Penakluk Ujung Dunia

Karya Bokor Hutasuhut Djvu, convert & Ebook : Dewi KZ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/ http://kangzusi.info/ http://cerita_silat.cc/

Penakluk Ujung Dunia Ayahanda Bokor menjadi mubaliq Islam di Tanah Batak. Karena itu, dia suka ikut menyusup hutan belantara, mendaki bukit dan lembah Bukit Barisan. Menyusup melewati Pintu Pohan, Parhitean, naik ke Tangga dan tembus ke Simalungun. Juga kembali melalui Dairi ke Tanah Samosir.

Dalam perjalanan, sering ngobrol sepanjang malam dengan para tetua, wakil masa silam, masih primitif, sederhana, tapi simpatik. Dengan para tetua itu. Bokor setempat tidur dan para tetua terus bercerita Di hutan, lembah, dan ngarai sudah biasa saja. Bertemu harimau dan binatang buas lain tak soal lagi. Dan, suatu kali, di suatu hutan, di atas dedahanan rimbun terdapat sarang tawon ruang pun memanjat poitu berusaha mengisap madu itu. Tapi, seseorang lantas ikut naik, memanjat pohon yang sama yang setelah bibir berdecap mengucap jampi, beruang itu menyisih . Dan, "Penakluk Ujung Dunia" berkisah pada sulitnya memperoleh lahan. Perang warga sering berkecamuk. Lantas Ronggur mencoba menerobos Sungai Titian Dewata untuk mencari daerah baru. Kepergiannya dikutuk karena melawan tradisi. Dan, setelah dia kembali dan berhasil menemukan daerah baru, justru dia akan dihukum gantung karena Ronggur tetap saja sudah melawan tradisi kepercayaan yang sudah hidup turun temurun. Sungguh menawan dan indah .... PENAKLUK UJUNG DUNIA Oleh: Bokor Hutasuhut Hak Pengarang dilindungi undangundang Desain Kulit: Sriwidodo Cetakan Pertama 1964 PT Pembangunan-Jakarta Cetakan Kedua 1988 Penerbit: PT Pustaka Karya Grafika Utama Jakarta

Sekilas Pengarang: BOKOR HUTASUHUT, lahir di Balige, Tanah Batak, Sumatra Utara 2 Juni 1934. Dalam catatan masuk HIS, hari lahir itu berubah menjadi 2 Juni 1933. Menurut ayahnya, H.A.M. Mangaraja Gende Hutasuhut, perubahan itu perlu jika ingin sekolah. Dalam catatan itu juga tercatat nama benar Buchari Hutasuhut agar kelak menjadi pengarang tafsir Quran. Sejak 1953 sudah menulis cerita pendek ke berbagai majalah sastera dan media budaya. Selain buku ini, juga sudah terbit buku "Tanah Kesayangan" dan "Datang Malam". Kini berdomisili di Medan.

kebebasan penghayatan kebudayaan modem dari tradisi sastra modern. Sehingga hasilnya bukanlah sekedar laporan anthropolis akademis. Rendra . Ia sangat sadar bahwa ia sedang menyelami dan melukiskan kehidupan masyarakat Batak yang unik tradisional kepada pembaca sastra modern pada umumnya. Satu pertanda bahwa ia mengerti betul-betul apa yang ia tuliskan. Marilah kita sekarang menikmatinya. plot. tetapi suatu karya sastra segar dengan latar belakang pengaruh tradisi kebudayaan Batak. Begitulah ia muncul sebagai sastrawan dengan gaya yang unik di antara sastraivan modern yang lain di Indonesia. Ia telah selesai melakukan wawancara dengan tradisinya dan dengan dinamika modern dari Indonesia Raya. tetapi orang Batak tulen yang menjadi sastrawan Indonesia. Ia bukan photo copy kebudayaan Batak. Sedangkan kebebasannya. Alangkah hidup detail-detail dari lukisannya. Formalitasnya.Kata Pengantar Bokor Hutasuhut punya gaya bercerita yang merupakan gabungan sifat formal dan bebas. segi memandang persoalan sebagai sastrawan modern. Ketelitiannya di dalam melukiskan detail-detail ia gabungkan dengan rasa harmoni seni dalam bercerita mengenai watak manusia. formalitas tutur kata bahasa lisan menurut tradisi Batak. lalu duduk dan menulis novel ini.

Tapi. Nyalanya meliuk ditiup angin. Angin pegunungan berhembus. Sengaja dikosongkan. Wajah para lelaki tambah jelas kelihatan. Tapi. Para lelaki tambah banyak berkumpul. yang hulunya berukirkan wajah dan kepala manusia. wajah yang menampung sinar matahari penuh. memecahkan tanah batu untuk dijadikan persawahan. tampaknya saling diam. Kemudian kelompok manusia itu menjadi tambah hening. kepalanya dibeliti bolat-an berwarna tiga jalin-menjalin: merah. Senja baru saja berlalu. Tapi. serta dihiasi rambut manusia. di sebelah hulu. terselip .1 Satu-satu para lelaki keluar rumah. Hingga cahaya unggun api yang samar. langsung menjadi pagar kampung. satu sama lain. Tangan kanan memegang tungkotpanaluan. tidak ada bulan. Dari jauh kedengaran suara ratap para perempuan. Para lelaki itu membentuk lingkaran seputar unggun api. Di langit bintang gemerlapan. Halaman kampung menjadi luas. tidak ada yang berkerisik. yang dimasak kerasnya hidup sehari-hari. memenuhi panggilan suara gong yang dipalu sesekali dekat unggun api yang ada di halaman perkampungan. tempat penghuni kampung selalu berkumpul di saat yang perlu. Wajah yang cukup matang dan keras. Wajah para lelaki yang bermunculan di mulut pintu. Lebih dulu meliukkan pucuk bambu duri yang ditanam orang sekitar kampung. sewaktu enam orang lagi lelaki datang mendekat. cukup punya arti. putih. ditanam melingkar. setelah cukup dekat unggun api. Di pinggang. Bambu duri itu. Mengikuti lingkaran rumah dan di tengah dikosongkan. belum seorang pun mengambil tempat. Di saat Kerajaan Marga yang mendiami kampung itu mengadakan musyawarah. memancarkan rasa marah dan mendendam. dan hitam. Salah seorang di antaranya menyandang ulos-batak ragihidup. Gong masih dipalu sesekali. Dan.

yang memegang kekuasaan adat dan hukum tertinggi di perkampungan itu. pertanda dia Raja Ni Huta. Pertanda dia Raja Panggonggom. Dia juga menyandang ulos-batak. di marga yang mendiami kampung itu. yang sejak tadi dikosongkan. memakai bolatan warna putih. Raja Namora. Di belakang mereka bertiga. Sebelum duduk. dia mengaju tanya. lebih dahulu dia menancapkan tungkotpanaluan ke tanah. Juga dia menyandang ulos-batak. memakai bolatan juga. dan langsung memimpin para Raja Ni Huta dari kampung lain. warnanya hanya merah dan putih berjalinan. "Apakah sudah semua lelaki hadir di sini?" . Setelah mengangkat tangan kanan. mengiring pula Raja Partahi. Kuping sudah. pemegang pimpinan para panglima dan para hulubalang perkasa. Yang berjalan di sebelah kanannya. Di tangan kiri Raja Panggonggom. yang masih semarga dengan mereka. berjalan seseorang yang memakai bolatan warna merah saja.pisau gajah-dompak. tergenggam sebilah pisau yang ujungnya berlumur darah merah. Tempat mereka lebih tinggi dari yang lain. Di sebelah kiri Raja Panggonggom. pertanda dia Raja Nabegu. siap mendengar yang hendak diucapkannya. tapi raginya berbeda dengan ragi yang disandang fyaja Panggonggom dan Raja Ni Huta. Tapi. Mereka mengambil tempat di sebelah hulu. Sedang di tangannya. tergenggam tombak yang hulunya berukirkan kepala manusia. dan Datu Bolon Gelar Guru Mafla-sak. sedang mulutnya terus-terusan menguyah sirih dan meludah. Sedang Datu Bolon Gelar Guru Marlasak menyandang kulit monyet yang sudah kering. Raja Partahi dan Raja Namora. Raja Ni Huta yang memakai bolatan ini. tapi raginya berbeda dengan yang dipakai oleh Raja Panggonggom. pertanda mereka pemegang perbekalan marga. pengerah tenaga rakyat. Semua mata diarahkan padanya berusaha mengikuti gerak-geriknya.

pewarta bahwa dia sedang marah. Terus pergi melaksanakan perintah. Ratap inilah yang. "Sudah semua. "Ayoh. "Si Ronggur. Apakah harus aku yang pergi memanggilnya?" Hulubalang Muda cepat berdiri. Sedang dari kejauhan. Kembali Raja Panggonggom duduk. tapi bolatannya lebih kecil dari orang pertama. yang juga memakai bolatan warna hitam. hati yang berduka. membuat wajah para lelaki itu bermuraman. pusaka nenek moyang turun-temurun dielusnya seketika." sahut seseorang. Suaranya yang beruntum keluar dengan cepat. Raja Panggonggom lalu mengatakan.Setiap suku kata ditekankan kuat-kuat. tapi tidak berhiaskan rambut. Cepat saja diketahui bahwa tidak seorang pun perempuan hadir di antara para lelaki yang mengitari unggun api itu. muram mengandung marah yang menuntut dibalaskan. "Belum." "Si Ronggur belum hadir? Ke mana dia pergi?" Tidak ada yang menyahut. pergilah salah seorang dari kamu memanggilnya. dan menggenggam sebuah tombak. hulubalang muda." sahut seseorang. tangannya menggenggam tombak berukirkan kepala manusia. Dia berlari dengan langkah yang panjang dan cepat. Pertanda dia. tetap kedengaran sesayup sampai ratap perempuan. Tongkat panaluan. kepalanya memakai bolatan warna hitan. "Apakah sudah berkumpul semua pemuda di sini?" tanyanya pula melanjut. yang meratap kan kepiluan hati. "Siapa yang belum hadir?" tanya raja. pertanda dia panglima marga atau hulubalang marga. Matanya merah nyala. Tubuhnya yang sudah tua itu masih membayangkan bekas bentuk tubuh yang tegap di masa muda. yang langsung berdiri dari duduknya. disaputi kulit hitam .

dan sinar matanya masih tetap bercahaya. punya otot tubuh yang tegap dan masih berada di puncak kekuatan. kulitnya yang hitam." jawab pemuda itu. ototnya. "Aku dapat mendengar dan mengartikannya.yang cukup matang. yang tubuhnya setiap hari masih terus membentuk sebuah tubuh yang wajar. namun garis di wajahnya. Raja Panggonggom menggerutu. dan dari wajahnya memancar kebeningan tapi bercampur-baur dengan kematangan. sesuatu pertanda ketangkasan. bernadakan kepercayaan akan diri sendiri. para lelaki yang masih muda. segumpal daging yang dapat dipercaya kesehatan dan kekuatan yang terkandung di dalamnya. Walau ada di antara mereka yang agak kecil. Di hadapannya. juga sudah agak tua. Sedang para pemuda. Tapi. Wajahnya yang berkerut-kerut. "Apakah kau tidak mendengar gong dipalu? Apakah kau tidak mengetahui. wajah Raja Nabegu. yang duduk sejajar dengannya. "Kita harus menunggu anak itu lagi. apa arti gong yang dipalu dengan pukulan satu-satu? Apakah kau harus diajar untuk mendengar dan mengartikannya lagi? Bukankah kau sudah diajari Raja Nabegu?" tanya Raja Panggonggom cepat. "Kenapa kau tidak terus mematuhi panggilan? Kenapa kau melalaikannya? Apakah tubuhmu itu tidak dialiri darah merah yang diwariskan Almarhum ayahmu lagi?" . menjadi merah padam." Tidak seorang pun yang berani menambahi cakapnya. keningnya yang lebar. Sambil duduk. kenapa Ronggur tidak bisa hadir sebelum golongan raja hadir di sana. Para lelaki yang duduk di sampingnya. Paduka Raja. seperti merasakan sesuatu kesalahan. Dari jauh kelihatan dua orang pemuda mendekat. ma-nyambut kehadiran mereka.

merahnya. Supaya para arwah nenek moyang dan dewata tidak marah." "Tahukah kau bahwa ayahmu tidak pernah mengabaikan panggilan gong pusaka ini? Terlebih bila gong dipalu satusatu? Ataukah dengan sengaja kau melambatkan kedatanganmu karena kau bukan seorang lelaki? Jawab pertanyaanku dengan jujur. Menatap wajah demi wajah dengan pandang tajam. bagaimana aku harus melaksanakan perintah yang akan ditugaskan padaku. api semangat yang tidak boleh dipadamkan. barulah pula kau wajar dihormati sebagai seorang lelaki. aku sedang memikirkan. nama baik kampung. Otot yang tegap itu menjadi mengencang. lalu. dan marga kita. kau memang sengaja mengabaikan panggilannya?" "Aku tidak mengabaikannya." "Nah." Raja Panggonggom menebarkan pandang ke sekitar. Dan. yang pada tiap tubuhmu mengalir darah merah warisan nenek moyang. Dan apa yang harus kuucapkan dalam pertemuan ini. Kupingku mendengarkan suara gong pusaka. Tapi. . kenapa kau terlambat datang? Atau. Paduka Raja. "Semua lelaki yang ada di hadapanku. dibakar perasaan dalam hati. malah langsung membakar semangatku. Mata tiap orang menjadi merah dan gusar. dalam tubuhku mengalir darah yang diwariskan ayahanda almarhum. bila saat musyawarah diadakan."Masih." Orang terdiam mendengarkan. margamu. nama baik rajamu. Barulah kau dapat dikatakan seorang lelaki yang menghormati nama baik nenek moyangmu. kalau begitu dengar dulu kataku. Paduka Raja. Pada tiap wajah makin jelas kelihatan pancaran sesuatu cahaya yang tidak mau dipadamkan. Tubuh mereka berkeringat olehnya." "Kalau begitu." "Paduka Raja.

"tergenggam sebilah pisau. Tentu kamu turut mendengar ratap mereka. kemudian pada kelompok para lelaki. hendak kau katakan?" tanya Raja "Ya." lanjut Raja Panggonggom. Matanya dilayangkan pada kelompok pemuda. yang tadi pagi sengaja ditusukkan orang. Kalau paduka raja mengijinkan aku berbicara. Penghinaan yang harus ditantang dengan sikap jantan. "Ada yang Panggonggom. bagi kita para lelaki. ratap para perempuan itu." Ronggur berdiri. Mayatnya sekarang terlentang kaku di Sopo Bolon. Tapi. Dan. Berakhir dengan meledaknya ucapan. Kita terkutuk. Sekitar mayatnya duduk melingkar para perempuan. tidak saja kepiluan mendatangi diri." Suara mendengung pada kelompok yang ada di depan raja. Kuat meledak. memang untuk itu kita berkumpul malam ini. Para perempuan itu berduka. apa yang harus kami perbuat. dari antara kita. Yang menekan hati. sesuatu yang mengharapkan penuntutan balas. "Bicaralah____" ."Pada tangan sebelah kiriku. orang dari marga lain. kita tidak berhak lagi disebut dan dihormati sebagai lelaki. Meratap berkepanjangan. Sebuah penghinaan harus segera dilenyapkan. bila penghinaan yang sangat nista ini kita terima begitu saja. ke dada salah seorang dari antara kamu. bila kita tidak menuntut balas. Lalu tertumpu akhirnya ke tempat para raja. dengan darah merah yang memancarkan cahaya semangat yang tak akan padam pada tiap wajah kita. sehingga dia meninggal." suaranya tegas dan pasti. ratap yang menangiskan sebuah perpisahan. perpisahan yang timbul karena perbuatan orang lain. Ketahuilah. lebih berat mendatang dari penghinaan yang dengan sengaja diarahkan marga lain yang membunuh Ama ni Boltung itu. "Perintahkan dengan cepat. Supaya orang lain tidak berani mengulanginya terhadap marga kita!" "Ya.

Mereka menyerang sekaligus. aku jalan-jalan sampai ke kaki bukit. Dan." sahut Ronggur. "tapi yang paling perlu kita pikirkan sekarang. Tapi. Yang menjadi pokok persoalan sekarang menurut pendapatku. Soal yang sudah terlalu sering menimbulkan pertengkaran. "Soalnya. dapatkah Paduka Raja menceritakan pada kami. Dia masih sempat membawa korban. tempat terhormat. kenapa marga lain itu menancapkan ujung pisaunya ke dada Ama ni Boltung?" "Pisau itu mereka tancapkan ke dada Ama ni Boltung. Ronggur melanjutkan. Sudah sampai ke sana perluasan sawah. Dari keterangan Paduka Raja. tidak seorang saja. antara satu lu hak dengan luhak lain. Tambah sering mengganggu ketenteraman hidup? Mengganggu kerukunan hidup di pantai Danau Toba ini?" Semua terdiam. Juga karena pertengkaran mengenai perbatasan sawah. Tidak kurang dari dua orang yang menyerang dirubuhkannya. Tanah batu yang cukup . rubuh ke atas tanah. Juga raja. Yang menyerang Ama ni Boltung. Arwahnya tentu ditempatkan para dewata di tempat para hulubalang perkasa. karena persoalan pembagian air yang harus dialirkan ke sawah. hendaknya kita menelaah."Paduka Raja. dapatlah diketahui bahwa soalnya timbul karena pembagian air dan perbatasan sawah. seorang lagi luka pada tangannya. kenapa persoalan begitu rupa tambah sering kita hadapi. janganlah kita beranggapan bahwa Ama ni Boltung terlalu lalai menghadapi musuhnya. Tidak kurang dari lima orang ma lah. Tadi siang." "Kuhormati kepahlawanan Ama ni Boltung. karena semakin sempitnya tanah yang dapat kita garap. dicabutnya nyawa mereka dengan ujung pisau. yang sudah terlalu sering mengakibatkan pecahnya perang antara satu marga dengan marga lain. yang tanahnya bercampur batu. hingga Ama ni Boltung yang sudah kita kenal keberanian dan ketangkasannya berkelahi. mula atau sebab timbulnya perkelahian itu.

Inilah mula persoalan! Harus awal soal ini yang diatasi agar hal yang bisa menimbulkan perkelahian dan peperangan yang menumbuhkan luka dan duka di tiap hati dapat dihilangkan. Orang tambah berebut pada air parit yang dangkal agar sawahnya lebih dan dapat lebih banyak menghasilkan padi. membangun sebuah parit saluran air. Keringat kami juga turut membasahi tanah batu. mencari daerah baru tempat perluasan marga. "Kita harus mencari . Tapi. Tanah yang dapat kita kerjakan masih tanah yang dulu juga. soal sebenarnya sudah kita ketahui. ke mana kita harus mencari tanah garapan baru? Sekitar kita. Mereka melinggis pinggiran gunung batu. setiap orang menggunakan akal licik untuk memperoleh setapak tanah. tambah banyak mulut yang harus diberi makan dari hasil tanah yang itu juga. Kita tidak tahu. berakhir di mana . betapa sungguhnya tiap orang dan marga yang ada di sekitar danau ini mempertahankan hidupnya." kata raja. Berarti." "Apa maksudmu?" tanya Raja Panggonggom. "kami juga sudah mengetahui itu." sahut Raja Panggonggom mengatasi dengung suara itu.ya. Lihatlah. "jadi. Y ang taat melaksanakan pesan nenek moyang masingmasing." "Paduka Raja." Dengungan suara pun bangkit di tengah orang banyak. melingkar gunung batu yang tandus lagi tinggi. Tangan kami juga turut lecet karena mengayun pacul ke tanah berbatu. "Tapi." "Cukup. Tidak bertambah luas. Ini sudah terang menambah kesulitan hidup." kata Ronggur pula tak mau henti. Karena itulah. Kami juga turut bekerja. Mereka orang yang berani hidup. tiap suku tambah berkembang biak.keras itu mereka pecahkan dengan cangkul yang diayunkan kedua tangan mereka. supaya batu menjadi lumat agar bisa menghasilkan padi. melanjutkan hidup keluarga dan marga. "Usulmu memang bagus.

yang juga sejak tadi terus-menerus mengunyah sirih. Kita tidak dapat tahu." Dengung suara bangkit di tengah kelompok lebih gemuruh dari tadi. Lebih dulu ditatapinya wajah para raja. Setiap orang jadi merasakan. . Sambil meludah merasa jijik atas ucapan Ronggur. apakah masih ada tanah datar di seberang pegunungan ini. Ronggur sudah memancing kemarahan para dewata. Pegunungan ini berlapislapis. kita akan mengikuti sungai. bagaimanapun. Wajah Raja Panggonggom memancarkan sinar kemarahan." Ronggur tidak langsung menyahut. Lalu katanya dengan suara perlahan tapi pasti: "Menurut cerita nenek moyang. kemudian wajah para lelaki. Habis perkara. namun sinar wajahnya masih tetap memancarkan sikap keyakinan. beralih pula pada wajah pemuda sebayanya. Kutuk dewata akan tiba. T iap puncak dijaga para dewata. pagar alam yang sengaja dibuat para dewata. dikenal bernama Datu Bolon Gelar Guru Marla-sak. Karena itu. "Sungai Titian Dewata.gunung ini. Dan. yang dituliskan pada pustaka. Penjaga ini tidak senang pada orang yang berani melintas di sana. telah dipermainkan Ronggur. supaya kita tidak melintasi dan melewatinya. Siapa yang mau membunuh diri dengan pekerjaan sia-sia itu? Karena itu. harus berusaha pula meluaskannya. Dan. kita harus mempertahankan tiap jengkal dan tiap tapak tanah yang kita pusakai dan kuasai. yang bermula dari salah satu teluk danau. Caranya terserah pada kekuatan kita. Binatang buas akan membunuh tiap orang tanpa ampun. apalagi orang tua yang duduk di belakangnya yang menyandang kulit kera yang sudah dikeringkan. setiap sungai akan bermuara ke tanah landai." "Sungai mana?" cepat Raja Panggonggom memotong. karena mengganggu ketenteraman para dewata yang tidak tampak oleh mata kita. Tapi. yang menjelma menjadi binatang buas. Datu Bolon itu lebih merasakan.

Hendaknya. "Kita tadi dengan sengaja telah membuka satu percakapan yang cukup panjang. Sengaja diciptakan dewata untuk Titian Para Dewata menuju matahari. Sungai Titian Dewata. jalan arwah kita kelak ke dunia lain. Jadi. suatu kemurtadan. kalau kita tidak menuntut balas. orang yang dikutuk arwah nenek moyang. tempat Mula Jadi Na Bolon bersemayam. percakapan itu tidak langsung penyebab kita kumpul di sini. Alangkah sia-sia. semua rakyatku. Raja Panggonggom memberi isarat. terutama pula setelah suruhan kita diusir oleh marga yang membunuh Ama ni Boltung itu. Tempat terhormat. kalau kita tidak menghapus corengan arang yang di buat orang di wajah marga kita. Lihat. Raja Panggonggom kembali berbicara. Ronggur harus duduk. berakhir di ujung dunia. Sungai Titian Dewata. sidang kerajaan hari ini memutuskan: mengumumkan perang dengan marga yang membunuh Ama ni Boltung!" . pisau yang tergenggam di tangan kiriku ini. saat ini.Tapi. dia dapat mengatasi luapan marahnya. ke hidup lain. agar dia duduk. kau masih terlalu muda. masih basah malah. lalu mengatakan: "Ronggur. dengan sikap bijaksana yang melekat pada Raja Panggonggom. Darah Ama ni Boltung masih melekat di sini. Gong sudah tidak dipalu orang lagi sehingga ratap perempuan dari Sopo Bolo tambah jelas kedengaran. Karena kita tidak mau disebut orang murtad." Sikap Ronggur masih mau berbicara lagi. agar hidupnya di dunia lain itu berbahagia. di mana para dewata dan arwah nenek moyang bersemayam di sekita/ Mula Jadi Na Bolon. Anakku! Sungai Titian Dewata itu lain dari sungai biasa. Tapi. tiba ke sana. kita tidak dapat mengikuti Sungai Titian Dewata bila hendak mencapai tanah landai. Tapi. Karena perintah itu. Orang tambah merasa dipermainkan Ronggur. memendam semua yang ada di dalam hati. Tidak memberi kesempatan bicara lagi.

Raja Namora. Tangkaplah mereka di mana saja berjumpa. "Para perempuan. Wajahnya lebih tegas dan ganas dari Raja Panggonggom. mulai ma lam ini. dan Raja Ni Huta. Mereka sekarang sedang menyiapkan segala sesuatu mengumpulkan . Raja Namora. akan dikerahkan Raja Ni Huta menyediakan batu sungai peluru ambalangmu. . "Apakah seluruh rakyatku. . tunjukkanlah kehulubalanganmu. akan menyediakan alat peperangan untukmu. sebentar lagi akan berkumpul di sini. pendukung kehormatan marga.!" Kelompok kembali bersorak. . Sewaktu dia berbicara. Sedang Raja ni Huta. . Suaranya deras mengalir dan mengguntur: "Para hulubalang. . seluruh hulubalangku. "setelah mengebumikan mayat Ama ni Boltung besok pagi. dari kampung sekitar. Tunjukkanlah kebe-ranianmu. Janganlah siasiakan segala bantuan ini! Jadi." jawab serentak. Bunuh kalau melawan. sehingga suara ratap perempuan tenggelam.!" para lelaki dan pemuda bertempik sorak menyambut putusan raja. Raja Partahi. Raja Nabegu berdiri."Huraa . kampung yang didiami marga kita juga sebagai kampung perluasan. wajahnya menjadi merah dan matanya menyinarkan cahaya marah yang tidak terpadam-kan. lalu jadikan kampung perluasan bagi marga kita! Tawan rajanya! Jadikan budak setiap keturunannya . Setelah Raja Panggonggom duduk. diumumkan awal peperangan dengan marga yang sangat angkuh itu. akan menyediakan makanan bagimu. dapat menerima dan mendukung putusan ini?" "Kami akan laksanakan dengan gigih. Raja Partahi. rampas." kata Raja Nabegu selanjutnya. Rapat kerajaan hari ini. Padamu sekarang terletak tugas untuk menghapus corengan arang dari wajah kita masing-masing. akan membantu para hulubalang marga dari bidang masing-masing. Musnahkan kampungnya. .

pasukan untuk membantu kita. Menatap bala tentara yang sudah penuh semangat. sudah tergambar darah merah basah menetes dari tiap tubuh. "Kau Ronggur!" tegur Raja Nagebu. Tenunglah dengan kekuatan batinmu! Panggillah para arwah nenek moyang melalui kekuatan sihirmu agar mereka membantu kita dalam peperangan. Panggillah para dewata agar memberkati seluruh laskar kita." Kelompok kembali bersorak dan bertepuk tangan. sebagai pemuda marga. dia kembali duduk. Mereka." "Kalau kau pemuda. aku akan turut melaksanakan tugas. "masihkah kau seorang pemuda?" "Seperti tampak Paduka Tuan. Walaupun usulku ditolak." "Ya. Pergi menyembelih beberapa ekor babi dan mengeluarkan alat perang dari tempat simpanan. asahlah kapakmu! Tajamkan mata tombakmu! Perkuat tali ambalangmu. beberapa mayat bergelimpangan di tanah. bagus. "Ada di antara kalian yang tidak setuju dengan perintah ini. Raja Partahi dan Raja Namora sudah menyisih dari khalayak ramai. bisa . Sedang Raja Ni Huta telah menyediakan peralatan gondang. dengan putusan sidang kerajaan ini?" Tidak ada sahutan. Perbaiki perisaimu!" Lalu. adik-adik kita yang setia. Supaya kita berada di pihak yang menang. tentu kau akan melaksanakan tugas pemuda. Raja Panggonggom lalu mengatakan: "Bapa Paru Bolon Gelar Guru Marlasak. Pada bayang pandangnya. lengkap dengan pemain. Raja Panggonggom kembali berdiri. Ronggur menundukkan kepala. Apa sekalipun!" "Bagus.

telah kembali duduk di tempat semula. Maju ke tengah khalayak dan di sana membuka parhalaan. dan supaya semangat terus mengapi tanpa mau padam sebelum musuh ditundukkan. Tangan yang dua. memberi hormat pada arwah halus yang tadi dipanggil. Di saat itu. Raja Namora." Datu Bolon Gelar Guru Marlasak berdiri. mulai berdiri. tempat kerajaan baru khalayak ramai. Datu Bolon menemani mereka membasmi musuh. dirapatkan dikening.mengalahkan musuh. dan Raja Ni Huta. Setelah memberikan tanda. bersiap-siap mau manortor. palulah gondang somba-somba Gondang pun dipalu. gondang somba-somba. disemburkan ke sekitar. Orang pada berdiri. datanglah bersama kami bapak pargaul pargonci. Kepala mereka menunduk-nunduk. dijadikan budak belian. ludahnya yang merah karena mengunyah sirih. Di belakang Datu Bolon. duduk bersila di atas tanah. mulutnya bergerak-gerak. Kemudian membaca jampi-jampi. Raja Partahi. Datu Bolon meminta agar dimainkan pula gondang Mula jadi na Bolon sebagai penghormatan yang mutlak terhadap pencipta asal kehidupan dan yang kepadanya akan kembali segala yang hidup. Habis itu. Kemudian. bersujud. mahluk halus penjaga tanah yang tidak dapat dilihat mata semangat poyang tujuh keturunan kupanggil kau. Cepat pula diiringi Gondang . Datu Bolon meneriakkan dengan suaranya parau: mahluk halus penjaga rumah. Kemudian bersemadi entah beberapa lama.

begitu pula untuk selanjutnya. Lalu Gondang Debata Sori mengikutinya agar dewata Sori memberi kebijaksanaan bagi para hulubalang dalam menyusun strategi perang. dima inkan Gondang Husahatan. langsung dari leher ayam yang dipulasnya. Kembali sorak-sorai." Raja Ni Huta cepat memberikan yang diminta Datu Bolon. Melumpuhkan semangat musuh agar tidak berani menghadapi laskar mereka. memohon pada seluruh dewata. Datu Bolon langsung menjampi ayam itu. yaitu yang menunjukkan bahwa mereka memang berada di pihak yang benar. "Bawalah ke mari seekor ayam jantan putih yang sudah bertaji. menyusul Gondang Habonaran. dipulasnya leher itu. supaya tiba ke tempat yang dicitakan. Setiap yang berpihak pada kebenaran. sehingga menitikkan darah. kemudian mengatakan. pasti akan menang. agar Dewata Bataraguru memberi kekuatan jiwa bagi mereka dalam menghadapi musuh. baik kerajaan. Cepat-cepat dia mendekati kelompok kerajaan. Dan. Orang kembali duduk ke tempat masing-masing. sehingga mereka tidak mengenal menyerah. kekuatan jiwa dalam menghadapi saat yang genting. Habis itu. Lalu menyusul Gondang Balabulan. sampai kepada kemenangan akhir. memberi keselamatan bagi mereka semua. Datu Bolon mengakhiri tortor itu dengan menjampikan pantun kemenangan: Mendaratlah perahu meniti ombak ketanah landai berangkat kita ke medan perang pantang pulang sebelum menang Semua. lalu menyuruh mereka mereguk darah ayam yang masih mentah itu. memurkai dan mengutuk musuh. Gondang Sitio-tio. Datu Bolon masih di tengah lingkaran.Bataraguru. agar merahmati mereka. baik dalam pertempuran. begitu pula para hulubalang. Sebagai penutup. agar Dewata Balabulan. dan laskar menyambut dengan sorak-sorai dan gemuruh. . Tapi. Kemudian.

duduk dekat raja. Raja Panggonggom menyambut mereka. Bunuh kalau melawan atau berusaha melarikan diri!" Orang kembali bertempik sorak. Datu Bolon telah membagikannya pada golongan raja. lengkap dengan pasukan. Di sana bambu duri pagar desa. serbulah musuh. Di saat dagingnya belum masak benar. hampir tidak kedengaran. Kamu bisa menerobos pertahanan kampung induknya dari arah timur. Desak mereka sampai ke tepi kampung induk marganya. jadikanlah budak belian. Dalam saat begitu.Bangkai ayam diletakkan di tengah kelompok. di tengah lingkaran. telah tiba di sana. Ayam jantan putih tadi. masih muda. Kemudian berdiri tegak lurus. Di saat begitu ratap perempuan dari Sopo Bolon kembali terdengar. kemudian melaporkan bahwa mereka sudah siap sedia melaksanakan perinlah dan pangkat abang mereka. Raja Ni Huta dari kampung sekitar yang masuk pangkat adik. Raja Ni Huta yang pangkat adik itu. Meratapi mayat Ama ni Boltung. Pada tengah malam. Kamu bisa menyusup dari sana ke tengah kampung tanpa dihalangi duri bambu yang rapat dan keras. gondang dipalu orang perlahan-lahan. Kucar-kacirkanlah mereka! Tawan setiap lelakinya yang masih hidup! Begitu pula para perempuan. Para laskarnya bersatu dengan laskar yang sejak tadi ada di sana. Setiap Raja Ni Huta pangkat . Kembali dia bersemadi. lalu mengatakan: "Besok pagi bila fajar pertama terbit. Raja Ni Huta yang tujuh orang itu. Lalu mereka mengambil tempat. Seranglah mereka dari segala arah. dengan basa-basi kerajaan. mereka bakar langsung dengan bulunya sekali ke dalam api unggun. entah berapa lama. Datu Bolon meloncat dari jongkoknya sambil berteriak dan memekik. sebagai wakil para dewata memakan daging sembahan. Seperti tidak tersangkakan. yang berarti ada tujuh kampung lagi masuk lingkungan kerajaan marga itu.

Raja Panggonggom melanjutkan: Tujuh sisiku menghadap tiap penjuru indah mimpiku hulubalang perkasa punyaku Khalayak ramai serentak menyahut: Kami genggam tombak tombak pusaka godang bila raja bersama khalayak bahagia rakyatnya Lalu gondang pun kembali dipalu. tapi warna putihnya lebih kecil dari Raja Ni Huta yang berdiam di induk kampung marga. . Tortor yang menunjukkan kesetiaan. Lalu. Mereka terus margondang dan terus manortor. telah selesai menyusun strategi dan taktik peperangan sesuai dengan petunjuk Datu Bolon. Dalam bergembira itu. Para hulubalang. Lalu. bersama Raja Nagebu. Raja Ni Huta yang tujuh orang itu manortor bersama. menyelempangkan ulos-batak ke tiap pundak Raja Ni Huta yang tujuh itu. Raja Panggonggom turun dari tempatnya. kedengaran Raja Panggonggom berkata: Rotan ras rotan singorong mengikat keutuhan marga bersatu raja dan hulubalang menjunjung martabat marga Raja Ni Huta yang tertua menyahut: Berbaris kami seperti gajah di hutan balantara perintah raja menjadi suluh kami abdi abadi '. yang diiringi oleh seluruh rakyat yang mereka bawa. Pertemuan itu tidak bubar sampai pagi hari. memakai bolatan juga. Tuak dan daging babi terus dihidangkan sampai hampir setiap orang sempoyongan.adik itu. terlupa terjun besok pagi ke kancah pertempuran.

memusnahkan musuh. juga membawa senjata seperti yang mereka bawa. Batu yang dilemparkan ambalang. Usulnya ditolak! Tapi. Dia tahu pasti. yang punya tanah tipis dan di bawahnya batu alam yang keras. Wajah manusia itu tak ubah seperti wajah mereka sendiri. Di depan sekali berjalan para hulubalang. beberapa orang di antara mereka akan jatuh menjadi korban dalam peperangan. Tak ubah seperti kerajaan marga mereka sendiri. Kemudian jatuh mencari sasaran. Lumpur berhamburan . yang sudah dibius semangat itu. Pasukan dari marga lain itu. orang yang sedang dibius semangat. kepala manusia. Kemudian kerajaan. turut bersama laskarnya. Mengacungacungkan senjata tajam. marah. Mati! Semua bayangan kemungkinan ini mempengaruhi pikiran dan perasaannya. Bercampur baur dengan udara yang terik. Debu mengepul ke udara di tempat kering. Jarak antara kedua pasukan itu dipisah sebuah sungai kecil yang airnya dangkal. Seolah matahari mau membakar setiap tubuh manusia dan bumi.Ronggur selalu menyisih dan meminum tuak seperlunya saja. berterbangan di udara. Mereka dihadang musuh pada sebuah sungai kecil. Kerajaan dari marga lain itu. Lengkap dengan Datu Bolonnya. Tapi. bergerak menuju sasaran. Dari segala arah kedengaran pekik dan jeritan. orang yang sedang bernyanyi. Mengisi seluruh lapangan terbuka. hardik dan hasutan. Di sayap kanan dan kiri para laskar. semua itu harus ditekan. Bersama terbitnya fajar pagi yang memancar dari balik puncak Dolok Simanuk-manuk. malah menjunjung putusan kerajaan. mendendam. semangat usul itu tetap berakar dalam hati. menghalau dingin dari tubuh sehingga keseimbangan pikirannya tetap terpelihara. Manusia di seberang kali sana pun bertempik sorak. Sambil bertempik dan bersorak. para lelaki yang marah itu. Kemudian menurun ke sawah yang baru dibajak. Dia harus turut. Dia melihat orang yang sedang menari. untuk memasuki nasib yang tidak terduga.

lalu mengotori wajah manusia di tempat basah. Tempik dan sorak, pekik, hardik, dan hasutan terus menerus bergema. Pasukan kedua marga yang sedang marah itu, sorongmenyorong. Tidak ada yang mau kalah. Jarak antara keduanya bertambah dekat. Ambalang tidak digunakan lagi. Langsung tombak, panggada, dan kampak dipukulkan dan ditangkis perisai. Siapa yang jatuh, jatuh tersungkur tanpa diperdulikan, malah menimbulkan kegembiraan bagi orang yang dapat merubuhkannya. Kedua pasukan marga itu sudah sama-sama terjun ke dalam sungai. Di sana mereka bersicucukan, bersihantaman, dan bersipu-kulan dengan segala macam taktik dan cara. Matahari terus bersinar terik. Pasukan kedua marga itu sama banyak, sama kuat, dan sama berani. Sehari itu keadaan pertempuran tidak berobah. Beberapa orang yang luka di bawa ke garis belakang oleh para perempuan. Beberapa-orang yang mati dibawa ke garis belakang juga, tapi tidak sempat ditangisi. Anak-anak pun sudah turut serta. Mengumpulkan batu, yang segera diberikan pada para lelaki pemegang ambalang. Tapi, batu itu tidak sempat lagi dilemparkan dengan ambalang, langsung dilemparkan tangan. Dan terkadang tidak jarang, anak itu turut terjun ke tengah pertempuran untuk memukul atau dipukul. Bila senja tiba, kedua pasukan marga itu saling meninggalkan daerah pertempuran. Mereka disambut gendang dan tortor para orang tua, para perempuan, para gadis di induk kampung. Daging babi, tuak, terus diedarkan membakar semangat bertempur. Datu Bolon terus-menerus menjampi. Lalu, memberi nasihat baru. Dan, bila fajar terbit lagi, mereka kembali terjun ke daerah pertempuran. Di tengahnya, Ronggur mengamuk ke kiri dan ke kanan. Ronggur bersama beberapa pemuda menyusup ke depan, berusaha mengkucar-kacirkan daerah musuh. Susupan

mereka ini cepat diikuti gelombang kedua, ketiga, dan keempat, yang membuat pertahanan musuh tembus. Musuh kelabakan. Tapi, yang hendak dikucar-kacirkan itu, tidak mau menyerah begitu saja. Mereka juga mengadakan perbaikan pada pertahanannya dengan cepat. Lalu mengadakan pukulan balasan. T api, pasukan marga Ronggur mengadakan desakan yang terus-menerus, bertubi-tubi, sehingga garis pertahanan musuh mulai dipukul mundur. Sampai akhirnya mendekat ke kampung musuh. Malam itu pasukan marga Ronggur tidak kembali ke induk kampung. Mereka terus mengepung induk kampung musuh. Pagi berikutnya pasukan marga Ronggur menyerbu induk kampung musuh dari sebelah timur, seperti yang dinasihatkan Datu Bolon. Melalui bambu duri yang masih muda, mereka menerjang ke tengah kampung, dengan pekikan yang melengking. Dengan segala tenaga yang ada, marga yang diserbu itu mengadakan perlawanan. Ikut sudah para perempuan, baik yang tua begitu pula yang masih gadis. Tampaknya tidak akan habis perlawanan itu sebelum mereka mati semua. Mampus semua. Dari tempat ketinggian, sekali waktu Ronggur melihat, anak gadis Raja Nabegu kampung yang mereka serbu, turut mengadakan perlawanan. Rambutnya yang panjang terurai lepas. Dibasahi oleh keringat. Dilihat biji mata Ronggur sendiri, sudah ada dua tiga orang pasukan marganya ditumbangkan anak gadis itu. Dengan satu loncatan jarak jauh, Ronggur sudah berada di hadapan perempuan itu. Mata perempuan itu memancarkan sinar merah, mengapi, hendak menelan Ronggur bulat-bulat. Perempuan itu memukulkan penggada ke arah Ronggur. Tapi, Ronggur mengelak dengan melompat, dan peng-gadanya sendiri mengenai tengkuk perempuan itu sampai jatuh ke tanah. Dalam hati Ronggur berucap “Sungguh perempuan pemberani!"

