Penakluk Ujung Dunia

Karya Bokor Hutasuhut Djvu, convert & Ebook : Dewi KZ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/ http://kangzusi.info/ http://cerita_silat.cc/

Penakluk Ujung Dunia Ayahanda Bokor menjadi mubaliq Islam di Tanah Batak. Karena itu, dia suka ikut menyusup hutan belantara, mendaki bukit dan lembah Bukit Barisan. Menyusup melewati Pintu Pohan, Parhitean, naik ke Tangga dan tembus ke Simalungun. Juga kembali melalui Dairi ke Tanah Samosir.

Dalam perjalanan, sering ngobrol sepanjang malam dengan para tetua, wakil masa silam, masih primitif, sederhana, tapi simpatik. Dengan para tetua itu. Bokor setempat tidur dan para tetua terus bercerita Di hutan, lembah, dan ngarai sudah biasa saja. Bertemu harimau dan binatang buas lain tak soal lagi. Dan, suatu kali, di suatu hutan, di atas dedahanan rimbun terdapat sarang tawon ruang pun memanjat poitu berusaha mengisap madu itu. Tapi, seseorang lantas ikut naik, memanjat pohon yang sama yang setelah bibir berdecap mengucap jampi, beruang itu menyisih . Dan, "Penakluk Ujung Dunia" berkisah pada sulitnya memperoleh lahan. Perang warga sering berkecamuk. Lantas Ronggur mencoba menerobos Sungai Titian Dewata untuk mencari daerah baru. Kepergiannya dikutuk karena melawan tradisi. Dan, setelah dia kembali dan berhasil menemukan daerah baru, justru dia akan dihukum gantung karena Ronggur tetap saja sudah melawan tradisi kepercayaan yang sudah hidup turun temurun. Sungguh menawan dan indah .... PENAKLUK UJUNG DUNIA Oleh: Bokor Hutasuhut Hak Pengarang dilindungi undangundang Desain Kulit: Sriwidodo Cetakan Pertama 1964 PT Pembangunan-Jakarta Cetakan Kedua 1988 Penerbit: PT Pustaka Karya Grafika Utama Jakarta

Sekilas Pengarang: BOKOR HUTASUHUT, lahir di Balige, Tanah Batak, Sumatra Utara 2 Juni 1934. Dalam catatan masuk HIS, hari lahir itu berubah menjadi 2 Juni 1933. Menurut ayahnya, H.A.M. Mangaraja Gende Hutasuhut, perubahan itu perlu jika ingin sekolah. Dalam catatan itu juga tercatat nama benar Buchari Hutasuhut agar kelak menjadi pengarang tafsir Quran. Sejak 1953 sudah menulis cerita pendek ke berbagai majalah sastera dan media budaya. Selain buku ini, juga sudah terbit buku "Tanah Kesayangan" dan "Datang Malam". Kini berdomisili di Medan.

tetapi suatu karya sastra segar dengan latar belakang pengaruh tradisi kebudayaan Batak.Kata Pengantar Bokor Hutasuhut punya gaya bercerita yang merupakan gabungan sifat formal dan bebas. Rendra . Ia telah selesai melakukan wawancara dengan tradisinya dan dengan dinamika modern dari Indonesia Raya. tetapi orang Batak tulen yang menjadi sastrawan Indonesia. Begitulah ia muncul sebagai sastrawan dengan gaya yang unik di antara sastraivan modern yang lain di Indonesia. Ia bukan photo copy kebudayaan Batak. formalitas tutur kata bahasa lisan menurut tradisi Batak. Ketelitiannya di dalam melukiskan detail-detail ia gabungkan dengan rasa harmoni seni dalam bercerita mengenai watak manusia. segi memandang persoalan sebagai sastrawan modern. Sehingga hasilnya bukanlah sekedar laporan anthropolis akademis. kebebasan penghayatan kebudayaan modem dari tradisi sastra modern. Satu pertanda bahwa ia mengerti betul-betul apa yang ia tuliskan. plot. lalu duduk dan menulis novel ini. Ia sangat sadar bahwa ia sedang menyelami dan melukiskan kehidupan masyarakat Batak yang unik tradisional kepada pembaca sastra modern pada umumnya. Alangkah hidup detail-detail dari lukisannya. Sedangkan kebebasannya. Marilah kita sekarang menikmatinya. Formalitasnya.

belum seorang pun mengambil tempat. Mengikuti lingkaran rumah dan di tengah dikosongkan. Nyalanya meliuk ditiup angin. satu sama lain. sewaktu enam orang lagi lelaki datang mendekat. Di pinggang. dan hitam. Tapi. Kemudian kelompok manusia itu menjadi tambah hening. Para lelaki itu membentuk lingkaran seputar unggun api. yang hulunya berukirkan wajah dan kepala manusia. Tangan kanan memegang tungkotpanaluan. Angin pegunungan berhembus. memecahkan tanah batu untuk dijadikan persawahan. tampaknya saling diam. tempat penghuni kampung selalu berkumpul di saat yang perlu. putih. Salah seorang di antaranya menyandang ulos-batak ragihidup. tidak ada yang berkerisik. memenuhi panggilan suara gong yang dipalu sesekali dekat unggun api yang ada di halaman perkampungan. Gong masih dipalu sesekali. Dan. langsung menjadi pagar kampung. terselip . serta dihiasi rambut manusia. Bambu duri itu. Di langit bintang gemerlapan. Dari jauh kedengaran suara ratap para perempuan. Wajah para lelaki yang bermunculan di mulut pintu. setelah cukup dekat unggun api. Wajah yang cukup matang dan keras. yang dimasak kerasnya hidup sehari-hari. di sebelah hulu. Hingga cahaya unggun api yang samar. ditanam melingkar. Sengaja dikosongkan. Wajah para lelaki tambah jelas kelihatan. cukup punya arti. tidak ada bulan. Tapi. Para lelaki tambah banyak berkumpul. Di saat Kerajaan Marga yang mendiami kampung itu mengadakan musyawarah. wajah yang menampung sinar matahari penuh. Lebih dulu meliukkan pucuk bambu duri yang ditanam orang sekitar kampung. kepalanya dibeliti bolat-an berwarna tiga jalin-menjalin: merah. Tapi. Halaman kampung menjadi luas. memancarkan rasa marah dan mendendam. Senja baru saja berlalu.1 Satu-satu para lelaki keluar rumah.

Sedang di tangannya. Sedang Datu Bolon Gelar Guru Marlasak menyandang kulit monyet yang sudah kering. Yang berjalan di sebelah kanannya. Sebelum duduk. tapi raginya berbeda dengan yang dipakai oleh Raja Panggonggom. Raja Ni Huta yang memakai bolatan ini. pertanda mereka pemegang perbekalan marga. Di tangan kiri Raja Panggonggom. Raja Namora. pengerah tenaga rakyat. sedang mulutnya terus-terusan menguyah sirih dan meludah. Di sebelah kiri Raja Panggonggom. di marga yang mendiami kampung itu. siap mendengar yang hendak diucapkannya. warnanya hanya merah dan putih berjalinan. memakai bolatan juga. yang masih semarga dengan mereka. dan langsung memimpin para Raja Ni Huta dari kampung lain. Tapi. Pertanda dia Raja Panggonggom.pisau gajah-dompak. memakai bolatan warna putih. pertanda dia Raja Ni Huta. pemegang pimpinan para panglima dan para hulubalang perkasa. tergenggam tombak yang hulunya berukirkan kepala manusia. Raja Partahi dan Raja Namora. Di belakang mereka bertiga. Setelah mengangkat tangan kanan. tapi raginya berbeda dengan ragi yang disandang fyaja Panggonggom dan Raja Ni Huta. Dia juga menyandang ulos-batak. lebih dahulu dia menancapkan tungkotpanaluan ke tanah. Mereka mengambil tempat di sebelah hulu. yang memegang kekuasaan adat dan hukum tertinggi di perkampungan itu. dia mengaju tanya. dan Datu Bolon Gelar Guru Mafla-sak. mengiring pula Raja Partahi. Juga dia menyandang ulos-batak. berjalan seseorang yang memakai bolatan warna merah saja. tergenggam sebilah pisau yang ujungnya berlumur darah merah. yang sejak tadi dikosongkan. pertanda dia Raja Nabegu. "Apakah sudah semua lelaki hadir di sini?" . Tempat mereka lebih tinggi dari yang lain. Kuping sudah. Semua mata diarahkan padanya berusaha mengikuti gerak-geriknya.

Dia berlari dengan langkah yang panjang dan cepat." sahut seseorang. pergilah salah seorang dari kamu memanggilnya. Suaranya yang beruntum keluar dengan cepat. membuat wajah para lelaki itu bermuraman. Tubuhnya yang sudah tua itu masih membayangkan bekas bentuk tubuh yang tegap di masa muda. Cepat saja diketahui bahwa tidak seorang pun perempuan hadir di antara para lelaki yang mengitari unggun api itu." "Si Ronggur belum hadir? Ke mana dia pergi?" Tidak ada yang menyahut. "Belum. Kembali Raja Panggonggom duduk. "Si Ronggur." sahut seseorang. yang juga memakai bolatan warna hitam. yang meratap kan kepiluan hati. yang langsung berdiri dari duduknya. Ratap inilah yang. pusaka nenek moyang turun-temurun dielusnya seketika. disaputi kulit hitam . hulubalang muda. tetap kedengaran sesayup sampai ratap perempuan. Tongkat panaluan. Matanya merah nyala. "Apakah sudah berkumpul semua pemuda di sini?" tanyanya pula melanjut. tapi bolatannya lebih kecil dari orang pertama. Pertanda dia. dan menggenggam sebuah tombak. tapi tidak berhiaskan rambut. Apakah harus aku yang pergi memanggilnya?" Hulubalang Muda cepat berdiri. kepalanya memakai bolatan warna hitan. hati yang berduka. "Ayoh. muram mengandung marah yang menuntut dibalaskan.Setiap suku kata ditekankan kuat-kuat. Terus pergi melaksanakan perintah. pertanda dia panglima marga atau hulubalang marga. Raja Panggonggom lalu mengatakan. "Siapa yang belum hadir?" tanya raja. "Sudah semua. pewarta bahwa dia sedang marah. Sedang dari kejauhan. tangannya menggenggam tombak berukirkan kepala manusia.

"Aku dapat mendengar dan mengartikannya. dan dari wajahnya memancar kebeningan tapi bercampur-baur dengan kematangan." jawab pemuda itu. ototnya. "Apakah kau tidak mendengar gong dipalu? Apakah kau tidak mengetahui. namun garis di wajahnya. segumpal daging yang dapat dipercaya kesehatan dan kekuatan yang terkandung di dalamnya. Dari jauh kelihatan dua orang pemuda mendekat. Di hadapannya. Raja Panggonggom menggerutu. apa arti gong yang dipalu dengan pukulan satu-satu? Apakah kau harus diajar untuk mendengar dan mengartikannya lagi? Bukankah kau sudah diajari Raja Nabegu?" tanya Raja Panggonggom cepat. Tapi. juga sudah agak tua. sesuatu pertanda ketangkasan. Walau ada di antara mereka yang agak kecil." Tidak seorang pun yang berani menambahi cakapnya. para lelaki yang masih muda. ma-nyambut kehadiran mereka. wajah Raja Nabegu. Para lelaki yang duduk di sampingnya. "Kenapa kau tidak terus mematuhi panggilan? Kenapa kau melalaikannya? Apakah tubuhmu itu tidak dialiri darah merah yang diwariskan Almarhum ayahmu lagi?" . kulitnya yang hitam. keningnya yang lebar. "Kita harus menunggu anak itu lagi. kenapa Ronggur tidak bisa hadir sebelum golongan raja hadir di sana. yang tubuhnya setiap hari masih terus membentuk sebuah tubuh yang wajar. Wajahnya yang berkerut-kerut. bernadakan kepercayaan akan diri sendiri. Sambil duduk. punya otot tubuh yang tegap dan masih berada di puncak kekuatan.yang cukup matang. menjadi merah padam. yang duduk sejajar dengannya. Sedang para pemuda. seperti merasakan sesuatu kesalahan. dan sinar matanya masih tetap bercahaya. Paduka Raja.

Otot yang tegap itu menjadi mengencang. Tubuh mereka berkeringat olehnya. kenapa kau terlambat datang? Atau. bagaimana aku harus melaksanakan perintah yang akan ditugaskan padaku. . Pada tiap wajah makin jelas kelihatan pancaran sesuatu cahaya yang tidak mau dipadamkan. kalau begitu dengar dulu kataku. Dan apa yang harus kuucapkan dalam pertemuan ini. aku sedang memikirkan. "Semua lelaki yang ada di hadapanku. Kupingku mendengarkan suara gong pusaka."Masih. Mata tiap orang menjadi merah dan gusar." "Nah. dalam tubuhku mengalir darah yang diwariskan ayahanda almarhum. nama baik kampung. nama baik rajamu. Barulah kau dapat dikatakan seorang lelaki yang menghormati nama baik nenek moyangmu." Orang terdiam mendengarkan. Tapi. dibakar perasaan dalam hati. Paduka Raja. barulah pula kau wajar dihormati sebagai seorang lelaki. margamu. Supaya para arwah nenek moyang dan dewata tidak marah. lalu. yang pada tiap tubuhmu mengalir darah merah warisan nenek moyang." "Kalau begitu." Raja Panggonggom menebarkan pandang ke sekitar. bila saat musyawarah diadakan. kau memang sengaja mengabaikan panggilannya?" "Aku tidak mengabaikannya. dan marga kita." "Tahukah kau bahwa ayahmu tidak pernah mengabaikan panggilan gong pusaka ini? Terlebih bila gong dipalu satusatu? Ataukah dengan sengaja kau melambatkan kedatanganmu karena kau bukan seorang lelaki? Jawab pertanyaanku dengan jujur." "Paduka Raja. Paduka Raja. api semangat yang tidak boleh dipadamkan. merahnya. malah langsung membakar semangatku. Menatap wajah demi wajah dengan pandang tajam. Dan.

Berakhir dengan meledaknya ucapan." Suara mendengung pada kelompok yang ada di depan raja. Tapi. Tentu kamu turut mendengar ratap mereka. hendak kau katakan?" tanya Raja "Ya. ratap para perempuan itu. ke dada salah seorang dari antara kamu. Lalu tertumpu akhirnya ke tempat para raja. "tergenggam sebilah pisau. kemudian pada kelompok para lelaki. ratap yang menangiskan sebuah perpisahan." suaranya tegas dan pasti. Sekitar mayatnya duduk melingkar para perempuan. dengan darah merah yang memancarkan cahaya semangat yang tak akan padam pada tiap wajah kita. sehingga dia meninggal. Supaya orang lain tidak berani mengulanginya terhadap marga kita!" "Ya. kita tidak berhak lagi disebut dan dihormati sebagai lelaki. Kuat meledak. memang untuk itu kita berkumpul malam ini. tidak saja kepiluan mendatangi diri. "Perintahkan dengan cepat. Penghinaan yang harus ditantang dengan sikap jantan. Matanya dilayangkan pada kelompok pemuda. bila penghinaan yang sangat nista ini kita terima begitu saja. Para perempuan itu berduka. Mayatnya sekarang terlentang kaku di Sopo Bolon. Kalau paduka raja mengijinkan aku berbicara. Meratap berkepanjangan. bila kita tidak menuntut balas. perpisahan yang timbul karena perbuatan orang lain. Yang menekan hati."Pada tangan sebelah kiriku. dari antara kita. "Ada yang Panggonggom." lanjut Raja Panggonggom." Ronggur berdiri. lebih berat mendatang dari penghinaan yang dengan sengaja diarahkan marga lain yang membunuh Ama ni Boltung itu. yang tadi pagi sengaja ditusukkan orang. bagi kita para lelaki. "Bicaralah____" . Kita terkutuk. apa yang harus kami perbuat. sesuatu yang mengharapkan penuntutan balas. orang dari marga lain. Sebuah penghinaan harus segera dilenyapkan. Ketahuilah. Dan.

karena persoalan pembagian air yang harus dialirkan ke sawah. Arwahnya tentu ditempatkan para dewata di tempat para hulubalang perkasa. antara satu lu hak dengan luhak lain. tidak seorang saja. dicabutnya nyawa mereka dengan ujung pisau. Ronggur melanjutkan. Soal yang sudah terlalu sering menimbulkan pertengkaran. Mereka menyerang sekaligus. yang tanahnya bercampur batu. kenapa persoalan begitu rupa tambah sering kita hadapi. Juga raja." sahut Ronggur. karena semakin sempitnya tanah yang dapat kita garap. Sudah sampai ke sana perluasan sawah. hendaknya kita menelaah. "tapi yang paling perlu kita pikirkan sekarang. aku jalan-jalan sampai ke kaki bukit. tempat terhormat." "Kuhormati kepahlawanan Ama ni Boltung. Tidak kurang dari lima orang ma lah. seorang lagi luka pada tangannya. Tidak kurang dari dua orang yang menyerang dirubuhkannya. Dia masih sempat membawa korban. "Soalnya. dapatlah diketahui bahwa soalnya timbul karena pembagian air dan perbatasan sawah. rubuh ke atas tanah. yang sudah terlalu sering mengakibatkan pecahnya perang antara satu marga dengan marga lain."Paduka Raja. Tambah sering mengganggu ketenteraman hidup? Mengganggu kerukunan hidup di pantai Danau Toba ini?" Semua terdiam. mula atau sebab timbulnya perkelahian itu. Yang menyerang Ama ni Boltung. Tapi. Dari keterangan Paduka Raja. Tanah batu yang cukup . hingga Ama ni Boltung yang sudah kita kenal keberanian dan ketangkasannya berkelahi. Juga karena pertengkaran mengenai perbatasan sawah. dapatkah Paduka Raja menceritakan pada kami. Dan. Yang menjadi pokok persoalan sekarang menurut pendapatku. Tadi siang. janganlah kita beranggapan bahwa Ama ni Boltung terlalu lalai menghadapi musuhnya. kenapa marga lain itu menancapkan ujung pisaunya ke dada Ama ni Boltung?" "Pisau itu mereka tancapkan ke dada Ama ni Boltung.

berakhir di mana . tiap suku tambah berkembang biak. Tangan kami juga turut lecet karena mengayun pacul ke tanah berbatu. Tanah yang dapat kita kerjakan masih tanah yang dulu juga. Ini sudah terang menambah kesulitan hidup. Tapi. betapa sungguhnya tiap orang dan marga yang ada di sekitar danau ini mempertahankan hidupnya. Keringat kami juga turut membasahi tanah batu. "Usulmu memang bagus. membangun sebuah parit saluran air. Tidak bertambah luas." "Paduka Raja." "Cukup. Inilah mula persoalan! Harus awal soal ini yang diatasi agar hal yang bisa menimbulkan perkelahian dan peperangan yang menumbuhkan luka dan duka di tiap hati dapat dihilangkan. Karena itulah. Mereka melinggis pinggiran gunung batu. "kami juga sudah mengetahui itu. "Kita harus mencari ." Dengungan suara pun bangkit di tengah orang banyak. Mereka orang yang berani hidup. Y ang taat melaksanakan pesan nenek moyang masingmasing. Berarti. ke mana kita harus mencari tanah garapan baru? Sekitar kita. mencari daerah baru tempat perluasan marga." "Apa maksudmu?" tanya Raja Panggonggom. Lihatlah. Kita tidak tahu.keras itu mereka pecahkan dengan cangkul yang diayunkan kedua tangan mereka. Orang tambah berebut pada air parit yang dangkal agar sawahnya lebih dan dapat lebih banyak menghasilkan padi. "jadi. melingkar gunung batu yang tandus lagi tinggi. setiap orang menggunakan akal licik untuk memperoleh setapak tanah. soal sebenarnya sudah kita ketahui. melanjutkan hidup keluarga dan marga. tambah banyak mulut yang harus diberi makan dari hasil tanah yang itu juga. supaya batu menjadi lumat agar bisa menghasilkan padi." sahut Raja Panggonggom mengatasi dengung suara itu." kata Ronggur pula tak mau henti." kata raja. Kami juga turut bekerja.ya. "Tapi.

" "Sungai mana?" cepat Raja Panggonggom memotong. Binatang buas akan membunuh tiap orang tanpa ampun. telah dipermainkan Ronggur. Lebih dulu ditatapinya wajah para raja. . apalagi orang tua yang duduk di belakangnya yang menyandang kulit kera yang sudah dikeringkan. pagar alam yang sengaja dibuat para dewata. harus berusaha pula meluaskannya. namun sinar wajahnya masih tetap memancarkan sikap keyakinan.gunung ini. yang juga sejak tadi terus-menerus mengunyah sirih. Caranya terserah pada kekuatan kita. Kita tidak dapat tahu. setiap sungai akan bermuara ke tanah landai. apakah masih ada tanah datar di seberang pegunungan ini. Dan. yang bermula dari salah satu teluk danau." Dengung suara bangkit di tengah kelompok lebih gemuruh dari tadi. Wajah Raja Panggonggom memancarkan sinar kemarahan. Penjaga ini tidak senang pada orang yang berani melintas di sana. Pegunungan ini berlapislapis. supaya kita tidak melintasi dan melewatinya. Karena itu. Lalu katanya dengan suara perlahan tapi pasti: "Menurut cerita nenek moyang. Habis perkara. karena mengganggu ketenteraman para dewata yang tidak tampak oleh mata kita. Tapi. kita harus mempertahankan tiap jengkal dan tiap tapak tanah yang kita pusakai dan kuasai. Datu Bolon itu lebih merasakan. yang menjelma menjadi binatang buas. kita akan mengikuti sungai. kemudian wajah para lelaki. Setiap orang jadi merasakan. Kutuk dewata akan tiba. dikenal bernama Datu Bolon Gelar Guru Marla-sak. Dan." Ronggur tidak langsung menyahut. bagaimanapun. Siapa yang mau membunuh diri dengan pekerjaan sia-sia itu? Karena itu. beralih pula pada wajah pemuda sebayanya. "Sungai Titian Dewata. T iap puncak dijaga para dewata. Sambil meludah merasa jijik atas ucapan Ronggur. Ronggur sudah memancing kemarahan para dewata. yang dituliskan pada pustaka.

" Sikap Ronggur masih mau berbicara lagi. kita tidak dapat mengikuti Sungai Titian Dewata bila hendak mencapai tanah landai. Lihat. Gong sudah tidak dipalu orang lagi sehingga ratap perempuan dari Sopo Bolo tambah jelas kedengaran. terutama pula setelah suruhan kita diusir oleh marga yang membunuh Ama ni Boltung itu. Tapi. Darah Ama ni Boltung masih melekat di sini.Tapi. Jadi. Sungai Titian Dewata. pisau yang tergenggam di tangan kiriku ini. kalau kita tidak menuntut balas. Orang tambah merasa dipermainkan Ronggur. "Kita tadi dengan sengaja telah membuka satu percakapan yang cukup panjang. Karena kita tidak mau disebut orang murtad. berakhir di ujung dunia. orang yang dikutuk arwah nenek moyang. dengan sikap bijaksana yang melekat pada Raja Panggonggom. jalan arwah kita kelak ke dunia lain. kalau kita tidak menghapus corengan arang yang di buat orang di wajah marga kita. dia dapat mengatasi luapan marahnya. agar hidupnya di dunia lain itu berbahagia. Tempat terhormat. agar dia duduk. Sengaja diciptakan dewata untuk Titian Para Dewata menuju matahari. saat ini. percakapan itu tidak langsung penyebab kita kumpul di sini. Anakku! Sungai Titian Dewata itu lain dari sungai biasa. Alangkah sia-sia. Karena perintah itu. lalu mengatakan: "Ronggur. suatu kemurtadan. Tidak memberi kesempatan bicara lagi. Tapi. masih basah malah. Raja Panggonggom memberi isarat. memendam semua yang ada di dalam hati. sidang kerajaan hari ini memutuskan: mengumumkan perang dengan marga yang membunuh Ama ni Boltung!" . ke hidup lain. di mana para dewata dan arwah nenek moyang bersemayam di sekita/ Mula Jadi Na Bolon. tempat Mula Jadi Na Bolon bersemayam. Raja Panggonggom kembali berbicara. tiba ke sana. Sungai Titian Dewata. Hendaknya. kau masih terlalu muda. Ronggur harus duduk. semua rakyatku.

Padamu sekarang terletak tugas untuk menghapus corengan arang dari wajah kita masing-masing. mulai ma lam ini. tunjukkanlah kehulubalanganmu. Sedang Raja ni Huta. Mereka sekarang sedang menyiapkan segala sesuatu mengumpulkan . Janganlah siasiakan segala bantuan ini! Jadi. Raja Namora." jawab serentak. "setelah mengebumikan mayat Ama ni Boltung besok pagi. dari kampung sekitar. rampas. kampung yang didiami marga kita juga sebagai kampung perluasan. akan dikerahkan Raja Ni Huta menyediakan batu sungai peluru ambalangmu. Tangkaplah mereka di mana saja berjumpa. Raja Partahi. Wajahnya lebih tegas dan ganas dari Raja Panggonggom.!" para lelaki dan pemuda bertempik sorak menyambut putusan raja. lalu jadikan kampung perluasan bagi marga kita! Tawan rajanya! Jadikan budak setiap keturunannya . seluruh hulubalangku. Tunjukkanlah kebe-ranianmu. ." kata Raja Nabegu selanjutnya. . Raja Nabegu berdiri. dapat menerima dan mendukung putusan ini?" "Kami akan laksanakan dengan gigih. Sewaktu dia berbicara. Suaranya deras mengalir dan mengguntur: "Para hulubalang. pendukung kehormatan marga. "Apakah seluruh rakyatku. Raja Partahi. . Setelah Raja Panggonggom duduk. sehingga suara ratap perempuan tenggelam. akan membantu para hulubalang marga dari bidang masing-masing. akan menyediakan makanan bagimu. Rapat kerajaan hari ini. wajahnya menjadi merah dan matanya menyinarkan cahaya marah yang tidak terpadam-kan. diumumkan awal peperangan dengan marga yang sangat angkuh itu. . sebentar lagi akan berkumpul di sini. akan menyediakan alat peperangan untukmu. dan Raja Ni Huta. Bunuh kalau melawan. ."Huraa . "Para perempuan. Raja Namora.!" Kelompok kembali bersorak. . Musnahkan kampungnya.

bagus. Menatap bala tentara yang sudah penuh semangat. aku akan turut melaksanakan tugas. Raja Panggonggom lalu mengatakan: "Bapa Paru Bolon Gelar Guru Marlasak. Ronggur menundukkan kepala. Apa sekalipun!" "Bagus. Panggillah para dewata agar memberkati seluruh laskar kita. "masihkah kau seorang pemuda?" "Seperti tampak Paduka Tuan. beberapa mayat bergelimpangan di tanah. "Kau Ronggur!" tegur Raja Nagebu. "Ada di antara kalian yang tidak setuju dengan perintah ini. Raja Partahi dan Raja Namora sudah menyisih dari khalayak ramai. Walaupun usulku ditolak. Perbaiki perisaimu!" Lalu. bisa . dia kembali duduk. Raja Panggonggom kembali berdiri. sebagai pemuda marga. Pergi menyembelih beberapa ekor babi dan mengeluarkan alat perang dari tempat simpanan. asahlah kapakmu! Tajamkan mata tombakmu! Perkuat tali ambalangmu." Kelompok kembali bersorak dan bertepuk tangan. Tenunglah dengan kekuatan batinmu! Panggillah para arwah nenek moyang melalui kekuatan sihirmu agar mereka membantu kita dalam peperangan. Sedang Raja Ni Huta telah menyediakan peralatan gondang. sudah tergambar darah merah basah menetes dari tiap tubuh. adik-adik kita yang setia." "Ya. Pada bayang pandangnya.pasukan untuk membantu kita. Mereka." "Kalau kau pemuda. dengan putusan sidang kerajaan ini?" Tidak ada sahutan. tentu kau akan melaksanakan tugas pemuda. lengkap dengan pemain. Supaya kita berada di pihak yang menang.

Tangan yang dua. Kemudian bersemadi entah beberapa lama. Habis itu. dirapatkan dikening. Di saat itu. memberi hormat pada arwah halus yang tadi dipanggil. Setelah memberikan tanda. dan supaya semangat terus mengapi tanpa mau padam sebelum musuh ditundukkan. bersiap-siap mau manortor." Datu Bolon Gelar Guru Marlasak berdiri.mengalahkan musuh. dijadikan budak belian. Kemudian. datanglah bersama kami bapak pargaul pargonci. Datu Bolon meminta agar dimainkan pula gondang Mula jadi na Bolon sebagai penghormatan yang mutlak terhadap pencipta asal kehidupan dan yang kepadanya akan kembali segala yang hidup. bersujud. telah kembali duduk di tempat semula. mahluk halus penjaga tanah yang tidak dapat dilihat mata semangat poyang tujuh keturunan kupanggil kau. Cepat pula diiringi Gondang . Raja Partahi. gondang somba-somba. duduk bersila di atas tanah. ludahnya yang merah karena mengunyah sirih. tempat kerajaan baru khalayak ramai. Kepala mereka menunduk-nunduk. Datu Bolon menemani mereka membasmi musuh. Maju ke tengah khalayak dan di sana membuka parhalaan. Orang pada berdiri. Datu Bolon meneriakkan dengan suaranya parau: mahluk halus penjaga rumah. Di belakang Datu Bolon. Raja Namora. mulai berdiri. Kemudian membaca jampi-jampi. dan Raja Ni Huta. palulah gondang somba-somba Gondang pun dipalu. disemburkan ke sekitar. mulutnya bergerak-gerak.

lalu menyuruh mereka mereguk darah ayam yang masih mentah itu. sampai kepada kemenangan akhir. agar Dewata Bataraguru memberi kekuatan jiwa bagi mereka dalam menghadapi musuh. Lalu Gondang Debata Sori mengikutinya agar dewata Sori memberi kebijaksanaan bagi para hulubalang dalam menyusun strategi perang. Dan. Tapi. Gondang Sitio-tio. baik dalam pertempuran. Cepat-cepat dia mendekati kelompok kerajaan. kekuatan jiwa dalam menghadapi saat yang genting. agar Dewata Balabulan. Orang kembali duduk ke tempat masing-masing. sehingga mereka tidak mengenal menyerah. yaitu yang menunjukkan bahwa mereka memang berada di pihak yang benar. Datu Bolon langsung menjampi ayam itu. begitu pula para hulubalang. Habis itu. supaya tiba ke tempat yang dicitakan. langsung dari leher ayam yang dipulasnya. Datu Bolon mengakhiri tortor itu dengan menjampikan pantun kemenangan: Mendaratlah perahu meniti ombak ketanah landai berangkat kita ke medan perang pantang pulang sebelum menang Semua. menyusul Gondang Habonaran." Raja Ni Huta cepat memberikan yang diminta Datu Bolon. baik kerajaan. Sebagai penutup. sehingga menitikkan darah. dima inkan Gondang Husahatan. Lalu menyusul Gondang Balabulan. memurkai dan mengutuk musuh. pasti akan menang.Bataraguru. kemudian mengatakan. dipulasnya leher itu. agar merahmati mereka. Datu Bolon masih di tengah lingkaran. Kemudian. . dan laskar menyambut dengan sorak-sorai dan gemuruh. Melumpuhkan semangat musuh agar tidak berani menghadapi laskar mereka. begitu pula untuk selanjutnya. memohon pada seluruh dewata. memberi keselamatan bagi mereka semua. Kembali sorak-sorai. "Bawalah ke mari seekor ayam jantan putih yang sudah bertaji. Setiap yang berpihak pada kebenaran.

duduk dekat raja. Raja Ni Huta dari kampung sekitar yang masuk pangkat adik. jadikanlah budak belian. Dalam saat begitu. masih muda. lengkap dengan pasukan. Desak mereka sampai ke tepi kampung induk marganya. Meratapi mayat Ama ni Boltung. lalu mengatakan: "Besok pagi bila fajar pertama terbit. telah tiba di sana. hampir tidak kedengaran. Kembali dia bersemadi. Di saat dagingnya belum masak benar. Para laskarnya bersatu dengan laskar yang sejak tadi ada di sana. Seperti tidak tersangkakan. serbulah musuh. gondang dipalu orang perlahan-lahan. Seranglah mereka dari segala arah. Datu Bolon meloncat dari jongkoknya sambil berteriak dan memekik. Di sana bambu duri pagar desa. Ayam jantan putih tadi. kemudian melaporkan bahwa mereka sudah siap sedia melaksanakan perinlah dan pangkat abang mereka.Bangkai ayam diletakkan di tengah kelompok. mereka bakar langsung dengan bulunya sekali ke dalam api unggun. yang berarti ada tujuh kampung lagi masuk lingkungan kerajaan marga itu. sebagai wakil para dewata memakan daging sembahan. di tengah lingkaran. Bunuh kalau melawan atau berusaha melarikan diri!" Orang kembali bertempik sorak. Kucar-kacirkanlah mereka! Tawan setiap lelakinya yang masih hidup! Begitu pula para perempuan. entah berapa lama. Kemudian berdiri tegak lurus. Pada tengah malam. Raja Ni Huta yang pangkat adik itu. Setiap Raja Ni Huta pangkat . Kamu bisa menerobos pertahanan kampung induknya dari arah timur. Di saat begitu ratap perempuan dari Sopo Bolon kembali terdengar. Raja Panggonggom menyambut mereka. Kamu bisa menyusup dari sana ke tengah kampung tanpa dihalangi duri bambu yang rapat dan keras. dengan basa-basi kerajaan. Datu Bolon telah membagikannya pada golongan raja. Raja Ni Huta yang tujuh orang itu. Lalu mereka mengambil tempat.

menyelempangkan ulos-batak ke tiap pundak Raja Ni Huta yang tujuh itu. Lalu. Pertemuan itu tidak bubar sampai pagi hari. memakai bolatan juga. Dalam bergembira itu. terlupa terjun besok pagi ke kancah pertempuran.adik itu. Raja Panggonggom melanjutkan: Tujuh sisiku menghadap tiap penjuru indah mimpiku hulubalang perkasa punyaku Khalayak ramai serentak menyahut: Kami genggam tombak tombak pusaka godang bila raja bersama khalayak bahagia rakyatnya Lalu gondang pun kembali dipalu. Mereka terus margondang dan terus manortor. Raja Panggonggom turun dari tempatnya. Tuak dan daging babi terus dihidangkan sampai hampir setiap orang sempoyongan. tapi warna putihnya lebih kecil dari Raja Ni Huta yang berdiam di induk kampung marga. bersama Raja Nagebu. Para hulubalang. Raja Ni Huta yang tujuh orang itu manortor bersama. Lalu. . Tortor yang menunjukkan kesetiaan. yang diiringi oleh seluruh rakyat yang mereka bawa. telah selesai menyusun strategi dan taktik peperangan sesuai dengan petunjuk Datu Bolon. kedengaran Raja Panggonggom berkata: Rotan ras rotan singorong mengikat keutuhan marga bersatu raja dan hulubalang menjunjung martabat marga Raja Ni Huta yang tertua menyahut: Berbaris kami seperti gajah di hutan balantara perintah raja menjadi suluh kami abdi abadi '.

hardik dan hasutan. Lumpur berhamburan . Dia tahu pasti. orang yang sedang dibius semangat. untuk memasuki nasib yang tidak terduga. Tapi. Mereka dihadang musuh pada sebuah sungai kecil. Dari segala arah kedengaran pekik dan jeritan. Kemudian menurun ke sawah yang baru dibajak. beberapa orang di antara mereka akan jatuh menjadi korban dalam peperangan. Tak ubah seperti kerajaan marga mereka sendiri. menghalau dingin dari tubuh sehingga keseimbangan pikirannya tetap terpelihara. Debu mengepul ke udara di tempat kering. bergerak menuju sasaran. Lengkap dengan Datu Bolonnya. kepala manusia.Ronggur selalu menyisih dan meminum tuak seperlunya saja. Manusia di seberang kali sana pun bertempik sorak. orang yang sedang bernyanyi. semua itu harus ditekan. Wajah manusia itu tak ubah seperti wajah mereka sendiri. Kemudian jatuh mencari sasaran. turut bersama laskarnya. memusnahkan musuh. Di depan sekali berjalan para hulubalang. juga membawa senjata seperti yang mereka bawa. Kemudian kerajaan. Bersama terbitnya fajar pagi yang memancar dari balik puncak Dolok Simanuk-manuk. yang sudah dibius semangat itu. Dia melihat orang yang sedang menari. malah menjunjung putusan kerajaan. Mati! Semua bayangan kemungkinan ini mempengaruhi pikiran dan perasaannya. Jarak antara kedua pasukan itu dipisah sebuah sungai kecil yang airnya dangkal. Sambil bertempik dan bersorak. Mengisi seluruh lapangan terbuka. berterbangan di udara. yang punya tanah tipis dan di bawahnya batu alam yang keras. semangat usul itu tetap berakar dalam hati. mendendam. Dia harus turut. para lelaki yang marah itu. Pasukan dari marga lain itu. marah. Batu yang dilemparkan ambalang. Di sayap kanan dan kiri para laskar. Mengacungacungkan senjata tajam. Usulnya ditolak! Tapi. Seolah matahari mau membakar setiap tubuh manusia dan bumi. Kerajaan dari marga lain itu. Bercampur baur dengan udara yang terik.

lalu mengotori wajah manusia di tempat basah. Tempik dan sorak, pekik, hardik, dan hasutan terus menerus bergema. Pasukan kedua marga yang sedang marah itu, sorongmenyorong. Tidak ada yang mau kalah. Jarak antara keduanya bertambah dekat. Ambalang tidak digunakan lagi. Langsung tombak, panggada, dan kampak dipukulkan dan ditangkis perisai. Siapa yang jatuh, jatuh tersungkur tanpa diperdulikan, malah menimbulkan kegembiraan bagi orang yang dapat merubuhkannya. Kedua pasukan marga itu sudah sama-sama terjun ke dalam sungai. Di sana mereka bersicucukan, bersihantaman, dan bersipu-kulan dengan segala macam taktik dan cara. Matahari terus bersinar terik. Pasukan kedua marga itu sama banyak, sama kuat, dan sama berani. Sehari itu keadaan pertempuran tidak berobah. Beberapa orang yang luka di bawa ke garis belakang oleh para perempuan. Beberapa-orang yang mati dibawa ke garis belakang juga, tapi tidak sempat ditangisi. Anak-anak pun sudah turut serta. Mengumpulkan batu, yang segera diberikan pada para lelaki pemegang ambalang. Tapi, batu itu tidak sempat lagi dilemparkan dengan ambalang, langsung dilemparkan tangan. Dan terkadang tidak jarang, anak itu turut terjun ke tengah pertempuran untuk memukul atau dipukul. Bila senja tiba, kedua pasukan marga itu saling meninggalkan daerah pertempuran. Mereka disambut gendang dan tortor para orang tua, para perempuan, para gadis di induk kampung. Daging babi, tuak, terus diedarkan membakar semangat bertempur. Datu Bolon terus-menerus menjampi. Lalu, memberi nasihat baru. Dan, bila fajar terbit lagi, mereka kembali terjun ke daerah pertempuran. Di tengahnya, Ronggur mengamuk ke kiri dan ke kanan. Ronggur bersama beberapa pemuda menyusup ke depan, berusaha mengkucar-kacirkan daerah musuh. Susupan

mereka ini cepat diikuti gelombang kedua, ketiga, dan keempat, yang membuat pertahanan musuh tembus. Musuh kelabakan. Tapi, yang hendak dikucar-kacirkan itu, tidak mau menyerah begitu saja. Mereka juga mengadakan perbaikan pada pertahanannya dengan cepat. Lalu mengadakan pukulan balasan. T api, pasukan marga Ronggur mengadakan desakan yang terus-menerus, bertubi-tubi, sehingga garis pertahanan musuh mulai dipukul mundur. Sampai akhirnya mendekat ke kampung musuh. Malam itu pasukan marga Ronggur tidak kembali ke induk kampung. Mereka terus mengepung induk kampung musuh. Pagi berikutnya pasukan marga Ronggur menyerbu induk kampung musuh dari sebelah timur, seperti yang dinasihatkan Datu Bolon. Melalui bambu duri yang masih muda, mereka menerjang ke tengah kampung, dengan pekikan yang melengking. Dengan segala tenaga yang ada, marga yang diserbu itu mengadakan perlawanan. Ikut sudah para perempuan, baik yang tua begitu pula yang masih gadis. Tampaknya tidak akan habis perlawanan itu sebelum mereka mati semua. Mampus semua. Dari tempat ketinggian, sekali waktu Ronggur melihat, anak gadis Raja Nabegu kampung yang mereka serbu, turut mengadakan perlawanan. Rambutnya yang panjang terurai lepas. Dibasahi oleh keringat. Dilihat biji mata Ronggur sendiri, sudah ada dua tiga orang pasukan marganya ditumbangkan anak gadis itu. Dengan satu loncatan jarak jauh, Ronggur sudah berada di hadapan perempuan itu. Mata perempuan itu memancarkan sinar merah, mengapi, hendak menelan Ronggur bulat-bulat. Perempuan itu memukulkan penggada ke arah Ronggur. Tapi, Ronggur mengelak dengan melompat, dan peng-gadanya sendiri mengenai tengkuk perempuan itu sampai jatuh ke tanah. Dalam hati Ronggur berucap “Sungguh perempuan pemberani!"

Juga, sekali waktu menumbangkan seseorang yang sedang membidikkan tombaknya ke arah Raja Panggonggom marganya. Sewaktu Raja Panggonggom dan pengawalnya ke arah lain. Cepat Ronggur menyergap orang itu. Tapi, tangannya sendiri, lengannya, luka. Namun musuhnya dapat ditumbangkannya dengan menghantamkan penggada ke kepala musuh. Otak meleleh dari luka. Raja Panggonggom melihat ini semua. Luka di lengannya cepat dibalut Ronggur. Lalu terjun lagi ke tengah pertempuran yang dahsyat itu. Asap pun mulai mengepul. Rumah sudah mulai dibakar. Padi dari lumbung desa diangkut, juga harta rampasan perang. Para lelaki yang belum mati, begitu pula para perempuan yang belum mati, ditawan. Untuk dijadikan budak belian. Yang sampai keturunannya kelak akan tetap dan tidak bisa terangkat dari martabat budak. Tidak akan berhak lagi mengadakan pekerjaan adat. Harus patuh setiap saat mengerjakan apa saja yang diperintahkan tuannya. Kampung berdekatan dengan induk kampung itu sudah dibakar. Perang sudah berakhir. Kekalahan dipihak marga yang diserbu. Para rakyatnya yang masih hidup sudah ditawan, dirantai. Ronggur teringat pada perempuan yang ditumbangkannya. Cepat dia menuju ke sana. Keringat melelehi seluruh tubuhnya. Entah kenapa hatinya mengharapkan agar pukulannya hendaknya tidak terlalu keras. Dia mengharapkan, hendaknya perempuan itu masih hidup. Dia mau menawannya. Merasa bersyukur dia, perempuan itu masih merintih. Cepat dia mengambil air lalu diusapnya wajah perempuan itu dengan air. Kemudian diberinya minum. Didengarnya suara gadis itu perlahan mengatakan:

Sampai mati!" margaku. abang mereka yang pulang dari peperangan sebagai pemenang. para perempuan. Dia dapat menghargai keberanian dan semangat perlawanan yang dipunyai perempuan itu. Diusahakan agar tidak mengganggu kegembiraan para pahlawan yang menang perang. Tangan menarik para tawanan. Nanti akan dibagi-bagikan pada tiap keluarga. Ronggur menarik tali yang mengikat perempuan yang ditawannya. Ronggur tersenyum saja dan terus menarik tali dengan tabah. seperti sudah turut lesu menyaksikan peperangan yang baru saja berakhir dan banyak menimbulkan korban. tidak dikunjungi anak lelakinya lagi. dan lelaki yang luka menyambut mereka. karena mati dalam pertempuran. hai lelaki Pertahankan martabat marga kita."Aku harus bersama kalian. Matahari sore dengan lembut memancarkan sinar. Lebihnya akan dimasukkan ke dalam lumbung desa. Dengan pekik kemenangan pasukan laskar marga Ronggur menuju pulang ke induk perkampungan. dan dendam. Begitu pula anak-anak yang masih digendong. Ronggur tersenyum mendengar rintihan itu. Di gerbang kampung. Agar tidak mengotori rasa gembira pada Mula Jadi Na Bolon dan seluruh para dewata serta arwah nenek moyang. Perempuan itu selalu meronta dan ingin melepaskan diri. disuruh ibunya melambaikan tangan ke arah ayah. lelaki yang sudah tua. karena mereka telah . Sambil melangkah mereka lagukan nyanyi kemenangan. terutama pada keluarga yang suaminya atau anak lelakinya jatuh sebagai pahlawan di medan laga. Sebagian disuruh mengangkut harta rampasan. air mata. Sedang para perempuan yang tidak dikunjungi suaminya lagi. pergi bersama ke Sopo Bolon mengasingkan diri dari orang yang sedang bergembira. Di sana mereka meratap dengan lemah. Menjadi sumber rintihan.

Dikatakan pula. mencabuti rumput sawah bila saatnya tiba. Upacara kemenangan pun diadakan. Harta rampasan dibagi. Raja Ni Huta induk kampung musuh yang ditaklukkan itu.dipilihnya menjadi pemenang. kehendakmu!" Ronggur memohonkan agar padanya diberi kekuasaan untuk terus menawan tawanannya. dengan suka rela dimintakan pada setiap orang yang mau pindah ke kampung yang ditaklukkan itu. dalam pertempuran kau telah menyelamatkan nyawa kami. Permintaan itu dikabulkan. Sawahnya akan diambil dan dibagibagikan. Dia anak tunggal. dikuasakan pada Ronggur. akan dijadikan kampung perluasan bagi marga mereka. menjadikannya sebagai budak untuk membantu ibunya yang sudah tua mengerjakan urusan rumah. Justru karena Ronggur tidak punya adik perempuan. Baik yang sudah mati begitu pula pada yang masih hidup. ditunjuk beberapa orang yang cukup berjasa menjadi Raja Ni Huta. karena dia belum berumah tangga.Beberapa ekor babi dipotong lagi dan darahnya diminum bersama. Katakanlah. ditunjuk . Jadilah kemudian kampung itu menjadi kampung perluasan marga. jadi belum cukup dewasa dalam peralatan adat dan hukum. Pada tiap kampung sebagai pelaksana adat dan penyelenggara hukum. . Raja Panggonggom melirik secara khusus pada Ronggur. Sebagai penutup upacara Raja Panggonggom mengucapkan terima kasih pada seluruh laskarnya. Sekarang giliran kami membalas jasamu yang besar itu. "Ronggur. Tapi. yang dengan sendirinya mengangkat martabat marga dan raja mereka. lalu. Pun. Diizinkan mereka mendirikan rumah di situ. Sendirinya pula daerah taklukan mereka bertambah luas. Yang harus tunduk ke induk kampung. Tanah persawahan rampasan juga ditentukan jatuh ke tangan siapa. Kampung marga yang mereka kalahkan. Gondang dipalu dan tortor kemenangan ditarikan orang bersama-sama.

Orang selalu menyebut atau . Untuk beberapa hari. Di sana sini Ronggur mendengar orang mengatakan: "Dengan cara beginilah kita harus menguasai tanah persawahan subur yang ada di sekitar danau untuk melanjutkan keturunan. cepat dilupakannya. orang masih tetap dipengaruhi suasana kegembiraan menang perang. menjadi tokoh keberanian dan ketangkasan serta kesetiaan termasuk nama Ronggur sendiri. sehabis pesta kemenangan itu cepatcepat mengerahkan rakyat yang suka rela pindah ke induk kampung musuh yang dikuasakan padanya." Beberapa orang ampangardang. Memang dia sudah menjadi Raja Ni Huta Muda dan Hulubalang Muda.seseorang menjadi walinya. Membangun perumahan baru di atas puing-puing reruntuhan. Sebagai gantinya diberikan kepadanya sawah yang dulu dimiliki Raja Nabegu dari marga yang mereka kalahkan. Beberapa nama pahlawan timbul. baik dari marga sendiri begitu pula dari marga lain yang masih banyak bertabur di sekitar danau. Oleh tugas yang banyak dan memang dia sendiri ingin cepat melupakan saat menanjakkan marganya ke tingkat yang lebih tinggi dan meningkatkan kedudukan dirinya sendiri. Mereka tebarkan dari mulut ke mulut sambil memetik kecapi. Pesta kemenangan dilangsungkan tiga hari tiga malam. yang disetujui Ronggur sendiri. Ronggur dikenal orang sebagai Raja Ni Huta Muda merangkap Hulubalang Muda. Tapi. Walaupun pesta sudah selesai. orang tidak berani lagi atau tidak wajar lagi menyebut nama kecilnya. Sawahnya yang ada dekat induk kampung marganya diserahkan pada kerajaan. ingatan orang masih tetap terpaut ke sana. menghapal jalannya pertempuran lalu memindahkannya ke bentuk yang dapat dinyanyikan. Sejak hari itu. Ronggur sendiri.

Bila bulan purnama. sudah ditumbuhi rerumputan hijau. Darah yang tercecer ke lumpur sawah sudah bercampur baur dengan tanah menjadi pupuk di musim mendatang. Anak lelaki diajar membaca dan menulis huruf Batak. pada mereka sampai juga berita dari sekitar danau: marga anu berperang dengan marga satu lagi. Tapi. Yang membuat ingatan orang sudah menipis pada peperangan yang baru lewat.memanggilnya dengan Raja Ni Huta Muda dan Hulubalang Muda. memencilkan diri ke tanah tandus di kaki bukit. Para gadis belajar memintal benang dan bertenun. pengganti yang mati dalam peperangan. Tidak tampak lagi warna merahnya. Kuburan yang digali tempat abadi bagi orang yang mati. Saat yang baik bagi pemuda pergi martandang ke kampung paman mencari jodoh. Tapi. Orang yang kalah dijadikan budak. Masa merumputi sudah lewat. dan menerima datangnya partandang. Sumber malapetaka tetap sama: air parit dan batas tanah. menjadi orang . menumbuk padi di halaman perkampungan sambil bernyanyi. Pekerjaan orang kembali senggang. Juga mereka diajari memanjat pepohonan tinggi supaya tidak gamang. Cerita kepahlawanan disampaikan pada mereka. diajari menggunakan senjata. ccdw-kzaa 2 Rumah baru sudah berdiri pengganti rumah yang dulu terbakar. Jumlahnya lebih banyak malah. yang sempat melarikan diri. Yang agak besar. Lambat-laun kehidupan kembali tenang. Padi di sawah sudah bunting. Anak-anak sudah ada berlahiran. Lu hak anu berperang dengan luhak satu lagi.

dan berburu bersama anjingnya si belang. . Dan. Dia boleh pergi ke padang-padang luas. Bila temannya sebaya sudah banyak berumah tangga.buruan. Dia masih tetap memandang dan memperlakukannya sebagai manusia yang punya hak. masih merasa kecil dia menurut anggapannya. Di sana dia menghabiskan hari. merasa senang juga. keyakinan yang digenggamnya ini belum berani dia menyampaikannya pada orang lain. Walau sudah sering diminta ibunya. dia masih tetap menampik. mengembara. Tak ubah seperti kebebasan yang ada pada orang merdeka. Ronggur tidak merasa kuatir kalau budaknya itu melarikan diri. ketenangan yang sekarang dikecap marganya masih tetap mengandung sesuatu kemungkinan yang menakutkan. Padanya tetap diberikan Ronggur kebebasan bergerak. Karena itu. Perlakuannya pada wanita tawanannya berbeda dengan perlakuan orang lain yang punya budak terhadap budak masing-masing. bagi Ronggur. wanita tawanan itu. Dia yakin kalau memperoleh perlakuan yang baik budak itu tidak akan melarikan diri. Karena memperoleh perlakuan yang baik itu. Orang buruan ini membuat rumahnya di dinding bukit dan gua. akhirnya Tio. justru karena gadis yang sebaya dengannya dari suku Ronggur tidak mengawaninya. dia lebih banyak menyendiri. Tapi. melawan tradisi yang sudah tertanam dan berurat akar di hati manusia yang ada di sekitarnya. Jadi. Setiap warta pecahnya perang antara satu marga dengan marga lain selalu membuatnya berduka. Namun perasaan terpencil tetap menguasai diri Tio. Ini jugalah yang mendesaknya agar setiap hari pergi jauh dari kampung ke tempat terpencil yang jarang dikunjungi orang. dia belum. Masih merasa takut dia.

akan mengejarnya ke mana saja. sesuatu keinginan selalu timbul di dadanya. Seolah elang itu datang dari balik gunung dan hendak kembali ke balik gunung. Dengan lahap Ronggur akan memakan daging binatang buruan itu. Pertanda elang itu akan hinggap belum ada walau mendekat ke kaki bukit. Terkadang harus berlari kecil mengikuti elang yang terbang di atas. Dapat dipastikan Tio bahwa . elang itu mengadakan putaran. Di hatinya timbul niat. Ronggur lelaki yang paling jahanam. Merasa kurang enak baginya untuk menghianati seseorang yang menghormati dirinya'dengan sewajarnya. dengan lemparan ambalanganya yang deras. Tio dapat mengetahui tempat seekor pelanduk bersembunyi. Ronggur tidak segan-segan melemparkan pujian yang menurut perasaan T io terkadang terlalu menyanjung. yang dibakar dan dipanggang. tempat kawanan burung berondok. Ronggur selalu tertawa lebar bila dia pulang dengan hasil buruan. yang belum pernah ditempuh manusia. Tio sedang mengikuti arah seekor elang terbang. dia harus membunuh elang yang seekor itu. setelah menyambar seekor induk ayam dari kampung. Dia akan dapat ditangkap Ronggur. Kalau lari saja? Ronggur sudah berbuat baik terhadapnya. dia bisa membunuh binatang buruan itu. Berburu bisa membuat Tio asyik. Kemudian membawanya pulang. yang sudah banyak menyambar ayam kampung. Atas bantuan si belang. lalu terus mengikuti arah elang itu pergi. Lagi pula kalau dia lari.Tio menyendiri sampai ke kaki bukit. Dia dibenturkan kembali pada kenyataan bahwa dia bukan orang merdeka. Hari itu. Dari situ dia dapat melihat danau di bawah. Dengan mata tombaknya yang pasti arahnya. Matanya terus-menerus menangkap elang hitam yang terbang. Namun keluh akhirnya mematikan keinginan itu. Dan. Pertanda elang itu mau hinggap. Di saat putus asa mulai mencekam hati. ingin pergi jauh. Berkeliling pada satu lingkaran.

Dan. Ronggur sudah ada di hadapan Tio. Hulubalang Muda. Langsung tertancap ke dada elang. Lalu melepaskan peluru. Sayang sekali peluru ambalangnya hanya mengenai buntut elang. Ronggur memanggilnya agar datang mendekat. Bersama senyum kemenangan.pohon yang tinggi lagi rimbun dedaunannya. dari arah lain sebuah tombak terbang cepat. Cepat dia mengayun ambalangnya. Mau terbang. Tapi. di mana batang pohon besar itu tertancap ke tanah. "Muncung tombakku tertancap di dadanya. Elang itu cepat menukik ke bawah setelah mengadakan putaran entah beberapa lama. "Lihat. Elang itu jatuh ke tanah bersama gelepar lemah. waktu itulah. Elang itu mengikutkan sambarannya ke bawah. Saat yang baik itu tidak dilewatkan Tio." Tio masih terpaku pada tempatnya. di situlah sarang elang itu. kenapa peluru ambalangnya tidak mengenai dada elang jtu. Karena terkejut elang itu buru-buru mengepakkan sayapnya. pada salah satu dahannya. gelepar akhir. Elang itu mengarah ke lembah. Suaranya halus dan menggetar. Merasa malu akan ketololannya. sambarannya jatuh ke tanah. Baru dia bergerak. Si belang sudah mengerti bahwa mereka sedang mengadakan perburuan. kepaknya mengenai salah satu dahan. Tio terus mendekat menuruni jenjang lembah. ." sahut Tio. Lalu. Seketika napasnya serasa terhenti melihat peluru ambalangnya mengenai sasaran atau tidak. Atau." kata Ronggur. Wajah Tio menjadi merah padam dan merasa kesal bercampur malu. Ronggur berkata: "Sudah mampus penyambar ayam yang paling jahanam ini." "Aku tahu. kenapa dia tidak menggunakan tombaknya? Sebuah tawa meledak di antara rimbunan ilalang. Si belang berlari cepat ke tempat suara itu bersumber.

Ronggur menatapi T io lama-lama hingga T io menundukkan kepala menatap tanah. Dan. Walau sesuatu rasa menggelusak dalam dada. Si belang sudah memagut tubuh elang dengan muncungnya. matanya. Ronggur menjauh. Lalu. katakan aku yang menyuruhmu. "Bukankah itu menurunkan derajat Hulubalang Muda?" "Sama sekali tidak! Kau harus melaksanakannya!" "Bagaimana nanti kalau didengar orang kampung dan ibu?" "Peduli apa dengan mereka? Sebut namaku." "Hulubalang Muda terlalu melebih-lebihkannya. Buntut elang kena membuat elang tidak bisa cepat terbang. belum tentu muncung tombakku bisa tertancap di dadanya." kata Ronggur seraya memegang bahu anak gadis itu. Di saat itulah aku mengayunkan tombakku." Tio tambah tertunduk. habis perkara. tapi masih diusahakannya mengatakan. Wajahnya memerah. Yang mengurus mereka ialah aku." Pundak Tio cepat turun naik. Sebutlah namaku. peluru ambalangmu sangat deras dan bagus arahnya. Membawanya ke dekat mereka berdua." sahut Tio. "sejak saat ini kuminta. agar kau tidak memanggil aku dengan sebutan Hulubalang Muda atau Raja Ni Huta Muda lagi. "Tapi. Kalau mereka menegur kau. "maukah kau berjanji akan melaksanakan permintaanku?" "Aku sudah ditakdirkan akan melaksanakan sebaik mungkin segala perintah Hulubalang Muda. Ronggur. kau Tio. si belang memagut ayam yang . Si belang kembali menjauh. "Itu yang sebenarnya." "Dengarkan baik-baik. lalu." mata Ronggur lama menatap wajah gadis itu. Cukup begitu. Kalau buntutnya tidak kena ambalangmu.

Perutnya terasa kenyang. Si belang masih mengunyah tulang belulang elang dan ayam yang diberikan kepadanya. Dibersihkannya perut kedua binatang itu. mulai membakarnya lengkap bersama bulu-bulunya. Tidur di ujung kakinya. Tio duduk melihat si belang. mulutnya tidak dapat lagi dikuasainya untuk tidak menyanyikan sebuah lagu. Lalu. Dagingnya tentu enak dimakan. Lalu. keluarkanlah isi perut elang dan ayam ini." Tio berlari kecil membawa elang dan ayam itu ke parit kecil dekat situ yang mengalirkan air pegunungan yang jernih. menjauh lagi. Biar kunyalakan api.disambar elang tadi dan membawanya ke dekat Ronggur dan Tio. Yang kemudian mendekat kepadanya sambil mengibaskan ekor. Matahari bersinar keras. Mata Ronggur agak mengantuk. Kemudian dibawanya ke tempat Ronggur menghidupkan api. berpantun: Sanduduk di kaki bukit di atas batu ditimpa sinar matahari itulah siang melilit bumi sanduduk di kaki bukit di atas batu ditimpa sinar rembulan itulah malam. Cukup terik. Tidak jauh darinya. Lalu. "Tio. redup mengalun saat siang dan malam antara terik dan nyaman . Tio mengelus leher si belang dengan lembut. di bawah pohon yang rindang. Ronggur menelentangkan tubuh di atas tanah batu yang cukup keras.

agar nama Muda dari belakang Hulubalangnya dihilangkan. Tio teringat pada masa kemerdekaannya. itu berarti istrinya nanti akan melahirkan anak. yaitu orang bertambah banyak sedangkan tanah yang dapat digarap masih tetap itu juga. perkampungan demi perkampungan dan berakhir pada tepian danau. Untuk melahirkan anak lagi. Dia merasa takut. pikirnya. akan tiba saat itu. yang mengintai dengan taringnya yang tajam. Di bawah mereka melalui tingkat tanah yang terus menurun. Tentu. Bila persoalan yang mencekamnya itu diluaskan pada keadaan sekitarnya dan dia tambah merasakan marabahaya yang sedang menantikan. meruntuhkan kerukunan kehidupan mereka di tepi danau. pikir Ronggur. Agar langsung memegang Raja Ni Huta di kampungnya. jumlah keturunannya bisa berlipat ganda. Dalam tiga keturunan saja. Matahari tambah lama jadi melemah. Tentu hasil yang dapat diberikan tanahnya akan terasa kurang menghidupi keturunannya.mentari dan gemintang bagi beta tidak berbeda karena hatiku terkenang padamu Ronggur membiarkan Tio menyanyi walau hatinya merasa rawan. Tetapi. Oleh nyanyi T io kembali Ronggur teringat akan permintaan ibunya. Pada suatu saat. ke kampung paman. cepat pula ingatan itu dibarengi bahwa kalau dia berumah tangga. agar dia berumah tangga. Dia disuruh ibunya pergi ke Samosir. lalu kawin lagi. begitu pula atas usul Raja Panggonggom. Kemudian anak ini akan menjadi dewasa. Hasilnya akan terasa atau memang kurang untuk membekali orang yang hidup di sekitar .

apa usaha yang dapat ditempuh untuk melenyapkan ancaman dari masa itu? Ronggur cepat bangun dari goleknya. Tio tetap terdiam dan tertunduk.danau. Yang tidak disangka Ronggur mulanya. tapi pasti. kenapa kau tidak belajar memintal benang dan bertenun? Kau sudah harus mengurangi kegemaranmu pergi mengembara. seperti gadis lain. Betapa berbahagia. kau harus belajar memintal dan bertenun Aku akan meminta izin pada Raja Panggonggom” Pada biji mata Tio menyinar cahaya kegembiraan. betapa bersyukur aku. tidak disadari Tio. Dia selalu memikirkan. "Tio. dia memeluk Ronggur sambil mengatakan dengan kegembiraan." Warna duka membayang di wajah Tio. dan sendirinya pula akan lebih banyak kepiluan dan dendam bersarang di hati manusia. Lalu. dari mulutnya lalu meledak kata. Tio menatap ke arahnya. "Tio. Kau harus belajar memintal dan bertenun. Barulah Ronggur sadar bahwa seorang gadis yang berderajat budak tidak dibolehkan belajar memintal dan bertenun.. Perlahan-lahan. Yang paling baik campuran warnanya” . Ulos yang paling halus raginya. peperangan. "Betul kau bolehkan aku memintal dan bertenun? Betul kau akan meminta izin pada Raja Panggonggom? Aku akan bertenun seperti gadis lain dari margamu ?" "Ya. Dia menakutkan masa itu. Tapi. “Ah. Hal begitu sudah tentu akan lebih banyak mengobarkan perkelahian. aku akan menenun ulos untukmu. akan kuusahakan sampai dapat” Karena gembira. Aku. Ronggur menundukkan kepala. "Ada yang salah?" tanya Ronggur pula. Menenun ulos-batak ialah pekerjaan para gadis yang merdeka. Ronggur mengatakan.

Sampai akhirnya Tio sadar sendiri. Dari sana jelas tampak oleh mereka lengkungan tepian danau. itulah jaluran sungai. Lalu. "Tio. lalu dengan suara pasti dia mengatakan." kata T io. Matahari bertambah lemah sinarnya." Mereka mendaki tanjakan bukit sampai tiba ke pundak pertama. Beberapa saat terdiam. "Dapat. Dapat kau lihat dan perhatikan garis putih itu?" tanya Ronggur. Kembali dia dihadapkan pada kenyataan. sungai itu berakhir ke ujung dunia. "Tio. lalu menghilang atau seperti masuk menyusup ke perut pegunungan sebelah timur. mari ke pundak bukit pertama. tidak akan kembali lagi. sungai itu jalan arwah kita kelak. Barang siapa yang berani me layari sungai ke muara atau berusaha mencapai muara. Ada yang hendak kutunjukkan padamu. Pada salah sebuah teluk dapat diketahui Ronggur bahwa di situlah bermula sungai Titian Dewata. Ronggur diam saja melihat perubahan kelakuan Tio itu. . Tapi. Arwahnya akan dikutuki dewata." sahut Tio. Karena jatuh ke tebing ujung dunia. Telunjuknya mengarah ke teluk itu sambil mulutnya mengatakan. Sedang matanya dengan mesra menancap ke biji mata Tio. Begitu pula akhirnya Ronggur. di sanalah bermula sungai T itian Dewata." "Menurut cerita orang tua. Tio menundukkan kepala perlahan-lahan. Ronggur menatap ke sekitar." "Aku tahu." "Garis putih yang membelah dada persawahan yang sedang menghijau. melepaskan pelukannya perlahan-lahan.Ronggur membiarkan Tio begitu. menuju tempat Mula jadi Na Bolon. Tidak terik lagi." "Tahu juga aku. "aku sudah pernah dibawa almarhum ayah dan ibu ke sana.

janganlah marah padaku. Aku tidak mengatakan yang lain." "Begitu menurut cerita mereka. lain dari sungai yang lain. memang begitu. Terus menatap ke arah sungai. juga sungai ini." "Entah bagaimana. sungai Titian Dewata berakhir ke ujung dunia. Sering sekali." "Menurut cerita yang ada di sana. Buktinya sampai sekarang tidak ada orang yang berani melintasi daerah yang telah ditentukan. aku berpendapat bahwa sungai itu pun akan tiba ke tanah landai yang subur." "Kepercayaan yang diwariskan kepada kita mengatakan. juga sudah kuselidiki dalam pustaka yang tua bahwa sungai itu tidak ada dikatakan berujung di akhir dunia. kau pun sependapat dengan mereka. sampai ke mana bisa seseorang nelayan menangkap ikan. Ada apa kiranya?" "Apakah kau tidak bisa punya pendapat sendiri?" "Apa maksudmu?" "Apakah kau tidak sering membaca pustaka di rumah ayahmu dulu?" "Sering." "Ya." dapat . setiap sungai menuju tanah landai dan subur." "Kalau begitu.Ronggur diam seketika. Aku bisa membaca dan menulis dengan baik. Ronggur mengaju tanya padanya: "Apakah kau juga sependapat dengan mereka bahwa sungai itu berakhir di ujung dunia itu?" "Begitulah kata mereka. Sedang Tio melirik ke biji mata Ronggur yang menyinarkan sesuatu arti.

daerah perluasan. setiap tahunnya bertambah sempit. Tio menjadi takut pada ucapannya itu." kata Ronggur. "apakah kau berniat hendak melayarinya membuktikan kebenaranmu?" Tapi. Yang berarti bunuh diri. "Tapi. Kebebasan akan benar-benar direnggutkan orang. Tidak ada yang berkata. Arwahmu akan tidak diterima dewata. Ronggur cepat pula mengatakan: "Dengar dulu yang kumaksud. Dia mengharap dapat menggagalkan maksud Ronggur dengan ancaman begitu. Aku mau berusaha mencari tanah garapan baru." "Itu berarti bunuh diri. angin sore yang nyaman." lanjutnya pula. Perasaan takutnya tambah mencekam." sahut Ronggur tanpa memperhatikan wajah Tio yang menjadi pucat. Dia akan jatuh ke tangan orang lain yang pasti akan memperlakukannya sebagai budak biasa. setiap tahunnya manusia yang hidup di sini yang memerlukan tanah garapan bertambah banyak juga? Akhirnya tanah yang tadinya terasa luas. "tapi. sungai itu pun sama dengan sungai yang lain. Dia takut kalau Ronggur benar-benar melayari sungai itu. Tahukah kau Tio bahwa tanah selingkar danau ialah tanah subur? T ahukah kau. aku melayarinya bukan bermaksud untuk membuktikan bahwa aku berada di pihak yang benar." . akan terus bertambah sempit. Keheningan mengambang di antara mereka. timbul bisikan dalam hatiku. tanah hubungkasan. Akibatnya akan bertambah banyak pertengkaran yang memungkinkan pecahnya peperangan. Seperti perang antara margamu dengan margaku. T api." potong Tio. aku memang mau melayarinya. "Kenapa kau beranggapan bahwa sungai ini lain?" tanya Tio memecah sunyi. "Sudah lama niat ini menguasai dadaku. "Ya.Ronggur terdiam. Dia akan tinggal di dunia ini. Dan. Angin turun.

aku menemui sebuah danau yang sangat luas. aku diganggu mimpi. Cobalah turut mendengar berita bahwa setelah perang antara margamu dengan margaku selesai. Tio tidak membumbuhi cakap Ronggur yang panjang itu. jauh lebih luas dari . Karena aku merasakan persoalan itu. Orang yang berani dan bertanggung jawab akan masa datang. Dan. harus mulai sekarang memulai kerja ke arah itu. Dibiarkannya Ronggur meneruskan: "Sudah sering Tio. aku mau mengatakan. Ini sudah pasti. bila tanah habungkasan tidak ditemui. akan tambah banyak terjadi. Wajahnya menjadi muram dan sedih. Mimpi menghimbau aku selalu dari tempat jauh. Tidak! Tapi. Mengajak aku memulai perjalanan mengikuti sungai. berani menantang segala cerita yang bersifat menakut-nakuti. karena setitik air parit. dengan berani menantang segala aral-melintang. "Janganlah bersedih. Aku tidak bermaksud membongkar yang sudah lewat. walaupun nyawaku sendiri menjadi taruhannya. yang akan menimpa manusia yang hidup di sekitar danau di hari mendatang. sudah berapa kali lagi peperangan terjadi di antara marga? Kalau tidak salah. Jadi. dalam mimpi itu. Pertengkaran karena setapak tanah. kupikir. Dan. aku harus turut memikul bebannya. Sampai ke mana dia tiba. peperangan itu akan bertambah banyak lagi timbul di masa mendatang. dengan suaranya yang nyaring." Seketika Ronggur berhenti. Dalam mimpi itu selalu aku dibawanya ke suatu tempat yang teduh. marga lain. Tidak bermaksud aku mengingatkanmu ke saat kejatuhan margamu. karena kurasa kau dapat merasakannya. sudah ada tiga gelombang peperangan antara marga satu dengan. sebelum saat itu tiba. Penuh pepohonan dan tanahnya begitu landai. merintis jalan. Berani menantang sesuatu yang dirasakan ialah satu kepercayaan bagi kebanyakan orang.Tio tertunduk. harus ada usaha mencari tanah habungkasan.

" "Tidak Tio. Kau perlu berobat pada dukun. menunjuk tanah habungkasan yang subur padaku?" "Ronggur. tetap sehat dan pikiranku tetap waras." untuk pertama kalinya Tio menyebutnya hingga Ronggur merasakan satu desiran menyinggung hatinya. Tio berbuat begitu. Apakah tidak mungkin. wajah almarhum ayah. "barangkali. Cerita itu.Danau Toba yang kita kenal ini. Tidak seperti tanah di s ini. Kata orang. Merangsangku di saat jaga. Dibiarkan Ronggur. menelungkup di sana. kemudian bertambah merah. Jangan sampai kekuasaan setan tertanam didirimu. arwah almarhum ayah yang datang padaku." "Aku takut mendengar ceritamu. Pada mulanya warna Jingga. Berobatlah cepat-cepat." "Jangan berkata begitu." "Tidak Tio." kata Tio lagi. Dengan suara tersengalsengal. "aku merasa takut! Aku takut!" "Janganlah takut. dia mengatakan: "Barangkali itu godaan setan jahat. Entah berapa lama. lembayung . Wajah orang yang melambai aku dalam mimpi itu dan menuntun jalanku mirip sekali dengan wajahku. mula duka cerita yang akan mendatangi diriku. Aku kau lihat sendiri. memanggil aku. Itu yang selalu menemani tidurku. akan merasakan tubuhnya kurang sehat. tanah tipis yang menyaputi batu alam yang keras. selagi aku di dekatmu. Orang yang digoda setan." "Ronggur." Wajah Tio bertambah pucat. mirip sekali dengan wajahku. itu setan yang menyaru." Tio begitu saja menyandarkan kepalanya yang terhisak ke bahu Ronggur. Sore dengan perlahan beralih pada senja. Tanah yang kutemui dalam mimpi itu begitu gemburnya.

Tapi. Mengikutkan arus Sungai Titian . Dalam mimpiku. "Ceritalah kembali ibu. Sambil menggonggong. tidak terdapat atau dengan sengaja diadakan keharusan bahwa seorang budak harus belakangan makan. Kemudian berlari lagi ke belakang. selalu aku bertemu dengan seseorang yang wajahnya mirip benar dengan wajahku. hati Ronggur tambah digoda perjalanan yang harus dimulainya. Si belang kadang berlari di depan mereka. Tio mengikuti langkah Ronggur yang panjang dan cepat diayunkan. Dia sudah harus mengadakan persiapan untuk perjalanan itu. Karena sakit. Mereka sudah sering pulang terlambat. Dengan cepat ibunya menyediakan makanan dan Tio membantu. mungkin juga mula kelanjutan hidup keturunan. bermarga. yang menurul pertimbangannya masih tetap membawakan sifat dan kelakuan sebagai anak raja. Yang sendirinya menantang dan menghadapi segala kemungkinan. Meruntuhkan satu kepercayaan. Ceritalah karena apa ayah meninggal dulu. Tapi. Orang itu selalu mengajak aku agar memulai suatu perjalanan.tambah jelas. walaupun itu bertentangan dengan adat. Mereka makan bersama. Dan. Ronggur tidak mau begitu. Tari warna bermain di wajah danau. Angin tambah lemah. di riak danau.. mungkin juga satu perjalanan yang akan mengakhiri hidupnya sendiri. Orang yang berpapasan dengan mereka tidak berapa mereka perdulikan. karena kecelakaan dalam perburuan atau . di mana sebenarnya ayah dikuburkan. Ibunya menyambut kedatangan mereka berdua di ambang pintu.. Jadi pada rumah itu. "Ibu.. yaitu memakan sisa tuannya. Pada pikirannya. Mereka menuju pulang. dia sudah memilih teman yang akan diajak turut serta." kata Ronggur sesudah makin seraya melap mulut. Ibunya pun merasa senang pada kelakuan Tio. Sedang ibunya tidak berdaya melawan kehendak Ronggur.

" Ibunya mengangkat wajah. Keheningan menguasai ruang. ibu sudah tua. tempat tinggal Datu Bolon itu sekarang. Bila aku katanya tidak mau melaksanakan permintaannya." "Jangan lagi berkata begitu. Tegak. karena tidak pernah menziarahi kubur ayahnya?" Wajah ibunya tambah jelas memancarkan perasaan ketakutan. ibu tidak mau mengatakan dan aku belum pernah berziarah ke kuburnya untuk meminta doa restu. Ayahmu tidak pernah lagi pulang. yang pulang kemudian. ceritalah. Dan. dikatakan para arwah. Dia yang tahu! Dialah teman ayahmu yang terakhir pergi jauh dari kampung kita ini. Bukankah ibu mengatakan bahwa wa|ahku mirip benar dengan wajah almarhum ayah?" Ibunya tak langsung menyahut. Anakku.Dewata sampai ke muara. anak durhaka. di mana sebenarnya kuburan almarhum ayahmu. Tapi. Tarikan napas yang terputus-putus." "Ibu. aku juga tidak tahu pasti. Kerja yang dimulai di masa hidupnya. Jangan lagi. Kau tentu tahu. aku akan pergi mencari sendiri. Ronggur? Apa katamu?" "Orang itu selalu mengajak aku. "Ibu. Tarikan napas ibunya yang satu-satu lagi dalam jelas kedengaran. Dengan mata terbelalak akhirnya dia mengatakan. agar memulai perjalanan mengikuti arus Sungai Titian Dewata sampai ke muara. katanya akan sia-sia. melesu lagi. Bukankah aku bisa dikatakan orang." . ceritalah. lerpaku mendengarkan. Di mana sebenarnya kubur ayah? Sampai begini besarku. dia akan selalu berduka. Ibu takut mendengarnya. "Apa katamu. hanya bekas Datu Bolon Guru Marsait Lipan. lalu: "Anakku. Kalau tidak. Dan. Pergilah tanya bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan.

Tapi. dia akan pergi memenuhi panggilan mimpinya. yang juga pada wajahnya bergantungan sesuatu ragam perasaan. Kenapa lidahnya terus sefasih itu menyebut nama Ronggur. Dia sadar bahwa yang dihadapinya ialah ibu Ronggur. Dia tertunduk. Tio menggerutu pada diri sendiri. Tidak mau dan tidak dibolehkannya aku memanggilnya dengan Raja Ni Huta atau Hulubalang Muda." "Dia menyuruhmu katakan?" "Benar begitu?" menyebut namanya? Itu kau "Benar. yang tidak boleh menyebut nama tuannya. perempuan itu. aku juga turut merasakan yang Ibu rasakan. Ibu tentu lebih tahu dariku bahwa dia tidak dapat dihalangi. Didengarnya perempuan itu menghardik setelah lebih dulu menarik napas yang panjang lagi dalam: "Berani kau menyebut namanya? Apa kau pikir dia sama derajat dengan kau?" Seolah orang tua itu. Bukankah sudah sifat Ronggur begitu?" "Apa katamu? Kau sebut namanya? Nama Hulubalang Muda kau sebut?" Tio terkejut. Dihempaskan kembali pada derajat yang tidak berharga. Ibunya dan Tio melihat saja. karena marah sudah lupa pada masalah yang sebenarnya dihadapi. panggilan negeri jauh. Bu. Tadi dikatakannya padaku. Bu. memaksa aku harus menyebut namanya." .Setelah Cepat Ronggur bangkit dari duduknya. Dari tunduknya dia menyahut: "Dia yang menyuruh aku. Aku sudah berusaha mencegah. dia terus berangkat. membelitkan ulos ke lehernya. Bukan keinginanku. Kemudian ibu Ronggur menatap Tio. "Ibu.

" Baru kembali ibu yang sudah tua itu teringat akan masalah yang sebenarnya dihadapinya. Napasnya sesak. mereka sudah berada di tanah perladangan yang di petak-petaki tanah yang . Bagaimana kalau tetangga mendengar kau menyebut namanya di depanku? Maukah kau memenuhi permintaanku ini?" "Akan kuusahakan. Tapi. Langsung dia menuju dangau kecil yang terpencil di satu ladang." "Berjanjilah demi dewata. lindungilah anakku dari godaan setan. Dia tak perlu takut karena tergelincir. Di pematang sawah yang kecil lagi licin dia melompat-lompat memilih jalan yang baik. Perasaan marah kembali mencair. sekarang diberinya pula keizinan pada seorang budak belian menyebut namanya. Tapi." Perempuan tua itu serasa dipukul kepalanya dan ulu hatinya. Penuhilah permintaanku ini. Tio. Sudah diizinkannya seorang budak belian makan bersama. si belang mengikutinya. Bu. Ronggur sudah melintasi halaman perkampungan. Jangan lagi sebut namanya." "Aku berjanji. Gelap malam tidak diperdulikan. kemudian menyuruh si belang melompatinya. dengan tersengal-sengal dan berusaha mengangkat kepala. Mula jadi Na Bolon. Menerobos gerbang perkampungan. Bu. Apakah dia tidak . Tidak disuruhnya supaya si belang pulang.tahu tentang martabatnya yang begitu tinggi? O. Tanpa dipanggil. Setelah melompati sebuah parit yang agak lebar." "Tentu Ronggur sudah digoda setan. lalu perasaan takut mencekam dadanya. kau tidak sepantasnya menyebut namanya. lalu: "Aku tahu bahwa perangaimu baik. dia menatap Tio. Dibiarkannya si belang mengikuti."Benar. Dia kenal pada jalan itu.

berhadap-hadapan. akar kayu yang dihitamkan dengan segala macam minyak dan lemak. Di depannya lesung pelumat s irih. Diberi pula berhiasan suatu benda mengkilat." kata Ronggur. ‘Pakaian datu’. meminta agar arwah nenek moyang dipanggil melindungi orang yang meminta tolong padanya. izinkanlah aku mengajukan beberapa pertanyaan. terletak tempat sirih yang terbuat dari kulit kera. Ronggur duduk di lantai seperti orang tua itu sendiri. "Ada apa. Anakku?" tanya orang tua itu. dan kuku harimau. Yang pernah dibunuhnya.ditinggikan sebagai batas dan langsung pula menjadi pagar. apakah berhasil baik atau tidak. seperti matanya. Supaya kerbau tidak merusakkan tanaman yang ada di ladang. "Silakan. Nak. Tangannya mengetuk pintu dengan lemah. Pada dadanya. Bercahaya ditimpa sinar pelita yang lemah. begitu pula dalam perburuan. pikir Ronggur. Ruang tengahnya begitu kecil. Pakaian itu tidak ditanggalkannya walaupun orang tidak pernah lagi datang padanya minta diobati. Dia tambah menegaskan langkah. Suara parau menyuruhnya masuk ke ruang dangau. Pada kedua lengan tangannya membelit kayu hitam. Bapak akan menolongmu sebisa mungkin. Setelah memberi salam. Juga kerajaan tidak pernah lagi memintanya untuk menenung sesuatu maksud kerajaan. beru kirkan bentuk ular sedang menjalar. "Bapak. kemudian diketahui Ronggur. Di sebelah kanannya." . Dilompatinya pula tanah tinggi itu. bergantungan potongan gading gajah. Dikejauhan sudah kelihatan cahaya pelita yang menerobos dari celah dinding. Tempat tujuan. taring. Baik dalam suatu perkelahian. Orang tua itu sedang mengunyah sirih. minta pertolongan melihat nasib. Mata orang tua itu tajam menumpu ke wajah Ronggur.

mulut manusia yang harus kita beri makan akan bertambah . Dan."Kata ibu." Orang tua itu menegakkan kepala. Kiranya. Orang lain tidak. ibumu tidak mau menceritakan. "Anakku. dan kenapa almarhum ayah menemui saat meninggalnya." "Kenapa Bapak berkata begitu?" Lebih dulu orang tua itu menumpukan pandang ke mata Ronggur. "Anakku. Lalu kembali dia mengaju tanya: "Ibumu menyuruh kau datang padaku?" "Ya. tidak menyangka pertanyaan begitu. Ibu menyuruh aku menemui Bapak. kalau aku mau tahu kubur almarhum ayah." "Ibumu tidak pernah menceritakannya padamu?" "Tidak. aku harus menanyakannya pada Bapak. ibumu mendendam padaku. Lalu mengalirkan dendam itu ke tubuhmu. tidak pernah. Orang tua itu memperbaiki duduknya. tidak menanam dendam ke dadamu." Orang tua itu menarik napas yang dalam. kalau dikatakan bahwa kecelakaan itu punya mula dan sebab. Kemudian kau membenci aku. maka hukuman itu pun seharusnya ditimpakan padaku. Bapak." "Apa maksud Bapak?" tanya Ronggur pula. Dan. bila sesuatu hukuman yang harus ditimpakan pada orang yang memulai malapetaka itu. "Bapak juga sudah lama memikirkan bahwa pada satu saat. atau berusaha untuk menuntut balas. Aku juga harus mendukungnya. Hanya Bapak kata ibu yang mengetahui dengan pasti. selama ini kupikir. Ibu sendiri pun tidak. Maafkan kesalahanku itu. Begitu dalam. maka mula dan sebab kecelakaan itu harus diletakkan di pundakku.

" Orang tua itu terbatuk sebentar. Karena tidak tahan menerima kenyataan ini. ikutilah Sungai T itian Dewata. Hasil tenung itu mengatakan pada bapak. di tengahnya air sungai mengalir. bapakmu hulubalang yang dihormati kerajaan karena keberaniannya. bapak cepat melompat ke pinggir sungai sambil berteriak: 'Ama ni Ronggur. Bapakmu dan biduk lalu dihanyutkan arus yang menggila. apa yang kami temui? Pada suatu tempat tertentu. Air seperti mau membulat. Ayahmu begitu percaya akan hasil pertenungan bapak dan begitu percaya akan kekuatan gaibku. Kami pun memulai perjalanan. Dia juga sepakat denganku. Bapak menanyakan pada mereka di mana dapat ditemui tanah habungkasan yang subur. Yang bapak rasakan menyuruh bapak cepat meninggalkan tempat . Setelah mengunyah sirih lalu meludah dari celah lantai. air menuju ke sana. sewaktu bapak melompat itu keseimbangan biduk hilang. Sebuah terowongan batu. Waktu itu bapak masih memegang kekuasaan mutlak sebagai Datu Bolon Kerajaan. cepat tinggalkan biduk'. Begitulah bapak memulai pertenungan. Hingga akhirnya biduk yang kami tumpangi tidak terkendalikan. setelah berhari-hari berkayu. Dan. Pecah di sana. di kiri kanan kami hanyalah batu alam melulu. Tanah perluasan harus dicari dan ditemukan. Maka kami pun mulai mengadakan perjalanan mengikuti Sungai Titian Dewata tanpa memperoleh halangan dari kerajaan. Agar pertengkaran karena setapak tanah dan yang bisa meledakkan satu peperangan bisa diatas i. Dihantamkan ke dinding batu yang keras. Mulut gua itu menganga seperti mau menelan. Tapi. Sehingga hasil yang dapat diberikan tanah yang ada di sekitar kita tidak akan mencukupi. mengikuti jalur sungai. Bertambah hari bertambah deras. Itulah lengkingan yang paling akhir. semacam gua.banyak. "Hasil pertenungan itu kuceritakan pada ayahmu. yang berbeda dengan hasil tenungku. Tapi. dia melanjutkan. Menanyakan arwah gaib yang tidak dapat dilihat mata. Sebuah lengkingan yang panjang menggema.

Di antara isaknya dia masih mengatakan dengan suara parau: "Maafkanlah kesalahanku. Kerongkongannya tersendat. Tidak pernah lagi kembali. Seperti berusaha mengingat sesuatu. Bapak terpencil. Bapak disisihkan dari pergaulan sehari-hari. menyanyikan kemenangannya dan kegagalan serta kekalahan kami” Orang tua terdiam sebentar. Anakku. Tapi. Tidak pernah lagi orang datang meminta bantuan. Tenungku salah. Anakku. berusaha mencari tanah habungkasan. Justru karena ada juga orang yang bisa atau turut merasakan apa yang dirasakannya. pada upacara besar yang dilangsungkan di halaman perkampungan. berkerisik dan kuat. sejak itulah bapak tidak pernah lagi dipanggil kerajaan mengadakan pertenungan. Anakku. bapak tetap juga mengikutinya. Dan. tapi bercampur baur dengan perasaan bangga dan gembira." Suara orang tua itu menjadi tambah parau. Turut memikirkan apa yang dipikirkannya. Bapak mendengar usulmu. Tapi. Memang mereka . Dari tempatku yang tersembunyi itulah bapak melihat dan mendengar usulmu. "Akhirnya bapak percaya bahwa ayahmu sudah menjadi korban atas kemurkaan dewata. Suara air yang bertemparasan ke dinding sungai yang terbuat dari batu alam yang hitam. Sedang Ronggur khusuk mendengarkan. dia tidak pernah lagi muncul. agar orang mencari tanah habungkasan mengikuti arus Sungai Titian Dewata. Dari matanya meleleh titikan air bening. Wajah Ronggur di samping merasakan perasaan duka. Tafsir tenungku tidak benar. tempat bapak di tengah rimbunan bambu duri agar orang tidak melihat bapak.itu. Dan. Membuat salah seorang sahabatku menjadi korban." Orang tua itu menundukkan kepala. Tapi. Namun bapak masih menantikan ayahmu untuk beberapa hari.

Anakku. Kegagalan yang ditemui bapak. Malah bapak sendiri lalu disisihkan dari pergaulan. Cita yang baik. darinya atau padanya tidak sewajarnya dialamatkan dendam. Risiko yang harus kita terima. sahut Rongur sendiri atas segala pertanyaan yang timbul dalam dirinya. Ah. Bapak." "Apa maksudmu. walau menemui kegagalan sekali. jadi bapak mendengar usulku? Dan. telah lebih dulu memikirkannya bersama almarhum ayah?" “Benar. kepercayaan mereka tambah menebal juga. Setelah memperoleh kesimpulan ini.menemui kegagalan." "Bapak. apakah satu kegagalan harus dihukum dengan kutuk dan dendam? ‘Tidak’. Ronggur mengatakan: ”Bapak. Anakku?" . waktu dia dulu turut membela hasil tenungku. seperti almarhum ayahmu sendiri. Tapi. Malah kegagalan itu harus dibuat menjadi batu loncatan. lalu menimbulkan korban yang tidak kecil harus dihormati. Hasil tenungku tidak diperlukan orang lagi. orang yang ada di sekitar kita. kemudian mengetahui kegagalanku dan meninggalnya ayahmu. yang tampak oleh mataku. Segala percobaan yang berusaha mendekati kebaikan dan mengupas kebenaran. Tapi. waktu kau berbicara itu dengan suara yang lantang berani." "Seharusnya begitu. Sampai ditemui satu kemenangan. Tapi. aku menghormati pendapat bapak tentang perlunya tanah habungkasan. Aku mendengar usulmu. janganlah karena itu kita lantas menanggalkan satu cita yang tumbuh dalam dada kita. Ditoleh sedemikian rupa sehingga sumber kegagalan pertama dapat dilintasi. Agar kerajaan tidak menghalangi keberangkatan kami. yang punya kepercayaan bahwa Titian Dewata sungai dewata." "Itu risiko.

ada baiknya kau pikirkan bahwa sesuatu sungai biasa. Dasar perahu harus agak luas dibuat agar tidak mudah terbalik waktu melawan arus atau melalui arus. penumpangnya akan dihanyutkan arus tanpa ampun. Aku harus dapat mengatasinya. Dinding batunya begitu keras. "Sudah tiba saatnya. Aku harus melanjutkannya. Yang lebih besar dari biduk.Ronggur menarik napas yang dalam. "Arus itu. Lalu. Lalu. sungai ini lain." "Pikiran yang baik. "dapat dikatakan cukup menggila. Keningnya berkerut. dengan suara pasti dia mengatakan." kata orang tua itu. apakah menurut pendapat bapak. Dan. yang menurut kata orang di sekitar ialah ujung dunia?" Ronggur masih terdiam. aku harus melanjutkan pekerjaan yang gagal itu. lambat laun tambah ke hilir. "Ya. Kalau perahu terhantam ke sana pasti pecah." Orang tua berbicara." kata orang tua itu pula. melayari sungai dengan biduk?" . setelah mengalami kegagalan bahwa Sungai Titian Dewata memang jatuh ke ujung dunia?" Orang tua itu mendongakkan kepala. Bukankah itu pertanda bahwa sungai itu memang lain dari sungai biasa?" Ronggur terdiam. pada pangkalnya mempunyai arus yang kencang. Pada pangkalnya tidak berapa deras arusnya. "Tapi. menjadi deras arusnya. Bukankah arus menggila itu memang satu pertanda bahwa sungai akhirnya memang jatuh ke satu tempat yang maha dalam. Tapi. Tidak sempat berenang ke tepian. Tapi. itu menatapi dan membiarkan Ronggur "Kata Bapak." "Kalau begitu harus diusahakan melayarinya dengan perahu. dia mengaju tanya pula: "Jadi.

sewaktu melintasi arus sungai harus menggunakan tenaga pembantu. Agar perahu tidak dihanyutkan arus dengan sesuka hatinya. Agar kami direstui dan diberkati para dewata dan arwah nenek moyang. setiap itu pula batu itu kita jatuhkan ke dalam air sebagai penahan. aku harus melayarinya dengan perahu yang jauh lebih besar dari biduk." "Nah. Boleh jadi arus menggila karena sungai melalui riam yang banyak ditemui pada sesuatu sungai. Mengiakan lalu mulutnya mengatakan: "Satu pikiran yang baik." "Boleh jadi riamnya lebih dalam. kenyataan keadaan sungai itu tidak dapat dipungkiri. darimu." "Karena itulah. begitu pula arwah almarhum ayah. harus menggunakan batu pemberat. Tidak cukup kemudi saja menahan kencangnya perahu. Tapi. Dan. Setiap melintasi arus yang tambah kencang." "Boleh saja kita berpendapat begitu." Orang tua itu menundukkan kepala."Tidak dapat kupastikan." "Juga tidak dapat bapak jawab. dengan akal begitulah aku bermaksud melayari Sungai Titian Dewata sampai ke muara." "Maksudmu?" "Batu sebesar kepala manusia atau sebesar kepala kerbau kita ikat. Karena arus sesuatu riam tidak akan begitu kencang dan begitu menggila. Anakku. kalau begitu yang kita hadapi hanyalah arus sungai yang menggila. Talinya kita ikatkan pada buritan perahu." ." "Nah. Karena hasil tenungku sampai saat ini tetap berpendapat bahwa sungai itu tidak jatuh ke ujung dunia. Dan. Tapi. kumohonkan doa restu. Karena pendapat ini jugalah membuat bapak disisihkan orang.

Tenaga gaib yang dipunyainya. Karena. aku akan datang memberitahukannya pada Bapak. Anakku. Mata orang tua menyinarkan cahaya kemenangan. Dadanya diangkat. Dan. Matanya bersinar. kapan kau hendak memulai perjalanan itu. . dibaliknya pagi." "Baik. Si belang berlari-lari mengibaskan ekor. Kau akan menghadapi rintangan kepercayaan orang yang ada di sekitarmu. perjalanan ini tidak mudah. sambil Malam sudah jauh. Bapak." "Doa Bapak yang akan mengiringi langkahku. Sesudah ini s iap semua. berusaha menembus segala kegelapan yang menyungkup keadaan sekitar. kalaulah bapak masih muda. untuk pertama kali sete lah bertahun-tahun ada orang meminta pertolongan doa restunya. aku mau mempersiapkan peralatan yang kuperlukan dulu." Ronggur meminta diri. Beberapa gulungan tali ijuk yang kuat. Ah. Orang tua itu melepaskannya menerjang kelam malam yang pekat. doakanlah agar anakmu ini selamat dalam perjalanan. "Dan. masih punya tenaga yang kuat. beritahukan pada bapak kelak." kata Ronggur. Tapi. "Anakku. kurasa lebih besar manfaatnya dari apa saja. yang punya dasar yang lebih datar dari perahu biasa. bapak akan turut bersamamu. perjalanan itu akan kumulai. Sebuah perahu yang agak besar." kata orang tua itu seraya pundak Ronggur ditepuk-tepuk."Bapak akan membantumu. sedang mulutnya mengatakan dengan suara pasti: "Anakku. Karena itu kekuatan jiwa dan tekad yang padu harus kau punyai dan kau pupuk selalu dalam hati. di samping Ronggur." Orang tua itu merasa gembira bercampur bangga karena ada orang yang sependapat dengan dia.

Semua teggelam ke perut kabut. tampaknya. Si belang sering menggonggong. Ronggur melangkah cepat. Tapi. kabut di sana lebih tebal. yang berisikan alat kecil. dan menembus kabut. Jalanan terus menanjak. Perkampungan tambah tertinggal di bawah. Matanya sering tertumpu ke pinggang Ronggur yang menyelipkan panggada. Pundak Tio juga menyandang sumpit bertali yang berisikan beras. dari gerak-geriknya si belang gembira.ccdw-kzaa 3 Kabut pagi masih rendah menyungkup tanah. Langsung rombongan kecil itu mengarah ke kaki bukit sebelah barat. dan rendah. Mereka terus melangkah. panjang. Di tubuhnya membelit tali ambalang. lebih kental. Tangan kanan Ronggur menggemggam kampak. tangan kirinya menggenggam tombak. . Ronggur sudah berada di halaman bersama T io dan si belang. Tangannya juga menggenggam kampak dan tombak. Lewat perkampungan danau. Tio tetap mengiring dari belakang bersama si belang. Di pundaknya disandangkan sumpit bertali. Air yang biru tidak dapat dilihat pandang. Mereka tampaknya akan mengadakan perjalanan yang tidak dapat dikatakan pendek masanya. tapi sudah tambah menipis dengan bertambah tingginya hari. Masih juga dibalut kabut. begitu pula Pulau Samosir dan T uktuk Sigaol. Karena seperti tahu bahwa mereka akan mengadakan perjalanan yang lama dan jauh dari lingkungan perkampungan. Orang tidak ada di halaman. meregangkan tubuh seperti mengendorkan urat yang dibekukan dingin pagi berkabut rendah. Bergegas.

sudah mulai bangkit. seperti hendak menjangkau Samosir. Karena ingin cepat tiba ke tempat yang dituju. bersembunyi di sana menanti mangsa. Angin yang berdesir di lidah ilalang yang tinggi. si raja hutan. Terkadang mereka seperti tenggelam di padang ilalang yang cukup tinggi. Untuk tampak kembali pada tempat di mana ilalang agak rendah. tepian Pulau Samosir dan Tuktuk Sigaol. tambah jauh mereka di atas.Kabut yang rendah tambah terangkat. tambah jauh berada di bawah. Langkah mereka begitu cepat diayunkan. Matahari tambah tinggi berlayar di langit dan sinarnya terus menerus tambah terik. Samosir dan Tuktuk Sigaol berhadapan. Untuk kemudian secara perlahan mulai menyisih dari tanah. Matahari memberi sinar. Ini semua dapat dilihat setelah melalui tingkatan sawah yang padinya sedang bunting. Akhirnya keputihan yang pekat tadi yang merupakan satu bundaran yang tidak berujud. Itu yang membuat . Lidah ilalang yang bergoyangan. Pertanda perkampungan. jalanan menanjak. dan perkampungan serta danau. lalu ilalang itu bergoyangan. Asap sudah mengepul dari kampung itu. terkadang menyayati daging mereka dengan tipis. secara berangsur perlahan. Pada tempat tertentu tampak tumpukan bambu duri yang melingkar. pertanda pengisi kampung sudah bangun dari tidurnya. Mereka meneruskan langkah. sekarang sudah tampak isinya. suluh abadi yang dikenal mereka sejak masa kanak. Tergesa tampaknya. Air danau biru tenang di pagi hari tanpa angin. Satu dua biduk berlayar di permukaan danau. bertambah lama bertambah jelas tampak. dedaunan padi yang menghijau. penangkap ikan yang bekerja semalaman mengayuh menuju pantai. Permukaan danau. Tidak banyak mereka mengeluarkan kata. Setiap saat. Di sebelah lain Tuktuk Tarabunga menjulur ke depan. Biasanya. Terasa pedih juga bila sayatan kecil itu dibasahi keringat.

kenapa sungai itu harus diadakan dewata. Melihat Ronggur bersikap begitu. Dari tempat ketinggian. siap sedia dipergunakan. melalui tingkatan dinding teluk. Bermula dari pantai danau. Utara. hanya ke arah belakang yang kandas pada pegunungan. dilincahkan sebagai sahutan. berair. ketakutan bercampur baur dengan penyesalan. kita sudah harus menuruni lembah berhutan yang ada di salah satu lekuk danau. di teluk di mana Sungai T itian Dewata bermula. Mata Ronggur lama tertancap ke sana. Tercecer bertumpuk di sana sini. Agar kita tidak kemalaman mencari tempat bermalam. Kelompok bambu duri pertanda perkampungan tambah banyak dapat mereka lihat dari sana. Barat. Dalam hati terucap kata: akan kutembus kau sampai ke muara. cukup hijau. dan teduh. Tapi. "Sebelum matahari condong ke barat. Mereka menuruni lembah berhutan yang tidak berapa luas. Mereka sudah dapat mencium bau dedaunan yang segar. Beriak-riak." Tio tidak menyahut.Ronggur tetap was-was. danau yang biru. "juga untuk memilih dahan pohon yang baik untuk tempat tidur. mereka menatap ke sekitar. Dia tidak menggonggong lagi. Alis matanya terangkat. Langkahnya tambah dipercepat dan diperpanjang. Di tangannya terus tergenggam tombak dan kampak. Dedaunan yang rapat didukung pepohonan yang tumbuh di sana. Dari sana tampak lebih jelas lagi. tapi terus mengikuti tuannya. dada Tio bernadakan lagu lain. Sawah menghijau oleh dedaunan padi yang sudah panjang dan sudah bunting. Lidah si belang terjulur merah dan berbuih." kata Ronggur. menampung . Pandang bebas diarahkan ke mana suka. Matahari terus berlayar di langit dan mereka terus melangkah di bumi. didasarnya hutan yang mereka tuju. berakhir ke kaki bukit.

Untuk membuka hutan itu lalu membagi-bagikan tanahnya bagi warga marganya. Yang bisa membuat satu luhak berkelahi dengan luhak lain. kerajaan marganya sudah memutuskan membuka hutan itu untuk dijadikan tanah persawahan. Bila satu luhak telah menang.sinar matahari. setiap marga merasakan bahwa kerajaannya punya hak atas hutan itu. mendukung dedaunan. tapi. Satu marga mengusulkan. sudah beberapa kali dilangsungkan sidang kerajaan dengan kerajaan. dari tanah hutan yang tidak seberapa luas itu. antara marga sendiri pun akan ada pertengkaran. Tapi. Tapi. harus mengadakan pertemuan kerajaan. Pada mulanya . bisa saja timbul peperangan yang berturut-turut. bersamaan dengan niat itu kerajaan marga lain juga telah memutuskan untuk membuka hutan itu untuk dijadikan tanah persawahan marganya. Sampai sekarang memang belum ada satu marga pun yang mempunyainya. permadani yang lembut. Begitulah. buatan alam. Kalau hutan itu dibuka. Jaringan dahan dan rantingnya. boleh marganya tidak memperoleh tanah bagian. hingga tanahnya tetap teduh dan berair. Tapi. Yang mungkin pula menimbulkan peperangan marga. yang di tempati beberapa marga. belum sampai ke taraf yang menentukan. marganya harus memperoleh bagian. Ronggur sudah tahu bahwa mulai panen tahun muka. Dedaunan gugur me lapisi permukaan tanah. Di induk kampung marga Ronggur juga sudah pernah diadakan pertemuan. Akhirnya setiap kerajaan marga yang berdekatan. untuk membicarakan masalah hutan itu. Masalah itu memang hangat dibicarakan. Tapi. Kerajaan marga lain yang juga mendengar berita itu dengan tandas pula menyatakan maksud masing-masing. tapi sebagai pembayar bagiannya kerajaan lain harus memberikan kerbau pada kerajaannya. hasilnya masih tetap sama: belum memperoleh kata mupakat. Jadi.

sudah jelas garisnya: peperangan tidak terelakkan lagi. Berbuih." kata Ronggur lagi. Diambilnya sebungkus untuknya. kumpulkanlah ranting kering. Si belang. Menelentangkan diri. Ronggur kembali duduk. Hendaknya. . "Bila selesa i makan. lalu melanjut pada yang lebih kecil. kemungkinan pecahnya peperangan begitu besar. sebelum peperangan dari perebutan hutan itu meledak. Kesejukannya telah memberikan kesegaran bagi mereka yang sehari penuh dipanggang sinar matahari. Namun untuk merebutnya. bila marga lain itu tetap merasakan bahwa kerajaannya punya hak juga atas hutan itu.peperangan luhak. Hanyalah tempat singgahan sementara sebelum tiba ke saat yang ditakutkan Ronggur. Tanah perluasan buat sementara." padaku nasi yang kau bawa itu Tio cepat memberikan. lantas mengatakan: "Tolong berikan sebungkus. Memberi beberapa jemput untuk si belang. Untuk bahan bakar api unggun malam hari. tanpa memperdulikan kepentingan kerajaan marga lain. untuk membuka hutan itu. Tio mengiakan. peperangan kerajaan marga. Mereka menurun ke lembah berhutan dielus angin sore yang nyaman. pikir Ronggur. atas putusan kerajaan Ronggur. mendudukkan diri tidak jauh darinya. Lidahnya terjulur ke luar. akhirnya dapat memindahkan beberapa keluarga ke sana. Dan. Ronggur duduk melepas lelah pada teduhan sebuah pohon. Karena luasnya tidak seberapa. Memperbaiki jalan pernapasan. dia bisa lebih dulu menemui tanah habungkasan. Tepi hutan. Suatu kerajaan yang memperolehnya. Menutup mata.

Lantas memberi bantuan. Mula-mula dibakar ranting. Di sini cepat gelap. Ronggur pergi menyusuri tepian hutan." kata Ronggur pula."Hari sudah sore. lalu dibawanya ke bawah pohon tempat mereka bermalam. Dihidupkannya api. dia sudah dapat mencium dari jarak jauh. Di mana tubuh enak ditelentangkan. Sebentar lagi matahari akan tenggelam. Agak gepeng sedikit. Dahan yang patah dari sesuatu pohon dipotong. Dahan yang dipilih Ronggur untuknya dan untuk T io tidak berjauhan. "Biarlah di tanah. cukup besar. dan tidak vertikal. Potongan dahan kayu yang sebesar betisnya dionggokkannya kenyala api menjilam. Tio tidak hanya mengumpulkan reranting. Bara memanas di bawah bila sudah ada dahan sebesar betis yang habis dimakan api. Ditatapi Tio terus sampai Ronggur hilang ke antara pepohonan atau tenggelam kerimbunan rerumputan yang tinggi. "Si belang di mana tidur?" tanya Tio. Baru Tio memulai mengonggokkan ranting di lapisan bawah diatasnya dahan. agar nyamuk tidak banyak mengganggu. Tapi. Juga bisa mengusir dingin malam. Tidak terlalu bulat. Penciumannya cukup tajam. sedikit demi sedikit supaya api tidak mati. . Membuat lobang pada salah satu sisi jurang tidak sempat lagi. Ronggur memilih dahan yang baik untuk tempat tidur. yang bercabang dua. Agar terhindar dari gangguan binatang buas." Lagi-lagi T io mengiakan." Begitu tergesa mereka menyiapkan sesuatunya. Dan tetap ada nyala menjilam. Di bawah dahan mereka bakar api unggun. tapi mendatar. Tidak sekali banyak. Sebaliknya. "kita memilih dahan tempat bermalam. Dia akan terus menggonggong lalu membuat kita bangun. Bila bahaya datang.

yang cepat menjadi kelam. sesuatu yang dipikirnya dan dirasakannya punya kebenaran. Sambil tersenyum Ronggur berkata: "Kau pandai menyalakan api. pikirnya. senja. Walaupun itu berarti dia akan merombak kepercayaan yang sudah tertanam di dasar hati penduduk turun-temurun. . tak seorang pun dapat menghalanginya untuk mengerjakannya. bila hendak memadaminya. belum kutemui maranti batu yang cukup tua. atau dia sendiri akan musnah. Begitu pula dengan tekad perjalanannya yang akan menempuh Sungai Titian Dewata tak satu pun kekuatan baik melalui kemesraan dan kasih. Ronggur melihat api yang sudah menyala dan memberi kilatan cahaya pada sekitar. baik melalui ancaman bahaya yang mungkin ditemuinya. Seperti api unggun itu sendiri. Tapi. yang dapat mencegahnya. Sehingga apa yang dilihat itulah. sudah kutemui kumpulan pohon maranti batu.Ya. Sedang panjang batangnya yang lurus hendaknya melebihi tiga depa. Dedaunan yang merimbun menampung cahaya matahari yang sudah lemah. yang dikatakan sikap jantan yang berani." “Harus pohon maranti batu?" tanya Tio menyeling. Pohon yang kuperlukan harus cukup tua lagi besar. harus turut baranya dipadamkan baru tidak mengandung panas lagi. yang baik dijadikan perahu. sudah menjadi pertanda bahwa di hutan ini akan kutemui pohon yang kuperlukan. bagaimanapun kumpulan pohon maranti batu yang masih muda itu. Dari jauh sudah kedengaran siulan Ronggur datang mendekat. Tapi. masih menyimpan bara kehidupan yang cukup besar didasarnya. Di tikungan jalan tikus menanjak sana. mengendorkan maksudnya. Ronggur dapat diibaratkan seperti api unggun. Tingkah lakunya yang dapat dilihat atau yang muncul kepenglihatan. mengandung bahaya lagi yang bisa membakar dan menghanguskan.

kuperlukan dalam perjalanan. Airnya bening. Matanya seperti bermimpi. Jangan lebih dulu menebang kayu. tidak mengajaknya? Betapa pun ancaman yang tumbuh dari maksud perjalanan itu. Harus cukup besar. Dan. Suara kampak yang berlaga dengan pohon kayu bisa menakutkan binatang. daya apungnya sangat baik. Menatap entah ke mana saja. Binatang akan pergi menjauh. dia ingin ikut. kutemui pula parit kecil. kekuatan tubuhnya memberi jaminan." “Aku akan mengerjakan. kalau bisa sebesar pergelangan tangan. Sangat kuperlukan nanti dalam perjalanan. Sudah ada yang tua." Tio mendengarkan. Dalam hati selalu mengiring tanya. maka itu sangat lain soalnya." Kemudian Tio terdiam. Itulah kerjamu.“Ya. Memintal ijuknya menjadi tali. Tapi. Apakah Ronggur pergi sendiri." sahut Tio. Semua perahu yang baik dibuat dari jenis kayu itu. bangunlah. kita tidak akan kekurangan daging di sini. Di tepi parit banyak kulihat bekas jejak binatang buruan. Jadi. Begitu yakin dia bahwa kemana pun dia pergi. agar ada daging persediaan. bila diingatnya bahwa Ronggur akan menyusuri sungai Titian Dewata mencapai muara. Kita harus mengadakan pengintaian. Keberaniannya. banyak pohon aren liar tumbuh. mereka tidak akan mati kelaparan. Membunuh beberapa ekor binatang itu. Lagi. “Besok pagi benar. Tapi meranti batu tidak mudah busuk walau direndam dalam air dan dipanggang terik matahari. akalnya yang cukup banyak. namun T io bila memang Ronggur harus berangkat juga. Kau harus menebang pohon aren yang sudah tua itu. Walaupun tubuh Ronggur cukup tegap menyimpan . Ronggur melanjutkan: “Sewaktu aku meneruskan perjalananku lebih ke atas. Tahukah kau di sebelah hulu parit. Harus pula panjang. bila bersama Ronggur. walau susah mengerjakannya karena kayunya cukup keras.

Malam begitu dekatnya. agar tidak jatuh sewaktu diri lelap tidur. apakah Ronggur tidak dapat membaca apa yang tersirat dicerlang matanya? Malam hari. dekat unggun api. Menimpakan beberapa potong lagi dedahanan ke atas api. namun untuk menghadapi ketentuan dewata. Tapi. Ronggur turun ke bawah. Si belang duduk di . Tapi. penimba air harus dibawa serta. bisa mengikuti arus sungai walau melalui riam. Ya. Dinding perahu harus agak tinggi agar tidak dimasuki temperasan air yang memercik. kembali menyala. siapa pula dapat menantangnya? Entah kenapa perasaan takut itu tambah hari tambah dalam mencekam di hatinya. Sekitar menjadi terang dan panas. akalnya banyak. pikirnya. Tambah jauh malam nyala itu tambah mengecil. berbentuk gepeng. Kalau dewata berkehendak. Kurang wajar rasanya dia menasihati perjalanan yang sudah diputuskan Ronggur harus ditempuh. Harus bisa dibuka dengan cepat. Ronggur menyuruh Tio mengikatkan tubuh ke dahan kayu yang bercabang. Biarlah tidak bisa dikayuh cepat. Ronggur juga mengikatkan tubuhnya ke dahan tempatnya tidur. apalagi kalau dilanggar ketentuannya. Jilam-nya begitu tinggi. Si belang di bawah. Yang dibuat dari bambu. jangan melancip.. Tapi. ikatannya jangan dipintal mati. Dalam hayalnya Ronggur sudah menggambarkan bentuk perahu yang hendak dibuatnya. Sudah di reka-rekanya bahwa dasar perahu harus mendatar. Namun dia tidak mengatakan. Biarlah perahu agak lamban jalannya. Hingga jilam yang mau padam tadi. Nyala menjilam dari unggun api. lalu tampak bara membara.tenaga yang kuat. semuanya itu tidak berarti. Jengkrik dengan kerisiknyayang nyaring dan di kejauhan gonggong dan salak anjing liar selalu membuat si belang mendongakkan kepala. Karena mungkin saja diperlukan pada saat tertentu. Binatang rimba mulai bernyanyi. Mendengarkan dan meraba sumber suara itu.

tanah dekat api melihat jilam api yang terkadang meliuk ditiup angin lalu. "Perahu yang kubuat," lanjut Ronggur berbicara pada diri sendiri setelah dia kembali me letakkan diri dan mengikat tubuhnya ke dahan kayu itu. Harus bisa memuat penumpang sebanyak tujuh orang paling sedikit. Dasar perahu harus lebih lebar dari perahu biasa, agar tidak mudah oleng waktu melintasi riam sungai. Juga agar mudah menjaga keseimbangan. Sudah dibayangkan, siapa yang akan diajaknya serta. Akan diminta kesediaan mereka menemaninya. Dan, ke dalam yang tujuh orang itu, tidak termasuk Tio. Perjalanan yang menanggung risiko begitu berat, bukanlah pekerjaan perempuan. Lagi, Tio perlu dekat ibu. Membantu mengerjakan sawah bila saat panen tiba. Siapa ttliu, boleh jadi perjalanan itu sangat panjang. Dikiranya pula, bila setiap hari dia mengerjakan perahu, dalam dua kali purnama tenggelam dan terbit lagi sudah bisa selesai. Berarti sepulangnya dari hutan itu, padi telah menguning di sawah. Sehabis panen, dia akan memulai perjalanan itu. Seketika, teringat dia atas maksud kerajaan marganya untuk membuka hutan itu menjadi tanah persawahan. "Ah," pikirnya pula, "dari orang yang sangat dekat dengan Raja Panggonggom, diperolehnya keterangan bahwa s iasat itu baru gertakan saja pada kerajaan marga sekitar. Untuk menduga sampai di mana kesungguhan kerajaan marga lain itu untuk menguasai hutan itu. "Tapi, betapa pun," pikirnya pula, "hutan itu akan dibuka orang juga. Dan, darinya timbul satu ancaman pada ketenteraman hidup. Karena setiap kerajaan marga merasakan sama-sama berhak atas hutan yang kecil itu."

"Tio, kau sudah tidur?" tanyanya. Tidak ada sahutan. "Ah," pikirnya, "Tio sudah tidur." Dan, dia masih belum bisa memejamkan mata. Pikirannya terus berbicara dan bercerita dan mereka-reka bentuk masa datang. Dia tidak tahu pasti, kapan dia jatuh tertidur. Kokok ayam hutan membangunkan mereka. Cepat Ronggur turun dari dahan. Begitu pula Tio. Setelah meregangkan tubuh beberapa saat, menguapkan mulut. "Enak tidurmu malam tadi?" tanya Ronggur. Tio hanya menundukkan kepala. Sekitar masih remang. Masih pagi benar. Tapi, bila mereka pergi ke pinggir hutan, tahulah mereka bahwa matahari sebenarnya sudah muncul di atas pundak Dolok Simanuk-manuk yang dapat mereka tatap dari mulut teluk. Dedaunan yang rimbun menghalangi sinar matahari jatuh menimpa wajah mereka. Cepat-cepat Ronggur mengajak Tio mendekat ke parit yang dikatakannya semalam. Perlahan-lahan mereka mendekat, seolah-olah tidak menimbulkan buny i. Walau melalui ranting-ranting kering yang berserakan di atas tanah. Ronggur menunjukkan sekumpulan pelanduk yang sedang minum dan bermain-main di parit kecil itu. "Lihat," bisik Ronggur. "Bidiklah yang sebelah sana, yang kepalanya berbelang putih. Aku membidik yang kakinya berbelang." Tio mengiakan dengan anggukan. Bersama mereka mengayunkan tombak yang cepat melayang. Lalu, tertancap ke sasaran. Karena terkejut, pelanduk lain melarikan diri. Sedang pelanduk yang dikenai tombak melengking dan berusaha melarikan diri beberapa jauh, membawa luka di tubuh yang mengucurkan darah. Untuk itu, si belang cepat bangkit dan mengadakan pengejaran. Digigitnya kaki pelanduk itu sampai tidak berdaya. Sampai rubuh ke tanah. Kemudian si belang menggonggong, mewartakan kepada tuannya di mana pelanduk tergeletak.

Ronggur dan Tio cepat mendekat. Mereka kuliti binatang itu. Dagingnya mereka potong tipis-tipis. Mereka jemur di atas batu yang langsung menampung sinar matahari penuh tanpa dihalangi dedaunan. Sehari itu, si belang disuruh menjaga agar tidak dicuri burung gagak. Rongur memilih dinding jurang yang baik digali untuk membuat lubang perlindungan, tidak jauh dari parit kecil agar mudah mengambil air. Berdua mereka menggali. Mulut lubang dibuat besar, hingga bisa masuk dengan leluasa. Sedang ruang dalam agak luas. Mereka bisa menyangkutkan ulosbatak sebagai batas tempat tidur masing-masing. Sampai jauh malam mereka mengerjakan lubang itu. Peralatan mereka simpan di sana. Begitu pula dengan daging hasil pemburuan tadi pagi yang harus dijemur besok harinya, karena belum cukup kering untuk disimpan. Mereka gembira karena sudah memperoleh daging yang dibutuhkan dan sudah punya lubang perlindungan. Ronggur bisa tidur nyenyak malam itu, begitu pula T io. Di mulut lubang si belang tidur-tiduran. Seperti menjaga kemungkinan adanya gangguan binatang buas. Pagi itu, Ronggur melanjutkan mencari kayu. Dia menyuruk-nyuruk di bawah rerantingan, menyibak rerumputan yang terkadang berduri dan melukai tubuhnya dengan garisgaris kecil. Tapi sudah dapat menitikkan darah untuk kemudian membeku Agak jauh di tengah hutan, baru ditemui pohon yang dicari. Besar batang pohon, tiga kali pelukannya. Panjang batang pohon yang tegak lurus, sekira tiga depa. Diperiksanya batang pohon itu baik-baik, hingga dia yakin bahwa pohon itu sudah cukup tua. Dikulitinya batang pohon sekira sejengkal, lalu tampak kayu yang sudah berminyak. Kemudian dipanjatnya. Diperiksa, apakah tidak terlalu banyak mata kayunya. Tahulah dia bahwa kayu itu cukup baik dijadikan perahu. Langsung saja Ronggur mulai mendahaninya, agar waktu tumbang nanti

Dari dedahanan kayu yang ditebang Ronggur. kemudian direndam dengan air. dimakan pengganti beras. dua tiga biji dipilihnya untuk dijadikan galah. Sedang persediaan beras tampaknya tidak berkurang-kurang karena persediaan tepung umbi aren. Batangnya dibelah. Ijuknya cepat berlepasan satu sama lain bila pohonnya sudah kering. lalu ditapis untuk diasingkan tepungnya Yang baik. Ronggur menaikkan batang pohon maranti batu itu ke atas . Atau. Dua biji lagi kayu yang tidak berapa besar ditebang Ronggur. Dengan dibantu Tio. Lebihnya dibuang. Dibuatnya pula pacakan begitu dua lagi. kembali mereka mengadakan pemburuan. Ijuk yang berlepasan itu bisa dipintal menjadi tali yang cukup kuat. Sedang batang pohon maranti batu yang sudah tumbang itu. Bila air sungai tidak berapa dalam bisa digunakan membantu jalannya perahu. yang panjang lagi kurus. di tanah yang tidak terlindung. Tepat sepanjang yang diperlukannya. diukurnya. Belahan pohon aren dijemur di bawah terik matahari.tidak menyangkut pada pepohonan lain yang bisa menimbulkan cacat pada pohon itu. Bersilangan. Begitulah mereka saling mengerjakan tugas masingmasing. Tanah di sekitar pohon itu dibersihkan. Umbi aren diasingkan untuk ditumbuk. Bila daging sudah mulai habis. mendorongkan perahu yang mau terhempas ke tepian berbatu dengan menjolokkan galah ke pinggir sungai berbatu. Persilangan itu diikat dengan rotan kuat-kuat. galah itu sangat diperlukan dalam melayari sungai. Katanya sekali waktu pada Tio. Sesudah selesai menjemur daging hasil buruan semalam dan menyuruh si belang menjaga. Ujungnya dilancipkan kemudian dipacakkan ke tanah. dengan mencucukkan galah ke dasar sungai lalu menyorongkan. Tio langsung menebang aren yang sudah tua. Batang pohon itu dipotong.

Pada bagian buritan dan hulu perahu. Karena itu. kapak tidak berapa dipergunakan Ronggur lagi. ditelanjangi. dipahatnya semacam ukiran. tidak pula boleh terlalu tebal. Di atas pacakan itu Ronggur mulai membuat perahu. Di sana batang pohon itu dikulitinya. satu lagi menghadap ke belakang. bagian batang mana yang harus dijadikan dasar perahu. Dikeluarkannya tuhil. Dia harus memilih dasar perahu yang terbuat dari bagian batang yang tidak banyak mata kayunya. Agar perahu tidak berat atau agar daya apung perahu cukup baik dan punya keseimbangan. Di atas pacakan. Tuhil itu ditancapkan lebih dulu. di bagian perut lebih dalam dan luas. Satu menghadap ke depan. batang pohon itu bisa dibalik-balikkan. Bentuk lobang yang dibuat Ronggur di batang kayu itu. agar dinding perahu tidak terlalu tipis lalu mudah pecah. Dengan tuhil Ronggur melanjutkan membentuk lobang atau memperhalus bekas makanan kampak. perahu akan bocor. alat yang yang terbuat dari batu yang tajam muncungnya. Setelah bentuk lobang itu agak nyata. mengambil tuntutan dari bagian dalam perahu. tebal kedua sisi dinding perahu. berhatihati. Mata kayu biasanya mudah lepas dari kesatuan kayu dan bila sudah lepas. . Langsung bersatu dengan tubuh perahu. yang nanti menjadi tempat pemenumpang.pacakan yang berupa galangan itu. Dasarnya sengaja diperluas. Tapi. Ronggur harus hati-hati memilih. diusahakan agar sama. Begitu pula dasarnya. pada bagian hulu dan buritan tidak berapa dalam. Ronggur beralih pula menukil bagian luar. menggambarkan kepala harimau. Dari sebelah mana harus dimulai penukilan membentuk semacam lobang di batang kayu itu. Tapi. Bila dasar perahu dan dinding perahu bertambah terbentuk. Membentuk semacam dinding yang baik. kemudian hulunya diketok perlahan. Dia harus memperhatikan benar.

justru karena di buritan dan di hulu perahulah terletak tenaga sesuatu perahu tersimpan. sendirinya saja bagian perut perahu akan pecah. Dan. Tahan air. kasar. asal saja jangan dibakar api. melepaskan ijuknya dari batangnya. Lalu dimulainya memutar-mutarkan kayu bersilang tadi ke tumpukan ijuk. Dan. Bila batang aren sudah kering. Menebang. dan kokoh. sudah kering sehingga ijuk mengikut pada putaran kayu itu. yang sudah dua jalur itu. setelah pohon aren yang tua habis ditumbangkan Tio di tempat itu. Tapi. Kemudian melahirkan kulit baru yang lebih tebal dan lebih tahan menghadapi ijuk. Kayu bersilang itu diputarkan pada tumpukan ijuk yang dicerai-beraikan.Buritan dan hulu perahu. Dibuat bersilang. Mencerai-beraikan. Kemudian memintalnya menjadi tali. yang diusahakan sebesar yang dikehendaki dan sudah cukup panjang diikatkan pada pepohonan yang ada di sekitarnya. Merendam ke air. Alat pemintal. Bila buritan dan hulu perahu retak atau pecah. Tapi. . Karena itu. sehingga bisa mengucurkan darah. Menyisihkan umbinya. Menjemur. Ronggur mengatakan tali yang dipintalnya masih kurang banyak. Menapis agar diperoleh tepungnya. dia harus mencari pohon aren lagi. Dia harus menyusur lebih ke hulu parit lagi. Ijuk yang mengikut itu. Dipilin tangan demikian rupa sehingga berbentuk tali yang jalin-menjalin. Waktu saat memintal ijuk tiba. ijuknya sudah dipintal menjadi tali. Tio harus mencari pohon aren baru untuk ditebang. dindingnya tebal dibuat di sana. T ahan panas matahari. Kulit telapak tangan berlecetan di sana-sini. hitam. Ijuk yang keras sering menusuk kulit telapak tangan. disatukan. ialah dua potong kayu sebesar pergelangan tangan. Pohon aren yang setumpuk itu sudah pada tumbang. Ijuk yang memanjang. betapa susahnya memintal ijuk pohon aren. Membelahnya. tahulah Tio.

Tiba-tiba dia sadar bahwa menemui sarang babi hutan yang mempunyai anak yang masih kecil. Sebelah kedua sisinya. Waktu dia berpaling. bila babi jantan itu sudah bertaring. Sadarlah dia. Muncungnya yang panjang kemudian akan ditusukkan ke bagian tubuh yang lunak. Tidak ada batang kayu yang dekat yang bisa dipanjat untuk menghindar bila babi itu menyerang. tidak menguntungkan. Jalan menyingkir sudah tidak ada. Babi itu akan menyeruduk maju ke depan. yaitu depannya. Bila dia mundur ke sana dan mengadakan pertahanan. Walau dia tahu seekor babi hutan tidak akan terus jatuh ketika pukulan pertama mengenai tubuh atau kepalanya. Dia harus menghadapi serangan babi itu. matanya masih sipit. juga mengandung mara bahaya yang mengancam di samping kegembiraan. belukar. Dengusan napas babi tambah mendekat. didengarnya dengusan babi dari semak yang ada di atasnya. dia harus menghadapi segala kemungkinan. Setiba di bawah pohon aren itu. Anak babi hutan lima ekor. Sebelah kanannya. Dari depannya. Dielusnya perlahan tubuh anak babi yang masih lembut. Dan. Induk babi yang baru melahirkan dan masih menyusukan tentu cukup galak dan tetap diiringi jantannya. Dari jauh sudah terlihat daun aren yang panjang itu. betapa gembira dia karena dia menemui sarang babi hutan. Tapi. Yang masih punya bulu begitu halus dan menggelikan telapak tangan. masih ada semacam dinding tanah sebelum menembus ke jalan tikus itu. menyerang sampai mangsanya terjepit. Padahal babi hanya bisa menyerang dari satu arah. suara dengusan babi.Tio menyuruki rimbunan kekayuan yang agak rendah. jalan tikus yang sempit. Ke sana dia menuju. itu dengusan induk babi. Dilihatnya keadaan sekitar. . Dibulatkannya tekad. yang harus dihadapinya hanyalah satu arah saja. mencari pohon aren.

taringnya akan digunakan mencabik-cabik daging mangsanya. Menggigil juga dia. Sambil mundur perlahan, matanya tetap awas dan terus diarahkan ke sumber dengusan. Tapi, pikirannya masih dapat mengingat bahwa bila babi menyerang selalu membabi buta. Langsung saja menyergap ke depan tanpa rem. Dalam saat begitu, seseorang yang lincah dan tidak gugup, dengan meloncat ke kiri atau ke kanan, bisa mengelak serangan. Bisa mengelak serangan babi sambil menggunakan kesempatan itu menghantamkan panggada atau kampak yang ada di tangan. Tiba-tiba si belang menggonggong. Begitu nyaring suaranya. Taringnya ditunjukkan, putih tajam dan kukuh. Dalam hati, Tio mengharap Ronggur dapat mendengar dan mengerti maksud gonggongan si belang. Dua ekor babi sekaligus sudah berada di hadapannya, di tempat terbuka yang sempit. Seekor dari babi itu sudah bertaring, yang jantan. Mata kedua babi itu merah menyala. Keduanya mengais-ngais tanah, bergaya, mengambil ancang-ancang memulai serangan. Tio terus mundur sampai mendekat ke satu sudut tanah tinggi yang keras. Matanya terus awas, mengikuti sikap dan gerak-gerik babi yang dua ekor itu. B ila babi menyeruduk maju tanpa rem, di saat dia harus melompat ke kiri atau ke kanan, dia harus terus cepat pula mengayunkan kampak yang ada di tangannya, sambil harus terus awas menantikan serangan babi yang seekor lagi. Si belang masih terus menggonggong dengan nyaring dan bersikap menanti. Karena itu, babi itu belum menyerang. Gonggong si belang cepat berhenti karena babi jantan menyerang si belang. Si belang melompat ke samping. Babi jantan terdorong ke depan. Si belang cepat melompat ke punggung babi itu. Si belang sudah berada di punggung babi. Tapi, sebelum si belang memperoleh posisi yang baik, babi itu masih sempat mempergunakan taringnya sehingga leher si

belang kena dan mengeluarkan darah. Tapi, si belang tidak lagi melepaskan pundak babi jantan itu. T aringnya yang tajam dan kukuh ditancapkan ke bagian punggung leher babi. Babi itu menggelepar dan berlari dengan berputar untuk menjatuhkan si belang dari pundaknya. Namun si belang tidak melepaskan gigitannya lagi. Darah babi muncrat. Namun, belum ada pertanda babi itu mau mengalah. Akhirnya, babi itu berlari ke satu batang pohon yang besar, mendorongkan pundaknya agar si belang terjepit. Dengan kaki belakangnya, si belang menahan dorongan itu. Taringnya tambah dalam ditancapkan ke daging babi. Babi betina melihat babi jantan dalam keadaan payah mulai mengambil ancang-ancang akan menyerang. Waktu itu, secepat kilat tangan Tio mengayunkan kampak, berusaha menghantamkan ke bagian punggung leher babi. Tapi, yang kena bagian punggung belakang saja. Babi itu cepat berpaling. Panggada yang ada di tangan Tio diayunkan beruntun, menghantam kepala babi itu. Tapi, babi itu terus maju mendorong, mendesak T io ke sisi tanah tinggi. Terkadang didorong ke rimbunan lalang yang ada di sekitar. Tio tetap berusaha menjaga arah mundur. Tapi, justru karena serangan babi itu yang terkadang berubah arah, sekali waktu dia tergelincir juga. Dia tersandar ke pohon aren yang berduri tajam. Duri pohon aren menusuk punggungnya. Terasa sakit. Cepat babi itu mundur ke belakang dan cepat pula melompat ke depan bermaksud menjepit T io ke batang pohon aren. Tapi, secepat itu pula Tio mengelak. Namun, betisnya sempat disambar babi dengan muncungnya. Luka menggaris, darah mengucur. Tio memperbaiki posisi sambil menghantamkan panggada ke sana ke mari, menghalangi jalan maju babi itu. Sekarang, Tio sudah bersandar ke dinding tanah tinggi yang keras. Kembali babi itu mengambil ancang-ancang mundur beberapa

langkah. Tio berhenti mengayunkan panggada. melengah.

Seperti

Dan, saat ini dipergunakan babi dengan menyeruduk cepat ke depan. Saat genting. Dan, Tio cepat mengelak ke samping. Kepala babi terhantam ke dinding tanah tinggi yang keras. Kampak yang tadi tertancap di pundak babi menjadi lepas. Cepat dipungut Tio, lalu menghantamkan kampak ke leher babi yang belum sempat berpaling. Akhirnya babi itu tidak berdaya sama sekali. Tergeletak di tanah dengan mata yang masih memancarkan sinar kemarahan. Kaki belakang si belang semakin lemah menahan dorongan babi jantan. Pantatnya sudah mulai kena ke batang pohon. Tio masih begitu payah. Napasnya satu-satu dan tubuhnya mandi keringat. Betisnya terasa pedih mengucur darah. Hingga dia untuk beberapa saat tinggal melihat saja. Napasnya tersengal. Urat sarafnya begitu tergoncang. Dan, secara perlahan diketahuinya, si belang sedang berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan bersamaan dengan mengendornya urat saraf itu. Bersikap mengayun kampak, Tio maju perlahan. Tapi, waktu itulah sebuah tombak yang sudah cukup dikenalnya tertancap ke perut babi. Ronggur telah ada di sana dengan tubuh berkeringat. Matanya menyala marah. Ototnya mengencang. Ujung tombak satu lagi dipegang Ronggur kuat-kuat, hingga mata tombak tambah dalam tertanam ke perut babi. Kemudian Ronggur memerintahkan agar si belang melompat dari pundak babi. Begitu si belang me lompat menjauh, secepat itu pundak babi dihantam Ronggur dengan kampak. Babi itu akhirnya rubuh ke tanah. Tergeletak di tanah dengan gelepar lemah. Ronggur melihat Tio terduduk di tanah dengan napas tersengal. Di dekat seekor babi betina yang terkapar. Si belang masih menggonggong babi yang tidak berdaya itu dengan moncong berlumur merah darah babi. Tapi, lehernya luka kena taring babi.

mereka lanjutkan memanggang daging babi itu dalam gua. punggungnya bergaris-garis bekas tusukan duri. Ramuan itu membunuh bisa. Masih merasa capek. Dan. Tanpa diminta Ronggur. di situ pula kau merubuhkan babi yang dagingnya enak. Lukamu akan cepat sembuh. Cepat Ronggur menjauh.Dengan senyum. Sepotong paha diberikan kepada si belang . Seketika terasa mulut luka itu perih hingga T io harus menjerit kecil. Malam harinya. betis Tio luka. Ronggur mengelus punggung si belang agar tabah. Ronggur mendekati T io. membuat sarang babi yang sekaligus menjadi kurungan bagi anak babi itu. Tapi. Kedua ekor babi itu dibakar sampai kulitnya hangus." ucap Ronggur. lukamu perlu cepat diobati. Lagi pula lukamu tidak berapa dalam. Ronggur mengangkat dagunya perlahan. sedang pada Tio dihadiahkan senyum manis. "Kau telah mengadakan perlawanan yang cukup berani dan berarti. Sedang anak babi yang lima ekor itu akan mereka bawa pulang ke kampung. merasa malu dia dilihat Ronggur dalam kepayahan. "Tidak berapa lama akan tidak terasa apa-apa. Hanya begitu. juga luka si belang. Baru kemudian daging babi itu dipotong kecil-kecil. Ronggur kembali menghadiahkan senyum. Kemudian isi perut babi itu dibuang. Ramuan dedaunan itu dilekatkannya ke luka Tio dan si belang. Tio terus saja menceritakan mula perkelahian dengan babi itu." Cepat Ronggur menghidupkan api. Begitu juga luka s i belang. Di saat kita kehabisan daging. Mencari dedaunan untuk ramuan mengobati luka Tio dan si belang. Mata mereka bertemu. Lalu tahulah dia. Dijemur di panas matahari supaya kering dan tahan disimpan. dipelihara menjadi babi peliharaan yang jinak. sedang si belang melengking perlahan. Tio menjalin rotan. Tio masih tetap terduduk.

Bila Tio berma in dengan anak babi itu. Tali yang dipintal Tio sudah beberapa depa dan sudah ada lima gulungan besar yang selesai. Ronggur sudah selesai menghaluskan bekas tuhilannya. Mereka langsung menuju tepian danau yang ada di mulut teluk. tapi tidak. Hendak mereka bawa pulang. Setiba di tepi danau. Sedang luka di betisnya sudah sembuh. Pada penglihatan mata. hanya tinggal bekas kecil saja. kedua sisi dinding perahu. dan jinak. Dengan tali yang dipintal Tio. la asik menyabik-nyabiknya di mulut lobang perlindungan. mereka tidak menakutkan dasar perahu bolong dibuat batu. tinggal segaris saja.sebagai hadiah. tahulah . jadi. Mereka harus menguji keseimbangan perahu dulu dengan mengapungkan di permukaan danau. sudah sama. Dan. Begitu pula anak babi yang lima ekor itu sudah punya bulu yang agak kasar. tidak diingatnya lagi betapa perasaannya waktu menghadapi kedua ekor induk binatang itu. Di dalam perahu. ditumbuhi bulu lagi. Perahu yang dikerjakan Ronggur tambah berbentuk dan mulai mengarah ke tarap penyelesa ian. Perahu yang cukup besar yang bisa memuat tujuh orang penumpang bersama peralatan. Tanah begitu lembut dan berair. begitu pula perbandingan berat hulu perahu dan buritan perahu. semua peralatan bersama kelima anak babi dimuat. Begitu pula luka di leher si belang. Batang pohon maranti batu yang dulu begitu berat. Karena jalanan menurun dan dedaunan membusuk di lapisan tanah. Kulit binatang buruan sudah pada mengering. Ronggur dan Tio mengosongkan perahu. Si belang mengikut dan menggonggong. sekarang sudah ringan. Ronggur mengikat perahu itu pada hulunya. mereka tidak pulang melalui jalan darat. Ronggur dan Tio menurunkan perahu itu dari galangan. Kemudian mereka menarik tali itu dan terseretlah perahu. matanya sudah terbuka.

perahu kembali diapungkan. Bila lekuk teluk telah dilewati. Tapi. Senja hari. Ronggur . sehingga perahu selalu oleng ke kanan. Walaupun Ronggur sudah duduk di buritan perahu. Tahu pulalah dia bahwa bagian sisi kanan perahu. Ronggur mencampakkan pandang jauh. lebih berat dari sisi kiri. tidak dihiraukan. haluan itu masih bergaya mau tenggelam. bersama kelima ekor anak babi itu. Ronggur lalu merekatnya dengan getah pohon damar. namun dia masih mengharapkan. Kembali perahu didaratkan. Bila keseimbangan perahu telah diperoleh. Juga mata kayu yang ada di dasar perahu yang tidak dapat dielakkan sejak mula.dia. kembali segala peralatan dimuat ke dalam perahu. sebelum perahu rampung benar. Haluan perahu terlalu berat. ke teluk di mana bermula Sungai T itian Dewata sudah ada. Membuang bagian yang tidak berguna. mereka telah berada di danau bebas. Mereka menuju pulang. kembali dia teringat bahwa saat berpisah dengan Ronggur sudah semakin dekat. tidak baik dibawa berlayar. Apakah Ronggur akan kembali lagi? Wa lau dia tahu bahwa sesuatu ancaman sedang menanti Ronggur. ternyata dapat ditembus air. bagi T io sendiri setelah mengayuh perahu di permukaan danau. hendaknya Ronggur dapat kembali dengan selamat. setelah diuji masih mempunyai perbedaan. juga si belang. Jadi. Mereka berkayuh dan berkayuh. Sampai tercapai keseimbangan. Perahu yang begitu rupa. Tari warna berma in di riak danau. Ronggur menipiskan bahagian haluan lagi. Setelah itu selesai. Tapi. Karena dasar perahu agak luas terasa pendayungan agak berat. apa yang bagi penglihatan mata sudah punya keseimbangan yang sama. malam sudah melingkup segala. Sisi kanan perahu harus lebih direndahkan dan ditipiskan pada bahagiannya yang masih tebal. mereka harus bermalam lagi untuk beberapa malam di tepi danau.

Permukaan danau kembali memantulkannya ke langit. Tapi. secara berangsur. Tapi. Subuh baru telah lahir bersamanya lahir hari baru dengan harapan baru." Tio hanya menundukkan kepala. kebisuan yang meraja. Bulan mencurah cahaya. maka terhamparlah depan mereka persawahan yang bermula dari tepian danau. Suasana yang romantis. padi telah menguning di sawah. bulan semakin mengundurkan diri. Tio lebih banyak diam dan tenggelam ke dasar perasaannya: bagaimana kelak kalau Ronggur sudah berangkat? Apakah orang masih memperlakukannya dengan baik? Sedang Ronggur diamuk satu kepercayaan bahwa dia akan menaklukkan Sungai Titian Dewata bahwa dia yakin. aku tahu. Sinar matahari telah meng-kuakkan tabir kegelapan. memperhatikan jalan. Bertambah larut malam. apakah ada perahu lain yang bersilangan dengan mereka. Menari bersama riak danau. kemudian di ufuk timur. "Tio. Perahu terus dikayuh. menggaris cahaya putih. Sepanjang malam mereka terus berkayuh di permukaan danau yang tenang dan tidur. Ronggur tinggal tersenyum karena . saatku berangkat tiba. B intang gemerlapan di langit. "Ya. Mardege. berakhir pada kaki pegunungan batu. sehabis memotong padi. Sungai Titian Dewata akan membawanya ke tanah landai lagi subur. Harus terus turun ke sawah memotong padi. perlahan. Bila gelombang membesar. ada baiknya diserahkan saja pada orang lain." "Dan. Tanah yang diimpikan setiap orang. Maka sekitar diselubungi kegelapan. Aku tidak bisa lagi berlama-lama mengundurkan saat keberangkatanku. Kita tidak punya waktu mengasuh lagi.menyuruh Tio agar duduk di haluan perahu." kata Ronggur. antara mereka berdua.

Tapi. terutama rakyat yang langsung berada di bawah lindungannya sebagai Raja Ni Huta. Orang mencampak pandang pada mereka. walaupun tidak secara terangterangan. Kalau tidak ditegor lebih dulu. utusan kerajaan datang. Tidak seorang pun menanya tentang perahunya dan kapan dia berangkat. masih sembunyi. Belum siang benar. Sebagian lagi. Orang sudah banyak memanen padi di sawah. semua itu tidak berapa diacuhkan Ronggur. serpihan air yang dilemparkan ombak tidak dapat memasuki perahu. dan memperoleh jawaban sekedarnya saja. Tapi. Dan.gelombang danau tidak dapat mengolengkan perahunya. itupun ccdw-kzaa 4 Hari itu juga. kenapa mereka pada membisu. Selagi Ronggur dan Tio membuat perahu di hutan. mereka telah tiba ke tepian danau perkampungan. Dia lalu di sana. orang sudah saling berbisik membicarakan maksud Ronggur hendak melayari Sungai Titian Dewata mencapai muara. tidak gembira menyambut kedatangannya bersama perahu yang dibuatnya sendiri. Ronggur melangkah dengan dada diangkat. Para penangkap ikan me lihat mereka. Pada umumnya orang tak dapat menyetujui maksud itu. Tampaknya setiap orang enggan bersapaan dengan Ronggur. atau memang dia belum tahu sebabnya. sebagian besar. begitu pula Tio. Ibunya melepaskan dengan tatapan pilu. Ronggur belum dapat mengartikan. sebelum Ronggur sempat mengasuh. ada yang mengejek. . tidak ada yang berani terang-terangan mengeluarkan pendapat. menyuruh Ronggur menghadap ke Sopo Bolon. Menyapa di sana-sini.

menuju matahari terbit. Raja Namora. tapi sebagian lagi merasa terhina. Dewata akan murka dan menghancurkan orang yang berani melanggar peraturannya. duduk berjajar Raja Partahi. sidang kerajaan akan diadakan hari itu. Raja Panggonggom sudah duduk di tempat dengan wajah murung. Matahari. Tempat para dewata dan arwah menghadap Mula jadi Na Bolon. Mulut tidak mengucapkan sepatah kata. tempat Mula jadi Na Bolon mengedari dunia setiap saat. hadir pula Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Di Sopo Bolon. Dan. Ronggur duduk di barisan Raja Ni Huta. duduk para Raja Ni Huta. Ronggur telah dinantikan kerajaan yang lengkap. Di kiri kanan Raja panggonggom. Segala Raja Ni Huta dari tiap kampung yang didiami marga mereka telah ada di sana. Bila seseorang berani melewati batas yang sudah ditentukan sampai di mana boleh seseorang berlayar. bila yang hendak dibahas hal penting. Semua mata diarahkan padanya. Kasihan dan ejek. Hanya Raja Ni Huta dari induk kampung marga yang duduk sejajar dengan Raja Panggonggom. begitu pula dari matahari Mula jadi Na Bolon. Memperoleh lalapan dari tiap mata itu. untuk melihat manusia yang mengerjakan hal yang baik.Satu sama lain saling mengeluarkan pendapat bahwa Sungai Titian Dewata. melihat orang jahat membuat kejahatan untuk diganjar kelak di hidup lain. itu berarti sudah melanggar ketentuan dewata. Di belakang mereka. membuat Ronggur . pertanda warta yang kurang baik. sebagian merasa kasihan melihat Ronggur. Orang pada diam sewaktu Ronggur memasuki ruang Sopo Bolon. yang selalu dipanggil menghadiri sidang kerajaan. Pada tempat tertentu. karena maksud perjalanan itu menantang kepercayaan rakyat yang sudah tertanam turun-temurun. Raja Nabegu. Dia terus tahu. Karena ada seorang manusia yang hendak meruntuhkan atau sama sekali tidak mengindahkan kepercayaan yang mereka anut. Diapit oleh para tua kampung.

tahulah Ronggur bahwa sidang akan membahas sesuatu hal yang sangat penting tampaknya. Memperhatikan gerakgeriknya." Hadirin pada diam semua. akan mendatangkan mara bahaya pada seluruh rakyat dan kerajaan. Menyimak yang diucapkan Raja Panggonggom. sewaktu matanya tertumpu pada orang tua yang duduk di sudut yang agak remang itu. yaitu bekas Datu Gelar Guru Marsait Lipan. menjemput tongkat panaluan dari tempatnya. dan bermaksud merubuhkan sesuatu yang kita percayai. Terutama Ronggur. dito-pangkan agar berdiri tegak lurus. Lalu Raja Panggonggom mengangkat tangan yang sebelah kanan. Tapi. Sewaktu Ronggur mengalih pandang tahulah dia bahwa Raja Panggonggom terus menerus menancapkan pandang ke arahnya. kami undang hari ini menghadiri pertemuan kerajaan di Sopo Bolon ini." lanjut Raja Panggonggom. hatinya tambah . yang bertanggung jawab akan kelanjutan hidup marga dan keturunan kita kelak. "Semua kerajaan. ada sesuatu hal yang sangat penting kita bicarakan dan bahas bersama. Yang bisa menimbulkan kegaduhan yang tidak kecil di kalangan rakyat. Ruangan tetap hening." Melalui ucapan Raja Panggonggom sebagai kata pembukaan rapat. Untuk pertama kalinya orang tua itu menghadiri sidang kerajaan dengan terang-terangan. tahulah Ronggur bahwa hal yang akan dibicarakan bersangkut-paut dengan maksud perjalanannya menembus Sungai Titian Dewata. Dari suasana dalam Sopo Bolon. "Hal itu. "tampaknya mengancam. Orang tua itu menyambutnya dengan senyum yang dibalasnya selintasan. pagar kesatuan marga. Pertanda pertemuan dimulai. Malah menurut sebagian orang.agak kaku juga sikapnya. perasaan kaku itu berangsur menghilang dari tubuhnya. orang tua yang bijaksana. Karena itu. Tongkat itu digenggam. Karena.

sehingga putusan itu nanti menjadi pendapat kita yang mutlak. dia berpendapat. Karena itu. jalannya pertemuan itu. Paduka Raja. Apakah ada orang yang bisa diharapkannya untuk membela maksud perjalanannya itu. yang disampaikan orang itu ternyata benar. lalu menyokongnya? Apakah mereka semua akan menjadi musuh. Setelah mencampakkan pandang pada Ronggur. Camkanlah baikbaik pentingnya maksud pertemuan ini.gedebak-gedebuk. Ronggur sudah mengakui terus terang sehingga jalan rapat tidak terlalu repot dan berbelit. Dia yakin. coba ceritakan pada kami. Karena itu. Untuk itu. kita harus mengucapkan terimakasih padanya. Ronggur." Raja Panggonggom berhenti sebentar." lanjut Raja Panggonggom. "Nah. menantikan putusan rapat. dia melanjutkan: "Ronggur. dia lalu membeberkan hal yang kan dialam i marga mereka kelak bila tanah habungkasan tidak ditemui. dia mengharap agar . Apakah berita itu benar?" "Benar. kami dengar kabar kau sudah menyelesaikan perahu yang akan kau pergunakan menyusuri Sungai Titian Dewata untuk mencapai muara. "kami berpendapat harus melalui musyawarah lengkap yang boleh mengambil putusan tertentu terhadapnya. katanya selanjutnya. Tanah yang dimimpikan tiap orang. tanah habungkasan itu harus dicari. Dan. sidang yang terhormat. yang menantang maksud perjalanan itu? "Karena hal ini sangat menentukan. kenapa kau begitu bernafsu hendak mencari Sungai T itian Dewata?" Ronggur disuruh berdiri." sahut Ronggur. setelah mencampakkan pandang ke sekitar. Karena kau bermaksud akan mencapai tanah habungkasan. Atau. seseorang yang berani melayari Sungai T itian Dewata sampai ke muara berarti akan sampai ke tanah landai yang subur. Dia menarik napas. yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.

Pada mulanya kita harus berani membuang tenaga dan waktu untuk mencangkul tanah. Seketika Ronggur berhenti.kerajaan memberi izin padanya untuk menyusuri sungai itu sampai ke muara dan membolehkan beberapa orang menjadi kawannya. Rapat hening. "Perjalanan ini menghadapi risiko yang tidak kecil. "Ronggur. tahukah kau bahwa perjalananmu itu sangat berbahaya?" "Benar Paduka Raja!" sahut Ronggur." Dalam hati kecilnya Raja Panggonggom menghormati sikap terus terang dan keberanian yang dimiliki Ronggur. katanya tegas. Dasarnya lebih lebar dari perahu biasa. Sungai T itian Dewata tidak berakhir di ujung dunia." "Sudah siap semua yang ingin kau ucapkan?" tanya Raja Panggonggom. Percikan air tidak mudah masuk ke perahu karena dinding perahu kubuat agak tinggi. "Aku telah memilih kayu yang paling baik jenisnya. Tidak mudah oleng waktu melalui arus riam sungai. Dari s ikapnya tampak bahwa dia sama sekali tidak mengingini mendengarkan ucapan Ronggur. Ronggur melanjutkan. Tapi. Daya apung perahu sangat baik. Tapi. Lama sesudah itu baru tanah memberi hasil pada kita. . karena maksud perjalanan itu sendirinya pula membelakangi kepercayaan rakyat dan kepercayaan sendiri. Hanya wajah Datu Bolon Gelar Guru Marlasak yang menjadi merah padam mendengar semua omongannya. Tak ubah seperti mengerjakan sawah. seseorang yang berusaha mencapai sesuatu kebajikan akan selalu menghadapi risiko. "Sudah. maka soalnya menjadi lain. Paduka Raja!" jawab Ronggur lalu kembali duduk bersila di lantai.

aku seorang manusia yang telah menyia-nyiakan satu kesempatan. izinkanlah aku untuk memikul segala risiko itu bila yang kurasakan dan kupikirkan itu salah!" "Bagaimana pendapatmu tentang Sungai T itian Dewata?" "Paduka Raja. Tanah landai itu begitu luas. Selanjutnya mimpi itu selalu mengatakan padaku. kau pasti akan mendapat bencana. Tidakkah kau tahu bahwa Sungai Titian Dewata itu sungai yang jatuh ke ujung dunia? Sungai Titian Dewata jalan para dewata dan arwah menghadap Mula Jadi Na Bolon. karena maksud perjalanan ini tidaklah untuk kesenangan perseorangan saja. Wajahnya memancarkan sinar kemarahan. tapi bertujuan untuk kepentingan bersama. "Paduka Raja. Aku telah rela menerima dan memikul segala risiko itu. Turun temurun. aku selalu digoda mimpi. Aku orang yang tidak dapat dikatakan seorang lelaki." Datu Bolon Gelar Guru Marlasak cepat berdiri. sebelum bencana itu menimpa dirimu. bila warta mimpi itu tidak dapat kutunjukkan dalam kenyataan. aku akan tiba ke tanah landai di muara sungai. memang padaku diajarkan kepercayaan begitu rupa. Bisa menampung kebutuhan kita dan keturunan kita kelak akan persawahan." "Paduka Raja." "Apakah kau tidak mungkin digoda setan?" potong Raja Panggonggom. yaitu menyusuri Sungai Titian Dewata. maksudku tidak di situ saja. Mulutnya cepat-cepat mengeluarkan kata: "Ronggur! Menurut kepercayaan kami. Tapi. menurut hukum yang diwariskan kepada kami. bila aku tidak memulai perjalanan itu. berartilah aku digoda setan. ada baiknya kau . berilah kesempatan padaku untuk membuktikannya atau aku sendiri akan musnah. Mimpi itu selalu mengajak aku agar memulai satu perjalanan. Jadi. Tapi."Ronggur. Dadanya naik turun dengan cepat. Mimpi itu mewartakan bahwa bila aku melayarinya.

Tapi. "Apa yang menggoda hatimu? Apakah kau dengan perjalananmu yang akan menimbulkan bencana dan yang telah menimbulkan huru-hara terpendam di kalangan rakyat dan para hulubalang." sindirnya pula dengan halus dan tenang. Kerajaan kita akan berakhir pada suatu yang menyedihkan. tanah habungkasan perlu dicari. "Begitulah rasanya." jawab Ronggur dengan tabah dan tenang." kata Datu Bolon menyindir. Aku selalu memperhitungkan dan tetap merasakan. yang kuhormati kebenaran tenungnya." "Kalau begitu. bencana yang mungkin meruntuhh-an kelangsungan hidup marga.mengurungkan niat itu. Kemarahan dewata tidak saja menimpa dirimu. Padi di sawah akan tidak menjadi. Yang kuhormati arwah halus penjaga diri dan yang dapat dipanggilnya untuk membisikkan sesuatu pendengarannya. T api. masih kau katakan untuk memperjuangkan kelanjutan . "Ronggur. dengan hentakan kasar mengatakan. Soalnya bila Datu Bolon meninjau dari sudut gaib. yang menanti saat meledak sehingga ketenteraman hidup terganggu dan kucarkacir. tidak ada lagi sesuatu hal yang bisa mengurungkan niatmu. kau juga harus tahu karena yang kau tantang itu hukum dewata. justru karena keinginanmu untuk mengharungi Sungai Titian Dewata. Kerukunan keluarga akan hancur. "Seperti tidak ada sesuatu kekuatan yang dapat menghentikan orang mengisi perutnya. Kalau cuma kau yang dikutuk dewata tidaklah menjadi soal besar. ini menyangkut seluruh marga kita." tiba-tiba suara Raja Nagebu meninggi. Tidakkah dapat kau rasakan ancaman mara bahaya yang akan timbul dan menimpa warga marga itu?" "Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. aku melihat dari kenyataan sesuatu perhitungan yang hasilnya pasti tiba. tapi semua marga akan dikutuknya. Diusahakan menemukan. Aku percaya bahwa Datu Bolon pun memikirkan hal itu. Justru karena memperhitungkan hal itulah aku mengambil kesimpulan.

Lalu melanjutkan. bila untukku sendiri dan jaluran keturunanku langsung. Biar kau mengambil seorang istri atau lebih. Jelaslah sebenarmya kau mengimpikan sesuatu yang maha mulia dialamatkan pada dirimu. tapi kita semua. Marga kita. Kalaulah yang kuimpikan bisa nyata dalam kenyataan tidak bermaksud aku disebut penemunya. Wajahnya bertambah merah. kemudian istrimu itu melahirkan anak banyak. Dalam saat itu. Belum perlu menguatirkannya. kau memang sengaja mencari nama. Jadi. dan Raja Ni Huta dari induk kampung. Raja Namora." Keadaan menjadi sunyi. Maksudku jauh dari dugaan tuanku. Tahukah paduka raja bahwa banyak dari marga ya'ng hanya punya tanah beberapa bidang dan hanya dapat menghasilkan padi yang cukup untuk makanan sekedarnya saja? Dan mereka terus saja melahirkan anak. Sekali-kali tidak. T api. Juga aku tahu. pemegang tampuk dan penggerak para hulubalang perkasa. sawah yang dikuasakan padaku memang cukup memberi nafkah. Raja Nagebu. kau belum perlu menguatirkan makanan untuk mereka. .hidup marga dan keturunan? Atau. Hasil sawahmu memberi jaminan. Dan tahulah paduka raja bahwa permintaan bantuan dari lumbung desa setiap tahunnya bertambah banyak juga? Sehingga kita tidak bisa lagi mengadakan pesta pujaan terhadap Mula Jadi Na Bolon dengan besar-besaran? Inilah semua yang jadi persoalan. tapi ketololan. Raja Panggonggom mengadakan sidang kecil dengan para Raja Partahi." Seketika dia diam." "Paduka Raja Nagebu. menunjukkan bahwa kau lebih berani dari setiap hulubalang kita. pokok persoalan sekarang di sini bukanlah aku. bukan diriku dan bukan pula hanya diri tuanku saja. anak yang perlu kita beri makan. sehingga patentengan menantang hukum dewata? Ronggur menantang hukum dewata bukanlah keberanian. bidang sawah yang diserahkan atau dipercayakan kerajaan padamu cukup luas lagi subur. "Ronggur.

Dalam igaunya selalu mengatakan. Almarhum ayah paduka raja diserang seekor harimau dengan tiba-tiba. yang kutemui berbeda dengan hasil tenungku. "Bapak bekas Datu Bolon." "Sesudah itu?" "Aku sendiri pulang ke mari. tetap juga menerimaku kembali. Dia tidak pernah lagi pulang.Kemudian mereka panggil pula Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. yang mewariskan kedudukan Raja Panggonggom pada kami. Pembalasan dewata telah datang!" . Tapi. almarhum ayah kami memberi izin pada bapak untuk mengharungi sungai tersebut. sabahat karibku. Bagaimanakah hasilnya?" Orang tua itu berbicara perlahan. tidak lama kemudian kami mengadakan pemburuan." "Selanjutnya. yang pernah meminta izin pada almarhum ayah kami. Kami mengalami kegagalan. Jelas tampak mereka sedang mengambil ketentuan dan keputusan rapat. sebagai undang-undang kerajaan yang tidak boleh dibantah. menceritakan kegagalannya dulu mengharungi Sungai Titian Dewata. bagaimana?" tanya Raja Panggonggom. untuk mengharungi Sungai Titian Dewata. Tiba-tiba saja Panggonggom menyuruh bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan. Menurut pustaka kerajaan. berbicara pada hadirin. Mereka berbicara perlahan. "Pembalasan dewata telah datang. Dia temanku. tapi dari tiap wajah memancar kesungguhan. "Ayah Ronggur memperoleh cedera dalam perjalanan itu. Karena almarhum ayah paduka raja. sehingga beliau memperoleh luka yang mengakibatkan kewafatannya. yang akan diumumkan pada seluruh marga. Tapi. "Memang benar Paduka Raja bahwa aku pernah meminta agar diberi izin mengharungi Sungai Titian Dewata. Di s itulah mendapat kenahasan.

sesuatu maksud baik harus dibatalkan? Apakah tidak hanya satu kebetulan saja hal nahas itu mendatang?" "Kutanya padamu. Tapi. . Akhirnya dia mengatakan: "Paduka yang bijaksana. telah mendengarkan satu pengakuan dari seseorang yang pernah mengharungi Sungai Titian Dewata. Apakah setelah mendengar pengakuan ini kau masih bermaksud meneruskan niatmu? Berilah jawaban." Ronggur terdiam. yang menimbulkan kemarahan para dewata. Maksud yang baik. terutama kau Ronggur. Bintikan keringat melebihi keningnya. Lalu sebelum Ronggur memberi keputusan. Ronggur. Golongan raja kembali mengadakan sidang kilat. apakah karena satu kegagalan. Ronggur!" Ronggur terdiam beberapa saat."Apakah tidak mungkin. Ronggur telah melupakan riwayat nenek moyang dan berusaha merombak kepercayaan yang kita anut atau menurut kata Datu Bolon Gelar Guru Marlasak." kupastikan. apa yang dimaksudkannya itu karena mengizinkan bapak mengharungi Sungai T itian Dewata dan menerima bapak pulang kembali?" "Tidak dapat maksudnya. Tapi. telah menghina kepercayaan yang kita anut. apakah kau masih bermaksud meneruskan niatmu atau mengurungkan setelah mendengar pengakuan bekas Datu Bolon yang sudah disisihkan orang dari kehidupan ramai? Lain tidak! Dia membawa kenahasan bagi kerajaan. boleh juga begitu "Hadirin semua." Hening sejenak. Dia dihadapkan sudah pada saat yang menentukan. Belum memberi sesuatu pilihan yang menentukan. Raja Panggonggom mengatakan: "Kita telah sama mendengarkan cerita bahwa Ronggur hendak mengharungi Sungai Titian Dewata untuk mencari tanah habungkasan.

Sawah yang telah dipercayakan padanya disita kerajaan. hendaknya urungkan dan batalkan niatmu sebelum terlambat. Dirangsum ala kadarnya!" "Syarat ini kami ajukan justru karena kami berpegang pada satu kepercayaan: siapa saja yang mengikuti perjalanan Ronggur. agar tidak membolehkan rakyat yang ada dikampungnya membantu dan mengikuti perjalanan Ronggur. "Jadi kami umumkan pada semua Raja Ni Huta. Bila dia mulai me langkah dari gerbang kampung memulai perjalanan. Kalau ada orang yang membunuhnya dalam perjalanan. Biarlah kami dan marga kita disebut pengecut. jalan para dewata dan para arwah menuju matahari terbit tempat Mula Jadi Na Bolon bersemayam. gelar Hulubalang Muda dicabut kembali!" "Dia tidak boleh memakai nama kerajaan kita untuk melindungi diri dari kutukan dewata. Ronggur sendiri yang harus memikul risikonya. Kalau kau Ronggur tidak dapat menerima syarat ini. siapa saja yang membantunya mengharungi Sungai Titian Dewata. akan turut dikutuk oleh dewata. kau akan tidak dianggap anggota marga lagi. untuk menimpa . Kami tidak mau mengulangi kenahasan yang pernah menimpa almarhum ayah kami. marga kita tidak akan menganggap serangan itu serangan yang langsung pada marga kita. dan menjadi undang-undang bagi kita semua. Begitu pula gelar Raja Ni Huta Muda. Bila kau mengalami kegagalan kemudian kau pulang ke kampung ini. dari gangguan setan. namun melawan dewata kita tidak mau. tidak seorang pun dari warga yang dibolehkan mengikuti dan membantu perjalanannya. Kau akan ditangkap dan dijadikan budak belian. Ibunya yang sudah tua akan dibelanjai langsung oleh lumbung desa. ialah bila Ronggur meneruskan niat itu. dan dari gangguan perampok di tengah jalan. maka dia tidak berhak lagi mencantumkan marga kita di belakang namanya."Saran yang dapat kami ajukan pada Ronggur.

Pada kening Ronggur menitik keringat. bila aku menemui tanah habungkasan yang landai lagi subur. Bersabung dengan petir dan kilat. kau tidak dapat memberikan keputusan? Kau merasa takut dan bimbang? Karena itu kami sarankan. secepat mungkin aku akan berangkat. "Ronggur. janganlah sekali-kali mencoba untuk menentang kepercayaan yang kita anut bersama.diri kami sendiri. Ronggur masih tertunduk juga. Dan. . Di wajah Datu Bolon Gelar Guru Marlasak dan Raja Nagebu membayang kepuasan. bagi kalian semua. Tidak sanggup mengangkat kepala. Pikirkan baik-baik Ronggur. akhirnya Ronggur berdiri dengan menghentak: "Semua pertaruhan yang dibebankan ke pundakku aku terima. Para Raja Ni Huta lain dengan takjim menerima undang-undang Raja Panggonggom. ibuku. berilah jawaban di tempat ini juga. tidak berhak lagi memanen padi dari sawahku yang sedang menguning. Belum berdiri untuk menyatakan pilihan. Dengan satu janji." Keadaan menjadi hening. "Ronggur. Bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan menundukkan kepala. Pada wajah dan sikapnya tergambar bahwa mereka akan melaksanakannya sebaik mungkin. Dengan wajah merah serta sinar mata yang manyala. Karena itu. janganlah menghina diri sendiri. hujan turun menderu. hasil penemuan itu akan tetap kuhadiahkan bagi margaku. sehabis mengucapkan pilihan itu. Nada suaranya mengejek. Sejak tadi di luar Sopo Bolon. Aku. katakanlah pilihanmu. Orang semua mengangkat kepala dibuatnya." Suaranya mengguntur mengalahkan suara petir yang bersabung di luar Sopo Bolon. Membakar dada Ronggur. Dan. biar kami tahu mengambil sikap." kata Datu Bolon Gelar Guru Marlasak." kata Raja Panggonggom memecah kesepian.

Di antara isaknya sendiri dia mengatakan: "Maafkanlah aku. dia tidak memperdulikan keadaan alam itu. Gonggong si belang menyambut di tangga rumah. yaitu kepahitan dan kegetiran hidup di saat hari tuanya. Katakanlah. Dia menerjang ke tengah hujan. Tapi. Sebelum ditanya Ronggur dengan suara lantang karena masih marah. Maafkan anakmu ini. walau udara begitu dingin. kaki. Katakanlah Bu. aku tidak boleh pergi. Aku akan minta maaf pada kerajaan atas kelancanganku. Ibunya cepat mengangkat wajah. dia sadar bahwa orang tua itu telah dihadapkannya pada satu kenyataan.Ronggur terus meninggalkan ruang Sopo Bolon. mencapai kampung di mana dia sebelum itu memegang tampuk Raja Ni Huta Muda dan Hulubalang Muda. Cepat Ronggur mendekat. Pintu rumah cepat dibuka Tio. Aku harus menggagalkan niat perjalananku itu. Perasaannya terbakar. sewaktu matanya tertumpu ke biji mata ibunya yang berseri. dadanya panas. Otot Ronggur mengeras. Ibunya jadi kaku tegang. Aku akan menuruti ibu. Dilihatnya Ronggur basah kuyup. Tangan. seperti patung tanpa nyawa. dan halilintar yang bersabung dengan petir. angin. lalu menyembah sujud di kaki perempuan tua itu. yang mulai digenangi air bening tipis. tubuh Ronggur masih menggetar tidak karena merasa dingin. Aku telah mempersusah hidupmu. menatap padanya. Yang sepantasnya tidak wajar lagi hidupnya disusahi. menceritakan semua keputusan rapat dan pilihannya sendiri. Tidak mau berteduh ke dangau yang ada di tengah sawah. Pertanda berita yang kurang baik. Terus melangkah melewati sawah yang pematangnya menjadi licin. dia terus melangkah cepat di atas pematang yang licin. wajahnya memerah. apa yang harus kuperbuatl" . Bu. Tapi. Orang yang berhenti memotong padi dan berteduh di dangau melihatnya begitu saja. tapi karena marah.

untuk pergi selamanya. Tidak cepat ibunya menyahut. anaknya bungsu. kau tidak boleh mengurungkan niatmu lagi. Mengusap perlahan sambil lalu mengeringkannya. Harus begitu kau. Kau harus meneruskannya. Kau tidak boleh membatalkan yang telah kau pilih. Perempuan tua itu tidak mengisak lagi. menghadapi wajah dan mata ibunya yang bersedih. mengikuti lingkaran pegunungan. menginginkan setetes dua air melalui kerongkongan kering. membelai kepalanya yang masih basah. Segala tekad menjadi kendur. mencari mata air yang bening. Tangan ibunya yang sudah mengkerut. Tapi dipecahkan suara halus yang bermula dari T io. anakku sulung anakku bungsu. Telah rela melepas anaknya sulung. Keheningan merayap di ruang mereka berada. mempertaruhkan keyakinan diri. Segala air mata telah dihamburkan dari dasarnya sampai kering." Seketika ibu tua berhenti. tidak mau anak lelaki berhati betina. lalu duduk di sisi anak beranak itu.Perasaan marahnya telah mencair. Sendu." Sambil berkata Tio mendekat. Kau telah mengatakan dalam pertemuan raja dengan berani. demi hasrat diri yang tidak mau melihat ibu kandung yang sudah tua mengalami kesusahan. seorang lelaki berhati jantanl Ibumu ini. tapi disambung pula. "Bawalah daku bersamamu. . karena anaknya di sarang." Perempuan tua itu tidak mengucurkan air mata lagi. Jadilah. Kemudian mengatakan perlahan-lahan: "Ronggur. tanpa memperdulikan arti haus dan dahaga. suaranya sudah tambah jelas dan tabah: "Seperti terbangnya burung ambaroba. bila berani tidak mengingkari janji. Bawalah daku. jangan tinggalkan daku. walau apa yang akan terjadi. Telah tabah menerima segala yang tiba. mengitari tebing curam. tapi dapat disebut jantan. Seorang lelaki yang berani mengatakan maksudnya.

diukir dengan huruf Batak. "Tio. Angin di luar tambah kencang. Ronggur melepaskan diri dari pelukan ibunya. Supaya terhindar dari godaan setan. yang tertancap ke biji matanya tanpa mengedip. Bila kelak kita tidak bisa kembali lagi agar Mula Jadi Na Bolon tidak murka padamu. apa yang akan kutemui bila tafsiran mimpiku meleset?" "Aku sudah tahu. Halilintar dan guruh terus bersabung. Ibunya menyelipkan pisau gajah lompak ke pinggang Ronggur. Perlahan pula. berkerisik dan bunyinya begitu ngilu pada pendengaran. Yang berukirkan kakek kesatuan keturunan mereka yang langsung. Di tengah malam buta. ibu Ronggur merenggangkan pelukannya dari tubuh Ronggur." Lama Ronggur menatapi wajah Tio yang sudah punya kepastian sinarnya. Mereka menyongsong terbitnya fajar. Tidak ada lagi satu kekuatan yang dapat menghalangi maksudnya. Kemudian pada Ronggur diberikannya ajimat yang terbuat dari besi putih. terbuat dari jalinan benang berwarna tujuh. ccdw-kzaa . Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan datang ke sana. dapatkah kau menduga kemungkinan yang bisa saja menimpa diriku dalam perjalanan? Tahukah kau. Bila fajar pagi terbit pertanda hari baru tiba mereka sudah harus berangkat. Dia menjampi Ronggur dan Tio.Perlahan. Olehnya tekad Ronggur kembali pada pijakan semula begitu kokoh. Aku sudah maklum. Di rumah itu orang terus sibuk. Menyiapkan yang perlu mereka bawa. Angin melanggari pucuk dan batang bambu duri. agar selamat dalam perjalanan. Juga pada Tio diberinya ajimat. hujan rasanya tidak akan henti. katakanlah bahwa arwahku kau bawa serta sebagai sembahanmu padanya. pisau pusaka turun-temurun. Lalu menatap dalam ke biji mata Tio.

Ronggur menatap pada ibunya.. galah. melalui renggangan batang bambu duri. Pulau Samosir Tuktuk Sigaol tidak tampak. dan si belang sudah berada dalam perahu. Tombak. Di darat kabut tipis saja. sudah di tempatnya. Tempat begitu lapang. Orang lain sudah dilarang untuk mengantarkan mereka. panggada. Udara cukup dingin. Tapi. Beberapa depa saja dapat ditembus pandang. tumbang. Dua tiga biji bambu duri terbelintang di tengah jalan. Pengganti tangan bunda . Lalu pada orang tua itu. Beras sesumpit. dan sesumpit batu sungai yang keras. Tapi. Juga mereka bawa mata pancing serta talinya. memikat hati orang di sekitarnya. Pengayuh. tak terduga . Ronggur. permukaan danau. keberanian yang tidak gentar menghadapi sesuatu soal pada saatnya. Pada leher Ronggur membelit ulos batak ragi purada yang dibelitkan ibunya. dicampakkan pandang ke tengah kampung. di saat dia harus meninggalkan perkampungan itu untuk satu perjalanan yang belum tentu akhirnya. Tio." Hanya perempuan tua itu dan bekas Datu Bolon di tepian danau mengantar mereka. Disumpit lain daging kering. Air danau alangkah dinginnya. Tingkah lakunya yang sopan serta ramah-tamah. dibelitkan ulos batak ragi purada yang diiringi kata. kabut mengental. kampak. Mencari bekas kehidupan masa lalu di sana. Begitu juga pada leher Tio. . Bertambah segar karena mengandung butir air. penimba air. Karena itu dia banyak mempunyai teman. di kala dingin mencekam. jika bertambah jauh ke tengah. Hijaunya dedaunan dapat juga dilihat pandang. "Belitkanlah pada tubuhmu. . Tanah lembab pertinggal hujan semalam.5 Masih pagi benar. sebelum perahu hilang ditelan kabut. ambalang.

Di mana dia pernah disanjung puja. Untuk digantikan warna putih saja pada akhirnya. tapi tidak boleh pamitan. mengiakan. ibunya mencampakkan diri ke pohon hariara yang besar itu. Temannya sebaya banyak yang mati di saat itu. Tio berdiri. tidak seorang pun dari temannya yang dibolehkan mengantarkan. Bekas Datu Bolon menyabari. Bila sinar matahari pagi telah muncul dari puncak Dolok Simanuk-manuk. dan diasuh. Tangan mereka membalas lambaian kedua orang tua yang mengantarkan mereka. Perlahan perahu memasuki daerah yang dilingkungi kabut tebal. Setetes dua air-mata membasahi pipi. tinggi melengking. Sebelum pferahu ditelan kabut." bujuk bekas Datu Bolon. dibesarkan. kabut tambah menipis lalu menghilang. mereka akan pulang membawa berita baik dan menggembirakan. Melepasnya. Meratap panjang. Di sebelah haluan perahu. Tahulah dia. Tidak dilihat Ronggur lagi. Tangan terkulai tak ada lagi yang hendak dilambai. malah lebih dari itu akan dipunyainya. "Semua yang dikorbankan Ronggur untuk perjalanan ini akan kembali padanya. Perahu bergerak perlahan meninggalkan tepian. Teringat pula saat kejatuhan marganya dan dia sendiri. Cepat dihapus agar tidak sempat dilihat Ronggur. . Perlahan pula tepian menghilang dari pemandangan. perjalanan mereka sekali ini amat panjang. Kemudian menuntunnya pulang ke rumah. Tersedu di sana." Perempuan tua itu menundukkan kepala.nasibnya. "Mereka akan berhasil. harus menjadi budak belian. punya teman. walau sebenarnya dia tidak dapat meyakini bujukan itu. tidak hentinya lambaian dilepaskan dari tepian. selagi martabat marganya belum runtuh. Si belang pun seperti tahu. Matanya jauh mengedari tanah yang sudah cukup dikenalnya. betapa pahit perasaan mencekam hati untuk meninggalkan tanah tempat lahir.

yaitu menjadi budak belian orang. tanpa pamit. setiap perahu tambah jauh dikayuh. hidupnya ke tangan nasib yang telah tertentu belangnya. Ronggur telah dianggap mati. Mereka berdua terus mengkayuh. yang mempunyai otot yang tegap. Haluannya tumpul.Kerajaan sudah tahu bahwa Ronggur bersama Tio telah berangkat. katanya dalam hati sendiri. Tapi. Tapi. kalau dia tidak ikut. dengan tanah tempat dibesarkan. Ronggur di buritan langsung menjadi pengemudi. mereka masing-masing melaksanakan tugas. sikap ramah tamah. tekad hati yang bulat. Beberapa biji mata pancing yang sudah diumpani dijatuhkan Tio ke danau. Tio mendayung ke hulu. namun pada saat itu. Sambil berkayuh. dihiburnya diri. tidak tahu menghargai diri sebagai manusia yang dapat membedakan arti dan hakikat manusia merdeka dengan budak belian? Ah. Antara keduanya belum mengucap sesuatu kata. dan sopan santun yang manis. walau perahu agak susah dikayuh dan walau hati masingmasing masih diselubungi sakitnya perpisahan dengan kaum kerabat. seseorang . Perahu yang dikayuh Ronggur dan Tio maju perlahan. yang akan memperlakukannya seperti memperlakukan hewan. bila diri tahu perbedaan antara menjadi seorang budak belian dengan manusia merdeka dan diri tidak berpihak kemerdekaan itu. Riwayat Ronggur berakhir di s itu saja. keberanian yang jantan. Walaupun Tio tetap merasakan bahwa dia akan aman selalu bila berdekatan dengan Ronggur. Karena dasarnya agak lebar. hatinya merasa kecut juga mendatangi ajal yang ada di depan. mereka mengharapkan dapat pula sambil lalu menangkap beberapa ekor ikan. Bukankah itu berarti penghinaan akan martabat diri. maka Raja Panggonggom mencoret nama Ronggur dari silsilah keturunan marga. bukankah itu berarti memberikan tubuhnya. Perahu terasa berat dikayuh. Menahan air atau menghempang kelajuan perahu.

ura saja. itulah kehidupan. memang diri mampus karena tidak dapat mengatasi risiko itu. lalU tercapailah idaman hati." . Tangannya cepat menggapai tali pancing. Disisikinya. mengatasinya. T idak menciptakannya menjadi hewan. Biar cepat masak. Biar masaknya rata pula. kata Tio selanjutnya pada diri sendiri. yang telah menciptakannya menjadi manusia. Dan. Lalu dia bertanya pada Ronggur: "Kita apakan ikan ini? Kita ura?" "Ya. Dan. Banyak bikin asamnya. "Tangkap dengan jaring. yang bisa mempergunakan tiap kesempatan yang ada. Tio mengikuti petunjuk itu. menggelepar di permukaan air. ada bila aku bersama Ronggur. "Sentak pancing yang ada di sebelah kananmu!" teriak Ronggur yang sekaligus membangunkan Tio dari renungan. Tapi. untuk membebaskan diri dari belenggu yang menindas harga diri itu. Manusia lahiratau dilahirkan memang untuk menghadapi risiko. Isi perutnya dibuang Tio. Walau apa bentuk nasib yang menanti di depan. Bila aku memilih jalan yang ditempuhnya. Satu keuntungan bagi tiap manusia." Dengan sedih akhirnya Tio mengatakan. seekor ikan mas yang sudah cukup besar. harus rata." kata Ronggur pula. kupikir dan kurasakan.yang tidak dapat mengucapkan terima kasih pada Mula Jadi Na Bolon. Dengan sebuah pukulan panggada pada kepala. diri telah me laksanakan tugas kehidupan sebaik-baiknya. Itulah risiko. Kabut sudah terangkat. "Tapi. Tapi. Tidak lama kemudian. matahari leluasa melemparkan sinarnya. Atau. kesempatan. daun pembungkusnya tidak ada. ikan itu melepaskan gelepar akhirnya.

Si belang tidak sering lagi menggonggong. agar cepat jauh dari manusia yang sudah digoda setan jahat itu. Lalu me lompat dari perahu ke tepian berpasir basah. Sampan penangkap ikan sudah sunyi dari danau. Kemudian dibungkus baik-baik. Sedang ikan yang diura itu. kembali mereka melanjutkan perjalanan. Beberapa tangkai dedaunan yang cukup lebar dijatuhkan ke tanah. Lalu. Ronggur mengkayuh melalui ke tepian. sudah lebih banyak diam dan tiduran di perut perahu. Cepat dipungut Tio. Lalu dibaluri dengan kunyit. Perahu mulaii menunduk nunduk mengikuti alun gelombang. Cepat dia menujukan haluan perahu ke tepian. cepat mengkayuh sampan masing-masing. Beberapa kali mereka berpapasan dengan penangkap ikan. Pada mulanya dia selalu menggonggong perahu dan sampan yang berpapasan dengan mereka. Selalu mengikuti pantai. Seolah tidak tertembus hawa. Mereka melanjutkan perjalanan. langsung memanjat sebuah pohon berdaun lebar. justru karena perahu mereka tidak punya atap. Di sana mereka memasak nasi lalu makan siang. Tepian yang dipilih ialah lepian yang jauh dan kampung yang banyak bertebar sepanjang pantai danau. Tapi.Ronggur mencampak pandang ke pinggir danau. tidak seorang pun dari penangkap ikan yang melambaikan tangan dan menyapa mereka. Daging kering masih ada. Matahari leluasa melemparkan sinarnya dan membakar mereka berdua. baru bebeiapa hari kemudian dapat dibuka dari bungkusannya untuk dimakan. Mereka tidak memenggal perjalanan melalui tengah danau. Gelombang mulai menggila. Para penangkap ikan itu menatap dengan dungu ke arah mereka. kenapa orang tidak menegurnya dengan ramah lagi. Bila sinar matahari sudah tidak terik lagi. Ikan diasami. Sekarang Ronggur sudah dapat mengartikan. Hingga perjalanan menjadi bertambah jauh. Matahari tambah tinggi dan terik. tapi karena . turut si belang.

Pasir hidup selalu berpindah tempat. dan beriak. Tapi.orang yang ada dalam sampan atau perahu yang digonggongnya tidak me lambaikan tangan. Tapi. sambil menjulurkan lidah. Setelah dua hari berkayuh. "Percepatlah mengayuh T io. akhirnya si belang sendiri pun tinggal diam saja melihat mereka. Siapa tahu. Titik putih yang besar itu. "Sebelum sore benar. Meneliti awal sungai. bermula Sungai Titian Dewata. antara permukaan air yang aman dan jebakan pasir hidup. Pada mulut sungai banyak terdapat gugusan pasir hidup. secara perlahan-lahan akan ditelan pasir hidup itu. Orangnya bisa selamat kalau pandai berenang. Jadi orang yang berlayar di sana harus hati-hati. tidak ada yang melambaikan tangan. Titik kecil yang bermunculan di sana menatap ke arah mereka. dapat mereka terka bahwa itu kuburan nenek moyang yang pertama merambah mendirikan perkampungan. Terlalu rapat perkampungannya. Perahu dan sampan nelayan yang terdampar ke sana karena tidak hati-hati. kita sudah harus memasuki mulut sungai. Juga agar dapat kita bedakan. pada pikirannya mendatang pengenalan bahwa mereka telah memasuki lekuk danau yang pada salah satu tepiannya. di antara mereka ada yang bermaksud jahat pada kita. Kita tak dapat menepi di sini. bergerak dibawa arus. Dia menarik napas yang dalam. Biar kita dapat terus menyusuri sungai sampai ke tempat yang jarang perkampungannya. Dapat mereka tentukan melalui titik putih itu bahwa itulah gerbang perkampungan. selalu dikebumikan di gerbang kampung. Sedang Ronggur memperhatikan permukaan air dengan awas. Tio tidak memikirkan itu. Kuburan nenek moyang yang pertama membuka satu perkampungan. membalas gonggongnya. tepian danau kembali dirimbuni rumpun bambu duri dengan rapat." . bercampur keruh. Tanda pasir hidup dapat diketahui dari permukaan air danau yang agak memutih. Pertanda perkampungan." kata Ronggur. ada yang menuding.

begitu pula pada kaki Ronggur. karena tidak dapat membantu tuannya. jangan ambil perduli. Teruslah mengayuh. Tio menjadi gelisah. Riak yang seperti disorong ke satu arah. Teruslah mengayuh. "Ronggur. Riak itu. Melihat mereka dengan dungu." "Tidak seorang pun dari mereka yang mengaju tanya pada kita. seperti menjenggak. Mengibaskan ekor pada punggung Tio. Si belang kalau sudah capek duduk. Mula sungai. Tidak mengapa. kulihat. Kepercayaan itu yang melarang mereka untuk bercakap dengan kita. orang mencampak pandang ke arah mereka. Perasaan mereka tumpul dibuatnya. Tio bolak-balik melihat pada orang banyak. oleh kebisuan itu. tetap disorong sesuatu tenaga untuk ditibakan ke satu tempat. kepercayaan itu membuat mereka bisu. terkadang berjalan hilir mudik dalam perahu. kemudian pada Ronggur yang terus mengayuh dan menjaga kemudi dengan hati-hati. Teruskan mengayuh. tetap bergerak. Tampaknya si belang seperti menyesal. yang diketahui Ronggur sudah lain dari kesatuan marganya. Menonton tanpa menggunakan perasaan. seorang pun tidak ada yang menyapa mereka. Tapi. walau masih perlahan. Pada kedua tepian pangkal sungai. Dari sekian banyak orang. . Sedang mereka sudah berbeda marganya dari margamu. Cahaya senja sudah bermain di permukaan air yang beriak. banyak orang berdiri. punya arus.Tio mempercepat kayuhannya. Oleh tatapan itu. Atau. tapi masih perlahan. Si belang sudah pernah menggonggong ke arah mereka. Sebelum jauh malam. kau lihat mereka itu?" "Ya. Apakah mereka tidak bisa mengucapkan sepatah kata?" "Kepercayaan mereka sama dengan yang dianut margaku. orang itu tetap juga di tempatnya. Tapi. Si belang akhirnya capek sendiri.

Arus sungai masih lemah. Senja di langit bertambah tua. Merahnya mewarnai segala. Aku mau turut. Mulanya begitu lemah dan jauh. Dan. Seperti suara setan yang bangkit dari dunia jauh." "Mata mereka tidak bercahaya. dari satu tempat yang ketinggian lagi sunyi. seseorang memanggil nama Ronggur. suara orang itu seperti hadiah yang besar. Mereka masih harus mengayuh kuat-kuat. Diikuti Tio. Ronggur berhenti berkayuh. Ronggur mendongakkan kepala. sebelum mereka menjauh benar. Untuk akhir kalinya. Disuruh T io diam. Tidak berkerisik. rasanya. tapi yang begitu diam dan bisu. Orang itu sudah berada di tepian sungai. Seperti mata ikan yang mati.hendaknya kita sudah sampai ke tempat yang cukup jauh dari perkampungan mereka." Ronggur tambah terdiam. Seseorang berlari di pematang sawah sambil melambaikan tangan. "bawalah aku bersama kalian. ." Tio meneruskan mengayuh. Si belang mengikut. Belum bisa menghayutkan perahu. "Ronggur. Aku ngeri melihatnya dan merasa terpukau berhadapan dengan manusia yang begitu banyak. napasnya masih tersengal. hadiah yang membuat mereka gugup. seperti patung." "Teruslah berkayuh. Tio. Si belang mempertajam penciuman. mencari dari mana suara itu datang. Agar godaan darinya tidak lama mempengaruhi tekad diri. agar perahu melaju. si belang sekali lagi menggonggong ke arah tumpukan orang yang diam bisu itu. Menggonggong." kata orang itu. Setelah beberapa hari tidak mendengar suara orang lain yang mencakapkan mereka. Biar cepat kita jauh dari tatapan mereka. Hampir tidak dapat mempercayai pendengarannya.

bila ada teman samasama mati. di saat itu pula seseorang dari anggota masyarakat yang menyisihkan itu memohon pada mereka. lebih baik kurasa." "Jadi kau sengaja mau mencari malapetaka?" "Ya. Aku kalah berjudi. gantung diri. Kawanmu sejak kecil. Karena aku memang dengan sengaja mencari kecelakaan pada diri sial ini. Justru karena tahu ada teman sama-sama mati. lebih tenteram kurasa hati. "Kenapa kau harus ikut?" tanya Ronggur. "Bawalah aku bersama kalian. Kudengar kau. Tepikanlah perahu itu biar masuk aku. aku tidak perduli. kenapa orang itu mau turut. Apa maksudmu?" tanya Ronggur kembali. Sungguh sial nasib menimpa diriku. permohonan yang tidak diduga sama sekali. Sawahku sudah tergadai. Aku mau turut." Ronggur dan Tio tambah terdiam mendengarkan permohonan orang itu. Bawalah aku. agar dibolehkan turut serta. Daripada aku membunuh diri. Karena aku takut sendirian menuju negeri jauh itu. Bawalah aku. Namun hutangku masih bertumpuk. Dia belum yakin benar akan pendengarannya. "Aku tahu perjalananmu mendatangkan ajal." "Kau pikir kami sengaja mencari kematian dengan melayari sungai ini? Atau. kau dengarkah aku? Aku si Lolom. Tapi. Aku mau turut. Tidak bermaksud jahat aku. Lolom. Membuat Ronggur ingin tahu. biar aku tidak merasakan kesunyian di saat nyawa berpisah dari tubuh. Bawalah aku. dari alam kehidupan mereka sehari-hari. Di saat mereka disisihkan dari sekitar."Ronggur. seperti kalian. sengaja mendatangi kecelakaan yang bisa . Seperti kau. Aku mau ikut." "Kudengar kau. Ronggur.

jangan bersilat kata. Itu soalmu." Wajahnya memerah. lalu mulai mendayung. Memang budakmu itu manis. ia tidak tahu. Biar ada pula temanku sama-sama mati. kenapa dia harus mengatakannya. Lolom?" "Karena kau Ronggur. Mencapai tanah luas tempat habungkasan." Dengan hentakan kasar. Tio membenamkan pengayuh ke air hingga air muncrat ke atas. Sebenarnya dia sendiri memang sependapat . Kau karena menyintai seorang budak. Kawan. Kau sengaja mencari kecelakaan. "Perjalanan yang menuju atau mencari tanah habungkasan. Sinar "Apa maksudmu?" kembali Lolom bertanya. Percayalah. Bawalah aku Ronggur." jawab Ronggur tegas. pula. "Bukankah kau dengan sengaja mencari sumber malapetaka dengan melayari Sungai T itian Dewata ini?" "Tidak. Biar ada temanmu sama-sama mati. tidak seperti semula lagi. Aku karena kalah berjudi. kau me larikan diri dari kehidupan ini dengan dalih mencari tanah habungkasan bersama budakmu itu? Bawalah aku. Habis perkara. dan aku mau turut. kematian. Bukankah karena tidak tahan menanggung malu di dunia ini. "Ah. "Perjalanan kami tidak wajar dikotori seorang penjudi yang mau bunuh diri. Dan." jawab Tio kasar. Aku tidak bermaksud mempengaruhi perasaan cinta yang tumbuh di hati kalian berdua. Kami mau mencari penghidupan yang lebih sempurna. "Kenapa kau berkata begitu. Aku akan menutup mata dan mulut. di saat kalian bercumbuan." suara si Lolom mulai ringan dan lincah. Dari kita sebenarnya sama sialnya. jatuh cinta pada budakmu. Walaupun sebab kita berbeda.mengakibatkan kematian?" tanya Ronggur matanya memancarkan cahaya benci.

kawan. Tidak menyahut.dengan orang lain. Lolom?" tanya Ronggur keras “Kau masih bertanya. Tio sudah hendak mendayung perahu. Nasibmu jauh lebih celaka dari nasib kita semua. biarpun begitu. sayang sekali apa sebabnya kau mau ikut dengan kami. Kalau alasanmu berbeda dari alasan yang kau katakan . tanganlah berkata aku membawa sial padamu. Akhirnya Ronggur mengatakan: "Lolom. tapi dicegah Ronggur dengan membenamkan kemudi ke air. Jatuh cinta pada seorang budak. Lain tidak. masih mengatakan akan mencari tanah habungkasan." "Siapa mengatakan itu padamu. Itulah berita yang tersiar luas di antara penduduk. Ronggur? Karena tepat apa yang kukatakan?" Ronggur masih diam. kau telah menggoda dan menjerumuskan seorang sahabatku ke lembah kehinaan. Ronggur jatuh cinta. karena setiap saat kau menggodanya dan kata orang. dari kerajaan. Bagiku itu omong kosong dan dusta paling besar. "Kenapa kau diam. Kalian telah bersetubuh sebelum meminta izin dari Mula Jadi Na Bolon. Kemudian Lolom melanjutkan. Aku juga mempercayainya. Karena itu. Aku juga tidak dapat mempercayai bila seseorang yang melayari sungai ini. dengan Lolom bahwa perjalanan itu akan kandas di karang kecelakaan. dan datu bolon. Lolom terkekeh lupa akan masalahnya sendiri. dari para orang tua. Aku yang mau bunuh diri. kau penggoda keparat. "Apa kau katakan budak manis? Apakah kau tidak dengan sengaja mengotori hidup si Ronggur? Dengan wajahmu yang manis. Bawalah aku. kau sedang bunting. marilah sama-sama mati. Aku kalah berjudi. perjalanan yang bermaksud baik itu dikotori seseorang yang memang sengaja mau bunuh diri. tidak wajar rasanya. Tapi." Seketika Ronggur terdiam.

Hasilnya kelak akan kuserahkan pada semua orang. Kita akan sama-sama mati bila kita sama-sama melayari sungai ini. Yang kelak hasilnya akan dikecap setiap orang. Agar nasib sialmu. berperang karena setapak tanah. Sungai ini akan membawaku ke tanah landai yang subur. Aku takut mati sendiri. carilah. masa datang orang banyak. aku tidak mencari kematian dengan sengaja." "Jangan mencari dalih lagi. Aku akan menemui tanah habungkasan. "Perjalanan yang kumulai ini bertujuan baik." Lolom masih tertawa di pinggir sungai. Yang kuminta padamu. Itu saja soalnya. Betapa aku berterima kasih karena kau mau menemani aku seraya bersedia memikul segala akibatnya. benar. "Sudah kukatakan aku tidak dapat mempercayainya. betapa gembira hatiku menerima kehadiranmu. karena aku tidak mau mencari ma lapetaka. bawalah aku biar ada temanku sama-sama mati. dialah yang bernasib sial." jawab Ronggur dengan suara kuat. Tidak wajar mengorbankan nasib orang yang begitu banyak. Karena itu dan karena aku tahu pepatah lama. seseorang penjudi yang kalah. Sendirinya pula aku akan buktikan bahwa kepercayaan yang tertanam di hati kita selama ini mengenai sungai ini salah. sewajarnya pula aku menolak permohonanmu. walau kau kawanku. . Karena itu. bersibunuhan karena setetes air parit. agar kutukan dewata padamu karena kau mau bunuh diri tidak turut menimpa kami. Kami masih tetap mengharapkan dan memohon agar dewata menunjuki jalan kami.itu. Karena aku tidak mau bunuh diri." "Tapi. karena kau seorang." kata Lolom menghentak. Kemudian Ronggur melanjutkan: "Aku mau buktikan Lolom bahwa yang kuimpikan atau yang diwartakan mimpiku padaku. agar semua orang terlepas dari ancaman yang selalu mengikuti hidupnya. Seseorang yang dengan sengaja mau bunuh diri padanya akan datang malapetaka. tapi sebaliknya.

kalian tidak mau pula membawa aku serta. ke mana perginya akal sehatmu yang selama ini kau punyai? Ya. "sampai hatikah kau melihat aku manjadi budak?" Ratapan si Lolom yang tambah meninggi. Matanya menyala merah. apa yang harus kuperbuat? Aku takut mati kalau aku sendiri yang menghadapinya. karena aku segala penjudi yang kalah. aku yang sudah rela mati. membuat Ronggur tertegun. dan datangilah sendiri ajal yang akan merenggutkanmu dari kehidupan ini!" Sambil tertawa dan perutnya berguncang-guncang. Lolom mengatakan: "Ronggur. dia berusaha agar marahnya tidak meledak. Dan. Hendak mereka jadikan aku budak. memang kau masih menggunakan akal sehat itu. Kembali dia berhenti mendayung. Penjudi yang kalah main. Tapi. tempat mencampakkan segala penjelasan di atas pusaraku. membuat hidup mereka menjadi morat-marit.tempuhlah sendiri. waktu Lolom sadar bahwa kencang perahu tambah tak dapat diikutinya lagi. perahu sudah mulai dikayuh Ronggur dan Tio. bagi anak yang masih kecil. kau dengarkah aku?" ratapnya mulai meninggi. dengan pengap-pengap dia memohon: "Ronggur. Ronggur. menagih hutang. Menyuruh Tio berhenti pula mendayung. aku pun bermaksud begitu. dia berkata dengan kuat lagi tajam: . Yaitu. Nah. Dia mencampak pandang ke daratan. Begitu pula agar tidak ada tempat bagi sanak saudara. Agar kubur kalian tidak ada jadi pertinggal di dunia ini." Waktu Lolom berkata. menerjunkan diri ke ujung dunia agar bangkai kalian tidak dapat dikuburkan. Lalu. kalau mati tidak wajar menunjukkan kuburnya agar tidak ada lagi tempat bagi mengunjungnya. Dan. walau dia sudah berlari-lari di tepian.

Tapi. yang turut merasakan pahitnya derita seorang budak. Pesanku padamu."Lolom. Agar kau bisa kembali menjadi seorang yang merdeka. semua terletak pada hasil perjalanan ini." "Begitu percaya kau Ronggur bahwa kau akan menemui tanah habungkasan. bila kau pun nanti turut menanggungnya." "Dan. betapa berharganya sebuah kemerdekaan. Kau telah menghina aku." "Lantas. maka kau pun akan mendoakan agar perjalanan ini memperoleh hasil seperti yang diharapkan. Kelak aku akan membawa berita padamu bahwa tanah habungkasan telah kutemui. . Aku tidak bersedia mengorbankan perjalanan ini pada nasib sial yang akan menimpamu. Dan. sehingga kau tidak mau lagi mempermainkannya di perjudian. mempunyai setetes air parit telah memaksa aku harus mencapai tanah habungkasan. kau kawanku sejak kecil. "Kalau berjudi bagimu sangat baik. Kau boleh pindah ke sana dan kau kembali menjadi orang merdeka. Sekarang biarlah dulu kau rasakan betapa sakitnya menjadi budak orang lain. Dan perasaanku selama ini. bagiku itu tidak mengapa. pahitnya perasaan diri sendiri justru harus membunuh orang lain. Untuk bisa terlepas dari belenggu itu. karena orang lain itu pun ingin hidup lalu berusaha menguasai setapak tanah. Agar kau tahu betapa nikmatnya mimpi akan kemerdekaan. janganlah dulu bunuh diri. agar kau tahu. Karena kau memang sengaja mencari kematian." "Mimpiku telah mewartakan padaku. Untuk ikut serta dalam perjalanan ini kau tidak boleh. merasakan pahitnya menjadi seorang budak. apa yang harus kuperbuat?" tanya Lolom pula melanjut dan memotong cakap Ronggur. dari penjara perasaan yang meracuni diri sendiri. Harapanmu terletak pada hasil perjalanan ini. Agar kau tahu dan menyadari bahaya main judi.

Agar tidak terguncang perasaan mereka bila kelak menerima warta penemuanku atas tanah habungkasan. Si belang disuruh berjaga. Tanah datar yang terdiri dari tanah batu di kiri-kanan sungai. mereka akan melanjutkan perjalanan itu. Hanya satu-satu pepohonan tumbuh di tepian. Perahu terus melancar. Bulan mulai memancar di langit mencurahkan sinar ke bumi. Menjadi suluh bagi Ronggur dan Tio mengikuti jalur sungai. disela tangis itu dia mengharapkan. di saat Ronggur dan Tio melepas lelah. si belang kebanyakan tiduran. . Ronggur mendaratkan perahu." Ronggur dan Tio kembali mendayung. karenanya dia belum mau mati. Setelah merasakan bahwa mereka sudah cukup jauh dari perkampungan. Secara perlahan arus sungai mulai terasa. Dan. Perahu ditambatkan. Suruhlah mereka bersiap menerima sebuah warta kebenaran. bila pagi terbit lagi. Yang mungkin berbeda malah menantang kepercayaan yang mereka anut selama ini. sesudah dia sadar bahwa perahu Ronggur sudah menjauh dan melaju. kembali dia meratap dan menangis.Bertobatkah. Tidak berdaun rindang. wartakanlah pada orang semargamu bahwa anggapan mereka akan perjalanan kami ini tidak benar sama sekali. agar Ronggur dan Tio berhasil. Dan. dia yang berjaga. Ronggur telah melanjutkan: "Di samping itu. Dengan tercengang Lolom melepas mereka. Harapan masih ada walau masih begitu samar. sangat Sebelum Lolom sempat mengatakan sesuatu. karena doa seorang yang didengarkan Mula Jadi Na Bolon. selagi perahu dikayuh. sehingga dia bisa kembali menjadi orang merdeka. Tapi. bila kau memang ingin berbakti." tobat. Meranggas. Memang begitu selalu. Memilih tempat bermalam. Kalau malam.

Pertanda mereka akan bermalam di sana. Itulah mula gua yang diceritakan bekas Datu Bolon. dan masing-siang. setiap itu pula T io memperhatikan dengan sungguh-sungguh. dia harus mulai mencari mulut gua yang diceritakan Datu Bolon. bila mereka mulai melewati batas itu besok pagi. mereka telah tiba ke batas yang boleh ditempuh manusia. Satu dua batu jangkar sudah dijatuhkan Ronggur. Menurut keterangan bekas Datu Bolon. Tapi. pandang yang meminta penjelasan. Arus sungai sudah cukup deras. yang mencampakkan pandang padanya. Tekadnya harus bertambah bulat dan kukuh memasukinya. setiap Ronggur mengerjakannya sambil memejamkan mata. dia harus bertambah hati-hati. Atau. hatinya bergoncang dalam dada. Dan. Perasaan masing-masing saling mengajuk nasib yang menanti mereka. Dia pergi ke tempat ketinggian. yang menganga bergaya mau menelan. menerjang terus ke perut bukit. Karena itu. Bila Ronggur kembali mengangkat kepala. . Kembali dia ke tempat Tio. Dan. Sejauh mata memandang yang dilihat hanya batu padas saja. mendaki sebuah pundak bukit. mengadakan peninjauan. Menembus bukit. Bila suara gemuruh air sungai berbantingan ke dinding batu mulai kedengaran. Kediam-diaman. agar kelajuan perahu dapat dikendalikan. Walau matahari tidak terik. namun Ronggur mendaratkan perahu ke pinggir sungai. Ronggur tidak mengucapkan. T io akan menarik napas yang panjang. tapi diusahakan agar tidak kedengaran pada Ronggur. Dan.Setiap hari arus sungai tambah terasa. sepatah kata. memulai jalan darat. untuk merasakan getar air. tidak jarang Ronggur melengketkan telinga ke permukaan air. bila arus bertambah deras. tetap diperhatikan dan dipelajari Ronggur. Lalu menyuruh Tio menghidupkan api. Sedang sungai seolah terus menuju satu arah yang jauh. Pada hari selanjutnya.

Jadi tidak dari pundak Dolok Simanuk-manuk lagi. Tetap meneliti keadaan. Tidak pernah didatangi manusia layaknya. Tengah malam. Membangkitkan riak yang . Tapi. terbuat dari batu alam. di atap batu. susut karana terus-terusan direndam air. Nyala api menari-nari di dinding batu. Hingga batu jangkar sudah tiga biji dijatuhkan. seperti yang mereka kenal. Angin kencang datang dari hulu sungai. Dia mencari kekuatan hati dari elusan itu. Dari jalur sungai dikejauhan. Tandus dan kosong. tidak seperti lobang alam yang pernah mereka temui. Mulut tambah terkatup. melontarkan perasaan yang tertekan. tepat dari belahan jalur sungai. Bila mereka mendarat ke pinggiran lagi. pada pagi berikut melihat matahari muncul dari satu kekosongan. Dalam lobang. Awan hitam merayap dan menjalar. bila diperhatikan benar. Wajahnya bersikap menantang dan begitu tegang. mendesis. Atau. Keadaan sekitar menjadi pekat. sekarang bisa mengasoh. Tangannya pasti menggenggam ulu kemudi. Buru-buru Tio menghidupkan api. Terus saja Ronggur mencampakkan pandang ke kejauhan. tidak ada sepenggal kayu atau bekas api. Lobang yang bersisi berlantai dan beratap batu. Menyinari kiri-kanan sungai yang tidak punya tanda kehidupan. hari itu mereka tidak menemui sesuatu. Beberapa potong kayu diangkutnya dari perahu. Hanya arus sungai yang bertambah kencang. Namun mereka meneruskan perjalanan juga. Dikejauhan. lalu menutupi wajah bulan. Mereka tidak perlu lagi mengayuh. Dingin. Walau sudah jauh melewati batas yang boleh didatangi manusia. Tangannya mengelus leher si belang yang duduk di sampingnya. bulan muncul. Arus sungai sudah dapat menghanyutkan perahu malah terlalu liar. Mereka masih selamat. mereka temui sebuah lobang alam pada s isi sungai yang agak tinggi. desiran arus sungai kedengaran bangkit. Telapak tangan Tio yang sudah lecet dan keputihan.Ronggur dan Tio.

Semuanya serba asing dan menakutkan. Beberapa saat dia berdiri di sana. selain hai yang penting saja. menyengkak. Selagi Ronggur tidak ada dekatnya. Seperti: "Besok pagi kita melanjutkan perjalanan sebelum matahari terbit. pertanda mula kecelakaan yang akan menimpa diri. Ronggur pergi ke tepian sungai memperkokoh ikatan tambatan perahu. Baru beberapa saat yang lalu. Tidurlah. walau tidak mengatakan sesuatu. cukup gelisah permukaan sungai. Permukaan sungai naik. Tio yang tepat berada di bawahnya.tidak dapat dikatakan kecil. Diiringi suara guntur yang mau memecahkan segala. Bersabung halilintar dan guruh. Biar terasa panas. Si belang mendekat pada Tio. Kulit tangannya masih tetap pucat dan menyusut. perubahan alam begitu rupa menimbulkan prasangka dalam diri. . Dalam saat begitu. walau dia tahu Ronggur tidak pergi jauh. tapi melaksanakan yang dimaksudkan Ronggur. keadaan udara cukup terang benderang oleh sinar bulan yang nyaman. atau semua serba seperti menakut-nakuti. yang menumbuhkan berbagai ragam anggapan. sudah melonggarkan perasaan tertekan. menatap ke sekitar. Kekelaman yang abadi. Dipisah langit-langit gua yang terbuat dari batu alam. Riak sungai menjadi besar dan tambah gelisah. tidak mengetahui bahwa Ronggur tepat berada di atasnya. Begitu cepat suasana alam berubah. Dan. Lantas pergi ke atas gua alam itu. dia merasa sepi atau merasa takut. Dia merasa lebih tenteram bila Ronggur di dekatnya. selimuti dirimu dengan kulit binatang berbulu. Satu-satu halilintar mengkilap membelah bumi. Seperti marah karena ada orang yang berani berlayar melewati batas yang sudah ditentukan. Kepekatan menyeluruh menelan segala. Memanaskan diri dekat api. Dia selalu begitu. hujan turun seperti dicurahkan dari langit. memperhatikan sekitar dan mempelajari arah dan mata angin yang menggalau. dia tidak akan menyahut." Mendengar cakap yang sepenggal itu saja.

Di luar hujan. air tidak mungkin menggenangi mulut gua di mana mereka berada. T io terpekik karena terkejut.Malam itu Ronggur agak lama baru kembali. Permukaan sungai menaik. yang dengan sendirinya kakinya menjadi telanjang. Tio bangkit dari duduknya. Besok. Telapak tangan ditelempapkan ke tubuh. kilat. seperti Tio sendiri. Tidak apa-apa. Lalu mundur. Namun perasaan keadaan sekitar. Si belang sekali ini sudah tertidur. Sedang Ronggur merasa geli pula atas kelakuan Tio yang menyurukkan kepala ke bawah selimut buru-buru. Dalam hatinya dia merasa geli atas kelakuan Ronggur. ketika itu juga. Butiran air berjatuhan. Mendekatkan telapak tangan ke jilaman api. tubuhnya tertumbuk ke tubuh Ronggur yang berdada telanjang. angin. Kulit binatang itu tidak cukup panjang untuk menyelimuti tubuhnya sekaligus. daerah yang belum pernah dimasuki manusia. kita akan meneruskan perjalanan." Tio malu akan ketololan dan ketakutannya. "Pergilah tidur. dia tahu. Kemudian Ronggur berjongkok dekat api. dan guruh masih bersabung. tersenyum di bawah selimut kulit berbulu. Tidak disadarinya matanya dapat ditangkap pandangan Ronggur. bila badai telah teduh. Dengan membungkuk dia menuju mulut gua. Ronggur tersenyum. Hendak melihat ke mana Ronggur pergi atau di mana Ronggur berada. "Kau belum tidur juga? Belum mengantuk?" Tio menyurukkan kepala ke bawah kulit binatang. Ronggur tersenyum. Begitu dekat hingga Tio yang melihatnya merasa ngeri. Sambil memalingkan pandang Ronggur berkata. riak sudah membesar sudah menyerupai ombak danau. Perasaan sak wasangka tambah mencekam diri. karena dia tahu bahwa mereka sudah berada di daerah yang berbahaya. Dia . Dia menyesali diri kenapa dia harus terpekik. lalu dikaiskan. Tapi. Dari goleknya dia melihat Ronggur mengeringkan tubuh. kalau tangan itu akan hangus terbakar. lalu mengatakan.

Suara mendesis yang bersumber dari sungai itu sangat menyayat atau menyengat pendengaran. Cahaya putih sudah menerobos dari mulut lobang waktu Ronggur membuka mata kembali. Suara yang timbul atau seolah datang dari dunia jauh. Menjerangkan air yang ditampung dari pinggir sungai. pikirnya. Asik dia dengan pekerjaannya. Perlahan dia bangkit. Di samping itu. . daging kampret enak dimakan. Tio belum bangun. dunia lain. Didengarnya kelepak lemah di langit-langit gua. Api sudah padam. sudah mulai me lemah. Dengan malas Ronggur kembali masuk ke dalam lobang. Tapi. Juga si belang. Membaringkan diri. takut kalau kelepak lemah itu henti. Kampret itu ditumpukkan. dia pun tahu. Terus menghidupkan api. Kelepak itu berasal dari lobang-lobang kecil yang banyak di langit-langit gua. justru karena dia tahu. bahwa cuaca masih tetap seburuk kemaren.menggolekkan diri. Merasa bersyukur. Ronggur menutup kedua belah kupingnya. Enak dimakan. Patah sayap. Waktu kepalanya dijulurkan dari mulut lobang untuk mengetahui keadaan cuaca. namun bias cahayanya tidak dapat menembus awan yang bergumpal dengan sempurna. Ma lah menggulungkan tubuhnya sampai bengkok untuk melawan dingin. Dengan kayu itu. Matanya diliarkan menatap langit-langit. Waktu nyala api me loncat-loncat dan menari-nari di dinding gua. memejamkan mata dengan paksa. Dia mendekati salah satu lobang kecil. Desis lidah air masih terus mengganggu pendengaran. angin yang bersabung dan hujan yang menderu di luar belum henti. lalu dia dapat memastikan bahwa sesuatu yang bernyawa masih ada di sana. dicoloknya tiap lobang. Walau matahari sudah terbit dan agak tinggi. Lalu dia mengambil sebatang kayu. Tambah lama tambah banyak. Kampret berjatuhan. Tidak tahu dia Tio sudah bangun. Dalam gua menjadi dingin kembali. Di sini banyak kampret. Heh.

di mana kau bikin pundi-pundi tempat bibit itu? Sudah berapa hari tidak kulihat. Bila angin dan hujan teduh. padi yang bisa mengurangi rasa laparnya bila mereka memang jatuh ke ujung dunia. telah menunjukkan kesetiaan hingga berani pergi ke mana saja. Cepat benar sudah masak. meninggalkan nasib yang malarig di belakang. "Kau menjaganya dengan baik kalau begitu. Atau. Dia telah menunjukkan kesetiaan sebagai budak pada tuannya. Disambutnya juga senyum itu. Di tanah habungkasan yang kita tuju. Jajan arwahnya dalam perjalanan menghadap Mula Jadi Na Bolon." kata Ronggur. Padanya. Tio diam saja mendengarkan." Tio memegang pinggangnya yang agak menonjol. Bibit pertama yang akan mereka tanam di tanah habungkasan. sekarang telah menjadi sama. Bila angin dan hujan reda. Atau." Kampret itu mereka panggang. Tio tersenyum tapi tertunduk. Jangan sia-siakan. Ronggur menyambung: "Teruskan jaga baik-baik. menemui tanah habungkasan atau menemui ajal.Ronggur berpaling. Tio menundukkan kepala. dia telah berani memilih perjalanan tanpa nasib. Itu saja pun baginya cukuplah. Enak juga dimakan. . lalu: "Di sini banyak kampret. dia sebagai perempuan. Sambil meneguk air simar palia yang pahit kental lagi panas. Cepat dia mengaju tanya: "Tio. Tio menjaga bibit itu dengan baik. bibit itu sangat penting dan perlu bagi kita. kita meneruskan perjalanan. Ingatan Ronggur cepat meloncat. rasa dingin dan kantuk cepat menghilang. Yang terasa tidak punya akhir dan ujung. mereka akan meneruskan perjalanan. Pundipundi itu diikatkan di pinggangnya. bersama seorang lelaki yang dipercayainya kejujuran dan keberaniannya. Teruslah jaga baik-baik. langsung dengan bulunya." Cakapnya punya kepastian seolah mereka akan menemui tanah habungkasan yang dimimpikan. Bakarlah. Dan. mulut mengunyah daging kampret yang manis.

Itulah gunung Batu yang diterobos air sungai yang arusnya bertambah deras. Dan. Bila arus bertambah kencang. Angin tambah melemah dan hujan sudah mulai teduh. namun kelajuan perahu terus bertambah kencang. Batu jangkar sudah tujuh buah dijatuhkannya. Dia melengking kecil. Atau. tanah subur yang landai. dapat dikuasai karena dibantu batu jangkar itu. Cahaya yang menerobos ke dalam gua tambah terang juga. berdesis dan muncrat ke sana kemari. Gelisah tidak pernah henti. membuang butir-butir air yang melengket pada bulunya. Si belang menggoyangkan tubuh. mula dari impiannya. tentunya menimbulkan suara gemuruh yang dahsyat. terbuat dari batu alam yang hitam. pikir Ronggur. atau suara lengkingan itu tersekat dalam kerongkongan. Ronggur dan Tio bersama si belang cepat-cepat meninggalkan gua. dia masih meneruskan penyusuran itu. Pendengaran terus dipertajam Ronggur. masih jauh. Karena itulah. bila air sungai jatuh ke akhir dunia. Tapi.Karena itu dia hanya menelan air liur mendengar omongan Ronggur yang punya kepastian itu. namun suara gemuruh belum ada kedengaran. Air sungai terus menerus mengarah ke satu bukit yang seolah tegak berdiri. Tapi. Perubahan pada kedua tepi sungai tambah nyata. lalu memulai perjalanan lagi. kelajuan perahu terus bertambah. Tepian sungai menjadi tambah tinggi juga. Bahaya. Tali temalinya bertegangan diseret perahu. Menyusuri sungai. Karena. Seperti tidak terkendalikan. batu jangkar terus . tambah beda dengan tepian sungai yang sudah mereka lewati. berangsur secara perlahan. Tambah lama tambah berbentuk semacam terowongan. Air yang bertemperasan ke dinding tepian batu. Tapi. atau ujung dunia. Sudah lebih dari lima batu jangkar dijatuhkan Ronggur. desis air yang menyayat pendengaran itu tetap juga. air terus menerobos. menghadang sungai. terhunjam ke dada bumi.

Sekitar menjadi taram-temaram. Segala perasaan dikerahkan meraba yang menanti di depan. Namun mereka tetap berlayar. Pada riam yang lebih curam. Air sungai menjadi lebih dingin dan hitam. Sebuah kata pun tidak ada yang diucapkan. Tio cepat menimbanya. Melanjutkan perlawanan terhadap arus sungai yang setiap saat bertambah kencang juga. Dan pada setiap akhir kelokan riam sungai teap ditemui. Begitu seterusnya. air sungai gelisah warna putih melambung ke atas. Begitu curam dinding batu itu. Pada tiap riam. Dan. walau dinding perahu sudah tinggi dibuat. bermula dari air yang bertemperasan ke sisi sungai dan lebih hebat pada salah . Tepian sungai yang terbuat dari batu alam bertambah tinggi juga. bertambah memanjang. Mereka tidak bisa lagi dengan leluasa melihat matahari. Tahulah Ronggur suara desisan air yang menyayat pendengaran itu. membuangnya kembalinya ke sungai. Kelokan sungai yaitu patah tambah sering mereka temui. tanpa mau melepaskan seketika saja pun selagi perahu terus berlari dibawa arus. Ronggur hanya tinggal menunggui kemudi. terkadang wajah Ronggur sendiri disembur air. bisa juga temperasan masuk ke dalam perahu. Membuat mereka terkadang tidak dapat mengetahui peredaran waktu dengan pasti. Mata terus-terusan ditancapkan ke depan. Air yang bertemperasan pada dinding batu tambah mendesis dan menyayat pendengaran. keadaan begitu bertambah jauh menyusuri sungai. Ada kalanya sinar matahari seperti tidak sampai pada permukaan sungai karena disungkup kedua dinding batu yang bertemu puncaknya. Pancing yang diumpankan Tio tidak pernah lagi mengenal Ikan bertambah jarang atau memang tidak ada sama sekali. yang terus memegang kemudi. selain dari tumbuhan kerdil yang tidak berdaun hijau.dijatuhkan. Pada puncaknya yang masih bisa dijangkau mata tidak ada sesuatu yang tumbuh. Dan.

Bila terdampar ke sana. Begitu menyiksa terasa. Dalam saat begitu. mereka hanya bisa menambatkan perahu ke salah satu tungkul batu yang mencuat. Tapi. Kelanjutan perahu terus juga menggila. wajah Ronggur terus menantang ke depan. mereka harus menahan dingin malam yang menyiksa. Peralatan mereka menjadi basah. dan nasib sudah teraba bentuknya. Perut perahu menjadi tergenang air. Mereka lalu tidur dalam perahu tanpa unggun api. Biarpun dia tahu bahwa sungai sangat dalam. Dada dipukul detak hati yang tambah mengencang. Terlebih pula tidak ada yang menyelingi. menghadang. terus menerus mengisi pendengaran. di tengah si belang. Sudah lebih sepuluh batu jangkar yang mereka jatuhkan. Mereka tidak ada lagi menemui gua alam. menghidupkan api dalam perahu berarti bunuh diri. Mereka harus hati-hati melewatinya.satu tikungan. Dari warna biru permukaan yang sudah menghitam itu. Cepat . Arus sungai terus menerus bertambah kencang dan tambah menggila. Karena itu. Selain kayu bakar tidak ada. Tidak sedikit terlempar ke dalam perahu. tapi pada tikungan yang dilalui terkadang ada juga batu muncul ke permukaan air. Air seperti membulat. jadi. Bertemperasan. terasa sangat membosankan. Seperti mereka berada dalam satu lembah yang sempit diapit kedua sisinya yang tinggi. kalau cahaya yang menerobos dari celah dinding sungai di atas itu me lemah. Celah dinding sungai di atas bertambah kecil juga. Begitu pula tepian sungai yang landai. pandang mereka sering ketemu. perahu akan pecah remuk. Tio harus cepat menimbanya. tahulah Ronggur bahwa sungai amat dalam. Air membiru sudah seperti menghitam. Tio di hulu perahu Ronggur di buritan. Meneliti dan menduga sesuatu yang sedang menanti. Suara air yang bertemperasan ke dinding batu. Air yang bertumbukan dengan batu mencuat itu menjadi gelisah dan liar.

tambah nyala: mengguruh. Tapi. Namun perahu seperti diseret dan dilarikan setan saja kencang nya. Tio tidak terus-terusan atau tidak tekun lagi menatap ke depan saja. Arus sungai tambah menggila. Ronggur. mengancam siapa saja . Tio tertunduk. yang bangkit di depan itu. yang berarti pekerjaan Tio tidak ada. mereka akan meneruskan perjalanan lagi. Begitu pula Ronggur yang berada di buritan perahu. Hanya air sungai yang dingin diteguk sehabis cuci muka. Tambah lama tambah nyata. yang selalu mendekat padanya dengan lengkingnya yang tersekat dalam kerongkongan. menempuh jalur sungai yang tidak dapat teraba. Terkadang Tio berdiri meregangkan tubuh yang kaku. Mata Ronggur terus memandang ke depan. Agar tatapannya tidak terhalang. Arus sungai menggila Batu jangkar sudah lebih duapuluh biji dijatuhkan. Dinding sungai bertambah tinggi dan tandus. Suara yang lemah itu. dia selalu melemparkan pandang ke depan dan menggunakan segala perasaan. Tikungan bertambah sering ditemui. Bila temperasan air yang melemparkan air ke perut perahu tidak ada. Tio menyelimuti diri dan juga si belang. Bibirnya gemetaran. Wajah Ronggur agak pucat juga dibuatnya. bila utusan cahaya kembali menerobos celah dinding sungai di atas itu. Ronggur seperti tidak me lihatnya. ke mana diri akan dibawanya. Jiwa tambah terasa dihantam habis-habisan. Walau terkadang hanya tertumpu ke dinding batu pertanda sebuah tikungan. Dan. Suasana tambah menekan. Sudah sering dia berpaling ke belakang menatapi. Mulanya sangat lemah sekali. Atau. tapi cepat saja Ronggur menyuruhnya agar duduk kembali.dipalingkan. Mengancam nadanya. T idak mereguk air panas lagi di pagi hari. agar kepala Tio tidak tersangkut pada salah satu lingkungan dinding sungai yang terkadang begitu rendah.

Namun Ronggur tidak memperdulikan atau tidak mendengarkan. melengking. Tapi. meledak teriakan panjang dari mulutnya: . Tiba-tiba saja biasan cahaya mencurah ruah. Seperti tidak terdaki layaknya. Yang telah berani menantang ketentuan dewata. Jangan teruskan lagi mengikuti sungai. "Ronggur. mendaratlah. Banyak terlempar ke dalam perahu. Walau air tidak tertumpuk pada salah satu batu yang mencuat di permukaan sungai. Ronggur menatap ke depan dan pendengarannya terus dipertajam. Perahu terangguk-angguk dan tergoncang. Urat saraf Tio seperti lumpuh karena terus-terusan ditekan suasana ketegangan. Namun Ronggur belum mendaratkan perahu. Sering dia menyebut nama dewata. Matanya sebentar melihat ke kiri dan ke kanan.yang berani mendekat. Dengan tidak berapa dikuasa iya pula. Tiba-tiba saja Tio menghantamkan tangan ke haluan perahu. Dia masih meneruskan pelayaran. sambil berteriak: "Ronggur. namun riak air sudah seperti gelombang. Apakah kau mau bunuh diri?" Berbaur akhirnya dengan suara gemuruh di depan dan desis air dan suara riak sungai yang menari gila. Tapi. Tidak dengar suara gemuruh yang mengancam itu?" Masih tidak diperdulikannya. Suara gemuruh di depan tambah jelas. Pecah. Suara gemuruh itu seperti suara dari sesuatu benda yang jatuh ke satu tempat yang amat dalam. Dalam jeritannya sering dia memanggil nama almarhum ayah bundanya. Tio tidak bisa lagi menimbanya. memohonkan ampun atas keangkuhan mereka berdua. Tio terus menjerit. celah dinding melebar di atas. kau tidak mendengarkan aku? Mendaratlah ke tepi. Lalu terus ke depan. cepat bertukar tempat. tingginya alangkah jauh lagi curam. Memercik ke sana ke mari. Begitu liar.

Marilah dulu makan daging kering. Tapi." lalu tangisnya berkepanjangan." Perahu tambah dalam dan kuat anggukannya." Tio mengerjakan semua yang dimaksud Ronggur. Sewaktu Tio merasakan bahwa perahu mereka tergoncang kuat karena ada yang menarik dan ada yang menahan. isaknya belum henti. Dinding sungai agak landai tapi tetap mendaki ke atas. kuatkan dulu hatimu bahwa kau sanggup mendakinya. . Dan. Kita masih harus menempuh perjalanan yang jauh. . jagalah dirimu. sebelum itu. Kedua pelupuk matanya." kata Ronggur. Tiba-tiba saja tangan Ronggur mengayunkan tali ke dinding sebelah kanan. dulu mendahului riaknya. Dapat dipercaya. Aku tidak sanggup melihat mata yang digenangi air mata yang bening. kita memerlukan air barangkali di atas sana. Tapi. . diri kita berdua . Kemudian bambu itu isilah dengan air. "Si belang bagaimana?" . dia mulai mendaki. Sedang Ronggur tambah memperkuat tambatan mengikat pinggangnya dengan tali. "Ronggur. Ronggur mengangkat kepala mendengar jeritan Tio itu. . yang meledak dari dasar hatinya. Dia menatapi Ronggur dengan biji mata yang tergenang air mata. pipinya basah kuyup oleh air mata. Air sungai tambah membulat dan berlari kencang. Kita harus meninjau dari sana. Talinya tetap sangkut pada sebuah gundukan batu yang mencuat agak panjang dan besar. Perahu sudah tertambat dan sudah terhenti walau arus sungai berusaha melarikannya. Kau lihat dinding sebelah kanan itu? Kita harus mendakinya ke atas. Mungkin tidak ada air di sana. "Hapuslah mata dan pipimu. . . cepat dihentikan T io dengan teguran. Supaya kita dapat tahu yang ada di depan. "Keringkanlah. dia mengangkat kepala. Aku cinta padamu . dan sebuah gulungan lagi disandang. kokoh tertanam. Biar kita punya tenaga. sedang ujung satu lagi dibebaskan. dengarlah aku."Ronggur.

Terkadang Tio menatap ke bawah melihat perahu mereka yang terangguk-angguk. yang untuk beberapa hari lamanya tidak mereka lihat. Tapi. Lebih dulu dielusnya leher si belang. Atau. Tangga demi tangga dibuat Ronggur dan didaki. lehernya digoyang-goyangkan. Tajam lidah batu alam seperti menusuk telapak kakinya. kita memang sudah harus mendarat di sini. Tio memegang ujung tali satu lagi yang ujungnya dikaitkan pada pinggang Ronggur sebagai pegangan."Biarlah tinggal dulu di perahu. Si belang menggonggong kecil. keadaan tetap sunyi. Tidak ada pertanda kehidupan. Kau perlu turut ke atas agar ada nanti yang menarik peralatan-peralatan kecil ke atas." Di pinggangnya diselipkan penggada dan kampak digenggam. Agak mencong jalannya tapi terus mendaki setapak demi setapak. Tidak vertikal. Walau sinar matahari melemah. baru dia mendarat. Mengikat peralatan itu dan membawa si belang ke atas. Tio membelitkan bungkusan yang berisikan bekal. yang tidak memberi kesempatan pada mereka untuk menatap keluasan langit. Supaya ada tempatnya bergantung kalau dia tergelincir. Mereka sudah di pertengahan pendakian. Namun tetap pasti. . yang terus diikuti Tio. Dari sana sudah dapat kembali mereka tatap keluasan langit. di perutnya si belang menatap ke arah mereka sambil menjulur lidah. Kemajuan pendakian itu lambat sekali. Ronggur maju menanjak sambil terus membuat semacam anak tangga pada batu padas. Tak ubahnya mereka seperti baru keluar dari satu lobang alam yang kelam lagi sunyi. namun merasa lemah juga mata menatap yang sudah sering ditatap tapi yang buat beberapa hari tidak ditatap. tali itu bisa ditahannya kalau Ronggur sendiri yang tergelincir. Atau. Aku akan turun lagi. Suara yang menakutkan dan mengancam itu terus bergema. Kita perlu mengadakan peninjauan. yang sudah beberapa hari basah saja.

Keringat meleleh dari tubuh masing-masing. tapi suara yang mengancam kehidupan dengan liar mengguruh di depan. lembah yang dasarnya sungai yang menggila arusnya. jaluran batu padas yang lebarnya hanyalah barang sedepa. Setiba di puncak. Angin meniup. Dan arah matahari dan lemahnya sinar. Tidak bertepi dan tidak bermula. Sebelum gelap mereka sudah harus sampai di puncak. Atau.Yang ada hanya gemuruh yang menakutkan. tidak memberi kegembiraan. Di kanan. agar bisa lebih mendaki tanjakan. Di depan sekali suara mengguruh itu menanti. Di sebelah kiri. Teruslah mendaki. lembah putih. hanya sejalur batu tandus dan di sana-sini berlidah tajam. Tidak bisa perlahanlahan. Tapi. putih kental seperti kabut. Ronggur tahu. Tapi. "kita sudah sampai ke atas." selalu katanya. perasaan lega itu tidak lama mengisi ruang dada. hari sudah sore. awan rendah. sebentar lagi. Sudah cukup haus Tio. namun Ronggur melarang meminum air sekali banyak-banyak. agar dapat ditangkap pendengaran. yang mengancam. . "Sebentar lagi. Karena itu. Itu pun tidak jauh-jauh ditatap. tahulah mereka yang ditemui. Matahari memancarkan sinar kemerahan yang lemah. Tidak ada satu suara pertanda kehidupan. tidak mampu menembus keputihan yang mengental." Mereka harus bercakap kuat-kuat. T idak jauh lagi. dia sering membesarkan hati Tio. waktu tangannya sudah dapat menggapai puncak yang dituju. Tidak lebih. Betapa bersukur hati Ronggur. seperti diselaputi sesuatu dan tidak punya dasar tampaknya. Ke arah depan dan belakang. Seperti memancur. agak licin di sini. hatihati. karena ada sesuatu yng menyungkap. Penemuan ini membuat hati terpukau.

Berlagak mau . Sekeliling begitu dingin membeku. Awan rendah menyungkap semua atau memang langit begitu rendah. Seperti mengantar mereka ke tempat tujuan akhir." kata Tio pelan sekali. Mereka rasakan langit begitu dekat. Karena. Dia gamang. Bisu. Melangkah begitu saja. dia membimbing tangan Tio. "Kita akan mati lemas di sini. Gigi gemelatukan.Berlagak mau melumpuhkan dan mematikan tekad hati yang sepadu-padunya. Ronggur membiarkan. jalannya begitu licin. Tio di belakang. menggenggam tali lebih kuat dan begitu dekat di belakang Ronggur. bergerak ke depan perlahan-lahan. Terasa ngilu. Kental. sempoyongan. Sebelah atas mereka. Tidak berapa lama tari warnanya menghias langit. Mereka terus melangkah. tidak ada lagi sinar cahaya percaya diri. Namun tanpa bicara. T idak ada yang dapat dibakar. Tambah lama menjadi hitam. Mereka memutuskan untuk bermalam di sana. Ronggur menoleh kepadanya seenak tanpa mengatakan sesuatu. Satu sama lain tidak bisa mengeluarkan pendapat. T idak tampak bintang atau bulan. Tekad hati yang padu menjadi cair. Tio lantas saja memeluk tubuh Ronggur dengan gemetar. Sesayup sampai. Geraknya seperti gerakan yang bermula dari kedalaman. sekira tiga empat depa luas jaluran di sana. Sesekali mereka hendak tergelincir jatuh ke bawah. Ronggur berjalan di depan. Lidah batu yang tajam menusuk telapak kaki. Melangkah berserah diri. salak si belang dari dasar sebelah kiri kedengaran. Tubuh menggigil. Pada sinar matanya. cepat kelam. awan rendah menyungkap. Tio tidak berani jauh-jauh dari Ronggur. tanpa percaya diri. Mati. Karena dia pun seperti kehilangan semangat. Dapat juga mereka temui tempat yang agak luas sedikit. Senja tambah samar. ke jurang tanpa dasar.

Air begitu tipis. Suara gemuruh. tapi begitu lemah. Tio jatuh tertidur sambil menggulungkan atau melipatkan kakinya dekat ke dadanya. Ronggur tidak dapat tidur walau tubuh cukup capek dan payah. . tapi menakutkan. Tidak pernah hujan begini tipis. Berusaha mengikuti perobahan alam kalau memang perobahan itu ada." kata Tio pula. sekira empat lima depa. dipikirnya hujan turun." "Barangkali kita sudah terjebak. kepekatan yang menghitam itu sudah kembali agak memutih. Namun mata hanya dapat menembus sekira empat lima depa saja. Sekitar. kita sudah basah. dunia jauh lagi as ing. Semalaman matanya terus terbuka. sampai di situ saja. melingkar. Ada juga dirasakannya kebenaran yang diucapkan Tio itu. Lama-lama hitam pekat itu beralih pula. "Apakah sudah pagi?" "Aku tidak tahu. tetaplah waspada. "janganlah berkata begitu." katanya menasihati walau diri sendiri bimbang. Sampai payah bernapas. Lagu kematian yang hendak mengantarkan para arwah ke tempat abadi. "Ke mana lagi kita harus pergi?" tanya Tio pula.menyelimuti segala. Lagi-lagi Tio mengaju tanya. Tio. "Aku tidak tahu. "Apakah hujan?" tanya Tio. lagu tunggal yang abadi. Tapi. desis air sungai yang bertemperasan ke dinding sungai. Pada satu saat angin bertiup dari arah depan. Melumpuhkan perasaan yang ada dalam diri. Tapi. Butiran air halus memerciki tubuh mereka." Kembali mereka diam. Ronggur terus membuka mata. Tapi. Akhirnya dapat diketahui Ronggur. Seperti ada utasan cahaya putih. Tapi. dapat kembali ditatap.

Marilah tabah menerima upahnya. Ronggur mencampak pandang ke sebelah kiri. Semua peralatan itu akan menjadi saksi di depan Mula Jadi Na Bolon. secara berangsur." "Tidak terjebak." kata Tio pula. pada perahu. akhirnya muncul kembali. kepercayaan akan diri sendiri." Tio terdiam. Bila perintah datang. tapi dengan alasan kenapa dia harus mengarungi Sungai Titian Dewata. Perahu itu seperti rumah dan tempatnya terakhir. melalui . Kalaupun ajal tiba." sahut Ronggur. Sedang Ronggur setelah dicekam habishabisan oleh perasaan takut. "kita tidak bisa lagi menempuh jalan sungai. Dengan perahu itu dia akan mendatangi tempat Mula Jadi Na Bolon." "Kita terjebak di s ini. tentang tujuan citanya. tentu dapat melembutkan hati Mula Jadi Na Bolon yang pengasih penyayang itu. Tio memegang ujung tali di atas. "Kalau kita surut." sahut Ronggur. aku tahu. Bilapun Mula Jadi Na Bolon murka. ke tempat Mula jadi Na Bolon. tapi marilah dengan tabah mendekatinya. Lalu diputuskan." bujuk Ronggur. pikir Ronggur. "Ya. dia harus menjemput si belang dan peralatan serta perahu itu kembali. dia mau menghembuskan napas dengan tenang di perut perahu itu. "Sekalipun kita harus kembali ke tempat asal. tentu tidak bisa melawan arus yang menggila. ganjarannya. mencari tangga yang dibuatnya semalam. kita telah melaksanakan tugas kehidupan. Beberapa saat kembali hening."Tabahlah. pada peralatan yang masih tinggal di sana. Tapi. Kemurnian cita yang digenggam kembali memberi suluh pada keyakinan. Kembali dia teringat pada s i belang. Dia mulai menuruni anak tangga yang dibuatnya semalam. Tio terdiam.

goyangan tali yang digoncang Ronggur, Tio mengulurkan tali lebih panjang. Sesampai di bawah, Ronggur mengikat peralatan kecil. Dengan berteriak sekuatnya, sekerasnya, disuruhnya agar Tio menarik. Tio menarik. Kemudian menjatuhkan tali lagi ke bawah. Ronggur mengikat perahu baik-baik. Mengisi air pada bambu tempat air yang dilobangi ruasnya, tapi ruas sebelah bawah tidak dilobangi. Air bisa tersimpan baik di sana. Kemudian dituntunnya si belang. Kembali dia mendekat ke atas. Merabaraba. Terkadang harus digendongnya si belang. Si belang seperti tahu marabahaya yang sedang mereka hadapi. Dia menuruti segala petunjuk Ronggur dengan baik. Setiba dipuncak, bersama dengan Tio, ditarik mereka perahu ke atas. Perlahan-lahan agar tidak terbanting ke tebing bukit batu, yang bisa membuat perahu pecah. Mereka masukkan semua barang bawaan ke perut perahu. Tapi, kampak terus digenggam, sedang di pinggang menyelip panggada. Dia tambah yakin lagi pada diri sendiri. Perjalanan itu tidak boleh surut dan tidak boleh henti. Harus terus maju. Sampai tiba ke tempat yang menentukan. Diputuskan akan terus mengikuti jaluran batu yang tidak berapa luas itu ke depan. Ronggur di depan. Tio di belakang. Mereka pikul perahu, jalan sempit terkadang, luas terkadang. Keadaan masih tetap sama. Hanya beberapa depa dapat ditembus pandang. Kabut tebal atau awan rendah menyungkup segala dengan putihnya yang padu. Tambah maju ke depan, suara gemuruh itu bertambah jelas. Dan, alas yang mereka pijak seperti mempunyai getaran kecil. Digoncang sesuatg tenaga yang maha kuat dan dahsyat. Membuat hati kembali tertekan. Namun dengan tabah serta keberanian yang bangkit perlahan-lahan, Ronggur terus memelopori perjalanan rombongan yang kecil itu. Menuju tempat yang menentukan, mimpinya benar atau memang mimpi itu godaan setan jahat. Si belang mengikuti langkah

Ronggur, dekat sekali di belakangnya. Si belang tidak berani mendahului ke depan. Tidak menggonggong. Hanya melengking kecil. Cahaya putih yang lemah itu menjadi tambah lemah lagi. Keadaan sekitar kembali menghitam. Ruang hampa. Kembali mereka mencari tempat istirahat. Air tipis halus itu, sudah terus-terusan menghambur dari asalnya yang tidak tahu di mana. Ronggur mengosongkan peralatan mereka dari perut perahu. Kemudian, perahu dibalikkan. Disuruhnya Tio dan si belang berondok ke sana, agar tidak terus-menerus diperciki air tipis. Dia sendiri tetap di luar. Tidak hentinya melihat sekitar, walau yang dapat ditembus pandang hanya beberapa depa saja. Dingin mencekam. Ronggur tidak tahu, Tio menggigil juga dalam sungkupan perahu, kedinginan. Wajah dan bibirnya menjadi pucat. Tapi, Tio tidak mau mengatakan. Tidak ada sumber panas yang bisa menyamankan sedikit. Kembali warna putih yang lemah itu mendatang dari segala arah. Tapi, begitu lemah. Kembali mereka melanjutkan perjalanan, mengikuti jaluran setapak itu. Keadaan cuaca masih tetap seperti semula. Terkadang jaluran itu mendaki, tapi terkadang menurun, untuk mendatar lagi. Jalanan bergelombang. Terkadang melurus, tapi tidak jarang memenggok ke kiri dan ke kanan. Mereka mengikutinya dengan tabah. Tapi, harus lebih hatihati, jalanan bertambah licin. Air tipis tambah tetap berhamburan dari sumbernya. Suara gemuruh di depan yang membosankan itu, tetap mengguruh. Si belang tidak berani lagi berjalan sendiri. Dia harus dimasukkan ke perut perahu, didukung. Beban bertambah berat. Di saat tubuh mulai melesu. Di saat kepercayaan terakhir mulai merenggang dari tubuh T io.

Sambil mengisak, Tio meminta, agar mereka menghentikan perjalanan. Dia mendudukkan diri begitu saja. Tempat itu agak luas sedikit. Sehingga mereka bisa agak leluasa sedikit bergerak. Namun harus tetap hati-hati. Karena basah, licin. "Ada apa Tio?" tanya Ronggur sambil mendekat. Tio menundukkan kepala. Mengisak terus. Wajahnya memucat. Bibirnya gemetar. Dingin. Sambil duduk di depan Tio, Ronggur mencari dagunya. Diangkatnya perlahan dengan telapak tangan yang menggetar juga karena basah. Ditatapnya wajah, bibir, dan mata Tio yang memucat sayu "Kau capek Tio?" Belum ada sahutan. "Katakanlah." "Katakanlah." Tapi, begitu bening dan terasa agung. Ronggur tidak dapat memancarkan sinar merah lagi di matanya. "Marilah menanti hari esok di s ini, bila hari esok masih ada. Marilah menanti apa saja di sini, apa saja," Tio lalu menundukkan kepala. Melepaskan dagunya dari telapak tangan Ronggur. Air berhamburan terus, membasahi tubuh mereka. Tio mulai menggigil. Si belang juga. Terus membulatkan tubuh dalam perahu, tidak berani turun. "Katakanlah, apa yang harus kita kerjakan lagi Tio," kata Ronggur melemah. "Aku telah membawamu ke tempat yang hampa ini. Apakah kita harus pulang ke kampung halaman, yang telah melemparkan aku, yang tidak menerima aku lagi menjadi warganya? Nasib telah tertentu di sana, nasib yang malang menanti diri. Katakanlah Tio, aku akan mengikutinya.” "Marilah berhenti di sini," sahut Tio akhirnya. "Kupikir tidak ada lagi gunanya kita meneruskan perjalanan ini. Marilah pasrah di s ini. Berserah dengan hati bulat ke tangan Mula Jadi Na Bolon. Bawalah daku padanya sebagai sembahanmu, agar

Maafkanlah aku. melengket di sana beberapa saat.Mula Jadi Na Bolon tidak marah padamu. pertanda dia seorang budak belian. Tapi. mati bersama. sama-sama orang merdeka. membuai mereka berdua. Ronggur? Sungguh?" "Ya. terhormat." Suaranya begitu lemah. Marilah berpasrah diri di depan Mula Jadi Na Bolon. Sambil mengisak dia mengatakan. seperti kau lihat. Air mata yang menggenangi pelupuk matanya tidak bersumber dari kepiluan dan ketakutan lagi. . Terayun dan dibuai sebuah lagu yang selama ini terpendam di dasarnya. "Kalaupun kita mati. Berhadapan dengan kenyataan ini hatinya jadi bersorak gembira. Barangkali. lupa hal yang menghadang di depan. Tio sudah merdeka kembali." Perlahan. Matinya. Lalu dilanjutkan Ronggur. "Janganlah kembali ke sana. ya barangkali. bermula dari perasaan gembira. sebagai orang yang sama hak. Dia tambah mendekatkan bibirnya ke bibir Ronggur. "Kau merdekakan aku. Tio menjatuhkan diri ke ujung kaki Ronggur. aku yang membawa kenahasan ini padamu." Tio terdiam. Lalu dengan hentakan kasar. lupa siksaan. Sesuatu benda hangat tapi lembut menyentuh bibirnya. Gelang itu dicampakkan Ronggur sekuat tenaga. Walau apa yang telah kita temui. Jari jemarinya meraba pergelangan Tio." Arwah nenek moyang Tio akan menerima arwahnya di tempat yang baik. Jauh-jauh. kembali Ronggur mengangkat dagu Tio. Ditatapnya lama biji mata yang sayu itu. Sekarang berlomba bermunculan. Lupa kepahitan. selain diri sendiri. mati seorang manusia yang merdeka. direnggutkannya gelang yang dipakai Tio. Tidak ada sembahan kubawa ke hadapan Mula jadi Na Bolon. Ronggur. Mendudukkannya.

Hanya permulaan. dari mulutnya keluar kata. "maukah kau. Lagi pula kita telah menemui yang kita cari di sini. Tapi. Ke tempat para dewata bersemayam. "Aku cinta padamu . "Marilah bersujud ke hadapan Mula Jadi Na Bolon. permulaan yang tidak punya akhir. "marilah melanjutkan perjalanan. Berani mengarungi segala kemungkinan. bila kita mati. di sini akhirnya.. yang telah membawamu ke tempat ini."Ronggur. Sampai tahu kepastian yang akan kita temui. Memohon ampun atas keangkuhanku. . "Kita harus istirahat dulu di sini." bisik Ronggur." Ronggur tersenyum. Kita tidak boleh pulang." Tio menangkap leher Ronggur." kata Tio tegas. Istri yang paling setia." "Tidak." "Tio. lalu menciumi bibir Ronggur lagi dengan bertubi-tubi. Kita harus maju. aku akan mengatakan pada Mula Jadi Na Bolon bahwa arwahmu bukanlah sembahanku. Tio tersenyum. Telapak tangan Tio masih terus mengelus rambut Ronggur yang basah. Boleh jadi. tidak ada akhir. Sudah terlalu kelam untuk melanjutkan perjalanan." kata Tio dengan tegas. "semuanya. Ronggur memimpin doa: Mula Jadi Na Bolon Asal mula dari segala kehidupan Padanya kembali karena dia yang punya Terimalah kedatangan kami Hambamu . Yang tabah bersama suami mengarungi kehidupan." Tio memperbaiki duduknya." Ronggur tersenyum. Lalu. karena mau turut mempertaruhkan keyakinan suaminya. karena ada cita tergenggam di tangan dan di hati. . istriku.

ccdw-kzaa 6 Ronggur terbangun. batas ruang dan waktu tidak berarti lagi.Karena keangkuhan yang berbenah dalam diri Kami telah tiba di s ini Melanggar peraturanmu! Ronggur menggenggam tangan Tio. Menggigil kedinginan. Si belang keluar dari sungkupan perahu. Dan. Sekitar menjadi kelam kembali. seperti tidak mau dipisah lagi. Perlahan . Berjaga di luar perahu. baik waktu. Bersama mereka menyuruk ke perut perahu yang dibalikkan. air tipis itu. baik ruang. lalu dilanjutkan: Karena darimu mula cinta Napasmu sangkala cinta Satukanlah aku dan Tio Suami isteri yang dihidupi api cinta Tebarkanlah api cinta Tiuplah api cinta Membakar dada kami Dari saat ke saat tanpa akhir! Kembali mereka berdua berdekapan. terusterusan berhamburan. walau dia dan Tio berpelukan di bawah telungkupan perahu. Karena cinta telah punya laut dan pelabuhan.

"Semalam atau ya saat lalu. . katakanlah dulu sudah pagi. Lihatlah sekitar. Waktu itulah Tio bangun. Kembali tangannya dilingkarkan di leher Ronggur." "Wajahmu capek kelihatan. yang ada hanyalah kehampaan yang tidak bertepi. Tapi. kita sudah berpendapat bahwa kita tidak akan melihat dan mengecap saat lain lagi. tapi sampai kini masih hidup dan mengenal hari. Langit seperti di atas kepala saja dan dapat dijangkau tangan. Hingga waktu lewat. "Aku tidak tahu." kata Tio. Perlahan me lepaskan pelukan Tio. dengan tegas dia menyahut. hari lalu. kabut yang begini rupa tebalnya dan lamanya belum pernah ditemui sebelum itu. yang sudah ditopang oleh batu yang diganjalkan. Atau. "Kenapa kau buruburu bangun? Apalagi yang mengejarmu? Bukankah sudah semua kita lalui dan sekarang kita hanya tinggal menantikan yang akan terjadi. Masih disungkup kabut atau awan rendah yang masih tebal. Tapi. dan waktu kini. permulaan dari segalanya?" Ucapan manja bercampur kekanakan. membangkitkan iba Ronggur. lalu dijulurkannya kepala melalui celah. Cahaya putih yang lemah sudah ada lagi. Masih seperti saat lalu.diungkapnya pinggir perahu. Atau. Hari yang kita harapkan membawa perobahan pada nasib yang mendatangi diri. Tapi. hanya masih begitu lemah. lalu seperti! anak kecil. Kita sudah beranggapan bahwa tidak ada lagi hari. Dia telah mengenal kabut pegunungan dan danau sejak kecil. Bermalas-malas. awan rendah belum pernah melingkupi tanah serendah itu." "Apa sudah pagi?" tanya Tio. perobahan pada yang hendak kita temui. hari yang kita nantikan kemaren. Dari mulutnya perlahan berbisik. Tapi. bila tangan digapaikan ke atas. dia menciumi pundak Ronggur.

Harapan. Dibaliknya terkandung kegembiraan dan harapan selalu." kata Ronggur kemudian. Namun tetap naik atau berusaha naik ke atas. "Lihat. Merapatkan kepalanya ke pundak Ronggur. putih dan lebih putih dari semua. Panas tubuh mereka berdua yang merapat. Deru . bisa sebagai bedeng. Tio tersenyum. Di arah darimana bermula angin itu." Tampak oleh mereka berdua sebuah benda putih yang kecil tapi bundar. "apa kau pikir itu?" "Apa maksudmu?" tanya Tio." "Cakapmu tidak dapat kuartikan."Tidak mengapa. bergerak dengan lamban seperti bermalas-malas." kata Tio. Agar bisa dapat dilihat mata apa sebenarnya yang ada di sana. Sinar yang dipancarkannya sedang mengadakan perlawanan atau berusaha menghancurkan kabut putih atau awan rendah itu. Lurus ke depan. mengatasi segalanya. Tidak kau lihat? Lihat ke bawah sana. Tapi. Tio terus merapatkan tubuhnya ke tubuh Ronggur. namun pandangnya masih tetap disungkup diputihan. Untuk menyingkirkannya. tapi sinar lemah. Harapan harus dapat melahirkan sesuatu yang berwujud dalam kenyataan kerja. Tapi. Perlahan dirasakannya angin bangkit. bisa menimbulkan panas. beberapa titik air dapat ditelan sebagai sarapan pagi. Mereka mencuci muka dengan melapkan tangan saja karena wajah mereka tetap basah. seperti itulah gayanya." "Kita masih mengharapkan?" "Selalu. karena dia tetap kedinginan yang tambah lama tambah bermaksud membekukan diri. janganlah pergunakan harapan untuk harapan saja. Ronggur berusaha menatap sekitar. satu-satunya api yang dapat membakar semangat hidup. "Lihat. Dengan mengulurkan lidah. Begitu putih hingga memijarkan sinar.

Detak hati yang menandakan diri anak manusia biasa. dia memerlukan kelembutan yang bermula . Mereka belum dapat menduga. Tidak mati-mati. Tapi. hampir menyerupai bundar matahari yang mereka kenal. kenapa pandang mereka terpaut mengikuti gerak perlahan yang menanjak itu. Mulanya tipis. Mereka belum pernah melihat tamasya alam begitu rupa. bila sudah menebal. mengikuti perjalanan benda bundar yang lemah itu. mendaki ke ketinggian. Dari tubuh Ronggur sendiri. segala perasaan mencurah keluar. Dan. entah berapa lama mereka tenggelam dalam keadaan begitu. di rambut hingga menyusahkan mata untuk menatap. Tidak disadari mereka. Tidak disadari mereka. sekali hapus saja akan hilang tapi cepat melengket di sana butir air yang lain. warta yang akan timbul darinya. dihapus dengan telapak tangan. Namun mata mereka terus mengikuti gerak lamban dan malas dari benda putih yang semakin tinggi itu. Biar sesaat pun. Hati berdenyut juga walau sudah punya tekad. sewaktu ditutupi awan di langit. apalagi yang harus mereka hadapi. Mulut mereka ternganga. Hati mereka menjadi tambah menduga. Sesuatu benda putih yang bundar mengadakan perlawanan terhadap sesuatu yang melingkupi segala dengan warna putih.yang terus menderu di depan memberi gendang layaknya. Mata mereka terus mengikuti gerak ma las dari benda putih yang bundar itu. Benda putih bundar itu merangkak perlahan. matahari tetap berada di atas. Bundarnya. tapi tidak berwujud. mereka tahu. Kuping benda bundar putih tidak memperdulikannya. Mereka memang tidak tahu lagi. Mereka tidak pernah memikirkan bahwa pada satu saat dan tempat yang berobah. bersedia menerima segala tiba. Bila butiran air tambah menebal melengket di wajah. rnatahari bisa dilihat seperti berada di bawah. Lama kelamaan menjadi tebal. Dalam saat begitu rupa.

marilah mati berpelukan. Tapi. Bertambah garang cahaya yang memancar darinya. Perlahan sekali sehingga tidak terasa. namun dasarnya belum tampak atau memang tidak punya dasar. takut kalau Tio menjadi takut. dan merasa ngeri. Dia tambah mengeratkan pelukannya ke pinggang Tio. Si belang turut duduk dekat mereka. seperti melemaskan otot. Tio mendekatkan pipinya ke pipi Ronggur. Begitu pula mulut jurang di sebelah kanan. Tapi. Tambah jauh jarak yang dapat ditangkap pandang. Tebing yang tidak berapa curam itu . kata hatinya ke diri sendiri. Mata mereka terus mengikuti gerak perlahan yang terus menanjak di depan bermalas-malas. ke samping dan ke sekitar. dengan tidak mau tahu pada mereka berdua yang mengikuti geraknya terus menerus. suatu harapan telah menggeliat dalam hatinya. Tebing jurang tambah menghitam. Bisa dituruni. si belang mulai sering melangkah ke depan dan ke belakang. Jauh ke belakang dapat dilihat Ronggur. Perobahan yang tidak tersadari. Jarak yang dapat ditangkap pandang bertambah jauh dan luas. sungkupan awan rendah bercampur kabut tambah menipis juga dari sekitar.dari tubuh Tio. Dia tidak mau mengatakannya pada Tio. Kalau mati. takut kalau si belang terjerumus ke mulut jurang yang belum tampak dasarnya. tidak bergerak. Mulut jurang sungai tambah berbentuk. bila hendak turun ke lembah di seberang kanan. Apakah benda putih itu akan menyuluh jurang yang tidak berdasar? Pandang sudah bisa mereka campakkan barang sepuluh depa ke depan. Seperti menanti sesuatu yang menentukan akan tiba. Benda bundar yang putih itu bertambah tinggi juga. Lidahnya dijulurkan. cepat Tio memanggil kembali. Tapi. Melihat ke arah yang mereka tatap. Mereka ikuti terus dengan tabah. dasarnya belum tampak sama sekali. Bila cuaca bertambah terang. di sana tebing tidak berapa curam.

Lalu dia mengatakan perlahan: . jauh di bawah. "Ronggur. itulah tanahmu. Dapat dirasakan Tio. Kehijauan yang maha lebat lagi datar. membuat suhu tubuhnya menjadi naik. Tidak dapat menyahut dengan segera. melalui tingkatan pundak bukit. Sejauh mata memandang. sekarang debu itu telah menyisih sehingga merahnya bara kembali rrienjilamkan panas menyala. Dapat ditangkap dengan pandang sekarang. "Ronggur. Terbelalak mata mereka melihat sinar yang tambah terang. Sungkupan kabut dan awan rendah tambah menipis dan terangkat. itulah tanah habungkasanmu. Angin pegunungan. Ronggur.menurut perhitungannya. "itu matahari! Itu matahari! Mula hidup! Itu matahari!" Cepat Ronggur berpaling. terhempang kehijauan yang sangat luas. Semangatnya kembali hidup secara perlahan. yang dapat dilihat kehijauan yang merata." Ronggur gugup. mereka telah menemui. Tidak berapa sulit malah. . Pucuk dedaunan itu seperti berombak ditiup angin lalu. "Dan. Karena dengan itu. bisa dituruni secara perlahan. karena tidak menduga walau itu yang dicari dan diharapkan. itulah yang ditunjukkan mimpi dan perkataan gaib dalam mimpimu. lebat berimbun. gugup sekali. Api dalam dirinya kembali menyala atau bara yang untuk beberapa saat tertimbun oleh debu.dan —" dengan gugup. angin pagi. itu dedaunan dari pucuk pepohonan yang tinggi. Ronggur. karena dengan itu mereka telah dibebaskan dari kungkungan yang mencekam dan mengancam. Matanya menitikkan air bening. Dia telah membawamu ke tanah habungkasan yang maha luas." pekik Tio meninggi sambil mempererat pelukannya ke pinggang Ronggur.

yang membuat kita dapat melihat tanah habungkasan yang dijanjikannya dan membuat aku dapat dengan jelas melihat wajahmu. Kita harus menyelidiki keadaan tanah di sana. juga tanahmu. yang sekarang. yang mau bungkas ke sana. "Tio. "Perjalanan kita masih jauh. Setelah memberi kecupan pada bibirnya. Perlahan. sebelum itu. juga tanah orang lain. "Itu bukan tanahku. T angannya terus menerus mengelus rambut Tio yang panjang lagi lembut dan lemas. tapi basah. Tapi. Matanya menitikkan air bening. Ronggur membiarkannya begitu beberapa saat. Tidak tanah habungkasan itu saja. Tapi. yang telah mengirim matahari untuk kita. Kau. Tidak mengganggu. Lama Ronggur menumpa pandang ke biji matanya. marilah mengucapkan sukur pada Mula Jadi Na Bolon." Beberapa saat keduanya terdiam. lalu Ronggur melingkarkan tangannya ke tubuh Tio dengan ketat. Tapi. sebelum kita memulai perjalanan ke sana. Apakah baik dijadikan tanah persawahan. . "Juga kau." Mereka bersujud ke arah matahari. Tanah kita berdua. "aku cinta padamu Tio. dia mengatakan pula. Istriku. Tanah anak kita. menanamkan pandang ke dasar bening matamu. lalu. Tapi. yang pasti banyak dan akan terus berkembang. sudah bisa pula melemas." "Apa lagi?" tanya Tio terbodoh. dia menelungkupkan kepala ke dada Ronggur yang bidang. tidak tanah itu saja yang ditunjukkan mimpi padaku."Tio. Apakah hutannya banyak menyimpan binatang buruan. kata Ronggur kemudian. T anah keturunan kita. sayang!" Pandang lama bertemu. Sambil tersedu karena terharu." Tio menggigit bibir. Ronggur menegakkan Tio dari sujudnya. izinkanlah aku mengatakan sesuatu kata yang telah lama terpendam di hati.

setelah beberapa hari terendam di air. "lihat terus ke sebelah timur sana."Kita akan terus mengikuti aliran sungai menuju tanah landai. sampai tiba ke tanah datar di bawah. "Itulah jalan yang baik ditempuh. hingga agak besar." kata Ronggur. Kembali dia memanjat. Betapa nikmatnya panas jilam api. Tio menerima di bawah. Lalu menyuruh Tio turun. lebih landai. menurun ke gundukan kedua. dia ketahui. Melalui dinding batu yang tidak berapa curam." Tio mengikuti arah yang dimaksudkan Ronggur. Lalu dia mengikat pinggangnya dengan tali. mengibaskan ekor biar cepat kering. Kemudian dia sendiri turun sambil menuntun si belang. termasuk si belang. Rumput kering. Kemudian diturunkannya satu-satu peralatan. agak curam. Begitu seterusnya. tapi masih begitu tipis. memijak tanah. dibasahi titikan air yang terus menghujani mereka." kata Ronggur kemudian. Untuk pertama kali kembali mereka lengkap bersama alatnya. Jalan ke gundukan pertama. kemudian terdampar ke batu padas. sedang ia memegang ujung tali. Lalu dibakar menghidupkan api. Mereka sudah sama berada di gundukan pertama. sampai akhirnya perahu sendiri. dijalin begitu rupa. tanah melapisi batu. ujung yang lain diikatkan ke pinggang Tio. setelah beberapa lama tidak merasainya. yang mempunyai tanah. . Dia turun sendirian ke gundukan tanah pertama. mengeringkan tubuh dan memanaskan tubuh. Hari sudah sore. Si belang menggoncangkan tubuh. Membuat anak tangga. Mereka tentukan untuk bermalam di sana. mereka dapat melihat gundukan perbukitan di sebelah kanan. Sudah bisa mereka berjemur di sana. ialah terusan Sungai T itian Dewata. Serpihan air tipis yang menghujani itu tidak sampai lagi ke sana. Tapi. sesuatu garis putih yang membelah kehijauan. dari sana.

sekarang seperti melengkapi irama seruling yang ditiup Ronggur. Malah seperti menjadi pertanda. Lagu yang mesra ditiupnya perlahan. dia melanjutkan Pohon aren di belah dua Tempat berayun monyet berdua Janji telah memadu Pinang sebelah dibagi dua Lalu berdua mereka melanjutkan: Terbang engkau elang Hinggap di kayu rindang Ke mana engkau sayang . Tidak menakutkan dan mengancam lagi.Malam itu keinginan Ronggur untuk meniup seruling memuncak. tapi agar memulai menempuh jalan darat. Agar seseorang yang menyusuri sungai jangan meneruskan penyusuran lagi. Kemudian Tio mengiringi tiupan seruling itu dengan nyanyi: Bila bulan di awan purnama Di tepi danau aku menanti Wajahmu menghias tanda masa Mengajak daku ke dunia mimpi Ronggur berhenti meniup nyanyian itu: seruling. Gemuruh air dibalik bedeng terus kedengaran.

memayung dedaunan hijau. memaling pandang. keadaan sekitar bertambah terang. Pagi terbit lagi. Malam terus melanjut.Kasihku tetap mendendang Kemudian hanya T io melanjutkan sedang Ronggur kembali meniup seruling: Kalaulah benar warta impian Ditimang beta dengan sayang Sinar purnama empuk menayang Haribaanmu lagu impian Tio meletakkan kepala ke pangkuan Ronggur. Sinar matahari hanya dari celah dedaunan saja sampai ke tanah. akhirnya sampai juga mereka ke tanah landai di bawah. Tanah cukup lembab dan basah. Membuat mereka agak susah bergerak. Membentuk lapisan tanah yang lembut dan berair. di . perobahan tempat mengadakan perbedaan. Bola putih itu pada mulanya lemah sinarnya dan berada seperti di bawah mereka. Kaki mereka terbenam sampai ke lutut terkadang. Sehabis sarapan pagi mereka melanjutkan perjalanan. Memejamkan mata dengan manja. sedang kemaren dedaunan itu masih berada di bawah mereka. Tapi. Kemudian secara berangsur perlahan. Di atas kepala. Begitulah secara perlahan dan hati-hati. Dilapisi dedaunan yang gugur sudah membusuk. Si belang duduk menjauh. Pemandangan seperti pagi kemaren. Seperti taktik kemaren juga. Api unggun yang kecil itu terus menari dan menari.

Jalanan terus menurun. mata terus ditancapkan pada benda jatuh itu. agar tidak runtuh lalu menimpa bumi serta penghuninya. Ke sana mereka menuju. Si belang berlari ke sana ke mari dan menggonggong. walau suara gemuruh tambah jelas dan memekakkan telinga. Seperti menuruni pundak perbukitan. Dan. Tergoncang. Di sana-sini terbentuk curup di lingkungan yang gelisah itu yang bisa menenggelamkan apa saja yang jatuh ke tengah curup itu. Di sana-sini dedaunan gugur membentuk lapisan tanah yang lembut. Kekayuan yang tinggi dan besar batangnya seperti tiang abadi yang bergaya mendukung langit. Di satu tempat di arah depan. Kemudian jatuh ke bawah bergulung-gulung. Tapi. betapa ternganga mulut mereka melihat benda itu. Mereka menyisih cepat dari sana. Sesuatu benda putih mengapas putih melambung ke atas. Berpedoman pada ingatan pemandangan kemaren sore di mana terusan sungai berada. itulah air terjun yang tidak hentinya menerjunkan diri. la mengalir dengan besarnya ke arah timur. Membuat dedaunan sekitarnya bergoyangan. . tapi sudah ditumbuhi kekayuan yang tua. Mereka meneruskan perjalanan yang agak melingkar. sinar matahari lebih leluasa tiba ke tanah. Getaran bumi tambah terasa. membentuk telaga yang agak luas pada tempat jatuhnya. Kala di bawah arusnya melingkar dan membikin kepala pusing bila lama-lama menatapnya. Tio merapatkan tubuhnya pada Ronggur. tanpa takut dasar perahu bolong.sana bisa mereka tarik perahu bersama peralatan lain. agar kembali tiba ke sungai. Merasa takut kalau batu yang membentuk jaluran kejatuhan air itu akan runtuh lalu menimpa mereka. Itulah kelanjutan sungai. karena suara gemuruh bertambah hebat dan terasa menggoncangkan. tapi airnya berputar dengan cepat.

Pengganti beras. Beberapa saat kemudian. mempunyai tumbuhan yang bersamaan dengan tumbuhan yang ada di bidang tanah yang mereka tinggalkan. Si belang melompat ke depan. Lagi masih begitu jinak binatang itu." Tambah tahulah mereka tanah yang mereka temui itu. Umbinya bisa kita jadikan bahan makanan. benda putih mengkabut bermula dari air jatuh pertama. jarak jatuhnya lebih pendek dan lebih landai dari yang pertama. Lalu mereka jemur." kata Tio pula. tercengang melihat Tio dan Ronggur. Sampai akhirnya arus sungai tidak beriam lagi. tetap mengikut pinggiran sungai. Menurut perhitungan Ronggur sudah dapat memulai pelajaran dari sana. Mereka tebang beberapa pohon aren. Masuk semak. Kembali mereka temui air terjun. Terus mereka menghilir mengikuti tepian sungai. mereka memutuskan untuk bermalam di sana. Biarpun Tio memanggilnya. Dengan tombaknya cepat dia membunuh kijang yang tercengang itu. Mereka menatap ke atas. "Itu pohon aren. karena hari sudah agak sore. tapi tidak sekuat yang tadi lagi. Tidak punya prasangka pada manusia yang memburunya " "Lihat. Tapi. Dengan memilih jalan agak melingkar mereka menurun terus ke bawah. Kita tidak menguatirkan mati kelaparan. Mereka ambil umbinya. Binatangnya juga begitu.Di arah depan kembali kedengaran suara gemuruh. Sambil menguliti. si belang keluar dari semak mengejar seekor kijang. ujung tombak tertancap di dadanya. Bila beras habis. membuat mereka tidak langsung berkayuh melalui sungai. Arus sungai kembali menggila. Dan. dan tumbuk . Kijang terguling ke tanah. Sehingga busa air tidak terlalu hebat sewaktu jatuh. Tapi. la meloncat ke depan. Sampai akhirnya berada di tempat jatuhnya air kedua. "Kalau begitu. Ronggur tidak melewatkan kesempatan baik itu. di sini banyak binatang buruan. Ronggur mengatakan.

hari sudah mengarah sore. seperti raksasa dalam dongeng. karena dia belum perlu mengkayuh. Beberapa buah batu jangkar masih dijatuhkan. Tapi. Dengan melampaui riak air yang terkadang menghempas ke batu yang muncul di sana-sini. sinar matahari terus memberi suluh abadi. Terkadang sungai seperti ditutupi dedaunan hijau yang merimbun di atasnya. mereka harus lebih hati-hati menjaga kemudi. segar lagi lebat. Dedahanan terlalu rendah terkadang. sekitar mereka sekarang berwarna hijau dan tanah mengambangkan bau kesuburan. Untuk digantikan dahan lain mendukung dedaunan yang lebih hijau. melalui riam yang liar di tikungan sungai yang patah. menjelma kepada penglihatan. Sungai terus menerus membelah hutan belantara. Walaupun sudah menghilir arus sungai masih kencang. Kemana saja mata diarahkan. tetap tertumpu pada pohon yang besar lagi tinggi. Tio lebih banyak memperhatikan sekitar. Memilih dahan kayu yang baik untuk tempat bermalam. Cepat mereka meminggirkan perahu. menjaga keseimbangan kelajuan perahu.lalu direndam lagi kemudian ditapis untuk mengambil tepungnya. biarpun begitu perasaan Ronggur begitu pasti bahwa mereka akan tiba ke tanah yang lebih landai dan lebih baik. Di sana-sini berletakan ranting kering. Dari celah renggangan dedaunan. Ronggur dapat merasakan bahwa batang kayu yang besar itu dapat digunakan selanjutnya untuk kepentingan kehidupan. ibarat penopang langit agar tidak jatuh ke atas tanah. Dan. Tidak bisa berdiri dengan leluasa. . Bila cahaya itu melemah. Sehingga sinar matahari tidak sampai ke permukaan sungai. tahulah mereka. Mereka tidak menguatirkan kehabisan bahan bakar. bergeletakan dahan kering yang patah dari batangnya. Tapi. Untuk beberapa hari mereka tinggal di situ.

Arus sungai tambah perlahan. Di depannya tali yang terbenam. Ingin dia menghirup habis segala kebebasan yang diberikan alam padanya. Pundak pegunungan . meneriakkan kegembiraan. Arus sungai tambah perlahan. seperti berlomba keluar untuk disuarakan. dan bila mereka bermalam di sana dan biasanya lebih lama daripada bila mereka tidur di dahan. Ronggur selalu menghirup udara dalam-dalam. Bila mereka bosan dengan sungai. menghilir sungai. Sering Ronggur memanjat kayu yang tinggi. mereka mendarat ke tepian. Bila mereka menemui gua alam di tepi sungai. menggonggong dan menyalak. mereka menghilir sungai. kata yang paling sesuai diucapkan dengan yang dirasakan dalam hati. menatap dari arah mana mereka datang dan menduga hendak ke mana mereka dibawa sungai yang diikuti itu. Tapi. masih ada juga dijatuhkan. mereka belum perlu mengayuh. Tapi. Beberapa buah batu jangkar sudah diangkat ke atas. Ronggur meniup seruling dan Tio bernyanyi. Untuk mencari bentuk kata. ccdw-kzaa 7 Bertambah hari. Luas sungai tambah lebar. Arus masih dapat menghanyutkan perahu walau dengan perlahan. Sedang si belang berlari kian kemari.Perjalanan diteruskan menuju ke timur. Ronggur selalu mengukur dalamnya sungai dengan tali yang di ujungnya diikat batu sebagai pemberat. yang ditiupkan musik alam ke dalam diri atau untuk menyiutkan nada musik yang memadat dalam rongga dada. namun dia tidak sanggup menghabiskannya. Perasaan dalam dada masing-masing. Batu jangkar sudah diangkat. itulah dalam sungai. memelopori sebuah perburuan bila fajar pagi tiba.

satu hal makin mereka rasakan. Dibiarkannya dada telanjang. Karena lemaknya. T api. ditanamnya batu besar dan disambungkannya pada salah satu bagiannya. udara panas itu tetap mengganggu. Di garis batangnya melingkar. atau menembus celah pegunungan yang terdapat pada pertemuan bukit yang memanjang. . Membuat mereka harus mengayuh terkadang. mereka harus menaklukkan pundak bukit itu. Ronggur selalu menelitinya dengan seksama. Binatang buruan begitu banyak dan jinak. di situlah kampung halamannya. Sedang pada tepi sungai. Walau mereka berada di naungan pepohonan rindang. tambah luas. Pancing yang diumpankan Tio selalu mengena. Ikan yang cukup besar. Pancing tidak perlu berlama diumpankan. Setiap hari tepian sungai bertambah luas. Pepohonan tidak lagi di tepian sungai seperti di hulu. Dalam waktu singkat ikan sudah ada yang menyambar. Bila mereka hendak pulang ke sana melalui jalan darat. tanah berlumpur yang mengiring jaluran sungai. Melalui pengenalan akan pundak pegunungan. Bulunya tebal berlinang. Terkadang sampai berhari-hari mereka mengadakan pemburuan. bila bosan dengan ikan sungai. Tanah luas yang berlumpur semakin lebar mengikuti jalur sungai. udara bertambah panas. Sudah agak menjauh. membuat Ronggur tidak kerasan memakai sehelai kain atau kulit binatang di bagian dadanya. Lalu menatap ke arah hilir sungai.bertambah jauh di belakang sudah membiru. hutan lebat hijau di mana-mana menampung penglihatan. Si belang sudah mulai gemuk. Bila dipanggang bara api bisa padam. Arus sungai tambah perlahan. Ronggur dapat menduga bahwa di balik pegunungan yang semakin menjauh itu. Dan. Selalu dibuatnya tanda pada pohon kayu yang dipanjatnya.

" Ronggur berenang sekuat tenaga. Ronggur menyuruh Tio terus mengayuh. Membuat tubuh mereka selalu berkeringat. Lebih enak dan lezat. Walau terkadang matahari dilindungi awan. bergerak. "Ronggur.Digenggamnya tanah itu. Tubuh seperti berminyak jadinya. mereka temui pohon yang berbuah. Diperhatikan lunaknya. Sedang di hutan yang semakin menjauh dari tepian sungai itu. mencucuknya. awas. Hanya udara yang bertambah panas itu saja yang membuat mereka agak merasa tidak senang. Alangkah terkejutnya mereka. sekelompok binatang yang sedang berendam di tanah lumpur. Jalan satusatunya untuk mempertahankan diri. Ini tidak. tapi cepat kering disapu angin lalu. lalu mengejar. Perahu agak oleng sewaktu Ronggur menaikinya dari satu sisi. berenang. Udara seperti itu tidak pernah mereka temui di sekitar kampung halaman. Membuat mereka sering terjun ke dalam sungai. Binatang itu memburu. Tapi. dan menyelam. Panggada juga turut digunakan. Terkadang diciumnya dengan hidung. sedang dia. walaupun matahari cukup terik. panas itu masih tetap terasa. dengan mempergunakan kampak. agar keringat melengket itu bisa menghilang untuk datang dan untuk dihilangkan lagi. apakah bau lumpurnya sama dengan bau lumpur yang ada di kampung halaman. Cepat Tio mengatakan. memukuli setiap ada binatang datang mendekat ke perahu. . Buahnya lain dari buah mangga yang mereka kenal di kampung halaman. dari lumut lumpur dia tahu bahwa tanah yang mereka temui itu lebih lemak dan subur dari tanah di kampung halaman. Binatang itu terus mengejar. tombak. Membuat mereka terkadang seharian hanya memakan buahan saja. Lengket dan tidak mengenakkan perasaan. Cepatlah ke perahu. sewaktu Ronggur berenang mengikuti perahu yang menghilir. Lalu terus mengayuh. pada suatu hari.

Binatang yang mati dan dihanyutkan arus mereka tangkap. Bisa dibuat menjadi kantong tempat menyimpan alat. Terapung. Tidak tahu mereka dari mana datangnya air keruh itu. Ekornya bergerigi dan begitu keras tampak. bisa berobah menjadi keruh. tepi hutan tidak berapa lebat. Bila digantungkan di pinggang kelembutannya selalu mengikutkan gerak-gerik pinggang. Karena itu kulit binatang itu mereka bawa. Digantikan gelagah dan daun nipah." kata Ronggur. sampai ke . "Kita harus meneruskan perjalanan. Begitu pandai berenang.Satu dua ada yang mati di antara binatang itu. Walaupun belum pernah mengenalnya namun naluri mereka dapat memastikan bahwa binatang itu binatang air yang membahayakan. Bila mereka terus melalui tanah lumpur itu mendekat ke tepian hutan yang semakin jauh. Sudah mulai keruh dan kotor. Gembur. "Tidak. Pepohonan semakin jauh dari tepian sungai. kulitnya cepat kering dan dapat dilipat. bagus untuk ditanami. Lumpurnya bertambah lembut dan bertambah dalam dasarnya. Kenapa air yang tadinya begitu bening. Tapi. Tanah landai yang sudah lama kumimpikan. Binatang itu belum pernah mereka lihat. Bertambah ke hilir bertambah banyak anak sungai bersatu dengan sungai itu. Dagingnya kurang enak dimakan. lebih dulu ada tanah yang hanya ditumbuhi ilalang." sahut Ronggur. Ronggur tetap memperhatikan dan mempelajari perobahan bentuk tepi sungai. Air sungai tidak sebening di hulu lagi." "Apakah kita sampai di sini saja?" tanya Tio. begitu halus. Lihat. Menyusuri sungai. "Inilah dia. Bisa ditebang pohonnya untuk dijadikan persawahan. sebelum tiba ke tepi hutan. Kita harus tahu. "Inilah tanah yang kita cari. Tanah juga lembut. Mulutnya menganga lebar hendak menelan saja. Karena itu daging binatang itu mereka biarkan saja membusuk.

Bisa membuat padi busuk." "Biasanya. air sungai susut lagi. Di sana mereka harus menggali tanah membuat sumur. Kenapa permukaan sungai menaik. Sambil terus memperhatikan perobahan pada permukaan air." kata Tio." "Kebiasaan memang begitu. Air menjadi sangat keruh dan asin. Lalu dapat memastikan bahwa tanah lumpur yang di tepian sungai benar. ada semacam getaran mengganggu jalan perahu.mana sungai ini. Tapi. Walau mereka mengayuh sekuat tenaga. permukaan sungai naik. dari mana air itu datang. tidak baik dijadikan persawahan. gelagah dan daun nipah menjadi tergenang. T anah lumpur dan tumbuhannya. belum dapat kupastikan mengenai sungai ini. Dan. yang tidak sebesar sungai ini. Di saat begitu arus sungai mengencang ke hilir. Harus lebih ke atas lagi. Arus menghanyutkan . Ronggur memperhatikan ini semua. Ada semacam tenaga menahan. ke tempat yang tidak dapat memastikan. sungai menjadi menggeliat. Apakah sungai ini juga akan bermuara ke danau?" "Danau apa?" tanya Ronggur pula. Lalu mereka meneruskan penyusuran. Di muara tanah landai akan tambah lebar lagi. Karena sering tergenang. Sehingga enak berlayar. Untuk bermuara ke danau. Itu sangat penting. Dan. di samping arus semakin perlahan. di saat itu. Ada kalanya perahu tidak dapat laju biar setapak pun ke depan. di mana muaranya. "sungai yang ada di kampung halaman. bermula dari kaki bukit. Berombak. "Aku hanya bertanya. setelah beberapa lama. Sehingga mereka harus buru-buru mendarat ke tepi. Membuat mereka takut pada mulanya. Supaya ada air tawar. Langsung mencari tanah yang agak tiriggi. Bertambah ke hilir. Dan. Terkadang sampai ke pucuk digenangi air. Tidak perlu mendayung."' jawab Ronggur.

Walau mereka sudah berkayuh dengan sekuat tenaga. Kemudian datang pula saat permukaan air sungai naik. Walau tidak ada ditemui kemajuan. Walau malam sudah bertambah jauh. Sambil T io berkata. Untuk tiba pula pada keadaan. saat permukaan sungai naik telah tiba. arus mati. di mana keadaan sekitar dan kejadian dapat dilupakan. Perahu seperti dihanyutkan kembali ke hulu. Saat sungai menaik permukaannya dan saat sungai kembali ke tarap biasa. Dicocokkan dengan waktu peredaran bulan dan bintang. Mereka terus berlayar. Berhadapan dengan keadaan baru ini. "Apa lagi yang akan terjadi. Malah mereka seperti disorong ke belakang. dan apa lagi yang akan ditemui pada perobahan sungai?" "Justru. Arus sungai menyongsong dengan kuat. Kantuk telah membawa mereka ke alam tidur. Kemudian diputuskannya untuk terus melayari sungai. terus mereka lawan. itu yang perlu kita ketahui. Di saat begitu. Mereka harus mengayuh dengan sekuat tenaga. Tapi. Dan. apa sebabnya dan apa akibatnya pada orang yang berlayar di saat begitu. Perahu tidak bisa dikayuh. Agar tahu dengan pasti. mereka berdua terus berkayuh melawan air yang menyongsong itu. kembali ke hulu. Perahu terus dihanyutkan arus sungai. Berkayuh dan berkayuh. Menjelang subuh. Tapi. mereka tertidur. Biar permukaan sungai menaik atau menyusut. Sehingga perahu mereka begitu lajunya dihanyutkan kembali ke hilir.perahu. diperhatikan dan disesuaikan waktunya." jawab Ronggur. terasalah permukaan sungai kembali menyusut. mereka terus di dalam perahu dan terus mengayuh. Gelombang sungai mulai menggeliat. . Karena begitu capek. Mereka terus melawan. Ronggur bertambah was-was. Malah hendak disorong ke belakang. mereka dapat melepas lelah.

"Danau. Kita menemui danau. lihat Tio." Tio memilin mata. "Danau apa ini?" "Aku tidak tahu. air itu bertemu dengan kaki langit demi kaki langit. Berjajar memagar pantai. kiri dan di hadapan. Beda dengan pasir pantai danau yang mereka kenal di kampung halaman. Karena silau dan karena gonggong si belang. pasir putih. Alangkah terbelalaknya mata Ronggur sewaktu di hadapannya. Buru-buru Ronggur menyuruh T io duduk. air yang maha luas mengitari mereka. Membelalakkan pandang." "Marilah ke tepi. lalu: "Lihat. Si belang berada di haluan perahu. di sekitarnya. alangkah asin. mereka terbangun. atau daratan yang hijau. Kemudian dipantulkan air ke atas kembali. perahunya terapung dan mengangguk-angguk diperma inkan riak. Sehingga lebih silau. Cepat Ronggur dan Tio mengayuh. Di bagian punggung." ajak Tio. mencerminkan mukanya ke permukaan air. Tidak bisa diminum. tapi danau yang sangat luas. Benda ditepian yang menerima sinar matahari seperti menyala itu. Nyiur. Kita tidak tahu ke mana berakhir air yang maha luas ini. Sinar matahari mencurah ruah. danau yang maha luas. Tepian memutih ditimpa sinar matahari penuh. Pada penciuman terasa keluasan dan kebebasan udara. melihat keluasan yang terhampar di depannya. Cepat mereka mengayuh ke tepian. Mereka mendaratkan perahu jauh ke . Tapi. tepian. Tidak terkungkung sedikit pun. Lalu menggonggong panjang. jauh sudah. Agak jauh kedalam bermula jajaran pohon kurus panjang dan hanya di bagian puncaknya ada daun kelapa." akhirnya Tio mengatakan dengan kagum. Di sekitarnya.Sinar matahari sudah kembali menampari wajah alam dan wajah mereka sendiri yang tertidur di perut perahu. Pada sisi kanan. Airnya.

" Sambil menatap keluasan air. Mulai dari burung. Beberapa ekor kena dan jatuh ke tanah. ayam hutan. Sedang pada hutan di sebelah punggung mereka. Ronggur memanjat kelapa lalu memetik buahnya yang masih muda. Berdesir angin yang melewati atau membuat daun nyiur melambai. . Sekarang mereka sudah punya rumah kembali. Dengan daun nipah itulah. Walaupun daun nipah sudah kering. bertambah rimbun pohon gelagah dan daun nipah. Ronggur dapat melemparnya. Walaupun airnya asin. Pada tanah lumpur sekitar muara sungai. Karena udara panas. Tambah siang ombak tambah membesar. namun sangat banyak mengandung ikan. putiknya akan cepat mendatang lagi dan berlipat ganda banyaknya. kijang sampai pada binatang buas yang ditakutkan: Harimau. Burung putih berterbangan ke sana ke mari. jendelanya jauh lebih besar dari jendela rumah yang ada di kampung halaman. gajah. Si belang menjemputnya. dengan lagunya sendiri. menari dengan gaya yang bagus dan begitu jinak. diselang seling pohon bakau. Yang bergelung-gelung ombaknya dan memecah di pantai. banyak menyimpan binatang buruan. Sekuat kita memakainya. Sehingga sambil bermalasmalas. dan di tanah yang ditumbuhi ilalang sebagai pinggiran hutan. mereka buat atap sebuah dangau. Sekarang mereka sudah punya danau yang sangat luas malah.darat. Menambatkannya pada pokok kelapa. Tiangnya agak tinggi dibuat dari pohon bakau yang panjang dan lurus lagi kuat. Diseling T io. Mereka minum air kelapa muda. namun tetap kuat dan tampak berminyak. Dengan moncongnya si belang menggigit dan membawa ke tempat mereka berdua duduk. Mereka lalu kenal juga binatang laut yang ada di tepian yang juga enak dimakan. "Di sini kelapa tidak akan habis. Tidak punya prasangka pada Ronggur dan Tio. Ikan yang besar.

Bila air sungai pasang. Tanah lumpur itu. pasang air sungai yang membuat permukaan sungai naik dan sungai punya arus ke hulu. Arus ombak menghanyutkan perahu ke tepian. Waktu itu bila berkayuh menuju tepian dari tengah. Tergantung pada hari bulan. bila air sungai surut perahu dilarikan arus ke tengah danau yang maha luas itu. binatang air itu. di samping air hujan. buaya. menjelang dini hari. perahu agak tertahan menuju muara. angin daratyang bermula dari hutan di punggung mereka. terkadang sampai sedalam dada. Begitu pula saat sungai surut kembali. Agar lebih mudah mengerjakan sawah percobaan itu. bertiup ke arah danau luas itu. harus memilih tempat yang agak tinggi dan jauh dari pantai. Akhirnya dapat mereka ketahui. . bila merasa malas pulang ke rumah di tepi pantai. Dekat sawah itu mereka dirikan dangau. dibuka aliran parit. bila pasang naik tanah lumpur itu tergenang. Sedang waktu malam hari.beruang. tidak baik dijadikan persawahan. Bila mereka hendak membuka sawah percobaan. agak menusuk ke tengah hutan. Waktu itu sangat baik untuk memulai pelayaran ke tengah danau luas itu. tempat istirahat atau bermalam. Waktu siang hari angin dari arah danau luas bertiup ke darat. Sehingga ada pengairan ke sawah itu. jauh dari tepi sungai. Tapi. Dan. Kemudian dari hulu sungai yang belum asin airnya. Mereka cari tumpukan tanah yang agak datar di hutan dan ditumbuhi ilalang. dan di tepian sungai berpaya. Pada hari pertama Ronggur tetap memperhatikan mula dan arah angin. rawa itu kembali tampak. walaupun tanahnya lumpur dan lembut karena selalu tergenang. Bila air surut permukaan sungai merendah. Mereka harus merambah hutan belukar agak ke pedalaman. Tapi. sangat baik. tidak menetap saatnya.

bila telah digenangi air. agar pertumbuhan batang padi tidak terganggu. Kemudian batang padi yang hijau gemuk itu. antara marga. Cepat lunak dan cepat menjadi lumpur hitam yang lembut. tanah itu cepat menghitam. Tanah yang mereka temui tanah yang dimimpikan setiap orang di kampung halaman. bisa dihilangkan. Kemudian bermunculan di atas tanah batang padi yang gemuk hijau. sawah kering. huma. Ditiup angin . Usaha percobaan itu terus diluaskan ke tanah yang lebih tinggi dan agak susah didatangi air parit. Tanah itu begitu gembur. Beberapa bidang lagi tanah telah diolah menjadi sawah percobaan.Persemaian telah digarap. Waktu menancapkan cangkul ke dada tanah. mengambangkan kesuburan. Itulah ladang. Setelah beberapa lama tanah yang digarap itu digenangi air yang dialirkan ke sana. yang dapat mengurangi pertentangan yang bisa timbul antara kaum semarga. yang mengakibatkan kematian dan kemelaratan. antara suku dan antara luhak. Tidak tersangkakan. Ini semua menanam harapan yang lebih sempurna dalam dada. mengadakan penjagaan yang dibantu si belang. menjanjikan akan mendukung bulir padi yang bernas. T anahnya cepat lembut. tahulah Ronggur dan Tio. bila tanah habungkasan ini ditunjukkan pada mereka. Bila batang padi telah bertumbuhan di sawah. telah dihiasi bulir padi dengan mencuat ke atas tegak lurus. Walau tidak punya air selain air hujan dan yang dikandung tanah. Pada malam hari. Di sana juga tanah dengan cepat menerima taburan bibit. tanah begitu cepat menerima taburan bibit. Merunduk ke tanah karena berisi. walau itu yang diharapkan. kerja Ronggur dan Tio tinggal mencabuti rerumputan. tanah itu tidak melapisi batu. agar rombongan babi hutan tidak turun dari hutan merusak sawah dan ladang percobaan itu. di ladang dengan hijau gemuk. Perang yang bisa terjadi di antara mereka.

terkadang. yang banyak ditemui di muara sungai. dan bulir yang belum berisi itu bergoyangan perlahan. Padi yang menguning. hasil panen percobaan itu tidak akan habis mereka makan sampai tiga kali jangka musim panen. musim panen lebih pendek masanya di tanah habungkasan itu dari yang mereka kenal di kampung halaman. Ronggur dan Tio. yang didirikan tidak jauh dari sawah percobaan itu. Bermula dari keluasan dan berakhir pada keluasan. Ciptaan Mula Jadi Na Bolon. Lagi pula. dan hati tambah berterima kasih atas tuntunan Mula Jadi Na Bolon. Ronggur tahu. merunduk menguning kemudian dipanen. Dan. Mau dijadikan lumbung padi. yang didirikan tidak jauh dari sawah percobaan itu. Kemudian bulir itu semakin merunduk ke tanah. Lalu hasil panen itu disimpan ke dalam lumbung. Setiap tambah jauh mereka berkayuh. Mereka tahu. Juga pelanggaran perbatasan . Kekayuannya mereka ambil dari hutan sekitar yang begitu dekat. hingga mereka bisa tiba ke sana. Ronggur dan Tio harus memperbesar dangau kecil itu. bila untuk mereka berdua saja. kemudian dipanen. Saat mardege tiba. setiap itu pula. Membuat perasaan lebih kagum lagi atas ciptaan alam yang hebat dan sempurna itu. malah berlipat ganda luas air yang mereka temui. tangkainya kokoh mendukung. Tidak bertepi dan tidak berujung. mereka tidak perlu lagi mengadakan pancang sebagai batas di danau. seharian mengadakan perjalanan menyusuri tepi pantai. Atap daun nipah yang tidak mudah bocor. sambil melepas lelah dari kerja berat di sawah semusim panen itu. bila luas danau begitu rupa dihadiahkan pada orang di kampungnya. Saat mardege tiba. Lalu hasil panen itu disimpan ke dalam lumbung. sebagai pertanda bahwa pancang itu perbatasan antara satu marga dengan marga lain tepi danau mana yang boleh di tempati suatu marga menangkap ikan.

lalu dapat merasakan kenikmatan yang terkandung dalam kebenaran itu. Sekitar yang bermula dari keluasan itu dan berakhir pada keluasan itu. Rangsang lain mulai mempengaruhi pikiran Ronggur. hingga akhirnya turut merasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh kebenaran itu. bila kau menemui tanah . janganlah kau berkecil hati. Dia harus mewartakan berita penemuannya itu ke tengah keluarganya. yang bisa menimbulkan sesuatu peperangan. bapak yakin. dan menganggap diri yang dikurnia dewata seorang gila. kelanjutan keluarganya. yang mempertajam perasaannya akan bahaya yang mengancam kerukunan hidup di kampung halaman. Janji yang selalu mengingatkan kampung halaman. kemauan bekerja. pada bekas Datu-Bolon yang sudah tua itu. Karena itu anakku. tambah sering mendengung suara bekas Datu Bolon yang sudah tua itu. harus dengan tabah pula menyampaikan warta kebenaran itu pada orang yang ada di sekitarnya. melanjutkan hidup berkeluarga dan keturunan. kalian akan menemui tanah habungkasan. keinginan untuk me lepaskan mereka dari berbagai rupa ancaman.di danau di kampung halaman. Janji harus ditepati. Di danau yang maha luas itu. Pada pendengarannya. Seorang manusia yang ditunjuk dewata menemui kebenaran. menjanjikan kebahagiaan pada setiap orang. setiap orang dari setiap marga mana saja pun. tapi perlu diinsafkan agar mereka tahu. Agar manusia itu dapat pula mencicipi nikmatnya. Walau begitu pahitnya penerimaan orang di sekitarmu atas cita-citamu. boleh pergi ke mana suka. Mereka tidak perlu dihancurkan. Menangkap ikan sekuat tenaga. Modal yang pokok hanya satu. karena itu janji. katanya selalu. Untuk kelanjutan hidupnya. sering menimbulkan perselisihan dan pertengkaran. ke tengah marganya yang sudah mencoret namanya dari silsilah marga. Walau pada mulanya mereka menentangnya. Rindu pada ibu. "Anakku.

Karena itu. Memaksanya harus kembali ke kampung halaman. dia sudah membayangkan bahwa mereka akan menembus jalan darat. tapi perjalanan untuk memenuhi janji yang dibuhul sebagai lelaki bersikap jantan. sesuatu penemuan yang bisa membuat orang gembira dan berbahagia. Harus kembali mengarungi sungai ke hulu. telah dapat diduganya. malah beralih pada penemuan itu akan mengutuki diri. penuhilah pula sebagai lelaki yang berhati jantan. agar anakmu ini dilindungi Mula Jadi Na Bolon. "Anakku." "Aku berjanji. Perjalanan yang tentunya memayahkan. kau harus kembali kemari membawa berita ria itu. Karena janji yang dibuat lelaki. dia sudah dapat menggambarkan suasana perjalanan itu dalam kepala. untuk terus melawan arus. bila keserakahan diri atau dendam yang bersarang dalam dada. Lantas selanjutnya dia mengatakan. Berhadapan dengan kebisuan Tio." "Doa dan restuku akan selalu mengiringi perjalananmu. memaksa dan membuat orang yang menemui itu tidak mewartakan-nya pada orang lain. yang memerlukannya. Tio diam saja mendengarkan sambil menundukkan kepala. janji yang kau buat sebagai lelaki. melawan arus. sehingga orang lain tidak dapat menikmati arti dan nilai penemuan itu akan berkurang. agar kerjamu tidak sia-sia. Karena itu. janji yang akan tetap ditepati. dan usaha menaklukkannya. "Doakanlah aku bapak. sangat susah." "Aku bapak. mewartakan penemuan itu. Ronggur telah menentukan kapan mereka memulai perjalanan pulang itu." kata orang tua itu. Anakku." "Terima kasih." katanya.habungkasan di rantau. janji seorang lelaki. Dari pengenalan akan pundak bukit. Berjanjilah anakku." Dengungan percakapan itu tambah nyata dan jelas. Bapak. yang . lalu melanjutkan. tapi. dari pengenalan akan celah pertemuan bukit dan usaha untuk menembusnya.

berupa rintihan dan jeritan. digigit oleh gigi sendiri. Biarlah perjalanan pulang ditangguhkan untuk beberapa lama." sahut Tio. "Tio. walau Tio selalu . Seperti orang sakit. Darah Ronggur tersirap dibuatnya. Dan. Namun. yang akhir-akhir ini begitu nyata dan jelas. Tidak sakit. Bibirnya gemetaran." "Kenapa wajahmu sepucat itu? Apa yang terjadi?" Wajah Tio seperti menanggungkan sesuatu. dia tidak mau lagi pergi jauh-jauh dari dekat Tio. Akhirnya Ronggur tahu. Tapi. masih tetap berusaha tersenyum. Ronggur mengatakan. "Kita memang masih belum bisa memulai perjalanan pulang. Wajah Tio agak pucat waktu tengadah padanya. direbus. wajahmu pucat." Cepat Ronggur pergi memetik daun ampapaga. Dan. yang selalu diancam bahaya di kampung halaman? Agar mereka dapat bebas dari ancaman yang selalu menakutnakuti mereka itu?" "Bukan itu alasannya. airnya sangat baik buat minuman seorang ibu yang hendak dan baru melahirkan. "Apakah kau tidak ingin mewartakan berita ini pada sanak keluarga? Pada setiap orang. Tambah lama tambah sering dan menimbulkan perasaan nyeri. sesuatu akan terjadi. Barulah sadar arti perobahan bentuk tubuh istrinya. Bila sudah kering. sesuatu rintihan lepas juga dari celah bibir yang dikatupkan. Daun ampapaga itu di dikeringkan di panas matahari. Kita harus menanti di sini. Ronggur lalu berkata. Dijerangkan terus menerus air panas dalam periuk tanah. bila pandangnya bertemu dengan pandang Ronggur.tidak menyahut itu. Sambil tersenyum dan duduk dekat Tio. yang banyak tumbuh di pematang sawah di antara rerumputan. ditahan. Sesuatu tekanan mendesak hendak melalui kerongkongan. Kau sakit?" "Tidak. dingindingin ditelempapkan ke perut Tio dan kening. Tapi. Bukan itu. Tio merasakan sesuatu menggeliat dalam perutnya.

Dalam kepala terbayang seorang anak lelaki yang sehat. Tio sudah dapat senyum. Tio diberinya minum air ampapaga. Disunggingkan senyum sebagai sahutan. Setelah melengkingkan sebuah pekikan yang panjang lagi nyaring." Ronggur pura-pura tidak mendengarkan. "Aku tidak apa-apa. Tio lalu memelas.mengatakan. agar memulai perjalanan. Tio harus senyum pada . Hendaknya kehijauan daun padi dapat mengimbangi hijaunya daun pepohonan. Tak lama kemudian. Tangisnya pertama menantang gemuruh ombak yang memecah di pantai. T idak jarang. Begitu sehat. juga diharapkan agar anaknya seorang lelaki yang sanggup meniti gelombang yang besar di danau luas itu. berjalan dengan baik. Mencapai daerah baru. dan segumpal daging telah ditayang Ronggur dengan hati-hati. Tio menyahut. seperti warta pada dunia bahwa dia telah lahir. Hari berikutnya. Atau. anak kecil itu sudah digendong Ronggur sambil dinyanyikannya. sering juga membuat Ronggur harus mengatakan dalam kebingungan. Saat kelahiran semakin dekat. dan perasaan nyeri tambah memaksa Tio merintih." Balik Tio yang menasihati dan menenteramkan hati Ronggur. agar orang tidak takut kelaparan. atau menangkap ikan. seorang lelaki. "Apa yang harus kuperbuat? ke mana harus kucari dukun?" Dari sela rintihannya. Bayi dimandikan. Semuanya akan menjadi beres. Lelaki yang dapat memelopori orang menjelajah hutan belantara yang abadi itu. cukup umur. dilap Ronggur dengan sayang. meniti ombak demi ombak yang begitu besar. Lelaki yang kelak sanggup mengolah tanah yang bidang menjadi persawahan. Menoleh ke bayi yang baru dilahirkannya. Dipotongnya jabang bayi dengan bambu yang ditajamkan pada kedua sisinya. Kening Tio yang berkeringat. Anak lelaki meneriakkan suaranya pertama. cukup merah. ombak itu menggamitnya. Pergilah berburu. Tidak usah repot. "jangan repot.

Tiga pundi padi yang bernas dibawa serta. Dia akan tetap mendampingi Ronggur. meniti ombak demi ombak yang bergulung-gulung memecah di pantai. Sedang yang ditinggalkan di tanah habungkasan masih banyak benar. sudah waktunya kita memulai perjalanan kembali ke kampung halaman. anak kita akan menjadi seorang pengarung danau yang maha luas ini kelak. Kekerabatan dan keakraban berumah tangga tambah terjalin. ibu dan ayah dari anak lelaki yang sehat. mencapai pantai lain. Bertambah hari. Bermulalah perjalanan itu. akan penemuan-tanah habungkasan. dan bertambah usia si anak. dan danau yang maha luas ini. Bahwa padi yang mereka bawa sepundi dulu sudah menjadi tiga pundi. Memberitakan dan mewartakan.Ronggur dalam saat begitu bahagia. T idak habis dimakan sekeluarga dalam jangka tiga kali panen.. Ronggur selalu mengatakan. yang menanti dayungmu berkayuh di permukaannya. akan mereka tunjukkan sebagai bukti pada orang di kampung halaman. luasnya danau yang ada di depanmu. . Tio sudah menjadi seorang ibu. ccdw-kzaa 8 Setelah menyediakan segala sesuatu yang perlu dalam perjalanan. ke mana saja pun. Tio. mereka pun memulai perjalanan pulang. Mulanya menyusuri sungai ke hulu . . Bergaya seorang yang akan cukup kuat dan punya ketahanan serta keberanian. Ronggur sudah menjadi seorang ayah. maka Ronggur pun kembali mengatakan. "Tataplah dengan mata kanakmu. "Tio." Tio tidak membantah." Bila telah dua kali purnama timbul dan tenggelam. . Ronggur sudah menggendong si anak ke tepi pantai bersama Tio. katanya.

hitam mengandung kesuburan. yang kelak dapat digunakan jalan pulang pergi antara kampung halaman dan tanah habungkasan. bila kekayuan hutan sudah ditebang. permadani alam yang tebal lagi abadi. dan lebih aman daripada menyusuri Sungai T itian Dewata. Tidak tanah tipis melapisi batu alam. Pada sesuatu mata air begitu. Baru mereka mulai menempuh jalan darat. Mulanya mereka menyusuri sungai ke hulu. Jadi. yang dipanjat Ronggur untuk menentukan arah tempuh. tahulah dia. Lembahnya tambah dalam dan perbukitannya tambah tinggi. bukit dan lembah tambah banyak mereka temui. agar yang dibawa. Mereka sering berhenti di satu tempat sampai dua tiga hari. seringan mungkin dan yang perlu saja dalam perjalanan. Mereka berusaha. bukit tanah yang gembur. dan memilih tanjakan yang tidak menaik untuk didaki. Tanah di lembah dipelajari Ronggur baik-baik. . T io. Memenggal-meng-gal hutan belantara. Tapi. Ronggur selalu mengadakan tanda. sendirinya pula usaha merintis jalan darat. Airnya begitu bening dan dingin.Beberapa potong kulit binatang buruan yang halus hulunya dan sudah dikeringkan dibawa serta. Sedang pundak perbukitan yang juga ditumbuhi kekayuan tua. perjalanan pulang itu pun. Tidak jarang pula mereka temui parit kecil yang bermula dari sesuatu dinding bukit yang bercelah. tanah itu sangat baik dijadikan perladangan atau persawahan. Sampai tiba ke lempat arus mulai menderas dan susah dikayuh. bukanlah bukit batu seperti bukit tandus di kampung halaman. Mempelajari jalur lembah dangkal yang banyak dalam hutan. Tambah jauh mereka menyusup ke pedalaman hutan. yang dilingkungi hamparan dedaunan hijau lebat. Begitu pula mengadakan tanda tertentu pada sesuatu pohon. mempelajari pintasan jalan yang lebih mudah ditempuh. selalu menggendong anaknya di punggung. Melalui pengenalannya akan tanah. Sejuk.

Menyisih dari tempat sesuatu binatang buas. Dalam saat begitu. Mereka terus menyuruk di bawah hamparan dedaunan hijau yang abadi itu. celah bukit mana yang harus diterobos menuju kampung halaman. harus mengadakan perlawanan mempertahankan diri. Tio memeluk anaknya. Ronggur selalu berusaha agar mereka dapat tiba kembali ke tempat air terjun itu. yang harus ditaklukkan. Penciuman si belang banyak membantu keselamatan rombongan kecil itu. dan kelompok gajah. di tengah hutan tidak jarang mereka bertemu dengan kumpulan binatang buruan yang enak dagingnya. kalau kepergok. Dari sana baru mereka tentukan. Sedang Ronggur mengarahkan tatapan si anak ke air terjun yang memutih kapas itu. dia tersenyum kembali. dan sudah dapat melempar senyum di saat dia merasa senang. Apa yang ditakutkan Ronggur pada mulanya masih tetap tidak terjadi. jangka siang hari. menghambat sinar matahari menimpa tanah. sarang binatang. Anak mereka yang sudah mendekat ketiga purnama usianya. pundak bukit yang memanjang sebagai pagar dan batas tanah dataran tinggi kampung halaman dengan tanah habungkasan. bila lama-lama mereka berada di sana dan tidak ada sesuatu yang menyakiti tubuhnya. cepat mereka mengalih langkah. tidak jarang Ronggur dengan dibantu si belang. tidak jarang pula mereka harus mempertahankan diri dari serangan binatang buas: harimau. Tapi. Tapi. sambil berjaga. Atau. T erus berusaha mengarahkan langkah ke tempat air terjun itu. Tapi. Dedahanan kekayuan yang berjalinan mendukung dedaunan lebat. beruang. Sehingga terasa.Dalam merintis jalan itu. sebaik dia turut mendengar suara air terjun yang mengguruh. Bila si belang meringis dan mengarahkan penciumannya ke satu arah terus-terusan. Batu jaluran yang ditembus air sungai yang . agak pendek di bawah naungan yang tebal itu. Dan. tidak dapat melempar senyum.

Aku akan memburu binatang buruan. "Kita istirahat di sini untuk beberapa hari. Anak mereka ditidurkan di tanah beralaskan kulit binatang buruan yang lembut. Sampuran Harimau. Menjelang senja Ronggur dan Tio berhenti menggali lobang. Perjalanan begitu tentu berat. "Ya. menaklukkan pundak demi pundak bukit. . "Lihat. Betapa indah. Dari sini kita akan mulai mendaki kaki pegunungan. benda putih diambangkan ke atas terus menerus. perlu kita istirahat untuk beberapa hari. Tio memaling wajah pada Ronggur tanpa sahutan. Lagi pula dinding bukit sebelah sana. Tari warna yang sempurna. payah ditemui binatang buruan. dan berusaha menerobos celah bukit. "Tio. Sambil menggendong anaknya. Tapi.terjun." "Harus di sini kita istirahat?" tanya Tio. masih tetap kokoh pada tempatnya. Tidak terjadi reruntuhan. setelah beberapa lama mereka terpukau di tempatnya tegak. Karena itu. Ronggur mengatakan. lihat Tio. Melepas lelah." kata Ronggur. gemuruhnya tetap menderu. Di pundak bukit gundul itu. agar tidak ada serangga hinggap ke wajah anak yang sedang tidur nyenyak itu. terdiri dari batu alam yang tidak keras." Mereka menggali lobang perlindungan yang agak luas. Mata mereka patok menatapi permainan warna pelangi aneka rupa berpadu dengan air yang memutih kapas. agar cukup daging untuk dimakan nanti dalam perjalanan. Agar tenaga kita pulih kembali. yang menyerupai aum harimau. Untuk dijadikan lobang perlindungan. Mudah digali. Jalan memotong ke kampung halaman. mereka namakan air terjun itu. Ronggur dan Tio bekerja sama menggalinya. Bila lama kelamaan ditatapi jatuhnya air itu dan kuping biasa kembali mendengar suara mengguruh itu. agar mudah kita memperoleh air. Di sampingnya duduk si belang seperti menjaga. Ekornya dikibaskan. Agar memberi ruang yang lapang bagi mereka. Dan.

dia duduk berjuntai di mulut gua. Mencampakkan pandang ke sekitar. Sedang mulutnya akan mendendangkan lagu seorang ibu. Tahulah dia. dan mulut anak itu sudah mengisap-isap muncung buah dadanya. rasa keibuan. kaki bukit memanjang lagi tinggi. tinggal Tio saja yang meluaskan mulut lobang perlindungan dan memperluas ruang dalam. bukit gundul. mencapai sarang. Beberapa ekor burung terbang di udara. Ronggur sudah pergi berburu bersama si belang.Begitu indah kalau hujan tidak turun atau kalau kabut tidak menyungkup. kenapa pekikan keras lagi sakit waktu melahirkan sang anak bercampur nikmat. menuju hutan belantara luas. kenapa ada nyanyian alam terpendam pada dedaunan yang berdesir bila disentuh angin lalu. Oi sebelah kanan. air terjun. lagu yang menyuarakan perasaan kasih sayang: Pejamlah mata sayang seorang kenapa harus kerisik seperti . Tidak jarang dalam saat begitu. mengagumi lukisan alam yang sempurna. Sayang sekali. dan mengitari itu semua. meminta ditetekkan. tahulah dia. tidak kedengaran. sesuatu perasaan selalu menggeliat dalam dada. dia memicingkan mata menikmati kesempurnaan rasa bahagia di saat mulut anaknya mengisap muncung buah dadanya. cicitnya tenggelam ditelan gemuruh air terjun yang jatuh. di bawahnya tanah habungkasan yang mereka temui." Tio mengikuti telunjuk jari Ronggur. Pada hari berikutnya. Tapi. sumber kasih sayang abadi bagi seorang anak yang lahir dari rahimnya. Sejak lahir anak itu sudah disusukannya dan sudah berapa lama itu berlangsung. bila saat menyusukan tiba. Bila anaknya haus. Nanar mereka menatapi tari warna pelangi yang aneka ragam itu.

Sedang di siang hari. terbayang di wajahnya. payah dijumpai binatang buruan. agar cukup kering dan tahan lama. Boleh jadi di pundak pegunungan gundul sana. Begitu tekun. Sedang mulutnya akan cepat mengatakan. Dia sangat giat mengumpulkan daging binatang buruan. Tio selalu . Dia tidak dapat mengucapkan melalui bentuk kata yang cukup tepat." Mereka potong tipis daging binatang buruan itu. bulan gemintang kudekap kau pelukanku hangat Pejamlah mata buah hati bunda subuh tiba mula hari baru berjuta utasan cahaya matahari menyinari padang kembaramu Tidak jarang Ronggur pergi berburu seharian. Sesekali dijinjingnya ikan yang dipancingnya. dia telah merasakan. Kemudian mereka panggang di atas bara sampai kering. Bila Ronggur tidak pergi berburu. Tapi. "kita harus banyak menyediakan daging. Suatu perasaan merangsang dirinya. Tio menjemurnya di bawah sinar matahari. dia tambah sering mencampak pandang ke air terjun itu dengan berlama-lama.dedaunan berhalau ditiup angin lalu dunia terhampar di ujung kakimu Pejamlah mata anakku seorang menanti bapak kembali pulang dari tengah hutan belantara binatang buruan tersandung dibahu Pejamlah mata intanku sayang bila malam jatuh.

justru karena adanya air terjun ini." "Manfaat apa?" tanya Tio terbodoh. Membangunkan Ronggur dari kebisuannya. Biji mata Tio begitu bening tapi jelas tampak tidak mengandung pengertian akan apa yang diucapkan Ronggur. sambil mengatakan.memperhatikannya di saat begitu." Sambil mengalih pandang pada Tio yaYig berdiri dekatnya." "Kenapa begitu?" "Perasaan itu seperti membisikkan padaku bahwa a ir terjun ini mengandung suatu manfaat. Malah dibuatnya sesuatu rasa bersyukur. "Ada sesuatu yang kurasakan." sahutnya. Tak bosan. Dan. Yang timbul dari air terjun ini. "Ada apa Bang?" tanya Tio. "memang benar dugaanmu. alangkah susahnya dia untuk mengucapkan yang sedang bergolak di dadanya. "Bertambah hari. "kurasakan. namun seucap kata belum melepas dari bibirnya. "Aku tidak tahu Tio. Ronggur menyahut. Sedang Ronggur kemudian mengalih pandang ke air terjun itu. Ronggur merasakan. . Sekali waktu Tio mengganggunya dari menung menatapi air terjun itu. Lama bibirnya bergerak-gerak." "Tapi. Kalau tidak bersama abang. kulihat abang bertambah tekun melihatnya." Lama Ronggur menumpu pandang ke mata Tio. yang ditimbulkan air terjun itu." Seketika mereka bertatapan tanpa mengucapkan kata. Menjanjikan sesuatu kebahagiaan pada manusia. aku tidak kerasan di s ini. Perasaan itu melumpuhkan segala ketakutanku pada air terjun itu. Tio. "Manfaat bagi kehidupan manusia. aku merasa takut digertak suaranya yang terus menerus mengguruh itu.

walau dia tidak dapat mengartikannya. "Di samping itu. Tapi. Bersukurlah. Jangan lagi kutuk dia. karena dia menjanjikan sesuatu kebahagiaan bagi kehidupan manusia di masa datang. Hingga tak seorang pun selama ini berani menyusurinya untuk mencapai tanah habungkasan. maka tenaga yang disimpan air terjun ini bisa memberi arti yang bernilai bagi -kehidupan manusia.membuat arus sangat deras. Dan. "Kurasakan air terjun ini mempunyai suatu tenaga yang sangat besar dan kuat. Orang kelak akan dapat menggunakannya untuk kehidupannya. Selalu perasaanku berkata begitu. Namun dia tidak membantah seperti kebiasaannya yang tidak mau membantah cakap Ronggur. nanti. arusnya gelisah membentuk suatu pusingan yang cepat. bila tenaga yang terkandung di air terjun ini digunakan manusia untuk kehidupannya. yang bisa . haruslah merasa bersukur karena dia ada. “jangan lagi takut padanya. Akhirnya dia sendiri ingin mendengarkan yang dirasakan Ronggur. Sungai Titian Dewata jatuh ke ujung dunia." "Itu boleh jadi. masih ada manfaat lain dikandung air terjun ini. maka hidup manusia akan lebih berbahagia. Coba kalau diri diterjunkan bersama air terjun pasti lumat." Tidak dapat Tio membumbui cakap Ronggur." "Apa lagi?" tanya Tio mendesak. binatang air yang menakutkan dan buas itu tidak bisa datang ke Danau Toba. bila orang menggunakan tenaga yang terkandung di air terjun ini." kata Ronggur selanjutnya." Tio mencampak pandang ke tempat air terjun itu jatuh." sahut Tio berusaha mengerti. Air yang jatuh berputar pada lingkaran berbentuk kolam. entah kapan. Tapi. Darinya timbul anggapan selama ini. darinya timbul bencana saja. "Karena itu. Karena tempat jatuhnya begitu tinggi dan curam. Sekarang memang yang kita lihat.

Mereka bertatapan untuk kembali mencampak pandang ke lembah perkampungan yang sudah sekian lama ditinggalkan. Tidak mengenal lelah. atau terkadang berlari di depan. menuruni lembah batas perbukitan yang berlapis-lapis itu untuk mendaki lagi. Sesekali menyusur di tebingnya. agar terlindung dari serangan angin yang cukup kuat. mengitari Pulau Samosir. Tio menggendong anak mereka. Jalanan yang harus ditempuh. tenang. Menggonggong dan menggunakan penciumannya. agar dia tidak membantah yang dikatakan dan dirasakan Ronggur. Lalu lembah dataran tinggi. mereka melanjutkan perjalanan pulang. Ronggur selalu memilih celah bukit tempat bermalam. bertumpuk rimbunan bambu duri. tapi perasaannya belum juga merasakannya. . mencapai sesuatu celah. rombongan kecil itu terus mendaki pundak demi pundak bukit yang berlapis-lapis. Tio merasa ngeri melihatnya. akhirnya lapisan bukit itu dapat ditaklukkan. lembah kampung halaman. danau kesayangan. Di sekitar tepian danau. lalu menembusnya untuk kemudian terus lagi mendaki sampai pundak bukit ditaklukkan. Malah dia ingin turut merasakan yang dirasakan Ronggur. Dan. pertanda perkampungan. terkadang hanya sepundak atau dua pundak bukit saja yang dapat mereka taklukkan. Dengan mengenali pundak bukit mencari celah pertemuan bukit. telah berada kembali di hadapan pandang. tidak mau henti sebelum matahari tenggelam. Perjalanan mereka agak lambat.menenggelamkan lalu menghancurkan sesuatu yang jatuh ke sana. semua perasaan itu ditekannya habis-habis. Setelah beberapa hari istirahat dan tenaga mereka sudah pulih kembali. yang dilingkari lapisan bukit demi bukit melingkar dan memanjang. T io takut dibuatnya. Perjalanan yang memayahkan. Si belang mengikut di belakang. T api. Dalam sehari. langsung mendaki bukit. Di tengahnya. bersama kebiruannya yang damai. Sedang Ronggur memikul peralatan.

terutama Tio. mengecap nikmat udara kemerdekaan. yang mempercayai bahwa Sungai Titian Dewata berakhir ke ujung dunia. atau membahayakan jiwa. Kaulah seorang perempuan yang telah berani menemani aku menempuh satu perjalanan yang menantang keyakinan orang sekitar yang telah turun temurun menguasai alam pikiran mereka. aku cinta padamu. Kita harus menaklukkan dan menguasai alam pikiran orang di kampung halaman. agar bisa bebas dari nasib jelek yang menimpa marga. Walaupun dengan susah payah. mengarungi rimba alam abadi. Kau telah mengorbankan alam pikiranmu sendiiri untuk mengikuti jejakku." . Aku berhutang budi padamu dan aku cinta padamu. Karena itu. karena udara kembali dingin. setelah sekian lama harus menjadi budak orang lain. "Tio. di hadapan kita. Tapi. Dalam hayalnya Tio telah mengatakan pada diri sendiri bahwa dia akan membawa sisa anggota keluarga marganya ke tanah habungkasan. satu perjalanan panjang. Tangan anak itu dituntunnya menunjuk ke arah perkampungan sambil mulut Ronggur berkata. Diselimuti baik-baik sehingga tidak merasakan udara dingin. Tiba-tiba saja Ronggur memecah kesunyian itu. mereka telah memakai kulit binatang buruan yang halus bulunya. Yang mungkin menyakitkan hati. menembus Sungai Titian Dewata. Dan. Akan jauh lebih payah daripada menaklukkan pundak bukit yang cukup tinggi. menanti tugas baru. Tapi. menggantinya dengan kepercayaan baru tidaklah kerja mudah. ketahuilah Tio. Merombak keyakinan seseorang.Ronggur mengambil anak mereka dari gendongan T io." Mereka menarik napas lega. "Itulah kampung nenek moyangmu. telah kita laksanakan dengan berhasil. Pekerjaan begitu tidak akan mudah. maka sendi kepercayaan mereka berarti digoyang. Bila hasil perjalanan ini kita sampaikan pada mereka. Dia membayangkan betapa bahagia keluarga marganya. Terlebih anak mereka. kau harus tabah nanti menerima segala sikap yang mengejek dan menantang. ananda.

mereka jaluran paman anakku. "Ronggur. “maukah kau membawa sisa warga margamu ke tanah habungkasan?" "Tentu. Tanpa mengatakan sesuatu. sudah tentu. ke hadapan Mula Jadi Na Bolon. karena terus menerus menanggung rindu dan tidak tahan mendengar ejekan yang diarahkan pada anaknya dan padanya sendiri. Ronggur mengelus rambutnya dengan sebelah tangan. karena dia seorang ibu yang melahirkan anak durhaka. Tangan kiri Ronggur menggendong anaknya. apalagi anakku. Kemudian sama-sama mereka mencampak pandang ke lembah di bawah. Perlahan Tio mengangkat kepalanya. sedang tangan sebelah lagi. Orang melupakan mereka dengan ucapan yang tumbuh dari kepercayaan mereka: "Dikutuk dewata dan para arwah. Dan di samping itu. dia telah menyandarkan kepala ke bahu Ronggur. Kenangan terhadap mereka bertambah tipis lalu menghilang bersama bertukarnya penanggalan hari. tenggelam." jawab Ronggur. . tangan kanannya memeluk pinggang Tio. pulang ke tempat asalnya. Matinya. Oi ujung kaki duduk si belang menjulurkan lidah. tidak berapa lama setelah Ronggur dan Tio berangkat dulu. dan timbulnya kembali purnama. menatap ke arah yang sama. Bertatapan dengan Ronggur. menggendong anaknya. Kemudian dengan tidak dapat dilawannya. lembah perkampungan." Sedang ibu Ronggur. Dia mengisak di sana." kata Tio. Mendambakan bahagia dalam hidupnya. Tidak menjadi bahan percakapan lagi. Jaluran famili yang harus kuhormati. "mereka anak manusia seperti kita.Lama Tio terdiam. Arwahnya akan disumpahi Mula jadi Na Bolon. mati terkutuk." Orang di kampung halaman sebenarnya telah lama melupakan mereka berdua.

" "Apa kau katakan? Para dewata mengganti setan? Patutlah ramalan tenungmu tidak ada yang benar.Pada mulutnya. membuat kemauan hidup melemah. dia telah dilahirkan untuk menyampaikan kehendak dan pesan dewata. Dia masih tetap percaya. Karena para dewata tidak diberi tahu atas kematiannya. Ronggur dan Tio akan kembali membawa berita ria. si anak durhaka itu?" "Dia akan pulang membawa berita ria bahwa tanah habungkasan yang dijanjikan para dewata telah ditemuinya. Hingga dia dikebumikan tanpa upacara dan gondang. setiap hari mencampakkan pandang ke arah matahari terbit. arwahnya akan tidak diterima Mula Jadi Na Bolon dengan baik. Lalu. dia tidak punya apa-apa. karena kau ajak dia menyusuri Sungai T itian Dewata?" . ibu tua itu masih mengharapkan anaknya cepat kembali. Tapi. Tapi. Tapi. setelah beberapa kali purnama tenggelam dan terbit lagi. Pertanyaan yang sebenarnya berupa ejekan yang diajukan orang padanya. melalui pukulan gondang yang dipalu dan mengorbankan beberapa ekor babi serta ayam putih. Dia anak yang berbahagia. Meneliti pundak bukit dan celah bukit yang ada di sebelah timur. Kemudian orang itu me lanjutkan. berakhirlah hidupnya. bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan." Orang lalu tertawa. Ronggur anak yang memperoleh petunjuk secara langsung dari dewata." "Bukan setan yang menggoda. "Bukankah kau yang membuat ayah si Ronggur menemui ajal. Para dewata tidak akan datang menjemput arwahnya ke tempat yang baik me lalui Sungai Titian Dewata. Orang percaya. selalu disahutnya dengan baik. tidak bosannya. Di saat mati. "Sudah pulangkah Ronggur dari tanah habungkasan? Sudah ditemuinya tanah habungkasan yang dijanjikan setan itu? Kapan pulang. dan anaknya tidak pulang juga.

lalu meminta damai sete lah melepaskan haknya atas apa yang diperebutkan. orang menjadi ramai tertawa lalu pergi sambil berkata." Mendengar sahutan begitu. Si tua gila. mencakapinya. Membuat marga mereka menjadi lebih berkuasa. waktu itu pun. Orang yang kalah. bila tertangkap. menjadi orang buruan. Malah orang sudah sependapat. begitu pula mengenai peperangan yang terusmenerus meletus. tenaganya tidak diminta orang membantu marga. Aku meloncat dari biduk membuat keseimbangan biduk hilang. harus pula membayar upeti pada kerajaan marga mereka. Orang tidak memanggilnya ke pertemuan marga dan ke sidang kerajaan marga. Marga yang dikalahkan marganya itu. tekadku kurang kokoh waktu itu. Orang membiarkan menatap ke arah matahari terbit setiap pagi. Sedang kerajaan marga yang tidak sempat dihancurkan. "Orang gila. Sehingga sudah sampai di pundak. Pipinya cekung. antara satu suku dengan suku lain. yang dapat dihancurkan kerajaan marganya. dia seperti tidak ada lagi. baik mengenai perdamaian. Orang tua itu membiarkan rambutnya panjang. . Malah waktu marganya sendiri harus berperang karena memperebutkan hutan di teluk danau itu. Ayah Ronggur menemui ajal karena kecelakaan itu. Berita yang datang dari kampung sekitar. ke tanah batu yang sama sekali tidak baik dijadikan persawahan. yang berakhir atas kemenangan marganya. dan kaya. pergi ke kaki bukit terpencil. lama kelamaan orang tidak mau lagi mengganggu. Sedang yang sempat melarikan diri. dan antara satu lunak dengan luhak lain tidak disampaikan orang padanya.“Kami mengalami kegagalan yang mengakibatkan kecelakaan itu. dijadikan budak belian." Tapi. akhirnya harus membayar upeti pada kerajaan marga. Orang tidak mengacuhkannya lagi. Persawahan dan perkampungan tambah banyak mereka kuasai. Aku akui. kuat. Memutih uban. antara satu marga dengan marga lain.

Kalau memang itu rombongan Ronggur supaya dibawa pulang. Apalagi bila orang menurun dari pundaknya. Karena gunung itu gunung angker menurut kepercayaan mereka. Belum pernah seorang manusia pergi ke sana. Ronggur telah kembali dari tanah habungkasan. Tapi. apa yang akan disampaikan penyelidik yang sudah dikirim kerajaan. Mereka sedang menuruni kaki gunung sebelah timur. "Mereka telah kembali. Atau apa yang telah terjadi? Warta apa yang akan datang? Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. yang tidak punya beban. sinar matanya tetap mengandung sinar kepercayaan. menyelidiki keadaan sebenarnya. Tanpa disadarinya dia bertempik dan berlari ke tengah kampung. Mereka juga memang melihat ketiga titik yang bergerak itu. Diputuskan untuk mengirim kurir penunggang kuda. binatang liar lagi buas. Namun setiap orang lebih menginginkan bersikap menanti. Terlebih karena dia meneriakkan. Apa yang akan terjadi.Wajahnya bertambah lancip. Matahari bersinar terang. Pagi itu juga kerajaan marga mengadakan sidang. masih mengatakan bahwa itu bukan rombongan Ronggur. Sebanyak tiga orang penunggang kuda bergerak. Setiap orang melahirkan anggapan dan duga demi duga. Menatap dengan patok ke arah yang dimaksud orang tua itu. Setiap saat benda yang bergerak itu mendekat atau menurun ke lembah perkampungan mereka. Tidak melesu. Hati tiap orang tambah gemuruh. Dijauhan ada tiga benda kecil dilihatnya bergerak-gerak di kaki bukit sebelah timur. Tapi. Dan. . tempat matahari muncul. sampai orang pada tercengang. Percakapan menjadi simpang siur. Mereka bawa juga dua ekor lagi kuda. Tidak ada awan di langit. pagi itu sinar mata tambah bening dan bersinar." Orang bertemperasan ke luar rumah lalu terus pergi ke gerbang kampung sebelah timur.

Namun sangat banyak ikan. Tapi. Kuda yang dua ekor lagi sudah ada penunggangnya. keberanian. Setiap hati tambah bertanya. mencampakkan sinar yang beraneka warna ke permukaan danau. Dataran yang landai. Dengan bantuan doa Bapak. Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan. dan berusaha meruntuhkan kepercayaan mereka yang bisa membuat dewata marah. anakmu ini telah menemukan tanah habungkasan yang sangat luas lagi landai. rombongan itu bertambah dekat.Sampai sore orang semua tinggal menanti. Tiap orang seperti terpacak di tempat masing-masing. dan kekuatan serta keuletannya. Orang terus saja dapat mengenali bahwa penunggang kuda yang keempat. Ronggur. Ronggur melompat dari punggung kuda. Lalu dari mulut Ronggur keluar kata: "Bapak. mendekat pada orang tua yang berambut panjang putih itu. si belang menjulurkan lidah. telah kembali ke tengah mereka. Suasana tambah tertekan. mereka sudah dapat melihat kepulan debu mengepul ke udara. Dia tidak langsung menuju ke tempat raja yang juga hadir di sana. tapi sayangnya pula anak yang telah dicoret dari silsilah marga karena digoda setan. Penyelidik penunggang kuda sudah pulang. T ambah lama. lalu terus mendekat ke orang banyak. yang tidak pernah salah tafsir tenungnya. bersama dengan bertambah merahnya warna senja. Tanpa kurang sesuatu. Mereka memberi sembah. Bila senja telah mulai memerah di langit. telah kembali di tengah mereka. seperti pagar . Anak yang dikenal kecakapan. Setelah menuntun Tio turun dari pundak kuda. Tidak ada yang turun ke sawah. Sedang dipangkuan Ronggur. Setiap orang terdiam. juga menemui sebuah danau yang tidak bertepi tapi airnya asin. Anak yang sudah disangka mati dikutuk dewata. ketabahan. Di belakangnya Tio menggendong bayi. Tidak ada yang turun ke danau. ditumbuhi pohon kelapa berjajar.

Bapak. Setelah air terjun. Tapi. Anakku?" tanya orang tua itu ber-napsu. Tanah. alangkah gembur dan subur. berapa keluarga yang dapat di tampung tanah habungkasan yang kau temui itu?" "Berapa keluarga? Ah. semua keturunan si Raja Batak dapat di tampungnya sekaligus dan bersama keturunan yang akan datang tanpa menakutkan bahwa tanah garapan akan habis. Sungai Titian Dewata terus mengalir. Lagi pula. Sebenarnya bukan ujung dunia." "Anakku. cobalah bapak bayangkan. apa yang kita takutkan bahwa penduduk akan sangat padat sedangkan tanah begitu sempitnya karena penemuan tanah habungkasan ini tidak jadi persoalan lagi. sejauh mata memandang hanya tanah yang landai yang tampak. Sungai Titian Dewata pada salah satu tempat. hutan belantara yang sangat hijau lagi luas. air harus menuruni sebuah lembah yang sangat curam. Tapi.tepian danau. jadi. Tanah di sana tidak akan habis. tidak perlu takut kehabisan makanan. Orang yang pergi ke sana. Di sana kedamaian akan tercipta. Orang yang pergi ke sana. Sungai Titian Dewata tidak pernah putus. tidak perlu berkelahi karena setitik air parit. memang mempunyai arus yang sangat deras. membelah dada hutan belantara yang sangat lebat dan rimbun itu. Jadi aku tidak dapat mengatakan berapa keluarga. karena setiap orang rajin bisa membuka tanah persawahan sesuka hatinya. Hutan menyimpan binatang buruan yang jinak. Tanah di sana sangat baik dijadikan persawahan. Setiap orang bisa punya anak berpuluh-puluh." . namun tidak perlu takut kekurangan tanah. tanah yang hijau tidak bertepi. Bukan tanah tipis menyaputi batu alam.” "Di manakah itu. Karena ada air terjun. Sampai bertemu dengan kaki langit. "Di seberang ujung dunia. memberi imbangan akan luasnya danau yang ada di depannya. tanah habungkasan. Di punggungnya. itulah pula mula tanah landai.

" Orang banyak. kau telah melaksanakan petunjuk dewata. Anakku?" "Ya. Tapi. suaranya terus lantang: "Ronggur.Sambil menitikkan air mata bening karena gembira. orang tua itu lalu mengatakan: "Anakku. sehingga lahir dalam melaksanakan petunjuk dewata. pun kerajaan. lagi pula harus melalui pundak bukit dan celah bukit. sehingga lahir dalam kenyataan. T api. Tapi. Anakku. Apakah buktinya bahwa kau telah menemukan tanah habungkasan seperti yang kau dustakan?" Ronggur mengeluarkan pundi yang tiga itu. bukankah begitu. aku memutuskan membawa tiga pundi saja sebagai bukti. Sekarang aku bawa tiga pundi padi yang bernas. hanya sepundi kubawa. Pertempuran yang sering terjadi antara satu marga dengan marga lain atau antara satu luhak dengan luhak lain. "Waktu aku berangkat dulu dari sini. memancar sinar kebencian dan dendam. akan tidak perlu berulang. yang kemudian menimbulkan luka serta duka yang dalam dan lebih kejam lagi yang menimbulkan kemelaratan dan golongan tertindas. Tiba-tiba saja dia berkata. kutinggalkan padi bagi keperluan orang yang mau pindah ke sana dalam taraf pertama. karena perjalanan begitu jauh. semuanya terdiam mendengarkan percakapan itu. di tanah habungkasan. baik penduduk biasa." "Terimalah ucapan terima kasihku padamu. Setiap orang akan memperoleh kebebasannya kembali mengerjakan tanah. yang padinya begitu bernas. kau telah mengatakan segala dusta. lalu. Bapak. Sebenarnya hendak kubawa lebih banyak. Setiap orang seharusnya mengucapkan terima kasih padamu dan pada Mula Jadi Na Bolon yang telah menciptakan tanah habungkasan itu. Menjamin keperluan mereka sebelum saat . dari mata Datu Bolon Gelar Guru Marlasak.

Dia tidak akan pernah menjadi budak lagi. Dan. Dan. jadi persoalan. dapat dijatuhkan hukuman.panen tiba. aku jadikan dia istriku. kau telah mengatakan bahwa Sungai Titian Dewata tidak jatuh ke ujung dunia. Kau telah menghancurkan kepercayaan kami. Pada orang yang melakukannya. Demi menghormati kesetiaan dan ketabahannya. Kita dulu . para dewata akan murka. Tapi." 'Ke mana pergi gelang yang dipakai si Tio pertanda dia budak?. sewaktu kami tiba ke tempat jatuhnya air Titian Dewata untuk pertama kalinya. mengutuk marga ini. Padi lebih cepat matang. kutuduhkan padamu dan aku meminta pertimbangan khalayak dan kerajaan. "Tio telah menjadi isteriku. Dalamm rapat kerajaan. Bisa saja kau curi dari lumbung orang. betapa bernasnya padi ini. Kalau tidak." Kerajaan yang lengkap cepat saja mengadakan sidang. Dialah isteri paling setia. Dia telah kubebaskan. itu semua. Marga yang kuat perkasa lagi kaya ini. marga yang dikurnia oleh dewata. “Kita akan dikutuk para dewata dan arwah nenek moyang. Kau telah mengawini seorang budak belian yang diharamjadahkan orang merdeka. Inilah persoalan yang sangat berat. Lihatlah. Kami telah dipersatukan Mula Jadi Na Bolon secara langsung. soal kepercayaan. Kau telah membuat segala pekerjaan keji dan mengatakan kata yang keji. Tiga pundi soal gampang. suara Datu Bolon memegang peranan yang penting. anak siapa yang digendongnya itu? Anakmu? Kau mengawini atau memilih seorang budak menjadi ibu anakmu?" Datu Bolon Gelar Guru Marlasak tersenyum mengejek. Dengan suara menghentak." "Aku tidak mempercayai cakapmu. Karena persoalan. Dan. Saat panen lebih pendek di sana daripada di sini. agar memilih bentuk hukuman yang pantas ditimpakan padamu. bila kita mau mendengar cakap dusta ini. Wajah Ronggur memerah padam. perempuan yang paling setia dan tabah.

karena mereka telah menghina kepercayaan. tak seorang pun dibolehkan menyentuhnya. Tapi. Karena dia telah mendustai kita dan dia telah membebaskan seorang budak marga tanpa persetujuan sidang kerajaan. sekarang tuntutanku tidak sampai di situ. suara anak menjadi parau. mempengaruhi keputusan kerajaan. Agar pengaruh yang dibiuskan Ronggur tidak mempengaruhi orang untuk seterusnya. akan menangkap menjadikannya budak belian. Si belang mendekatkan moncongnya ke mulut anak itu. akan memutuskan. Lalu mengeluarkan perintah. agar para dewata yang telah melindungi kita. Ronggur dan Tio diikat pada batang pohon mangga yang besar. bila dia kembali ke kampung halaman ini. tidak saja perasaan Tio dan Ronggur serasa disayat. tuntutanku: Menangkap dan menghukum si Ronggur bersama budak belian itu. Hukum mati. kuat. kaya. Bayi diletakkan di depan. dan dihormati setiap marga? Dan. luhak kita. dan tak mau mendengarkan cakapnya. besok pagi. akan dipalu canang ke tiap kampung yang dikuasa i marga itu. Bukankah kita sudah harus bersyukur pada para dewata dan arwah nenek moyang. menangkap Ronggur dan Tio. Turut si belang menitikkan butir air dari matanya. Lalu . langsung di atas tanah. mereka. telah dua kali marga kita mengalahkan marga lain dalam peperangan? Hingga marga kita menjadi marga yang berkuasa. yang telah membuat kita menang dalam peperangan tidak memurkai kita. karena sebaik kita mencoret nama Ronggur dari silsilah marga. Apak kecil itu menangis sejadinya. Telah diputuskan pula. untuk mengumpulkan mereka. menjadi daerah taklukan kita?" Segala saran yang dilancarkan Datu Bolon gelar Guru Marlasak. Tapi. lalu sama menyaksikan hukuman mati yang harus dijalani Ronggur bersama T io.si Ronggur. Mendengar tangis bayi kecil itu. Tambah lama. Dekatnya si belang. Ini perlu.

tempat orang yang tidak berpunya. Ronggur menolak sarat itu. Kemudian lidah anak itu secara langsung disapu lidah si belang. dan tempat persembunyian orang buruan. Raja Panggonggom tidak mendengarkan. Si belang meringis kecil. Lalu lidah anak itu menjilat bibirnya.lidahnya dijulurkan si belang. Semua akan dibakar. Yang benar harus kukatakan benar. tak perlu hukum mati. masih datang menemui Ronggur. Segala alat yang dibawa oleh Ronggur dan Tio ditumpukkan depan mereka. Ronggur harus bersedia menjadi budak. asal dia mau. Hukuman bisa dientengkan." Tapi. Supaya bekas dari kejadian itu tidak tinggal sedikit pun. si belang memperoleh senyum terima kasih dari tuannya. Terutama setelah mereka memperoleh penjelasan langsung dari bekas Datu Bolon. Tidak berapa lama setelah senja berganti malam. Sehingga air dari lidah si belang berpindah ke lidah anak itu. Sampai ke kaki bukit tempat orang melarat. mengusulkan agar Ronggur mencabut kembali semua yang telah diucapkannya. juga ketiga pundi padi itu. . Malah dikatakannya: "Aku tidak dapat membenarkan yang salah. Mereka menegakkan kepala mendengar berita itu. begitu pula sebaliknya. Paduka Raja. Raja Panggonggom bersama pengiringnya. Tangis anak itu mereda. Tapi. Disapukannya ke bibir anak. Percayalah padaku. Bila matanya dicampakkan ke arah T io dan Ronggur. begitu pula Tio dan anaknya. Cepat saja berita yang dibawa Ronggur dan Tio menjalar ke mana-mana. merasa gembira dapat mendiamkan tangis anak itu. Bila fajar pagi terbit hukuman mati itu akan dilangsungkan. Sampai basah. setelah saran Ronggur ditolak kerajaan marga mereka.

Dan. "Apa. sepuluh orang lelaki yang kuat tubuhnya. suruh si belang diam. Orang melarat dan orang buruan yang tinggal di gua kaki bukit itu akan selalu lari ke mana saja berpencar bila tentara kerajaan marga Ronggur datang menangkap mereka. Lengkap dengan senjata masing-masing. Karena mencium bau orang yang datang mendekat. Bila Ronggur mati dibunuh orang yang tidak dapat mendengarkan penemuannya. lebih baik mati menempuh jalan menuju ke tanah habungkasan. Mereka semua akan menjadi orang yang sia-sia turun-temurun. Malam itu juga." Ronggur memberi isarat. sekali sergap saja. Seseorang terus mendekat ke tempat Ronggur. Orang yang tidak berpunya dan orang buruan telah menantikan mereka. Membuat ketiga pengawal itu terjaga. Unggun api sudah mulai mengecil. Ronggur bertanya. mereka putuskan. Dari celah bambu duri. Malam sudah jauh. Setelah mengucapkan terima kasih. mereka dapat melihat di mana Ronggur dan Tio diikat. Tali temali yang mengikat Ronggur dan T io. akhirnya mereka kembali tidur sambil menyepak si belang. harus melepaskan mereka dari ancaman maut itu. Keadaan sunyi. bersama bekas Datu Bolon di kaki bukit. Mereka gendong bayi lalu mereka melarikan diri. lalu membisikkan. Tiba-tiba saja si belang menggonggong. Mereka harus membela Ronggur dan Tio. yang harus kita perbuat?" .Bekas Datu Bolon itu mengatakan pada mereka bahwa yang mengetahui jalan ke tanah habungkasan itu hanyalah Ronggur. akhirnya memutuskan: Daripada mati dibunuh dan diburu di dada tanah batu yang gersang. ketiga pengawal yang sedang mengantuk itu tidak berdaya lagi. Mati terbunuh. menyelusup ke induk kampung marga Ronggur. Sehingga si belang duduk dekat kakinya dan diam. "Ronggur. maka tanah habungkasan itu akan kembali hilang. Setelah mengitari kampung dan meneliti. dijaga tiga orang pengawal.

maka orang yang mau mendengarlah yang berhak menerima berkat darinya. Bawalah mereka ke tanah habungkasan. belum pernah marga kita dihina orang begini rupa. Bapak juga hendak mereka tangkap dan bunuh. karena aku sudah sering melihatnya dalam mimpiku. Dan. ingin melihat tanah habungkasan dalam kenyataan. harus kau sampaikan pada setiap orang. Memegang obor. Membangunkan setiap orang. tidak dapat menerima kebenarannya. Sehingga mereka dapat kembali mengecap alam kebebasan. Mereka sudah tahu. Raja Nabegu memerintahkan Hulubalang yang terkemuka. Menyuluh jalan jurang dan lembah dalam. Bapak akan ikut. Membunuh setiap orang yang memberi bantuan pada Ronggur dan Tio. mengejar dan menangkap Ronggur dan T io kembali. Aku ingin melihat apa yang dibisikkan para dewata padaku. Bapak juga walau dengan berjingkat. Ayo. Merekalah yang berhak menerima berkah darinya. . yang mau mendengarkan berita penemuanmu." "Bapak juga harus ikut." "Ya. dari golongan mana mereka. "Berita yang diturunkan para dewata padamu." kata Ronggur." Bergeraklah mereka malam itu juga. Sedang di induk kampung marga Ronggur. dipalu gong. Sidang kerajaan dengan berangsangan. "Bila mereka menemui Bapak. Mereka inilah orang yang tidak berpunya. bunuh setiap orang yang memberi bantuan padanya. Tanpa memandang dari marga mana mereka. otot mereka yang kencang itu dapat kembali digunakan mengolah tanah. Kalau sebagian orang tidak mau merasakan arti yang dikandungnya. yang dipercayai beserta laskarnya yang terkenal keberanian dan kekuatannya. orang buruan ini karena kalah perang.Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan»berkata. Ronggur dan Tio bersama anaknya dan si belang sudah lari. tangkap mereka.

Sedang Raja Panggonggom. untuk dihadiahkan pada sidang kerajaan. kemarahan dan hasutan. Mereka harus membunuh setiap anggota rombongan Ronggur dan menawan Ronggur hidup-hidup. Untuk sama-sama dibunuh oleh tiap warga marga. Orang yang memburu juga terus bergerak. Tempik dan sorak. agar orang menghidupkan api. Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Malah dimintanya. Pada pagi berikutnya. Supaya orang yang memburu dapat mengikuti jejak dan jalan mereka tempuh. Ronggur menyuruh. Sedang Ronggur. Ini tidak. Raja Panggonggom memesankan dan mengingatkan bahwa Ronggur punya cukup akal yang licik. Di sana mereka istirahat. Malah bermalam. cepat mengusung bangkai laskar marga yang telah mati ke Sopo Bolon. Matahari semakin tinggi. memerintahkan anak lelakinya yang sulung. tetap menyuruh agar mengadakan tanda. yang kelak menggantikan sebagai Raja Panggonggom bila dia wafat. Rombongannya merasa aneh juga terhadap tindakan begitu. agar arwah laskar yang wafat itu mengutuk perbuatan Ronggur dan Tio. turut serta dalam rombongan yang harus menangkap Ronggur dan Tio serta membunuh setiap orang yang memberi bantuan padanya. Di sana disembayangkan. Yang diharapkan dipunyai oleh anaknya. rombongan yang memburu telah tampak di kaki bukit yang mereka taklukkan. Malah . Maunya mereka menghilangkan jejak. Pundak bukit pertama telah ditaklukkan. jalan mana mereka tempuh. mengepulkan asap. dialamatkan pada rombongan Ronggur. Menandakan pada yang memburu bahwa mereka ada di sana. bergeraklah orang yang bertugas memburu rombongan Ronggur. Kepada ketiga anak raja itu. agar mencelakakan Ronggur dan Tio bersama rombongannya. Rombongan terus bergerak. anak lelaki Raja Nabegu dan Raja Ni Huta. Di kala fajar pagi pertama menyingsing. Dia harus diimbangi dengan kelicikan pula.

Setiba di balik bukit terus jurang dalam. Harus memenggok ke kiri. Kemudian malam. beberapa jauh harus melalui di satu jalan . Tapi. mereka pun mulai bergerak. Sedang Ronggur hanya tersenyum saja. karena merasa diperma inkan. Begitu terus menerus. Rombongan Ronggur menghidupkan api unggun. bila musuhnya berada di pundak bukit. Matahari kembali melemah. Sambil hasut menghasut. hingga musuhnya dapat menjatuhkan batu untuk membunuh mereka. agar kedua rombongan selalu dipisah lembah. Kedua rombongan dapat bertatapan. Ronggur tetap mengusahakan. yang merupakan pintu ke tanah habungkasan. Tapi. rombongan Ronggur sudah kembali mendaki ke pundak bukit kedua. Bermula terus jurang. Tanpa menjatuhkan batu untuk menghancurkan yang memburu itu. Bila rombongan yang memburu sudah berada di pundak bukit pertama. Bila fajar kembali terbit. Lapangan datar hanya beberapa depa saja. rombongan Ronggur telah melewati celah pertemuan bukit. di bawah melalui pundak bukit yang menurun tanah habungkasan. Rombongan Ronggur istirahat. Pada hari ketujuh. dapat dilihat. Juga diusahakan.memberitahukan pada musuh di mana mereka berada. Bila rombongan yang memburu mulai mendaki bukit. Begitu terus-menerus. Takut jatuh ke jurang dalam. karena Ronggur sungguh-sungguh menyuruh. Tidak ada yang berani melanjutkan perjalanan di malam hari. agar rombongannya tidak berada di dasar lembah. Senja memerah. tapi dipisah lembah yang dalam. rombongan yang diburu dan memburu kembali bergerak. Begitu pula rombongan yang memburu. mereka laksanakan juga dengan sebaik mungkin. Begitu pula rombongan yang memburu. Dari baliknya. Dendam kesumat pada rombongan yang memburu tambah menghebat. Terkadang antara kedua rombongan terjadi saling panggil-memanggil.

pada satu tempat yang tidak menguntungkan. Ronggur menyuruh tiap orang berondok ke sisi bukit. Di depanmu jurang dalam." Rombongan yang memburu mengutuk pada diri sendiri. Menantikan rombongan yang memburu. Boleh pilih. Juga dari sana dapat ditatap air terjun yang memutih. Lalu setiap orang mengucapkan rasa terima kasihnya. menyerah atau mati. disuruhnya pergi ke mulut celah bukit. agar rombongan yang memburu itu mendatangi celah bukit. Melewati celah bukit. Setiap orang. Ronggur cepat berondok ke balik batu alam. Mendaki sedikit ke atas. Baru tiba kembali ke jalan yang agak luas. disuruh Ronggur membuangnya dan menyampakkannya jauhjauh. mereka telah ada di bawah rombongan Ronggur. Rombongan yang memburu terus saja mengejar dengan semangat meluap. Cepat berpaling dan melayangkan tombaknya ke arah Ronggur. sebuah tombak balasan melayang ke bawah mengenai . Lengkap senjata terhunus di tangan. baik perempuan. Tiap orang disuruhnya menyiapkan senjata yang ada di tangan masing-masing.sempit. Dan. anak Raja Ni Huta. setiap orang yang memakai gelang pertanda budak. Dengan terpaksa harus membuang senjata yang ada di tangannya. Dengan lantang. yang diapit oleh bukit dan dinantikan mulut jurang menganga. "Letakkan senjatamu. Setiap anggota rombongan Ronggur kagum menatap tanah datar yang luas dan hijau di bawah mereka. Sedang dua tiga orang. di saat begitu. yang bisa digulingkan. Setiap orang ternganga melihat putihnya air terjun yang menerobos bukit sebelah timur. Ronggur berteriak. Mereka terjebak sudah. disuruhnya memilih batu alam. Kemudian orang yang tidak bersenjata. Tapi. Memberi tanda pada mereka. mula jalan menurun yang baik menuju tanah habungkasan. Kalau tidak kamu sekalian akan kami bunuh. Dan. mengambil kesempatan. Semua orang mengerjakan perintah Ronggur. Ke jurang dalam. Dan.

derum air terjun yang jatuh. telah menyaksikan kebenaran cerita Ronggur. di saat mereka terjebak pula. Mereka disuruh Ronggur menghadap ke arah jurang. merambah jalan ke danau yang maha luas. kelanjutan Sungai Titian Dewata. Harus tunduk pada Ronggur. Sekarang mereka dengan mata kepala sendiri. warta dari mula kehidupan. Lalu kedengaran suaranya meninggi: "Kau para lelaki yang kuat. Pergunakanlah mata kepalamu. "Pilih antara dua. Apakah kalian masih belum percaya?” Orang yang memburu pada terdiam dan tercengang. Tapi. Setelah menundukkan kepala tanda memberi hormat. Dengarlah dengan kupingmu sendiri. kau telah bisa melakukannya tanpa sesuatu halangan. membelah kehijauan hutan belantara itu. Sekali lagi Ronggur berteriak. di sebelah kananmu itulah air terjun yang kukatakan. itu . Dan. Kalian semua berada di tempat yang tidak menguntungkan. menyerah atau mati. seperti yang kuceritakan padamu. Mulut mereka ternganga. berpaling ke arah Ronggur. Justru karena warta itu bertentangan dengan kepercayaan yang kau anut selama ini. tapi banyak ikannya. dengan terpaksa mencampakkan semua senjatanya ke mulut jurang. yang tidak punya kekuatan untuk menerima sesuatu warta kebenaran. yang airnya asin. Lihatlah sekarang dengan mala kepalamu sendiri. yang lalu jatuh ke mulut jurang dengan pekikan meninggi. apakah Sungai Titian Dewata berakhir ke ujung dunia? Dan. Dan. benda memutih dikejauhan yang terus menerobos ke timur. Hulubalang yang memimpin rombongan itu. kalau kau sekarang mau membunuh kami. di depanmu jauh di bawah sana." “Lihatlah. luasnya tanah hijau yang landai. dia mengatakan: "Ronggur.anak Raja Ni Huta." Anggota rombongan yang memburu itu.

Tanah habungkasanmu. Dalam keadaan begitulah Ronggur memanggil orang tua. Tanah luas masih tersedia untuk mereka walaupun aku mati. dan bau kesuburan yang mengambang darinya telah kuhirup. dan kami tidak punya kelapangan hati mendengar warta kebenaran darimu." Seketika keadaan hening. Lama Ronggur menatap tawanannya yang hendak menangkap pada mulanya. "Nasib mereka berada di tanganmu. marga yang masih merdeka. Untuk itu kami sewajarnya menerima hukuman. apakah mereka masih berhak hidup atau mati. mula tanah datar yang maha luas. Kami telah mengikuti ajaran yang salah. bagi Bapak. Sesuatu perasaan yang bertentangan tumbuh dalam dada. Bapak?" . Kau bisa menentukan. bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan ke dekatnya. sebagian ingin menuntut balas. Hijaunya telah kutatap." katanya. Kau telah gagal mewartakan berita penemuanmu secara langsung. sekarang kau memperoleh jalan lain untuk mewartakannya kepada orang lain di kampung halaman. "apa yang harus kuperbuat sekarang?" Lama orang tua itu terdiam. Tapi matiku telah merasa senang. Akulah yang pertama harus kau bunuh. tapi sebagian lagi memberi pertimbangan lain.memang hakmu." Ronggur membiarkan Hulubalang itu terus berkata. Tapi. Aku pemimpin rombongan yang mengejarmu ini. Tapi. Yang melanjut dengan. Ronggur. ada sesuatu hal yang menguntungkan dalam saat ini. "Bapak. "Kami telah me lihat air terjun yang kau ceritakan. Aku akan tidak menyangsikan hidup anakku lagi. Ujung dunia yang kami sangka selama ini. Dengan sendirinya pula mewartakan kepada kelompok marga lain." "Bagaimana caranya. Yang sebenarnya juga anggota keluarganya. Baru mulutnya mengatakan. Justru karena aku telah melihat kebenaran ceritamu.

"aku harus menuntut pada kerajaan marga." Orang tua itu menundukkan kepala mengiakan. agar mengembalikan tanah persawahanku. Bila mereka tidak juga mempercayainya. "Dan. Bapak tahu aku telah mengambil T io menjadi istriku." "Karena itu. Bapak tahu. namun bona nipasogit." Tersenyum Ronggur memperoleh saran itu." "Ya." "Ya. Dan. Tidak memandang apakah dia seorang budak. memang begitu menurut adat kita. raja atau apa saja. Kemudian suruh pulang Hulubalang itu dengan pengiring kecil. Sedang . yang dulu disita kerajaan dariku." sahut orang tua itu cepat. Dan akan kutambahkan bahwa tidak marga kita saja yang berhak datang ke tanah habungkasan. Tugaskan padanya agar dia mewartakan pada kerajaan marga atas kebenaran ceritamu. Juga segala harta milik Bapak yang disita dulu. Sesuatu harta pusaka turun-temurun yang mulanya dirambah nenek moyang." kata Ronggur pula. Siapa saja di antara mereka yang punya hasrat pindah ke tanah habungkasan harus dibolehkan. kebenaran penemuanmu. itu sangat baik. "Saran yang baik." "Lalu. maka nasib anak Raja Panggonggom dan anak Raja Nabegu. Karena bagaimanapun seperti adat kita. Semua orang berhak. harus dikembalikan. kesatuan marga Tio sudah menjadi moraku. sejauh kita merantau. anak Raja Nabegu. Semua marga berhak. Tidak boleh dihalangi. tidak boleh dilupakan. Semua orang berhak memperoleh tanah. Mora yang harus kuhormati. Lalu disambutnya. seluas dan selebar yang sanggup dia kerjakan. aku harus menuntut pula bahwa semua keturunan marga Tio. harus dijaga dan dipelihara. akan sama dengan nasib Raja Ni Huta. Itu sangat penting. harus dibebaskan dari perbudakan. "Di samping itu."Tawanlah anak Raja Panggonggom.

" Orang tua itu tersenyum. untuk berbakti. Bila mereka sudah sampai di tempat yang mereka namakan ." Hulubalang itu menyanggupi akan menyampaikan pesan. Yang ditambahnya pula: "Dalam jangka dua purnama. Sedang rombongan Ronggur. Segala hasil pembicaraan disampaikan Ronggur dengan suara lantang pada Hulubalang. Berilah kesempatan padaku. Tapi." Lima orang dari anggota yang memburu itu. ke tanah habungkasan. Daerah lain tambah banyak ditemui. aku akan bekerja keras menginsafkan orang. tanpa sarat itu pun. Jalan tempuhan. ditambah pasukan kerajaan marga yang sudah insaf menuju ke timur. Malah dengan sadar dia menambahkan. Sejak itu. mempertebal keyakinan bahwa mereka akan dituntun para dewata dan arwah nenek moyang ke tanah habungkasan. Baik melalui sungai atau jalan darat. kebenaran penemuanmu. harus dibebaskan dari perbudakan. tidak hanya yang dirintis Ronggur saja yang mereka kenal. Mengiakan. Itulah sarat yang harus disampaikan Hulubalang pada kerajaan marga. ditunjuk Ronggur mengiringi Hulubalang menuju kampung halaman. Kemudian rombongan lain bertambah banyak menuju tanah habungkasan. Utusan kerajaan marga. telah terbuka tembusan jalan baru. tambah lama. "Karena aku sendiri telah melihat kebenaran ceritamu. apakah saran itu diterima atau tidak. nama tempat itu mereka sebut Porsea. Selalu mereka mengadakan upacara di pangkal sungai. Yang lima orang itu pun telah bersedia menjadi saksi atas kebenaran penemuan Ronggur. utusan kerajaan sudah harus ada yang datang menemui mereka ke tanah habungkasan.orang yang tidak bisa pindah karena sudah tua atau karena alasan lain. Mewartakan. boleh kelak menempuh jalan yang mereka tandai.

bila mereka memenggok ke selatan. tiba ke dataran tinggi Bonjol. di mana rombongan Ronggur membuka perkampungan. Dari sana terus menembus ke daerah Simalungun. mereka terus pergi ke arah timur. akan menaklukkan pegunungan sebelah barat. bila mereka terus menurun. tembus pula ke Rura Silindung. pundak pegunungan Toba telah dapat mereka tatap . berarti turun ke daerah Mandailing Raja. sampai ke daerah perbatasan Sumatera Barat. Dari sana. berteluk indah. Dari Mandailing. Menembus terus ke daerah AngkolaSipirok-Pahae dan tembus ke Silindung. Bila mereka meneruskan perjalanan. menurun ke pesisir Barus. jadi bila mereka menuju ke sana. Lalu bisa kembali ke Toba. bila menuju ke arah barat. airnya asin. Dari sana dapat mereka tatap pundak bukit yang tiga. Dan. mereka akan tiba ke Parsoburan.Parhitean. Tarutung. Bila mereka dari Parhitean menuju ke utara. telah menaklukkan pegunungan Pangaribuan. Di sini mereka bertemu dengan rombongan yang sejak Parsoburon terus mengarah Barat. bisa turun kembali ke Pulau Samosir. Mereka tiba ke Pangkat. bila mereka kembali mendaki pegunungan utara. Dari T iga Dolok. pundak bukit di lingkungan Danau Parapat. dapat mereka kenal pundak bukit yang ada di bagian pundak mereka. yaitu Rao-Rao. bisa mereka buka dua persimpangan. akan tiba ke tanah habungkasan yang ditemui Ronggur. Dari pesisir Sibolga. Sedang rombongan yang berangkat dari Pangoruran Samosir. Tarutung. satu lagi menuju Dairi-Pakpak. mereka menemui pula sebuah danau yang luas. Sedang bila kembali ke arah utara dari Rao-Rao. Bila terus menyusur bukit sebelah barat. Satu menuju Tanah Karo. lalu mereka namakan itu Tiga Dolok. Dari Parhitean. Terus ke selatan. mereka akan tiba ke Daerah T angga. Dari Dairi. kembali tiba ke lingkungan Danau Parapat. pesisir Sibolga. terus menurun dari sana ke pesisir Barus.

Padang Lawas. yaitu dari Tor Simago-mago. bila menembus ke selatan teru s. yang tidak sedikit mengorbankan nyawa. Menerobos celah pertemuan bukit memanjang. Kemauan mempertahankan dan melanjutkan kehidupan. dataran lain. untuk menemui dataran luas. daerah Asahan-Labuhan Batu. Terus ke selatan. Dari Angkola. merambah jalan di bawah naungan dedaunan belantara yang menghijau lebat. Airnya asin mengandung garam. telah dialihkan semangatnya untuk menaklukkan pundak demi pundak bukit. sampai bersedia mengorbankan pertarungan demi peperangan. mereka bisa bertemu dengan orang yang berangkat menuju tanah habungkasan yang ditemui Ranggur. dan punya binatang buruan yang jinak lagi banyak.dan kenal kembali. Semuanya untuk kelanjutan kehidupan dan mengembangkannya. ccdw-kzaa Daftar Istilah Ambalang= tali pelempar batu Ama Ni Bolpung= ayah si Bolpung Ampangngardang= juru perdamaian Ampataga= obat (luka) nama sejenis tumbuhan biasa dipakai untuk Berandak= bersembunyi/berlindung Bernas= berisi/berarti Bolatan= destar . akan tiba ke daerah dataran yang luas. berhutan subur. yang menyimpan ikan banyak. Untuk menemui danau yang maha luas.

Pisau Gajah Lompak= pedang sakti Pohon Hariara= pohon beringin Purada= jumbai-jumbai warna keemasan pada ulos Raja Ni Huta= kepala kampung Sampuran Harimau= air terjun si harimau . berdada kuning Curup= cerutu Dibuhul= diikat Dolok= gunung Gelagah= rumput yg panjang Habungkasan= tanah baru Luhak= daerah Mora= keluarga pihak isteri Mula Jadi Na Bolon= T uhang Yg Maha Esa Parhelaan= pesta adat (hela= menantu pria Parhitaan= jembatan/perantara Pargaul=luwes Pargounci= grup yg memainkan gondang Patentengan= sombong ..Bona Ni Pasolgit= kata ganti untuk kampung halaman Buhul = ikatan Bungkas= pindah Burung Ambaroba= burung pemakan padi.. tidak terbaca sobek....

terdiri dari bermacam daun mentah. antara lain daun pepaya serta gula merah dan lainlain.Sopo Bolon= rumah besar (rumah adat) Sanduduk = rumput putri malu Temterasan= lari kucar kacir Terhempang= terhampar Terpacak= tertanam/terpaku Tuhil= pahat Tongkat Panaluan= tongkat kepala adat (marga) Ura= makanan khas Batak. ccdw-kzaa .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful