P. 1
PENAKLUK UJUNG DUNIA

PENAKLUK UJUNG DUNIA

5.0

|Views: 8,893|Likes:
Dipublikasikan oleh Rosdiana Rosdiana

More info:

Published by: Rosdiana Rosdiana on Jan 30, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/05/2014

pdf

text

original

Penakluk Ujung Dunia

Karya Bokor Hutasuhut Djvu, convert & Ebook : Dewi KZ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/ http://kangzusi.info/ http://cerita_silat.cc/

Penakluk Ujung Dunia Ayahanda Bokor menjadi mubaliq Islam di Tanah Batak. Karena itu, dia suka ikut menyusup hutan belantara, mendaki bukit dan lembah Bukit Barisan. Menyusup melewati Pintu Pohan, Parhitean, naik ke Tangga dan tembus ke Simalungun. Juga kembali melalui Dairi ke Tanah Samosir.

Dalam perjalanan, sering ngobrol sepanjang malam dengan para tetua, wakil masa silam, masih primitif, sederhana, tapi simpatik. Dengan para tetua itu. Bokor setempat tidur dan para tetua terus bercerita Di hutan, lembah, dan ngarai sudah biasa saja. Bertemu harimau dan binatang buas lain tak soal lagi. Dan, suatu kali, di suatu hutan, di atas dedahanan rimbun terdapat sarang tawon ruang pun memanjat poitu berusaha mengisap madu itu. Tapi, seseorang lantas ikut naik, memanjat pohon yang sama yang setelah bibir berdecap mengucap jampi, beruang itu menyisih . Dan, "Penakluk Ujung Dunia" berkisah pada sulitnya memperoleh lahan. Perang warga sering berkecamuk. Lantas Ronggur mencoba menerobos Sungai Titian Dewata untuk mencari daerah baru. Kepergiannya dikutuk karena melawan tradisi. Dan, setelah dia kembali dan berhasil menemukan daerah baru, justru dia akan dihukum gantung karena Ronggur tetap saja sudah melawan tradisi kepercayaan yang sudah hidup turun temurun. Sungguh menawan dan indah .... PENAKLUK UJUNG DUNIA Oleh: Bokor Hutasuhut Hak Pengarang dilindungi undangundang Desain Kulit: Sriwidodo Cetakan Pertama 1964 PT Pembangunan-Jakarta Cetakan Kedua 1988 Penerbit: PT Pustaka Karya Grafika Utama Jakarta

Sekilas Pengarang: BOKOR HUTASUHUT, lahir di Balige, Tanah Batak, Sumatra Utara 2 Juni 1934. Dalam catatan masuk HIS, hari lahir itu berubah menjadi 2 Juni 1933. Menurut ayahnya, H.A.M. Mangaraja Gende Hutasuhut, perubahan itu perlu jika ingin sekolah. Dalam catatan itu juga tercatat nama benar Buchari Hutasuhut agar kelak menjadi pengarang tafsir Quran. Sejak 1953 sudah menulis cerita pendek ke berbagai majalah sastera dan media budaya. Selain buku ini, juga sudah terbit buku "Tanah Kesayangan" dan "Datang Malam". Kini berdomisili di Medan.

Ia sangat sadar bahwa ia sedang menyelami dan melukiskan kehidupan masyarakat Batak yang unik tradisional kepada pembaca sastra modern pada umumnya. Sehingga hasilnya bukanlah sekedar laporan anthropolis akademis. Formalitasnya. tetapi suatu karya sastra segar dengan latar belakang pengaruh tradisi kebudayaan Batak. Rendra . Ia telah selesai melakukan wawancara dengan tradisinya dan dengan dinamika modern dari Indonesia Raya. Sedangkan kebebasannya. Marilah kita sekarang menikmatinya. Begitulah ia muncul sebagai sastrawan dengan gaya yang unik di antara sastraivan modern yang lain di Indonesia. Ketelitiannya di dalam melukiskan detail-detail ia gabungkan dengan rasa harmoni seni dalam bercerita mengenai watak manusia. lalu duduk dan menulis novel ini. plot. Ia bukan photo copy kebudayaan Batak. Alangkah hidup detail-detail dari lukisannya. kebebasan penghayatan kebudayaan modem dari tradisi sastra modern. tetapi orang Batak tulen yang menjadi sastrawan Indonesia. Satu pertanda bahwa ia mengerti betul-betul apa yang ia tuliskan. formalitas tutur kata bahasa lisan menurut tradisi Batak. segi memandang persoalan sebagai sastrawan modern.Kata Pengantar Bokor Hutasuhut punya gaya bercerita yang merupakan gabungan sifat formal dan bebas.

wajah yang menampung sinar matahari penuh. serta dihiasi rambut manusia. Para lelaki tambah banyak berkumpul. Wajah para lelaki yang bermunculan di mulut pintu. Dari jauh kedengaran suara ratap para perempuan. Lebih dulu meliukkan pucuk bambu duri yang ditanam orang sekitar kampung. Tapi. memancarkan rasa marah dan mendendam. tempat penghuni kampung selalu berkumpul di saat yang perlu. Mengikuti lingkaran rumah dan di tengah dikosongkan.1 Satu-satu para lelaki keluar rumah. Di pinggang. terselip . Dan. memenuhi panggilan suara gong yang dipalu sesekali dekat unggun api yang ada di halaman perkampungan. Para lelaki itu membentuk lingkaran seputar unggun api. yang hulunya berukirkan wajah dan kepala manusia. Tapi. Nyalanya meliuk ditiup angin. Tangan kanan memegang tungkotpanaluan. kepalanya dibeliti bolat-an berwarna tiga jalin-menjalin: merah. tidak ada yang berkerisik. Wajah para lelaki tambah jelas kelihatan. sewaktu enam orang lagi lelaki datang mendekat. Bambu duri itu. Senja baru saja berlalu. Di langit bintang gemerlapan. Tapi. Wajah yang cukup matang dan keras. ditanam melingkar. langsung menjadi pagar kampung. Gong masih dipalu sesekali. Salah seorang di antaranya menyandang ulos-batak ragihidup. Hingga cahaya unggun api yang samar. memecahkan tanah batu untuk dijadikan persawahan. Halaman kampung menjadi luas. tidak ada bulan. Angin pegunungan berhembus. putih. yang dimasak kerasnya hidup sehari-hari. dan hitam. setelah cukup dekat unggun api. tampaknya saling diam. Sengaja dikosongkan. satu sama lain. belum seorang pun mengambil tempat. Di saat Kerajaan Marga yang mendiami kampung itu mengadakan musyawarah. cukup punya arti. di sebelah hulu. Kemudian kelompok manusia itu menjadi tambah hening.

tergenggam sebilah pisau yang ujungnya berlumur darah merah. lebih dahulu dia menancapkan tungkotpanaluan ke tanah. Sebelum duduk. pemegang pimpinan para panglima dan para hulubalang perkasa. memakai bolatan warna putih. dan Datu Bolon Gelar Guru Mafla-sak. Pertanda dia Raja Panggonggom. pengerah tenaga rakyat. Di sebelah kiri Raja Panggonggom. yang masih semarga dengan mereka. Di tangan kiri Raja Panggonggom. dan langsung memimpin para Raja Ni Huta dari kampung lain. Semua mata diarahkan padanya berusaha mengikuti gerak-geriknya. pertanda mereka pemegang perbekalan marga. siap mendengar yang hendak diucapkannya. tapi raginya berbeda dengan yang dipakai oleh Raja Panggonggom. di marga yang mendiami kampung itu. Raja Namora.pisau gajah-dompak. Juga dia menyandang ulos-batak. Tempat mereka lebih tinggi dari yang lain. yang memegang kekuasaan adat dan hukum tertinggi di perkampungan itu. pertanda dia Raja Ni Huta. yang sejak tadi dikosongkan. Setelah mengangkat tangan kanan. Sedang Datu Bolon Gelar Guru Marlasak menyandang kulit monyet yang sudah kering. warnanya hanya merah dan putih berjalinan. dia mengaju tanya. Sedang di tangannya. berjalan seseorang yang memakai bolatan warna merah saja. Raja Ni Huta yang memakai bolatan ini. "Apakah sudah semua lelaki hadir di sini?" . tapi raginya berbeda dengan ragi yang disandang fyaja Panggonggom dan Raja Ni Huta. tergenggam tombak yang hulunya berukirkan kepala manusia. mengiring pula Raja Partahi. pertanda dia Raja Nabegu. Yang berjalan di sebelah kanannya. Di belakang mereka bertiga. Kuping sudah. memakai bolatan juga. sedang mulutnya terus-terusan menguyah sirih dan meludah. Dia juga menyandang ulos-batak. Tapi. Raja Partahi dan Raja Namora. Mereka mengambil tempat di sebelah hulu.

Terus pergi melaksanakan perintah. pusaka nenek moyang turun-temurun dielusnya seketika. hati yang berduka. Matanya merah nyala. pertanda dia panglima marga atau hulubalang marga.Setiap suku kata ditekankan kuat-kuat." sahut seseorang. Sedang dari kejauhan. Dia berlari dengan langkah yang panjang dan cepat. Kembali Raja Panggonggom duduk. "Ayoh. Ratap inilah yang. "Sudah semua. "Belum. Suaranya yang beruntum keluar dengan cepat. yang juga memakai bolatan warna hitam. kepalanya memakai bolatan warna hitan. tapi tidak berhiaskan rambut. tetap kedengaran sesayup sampai ratap perempuan. "Apakah sudah berkumpul semua pemuda di sini?" tanyanya pula melanjut. "Siapa yang belum hadir?" tanya raja. Raja Panggonggom lalu mengatakan. pewarta bahwa dia sedang marah. Tubuhnya yang sudah tua itu masih membayangkan bekas bentuk tubuh yang tegap di masa muda. membuat wajah para lelaki itu bermuraman. yang meratap kan kepiluan hati. disaputi kulit hitam ." sahut seseorang. Pertanda dia. yang langsung berdiri dari duduknya." "Si Ronggur belum hadir? Ke mana dia pergi?" Tidak ada yang menyahut. hulubalang muda. Apakah harus aku yang pergi memanggilnya?" Hulubalang Muda cepat berdiri. tangannya menggenggam tombak berukirkan kepala manusia. muram mengandung marah yang menuntut dibalaskan. dan menggenggam sebuah tombak. Tongkat panaluan. "Si Ronggur. pergilah salah seorang dari kamu memanggilnya. tapi bolatannya lebih kecil dari orang pertama. Cepat saja diketahui bahwa tidak seorang pun perempuan hadir di antara para lelaki yang mengitari unggun api itu.

namun garis di wajahnya. yang tubuhnya setiap hari masih terus membentuk sebuah tubuh yang wajar. menjadi merah padam. Di hadapannya. Wajahnya yang berkerut-kerut. kenapa Ronggur tidak bisa hadir sebelum golongan raja hadir di sana." jawab pemuda itu. "Apakah kau tidak mendengar gong dipalu? Apakah kau tidak mengetahui. bernadakan kepercayaan akan diri sendiri. Dari jauh kelihatan dua orang pemuda mendekat. Para lelaki yang duduk di sampingnya. sesuatu pertanda ketangkasan. Tapi. ototnya.yang cukup matang. "Kenapa kau tidak terus mematuhi panggilan? Kenapa kau melalaikannya? Apakah tubuhmu itu tidak dialiri darah merah yang diwariskan Almarhum ayahmu lagi?" . punya otot tubuh yang tegap dan masih berada di puncak kekuatan. Sambil duduk. Sedang para pemuda. juga sudah agak tua. apa arti gong yang dipalu dengan pukulan satu-satu? Apakah kau harus diajar untuk mendengar dan mengartikannya lagi? Bukankah kau sudah diajari Raja Nabegu?" tanya Raja Panggonggom cepat. Walau ada di antara mereka yang agak kecil. segumpal daging yang dapat dipercaya kesehatan dan kekuatan yang terkandung di dalamnya. Raja Panggonggom menggerutu. seperti merasakan sesuatu kesalahan. para lelaki yang masih muda. kulitnya yang hitam. "Kita harus menunggu anak itu lagi. keningnya yang lebar." Tidak seorang pun yang berani menambahi cakapnya. dan sinar matanya masih tetap bercahaya. ma-nyambut kehadiran mereka. Paduka Raja. dan dari wajahnya memancar kebeningan tapi bercampur-baur dengan kematangan. yang duduk sejajar dengannya. wajah Raja Nabegu. "Aku dapat mendengar dan mengartikannya.

aku sedang memikirkan. "Semua lelaki yang ada di hadapanku. Dan apa yang harus kuucapkan dalam pertemuan ini." "Kalau begitu. bila saat musyawarah diadakan." "Nah. Paduka Raja. kenapa kau terlambat datang? Atau. lalu. bagaimana aku harus melaksanakan perintah yang akan ditugaskan padaku. merahnya. ." "Paduka Raja. Supaya para arwah nenek moyang dan dewata tidak marah. Tubuh mereka berkeringat olehnya. nama baik rajamu. dan marga kita. dalam tubuhku mengalir darah yang diwariskan ayahanda almarhum." "Tahukah kau bahwa ayahmu tidak pernah mengabaikan panggilan gong pusaka ini? Terlebih bila gong dipalu satusatu? Ataukah dengan sengaja kau melambatkan kedatanganmu karena kau bukan seorang lelaki? Jawab pertanyaanku dengan jujur. yang pada tiap tubuhmu mengalir darah merah warisan nenek moyang. Otot yang tegap itu menjadi mengencang. barulah pula kau wajar dihormati sebagai seorang lelaki."Masih. margamu. Mata tiap orang menjadi merah dan gusar. kau memang sengaja mengabaikan panggilannya?" "Aku tidak mengabaikannya. Paduka Raja. Barulah kau dapat dikatakan seorang lelaki yang menghormati nama baik nenek moyangmu. nama baik kampung. api semangat yang tidak boleh dipadamkan. Tapi. Menatap wajah demi wajah dengan pandang tajam. Pada tiap wajah makin jelas kelihatan pancaran sesuatu cahaya yang tidak mau dipadamkan." Raja Panggonggom menebarkan pandang ke sekitar." Orang terdiam mendengarkan. malah langsung membakar semangatku. dibakar perasaan dalam hati. kalau begitu dengar dulu kataku. Dan. Kupingku mendengarkan suara gong pusaka.

bila kita tidak menuntut balas. kemudian pada kelompok para lelaki. sehingga dia meninggal. apa yang harus kami perbuat. Tapi. kita tidak berhak lagi disebut dan dihormati sebagai lelaki." suaranya tegas dan pasti. ke dada salah seorang dari antara kamu. Dan. lebih berat mendatang dari penghinaan yang dengan sengaja diarahkan marga lain yang membunuh Ama ni Boltung itu. dengan darah merah yang memancarkan cahaya semangat yang tak akan padam pada tiap wajah kita. Yang menekan hati. hendak kau katakan?" tanya Raja "Ya. perpisahan yang timbul karena perbuatan orang lain. tidak saja kepiluan mendatangi diri. Mayatnya sekarang terlentang kaku di Sopo Bolon." lanjut Raja Panggonggom. Sekitar mayatnya duduk melingkar para perempuan. bila penghinaan yang sangat nista ini kita terima begitu saja. dari antara kita. "Bicaralah____" . orang dari marga lain. Lalu tertumpu akhirnya ke tempat para raja." Suara mendengung pada kelompok yang ada di depan raja." Ronggur berdiri. "Ada yang Panggonggom. Kuat meledak. Kita terkutuk. Kalau paduka raja mengijinkan aku berbicara."Pada tangan sebelah kiriku. Supaya orang lain tidak berani mengulanginya terhadap marga kita!" "Ya. yang tadi pagi sengaja ditusukkan orang. Meratap berkepanjangan. Sebuah penghinaan harus segera dilenyapkan. ratap yang menangiskan sebuah perpisahan. Matanya dilayangkan pada kelompok pemuda. Berakhir dengan meledaknya ucapan. Para perempuan itu berduka. sesuatu yang mengharapkan penuntutan balas. "Perintahkan dengan cepat. Penghinaan yang harus ditantang dengan sikap jantan. Ketahuilah. ratap para perempuan itu. memang untuk itu kita berkumpul malam ini. bagi kita para lelaki. "tergenggam sebilah pisau. Tentu kamu turut mendengar ratap mereka.

karena semakin sempitnya tanah yang dapat kita garap. Tanah batu yang cukup . dapatkah Paduka Raja menceritakan pada kami. aku jalan-jalan sampai ke kaki bukit. dapatlah diketahui bahwa soalnya timbul karena pembagian air dan perbatasan sawah. Yang menjadi pokok persoalan sekarang menurut pendapatku. antara satu lu hak dengan luhak lain. yang tanahnya bercampur batu. hendaknya kita menelaah." "Kuhormati kepahlawanan Ama ni Boltung. Tapi."Paduka Raja. janganlah kita beranggapan bahwa Ama ni Boltung terlalu lalai menghadapi musuhnya. Yang menyerang Ama ni Boltung. Arwahnya tentu ditempatkan para dewata di tempat para hulubalang perkasa. Ronggur melanjutkan." sahut Ronggur. kenapa persoalan begitu rupa tambah sering kita hadapi. Sudah sampai ke sana perluasan sawah. Tidak kurang dari dua orang yang menyerang dirubuhkannya. Juga raja. dicabutnya nyawa mereka dengan ujung pisau. tidak seorang saja. hingga Ama ni Boltung yang sudah kita kenal keberanian dan ketangkasannya berkelahi. Mereka menyerang sekaligus. Soal yang sudah terlalu sering menimbulkan pertengkaran. "Soalnya. Tidak kurang dari lima orang ma lah. Tambah sering mengganggu ketenteraman hidup? Mengganggu kerukunan hidup di pantai Danau Toba ini?" Semua terdiam. Dia masih sempat membawa korban. Dari keterangan Paduka Raja. Tadi siang. "tapi yang paling perlu kita pikirkan sekarang. tempat terhormat. Juga karena pertengkaran mengenai perbatasan sawah. kenapa marga lain itu menancapkan ujung pisaunya ke dada Ama ni Boltung?" "Pisau itu mereka tancapkan ke dada Ama ni Boltung. yang sudah terlalu sering mengakibatkan pecahnya perang antara satu marga dengan marga lain. rubuh ke atas tanah. mula atau sebab timbulnya perkelahian itu. karena persoalan pembagian air yang harus dialirkan ke sawah. Dan. seorang lagi luka pada tangannya.

tiap suku tambah berkembang biak. ke mana kita harus mencari tanah garapan baru? Sekitar kita. melanjutkan hidup keluarga dan marga. Ini sudah terang menambah kesulitan hidup. Keringat kami juga turut membasahi tanah batu. Tangan kami juga turut lecet karena mengayun pacul ke tanah berbatu. Tanah yang dapat kita kerjakan masih tanah yang dulu juga. setiap orang menggunakan akal licik untuk memperoleh setapak tanah. Tidak bertambah luas. soal sebenarnya sudah kita ketahui. "kami juga sudah mengetahui itu. Kita tidak tahu.keras itu mereka pecahkan dengan cangkul yang diayunkan kedua tangan mereka. mencari daerah baru tempat perluasan marga." "Paduka Raja. Mereka orang yang berani hidup." sahut Raja Panggonggom mengatasi dengung suara itu. "Kita harus mencari . betapa sungguhnya tiap orang dan marga yang ada di sekitar danau ini mempertahankan hidupnya." "Cukup. "Usulmu memang bagus. supaya batu menjadi lumat agar bisa menghasilkan padi. Tapi.ya. Inilah mula persoalan! Harus awal soal ini yang diatasi agar hal yang bisa menimbulkan perkelahian dan peperangan yang menumbuhkan luka dan duka di tiap hati dapat dihilangkan. Kami juga turut bekerja. membangun sebuah parit saluran air. Berarti. Orang tambah berebut pada air parit yang dangkal agar sawahnya lebih dan dapat lebih banyak menghasilkan padi. tambah banyak mulut yang harus diberi makan dari hasil tanah yang itu juga." Dengungan suara pun bangkit di tengah orang banyak. "Tapi. "jadi." kata raja. Y ang taat melaksanakan pesan nenek moyang masingmasing. Karena itulah." kata Ronggur pula tak mau henti. Lihatlah. melingkar gunung batu yang tandus lagi tinggi. Mereka melinggis pinggiran gunung batu." "Apa maksudmu?" tanya Raja Panggonggom. berakhir di mana .

Ronggur sudah memancing kemarahan para dewata. pagar alam yang sengaja dibuat para dewata. telah dipermainkan Ronggur. Dan. beralih pula pada wajah pemuda sebayanya. Kita tidak dapat tahu. Binatang buas akan membunuh tiap orang tanpa ampun. Pegunungan ini berlapislapis." Ronggur tidak langsung menyahut. Dan. Caranya terserah pada kekuatan kita. yang menjelma menjadi binatang buas. Wajah Raja Panggonggom memancarkan sinar kemarahan. T iap puncak dijaga para dewata. bagaimanapun. apalagi orang tua yang duduk di belakangnya yang menyandang kulit kera yang sudah dikeringkan. supaya kita tidak melintasi dan melewatinya. kemudian wajah para lelaki. namun sinar wajahnya masih tetap memancarkan sikap keyakinan. harus berusaha pula meluaskannya. yang dituliskan pada pustaka. Kutuk dewata akan tiba. karena mengganggu ketenteraman para dewata yang tidak tampak oleh mata kita. setiap sungai akan bermuara ke tanah landai. Habis perkara. Penjaga ini tidak senang pada orang yang berani melintas di sana. yang bermula dari salah satu teluk danau." Dengung suara bangkit di tengah kelompok lebih gemuruh dari tadi. Tapi. kita akan mengikuti sungai. dikenal bernama Datu Bolon Gelar Guru Marla-sak. Karena itu. apakah masih ada tanah datar di seberang pegunungan ini." "Sungai mana?" cepat Raja Panggonggom memotong. kita harus mempertahankan tiap jengkal dan tiap tapak tanah yang kita pusakai dan kuasai. "Sungai Titian Dewata. Datu Bolon itu lebih merasakan. Siapa yang mau membunuh diri dengan pekerjaan sia-sia itu? Karena itu. Lalu katanya dengan suara perlahan tapi pasti: "Menurut cerita nenek moyang. Sambil meludah merasa jijik atas ucapan Ronggur. . Setiap orang jadi merasakan. Lebih dulu ditatapinya wajah para raja. yang juga sejak tadi terus-menerus mengunyah sirih.gunung ini.

agar dia duduk. tiba ke sana. ke hidup lain. "Kita tadi dengan sengaja telah membuka satu percakapan yang cukup panjang. Tapi. terutama pula setelah suruhan kita diusir oleh marga yang membunuh Ama ni Boltung itu. Sengaja diciptakan dewata untuk Titian Para Dewata menuju matahari. berakhir di ujung dunia. Hendaknya. Anakku! Sungai Titian Dewata itu lain dari sungai biasa. Karena kita tidak mau disebut orang murtad. Alangkah sia-sia. pisau yang tergenggam di tangan kiriku ini. kalau kita tidak menghapus corengan arang yang di buat orang di wajah marga kita. lalu mengatakan: "Ronggur. dengan sikap bijaksana yang melekat pada Raja Panggonggom. Orang tambah merasa dipermainkan Ronggur. Gong sudah tidak dipalu orang lagi sehingga ratap perempuan dari Sopo Bolo tambah jelas kedengaran. Darah Ama ni Boltung masih melekat di sini. agar hidupnya di dunia lain itu berbahagia. suatu kemurtadan. saat ini. Jadi. Lihat. Tidak memberi kesempatan bicara lagi. di mana para dewata dan arwah nenek moyang bersemayam di sekita/ Mula Jadi Na Bolon." Sikap Ronggur masih mau berbicara lagi. Sungai Titian Dewata. Tempat terhormat. jalan arwah kita kelak ke dunia lain. Ronggur harus duduk. kalau kita tidak menuntut balas. masih basah malah. kita tidak dapat mengikuti Sungai Titian Dewata bila hendak mencapai tanah landai. memendam semua yang ada di dalam hati. kau masih terlalu muda. Karena perintah itu. orang yang dikutuk arwah nenek moyang.Tapi. Tapi. Sungai Titian Dewata. tempat Mula Jadi Na Bolon bersemayam. Raja Panggonggom memberi isarat. percakapan itu tidak langsung penyebab kita kumpul di sini. dia dapat mengatasi luapan marahnya. sidang kerajaan hari ini memutuskan: mengumumkan perang dengan marga yang membunuh Ama ni Boltung!" . semua rakyatku. Raja Panggonggom kembali berbicara.

dan Raja Ni Huta. tunjukkanlah kehulubalanganmu. Padamu sekarang terletak tugas untuk menghapus corengan arang dari wajah kita masing-masing. . dari kampung sekitar. . Suaranya deras mengalir dan mengguntur: "Para hulubalang. Wajahnya lebih tegas dan ganas dari Raja Panggonggom. Raja Namora. kampung yang didiami marga kita juga sebagai kampung perluasan. "setelah mengebumikan mayat Ama ni Boltung besok pagi. Janganlah siasiakan segala bantuan ini! Jadi. wajahnya menjadi merah dan matanya menyinarkan cahaya marah yang tidak terpadam-kan. sebentar lagi akan berkumpul di sini. akan menyediakan alat peperangan untukmu. lalu jadikan kampung perluasan bagi marga kita! Tawan rajanya! Jadikan budak setiap keturunannya . Raja Nabegu berdiri.!" para lelaki dan pemuda bertempik sorak menyambut putusan raja. dapat menerima dan mendukung putusan ini?" "Kami akan laksanakan dengan gigih. diumumkan awal peperangan dengan marga yang sangat angkuh itu."Huraa . Musnahkan kampungnya. pendukung kehormatan marga.!" Kelompok kembali bersorak. Sedang Raja ni Huta. mulai ma lam ini. ." kata Raja Nabegu selanjutnya. Setelah Raja Panggonggom duduk. Tunjukkanlah kebe-ranianmu. Raja Namora. rampas. Bunuh kalau melawan. Raja Partahi. Rapat kerajaan hari ini. Raja Partahi. akan membantu para hulubalang marga dari bidang masing-masing. Mereka sekarang sedang menyiapkan segala sesuatu mengumpulkan . . "Apakah seluruh rakyatku. akan dikerahkan Raja Ni Huta menyediakan batu sungai peluru ambalangmu. Sewaktu dia berbicara. . Tangkaplah mereka di mana saja berjumpa. akan menyediakan makanan bagimu. "Para perempuan. sehingga suara ratap perempuan tenggelam. seluruh hulubalangku. ." jawab serentak.

sebagai pemuda marga. bagus. sudah tergambar darah merah basah menetes dari tiap tubuh. Sedang Raja Ni Huta telah menyediakan peralatan gondang. bisa . Raja Panggonggom lalu mengatakan: "Bapa Paru Bolon Gelar Guru Marlasak. lengkap dengan pemain. adik-adik kita yang setia.pasukan untuk membantu kita. dia kembali duduk. Apa sekalipun!" "Bagus. Raja Partahi dan Raja Namora sudah menyisih dari khalayak ramai." Kelompok kembali bersorak dan bertepuk tangan." "Kalau kau pemuda. Menatap bala tentara yang sudah penuh semangat. asahlah kapakmu! Tajamkan mata tombakmu! Perkuat tali ambalangmu. "Kau Ronggur!" tegur Raja Nagebu. dengan putusan sidang kerajaan ini?" Tidak ada sahutan. Panggillah para dewata agar memberkati seluruh laskar kita. "Ada di antara kalian yang tidak setuju dengan perintah ini. Pada bayang pandangnya. Mereka. Supaya kita berada di pihak yang menang. Ronggur menundukkan kepala. "masihkah kau seorang pemuda?" "Seperti tampak Paduka Tuan. beberapa mayat bergelimpangan di tanah. Pergi menyembelih beberapa ekor babi dan mengeluarkan alat perang dari tempat simpanan. Perbaiki perisaimu!" Lalu. Tenunglah dengan kekuatan batinmu! Panggillah para arwah nenek moyang melalui kekuatan sihirmu agar mereka membantu kita dalam peperangan. tentu kau akan melaksanakan tugas pemuda. Walaupun usulku ditolak. Raja Panggonggom kembali berdiri. aku akan turut melaksanakan tugas." "Ya.

bersiap-siap mau manortor. mulai berdiri. Datu Bolon menemani mereka membasmi musuh. Kemudian membaca jampi-jampi. duduk bersila di atas tanah. dirapatkan dikening. Tangan yang dua. dijadikan budak belian. Di belakang Datu Bolon. datanglah bersama kami bapak pargaul pargonci. tempat kerajaan baru khalayak ramai. disemburkan ke sekitar. Kepala mereka menunduk-nunduk.mengalahkan musuh. Orang pada berdiri. Datu Bolon meneriakkan dengan suaranya parau: mahluk halus penjaga rumah. Setelah memberikan tanda. telah kembali duduk di tempat semula. ludahnya yang merah karena mengunyah sirih. palulah gondang somba-somba Gondang pun dipalu. Habis itu. Cepat pula diiringi Gondang . Raja Namora. Kemudian bersemadi entah beberapa lama." Datu Bolon Gelar Guru Marlasak berdiri. mahluk halus penjaga tanah yang tidak dapat dilihat mata semangat poyang tujuh keturunan kupanggil kau. Datu Bolon meminta agar dimainkan pula gondang Mula jadi na Bolon sebagai penghormatan yang mutlak terhadap pencipta asal kehidupan dan yang kepadanya akan kembali segala yang hidup. mulutnya bergerak-gerak. memberi hormat pada arwah halus yang tadi dipanggil. bersujud. Kemudian. Maju ke tengah khalayak dan di sana membuka parhalaan. dan Raja Ni Huta. gondang somba-somba. Raja Partahi. Di saat itu. dan supaya semangat terus mengapi tanpa mau padam sebelum musuh ditundukkan.

menyusul Gondang Habonaran. baik kerajaan. Kembali sorak-sorai. Gondang Sitio-tio. memberi keselamatan bagi mereka semua. Cepat-cepat dia mendekati kelompok kerajaan. Tapi. Orang kembali duduk ke tempat masing-masing. sampai kepada kemenangan akhir. agar merahmati mereka. Datu Bolon masih di tengah lingkaran. Datu Bolon mengakhiri tortor itu dengan menjampikan pantun kemenangan: Mendaratlah perahu meniti ombak ketanah landai berangkat kita ke medan perang pantang pulang sebelum menang Semua. Dan. sehingga menitikkan darah. begitu pula para hulubalang. lalu menyuruh mereka mereguk darah ayam yang masih mentah itu. pasti akan menang. dima inkan Gondang Husahatan. Habis itu. langsung dari leher ayam yang dipulasnya. kekuatan jiwa dalam menghadapi saat yang genting. dipulasnya leher itu. Lalu Gondang Debata Sori mengikutinya agar dewata Sori memberi kebijaksanaan bagi para hulubalang dalam menyusun strategi perang. Lalu menyusul Gondang Balabulan. Melumpuhkan semangat musuh agar tidak berani menghadapi laskar mereka. Setiap yang berpihak pada kebenaran. agar Dewata Bataraguru memberi kekuatan jiwa bagi mereka dalam menghadapi musuh. "Bawalah ke mari seekor ayam jantan putih yang sudah bertaji. memurkai dan mengutuk musuh. supaya tiba ke tempat yang dicitakan. dan laskar menyambut dengan sorak-sorai dan gemuruh. Datu Bolon langsung menjampi ayam itu. yaitu yang menunjukkan bahwa mereka memang berada di pihak yang benar." Raja Ni Huta cepat memberikan yang diminta Datu Bolon. Sebagai penutup. . baik dalam pertempuran. memohon pada seluruh dewata. sehingga mereka tidak mengenal menyerah. kemudian mengatakan.Bataraguru. agar Dewata Balabulan. begitu pula untuk selanjutnya. Kemudian.

Pada tengah malam. Setiap Raja Ni Huta pangkat . sebagai wakil para dewata memakan daging sembahan. entah berapa lama. hampir tidak kedengaran. Ayam jantan putih tadi. Di saat begitu ratap perempuan dari Sopo Bolon kembali terdengar. Raja Ni Huta yang tujuh orang itu. Bunuh kalau melawan atau berusaha melarikan diri!" Orang kembali bertempik sorak. duduk dekat raja. Dalam saat begitu. dengan basa-basi kerajaan.Bangkai ayam diletakkan di tengah kelompok. Raja Ni Huta yang pangkat adik itu. Kamu bisa menyusup dari sana ke tengah kampung tanpa dihalangi duri bambu yang rapat dan keras. telah tiba di sana. di tengah lingkaran. Meratapi mayat Ama ni Boltung. Para laskarnya bersatu dengan laskar yang sejak tadi ada di sana. lengkap dengan pasukan. Kemudian berdiri tegak lurus. masih muda. Seranglah mereka dari segala arah. Di saat dagingnya belum masak benar. jadikanlah budak belian. yang berarti ada tujuh kampung lagi masuk lingkungan kerajaan marga itu. Raja Ni Huta dari kampung sekitar yang masuk pangkat adik. Datu Bolon meloncat dari jongkoknya sambil berteriak dan memekik. Kucar-kacirkanlah mereka! Tawan setiap lelakinya yang masih hidup! Begitu pula para perempuan. gondang dipalu orang perlahan-lahan. Datu Bolon telah membagikannya pada golongan raja. Desak mereka sampai ke tepi kampung induk marganya. Raja Panggonggom menyambut mereka. Seperti tidak tersangkakan. Di sana bambu duri pagar desa. mereka bakar langsung dengan bulunya sekali ke dalam api unggun. lalu mengatakan: "Besok pagi bila fajar pertama terbit. Lalu mereka mengambil tempat. serbulah musuh. kemudian melaporkan bahwa mereka sudah siap sedia melaksanakan perinlah dan pangkat abang mereka. Kembali dia bersemadi. Kamu bisa menerobos pertahanan kampung induknya dari arah timur.

Raja Panggonggom turun dari tempatnya. yang diiringi oleh seluruh rakyat yang mereka bawa. memakai bolatan juga. Lalu. kedengaran Raja Panggonggom berkata: Rotan ras rotan singorong mengikat keutuhan marga bersatu raja dan hulubalang menjunjung martabat marga Raja Ni Huta yang tertua menyahut: Berbaris kami seperti gajah di hutan balantara perintah raja menjadi suluh kami abdi abadi '. bersama Raja Nagebu. Raja Ni Huta yang tujuh orang itu manortor bersama. terlupa terjun besok pagi ke kancah pertempuran. telah selesai menyusun strategi dan taktik peperangan sesuai dengan petunjuk Datu Bolon.adik itu. menyelempangkan ulos-batak ke tiap pundak Raja Ni Huta yang tujuh itu. Tortor yang menunjukkan kesetiaan. Raja Panggonggom melanjutkan: Tujuh sisiku menghadap tiap penjuru indah mimpiku hulubalang perkasa punyaku Khalayak ramai serentak menyahut: Kami genggam tombak tombak pusaka godang bila raja bersama khalayak bahagia rakyatnya Lalu gondang pun kembali dipalu. Lalu. Pertemuan itu tidak bubar sampai pagi hari. Dalam bergembira itu. Para hulubalang. Mereka terus margondang dan terus manortor. Tuak dan daging babi terus dihidangkan sampai hampir setiap orang sempoyongan. . tapi warna putihnya lebih kecil dari Raja Ni Huta yang berdiam di induk kampung marga.

Dari segala arah kedengaran pekik dan jeritan. Kemudian kerajaan. Jarak antara kedua pasukan itu dipisah sebuah sungai kecil yang airnya dangkal. Usulnya ditolak! Tapi. Manusia di seberang kali sana pun bertempik sorak. Mereka dihadang musuh pada sebuah sungai kecil. Tapi. yang sudah dibius semangat itu. yang punya tanah tipis dan di bawahnya batu alam yang keras. beberapa orang di antara mereka akan jatuh menjadi korban dalam peperangan. Wajah manusia itu tak ubah seperti wajah mereka sendiri. Batu yang dilemparkan ambalang. berterbangan di udara. Bersama terbitnya fajar pagi yang memancar dari balik puncak Dolok Simanuk-manuk. Sambil bertempik dan bersorak. hardik dan hasutan. Lengkap dengan Datu Bolonnya. Kemudian jatuh mencari sasaran. malah menjunjung putusan kerajaan. Mati! Semua bayangan kemungkinan ini mempengaruhi pikiran dan perasaannya. Dia tahu pasti. orang yang sedang bernyanyi. semua itu harus ditekan. memusnahkan musuh. Di depan sekali berjalan para hulubalang. menghalau dingin dari tubuh sehingga keseimbangan pikirannya tetap terpelihara. Bercampur baur dengan udara yang terik. orang yang sedang dibius semangat. Dia harus turut. juga membawa senjata seperti yang mereka bawa. Tak ubah seperti kerajaan marga mereka sendiri. semangat usul itu tetap berakar dalam hati. Debu mengepul ke udara di tempat kering. untuk memasuki nasib yang tidak terduga. Seolah matahari mau membakar setiap tubuh manusia dan bumi.Ronggur selalu menyisih dan meminum tuak seperlunya saja. Pasukan dari marga lain itu. Kemudian menurun ke sawah yang baru dibajak. Mengisi seluruh lapangan terbuka. Mengacungacungkan senjata tajam. marah. Kerajaan dari marga lain itu. Di sayap kanan dan kiri para laskar. turut bersama laskarnya. mendendam. para lelaki yang marah itu. Lumpur berhamburan . kepala manusia. Dia melihat orang yang sedang menari. bergerak menuju sasaran.

lalu mengotori wajah manusia di tempat basah. Tempik dan sorak, pekik, hardik, dan hasutan terus menerus bergema. Pasukan kedua marga yang sedang marah itu, sorongmenyorong. Tidak ada yang mau kalah. Jarak antara keduanya bertambah dekat. Ambalang tidak digunakan lagi. Langsung tombak, panggada, dan kampak dipukulkan dan ditangkis perisai. Siapa yang jatuh, jatuh tersungkur tanpa diperdulikan, malah menimbulkan kegembiraan bagi orang yang dapat merubuhkannya. Kedua pasukan marga itu sudah sama-sama terjun ke dalam sungai. Di sana mereka bersicucukan, bersihantaman, dan bersipu-kulan dengan segala macam taktik dan cara. Matahari terus bersinar terik. Pasukan kedua marga itu sama banyak, sama kuat, dan sama berani. Sehari itu keadaan pertempuran tidak berobah. Beberapa orang yang luka di bawa ke garis belakang oleh para perempuan. Beberapa-orang yang mati dibawa ke garis belakang juga, tapi tidak sempat ditangisi. Anak-anak pun sudah turut serta. Mengumpulkan batu, yang segera diberikan pada para lelaki pemegang ambalang. Tapi, batu itu tidak sempat lagi dilemparkan dengan ambalang, langsung dilemparkan tangan. Dan terkadang tidak jarang, anak itu turut terjun ke tengah pertempuran untuk memukul atau dipukul. Bila senja tiba, kedua pasukan marga itu saling meninggalkan daerah pertempuran. Mereka disambut gendang dan tortor para orang tua, para perempuan, para gadis di induk kampung. Daging babi, tuak, terus diedarkan membakar semangat bertempur. Datu Bolon terus-menerus menjampi. Lalu, memberi nasihat baru. Dan, bila fajar terbit lagi, mereka kembali terjun ke daerah pertempuran. Di tengahnya, Ronggur mengamuk ke kiri dan ke kanan. Ronggur bersama beberapa pemuda menyusup ke depan, berusaha mengkucar-kacirkan daerah musuh. Susupan

mereka ini cepat diikuti gelombang kedua, ketiga, dan keempat, yang membuat pertahanan musuh tembus. Musuh kelabakan. Tapi, yang hendak dikucar-kacirkan itu, tidak mau menyerah begitu saja. Mereka juga mengadakan perbaikan pada pertahanannya dengan cepat. Lalu mengadakan pukulan balasan. T api, pasukan marga Ronggur mengadakan desakan yang terus-menerus, bertubi-tubi, sehingga garis pertahanan musuh mulai dipukul mundur. Sampai akhirnya mendekat ke kampung musuh. Malam itu pasukan marga Ronggur tidak kembali ke induk kampung. Mereka terus mengepung induk kampung musuh. Pagi berikutnya pasukan marga Ronggur menyerbu induk kampung musuh dari sebelah timur, seperti yang dinasihatkan Datu Bolon. Melalui bambu duri yang masih muda, mereka menerjang ke tengah kampung, dengan pekikan yang melengking. Dengan segala tenaga yang ada, marga yang diserbu itu mengadakan perlawanan. Ikut sudah para perempuan, baik yang tua begitu pula yang masih gadis. Tampaknya tidak akan habis perlawanan itu sebelum mereka mati semua. Mampus semua. Dari tempat ketinggian, sekali waktu Ronggur melihat, anak gadis Raja Nabegu kampung yang mereka serbu, turut mengadakan perlawanan. Rambutnya yang panjang terurai lepas. Dibasahi oleh keringat. Dilihat biji mata Ronggur sendiri, sudah ada dua tiga orang pasukan marganya ditumbangkan anak gadis itu. Dengan satu loncatan jarak jauh, Ronggur sudah berada di hadapan perempuan itu. Mata perempuan itu memancarkan sinar merah, mengapi, hendak menelan Ronggur bulat-bulat. Perempuan itu memukulkan penggada ke arah Ronggur. Tapi, Ronggur mengelak dengan melompat, dan peng-gadanya sendiri mengenai tengkuk perempuan itu sampai jatuh ke tanah. Dalam hati Ronggur berucap “Sungguh perempuan pemberani!"

Juga, sekali waktu menumbangkan seseorang yang sedang membidikkan tombaknya ke arah Raja Panggonggom marganya. Sewaktu Raja Panggonggom dan pengawalnya ke arah lain. Cepat Ronggur menyergap orang itu. Tapi, tangannya sendiri, lengannya, luka. Namun musuhnya dapat ditumbangkannya dengan menghantamkan penggada ke kepala musuh. Otak meleleh dari luka. Raja Panggonggom melihat ini semua. Luka di lengannya cepat dibalut Ronggur. Lalu terjun lagi ke tengah pertempuran yang dahsyat itu. Asap pun mulai mengepul. Rumah sudah mulai dibakar. Padi dari lumbung desa diangkut, juga harta rampasan perang. Para lelaki yang belum mati, begitu pula para perempuan yang belum mati, ditawan. Untuk dijadikan budak belian. Yang sampai keturunannya kelak akan tetap dan tidak bisa terangkat dari martabat budak. Tidak akan berhak lagi mengadakan pekerjaan adat. Harus patuh setiap saat mengerjakan apa saja yang diperintahkan tuannya. Kampung berdekatan dengan induk kampung itu sudah dibakar. Perang sudah berakhir. Kekalahan dipihak marga yang diserbu. Para rakyatnya yang masih hidup sudah ditawan, dirantai. Ronggur teringat pada perempuan yang ditumbangkannya. Cepat dia menuju ke sana. Keringat melelehi seluruh tubuhnya. Entah kenapa hatinya mengharapkan agar pukulannya hendaknya tidak terlalu keras. Dia mengharapkan, hendaknya perempuan itu masih hidup. Dia mau menawannya. Merasa bersyukur dia, perempuan itu masih merintih. Cepat dia mengambil air lalu diusapnya wajah perempuan itu dengan air. Kemudian diberinya minum. Didengarnya suara gadis itu perlahan mengatakan:

Dia dapat menghargai keberanian dan semangat perlawanan yang dipunyai perempuan itu. karena mereka telah . Begitu pula anak-anak yang masih digendong. Ronggur menarik tali yang mengikat perempuan yang ditawannya. Perempuan itu selalu meronta dan ingin melepaskan diri. tidak dikunjungi anak lelakinya lagi. Lebihnya akan dimasukkan ke dalam lumbung desa. dan lelaki yang luka menyambut mereka. dan dendam. Dengan pekik kemenangan pasukan laskar marga Ronggur menuju pulang ke induk perkampungan. Di sana mereka meratap dengan lemah. terutama pada keluarga yang suaminya atau anak lelakinya jatuh sebagai pahlawan di medan laga. Menjadi sumber rintihan. abang mereka yang pulang dari peperangan sebagai pemenang. Sampai mati!" margaku. disuruh ibunya melambaikan tangan ke arah ayah. Ronggur tersenyum saja dan terus menarik tali dengan tabah. pergi bersama ke Sopo Bolon mengasingkan diri dari orang yang sedang bergembira. Sambil melangkah mereka lagukan nyanyi kemenangan. Matahari sore dengan lembut memancarkan sinar. Di gerbang kampung. Ronggur tersenyum mendengar rintihan itu. Agar tidak mengotori rasa gembira pada Mula Jadi Na Bolon dan seluruh para dewata serta arwah nenek moyang. para perempuan. karena mati dalam pertempuran. Sebagian disuruh mengangkut harta rampasan. Sedang para perempuan yang tidak dikunjungi suaminya lagi. Tangan menarik para tawanan. lelaki yang sudah tua. seperti sudah turut lesu menyaksikan peperangan yang baru saja berakhir dan banyak menimbulkan korban."Aku harus bersama kalian. hai lelaki Pertahankan martabat marga kita. Diusahakan agar tidak mengganggu kegembiraan para pahlawan yang menang perang. air mata. Nanti akan dibagi-bagikan pada tiap keluarga.

akan dijadikan kampung perluasan bagi marga mereka. menjadikannya sebagai budak untuk membantu ibunya yang sudah tua mengerjakan urusan rumah. . Diizinkan mereka mendirikan rumah di situ.Beberapa ekor babi dipotong lagi dan darahnya diminum bersama. dikuasakan pada Ronggur. Yang harus tunduk ke induk kampung. Upacara kemenangan pun diadakan. Raja Panggonggom melirik secara khusus pada Ronggur. Raja Ni Huta induk kampung musuh yang ditaklukkan itu. Sendirinya pula daerah taklukan mereka bertambah luas.dipilihnya menjadi pemenang. "Ronggur. Sebagai penutup upacara Raja Panggonggom mengucapkan terima kasih pada seluruh laskarnya. Kampung marga yang mereka kalahkan. ditunjuk . dengan suka rela dimintakan pada setiap orang yang mau pindah ke kampung yang ditaklukkan itu. Gondang dipalu dan tortor kemenangan ditarikan orang bersama-sama. Dia anak tunggal. Katakanlah. ditunjuk beberapa orang yang cukup berjasa menjadi Raja Ni Huta. Tapi. jadi belum cukup dewasa dalam peralatan adat dan hukum. Permintaan itu dikabulkan. Pada tiap kampung sebagai pelaksana adat dan penyelenggara hukum. Sekarang giliran kami membalas jasamu yang besar itu. mencabuti rumput sawah bila saatnya tiba. kehendakmu!" Ronggur memohonkan agar padanya diberi kekuasaan untuk terus menawan tawanannya. Harta rampasan dibagi. Baik yang sudah mati begitu pula pada yang masih hidup. yang dengan sendirinya mengangkat martabat marga dan raja mereka. Jadilah kemudian kampung itu menjadi kampung perluasan marga. dalam pertempuran kau telah menyelamatkan nyawa kami. Dikatakan pula. Justru karena Ronggur tidak punya adik perempuan. Sawahnya akan diambil dan dibagibagikan. Pun. lalu. Tanah persawahan rampasan juga ditentukan jatuh ke tangan siapa. karena dia belum berumah tangga.

menjadi tokoh keberanian dan ketangkasan serta kesetiaan termasuk nama Ronggur sendiri. Memang dia sudah menjadi Raja Ni Huta Muda dan Hulubalang Muda. Sejak hari itu. Pesta kemenangan dilangsungkan tiga hari tiga malam. baik dari marga sendiri begitu pula dari marga lain yang masih banyak bertabur di sekitar danau. ingatan orang masih tetap terpaut ke sana. orang masih tetap dipengaruhi suasana kegembiraan menang perang. Beberapa nama pahlawan timbul. yang disetujui Ronggur sendiri. menghapal jalannya pertempuran lalu memindahkannya ke bentuk yang dapat dinyanyikan. Membangun perumahan baru di atas puing-puing reruntuhan. Mereka tebarkan dari mulut ke mulut sambil memetik kecapi. Ronggur dikenal orang sebagai Raja Ni Huta Muda merangkap Hulubalang Muda." Beberapa orang ampangardang. Untuk beberapa hari. Tapi. Sebagai gantinya diberikan kepadanya sawah yang dulu dimiliki Raja Nabegu dari marga yang mereka kalahkan. Di sana sini Ronggur mendengar orang mengatakan: "Dengan cara beginilah kita harus menguasai tanah persawahan subur yang ada di sekitar danau untuk melanjutkan keturunan. Sawahnya yang ada dekat induk kampung marganya diserahkan pada kerajaan. Walaupun pesta sudah selesai.seseorang menjadi walinya. orang tidak berani lagi atau tidak wajar lagi menyebut nama kecilnya. cepat dilupakannya. Oleh tugas yang banyak dan memang dia sendiri ingin cepat melupakan saat menanjakkan marganya ke tingkat yang lebih tinggi dan meningkatkan kedudukan dirinya sendiri. Orang selalu menyebut atau . sehabis pesta kemenangan itu cepatcepat mengerahkan rakyat yang suka rela pindah ke induk kampung musuh yang dikuasakan padanya. Ronggur sendiri.

Lambat-laun kehidupan kembali tenang. Yang membuat ingatan orang sudah menipis pada peperangan yang baru lewat. Masa merumputi sudah lewat. diajari menggunakan senjata. yang sempat melarikan diri. ccdw-kzaa 2 Rumah baru sudah berdiri pengganti rumah yang dulu terbakar. Yang agak besar. Para gadis belajar memintal benang dan bertenun. Lu hak anu berperang dengan luhak satu lagi. Bila bulan purnama. Tapi. menumbuk padi di halaman perkampungan sambil bernyanyi. Jumlahnya lebih banyak malah. Juga mereka diajari memanjat pepohonan tinggi supaya tidak gamang. Anak lelaki diajar membaca dan menulis huruf Batak. Saat yang baik bagi pemuda pergi martandang ke kampung paman mencari jodoh. pengganti yang mati dalam peperangan.memanggilnya dengan Raja Ni Huta Muda dan Hulubalang Muda. dan menerima datangnya partandang. Tapi. Tidak tampak lagi warna merahnya. menjadi orang . Padi di sawah sudah bunting. Darah yang tercecer ke lumpur sawah sudah bercampur baur dengan tanah menjadi pupuk di musim mendatang. Kuburan yang digali tempat abadi bagi orang yang mati. Anak-anak sudah ada berlahiran. Cerita kepahlawanan disampaikan pada mereka. sudah ditumbuhi rerumputan hijau. pada mereka sampai juga berita dari sekitar danau: marga anu berperang dengan marga satu lagi. Sumber malapetaka tetap sama: air parit dan batas tanah. Orang yang kalah dijadikan budak. Pekerjaan orang kembali senggang. memencilkan diri ke tanah tandus di kaki bukit.

Orang buruan ini membuat rumahnya di dinding bukit dan gua. Tapi. Dan. Jadi. Ronggur tidak merasa kuatir kalau budaknya itu melarikan diri. dia masih tetap menampik. dia lebih banyak menyendiri. Setiap warta pecahnya perang antara satu marga dengan marga lain selalu membuatnya berduka. bagi Ronggur. Ini jugalah yang mendesaknya agar setiap hari pergi jauh dari kampung ke tempat terpencil yang jarang dikunjungi orang. Bila temannya sebaya sudah banyak berumah tangga. Karena memperoleh perlakuan yang baik itu. keyakinan yang digenggamnya ini belum berani dia menyampaikannya pada orang lain. Dia masih tetap memandang dan memperlakukannya sebagai manusia yang punya hak. Masih merasa takut dia. Walau sudah sering diminta ibunya. Dia boleh pergi ke padang-padang luas. dan berburu bersama anjingnya si belang. Perlakuannya pada wanita tawanannya berbeda dengan perlakuan orang lain yang punya budak terhadap budak masing-masing. akhirnya Tio. masih merasa kecil dia menurut anggapannya. dia belum. Namun perasaan terpencil tetap menguasai diri Tio. justru karena gadis yang sebaya dengannya dari suku Ronggur tidak mengawaninya. Tak ubah seperti kebebasan yang ada pada orang merdeka.buruan. melawan tradisi yang sudah tertanam dan berurat akar di hati manusia yang ada di sekitarnya. merasa senang juga. Dia yakin kalau memperoleh perlakuan yang baik budak itu tidak akan melarikan diri. . Padanya tetap diberikan Ronggur kebebasan bergerak. wanita tawanan itu. mengembara. Di sana dia menghabiskan hari. Karena itu. ketenangan yang sekarang dikecap marganya masih tetap mengandung sesuatu kemungkinan yang menakutkan.

Dia dibenturkan kembali pada kenyataan bahwa dia bukan orang merdeka. Dapat dipastikan Tio bahwa . Seolah elang itu datang dari balik gunung dan hendak kembali ke balik gunung. Di hatinya timbul niat. ingin pergi jauh. Dan. Atas bantuan si belang. Ronggur selalu tertawa lebar bila dia pulang dengan hasil buruan. Dengan mata tombaknya yang pasti arahnya. Dia akan dapat ditangkap Ronggur. Terkadang harus berlari kecil mengikuti elang yang terbang di atas. Pertanda elang itu mau hinggap. Tio dapat mengetahui tempat seekor pelanduk bersembunyi. Tio sedang mengikuti arah seekor elang terbang. Di saat putus asa mulai mencekam hati. Merasa kurang enak baginya untuk menghianati seseorang yang menghormati dirinya'dengan sewajarnya. Kalau lari saja? Ronggur sudah berbuat baik terhadapnya. tempat kawanan burung berondok. akan mengejarnya ke mana saja. Lagi pula kalau dia lari. lalu terus mengikuti arah elang itu pergi. Berkeliling pada satu lingkaran. Kemudian membawanya pulang. Ronggur tidak segan-segan melemparkan pujian yang menurut perasaan T io terkadang terlalu menyanjung. Dengan lahap Ronggur akan memakan daging binatang buruan itu. Matanya terus-menerus menangkap elang hitam yang terbang. Berburu bisa membuat Tio asyik. dengan lemparan ambalanganya yang deras. Ronggur lelaki yang paling jahanam. Dari situ dia dapat melihat danau di bawah. setelah menyambar seekor induk ayam dari kampung. yang dibakar dan dipanggang. Hari itu. elang itu mengadakan putaran. sesuatu keinginan selalu timbul di dadanya. dia harus membunuh elang yang seekor itu. Namun keluh akhirnya mematikan keinginan itu. yang belum pernah ditempuh manusia.Tio menyendiri sampai ke kaki bukit. dia bisa membunuh binatang buruan itu. Pertanda elang itu akan hinggap belum ada walau mendekat ke kaki bukit. yang sudah banyak menyambar ayam kampung.

Seketika napasnya serasa terhenti melihat peluru ambalangnya mengenai sasaran atau tidak. Si belang sudah mengerti bahwa mereka sedang mengadakan perburuan. Elang itu jatuh ke tanah bersama gelepar lemah. Langsung tertancap ke dada elang. Ronggur berkata: "Sudah mampus penyambar ayam yang paling jahanam ini. Sayang sekali peluru ambalangnya hanya mengenai buntut elang.pohon yang tinggi lagi rimbun dedaunannya. Si belang berlari cepat ke tempat suara itu bersumber. sambarannya jatuh ke tanah. Elang itu mengarah ke lembah. di mana batang pohon besar itu tertancap ke tanah. kepaknya mengenai salah satu dahan. Ronggur memanggilnya agar datang mendekat. Suaranya halus dan menggetar. Elang itu mengikutkan sambarannya ke bawah. Tapi. Saat yang baik itu tidak dilewatkan Tio. Baru dia bergerak." Tio masih terpaku pada tempatnya. Karena terkejut elang itu buru-buru mengepakkan sayapnya. gelepar akhir. waktu itulah. di situlah sarang elang itu. Wajah Tio menjadi merah padam dan merasa kesal bercampur malu. Tio terus mendekat menuruni jenjang lembah. Bersama senyum kemenangan. Cepat dia mengayun ambalangnya. Lalu." "Aku tahu. Hulubalang Muda. Dan. kenapa peluru ambalangnya tidak mengenai dada elang jtu. "Lihat. Elang itu cepat menukik ke bawah setelah mengadakan putaran entah beberapa lama. pada salah satu dahannya. Atau. Ronggur sudah ada di hadapan Tio. Mau terbang. "Muncung tombakku tertancap di dadanya. dari arah lain sebuah tombak terbang cepat. ." sahut Tio. kenapa dia tidak menggunakan tombaknya? Sebuah tawa meledak di antara rimbunan ilalang. Lalu melepaskan peluru. Merasa malu akan ketololannya." kata Ronggur.

"Bukankah itu menurunkan derajat Hulubalang Muda?" "Sama sekali tidak! Kau harus melaksanakannya!" "Bagaimana nanti kalau didengar orang kampung dan ibu?" "Peduli apa dengan mereka? Sebut namaku." sahut Tio. "sejak saat ini kuminta. Ronggur menjauh. habis perkara. Walau sesuatu rasa menggelusak dalam dada. kau Tio." "Hulubalang Muda terlalu melebih-lebihkannya. "Tapi. matanya." "Dengarkan baik-baik. Sebutlah namaku." kata Ronggur seraya memegang bahu anak gadis itu. Lalu. lalu. tapi masih diusahakannya mengatakan. Cukup begitu. Ronggur. Si belang sudah memagut tubuh elang dengan muncungnya. Dan. belum tentu muncung tombakku bisa tertancap di dadanya. si belang memagut ayam yang . Kalau buntutnya tidak kena ambalangmu. "maukah kau berjanji akan melaksanakan permintaanku?" "Aku sudah ditakdirkan akan melaksanakan sebaik mungkin segala perintah Hulubalang Muda. katakan aku yang menyuruhmu. "Itu yang sebenarnya. Si belang kembali menjauh." Tio tambah tertunduk. Wajahnya memerah.Ronggur menatapi T io lama-lama hingga T io menundukkan kepala menatap tanah. Kalau mereka menegur kau. peluru ambalangmu sangat deras dan bagus arahnya. Buntut elang kena membuat elang tidak bisa cepat terbang." Pundak Tio cepat turun naik." mata Ronggur lama menatap wajah gadis itu. Membawanya ke dekat mereka berdua. agar kau tidak memanggil aku dengan sebutan Hulubalang Muda atau Raja Ni Huta Muda lagi. Yang mengurus mereka ialah aku. Di saat itulah aku mengayunkan tombakku.

" Tio berlari kecil membawa elang dan ayam itu ke parit kecil dekat situ yang mengalirkan air pegunungan yang jernih. Lalu. Dibersihkannya perut kedua binatang itu. di bawah pohon yang rindang. "Tio. Matahari bersinar keras. mulutnya tidak dapat lagi dikuasainya untuk tidak menyanyikan sebuah lagu. Kemudian dibawanya ke tempat Ronggur menghidupkan api. redup mengalun saat siang dan malam antara terik dan nyaman . keluarkanlah isi perut elang dan ayam ini. Mata Ronggur agak mengantuk. Yang kemudian mendekat kepadanya sambil mengibaskan ekor. Cukup terik. Biar kunyalakan api. Tio duduk melihat si belang. Tio mengelus leher si belang dengan lembut. Tidak jauh darinya. Si belang masih mengunyah tulang belulang elang dan ayam yang diberikan kepadanya. berpantun: Sanduduk di kaki bukit di atas batu ditimpa sinar matahari itulah siang melilit bumi sanduduk di kaki bukit di atas batu ditimpa sinar rembulan itulah malam.disambar elang tadi dan membawanya ke dekat Ronggur dan Tio. Lalu. Tidur di ujung kakinya. menjauh lagi. Perutnya terasa kenyang. Dagingnya tentu enak dimakan. mulai membakarnya lengkap bersama bulu-bulunya. Ronggur menelentangkan tubuh di atas tanah batu yang cukup keras. Lalu.

perkampungan demi perkampungan dan berakhir pada tepian danau. Pada suatu saat. agar nama Muda dari belakang Hulubalangnya dihilangkan. jumlah keturunannya bisa berlipat ganda. Tentu. cepat pula ingatan itu dibarengi bahwa kalau dia berumah tangga. Dia merasa takut. Di bawah mereka melalui tingkat tanah yang terus menurun. Tentu hasil yang dapat diberikan tanahnya akan terasa kurang menghidupi keturunannya. pikir Ronggur. Hasilnya akan terasa atau memang kurang untuk membekali orang yang hidup di sekitar . Bila persoalan yang mencekamnya itu diluaskan pada keadaan sekitarnya dan dia tambah merasakan marabahaya yang sedang menantikan. akan tiba saat itu. meruntuhkan kerukunan kehidupan mereka di tepi danau. Untuk melahirkan anak lagi. Agar langsung memegang Raja Ni Huta di kampungnya. lalu kawin lagi. Kemudian anak ini akan menjadi dewasa. ke kampung paman. yaitu orang bertambah banyak sedangkan tanah yang dapat digarap masih tetap itu juga. yang mengintai dengan taringnya yang tajam. agar dia berumah tangga. Oleh nyanyi T io kembali Ronggur teringat akan permintaan ibunya. itu berarti istrinya nanti akan melahirkan anak. begitu pula atas usul Raja Panggonggom. Dia disuruh ibunya pergi ke Samosir. pikirnya. Tetapi.mentari dan gemintang bagi beta tidak berbeda karena hatiku terkenang padamu Ronggur membiarkan Tio menyanyi walau hatinya merasa rawan. Dalam tiga keturunan saja. Tio teringat pada masa kemerdekaannya. Matahari tambah lama jadi melemah.

"Betul kau bolehkan aku memintal dan bertenun? Betul kau akan meminta izin pada Raja Panggonggom? Aku akan bertenun seperti gadis lain dari margamu ?" "Ya. dia memeluk Ronggur sambil mengatakan dengan kegembiraan.danau. dari mulutnya lalu meledak kata. tapi pasti. Tio menatap ke arahnya. Ronggur menundukkan kepala. aku akan menenun ulos untukmu. kenapa kau tidak belajar memintal benang dan bertenun? Kau sudah harus mengurangi kegemaranmu pergi mengembara. akan kuusahakan sampai dapat” Karena gembira. tidak disadari Tio. dan sendirinya pula akan lebih banyak kepiluan dan dendam bersarang di hati manusia. peperangan. “Ah. Tio tetap terdiam dan tertunduk. Yang paling baik campuran warnanya” . betapa bersyukur aku. Dia menakutkan masa itu. Lalu. Dia selalu memikirkan.. seperti gadis lain. Menenun ulos-batak ialah pekerjaan para gadis yang merdeka. Aku. "Ada yang salah?" tanya Ronggur pula. Ulos yang paling halus raginya. Ronggur mengatakan. Hal begitu sudah tentu akan lebih banyak mengobarkan perkelahian. kau harus belajar memintal dan bertenun Aku akan meminta izin pada Raja Panggonggom” Pada biji mata Tio menyinar cahaya kegembiraan. "Tio." Warna duka membayang di wajah Tio. apa usaha yang dapat ditempuh untuk melenyapkan ancaman dari masa itu? Ronggur cepat bangun dari goleknya. "Tio. Betapa berbahagia. Yang tidak disangka Ronggur mulanya. Barulah Ronggur sadar bahwa seorang gadis yang berderajat budak tidak dibolehkan belajar memintal dan bertenun. Kau harus belajar memintal dan bertenun. Perlahan-lahan. Tapi.

"Tio. lalu dengan suara pasti dia mengatakan. Telunjuknya mengarah ke teluk itu sambil mulutnya mengatakan. Beberapa saat terdiam. Tidak terik lagi. menuju tempat Mula jadi Na Bolon. Dapat kau lihat dan perhatikan garis putih itu?" tanya Ronggur. Matahari bertambah lemah sinarnya. Tio menundukkan kepala perlahan-lahan. Ronggur diam saja melihat perubahan kelakuan Tio itu. Tapi. Sampai akhirnya Tio sadar sendiri.Ronggur membiarkan Tio begitu." "Tahu juga aku. Begitu pula akhirnya Ronggur. sungai itu berakhir ke ujung dunia. "Dapat." "Menurut cerita orang tua. Barang siapa yang berani me layari sungai ke muara atau berusaha mencapai muara. Arwahnya akan dikutuki dewata. Pada salah sebuah teluk dapat diketahui Ronggur bahwa di situlah bermula sungai Titian Dewata. Ada yang hendak kutunjukkan padamu. itulah jaluran sungai." kata T io. Ronggur menatap ke sekitar. mari ke pundak bukit pertama. "Tio." "Aku tahu. "aku sudah pernah dibawa almarhum ayah dan ibu ke sana. Kembali dia dihadapkan pada kenyataan. tidak akan kembali lagi. Sedang matanya dengan mesra menancap ke biji mata Tio." Mereka mendaki tanjakan bukit sampai tiba ke pundak pertama. melepaskan pelukannya perlahan-lahan." "Garis putih yang membelah dada persawahan yang sedang menghijau. Lalu. Karena jatuh ke tebing ujung dunia. Dari sana jelas tampak oleh mereka lengkungan tepian danau. lalu menghilang atau seperti masuk menyusup ke perut pegunungan sebelah timur." sahut Tio. di sanalah bermula sungai T itian Dewata. sungai itu jalan arwah kita kelak. .

" "Ya." "Begitu menurut cerita mereka. memang begitu. Sering sekali." "Menurut cerita yang ada di sana.Ronggur diam seketika. janganlah marah padaku." "Kalau begitu. lain dari sungai yang lain. juga sudah kuselidiki dalam pustaka yang tua bahwa sungai itu tidak ada dikatakan berujung di akhir dunia. setiap sungai menuju tanah landai dan subur. Terus menatap ke arah sungai. sampai ke mana bisa seseorang nelayan menangkap ikan." "Kepercayaan yang diwariskan kepada kita mengatakan. Aku bisa membaca dan menulis dengan baik." dapat . Ada apa kiranya?" "Apakah kau tidak bisa punya pendapat sendiri?" "Apa maksudmu?" "Apakah kau tidak sering membaca pustaka di rumah ayahmu dulu?" "Sering. sungai Titian Dewata berakhir ke ujung dunia. Sedang Tio melirik ke biji mata Ronggur yang menyinarkan sesuatu arti. kau pun sependapat dengan mereka. aku berpendapat bahwa sungai itu pun akan tiba ke tanah landai yang subur." "Entah bagaimana. Ronggur mengaju tanya padanya: "Apakah kau juga sependapat dengan mereka bahwa sungai itu berakhir di ujung dunia itu?" "Begitulah kata mereka. Aku tidak mengatakan yang lain. juga sungai ini. Buktinya sampai sekarang tidak ada orang yang berani melintasi daerah yang telah ditentukan.

"Ya. aku melayarinya bukan bermaksud untuk membuktikan bahwa aku berada di pihak yang benar. Dia akan tinggal di dunia ini. Dan. Yang berarti bunuh diri. "Kenapa kau beranggapan bahwa sungai ini lain?" tanya Tio memecah sunyi. angin sore yang nyaman. Perasaan takutnya tambah mencekam. "apakah kau berniat hendak melayarinya membuktikan kebenaranmu?" Tapi. Dia mengharap dapat menggagalkan maksud Ronggur dengan ancaman begitu. "tapi. setiap tahunnya manusia yang hidup di sini yang memerlukan tanah garapan bertambah banyak juga? Akhirnya tanah yang tadinya terasa luas. aku memang mau melayarinya.Ronggur terdiam. Seperti perang antara margamu dengan margaku. sungai itu pun sama dengan sungai yang lain. "Tapi. daerah perluasan." kata Ronggur. "Sudah lama niat ini menguasai dadaku." potong Tio. akan terus bertambah sempit. Tidak ada yang berkata." sahut Ronggur tanpa memperhatikan wajah Tio yang menjadi pucat." lanjutnya pula. Angin turun. tanah hubungkasan. setiap tahunnya bertambah sempit." "Itu berarti bunuh diri. Tio menjadi takut pada ucapannya itu." . Tahukah kau Tio bahwa tanah selingkar danau ialah tanah subur? T ahukah kau. Keheningan mengambang di antara mereka. Akibatnya akan bertambah banyak pertengkaran yang memungkinkan pecahnya peperangan. Kebebasan akan benar-benar direnggutkan orang. T api. timbul bisikan dalam hatiku. Arwahmu akan tidak diterima dewata. Ronggur cepat pula mengatakan: "Dengar dulu yang kumaksud. Aku mau berusaha mencari tanah garapan baru. Dia takut kalau Ronggur benar-benar melayari sungai itu. Dia akan jatuh ke tangan orang lain yang pasti akan memperlakukannya sebagai budak biasa.

akan tambah banyak terjadi. peperangan itu akan bertambah banyak lagi timbul di masa mendatang. Wajahnya menjadi muram dan sedih. sudah ada tiga gelombang peperangan antara marga satu dengan." Seketika Ronggur berhenti.Tio tertunduk. Tidak bermaksud aku mengingatkanmu ke saat kejatuhan margamu. Tidak! Tapi. Sampai ke mana dia tiba. sebelum saat itu tiba. aku mau mengatakan. Berani menantang sesuatu yang dirasakan ialah satu kepercayaan bagi kebanyakan orang. karena kurasa kau dapat merasakannya. Orang yang berani dan bertanggung jawab akan masa datang. Dan. Penuh pepohonan dan tanahnya begitu landai. marga lain. jauh lebih luas dari . dengan suaranya yang nyaring. Cobalah turut mendengar berita bahwa setelah perang antara margamu dengan margaku selesai. "Janganlah bersedih. bila tanah habungkasan tidak ditemui. Tio tidak membumbuhi cakap Ronggur yang panjang itu. yang akan menimpa manusia yang hidup di sekitar danau di hari mendatang. dalam mimpi itu. walaupun nyawaku sendiri menjadi taruhannya. Mimpi menghimbau aku selalu dari tempat jauh. dengan berani menantang segala aral-melintang. kupikir. aku harus turut memikul bebannya. harus mulai sekarang memulai kerja ke arah itu. Karena aku merasakan persoalan itu. Mengajak aku memulai perjalanan mengikuti sungai. sudah berapa kali lagi peperangan terjadi di antara marga? Kalau tidak salah. aku menemui sebuah danau yang sangat luas. Dalam mimpi itu selalu aku dibawanya ke suatu tempat yang teduh. berani menantang segala cerita yang bersifat menakut-nakuti. aku diganggu mimpi. harus ada usaha mencari tanah habungkasan. Dibiarkannya Ronggur meneruskan: "Sudah sering Tio. Jadi. Dan. Aku tidak bermaksud membongkar yang sudah lewat. merintis jalan. karena setitik air parit. Pertengkaran karena setapak tanah. Ini sudah pasti.

Pada mulanya warna Jingga." "Jangan berkata begitu. Dengan suara tersengalsengal. memanggil aku. selagi aku di dekatmu." "Tidak Tio. Itu yang selalu menemani tidurku. mirip sekali dengan wajahku. Tidak seperti tanah di s ini. menelungkup di sana. tanah tipis yang menyaputi batu alam yang keras. Berobatlah cepat-cepat. Entah berapa lama." "Tidak Tio. Kata orang.Danau Toba yang kita kenal ini." "Ronggur." "Aku takut mendengar ceritamu. wajah almarhum ayah. Orang yang digoda setan. kemudian bertambah merah. "aku merasa takut! Aku takut!" "Janganlah takut. Kau perlu berobat pada dukun." Wajah Tio bertambah pucat. dia mengatakan: "Barangkali itu godaan setan jahat." Tio begitu saja menyandarkan kepalanya yang terhisak ke bahu Ronggur. Dibiarkan Ronggur. akan merasakan tubuhnya kurang sehat. Aku kau lihat sendiri. menunjuk tanah habungkasan yang subur padaku?" "Ronggur. Tio berbuat begitu. Tanah yang kutemui dalam mimpi itu begitu gemburnya. Apakah tidak mungkin. mula duka cerita yang akan mendatangi diriku." kata Tio lagi. Wajah orang yang melambai aku dalam mimpi itu dan menuntun jalanku mirip sekali dengan wajahku. Cerita itu. Jangan sampai kekuasaan setan tertanam didirimu. arwah almarhum ayah yang datang padaku. itu setan yang menyaru." untuk pertama kalinya Tio menyebutnya hingga Ronggur merasakan satu desiran menyinggung hatinya. Merangsangku di saat jaga. tetap sehat dan pikiranku tetap waras. "barangkali. Sore dengan perlahan beralih pada senja. lembayung .

Sambil menggonggong. Ibunya menyambut kedatangan mereka berdua di ambang pintu. Orang yang berpapasan dengan mereka tidak berapa mereka perdulikan. Mengikutkan arus Sungai Titian . Dalam mimpiku. Yang sendirinya menantang dan menghadapi segala kemungkinan. Tari warna bermain di wajah danau. Si belang kadang berlari di depan mereka. Pada pikirannya. Mereka makan bersama. walaupun itu bertentangan dengan adat. Tio mengikuti langkah Ronggur yang panjang dan cepat diayunkan. Kemudian berlari lagi ke belakang. yang menurul pertimbangannya masih tetap membawakan sifat dan kelakuan sebagai anak raja. Meruntuhkan satu kepercayaan. Dan. Ronggur tidak mau begitu. Jadi pada rumah itu. mungkin juga mula kelanjutan hidup keturunan.. dia sudah memilih teman yang akan diajak turut serta. Mereka sudah sering pulang terlambat. Dia sudah harus mengadakan persiapan untuk perjalanan itu. Angin tambah lemah. Tapi. Dengan cepat ibunya menyediakan makanan dan Tio membantu. selalu aku bertemu dengan seseorang yang wajahnya mirip benar dengan wajahku.. mungkin juga satu perjalanan yang akan mengakhiri hidupnya sendiri. bermarga. tidak terdapat atau dengan sengaja diadakan keharusan bahwa seorang budak harus belakangan makan. yaitu memakan sisa tuannya. di mana sebenarnya ayah dikuburkan. Ibunya pun merasa senang pada kelakuan Tio. "Ceritalah kembali ibu. Orang itu selalu mengajak aku agar memulai suatu perjalanan. Sedang ibunya tidak berdaya melawan kehendak Ronggur. hati Ronggur tambah digoda perjalanan yang harus dimulainya. Mereka menuju pulang. "Ibu. Karena sakit..tambah jelas. di riak danau. karena kecelakaan dalam perburuan atau . Tapi. Ceritalah karena apa ayah meninggal dulu." kata Ronggur sesudah makin seraya melap mulut.

Jangan lagi. Kau tentu tahu.Dewata sampai ke muara. katanya akan sia-sia. Dengan mata terbelalak akhirnya dia mengatakan. dikatakan para arwah. yang pulang kemudian. aku juga tidak tahu pasti. Keheningan menguasai ruang. Anakku. "Apa katamu. Tarikan napas yang terputus-putus. Ayahmu tidak pernah lagi pulang. ibu tidak mau mengatakan dan aku belum pernah berziarah ke kuburnya untuk meminta doa restu. Bukankah ibu mengatakan bahwa wa|ahku mirip benar dengan wajah almarhum ayah?" Ibunya tak langsung menyahut. Dia yang tahu! Dialah teman ayahmu yang terakhir pergi jauh dari kampung kita ini. ceritalah. aku akan pergi mencari sendiri. Bila aku katanya tidak mau melaksanakan permintaannya. di mana sebenarnya kuburan almarhum ayahmu. Dan. Bukankah aku bisa dikatakan orang. Kalau tidak. Tegak. anak durhaka. ibu sudah tua. ceritalah. Pergilah tanya bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan. hanya bekas Datu Bolon Guru Marsait Lipan. Ibu takut mendengarnya. tempat tinggal Datu Bolon itu sekarang. lalu: "Anakku." . Ronggur? Apa katamu?" "Orang itu selalu mengajak aku. Dan. dia akan selalu berduka. "Ibu. Tarikan napas ibunya yang satu-satu lagi dalam jelas kedengaran. lerpaku mendengarkan. agar memulai perjalanan mengikuti arus Sungai Titian Dewata sampai ke muara. Di mana sebenarnya kubur ayah? Sampai begini besarku." "Jangan lagi berkata begitu." Ibunya mengangkat wajah. Tapi. karena tidak pernah menziarahi kubur ayahnya?" Wajah ibunya tambah jelas memancarkan perasaan ketakutan. Kerja yang dimulai di masa hidupnya." "Ibu. melesu lagi.

Dihempaskan kembali pada derajat yang tidak berharga. panggilan negeri jauh. Ibunya dan Tio melihat saja. membelitkan ulos ke lehernya. Ibu tentu lebih tahu dariku bahwa dia tidak dapat dihalangi. dia terus berangkat. "Ibu. Tapi. Bukankah sudah sifat Ronggur begitu?" "Apa katamu? Kau sebut namanya? Nama Hulubalang Muda kau sebut?" Tio terkejut. Aku sudah berusaha mencegah. memaksa aku harus menyebut namanya. Dia sadar bahwa yang dihadapinya ialah ibu Ronggur. Tidak mau dan tidak dibolehkannya aku memanggilnya dengan Raja Ni Huta atau Hulubalang Muda. yang juga pada wajahnya bergantungan sesuatu ragam perasaan. Bu. Dari tunduknya dia menyahut: "Dia yang menyuruh aku." . karena marah sudah lupa pada masalah yang sebenarnya dihadapi. aku juga turut merasakan yang Ibu rasakan." "Dia menyuruhmu katakan?" "Benar begitu?" menyebut namanya? Itu kau "Benar. Kemudian ibu Ronggur menatap Tio. perempuan itu. Didengarnya perempuan itu menghardik setelah lebih dulu menarik napas yang panjang lagi dalam: "Berani kau menyebut namanya? Apa kau pikir dia sama derajat dengan kau?" Seolah orang tua itu. Bukan keinginanku. dia akan pergi memenuhi panggilan mimpinya. Dia tertunduk. Bu. Kenapa lidahnya terus sefasih itu menyebut nama Ronggur. yang tidak boleh menyebut nama tuannya. Tio menggerutu pada diri sendiri. Tadi dikatakannya padaku.Setelah Cepat Ronggur bangkit dari duduknya.

Tidak disuruhnya supaya si belang pulang. Menerobos gerbang perkampungan. dengan tersengal-sengal dan berusaha mengangkat kepala." Perempuan tua itu serasa dipukul kepalanya dan ulu hatinya. lalu: "Aku tahu bahwa perangaimu baik. Dia kenal pada jalan itu."Benar. mereka sudah berada di tanah perladangan yang di petak-petaki tanah yang . Tio." "Aku berjanji." "Tentu Ronggur sudah digoda setan. Jangan lagi sebut namanya." Baru kembali ibu yang sudah tua itu teringat akan masalah yang sebenarnya dihadapinya.tahu tentang martabatnya yang begitu tinggi? O. si belang mengikutinya. Di pematang sawah yang kecil lagi licin dia melompat-lompat memilih jalan yang baik. Gelap malam tidak diperdulikan. lalu perasaan takut mencekam dadanya. Bu. sekarang diberinya pula keizinan pada seorang budak belian menyebut namanya. Tanpa dipanggil. Sudah diizinkannya seorang budak belian makan bersama. Tapi. Apakah dia tidak . Ronggur sudah melintasi halaman perkampungan. Setelah melompati sebuah parit yang agak lebar. Penuhilah permintaanku ini. Dibiarkannya si belang mengikuti. Mula jadi Na Bolon. Bu. Perasaan marah kembali mencair. Langsung dia menuju dangau kecil yang terpencil di satu ladang. kau tidak sepantasnya menyebut namanya. Tapi. dia menatap Tio. Napasnya sesak. lindungilah anakku dari godaan setan. kemudian menyuruh si belang melompatinya. Bagaimana kalau tetangga mendengar kau menyebut namanya di depanku? Maukah kau memenuhi permintaanku ini?" "Akan kuusahakan. Dia tak perlu takut karena tergelincir." "Berjanjilah demi dewata.

Supaya kerbau tidak merusakkan tanaman yang ada di ladang. taring." kata Ronggur. Anakku?" tanya orang tua itu. begitu pula dalam perburuan. Baik dalam suatu perkelahian. Diberi pula berhiasan suatu benda mengkilat. meminta agar arwah nenek moyang dipanggil melindungi orang yang meminta tolong padanya." . berhadap-hadapan. Nak. Pakaian itu tidak ditanggalkannya walaupun orang tidak pernah lagi datang padanya minta diobati. kemudian diketahui Ronggur.ditinggikan sebagai batas dan langsung pula menjadi pagar. Orang tua itu sedang mengunyah sirih. Tempat tujuan. "Silakan. Ruang tengahnya begitu kecil. Mata orang tua itu tajam menumpu ke wajah Ronggur. terletak tempat sirih yang terbuat dari kulit kera. Bercahaya ditimpa sinar pelita yang lemah. pikir Ronggur. "Bapak. minta pertolongan melihat nasib. akar kayu yang dihitamkan dengan segala macam minyak dan lemak. izinkanlah aku mengajukan beberapa pertanyaan. ‘Pakaian datu’. apakah berhasil baik atau tidak. seperti matanya. bergantungan potongan gading gajah. Ronggur duduk di lantai seperti orang tua itu sendiri. beru kirkan bentuk ular sedang menjalar. Pada dadanya. Juga kerajaan tidak pernah lagi memintanya untuk menenung sesuatu maksud kerajaan. "Ada apa. Dia tambah menegaskan langkah. Yang pernah dibunuhnya. Di depannya lesung pelumat s irih. Bapak akan menolongmu sebisa mungkin. dan kuku harimau. Tangannya mengetuk pintu dengan lemah. Dilompatinya pula tanah tinggi itu. Dikejauhan sudah kelihatan cahaya pelita yang menerobos dari celah dinding. Setelah memberi salam. Suara parau menyuruhnya masuk ke ruang dangau. Di sebelah kanannya. Pada kedua lengan tangannya membelit kayu hitam.

Lalu kembali dia mengaju tanya: "Ibumu menyuruh kau datang padaku?" "Ya. "Anakku." "Ibumu tidak pernah menceritakannya padamu?" "Tidak. maka mula dan sebab kecelakaan itu harus diletakkan di pundakku. ibumu tidak mau menceritakan. bila sesuatu hukuman yang harus ditimpakan pada orang yang memulai malapetaka itu. kalau dikatakan bahwa kecelakaan itu punya mula dan sebab." Orang tua itu menegakkan kepala. "Bapak juga sudah lama memikirkan bahwa pada satu saat. Hanya Bapak kata ibu yang mengetahui dengan pasti. Ibu menyuruh aku menemui Bapak. Maafkan kesalahanku itu. tidak pernah. selama ini kupikir." Orang tua itu menarik napas yang dalam. tidak menanam dendam ke dadamu."Kata ibu. Aku juga harus mendukungnya. tidak menyangka pertanyaan begitu. aku harus menanyakannya pada Bapak. "Anakku. Kiranya. atau berusaha untuk menuntut balas. Bapak. Orang tua itu memperbaiki duduknya. Lalu mengalirkan dendam itu ke tubuhmu. Ibu sendiri pun tidak. Begitu dalam. maka hukuman itu pun seharusnya ditimpakan padaku. Dan." "Kenapa Bapak berkata begitu?" Lebih dulu orang tua itu menumpukan pandang ke mata Ronggur. kalau aku mau tahu kubur almarhum ayah." "Apa maksud Bapak?" tanya Ronggur pula. Kemudian kau membenci aku. mulut manusia yang harus kita beri makan akan bertambah . Dan. Orang lain tidak. ibumu mendendam padaku. dan kenapa almarhum ayah menemui saat meninggalnya.

cepat tinggalkan biduk'. Ayahmu begitu percaya akan hasil pertenungan bapak dan begitu percaya akan kekuatan gaibku. bapak cepat melompat ke pinggir sungai sambil berteriak: 'Ama ni Ronggur. Bapak menanyakan pada mereka di mana dapat ditemui tanah habungkasan yang subur. semacam gua. Bertambah hari bertambah deras. Waktu itu bapak masih memegang kekuasaan mutlak sebagai Datu Bolon Kerajaan. Kami pun memulai perjalanan. Sehingga hasil yang dapat diberikan tanah yang ada di sekitar kita tidak akan mencukupi. di kiri kanan kami hanyalah batu alam melulu. Setelah mengunyah sirih lalu meludah dari celah lantai. Mulut gua itu menganga seperti mau menelan. Tapi. Bapakmu dan biduk lalu dihanyutkan arus yang menggila. yang berbeda dengan hasil tenungku. Yang bapak rasakan menyuruh bapak cepat meninggalkan tempat . Maka kami pun mulai mengadakan perjalanan mengikuti Sungai Titian Dewata tanpa memperoleh halangan dari kerajaan. dia melanjutkan. "Hasil pertenungan itu kuceritakan pada ayahmu. Agar pertengkaran karena setapak tanah dan yang bisa meledakkan satu peperangan bisa diatas i. Sebuah terowongan batu. Karena tidak tahan menerima kenyataan ini. di tengahnya air sungai mengalir. air menuju ke sana. Sebuah lengkingan yang panjang menggema. Pecah di sana. sewaktu bapak melompat itu keseimbangan biduk hilang. Dan. Begitulah bapak memulai pertenungan." Orang tua itu terbatuk sebentar. Tapi. Dihantamkan ke dinding batu yang keras.banyak. Hingga akhirnya biduk yang kami tumpangi tidak terkendalikan. Itulah lengkingan yang paling akhir. Menanyakan arwah gaib yang tidak dapat dilihat mata. Tanah perluasan harus dicari dan ditemukan. bapakmu hulubalang yang dihormati kerajaan karena keberaniannya. Dia juga sepakat denganku. Hasil tenung itu mengatakan pada bapak. Air seperti mau membulat. ikutilah Sungai T itian Dewata. apa yang kami temui? Pada suatu tempat tertentu. setelah berhari-hari berkayu. mengikuti jalur sungai.

Wajah Ronggur di samping merasakan perasaan duka. Turut memikirkan apa yang dipikirkannya. tapi bercampur baur dengan perasaan bangga dan gembira. Kerongkongannya tersendat. Di antara isaknya dia masih mengatakan dengan suara parau: "Maafkanlah kesalahanku. Tafsir tenungku tidak benar. Bapak mendengar usulmu. Bapak disisihkan dari pergaulan sehari-hari." Suara orang tua itu menjadi tambah parau. Tidak pernah lagi kembali. Justru karena ada juga orang yang bisa atau turut merasakan apa yang dirasakannya. Suara air yang bertemparasan ke dinding sungai yang terbuat dari batu alam yang hitam. Dan. menyanyikan kemenangannya dan kegagalan serta kekalahan kami” Orang tua terdiam sebentar. Membuat salah seorang sahabatku menjadi korban. berkerisik dan kuat. Dan. Tapi. Tapi. Dari matanya meleleh titikan air bening. "Akhirnya bapak percaya bahwa ayahmu sudah menjadi korban atas kemurkaan dewata. Seperti berusaha mengingat sesuatu. Tidak pernah lagi orang datang meminta bantuan. tempat bapak di tengah rimbunan bambu duri agar orang tidak melihat bapak. Bapak terpencil. Tenungku salah. sejak itulah bapak tidak pernah lagi dipanggil kerajaan mengadakan pertenungan. Memang mereka ." Orang tua itu menundukkan kepala. Anakku. pada upacara besar yang dilangsungkan di halaman perkampungan. berusaha mencari tanah habungkasan. Anakku. bapak tetap juga mengikutinya.itu. dia tidak pernah lagi muncul. Dari tempatku yang tersembunyi itulah bapak melihat dan mendengar usulmu. Sedang Ronggur khusuk mendengarkan. Anakku. Tapi. agar orang mencari tanah habungkasan mengikuti arus Sungai Titian Dewata. Namun bapak masih menantikan ayahmu untuk beberapa hari.

Ronggur mengatakan: ”Bapak. telah lebih dulu memikirkannya bersama almarhum ayah?" “Benar. Bapak. Risiko yang harus kita terima. Hasil tenungku tidak diperlukan orang lagi. Ah. Kegagalan yang ditemui bapak." "Apa maksudmu. waktu dia dulu turut membela hasil tenungku. waktu kau berbicara itu dengan suara yang lantang berani." "Itu risiko. sahut Rongur sendiri atas segala pertanyaan yang timbul dalam dirinya." "Seharusnya begitu. kemudian mengetahui kegagalanku dan meninggalnya ayahmu. Malah kegagalan itu harus dibuat menjadi batu loncatan.menemui kegagalan. lalu menimbulkan korban yang tidak kecil harus dihormati. Anakku?" . kepercayaan mereka tambah menebal juga. apakah satu kegagalan harus dihukum dengan kutuk dan dendam? ‘Tidak’. Setelah memperoleh kesimpulan ini. Agar kerajaan tidak menghalangi keberangkatan kami. yang punya kepercayaan bahwa Titian Dewata sungai dewata." "Bapak. aku menghormati pendapat bapak tentang perlunya tanah habungkasan. Cita yang baik. Aku mendengar usulmu. Anakku. janganlah karena itu kita lantas menanggalkan satu cita yang tumbuh dalam dada kita. Sampai ditemui satu kemenangan. Tapi. Tapi. yang tampak oleh mataku. Segala percobaan yang berusaha mendekati kebaikan dan mengupas kebenaran. darinya atau padanya tidak sewajarnya dialamatkan dendam. jadi bapak mendengar usulku? Dan. orang yang ada di sekitar kita. Malah bapak sendiri lalu disisihkan dari pergaulan. walau menemui kegagalan sekali. seperti almarhum ayahmu sendiri. Ditoleh sedemikian rupa sehingga sumber kegagalan pertama dapat dilintasi. Tapi.

Tapi. Tapi." "Kalau begitu harus diusahakan melayarinya dengan perahu. ada baiknya kau pikirkan bahwa sesuatu sungai biasa. pada pangkalnya mempunyai arus yang kencang. lambat laun tambah ke hilir. itu menatapi dan membiarkan Ronggur "Kata Bapak. Bukankah itu pertanda bahwa sungai itu memang lain dari sungai biasa?" Ronggur terdiam. Dasar perahu harus agak luas dibuat agar tidak mudah terbalik waktu melawan arus atau melalui arus. dengan suara pasti dia mengatakan." kata orang tua itu pula. apakah menurut pendapat bapak. Yang lebih besar dari biduk. Bukankah arus menggila itu memang satu pertanda bahwa sungai akhirnya memang jatuh ke satu tempat yang maha dalam. yang menurut kata orang di sekitar ialah ujung dunia?" Ronggur masih terdiam. penumpangnya akan dihanyutkan arus tanpa ampun. Keningnya berkerut. sungai ini lain. Lalu. setelah mengalami kegagalan bahwa Sungai Titian Dewata memang jatuh ke ujung dunia?" Orang tua itu mendongakkan kepala. melayari sungai dengan biduk?" . "Tapi. Dinding batunya begitu keras.Ronggur menarik napas yang dalam." "Pikiran yang baik. Lalu. aku harus melanjutkan pekerjaan yang gagal itu. "Sudah tiba saatnya. "Ya." Orang tua berbicara. Aku harus melanjutkannya." kata orang tua itu. Tidak sempat berenang ke tepian. Kalau perahu terhantam ke sana pasti pecah. "dapat dikatakan cukup menggila. "Arus itu. Pada pangkalnya tidak berapa deras arusnya. Dan. dia mengaju tanya pula: "Jadi. menjadi deras arusnya. Aku harus dapat mengatasinya.

" "Nah. kenyataan keadaan sungai itu tidak dapat dipungkiri. dengan akal begitulah aku bermaksud melayari Sungai Titian Dewata sampai ke muara. Karena hasil tenungku sampai saat ini tetap berpendapat bahwa sungai itu tidak jatuh ke ujung dunia."Tidak dapat kupastikan. harus menggunakan batu pemberat. setiap itu pula batu itu kita jatuhkan ke dalam air sebagai penahan. Talinya kita ikatkan pada buritan perahu." . Boleh jadi arus menggila karena sungai melalui riam yang banyak ditemui pada sesuatu sungai. Tapi." "Karena itulah. Setiap melintasi arus yang tambah kencang. kumohonkan doa restu." Orang tua itu menundukkan kepala." "Boleh jadi riamnya lebih dalam." "Boleh saja kita berpendapat begitu. aku harus melayarinya dengan perahu yang jauh lebih besar dari biduk. Agar perahu tidak dihanyutkan arus dengan sesuka hatinya. Tapi. Karena pendapat ini jugalah membuat bapak disisihkan orang. Karena arus sesuatu riam tidak akan begitu kencang dan begitu menggila." "Juga tidak dapat bapak jawab. darimu. sewaktu melintasi arus sungai harus menggunakan tenaga pembantu. Dan. Anakku. begitu pula arwah almarhum ayah." "Nah. kalau begitu yang kita hadapi hanyalah arus sungai yang menggila. Agar kami direstui dan diberkati para dewata dan arwah nenek moyang. Dan. Mengiakan lalu mulutnya mengatakan: "Satu pikiran yang baik." "Maksudmu?" "Batu sebesar kepala manusia atau sebesar kepala kerbau kita ikat. Tidak cukup kemudi saja menahan kencangnya perahu.

Anakku. kalaulah bapak masih muda. . "Anakku. Sesudah ini s iap semua. sedang mulutnya mengatakan dengan suara pasti: "Anakku. Bapak. beritahukan pada bapak kelak. perjalanan ini tidak mudah. masih punya tenaga yang kuat. doakanlah agar anakmu ini selamat dalam perjalanan. Kau akan menghadapi rintangan kepercayaan orang yang ada di sekitarmu. "Dan. Tenaga gaib yang dipunyainya. di samping Ronggur. sambil Malam sudah jauh. untuk pertama kali sete lah bertahun-tahun ada orang meminta pertolongan doa restunya. Sebuah perahu yang agak besar. Beberapa gulungan tali ijuk yang kuat." kata Ronggur." "Baik. perjalanan itu akan kumulai. Matanya bersinar. berusaha menembus segala kegelapan yang menyungkup keadaan sekitar. aku mau mempersiapkan peralatan yang kuperlukan dulu. aku akan datang memberitahukannya pada Bapak. Si belang berlari-lari mengibaskan ekor. Dan." Ronggur meminta diri. Orang tua itu melepaskannya menerjang kelam malam yang pekat. Karena itu kekuatan jiwa dan tekad yang padu harus kau punyai dan kau pupuk selalu dalam hati. Tapi. kapan kau hendak memulai perjalanan itu." "Doa Bapak yang akan mengiringi langkahku. kurasa lebih besar manfaatnya dari apa saja. yang punya dasar yang lebih datar dari perahu biasa. dibaliknya pagi."Bapak akan membantumu." kata orang tua itu seraya pundak Ronggur ditepuk-tepuk. Dadanya diangkat. Karena. Ah." Orang tua itu merasa gembira bercampur bangga karena ada orang yang sependapat dengan dia. bapak akan turut bersamamu. Mata orang tua menyinarkan cahaya kemenangan.

Mereka terus melangkah. Orang tidak ada di halaman. Tapi. Ronggur sudah berada di halaman bersama T io dan si belang.ccdw-kzaa 3 Kabut pagi masih rendah menyungkup tanah. Jalanan terus menanjak. Lewat perkampungan danau. tampaknya. Langsung rombongan kecil itu mengarah ke kaki bukit sebelah barat. Di pundaknya disandangkan sumpit bertali. dari gerak-geriknya si belang gembira. Mereka tampaknya akan mengadakan perjalanan yang tidak dapat dikatakan pendek masanya. dan rendah. meregangkan tubuh seperti mengendorkan urat yang dibekukan dingin pagi berkabut rendah. Air yang biru tidak dapat dilihat pandang. tapi sudah tambah menipis dengan bertambah tingginya hari. Di tubuhnya membelit tali ambalang. lebih kental. Bergegas. Karena seperti tahu bahwa mereka akan mengadakan perjalanan yang lama dan jauh dari lingkungan perkampungan. Si belang sering menggonggong. Semua teggelam ke perut kabut. Tangannya juga menggenggam kampak dan tombak. begitu pula Pulau Samosir dan T uktuk Sigaol. yang berisikan alat kecil. Matanya sering tertumpu ke pinggang Ronggur yang menyelipkan panggada. Tio tetap mengiring dari belakang bersama si belang. Tangan kanan Ronggur menggemggam kampak. kabut di sana lebih tebal. Perkampungan tambah tertinggal di bawah. panjang. Ronggur melangkah cepat. Masih juga dibalut kabut. tangan kirinya menggenggam tombak. Pundak Tio juga menyandang sumpit bertali yang berisikan beras. dan menembus kabut. .

Matahari tambah tinggi berlayar di langit dan sinarnya terus menerus tambah terik. bertambah lama bertambah jelas tampak. Ini semua dapat dilihat setelah melalui tingkatan sawah yang padinya sedang bunting. sudah mulai bangkit. jalanan menanjak. dan perkampungan serta danau. Untuk tampak kembali pada tempat di mana ilalang agak rendah. Biasanya. bersembunyi di sana menanti mangsa. lalu ilalang itu bergoyangan. Di sebelah lain Tuktuk Tarabunga menjulur ke depan. Mereka meneruskan langkah. Karena ingin cepat tiba ke tempat yang dituju. Terasa pedih juga bila sayatan kecil itu dibasahi keringat. penangkap ikan yang bekerja semalaman mengayuh menuju pantai. Terkadang mereka seperti tenggelam di padang ilalang yang cukup tinggi. Pada tempat tertentu tampak tumpukan bambu duri yang melingkar. Air danau biru tenang di pagi hari tanpa angin. seperti hendak menjangkau Samosir. terkadang menyayati daging mereka dengan tipis. sekarang sudah tampak isinya. Satu dua biduk berlayar di permukaan danau. pertanda pengisi kampung sudah bangun dari tidurnya. Akhirnya keputihan yang pekat tadi yang merupakan satu bundaran yang tidak berujud. Setiap saat. Itu yang membuat . tambah jauh berada di bawah. si raja hutan. dedaunan padi yang menghijau. Pertanda perkampungan. secara berangsur perlahan. Angin yang berdesir di lidah ilalang yang tinggi. Matahari memberi sinar. Permukaan danau. Asap sudah mengepul dari kampung itu. Tergesa tampaknya.Kabut yang rendah tambah terangkat. tambah jauh mereka di atas. Untuk kemudian secara perlahan mulai menyisih dari tanah. suluh abadi yang dikenal mereka sejak masa kanak. Samosir dan Tuktuk Sigaol berhadapan. Langkah mereka begitu cepat diayunkan. Lidah ilalang yang bergoyangan. Tidak banyak mereka mengeluarkan kata. tepian Pulau Samosir dan Tuktuk Sigaol.

kita sudah harus menuruni lembah berhutan yang ada di salah satu lekuk danau." Tio tidak menyahut. dan teduh. Tapi. Agar kita tidak kemalaman mencari tempat bermalam. berair. Dalam hati terucap kata: akan kutembus kau sampai ke muara.Ronggur tetap was-was. Barat. cukup hijau. Dari tempat ketinggian. Dedaunan yang rapat didukung pepohonan yang tumbuh di sana. tapi terus mengikuti tuannya. Lidah si belang terjulur merah dan berbuih. Mata Ronggur lama tertancap ke sana. danau yang biru. kenapa sungai itu harus diadakan dewata. Mereka sudah dapat mencium bau dedaunan yang segar. Dia tidak menggonggong lagi. Beriak-riak. "Sebelum matahari condong ke barat. mereka menatap ke sekitar. Melihat Ronggur bersikap begitu. Matahari terus berlayar di langit dan mereka terus melangkah di bumi." kata Ronggur. Sawah menghijau oleh dedaunan padi yang sudah panjang dan sudah bunting. "juga untuk memilih dahan pohon yang baik untuk tempat tidur. hanya ke arah belakang yang kandas pada pegunungan. Pandang bebas diarahkan ke mana suka. ketakutan bercampur baur dengan penyesalan. Utara. Bermula dari pantai danau. Langkahnya tambah dipercepat dan diperpanjang. menampung . Di tangannya terus tergenggam tombak dan kampak. didasarnya hutan yang mereka tuju. melalui tingkatan dinding teluk. dada Tio bernadakan lagu lain. berakhir ke kaki bukit. Alis matanya terangkat. Kelompok bambu duri pertanda perkampungan tambah banyak dapat mereka lihat dari sana. Dari sana tampak lebih jelas lagi. dilincahkan sebagai sahutan. di teluk di mana Sungai T itian Dewata bermula. siap sedia dipergunakan. Mereka menuruni lembah berhutan yang tidak berapa luas. Tercecer bertumpuk di sana sini.

Ronggur sudah tahu bahwa mulai panen tahun muka. Jadi. setiap marga merasakan bahwa kerajaannya punya hak atas hutan itu. sudah beberapa kali dilangsungkan sidang kerajaan dengan kerajaan. marganya harus memperoleh bagian. Bila satu luhak telah menang. Satu marga mengusulkan. Kalau hutan itu dibuka. hingga tanahnya tetap teduh dan berair. Untuk membuka hutan itu lalu membagi-bagikan tanahnya bagi warga marganya. Sampai sekarang memang belum ada satu marga pun yang mempunyainya. Begitulah. boleh marganya tidak memperoleh tanah bagian. Kerajaan marga lain yang juga mendengar berita itu dengan tandas pula menyatakan maksud masing-masing. Yang bisa membuat satu luhak berkelahi dengan luhak lain. buatan alam. harus mengadakan pertemuan kerajaan. tapi sebagai pembayar bagiannya kerajaan lain harus memberikan kerbau pada kerajaannya. Tapi. Jaringan dahan dan rantingnya.sinar matahari. Akhirnya setiap kerajaan marga yang berdekatan. Pada mulanya . permadani yang lembut. Dedaunan gugur me lapisi permukaan tanah. untuk membicarakan masalah hutan itu. Di induk kampung marga Ronggur juga sudah pernah diadakan pertemuan. bisa saja timbul peperangan yang berturut-turut. Masalah itu memang hangat dibicarakan. Yang mungkin pula menimbulkan peperangan marga. bersamaan dengan niat itu kerajaan marga lain juga telah memutuskan untuk membuka hutan itu untuk dijadikan tanah persawahan marganya. tapi. Tapi. antara marga sendiri pun akan ada pertengkaran. belum sampai ke taraf yang menentukan. kerajaan marganya sudah memutuskan membuka hutan itu untuk dijadikan tanah persawahan. Tapi. mendukung dedaunan. Tapi. yang di tempati beberapa marga. hasilnya masih tetap sama: belum memperoleh kata mupakat. dari tanah hutan yang tidak seberapa luas itu.

Ronggur kembali duduk. "Bila selesa i makan. Kesejukannya telah memberikan kesegaran bagi mereka yang sehari penuh dipanggang sinar matahari. Si belang. bila marga lain itu tetap merasakan bahwa kerajaannya punya hak juga atas hutan itu. pikir Ronggur. kumpulkanlah ranting kering. Memberi beberapa jemput untuk si belang. Lidahnya terjulur ke luar. Tio mengiakan. Dan. Memperbaiki jalan pernapasan. lantas mengatakan: "Tolong berikan sebungkus. dia bisa lebih dulu menemui tanah habungkasan. Hendaknya. Suatu kerajaan yang memperolehnya. kemungkinan pecahnya peperangan begitu besar. lalu melanjut pada yang lebih kecil. Diambilnya sebungkus untuknya. Menelentangkan diri. untuk membuka hutan itu. akhirnya dapat memindahkan beberapa keluarga ke sana. Untuk bahan bakar api unggun malam hari. Ronggur duduk melepas lelah pada teduhan sebuah pohon. sudah jelas garisnya: peperangan tidak terelakkan lagi. sebelum peperangan dari perebutan hutan itu meledak. atas putusan kerajaan Ronggur." padaku nasi yang kau bawa itu Tio cepat memberikan. mendudukkan diri tidak jauh darinya.peperangan luhak. Namun untuk merebutnya. tanpa memperdulikan kepentingan kerajaan marga lain. Tanah perluasan buat sementara. Karena luasnya tidak seberapa. Tepi hutan." kata Ronggur lagi. . Mereka menurun ke lembah berhutan dielus angin sore yang nyaman. Berbuih. Hanyalah tempat singgahan sementara sebelum tiba ke saat yang ditakutkan Ronggur. Menutup mata. peperangan kerajaan marga.

Dihidupkannya api. dan tidak vertikal. Ronggur memilih dahan yang baik untuk tempat tidur. "Biarlah di tanah. Sebentar lagi matahari akan tenggelam. dia sudah dapat mencium dari jarak jauh." Lagi-lagi T io mengiakan. sedikit demi sedikit supaya api tidak mati. Dahan yang patah dari sesuatu pohon dipotong." Begitu tergesa mereka menyiapkan sesuatunya. Dan tetap ada nyala menjilam. Lantas memberi bantuan. Tapi. Mula-mula dibakar ranting. Penciumannya cukup tajam. Bila bahaya datang."Hari sudah sore. Di sini cepat gelap. Di bawah dahan mereka bakar api unggun. lalu dibawanya ke bawah pohon tempat mereka bermalam." kata Ronggur pula. cukup besar. "kita memilih dahan tempat bermalam. Dahan yang dipilih Ronggur untuknya dan untuk T io tidak berjauhan. Tio tidak hanya mengumpulkan reranting. Di mana tubuh enak ditelentangkan. Dia akan terus menggonggong lalu membuat kita bangun. yang bercabang dua. tapi mendatar. . Tidak sekali banyak. Baru Tio memulai mengonggokkan ranting di lapisan bawah diatasnya dahan. Ditatapi Tio terus sampai Ronggur hilang ke antara pepohonan atau tenggelam kerimbunan rerumputan yang tinggi. Membuat lobang pada salah satu sisi jurang tidak sempat lagi. Juga bisa mengusir dingin malam. Agak gepeng sedikit. agar nyamuk tidak banyak mengganggu. Ronggur pergi menyusuri tepian hutan. Potongan dahan kayu yang sebesar betisnya dionggokkannya kenyala api menjilam. Bara memanas di bawah bila sudah ada dahan sebesar betis yang habis dimakan api. Sebaliknya. Tidak terlalu bulat. Agar terhindar dari gangguan binatang buas. "Si belang di mana tidur?" tanya Tio.

mengendorkan maksudnya.Ya. Dari jauh sudah kedengaran siulan Ronggur datang mendekat. Tapi. bagaimanapun kumpulan pohon maranti batu yang masih muda itu. pikirnya. Tapi. Ronggur melihat api yang sudah menyala dan memberi kilatan cahaya pada sekitar. yang dapat mencegahnya. harus turut baranya dipadamkan baru tidak mengandung panas lagi. Sedang panjang batangnya yang lurus hendaknya melebihi tiga depa. sudah kutemui kumpulan pohon maranti batu. Begitu pula dengan tekad perjalanannya yang akan menempuh Sungai Titian Dewata tak satu pun kekuatan baik melalui kemesraan dan kasih. bila hendak memadaminya. Sambil tersenyum Ronggur berkata: "Kau pandai menyalakan api. sesuatu yang dipikirnya dan dirasakannya punya kebenaran. Walaupun itu berarti dia akan merombak kepercayaan yang sudah tertanam di dasar hati penduduk turun-temurun. belum kutemui maranti batu yang cukup tua. Sehingga apa yang dilihat itulah. tak seorang pun dapat menghalanginya untuk mengerjakannya. Ronggur dapat diibaratkan seperti api unggun. Tingkah lakunya yang dapat dilihat atau yang muncul kepenglihatan. yang dikatakan sikap jantan yang berani. Seperti api unggun itu sendiri. Di tikungan jalan tikus menanjak sana. sudah menjadi pertanda bahwa di hutan ini akan kutemui pohon yang kuperlukan. baik melalui ancaman bahaya yang mungkin ditemuinya. Dedaunan yang merimbun menampung cahaya matahari yang sudah lemah. mengandung bahaya lagi yang bisa membakar dan menghanguskan." “Harus pohon maranti batu?" tanya Tio menyeling. masih menyimpan bara kehidupan yang cukup besar didasarnya. yang baik dijadikan perahu. yang cepat menjadi kelam. atau dia sendiri akan musnah. Pohon yang kuperlukan harus cukup tua lagi besar. . senja.

Dalam hati selalu mengiring tanya. namun T io bila memang Ronggur harus berangkat juga. tidak mengajaknya? Betapa pun ancaman yang tumbuh dari maksud perjalanan itu. Sudah ada yang tua. Airnya bening. Itulah kerjamu. Tahukah kau di sebelah hulu parit. kita tidak akan kekurangan daging di sini. Walaupun tubuh Ronggur cukup tegap menyimpan . banyak pohon aren liar tumbuh. walau susah mengerjakannya karena kayunya cukup keras. agar ada daging persediaan. kalau bisa sebesar pergelangan tangan. Harus pula panjang. Semua perahu yang baik dibuat dari jenis kayu itu. Dan.“Ya. Jadi." Kemudian Tio terdiam. “Besok pagi benar. bila diingatnya bahwa Ronggur akan menyusuri sungai Titian Dewata mencapai muara. Apakah Ronggur pergi sendiri. Kita harus mengadakan pengintaian. mereka tidak akan mati kelaparan. Jangan lebih dulu menebang kayu. Lagi. Kau harus menebang pohon aren yang sudah tua itu. Matanya seperti bermimpi." sahut Tio." Tio mendengarkan. akalnya yang cukup banyak. maka itu sangat lain soalnya. Binatang akan pergi menjauh. daya apungnya sangat baik. dia ingin ikut. bangunlah. kekuatan tubuhnya memberi jaminan. Menatap entah ke mana saja. Di tepi parit banyak kulihat bekas jejak binatang buruan. Suara kampak yang berlaga dengan pohon kayu bisa menakutkan binatang. Tapi meranti batu tidak mudah busuk walau direndam dalam air dan dipanggang terik matahari. Tapi. kutemui pula parit kecil. Begitu yakin dia bahwa kemana pun dia pergi. Keberaniannya. bila bersama Ronggur. Harus cukup besar." “Aku akan mengerjakan. Ronggur melanjutkan: “Sewaktu aku meneruskan perjalananku lebih ke atas. Memintal ijuknya menjadi tali. Membunuh beberapa ekor binatang itu. kuperlukan dalam perjalanan. Sangat kuperlukan nanti dalam perjalanan.

Jengkrik dengan kerisiknyayang nyaring dan di kejauhan gonggong dan salak anjing liar selalu membuat si belang mendongakkan kepala. Si belang duduk di . jangan melancip. pikirnya. lalu tampak bara membara. dekat unggun api. Malam begitu dekatnya. akalnya banyak. semuanya itu tidak berarti. Ya. Yang dibuat dari bambu. Tapi. apakah Ronggur tidak dapat membaca apa yang tersirat dicerlang matanya? Malam hari. Namun dia tidak mengatakan. bisa mengikuti arus sungai walau melalui riam. Harus bisa dibuka dengan cepat. Si belang di bawah. Mendengarkan dan meraba sumber suara itu. Jilam-nya begitu tinggi. Menimpakan beberapa potong lagi dedahanan ke atas api. Sudah di reka-rekanya bahwa dasar perahu harus mendatar. Karena mungkin saja diperlukan pada saat tertentu. Dalam hayalnya Ronggur sudah menggambarkan bentuk perahu yang hendak dibuatnya. Tapi. namun untuk menghadapi ketentuan dewata. berbentuk gepeng. Biarlah perahu agak lamban jalannya. Kalau dewata berkehendak. Hingga jilam yang mau padam tadi. agar tidak jatuh sewaktu diri lelap tidur. Ronggur menyuruh Tio mengikatkan tubuh ke dahan kayu yang bercabang. Tapi.. penimba air harus dibawa serta.tenaga yang kuat. kembali menyala. siapa pula dapat menantangnya? Entah kenapa perasaan takut itu tambah hari tambah dalam mencekam di hatinya. Tambah jauh malam nyala itu tambah mengecil. Binatang rimba mulai bernyanyi. Sekitar menjadi terang dan panas. ikatannya jangan dipintal mati. Nyala menjilam dari unggun api. Kurang wajar rasanya dia menasihati perjalanan yang sudah diputuskan Ronggur harus ditempuh. Dinding perahu harus agak tinggi agar tidak dimasuki temperasan air yang memercik. Biarlah tidak bisa dikayuh cepat. apalagi kalau dilanggar ketentuannya. Ronggur juga mengikatkan tubuhnya ke dahan tempatnya tidur. Ronggur turun ke bawah.

tanah dekat api melihat jilam api yang terkadang meliuk ditiup angin lalu. "Perahu yang kubuat," lanjut Ronggur berbicara pada diri sendiri setelah dia kembali me letakkan diri dan mengikat tubuhnya ke dahan kayu itu. Harus bisa memuat penumpang sebanyak tujuh orang paling sedikit. Dasar perahu harus lebih lebar dari perahu biasa, agar tidak mudah oleng waktu melintasi riam sungai. Juga agar mudah menjaga keseimbangan. Sudah dibayangkan, siapa yang akan diajaknya serta. Akan diminta kesediaan mereka menemaninya. Dan, ke dalam yang tujuh orang itu, tidak termasuk Tio. Perjalanan yang menanggung risiko begitu berat, bukanlah pekerjaan perempuan. Lagi, Tio perlu dekat ibu. Membantu mengerjakan sawah bila saat panen tiba. Siapa ttliu, boleh jadi perjalanan itu sangat panjang. Dikiranya pula, bila setiap hari dia mengerjakan perahu, dalam dua kali purnama tenggelam dan terbit lagi sudah bisa selesai. Berarti sepulangnya dari hutan itu, padi telah menguning di sawah. Sehabis panen, dia akan memulai perjalanan itu. Seketika, teringat dia atas maksud kerajaan marganya untuk membuka hutan itu menjadi tanah persawahan. "Ah," pikirnya pula, "dari orang yang sangat dekat dengan Raja Panggonggom, diperolehnya keterangan bahwa s iasat itu baru gertakan saja pada kerajaan marga sekitar. Untuk menduga sampai di mana kesungguhan kerajaan marga lain itu untuk menguasai hutan itu. "Tapi, betapa pun," pikirnya pula, "hutan itu akan dibuka orang juga. Dan, darinya timbul satu ancaman pada ketenteraman hidup. Karena setiap kerajaan marga merasakan sama-sama berhak atas hutan yang kecil itu."

"Tio, kau sudah tidur?" tanyanya. Tidak ada sahutan. "Ah," pikirnya, "Tio sudah tidur." Dan, dia masih belum bisa memejamkan mata. Pikirannya terus berbicara dan bercerita dan mereka-reka bentuk masa datang. Dia tidak tahu pasti, kapan dia jatuh tertidur. Kokok ayam hutan membangunkan mereka. Cepat Ronggur turun dari dahan. Begitu pula Tio. Setelah meregangkan tubuh beberapa saat, menguapkan mulut. "Enak tidurmu malam tadi?" tanya Ronggur. Tio hanya menundukkan kepala. Sekitar masih remang. Masih pagi benar. Tapi, bila mereka pergi ke pinggir hutan, tahulah mereka bahwa matahari sebenarnya sudah muncul di atas pundak Dolok Simanuk-manuk yang dapat mereka tatap dari mulut teluk. Dedaunan yang rimbun menghalangi sinar matahari jatuh menimpa wajah mereka. Cepat-cepat Ronggur mengajak Tio mendekat ke parit yang dikatakannya semalam. Perlahan-lahan mereka mendekat, seolah-olah tidak menimbulkan buny i. Walau melalui ranting-ranting kering yang berserakan di atas tanah. Ronggur menunjukkan sekumpulan pelanduk yang sedang minum dan bermain-main di parit kecil itu. "Lihat," bisik Ronggur. "Bidiklah yang sebelah sana, yang kepalanya berbelang putih. Aku membidik yang kakinya berbelang." Tio mengiakan dengan anggukan. Bersama mereka mengayunkan tombak yang cepat melayang. Lalu, tertancap ke sasaran. Karena terkejut, pelanduk lain melarikan diri. Sedang pelanduk yang dikenai tombak melengking dan berusaha melarikan diri beberapa jauh, membawa luka di tubuh yang mengucurkan darah. Untuk itu, si belang cepat bangkit dan mengadakan pengejaran. Digigitnya kaki pelanduk itu sampai tidak berdaya. Sampai rubuh ke tanah. Kemudian si belang menggonggong, mewartakan kepada tuannya di mana pelanduk tergeletak.

Ronggur dan Tio cepat mendekat. Mereka kuliti binatang itu. Dagingnya mereka potong tipis-tipis. Mereka jemur di atas batu yang langsung menampung sinar matahari penuh tanpa dihalangi dedaunan. Sehari itu, si belang disuruh menjaga agar tidak dicuri burung gagak. Rongur memilih dinding jurang yang baik digali untuk membuat lubang perlindungan, tidak jauh dari parit kecil agar mudah mengambil air. Berdua mereka menggali. Mulut lubang dibuat besar, hingga bisa masuk dengan leluasa. Sedang ruang dalam agak luas. Mereka bisa menyangkutkan ulosbatak sebagai batas tempat tidur masing-masing. Sampai jauh malam mereka mengerjakan lubang itu. Peralatan mereka simpan di sana. Begitu pula dengan daging hasil pemburuan tadi pagi yang harus dijemur besok harinya, karena belum cukup kering untuk disimpan. Mereka gembira karena sudah memperoleh daging yang dibutuhkan dan sudah punya lubang perlindungan. Ronggur bisa tidur nyenyak malam itu, begitu pula T io. Di mulut lubang si belang tidur-tiduran. Seperti menjaga kemungkinan adanya gangguan binatang buas. Pagi itu, Ronggur melanjutkan mencari kayu. Dia menyuruk-nyuruk di bawah rerantingan, menyibak rerumputan yang terkadang berduri dan melukai tubuhnya dengan garisgaris kecil. Tapi sudah dapat menitikkan darah untuk kemudian membeku Agak jauh di tengah hutan, baru ditemui pohon yang dicari. Besar batang pohon, tiga kali pelukannya. Panjang batang pohon yang tegak lurus, sekira tiga depa. Diperiksanya batang pohon itu baik-baik, hingga dia yakin bahwa pohon itu sudah cukup tua. Dikulitinya batang pohon sekira sejengkal, lalu tampak kayu yang sudah berminyak. Kemudian dipanjatnya. Diperiksa, apakah tidak terlalu banyak mata kayunya. Tahulah dia bahwa kayu itu cukup baik dijadikan perahu. Langsung saja Ronggur mulai mendahaninya, agar waktu tumbang nanti

Persilangan itu diikat dengan rotan kuat-kuat. Sedang persediaan beras tampaknya tidak berkurang-kurang karena persediaan tepung umbi aren. yang panjang lagi kurus. mendorongkan perahu yang mau terhempas ke tepian berbatu dengan menjolokkan galah ke pinggir sungai berbatu. Katanya sekali waktu pada Tio. Bila air sungai tidak berapa dalam bisa digunakan membantu jalannya perahu. Ronggur menaikkan batang pohon maranti batu itu ke atas . Batangnya dibelah. Sedang batang pohon maranti batu yang sudah tumbang itu. galah itu sangat diperlukan dalam melayari sungai. Tepat sepanjang yang diperlukannya. Umbi aren diasingkan untuk ditumbuk. Ujungnya dilancipkan kemudian dipacakkan ke tanah. Dua biji lagi kayu yang tidak berapa besar ditebang Ronggur. Belahan pohon aren dijemur di bawah terik matahari. kemudian direndam dengan air. Dibuatnya pula pacakan begitu dua lagi. diukurnya. dimakan pengganti beras. Dari dedahanan kayu yang ditebang Ronggur.tidak menyangkut pada pepohonan lain yang bisa menimbulkan cacat pada pohon itu. lalu ditapis untuk diasingkan tepungnya Yang baik. Atau. kembali mereka mengadakan pemburuan. Dengan dibantu Tio. Batang pohon itu dipotong. dua tiga biji dipilihnya untuk dijadikan galah. Ijuknya cepat berlepasan satu sama lain bila pohonnya sudah kering. dengan mencucukkan galah ke dasar sungai lalu menyorongkan. Tanah di sekitar pohon itu dibersihkan. Ijuk yang berlepasan itu bisa dipintal menjadi tali yang cukup kuat. Sesudah selesai menjemur daging hasil buruan semalam dan menyuruh si belang menjaga. Lebihnya dibuang. Tio langsung menebang aren yang sudah tua. Bila daging sudah mulai habis. di tanah yang tidak terlindung. Begitulah mereka saling mengerjakan tugas masingmasing. Bersilangan.

Setelah bentuk lobang itu agak nyata. batang pohon itu bisa dibalik-balikkan. yang nanti menjadi tempat pemenumpang. berhatihati. Di atas pacakan. tidak pula boleh terlalu tebal. dipahatnya semacam ukiran.pacakan yang berupa galangan itu. Langsung bersatu dengan tubuh perahu. pada bagian hulu dan buritan tidak berapa dalam. Di sana batang pohon itu dikulitinya. Begitu pula dasarnya. Pada bagian buritan dan hulu perahu. bagian batang mana yang harus dijadikan dasar perahu. Satu menghadap ke depan. menggambarkan kepala harimau. . mengambil tuntutan dari bagian dalam perahu. Membentuk semacam dinding yang baik. Dari sebelah mana harus dimulai penukilan membentuk semacam lobang di batang kayu itu. Dia harus memperhatikan benar. Dasarnya sengaja diperluas. Tuhil itu ditancapkan lebih dulu. Tapi. Bila dasar perahu dan dinding perahu bertambah terbentuk. Karena itu. Agar perahu tidak berat atau agar daya apung perahu cukup baik dan punya keseimbangan. Ronggur beralih pula menukil bagian luar. Bentuk lobang yang dibuat Ronggur di batang kayu itu. Mata kayu biasanya mudah lepas dari kesatuan kayu dan bila sudah lepas. di bagian perut lebih dalam dan luas. satu lagi menghadap ke belakang. perahu akan bocor. Dikeluarkannya tuhil. kemudian hulunya diketok perlahan. Di atas pacakan itu Ronggur mulai membuat perahu. agar dinding perahu tidak terlalu tipis lalu mudah pecah. Dengan tuhil Ronggur melanjutkan membentuk lobang atau memperhalus bekas makanan kampak. kapak tidak berapa dipergunakan Ronggur lagi. Tapi. Dia harus memilih dasar perahu yang terbuat dari bagian batang yang tidak banyak mata kayunya. Ronggur harus hati-hati memilih. ditelanjangi. alat yang yang terbuat dari batu yang tajam muncungnya. diusahakan agar sama. tebal kedua sisi dinding perahu.

Kemudian melahirkan kulit baru yang lebih tebal dan lebih tahan menghadapi ijuk. Mencerai-beraikan. kasar. ijuknya sudah dipintal menjadi tali. Ijuk yang mengikut itu. setelah pohon aren yang tua habis ditumbangkan Tio di tempat itu. hitam. sehingga bisa mengucurkan darah. Menyisihkan umbinya. sendirinya saja bagian perut perahu akan pecah. Menjemur. . Alat pemintal. asal saja jangan dibakar api. dan kokoh. Kayu bersilang itu diputarkan pada tumpukan ijuk yang dicerai-beraikan. T ahan panas matahari. sudah kering sehingga ijuk mengikut pada putaran kayu itu. melepaskan ijuknya dari batangnya. Waktu saat memintal ijuk tiba. Pohon aren yang setumpuk itu sudah pada tumbang. yang sudah dua jalur itu. Tapi. dindingnya tebal dibuat di sana. Dia harus menyusur lebih ke hulu parit lagi. Kemudian memintalnya menjadi tali. Dipilin tangan demikian rupa sehingga berbentuk tali yang jalin-menjalin. Membelahnya. Bila batang aren sudah kering. justru karena di buritan dan di hulu perahulah terletak tenaga sesuatu perahu tersimpan. Bila buritan dan hulu perahu retak atau pecah. Tio harus mencari pohon aren baru untuk ditebang. betapa susahnya memintal ijuk pohon aren. Ijuk yang memanjang. ialah dua potong kayu sebesar pergelangan tangan. Dan. yang diusahakan sebesar yang dikehendaki dan sudah cukup panjang diikatkan pada pepohonan yang ada di sekitarnya. Menapis agar diperoleh tepungnya. disatukan. Menebang. Dan. Kulit telapak tangan berlecetan di sana-sini.Buritan dan hulu perahu. Ronggur mengatakan tali yang dipintalnya masih kurang banyak. tahulah Tio. Ijuk yang keras sering menusuk kulit telapak tangan. Karena itu. dia harus mencari pohon aren lagi. Tapi. Merendam ke air. Dibuat bersilang. Tahan air. Lalu dimulainya memutar-mutarkan kayu bersilang tadi ke tumpukan ijuk.

jalan tikus yang sempit. Dari depannya. Dengusan napas babi tambah mendekat. mencari pohon aren. Dari jauh sudah terlihat daun aren yang panjang itu. Tidak ada batang kayu yang dekat yang bisa dipanjat untuk menghindar bila babi itu menyerang. masih ada semacam dinding tanah sebelum menembus ke jalan tikus itu. matanya masih sipit. menyerang sampai mangsanya terjepit. Dilihatnya keadaan sekitar. Bila dia mundur ke sana dan mengadakan pertahanan. Sadarlah dia. Walau dia tahu seekor babi hutan tidak akan terus jatuh ketika pukulan pertama mengenai tubuh atau kepalanya. Dan. Babi itu akan menyeruduk maju ke depan. Sebelah kedua sisinya. Ke sana dia menuju. Tapi. tidak menguntungkan.Tio menyuruki rimbunan kekayuan yang agak rendah. Jalan menyingkir sudah tidak ada. Sebelah kanannya. Yang masih punya bulu begitu halus dan menggelikan telapak tangan. Anak babi hutan lima ekor. belukar. betapa gembira dia karena dia menemui sarang babi hutan. Waktu dia berpaling. . dia harus menghadapi segala kemungkinan. Setiba di bawah pohon aren itu. bila babi jantan itu sudah bertaring. didengarnya dengusan babi dari semak yang ada di atasnya. juga mengandung mara bahaya yang mengancam di samping kegembiraan. Muncungnya yang panjang kemudian akan ditusukkan ke bagian tubuh yang lunak. Padahal babi hanya bisa menyerang dari satu arah. Tiba-tiba dia sadar bahwa menemui sarang babi hutan yang mempunyai anak yang masih kecil. Dielusnya perlahan tubuh anak babi yang masih lembut. suara dengusan babi. Dia harus menghadapi serangan babi itu. Dibulatkannya tekad. Induk babi yang baru melahirkan dan masih menyusukan tentu cukup galak dan tetap diiringi jantannya. yang harus dihadapinya hanyalah satu arah saja. yaitu depannya. itu dengusan induk babi.

taringnya akan digunakan mencabik-cabik daging mangsanya. Menggigil juga dia. Sambil mundur perlahan, matanya tetap awas dan terus diarahkan ke sumber dengusan. Tapi, pikirannya masih dapat mengingat bahwa bila babi menyerang selalu membabi buta. Langsung saja menyergap ke depan tanpa rem. Dalam saat begitu, seseorang yang lincah dan tidak gugup, dengan meloncat ke kiri atau ke kanan, bisa mengelak serangan. Bisa mengelak serangan babi sambil menggunakan kesempatan itu menghantamkan panggada atau kampak yang ada di tangan. Tiba-tiba si belang menggonggong. Begitu nyaring suaranya. Taringnya ditunjukkan, putih tajam dan kukuh. Dalam hati, Tio mengharap Ronggur dapat mendengar dan mengerti maksud gonggongan si belang. Dua ekor babi sekaligus sudah berada di hadapannya, di tempat terbuka yang sempit. Seekor dari babi itu sudah bertaring, yang jantan. Mata kedua babi itu merah menyala. Keduanya mengais-ngais tanah, bergaya, mengambil ancang-ancang memulai serangan. Tio terus mundur sampai mendekat ke satu sudut tanah tinggi yang keras. Matanya terus awas, mengikuti sikap dan gerak-gerik babi yang dua ekor itu. B ila babi menyeruduk maju tanpa rem, di saat dia harus melompat ke kiri atau ke kanan, dia harus terus cepat pula mengayunkan kampak yang ada di tangannya, sambil harus terus awas menantikan serangan babi yang seekor lagi. Si belang masih terus menggonggong dengan nyaring dan bersikap menanti. Karena itu, babi itu belum menyerang. Gonggong si belang cepat berhenti karena babi jantan menyerang si belang. Si belang melompat ke samping. Babi jantan terdorong ke depan. Si belang cepat melompat ke punggung babi itu. Si belang sudah berada di punggung babi. Tapi, sebelum si belang memperoleh posisi yang baik, babi itu masih sempat mempergunakan taringnya sehingga leher si

belang kena dan mengeluarkan darah. Tapi, si belang tidak lagi melepaskan pundak babi jantan itu. T aringnya yang tajam dan kukuh ditancapkan ke bagian punggung leher babi. Babi itu menggelepar dan berlari dengan berputar untuk menjatuhkan si belang dari pundaknya. Namun si belang tidak melepaskan gigitannya lagi. Darah babi muncrat. Namun, belum ada pertanda babi itu mau mengalah. Akhirnya, babi itu berlari ke satu batang pohon yang besar, mendorongkan pundaknya agar si belang terjepit. Dengan kaki belakangnya, si belang menahan dorongan itu. Taringnya tambah dalam ditancapkan ke daging babi. Babi betina melihat babi jantan dalam keadaan payah mulai mengambil ancang-ancang akan menyerang. Waktu itu, secepat kilat tangan Tio mengayunkan kampak, berusaha menghantamkan ke bagian punggung leher babi. Tapi, yang kena bagian punggung belakang saja. Babi itu cepat berpaling. Panggada yang ada di tangan Tio diayunkan beruntun, menghantam kepala babi itu. Tapi, babi itu terus maju mendorong, mendesak T io ke sisi tanah tinggi. Terkadang didorong ke rimbunan lalang yang ada di sekitar. Tio tetap berusaha menjaga arah mundur. Tapi, justru karena serangan babi itu yang terkadang berubah arah, sekali waktu dia tergelincir juga. Dia tersandar ke pohon aren yang berduri tajam. Duri pohon aren menusuk punggungnya. Terasa sakit. Cepat babi itu mundur ke belakang dan cepat pula melompat ke depan bermaksud menjepit T io ke batang pohon aren. Tapi, secepat itu pula Tio mengelak. Namun, betisnya sempat disambar babi dengan muncungnya. Luka menggaris, darah mengucur. Tio memperbaiki posisi sambil menghantamkan panggada ke sana ke mari, menghalangi jalan maju babi itu. Sekarang, Tio sudah bersandar ke dinding tanah tinggi yang keras. Kembali babi itu mengambil ancang-ancang mundur beberapa

langkah. Tio berhenti mengayunkan panggada. melengah.

Seperti

Dan, saat ini dipergunakan babi dengan menyeruduk cepat ke depan. Saat genting. Dan, Tio cepat mengelak ke samping. Kepala babi terhantam ke dinding tanah tinggi yang keras. Kampak yang tadi tertancap di pundak babi menjadi lepas. Cepat dipungut Tio, lalu menghantamkan kampak ke leher babi yang belum sempat berpaling. Akhirnya babi itu tidak berdaya sama sekali. Tergeletak di tanah dengan mata yang masih memancarkan sinar kemarahan. Kaki belakang si belang semakin lemah menahan dorongan babi jantan. Pantatnya sudah mulai kena ke batang pohon. Tio masih begitu payah. Napasnya satu-satu dan tubuhnya mandi keringat. Betisnya terasa pedih mengucur darah. Hingga dia untuk beberapa saat tinggal melihat saja. Napasnya tersengal. Urat sarafnya begitu tergoncang. Dan, secara perlahan diketahuinya, si belang sedang berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan bersamaan dengan mengendornya urat saraf itu. Bersikap mengayun kampak, Tio maju perlahan. Tapi, waktu itulah sebuah tombak yang sudah cukup dikenalnya tertancap ke perut babi. Ronggur telah ada di sana dengan tubuh berkeringat. Matanya menyala marah. Ototnya mengencang. Ujung tombak satu lagi dipegang Ronggur kuat-kuat, hingga mata tombak tambah dalam tertanam ke perut babi. Kemudian Ronggur memerintahkan agar si belang melompat dari pundak babi. Begitu si belang me lompat menjauh, secepat itu pundak babi dihantam Ronggur dengan kampak. Babi itu akhirnya rubuh ke tanah. Tergeletak di tanah dengan gelepar lemah. Ronggur melihat Tio terduduk di tanah dengan napas tersengal. Di dekat seekor babi betina yang terkapar. Si belang masih menggonggong babi yang tidak berdaya itu dengan moncong berlumur merah darah babi. Tapi, lehernya luka kena taring babi.

Tio terus saja menceritakan mula perkelahian dengan babi itu. Begitu juga luka s i belang. Di saat kita kehabisan daging. Mata mereka bertemu. lukamu perlu cepat diobati. Ronggur mendekati T io. Ramuan dedaunan itu dilekatkannya ke luka Tio dan si belang. betis Tio luka. Ramuan itu membunuh bisa. Ronggur mengangkat dagunya perlahan. Sedang anak babi yang lima ekor itu akan mereka bawa pulang ke kampung. Lukamu akan cepat sembuh. punggungnya bergaris-garis bekas tusukan duri. Kedua ekor babi itu dibakar sampai kulitnya hangus. Tio menjalin rotan. sedang si belang melengking perlahan. Baru kemudian daging babi itu dipotong kecil-kecil. Tapi." Cepat Ronggur menghidupkan api. "Tidak berapa lama akan tidak terasa apa-apa. "Kau telah mengadakan perlawanan yang cukup berani dan berarti. Lalu tahulah dia." ucap Ronggur. sedang pada Tio dihadiahkan senyum manis. Seketika terasa mulut luka itu perih hingga T io harus menjerit kecil. Ronggur kembali menghadiahkan senyum. mereka lanjutkan memanggang daging babi itu dalam gua. Tio masih tetap terduduk. juga luka si belang. Ronggur mengelus punggung si belang agar tabah. Mencari dedaunan untuk ramuan mengobati luka Tio dan si belang. merasa malu dia dilihat Ronggur dalam kepayahan. di situ pula kau merubuhkan babi yang dagingnya enak. Masih merasa capek. Dan. Kemudian isi perut babi itu dibuang. Sepotong paha diberikan kepada si belang . Tanpa diminta Ronggur. Dijemur di panas matahari supaya kering dan tahan disimpan.Dengan senyum. Malam harinya. membuat sarang babi yang sekaligus menjadi kurungan bagi anak babi itu. Hanya begitu. Cepat Ronggur menjauh. Lagi pula lukamu tidak berapa dalam. dipelihara menjadi babi peliharaan yang jinak.

Batang pohon maranti batu yang dulu begitu berat. jadi. Begitu pula anak babi yang lima ekor itu sudah punya bulu yang agak kasar. Mereka langsung menuju tepian danau yang ada di mulut teluk. semua peralatan bersama kelima anak babi dimuat. Setiba di tepi danau. Perahu yang cukup besar yang bisa memuat tujuh orang penumpang bersama peralatan. sudah sama. la asik menyabik-nyabiknya di mulut lobang perlindungan. tapi tidak. Dengan tali yang dipintal Tio. ditumbuhi bulu lagi. Kemudian mereka menarik tali itu dan terseretlah perahu. dan jinak. matanya sudah terbuka. hanya tinggal bekas kecil saja. tinggal segaris saja. tahulah . Tanah begitu lembut dan berair. kedua sisi dinding perahu. Si belang mengikut dan menggonggong. Sedang luka di betisnya sudah sembuh. Tali yang dipintal Tio sudah beberapa depa dan sudah ada lima gulungan besar yang selesai. Ronggur dan Tio menurunkan perahu itu dari galangan. begitu pula perbandingan berat hulu perahu dan buritan perahu. Perahu yang dikerjakan Ronggur tambah berbentuk dan mulai mengarah ke tarap penyelesa ian. mereka tidak menakutkan dasar perahu bolong dibuat batu. Hendak mereka bawa pulang. sekarang sudah ringan. Ronggur mengikat perahu itu pada hulunya. tidak diingatnya lagi betapa perasaannya waktu menghadapi kedua ekor induk binatang itu. Pada penglihatan mata. Ronggur dan Tio mengosongkan perahu. Ronggur sudah selesai menghaluskan bekas tuhilannya. Bila Tio berma in dengan anak babi itu. Di dalam perahu. Karena jalanan menurun dan dedaunan membusuk di lapisan tanah. Mereka harus menguji keseimbangan perahu dulu dengan mengapungkan di permukaan danau. Dan. Kulit binatang buruan sudah pada mengering.sebagai hadiah. Begitu pula luka di leher si belang. mereka tidak pulang melalui jalan darat.

Tari warna berma in di riak danau. ke teluk di mana bermula Sungai T itian Dewata sudah ada. sebelum perahu rampung benar. Juga mata kayu yang ada di dasar perahu yang tidak dapat dielakkan sejak mula. Jadi. tidak baik dibawa berlayar. hendaknya Ronggur dapat kembali dengan selamat. apa yang bagi penglihatan mata sudah punya keseimbangan yang sama. juga si belang. bersama kelima ekor anak babi itu. lebih berat dari sisi kiri. Kembali perahu didaratkan. haluan itu masih bergaya mau tenggelam. Mereka menuju pulang. malam sudah melingkup segala. Tahu pulalah dia bahwa bagian sisi kanan perahu. Membuang bagian yang tidak berguna. mereka telah berada di danau bebas. Ronggur mencampakkan pandang jauh.dia. mereka harus bermalam lagi untuk beberapa malam di tepi danau. Bila lekuk teluk telah dilewati. bagi T io sendiri setelah mengayuh perahu di permukaan danau. Tapi. Senja hari. Perahu yang begitu rupa. Setelah itu selesai. kembali dia teringat bahwa saat berpisah dengan Ronggur sudah semakin dekat. Karena dasar perahu agak luas terasa pendayungan agak berat. ternyata dapat ditembus air. tidak dihiraukan. Apakah Ronggur akan kembali lagi? Wa lau dia tahu bahwa sesuatu ancaman sedang menanti Ronggur. namun dia masih mengharapkan. Ronggur . sehingga perahu selalu oleng ke kanan. Mereka berkayuh dan berkayuh. Sampai tercapai keseimbangan. Ronggur lalu merekatnya dengan getah pohon damar. perahu kembali diapungkan. Walaupun Ronggur sudah duduk di buritan perahu. Tapi. kembali segala peralatan dimuat ke dalam perahu. setelah diuji masih mempunyai perbedaan. Ronggur menipiskan bahagian haluan lagi. Sisi kanan perahu harus lebih direndahkan dan ditipiskan pada bahagiannya yang masih tebal. Haluan perahu terlalu berat. Bila keseimbangan perahu telah diperoleh.

Sungai Titian Dewata akan membawanya ke tanah landai lagi subur. Kita tidak punya waktu mengasuh lagi. Subuh baru telah lahir bersamanya lahir hari baru dengan harapan baru. menggaris cahaya putih. berakhir pada kaki pegunungan batu. Harus terus turun ke sawah memotong padi. Bulan mencurah cahaya. antara mereka berdua. apakah ada perahu lain yang bersilangan dengan mereka. secara berangsur. ada baiknya diserahkan saja pada orang lain. Sinar matahari telah meng-kuakkan tabir kegelapan. Permukaan danau kembali memantulkannya ke langit. Mardege." "Dan. Suasana yang romantis. Bila gelombang membesar. perlahan. sehabis memotong padi. B intang gemerlapan di langit. Aku tidak bisa lagi berlama-lama mengundurkan saat keberangkatanku. saatku berangkat tiba. kebisuan yang meraja. Tio lebih banyak diam dan tenggelam ke dasar perasaannya: bagaimana kelak kalau Ronggur sudah berangkat? Apakah orang masih memperlakukannya dengan baik? Sedang Ronggur diamuk satu kepercayaan bahwa dia akan menaklukkan Sungai Titian Dewata bahwa dia yakin. Ronggur tinggal tersenyum karena . aku tahu. "Tio. maka terhamparlah depan mereka persawahan yang bermula dari tepian danau." kata Ronggur. bulan semakin mengundurkan diri. Maka sekitar diselubungi kegelapan. Perahu terus dikayuh. Tapi. Sepanjang malam mereka terus berkayuh di permukaan danau yang tenang dan tidur. "Ya.menyuruh Tio agar duduk di haluan perahu. kemudian di ufuk timur. Bertambah larut malam. padi telah menguning di sawah. memperhatikan jalan. Menari bersama riak danau." Tio hanya menundukkan kepala. Tapi. Tanah yang diimpikan setiap orang.

Ronggur belum dapat mengartikan. sebagian besar. Pada umumnya orang tak dapat menyetujui maksud itu. begitu pula Tio.gelombang danau tidak dapat mengolengkan perahunya. atau memang dia belum tahu sebabnya. terutama rakyat yang langsung berada di bawah lindungannya sebagai Raja Ni Huta. semua itu tidak berapa diacuhkan Ronggur. Orang mencampak pandang pada mereka. tidak ada yang berani terang-terangan mengeluarkan pendapat. masih sembunyi. Dia lalu di sana. ada yang mengejek. Selagi Ronggur dan Tio membuat perahu di hutan. Ronggur melangkah dengan dada diangkat. kenapa mereka pada membisu. Tampaknya setiap orang enggan bersapaan dengan Ronggur. dan memperoleh jawaban sekedarnya saja. walaupun tidak secara terangterangan. Sebagian lagi. Menyapa di sana-sini. mereka telah tiba ke tepian danau perkampungan. utusan kerajaan datang. tidak gembira menyambut kedatangannya bersama perahu yang dibuatnya sendiri. itupun ccdw-kzaa 4 Hari itu juga. Kalau tidak ditegor lebih dulu. serpihan air yang dilemparkan ombak tidak dapat memasuki perahu. Orang sudah banyak memanen padi di sawah. sebelum Ronggur sempat mengasuh. Dan. orang sudah saling berbisik membicarakan maksud Ronggur hendak melayari Sungai Titian Dewata mencapai muara. Para penangkap ikan me lihat mereka. Tapi. menyuruh Ronggur menghadap ke Sopo Bolon. Tapi. Ibunya melepaskan dengan tatapan pilu. Belum siang benar. . Tidak seorang pun menanya tentang perahunya dan kapan dia berangkat.

Satu sama lain saling mengeluarkan pendapat bahwa Sungai Titian Dewata. Mulut tidak mengucapkan sepatah kata. duduk para Raja Ni Huta. begitu pula dari matahari Mula jadi Na Bolon. Di kiri kanan Raja panggonggom. Ronggur duduk di barisan Raja Ni Huta. duduk berjajar Raja Partahi. Dan. Orang pada diam sewaktu Ronggur memasuki ruang Sopo Bolon. Pada tempat tertentu. tempat Mula jadi Na Bolon mengedari dunia setiap saat. Matahari. untuk melihat manusia yang mengerjakan hal yang baik. Karena ada seorang manusia yang hendak meruntuhkan atau sama sekali tidak mengindahkan kepercayaan yang mereka anut. membuat Ronggur . itu berarti sudah melanggar ketentuan dewata. Raja Panggonggom sudah duduk di tempat dengan wajah murung. tapi sebagian lagi merasa terhina. Ronggur telah dinantikan kerajaan yang lengkap. melihat orang jahat membuat kejahatan untuk diganjar kelak di hidup lain. Di belakang mereka. menuju matahari terbit. karena maksud perjalanan itu menantang kepercayaan rakyat yang sudah tertanam turun-temurun. Tempat para dewata dan arwah menghadap Mula jadi Na Bolon. Bila seseorang berani melewati batas yang sudah ditentukan sampai di mana boleh seseorang berlayar. sidang kerajaan akan diadakan hari itu. hadir pula Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Segala Raja Ni Huta dari tiap kampung yang didiami marga mereka telah ada di sana. Semua mata diarahkan padanya. yang selalu dipanggil menghadiri sidang kerajaan. pertanda warta yang kurang baik. Raja Namora. Dewata akan murka dan menghancurkan orang yang berani melanggar peraturannya. sebagian merasa kasihan melihat Ronggur. Diapit oleh para tua kampung. Raja Nabegu. bila yang hendak dibahas hal penting. Dia terus tahu. Memperoleh lalapan dari tiap mata itu. Hanya Raja Ni Huta dari induk kampung marga yang duduk sejajar dengan Raja Panggonggom. Di Sopo Bolon. Kasihan dan ejek.

tahulah Ronggur bahwa sidang akan membahas sesuatu hal yang sangat penting tampaknya. Karena itu. yaitu bekas Datu Gelar Guru Marsait Lipan. ada sesuatu hal yang sangat penting kita bicarakan dan bahas bersama. Dari suasana dalam Sopo Bolon. Sewaktu Ronggur mengalih pandang tahulah dia bahwa Raja Panggonggom terus menerus menancapkan pandang ke arahnya. Tapi. yang bertanggung jawab akan kelanjutan hidup marga dan keturunan kita kelak." lanjut Raja Panggonggom. Malah menurut sebagian orang. perasaan kaku itu berangsur menghilang dari tubuhnya. Ruangan tetap hening. kami undang hari ini menghadiri pertemuan kerajaan di Sopo Bolon ini. Yang bisa menimbulkan kegaduhan yang tidak kecil di kalangan rakyat. Untuk pertama kalinya orang tua itu menghadiri sidang kerajaan dengan terang-terangan. hatinya tambah . Terutama Ronggur. menjemput tongkat panaluan dari tempatnya. Menyimak yang diucapkan Raja Panggonggom. dan bermaksud merubuhkan sesuatu yang kita percayai. Memperhatikan gerakgeriknya." Hadirin pada diam semua. Lalu Raja Panggonggom mengangkat tangan yang sebelah kanan. pagar kesatuan marga. Karena. Pertanda pertemuan dimulai. "Hal itu. Orang tua itu menyambutnya dengan senyum yang dibalasnya selintasan. tahulah Ronggur bahwa hal yang akan dibicarakan bersangkut-paut dengan maksud perjalanannya menembus Sungai Titian Dewata. "Semua kerajaan. orang tua yang bijaksana. akan mendatangkan mara bahaya pada seluruh rakyat dan kerajaan." Melalui ucapan Raja Panggonggom sebagai kata pembukaan rapat. dito-pangkan agar berdiri tegak lurus.agak kaku juga sikapnya. Tongkat itu digenggam. "tampaknya mengancam. sewaktu matanya tertumpu pada orang tua yang duduk di sudut yang agak remang itu.

gedebak-gedebuk. Karena itu. Dan. yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Camkanlah baikbaik pentingnya maksud pertemuan ini. Apakah ada orang yang bisa diharapkannya untuk membela maksud perjalanannya itu." lanjut Raja Panggonggom. kita harus mengucapkan terimakasih padanya. dia berpendapat. Atau. coba ceritakan pada kami. dia lalu membeberkan hal yang kan dialam i marga mereka kelak bila tanah habungkasan tidak ditemui. yang disampaikan orang itu ternyata benar." Raja Panggonggom berhenti sebentar. jalannya pertemuan itu. "kami berpendapat harus melalui musyawarah lengkap yang boleh mengambil putusan tertentu terhadapnya. seseorang yang berani melayari Sungai T itian Dewata sampai ke muara berarti akan sampai ke tanah landai yang subur. Ronggur. Karena itu." sahut Ronggur. Setelah mencampakkan pandang pada Ronggur. tanah habungkasan itu harus dicari. sidang yang terhormat. yang menantang maksud perjalanan itu? "Karena hal ini sangat menentukan. kami dengar kabar kau sudah menyelesaikan perahu yang akan kau pergunakan menyusuri Sungai Titian Dewata untuk mencapai muara. dia melanjutkan: "Ronggur. Karena kau bermaksud akan mencapai tanah habungkasan. Tanah yang dimimpikan tiap orang. menantikan putusan rapat. Dia yakin. setelah mencampakkan pandang ke sekitar. Ronggur sudah mengakui terus terang sehingga jalan rapat tidak terlalu repot dan berbelit. Dia menarik napas. katanya selanjutnya. "Nah. dia mengharap agar . lalu menyokongnya? Apakah mereka semua akan menjadi musuh. Paduka Raja. Apakah berita itu benar?" "Benar. kenapa kau begitu bernafsu hendak mencari Sungai T itian Dewata?" Ronggur disuruh berdiri. Untuk itu. sehingga putusan itu nanti menjadi pendapat kita yang mutlak.

Seketika Ronggur berhenti. Hanya wajah Datu Bolon Gelar Guru Marlasak yang menjadi merah padam mendengar semua omongannya. Percikan air tidak mudah masuk ke perahu karena dinding perahu kubuat agak tinggi. Pada mulanya kita harus berani membuang tenaga dan waktu untuk mencangkul tanah. Tak ubah seperti mengerjakan sawah." Dalam hati kecilnya Raja Panggonggom menghormati sikap terus terang dan keberanian yang dimiliki Ronggur. "Aku telah memilih kayu yang paling baik jenisnya. ." "Sudah siap semua yang ingin kau ucapkan?" tanya Raja Panggonggom. Rapat hening. Sungai T itian Dewata tidak berakhir di ujung dunia. seseorang yang berusaha mencapai sesuatu kebajikan akan selalu menghadapi risiko. Tidak mudah oleng waktu melalui arus riam sungai. "Perjalanan ini menghadapi risiko yang tidak kecil. Dasarnya lebih lebar dari perahu biasa. tahukah kau bahwa perjalananmu itu sangat berbahaya?" "Benar Paduka Raja!" sahut Ronggur. "Sudah. katanya tegas. Tapi. Ronggur melanjutkan. Tapi.kerajaan memberi izin padanya untuk menyusuri sungai itu sampai ke muara dan membolehkan beberapa orang menjadi kawannya. Paduka Raja!" jawab Ronggur lalu kembali duduk bersila di lantai. karena maksud perjalanan itu sendirinya pula membelakangi kepercayaan rakyat dan kepercayaan sendiri. "Ronggur. Lama sesudah itu baru tanah memberi hasil pada kita. Dari s ikapnya tampak bahwa dia sama sekali tidak mengingini mendengarkan ucapan Ronggur. maka soalnya menjadi lain. Daya apung perahu sangat baik.

" Datu Bolon Gelar Guru Marlasak cepat berdiri. memang padaku diajarkan kepercayaan begitu rupa. aku seorang manusia yang telah menyia-nyiakan satu kesempatan. berilah kesempatan padaku untuk membuktikannya atau aku sendiri akan musnah." "Apakah kau tidak mungkin digoda setan?" potong Raja Panggonggom. berartilah aku digoda setan. aku selalu digoda mimpi. Tidakkah kau tahu bahwa Sungai Titian Dewata itu sungai yang jatuh ke ujung dunia? Sungai Titian Dewata jalan para dewata dan arwah menghadap Mula Jadi Na Bolon. aku akan tiba ke tanah landai di muara sungai. "Paduka Raja. Selanjutnya mimpi itu selalu mengatakan padaku. Jadi. izinkanlah aku untuk memikul segala risiko itu bila yang kurasakan dan kupikirkan itu salah!" "Bagaimana pendapatmu tentang Sungai T itian Dewata?" "Paduka Raja. Turun temurun. bila aku tidak memulai perjalanan itu. Aku telah rela menerima dan memikul segala risiko itu. Mimpi itu selalu mengajak aku agar memulai satu perjalanan. Tanah landai itu begitu luas. ada baiknya kau . maksudku tidak di situ saja. Mulutnya cepat-cepat mengeluarkan kata: "Ronggur! Menurut kepercayaan kami. kau pasti akan mendapat bencana. sebelum bencana itu menimpa dirimu. Mimpi itu mewartakan bahwa bila aku melayarinya." "Paduka Raja."Ronggur. Bisa menampung kebutuhan kita dan keturunan kita kelak akan persawahan. bila warta mimpi itu tidak dapat kutunjukkan dalam kenyataan. Tapi. Dadanya naik turun dengan cepat. menurut hukum yang diwariskan kepada kami. tapi bertujuan untuk kepentingan bersama. Aku orang yang tidak dapat dikatakan seorang lelaki. karena maksud perjalanan ini tidaklah untuk kesenangan perseorangan saja. Tapi. yaitu menyusuri Sungai Titian Dewata. Wajahnya memancarkan sinar kemarahan.

Aku selalu memperhitungkan dan tetap merasakan. ini menyangkut seluruh marga kita. Yang kuhormati arwah halus penjaga diri dan yang dapat dipanggilnya untuk membisikkan sesuatu pendengarannya. "Begitulah rasanya. Diusahakan menemukan. Tapi. tidak ada lagi sesuatu hal yang bisa mengurungkan niatmu. Tidakkah dapat kau rasakan ancaman mara bahaya yang akan timbul dan menimpa warga marga itu?" "Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. "Ronggur. Soalnya bila Datu Bolon meninjau dari sudut gaib. justru karena keinginanmu untuk mengharungi Sungai Titian Dewata. Padi di sawah akan tidak menjadi. aku melihat dari kenyataan sesuatu perhitungan yang hasilnya pasti tiba. tapi semua marga akan dikutuknya. kau juga harus tahu karena yang kau tantang itu hukum dewata. T api." jawab Ronggur dengan tabah dan tenang. "Apa yang menggoda hatimu? Apakah kau dengan perjalananmu yang akan menimbulkan bencana dan yang telah menimbulkan huru-hara terpendam di kalangan rakyat dan para hulubalang. yang menanti saat meledak sehingga ketenteraman hidup terganggu dan kucarkacir.mengurungkan niat itu. yang kuhormati kebenaran tenungnya." sindirnya pula dengan halus dan tenang. Kalau cuma kau yang dikutuk dewata tidaklah menjadi soal besar." "Kalau begitu. bencana yang mungkin meruntuhh-an kelangsungan hidup marga. Aku percaya bahwa Datu Bolon pun memikirkan hal itu. Kerajaan kita akan berakhir pada suatu yang menyedihkan." tiba-tiba suara Raja Nagebu meninggi. tanah habungkasan perlu dicari. masih kau katakan untuk memperjuangkan kelanjutan . Kerukunan keluarga akan hancur. "Seperti tidak ada sesuatu kekuatan yang dapat menghentikan orang mengisi perutnya. Justru karena memperhitungkan hal itulah aku mengambil kesimpulan." kata Datu Bolon menyindir. Kemarahan dewata tidak saja menimpa dirimu. dengan hentakan kasar mengatakan.

pokok persoalan sekarang di sini bukanlah aku. pemegang tampuk dan penggerak para hulubalang perkasa. tapi ketololan." Seketika dia diam.hidup marga dan keturunan? Atau. sehingga patentengan menantang hukum dewata? Ronggur menantang hukum dewata bukanlah keberanian. tapi kita semua. Juga aku tahu. menunjukkan bahwa kau lebih berani dari setiap hulubalang kita. bila untukku sendiri dan jaluran keturunanku langsung. . Hasil sawahmu memberi jaminan. dan Raja Ni Huta dari induk kampung. Lalu melanjutkan. bukan diriku dan bukan pula hanya diri tuanku saja. sawah yang dikuasakan padaku memang cukup memberi nafkah. Raja Nagebu. Dalam saat itu. Kalaulah yang kuimpikan bisa nyata dalam kenyataan tidak bermaksud aku disebut penemunya." Keadaan menjadi sunyi. Wajahnya bertambah merah. Raja Panggonggom mengadakan sidang kecil dengan para Raja Partahi. Raja Namora. Dan tahulah paduka raja bahwa permintaan bantuan dari lumbung desa setiap tahunnya bertambah banyak juga? Sehingga kita tidak bisa lagi mengadakan pesta pujaan terhadap Mula Jadi Na Bolon dengan besar-besaran? Inilah semua yang jadi persoalan. Jadi. kau memang sengaja mencari nama. anak yang perlu kita beri makan. kemudian istrimu itu melahirkan anak banyak. Marga kita. Biar kau mengambil seorang istri atau lebih. bidang sawah yang diserahkan atau dipercayakan kerajaan padamu cukup luas lagi subur." "Paduka Raja Nagebu. Jelaslah sebenarmya kau mengimpikan sesuatu yang maha mulia dialamatkan pada dirimu. kau belum perlu menguatirkan makanan untuk mereka. "Ronggur. Maksudku jauh dari dugaan tuanku. Tahukah paduka raja bahwa banyak dari marga ya'ng hanya punya tanah beberapa bidang dan hanya dapat menghasilkan padi yang cukup untuk makanan sekedarnya saja? Dan mereka terus saja melahirkan anak. Sekali-kali tidak. T api. Belum perlu menguatirkannya.

Pembalasan dewata telah datang!" ." "Sesudah itu?" "Aku sendiri pulang ke mari. Tapi. "Memang benar Paduka Raja bahwa aku pernah meminta agar diberi izin mengharungi Sungai Titian Dewata. berbicara pada hadirin. Dia temanku. menceritakan kegagalannya dulu mengharungi Sungai Titian Dewata. yang akan diumumkan pada seluruh marga. Karena almarhum ayah paduka raja. sebagai undang-undang kerajaan yang tidak boleh dibantah. tapi dari tiap wajah memancar kesungguhan.Kemudian mereka panggil pula Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. tidak lama kemudian kami mengadakan pemburuan. Almarhum ayah paduka raja diserang seekor harimau dengan tiba-tiba. Di s itulah mendapat kenahasan. tetap juga menerimaku kembali." "Selanjutnya. "Bapak bekas Datu Bolon. bagaimana?" tanya Raja Panggonggom. Menurut pustaka kerajaan. sehingga beliau memperoleh luka yang mengakibatkan kewafatannya. Bagaimanakah hasilnya?" Orang tua itu berbicara perlahan. yang mewariskan kedudukan Raja Panggonggom pada kami. Tapi. Kami mengalami kegagalan. sabahat karibku. Tiba-tiba saja Panggonggom menyuruh bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan. "Ayah Ronggur memperoleh cedera dalam perjalanan itu. yang kutemui berbeda dengan hasil tenungku. untuk mengharungi Sungai Titian Dewata. almarhum ayah kami memberi izin pada bapak untuk mengharungi sungai tersebut. yang pernah meminta izin pada almarhum ayah kami. "Pembalasan dewata telah datang. Dia tidak pernah lagi pulang. Jelas tampak mereka sedang mengambil ketentuan dan keputusan rapat. Dalam igaunya selalu mengatakan. Mereka berbicara perlahan.

Raja Panggonggom mengatakan: "Kita telah sama mendengarkan cerita bahwa Ronggur hendak mengharungi Sungai Titian Dewata untuk mencari tanah habungkasan. Maksud yang baik." Hening sejenak. Golongan raja kembali mengadakan sidang kilat. telah menghina kepercayaan yang kita anut. apa yang dimaksudkannya itu karena mengizinkan bapak mengharungi Sungai T itian Dewata dan menerima bapak pulang kembali?" "Tidak dapat maksudnya. Ronggur telah melupakan riwayat nenek moyang dan berusaha merombak kepercayaan yang kita anut atau menurut kata Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. boleh juga begitu "Hadirin semua. Tapi. sesuatu maksud baik harus dibatalkan? Apakah tidak hanya satu kebetulan saja hal nahas itu mendatang?" "Kutanya padamu. terutama kau Ronggur. Apakah setelah mendengar pengakuan ini kau masih bermaksud meneruskan niatmu? Berilah jawaban. telah mendengarkan satu pengakuan dari seseorang yang pernah mengharungi Sungai Titian Dewata. Tapi."Apakah tidak mungkin. . yang menimbulkan kemarahan para dewata. Ronggur. Dia dihadapkan sudah pada saat yang menentukan. Akhirnya dia mengatakan: "Paduka yang bijaksana." Ronggur terdiam." kupastikan. apakah kau masih bermaksud meneruskan niatmu atau mengurungkan setelah mendengar pengakuan bekas Datu Bolon yang sudah disisihkan orang dari kehidupan ramai? Lain tidak! Dia membawa kenahasan bagi kerajaan. Ronggur!" Ronggur terdiam beberapa saat. Lalu sebelum Ronggur memberi keputusan. Belum memberi sesuatu pilihan yang menentukan. Bintikan keringat melebihi keningnya. apakah karena satu kegagalan.

Dirangsum ala kadarnya!" "Syarat ini kami ajukan justru karena kami berpegang pada satu kepercayaan: siapa saja yang mengikuti perjalanan Ronggur. Kalau ada orang yang membunuhnya dalam perjalanan. agar tidak membolehkan rakyat yang ada dikampungnya membantu dan mengikuti perjalanan Ronggur. untuk menimpa ."Saran yang dapat kami ajukan pada Ronggur. maka dia tidak berhak lagi mencantumkan marga kita di belakang namanya. dari gangguan setan. Kau akan ditangkap dan dijadikan budak belian. tidak seorang pun dari warga yang dibolehkan mengikuti dan membantu perjalanannya. Begitu pula gelar Raja Ni Huta Muda. Bila kau mengalami kegagalan kemudian kau pulang ke kampung ini. "Jadi kami umumkan pada semua Raja Ni Huta. ialah bila Ronggur meneruskan niat itu. gelar Hulubalang Muda dicabut kembali!" "Dia tidak boleh memakai nama kerajaan kita untuk melindungi diri dari kutukan dewata. jalan para dewata dan para arwah menuju matahari terbit tempat Mula Jadi Na Bolon bersemayam. dan dari gangguan perampok di tengah jalan. Kalau kau Ronggur tidak dapat menerima syarat ini. Bila dia mulai me langkah dari gerbang kampung memulai perjalanan. dan menjadi undang-undang bagi kita semua. siapa saja yang membantunya mengharungi Sungai Titian Dewata. Biarlah kami dan marga kita disebut pengecut. akan turut dikutuk oleh dewata. Kami tidak mau mengulangi kenahasan yang pernah menimpa almarhum ayah kami. Sawah yang telah dipercayakan padanya disita kerajaan. hendaknya urungkan dan batalkan niatmu sebelum terlambat. Ibunya yang sudah tua akan dibelanjai langsung oleh lumbung desa. namun melawan dewata kita tidak mau. kau akan tidak dianggap anggota marga lagi. marga kita tidak akan menganggap serangan itu serangan yang langsung pada marga kita. Ronggur sendiri yang harus memikul risikonya.

Pikirkan baik-baik Ronggur. janganlah sekali-kali mencoba untuk menentang kepercayaan yang kita anut bersama. Orang semua mengangkat kepala dibuatnya. janganlah menghina diri sendiri." Suaranya mengguntur mengalahkan suara petir yang bersabung di luar Sopo Bolon." Keadaan menjadi hening. Pada kening Ronggur menitik keringat. Aku. secepat mungkin aku akan berangkat. sehabis mengucapkan pilihan itu." kata Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Belum berdiri untuk menyatakan pilihan. katakanlah pilihanmu. tidak berhak lagi memanen padi dari sawahku yang sedang menguning. Dan. Bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan menundukkan kepala. Bersabung dengan petir dan kilat. Dengan satu janji. Nada suaranya mengejek. Tidak sanggup mengangkat kepala.diri kami sendiri. "Ronggur. akhirnya Ronggur berdiri dengan menghentak: "Semua pertaruhan yang dibebankan ke pundakku aku terima. Para Raja Ni Huta lain dengan takjim menerima undang-undang Raja Panggonggom. hasil penemuan itu akan tetap kuhadiahkan bagi margaku. biar kami tahu mengambil sikap. . hujan turun menderu. "Ronggur. Dengan wajah merah serta sinar mata yang manyala. bila aku menemui tanah habungkasan yang landai lagi subur. Pada wajah dan sikapnya tergambar bahwa mereka akan melaksanakannya sebaik mungkin. Di wajah Datu Bolon Gelar Guru Marlasak dan Raja Nagebu membayang kepuasan. Sejak tadi di luar Sopo Bolon. berilah jawaban di tempat ini juga." kata Raja Panggonggom memecah kesepian. kau tidak dapat memberikan keputusan? Kau merasa takut dan bimbang? Karena itu kami sarankan. Membakar dada Ronggur. Dan. ibuku. Karena itu. bagi kalian semua. Ronggur masih tertunduk juga.

Aku telah mempersusah hidupmu. Otot Ronggur mengeras. Gonggong si belang menyambut di tangga rumah. Terus melangkah melewati sawah yang pematangnya menjadi licin. Tidak mau berteduh ke dangau yang ada di tengah sawah. tapi karena marah. wajahnya memerah. Yang sepantasnya tidak wajar lagi hidupnya disusahi. Pintu rumah cepat dibuka Tio. seperti patung tanpa nyawa. sewaktu matanya tertumpu ke biji mata ibunya yang berseri. Ibunya cepat mengangkat wajah. Aku akan menuruti ibu. Cepat Ronggur mendekat. Orang yang berhenti memotong padi dan berteduh di dangau melihatnya begitu saja. kaki. Tapi. Aku harus menggagalkan niat perjalananku itu. Sebelum ditanya Ronggur dengan suara lantang karena masih marah. yaitu kepahitan dan kegetiran hidup di saat hari tuanya. dia sadar bahwa orang tua itu telah dihadapkannya pada satu kenyataan. Katakanlah Bu. tubuh Ronggur masih menggetar tidak karena merasa dingin. yang mulai digenangi air bening tipis. Tangan. Dilihatnya Ronggur basah kuyup. menatap padanya. Tapi. Pertanda berita yang kurang baik.Ronggur terus meninggalkan ruang Sopo Bolon. apa yang harus kuperbuatl" . Katakanlah. dan halilintar yang bersabung dengan petir. dia terus melangkah cepat di atas pematang yang licin. Ibunya jadi kaku tegang. Dia menerjang ke tengah hujan. Perasaannya terbakar. angin. mencapai kampung di mana dia sebelum itu memegang tampuk Raja Ni Huta Muda dan Hulubalang Muda. Bu. dia tidak memperdulikan keadaan alam itu. menceritakan semua keputusan rapat dan pilihannya sendiri. Aku akan minta maaf pada kerajaan atas kelancanganku. aku tidak boleh pergi. Maafkan anakmu ini. dadanya panas. Di antara isaknya sendiri dia mengatakan: "Maafkanlah aku. walau udara begitu dingin. lalu menyembah sujud di kaki perempuan tua itu.

Kau tidak boleh membatalkan yang telah kau pilih. mencari mata air yang bening." Seketika ibu tua berhenti. lalu duduk di sisi anak beranak itu. walau apa yang akan terjadi.Perasaan marahnya telah mencair. mengikuti lingkaran pegunungan. Bawalah daku. kau tidak boleh mengurungkan niatmu lagi. Segala air mata telah dihamburkan dari dasarnya sampai kering. menginginkan setetes dua air melalui kerongkongan kering. "Bawalah daku bersamamu. Mengusap perlahan sambil lalu mengeringkannya. Perempuan tua itu tidak mengisak lagi. tapi dapat disebut jantan. demi hasrat diri yang tidak mau melihat ibu kandung yang sudah tua mengalami kesusahan. anakku sulung anakku bungsu. tanpa memperdulikan arti haus dan dahaga. mempertaruhkan keyakinan diri. tidak mau anak lelaki berhati betina. membelai kepalanya yang masih basah. bila berani tidak mengingkari janji." Sambil berkata Tio mendekat. Kau harus meneruskannya. anaknya bungsu. Keheningan merayap di ruang mereka berada. Tidak cepat ibunya menyahut. Tangan ibunya yang sudah mengkerut." Perempuan tua itu tidak mengucurkan air mata lagi. mengitari tebing curam. Jadilah. Kau telah mengatakan dalam pertemuan raja dengan berani. Seorang lelaki yang berani mengatakan maksudnya. untuk pergi selamanya. Segala tekad menjadi kendur. Kemudian mengatakan perlahan-lahan: "Ronggur. karena anaknya di sarang. jangan tinggalkan daku. Telah tabah menerima segala yang tiba. . tapi disambung pula. suaranya sudah tambah jelas dan tabah: "Seperti terbangnya burung ambaroba. seorang lelaki berhati jantanl Ibumu ini. Tapi dipecahkan suara halus yang bermula dari T io. Sendu. menghadapi wajah dan mata ibunya yang bersedih. Telah rela melepas anaknya sulung. Harus begitu kau.

Lalu menatap dalam ke biji mata Tio. berkerisik dan bunyinya begitu ngilu pada pendengaran. diukir dengan huruf Batak. dapatkah kau menduga kemungkinan yang bisa saja menimpa diriku dalam perjalanan? Tahukah kau. Ronggur melepaskan diri dari pelukan ibunya. Tidak ada lagi satu kekuatan yang dapat menghalangi maksudnya. Juga pada Tio diberinya ajimat. Menyiapkan yang perlu mereka bawa.Perlahan. Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan datang ke sana. Mereka menyongsong terbitnya fajar. katakanlah bahwa arwahku kau bawa serta sebagai sembahanmu padanya. Bila kelak kita tidak bisa kembali lagi agar Mula Jadi Na Bolon tidak murka padamu. Olehnya tekad Ronggur kembali pada pijakan semula begitu kokoh." Lama Ronggur menatapi wajah Tio yang sudah punya kepastian sinarnya. hujan rasanya tidak akan henti. Perlahan pula. Supaya terhindar dari godaan setan. Angin melanggari pucuk dan batang bambu duri. Ibunya menyelipkan pisau gajah lompak ke pinggang Ronggur. Halilintar dan guruh terus bersabung. Yang berukirkan kakek kesatuan keturunan mereka yang langsung. Bila fajar pagi terbit pertanda hari baru tiba mereka sudah harus berangkat. terbuat dari jalinan benang berwarna tujuh. apa yang akan kutemui bila tafsiran mimpiku meleset?" "Aku sudah tahu. Kemudian pada Ronggur diberikannya ajimat yang terbuat dari besi putih. ibu Ronggur merenggangkan pelukannya dari tubuh Ronggur. ccdw-kzaa . Angin di luar tambah kencang. "Tio. pisau pusaka turun-temurun. Aku sudah maklum. Dia menjampi Ronggur dan Tio. yang tertancap ke biji matanya tanpa mengedip. agar selamat dalam perjalanan. Di rumah itu orang terus sibuk. Di tengah malam buta.

penimba air. ambalang. dibelitkan ulos batak ragi purada yang diiringi kata. Ronggur. di saat dia harus meninggalkan perkampungan itu untuk satu perjalanan yang belum tentu akhirnya. Ronggur menatap pada ibunya. Pengayuh. Udara cukup dingin. dicampakkan pandang ke tengah kampung. sudah di tempatnya. Beberapa depa saja dapat ditembus pandang. . kabut mengental. tak terduga . sebelum perahu hilang ditelan kabut. Bertambah segar karena mengandung butir air. Begitu juga pada leher Tio. galah. Hijaunya dedaunan dapat juga dilihat pandang. kampak. Tapi. Pengganti tangan bunda . melalui renggangan batang bambu duri. Mencari bekas kehidupan masa lalu di sana.5 Masih pagi benar.. Lalu pada orang tua itu. Pada leher Ronggur membelit ulos batak ragi purada yang dibelitkan ibunya. memikat hati orang di sekitarnya. "Belitkanlah pada tubuhmu. Tingkah lakunya yang sopan serta ramah-tamah. Tio. panggada. Juga mereka bawa mata pancing serta talinya." Hanya perempuan tua itu dan bekas Datu Bolon di tepian danau mengantar mereka. Tanah lembab pertinggal hujan semalam. Tapi. . Air danau alangkah dinginnya. permukaan danau. Tombak. keberanian yang tidak gentar menghadapi sesuatu soal pada saatnya. Dua tiga biji bambu duri terbelintang di tengah jalan. Beras sesumpit. jika bertambah jauh ke tengah. Orang lain sudah dilarang untuk mengantarkan mereka. dan sesumpit batu sungai yang keras. Di darat kabut tipis saja. di kala dingin mencekam. Pulau Samosir Tuktuk Sigaol tidak tampak. Karena itu dia banyak mempunyai teman. Disumpit lain daging kering. Tempat begitu lapang. tumbang. dan si belang sudah berada dalam perahu.

punya teman. tapi tidak boleh pamitan. malah lebih dari itu akan dipunyainya. dan diasuh. tinggi melengking. Bekas Datu Bolon menyabari. perjalanan mereka sekali ini amat panjang. tidak seorang pun dari temannya yang dibolehkan mengantarkan. Tio berdiri. Teringat pula saat kejatuhan marganya dan dia sendiri. mengiakan. Perahu bergerak perlahan meninggalkan tepian.nasibnya. Tangan mereka membalas lambaian kedua orang tua yang mengantarkan mereka. kabut tambah menipis lalu menghilang. Cepat dihapus agar tidak sempat dilihat Ronggur. Tahulah dia. Temannya sebaya banyak yang mati di saat itu. harus menjadi budak belian. Sebelum pferahu ditelan kabut. Si belang pun seperti tahu. Untuk digantikan warna putih saja pada akhirnya. dibesarkan. walau sebenarnya dia tidak dapat meyakini bujukan itu." Perempuan tua itu menundukkan kepala." bujuk bekas Datu Bolon. Tangan terkulai tak ada lagi yang hendak dilambai. Bila sinar matahari pagi telah muncul dari puncak Dolok Simanuk-manuk. . selagi martabat marganya belum runtuh. betapa pahit perasaan mencekam hati untuk meninggalkan tanah tempat lahir. Setetes dua air-mata membasahi pipi. Kemudian menuntunnya pulang ke rumah. Melepasnya. Di mana dia pernah disanjung puja. Meratap panjang. "Semua yang dikorbankan Ronggur untuk perjalanan ini akan kembali padanya. Perlahan perahu memasuki daerah yang dilingkungi kabut tebal. Tersedu di sana. Tidak dilihat Ronggur lagi. Matanya jauh mengedari tanah yang sudah cukup dikenalnya. Di sebelah haluan perahu. mereka akan pulang membawa berita baik dan menggembirakan. ibunya mencampakkan diri ke pohon hariara yang besar itu. tidak hentinya lambaian dilepaskan dari tepian. Perlahan pula tepian menghilang dari pemandangan. "Mereka akan berhasil.

Tio mendayung ke hulu. setiap perahu tambah jauh dikayuh. Perahu terasa berat dikayuh.Kerajaan sudah tahu bahwa Ronggur bersama Tio telah berangkat. walau perahu agak susah dikayuh dan walau hati masingmasing masih diselubungi sakitnya perpisahan dengan kaum kerabat. yaitu menjadi budak belian orang. Bukankah itu berarti penghinaan akan martabat diri. bila diri tahu perbedaan antara menjadi seorang budak belian dengan manusia merdeka dan diri tidak berpihak kemerdekaan itu. kalau dia tidak ikut. Riwayat Ronggur berakhir di s itu saja. Antara keduanya belum mengucap sesuatu kata. Tapi. tidak tahu menghargai diri sebagai manusia yang dapat membedakan arti dan hakikat manusia merdeka dengan budak belian? Ah. mereka mengharapkan dapat pula sambil lalu menangkap beberapa ekor ikan. Sambil berkayuh. hidupnya ke tangan nasib yang telah tertentu belangnya. dihiburnya diri. mereka masing-masing melaksanakan tugas. Ronggur di buritan langsung menjadi pengemudi. Beberapa biji mata pancing yang sudah diumpani dijatuhkan Tio ke danau. Haluannya tumpul. tekad hati yang bulat. katanya dalam hati sendiri. bukankah itu berarti memberikan tubuhnya. keberanian yang jantan. namun pada saat itu. dan sopan santun yang manis. dengan tanah tempat dibesarkan. Ronggur telah dianggap mati. yang akan memperlakukannya seperti memperlakukan hewan. sikap ramah tamah. tanpa pamit. Perahu yang dikayuh Ronggur dan Tio maju perlahan. Tapi. Menahan air atau menghempang kelajuan perahu. hatinya merasa kecut juga mendatangi ajal yang ada di depan. yang mempunyai otot yang tegap. Karena dasarnya agak lebar. Mereka berdua terus mengkayuh. seseorang . maka Raja Panggonggom mencoret nama Ronggur dari silsilah keturunan marga. Walaupun Tio tetap merasakan bahwa dia akan aman selalu bila berdekatan dengan Ronggur.

Biar masaknya rata pula. Dan. yang telah menciptakannya menjadi manusia. Tapi. ikan itu melepaskan gelepar akhirnya." . Dengan sebuah pukulan panggada pada kepala. Atau. Tangannya cepat menggapai tali pancing. "Tangkap dengan jaring. Lalu dia bertanya pada Ronggur: "Kita apakan ikan ini? Kita ura?" "Ya. Tidak lama kemudian. Itulah risiko. "Tapi. Manusia lahiratau dilahirkan memang untuk menghadapi risiko. Dan. harus rata. Tio mengikuti petunjuk itu. diri telah me laksanakan tugas kehidupan sebaik-baiknya. Kabut sudah terangkat. kata Tio selanjutnya pada diri sendiri. ura saja. Satu keuntungan bagi tiap manusia. Tapi. lalU tercapailah idaman hati. mengatasinya." Dengan sedih akhirnya Tio mengatakan. memang diri mampus karena tidak dapat mengatasi risiko itu. daun pembungkusnya tidak ada. Bila aku memilih jalan yang ditempuhnya. menggelepar di permukaan air. ada bila aku bersama Ronggur. matahari leluasa melemparkan sinarnya. Biar cepat masak. untuk membebaskan diri dari belenggu yang menindas harga diri itu." kata Ronggur pula.yang tidak dapat mengucapkan terima kasih pada Mula Jadi Na Bolon. yang bisa mempergunakan tiap kesempatan yang ada. itulah kehidupan. kupikir dan kurasakan. "Sentak pancing yang ada di sebelah kananmu!" teriak Ronggur yang sekaligus membangunkan Tio dari renungan. Isi perutnya dibuang Tio. Walau apa bentuk nasib yang menanti di depan. T idak menciptakannya menjadi hewan. Disisikinya. seekor ikan mas yang sudah cukup besar. kesempatan. Banyak bikin asamnya.

Si belang tidak sering lagi menggonggong. Mereka melanjutkan perjalanan. tidak seorang pun dari penangkap ikan yang melambaikan tangan dan menyapa mereka. Beberapa tangkai dedaunan yang cukup lebar dijatuhkan ke tanah. turut si belang. kenapa orang tidak menegurnya dengan ramah lagi. Matahari leluasa melemparkan sinarnya dan membakar mereka berdua. cepat mengkayuh sampan masing-masing. Cepat dipungut Tio. Matahari tambah tinggi dan terik. Selalu mengikuti pantai. justru karena perahu mereka tidak punya atap. Tepian yang dipilih ialah lepian yang jauh dan kampung yang banyak bertebar sepanjang pantai danau. langsung memanjat sebuah pohon berdaun lebar. baru bebeiapa hari kemudian dapat dibuka dari bungkusannya untuk dimakan. Hingga perjalanan menjadi bertambah jauh. Ronggur mengkayuh melalui ke tepian. Mereka tidak memenggal perjalanan melalui tengah danau. Beberapa kali mereka berpapasan dengan penangkap ikan. Daging kering masih ada. Para penangkap ikan itu menatap dengan dungu ke arah mereka. tapi karena . Gelombang mulai menggila. Pada mulanya dia selalu menggonggong perahu dan sampan yang berpapasan dengan mereka. Lalu. Sampan penangkap ikan sudah sunyi dari danau. sudah lebih banyak diam dan tiduran di perut perahu. Tapi. Bila sinar matahari sudah tidak terik lagi. Kemudian dibungkus baik-baik. kembali mereka melanjutkan perjalanan. Sekarang Ronggur sudah dapat mengartikan. Perahu mulaii menunduk nunduk mengikuti alun gelombang. Ikan diasami. Sedang ikan yang diura itu. Di sana mereka memasak nasi lalu makan siang. Lalu me lompat dari perahu ke tepian berpasir basah. Seolah tidak tertembus hawa. agar cepat jauh dari manusia yang sudah digoda setan jahat itu. Lalu dibaluri dengan kunyit.Ronggur mencampak pandang ke pinggir danau. Cepat dia menujukan haluan perahu ke tepian.

Perahu dan sampan nelayan yang terdampar ke sana karena tidak hati-hati. Setelah dua hari berkayuh. Pertanda perkampungan. Kita tak dapat menepi di sini. dapat mereka terka bahwa itu kuburan nenek moyang yang pertama merambah mendirikan perkampungan. bergerak dibawa arus. Meneliti awal sungai. Biar kita dapat terus menyusuri sungai sampai ke tempat yang jarang perkampungannya. tepian danau kembali dirimbuni rumpun bambu duri dengan rapat. antara permukaan air yang aman dan jebakan pasir hidup. Orangnya bisa selamat kalau pandai berenang." kata Ronggur.orang yang ada dalam sampan atau perahu yang digonggongnya tidak me lambaikan tangan. membalas gonggongnya. selalu dikebumikan di gerbang kampung. Pada mulut sungai banyak terdapat gugusan pasir hidup. pada pikirannya mendatang pengenalan bahwa mereka telah memasuki lekuk danau yang pada salah satu tepiannya. Tapi. sambil menjulurkan lidah. "Percepatlah mengayuh T io. Dapat mereka tentukan melalui titik putih itu bahwa itulah gerbang perkampungan. Siapa tahu. Titik kecil yang bermunculan di sana menatap ke arah mereka. Sedang Ronggur memperhatikan permukaan air dengan awas. Jadi orang yang berlayar di sana harus hati-hati. tidak ada yang melambaikan tangan. Kuburan nenek moyang yang pertama membuka satu perkampungan. Pasir hidup selalu berpindah tempat. Tapi. Tanda pasir hidup dapat diketahui dari permukaan air danau yang agak memutih. Dia menarik napas yang dalam. dan beriak. secara perlahan-lahan akan ditelan pasir hidup itu." . bermula Sungai Titian Dewata. Tio tidak memikirkan itu. kita sudah harus memasuki mulut sungai. Terlalu rapat perkampungannya. "Sebelum sore benar. bercampur keruh. akhirnya si belang sendiri pun tinggal diam saja melihat mereka. Juga agar dapat kita bedakan. di antara mereka ada yang bermaksud jahat pada kita. Titik putih yang besar itu. ada yang menuding.

Oleh tatapan itu. Teruskan mengayuh." "Tidak seorang pun dari mereka yang mengaju tanya pada kita. jangan ambil perduli. punya arus. Teruslah mengayuh. seperti menjenggak. Apakah mereka tidak bisa mengucapkan sepatah kata?" "Kepercayaan mereka sama dengan yang dianut margaku. Perasaan mereka tumpul dibuatnya. Mengibaskan ekor pada punggung Tio. Cahaya senja sudah bermain di permukaan air yang beriak. Menonton tanpa menggunakan perasaan. Si belang kalau sudah capek duduk. terkadang berjalan hilir mudik dalam perahu. orang mencampak pandang ke arah mereka. kepercayaan itu membuat mereka bisu. karena tidak dapat membantu tuannya. yang diketahui Ronggur sudah lain dari kesatuan marganya. kau lihat mereka itu?" "Ya. banyak orang berdiri. Tio menjadi gelisah. Dari sekian banyak orang. Tapi. . Riak yang seperti disorong ke satu arah. Sedang mereka sudah berbeda marganya dari margamu.Tio mempercepat kayuhannya. Pada kedua tepian pangkal sungai. "Ronggur. Si belang akhirnya capek sendiri. Tampaknya si belang seperti menyesal. kulihat. tetap bergerak. Atau. orang itu tetap juga di tempatnya. Tidak mengapa. Sebelum jauh malam. Kepercayaan itu yang melarang mereka untuk bercakap dengan kita. tetap disorong sesuatu tenaga untuk ditibakan ke satu tempat. Tapi. begitu pula pada kaki Ronggur. Riak itu. Teruslah mengayuh. tapi masih perlahan. kemudian pada Ronggur yang terus mengayuh dan menjaga kemudi dengan hati-hati. Melihat mereka dengan dungu. walau masih perlahan. oleh kebisuan itu. Tio bolak-balik melihat pada orang banyak. Si belang sudah pernah menggonggong ke arah mereka. seorang pun tidak ada yang menyapa mereka. Mula sungai.

napasnya masih tersengal. Merahnya mewarnai segala. Mereka masih harus mengayuh kuat-kuat. Diikuti Tio." Tio meneruskan mengayuh.hendaknya kita sudah sampai ke tempat yang cukup jauh dari perkampungan mereka. sebelum mereka menjauh benar. Orang itu sudah berada di tepian sungai. Dan. Seperti mata ikan yang mati. Tidak berkerisik. Seseorang berlari di pematang sawah sambil melambaikan tangan. tapi yang begitu diam dan bisu. suara orang itu seperti hadiah yang besar. Menggonggong. Setelah beberapa hari tidak mendengar suara orang lain yang mencakapkan mereka. Agar godaan darinya tidak lama mempengaruhi tekad diri. seseorang memanggil nama Ronggur. Aku mau turut. dari satu tempat yang ketinggian lagi sunyi. agar perahu melaju. . Belum bisa menghayutkan perahu. Biar cepat kita jauh dari tatapan mereka." "Teruslah berkayuh. si belang sekali lagi menggonggong ke arah tumpukan orang yang diam bisu itu. Si belang mengikut. seperti patung. "Ronggur. Untuk akhir kalinya." kata orang itu. Ronggur berhenti berkayuh. Arus sungai masih lemah. Senja di langit bertambah tua." Ronggur tambah terdiam. Tio. "bawalah aku bersama kalian. Mulanya begitu lemah dan jauh. Hampir tidak dapat mempercayai pendengarannya." "Mata mereka tidak bercahaya. Si belang mempertajam penciuman. hadiah yang membuat mereka gugup. Aku ngeri melihatnya dan merasa terpukau berhadapan dengan manusia yang begitu banyak. rasanya. Disuruh T io diam. Seperti suara setan yang bangkit dari dunia jauh. Ronggur mendongakkan kepala. mencari dari mana suara itu datang.

gantung diri. "Bawalah aku bersama kalian. Tapi. sengaja mendatangi kecelakaan yang bisa . Namun hutangku masih bertumpuk. Membuat Ronggur ingin tahu. kenapa orang itu mau turut. agar dibolehkan turut serta. Karena aku takut sendirian menuju negeri jauh itu. bila ada teman samasama mati. di saat itu pula seseorang dari anggota masyarakat yang menyisihkan itu memohon pada mereka." "Jadi kau sengaja mau mencari malapetaka?" "Ya. Sawahku sudah tergadai. Justru karena tahu ada teman sama-sama mati. seperti kalian." Ronggur dan Tio tambah terdiam mendengarkan permohonan orang itu. Karena aku memang dengan sengaja mencari kecelakaan pada diri sial ini. lebih baik kurasa. Bawalah aku. Ronggur. Bawalah aku. aku tidak perduli. Di saat mereka disisihkan dari sekitar. dari alam kehidupan mereka sehari-hari. kau dengarkah aku? Aku si Lolom. Tepikanlah perahu itu biar masuk aku. lebih tenteram kurasa hati."Ronggur. Aku mau ikut. Aku mau turut." "Kau pikir kami sengaja mencari kematian dengan melayari sungai ini? Atau. biar aku tidak merasakan kesunyian di saat nyawa berpisah dari tubuh. permohonan yang tidak diduga sama sekali. Bawalah aku. Lolom. "Kenapa kau harus ikut?" tanya Ronggur. Tidak bermaksud jahat aku. Seperti kau. Aku kalah berjudi. "Aku tahu perjalananmu mendatangkan ajal." "Kudengar kau. Daripada aku membunuh diri. Sungguh sial nasib menimpa diriku. Kudengar kau. Kawanmu sejak kecil. Apa maksudmu?" tanya Ronggur kembali. Dia belum yakin benar akan pendengarannya. Aku mau turut.

mengakibatkan kematian?" tanya Ronggur matanya memancarkan cahaya benci. Memang budakmu itu manis. Percayalah. Dari kita sebenarnya sama sialnya. jangan bersilat kata. Kami mau mencari penghidupan yang lebih sempurna. Dan. Aku tidak bermaksud mempengaruhi perasaan cinta yang tumbuh di hati kalian berdua. di saat kalian bercumbuan. ia tidak tahu. "Kenapa kau berkata begitu. kau me larikan diri dari kehidupan ini dengan dalih mencari tanah habungkasan bersama budakmu itu? Bawalah aku. Itu soalmu." suara si Lolom mulai ringan dan lincah. tidak seperti semula lagi." jawab Tio kasar. "Ah. Kau sengaja mencari kecelakaan. Habis perkara. Sinar "Apa maksudmu?" kembali Lolom bertanya. Biar ada pula temanku sama-sama mati." Wajahnya memerah. Bukankah karena tidak tahan menanggung malu di dunia ini. kematian. "Bukankah kau dengan sengaja mencari sumber malapetaka dengan melayari Sungai T itian Dewata ini?" "Tidak. pula. "Perjalanan yang menuju atau mencari tanah habungkasan. Lolom?" "Karena kau Ronggur. lalu mulai mendayung. Tio membenamkan pengayuh ke air hingga air muncrat ke atas. Bawalah aku Ronggur." Dengan hentakan kasar. Aku karena kalah berjudi. Biar ada temanmu sama-sama mati. Sebenarnya dia sendiri memang sependapat . Mencapai tanah luas tempat habungkasan. kenapa dia harus mengatakannya. Kau karena menyintai seorang budak." jawab Ronggur tegas. dan aku mau turut. jatuh cinta pada budakmu. Kawan. "Perjalanan kami tidak wajar dikotori seorang penjudi yang mau bunuh diri. Aku akan menutup mata dan mulut. Walaupun sebab kita berbeda.

kau telah menggoda dan menjerumuskan seorang sahabatku ke lembah kehinaan. tanganlah berkata aku membawa sial padamu.dengan orang lain. karena setiap saat kau menggodanya dan kata orang. kau penggoda keparat. Aku kalah berjudi." "Siapa mengatakan itu padamu. Aku juga tidak dapat mempercayai bila seseorang yang melayari sungai ini. kawan. Lolom terkekeh lupa akan masalahnya sendiri. Tio sudah hendak mendayung perahu. sayang sekali apa sebabnya kau mau ikut dengan kami. marilah sama-sama mati. dan datu bolon. perjalanan yang bermaksud baik itu dikotori seseorang yang memang sengaja mau bunuh diri. "Kenapa kau diam. Jatuh cinta pada seorang budak. Kalau alasanmu berbeda dari alasan yang kau katakan . tapi dicegah Ronggur dengan membenamkan kemudi ke air. Ronggur jatuh cinta. Akhirnya Ronggur mengatakan: "Lolom. Lolom?" tanya Ronggur keras “Kau masih bertanya. Bawalah aku. Tidak menyahut. dengan Lolom bahwa perjalanan itu akan kandas di karang kecelakaan. Itulah berita yang tersiar luas di antara penduduk. kau sedang bunting. Kalian telah bersetubuh sebelum meminta izin dari Mula Jadi Na Bolon. Nasibmu jauh lebih celaka dari nasib kita semua. Ronggur? Karena tepat apa yang kukatakan?" Ronggur masih diam. Tapi. Lain tidak. dari para orang tua." Seketika Ronggur terdiam. Kemudian Lolom melanjutkan. "Apa kau katakan budak manis? Apakah kau tidak dengan sengaja mengotori hidup si Ronggur? Dengan wajahmu yang manis. dari kerajaan. masih mengatakan akan mencari tanah habungkasan. Karena itu. Aku juga mempercayainya. tidak wajar rasanya. Aku yang mau bunuh diri. biarpun begitu. Bagiku itu omong kosong dan dusta paling besar.

Kita akan sama-sama mati bila kita sama-sama melayari sungai ini." "Tapi. "Sudah kukatakan aku tidak dapat mempercayainya. benar. Aku akan menemui tanah habungkasan." jawab Ronggur dengan suara kuat.itu. Kami masih tetap mengharapkan dan memohon agar dewata menunjuki jalan kami. Itu saja soalnya. betapa gembira hatiku menerima kehadiranmu. bersibunuhan karena setetes air parit." kata Lolom menghentak. karena aku tidak mau mencari ma lapetaka. "Perjalanan yang kumulai ini bertujuan baik. berperang karena setapak tanah. Hasilnya kelak akan kuserahkan pada semua orang. Seseorang yang dengan sengaja mau bunuh diri padanya akan datang malapetaka. agar kutukan dewata padamu karena kau mau bunuh diri tidak turut menimpa kami. Karena itu. karena kau seorang. Karena itu dan karena aku tahu pepatah lama. carilah. seseorang penjudi yang kalah. sewajarnya pula aku menolak permohonanmu. dialah yang bernasib sial. Kemudian Ronggur melanjutkan: "Aku mau buktikan Lolom bahwa yang kuimpikan atau yang diwartakan mimpiku padaku. bawalah aku biar ada temanku sama-sama mati. Yang kuminta padamu. Karena aku tidak mau bunuh diri. Yang kelak hasilnya akan dikecap setiap orang. tapi sebaliknya. Aku takut mati sendiri. walau kau kawanku. Tidak wajar mengorbankan nasib orang yang begitu banyak. masa datang orang banyak. Sendirinya pula aku akan buktikan bahwa kepercayaan yang tertanam di hati kita selama ini mengenai sungai ini salah. Sungai ini akan membawaku ke tanah landai yang subur." "Jangan mencari dalih lagi. . Betapa aku berterima kasih karena kau mau menemani aku seraya bersedia memikul segala akibatnya. Agar nasib sialmu." Lolom masih tertawa di pinggir sungai. aku tidak mencari kematian dengan sengaja. agar semua orang terlepas dari ancaman yang selalu mengikuti hidupnya.

dengan pengap-pengap dia memohon: "Ronggur. dan datangilah sendiri ajal yang akan merenggutkanmu dari kehidupan ini!" Sambil tertawa dan perutnya berguncang-guncang. dia berusaha agar marahnya tidak meledak. kau dengarkah aku?" ratapnya mulai meninggi. Tapi. tempat mencampakkan segala penjelasan di atas pusaraku. "sampai hatikah kau melihat aku manjadi budak?" Ratapan si Lolom yang tambah meninggi. Hendak mereka jadikan aku budak. Begitu pula agar tidak ada tempat bagi sanak saudara. Menyuruh Tio berhenti pula mendayung. aku pun bermaksud begitu. Agar kubur kalian tidak ada jadi pertinggal di dunia ini. kalau mati tidak wajar menunjukkan kuburnya agar tidak ada lagi tempat bagi mengunjungnya. membuat Ronggur tertegun. perahu sudah mulai dikayuh Ronggur dan Tio. kalian tidak mau pula membawa aku serta. Lolom mengatakan: "Ronggur. Penjudi yang kalah main. membuat hidup mereka menjadi morat-marit. waktu Lolom sadar bahwa kencang perahu tambah tak dapat diikutinya lagi. karena aku segala penjudi yang kalah. menagih hutang.tempuhlah sendiri. Ronggur." Waktu Lolom berkata. apa yang harus kuperbuat? Aku takut mati kalau aku sendiri yang menghadapinya. bagi anak yang masih kecil. menerjunkan diri ke ujung dunia agar bangkai kalian tidak dapat dikuburkan. dia berkata dengan kuat lagi tajam: . Dan. Nah. Dan. aku yang sudah rela mati. Kembali dia berhenti mendayung. memang kau masih menggunakan akal sehat itu. walau dia sudah berlari-lari di tepian. Lalu. Dia mencampak pandang ke daratan. ke mana perginya akal sehatmu yang selama ini kau punyai? Ya. Yaitu. Matanya menyala merah.

Pesanku padamu. Tapi. agar kau tahu. kau kawanku sejak kecil. semua terletak pada hasil perjalanan ini. karena orang lain itu pun ingin hidup lalu berusaha menguasai setapak tanah." "Mimpiku telah mewartakan padaku. "Kalau berjudi bagimu sangat baik. mempunyai setetes air parit telah memaksa aku harus mencapai tanah habungkasan. Untuk bisa terlepas dari belenggu itu. Agar kau tahu betapa nikmatnya mimpi akan kemerdekaan. Agar kau tahu dan menyadari bahaya main judi. maka kau pun akan mendoakan agar perjalanan ini memperoleh hasil seperti yang diharapkan. Kelak aku akan membawa berita padamu bahwa tanah habungkasan telah kutemui." "Begitu percaya kau Ronggur bahwa kau akan menemui tanah habungkasan. . pahitnya perasaan diri sendiri justru harus membunuh orang lain. Dan. merasakan pahitnya menjadi seorang budak. apa yang harus kuperbuat?" tanya Lolom pula melanjut dan memotong cakap Ronggur. Agar kau bisa kembali menjadi seorang yang merdeka. dari penjara perasaan yang meracuni diri sendiri. Kau boleh pindah ke sana dan kau kembali menjadi orang merdeka. Karena kau memang sengaja mencari kematian. Dan perasaanku selama ini. Harapanmu terletak pada hasil perjalanan ini. sehingga kau tidak mau lagi mempermainkannya di perjudian. janganlah dulu bunuh diri. bagiku itu tidak mengapa. Kau telah menghina aku. Untuk ikut serta dalam perjalanan ini kau tidak boleh. Aku tidak bersedia mengorbankan perjalanan ini pada nasib sial yang akan menimpamu. bila kau pun nanti turut menanggungnya. yang turut merasakan pahitnya derita seorang budak. Sekarang biarlah dulu kau rasakan betapa sakitnya menjadi budak orang lain." "Lantas."Lolom." "Dan. betapa berharganya sebuah kemerdekaan.

" Ronggur dan Tio kembali mendayung. Memang begitu selalu. bila pagi terbit lagi. Ronggur telah melanjutkan: "Di samping itu. Kalau malam. karena doa seorang yang didengarkan Mula Jadi Na Bolon. wartakanlah pada orang semargamu bahwa anggapan mereka akan perjalanan kami ini tidak benar sama sekali.Bertobatkah. agar Ronggur dan Tio berhasil. Meranggas. si belang kebanyakan tiduran. Bulan mulai memancar di langit mencurahkan sinar ke bumi. Tapi. Dan. Dan. kembali dia meratap dan menangis." tobat. sehingga dia bisa kembali menjadi orang merdeka. Hanya satu-satu pepohonan tumbuh di tepian. disela tangis itu dia mengharapkan. di saat Ronggur dan Tio melepas lelah. Perahu terus melancar. sangat Sebelum Lolom sempat mengatakan sesuatu. . Secara perlahan arus sungai mulai terasa. Setelah merasakan bahwa mereka sudah cukup jauh dari perkampungan. Suruhlah mereka bersiap menerima sebuah warta kebenaran. karenanya dia belum mau mati. bila kau memang ingin berbakti. Agar tidak terguncang perasaan mereka bila kelak menerima warta penemuanku atas tanah habungkasan. sesudah dia sadar bahwa perahu Ronggur sudah menjauh dan melaju. Si belang disuruh berjaga. Menjadi suluh bagi Ronggur dan Tio mengikuti jalur sungai. Memilih tempat bermalam. Yang mungkin berbeda malah menantang kepercayaan yang mereka anut selama ini. Dengan tercengang Lolom melepas mereka. selagi perahu dikayuh. mereka akan melanjutkan perjalanan itu. Tanah datar yang terdiri dari tanah batu di kiri-kanan sungai. dia yang berjaga. Ronggur mendaratkan perahu. Tidak berdaun rindang. Perahu ditambatkan. Harapan masih ada walau masih begitu samar.

Dia pergi ke tempat ketinggian. yang menganga bergaya mau menelan. dia harus bertambah hati-hati. setiap itu pula T io memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Sejauh mata memandang yang dilihat hanya batu padas saja. dia harus mulai mencari mulut gua yang diceritakan Datu Bolon. bila arus bertambah deras. Dan. Sedang sungai seolah terus menuju satu arah yang jauh. tidak jarang Ronggur melengketkan telinga ke permukaan air. Atau. Lalu menyuruh Tio menghidupkan api. mengadakan peninjauan. Walau matahari tidak terik. Dan. pandang yang meminta penjelasan. Kediam-diaman. namun Ronggur mendaratkan perahu ke pinggir sungai. mendaki sebuah pundak bukit. Menurut keterangan bekas Datu Bolon. dan masing-siang. Dan. Arus sungai sudah cukup deras. Satu dua batu jangkar sudah dijatuhkan Ronggur. memulai jalan darat. Karena itu.Setiap hari arus sungai tambah terasa. tetap diperhatikan dan dipelajari Ronggur. mereka telah tiba ke batas yang boleh ditempuh manusia. Pada hari selanjutnya. yang mencampakkan pandang padanya. sepatah kata. bila mereka mulai melewati batas itu besok pagi. Kembali dia ke tempat Tio. Perasaan masing-masing saling mengajuk nasib yang menanti mereka. Itulah mula gua yang diceritakan bekas Datu Bolon. Ronggur tidak mengucapkan. Tapi. setiap Ronggur mengerjakannya sambil memejamkan mata. tapi diusahakan agar tidak kedengaran pada Ronggur. untuk merasakan getar air. Bila suara gemuruh air sungai berbantingan ke dinding batu mulai kedengaran. . Tekadnya harus bertambah bulat dan kukuh memasukinya. agar kelajuan perahu dapat dikendalikan. Bila Ronggur kembali mengangkat kepala. Menembus bukit. T io akan menarik napas yang panjang. menerjang terus ke perut bukit. hatinya bergoncang dalam dada. Pertanda mereka akan bermalam di sana.

Dikejauhan. susut karana terus-terusan direndam air. desiran arus sungai kedengaran bangkit. mereka temui sebuah lobang alam pada s isi sungai yang agak tinggi. Angin kencang datang dari hulu sungai. Mereka tidak perlu lagi mengayuh. Walau sudah jauh melewati batas yang boleh didatangi manusia. Telapak tangan Tio yang sudah lecet dan keputihan. Mereka masih selamat. Tangannya pasti menggenggam ulu kemudi. melontarkan perasaan yang tertekan. di atap batu. Mulut tambah terkatup. hari itu mereka tidak menemui sesuatu. Awan hitam merayap dan menjalar. tepat dari belahan jalur sungai. Menyinari kiri-kanan sungai yang tidak punya tanda kehidupan. Tetap meneliti keadaan. Tengah malam. lalu menutupi wajah bulan. Namun mereka meneruskan perjalanan juga. Dia mencari kekuatan hati dari elusan itu. Jadi tidak dari pundak Dolok Simanuk-manuk lagi. Dingin. Atau. Tapi. bulan muncul. Dari jalur sungai dikejauhan. Terus saja Ronggur mencampakkan pandang ke kejauhan. Arus sungai sudah dapat menghanyutkan perahu malah terlalu liar. bila diperhatikan benar. Tidak pernah didatangi manusia layaknya. Membangkitkan riak yang . Hanya arus sungai yang bertambah kencang. Keadaan sekitar menjadi pekat. Hingga batu jangkar sudah tiga biji dijatuhkan. tidak ada sepenggal kayu atau bekas api. terbuat dari batu alam. mendesis. Beberapa potong kayu diangkutnya dari perahu. Tandus dan kosong. sekarang bisa mengasoh. Wajahnya bersikap menantang dan begitu tegang. seperti yang mereka kenal. Tangannya mengelus leher si belang yang duduk di sampingnya. Bila mereka mendarat ke pinggiran lagi. pada pagi berikut melihat matahari muncul dari satu kekosongan. tidak seperti lobang alam yang pernah mereka temui.Ronggur dan Tio. Dalam lobang. Nyala api menari-nari di dinding batu. Lobang yang bersisi berlantai dan beratap batu. Buru-buru Tio menghidupkan api.

Semuanya serba asing dan menakutkan. Kekelaman yang abadi.tidak dapat dikatakan kecil. Riak sungai menjadi besar dan tambah gelisah. Dalam saat begitu. dia merasa sepi atau merasa takut. Kepekatan menyeluruh menelan segala. memperhatikan sekitar dan mempelajari arah dan mata angin yang menggalau. Lantas pergi ke atas gua alam itu. Bersabung halilintar dan guruh. atau semua serba seperti menakut-nakuti. yang menumbuhkan berbagai ragam anggapan. walau tidak mengatakan sesuatu. menyengkak. Diiringi suara guntur yang mau memecahkan segala. menatap ke sekitar. Permukaan sungai naik. Si belang mendekat pada Tio. perubahan alam begitu rupa menimbulkan prasangka dalam diri. sudah melonggarkan perasaan tertekan. Seperti: "Besok pagi kita melanjutkan perjalanan sebelum matahari terbit. cukup gelisah permukaan sungai. Dia merasa lebih tenteram bila Ronggur di dekatnya. Dia selalu begitu. keadaan udara cukup terang benderang oleh sinar bulan yang nyaman. Seperti marah karena ada orang yang berani berlayar melewati batas yang sudah ditentukan. Satu-satu halilintar mengkilap membelah bumi. Biar terasa panas." Mendengar cakap yang sepenggal itu saja. Dan. Kulit tangannya masih tetap pucat dan menyusut. tapi melaksanakan yang dimaksudkan Ronggur. selimuti dirimu dengan kulit binatang berbulu. hujan turun seperti dicurahkan dari langit. Tio yang tepat berada di bawahnya. Dipisah langit-langit gua yang terbuat dari batu alam. pertanda mula kecelakaan yang akan menimpa diri. Memanaskan diri dekat api. dia tidak akan menyahut. selain hai yang penting saja. Ronggur pergi ke tepian sungai memperkokoh ikatan tambatan perahu. Selagi Ronggur tidak ada dekatnya. tidak mengetahui bahwa Ronggur tepat berada di atasnya. . Tidurlah. walau dia tahu Ronggur tidak pergi jauh. Beberapa saat dia berdiri di sana. Begitu cepat suasana alam berubah. Baru beberapa saat yang lalu.

lalu mengatakan. Namun perasaan keadaan sekitar. Butiran air berjatuhan. Kemudian Ronggur berjongkok dekat api. dan guruh masih bersabung. Begitu dekat hingga Tio yang melihatnya merasa ngeri. kilat. Permukaan sungai menaik. Dari goleknya dia melihat Ronggur mengeringkan tubuh. bila badai telah teduh. Sambil memalingkan pandang Ronggur berkata. Mendekatkan telapak tangan ke jilaman api. Dia . Besok. Perasaan sak wasangka tambah mencekam diri. seperti Tio sendiri. lalu dikaiskan.Malam itu Ronggur agak lama baru kembali. Tio bangkit dari duduknya. Telapak tangan ditelempapkan ke tubuh. Dalam hatinya dia merasa geli atas kelakuan Ronggur. T io terpekik karena terkejut. Ronggur tersenyum. Si belang sekali ini sudah tertidur. Dia menyesali diri kenapa dia harus terpekik. yang dengan sendirinya kakinya menjadi telanjang. riak sudah membesar sudah menyerupai ombak danau. daerah yang belum pernah dimasuki manusia. karena dia tahu bahwa mereka sudah berada di daerah yang berbahaya. kalau tangan itu akan hangus terbakar. "Kau belum tidur juga? Belum mengantuk?" Tio menyurukkan kepala ke bawah kulit binatang. Sedang Ronggur merasa geli pula atas kelakuan Tio yang menyurukkan kepala ke bawah selimut buru-buru. Di luar hujan. Hendak melihat ke mana Ronggur pergi atau di mana Ronggur berada. Tapi. Tidak apa-apa. tubuhnya tertumbuk ke tubuh Ronggur yang berdada telanjang." Tio malu akan ketololan dan ketakutannya. ketika itu juga. air tidak mungkin menggenangi mulut gua di mana mereka berada. Lalu mundur. Kulit binatang itu tidak cukup panjang untuk menyelimuti tubuhnya sekaligus. "Pergilah tidur. kita akan meneruskan perjalanan. Tidak disadarinya matanya dapat ditangkap pandangan Ronggur. dia tahu. angin. tersenyum di bawah selimut kulit berbulu. Ronggur tersenyum. Dengan membungkuk dia menuju mulut gua.

Kampret berjatuhan. Dengan kayu itu. Tambah lama tambah banyak. Kelepak itu berasal dari lobang-lobang kecil yang banyak di langit-langit gua. Ronggur menutup kedua belah kupingnya. bahwa cuaca masih tetap seburuk kemaren. Tidak tahu dia Tio sudah bangun. Dengan malas Ronggur kembali masuk ke dalam lobang. Tio belum bangun. Menjerangkan air yang ditampung dari pinggir sungai. Merasa bersyukur. dicoloknya tiap lobang. Suara yang timbul atau seolah datang dari dunia jauh. daging kampret enak dimakan. Patah sayap. Perlahan dia bangkit. Api sudah padam. justru karena dia tahu. Enak dimakan. dia pun tahu. Waktu kepalanya dijulurkan dari mulut lobang untuk mengetahui keadaan cuaca. Lalu dia mengambil sebatang kayu. Tapi. lalu dia dapat memastikan bahwa sesuatu yang bernyawa masih ada di sana. sudah mulai me lemah. Asik dia dengan pekerjaannya. Juga si belang. Matanya diliarkan menatap langit-langit. pikirnya. memejamkan mata dengan paksa. dunia lain. Waktu nyala api me loncat-loncat dan menari-nari di dinding gua. Walau matahari sudah terbit dan agak tinggi. Dia mendekati salah satu lobang kecil. Di sini banyak kampret.menggolekkan diri. . namun bias cahayanya tidak dapat menembus awan yang bergumpal dengan sempurna. Cahaya putih sudah menerobos dari mulut lobang waktu Ronggur membuka mata kembali. Di samping itu. Dalam gua menjadi dingin kembali. Ma lah menggulungkan tubuhnya sampai bengkok untuk melawan dingin. Desis lidah air masih terus mengganggu pendengaran. Terus menghidupkan api. Kampret itu ditumpukkan. angin yang bersabung dan hujan yang menderu di luar belum henti. Heh. takut kalau kelepak lemah itu henti. Didengarnya kelepak lemah di langit-langit gua. Suara mendesis yang bersumber dari sungai itu sangat menyayat atau menyengat pendengaran. Membaringkan diri.

Di tanah habungkasan yang kita tuju. Pundipundi itu diikatkan di pinggangnya. Tio menjaga bibit itu dengan baik. Ronggur menyambung: "Teruskan jaga baik-baik." Cakapnya punya kepastian seolah mereka akan menemui tanah habungkasan yang dimimpikan. Jangan sia-siakan." kata Ronggur. menemui tanah habungkasan atau menemui ajal. langsung dengan bulunya. meninggalkan nasib yang malarig di belakang. telah menunjukkan kesetiaan hingga berani pergi ke mana saja. dia telah berani memilih perjalanan tanpa nasib." Tio memegang pinggangnya yang agak menonjol. Teruslah jaga baik-baik. Itu saja pun baginya cukuplah. Padanya. . Jajan arwahnya dalam perjalanan menghadap Mula Jadi Na Bolon. dia sebagai perempuan. Tio menundukkan kepala. Dia telah menunjukkan kesetiaan sebagai budak pada tuannya. Atau. Bila angin dan hujan reda. di mana kau bikin pundi-pundi tempat bibit itu? Sudah berapa hari tidak kulihat. padi yang bisa mengurangi rasa laparnya bila mereka memang jatuh ke ujung dunia. Bila angin dan hujan teduh. bersama seorang lelaki yang dipercayainya kejujuran dan keberaniannya. Cepat dia mengaju tanya: "Tio. bibit itu sangat penting dan perlu bagi kita. Tio diam saja mendengarkan. Bibit pertama yang akan mereka tanam di tanah habungkasan. Cepat benar sudah masak. sekarang telah menjadi sama. Sambil meneguk air simar palia yang pahit kental lagi panas. "Kau menjaganya dengan baik kalau begitu. lalu: "Di sini banyak kampret." Kampret itu mereka panggang. mereka akan meneruskan perjalanan. Tio tersenyum tapi tertunduk. Bakarlah.Ronggur berpaling. mulut mengunyah daging kampret yang manis. Dan. Disambutnya juga senyum itu. Atau. Ingatan Ronggur cepat meloncat. rasa dingin dan kantuk cepat menghilang. Enak juga dimakan. Yang terasa tidak punya akhir dan ujung. kita meneruskan perjalanan.

batu jangkar terus . Gelisah tidak pernah henti. Tapi. Karena. kelajuan perahu terus bertambah. Air yang bertemperasan ke dinding tepian batu. tanah subur yang landai. Dan. namun kelajuan perahu terus bertambah kencang. namun suara gemuruh belum ada kedengaran. Karena itulah. Tapi. Tali temalinya bertegangan diseret perahu. dia masih meneruskan penyusuran itu. dapat dikuasai karena dibantu batu jangkar itu. berangsur secara perlahan. terhunjam ke dada bumi. Pendengaran terus dipertajam Ronggur. Si belang menggoyangkan tubuh. atau suara lengkingan itu tersekat dalam kerongkongan. Tapi. atau ujung dunia. desis air yang menyayat pendengaran itu tetap juga. Sudah lebih dari lima batu jangkar dijatuhkan Ronggur. lalu memulai perjalanan lagi. Itulah gunung Batu yang diterobos air sungai yang arusnya bertambah deras. tambah beda dengan tepian sungai yang sudah mereka lewati. bila air sungai jatuh ke akhir dunia. Perubahan pada kedua tepi sungai tambah nyata. membuang butir-butir air yang melengket pada bulunya. Cahaya yang menerobos ke dalam gua tambah terang juga. Dia melengking kecil. Batu jangkar sudah tujuh buah dijatuhkannya. terbuat dari batu alam yang hitam. mula dari impiannya. Tepian sungai menjadi tambah tinggi juga. Angin tambah melemah dan hujan sudah mulai teduh.Karena itu dia hanya menelan air liur mendengar omongan Ronggur yang punya kepastian itu. Ronggur dan Tio bersama si belang cepat-cepat meninggalkan gua. berdesis dan muncrat ke sana kemari. masih jauh. tentunya menimbulkan suara gemuruh yang dahsyat. menghadang sungai. Atau. Air sungai terus menerus mengarah ke satu bukit yang seolah tegak berdiri. Bila arus bertambah kencang. Menyusuri sungai. air terus menerobos. Tambah lama tambah berbentuk semacam terowongan. pikir Ronggur. Seperti tidak terkendalikan. Bahaya.

Begitu seterusnya. Pada puncaknya yang masih bisa dijangkau mata tidak ada sesuatu yang tumbuh.dijatuhkan. Melanjutkan perlawanan terhadap arus sungai yang setiap saat bertambah kencang juga. Pada riam yang lebih curam. Air yang bertemperasan pada dinding batu tambah mendesis dan menyayat pendengaran. selain dari tumbuhan kerdil yang tidak berdaun hijau. Dan. Air sungai menjadi lebih dingin dan hitam. Ronggur hanya tinggal menunggui kemudi. Membuat mereka terkadang tidak dapat mengetahui peredaran waktu dengan pasti. Dan pada setiap akhir kelokan riam sungai teap ditemui. bermula dari air yang bertemperasan ke sisi sungai dan lebih hebat pada salah . Mata terus-terusan ditancapkan ke depan. keadaan begitu bertambah jauh menyusuri sungai. Tahulah Ronggur suara desisan air yang menyayat pendengaran itu. terkadang wajah Ronggur sendiri disembur air. Ada kalanya sinar matahari seperti tidak sampai pada permukaan sungai karena disungkup kedua dinding batu yang bertemu puncaknya. bisa juga temperasan masuk ke dalam perahu. walau dinding perahu sudah tinggi dibuat. Dan. Tio cepat menimbanya. membuangnya kembalinya ke sungai. Pancing yang diumpankan Tio tidak pernah lagi mengenal Ikan bertambah jarang atau memang tidak ada sama sekali. Segala perasaan dikerahkan meraba yang menanti di depan. Pada tiap riam. Mereka tidak bisa lagi dengan leluasa melihat matahari. Kelokan sungai yaitu patah tambah sering mereka temui. tanpa mau melepaskan seketika saja pun selagi perahu terus berlari dibawa arus. Namun mereka tetap berlayar. yang terus memegang kemudi. Sebuah kata pun tidak ada yang diucapkan. Sekitar menjadi taram-temaram. bertambah memanjang. Begitu curam dinding batu itu. Tepian sungai yang terbuat dari batu alam bertambah tinggi juga. air sungai gelisah warna putih melambung ke atas.

Dalam saat begitu. Kelanjutan perahu terus juga menggila. jadi. Karena itu. Dada dipukul detak hati yang tambah mengencang. Bertemperasan. perahu akan pecah remuk. dan nasib sudah teraba bentuknya. mereka hanya bisa menambatkan perahu ke salah satu tungkul batu yang mencuat. mereka harus menahan dingin malam yang menyiksa. di tengah si belang. Suara air yang bertemperasan ke dinding batu. Tapi. Sudah lebih sepuluh batu jangkar yang mereka jatuhkan. Mereka lalu tidur dalam perahu tanpa unggun api. Mereka tidak ada lagi menemui gua alam. tahulah Ronggur bahwa sungai amat dalam.satu tikungan. Selain kayu bakar tidak ada. menghidupkan api dalam perahu berarti bunuh diri. Biarpun dia tahu bahwa sungai sangat dalam. Perut perahu menjadi tergenang air. kalau cahaya yang menerobos dari celah dinding sungai di atas itu me lemah. Seperti mereka berada dalam satu lembah yang sempit diapit kedua sisinya yang tinggi. Terlebih pula tidak ada yang menyelingi. Meneliti dan menduga sesuatu yang sedang menanti. Peralatan mereka menjadi basah. Dari warna biru permukaan yang sudah menghitam itu. Celah dinding sungai di atas bertambah kecil juga. Begitu menyiksa terasa. terus menerus mengisi pendengaran. Bila terdampar ke sana. Tio harus cepat menimbanya. tapi pada tikungan yang dilalui terkadang ada juga batu muncul ke permukaan air. Cepat . Tio di hulu perahu Ronggur di buritan. Begitu pula tepian sungai yang landai. Arus sungai terus menerus bertambah kencang dan tambah menggila. Air yang bertumbukan dengan batu mencuat itu menjadi gelisah dan liar. Tidak sedikit terlempar ke dalam perahu. Air seperti membulat. Mereka harus hati-hati melewatinya. terasa sangat membosankan. Air membiru sudah seperti menghitam. wajah Ronggur terus menantang ke depan. pandang mereka sering ketemu. menghadang.

Mulanya sangat lemah sekali. Tapi. Suasana tambah menekan. Bibirnya gemetaran. Jiwa tambah terasa dihantam habis-habisan. Tambah lama tambah nyata. tambah nyala: mengguruh.dipalingkan. yang bangkit di depan itu. Begitu pula Ronggur yang berada di buritan perahu. Dan. agar kepala Tio tidak tersangkut pada salah satu lingkungan dinding sungai yang terkadang begitu rendah. T idak mereguk air panas lagi di pagi hari. Tio tertunduk. Suara yang lemah itu. Terkadang Tio berdiri meregangkan tubuh yang kaku. yang selalu mendekat padanya dengan lengkingnya yang tersekat dalam kerongkongan. menempuh jalur sungai yang tidak dapat teraba. mengancam siapa saja . Atau. Walau terkadang hanya tertumpu ke dinding batu pertanda sebuah tikungan. yang berarti pekerjaan Tio tidak ada. Hanya air sungai yang dingin diteguk sehabis cuci muka. tapi cepat saja Ronggur menyuruhnya agar duduk kembali. Ronggur seperti tidak me lihatnya. Bila temperasan air yang melemparkan air ke perut perahu tidak ada. Arus sungai menggila Batu jangkar sudah lebih duapuluh biji dijatuhkan. Tio menyelimuti diri dan juga si belang. Tikungan bertambah sering ditemui. bila utusan cahaya kembali menerobos celah dinding sungai di atas itu. Arus sungai tambah menggila. mereka akan meneruskan perjalanan lagi. Wajah Ronggur agak pucat juga dibuatnya. Mengancam nadanya. Dinding sungai bertambah tinggi dan tandus. dia selalu melemparkan pandang ke depan dan menggunakan segala perasaan. Mata Ronggur terus memandang ke depan. ke mana diri akan dibawanya. Agar tatapannya tidak terhalang. Tio tidak terus-terusan atau tidak tekun lagi menatap ke depan saja. Namun perahu seperti diseret dan dilarikan setan saja kencang nya. Ronggur. Sudah sering dia berpaling ke belakang menatapi.

meledak teriakan panjang dari mulutnya: . Namun Ronggur tidak memperdulikan atau tidak mendengarkan. Tapi. Tidak dengar suara gemuruh yang mengancam itu?" Masih tidak diperdulikannya. Ronggur menatap ke depan dan pendengarannya terus dipertajam. memohonkan ampun atas keangkuhan mereka berdua. Matanya sebentar melihat ke kiri dan ke kanan. Tio terus menjerit. celah dinding melebar di atas. Dengan tidak berapa dikuasa iya pula. Jangan teruskan lagi mengikuti sungai. "Ronggur. Begitu liar. Tapi. sambil berteriak: "Ronggur. Urat saraf Tio seperti lumpuh karena terus-terusan ditekan suasana ketegangan. Suara gemuruh di depan tambah jelas. tingginya alangkah jauh lagi curam. Sering dia menyebut nama dewata. namun riak air sudah seperti gelombang. Suara gemuruh itu seperti suara dari sesuatu benda yang jatuh ke satu tempat yang amat dalam.yang berani mendekat. Dia masih meneruskan pelayaran. mendaratlah. cepat bertukar tempat. Tiba-tiba saja biasan cahaya mencurah ruah. melengking. Walau air tidak tertumpuk pada salah satu batu yang mencuat di permukaan sungai. kau tidak mendengarkan aku? Mendaratlah ke tepi. Pecah. Dalam jeritannya sering dia memanggil nama almarhum ayah bundanya. Banyak terlempar ke dalam perahu. Memercik ke sana ke mari. Yang telah berani menantang ketentuan dewata. Seperti tidak terdaki layaknya. Apakah kau mau bunuh diri?" Berbaur akhirnya dengan suara gemuruh di depan dan desis air dan suara riak sungai yang menari gila. Tiba-tiba saja Tio menghantamkan tangan ke haluan perahu. Perahu terangguk-angguk dan tergoncang. Namun Ronggur belum mendaratkan perahu. Tio tidak bisa lagi menimbanya. Lalu terus ke depan.

Kita masih harus menempuh perjalanan yang jauh. isaknya belum henti. ." lalu tangisnya berkepanjangan. . "Ronggur. Dia menatapi Ronggur dengan biji mata yang tergenang air mata. Dapat dipercaya. yang meledak dari dasar hatinya. kokoh tertanam. dia mulai mendaki." Tio mengerjakan semua yang dimaksud Ronggur. Sedang Ronggur tambah memperkuat tambatan mengikat pinggangnya dengan tali. sedang ujung satu lagi dibebaskan. Dinding sungai agak landai tapi tetap mendaki ke atas. "Keringkanlah. Biar kita punya tenaga. Aku cinta padamu . Sewaktu Tio merasakan bahwa perahu mereka tergoncang kuat karena ada yang menarik dan ada yang menahan. . Dan. jagalah dirimu. Perahu sudah tertambat dan sudah terhenti walau arus sungai berusaha melarikannya. "Hapuslah mata dan pipimu."Ronggur. "Si belang bagaimana?" . Kedua pelupuk matanya. . Marilah dulu makan daging kering. kuatkan dulu hatimu bahwa kau sanggup mendakinya. Kemudian bambu itu isilah dengan air. cepat dihentikan T io dengan teguran. Kau lihat dinding sebelah kanan itu? Kita harus mendakinya ke atas. Air sungai tambah membulat dan berlari kencang. Tiba-tiba saja tangan Ronggur mengayunkan tali ke dinding sebelah kanan. Ronggur mengangkat kepala mendengar jeritan Tio itu. dengarlah aku. Mungkin tidak ada air di sana. pipinya basah kuyup oleh air mata. dan sebuah gulungan lagi disandang. . kita memerlukan air barangkali di atas sana. diri kita berdua . sebelum itu. . dulu mendahului riaknya. Kita harus meninjau dari sana. Talinya tetap sangkut pada sebuah gundukan batu yang mencuat agak panjang dan besar. Aku tidak sanggup melihat mata yang digenangi air mata yang bening. Tapi. dia mengangkat kepala. Supaya kita dapat tahu yang ada di depan." kata Ronggur. Tapi." Perahu tambah dalam dan kuat anggukannya.

Tio memegang ujung tali satu lagi yang ujungnya dikaitkan pada pinggang Ronggur sebagai pegangan. Tajam lidah batu alam seperti menusuk telapak kakinya."Biarlah tinggal dulu di perahu. Walau sinar matahari melemah. Atau. Tapi. Tidak vertikal. Tangga demi tangga dibuat Ronggur dan didaki. Tidak ada pertanda kehidupan. Dari sana sudah dapat kembali mereka tatap keluasan langit. Kemajuan pendakian itu lambat sekali. Atau. baru dia mendarat. . yang sudah beberapa hari basah saja." Di pinggangnya diselipkan penggada dan kampak digenggam. tali itu bisa ditahannya kalau Ronggur sendiri yang tergelincir. Namun tetap pasti. Suara yang menakutkan dan mengancam itu terus bergema. lehernya digoyang-goyangkan. Kita perlu mengadakan peninjauan. Agak mencong jalannya tapi terus mendaki setapak demi setapak. Lebih dulu dielusnya leher si belang. Kau perlu turut ke atas agar ada nanti yang menarik peralatan-peralatan kecil ke atas. kita memang sudah harus mendarat di sini. yang terus diikuti Tio. Si belang menggonggong kecil. Tio membelitkan bungkusan yang berisikan bekal. keadaan tetap sunyi. Terkadang Tio menatap ke bawah melihat perahu mereka yang terangguk-angguk. Supaya ada tempatnya bergantung kalau dia tergelincir. Ronggur maju menanjak sambil terus membuat semacam anak tangga pada batu padas. di perutnya si belang menatap ke arah mereka sambil menjulur lidah. yang tidak memberi kesempatan pada mereka untuk menatap keluasan langit. Mereka sudah di pertengahan pendakian. namun merasa lemah juga mata menatap yang sudah sering ditatap tapi yang buat beberapa hari tidak ditatap. Mengikat peralatan itu dan membawa si belang ke atas. Tak ubahnya mereka seperti baru keluar dari satu lobang alam yang kelam lagi sunyi. yang untuk beberapa hari lamanya tidak mereka lihat. Aku akan turun lagi.

yang mengancam. sebentar lagi. awan rendah. tapi suara yang mengancam kehidupan dengan liar mengguruh di depan. Teruslah mendaki. Penemuan ini membuat hati terpukau. Itu pun tidak jauh-jauh ditatap. Di sebelah kiri. tidak mampu menembus keputihan yang mengental. Ke arah depan dan belakang." selalu katanya. lembah putih. Angin meniup. Atau. seperti diselaputi sesuatu dan tidak punya dasar tampaknya. Ronggur tahu. Tapi. Dan arah matahari dan lemahnya sinar. T idak jauh lagi. namun Ronggur melarang meminum air sekali banyak-banyak. Karena itu. agar dapat ditangkap pendengaran. Tidak ada satu suara pertanda kehidupan. putih kental seperti kabut. hari sudah sore. agak licin di sini. dia sering membesarkan hati Tio. Sebelum gelap mereka sudah harus sampai di puncak. Tidak bertepi dan tidak bermula. Di depan sekali suara mengguruh itu menanti. Tidak bisa perlahanlahan. Keringat meleleh dari tubuh masing-masing. "Sebentar lagi. Sudah cukup haus Tio. Matahari memancarkan sinar kemerahan yang lemah. Setiba di puncak. tidak memberi kegembiraan. hanya sejalur batu tandus dan di sana-sini berlidah tajam. Tapi. Di kanan.Yang ada hanya gemuruh yang menakutkan. tahulah mereka yang ditemui. lembah yang dasarnya sungai yang menggila arusnya. karena ada sesuatu yng menyungkap. perasaan lega itu tidak lama mengisi ruang dada. agar bisa lebih mendaki tanjakan." Mereka harus bercakap kuat-kuat. Tidak lebih. "kita sudah sampai ke atas. Seperti memancur. . waktu tangannya sudah dapat menggapai puncak yang dituju. hatihati. jaluran batu padas yang lebarnya hanyalah barang sedepa. Betapa bersukur hati Ronggur.

Awan rendah menyungkap semua atau memang langit begitu rendah. Ronggur menoleh kepadanya seenak tanpa mengatakan sesuatu. dia membimbing tangan Tio. ke jurang tanpa dasar. T idak tampak bintang atau bulan. T idak ada yang dapat dibakar. Senja tambah samar. bergerak ke depan perlahan-lahan. Karena dia pun seperti kehilangan semangat. tidak ada lagi sinar cahaya percaya diri. Gigi gemelatukan. Kental. jalannya begitu licin. Geraknya seperti gerakan yang bermula dari kedalaman. Melangkah berserah diri. Melangkah begitu saja. Tio tidak berani jauh-jauh dari Ronggur. sekira tiga empat depa luas jaluran di sana. sempoyongan. Dia gamang. Mereka terus melangkah. "Kita akan mati lemas di sini. Karena. Namun tanpa bicara. Sekeliling begitu dingin membeku. cepat kelam. Pada sinar matanya. Satu sama lain tidak bisa mengeluarkan pendapat. Lidah batu yang tajam menusuk telapak kaki. Bisu. tanpa percaya diri. salak si belang dari dasar sebelah kiri kedengaran. Mereka rasakan langit begitu dekat. menggenggam tali lebih kuat dan begitu dekat di belakang Ronggur. Ronggur berjalan di depan. Berlagak mau . Sebelah atas mereka. Dapat juga mereka temui tempat yang agak luas sedikit. Tubuh menggigil. Tio lantas saja memeluk tubuh Ronggur dengan gemetar. Sesayup sampai.Berlagak mau melumpuhkan dan mematikan tekad hati yang sepadu-padunya. Sesekali mereka hendak tergelincir jatuh ke bawah. Mati. Mereka memutuskan untuk bermalam di sana. Tidak berapa lama tari warnanya menghias langit. Tio di belakang. awan rendah menyungkap." kata Tio pelan sekali. Ronggur membiarkan. Tekad hati yang padu menjadi cair. Terasa ngilu. Tambah lama menjadi hitam. Seperti mengantar mereka ke tempat tujuan akhir.

Tapi. kita sudah basah. tetaplah waspada.menyelimuti segala. Namun mata hanya dapat menembus sekira empat lima depa saja. Melumpuhkan perasaan yang ada dalam diri. Sampai payah bernapas. tapi menakutkan. sampai di situ saja. "janganlah berkata begitu. Lama-lama hitam pekat itu beralih pula. dipikirnya hujan turun. melingkar. Tapi. dapat kembali ditatap." Kembali mereka diam. dunia jauh lagi as ing. Seperti ada utasan cahaya putih. Semalaman matanya terus terbuka. Akhirnya dapat diketahui Ronggur. Suara gemuruh. Sekitar. Air begitu tipis. "Ke mana lagi kita harus pergi?" tanya Tio pula. kepekatan yang menghitam itu sudah kembali agak memutih. Tio." katanya menasihati walau diri sendiri bimbang. "Aku tidak tahu. desis air sungai yang bertemperasan ke dinding sungai. sekira empat lima depa." "Barangkali kita sudah terjebak. tapi begitu lemah. "Apakah sudah pagi?" "Aku tidak tahu. Lagi-lagi Tio mengaju tanya. Berusaha mengikuti perobahan alam kalau memang perobahan itu ada. Ronggur terus membuka mata. Tapi. Pada satu saat angin bertiup dari arah depan. Tidak pernah hujan begini tipis. Tio jatuh tertidur sambil menggulungkan atau melipatkan kakinya dekat ke dadanya." kata Tio pula. Lagu kematian yang hendak mengantarkan para arwah ke tempat abadi. Butiran air halus memerciki tubuh mereka. Ronggur tidak dapat tidur walau tubuh cukup capek dan payah. "Apakah hujan?" tanya Tio. lagu tunggal yang abadi. Tapi. . Ada juga dirasakannya kebenaran yang diucapkan Tio itu.

aku tahu. Sedang Ronggur setelah dicekam habishabisan oleh perasaan takut." "Tidak terjebak. Dia mulai menuruni anak tangga yang dibuatnya semalam. tapi dengan alasan kenapa dia harus mengarungi Sungai Titian Dewata. tapi marilah dengan tabah mendekatinya. dia harus menjemput si belang dan peralatan serta perahu itu kembali. "Sekalipun kita harus kembali ke tempat asal. tentu dapat melembutkan hati Mula Jadi Na Bolon yang pengasih penyayang itu. ke tempat Mula jadi Na Bolon. Bilapun Mula Jadi Na Bolon murka. "kita tidak bisa lagi menempuh jalan sungai. Semua peralatan itu akan menjadi saksi di depan Mula Jadi Na Bolon." sahut Ronggur. Tio memegang ujung tali di atas. "Kalau kita surut. tentu tidak bisa melawan arus yang menggila. secara berangsur. akhirnya muncul kembali. dia mau menghembuskan napas dengan tenang di perut perahu itu. kita telah melaksanakan tugas kehidupan." Tio terdiam. Tio terdiam. Kembali dia teringat pada s i belang. Dengan perahu itu dia akan mendatangi tempat Mula Jadi Na Bolon. pikir Ronggur. tentang tujuan citanya. mencari tangga yang dibuatnya semalam." kata Tio pula." sahut Ronggur. Kemurnian cita yang digenggam kembali memberi suluh pada keyakinan." bujuk Ronggur. Tapi. kepercayaan akan diri sendiri. ganjarannya. Lalu diputuskan. Kalaupun ajal tiba. Perahu itu seperti rumah dan tempatnya terakhir. Bila perintah datang. Ronggur mencampak pandang ke sebelah kiri."Tabahlah. Marilah tabah menerima upahnya. pada perahu. Beberapa saat kembali hening. pada peralatan yang masih tinggal di sana. "Ya." "Kita terjebak di s ini. melalui .

goyangan tali yang digoncang Ronggur, Tio mengulurkan tali lebih panjang. Sesampai di bawah, Ronggur mengikat peralatan kecil. Dengan berteriak sekuatnya, sekerasnya, disuruhnya agar Tio menarik. Tio menarik. Kemudian menjatuhkan tali lagi ke bawah. Ronggur mengikat perahu baik-baik. Mengisi air pada bambu tempat air yang dilobangi ruasnya, tapi ruas sebelah bawah tidak dilobangi. Air bisa tersimpan baik di sana. Kemudian dituntunnya si belang. Kembali dia mendekat ke atas. Merabaraba. Terkadang harus digendongnya si belang. Si belang seperti tahu marabahaya yang sedang mereka hadapi. Dia menuruti segala petunjuk Ronggur dengan baik. Setiba dipuncak, bersama dengan Tio, ditarik mereka perahu ke atas. Perlahan-lahan agar tidak terbanting ke tebing bukit batu, yang bisa membuat perahu pecah. Mereka masukkan semua barang bawaan ke perut perahu. Tapi, kampak terus digenggam, sedang di pinggang menyelip panggada. Dia tambah yakin lagi pada diri sendiri. Perjalanan itu tidak boleh surut dan tidak boleh henti. Harus terus maju. Sampai tiba ke tempat yang menentukan. Diputuskan akan terus mengikuti jaluran batu yang tidak berapa luas itu ke depan. Ronggur di depan. Tio di belakang. Mereka pikul perahu, jalan sempit terkadang, luas terkadang. Keadaan masih tetap sama. Hanya beberapa depa dapat ditembus pandang. Kabut tebal atau awan rendah menyungkup segala dengan putihnya yang padu. Tambah maju ke depan, suara gemuruh itu bertambah jelas. Dan, alas yang mereka pijak seperti mempunyai getaran kecil. Digoncang sesuatg tenaga yang maha kuat dan dahsyat. Membuat hati kembali tertekan. Namun dengan tabah serta keberanian yang bangkit perlahan-lahan, Ronggur terus memelopori perjalanan rombongan yang kecil itu. Menuju tempat yang menentukan, mimpinya benar atau memang mimpi itu godaan setan jahat. Si belang mengikuti langkah

Ronggur, dekat sekali di belakangnya. Si belang tidak berani mendahului ke depan. Tidak menggonggong. Hanya melengking kecil. Cahaya putih yang lemah itu menjadi tambah lemah lagi. Keadaan sekitar kembali menghitam. Ruang hampa. Kembali mereka mencari tempat istirahat. Air tipis halus itu, sudah terus-terusan menghambur dari asalnya yang tidak tahu di mana. Ronggur mengosongkan peralatan mereka dari perut perahu. Kemudian, perahu dibalikkan. Disuruhnya Tio dan si belang berondok ke sana, agar tidak terus-menerus diperciki air tipis. Dia sendiri tetap di luar. Tidak hentinya melihat sekitar, walau yang dapat ditembus pandang hanya beberapa depa saja. Dingin mencekam. Ronggur tidak tahu, Tio menggigil juga dalam sungkupan perahu, kedinginan. Wajah dan bibirnya menjadi pucat. Tapi, Tio tidak mau mengatakan. Tidak ada sumber panas yang bisa menyamankan sedikit. Kembali warna putih yang lemah itu mendatang dari segala arah. Tapi, begitu lemah. Kembali mereka melanjutkan perjalanan, mengikuti jaluran setapak itu. Keadaan cuaca masih tetap seperti semula. Terkadang jaluran itu mendaki, tapi terkadang menurun, untuk mendatar lagi. Jalanan bergelombang. Terkadang melurus, tapi tidak jarang memenggok ke kiri dan ke kanan. Mereka mengikutinya dengan tabah. Tapi, harus lebih hatihati, jalanan bertambah licin. Air tipis tambah tetap berhamburan dari sumbernya. Suara gemuruh di depan yang membosankan itu, tetap mengguruh. Si belang tidak berani lagi berjalan sendiri. Dia harus dimasukkan ke perut perahu, didukung. Beban bertambah berat. Di saat tubuh mulai melesu. Di saat kepercayaan terakhir mulai merenggang dari tubuh T io.

Sambil mengisak, Tio meminta, agar mereka menghentikan perjalanan. Dia mendudukkan diri begitu saja. Tempat itu agak luas sedikit. Sehingga mereka bisa agak leluasa sedikit bergerak. Namun harus tetap hati-hati. Karena basah, licin. "Ada apa Tio?" tanya Ronggur sambil mendekat. Tio menundukkan kepala. Mengisak terus. Wajahnya memucat. Bibirnya gemetar. Dingin. Sambil duduk di depan Tio, Ronggur mencari dagunya. Diangkatnya perlahan dengan telapak tangan yang menggetar juga karena basah. Ditatapnya wajah, bibir, dan mata Tio yang memucat sayu "Kau capek Tio?" Belum ada sahutan. "Katakanlah." "Katakanlah." Tapi, begitu bening dan terasa agung. Ronggur tidak dapat memancarkan sinar merah lagi di matanya. "Marilah menanti hari esok di s ini, bila hari esok masih ada. Marilah menanti apa saja di sini, apa saja," Tio lalu menundukkan kepala. Melepaskan dagunya dari telapak tangan Ronggur. Air berhamburan terus, membasahi tubuh mereka. Tio mulai menggigil. Si belang juga. Terus membulatkan tubuh dalam perahu, tidak berani turun. "Katakanlah, apa yang harus kita kerjakan lagi Tio," kata Ronggur melemah. "Aku telah membawamu ke tempat yang hampa ini. Apakah kita harus pulang ke kampung halaman, yang telah melemparkan aku, yang tidak menerima aku lagi menjadi warganya? Nasib telah tertentu di sana, nasib yang malang menanti diri. Katakanlah Tio, aku akan mengikutinya.” "Marilah berhenti di sini," sahut Tio akhirnya. "Kupikir tidak ada lagi gunanya kita meneruskan perjalanan ini. Marilah pasrah di s ini. Berserah dengan hati bulat ke tangan Mula Jadi Na Bolon. Bawalah daku padanya sebagai sembahanmu, agar

" Suaranya begitu lemah. Barangkali." Arwah nenek moyang Tio akan menerima arwahnya di tempat yang baik. sama-sama orang merdeka. Lalu dilanjutkan Ronggur. "Kau merdekakan aku. aku yang membawa kenahasan ini padamu. "Kalaupun kita mati. bermula dari perasaan gembira. seperti kau lihat. terhormat. Mendudukkannya. lupa siksaan. Lupa kepahitan. Jari jemarinya meraba pergelangan Tio. "Janganlah kembali ke sana. Lalu dengan hentakan kasar. Dia tambah mendekatkan bibirnya ke bibir Ronggur. Sambil mengisak dia mengatakan. Marilah berpasrah diri di depan Mula Jadi Na Bolon. Sesuatu benda hangat tapi lembut menyentuh bibirnya. Tio menjatuhkan diri ke ujung kaki Ronggur. Matinya. Air mata yang menggenangi pelupuk matanya tidak bersumber dari kepiluan dan ketakutan lagi. Sekarang berlomba bermunculan. Maafkanlah aku. Tio sudah merdeka kembali. Ronggur. Jauh-jauh. mati seorang manusia yang merdeka. selain diri sendiri. pertanda dia seorang budak belian. direnggutkannya gelang yang dipakai Tio. Berhadapan dengan kenyataan ini hatinya jadi bersorak gembira. Tidak ada sembahan kubawa ke hadapan Mula jadi Na Bolon. membuai mereka berdua. sebagai orang yang sama hak. ya barangkali. mati bersama. kembali Ronggur mengangkat dagu Tio. Walau apa yang telah kita temui. Gelang itu dicampakkan Ronggur sekuat tenaga. Ronggur? Sungguh?" "Ya. Terayun dan dibuai sebuah lagu yang selama ini terpendam di dasarnya. lupa hal yang menghadang di depan.Mula Jadi Na Bolon tidak marah padamu." Tio terdiam. melengket di sana beberapa saat. Ditatapnya lama biji mata yang sayu itu. ." Perlahan. Tapi.

Tio tersenyum. . Sampai tahu kepastian yang akan kita temui. Ronggur memimpin doa: Mula Jadi Na Bolon Asal mula dari segala kehidupan Padanya kembali karena dia yang punya Terimalah kedatangan kami Hambamu . Boleh jadi." "Tidak. Berani mengarungi segala kemungkinan. aku akan mengatakan pada Mula Jadi Na Bolon bahwa arwahmu bukanlah sembahanku. "Aku cinta padamu ." Tio memperbaiki duduknya. karena mau turut mempertaruhkan keyakinan suaminya. Telapak tangan Tio masih terus mengelus rambut Ronggur yang basah." Ronggur tersenyum. karena ada cita tergenggam di tangan dan di hati. "maukah kau." kata Tio dengan tegas. Istri yang paling setia. Tapi. "semuanya. bila kita mati. yang telah membawamu ke tempat ini. istriku. .. tidak ada akhir." "Tio." kata Tio tegas. Ke tempat para dewata bersemayam. Lalu." Tio menangkap leher Ronggur. lalu menciumi bibir Ronggur lagi dengan bertubi-tubi. Memohon ampun atas keangkuhanku. "marilah melanjutkan perjalanan. permulaan yang tidak punya akhir. Hanya permulaan. Kita tidak boleh pulang." bisik Ronggur."Ronggur. Yang tabah bersama suami mengarungi kehidupan. "Kita harus istirahat dulu di sini. Lagi pula kita telah menemui yang kita cari di sini. Sudah terlalu kelam untuk melanjutkan perjalanan." Ronggur tersenyum. "Marilah bersujud ke hadapan Mula Jadi Na Bolon. dari mulutnya keluar kata. di sini akhirnya. Kita harus maju.

lalu dilanjutkan: Karena darimu mula cinta Napasmu sangkala cinta Satukanlah aku dan Tio Suami isteri yang dihidupi api cinta Tebarkanlah api cinta Tiuplah api cinta Membakar dada kami Dari saat ke saat tanpa akhir! Kembali mereka berdua berdekapan. Karena cinta telah punya laut dan pelabuhan. Sekitar menjadi kelam kembali. baik waktu. Perlahan . batas ruang dan waktu tidak berarti lagi. seperti tidak mau dipisah lagi. Dan. Si belang keluar dari sungkupan perahu. Bersama mereka menyuruk ke perut perahu yang dibalikkan.Karena keangkuhan yang berbenah dalam diri Kami telah tiba di s ini Melanggar peraturanmu! Ronggur menggenggam tangan Tio. ccdw-kzaa 6 Ronggur terbangun. Menggigil kedinginan. Berjaga di luar perahu. walau dia dan Tio berpelukan di bawah telungkupan perahu. terusterusan berhamburan. air tipis itu. baik ruang.

Cahaya putih yang lemah sudah ada lagi. Tapi. dengan tegas dia menyahut. Lihatlah sekitar. Tapi. Atau. Kembali tangannya dilingkarkan di leher Ronggur. . "Kenapa kau buruburu bangun? Apalagi yang mengejarmu? Bukankah sudah semua kita lalui dan sekarang kita hanya tinggal menantikan yang akan terjadi." "Apa sudah pagi?" tanya Tio. Kita sudah beranggapan bahwa tidak ada lagi hari. Masih seperti saat lalu. dia menciumi pundak Ronggur. membangkitkan iba Ronggur." kata Tio. Tapi. Hingga waktu lewat. hari yang kita nantikan kemaren. Atau.diungkapnya pinggir perahu. permulaan dari segalanya?" Ucapan manja bercampur kekanakan. hanya masih begitu lemah. "Aku tidak tahu. perobahan pada yang hendak kita temui. Dari mulutnya perlahan berbisik. awan rendah belum pernah melingkupi tanah serendah itu. Langit seperti di atas kepala saja dan dapat dijangkau tangan. kabut yang begini rupa tebalnya dan lamanya belum pernah ditemui sebelum itu. lalu seperti! anak kecil. "Semalam atau ya saat lalu. Masih disungkup kabut atau awan rendah yang masih tebal. hari lalu. dan waktu kini. Bermalas-malas. yang ada hanyalah kehampaan yang tidak bertepi." "Wajahmu capek kelihatan. kita sudah berpendapat bahwa kita tidak akan melihat dan mengecap saat lain lagi. bila tangan digapaikan ke atas. Tapi. Dia telah mengenal kabut pegunungan dan danau sejak kecil. Perlahan me lepaskan pelukan Tio. Waktu itulah Tio bangun. lalu dijulurkannya kepala melalui celah. yang sudah ditopang oleh batu yang diganjalkan. tapi sampai kini masih hidup dan mengenal hari. katakanlah dulu sudah pagi. Hari yang kita harapkan membawa perobahan pada nasib yang mendatangi diri.

" "Kita masih mengharapkan?" "Selalu. Mereka mencuci muka dengan melapkan tangan saja karena wajah mereka tetap basah. Di arah darimana bermula angin itu."Tidak mengapa. mengatasi segalanya. beberapa titik air dapat ditelan sebagai sarapan pagi. tapi sinar lemah. namun pandangnya masih tetap disungkup diputihan. Ronggur berusaha menatap sekitar. "Lihat." kata Tio. Untuk menyingkirkannya. Lurus ke depan. bisa menimbulkan panas. Harapan. Begitu putih hingga memijarkan sinar. Tidak kau lihat? Lihat ke bawah sana. Namun tetap naik atau berusaha naik ke atas. Deru ." kata Ronggur kemudian. "Lihat. Tio tersenyum. Merapatkan kepalanya ke pundak Ronggur. Tapi. janganlah pergunakan harapan untuk harapan saja. Tio terus merapatkan tubuhnya ke tubuh Ronggur. karena dia tetap kedinginan yang tambah lama tambah bermaksud membekukan diri. Perlahan dirasakannya angin bangkit. putih dan lebih putih dari semua. satu-satunya api yang dapat membakar semangat hidup." Tampak oleh mereka berdua sebuah benda putih yang kecil tapi bundar. Dibaliknya terkandung kegembiraan dan harapan selalu. Sinar yang dipancarkannya sedang mengadakan perlawanan atau berusaha menghancurkan kabut putih atau awan rendah itu. "apa kau pikir itu?" "Apa maksudmu?" tanya Tio. seperti itulah gayanya. Dengan mengulurkan lidah. bergerak dengan lamban seperti bermalas-malas. Panas tubuh mereka berdua yang merapat. Agar bisa dapat dilihat mata apa sebenarnya yang ada di sana. bisa sebagai bedeng." "Cakapmu tidak dapat kuartikan. Tapi. Harapan harus dapat melahirkan sesuatu yang berwujud dalam kenyataan kerja.

tapi tidak berwujud. Hati mereka menjadi tambah menduga. bila sudah menebal. Dan. mereka tahu. hampir menyerupai bundar matahari yang mereka kenal. Tidak disadari mereka. segala perasaan mencurah keluar. Bundarnya. entah berapa lama mereka tenggelam dalam keadaan begitu. Lama kelamaan menjadi tebal. Sesuatu benda putih yang bundar mengadakan perlawanan terhadap sesuatu yang melingkupi segala dengan warna putih. Mereka tidak pernah memikirkan bahwa pada satu saat dan tempat yang berobah. rnatahari bisa dilihat seperti berada di bawah. Hati berdenyut juga walau sudah punya tekad. Tidak mati-mati. apalagi yang harus mereka hadapi. Namun mata mereka terus mengikuti gerak lamban dan malas dari benda putih yang semakin tinggi itu. kenapa pandang mereka terpaut mengikuti gerak perlahan yang menanjak itu. Benda putih bundar itu merangkak perlahan. Mata mereka terus mengikuti gerak ma las dari benda putih yang bundar itu. warta yang akan timbul darinya. dia memerlukan kelembutan yang bermula . bersedia menerima segala tiba. Mereka belum pernah melihat tamasya alam begitu rupa. Bila butiran air tambah menebal melengket di wajah. Dari tubuh Ronggur sendiri. Detak hati yang menandakan diri anak manusia biasa. sewaktu ditutupi awan di langit. mengikuti perjalanan benda bundar yang lemah itu. Biar sesaat pun. matahari tetap berada di atas. dihapus dengan telapak tangan. Mulut mereka ternganga. Kuping benda bundar putih tidak memperdulikannya. Tapi. Mulanya tipis. Mereka belum dapat menduga. Tidak disadari mereka.yang terus menderu di depan memberi gendang layaknya. Mereka memang tidak tahu lagi. di rambut hingga menyusahkan mata untuk menatap. mendaki ke ketinggian. Dalam saat begitu rupa. sekali hapus saja akan hilang tapi cepat melengket di sana butir air yang lain.

takut kalau Tio menjadi takut. Mereka ikuti terus dengan tabah. dan merasa ngeri. sungkupan awan rendah bercampur kabut tambah menipis juga dari sekitar. Tio mendekatkan pipinya ke pipi Ronggur. Perlahan sekali sehingga tidak terasa. marilah mati berpelukan. Tebing yang tidak berapa curam itu . Tapi. tidak bergerak. Jauh ke belakang dapat dilihat Ronggur. Tapi. takut kalau si belang terjerumus ke mulut jurang yang belum tampak dasarnya. seperti melemaskan otot. Dia tambah mengeratkan pelukannya ke pinggang Tio. suatu harapan telah menggeliat dalam hatinya.dari tubuh Tio. Bila cuaca bertambah terang. si belang mulai sering melangkah ke depan dan ke belakang. di sana tebing tidak berapa curam. Tapi. Benda bundar yang putih itu bertambah tinggi juga. Si belang turut duduk dekat mereka. dengan tidak mau tahu pada mereka berdua yang mengikuti geraknya terus menerus. ke samping dan ke sekitar. Bisa dituruni. Seperti menanti sesuatu yang menentukan akan tiba. namun dasarnya belum tampak atau memang tidak punya dasar. Bertambah garang cahaya yang memancar darinya. Kalau mati. Tambah jauh jarak yang dapat ditangkap pandang. Dia tidak mau mengatakannya pada Tio. Melihat ke arah yang mereka tatap. Apakah benda putih itu akan menyuluh jurang yang tidak berdasar? Pandang sudah bisa mereka campakkan barang sepuluh depa ke depan. Jarak yang dapat ditangkap pandang bertambah jauh dan luas. Tebing jurang tambah menghitam. Lidahnya dijulurkan. bila hendak turun ke lembah di seberang kanan. Begitu pula mulut jurang di sebelah kanan. cepat Tio memanggil kembali. kata hatinya ke diri sendiri. Mulut jurang sungai tambah berbentuk. dasarnya belum tampak sama sekali. Mata mereka terus mengikuti gerak perlahan yang terus menanjak di depan bermalas-malas. Perobahan yang tidak tersadari.

bisa dituruni secara perlahan. Ronggur. Dia telah membawamu ke tanah habungkasan yang maha luas. sekarang debu itu telah menyisih sehingga merahnya bara kembali rrienjilamkan panas menyala. Pucuk dedaunan itu seperti berombak ditiup angin lalu. itulah tanahmu. Angin pegunungan. itulah tanah habungkasanmu. Ronggur.menurut perhitungannya. "Dan. "Ronggur. Api dalam dirinya kembali menyala atau bara yang untuk beberapa saat tertimbun oleh debu. Terbelalak mata mereka melihat sinar yang tambah terang. "itu matahari! Itu matahari! Mula hidup! Itu matahari!" Cepat Ronggur berpaling. terhempang kehijauan yang sangat luas. yang dapat dilihat kehijauan yang merata. Semangatnya kembali hidup secara perlahan. Lalu dia mengatakan perlahan: . Dapat dirasakan Tio. Sungkupan kabut dan awan rendah tambah menipis dan terangkat. itulah yang ditunjukkan mimpi dan perkataan gaib dalam mimpimu. itu dedaunan dari pucuk pepohonan yang tinggi. angin pagi.dan —" dengan gugup. Kehijauan yang maha lebat lagi datar. karena tidak menduga walau itu yang dicari dan diharapkan. gugup sekali. jauh di bawah." Ronggur gugup. membuat suhu tubuhnya menjadi naik. Matanya menitikkan air bening. Sejauh mata memandang. . karena dengan itu mereka telah dibebaskan dari kungkungan yang mencekam dan mengancam. melalui tingkatan pundak bukit. Dapat ditangkap dengan pandang sekarang. Tidak berapa sulit malah. Karena dengan itu. lebat berimbun. mereka telah menemui. "Ronggur. Tidak dapat menyahut dengan segera." pekik Tio meninggi sambil mempererat pelukannya ke pinggang Ronggur.

Sambil tersedu karena terharu. Apakah hutannya banyak menyimpan binatang buruan. "Perjalanan kita masih jauh. sayang!" Pandang lama bertemu. T anah keturunan kita. Tidak mengganggu. Kita harus menyelidiki keadaan tanah di sana. Tapi. yang telah mengirim matahari untuk kita." Beberapa saat keduanya terdiam. dia menelungkupkan kepala ke dada Ronggur yang bidang. yang sekarang. "aku cinta padamu Tio. Ronggur menegakkan Tio dari sujudnya. marilah mengucapkan sukur pada Mula Jadi Na Bolon. sebelum kita memulai perjalanan ke sana. Tapi." "Apa lagi?" tanya Tio terbodoh. sebelum itu. "Tio. T angannya terus menerus mengelus rambut Tio yang panjang lagi lembut dan lemas. tidak tanah itu saja yang ditunjukkan mimpi padaku. "Juga kau."Tio." Tio menggigit bibir. yang pasti banyak dan akan terus berkembang. . Ronggur membiarkannya begitu beberapa saat. dia mengatakan pula. Perlahan. Tidak tanah habungkasan itu saja. Apakah baik dijadikan tanah persawahan. Tanah kita berdua. juga tanahmu. lalu Ronggur melingkarkan tangannya ke tubuh Tio dengan ketat. Tapi." Mereka bersujud ke arah matahari. yang membuat kita dapat melihat tanah habungkasan yang dijanjikannya dan membuat aku dapat dengan jelas melihat wajahmu. menanamkan pandang ke dasar bening matamu. Lama Ronggur menumpa pandang ke biji matanya. juga tanah orang lain. Matanya menitikkan air bening. yang mau bungkas ke sana. Tanah anak kita. tapi basah. sudah bisa pula melemas. kata Ronggur kemudian. izinkanlah aku mengatakan sesuatu kata yang telah lama terpendam di hati. lalu. "Itu bukan tanahku. Tapi. Setelah memberi kecupan pada bibirnya. Kau. Istriku.

Untuk pertama kali kembali mereka lengkap bersama alatnya. Begitu seterusnya. Lalu menyuruh Tio turun. "Itulah jalan yang baik ditempuh. Serpihan air tipis yang menghujani itu tidak sampai lagi ke sana. hingga agak besar. Membuat anak tangga. sedang ia memegang ujung tali. Dia turun sendirian ke gundukan tanah pertama. sesuatu garis putih yang membelah kehijauan. Lalu dibakar menghidupkan api. Kemudian dia sendiri turun sambil menuntun si belang. "lihat terus ke sebelah timur sana. dijalin begitu rupa. lebih landai. Hari sudah sore. Melalui dinding batu yang tidak berapa curam. Tio menerima di bawah. dia ketahui. memijak tanah. Kembali dia memanjat. mengeringkan tubuh dan memanaskan tubuh. mereka dapat melihat gundukan perbukitan di sebelah kanan. tanah melapisi batu. Si belang menggoncangkan tubuh. Tapi. dari sana." kata Ronggur. Mereka tentukan untuk bermalam di sana. sampai akhirnya perahu sendiri. ujung yang lain diikatkan ke pinggang Tio. setelah beberapa lama tidak merasainya. dibasahi titikan air yang terus menghujani mereka. termasuk si belang. Rumput kering. sampai tiba ke tanah datar di bawah. setelah beberapa hari terendam di air. mengibaskan ekor biar cepat kering. Betapa nikmatnya panas jilam api. menurun ke gundukan kedua." kata Ronggur kemudian. Jalan ke gundukan pertama. Lalu dia mengikat pinggangnya dengan tali. agak curam. ialah terusan Sungai T itian Dewata. Kemudian diturunkannya satu-satu peralatan. yang mempunyai tanah." Tio mengikuti arah yang dimaksudkan Ronggur."Kita akan terus mengikuti aliran sungai menuju tanah landai. Mereka sudah sama berada di gundukan pertama. . tapi masih begitu tipis. kemudian terdampar ke batu padas. Sudah bisa mereka berjemur di sana.

Kemudian Tio mengiringi tiupan seruling itu dengan nyanyi: Bila bulan di awan purnama Di tepi danau aku menanti Wajahmu menghias tanda masa Mengajak daku ke dunia mimpi Ronggur berhenti meniup nyanyian itu: seruling. Lagu yang mesra ditiupnya perlahan. Malah seperti menjadi pertanda. Agar seseorang yang menyusuri sungai jangan meneruskan penyusuran lagi. tapi agar memulai menempuh jalan darat. sekarang seperti melengkapi irama seruling yang ditiup Ronggur.Malam itu keinginan Ronggur untuk meniup seruling memuncak. Gemuruh air dibalik bedeng terus kedengaran. dia melanjutkan Pohon aren di belah dua Tempat berayun monyet berdua Janji telah memadu Pinang sebelah dibagi dua Lalu berdua mereka melanjutkan: Terbang engkau elang Hinggap di kayu rindang Ke mana engkau sayang . Tidak menakutkan dan mengancam lagi.

Kaki mereka terbenam sampai ke lutut terkadang. memaling pandang. Bola putih itu pada mulanya lemah sinarnya dan berada seperti di bawah mereka.Kasihku tetap mendendang Kemudian hanya T io melanjutkan sedang Ronggur kembali meniup seruling: Kalaulah benar warta impian Ditimang beta dengan sayang Sinar purnama empuk menayang Haribaanmu lagu impian Tio meletakkan kepala ke pangkuan Ronggur. Pagi terbit lagi. di . Membuat mereka agak susah bergerak. Begitulah secara perlahan dan hati-hati. Di atas kepala. Api unggun yang kecil itu terus menari dan menari. perobahan tempat mengadakan perbedaan. Tapi. sedang kemaren dedaunan itu masih berada di bawah mereka. Seperti taktik kemaren juga. Sinar matahari hanya dari celah dedaunan saja sampai ke tanah. Membentuk lapisan tanah yang lembut dan berair. akhirnya sampai juga mereka ke tanah landai di bawah. Dilapisi dedaunan yang gugur sudah membusuk. Memejamkan mata dengan manja. Tanah cukup lembab dan basah. memayung dedaunan hijau. Malam terus melanjut. Pemandangan seperti pagi kemaren. Kemudian secara berangsur perlahan. Sehabis sarapan pagi mereka melanjutkan perjalanan. keadaan sekitar bertambah terang. Si belang duduk menjauh.

Mereka menyisih cepat dari sana. itulah air terjun yang tidak hentinya menerjunkan diri. la mengalir dengan besarnya ke arah timur. Itulah kelanjutan sungai. Membuat dedaunan sekitarnya bergoyangan. Dan.sana bisa mereka tarik perahu bersama peralatan lain. Tergoncang. membentuk telaga yang agak luas pada tempat jatuhnya. tanpa takut dasar perahu bolong. Tapi. Ke sana mereka menuju. agar tidak runtuh lalu menimpa bumi serta penghuninya. tapi airnya berputar dengan cepat. Di sana-sini dedaunan gugur membentuk lapisan tanah yang lembut. Si belang berlari ke sana ke mari dan menggonggong. Jalanan terus menurun. karena suara gemuruh bertambah hebat dan terasa menggoncangkan. Di satu tempat di arah depan. Di sana-sini terbentuk curup di lingkungan yang gelisah itu yang bisa menenggelamkan apa saja yang jatuh ke tengah curup itu. Kala di bawah arusnya melingkar dan membikin kepala pusing bila lama-lama menatapnya. Kemudian jatuh ke bawah bergulung-gulung. Sesuatu benda putih mengapas putih melambung ke atas. Mereka meneruskan perjalanan yang agak melingkar. Seperti menuruni pundak perbukitan. walau suara gemuruh tambah jelas dan memekakkan telinga. Getaran bumi tambah terasa. Tio merapatkan tubuhnya pada Ronggur. mata terus ditancapkan pada benda jatuh itu. . Kekayuan yang tinggi dan besar batangnya seperti tiang abadi yang bergaya mendukung langit. tapi sudah ditumbuhi kekayuan yang tua. betapa ternganga mulut mereka melihat benda itu. sinar matahari lebih leluasa tiba ke tanah. agar kembali tiba ke sungai. Merasa takut kalau batu yang membentuk jaluran kejatuhan air itu akan runtuh lalu menimpa mereka. Berpedoman pada ingatan pemandangan kemaren sore di mana terusan sungai berada.

Dan. karena hari sudah agak sore. Binatangnya juga begitu. si belang keluar dari semak mengejar seekor kijang." Tambah tahulah mereka tanah yang mereka temui itu. Ronggur mengatakan. Bila beras habis. Dengan memilih jalan agak melingkar mereka menurun terus ke bawah. "Itu pohon aren. Masuk semak.Di arah depan kembali kedengaran suara gemuruh. la meloncat ke depan. Beberapa saat kemudian. di sini banyak binatang buruan. Mereka menatap ke atas. tetap mengikut pinggiran sungai. ujung tombak tertancap di dadanya. Tapi. Lalu mereka jemur. Pengganti beras. Sambil menguliti." kata Tio pula. Arus sungai kembali menggila. Dengan tombaknya cepat dia membunuh kijang yang tercengang itu. mempunyai tumbuhan yang bersamaan dengan tumbuhan yang ada di bidang tanah yang mereka tinggalkan. benda putih mengkabut bermula dari air jatuh pertama. jarak jatuhnya lebih pendek dan lebih landai dari yang pertama. Sampai akhirnya berada di tempat jatuhnya air kedua. Kembali mereka temui air terjun. Tapi. "Kalau begitu. Sehingga busa air tidak terlalu hebat sewaktu jatuh. mereka memutuskan untuk bermalam di sana. Sampai akhirnya arus sungai tidak beriam lagi. tercengang melihat Tio dan Ronggur. Ronggur tidak melewatkan kesempatan baik itu. Umbinya bisa kita jadikan bahan makanan. Si belang melompat ke depan. Kijang terguling ke tanah. Terus mereka menghilir mengikuti tepian sungai. Tidak punya prasangka pada manusia yang memburunya " "Lihat. Menurut perhitungan Ronggur sudah dapat memulai pelajaran dari sana. dan tumbuk . Lagi masih begitu jinak binatang itu. Biarpun Tio memanggilnya. Mereka ambil umbinya. Mereka tebang beberapa pohon aren. tapi tidak sekuat yang tadi lagi. membuat mereka tidak langsung berkayuh melalui sungai. Kita tidak menguatirkan mati kelaparan.

Beberapa buah batu jangkar masih dijatuhkan. . seperti raksasa dalam dongeng. Tidak bisa berdiri dengan leluasa. ibarat penopang langit agar tidak jatuh ke atas tanah. bergeletakan dahan kering yang patah dari batangnya. Dedahanan terlalu rendah terkadang. Untuk beberapa hari mereka tinggal di situ. Dengan melampaui riak air yang terkadang menghempas ke batu yang muncul di sana-sini. karena dia belum perlu mengkayuh. menjaga keseimbangan kelajuan perahu. mereka harus lebih hati-hati menjaga kemudi. hari sudah mengarah sore.lalu direndam lagi kemudian ditapis untuk mengambil tepungnya. sekitar mereka sekarang berwarna hijau dan tanah mengambangkan bau kesuburan. Memilih dahan kayu yang baik untuk tempat bermalam. Di sana-sini berletakan ranting kering. Sungai terus menerus membelah hutan belantara. Tapi. Tio lebih banyak memperhatikan sekitar. Bila cahaya itu melemah. melalui riam yang liar di tikungan sungai yang patah. Untuk digantikan dahan lain mendukung dedaunan yang lebih hijau. Kemana saja mata diarahkan. Mereka tidak menguatirkan kehabisan bahan bakar. Walaupun sudah menghilir arus sungai masih kencang. Ronggur dapat merasakan bahwa batang kayu yang besar itu dapat digunakan selanjutnya untuk kepentingan kehidupan. sinar matahari terus memberi suluh abadi. Dan. tetap tertumpu pada pohon yang besar lagi tinggi. Terkadang sungai seperti ditutupi dedaunan hijau yang merimbun di atasnya. biarpun begitu perasaan Ronggur begitu pasti bahwa mereka akan tiba ke tanah yang lebih landai dan lebih baik. Dari celah renggangan dedaunan. tahulah mereka. Cepat mereka meminggirkan perahu. Sehingga sinar matahari tidak sampai ke permukaan sungai. menjelma kepada penglihatan. segar lagi lebat. Tapi.

masih ada juga dijatuhkan. seperti berlomba keluar untuk disuarakan. Sering Ronggur memanjat kayu yang tinggi. menatap dari arah mana mereka datang dan menduga hendak ke mana mereka dibawa sungai yang diikuti itu. mereka menghilir sungai. Ronggur selalu menghirup udara dalam-dalam. mereka belum perlu mengayuh. Tapi. memelopori sebuah perburuan bila fajar pagi tiba. Ronggur meniup seruling dan Tio bernyanyi. yang ditiupkan musik alam ke dalam diri atau untuk menyiutkan nada musik yang memadat dalam rongga dada. Arus sungai tambah perlahan. ccdw-kzaa 7 Bertambah hari. Ingin dia menghirup habis segala kebebasan yang diberikan alam padanya. Sedang si belang berlari kian kemari. mereka mendarat ke tepian.Perjalanan diteruskan menuju ke timur. meneriakkan kegembiraan. dan bila mereka bermalam di sana dan biasanya lebih lama daripada bila mereka tidur di dahan. Arus masih dapat menghanyutkan perahu walau dengan perlahan. Arus sungai tambah perlahan. menggonggong dan menyalak. menghilir sungai. Bila mereka menemui gua alam di tepi sungai. itulah dalam sungai. Ronggur selalu mengukur dalamnya sungai dengan tali yang di ujungnya diikat batu sebagai pemberat. Tapi. Di depannya tali yang terbenam. Pundak pegunungan . Bila mereka bosan dengan sungai. namun dia tidak sanggup menghabiskannya. Luas sungai tambah lebar. Batu jangkar sudah diangkat. Untuk mencari bentuk kata. Perasaan dalam dada masing-masing. kata yang paling sesuai diucapkan dengan yang dirasakan dalam hati. Beberapa buah batu jangkar sudah diangkat ke atas.

Pepohonan tidak lagi di tepian sungai seperti di hulu. Sudah agak menjauh. Ronggur dapat menduga bahwa di balik pegunungan yang semakin menjauh itu. Melalui pengenalan akan pundak pegunungan. bila bosan dengan ikan sungai. Sedang pada tepi sungai. Walau mereka berada di naungan pepohonan rindang. membuat Ronggur tidak kerasan memakai sehelai kain atau kulit binatang di bagian dadanya. mereka harus menaklukkan pundak bukit itu. Membuat mereka harus mengayuh terkadang. Pancing yang diumpankan Tio selalu mengena. udara panas itu tetap mengganggu. ditanamnya batu besar dan disambungkannya pada salah satu bagiannya. Dibiarkannya dada telanjang. Dalam waktu singkat ikan sudah ada yang menyambar. Binatang buruan begitu banyak dan jinak. Terkadang sampai berhari-hari mereka mengadakan pemburuan. Lalu menatap ke arah hilir sungai. . Arus sungai tambah perlahan. tambah luas. di situlah kampung halamannya. Dan. Ronggur selalu menelitinya dengan seksama. Ikan yang cukup besar. Bila dipanggang bara api bisa padam. satu hal makin mereka rasakan. Pancing tidak perlu berlama diumpankan. udara bertambah panas. Tanah luas yang berlumpur semakin lebar mengikuti jalur sungai.bertambah jauh di belakang sudah membiru. Bulunya tebal berlinang. tanah berlumpur yang mengiring jaluran sungai. hutan lebat hijau di mana-mana menampung penglihatan. Di garis batangnya melingkar. Selalu dibuatnya tanda pada pohon kayu yang dipanjatnya. atau menembus celah pegunungan yang terdapat pada pertemuan bukit yang memanjang. Bila mereka hendak pulang ke sana melalui jalan darat. T api. Karena lemaknya. Setiap hari tepian sungai bertambah luas. Si belang sudah mulai gemuk.

tapi cepat kering disapu angin lalu. Panggada juga turut digunakan. dengan mempergunakan kampak. Perahu agak oleng sewaktu Ronggur menaikinya dari satu sisi. dari lumut lumpur dia tahu bahwa tanah yang mereka temui itu lebih lemak dan subur dari tanah di kampung halaman. Membuat tubuh mereka selalu berkeringat. Hanya udara yang bertambah panas itu saja yang membuat mereka agak merasa tidak senang. Diperhatikan lunaknya. sekelompok binatang yang sedang berendam di tanah lumpur. Cepatlah ke perahu. Lebih enak dan lezat. memukuli setiap ada binatang datang mendekat ke perahu. Terkadang diciumnya dengan hidung. bergerak. Ronggur menyuruh Tio terus mengayuh. Udara seperti itu tidak pernah mereka temui di sekitar kampung halaman. mencucuknya. Membuat mereka terkadang seharian hanya memakan buahan saja. Lalu terus mengayuh. Alangkah terkejutnya mereka. Tapi. dan menyelam. walaupun matahari cukup terik. Walau terkadang matahari dilindungi awan. Ini tidak. Sedang di hutan yang semakin menjauh dari tepian sungai itu. sewaktu Ronggur berenang mengikuti perahu yang menghilir. awas. "Ronggur. berenang. Binatang itu terus mengejar. sedang dia. . panas itu masih tetap terasa. Membuat mereka sering terjun ke dalam sungai." Ronggur berenang sekuat tenaga. Jalan satusatunya untuk mempertahankan diri. lalu mengejar.Digenggamnya tanah itu. Cepat Tio mengatakan. mereka temui pohon yang berbuah. Buahnya lain dari buah mangga yang mereka kenal di kampung halaman. apakah bau lumpurnya sama dengan bau lumpur yang ada di kampung halaman. pada suatu hari. tombak. Tubuh seperti berminyak jadinya. Binatang itu memburu. Lengket dan tidak mengenakkan perasaan. agar keringat melengket itu bisa menghilang untuk datang dan untuk dihilangkan lagi.

"Inilah dia. Air sungai tidak sebening di hulu lagi. begitu halus. Gembur. Binatang itu belum pernah mereka lihat.Satu dua ada yang mati di antara binatang itu. Walaupun belum pernah mengenalnya namun naluri mereka dapat memastikan bahwa binatang itu binatang air yang membahayakan. Binatang yang mati dan dihanyutkan arus mereka tangkap. Tanah juga lembut." sahut Ronggur. Tidak tahu mereka dari mana datangnya air keruh itu. Mulutnya menganga lebar hendak menelan saja. Sudah mulai keruh dan kotor. Pepohonan semakin jauh dari tepian sungai. kulitnya cepat kering dan dapat dilipat." kata Ronggur. Bertambah ke hilir bertambah banyak anak sungai bersatu dengan sungai itu. Lihat. tepi hutan tidak berapa lebat. sampai ke . Bila digantungkan di pinggang kelembutannya selalu mengikutkan gerak-gerik pinggang. Menyusuri sungai. Kita harus tahu. Bisa dibuat menjadi kantong tempat menyimpan alat. "Tidak. Lumpurnya bertambah lembut dan bertambah dalam dasarnya. Ronggur tetap memperhatikan dan mempelajari perobahan bentuk tepi sungai. Bila mereka terus melalui tanah lumpur itu mendekat ke tepian hutan yang semakin jauh. Begitu pandai berenang. Ekornya bergerigi dan begitu keras tampak." "Apakah kita sampai di sini saja?" tanya Tio. Dagingnya kurang enak dimakan. bisa berobah menjadi keruh. Karena itu daging binatang itu mereka biarkan saja membusuk. Terapung. Karena itu kulit binatang itu mereka bawa. Digantikan gelagah dan daun nipah. bagus untuk ditanami. sebelum tiba ke tepi hutan. "Kita harus meneruskan perjalanan. "Inilah tanah yang kita cari. Tapi. Tanah landai yang sudah lama kumimpikan. lebih dulu ada tanah yang hanya ditumbuhi ilalang. Kenapa air yang tadinya begitu bening. Bisa ditebang pohonnya untuk dijadikan persawahan.

Ada semacam tenaga menahan. dari mana air itu datang. Di muara tanah landai akan tambah lebar lagi."' jawab Ronggur. Walau mereka mengayuh sekuat tenaga. Air menjadi sangat keruh dan asin. Sehingga enak berlayar. Dan. gelagah dan daun nipah menjadi tergenang. Bisa membuat padi busuk. yang tidak sebesar sungai ini. Di saat begitu arus sungai mengencang ke hilir. Harus lebih ke atas lagi. sungai menjadi menggeliat. Untuk bermuara ke danau. Kenapa permukaan sungai menaik. setelah beberapa lama. ada semacam getaran mengganggu jalan perahu. Apakah sungai ini juga akan bermuara ke danau?" "Danau apa?" tanya Ronggur pula. Dan. belum dapat kupastikan mengenai sungai ini. Membuat mereka takut pada mulanya.mana sungai ini. permukaan sungai naik. di samping arus semakin perlahan. Langsung mencari tanah yang agak tiriggi. Ronggur memperhatikan ini semua. di mana muaranya. ke tempat yang tidak dapat memastikan. Di sana mereka harus menggali tanah membuat sumur. Sambil terus memperhatikan perobahan pada permukaan air. Itu sangat penting. Tidak perlu mendayung. Karena sering tergenang. Arus menghanyutkan . Dan." "Biasanya. Lalu mereka meneruskan penyusuran. Berombak. Ada kalanya perahu tidak dapat laju biar setapak pun ke depan. T anah lumpur dan tumbuhannya. Bertambah ke hilir." "Kebiasaan memang begitu." kata Tio. "Aku hanya bertanya. Lalu dapat memastikan bahwa tanah lumpur yang di tepian sungai benar. air sungai susut lagi. bermula dari kaki bukit. Terkadang sampai ke pucuk digenangi air. Supaya ada air tawar. "sungai yang ada di kampung halaman. di saat itu. Tapi. Sehingga mereka harus buru-buru mendarat ke tepi. tidak baik dijadikan persawahan.

Biar permukaan sungai menaik atau menyusut." jawab Ronggur. Arus sungai menyongsong dengan kuat. "Apa lagi yang akan terjadi. Kantuk telah membawa mereka ke alam tidur. Sehingga perahu mereka begitu lajunya dihanyutkan kembali ke hilir. Malah mereka seperti disorong ke belakang. Perahu seperti dihanyutkan kembali ke hulu. apa sebabnya dan apa akibatnya pada orang yang berlayar di saat begitu. saat permukaan sungai naik telah tiba. Di saat begitu. diperhatikan dan disesuaikan waktunya. Ronggur bertambah was-was. terasalah permukaan sungai kembali menyusut. mereka terus di dalam perahu dan terus mengayuh. Walau malam sudah bertambah jauh. terus mereka lawan. Gelombang sungai mulai menggeliat. arus mati. Walau mereka sudah berkayuh dengan sekuat tenaga. mereka tertidur. Sambil T io berkata. Tapi. mereka berdua terus berkayuh melawan air yang menyongsong itu.perahu. Karena begitu capek. Dicocokkan dengan waktu peredaran bulan dan bintang. Berhadapan dengan keadaan baru ini. Menjelang subuh. Walau tidak ada ditemui kemajuan. Perahu terus dihanyutkan arus sungai. Perahu tidak bisa dikayuh. Agar tahu dengan pasti. di mana keadaan sekitar dan kejadian dapat dilupakan. Untuk tiba pula pada keadaan. itu yang perlu kita ketahui. dan apa lagi yang akan ditemui pada perobahan sungai?" "Justru. Malah hendak disorong ke belakang. Berkayuh dan berkayuh. Dan. mereka dapat melepas lelah. Kemudian diputuskannya untuk terus melayari sungai. Saat sungai menaik permukaannya dan saat sungai kembali ke tarap biasa. Mereka terus berlayar. . Tapi. kembali ke hulu. Mereka harus mengayuh dengan sekuat tenaga. Mereka terus melawan. Kemudian datang pula saat permukaan air sungai naik.

Cepat Ronggur dan Tio mengayuh.Sinar matahari sudah kembali menampari wajah alam dan wajah mereka sendiri yang tertidur di perut perahu. Di sekitarnya." "Marilah ke tepi. Beda dengan pasir pantai danau yang mereka kenal di kampung halaman. di sekitarnya. jauh sudah. perahunya terapung dan mengangguk-angguk diperma inkan riak. tepian. Airnya. tapi danau yang sangat luas. air yang maha luas mengitari mereka. Alangkah terbelalaknya mata Ronggur sewaktu di hadapannya. Sinar matahari mencurah ruah. Nyiur. mereka terbangun. Tidak terkungkung sedikit pun. lihat Tio. Pada sisi kanan. atau daratan yang hijau. Kita tidak tahu ke mana berakhir air yang maha luas ini. Lalu menggonggong panjang. Si belang berada di haluan perahu. pasir putih. Benda ditepian yang menerima sinar matahari seperti menyala itu. Di bagian punggung. Karena silau dan karena gonggong si belang. melihat keluasan yang terhampar di depannya. kiri dan di hadapan. "Danau. "Danau apa ini?" "Aku tidak tahu. alangkah asin. Tapi." ajak Tio. Cepat mereka mengayuh ke tepian. Kita menemui danau. Sehingga lebih silau. Buru-buru Ronggur menyuruh T io duduk. Tidak bisa diminum. Mereka mendaratkan perahu jauh ke ." Tio memilin mata. air itu bertemu dengan kaki langit demi kaki langit. Pada penciuman terasa keluasan dan kebebasan udara. Membelalakkan pandang. lalu: "Lihat." akhirnya Tio mengatakan dengan kagum. Tepian memutih ditimpa sinar matahari penuh. Agak jauh kedalam bermula jajaran pohon kurus panjang dan hanya di bagian puncaknya ada daun kelapa. Berjajar memagar pantai. danau yang maha luas. Kemudian dipantulkan air ke atas kembali. mencerminkan mukanya ke permukaan air.

darat. namun tetap kuat dan tampak berminyak. . Burung putih berterbangan ke sana ke mari. Pada tanah lumpur sekitar muara sungai. Beberapa ekor kena dan jatuh ke tanah. Tiangnya agak tinggi dibuat dari pohon bakau yang panjang dan lurus lagi kuat. Sekuat kita memakainya." Sambil menatap keluasan air. Yang bergelung-gelung ombaknya dan memecah di pantai. diselang seling pohon bakau. Karena udara panas. Mereka minum air kelapa muda. Ronggur dapat melemparnya. jendelanya jauh lebih besar dari jendela rumah yang ada di kampung halaman. "Di sini kelapa tidak akan habis. Dengan moncongnya si belang menggigit dan membawa ke tempat mereka berdua duduk. Dengan daun nipah itulah. bertambah rimbun pohon gelagah dan daun nipah. Sehingga sambil bermalasmalas. Mereka lalu kenal juga binatang laut yang ada di tepian yang juga enak dimakan. Walaupun airnya asin. Ikan yang besar. banyak menyimpan binatang buruan. Tidak punya prasangka pada Ronggur dan Tio. putiknya akan cepat mendatang lagi dan berlipat ganda banyaknya. Menambatkannya pada pokok kelapa. gajah. Berdesir angin yang melewati atau membuat daun nyiur melambai. Tambah siang ombak tambah membesar. kijang sampai pada binatang buas yang ditakutkan: Harimau. Si belang menjemputnya. menari dengan gaya yang bagus dan begitu jinak. Sedang pada hutan di sebelah punggung mereka. dengan lagunya sendiri. dan di tanah yang ditumbuhi ilalang sebagai pinggiran hutan. Sekarang mereka sudah punya danau yang sangat luas malah. Ronggur memanjat kelapa lalu memetik buahnya yang masih muda. Sekarang mereka sudah punya rumah kembali. mereka buat atap sebuah dangau. namun sangat banyak mengandung ikan. Walaupun daun nipah sudah kering. Mulai dari burung. Diseling T io. ayam hutan.

Bila air surut permukaan sungai merendah. buaya. . Sedang waktu malam hari. Mereka harus merambah hutan belukar agak ke pedalaman. Begitu pula saat sungai surut kembali. bila merasa malas pulang ke rumah di tepi pantai.beruang. Mereka cari tumpukan tanah yang agak datar di hutan dan ditumbuhi ilalang. dibuka aliran parit. rawa itu kembali tampak. Kemudian dari hulu sungai yang belum asin airnya. Bila air sungai pasang. Dekat sawah itu mereka dirikan dangau. dan di tepian sungai berpaya. Dan. Agar lebih mudah mengerjakan sawah percobaan itu. Tapi. Tanah lumpur itu. sangat baik. perahu agak tertahan menuju muara. tidak baik dijadikan persawahan. walaupun tanahnya lumpur dan lembut karena selalu tergenang. bila pasang naik tanah lumpur itu tergenang. Waktu itu bila berkayuh menuju tepian dari tengah. Waktu siang hari angin dari arah danau luas bertiup ke darat. tempat istirahat atau bermalam. Pada hari pertama Ronggur tetap memperhatikan mula dan arah angin. binatang air itu. pasang air sungai yang membuat permukaan sungai naik dan sungai punya arus ke hulu. di samping air hujan. menjelang dini hari. Tergantung pada hari bulan. terkadang sampai sedalam dada. Akhirnya dapat mereka ketahui. harus memilih tempat yang agak tinggi dan jauh dari pantai. Tapi. Arus ombak menghanyutkan perahu ke tepian. jauh dari tepi sungai. bila air sungai surut perahu dilarikan arus ke tengah danau yang maha luas itu. Waktu itu sangat baik untuk memulai pelayaran ke tengah danau luas itu. Bila mereka hendak membuka sawah percobaan. Sehingga ada pengairan ke sawah itu. angin daratyang bermula dari hutan di punggung mereka. agak menusuk ke tengah hutan. tidak menetap saatnya. bertiup ke arah danau luas itu.

Tanah yang mereka temui tanah yang dimimpikan setiap orang di kampung halaman. bisa dihilangkan. Walau tidak punya air selain air hujan dan yang dikandung tanah. yang mengakibatkan kematian dan kemelaratan. antara suku dan antara luhak. Tanah itu begitu gembur. tanah itu cepat menghitam. agar pertumbuhan batang padi tidak terganggu. tanah begitu cepat menerima taburan bibit. yang dapat mengurangi pertentangan yang bisa timbul antara kaum semarga. bila tanah habungkasan ini ditunjukkan pada mereka. Pada malam hari. Usaha percobaan itu terus diluaskan ke tanah yang lebih tinggi dan agak susah didatangi air parit. Di sana juga tanah dengan cepat menerima taburan bibit. Bila batang padi telah bertumbuhan di sawah. Kemudian bermunculan di atas tanah batang padi yang gemuk hijau. kerja Ronggur dan Tio tinggal mencabuti rerumputan. agar rombongan babi hutan tidak turun dari hutan merusak sawah dan ladang percobaan itu. Beberapa bidang lagi tanah telah diolah menjadi sawah percobaan.Persemaian telah digarap. Cepat lunak dan cepat menjadi lumpur hitam yang lembut. mengadakan penjagaan yang dibantu si belang. Ini semua menanam harapan yang lebih sempurna dalam dada. Ditiup angin . tanah itu tidak melapisi batu. bila telah digenangi air. tahulah Ronggur dan Tio. di ladang dengan hijau gemuk. antara marga. Kemudian batang padi yang hijau gemuk itu. Setelah beberapa lama tanah yang digarap itu digenangi air yang dialirkan ke sana. Itulah ladang. Merunduk ke tanah karena berisi. menjanjikan akan mendukung bulir padi yang bernas. mengambangkan kesuburan. T anahnya cepat lembut. telah dihiasi bulir padi dengan mencuat ke atas tegak lurus. huma. Perang yang bisa terjadi di antara mereka. Tidak tersangkakan. walau itu yang diharapkan. sawah kering. Waktu menancapkan cangkul ke dada tanah.

setiap itu pula. Atap daun nipah yang tidak mudah bocor. kemudian dipanen. Kekayuannya mereka ambil dari hutan sekitar yang begitu dekat. merunduk menguning kemudian dipanen. yang didirikan tidak jauh dari sawah percobaan itu. Membuat perasaan lebih kagum lagi atas ciptaan alam yang hebat dan sempurna itu. sebagai pertanda bahwa pancang itu perbatasan antara satu marga dengan marga lain tepi danau mana yang boleh di tempati suatu marga menangkap ikan. dan bulir yang belum berisi itu bergoyangan perlahan. seharian mengadakan perjalanan menyusuri tepi pantai. Saat mardege tiba. hasil panen percobaan itu tidak akan habis mereka makan sampai tiga kali jangka musim panen. dan hati tambah berterima kasih atas tuntunan Mula Jadi Na Bolon. musim panen lebih pendek masanya di tanah habungkasan itu dari yang mereka kenal di kampung halaman. Mereka tahu. Ronggur dan Tio harus memperbesar dangau kecil itu. Mau dijadikan lumbung padi. Ronggur dan Tio. Padi yang menguning. Lagi pula. yang didirikan tidak jauh dari sawah percobaan itu. Saat mardege tiba. sambil melepas lelah dari kerja berat di sawah semusim panen itu. Bermula dari keluasan dan berakhir pada keluasan.terkadang. Ciptaan Mula Jadi Na Bolon. Ronggur tahu. tangkainya kokoh mendukung. Tidak bertepi dan tidak berujung. Setiap tambah jauh mereka berkayuh. hingga mereka bisa tiba ke sana. Kemudian bulir itu semakin merunduk ke tanah. yang banyak ditemui di muara sungai. Lalu hasil panen itu disimpan ke dalam lumbung. Juga pelanggaran perbatasan . bila luas danau begitu rupa dihadiahkan pada orang di kampungnya. mereka tidak perlu lagi mengadakan pancang sebagai batas di danau. Dan. bila untuk mereka berdua saja. Lalu hasil panen itu disimpan ke dalam lumbung. malah berlipat ganda luas air yang mereka temui.

Di danau yang maha luas itu. kalian akan menemui tanah habungkasan. pada bekas Datu-Bolon yang sudah tua itu. kemauan bekerja. menjanjikan kebahagiaan pada setiap orang. Karena itu anakku. boleh pergi ke mana suka. Menangkap ikan sekuat tenaga. dan menganggap diri yang dikurnia dewata seorang gila. tambah sering mendengung suara bekas Datu Bolon yang sudah tua itu. Janji harus ditepati. "Anakku. Seorang manusia yang ditunjuk dewata menemui kebenaran. keinginan untuk me lepaskan mereka dari berbagai rupa ancaman.di danau di kampung halaman. tapi perlu diinsafkan agar mereka tahu. Modal yang pokok hanya satu. sering menimbulkan perselisihan dan pertengkaran. bapak yakin. lalu dapat merasakan kenikmatan yang terkandung dalam kebenaran itu. yang bisa menimbulkan sesuatu peperangan. Mereka tidak perlu dihancurkan. ke tengah marganya yang sudah mencoret namanya dari silsilah marga. setiap orang dari setiap marga mana saja pun. Dia harus mewartakan berita penemuannya itu ke tengah keluarganya. Walau begitu pahitnya penerimaan orang di sekitarmu atas cita-citamu. Agar manusia itu dapat pula mencicipi nikmatnya. harus dengan tabah pula menyampaikan warta kebenaran itu pada orang yang ada di sekitarnya. melanjutkan hidup berkeluarga dan keturunan. janganlah kau berkecil hati. Walau pada mulanya mereka menentangnya. yang mempertajam perasaannya akan bahaya yang mengancam kerukunan hidup di kampung halaman. hingga akhirnya turut merasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh kebenaran itu. Janji yang selalu mengingatkan kampung halaman. Sekitar yang bermula dari keluasan itu dan berakhir pada keluasan itu. kelanjutan keluarganya. karena itu janji. Untuk kelanjutan hidupnya. bila kau menemui tanah . Rangsang lain mulai mempengaruhi pikiran Ronggur. Pada pendengarannya. katanya selalu. Rindu pada ibu.

" katanya.habungkasan di rantau. Dari pengenalan akan pundak bukit. Karena itu. tapi perjalanan untuk memenuhi janji yang dibuhul sebagai lelaki bersikap jantan. tapi. sesuatu penemuan yang bisa membuat orang gembira dan berbahagia. janji seorang lelaki. Berhadapan dengan kebisuan Tio. Anakku. kau harus kembali kemari membawa berita ria itu. Memaksanya harus kembali ke kampung halaman. sangat susah. penuhilah pula sebagai lelaki yang berhati jantan. janji yang kau buat sebagai lelaki. telah dapat diduganya. dari pengenalan akan celah pertemuan bukit dan usaha untuk menembusnya. Karena janji yang dibuat lelaki. dia sudah dapat menggambarkan suasana perjalanan itu dalam kepala. Berjanjilah anakku. "Anakku. dan usaha menaklukkannya. agar anakmu ini dilindungi Mula Jadi Na Bolon. Karena itu. Perjalanan yang tentunya memayahkan." "Terima kasih." "Aku berjanji. Tio diam saja mendengarkan sambil menundukkan kepala." "Doa dan restuku akan selalu mengiringi perjalananmu. janji yang akan tetap ditepati. mewartakan penemuan itu. Harus kembali mengarungi sungai ke hulu. malah beralih pada penemuan itu akan mengutuki diri. yang . bila keserakahan diri atau dendam yang bersarang dalam dada. lalu melanjutkan." Dengungan percakapan itu tambah nyata dan jelas. sehingga orang lain tidak dapat menikmati arti dan nilai penemuan itu akan berkurang. Lantas selanjutnya dia mengatakan. "Doakanlah aku bapak." kata orang tua itu. memaksa dan membuat orang yang menemui itu tidak mewartakan-nya pada orang lain. Ronggur telah menentukan kapan mereka memulai perjalanan pulang itu." "Aku bapak. Bapak. melawan arus. yang memerlukannya. dia sudah membayangkan bahwa mereka akan menembus jalan darat. untuk terus melawan arus. agar kerjamu tidak sia-sia.

Wajah Tio agak pucat waktu tengadah padanya. Darah Ronggur tersirap dibuatnya. Sambil tersenyum dan duduk dekat Tio. Dijerangkan terus menerus air panas dalam periuk tanah. Akhirnya Ronggur tahu. digigit oleh gigi sendiri. Tidak sakit." Cepat Ronggur pergi memetik daun ampapaga. Tambah lama tambah sering dan menimbulkan perasaan nyeri. Tapi. "Kita memang masih belum bisa memulai perjalanan pulang. walau Tio selalu . Dan. Namun. wajahmu pucat. bila pandangnya bertemu dengan pandang Ronggur. Sesuatu tekanan mendesak hendak melalui kerongkongan. Kau sakit?" "Tidak. yang selalu diancam bahaya di kampung halaman? Agar mereka dapat bebas dari ancaman yang selalu menakutnakuti mereka itu?" "Bukan itu alasannya." "Kenapa wajahmu sepucat itu? Apa yang terjadi?" Wajah Tio seperti menanggungkan sesuatu. dingindingin ditelempapkan ke perut Tio dan kening. sesuatu akan terjadi. yang akhir-akhir ini begitu nyata dan jelas. "Tio. Ronggur lalu berkata. "Apakah kau tidak ingin mewartakan berita ini pada sanak keluarga? Pada setiap orang. direbus. airnya sangat baik buat minuman seorang ibu yang hendak dan baru melahirkan. Barulah sadar arti perobahan bentuk tubuh istrinya. Kita harus menanti di sini. yang banyak tumbuh di pematang sawah di antara rerumputan. sesuatu rintihan lepas juga dari celah bibir yang dikatupkan. masih tetap berusaha tersenyum. Bibirnya gemetaran. Bukan itu. Bila sudah kering. ditahan. berupa rintihan dan jeritan. dia tidak mau lagi pergi jauh-jauh dari dekat Tio." sahut Tio. Ronggur mengatakan.tidak menyahut itu. Tapi. Seperti orang sakit. Biarlah perjalanan pulang ditangguhkan untuk beberapa lama. Dan. Tio merasakan sesuatu menggeliat dalam perutnya. Daun ampapaga itu di dikeringkan di panas matahari.

Lelaki yang dapat memelopori orang menjelajah hutan belantara yang abadi itu. Tidak usah repot. cukup umur. Disunggingkan senyum sebagai sahutan. Tio harus senyum pada . T idak jarang. Atau. Tio sudah dapat senyum. Kening Tio yang berkeringat. anak kecil itu sudah digendong Ronggur sambil dinyanyikannya. seorang lelaki. Hari berikutnya. Anak lelaki meneriakkan suaranya pertama. cukup merah. agar memulai perjalanan. sering juga membuat Ronggur harus mengatakan dalam kebingungan. berjalan dengan baik. dilap Ronggur dengan sayang. Tio lalu memelas. Mencapai daerah baru. Tangisnya pertama menantang gemuruh ombak yang memecah di pantai. Begitu sehat. Semuanya akan menjadi beres. Pergilah berburu. Menoleh ke bayi yang baru dilahirkannya. ombak itu menggamitnya. juga diharapkan agar anaknya seorang lelaki yang sanggup meniti gelombang yang besar di danau luas itu. seperti warta pada dunia bahwa dia telah lahir. Bayi dimandikan. atau menangkap ikan. Tio menyahut. Dipotongnya jabang bayi dengan bambu yang ditajamkan pada kedua sisinya. dan segumpal daging telah ditayang Ronggur dengan hati-hati." Ronggur pura-pura tidak mendengarkan." Balik Tio yang menasihati dan menenteramkan hati Ronggur. Lelaki yang kelak sanggup mengolah tanah yang bidang menjadi persawahan. agar orang tidak takut kelaparan.mengatakan. meniti ombak demi ombak yang begitu besar. "Aku tidak apa-apa. Setelah melengkingkan sebuah pekikan yang panjang lagi nyaring. Dalam kepala terbayang seorang anak lelaki yang sehat. Saat kelahiran semakin dekat. "jangan repot. Tio diberinya minum air ampapaga. dan perasaan nyeri tambah memaksa Tio merintih. "Apa yang harus kuperbuat? ke mana harus kucari dukun?" Dari sela rintihannya. Tak lama kemudian. Hendaknya kehijauan daun padi dapat mengimbangi hijaunya daun pepohonan.

"Tataplah dengan mata kanakmu. ibu dan ayah dari anak lelaki yang sehat. akan penemuan-tanah habungkasan. Ronggur selalu mengatakan. Tio. Tiga pundi padi yang bernas dibawa serta. Dia akan tetap mendampingi Ronggur. Mulanya menyusuri sungai ke hulu . sudah waktunya kita memulai perjalanan kembali ke kampung halaman. yang menanti dayungmu berkayuh di permukaannya. akan mereka tunjukkan sebagai bukti pada orang di kampung halaman. luasnya danau yang ada di depanmu. dan danau yang maha luas ini. Tio sudah menjadi seorang ibu. Ronggur sudah menggendong si anak ke tepi pantai bersama Tio. maka Ronggur pun kembali mengatakan. "Tio.. ke mana saja pun. Bertambah hari. T idak habis dimakan sekeluarga dalam jangka tiga kali panen." Tio tidak membantah. ccdw-kzaa 8 Setelah menyediakan segala sesuatu yang perlu dalam perjalanan. mencapai pantai lain. Bergaya seorang yang akan cukup kuat dan punya ketahanan serta keberanian. Bahwa padi yang mereka bawa sepundi dulu sudah menjadi tiga pundi.Ronggur dalam saat begitu bahagia. mereka pun memulai perjalanan pulang. katanya." Bila telah dua kali purnama timbul dan tenggelam. meniti ombak demi ombak yang bergulung-gulung memecah di pantai. Sedang yang ditinggalkan di tanah habungkasan masih banyak benar. dan bertambah usia si anak. . Ronggur sudah menjadi seorang ayah. anak kita akan menjadi seorang pengarung danau yang maha luas ini kelak. Memberitakan dan mewartakan. . Bermulalah perjalanan itu. . Kekerabatan dan keakraban berumah tangga tambah terjalin.

dan lebih aman daripada menyusuri Sungai T itian Dewata. tanah itu sangat baik dijadikan perladangan atau persawahan. Ronggur selalu mengadakan tanda. permadani alam yang tebal lagi abadi. bukanlah bukit batu seperti bukit tandus di kampung halaman. Airnya begitu bening dan dingin. tahulah dia. Tidak tanah tipis melapisi batu alam. dan memilih tanjakan yang tidak menaik untuk didaki. yang dipanjat Ronggur untuk menentukan arah tempuh. Mulanya mereka menyusuri sungai ke hulu. seringan mungkin dan yang perlu saja dalam perjalanan. Sejuk. hitam mengandung kesuburan. perjalanan pulang itu pun. sendirinya pula usaha merintis jalan darat. Melalui pengenalannya akan tanah. bukit tanah yang gembur. bila kekayuan hutan sudah ditebang. Memenggal-meng-gal hutan belantara. Pada sesuatu mata air begitu. yang kelak dapat digunakan jalan pulang pergi antara kampung halaman dan tanah habungkasan.Beberapa potong kulit binatang buruan yang halus hulunya dan sudah dikeringkan dibawa serta. Sampai tiba ke lempat arus mulai menderas dan susah dikayuh. Tidak jarang pula mereka temui parit kecil yang bermula dari sesuatu dinding bukit yang bercelah. yang dilingkungi hamparan dedaunan hijau lebat. agar yang dibawa. bukit dan lembah tambah banyak mereka temui. Tambah jauh mereka menyusup ke pedalaman hutan. Tanah di lembah dipelajari Ronggur baik-baik. T io. Begitu pula mengadakan tanda tertentu pada sesuatu pohon. Mereka sering berhenti di satu tempat sampai dua tiga hari. Sedang pundak perbukitan yang juga ditumbuhi kekayuan tua. Baru mereka mulai menempuh jalan darat. mempelajari pintasan jalan yang lebih mudah ditempuh. . Mereka berusaha. selalu menggendong anaknya di punggung. Jadi. Mempelajari jalur lembah dangkal yang banyak dalam hutan. Tapi. Lembahnya tambah dalam dan perbukitannya tambah tinggi.

sarang binatang. kalau kepergok. Sehingga terasa. tidak dapat melempar senyum. T erus berusaha mengarahkan langkah ke tempat air terjun itu. beruang. Dari sana baru mereka tentukan. Atau. Penciuman si belang banyak membantu keselamatan rombongan kecil itu. Menyisih dari tempat sesuatu binatang buas. sebaik dia turut mendengar suara air terjun yang mengguruh. dan kelompok gajah. Batu jaluran yang ditembus air sungai yang . sambil berjaga.Dalam merintis jalan itu. pundak bukit yang memanjang sebagai pagar dan batas tanah dataran tinggi kampung halaman dengan tanah habungkasan. dia tersenyum kembali. jangka siang hari. Dedahanan kekayuan yang berjalinan mendukung dedaunan lebat. Anak mereka yang sudah mendekat ketiga purnama usianya. cepat mereka mengalih langkah. celah bukit mana yang harus diterobos menuju kampung halaman. tidak jarang pula mereka harus mempertahankan diri dari serangan binatang buas: harimau. Tapi. menghambat sinar matahari menimpa tanah. Mereka terus menyuruk di bawah hamparan dedaunan hijau yang abadi itu. Tio memeluk anaknya. Dan. dan sudah dapat melempar senyum di saat dia merasa senang. Tapi. Ronggur selalu berusaha agar mereka dapat tiba kembali ke tempat air terjun itu. bila lama-lama mereka berada di sana dan tidak ada sesuatu yang menyakiti tubuhnya. harus mengadakan perlawanan mempertahankan diri. Bila si belang meringis dan mengarahkan penciumannya ke satu arah terus-terusan. Apa yang ditakutkan Ronggur pada mulanya masih tetap tidak terjadi. Sedang Ronggur mengarahkan tatapan si anak ke air terjun yang memutih kapas itu. yang harus ditaklukkan. Tapi. Dalam saat begitu. agak pendek di bawah naungan yang tebal itu. tidak jarang Ronggur dengan dibantu si belang. di tengah hutan tidak jarang mereka bertemu dengan kumpulan binatang buruan yang enak dagingnya.

Karena itu. Dari sini kita akan mulai mendaki kaki pegunungan. gemuruhnya tetap menderu. Sambil menggendong anaknya. Ekornya dikibaskan. Untuk dijadikan lobang perlindungan. Betapa indah. Bila lama kelamaan ditatapi jatuhnya air itu dan kuping biasa kembali mendengar suara mengguruh itu. Tio memaling wajah pada Ronggur tanpa sahutan. "Ya. terdiri dari batu alam yang tidak keras. Di sampingnya duduk si belang seperti menjaga. perlu kita istirahat untuk beberapa hari." kata Ronggur. Lagi pula dinding bukit sebelah sana. setelah beberapa lama mereka terpukau di tempatnya tegak. "Tio. masih tetap kokoh pada tempatnya. dan berusaha menerobos celah bukit." "Harus di sini kita istirahat?" tanya Tio. mereka namakan air terjun itu. lihat Tio. Dan. agar tidak ada serangga hinggap ke wajah anak yang sedang tidur nyenyak itu." Mereka menggali lobang perlindungan yang agak luas. "Kita istirahat di sini untuk beberapa hari.terjun. yang menyerupai aum harimau. Menjelang senja Ronggur dan Tio berhenti menggali lobang. "Lihat. Aku akan memburu binatang buruan. Perjalanan begitu tentu berat. Ronggur mengatakan. benda putih diambangkan ke atas terus menerus. Agar tenaga kita pulih kembali. Di pundak bukit gundul itu. Tapi. Tari warna yang sempurna. menaklukkan pundak demi pundak bukit. Jalan memotong ke kampung halaman. . Anak mereka ditidurkan di tanah beralaskan kulit binatang buruan yang lembut. Ronggur dan Tio bekerja sama menggalinya. Mata mereka patok menatapi permainan warna pelangi aneka rupa berpadu dengan air yang memutih kapas. agar mudah kita memperoleh air. Melepas lelah. Sampuran Harimau. Mudah digali. Tidak terjadi reruntuhan. payah ditemui binatang buruan. agar cukup daging untuk dimakan nanti dalam perjalanan. Agar memberi ruang yang lapang bagi mereka.

tinggal Tio saja yang meluaskan mulut lobang perlindungan dan memperluas ruang dalam." Tio mengikuti telunjuk jari Ronggur. Sayang sekali. Mencampakkan pandang ke sekitar. Pada hari berikutnya. Tahulah dia. dan mengitari itu semua. di bawahnya tanah habungkasan yang mereka temui. air terjun. Tapi.Begitu indah kalau hujan tidak turun atau kalau kabut tidak menyungkup. dan mulut anak itu sudah mengisap-isap muncung buah dadanya. Nanar mereka menatapi tari warna pelangi yang aneka ragam itu. menuju hutan belantara luas. sumber kasih sayang abadi bagi seorang anak yang lahir dari rahimnya. Oi sebelah kanan. kaki bukit memanjang lagi tinggi. mengagumi lukisan alam yang sempurna. Bila anaknya haus. dia memicingkan mata menikmati kesempurnaan rasa bahagia di saat mulut anaknya mengisap muncung buah dadanya. meminta ditetekkan. rasa keibuan. Ronggur sudah pergi berburu bersama si belang. sesuatu perasaan selalu menggeliat dalam dada. tidak kedengaran. Sedang mulutnya akan mendendangkan lagu seorang ibu. bila saat menyusukan tiba. lagu yang menyuarakan perasaan kasih sayang: Pejamlah mata sayang seorang kenapa harus kerisik seperti . Sejak lahir anak itu sudah disusukannya dan sudah berapa lama itu berlangsung. mencapai sarang. bukit gundul. kenapa ada nyanyian alam terpendam pada dedaunan yang berdesir bila disentuh angin lalu. kenapa pekikan keras lagi sakit waktu melahirkan sang anak bercampur nikmat. cicitnya tenggelam ditelan gemuruh air terjun yang jatuh. dia duduk berjuntai di mulut gua. Beberapa ekor burung terbang di udara. Tidak jarang dalam saat begitu. tahulah dia.

Tapi. Dia sangat giat mengumpulkan daging binatang buruan. Kemudian mereka panggang di atas bara sampai kering. Tio selalu . Sedang mulutnya akan cepat mengatakan. bulan gemintang kudekap kau pelukanku hangat Pejamlah mata buah hati bunda subuh tiba mula hari baru berjuta utasan cahaya matahari menyinari padang kembaramu Tidak jarang Ronggur pergi berburu seharian. agar cukup kering dan tahan lama. "kita harus banyak menyediakan daging. Suatu perasaan merangsang dirinya. Tio menjemurnya di bawah sinar matahari. Sedang di siang hari. Boleh jadi di pundak pegunungan gundul sana. Begitu tekun. payah dijumpai binatang buruan. dia telah merasakan. Bila Ronggur tidak pergi berburu. dia tambah sering mencampak pandang ke air terjun itu dengan berlama-lama. Dia tidak dapat mengucapkan melalui bentuk kata yang cukup tepat.dedaunan berhalau ditiup angin lalu dunia terhampar di ujung kakimu Pejamlah mata anakku seorang menanti bapak kembali pulang dari tengah hutan belantara binatang buruan tersandung dibahu Pejamlah mata intanku sayang bila malam jatuh. Sesekali dijinjingnya ikan yang dipancingnya." Mereka potong tipis daging binatang buruan itu. terbayang di wajahnya.

Yang timbul dari air terjun ini." "Tapi. Ronggur merasakan. aku tidak kerasan di s ini. justru karena adanya air terjun ini. alangkah susahnya dia untuk mengucapkan yang sedang bergolak di dadanya." Sambil mengalih pandang pada Tio yaYig berdiri dekatnya. Ronggur menyahut. Perasaan itu melumpuhkan segala ketakutanku pada air terjun itu." "Manfaat apa?" tanya Tio terbodoh. Menjanjikan sesuatu kebahagiaan pada manusia. Tak bosan. "Aku tidak tahu Tio. Sedang Ronggur kemudian mengalih pandang ke air terjun itu.memperhatikannya di saat begitu." Seketika mereka bertatapan tanpa mengucapkan kata. "Manfaat bagi kehidupan manusia. Lama bibirnya bergerak-gerak. "Bertambah hari. Biji mata Tio begitu bening tapi jelas tampak tidak mengandung pengertian akan apa yang diucapkan Ronggur. "Ada sesuatu yang kurasakan." sahutnya. kulihat abang bertambah tekun melihatnya. Dan." Lama Ronggur menumpu pandang ke mata Tio. Sekali waktu Tio mengganggunya dari menung menatapi air terjun itu. yang ditimbulkan air terjun itu." "Kenapa begitu?" "Perasaan itu seperti membisikkan padaku bahwa a ir terjun ini mengandung suatu manfaat. "kurasakan. Tio. aku merasa takut digertak suaranya yang terus menerus mengguruh itu. Membangunkan Ronggur dari kebisuannya. sambil mengatakan. Kalau tidak bersama abang. . "Ada apa Bang?" tanya Tio. Malah dibuatnya sesuatu rasa bersyukur. namun seucap kata belum melepas dari bibirnya. "memang benar dugaanmu.

bila tenaga yang terkandung di air terjun ini digunakan manusia untuk kehidupannya. Orang kelak akan dapat menggunakannya untuk kehidupannya. Darinya timbul anggapan selama ini. Sungai Titian Dewata jatuh ke ujung dunia. "Kurasakan air terjun ini mempunyai suatu tenaga yang sangat besar dan kuat. masih ada manfaat lain dikandung air terjun ini. maka hidup manusia akan lebih berbahagia. Tapi." kata Ronggur selanjutnya. Tapi. karena dia menjanjikan sesuatu kebahagiaan bagi kehidupan manusia di masa datang." "Apa lagi?" tanya Tio mendesak. Bersukurlah. Namun dia tidak membantah seperti kebiasaannya yang tidak mau membantah cakap Ronggur. yang bisa . bila orang menggunakan tenaga yang terkandung di air terjun ini. walau dia tidak dapat mengartikannya." Tidak dapat Tio membumbui cakap Ronggur. darinya timbul bencana saja. binatang air yang menakutkan dan buas itu tidak bisa datang ke Danau Toba." Tio mencampak pandang ke tempat air terjun itu jatuh." "Itu boleh jadi. Jangan lagi kutuk dia. maka tenaga yang disimpan air terjun ini bisa memberi arti yang bernilai bagi -kehidupan manusia. Hingga tak seorang pun selama ini berani menyusurinya untuk mencapai tanah habungkasan. “jangan lagi takut padanya. haruslah merasa bersukur karena dia ada. "Di samping itu. entah kapan." sahut Tio berusaha mengerti. Sekarang memang yang kita lihat. Karena tempat jatuhnya begitu tinggi dan curam.membuat arus sangat deras. "Karena itu. Coba kalau diri diterjunkan bersama air terjun pasti lumat. nanti. Dan. arusnya gelisah membentuk suatu pusingan yang cepat. Akhirnya dia sendiri ingin mendengarkan yang dirasakan Ronggur. Air yang jatuh berputar pada lingkaran berbentuk kolam. Selalu perasaanku berkata begitu.

mengitari Pulau Samosir. agar terlindung dari serangan angin yang cukup kuat. telah berada kembali di hadapan pandang. Ronggur selalu memilih celah bukit tempat bermalam. lembah kampung halaman. tidak mau henti sebelum matahari tenggelam. Tio merasa ngeri melihatnya. T api. Perjalanan yang memayahkan. Si belang mengikut di belakang. Menggonggong dan menggunakan penciumannya. . terkadang hanya sepundak atau dua pundak bukit saja yang dapat mereka taklukkan. langsung mendaki bukit. Dalam sehari. semua perasaan itu ditekannya habis-habis. Setelah beberapa hari istirahat dan tenaga mereka sudah pulih kembali. Malah dia ingin turut merasakan yang dirasakan Ronggur. rombongan kecil itu terus mendaki pundak demi pundak bukit yang berlapis-lapis. menuruni lembah batas perbukitan yang berlapis-lapis itu untuk mendaki lagi. bertumpuk rimbunan bambu duri. agar dia tidak membantah yang dikatakan dan dirasakan Ronggur. Sesekali menyusur di tebingnya. Tidak mengenal lelah. bersama kebiruannya yang damai. tenang. mencapai sesuatu celah. lalu menembusnya untuk kemudian terus lagi mendaki sampai pundak bukit ditaklukkan. pertanda perkampungan. Di sekitar tepian danau. Tio menggendong anak mereka. Di tengahnya.menenggelamkan lalu menghancurkan sesuatu yang jatuh ke sana. tapi perasaannya belum juga merasakannya. Mereka bertatapan untuk kembali mencampak pandang ke lembah perkampungan yang sudah sekian lama ditinggalkan. Dengan mengenali pundak bukit mencari celah pertemuan bukit. Lalu lembah dataran tinggi. T io takut dibuatnya. Perjalanan mereka agak lambat. mereka melanjutkan perjalanan pulang. danau kesayangan. yang dilingkari lapisan bukit demi bukit melingkar dan memanjang. Jalanan yang harus ditempuh. Dan. akhirnya lapisan bukit itu dapat ditaklukkan. Sedang Ronggur memikul peralatan. atau terkadang berlari di depan.

Akan jauh lebih payah daripada menaklukkan pundak bukit yang cukup tinggi. satu perjalanan panjang. di hadapan kita. Yang mungkin menyakitkan hati. menembus Sungai Titian Dewata. ketahuilah Tio. Pekerjaan begitu tidak akan mudah. Terlebih anak mereka. mengarungi rimba alam abadi. mereka telah memakai kulit binatang buruan yang halus bulunya. Kita harus menaklukkan dan menguasai alam pikiran orang di kampung halaman. Tangan anak itu dituntunnya menunjuk ke arah perkampungan sambil mulut Ronggur berkata. Karena itu. Walaupun dengan susah payah. maka sendi kepercayaan mereka berarti digoyang. Kaulah seorang perempuan yang telah berani menemani aku menempuh satu perjalanan yang menantang keyakinan orang sekitar yang telah turun temurun menguasai alam pikiran mereka." Mereka menarik napas lega. aku cinta padamu. "Tio. setelah sekian lama harus menjadi budak orang lain. Dia membayangkan betapa bahagia keluarga marganya. Tapi. ananda. atau membahayakan jiwa. Kau telah mengorbankan alam pikiranmu sendiiri untuk mengikuti jejakku. menggantinya dengan kepercayaan baru tidaklah kerja mudah.Ronggur mengambil anak mereka dari gendongan T io." . Tiba-tiba saja Ronggur memecah kesunyian itu. Tapi. menanti tugas baru. Aku berhutang budi padamu dan aku cinta padamu. Dalam hayalnya Tio telah mengatakan pada diri sendiri bahwa dia akan membawa sisa anggota keluarga marganya ke tanah habungkasan. Diselimuti baik-baik sehingga tidak merasakan udara dingin. Dan. mengecap nikmat udara kemerdekaan. karena udara kembali dingin. yang mempercayai bahwa Sungai Titian Dewata berakhir ke ujung dunia. "Itulah kampung nenek moyangmu. Merombak keyakinan seseorang. Bila hasil perjalanan ini kita sampaikan pada mereka. agar bisa bebas dari nasib jelek yang menimpa marga. telah kita laksanakan dengan berhasil. kau harus tabah nanti menerima segala sikap yang mengejek dan menantang. terutama Tio.

dia telah menyandarkan kepala ke bahu Ronggur. sedang tangan sebelah lagi. Perlahan Tio mengangkat kepalanya." Orang di kampung halaman sebenarnya telah lama melupakan mereka berdua. pulang ke tempat asalnya. Tidak menjadi bahan percakapan lagi. . Matinya. Kemudian dengan tidak dapat dilawannya. tenggelam." Sedang ibu Ronggur. karena terus menerus menanggung rindu dan tidak tahan mendengar ejekan yang diarahkan pada anaknya dan padanya sendiri. Jaluran famili yang harus kuhormati. lembah perkampungan. Tangan kiri Ronggur menggendong anaknya. Arwahnya akan disumpahi Mula jadi Na Bolon. tangan kanannya memeluk pinggang Tio.Lama Tio terdiam. sudah tentu. Mendambakan bahagia dalam hidupnya. mereka jaluran paman anakku. Kemudian sama-sama mereka mencampak pandang ke lembah di bawah. Kenangan terhadap mereka bertambah tipis lalu menghilang bersama bertukarnya penanggalan hari. tidak berapa lama setelah Ronggur dan Tio berangkat dulu. Orang melupakan mereka dengan ucapan yang tumbuh dari kepercayaan mereka: "Dikutuk dewata dan para arwah. karena dia seorang ibu yang melahirkan anak durhaka." jawab Ronggur. “maukah kau membawa sisa warga margamu ke tanah habungkasan?" "Tentu. "mereka anak manusia seperti kita. menggendong anaknya. "Ronggur. Oi ujung kaki duduk si belang menjulurkan lidah." kata Tio. menatap ke arah yang sama. ke hadapan Mula Jadi Na Bolon. dan timbulnya kembali purnama. Bertatapan dengan Ronggur. Dia mengisak di sana. Dan di samping itu. apalagi anakku. Tanpa mengatakan sesuatu. Ronggur mengelus rambutnya dengan sebelah tangan. mati terkutuk.

dia telah dilahirkan untuk menyampaikan kehendak dan pesan dewata. Dia masih tetap percaya. Ronggur dan Tio akan kembali membawa berita ria. berakhirlah hidupnya. dan anaknya tidak pulang juga. "Bukankah kau yang membuat ayah si Ronggur menemui ajal. arwahnya akan tidak diterima Mula Jadi Na Bolon dengan baik." Orang lalu tertawa. "Sudah pulangkah Ronggur dari tanah habungkasan? Sudah ditemuinya tanah habungkasan yang dijanjikan setan itu? Kapan pulang.Pada mulutnya. Meneliti pundak bukit dan celah bukit yang ada di sebelah timur. dia tidak punya apa-apa. Ronggur anak yang memperoleh petunjuk secara langsung dari dewata. Dia anak yang berbahagia. tidak bosannya. selalu disahutnya dengan baik. Karena para dewata tidak diberi tahu atas kematiannya. Orang percaya. membuat kemauan hidup melemah. Para dewata tidak akan datang menjemput arwahnya ke tempat yang baik me lalui Sungai Titian Dewata. Tapi. Di saat mati." "Bukan setan yang menggoda." "Apa kau katakan? Para dewata mengganti setan? Patutlah ramalan tenungmu tidak ada yang benar. si anak durhaka itu?" "Dia akan pulang membawa berita ria bahwa tanah habungkasan yang dijanjikan para dewata telah ditemuinya. melalui pukulan gondang yang dipalu dan mengorbankan beberapa ekor babi serta ayam putih. Tapi. ibu tua itu masih mengharapkan anaknya cepat kembali. bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan. Lalu. Tapi. Hingga dia dikebumikan tanpa upacara dan gondang. setiap hari mencampakkan pandang ke arah matahari terbit. Kemudian orang itu me lanjutkan. karena kau ajak dia menyusuri Sungai T itian Dewata?" . setelah beberapa kali purnama tenggelam dan terbit lagi. Pertanyaan yang sebenarnya berupa ejekan yang diajukan orang padanya.

menjadi orang buruan. bila tertangkap. Malah waktu marganya sendiri harus berperang karena memperebutkan hutan di teluk danau itu. Sedang yang sempat melarikan diri. yang berakhir atas kemenangan marganya. tenaganya tidak diminta orang membantu marga. Si tua gila. Orang yang kalah. Berita yang datang dari kampung sekitar. harus pula membayar upeti pada kerajaan marga mereka. orang menjadi ramai tertawa lalu pergi sambil berkata. Memutih uban. Orang tidak mengacuhkannya lagi. Orang membiarkan menatap ke arah matahari terbit setiap pagi. baik mengenai perdamaian. akhirnya harus membayar upeti pada kerajaan marga. dan antara satu lunak dengan luhak lain tidak disampaikan orang padanya. pergi ke kaki bukit terpencil. Orang tidak memanggilnya ke pertemuan marga dan ke sidang kerajaan marga. dijadikan budak belian. Persawahan dan perkampungan tambah banyak mereka kuasai. lalu meminta damai sete lah melepaskan haknya atas apa yang diperebutkan. Aku akui. waktu itu pun. "Orang gila. begitu pula mengenai peperangan yang terusmenerus meletus. Sehingga sudah sampai di pundak. tekadku kurang kokoh waktu itu. Pipinya cekung." Mendengar sahutan begitu. Ayah Ronggur menemui ajal karena kecelakaan itu. yang dapat dihancurkan kerajaan marganya. Marga yang dikalahkan marganya itu. ke tanah batu yang sama sekali tidak baik dijadikan persawahan. dia seperti tidak ada lagi. Orang tua itu membiarkan rambutnya panjang. antara satu suku dengan suku lain. dan kaya. antara satu marga dengan marga lain. Aku meloncat dari biduk membuat keseimbangan biduk hilang. mencakapinya. . kuat. Malah orang sudah sependapat. lama kelamaan orang tidak mau lagi mengganggu.“Kami mengalami kegagalan yang mengakibatkan kecelakaan itu. Sedang kerajaan marga yang tidak sempat dihancurkan. Membuat marga mereka menjadi lebih berkuasa." Tapi.

Terlebih karena dia meneriakkan. sampai orang pada tercengang. Atau apa yang telah terjadi? Warta apa yang akan datang? Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Diputuskan untuk mengirim kurir penunggang kuda." Orang bertemperasan ke luar rumah lalu terus pergi ke gerbang kampung sebelah timur. pagi itu sinar mata tambah bening dan bersinar. Dan. Tidak melesu. Tanpa disadarinya dia bertempik dan berlari ke tengah kampung. . masih mengatakan bahwa itu bukan rombongan Ronggur. Tapi. sinar matanya tetap mengandung sinar kepercayaan. Karena gunung itu gunung angker menurut kepercayaan mereka. Setiap orang melahirkan anggapan dan duga demi duga. Mereka juga memang melihat ketiga titik yang bergerak itu. Dijauhan ada tiga benda kecil dilihatnya bergerak-gerak di kaki bukit sebelah timur. Ronggur telah kembali dari tanah habungkasan. Matahari bersinar terang. Pagi itu juga kerajaan marga mengadakan sidang. Menatap dengan patok ke arah yang dimaksud orang tua itu. Mereka bawa juga dua ekor lagi kuda. "Mereka telah kembali. Tapi. Kalau memang itu rombongan Ronggur supaya dibawa pulang. Mereka sedang menuruni kaki gunung sebelah timur. Tidak ada awan di langit. Belum pernah seorang manusia pergi ke sana. Namun setiap orang lebih menginginkan bersikap menanti. apa yang akan disampaikan penyelidik yang sudah dikirim kerajaan.Wajahnya bertambah lancip. tempat matahari muncul. Hati tiap orang tambah gemuruh. Apalagi bila orang menurun dari pundaknya. Sebanyak tiga orang penunggang kuda bergerak. Percakapan menjadi simpang siur. menyelidiki keadaan sebenarnya. Setiap saat benda yang bergerak itu mendekat atau menurun ke lembah perkampungan mereka. Apa yang akan terjadi. yang tidak punya beban. binatang liar lagi buas.

Bila senja telah mulai memerah di langit. tapi sayangnya pula anak yang telah dicoret dari silsilah marga karena digoda setan. ditumbuhi pohon kelapa berjajar. Dengan bantuan doa Bapak. telah kembali ke tengah mereka. Setiap hati tambah bertanya. mereka sudah dapat melihat kepulan debu mengepul ke udara. Suasana tambah tertekan. yang tidak pernah salah tafsir tenungnya. T ambah lama. Tapi. Setelah menuntun Tio turun dari pundak kuda. Tidak ada yang turun ke sawah. Dataran yang landai. Orang terus saja dapat mengenali bahwa penunggang kuda yang keempat. Sedang dipangkuan Ronggur. Setiap orang terdiam. mencampakkan sinar yang beraneka warna ke permukaan danau. Ronggur. si belang menjulurkan lidah. Tidak ada yang turun ke danau. Tanpa kurang sesuatu. Anak yang dikenal kecakapan. rombongan itu bertambah dekat. Tiap orang seperti terpacak di tempat masing-masing. mendekat pada orang tua yang berambut panjang putih itu. Ronggur melompat dari punggung kuda. Mereka memberi sembah. Kuda yang dua ekor lagi sudah ada penunggangnya. anakmu ini telah menemukan tanah habungkasan yang sangat luas lagi landai. lalu terus mendekat ke orang banyak. keberanian. bersama dengan bertambah merahnya warna senja. Anak yang sudah disangka mati dikutuk dewata. Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan. dan berusaha meruntuhkan kepercayaan mereka yang bisa membuat dewata marah. dan kekuatan serta keuletannya.Sampai sore orang semua tinggal menanti. ketabahan. telah kembali di tengah mereka. seperti pagar . Penyelidik penunggang kuda sudah pulang. Lalu dari mulut Ronggur keluar kata: "Bapak. Di belakangnya Tio menggendong bayi. juga menemui sebuah danau yang tidak bertepi tapi airnya asin. Namun sangat banyak ikan. Dia tidak langsung menuju ke tempat raja yang juga hadir di sana.

Tapi." "Anakku. Orang yang pergi ke sana. Tapi. tidak perlu takut kehabisan makanan." . memang mempunyai arus yang sangat deras. hutan belantara yang sangat hijau lagi luas. Sampai bertemu dengan kaki langit. itulah pula mula tanah landai. Tanah. namun tidak perlu takut kekurangan tanah. Bukan tanah tipis menyaputi batu alam. Tanah di sana tidak akan habis. Setiap orang bisa punya anak berpuluh-puluh. Tanah di sana sangat baik dijadikan persawahan. air harus menuruni sebuah lembah yang sangat curam. Bapak. "Di seberang ujung dunia. Di punggungnya. sejauh mata memandang hanya tanah yang landai yang tampak. tanah yang hijau tidak bertepi. jadi. Karena ada air terjun. Sungai Titian Dewata tidak pernah putus. Jadi aku tidak dapat mengatakan berapa keluarga. Setelah air terjun. tanah habungkasan. Lagi pula. Sungai Titian Dewata terus mengalir. tidak perlu berkelahi karena setitik air parit. memberi imbangan akan luasnya danau yang ada di depannya. Orang yang pergi ke sana.” "Di manakah itu. apa yang kita takutkan bahwa penduduk akan sangat padat sedangkan tanah begitu sempitnya karena penemuan tanah habungkasan ini tidak jadi persoalan lagi. Sungai Titian Dewata pada salah satu tempat. Sebenarnya bukan ujung dunia. Di sana kedamaian akan tercipta.tepian danau. karena setiap orang rajin bisa membuka tanah persawahan sesuka hatinya. membelah dada hutan belantara yang sangat lebat dan rimbun itu. Hutan menyimpan binatang buruan yang jinak. berapa keluarga yang dapat di tampung tanah habungkasan yang kau temui itu?" "Berapa keluarga? Ah. cobalah bapak bayangkan. Anakku?" tanya orang tua itu ber-napsu. alangkah gembur dan subur. semua keturunan si Raja Batak dapat di tampungnya sekaligus dan bersama keturunan yang akan datang tanpa menakutkan bahwa tanah garapan akan habis.

sehingga lahir dalam melaksanakan petunjuk dewata. Anakku?" "Ya. pun kerajaan. Sebenarnya hendak kubawa lebih banyak. orang tua itu lalu mengatakan: "Anakku. Menjamin keperluan mereka sebelum saat . "Waktu aku berangkat dulu dari sini." Orang banyak. aku memutuskan membawa tiga pundi saja sebagai bukti. Sekarang aku bawa tiga pundi padi yang bernas. lalu. Pertempuran yang sering terjadi antara satu marga dengan marga lain atau antara satu luhak dengan luhak lain. Setiap orang seharusnya mengucapkan terima kasih padamu dan pada Mula Jadi Na Bolon yang telah menciptakan tanah habungkasan itu. yang padinya begitu bernas. sehingga lahir dalam kenyataan. Tapi. hanya sepundi kubawa.Sambil menitikkan air mata bening karena gembira. Apakah buktinya bahwa kau telah menemukan tanah habungkasan seperti yang kau dustakan?" Ronggur mengeluarkan pundi yang tiga itu. Anakku. yang kemudian menimbulkan luka serta duka yang dalam dan lebih kejam lagi yang menimbulkan kemelaratan dan golongan tertindas. dari mata Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. di tanah habungkasan. karena perjalanan begitu jauh. memancar sinar kebencian dan dendam. kau telah mengatakan segala dusta. suaranya terus lantang: "Ronggur. baik penduduk biasa. Setiap orang akan memperoleh kebebasannya kembali mengerjakan tanah. bukankah begitu. Tapi. Bapak. T api. semuanya terdiam mendengarkan percakapan itu. lagi pula harus melalui pundak bukit dan celah bukit. kutinggalkan padi bagi keperluan orang yang mau pindah ke sana dalam taraf pertama. akan tidak perlu berulang. kau telah melaksanakan petunjuk dewata." "Terimalah ucapan terima kasihku padamu. Tiba-tiba saja dia berkata.

" 'Ke mana pergi gelang yang dipakai si Tio pertanda dia budak?. soal kepercayaan. betapa bernasnya padi ini. Bisa saja kau curi dari lumbung orang. marga yang dikurnia oleh dewata. Dialah isteri paling setia. Marga yang kuat perkasa lagi kaya ini. dapat dijatuhkan hukuman." "Aku tidak mempercayai cakapmu. Padi lebih cepat matang. perempuan yang paling setia dan tabah. itu semua. Inilah persoalan yang sangat berat. Dan. Karena persoalan. Pada orang yang melakukannya. Tiga pundi soal gampang. aku jadikan dia istriku. suara Datu Bolon memegang peranan yang penting. Dia telah kubebaskan." Kerajaan yang lengkap cepat saja mengadakan sidang. Wajah Ronggur memerah padam. kutuduhkan padamu dan aku meminta pertimbangan khalayak dan kerajaan. Kau telah membuat segala pekerjaan keji dan mengatakan kata yang keji. Kami telah dipersatukan Mula Jadi Na Bolon secara langsung. jadi persoalan. Lihatlah. Demi menghormati kesetiaan dan ketabahannya. Kau telah menghancurkan kepercayaan kami. Dia tidak akan pernah menjadi budak lagi. “Kita akan dikutuk para dewata dan arwah nenek moyang. Dengan suara menghentak. Dalamm rapat kerajaan. Dan. agar memilih bentuk hukuman yang pantas ditimpakan padamu. sewaktu kami tiba ke tempat jatuhnya air Titian Dewata untuk pertama kalinya. bila kita mau mendengar cakap dusta ini. mengutuk marga ini. Kalau tidak. Saat panen lebih pendek di sana daripada di sini. Kita dulu . "Tio telah menjadi isteriku. anak siapa yang digendongnya itu? Anakmu? Kau mengawini atau memilih seorang budak menjadi ibu anakmu?" Datu Bolon Gelar Guru Marlasak tersenyum mengejek. Kau telah mengawini seorang budak belian yang diharamjadahkan orang merdeka.panen tiba. Dan. para dewata akan murka. Tapi. kau telah mengatakan bahwa Sungai Titian Dewata tidak jatuh ke ujung dunia.

akan dipalu canang ke tiap kampung yang dikuasa i marga itu. akan memutuskan. Bayi diletakkan di depan. dan tak mau mendengarkan cakapnya. Bukankah kita sudah harus bersyukur pada para dewata dan arwah nenek moyang. Turut si belang menitikkan butir air dari matanya. mempengaruhi keputusan kerajaan. Tapi. suara anak menjadi parau. tuntutanku: Menangkap dan menghukum si Ronggur bersama budak belian itu. Hukum mati. menjadi daerah taklukan kita?" Segala saran yang dilancarkan Datu Bolon gelar Guru Marlasak. telah dua kali marga kita mengalahkan marga lain dalam peperangan? Hingga marga kita menjadi marga yang berkuasa. langsung di atas tanah. bila dia kembali ke kampung halaman ini. kuat. karena sebaik kita mencoret nama Ronggur dari silsilah marga. kaya. Karena dia telah mendustai kita dan dia telah membebaskan seorang budak marga tanpa persetujuan sidang kerajaan. Dekatnya si belang. Lalu . Lalu mengeluarkan perintah. Tambah lama. Ini perlu. besok pagi. yang telah membuat kita menang dalam peperangan tidak memurkai kita. dan dihormati setiap marga? Dan. Tapi. Si belang mendekatkan moncongnya ke mulut anak itu. Mendengar tangis bayi kecil itu. Apak kecil itu menangis sejadinya. akan menangkap menjadikannya budak belian. luhak kita. tidak saja perasaan Tio dan Ronggur serasa disayat. menangkap Ronggur dan Tio. Ronggur dan Tio diikat pada batang pohon mangga yang besar. mereka. tak seorang pun dibolehkan menyentuhnya. agar para dewata yang telah melindungi kita.si Ronggur. lalu sama menyaksikan hukuman mati yang harus dijalani Ronggur bersama T io. sekarang tuntutanku tidak sampai di situ. Telah diputuskan pula. karena mereka telah menghina kepercayaan. Agar pengaruh yang dibiuskan Ronggur tidak mempengaruhi orang untuk seterusnya. untuk mengumpulkan mereka.

Terutama setelah mereka memperoleh penjelasan langsung dari bekas Datu Bolon. masih datang menemui Ronggur. Raja Panggonggom tidak mendengarkan. Tangis anak itu mereda. asal dia mau." Tapi. Sampai basah. Segala alat yang dibawa oleh Ronggur dan Tio ditumpukkan depan mereka. Ronggur menolak sarat itu. Yang benar harus kukatakan benar.lidahnya dijulurkan si belang. Kemudian lidah anak itu secara langsung disapu lidah si belang. Bila fajar pagi terbit hukuman mati itu akan dilangsungkan. begitu pula sebaliknya. Raja Panggonggom bersama pengiringnya. mengusulkan agar Ronggur mencabut kembali semua yang telah diucapkannya. Mereka menegakkan kepala mendengar berita itu. Lalu lidah anak itu menjilat bibirnya. Semua akan dibakar. Tidak berapa lama setelah senja berganti malam. Sampai ke kaki bukit tempat orang melarat. begitu pula Tio dan anaknya. juga ketiga pundi padi itu. Sehingga air dari lidah si belang berpindah ke lidah anak itu. Hukuman bisa dientengkan. tempat orang yang tidak berpunya. tak perlu hukum mati. Cepat saja berita yang dibawa Ronggur dan Tio menjalar ke mana-mana. Malah dikatakannya: "Aku tidak dapat membenarkan yang salah. Disapukannya ke bibir anak. setelah saran Ronggur ditolak kerajaan marga mereka. . Percayalah padaku. Bila matanya dicampakkan ke arah T io dan Ronggur. merasa gembira dapat mendiamkan tangis anak itu. Tapi. Supaya bekas dari kejadian itu tidak tinggal sedikit pun. dan tempat persembunyian orang buruan. Paduka Raja. Ronggur harus bersedia menjadi budak. si belang memperoleh senyum terima kasih dari tuannya. Si belang meringis kecil.

sepuluh orang lelaki yang kuat tubuhnya. Mereka semua akan menjadi orang yang sia-sia turun-temurun. Unggun api sudah mulai mengecil. Tiba-tiba saja si belang menggonggong. Malam sudah jauh. mereka dapat melihat di mana Ronggur dan Tio diikat. harus melepaskan mereka dari ancaman maut itu. Mereka harus membela Ronggur dan Tio.Bekas Datu Bolon itu mengatakan pada mereka bahwa yang mengetahui jalan ke tanah habungkasan itu hanyalah Ronggur." Ronggur memberi isarat. Orang yang tidak berpunya dan orang buruan telah menantikan mereka. Tali temali yang mengikat Ronggur dan T io. bersama bekas Datu Bolon di kaki bukit. Lengkap dengan senjata masing-masing. Malam itu juga. Dari celah bambu duri. mereka putuskan. Sehingga si belang duduk dekat kakinya dan diam. suruh si belang diam. Setelah mengucapkan terima kasih. dijaga tiga orang pengawal. "Ronggur. menyelusup ke induk kampung marga Ronggur. Keadaan sunyi. Seseorang terus mendekat ke tempat Ronggur. Mati terbunuh. Karena mencium bau orang yang datang mendekat. Bila Ronggur mati dibunuh orang yang tidak dapat mendengarkan penemuannya. Mereka gendong bayi lalu mereka melarikan diri. Ronggur bertanya. lalu membisikkan. Membuat ketiga pengawal itu terjaga. sekali sergap saja. ketiga pengawal yang sedang mengantuk itu tidak berdaya lagi. "Apa. maka tanah habungkasan itu akan kembali hilang. Dan. Orang melarat dan orang buruan yang tinggal di gua kaki bukit itu akan selalu lari ke mana saja berpencar bila tentara kerajaan marga Ronggur datang menangkap mereka. yang harus kita perbuat?" . lebih baik mati menempuh jalan menuju ke tanah habungkasan. akhirnya memutuskan: Daripada mati dibunuh dan diburu di dada tanah batu yang gersang. Setelah mengitari kampung dan meneliti. akhirnya mereka kembali tidur sambil menyepak si belang.

tidak dapat menerima kebenarannya. ingin melihat tanah habungkasan dalam kenyataan. Mereka sudah tahu. harus kau sampaikan pada setiap orang. yang dipercayai beserta laskarnya yang terkenal keberanian dan kekuatannya. Sidang kerajaan dengan berangsangan.Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan»berkata. Menyuluh jalan jurang dan lembah dalam. belum pernah marga kita dihina orang begini rupa." kata Ronggur." Bergeraklah mereka malam itu juga. Bapak juga walau dengan berjingkat." "Ya. Memegang obor. tangkap mereka. orang buruan ini karena kalah perang. Sedang di induk kampung marga Ronggur. Tanpa memandang dari marga mana mereka. Aku ingin melihat apa yang dibisikkan para dewata padaku. Merekalah yang berhak menerima berkah darinya. Kalau sebagian orang tidak mau merasakan arti yang dikandungnya. karena aku sudah sering melihatnya dalam mimpiku. Bapak akan ikut. otot mereka yang kencang itu dapat kembali digunakan mengolah tanah. Membunuh setiap orang yang memberi bantuan pada Ronggur dan Tio." "Bapak juga harus ikut. "Berita yang diturunkan para dewata padamu. "Bila mereka menemui Bapak. Raja Nabegu memerintahkan Hulubalang yang terkemuka. Mereka inilah orang yang tidak berpunya. Ayo. Bawalah mereka ke tanah habungkasan. dari golongan mana mereka. mengejar dan menangkap Ronggur dan T io kembali. maka orang yang mau mendengarlah yang berhak menerima berkat darinya. bunuh setiap orang yang memberi bantuan padanya. Bapak juga hendak mereka tangkap dan bunuh. Ronggur dan Tio bersama anaknya dan si belang sudah lari. yang mau mendengarkan berita penemuanmu. Membangunkan setiap orang. dipalu gong. Sehingga mereka dapat kembali mengecap alam kebebasan. . Dan.

Sedang Raja Panggonggom. Mereka harus membunuh setiap anggota rombongan Ronggur dan menawan Ronggur hidup-hidup. agar arwah laskar yang wafat itu mengutuk perbuatan Ronggur dan Tio. rombongan yang memburu telah tampak di kaki bukit yang mereka taklukkan. Rombongannya merasa aneh juga terhadap tindakan begitu. Dia harus diimbangi dengan kelicikan pula. Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Orang yang memburu juga terus bergerak. Di sana mereka istirahat. Pundak bukit pertama telah ditaklukkan. untuk dihadiahkan pada sidang kerajaan. Kepada ketiga anak raja itu. Malah . Menandakan pada yang memburu bahwa mereka ada di sana. Raja Panggonggom memesankan dan mengingatkan bahwa Ronggur punya cukup akal yang licik. Ini tidak. Rombongan terus bergerak. agar mencelakakan Ronggur dan Tio bersama rombongannya. Tempik dan sorak. yang kelak menggantikan sebagai Raja Panggonggom bila dia wafat. tetap menyuruh agar mengadakan tanda. Untuk sama-sama dibunuh oleh tiap warga marga. Maunya mereka menghilangkan jejak. kemarahan dan hasutan. Malah dimintanya. memerintahkan anak lelakinya yang sulung. Di sana disembayangkan. agar orang menghidupkan api. Ronggur menyuruh. Matahari semakin tinggi. Supaya orang yang memburu dapat mengikuti jejak dan jalan mereka tempuh. Malah bermalam. Di kala fajar pagi pertama menyingsing. turut serta dalam rombongan yang harus menangkap Ronggur dan Tio serta membunuh setiap orang yang memberi bantuan padanya. jalan mana mereka tempuh. Pada pagi berikutnya. anak lelaki Raja Nabegu dan Raja Ni Huta. Yang diharapkan dipunyai oleh anaknya. Sedang Ronggur. bergeraklah orang yang bertugas memburu rombongan Ronggur. mengepulkan asap. cepat mengusung bangkai laskar marga yang telah mati ke Sopo Bolon. dialamatkan pada rombongan Ronggur.

Sambil hasut menghasut. hingga musuhnya dapat menjatuhkan batu untuk membunuh mereka. Pada hari ketujuh. Dendam kesumat pada rombongan yang memburu tambah menghebat. Bila rombongan yang memburu sudah berada di pundak bukit pertama. Begitu terus-menerus. Matahari kembali melemah. tapi dipisah lembah yang dalam. Senja memerah. rombongan Ronggur sudah kembali mendaki ke pundak bukit kedua. mereka pun mulai bergerak. Lapangan datar hanya beberapa depa saja. Kemudian malam. Tapi. karena merasa diperma inkan. karena Ronggur sungguh-sungguh menyuruh. dapat dilihat. Sedang Ronggur hanya tersenyum saja. Tanpa menjatuhkan batu untuk menghancurkan yang memburu itu. Bermula terus jurang. Rombongan Ronggur istirahat. Bila rombongan yang memburu mulai mendaki bukit. Setiba di balik bukit terus jurang dalam. mereka laksanakan juga dengan sebaik mungkin. rombongan Ronggur telah melewati celah pertemuan bukit. bila musuhnya berada di pundak bukit. Begitu pula rombongan yang memburu. Begitu terus menerus. Takut jatuh ke jurang dalam. agar rombongannya tidak berada di dasar lembah. Juga diusahakan. Dari baliknya. Harus memenggok ke kiri. beberapa jauh harus melalui di satu jalan . Tidak ada yang berani melanjutkan perjalanan di malam hari. Ronggur tetap mengusahakan. Terkadang antara kedua rombongan terjadi saling panggil-memanggil. agar kedua rombongan selalu dipisah lembah. rombongan yang diburu dan memburu kembali bergerak. Kedua rombongan dapat bertatapan. Rombongan Ronggur menghidupkan api unggun. Begitu pula rombongan yang memburu.memberitahukan pada musuh di mana mereka berada. di bawah melalui pundak bukit yang menurun tanah habungkasan. Tapi. yang merupakan pintu ke tanah habungkasan. Bila fajar kembali terbit.

disuruhnya pergi ke mulut celah bukit. Menantikan rombongan yang memburu. sebuah tombak balasan melayang ke bawah mengenai . baik perempuan. Setiap orang. Semua orang mengerjakan perintah Ronggur. disuruh Ronggur membuangnya dan menyampakkannya jauhjauh. anak Raja Ni Huta. mengambil kesempatan.sempit. Dengan lantang. setiap orang yang memakai gelang pertanda budak. Rombongan yang memburu terus saja mengejar dengan semangat meluap. Mereka terjebak sudah. Setiap orang ternganga melihat putihnya air terjun yang menerobos bukit sebelah timur. Sedang dua tiga orang. pada satu tempat yang tidak menguntungkan. "Letakkan senjatamu. Tiap orang disuruhnya menyiapkan senjata yang ada di tangan masing-masing. yang diapit oleh bukit dan dinantikan mulut jurang menganga. Di depanmu jurang dalam. Ronggur berteriak. Boleh pilih." Rombongan yang memburu mengutuk pada diri sendiri. disuruhnya memilih batu alam. mula jalan menurun yang baik menuju tanah habungkasan. mereka telah ada di bawah rombongan Ronggur. Kemudian orang yang tidak bersenjata. agar rombongan yang memburu itu mendatangi celah bukit. Ronggur menyuruh tiap orang berondok ke sisi bukit. Mendaki sedikit ke atas. di saat begitu. Dengan terpaksa harus membuang senjata yang ada di tangannya. Dan. yang bisa digulingkan. Memberi tanda pada mereka. Lalu setiap orang mengucapkan rasa terima kasihnya. Tapi. Juga dari sana dapat ditatap air terjun yang memutih. Ke jurang dalam. Ronggur cepat berondok ke balik batu alam. Dan. Dan. Melewati celah bukit. Lengkap senjata terhunus di tangan. Setiap anggota rombongan Ronggur kagum menatap tanah datar yang luas dan hijau di bawah mereka. menyerah atau mati. Baru tiba kembali ke jalan yang agak luas. Kalau tidak kamu sekalian akan kami bunuh. Cepat berpaling dan melayangkan tombaknya ke arah Ronggur.

Pergunakanlah mata kepalamu. yang lalu jatuh ke mulut jurang dengan pekikan meninggi. Lihatlah sekarang dengan mala kepalamu sendiri. menyerah atau mati. di saat mereka terjebak pula. warta dari mula kehidupan. telah menyaksikan kebenaran cerita Ronggur. yang tidak punya kekuatan untuk menerima sesuatu warta kebenaran. benda memutih dikejauhan yang terus menerobos ke timur. di depanmu jauh di bawah sana. Dan. dengan terpaksa mencampakkan semua senjatanya ke mulut jurang." Anggota rombongan yang memburu itu. membelah kehijauan hutan belantara itu. Dengarlah dengan kupingmu sendiri. apakah Sungai Titian Dewata berakhir ke ujung dunia? Dan. kalau kau sekarang mau membunuh kami. Sekarang mereka dengan mata kepala sendiri. dia mengatakan: "Ronggur." “Lihatlah. Tapi. Justru karena warta itu bertentangan dengan kepercayaan yang kau anut selama ini. luasnya tanah hijau yang landai.anak Raja Ni Huta. Harus tunduk pada Ronggur. yang airnya asin. Sekali lagi Ronggur berteriak. merambah jalan ke danau yang maha luas. tapi banyak ikannya. derum air terjun yang jatuh. Apakah kalian masih belum percaya?” Orang yang memburu pada terdiam dan tercengang. Mulut mereka ternganga. kelanjutan Sungai Titian Dewata. itu . Hulubalang yang memimpin rombongan itu. Dan. Kalian semua berada di tempat yang tidak menguntungkan. Mereka disuruh Ronggur menghadap ke arah jurang. Lalu kedengaran suaranya meninggi: "Kau para lelaki yang kuat. Setelah menundukkan kepala tanda memberi hormat. berpaling ke arah Ronggur. "Pilih antara dua. kau telah bisa melakukannya tanpa sesuatu halangan. di sebelah kananmu itulah air terjun yang kukatakan. seperti yang kuceritakan padamu.

Kau telah gagal mewartakan berita penemuanmu secara langsung. ada sesuatu hal yang menguntungkan dalam saat ini. Hijaunya telah kutatap. Untuk itu kami sewajarnya menerima hukuman. Yang sebenarnya juga anggota keluarganya. Dalam keadaan begitulah Ronggur memanggil orang tua. dan bau kesuburan yang mengambang darinya telah kuhirup. Tanah luas masih tersedia untuk mereka walaupun aku mati. "Nasib mereka berada di tanganmu. Tanah habungkasanmu. marga yang masih merdeka." Seketika keadaan hening. sekarang kau memperoleh jalan lain untuk mewartakannya kepada orang lain di kampung halaman." "Bagaimana caranya. bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan ke dekatnya." Ronggur membiarkan Hulubalang itu terus berkata. Akulah yang pertama harus kau bunuh." katanya. "Kami telah me lihat air terjun yang kau ceritakan. Dengan sendirinya pula mewartakan kepada kelompok marga lain. Ujung dunia yang kami sangka selama ini. Justru karena aku telah melihat kebenaran ceritamu. Sesuatu perasaan yang bertentangan tumbuh dalam dada. Yang melanjut dengan. Tapi. Aku pemimpin rombongan yang mengejarmu ini. Kau bisa menentukan. Aku akan tidak menyangsikan hidup anakku lagi. "apa yang harus kuperbuat sekarang?" Lama orang tua itu terdiam. Tapi.memang hakmu. dan kami tidak punya kelapangan hati mendengar warta kebenaran darimu. apakah mereka masih berhak hidup atau mati. mula tanah datar yang maha luas. Baru mulutnya mengatakan. sebagian ingin menuntut balas. "Bapak. tapi sebagian lagi memberi pertimbangan lain. Lama Ronggur menatap tawanannya yang hendak menangkap pada mulanya. Tapi matiku telah merasa senang. Bapak?" . Kami telah mengikuti ajaran yang salah. Ronggur. bagi Bapak.

harus dibebaskan dari perbudakan. Semua orang berhak memperoleh tanah. akan sama dengan nasib Raja Ni Huta. "Saran yang baik. memang begitu menurut adat kita. Lalu disambutnya. tidak boleh dilupakan. Tidak boleh dihalangi. sejauh kita merantau." Tersenyum Ronggur memperoleh saran itu. raja atau apa saja. aku harus menuntut pula bahwa semua keturunan marga Tio. Dan. Siapa saja di antara mereka yang punya hasrat pindah ke tanah habungkasan harus dibolehkan." "Ya. "Di samping itu." "Lalu. Itu sangat penting." kata Ronggur pula. kesatuan marga Tio sudah menjadi moraku. Karena bagaimanapun seperti adat kita."Tawanlah anak Raja Panggonggom. harus dikembalikan. Bila mereka tidak juga mempercayainya. Tugaskan padanya agar dia mewartakan pada kerajaan marga atas kebenaran ceritamu. seluas dan selebar yang sanggup dia kerjakan. Kemudian suruh pulang Hulubalang itu dengan pengiring kecil. agar mengembalikan tanah persawahanku. Bapak tahu aku telah mengambil T io menjadi istriku." Orang tua itu menundukkan kepala mengiakan. namun bona nipasogit. "aku harus menuntut pada kerajaan marga. Tidak memandang apakah dia seorang budak. yang dulu disita kerajaan dariku. Bapak tahu." "Ya. maka nasib anak Raja Panggonggom dan anak Raja Nabegu. Juga segala harta milik Bapak yang disita dulu. anak Raja Nabegu. Semua orang berhak. kebenaran penemuanmu. Sesuatu harta pusaka turun-temurun yang mulanya dirambah nenek moyang. Mora yang harus kuhormati. "Dan." "Karena itu. Sedang ." sahut orang tua itu cepat. Semua marga berhak. itu sangat baik. Dan akan kutambahkan bahwa tidak marga kita saja yang berhak datang ke tanah habungkasan. harus dijaga dan dipelihara.

aku akan bekerja keras menginsafkan orang. tanpa sarat itu pun. Sedang rombongan Ronggur. Mengiakan. nama tempat itu mereka sebut Porsea. Kemudian rombongan lain bertambah banyak menuju tanah habungkasan. Malah dengan sadar dia menambahkan." Lima orang dari anggota yang memburu itu." Hulubalang itu menyanggupi akan menyampaikan pesan. Sejak itu. Jalan tempuhan.orang yang tidak bisa pindah karena sudah tua atau karena alasan lain. Bila mereka sudah sampai di tempat yang mereka namakan . untuk berbakti. Mewartakan. Berilah kesempatan padaku. telah terbuka tembusan jalan baru. Itulah sarat yang harus disampaikan Hulubalang pada kerajaan marga." Orang tua itu tersenyum. Yang lima orang itu pun telah bersedia menjadi saksi atas kebenaran penemuan Ronggur. tambah lama. utusan kerajaan sudah harus ada yang datang menemui mereka ke tanah habungkasan. Tapi. ditambah pasukan kerajaan marga yang sudah insaf menuju ke timur. kebenaran penemuanmu. Segala hasil pembicaraan disampaikan Ronggur dengan suara lantang pada Hulubalang. ditunjuk Ronggur mengiringi Hulubalang menuju kampung halaman. "Karena aku sendiri telah melihat kebenaran ceritamu. Utusan kerajaan marga. Baik melalui sungai atau jalan darat. Selalu mereka mengadakan upacara di pangkal sungai. tidak hanya yang dirintis Ronggur saja yang mereka kenal. Daerah lain tambah banyak ditemui. apakah saran itu diterima atau tidak. mempertebal keyakinan bahwa mereka akan dituntun para dewata dan arwah nenek moyang ke tanah habungkasan. harus dibebaskan dari perbudakan. boleh kelak menempuh jalan yang mereka tandai. Yang ditambahnya pula: "Dalam jangka dua purnama. ke tanah habungkasan.

Dari Parhitean. mereka akan tiba ke Parsoburan. Bila mereka meneruskan perjalanan. bila menuju ke arah barat. mereka akan tiba ke Daerah T angga. Dari Mandailing. Tarutung. Lalu bisa kembali ke Toba.Parhitean. Dari sana. Dari pesisir Sibolga. di mana rombongan Ronggur membuka perkampungan. tembus pula ke Rura Silindung. menurun ke pesisir Barus. mereka terus pergi ke arah timur. Dan. berarti turun ke daerah Mandailing Raja. yaitu Rao-Rao. Bila terus menyusur bukit sebelah barat. Mereka tiba ke Pangkat. akan tiba ke tanah habungkasan yang ditemui Ronggur. Satu menuju Tanah Karo. airnya asin. dapat mereka kenal pundak bukit yang ada di bagian pundak mereka. pundak pegunungan Toba telah dapat mereka tatap . terus menurun dari sana ke pesisir Barus. Dari T iga Dolok. tiba ke dataran tinggi Bonjol. sampai ke daerah perbatasan Sumatera Barat. berteluk indah. bisa mereka buka dua persimpangan. Sedang bila kembali ke arah utara dari Rao-Rao. pesisir Sibolga. Menembus terus ke daerah AngkolaSipirok-Pahae dan tembus ke Silindung. Terus ke selatan. satu lagi menuju Dairi-Pakpak. pundak bukit di lingkungan Danau Parapat. Tarutung. Dari sana dapat mereka tatap pundak bukit yang tiga. bila mereka memenggok ke selatan. lalu mereka namakan itu Tiga Dolok. jadi bila mereka menuju ke sana. Bila mereka dari Parhitean menuju ke utara. mereka menemui pula sebuah danau yang luas. bila mereka kembali mendaki pegunungan utara. kembali tiba ke lingkungan Danau Parapat. Dari Dairi. akan menaklukkan pegunungan sebelah barat. Sedang rombongan yang berangkat dari Pangoruran Samosir. telah menaklukkan pegunungan Pangaribuan. bisa turun kembali ke Pulau Samosir. Di sini mereka bertemu dengan rombongan yang sejak Parsoburon terus mengarah Barat. bila mereka terus menurun. Dari sana terus menembus ke daerah Simalungun.

Padang Lawas. dataran lain. Dari Angkola. bila menembus ke selatan teru s. merambah jalan di bawah naungan dedaunan belantara yang menghijau lebat. Menerobos celah pertemuan bukit memanjang. yaitu dari Tor Simago-mago. telah dialihkan semangatnya untuk menaklukkan pundak demi pundak bukit. Untuk menemui danau yang maha luas. yang tidak sedikit mengorbankan nyawa. akan tiba ke daerah dataran yang luas. sampai bersedia mengorbankan pertarungan demi peperangan. ccdw-kzaa Daftar Istilah Ambalang= tali pelempar batu Ama Ni Bolpung= ayah si Bolpung Ampangngardang= juru perdamaian Ampataga= obat (luka) nama sejenis tumbuhan biasa dipakai untuk Berandak= bersembunyi/berlindung Bernas= berisi/berarti Bolatan= destar . daerah Asahan-Labuhan Batu. Semuanya untuk kelanjutan kehidupan dan mengembangkannya.dan kenal kembali. dan punya binatang buruan yang jinak lagi banyak. Kemauan mempertahankan dan melanjutkan kehidupan. untuk menemui dataran luas. yang menyimpan ikan banyak. mereka bisa bertemu dengan orang yang berangkat menuju tanah habungkasan yang ditemui Ranggur. berhutan subur. Terus ke selatan. Airnya asin mengandung garam.

berdada kuning Curup= cerutu Dibuhul= diikat Dolok= gunung Gelagah= rumput yg panjang Habungkasan= tanah baru Luhak= daerah Mora= keluarga pihak isteri Mula Jadi Na Bolon= T uhang Yg Maha Esa Parhelaan= pesta adat (hela= menantu pria Parhitaan= jembatan/perantara Pargaul=luwes Pargounci= grup yg memainkan gondang Patentengan= sombong ...Bona Ni Pasolgit= kata ganti untuk kampung halaman Buhul = ikatan Bungkas= pindah Burung Ambaroba= burung pemakan padi. Pisau Gajah Lompak= pedang sakti Pohon Hariara= pohon beringin Purada= jumbai-jumbai warna keemasan pada ulos Raja Ni Huta= kepala kampung Sampuran Harimau= air terjun si harimau .. tidak terbaca sobek...

terdiri dari bermacam daun mentah. antara lain daun pepaya serta gula merah dan lainlain.Sopo Bolon= rumah besar (rumah adat) Sanduduk = rumput putri malu Temterasan= lari kucar kacir Terhempang= terhampar Terpacak= tertanam/terpaku Tuhil= pahat Tongkat Panaluan= tongkat kepala adat (marga) Ura= makanan khas Batak. ccdw-kzaa .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->