil. Tapi. dia tidak pernah lagi muncul. Namun bapak masih menantikan ayahmu untuk beberapa hari. Wajah Ronggur di samping merasakan perasaan duka." Suara orang tua itu menjadi tambah parau. Tafsir tenungku tidak benar. agar orang mencari tanah habungkasan mengikuti arus Sungai Titian Dewata. Anakku. Tidak pernah lagi orang datang meminta bantuan. bapak tetap juga mengikutinya. Sedang Ronggur khusuk mendengarkan." Orang tua itu menundukkan kepala. Anakku. Membuat salah seorang sahabatku menjadi korban. berkerisik dan kuat. Di antara isaknya dia masih mengatakan dengan suara parau: "Maafkanlah kesalahanku. "Akhirnya bapak percaya bahwa ayahmu sudah menjadi korban atas kemurkaan dewata. Anakku. Dan. Dan. Tidak pernah lagi kembali. Seperti berusaha mengingat sesuatu. sejak itulah bapak tidak pernah lagi dipanggil kerajaan mengadakan pertenungan. Justru karena ada juga orang yang bisa atau turut merasakan apa yang dirasakannya. pada upacara besar yang dilangsungkan di halaman perkampungan.itu. tempat bapak di tengah rimbunan bambu duri agar orang tidak melihat bapak. tapi bercampur baur dengan perasaan bangga dan gembira. menyanyikan kemenangannya dan kegagalan serta kekalahan kami” Orang tua terdiam sebentar. berusaha mencari tanah habungkasan. Kerongkongannya tersendat. Bapak disisihkan dari pergaulan sehari-hari. Tenungku salah. Dari matanya meleleh titikan air bening. Bapak mendengar usulmu. Tapi. Suara air yang bertemparasan ke dinding sungai yang terbuat dari batu alam yang hitam. Turut memikirkan apa yang dipikirkannya. Dari tempatku yang tersembunyi itulah bapak melihat dan mendengar usulmu. Tapi.

Ronggur mengatakan: ”Bapak. Aku mendengar usulmu. Hasil tenungku tidak diperlukan orang lagi. Sampai ditemui satu kemenangan. Tapi.menemui kegagalan. Malah kegagalan itu harus dibuat menjadi batu loncatan. kepercayaan mereka tambah menebal juga. jadi bapak mendengar usulku? Dan. janganlah karena itu kita lantas menanggalkan satu cita yang tumbuh dalam dada kita. Cita yang baik. yang punya kepercayaan bahwa Titian Dewata sungai dewata." "Bapak. Anakku?" ." "Seharusnya begitu. apakah satu kegagalan harus dihukum dengan kutuk dan dendam? ‘Tidak’. Anakku. Agar kerajaan tidak menghalangi keberangkatan kami. walau menemui kegagalan sekali. Risiko yang harus kita terima. kemudian mengetahui kegagalanku dan meninggalnya ayahmu. Kegagalan yang ditemui bapak. seperti almarhum ayahmu sendiri. yang tampak oleh mataku. Tapi. Setelah memperoleh kesimpulan ini. aku menghormati pendapat bapak tentang perlunya tanah habungkasan. waktu kau berbicara itu dengan suara yang lantang berani. darinya atau padanya tidak sewajarnya dialamatkan dendam." "Apa maksudmu. Ditoleh sedemikian rupa sehingga sumber kegagalan pertama dapat dilintasi. telah lebih dulu memikirkannya bersama almarhum ayah?" “Benar. Bapak. sahut Rongur sendiri atas segala pertanyaan yang timbul dalam dirinya. Ah. waktu dia dulu turut membela hasil tenungku. lalu menimbulkan korban yang tidak kecil harus dihormati. Tapi." "Itu risiko. Segala percobaan yang berusaha mendekati kebaikan dan mengupas kebenaran. Malah bapak sendiri lalu disisihkan dari pergaulan. orang yang ada di sekitar kita.

yang menurut kata orang di sekitar ialah ujung dunia?" Ronggur masih terdiam. menjadi deras arusnya. melayari sungai dengan biduk?" . "Sudah tiba saatnya.Ronggur menarik napas yang dalam. Lalu." Orang tua berbicara. setelah mengalami kegagalan bahwa Sungai Titian Dewata memang jatuh ke ujung dunia?" Orang tua itu mendongakkan kepala. penumpangnya akan dihanyutkan arus tanpa ampun. Tapi." kata orang tua itu pula." "Pikiran yang baik. Keningnya berkerut. Bukankah itu pertanda bahwa sungai itu memang lain dari sungai biasa?" Ronggur terdiam. Dasar perahu harus agak luas dibuat agar tidak mudah terbalik waktu melawan arus atau melalui arus. lambat laun tambah ke hilir. Dan. "Tapi. Lalu. Bukankah arus menggila itu memang satu pertanda bahwa sungai akhirnya memang jatuh ke satu tempat yang maha dalam. apakah menurut pendapat bapak." kata orang tua itu. Aku harus melanjutkannya." "Kalau begitu harus diusahakan melayarinya dengan perahu. Tidak sempat berenang ke tepian. itu menatapi dan membiarkan Ronggur "Kata Bapak. "dapat dikatakan cukup menggila. aku harus melanjutkan pekerjaan yang gagal itu. Tapi. dengan suara pasti dia mengatakan. ada baiknya kau pikirkan bahwa sesuatu sungai biasa. pada pangkalnya mempunyai arus yang kencang. sungai ini lain. Yang lebih besar dari biduk. "Ya. Dinding batunya begitu keras. Pada pangkalnya tidak berapa deras arusnya. Aku harus dapat mengatasinya. dia mengaju tanya pula: "Jadi. Kalau perahu terhantam ke sana pasti pecah. "Arus itu.

Anakku. Boleh jadi arus menggila karena sungai melalui riam yang banyak ditemui pada sesuatu sungai. Agar perahu tidak dihanyutkan arus dengan sesuka hatinya. aku harus melayarinya dengan perahu yang jauh lebih besar dari biduk." "Karena itulah. Talinya kita ikatkan pada buritan perahu. Tidak cukup kemudi saja menahan kencangnya perahu. Setiap melintasi arus yang tambah kencang. Karena pendapat ini jugalah membuat bapak disisihkan orang. Tapi." ." "Juga tidak dapat bapak jawab. Mengiakan lalu mulutnya mengatakan: "Satu pikiran yang baik. Karena arus sesuatu riam tidak akan begitu kencang dan begitu menggila." "Nah. sewaktu melintasi arus sungai harus menggunakan tenaga pembantu. Dan. Karena hasil tenungku sampai saat ini tetap berpendapat bahwa sungai itu tidak jatuh ke ujung dunia." "Maksudmu?" "Batu sebesar kepala manusia atau sebesar kepala kerbau kita ikat."Tidak dapat kupastikan." "Boleh jadi riamnya lebih dalam. Agar kami direstui dan diberkati para dewata dan arwah nenek moyang. kumohonkan doa restu." Orang tua itu menundukkan kepala. begitu pula arwah almarhum ayah. setiap itu pula batu itu kita jatuhkan ke dalam air sebagai penahan. kalau begitu yang kita hadapi hanyalah arus sungai yang menggila. Dan. dengan akal begitulah aku bermaksud melayari Sungai Titian Dewata sampai ke muara. Tapi. darimu." "Nah." "Boleh saja kita berpendapat begitu. kenyataan keadaan sungai itu tidak dapat dipungkiri. harus menggunakan batu pemberat.

" kata Ronggur. yang punya dasar yang lebih datar dari perahu biasa. beritahukan pada bapak kelak." Ronggur meminta diri." "Baik. Sebuah perahu yang agak besar. doakanlah agar anakmu ini selamat dalam perjalanan. dibaliknya pagi. . Ah. aku mau mempersiapkan peralatan yang kuperlukan dulu. perjalanan itu akan kumulai." "Doa Bapak yang akan mengiringi langkahku. "Anakku. masih punya tenaga yang kuat. Bapak. Karena. Kau akan menghadapi rintangan kepercayaan orang yang ada di sekitarmu. di samping Ronggur. untuk pertama kali sete lah bertahun-tahun ada orang meminta pertolongan doa restunya. kapan kau hendak memulai perjalanan itu. kalaulah bapak masih muda. Anakku. bapak akan turut bersamamu. "Dan."Bapak akan membantumu." Orang tua itu merasa gembira bercampur bangga karena ada orang yang sependapat dengan dia. Si belang berlari-lari mengibaskan ekor. Dan. aku akan datang memberitahukannya pada Bapak. berusaha menembus segala kegelapan yang menyungkup keadaan sekitar. Orang tua itu melepaskannya menerjang kelam malam yang pekat. Matanya bersinar. Beberapa gulungan tali ijuk yang kuat. Tapi. Karena itu kekuatan jiwa dan tekad yang padu harus kau punyai dan kau pupuk selalu dalam hati. kurasa lebih besar manfaatnya dari apa saja. perjalanan ini tidak mudah. Dadanya diangkat. Mata orang tua menyinarkan cahaya kemenangan. Tenaga gaib yang dipunyainya." kata orang tua itu seraya pundak Ronggur ditepuk-tepuk. Sesudah ini s iap semua. sambil Malam sudah jauh. sedang mulutnya mengatakan dengan suara pasti: "Anakku.

Mereka tampaknya akan mengadakan perjalanan yang tidak dapat dikatakan pendek masanya. Perkampungan tambah tertinggal di bawah.ccdw-kzaa 3 Kabut pagi masih rendah menyungkup tanah. dari gerak-geriknya si belang gembira. kabut di sana lebih tebal. Bergegas. begitu pula Pulau Samosir dan T uktuk Sigaol. panjang. tangan kirinya menggenggam tombak. Di tubuhnya membelit tali ambalang. yang berisikan alat kecil. tapi sudah tambah menipis dengan bertambah tingginya hari. Karena seperti tahu bahwa mereka akan mengadakan perjalanan yang lama dan jauh dari lingkungan perkampungan. Tangannya juga menggenggam kampak dan tombak. Tangan kanan Ronggur menggemggam kampak. Tio tetap mengiring dari belakang bersama si belang. Tapi. dan rendah. lebih kental. Langsung rombongan kecil itu mengarah ke kaki bukit sebelah barat. Jalanan terus menanjak. Ronggur sudah berada di halaman bersama T io dan si belang. Si belang sering menggonggong. Semua teggelam ke perut kabut. Di pundaknya disandangkan sumpit bertali. meregangkan tubuh seperti mengendorkan urat yang dibekukan dingin pagi berkabut rendah. Ronggur melangkah cepat. Mereka terus melangkah. Lewat perkampungan danau. tampaknya. . Matanya sering tertumpu ke pinggang Ronggur yang menyelipkan panggada. Masih juga dibalut kabut. Air yang biru tidak dapat dilihat pandang. Orang tidak ada di halaman. dan menembus kabut. Pundak Tio juga menyandang sumpit bertali yang berisikan beras.

Untuk kemudian secara perlahan mulai menyisih dari tanah. Tidak banyak mereka mengeluarkan kata. Akhirnya keputihan yang pekat tadi yang merupakan satu bundaran yang tidak berujud. Mereka meneruskan langkah. secara berangsur perlahan. Permukaan danau. Ini semua dapat dilihat setelah melalui tingkatan sawah yang padinya sedang bunting. dedaunan padi yang menghijau. penangkap ikan yang bekerja semalaman mengayuh menuju pantai. Setiap saat. Di sebelah lain Tuktuk Tarabunga menjulur ke depan. Matahari memberi sinar. Tergesa tampaknya. jalanan menanjak. lalu ilalang itu bergoyangan. Karena ingin cepat tiba ke tempat yang dituju. Untuk tampak kembali pada tempat di mana ilalang agak rendah. Itu yang membuat . Langkah mereka begitu cepat diayunkan.Kabut yang rendah tambah terangkat. Terasa pedih juga bila sayatan kecil itu dibasahi keringat. Air danau biru tenang di pagi hari tanpa angin. bersembunyi di sana menanti mangsa. Lidah ilalang yang bergoyangan. tepian Pulau Samosir dan Tuktuk Sigaol. Matahari tambah tinggi berlayar di langit dan sinarnya terus menerus tambah terik. Samosir dan Tuktuk Sigaol berhadapan. dan perkampungan serta danau. Asap sudah mengepul dari kampung itu. suluh abadi yang dikenal mereka sejak masa kanak. pertanda pengisi kampung sudah bangun dari tidurnya. Pada tempat tertentu tampak tumpukan bambu duri yang melingkar. Terkadang mereka seperti tenggelam di padang ilalang yang cukup tinggi. seperti hendak menjangkau Samosir. tambah jauh mereka di atas. Biasanya. si raja hutan. sekarang sudah tampak isinya. terkadang menyayati daging mereka dengan tipis. tambah jauh berada di bawah. Pertanda perkampungan. bertambah lama bertambah jelas tampak. Angin yang berdesir di lidah ilalang yang tinggi. Satu dua biduk berlayar di permukaan danau. sudah mulai bangkit.

Di tangannya terus tergenggam tombak dan kampak. Matahari terus berlayar di langit dan mereka terus melangkah di bumi. Dia tidak menggonggong lagi. Mereka sudah dapat mencium bau dedaunan yang segar. Utara. "Sebelum matahari condong ke barat. Kelompok bambu duri pertanda perkampungan tambah banyak dapat mereka lihat dari sana. hanya ke arah belakang yang kandas pada pegunungan. dan teduh. "juga untuk memilih dahan pohon yang baik untuk tempat tidur. kenapa sungai itu harus diadakan dewata. Sawah menghijau oleh dedaunan padi yang sudah panjang dan sudah bunting. menampung . ketakutan bercampur baur dengan penyesalan. didasarnya hutan yang mereka tuju. berair. melalui tingkatan dinding teluk. siap sedia dipergunakan. kita sudah harus menuruni lembah berhutan yang ada di salah satu lekuk danau. dada Tio bernadakan lagu lain. Barat. mereka menatap ke sekitar. Dari tempat ketinggian. Bermula dari pantai danau. cukup hijau. Alis matanya terangkat. Langkahnya tambah dipercepat dan diperpanjang. Lidah si belang terjulur merah dan berbuih. Dedaunan yang rapat didukung pepohonan yang tumbuh di sana. danau yang biru. di teluk di mana Sungai T itian Dewata bermula. Tapi. Tercecer bertumpuk di sana sini. Mata Ronggur lama tertancap ke sana. Melihat Ronggur bersikap begitu. Beriak-riak.Ronggur tetap was-was. Dalam hati terucap kata: akan kutembus kau sampai ke muara. Dari sana tampak lebih jelas lagi. tapi terus mengikuti tuannya." Tio tidak menyahut. Mereka menuruni lembah berhutan yang tidak berapa luas. dilincahkan sebagai sahutan. Pandang bebas diarahkan ke mana suka. Agar kita tidak kemalaman mencari tempat bermalam." kata Ronggur. berakhir ke kaki bukit.

Satu marga mengusulkan. bisa saja timbul peperangan yang berturut-turut. kerajaan marganya sudah memutuskan membuka hutan itu untuk dijadikan tanah persawahan. boleh marganya tidak memperoleh tanah bagian. Sampai sekarang memang belum ada satu marga pun yang mempunyainya. untuk membicarakan masalah hutan itu. belum sampai ke taraf yang menentukan. dari tanah hutan yang tidak seberapa luas itu. Tapi. Untuk membuka hutan itu lalu membagi-bagikan tanahnya bagi warga marganya. tapi. Kalau hutan itu dibuka. Ronggur sudah tahu bahwa mulai panen tahun muka. yang di tempati beberapa marga. Jaringan dahan dan rantingnya. sudah beberapa kali dilangsungkan sidang kerajaan dengan kerajaan. bersamaan dengan niat itu kerajaan marga lain juga telah memutuskan untuk membuka hutan itu untuk dijadikan tanah persawahan marganya. Jadi. hasilnya masih tetap sama: belum memperoleh kata mupakat. Akhirnya setiap kerajaan marga yang berdekatan. harus mengadakan pertemuan kerajaan. Begitulah. hingga tanahnya tetap teduh dan berair. Dedaunan gugur me lapisi permukaan tanah. Tapi. Kerajaan marga lain yang juga mendengar berita itu dengan tandas pula menyatakan maksud masing-masing. Tapi. Bila satu luhak telah menang. buatan alam.sinar matahari. tapi sebagai pembayar bagiannya kerajaan lain harus memberikan kerbau pada kerajaannya. Di induk kampung marga Ronggur juga sudah pernah diadakan pertemuan. permadani yang lembut. Yang mungkin pula menimbulkan peperangan marga. mendukung dedaunan. Tapi. Pada mulanya . marganya harus memperoleh bagian. antara marga sendiri pun akan ada pertengkaran. Masalah itu memang hangat dibicarakan. Yang bisa membuat satu luhak berkelahi dengan luhak lain. setiap marga merasakan bahwa kerajaannya punya hak atas hutan itu.

Suatu kerajaan yang memperolehnya. Karena luasnya tidak seberapa. Ronggur duduk melepas lelah pada teduhan sebuah pohon. akhirnya dapat memindahkan beberapa keluarga ke sana. untuk membuka hutan itu. Hanyalah tempat singgahan sementara sebelum tiba ke saat yang ditakutkan Ronggur. sudah jelas garisnya: peperangan tidak terelakkan lagi. Dan. Menelentangkan diri. Tio mengiakan. Ronggur kembali duduk. peperangan kerajaan marga. mendudukkan diri tidak jauh darinya. Tanah perluasan buat sementara. "Bila selesa i makan. Menutup mata. Lidahnya terjulur ke luar. Diambilnya sebungkus untuknya. sebelum peperangan dari perebutan hutan itu meledak. kumpulkanlah ranting kering. pikir Ronggur. Kesejukannya telah memberikan kesegaran bagi mereka yang sehari penuh dipanggang sinar matahari. Tepi hutan. Si belang. Namun untuk merebutnya. tanpa memperdulikan kepentingan kerajaan marga lain. . atas putusan kerajaan Ronggur. bila marga lain itu tetap merasakan bahwa kerajaannya punya hak juga atas hutan itu. dia bisa lebih dulu menemui tanah habungkasan. Berbuih. Untuk bahan bakar api unggun malam hari. Memberi beberapa jemput untuk si belang. lalu melanjut pada yang lebih kecil. kemungkinan pecahnya peperangan begitu besar." kata Ronggur lagi. Mereka menurun ke lembah berhutan dielus angin sore yang nyaman. Memperbaiki jalan pernapasan. Hendaknya.peperangan luhak." padaku nasi yang kau bawa itu Tio cepat memberikan. lantas mengatakan: "Tolong berikan sebungkus.

agar nyamuk tidak banyak mengganggu. Agak gepeng sedikit. sedikit demi sedikit supaya api tidak mati. Dahan yang dipilih Ronggur untuknya dan untuk T io tidak berjauhan. cukup besar. Ronggur memilih dahan yang baik untuk tempat tidur. Di mana tubuh enak ditelentangkan. Sebentar lagi matahari akan tenggelam. tapi mendatar. Ditatapi Tio terus sampai Ronggur hilang ke antara pepohonan atau tenggelam kerimbunan rerumputan yang tinggi. dia sudah dapat mencium dari jarak jauh. Tapi. Di sini cepat gelap. Lantas memberi bantuan. Juga bisa mengusir dingin malam. Penciumannya cukup tajam. Potongan dahan kayu yang sebesar betisnya dionggokkannya kenyala api menjilam. Agar terhindar dari gangguan binatang buas."Hari sudah sore." kata Ronggur pula." Begitu tergesa mereka menyiapkan sesuatunya. "Biarlah di tanah. Dahan yang patah dari sesuatu pohon dipotong. Bila bahaya datang. Tidak sekali banyak. Membuat lobang pada salah satu sisi jurang tidak sempat lagi. Dan tetap ada nyala menjilam. "kita memilih dahan tempat bermalam. dan tidak vertikal. Mula-mula dibakar ranting. Di bawah dahan mereka bakar api unggun. Baru Tio memulai mengonggokkan ranting di lapisan bawah diatasnya dahan. Tio tidak hanya mengumpulkan reranting. Dia akan terus menggonggong lalu membuat kita bangun. . Ronggur pergi menyusuri tepian hutan. lalu dibawanya ke bawah pohon tempat mereka bermalam. Bara memanas di bawah bila sudah ada dahan sebesar betis yang habis dimakan api. Tidak terlalu bulat. Dihidupkannya api. "Si belang di mana tidur?" tanya Tio. yang bercabang dua." Lagi-lagi T io mengiakan. Sebaliknya.

bagaimanapun kumpulan pohon maranti batu yang masih muda itu. Sambil tersenyum Ronggur berkata: "Kau pandai menyalakan api. sudah menjadi pertanda bahwa di hutan ini akan kutemui pohon yang kuperlukan. sesuatu yang dipikirnya dan dirasakannya punya kebenaran.Ya. yang baik dijadikan perahu. Sehingga apa yang dilihat itulah. mengandung bahaya lagi yang bisa membakar dan menghanguskan. mengendorkan maksudnya. tak seorang pun dapat menghalanginya untuk mengerjakannya. Ronggur dapat diibaratkan seperti api unggun. yang cepat menjadi kelam. baik melalui ancaman bahaya yang mungkin ditemuinya. Sedang panjang batangnya yang lurus hendaknya melebihi tiga depa. Dari jauh sudah kedengaran siulan Ronggur datang mendekat. Dedaunan yang merimbun menampung cahaya matahari yang sudah lemah." “Harus pohon maranti batu?" tanya Tio menyeling. sudah kutemui kumpulan pohon maranti batu. yang dikatakan sikap jantan yang berani. bila hendak memadaminya. Tingkah lakunya yang dapat dilihat atau yang muncul kepenglihatan. harus turut baranya dipadamkan baru tidak mengandung panas lagi. atau dia sendiri akan musnah. Pohon yang kuperlukan harus cukup tua lagi besar. Tapi. senja. Walaupun itu berarti dia akan merombak kepercayaan yang sudah tertanam di dasar hati penduduk turun-temurun. Tapi. Begitu pula dengan tekad perjalanannya yang akan menempuh Sungai Titian Dewata tak satu pun kekuatan baik melalui kemesraan dan kasih. . pikirnya. Seperti api unggun itu sendiri. Ronggur melihat api yang sudah menyala dan memberi kilatan cahaya pada sekitar. belum kutemui maranti batu yang cukup tua. masih menyimpan bara kehidupan yang cukup besar didasarnya. yang dapat mencegahnya. Di tikungan jalan tikus menanjak sana.

Semua perahu yang baik dibuat dari jenis kayu itu. kekuatan tubuhnya memberi jaminan. Harus cukup besar. Sudah ada yang tua. Memintal ijuknya menjadi tali. namun T io bila memang Ronggur harus berangkat juga. banyak pohon aren liar tumbuh. kalau bisa sebesar pergelangan tangan. Matanya seperti bermimpi. Apakah Ronggur pergi sendiri." sahut Tio. kita tidak akan kekurangan daging di sini. Walaupun tubuh Ronggur cukup tegap menyimpan . Harus pula panjang. Kau harus menebang pohon aren yang sudah tua itu. Begitu yakin dia bahwa kemana pun dia pergi. maka itu sangat lain soalnya. tidak mengajaknya? Betapa pun ancaman yang tumbuh dari maksud perjalanan itu. Sangat kuperlukan nanti dalam perjalanan.“Ya. Menatap entah ke mana saja. Di tepi parit banyak kulihat bekas jejak binatang buruan. Dan. Jangan lebih dulu menebang kayu." “Aku akan mengerjakan. walau susah mengerjakannya karena kayunya cukup keras. Itulah kerjamu. Kita harus mengadakan pengintaian." Kemudian Tio terdiam. Ronggur melanjutkan: “Sewaktu aku meneruskan perjalananku lebih ke atas. bila bersama Ronggur. Membunuh beberapa ekor binatang itu. “Besok pagi benar. daya apungnya sangat baik. agar ada daging persediaan. bangunlah. bila diingatnya bahwa Ronggur akan menyusuri sungai Titian Dewata mencapai muara. Keberaniannya. mereka tidak akan mati kelaparan." Tio mendengarkan. Binatang akan pergi menjauh. Suara kampak yang berlaga dengan pohon kayu bisa menakutkan binatang. Jadi. Airnya bening. Dalam hati selalu mengiring tanya. dia ingin ikut. Lagi. kuperlukan dalam perjalanan. Tapi. akalnya yang cukup banyak. Tapi meranti batu tidak mudah busuk walau direndam dalam air dan dipanggang terik matahari. Tahukah kau di sebelah hulu parit. kutemui pula parit kecil.

akalnya banyak. Nyala menjilam dari unggun api. Karena mungkin saja diperlukan pada saat tertentu. jangan melancip.tenaga yang kuat. Si belang di bawah. Yang dibuat dari bambu. Mendengarkan dan meraba sumber suara itu. dekat unggun api. apakah Ronggur tidak dapat membaca apa yang tersirat dicerlang matanya? Malam hari. Tambah jauh malam nyala itu tambah mengecil. Tapi. Kurang wajar rasanya dia menasihati perjalanan yang sudah diputuskan Ronggur harus ditempuh. Dalam hayalnya Ronggur sudah menggambarkan bentuk perahu yang hendak dibuatnya. Biarlah perahu agak lamban jalannya. Biarlah tidak bisa dikayuh cepat. Ronggur turun ke bawah. berbentuk gepeng. Menimpakan beberapa potong lagi dedahanan ke atas api. Hingga jilam yang mau padam tadi. Jilam-nya begitu tinggi. Harus bisa dibuka dengan cepat. ikatannya jangan dipintal mati. agar tidak jatuh sewaktu diri lelap tidur. Ronggur menyuruh Tio mengikatkan tubuh ke dahan kayu yang bercabang. Ronggur juga mengikatkan tubuhnya ke dahan tempatnya tidur. Sudah di reka-rekanya bahwa dasar perahu harus mendatar. apalagi kalau dilanggar ketentuannya. siapa pula dapat menantangnya? Entah kenapa perasaan takut itu tambah hari tambah dalam mencekam di hatinya. Sekitar menjadi terang dan panas. kembali menyala.. Tapi. Binatang rimba mulai bernyanyi. Tapi. Kalau dewata berkehendak. Ya. Namun dia tidak mengatakan. Malam begitu dekatnya. semuanya itu tidak berarti. penimba air harus dibawa serta. Si belang duduk di . namun untuk menghadapi ketentuan dewata. lalu tampak bara membara. bisa mengikuti arus sungai walau melalui riam. Jengkrik dengan kerisiknyayang nyaring dan di kejauhan gonggong dan salak anjing liar selalu membuat si belang mendongakkan kepala. pikirnya. Dinding perahu harus agak tinggi agar tidak dimasuki temperasan air yang memercik.

tanah dekat api melihat jilam api yang terkadang meliuk ditiup angin lalu. "Perahu yang kubuat," lanjut Ronggur berbicara pada diri sendiri setelah dia kembali me letakkan diri dan mengikat tubuhnya ke dahan kayu itu. Harus bisa memuat penumpang sebanyak tujuh orang paling sedikit. Dasar perahu harus lebih lebar dari perahu biasa, agar tidak mudah oleng waktu melintasi riam sungai. Juga agar mudah menjaga keseimbangan. Sudah dibayangkan, siapa yang akan diajaknya serta. Akan diminta kesediaan mereka menemaninya. Dan, ke dalam yang tujuh orang itu, tidak termasuk Tio. Perjalanan yang menanggung risiko begitu berat, bukanlah pekerjaan perempuan. Lagi, Tio perlu dekat ibu. Membantu mengerjakan sawah bila saat panen tiba. Siapa ttliu, boleh jadi perjalanan itu sangat panjang. Dikiranya pula, bila setiap hari dia mengerjakan perahu, dalam dua kali purnama tenggelam dan terbit lagi sudah bisa selesai. Berarti sepulangnya dari hutan itu, padi telah menguning di sawah. Sehabis panen, dia akan memulai perjalanan itu. Seketika, teringat dia atas maksud kerajaan marganya untuk membuka hutan itu menjadi tanah persawahan. "Ah," pikirnya pula, "dari orang yang sangat dekat dengan Raja Panggonggom, diperolehnya keterangan bahwa s iasat itu baru gertakan saja pada kerajaan marga sekitar. Untuk menduga sampai di mana kesungguhan kerajaan marga lain itu untuk menguasai hutan itu. "Tapi, betapa pun," pikirnya pula, "hutan itu akan dibuka orang juga. Dan, darinya timbul satu ancaman pada ketenteraman hidup. Karena setiap kerajaan marga merasakan sama-sama berhak atas hutan yang kecil itu."

"Tio, kau sudah tidur?" tanyanya. Tidak ada sahutan. "Ah," pikirnya, "Tio sudah tidur." Dan, dia masih belum bisa memejamkan mata. Pikirannya terus berbicara dan bercerita dan mereka-reka bentuk masa datang. Dia tidak tahu pasti, kapan dia jatuh tertidur. Kokok ayam hutan membangunkan mereka. Cepat Ronggur turun dari dahan. Begitu pula Tio. Setelah meregangkan tubuh beberapa saat, menguapkan mulut. "Enak tidurmu malam tadi?" tanya Ronggur. Tio hanya menundukkan kepala. Sekitar masih remang. Masih pagi benar. Tapi, bila mereka pergi ke pinggir hutan, tahulah mereka bahwa matahari sebenarnya sudah muncul di atas pundak Dolok Simanuk-manuk yang dapat mereka tatap dari mulut teluk. Dedaunan yang rimbun menghalangi sinar matahari jatuh menimpa wajah mereka. Cepat-cepat Ronggur mengajak Tio mendekat ke parit yang dikatakannya semalam. Perlahan-lahan mereka mendekat, seolah-olah tidak menimbulkan buny i. Walau melalui ranting-ranting kering yang berserakan di atas tanah. Ronggur menunjukkan sekumpulan pelanduk yang sedang minum dan bermain-main di parit kecil itu. "Lihat," bisik Ronggur. "Bidiklah yang sebelah sana, yang kepalanya berbelang putih. Aku membidik yang kakinya berbelang." Tio mengiakan dengan anggukan. Bersama mereka mengayunkan tombak yang cepat melayang. Lalu, tertancap ke sasaran. Karena terkejut, pelanduk lain melarikan diri. Sedang pelanduk yang dikenai tombak melengking dan berusaha melarikan diri beberapa jauh, membawa luka di tubuh yang mengucurkan darah. Untuk itu, si belang cepat bangkit dan mengadakan pengejaran. Digigitnya kaki pelanduk itu sampai tidak berdaya. Sampai rubuh ke tanah. Kemudian si belang menggonggong, mewartakan kepada tuannya di mana pelanduk tergeletak.

Ronggur dan Tio cepat mendekat. Mereka kuliti binatang itu. Dagingnya mereka potong tipis-tipis. Mereka jemur di atas batu yang langsung menampung sinar matahari penuh tanpa dihalangi dedaunan. Sehari itu, si belang disuruh menjaga agar tidak dicuri burung gagak. Rongur memilih dinding jurang yang baik digali untuk membuat lubang perlindungan, tidak jauh dari parit kecil agar mudah mengambil air. Berdua mereka menggali. Mulut lubang dibuat besar, hingga bisa masuk dengan leluasa. Sedang ruang dalam agak luas. Mereka bisa menyangkutkan ulosbatak sebagai batas tempat tidur masing-masing. Sampai jauh malam mereka mengerjakan lubang itu. Peralatan mereka simpan di sana. Begitu pula dengan daging hasil pemburuan tadi pagi yang harus dijemur besok harinya, karena belum cukup kering untuk disimpan. Mereka gembira karena sudah memperoleh daging yang dibutuhkan dan sudah punya lubang perlindungan. Ronggur bisa tidur nyenyak malam itu, begitu pula T io. Di mulut lubang si belang tidur-tiduran. Seperti menjaga kemungkinan adanya gangguan binatang buas. Pagi itu, Ronggur melanjutkan mencari kayu. Dia menyuruk-nyuruk di bawah rerantingan, menyibak rerumputan yang terkadang berduri dan melukai tubuhnya dengan garisgaris kecil. Tapi sudah dapat menitikkan darah untuk kemudian membeku Agak jauh di tengah hutan, baru ditemui pohon yang dicari. Besar batang pohon, tiga kali pelukannya. Panjang batang pohon yang tegak lurus, sekira tiga depa. Diperiksanya batang pohon itu baik-baik, hingga dia yakin bahwa pohon itu sudah cukup tua. Dikulitinya batang pohon sekira sejengkal, lalu tampak kayu yang sudah berminyak. Kemudian dipanjatnya. Diperiksa, apakah tidak terlalu banyak mata kayunya. Tahulah dia bahwa kayu itu cukup baik dijadikan perahu. Langsung saja Ronggur mulai mendahaninya, agar waktu tumbang nanti

Batangnya dibelah. kemudian direndam dengan air. galah itu sangat diperlukan dalam melayari sungai. Dua biji lagi kayu yang tidak berapa besar ditebang Ronggur. dua tiga biji dipilihnya untuk dijadikan galah. lalu ditapis untuk diasingkan tepungnya Yang baik. Persilangan itu diikat dengan rotan kuat-kuat. Tio langsung menebang aren yang sudah tua. Sedang batang pohon maranti batu yang sudah tumbang itu. Bila air sungai tidak berapa dalam bisa digunakan membantu jalannya perahu. Ijuk yang berlepasan itu bisa dipintal menjadi tali yang cukup kuat. Batang pohon itu dipotong. Tanah di sekitar pohon itu dibersihkan. Umbi aren diasingkan untuk ditumbuk. yang panjang lagi kurus. Dibuatnya pula pacakan begitu dua lagi. Sesudah selesai menjemur daging hasil buruan semalam dan menyuruh si belang menjaga. Ujungnya dilancipkan kemudian dipacakkan ke tanah. diukurnya. Ronggur menaikkan batang pohon maranti batu itu ke atas .tidak menyangkut pada pepohonan lain yang bisa menimbulkan cacat pada pohon itu. dimakan pengganti beras. Tepat sepanjang yang diperlukannya. Katanya sekali waktu pada Tio. Bila daging sudah mulai habis. Dengan dibantu Tio. mendorongkan perahu yang mau terhempas ke tepian berbatu dengan menjolokkan galah ke pinggir sungai berbatu. kembali mereka mengadakan pemburuan. Atau. Bersilangan. Begitulah mereka saling mengerjakan tugas masingmasing. Ijuknya cepat berlepasan satu sama lain bila pohonnya sudah kering. Lebihnya dibuang. Sedang persediaan beras tampaknya tidak berkurang-kurang karena persediaan tepung umbi aren. Dari dedahanan kayu yang ditebang Ronggur. dengan mencucukkan galah ke dasar sungai lalu menyorongkan. di tanah yang tidak terlindung. Belahan pohon aren dijemur di bawah terik matahari.

Dikeluarkannya tuhil. di bagian perut lebih dalam dan luas. Dengan tuhil Ronggur melanjutkan membentuk lobang atau memperhalus bekas makanan kampak. batang pohon itu bisa dibalik-balikkan. Dia harus memilih dasar perahu yang terbuat dari bagian batang yang tidak banyak mata kayunya. perahu akan bocor. Dia harus memperhatikan benar. Langsung bersatu dengan tubuh perahu. mengambil tuntutan dari bagian dalam perahu. satu lagi menghadap ke belakang. Di sana batang pohon itu dikulitinya. alat yang yang terbuat dari batu yang tajam muncungnya. Membentuk semacam dinding yang baik. menggambarkan kepala harimau. Mata kayu biasanya mudah lepas dari kesatuan kayu dan bila sudah lepas. tidak pula boleh terlalu tebal. Dari sebelah mana harus dimulai penukilan membentuk semacam lobang di batang kayu itu. bagian batang mana yang harus dijadikan dasar perahu. kapak tidak berapa dipergunakan Ronggur lagi. pada bagian hulu dan buritan tidak berapa dalam. Agar perahu tidak berat atau agar daya apung perahu cukup baik dan punya keseimbangan. Setelah bentuk lobang itu agak nyata. . Di atas pacakan itu Ronggur mulai membuat perahu. Bentuk lobang yang dibuat Ronggur di batang kayu itu. Dasarnya sengaja diperluas. Ronggur harus hati-hati memilih. berhatihati. kemudian hulunya diketok perlahan.pacakan yang berupa galangan itu. agar dinding perahu tidak terlalu tipis lalu mudah pecah. Begitu pula dasarnya. Bila dasar perahu dan dinding perahu bertambah terbentuk. yang nanti menjadi tempat pemenumpang. diusahakan agar sama. Satu menghadap ke depan. Tuhil itu ditancapkan lebih dulu. Di atas pacakan. Ronggur beralih pula menukil bagian luar. dipahatnya semacam ukiran. Tapi. Pada bagian buritan dan hulu perahu. ditelanjangi. tebal kedua sisi dinding perahu. Tapi. Karena itu.

setelah pohon aren yang tua habis ditumbangkan Tio di tempat itu. Kemudian melahirkan kulit baru yang lebih tebal dan lebih tahan menghadapi ijuk. justru karena di buritan dan di hulu perahulah terletak tenaga sesuatu perahu tersimpan. Dan. Dibuat bersilang. . Ronggur mengatakan tali yang dipintalnya masih kurang banyak. Mencerai-beraikan. sudah kering sehingga ijuk mengikut pada putaran kayu itu. Waktu saat memintal ijuk tiba. asal saja jangan dibakar api. ijuknya sudah dipintal menjadi tali. betapa susahnya memintal ijuk pohon aren. sehingga bisa mengucurkan darah. Menebang. Menyisihkan umbinya. kasar. dan kokoh. Ijuk yang memanjang. yang sudah dua jalur itu. Pohon aren yang setumpuk itu sudah pada tumbang.Buritan dan hulu perahu. Merendam ke air. Karena itu. Dipilin tangan demikian rupa sehingga berbentuk tali yang jalin-menjalin. Kemudian memintalnya menjadi tali. Bila buritan dan hulu perahu retak atau pecah. Bila batang aren sudah kering. sendirinya saja bagian perut perahu akan pecah. dindingnya tebal dibuat di sana. Dan. Tio harus mencari pohon aren baru untuk ditebang. Membelahnya. Tapi. Lalu dimulainya memutar-mutarkan kayu bersilang tadi ke tumpukan ijuk. Menapis agar diperoleh tepungnya. Kulit telapak tangan berlecetan di sana-sini. disatukan. hitam. Tapi. Ijuk yang keras sering menusuk kulit telapak tangan. Kayu bersilang itu diputarkan pada tumpukan ijuk yang dicerai-beraikan. yang diusahakan sebesar yang dikehendaki dan sudah cukup panjang diikatkan pada pepohonan yang ada di sekitarnya. Dia harus menyusur lebih ke hulu parit lagi. tahulah Tio. ialah dua potong kayu sebesar pergelangan tangan. Menjemur. dia harus mencari pohon aren lagi. melepaskan ijuknya dari batangnya. Ijuk yang mengikut itu. Alat pemintal. Tahan air. T ahan panas matahari.

Tidak ada batang kayu yang dekat yang bisa dipanjat untuk menghindar bila babi itu menyerang. Muncungnya yang panjang kemudian akan ditusukkan ke bagian tubuh yang lunak. Babi itu akan menyeruduk maju ke depan. bila babi jantan itu sudah bertaring. didengarnya dengusan babi dari semak yang ada di atasnya. itu dengusan induk babi. Padahal babi hanya bisa menyerang dari satu arah. Dibulatkannya tekad. suara dengusan babi. matanya masih sipit. menyerang sampai mangsanya terjepit. Walau dia tahu seekor babi hutan tidak akan terus jatuh ketika pukulan pertama mengenai tubuh atau kepalanya. Anak babi hutan lima ekor. Sebelah kanannya.Tio menyuruki rimbunan kekayuan yang agak rendah. Jalan menyingkir sudah tidak ada. Ke sana dia menuju. jalan tikus yang sempit. Dengusan napas babi tambah mendekat. Setiba di bawah pohon aren itu. Dia harus menghadapi serangan babi itu. Tiba-tiba dia sadar bahwa menemui sarang babi hutan yang mempunyai anak yang masih kecil. . yang harus dihadapinya hanyalah satu arah saja. dia harus menghadapi segala kemungkinan. juga mengandung mara bahaya yang mengancam di samping kegembiraan. Dielusnya perlahan tubuh anak babi yang masih lembut. belukar. Induk babi yang baru melahirkan dan masih menyusukan tentu cukup galak dan tetap diiringi jantannya. Dari depannya. masih ada semacam dinding tanah sebelum menembus ke jalan tikus itu. Sadarlah dia. Yang masih punya bulu begitu halus dan menggelikan telapak tangan. betapa gembira dia karena dia menemui sarang babi hutan. Dari jauh sudah terlihat daun aren yang panjang itu. Tapi. Waktu dia berpaling. tidak menguntungkan. Sebelah kedua sisinya. yaitu depannya. Dilihatnya keadaan sekitar. mencari pohon aren. Bila dia mundur ke sana dan mengadakan pertahanan. Dan.

taringnya akan digunakan mencabik-cabik daging mangsanya. Menggigil juga dia. Sambil mundur perlahan, matanya tetap awas dan terus diarahkan ke sumber dengusan. Tapi, pikirannya masih dapat mengingat bahwa bila babi menyerang selalu membabi buta. Langsung saja menyergap ke depan tanpa rem. Dalam saat begitu, seseorang yang lincah dan tidak gugup, dengan meloncat ke kiri atau ke kanan, bisa mengelak serangan. Bisa mengelak serangan babi sambil menggunakan kesempatan itu menghantamkan panggada atau kampak yang ada di tangan. Tiba-tiba si belang menggonggong. Begitu nyaring suaranya. Taringnya ditunjukkan, putih tajam dan kukuh. Dalam hati, Tio mengharap Ronggur dapat mendengar dan mengerti maksud gonggongan si belang. Dua ekor babi sekaligus sudah berada di hadapannya, di tempat terbuka yang sempit. Seekor dari babi itu sudah bertaring, yang jantan. Mata kedua babi itu merah menyala. Keduanya mengais-ngais tanah, bergaya, mengambil ancang-ancang memulai serangan. Tio terus mundur sampai mendekat ke satu sudut tanah tinggi yang keras. Matanya terus awas, mengikuti sikap dan gerak-gerik babi yang dua ekor itu. B ila babi menyeruduk maju tanpa rem, di saat dia harus melompat ke kiri atau ke kanan, dia harus terus cepat pula mengayunkan kampak yang ada di tangannya, sambil harus terus awas menantikan serangan babi yang seekor lagi. Si belang masih terus menggonggong dengan nyaring dan bersikap menanti. Karena itu, babi itu belum menyerang. Gonggong si belang cepat berhenti karena babi jantan menyerang si belang. Si belang melompat ke samping. Babi jantan terdorong ke depan. Si belang cepat melompat ke punggung babi itu. Si belang sudah berada di punggung babi. Tapi, sebelum si belang memperoleh posisi yang baik, babi itu masih sempat mempergunakan taringnya sehingga leher si

belang kena dan mengeluarkan darah. Tapi, si belang tidak lagi melepaskan pundak babi jantan itu. T aringnya yang tajam dan kukuh ditancapkan ke bagian punggung leher babi. Babi itu menggelepar dan berlari dengan berputar untuk menjatuhkan si belang dari pundaknya. Namun si belang tidak melepaskan gigitannya lagi. Darah babi muncrat. Namun, belum ada pertanda babi itu mau mengalah. Akhirnya, babi itu berlari ke satu batang pohon yang besar, mendorongkan pundaknya agar si belang terjepit. Dengan kaki belakangnya, si belang menahan dorongan itu. Taringnya tambah dalam ditancapkan ke daging babi. Babi betina melihat babi jantan dalam keadaan payah mulai mengambil ancang-ancang akan menyerang. Waktu itu, secepat kilat tangan Tio mengayunkan kampak, berusaha menghantamkan ke bagian punggung leher babi. Tapi, yang kena bagian punggung belakang saja. Babi itu cepat berpaling. Panggada yang ada di tangan Tio diayunkan beruntun, menghantam kepala babi itu. Tapi, babi itu terus maju mendorong, mendesak T io ke sisi tanah tinggi. Terkadang didorong ke rimbunan lalang yang ada di sekitar. Tio tetap berusaha menjaga arah mundur. Tapi, justru karena serangan babi itu yang terkadang berubah arah, sekali waktu dia tergelincir juga. Dia tersandar ke pohon aren yang berduri tajam. Duri pohon aren menusuk punggungnya. Terasa sakit. Cepat babi itu mundur ke belakang dan cepat pula melompat ke depan bermaksud menjepit T io ke batang pohon aren. Tapi, secepat itu pula Tio mengelak. Namun, betisnya sempat disambar babi dengan muncungnya. Luka menggaris, darah mengucur. Tio memperbaiki posisi sambil menghantamkan panggada ke sana ke mari, menghalangi jalan maju babi itu. Sekarang, Tio sudah bersandar ke dinding tanah tinggi yang keras. Kembali babi itu mengambil ancang-ancang mundur beberapa

langkah. Tio berhenti mengayunkan panggada. melengah.

Seperti

Dan, saat ini dipergunakan babi dengan menyeruduk cepat ke depan. Saat genting. Dan, Tio cepat mengelak ke samping. Kepala babi terhantam ke dinding tanah tinggi yang keras. Kampak yang tadi tertancap di pundak babi menjadi lepas. Cepat dipungut Tio, lalu menghantamkan kampak ke leher babi yang belum sempat berpaling. Akhirnya babi itu tidak berdaya sama sekali. Tergeletak di tanah dengan mata yang masih memancarkan sinar kemarahan. Kaki belakang si belang semakin lemah menahan dorongan babi jantan. Pantatnya sudah mulai kena ke batang pohon. Tio masih begitu payah. Napasnya satu-satu dan tubuhnya mandi keringat. Betisnya terasa pedih mengucur darah. Hingga dia untuk beberapa saat tinggal melihat saja. Napasnya tersengal. Urat sarafnya begitu tergoncang. Dan, secara perlahan diketahuinya, si belang sedang berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan bersamaan dengan mengendornya urat saraf itu. Bersikap mengayun kampak, Tio maju perlahan. Tapi, waktu itulah sebuah tombak yang sudah cukup dikenalnya tertancap ke perut babi. Ronggur telah ada di sana dengan tubuh berkeringat. Matanya menyala marah. Ototnya mengencang. Ujung tombak satu lagi dipegang Ronggur kuat-kuat, hingga mata tombak tambah dalam tertanam ke perut babi. Kemudian Ronggur memerintahkan agar si belang melompat dari pundak babi. Begitu si belang me lompat menjauh, secepat itu pundak babi dihantam Ronggur dengan kampak. Babi itu akhirnya rubuh ke tanah. Tergeletak di tanah dengan gelepar lemah. Ronggur melihat Tio terduduk di tanah dengan napas tersengal. Di dekat seekor babi betina yang terkapar. Si belang masih menggonggong babi yang tidak berdaya itu dengan moncong berlumur merah darah babi. Tapi, lehernya luka kena taring babi.

Ronggur mengelus punggung si belang agar tabah. Mata mereka bertemu. Ronggur mendekati T io. lukamu perlu cepat diobati. Di saat kita kehabisan daging. dipelihara menjadi babi peliharaan yang jinak." Cepat Ronggur menghidupkan api. Masih merasa capek. Lagi pula lukamu tidak berapa dalam. Tio masih tetap terduduk. sedang pada Tio dihadiahkan senyum manis. Lalu tahulah dia. Dan. Ramuan itu membunuh bisa. Kedua ekor babi itu dibakar sampai kulitnya hangus. Begitu juga luka s i belang. Seketika terasa mulut luka itu perih hingga T io harus menjerit kecil. Tio menjalin rotan. Baru kemudian daging babi itu dipotong kecil-kecil. Tanpa diminta Ronggur. Malam harinya. Hanya begitu. Ronggur kembali menghadiahkan senyum. Mencari dedaunan untuk ramuan mengobati luka Tio dan si belang. mereka lanjutkan memanggang daging babi itu dalam gua. Tapi. Ronggur mengangkat dagunya perlahan. membuat sarang babi yang sekaligus menjadi kurungan bagi anak babi itu. Kemudian isi perut babi itu dibuang. punggungnya bergaris-garis bekas tusukan duri." ucap Ronggur. juga luka si belang. "Tidak berapa lama akan tidak terasa apa-apa. Sepotong paha diberikan kepada si belang . di situ pula kau merubuhkan babi yang dagingnya enak. "Kau telah mengadakan perlawanan yang cukup berani dan berarti. Sedang anak babi yang lima ekor itu akan mereka bawa pulang ke kampung. Dijemur di panas matahari supaya kering dan tahan disimpan. betis Tio luka. Ramuan dedaunan itu dilekatkannya ke luka Tio dan si belang. sedang si belang melengking perlahan. merasa malu dia dilihat Ronggur dalam kepayahan. Cepat Ronggur menjauh. Tio terus saja menceritakan mula perkelahian dengan babi itu. Lukamu akan cepat sembuh.Dengan senyum.

Tanah begitu lembut dan berair. Kemudian mereka menarik tali itu dan terseretlah perahu. matanya sudah terbuka. Bila Tio berma in dengan anak babi itu. mereka tidak menakutkan dasar perahu bolong dibuat batu. la asik menyabik-nyabiknya di mulut lobang perlindungan. jadi. Begitu pula anak babi yang lima ekor itu sudah punya bulu yang agak kasar. Batang pohon maranti batu yang dulu begitu berat. dan jinak. semua peralatan bersama kelima anak babi dimuat. sudah sama. Mereka langsung menuju tepian danau yang ada di mulut teluk. Ronggur dan Tio menurunkan perahu itu dari galangan. Ronggur mengikat perahu itu pada hulunya. ditumbuhi bulu lagi. tahulah . tinggal segaris saja. tidak diingatnya lagi betapa perasaannya waktu menghadapi kedua ekor induk binatang itu. Kulit binatang buruan sudah pada mengering. Pada penglihatan mata. Karena jalanan menurun dan dedaunan membusuk di lapisan tanah. Perahu yang dikerjakan Ronggur tambah berbentuk dan mulai mengarah ke tarap penyelesa ian. hanya tinggal bekas kecil saja. begitu pula perbandingan berat hulu perahu dan buritan perahu. Sedang luka di betisnya sudah sembuh. Si belang mengikut dan menggonggong. Hendak mereka bawa pulang. Di dalam perahu. Dengan tali yang dipintal Tio. Mereka harus menguji keseimbangan perahu dulu dengan mengapungkan di permukaan danau. Tali yang dipintal Tio sudah beberapa depa dan sudah ada lima gulungan besar yang selesai. tapi tidak. sekarang sudah ringan. Ronggur sudah selesai menghaluskan bekas tuhilannya. Begitu pula luka di leher si belang. mereka tidak pulang melalui jalan darat. Dan. kedua sisi dinding perahu. Perahu yang cukup besar yang bisa memuat tujuh orang penumpang bersama peralatan.sebagai hadiah. Setiba di tepi danau. Ronggur dan Tio mengosongkan perahu.

Ronggur . Tari warna berma in di riak danau. Karena dasar perahu agak luas terasa pendayungan agak berat. juga si belang. Jadi. Mereka menuju pulang. Juga mata kayu yang ada di dasar perahu yang tidak dapat dielakkan sejak mula. tidak baik dibawa berlayar. Setelah itu selesai. bersama kelima ekor anak babi itu. Membuang bagian yang tidak berguna. Senja hari. Tapi. mereka harus bermalam lagi untuk beberapa malam di tepi danau. Kembali perahu didaratkan. haluan itu masih bergaya mau tenggelam. Mereka berkayuh dan berkayuh. kembali segala peralatan dimuat ke dalam perahu. sebelum perahu rampung benar. Sampai tercapai keseimbangan. Tapi. Walaupun Ronggur sudah duduk di buritan perahu. setelah diuji masih mempunyai perbedaan. kembali dia teringat bahwa saat berpisah dengan Ronggur sudah semakin dekat. tidak dihiraukan. Bila keseimbangan perahu telah diperoleh.dia. Ronggur lalu merekatnya dengan getah pohon damar. Ronggur menipiskan bahagian haluan lagi. malam sudah melingkup segala. bagi T io sendiri setelah mengayuh perahu di permukaan danau. hendaknya Ronggur dapat kembali dengan selamat. Apakah Ronggur akan kembali lagi? Wa lau dia tahu bahwa sesuatu ancaman sedang menanti Ronggur. Tahu pulalah dia bahwa bagian sisi kanan perahu. Ronggur mencampakkan pandang jauh. perahu kembali diapungkan. Perahu yang begitu rupa. lebih berat dari sisi kiri. Bila lekuk teluk telah dilewati. Haluan perahu terlalu berat. ternyata dapat ditembus air. ke teluk di mana bermula Sungai T itian Dewata sudah ada. namun dia masih mengharapkan. apa yang bagi penglihatan mata sudah punya keseimbangan yang sama. sehingga perahu selalu oleng ke kanan. Sisi kanan perahu harus lebih direndahkan dan ditipiskan pada bahagiannya yang masih tebal. mereka telah berada di danau bebas.

padi telah menguning di sawah. Bila gelombang membesar. memperhatikan jalan. saatku berangkat tiba. Tapi. Bulan mencurah cahaya.menyuruh Tio agar duduk di haluan perahu. Subuh baru telah lahir bersamanya lahir hari baru dengan harapan baru. Tapi. secara berangsur. perlahan. "Ya. Tio lebih banyak diam dan tenggelam ke dasar perasaannya: bagaimana kelak kalau Ronggur sudah berangkat? Apakah orang masih memperlakukannya dengan baik? Sedang Ronggur diamuk satu kepercayaan bahwa dia akan menaklukkan Sungai Titian Dewata bahwa dia yakin. Sungai Titian Dewata akan membawanya ke tanah landai lagi subur. kemudian di ufuk timur. Kita tidak punya waktu mengasuh lagi. Mardege. Aku tidak bisa lagi berlama-lama mengundurkan saat keberangkatanku. berakhir pada kaki pegunungan batu. Suasana yang romantis. maka terhamparlah depan mereka persawahan yang bermula dari tepian danau. Permukaan danau kembali memantulkannya ke langit." Tio hanya menundukkan kepala. Harus terus turun ke sawah memotong padi." kata Ronggur. ada baiknya diserahkan saja pada orang lain. apakah ada perahu lain yang bersilangan dengan mereka. bulan semakin mengundurkan diri. menggaris cahaya putih. Menari bersama riak danau. B intang gemerlapan di langit. Sinar matahari telah meng-kuakkan tabir kegelapan. Bertambah larut malam. Perahu terus dikayuh. Maka sekitar diselubungi kegelapan." "Dan. sehabis memotong padi. Tanah yang diimpikan setiap orang. kebisuan yang meraja. antara mereka berdua. Ronggur tinggal tersenyum karena . aku tahu. Sepanjang malam mereka terus berkayuh di permukaan danau yang tenang dan tidur. "Tio.

utusan kerajaan datang. itupun ccdw-kzaa 4 Hari itu juga. tidak ada yang berani terang-terangan mengeluarkan pendapat. Menyapa di sana-sini. Tampaknya setiap orang enggan bersapaan dengan Ronggur. masih sembunyi. orang sudah saling berbisik membicarakan maksud Ronggur hendak melayari Sungai Titian Dewata mencapai muara. . Tidak seorang pun menanya tentang perahunya dan kapan dia berangkat. ada yang mengejek. Orang mencampak pandang pada mereka. Para penangkap ikan me lihat mereka. Belum siang benar. dan memperoleh jawaban sekedarnya saja.gelombang danau tidak dapat mengolengkan perahunya. Orang sudah banyak memanen padi di sawah. Dia lalu di sana. tidak gembira menyambut kedatangannya bersama perahu yang dibuatnya sendiri. Dan. serpihan air yang dilemparkan ombak tidak dapat memasuki perahu. Sebagian lagi. sebagian besar. menyuruh Ronggur menghadap ke Sopo Bolon. Tapi. begitu pula Tio. kenapa mereka pada membisu. walaupun tidak secara terangterangan. atau memang dia belum tahu sebabnya. Ronggur melangkah dengan dada diangkat. Ibunya melepaskan dengan tatapan pilu. Pada umumnya orang tak dapat menyetujui maksud itu. terutama rakyat yang langsung berada di bawah lindungannya sebagai Raja Ni Huta. mereka telah tiba ke tepian danau perkampungan. Kalau tidak ditegor lebih dulu. semua itu tidak berapa diacuhkan Ronggur. Ronggur belum dapat mengartikan. sebelum Ronggur sempat mengasuh. Tapi. Selagi Ronggur dan Tio membuat perahu di hutan.

Diapit oleh para tua kampung.Satu sama lain saling mengeluarkan pendapat bahwa Sungai Titian Dewata. Matahari. karena maksud perjalanan itu menantang kepercayaan rakyat yang sudah tertanam turun-temurun. membuat Ronggur . Karena ada seorang manusia yang hendak meruntuhkan atau sama sekali tidak mengindahkan kepercayaan yang mereka anut. tapi sebagian lagi merasa terhina. Ronggur duduk di barisan Raja Ni Huta. Segala Raja Ni Huta dari tiap kampung yang didiami marga mereka telah ada di sana. Dewata akan murka dan menghancurkan orang yang berani melanggar peraturannya. Di kiri kanan Raja panggonggom. Tempat para dewata dan arwah menghadap Mula jadi Na Bolon. Mulut tidak mengucapkan sepatah kata. itu berarti sudah melanggar ketentuan dewata. hadir pula Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Di Sopo Bolon. sidang kerajaan akan diadakan hari itu. Dia terus tahu. melihat orang jahat membuat kejahatan untuk diganjar kelak di hidup lain. tempat Mula jadi Na Bolon mengedari dunia setiap saat. untuk melihat manusia yang mengerjakan hal yang baik. duduk berjajar Raja Partahi. yang selalu dipanggil menghadiri sidang kerajaan. Orang pada diam sewaktu Ronggur memasuki ruang Sopo Bolon. Kasihan dan ejek. Hanya Raja Ni Huta dari induk kampung marga yang duduk sejajar dengan Raja Panggonggom. Raja Namora. begitu pula dari matahari Mula jadi Na Bolon. Di belakang mereka. pertanda warta yang kurang baik. Memperoleh lalapan dari tiap mata itu. Raja Nabegu. Ronggur telah dinantikan kerajaan yang lengkap. sebagian merasa kasihan melihat Ronggur. menuju matahari terbit. Raja Panggonggom sudah duduk di tempat dengan wajah murung. Bila seseorang berani melewati batas yang sudah ditentukan sampai di mana boleh seseorang berlayar. duduk para Raja Ni Huta. Dan. bila yang hendak dibahas hal penting. Semua mata diarahkan padanya. Pada tempat tertentu.

tahulah Ronggur bahwa hal yang akan dibicarakan bersangkut-paut dengan maksud perjalanannya menembus Sungai Titian Dewata. Menyimak yang diucapkan Raja Panggonggom. Malah menurut sebagian orang. hatinya tambah . Lalu Raja Panggonggom mengangkat tangan yang sebelah kanan. orang tua yang bijaksana. ada sesuatu hal yang sangat penting kita bicarakan dan bahas bersama." lanjut Raja Panggonggom. sewaktu matanya tertumpu pada orang tua yang duduk di sudut yang agak remang itu. Terutama Ronggur. Karena. pagar kesatuan marga. Ruangan tetap hening. "tampaknya mengancam. perasaan kaku itu berangsur menghilang dari tubuhnya. Tapi. "Hal itu. Orang tua itu menyambutnya dengan senyum yang dibalasnya selintasan. akan mendatangkan mara bahaya pada seluruh rakyat dan kerajaan. Tongkat itu digenggam. Memperhatikan gerakgeriknya.agak kaku juga sikapnya. yang bertanggung jawab akan kelanjutan hidup marga dan keturunan kita kelak. Yang bisa menimbulkan kegaduhan yang tidak kecil di kalangan rakyat." Hadirin pada diam semua. Sewaktu Ronggur mengalih pandang tahulah dia bahwa Raja Panggonggom terus menerus menancapkan pandang ke arahnya. Dari suasana dalam Sopo Bolon. kami undang hari ini menghadiri pertemuan kerajaan di Sopo Bolon ini. dan bermaksud merubuhkan sesuatu yang kita percayai. Karena itu. Pertanda pertemuan dimulai. "Semua kerajaan. menjemput tongkat panaluan dari tempatnya. yaitu bekas Datu Gelar Guru Marsait Lipan." Melalui ucapan Raja Panggonggom sebagai kata pembukaan rapat. dito-pangkan agar berdiri tegak lurus. tahulah Ronggur bahwa sidang akan membahas sesuatu hal yang sangat penting tampaknya. Untuk pertama kalinya orang tua itu menghadiri sidang kerajaan dengan terang-terangan.

"Nah. "kami berpendapat harus melalui musyawarah lengkap yang boleh mengambil putusan tertentu terhadapnya." sahut Ronggur. kita harus mengucapkan terimakasih padanya. Ronggur sudah mengakui terus terang sehingga jalan rapat tidak terlalu repot dan berbelit. Setelah mencampakkan pandang pada Ronggur. lalu menyokongnya? Apakah mereka semua akan menjadi musuh." Raja Panggonggom berhenti sebentar. Dia menarik napas. Ronggur. kenapa kau begitu bernafsu hendak mencari Sungai T itian Dewata?" Ronggur disuruh berdiri. dia mengharap agar . sidang yang terhormat. yang menantang maksud perjalanan itu? "Karena hal ini sangat menentukan. Camkanlah baikbaik pentingnya maksud pertemuan ini. setelah mencampakkan pandang ke sekitar. Atau. Karena kau bermaksud akan mencapai tanah habungkasan. katanya selanjutnya. Karena itu. seseorang yang berani melayari Sungai T itian Dewata sampai ke muara berarti akan sampai ke tanah landai yang subur. yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. coba ceritakan pada kami. Apakah berita itu benar?" "Benar. Tanah yang dimimpikan tiap orang. Paduka Raja. Dia yakin.gedebak-gedebuk." lanjut Raja Panggonggom. dia melanjutkan: "Ronggur. jalannya pertemuan itu. dia lalu membeberkan hal yang kan dialam i marga mereka kelak bila tanah habungkasan tidak ditemui. Apakah ada orang yang bisa diharapkannya untuk membela maksud perjalanannya itu. yang disampaikan orang itu ternyata benar. kami dengar kabar kau sudah menyelesaikan perahu yang akan kau pergunakan menyusuri Sungai Titian Dewata untuk mencapai muara. dia berpendapat. sehingga putusan itu nanti menjadi pendapat kita yang mutlak. Untuk itu. menantikan putusan rapat. Karena itu. tanah habungkasan itu harus dicari. Dan.

Tidak mudah oleng waktu melalui arus riam sungai. Dari s ikapnya tampak bahwa dia sama sekali tidak mengingini mendengarkan ucapan Ronggur. tahukah kau bahwa perjalananmu itu sangat berbahaya?" "Benar Paduka Raja!" sahut Ronggur. maka soalnya menjadi lain.kerajaan memberi izin padanya untuk menyusuri sungai itu sampai ke muara dan membolehkan beberapa orang menjadi kawannya. "Perjalanan ini menghadapi risiko yang tidak kecil. Rapat hening. Lama sesudah itu baru tanah memberi hasil pada kita. Daya apung perahu sangat baik. Percikan air tidak mudah masuk ke perahu karena dinding perahu kubuat agak tinggi. "Aku telah memilih kayu yang paling baik jenisnya. Hanya wajah Datu Bolon Gelar Guru Marlasak yang menjadi merah padam mendengar semua omongannya. Tapi. Paduka Raja!" jawab Ronggur lalu kembali duduk bersila di lantai." Dalam hati kecilnya Raja Panggonggom menghormati sikap terus terang dan keberanian yang dimiliki Ronggur. "Sudah. Pada mulanya kita harus berani membuang tenaga dan waktu untuk mencangkul tanah. seseorang yang berusaha mencapai sesuatu kebajikan akan selalu menghadapi risiko. karena maksud perjalanan itu sendirinya pula membelakangi kepercayaan rakyat dan kepercayaan sendiri. Sungai T itian Dewata tidak berakhir di ujung dunia. "Ronggur. Dasarnya lebih lebar dari perahu biasa. Tapi. Seketika Ronggur berhenti. katanya tegas. ." "Sudah siap semua yang ingin kau ucapkan?" tanya Raja Panggonggom. Tak ubah seperti mengerjakan sawah. Ronggur melanjutkan.

" Datu Bolon Gelar Guru Marlasak cepat berdiri." "Paduka Raja. Jadi. Mimpi itu mewartakan bahwa bila aku melayarinya. Turun temurun."Ronggur. bila warta mimpi itu tidak dapat kutunjukkan dalam kenyataan. Wajahnya memancarkan sinar kemarahan. Selanjutnya mimpi itu selalu mengatakan padaku. Mimpi itu selalu mengajak aku agar memulai satu perjalanan. "Paduka Raja. Tanah landai itu begitu luas. sebelum bencana itu menimpa dirimu. berilah kesempatan padaku untuk membuktikannya atau aku sendiri akan musnah. memang padaku diajarkan kepercayaan begitu rupa." "Apakah kau tidak mungkin digoda setan?" potong Raja Panggonggom. berartilah aku digoda setan. aku akan tiba ke tanah landai di muara sungai. izinkanlah aku untuk memikul segala risiko itu bila yang kurasakan dan kupikirkan itu salah!" "Bagaimana pendapatmu tentang Sungai T itian Dewata?" "Paduka Raja. tapi bertujuan untuk kepentingan bersama. Tapi. yaitu menyusuri Sungai Titian Dewata. bila aku tidak memulai perjalanan itu. ada baiknya kau . Tidakkah kau tahu bahwa Sungai Titian Dewata itu sungai yang jatuh ke ujung dunia? Sungai Titian Dewata jalan para dewata dan arwah menghadap Mula Jadi Na Bolon. menurut hukum yang diwariskan kepada kami. Mulutnya cepat-cepat mengeluarkan kata: "Ronggur! Menurut kepercayaan kami. maksudku tidak di situ saja. kau pasti akan mendapat bencana. aku selalu digoda mimpi. Dadanya naik turun dengan cepat. Tapi. karena maksud perjalanan ini tidaklah untuk kesenangan perseorangan saja. Bisa menampung kebutuhan kita dan keturunan kita kelak akan persawahan. aku seorang manusia yang telah menyia-nyiakan satu kesempatan. Aku telah rela menerima dan memikul segala risiko itu. Aku orang yang tidak dapat dikatakan seorang lelaki.

" kata Datu Bolon menyindir. Soalnya bila Datu Bolon meninjau dari sudut gaib. kau juga harus tahu karena yang kau tantang itu hukum dewata. "Seperti tidak ada sesuatu kekuatan yang dapat menghentikan orang mengisi perutnya. yang kuhormati kebenaran tenungnya. Justru karena memperhitungkan hal itulah aku mengambil kesimpulan. aku melihat dari kenyataan sesuatu perhitungan yang hasilnya pasti tiba. ini menyangkut seluruh marga kita. Tidakkah dapat kau rasakan ancaman mara bahaya yang akan timbul dan menimpa warga marga itu?" "Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. tanah habungkasan perlu dicari." sindirnya pula dengan halus dan tenang." "Kalau begitu. dengan hentakan kasar mengatakan. Diusahakan menemukan." tiba-tiba suara Raja Nagebu meninggi. bencana yang mungkin meruntuhh-an kelangsungan hidup marga. Padi di sawah akan tidak menjadi. tapi semua marga akan dikutuknya. T api. justru karena keinginanmu untuk mengharungi Sungai Titian Dewata. Yang kuhormati arwah halus penjaga diri dan yang dapat dipanggilnya untuk membisikkan sesuatu pendengarannya. Tapi. "Apa yang menggoda hatimu? Apakah kau dengan perjalananmu yang akan menimbulkan bencana dan yang telah menimbulkan huru-hara terpendam di kalangan rakyat dan para hulubalang. Kerajaan kita akan berakhir pada suatu yang menyedihkan. yang menanti saat meledak sehingga ketenteraman hidup terganggu dan kucarkacir. masih kau katakan untuk memperjuangkan kelanjutan ." jawab Ronggur dengan tabah dan tenang. Kerukunan keluarga akan hancur. tidak ada lagi sesuatu hal yang bisa mengurungkan niatmu.mengurungkan niat itu. Aku percaya bahwa Datu Bolon pun memikirkan hal itu. Aku selalu memperhitungkan dan tetap merasakan. "Ronggur. Kemarahan dewata tidak saja menimpa dirimu. "Begitulah rasanya. Kalau cuma kau yang dikutuk dewata tidaklah menjadi soal besar.

Juga aku tahu. Marga kita. tapi kita semua. Kalaulah yang kuimpikan bisa nyata dalam kenyataan tidak bermaksud aku disebut penemunya. kemudian istrimu itu melahirkan anak banyak. Dalam saat itu. T api. Lalu melanjutkan. Jelaslah sebenarmya kau mengimpikan sesuatu yang maha mulia dialamatkan pada dirimu. dan Raja Ni Huta dari induk kampung. Raja Namora. Raja Panggonggom mengadakan sidang kecil dengan para Raja Partahi. menunjukkan bahwa kau lebih berani dari setiap hulubalang kita. . Tahukah paduka raja bahwa banyak dari marga ya'ng hanya punya tanah beberapa bidang dan hanya dapat menghasilkan padi yang cukup untuk makanan sekedarnya saja? Dan mereka terus saja melahirkan anak. sawah yang dikuasakan padaku memang cukup memberi nafkah. Biar kau mengambil seorang istri atau lebih.hidup marga dan keturunan? Atau. bidang sawah yang diserahkan atau dipercayakan kerajaan padamu cukup luas lagi subur. pokok persoalan sekarang di sini bukanlah aku. tapi ketololan. Dan tahulah paduka raja bahwa permintaan bantuan dari lumbung desa setiap tahunnya bertambah banyak juga? Sehingga kita tidak bisa lagi mengadakan pesta pujaan terhadap Mula Jadi Na Bolon dengan besar-besaran? Inilah semua yang jadi persoalan. bukan diriku dan bukan pula hanya diri tuanku saja. Sekali-kali tidak. Belum perlu menguatirkannya. anak yang perlu kita beri makan. kau memang sengaja mencari nama. Hasil sawahmu memberi jaminan." Keadaan menjadi sunyi." "Paduka Raja Nagebu. Jadi. pemegang tampuk dan penggerak para hulubalang perkasa." Seketika dia diam. Wajahnya bertambah merah. "Ronggur. Maksudku jauh dari dugaan tuanku. bila untukku sendiri dan jaluran keturunanku langsung. sehingga patentengan menantang hukum dewata? Ronggur menantang hukum dewata bukanlah keberanian. Raja Nagebu. kau belum perlu menguatirkan makanan untuk mereka.

tetap juga menerimaku kembali. Dia tidak pernah lagi pulang. Karena almarhum ayah paduka raja. tapi dari tiap wajah memancar kesungguhan. yang kutemui berbeda dengan hasil tenungku. menceritakan kegagalannya dulu mengharungi Sungai Titian Dewata. yang akan diumumkan pada seluruh marga. almarhum ayah kami memberi izin pada bapak untuk mengharungi sungai tersebut. yang mewariskan kedudukan Raja Panggonggom pada kami. Di s itulah mendapat kenahasan. Kami mengalami kegagalan. Almarhum ayah paduka raja diserang seekor harimau dengan tiba-tiba. Tapi. "Pembalasan dewata telah datang. Mereka berbicara perlahan. bagaimana?" tanya Raja Panggonggom. sebagai undang-undang kerajaan yang tidak boleh dibantah." "Sesudah itu?" "Aku sendiri pulang ke mari. Menurut pustaka kerajaan. "Bapak bekas Datu Bolon. berbicara pada hadirin." "Selanjutnya. Jelas tampak mereka sedang mengambil ketentuan dan keputusan rapat. Tapi. tidak lama kemudian kami mengadakan pemburuan. untuk mengharungi Sungai Titian Dewata. sabahat karibku. Dalam igaunya selalu mengatakan. Dia temanku. Tiba-tiba saja Panggonggom menyuruh bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan. Pembalasan dewata telah datang!" . Bagaimanakah hasilnya?" Orang tua itu berbicara perlahan. "Ayah Ronggur memperoleh cedera dalam perjalanan itu. "Memang benar Paduka Raja bahwa aku pernah meminta agar diberi izin mengharungi Sungai Titian Dewata. sehingga beliau memperoleh luka yang mengakibatkan kewafatannya.Kemudian mereka panggil pula Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. yang pernah meminta izin pada almarhum ayah kami.

. apakah kau masih bermaksud meneruskan niatmu atau mengurungkan setelah mendengar pengakuan bekas Datu Bolon yang sudah disisihkan orang dari kehidupan ramai? Lain tidak! Dia membawa kenahasan bagi kerajaan. sesuatu maksud baik harus dibatalkan? Apakah tidak hanya satu kebetulan saja hal nahas itu mendatang?" "Kutanya padamu. Tapi. telah mendengarkan satu pengakuan dari seseorang yang pernah mengharungi Sungai Titian Dewata. Ronggur. apakah karena satu kegagalan. Ronggur telah melupakan riwayat nenek moyang dan berusaha merombak kepercayaan yang kita anut atau menurut kata Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. terutama kau Ronggur."Apakah tidak mungkin. Apakah setelah mendengar pengakuan ini kau masih bermaksud meneruskan niatmu? Berilah jawaban. boleh juga begitu "Hadirin semua. Maksud yang baik. telah menghina kepercayaan yang kita anut. Lalu sebelum Ronggur memberi keputusan. yang menimbulkan kemarahan para dewata. Dia dihadapkan sudah pada saat yang menentukan. Bintikan keringat melebihi keningnya. Akhirnya dia mengatakan: "Paduka yang bijaksana." Hening sejenak." Ronggur terdiam. Ronggur!" Ronggur terdiam beberapa saat. apa yang dimaksudkannya itu karena mengizinkan bapak mengharungi Sungai T itian Dewata dan menerima bapak pulang kembali?" "Tidak dapat maksudnya. Golongan raja kembali mengadakan sidang kilat." kupastikan. Belum memberi sesuatu pilihan yang menentukan. Raja Panggonggom mengatakan: "Kita telah sama mendengarkan cerita bahwa Ronggur hendak mengharungi Sungai Titian Dewata untuk mencari tanah habungkasan. Tapi.

maka dia tidak berhak lagi mencantumkan marga kita di belakang namanya. dan dari gangguan perampok di tengah jalan. Kami tidak mau mengulangi kenahasan yang pernah menimpa almarhum ayah kami. Kalau ada orang yang membunuhnya dalam perjalanan. gelar Hulubalang Muda dicabut kembali!" "Dia tidak boleh memakai nama kerajaan kita untuk melindungi diri dari kutukan dewata. dari gangguan setan. "Jadi kami umumkan pada semua Raja Ni Huta. akan turut dikutuk oleh dewata. Dirangsum ala kadarnya!" "Syarat ini kami ajukan justru karena kami berpegang pada satu kepercayaan: siapa saja yang mengikuti perjalanan Ronggur. Sawah yang telah dipercayakan padanya disita kerajaan. Biarlah kami dan marga kita disebut pengecut. Ibunya yang sudah tua akan dibelanjai langsung oleh lumbung desa. Ronggur sendiri yang harus memikul risikonya. dan menjadi undang-undang bagi kita semua. tidak seorang pun dari warga yang dibolehkan mengikuti dan membantu perjalanannya. untuk menimpa . Begitu pula gelar Raja Ni Huta Muda. marga kita tidak akan menganggap serangan itu serangan yang langsung pada marga kita. ialah bila Ronggur meneruskan niat itu. siapa saja yang membantunya mengharungi Sungai Titian Dewata. Kau akan ditangkap dan dijadikan budak belian. kau akan tidak dianggap anggota marga lagi. Bila kau mengalami kegagalan kemudian kau pulang ke kampung ini. hendaknya urungkan dan batalkan niatmu sebelum terlambat. jalan para dewata dan para arwah menuju matahari terbit tempat Mula Jadi Na Bolon bersemayam. namun melawan dewata kita tidak mau. agar tidak membolehkan rakyat yang ada dikampungnya membantu dan mengikuti perjalanan Ronggur. Kalau kau Ronggur tidak dapat menerima syarat ini."Saran yang dapat kami ajukan pada Ronggur. Bila dia mulai me langkah dari gerbang kampung memulai perjalanan.

Pada wajah dan sikapnya tergambar bahwa mereka akan melaksanakannya sebaik mungkin." kata Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. bila aku menemui tanah habungkasan yang landai lagi subur. kau tidak dapat memberikan keputusan? Kau merasa takut dan bimbang? Karena itu kami sarankan. Nada suaranya mengejek. Belum berdiri untuk menyatakan pilihan. Di wajah Datu Bolon Gelar Guru Marlasak dan Raja Nagebu membayang kepuasan. Dan. Karena itu. Dengan satu janji." kata Raja Panggonggom memecah kesepian. ibuku. sehabis mengucapkan pilihan itu. Bersabung dengan petir dan kilat. Ronggur masih tertunduk juga. berilah jawaban di tempat ini juga.diri kami sendiri. katakanlah pilihanmu." Keadaan menjadi hening. "Ronggur. bagi kalian semua. Pikirkan baik-baik Ronggur. hasil penemuan itu akan tetap kuhadiahkan bagi margaku. "Ronggur. Sejak tadi di luar Sopo Bolon. janganlah sekali-kali mencoba untuk menentang kepercayaan yang kita anut bersama. secepat mungkin aku akan berangkat. hujan turun menderu. . Bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan menundukkan kepala. Dan. Tidak sanggup mengangkat kepala. Orang semua mengangkat kepala dibuatnya. Dengan wajah merah serta sinar mata yang manyala. biar kami tahu mengambil sikap. Membakar dada Ronggur. akhirnya Ronggur berdiri dengan menghentak: "Semua pertaruhan yang dibebankan ke pundakku aku terima. Pada kening Ronggur menitik keringat." Suaranya mengguntur mengalahkan suara petir yang bersabung di luar Sopo Bolon. Para Raja Ni Huta lain dengan takjim menerima undang-undang Raja Panggonggom. Aku. janganlah menghina diri sendiri. tidak berhak lagi memanen padi dari sawahku yang sedang menguning.

Pintu rumah cepat dibuka Tio. sewaktu matanya tertumpu ke biji mata ibunya yang berseri. Terus melangkah melewati sawah yang pematangnya menjadi licin. Di antara isaknya sendiri dia mengatakan: "Maafkanlah aku. Tapi. angin. Aku harus menggagalkan niat perjalananku itu. lalu menyembah sujud di kaki perempuan tua itu. yaitu kepahitan dan kegetiran hidup di saat hari tuanya. walau udara begitu dingin. Dilihatnya Ronggur basah kuyup. Aku telah mempersusah hidupmu. Tangan. Sebelum ditanya Ronggur dengan suara lantang karena masih marah. dadanya panas. wajahnya memerah. seperti patung tanpa nyawa. Maafkan anakmu ini. Perasaannya terbakar. Dia menerjang ke tengah hujan. Yang sepantasnya tidak wajar lagi hidupnya disusahi. apa yang harus kuperbuatl" . Otot Ronggur mengeras. tapi karena marah. Katakanlah. Orang yang berhenti memotong padi dan berteduh di dangau melihatnya begitu saja. kaki. mencapai kampung di mana dia sebelum itu memegang tampuk Raja Ni Huta Muda dan Hulubalang Muda. Aku akan minta maaf pada kerajaan atas kelancanganku. Katakanlah Bu. dan halilintar yang bersabung dengan petir. Ibunya cepat mengangkat wajah. Pertanda berita yang kurang baik. dia sadar bahwa orang tua itu telah dihadapkannya pada satu kenyataan. tubuh Ronggur masih menggetar tidak karena merasa dingin. Cepat Ronggur mendekat. Tidak mau berteduh ke dangau yang ada di tengah sawah. menatap padanya. Tapi. Gonggong si belang menyambut di tangga rumah. menceritakan semua keputusan rapat dan pilihannya sendiri. Bu. aku tidak boleh pergi. Aku akan menuruti ibu. Ibunya jadi kaku tegang. yang mulai digenangi air bening tipis. dia terus melangkah cepat di atas pematang yang licin.Ronggur terus meninggalkan ruang Sopo Bolon. dia tidak memperdulikan keadaan alam itu.

menginginkan setetes dua air melalui kerongkongan kering. Seorang lelaki yang berani mengatakan maksudnya. mengikuti lingkaran pegunungan. Tangan ibunya yang sudah mengkerut. Telah tabah menerima segala yang tiba. anakku sulung anakku bungsu. mengitari tebing curam. Segala tekad menjadi kendur. Kau tidak boleh membatalkan yang telah kau pilih. untuk pergi selamanya. mempertaruhkan keyakinan diri." Seketika ibu tua berhenti. tanpa memperdulikan arti haus dan dahaga. Bawalah daku. Tidak cepat ibunya menyahut. walau apa yang akan terjadi." Perempuan tua itu tidak mengucurkan air mata lagi. Segala air mata telah dihamburkan dari dasarnya sampai kering. Harus begitu kau. Kau harus meneruskannya. tapi disambung pula. Perempuan tua itu tidak mengisak lagi. Kau telah mengatakan dalam pertemuan raja dengan berani. Jadilah. Kemudian mengatakan perlahan-lahan: "Ronggur. bila berani tidak mengingkari janji. anaknya bungsu. Keheningan merayap di ruang mereka berada." Sambil berkata Tio mendekat. kau tidak boleh mengurungkan niatmu lagi. Sendu. . seorang lelaki berhati jantanl Ibumu ini.Perasaan marahnya telah mencair. mencari mata air yang bening. tapi dapat disebut jantan. Mengusap perlahan sambil lalu mengeringkannya. "Bawalah daku bersamamu. menghadapi wajah dan mata ibunya yang bersedih. jangan tinggalkan daku. Telah rela melepas anaknya sulung. tidak mau anak lelaki berhati betina. demi hasrat diri yang tidak mau melihat ibu kandung yang sudah tua mengalami kesusahan. karena anaknya di sarang. lalu duduk di sisi anak beranak itu. suaranya sudah tambah jelas dan tabah: "Seperti terbangnya burung ambaroba. membelai kepalanya yang masih basah. Tapi dipecahkan suara halus yang bermula dari T io.

agar selamat dalam perjalanan. Perlahan pula. Supaya terhindar dari godaan setan. Bila kelak kita tidak bisa kembali lagi agar Mula Jadi Na Bolon tidak murka padamu. Di tengah malam buta." Lama Ronggur menatapi wajah Tio yang sudah punya kepastian sinarnya. hujan rasanya tidak akan henti. Angin di luar tambah kencang. Yang berukirkan kakek kesatuan keturunan mereka yang langsung. Kemudian pada Ronggur diberikannya ajimat yang terbuat dari besi putih. Tidak ada lagi satu kekuatan yang dapat menghalangi maksudnya. Olehnya tekad Ronggur kembali pada pijakan semula begitu kokoh. Menyiapkan yang perlu mereka bawa. "Tio. pisau pusaka turun-temurun. Bila fajar pagi terbit pertanda hari baru tiba mereka sudah harus berangkat. Aku sudah maklum. Di rumah itu orang terus sibuk. Mereka menyongsong terbitnya fajar. Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan datang ke sana. berkerisik dan bunyinya begitu ngilu pada pendengaran. ibu Ronggur merenggangkan pelukannya dari tubuh Ronggur. Ronggur melepaskan diri dari pelukan ibunya. Ibunya menyelipkan pisau gajah lompak ke pinggang Ronggur. Halilintar dan guruh terus bersabung. terbuat dari jalinan benang berwarna tujuh. katakanlah bahwa arwahku kau bawa serta sebagai sembahanmu padanya. Juga pada Tio diberinya ajimat.Perlahan. Dia menjampi Ronggur dan Tio. dapatkah kau menduga kemungkinan yang bisa saja menimpa diriku dalam perjalanan? Tahukah kau. yang tertancap ke biji matanya tanpa mengedip. Lalu menatap dalam ke biji mata Tio. Angin melanggari pucuk dan batang bambu duri. apa yang akan kutemui bila tafsiran mimpiku meleset?" "Aku sudah tahu. ccdw-kzaa . diukir dengan huruf Batak.

Orang lain sudah dilarang untuk mengantarkan mereka. . Air danau alangkah dinginnya. "Belitkanlah pada tubuhmu. sudah di tempatnya. ambalang. Pulau Samosir Tuktuk Sigaol tidak tampak. di kala dingin mencekam. Tio. Di darat kabut tipis saja. sebelum perahu hilang ditelan kabut. Lalu pada orang tua itu. melalui renggangan batang bambu duri. Pada leher Ronggur membelit ulos batak ragi purada yang dibelitkan ibunya. Begitu juga pada leher Tio. Pengayuh. Disumpit lain daging kering.. galah. Tempat begitu lapang. Mencari bekas kehidupan masa lalu di sana. memikat hati orang di sekitarnya. tak terduga . Juga mereka bawa mata pancing serta talinya. panggada. Tombak. jika bertambah jauh ke tengah." Hanya perempuan tua itu dan bekas Datu Bolon di tepian danau mengantar mereka. keberanian yang tidak gentar menghadapi sesuatu soal pada saatnya.5 Masih pagi benar. Beras sesumpit. Pengganti tangan bunda . Bertambah segar karena mengandung butir air. Dua tiga biji bambu duri terbelintang di tengah jalan. di saat dia harus meninggalkan perkampungan itu untuk satu perjalanan yang belum tentu akhirnya. dibelitkan ulos batak ragi purada yang diiringi kata. tumbang. Hijaunya dedaunan dapat juga dilihat pandang. dicampakkan pandang ke tengah kampung. Karena itu dia banyak mempunyai teman. Beberapa depa saja dapat ditembus pandang. Tingkah lakunya yang sopan serta ramah-tamah. Tapi. Ronggur menatap pada ibunya. penimba air. kampak. dan si belang sudah berada dalam perahu. Tanah lembab pertinggal hujan semalam. Ronggur. dan sesumpit batu sungai yang keras. Tapi. Udara cukup dingin. kabut mengental. . permukaan danau.

Tangan mereka membalas lambaian kedua orang tua yang mengantarkan mereka. punya teman. ibunya mencampakkan diri ke pohon hariara yang besar itu. dan diasuh. Di sebelah haluan perahu. dibesarkan. Cepat dihapus agar tidak sempat dilihat Ronggur. Perlahan perahu memasuki daerah yang dilingkungi kabut tebal. mengiakan. harus menjadi budak belian. Meratap panjang. Tersedu di sana. mereka akan pulang membawa berita baik dan menggembirakan. Perlahan pula tepian menghilang dari pemandangan." bujuk bekas Datu Bolon. betapa pahit perasaan mencekam hati untuk meninggalkan tanah tempat lahir. Tahulah dia. tinggi melengking. Kemudian menuntunnya pulang ke rumah. tidak hentinya lambaian dilepaskan dari tepian. Tio berdiri. Perahu bergerak perlahan meninggalkan tepian. Di mana dia pernah disanjung puja. tapi tidak boleh pamitan. selagi martabat marganya belum runtuh. kabut tambah menipis lalu menghilang. Melepasnya.nasibnya. perjalanan mereka sekali ini amat panjang. malah lebih dari itu akan dipunyainya. Matanya jauh mengedari tanah yang sudah cukup dikenalnya. walau sebenarnya dia tidak dapat meyakini bujukan itu." Perempuan tua itu menundukkan kepala. Sebelum pferahu ditelan kabut. Setetes dua air-mata membasahi pipi. "Semua yang dikorbankan Ronggur untuk perjalanan ini akan kembali padanya. "Mereka akan berhasil. tidak seorang pun dari temannya yang dibolehkan mengantarkan. Teringat pula saat kejatuhan marganya dan dia sendiri. Temannya sebaya banyak yang mati di saat itu. Bekas Datu Bolon menyabari. Tidak dilihat Ronggur lagi. Untuk digantikan warna putih saja pada akhirnya. Si belang pun seperti tahu. . Bila sinar matahari pagi telah muncul dari puncak Dolok Simanuk-manuk. Tangan terkulai tak ada lagi yang hendak dilambai.

Beberapa biji mata pancing yang sudah diumpani dijatuhkan Tio ke danau. Perahu yang dikayuh Ronggur dan Tio maju perlahan. namun pada saat itu. dihiburnya diri. dengan tanah tempat dibesarkan. setiap perahu tambah jauh dikayuh. Menahan air atau menghempang kelajuan perahu. Haluannya tumpul. tekad hati yang bulat. Tapi. katanya dalam hati sendiri. Tio mendayung ke hulu. Antara keduanya belum mengucap sesuatu kata. Sambil berkayuh. walau perahu agak susah dikayuh dan walau hati masingmasing masih diselubungi sakitnya perpisahan dengan kaum kerabat. yang mempunyai otot yang tegap. keberanian yang jantan. bukankah itu berarti memberikan tubuhnya. Mereka berdua terus mengkayuh. tanpa pamit. bila diri tahu perbedaan antara menjadi seorang budak belian dengan manusia merdeka dan diri tidak berpihak kemerdekaan itu. hidupnya ke tangan nasib yang telah tertentu belangnya. yaitu menjadi budak belian orang. Ronggur di buritan langsung menjadi pengemudi. hatinya merasa kecut juga mendatangi ajal yang ada di depan. Bukankah itu berarti penghinaan akan martabat diri. maka Raja Panggonggom mencoret nama Ronggur dari silsilah keturunan marga. kalau dia tidak ikut. Tapi. Walaupun Tio tetap merasakan bahwa dia akan aman selalu bila berdekatan dengan Ronggur. Ronggur telah dianggap mati. seseorang . tidak tahu menghargai diri sebagai manusia yang dapat membedakan arti dan hakikat manusia merdeka dengan budak belian? Ah. mereka masing-masing melaksanakan tugas. yang akan memperlakukannya seperti memperlakukan hewan. Karena dasarnya agak lebar. Riwayat Ronggur berakhir di s itu saja. dan sopan santun yang manis. Perahu terasa berat dikayuh. mereka mengharapkan dapat pula sambil lalu menangkap beberapa ekor ikan.Kerajaan sudah tahu bahwa Ronggur bersama Tio telah berangkat. sikap ramah tamah.

itulah kehidupan." Dengan sedih akhirnya Tio mengatakan. Tidak lama kemudian. yang telah menciptakannya menjadi manusia. Disisikinya. diri telah me laksanakan tugas kehidupan sebaik-baiknya. seekor ikan mas yang sudah cukup besar. memang diri mampus karena tidak dapat mengatasi risiko itu. yang bisa mempergunakan tiap kesempatan yang ada. Kabut sudah terangkat. Dengan sebuah pukulan panggada pada kepala. Tapi. Bila aku memilih jalan yang ditempuhnya. mengatasinya. Biar masaknya rata pula." ." kata Ronggur pula. Manusia lahiratau dilahirkan memang untuk menghadapi risiko. matahari leluasa melemparkan sinarnya. Tapi. "Sentak pancing yang ada di sebelah kananmu!" teriak Ronggur yang sekaligus membangunkan Tio dari renungan. Banyak bikin asamnya. Isi perutnya dibuang Tio. Walau apa bentuk nasib yang menanti di depan. lalU tercapailah idaman hati. Dan. ada bila aku bersama Ronggur. daun pembungkusnya tidak ada. Biar cepat masak. Atau. Lalu dia bertanya pada Ronggur: "Kita apakan ikan ini? Kita ura?" "Ya. untuk membebaskan diri dari belenggu yang menindas harga diri itu. Itulah risiko. "Tapi. menggelepar di permukaan air. Tio mengikuti petunjuk itu. kesempatan. kata Tio selanjutnya pada diri sendiri. harus rata. ikan itu melepaskan gelepar akhirnya. ura saja. Dan.yang tidak dapat mengucapkan terima kasih pada Mula Jadi Na Bolon. T idak menciptakannya menjadi hewan. kupikir dan kurasakan. Satu keuntungan bagi tiap manusia. Tangannya cepat menggapai tali pancing. "Tangkap dengan jaring.

Si belang tidak sering lagi menggonggong. Tepian yang dipilih ialah lepian yang jauh dan kampung yang banyak bertebar sepanjang pantai danau. justru karena perahu mereka tidak punya atap. Cepat dia menujukan haluan perahu ke tepian. Gelombang mulai menggila. tapi karena .Ronggur mencampak pandang ke pinggir danau. Ronggur mengkayuh melalui ke tepian. langsung memanjat sebuah pohon berdaun lebar. Sekarang Ronggur sudah dapat mengartikan. Tapi. sudah lebih banyak diam dan tiduran di perut perahu. Sedang ikan yang diura itu. baru bebeiapa hari kemudian dapat dibuka dari bungkusannya untuk dimakan. Ikan diasami. Matahari leluasa melemparkan sinarnya dan membakar mereka berdua. tidak seorang pun dari penangkap ikan yang melambaikan tangan dan menyapa mereka. Para penangkap ikan itu menatap dengan dungu ke arah mereka. kembali mereka melanjutkan perjalanan. Kemudian dibungkus baik-baik. Hingga perjalanan menjadi bertambah jauh. Pada mulanya dia selalu menggonggong perahu dan sampan yang berpapasan dengan mereka. Lalu dibaluri dengan kunyit. cepat mengkayuh sampan masing-masing. Seolah tidak tertembus hawa. Sampan penangkap ikan sudah sunyi dari danau. Matahari tambah tinggi dan terik. Lalu. Cepat dipungut Tio. Mereka melanjutkan perjalanan. Lalu me lompat dari perahu ke tepian berpasir basah. Beberapa tangkai dedaunan yang cukup lebar dijatuhkan ke tanah. Beberapa kali mereka berpapasan dengan penangkap ikan. Mereka tidak memenggal perjalanan melalui tengah danau. Daging kering masih ada. turut si belang. Di sana mereka memasak nasi lalu makan siang. Selalu mengikuti pantai. kenapa orang tidak menegurnya dengan ramah lagi. Perahu mulaii menunduk nunduk mengikuti alun gelombang. Bila sinar matahari sudah tidak terik lagi. agar cepat jauh dari manusia yang sudah digoda setan jahat itu.

kita sudah harus memasuki mulut sungai. Orangnya bisa selamat kalau pandai berenang. selalu dikebumikan di gerbang kampung. bergerak dibawa arus. dapat mereka terka bahwa itu kuburan nenek moyang yang pertama merambah mendirikan perkampungan. Biar kita dapat terus menyusuri sungai sampai ke tempat yang jarang perkampungannya. akhirnya si belang sendiri pun tinggal diam saja melihat mereka. sambil menjulurkan lidah. Tio tidak memikirkan itu. "Percepatlah mengayuh T io. Kita tak dapat menepi di sini. pada pikirannya mendatang pengenalan bahwa mereka telah memasuki lekuk danau yang pada salah satu tepiannya. Dapat mereka tentukan melalui titik putih itu bahwa itulah gerbang perkampungan. Sedang Ronggur memperhatikan permukaan air dengan awas. di antara mereka ada yang bermaksud jahat pada kita. Meneliti awal sungai. Setelah dua hari berkayuh. Jadi orang yang berlayar di sana harus hati-hati. Dia menarik napas yang dalam. Terlalu rapat perkampungannya. membalas gonggongnya. Tapi.orang yang ada dalam sampan atau perahu yang digonggongnya tidak me lambaikan tangan. ada yang menuding. Juga agar dapat kita bedakan. Titik putih yang besar itu. Kuburan nenek moyang yang pertama membuka satu perkampungan. Tapi. secara perlahan-lahan akan ditelan pasir hidup itu. Pasir hidup selalu berpindah tempat. Siapa tahu. Pertanda perkampungan. Titik kecil yang bermunculan di sana menatap ke arah mereka. tidak ada yang melambaikan tangan. "Sebelum sore benar. Pada mulut sungai banyak terdapat gugusan pasir hidup. Tanda pasir hidup dapat diketahui dari permukaan air danau yang agak memutih. dan beriak. Perahu dan sampan nelayan yang terdampar ke sana karena tidak hati-hati. bercampur keruh. antara permukaan air yang aman dan jebakan pasir hidup." . tepian danau kembali dirimbuni rumpun bambu duri dengan rapat." kata Ronggur. bermula Sungai Titian Dewata.

Si belang akhirnya capek sendiri. Melihat mereka dengan dungu.Tio mempercepat kayuhannya. Tapi. tetap bergerak. tetap disorong sesuatu tenaga untuk ditibakan ke satu tempat. Mengibaskan ekor pada punggung Tio. Si belang sudah pernah menggonggong ke arah mereka. Mula sungai. seorang pun tidak ada yang menyapa mereka. Tapi. Tampaknya si belang seperti menyesal. walau masih perlahan. Riak itu. Sebelum jauh malam. Menonton tanpa menggunakan perasaan. Sedang mereka sudah berbeda marganya dari margamu. Teruskan mengayuh. Pada kedua tepian pangkal sungai. jangan ambil perduli. tapi masih perlahan. kau lihat mereka itu?" "Ya. Tidak mengapa. terkadang berjalan hilir mudik dalam perahu. begitu pula pada kaki Ronggur. kulihat. Perasaan mereka tumpul dibuatnya. orang itu tetap juga di tempatnya. orang mencampak pandang ke arah mereka. kemudian pada Ronggur yang terus mengayuh dan menjaga kemudi dengan hati-hati. Oleh tatapan itu. Dari sekian banyak orang. Teruslah mengayuh. banyak orang berdiri. Atau. punya arus. "Ronggur. Tio bolak-balik melihat pada orang banyak. Cahaya senja sudah bermain di permukaan air yang beriak. Tio menjadi gelisah. oleh kebisuan itu. Apakah mereka tidak bisa mengucapkan sepatah kata?" "Kepercayaan mereka sama dengan yang dianut margaku." "Tidak seorang pun dari mereka yang mengaju tanya pada kita. Teruslah mengayuh. seperti menjenggak. yang diketahui Ronggur sudah lain dari kesatuan marganya. Si belang kalau sudah capek duduk. Kepercayaan itu yang melarang mereka untuk bercakap dengan kita. Riak yang seperti disorong ke satu arah. . kepercayaan itu membuat mereka bisu. karena tidak dapat membantu tuannya.

hadiah yang membuat mereka gugup. Si belang mengikut. "Ronggur. Tidak berkerisik. si belang sekali lagi menggonggong ke arah tumpukan orang yang diam bisu itu. Belum bisa menghayutkan perahu. Aku mau turut. Arus sungai masih lemah. Setelah beberapa hari tidak mendengar suara orang lain yang mencakapkan mereka. Mereka masih harus mengayuh kuat-kuat. napasnya masih tersengal. Ronggur mendongakkan kepala. rasanya. Biar cepat kita jauh dari tatapan mereka." Ronggur tambah terdiam. Hampir tidak dapat mempercayai pendengarannya. Ronggur berhenti berkayuh." "Mata mereka tidak bercahaya. seseorang memanggil nama Ronggur. . Seperti mata ikan yang mati. tapi yang begitu diam dan bisu. Seseorang berlari di pematang sawah sambil melambaikan tangan. Merahnya mewarnai segala. seperti patung. Orang itu sudah berada di tepian sungai. sebelum mereka menjauh benar. Menggonggong. mencari dari mana suara itu datang. Aku ngeri melihatnya dan merasa terpukau berhadapan dengan manusia yang begitu banyak. Tio.hendaknya kita sudah sampai ke tempat yang cukup jauh dari perkampungan mereka. suara orang itu seperti hadiah yang besar. Senja di langit bertambah tua. dari satu tempat yang ketinggian lagi sunyi. Agar godaan darinya tidak lama mempengaruhi tekad diri. Mulanya begitu lemah dan jauh. Dan. Si belang mempertajam penciuman." kata orang itu." "Teruslah berkayuh. Untuk akhir kalinya. Diikuti Tio. agar perahu melaju. Disuruh T io diam." Tio meneruskan mengayuh. Seperti suara setan yang bangkit dari dunia jauh. "bawalah aku bersama kalian.

Kawanmu sejak kecil. Karena aku memang dengan sengaja mencari kecelakaan pada diri sial ini. Aku mau turut."Ronggur. Namun hutangku masih bertumpuk. Bawalah aku. gantung diri. "Bawalah aku bersama kalian. Tidak bermaksud jahat aku. Sungguh sial nasib menimpa diriku. seperti kalian. Ronggur. Tapi. Tepikanlah perahu itu biar masuk aku. Lolom. Aku kalah berjudi. Sawahku sudah tergadai. dari alam kehidupan mereka sehari-hari. sengaja mendatangi kecelakaan yang bisa . lebih tenteram kurasa hati. Seperti kau. biar aku tidak merasakan kesunyian di saat nyawa berpisah dari tubuh. Kudengar kau. "Aku tahu perjalananmu mendatangkan ajal. Dia belum yakin benar akan pendengarannya." "Jadi kau sengaja mau mencari malapetaka?" "Ya." "Kau pikir kami sengaja mencari kematian dengan melayari sungai ini? Atau. Aku mau ikut. Di saat mereka disisihkan dari sekitar. Bawalah aku. Apa maksudmu?" tanya Ronggur kembali. kau dengarkah aku? Aku si Lolom." "Kudengar kau. Aku mau turut. agar dibolehkan turut serta. Bawalah aku. kenapa orang itu mau turut. di saat itu pula seseorang dari anggota masyarakat yang menyisihkan itu memohon pada mereka. Justru karena tahu ada teman sama-sama mati. Membuat Ronggur ingin tahu." Ronggur dan Tio tambah terdiam mendengarkan permohonan orang itu. aku tidak perduli. permohonan yang tidak diduga sama sekali. Karena aku takut sendirian menuju negeri jauh itu. "Kenapa kau harus ikut?" tanya Ronggur. lebih baik kurasa. bila ada teman samasama mati. Daripada aku membunuh diri.

Aku akan menutup mata dan mulut." jawab Tio kasar. "Perjalanan yang menuju atau mencari tanah habungkasan. kau me larikan diri dari kehidupan ini dengan dalih mencari tanah habungkasan bersama budakmu itu? Bawalah aku. Percayalah." suara si Lolom mulai ringan dan lincah. tidak seperti semula lagi. kematian. Dan." Dengan hentakan kasar. di saat kalian bercumbuan. jangan bersilat kata. "Perjalanan kami tidak wajar dikotori seorang penjudi yang mau bunuh diri. Itu soalmu. Biar ada pula temanku sama-sama mati. Aku tidak bermaksud mempengaruhi perasaan cinta yang tumbuh di hati kalian berdua. Sebenarnya dia sendiri memang sependapat . ia tidak tahu.mengakibatkan kematian?" tanya Ronggur matanya memancarkan cahaya benci. Lolom?" "Karena kau Ronggur. Sinar "Apa maksudmu?" kembali Lolom bertanya. Bukankah karena tidak tahan menanggung malu di dunia ini. Walaupun sebab kita berbeda. Biar ada temanmu sama-sama mati. Mencapai tanah luas tempat habungkasan. Kawan. Kau sengaja mencari kecelakaan. Tio membenamkan pengayuh ke air hingga air muncrat ke atas. "Kenapa kau berkata begitu. kenapa dia harus mengatakannya. dan aku mau turut. lalu mulai mendayung. "Ah. Kau karena menyintai seorang budak. Dari kita sebenarnya sama sialnya. "Bukankah kau dengan sengaja mencari sumber malapetaka dengan melayari Sungai T itian Dewata ini?" "Tidak." jawab Ronggur tegas. Aku karena kalah berjudi. pula. Memang budakmu itu manis. jatuh cinta pada budakmu. Bawalah aku Ronggur. Habis perkara. Kami mau mencari penghidupan yang lebih sempurna." Wajahnya memerah.

Ronggur? Karena tepat apa yang kukatakan?" Ronggur masih diam. marilah sama-sama mati. Kalian telah bersetubuh sebelum meminta izin dari Mula Jadi Na Bolon.dengan orang lain. sayang sekali apa sebabnya kau mau ikut dengan kami. Bagiku itu omong kosong dan dusta paling besar. kau telah menggoda dan menjerumuskan seorang sahabatku ke lembah kehinaan. Akhirnya Ronggur mengatakan: "Lolom. Nasibmu jauh lebih celaka dari nasib kita semua. dari kerajaan. tanganlah berkata aku membawa sial padamu." Seketika Ronggur terdiam. Tapi. Aku yang mau bunuh diri. "Kenapa kau diam. biarpun begitu. Lain tidak. masih mengatakan akan mencari tanah habungkasan. Aku juga tidak dapat mempercayai bila seseorang yang melayari sungai ini. Kalau alasanmu berbeda dari alasan yang kau katakan . kau sedang bunting. Ronggur jatuh cinta. kau penggoda keparat. Jatuh cinta pada seorang budak. tapi dicegah Ronggur dengan membenamkan kemudi ke air. perjalanan yang bermaksud baik itu dikotori seseorang yang memang sengaja mau bunuh diri. tidak wajar rasanya. dan datu bolon. Aku juga mempercayainya. Lolom terkekeh lupa akan masalahnya sendiri. dari para orang tua." "Siapa mengatakan itu padamu. dengan Lolom bahwa perjalanan itu akan kandas di karang kecelakaan. Kemudian Lolom melanjutkan. Karena itu. Aku kalah berjudi. Lolom?" tanya Ronggur keras “Kau masih bertanya. Itulah berita yang tersiar luas di antara penduduk. Tio sudah hendak mendayung perahu. Bawalah aku. "Apa kau katakan budak manis? Apakah kau tidak dengan sengaja mengotori hidup si Ronggur? Dengan wajahmu yang manis. karena setiap saat kau menggodanya dan kata orang. Tidak menyahut. kawan.

" "Jangan mencari dalih lagi. "Sudah kukatakan aku tidak dapat mempercayainya." "Tapi. Agar nasib sialmu. "Perjalanan yang kumulai ini bertujuan baik. Tidak wajar mengorbankan nasib orang yang begitu banyak." kata Lolom menghentak." jawab Ronggur dengan suara kuat. bersibunuhan karena setetes air parit. berperang karena setapak tanah. Itu saja soalnya. seseorang penjudi yang kalah. karena kau seorang. . Karena aku tidak mau bunuh diri. Kami masih tetap mengharapkan dan memohon agar dewata menunjuki jalan kami. agar semua orang terlepas dari ancaman yang selalu mengikuti hidupnya. Sungai ini akan membawaku ke tanah landai yang subur. sewajarnya pula aku menolak permohonanmu. walau kau kawanku. dialah yang bernasib sial. betapa gembira hatiku menerima kehadiranmu. Yang kelak hasilnya akan dikecap setiap orang. Karena itu. Karena itu dan karena aku tahu pepatah lama. Hasilnya kelak akan kuserahkan pada semua orang. carilah. Betapa aku berterima kasih karena kau mau menemani aku seraya bersedia memikul segala akibatnya. benar. bawalah aku biar ada temanku sama-sama mati. Sendirinya pula aku akan buktikan bahwa kepercayaan yang tertanam di hati kita selama ini mengenai sungai ini salah." Lolom masih tertawa di pinggir sungai. Kemudian Ronggur melanjutkan: "Aku mau buktikan Lolom bahwa yang kuimpikan atau yang diwartakan mimpiku padaku.itu. Aku akan menemui tanah habungkasan. Yang kuminta padamu. Seseorang yang dengan sengaja mau bunuh diri padanya akan datang malapetaka. Aku takut mati sendiri. tapi sebaliknya. agar kutukan dewata padamu karena kau mau bunuh diri tidak turut menimpa kami. masa datang orang banyak. karena aku tidak mau mencari ma lapetaka. aku tidak mencari kematian dengan sengaja. Kita akan sama-sama mati bila kita sama-sama melayari sungai ini.

Lolom mengatakan: "Ronggur. menagih hutang. Dia mencampak pandang ke daratan. aku pun bermaksud begitu. Lalu. aku yang sudah rela mati. membuat hidup mereka menjadi morat-marit. menerjunkan diri ke ujung dunia agar bangkai kalian tidak dapat dikuburkan. kau dengarkah aku?" ratapnya mulai meninggi. Yaitu. dengan pengap-pengap dia memohon: "Ronggur. dan datangilah sendiri ajal yang akan merenggutkanmu dari kehidupan ini!" Sambil tertawa dan perutnya berguncang-guncang.tempuhlah sendiri. bagi anak yang masih kecil. Matanya menyala merah. memang kau masih menggunakan akal sehat itu. Begitu pula agar tidak ada tempat bagi sanak saudara." Waktu Lolom berkata. walau dia sudah berlari-lari di tepian. kalau mati tidak wajar menunjukkan kuburnya agar tidak ada lagi tempat bagi mengunjungnya. Menyuruh Tio berhenti pula mendayung. dia berusaha agar marahnya tidak meledak. Agar kubur kalian tidak ada jadi pertinggal di dunia ini. Dan. Tapi. waktu Lolom sadar bahwa kencang perahu tambah tak dapat diikutinya lagi. karena aku segala penjudi yang kalah. Kembali dia berhenti mendayung. Nah. tempat mencampakkan segala penjelasan di atas pusaraku. "sampai hatikah kau melihat aku manjadi budak?" Ratapan si Lolom yang tambah meninggi. Ronggur. apa yang harus kuperbuat? Aku takut mati kalau aku sendiri yang menghadapinya. dia berkata dengan kuat lagi tajam: . Hendak mereka jadikan aku budak. perahu sudah mulai dikayuh Ronggur dan Tio. Penjudi yang kalah main. ke mana perginya akal sehatmu yang selama ini kau punyai? Ya. membuat Ronggur tertegun. kalian tidak mau pula membawa aku serta. Dan.

Agar kau tahu dan menyadari bahaya main judi. janganlah dulu bunuh diri. bagiku itu tidak mengapa. dari penjara perasaan yang meracuni diri sendiri. Aku tidak bersedia mengorbankan perjalanan ini pada nasib sial yang akan menimpamu." "Lantas. bila kau pun nanti turut menanggungnya. semua terletak pada hasil perjalanan ini. Agar kau bisa kembali menjadi seorang yang merdeka. Harapanmu terletak pada hasil perjalanan ini. Dan. agar kau tahu."Lolom. Kau boleh pindah ke sana dan kau kembali menjadi orang merdeka. yang turut merasakan pahitnya derita seorang budak." "Begitu percaya kau Ronggur bahwa kau akan menemui tanah habungkasan. Tapi. apa yang harus kuperbuat?" tanya Lolom pula melanjut dan memotong cakap Ronggur. betapa berharganya sebuah kemerdekaan. Sekarang biarlah dulu kau rasakan betapa sakitnya menjadi budak orang lain. . pahitnya perasaan diri sendiri justru harus membunuh orang lain. sehingga kau tidak mau lagi mempermainkannya di perjudian. "Kalau berjudi bagimu sangat baik. karena orang lain itu pun ingin hidup lalu berusaha menguasai setapak tanah." "Mimpiku telah mewartakan padaku. Agar kau tahu betapa nikmatnya mimpi akan kemerdekaan. Untuk bisa terlepas dari belenggu itu. Kelak aku akan membawa berita padamu bahwa tanah habungkasan telah kutemui. Untuk ikut serta dalam perjalanan ini kau tidak boleh. merasakan pahitnya menjadi seorang budak. Karena kau memang sengaja mencari kematian. mempunyai setetes air parit telah memaksa aku harus mencapai tanah habungkasan. Kau telah menghina aku. Pesanku padamu. Dan perasaanku selama ini. maka kau pun akan mendoakan agar perjalanan ini memperoleh hasil seperti yang diharapkan." "Dan. kau kawanku sejak kecil.

Ronggur telah melanjutkan: "Di samping itu.Bertobatkah. Meranggas. Memilih tempat bermalam. Tidak berdaun rindang. Menjadi suluh bagi Ronggur dan Tio mengikuti jalur sungai. Bulan mulai memancar di langit mencurahkan sinar ke bumi. sangat Sebelum Lolom sempat mengatakan sesuatu. Dan. karenanya dia belum mau mati. bila kau memang ingin berbakti. Dan. disela tangis itu dia mengharapkan. . Suruhlah mereka bersiap menerima sebuah warta kebenaran. Tapi. mereka akan melanjutkan perjalanan itu. agar Ronggur dan Tio berhasil. karena doa seorang yang didengarkan Mula Jadi Na Bolon. sesudah dia sadar bahwa perahu Ronggur sudah menjauh dan melaju. Yang mungkin berbeda malah menantang kepercayaan yang mereka anut selama ini." Ronggur dan Tio kembali mendayung. dia yang berjaga. Harapan masih ada walau masih begitu samar. wartakanlah pada orang semargamu bahwa anggapan mereka akan perjalanan kami ini tidak benar sama sekali. Si belang disuruh berjaga. Setelah merasakan bahwa mereka sudah cukup jauh dari perkampungan. si belang kebanyakan tiduran. di saat Ronggur dan Tio melepas lelah. Perahu terus melancar. Perahu ditambatkan. Tanah datar yang terdiri dari tanah batu di kiri-kanan sungai. Ronggur mendaratkan perahu. kembali dia meratap dan menangis. Dengan tercengang Lolom melepas mereka." tobat. Hanya satu-satu pepohonan tumbuh di tepian. Memang begitu selalu. Kalau malam. Agar tidak terguncang perasaan mereka bila kelak menerima warta penemuanku atas tanah habungkasan. sehingga dia bisa kembali menjadi orang merdeka. selagi perahu dikayuh. bila pagi terbit lagi. Secara perlahan arus sungai mulai terasa.

yang menganga bergaya mau menelan. agar kelajuan perahu dapat dikendalikan. Menembus bukit. sepatah kata. dan masing-siang. dia harus bertambah hati-hati. Satu dua batu jangkar sudah dijatuhkan Ronggur. T io akan menarik napas yang panjang. Kediam-diaman. Walau matahari tidak terik. Kembali dia ke tempat Tio. Tapi. setiap itu pula T io memperhatikan dengan sungguh-sungguh. yang mencampakkan pandang padanya. dia harus mulai mencari mulut gua yang diceritakan Datu Bolon. mendaki sebuah pundak bukit. Perasaan masing-masing saling mengajuk nasib yang menanti mereka. Itulah mula gua yang diceritakan bekas Datu Bolon. mereka telah tiba ke batas yang boleh ditempuh manusia. memulai jalan darat. Menurut keterangan bekas Datu Bolon. hatinya bergoncang dalam dada. pandang yang meminta penjelasan. Pertanda mereka akan bermalam di sana. Karena itu. setiap Ronggur mengerjakannya sambil memejamkan mata. tidak jarang Ronggur melengketkan telinga ke permukaan air. Bila suara gemuruh air sungai berbantingan ke dinding batu mulai kedengaran. Pada hari selanjutnya. Bila Ronggur kembali mengangkat kepala. Sejauh mata memandang yang dilihat hanya batu padas saja. Atau. Sedang sungai seolah terus menuju satu arah yang jauh. . Dia pergi ke tempat ketinggian. Arus sungai sudah cukup deras. menerjang terus ke perut bukit. Dan. Ronggur tidak mengucapkan. Dan. bila arus bertambah deras. tapi diusahakan agar tidak kedengaran pada Ronggur. mengadakan peninjauan. Dan. bila mereka mulai melewati batas itu besok pagi. tetap diperhatikan dan dipelajari Ronggur. untuk merasakan getar air. Tekadnya harus bertambah bulat dan kukuh memasukinya. namun Ronggur mendaratkan perahu ke pinggir sungai.Setiap hari arus sungai tambah terasa. Lalu menyuruh Tio menghidupkan api.

Dikejauhan. Hingga batu jangkar sudah tiga biji dijatuhkan. Buru-buru Tio menghidupkan api. desiran arus sungai kedengaran bangkit. Tapi. tidak ada sepenggal kayu atau bekas api. Keadaan sekitar menjadi pekat. bila diperhatikan benar. tidak seperti lobang alam yang pernah mereka temui. Tidak pernah didatangi manusia layaknya. pada pagi berikut melihat matahari muncul dari satu kekosongan. di atap batu. mendesis. Wajahnya bersikap menantang dan begitu tegang. Menyinari kiri-kanan sungai yang tidak punya tanda kehidupan. melontarkan perasaan yang tertekan.Ronggur dan Tio. Mereka masih selamat. susut karana terus-terusan direndam air. seperti yang mereka kenal. Mulut tambah terkatup. Lobang yang bersisi berlantai dan beratap batu. terbuat dari batu alam. Telapak tangan Tio yang sudah lecet dan keputihan. Tetap meneliti keadaan. Membangkitkan riak yang . Bila mereka mendarat ke pinggiran lagi. Dia mencari kekuatan hati dari elusan itu. Awan hitam merayap dan menjalar. Angin kencang datang dari hulu sungai. bulan muncul. hari itu mereka tidak menemui sesuatu. Terus saja Ronggur mencampakkan pandang ke kejauhan. Dari jalur sungai dikejauhan. lalu menutupi wajah bulan. Beberapa potong kayu diangkutnya dari perahu. Namun mereka meneruskan perjalanan juga. Jadi tidak dari pundak Dolok Simanuk-manuk lagi. Dalam lobang. tepat dari belahan jalur sungai. Atau. Dingin. Mereka tidak perlu lagi mengayuh. sekarang bisa mengasoh. Tandus dan kosong. Tangannya pasti menggenggam ulu kemudi. Tengah malam. Tangannya mengelus leher si belang yang duduk di sampingnya. mereka temui sebuah lobang alam pada s isi sungai yang agak tinggi. Arus sungai sudah dapat menghanyutkan perahu malah terlalu liar. Hanya arus sungai yang bertambah kencang. Walau sudah jauh melewati batas yang boleh didatangi manusia. Nyala api menari-nari di dinding batu.

Lantas pergi ke atas gua alam itu. Ronggur pergi ke tepian sungai memperkokoh ikatan tambatan perahu. memperhatikan sekitar dan mempelajari arah dan mata angin yang menggalau. selimuti dirimu dengan kulit binatang berbulu." Mendengar cakap yang sepenggal itu saja. cukup gelisah permukaan sungai. walau tidak mengatakan sesuatu.tidak dapat dikatakan kecil. menyengkak. dia tidak akan menyahut. Riak sungai menjadi besar dan tambah gelisah. perubahan alam begitu rupa menimbulkan prasangka dalam diri. pertanda mula kecelakaan yang akan menimpa diri. Memanaskan diri dekat api. Dia selalu begitu. Bersabung halilintar dan guruh. walau dia tahu Ronggur tidak pergi jauh. Baru beberapa saat yang lalu. Si belang mendekat pada Tio. dia merasa sepi atau merasa takut. Biar terasa panas. Selagi Ronggur tidak ada dekatnya. menatap ke sekitar. . yang menumbuhkan berbagai ragam anggapan. Seperti marah karena ada orang yang berani berlayar melewati batas yang sudah ditentukan. Satu-satu halilintar mengkilap membelah bumi. Tio yang tepat berada di bawahnya. Kulit tangannya masih tetap pucat dan menyusut. Kekelaman yang abadi. Dipisah langit-langit gua yang terbuat dari batu alam. Permukaan sungai naik. Beberapa saat dia berdiri di sana. Seperti: "Besok pagi kita melanjutkan perjalanan sebelum matahari terbit. Dia merasa lebih tenteram bila Ronggur di dekatnya. tapi melaksanakan yang dimaksudkan Ronggur. Tidurlah. Kepekatan menyeluruh menelan segala. Semuanya serba asing dan menakutkan. keadaan udara cukup terang benderang oleh sinar bulan yang nyaman. Dalam saat begitu. Begitu cepat suasana alam berubah. Diiringi suara guntur yang mau memecahkan segala. sudah melonggarkan perasaan tertekan. atau semua serba seperti menakut-nakuti. hujan turun seperti dicurahkan dari langit. selain hai yang penting saja. tidak mengetahui bahwa Ronggur tepat berada di atasnya. Dan.

karena dia tahu bahwa mereka sudah berada di daerah yang berbahaya. Begitu dekat hingga Tio yang melihatnya merasa ngeri. bila badai telah teduh. riak sudah membesar sudah menyerupai ombak danau. Kulit binatang itu tidak cukup panjang untuk menyelimuti tubuhnya sekaligus. Besok. kilat. "Kau belum tidur juga? Belum mengantuk?" Tio menyurukkan kepala ke bawah kulit binatang. Permukaan sungai menaik. "Pergilah tidur. kalau tangan itu akan hangus terbakar. Namun perasaan keadaan sekitar. air tidak mungkin menggenangi mulut gua di mana mereka berada. tubuhnya tertumbuk ke tubuh Ronggur yang berdada telanjang. seperti Tio sendiri. Kemudian Ronggur berjongkok dekat api. dan guruh masih bersabung. ketika itu juga. yang dengan sendirinya kakinya menjadi telanjang. kita akan meneruskan perjalanan. Sambil memalingkan pandang Ronggur berkata." Tio malu akan ketololan dan ketakutannya. Tio bangkit dari duduknya. lalu dikaiskan. Hendak melihat ke mana Ronggur pergi atau di mana Ronggur berada. Si belang sekali ini sudah tertidur. Dia . Perasaan sak wasangka tambah mencekam diri. lalu mengatakan. Lalu mundur. Dia menyesali diri kenapa dia harus terpekik. Tapi. Ronggur tersenyum. tersenyum di bawah selimut kulit berbulu. Tidak disadarinya matanya dapat ditangkap pandangan Ronggur. dia tahu. Dengan membungkuk dia menuju mulut gua. Sedang Ronggur merasa geli pula atas kelakuan Tio yang menyurukkan kepala ke bawah selimut buru-buru.Malam itu Ronggur agak lama baru kembali. T io terpekik karena terkejut. angin. Dalam hatinya dia merasa geli atas kelakuan Ronggur. Dari goleknya dia melihat Ronggur mengeringkan tubuh. Ronggur tersenyum. Mendekatkan telapak tangan ke jilaman api. Tidak apa-apa. Telapak tangan ditelempapkan ke tubuh. daerah yang belum pernah dimasuki manusia. Butiran air berjatuhan. Di luar hujan.

Desis lidah air masih terus mengganggu pendengaran. Tidak tahu dia Tio sudah bangun. Suara mendesis yang bersumber dari sungai itu sangat menyayat atau menyengat pendengaran. Suara yang timbul atau seolah datang dari dunia jauh. dicoloknya tiap lobang. Patah sayap. Menjerangkan air yang ditampung dari pinggir sungai. Kampret berjatuhan. pikirnya. dia pun tahu. Kampret itu ditumpukkan. Membaringkan diri. bahwa cuaca masih tetap seburuk kemaren. Terus menghidupkan api. Matanya diliarkan menatap langit-langit. Dengan malas Ronggur kembali masuk ke dalam lobang. Tio belum bangun. Waktu nyala api me loncat-loncat dan menari-nari di dinding gua. Cahaya putih sudah menerobos dari mulut lobang waktu Ronggur membuka mata kembali. Walau matahari sudah terbit dan agak tinggi. Didengarnya kelepak lemah di langit-langit gua. namun bias cahayanya tidak dapat menembus awan yang bergumpal dengan sempurna. Enak dimakan. Dia mendekati salah satu lobang kecil. angin yang bersabung dan hujan yang menderu di luar belum henti. justru karena dia tahu. Tambah lama tambah banyak. Waktu kepalanya dijulurkan dari mulut lobang untuk mengetahui keadaan cuaca. Merasa bersyukur. Dalam gua menjadi dingin kembali. Ronggur menutup kedua belah kupingnya. Kelepak itu berasal dari lobang-lobang kecil yang banyak di langit-langit gua. Perlahan dia bangkit. lalu dia dapat memastikan bahwa sesuatu yang bernyawa masih ada di sana. Di sini banyak kampret. Api sudah padam.menggolekkan diri. sudah mulai me lemah. dunia lain. Lalu dia mengambil sebatang kayu. Dengan kayu itu. Asik dia dengan pekerjaannya. takut kalau kelepak lemah itu henti. Tapi. Ma lah menggulungkan tubuhnya sampai bengkok untuk melawan dingin. Heh. Juga si belang. . memejamkan mata dengan paksa. daging kampret enak dimakan. Di samping itu.

rasa dingin dan kantuk cepat menghilang. bersama seorang lelaki yang dipercayainya kejujuran dan keberaniannya. Atau. Cepat benar sudah masak. Disambutnya juga senyum itu. Bila angin dan hujan teduh." Tio memegang pinggangnya yang agak menonjol. langsung dengan bulunya. dia sebagai perempuan. meninggalkan nasib yang malarig di belakang. Tio tersenyum tapi tertunduk. Yang terasa tidak punya akhir dan ujung. Pundipundi itu diikatkan di pinggangnya. "Kau menjaganya dengan baik kalau begitu. Jajan arwahnya dalam perjalanan menghadap Mula Jadi Na Bolon. Bakarlah. menemui tanah habungkasan atau menemui ajal." Kampret itu mereka panggang.Ronggur berpaling. Itu saja pun baginya cukuplah. Enak juga dimakan. Cepat dia mengaju tanya: "Tio." Cakapnya punya kepastian seolah mereka akan menemui tanah habungkasan yang dimimpikan. Tio diam saja mendengarkan. padi yang bisa mengurangi rasa laparnya bila mereka memang jatuh ke ujung dunia. Bibit pertama yang akan mereka tanam di tanah habungkasan." kata Ronggur. Sambil meneguk air simar palia yang pahit kental lagi panas. telah menunjukkan kesetiaan hingga berani pergi ke mana saja. lalu: "Di sini banyak kampret. kita meneruskan perjalanan. Dan. di mana kau bikin pundi-pundi tempat bibit itu? Sudah berapa hari tidak kulihat. Tio menjaga bibit itu dengan baik. sekarang telah menjadi sama. Tio menundukkan kepala. Teruslah jaga baik-baik. . Ingatan Ronggur cepat meloncat. Atau. Dia telah menunjukkan kesetiaan sebagai budak pada tuannya. bibit itu sangat penting dan perlu bagi kita. Di tanah habungkasan yang kita tuju. Bila angin dan hujan reda. mereka akan meneruskan perjalanan. dia telah berani memilih perjalanan tanpa nasib. Jangan sia-siakan. Ronggur menyambung: "Teruskan jaga baik-baik. Padanya. mulut mengunyah daging kampret yang manis.

Tapi.Karena itu dia hanya menelan air liur mendengar omongan Ronggur yang punya kepastian itu. masih jauh. Karena. Seperti tidak terkendalikan. Atau. terbuat dari batu alam yang hitam. lalu memulai perjalanan lagi. Pendengaran terus dipertajam Ronggur. Gelisah tidak pernah henti. Tapi. atau ujung dunia. membuang butir-butir air yang melengket pada bulunya. bila air sungai jatuh ke akhir dunia. Batu jangkar sudah tujuh buah dijatuhkannya. Menyusuri sungai. Bila arus bertambah kencang. dapat dikuasai karena dibantu batu jangkar itu. dia masih meneruskan penyusuran itu. Tepian sungai menjadi tambah tinggi juga. Karena itulah. Dan. Sudah lebih dari lima batu jangkar dijatuhkan Ronggur. tentunya menimbulkan suara gemuruh yang dahsyat. mula dari impiannya. Ronggur dan Tio bersama si belang cepat-cepat meninggalkan gua. batu jangkar terus . pikir Ronggur. Tambah lama tambah berbentuk semacam terowongan. Tapi. namun kelajuan perahu terus bertambah kencang. terhunjam ke dada bumi. air terus menerobos. Angin tambah melemah dan hujan sudah mulai teduh. namun suara gemuruh belum ada kedengaran. kelajuan perahu terus bertambah. berangsur secara perlahan. Air sungai terus menerus mengarah ke satu bukit yang seolah tegak berdiri. atau suara lengkingan itu tersekat dalam kerongkongan. Tali temalinya bertegangan diseret perahu. Perubahan pada kedua tepi sungai tambah nyata. berdesis dan muncrat ke sana kemari. Itulah gunung Batu yang diterobos air sungai yang arusnya bertambah deras. tambah beda dengan tepian sungai yang sudah mereka lewati. tanah subur yang landai. menghadang sungai. Dia melengking kecil. Air yang bertemperasan ke dinding tepian batu. Si belang menggoyangkan tubuh. desis air yang menyayat pendengaran itu tetap juga. Cahaya yang menerobos ke dalam gua tambah terang juga. Bahaya.

Tahulah Ronggur suara desisan air yang menyayat pendengaran itu.dijatuhkan. Dan. Melanjutkan perlawanan terhadap arus sungai yang setiap saat bertambah kencang juga. air sungai gelisah warna putih melambung ke atas. Dan. Air yang bertemperasan pada dinding batu tambah mendesis dan menyayat pendengaran. keadaan begitu bertambah jauh menyusuri sungai. Tepian sungai yang terbuat dari batu alam bertambah tinggi juga. membuangnya kembalinya ke sungai. Sebuah kata pun tidak ada yang diucapkan. Air sungai menjadi lebih dingin dan hitam. Mata terus-terusan ditancapkan ke depan. Sekitar menjadi taram-temaram. selain dari tumbuhan kerdil yang tidak berdaun hijau. Namun mereka tetap berlayar. Segala perasaan dikerahkan meraba yang menanti di depan. walau dinding perahu sudah tinggi dibuat. Mereka tidak bisa lagi dengan leluasa melihat matahari. Pada riam yang lebih curam. Dan pada setiap akhir kelokan riam sungai teap ditemui. bisa juga temperasan masuk ke dalam perahu. Tio cepat menimbanya. yang terus memegang kemudi. bermula dari air yang bertemperasan ke sisi sungai dan lebih hebat pada salah . tanpa mau melepaskan seketika saja pun selagi perahu terus berlari dibawa arus. Membuat mereka terkadang tidak dapat mengetahui peredaran waktu dengan pasti. Pada puncaknya yang masih bisa dijangkau mata tidak ada sesuatu yang tumbuh. Ada kalanya sinar matahari seperti tidak sampai pada permukaan sungai karena disungkup kedua dinding batu yang bertemu puncaknya. Begitu seterusnya. Begitu curam dinding batu itu. bertambah memanjang. terkadang wajah Ronggur sendiri disembur air. Kelokan sungai yaitu patah tambah sering mereka temui. Pancing yang diumpankan Tio tidak pernah lagi mengenal Ikan bertambah jarang atau memang tidak ada sama sekali. Ronggur hanya tinggal menunggui kemudi. Pada tiap riam.

Tidak sedikit terlempar ke dalam perahu. pandang mereka sering ketemu. tahulah Ronggur bahwa sungai amat dalam. terasa sangat membosankan. terus menerus mengisi pendengaran. Air yang bertumbukan dengan batu mencuat itu menjadi gelisah dan liar.satu tikungan. Seperti mereka berada dalam satu lembah yang sempit diapit kedua sisinya yang tinggi. Bertemperasan. Peralatan mereka menjadi basah. wajah Ronggur terus menantang ke depan. Karena itu. Cepat . Air membiru sudah seperti menghitam. Dalam saat begitu. mereka harus menahan dingin malam yang menyiksa. Tio di hulu perahu Ronggur di buritan. tapi pada tikungan yang dilalui terkadang ada juga batu muncul ke permukaan air. Dada dipukul detak hati yang tambah mengencang. jadi. Tio harus cepat menimbanya. kalau cahaya yang menerobos dari celah dinding sungai di atas itu me lemah. menghadang. di tengah si belang. perahu akan pecah remuk. Bila terdampar ke sana. Arus sungai terus menerus bertambah kencang dan tambah menggila. Perut perahu menjadi tergenang air. Kelanjutan perahu terus juga menggila. menghidupkan api dalam perahu berarti bunuh diri. Mereka tidak ada lagi menemui gua alam. Mereka harus hati-hati melewatinya. Sudah lebih sepuluh batu jangkar yang mereka jatuhkan. Suara air yang bertemperasan ke dinding batu. Begitu pula tepian sungai yang landai. Selain kayu bakar tidak ada. Dari warna biru permukaan yang sudah menghitam itu. Air seperti membulat. dan nasib sudah teraba bentuknya. mereka hanya bisa menambatkan perahu ke salah satu tungkul batu yang mencuat. Mereka lalu tidur dalam perahu tanpa unggun api. Tapi. Begitu menyiksa terasa. Biarpun dia tahu bahwa sungai sangat dalam. Terlebih pula tidak ada yang menyelingi. Meneliti dan menduga sesuatu yang sedang menanti. Celah dinding sungai di atas bertambah kecil juga.

Begitu pula Ronggur yang berada di buritan perahu. Walau terkadang hanya tertumpu ke dinding batu pertanda sebuah tikungan. yang selalu mendekat padanya dengan lengkingnya yang tersekat dalam kerongkongan. menempuh jalur sungai yang tidak dapat teraba. yang berarti pekerjaan Tio tidak ada. Hanya air sungai yang dingin diteguk sehabis cuci muka.dipalingkan. Sudah sering dia berpaling ke belakang menatapi. Tikungan bertambah sering ditemui. Tio menyelimuti diri dan juga si belang. Suara yang lemah itu. Mata Ronggur terus memandang ke depan. Agar tatapannya tidak terhalang. Atau. Dan. Namun perahu seperti diseret dan dilarikan setan saja kencang nya. Mulanya sangat lemah sekali. Jiwa tambah terasa dihantam habis-habisan. Tio tidak terus-terusan atau tidak tekun lagi menatap ke depan saja. mereka akan meneruskan perjalanan lagi. tapi cepat saja Ronggur menyuruhnya agar duduk kembali. Wajah Ronggur agak pucat juga dibuatnya. Suasana tambah menekan. Tambah lama tambah nyata. agar kepala Tio tidak tersangkut pada salah satu lingkungan dinding sungai yang terkadang begitu rendah. Arus sungai menggila Batu jangkar sudah lebih duapuluh biji dijatuhkan. tambah nyala: mengguruh. T idak mereguk air panas lagi di pagi hari. yang bangkit di depan itu. mengancam siapa saja . Bila temperasan air yang melemparkan air ke perut perahu tidak ada. dia selalu melemparkan pandang ke depan dan menggunakan segala perasaan. Dinding sungai bertambah tinggi dan tandus. Terkadang Tio berdiri meregangkan tubuh yang kaku. Tapi. ke mana diri akan dibawanya. Mengancam nadanya. Bibirnya gemetaran. Ronggur. bila utusan cahaya kembali menerobos celah dinding sungai di atas itu. Tio tertunduk. Ronggur seperti tidak me lihatnya. Arus sungai tambah menggila.

Sering dia menyebut nama dewata. meledak teriakan panjang dari mulutnya: . "Ronggur. tingginya alangkah jauh lagi curam. Dalam jeritannya sering dia memanggil nama almarhum ayah bundanya. celah dinding melebar di atas. namun riak air sudah seperti gelombang. Matanya sebentar melihat ke kiri dan ke kanan. Tapi. cepat bertukar tempat. sambil berteriak: "Ronggur. Urat saraf Tio seperti lumpuh karena terus-terusan ditekan suasana ketegangan. Banyak terlempar ke dalam perahu. Jangan teruskan lagi mengikuti sungai. Tapi. Suara gemuruh di depan tambah jelas. Namun Ronggur belum mendaratkan perahu. Pecah. Tiba-tiba saja biasan cahaya mencurah ruah. Tio terus menjerit. Walau air tidak tertumpuk pada salah satu batu yang mencuat di permukaan sungai. memohonkan ampun atas keangkuhan mereka berdua. Begitu liar. Dia masih meneruskan pelayaran. Tio tidak bisa lagi menimbanya. Ronggur menatap ke depan dan pendengarannya terus dipertajam. Suara gemuruh itu seperti suara dari sesuatu benda yang jatuh ke satu tempat yang amat dalam. Apakah kau mau bunuh diri?" Berbaur akhirnya dengan suara gemuruh di depan dan desis air dan suara riak sungai yang menari gila. Tidak dengar suara gemuruh yang mengancam itu?" Masih tidak diperdulikannya. Yang telah berani menantang ketentuan dewata. Namun Ronggur tidak memperdulikan atau tidak mendengarkan. Seperti tidak terdaki layaknya. Lalu terus ke depan. Dengan tidak berapa dikuasa iya pula. kau tidak mendengarkan aku? Mendaratlah ke tepi. Perahu terangguk-angguk dan tergoncang.yang berani mendekat. Memercik ke sana ke mari. melengking. mendaratlah. Tiba-tiba saja Tio menghantamkan tangan ke haluan perahu.

Mungkin tidak ada air di sana. dia mulai mendaki. "Si belang bagaimana?" . pipinya basah kuyup oleh air mata. Aku tidak sanggup melihat mata yang digenangi air mata yang bening. diri kita berdua . "Ronggur. Kedua pelupuk matanya. Dinding sungai agak landai tapi tetap mendaki ke atas. . Kemudian bambu itu isilah dengan air. dan sebuah gulungan lagi disandang."Ronggur. yang meledak dari dasar hatinya. "Hapuslah mata dan pipimu. Tapi. . Kau lihat dinding sebelah kanan itu? Kita harus mendakinya ke atas. Marilah dulu makan daging kering. Biar kita punya tenaga. Sewaktu Tio merasakan bahwa perahu mereka tergoncang kuat karena ada yang menarik dan ada yang menahan. kita memerlukan air barangkali di atas sana." lalu tangisnya berkepanjangan. ." kata Ronggur. . Perahu sudah tertambat dan sudah terhenti walau arus sungai berusaha melarikannya. kuatkan dulu hatimu bahwa kau sanggup mendakinya. Kita harus meninjau dari sana. . Air sungai tambah membulat dan berlari kencang. Talinya tetap sangkut pada sebuah gundukan batu yang mencuat agak panjang dan besar. Supaya kita dapat tahu yang ada di depan. Tapi. kokoh tertanam. Tiba-tiba saja tangan Ronggur mengayunkan tali ke dinding sebelah kanan. isaknya belum henti. Sedang Ronggur tambah memperkuat tambatan mengikat pinggangnya dengan tali. Dan. Dapat dipercaya. . Ronggur mengangkat kepala mendengar jeritan Tio itu. Kita masih harus menempuh perjalanan yang jauh. dengarlah aku. dia mengangkat kepala. Dia menatapi Ronggur dengan biji mata yang tergenang air mata. "Keringkanlah. jagalah dirimu. dulu mendahului riaknya. sebelum itu." Perahu tambah dalam dan kuat anggukannya." Tio mengerjakan semua yang dimaksud Ronggur. cepat dihentikan T io dengan teguran. sedang ujung satu lagi dibebaskan. Aku cinta padamu .

tali itu bisa ditahannya kalau Ronggur sendiri yang tergelincir. Tidak vertikal. Supaya ada tempatnya bergantung kalau dia tergelincir. Kemajuan pendakian itu lambat sekali. yang untuk beberapa hari lamanya tidak mereka lihat. yang tidak memberi kesempatan pada mereka untuk menatap keluasan langit. Ronggur maju menanjak sambil terus membuat semacam anak tangga pada batu padas. Kita perlu mengadakan peninjauan. namun merasa lemah juga mata menatap yang sudah sering ditatap tapi yang buat beberapa hari tidak ditatap. Lebih dulu dielusnya leher si belang. Namun tetap pasti. baru dia mendarat. di perutnya si belang menatap ke arah mereka sambil menjulur lidah. Tapi. Tangga demi tangga dibuat Ronggur dan didaki. Tio memegang ujung tali satu lagi yang ujungnya dikaitkan pada pinggang Ronggur sebagai pegangan. Tio membelitkan bungkusan yang berisikan bekal. Walau sinar matahari melemah. Mengikat peralatan itu dan membawa si belang ke atas. kita memang sudah harus mendarat di sini. Tajam lidah batu alam seperti menusuk telapak kakinya. Atau. Terkadang Tio menatap ke bawah melihat perahu mereka yang terangguk-angguk. Dari sana sudah dapat kembali mereka tatap keluasan langit. Kau perlu turut ke atas agar ada nanti yang menarik peralatan-peralatan kecil ke atas. Suara yang menakutkan dan mengancam itu terus bergema. Agak mencong jalannya tapi terus mendaki setapak demi setapak. Atau. Tidak ada pertanda kehidupan." Di pinggangnya diselipkan penggada dan kampak digenggam. yang terus diikuti Tio. Si belang menggonggong kecil."Biarlah tinggal dulu di perahu. Mereka sudah di pertengahan pendakian. . Aku akan turun lagi. yang sudah beberapa hari basah saja. Tak ubahnya mereka seperti baru keluar dari satu lobang alam yang kelam lagi sunyi. lehernya digoyang-goyangkan. keadaan tetap sunyi.

perasaan lega itu tidak lama mengisi ruang dada. Teruslah mendaki." selalu katanya. "Sebentar lagi. tidak memberi kegembiraan. Tidak ada satu suara pertanda kehidupan. Setiba di puncak. hanya sejalur batu tandus dan di sana-sini berlidah tajam. Ke arah depan dan belakang. Di kanan. agar bisa lebih mendaki tanjakan. hari sudah sore. tapi suara yang mengancam kehidupan dengan liar mengguruh di depan. jaluran batu padas yang lebarnya hanyalah barang sedepa. Seperti memancur. sebentar lagi. lembah yang dasarnya sungai yang menggila arusnya. karena ada sesuatu yng menyungkap. Dan arah matahari dan lemahnya sinar. Atau. yang mengancam. Di depan sekali suara mengguruh itu menanti. putih kental seperti kabut. . Ronggur tahu. seperti diselaputi sesuatu dan tidak punya dasar tampaknya. dia sering membesarkan hati Tio. namun Ronggur melarang meminum air sekali banyak-banyak. Penemuan ini membuat hati terpukau.Yang ada hanya gemuruh yang menakutkan. tahulah mereka yang ditemui. Tidak lebih." Mereka harus bercakap kuat-kuat. Angin meniup. Tapi. Tapi. Keringat meleleh dari tubuh masing-masing. Betapa bersukur hati Ronggur. Itu pun tidak jauh-jauh ditatap. T idak jauh lagi. awan rendah. Sudah cukup haus Tio. tidak mampu menembus keputihan yang mengental. "kita sudah sampai ke atas. waktu tangannya sudah dapat menggapai puncak yang dituju. agak licin di sini. Matahari memancarkan sinar kemerahan yang lemah. agar dapat ditangkap pendengaran. lembah putih. Sebelum gelap mereka sudah harus sampai di puncak. Karena itu. Tidak bisa perlahanlahan. Di sebelah kiri. Tidak bertepi dan tidak bermula. hatihati.

Tio tidak berani jauh-jauh dari Ronggur. menggenggam tali lebih kuat dan begitu dekat di belakang Ronggur. tanpa percaya diri. Ronggur menoleh kepadanya seenak tanpa mengatakan sesuatu. Pada sinar matanya." kata Tio pelan sekali. ke jurang tanpa dasar. Melangkah begitu saja.Berlagak mau melumpuhkan dan mematikan tekad hati yang sepadu-padunya. Terasa ngilu. Lidah batu yang tajam menusuk telapak kaki. tidak ada lagi sinar cahaya percaya diri. Ronggur membiarkan. awan rendah menyungkap. T idak tampak bintang atau bulan. bergerak ke depan perlahan-lahan. Karena dia pun seperti kehilangan semangat. Dia gamang. Sesayup sampai. Satu sama lain tidak bisa mengeluarkan pendapat. Kental. T idak ada yang dapat dibakar. Berlagak mau . Ronggur berjalan di depan. sempoyongan. Sesekali mereka hendak tergelincir jatuh ke bawah. Senja tambah samar. Karena. Tio lantas saja memeluk tubuh Ronggur dengan gemetar. Tidak berapa lama tari warnanya menghias langit. Mereka memutuskan untuk bermalam di sana. Geraknya seperti gerakan yang bermula dari kedalaman. jalannya begitu licin. Mereka rasakan langit begitu dekat. Dapat juga mereka temui tempat yang agak luas sedikit. Sebelah atas mereka. Seperti mengantar mereka ke tempat tujuan akhir. cepat kelam. dia membimbing tangan Tio. Tekad hati yang padu menjadi cair. Bisu. Sekeliling begitu dingin membeku. Melangkah berserah diri. Awan rendah menyungkap semua atau memang langit begitu rendah. Tio di belakang. Tambah lama menjadi hitam. sekira tiga empat depa luas jaluran di sana. salak si belang dari dasar sebelah kiri kedengaran. Mereka terus melangkah. Namun tanpa bicara. Gigi gemelatukan. Tubuh menggigil. "Kita akan mati lemas di sini. Mati.

Lagu kematian yang hendak mengantarkan para arwah ke tempat abadi. "Aku tidak tahu. Seperti ada utasan cahaya putih. tetaplah waspada. tapi menakutkan. Tapi. desis air sungai yang bertemperasan ke dinding sungai. Tapi. "Apakah hujan?" tanya Tio. . Akhirnya dapat diketahui Ronggur. Melumpuhkan perasaan yang ada dalam diri. sampai di situ saja. "Apakah sudah pagi?" "Aku tidak tahu. dunia jauh lagi as ing. Semalaman matanya terus terbuka. Pada satu saat angin bertiup dari arah depan." katanya menasihati walau diri sendiri bimbang. Sampai payah bernapas.menyelimuti segala. Suara gemuruh. Ronggur terus membuka mata. "janganlah berkata begitu. lagu tunggal yang abadi." kata Tio pula. Lama-lama hitam pekat itu beralih pula. Butiran air halus memerciki tubuh mereka. dipikirnya hujan turun. melingkar. Tio. Berusaha mengikuti perobahan alam kalau memang perobahan itu ada. Ronggur tidak dapat tidur walau tubuh cukup capek dan payah. Air begitu tipis. Lagi-lagi Tio mengaju tanya. Tapi." "Barangkali kita sudah terjebak. tapi begitu lemah. Sekitar. Ada juga dirasakannya kebenaran yang diucapkan Tio itu. Namun mata hanya dapat menembus sekira empat lima depa saja. "Ke mana lagi kita harus pergi?" tanya Tio pula. Tidak pernah hujan begini tipis." Kembali mereka diam. sekira empat lima depa. dapat kembali ditatap. kepekatan yang menghitam itu sudah kembali agak memutih. kita sudah basah. Tapi. Tio jatuh tertidur sambil menggulungkan atau melipatkan kakinya dekat ke dadanya.

"Sekalipun kita harus kembali ke tempat asal. "Ya. Semua peralatan itu akan menjadi saksi di depan Mula Jadi Na Bolon. kepercayaan akan diri sendiri. dia mau menghembuskan napas dengan tenang di perut perahu itu. tentu tidak bisa melawan arus yang menggila. tentang tujuan citanya." sahut Ronggur. Tio memegang ujung tali di atas. ke tempat Mula jadi Na Bolon. ganjarannya. secara berangsur." sahut Ronggur. Marilah tabah menerima upahnya. Dia mulai menuruni anak tangga yang dibuatnya semalam. pikir Ronggur. "kita tidak bisa lagi menempuh jalan sungai. Dengan perahu itu dia akan mendatangi tempat Mula Jadi Na Bolon. melalui . Sedang Ronggur setelah dicekam habishabisan oleh perasaan takut." "Kita terjebak di s ini. aku tahu. tapi marilah dengan tabah mendekatinya. Kemurnian cita yang digenggam kembali memberi suluh pada keyakinan. tapi dengan alasan kenapa dia harus mengarungi Sungai Titian Dewata. Tapi. Perahu itu seperti rumah dan tempatnya terakhir. pada perahu. "Kalau kita surut. mencari tangga yang dibuatnya semalam. Ronggur mencampak pandang ke sebelah kiri." Tio terdiam. akhirnya muncul kembali." kata Tio pula. Kembali dia teringat pada s i belang. dia harus menjemput si belang dan peralatan serta perahu itu kembali. Lalu diputuskan. tentu dapat melembutkan hati Mula Jadi Na Bolon yang pengasih penyayang itu. Bila perintah datang. kita telah melaksanakan tugas kehidupan."Tabahlah. Kalaupun ajal tiba. Beberapa saat kembali hening." bujuk Ronggur. Tio terdiam. pada peralatan yang masih tinggal di sana." "Tidak terjebak. Bilapun Mula Jadi Na Bolon murka.

goyangan tali yang digoncang Ronggur, Tio mengulurkan tali lebih panjang. Sesampai di bawah, Ronggur mengikat peralatan kecil. Dengan berteriak sekuatnya, sekerasnya, disuruhnya agar Tio menarik. Tio menarik. Kemudian menjatuhkan tali lagi ke bawah. Ronggur mengikat perahu baik-baik. Mengisi air pada bambu tempat air yang dilobangi ruasnya, tapi ruas sebelah bawah tidak dilobangi. Air bisa tersimpan baik di sana. Kemudian dituntunnya si belang. Kembali dia mendekat ke atas. Merabaraba. Terkadang harus digendongnya si belang. Si belang seperti tahu marabahaya yang sedang mereka hadapi. Dia menuruti segala petunjuk Ronggur dengan baik. Setiba dipuncak, bersama dengan Tio, ditarik mereka perahu ke atas. Perlahan-lahan agar tidak terbanting ke tebing bukit batu, yang bisa membuat perahu pecah. Mereka masukkan semua barang bawaan ke perut perahu. Tapi, kampak terus digenggam, sedang di pinggang menyelip panggada. Dia tambah yakin lagi pada diri sendiri. Perjalanan itu tidak boleh surut dan tidak boleh henti. Harus terus maju. Sampai tiba ke tempat yang menentukan. Diputuskan akan terus mengikuti jaluran batu yang tidak berapa luas itu ke depan. Ronggur di depan. Tio di belakang. Mereka pikul perahu, jalan sempit terkadang, luas terkadang. Keadaan masih tetap sama. Hanya beberapa depa dapat ditembus pandang. Kabut tebal atau awan rendah menyungkup segala dengan putihnya yang padu. Tambah maju ke depan, suara gemuruh itu bertambah jelas. Dan, alas yang mereka pijak seperti mempunyai getaran kecil. Digoncang sesuatg tenaga yang maha kuat dan dahsyat. Membuat hati kembali tertekan. Namun dengan tabah serta keberanian yang bangkit perlahan-lahan, Ronggur terus memelopori perjalanan rombongan yang kecil itu. Menuju tempat yang menentukan, mimpinya benar atau memang mimpi itu godaan setan jahat. Si belang mengikuti langkah

Ronggur, dekat sekali di belakangnya. Si belang tidak berani mendahului ke depan. Tidak menggonggong. Hanya melengking kecil. Cahaya putih yang lemah itu menjadi tambah lemah lagi. Keadaan sekitar kembali menghitam. Ruang hampa. Kembali mereka mencari tempat istirahat. Air tipis halus itu, sudah terus-terusan menghambur dari asalnya yang tidak tahu di mana. Ronggur mengosongkan peralatan mereka dari perut perahu. Kemudian, perahu dibalikkan. Disuruhnya Tio dan si belang berondok ke sana, agar tidak terus-menerus diperciki air tipis. Dia sendiri tetap di luar. Tidak hentinya melihat sekitar, walau yang dapat ditembus pandang hanya beberapa depa saja. Dingin mencekam. Ronggur tidak tahu, Tio menggigil juga dalam sungkupan perahu, kedinginan. Wajah dan bibirnya menjadi pucat. Tapi, Tio tidak mau mengatakan. Tidak ada sumber panas yang bisa menyamankan sedikit. Kembali warna putih yang lemah itu mendatang dari segala arah. Tapi, begitu lemah. Kembali mereka melanjutkan perjalanan, mengikuti jaluran setapak itu. Keadaan cuaca masih tetap seperti semula. Terkadang jaluran itu mendaki, tapi terkadang menurun, untuk mendatar lagi. Jalanan bergelombang. Terkadang melurus, tapi tidak jarang memenggok ke kiri dan ke kanan. Mereka mengikutinya dengan tabah. Tapi, harus lebih hatihati, jalanan bertambah licin. Air tipis tambah tetap berhamburan dari sumbernya. Suara gemuruh di depan yang membosankan itu, tetap mengguruh. Si belang tidak berani lagi berjalan sendiri. Dia harus dimasukkan ke perut perahu, didukung. Beban bertambah berat. Di saat tubuh mulai melesu. Di saat kepercayaan terakhir mulai merenggang dari tubuh T io.

Sambil mengisak, Tio meminta, agar mereka menghentikan perjalanan. Dia mendudukkan diri begitu saja. Tempat itu agak luas sedikit. Sehingga mereka bisa agak leluasa sedikit bergerak. Namun harus tetap hati-hati. Karena basah, licin. "Ada apa Tio?" tanya Ronggur sambil mendekat. Tio menundukkan kepala. Mengisak terus. Wajahnya memucat. Bibirnya gemetar. Dingin. Sambil duduk di depan Tio, Ronggur mencari dagunya. Diangkatnya perlahan dengan telapak tangan yang menggetar juga karena basah. Ditatapnya wajah, bibir, dan mata Tio yang memucat sayu "Kau capek Tio?" Belum ada sahutan. "Katakanlah." "Katakanlah." Tapi, begitu bening dan terasa agung. Ronggur tidak dapat memancarkan sinar merah lagi di matanya. "Marilah menanti hari esok di s ini, bila hari esok masih ada. Marilah menanti apa saja di sini, apa saja," Tio lalu menundukkan kepala. Melepaskan dagunya dari telapak tangan Ronggur. Air berhamburan terus, membasahi tubuh mereka. Tio mulai menggigil. Si belang juga. Terus membulatkan tubuh dalam perahu, tidak berani turun. "Katakanlah, apa yang harus kita kerjakan lagi Tio," kata Ronggur melemah. "Aku telah membawamu ke tempat yang hampa ini. Apakah kita harus pulang ke kampung halaman, yang telah melemparkan aku, yang tidak menerima aku lagi menjadi warganya? Nasib telah tertentu di sana, nasib yang malang menanti diri. Katakanlah Tio, aku akan mengikutinya.” "Marilah berhenti di sini," sahut Tio akhirnya. "Kupikir tidak ada lagi gunanya kita meneruskan perjalanan ini. Marilah pasrah di s ini. Berserah dengan hati bulat ke tangan Mula Jadi Na Bolon. Bawalah daku padanya sebagai sembahanmu, agar

direnggutkannya gelang yang dipakai Tio. Sambil mengisak dia mengatakan. Tapi. bermula dari perasaan gembira. Sesuatu benda hangat tapi lembut menyentuh bibirnya. Marilah berpasrah diri di depan Mula Jadi Na Bolon. selain diri sendiri. pertanda dia seorang budak belian. Matinya. Ronggur. Berhadapan dengan kenyataan ini hatinya jadi bersorak gembira." Arwah nenek moyang Tio akan menerima arwahnya di tempat yang baik. Tio menjatuhkan diri ke ujung kaki Ronggur. aku yang membawa kenahasan ini padamu.Mula Jadi Na Bolon tidak marah padamu. Ronggur? Sungguh?" "Ya. Walau apa yang telah kita temui. sama-sama orang merdeka. Mendudukkannya. Terayun dan dibuai sebuah lagu yang selama ini terpendam di dasarnya. "Janganlah kembali ke sana. Lupa kepahitan. lupa hal yang menghadang di depan. Ditatapnya lama biji mata yang sayu itu. membuai mereka berdua." Perlahan. sebagai orang yang sama hak. "Kau merdekakan aku. Jari jemarinya meraba pergelangan Tio. Tidak ada sembahan kubawa ke hadapan Mula jadi Na Bolon. Dia tambah mendekatkan bibirnya ke bibir Ronggur." Suaranya begitu lemah. Gelang itu dicampakkan Ronggur sekuat tenaga. melengket di sana beberapa saat. Jauh-jauh. mati bersama. mati seorang manusia yang merdeka. ya barangkali. terhormat. . kembali Ronggur mengangkat dagu Tio. Tio sudah merdeka kembali." Tio terdiam. seperti kau lihat. "Kalaupun kita mati. Air mata yang menggenangi pelupuk matanya tidak bersumber dari kepiluan dan ketakutan lagi. lupa siksaan. Barangkali. Lalu dilanjutkan Ronggur. Sekarang berlomba bermunculan. Lalu dengan hentakan kasar. Maafkanlah aku.

Ronggur memimpin doa: Mula Jadi Na Bolon Asal mula dari segala kehidupan Padanya kembali karena dia yang punya Terimalah kedatangan kami Hambamu . di sini akhirnya. Tapi. "Marilah bersujud ke hadapan Mula Jadi Na Bolon. Boleh jadi. yang telah membawamu ke tempat ini. tidak ada akhir. Berani mengarungi segala kemungkinan. "marilah melanjutkan perjalanan." Ronggur tersenyum. Ke tempat para dewata bersemayam. Lagi pula kita telah menemui yang kita cari di sini." "Tio. Tio tersenyum. Memohon ampun atas keangkuhanku." kata Tio tegas."Ronggur. Hanya permulaan. . bila kita mati." Ronggur tersenyum." "Tidak. aku akan mengatakan pada Mula Jadi Na Bolon bahwa arwahmu bukanlah sembahanku. karena ada cita tergenggam di tangan dan di hati. "Aku cinta padamu ." kata Tio dengan tegas. istriku. karena mau turut mempertaruhkan keyakinan suaminya." Tio menangkap leher Ronggur. Telapak tangan Tio masih terus mengelus rambut Ronggur yang basah. Istri yang paling setia." bisik Ronggur. . lalu menciumi bibir Ronggur lagi dengan bertubi-tubi. Sampai tahu kepastian yang akan kita temui." Tio memperbaiki duduknya. dari mulutnya keluar kata. Kita harus maju. Lalu. "maukah kau. "Kita harus istirahat dulu di sini. Yang tabah bersama suami mengarungi kehidupan. permulaan yang tidak punya akhir. Sudah terlalu kelam untuk melanjutkan perjalanan.. "semuanya. Kita tidak boleh pulang.

Karena cinta telah punya laut dan pelabuhan. lalu dilanjutkan: Karena darimu mula cinta Napasmu sangkala cinta Satukanlah aku dan Tio Suami isteri yang dihidupi api cinta Tebarkanlah api cinta Tiuplah api cinta Membakar dada kami Dari saat ke saat tanpa akhir! Kembali mereka berdua berdekapan. batas ruang dan waktu tidak berarti lagi. Dan. Sekitar menjadi kelam kembali. walau dia dan Tio berpelukan di bawah telungkupan perahu. Berjaga di luar perahu. terusterusan berhamburan. baik waktu. air tipis itu. Perlahan .Karena keangkuhan yang berbenah dalam diri Kami telah tiba di s ini Melanggar peraturanmu! Ronggur menggenggam tangan Tio. seperti tidak mau dipisah lagi. Menggigil kedinginan. ccdw-kzaa 6 Ronggur terbangun. Bersama mereka menyuruk ke perut perahu yang dibalikkan. Si belang keluar dari sungkupan perahu. baik ruang.

lalu dijulurkannya kepala melalui celah. dengan tegas dia menyahut. Tapi. Tapi. Kita sudah beranggapan bahwa tidak ada lagi hari. Dia telah mengenal kabut pegunungan dan danau sejak kecil. kabut yang begini rupa tebalnya dan lamanya belum pernah ditemui sebelum itu. Atau. awan rendah belum pernah melingkupi tanah serendah itu. Lihatlah sekitar. Cahaya putih yang lemah sudah ada lagi." "Wajahmu capek kelihatan. membangkitkan iba Ronggur." kata Tio. Hari yang kita harapkan membawa perobahan pada nasib yang mendatangi diri. Bermalas-malas. lalu seperti! anak kecil. yang sudah ditopang oleh batu yang diganjalkan. Langit seperti di atas kepala saja dan dapat dijangkau tangan." "Apa sudah pagi?" tanya Tio. . Kembali tangannya dilingkarkan di leher Ronggur. kita sudah berpendapat bahwa kita tidak akan melihat dan mengecap saat lain lagi. "Kenapa kau buruburu bangun? Apalagi yang mengejarmu? Bukankah sudah semua kita lalui dan sekarang kita hanya tinggal menantikan yang akan terjadi. Waktu itulah Tio bangun. katakanlah dulu sudah pagi. hari lalu. yang ada hanyalah kehampaan yang tidak bertepi. Tapi. dia menciumi pundak Ronggur. bila tangan digapaikan ke atas. perobahan pada yang hendak kita temui. Masih seperti saat lalu. Perlahan me lepaskan pelukan Tio. Tapi. "Aku tidak tahu. permulaan dari segalanya?" Ucapan manja bercampur kekanakan. dan waktu kini. tapi sampai kini masih hidup dan mengenal hari.diungkapnya pinggir perahu. Masih disungkup kabut atau awan rendah yang masih tebal. Hingga waktu lewat. hanya masih begitu lemah. Atau. Dari mulutnya perlahan berbisik. "Semalam atau ya saat lalu. hari yang kita nantikan kemaren.

namun pandangnya masih tetap disungkup diputihan. Begitu putih hingga memijarkan sinar. bergerak dengan lamban seperti bermalas-malas." Tampak oleh mereka berdua sebuah benda putih yang kecil tapi bundar. tapi sinar lemah. Tidak kau lihat? Lihat ke bawah sana. Tapi. bisa menimbulkan panas. Agar bisa dapat dilihat mata apa sebenarnya yang ada di sana. janganlah pergunakan harapan untuk harapan saja. Mereka mencuci muka dengan melapkan tangan saja karena wajah mereka tetap basah. Tio terus merapatkan tubuhnya ke tubuh Ronggur. "Lihat. Namun tetap naik atau berusaha naik ke atas. beberapa titik air dapat ditelan sebagai sarapan pagi. Deru ."Tidak mengapa." "Cakapmu tidak dapat kuartikan. mengatasi segalanya. satu-satunya api yang dapat membakar semangat hidup. "Lihat. Untuk menyingkirkannya. Sinar yang dipancarkannya sedang mengadakan perlawanan atau berusaha menghancurkan kabut putih atau awan rendah itu. Dibaliknya terkandung kegembiraan dan harapan selalu. Perlahan dirasakannya angin bangkit." kata Tio. Tapi." "Kita masih mengharapkan?" "Selalu. bisa sebagai bedeng." kata Ronggur kemudian. seperti itulah gayanya. Dengan mengulurkan lidah. Merapatkan kepalanya ke pundak Ronggur. putih dan lebih putih dari semua. Lurus ke depan. Ronggur berusaha menatap sekitar. karena dia tetap kedinginan yang tambah lama tambah bermaksud membekukan diri. "apa kau pikir itu?" "Apa maksudmu?" tanya Tio. Harapan. Tio tersenyum. Harapan harus dapat melahirkan sesuatu yang berwujud dalam kenyataan kerja. Panas tubuh mereka berdua yang merapat. Di arah darimana bermula angin itu.

Kuping benda bundar putih tidak memperdulikannya. Dalam saat begitu rupa. Bundarnya. mengikuti perjalanan benda bundar yang lemah itu. Hati mereka menjadi tambah menduga. di rambut hingga menyusahkan mata untuk menatap. Hati berdenyut juga walau sudah punya tekad. segala perasaan mencurah keluar. sekali hapus saja akan hilang tapi cepat melengket di sana butir air yang lain. warta yang akan timbul darinya. entah berapa lama mereka tenggelam dalam keadaan begitu. Tidak mati-mati. Mereka belum pernah melihat tamasya alam begitu rupa. Mereka belum dapat menduga. dia memerlukan kelembutan yang bermula . Lama kelamaan menjadi tebal. bila sudah menebal. hampir menyerupai bundar matahari yang mereka kenal. rnatahari bisa dilihat seperti berada di bawah. Dari tubuh Ronggur sendiri. sewaktu ditutupi awan di langit. Dan. mereka tahu. Tapi. Mulanya tipis. tapi tidak berwujud. bersedia menerima segala tiba.yang terus menderu di depan memberi gendang layaknya. dihapus dengan telapak tangan. Biar sesaat pun. Tidak disadari mereka. Mereka tidak pernah memikirkan bahwa pada satu saat dan tempat yang berobah. Tidak disadari mereka. Benda putih bundar itu merangkak perlahan. Detak hati yang menandakan diri anak manusia biasa. Bila butiran air tambah menebal melengket di wajah. Mata mereka terus mengikuti gerak ma las dari benda putih yang bundar itu. kenapa pandang mereka terpaut mengikuti gerak perlahan yang menanjak itu. Sesuatu benda putih yang bundar mengadakan perlawanan terhadap sesuatu yang melingkupi segala dengan warna putih. Namun mata mereka terus mengikuti gerak lamban dan malas dari benda putih yang semakin tinggi itu. Mulut mereka ternganga. Mereka memang tidak tahu lagi. matahari tetap berada di atas. mendaki ke ketinggian. apalagi yang harus mereka hadapi.

Tebing yang tidak berapa curam itu . marilah mati berpelukan. cepat Tio memanggil kembali. Dia tidak mau mengatakannya pada Tio. Mereka ikuti terus dengan tabah. Tapi. di sana tebing tidak berapa curam. Dia tambah mengeratkan pelukannya ke pinggang Tio. Tebing jurang tambah menghitam. Si belang turut duduk dekat mereka. Kalau mati. Bisa dituruni. Melihat ke arah yang mereka tatap. bila hendak turun ke lembah di seberang kanan. namun dasarnya belum tampak atau memang tidak punya dasar. Mata mereka terus mengikuti gerak perlahan yang terus menanjak di depan bermalas-malas. dasarnya belum tampak sama sekali. takut kalau si belang terjerumus ke mulut jurang yang belum tampak dasarnya. seperti melemaskan otot. Tapi. Begitu pula mulut jurang di sebelah kanan. Perlahan sekali sehingga tidak terasa. Benda bundar yang putih itu bertambah tinggi juga. Seperti menanti sesuatu yang menentukan akan tiba. si belang mulai sering melangkah ke depan dan ke belakang. kata hatinya ke diri sendiri. Jauh ke belakang dapat dilihat Ronggur. Lidahnya dijulurkan. Bila cuaca bertambah terang. Mulut jurang sungai tambah berbentuk. tidak bergerak. Tambah jauh jarak yang dapat ditangkap pandang. ke samping dan ke sekitar. dan merasa ngeri. Tapi. Jarak yang dapat ditangkap pandang bertambah jauh dan luas. sungkupan awan rendah bercampur kabut tambah menipis juga dari sekitar.dari tubuh Tio. suatu harapan telah menggeliat dalam hatinya. Tio mendekatkan pipinya ke pipi Ronggur. Apakah benda putih itu akan menyuluh jurang yang tidak berdasar? Pandang sudah bisa mereka campakkan barang sepuluh depa ke depan. takut kalau Tio menjadi takut. Bertambah garang cahaya yang memancar darinya. Perobahan yang tidak tersadari. dengan tidak mau tahu pada mereka berdua yang mengikuti geraknya terus menerus.

Matanya menitikkan air bening. Dia telah membawamu ke tanah habungkasan yang maha luas. yang dapat dilihat kehijauan yang merata. mereka telah menemui. .dan —" dengan gugup. karena tidak menduga walau itu yang dicari dan diharapkan. lebat berimbun. Angin pegunungan. Semangatnya kembali hidup secara perlahan. jauh di bawah. Dapat dirasakan Tio. Terbelalak mata mereka melihat sinar yang tambah terang. bisa dituruni secara perlahan. angin pagi." Ronggur gugup. Dapat ditangkap dengan pandang sekarang. Tidak dapat menyahut dengan segera. Api dalam dirinya kembali menyala atau bara yang untuk beberapa saat tertimbun oleh debu. melalui tingkatan pundak bukit. membuat suhu tubuhnya menjadi naik. Tidak berapa sulit malah. Lalu dia mengatakan perlahan: . gugup sekali. "Dan.menurut perhitungannya. Pucuk dedaunan itu seperti berombak ditiup angin lalu. "Ronggur. sekarang debu itu telah menyisih sehingga merahnya bara kembali rrienjilamkan panas menyala. Ronggur. itulah yang ditunjukkan mimpi dan perkataan gaib dalam mimpimu. terhempang kehijauan yang sangat luas. itu dedaunan dari pucuk pepohonan yang tinggi. Ronggur. itulah tanahmu. "Ronggur. "itu matahari! Itu matahari! Mula hidup! Itu matahari!" Cepat Ronggur berpaling. Karena dengan itu. itulah tanah habungkasanmu. Sungkupan kabut dan awan rendah tambah menipis dan terangkat. Kehijauan yang maha lebat lagi datar. karena dengan itu mereka telah dibebaskan dari kungkungan yang mencekam dan mengancam. Sejauh mata memandang." pekik Tio meninggi sambil mempererat pelukannya ke pinggang Ronggur.

sayang!" Pandang lama bertemu. Sambil tersedu karena terharu. Tidak mengganggu. lalu Ronggur melingkarkan tangannya ke tubuh Tio dengan ketat. yang membuat kita dapat melihat tanah habungkasan yang dijanjikannya dan membuat aku dapat dengan jelas melihat wajahmu. yang pasti banyak dan akan terus berkembang." Tio menggigit bibir. T angannya terus menerus mengelus rambut Tio yang panjang lagi lembut dan lemas. sebelum kita memulai perjalanan ke sana. Ronggur membiarkannya begitu beberapa saat. dia menelungkupkan kepala ke dada Ronggur yang bidang. Tanah anak kita. yang sekarang. Tapi. sudah bisa pula melemas. Kau. Tapi. "Itu bukan tanahku. juga tanah orang lain. yang telah mengirim matahari untuk kita. Kita harus menyelidiki keadaan tanah di sana. Tidak tanah habungkasan itu saja. . "Tio." Mereka bersujud ke arah matahari. T anah keturunan kita. Apakah hutannya banyak menyimpan binatang buruan. marilah mengucapkan sukur pada Mula Jadi Na Bolon." "Apa lagi?" tanya Tio terbodoh. izinkanlah aku mengatakan sesuatu kata yang telah lama terpendam di hati. juga tanahmu. Tapi. Perlahan. Lama Ronggur menumpa pandang ke biji matanya." Beberapa saat keduanya terdiam. tapi basah. sebelum itu. Ronggur menegakkan Tio dari sujudnya. lalu. menanamkan pandang ke dasar bening matamu. "Juga kau."Tio. dia mengatakan pula. "aku cinta padamu Tio. Matanya menitikkan air bening. kata Ronggur kemudian. tidak tanah itu saja yang ditunjukkan mimpi padaku. yang mau bungkas ke sana. Setelah memberi kecupan pada bibirnya. "Perjalanan kita masih jauh. Istriku. Tanah kita berdua. Tapi. Apakah baik dijadikan tanah persawahan.

Lalu dia mengikat pinggangnya dengan tali. dari sana. Mereka tentukan untuk bermalam di sana. hingga agak besar. Serpihan air tipis yang menghujani itu tidak sampai lagi ke sana. Tapi. sampai akhirnya perahu sendiri. tapi masih begitu tipis." Tio mengikuti arah yang dimaksudkan Ronggur. ujung yang lain diikatkan ke pinggang Tio. Kemudian diturunkannya satu-satu peralatan. Tio menerima di bawah. Mereka sudah sama berada di gundukan pertama. sedang ia memegang ujung tali. dijalin begitu rupa. Jalan ke gundukan pertama. Untuk pertama kali kembali mereka lengkap bersama alatnya. termasuk si belang. Hari sudah sore. "lihat terus ke sebelah timur sana. mengibaskan ekor biar cepat kering. ialah terusan Sungai T itian Dewata. Begitu seterusnya. agak curam. mengeringkan tubuh dan memanaskan tubuh. setelah beberapa lama tidak merasainya. sesuatu garis putih yang membelah kehijauan. Membuat anak tangga. setelah beberapa hari terendam di air. Kembali dia memanjat. Betapa nikmatnya panas jilam api. Sudah bisa mereka berjemur di sana. dibasahi titikan air yang terus menghujani mereka. lebih landai. mereka dapat melihat gundukan perbukitan di sebelah kanan. Lalu dibakar menghidupkan api." kata Ronggur. . Rumput kering. yang mempunyai tanah. kemudian terdampar ke batu padas. Lalu menyuruh Tio turun."Kita akan terus mengikuti aliran sungai menuju tanah landai. dia ketahui. memijak tanah. menurun ke gundukan kedua." kata Ronggur kemudian. "Itulah jalan yang baik ditempuh. Melalui dinding batu yang tidak berapa curam. tanah melapisi batu. Dia turun sendirian ke gundukan tanah pertama. Si belang menggoncangkan tubuh. Kemudian dia sendiri turun sambil menuntun si belang. sampai tiba ke tanah datar di bawah.

tapi agar memulai menempuh jalan darat. Gemuruh air dibalik bedeng terus kedengaran. Lagu yang mesra ditiupnya perlahan. Malah seperti menjadi pertanda. Agar seseorang yang menyusuri sungai jangan meneruskan penyusuran lagi. Tidak menakutkan dan mengancam lagi.Malam itu keinginan Ronggur untuk meniup seruling memuncak. Kemudian Tio mengiringi tiupan seruling itu dengan nyanyi: Bila bulan di awan purnama Di tepi danau aku menanti Wajahmu menghias tanda masa Mengajak daku ke dunia mimpi Ronggur berhenti meniup nyanyian itu: seruling. dia melanjutkan Pohon aren di belah dua Tempat berayun monyet berdua Janji telah memadu Pinang sebelah dibagi dua Lalu berdua mereka melanjutkan: Terbang engkau elang Hinggap di kayu rindang Ke mana engkau sayang . sekarang seperti melengkapi irama seruling yang ditiup Ronggur.

Sinar matahari hanya dari celah dedaunan saja sampai ke tanah. Membentuk lapisan tanah yang lembut dan berair. memaling pandang. Tapi. keadaan sekitar bertambah terang. Tanah cukup lembab dan basah. memayung dedaunan hijau. Si belang duduk menjauh. Bola putih itu pada mulanya lemah sinarnya dan berada seperti di bawah mereka. Di atas kepala. perobahan tempat mengadakan perbedaan. Membuat mereka agak susah bergerak. Seperti taktik kemaren juga. sedang kemaren dedaunan itu masih berada di bawah mereka. di .Kasihku tetap mendendang Kemudian hanya T io melanjutkan sedang Ronggur kembali meniup seruling: Kalaulah benar warta impian Ditimang beta dengan sayang Sinar purnama empuk menayang Haribaanmu lagu impian Tio meletakkan kepala ke pangkuan Ronggur. Dilapisi dedaunan yang gugur sudah membusuk. Memejamkan mata dengan manja. Pagi terbit lagi. Malam terus melanjut. Begitulah secara perlahan dan hati-hati. Kaki mereka terbenam sampai ke lutut terkadang. Kemudian secara berangsur perlahan. Sehabis sarapan pagi mereka melanjutkan perjalanan. Api unggun yang kecil itu terus menari dan menari. Pemandangan seperti pagi kemaren. akhirnya sampai juga mereka ke tanah landai di bawah.

Si belang berlari ke sana ke mari dan menggonggong. mata terus ditancapkan pada benda jatuh itu. Ke sana mereka menuju. Di satu tempat di arah depan. walau suara gemuruh tambah jelas dan memekakkan telinga. Seperti menuruni pundak perbukitan. Berpedoman pada ingatan pemandangan kemaren sore di mana terusan sungai berada. Kemudian jatuh ke bawah bergulung-gulung. Dan. Membuat dedaunan sekitarnya bergoyangan. agar kembali tiba ke sungai. itulah air terjun yang tidak hentinya menerjunkan diri. Merasa takut kalau batu yang membentuk jaluran kejatuhan air itu akan runtuh lalu menimpa mereka. karena suara gemuruh bertambah hebat dan terasa menggoncangkan. Mereka menyisih cepat dari sana. tapi airnya berputar dengan cepat. betapa ternganga mulut mereka melihat benda itu. membentuk telaga yang agak luas pada tempat jatuhnya. la mengalir dengan besarnya ke arah timur. Jalanan terus menurun. tapi sudah ditumbuhi kekayuan yang tua. Kala di bawah arusnya melingkar dan membikin kepala pusing bila lama-lama menatapnya. Di sana-sini terbentuk curup di lingkungan yang gelisah itu yang bisa menenggelamkan apa saja yang jatuh ke tengah curup itu. Getaran bumi tambah terasa. Itulah kelanjutan sungai. tanpa takut dasar perahu bolong. Mereka meneruskan perjalanan yang agak melingkar. Sesuatu benda putih mengapas putih melambung ke atas.sana bisa mereka tarik perahu bersama peralatan lain. sinar matahari lebih leluasa tiba ke tanah. Kekayuan yang tinggi dan besar batangnya seperti tiang abadi yang bergaya mendukung langit. Di sana-sini dedaunan gugur membentuk lapisan tanah yang lembut. Tio merapatkan tubuhnya pada Ronggur. agar tidak runtuh lalu menimpa bumi serta penghuninya. Tapi. Tergoncang. .

mereka memutuskan untuk bermalam di sana. ujung tombak tertancap di dadanya. Binatangnya juga begitu. Tapi. Lalu mereka jemur. Mereka tebang beberapa pohon aren. tercengang melihat Tio dan Ronggur. Menurut perhitungan Ronggur sudah dapat memulai pelajaran dari sana." Tambah tahulah mereka tanah yang mereka temui itu. Pengganti beras. Beberapa saat kemudian. Bila beras habis. Arus sungai kembali menggila. Si belang melompat ke depan. Dan. Tidak punya prasangka pada manusia yang memburunya " "Lihat. Ronggur mengatakan. tetap mengikut pinggiran sungai. jarak jatuhnya lebih pendek dan lebih landai dari yang pertama. Dengan tombaknya cepat dia membunuh kijang yang tercengang itu. membuat mereka tidak langsung berkayuh melalui sungai. Masuk semak. Ronggur tidak melewatkan kesempatan baik itu. tapi tidak sekuat yang tadi lagi. benda putih mengkabut bermula dari air jatuh pertama. Umbinya bisa kita jadikan bahan makanan. Lagi masih begitu jinak binatang itu. "Kalau begitu.Di arah depan kembali kedengaran suara gemuruh. Sampai akhirnya berada di tempat jatuhnya air kedua. Sehingga busa air tidak terlalu hebat sewaktu jatuh. Biarpun Tio memanggilnya. Sambil menguliti. Mereka menatap ke atas. karena hari sudah agak sore. Sampai akhirnya arus sungai tidak beriam lagi. la meloncat ke depan. si belang keluar dari semak mengejar seekor kijang. di sini banyak binatang buruan. Mereka ambil umbinya. Kijang terguling ke tanah." kata Tio pula. Tapi. mempunyai tumbuhan yang bersamaan dengan tumbuhan yang ada di bidang tanah yang mereka tinggalkan. "Itu pohon aren. Kembali mereka temui air terjun. Kita tidak menguatirkan mati kelaparan. Terus mereka menghilir mengikuti tepian sungai. Dengan memilih jalan agak melingkar mereka menurun terus ke bawah. dan tumbuk .

menjelma kepada penglihatan. Cepat mereka meminggirkan perahu. sekitar mereka sekarang berwarna hijau dan tanah mengambangkan bau kesuburan. Tapi. Dari celah renggangan dedaunan. Bila cahaya itu melemah. tahulah mereka. . Dedahanan terlalu rendah terkadang. Untuk beberapa hari mereka tinggal di situ. Tidak bisa berdiri dengan leluasa. sinar matahari terus memberi suluh abadi. Ronggur dapat merasakan bahwa batang kayu yang besar itu dapat digunakan selanjutnya untuk kepentingan kehidupan. Tio lebih banyak memperhatikan sekitar. Dengan melampaui riak air yang terkadang menghempas ke batu yang muncul di sana-sini. karena dia belum perlu mengkayuh. tetap tertumpu pada pohon yang besar lagi tinggi. ibarat penopang langit agar tidak jatuh ke atas tanah. Sehingga sinar matahari tidak sampai ke permukaan sungai. hari sudah mengarah sore. menjaga keseimbangan kelajuan perahu. Beberapa buah batu jangkar masih dijatuhkan. Di sana-sini berletakan ranting kering. Tapi. bergeletakan dahan kering yang patah dari batangnya. Kemana saja mata diarahkan. Memilih dahan kayu yang baik untuk tempat bermalam. Terkadang sungai seperti ditutupi dedaunan hijau yang merimbun di atasnya.lalu direndam lagi kemudian ditapis untuk mengambil tepungnya. segar lagi lebat. melalui riam yang liar di tikungan sungai yang patah. Walaupun sudah menghilir arus sungai masih kencang. Untuk digantikan dahan lain mendukung dedaunan yang lebih hijau. Sungai terus menerus membelah hutan belantara. Dan. Mereka tidak menguatirkan kehabisan bahan bakar. seperti raksasa dalam dongeng. biarpun begitu perasaan Ronggur begitu pasti bahwa mereka akan tiba ke tanah yang lebih landai dan lebih baik. mereka harus lebih hati-hati menjaga kemudi.

ccdw-kzaa 7 Bertambah hari. Bila mereka bosan dengan sungai. Tapi. Arus sungai tambah perlahan. Sering Ronggur memanjat kayu yang tinggi. Sedang si belang berlari kian kemari. Ronggur selalu mengukur dalamnya sungai dengan tali yang di ujungnya diikat batu sebagai pemberat. Luas sungai tambah lebar. meneriakkan kegembiraan. seperti berlomba keluar untuk disuarakan. itulah dalam sungai. masih ada juga dijatuhkan. Di depannya tali yang terbenam. dan bila mereka bermalam di sana dan biasanya lebih lama daripada bila mereka tidur di dahan. namun dia tidak sanggup menghabiskannya. Perasaan dalam dada masing-masing. Batu jangkar sudah diangkat. Ingin dia menghirup habis segala kebebasan yang diberikan alam padanya. Beberapa buah batu jangkar sudah diangkat ke atas. Ronggur selalu menghirup udara dalam-dalam. Bila mereka menemui gua alam di tepi sungai. menatap dari arah mana mereka datang dan menduga hendak ke mana mereka dibawa sungai yang diikuti itu. menggonggong dan menyalak. mereka menghilir sungai. kata yang paling sesuai diucapkan dengan yang dirasakan dalam hati. Untuk mencari bentuk kata. Pundak pegunungan . mereka mendarat ke tepian. Arus sungai tambah perlahan. mereka belum perlu mengayuh. memelopori sebuah perburuan bila fajar pagi tiba. Tapi. yang ditiupkan musik alam ke dalam diri atau untuk menyiutkan nada musik yang memadat dalam rongga dada. Ronggur meniup seruling dan Tio bernyanyi. menghilir sungai. Arus masih dapat menghanyutkan perahu walau dengan perlahan.Perjalanan diteruskan menuju ke timur.

Di garis batangnya melingkar. Pancing yang diumpankan Tio selalu mengena. udara bertambah panas. Melalui pengenalan akan pundak pegunungan. Terkadang sampai berhari-hari mereka mengadakan pemburuan. atau menembus celah pegunungan yang terdapat pada pertemuan bukit yang memanjang. udara panas itu tetap mengganggu. Membuat mereka harus mengayuh terkadang. tambah luas. di situlah kampung halamannya. tanah berlumpur yang mengiring jaluran sungai. Binatang buruan begitu banyak dan jinak. Sudah agak menjauh. Si belang sudah mulai gemuk. Pepohonan tidak lagi di tepian sungai seperti di hulu. Karena lemaknya. Ronggur dapat menduga bahwa di balik pegunungan yang semakin menjauh itu. Tanah luas yang berlumpur semakin lebar mengikuti jalur sungai. Ronggur selalu menelitinya dengan seksama. Dibiarkannya dada telanjang. Bulunya tebal berlinang. membuat Ronggur tidak kerasan memakai sehelai kain atau kulit binatang di bagian dadanya. Bila dipanggang bara api bisa padam. mereka harus menaklukkan pundak bukit itu. . ditanamnya batu besar dan disambungkannya pada salah satu bagiannya. satu hal makin mereka rasakan. Pancing tidak perlu berlama diumpankan. hutan lebat hijau di mana-mana menampung penglihatan. Dan. Ikan yang cukup besar. Walau mereka berada di naungan pepohonan rindang. Setiap hari tepian sungai bertambah luas. Sedang pada tepi sungai. T api. Selalu dibuatnya tanda pada pohon kayu yang dipanjatnya.bertambah jauh di belakang sudah membiru. bila bosan dengan ikan sungai. Arus sungai tambah perlahan. Dalam waktu singkat ikan sudah ada yang menyambar. Lalu menatap ke arah hilir sungai. Bila mereka hendak pulang ke sana melalui jalan darat.

dari lumut lumpur dia tahu bahwa tanah yang mereka temui itu lebih lemak dan subur dari tanah di kampung halaman. Terkadang diciumnya dengan hidung. "Ronggur." Ronggur berenang sekuat tenaga. lalu mengejar. Walau terkadang matahari dilindungi awan. Jalan satusatunya untuk mempertahankan diri. tapi cepat kering disapu angin lalu. pada suatu hari.Digenggamnya tanah itu. sekelompok binatang yang sedang berendam di tanah lumpur. Alangkah terkejutnya mereka. Ini tidak. Binatang itu terus mengejar. mencucuknya. Sedang di hutan yang semakin menjauh dari tepian sungai itu. Udara seperti itu tidak pernah mereka temui di sekitar kampung halaman. Membuat tubuh mereka selalu berkeringat. Lalu terus mengayuh. Hanya udara yang bertambah panas itu saja yang membuat mereka agak merasa tidak senang. Lengket dan tidak mengenakkan perasaan. sedang dia. dan menyelam. walaupun matahari cukup terik. tombak. Tapi. mereka temui pohon yang berbuah. bergerak. . Buahnya lain dari buah mangga yang mereka kenal di kampung halaman. panas itu masih tetap terasa. Ronggur menyuruh Tio terus mengayuh. Membuat mereka terkadang seharian hanya memakan buahan saja. Binatang itu memburu. dengan mempergunakan kampak. Diperhatikan lunaknya. berenang. Perahu agak oleng sewaktu Ronggur menaikinya dari satu sisi. Lebih enak dan lezat. Membuat mereka sering terjun ke dalam sungai. Cepat Tio mengatakan. awas. Tubuh seperti berminyak jadinya. agar keringat melengket itu bisa menghilang untuk datang dan untuk dihilangkan lagi. Cepatlah ke perahu. memukuli setiap ada binatang datang mendekat ke perahu. apakah bau lumpurnya sama dengan bau lumpur yang ada di kampung halaman. Panggada juga turut digunakan. sewaktu Ronggur berenang mengikuti perahu yang menghilir.

"Kita harus meneruskan perjalanan. Bertambah ke hilir bertambah banyak anak sungai bersatu dengan sungai itu. Tapi. Tidak tahu mereka dari mana datangnya air keruh itu. "Inilah tanah yang kita cari. Bisa ditebang pohonnya untuk dijadikan persawahan. Dagingnya kurang enak dimakan. Lihat. tepi hutan tidak berapa lebat. Karena itu daging binatang itu mereka biarkan saja membusuk. Binatang itu belum pernah mereka lihat. Bila mereka terus melalui tanah lumpur itu mendekat ke tepian hutan yang semakin jauh. bisa berobah menjadi keruh. sebelum tiba ke tepi hutan. Pepohonan semakin jauh dari tepian sungai. Digantikan gelagah dan daun nipah. Lumpurnya bertambah lembut dan bertambah dalam dasarnya. lebih dulu ada tanah yang hanya ditumbuhi ilalang. Tanah juga lembut. Menyusuri sungai. Tanah landai yang sudah lama kumimpikan. Gembur. Bila digantungkan di pinggang kelembutannya selalu mengikutkan gerak-gerik pinggang." sahut Ronggur. sampai ke . Bisa dibuat menjadi kantong tempat menyimpan alat. Ekornya bergerigi dan begitu keras tampak. Kita harus tahu. Sudah mulai keruh dan kotor. bagus untuk ditanami. Walaupun belum pernah mengenalnya namun naluri mereka dapat memastikan bahwa binatang itu binatang air yang membahayakan. begitu halus. Air sungai tidak sebening di hulu lagi. Ronggur tetap memperhatikan dan mempelajari perobahan bentuk tepi sungai. Terapung." kata Ronggur. "Tidak. Mulutnya menganga lebar hendak menelan saja. Kenapa air yang tadinya begitu bening.Satu dua ada yang mati di antara binatang itu. Binatang yang mati dan dihanyutkan arus mereka tangkap. Karena itu kulit binatang itu mereka bawa. Begitu pandai berenang. kulitnya cepat kering dan dapat dilipat. "Inilah dia." "Apakah kita sampai di sini saja?" tanya Tio.

Apakah sungai ini juga akan bermuara ke danau?" "Danau apa?" tanya Ronggur pula. T anah lumpur dan tumbuhannya. Ada semacam tenaga menahan. Berombak.mana sungai ini. yang tidak sebesar sungai ini. "sungai yang ada di kampung halaman." "Biasanya. dari mana air itu datang. belum dapat kupastikan mengenai sungai ini. Tapi. Terkadang sampai ke pucuk digenangi air. permukaan sungai naik. Bertambah ke hilir. Dan. Dan. Lalu mereka meneruskan penyusuran. Bisa membuat padi busuk. Harus lebih ke atas lagi." kata Tio. ke tempat yang tidak dapat memastikan. Ronggur memperhatikan ini semua. Di sana mereka harus menggali tanah membuat sumur. Air menjadi sangat keruh dan asin. Membuat mereka takut pada mulanya."' jawab Ronggur. sungai menjadi menggeliat. Langsung mencari tanah yang agak tiriggi. ada semacam getaran mengganggu jalan perahu. Di muara tanah landai akan tambah lebar lagi. Ada kalanya perahu tidak dapat laju biar setapak pun ke depan. setelah beberapa lama. di samping arus semakin perlahan. bermula dari kaki bukit. Dan. Kenapa permukaan sungai menaik. Sehingga mereka harus buru-buru mendarat ke tepi. di mana muaranya. di saat itu. Sambil terus memperhatikan perobahan pada permukaan air. Tidak perlu mendayung. Supaya ada air tawar. Karena sering tergenang. gelagah dan daun nipah menjadi tergenang. Lalu dapat memastikan bahwa tanah lumpur yang di tepian sungai benar. air sungai susut lagi. "Aku hanya bertanya. Arus menghanyutkan . Di saat begitu arus sungai mengencang ke hilir. Itu sangat penting. Untuk bermuara ke danau. Walau mereka mengayuh sekuat tenaga. Sehingga enak berlayar." "Kebiasaan memang begitu. tidak baik dijadikan persawahan.

Menjelang subuh. terus mereka lawan. mereka dapat melepas lelah. Tapi. saat permukaan sungai naik telah tiba. Malah mereka seperti disorong ke belakang. Sambil T io berkata. mereka terus di dalam perahu dan terus mengayuh. Saat sungai menaik permukaannya dan saat sungai kembali ke tarap biasa. Karena begitu capek. Kemudian datang pula saat permukaan air sungai naik. Dicocokkan dengan waktu peredaran bulan dan bintang. diperhatikan dan disesuaikan waktunya. Kantuk telah membawa mereka ke alam tidur. Agar tahu dengan pasti. di mana keadaan sekitar dan kejadian dapat dilupakan. Arus sungai menyongsong dengan kuat. mereka berdua terus berkayuh melawan air yang menyongsong itu. Dan. Perahu terus dihanyutkan arus sungai. terasalah permukaan sungai kembali menyusut. Perahu tidak bisa dikayuh. dan apa lagi yang akan ditemui pada perobahan sungai?" "Justru. Ronggur bertambah was-was. Perahu seperti dihanyutkan kembali ke hulu. kembali ke hulu. Untuk tiba pula pada keadaan. Malah hendak disorong ke belakang.perahu. Walau tidak ada ditemui kemajuan. Mereka harus mengayuh dengan sekuat tenaga. Mereka terus melawan. Berhadapan dengan keadaan baru ini. Walau malam sudah bertambah jauh. . apa sebabnya dan apa akibatnya pada orang yang berlayar di saat begitu. Sehingga perahu mereka begitu lajunya dihanyutkan kembali ke hilir. Gelombang sungai mulai menggeliat." jawab Ronggur. arus mati. itu yang perlu kita ketahui. Kemudian diputuskannya untuk terus melayari sungai. Tapi. Berkayuh dan berkayuh. "Apa lagi yang akan terjadi. Di saat begitu. Biar permukaan sungai menaik atau menyusut. Mereka terus berlayar. Walau mereka sudah berkayuh dengan sekuat tenaga. mereka tertidur.

Pada sisi kanan.Sinar matahari sudah kembali menampari wajah alam dan wajah mereka sendiri yang tertidur di perut perahu. atau daratan yang hijau. Mereka mendaratkan perahu jauh ke . Karena silau dan karena gonggong si belang. air yang maha luas mengitari mereka. melihat keluasan yang terhampar di depannya." akhirnya Tio mengatakan dengan kagum. danau yang maha luas. Sinar matahari mencurah ruah. Lalu menggonggong panjang. Kita menemui danau. Di bagian punggung. Agak jauh kedalam bermula jajaran pohon kurus panjang dan hanya di bagian puncaknya ada daun kelapa. "Danau. Benda ditepian yang menerima sinar matahari seperti menyala itu. Buru-buru Ronggur menyuruh T io duduk. Airnya. Berjajar memagar pantai. lalu: "Lihat. Nyiur. Cepat mereka mengayuh ke tepian. tepian. Tepian memutih ditimpa sinar matahari penuh. Tidak bisa diminum. mencerminkan mukanya ke permukaan air. Membelalakkan pandang. "Danau apa ini?" "Aku tidak tahu. Pada penciuman terasa keluasan dan kebebasan udara. Sehingga lebih silau. alangkah asin. perahunya terapung dan mengangguk-angguk diperma inkan riak. Cepat Ronggur dan Tio mengayuh. Alangkah terbelalaknya mata Ronggur sewaktu di hadapannya. Beda dengan pasir pantai danau yang mereka kenal di kampung halaman. Kita tidak tahu ke mana berakhir air yang maha luas ini. Si belang berada di haluan perahu. Kemudian dipantulkan air ke atas kembali. mereka terbangun. Di sekitarnya. di sekitarnya." ajak Tio. tapi danau yang sangat luas." "Marilah ke tepi." Tio memilin mata. air itu bertemu dengan kaki langit demi kaki langit. jauh sudah. lihat Tio. kiri dan di hadapan. Tidak terkungkung sedikit pun. pasir putih. Tapi.

kijang sampai pada binatang buas yang ditakutkan: Harimau. Mereka minum air kelapa muda. Sekarang mereka sudah punya rumah kembali. Sekarang mereka sudah punya danau yang sangat luas malah. Walaupun daun nipah sudah kering. Walaupun airnya asin.darat. . dengan lagunya sendiri. Yang bergelung-gelung ombaknya dan memecah di pantai. Karena udara panas. banyak menyimpan binatang buruan. Dengan moncongnya si belang menggigit dan membawa ke tempat mereka berdua duduk. Berdesir angin yang melewati atau membuat daun nyiur melambai. Sekuat kita memakainya. mereka buat atap sebuah dangau. Ronggur dapat melemparnya. Burung putih berterbangan ke sana ke mari. Mulai dari burung. namun sangat banyak mengandung ikan. Tiangnya agak tinggi dibuat dari pohon bakau yang panjang dan lurus lagi kuat." Sambil menatap keluasan air. Sedang pada hutan di sebelah punggung mereka. Sehingga sambil bermalasmalas. Si belang menjemputnya. putiknya akan cepat mendatang lagi dan berlipat ganda banyaknya. Tambah siang ombak tambah membesar. Ikan yang besar. ayam hutan. Pada tanah lumpur sekitar muara sungai. Menambatkannya pada pokok kelapa. bertambah rimbun pohon gelagah dan daun nipah. gajah. jendelanya jauh lebih besar dari jendela rumah yang ada di kampung halaman. "Di sini kelapa tidak akan habis. Dengan daun nipah itulah. menari dengan gaya yang bagus dan begitu jinak. dan di tanah yang ditumbuhi ilalang sebagai pinggiran hutan. diselang seling pohon bakau. Mereka lalu kenal juga binatang laut yang ada di tepian yang juga enak dimakan. namun tetap kuat dan tampak berminyak. Ronggur memanjat kelapa lalu memetik buahnya yang masih muda. Tidak punya prasangka pada Ronggur dan Tio. Beberapa ekor kena dan jatuh ke tanah. Diseling T io.

sangat baik. di samping air hujan. Waktu itu sangat baik untuk memulai pelayaran ke tengah danau luas itu. Sedang waktu malam hari. Mereka harus merambah hutan belukar agak ke pedalaman. bila pasang naik tanah lumpur itu tergenang. angin daratyang bermula dari hutan di punggung mereka. Bila air sungai pasang. Bila mereka hendak membuka sawah percobaan. Waktu itu bila berkayuh menuju tepian dari tengah. agak menusuk ke tengah hutan. tidak baik dijadikan persawahan. Agar lebih mudah mengerjakan sawah percobaan itu. terkadang sampai sedalam dada. Mereka cari tumpukan tanah yang agak datar di hutan dan ditumbuhi ilalang. Tanah lumpur itu. dibuka aliran parit. Tapi. Pada hari pertama Ronggur tetap memperhatikan mula dan arah angin. Kemudian dari hulu sungai yang belum asin airnya. menjelang dini hari. jauh dari tepi sungai. binatang air itu. bertiup ke arah danau luas itu. pasang air sungai yang membuat permukaan sungai naik dan sungai punya arus ke hulu. Sehingga ada pengairan ke sawah itu. bila merasa malas pulang ke rumah di tepi pantai. . rawa itu kembali tampak. Arus ombak menghanyutkan perahu ke tepian. Tergantung pada hari bulan. walaupun tanahnya lumpur dan lembut karena selalu tergenang. Akhirnya dapat mereka ketahui. Dekat sawah itu mereka dirikan dangau. bila air sungai surut perahu dilarikan arus ke tengah danau yang maha luas itu.beruang. Begitu pula saat sungai surut kembali. tempat istirahat atau bermalam. Tapi. perahu agak tertahan menuju muara. Bila air surut permukaan sungai merendah. dan di tepian sungai berpaya. harus memilih tempat yang agak tinggi dan jauh dari pantai. tidak menetap saatnya. Waktu siang hari angin dari arah danau luas bertiup ke darat. buaya. Dan.

yang dapat mengurangi pertentangan yang bisa timbul antara kaum semarga. Tanah yang mereka temui tanah yang dimimpikan setiap orang di kampung halaman. tahulah Ronggur dan Tio. Merunduk ke tanah karena berisi. Itulah ladang. Tanah itu begitu gembur. Di sana juga tanah dengan cepat menerima taburan bibit. T anahnya cepat lembut. yang mengakibatkan kematian dan kemelaratan. Walau tidak punya air selain air hujan dan yang dikandung tanah. antara suku dan antara luhak. kerja Ronggur dan Tio tinggal mencabuti rerumputan. mengadakan penjagaan yang dibantu si belang. Setelah beberapa lama tanah yang digarap itu digenangi air yang dialirkan ke sana. tanah itu cepat menghitam. huma. mengambangkan kesuburan. Kemudian bermunculan di atas tanah batang padi yang gemuk hijau. Kemudian batang padi yang hijau gemuk itu. bisa dihilangkan. agar pertumbuhan batang padi tidak terganggu. telah dihiasi bulir padi dengan mencuat ke atas tegak lurus. Pada malam hari. di ladang dengan hijau gemuk. Waktu menancapkan cangkul ke dada tanah. Usaha percobaan itu terus diluaskan ke tanah yang lebih tinggi dan agak susah didatangi air parit. Tidak tersangkakan. bila tanah habungkasan ini ditunjukkan pada mereka. Bila batang padi telah bertumbuhan di sawah. Ditiup angin . antara marga. Ini semua menanam harapan yang lebih sempurna dalam dada. sawah kering. agar rombongan babi hutan tidak turun dari hutan merusak sawah dan ladang percobaan itu. menjanjikan akan mendukung bulir padi yang bernas. Cepat lunak dan cepat menjadi lumpur hitam yang lembut. Perang yang bisa terjadi di antara mereka. walau itu yang diharapkan. tanah itu tidak melapisi batu.Persemaian telah digarap. Beberapa bidang lagi tanah telah diolah menjadi sawah percobaan. tanah begitu cepat menerima taburan bibit. bila telah digenangi air.

yang didirikan tidak jauh dari sawah percobaan itu. yang banyak ditemui di muara sungai. Bermula dari keluasan dan berakhir pada keluasan.terkadang. sebagai pertanda bahwa pancang itu perbatasan antara satu marga dengan marga lain tepi danau mana yang boleh di tempati suatu marga menangkap ikan. Dan. Padi yang menguning. Saat mardege tiba. Ronggur dan Tio. Lagi pula. Juga pelanggaran perbatasan . sambil melepas lelah dari kerja berat di sawah semusim panen itu. yang didirikan tidak jauh dari sawah percobaan itu. Saat mardege tiba. Mau dijadikan lumbung padi. Setiap tambah jauh mereka berkayuh. bila luas danau begitu rupa dihadiahkan pada orang di kampungnya. mereka tidak perlu lagi mengadakan pancang sebagai batas di danau. merunduk menguning kemudian dipanen. Lalu hasil panen itu disimpan ke dalam lumbung. Tidak bertepi dan tidak berujung. Lalu hasil panen itu disimpan ke dalam lumbung. setiap itu pula. Ronggur tahu. Membuat perasaan lebih kagum lagi atas ciptaan alam yang hebat dan sempurna itu. hingga mereka bisa tiba ke sana. kemudian dipanen. hasil panen percobaan itu tidak akan habis mereka makan sampai tiga kali jangka musim panen. Ronggur dan Tio harus memperbesar dangau kecil itu. dan bulir yang belum berisi itu bergoyangan perlahan. bila untuk mereka berdua saja. Kekayuannya mereka ambil dari hutan sekitar yang begitu dekat. musim panen lebih pendek masanya di tanah habungkasan itu dari yang mereka kenal di kampung halaman. Kemudian bulir itu semakin merunduk ke tanah. Mereka tahu. Ciptaan Mula Jadi Na Bolon. tangkainya kokoh mendukung. seharian mengadakan perjalanan menyusuri tepi pantai. malah berlipat ganda luas air yang mereka temui. dan hati tambah berterima kasih atas tuntunan Mula Jadi Na Bolon. Atap daun nipah yang tidak mudah bocor.

keinginan untuk me lepaskan mereka dari berbagai rupa ancaman. melanjutkan hidup berkeluarga dan keturunan. menjanjikan kebahagiaan pada setiap orang. Modal yang pokok hanya satu. Sekitar yang bermula dari keluasan itu dan berakhir pada keluasan itu. Seorang manusia yang ditunjuk dewata menemui kebenaran. yang bisa menimbulkan sesuatu peperangan. bapak yakin. Untuk kelanjutan hidupnya. Agar manusia itu dapat pula mencicipi nikmatnya. Karena itu anakku. Janji yang selalu mengingatkan kampung halaman. tambah sering mendengung suara bekas Datu Bolon yang sudah tua itu. katanya selalu. Rindu pada ibu. Di danau yang maha luas itu. karena itu janji. boleh pergi ke mana suka. pada bekas Datu-Bolon yang sudah tua itu. Dia harus mewartakan berita penemuannya itu ke tengah keluarganya. lalu dapat merasakan kenikmatan yang terkandung dalam kebenaran itu. Pada pendengarannya. Walau pada mulanya mereka menentangnya. tapi perlu diinsafkan agar mereka tahu. "Anakku. sering menimbulkan perselisihan dan pertengkaran. Mereka tidak perlu dihancurkan. Walau begitu pahitnya penerimaan orang di sekitarmu atas cita-citamu. ke tengah marganya yang sudah mencoret namanya dari silsilah marga.di danau di kampung halaman. Rangsang lain mulai mempengaruhi pikiran Ronggur. kalian akan menemui tanah habungkasan. Menangkap ikan sekuat tenaga. janganlah kau berkecil hati. Janji harus ditepati. kemauan bekerja. kelanjutan keluarganya. dan menganggap diri yang dikurnia dewata seorang gila. setiap orang dari setiap marga mana saja pun. bila kau menemui tanah . hingga akhirnya turut merasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh kebenaran itu. yang mempertajam perasaannya akan bahaya yang mengancam kerukunan hidup di kampung halaman. harus dengan tabah pula menyampaikan warta kebenaran itu pada orang yang ada di sekitarnya.

Karena itu. untuk terus melawan arus. malah beralih pada penemuan itu akan mengutuki diri. Harus kembali mengarungi sungai ke hulu. Berjanjilah anakku. yang ." kata orang tua itu. Dari pengenalan akan pundak bukit. Lantas selanjutnya dia mengatakan. Memaksanya harus kembali ke kampung halaman. dan usaha menaklukkannya. melawan arus. Tio diam saja mendengarkan sambil menundukkan kepala. mewartakan penemuan itu." "Aku bapak. agar anakmu ini dilindungi Mula Jadi Na Bolon. Anakku. agar kerjamu tidak sia-sia. Bapak." "Terima kasih." "Aku berjanji. dia sudah dapat menggambarkan suasana perjalanan itu dalam kepala. sehingga orang lain tidak dapat menikmati arti dan nilai penemuan itu akan berkurang. dari pengenalan akan celah pertemuan bukit dan usaha untuk menembusnya. lalu melanjutkan. Perjalanan yang tentunya memayahkan." "Doa dan restuku akan selalu mengiringi perjalananmu. memaksa dan membuat orang yang menemui itu tidak mewartakan-nya pada orang lain. "Doakanlah aku bapak. telah dapat diduganya.habungkasan di rantau. sesuatu penemuan yang bisa membuat orang gembira dan berbahagia. bila keserakahan diri atau dendam yang bersarang dalam dada. janji seorang lelaki. sangat susah. "Anakku. dia sudah membayangkan bahwa mereka akan menembus jalan darat. Karena janji yang dibuat lelaki. Karena itu." Dengungan percakapan itu tambah nyata dan jelas. yang memerlukannya. kau harus kembali kemari membawa berita ria itu. tapi perjalanan untuk memenuhi janji yang dibuhul sebagai lelaki bersikap jantan." katanya. Berhadapan dengan kebisuan Tio. tapi. Ronggur telah menentukan kapan mereka memulai perjalanan pulang itu. penuhilah pula sebagai lelaki yang berhati jantan. janji yang kau buat sebagai lelaki. janji yang akan tetap ditepati.

digigit oleh gigi sendiri. Biarlah perjalanan pulang ditangguhkan untuk beberapa lama. direbus. Dijerangkan terus menerus air panas dalam periuk tanah. "Apakah kau tidak ingin mewartakan berita ini pada sanak keluarga? Pada setiap orang. Barulah sadar arti perobahan bentuk tubuh istrinya. yang akhir-akhir ini begitu nyata dan jelas. Dan. bila pandangnya bertemu dengan pandang Ronggur. "Kita memang masih belum bisa memulai perjalanan pulang. airnya sangat baik buat minuman seorang ibu yang hendak dan baru melahirkan. Tidak sakit. Tambah lama tambah sering dan menimbulkan perasaan nyeri. ditahan. Sambil tersenyum dan duduk dekat Tio." "Kenapa wajahmu sepucat itu? Apa yang terjadi?" Wajah Tio seperti menanggungkan sesuatu. Kau sakit?" "Tidak. walau Tio selalu . dingindingin ditelempapkan ke perut Tio dan kening. dia tidak mau lagi pergi jauh-jauh dari dekat Tio. "Tio. Namun. yang selalu diancam bahaya di kampung halaman? Agar mereka dapat bebas dari ancaman yang selalu menakutnakuti mereka itu?" "Bukan itu alasannya.tidak menyahut itu. Seperti orang sakit. Kita harus menanti di sini. Sesuatu tekanan mendesak hendak melalui kerongkongan. Tapi. masih tetap berusaha tersenyum. Dan. sesuatu rintihan lepas juga dari celah bibir yang dikatupkan. berupa rintihan dan jeritan. Ronggur lalu berkata. Daun ampapaga itu di dikeringkan di panas matahari. Bibirnya gemetaran. Akhirnya Ronggur tahu. Bukan itu. Tio merasakan sesuatu menggeliat dalam perutnya. Bila sudah kering. Darah Ronggur tersirap dibuatnya. wajahmu pucat. yang banyak tumbuh di pematang sawah di antara rerumputan. Wajah Tio agak pucat waktu tengadah padanya. sesuatu akan terjadi." sahut Tio." Cepat Ronggur pergi memetik daun ampapaga. Ronggur mengatakan. Tapi.

cukup merah. dan perasaan nyeri tambah memaksa Tio merintih. Tio harus senyum pada . Lelaki yang dapat memelopori orang menjelajah hutan belantara yang abadi itu. Hendaknya kehijauan daun padi dapat mengimbangi hijaunya daun pepohonan. dan segumpal daging telah ditayang Ronggur dengan hati-hati. Dalam kepala terbayang seorang anak lelaki yang sehat. Disunggingkan senyum sebagai sahutan." Balik Tio yang menasihati dan menenteramkan hati Ronggur. seorang lelaki. Setelah melengkingkan sebuah pekikan yang panjang lagi nyaring. agar memulai perjalanan. Anak lelaki meneriakkan suaranya pertama. Tangisnya pertama menantang gemuruh ombak yang memecah di pantai. seperti warta pada dunia bahwa dia telah lahir. Tio lalu memelas. Mencapai daerah baru. Tidak usah repot. Kening Tio yang berkeringat. anak kecil itu sudah digendong Ronggur sambil dinyanyikannya. "Apa yang harus kuperbuat? ke mana harus kucari dukun?" Dari sela rintihannya. Begitu sehat. Tio sudah dapat senyum. Tio menyahut. Dipotongnya jabang bayi dengan bambu yang ditajamkan pada kedua sisinya. cukup umur. T idak jarang. Tak lama kemudian. Lelaki yang kelak sanggup mengolah tanah yang bidang menjadi persawahan. Tio diberinya minum air ampapaga. meniti ombak demi ombak yang begitu besar. Semuanya akan menjadi beres. ombak itu menggamitnya. "jangan repot. "Aku tidak apa-apa. Menoleh ke bayi yang baru dilahirkannya. Bayi dimandikan.mengatakan. Saat kelahiran semakin dekat. sering juga membuat Ronggur harus mengatakan dalam kebingungan. Pergilah berburu." Ronggur pura-pura tidak mendengarkan. juga diharapkan agar anaknya seorang lelaki yang sanggup meniti gelombang yang besar di danau luas itu. berjalan dengan baik. agar orang tidak takut kelaparan. Hari berikutnya. dilap Ronggur dengan sayang. Atau. atau menangkap ikan.

" Tio tidak membantah. Ronggur sudah menggendong si anak ke tepi pantai bersama Tio. Mulanya menyusuri sungai ke hulu . ." Bila telah dua kali purnama timbul dan tenggelam. akan penemuan-tanah habungkasan. maka Ronggur pun kembali mengatakan. katanya. Bermulalah perjalanan itu. Bahwa padi yang mereka bawa sepundi dulu sudah menjadi tiga pundi. ccdw-kzaa 8 Setelah menyediakan segala sesuatu yang perlu dalam perjalanan. Bergaya seorang yang akan cukup kuat dan punya ketahanan serta keberanian. ibu dan ayah dari anak lelaki yang sehat.Ronggur dalam saat begitu bahagia. sudah waktunya kita memulai perjalanan kembali ke kampung halaman. mereka pun memulai perjalanan pulang. dan bertambah usia si anak. anak kita akan menjadi seorang pengarung danau yang maha luas ini kelak. . mencapai pantai lain. luasnya danau yang ada di depanmu. meniti ombak demi ombak yang bergulung-gulung memecah di pantai. Sedang yang ditinggalkan di tanah habungkasan masih banyak benar.. Tio sudah menjadi seorang ibu. Ronggur selalu mengatakan. Dia akan tetap mendampingi Ronggur. "Tio. yang menanti dayungmu berkayuh di permukaannya. ke mana saja pun. T idak habis dimakan sekeluarga dalam jangka tiga kali panen. akan mereka tunjukkan sebagai bukti pada orang di kampung halaman. Bertambah hari. Memberitakan dan mewartakan. Tio. Tiga pundi padi yang bernas dibawa serta. . dan danau yang maha luas ini. Ronggur sudah menjadi seorang ayah. Kekerabatan dan keakraban berumah tangga tambah terjalin. "Tataplah dengan mata kanakmu.

Sejuk. bila kekayuan hutan sudah ditebang. T io. selalu menggendong anaknya di punggung. Mereka berusaha. Tambah jauh mereka menyusup ke pedalaman hutan. hitam mengandung kesuburan.Beberapa potong kulit binatang buruan yang halus hulunya dan sudah dikeringkan dibawa serta. seringan mungkin dan yang perlu saja dalam perjalanan. bukit tanah yang gembur. Jadi. Memenggal-meng-gal hutan belantara. Melalui pengenalannya akan tanah. Pada sesuatu mata air begitu. Sedang pundak perbukitan yang juga ditumbuhi kekayuan tua. yang dipanjat Ronggur untuk menentukan arah tempuh. Tanah di lembah dipelajari Ronggur baik-baik. dan memilih tanjakan yang tidak menaik untuk didaki. Lembahnya tambah dalam dan perbukitannya tambah tinggi. Ronggur selalu mengadakan tanda. yang dilingkungi hamparan dedaunan hijau lebat. Mempelajari jalur lembah dangkal yang banyak dalam hutan. agar yang dibawa. Sampai tiba ke lempat arus mulai menderas dan susah dikayuh. yang kelak dapat digunakan jalan pulang pergi antara kampung halaman dan tanah habungkasan. dan lebih aman daripada menyusuri Sungai T itian Dewata. Mereka sering berhenti di satu tempat sampai dua tiga hari. Begitu pula mengadakan tanda tertentu pada sesuatu pohon. perjalanan pulang itu pun. Airnya begitu bening dan dingin. . bukit dan lembah tambah banyak mereka temui. sendirinya pula usaha merintis jalan darat. tahulah dia. Baru mereka mulai menempuh jalan darat. Tidak jarang pula mereka temui parit kecil yang bermula dari sesuatu dinding bukit yang bercelah. Mulanya mereka menyusuri sungai ke hulu. Tapi. permadani alam yang tebal lagi abadi. bukanlah bukit batu seperti bukit tandus di kampung halaman. tanah itu sangat baik dijadikan perladangan atau persawahan. Tidak tanah tipis melapisi batu alam. mempelajari pintasan jalan yang lebih mudah ditempuh.

Dalam merintis jalan itu. sebaik dia turut mendengar suara air terjun yang mengguruh. sambil berjaga. Tapi. tidak dapat melempar senyum. Batu jaluran yang ditembus air sungai yang . Dari sana baru mereka tentukan. kalau kepergok. celah bukit mana yang harus diterobos menuju kampung halaman. Tapi. Dan. dan sudah dapat melempar senyum di saat dia merasa senang. Bila si belang meringis dan mengarahkan penciumannya ke satu arah terus-terusan. Sedang Ronggur mengarahkan tatapan si anak ke air terjun yang memutih kapas itu. Dedahanan kekayuan yang berjalinan mendukung dedaunan lebat. Mereka terus menyuruk di bawah hamparan dedaunan hijau yang abadi itu. Apa yang ditakutkan Ronggur pada mulanya masih tetap tidak terjadi. Atau. Menyisih dari tempat sesuatu binatang buas. Penciuman si belang banyak membantu keselamatan rombongan kecil itu. tidak jarang pula mereka harus mempertahankan diri dari serangan binatang buas: harimau. dan kelompok gajah. Anak mereka yang sudah mendekat ketiga purnama usianya. jangka siang hari. harus mengadakan perlawanan mempertahankan diri. beruang. cepat mereka mengalih langkah. Tio memeluk anaknya. sarang binatang. dia tersenyum kembali. T erus berusaha mengarahkan langkah ke tempat air terjun itu. menghambat sinar matahari menimpa tanah. Ronggur selalu berusaha agar mereka dapat tiba kembali ke tempat air terjun itu. bila lama-lama mereka berada di sana dan tidak ada sesuatu yang menyakiti tubuhnya. Sehingga terasa. Dalam saat begitu. agak pendek di bawah naungan yang tebal itu. pundak bukit yang memanjang sebagai pagar dan batas tanah dataran tinggi kampung halaman dengan tanah habungkasan. Tapi. yang harus ditaklukkan. tidak jarang Ronggur dengan dibantu si belang. di tengah hutan tidak jarang mereka bertemu dengan kumpulan binatang buruan yang enak dagingnya.

Tio memaling wajah pada Ronggur tanpa sahutan. Bila lama kelamaan ditatapi jatuhnya air itu dan kuping biasa kembali mendengar suara mengguruh itu. menaklukkan pundak demi pundak bukit. Menjelang senja Ronggur dan Tio berhenti menggali lobang." "Harus di sini kita istirahat?" tanya Tio. Sambil menggendong anaknya. Betapa indah. Jalan memotong ke kampung halaman. Agar tenaga kita pulih kembali. Ronggur mengatakan. mereka namakan air terjun itu. lihat Tio. . Anak mereka ditidurkan di tanah beralaskan kulit binatang buruan yang lembut. Ekornya dikibaskan. Aku akan memburu binatang buruan. agar tidak ada serangga hinggap ke wajah anak yang sedang tidur nyenyak itu. perlu kita istirahat untuk beberapa hari. Melepas lelah. Di sampingnya duduk si belang seperti menjaga.terjun. Dan. Karena itu. Untuk dijadikan lobang perlindungan. "Lihat. Agar memberi ruang yang lapang bagi mereka. Tapi. benda putih diambangkan ke atas terus menerus. Di pundak bukit gundul itu. "Ya. Mudah digali. Dari sini kita akan mulai mendaki kaki pegunungan. agar mudah kita memperoleh air. Sampuran Harimau. "Kita istirahat di sini untuk beberapa hari." kata Ronggur. setelah beberapa lama mereka terpukau di tempatnya tegak. terdiri dari batu alam yang tidak keras. gemuruhnya tetap menderu. yang menyerupai aum harimau." Mereka menggali lobang perlindungan yang agak luas. payah ditemui binatang buruan. Tidak terjadi reruntuhan. "Tio. dan berusaha menerobos celah bukit. Ronggur dan Tio bekerja sama menggalinya. Tari warna yang sempurna. masih tetap kokoh pada tempatnya. agar cukup daging untuk dimakan nanti dalam perjalanan. Mata mereka patok menatapi permainan warna pelangi aneka rupa berpadu dengan air yang memutih kapas. Perjalanan begitu tentu berat. Lagi pula dinding bukit sebelah sana.

bukit gundul. Sejak lahir anak itu sudah disusukannya dan sudah berapa lama itu berlangsung. Mencampakkan pandang ke sekitar. sesuatu perasaan selalu menggeliat dalam dada.Begitu indah kalau hujan tidak turun atau kalau kabut tidak menyungkup. air terjun." Tio mengikuti telunjuk jari Ronggur. dia duduk berjuntai di mulut gua. tidak kedengaran. bila saat menyusukan tiba. menuju hutan belantara luas. mengagumi lukisan alam yang sempurna. dan mengitari itu semua. Sedang mulutnya akan mendendangkan lagu seorang ibu. Nanar mereka menatapi tari warna pelangi yang aneka ragam itu. Oi sebelah kanan. kenapa ada nyanyian alam terpendam pada dedaunan yang berdesir bila disentuh angin lalu. Tidak jarang dalam saat begitu. Tahulah dia. Pada hari berikutnya. kaki bukit memanjang lagi tinggi. meminta ditetekkan. dan mulut anak itu sudah mengisap-isap muncung buah dadanya. di bawahnya tanah habungkasan yang mereka temui. Bila anaknya haus. Ronggur sudah pergi berburu bersama si belang. lagu yang menyuarakan perasaan kasih sayang: Pejamlah mata sayang seorang kenapa harus kerisik seperti . tahulah dia. rasa keibuan. tinggal Tio saja yang meluaskan mulut lobang perlindungan dan memperluas ruang dalam. dia memicingkan mata menikmati kesempurnaan rasa bahagia di saat mulut anaknya mengisap muncung buah dadanya. sumber kasih sayang abadi bagi seorang anak yang lahir dari rahimnya. Beberapa ekor burung terbang di udara. Sayang sekali. cicitnya tenggelam ditelan gemuruh air terjun yang jatuh. mencapai sarang. kenapa pekikan keras lagi sakit waktu melahirkan sang anak bercampur nikmat. Tapi.

dedaunan berhalau ditiup angin lalu dunia terhampar di ujung kakimu Pejamlah mata anakku seorang menanti bapak kembali pulang dari tengah hutan belantara binatang buruan tersandung dibahu Pejamlah mata intanku sayang bila malam jatuh. Suatu perasaan merangsang dirinya. Sedang mulutnya akan cepat mengatakan. terbayang di wajahnya. Tio menjemurnya di bawah sinar matahari. Boleh jadi di pundak pegunungan gundul sana. Begitu tekun. Sesekali dijinjingnya ikan yang dipancingnya. Bila Ronggur tidak pergi berburu. Kemudian mereka panggang di atas bara sampai kering. Dia tidak dapat mengucapkan melalui bentuk kata yang cukup tepat. agar cukup kering dan tahan lama. "kita harus banyak menyediakan daging. Tapi." Mereka potong tipis daging binatang buruan itu. bulan gemintang kudekap kau pelukanku hangat Pejamlah mata buah hati bunda subuh tiba mula hari baru berjuta utasan cahaya matahari menyinari padang kembaramu Tidak jarang Ronggur pergi berburu seharian. Sedang di siang hari. payah dijumpai binatang buruan. dia telah merasakan. Tio selalu . Dia sangat giat mengumpulkan daging binatang buruan. dia tambah sering mencampak pandang ke air terjun itu dengan berlama-lama.

alangkah susahnya dia untuk mengucapkan yang sedang bergolak di dadanya. sambil mengatakan. "memang benar dugaanmu." Seketika mereka bertatapan tanpa mengucapkan kata. Lama bibirnya bergerak-gerak. "Aku tidak tahu Tio. Malah dibuatnya sesuatu rasa bersyukur." sahutnya. Membangunkan Ronggur dari kebisuannya." "Kenapa begitu?" "Perasaan itu seperti membisikkan padaku bahwa a ir terjun ini mengandung suatu manfaat. Sedang Ronggur kemudian mengalih pandang ke air terjun itu. "Ada apa Bang?" tanya Tio. Sekali waktu Tio mengganggunya dari menung menatapi air terjun itu. . Tio. "Bertambah hari. yang ditimbulkan air terjun itu. aku merasa takut digertak suaranya yang terus menerus mengguruh itu. Biji mata Tio begitu bening tapi jelas tampak tidak mengandung pengertian akan apa yang diucapkan Ronggur. Yang timbul dari air terjun ini. Ronggur menyahut. "Manfaat bagi kehidupan manusia." Lama Ronggur menumpu pandang ke mata Tio. Dan. namun seucap kata belum melepas dari bibirnya. kulihat abang bertambah tekun melihatnya." Sambil mengalih pandang pada Tio yaYig berdiri dekatnya. Kalau tidak bersama abang." "Tapi. justru karena adanya air terjun ini." "Manfaat apa?" tanya Tio terbodoh.memperhatikannya di saat begitu. "Ada sesuatu yang kurasakan. Ronggur merasakan. Perasaan itu melumpuhkan segala ketakutanku pada air terjun itu. Tak bosan. aku tidak kerasan di s ini. "kurasakan. Menjanjikan sesuatu kebahagiaan pada manusia.

" kata Ronggur selanjutnya. bila orang menggunakan tenaga yang terkandung di air terjun ini. karena dia menjanjikan sesuatu kebahagiaan bagi kehidupan manusia di masa datang. binatang air yang menakutkan dan buas itu tidak bisa datang ke Danau Toba. yang bisa . Dan. walau dia tidak dapat mengartikannya. Selalu perasaanku berkata begitu. arusnya gelisah membentuk suatu pusingan yang cepat. Akhirnya dia sendiri ingin mendengarkan yang dirasakan Ronggur. Air yang jatuh berputar pada lingkaran berbentuk kolam. Coba kalau diri diterjunkan bersama air terjun pasti lumat. maka tenaga yang disimpan air terjun ini bisa memberi arti yang bernilai bagi -kehidupan manusia. Darinya timbul anggapan selama ini. Namun dia tidak membantah seperti kebiasaannya yang tidak mau membantah cakap Ronggur. Karena tempat jatuhnya begitu tinggi dan curam. Sungai Titian Dewata jatuh ke ujung dunia. Tapi. "Kurasakan air terjun ini mempunyai suatu tenaga yang sangat besar dan kuat. darinya timbul bencana saja. “jangan lagi takut padanya. Tapi. haruslah merasa bersukur karena dia ada.membuat arus sangat deras." "Apa lagi?" tanya Tio mendesak. maka hidup manusia akan lebih berbahagia." "Itu boleh jadi. Sekarang memang yang kita lihat." sahut Tio berusaha mengerti. Jangan lagi kutuk dia. Orang kelak akan dapat menggunakannya untuk kehidupannya." Tio mencampak pandang ke tempat air terjun itu jatuh. "Di samping itu. masih ada manfaat lain dikandung air terjun ini. nanti. entah kapan. Bersukurlah. "Karena itu. bila tenaga yang terkandung di air terjun ini digunakan manusia untuk kehidupannya." Tidak dapat Tio membumbui cakap Ronggur. Hingga tak seorang pun selama ini berani menyusurinya untuk mencapai tanah habungkasan.

Di tengahnya. Tio menggendong anak mereka. lembah kampung halaman. T api. yang dilingkari lapisan bukit demi bukit melingkar dan memanjang. lalu menembusnya untuk kemudian terus lagi mendaki sampai pundak bukit ditaklukkan. . Malah dia ingin turut merasakan yang dirasakan Ronggur. mengitari Pulau Samosir. agar terlindung dari serangan angin yang cukup kuat. mencapai sesuatu celah. bertumpuk rimbunan bambu duri. Setelah beberapa hari istirahat dan tenaga mereka sudah pulih kembali. Si belang mengikut di belakang. rombongan kecil itu terus mendaki pundak demi pundak bukit yang berlapis-lapis. telah berada kembali di hadapan pandang. Di sekitar tepian danau. Ronggur selalu memilih celah bukit tempat bermalam. Lalu lembah dataran tinggi. pertanda perkampungan. bersama kebiruannya yang damai. menuruni lembah batas perbukitan yang berlapis-lapis itu untuk mendaki lagi. akhirnya lapisan bukit itu dapat ditaklukkan. Dalam sehari. danau kesayangan. Menggonggong dan menggunakan penciumannya. Dan. Tio merasa ngeri melihatnya. Mereka bertatapan untuk kembali mencampak pandang ke lembah perkampungan yang sudah sekian lama ditinggalkan. tidak mau henti sebelum matahari tenggelam. Jalanan yang harus ditempuh. mereka melanjutkan perjalanan pulang. Dengan mengenali pundak bukit mencari celah pertemuan bukit. Perjalanan mereka agak lambat. semua perasaan itu ditekannya habis-habis. tenang.menenggelamkan lalu menghancurkan sesuatu yang jatuh ke sana. tapi perasaannya belum juga merasakannya. langsung mendaki bukit. terkadang hanya sepundak atau dua pundak bukit saja yang dapat mereka taklukkan. agar dia tidak membantah yang dikatakan dan dirasakan Ronggur. Tidak mengenal lelah. Sesekali menyusur di tebingnya. Perjalanan yang memayahkan. atau terkadang berlari di depan. Sedang Ronggur memikul peralatan. T io takut dibuatnya.

Bila hasil perjalanan ini kita sampaikan pada mereka. Tapi." . mengarungi rimba alam abadi. Terlebih anak mereka. di hadapan kita." Mereka menarik napas lega. Dan. Kaulah seorang perempuan yang telah berani menemani aku menempuh satu perjalanan yang menantang keyakinan orang sekitar yang telah turun temurun menguasai alam pikiran mereka. Tangan anak itu dituntunnya menunjuk ke arah perkampungan sambil mulut Ronggur berkata. "Itulah kampung nenek moyangmu. menembus Sungai Titian Dewata. Diselimuti baik-baik sehingga tidak merasakan udara dingin. Merombak keyakinan seseorang.Ronggur mengambil anak mereka dari gendongan T io. Kita harus menaklukkan dan menguasai alam pikiran orang di kampung halaman. kau harus tabah nanti menerima segala sikap yang mengejek dan menantang. mereka telah memakai kulit binatang buruan yang halus bulunya. Pekerjaan begitu tidak akan mudah. telah kita laksanakan dengan berhasil. Akan jauh lebih payah daripada menaklukkan pundak bukit yang cukup tinggi. agar bisa bebas dari nasib jelek yang menimpa marga. menanti tugas baru. Dia membayangkan betapa bahagia keluarga marganya. Tapi. ketahuilah Tio. Karena itu. Aku berhutang budi padamu dan aku cinta padamu. satu perjalanan panjang. yang mempercayai bahwa Sungai Titian Dewata berakhir ke ujung dunia. terutama Tio. ananda. aku cinta padamu. atau membahayakan jiwa. maka sendi kepercayaan mereka berarti digoyang. Tiba-tiba saja Ronggur memecah kesunyian itu. mengecap nikmat udara kemerdekaan. setelah sekian lama harus menjadi budak orang lain. "Tio. menggantinya dengan kepercayaan baru tidaklah kerja mudah. karena udara kembali dingin. Dalam hayalnya Tio telah mengatakan pada diri sendiri bahwa dia akan membawa sisa anggota keluarga marganya ke tanah habungkasan. Kau telah mengorbankan alam pikiranmu sendiiri untuk mengikuti jejakku. Yang mungkin menyakitkan hati. Walaupun dengan susah payah.

Tangan kiri Ronggur menggendong anaknya. mati terkutuk.Lama Tio terdiam. mereka jaluran paman anakku." Sedang ibu Ronggur. Kemudian sama-sama mereka mencampak pandang ke lembah di bawah. menatap ke arah yang sama. Dia mengisak di sana. Jaluran famili yang harus kuhormati. “maukah kau membawa sisa warga margamu ke tanah habungkasan?" "Tentu. Tidak menjadi bahan percakapan lagi. sedang tangan sebelah lagi. Kenangan terhadap mereka bertambah tipis lalu menghilang bersama bertukarnya penanggalan hari. Ronggur mengelus rambutnya dengan sebelah tangan. pulang ke tempat asalnya. apalagi anakku. Dan di samping itu. ke hadapan Mula Jadi Na Bolon. dia telah menyandarkan kepala ke bahu Ronggur. karena terus menerus menanggung rindu dan tidak tahan mendengar ejekan yang diarahkan pada anaknya dan padanya sendiri. "mereka anak manusia seperti kita. Arwahnya akan disumpahi Mula jadi Na Bolon. Bertatapan dengan Ronggur. tenggelam. Kemudian dengan tidak dapat dilawannya. Perlahan Tio mengangkat kepalanya." jawab Ronggur." Orang di kampung halaman sebenarnya telah lama melupakan mereka berdua. dan timbulnya kembali purnama. lembah perkampungan. Matinya. menggendong anaknya. sudah tentu. "Ronggur. Mendambakan bahagia dalam hidupnya. tidak berapa lama setelah Ronggur dan Tio berangkat dulu." kata Tio. Orang melupakan mereka dengan ucapan yang tumbuh dari kepercayaan mereka: "Dikutuk dewata dan para arwah. tangan kanannya memeluk pinggang Tio. Oi ujung kaki duduk si belang menjulurkan lidah. . Tanpa mengatakan sesuatu. karena dia seorang ibu yang melahirkan anak durhaka.

membuat kemauan hidup melemah. Di saat mati. selalu disahutnya dengan baik. Tapi. Meneliti pundak bukit dan celah bukit yang ada di sebelah timur. dan anaknya tidak pulang juga. Dia anak yang berbahagia. Hingga dia dikebumikan tanpa upacara dan gondang. Dia masih tetap percaya." Orang lalu tertawa. Lalu. Para dewata tidak akan datang menjemput arwahnya ke tempat yang baik me lalui Sungai Titian Dewata. Orang percaya." "Bukan setan yang menggoda. "Bukankah kau yang membuat ayah si Ronggur menemui ajal. Ronggur dan Tio akan kembali membawa berita ria. Tapi. arwahnya akan tidak diterima Mula Jadi Na Bolon dengan baik. berakhirlah hidupnya. melalui pukulan gondang yang dipalu dan mengorbankan beberapa ekor babi serta ayam putih. "Sudah pulangkah Ronggur dari tanah habungkasan? Sudah ditemuinya tanah habungkasan yang dijanjikan setan itu? Kapan pulang. Ronggur anak yang memperoleh petunjuk secara langsung dari dewata. setelah beberapa kali purnama tenggelam dan terbit lagi.Pada mulutnya. bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan." "Apa kau katakan? Para dewata mengganti setan? Patutlah ramalan tenungmu tidak ada yang benar. Tapi. Pertanyaan yang sebenarnya berupa ejekan yang diajukan orang padanya. Kemudian orang itu me lanjutkan. karena kau ajak dia menyusuri Sungai T itian Dewata?" . tidak bosannya. setiap hari mencampakkan pandang ke arah matahari terbit. dia telah dilahirkan untuk menyampaikan kehendak dan pesan dewata. ibu tua itu masih mengharapkan anaknya cepat kembali. Karena para dewata tidak diberi tahu atas kematiannya. dia tidak punya apa-apa. si anak durhaka itu?" "Dia akan pulang membawa berita ria bahwa tanah habungkasan yang dijanjikan para dewata telah ditemuinya.

Malah orang sudah sependapat. baik mengenai perdamaian. Orang membiarkan menatap ke arah matahari terbit setiap pagi. yang berakhir atas kemenangan marganya. Aku meloncat dari biduk membuat keseimbangan biduk hilang." Mendengar sahutan begitu. harus pula membayar upeti pada kerajaan marga mereka. akhirnya harus membayar upeti pada kerajaan marga. "Orang gila. tekadku kurang kokoh waktu itu. lama kelamaan orang tidak mau lagi mengganggu. bila tertangkap. pergi ke kaki bukit terpencil.“Kami mengalami kegagalan yang mengakibatkan kecelakaan itu. Orang tidak memanggilnya ke pertemuan marga dan ke sidang kerajaan marga. mencakapinya. tenaganya tidak diminta orang membantu marga. Marga yang dikalahkan marganya itu. ke tanah batu yang sama sekali tidak baik dijadikan persawahan. . Orang tua itu membiarkan rambutnya panjang. yang dapat dihancurkan kerajaan marganya. Ayah Ronggur menemui ajal karena kecelakaan itu. dijadikan budak belian. dia seperti tidak ada lagi. lalu meminta damai sete lah melepaskan haknya atas apa yang diperebutkan. dan kaya. Berita yang datang dari kampung sekitar. Membuat marga mereka menjadi lebih berkuasa. Sedang yang sempat melarikan diri. Sedang kerajaan marga yang tidak sempat dihancurkan. orang menjadi ramai tertawa lalu pergi sambil berkata. Malah waktu marganya sendiri harus berperang karena memperebutkan hutan di teluk danau itu. antara satu marga dengan marga lain. Sehingga sudah sampai di pundak. Orang yang kalah. kuat. waktu itu pun. Memutih uban. Persawahan dan perkampungan tambah banyak mereka kuasai. antara satu suku dengan suku lain." Tapi. Aku akui. begitu pula mengenai peperangan yang terusmenerus meletus. Pipinya cekung. Orang tidak mengacuhkannya lagi. menjadi orang buruan. dan antara satu lunak dengan luhak lain tidak disampaikan orang padanya. Si tua gila.

Hati tiap orang tambah gemuruh. Kalau memang itu rombongan Ronggur supaya dibawa pulang. Mereka sedang menuruni kaki gunung sebelah timur. Tapi. Mereka bawa juga dua ekor lagi kuda. Apalagi bila orang menurun dari pundaknya. apa yang akan disampaikan penyelidik yang sudah dikirim kerajaan. Tapi. pagi itu sinar mata tambah bening dan bersinar. Terlebih karena dia meneriakkan. masih mengatakan bahwa itu bukan rombongan Ronggur. Dan. menyelidiki keadaan sebenarnya. sampai orang pada tercengang. Matahari bersinar terang. binatang liar lagi buas. Atau apa yang telah terjadi? Warta apa yang akan datang? Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Sebanyak tiga orang penunggang kuda bergerak. yang tidak punya beban. tempat matahari muncul. Namun setiap orang lebih menginginkan bersikap menanti. sinar matanya tetap mengandung sinar kepercayaan. Percakapan menjadi simpang siur. Apa yang akan terjadi." Orang bertemperasan ke luar rumah lalu terus pergi ke gerbang kampung sebelah timur. Setiap saat benda yang bergerak itu mendekat atau menurun ke lembah perkampungan mereka. Diputuskan untuk mengirim kurir penunggang kuda. Setiap orang melahirkan anggapan dan duga demi duga. Karena gunung itu gunung angker menurut kepercayaan mereka.Wajahnya bertambah lancip. . "Mereka telah kembali. Tidak melesu. Belum pernah seorang manusia pergi ke sana. Dijauhan ada tiga benda kecil dilihatnya bergerak-gerak di kaki bukit sebelah timur. Menatap dengan patok ke arah yang dimaksud orang tua itu. Pagi itu juga kerajaan marga mengadakan sidang. Tidak ada awan di langit. Tanpa disadarinya dia bertempik dan berlari ke tengah kampung. Ronggur telah kembali dari tanah habungkasan. Mereka juga memang melihat ketiga titik yang bergerak itu.

bersama dengan bertambah merahnya warna senja. Anak yang dikenal kecakapan. telah kembali ke tengah mereka. dan berusaha meruntuhkan kepercayaan mereka yang bisa membuat dewata marah. ketabahan. keberanian. anakmu ini telah menemukan tanah habungkasan yang sangat luas lagi landai. Ronggur. mendekat pada orang tua yang berambut panjang putih itu. Mereka memberi sembah. Tiap orang seperti terpacak di tempat masing-masing. tapi sayangnya pula anak yang telah dicoret dari silsilah marga karena digoda setan. Kuda yang dua ekor lagi sudah ada penunggangnya. Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan. Tapi. Tidak ada yang turun ke sawah. lalu terus mendekat ke orang banyak. Anak yang sudah disangka mati dikutuk dewata.Sampai sore orang semua tinggal menanti. Penyelidik penunggang kuda sudah pulang. Dengan bantuan doa Bapak. T ambah lama. Ronggur melompat dari punggung kuda. Tidak ada yang turun ke danau. Dia tidak langsung menuju ke tempat raja yang juga hadir di sana. Dataran yang landai. mereka sudah dapat melihat kepulan debu mengepul ke udara. Lalu dari mulut Ronggur keluar kata: "Bapak. seperti pagar . Setiap hati tambah bertanya. dan kekuatan serta keuletannya. si belang menjulurkan lidah. ditumbuhi pohon kelapa berjajar. Namun sangat banyak ikan. yang tidak pernah salah tafsir tenungnya. telah kembali di tengah mereka. Suasana tambah tertekan. Bila senja telah mulai memerah di langit. Sedang dipangkuan Ronggur. rombongan itu bertambah dekat. Di belakangnya Tio menggendong bayi. Tanpa kurang sesuatu. Setiap orang terdiam. mencampakkan sinar yang beraneka warna ke permukaan danau. Setelah menuntun Tio turun dari pundak kuda. Orang terus saja dapat mengenali bahwa penunggang kuda yang keempat. juga menemui sebuah danau yang tidak bertepi tapi airnya asin.

Sungai Titian Dewata pada salah satu tempat. Tanah di sana tidak akan habis. Anakku?" tanya orang tua itu ber-napsu. cobalah bapak bayangkan.tepian danau. Tanah. alangkah gembur dan subur. Sungai Titian Dewata terus mengalir. hutan belantara yang sangat hijau lagi luas. tanah habungkasan. namun tidak perlu takut kekurangan tanah.” "Di manakah itu. Bapak. tidak perlu berkelahi karena setitik air parit. Tapi. Di sana kedamaian akan tercipta. Orang yang pergi ke sana. Karena ada air terjun. memang mempunyai arus yang sangat deras. sejauh mata memandang hanya tanah yang landai yang tampak. Tanah di sana sangat baik dijadikan persawahan. Di punggungnya. Sungai Titian Dewata tidak pernah putus. tanah yang hijau tidak bertepi. air harus menuruni sebuah lembah yang sangat curam. tidak perlu takut kehabisan makanan. karena setiap orang rajin bisa membuka tanah persawahan sesuka hatinya. Tapi. apa yang kita takutkan bahwa penduduk akan sangat padat sedangkan tanah begitu sempitnya karena penemuan tanah habungkasan ini tidak jadi persoalan lagi. Orang yang pergi ke sana. Bukan tanah tipis menyaputi batu alam." "Anakku. "Di seberang ujung dunia." . jadi. membelah dada hutan belantara yang sangat lebat dan rimbun itu. Hutan menyimpan binatang buruan yang jinak. Setiap orang bisa punya anak berpuluh-puluh. itulah pula mula tanah landai. Sebenarnya bukan ujung dunia. memberi imbangan akan luasnya danau yang ada di depannya. Jadi aku tidak dapat mengatakan berapa keluarga. Lagi pula. Sampai bertemu dengan kaki langit. berapa keluarga yang dapat di tampung tanah habungkasan yang kau temui itu?" "Berapa keluarga? Ah. semua keturunan si Raja Batak dapat di tampungnya sekaligus dan bersama keturunan yang akan datang tanpa menakutkan bahwa tanah garapan akan habis. Setelah air terjun.

Sebenarnya hendak kubawa lebih banyak. suaranya terus lantang: "Ronggur. Anakku?" "Ya. lalu. dari mata Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Anakku. Menjamin keperluan mereka sebelum saat . aku memutuskan membawa tiga pundi saja sebagai bukti. kau telah melaksanakan petunjuk dewata.Sambil menitikkan air mata bening karena gembira. Tiba-tiba saja dia berkata. sehingga lahir dalam kenyataan. Tapi." "Terimalah ucapan terima kasihku padamu. Tapi. di tanah habungkasan. Bapak. kau telah mengatakan segala dusta. hanya sepundi kubawa. memancar sinar kebencian dan dendam. karena perjalanan begitu jauh. T api. yang padinya begitu bernas. sehingga lahir dalam melaksanakan petunjuk dewata. baik penduduk biasa. yang kemudian menimbulkan luka serta duka yang dalam dan lebih kejam lagi yang menimbulkan kemelaratan dan golongan tertindas." Orang banyak. pun kerajaan. Apakah buktinya bahwa kau telah menemukan tanah habungkasan seperti yang kau dustakan?" Ronggur mengeluarkan pundi yang tiga itu. bukankah begitu. Setiap orang akan memperoleh kebebasannya kembali mengerjakan tanah. lagi pula harus melalui pundak bukit dan celah bukit. akan tidak perlu berulang. kutinggalkan padi bagi keperluan orang yang mau pindah ke sana dalam taraf pertama. orang tua itu lalu mengatakan: "Anakku. Setiap orang seharusnya mengucapkan terima kasih padamu dan pada Mula Jadi Na Bolon yang telah menciptakan tanah habungkasan itu. semuanya terdiam mendengarkan percakapan itu. "Waktu aku berangkat dulu dari sini. Sekarang aku bawa tiga pundi padi yang bernas. Pertempuran yang sering terjadi antara satu marga dengan marga lain atau antara satu luhak dengan luhak lain.

panen tiba. Dan. Padi lebih cepat matang. Dalamm rapat kerajaan." "Aku tidak mempercayai cakapmu. "Tio telah menjadi isteriku. sewaktu kami tiba ke tempat jatuhnya air Titian Dewata untuk pertama kalinya. Demi menghormati kesetiaan dan ketabahannya. soal kepercayaan. bila kita mau mendengar cakap dusta ini. agar memilih bentuk hukuman yang pantas ditimpakan padamu. Kita dulu . suara Datu Bolon memegang peranan yang penting. mengutuk marga ini. anak siapa yang digendongnya itu? Anakmu? Kau mengawini atau memilih seorang budak menjadi ibu anakmu?" Datu Bolon Gelar Guru Marlasak tersenyum mengejek. Kalau tidak. Tiga pundi soal gampang. dapat dijatuhkan hukuman. kau telah mengatakan bahwa Sungai Titian Dewata tidak jatuh ke ujung dunia." 'Ke mana pergi gelang yang dipakai si Tio pertanda dia budak?. Dialah isteri paling setia. Dan. Marga yang kuat perkasa lagi kaya ini. jadi persoalan. Pada orang yang melakukannya. para dewata akan murka. betapa bernasnya padi ini. marga yang dikurnia oleh dewata. Kau telah membuat segala pekerjaan keji dan mengatakan kata yang keji. Dia telah kubebaskan. Karena persoalan. Dengan suara menghentak. Lihatlah. Bisa saja kau curi dari lumbung orang. Inilah persoalan yang sangat berat." Kerajaan yang lengkap cepat saja mengadakan sidang. perempuan yang paling setia dan tabah. “Kita akan dikutuk para dewata dan arwah nenek moyang. Dia tidak akan pernah menjadi budak lagi. Kami telah dipersatukan Mula Jadi Na Bolon secara langsung. kutuduhkan padamu dan aku meminta pertimbangan khalayak dan kerajaan. Wajah Ronggur memerah padam. Kau telah menghancurkan kepercayaan kami. Kau telah mengawini seorang budak belian yang diharamjadahkan orang merdeka. Saat panen lebih pendek di sana daripada di sini. aku jadikan dia istriku. itu semua. Dan. Tapi.

Hukum mati. tak seorang pun dibolehkan menyentuhnya. dan tak mau mendengarkan cakapnya. Tapi. menjadi daerah taklukan kita?" Segala saran yang dilancarkan Datu Bolon gelar Guru Marlasak. karena mereka telah menghina kepercayaan. telah dua kali marga kita mengalahkan marga lain dalam peperangan? Hingga marga kita menjadi marga yang berkuasa. tuntutanku: Menangkap dan menghukum si Ronggur bersama budak belian itu. Si belang mendekatkan moncongnya ke mulut anak itu. Bukankah kita sudah harus bersyukur pada para dewata dan arwah nenek moyang. karena sebaik kita mencoret nama Ronggur dari silsilah marga. mempengaruhi keputusan kerajaan. akan memutuskan. Bayi diletakkan di depan. sekarang tuntutanku tidak sampai di situ. untuk mengumpulkan mereka. langsung di atas tanah. Tapi. Turut si belang menitikkan butir air dari matanya. luhak kita. akan dipalu canang ke tiap kampung yang dikuasa i marga itu. Telah diputuskan pula. dan dihormati setiap marga? Dan. menangkap Ronggur dan Tio. Ronggur dan Tio diikat pada batang pohon mangga yang besar. kaya. mereka. lalu sama menyaksikan hukuman mati yang harus dijalani Ronggur bersama T io. agar para dewata yang telah melindungi kita. Tambah lama. kuat. Lalu . Agar pengaruh yang dibiuskan Ronggur tidak mempengaruhi orang untuk seterusnya. yang telah membuat kita menang dalam peperangan tidak memurkai kita. Apak kecil itu menangis sejadinya. Dekatnya si belang. Karena dia telah mendustai kita dan dia telah membebaskan seorang budak marga tanpa persetujuan sidang kerajaan. Mendengar tangis bayi kecil itu. bila dia kembali ke kampung halaman ini. Ini perlu. tidak saja perasaan Tio dan Ronggur serasa disayat. akan menangkap menjadikannya budak belian. besok pagi.si Ronggur. suara anak menjadi parau. Lalu mengeluarkan perintah.

mengusulkan agar Ronggur mencabut kembali semua yang telah diucapkannya. Sehingga air dari lidah si belang berpindah ke lidah anak itu. Raja Panggonggom bersama pengiringnya. . Kemudian lidah anak itu secara langsung disapu lidah si belang. Cepat saja berita yang dibawa Ronggur dan Tio menjalar ke mana-mana. Tapi. Si belang meringis kecil. Semua akan dibakar. setelah saran Ronggur ditolak kerajaan marga mereka. Bila matanya dicampakkan ke arah T io dan Ronggur. Sampai basah. Malah dikatakannya: "Aku tidak dapat membenarkan yang salah. Ronggur menolak sarat itu. dan tempat persembunyian orang buruan." Tapi. Percayalah padaku. asal dia mau. begitu pula Tio dan anaknya. Yang benar harus kukatakan benar. tak perlu hukum mati. Segala alat yang dibawa oleh Ronggur dan Tio ditumpukkan depan mereka. Terutama setelah mereka memperoleh penjelasan langsung dari bekas Datu Bolon. begitu pula sebaliknya. masih datang menemui Ronggur. Tidak berapa lama setelah senja berganti malam. Paduka Raja. Bila fajar pagi terbit hukuman mati itu akan dilangsungkan. Sampai ke kaki bukit tempat orang melarat.lidahnya dijulurkan si belang. Disapukannya ke bibir anak. Tangis anak itu mereda. tempat orang yang tidak berpunya. Mereka menegakkan kepala mendengar berita itu. Lalu lidah anak itu menjilat bibirnya. Raja Panggonggom tidak mendengarkan. Ronggur harus bersedia menjadi budak. merasa gembira dapat mendiamkan tangis anak itu. juga ketiga pundi padi itu. Hukuman bisa dientengkan. si belang memperoleh senyum terima kasih dari tuannya. Supaya bekas dari kejadian itu tidak tinggal sedikit pun.

Sehingga si belang duduk dekat kakinya dan diam. Malam sudah jauh. menyelusup ke induk kampung marga Ronggur. Membuat ketiga pengawal itu terjaga. Dari celah bambu duri. lalu membisikkan. Unggun api sudah mulai mengecil. maka tanah habungkasan itu akan kembali hilang. "Apa. Mati terbunuh. Setelah mengucapkan terima kasih.Bekas Datu Bolon itu mengatakan pada mereka bahwa yang mengetahui jalan ke tanah habungkasan itu hanyalah Ronggur. Malam itu juga. ketiga pengawal yang sedang mengantuk itu tidak berdaya lagi. Mereka gendong bayi lalu mereka melarikan diri. Dan. dijaga tiga orang pengawal. Orang yang tidak berpunya dan orang buruan telah menantikan mereka. Mereka semua akan menjadi orang yang sia-sia turun-temurun. Orang melarat dan orang buruan yang tinggal di gua kaki bukit itu akan selalu lari ke mana saja berpencar bila tentara kerajaan marga Ronggur datang menangkap mereka. Karena mencium bau orang yang datang mendekat. Mereka harus membela Ronggur dan Tio. yang harus kita perbuat?" . Tiba-tiba saja si belang menggonggong. mereka putuskan. sepuluh orang lelaki yang kuat tubuhnya. Keadaan sunyi. akhirnya memutuskan: Daripada mati dibunuh dan diburu di dada tanah batu yang gersang. Bila Ronggur mati dibunuh orang yang tidak dapat mendengarkan penemuannya. lebih baik mati menempuh jalan menuju ke tanah habungkasan. akhirnya mereka kembali tidur sambil menyepak si belang. Seseorang terus mendekat ke tempat Ronggur. "Ronggur. harus melepaskan mereka dari ancaman maut itu. Setelah mengitari kampung dan meneliti. bersama bekas Datu Bolon di kaki bukit. Lengkap dengan senjata masing-masing. Ronggur bertanya. sekali sergap saja. suruh si belang diam. Tali temali yang mengikat Ronggur dan T io." Ronggur memberi isarat. mereka dapat melihat di mana Ronggur dan Tio diikat.

" "Bapak juga harus ikut. yang dipercayai beserta laskarnya yang terkenal keberanian dan kekuatannya." kata Ronggur. Mereka sudah tahu. Mereka inilah orang yang tidak berpunya. Ronggur dan Tio bersama anaknya dan si belang sudah lari. Membangunkan setiap orang. Merekalah yang berhak menerima berkah darinya. "Bila mereka menemui Bapak. "Berita yang diturunkan para dewata padamu. dipalu gong. Bapak juga walau dengan berjingkat. . maka orang yang mau mendengarlah yang berhak menerima berkat darinya. tidak dapat menerima kebenarannya. belum pernah marga kita dihina orang begini rupa. Aku ingin melihat apa yang dibisikkan para dewata padaku. Bapak juga hendak mereka tangkap dan bunuh. dari golongan mana mereka. Menyuluh jalan jurang dan lembah dalam. Membunuh setiap orang yang memberi bantuan pada Ronggur dan Tio. Ayo. Bawalah mereka ke tanah habungkasan. harus kau sampaikan pada setiap orang. Tanpa memandang dari marga mana mereka. Bapak akan ikut. Kalau sebagian orang tidak mau merasakan arti yang dikandungnya. Sedang di induk kampung marga Ronggur. Sidang kerajaan dengan berangsangan." Bergeraklah mereka malam itu juga.Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan»berkata. bunuh setiap orang yang memberi bantuan padanya. tangkap mereka." "Ya. yang mau mendengarkan berita penemuanmu. orang buruan ini karena kalah perang. Dan. Memegang obor. Sehingga mereka dapat kembali mengecap alam kebebasan. karena aku sudah sering melihatnya dalam mimpiku. mengejar dan menangkap Ronggur dan T io kembali. Raja Nabegu memerintahkan Hulubalang yang terkemuka. otot mereka yang kencang itu dapat kembali digunakan mengolah tanah. ingin melihat tanah habungkasan dalam kenyataan.

agar orang menghidupkan api. Di sana disembayangkan. cepat mengusung bangkai laskar marga yang telah mati ke Sopo Bolon. Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. rombongan yang memburu telah tampak di kaki bukit yang mereka taklukkan. mengepulkan asap. Tempik dan sorak. Malah bermalam. yang kelak menggantikan sebagai Raja Panggonggom bila dia wafat.Sedang Raja Panggonggom. untuk dihadiahkan pada sidang kerajaan. Ronggur menyuruh. bergeraklah orang yang bertugas memburu rombongan Ronggur. Kepada ketiga anak raja itu. Raja Panggonggom memesankan dan mengingatkan bahwa Ronggur punya cukup akal yang licik. Dia harus diimbangi dengan kelicikan pula. Menandakan pada yang memburu bahwa mereka ada di sana. dialamatkan pada rombongan Ronggur. kemarahan dan hasutan. Rombongannya merasa aneh juga terhadap tindakan begitu. turut serta dalam rombongan yang harus menangkap Ronggur dan Tio serta membunuh setiap orang yang memberi bantuan padanya. Yang diharapkan dipunyai oleh anaknya. anak lelaki Raja Nabegu dan Raja Ni Huta. Malah dimintanya. agar arwah laskar yang wafat itu mengutuk perbuatan Ronggur dan Tio. memerintahkan anak lelakinya yang sulung. jalan mana mereka tempuh. Orang yang memburu juga terus bergerak. Pada pagi berikutnya. Pundak bukit pertama telah ditaklukkan. Rombongan terus bergerak. Untuk sama-sama dibunuh oleh tiap warga marga. Malah . agar mencelakakan Ronggur dan Tio bersama rombongannya. Matahari semakin tinggi. Mereka harus membunuh setiap anggota rombongan Ronggur dan menawan Ronggur hidup-hidup. Supaya orang yang memburu dapat mengikuti jejak dan jalan mereka tempuh. Di kala fajar pagi pertama menyingsing. Maunya mereka menghilangkan jejak. Ini tidak. Di sana mereka istirahat. tetap menyuruh agar mengadakan tanda. Sedang Ronggur.

Kedua rombongan dapat bertatapan. Bila rombongan yang memburu sudah berada di pundak bukit pertama. Bermula terus jurang. Begitu terus menerus. Terkadang antara kedua rombongan terjadi saling panggil-memanggil. Bila fajar kembali terbit.memberitahukan pada musuh di mana mereka berada. Ronggur tetap mengusahakan. karena Ronggur sungguh-sungguh menyuruh. hingga musuhnya dapat menjatuhkan batu untuk membunuh mereka. Dendam kesumat pada rombongan yang memburu tambah menghebat. Tapi. Begitu pula rombongan yang memburu. Takut jatuh ke jurang dalam. Tapi. agar rombongannya tidak berada di dasar lembah. Tanpa menjatuhkan batu untuk menghancurkan yang memburu itu. Harus memenggok ke kiri. Tidak ada yang berani melanjutkan perjalanan di malam hari. karena merasa diperma inkan. Kemudian malam. Sedang Ronggur hanya tersenyum saja. mereka laksanakan juga dengan sebaik mungkin. Senja memerah. bila musuhnya berada di pundak bukit. Pada hari ketujuh. Bila rombongan yang memburu mulai mendaki bukit. dapat dilihat. Setiba di balik bukit terus jurang dalam. Juga diusahakan. Rombongan Ronggur istirahat. Dari baliknya. yang merupakan pintu ke tanah habungkasan. di bawah melalui pundak bukit yang menurun tanah habungkasan. agar kedua rombongan selalu dipisah lembah. rombongan Ronggur telah melewati celah pertemuan bukit. rombongan Ronggur sudah kembali mendaki ke pundak bukit kedua. Lapangan datar hanya beberapa depa saja. rombongan yang diburu dan memburu kembali bergerak. Rombongan Ronggur menghidupkan api unggun. Begitu terus-menerus. tapi dipisah lembah yang dalam. Begitu pula rombongan yang memburu. Matahari kembali melemah. Sambil hasut menghasut. beberapa jauh harus melalui di satu jalan . mereka pun mulai bergerak.

Juga dari sana dapat ditatap air terjun yang memutih. mula jalan menurun yang baik menuju tanah habungkasan. disuruhnya pergi ke mulut celah bukit. Setiap anggota rombongan Ronggur kagum menatap tanah datar yang luas dan hijau di bawah mereka. Setiap orang. "Letakkan senjatamu. Mendaki sedikit ke atas. Di depanmu jurang dalam. Menantikan rombongan yang memburu." Rombongan yang memburu mengutuk pada diri sendiri. Tapi. Semua orang mengerjakan perintah Ronggur. sebuah tombak balasan melayang ke bawah mengenai . Tiap orang disuruhnya menyiapkan senjata yang ada di tangan masing-masing. disuruh Ronggur membuangnya dan menyampakkannya jauhjauh. anak Raja Ni Huta. Ronggur menyuruh tiap orang berondok ke sisi bukit. Sedang dua tiga orang. mereka telah ada di bawah rombongan Ronggur. Ronggur cepat berondok ke balik batu alam. Dengan lantang. mengambil kesempatan. Melewati celah bukit. setiap orang yang memakai gelang pertanda budak. Dan. pada satu tempat yang tidak menguntungkan. Kemudian orang yang tidak bersenjata. Setiap orang ternganga melihat putihnya air terjun yang menerobos bukit sebelah timur. disuruhnya memilih batu alam. Dan. Rombongan yang memburu terus saja mengejar dengan semangat meluap. menyerah atau mati. yang diapit oleh bukit dan dinantikan mulut jurang menganga. Lalu setiap orang mengucapkan rasa terima kasihnya. Cepat berpaling dan melayangkan tombaknya ke arah Ronggur. Memberi tanda pada mereka. Ronggur berteriak. agar rombongan yang memburu itu mendatangi celah bukit. Boleh pilih.sempit. Ke jurang dalam. Dan. yang bisa digulingkan. Kalau tidak kamu sekalian akan kami bunuh. Baru tiba kembali ke jalan yang agak luas. di saat begitu. Lengkap senjata terhunus di tangan. Mereka terjebak sudah. Dengan terpaksa harus membuang senjata yang ada di tangannya. baik perempuan.

menyerah atau mati. membelah kehijauan hutan belantara itu. Tapi. Justru karena warta itu bertentangan dengan kepercayaan yang kau anut selama ini. kelanjutan Sungai Titian Dewata. berpaling ke arah Ronggur. seperti yang kuceritakan padamu. Setelah menundukkan kepala tanda memberi hormat. Dengarlah dengan kupingmu sendiri. warta dari mula kehidupan. Lalu kedengaran suaranya meninggi: "Kau para lelaki yang kuat. dengan terpaksa mencampakkan semua senjatanya ke mulut jurang. Sekarang mereka dengan mata kepala sendiri. Pergunakanlah mata kepalamu. yang tidak punya kekuatan untuk menerima sesuatu warta kebenaran. di depanmu jauh di bawah sana. benda memutih dikejauhan yang terus menerobos ke timur. di saat mereka terjebak pula. Kalian semua berada di tempat yang tidak menguntungkan. Harus tunduk pada Ronggur. kalau kau sekarang mau membunuh kami. "Pilih antara dua. Dan. Mereka disuruh Ronggur menghadap ke arah jurang. di sebelah kananmu itulah air terjun yang kukatakan. telah menyaksikan kebenaran cerita Ronggur." Anggota rombongan yang memburu itu. tapi banyak ikannya. Sekali lagi Ronggur berteriak. Hulubalang yang memimpin rombongan itu.anak Raja Ni Huta. Dan. yang lalu jatuh ke mulut jurang dengan pekikan meninggi. itu . luasnya tanah hijau yang landai. Mulut mereka ternganga. derum air terjun yang jatuh. merambah jalan ke danau yang maha luas. Apakah kalian masih belum percaya?” Orang yang memburu pada terdiam dan tercengang. apakah Sungai Titian Dewata berakhir ke ujung dunia? Dan. kau telah bisa melakukannya tanpa sesuatu halangan." “Lihatlah. yang airnya asin. Lihatlah sekarang dengan mala kepalamu sendiri. dia mengatakan: "Ronggur.

dan bau kesuburan yang mengambang darinya telah kuhirup." katanya. Dalam keadaan begitulah Ronggur memanggil orang tua. Sesuatu perasaan yang bertentangan tumbuh dalam dada." Ronggur membiarkan Hulubalang itu terus berkata. dan kami tidak punya kelapangan hati mendengar warta kebenaran darimu. Hijaunya telah kutatap. Lama Ronggur menatap tawanannya yang hendak menangkap pada mulanya. Yang melanjut dengan.memang hakmu. Tapi matiku telah merasa senang." Seketika keadaan hening. Justru karena aku telah melihat kebenaran ceritamu. Tanah habungkasanmu. sebagian ingin menuntut balas. bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan ke dekatnya. Dengan sendirinya pula mewartakan kepada kelompok marga lain. bagi Bapak. Bapak?" . Ronggur. Tanah luas masih tersedia untuk mereka walaupun aku mati. Yang sebenarnya juga anggota keluarganya. Kau telah gagal mewartakan berita penemuanmu secara langsung. "Nasib mereka berada di tanganmu. tapi sebagian lagi memberi pertimbangan lain. Tapi. Ujung dunia yang kami sangka selama ini. marga yang masih merdeka. "Bapak. Akulah yang pertama harus kau bunuh. ada sesuatu hal yang menguntungkan dalam saat ini. Tapi. Aku pemimpin rombongan yang mengejarmu ini. Kami telah mengikuti ajaran yang salah. Kau bisa menentukan." "Bagaimana caranya. Baru mulutnya mengatakan. "Kami telah me lihat air terjun yang kau ceritakan. Untuk itu kami sewajarnya menerima hukuman. apakah mereka masih berhak hidup atau mati. sekarang kau memperoleh jalan lain untuk mewartakannya kepada orang lain di kampung halaman. mula tanah datar yang maha luas. "apa yang harus kuperbuat sekarang?" Lama orang tua itu terdiam. Aku akan tidak menyangsikan hidup anakku lagi.

" sahut orang tua itu cepat. harus dikembalikan. Juga segala harta milik Bapak yang disita dulu. aku harus menuntut pula bahwa semua keturunan marga Tio."Tawanlah anak Raja Panggonggom. Tidak memandang apakah dia seorang budak. Semua orang berhak memperoleh tanah. Kemudian suruh pulang Hulubalang itu dengan pengiring kecil. Lalu disambutnya. "Dan." kata Ronggur pula. Sedang . akan sama dengan nasib Raja Ni Huta. kesatuan marga Tio sudah menjadi moraku. Tidak boleh dihalangi. namun bona nipasogit. Itu sangat penting. Bapak tahu aku telah mengambil T io menjadi istriku. maka nasib anak Raja Panggonggom dan anak Raja Nabegu." "Ya. Semua orang berhak." "Lalu. Bila mereka tidak juga mempercayainya." "Karena itu. Bapak tahu. kebenaran penemuanmu. Mora yang harus kuhormati. sejauh kita merantau. Dan. harus dijaga dan dipelihara. raja atau apa saja. itu sangat baik. harus dibebaskan dari perbudakan." Tersenyum Ronggur memperoleh saran itu. memang begitu menurut adat kita. Semua marga berhak. "aku harus menuntut pada kerajaan marga. Dan akan kutambahkan bahwa tidak marga kita saja yang berhak datang ke tanah habungkasan. Siapa saja di antara mereka yang punya hasrat pindah ke tanah habungkasan harus dibolehkan. Karena bagaimanapun seperti adat kita. Sesuatu harta pusaka turun-temurun yang mulanya dirambah nenek moyang." "Ya. tidak boleh dilupakan." Orang tua itu menundukkan kepala mengiakan. Tugaskan padanya agar dia mewartakan pada kerajaan marga atas kebenaran ceritamu. "Di samping itu. seluas dan selebar yang sanggup dia kerjakan. yang dulu disita kerajaan dariku. anak Raja Nabegu. "Saran yang baik. agar mengembalikan tanah persawahanku.

Jalan tempuhan. ditambah pasukan kerajaan marga yang sudah insaf menuju ke timur. tidak hanya yang dirintis Ronggur saja yang mereka kenal.orang yang tidak bisa pindah karena sudah tua atau karena alasan lain." Hulubalang itu menyanggupi akan menyampaikan pesan. Baik melalui sungai atau jalan darat. boleh kelak menempuh jalan yang mereka tandai. tambah lama. Selalu mereka mengadakan upacara di pangkal sungai. Yang ditambahnya pula: "Dalam jangka dua purnama. Tapi. Daerah lain tambah banyak ditemui. Kemudian rombongan lain bertambah banyak menuju tanah habungkasan. Mewartakan. telah terbuka tembusan jalan baru." Lima orang dari anggota yang memburu itu. Yang lima orang itu pun telah bersedia menjadi saksi atas kebenaran penemuan Ronggur. nama tempat itu mereka sebut Porsea. "Karena aku sendiri telah melihat kebenaran ceritamu. kebenaran penemuanmu. Mengiakan. Sedang rombongan Ronggur. Berilah kesempatan padaku. mempertebal keyakinan bahwa mereka akan dituntun para dewata dan arwah nenek moyang ke tanah habungkasan. ditunjuk Ronggur mengiringi Hulubalang menuju kampung halaman. Itulah sarat yang harus disampaikan Hulubalang pada kerajaan marga. apakah saran itu diterima atau tidak. Sejak itu. Malah dengan sadar dia menambahkan. Bila mereka sudah sampai di tempat yang mereka namakan . tanpa sarat itu pun. harus dibebaskan dari perbudakan." Orang tua itu tersenyum. aku akan bekerja keras menginsafkan orang. untuk berbakti. ke tanah habungkasan. Segala hasil pembicaraan disampaikan Ronggur dengan suara lantang pada Hulubalang. Utusan kerajaan marga. utusan kerajaan sudah harus ada yang datang menemui mereka ke tanah habungkasan.

tembus pula ke Rura Silindung. bila mereka kembali mendaki pegunungan utara. Dan. Bila mereka dari Parhitean menuju ke utara. lalu mereka namakan itu Tiga Dolok. airnya asin. di mana rombongan Ronggur membuka perkampungan. Mereka tiba ke Pangkat. satu lagi menuju Dairi-Pakpak. telah menaklukkan pegunungan Pangaribuan. menurun ke pesisir Barus. bisa turun kembali ke Pulau Samosir. Bila terus menyusur bukit sebelah barat. yaitu Rao-Rao. pundak bukit di lingkungan Danau Parapat. mereka menemui pula sebuah danau yang luas. kembali tiba ke lingkungan Danau Parapat. berarti turun ke daerah Mandailing Raja. Dari sana. bila mereka terus menurun. Dari sana dapat mereka tatap pundak bukit yang tiga. Menembus terus ke daerah AngkolaSipirok-Pahae dan tembus ke Silindung. Dari pesisir Sibolga. Dari sana terus menembus ke daerah Simalungun. Tarutung. berteluk indah. Bila mereka meneruskan perjalanan. Terus ke selatan. bila mereka memenggok ke selatan. Di sini mereka bertemu dengan rombongan yang sejak Parsoburon terus mengarah Barat. Dari T iga Dolok. akan menaklukkan pegunungan sebelah barat. Sedang bila kembali ke arah utara dari Rao-Rao.Parhitean. mereka terus pergi ke arah timur. bila menuju ke arah barat. Tarutung. Sedang rombongan yang berangkat dari Pangoruran Samosir. Dari Parhitean. pundak pegunungan Toba telah dapat mereka tatap . Dari Mandailing. jadi bila mereka menuju ke sana. sampai ke daerah perbatasan Sumatera Barat. terus menurun dari sana ke pesisir Barus. Satu menuju Tanah Karo. tiba ke dataran tinggi Bonjol. dapat mereka kenal pundak bukit yang ada di bagian pundak mereka. akan tiba ke tanah habungkasan yang ditemui Ronggur. Lalu bisa kembali ke Toba. pesisir Sibolga. mereka akan tiba ke Parsoburan. mereka akan tiba ke Daerah T angga. Dari Dairi. bisa mereka buka dua persimpangan.

dataran lain. dan punya binatang buruan yang jinak lagi banyak. Dari Angkola. telah dialihkan semangatnya untuk menaklukkan pundak demi pundak bukit.dan kenal kembali. berhutan subur. yaitu dari Tor Simago-mago. Menerobos celah pertemuan bukit memanjang. daerah Asahan-Labuhan Batu. sampai bersedia mengorbankan pertarungan demi peperangan. untuk menemui dataran luas. Airnya asin mengandung garam. akan tiba ke daerah dataran yang luas. Terus ke selatan. bila menembus ke selatan teru s. yang menyimpan ikan banyak. Padang Lawas. Semuanya untuk kelanjutan kehidupan dan mengembangkannya. merambah jalan di bawah naungan dedaunan belantara yang menghijau lebat. mereka bisa bertemu dengan orang yang berangkat menuju tanah habungkasan yang ditemui Ranggur. Untuk menemui danau yang maha luas. yang tidak sedikit mengorbankan nyawa. Kemauan mempertahankan dan melanjutkan kehidupan. ccdw-kzaa Daftar Istilah Ambalang= tali pelempar batu Ama Ni Bolpung= ayah si Bolpung Ampangngardang= juru perdamaian Ampataga= obat (luka) nama sejenis tumbuhan biasa dipakai untuk Berandak= bersembunyi/berlindung Bernas= berisi/berarti Bolatan= destar .

.. Pisau Gajah Lompak= pedang sakti Pohon Hariara= pohon beringin Purada= jumbai-jumbai warna keemasan pada ulos Raja Ni Huta= kepala kampung Sampuran Harimau= air terjun si harimau .. tidak terbaca sobek..Bona Ni Pasolgit= kata ganti untuk kampung halaman Buhul = ikatan Bungkas= pindah Burung Ambaroba= burung pemakan padi. berdada kuning Curup= cerutu Dibuhul= diikat Dolok= gunung Gelagah= rumput yg panjang Habungkasan= tanah baru Luhak= daerah Mora= keluarga pihak isteri Mula Jadi Na Bolon= T uhang Yg Maha Esa Parhelaan= pesta adat (hela= menantu pria Parhitaan= jembatan/perantara Pargaul=luwes Pargounci= grup yg memainkan gondang Patentengan= sombong ..

ccdw-kzaa . antara lain daun pepaya serta gula merah dan lainlain.Sopo Bolon= rumah besar (rumah adat) Sanduduk = rumput putri malu Temterasan= lari kucar kacir Terhempang= terhampar Terpacak= tertanam/terpaku Tuhil= pahat Tongkat Panaluan= tongkat kepala adat (marga) Ura= makanan khas Batak. terdiri dari bermacam daun mentah.