Juga, sekali waktu menumbangkan seseorang yang sedang membidikkan tombaknya ke arah Raja Panggonggom marganya. Sewaktu Raja Panggonggom dan pengawalnya ke arah lain. Cepat Ronggur menyergap orang itu. Tapi, tangannya sendiri, lengannya, luka. Namun musuhnya dapat ditumbangkannya dengan menghantamkan penggada ke kepala musuh. Otak meleleh dari luka. Raja Panggonggom melihat ini semua. Luka di lengannya cepat dibalut Ronggur. Lalu terjun lagi ke tengah pertempuran yang dahsyat itu. Asap pun mulai mengepul. Rumah sudah mulai dibakar. Padi dari lumbung desa diangkut, juga harta rampasan perang. Para lelaki yang belum mati, begitu pula para perempuan yang belum mati, ditawan. Untuk dijadikan budak belian. Yang sampai keturunannya kelak akan tetap dan tidak bisa terangkat dari martabat budak. Tidak akan berhak lagi mengadakan pekerjaan adat. Harus patuh setiap saat mengerjakan apa saja yang diperintahkan tuannya. Kampung berdekatan dengan induk kampung itu sudah dibakar. Perang sudah berakhir. Kekalahan dipihak marga yang diserbu. Para rakyatnya yang masih hidup sudah ditawan, dirantai. Ronggur teringat pada perempuan yang ditumbangkannya. Cepat dia menuju ke sana. Keringat melelehi seluruh tubuhnya. Entah kenapa hatinya mengharapkan agar pukulannya hendaknya tidak terlalu keras. Dia mengharapkan, hendaknya perempuan itu masih hidup. Dia mau menawannya. Merasa bersyukur dia, perempuan itu masih merintih. Cepat dia mengambil air lalu diusapnya wajah perempuan itu dengan air. Kemudian diberinya minum. Didengarnya suara gadis itu perlahan mengatakan:

abang mereka yang pulang dari peperangan sebagai pemenang. para perempuan. Dia dapat menghargai keberanian dan semangat perlawanan yang dipunyai perempuan itu. tidak dikunjungi anak lelakinya lagi. Lebihnya akan dimasukkan ke dalam lumbung desa. terutama pada keluarga yang suaminya atau anak lelakinya jatuh sebagai pahlawan di medan laga. Matahari sore dengan lembut memancarkan sinar. hai lelaki Pertahankan martabat marga kita. Nanti akan dibagi-bagikan pada tiap keluarga. Menjadi sumber rintihan. lelaki yang sudah tua. Ronggur tersenyum saja dan terus menarik tali dengan tabah. seperti sudah turut lesu menyaksikan peperangan yang baru saja berakhir dan banyak menimbulkan korban. Sambil melangkah mereka lagukan nyanyi kemenangan. pergi bersama ke Sopo Bolon mengasingkan diri dari orang yang sedang bergembira."Aku harus bersama kalian. disuruh ibunya melambaikan tangan ke arah ayah. dan dendam. air mata. karena mati dalam pertempuran. Dengan pekik kemenangan pasukan laskar marga Ronggur menuju pulang ke induk perkampungan. Begitu pula anak-anak yang masih digendong. Sampai mati!" margaku. Di sana mereka meratap dengan lemah. dan lelaki yang luka menyambut mereka. Di gerbang kampung. Tangan menarik para tawanan. Diusahakan agar tidak mengganggu kegembiraan para pahlawan yang menang perang. karena mereka telah . Ronggur menarik tali yang mengikat perempuan yang ditawannya. Perempuan itu selalu meronta dan ingin melepaskan diri. Ronggur tersenyum mendengar rintihan itu. Sebagian disuruh mengangkut harta rampasan. Sedang para perempuan yang tidak dikunjungi suaminya lagi. Agar tidak mengotori rasa gembira pada Mula Jadi Na Bolon dan seluruh para dewata serta arwah nenek moyang.

dikuasakan pada Ronggur. karena dia belum berumah tangga. Raja Ni Huta induk kampung musuh yang ditaklukkan itu.Beberapa ekor babi dipotong lagi dan darahnya diminum bersama. . Kampung marga yang mereka kalahkan. Upacara kemenangan pun diadakan. dalam pertempuran kau telah menyelamatkan nyawa kami. ditunjuk .dipilihnya menjadi pemenang. jadi belum cukup dewasa dalam peralatan adat dan hukum. Tapi. Sebagai penutup upacara Raja Panggonggom mengucapkan terima kasih pada seluruh laskarnya. Justru karena Ronggur tidak punya adik perempuan. Sendirinya pula daerah taklukan mereka bertambah luas. dengan suka rela dimintakan pada setiap orang yang mau pindah ke kampung yang ditaklukkan itu. Jadilah kemudian kampung itu menjadi kampung perluasan marga. ditunjuk beberapa orang yang cukup berjasa menjadi Raja Ni Huta. Dia anak tunggal. Pada tiap kampung sebagai pelaksana adat dan penyelenggara hukum. Dikatakan pula. "Ronggur. Pun. Gondang dipalu dan tortor kemenangan ditarikan orang bersama-sama. lalu. Permintaan itu dikabulkan. Baik yang sudah mati begitu pula pada yang masih hidup. yang dengan sendirinya mengangkat martabat marga dan raja mereka. Katakanlah. Raja Panggonggom melirik secara khusus pada Ronggur. Sekarang giliran kami membalas jasamu yang besar itu. kehendakmu!" Ronggur memohonkan agar padanya diberi kekuasaan untuk terus menawan tawanannya. menjadikannya sebagai budak untuk membantu ibunya yang sudah tua mengerjakan urusan rumah. Harta rampasan dibagi. Sawahnya akan diambil dan dibagibagikan. Tanah persawahan rampasan juga ditentukan jatuh ke tangan siapa. Diizinkan mereka mendirikan rumah di situ. akan dijadikan kampung perluasan bagi marga mereka. mencabuti rumput sawah bila saatnya tiba. Yang harus tunduk ke induk kampung.

yang disetujui Ronggur sendiri. Di sana sini Ronggur mendengar orang mengatakan: "Dengan cara beginilah kita harus menguasai tanah persawahan subur yang ada di sekitar danau untuk melanjutkan keturunan. Orang selalu menyebut atau . Ronggur dikenal orang sebagai Raja Ni Huta Muda merangkap Hulubalang Muda. baik dari marga sendiri begitu pula dari marga lain yang masih banyak bertabur di sekitar danau. Pesta kemenangan dilangsungkan tiga hari tiga malam. Untuk beberapa hari. cepat dilupakannya. Ronggur sendiri. Membangun perumahan baru di atas puing-puing reruntuhan. ingatan orang masih tetap terpaut ke sana. Oleh tugas yang banyak dan memang dia sendiri ingin cepat melupakan saat menanjakkan marganya ke tingkat yang lebih tinggi dan meningkatkan kedudukan dirinya sendiri. Mereka tebarkan dari mulut ke mulut sambil memetik kecapi. Sawahnya yang ada dekat induk kampung marganya diserahkan pada kerajaan.seseorang menjadi walinya. Tapi. Walaupun pesta sudah selesai. orang tidak berani lagi atau tidak wajar lagi menyebut nama kecilnya." Beberapa orang ampangardang. sehabis pesta kemenangan itu cepatcepat mengerahkan rakyat yang suka rela pindah ke induk kampung musuh yang dikuasakan padanya. orang masih tetap dipengaruhi suasana kegembiraan menang perang. Sejak hari itu. Beberapa nama pahlawan timbul. Sebagai gantinya diberikan kepadanya sawah yang dulu dimiliki Raja Nabegu dari marga yang mereka kalahkan. menjadi tokoh keberanian dan ketangkasan serta kesetiaan termasuk nama Ronggur sendiri. Memang dia sudah menjadi Raja Ni Huta Muda dan Hulubalang Muda. menghapal jalannya pertempuran lalu memindahkannya ke bentuk yang dapat dinyanyikan.

dan menerima datangnya partandang. ccdw-kzaa 2 Rumah baru sudah berdiri pengganti rumah yang dulu terbakar. Lu hak anu berperang dengan luhak satu lagi. Cerita kepahlawanan disampaikan pada mereka. pada mereka sampai juga berita dari sekitar danau: marga anu berperang dengan marga satu lagi. Yang membuat ingatan orang sudah menipis pada peperangan yang baru lewat. Bila bulan purnama. Sumber malapetaka tetap sama: air parit dan batas tanah. Kuburan yang digali tempat abadi bagi orang yang mati. sudah ditumbuhi rerumputan hijau. Pekerjaan orang kembali senggang. Lambat-laun kehidupan kembali tenang. diajari menggunakan senjata. Saat yang baik bagi pemuda pergi martandang ke kampung paman mencari jodoh. yang sempat melarikan diri. menjadi orang . Tidak tampak lagi warna merahnya. memencilkan diri ke tanah tandus di kaki bukit. Masa merumputi sudah lewat. Jumlahnya lebih banyak malah.memanggilnya dengan Raja Ni Huta Muda dan Hulubalang Muda. Juga mereka diajari memanjat pepohonan tinggi supaya tidak gamang. Anak-anak sudah ada berlahiran. Anak lelaki diajar membaca dan menulis huruf Batak. Tapi. Para gadis belajar memintal benang dan bertenun. menumbuk padi di halaman perkampungan sambil bernyanyi. Yang agak besar. pengganti yang mati dalam peperangan. Orang yang kalah dijadikan budak. Padi di sawah sudah bunting. Tapi. Darah yang tercecer ke lumpur sawah sudah bercampur baur dengan tanah menjadi pupuk di musim mendatang.

keyakinan yang digenggamnya ini belum berani dia menyampaikannya pada orang lain. ketenangan yang sekarang dikecap marganya masih tetap mengandung sesuatu kemungkinan yang menakutkan. Masih merasa takut dia. Namun perasaan terpencil tetap menguasai diri Tio. melawan tradisi yang sudah tertanam dan berurat akar di hati manusia yang ada di sekitarnya. Dan. wanita tawanan itu. dia masih tetap menampik. Karena itu. Tapi. Jadi. Ronggur tidak merasa kuatir kalau budaknya itu melarikan diri. Di sana dia menghabiskan hari. bagi Ronggur. akhirnya Tio. dan berburu bersama anjingnya si belang. Perlakuannya pada wanita tawanannya berbeda dengan perlakuan orang lain yang punya budak terhadap budak masing-masing. Karena memperoleh perlakuan yang baik itu. merasa senang juga. Walau sudah sering diminta ibunya.buruan. Tak ubah seperti kebebasan yang ada pada orang merdeka. Padanya tetap diberikan Ronggur kebebasan bergerak. Dia masih tetap memandang dan memperlakukannya sebagai manusia yang punya hak. dia belum. Dia yakin kalau memperoleh perlakuan yang baik budak itu tidak akan melarikan diri. masih merasa kecil dia menurut anggapannya. mengembara. Setiap warta pecahnya perang antara satu marga dengan marga lain selalu membuatnya berduka. Dia boleh pergi ke padang-padang luas. dia lebih banyak menyendiri. Orang buruan ini membuat rumahnya di dinding bukit dan gua. Ini jugalah yang mendesaknya agar setiap hari pergi jauh dari kampung ke tempat terpencil yang jarang dikunjungi orang. . justru karena gadis yang sebaya dengannya dari suku Ronggur tidak mengawaninya. Bila temannya sebaya sudah banyak berumah tangga.

Berburu bisa membuat Tio asyik. Dapat dipastikan Tio bahwa . Ronggur selalu tertawa lebar bila dia pulang dengan hasil buruan. Namun keluh akhirnya mematikan keinginan itu. Ronggur tidak segan-segan melemparkan pujian yang menurut perasaan T io terkadang terlalu menyanjung. Berkeliling pada satu lingkaran. Atas bantuan si belang. Dia akan dapat ditangkap Ronggur. ingin pergi jauh. sesuatu keinginan selalu timbul di dadanya. Dengan mata tombaknya yang pasti arahnya. dengan lemparan ambalanganya yang deras. lalu terus mengikuti arah elang itu pergi. Ronggur lelaki yang paling jahanam. Tio sedang mengikuti arah seekor elang terbang. Lagi pula kalau dia lari. Kalau lari saja? Ronggur sudah berbuat baik terhadapnya. setelah menyambar seekor induk ayam dari kampung. yang dibakar dan dipanggang. akan mengejarnya ke mana saja. yang sudah banyak menyambar ayam kampung. Seolah elang itu datang dari balik gunung dan hendak kembali ke balik gunung. Pertanda elang itu akan hinggap belum ada walau mendekat ke kaki bukit.Tio menyendiri sampai ke kaki bukit. yang belum pernah ditempuh manusia. Pertanda elang itu mau hinggap. Kemudian membawanya pulang. Hari itu. elang itu mengadakan putaran. Merasa kurang enak baginya untuk menghianati seseorang yang menghormati dirinya'dengan sewajarnya. Di saat putus asa mulai mencekam hati. tempat kawanan burung berondok. Tio dapat mengetahui tempat seekor pelanduk bersembunyi. Dia dibenturkan kembali pada kenyataan bahwa dia bukan orang merdeka. Matanya terus-menerus menangkap elang hitam yang terbang. Di hatinya timbul niat. Dan. Dari situ dia dapat melihat danau di bawah. Terkadang harus berlari kecil mengikuti elang yang terbang di atas. dia harus membunuh elang yang seekor itu. dia bisa membunuh binatang buruan itu. Dengan lahap Ronggur akan memakan daging binatang buruan itu.

di situlah sarang elang itu. Seketika napasnya serasa terhenti melihat peluru ambalangnya mengenai sasaran atau tidak. gelepar akhir. Langsung tertancap ke dada elang. "Muncung tombakku tertancap di dadanya. Atau. sambarannya jatuh ke tanah. Tapi. Si belang berlari cepat ke tempat suara itu bersumber. Wajah Tio menjadi merah padam dan merasa kesal bercampur malu. kenapa dia tidak menggunakan tombaknya? Sebuah tawa meledak di antara rimbunan ilalang. kenapa peluru ambalangnya tidak mengenai dada elang jtu. Mau terbang.pohon yang tinggi lagi rimbun dedaunannya." kata Ronggur. Karena terkejut elang itu buru-buru mengepakkan sayapnya. Merasa malu akan ketololannya." sahut Tio. Elang itu mengarah ke lembah. Lalu melepaskan peluru. Tio terus mendekat menuruni jenjang lembah. Lalu. Elang itu mengikutkan sambarannya ke bawah. dari arah lain sebuah tombak terbang cepat." Tio masih terpaku pada tempatnya. "Lihat. Baru dia bergerak. Saat yang baik itu tidak dilewatkan Tio. Elang itu jatuh ke tanah bersama gelepar lemah. kepaknya mengenai salah satu dahan. Elang itu cepat menukik ke bawah setelah mengadakan putaran entah beberapa lama. Suaranya halus dan menggetar. waktu itulah. Dan. Hulubalang Muda. Sayang sekali peluru ambalangnya hanya mengenai buntut elang. Si belang sudah mengerti bahwa mereka sedang mengadakan perburuan. pada salah satu dahannya. Bersama senyum kemenangan. . Ronggur memanggilnya agar datang mendekat. di mana batang pohon besar itu tertancap ke tanah." "Aku tahu. Ronggur sudah ada di hadapan Tio. Ronggur berkata: "Sudah mampus penyambar ayam yang paling jahanam ini. Cepat dia mengayun ambalangnya.

Kalau mereka menegur kau. tapi masih diusahakannya mengatakan. "sejak saat ini kuminta. "Bukankah itu menurunkan derajat Hulubalang Muda?" "Sama sekali tidak! Kau harus melaksanakannya!" "Bagaimana nanti kalau didengar orang kampung dan ibu?" "Peduli apa dengan mereka? Sebut namaku. katakan aku yang menyuruhmu. belum tentu muncung tombakku bisa tertancap di dadanya. "Tapi. si belang memagut ayam yang . Lalu. matanya. Ronggur. Buntut elang kena membuat elang tidak bisa cepat terbang. Si belang kembali menjauh. "maukah kau berjanji akan melaksanakan permintaanku?" "Aku sudah ditakdirkan akan melaksanakan sebaik mungkin segala perintah Hulubalang Muda." mata Ronggur lama menatap wajah gadis itu. lalu. "Itu yang sebenarnya. Si belang sudah memagut tubuh elang dengan muncungnya. Di saat itulah aku mengayunkan tombakku. Ronggur menjauh." Pundak Tio cepat turun naik. agar kau tidak memanggil aku dengan sebutan Hulubalang Muda atau Raja Ni Huta Muda lagi. Kalau buntutnya tidak kena ambalangmu. peluru ambalangmu sangat deras dan bagus arahnya. Walau sesuatu rasa menggelusak dalam dada." "Dengarkan baik-baik." kata Ronggur seraya memegang bahu anak gadis itu.Ronggur menatapi T io lama-lama hingga T io menundukkan kepala menatap tanah. Sebutlah namaku. Yang mengurus mereka ialah aku." Tio tambah tertunduk. Membawanya ke dekat mereka berdua." sahut Tio. habis perkara. Wajahnya memerah. Cukup begitu. Dan. kau Tio." "Hulubalang Muda terlalu melebih-lebihkannya.

mulai membakarnya lengkap bersama bulu-bulunya. Cukup terik. Mata Ronggur agak mengantuk. Matahari bersinar keras. redup mengalun saat siang dan malam antara terik dan nyaman . Lalu. mulutnya tidak dapat lagi dikuasainya untuk tidak menyanyikan sebuah lagu. Tidur di ujung kakinya. "Tio." Tio berlari kecil membawa elang dan ayam itu ke parit kecil dekat situ yang mengalirkan air pegunungan yang jernih. Dibersihkannya perut kedua binatang itu. Biar kunyalakan api. Tio duduk melihat si belang. Dagingnya tentu enak dimakan. Lalu. Tidak jauh darinya. menjauh lagi. Lalu. Yang kemudian mendekat kepadanya sambil mengibaskan ekor. Perutnya terasa kenyang. Si belang masih mengunyah tulang belulang elang dan ayam yang diberikan kepadanya. berpantun: Sanduduk di kaki bukit di atas batu ditimpa sinar matahari itulah siang melilit bumi sanduduk di kaki bukit di atas batu ditimpa sinar rembulan itulah malam. Kemudian dibawanya ke tempat Ronggur menghidupkan api.disambar elang tadi dan membawanya ke dekat Ronggur dan Tio. Tio mengelus leher si belang dengan lembut. di bawah pohon yang rindang. keluarkanlah isi perut elang dan ayam ini. Ronggur menelentangkan tubuh di atas tanah batu yang cukup keras.

Tetapi. pikir Ronggur. agar dia berumah tangga. Di bawah mereka melalui tingkat tanah yang terus menurun. yang mengintai dengan taringnya yang tajam. cepat pula ingatan itu dibarengi bahwa kalau dia berumah tangga. yaitu orang bertambah banyak sedangkan tanah yang dapat digarap masih tetap itu juga. Tio teringat pada masa kemerdekaannya. Tentu. ke kampung paman. Pada suatu saat. Hasilnya akan terasa atau memang kurang untuk membekali orang yang hidup di sekitar . jumlah keturunannya bisa berlipat ganda. agar nama Muda dari belakang Hulubalangnya dihilangkan.mentari dan gemintang bagi beta tidak berbeda karena hatiku terkenang padamu Ronggur membiarkan Tio menyanyi walau hatinya merasa rawan. Untuk melahirkan anak lagi. Dia disuruh ibunya pergi ke Samosir. Agar langsung memegang Raja Ni Huta di kampungnya. Dia merasa takut. Kemudian anak ini akan menjadi dewasa. akan tiba saat itu. lalu kawin lagi. meruntuhkan kerukunan kehidupan mereka di tepi danau. Oleh nyanyi T io kembali Ronggur teringat akan permintaan ibunya. itu berarti istrinya nanti akan melahirkan anak. Dalam tiga keturunan saja. pikirnya. perkampungan demi perkampungan dan berakhir pada tepian danau. Matahari tambah lama jadi melemah. begitu pula atas usul Raja Panggonggom. Tentu hasil yang dapat diberikan tanahnya akan terasa kurang menghidupi keturunannya. Bila persoalan yang mencekamnya itu diluaskan pada keadaan sekitarnya dan dia tambah merasakan marabahaya yang sedang menantikan.

tapi pasti. "Tio. Dia selalu memikirkan. tidak disadari Tio. "Betul kau bolehkan aku memintal dan bertenun? Betul kau akan meminta izin pada Raja Panggonggom? Aku akan bertenun seperti gadis lain dari margamu ?" "Ya. Ronggur mengatakan. "Tio. Kau harus belajar memintal dan bertenun. aku akan menenun ulos untukmu. dan sendirinya pula akan lebih banyak kepiluan dan dendam bersarang di hati manusia. "Ada yang salah?" tanya Ronggur pula. betapa bersyukur aku. Barulah Ronggur sadar bahwa seorang gadis yang berderajat budak tidak dibolehkan belajar memintal dan bertenun. kau harus belajar memintal dan bertenun Aku akan meminta izin pada Raja Panggonggom” Pada biji mata Tio menyinar cahaya kegembiraan. Tio tetap terdiam dan tertunduk.. “Ah. Lalu. Ulos yang paling halus raginya. Hal begitu sudah tentu akan lebih banyak mengobarkan perkelahian. Tapi. seperti gadis lain. Aku. akan kuusahakan sampai dapat” Karena gembira.danau. Yang tidak disangka Ronggur mulanya. Betapa berbahagia. dari mulutnya lalu meledak kata. Yang paling baik campuran warnanya” . peperangan. Menenun ulos-batak ialah pekerjaan para gadis yang merdeka." Warna duka membayang di wajah Tio. apa usaha yang dapat ditempuh untuk melenyapkan ancaman dari masa itu? Ronggur cepat bangun dari goleknya. dia memeluk Ronggur sambil mengatakan dengan kegembiraan. kenapa kau tidak belajar memintal benang dan bertenun? Kau sudah harus mengurangi kegemaranmu pergi mengembara. Ronggur menundukkan kepala. Tio menatap ke arahnya. Perlahan-lahan. Dia menakutkan masa itu.

di sanalah bermula sungai T itian Dewata." "Menurut cerita orang tua. Tidak terik lagi. Dapat kau lihat dan perhatikan garis putih itu?" tanya Ronggur. Tio menundukkan kepala perlahan-lahan. tidak akan kembali lagi. Ada yang hendak kutunjukkan padamu." Mereka mendaki tanjakan bukit sampai tiba ke pundak pertama. Sampai akhirnya Tio sadar sendiri. Matahari bertambah lemah sinarnya. Telunjuknya mengarah ke teluk itu sambil mulutnya mengatakan. Barang siapa yang berani me layari sungai ke muara atau berusaha mencapai muara. Karena jatuh ke tebing ujung dunia. sungai itu berakhir ke ujung dunia. Ronggur menatap ke sekitar. Beberapa saat terdiam. "Dapat. "Tio. Pada salah sebuah teluk dapat diketahui Ronggur bahwa di situlah bermula sungai Titian Dewata." "Aku tahu. Arwahnya akan dikutuki dewata. melepaskan pelukannya perlahan-lahan. Ronggur diam saja melihat perubahan kelakuan Tio itu. Tapi. mari ke pundak bukit pertama. "aku sudah pernah dibawa almarhum ayah dan ibu ke sana." "Garis putih yang membelah dada persawahan yang sedang menghijau. Sedang matanya dengan mesra menancap ke biji mata Tio. Begitu pula akhirnya Ronggur. Dari sana jelas tampak oleh mereka lengkungan tepian danau. menuju tempat Mula jadi Na Bolon." kata T io. Lalu. sungai itu jalan arwah kita kelak." sahut Tio. itulah jaluran sungai." "Tahu juga aku. "Tio. Kembali dia dihadapkan pada kenyataan.Ronggur membiarkan Tio begitu. lalu menghilang atau seperti masuk menyusup ke perut pegunungan sebelah timur. lalu dengan suara pasti dia mengatakan. .

juga sudah kuselidiki dalam pustaka yang tua bahwa sungai itu tidak ada dikatakan berujung di akhir dunia. sungai Titian Dewata berakhir ke ujung dunia. Sedang Tio melirik ke biji mata Ronggur yang menyinarkan sesuatu arti. Sering sekali. Buktinya sampai sekarang tidak ada orang yang berani melintasi daerah yang telah ditentukan." "Kalau begitu." dapat ." "Ya. setiap sungai menuju tanah landai dan subur. Aku bisa membaca dan menulis dengan baik. memang begitu. sampai ke mana bisa seseorang nelayan menangkap ikan. Ronggur mengaju tanya padanya: "Apakah kau juga sependapat dengan mereka bahwa sungai itu berakhir di ujung dunia itu?" "Begitulah kata mereka. Aku tidak mengatakan yang lain. aku berpendapat bahwa sungai itu pun akan tiba ke tanah landai yang subur. juga sungai ini. kau pun sependapat dengan mereka. Terus menatap ke arah sungai." "Kepercayaan yang diwariskan kepada kita mengatakan." "Entah bagaimana." "Begitu menurut cerita mereka. Ada apa kiranya?" "Apakah kau tidak bisa punya pendapat sendiri?" "Apa maksudmu?" "Apakah kau tidak sering membaca pustaka di rumah ayahmu dulu?" "Sering. lain dari sungai yang lain.Ronggur diam seketika." "Menurut cerita yang ada di sana. janganlah marah padaku.

setiap tahunnya bertambah sempit. Tahukah kau Tio bahwa tanah selingkar danau ialah tanah subur? T ahukah kau. Arwahmu akan tidak diterima dewata. daerah perluasan. Keheningan mengambang di antara mereka. Angin turun. Seperti perang antara margamu dengan margaku. Yang berarti bunuh diri. tanah hubungkasan. "tapi. "apakah kau berniat hendak melayarinya membuktikan kebenaranmu?" Tapi. Akibatnya akan bertambah banyak pertengkaran yang memungkinkan pecahnya peperangan." sahut Ronggur tanpa memperhatikan wajah Tio yang menjadi pucat." potong Tio.Ronggur terdiam. sungai itu pun sama dengan sungai yang lain. "Kenapa kau beranggapan bahwa sungai ini lain?" tanya Tio memecah sunyi. aku melayarinya bukan bermaksud untuk membuktikan bahwa aku berada di pihak yang benar. Dia akan jatuh ke tangan orang lain yang pasti akan memperlakukannya sebagai budak biasa. Dia takut kalau Ronggur benar-benar melayari sungai itu. Aku mau berusaha mencari tanah garapan baru." kata Ronggur. "Ya. "Sudah lama niat ini menguasai dadaku. setiap tahunnya manusia yang hidup di sini yang memerlukan tanah garapan bertambah banyak juga? Akhirnya tanah yang tadinya terasa luas. Perasaan takutnya tambah mencekam. Dia akan tinggal di dunia ini. T api." "Itu berarti bunuh diri. Dia mengharap dapat menggagalkan maksud Ronggur dengan ancaman begitu. Kebebasan akan benar-benar direnggutkan orang. angin sore yang nyaman. aku memang mau melayarinya. Tidak ada yang berkata. timbul bisikan dalam hatiku. Tio menjadi takut pada ucapannya itu. "Tapi. akan terus bertambah sempit. Ronggur cepat pula mengatakan: "Dengar dulu yang kumaksud." ." lanjutnya pula. Dan.

aku diganggu mimpi. Dan. Tio tidak membumbuhi cakap Ronggur yang panjang itu. Mengajak aku memulai perjalanan mengikuti sungai. walaupun nyawaku sendiri menjadi taruhannya. karena setitik air parit. berani menantang segala cerita yang bersifat menakut-nakuti. Dan. Karena aku merasakan persoalan itu. Aku tidak bermaksud membongkar yang sudah lewat. Berani menantang sesuatu yang dirasakan ialah satu kepercayaan bagi kebanyakan orang. Wajahnya menjadi muram dan sedih. Cobalah turut mendengar berita bahwa setelah perang antara margamu dengan margaku selesai. kupikir. "Janganlah bersedih." Seketika Ronggur berhenti. dengan suaranya yang nyaring. aku menemui sebuah danau yang sangat luas. jauh lebih luas dari .Tio tertunduk. peperangan itu akan bertambah banyak lagi timbul di masa mendatang. Pertengkaran karena setapak tanah. karena kurasa kau dapat merasakannya. Tidak bermaksud aku mengingatkanmu ke saat kejatuhan margamu. Mimpi menghimbau aku selalu dari tempat jauh. dengan berani menantang segala aral-melintang. Dibiarkannya Ronggur meneruskan: "Sudah sering Tio. sebelum saat itu tiba. Ini sudah pasti. akan tambah banyak terjadi. Jadi. Dalam mimpi itu selalu aku dibawanya ke suatu tempat yang teduh. Tidak! Tapi. harus mulai sekarang memulai kerja ke arah itu. merintis jalan. Penuh pepohonan dan tanahnya begitu landai. Sampai ke mana dia tiba. yang akan menimpa manusia yang hidup di sekitar danau di hari mendatang. bila tanah habungkasan tidak ditemui. Orang yang berani dan bertanggung jawab akan masa datang. marga lain. sudah ada tiga gelombang peperangan antara marga satu dengan. aku harus turut memikul bebannya. harus ada usaha mencari tanah habungkasan. sudah berapa kali lagi peperangan terjadi di antara marga? Kalau tidak salah. dalam mimpi itu. aku mau mengatakan.

Berobatlah cepat-cepat. Merangsangku di saat jaga. Sore dengan perlahan beralih pada senja. Aku kau lihat sendiri. Tidak seperti tanah di s ini." "Tidak Tio. Dengan suara tersengalsengal. Tio berbuat begitu.Danau Toba yang kita kenal ini. Jangan sampai kekuasaan setan tertanam didirimu. lembayung . arwah almarhum ayah yang datang padaku. selagi aku di dekatmu." "Jangan berkata begitu." kata Tio lagi. Pada mulanya warna Jingga." Wajah Tio bertambah pucat. Tanah yang kutemui dalam mimpi itu begitu gemburnya." Tio begitu saja menyandarkan kepalanya yang terhisak ke bahu Ronggur. "barangkali. Orang yang digoda setan. akan merasakan tubuhnya kurang sehat. Kau perlu berobat pada dukun." "Tidak Tio. "aku merasa takut! Aku takut!" "Janganlah takut. dia mengatakan: "Barangkali itu godaan setan jahat. itu setan yang menyaru. tanah tipis yang menyaputi batu alam yang keras. Kata orang. menunjuk tanah habungkasan yang subur padaku?" "Ronggur. memanggil aku. tetap sehat dan pikiranku tetap waras. menelungkup di sana. Entah berapa lama. wajah almarhum ayah. kemudian bertambah merah. Itu yang selalu menemani tidurku. Wajah orang yang melambai aku dalam mimpi itu dan menuntun jalanku mirip sekali dengan wajahku." "Aku takut mendengar ceritamu. mula duka cerita yang akan mendatangi diriku." "Ronggur. mirip sekali dengan wajahku. Cerita itu. Dibiarkan Ronggur." untuk pertama kalinya Tio menyebutnya hingga Ronggur merasakan satu desiran menyinggung hatinya. Apakah tidak mungkin.

yaitu memakan sisa tuannya. selalu aku bertemu dengan seseorang yang wajahnya mirip benar dengan wajahku. Yang sendirinya menantang dan menghadapi segala kemungkinan." kata Ronggur sesudah makin seraya melap mulut. Mengikutkan arus Sungai Titian . Karena sakit. Dia sudah harus mengadakan persiapan untuk perjalanan itu. Mereka sudah sering pulang terlambat. walaupun itu bertentangan dengan adat. yang menurul pertimbangannya masih tetap membawakan sifat dan kelakuan sebagai anak raja. "Ceritalah kembali ibu. Kemudian berlari lagi ke belakang. karena kecelakaan dalam perburuan atau . Tapi. dia sudah memilih teman yang akan diajak turut serta. Dan. "Ibu. Pada pikirannya.tambah jelas. Mereka menuju pulang. di mana sebenarnya ayah dikuburkan. di riak danau. Tio mengikuti langkah Ronggur yang panjang dan cepat diayunkan.. Ronggur tidak mau begitu. mungkin juga mula kelanjutan hidup keturunan. Ibunya menyambut kedatangan mereka berdua di ambang pintu. Ceritalah karena apa ayah meninggal dulu. Jadi pada rumah itu.. Sambil menggonggong. Tari warna bermain di wajah danau. Dalam mimpiku. mungkin juga satu perjalanan yang akan mengakhiri hidupnya sendiri. hati Ronggur tambah digoda perjalanan yang harus dimulainya. Mereka makan bersama. Orang yang berpapasan dengan mereka tidak berapa mereka perdulikan. bermarga. Orang itu selalu mengajak aku agar memulai suatu perjalanan. Si belang kadang berlari di depan mereka. Dengan cepat ibunya menyediakan makanan dan Tio membantu.. Ibunya pun merasa senang pada kelakuan Tio. Meruntuhkan satu kepercayaan. Sedang ibunya tidak berdaya melawan kehendak Ronggur. tidak terdapat atau dengan sengaja diadakan keharusan bahwa seorang budak harus belakangan makan. Angin tambah lemah. Tapi.

Tapi. Jangan lagi. yang pulang kemudian. Tarikan napas yang terputus-putus. Kalau tidak. Keheningan menguasai ruang. Dan." Ibunya mengangkat wajah. Bukankah aku bisa dikatakan orang. Anakku." "Jangan lagi berkata begitu. melesu lagi. ceritalah. lerpaku mendengarkan. hanya bekas Datu Bolon Guru Marsait Lipan. Bila aku katanya tidak mau melaksanakan permintaannya. Kerja yang dimulai di masa hidupnya. Ibu takut mendengarnya. aku juga tidak tahu pasti. ibu sudah tua." . dikatakan para arwah. karena tidak pernah menziarahi kubur ayahnya?" Wajah ibunya tambah jelas memancarkan perasaan ketakutan. Kau tentu tahu. "Apa katamu. Dia yang tahu! Dialah teman ayahmu yang terakhir pergi jauh dari kampung kita ini. Dan. Di mana sebenarnya kubur ayah? Sampai begini besarku. Ronggur? Apa katamu?" "Orang itu selalu mengajak aku. Dengan mata terbelalak akhirnya dia mengatakan. di mana sebenarnya kuburan almarhum ayahmu. dia akan selalu berduka. tempat tinggal Datu Bolon itu sekarang. anak durhaka." "Ibu. ibu tidak mau mengatakan dan aku belum pernah berziarah ke kuburnya untuk meminta doa restu. Tarikan napas ibunya yang satu-satu lagi dalam jelas kedengaran.Dewata sampai ke muara. Pergilah tanya bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan. Ayahmu tidak pernah lagi pulang. katanya akan sia-sia. Tegak. aku akan pergi mencari sendiri. agar memulai perjalanan mengikuti arus Sungai Titian Dewata sampai ke muara. "Ibu. lalu: "Anakku. Bukankah ibu mengatakan bahwa wa|ahku mirip benar dengan wajah almarhum ayah?" Ibunya tak langsung menyahut. ceritalah.

Dari tunduknya dia menyahut: "Dia yang menyuruh aku." . dia terus berangkat. Dia sadar bahwa yang dihadapinya ialah ibu Ronggur. Didengarnya perempuan itu menghardik setelah lebih dulu menarik napas yang panjang lagi dalam: "Berani kau menyebut namanya? Apa kau pikir dia sama derajat dengan kau?" Seolah orang tua itu. karena marah sudah lupa pada masalah yang sebenarnya dihadapi. Aku sudah berusaha mencegah. Bukankah sudah sifat Ronggur begitu?" "Apa katamu? Kau sebut namanya? Nama Hulubalang Muda kau sebut?" Tio terkejut. yang juga pada wajahnya bergantungan sesuatu ragam perasaan.Setelah Cepat Ronggur bangkit dari duduknya. Tadi dikatakannya padaku." "Dia menyuruhmu katakan?" "Benar begitu?" menyebut namanya? Itu kau "Benar. Bu. Tidak mau dan tidak dibolehkannya aku memanggilnya dengan Raja Ni Huta atau Hulubalang Muda. dia akan pergi memenuhi panggilan mimpinya. Ibu tentu lebih tahu dariku bahwa dia tidak dapat dihalangi. Bukan keinginanku. panggilan negeri jauh. Tio menggerutu pada diri sendiri. "Ibu. Kenapa lidahnya terus sefasih itu menyebut nama Ronggur. Kemudian ibu Ronggur menatap Tio. aku juga turut merasakan yang Ibu rasakan. memaksa aku harus menyebut namanya. Bu. Dia tertunduk. membelitkan ulos ke lehernya. Ibunya dan Tio melihat saja. yang tidak boleh menyebut nama tuannya. Tapi. Dihempaskan kembali pada derajat yang tidak berharga. perempuan itu.

Apakah dia tidak . Penuhilah permintaanku ini. dia menatap Tio. lindungilah anakku dari godaan setan. Langsung dia menuju dangau kecil yang terpencil di satu ladang. Bu. kau tidak sepantasnya menyebut namanya. Tidak disuruhnya supaya si belang pulang. Jangan lagi sebut namanya.tahu tentang martabatnya yang begitu tinggi? O."Benar. Tapi. Perasaan marah kembali mencair. Dia kenal pada jalan itu. Dibiarkannya si belang mengikuti. Napasnya sesak. Bagaimana kalau tetangga mendengar kau menyebut namanya di depanku? Maukah kau memenuhi permintaanku ini?" "Akan kuusahakan." "Berjanjilah demi dewata. Ronggur sudah melintasi halaman perkampungan. Sudah diizinkannya seorang budak belian makan bersama. sekarang diberinya pula keizinan pada seorang budak belian menyebut namanya." Perempuan tua itu serasa dipukul kepalanya dan ulu hatinya. Dia tak perlu takut karena tergelincir. Bu. Gelap malam tidak diperdulikan. Di pematang sawah yang kecil lagi licin dia melompat-lompat memilih jalan yang baik. kemudian menyuruh si belang melompatinya. si belang mengikutinya. Menerobos gerbang perkampungan. lalu: "Aku tahu bahwa perangaimu baik." Baru kembali ibu yang sudah tua itu teringat akan masalah yang sebenarnya dihadapinya. Setelah melompati sebuah parit yang agak lebar. dengan tersengal-sengal dan berusaha mengangkat kepala." "Aku berjanji. lalu perasaan takut mencekam dadanya. mereka sudah berada di tanah perladangan yang di petak-petaki tanah yang ." "Tentu Ronggur sudah digoda setan. Tio. Tapi. Tanpa dipanggil. Mula jadi Na Bolon.

Ronggur duduk di lantai seperti orang tua itu sendiri. Suara parau menyuruhnya masuk ke ruang dangau. Diberi pula berhiasan suatu benda mengkilat. Pada kedua lengan tangannya membelit kayu hitam. Bercahaya ditimpa sinar pelita yang lemah. Dilompatinya pula tanah tinggi itu. kemudian diketahui Ronggur. dan kuku harimau.ditinggikan sebagai batas dan langsung pula menjadi pagar. Setelah memberi salam. pikir Ronggur." kata Ronggur. ‘Pakaian datu’. Tempat tujuan. "Ada apa. Dia tambah menegaskan langkah. apakah berhasil baik atau tidak. Supaya kerbau tidak merusakkan tanaman yang ada di ladang. Ruang tengahnya begitu kecil. berhadap-hadapan. Bapak akan menolongmu sebisa mungkin." . Baik dalam suatu perkelahian. begitu pula dalam perburuan. meminta agar arwah nenek moyang dipanggil melindungi orang yang meminta tolong padanya. terletak tempat sirih yang terbuat dari kulit kera. Yang pernah dibunuhnya. Di depannya lesung pelumat s irih. Pakaian itu tidak ditanggalkannya walaupun orang tidak pernah lagi datang padanya minta diobati. Anakku?" tanya orang tua itu. minta pertolongan melihat nasib. seperti matanya. Pada dadanya. izinkanlah aku mengajukan beberapa pertanyaan. bergantungan potongan gading gajah. taring. Di sebelah kanannya. Tangannya mengetuk pintu dengan lemah. beru kirkan bentuk ular sedang menjalar. Orang tua itu sedang mengunyah sirih. akar kayu yang dihitamkan dengan segala macam minyak dan lemak. "Bapak. Juga kerajaan tidak pernah lagi memintanya untuk menenung sesuatu maksud kerajaan. "Silakan. Mata orang tua itu tajam menumpu ke wajah Ronggur. Nak. Dikejauhan sudah kelihatan cahaya pelita yang menerobos dari celah dinding.

maka mula dan sebab kecelakaan itu harus diletakkan di pundakku. Dan. Lalu mengalirkan dendam itu ke tubuhmu. Orang lain tidak." Orang tua itu menegakkan kepala. Bapak. "Anakku."Kata ibu. aku harus menanyakannya pada Bapak. mulut manusia yang harus kita beri makan akan bertambah . Orang tua itu memperbaiki duduknya. ibumu mendendam padaku. tidak pernah. Kiranya. Ibu menyuruh aku menemui Bapak. tidak menanam dendam ke dadamu. Lalu kembali dia mengaju tanya: "Ibumu menyuruh kau datang padaku?" "Ya. "Anakku." "Kenapa Bapak berkata begitu?" Lebih dulu orang tua itu menumpukan pandang ke mata Ronggur. Dan. Kemudian kau membenci aku. Hanya Bapak kata ibu yang mengetahui dengan pasti. "Bapak juga sudah lama memikirkan bahwa pada satu saat. selama ini kupikir." "Ibumu tidak pernah menceritakannya padamu?" "Tidak. Maafkan kesalahanku itu. dan kenapa almarhum ayah menemui saat meninggalnya. bila sesuatu hukuman yang harus ditimpakan pada orang yang memulai malapetaka itu. kalau dikatakan bahwa kecelakaan itu punya mula dan sebab. maka hukuman itu pun seharusnya ditimpakan padaku. Ibu sendiri pun tidak. Aku juga harus mendukungnya." "Apa maksud Bapak?" tanya Ronggur pula." Orang tua itu menarik napas yang dalam. atau berusaha untuk menuntut balas. kalau aku mau tahu kubur almarhum ayah. ibumu tidak mau menceritakan. tidak menyangka pertanyaan begitu. Begitu dalam.

Maka kami pun mulai mengadakan perjalanan mengikuti Sungai Titian Dewata tanpa memperoleh halangan dari kerajaan. Dia juga sepakat denganku. Sehingga hasil yang dapat diberikan tanah yang ada di sekitar kita tidak akan mencukupi. bapak cepat melompat ke pinggir sungai sambil berteriak: 'Ama ni Ronggur. Sebuah lengkingan yang panjang menggema. Dihantamkan ke dinding batu yang keras. di kiri kanan kami hanyalah batu alam melulu. bapakmu hulubalang yang dihormati kerajaan karena keberaniannya. Bertambah hari bertambah deras. Bapak menanyakan pada mereka di mana dapat ditemui tanah habungkasan yang subur. semacam gua. apa yang kami temui? Pada suatu tempat tertentu. ikutilah Sungai T itian Dewata. Dan. air menuju ke sana. Bapakmu dan biduk lalu dihanyutkan arus yang menggila. setelah berhari-hari berkayu. cepat tinggalkan biduk'. Menanyakan arwah gaib yang tidak dapat dilihat mata. Hasil tenung itu mengatakan pada bapak. Karena tidak tahan menerima kenyataan ini. "Hasil pertenungan itu kuceritakan pada ayahmu. Yang bapak rasakan menyuruh bapak cepat meninggalkan tempat . yang berbeda dengan hasil tenungku. Itulah lengkingan yang paling akhir. Hingga akhirnya biduk yang kami tumpangi tidak terkendalikan. Tapi.banyak. Waktu itu bapak masih memegang kekuasaan mutlak sebagai Datu Bolon Kerajaan. Kami pun memulai perjalanan." Orang tua itu terbatuk sebentar. Agar pertengkaran karena setapak tanah dan yang bisa meledakkan satu peperangan bisa diatas i. dia melanjutkan. Pecah di sana. Begitulah bapak memulai pertenungan. Setelah mengunyah sirih lalu meludah dari celah lantai. di tengahnya air sungai mengalir. Tapi. sewaktu bapak melompat itu keseimbangan biduk hilang. mengikuti jalur sungai. Ayahmu begitu percaya akan hasil pertenungan bapak dan begitu percaya akan kekuatan gaibku. Mulut gua itu menganga seperti mau menelan. Sebuah terowongan batu. Tanah perluasan harus dicari dan ditemukan. Air seperti mau membulat.

berkerisik dan kuat. Dan." Orang tua itu menundukkan kepala. Tenungku salah. Dari matanya meleleh titikan air bening. dia tidak pernah lagi muncul. Bapak terpencil. Di antara isaknya dia masih mengatakan dengan suara parau: "Maafkanlah kesalahanku. Anakku. Anakku. Bapak disisihkan dari pergaulan sehari-hari. sejak itulah bapak tidak pernah lagi dipanggil kerajaan mengadakan pertenungan. Tafsir tenungku tidak benar. Membuat salah seorang sahabatku menjadi korban. Dari tempatku yang tersembunyi itulah bapak melihat dan mendengar usulmu. Namun bapak masih menantikan ayahmu untuk beberapa hari. Wajah Ronggur di samping merasakan perasaan duka. Turut memikirkan apa yang dipikirkannya. Kerongkongannya tersendat. Bapak mendengar usulmu. berusaha mencari tanah habungkasan. tapi bercampur baur dengan perasaan bangga dan gembira." Suara orang tua itu menjadi tambah parau. Tidak pernah lagi orang datang meminta bantuan. "Akhirnya bapak percaya bahwa ayahmu sudah menjadi korban atas kemurkaan dewata. Dan. Tapi. Sedang Ronggur khusuk mendengarkan. menyanyikan kemenangannya dan kegagalan serta kekalahan kami” Orang tua terdiam sebentar. bapak tetap juga mengikutinya. Tidak pernah lagi kembali.itu. Tapi. Anakku. agar orang mencari tanah habungkasan mengikuti arus Sungai Titian Dewata. Justru karena ada juga orang yang bisa atau turut merasakan apa yang dirasakannya. Memang mereka . Suara air yang bertemparasan ke dinding sungai yang terbuat dari batu alam yang hitam. tempat bapak di tengah rimbunan bambu duri agar orang tidak melihat bapak. pada upacara besar yang dilangsungkan di halaman perkampungan. Seperti berusaha mengingat sesuatu. Tapi.

Ronggur mengatakan: ”Bapak. seperti almarhum ayahmu sendiri. Tapi. Kegagalan yang ditemui bapak. jadi bapak mendengar usulku? Dan." "Itu risiko." "Bapak. Malah bapak sendiri lalu disisihkan dari pergaulan. kepercayaan mereka tambah menebal juga. orang yang ada di sekitar kita. yang punya kepercayaan bahwa Titian Dewata sungai dewata. lalu menimbulkan korban yang tidak kecil harus dihormati. Setelah memperoleh kesimpulan ini. darinya atau padanya tidak sewajarnya dialamatkan dendam. aku menghormati pendapat bapak tentang perlunya tanah habungkasan. Ditoleh sedemikian rupa sehingga sumber kegagalan pertama dapat dilintasi. Sampai ditemui satu kemenangan. Tapi. Tapi. waktu dia dulu turut membela hasil tenungku. kemudian mengetahui kegagalanku dan meninggalnya ayahmu. Aku mendengar usulmu. apakah satu kegagalan harus dihukum dengan kutuk dan dendam? ‘Tidak’. janganlah karena itu kita lantas menanggalkan satu cita yang tumbuh dalam dada kita. Cita yang baik. Agar kerajaan tidak menghalangi keberangkatan kami. Anakku?" .menemui kegagalan. Risiko yang harus kita terima." "Seharusnya begitu. sahut Rongur sendiri atas segala pertanyaan yang timbul dalam dirinya. waktu kau berbicara itu dengan suara yang lantang berani. Ah. Anakku. telah lebih dulu memikirkannya bersama almarhum ayah?" “Benar. walau menemui kegagalan sekali. Hasil tenungku tidak diperlukan orang lagi." "Apa maksudmu. yang tampak oleh mataku. Malah kegagalan itu harus dibuat menjadi batu loncatan. Bapak. Segala percobaan yang berusaha mendekati kebaikan dan mengupas kebenaran.

dengan suara pasti dia mengatakan. Tidak sempat berenang ke tepian." kata orang tua itu pula. "Arus itu. sungai ini lain. pada pangkalnya mempunyai arus yang kencang. yang menurut kata orang di sekitar ialah ujung dunia?" Ronggur masih terdiam. "Sudah tiba saatnya. lambat laun tambah ke hilir. aku harus melanjutkan pekerjaan yang gagal itu. Lalu. menjadi deras arusnya. setelah mengalami kegagalan bahwa Sungai Titian Dewata memang jatuh ke ujung dunia?" Orang tua itu mendongakkan kepala. Dinding batunya begitu keras. Bukankah itu pertanda bahwa sungai itu memang lain dari sungai biasa?" Ronggur terdiam. apakah menurut pendapat bapak. Yang lebih besar dari biduk. Kalau perahu terhantam ke sana pasti pecah. itu menatapi dan membiarkan Ronggur "Kata Bapak. Tapi. dia mengaju tanya pula: "Jadi. "dapat dikatakan cukup menggila. "Ya." "Pikiran yang baik. ada baiknya kau pikirkan bahwa sesuatu sungai biasa. Aku harus melanjutkannya. Pada pangkalnya tidak berapa deras arusnya." kata orang tua itu. Lalu. "Tapi. Keningnya berkerut. penumpangnya akan dihanyutkan arus tanpa ampun. Tapi. Dasar perahu harus agak luas dibuat agar tidak mudah terbalik waktu melawan arus atau melalui arus. Aku harus dapat mengatasinya." Orang tua berbicara. melayari sungai dengan biduk?" .Ronggur menarik napas yang dalam." "Kalau begitu harus diusahakan melayarinya dengan perahu. Bukankah arus menggila itu memang satu pertanda bahwa sungai akhirnya memang jatuh ke satu tempat yang maha dalam. Dan.

kumohonkan doa restu." "Boleh jadi riamnya lebih dalam. Talinya kita ikatkan pada buritan perahu. Anakku." "Juga tidak dapat bapak jawab. kalau begitu yang kita hadapi hanyalah arus sungai yang menggila. begitu pula arwah almarhum ayah." Orang tua itu menundukkan kepala. Boleh jadi arus menggila karena sungai melalui riam yang banyak ditemui pada sesuatu sungai. Tidak cukup kemudi saja menahan kencangnya perahu." "Maksudmu?" "Batu sebesar kepala manusia atau sebesar kepala kerbau kita ikat." "Boleh saja kita berpendapat begitu. Karena pendapat ini jugalah membuat bapak disisihkan orang. Dan. setiap itu pula batu itu kita jatuhkan ke dalam air sebagai penahan." . sewaktu melintasi arus sungai harus menggunakan tenaga pembantu. Tapi. aku harus melayarinya dengan perahu yang jauh lebih besar dari biduk. darimu. Karena hasil tenungku sampai saat ini tetap berpendapat bahwa sungai itu tidak jatuh ke ujung dunia. Agar perahu tidak dihanyutkan arus dengan sesuka hatinya. dengan akal begitulah aku bermaksud melayari Sungai Titian Dewata sampai ke muara." "Nah. Setiap melintasi arus yang tambah kencang. Dan. harus menggunakan batu pemberat. Tapi."Tidak dapat kupastikan. Karena arus sesuatu riam tidak akan begitu kencang dan begitu menggila." "Karena itulah." "Nah. Mengiakan lalu mulutnya mengatakan: "Satu pikiran yang baik. Agar kami direstui dan diberkati para dewata dan arwah nenek moyang. kenyataan keadaan sungai itu tidak dapat dipungkiri.

Karena itu kekuatan jiwa dan tekad yang padu harus kau punyai dan kau pupuk selalu dalam hati. Anakku. Kau akan menghadapi rintangan kepercayaan orang yang ada di sekitarmu. kalaulah bapak masih muda." Orang tua itu merasa gembira bercampur bangga karena ada orang yang sependapat dengan dia. "Anakku. kurasa lebih besar manfaatnya dari apa saja. masih punya tenaga yang kuat. Dadanya diangkat." Ronggur meminta diri. Mata orang tua menyinarkan cahaya kemenangan. sambil Malam sudah jauh." "Doa Bapak yang akan mengiringi langkahku. perjalanan itu akan kumulai. aku mau mempersiapkan peralatan yang kuperlukan dulu. dibaliknya pagi. "Dan. Beberapa gulungan tali ijuk yang kuat. Tapi. Orang tua itu melepaskannya menerjang kelam malam yang pekat. untuk pertama kali sete lah bertahun-tahun ada orang meminta pertolongan doa restunya. Tenaga gaib yang dipunyainya."Bapak akan membantumu. aku akan datang memberitahukannya pada Bapak. Si belang berlari-lari mengibaskan ekor. Dan. di samping Ronggur. yang punya dasar yang lebih datar dari perahu biasa. Karena." kata orang tua itu seraya pundak Ronggur ditepuk-tepuk. doakanlah agar anakmu ini selamat dalam perjalanan. kapan kau hendak memulai perjalanan itu. Bapak. Ah." "Baik. Sesudah ini s iap semua." kata Ronggur. beritahukan pada bapak kelak. sedang mulutnya mengatakan dengan suara pasti: "Anakku. perjalanan ini tidak mudah. Sebuah perahu yang agak besar. bapak akan turut bersamamu. Matanya bersinar. . berusaha menembus segala kegelapan yang menyungkup keadaan sekitar.

Tio tetap mengiring dari belakang bersama si belang. tangan kirinya menggenggam tombak. tampaknya. Lewat perkampungan danau. Di tubuhnya membelit tali ambalang. Ronggur melangkah cepat. Air yang biru tidak dapat dilihat pandang. Pundak Tio juga menyandang sumpit bertali yang berisikan beras. Tapi. Mereka terus melangkah. Mereka tampaknya akan mengadakan perjalanan yang tidak dapat dikatakan pendek masanya. Karena seperti tahu bahwa mereka akan mengadakan perjalanan yang lama dan jauh dari lingkungan perkampungan. Di pundaknya disandangkan sumpit bertali. meregangkan tubuh seperti mengendorkan urat yang dibekukan dingin pagi berkabut rendah. Si belang sering menggonggong. dan menembus kabut. Ronggur sudah berada di halaman bersama T io dan si belang. tapi sudah tambah menipis dengan bertambah tingginya hari. Masih juga dibalut kabut. begitu pula Pulau Samosir dan T uktuk Sigaol. kabut di sana lebih tebal. yang berisikan alat kecil. dari gerak-geriknya si belang gembira. Tangannya juga menggenggam kampak dan tombak. Matanya sering tertumpu ke pinggang Ronggur yang menyelipkan panggada. Bergegas. Tangan kanan Ronggur menggemggam kampak.ccdw-kzaa 3 Kabut pagi masih rendah menyungkup tanah. Semua teggelam ke perut kabut. dan rendah. Langsung rombongan kecil itu mengarah ke kaki bukit sebelah barat. Perkampungan tambah tertinggal di bawah. Jalanan terus menanjak. . lebih kental. panjang. Orang tidak ada di halaman.

Untuk kemudian secara perlahan mulai menyisih dari tanah. Karena ingin cepat tiba ke tempat yang dituju. Angin yang berdesir di lidah ilalang yang tinggi. Matahari memberi sinar. lalu ilalang itu bergoyangan. Permukaan danau. Air danau biru tenang di pagi hari tanpa angin. Mereka meneruskan langkah. Satu dua biduk berlayar di permukaan danau.Kabut yang rendah tambah terangkat. Akhirnya keputihan yang pekat tadi yang merupakan satu bundaran yang tidak berujud. Tergesa tampaknya. bersembunyi di sana menanti mangsa. Samosir dan Tuktuk Sigaol berhadapan. bertambah lama bertambah jelas tampak. Untuk tampak kembali pada tempat di mana ilalang agak rendah. Pertanda perkampungan. dan perkampungan serta danau. tambah jauh mereka di atas. seperti hendak menjangkau Samosir. sekarang sudah tampak isinya. Terkadang mereka seperti tenggelam di padang ilalang yang cukup tinggi. Biasanya. Ini semua dapat dilihat setelah melalui tingkatan sawah yang padinya sedang bunting. tepian Pulau Samosir dan Tuktuk Sigaol. secara berangsur perlahan. pertanda pengisi kampung sudah bangun dari tidurnya. suluh abadi yang dikenal mereka sejak masa kanak. Matahari tambah tinggi berlayar di langit dan sinarnya terus menerus tambah terik. penangkap ikan yang bekerja semalaman mengayuh menuju pantai. Lidah ilalang yang bergoyangan. jalanan menanjak. sudah mulai bangkit. Di sebelah lain Tuktuk Tarabunga menjulur ke depan. Terasa pedih juga bila sayatan kecil itu dibasahi keringat. Pada tempat tertentu tampak tumpukan bambu duri yang melingkar. Asap sudah mengepul dari kampung itu. Setiap saat. Langkah mereka begitu cepat diayunkan. dedaunan padi yang menghijau. Tidak banyak mereka mengeluarkan kata. si raja hutan. Itu yang membuat . tambah jauh berada di bawah. terkadang menyayati daging mereka dengan tipis.

" kata Ronggur. Langkahnya tambah dipercepat dan diperpanjang. danau yang biru. Pandang bebas diarahkan ke mana suka. Dedaunan yang rapat didukung pepohonan yang tumbuh di sana. hanya ke arah belakang yang kandas pada pegunungan. berakhir ke kaki bukit. Agar kita tidak kemalaman mencari tempat bermalam. kenapa sungai itu harus diadakan dewata." Tio tidak menyahut. Barat. Dari sana tampak lebih jelas lagi. "Sebelum matahari condong ke barat. Matahari terus berlayar di langit dan mereka terus melangkah di bumi. cukup hijau. "juga untuk memilih dahan pohon yang baik untuk tempat tidur. Utara. melalui tingkatan dinding teluk. Tapi. Mata Ronggur lama tertancap ke sana. Melihat Ronggur bersikap begitu. didasarnya hutan yang mereka tuju. Dalam hati terucap kata: akan kutembus kau sampai ke muara. dilincahkan sebagai sahutan. Alis matanya terangkat. dada Tio bernadakan lagu lain. Kelompok bambu duri pertanda perkampungan tambah banyak dapat mereka lihat dari sana. siap sedia dipergunakan. ketakutan bercampur baur dengan penyesalan. Di tangannya terus tergenggam tombak dan kampak. Lidah si belang terjulur merah dan berbuih. dan teduh. Sawah menghijau oleh dedaunan padi yang sudah panjang dan sudah bunting. mereka menatap ke sekitar. tapi terus mengikuti tuannya. Dari tempat ketinggian. Mereka sudah dapat mencium bau dedaunan yang segar. kita sudah harus menuruni lembah berhutan yang ada di salah satu lekuk danau. di teluk di mana Sungai T itian Dewata bermula. Dia tidak menggonggong lagi. Mereka menuruni lembah berhutan yang tidak berapa luas.Ronggur tetap was-was. berair. menampung . Beriak-riak. Tercecer bertumpuk di sana sini. Bermula dari pantai danau.

Akhirnya setiap kerajaan marga yang berdekatan. Kerajaan marga lain yang juga mendengar berita itu dengan tandas pula menyatakan maksud masing-masing. buatan alam. Dedaunan gugur me lapisi permukaan tanah. antara marga sendiri pun akan ada pertengkaran. Kalau hutan itu dibuka. boleh marganya tidak memperoleh tanah bagian. Yang bisa membuat satu luhak berkelahi dengan luhak lain. tapi sebagai pembayar bagiannya kerajaan lain harus memberikan kerbau pada kerajaannya. Tapi. Bila satu luhak telah menang. Jadi.sinar matahari. Tapi. marganya harus memperoleh bagian. Sampai sekarang memang belum ada satu marga pun yang mempunyainya. Tapi. untuk membicarakan masalah hutan itu. hasilnya masih tetap sama: belum memperoleh kata mupakat. setiap marga merasakan bahwa kerajaannya punya hak atas hutan itu. Satu marga mengusulkan. Ronggur sudah tahu bahwa mulai panen tahun muka. sudah beberapa kali dilangsungkan sidang kerajaan dengan kerajaan. permadani yang lembut. mendukung dedaunan. tapi. Yang mungkin pula menimbulkan peperangan marga. kerajaan marganya sudah memutuskan membuka hutan itu untuk dijadikan tanah persawahan. dari tanah hutan yang tidak seberapa luas itu. Di induk kampung marga Ronggur juga sudah pernah diadakan pertemuan. Tapi. hingga tanahnya tetap teduh dan berair. belum sampai ke taraf yang menentukan. bisa saja timbul peperangan yang berturut-turut. Begitulah. bersamaan dengan niat itu kerajaan marga lain juga telah memutuskan untuk membuka hutan itu untuk dijadikan tanah persawahan marganya. harus mengadakan pertemuan kerajaan. Masalah itu memang hangat dibicarakan. Jaringan dahan dan rantingnya. yang di tempati beberapa marga. Pada mulanya . Untuk membuka hutan itu lalu membagi-bagikan tanahnya bagi warga marganya.

" padaku nasi yang kau bawa itu Tio cepat memberikan. lantas mengatakan: "Tolong berikan sebungkus. sudah jelas garisnya: peperangan tidak terelakkan lagi. bila marga lain itu tetap merasakan bahwa kerajaannya punya hak juga atas hutan itu. tanpa memperdulikan kepentingan kerajaan marga lain." kata Ronggur lagi. "Bila selesa i makan. Untuk bahan bakar api unggun malam hari. Lidahnya terjulur ke luar. mendudukkan diri tidak jauh darinya. Memperbaiki jalan pernapasan. Si belang. akhirnya dapat memindahkan beberapa keluarga ke sana. untuk membuka hutan itu. . lalu melanjut pada yang lebih kecil. Menutup mata. Ronggur duduk melepas lelah pada teduhan sebuah pohon. Tio mengiakan. Kesejukannya telah memberikan kesegaran bagi mereka yang sehari penuh dipanggang sinar matahari. Berbuih. Hanyalah tempat singgahan sementara sebelum tiba ke saat yang ditakutkan Ronggur. kumpulkanlah ranting kering. Dan. kemungkinan pecahnya peperangan begitu besar. Memberi beberapa jemput untuk si belang. Mereka menurun ke lembah berhutan dielus angin sore yang nyaman. Ronggur kembali duduk. dia bisa lebih dulu menemui tanah habungkasan. pikir Ronggur. Suatu kerajaan yang memperolehnya. Menelentangkan diri. peperangan kerajaan marga. Hendaknya. atas putusan kerajaan Ronggur. Namun untuk merebutnya. Tepi hutan. Tanah perluasan buat sementara. sebelum peperangan dari perebutan hutan itu meledak. Diambilnya sebungkus untuknya.peperangan luhak. Karena luasnya tidak seberapa.

Dihidupkannya api. "Si belang di mana tidur?" tanya Tio. Membuat lobang pada salah satu sisi jurang tidak sempat lagi. cukup besar. "kita memilih dahan tempat bermalam. dia sudah dapat mencium dari jarak jauh. Tidak sekali banyak. Dia akan terus menggonggong lalu membuat kita bangun." Lagi-lagi T io mengiakan. Baru Tio memulai mengonggokkan ranting di lapisan bawah diatasnya dahan. Di sini cepat gelap. Ronggur pergi menyusuri tepian hutan. Sebaliknya. lalu dibawanya ke bawah pohon tempat mereka bermalam. Agar terhindar dari gangguan binatang buas. Lantas memberi bantuan. Bila bahaya datang. Sebentar lagi matahari akan tenggelam. Potongan dahan kayu yang sebesar betisnya dionggokkannya kenyala api menjilam. Juga bisa mengusir dingin malam. Dahan yang dipilih Ronggur untuknya dan untuk T io tidak berjauhan. Tapi. agar nyamuk tidak banyak mengganggu." Begitu tergesa mereka menyiapkan sesuatunya. "Biarlah di tanah. Dahan yang patah dari sesuatu pohon dipotong. Di bawah dahan mereka bakar api unggun. sedikit demi sedikit supaya api tidak mati. dan tidak vertikal. Penciumannya cukup tajam. Agak gepeng sedikit. Bara memanas di bawah bila sudah ada dahan sebesar betis yang habis dimakan api. Dan tetap ada nyala menjilam. yang bercabang dua. ."Hari sudah sore." kata Ronggur pula. Ronggur memilih dahan yang baik untuk tempat tidur. Di mana tubuh enak ditelentangkan. Mula-mula dibakar ranting. tapi mendatar. Tio tidak hanya mengumpulkan reranting. Ditatapi Tio terus sampai Ronggur hilang ke antara pepohonan atau tenggelam kerimbunan rerumputan yang tinggi. Tidak terlalu bulat.

. yang cepat menjadi kelam. baik melalui ancaman bahaya yang mungkin ditemuinya. mengandung bahaya lagi yang bisa membakar dan menghanguskan. Di tikungan jalan tikus menanjak sana. pikirnya. sesuatu yang dipikirnya dan dirasakannya punya kebenaran." “Harus pohon maranti batu?" tanya Tio menyeling.Ya. Sambil tersenyum Ronggur berkata: "Kau pandai menyalakan api. sudah menjadi pertanda bahwa di hutan ini akan kutemui pohon yang kuperlukan. Tapi. masih menyimpan bara kehidupan yang cukup besar didasarnya. belum kutemui maranti batu yang cukup tua. mengendorkan maksudnya. Dari jauh sudah kedengaran siulan Ronggur datang mendekat. Ronggur melihat api yang sudah menyala dan memberi kilatan cahaya pada sekitar. Begitu pula dengan tekad perjalanannya yang akan menempuh Sungai Titian Dewata tak satu pun kekuatan baik melalui kemesraan dan kasih. tak seorang pun dapat menghalanginya untuk mengerjakannya. yang baik dijadikan perahu. Pohon yang kuperlukan harus cukup tua lagi besar. bagaimanapun kumpulan pohon maranti batu yang masih muda itu. senja. Sedang panjang batangnya yang lurus hendaknya melebihi tiga depa. bila hendak memadaminya. Ronggur dapat diibaratkan seperti api unggun. yang dikatakan sikap jantan yang berani. yang dapat mencegahnya. atau dia sendiri akan musnah. Tapi. Walaupun itu berarti dia akan merombak kepercayaan yang sudah tertanam di dasar hati penduduk turun-temurun. Sehingga apa yang dilihat itulah. Tingkah lakunya yang dapat dilihat atau yang muncul kepenglihatan. sudah kutemui kumpulan pohon maranti batu. Seperti api unggun itu sendiri. harus turut baranya dipadamkan baru tidak mengandung panas lagi. Dedaunan yang merimbun menampung cahaya matahari yang sudah lemah.

namun T io bila memang Ronggur harus berangkat juga. Kita harus mengadakan pengintaian. Jangan lebih dulu menebang kayu. “Besok pagi benar. Matanya seperti bermimpi. Lagi. kutemui pula parit kecil. Memintal ijuknya menjadi tali. Dan.“Ya. kuperlukan dalam perjalanan." “Aku akan mengerjakan." Tio mendengarkan. Ronggur melanjutkan: “Sewaktu aku meneruskan perjalananku lebih ke atas. Sangat kuperlukan nanti dalam perjalanan. Jadi. Membunuh beberapa ekor binatang itu. Binatang akan pergi menjauh. banyak pohon aren liar tumbuh. bila bersama Ronggur. tidak mengajaknya? Betapa pun ancaman yang tumbuh dari maksud perjalanan itu. Tapi meranti batu tidak mudah busuk walau direndam dalam air dan dipanggang terik matahari. mereka tidak akan mati kelaparan. kekuatan tubuhnya memberi jaminan. Apakah Ronggur pergi sendiri. Begitu yakin dia bahwa kemana pun dia pergi." Kemudian Tio terdiam. Airnya bening. walau susah mengerjakannya karena kayunya cukup keras. Itulah kerjamu. Harus cukup besar. daya apungnya sangat baik. Semua perahu yang baik dibuat dari jenis kayu itu. Tapi. maka itu sangat lain soalnya. Suara kampak yang berlaga dengan pohon kayu bisa menakutkan binatang. kita tidak akan kekurangan daging di sini. dia ingin ikut. Dalam hati selalu mengiring tanya. Keberaniannya. kalau bisa sebesar pergelangan tangan. bila diingatnya bahwa Ronggur akan menyusuri sungai Titian Dewata mencapai muara. bangunlah. Sudah ada yang tua. Tahukah kau di sebelah hulu parit." sahut Tio. Walaupun tubuh Ronggur cukup tegap menyimpan . Di tepi parit banyak kulihat bekas jejak binatang buruan. agar ada daging persediaan. Kau harus menebang pohon aren yang sudah tua itu. Harus pula panjang. akalnya yang cukup banyak. Menatap entah ke mana saja.

Sekitar menjadi terang dan panas. Menimpakan beberapa potong lagi dedahanan ke atas api. dekat unggun api. Ronggur menyuruh Tio mengikatkan tubuh ke dahan kayu yang bercabang. Jilam-nya begitu tinggi. agar tidak jatuh sewaktu diri lelap tidur. Mendengarkan dan meraba sumber suara itu. Dalam hayalnya Ronggur sudah menggambarkan bentuk perahu yang hendak dibuatnya. Tapi. berbentuk gepeng. Tambah jauh malam nyala itu tambah mengecil. Hingga jilam yang mau padam tadi. bisa mengikuti arus sungai walau melalui riam.tenaga yang kuat. penimba air harus dibawa serta. kembali menyala. Binatang rimba mulai bernyanyi. Sudah di reka-rekanya bahwa dasar perahu harus mendatar. Ya. akalnya banyak. Ronggur juga mengikatkan tubuhnya ke dahan tempatnya tidur. Tapi. jangan melancip. Malam begitu dekatnya. Kalau dewata berkehendak. apalagi kalau dilanggar ketentuannya. Si belang duduk di . Ronggur turun ke bawah. Nyala menjilam dari unggun api. ikatannya jangan dipintal mati. Biarlah tidak bisa dikayuh cepat. apakah Ronggur tidak dapat membaca apa yang tersirat dicerlang matanya? Malam hari.. Jengkrik dengan kerisiknyayang nyaring dan di kejauhan gonggong dan salak anjing liar selalu membuat si belang mendongakkan kepala. Karena mungkin saja diperlukan pada saat tertentu. siapa pula dapat menantangnya? Entah kenapa perasaan takut itu tambah hari tambah dalam mencekam di hatinya. semuanya itu tidak berarti. namun untuk menghadapi ketentuan dewata. Harus bisa dibuka dengan cepat. Namun dia tidak mengatakan. Biarlah perahu agak lamban jalannya. Yang dibuat dari bambu. Kurang wajar rasanya dia menasihati perjalanan yang sudah diputuskan Ronggur harus ditempuh. lalu tampak bara membara. Si belang di bawah. Dinding perahu harus agak tinggi agar tidak dimasuki temperasan air yang memercik. Tapi. pikirnya.

tanah dekat api melihat jilam api yang terkadang meliuk ditiup angin lalu. "Perahu yang kubuat," lanjut Ronggur berbicara pada diri sendiri setelah dia kembali me letakkan diri dan mengikat tubuhnya ke dahan kayu itu. Harus bisa memuat penumpang sebanyak tujuh orang paling sedikit. Dasar perahu harus lebih lebar dari perahu biasa, agar tidak mudah oleng waktu melintasi riam sungai. Juga agar mudah menjaga keseimbangan. Sudah dibayangkan, siapa yang akan diajaknya serta. Akan diminta kesediaan mereka menemaninya. Dan, ke dalam yang tujuh orang itu, tidak termasuk Tio. Perjalanan yang menanggung risiko begitu berat, bukanlah pekerjaan perempuan. Lagi, Tio perlu dekat ibu. Membantu mengerjakan sawah bila saat panen tiba. Siapa ttliu, boleh jadi perjalanan itu sangat panjang. Dikiranya pula, bila setiap hari dia mengerjakan perahu, dalam dua kali purnama tenggelam dan terbit lagi sudah bisa selesai. Berarti sepulangnya dari hutan itu, padi telah menguning di sawah. Sehabis panen, dia akan memulai perjalanan itu. Seketika, teringat dia atas maksud kerajaan marganya untuk membuka hutan itu menjadi tanah persawahan. "Ah," pikirnya pula, "dari orang yang sangat dekat dengan Raja Panggonggom, diperolehnya keterangan bahwa s iasat itu baru gertakan saja pada kerajaan marga sekitar. Untuk menduga sampai di mana kesungguhan kerajaan marga lain itu untuk menguasai hutan itu. "Tapi, betapa pun," pikirnya pula, "hutan itu akan dibuka orang juga. Dan, darinya timbul satu ancaman pada ketenteraman hidup. Karena setiap kerajaan marga merasakan sama-sama berhak atas hutan yang kecil itu."

"Tio, kau sudah tidur?" tanyanya. Tidak ada sahutan. "Ah," pikirnya, "Tio sudah tidur." Dan, dia masih belum bisa memejamkan mata. Pikirannya terus berbicara dan bercerita dan mereka-reka bentuk masa datang. Dia tidak tahu pasti, kapan dia jatuh tertidur. Kokok ayam hutan membangunkan mereka. Cepat Ronggur turun dari dahan. Begitu pula Tio. Setelah meregangkan tubuh beberapa saat, menguapkan mulut. "Enak tidurmu malam tadi?" tanya Ronggur. Tio hanya menundukkan kepala. Sekitar masih remang. Masih pagi benar. Tapi, bila mereka pergi ke pinggir hutan, tahulah mereka bahwa matahari sebenarnya sudah muncul di atas pundak Dolok Simanuk-manuk yang dapat mereka tatap dari mulut teluk. Dedaunan yang rimbun menghalangi sinar matahari jatuh menimpa wajah mereka. Cepat-cepat Ronggur mengajak Tio mendekat ke parit yang dikatakannya semalam. Perlahan-lahan mereka mendekat, seolah-olah tidak menimbulkan buny i. Walau melalui ranting-ranting kering yang berserakan di atas tanah. Ronggur menunjukkan sekumpulan pelanduk yang sedang minum dan bermain-main di parit kecil itu. "Lihat," bisik Ronggur. "Bidiklah yang sebelah sana, yang kepalanya berbelang putih. Aku membidik yang kakinya berbelang." Tio mengiakan dengan anggukan. Bersama mereka mengayunkan tombak yang cepat melayang. Lalu, tertancap ke sasaran. Karena terkejut, pelanduk lain melarikan diri. Sedang pelanduk yang dikenai tombak melengking dan berusaha melarikan diri beberapa jauh, membawa luka di tubuh yang mengucurkan darah. Untuk itu, si belang cepat bangkit dan mengadakan pengejaran. Digigitnya kaki pelanduk itu sampai tidak berdaya. Sampai rubuh ke tanah. Kemudian si belang menggonggong, mewartakan kepada tuannya di mana pelanduk tergeletak.

Ronggur dan Tio cepat mendekat. Mereka kuliti binatang itu. Dagingnya mereka potong tipis-tipis. Mereka jemur di atas batu yang langsung menampung sinar matahari penuh tanpa dihalangi dedaunan. Sehari itu, si belang disuruh menjaga agar tidak dicuri burung gagak. Rongur memilih dinding jurang yang baik digali untuk membuat lubang perlindungan, tidak jauh dari parit kecil agar mudah mengambil air. Berdua mereka menggali. Mulut lubang dibuat besar, hingga bisa masuk dengan leluasa. Sedang ruang dalam agak luas. Mereka bisa menyangkutkan ulosbatak sebagai batas tempat tidur masing-masing. Sampai jauh malam mereka mengerjakan lubang itu. Peralatan mereka simpan di sana. Begitu pula dengan daging hasil pemburuan tadi pagi yang harus dijemur besok harinya, karena belum cukup kering untuk disimpan. Mereka gembira karena sudah memperoleh daging yang dibutuhkan dan sudah punya lubang perlindungan. Ronggur bisa tidur nyenyak malam itu, begitu pula T io. Di mulut lubang si belang tidur-tiduran. Seperti menjaga kemungkinan adanya gangguan binatang buas. Pagi itu, Ronggur melanjutkan mencari kayu. Dia menyuruk-nyuruk di bawah rerantingan, menyibak rerumputan yang terkadang berduri dan melukai tubuhnya dengan garisgaris kecil. Tapi sudah dapat menitikkan darah untuk kemudian membeku Agak jauh di tengah hutan, baru ditemui pohon yang dicari. Besar batang pohon, tiga kali pelukannya. Panjang batang pohon yang tegak lurus, sekira tiga depa. Diperiksanya batang pohon itu baik-baik, hingga dia yakin bahwa pohon itu sudah cukup tua. Dikulitinya batang pohon sekira sejengkal, lalu tampak kayu yang sudah berminyak. Kemudian dipanjatnya. Diperiksa, apakah tidak terlalu banyak mata kayunya. Tahulah dia bahwa kayu itu cukup baik dijadikan perahu. Langsung saja Ronggur mulai mendahaninya, agar waktu tumbang nanti

kembali mereka mengadakan pemburuan. Persilangan itu diikat dengan rotan kuat-kuat. diukurnya. Bila air sungai tidak berapa dalam bisa digunakan membantu jalannya perahu. Tepat sepanjang yang diperlukannya. kemudian direndam dengan air. lalu ditapis untuk diasingkan tepungnya Yang baik. Dua biji lagi kayu yang tidak berapa besar ditebang Ronggur. Dibuatnya pula pacakan begitu dua lagi. Sedang persediaan beras tampaknya tidak berkurang-kurang karena persediaan tepung umbi aren. Ijuknya cepat berlepasan satu sama lain bila pohonnya sudah kering. Begitulah mereka saling mengerjakan tugas masingmasing. Sesudah selesai menjemur daging hasil buruan semalam dan menyuruh si belang menjaga. Lebihnya dibuang. yang panjang lagi kurus. Dari dedahanan kayu yang ditebang Ronggur. di tanah yang tidak terlindung. Bila daging sudah mulai habis. galah itu sangat diperlukan dalam melayari sungai. Sedang batang pohon maranti batu yang sudah tumbang itu. Batang pohon itu dipotong. Dengan dibantu Tio. Atau. Umbi aren diasingkan untuk ditumbuk. Belahan pohon aren dijemur di bawah terik matahari. dimakan pengganti beras. Katanya sekali waktu pada Tio. mendorongkan perahu yang mau terhempas ke tepian berbatu dengan menjolokkan galah ke pinggir sungai berbatu. Bersilangan. Batangnya dibelah. dengan mencucukkan galah ke dasar sungai lalu menyorongkan. Ijuk yang berlepasan itu bisa dipintal menjadi tali yang cukup kuat. Tanah di sekitar pohon itu dibersihkan. Ujungnya dilancipkan kemudian dipacakkan ke tanah. dua tiga biji dipilihnya untuk dijadikan galah. Ronggur menaikkan batang pohon maranti batu itu ke atas . Tio langsung menebang aren yang sudah tua.tidak menyangkut pada pepohonan lain yang bisa menimbulkan cacat pada pohon itu.

di bagian perut lebih dalam dan luas. Setelah bentuk lobang itu agak nyata. Bila dasar perahu dan dinding perahu bertambah terbentuk. Di sana batang pohon itu dikulitinya. tidak pula boleh terlalu tebal. Di atas pacakan. Ronggur harus hati-hati memilih. Membentuk semacam dinding yang baik. Satu menghadap ke depan. Pada bagian buritan dan hulu perahu. pada bagian hulu dan buritan tidak berapa dalam. mengambil tuntutan dari bagian dalam perahu. Begitu pula dasarnya. Tuhil itu ditancapkan lebih dulu. Karena itu. Agar perahu tidak berat atau agar daya apung perahu cukup baik dan punya keseimbangan. kapak tidak berapa dipergunakan Ronggur lagi. berhatihati. dipahatnya semacam ukiran. yang nanti menjadi tempat pemenumpang. Dikeluarkannya tuhil. Tapi. batang pohon itu bisa dibalik-balikkan. Dia harus memperhatikan benar. Ronggur beralih pula menukil bagian luar. Dengan tuhil Ronggur melanjutkan membentuk lobang atau memperhalus bekas makanan kampak. . Dasarnya sengaja diperluas. bagian batang mana yang harus dijadikan dasar perahu. perahu akan bocor. Di atas pacakan itu Ronggur mulai membuat perahu. satu lagi menghadap ke belakang. Tapi. Langsung bersatu dengan tubuh perahu. diusahakan agar sama. alat yang yang terbuat dari batu yang tajam muncungnya. ditelanjangi. agar dinding perahu tidak terlalu tipis lalu mudah pecah.pacakan yang berupa galangan itu. Dari sebelah mana harus dimulai penukilan membentuk semacam lobang di batang kayu itu. menggambarkan kepala harimau. kemudian hulunya diketok perlahan. tebal kedua sisi dinding perahu. Mata kayu biasanya mudah lepas dari kesatuan kayu dan bila sudah lepas. Bentuk lobang yang dibuat Ronggur di batang kayu itu. Dia harus memilih dasar perahu yang terbuat dari bagian batang yang tidak banyak mata kayunya.

disatukan. Ronggur mengatakan tali yang dipintalnya masih kurang banyak. Menapis agar diperoleh tepungnya. Karena itu. Menjemur. Ijuk yang mengikut itu. Membelahnya. Tio harus mencari pohon aren baru untuk ditebang. Alat pemintal. Tahan air. Dia harus menyusur lebih ke hulu parit lagi. Dipilin tangan demikian rupa sehingga berbentuk tali yang jalin-menjalin.Buritan dan hulu perahu. Bila buritan dan hulu perahu retak atau pecah. Kemudian melahirkan kulit baru yang lebih tebal dan lebih tahan menghadapi ijuk. setelah pohon aren yang tua habis ditumbangkan Tio di tempat itu. yang diusahakan sebesar yang dikehendaki dan sudah cukup panjang diikatkan pada pepohonan yang ada di sekitarnya. sehingga bisa mengucurkan darah. yang sudah dua jalur itu. Ijuk yang memanjang. Dibuat bersilang. sendirinya saja bagian perut perahu akan pecah. melepaskan ijuknya dari batangnya. Kayu bersilang itu diputarkan pada tumpukan ijuk yang dicerai-beraikan. Waktu saat memintal ijuk tiba. ialah dua potong kayu sebesar pergelangan tangan. Mencerai-beraikan. betapa susahnya memintal ijuk pohon aren. dia harus mencari pohon aren lagi. . tahulah Tio. hitam. Kulit telapak tangan berlecetan di sana-sini. justru karena di buritan dan di hulu perahulah terletak tenaga sesuatu perahu tersimpan. Menyisihkan umbinya. Menebang. asal saja jangan dibakar api. Merendam ke air. Lalu dimulainya memutar-mutarkan kayu bersilang tadi ke tumpukan ijuk. Tapi. Ijuk yang keras sering menusuk kulit telapak tangan. Kemudian memintalnya menjadi tali. ijuknya sudah dipintal menjadi tali. Pohon aren yang setumpuk itu sudah pada tumbang. Dan. dan kokoh. kasar. sudah kering sehingga ijuk mengikut pada putaran kayu itu. Tapi. Dan. Bila batang aren sudah kering. T ahan panas matahari. dindingnya tebal dibuat di sana.

didengarnya dengusan babi dari semak yang ada di atasnya. Dan. matanya masih sipit. itu dengusan induk babi. Waktu dia berpaling. Babi itu akan menyeruduk maju ke depan. yaitu depannya. bila babi jantan itu sudah bertaring. Dia harus menghadapi serangan babi itu. Dari depannya. Sebelah kedua sisinya. Dibulatkannya tekad. Tapi. Tidak ada batang kayu yang dekat yang bisa dipanjat untuk menghindar bila babi itu menyerang. yang harus dihadapinya hanyalah satu arah saja.Tio menyuruki rimbunan kekayuan yang agak rendah. Jalan menyingkir sudah tidak ada. dia harus menghadapi segala kemungkinan. Yang masih punya bulu begitu halus dan menggelikan telapak tangan. Setiba di bawah pohon aren itu. Dielusnya perlahan tubuh anak babi yang masih lembut. Walau dia tahu seekor babi hutan tidak akan terus jatuh ketika pukulan pertama mengenai tubuh atau kepalanya. suara dengusan babi. tidak menguntungkan. juga mengandung mara bahaya yang mengancam di samping kegembiraan. Padahal babi hanya bisa menyerang dari satu arah. belukar. Induk babi yang baru melahirkan dan masih menyusukan tentu cukup galak dan tetap diiringi jantannya. Bila dia mundur ke sana dan mengadakan pertahanan. Dengusan napas babi tambah mendekat. menyerang sampai mangsanya terjepit. Dari jauh sudah terlihat daun aren yang panjang itu. Muncungnya yang panjang kemudian akan ditusukkan ke bagian tubuh yang lunak. Anak babi hutan lima ekor. Tiba-tiba dia sadar bahwa menemui sarang babi hutan yang mempunyai anak yang masih kecil. jalan tikus yang sempit. . mencari pohon aren. Sebelah kanannya. Dilihatnya keadaan sekitar. Sadarlah dia. masih ada semacam dinding tanah sebelum menembus ke jalan tikus itu. Ke sana dia menuju. betapa gembira dia karena dia menemui sarang babi hutan.

taringnya akan digunakan mencabik-cabik daging mangsanya. Menggigil juga dia. Sambil mundur perlahan, matanya tetap awas dan terus diarahkan ke sumber dengusan. Tapi, pikirannya masih dapat mengingat bahwa bila babi menyerang selalu membabi buta. Langsung saja menyergap ke depan tanpa rem. Dalam saat begitu, seseorang yang lincah dan tidak gugup, dengan meloncat ke kiri atau ke kanan, bisa mengelak serangan. Bisa mengelak serangan babi sambil menggunakan kesempatan itu menghantamkan panggada atau kampak yang ada di tangan. Tiba-tiba si belang menggonggong. Begitu nyaring suaranya. Taringnya ditunjukkan, putih tajam dan kukuh. Dalam hati, Tio mengharap Ronggur dapat mendengar dan mengerti maksud gonggongan si belang. Dua ekor babi sekaligus sudah berada di hadapannya, di tempat terbuka yang sempit. Seekor dari babi itu sudah bertaring, yang jantan. Mata kedua babi itu merah menyala. Keduanya mengais-ngais tanah, bergaya, mengambil ancang-ancang memulai serangan. Tio terus mundur sampai mendekat ke satu sudut tanah tinggi yang keras. Matanya terus awas, mengikuti sikap dan gerak-gerik babi yang dua ekor itu. B ila babi menyeruduk maju tanpa rem, di saat dia harus melompat ke kiri atau ke kanan, dia harus terus cepat pula mengayunkan kampak yang ada di tangannya, sambil harus terus awas menantikan serangan babi yang seekor lagi. Si belang masih terus menggonggong dengan nyaring dan bersikap menanti. Karena itu, babi itu belum menyerang. Gonggong si belang cepat berhenti karena babi jantan menyerang si belang. Si belang melompat ke samping. Babi jantan terdorong ke depan. Si belang cepat melompat ke punggung babi itu. Si belang sudah berada di punggung babi. Tapi, sebelum si belang memperoleh posisi yang baik, babi itu masih sempat mempergunakan taringnya sehingga leher si

belang kena dan mengeluarkan darah. Tapi, si belang tidak lagi melepaskan pundak babi jantan itu. T aringnya yang tajam dan kukuh ditancapkan ke bagian punggung leher babi. Babi itu menggelepar dan berlari dengan berputar untuk menjatuhkan si belang dari pundaknya. Namun si belang tidak melepaskan gigitannya lagi. Darah babi muncrat. Namun, belum ada pertanda babi itu mau mengalah. Akhirnya, babi itu berlari ke satu batang pohon yang besar, mendorongkan pundaknya agar si belang terjepit. Dengan kaki belakangnya, si belang menahan dorongan itu. Taringnya tambah dalam ditancapkan ke daging babi. Babi betina melihat babi jantan dalam keadaan payah mulai mengambil ancang-ancang akan menyerang. Waktu itu, secepat kilat tangan Tio mengayunkan kampak, berusaha menghantamkan ke bagian punggung leher babi. Tapi, yang kena bagian punggung belakang saja. Babi itu cepat berpaling. Panggada yang ada di tangan Tio diayunkan beruntun, menghantam kepala babi itu. Tapi, babi itu terus maju mendorong, mendesak T io ke sisi tanah tinggi. Terkadang didorong ke rimbunan lalang yang ada di sekitar. Tio tetap berusaha menjaga arah mundur. Tapi, justru karena serangan babi itu yang terkadang berubah arah, sekali waktu dia tergelincir juga. Dia tersandar ke pohon aren yang berduri tajam. Duri pohon aren menusuk punggungnya. Terasa sakit. Cepat babi itu mundur ke belakang dan cepat pula melompat ke depan bermaksud menjepit T io ke batang pohon aren. Tapi, secepat itu pula Tio mengelak. Namun, betisnya sempat disambar babi dengan muncungnya. Luka menggaris, darah mengucur. Tio memperbaiki posisi sambil menghantamkan panggada ke sana ke mari, menghalangi jalan maju babi itu. Sekarang, Tio sudah bersandar ke dinding tanah tinggi yang keras. Kembali babi itu mengambil ancang-ancang mundur beberapa

langkah. Tio berhenti mengayunkan panggada. melengah.

Seperti

Dan, saat ini dipergunakan babi dengan menyeruduk cepat ke depan. Saat genting. Dan, Tio cepat mengelak ke samping. Kepala babi terhantam ke dinding tanah tinggi yang keras. Kampak yang tadi tertancap di pundak babi menjadi lepas. Cepat dipungut Tio, lalu menghantamkan kampak ke leher babi yang belum sempat berpaling. Akhirnya babi itu tidak berdaya sama sekali. Tergeletak di tanah dengan mata yang masih memancarkan sinar kemarahan. Kaki belakang si belang semakin lemah menahan dorongan babi jantan. Pantatnya sudah mulai kena ke batang pohon. Tio masih begitu payah. Napasnya satu-satu dan tubuhnya mandi keringat. Betisnya terasa pedih mengucur darah. Hingga dia untuk beberapa saat tinggal melihat saja. Napasnya tersengal. Urat sarafnya begitu tergoncang. Dan, secara perlahan diketahuinya, si belang sedang berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan bersamaan dengan mengendornya urat saraf itu. Bersikap mengayun kampak, Tio maju perlahan. Tapi, waktu itulah sebuah tombak yang sudah cukup dikenalnya tertancap ke perut babi. Ronggur telah ada di sana dengan tubuh berkeringat. Matanya menyala marah. Ototnya mengencang. Ujung tombak satu lagi dipegang Ronggur kuat-kuat, hingga mata tombak tambah dalam tertanam ke perut babi. Kemudian Ronggur memerintahkan agar si belang melompat dari pundak babi. Begitu si belang me lompat menjauh, secepat itu pundak babi dihantam Ronggur dengan kampak. Babi itu akhirnya rubuh ke tanah. Tergeletak di tanah dengan gelepar lemah. Ronggur melihat Tio terduduk di tanah dengan napas tersengal. Di dekat seekor babi betina yang terkapar. Si belang masih menggonggong babi yang tidak berdaya itu dengan moncong berlumur merah darah babi. Tapi, lehernya luka kena taring babi.

Begitu juga luka s i belang. di situ pula kau merubuhkan babi yang dagingnya enak. Ronggur mendekati T io. Ramuan dedaunan itu dilekatkannya ke luka Tio dan si belang.Dengan senyum. Lukamu akan cepat sembuh. Tanpa diminta Ronggur. sedang pada Tio dihadiahkan senyum manis. Sedang anak babi yang lima ekor itu akan mereka bawa pulang ke kampung. Mencari dedaunan untuk ramuan mengobati luka Tio dan si belang. dipelihara menjadi babi peliharaan yang jinak. Di saat kita kehabisan daging. Sepotong paha diberikan kepada si belang . punggungnya bergaris-garis bekas tusukan duri. "Tidak berapa lama akan tidak terasa apa-apa. Malam harinya. Ronggur kembali menghadiahkan senyum. Dijemur di panas matahari supaya kering dan tahan disimpan. Kemudian isi perut babi itu dibuang. Seketika terasa mulut luka itu perih hingga T io harus menjerit kecil. membuat sarang babi yang sekaligus menjadi kurungan bagi anak babi itu. merasa malu dia dilihat Ronggur dalam kepayahan. Tio terus saja menceritakan mula perkelahian dengan babi itu. juga luka si belang. Dan. mereka lanjutkan memanggang daging babi itu dalam gua. betis Tio luka. lukamu perlu cepat diobati." Cepat Ronggur menghidupkan api." ucap Ronggur. Ronggur mengelus punggung si belang agar tabah. Tapi. Cepat Ronggur menjauh. Tio menjalin rotan. Mata mereka bertemu. Lalu tahulah dia. sedang si belang melengking perlahan. Ramuan itu membunuh bisa. Baru kemudian daging babi itu dipotong kecil-kecil. Masih merasa capek. Tio masih tetap terduduk. "Kau telah mengadakan perlawanan yang cukup berani dan berarti. Kedua ekor babi itu dibakar sampai kulitnya hangus. Lagi pula lukamu tidak berapa dalam. Ronggur mengangkat dagunya perlahan. Hanya begitu.

Karena jalanan menurun dan dedaunan membusuk di lapisan tanah. mereka tidak menakutkan dasar perahu bolong dibuat batu. tahulah . semua peralatan bersama kelima anak babi dimuat. mereka tidak pulang melalui jalan darat. Hendak mereka bawa pulang. Perahu yang cukup besar yang bisa memuat tujuh orang penumpang bersama peralatan. Mereka harus menguji keseimbangan perahu dulu dengan mengapungkan di permukaan danau.sebagai hadiah. sudah sama. Tali yang dipintal Tio sudah beberapa depa dan sudah ada lima gulungan besar yang selesai. Ronggur dan Tio menurunkan perahu itu dari galangan. Ronggur sudah selesai menghaluskan bekas tuhilannya. Sedang luka di betisnya sudah sembuh. Mereka langsung menuju tepian danau yang ada di mulut teluk. tinggal segaris saja. kedua sisi dinding perahu. Dengan tali yang dipintal Tio. Perahu yang dikerjakan Ronggur tambah berbentuk dan mulai mengarah ke tarap penyelesa ian. tidak diingatnya lagi betapa perasaannya waktu menghadapi kedua ekor induk binatang itu. sekarang sudah ringan. begitu pula perbandingan berat hulu perahu dan buritan perahu. tapi tidak. Dan. Kulit binatang buruan sudah pada mengering. dan jinak. Begitu pula luka di leher si belang. Bila Tio berma in dengan anak babi itu. Kemudian mereka menarik tali itu dan terseretlah perahu. jadi. Ronggur dan Tio mengosongkan perahu. matanya sudah terbuka. la asik menyabik-nyabiknya di mulut lobang perlindungan. Setiba di tepi danau. Tanah begitu lembut dan berair. Ronggur mengikat perahu itu pada hulunya. Begitu pula anak babi yang lima ekor itu sudah punya bulu yang agak kasar. Di dalam perahu. ditumbuhi bulu lagi. hanya tinggal bekas kecil saja. Pada penglihatan mata. Batang pohon maranti batu yang dulu begitu berat. Si belang mengikut dan menggonggong.

Ronggur mencampakkan pandang jauh. apa yang bagi penglihatan mata sudah punya keseimbangan yang sama. Walaupun Ronggur sudah duduk di buritan perahu. hendaknya Ronggur dapat kembali dengan selamat. namun dia masih mengharapkan. Kembali perahu didaratkan. Ronggur menipiskan bahagian haluan lagi. tidak baik dibawa berlayar. kembali dia teringat bahwa saat berpisah dengan Ronggur sudah semakin dekat. Sisi kanan perahu harus lebih direndahkan dan ditipiskan pada bahagiannya yang masih tebal. ke teluk di mana bermula Sungai T itian Dewata sudah ada. ternyata dapat ditembus air.dia. Juga mata kayu yang ada di dasar perahu yang tidak dapat dielakkan sejak mula. sebelum perahu rampung benar. Haluan perahu terlalu berat. mereka telah berada di danau bebas. juga si belang. mereka harus bermalam lagi untuk beberapa malam di tepi danau. Mereka berkayuh dan berkayuh. Ronggur . malam sudah melingkup segala. setelah diuji masih mempunyai perbedaan. perahu kembali diapungkan. bagi T io sendiri setelah mengayuh perahu di permukaan danau. Setelah itu selesai. Perahu yang begitu rupa. Tapi. tidak dihiraukan. Jadi. Tahu pulalah dia bahwa bagian sisi kanan perahu. Membuang bagian yang tidak berguna. Bila lekuk teluk telah dilewati. Karena dasar perahu agak luas terasa pendayungan agak berat. bersama kelima ekor anak babi itu. Tapi. Apakah Ronggur akan kembali lagi? Wa lau dia tahu bahwa sesuatu ancaman sedang menanti Ronggur. Ronggur lalu merekatnya dengan getah pohon damar. Sampai tercapai keseimbangan. sehingga perahu selalu oleng ke kanan. Mereka menuju pulang. Senja hari. lebih berat dari sisi kiri. haluan itu masih bergaya mau tenggelam. kembali segala peralatan dimuat ke dalam perahu. Bila keseimbangan perahu telah diperoleh. Tari warna berma in di riak danau.

Sungai Titian Dewata akan membawanya ke tanah landai lagi subur. Tapi. antara mereka berdua. Harus terus turun ke sawah memotong padi. aku tahu. bulan semakin mengundurkan diri. Aku tidak bisa lagi berlama-lama mengundurkan saat keberangkatanku. kebisuan yang meraja. maka terhamparlah depan mereka persawahan yang bermula dari tepian danau. Sinar matahari telah meng-kuakkan tabir kegelapan. Mardege. Ronggur tinggal tersenyum karena .menyuruh Tio agar duduk di haluan perahu." "Dan. Bertambah larut malam. perlahan. apakah ada perahu lain yang bersilangan dengan mereka. padi telah menguning di sawah. memperhatikan jalan. Perahu terus dikayuh." kata Ronggur. Tio lebih banyak diam dan tenggelam ke dasar perasaannya: bagaimana kelak kalau Ronggur sudah berangkat? Apakah orang masih memperlakukannya dengan baik? Sedang Ronggur diamuk satu kepercayaan bahwa dia akan menaklukkan Sungai Titian Dewata bahwa dia yakin. Permukaan danau kembali memantulkannya ke langit. Tanah yang diimpikan setiap orang." Tio hanya menundukkan kepala. kemudian di ufuk timur. berakhir pada kaki pegunungan batu. Bila gelombang membesar. Tapi. Suasana yang romantis. secara berangsur. saatku berangkat tiba. Subuh baru telah lahir bersamanya lahir hari baru dengan harapan baru. B intang gemerlapan di langit. Kita tidak punya waktu mengasuh lagi. "Ya. sehabis memotong padi. "Tio. Sepanjang malam mereka terus berkayuh di permukaan danau yang tenang dan tidur. Maka sekitar diselubungi kegelapan. ada baiknya diserahkan saja pada orang lain. Menari bersama riak danau. Bulan mencurah cahaya. menggaris cahaya putih.

Selagi Ronggur dan Tio membuat perahu di hutan. begitu pula Tio. masih sembunyi. serpihan air yang dilemparkan ombak tidak dapat memasuki perahu. Dia lalu di sana. kenapa mereka pada membisu. Orang mencampak pandang pada mereka.gelombang danau tidak dapat mengolengkan perahunya. walaupun tidak secara terangterangan. Kalau tidak ditegor lebih dulu. Tapi. Tampaknya setiap orang enggan bersapaan dengan Ronggur. mereka telah tiba ke tepian danau perkampungan. . Tapi. tidak gembira menyambut kedatangannya bersama perahu yang dibuatnya sendiri. Dan. ada yang mengejek. Tidak seorang pun menanya tentang perahunya dan kapan dia berangkat. Ronggur melangkah dengan dada diangkat. Menyapa di sana-sini. atau memang dia belum tahu sebabnya. orang sudah saling berbisik membicarakan maksud Ronggur hendak melayari Sungai Titian Dewata mencapai muara. dan memperoleh jawaban sekedarnya saja. utusan kerajaan datang. sebelum Ronggur sempat mengasuh. Belum siang benar. semua itu tidak berapa diacuhkan Ronggur. terutama rakyat yang langsung berada di bawah lindungannya sebagai Raja Ni Huta. Ronggur belum dapat mengartikan. tidak ada yang berani terang-terangan mengeluarkan pendapat. menyuruh Ronggur menghadap ke Sopo Bolon. Para penangkap ikan me lihat mereka. Pada umumnya orang tak dapat menyetujui maksud itu. Orang sudah banyak memanen padi di sawah. itupun ccdw-kzaa 4 Hari itu juga. Ibunya melepaskan dengan tatapan pilu. Sebagian lagi. sebagian besar.

Kasihan dan ejek. sebagian merasa kasihan melihat Ronggur. Mulut tidak mengucapkan sepatah kata. Karena ada seorang manusia yang hendak meruntuhkan atau sama sekali tidak mengindahkan kepercayaan yang mereka anut. Dewata akan murka dan menghancurkan orang yang berani melanggar peraturannya. karena maksud perjalanan itu menantang kepercayaan rakyat yang sudah tertanam turun-temurun. Dia terus tahu. bila yang hendak dibahas hal penting. itu berarti sudah melanggar ketentuan dewata. Orang pada diam sewaktu Ronggur memasuki ruang Sopo Bolon. Segala Raja Ni Huta dari tiap kampung yang didiami marga mereka telah ada di sana.Satu sama lain saling mengeluarkan pendapat bahwa Sungai Titian Dewata. Tempat para dewata dan arwah menghadap Mula jadi Na Bolon. Memperoleh lalapan dari tiap mata itu. Ronggur telah dinantikan kerajaan yang lengkap. Di Sopo Bolon. Raja Panggonggom sudah duduk di tempat dengan wajah murung. pertanda warta yang kurang baik. duduk para Raja Ni Huta. Raja Namora. Ronggur duduk di barisan Raja Ni Huta. begitu pula dari matahari Mula jadi Na Bolon. Di belakang mereka. tapi sebagian lagi merasa terhina. duduk berjajar Raja Partahi. Bila seseorang berani melewati batas yang sudah ditentukan sampai di mana boleh seseorang berlayar. tempat Mula jadi Na Bolon mengedari dunia setiap saat. Raja Nabegu. membuat Ronggur . Dan. Pada tempat tertentu. Hanya Raja Ni Huta dari induk kampung marga yang duduk sejajar dengan Raja Panggonggom. Semua mata diarahkan padanya. menuju matahari terbit. yang selalu dipanggil menghadiri sidang kerajaan. Diapit oleh para tua kampung. untuk melihat manusia yang mengerjakan hal yang baik. melihat orang jahat membuat kejahatan untuk diganjar kelak di hidup lain. sidang kerajaan akan diadakan hari itu. hadir pula Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Matahari. Di kiri kanan Raja panggonggom.

perasaan kaku itu berangsur menghilang dari tubuhnya." Melalui ucapan Raja Panggonggom sebagai kata pembukaan rapat. Ruangan tetap hening. dan bermaksud merubuhkan sesuatu yang kita percayai. dito-pangkan agar berdiri tegak lurus. sewaktu matanya tertumpu pada orang tua yang duduk di sudut yang agak remang itu. Yang bisa menimbulkan kegaduhan yang tidak kecil di kalangan rakyat. Dari suasana dalam Sopo Bolon. Menyimak yang diucapkan Raja Panggonggom. Pertanda pertemuan dimulai. Lalu Raja Panggonggom mengangkat tangan yang sebelah kanan. Tapi. Orang tua itu menyambutnya dengan senyum yang dibalasnya selintasan. tahulah Ronggur bahwa hal yang akan dibicarakan bersangkut-paut dengan maksud perjalanannya menembus Sungai Titian Dewata. akan mendatangkan mara bahaya pada seluruh rakyat dan kerajaan. Karena itu." Hadirin pada diam semua. Karena. yang bertanggung jawab akan kelanjutan hidup marga dan keturunan kita kelak." lanjut Raja Panggonggom. yaitu bekas Datu Gelar Guru Marsait Lipan. Tongkat itu digenggam. pagar kesatuan marga. Memperhatikan gerakgeriknya. Terutama Ronggur. Untuk pertama kalinya orang tua itu menghadiri sidang kerajaan dengan terang-terangan. Sewaktu Ronggur mengalih pandang tahulah dia bahwa Raja Panggonggom terus menerus menancapkan pandang ke arahnya. menjemput tongkat panaluan dari tempatnya. tahulah Ronggur bahwa sidang akan membahas sesuatu hal yang sangat penting tampaknya. "tampaknya mengancam. kami undang hari ini menghadiri pertemuan kerajaan di Sopo Bolon ini. "Semua kerajaan. ada sesuatu hal yang sangat penting kita bicarakan dan bahas bersama. Malah menurut sebagian orang. "Hal itu. orang tua yang bijaksana.agak kaku juga sikapnya. hatinya tambah .

dia berpendapat. Dan. Dia yakin. "Nah. dia lalu membeberkan hal yang kan dialam i marga mereka kelak bila tanah habungkasan tidak ditemui. katanya selanjutnya. Karena itu. Paduka Raja.gedebak-gedebuk. dia melanjutkan: "Ronggur. menantikan putusan rapat. Setelah mencampakkan pandang pada Ronggur. Untuk itu. Camkanlah baikbaik pentingnya maksud pertemuan ini. coba ceritakan pada kami. sehingga putusan itu nanti menjadi pendapat kita yang mutlak. tanah habungkasan itu harus dicari. Atau. kita harus mengucapkan terimakasih padanya. kenapa kau begitu bernafsu hendak mencari Sungai T itian Dewata?" Ronggur disuruh berdiri. seseorang yang berani melayari Sungai T itian Dewata sampai ke muara berarti akan sampai ke tanah landai yang subur. yang menantang maksud perjalanan itu? "Karena hal ini sangat menentukan. Ronggur. kami dengar kabar kau sudah menyelesaikan perahu yang akan kau pergunakan menyusuri Sungai Titian Dewata untuk mencapai muara. "kami berpendapat harus melalui musyawarah lengkap yang boleh mengambil putusan tertentu terhadapnya. yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Karena itu. yang disampaikan orang itu ternyata benar. sidang yang terhormat. Ronggur sudah mengakui terus terang sehingga jalan rapat tidak terlalu repot dan berbelit." sahut Ronggur. dia mengharap agar . setelah mencampakkan pandang ke sekitar. Tanah yang dimimpikan tiap orang. lalu menyokongnya? Apakah mereka semua akan menjadi musuh. Dia menarik napas. jalannya pertemuan itu. Karena kau bermaksud akan mencapai tanah habungkasan." lanjut Raja Panggonggom." Raja Panggonggom berhenti sebentar. Apakah ada orang yang bisa diharapkannya untuk membela maksud perjalanannya itu. Apakah berita itu benar?" "Benar.

Rapat hening.kerajaan memberi izin padanya untuk menyusuri sungai itu sampai ke muara dan membolehkan beberapa orang menjadi kawannya. "Ronggur. "Sudah. . Tapi. Tidak mudah oleng waktu melalui arus riam sungai." Dalam hati kecilnya Raja Panggonggom menghormati sikap terus terang dan keberanian yang dimiliki Ronggur. Dasarnya lebih lebar dari perahu biasa. maka soalnya menjadi lain. Pada mulanya kita harus berani membuang tenaga dan waktu untuk mencangkul tanah. "Aku telah memilih kayu yang paling baik jenisnya. Paduka Raja!" jawab Ronggur lalu kembali duduk bersila di lantai. "Perjalanan ini menghadapi risiko yang tidak kecil." "Sudah siap semua yang ingin kau ucapkan?" tanya Raja Panggonggom. katanya tegas. karena maksud perjalanan itu sendirinya pula membelakangi kepercayaan rakyat dan kepercayaan sendiri. Ronggur melanjutkan. Tapi. Daya apung perahu sangat baik. Dari s ikapnya tampak bahwa dia sama sekali tidak mengingini mendengarkan ucapan Ronggur. Seketika Ronggur berhenti. Lama sesudah itu baru tanah memberi hasil pada kita. seseorang yang berusaha mencapai sesuatu kebajikan akan selalu menghadapi risiko. tahukah kau bahwa perjalananmu itu sangat berbahaya?" "Benar Paduka Raja!" sahut Ronggur. Tak ubah seperti mengerjakan sawah. Sungai T itian Dewata tidak berakhir di ujung dunia. Hanya wajah Datu Bolon Gelar Guru Marlasak yang menjadi merah padam mendengar semua omongannya. Percikan air tidak mudah masuk ke perahu karena dinding perahu kubuat agak tinggi.

Tapi. Jadi." Datu Bolon Gelar Guru Marlasak cepat berdiri. Bisa menampung kebutuhan kita dan keturunan kita kelak akan persawahan." "Paduka Raja. Mimpi itu mewartakan bahwa bila aku melayarinya. Aku telah rela menerima dan memikul segala risiko itu. aku akan tiba ke tanah landai di muara sungai. kau pasti akan mendapat bencana. "Paduka Raja." "Apakah kau tidak mungkin digoda setan?" potong Raja Panggonggom. tapi bertujuan untuk kepentingan bersama. Mulutnya cepat-cepat mengeluarkan kata: "Ronggur! Menurut kepercayaan kami. Dadanya naik turun dengan cepat. berartilah aku digoda setan. Turun temurun. Mimpi itu selalu mengajak aku agar memulai satu perjalanan. ada baiknya kau . maksudku tidak di situ saja. izinkanlah aku untuk memikul segala risiko itu bila yang kurasakan dan kupikirkan itu salah!" "Bagaimana pendapatmu tentang Sungai T itian Dewata?" "Paduka Raja."Ronggur. Tanah landai itu begitu luas. aku selalu digoda mimpi. sebelum bencana itu menimpa dirimu. Aku orang yang tidak dapat dikatakan seorang lelaki. berilah kesempatan padaku untuk membuktikannya atau aku sendiri akan musnah. Tapi. Tidakkah kau tahu bahwa Sungai Titian Dewata itu sungai yang jatuh ke ujung dunia? Sungai Titian Dewata jalan para dewata dan arwah menghadap Mula Jadi Na Bolon. bila warta mimpi itu tidak dapat kutunjukkan dalam kenyataan. menurut hukum yang diwariskan kepada kami. aku seorang manusia yang telah menyia-nyiakan satu kesempatan. bila aku tidak memulai perjalanan itu. Selanjutnya mimpi itu selalu mengatakan padaku. karena maksud perjalanan ini tidaklah untuk kesenangan perseorangan saja. yaitu menyusuri Sungai Titian Dewata. memang padaku diajarkan kepercayaan begitu rupa. Wajahnya memancarkan sinar kemarahan.

Padi di sawah akan tidak menjadi. Kerukunan keluarga akan hancur." kata Datu Bolon menyindir. Kalau cuma kau yang dikutuk dewata tidaklah menjadi soal besar." "Kalau begitu." sindirnya pula dengan halus dan tenang. yang menanti saat meledak sehingga ketenteraman hidup terganggu dan kucarkacir. Tidakkah dapat kau rasakan ancaman mara bahaya yang akan timbul dan menimpa warga marga itu?" "Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. dengan hentakan kasar mengatakan. Soalnya bila Datu Bolon meninjau dari sudut gaib. Kemarahan dewata tidak saja menimpa dirimu. Tapi. kau juga harus tahu karena yang kau tantang itu hukum dewata. Kerajaan kita akan berakhir pada suatu yang menyedihkan. "Begitulah rasanya. yang kuhormati kebenaran tenungnya." tiba-tiba suara Raja Nagebu meninggi. justru karena keinginanmu untuk mengharungi Sungai Titian Dewata. "Seperti tidak ada sesuatu kekuatan yang dapat menghentikan orang mengisi perutnya. "Apa yang menggoda hatimu? Apakah kau dengan perjalananmu yang akan menimbulkan bencana dan yang telah menimbulkan huru-hara terpendam di kalangan rakyat dan para hulubalang. masih kau katakan untuk memperjuangkan kelanjutan . Yang kuhormati arwah halus penjaga diri dan yang dapat dipanggilnya untuk membisikkan sesuatu pendengarannya. "Ronggur. tapi semua marga akan dikutuknya. tidak ada lagi sesuatu hal yang bisa mengurungkan niatmu. Diusahakan menemukan. Aku percaya bahwa Datu Bolon pun memikirkan hal itu. bencana yang mungkin meruntuhh-an kelangsungan hidup marga. aku melihat dari kenyataan sesuatu perhitungan yang hasilnya pasti tiba. ini menyangkut seluruh marga kita. Justru karena memperhitungkan hal itulah aku mengambil kesimpulan. T api.mengurungkan niat itu. tanah habungkasan perlu dicari." jawab Ronggur dengan tabah dan tenang. Aku selalu memperhitungkan dan tetap merasakan.

kau memang sengaja mencari nama. Hasil sawahmu memberi jaminan. Tahukah paduka raja bahwa banyak dari marga ya'ng hanya punya tanah beberapa bidang dan hanya dapat menghasilkan padi yang cukup untuk makanan sekedarnya saja? Dan mereka terus saja melahirkan anak. bukan diriku dan bukan pula hanya diri tuanku saja. Raja Namora. Lalu melanjutkan. Raja Panggonggom mengadakan sidang kecil dengan para Raja Partahi. sawah yang dikuasakan padaku memang cukup memberi nafkah." Seketika dia diam. Wajahnya bertambah merah. Biar kau mengambil seorang istri atau lebih. menunjukkan bahwa kau lebih berani dari setiap hulubalang kita. tapi ketololan. kemudian istrimu itu melahirkan anak banyak. tapi kita semua. Jelaslah sebenarmya kau mengimpikan sesuatu yang maha mulia dialamatkan pada dirimu. bidang sawah yang diserahkan atau dipercayakan kerajaan padamu cukup luas lagi subur. Marga kita. Dan tahulah paduka raja bahwa permintaan bantuan dari lumbung desa setiap tahunnya bertambah banyak juga? Sehingga kita tidak bisa lagi mengadakan pesta pujaan terhadap Mula Jadi Na Bolon dengan besar-besaran? Inilah semua yang jadi persoalan. Belum perlu menguatirkannya. ." "Paduka Raja Nagebu. Kalaulah yang kuimpikan bisa nyata dalam kenyataan tidak bermaksud aku disebut penemunya. pokok persoalan sekarang di sini bukanlah aku. Juga aku tahu. "Ronggur. sehingga patentengan menantang hukum dewata? Ronggur menantang hukum dewata bukanlah keberanian. Maksudku jauh dari dugaan tuanku. dan Raja Ni Huta dari induk kampung. Dalam saat itu. T api. anak yang perlu kita beri makan." Keadaan menjadi sunyi. Sekali-kali tidak. kau belum perlu menguatirkan makanan untuk mereka. Raja Nagebu. Jadi.hidup marga dan keturunan? Atau. bila untukku sendiri dan jaluran keturunanku langsung. pemegang tampuk dan penggerak para hulubalang perkasa.

Kemudian mereka panggil pula Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. yang mewariskan kedudukan Raja Panggonggom pada kami. sabahat karibku. Bagaimanakah hasilnya?" Orang tua itu berbicara perlahan. "Pembalasan dewata telah datang. Almarhum ayah paduka raja diserang seekor harimau dengan tiba-tiba. sebagai undang-undang kerajaan yang tidak boleh dibantah. Tapi." "Sesudah itu?" "Aku sendiri pulang ke mari. Dia tidak pernah lagi pulang. yang akan diumumkan pada seluruh marga. Mereka berbicara perlahan. "Ayah Ronggur memperoleh cedera dalam perjalanan itu. Jelas tampak mereka sedang mengambil ketentuan dan keputusan rapat. Pembalasan dewata telah datang!" . Di s itulah mendapat kenahasan. yang kutemui berbeda dengan hasil tenungku. untuk mengharungi Sungai Titian Dewata. "Bapak bekas Datu Bolon. tapi dari tiap wajah memancar kesungguhan. Tapi. Karena almarhum ayah paduka raja. Dia temanku. berbicara pada hadirin. tetap juga menerimaku kembali. tidak lama kemudian kami mengadakan pemburuan. sehingga beliau memperoleh luka yang mengakibatkan kewafatannya. bagaimana?" tanya Raja Panggonggom. Dalam igaunya selalu mengatakan. almarhum ayah kami memberi izin pada bapak untuk mengharungi sungai tersebut. Tiba-tiba saja Panggonggom menyuruh bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan." "Selanjutnya. menceritakan kegagalannya dulu mengharungi Sungai Titian Dewata. Kami mengalami kegagalan. yang pernah meminta izin pada almarhum ayah kami. "Memang benar Paduka Raja bahwa aku pernah meminta agar diberi izin mengharungi Sungai Titian Dewata. Menurut pustaka kerajaan.

Golongan raja kembali mengadakan sidang kilat. Ronggur. boleh juga begitu "Hadirin semua."Apakah tidak mungkin. Maksud yang baik. apakah karena satu kegagalan. Akhirnya dia mengatakan: "Paduka yang bijaksana. telah mendengarkan satu pengakuan dari seseorang yang pernah mengharungi Sungai Titian Dewata. . terutama kau Ronggur. Ronggur!" Ronggur terdiam beberapa saat. Raja Panggonggom mengatakan: "Kita telah sama mendengarkan cerita bahwa Ronggur hendak mengharungi Sungai Titian Dewata untuk mencari tanah habungkasan. Dia dihadapkan sudah pada saat yang menentukan. Bintikan keringat melebihi keningnya. Lalu sebelum Ronggur memberi keputusan. telah menghina kepercayaan yang kita anut. Apakah setelah mendengar pengakuan ini kau masih bermaksud meneruskan niatmu? Berilah jawaban." Ronggur terdiam." Hening sejenak. Tapi." kupastikan. Belum memberi sesuatu pilihan yang menentukan. apakah kau masih bermaksud meneruskan niatmu atau mengurungkan setelah mendengar pengakuan bekas Datu Bolon yang sudah disisihkan orang dari kehidupan ramai? Lain tidak! Dia membawa kenahasan bagi kerajaan. apa yang dimaksudkannya itu karena mengizinkan bapak mengharungi Sungai T itian Dewata dan menerima bapak pulang kembali?" "Tidak dapat maksudnya. sesuatu maksud baik harus dibatalkan? Apakah tidak hanya satu kebetulan saja hal nahas itu mendatang?" "Kutanya padamu. Ronggur telah melupakan riwayat nenek moyang dan berusaha merombak kepercayaan yang kita anut atau menurut kata Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. yang menimbulkan kemarahan para dewata. Tapi.

Dirangsum ala kadarnya!" "Syarat ini kami ajukan justru karena kami berpegang pada satu kepercayaan: siapa saja yang mengikuti perjalanan Ronggur. Bila dia mulai me langkah dari gerbang kampung memulai perjalanan. marga kita tidak akan menganggap serangan itu serangan yang langsung pada marga kita. tidak seorang pun dari warga yang dibolehkan mengikuti dan membantu perjalanannya. Kalau ada orang yang membunuhnya dalam perjalanan. dari gangguan setan. untuk menimpa . Kami tidak mau mengulangi kenahasan yang pernah menimpa almarhum ayah kami. Begitu pula gelar Raja Ni Huta Muda. siapa saja yang membantunya mengharungi Sungai Titian Dewata. Sawah yang telah dipercayakan padanya disita kerajaan. Kau akan ditangkap dan dijadikan budak belian. Ronggur sendiri yang harus memikul risikonya. maka dia tidak berhak lagi mencantumkan marga kita di belakang namanya. gelar Hulubalang Muda dicabut kembali!" "Dia tidak boleh memakai nama kerajaan kita untuk melindungi diri dari kutukan dewata. Ibunya yang sudah tua akan dibelanjai langsung oleh lumbung desa. namun melawan dewata kita tidak mau. "Jadi kami umumkan pada semua Raja Ni Huta. hendaknya urungkan dan batalkan niatmu sebelum terlambat. akan turut dikutuk oleh dewata. ialah bila Ronggur meneruskan niat itu. Bila kau mengalami kegagalan kemudian kau pulang ke kampung ini. jalan para dewata dan para arwah menuju matahari terbit tempat Mula Jadi Na Bolon bersemayam. Kalau kau Ronggur tidak dapat menerima syarat ini. Biarlah kami dan marga kita disebut pengecut. agar tidak membolehkan rakyat yang ada dikampungnya membantu dan mengikuti perjalanan Ronggur. dan menjadi undang-undang bagi kita semua."Saran yang dapat kami ajukan pada Ronggur. kau akan tidak dianggap anggota marga lagi. dan dari gangguan perampok di tengah jalan.

Nada suaranya mengejek. katakanlah pilihanmu. Tidak sanggup mengangkat kepala. Di wajah Datu Bolon Gelar Guru Marlasak dan Raja Nagebu membayang kepuasan. hasil penemuan itu akan tetap kuhadiahkan bagi margaku.diri kami sendiri. Pada kening Ronggur menitik keringat." Suaranya mengguntur mengalahkan suara petir yang bersabung di luar Sopo Bolon. berilah jawaban di tempat ini juga." Keadaan menjadi hening. biar kami tahu mengambil sikap. janganlah sekali-kali mencoba untuk menentang kepercayaan yang kita anut bersama." kata Raja Panggonggom memecah kesepian. Dan. Orang semua mengangkat kepala dibuatnya. Ronggur masih tertunduk juga. Bersabung dengan petir dan kilat. Membakar dada Ronggur. Karena itu. bagi kalian semua. bila aku menemui tanah habungkasan yang landai lagi subur. "Ronggur. sehabis mengucapkan pilihan itu. Pikirkan baik-baik Ronggur." kata Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Dengan wajah merah serta sinar mata yang manyala. Pada wajah dan sikapnya tergambar bahwa mereka akan melaksanakannya sebaik mungkin. Dan. tidak berhak lagi memanen padi dari sawahku yang sedang menguning. secepat mungkin aku akan berangkat. Para Raja Ni Huta lain dengan takjim menerima undang-undang Raja Panggonggom. . kau tidak dapat memberikan keputusan? Kau merasa takut dan bimbang? Karena itu kami sarankan. Bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan menundukkan kepala. Sejak tadi di luar Sopo Bolon. ibuku. janganlah menghina diri sendiri. Belum berdiri untuk menyatakan pilihan. Dengan satu janji. hujan turun menderu. "Ronggur. Aku. akhirnya Ronggur berdiri dengan menghentak: "Semua pertaruhan yang dibebankan ke pundakku aku terima.

dadanya panas. yaitu kepahitan dan kegetiran hidup di saat hari tuanya. Yang sepantasnya tidak wajar lagi hidupnya disusahi. Tidak mau berteduh ke dangau yang ada di tengah sawah. wajahnya memerah. Dilihatnya Ronggur basah kuyup. lalu menyembah sujud di kaki perempuan tua itu. Tapi.Ronggur terus meninggalkan ruang Sopo Bolon. sewaktu matanya tertumpu ke biji mata ibunya yang berseri. Di antara isaknya sendiri dia mengatakan: "Maafkanlah aku. mencapai kampung di mana dia sebelum itu memegang tampuk Raja Ni Huta Muda dan Hulubalang Muda. Aku telah mempersusah hidupmu. Tapi. Aku akan minta maaf pada kerajaan atas kelancanganku. Ibunya cepat mengangkat wajah. dia tidak memperdulikan keadaan alam itu. walau udara begitu dingin. Aku harus menggagalkan niat perjalananku itu. Perasaannya terbakar. menceritakan semua keputusan rapat dan pilihannya sendiri. Pintu rumah cepat dibuka Tio. Sebelum ditanya Ronggur dengan suara lantang karena masih marah. Dia menerjang ke tengah hujan. angin. Ibunya jadi kaku tegang. dia terus melangkah cepat di atas pematang yang licin. Pertanda berita yang kurang baik. Cepat Ronggur mendekat. Gonggong si belang menyambut di tangga rumah. Orang yang berhenti memotong padi dan berteduh di dangau melihatnya begitu saja. seperti patung tanpa nyawa. Katakanlah. Bu. aku tidak boleh pergi. Katakanlah Bu. tubuh Ronggur masih menggetar tidak karena merasa dingin. apa yang harus kuperbuatl" . dia sadar bahwa orang tua itu telah dihadapkannya pada satu kenyataan. Tangan. dan halilintar yang bersabung dengan petir. menatap padanya. tapi karena marah. Maafkan anakmu ini. Otot Ronggur mengeras. Aku akan menuruti ibu. yang mulai digenangi air bening tipis. Terus melangkah melewati sawah yang pematangnya menjadi licin. kaki.

Segala air mata telah dihamburkan dari dasarnya sampai kering. Seorang lelaki yang berani mengatakan maksudnya. karena anaknya di sarang. demi hasrat diri yang tidak mau melihat ibu kandung yang sudah tua mengalami kesusahan." Sambil berkata Tio mendekat. untuk pergi selamanya. Kau telah mengatakan dalam pertemuan raja dengan berani. tanpa memperdulikan arti haus dan dahaga. membelai kepalanya yang masih basah. Segala tekad menjadi kendur. Kau tidak boleh membatalkan yang telah kau pilih. mempertaruhkan keyakinan diri. tapi disambung pula. . Tapi dipecahkan suara halus yang bermula dari T io. mencari mata air yang bening. walau apa yang akan terjadi. tidak mau anak lelaki berhati betina. jangan tinggalkan daku. kau tidak boleh mengurungkan niatmu lagi." Seketika ibu tua berhenti. menghadapi wajah dan mata ibunya yang bersedih. Kemudian mengatakan perlahan-lahan: "Ronggur." Perempuan tua itu tidak mengucurkan air mata lagi. Tangan ibunya yang sudah mengkerut. Keheningan merayap di ruang mereka berada. Mengusap perlahan sambil lalu mengeringkannya. tapi dapat disebut jantan. mengikuti lingkaran pegunungan. "Bawalah daku bersamamu. Telah rela melepas anaknya sulung. mengitari tebing curam. Harus begitu kau. suaranya sudah tambah jelas dan tabah: "Seperti terbangnya burung ambaroba. Sendu. bila berani tidak mengingkari janji. Jadilah. anaknya bungsu. menginginkan setetes dua air melalui kerongkongan kering. seorang lelaki berhati jantanl Ibumu ini. lalu duduk di sisi anak beranak itu. Kau harus meneruskannya. Tidak cepat ibunya menyahut. Perempuan tua itu tidak mengisak lagi.Perasaan marahnya telah mencair. anakku sulung anakku bungsu. Telah tabah menerima segala yang tiba. Bawalah daku.

Supaya terhindar dari godaan setan.Perlahan. Yang berukirkan kakek kesatuan keturunan mereka yang langsung. Juga pada Tio diberinya ajimat. pisau pusaka turun-temurun. ccdw-kzaa . hujan rasanya tidak akan henti. Mereka menyongsong terbitnya fajar. Perlahan pula. Angin di luar tambah kencang. Dia menjampi Ronggur dan Tio. "Tio. Tidak ada lagi satu kekuatan yang dapat menghalangi maksudnya. apa yang akan kutemui bila tafsiran mimpiku meleset?" "Aku sudah tahu. Angin melanggari pucuk dan batang bambu duri. katakanlah bahwa arwahku kau bawa serta sebagai sembahanmu padanya. Di tengah malam buta. dapatkah kau menduga kemungkinan yang bisa saja menimpa diriku dalam perjalanan? Tahukah kau. ibu Ronggur merenggangkan pelukannya dari tubuh Ronggur. Bila fajar pagi terbit pertanda hari baru tiba mereka sudah harus berangkat. Halilintar dan guruh terus bersabung. terbuat dari jalinan benang berwarna tujuh. Ibunya menyelipkan pisau gajah lompak ke pinggang Ronggur. diukir dengan huruf Batak. Menyiapkan yang perlu mereka bawa. Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan datang ke sana. Ronggur melepaskan diri dari pelukan ibunya. agar selamat dalam perjalanan. Kemudian pada Ronggur diberikannya ajimat yang terbuat dari besi putih. Olehnya tekad Ronggur kembali pada pijakan semula begitu kokoh. yang tertancap ke biji matanya tanpa mengedip. Bila kelak kita tidak bisa kembali lagi agar Mula Jadi Na Bolon tidak murka padamu. Di rumah itu orang terus sibuk. berkerisik dan bunyinya begitu ngilu pada pendengaran. Lalu menatap dalam ke biji mata Tio. Aku sudah maklum." Lama Ronggur menatapi wajah Tio yang sudah punya kepastian sinarnya.

dan sesumpit batu sungai yang keras. ambalang. kampak. di saat dia harus meninggalkan perkampungan itu untuk satu perjalanan yang belum tentu akhirnya. Orang lain sudah dilarang untuk mengantarkan mereka. Hijaunya dedaunan dapat juga dilihat pandang. sebelum perahu hilang ditelan kabut. tumbang. permukaan danau. Tapi. penimba air. . Juga mereka bawa mata pancing serta talinya. Udara cukup dingin. Tingkah lakunya yang sopan serta ramah-tamah. Air danau alangkah dinginnya. Pengayuh. panggada. Karena itu dia banyak mempunyai teman. Ronggur menatap pada ibunya. "Belitkanlah pada tubuhmu. Pada leher Ronggur membelit ulos batak ragi purada yang dibelitkan ibunya. Tempat begitu lapang. dan si belang sudah berada dalam perahu. galah. Tapi. Begitu juga pada leher Tio.5 Masih pagi benar. Disumpit lain daging kering. Lalu pada orang tua itu.. kabut mengental. melalui renggangan batang bambu duri. Pulau Samosir Tuktuk Sigaol tidak tampak. memikat hati orang di sekitarnya." Hanya perempuan tua itu dan bekas Datu Bolon di tepian danau mengantar mereka. di kala dingin mencekam. Di darat kabut tipis saja. Beras sesumpit. Bertambah segar karena mengandung butir air. tak terduga . Pengganti tangan bunda . . Beberapa depa saja dapat ditembus pandang. Tanah lembab pertinggal hujan semalam. jika bertambah jauh ke tengah. Mencari bekas kehidupan masa lalu di sana. dicampakkan pandang ke tengah kampung. Dua tiga biji bambu duri terbelintang di tengah jalan. sudah di tempatnya. Tio. dibelitkan ulos batak ragi purada yang diiringi kata. keberanian yang tidak gentar menghadapi sesuatu soal pada saatnya. Tombak. Ronggur.

Untuk digantikan warna putih saja pada akhirnya. Tangan terkulai tak ada lagi yang hendak dilambai. Cepat dihapus agar tidak sempat dilihat Ronggur. Perahu bergerak perlahan meninggalkan tepian. Tangan mereka membalas lambaian kedua orang tua yang mengantarkan mereka. betapa pahit perasaan mencekam hati untuk meninggalkan tanah tempat lahir. Tahulah dia. Teringat pula saat kejatuhan marganya dan dia sendiri. dan diasuh. Setetes dua air-mata membasahi pipi. Temannya sebaya banyak yang mati di saat itu. Bila sinar matahari pagi telah muncul dari puncak Dolok Simanuk-manuk. Meratap panjang. Di mana dia pernah disanjung puja. tidak seorang pun dari temannya yang dibolehkan mengantarkan. tinggi melengking. "Mereka akan berhasil. dibesarkan. Sebelum pferahu ditelan kabut. . Tidak dilihat Ronggur lagi. walau sebenarnya dia tidak dapat meyakini bujukan itu. selagi martabat marganya belum runtuh. "Semua yang dikorbankan Ronggur untuk perjalanan ini akan kembali padanya. tidak hentinya lambaian dilepaskan dari tepian. Bekas Datu Bolon menyabari. kabut tambah menipis lalu menghilang. Si belang pun seperti tahu. mereka akan pulang membawa berita baik dan menggembirakan. ibunya mencampakkan diri ke pohon hariara yang besar itu. punya teman. tapi tidak boleh pamitan. Tio berdiri.nasibnya. Melepasnya. Perlahan pula tepian menghilang dari pemandangan. Kemudian menuntunnya pulang ke rumah. malah lebih dari itu akan dipunyainya. perjalanan mereka sekali ini amat panjang. Tersedu di sana. Matanya jauh mengedari tanah yang sudah cukup dikenalnya." bujuk bekas Datu Bolon. Di sebelah haluan perahu. Perlahan perahu memasuki daerah yang dilingkungi kabut tebal. harus menjadi budak belian." Perempuan tua itu menundukkan kepala. mengiakan.

Perahu yang dikayuh Ronggur dan Tio maju perlahan. katanya dalam hati sendiri. seseorang . bukankah itu berarti memberikan tubuhnya. bila diri tahu perbedaan antara menjadi seorang budak belian dengan manusia merdeka dan diri tidak berpihak kemerdekaan itu. mereka mengharapkan dapat pula sambil lalu menangkap beberapa ekor ikan. keberanian yang jantan. Riwayat Ronggur berakhir di s itu saja. Bukankah itu berarti penghinaan akan martabat diri.Kerajaan sudah tahu bahwa Ronggur bersama Tio telah berangkat. yang akan memperlakukannya seperti memperlakukan hewan. dan sopan santun yang manis. yaitu menjadi budak belian orang. mereka masing-masing melaksanakan tugas. Ronggur telah dianggap mati. maka Raja Panggonggom mencoret nama Ronggur dari silsilah keturunan marga. Menahan air atau menghempang kelajuan perahu. tidak tahu menghargai diri sebagai manusia yang dapat membedakan arti dan hakikat manusia merdeka dengan budak belian? Ah. Tio mendayung ke hulu. Ronggur di buritan langsung menjadi pengemudi. Beberapa biji mata pancing yang sudah diumpani dijatuhkan Tio ke danau. namun pada saat itu. Haluannya tumpul. Walaupun Tio tetap merasakan bahwa dia akan aman selalu bila berdekatan dengan Ronggur. dengan tanah tempat dibesarkan. Perahu terasa berat dikayuh. kalau dia tidak ikut. Antara keduanya belum mengucap sesuatu kata. walau perahu agak susah dikayuh dan walau hati masingmasing masih diselubungi sakitnya perpisahan dengan kaum kerabat. setiap perahu tambah jauh dikayuh. Tapi. hatinya merasa kecut juga mendatangi ajal yang ada di depan. Tapi. dihiburnya diri. Sambil berkayuh. sikap ramah tamah. tanpa pamit. Mereka berdua terus mengkayuh. hidupnya ke tangan nasib yang telah tertentu belangnya. tekad hati yang bulat. Karena dasarnya agak lebar. yang mempunyai otot yang tegap.

mengatasinya. Tapi. Manusia lahiratau dilahirkan memang untuk menghadapi risiko. Dan. harus rata. Walau apa bentuk nasib yang menanti di depan. T idak menciptakannya menjadi hewan. daun pembungkusnya tidak ada." Dengan sedih akhirnya Tio mengatakan. kata Tio selanjutnya pada diri sendiri. untuk membebaskan diri dari belenggu yang menindas harga diri itu. Lalu dia bertanya pada Ronggur: "Kita apakan ikan ini? Kita ura?" "Ya. Atau. Kabut sudah terangkat. kupikir dan kurasakan. memang diri mampus karena tidak dapat mengatasi risiko itu. Isi perutnya dibuang Tio. Biar masaknya rata pula. yang telah menciptakannya menjadi manusia." kata Ronggur pula. itulah kehidupan. Dan. Tidak lama kemudian. menggelepar di permukaan air. "Sentak pancing yang ada di sebelah kananmu!" teriak Ronggur yang sekaligus membangunkan Tio dari renungan. Bila aku memilih jalan yang ditempuhnya. kesempatan. Dengan sebuah pukulan panggada pada kepala. Tio mengikuti petunjuk itu. "Tangkap dengan jaring. ada bila aku bersama Ronggur. Banyak bikin asamnya. ikan itu melepaskan gelepar akhirnya. yang bisa mempergunakan tiap kesempatan yang ada. lalU tercapailah idaman hati. seekor ikan mas yang sudah cukup besar. Biar cepat masak. Itulah risiko.yang tidak dapat mengucapkan terima kasih pada Mula Jadi Na Bolon. Tangannya cepat menggapai tali pancing. Tapi. Disisikinya. Satu keuntungan bagi tiap manusia. ura saja." . diri telah me laksanakan tugas kehidupan sebaik-baiknya. "Tapi. matahari leluasa melemparkan sinarnya.

Sedang ikan yang diura itu. Beberapa tangkai dedaunan yang cukup lebar dijatuhkan ke tanah. Gelombang mulai menggila. Perahu mulaii menunduk nunduk mengikuti alun gelombang. sudah lebih banyak diam dan tiduran di perut perahu. Lalu me lompat dari perahu ke tepian berpasir basah. Beberapa kali mereka berpapasan dengan penangkap ikan. Selalu mengikuti pantai. Tapi. Pada mulanya dia selalu menggonggong perahu dan sampan yang berpapasan dengan mereka. kenapa orang tidak menegurnya dengan ramah lagi. Si belang tidak sering lagi menggonggong. agar cepat jauh dari manusia yang sudah digoda setan jahat itu. Bila sinar matahari sudah tidak terik lagi. Lalu.Ronggur mencampak pandang ke pinggir danau. Para penangkap ikan itu menatap dengan dungu ke arah mereka. baru bebeiapa hari kemudian dapat dibuka dari bungkusannya untuk dimakan. Mereka tidak memenggal perjalanan melalui tengah danau. Seolah tidak tertembus hawa. justru karena perahu mereka tidak punya atap. Daging kering masih ada. Tepian yang dipilih ialah lepian yang jauh dan kampung yang banyak bertebar sepanjang pantai danau. tidak seorang pun dari penangkap ikan yang melambaikan tangan dan menyapa mereka. Lalu dibaluri dengan kunyit. tapi karena . Matahari leluasa melemparkan sinarnya dan membakar mereka berdua. Sekarang Ronggur sudah dapat mengartikan. Hingga perjalanan menjadi bertambah jauh. Di sana mereka memasak nasi lalu makan siang. Ikan diasami. kembali mereka melanjutkan perjalanan. Cepat dia menujukan haluan perahu ke tepian. Sampan penangkap ikan sudah sunyi dari danau. Mereka melanjutkan perjalanan. Matahari tambah tinggi dan terik. turut si belang. Ronggur mengkayuh melalui ke tepian. cepat mengkayuh sampan masing-masing. Kemudian dibungkus baik-baik. langsung memanjat sebuah pohon berdaun lebar. Cepat dipungut Tio.

tepian danau kembali dirimbuni rumpun bambu duri dengan rapat. Tapi. Kuburan nenek moyang yang pertama membuka satu perkampungan. Dia menarik napas yang dalam. Orangnya bisa selamat kalau pandai berenang. kita sudah harus memasuki mulut sungai. membalas gonggongnya. Setelah dua hari berkayuh. di antara mereka ada yang bermaksud jahat pada kita. bergerak dibawa arus." kata Ronggur. Terlalu rapat perkampungannya. Pada mulut sungai banyak terdapat gugusan pasir hidup. Kita tak dapat menepi di sini. selalu dikebumikan di gerbang kampung. akhirnya si belang sendiri pun tinggal diam saja melihat mereka. sambil menjulurkan lidah. bermula Sungai Titian Dewata. secara perlahan-lahan akan ditelan pasir hidup itu. Tapi. "Sebelum sore benar. Tanda pasir hidup dapat diketahui dari permukaan air danau yang agak memutih. ada yang menuding. Dapat mereka tentukan melalui titik putih itu bahwa itulah gerbang perkampungan. Pasir hidup selalu berpindah tempat. "Percepatlah mengayuh T io. Tio tidak memikirkan itu. Jadi orang yang berlayar di sana harus hati-hati. Siapa tahu." . Pertanda perkampungan. dapat mereka terka bahwa itu kuburan nenek moyang yang pertama merambah mendirikan perkampungan. Biar kita dapat terus menyusuri sungai sampai ke tempat yang jarang perkampungannya. antara permukaan air yang aman dan jebakan pasir hidup. Juga agar dapat kita bedakan. pada pikirannya mendatang pengenalan bahwa mereka telah memasuki lekuk danau yang pada salah satu tepiannya. Meneliti awal sungai. dan beriak. Sedang Ronggur memperhatikan permukaan air dengan awas. Titik putih yang besar itu. Perahu dan sampan nelayan yang terdampar ke sana karena tidak hati-hati.orang yang ada dalam sampan atau perahu yang digonggongnya tidak me lambaikan tangan. Titik kecil yang bermunculan di sana menatap ke arah mereka. bercampur keruh. tidak ada yang melambaikan tangan.

Teruslah mengayuh. kau lihat mereka itu?" "Ya. Perasaan mereka tumpul dibuatnya. Cahaya senja sudah bermain di permukaan air yang beriak. Pada kedua tepian pangkal sungai. Melihat mereka dengan dungu. orang itu tetap juga di tempatnya.Tio mempercepat kayuhannya. seorang pun tidak ada yang menyapa mereka. Teruskan mengayuh. tapi masih perlahan. Si belang sudah pernah menggonggong ke arah mereka. Mengibaskan ekor pada punggung Tio. jangan ambil perduli. walau masih perlahan. kemudian pada Ronggur yang terus mengayuh dan menjaga kemudi dengan hati-hati. Mula sungai. kulihat. Dari sekian banyak orang. Sebelum jauh malam. seperti menjenggak. Oleh tatapan itu. Sedang mereka sudah berbeda marganya dari margamu. Tio bolak-balik melihat pada orang banyak. yang diketahui Ronggur sudah lain dari kesatuan marganya." "Tidak seorang pun dari mereka yang mengaju tanya pada kita. Tampaknya si belang seperti menyesal. tetap disorong sesuatu tenaga untuk ditibakan ke satu tempat. tetap bergerak. Teruslah mengayuh. Riak yang seperti disorong ke satu arah. Menonton tanpa menggunakan perasaan. karena tidak dapat membantu tuannya. Si belang kalau sudah capek duduk. terkadang berjalan hilir mudik dalam perahu. begitu pula pada kaki Ronggur. "Ronggur. . Si belang akhirnya capek sendiri. kepercayaan itu membuat mereka bisu. orang mencampak pandang ke arah mereka. Apakah mereka tidak bisa mengucapkan sepatah kata?" "Kepercayaan mereka sama dengan yang dianut margaku. oleh kebisuan itu. Kepercayaan itu yang melarang mereka untuk bercakap dengan kita. Tio menjadi gelisah. Tapi. banyak orang berdiri. Atau. Tapi. Riak itu. Tidak mengapa. punya arus.

Mulanya begitu lemah dan jauh. Seperti mata ikan yang mati. Seperti suara setan yang bangkit dari dunia jauh. Orang itu sudah berada di tepian sungai. agar perahu melaju. Aku mau turut. si belang sekali lagi menggonggong ke arah tumpukan orang yang diam bisu itu. Setelah beberapa hari tidak mendengar suara orang lain yang mencakapkan mereka. suara orang itu seperti hadiah yang besar. Biar cepat kita jauh dari tatapan mereka." "Teruslah berkayuh. Hampir tidak dapat mempercayai pendengarannya. Mereka masih harus mengayuh kuat-kuat. Merahnya mewarnai segala." Ronggur tambah terdiam. seseorang memanggil nama Ronggur. Ronggur berhenti berkayuh. Senja di langit bertambah tua. Belum bisa menghayutkan perahu. seperti patung. tapi yang begitu diam dan bisu. hadiah yang membuat mereka gugup. Diikuti Tio." kata orang itu. Arus sungai masih lemah. Agar godaan darinya tidak lama mempengaruhi tekad diri. "bawalah aku bersama kalian." "Mata mereka tidak bercahaya. Disuruh T io diam. dari satu tempat yang ketinggian lagi sunyi. Si belang mempertajam penciuman. Untuk akhir kalinya. Si belang mengikut. Dan. Ronggur mendongakkan kepala. Tidak berkerisik. napasnya masih tersengal. Seseorang berlari di pematang sawah sambil melambaikan tangan. rasanya. mencari dari mana suara itu datang.hendaknya kita sudah sampai ke tempat yang cukup jauh dari perkampungan mereka. sebelum mereka menjauh benar." Tio meneruskan mengayuh. Menggonggong. "Ronggur. . Tio. Aku ngeri melihatnya dan merasa terpukau berhadapan dengan manusia yang begitu banyak.

Tapi. di saat itu pula seseorang dari anggota masyarakat yang menyisihkan itu memohon pada mereka. gantung diri. lebih baik kurasa. Karena aku takut sendirian menuju negeri jauh itu. Tepikanlah perahu itu biar masuk aku. Lolom." "Kudengar kau." "Kau pikir kami sengaja mencari kematian dengan melayari sungai ini? Atau. Ronggur. "Aku tahu perjalananmu mendatangkan ajal. Kawanmu sejak kecil. Karena aku memang dengan sengaja mencari kecelakaan pada diri sial ini. kau dengarkah aku? Aku si Lolom. Di saat mereka disisihkan dari sekitar. Namun hutangku masih bertumpuk." "Jadi kau sengaja mau mencari malapetaka?" "Ya."Ronggur. bila ada teman samasama mati. Aku mau turut. seperti kalian. Bawalah aku. dari alam kehidupan mereka sehari-hari. Kudengar kau. Bawalah aku. agar dibolehkan turut serta. Bawalah aku. "Kenapa kau harus ikut?" tanya Ronggur. Daripada aku membunuh diri. biar aku tidak merasakan kesunyian di saat nyawa berpisah dari tubuh. "Bawalah aku bersama kalian. sengaja mendatangi kecelakaan yang bisa . Membuat Ronggur ingin tahu. Seperti kau. Dia belum yakin benar akan pendengarannya. Apa maksudmu?" tanya Ronggur kembali. Sawahku sudah tergadai. Aku mau turut." Ronggur dan Tio tambah terdiam mendengarkan permohonan orang itu. Aku mau ikut. Tidak bermaksud jahat aku. Aku kalah berjudi. kenapa orang itu mau turut. Justru karena tahu ada teman sama-sama mati. lebih tenteram kurasa hati. permohonan yang tidak diduga sama sekali. Sungguh sial nasib menimpa diriku. aku tidak perduli.

ia tidak tahu. Bukankah karena tidak tahan menanggung malu di dunia ini. Sebenarnya dia sendiri memang sependapat . lalu mulai mendayung. Kami mau mencari penghidupan yang lebih sempurna. Walaupun sebab kita berbeda. Kawan. Memang budakmu itu manis. Biar ada temanmu sama-sama mati. Habis perkara. Biar ada pula temanku sama-sama mati. "Perjalanan yang menuju atau mencari tanah habungkasan. Aku karena kalah berjudi. "Kenapa kau berkata begitu. Kau karena menyintai seorang budak. dan aku mau turut. jatuh cinta pada budakmu." Dengan hentakan kasar." suara si Lolom mulai ringan dan lincah. Lolom?" "Karena kau Ronggur. Tio membenamkan pengayuh ke air hingga air muncrat ke atas." jawab Ronggur tegas. Itu soalmu. pula. Aku akan menutup mata dan mulut. jangan bersilat kata. Kau sengaja mencari kecelakaan. kau me larikan diri dari kehidupan ini dengan dalih mencari tanah habungkasan bersama budakmu itu? Bawalah aku." jawab Tio kasar." Wajahnya memerah.mengakibatkan kematian?" tanya Ronggur matanya memancarkan cahaya benci. "Bukankah kau dengan sengaja mencari sumber malapetaka dengan melayari Sungai T itian Dewata ini?" "Tidak. Dari kita sebenarnya sama sialnya. Mencapai tanah luas tempat habungkasan. Dan. kematian. kenapa dia harus mengatakannya. "Ah. Aku tidak bermaksud mempengaruhi perasaan cinta yang tumbuh di hati kalian berdua. Bawalah aku Ronggur. di saat kalian bercumbuan. Sinar "Apa maksudmu?" kembali Lolom bertanya. "Perjalanan kami tidak wajar dikotori seorang penjudi yang mau bunuh diri. tidak seperti semula lagi. Percayalah.

Aku juga tidak dapat mempercayai bila seseorang yang melayari sungai ini. masih mengatakan akan mencari tanah habungkasan. Ronggur? Karena tepat apa yang kukatakan?" Ronggur masih diam. Tidak menyahut. Lolom?" tanya Ronggur keras “Kau masih bertanya." "Siapa mengatakan itu padamu. Aku juga mempercayainya. Nasibmu jauh lebih celaka dari nasib kita semua. dan datu bolon. Lain tidak. Ronggur jatuh cinta. Aku kalah berjudi. Karena itu. marilah sama-sama mati. Bawalah aku. Bagiku itu omong kosong dan dusta paling besar." Seketika Ronggur terdiam. Akhirnya Ronggur mengatakan: "Lolom. Aku yang mau bunuh diri. Kalau alasanmu berbeda dari alasan yang kau katakan . dengan Lolom bahwa perjalanan itu akan kandas di karang kecelakaan. kawan. Tio sudah hendak mendayung perahu. Itulah berita yang tersiar luas di antara penduduk. sayang sekali apa sebabnya kau mau ikut dengan kami. kau penggoda keparat. dari kerajaan. tanganlah berkata aku membawa sial padamu. tapi dicegah Ronggur dengan membenamkan kemudi ke air. Kemudian Lolom melanjutkan. kau sedang bunting. karena setiap saat kau menggodanya dan kata orang. Lolom terkekeh lupa akan masalahnya sendiri. Jatuh cinta pada seorang budak. "Kenapa kau diam.dengan orang lain. Kalian telah bersetubuh sebelum meminta izin dari Mula Jadi Na Bolon. Tapi. dari para orang tua. kau telah menggoda dan menjerumuskan seorang sahabatku ke lembah kehinaan. perjalanan yang bermaksud baik itu dikotori seseorang yang memang sengaja mau bunuh diri. tidak wajar rasanya. biarpun begitu. "Apa kau katakan budak manis? Apakah kau tidak dengan sengaja mengotori hidup si Ronggur? Dengan wajahmu yang manis.

Sungai ini akan membawaku ke tanah landai yang subur. Kita akan sama-sama mati bila kita sama-sama melayari sungai ini. karena aku tidak mau mencari ma lapetaka." Lolom masih tertawa di pinggir sungai. seseorang penjudi yang kalah." "Jangan mencari dalih lagi. carilah. tapi sebaliknya. Itu saja soalnya. betapa gembira hatiku menerima kehadiranmu. bawalah aku biar ada temanku sama-sama mati. agar semua orang terlepas dari ancaman yang selalu mengikuti hidupnya." "Tapi. walau kau kawanku. Agar nasib sialmu. Betapa aku berterima kasih karena kau mau menemani aku seraya bersedia memikul segala akibatnya. Karena itu dan karena aku tahu pepatah lama. berperang karena setapak tanah. "Perjalanan yang kumulai ini bertujuan baik. Karena aku tidak mau bunuh diri. Karena itu. bersibunuhan karena setetes air parit. "Sudah kukatakan aku tidak dapat mempercayainya. . benar." jawab Ronggur dengan suara kuat. Aku akan menemui tanah habungkasan. dialah yang bernasib sial. Seseorang yang dengan sengaja mau bunuh diri padanya akan datang malapetaka. karena kau seorang. masa datang orang banyak. Yang kelak hasilnya akan dikecap setiap orang. Kami masih tetap mengharapkan dan memohon agar dewata menunjuki jalan kami. Tidak wajar mengorbankan nasib orang yang begitu banyak. sewajarnya pula aku menolak permohonanmu. Kemudian Ronggur melanjutkan: "Aku mau buktikan Lolom bahwa yang kuimpikan atau yang diwartakan mimpiku padaku. Aku takut mati sendiri. agar kutukan dewata padamu karena kau mau bunuh diri tidak turut menimpa kami. aku tidak mencari kematian dengan sengaja." kata Lolom menghentak. Hasilnya kelak akan kuserahkan pada semua orang.itu. Yang kuminta padamu. Sendirinya pula aku akan buktikan bahwa kepercayaan yang tertanam di hati kita selama ini mengenai sungai ini salah.

walau dia sudah berlari-lari di tepian. kau dengarkah aku?" ratapnya mulai meninggi. apa yang harus kuperbuat? Aku takut mati kalau aku sendiri yang menghadapinya. Begitu pula agar tidak ada tempat bagi sanak saudara. waktu Lolom sadar bahwa kencang perahu tambah tak dapat diikutinya lagi. kalian tidak mau pula membawa aku serta. aku pun bermaksud begitu. "sampai hatikah kau melihat aku manjadi budak?" Ratapan si Lolom yang tambah meninggi. menagih hutang.tempuhlah sendiri. Hendak mereka jadikan aku budak. Kembali dia berhenti mendayung. dan datangilah sendiri ajal yang akan merenggutkanmu dari kehidupan ini!" Sambil tertawa dan perutnya berguncang-guncang. ke mana perginya akal sehatmu yang selama ini kau punyai? Ya. tempat mencampakkan segala penjelasan di atas pusaraku. Nah. dengan pengap-pengap dia memohon: "Ronggur. Dan. Penjudi yang kalah main. dia berkata dengan kuat lagi tajam: . Menyuruh Tio berhenti pula mendayung. Agar kubur kalian tidak ada jadi pertinggal di dunia ini. Matanya menyala merah. dia berusaha agar marahnya tidak meledak. Tapi. karena aku segala penjudi yang kalah. bagi anak yang masih kecil. membuat Ronggur tertegun. memang kau masih menggunakan akal sehat itu. Lalu. menerjunkan diri ke ujung dunia agar bangkai kalian tidak dapat dikuburkan. perahu sudah mulai dikayuh Ronggur dan Tio. Dan. Ronggur. aku yang sudah rela mati. Dia mencampak pandang ke daratan. kalau mati tidak wajar menunjukkan kuburnya agar tidak ada lagi tempat bagi mengunjungnya. Yaitu. Lolom mengatakan: "Ronggur." Waktu Lolom berkata. membuat hidup mereka menjadi morat-marit.

pahitnya perasaan diri sendiri justru harus membunuh orang lain. apa yang harus kuperbuat?" tanya Lolom pula melanjut dan memotong cakap Ronggur." "Begitu percaya kau Ronggur bahwa kau akan menemui tanah habungkasan. mempunyai setetes air parit telah memaksa aku harus mencapai tanah habungkasan. karena orang lain itu pun ingin hidup lalu berusaha menguasai setapak tanah. dari penjara perasaan yang meracuni diri sendiri. Karena kau memang sengaja mencari kematian. kau kawanku sejak kecil." "Lantas. Untuk ikut serta dalam perjalanan ini kau tidak boleh. agar kau tahu. betapa berharganya sebuah kemerdekaan. Kau boleh pindah ke sana dan kau kembali menjadi orang merdeka. Agar kau tahu dan menyadari bahaya main judi. maka kau pun akan mendoakan agar perjalanan ini memperoleh hasil seperti yang diharapkan. Pesanku padamu. Kelak aku akan membawa berita padamu bahwa tanah habungkasan telah kutemui. janganlah dulu bunuh diri. . Tapi. Aku tidak bersedia mengorbankan perjalanan ini pada nasib sial yang akan menimpamu. Kau telah menghina aku. Sekarang biarlah dulu kau rasakan betapa sakitnya menjadi budak orang lain. Untuk bisa terlepas dari belenggu itu. sehingga kau tidak mau lagi mempermainkannya di perjudian. merasakan pahitnya menjadi seorang budak. Agar kau bisa kembali menjadi seorang yang merdeka. Dan perasaanku selama ini. bagiku itu tidak mengapa. "Kalau berjudi bagimu sangat baik. Agar kau tahu betapa nikmatnya mimpi akan kemerdekaan. bila kau pun nanti turut menanggungnya."Lolom. Harapanmu terletak pada hasil perjalanan ini. yang turut merasakan pahitnya derita seorang budak." "Dan. semua terletak pada hasil perjalanan ini." "Mimpiku telah mewartakan padaku. Dan.

karena doa seorang yang didengarkan Mula Jadi Na Bolon." Ronggur dan Tio kembali mendayung. Perahu terus melancar. si belang kebanyakan tiduran. agar Ronggur dan Tio berhasil. bila kau memang ingin berbakti. Setelah merasakan bahwa mereka sudah cukup jauh dari perkampungan. sehingga dia bisa kembali menjadi orang merdeka. karenanya dia belum mau mati. Dengan tercengang Lolom melepas mereka. Perahu ditambatkan. dia yang berjaga. Yang mungkin berbeda malah menantang kepercayaan yang mereka anut selama ini.Bertobatkah. Bulan mulai memancar di langit mencurahkan sinar ke bumi. Tanah datar yang terdiri dari tanah batu di kiri-kanan sungai. kembali dia meratap dan menangis. Suruhlah mereka bersiap menerima sebuah warta kebenaran. Tidak berdaun rindang. Agar tidak terguncang perasaan mereka bila kelak menerima warta penemuanku atas tanah habungkasan." tobat. Kalau malam. Menjadi suluh bagi Ronggur dan Tio mengikuti jalur sungai. bila pagi terbit lagi. disela tangis itu dia mengharapkan. Ronggur telah melanjutkan: "Di samping itu. Secara perlahan arus sungai mulai terasa. wartakanlah pada orang semargamu bahwa anggapan mereka akan perjalanan kami ini tidak benar sama sekali. Ronggur mendaratkan perahu. sangat Sebelum Lolom sempat mengatakan sesuatu. Si belang disuruh berjaga. Dan. mereka akan melanjutkan perjalanan itu. Memilih tempat bermalam. Tapi. Harapan masih ada walau masih begitu samar. . Meranggas. Memang begitu selalu. sesudah dia sadar bahwa perahu Ronggur sudah menjauh dan melaju. selagi perahu dikayuh. Dan. di saat Ronggur dan Tio melepas lelah. Hanya satu-satu pepohonan tumbuh di tepian.

yang menganga bergaya mau menelan. hatinya bergoncang dalam dada. tetap diperhatikan dan dipelajari Ronggur. Arus sungai sudah cukup deras. dan masing-siang. Menurut keterangan bekas Datu Bolon. Dan. Kembali dia ke tempat Tio. Sejauh mata memandang yang dilihat hanya batu padas saja. Pertanda mereka akan bermalam di sana. Perasaan masing-masing saling mengajuk nasib yang menanti mereka. Atau. . Menembus bukit. Kediam-diaman. Dan. dia harus mulai mencari mulut gua yang diceritakan Datu Bolon. yang mencampakkan pandang padanya. bila mereka mulai melewati batas itu besok pagi. agar kelajuan perahu dapat dikendalikan. T io akan menarik napas yang panjang. Bila suara gemuruh air sungai berbantingan ke dinding batu mulai kedengaran. bila arus bertambah deras. Itulah mula gua yang diceritakan bekas Datu Bolon. Pada hari selanjutnya.Setiap hari arus sungai tambah terasa. tapi diusahakan agar tidak kedengaran pada Ronggur. menerjang terus ke perut bukit. Lalu menyuruh Tio menghidupkan api. Bila Ronggur kembali mengangkat kepala. tidak jarang Ronggur melengketkan telinga ke permukaan air. Satu dua batu jangkar sudah dijatuhkan Ronggur. Ronggur tidak mengucapkan. Sedang sungai seolah terus menuju satu arah yang jauh. untuk merasakan getar air. Dia pergi ke tempat ketinggian. Tekadnya harus bertambah bulat dan kukuh memasukinya. Tapi. Walau matahari tidak terik. pandang yang meminta penjelasan. Karena itu. setiap Ronggur mengerjakannya sambil memejamkan mata. memulai jalan darat. mengadakan peninjauan. namun Ronggur mendaratkan perahu ke pinggir sungai. mendaki sebuah pundak bukit. dia harus bertambah hati-hati. sepatah kata. setiap itu pula T io memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Dan. mereka telah tiba ke batas yang boleh ditempuh manusia.

Atau. Terus saja Ronggur mencampakkan pandang ke kejauhan. Jadi tidak dari pundak Dolok Simanuk-manuk lagi. Tengah malam. melontarkan perasaan yang tertekan. Angin kencang datang dari hulu sungai. Menyinari kiri-kanan sungai yang tidak punya tanda kehidupan. Telapak tangan Tio yang sudah lecet dan keputihan. Namun mereka meneruskan perjalanan juga. Tandus dan kosong. Keadaan sekitar menjadi pekat. Tidak pernah didatangi manusia layaknya. mereka temui sebuah lobang alam pada s isi sungai yang agak tinggi. Buru-buru Tio menghidupkan api. Walau sudah jauh melewati batas yang boleh didatangi manusia. Dikejauhan. Tangannya pasti menggenggam ulu kemudi. pada pagi berikut melihat matahari muncul dari satu kekosongan. Tetap meneliti keadaan. Bila mereka mendarat ke pinggiran lagi. Mulut tambah terkatup. desiran arus sungai kedengaran bangkit. bulan muncul. Membangkitkan riak yang . tidak ada sepenggal kayu atau bekas api. Lobang yang bersisi berlantai dan beratap batu. bila diperhatikan benar. susut karana terus-terusan direndam air. Mereka tidak perlu lagi mengayuh. tepat dari belahan jalur sungai. lalu menutupi wajah bulan. Awan hitam merayap dan menjalar.Ronggur dan Tio. Tangannya mengelus leher si belang yang duduk di sampingnya. Mereka masih selamat. Dia mencari kekuatan hati dari elusan itu. sekarang bisa mengasoh. di atap batu. terbuat dari batu alam. Dingin. Hingga batu jangkar sudah tiga biji dijatuhkan. seperti yang mereka kenal. hari itu mereka tidak menemui sesuatu. Tapi. Arus sungai sudah dapat menghanyutkan perahu malah terlalu liar. Beberapa potong kayu diangkutnya dari perahu. Dalam lobang. mendesis. Hanya arus sungai yang bertambah kencang. Dari jalur sungai dikejauhan. tidak seperti lobang alam yang pernah mereka temui. Nyala api menari-nari di dinding batu. Wajahnya bersikap menantang dan begitu tegang.

pertanda mula kecelakaan yang akan menimpa diri. Baru beberapa saat yang lalu. cukup gelisah permukaan sungai. Permukaan sungai naik. Kekelaman yang abadi. Lantas pergi ke atas gua alam itu. sudah melonggarkan perasaan tertekan. Ronggur pergi ke tepian sungai memperkokoh ikatan tambatan perahu. dia tidak akan menyahut. Satu-satu halilintar mengkilap membelah bumi. Tio yang tepat berada di bawahnya. Dia merasa lebih tenteram bila Ronggur di dekatnya. walau tidak mengatakan sesuatu. Selagi Ronggur tidak ada dekatnya. Beberapa saat dia berdiri di sana. Riak sungai menjadi besar dan tambah gelisah. Si belang mendekat pada Tio. menatap ke sekitar. memperhatikan sekitar dan mempelajari arah dan mata angin yang menggalau. Semuanya serba asing dan menakutkan. perubahan alam begitu rupa menimbulkan prasangka dalam diri. . Seperti: "Besok pagi kita melanjutkan perjalanan sebelum matahari terbit. walau dia tahu Ronggur tidak pergi jauh. Dalam saat begitu. Tidurlah. Kepekatan menyeluruh menelan segala. dia merasa sepi atau merasa takut. keadaan udara cukup terang benderang oleh sinar bulan yang nyaman. selimuti dirimu dengan kulit binatang berbulu. Diiringi suara guntur yang mau memecahkan segala. menyengkak. Kulit tangannya masih tetap pucat dan menyusut. atau semua serba seperti menakut-nakuti. Dia selalu begitu. yang menumbuhkan berbagai ragam anggapan. Seperti marah karena ada orang yang berani berlayar melewati batas yang sudah ditentukan. Dipisah langit-langit gua yang terbuat dari batu alam. Biar terasa panas. hujan turun seperti dicurahkan dari langit." Mendengar cakap yang sepenggal itu saja. Dan. tapi melaksanakan yang dimaksudkan Ronggur.tidak dapat dikatakan kecil. selain hai yang penting saja. Bersabung halilintar dan guruh. Memanaskan diri dekat api. tidak mengetahui bahwa Ronggur tepat berada di atasnya. Begitu cepat suasana alam berubah.

T io terpekik karena terkejut. "Pergilah tidur. Permukaan sungai menaik. riak sudah membesar sudah menyerupai ombak danau. Telapak tangan ditelempapkan ke tubuh. angin. Namun perasaan keadaan sekitar. Tidak disadarinya matanya dapat ditangkap pandangan Ronggur. kalau tangan itu akan hangus terbakar. bila badai telah teduh. Dalam hatinya dia merasa geli atas kelakuan Ronggur. daerah yang belum pernah dimasuki manusia. Perasaan sak wasangka tambah mencekam diri. yang dengan sendirinya kakinya menjadi telanjang. Hendak melihat ke mana Ronggur pergi atau di mana Ronggur berada. air tidak mungkin menggenangi mulut gua di mana mereka berada. Dengan membungkuk dia menuju mulut gua. kita akan meneruskan perjalanan. seperti Tio sendiri. Besok. Tio bangkit dari duduknya. Sambil memalingkan pandang Ronggur berkata. Lalu mundur.Malam itu Ronggur agak lama baru kembali. Begitu dekat hingga Tio yang melihatnya merasa ngeri. Ronggur tersenyum. Ronggur tersenyum. lalu mengatakan. ketika itu juga. tubuhnya tertumbuk ke tubuh Ronggur yang berdada telanjang. Kulit binatang itu tidak cukup panjang untuk menyelimuti tubuhnya sekaligus. kilat. Mendekatkan telapak tangan ke jilaman api. dan guruh masih bersabung. karena dia tahu bahwa mereka sudah berada di daerah yang berbahaya. tersenyum di bawah selimut kulit berbulu. "Kau belum tidur juga? Belum mengantuk?" Tio menyurukkan kepala ke bawah kulit binatang. Dia menyesali diri kenapa dia harus terpekik. Butiran air berjatuhan. Dari goleknya dia melihat Ronggur mengeringkan tubuh. Sedang Ronggur merasa geli pula atas kelakuan Tio yang menyurukkan kepala ke bawah selimut buru-buru. dia tahu. lalu dikaiskan. Tidak apa-apa. Dia . Si belang sekali ini sudah tertidur." Tio malu akan ketololan dan ketakutannya. Kemudian Ronggur berjongkok dekat api. Tapi. Di luar hujan.

Desis lidah air masih terus mengganggu pendengaran. dicoloknya tiap lobang. Merasa bersyukur. Waktu nyala api me loncat-loncat dan menari-nari di dinding gua. dunia lain. Ma lah menggulungkan tubuhnya sampai bengkok untuk melawan dingin. Ronggur menutup kedua belah kupingnya. Matanya diliarkan menatap langit-langit. Dalam gua menjadi dingin kembali. dia pun tahu. Walau matahari sudah terbit dan agak tinggi. Tio belum bangun. Tapi.menggolekkan diri. Patah sayap. bahwa cuaca masih tetap seburuk kemaren. pikirnya. Suara mendesis yang bersumber dari sungai itu sangat menyayat atau menyengat pendengaran. . Kampret berjatuhan. Heh. justru karena dia tahu. sudah mulai me lemah. Dia mendekati salah satu lobang kecil. namun bias cahayanya tidak dapat menembus awan yang bergumpal dengan sempurna. Asik dia dengan pekerjaannya. Suara yang timbul atau seolah datang dari dunia jauh. Kelepak itu berasal dari lobang-lobang kecil yang banyak di langit-langit gua. Api sudah padam. angin yang bersabung dan hujan yang menderu di luar belum henti. Cahaya putih sudah menerobos dari mulut lobang waktu Ronggur membuka mata kembali. Menjerangkan air yang ditampung dari pinggir sungai. lalu dia dapat memastikan bahwa sesuatu yang bernyawa masih ada di sana. Tambah lama tambah banyak. memejamkan mata dengan paksa. Di sini banyak kampret. Perlahan dia bangkit. Dengan malas Ronggur kembali masuk ke dalam lobang. Waktu kepalanya dijulurkan dari mulut lobang untuk mengetahui keadaan cuaca. Lalu dia mengambil sebatang kayu. Membaringkan diri. Di samping itu. Terus menghidupkan api. takut kalau kelepak lemah itu henti. Dengan kayu itu. Didengarnya kelepak lemah di langit-langit gua. Juga si belang. Enak dimakan. Kampret itu ditumpukkan. Tidak tahu dia Tio sudah bangun. daging kampret enak dimakan.

dia sebagai perempuan. rasa dingin dan kantuk cepat menghilang. Ingatan Ronggur cepat meloncat. dia telah berani memilih perjalanan tanpa nasib. Atau. menemui tanah habungkasan atau menemui ajal. Cepat dia mengaju tanya: "Tio. Cepat benar sudah masak. Yang terasa tidak punya akhir dan ujung. di mana kau bikin pundi-pundi tempat bibit itu? Sudah berapa hari tidak kulihat. bibit itu sangat penting dan perlu bagi kita. Disambutnya juga senyum itu. Bila angin dan hujan reda." Tio memegang pinggangnya yang agak menonjol. kita meneruskan perjalanan. "Kau menjaganya dengan baik kalau begitu. Tio diam saja mendengarkan. Teruslah jaga baik-baik. Jangan sia-siakan. Enak juga dimakan. telah menunjukkan kesetiaan hingga berani pergi ke mana saja. Bila angin dan hujan teduh." kata Ronggur. Jajan arwahnya dalam perjalanan menghadap Mula Jadi Na Bolon. Tio menjaga bibit itu dengan baik.Ronggur berpaling. lalu: "Di sini banyak kampret. Atau. Padanya. padi yang bisa mengurangi rasa laparnya bila mereka memang jatuh ke ujung dunia. . Sambil meneguk air simar palia yang pahit kental lagi panas. Tio menundukkan kepala. meninggalkan nasib yang malarig di belakang. Dan. mereka akan meneruskan perjalanan. Ronggur menyambung: "Teruskan jaga baik-baik. Bibit pertama yang akan mereka tanam di tanah habungkasan. Tio tersenyum tapi tertunduk." Kampret itu mereka panggang. langsung dengan bulunya. Bakarlah. bersama seorang lelaki yang dipercayainya kejujuran dan keberaniannya. Di tanah habungkasan yang kita tuju. Pundipundi itu diikatkan di pinggangnya. sekarang telah menjadi sama. Dia telah menunjukkan kesetiaan sebagai budak pada tuannya. mulut mengunyah daging kampret yang manis. Itu saja pun baginya cukuplah." Cakapnya punya kepastian seolah mereka akan menemui tanah habungkasan yang dimimpikan.

Tali temalinya bertegangan diseret perahu. kelajuan perahu terus bertambah. Menyusuri sungai. menghadang sungai. Karena itulah. dia masih meneruskan penyusuran itu. tanah subur yang landai. bila air sungai jatuh ke akhir dunia. mula dari impiannya. Tapi. terhunjam ke dada bumi. Tepian sungai menjadi tambah tinggi juga. namun suara gemuruh belum ada kedengaran. membuang butir-butir air yang melengket pada bulunya. desis air yang menyayat pendengaran itu tetap juga. Perubahan pada kedua tepi sungai tambah nyata. masih jauh. batu jangkar terus . Pendengaran terus dipertajam Ronggur. Tambah lama tambah berbentuk semacam terowongan. Karena. tentunya menimbulkan suara gemuruh yang dahsyat. air terus menerobos. terbuat dari batu alam yang hitam. Atau. dapat dikuasai karena dibantu batu jangkar itu. Batu jangkar sudah tujuh buah dijatuhkannya. atau suara lengkingan itu tersekat dalam kerongkongan. Bila arus bertambah kencang. lalu memulai perjalanan lagi.Karena itu dia hanya menelan air liur mendengar omongan Ronggur yang punya kepastian itu. namun kelajuan perahu terus bertambah kencang. Air yang bertemperasan ke dinding tepian batu. Si belang menggoyangkan tubuh. Bahaya. Itulah gunung Batu yang diterobos air sungai yang arusnya bertambah deras. Angin tambah melemah dan hujan sudah mulai teduh. Tapi. Cahaya yang menerobos ke dalam gua tambah terang juga. Dan. Air sungai terus menerus mengarah ke satu bukit yang seolah tegak berdiri. Ronggur dan Tio bersama si belang cepat-cepat meninggalkan gua. berdesis dan muncrat ke sana kemari. Gelisah tidak pernah henti. Dia melengking kecil. Seperti tidak terkendalikan. Tapi. berangsur secara perlahan. atau ujung dunia. pikir Ronggur. tambah beda dengan tepian sungai yang sudah mereka lewati. Sudah lebih dari lima batu jangkar dijatuhkan Ronggur.

Pada puncaknya yang masih bisa dijangkau mata tidak ada sesuatu yang tumbuh.dijatuhkan. Tio cepat menimbanya. Sekitar menjadi taram-temaram. Kelokan sungai yaitu patah tambah sering mereka temui. Pada riam yang lebih curam. Ada kalanya sinar matahari seperti tidak sampai pada permukaan sungai karena disungkup kedua dinding batu yang bertemu puncaknya. Air sungai menjadi lebih dingin dan hitam. Ronggur hanya tinggal menunggui kemudi. Pancing yang diumpankan Tio tidak pernah lagi mengenal Ikan bertambah jarang atau memang tidak ada sama sekali. Melanjutkan perlawanan terhadap arus sungai yang setiap saat bertambah kencang juga. Sebuah kata pun tidak ada yang diucapkan. Membuat mereka terkadang tidak dapat mengetahui peredaran waktu dengan pasti. keadaan begitu bertambah jauh menyusuri sungai. Tepian sungai yang terbuat dari batu alam bertambah tinggi juga. Begitu seterusnya. Dan. Pada tiap riam. membuangnya kembalinya ke sungai. terkadang wajah Ronggur sendiri disembur air. tanpa mau melepaskan seketika saja pun selagi perahu terus berlari dibawa arus. bisa juga temperasan masuk ke dalam perahu. bertambah memanjang. Air yang bertemperasan pada dinding batu tambah mendesis dan menyayat pendengaran. Dan. Mata terus-terusan ditancapkan ke depan. Namun mereka tetap berlayar. Tahulah Ronggur suara desisan air yang menyayat pendengaran itu. walau dinding perahu sudah tinggi dibuat. yang terus memegang kemudi. selain dari tumbuhan kerdil yang tidak berdaun hijau. air sungai gelisah warna putih melambung ke atas. Segala perasaan dikerahkan meraba yang menanti di depan. Mereka tidak bisa lagi dengan leluasa melihat matahari. bermula dari air yang bertemperasan ke sisi sungai dan lebih hebat pada salah . Begitu curam dinding batu itu. Dan pada setiap akhir kelokan riam sungai teap ditemui.

di tengah si belang.satu tikungan. terasa sangat membosankan. Air membiru sudah seperti menghitam. Tidak sedikit terlempar ke dalam perahu. perahu akan pecah remuk. pandang mereka sering ketemu. Celah dinding sungai di atas bertambah kecil juga. Dari warna biru permukaan yang sudah menghitam itu. Kelanjutan perahu terus juga menggila. Mereka lalu tidur dalam perahu tanpa unggun api. jadi. Air seperti membulat. tahulah Ronggur bahwa sungai amat dalam. mereka harus menahan dingin malam yang menyiksa. Bertemperasan. dan nasib sudah teraba bentuknya. Perut perahu menjadi tergenang air. Mereka tidak ada lagi menemui gua alam. Tapi. Meneliti dan menduga sesuatu yang sedang menanti. Cepat . Tio harus cepat menimbanya. tapi pada tikungan yang dilalui terkadang ada juga batu muncul ke permukaan air. Karena itu. terus menerus mengisi pendengaran. Begitu pula tepian sungai yang landai. Begitu menyiksa terasa. Peralatan mereka menjadi basah. Mereka harus hati-hati melewatinya. Bila terdampar ke sana. mereka hanya bisa menambatkan perahu ke salah satu tungkul batu yang mencuat. Selain kayu bakar tidak ada. kalau cahaya yang menerobos dari celah dinding sungai di atas itu me lemah. menghadang. Tio di hulu perahu Ronggur di buritan. Dada dipukul detak hati yang tambah mengencang. wajah Ronggur terus menantang ke depan. Biarpun dia tahu bahwa sungai sangat dalam. Dalam saat begitu. Arus sungai terus menerus bertambah kencang dan tambah menggila. Seperti mereka berada dalam satu lembah yang sempit diapit kedua sisinya yang tinggi. Terlebih pula tidak ada yang menyelingi. Sudah lebih sepuluh batu jangkar yang mereka jatuhkan. Air yang bertumbukan dengan batu mencuat itu menjadi gelisah dan liar. Suara air yang bertemperasan ke dinding batu. menghidupkan api dalam perahu berarti bunuh diri.

yang berarti pekerjaan Tio tidak ada. menempuh jalur sungai yang tidak dapat teraba. Mata Ronggur terus memandang ke depan. Hanya air sungai yang dingin diteguk sehabis cuci muka. agar kepala Tio tidak tersangkut pada salah satu lingkungan dinding sungai yang terkadang begitu rendah. Jiwa tambah terasa dihantam habis-habisan. Dinding sungai bertambah tinggi dan tandus. Bibirnya gemetaran. Tambah lama tambah nyata. Sudah sering dia berpaling ke belakang menatapi. yang selalu mendekat padanya dengan lengkingnya yang tersekat dalam kerongkongan. Walau terkadang hanya tertumpu ke dinding batu pertanda sebuah tikungan. Terkadang Tio berdiri meregangkan tubuh yang kaku. Tikungan bertambah sering ditemui. Mengancam nadanya. ke mana diri akan dibawanya. dia selalu melemparkan pandang ke depan dan menggunakan segala perasaan. Wajah Ronggur agak pucat juga dibuatnya. tapi cepat saja Ronggur menyuruhnya agar duduk kembali. mengancam siapa saja . Tio tidak terus-terusan atau tidak tekun lagi menatap ke depan saja. tambah nyala: mengguruh. Begitu pula Ronggur yang berada di buritan perahu. Arus sungai menggila Batu jangkar sudah lebih duapuluh biji dijatuhkan. Tio menyelimuti diri dan juga si belang. Tapi. Mulanya sangat lemah sekali. Atau. Dan.dipalingkan. T idak mereguk air panas lagi di pagi hari. Namun perahu seperti diseret dan dilarikan setan saja kencang nya. Ronggur seperti tidak me lihatnya. Tio tertunduk. bila utusan cahaya kembali menerobos celah dinding sungai di atas itu. Bila temperasan air yang melemparkan air ke perut perahu tidak ada. yang bangkit di depan itu. Ronggur. mereka akan meneruskan perjalanan lagi. Agar tatapannya tidak terhalang. Suasana tambah menekan. Suara yang lemah itu. Arus sungai tambah menggila.

kau tidak mendengarkan aku? Mendaratlah ke tepi. Tio tidak bisa lagi menimbanya. Yang telah berani menantang ketentuan dewata. Tidak dengar suara gemuruh yang mengancam itu?" Masih tidak diperdulikannya. Dia masih meneruskan pelayaran. Namun Ronggur tidak memperdulikan atau tidak mendengarkan. Matanya sebentar melihat ke kiri dan ke kanan. celah dinding melebar di atas. Apakah kau mau bunuh diri?" Berbaur akhirnya dengan suara gemuruh di depan dan desis air dan suara riak sungai yang menari gila.yang berani mendekat. sambil berteriak: "Ronggur. Memercik ke sana ke mari. Tiba-tiba saja Tio menghantamkan tangan ke haluan perahu. Pecah. Lalu terus ke depan. Tiba-tiba saja biasan cahaya mencurah ruah. namun riak air sudah seperti gelombang. Namun Ronggur belum mendaratkan perahu. Tapi. Tapi. Suara gemuruh di depan tambah jelas. "Ronggur. Walau air tidak tertumpuk pada salah satu batu yang mencuat di permukaan sungai. meledak teriakan panjang dari mulutnya: . Tio terus menjerit. Seperti tidak terdaki layaknya. Dengan tidak berapa dikuasa iya pula. Suara gemuruh itu seperti suara dari sesuatu benda yang jatuh ke satu tempat yang amat dalam. Ronggur menatap ke depan dan pendengarannya terus dipertajam. memohonkan ampun atas keangkuhan mereka berdua. tingginya alangkah jauh lagi curam. Perahu terangguk-angguk dan tergoncang. Sering dia menyebut nama dewata. melengking. cepat bertukar tempat. mendaratlah. Jangan teruskan lagi mengikuti sungai. Banyak terlempar ke dalam perahu. Dalam jeritannya sering dia memanggil nama almarhum ayah bundanya. Begitu liar. Urat saraf Tio seperti lumpuh karena terus-terusan ditekan suasana ketegangan.

. cepat dihentikan T io dengan teguran."Ronggur. kita memerlukan air barangkali di atas sana. Mungkin tidak ada air di sana. . Marilah dulu makan daging kering. "Keringkanlah." lalu tangisnya berkepanjangan. isaknya belum henti. Dan. . Ronggur mengangkat kepala mendengar jeritan Tio itu. Biar kita punya tenaga." Perahu tambah dalam dan kuat anggukannya. Talinya tetap sangkut pada sebuah gundukan batu yang mencuat agak panjang dan besar. . Sewaktu Tio merasakan bahwa perahu mereka tergoncang kuat karena ada yang menarik dan ada yang menahan. Dia menatapi Ronggur dengan biji mata yang tergenang air mata. Dapat dipercaya. jagalah dirimu. diri kita berdua . pipinya basah kuyup oleh air mata. "Hapuslah mata dan pipimu. dengarlah aku. dulu mendahului riaknya. dan sebuah gulungan lagi disandang. Kedua pelupuk matanya. . Air sungai tambah membulat dan berlari kencang. Sedang Ronggur tambah memperkuat tambatan mengikat pinggangnya dengan tali. Kau lihat dinding sebelah kanan itu? Kita harus mendakinya ke atas. Supaya kita dapat tahu yang ada di depan. kokoh tertanam. Tapi. Aku tidak sanggup melihat mata yang digenangi air mata yang bening. yang meledak dari dasar hatinya. sebelum itu. kuatkan dulu hatimu bahwa kau sanggup mendakinya. Perahu sudah tertambat dan sudah terhenti walau arus sungai berusaha melarikannya. Kemudian bambu itu isilah dengan air. Tapi. . Tiba-tiba saja tangan Ronggur mengayunkan tali ke dinding sebelah kanan." kata Ronggur. "Si belang bagaimana?" . dia mengangkat kepala. "Ronggur. Kita masih harus menempuh perjalanan yang jauh." Tio mengerjakan semua yang dimaksud Ronggur. Dinding sungai agak landai tapi tetap mendaki ke atas. sedang ujung satu lagi dibebaskan. Kita harus meninjau dari sana. dia mulai mendaki. Aku cinta padamu .

Si belang menggonggong kecil. Mereka sudah di pertengahan pendakian. Kau perlu turut ke atas agar ada nanti yang menarik peralatan-peralatan kecil ke atas. Tajam lidah batu alam seperti menusuk telapak kakinya. yang sudah beberapa hari basah saja. Tak ubahnya mereka seperti baru keluar dari satu lobang alam yang kelam lagi sunyi. yang tidak memberi kesempatan pada mereka untuk menatap keluasan langit. Walau sinar matahari melemah. namun merasa lemah juga mata menatap yang sudah sering ditatap tapi yang buat beberapa hari tidak ditatap. kita memang sudah harus mendarat di sini. Aku akan turun lagi. Agak mencong jalannya tapi terus mendaki setapak demi setapak. keadaan tetap sunyi. tali itu bisa ditahannya kalau Ronggur sendiri yang tergelincir. Atau. Ronggur maju menanjak sambil terus membuat semacam anak tangga pada batu padas. Terkadang Tio menatap ke bawah melihat perahu mereka yang terangguk-angguk. Atau. Tapi. lehernya digoyang-goyangkan. yang untuk beberapa hari lamanya tidak mereka lihat. Tidak vertikal. Supaya ada tempatnya bergantung kalau dia tergelincir. Kemajuan pendakian itu lambat sekali. Mengikat peralatan itu dan membawa si belang ke atas." Di pinggangnya diselipkan penggada dan kampak digenggam. baru dia mendarat. Dari sana sudah dapat kembali mereka tatap keluasan langit. Kita perlu mengadakan peninjauan. Lebih dulu dielusnya leher si belang. . Tidak ada pertanda kehidupan. yang terus diikuti Tio. Tio membelitkan bungkusan yang berisikan bekal."Biarlah tinggal dulu di perahu. di perutnya si belang menatap ke arah mereka sambil menjulur lidah. Tangga demi tangga dibuat Ronggur dan didaki. Namun tetap pasti. Tio memegang ujung tali satu lagi yang ujungnya dikaitkan pada pinggang Ronggur sebagai pegangan. Suara yang menakutkan dan mengancam itu terus bergema.

Setiba di puncak." selalu katanya. hanya sejalur batu tandus dan di sana-sini berlidah tajam. Atau. sebentar lagi. Tapi. Tidak bertepi dan tidak bermula. namun Ronggur melarang meminum air sekali banyak-banyak. Sebelum gelap mereka sudah harus sampai di puncak. Sudah cukup haus Tio. Tidak ada satu suara pertanda kehidupan. karena ada sesuatu yng menyungkap. Matahari memancarkan sinar kemerahan yang lemah. putih kental seperti kabut. lembah putih. Tidak lebih." Mereka harus bercakap kuat-kuat. Di kanan. agar dapat ditangkap pendengaran. Tapi. hari sudah sore. Di depan sekali suara mengguruh itu menanti. dia sering membesarkan hati Tio. seperti diselaputi sesuatu dan tidak punya dasar tampaknya. Tidak bisa perlahanlahan. Teruslah mendaki. agar bisa lebih mendaki tanjakan. Betapa bersukur hati Ronggur. tapi suara yang mengancam kehidupan dengan liar mengguruh di depan. Ronggur tahu. waktu tangannya sudah dapat menggapai puncak yang dituju. "Sebentar lagi. T idak jauh lagi. perasaan lega itu tidak lama mengisi ruang dada. yang mengancam. tidak mampu menembus keputihan yang mengental. Itu pun tidak jauh-jauh ditatap. Di sebelah kiri. Ke arah depan dan belakang. Karena itu. hatihati. Penemuan ini membuat hati terpukau. lembah yang dasarnya sungai yang menggila arusnya. Seperti memancur. agak licin di sini.Yang ada hanya gemuruh yang menakutkan. jaluran batu padas yang lebarnya hanyalah barang sedepa. Dan arah matahari dan lemahnya sinar. Angin meniup. tahulah mereka yang ditemui. Keringat meleleh dari tubuh masing-masing. . "kita sudah sampai ke atas. awan rendah. tidak memberi kegembiraan.

Gigi gemelatukan. ke jurang tanpa dasar. Bisu. Karena. tanpa percaya diri. bergerak ke depan perlahan-lahan. Tambah lama menjadi hitam. Pada sinar matanya. Dapat juga mereka temui tempat yang agak luas sedikit. Sesayup sampai. Sesekali mereka hendak tergelincir jatuh ke bawah. Namun tanpa bicara. Sekeliling begitu dingin membeku. Geraknya seperti gerakan yang bermula dari kedalaman. awan rendah menyungkap. Mereka memutuskan untuk bermalam di sana. menggenggam tali lebih kuat dan begitu dekat di belakang Ronggur. Dia gamang. Ronggur menoleh kepadanya seenak tanpa mengatakan sesuatu. Melangkah berserah diri. Tekad hati yang padu menjadi cair. sempoyongan. Karena dia pun seperti kehilangan semangat. T idak tampak bintang atau bulan. Ronggur berjalan di depan. Awan rendah menyungkap semua atau memang langit begitu rendah. Mati. Tio lantas saja memeluk tubuh Ronggur dengan gemetar. Melangkah begitu saja. cepat kelam. Senja tambah samar. Satu sama lain tidak bisa mengeluarkan pendapat." kata Tio pelan sekali. Ronggur membiarkan. sekira tiga empat depa luas jaluran di sana. Berlagak mau . Tio tidak berani jauh-jauh dari Ronggur. tidak ada lagi sinar cahaya percaya diri. Seperti mengantar mereka ke tempat tujuan akhir. Tio di belakang. jalannya begitu licin. Lidah batu yang tajam menusuk telapak kaki. Mereka terus melangkah. Tidak berapa lama tari warnanya menghias langit. Mereka rasakan langit begitu dekat. Terasa ngilu. Sebelah atas mereka.Berlagak mau melumpuhkan dan mematikan tekad hati yang sepadu-padunya. T idak ada yang dapat dibakar. dia membimbing tangan Tio. Kental. salak si belang dari dasar sebelah kiri kedengaran. "Kita akan mati lemas di sini. Tubuh menggigil.

tapi begitu lemah. Lagi-lagi Tio mengaju tanya. dunia jauh lagi as ing. Tapi. Suara gemuruh. Namun mata hanya dapat menembus sekira empat lima depa saja. sampai di situ saja. lagu tunggal yang abadi. Seperti ada utasan cahaya putih. "Apakah hujan?" tanya Tio." "Barangkali kita sudah terjebak. Semalaman matanya terus terbuka. Sekitar. desis air sungai yang bertemperasan ke dinding sungai. dipikirnya hujan turun." kata Tio pula. Pada satu saat angin bertiup dari arah depan." Kembali mereka diam. . "Apakah sudah pagi?" "Aku tidak tahu. Ronggur terus membuka mata. Air begitu tipis. Berusaha mengikuti perobahan alam kalau memang perobahan itu ada. melingkar. Akhirnya dapat diketahui Ronggur. tapi menakutkan. dapat kembali ditatap. Lama-lama hitam pekat itu beralih pula. Sampai payah bernapas. tetaplah waspada. Tidak pernah hujan begini tipis. Tio. Melumpuhkan perasaan yang ada dalam diri. Tio jatuh tertidur sambil menggulungkan atau melipatkan kakinya dekat ke dadanya. Ada juga dirasakannya kebenaran yang diucapkan Tio itu. sekira empat lima depa." katanya menasihati walau diri sendiri bimbang. "Aku tidak tahu. kepekatan yang menghitam itu sudah kembali agak memutih. Tapi.menyelimuti segala. "janganlah berkata begitu. Tapi. kita sudah basah. Ronggur tidak dapat tidur walau tubuh cukup capek dan payah. Lagu kematian yang hendak mengantarkan para arwah ke tempat abadi. Tapi. Butiran air halus memerciki tubuh mereka. "Ke mana lagi kita harus pergi?" tanya Tio pula.

mencari tangga yang dibuatnya semalam. pikir Ronggur. akhirnya muncul kembali. Kembali dia teringat pada s i belang. tentu dapat melembutkan hati Mula Jadi Na Bolon yang pengasih penyayang itu. Dia mulai menuruni anak tangga yang dibuatnya semalam. Dengan perahu itu dia akan mendatangi tempat Mula Jadi Na Bolon. Beberapa saat kembali hening. pada peralatan yang masih tinggal di sana. tapi dengan alasan kenapa dia harus mengarungi Sungai Titian Dewata." kata Tio pula. Bilapun Mula Jadi Na Bolon murka. Semua peralatan itu akan menjadi saksi di depan Mula Jadi Na Bolon. tapi marilah dengan tabah mendekatinya." bujuk Ronggur. secara berangsur. Sedang Ronggur setelah dicekam habishabisan oleh perasaan takut. pada perahu. Tio memegang ujung tali di atas. Perahu itu seperti rumah dan tempatnya terakhir. Tio terdiam. Kalaupun ajal tiba. Ronggur mencampak pandang ke sebelah kiri." "Tidak terjebak. Lalu diputuskan." Tio terdiam. aku tahu. ke tempat Mula jadi Na Bolon. Kemurnian cita yang digenggam kembali memberi suluh pada keyakinan. Bila perintah datang. dia harus menjemput si belang dan peralatan serta perahu itu kembali. "Sekalipun kita harus kembali ke tempat asal. "Ya." sahut Ronggur. kita telah melaksanakan tugas kehidupan. melalui . "kita tidak bisa lagi menempuh jalan sungai. tentu tidak bisa melawan arus yang menggila." "Kita terjebak di s ini. Tapi." sahut Ronggur. tentang tujuan citanya. kepercayaan akan diri sendiri. dia mau menghembuskan napas dengan tenang di perut perahu itu. Marilah tabah menerima upahnya."Tabahlah. ganjarannya. "Kalau kita surut.

goyangan tali yang digoncang Ronggur, Tio mengulurkan tali lebih panjang. Sesampai di bawah, Ronggur mengikat peralatan kecil. Dengan berteriak sekuatnya, sekerasnya, disuruhnya agar Tio menarik. Tio menarik. Kemudian menjatuhkan tali lagi ke bawah. Ronggur mengikat perahu baik-baik. Mengisi air pada bambu tempat air yang dilobangi ruasnya, tapi ruas sebelah bawah tidak dilobangi. Air bisa tersimpan baik di sana. Kemudian dituntunnya si belang. Kembali dia mendekat ke atas. Merabaraba. Terkadang harus digendongnya si belang. Si belang seperti tahu marabahaya yang sedang mereka hadapi. Dia menuruti segala petunjuk Ronggur dengan baik. Setiba dipuncak, bersama dengan Tio, ditarik mereka perahu ke atas. Perlahan-lahan agar tidak terbanting ke tebing bukit batu, yang bisa membuat perahu pecah. Mereka masukkan semua barang bawaan ke perut perahu. Tapi, kampak terus digenggam, sedang di pinggang menyelip panggada. Dia tambah yakin lagi pada diri sendiri. Perjalanan itu tidak boleh surut dan tidak boleh henti. Harus terus maju. Sampai tiba ke tempat yang menentukan. Diputuskan akan terus mengikuti jaluran batu yang tidak berapa luas itu ke depan. Ronggur di depan. Tio di belakang. Mereka pikul perahu, jalan sempit terkadang, luas terkadang. Keadaan masih tetap sama. Hanya beberapa depa dapat ditembus pandang. Kabut tebal atau awan rendah menyungkup segala dengan putihnya yang padu. Tambah maju ke depan, suara gemuruh itu bertambah jelas. Dan, alas yang mereka pijak seperti mempunyai getaran kecil. Digoncang sesuatg tenaga yang maha kuat dan dahsyat. Membuat hati kembali tertekan. Namun dengan tabah serta keberanian yang bangkit perlahan-lahan, Ronggur terus memelopori perjalanan rombongan yang kecil itu. Menuju tempat yang menentukan, mimpinya benar atau memang mimpi itu godaan setan jahat. Si belang mengikuti langkah

Ronggur, dekat sekali di belakangnya. Si belang tidak berani mendahului ke depan. Tidak menggonggong. Hanya melengking kecil. Cahaya putih yang lemah itu menjadi tambah lemah lagi. Keadaan sekitar kembali menghitam. Ruang hampa. Kembali mereka mencari tempat istirahat. Air tipis halus itu, sudah terus-terusan menghambur dari asalnya yang tidak tahu di mana. Ronggur mengosongkan peralatan mereka dari perut perahu. Kemudian, perahu dibalikkan. Disuruhnya Tio dan si belang berondok ke sana, agar tidak terus-menerus diperciki air tipis. Dia sendiri tetap di luar. Tidak hentinya melihat sekitar, walau yang dapat ditembus pandang hanya beberapa depa saja. Dingin mencekam. Ronggur tidak tahu, Tio menggigil juga dalam sungkupan perahu, kedinginan. Wajah dan bibirnya menjadi pucat. Tapi, Tio tidak mau mengatakan. Tidak ada sumber panas yang bisa menyamankan sedikit. Kembali warna putih yang lemah itu mendatang dari segala arah. Tapi, begitu lemah. Kembali mereka melanjutkan perjalanan, mengikuti jaluran setapak itu. Keadaan cuaca masih tetap seperti semula. Terkadang jaluran itu mendaki, tapi terkadang menurun, untuk mendatar lagi. Jalanan bergelombang. Terkadang melurus, tapi tidak jarang memenggok ke kiri dan ke kanan. Mereka mengikutinya dengan tabah. Tapi, harus lebih hatihati, jalanan bertambah licin. Air tipis tambah tetap berhamburan dari sumbernya. Suara gemuruh di depan yang membosankan itu, tetap mengguruh. Si belang tidak berani lagi berjalan sendiri. Dia harus dimasukkan ke perut perahu, didukung. Beban bertambah berat. Di saat tubuh mulai melesu. Di saat kepercayaan terakhir mulai merenggang dari tubuh T io.

Sambil mengisak, Tio meminta, agar mereka menghentikan perjalanan. Dia mendudukkan diri begitu saja. Tempat itu agak luas sedikit. Sehingga mereka bisa agak leluasa sedikit bergerak. Namun harus tetap hati-hati. Karena basah, licin. "Ada apa Tio?" tanya Ronggur sambil mendekat. Tio menundukkan kepala. Mengisak terus. Wajahnya memucat. Bibirnya gemetar. Dingin. Sambil duduk di depan Tio, Ronggur mencari dagunya. Diangkatnya perlahan dengan telapak tangan yang menggetar juga karena basah. Ditatapnya wajah, bibir, dan mata Tio yang memucat sayu "Kau capek Tio?" Belum ada sahutan. "Katakanlah." "Katakanlah." Tapi, begitu bening dan terasa agung. Ronggur tidak dapat memancarkan sinar merah lagi di matanya. "Marilah menanti hari esok di s ini, bila hari esok masih ada. Marilah menanti apa saja di sini, apa saja," Tio lalu menundukkan kepala. Melepaskan dagunya dari telapak tangan Ronggur. Air berhamburan terus, membasahi tubuh mereka. Tio mulai menggigil. Si belang juga. Terus membulatkan tubuh dalam perahu, tidak berani turun. "Katakanlah, apa yang harus kita kerjakan lagi Tio," kata Ronggur melemah. "Aku telah membawamu ke tempat yang hampa ini. Apakah kita harus pulang ke kampung halaman, yang telah melemparkan aku, yang tidak menerima aku lagi menjadi warganya? Nasib telah tertentu di sana, nasib yang malang menanti diri. Katakanlah Tio, aku akan mengikutinya.” "Marilah berhenti di sini," sahut Tio akhirnya. "Kupikir tidak ada lagi gunanya kita meneruskan perjalanan ini. Marilah pasrah di s ini. Berserah dengan hati bulat ke tangan Mula Jadi Na Bolon. Bawalah daku padanya sebagai sembahanmu, agar

sebagai orang yang sama hak. pertanda dia seorang budak belian. "Janganlah kembali ke sana. Tio sudah merdeka kembali. Lalu dengan hentakan kasar. Sekarang berlomba bermunculan. Matinya. melengket di sana beberapa saat. Sesuatu benda hangat tapi lembut menyentuh bibirnya. Air mata yang menggenangi pelupuk matanya tidak bersumber dari kepiluan dan ketakutan lagi." Tio terdiam. Tidak ada sembahan kubawa ke hadapan Mula jadi Na Bolon. ya barangkali. Jari jemarinya meraba pergelangan Tio. Berhadapan dengan kenyataan ini hatinya jadi bersorak gembira. Jauh-jauh. kembali Ronggur mengangkat dagu Tio. aku yang membawa kenahasan ini padamu. Lupa kepahitan. bermula dari perasaan gembira. terhormat. selain diri sendiri. mati seorang manusia yang merdeka." Suaranya begitu lemah. lupa hal yang menghadang di depan. "Kalaupun kita mati. Ronggur? Sungguh?" "Ya.Mula Jadi Na Bolon tidak marah padamu. Walau apa yang telah kita temui. Dia tambah mendekatkan bibirnya ke bibir Ronggur. . seperti kau lihat." Arwah nenek moyang Tio akan menerima arwahnya di tempat yang baik. Barangkali. Marilah berpasrah diri di depan Mula Jadi Na Bolon. Terayun dan dibuai sebuah lagu yang selama ini terpendam di dasarnya." Perlahan. Tio menjatuhkan diri ke ujung kaki Ronggur. membuai mereka berdua. Sambil mengisak dia mengatakan. "Kau merdekakan aku. Ditatapnya lama biji mata yang sayu itu. Ronggur. direnggutkannya gelang yang dipakai Tio. sama-sama orang merdeka. Gelang itu dicampakkan Ronggur sekuat tenaga. lupa siksaan. Mendudukkannya. Maafkanlah aku. mati bersama. Tapi. Lalu dilanjutkan Ronggur.

Hanya permulaan. di sini akhirnya. "Kita harus istirahat dulu di sini. dari mulutnya keluar kata. Ke tempat para dewata bersemayam. Lalu. Memohon ampun atas keangkuhanku.. "Marilah bersujud ke hadapan Mula Jadi Na Bolon. Boleh jadi. Berani mengarungi segala kemungkinan. "maukah kau. . Lagi pula kita telah menemui yang kita cari di sini. lalu menciumi bibir Ronggur lagi dengan bertubi-tubi. aku akan mengatakan pada Mula Jadi Na Bolon bahwa arwahmu bukanlah sembahanku. Yang tabah bersama suami mengarungi kehidupan. Sampai tahu kepastian yang akan kita temui." kata Tio tegas. Kita tidak boleh pulang. Ronggur memimpin doa: Mula Jadi Na Bolon Asal mula dari segala kehidupan Padanya kembali karena dia yang punya Terimalah kedatangan kami Hambamu ." Tio memperbaiki duduknya. Kita harus maju." "Tidak. "semuanya. Tio tersenyum. "marilah melanjutkan perjalanan. yang telah membawamu ke tempat ini. Tapi." Ronggur tersenyum. permulaan yang tidak punya akhir."Ronggur." bisik Ronggur. Sudah terlalu kelam untuk melanjutkan perjalanan." "Tio. Istri yang paling setia. karena mau turut mempertaruhkan keyakinan suaminya. tidak ada akhir. bila kita mati. karena ada cita tergenggam di tangan dan di hati. ." kata Tio dengan tegas." Ronggur tersenyum." Tio menangkap leher Ronggur. "Aku cinta padamu . Telapak tangan Tio masih terus mengelus rambut Ronggur yang basah. istriku.

Perlahan . walau dia dan Tio berpelukan di bawah telungkupan perahu. air tipis itu.Karena keangkuhan yang berbenah dalam diri Kami telah tiba di s ini Melanggar peraturanmu! Ronggur menggenggam tangan Tio. Dan. seperti tidak mau dipisah lagi. ccdw-kzaa 6 Ronggur terbangun. lalu dilanjutkan: Karena darimu mula cinta Napasmu sangkala cinta Satukanlah aku dan Tio Suami isteri yang dihidupi api cinta Tebarkanlah api cinta Tiuplah api cinta Membakar dada kami Dari saat ke saat tanpa akhir! Kembali mereka berdua berdekapan. Bersama mereka menyuruk ke perut perahu yang dibalikkan. Sekitar menjadi kelam kembali. baik ruang. baik waktu. Menggigil kedinginan. Si belang keluar dari sungkupan perahu. terusterusan berhamburan. Karena cinta telah punya laut dan pelabuhan. batas ruang dan waktu tidak berarti lagi. Berjaga di luar perahu.

Langit seperti di atas kepala saja dan dapat dijangkau tangan. Cahaya putih yang lemah sudah ada lagi. . Dari mulutnya perlahan berbisik." "Wajahmu capek kelihatan. bila tangan digapaikan ke atas. Tapi. Tapi. Perlahan me lepaskan pelukan Tio. katakanlah dulu sudah pagi. Masih disungkup kabut atau awan rendah yang masih tebal. dia menciumi pundak Ronggur. Atau. hari yang kita nantikan kemaren. Tapi. hanya masih begitu lemah. yang ada hanyalah kehampaan yang tidak bertepi. Hingga waktu lewat. Atau. "Semalam atau ya saat lalu. lalu seperti! anak kecil. Bermalas-malas. tapi sampai kini masih hidup dan mengenal hari. lalu dijulurkannya kepala melalui celah. dan waktu kini. Masih seperti saat lalu. Dia telah mengenal kabut pegunungan dan danau sejak kecil. Lihatlah sekitar. dengan tegas dia menyahut. Kita sudah beranggapan bahwa tidak ada lagi hari. Tapi. membangkitkan iba Ronggur. yang sudah ditopang oleh batu yang diganjalkan. kita sudah berpendapat bahwa kita tidak akan melihat dan mengecap saat lain lagi. hari lalu.diungkapnya pinggir perahu." "Apa sudah pagi?" tanya Tio. "Kenapa kau buruburu bangun? Apalagi yang mengejarmu? Bukankah sudah semua kita lalui dan sekarang kita hanya tinggal menantikan yang akan terjadi. Hari yang kita harapkan membawa perobahan pada nasib yang mendatangi diri. perobahan pada yang hendak kita temui. permulaan dari segalanya?" Ucapan manja bercampur kekanakan. "Aku tidak tahu. Kembali tangannya dilingkarkan di leher Ronggur. awan rendah belum pernah melingkupi tanah serendah itu." kata Tio. Waktu itulah Tio bangun. kabut yang begini rupa tebalnya dan lamanya belum pernah ditemui sebelum itu.

satu-satunya api yang dapat membakar semangat hidup. bisa sebagai bedeng. Begitu putih hingga memijarkan sinar." Tampak oleh mereka berdua sebuah benda putih yang kecil tapi bundar. Di arah darimana bermula angin itu." "Cakapmu tidak dapat kuartikan. Agar bisa dapat dilihat mata apa sebenarnya yang ada di sana. Tapi. Perlahan dirasakannya angin bangkit. Lurus ke depan. bisa menimbulkan panas. "apa kau pikir itu?" "Apa maksudmu?" tanya Tio. "Lihat."Tidak mengapa. karena dia tetap kedinginan yang tambah lama tambah bermaksud membekukan diri. Tio tersenyum. bergerak dengan lamban seperti bermalas-malas. janganlah pergunakan harapan untuk harapan saja. Harapan. Panas tubuh mereka berdua yang merapat. Tapi." kata Tio. seperti itulah gayanya. putih dan lebih putih dari semua. Sinar yang dipancarkannya sedang mengadakan perlawanan atau berusaha menghancurkan kabut putih atau awan rendah itu. Tio terus merapatkan tubuhnya ke tubuh Ronggur. namun pandangnya masih tetap disungkup diputihan. mengatasi segalanya. beberapa titik air dapat ditelan sebagai sarapan pagi. Dengan mengulurkan lidah." kata Ronggur kemudian. Deru . Ronggur berusaha menatap sekitar. Tidak kau lihat? Lihat ke bawah sana. Merapatkan kepalanya ke pundak Ronggur. tapi sinar lemah. Dibaliknya terkandung kegembiraan dan harapan selalu. Mereka mencuci muka dengan melapkan tangan saja karena wajah mereka tetap basah. Untuk menyingkirkannya. "Lihat." "Kita masih mengharapkan?" "Selalu. Namun tetap naik atau berusaha naik ke atas. Harapan harus dapat melahirkan sesuatu yang berwujud dalam kenyataan kerja.

Biar sesaat pun. mereka tahu. entah berapa lama mereka tenggelam dalam keadaan begitu. segala perasaan mencurah keluar. apalagi yang harus mereka hadapi. Bila butiran air tambah menebal melengket di wajah. Bundarnya. Mulut mereka ternganga. bila sudah menebal. Mulanya tipis. rnatahari bisa dilihat seperti berada di bawah. Dalam saat begitu rupa. Detak hati yang menandakan diri anak manusia biasa. Mereka belum dapat menduga. Tidak disadari mereka. mendaki ke ketinggian. dia memerlukan kelembutan yang bermula . dihapus dengan telapak tangan. kenapa pandang mereka terpaut mengikuti gerak perlahan yang menanjak itu. mengikuti perjalanan benda bundar yang lemah itu. Mereka belum pernah melihat tamasya alam begitu rupa. Namun mata mereka terus mengikuti gerak lamban dan malas dari benda putih yang semakin tinggi itu. di rambut hingga menyusahkan mata untuk menatap. Kuping benda bundar putih tidak memperdulikannya. Hati berdenyut juga walau sudah punya tekad. Mereka memang tidak tahu lagi. Lama kelamaan menjadi tebal. Dan.yang terus menderu di depan memberi gendang layaknya. Mata mereka terus mengikuti gerak ma las dari benda putih yang bundar itu. Tapi. Mereka tidak pernah memikirkan bahwa pada satu saat dan tempat yang berobah. sekali hapus saja akan hilang tapi cepat melengket di sana butir air yang lain. Hati mereka menjadi tambah menduga. matahari tetap berada di atas. sewaktu ditutupi awan di langit. hampir menyerupai bundar matahari yang mereka kenal. Tidak mati-mati. Sesuatu benda putih yang bundar mengadakan perlawanan terhadap sesuatu yang melingkupi segala dengan warna putih. Benda putih bundar itu merangkak perlahan. bersedia menerima segala tiba. tapi tidak berwujud. Dari tubuh Ronggur sendiri. warta yang akan timbul darinya. Tidak disadari mereka.

dari tubuh Tio. Bertambah garang cahaya yang memancar darinya. Mata mereka terus mengikuti gerak perlahan yang terus menanjak di depan bermalas-malas. marilah mati berpelukan. seperti melemaskan otot. Si belang turut duduk dekat mereka. Tapi. Tio mendekatkan pipinya ke pipi Ronggur. suatu harapan telah menggeliat dalam hatinya. Dia tambah mengeratkan pelukannya ke pinggang Tio. Tebing yang tidak berapa curam itu . Seperti menanti sesuatu yang menentukan akan tiba. bila hendak turun ke lembah di seberang kanan. Kalau mati. si belang mulai sering melangkah ke depan dan ke belakang. Jauh ke belakang dapat dilihat Ronggur. di sana tebing tidak berapa curam. ke samping dan ke sekitar. Mereka ikuti terus dengan tabah. takut kalau Tio menjadi takut. Lidahnya dijulurkan. Tapi. Bila cuaca bertambah terang. Tapi. dengan tidak mau tahu pada mereka berdua yang mengikuti geraknya terus menerus. sungkupan awan rendah bercampur kabut tambah menipis juga dari sekitar. Dia tidak mau mengatakannya pada Tio. tidak bergerak. Bisa dituruni. Mulut jurang sungai tambah berbentuk. dasarnya belum tampak sama sekali. Jarak yang dapat ditangkap pandang bertambah jauh dan luas. Melihat ke arah yang mereka tatap. Benda bundar yang putih itu bertambah tinggi juga. Perlahan sekali sehingga tidak terasa. dan merasa ngeri. Apakah benda putih itu akan menyuluh jurang yang tidak berdasar? Pandang sudah bisa mereka campakkan barang sepuluh depa ke depan. Tambah jauh jarak yang dapat ditangkap pandang. kata hatinya ke diri sendiri. Perobahan yang tidak tersadari. Tebing jurang tambah menghitam. takut kalau si belang terjerumus ke mulut jurang yang belum tampak dasarnya. namun dasarnya belum tampak atau memang tidak punya dasar. Begitu pula mulut jurang di sebelah kanan. cepat Tio memanggil kembali.

menurut perhitungannya. sekarang debu itu telah menyisih sehingga merahnya bara kembali rrienjilamkan panas menyala. Dia telah membawamu ke tanah habungkasan yang maha luas. Matanya menitikkan air bening. jauh di bawah. mereka telah menemui. gugup sekali. Tidak berapa sulit malah. Kehijauan yang maha lebat lagi datar. melalui tingkatan pundak bukit. "Dan. karena tidak menduga walau itu yang dicari dan diharapkan. Dapat ditangkap dengan pandang sekarang. itulah tanah habungkasanmu. Lalu dia mengatakan perlahan: . Pucuk dedaunan itu seperti berombak ditiup angin lalu. Ronggur. itulah yang ditunjukkan mimpi dan perkataan gaib dalam mimpimu. lebat berimbun. itulah tanahmu. Semangatnya kembali hidup secara perlahan. . membuat suhu tubuhnya menjadi naik. Terbelalak mata mereka melihat sinar yang tambah terang. "Ronggur. itu dedaunan dari pucuk pepohonan yang tinggi. yang dapat dilihat kehijauan yang merata. Angin pegunungan. terhempang kehijauan yang sangat luas. bisa dituruni secara perlahan. Api dalam dirinya kembali menyala atau bara yang untuk beberapa saat tertimbun oleh debu. "itu matahari! Itu matahari! Mula hidup! Itu matahari!" Cepat Ronggur berpaling. Karena dengan itu. Dapat dirasakan Tio. karena dengan itu mereka telah dibebaskan dari kungkungan yang mencekam dan mengancam. angin pagi. Sungkupan kabut dan awan rendah tambah menipis dan terangkat." Ronggur gugup. Sejauh mata memandang.dan —" dengan gugup. Tidak dapat menyahut dengan segera. Ronggur." pekik Tio meninggi sambil mempererat pelukannya ke pinggang Ronggur. "Ronggur.

Tapi."Tio. sebelum kita memulai perjalanan ke sana. Tapi. Apakah hutannya banyak menyimpan binatang buruan. yang telah mengirim matahari untuk kita. . sudah bisa pula melemas. marilah mengucapkan sukur pada Mula Jadi Na Bolon. menanamkan pandang ke dasar bening matamu. Tidak mengganggu. Tidak tanah habungkasan itu saja. "Itu bukan tanahku. Tapi. juga tanah orang lain. Kau. Tanah anak kita. "Juga kau. dia mengatakan pula. dia menelungkupkan kepala ke dada Ronggur yang bidang. izinkanlah aku mengatakan sesuatu kata yang telah lama terpendam di hati. yang sekarang. "aku cinta padamu Tio. juga tanahmu. Ronggur membiarkannya begitu beberapa saat. sayang!" Pandang lama bertemu. Sambil tersedu karena terharu. "Tio. Lama Ronggur menumpa pandang ke biji matanya. Tapi. yang pasti banyak dan akan terus berkembang. kata Ronggur kemudian. tidak tanah itu saja yang ditunjukkan mimpi padaku." Tio menggigit bibir. tapi basah." Mereka bersujud ke arah matahari. Perlahan. sebelum itu. "Perjalanan kita masih jauh. Istriku. T angannya terus menerus mengelus rambut Tio yang panjang lagi lembut dan lemas." Beberapa saat keduanya terdiam. yang mau bungkas ke sana. Setelah memberi kecupan pada bibirnya. T anah keturunan kita. yang membuat kita dapat melihat tanah habungkasan yang dijanjikannya dan membuat aku dapat dengan jelas melihat wajahmu. Kita harus menyelidiki keadaan tanah di sana. Ronggur menegakkan Tio dari sujudnya. Tanah kita berdua. lalu Ronggur melingkarkan tangannya ke tubuh Tio dengan ketat. Apakah baik dijadikan tanah persawahan." "Apa lagi?" tanya Tio terbodoh. lalu. Matanya menitikkan air bening.

sampai tiba ke tanah datar di bawah. "Itulah jalan yang baik ditempuh." kata Ronggur. Dia turun sendirian ke gundukan tanah pertama. Kembali dia memanjat. setelah beberapa hari terendam di air." Tio mengikuti arah yang dimaksudkan Ronggur. dijalin begitu rupa. mereka dapat melihat gundukan perbukitan di sebelah kanan. termasuk si belang. hingga agak besar. Kemudian dia sendiri turun sambil menuntun si belang. memijak tanah. Melalui dinding batu yang tidak berapa curam. Lalu dibakar menghidupkan api. mengibaskan ekor biar cepat kering. Betapa nikmatnya panas jilam api. Tapi. Si belang menggoncangkan tubuh. dia ketahui. kemudian terdampar ke batu padas. sampai akhirnya perahu sendiri. lebih landai. Lalu dia mengikat pinggangnya dengan tali. Hari sudah sore."Kita akan terus mengikuti aliran sungai menuju tanah landai. tapi masih begitu tipis. sesuatu garis putih yang membelah kehijauan. ialah terusan Sungai T itian Dewata. agak curam. ujung yang lain diikatkan ke pinggang Tio. "lihat terus ke sebelah timur sana. yang mempunyai tanah. Lalu menyuruh Tio turun. Rumput kering." kata Ronggur kemudian. Begitu seterusnya. Mereka tentukan untuk bermalam di sana. Jalan ke gundukan pertama. Mereka sudah sama berada di gundukan pertama. Kemudian diturunkannya satu-satu peralatan. menurun ke gundukan kedua. Membuat anak tangga. Tio menerima di bawah. . setelah beberapa lama tidak merasainya. Sudah bisa mereka berjemur di sana. dari sana. dibasahi titikan air yang terus menghujani mereka. Serpihan air tipis yang menghujani itu tidak sampai lagi ke sana. mengeringkan tubuh dan memanaskan tubuh. Untuk pertama kali kembali mereka lengkap bersama alatnya. tanah melapisi batu. sedang ia memegang ujung tali.

Malah seperti menjadi pertanda. tapi agar memulai menempuh jalan darat. sekarang seperti melengkapi irama seruling yang ditiup Ronggur. Gemuruh air dibalik bedeng terus kedengaran. Lagu yang mesra ditiupnya perlahan. Agar seseorang yang menyusuri sungai jangan meneruskan penyusuran lagi. Kemudian Tio mengiringi tiupan seruling itu dengan nyanyi: Bila bulan di awan purnama Di tepi danau aku menanti Wajahmu menghias tanda masa Mengajak daku ke dunia mimpi Ronggur berhenti meniup nyanyian itu: seruling.Malam itu keinginan Ronggur untuk meniup seruling memuncak. Tidak menakutkan dan mengancam lagi. dia melanjutkan Pohon aren di belah dua Tempat berayun monyet berdua Janji telah memadu Pinang sebelah dibagi dua Lalu berdua mereka melanjutkan: Terbang engkau elang Hinggap di kayu rindang Ke mana engkau sayang .

Sehabis sarapan pagi mereka melanjutkan perjalanan. Kemudian secara berangsur perlahan. Api unggun yang kecil itu terus menari dan menari. Bola putih itu pada mulanya lemah sinarnya dan berada seperti di bawah mereka. Membentuk lapisan tanah yang lembut dan berair. memayung dedaunan hijau. perobahan tempat mengadakan perbedaan. Tapi. Kaki mereka terbenam sampai ke lutut terkadang. akhirnya sampai juga mereka ke tanah landai di bawah. Begitulah secara perlahan dan hati-hati. memaling pandang. Di atas kepala. keadaan sekitar bertambah terang.Kasihku tetap mendendang Kemudian hanya T io melanjutkan sedang Ronggur kembali meniup seruling: Kalaulah benar warta impian Ditimang beta dengan sayang Sinar purnama empuk menayang Haribaanmu lagu impian Tio meletakkan kepala ke pangkuan Ronggur. Sinar matahari hanya dari celah dedaunan saja sampai ke tanah. di . Malam terus melanjut. Dilapisi dedaunan yang gugur sudah membusuk. Tanah cukup lembab dan basah. sedang kemaren dedaunan itu masih berada di bawah mereka. Membuat mereka agak susah bergerak. Pemandangan seperti pagi kemaren. Pagi terbit lagi. Si belang duduk menjauh. Memejamkan mata dengan manja. Seperti taktik kemaren juga.

Mereka meneruskan perjalanan yang agak melingkar. Membuat dedaunan sekitarnya bergoyangan. Berpedoman pada ingatan pemandangan kemaren sore di mana terusan sungai berada. Si belang berlari ke sana ke mari dan menggonggong. membentuk telaga yang agak luas pada tempat jatuhnya. tanpa takut dasar perahu bolong. karena suara gemuruh bertambah hebat dan terasa menggoncangkan. agar kembali tiba ke sungai. Tapi. Ke sana mereka menuju. itulah air terjun yang tidak hentinya menerjunkan diri. Di sana-sini terbentuk curup di lingkungan yang gelisah itu yang bisa menenggelamkan apa saja yang jatuh ke tengah curup itu. Itulah kelanjutan sungai. sinar matahari lebih leluasa tiba ke tanah. Jalanan terus menurun. Di sana-sini dedaunan gugur membentuk lapisan tanah yang lembut. Di satu tempat di arah depan.sana bisa mereka tarik perahu bersama peralatan lain. Kekayuan yang tinggi dan besar batangnya seperti tiang abadi yang bergaya mendukung langit. tapi sudah ditumbuhi kekayuan yang tua. agar tidak runtuh lalu menimpa bumi serta penghuninya. Tio merapatkan tubuhnya pada Ronggur. Sesuatu benda putih mengapas putih melambung ke atas. Tergoncang. Getaran bumi tambah terasa. Kala di bawah arusnya melingkar dan membikin kepala pusing bila lama-lama menatapnya. mata terus ditancapkan pada benda jatuh itu. betapa ternganga mulut mereka melihat benda itu. la mengalir dengan besarnya ke arah timur. Mereka menyisih cepat dari sana. . Kemudian jatuh ke bawah bergulung-gulung. Dan. Seperti menuruni pundak perbukitan. tapi airnya berputar dengan cepat. walau suara gemuruh tambah jelas dan memekakkan telinga. Merasa takut kalau batu yang membentuk jaluran kejatuhan air itu akan runtuh lalu menimpa mereka.

Ronggur mengatakan. karena hari sudah agak sore. Tapi. tercengang melihat Tio dan Ronggur. di sini banyak binatang buruan. Sampai akhirnya arus sungai tidak beriam lagi." kata Tio pula. Sambil menguliti. Terus mereka menghilir mengikuti tepian sungai. mereka memutuskan untuk bermalam di sana. Kembali mereka temui air terjun. Si belang melompat ke depan. Tapi. tapi tidak sekuat yang tadi lagi. Kijang terguling ke tanah. Tidak punya prasangka pada manusia yang memburunya " "Lihat. "Itu pohon aren. Dengan memilih jalan agak melingkar mereka menurun terus ke bawah. Binatangnya juga begitu.Di arah depan kembali kedengaran suara gemuruh. Mereka tebang beberapa pohon aren. "Kalau begitu. Sampai akhirnya berada di tempat jatuhnya air kedua. la meloncat ke depan. Dan. Masuk semak. mempunyai tumbuhan yang bersamaan dengan tumbuhan yang ada di bidang tanah yang mereka tinggalkan. Ronggur tidak melewatkan kesempatan baik itu. Lagi masih begitu jinak binatang itu. Mereka menatap ke atas. membuat mereka tidak langsung berkayuh melalui sungai. jarak jatuhnya lebih pendek dan lebih landai dari yang pertama. Arus sungai kembali menggila. Mereka ambil umbinya. Menurut perhitungan Ronggur sudah dapat memulai pelajaran dari sana. benda putih mengkabut bermula dari air jatuh pertama. Pengganti beras. Lalu mereka jemur. Sehingga busa air tidak terlalu hebat sewaktu jatuh. Biarpun Tio memanggilnya. Kita tidak menguatirkan mati kelaparan. Beberapa saat kemudian. Dengan tombaknya cepat dia membunuh kijang yang tercengang itu." Tambah tahulah mereka tanah yang mereka temui itu. Umbinya bisa kita jadikan bahan makanan. ujung tombak tertancap di dadanya. tetap mengikut pinggiran sungai. dan tumbuk . si belang keluar dari semak mengejar seekor kijang. Bila beras habis.

tetap tertumpu pada pohon yang besar lagi tinggi. menjelma kepada penglihatan. Mereka tidak menguatirkan kehabisan bahan bakar. Tio lebih banyak memperhatikan sekitar. Ronggur dapat merasakan bahwa batang kayu yang besar itu dapat digunakan selanjutnya untuk kepentingan kehidupan. ibarat penopang langit agar tidak jatuh ke atas tanah. bergeletakan dahan kering yang patah dari batangnya. Untuk beberapa hari mereka tinggal di situ. mereka harus lebih hati-hati menjaga kemudi. Dari celah renggangan dedaunan.lalu direndam lagi kemudian ditapis untuk mengambil tepungnya. menjaga keseimbangan kelajuan perahu. sinar matahari terus memberi suluh abadi. Terkadang sungai seperti ditutupi dedaunan hijau yang merimbun di atasnya. Bila cahaya itu melemah. sekitar mereka sekarang berwarna hijau dan tanah mengambangkan bau kesuburan. Sungai terus menerus membelah hutan belantara. Memilih dahan kayu yang baik untuk tempat bermalam. Dan. Dengan melampaui riak air yang terkadang menghempas ke batu yang muncul di sana-sini. melalui riam yang liar di tikungan sungai yang patah. Walaupun sudah menghilir arus sungai masih kencang. Tidak bisa berdiri dengan leluasa. Tapi. karena dia belum perlu mengkayuh. . Beberapa buah batu jangkar masih dijatuhkan. Sehingga sinar matahari tidak sampai ke permukaan sungai. seperti raksasa dalam dongeng. Dedahanan terlalu rendah terkadang. Cepat mereka meminggirkan perahu. tahulah mereka. Untuk digantikan dahan lain mendukung dedaunan yang lebih hijau. biarpun begitu perasaan Ronggur begitu pasti bahwa mereka akan tiba ke tanah yang lebih landai dan lebih baik. Kemana saja mata diarahkan. Tapi. segar lagi lebat. hari sudah mengarah sore. Di sana-sini berletakan ranting kering.

mereka belum perlu mengayuh. Tapi. menghilir sungai. Sedang si belang berlari kian kemari. Tapi. Di depannya tali yang terbenam. Pundak pegunungan . Ronggur selalu menghirup udara dalam-dalam. memelopori sebuah perburuan bila fajar pagi tiba. yang ditiupkan musik alam ke dalam diri atau untuk menyiutkan nada musik yang memadat dalam rongga dada. Arus sungai tambah perlahan. meneriakkan kegembiraan. mereka mendarat ke tepian. Arus masih dapat menghanyutkan perahu walau dengan perlahan. dan bila mereka bermalam di sana dan biasanya lebih lama daripada bila mereka tidur di dahan. itulah dalam sungai. mereka menghilir sungai. Sering Ronggur memanjat kayu yang tinggi. menatap dari arah mana mereka datang dan menduga hendak ke mana mereka dibawa sungai yang diikuti itu. Untuk mencari bentuk kata. namun dia tidak sanggup menghabiskannya. Ronggur meniup seruling dan Tio bernyanyi. Luas sungai tambah lebar. Arus sungai tambah perlahan. Batu jangkar sudah diangkat. menggonggong dan menyalak. Bila mereka bosan dengan sungai. Beberapa buah batu jangkar sudah diangkat ke atas. seperti berlomba keluar untuk disuarakan. Bila mereka menemui gua alam di tepi sungai. masih ada juga dijatuhkan. kata yang paling sesuai diucapkan dengan yang dirasakan dalam hati. Ronggur selalu mengukur dalamnya sungai dengan tali yang di ujungnya diikat batu sebagai pemberat. Perasaan dalam dada masing-masing. ccdw-kzaa 7 Bertambah hari. Ingin dia menghirup habis segala kebebasan yang diberikan alam padanya.Perjalanan diteruskan menuju ke timur.

Terkadang sampai berhari-hari mereka mengadakan pemburuan. Sudah agak menjauh. Bila mereka hendak pulang ke sana melalui jalan darat. bila bosan dengan ikan sungai. udara panas itu tetap mengganggu. Bila dipanggang bara api bisa padam. Pepohonan tidak lagi di tepian sungai seperti di hulu. membuat Ronggur tidak kerasan memakai sehelai kain atau kulit binatang di bagian dadanya. di situlah kampung halamannya. Di garis batangnya melingkar. Ronggur dapat menduga bahwa di balik pegunungan yang semakin menjauh itu. Walau mereka berada di naungan pepohonan rindang. Arus sungai tambah perlahan. satu hal makin mereka rasakan. Membuat mereka harus mengayuh terkadang. mereka harus menaklukkan pundak bukit itu. Pancing tidak perlu berlama diumpankan. Dan. Dalam waktu singkat ikan sudah ada yang menyambar. tambah luas. Dibiarkannya dada telanjang. Selalu dibuatnya tanda pada pohon kayu yang dipanjatnya. ditanamnya batu besar dan disambungkannya pada salah satu bagiannya. Ikan yang cukup besar. udara bertambah panas. Si belang sudah mulai gemuk. Sedang pada tepi sungai. . Setiap hari tepian sungai bertambah luas. Karena lemaknya. Ronggur selalu menelitinya dengan seksama.bertambah jauh di belakang sudah membiru. hutan lebat hijau di mana-mana menampung penglihatan. Pancing yang diumpankan Tio selalu mengena. T api. Binatang buruan begitu banyak dan jinak. atau menembus celah pegunungan yang terdapat pada pertemuan bukit yang memanjang. tanah berlumpur yang mengiring jaluran sungai. Tanah luas yang berlumpur semakin lebar mengikuti jalur sungai. Lalu menatap ke arah hilir sungai. Melalui pengenalan akan pundak pegunungan. Bulunya tebal berlinang.

Jalan satusatunya untuk mempertahankan diri. Membuat tubuh mereka selalu berkeringat. awas. Binatang itu memburu. Binatang itu terus mengejar." Ronggur berenang sekuat tenaga. Diperhatikan lunaknya. sewaktu Ronggur berenang mengikuti perahu yang menghilir. berenang. dan menyelam. Cepatlah ke perahu. Walau terkadang matahari dilindungi awan. Membuat mereka sering terjun ke dalam sungai. agar keringat melengket itu bisa menghilang untuk datang dan untuk dihilangkan lagi. Lebih enak dan lezat. pada suatu hari. Tapi. Cepat Tio mengatakan. Buahnya lain dari buah mangga yang mereka kenal di kampung halaman. dari lumut lumpur dia tahu bahwa tanah yang mereka temui itu lebih lemak dan subur dari tanah di kampung halaman. Hanya udara yang bertambah panas itu saja yang membuat mereka agak merasa tidak senang. Perahu agak oleng sewaktu Ronggur menaikinya dari satu sisi. Membuat mereka terkadang seharian hanya memakan buahan saja.Digenggamnya tanah itu. mencucuknya. Alangkah terkejutnya mereka. Ronggur menyuruh Tio terus mengayuh. bergerak. Ini tidak. . memukuli setiap ada binatang datang mendekat ke perahu. Terkadang diciumnya dengan hidung. Sedang di hutan yang semakin menjauh dari tepian sungai itu. tapi cepat kering disapu angin lalu. sekelompok binatang yang sedang berendam di tanah lumpur. "Ronggur. tombak. walaupun matahari cukup terik. sedang dia. Panggada juga turut digunakan. Tubuh seperti berminyak jadinya. dengan mempergunakan kampak. Lalu terus mengayuh. panas itu masih tetap terasa. Udara seperti itu tidak pernah mereka temui di sekitar kampung halaman. mereka temui pohon yang berbuah. lalu mengejar. Lengket dan tidak mengenakkan perasaan. apakah bau lumpurnya sama dengan bau lumpur yang ada di kampung halaman.

" sahut Ronggur." "Apakah kita sampai di sini saja?" tanya Tio. "Tidak. Karena itu kulit binatang itu mereka bawa. Lihat. sampai ke . Karena itu daging binatang itu mereka biarkan saja membusuk. Mulutnya menganga lebar hendak menelan saja. Terapung." kata Ronggur. Bila digantungkan di pinggang kelembutannya selalu mengikutkan gerak-gerik pinggang. bagus untuk ditanami. Pepohonan semakin jauh dari tepian sungai. Begitu pandai berenang. "Inilah tanah yang kita cari. Bila mereka terus melalui tanah lumpur itu mendekat ke tepian hutan yang semakin jauh. Kenapa air yang tadinya begitu bening. Binatang itu belum pernah mereka lihat. Kita harus tahu. Walaupun belum pernah mengenalnya namun naluri mereka dapat memastikan bahwa binatang itu binatang air yang membahayakan. Ronggur tetap memperhatikan dan mempelajari perobahan bentuk tepi sungai. Lumpurnya bertambah lembut dan bertambah dalam dasarnya. Dagingnya kurang enak dimakan. Menyusuri sungai. Digantikan gelagah dan daun nipah. Ekornya bergerigi dan begitu keras tampak. Bertambah ke hilir bertambah banyak anak sungai bersatu dengan sungai itu. Tanah juga lembut. sebelum tiba ke tepi hutan. lebih dulu ada tanah yang hanya ditumbuhi ilalang. Bisa ditebang pohonnya untuk dijadikan persawahan. Air sungai tidak sebening di hulu lagi. Gembur. tepi hutan tidak berapa lebat. Sudah mulai keruh dan kotor. bisa berobah menjadi keruh. Tapi. "Inilah dia. Tidak tahu mereka dari mana datangnya air keruh itu. Binatang yang mati dan dihanyutkan arus mereka tangkap. Tanah landai yang sudah lama kumimpikan. begitu halus. Bisa dibuat menjadi kantong tempat menyimpan alat. kulitnya cepat kering dan dapat dilipat. "Kita harus meneruskan perjalanan.Satu dua ada yang mati di antara binatang itu.

tidak baik dijadikan persawahan. Bisa membuat padi busuk. Sambil terus memperhatikan perobahan pada permukaan air. Untuk bermuara ke danau. Ada kalanya perahu tidak dapat laju biar setapak pun ke depan. Berombak."' jawab Ronggur. sungai menjadi menggeliat. Sehingga enak berlayar. Dan. permukaan sungai naik. bermula dari kaki bukit. Lalu dapat memastikan bahwa tanah lumpur yang di tepian sungai benar. Di sana mereka harus menggali tanah membuat sumur.mana sungai ini. gelagah dan daun nipah menjadi tergenang. Harus lebih ke atas lagi. Di muara tanah landai akan tambah lebar lagi." "Biasanya. Dan. Arus menghanyutkan . Membuat mereka takut pada mulanya. ada semacam getaran mengganggu jalan perahu. Di saat begitu arus sungai mengencang ke hilir. Bertambah ke hilir. Tapi. ke tempat yang tidak dapat memastikan. Sehingga mereka harus buru-buru mendarat ke tepi." kata Tio. Itu sangat penting. T anah lumpur dan tumbuhannya. Lalu mereka meneruskan penyusuran. Terkadang sampai ke pucuk digenangi air. yang tidak sebesar sungai ini. "Aku hanya bertanya. Langsung mencari tanah yang agak tiriggi. air sungai susut lagi. setelah beberapa lama. Ada semacam tenaga menahan. di mana muaranya. Walau mereka mengayuh sekuat tenaga. di samping arus semakin perlahan. Air menjadi sangat keruh dan asin. Tidak perlu mendayung. Apakah sungai ini juga akan bermuara ke danau?" "Danau apa?" tanya Ronggur pula. belum dapat kupastikan mengenai sungai ini." "Kebiasaan memang begitu. Karena sering tergenang. dari mana air itu datang. Supaya ada air tawar. Ronggur memperhatikan ini semua. di saat itu. Kenapa permukaan sungai menaik. "sungai yang ada di kampung halaman. Dan.

Mereka terus melawan. terus mereka lawan. Di saat begitu. itu yang perlu kita ketahui. Kemudian datang pula saat permukaan air sungai naik. saat permukaan sungai naik telah tiba. Untuk tiba pula pada keadaan. Sehingga perahu mereka begitu lajunya dihanyutkan kembali ke hilir. terasalah permukaan sungai kembali menyusut. Walau malam sudah bertambah jauh. Gelombang sungai mulai menggeliat. "Apa lagi yang akan terjadi. Arus sungai menyongsong dengan kuat. dan apa lagi yang akan ditemui pada perobahan sungai?" "Justru. Mereka harus mengayuh dengan sekuat tenaga. mereka berdua terus berkayuh melawan air yang menyongsong itu. diperhatikan dan disesuaikan waktunya. Perahu seperti dihanyutkan kembali ke hulu. Walau tidak ada ditemui kemajuan. Biar permukaan sungai menaik atau menyusut. apa sebabnya dan apa akibatnya pada orang yang berlayar di saat begitu. Karena begitu capek. mereka terus di dalam perahu dan terus mengayuh. arus mati. Malah mereka seperti disorong ke belakang. kembali ke hulu. Dicocokkan dengan waktu peredaran bulan dan bintang. mereka dapat melepas lelah. Saat sungai menaik permukaannya dan saat sungai kembali ke tarap biasa." jawab Ronggur. Mereka terus berlayar. di mana keadaan sekitar dan kejadian dapat dilupakan. Tapi. Dan.perahu. Tapi. Kemudian diputuskannya untuk terus melayari sungai. Perahu tidak bisa dikayuh. Menjelang subuh. mereka tertidur. Ronggur bertambah was-was. . Perahu terus dihanyutkan arus sungai. Berhadapan dengan keadaan baru ini. Walau mereka sudah berkayuh dengan sekuat tenaga. Agar tahu dengan pasti. Malah hendak disorong ke belakang. Berkayuh dan berkayuh. Kantuk telah membawa mereka ke alam tidur. Sambil T io berkata.

pasir putih. Nyiur. "Danau apa ini?" "Aku tidak tahu. Tidak terkungkung sedikit pun. Benda ditepian yang menerima sinar matahari seperti menyala itu. Karena silau dan karena gonggong si belang. mencerminkan mukanya ke permukaan air. Membelalakkan pandang. "Danau. Tapi. lihat Tio. lalu: "Lihat. tapi danau yang sangat luas. Sehingga lebih silau. Kita tidak tahu ke mana berakhir air yang maha luas ini. Tepian memutih ditimpa sinar matahari penuh. Alangkah terbelalaknya mata Ronggur sewaktu di hadapannya." Tio memilin mata. Kemudian dipantulkan air ke atas kembali. kiri dan di hadapan. Agak jauh kedalam bermula jajaran pohon kurus panjang dan hanya di bagian puncaknya ada daun kelapa. Pada sisi kanan." akhirnya Tio mengatakan dengan kagum. Berjajar memagar pantai. Pada penciuman terasa keluasan dan kebebasan udara. jauh sudah. Cepat mereka mengayuh ke tepian. Tidak bisa diminum. Mereka mendaratkan perahu jauh ke ." ajak Tio. Di sekitarnya. alangkah asin. Di bagian punggung. Sinar matahari mencurah ruah. di sekitarnya. Cepat Ronggur dan Tio mengayuh. Airnya. perahunya terapung dan mengangguk-angguk diperma inkan riak. Kita menemui danau. air itu bertemu dengan kaki langit demi kaki langit. Lalu menggonggong panjang." "Marilah ke tepi. tepian. Si belang berada di haluan perahu. atau daratan yang hijau.Sinar matahari sudah kembali menampari wajah alam dan wajah mereka sendiri yang tertidur di perut perahu. Buru-buru Ronggur menyuruh T io duduk. danau yang maha luas. mereka terbangun. melihat keluasan yang terhampar di depannya. air yang maha luas mengitari mereka. Beda dengan pasir pantai danau yang mereka kenal di kampung halaman.

"Di sini kelapa tidak akan habis. Si belang menjemputnya. banyak menyimpan binatang buruan. Pada tanah lumpur sekitar muara sungai. Ronggur memanjat kelapa lalu memetik buahnya yang masih muda. Walaupun daun nipah sudah kering. Sehingga sambil bermalasmalas. Tiangnya agak tinggi dibuat dari pohon bakau yang panjang dan lurus lagi kuat. Tidak punya prasangka pada Ronggur dan Tio. gajah. Ronggur dapat melemparnya. Ikan yang besar. ayam hutan. Burung putih berterbangan ke sana ke mari. Sekarang mereka sudah punya rumah kembali. Dengan moncongnya si belang menggigit dan membawa ke tempat mereka berdua duduk. Mereka lalu kenal juga binatang laut yang ada di tepian yang juga enak dimakan. mereka buat atap sebuah dangau. bertambah rimbun pohon gelagah dan daun nipah. Sedang pada hutan di sebelah punggung mereka. menari dengan gaya yang bagus dan begitu jinak. jendelanya jauh lebih besar dari jendela rumah yang ada di kampung halaman. Menambatkannya pada pokok kelapa. kijang sampai pada binatang buas yang ditakutkan: Harimau. Tambah siang ombak tambah membesar. dengan lagunya sendiri. Diseling T io. . Yang bergelung-gelung ombaknya dan memecah di pantai." Sambil menatap keluasan air. Beberapa ekor kena dan jatuh ke tanah. Mereka minum air kelapa muda. diselang seling pohon bakau. Dengan daun nipah itulah. namun tetap kuat dan tampak berminyak. Sekarang mereka sudah punya danau yang sangat luas malah. namun sangat banyak mengandung ikan.darat. dan di tanah yang ditumbuhi ilalang sebagai pinggiran hutan. Walaupun airnya asin. Sekuat kita memakainya. Mulai dari burung. putiknya akan cepat mendatang lagi dan berlipat ganda banyaknya. Karena udara panas. Berdesir angin yang melewati atau membuat daun nyiur melambai.

Sedang waktu malam hari. Dan. bertiup ke arah danau luas itu. bila merasa malas pulang ke rumah di tepi pantai. Dekat sawah itu mereka dirikan dangau. angin daratyang bermula dari hutan di punggung mereka. Mereka cari tumpukan tanah yang agak datar di hutan dan ditumbuhi ilalang. jauh dari tepi sungai. Begitu pula saat sungai surut kembali. Bila mereka hendak membuka sawah percobaan. pasang air sungai yang membuat permukaan sungai naik dan sungai punya arus ke hulu. Tapi. agak menusuk ke tengah hutan. harus memilih tempat yang agak tinggi dan jauh dari pantai. Tergantung pada hari bulan. Agar lebih mudah mengerjakan sawah percobaan itu. tidak baik dijadikan persawahan. Tapi. Waktu itu sangat baik untuk memulai pelayaran ke tengah danau luas itu. Akhirnya dapat mereka ketahui. bila pasang naik tanah lumpur itu tergenang. Bila air sungai pasang. Bila air surut permukaan sungai merendah. tidak menetap saatnya. walaupun tanahnya lumpur dan lembut karena selalu tergenang. bila air sungai surut perahu dilarikan arus ke tengah danau yang maha luas itu. rawa itu kembali tampak. Pada hari pertama Ronggur tetap memperhatikan mula dan arah angin. Kemudian dari hulu sungai yang belum asin airnya. Arus ombak menghanyutkan perahu ke tepian. . perahu agak tertahan menuju muara. menjelang dini hari. Waktu siang hari angin dari arah danau luas bertiup ke darat. Sehingga ada pengairan ke sawah itu. buaya. dan di tepian sungai berpaya. di samping air hujan. binatang air itu. sangat baik. terkadang sampai sedalam dada. Tanah lumpur itu. dibuka aliran parit. tempat istirahat atau bermalam. Mereka harus merambah hutan belukar agak ke pedalaman. Waktu itu bila berkayuh menuju tepian dari tengah.beruang.

mengambangkan kesuburan. antara suku dan antara luhak. Kemudian batang padi yang hijau gemuk itu. menjanjikan akan mendukung bulir padi yang bernas. Tanah yang mereka temui tanah yang dimimpikan setiap orang di kampung halaman. tanah begitu cepat menerima taburan bibit. kerja Ronggur dan Tio tinggal mencabuti rerumputan. bisa dihilangkan. Pada malam hari. walau itu yang diharapkan. Cepat lunak dan cepat menjadi lumpur hitam yang lembut. bila tanah habungkasan ini ditunjukkan pada mereka. tanah itu tidak melapisi batu. Tanah itu begitu gembur.Persemaian telah digarap. mengadakan penjagaan yang dibantu si belang. Ini semua menanam harapan yang lebih sempurna dalam dada. Ditiup angin . Usaha percobaan itu terus diluaskan ke tanah yang lebih tinggi dan agak susah didatangi air parit. Itulah ladang. telah dihiasi bulir padi dengan mencuat ke atas tegak lurus. agar rombongan babi hutan tidak turun dari hutan merusak sawah dan ladang percobaan itu. Di sana juga tanah dengan cepat menerima taburan bibit. sawah kering. huma. agar pertumbuhan batang padi tidak terganggu. antara marga. di ladang dengan hijau gemuk. Walau tidak punya air selain air hujan dan yang dikandung tanah. bila telah digenangi air. Perang yang bisa terjadi di antara mereka. yang dapat mengurangi pertentangan yang bisa timbul antara kaum semarga. Beberapa bidang lagi tanah telah diolah menjadi sawah percobaan. T anahnya cepat lembut. Tidak tersangkakan. Kemudian bermunculan di atas tanah batang padi yang gemuk hijau. yang mengakibatkan kematian dan kemelaratan. Waktu menancapkan cangkul ke dada tanah. Setelah beberapa lama tanah yang digarap itu digenangi air yang dialirkan ke sana. Merunduk ke tanah karena berisi. tanah itu cepat menghitam. Bila batang padi telah bertumbuhan di sawah. tahulah Ronggur dan Tio.

Membuat perasaan lebih kagum lagi atas ciptaan alam yang hebat dan sempurna itu. Saat mardege tiba. Setiap tambah jauh mereka berkayuh. Saat mardege tiba. Kemudian bulir itu semakin merunduk ke tanah. yang didirikan tidak jauh dari sawah percobaan itu. dan bulir yang belum berisi itu bergoyangan perlahan. sebagai pertanda bahwa pancang itu perbatasan antara satu marga dengan marga lain tepi danau mana yang boleh di tempati suatu marga menangkap ikan. Ronggur tahu. Lalu hasil panen itu disimpan ke dalam lumbung. seharian mengadakan perjalanan menyusuri tepi pantai. kemudian dipanen. merunduk menguning kemudian dipanen. Padi yang menguning. Mereka tahu. hasil panen percobaan itu tidak akan habis mereka makan sampai tiga kali jangka musim panen. Kekayuannya mereka ambil dari hutan sekitar yang begitu dekat. bila luas danau begitu rupa dihadiahkan pada orang di kampungnya. Lagi pula. tangkainya kokoh mendukung. hingga mereka bisa tiba ke sana. Ronggur dan Tio harus memperbesar dangau kecil itu. Ciptaan Mula Jadi Na Bolon. malah berlipat ganda luas air yang mereka temui. Bermula dari keluasan dan berakhir pada keluasan. setiap itu pula. Dan. Ronggur dan Tio.terkadang. dan hati tambah berterima kasih atas tuntunan Mula Jadi Na Bolon. bila untuk mereka berdua saja. musim panen lebih pendek masanya di tanah habungkasan itu dari yang mereka kenal di kampung halaman. Tidak bertepi dan tidak berujung. Mau dijadikan lumbung padi. yang banyak ditemui di muara sungai. yang didirikan tidak jauh dari sawah percobaan itu. mereka tidak perlu lagi mengadakan pancang sebagai batas di danau. Atap daun nipah yang tidak mudah bocor. Juga pelanggaran perbatasan . sambil melepas lelah dari kerja berat di sawah semusim panen itu. Lalu hasil panen itu disimpan ke dalam lumbung.

harus dengan tabah pula menyampaikan warta kebenaran itu pada orang yang ada di sekitarnya. Agar manusia itu dapat pula mencicipi nikmatnya. bila kau menemui tanah . hingga akhirnya turut merasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh kebenaran itu. Modal yang pokok hanya satu. "Anakku. tambah sering mendengung suara bekas Datu Bolon yang sudah tua itu. Walau begitu pahitnya penerimaan orang di sekitarmu atas cita-citamu. Menangkap ikan sekuat tenaga. boleh pergi ke mana suka. Rangsang lain mulai mempengaruhi pikiran Ronggur. menjanjikan kebahagiaan pada setiap orang. tapi perlu diinsafkan agar mereka tahu. setiap orang dari setiap marga mana saja pun. Karena itu anakku. Sekitar yang bermula dari keluasan itu dan berakhir pada keluasan itu. kalian akan menemui tanah habungkasan. melanjutkan hidup berkeluarga dan keturunan. pada bekas Datu-Bolon yang sudah tua itu. Seorang manusia yang ditunjuk dewata menemui kebenaran. karena itu janji. sering menimbulkan perselisihan dan pertengkaran. yang mempertajam perasaannya akan bahaya yang mengancam kerukunan hidup di kampung halaman. Mereka tidak perlu dihancurkan. Untuk kelanjutan hidupnya. ke tengah marganya yang sudah mencoret namanya dari silsilah marga. kelanjutan keluarganya. dan menganggap diri yang dikurnia dewata seorang gila. Rindu pada ibu. Janji harus ditepati. keinginan untuk me lepaskan mereka dari berbagai rupa ancaman. Pada pendengarannya. Janji yang selalu mengingatkan kampung halaman. janganlah kau berkecil hati. lalu dapat merasakan kenikmatan yang terkandung dalam kebenaran itu. Walau pada mulanya mereka menentangnya.di danau di kampung halaman. Dia harus mewartakan berita penemuannya itu ke tengah keluarganya. yang bisa menimbulkan sesuatu peperangan. katanya selalu. bapak yakin. Di danau yang maha luas itu. kemauan bekerja.

" Dengungan percakapan itu tambah nyata dan jelas. Memaksanya harus kembali ke kampung halaman. "Anakku." "Doa dan restuku akan selalu mengiringi perjalananmu. memaksa dan membuat orang yang menemui itu tidak mewartakan-nya pada orang lain. lalu melanjutkan. Berhadapan dengan kebisuan Tio. Anakku.habungkasan di rantau. bila keserakahan diri atau dendam yang bersarang dalam dada. Perjalanan yang tentunya memayahkan. melawan arus. Karena itu. untuk terus melawan arus. kau harus kembali kemari membawa berita ria itu. agar kerjamu tidak sia-sia. Berjanjilah anakku. tapi. dia sudah dapat menggambarkan suasana perjalanan itu dalam kepala." "Terima kasih. dan usaha menaklukkannya. yang memerlukannya. mewartakan penemuan itu. Karena itu. Harus kembali mengarungi sungai ke hulu. yang . tapi perjalanan untuk memenuhi janji yang dibuhul sebagai lelaki bersikap jantan." katanya. Dari pengenalan akan pundak bukit. janji seorang lelaki. malah beralih pada penemuan itu akan mengutuki diri. Karena janji yang dibuat lelaki. sangat susah. Ronggur telah menentukan kapan mereka memulai perjalanan pulang itu." kata orang tua itu. sehingga orang lain tidak dapat menikmati arti dan nilai penemuan itu akan berkurang. agar anakmu ini dilindungi Mula Jadi Na Bolon. Tio diam saja mendengarkan sambil menundukkan kepala. telah dapat diduganya. penuhilah pula sebagai lelaki yang berhati jantan." "Aku berjanji. dari pengenalan akan celah pertemuan bukit dan usaha untuk menembusnya." "Aku bapak. "Doakanlah aku bapak. sesuatu penemuan yang bisa membuat orang gembira dan berbahagia. Bapak. janji yang akan tetap ditepati. Lantas selanjutnya dia mengatakan. janji yang kau buat sebagai lelaki. dia sudah membayangkan bahwa mereka akan menembus jalan darat.

Sesuatu tekanan mendesak hendak melalui kerongkongan." "Kenapa wajahmu sepucat itu? Apa yang terjadi?" Wajah Tio seperti menanggungkan sesuatu. Ronggur mengatakan. Ronggur lalu berkata. walau Tio selalu . Namun. dingindingin ditelempapkan ke perut Tio dan kening. Sambil tersenyum dan duduk dekat Tio. Tio merasakan sesuatu menggeliat dalam perutnya. sesuatu rintihan lepas juga dari celah bibir yang dikatupkan. yang akhir-akhir ini begitu nyata dan jelas. Seperti orang sakit. airnya sangat baik buat minuman seorang ibu yang hendak dan baru melahirkan. Tidak sakit. digigit oleh gigi sendiri. Kau sakit?" "Tidak. Dan. Daun ampapaga itu di dikeringkan di panas matahari. Wajah Tio agak pucat waktu tengadah padanya. sesuatu akan terjadi. Dijerangkan terus menerus air panas dalam periuk tanah. direbus. Bibirnya gemetaran. "Kita memang masih belum bisa memulai perjalanan pulang. Darah Ronggur tersirap dibuatnya. Biarlah perjalanan pulang ditangguhkan untuk beberapa lama. yang selalu diancam bahaya di kampung halaman? Agar mereka dapat bebas dari ancaman yang selalu menakutnakuti mereka itu?" "Bukan itu alasannya. yang banyak tumbuh di pematang sawah di antara rerumputan. Tapi. "Tio. Tambah lama tambah sering dan menimbulkan perasaan nyeri. Bukan itu. dia tidak mau lagi pergi jauh-jauh dari dekat Tio. berupa rintihan dan jeritan. Tapi. Bila sudah kering. Kita harus menanti di sini. "Apakah kau tidak ingin mewartakan berita ini pada sanak keluarga? Pada setiap orang. ditahan." Cepat Ronggur pergi memetik daun ampapaga. wajahmu pucat. bila pandangnya bertemu dengan pandang Ronggur. Akhirnya Ronggur tahu.tidak menyahut itu. masih tetap berusaha tersenyum. Dan." sahut Tio. Barulah sadar arti perobahan bentuk tubuh istrinya.

seperti warta pada dunia bahwa dia telah lahir. sering juga membuat Ronggur harus mengatakan dalam kebingungan. "Aku tidak apa-apa. Begitu sehat. Disunggingkan senyum sebagai sahutan. meniti ombak demi ombak yang begitu besar. dan segumpal daging telah ditayang Ronggur dengan hati-hati. juga diharapkan agar anaknya seorang lelaki yang sanggup meniti gelombang yang besar di danau luas itu. Bayi dimandikan. Tangisnya pertama menantang gemuruh ombak yang memecah di pantai. agar memulai perjalanan. seorang lelaki. cukup umur. "jangan repot. atau menangkap ikan. cukup merah." Balik Tio yang menasihati dan menenteramkan hati Ronggur. Setelah melengkingkan sebuah pekikan yang panjang lagi nyaring. ombak itu menggamitnya.mengatakan. Lelaki yang kelak sanggup mengolah tanah yang bidang menjadi persawahan. Anak lelaki meneriakkan suaranya pertama. Semuanya akan menjadi beres. Kening Tio yang berkeringat. Tak lama kemudian. T idak jarang. Tio harus senyum pada . agar orang tidak takut kelaparan. Tio menyahut. Dalam kepala terbayang seorang anak lelaki yang sehat." Ronggur pura-pura tidak mendengarkan. Dipotongnya jabang bayi dengan bambu yang ditajamkan pada kedua sisinya. Tio lalu memelas. Tio diberinya minum air ampapaga. Pergilah berburu. dilap Ronggur dengan sayang. Tidak usah repot. Tio sudah dapat senyum. Atau. "Apa yang harus kuperbuat? ke mana harus kucari dukun?" Dari sela rintihannya. dan perasaan nyeri tambah memaksa Tio merintih. Hendaknya kehijauan daun padi dapat mengimbangi hijaunya daun pepohonan. Mencapai daerah baru. berjalan dengan baik. Lelaki yang dapat memelopori orang menjelajah hutan belantara yang abadi itu. Hari berikutnya. Saat kelahiran semakin dekat. Menoleh ke bayi yang baru dilahirkannya. anak kecil itu sudah digendong Ronggur sambil dinyanyikannya.

Tio sudah menjadi seorang ibu. luasnya danau yang ada di depanmu.. dan danau yang maha luas ini. Dia akan tetap mendampingi Ronggur. meniti ombak demi ombak yang bergulung-gulung memecah di pantai. sudah waktunya kita memulai perjalanan kembali ke kampung halaman. yang menanti dayungmu berkayuh di permukaannya. mencapai pantai lain.Ronggur dalam saat begitu bahagia. T idak habis dimakan sekeluarga dalam jangka tiga kali panen. Bermulalah perjalanan itu. anak kita akan menjadi seorang pengarung danau yang maha luas ini kelak. ke mana saja pun. Bertambah hari. . Sedang yang ditinggalkan di tanah habungkasan masih banyak benar. maka Ronggur pun kembali mengatakan. Memberitakan dan mewartakan." Tio tidak membantah. Ronggur selalu mengatakan. Tio. . "Tataplah dengan mata kanakmu. Mulanya menyusuri sungai ke hulu . katanya. dan bertambah usia si anak. Bahwa padi yang mereka bawa sepundi dulu sudah menjadi tiga pundi. Ronggur sudah menjadi seorang ayah. ccdw-kzaa 8 Setelah menyediakan segala sesuatu yang perlu dalam perjalanan. ibu dan ayah dari anak lelaki yang sehat. Bergaya seorang yang akan cukup kuat dan punya ketahanan serta keberanian. . mereka pun memulai perjalanan pulang. Tiga pundi padi yang bernas dibawa serta. Ronggur sudah menggendong si anak ke tepi pantai bersama Tio. akan mereka tunjukkan sebagai bukti pada orang di kampung halaman. akan penemuan-tanah habungkasan. "Tio. Kekerabatan dan keakraban berumah tangga tambah terjalin." Bila telah dua kali purnama timbul dan tenggelam.

Sampai tiba ke lempat arus mulai menderas dan susah dikayuh. Sejuk. Mulanya mereka menyusuri sungai ke hulu. Tidak tanah tipis melapisi batu alam. dan memilih tanjakan yang tidak menaik untuk didaki. Airnya begitu bening dan dingin. Jadi. Tapi. Mempelajari jalur lembah dangkal yang banyak dalam hutan. T io. Mereka berusaha. sendirinya pula usaha merintis jalan darat. tanah itu sangat baik dijadikan perladangan atau persawahan. Begitu pula mengadakan tanda tertentu pada sesuatu pohon. dan lebih aman daripada menyusuri Sungai T itian Dewata. Memenggal-meng-gal hutan belantara. Baru mereka mulai menempuh jalan darat. bukit tanah yang gembur. Melalui pengenalannya akan tanah. Sedang pundak perbukitan yang juga ditumbuhi kekayuan tua. seringan mungkin dan yang perlu saja dalam perjalanan. permadani alam yang tebal lagi abadi. Pada sesuatu mata air begitu. yang dipanjat Ronggur untuk menentukan arah tempuh. hitam mengandung kesuburan. yang kelak dapat digunakan jalan pulang pergi antara kampung halaman dan tanah habungkasan. mempelajari pintasan jalan yang lebih mudah ditempuh. . perjalanan pulang itu pun. bukit dan lembah tambah banyak mereka temui.Beberapa potong kulit binatang buruan yang halus hulunya dan sudah dikeringkan dibawa serta. selalu menggendong anaknya di punggung. bila kekayuan hutan sudah ditebang. yang dilingkungi hamparan dedaunan hijau lebat. Tambah jauh mereka menyusup ke pedalaman hutan. bukanlah bukit batu seperti bukit tandus di kampung halaman. tahulah dia. Ronggur selalu mengadakan tanda. Mereka sering berhenti di satu tempat sampai dua tiga hari. Tanah di lembah dipelajari Ronggur baik-baik. Tidak jarang pula mereka temui parit kecil yang bermula dari sesuatu dinding bukit yang bercelah. agar yang dibawa. Lembahnya tambah dalam dan perbukitannya tambah tinggi.

kalau kepergok. celah bukit mana yang harus diterobos menuju kampung halaman.Dalam merintis jalan itu. cepat mereka mengalih langkah. Menyisih dari tempat sesuatu binatang buas. dan kelompok gajah. beruang. Tio memeluk anaknya. sarang binatang. T erus berusaha mengarahkan langkah ke tempat air terjun itu. Bila si belang meringis dan mengarahkan penciumannya ke satu arah terus-terusan. Sehingga terasa. di tengah hutan tidak jarang mereka bertemu dengan kumpulan binatang buruan yang enak dagingnya. Anak mereka yang sudah mendekat ketiga purnama usianya. Dari sana baru mereka tentukan. dan sudah dapat melempar senyum di saat dia merasa senang. Batu jaluran yang ditembus air sungai yang . harus mengadakan perlawanan mempertahankan diri. menghambat sinar matahari menimpa tanah. yang harus ditaklukkan. Tapi. tidak dapat melempar senyum. agak pendek di bawah naungan yang tebal itu. tidak jarang Ronggur dengan dibantu si belang. Ronggur selalu berusaha agar mereka dapat tiba kembali ke tempat air terjun itu. Sedang Ronggur mengarahkan tatapan si anak ke air terjun yang memutih kapas itu. Tapi. Apa yang ditakutkan Ronggur pada mulanya masih tetap tidak terjadi. Atau. Penciuman si belang banyak membantu keselamatan rombongan kecil itu. sebaik dia turut mendengar suara air terjun yang mengguruh. Dalam saat begitu. bila lama-lama mereka berada di sana dan tidak ada sesuatu yang menyakiti tubuhnya. Dedahanan kekayuan yang berjalinan mendukung dedaunan lebat. pundak bukit yang memanjang sebagai pagar dan batas tanah dataran tinggi kampung halaman dengan tanah habungkasan. Mereka terus menyuruk di bawah hamparan dedaunan hijau yang abadi itu. tidak jarang pula mereka harus mempertahankan diri dari serangan binatang buas: harimau. Tapi. jangka siang hari. Dan. dia tersenyum kembali. sambil berjaga.

menaklukkan pundak demi pundak bukit. "Lihat. Melepas lelah. payah ditemui binatang buruan. Menjelang senja Ronggur dan Tio berhenti menggali lobang. masih tetap kokoh pada tempatnya. yang menyerupai aum harimau. Untuk dijadikan lobang perlindungan. mereka namakan air terjun itu. setelah beberapa lama mereka terpukau di tempatnya tegak. gemuruhnya tetap menderu. Agar memberi ruang yang lapang bagi mereka. benda putih diambangkan ke atas terus menerus. Tapi. Mata mereka patok menatapi permainan warna pelangi aneka rupa berpadu dengan air yang memutih kapas. Sambil menggendong anaknya. Betapa indah. "Ya. Dari sini kita akan mulai mendaki kaki pegunungan. agar cukup daging untuk dimakan nanti dalam perjalanan. agar tidak ada serangga hinggap ke wajah anak yang sedang tidur nyenyak itu. Agar tenaga kita pulih kembali. Sampuran Harimau." Mereka menggali lobang perlindungan yang agak luas. Bila lama kelamaan ditatapi jatuhnya air itu dan kuping biasa kembali mendengar suara mengguruh itu. Tio memaling wajah pada Ronggur tanpa sahutan. Tari warna yang sempurna. "Tio.terjun. Ekornya dikibaskan. Jalan memotong ke kampung halaman." kata Ronggur. lihat Tio. Mudah digali. Dan. Perjalanan begitu tentu berat. Tidak terjadi reruntuhan. Aku akan memburu binatang buruan. Ronggur dan Tio bekerja sama menggalinya. . terdiri dari batu alam yang tidak keras. "Kita istirahat di sini untuk beberapa hari. Anak mereka ditidurkan di tanah beralaskan kulit binatang buruan yang lembut. Lagi pula dinding bukit sebelah sana. Karena itu. agar mudah kita memperoleh air. Di pundak bukit gundul itu. dan berusaha menerobos celah bukit." "Harus di sini kita istirahat?" tanya Tio. Ronggur mengatakan. Di sampingnya duduk si belang seperti menjaga. perlu kita istirahat untuk beberapa hari.

kenapa ada nyanyian alam terpendam pada dedaunan yang berdesir bila disentuh angin lalu. tidak kedengaran. Ronggur sudah pergi berburu bersama si belang. air terjun. kaki bukit memanjang lagi tinggi. di bawahnya tanah habungkasan yang mereka temui. Pada hari berikutnya. bukit gundul." Tio mengikuti telunjuk jari Ronggur. Sayang sekali. lagu yang menyuarakan perasaan kasih sayang: Pejamlah mata sayang seorang kenapa harus kerisik seperti . tinggal Tio saja yang meluaskan mulut lobang perlindungan dan memperluas ruang dalam. meminta ditetekkan. Tapi. Bila anaknya haus. cicitnya tenggelam ditelan gemuruh air terjun yang jatuh. mengagumi lukisan alam yang sempurna. mencapai sarang. rasa keibuan.Begitu indah kalau hujan tidak turun atau kalau kabut tidak menyungkup. Tidak jarang dalam saat begitu. Nanar mereka menatapi tari warna pelangi yang aneka ragam itu. Oi sebelah kanan. bila saat menyusukan tiba. tahulah dia. menuju hutan belantara luas. Sejak lahir anak itu sudah disusukannya dan sudah berapa lama itu berlangsung. Beberapa ekor burung terbang di udara. sesuatu perasaan selalu menggeliat dalam dada. dan mulut anak itu sudah mengisap-isap muncung buah dadanya. dan mengitari itu semua. dia duduk berjuntai di mulut gua. Sedang mulutnya akan mendendangkan lagu seorang ibu. Mencampakkan pandang ke sekitar. kenapa pekikan keras lagi sakit waktu melahirkan sang anak bercampur nikmat. dia memicingkan mata menikmati kesempurnaan rasa bahagia di saat mulut anaknya mengisap muncung buah dadanya. Tahulah dia. sumber kasih sayang abadi bagi seorang anak yang lahir dari rahimnya.

Boleh jadi di pundak pegunungan gundul sana. payah dijumpai binatang buruan. dia tambah sering mencampak pandang ke air terjun itu dengan berlama-lama. Dia sangat giat mengumpulkan daging binatang buruan. Begitu tekun. "kita harus banyak menyediakan daging. agar cukup kering dan tahan lama. dia telah merasakan. Tio selalu . Sesekali dijinjingnya ikan yang dipancingnya. bulan gemintang kudekap kau pelukanku hangat Pejamlah mata buah hati bunda subuh tiba mula hari baru berjuta utasan cahaya matahari menyinari padang kembaramu Tidak jarang Ronggur pergi berburu seharian. Dia tidak dapat mengucapkan melalui bentuk kata yang cukup tepat. terbayang di wajahnya. Tapi. Sedang di siang hari. Sedang mulutnya akan cepat mengatakan." Mereka potong tipis daging binatang buruan itu. Bila Ronggur tidak pergi berburu. Tio menjemurnya di bawah sinar matahari. Suatu perasaan merangsang dirinya.dedaunan berhalau ditiup angin lalu dunia terhampar di ujung kakimu Pejamlah mata anakku seorang menanti bapak kembali pulang dari tengah hutan belantara binatang buruan tersandung dibahu Pejamlah mata intanku sayang bila malam jatuh. Kemudian mereka panggang di atas bara sampai kering.

memperhatikannya di saat begitu. Menjanjikan sesuatu kebahagiaan pada manusia." "Kenapa begitu?" "Perasaan itu seperti membisikkan padaku bahwa a ir terjun ini mengandung suatu manfaat. Malah dibuatnya sesuatu rasa bersyukur. Kalau tidak bersama abang. kulihat abang bertambah tekun melihatnya. aku tidak kerasan di s ini. "Manfaat bagi kehidupan manusia. Sedang Ronggur kemudian mengalih pandang ke air terjun itu. "Aku tidak tahu Tio. "Ada apa Bang?" tanya Tio. alangkah susahnya dia untuk mengucapkan yang sedang bergolak di dadanya. Tak bosan." Seketika mereka bertatapan tanpa mengucapkan kata. "Ada sesuatu yang kurasakan. "memang benar dugaanmu. "kurasakan. Lama bibirnya bergerak-gerak." Lama Ronggur menumpu pandang ke mata Tio. yang ditimbulkan air terjun itu. aku merasa takut digertak suaranya yang terus menerus mengguruh itu. Sekali waktu Tio mengganggunya dari menung menatapi air terjun itu." "Manfaat apa?" tanya Tio terbodoh." sahutnya. Membangunkan Ronggur dari kebisuannya. Yang timbul dari air terjun ini. justru karena adanya air terjun ini. Perasaan itu melumpuhkan segala ketakutanku pada air terjun itu. Dan. Ronggur merasakan. . Biji mata Tio begitu bening tapi jelas tampak tidak mengandung pengertian akan apa yang diucapkan Ronggur. "Bertambah hari. Ronggur menyahut. namun seucap kata belum melepas dari bibirnya. sambil mengatakan. Tio." Sambil mengalih pandang pada Tio yaYig berdiri dekatnya." "Tapi.

Bersukurlah. entah kapan. “jangan lagi takut padanya. bila orang menggunakan tenaga yang terkandung di air terjun ini. Sekarang memang yang kita lihat. arusnya gelisah membentuk suatu pusingan yang cepat. Karena tempat jatuhnya begitu tinggi dan curam.membuat arus sangat deras. karena dia menjanjikan sesuatu kebahagiaan bagi kehidupan manusia di masa datang. yang bisa . Dan. haruslah merasa bersukur karena dia ada. Air yang jatuh berputar pada lingkaran berbentuk kolam. "Di samping itu." "Apa lagi?" tanya Tio mendesak. bila tenaga yang terkandung di air terjun ini digunakan manusia untuk kehidupannya. Tapi." sahut Tio berusaha mengerti. nanti. Darinya timbul anggapan selama ini. Tapi. binatang air yang menakutkan dan buas itu tidak bisa datang ke Danau Toba. maka tenaga yang disimpan air terjun ini bisa memberi arti yang bernilai bagi -kehidupan manusia. Coba kalau diri diterjunkan bersama air terjun pasti lumat. Jangan lagi kutuk dia. Orang kelak akan dapat menggunakannya untuk kehidupannya. masih ada manfaat lain dikandung air terjun ini. darinya timbul bencana saja." "Itu boleh jadi." Tio mencampak pandang ke tempat air terjun itu jatuh. "Kurasakan air terjun ini mempunyai suatu tenaga yang sangat besar dan kuat." kata Ronggur selanjutnya. Selalu perasaanku berkata begitu. Namun dia tidak membantah seperti kebiasaannya yang tidak mau membantah cakap Ronggur. walau dia tidak dapat mengartikannya. maka hidup manusia akan lebih berbahagia. Sungai Titian Dewata jatuh ke ujung dunia. "Karena itu." Tidak dapat Tio membumbui cakap Ronggur. Akhirnya dia sendiri ingin mendengarkan yang dirasakan Ronggur. Hingga tak seorang pun selama ini berani menyusurinya untuk mencapai tanah habungkasan.

menenggelamkan lalu menghancurkan sesuatu yang jatuh ke sana. bertumpuk rimbunan bambu duri. Si belang mengikut di belakang. danau kesayangan. rombongan kecil itu terus mendaki pundak demi pundak bukit yang berlapis-lapis. T io takut dibuatnya. Perjalanan mereka agak lambat. bersama kebiruannya yang damai. Lalu lembah dataran tinggi. agar dia tidak membantah yang dikatakan dan dirasakan Ronggur. terkadang hanya sepundak atau dua pundak bukit saja yang dapat mereka taklukkan. menuruni lembah batas perbukitan yang berlapis-lapis itu untuk mendaki lagi. Setelah beberapa hari istirahat dan tenaga mereka sudah pulih kembali. Jalanan yang harus ditempuh. Mereka bertatapan untuk kembali mencampak pandang ke lembah perkampungan yang sudah sekian lama ditinggalkan. Sesekali menyusur di tebingnya. lembah kampung halaman. tenang. Dengan mengenali pundak bukit mencari celah pertemuan bukit. T api. atau terkadang berlari di depan. Di tengahnya. . Di sekitar tepian danau. yang dilingkari lapisan bukit demi bukit melingkar dan memanjang. semua perasaan itu ditekannya habis-habis. Tio merasa ngeri melihatnya. Dan. mereka melanjutkan perjalanan pulang. Tidak mengenal lelah. Menggonggong dan menggunakan penciumannya. Tio menggendong anak mereka. mengitari Pulau Samosir. pertanda perkampungan. Malah dia ingin turut merasakan yang dirasakan Ronggur. tapi perasaannya belum juga merasakannya. lalu menembusnya untuk kemudian terus lagi mendaki sampai pundak bukit ditaklukkan. Ronggur selalu memilih celah bukit tempat bermalam. akhirnya lapisan bukit itu dapat ditaklukkan. agar terlindung dari serangan angin yang cukup kuat. Dalam sehari. telah berada kembali di hadapan pandang. tidak mau henti sebelum matahari tenggelam. Sedang Ronggur memikul peralatan. mencapai sesuatu celah. langsung mendaki bukit. Perjalanan yang memayahkan.

yang mempercayai bahwa Sungai Titian Dewata berakhir ke ujung dunia. setelah sekian lama harus menjadi budak orang lain. ananda. menanti tugas baru. Kita harus menaklukkan dan menguasai alam pikiran orang di kampung halaman. di hadapan kita." Mereka menarik napas lega. Kaulah seorang perempuan yang telah berani menemani aku menempuh satu perjalanan yang menantang keyakinan orang sekitar yang telah turun temurun menguasai alam pikiran mereka. menggantinya dengan kepercayaan baru tidaklah kerja mudah. aku cinta padamu. kau harus tabah nanti menerima segala sikap yang mengejek dan menantang. terutama Tio. Tangan anak itu dituntunnya menunjuk ke arah perkampungan sambil mulut Ronggur berkata." . Tiba-tiba saja Ronggur memecah kesunyian itu. Bila hasil perjalanan ini kita sampaikan pada mereka. mengarungi rimba alam abadi. ketahuilah Tio. "Itulah kampung nenek moyangmu. menembus Sungai Titian Dewata. maka sendi kepercayaan mereka berarti digoyang. atau membahayakan jiwa. karena udara kembali dingin. Akan jauh lebih payah daripada menaklukkan pundak bukit yang cukup tinggi. Terlebih anak mereka. Pekerjaan begitu tidak akan mudah. mengecap nikmat udara kemerdekaan. Diselimuti baik-baik sehingga tidak merasakan udara dingin. Merombak keyakinan seseorang. Dalam hayalnya Tio telah mengatakan pada diri sendiri bahwa dia akan membawa sisa anggota keluarga marganya ke tanah habungkasan. Dia membayangkan betapa bahagia keluarga marganya. Tapi. telah kita laksanakan dengan berhasil. Dan. Walaupun dengan susah payah. Aku berhutang budi padamu dan aku cinta padamu. Karena itu. Kau telah mengorbankan alam pikiranmu sendiiri untuk mengikuti jejakku. Yang mungkin menyakitkan hati. "Tio.Ronggur mengambil anak mereka dari gendongan T io. mereka telah memakai kulit binatang buruan yang halus bulunya. satu perjalanan panjang. Tapi. agar bisa bebas dari nasib jelek yang menimpa marga.

Oi ujung kaki duduk si belang menjulurkan lidah. dan timbulnya kembali purnama. pulang ke tempat asalnya. Kemudian dengan tidak dapat dilawannya. lembah perkampungan. Kenangan terhadap mereka bertambah tipis lalu menghilang bersama bertukarnya penanggalan hari." Orang di kampung halaman sebenarnya telah lama melupakan mereka berdua. . Matinya. "mereka anak manusia seperti kita. Tangan kiri Ronggur menggendong anaknya. "Ronggur. dia telah menyandarkan kepala ke bahu Ronggur. Jaluran famili yang harus kuhormati. Orang melupakan mereka dengan ucapan yang tumbuh dari kepercayaan mereka: "Dikutuk dewata dan para arwah. menatap ke arah yang sama. tenggelam." Sedang ibu Ronggur." jawab Ronggur.Lama Tio terdiam. mereka jaluran paman anakku. Ronggur mengelus rambutnya dengan sebelah tangan. Tanpa mengatakan sesuatu. Dan di samping itu. karena terus menerus menanggung rindu dan tidak tahan mendengar ejekan yang diarahkan pada anaknya dan padanya sendiri. Kemudian sama-sama mereka mencampak pandang ke lembah di bawah. Bertatapan dengan Ronggur. mati terkutuk. Perlahan Tio mengangkat kepalanya. tidak berapa lama setelah Ronggur dan Tio berangkat dulu." kata Tio. Tidak menjadi bahan percakapan lagi. ke hadapan Mula Jadi Na Bolon. karena dia seorang ibu yang melahirkan anak durhaka. Dia mengisak di sana. Arwahnya akan disumpahi Mula jadi Na Bolon. sudah tentu. apalagi anakku. “maukah kau membawa sisa warga margamu ke tanah habungkasan?" "Tentu. menggendong anaknya. tangan kanannya memeluk pinggang Tio. sedang tangan sebelah lagi. Mendambakan bahagia dalam hidupnya.

Lalu. Orang percaya. Di saat mati. berakhirlah hidupnya. Kemudian orang itu me lanjutkan. ibu tua itu masih mengharapkan anaknya cepat kembali. Meneliti pundak bukit dan celah bukit yang ada di sebelah timur.Pada mulutnya." Orang lalu tertawa. "Sudah pulangkah Ronggur dari tanah habungkasan? Sudah ditemuinya tanah habungkasan yang dijanjikan setan itu? Kapan pulang. dan anaknya tidak pulang juga. Hingga dia dikebumikan tanpa upacara dan gondang. bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan. Ronggur dan Tio akan kembali membawa berita ria. Karena para dewata tidak diberi tahu atas kematiannya. membuat kemauan hidup melemah. karena kau ajak dia menyusuri Sungai T itian Dewata?" . Tapi. Dia masih tetap percaya. Pertanyaan yang sebenarnya berupa ejekan yang diajukan orang padanya." "Apa kau katakan? Para dewata mengganti setan? Patutlah ramalan tenungmu tidak ada yang benar. tidak bosannya. Tapi. dia telah dilahirkan untuk menyampaikan kehendak dan pesan dewata. dia tidak punya apa-apa. selalu disahutnya dengan baik. Tapi. Dia anak yang berbahagia. si anak durhaka itu?" "Dia akan pulang membawa berita ria bahwa tanah habungkasan yang dijanjikan para dewata telah ditemuinya." "Bukan setan yang menggoda. setiap hari mencampakkan pandang ke arah matahari terbit. Para dewata tidak akan datang menjemput arwahnya ke tempat yang baik me lalui Sungai Titian Dewata. "Bukankah kau yang membuat ayah si Ronggur menemui ajal. Ronggur anak yang memperoleh petunjuk secara langsung dari dewata. setelah beberapa kali purnama tenggelam dan terbit lagi. arwahnya akan tidak diterima Mula Jadi Na Bolon dengan baik. melalui pukulan gondang yang dipalu dan mengorbankan beberapa ekor babi serta ayam putih.

pergi ke kaki bukit terpencil. . Aku meloncat dari biduk membuat keseimbangan biduk hilang. Malah orang sudah sependapat. Sedang kerajaan marga yang tidak sempat dihancurkan. orang menjadi ramai tertawa lalu pergi sambil berkata. lalu meminta damai sete lah melepaskan haknya atas apa yang diperebutkan. ke tanah batu yang sama sekali tidak baik dijadikan persawahan. Malah waktu marganya sendiri harus berperang karena memperebutkan hutan di teluk danau itu. Sedang yang sempat melarikan diri. dan kaya. Memutih uban. Si tua gila. kuat. Orang tidak mengacuhkannya lagi." Tapi. antara satu suku dengan suku lain. akhirnya harus membayar upeti pada kerajaan marga. bila tertangkap. Membuat marga mereka menjadi lebih berkuasa. mencakapinya. yang dapat dihancurkan kerajaan marganya. dijadikan budak belian. Orang tidak memanggilnya ke pertemuan marga dan ke sidang kerajaan marga. dia seperti tidak ada lagi. Sehingga sudah sampai di pundak.“Kami mengalami kegagalan yang mengakibatkan kecelakaan itu. Berita yang datang dari kampung sekitar. Orang membiarkan menatap ke arah matahari terbit setiap pagi. waktu itu pun. harus pula membayar upeti pada kerajaan marga mereka. baik mengenai perdamaian. yang berakhir atas kemenangan marganya. lama kelamaan orang tidak mau lagi mengganggu. Orang tua itu membiarkan rambutnya panjang." Mendengar sahutan begitu. Marga yang dikalahkan marganya itu. Persawahan dan perkampungan tambah banyak mereka kuasai. begitu pula mengenai peperangan yang terusmenerus meletus. menjadi orang buruan. Ayah Ronggur menemui ajal karena kecelakaan itu. Orang yang kalah. tenaganya tidak diminta orang membantu marga. antara satu marga dengan marga lain. dan antara satu lunak dengan luhak lain tidak disampaikan orang padanya. tekadku kurang kokoh waktu itu. "Orang gila. Pipinya cekung. Aku akui.

" Orang bertemperasan ke luar rumah lalu terus pergi ke gerbang kampung sebelah timur. Setiap saat benda yang bergerak itu mendekat atau menurun ke lembah perkampungan mereka. Sebanyak tiga orang penunggang kuda bergerak. Mereka sedang menuruni kaki gunung sebelah timur. Kalau memang itu rombongan Ronggur supaya dibawa pulang. Dijauhan ada tiga benda kecil dilihatnya bergerak-gerak di kaki bukit sebelah timur. "Mereka telah kembali. Tanpa disadarinya dia bertempik dan berlari ke tengah kampung. . Ronggur telah kembali dari tanah habungkasan. menyelidiki keadaan sebenarnya. Menatap dengan patok ke arah yang dimaksud orang tua itu. Matahari bersinar terang. apa yang akan disampaikan penyelidik yang sudah dikirim kerajaan. Tidak ada awan di langit. Tapi.Wajahnya bertambah lancip. Namun setiap orang lebih menginginkan bersikap menanti. sinar matanya tetap mengandung sinar kepercayaan. Terlebih karena dia meneriakkan. Mereka juga memang melihat ketiga titik yang bergerak itu. Apalagi bila orang menurun dari pundaknya. Mereka bawa juga dua ekor lagi kuda. Pagi itu juga kerajaan marga mengadakan sidang. tempat matahari muncul. Diputuskan untuk mengirim kurir penunggang kuda. yang tidak punya beban. binatang liar lagi buas. Hati tiap orang tambah gemuruh. Setiap orang melahirkan anggapan dan duga demi duga. Tapi. sampai orang pada tercengang. Tidak melesu. pagi itu sinar mata tambah bening dan bersinar. Karena gunung itu gunung angker menurut kepercayaan mereka. masih mengatakan bahwa itu bukan rombongan Ronggur. Dan. Apa yang akan terjadi. Atau apa yang telah terjadi? Warta apa yang akan datang? Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Percakapan menjadi simpang siur. Belum pernah seorang manusia pergi ke sana.

Anak yang sudah disangka mati dikutuk dewata. Setiap hati tambah bertanya. Setiap orang terdiam. Namun sangat banyak ikan. ditumbuhi pohon kelapa berjajar. Lalu dari mulut Ronggur keluar kata: "Bapak. tapi sayangnya pula anak yang telah dicoret dari silsilah marga karena digoda setan. mencampakkan sinar yang beraneka warna ke permukaan danau. seperti pagar . Tidak ada yang turun ke danau. bersama dengan bertambah merahnya warna senja. Dia tidak langsung menuju ke tempat raja yang juga hadir di sana. anakmu ini telah menemukan tanah habungkasan yang sangat luas lagi landai. telah kembali ke tengah mereka. telah kembali di tengah mereka. lalu terus mendekat ke orang banyak. mendekat pada orang tua yang berambut panjang putih itu. Tapi. dan kekuatan serta keuletannya. Tidak ada yang turun ke sawah. Suasana tambah tertekan. Mereka memberi sembah. rombongan itu bertambah dekat. Dengan bantuan doa Bapak. Ronggur. dan berusaha meruntuhkan kepercayaan mereka yang bisa membuat dewata marah. Dataran yang landai. Tanpa kurang sesuatu. Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan. T ambah lama. ketabahan. Kuda yang dua ekor lagi sudah ada penunggangnya. Bila senja telah mulai memerah di langit. mereka sudah dapat melihat kepulan debu mengepul ke udara. keberanian. Setelah menuntun Tio turun dari pundak kuda. yang tidak pernah salah tafsir tenungnya. Sedang dipangkuan Ronggur. si belang menjulurkan lidah. juga menemui sebuah danau yang tidak bertepi tapi airnya asin. Anak yang dikenal kecakapan.Sampai sore orang semua tinggal menanti. Ronggur melompat dari punggung kuda. Di belakangnya Tio menggendong bayi. Tiap orang seperti terpacak di tempat masing-masing. Penyelidik penunggang kuda sudah pulang. Orang terus saja dapat mengenali bahwa penunggang kuda yang keempat.

karena setiap orang rajin bisa membuka tanah persawahan sesuka hatinya. Di sana kedamaian akan tercipta. alangkah gembur dan subur. apa yang kita takutkan bahwa penduduk akan sangat padat sedangkan tanah begitu sempitnya karena penemuan tanah habungkasan ini tidak jadi persoalan lagi. cobalah bapak bayangkan. Sungai Titian Dewata pada salah satu tempat. semua keturunan si Raja Batak dapat di tampungnya sekaligus dan bersama keturunan yang akan datang tanpa menakutkan bahwa tanah garapan akan habis. Lagi pula. Sampai bertemu dengan kaki langit. Bukan tanah tipis menyaputi batu alam. Sungai Titian Dewata tidak pernah putus. Tanah di sana tidak akan habis. Karena ada air terjun. tidak perlu takut kehabisan makanan. Setiap orang bisa punya anak berpuluh-puluh. Anakku?" tanya orang tua itu ber-napsu. Di punggungnya. Orang yang pergi ke sana. Bapak. air harus menuruni sebuah lembah yang sangat curam. Tanah. membelah dada hutan belantara yang sangat lebat dan rimbun itu. Sungai Titian Dewata terus mengalir. jadi.” "Di manakah itu. sejauh mata memandang hanya tanah yang landai yang tampak. Tanah di sana sangat baik dijadikan persawahan." . Orang yang pergi ke sana. Tapi. tidak perlu berkelahi karena setitik air parit." "Anakku. tanah yang hijau tidak bertepi. itulah pula mula tanah landai. memang mempunyai arus yang sangat deras. tanah habungkasan. hutan belantara yang sangat hijau lagi luas. "Di seberang ujung dunia. Sebenarnya bukan ujung dunia. Hutan menyimpan binatang buruan yang jinak. Tapi.tepian danau. Setelah air terjun. Jadi aku tidak dapat mengatakan berapa keluarga. berapa keluarga yang dapat di tampung tanah habungkasan yang kau temui itu?" "Berapa keluarga? Ah. namun tidak perlu takut kekurangan tanah. memberi imbangan akan luasnya danau yang ada di depannya.

pun kerajaan. lalu. Menjamin keperluan mereka sebelum saat . sehingga lahir dalam melaksanakan petunjuk dewata. hanya sepundi kubawa. Tiba-tiba saja dia berkata. yang padinya begitu bernas. Setiap orang seharusnya mengucapkan terima kasih padamu dan pada Mula Jadi Na Bolon yang telah menciptakan tanah habungkasan itu. Sekarang aku bawa tiga pundi padi yang bernas. yang kemudian menimbulkan luka serta duka yang dalam dan lebih kejam lagi yang menimbulkan kemelaratan dan golongan tertindas. dari mata Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Bapak. Anakku. suaranya terus lantang: "Ronggur. akan tidak perlu berulang. Pertempuran yang sering terjadi antara satu marga dengan marga lain atau antara satu luhak dengan luhak lain. bukankah begitu.Sambil menitikkan air mata bening karena gembira. kau telah melaksanakan petunjuk dewata. lagi pula harus melalui pundak bukit dan celah bukit. baik penduduk biasa. Sebenarnya hendak kubawa lebih banyak. Apakah buktinya bahwa kau telah menemukan tanah habungkasan seperti yang kau dustakan?" Ronggur mengeluarkan pundi yang tiga itu." Orang banyak. sehingga lahir dalam kenyataan. T api. "Waktu aku berangkat dulu dari sini. Anakku?" "Ya. Setiap orang akan memperoleh kebebasannya kembali mengerjakan tanah." "Terimalah ucapan terima kasihku padamu. aku memutuskan membawa tiga pundi saja sebagai bukti. memancar sinar kebencian dan dendam. di tanah habungkasan. Tapi. Tapi. semuanya terdiam mendengarkan percakapan itu. karena perjalanan begitu jauh. kutinggalkan padi bagi keperluan orang yang mau pindah ke sana dalam taraf pertama. kau telah mengatakan segala dusta. orang tua itu lalu mengatakan: "Anakku.

panen tiba. Demi menghormati kesetiaan dan ketabahannya. betapa bernasnya padi ini." 'Ke mana pergi gelang yang dipakai si Tio pertanda dia budak?. mengutuk marga ini. Dia tidak akan pernah menjadi budak lagi. marga yang dikurnia oleh dewata. bila kita mau mendengar cakap dusta ini. Dengan suara menghentak. soal kepercayaan. perempuan yang paling setia dan tabah. sewaktu kami tiba ke tempat jatuhnya air Titian Dewata untuk pertama kalinya. suara Datu Bolon memegang peranan yang penting. Kau telah menghancurkan kepercayaan kami. kutuduhkan padamu dan aku meminta pertimbangan khalayak dan kerajaan." "Aku tidak mempercayai cakapmu. Dalamm rapat kerajaan. Dialah isteri paling setia. Tiga pundi soal gampang. Saat panen lebih pendek di sana daripada di sini. Inilah persoalan yang sangat berat. Marga yang kuat perkasa lagi kaya ini. Kau telah mengawini seorang budak belian yang diharamjadahkan orang merdeka. kau telah mengatakan bahwa Sungai Titian Dewata tidak jatuh ke ujung dunia. Dan. dapat dijatuhkan hukuman. Kita dulu . anak siapa yang digendongnya itu? Anakmu? Kau mengawini atau memilih seorang budak menjadi ibu anakmu?" Datu Bolon Gelar Guru Marlasak tersenyum mengejek. "Tio telah menjadi isteriku. Dan. Kau telah membuat segala pekerjaan keji dan mengatakan kata yang keji. Lihatlah. agar memilih bentuk hukuman yang pantas ditimpakan padamu. jadi persoalan. para dewata akan murka. Dia telah kubebaskan. Padi lebih cepat matang. Pada orang yang melakukannya. Kami telah dipersatukan Mula Jadi Na Bolon secara langsung. Wajah Ronggur memerah padam. Karena persoalan. Dan. Bisa saja kau curi dari lumbung orang. Tapi. itu semua. aku jadikan dia istriku. Kalau tidak." Kerajaan yang lengkap cepat saja mengadakan sidang. “Kita akan dikutuk para dewata dan arwah nenek moyang.

lalu sama menyaksikan hukuman mati yang harus dijalani Ronggur bersama T io. Dekatnya si belang. Tapi. dan dihormati setiap marga? Dan. besok pagi. untuk mengumpulkan mereka. suara anak menjadi parau. kaya. Mendengar tangis bayi kecil itu. Turut si belang menitikkan butir air dari matanya. Si belang mendekatkan moncongnya ke mulut anak itu. tidak saja perasaan Tio dan Ronggur serasa disayat. Ini perlu. Bukankah kita sudah harus bersyukur pada para dewata dan arwah nenek moyang. tuntutanku: Menangkap dan menghukum si Ronggur bersama budak belian itu. akan dipalu canang ke tiap kampung yang dikuasa i marga itu. langsung di atas tanah. mereka. akan memutuskan. menangkap Ronggur dan Tio. yang telah membuat kita menang dalam peperangan tidak memurkai kita. Bayi diletakkan di depan. Karena dia telah mendustai kita dan dia telah membebaskan seorang budak marga tanpa persetujuan sidang kerajaan. Telah diputuskan pula. Tapi. tak seorang pun dibolehkan menyentuhnya. menjadi daerah taklukan kita?" Segala saran yang dilancarkan Datu Bolon gelar Guru Marlasak. Apak kecil itu menangis sejadinya. luhak kita. Agar pengaruh yang dibiuskan Ronggur tidak mempengaruhi orang untuk seterusnya.si Ronggur. sekarang tuntutanku tidak sampai di situ. mempengaruhi keputusan kerajaan. karena mereka telah menghina kepercayaan. karena sebaik kita mencoret nama Ronggur dari silsilah marga. kuat. dan tak mau mendengarkan cakapnya. Lalu mengeluarkan perintah. telah dua kali marga kita mengalahkan marga lain dalam peperangan? Hingga marga kita menjadi marga yang berkuasa. bila dia kembali ke kampung halaman ini. akan menangkap menjadikannya budak belian. Tambah lama. agar para dewata yang telah melindungi kita. Ronggur dan Tio diikat pada batang pohon mangga yang besar. Lalu . Hukum mati.

Tapi. Malah dikatakannya: "Aku tidak dapat membenarkan yang salah. Mereka menegakkan kepala mendengar berita itu. begitu pula sebaliknya. tempat orang yang tidak berpunya. Tangis anak itu mereda." Tapi. Yang benar harus kukatakan benar. Cepat saja berita yang dibawa Ronggur dan Tio menjalar ke mana-mana. mengusulkan agar Ronggur mencabut kembali semua yang telah diucapkannya. dan tempat persembunyian orang buruan. si belang memperoleh senyum terima kasih dari tuannya. Sehingga air dari lidah si belang berpindah ke lidah anak itu. Raja Panggonggom bersama pengiringnya. Percayalah padaku. juga ketiga pundi padi itu. Bila fajar pagi terbit hukuman mati itu akan dilangsungkan. Kemudian lidah anak itu secara langsung disapu lidah si belang. Si belang meringis kecil. merasa gembira dapat mendiamkan tangis anak itu. Hukuman bisa dientengkan. tak perlu hukum mati. Disapukannya ke bibir anak. Bila matanya dicampakkan ke arah T io dan Ronggur. Ronggur harus bersedia menjadi budak. Lalu lidah anak itu menjilat bibirnya. setelah saran Ronggur ditolak kerajaan marga mereka. masih datang menemui Ronggur. Terutama setelah mereka memperoleh penjelasan langsung dari bekas Datu Bolon.lidahnya dijulurkan si belang. Sampai ke kaki bukit tempat orang melarat. asal dia mau. Raja Panggonggom tidak mendengarkan. Paduka Raja. . Ronggur menolak sarat itu. Sampai basah. Tidak berapa lama setelah senja berganti malam. Supaya bekas dari kejadian itu tidak tinggal sedikit pun. Semua akan dibakar. Segala alat yang dibawa oleh Ronggur dan Tio ditumpukkan depan mereka. begitu pula Tio dan anaknya.

akhirnya mereka kembali tidur sambil menyepak si belang. Orang yang tidak berpunya dan orang buruan telah menantikan mereka. Tali temali yang mengikat Ronggur dan T io. menyelusup ke induk kampung marga Ronggur. Malam sudah jauh. yang harus kita perbuat?" . Keadaan sunyi. Dari celah bambu duri. harus melepaskan mereka dari ancaman maut itu. Sehingga si belang duduk dekat kakinya dan diam. mereka dapat melihat di mana Ronggur dan Tio diikat. Ronggur bertanya. Setelah mengucapkan terima kasih. sepuluh orang lelaki yang kuat tubuhnya. Seseorang terus mendekat ke tempat Ronggur. lalu membisikkan. Tiba-tiba saja si belang menggonggong. mereka putuskan. Orang melarat dan orang buruan yang tinggal di gua kaki bukit itu akan selalu lari ke mana saja berpencar bila tentara kerajaan marga Ronggur datang menangkap mereka. bersama bekas Datu Bolon di kaki bukit. Mereka harus membela Ronggur dan Tio." Ronggur memberi isarat. lebih baik mati menempuh jalan menuju ke tanah habungkasan. suruh si belang diam. sekali sergap saja. Malam itu juga. Mereka semua akan menjadi orang yang sia-sia turun-temurun. Mereka gendong bayi lalu mereka melarikan diri. Setelah mengitari kampung dan meneliti. Karena mencium bau orang yang datang mendekat.Bekas Datu Bolon itu mengatakan pada mereka bahwa yang mengetahui jalan ke tanah habungkasan itu hanyalah Ronggur. akhirnya memutuskan: Daripada mati dibunuh dan diburu di dada tanah batu yang gersang. Lengkap dengan senjata masing-masing. Unggun api sudah mulai mengecil. Bila Ronggur mati dibunuh orang yang tidak dapat mendengarkan penemuannya. ketiga pengawal yang sedang mengantuk itu tidak berdaya lagi. Mati terbunuh. Membuat ketiga pengawal itu terjaga. "Apa. dijaga tiga orang pengawal. maka tanah habungkasan itu akan kembali hilang. Dan. "Ronggur.

dipalu gong. Membunuh setiap orang yang memberi bantuan pada Ronggur dan Tio. Memegang obor. orang buruan ini karena kalah perang. "Bila mereka menemui Bapak. karena aku sudah sering melihatnya dalam mimpiku. Bapak juga hendak mereka tangkap dan bunuh." "Ya. otot mereka yang kencang itu dapat kembali digunakan mengolah tanah." "Bapak juga harus ikut. yang mau mendengarkan berita penemuanmu.Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan»berkata. Mereka sudah tahu. Tanpa memandang dari marga mana mereka. Mereka inilah orang yang tidak berpunya. dari golongan mana mereka. Menyuluh jalan jurang dan lembah dalam. Sidang kerajaan dengan berangsangan. Membangunkan setiap orang. yang dipercayai beserta laskarnya yang terkenal keberanian dan kekuatannya." kata Ronggur. harus kau sampaikan pada setiap orang. Merekalah yang berhak menerima berkah darinya. Sedang di induk kampung marga Ronggur. belum pernah marga kita dihina orang begini rupa. Bapak akan ikut. mengejar dan menangkap Ronggur dan T io kembali. bunuh setiap orang yang memberi bantuan padanya. tidak dapat menerima kebenarannya. Ayo." Bergeraklah mereka malam itu juga. "Berita yang diturunkan para dewata padamu. tangkap mereka. Ronggur dan Tio bersama anaknya dan si belang sudah lari. ingin melihat tanah habungkasan dalam kenyataan. Dan. Aku ingin melihat apa yang dibisikkan para dewata padaku. Kalau sebagian orang tidak mau merasakan arti yang dikandungnya. Bapak juga walau dengan berjingkat. maka orang yang mau mendengarlah yang berhak menerima berkat darinya. Sehingga mereka dapat kembali mengecap alam kebebasan. Raja Nabegu memerintahkan Hulubalang yang terkemuka. Bawalah mereka ke tanah habungkasan. .

jalan mana mereka tempuh. Maunya mereka menghilangkan jejak. Orang yang memburu juga terus bergerak. turut serta dalam rombongan yang harus menangkap Ronggur dan Tio serta membunuh setiap orang yang memberi bantuan padanya. Tempik dan sorak. Ronggur menyuruh. Malah . Raja Panggonggom memesankan dan mengingatkan bahwa Ronggur punya cukup akal yang licik. agar orang menghidupkan api. Menandakan pada yang memburu bahwa mereka ada di sana. Kepada ketiga anak raja itu. cepat mengusung bangkai laskar marga yang telah mati ke Sopo Bolon. mengepulkan asap. Dia harus diimbangi dengan kelicikan pula. Malah dimintanya. dialamatkan pada rombongan Ronggur. Di kala fajar pagi pertama menyingsing. rombongan yang memburu telah tampak di kaki bukit yang mereka taklukkan. agar arwah laskar yang wafat itu mengutuk perbuatan Ronggur dan Tio. Mereka harus membunuh setiap anggota rombongan Ronggur dan menawan Ronggur hidup-hidup. agar mencelakakan Ronggur dan Tio bersama rombongannya. anak lelaki Raja Nabegu dan Raja Ni Huta. Matahari semakin tinggi. yang kelak menggantikan sebagai Raja Panggonggom bila dia wafat.Sedang Raja Panggonggom. Di sana disembayangkan. bergeraklah orang yang bertugas memburu rombongan Ronggur. Di sana mereka istirahat. Pada pagi berikutnya. memerintahkan anak lelakinya yang sulung. Supaya orang yang memburu dapat mengikuti jejak dan jalan mereka tempuh. Untuk sama-sama dibunuh oleh tiap warga marga. Ini tidak. Rombongannya merasa aneh juga terhadap tindakan begitu. Malah bermalam. Pundak bukit pertama telah ditaklukkan. Yang diharapkan dipunyai oleh anaknya. Sedang Ronggur. Rombongan terus bergerak. kemarahan dan hasutan. Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. tetap menyuruh agar mengadakan tanda. untuk dihadiahkan pada sidang kerajaan.

Begitu pula rombongan yang memburu. rombongan Ronggur telah melewati celah pertemuan bukit. di bawah melalui pundak bukit yang menurun tanah habungkasan. Rombongan Ronggur menghidupkan api unggun. Bermula terus jurang. Tapi. Sedang Ronggur hanya tersenyum saja. agar kedua rombongan selalu dipisah lembah. Dendam kesumat pada rombongan yang memburu tambah menghebat. Bila fajar kembali terbit. Begitu terus-menerus. Pada hari ketujuh. Setiba di balik bukit terus jurang dalam. Juga diusahakan. karena merasa diperma inkan. Lapangan datar hanya beberapa depa saja. bila musuhnya berada di pundak bukit. dapat dilihat. mereka pun mulai bergerak. Rombongan Ronggur istirahat. Begitu terus menerus.memberitahukan pada musuh di mana mereka berada. tapi dipisah lembah yang dalam. yang merupakan pintu ke tanah habungkasan. Tidak ada yang berani melanjutkan perjalanan di malam hari. hingga musuhnya dapat menjatuhkan batu untuk membunuh mereka. Bila rombongan yang memburu sudah berada di pundak bukit pertama. Matahari kembali melemah. Takut jatuh ke jurang dalam. Bila rombongan yang memburu mulai mendaki bukit. rombongan yang diburu dan memburu kembali bergerak. Kedua rombongan dapat bertatapan. beberapa jauh harus melalui di satu jalan . karena Ronggur sungguh-sungguh menyuruh. Begitu pula rombongan yang memburu. Kemudian malam. Dari baliknya. Tanpa menjatuhkan batu untuk menghancurkan yang memburu itu. Senja memerah. Ronggur tetap mengusahakan. Harus memenggok ke kiri. rombongan Ronggur sudah kembali mendaki ke pundak bukit kedua. agar rombongannya tidak berada di dasar lembah. Terkadang antara kedua rombongan terjadi saling panggil-memanggil. Tapi. Sambil hasut menghasut. mereka laksanakan juga dengan sebaik mungkin.

"Letakkan senjatamu. Rombongan yang memburu terus saja mengejar dengan semangat meluap. anak Raja Ni Huta. Dengan lantang." Rombongan yang memburu mengutuk pada diri sendiri. Cepat berpaling dan melayangkan tombaknya ke arah Ronggur. Sedang dua tiga orang. Dan. mula jalan menurun yang baik menuju tanah habungkasan. Dan. Juga dari sana dapat ditatap air terjun yang memutih. disuruh Ronggur membuangnya dan menyampakkannya jauhjauh. Ronggur menyuruh tiap orang berondok ke sisi bukit. mereka telah ada di bawah rombongan Ronggur. Ronggur cepat berondok ke balik batu alam. Tapi. Setiap orang ternganga melihat putihnya air terjun yang menerobos bukit sebelah timur. yang bisa digulingkan. Kemudian orang yang tidak bersenjata. Menantikan rombongan yang memburu. Di depanmu jurang dalam. Lengkap senjata terhunus di tangan. mengambil kesempatan.sempit. Setiap anggota rombongan Ronggur kagum menatap tanah datar yang luas dan hijau di bawah mereka. Boleh pilih. Melewati celah bukit. Tiap orang disuruhnya menyiapkan senjata yang ada di tangan masing-masing. yang diapit oleh bukit dan dinantikan mulut jurang menganga. Kalau tidak kamu sekalian akan kami bunuh. Ke jurang dalam. di saat begitu. Mereka terjebak sudah. Setiap orang. Lalu setiap orang mengucapkan rasa terima kasihnya. Dan. Baru tiba kembali ke jalan yang agak luas. Ronggur berteriak. setiap orang yang memakai gelang pertanda budak. Mendaki sedikit ke atas. menyerah atau mati. baik perempuan. pada satu tempat yang tidak menguntungkan. disuruhnya pergi ke mulut celah bukit. Memberi tanda pada mereka. disuruhnya memilih batu alam. Semua orang mengerjakan perintah Ronggur. sebuah tombak balasan melayang ke bawah mengenai . Dengan terpaksa harus membuang senjata yang ada di tangannya. agar rombongan yang memburu itu mendatangi celah bukit.

kelanjutan Sungai Titian Dewata. Mulut mereka ternganga. kalau kau sekarang mau membunuh kami. Justru karena warta itu bertentangan dengan kepercayaan yang kau anut selama ini. Hulubalang yang memimpin rombongan itu. Lihatlah sekarang dengan mala kepalamu sendiri. Apakah kalian masih belum percaya?” Orang yang memburu pada terdiam dan tercengang. "Pilih antara dua. Dengarlah dengan kupingmu sendiri. tapi banyak ikannya. kau telah bisa melakukannya tanpa sesuatu halangan. yang lalu jatuh ke mulut jurang dengan pekikan meninggi. warta dari mula kehidupan. berpaling ke arah Ronggur. Mereka disuruh Ronggur menghadap ke arah jurang. yang airnya asin. Dan." Anggota rombongan yang memburu itu. membelah kehijauan hutan belantara itu. Pergunakanlah mata kepalamu. telah menyaksikan kebenaran cerita Ronggur. Sekali lagi Ronggur berteriak. yang tidak punya kekuatan untuk menerima sesuatu warta kebenaran. benda memutih dikejauhan yang terus menerobos ke timur. menyerah atau mati. Harus tunduk pada Ronggur. Kalian semua berada di tempat yang tidak menguntungkan. seperti yang kuceritakan padamu. dia mengatakan: "Ronggur. Dan. derum air terjun yang jatuh. dengan terpaksa mencampakkan semua senjatanya ke mulut jurang. di sebelah kananmu itulah air terjun yang kukatakan. merambah jalan ke danau yang maha luas. di depanmu jauh di bawah sana.anak Raja Ni Huta. luasnya tanah hijau yang landai. Setelah menundukkan kepala tanda memberi hormat. di saat mereka terjebak pula. Sekarang mereka dengan mata kepala sendiri." “Lihatlah. apakah Sungai Titian Dewata berakhir ke ujung dunia? Dan. Tapi. itu . Lalu kedengaran suaranya meninggi: "Kau para lelaki yang kuat.

Untuk itu kami sewajarnya menerima hukuman. apakah mereka masih berhak hidup atau mati. Ronggur. bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan ke dekatnya. Kau telah gagal mewartakan berita penemuanmu secara langsung. Kau bisa menentukan. Yang sebenarnya juga anggota keluarganya. Sesuatu perasaan yang bertentangan tumbuh dalam dada. Tanah luas masih tersedia untuk mereka walaupun aku mati. Baru mulutnya mengatakan. Akulah yang pertama harus kau bunuh." Ronggur membiarkan Hulubalang itu terus berkata. ada sesuatu hal yang menguntungkan dalam saat ini. dan kami tidak punya kelapangan hati mendengar warta kebenaran darimu." "Bagaimana caranya." katanya. Hijaunya telah kutatap. bagi Bapak. "apa yang harus kuperbuat sekarang?" Lama orang tua itu terdiam. Aku akan tidak menyangsikan hidup anakku lagi. Dengan sendirinya pula mewartakan kepada kelompok marga lain. marga yang masih merdeka. Tapi matiku telah merasa senang. Tapi. Yang melanjut dengan. "Nasib mereka berada di tanganmu." Seketika keadaan hening. sekarang kau memperoleh jalan lain untuk mewartakannya kepada orang lain di kampung halaman.memang hakmu. "Kami telah me lihat air terjun yang kau ceritakan. Tanah habungkasanmu. tapi sebagian lagi memberi pertimbangan lain. "Bapak. Kami telah mengikuti ajaran yang salah. Lama Ronggur menatap tawanannya yang hendak menangkap pada mulanya. sebagian ingin menuntut balas. Ujung dunia yang kami sangka selama ini. mula tanah datar yang maha luas. Bapak?" . Justru karena aku telah melihat kebenaran ceritamu. Tapi. Aku pemimpin rombongan yang mengejarmu ini. dan bau kesuburan yang mengambang darinya telah kuhirup. Dalam keadaan begitulah Ronggur memanggil orang tua.

Bapak tahu. namun bona nipasogit. Tidak memandang apakah dia seorang budak. Itu sangat penting. agar mengembalikan tanah persawahanku. Bapak tahu aku telah mengambil T io menjadi istriku. harus dijaga dan dipelihara. aku harus menuntut pula bahwa semua keturunan marga Tio. Dan. Semua marga berhak. Sesuatu harta pusaka turun-temurun yang mulanya dirambah nenek moyang. Lalu disambutnya." "Karena itu. yang dulu disita kerajaan dariku. tidak boleh dilupakan. "Di samping itu. sejauh kita merantau." sahut orang tua itu cepat. "Saran yang baik. "aku harus menuntut pada kerajaan marga. Bila mereka tidak juga mempercayainya. harus dikembalikan." Tersenyum Ronggur memperoleh saran itu. Semua orang berhak. "Dan. Sedang . Mora yang harus kuhormati." kata Ronggur pula. raja atau apa saja. Juga segala harta milik Bapak yang disita dulu." "Ya. anak Raja Nabegu. memang begitu menurut adat kita. Tugaskan padanya agar dia mewartakan pada kerajaan marga atas kebenaran ceritamu. Kemudian suruh pulang Hulubalang itu dengan pengiring kecil. Dan akan kutambahkan bahwa tidak marga kita saja yang berhak datang ke tanah habungkasan."Tawanlah anak Raja Panggonggom." Orang tua itu menundukkan kepala mengiakan. Semua orang berhak memperoleh tanah. Tidak boleh dihalangi. itu sangat baik. akan sama dengan nasib Raja Ni Huta." "Lalu. kebenaran penemuanmu. Siapa saja di antara mereka yang punya hasrat pindah ke tanah habungkasan harus dibolehkan. Karena bagaimanapun seperti adat kita. harus dibebaskan dari perbudakan. maka nasib anak Raja Panggonggom dan anak Raja Nabegu." "Ya. kesatuan marga Tio sudah menjadi moraku. seluas dan selebar yang sanggup dia kerjakan.

" Hulubalang itu menyanggupi akan menyampaikan pesan. telah terbuka tembusan jalan baru. harus dibebaskan dari perbudakan. utusan kerajaan sudah harus ada yang datang menemui mereka ke tanah habungkasan. Sedang rombongan Ronggur. Yang ditambahnya pula: "Dalam jangka dua purnama.orang yang tidak bisa pindah karena sudah tua atau karena alasan lain. Utusan kerajaan marga. Selalu mereka mengadakan upacara di pangkal sungai. boleh kelak menempuh jalan yang mereka tandai. Yang lima orang itu pun telah bersedia menjadi saksi atas kebenaran penemuan Ronggur. Kemudian rombongan lain bertambah banyak menuju tanah habungkasan. mempertebal keyakinan bahwa mereka akan dituntun para dewata dan arwah nenek moyang ke tanah habungkasan. apakah saran itu diterima atau tidak. Malah dengan sadar dia menambahkan. untuk berbakti." Orang tua itu tersenyum. Baik melalui sungai atau jalan darat. ke tanah habungkasan. Mewartakan. aku akan bekerja keras menginsafkan orang. Itulah sarat yang harus disampaikan Hulubalang pada kerajaan marga. ditambah pasukan kerajaan marga yang sudah insaf menuju ke timur. tanpa sarat itu pun. ditunjuk Ronggur mengiringi Hulubalang menuju kampung halaman. Segala hasil pembicaraan disampaikan Ronggur dengan suara lantang pada Hulubalang. Sejak itu. Tapi. tidak hanya yang dirintis Ronggur saja yang mereka kenal. Daerah lain tambah banyak ditemui. kebenaran penemuanmu. tambah lama. Bila mereka sudah sampai di tempat yang mereka namakan . Jalan tempuhan." Lima orang dari anggota yang memburu itu. "Karena aku sendiri telah melihat kebenaran ceritamu. nama tempat itu mereka sebut Porsea. Berilah kesempatan padaku. Mengiakan.

bisa turun kembali ke Pulau Samosir. airnya asin. Dari Mandailing. akan tiba ke tanah habungkasan yang ditemui Ronggur. akan menaklukkan pegunungan sebelah barat. mereka akan tiba ke Daerah T angga. Dari pesisir Sibolga. Dari Dairi. berarti turun ke daerah Mandailing Raja. lalu mereka namakan itu Tiga Dolok. Di sini mereka bertemu dengan rombongan yang sejak Parsoburon terus mengarah Barat. Sedang bila kembali ke arah utara dari Rao-Rao. bila mereka terus menurun. tiba ke dataran tinggi Bonjol. jadi bila mereka menuju ke sana. kembali tiba ke lingkungan Danau Parapat. mereka terus pergi ke arah timur. Bila terus menyusur bukit sebelah barat. Sedang rombongan yang berangkat dari Pangoruran Samosir.Parhitean. di mana rombongan Ronggur membuka perkampungan. satu lagi menuju Dairi-Pakpak. yaitu Rao-Rao. telah menaklukkan pegunungan Pangaribuan. mereka akan tiba ke Parsoburan. dapat mereka kenal pundak bukit yang ada di bagian pundak mereka. Tarutung. Mereka tiba ke Pangkat. pundak bukit di lingkungan Danau Parapat. tembus pula ke Rura Silindung. sampai ke daerah perbatasan Sumatera Barat. bisa mereka buka dua persimpangan. bila mereka kembali mendaki pegunungan utara. Menembus terus ke daerah AngkolaSipirok-Pahae dan tembus ke Silindung. Dari Parhitean. Bila mereka dari Parhitean menuju ke utara. Bila mereka meneruskan perjalanan. Terus ke selatan. berteluk indah. terus menurun dari sana ke pesisir Barus. bila menuju ke arah barat. pesisir Sibolga. Dan. Dari sana terus menembus ke daerah Simalungun. Dari T iga Dolok. Satu menuju Tanah Karo. Lalu bisa kembali ke Toba. menurun ke pesisir Barus. Dari sana dapat mereka tatap pundak bukit yang tiga. bila mereka memenggok ke selatan. pundak pegunungan Toba telah dapat mereka tatap . Tarutung. Dari sana. mereka menemui pula sebuah danau yang luas.

yang menyimpan ikan banyak. Untuk menemui danau yang maha luas. mereka bisa bertemu dengan orang yang berangkat menuju tanah habungkasan yang ditemui Ranggur. Padang Lawas. Kemauan mempertahankan dan melanjutkan kehidupan. telah dialihkan semangatnya untuk menaklukkan pundak demi pundak bukit. Menerobos celah pertemuan bukit memanjang. dataran lain. ccdw-kzaa Daftar Istilah Ambalang= tali pelempar batu Ama Ni Bolpung= ayah si Bolpung Ampangngardang= juru perdamaian Ampataga= obat (luka) nama sejenis tumbuhan biasa dipakai untuk Berandak= bersembunyi/berlindung Bernas= berisi/berarti Bolatan= destar . bila menembus ke selatan teru s. Airnya asin mengandung garam. daerah Asahan-Labuhan Batu. yaitu dari Tor Simago-mago. untuk menemui dataran luas. Terus ke selatan. Dari Angkola. sampai bersedia mengorbankan pertarungan demi peperangan. dan punya binatang buruan yang jinak lagi banyak. berhutan subur. yang tidak sedikit mengorbankan nyawa. merambah jalan di bawah naungan dedaunan belantara yang menghijau lebat.dan kenal kembali. akan tiba ke daerah dataran yang luas. Semuanya untuk kelanjutan kehidupan dan mengembangkannya.

.Bona Ni Pasolgit= kata ganti untuk kampung halaman Buhul = ikatan Bungkas= pindah Burung Ambaroba= burung pemakan padi.. Pisau Gajah Lompak= pedang sakti Pohon Hariara= pohon beringin Purada= jumbai-jumbai warna keemasan pada ulos Raja Ni Huta= kepala kampung Sampuran Harimau= air terjun si harimau ... tidak terbaca sobek.. berdada kuning Curup= cerutu Dibuhul= diikat Dolok= gunung Gelagah= rumput yg panjang Habungkasan= tanah baru Luhak= daerah Mora= keluarga pihak isteri Mula Jadi Na Bolon= T uhang Yg Maha Esa Parhelaan= pesta adat (hela= menantu pria Parhitaan= jembatan/perantara Pargaul=luwes Pargounci= grup yg memainkan gondang Patentengan= sombong .

ccdw-kzaa . terdiri dari bermacam daun mentah.Sopo Bolon= rumah besar (rumah adat) Sanduduk = rumput putri malu Temterasan= lari kucar kacir Terhempang= terhampar Terpacak= tertanam/terpaku Tuhil= pahat Tongkat Panaluan= tongkat kepala adat (marga) Ura= makanan khas Batak. antara lain daun pepaya serta gula merah dan lainlain.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful