Penakluk Ujung Dunia

Karya Bokor Hutasuhut Djvu, convert & Ebook : Dewi KZ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/ http://kangzusi.info/ http://cerita_silat.cc/

Penakluk Ujung Dunia Ayahanda Bokor menjadi mubaliq Islam di Tanah Batak. Karena itu, dia suka ikut menyusup hutan belantara, mendaki bukit dan lembah Bukit Barisan. Menyusup melewati Pintu Pohan, Parhitean, naik ke Tangga dan tembus ke Simalungun. Juga kembali melalui Dairi ke Tanah Samosir.

Dalam perjalanan, sering ngobrol sepanjang malam dengan para tetua, wakil masa silam, masih primitif, sederhana, tapi simpatik. Dengan para tetua itu. Bokor setempat tidur dan para tetua terus bercerita Di hutan, lembah, dan ngarai sudah biasa saja. Bertemu harimau dan binatang buas lain tak soal lagi. Dan, suatu kali, di suatu hutan, di atas dedahanan rimbun terdapat sarang tawon ruang pun memanjat poitu berusaha mengisap madu itu. Tapi, seseorang lantas ikut naik, memanjat pohon yang sama yang setelah bibir berdecap mengucap jampi, beruang itu menyisih . Dan, "Penakluk Ujung Dunia" berkisah pada sulitnya memperoleh lahan. Perang warga sering berkecamuk. Lantas Ronggur mencoba menerobos Sungai Titian Dewata untuk mencari daerah baru. Kepergiannya dikutuk karena melawan tradisi. Dan, setelah dia kembali dan berhasil menemukan daerah baru, justru dia akan dihukum gantung karena Ronggur tetap saja sudah melawan tradisi kepercayaan yang sudah hidup turun temurun. Sungguh menawan dan indah .... PENAKLUK UJUNG DUNIA Oleh: Bokor Hutasuhut Hak Pengarang dilindungi undangundang Desain Kulit: Sriwidodo Cetakan Pertama 1964 PT Pembangunan-Jakarta Cetakan Kedua 1988 Penerbit: PT Pustaka Karya Grafika Utama Jakarta

Sekilas Pengarang: BOKOR HUTASUHUT, lahir di Balige, Tanah Batak, Sumatra Utara 2 Juni 1934. Dalam catatan masuk HIS, hari lahir itu berubah menjadi 2 Juni 1933. Menurut ayahnya, H.A.M. Mangaraja Gende Hutasuhut, perubahan itu perlu jika ingin sekolah. Dalam catatan itu juga tercatat nama benar Buchari Hutasuhut agar kelak menjadi pengarang tafsir Quran. Sejak 1953 sudah menulis cerita pendek ke berbagai majalah sastera dan media budaya. Selain buku ini, juga sudah terbit buku "Tanah Kesayangan" dan "Datang Malam". Kini berdomisili di Medan.

Ia bukan photo copy kebudayaan Batak. tetapi orang Batak tulen yang menjadi sastrawan Indonesia. Ia sangat sadar bahwa ia sedang menyelami dan melukiskan kehidupan masyarakat Batak yang unik tradisional kepada pembaca sastra modern pada umumnya. Rendra . Marilah kita sekarang menikmatinya. Ketelitiannya di dalam melukiskan detail-detail ia gabungkan dengan rasa harmoni seni dalam bercerita mengenai watak manusia. Formalitasnya.Kata Pengantar Bokor Hutasuhut punya gaya bercerita yang merupakan gabungan sifat formal dan bebas. lalu duduk dan menulis novel ini. tetapi suatu karya sastra segar dengan latar belakang pengaruh tradisi kebudayaan Batak. kebebasan penghayatan kebudayaan modem dari tradisi sastra modern. Sehingga hasilnya bukanlah sekedar laporan anthropolis akademis. Sedangkan kebebasannya. plot. Begitulah ia muncul sebagai sastrawan dengan gaya yang unik di antara sastraivan modern yang lain di Indonesia. Ia telah selesai melakukan wawancara dengan tradisinya dan dengan dinamika modern dari Indonesia Raya. Alangkah hidup detail-detail dari lukisannya. formalitas tutur kata bahasa lisan menurut tradisi Batak. Satu pertanda bahwa ia mengerti betul-betul apa yang ia tuliskan. segi memandang persoalan sebagai sastrawan modern.

Gong masih dipalu sesekali.1 Satu-satu para lelaki keluar rumah. Hingga cahaya unggun api yang samar. Nyalanya meliuk ditiup angin. Tapi. wajah yang menampung sinar matahari penuh. memancarkan rasa marah dan mendendam. Dan. Tangan kanan memegang tungkotpanaluan. Halaman kampung menjadi luas. kepalanya dibeliti bolat-an berwarna tiga jalin-menjalin: merah. Wajah yang cukup matang dan keras. satu sama lain. Dari jauh kedengaran suara ratap para perempuan. Senja baru saja berlalu. yang dimasak kerasnya hidup sehari-hari. Di pinggang. Sengaja dikosongkan. Di saat Kerajaan Marga yang mendiami kampung itu mengadakan musyawarah. di sebelah hulu. Mengikuti lingkaran rumah dan di tengah dikosongkan. Lebih dulu meliukkan pucuk bambu duri yang ditanam orang sekitar kampung. Kemudian kelompok manusia itu menjadi tambah hening. memecahkan tanah batu untuk dijadikan persawahan. putih. memenuhi panggilan suara gong yang dipalu sesekali dekat unggun api yang ada di halaman perkampungan. tempat penghuni kampung selalu berkumpul di saat yang perlu. Bambu duri itu. Tapi. cukup punya arti. tidak ada yang berkerisik. terselip . tampaknya saling diam. setelah cukup dekat unggun api. Wajah para lelaki tambah jelas kelihatan. Para lelaki itu membentuk lingkaran seputar unggun api. Di langit bintang gemerlapan. Wajah para lelaki yang bermunculan di mulut pintu. yang hulunya berukirkan wajah dan kepala manusia. serta dihiasi rambut manusia. dan hitam. Tapi. tidak ada bulan. Angin pegunungan berhembus. sewaktu enam orang lagi lelaki datang mendekat. Salah seorang di antaranya menyandang ulos-batak ragihidup. langsung menjadi pagar kampung. ditanam melingkar. Para lelaki tambah banyak berkumpul. belum seorang pun mengambil tempat.

memakai bolatan juga. Kuping sudah. di marga yang mendiami kampung itu. Semua mata diarahkan padanya berusaha mengikuti gerak-geriknya.pisau gajah-dompak. dan Datu Bolon Gelar Guru Mafla-sak. mengiring pula Raja Partahi. tergenggam tombak yang hulunya berukirkan kepala manusia. Di tangan kiri Raja Panggonggom. memakai bolatan warna putih. pertanda dia Raja Ni Huta. Sebelum duduk. siap mendengar yang hendak diucapkannya. pengerah tenaga rakyat. Sedang di tangannya. dia mengaju tanya. yang memegang kekuasaan adat dan hukum tertinggi di perkampungan itu. Yang berjalan di sebelah kanannya. yang masih semarga dengan mereka. yang sejak tadi dikosongkan. Pertanda dia Raja Panggonggom. Di sebelah kiri Raja Panggonggom. warnanya hanya merah dan putih berjalinan. "Apakah sudah semua lelaki hadir di sini?" . Tempat mereka lebih tinggi dari yang lain. sedang mulutnya terus-terusan menguyah sirih dan meludah. Juga dia menyandang ulos-batak. tapi raginya berbeda dengan ragi yang disandang fyaja Panggonggom dan Raja Ni Huta. Raja Namora. pertanda mereka pemegang perbekalan marga. tergenggam sebilah pisau yang ujungnya berlumur darah merah. Tapi. Mereka mengambil tempat di sebelah hulu. dan langsung memimpin para Raja Ni Huta dari kampung lain. Setelah mengangkat tangan kanan. pertanda dia Raja Nabegu. lebih dahulu dia menancapkan tungkotpanaluan ke tanah. pemegang pimpinan para panglima dan para hulubalang perkasa. Di belakang mereka bertiga. tapi raginya berbeda dengan yang dipakai oleh Raja Panggonggom. Sedang Datu Bolon Gelar Guru Marlasak menyandang kulit monyet yang sudah kering. Raja Partahi dan Raja Namora. Raja Ni Huta yang memakai bolatan ini. berjalan seseorang yang memakai bolatan warna merah saja. Dia juga menyandang ulos-batak.

"Si Ronggur. pewarta bahwa dia sedang marah. tangannya menggenggam tombak berukirkan kepala manusia. Dia berlari dengan langkah yang panjang dan cepat. "Siapa yang belum hadir?" tanya raja. Tongkat panaluan.Setiap suku kata ditekankan kuat-kuat. "Belum. Apakah harus aku yang pergi memanggilnya?" Hulubalang Muda cepat berdiri. pusaka nenek moyang turun-temurun dielusnya seketika. Sedang dari kejauhan. muram mengandung marah yang menuntut dibalaskan. hati yang berduka. Suaranya yang beruntum keluar dengan cepat. yang juga memakai bolatan warna hitam. tapi bolatannya lebih kecil dari orang pertama. dan menggenggam sebuah tombak. disaputi kulit hitam . Pertanda dia. Terus pergi melaksanakan perintah." sahut seseorang. Matanya merah nyala. hulubalang muda. Raja Panggonggom lalu mengatakan. Cepat saja diketahui bahwa tidak seorang pun perempuan hadir di antara para lelaki yang mengitari unggun api itu. pergilah salah seorang dari kamu memanggilnya. Kembali Raja Panggonggom duduk. membuat wajah para lelaki itu bermuraman. "Ayoh." "Si Ronggur belum hadir? Ke mana dia pergi?" Tidak ada yang menyahut. tetap kedengaran sesayup sampai ratap perempuan. "Sudah semua. yang langsung berdiri dari duduknya. Ratap inilah yang. Tubuhnya yang sudah tua itu masih membayangkan bekas bentuk tubuh yang tegap di masa muda. tapi tidak berhiaskan rambut. yang meratap kan kepiluan hati." sahut seseorang. "Apakah sudah berkumpul semua pemuda di sini?" tanyanya pula melanjut. pertanda dia panglima marga atau hulubalang marga. kepalanya memakai bolatan warna hitan.

dan sinar matanya masih tetap bercahaya. kenapa Ronggur tidak bisa hadir sebelum golongan raja hadir di sana. Dari jauh kelihatan dua orang pemuda mendekat. ototnya. seperti merasakan sesuatu kesalahan. Para lelaki yang duduk di sampingnya. sesuatu pertanda ketangkasan. yang tubuhnya setiap hari masih terus membentuk sebuah tubuh yang wajar. kulitnya yang hitam. "Kita harus menunggu anak itu lagi.yang cukup matang. menjadi merah padam. "Aku dapat mendengar dan mengartikannya. wajah Raja Nabegu. bernadakan kepercayaan akan diri sendiri. Wajahnya yang berkerut-kerut. yang duduk sejajar dengannya. "Apakah kau tidak mendengar gong dipalu? Apakah kau tidak mengetahui. Raja Panggonggom menggerutu. keningnya yang lebar." jawab pemuda itu. apa arti gong yang dipalu dengan pukulan satu-satu? Apakah kau harus diajar untuk mendengar dan mengartikannya lagi? Bukankah kau sudah diajari Raja Nabegu?" tanya Raja Panggonggom cepat. Sedang para pemuda." Tidak seorang pun yang berani menambahi cakapnya. para lelaki yang masih muda. dan dari wajahnya memancar kebeningan tapi bercampur-baur dengan kematangan. "Kenapa kau tidak terus mematuhi panggilan? Kenapa kau melalaikannya? Apakah tubuhmu itu tidak dialiri darah merah yang diwariskan Almarhum ayahmu lagi?" . namun garis di wajahnya. ma-nyambut kehadiran mereka. Sambil duduk. Di hadapannya. Tapi. juga sudah agak tua. punya otot tubuh yang tegap dan masih berada di puncak kekuatan. Walau ada di antara mereka yang agak kecil. segumpal daging yang dapat dipercaya kesehatan dan kekuatan yang terkandung di dalamnya. Paduka Raja.

dalam tubuhku mengalir darah yang diwariskan ayahanda almarhum. Tapi. Dan apa yang harus kuucapkan dalam pertemuan ini. Barulah kau dapat dikatakan seorang lelaki yang menghormati nama baik nenek moyangmu. Supaya para arwah nenek moyang dan dewata tidak marah. Pada tiap wajah makin jelas kelihatan pancaran sesuatu cahaya yang tidak mau dipadamkan. Paduka Raja. Kupingku mendengarkan suara gong pusaka. kenapa kau terlambat datang? Atau. merahnya. api semangat yang tidak boleh dipadamkan. aku sedang memikirkan. . barulah pula kau wajar dihormati sebagai seorang lelaki." "Paduka Raja." "Tahukah kau bahwa ayahmu tidak pernah mengabaikan panggilan gong pusaka ini? Terlebih bila gong dipalu satusatu? Ataukah dengan sengaja kau melambatkan kedatanganmu karena kau bukan seorang lelaki? Jawab pertanyaanku dengan jujur. Menatap wajah demi wajah dengan pandang tajam. nama baik kampung. kau memang sengaja mengabaikan panggilannya?" "Aku tidak mengabaikannya. bila saat musyawarah diadakan. malah langsung membakar semangatku. Tubuh mereka berkeringat olehnya." "Nah. bagaimana aku harus melaksanakan perintah yang akan ditugaskan padaku. Dan. Otot yang tegap itu menjadi mengencang. kalau begitu dengar dulu kataku. nama baik rajamu. dan marga kita." Orang terdiam mendengarkan." "Kalau begitu. margamu. lalu. "Semua lelaki yang ada di hadapanku. Paduka Raja. dibakar perasaan dalam hati. yang pada tiap tubuhmu mengalir darah merah warisan nenek moyang. Mata tiap orang menjadi merah dan gusar."Masih." Raja Panggonggom menebarkan pandang ke sekitar.

Meratap berkepanjangan. Kalau paduka raja mengijinkan aku berbicara. Mayatnya sekarang terlentang kaku di Sopo Bolon. Supaya orang lain tidak berani mengulanginya terhadap marga kita!" "Ya. Sekitar mayatnya duduk melingkar para perempuan. ratap para perempuan itu. orang dari marga lain. tidak saja kepiluan mendatangi diri. Lalu tertumpu akhirnya ke tempat para raja. Tapi. bila penghinaan yang sangat nista ini kita terima begitu saja. sesuatu yang mengharapkan penuntutan balas. lebih berat mendatang dari penghinaan yang dengan sengaja diarahkan marga lain yang membunuh Ama ni Boltung itu. memang untuk itu kita berkumpul malam ini. kemudian pada kelompok para lelaki. Kita terkutuk. Berakhir dengan meledaknya ucapan." Ronggur berdiri. yang tadi pagi sengaja ditusukkan orang. Sebuah penghinaan harus segera dilenyapkan. Dan. bagi kita para lelaki. "Perintahkan dengan cepat. Ketahuilah. Matanya dilayangkan pada kelompok pemuda. "tergenggam sebilah pisau. Para perempuan itu berduka." lanjut Raja Panggonggom. apa yang harus kami perbuat. ke dada salah seorang dari antara kamu. kita tidak berhak lagi disebut dan dihormati sebagai lelaki. sehingga dia meninggal. Kuat meledak." Suara mendengung pada kelompok yang ada di depan raja. perpisahan yang timbul karena perbuatan orang lain. ratap yang menangiskan sebuah perpisahan. Tentu kamu turut mendengar ratap mereka. "Bicaralah____" . dengan darah merah yang memancarkan cahaya semangat yang tak akan padam pada tiap wajah kita. dari antara kita."Pada tangan sebelah kiriku. Yang menekan hati." suaranya tegas dan pasti. bila kita tidak menuntut balas. "Ada yang Panggonggom. hendak kau katakan?" tanya Raja "Ya. Penghinaan yang harus ditantang dengan sikap jantan.

aku jalan-jalan sampai ke kaki bukit. dapatkah Paduka Raja menceritakan pada kami. janganlah kita beranggapan bahwa Ama ni Boltung terlalu lalai menghadapi musuhnya. Tanah batu yang cukup . Ronggur melanjutkan." sahut Ronggur. Tadi siang. Arwahnya tentu ditempatkan para dewata di tempat para hulubalang perkasa. Tambah sering mengganggu ketenteraman hidup? Mengganggu kerukunan hidup di pantai Danau Toba ini?" Semua terdiam. Tidak kurang dari dua orang yang menyerang dirubuhkannya. Soal yang sudah terlalu sering menimbulkan pertengkaran. tempat terhormat. karena semakin sempitnya tanah yang dapat kita garap. Juga raja. Juga karena pertengkaran mengenai perbatasan sawah. Dia masih sempat membawa korban. Dari keterangan Paduka Raja. kenapa marga lain itu menancapkan ujung pisaunya ke dada Ama ni Boltung?" "Pisau itu mereka tancapkan ke dada Ama ni Boltung. Mereka menyerang sekaligus. Sudah sampai ke sana perluasan sawah. seorang lagi luka pada tangannya. "Soalnya. Yang menjadi pokok persoalan sekarang menurut pendapatku. yang tanahnya bercampur batu. Dan. yang sudah terlalu sering mengakibatkan pecahnya perang antara satu marga dengan marga lain. kenapa persoalan begitu rupa tambah sering kita hadapi."Paduka Raja. Yang menyerang Ama ni Boltung. dapatlah diketahui bahwa soalnya timbul karena pembagian air dan perbatasan sawah. tidak seorang saja. Tapi. dicabutnya nyawa mereka dengan ujung pisau. antara satu lu hak dengan luhak lain. hendaknya kita menelaah." "Kuhormati kepahlawanan Ama ni Boltung. Tidak kurang dari lima orang ma lah. mula atau sebab timbulnya perkelahian itu. "tapi yang paling perlu kita pikirkan sekarang. rubuh ke atas tanah. karena persoalan pembagian air yang harus dialirkan ke sawah. hingga Ama ni Boltung yang sudah kita kenal keberanian dan ketangkasannya berkelahi.

"kami juga sudah mengetahui itu. ke mana kita harus mencari tanah garapan baru? Sekitar kita. Mereka orang yang berani hidup. setiap orang menggunakan akal licik untuk memperoleh setapak tanah. Orang tambah berebut pada air parit yang dangkal agar sawahnya lebih dan dapat lebih banyak menghasilkan padi. Berarti. betapa sungguhnya tiap orang dan marga yang ada di sekitar danau ini mempertahankan hidupnya. "Kita harus mencari . Tangan kami juga turut lecet karena mengayun pacul ke tanah berbatu. berakhir di mana . melingkar gunung batu yang tandus lagi tinggi." Dengungan suara pun bangkit di tengah orang banyak. mencari daerah baru tempat perluasan marga. "Usulmu memang bagus. Kita tidak tahu. "jadi. Y ang taat melaksanakan pesan nenek moyang masingmasing. melanjutkan hidup keluarga dan marga.keras itu mereka pecahkan dengan cangkul yang diayunkan kedua tangan mereka. tambah banyak mulut yang harus diberi makan dari hasil tanah yang itu juga. Inilah mula persoalan! Harus awal soal ini yang diatasi agar hal yang bisa menimbulkan perkelahian dan peperangan yang menumbuhkan luka dan duka di tiap hati dapat dihilangkan." kata raja. Kami juga turut bekerja." "Paduka Raja. Ini sudah terang menambah kesulitan hidup. Mereka melinggis pinggiran gunung batu. Keringat kami juga turut membasahi tanah batu." "Apa maksudmu?" tanya Raja Panggonggom. tiap suku tambah berkembang biak." kata Ronggur pula tak mau henti. Karena itulah. supaya batu menjadi lumat agar bisa menghasilkan padi. soal sebenarnya sudah kita ketahui. Tapi." sahut Raja Panggonggom mengatasi dengung suara itu. Tidak bertambah luas. Tanah yang dapat kita kerjakan masih tanah yang dulu juga.ya." "Cukup. Lihatlah. "Tapi. membangun sebuah parit saluran air.

supaya kita tidak melintasi dan melewatinya. beralih pula pada wajah pemuda sebayanya.gunung ini. apakah masih ada tanah datar di seberang pegunungan ini. setiap sungai akan bermuara ke tanah landai." Ronggur tidak langsung menyahut. Penjaga ini tidak senang pada orang yang berani melintas di sana. Binatang buas akan membunuh tiap orang tanpa ampun. pagar alam yang sengaja dibuat para dewata." Dengung suara bangkit di tengah kelompok lebih gemuruh dari tadi. Ronggur sudah memancing kemarahan para dewata. Karena itu. Dan. yang bermula dari salah satu teluk danau. Caranya terserah pada kekuatan kita. telah dipermainkan Ronggur. kita akan mengikuti sungai. harus berusaha pula meluaskannya. karena mengganggu ketenteraman para dewata yang tidak tampak oleh mata kita. Setiap orang jadi merasakan. yang juga sejak tadi terus-menerus mengunyah sirih. Datu Bolon itu lebih merasakan. yang menjelma menjadi binatang buas. Kutuk dewata akan tiba. Sambil meludah merasa jijik atas ucapan Ronggur. Tapi. . dikenal bernama Datu Bolon Gelar Guru Marla-sak. Kita tidak dapat tahu. Lalu katanya dengan suara perlahan tapi pasti: "Menurut cerita nenek moyang. bagaimanapun. kita harus mempertahankan tiap jengkal dan tiap tapak tanah yang kita pusakai dan kuasai." "Sungai mana?" cepat Raja Panggonggom memotong. Pegunungan ini berlapislapis. yang dituliskan pada pustaka. kemudian wajah para lelaki. Lebih dulu ditatapinya wajah para raja. "Sungai Titian Dewata. Dan. Siapa yang mau membunuh diri dengan pekerjaan sia-sia itu? Karena itu. Wajah Raja Panggonggom memancarkan sinar kemarahan. namun sinar wajahnya masih tetap memancarkan sikap keyakinan. Habis perkara. apalagi orang tua yang duduk di belakangnya yang menyandang kulit kera yang sudah dikeringkan. T iap puncak dijaga para dewata.

Tempat terhormat. agar hidupnya di dunia lain itu berbahagia.Tapi. Raja Panggonggom memberi isarat. terutama pula setelah suruhan kita diusir oleh marga yang membunuh Ama ni Boltung itu. dia dapat mengatasi luapan marahnya. kalau kita tidak menuntut balas. Tapi. masih basah malah. Hendaknya. suatu kemurtadan. kau masih terlalu muda. Alangkah sia-sia. tiba ke sana. Raja Panggonggom kembali berbicara. Karena kita tidak mau disebut orang murtad. "Kita tadi dengan sengaja telah membuka satu percakapan yang cukup panjang. dengan sikap bijaksana yang melekat pada Raja Panggonggom. Gong sudah tidak dipalu orang lagi sehingga ratap perempuan dari Sopo Bolo tambah jelas kedengaran. berakhir di ujung dunia. Sungai Titian Dewata. Tapi. semua rakyatku. sidang kerajaan hari ini memutuskan: mengumumkan perang dengan marga yang membunuh Ama ni Boltung!" . orang yang dikutuk arwah nenek moyang. saat ini. agar dia duduk. Sengaja diciptakan dewata untuk Titian Para Dewata menuju matahari. kalau kita tidak menghapus corengan arang yang di buat orang di wajah marga kita. ke hidup lain. Darah Ama ni Boltung masih melekat di sini. Jadi. percakapan itu tidak langsung penyebab kita kumpul di sini. jalan arwah kita kelak ke dunia lain. memendam semua yang ada di dalam hati. tempat Mula Jadi Na Bolon bersemayam. Karena perintah itu. pisau yang tergenggam di tangan kiriku ini. Lihat. Ronggur harus duduk. di mana para dewata dan arwah nenek moyang bersemayam di sekita/ Mula Jadi Na Bolon. lalu mengatakan: "Ronggur. Tidak memberi kesempatan bicara lagi. Anakku! Sungai Titian Dewata itu lain dari sungai biasa." Sikap Ronggur masih mau berbicara lagi. kita tidak dapat mengikuti Sungai Titian Dewata bila hendak mencapai tanah landai. Orang tambah merasa dipermainkan Ronggur. Sungai Titian Dewata.

" jawab serentak. lalu jadikan kampung perluasan bagi marga kita! Tawan rajanya! Jadikan budak setiap keturunannya . Raja Partahi. Tunjukkanlah kebe-ranianmu. Bunuh kalau melawan. Tangkaplah mereka di mana saja berjumpa. mulai ma lam ini. "Para perempuan. kampung yang didiami marga kita juga sebagai kampung perluasan. "setelah mengebumikan mayat Ama ni Boltung besok pagi. rampas. Raja Namora. Suaranya deras mengalir dan mengguntur: "Para hulubalang. Setelah Raja Panggonggom duduk. diumumkan awal peperangan dengan marga yang sangat angkuh itu."Huraa . "Apakah seluruh rakyatku. . akan menyediakan makanan bagimu. . seluruh hulubalangku. akan menyediakan alat peperangan untukmu. sehingga suara ratap perempuan tenggelam.!" Kelompok kembali bersorak. Sewaktu dia berbicara. Padamu sekarang terletak tugas untuk menghapus corengan arang dari wajah kita masing-masing. sebentar lagi akan berkumpul di sini. Raja Nabegu berdiri. . Sedang Raja ni Huta. akan dikerahkan Raja Ni Huta menyediakan batu sungai peluru ambalangmu. Raja Namora." kata Raja Nabegu selanjutnya.!" para lelaki dan pemuda bertempik sorak menyambut putusan raja. tunjukkanlah kehulubalanganmu. dapat menerima dan mendukung putusan ini?" "Kami akan laksanakan dengan gigih. Wajahnya lebih tegas dan ganas dari Raja Panggonggom. wajahnya menjadi merah dan matanya menyinarkan cahaya marah yang tidak terpadam-kan. Mereka sekarang sedang menyiapkan segala sesuatu mengumpulkan . Janganlah siasiakan segala bantuan ini! Jadi. . Raja Partahi. pendukung kehormatan marga. Musnahkan kampungnya. Rapat kerajaan hari ini. dan Raja Ni Huta. akan membantu para hulubalang marga dari bidang masing-masing. dari kampung sekitar. . .

aku akan turut melaksanakan tugas. sudah tergambar darah merah basah menetes dari tiap tubuh. bagus. "masihkah kau seorang pemuda?" "Seperti tampak Paduka Tuan. Perbaiki perisaimu!" Lalu. lengkap dengan pemain. dia kembali duduk. Panggillah para dewata agar memberkati seluruh laskar kita. Ronggur menundukkan kepala.pasukan untuk membantu kita. Apa sekalipun!" "Bagus. "Kau Ronggur!" tegur Raja Nagebu. Pergi menyembelih beberapa ekor babi dan mengeluarkan alat perang dari tempat simpanan." "Kalau kau pemuda. Tenunglah dengan kekuatan batinmu! Panggillah para arwah nenek moyang melalui kekuatan sihirmu agar mereka membantu kita dalam peperangan. Raja Panggonggom kembali berdiri." "Ya. Menatap bala tentara yang sudah penuh semangat." Kelompok kembali bersorak dan bertepuk tangan. tentu kau akan melaksanakan tugas pemuda. Mereka. Walaupun usulku ditolak. Raja Partahi dan Raja Namora sudah menyisih dari khalayak ramai. sebagai pemuda marga. Sedang Raja Ni Huta telah menyediakan peralatan gondang. Supaya kita berada di pihak yang menang. bisa . dengan putusan sidang kerajaan ini?" Tidak ada sahutan. asahlah kapakmu! Tajamkan mata tombakmu! Perkuat tali ambalangmu. beberapa mayat bergelimpangan di tanah. Raja Panggonggom lalu mengatakan: "Bapa Paru Bolon Gelar Guru Marlasak. adik-adik kita yang setia. "Ada di antara kalian yang tidak setuju dengan perintah ini. Pada bayang pandangnya.

datanglah bersama kami bapak pargaul pargonci. Di belakang Datu Bolon. Kepala mereka menunduk-nunduk. dan Raja Ni Huta. duduk bersila di atas tanah. bersujud. mulai berdiri. dan supaya semangat terus mengapi tanpa mau padam sebelum musuh ditundukkan. gondang somba-somba. Maju ke tengah khalayak dan di sana membuka parhalaan." Datu Bolon Gelar Guru Marlasak berdiri. Habis itu. Datu Bolon menemani mereka membasmi musuh. Datu Bolon meminta agar dimainkan pula gondang Mula jadi na Bolon sebagai penghormatan yang mutlak terhadap pencipta asal kehidupan dan yang kepadanya akan kembali segala yang hidup. dijadikan budak belian. Kemudian membaca jampi-jampi. disemburkan ke sekitar. memberi hormat pada arwah halus yang tadi dipanggil. Tangan yang dua. Orang pada berdiri. palulah gondang somba-somba Gondang pun dipalu. bersiap-siap mau manortor. Kemudian. mulutnya bergerak-gerak. dirapatkan dikening. mahluk halus penjaga tanah yang tidak dapat dilihat mata semangat poyang tujuh keturunan kupanggil kau.mengalahkan musuh. Raja Partahi. tempat kerajaan baru khalayak ramai. Cepat pula diiringi Gondang . Kemudian bersemadi entah beberapa lama. telah kembali duduk di tempat semula. Datu Bolon meneriakkan dengan suaranya parau: mahluk halus penjaga rumah. ludahnya yang merah karena mengunyah sirih. Di saat itu. Setelah memberikan tanda. Raja Namora.

. dima inkan Gondang Husahatan. Orang kembali duduk ke tempat masing-masing.Bataraguru. supaya tiba ke tempat yang dicitakan. Habis itu. Melumpuhkan semangat musuh agar tidak berani menghadapi laskar mereka. memurkai dan mengutuk musuh. Lalu Gondang Debata Sori mengikutinya agar dewata Sori memberi kebijaksanaan bagi para hulubalang dalam menyusun strategi perang. memohon pada seluruh dewata. kemudian mengatakan. Setiap yang berpihak pada kebenaran. Dan. Cepat-cepat dia mendekati kelompok kerajaan. Gondang Sitio-tio. Lalu menyusul Gondang Balabulan. agar merahmati mereka. sehingga mereka tidak mengenal menyerah. Kemudian. dan laskar menyambut dengan sorak-sorai dan gemuruh. kekuatan jiwa dalam menghadapi saat yang genting." Raja Ni Huta cepat memberikan yang diminta Datu Bolon. Kembali sorak-sorai. menyusul Gondang Habonaran. langsung dari leher ayam yang dipulasnya. begitu pula para hulubalang. "Bawalah ke mari seekor ayam jantan putih yang sudah bertaji. memberi keselamatan bagi mereka semua. sehingga menitikkan darah. Datu Bolon langsung menjampi ayam itu. baik kerajaan. baik dalam pertempuran. agar Dewata Balabulan. sampai kepada kemenangan akhir. yaitu yang menunjukkan bahwa mereka memang berada di pihak yang benar. pasti akan menang. Datu Bolon mengakhiri tortor itu dengan menjampikan pantun kemenangan: Mendaratlah perahu meniti ombak ketanah landai berangkat kita ke medan perang pantang pulang sebelum menang Semua. Sebagai penutup. dipulasnya leher itu. begitu pula untuk selanjutnya. lalu menyuruh mereka mereguk darah ayam yang masih mentah itu. Datu Bolon masih di tengah lingkaran. Tapi. agar Dewata Bataraguru memberi kekuatan jiwa bagi mereka dalam menghadapi musuh.

Meratapi mayat Ama ni Boltung. Raja Panggonggom menyambut mereka.Bangkai ayam diletakkan di tengah kelompok. Seranglah mereka dari segala arah. Datu Bolon meloncat dari jongkoknya sambil berteriak dan memekik. Seperti tidak tersangkakan. Setiap Raja Ni Huta pangkat . dengan basa-basi kerajaan. masih muda. lengkap dengan pasukan. Raja Ni Huta dari kampung sekitar yang masuk pangkat adik. Datu Bolon telah membagikannya pada golongan raja. Pada tengah malam. kemudian melaporkan bahwa mereka sudah siap sedia melaksanakan perinlah dan pangkat abang mereka. Di saat begitu ratap perempuan dari Sopo Bolon kembali terdengar. Kamu bisa menyusup dari sana ke tengah kampung tanpa dihalangi duri bambu yang rapat dan keras. Raja Ni Huta yang pangkat adik itu. Kembali dia bersemadi. entah berapa lama. Raja Ni Huta yang tujuh orang itu. Di sana bambu duri pagar desa. hampir tidak kedengaran. telah tiba di sana. Dalam saat begitu. gondang dipalu orang perlahan-lahan. Kamu bisa menerobos pertahanan kampung induknya dari arah timur. duduk dekat raja. Kemudian berdiri tegak lurus. sebagai wakil para dewata memakan daging sembahan. Desak mereka sampai ke tepi kampung induk marganya. Di saat dagingnya belum masak benar. jadikanlah budak belian. mereka bakar langsung dengan bulunya sekali ke dalam api unggun. di tengah lingkaran. Para laskarnya bersatu dengan laskar yang sejak tadi ada di sana. Ayam jantan putih tadi. Lalu mereka mengambil tempat. yang berarti ada tujuh kampung lagi masuk lingkungan kerajaan marga itu. Kucar-kacirkanlah mereka! Tawan setiap lelakinya yang masih hidup! Begitu pula para perempuan. Bunuh kalau melawan atau berusaha melarikan diri!" Orang kembali bertempik sorak. lalu mengatakan: "Besok pagi bila fajar pertama terbit. serbulah musuh.

yang diiringi oleh seluruh rakyat yang mereka bawa. Dalam bergembira itu. Raja Panggonggom turun dari tempatnya. Raja Ni Huta yang tujuh orang itu manortor bersama. terlupa terjun besok pagi ke kancah pertempuran. kedengaran Raja Panggonggom berkata: Rotan ras rotan singorong mengikat keutuhan marga bersatu raja dan hulubalang menjunjung martabat marga Raja Ni Huta yang tertua menyahut: Berbaris kami seperti gajah di hutan balantara perintah raja menjadi suluh kami abdi abadi '. bersama Raja Nagebu. menyelempangkan ulos-batak ke tiap pundak Raja Ni Huta yang tujuh itu. Para hulubalang. Mereka terus margondang dan terus manortor. memakai bolatan juga. Pertemuan itu tidak bubar sampai pagi hari. . Tuak dan daging babi terus dihidangkan sampai hampir setiap orang sempoyongan.adik itu. Lalu. telah selesai menyusun strategi dan taktik peperangan sesuai dengan petunjuk Datu Bolon. tapi warna putihnya lebih kecil dari Raja Ni Huta yang berdiam di induk kampung marga. Raja Panggonggom melanjutkan: Tujuh sisiku menghadap tiap penjuru indah mimpiku hulubalang perkasa punyaku Khalayak ramai serentak menyahut: Kami genggam tombak tombak pusaka godang bila raja bersama khalayak bahagia rakyatnya Lalu gondang pun kembali dipalu. Tortor yang menunjukkan kesetiaan. Lalu.

Kemudian menurun ke sawah yang baru dibajak. Sambil bertempik dan bersorak. yang punya tanah tipis dan di bawahnya batu alam yang keras. juga membawa senjata seperti yang mereka bawa. yang sudah dibius semangat itu. Debu mengepul ke udara di tempat kering.Ronggur selalu menyisih dan meminum tuak seperlunya saja. Dia tahu pasti. Manusia di seberang kali sana pun bertempik sorak. Bercampur baur dengan udara yang terik. orang yang sedang dibius semangat. malah menjunjung putusan kerajaan. hardik dan hasutan. memusnahkan musuh. Dia melihat orang yang sedang menari. bergerak menuju sasaran. Lengkap dengan Datu Bolonnya. Jarak antara kedua pasukan itu dipisah sebuah sungai kecil yang airnya dangkal. Mengisi seluruh lapangan terbuka. Batu yang dilemparkan ambalang. semua itu harus ditekan. untuk memasuki nasib yang tidak terduga. Di sayap kanan dan kiri para laskar. Dari segala arah kedengaran pekik dan jeritan. Tak ubah seperti kerajaan marga mereka sendiri. Kerajaan dari marga lain itu. Di depan sekali berjalan para hulubalang. Lumpur berhamburan . berterbangan di udara. Wajah manusia itu tak ubah seperti wajah mereka sendiri. turut bersama laskarnya. Kemudian kerajaan. Tapi. Mati! Semua bayangan kemungkinan ini mempengaruhi pikiran dan perasaannya. Kemudian jatuh mencari sasaran. Mereka dihadang musuh pada sebuah sungai kecil. mendendam. marah. Usulnya ditolak! Tapi. Pasukan dari marga lain itu. menghalau dingin dari tubuh sehingga keseimbangan pikirannya tetap terpelihara. beberapa orang di antara mereka akan jatuh menjadi korban dalam peperangan. orang yang sedang bernyanyi. semangat usul itu tetap berakar dalam hati. Bersama terbitnya fajar pagi yang memancar dari balik puncak Dolok Simanuk-manuk. Seolah matahari mau membakar setiap tubuh manusia dan bumi. Mengacungacungkan senjata tajam. para lelaki yang marah itu. Dia harus turut. kepala manusia.

lalu mengotori wajah manusia di tempat basah. Tempik dan sorak, pekik, hardik, dan hasutan terus menerus bergema. Pasukan kedua marga yang sedang marah itu, sorongmenyorong. Tidak ada yang mau kalah. Jarak antara keduanya bertambah dekat. Ambalang tidak digunakan lagi. Langsung tombak, panggada, dan kampak dipukulkan dan ditangkis perisai. Siapa yang jatuh, jatuh tersungkur tanpa diperdulikan, malah menimbulkan kegembiraan bagi orang yang dapat merubuhkannya. Kedua pasukan marga itu sudah sama-sama terjun ke dalam sungai. Di sana mereka bersicucukan, bersihantaman, dan bersipu-kulan dengan segala macam taktik dan cara. Matahari terus bersinar terik. Pasukan kedua marga itu sama banyak, sama kuat, dan sama berani. Sehari itu keadaan pertempuran tidak berobah. Beberapa orang yang luka di bawa ke garis belakang oleh para perempuan. Beberapa-orang yang mati dibawa ke garis belakang juga, tapi tidak sempat ditangisi. Anak-anak pun sudah turut serta. Mengumpulkan batu, yang segera diberikan pada para lelaki pemegang ambalang. Tapi, batu itu tidak sempat lagi dilemparkan dengan ambalang, langsung dilemparkan tangan. Dan terkadang tidak jarang, anak itu turut terjun ke tengah pertempuran untuk memukul atau dipukul. Bila senja tiba, kedua pasukan marga itu saling meninggalkan daerah pertempuran. Mereka disambut gendang dan tortor para orang tua, para perempuan, para gadis di induk kampung. Daging babi, tuak, terus diedarkan membakar semangat bertempur. Datu Bolon terus-menerus menjampi. Lalu, memberi nasihat baru. Dan, bila fajar terbit lagi, mereka kembali terjun ke daerah pertempuran. Di tengahnya, Ronggur mengamuk ke kiri dan ke kanan. Ronggur bersama beberapa pemuda menyusup ke depan, berusaha mengkucar-kacirkan daerah musuh. Susupan

mereka ini cepat diikuti gelombang kedua, ketiga, dan keempat, yang membuat pertahanan musuh tembus. Musuh kelabakan. Tapi, yang hendak dikucar-kacirkan itu, tidak mau menyerah begitu saja. Mereka juga mengadakan perbaikan pada pertahanannya dengan cepat. Lalu mengadakan pukulan balasan. T api, pasukan marga Ronggur mengadakan desakan yang terus-menerus, bertubi-tubi, sehingga garis pertahanan musuh mulai dipukul mundur. Sampai akhirnya mendekat ke kampung musuh. Malam itu pasukan marga Ronggur tidak kembali ke induk kampung. Mereka terus mengepung induk kampung musuh. Pagi berikutnya pasukan marga Ronggur menyerbu induk kampung musuh dari sebelah timur, seperti yang dinasihatkan Datu Bolon. Melalui bambu duri yang masih muda, mereka menerjang ke tengah kampung, dengan pekikan yang melengking. Dengan segala tenaga yang ada, marga yang diserbu itu mengadakan perlawanan. Ikut sudah para perempuan, baik yang tua begitu pula yang masih gadis. Tampaknya tidak akan habis perlawanan itu sebelum mereka mati semua. Mampus semua. Dari tempat ketinggian, sekali waktu Ronggur melihat, anak gadis Raja Nabegu kampung yang mereka serbu, turut mengadakan perlawanan. Rambutnya yang panjang terurai lepas. Dibasahi oleh keringat. Dilihat biji mata Ronggur sendiri, sudah ada dua tiga orang pasukan marganya ditumbangkan anak gadis itu. Dengan satu loncatan jarak jauh, Ronggur sudah berada di hadapan perempuan itu. Mata perempuan itu memancarkan sinar merah, mengapi, hendak menelan Ronggur bulat-bulat. Perempuan itu memukulkan penggada ke arah Ronggur. Tapi, Ronggur mengelak dengan melompat, dan peng-gadanya sendiri mengenai tengkuk perempuan itu sampai jatuh ke tanah. Dalam hati Ronggur berucap “Sungguh perempuan pemberani!"

Juga, sekali waktu menumbangkan seseorang yang sedang membidikkan tombaknya ke arah Raja Panggonggom marganya. Sewaktu Raja Panggonggom dan pengawalnya ke arah lain. Cepat Ronggur menyergap orang itu. Tapi, tangannya sendiri, lengannya, luka. Namun musuhnya dapat ditumbangkannya dengan menghantamkan penggada ke kepala musuh. Otak meleleh dari luka. Raja Panggonggom melihat ini semua. Luka di lengannya cepat dibalut Ronggur. Lalu terjun lagi ke tengah pertempuran yang dahsyat itu. Asap pun mulai mengepul. Rumah sudah mulai dibakar. Padi dari lumbung desa diangkut, juga harta rampasan perang. Para lelaki yang belum mati, begitu pula para perempuan yang belum mati, ditawan. Untuk dijadikan budak belian. Yang sampai keturunannya kelak akan tetap dan tidak bisa terangkat dari martabat budak. Tidak akan berhak lagi mengadakan pekerjaan adat. Harus patuh setiap saat mengerjakan apa saja yang diperintahkan tuannya. Kampung berdekatan dengan induk kampung itu sudah dibakar. Perang sudah berakhir. Kekalahan dipihak marga yang diserbu. Para rakyatnya yang masih hidup sudah ditawan, dirantai. Ronggur teringat pada perempuan yang ditumbangkannya. Cepat dia menuju ke sana. Keringat melelehi seluruh tubuhnya. Entah kenapa hatinya mengharapkan agar pukulannya hendaknya tidak terlalu keras. Dia mengharapkan, hendaknya perempuan itu masih hidup. Dia mau menawannya. Merasa bersyukur dia, perempuan itu masih merintih. Cepat dia mengambil air lalu diusapnya wajah perempuan itu dengan air. Kemudian diberinya minum. Didengarnya suara gadis itu perlahan mengatakan:

air mata. Di sana mereka meratap dengan lemah. Nanti akan dibagi-bagikan pada tiap keluarga."Aku harus bersama kalian. abang mereka yang pulang dari peperangan sebagai pemenang. Dia dapat menghargai keberanian dan semangat perlawanan yang dipunyai perempuan itu. Matahari sore dengan lembut memancarkan sinar. Sampai mati!" margaku. Ronggur tersenyum mendengar rintihan itu. Perempuan itu selalu meronta dan ingin melepaskan diri. dan lelaki yang luka menyambut mereka. seperti sudah turut lesu menyaksikan peperangan yang baru saja berakhir dan banyak menimbulkan korban. terutama pada keluarga yang suaminya atau anak lelakinya jatuh sebagai pahlawan di medan laga. Menjadi sumber rintihan. Begitu pula anak-anak yang masih digendong. hai lelaki Pertahankan martabat marga kita. Lebihnya akan dimasukkan ke dalam lumbung desa. tidak dikunjungi anak lelakinya lagi. Sebagian disuruh mengangkut harta rampasan. Sambil melangkah mereka lagukan nyanyi kemenangan. karena mati dalam pertempuran. Ronggur tersenyum saja dan terus menarik tali dengan tabah. Tangan menarik para tawanan. pergi bersama ke Sopo Bolon mengasingkan diri dari orang yang sedang bergembira. Dengan pekik kemenangan pasukan laskar marga Ronggur menuju pulang ke induk perkampungan. karena mereka telah . lelaki yang sudah tua. Ronggur menarik tali yang mengikat perempuan yang ditawannya. disuruh ibunya melambaikan tangan ke arah ayah. Agar tidak mengotori rasa gembira pada Mula Jadi Na Bolon dan seluruh para dewata serta arwah nenek moyang. Diusahakan agar tidak mengganggu kegembiraan para pahlawan yang menang perang. dan dendam. Sedang para perempuan yang tidak dikunjungi suaminya lagi. para perempuan. Di gerbang kampung.

Diizinkan mereka mendirikan rumah di situ. ditunjuk beberapa orang yang cukup berjasa menjadi Raja Ni Huta. Justru karena Ronggur tidak punya adik perempuan. "Ronggur. Upacara kemenangan pun diadakan. Kampung marga yang mereka kalahkan. Raja Ni Huta induk kampung musuh yang ditaklukkan itu. Dikatakan pula. Gondang dipalu dan tortor kemenangan ditarikan orang bersama-sama. karena dia belum berumah tangga. Dia anak tunggal. lalu. Pada tiap kampung sebagai pelaksana adat dan penyelenggara hukum. mencabuti rumput sawah bila saatnya tiba. akan dijadikan kampung perluasan bagi marga mereka. dalam pertempuran kau telah menyelamatkan nyawa kami. Sendirinya pula daerah taklukan mereka bertambah luas. Jadilah kemudian kampung itu menjadi kampung perluasan marga. yang dengan sendirinya mengangkat martabat marga dan raja mereka. Sebagai penutup upacara Raja Panggonggom mengucapkan terima kasih pada seluruh laskarnya. menjadikannya sebagai budak untuk membantu ibunya yang sudah tua mengerjakan urusan rumah. jadi belum cukup dewasa dalam peralatan adat dan hukum. Pun. Tanah persawahan rampasan juga ditentukan jatuh ke tangan siapa. Yang harus tunduk ke induk kampung.Beberapa ekor babi dipotong lagi dan darahnya diminum bersama. dikuasakan pada Ronggur. Raja Panggonggom melirik secara khusus pada Ronggur. Tapi. Permintaan itu dikabulkan. Baik yang sudah mati begitu pula pada yang masih hidup. Sekarang giliran kami membalas jasamu yang besar itu. . ditunjuk .dipilihnya menjadi pemenang. Katakanlah. kehendakmu!" Ronggur memohonkan agar padanya diberi kekuasaan untuk terus menawan tawanannya. Sawahnya akan diambil dan dibagibagikan. dengan suka rela dimintakan pada setiap orang yang mau pindah ke kampung yang ditaklukkan itu. Harta rampasan dibagi.

Sebagai gantinya diberikan kepadanya sawah yang dulu dimiliki Raja Nabegu dari marga yang mereka kalahkan. Memang dia sudah menjadi Raja Ni Huta Muda dan Hulubalang Muda. Sejak hari itu. yang disetujui Ronggur sendiri. Orang selalu menyebut atau . sehabis pesta kemenangan itu cepatcepat mengerahkan rakyat yang suka rela pindah ke induk kampung musuh yang dikuasakan padanya. Beberapa nama pahlawan timbul. Tapi. Ronggur sendiri. Untuk beberapa hari. Mereka tebarkan dari mulut ke mulut sambil memetik kecapi. Walaupun pesta sudah selesai. ingatan orang masih tetap terpaut ke sana. baik dari marga sendiri begitu pula dari marga lain yang masih banyak bertabur di sekitar danau. orang tidak berani lagi atau tidak wajar lagi menyebut nama kecilnya. Membangun perumahan baru di atas puing-puing reruntuhan. Pesta kemenangan dilangsungkan tiga hari tiga malam. cepat dilupakannya. menghapal jalannya pertempuran lalu memindahkannya ke bentuk yang dapat dinyanyikan. Ronggur dikenal orang sebagai Raja Ni Huta Muda merangkap Hulubalang Muda. menjadi tokoh keberanian dan ketangkasan serta kesetiaan termasuk nama Ronggur sendiri. Sawahnya yang ada dekat induk kampung marganya diserahkan pada kerajaan. orang masih tetap dipengaruhi suasana kegembiraan menang perang. Oleh tugas yang banyak dan memang dia sendiri ingin cepat melupakan saat menanjakkan marganya ke tingkat yang lebih tinggi dan meningkatkan kedudukan dirinya sendiri. Di sana sini Ronggur mendengar orang mengatakan: "Dengan cara beginilah kita harus menguasai tanah persawahan subur yang ada di sekitar danau untuk melanjutkan keturunan." Beberapa orang ampangardang.seseorang menjadi walinya.

menjadi orang . Yang agak besar. pada mereka sampai juga berita dari sekitar danau: marga anu berperang dengan marga satu lagi. Sumber malapetaka tetap sama: air parit dan batas tanah. Juga mereka diajari memanjat pepohonan tinggi supaya tidak gamang. Jumlahnya lebih banyak malah. Orang yang kalah dijadikan budak. memencilkan diri ke tanah tandus di kaki bukit. Padi di sawah sudah bunting. menumbuk padi di halaman perkampungan sambil bernyanyi. Anak lelaki diajar membaca dan menulis huruf Batak.memanggilnya dengan Raja Ni Huta Muda dan Hulubalang Muda. Yang membuat ingatan orang sudah menipis pada peperangan yang baru lewat. Lambat-laun kehidupan kembali tenang. ccdw-kzaa 2 Rumah baru sudah berdiri pengganti rumah yang dulu terbakar. Bila bulan purnama. Saat yang baik bagi pemuda pergi martandang ke kampung paman mencari jodoh. Pekerjaan orang kembali senggang. Tapi. Darah yang tercecer ke lumpur sawah sudah bercampur baur dengan tanah menjadi pupuk di musim mendatang. Kuburan yang digali tempat abadi bagi orang yang mati. Tidak tampak lagi warna merahnya. Anak-anak sudah ada berlahiran. Masa merumputi sudah lewat. sudah ditumbuhi rerumputan hijau. diajari menggunakan senjata. Lu hak anu berperang dengan luhak satu lagi. pengganti yang mati dalam peperangan. Cerita kepahlawanan disampaikan pada mereka. Tapi. dan menerima datangnya partandang. yang sempat melarikan diri. Para gadis belajar memintal benang dan bertenun.

Dan. Dia boleh pergi ke padang-padang luas. merasa senang juga. Dia yakin kalau memperoleh perlakuan yang baik budak itu tidak akan melarikan diri. dia lebih banyak menyendiri. justru karena gadis yang sebaya dengannya dari suku Ronggur tidak mengawaninya. Orang buruan ini membuat rumahnya di dinding bukit dan gua. mengembara. Di sana dia menghabiskan hari. ketenangan yang sekarang dikecap marganya masih tetap mengandung sesuatu kemungkinan yang menakutkan. Padanya tetap diberikan Ronggur kebebasan bergerak. Karena itu. Ini jugalah yang mendesaknya agar setiap hari pergi jauh dari kampung ke tempat terpencil yang jarang dikunjungi orang. Setiap warta pecahnya perang antara satu marga dengan marga lain selalu membuatnya berduka. melawan tradisi yang sudah tertanam dan berurat akar di hati manusia yang ada di sekitarnya. Masih merasa takut dia. Walau sudah sering diminta ibunya. wanita tawanan itu. Perlakuannya pada wanita tawanannya berbeda dengan perlakuan orang lain yang punya budak terhadap budak masing-masing. dan berburu bersama anjingnya si belang. dia belum. Karena memperoleh perlakuan yang baik itu. keyakinan yang digenggamnya ini belum berani dia menyampaikannya pada orang lain. Tak ubah seperti kebebasan yang ada pada orang merdeka. Jadi. dia masih tetap menampik. Namun perasaan terpencil tetap menguasai diri Tio. . Bila temannya sebaya sudah banyak berumah tangga. masih merasa kecil dia menurut anggapannya. Dia masih tetap memandang dan memperlakukannya sebagai manusia yang punya hak.buruan. akhirnya Tio. bagi Ronggur. Ronggur tidak merasa kuatir kalau budaknya itu melarikan diri. Tapi.

Berburu bisa membuat Tio asyik. ingin pergi jauh. yang dibakar dan dipanggang. dia harus membunuh elang yang seekor itu. Atas bantuan si belang. Ronggur tidak segan-segan melemparkan pujian yang menurut perasaan T io terkadang terlalu menyanjung. sesuatu keinginan selalu timbul di dadanya. Di hatinya timbul niat. Dengan mata tombaknya yang pasti arahnya. Berkeliling pada satu lingkaran. Hari itu. yang belum pernah ditempuh manusia. Seolah elang itu datang dari balik gunung dan hendak kembali ke balik gunung. Di saat putus asa mulai mencekam hati. Merasa kurang enak baginya untuk menghianati seseorang yang menghormati dirinya'dengan sewajarnya. Namun keluh akhirnya mematikan keinginan itu. Pertanda elang itu mau hinggap.Tio menyendiri sampai ke kaki bukit. dengan lemparan ambalanganya yang deras. setelah menyambar seekor induk ayam dari kampung. Dapat dipastikan Tio bahwa . dia bisa membunuh binatang buruan itu. akan mengejarnya ke mana saja. elang itu mengadakan putaran. tempat kawanan burung berondok. Dan. Lagi pula kalau dia lari. Dari situ dia dapat melihat danau di bawah. Kemudian membawanya pulang. Tio sedang mengikuti arah seekor elang terbang. Pertanda elang itu akan hinggap belum ada walau mendekat ke kaki bukit. Dia dibenturkan kembali pada kenyataan bahwa dia bukan orang merdeka. Matanya terus-menerus menangkap elang hitam yang terbang. yang sudah banyak menyambar ayam kampung. Dengan lahap Ronggur akan memakan daging binatang buruan itu. Ronggur selalu tertawa lebar bila dia pulang dengan hasil buruan. lalu terus mengikuti arah elang itu pergi. Kalau lari saja? Ronggur sudah berbuat baik terhadapnya. Dia akan dapat ditangkap Ronggur. Terkadang harus berlari kecil mengikuti elang yang terbang di atas. Ronggur lelaki yang paling jahanam. Tio dapat mengetahui tempat seekor pelanduk bersembunyi.

kepaknya mengenai salah satu dahan. Lalu. Sayang sekali peluru ambalangnya hanya mengenai buntut elang. "Muncung tombakku tertancap di dadanya. Tio terus mendekat menuruni jenjang lembah.pohon yang tinggi lagi rimbun dedaunannya." Tio masih terpaku pada tempatnya. Langsung tertancap ke dada elang. pada salah satu dahannya. Ronggur sudah ada di hadapan Tio. waktu itulah. sambarannya jatuh ke tanah. Dan. Mau terbang. dari arah lain sebuah tombak terbang cepat. Merasa malu akan ketololannya. Bersama senyum kemenangan. Si belang sudah mengerti bahwa mereka sedang mengadakan perburuan. Lalu melepaskan peluru. Saat yang baik itu tidak dilewatkan Tio. Tapi." kata Ronggur. Elang itu cepat menukik ke bawah setelah mengadakan putaran entah beberapa lama. Wajah Tio menjadi merah padam dan merasa kesal bercampur malu. di situlah sarang elang itu. Elang itu mengarah ke lembah. Ronggur memanggilnya agar datang mendekat. Ronggur berkata: "Sudah mampus penyambar ayam yang paling jahanam ini. Atau. Karena terkejut elang itu buru-buru mengepakkan sayapnya. Seketika napasnya serasa terhenti melihat peluru ambalangnya mengenai sasaran atau tidak." "Aku tahu. Elang itu mengikutkan sambarannya ke bawah. kenapa dia tidak menggunakan tombaknya? Sebuah tawa meledak di antara rimbunan ilalang. di mana batang pohon besar itu tertancap ke tanah. Hulubalang Muda. gelepar akhir. . "Lihat. Baru dia bergerak. Elang itu jatuh ke tanah bersama gelepar lemah. Suaranya halus dan menggetar. kenapa peluru ambalangnya tidak mengenai dada elang jtu. Si belang berlari cepat ke tempat suara itu bersumber. Cepat dia mengayun ambalangnya." sahut Tio.

Ronggur menatapi T io lama-lama hingga T io menundukkan kepala menatap tanah. "sejak saat ini kuminta." sahut Tio. Si belang kembali menjauh. tapi masih diusahakannya mengatakan. Membawanya ke dekat mereka berdua. Ronggur menjauh. Buntut elang kena membuat elang tidak bisa cepat terbang. Kalau mereka menegur kau. "maukah kau berjanji akan melaksanakan permintaanku?" "Aku sudah ditakdirkan akan melaksanakan sebaik mungkin segala perintah Hulubalang Muda. Yang mengurus mereka ialah aku." mata Ronggur lama menatap wajah gadis itu. katakan aku yang menyuruhmu. lalu. Kalau buntutnya tidak kena ambalangmu." kata Ronggur seraya memegang bahu anak gadis itu." "Dengarkan baik-baik. habis perkara. belum tentu muncung tombakku bisa tertancap di dadanya." "Hulubalang Muda terlalu melebih-lebihkannya. Cukup begitu. peluru ambalangmu sangat deras dan bagus arahnya. "Itu yang sebenarnya. Ronggur. kau Tio. "Tapi. Lalu. Dan. Di saat itulah aku mengayunkan tombakku. "Bukankah itu menurunkan derajat Hulubalang Muda?" "Sama sekali tidak! Kau harus melaksanakannya!" "Bagaimana nanti kalau didengar orang kampung dan ibu?" "Peduli apa dengan mereka? Sebut namaku." Pundak Tio cepat turun naik. agar kau tidak memanggil aku dengan sebutan Hulubalang Muda atau Raja Ni Huta Muda lagi. si belang memagut ayam yang . Si belang sudah memagut tubuh elang dengan muncungnya. matanya. Wajahnya memerah." Tio tambah tertunduk. Sebutlah namaku. Walau sesuatu rasa menggelusak dalam dada.

Biar kunyalakan api. "Tio. Tidak jauh darinya. Dagingnya tentu enak dimakan. mulutnya tidak dapat lagi dikuasainya untuk tidak menyanyikan sebuah lagu. Tio duduk melihat si belang. Kemudian dibawanya ke tempat Ronggur menghidupkan api. di bawah pohon yang rindang. Ronggur menelentangkan tubuh di atas tanah batu yang cukup keras. Lalu. menjauh lagi." Tio berlari kecil membawa elang dan ayam itu ke parit kecil dekat situ yang mengalirkan air pegunungan yang jernih. mulai membakarnya lengkap bersama bulu-bulunya. Tio mengelus leher si belang dengan lembut.disambar elang tadi dan membawanya ke dekat Ronggur dan Tio. Lalu. Perutnya terasa kenyang. redup mengalun saat siang dan malam antara terik dan nyaman . berpantun: Sanduduk di kaki bukit di atas batu ditimpa sinar matahari itulah siang melilit bumi sanduduk di kaki bukit di atas batu ditimpa sinar rembulan itulah malam. Yang kemudian mendekat kepadanya sambil mengibaskan ekor. Mata Ronggur agak mengantuk. Cukup terik. Si belang masih mengunyah tulang belulang elang dan ayam yang diberikan kepadanya. Tidur di ujung kakinya. keluarkanlah isi perut elang dan ayam ini. Dibersihkannya perut kedua binatang itu. Lalu. Matahari bersinar keras.

Tentu hasil yang dapat diberikan tanahnya akan terasa kurang menghidupi keturunannya. pikir Ronggur. perkampungan demi perkampungan dan berakhir pada tepian danau. Tentu. yang mengintai dengan taringnya yang tajam. begitu pula atas usul Raja Panggonggom. Agar langsung memegang Raja Ni Huta di kampungnya. Tetapi. Pada suatu saat. yaitu orang bertambah banyak sedangkan tanah yang dapat digarap masih tetap itu juga. pikirnya. Di bawah mereka melalui tingkat tanah yang terus menurun. Matahari tambah lama jadi melemah. Hasilnya akan terasa atau memang kurang untuk membekali orang yang hidup di sekitar . Oleh nyanyi T io kembali Ronggur teringat akan permintaan ibunya. Tio teringat pada masa kemerdekaannya. agar nama Muda dari belakang Hulubalangnya dihilangkan. Bila persoalan yang mencekamnya itu diluaskan pada keadaan sekitarnya dan dia tambah merasakan marabahaya yang sedang menantikan.mentari dan gemintang bagi beta tidak berbeda karena hatiku terkenang padamu Ronggur membiarkan Tio menyanyi walau hatinya merasa rawan. akan tiba saat itu. Dia merasa takut. Untuk melahirkan anak lagi. Dalam tiga keturunan saja. meruntuhkan kerukunan kehidupan mereka di tepi danau. Dia disuruh ibunya pergi ke Samosir. lalu kawin lagi. Kemudian anak ini akan menjadi dewasa. jumlah keturunannya bisa berlipat ganda. cepat pula ingatan itu dibarengi bahwa kalau dia berumah tangga. agar dia berumah tangga. ke kampung paman. itu berarti istrinya nanti akan melahirkan anak.

dari mulutnya lalu meledak kata. peperangan. Perlahan-lahan. Ronggur menundukkan kepala. dan sendirinya pula akan lebih banyak kepiluan dan dendam bersarang di hati manusia. tidak disadari Tio. Betapa berbahagia. Yang tidak disangka Ronggur mulanya. Ulos yang paling halus raginya. Ronggur mengatakan. Tio menatap ke arahnya. kau harus belajar memintal dan bertenun Aku akan meminta izin pada Raja Panggonggom” Pada biji mata Tio menyinar cahaya kegembiraan." Warna duka membayang di wajah Tio. Barulah Ronggur sadar bahwa seorang gadis yang berderajat budak tidak dibolehkan belajar memintal dan bertenun. apa usaha yang dapat ditempuh untuk melenyapkan ancaman dari masa itu? Ronggur cepat bangun dari goleknya. kenapa kau tidak belajar memintal benang dan bertenun? Kau sudah harus mengurangi kegemaranmu pergi mengembara. Yang paling baik campuran warnanya” . "Ada yang salah?" tanya Ronggur pula.. betapa bersyukur aku. tapi pasti. "Tio. Tio tetap terdiam dan tertunduk. akan kuusahakan sampai dapat” Karena gembira. Tapi. aku akan menenun ulos untukmu. “Ah. "Betul kau bolehkan aku memintal dan bertenun? Betul kau akan meminta izin pada Raja Panggonggom? Aku akan bertenun seperti gadis lain dari margamu ?" "Ya. Hal begitu sudah tentu akan lebih banyak mengobarkan perkelahian. Lalu.danau. Dia menakutkan masa itu. "Tio. dia memeluk Ronggur sambil mengatakan dengan kegembiraan. Aku. seperti gadis lain. Menenun ulos-batak ialah pekerjaan para gadis yang merdeka. Kau harus belajar memintal dan bertenun. Dia selalu memikirkan.

Kembali dia dihadapkan pada kenyataan. lalu dengan suara pasti dia mengatakan. Begitu pula akhirnya Ronggur. Ada yang hendak kutunjukkan padamu. sungai itu jalan arwah kita kelak. lalu menghilang atau seperti masuk menyusup ke perut pegunungan sebelah timur. Arwahnya akan dikutuki dewata. tidak akan kembali lagi. Ronggur menatap ke sekitar. Sampai akhirnya Tio sadar sendiri. "aku sudah pernah dibawa almarhum ayah dan ibu ke sana." "Menurut cerita orang tua." sahut Tio. "Tio. Matahari bertambah lemah sinarnya. Ronggur diam saja melihat perubahan kelakuan Tio itu. Sedang matanya dengan mesra menancap ke biji mata Tio." "Garis putih yang membelah dada persawahan yang sedang menghijau. Tapi. Dari sana jelas tampak oleh mereka lengkungan tepian danau. melepaskan pelukannya perlahan-lahan. Tio menundukkan kepala perlahan-lahan. Karena jatuh ke tebing ujung dunia." "Tahu juga aku. Tidak terik lagi. Lalu. Telunjuknya mengarah ke teluk itu sambil mulutnya mengatakan. di sanalah bermula sungai T itian Dewata. Beberapa saat terdiam. Pada salah sebuah teluk dapat diketahui Ronggur bahwa di situlah bermula sungai Titian Dewata. sungai itu berakhir ke ujung dunia." Mereka mendaki tanjakan bukit sampai tiba ke pundak pertama. menuju tempat Mula jadi Na Bolon. Barang siapa yang berani me layari sungai ke muara atau berusaha mencapai muara. mari ke pundak bukit pertama." kata T io. itulah jaluran sungai. "Dapat. "Tio." "Aku tahu. . Dapat kau lihat dan perhatikan garis putih itu?" tanya Ronggur.Ronggur membiarkan Tio begitu.

" "Menurut cerita yang ada di sana. juga sudah kuselidiki dalam pustaka yang tua bahwa sungai itu tidak ada dikatakan berujung di akhir dunia. memang begitu. aku berpendapat bahwa sungai itu pun akan tiba ke tanah landai yang subur." "Ya. janganlah marah padaku. Terus menatap ke arah sungai." "Begitu menurut cerita mereka. sampai ke mana bisa seseorang nelayan menangkap ikan. kau pun sependapat dengan mereka. Aku bisa membaca dan menulis dengan baik. setiap sungai menuju tanah landai dan subur." "Kalau begitu. Sering sekali. lain dari sungai yang lain. Buktinya sampai sekarang tidak ada orang yang berani melintasi daerah yang telah ditentukan. Ronggur mengaju tanya padanya: "Apakah kau juga sependapat dengan mereka bahwa sungai itu berakhir di ujung dunia itu?" "Begitulah kata mereka. sungai Titian Dewata berakhir ke ujung dunia. Ada apa kiranya?" "Apakah kau tidak bisa punya pendapat sendiri?" "Apa maksudmu?" "Apakah kau tidak sering membaca pustaka di rumah ayahmu dulu?" "Sering." "Kepercayaan yang diwariskan kepada kita mengatakan. Sedang Tio melirik ke biji mata Ronggur yang menyinarkan sesuatu arti. Aku tidak mengatakan yang lain. juga sungai ini.Ronggur diam seketika." dapat ." "Entah bagaimana.

Dia akan jatuh ke tangan orang lain yang pasti akan memperlakukannya sebagai budak biasa. Yang berarti bunuh diri. aku memang mau melayarinya. timbul bisikan dalam hatiku. Dia takut kalau Ronggur benar-benar melayari sungai itu." "Itu berarti bunuh diri. "Tapi. angin sore yang nyaman." lanjutnya pula." kata Ronggur." sahut Ronggur tanpa memperhatikan wajah Tio yang menjadi pucat. setiap tahunnya manusia yang hidup di sini yang memerlukan tanah garapan bertambah banyak juga? Akhirnya tanah yang tadinya terasa luas. Dia mengharap dapat menggagalkan maksud Ronggur dengan ancaman begitu. "Kenapa kau beranggapan bahwa sungai ini lain?" tanya Tio memecah sunyi. akan terus bertambah sempit. Dia akan tinggal di dunia ini. Seperti perang antara margamu dengan margaku. daerah perluasan. Tio menjadi takut pada ucapannya itu." potong Tio." . Tidak ada yang berkata. Tahukah kau Tio bahwa tanah selingkar danau ialah tanah subur? T ahukah kau. "Sudah lama niat ini menguasai dadaku. tanah hubungkasan. "tapi. Ronggur cepat pula mengatakan: "Dengar dulu yang kumaksud. "apakah kau berniat hendak melayarinya membuktikan kebenaranmu?" Tapi. aku melayarinya bukan bermaksud untuk membuktikan bahwa aku berada di pihak yang benar. Angin turun.Ronggur terdiam. T api. Arwahmu akan tidak diterima dewata. Akibatnya akan bertambah banyak pertengkaran yang memungkinkan pecahnya peperangan. setiap tahunnya bertambah sempit. Kebebasan akan benar-benar direnggutkan orang. Aku mau berusaha mencari tanah garapan baru. "Ya. Perasaan takutnya tambah mencekam. Dan. Keheningan mengambang di antara mereka. sungai itu pun sama dengan sungai yang lain.

dengan suaranya yang nyaring. Aku tidak bermaksud membongkar yang sudah lewat. Wajahnya menjadi muram dan sedih. Sampai ke mana dia tiba. Dan. Pertengkaran karena setapak tanah. Ini sudah pasti. sebelum saat itu tiba. walaupun nyawaku sendiri menjadi taruhannya. akan tambah banyak terjadi. aku menemui sebuah danau yang sangat luas. marga lain. bila tanah habungkasan tidak ditemui. aku harus turut memikul bebannya. jauh lebih luas dari . Tidak bermaksud aku mengingatkanmu ke saat kejatuhan margamu. karena setitik air parit. Mengajak aku memulai perjalanan mengikuti sungai. dengan berani menantang segala aral-melintang. sudah ada tiga gelombang peperangan antara marga satu dengan. Cobalah turut mendengar berita bahwa setelah perang antara margamu dengan margaku selesai. Penuh pepohonan dan tanahnya begitu landai. kupikir." Seketika Ronggur berhenti.Tio tertunduk. Mimpi menghimbau aku selalu dari tempat jauh. Tidak! Tapi. Orang yang berani dan bertanggung jawab akan masa datang. Berani menantang sesuatu yang dirasakan ialah satu kepercayaan bagi kebanyakan orang. dalam mimpi itu. Dan. harus mulai sekarang memulai kerja ke arah itu. Tio tidak membumbuhi cakap Ronggur yang panjang itu. yang akan menimpa manusia yang hidup di sekitar danau di hari mendatang. sudah berapa kali lagi peperangan terjadi di antara marga? Kalau tidak salah. Karena aku merasakan persoalan itu. Dibiarkannya Ronggur meneruskan: "Sudah sering Tio. peperangan itu akan bertambah banyak lagi timbul di masa mendatang. Jadi. harus ada usaha mencari tanah habungkasan. berani menantang segala cerita yang bersifat menakut-nakuti. aku diganggu mimpi. "Janganlah bersedih. karena kurasa kau dapat merasakannya. aku mau mengatakan. Dalam mimpi itu selalu aku dibawanya ke suatu tempat yang teduh. merintis jalan.

dia mengatakan: "Barangkali itu godaan setan jahat. Dengan suara tersengalsengal. arwah almarhum ayah yang datang padaku. kemudian bertambah merah. Apakah tidak mungkin." untuk pertama kalinya Tio menyebutnya hingga Ronggur merasakan satu desiran menyinggung hatinya. "barangkali. Cerita itu. memanggil aku. Merangsangku di saat jaga. Pada mulanya warna Jingga. Tio berbuat begitu." Wajah Tio bertambah pucat. Kau perlu berobat pada dukun. itu setan yang menyaru. selagi aku di dekatmu. wajah almarhum ayah. Tanah yang kutemui dalam mimpi itu begitu gemburnya. Dibiarkan Ronggur. mirip sekali dengan wajahku. menunjuk tanah habungkasan yang subur padaku?" "Ronggur." "Tidak Tio. menelungkup di sana." "Aku takut mendengar ceritamu. Itu yang selalu menemani tidurku. lembayung . Entah berapa lama. Sore dengan perlahan beralih pada senja." kata Tio lagi." "Ronggur." "Tidak Tio. Aku kau lihat sendiri. mula duka cerita yang akan mendatangi diriku. Jangan sampai kekuasaan setan tertanam didirimu." "Jangan berkata begitu.Danau Toba yang kita kenal ini. Kata orang. "aku merasa takut! Aku takut!" "Janganlah takut. Tidak seperti tanah di s ini. akan merasakan tubuhnya kurang sehat." Tio begitu saja menyandarkan kepalanya yang terhisak ke bahu Ronggur. tetap sehat dan pikiranku tetap waras. tanah tipis yang menyaputi batu alam yang keras. Wajah orang yang melambai aku dalam mimpi itu dan menuntun jalanku mirip sekali dengan wajahku. Berobatlah cepat-cepat. Orang yang digoda setan.

"Ibu. "Ceritalah kembali ibu. walaupun itu bertentangan dengan adat. Angin tambah lemah. tidak terdapat atau dengan sengaja diadakan keharusan bahwa seorang budak harus belakangan makan. Sambil menggonggong. Dan. yaitu memakan sisa tuannya... dia sudah memilih teman yang akan diajak turut serta. Ibunya menyambut kedatangan mereka berdua di ambang pintu. Sedang ibunya tidak berdaya melawan kehendak Ronggur. bermarga. Meruntuhkan satu kepercayaan. yang menurul pertimbangannya masih tetap membawakan sifat dan kelakuan sebagai anak raja. Orang yang berpapasan dengan mereka tidak berapa mereka perdulikan. Ibunya pun merasa senang pada kelakuan Tio. Si belang kadang berlari di depan mereka.tambah jelas." kata Ronggur sesudah makin seraya melap mulut. Mereka sudah sering pulang terlambat. Mereka menuju pulang. Tapi. Tari warna bermain di wajah danau. selalu aku bertemu dengan seseorang yang wajahnya mirip benar dengan wajahku. Ceritalah karena apa ayah meninggal dulu. Yang sendirinya menantang dan menghadapi segala kemungkinan. di mana sebenarnya ayah dikuburkan. Karena sakit. di riak danau. Mengikutkan arus Sungai Titian . hati Ronggur tambah digoda perjalanan yang harus dimulainya. Tio mengikuti langkah Ronggur yang panjang dan cepat diayunkan. Dia sudah harus mengadakan persiapan untuk perjalanan itu. Jadi pada rumah itu. Dalam mimpiku. Mereka makan bersama. Pada pikirannya. mungkin juga mula kelanjutan hidup keturunan. Orang itu selalu mengajak aku agar memulai suatu perjalanan. Kemudian berlari lagi ke belakang. Dengan cepat ibunya menyediakan makanan dan Tio membantu. mungkin juga satu perjalanan yang akan mengakhiri hidupnya sendiri.. Tapi. Ronggur tidak mau begitu. karena kecelakaan dalam perburuan atau .

ibu tidak mau mengatakan dan aku belum pernah berziarah ke kuburnya untuk meminta doa restu. Ibu takut mendengarnya. Jangan lagi." . Dan. hanya bekas Datu Bolon Guru Marsait Lipan. Ayahmu tidak pernah lagi pulang. yang pulang kemudian. Ronggur? Apa katamu?" "Orang itu selalu mengajak aku." Ibunya mengangkat wajah. Dengan mata terbelalak akhirnya dia mengatakan. Keheningan menguasai ruang. Tegak. dia akan selalu berduka. aku akan pergi mencari sendiri. Kau tentu tahu. tempat tinggal Datu Bolon itu sekarang. Bila aku katanya tidak mau melaksanakan permintaannya. lalu: "Anakku. Pergilah tanya bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan. melesu lagi. Kerja yang dimulai di masa hidupnya. lerpaku mendengarkan. Tapi. ceritalah. Bukankah ibu mengatakan bahwa wa|ahku mirip benar dengan wajah almarhum ayah?" Ibunya tak langsung menyahut. agar memulai perjalanan mengikuti arus Sungai Titian Dewata sampai ke muara. Dia yang tahu! Dialah teman ayahmu yang terakhir pergi jauh dari kampung kita ini. katanya akan sia-sia." "Jangan lagi berkata begitu. Kalau tidak. ceritalah. "Ibu. "Apa katamu. Anakku. Tarikan napas ibunya yang satu-satu lagi dalam jelas kedengaran. Dan. di mana sebenarnya kuburan almarhum ayahmu." "Ibu. ibu sudah tua. Bukankah aku bisa dikatakan orang.Dewata sampai ke muara. aku juga tidak tahu pasti. karena tidak pernah menziarahi kubur ayahnya?" Wajah ibunya tambah jelas memancarkan perasaan ketakutan. Di mana sebenarnya kubur ayah? Sampai begini besarku. dikatakan para arwah. Tarikan napas yang terputus-putus. anak durhaka.

Setelah Cepat Ronggur bangkit dari duduknya. Kenapa lidahnya terus sefasih itu menyebut nama Ronggur. Ibunya dan Tio melihat saja. Bu. membelitkan ulos ke lehernya. Tio menggerutu pada diri sendiri. Dia tertunduk. dia akan pergi memenuhi panggilan mimpinya. Tidak mau dan tidak dibolehkannya aku memanggilnya dengan Raja Ni Huta atau Hulubalang Muda. yang juga pada wajahnya bergantungan sesuatu ragam perasaan." . Kemudian ibu Ronggur menatap Tio. Dihempaskan kembali pada derajat yang tidak berharga. Bu. karena marah sudah lupa pada masalah yang sebenarnya dihadapi. "Ibu. panggilan negeri jauh. perempuan itu. yang tidak boleh menyebut nama tuannya. Bukan keinginanku. Aku sudah berusaha mencegah. Tapi. Dari tunduknya dia menyahut: "Dia yang menyuruh aku. Tadi dikatakannya padaku. Didengarnya perempuan itu menghardik setelah lebih dulu menarik napas yang panjang lagi dalam: "Berani kau menyebut namanya? Apa kau pikir dia sama derajat dengan kau?" Seolah orang tua itu. memaksa aku harus menyebut namanya. Ibu tentu lebih tahu dariku bahwa dia tidak dapat dihalangi. Dia sadar bahwa yang dihadapinya ialah ibu Ronggur." "Dia menyuruhmu katakan?" "Benar begitu?" menyebut namanya? Itu kau "Benar. aku juga turut merasakan yang Ibu rasakan. Bukankah sudah sifat Ronggur begitu?" "Apa katamu? Kau sebut namanya? Nama Hulubalang Muda kau sebut?" Tio terkejut. dia terus berangkat.

Tidak disuruhnya supaya si belang pulang. Gelap malam tidak diperdulikan. mereka sudah berada di tanah perladangan yang di petak-petaki tanah yang ." "Tentu Ronggur sudah digoda setan. dengan tersengal-sengal dan berusaha mengangkat kepala. lalu perasaan takut mencekam dadanya. Di pematang sawah yang kecil lagi licin dia melompat-lompat memilih jalan yang baik. Perasaan marah kembali mencair. Tapi. Tanpa dipanggil. Bagaimana kalau tetangga mendengar kau menyebut namanya di depanku? Maukah kau memenuhi permintaanku ini?" "Akan kuusahakan. Setelah melompati sebuah parit yang agak lebar. dia menatap Tio. Tapi. Dia tak perlu takut karena tergelincir. Langsung dia menuju dangau kecil yang terpencil di satu ladang."Benar. Tio." "Berjanjilah demi dewata. Penuhilah permintaanku ini. Bu. Menerobos gerbang perkampungan." Perempuan tua itu serasa dipukul kepalanya dan ulu hatinya. lalu: "Aku tahu bahwa perangaimu baik. Bu. Jangan lagi sebut namanya. kemudian menyuruh si belang melompatinya.tahu tentang martabatnya yang begitu tinggi? O. Dibiarkannya si belang mengikuti. Apakah dia tidak . lindungilah anakku dari godaan setan." "Aku berjanji. Napasnya sesak. Sudah diizinkannya seorang budak belian makan bersama. Dia kenal pada jalan itu. Mula jadi Na Bolon. si belang mengikutinya. sekarang diberinya pula keizinan pada seorang budak belian menyebut namanya. kau tidak sepantasnya menyebut namanya." Baru kembali ibu yang sudah tua itu teringat akan masalah yang sebenarnya dihadapinya. Ronggur sudah melintasi halaman perkampungan.

meminta agar arwah nenek moyang dipanggil melindungi orang yang meminta tolong padanya. Tempat tujuan. Tangannya mengetuk pintu dengan lemah. Pakaian itu tidak ditanggalkannya walaupun orang tidak pernah lagi datang padanya minta diobati." . Yang pernah dibunuhnya. terletak tempat sirih yang terbuat dari kulit kera. taring. Anakku?" tanya orang tua itu. Nak. Bercahaya ditimpa sinar pelita yang lemah. "Ada apa. akar kayu yang dihitamkan dengan segala macam minyak dan lemak. dan kuku harimau. Pada kedua lengan tangannya membelit kayu hitam. Juga kerajaan tidak pernah lagi memintanya untuk menenung sesuatu maksud kerajaan. pikir Ronggur. berhadap-hadapan. seperti matanya. Ruang tengahnya begitu kecil. minta pertolongan melihat nasib. kemudian diketahui Ronggur. Mata orang tua itu tajam menumpu ke wajah Ronggur. "Silakan. Setelah memberi salam. apakah berhasil baik atau tidak. Di depannya lesung pelumat s irih. Diberi pula berhiasan suatu benda mengkilat. Dia tambah menegaskan langkah. begitu pula dalam perburuan. beru kirkan bentuk ular sedang menjalar. Bapak akan menolongmu sebisa mungkin. izinkanlah aku mengajukan beberapa pertanyaan." kata Ronggur. Dilompatinya pula tanah tinggi itu. Baik dalam suatu perkelahian. Dikejauhan sudah kelihatan cahaya pelita yang menerobos dari celah dinding. "Bapak.ditinggikan sebagai batas dan langsung pula menjadi pagar. ‘Pakaian datu’. Di sebelah kanannya. Orang tua itu sedang mengunyah sirih. Pada dadanya. Ronggur duduk di lantai seperti orang tua itu sendiri. bergantungan potongan gading gajah. Suara parau menyuruhnya masuk ke ruang dangau. Supaya kerbau tidak merusakkan tanaman yang ada di ladang.

" Orang tua itu menegakkan kepala. "Anakku. atau berusaha untuk menuntut balas. Aku juga harus mendukungnya. Bapak. aku harus menanyakannya pada Bapak. Orang lain tidak. dan kenapa almarhum ayah menemui saat meninggalnya. Hanya Bapak kata ibu yang mengetahui dengan pasti. Kemudian kau membenci aku. Lalu mengalirkan dendam itu ke tubuhmu." "Kenapa Bapak berkata begitu?" Lebih dulu orang tua itu menumpukan pandang ke mata Ronggur. Dan. selama ini kupikir. bila sesuatu hukuman yang harus ditimpakan pada orang yang memulai malapetaka itu. Lalu kembali dia mengaju tanya: "Ibumu menyuruh kau datang padaku?" "Ya. maka mula dan sebab kecelakaan itu harus diletakkan di pundakku. mulut manusia yang harus kita beri makan akan bertambah . Ibu menyuruh aku menemui Bapak. tidak menyangka pertanyaan begitu. Orang tua itu memperbaiki duduknya. Maafkan kesalahanku itu. kalau dikatakan bahwa kecelakaan itu punya mula dan sebab. Dan. ibumu tidak mau menceritakan." "Ibumu tidak pernah menceritakannya padamu?" "Tidak. maka hukuman itu pun seharusnya ditimpakan padaku. ibumu mendendam padaku. kalau aku mau tahu kubur almarhum ayah. Kiranya. "Bapak juga sudah lama memikirkan bahwa pada satu saat. tidak pernah. "Anakku. Ibu sendiri pun tidak."Kata ibu." Orang tua itu menarik napas yang dalam." "Apa maksud Bapak?" tanya Ronggur pula. Begitu dalam. tidak menanam dendam ke dadamu.

Pecah di sana. cepat tinggalkan biduk'. Sehingga hasil yang dapat diberikan tanah yang ada di sekitar kita tidak akan mencukupi. Ayahmu begitu percaya akan hasil pertenungan bapak dan begitu percaya akan kekuatan gaibku. apa yang kami temui? Pada suatu tempat tertentu. Begitulah bapak memulai pertenungan. Hingga akhirnya biduk yang kami tumpangi tidak terkendalikan. Sebuah terowongan batu. bapakmu hulubalang yang dihormati kerajaan karena keberaniannya. Air seperti mau membulat. Itulah lengkingan yang paling akhir. yang berbeda dengan hasil tenungku. Bapak menanyakan pada mereka di mana dapat ditemui tanah habungkasan yang subur.banyak. ikutilah Sungai T itian Dewata. semacam gua. Waktu itu bapak masih memegang kekuasaan mutlak sebagai Datu Bolon Kerajaan. Hasil tenung itu mengatakan pada bapak. Dan. Tapi. mengikuti jalur sungai. Menanyakan arwah gaib yang tidak dapat dilihat mata. dia melanjutkan. Mulut gua itu menganga seperti mau menelan. Bertambah hari bertambah deras. Maka kami pun mulai mengadakan perjalanan mengikuti Sungai Titian Dewata tanpa memperoleh halangan dari kerajaan. air menuju ke sana. Dihantamkan ke dinding batu yang keras. di kiri kanan kami hanyalah batu alam melulu. Yang bapak rasakan menyuruh bapak cepat meninggalkan tempat . Kami pun memulai perjalanan. Dia juga sepakat denganku. "Hasil pertenungan itu kuceritakan pada ayahmu. Bapakmu dan biduk lalu dihanyutkan arus yang menggila. Sebuah lengkingan yang panjang menggema. Setelah mengunyah sirih lalu meludah dari celah lantai. setelah berhari-hari berkayu. Tanah perluasan harus dicari dan ditemukan. Agar pertengkaran karena setapak tanah dan yang bisa meledakkan satu peperangan bisa diatas i." Orang tua itu terbatuk sebentar. di tengahnya air sungai mengalir. sewaktu bapak melompat itu keseimbangan biduk hilang. bapak cepat melompat ke pinggir sungai sambil berteriak: 'Ama ni Ronggur. Karena tidak tahan menerima kenyataan ini. Tapi.

Dan. Tafsir tenungku tidak benar. Dari matanya meleleh titikan air bening. sejak itulah bapak tidak pernah lagi dipanggil kerajaan mengadakan pertenungan. berusaha mencari tanah habungkasan. Dari tempatku yang tersembunyi itulah bapak melihat dan mendengar usulmu. "Akhirnya bapak percaya bahwa ayahmu sudah menjadi korban atas kemurkaan dewata. Tidak pernah lagi kembali. menyanyikan kemenangannya dan kegagalan serta kekalahan kami” Orang tua terdiam sebentar. Anakku. Seperti berusaha mengingat sesuatu. Dan. Di antara isaknya dia masih mengatakan dengan suara parau: "Maafkanlah kesalahanku. Wajah Ronggur di samping merasakan perasaan duka. Kerongkongannya tersendat. pada upacara besar yang dilangsungkan di halaman perkampungan." Orang tua itu menundukkan kepala. Tidak pernah lagi orang datang meminta bantuan. Justru karena ada juga orang yang bisa atau turut merasakan apa yang dirasakannya. Bapak terpencil." Suara orang tua itu menjadi tambah parau. Sedang Ronggur khusuk mendengarkan. Tenungku salah. agar orang mencari tanah habungkasan mengikuti arus Sungai Titian Dewata. Membuat salah seorang sahabatku menjadi korban. Bapak disisihkan dari pergaulan sehari-hari. Tapi. Suara air yang bertemparasan ke dinding sungai yang terbuat dari batu alam yang hitam. tempat bapak di tengah rimbunan bambu duri agar orang tidak melihat bapak. Anakku.itu. berkerisik dan kuat. dia tidak pernah lagi muncul. Bapak mendengar usulmu. Tapi. Turut memikirkan apa yang dipikirkannya. tapi bercampur baur dengan perasaan bangga dan gembira. Namun bapak masih menantikan ayahmu untuk beberapa hari. bapak tetap juga mengikutinya. Memang mereka . Tapi. Anakku.

apakah satu kegagalan harus dihukum dengan kutuk dan dendam? ‘Tidak’. Ah. Segala percobaan yang berusaha mendekati kebaikan dan mengupas kebenaran. Hasil tenungku tidak diperlukan orang lagi. darinya atau padanya tidak sewajarnya dialamatkan dendam. janganlah karena itu kita lantas menanggalkan satu cita yang tumbuh dalam dada kita." "Seharusnya begitu. Bapak. Ditoleh sedemikian rupa sehingga sumber kegagalan pertama dapat dilintasi." "Apa maksudmu. yang punya kepercayaan bahwa Titian Dewata sungai dewata. orang yang ada di sekitar kita. kemudian mengetahui kegagalanku dan meninggalnya ayahmu. Risiko yang harus kita terima. Anakku?" . Kegagalan yang ditemui bapak. Tapi. Tapi. Cita yang baik. Malah kegagalan itu harus dibuat menjadi batu loncatan. Anakku. seperti almarhum ayahmu sendiri. Agar kerajaan tidak menghalangi keberangkatan kami. yang tampak oleh mataku. kepercayaan mereka tambah menebal juga. sahut Rongur sendiri atas segala pertanyaan yang timbul dalam dirinya. walau menemui kegagalan sekali. Malah bapak sendiri lalu disisihkan dari pergaulan.menemui kegagalan." "Bapak. aku menghormati pendapat bapak tentang perlunya tanah habungkasan. Ronggur mengatakan: ”Bapak. Sampai ditemui satu kemenangan. waktu dia dulu turut membela hasil tenungku. Setelah memperoleh kesimpulan ini. Tapi. telah lebih dulu memikirkannya bersama almarhum ayah?" “Benar. waktu kau berbicara itu dengan suara yang lantang berani. lalu menimbulkan korban yang tidak kecil harus dihormati. Aku mendengar usulmu. jadi bapak mendengar usulku? Dan." "Itu risiko.

Yang lebih besar dari biduk. aku harus melanjutkan pekerjaan yang gagal itu. penumpangnya akan dihanyutkan arus tanpa ampun. lambat laun tambah ke hilir. Keningnya berkerut. "Sudah tiba saatnya. sungai ini lain. Dasar perahu harus agak luas dibuat agar tidak mudah terbalik waktu melawan arus atau melalui arus." Orang tua berbicara. menjadi deras arusnya." kata orang tua itu." kata orang tua itu pula. Bukankah arus menggila itu memang satu pertanda bahwa sungai akhirnya memang jatuh ke satu tempat yang maha dalam. Dan. "dapat dikatakan cukup menggila. yang menurut kata orang di sekitar ialah ujung dunia?" Ronggur masih terdiam. melayari sungai dengan biduk?" . "Ya. Dinding batunya begitu keras. Kalau perahu terhantam ke sana pasti pecah. apakah menurut pendapat bapak. "Arus itu. Lalu. Tapi. ada baiknya kau pikirkan bahwa sesuatu sungai biasa. "Tapi. Tidak sempat berenang ke tepian. pada pangkalnya mempunyai arus yang kencang. Bukankah itu pertanda bahwa sungai itu memang lain dari sungai biasa?" Ronggur terdiam. Tapi. Aku harus dapat mengatasinya. dia mengaju tanya pula: "Jadi.Ronggur menarik napas yang dalam." "Kalau begitu harus diusahakan melayarinya dengan perahu." "Pikiran yang baik. itu menatapi dan membiarkan Ronggur "Kata Bapak. dengan suara pasti dia mengatakan. setelah mengalami kegagalan bahwa Sungai Titian Dewata memang jatuh ke ujung dunia?" Orang tua itu mendongakkan kepala. Aku harus melanjutkannya. Lalu. Pada pangkalnya tidak berapa deras arusnya.

Anakku. harus menggunakan batu pemberat. kumohonkan doa restu. sewaktu melintasi arus sungai harus menggunakan tenaga pembantu. darimu. kenyataan keadaan sungai itu tidak dapat dipungkiri. Tapi. dengan akal begitulah aku bermaksud melayari Sungai Titian Dewata sampai ke muara." Orang tua itu menundukkan kepala. Dan." "Boleh jadi riamnya lebih dalam. Karena arus sesuatu riam tidak akan begitu kencang dan begitu menggila. Talinya kita ikatkan pada buritan perahu. Agar kami direstui dan diberkati para dewata dan arwah nenek moyang."Tidak dapat kupastikan. setiap itu pula batu itu kita jatuhkan ke dalam air sebagai penahan. Setiap melintasi arus yang tambah kencang. Karena hasil tenungku sampai saat ini tetap berpendapat bahwa sungai itu tidak jatuh ke ujung dunia." "Nah. Agar perahu tidak dihanyutkan arus dengan sesuka hatinya." "Nah." "Maksudmu?" "Batu sebesar kepala manusia atau sebesar kepala kerbau kita ikat. Mengiakan lalu mulutnya mengatakan: "Satu pikiran yang baik." "Karena itulah." "Juga tidak dapat bapak jawab. aku harus melayarinya dengan perahu yang jauh lebih besar dari biduk. Dan. Tapi. Boleh jadi arus menggila karena sungai melalui riam yang banyak ditemui pada sesuatu sungai. kalau begitu yang kita hadapi hanyalah arus sungai yang menggila." "Boleh saja kita berpendapat begitu. begitu pula arwah almarhum ayah." . Karena pendapat ini jugalah membuat bapak disisihkan orang. Tidak cukup kemudi saja menahan kencangnya perahu.

perjalanan itu akan kumulai. bapak akan turut bersamamu. Si belang berlari-lari mengibaskan ekor. kapan kau hendak memulai perjalanan itu. sedang mulutnya mengatakan dengan suara pasti: "Anakku. beritahukan pada bapak kelak." Ronggur meminta diri. Mata orang tua menyinarkan cahaya kemenangan. untuk pertama kali sete lah bertahun-tahun ada orang meminta pertolongan doa restunya."Bapak akan membantumu." "Baik. dibaliknya pagi. Tenaga gaib yang dipunyainya. sambil Malam sudah jauh." "Doa Bapak yang akan mengiringi langkahku. kurasa lebih besar manfaatnya dari apa saja. Dan. "Dan. perjalanan ini tidak mudah. Karena itu kekuatan jiwa dan tekad yang padu harus kau punyai dan kau pupuk selalu dalam hati. Tapi. kalaulah bapak masih muda. Anakku. aku mau mempersiapkan peralatan yang kuperlukan dulu. Kau akan menghadapi rintangan kepercayaan orang yang ada di sekitarmu. aku akan datang memberitahukannya pada Bapak. "Anakku. Dadanya diangkat. Sesudah ini s iap semua. Matanya bersinar. di samping Ronggur." kata Ronggur. yang punya dasar yang lebih datar dari perahu biasa. ." kata orang tua itu seraya pundak Ronggur ditepuk-tepuk. Bapak. Karena. Beberapa gulungan tali ijuk yang kuat. doakanlah agar anakmu ini selamat dalam perjalanan." Orang tua itu merasa gembira bercampur bangga karena ada orang yang sependapat dengan dia. masih punya tenaga yang kuat. Sebuah perahu yang agak besar. berusaha menembus segala kegelapan yang menyungkup keadaan sekitar. Orang tua itu melepaskannya menerjang kelam malam yang pekat. Ah.

dari gerak-geriknya si belang gembira. meregangkan tubuh seperti mengendorkan urat yang dibekukan dingin pagi berkabut rendah. Jalanan terus menanjak. Tangannya juga menggenggam kampak dan tombak. begitu pula Pulau Samosir dan T uktuk Sigaol. Di tubuhnya membelit tali ambalang. dan menembus kabut. Mereka tampaknya akan mengadakan perjalanan yang tidak dapat dikatakan pendek masanya. tapi sudah tambah menipis dengan bertambah tingginya hari. Mereka terus melangkah. Di pundaknya disandangkan sumpit bertali. tangan kirinya menggenggam tombak. panjang. . Air yang biru tidak dapat dilihat pandang.ccdw-kzaa 3 Kabut pagi masih rendah menyungkup tanah. Lewat perkampungan danau. Bergegas. Masih juga dibalut kabut. Tio tetap mengiring dari belakang bersama si belang. kabut di sana lebih tebal. Ronggur sudah berada di halaman bersama T io dan si belang. yang berisikan alat kecil. Orang tidak ada di halaman. dan rendah. Perkampungan tambah tertinggal di bawah. Tapi. Pundak Tio juga menyandang sumpit bertali yang berisikan beras. Langsung rombongan kecil itu mengarah ke kaki bukit sebelah barat. Karena seperti tahu bahwa mereka akan mengadakan perjalanan yang lama dan jauh dari lingkungan perkampungan. Matanya sering tertumpu ke pinggang Ronggur yang menyelipkan panggada. Si belang sering menggonggong. tampaknya. Semua teggelam ke perut kabut. Ronggur melangkah cepat. Tangan kanan Ronggur menggemggam kampak. lebih kental.

Asap sudah mengepul dari kampung itu. pertanda pengisi kampung sudah bangun dari tidurnya. Setiap saat. Terasa pedih juga bila sayatan kecil itu dibasahi keringat. Untuk tampak kembali pada tempat di mana ilalang agak rendah. tepian Pulau Samosir dan Tuktuk Sigaol. sekarang sudah tampak isinya. dan perkampungan serta danau. Biasanya. sudah mulai bangkit. Terkadang mereka seperti tenggelam di padang ilalang yang cukup tinggi. jalanan menanjak. Pada tempat tertentu tampak tumpukan bambu duri yang melingkar. Tidak banyak mereka mengeluarkan kata. penangkap ikan yang bekerja semalaman mengayuh menuju pantai. suluh abadi yang dikenal mereka sejak masa kanak. Di sebelah lain Tuktuk Tarabunga menjulur ke depan. seperti hendak menjangkau Samosir. Ini semua dapat dilihat setelah melalui tingkatan sawah yang padinya sedang bunting. Angin yang berdesir di lidah ilalang yang tinggi. tambah jauh berada di bawah. terkadang menyayati daging mereka dengan tipis. Lidah ilalang yang bergoyangan. Matahari memberi sinar. Mereka meneruskan langkah. dedaunan padi yang menghijau.Kabut yang rendah tambah terangkat. Langkah mereka begitu cepat diayunkan. Karena ingin cepat tiba ke tempat yang dituju. Samosir dan Tuktuk Sigaol berhadapan. bersembunyi di sana menanti mangsa. Itu yang membuat . Pertanda perkampungan. si raja hutan. Air danau biru tenang di pagi hari tanpa angin. secara berangsur perlahan. tambah jauh mereka di atas. Permukaan danau. bertambah lama bertambah jelas tampak. Satu dua biduk berlayar di permukaan danau. Matahari tambah tinggi berlayar di langit dan sinarnya terus menerus tambah terik. Akhirnya keputihan yang pekat tadi yang merupakan satu bundaran yang tidak berujud. Tergesa tampaknya. Untuk kemudian secara perlahan mulai menyisih dari tanah. lalu ilalang itu bergoyangan.

didasarnya hutan yang mereka tuju. berair. kenapa sungai itu harus diadakan dewata. Dia tidak menggonggong lagi. "juga untuk memilih dahan pohon yang baik untuk tempat tidur. Tapi. Beriak-riak. Agar kita tidak kemalaman mencari tempat bermalam. Melihat Ronggur bersikap begitu. melalui tingkatan dinding teluk. dilincahkan sebagai sahutan. Alis matanya terangkat." kata Ronggur. Pandang bebas diarahkan ke mana suka. mereka menatap ke sekitar. Sawah menghijau oleh dedaunan padi yang sudah panjang dan sudah bunting. ketakutan bercampur baur dengan penyesalan. Utara. Matahari terus berlayar di langit dan mereka terus melangkah di bumi. Dalam hati terucap kata: akan kutembus kau sampai ke muara. Di tangannya terus tergenggam tombak dan kampak. Kelompok bambu duri pertanda perkampungan tambah banyak dapat mereka lihat dari sana. "Sebelum matahari condong ke barat." Tio tidak menyahut. hanya ke arah belakang yang kandas pada pegunungan. Dari tempat ketinggian. Lidah si belang terjulur merah dan berbuih. di teluk di mana Sungai T itian Dewata bermula. cukup hijau. Dari sana tampak lebih jelas lagi. siap sedia dipergunakan. dada Tio bernadakan lagu lain. Mereka sudah dapat mencium bau dedaunan yang segar. Mata Ronggur lama tertancap ke sana. Bermula dari pantai danau. kita sudah harus menuruni lembah berhutan yang ada di salah satu lekuk danau. danau yang biru. tapi terus mengikuti tuannya. berakhir ke kaki bukit.Ronggur tetap was-was. Barat. Dedaunan yang rapat didukung pepohonan yang tumbuh di sana. menampung . dan teduh. Mereka menuruni lembah berhutan yang tidak berapa luas. Langkahnya tambah dipercepat dan diperpanjang. Tercecer bertumpuk di sana sini.

Jadi. Akhirnya setiap kerajaan marga yang berdekatan. permadani yang lembut. sudah beberapa kali dilangsungkan sidang kerajaan dengan kerajaan. belum sampai ke taraf yang menentukan. hingga tanahnya tetap teduh dan berair. dari tanah hutan yang tidak seberapa luas itu. Satu marga mengusulkan. Kalau hutan itu dibuka. Tapi. Di induk kampung marga Ronggur juga sudah pernah diadakan pertemuan. Tapi. boleh marganya tidak memperoleh tanah bagian. Sampai sekarang memang belum ada satu marga pun yang mempunyainya. Yang bisa membuat satu luhak berkelahi dengan luhak lain. Tapi. Tapi. Kerajaan marga lain yang juga mendengar berita itu dengan tandas pula menyatakan maksud masing-masing. hasilnya masih tetap sama: belum memperoleh kata mupakat. Untuk membuka hutan itu lalu membagi-bagikan tanahnya bagi warga marganya. mendukung dedaunan. marganya harus memperoleh bagian. Jaringan dahan dan rantingnya. Bila satu luhak telah menang. yang di tempati beberapa marga. Pada mulanya . untuk membicarakan masalah hutan itu. bisa saja timbul peperangan yang berturut-turut. harus mengadakan pertemuan kerajaan. Yang mungkin pula menimbulkan peperangan marga. kerajaan marganya sudah memutuskan membuka hutan itu untuk dijadikan tanah persawahan. antara marga sendiri pun akan ada pertengkaran. tapi sebagai pembayar bagiannya kerajaan lain harus memberikan kerbau pada kerajaannya. buatan alam. bersamaan dengan niat itu kerajaan marga lain juga telah memutuskan untuk membuka hutan itu untuk dijadikan tanah persawahan marganya.sinar matahari. tapi. Begitulah. Masalah itu memang hangat dibicarakan. setiap marga merasakan bahwa kerajaannya punya hak atas hutan itu. Ronggur sudah tahu bahwa mulai panen tahun muka. Dedaunan gugur me lapisi permukaan tanah.

dia bisa lebih dulu menemui tanah habungkasan. untuk membuka hutan itu. pikir Ronggur. Si belang. Diambilnya sebungkus untuknya. Kesejukannya telah memberikan kesegaran bagi mereka yang sehari penuh dipanggang sinar matahari. Hanyalah tempat singgahan sementara sebelum tiba ke saat yang ditakutkan Ronggur. lalu melanjut pada yang lebih kecil. atas putusan kerajaan Ronggur. mendudukkan diri tidak jauh darinya. Berbuih. Hendaknya. Menutup mata. Menelentangkan diri. Memberi beberapa jemput untuk si belang. Namun untuk merebutnya. tanpa memperdulikan kepentingan kerajaan marga lain. lantas mengatakan: "Tolong berikan sebungkus. kemungkinan pecahnya peperangan begitu besar. Ronggur duduk melepas lelah pada teduhan sebuah pohon. Ronggur kembali duduk. akhirnya dapat memindahkan beberapa keluarga ke sana. Memperbaiki jalan pernapasan. Tepi hutan. Lidahnya terjulur ke luar." kata Ronggur lagi. kumpulkanlah ranting kering. sebelum peperangan dari perebutan hutan itu meledak. Untuk bahan bakar api unggun malam hari. peperangan kerajaan marga. bila marga lain itu tetap merasakan bahwa kerajaannya punya hak juga atas hutan itu. Tio mengiakan. Karena luasnya tidak seberapa.peperangan luhak. Suatu kerajaan yang memperolehnya." padaku nasi yang kau bawa itu Tio cepat memberikan. Dan. Tanah perluasan buat sementara. "Bila selesa i makan. sudah jelas garisnya: peperangan tidak terelakkan lagi. . Mereka menurun ke lembah berhutan dielus angin sore yang nyaman.

Bara memanas di bawah bila sudah ada dahan sebesar betis yang habis dimakan api. Sebaliknya. yang bercabang dua. Ronggur memilih dahan yang baik untuk tempat tidur. . Sebentar lagi matahari akan tenggelam. Tapi."Hari sudah sore. Lantas memberi bantuan. Ronggur pergi menyusuri tepian hutan. Dan tetap ada nyala menjilam. Penciumannya cukup tajam. "kita memilih dahan tempat bermalam." Lagi-lagi T io mengiakan. Mula-mula dibakar ranting. Dihidupkannya api. sedikit demi sedikit supaya api tidak mati. agar nyamuk tidak banyak mengganggu. Tidak terlalu bulat. dia sudah dapat mencium dari jarak jauh. cukup besar. dan tidak vertikal. Dia akan terus menggonggong lalu membuat kita bangun. tapi mendatar. Dahan yang patah dari sesuatu pohon dipotong. Agak gepeng sedikit. Agar terhindar dari gangguan binatang buas." Begitu tergesa mereka menyiapkan sesuatunya. lalu dibawanya ke bawah pohon tempat mereka bermalam." kata Ronggur pula. Membuat lobang pada salah satu sisi jurang tidak sempat lagi. Baru Tio memulai mengonggokkan ranting di lapisan bawah diatasnya dahan. "Biarlah di tanah. Dahan yang dipilih Ronggur untuknya dan untuk T io tidak berjauhan. Tidak sekali banyak. Di bawah dahan mereka bakar api unggun. Bila bahaya datang. Potongan dahan kayu yang sebesar betisnya dionggokkannya kenyala api menjilam. Juga bisa mengusir dingin malam. "Si belang di mana tidur?" tanya Tio. Di mana tubuh enak ditelentangkan. Ditatapi Tio terus sampai Ronggur hilang ke antara pepohonan atau tenggelam kerimbunan rerumputan yang tinggi. Di sini cepat gelap. Tio tidak hanya mengumpulkan reranting.

Dedaunan yang merimbun menampung cahaya matahari yang sudah lemah.Ya. atau dia sendiri akan musnah. bila hendak memadaminya. Seperti api unggun itu sendiri. belum kutemui maranti batu yang cukup tua. Sambil tersenyum Ronggur berkata: "Kau pandai menyalakan api." “Harus pohon maranti batu?" tanya Tio menyeling. sesuatu yang dipikirnya dan dirasakannya punya kebenaran. yang dapat mencegahnya. Sedang panjang batangnya yang lurus hendaknya melebihi tiga depa. Tingkah lakunya yang dapat dilihat atau yang muncul kepenglihatan. masih menyimpan bara kehidupan yang cukup besar didasarnya. . mengandung bahaya lagi yang bisa membakar dan menghanguskan. Walaupun itu berarti dia akan merombak kepercayaan yang sudah tertanam di dasar hati penduduk turun-temurun. senja. sudah kutemui kumpulan pohon maranti batu. Ronggur dapat diibaratkan seperti api unggun. Ronggur melihat api yang sudah menyala dan memberi kilatan cahaya pada sekitar. Tapi. Pohon yang kuperlukan harus cukup tua lagi besar. Begitu pula dengan tekad perjalanannya yang akan menempuh Sungai Titian Dewata tak satu pun kekuatan baik melalui kemesraan dan kasih. tak seorang pun dapat menghalanginya untuk mengerjakannya. Dari jauh sudah kedengaran siulan Ronggur datang mendekat. mengendorkan maksudnya. yang dikatakan sikap jantan yang berani. Di tikungan jalan tikus menanjak sana. Tapi. yang baik dijadikan perahu. baik melalui ancaman bahaya yang mungkin ditemuinya. yang cepat menjadi kelam. harus turut baranya dipadamkan baru tidak mengandung panas lagi. sudah menjadi pertanda bahwa di hutan ini akan kutemui pohon yang kuperlukan. Sehingga apa yang dilihat itulah. bagaimanapun kumpulan pohon maranti batu yang masih muda itu. pikirnya.

Dan. Lagi. Matanya seperti bermimpi. banyak pohon aren liar tumbuh. maka itu sangat lain soalnya. tidak mengajaknya? Betapa pun ancaman yang tumbuh dari maksud perjalanan itu. kuperlukan dalam perjalanan. akalnya yang cukup banyak. Semua perahu yang baik dibuat dari jenis kayu itu. Kita harus mengadakan pengintaian. Binatang akan pergi menjauh. Airnya bening. bangunlah. bila diingatnya bahwa Ronggur akan menyusuri sungai Titian Dewata mencapai muara. walau susah mengerjakannya karena kayunya cukup keras. daya apungnya sangat baik. kita tidak akan kekurangan daging di sini. Kau harus menebang pohon aren yang sudah tua itu. Suara kampak yang berlaga dengan pohon kayu bisa menakutkan binatang. Keberaniannya. Begitu yakin dia bahwa kemana pun dia pergi. bila bersama Ronggur. “Besok pagi benar.“Ya. Memintal ijuknya menjadi tali. Tahukah kau di sebelah hulu parit. Ronggur melanjutkan: “Sewaktu aku meneruskan perjalananku lebih ke atas. Dalam hati selalu mengiring tanya. kalau bisa sebesar pergelangan tangan." Kemudian Tio terdiam. agar ada daging persediaan. Jadi. namun T io bila memang Ronggur harus berangkat juga. Menatap entah ke mana saja." Tio mendengarkan. Tapi. Walaupun tubuh Ronggur cukup tegap menyimpan ." sahut Tio. Membunuh beberapa ekor binatang itu." “Aku akan mengerjakan. dia ingin ikut. Sudah ada yang tua. Harus cukup besar. kutemui pula parit kecil. Harus pula panjang. Sangat kuperlukan nanti dalam perjalanan. Apakah Ronggur pergi sendiri. Itulah kerjamu. Di tepi parit banyak kulihat bekas jejak binatang buruan. mereka tidak akan mati kelaparan. Tapi meranti batu tidak mudah busuk walau direndam dalam air dan dipanggang terik matahari. kekuatan tubuhnya memberi jaminan. Jangan lebih dulu menebang kayu.

Tapi. Namun dia tidak mengatakan. akalnya banyak. Dinding perahu harus agak tinggi agar tidak dimasuki temperasan air yang memercik. apakah Ronggur tidak dapat membaca apa yang tersirat dicerlang matanya? Malam hari. kembali menyala. jangan melancip. Kalau dewata berkehendak. Malam begitu dekatnya. Ya. siapa pula dapat menantangnya? Entah kenapa perasaan takut itu tambah hari tambah dalam mencekam di hatinya. Ronggur turun ke bawah. Tambah jauh malam nyala itu tambah mengecil. dekat unggun api. agar tidak jatuh sewaktu diri lelap tidur. bisa mengikuti arus sungai walau melalui riam. lalu tampak bara membara. Tapi. ikatannya jangan dipintal mati. Sudah di reka-rekanya bahwa dasar perahu harus mendatar. Dalam hayalnya Ronggur sudah menggambarkan bentuk perahu yang hendak dibuatnya. Si belang di bawah. Kurang wajar rasanya dia menasihati perjalanan yang sudah diputuskan Ronggur harus ditempuh.. Jengkrik dengan kerisiknyayang nyaring dan di kejauhan gonggong dan salak anjing liar selalu membuat si belang mendongakkan kepala. penimba air harus dibawa serta. Ronggur menyuruh Tio mengikatkan tubuh ke dahan kayu yang bercabang. Tapi. Hingga jilam yang mau padam tadi.tenaga yang kuat. Karena mungkin saja diperlukan pada saat tertentu. semuanya itu tidak berarti. pikirnya. berbentuk gepeng. Ronggur juga mengikatkan tubuhnya ke dahan tempatnya tidur. Sekitar menjadi terang dan panas. Menimpakan beberapa potong lagi dedahanan ke atas api. Si belang duduk di . Biarlah perahu agak lamban jalannya. Biarlah tidak bisa dikayuh cepat. Yang dibuat dari bambu. Harus bisa dibuka dengan cepat. namun untuk menghadapi ketentuan dewata. Mendengarkan dan meraba sumber suara itu. Binatang rimba mulai bernyanyi. Nyala menjilam dari unggun api. Jilam-nya begitu tinggi. apalagi kalau dilanggar ketentuannya.

tanah dekat api melihat jilam api yang terkadang meliuk ditiup angin lalu. "Perahu yang kubuat," lanjut Ronggur berbicara pada diri sendiri setelah dia kembali me letakkan diri dan mengikat tubuhnya ke dahan kayu itu. Harus bisa memuat penumpang sebanyak tujuh orang paling sedikit. Dasar perahu harus lebih lebar dari perahu biasa, agar tidak mudah oleng waktu melintasi riam sungai. Juga agar mudah menjaga keseimbangan. Sudah dibayangkan, siapa yang akan diajaknya serta. Akan diminta kesediaan mereka menemaninya. Dan, ke dalam yang tujuh orang itu, tidak termasuk Tio. Perjalanan yang menanggung risiko begitu berat, bukanlah pekerjaan perempuan. Lagi, Tio perlu dekat ibu. Membantu mengerjakan sawah bila saat panen tiba. Siapa ttliu, boleh jadi perjalanan itu sangat panjang. Dikiranya pula, bila setiap hari dia mengerjakan perahu, dalam dua kali purnama tenggelam dan terbit lagi sudah bisa selesai. Berarti sepulangnya dari hutan itu, padi telah menguning di sawah. Sehabis panen, dia akan memulai perjalanan itu. Seketika, teringat dia atas maksud kerajaan marganya untuk membuka hutan itu menjadi tanah persawahan. "Ah," pikirnya pula, "dari orang yang sangat dekat dengan Raja Panggonggom, diperolehnya keterangan bahwa s iasat itu baru gertakan saja pada kerajaan marga sekitar. Untuk menduga sampai di mana kesungguhan kerajaan marga lain itu untuk menguasai hutan itu. "Tapi, betapa pun," pikirnya pula, "hutan itu akan dibuka orang juga. Dan, darinya timbul satu ancaman pada ketenteraman hidup. Karena setiap kerajaan marga merasakan sama-sama berhak atas hutan yang kecil itu."

"Tio, kau sudah tidur?" tanyanya. Tidak ada sahutan. "Ah," pikirnya, "Tio sudah tidur." Dan, dia masih belum bisa memejamkan mata. Pikirannya terus berbicara dan bercerita dan mereka-reka bentuk masa datang. Dia tidak tahu pasti, kapan dia jatuh tertidur. Kokok ayam hutan membangunkan mereka. Cepat Ronggur turun dari dahan. Begitu pula Tio. Setelah meregangkan tubuh beberapa saat, menguapkan mulut. "Enak tidurmu malam tadi?" tanya Ronggur. Tio hanya menundukkan kepala. Sekitar masih remang. Masih pagi benar. Tapi, bila mereka pergi ke pinggir hutan, tahulah mereka bahwa matahari sebenarnya sudah muncul di atas pundak Dolok Simanuk-manuk yang dapat mereka tatap dari mulut teluk. Dedaunan yang rimbun menghalangi sinar matahari jatuh menimpa wajah mereka. Cepat-cepat Ronggur mengajak Tio mendekat ke parit yang dikatakannya semalam. Perlahan-lahan mereka mendekat, seolah-olah tidak menimbulkan buny i. Walau melalui ranting-ranting kering yang berserakan di atas tanah. Ronggur menunjukkan sekumpulan pelanduk yang sedang minum dan bermain-main di parit kecil itu. "Lihat," bisik Ronggur. "Bidiklah yang sebelah sana, yang kepalanya berbelang putih. Aku membidik yang kakinya berbelang." Tio mengiakan dengan anggukan. Bersama mereka mengayunkan tombak yang cepat melayang. Lalu, tertancap ke sasaran. Karena terkejut, pelanduk lain melarikan diri. Sedang pelanduk yang dikenai tombak melengking dan berusaha melarikan diri beberapa jauh, membawa luka di tubuh yang mengucurkan darah. Untuk itu, si belang cepat bangkit dan mengadakan pengejaran. Digigitnya kaki pelanduk itu sampai tidak berdaya. Sampai rubuh ke tanah. Kemudian si belang menggonggong, mewartakan kepada tuannya di mana pelanduk tergeletak.

Ronggur dan Tio cepat mendekat. Mereka kuliti binatang itu. Dagingnya mereka potong tipis-tipis. Mereka jemur di atas batu yang langsung menampung sinar matahari penuh tanpa dihalangi dedaunan. Sehari itu, si belang disuruh menjaga agar tidak dicuri burung gagak. Rongur memilih dinding jurang yang baik digali untuk membuat lubang perlindungan, tidak jauh dari parit kecil agar mudah mengambil air. Berdua mereka menggali. Mulut lubang dibuat besar, hingga bisa masuk dengan leluasa. Sedang ruang dalam agak luas. Mereka bisa menyangkutkan ulosbatak sebagai batas tempat tidur masing-masing. Sampai jauh malam mereka mengerjakan lubang itu. Peralatan mereka simpan di sana. Begitu pula dengan daging hasil pemburuan tadi pagi yang harus dijemur besok harinya, karena belum cukup kering untuk disimpan. Mereka gembira karena sudah memperoleh daging yang dibutuhkan dan sudah punya lubang perlindungan. Ronggur bisa tidur nyenyak malam itu, begitu pula T io. Di mulut lubang si belang tidur-tiduran. Seperti menjaga kemungkinan adanya gangguan binatang buas. Pagi itu, Ronggur melanjutkan mencari kayu. Dia menyuruk-nyuruk di bawah rerantingan, menyibak rerumputan yang terkadang berduri dan melukai tubuhnya dengan garisgaris kecil. Tapi sudah dapat menitikkan darah untuk kemudian membeku Agak jauh di tengah hutan, baru ditemui pohon yang dicari. Besar batang pohon, tiga kali pelukannya. Panjang batang pohon yang tegak lurus, sekira tiga depa. Diperiksanya batang pohon itu baik-baik, hingga dia yakin bahwa pohon itu sudah cukup tua. Dikulitinya batang pohon sekira sejengkal, lalu tampak kayu yang sudah berminyak. Kemudian dipanjatnya. Diperiksa, apakah tidak terlalu banyak mata kayunya. Tahulah dia bahwa kayu itu cukup baik dijadikan perahu. Langsung saja Ronggur mulai mendahaninya, agar waktu tumbang nanti

Atau. Lebihnya dibuang. Dibuatnya pula pacakan begitu dua lagi. diukurnya. Belahan pohon aren dijemur di bawah terik matahari. Bila daging sudah mulai habis. mendorongkan perahu yang mau terhempas ke tepian berbatu dengan menjolokkan galah ke pinggir sungai berbatu. Ijuk yang berlepasan itu bisa dipintal menjadi tali yang cukup kuat. Dua biji lagi kayu yang tidak berapa besar ditebang Ronggur. Tepat sepanjang yang diperlukannya. kembali mereka mengadakan pemburuan. Katanya sekali waktu pada Tio. Batang pohon itu dipotong.tidak menyangkut pada pepohonan lain yang bisa menimbulkan cacat pada pohon itu. Bila air sungai tidak berapa dalam bisa digunakan membantu jalannya perahu. dengan mencucukkan galah ke dasar sungai lalu menyorongkan. kemudian direndam dengan air. Umbi aren diasingkan untuk ditumbuk. di tanah yang tidak terlindung. Batangnya dibelah. Tio langsung menebang aren yang sudah tua. dua tiga biji dipilihnya untuk dijadikan galah. Tanah di sekitar pohon itu dibersihkan. lalu ditapis untuk diasingkan tepungnya Yang baik. Sedang persediaan beras tampaknya tidak berkurang-kurang karena persediaan tepung umbi aren. dimakan pengganti beras. Ijuknya cepat berlepasan satu sama lain bila pohonnya sudah kering. yang panjang lagi kurus. galah itu sangat diperlukan dalam melayari sungai. Begitulah mereka saling mengerjakan tugas masingmasing. Dengan dibantu Tio. Ujungnya dilancipkan kemudian dipacakkan ke tanah. Dari dedahanan kayu yang ditebang Ronggur. Persilangan itu diikat dengan rotan kuat-kuat. Sesudah selesai menjemur daging hasil buruan semalam dan menyuruh si belang menjaga. Bersilangan. Ronggur menaikkan batang pohon maranti batu itu ke atas . Sedang batang pohon maranti batu yang sudah tumbang itu.

diusahakan agar sama. Dia harus memilih dasar perahu yang terbuat dari bagian batang yang tidak banyak mata kayunya. pada bagian hulu dan buritan tidak berapa dalam. Ronggur harus hati-hati memilih. tidak pula boleh terlalu tebal. Dasarnya sengaja diperluas. tebal kedua sisi dinding perahu. kapak tidak berapa dipergunakan Ronggur lagi. batang pohon itu bisa dibalik-balikkan.pacakan yang berupa galangan itu. satu lagi menghadap ke belakang. Dengan tuhil Ronggur melanjutkan membentuk lobang atau memperhalus bekas makanan kampak. berhatihati. Karena itu. Di atas pacakan. agar dinding perahu tidak terlalu tipis lalu mudah pecah. Dikeluarkannya tuhil. Agar perahu tidak berat atau agar daya apung perahu cukup baik dan punya keseimbangan. Pada bagian buritan dan hulu perahu. Langsung bersatu dengan tubuh perahu. . kemudian hulunya diketok perlahan. Membentuk semacam dinding yang baik. Tuhil itu ditancapkan lebih dulu. yang nanti menjadi tempat pemenumpang. ditelanjangi. Di sana batang pohon itu dikulitinya. Dia harus memperhatikan benar. perahu akan bocor. Bentuk lobang yang dibuat Ronggur di batang kayu itu. dipahatnya semacam ukiran. Tapi. Di atas pacakan itu Ronggur mulai membuat perahu. Ronggur beralih pula menukil bagian luar. Dari sebelah mana harus dimulai penukilan membentuk semacam lobang di batang kayu itu. Mata kayu biasanya mudah lepas dari kesatuan kayu dan bila sudah lepas. Satu menghadap ke depan. di bagian perut lebih dalam dan luas. Begitu pula dasarnya. bagian batang mana yang harus dijadikan dasar perahu. Setelah bentuk lobang itu agak nyata. alat yang yang terbuat dari batu yang tajam muncungnya. Tapi. menggambarkan kepala harimau. mengambil tuntutan dari bagian dalam perahu. Bila dasar perahu dan dinding perahu bertambah terbentuk.

Tio harus mencari pohon aren baru untuk ditebang. Menebang. hitam. Dia harus menyusur lebih ke hulu parit lagi. disatukan. Kemudian melahirkan kulit baru yang lebih tebal dan lebih tahan menghadapi ijuk. Kemudian memintalnya menjadi tali. setelah pohon aren yang tua habis ditumbangkan Tio di tempat itu. Menjemur. sudah kering sehingga ijuk mengikut pada putaran kayu itu. Tapi. sendirinya saja bagian perut perahu akan pecah. melepaskan ijuknya dari batangnya. Tahan air. Lalu dimulainya memutar-mutarkan kayu bersilang tadi ke tumpukan ijuk. Bila buritan dan hulu perahu retak atau pecah. betapa susahnya memintal ijuk pohon aren. justru karena di buritan dan di hulu perahulah terletak tenaga sesuatu perahu tersimpan. tahulah Tio. Ronggur mengatakan tali yang dipintalnya masih kurang banyak. Dibuat bersilang. Membelahnya. Bila batang aren sudah kering. Merendam ke air. . Ijuk yang mengikut itu. Mencerai-beraikan. Menyisihkan umbinya. Kayu bersilang itu diputarkan pada tumpukan ijuk yang dicerai-beraikan. Alat pemintal. T ahan panas matahari. asal saja jangan dibakar api. Ijuk yang memanjang. yang diusahakan sebesar yang dikehendaki dan sudah cukup panjang diikatkan pada pepohonan yang ada di sekitarnya. ijuknya sudah dipintal menjadi tali. Dipilin tangan demikian rupa sehingga berbentuk tali yang jalin-menjalin. yang sudah dua jalur itu. Dan.Buritan dan hulu perahu. Karena itu. Ijuk yang keras sering menusuk kulit telapak tangan. Tapi. ialah dua potong kayu sebesar pergelangan tangan. dindingnya tebal dibuat di sana. kasar. Pohon aren yang setumpuk itu sudah pada tumbang. dan kokoh. dia harus mencari pohon aren lagi. Kulit telapak tangan berlecetan di sana-sini. Dan. Waktu saat memintal ijuk tiba. Menapis agar diperoleh tepungnya. sehingga bisa mengucurkan darah.

dia harus menghadapi segala kemungkinan. Tiba-tiba dia sadar bahwa menemui sarang babi hutan yang mempunyai anak yang masih kecil. Sebelah kanannya.Tio menyuruki rimbunan kekayuan yang agak rendah. matanya masih sipit. Bila dia mundur ke sana dan mengadakan pertahanan. Jalan menyingkir sudah tidak ada. Dibulatkannya tekad. belukar. Waktu dia berpaling. Yang masih punya bulu begitu halus dan menggelikan telapak tangan. itu dengusan induk babi. Dia harus menghadapi serangan babi itu. menyerang sampai mangsanya terjepit. betapa gembira dia karena dia menemui sarang babi hutan. jalan tikus yang sempit. Anak babi hutan lima ekor. Sadarlah dia. Babi itu akan menyeruduk maju ke depan. Tapi. Induk babi yang baru melahirkan dan masih menyusukan tentu cukup galak dan tetap diiringi jantannya. Muncungnya yang panjang kemudian akan ditusukkan ke bagian tubuh yang lunak. suara dengusan babi. Ke sana dia menuju. mencari pohon aren. Sebelah kedua sisinya. bila babi jantan itu sudah bertaring. didengarnya dengusan babi dari semak yang ada di atasnya. Tidak ada batang kayu yang dekat yang bisa dipanjat untuk menghindar bila babi itu menyerang. yang harus dihadapinya hanyalah satu arah saja. . yaitu depannya. juga mengandung mara bahaya yang mengancam di samping kegembiraan. Walau dia tahu seekor babi hutan tidak akan terus jatuh ketika pukulan pertama mengenai tubuh atau kepalanya. Dengusan napas babi tambah mendekat. Dari jauh sudah terlihat daun aren yang panjang itu. Dan. tidak menguntungkan. Dilihatnya keadaan sekitar. Padahal babi hanya bisa menyerang dari satu arah. Setiba di bawah pohon aren itu. masih ada semacam dinding tanah sebelum menembus ke jalan tikus itu. Dielusnya perlahan tubuh anak babi yang masih lembut. Dari depannya.

taringnya akan digunakan mencabik-cabik daging mangsanya. Menggigil juga dia. Sambil mundur perlahan, matanya tetap awas dan terus diarahkan ke sumber dengusan. Tapi, pikirannya masih dapat mengingat bahwa bila babi menyerang selalu membabi buta. Langsung saja menyergap ke depan tanpa rem. Dalam saat begitu, seseorang yang lincah dan tidak gugup, dengan meloncat ke kiri atau ke kanan, bisa mengelak serangan. Bisa mengelak serangan babi sambil menggunakan kesempatan itu menghantamkan panggada atau kampak yang ada di tangan. Tiba-tiba si belang menggonggong. Begitu nyaring suaranya. Taringnya ditunjukkan, putih tajam dan kukuh. Dalam hati, Tio mengharap Ronggur dapat mendengar dan mengerti maksud gonggongan si belang. Dua ekor babi sekaligus sudah berada di hadapannya, di tempat terbuka yang sempit. Seekor dari babi itu sudah bertaring, yang jantan. Mata kedua babi itu merah menyala. Keduanya mengais-ngais tanah, bergaya, mengambil ancang-ancang memulai serangan. Tio terus mundur sampai mendekat ke satu sudut tanah tinggi yang keras. Matanya terus awas, mengikuti sikap dan gerak-gerik babi yang dua ekor itu. B ila babi menyeruduk maju tanpa rem, di saat dia harus melompat ke kiri atau ke kanan, dia harus terus cepat pula mengayunkan kampak yang ada di tangannya, sambil harus terus awas menantikan serangan babi yang seekor lagi. Si belang masih terus menggonggong dengan nyaring dan bersikap menanti. Karena itu, babi itu belum menyerang. Gonggong si belang cepat berhenti karena babi jantan menyerang si belang. Si belang melompat ke samping. Babi jantan terdorong ke depan. Si belang cepat melompat ke punggung babi itu. Si belang sudah berada di punggung babi. Tapi, sebelum si belang memperoleh posisi yang baik, babi itu masih sempat mempergunakan taringnya sehingga leher si

belang kena dan mengeluarkan darah. Tapi, si belang tidak lagi melepaskan pundak babi jantan itu. T aringnya yang tajam dan kukuh ditancapkan ke bagian punggung leher babi. Babi itu menggelepar dan berlari dengan berputar untuk menjatuhkan si belang dari pundaknya. Namun si belang tidak melepaskan gigitannya lagi. Darah babi muncrat. Namun, belum ada pertanda babi itu mau mengalah. Akhirnya, babi itu berlari ke satu batang pohon yang besar, mendorongkan pundaknya agar si belang terjepit. Dengan kaki belakangnya, si belang menahan dorongan itu. Taringnya tambah dalam ditancapkan ke daging babi. Babi betina melihat babi jantan dalam keadaan payah mulai mengambil ancang-ancang akan menyerang. Waktu itu, secepat kilat tangan Tio mengayunkan kampak, berusaha menghantamkan ke bagian punggung leher babi. Tapi, yang kena bagian punggung belakang saja. Babi itu cepat berpaling. Panggada yang ada di tangan Tio diayunkan beruntun, menghantam kepala babi itu. Tapi, babi itu terus maju mendorong, mendesak T io ke sisi tanah tinggi. Terkadang didorong ke rimbunan lalang yang ada di sekitar. Tio tetap berusaha menjaga arah mundur. Tapi, justru karena serangan babi itu yang terkadang berubah arah, sekali waktu dia tergelincir juga. Dia tersandar ke pohon aren yang berduri tajam. Duri pohon aren menusuk punggungnya. Terasa sakit. Cepat babi itu mundur ke belakang dan cepat pula melompat ke depan bermaksud menjepit T io ke batang pohon aren. Tapi, secepat itu pula Tio mengelak. Namun, betisnya sempat disambar babi dengan muncungnya. Luka menggaris, darah mengucur. Tio memperbaiki posisi sambil menghantamkan panggada ke sana ke mari, menghalangi jalan maju babi itu. Sekarang, Tio sudah bersandar ke dinding tanah tinggi yang keras. Kembali babi itu mengambil ancang-ancang mundur beberapa

langkah. Tio berhenti mengayunkan panggada. melengah.

Seperti

Dan, saat ini dipergunakan babi dengan menyeruduk cepat ke depan. Saat genting. Dan, Tio cepat mengelak ke samping. Kepala babi terhantam ke dinding tanah tinggi yang keras. Kampak yang tadi tertancap di pundak babi menjadi lepas. Cepat dipungut Tio, lalu menghantamkan kampak ke leher babi yang belum sempat berpaling. Akhirnya babi itu tidak berdaya sama sekali. Tergeletak di tanah dengan mata yang masih memancarkan sinar kemarahan. Kaki belakang si belang semakin lemah menahan dorongan babi jantan. Pantatnya sudah mulai kena ke batang pohon. Tio masih begitu payah. Napasnya satu-satu dan tubuhnya mandi keringat. Betisnya terasa pedih mengucur darah. Hingga dia untuk beberapa saat tinggal melihat saja. Napasnya tersengal. Urat sarafnya begitu tergoncang. Dan, secara perlahan diketahuinya, si belang sedang berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan bersamaan dengan mengendornya urat saraf itu. Bersikap mengayun kampak, Tio maju perlahan. Tapi, waktu itulah sebuah tombak yang sudah cukup dikenalnya tertancap ke perut babi. Ronggur telah ada di sana dengan tubuh berkeringat. Matanya menyala marah. Ototnya mengencang. Ujung tombak satu lagi dipegang Ronggur kuat-kuat, hingga mata tombak tambah dalam tertanam ke perut babi. Kemudian Ronggur memerintahkan agar si belang melompat dari pundak babi. Begitu si belang me lompat menjauh, secepat itu pundak babi dihantam Ronggur dengan kampak. Babi itu akhirnya rubuh ke tanah. Tergeletak di tanah dengan gelepar lemah. Ronggur melihat Tio terduduk di tanah dengan napas tersengal. Di dekat seekor babi betina yang terkapar. Si belang masih menggonggong babi yang tidak berdaya itu dengan moncong berlumur merah darah babi. Tapi, lehernya luka kena taring babi.

Cepat Ronggur menjauh. Mata mereka bertemu. Mencari dedaunan untuk ramuan mengobati luka Tio dan si belang. Tio menjalin rotan. Lukamu akan cepat sembuh. Tio terus saja menceritakan mula perkelahian dengan babi itu. Tanpa diminta Ronggur. Hanya begitu. Ronggur mengelus punggung si belang agar tabah. Sedang anak babi yang lima ekor itu akan mereka bawa pulang ke kampung. Di saat kita kehabisan daging. Dijemur di panas matahari supaya kering dan tahan disimpan. mereka lanjutkan memanggang daging babi itu dalam gua. lukamu perlu cepat diobati. juga luka si belang. sedang pada Tio dihadiahkan senyum manis.Dengan senyum. merasa malu dia dilihat Ronggur dalam kepayahan. di situ pula kau merubuhkan babi yang dagingnya enak. Kedua ekor babi itu dibakar sampai kulitnya hangus. dipelihara menjadi babi peliharaan yang jinak. Ronggur mendekati T io. punggungnya bergaris-garis bekas tusukan duri. Ramuan dedaunan itu dilekatkannya ke luka Tio dan si belang. betis Tio luka. Seketika terasa mulut luka itu perih hingga T io harus menjerit kecil." ucap Ronggur. Malam harinya. Lalu tahulah dia. "Kau telah mengadakan perlawanan yang cukup berani dan berarti. Tio masih tetap terduduk. Ronggur mengangkat dagunya perlahan. Sepotong paha diberikan kepada si belang . Ramuan itu membunuh bisa. membuat sarang babi yang sekaligus menjadi kurungan bagi anak babi itu. Begitu juga luka s i belang. Dan. Masih merasa capek. Kemudian isi perut babi itu dibuang. Lagi pula lukamu tidak berapa dalam. sedang si belang melengking perlahan. "Tidak berapa lama akan tidak terasa apa-apa. Ronggur kembali menghadiahkan senyum. Tapi." Cepat Ronggur menghidupkan api. Baru kemudian daging babi itu dipotong kecil-kecil.

Hendak mereka bawa pulang. Dan. begitu pula perbandingan berat hulu perahu dan buritan perahu. matanya sudah terbuka. hanya tinggal bekas kecil saja. ditumbuhi bulu lagi. Perahu yang dikerjakan Ronggur tambah berbentuk dan mulai mengarah ke tarap penyelesa ian. Begitu pula luka di leher si belang. Bila Tio berma in dengan anak babi itu. tinggal segaris saja. Mereka langsung menuju tepian danau yang ada di mulut teluk. Tali yang dipintal Tio sudah beberapa depa dan sudah ada lima gulungan besar yang selesai. mereka tidak pulang melalui jalan darat. Ronggur dan Tio menurunkan perahu itu dari galangan. Batang pohon maranti batu yang dulu begitu berat. Perahu yang cukup besar yang bisa memuat tujuh orang penumpang bersama peralatan. dan jinak. Ronggur mengikat perahu itu pada hulunya. Mereka harus menguji keseimbangan perahu dulu dengan mengapungkan di permukaan danau. semua peralatan bersama kelima anak babi dimuat. Kulit binatang buruan sudah pada mengering. Kemudian mereka menarik tali itu dan terseretlah perahu. kedua sisi dinding perahu. Pada penglihatan mata. Di dalam perahu. mereka tidak menakutkan dasar perahu bolong dibuat batu. la asik menyabik-nyabiknya di mulut lobang perlindungan. Sedang luka di betisnya sudah sembuh. Ronggur sudah selesai menghaluskan bekas tuhilannya. Setiba di tepi danau. Ronggur dan Tio mengosongkan perahu. tahulah . sekarang sudah ringan. tapi tidak. sudah sama. Dengan tali yang dipintal Tio. jadi. Karena jalanan menurun dan dedaunan membusuk di lapisan tanah. Begitu pula anak babi yang lima ekor itu sudah punya bulu yang agak kasar.sebagai hadiah. tidak diingatnya lagi betapa perasaannya waktu menghadapi kedua ekor induk binatang itu. Si belang mengikut dan menggonggong. Tanah begitu lembut dan berair.

perahu kembali diapungkan. kembali segala peralatan dimuat ke dalam perahu. Mereka menuju pulang. ke teluk di mana bermula Sungai T itian Dewata sudah ada. Perahu yang begitu rupa. Senja hari. Kembali perahu didaratkan. bagi T io sendiri setelah mengayuh perahu di permukaan danau. kembali dia teringat bahwa saat berpisah dengan Ronggur sudah semakin dekat. Tari warna berma in di riak danau. Jadi. tidak baik dibawa berlayar. sebelum perahu rampung benar. Mereka berkayuh dan berkayuh. mereka telah berada di danau bebas. Ronggur lalu merekatnya dengan getah pohon damar. apa yang bagi penglihatan mata sudah punya keseimbangan yang sama. tidak dihiraukan. juga si belang. Juga mata kayu yang ada di dasar perahu yang tidak dapat dielakkan sejak mula. Ronggur menipiskan bahagian haluan lagi. Bila keseimbangan perahu telah diperoleh. Ronggur mencampakkan pandang jauh. Tapi. malam sudah melingkup segala. Sisi kanan perahu harus lebih direndahkan dan ditipiskan pada bahagiannya yang masih tebal. ternyata dapat ditembus air. setelah diuji masih mempunyai perbedaan. sehingga perahu selalu oleng ke kanan. Tapi. Sampai tercapai keseimbangan. Ronggur . Tahu pulalah dia bahwa bagian sisi kanan perahu. Setelah itu selesai. Walaupun Ronggur sudah duduk di buritan perahu. hendaknya Ronggur dapat kembali dengan selamat. Bila lekuk teluk telah dilewati. Haluan perahu terlalu berat.dia. Apakah Ronggur akan kembali lagi? Wa lau dia tahu bahwa sesuatu ancaman sedang menanti Ronggur. mereka harus bermalam lagi untuk beberapa malam di tepi danau. namun dia masih mengharapkan. bersama kelima ekor anak babi itu. Karena dasar perahu agak luas terasa pendayungan agak berat. Membuang bagian yang tidak berguna. haluan itu masih bergaya mau tenggelam. lebih berat dari sisi kiri.

secara berangsur. Sungai Titian Dewata akan membawanya ke tanah landai lagi subur. aku tahu. ada baiknya diserahkan saja pada orang lain. Subuh baru telah lahir bersamanya lahir hari baru dengan harapan baru. Tapi. "Tio. bulan semakin mengundurkan diri. Bulan mencurah cahaya. saatku berangkat tiba. Bertambah larut malam. Suasana yang romantis. kemudian di ufuk timur. "Ya. Menari bersama riak danau. perlahan. Harus terus turun ke sawah memotong padi. Sinar matahari telah meng-kuakkan tabir kegelapan. Tanah yang diimpikan setiap orang. Mardege. antara mereka berdua. Kita tidak punya waktu mengasuh lagi. Permukaan danau kembali memantulkannya ke langit." "Dan.menyuruh Tio agar duduk di haluan perahu. Sepanjang malam mereka terus berkayuh di permukaan danau yang tenang dan tidur. Aku tidak bisa lagi berlama-lama mengundurkan saat keberangkatanku. B intang gemerlapan di langit." kata Ronggur. Tio lebih banyak diam dan tenggelam ke dasar perasaannya: bagaimana kelak kalau Ronggur sudah berangkat? Apakah orang masih memperlakukannya dengan baik? Sedang Ronggur diamuk satu kepercayaan bahwa dia akan menaklukkan Sungai Titian Dewata bahwa dia yakin. Ronggur tinggal tersenyum karena . maka terhamparlah depan mereka persawahan yang bermula dari tepian danau. padi telah menguning di sawah. Tapi. Perahu terus dikayuh. sehabis memotong padi. Maka sekitar diselubungi kegelapan. Bila gelombang membesar. apakah ada perahu lain yang bersilangan dengan mereka." Tio hanya menundukkan kepala. menggaris cahaya putih. memperhatikan jalan. berakhir pada kaki pegunungan batu. kebisuan yang meraja.

mereka telah tiba ke tepian danau perkampungan. atau memang dia belum tahu sebabnya. Belum siang benar. tidak ada yang berani terang-terangan mengeluarkan pendapat. Tidak seorang pun menanya tentang perahunya dan kapan dia berangkat.gelombang danau tidak dapat mengolengkan perahunya. Menyapa di sana-sini. orang sudah saling berbisik membicarakan maksud Ronggur hendak melayari Sungai Titian Dewata mencapai muara. Ronggur melangkah dengan dada diangkat. Orang sudah banyak memanen padi di sawah. Tampaknya setiap orang enggan bersapaan dengan Ronggur. Tapi. utusan kerajaan datang. Sebagian lagi. Kalau tidak ditegor lebih dulu. Pada umumnya orang tak dapat menyetujui maksud itu. Para penangkap ikan me lihat mereka. menyuruh Ronggur menghadap ke Sopo Bolon. begitu pula Tio. Ronggur belum dapat mengartikan. sebagian besar. sebelum Ronggur sempat mengasuh. Selagi Ronggur dan Tio membuat perahu di hutan. walaupun tidak secara terangterangan. tidak gembira menyambut kedatangannya bersama perahu yang dibuatnya sendiri. ada yang mengejek. Orang mencampak pandang pada mereka. semua itu tidak berapa diacuhkan Ronggur. Dan. terutama rakyat yang langsung berada di bawah lindungannya sebagai Raja Ni Huta. dan memperoleh jawaban sekedarnya saja. kenapa mereka pada membisu. Tapi. masih sembunyi. Dia lalu di sana. itupun ccdw-kzaa 4 Hari itu juga. serpihan air yang dilemparkan ombak tidak dapat memasuki perahu. . Ibunya melepaskan dengan tatapan pilu.

Matahari. untuk melihat manusia yang mengerjakan hal yang baik. Memperoleh lalapan dari tiap mata itu. Di kiri kanan Raja panggonggom. duduk berjajar Raja Partahi. Hanya Raja Ni Huta dari induk kampung marga yang duduk sejajar dengan Raja Panggonggom. menuju matahari terbit. membuat Ronggur . Raja Panggonggom sudah duduk di tempat dengan wajah murung. Dewata akan murka dan menghancurkan orang yang berani melanggar peraturannya. Kasihan dan ejek. Pada tempat tertentu. pertanda warta yang kurang baik. Raja Nabegu. Di belakang mereka. duduk para Raja Ni Huta. tapi sebagian lagi merasa terhina. Karena ada seorang manusia yang hendak meruntuhkan atau sama sekali tidak mengindahkan kepercayaan yang mereka anut.Satu sama lain saling mengeluarkan pendapat bahwa Sungai Titian Dewata. sidang kerajaan akan diadakan hari itu. karena maksud perjalanan itu menantang kepercayaan rakyat yang sudah tertanam turun-temurun. Semua mata diarahkan padanya. tempat Mula jadi Na Bolon mengedari dunia setiap saat. Diapit oleh para tua kampung. begitu pula dari matahari Mula jadi Na Bolon. itu berarti sudah melanggar ketentuan dewata. melihat orang jahat membuat kejahatan untuk diganjar kelak di hidup lain. hadir pula Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. bila yang hendak dibahas hal penting. sebagian merasa kasihan melihat Ronggur. Dan. Dia terus tahu. Segala Raja Ni Huta dari tiap kampung yang didiami marga mereka telah ada di sana. Bila seseorang berani melewati batas yang sudah ditentukan sampai di mana boleh seseorang berlayar. Mulut tidak mengucapkan sepatah kata. yang selalu dipanggil menghadiri sidang kerajaan. Orang pada diam sewaktu Ronggur memasuki ruang Sopo Bolon. Raja Namora. Ronggur telah dinantikan kerajaan yang lengkap. Ronggur duduk di barisan Raja Ni Huta. Tempat para dewata dan arwah menghadap Mula jadi Na Bolon. Di Sopo Bolon.

Lalu Raja Panggonggom mengangkat tangan yang sebelah kanan. Orang tua itu menyambutnya dengan senyum yang dibalasnya selintasan. Malah menurut sebagian orang. akan mendatangkan mara bahaya pada seluruh rakyat dan kerajaan. Karena itu.agak kaku juga sikapnya. Dari suasana dalam Sopo Bolon. sewaktu matanya tertumpu pada orang tua yang duduk di sudut yang agak remang itu." lanjut Raja Panggonggom. tahulah Ronggur bahwa sidang akan membahas sesuatu hal yang sangat penting tampaknya. Pertanda pertemuan dimulai. kami undang hari ini menghadiri pertemuan kerajaan di Sopo Bolon ini. yang bertanggung jawab akan kelanjutan hidup marga dan keturunan kita kelak." Melalui ucapan Raja Panggonggom sebagai kata pembukaan rapat. Yang bisa menimbulkan kegaduhan yang tidak kecil di kalangan rakyat. orang tua yang bijaksana." Hadirin pada diam semua. menjemput tongkat panaluan dari tempatnya. Untuk pertama kalinya orang tua itu menghadiri sidang kerajaan dengan terang-terangan. "Hal itu. Tongkat itu digenggam. tahulah Ronggur bahwa hal yang akan dibicarakan bersangkut-paut dengan maksud perjalanannya menembus Sungai Titian Dewata. Ruangan tetap hening. "tampaknya mengancam. hatinya tambah . "Semua kerajaan. Sewaktu Ronggur mengalih pandang tahulah dia bahwa Raja Panggonggom terus menerus menancapkan pandang ke arahnya. perasaan kaku itu berangsur menghilang dari tubuhnya. yaitu bekas Datu Gelar Guru Marsait Lipan. ada sesuatu hal yang sangat penting kita bicarakan dan bahas bersama. pagar kesatuan marga. Menyimak yang diucapkan Raja Panggonggom. Karena. dito-pangkan agar berdiri tegak lurus. dan bermaksud merubuhkan sesuatu yang kita percayai. Memperhatikan gerakgeriknya. Tapi. Terutama Ronggur.

katanya selanjutnya. dia mengharap agar . "Nah. Karena itu. seseorang yang berani melayari Sungai T itian Dewata sampai ke muara berarti akan sampai ke tanah landai yang subur. jalannya pertemuan itu. kita harus mengucapkan terimakasih padanya. Dia yakin. dia berpendapat." sahut Ronggur. tanah habungkasan itu harus dicari. kenapa kau begitu bernafsu hendak mencari Sungai T itian Dewata?" Ronggur disuruh berdiri. kami dengar kabar kau sudah menyelesaikan perahu yang akan kau pergunakan menyusuri Sungai Titian Dewata untuk mencapai muara. Karena kau bermaksud akan mencapai tanah habungkasan. Dan. sidang yang terhormat. Ronggur sudah mengakui terus terang sehingga jalan rapat tidak terlalu repot dan berbelit. Tanah yang dimimpikan tiap orang. yang menantang maksud perjalanan itu? "Karena hal ini sangat menentukan. dia lalu membeberkan hal yang kan dialam i marga mereka kelak bila tanah habungkasan tidak ditemui. Karena itu. coba ceritakan pada kami. Atau. setelah mencampakkan pandang ke sekitar. Camkanlah baikbaik pentingnya maksud pertemuan ini. lalu menyokongnya? Apakah mereka semua akan menjadi musuh. sehingga putusan itu nanti menjadi pendapat kita yang mutlak." Raja Panggonggom berhenti sebentar. Setelah mencampakkan pandang pada Ronggur. Ronggur. Apakah berita itu benar?" "Benar. yang disampaikan orang itu ternyata benar.gedebak-gedebuk. Untuk itu. menantikan putusan rapat." lanjut Raja Panggonggom. yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Paduka Raja. "kami berpendapat harus melalui musyawarah lengkap yang boleh mengambil putusan tertentu terhadapnya. Apakah ada orang yang bisa diharapkannya untuk membela maksud perjalanannya itu. Dia menarik napas. dia melanjutkan: "Ronggur.

"Sudah. Tak ubah seperti mengerjakan sawah. Daya apung perahu sangat baik. Tapi. Percikan air tidak mudah masuk ke perahu karena dinding perahu kubuat agak tinggi. Paduka Raja!" jawab Ronggur lalu kembali duduk bersila di lantai. Tidak mudah oleng waktu melalui arus riam sungai. Sungai T itian Dewata tidak berakhir di ujung dunia. Hanya wajah Datu Bolon Gelar Guru Marlasak yang menjadi merah padam mendengar semua omongannya. Pada mulanya kita harus berani membuang tenaga dan waktu untuk mencangkul tanah. Seketika Ronggur berhenti. Dasarnya lebih lebar dari perahu biasa." Dalam hati kecilnya Raja Panggonggom menghormati sikap terus terang dan keberanian yang dimiliki Ronggur. . Rapat hening. Ronggur melanjutkan." "Sudah siap semua yang ingin kau ucapkan?" tanya Raja Panggonggom. tahukah kau bahwa perjalananmu itu sangat berbahaya?" "Benar Paduka Raja!" sahut Ronggur. katanya tegas. Tapi.kerajaan memberi izin padanya untuk menyusuri sungai itu sampai ke muara dan membolehkan beberapa orang menjadi kawannya. maka soalnya menjadi lain. "Aku telah memilih kayu yang paling baik jenisnya. Dari s ikapnya tampak bahwa dia sama sekali tidak mengingini mendengarkan ucapan Ronggur. karena maksud perjalanan itu sendirinya pula membelakangi kepercayaan rakyat dan kepercayaan sendiri. Lama sesudah itu baru tanah memberi hasil pada kita. "Ronggur. seseorang yang berusaha mencapai sesuatu kebajikan akan selalu menghadapi risiko. "Perjalanan ini menghadapi risiko yang tidak kecil.

memang padaku diajarkan kepercayaan begitu rupa. berilah kesempatan padaku untuk membuktikannya atau aku sendiri akan musnah. aku selalu digoda mimpi. "Paduka Raja. Tidakkah kau tahu bahwa Sungai Titian Dewata itu sungai yang jatuh ke ujung dunia? Sungai Titian Dewata jalan para dewata dan arwah menghadap Mula Jadi Na Bolon. Tapi. tapi bertujuan untuk kepentingan bersama. maksudku tidak di situ saja. Aku orang yang tidak dapat dikatakan seorang lelaki. Wajahnya memancarkan sinar kemarahan. Dadanya naik turun dengan cepat." "Apakah kau tidak mungkin digoda setan?" potong Raja Panggonggom. Mulutnya cepat-cepat mengeluarkan kata: "Ronggur! Menurut kepercayaan kami. Tapi. kau pasti akan mendapat bencana. Jadi. ada baiknya kau . Mimpi itu selalu mengajak aku agar memulai satu perjalanan. Turun temurun. Aku telah rela menerima dan memikul segala risiko itu. sebelum bencana itu menimpa dirimu. aku seorang manusia yang telah menyia-nyiakan satu kesempatan. izinkanlah aku untuk memikul segala risiko itu bila yang kurasakan dan kupikirkan itu salah!" "Bagaimana pendapatmu tentang Sungai T itian Dewata?" "Paduka Raja." Datu Bolon Gelar Guru Marlasak cepat berdiri. bila aku tidak memulai perjalanan itu. aku akan tiba ke tanah landai di muara sungai. Tanah landai itu begitu luas. bila warta mimpi itu tidak dapat kutunjukkan dalam kenyataan. Bisa menampung kebutuhan kita dan keturunan kita kelak akan persawahan. berartilah aku digoda setan."Ronggur. Mimpi itu mewartakan bahwa bila aku melayarinya." "Paduka Raja. yaitu menyusuri Sungai Titian Dewata. menurut hukum yang diwariskan kepada kami. karena maksud perjalanan ini tidaklah untuk kesenangan perseorangan saja. Selanjutnya mimpi itu selalu mengatakan padaku.

Kalau cuma kau yang dikutuk dewata tidaklah menjadi soal besar." jawab Ronggur dengan tabah dan tenang. aku melihat dari kenyataan sesuatu perhitungan yang hasilnya pasti tiba. Tidakkah dapat kau rasakan ancaman mara bahaya yang akan timbul dan menimpa warga marga itu?" "Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Yang kuhormati arwah halus penjaga diri dan yang dapat dipanggilnya untuk membisikkan sesuatu pendengarannya. dengan hentakan kasar mengatakan." kata Datu Bolon menyindir. Tapi. "Seperti tidak ada sesuatu kekuatan yang dapat menghentikan orang mengisi perutnya. T api. "Begitulah rasanya. kau juga harus tahu karena yang kau tantang itu hukum dewata. Diusahakan menemukan.mengurungkan niat itu. justru karena keinginanmu untuk mengharungi Sungai Titian Dewata." tiba-tiba suara Raja Nagebu meninggi. Soalnya bila Datu Bolon meninjau dari sudut gaib. "Apa yang menggoda hatimu? Apakah kau dengan perjalananmu yang akan menimbulkan bencana dan yang telah menimbulkan huru-hara terpendam di kalangan rakyat dan para hulubalang. tanah habungkasan perlu dicari. Kemarahan dewata tidak saja menimpa dirimu. masih kau katakan untuk memperjuangkan kelanjutan . yang kuhormati kebenaran tenungnya." "Kalau begitu. tapi semua marga akan dikutuknya. bencana yang mungkin meruntuhh-an kelangsungan hidup marga. Kerajaan kita akan berakhir pada suatu yang menyedihkan. ini menyangkut seluruh marga kita. Justru karena memperhitungkan hal itulah aku mengambil kesimpulan. tidak ada lagi sesuatu hal yang bisa mengurungkan niatmu. Aku selalu memperhitungkan dan tetap merasakan. "Ronggur. Aku percaya bahwa Datu Bolon pun memikirkan hal itu." sindirnya pula dengan halus dan tenang. Kerukunan keluarga akan hancur. yang menanti saat meledak sehingga ketenteraman hidup terganggu dan kucarkacir. Padi di sawah akan tidak menjadi.

kemudian istrimu itu melahirkan anak banyak. Jadi. T api. Jelaslah sebenarmya kau mengimpikan sesuatu yang maha mulia dialamatkan pada dirimu. Raja Panggonggom mengadakan sidang kecil dengan para Raja Partahi." Seketika dia diam. Marga kita. kau memang sengaja mencari nama. Biar kau mengambil seorang istri atau lebih. pemegang tampuk dan penggerak para hulubalang perkasa. pokok persoalan sekarang di sini bukanlah aku. Raja Namora. Dalam saat itu.hidup marga dan keturunan? Atau." "Paduka Raja Nagebu. tapi kita semua. Raja Nagebu. tapi ketololan. Wajahnya bertambah merah. Tahukah paduka raja bahwa banyak dari marga ya'ng hanya punya tanah beberapa bidang dan hanya dapat menghasilkan padi yang cukup untuk makanan sekedarnya saja? Dan mereka terus saja melahirkan anak. sawah yang dikuasakan padaku memang cukup memberi nafkah. Hasil sawahmu memberi jaminan. bila untukku sendiri dan jaluran keturunanku langsung. Dan tahulah paduka raja bahwa permintaan bantuan dari lumbung desa setiap tahunnya bertambah banyak juga? Sehingga kita tidak bisa lagi mengadakan pesta pujaan terhadap Mula Jadi Na Bolon dengan besar-besaran? Inilah semua yang jadi persoalan. menunjukkan bahwa kau lebih berani dari setiap hulubalang kita. Sekali-kali tidak. Belum perlu menguatirkannya. kau belum perlu menguatirkan makanan untuk mereka. bukan diriku dan bukan pula hanya diri tuanku saja. Kalaulah yang kuimpikan bisa nyata dalam kenyataan tidak bermaksud aku disebut penemunya. Lalu melanjutkan. "Ronggur. . bidang sawah yang diserahkan atau dipercayakan kerajaan padamu cukup luas lagi subur. anak yang perlu kita beri makan. sehingga patentengan menantang hukum dewata? Ronggur menantang hukum dewata bukanlah keberanian. Juga aku tahu. dan Raja Ni Huta dari induk kampung. Maksudku jauh dari dugaan tuanku." Keadaan menjadi sunyi.

Kemudian mereka panggil pula Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Bagaimanakah hasilnya?" Orang tua itu berbicara perlahan. Karena almarhum ayah paduka raja. Di s itulah mendapat kenahasan. sehingga beliau memperoleh luka yang mengakibatkan kewafatannya. "Pembalasan dewata telah datang. berbicara pada hadirin. Almarhum ayah paduka raja diserang seekor harimau dengan tiba-tiba. Menurut pustaka kerajaan. bagaimana?" tanya Raja Panggonggom. sebagai undang-undang kerajaan yang tidak boleh dibantah. almarhum ayah kami memberi izin pada bapak untuk mengharungi sungai tersebut. tidak lama kemudian kami mengadakan pemburuan. Dia tidak pernah lagi pulang. Jelas tampak mereka sedang mengambil ketentuan dan keputusan rapat. yang mewariskan kedudukan Raja Panggonggom pada kami. Tapi. yang akan diumumkan pada seluruh marga. Tiba-tiba saja Panggonggom menyuruh bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan. sabahat karibku. menceritakan kegagalannya dulu mengharungi Sungai Titian Dewata. yang pernah meminta izin pada almarhum ayah kami." "Sesudah itu?" "Aku sendiri pulang ke mari. Tapi." "Selanjutnya. untuk mengharungi Sungai Titian Dewata. "Memang benar Paduka Raja bahwa aku pernah meminta agar diberi izin mengharungi Sungai Titian Dewata. Dia temanku. Dalam igaunya selalu mengatakan. Pembalasan dewata telah datang!" . Kami mengalami kegagalan. yang kutemui berbeda dengan hasil tenungku. Mereka berbicara perlahan. "Ayah Ronggur memperoleh cedera dalam perjalanan itu. "Bapak bekas Datu Bolon. tetap juga menerimaku kembali. tapi dari tiap wajah memancar kesungguhan.

. Golongan raja kembali mengadakan sidang kilat. Bintikan keringat melebihi keningnya. apakah karena satu kegagalan. boleh juga begitu "Hadirin semua." kupastikan. Tapi. Ronggur telah melupakan riwayat nenek moyang dan berusaha merombak kepercayaan yang kita anut atau menurut kata Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Akhirnya dia mengatakan: "Paduka yang bijaksana. Tapi. telah mendengarkan satu pengakuan dari seseorang yang pernah mengharungi Sungai Titian Dewata. sesuatu maksud baik harus dibatalkan? Apakah tidak hanya satu kebetulan saja hal nahas itu mendatang?" "Kutanya padamu."Apakah tidak mungkin. Raja Panggonggom mengatakan: "Kita telah sama mendengarkan cerita bahwa Ronggur hendak mengharungi Sungai Titian Dewata untuk mencari tanah habungkasan. yang menimbulkan kemarahan para dewata. Ronggur." Ronggur terdiam. apakah kau masih bermaksud meneruskan niatmu atau mengurungkan setelah mendengar pengakuan bekas Datu Bolon yang sudah disisihkan orang dari kehidupan ramai? Lain tidak! Dia membawa kenahasan bagi kerajaan. Maksud yang baik. terutama kau Ronggur. Apakah setelah mendengar pengakuan ini kau masih bermaksud meneruskan niatmu? Berilah jawaban. telah menghina kepercayaan yang kita anut. Ronggur!" Ronggur terdiam beberapa saat. apa yang dimaksudkannya itu karena mengizinkan bapak mengharungi Sungai T itian Dewata dan menerima bapak pulang kembali?" "Tidak dapat maksudnya. Lalu sebelum Ronggur memberi keputusan. Belum memberi sesuatu pilihan yang menentukan. Dia dihadapkan sudah pada saat yang menentukan." Hening sejenak.

dari gangguan setan. tidak seorang pun dari warga yang dibolehkan mengikuti dan membantu perjalanannya. maka dia tidak berhak lagi mencantumkan marga kita di belakang namanya."Saran yang dapat kami ajukan pada Ronggur. Kami tidak mau mengulangi kenahasan yang pernah menimpa almarhum ayah kami. gelar Hulubalang Muda dicabut kembali!" "Dia tidak boleh memakai nama kerajaan kita untuk melindungi diri dari kutukan dewata. dan dari gangguan perampok di tengah jalan. Dirangsum ala kadarnya!" "Syarat ini kami ajukan justru karena kami berpegang pada satu kepercayaan: siapa saja yang mengikuti perjalanan Ronggur. "Jadi kami umumkan pada semua Raja Ni Huta. Bila kau mengalami kegagalan kemudian kau pulang ke kampung ini. Kalau kau Ronggur tidak dapat menerima syarat ini. hendaknya urungkan dan batalkan niatmu sebelum terlambat. siapa saja yang membantunya mengharungi Sungai Titian Dewata. marga kita tidak akan menganggap serangan itu serangan yang langsung pada marga kita. Ibunya yang sudah tua akan dibelanjai langsung oleh lumbung desa. dan menjadi undang-undang bagi kita semua. Ronggur sendiri yang harus memikul risikonya. ialah bila Ronggur meneruskan niat itu. Bila dia mulai me langkah dari gerbang kampung memulai perjalanan. untuk menimpa . namun melawan dewata kita tidak mau. kau akan tidak dianggap anggota marga lagi. agar tidak membolehkan rakyat yang ada dikampungnya membantu dan mengikuti perjalanan Ronggur. Biarlah kami dan marga kita disebut pengecut. Begitu pula gelar Raja Ni Huta Muda. Kau akan ditangkap dan dijadikan budak belian. jalan para dewata dan para arwah menuju matahari terbit tempat Mula Jadi Na Bolon bersemayam. Kalau ada orang yang membunuhnya dalam perjalanan. akan turut dikutuk oleh dewata. Sawah yang telah dipercayakan padanya disita kerajaan.

ibuku. Membakar dada Ronggur. Pada wajah dan sikapnya tergambar bahwa mereka akan melaksanakannya sebaik mungkin. Dan. Pada kening Ronggur menitik keringat. Karena itu. janganlah sekali-kali mencoba untuk menentang kepercayaan yang kita anut bersama. . Tidak sanggup mengangkat kepala. berilah jawaban di tempat ini juga. Bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan menundukkan kepala. kau tidak dapat memberikan keputusan? Kau merasa takut dan bimbang? Karena itu kami sarankan. tidak berhak lagi memanen padi dari sawahku yang sedang menguning. Dengan wajah merah serta sinar mata yang manyala. janganlah menghina diri sendiri. hujan turun menderu. bagi kalian semua. Pikirkan baik-baik Ronggur. Dan. sehabis mengucapkan pilihan itu." kata Raja Panggonggom memecah kesepian. "Ronggur. Para Raja Ni Huta lain dengan takjim menerima undang-undang Raja Panggonggom. Nada suaranya mengejek. biar kami tahu mengambil sikap. Bersabung dengan petir dan kilat. katakanlah pilihanmu. hasil penemuan itu akan tetap kuhadiahkan bagi margaku." Keadaan menjadi hening." Suaranya mengguntur mengalahkan suara petir yang bersabung di luar Sopo Bolon.diri kami sendiri. bila aku menemui tanah habungkasan yang landai lagi subur. Sejak tadi di luar Sopo Bolon. Orang semua mengangkat kepala dibuatnya. Ronggur masih tertunduk juga. "Ronggur." kata Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. secepat mungkin aku akan berangkat. Aku. Di wajah Datu Bolon Gelar Guru Marlasak dan Raja Nagebu membayang kepuasan. akhirnya Ronggur berdiri dengan menghentak: "Semua pertaruhan yang dibebankan ke pundakku aku terima. Belum berdiri untuk menyatakan pilihan. Dengan satu janji.

Maafkan anakmu ini. angin. Bu. Cepat Ronggur mendekat. mencapai kampung di mana dia sebelum itu memegang tampuk Raja Ni Huta Muda dan Hulubalang Muda. seperti patung tanpa nyawa. Tapi. yaitu kepahitan dan kegetiran hidup di saat hari tuanya. sewaktu matanya tertumpu ke biji mata ibunya yang berseri. dia sadar bahwa orang tua itu telah dihadapkannya pada satu kenyataan. menatap padanya. tubuh Ronggur masih menggetar tidak karena merasa dingin. Otot Ronggur mengeras. Katakanlah Bu. Pintu rumah cepat dibuka Tio. walau udara begitu dingin. Ibunya cepat mengangkat wajah. Aku akan menuruti ibu. Dilihatnya Ronggur basah kuyup. dia tidak memperdulikan keadaan alam itu.Ronggur terus meninggalkan ruang Sopo Bolon. lalu menyembah sujud di kaki perempuan tua itu. yang mulai digenangi air bening tipis. tapi karena marah. Aku telah mempersusah hidupmu. Pertanda berita yang kurang baik. Yang sepantasnya tidak wajar lagi hidupnya disusahi. dia terus melangkah cepat di atas pematang yang licin. dan halilintar yang bersabung dengan petir. Gonggong si belang menyambut di tangga rumah. Aku akan minta maaf pada kerajaan atas kelancanganku. Dia menerjang ke tengah hujan. Orang yang berhenti memotong padi dan berteduh di dangau melihatnya begitu saja. Terus melangkah melewati sawah yang pematangnya menjadi licin. dadanya panas. aku tidak boleh pergi. wajahnya memerah. Sebelum ditanya Ronggur dengan suara lantang karena masih marah. Aku harus menggagalkan niat perjalananku itu. Perasaannya terbakar. menceritakan semua keputusan rapat dan pilihannya sendiri. Tidak mau berteduh ke dangau yang ada di tengah sawah. Ibunya jadi kaku tegang. apa yang harus kuperbuatl" . kaki. Tangan. Di antara isaknya sendiri dia mengatakan: "Maafkanlah aku. Tapi. Katakanlah.

mengitari tebing curam. anaknya bungsu. tanpa memperdulikan arti haus dan dahaga. mempertaruhkan keyakinan diri. Keheningan merayap di ruang mereka berada. suaranya sudah tambah jelas dan tabah: "Seperti terbangnya burung ambaroba. Mengusap perlahan sambil lalu mengeringkannya. Segala tekad menjadi kendur. Segala air mata telah dihamburkan dari dasarnya sampai kering. Sendu. Telah rela melepas anaknya sulung. menginginkan setetes dua air melalui kerongkongan kering. tapi dapat disebut jantan. Tidak cepat ibunya menyahut. "Bawalah daku bersamamu. lalu duduk di sisi anak beranak itu. Kau telah mengatakan dalam pertemuan raja dengan berani.Perasaan marahnya telah mencair. Kau tidak boleh membatalkan yang telah kau pilih. menghadapi wajah dan mata ibunya yang bersedih. Tangan ibunya yang sudah mengkerut. mengikuti lingkaran pegunungan. untuk pergi selamanya. bila berani tidak mengingkari janji. jangan tinggalkan daku. Perempuan tua itu tidak mengisak lagi. Bawalah daku. Harus begitu kau." Sambil berkata Tio mendekat. membelai kepalanya yang masih basah. walau apa yang akan terjadi. mencari mata air yang bening. Seorang lelaki yang berani mengatakan maksudnya. Jadilah." Perempuan tua itu tidak mengucurkan air mata lagi. anakku sulung anakku bungsu. demi hasrat diri yang tidak mau melihat ibu kandung yang sudah tua mengalami kesusahan." Seketika ibu tua berhenti. . tapi disambung pula. karena anaknya di sarang. Kau harus meneruskannya. Kemudian mengatakan perlahan-lahan: "Ronggur. Tapi dipecahkan suara halus yang bermula dari T io. seorang lelaki berhati jantanl Ibumu ini. Telah tabah menerima segala yang tiba. kau tidak boleh mengurungkan niatmu lagi. tidak mau anak lelaki berhati betina.

hujan rasanya tidak akan henti. agar selamat dalam perjalanan. terbuat dari jalinan benang berwarna tujuh. ccdw-kzaa . pisau pusaka turun-temurun. Supaya terhindar dari godaan setan. diukir dengan huruf Batak. Olehnya tekad Ronggur kembali pada pijakan semula begitu kokoh. Juga pada Tio diberinya ajimat. Angin melanggari pucuk dan batang bambu duri. berkerisik dan bunyinya begitu ngilu pada pendengaran. Ibunya menyelipkan pisau gajah lompak ke pinggang Ronggur. yang tertancap ke biji matanya tanpa mengedip. Perlahan pula. dapatkah kau menduga kemungkinan yang bisa saja menimpa diriku dalam perjalanan? Tahukah kau.Perlahan. katakanlah bahwa arwahku kau bawa serta sebagai sembahanmu padanya. Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan datang ke sana. Ronggur melepaskan diri dari pelukan ibunya. Bila kelak kita tidak bisa kembali lagi agar Mula Jadi Na Bolon tidak murka padamu. Di tengah malam buta. Tidak ada lagi satu kekuatan yang dapat menghalangi maksudnya. Bila fajar pagi terbit pertanda hari baru tiba mereka sudah harus berangkat." Lama Ronggur menatapi wajah Tio yang sudah punya kepastian sinarnya. Angin di luar tambah kencang. Mereka menyongsong terbitnya fajar. Dia menjampi Ronggur dan Tio. "Tio. Kemudian pada Ronggur diberikannya ajimat yang terbuat dari besi putih. ibu Ronggur merenggangkan pelukannya dari tubuh Ronggur. Lalu menatap dalam ke biji mata Tio. Aku sudah maklum. Yang berukirkan kakek kesatuan keturunan mereka yang langsung. Halilintar dan guruh terus bersabung. apa yang akan kutemui bila tafsiran mimpiku meleset?" "Aku sudah tahu. Menyiapkan yang perlu mereka bawa. Di rumah itu orang terus sibuk.

ambalang. Pulau Samosir Tuktuk Sigaol tidak tampak. Beberapa depa saja dapat ditembus pandang.5 Masih pagi benar. Di darat kabut tipis saja. Pengganti tangan bunda . Bertambah segar karena mengandung butir air. sudah di tempatnya. Ronggur menatap pada ibunya. Beras sesumpit. kampak. "Belitkanlah pada tubuhmu. kabut mengental. Karena itu dia banyak mempunyai teman. Begitu juga pada leher Tio." Hanya perempuan tua itu dan bekas Datu Bolon di tepian danau mengantar mereka. melalui renggangan batang bambu duri. jika bertambah jauh ke tengah. Tapi. Hijaunya dedaunan dapat juga dilihat pandang. panggada. sebelum perahu hilang ditelan kabut. Tio. di kala dingin mencekam. Juga mereka bawa mata pancing serta talinya. Tempat begitu lapang. Air danau alangkah dinginnya. Udara cukup dingin. di saat dia harus meninggalkan perkampungan itu untuk satu perjalanan yang belum tentu akhirnya. dicampakkan pandang ke tengah kampung. Mencari bekas kehidupan masa lalu di sana. dan si belang sudah berada dalam perahu. Tombak. dibelitkan ulos batak ragi purada yang diiringi kata. dan sesumpit batu sungai yang keras. penimba air. . permukaan danau. Lalu pada orang tua itu. Tanah lembab pertinggal hujan semalam. Disumpit lain daging kering. memikat hati orang di sekitarnya.. . tak terduga . tumbang. Dua tiga biji bambu duri terbelintang di tengah jalan. Tapi. Pada leher Ronggur membelit ulos batak ragi purada yang dibelitkan ibunya. keberanian yang tidak gentar menghadapi sesuatu soal pada saatnya. Orang lain sudah dilarang untuk mengantarkan mereka. Pengayuh. Ronggur. Tingkah lakunya yang sopan serta ramah-tamah. galah.

" Perempuan tua itu menundukkan kepala. punya teman. Tersedu di sana.nasibnya. mereka akan pulang membawa berita baik dan menggembirakan. Temannya sebaya banyak yang mati di saat itu. betapa pahit perasaan mencekam hati untuk meninggalkan tanah tempat lahir. Cepat dihapus agar tidak sempat dilihat Ronggur. Meratap panjang. tidak seorang pun dari temannya yang dibolehkan mengantarkan. selagi martabat marganya belum runtuh. Untuk digantikan warna putih saja pada akhirnya. "Semua yang dikorbankan Ronggur untuk perjalanan ini akan kembali padanya. Di sebelah haluan perahu. Kemudian menuntunnya pulang ke rumah. Matanya jauh mengedari tanah yang sudah cukup dikenalnya. kabut tambah menipis lalu menghilang. Sebelum pferahu ditelan kabut. Tangan terkulai tak ada lagi yang hendak dilambai. "Mereka akan berhasil. Tahulah dia. tidak hentinya lambaian dilepaskan dari tepian. Perlahan pula tepian menghilang dari pemandangan. Perahu bergerak perlahan meninggalkan tepian. Perlahan perahu memasuki daerah yang dilingkungi kabut tebal. Di mana dia pernah disanjung puja. tinggi melengking. harus menjadi budak belian. walau sebenarnya dia tidak dapat meyakini bujukan itu. tapi tidak boleh pamitan. Melepasnya. malah lebih dari itu akan dipunyainya. Bila sinar matahari pagi telah muncul dari puncak Dolok Simanuk-manuk. mengiakan. Si belang pun seperti tahu. Teringat pula saat kejatuhan marganya dan dia sendiri. Tidak dilihat Ronggur lagi. Setetes dua air-mata membasahi pipi. Tio berdiri. dibesarkan. . perjalanan mereka sekali ini amat panjang. ibunya mencampakkan diri ke pohon hariara yang besar itu. Tangan mereka membalas lambaian kedua orang tua yang mengantarkan mereka." bujuk bekas Datu Bolon. dan diasuh. Bekas Datu Bolon menyabari.

bukankah itu berarti memberikan tubuhnya. tekad hati yang bulat. bila diri tahu perbedaan antara menjadi seorang budak belian dengan manusia merdeka dan diri tidak berpihak kemerdekaan itu. Riwayat Ronggur berakhir di s itu saja. hatinya merasa kecut juga mendatangi ajal yang ada di depan. walau perahu agak susah dikayuh dan walau hati masingmasing masih diselubungi sakitnya perpisahan dengan kaum kerabat. namun pada saat itu. yang mempunyai otot yang tegap. Tio mendayung ke hulu. Antara keduanya belum mengucap sesuatu kata. hidupnya ke tangan nasib yang telah tertentu belangnya. Haluannya tumpul. Bukankah itu berarti penghinaan akan martabat diri. yaitu menjadi budak belian orang. dan sopan santun yang manis. Mereka berdua terus mengkayuh. dengan tanah tempat dibesarkan. Karena dasarnya agak lebar. keberanian yang jantan.Kerajaan sudah tahu bahwa Ronggur bersama Tio telah berangkat. maka Raja Panggonggom mencoret nama Ronggur dari silsilah keturunan marga. dihiburnya diri. tanpa pamit. Ronggur telah dianggap mati. Walaupun Tio tetap merasakan bahwa dia akan aman selalu bila berdekatan dengan Ronggur. Tapi. mereka masing-masing melaksanakan tugas. Perahu terasa berat dikayuh. Sambil berkayuh. Beberapa biji mata pancing yang sudah diumpani dijatuhkan Tio ke danau. seseorang . tidak tahu menghargai diri sebagai manusia yang dapat membedakan arti dan hakikat manusia merdeka dengan budak belian? Ah. setiap perahu tambah jauh dikayuh. katanya dalam hati sendiri. Perahu yang dikayuh Ronggur dan Tio maju perlahan. kalau dia tidak ikut. mereka mengharapkan dapat pula sambil lalu menangkap beberapa ekor ikan. sikap ramah tamah. Tapi. Ronggur di buritan langsung menjadi pengemudi. yang akan memperlakukannya seperti memperlakukan hewan. Menahan air atau menghempang kelajuan perahu.

kupikir dan kurasakan. Itulah risiko. Walau apa bentuk nasib yang menanti di depan." kata Ronggur pula. Dan. ura saja. yang telah menciptakannya menjadi manusia. mengatasinya. kesempatan. "Tapi. menggelepar di permukaan air. daun pembungkusnya tidak ada." Dengan sedih akhirnya Tio mengatakan. matahari leluasa melemparkan sinarnya. Manusia lahiratau dilahirkan memang untuk menghadapi risiko. Banyak bikin asamnya. lalU tercapailah idaman hati." . "Sentak pancing yang ada di sebelah kananmu!" teriak Ronggur yang sekaligus membangunkan Tio dari renungan. Biar cepat masak. Biar masaknya rata pula. Isi perutnya dibuang Tio. Lalu dia bertanya pada Ronggur: "Kita apakan ikan ini? Kita ura?" "Ya. Disisikinya. kata Tio selanjutnya pada diri sendiri. Dan. memang diri mampus karena tidak dapat mengatasi risiko itu. Tangannya cepat menggapai tali pancing. Kabut sudah terangkat. untuk membebaskan diri dari belenggu yang menindas harga diri itu. Tapi. diri telah me laksanakan tugas kehidupan sebaik-baiknya. Bila aku memilih jalan yang ditempuhnya. "Tangkap dengan jaring. Tapi. Tidak lama kemudian. Satu keuntungan bagi tiap manusia.yang tidak dapat mengucapkan terima kasih pada Mula Jadi Na Bolon. Tio mengikuti petunjuk itu. seekor ikan mas yang sudah cukup besar. harus rata. ada bila aku bersama Ronggur. itulah kehidupan. Dengan sebuah pukulan panggada pada kepala. ikan itu melepaskan gelepar akhirnya. Atau. yang bisa mempergunakan tiap kesempatan yang ada. T idak menciptakannya menjadi hewan.

Tapi. Kemudian dibungkus baik-baik. Hingga perjalanan menjadi bertambah jauh. Si belang tidak sering lagi menggonggong. Tepian yang dipilih ialah lepian yang jauh dan kampung yang banyak bertebar sepanjang pantai danau. Cepat dia menujukan haluan perahu ke tepian. Lalu me lompat dari perahu ke tepian berpasir basah. Matahari tambah tinggi dan terik. Sampan penangkap ikan sudah sunyi dari danau.Ronggur mencampak pandang ke pinggir danau. sudah lebih banyak diam dan tiduran di perut perahu. Selalu mengikuti pantai. Ikan diasami. Beberapa kali mereka berpapasan dengan penangkap ikan. Sedang ikan yang diura itu. cepat mengkayuh sampan masing-masing. kembali mereka melanjutkan perjalanan. Seolah tidak tertembus hawa. Pada mulanya dia selalu menggonggong perahu dan sampan yang berpapasan dengan mereka. Di sana mereka memasak nasi lalu makan siang. kenapa orang tidak menegurnya dengan ramah lagi. justru karena perahu mereka tidak punya atap. langsung memanjat sebuah pohon berdaun lebar. Lalu dibaluri dengan kunyit. Lalu. Para penangkap ikan itu menatap dengan dungu ke arah mereka. Bila sinar matahari sudah tidak terik lagi. tapi karena . Perahu mulaii menunduk nunduk mengikuti alun gelombang. Beberapa tangkai dedaunan yang cukup lebar dijatuhkan ke tanah. turut si belang. Sekarang Ronggur sudah dapat mengartikan. Ronggur mengkayuh melalui ke tepian. Gelombang mulai menggila. Mereka tidak memenggal perjalanan melalui tengah danau. Cepat dipungut Tio. agar cepat jauh dari manusia yang sudah digoda setan jahat itu. tidak seorang pun dari penangkap ikan yang melambaikan tangan dan menyapa mereka. Matahari leluasa melemparkan sinarnya dan membakar mereka berdua. baru bebeiapa hari kemudian dapat dibuka dari bungkusannya untuk dimakan. Daging kering masih ada. Mereka melanjutkan perjalanan.

" . Titik putih yang besar itu. Tio tidak memikirkan itu. Pasir hidup selalu berpindah tempat. secara perlahan-lahan akan ditelan pasir hidup itu. Perahu dan sampan nelayan yang terdampar ke sana karena tidak hati-hati. Jadi orang yang berlayar di sana harus hati-hati. Biar kita dapat terus menyusuri sungai sampai ke tempat yang jarang perkampungannya. membalas gonggongnya. selalu dikebumikan di gerbang kampung. Dia menarik napas yang dalam. sambil menjulurkan lidah. Sedang Ronggur memperhatikan permukaan air dengan awas. ada yang menuding. kita sudah harus memasuki mulut sungai. Kita tak dapat menepi di sini. Tapi. Meneliti awal sungai. "Sebelum sore benar. Dapat mereka tentukan melalui titik putih itu bahwa itulah gerbang perkampungan. Terlalu rapat perkampungannya. dan beriak. Titik kecil yang bermunculan di sana menatap ke arah mereka. Pada mulut sungai banyak terdapat gugusan pasir hidup. tidak ada yang melambaikan tangan. pada pikirannya mendatang pengenalan bahwa mereka telah memasuki lekuk danau yang pada salah satu tepiannya. bergerak dibawa arus. Pertanda perkampungan. di antara mereka ada yang bermaksud jahat pada kita. bermula Sungai Titian Dewata. dapat mereka terka bahwa itu kuburan nenek moyang yang pertama merambah mendirikan perkampungan. bercampur keruh. Kuburan nenek moyang yang pertama membuka satu perkampungan." kata Ronggur. Orangnya bisa selamat kalau pandai berenang. "Percepatlah mengayuh T io. Siapa tahu. antara permukaan air yang aman dan jebakan pasir hidup. Setelah dua hari berkayuh. Tanda pasir hidup dapat diketahui dari permukaan air danau yang agak memutih. Juga agar dapat kita bedakan. akhirnya si belang sendiri pun tinggal diam saja melihat mereka. Tapi.orang yang ada dalam sampan atau perahu yang digonggongnya tidak me lambaikan tangan. tepian danau kembali dirimbuni rumpun bambu duri dengan rapat.

Tidak mengapa. Teruslah mengayuh. Tio bolak-balik melihat pada orang banyak. begitu pula pada kaki Ronggur. tapi masih perlahan. Tio menjadi gelisah. seperti menjenggak. Cahaya senja sudah bermain di permukaan air yang beriak. orang itu tetap juga di tempatnya. Melihat mereka dengan dungu. Pada kedua tepian pangkal sungai. oleh kebisuan itu. kepercayaan itu membuat mereka bisu. tetap disorong sesuatu tenaga untuk ditibakan ke satu tempat. Si belang sudah pernah menggonggong ke arah mereka.Tio mempercepat kayuhannya. Teruskan mengayuh. Riak itu. yang diketahui Ronggur sudah lain dari kesatuan marganya. Apakah mereka tidak bisa mengucapkan sepatah kata?" "Kepercayaan mereka sama dengan yang dianut margaku. punya arus. . Perasaan mereka tumpul dibuatnya. kau lihat mereka itu?" "Ya. Dari sekian banyak orang. Sedang mereka sudah berbeda marganya dari margamu. karena tidak dapat membantu tuannya. seorang pun tidak ada yang menyapa mereka. Si belang kalau sudah capek duduk. Mula sungai." "Tidak seorang pun dari mereka yang mengaju tanya pada kita. Teruslah mengayuh. Sebelum jauh malam. Mengibaskan ekor pada punggung Tio. orang mencampak pandang ke arah mereka. walau masih perlahan. Oleh tatapan itu. Riak yang seperti disorong ke satu arah. Tapi. Tapi. kemudian pada Ronggur yang terus mengayuh dan menjaga kemudi dengan hati-hati. Kepercayaan itu yang melarang mereka untuk bercakap dengan kita. banyak orang berdiri. Menonton tanpa menggunakan perasaan. terkadang berjalan hilir mudik dalam perahu. tetap bergerak. kulihat. Atau. "Ronggur. Si belang akhirnya capek sendiri. jangan ambil perduli. Tampaknya si belang seperti menyesal.

Agar godaan darinya tidak lama mempengaruhi tekad diri. rasanya. Si belang mempertajam penciuman.hendaknya kita sudah sampai ke tempat yang cukup jauh dari perkampungan mereka. Tio." Tio meneruskan mengayuh. Mulanya begitu lemah dan jauh. Arus sungai masih lemah. Si belang mengikut. Setelah beberapa hari tidak mendengar suara orang lain yang mencakapkan mereka. seperti patung. mencari dari mana suara itu datang. Seseorang berlari di pematang sawah sambil melambaikan tangan. dari satu tempat yang ketinggian lagi sunyi. Belum bisa menghayutkan perahu. Dan. Disuruh T io diam. Merahnya mewarnai segala. Orang itu sudah berada di tepian sungai. napasnya masih tersengal. . si belang sekali lagi menggonggong ke arah tumpukan orang yang diam bisu itu. Untuk akhir kalinya. Tidak berkerisik. Aku mau turut." kata orang itu. Menggonggong. Ronggur mendongakkan kepala. seseorang memanggil nama Ronggur. "Ronggur. suara orang itu seperti hadiah yang besar. Aku ngeri melihatnya dan merasa terpukau berhadapan dengan manusia yang begitu banyak. Biar cepat kita jauh dari tatapan mereka." Ronggur tambah terdiam. Mereka masih harus mengayuh kuat-kuat. Hampir tidak dapat mempercayai pendengarannya." "Teruslah berkayuh. Diikuti Tio. sebelum mereka menjauh benar. tapi yang begitu diam dan bisu. Ronggur berhenti berkayuh. hadiah yang membuat mereka gugup. Seperti suara setan yang bangkit dari dunia jauh. Seperti mata ikan yang mati. "bawalah aku bersama kalian." "Mata mereka tidak bercahaya. agar perahu melaju. Senja di langit bertambah tua.

lebih baik kurasa. Daripada aku membunuh diri. Kawanmu sejak kecil. Aku kalah berjudi. gantung diri. Bawalah aku. Dia belum yakin benar akan pendengarannya. Karena aku takut sendirian menuju negeri jauh itu. Tapi. Bawalah aku. Sungguh sial nasib menimpa diriku. Di saat mereka disisihkan dari sekitar. Membuat Ronggur ingin tahu." "Jadi kau sengaja mau mencari malapetaka?" "Ya."Ronggur. seperti kalian. permohonan yang tidak diduga sama sekali." "Kudengar kau." Ronggur dan Tio tambah terdiam mendengarkan permohonan orang itu. Aku mau ikut. "Aku tahu perjalananmu mendatangkan ajal. dari alam kehidupan mereka sehari-hari. Justru karena tahu ada teman sama-sama mati. "Kenapa kau harus ikut?" tanya Ronggur. Tepikanlah perahu itu biar masuk aku. Seperti kau. Karena aku memang dengan sengaja mencari kecelakaan pada diri sial ini. Tidak bermaksud jahat aku. Aku mau turut. kenapa orang itu mau turut. Bawalah aku. kau dengarkah aku? Aku si Lolom." "Kau pikir kami sengaja mencari kematian dengan melayari sungai ini? Atau. aku tidak perduli. sengaja mendatangi kecelakaan yang bisa . Lolom. Aku mau turut. "Bawalah aku bersama kalian. Namun hutangku masih bertumpuk. agar dibolehkan turut serta. Sawahku sudah tergadai. lebih tenteram kurasa hati. bila ada teman samasama mati. di saat itu pula seseorang dari anggota masyarakat yang menyisihkan itu memohon pada mereka. Ronggur. Kudengar kau. Apa maksudmu?" tanya Ronggur kembali. biar aku tidak merasakan kesunyian di saat nyawa berpisah dari tubuh.

Biar ada pula temanku sama-sama mati. "Bukankah kau dengan sengaja mencari sumber malapetaka dengan melayari Sungai T itian Dewata ini?" "Tidak. Bawalah aku Ronggur. Memang budakmu itu manis. Kau karena menyintai seorang budak." jawab Tio kasar. Bukankah karena tidak tahan menanggung malu di dunia ini. di saat kalian bercumbuan. Percayalah. dan aku mau turut. tidak seperti semula lagi." Wajahnya memerah. Dan. Tio membenamkan pengayuh ke air hingga air muncrat ke atas. Aku akan menutup mata dan mulut." Dengan hentakan kasar. Aku tidak bermaksud mempengaruhi perasaan cinta yang tumbuh di hati kalian berdua. pula. "Perjalanan kami tidak wajar dikotori seorang penjudi yang mau bunuh diri. Sebenarnya dia sendiri memang sependapat . Sinar "Apa maksudmu?" kembali Lolom bertanya. Lolom?" "Karena kau Ronggur. jatuh cinta pada budakmu." suara si Lolom mulai ringan dan lincah. lalu mulai mendayung.mengakibatkan kematian?" tanya Ronggur matanya memancarkan cahaya benci. Habis perkara. jangan bersilat kata. kenapa dia harus mengatakannya. Walaupun sebab kita berbeda. ia tidak tahu." jawab Ronggur tegas. "Kenapa kau berkata begitu. Itu soalmu. Dari kita sebenarnya sama sialnya. kematian. "Perjalanan yang menuju atau mencari tanah habungkasan. kau me larikan diri dari kehidupan ini dengan dalih mencari tanah habungkasan bersama budakmu itu? Bawalah aku. Kau sengaja mencari kecelakaan. "Ah. Kawan. Aku karena kalah berjudi. Kami mau mencari penghidupan yang lebih sempurna. Mencapai tanah luas tempat habungkasan. Biar ada temanmu sama-sama mati.

Karena itu. Aku juga tidak dapat mempercayai bila seseorang yang melayari sungai ini. Aku yang mau bunuh diri. "Apa kau katakan budak manis? Apakah kau tidak dengan sengaja mengotori hidup si Ronggur? Dengan wajahmu yang manis. Tio sudah hendak mendayung perahu. kawan. Jatuh cinta pada seorang budak." Seketika Ronggur terdiam. Lolom terkekeh lupa akan masalahnya sendiri. marilah sama-sama mati. Bawalah aku. "Kenapa kau diam. dari para orang tua. tapi dicegah Ronggur dengan membenamkan kemudi ke air. Aku juga mempercayainya. Lain tidak. sayang sekali apa sebabnya kau mau ikut dengan kami. masih mengatakan akan mencari tanah habungkasan. Ronggur? Karena tepat apa yang kukatakan?" Ronggur masih diam. Kalian telah bersetubuh sebelum meminta izin dari Mula Jadi Na Bolon. kau penggoda keparat. Tapi. dan datu bolon. tidak wajar rasanya.dengan orang lain. biarpun begitu. tanganlah berkata aku membawa sial padamu. Tidak menyahut. Ronggur jatuh cinta. Bagiku itu omong kosong dan dusta paling besar. kau sedang bunting. Aku kalah berjudi. dengan Lolom bahwa perjalanan itu akan kandas di karang kecelakaan. perjalanan yang bermaksud baik itu dikotori seseorang yang memang sengaja mau bunuh diri. karena setiap saat kau menggodanya dan kata orang. dari kerajaan." "Siapa mengatakan itu padamu. Akhirnya Ronggur mengatakan: "Lolom. Kemudian Lolom melanjutkan. Nasibmu jauh lebih celaka dari nasib kita semua. Kalau alasanmu berbeda dari alasan yang kau katakan . Itulah berita yang tersiar luas di antara penduduk. kau telah menggoda dan menjerumuskan seorang sahabatku ke lembah kehinaan. Lolom?" tanya Ronggur keras “Kau masih bertanya.

itu. bawalah aku biar ada temanku sama-sama mati. walau kau kawanku. karena kau seorang. Sendirinya pula aku akan buktikan bahwa kepercayaan yang tertanam di hati kita selama ini mengenai sungai ini salah." "Tapi. seseorang penjudi yang kalah. Itu saja soalnya. Agar nasib sialmu. tapi sebaliknya. bersibunuhan karena setetes air parit. berperang karena setapak tanah. Kemudian Ronggur melanjutkan: "Aku mau buktikan Lolom bahwa yang kuimpikan atau yang diwartakan mimpiku padaku. Betapa aku berterima kasih karena kau mau menemani aku seraya bersedia memikul segala akibatnya. "Sudah kukatakan aku tidak dapat mempercayainya." Lolom masih tertawa di pinggir sungai." jawab Ronggur dengan suara kuat. aku tidak mencari kematian dengan sengaja. Yang kuminta padamu. . carilah. agar semua orang terlepas dari ancaman yang selalu mengikuti hidupnya. "Perjalanan yang kumulai ini bertujuan baik. Seseorang yang dengan sengaja mau bunuh diri padanya akan datang malapetaka. Hasilnya kelak akan kuserahkan pada semua orang. Tidak wajar mengorbankan nasib orang yang begitu banyak. agar kutukan dewata padamu karena kau mau bunuh diri tidak turut menimpa kami. Aku akan menemui tanah habungkasan. Kami masih tetap mengharapkan dan memohon agar dewata menunjuki jalan kami. benar. betapa gembira hatiku menerima kehadiranmu. Karena itu dan karena aku tahu pepatah lama. sewajarnya pula aku menolak permohonanmu." "Jangan mencari dalih lagi. Karena itu. karena aku tidak mau mencari ma lapetaka. Yang kelak hasilnya akan dikecap setiap orang. Sungai ini akan membawaku ke tanah landai yang subur. dialah yang bernasib sial. Aku takut mati sendiri." kata Lolom menghentak. Kita akan sama-sama mati bila kita sama-sama melayari sungai ini. masa datang orang banyak. Karena aku tidak mau bunuh diri.

Agar kubur kalian tidak ada jadi pertinggal di dunia ini. kalian tidak mau pula membawa aku serta. Dan. tempat mencampakkan segala penjelasan di atas pusaraku. Kembali dia berhenti mendayung. walau dia sudah berlari-lari di tepian. membuat hidup mereka menjadi morat-marit. Penjudi yang kalah main. Nah. dia berusaha agar marahnya tidak meledak. membuat Ronggur tertegun. Hendak mereka jadikan aku budak. Lolom mengatakan: "Ronggur. Lalu. waktu Lolom sadar bahwa kencang perahu tambah tak dapat diikutinya lagi. karena aku segala penjudi yang kalah. aku pun bermaksud begitu. menagih hutang. "sampai hatikah kau melihat aku manjadi budak?" Ratapan si Lolom yang tambah meninggi. Menyuruh Tio berhenti pula mendayung. Matanya menyala merah. Ronggur. aku yang sudah rela mati. menerjunkan diri ke ujung dunia agar bangkai kalian tidak dapat dikuburkan. Begitu pula agar tidak ada tempat bagi sanak saudara. apa yang harus kuperbuat? Aku takut mati kalau aku sendiri yang menghadapinya. Dan. kau dengarkah aku?" ratapnya mulai meninggi. ke mana perginya akal sehatmu yang selama ini kau punyai? Ya. dan datangilah sendiri ajal yang akan merenggutkanmu dari kehidupan ini!" Sambil tertawa dan perutnya berguncang-guncang. dia berkata dengan kuat lagi tajam: . perahu sudah mulai dikayuh Ronggur dan Tio." Waktu Lolom berkata.tempuhlah sendiri. bagi anak yang masih kecil. Dia mencampak pandang ke daratan. memang kau masih menggunakan akal sehat itu. Tapi. Yaitu. dengan pengap-pengap dia memohon: "Ronggur. kalau mati tidak wajar menunjukkan kuburnya agar tidak ada lagi tempat bagi mengunjungnya.

Kau telah menghina aku." "Dan. kau kawanku sejak kecil. yang turut merasakan pahitnya derita seorang budak. bila kau pun nanti turut menanggungnya. Aku tidak bersedia mengorbankan perjalanan ini pada nasib sial yang akan menimpamu. dari penjara perasaan yang meracuni diri sendiri." "Lantas. Agar kau tahu dan menyadari bahaya main judi. bagiku itu tidak mengapa. Agar kau bisa kembali menjadi seorang yang merdeka. Karena kau memang sengaja mencari kematian. Untuk bisa terlepas dari belenggu itu. Kelak aku akan membawa berita padamu bahwa tanah habungkasan telah kutemui. maka kau pun akan mendoakan agar perjalanan ini memperoleh hasil seperti yang diharapkan. pahitnya perasaan diri sendiri justru harus membunuh orang lain. Dan. apa yang harus kuperbuat?" tanya Lolom pula melanjut dan memotong cakap Ronggur. Untuk ikut serta dalam perjalanan ini kau tidak boleh. Pesanku padamu. Agar kau tahu betapa nikmatnya mimpi akan kemerdekaan. semua terletak pada hasil perjalanan ini. Tapi. Kau boleh pindah ke sana dan kau kembali menjadi orang merdeka. betapa berharganya sebuah kemerdekaan. Harapanmu terletak pada hasil perjalanan ini. karena orang lain itu pun ingin hidup lalu berusaha menguasai setapak tanah. agar kau tahu. Sekarang biarlah dulu kau rasakan betapa sakitnya menjadi budak orang lain." "Begitu percaya kau Ronggur bahwa kau akan menemui tanah habungkasan. merasakan pahitnya menjadi seorang budak. Dan perasaanku selama ini. sehingga kau tidak mau lagi mempermainkannya di perjudian. janganlah dulu bunuh diri." "Mimpiku telah mewartakan padaku. mempunyai setetes air parit telah memaksa aku harus mencapai tanah habungkasan. . "Kalau berjudi bagimu sangat baik."Lolom.

Hanya satu-satu pepohonan tumbuh di tepian. Ronggur telah melanjutkan: "Di samping itu. di saat Ronggur dan Tio melepas lelah. dia yang berjaga. Perahu ditambatkan. Dan. bila pagi terbit lagi. Harapan masih ada walau masih begitu samar. sangat Sebelum Lolom sempat mengatakan sesuatu. Suruhlah mereka bersiap menerima sebuah warta kebenaran. Agar tidak terguncang perasaan mereka bila kelak menerima warta penemuanku atas tanah habungkasan. kembali dia meratap dan menangis. Secara perlahan arus sungai mulai terasa. selagi perahu dikayuh. si belang kebanyakan tiduran.Bertobatkah. mereka akan melanjutkan perjalanan itu. karenanya dia belum mau mati. Yang mungkin berbeda malah menantang kepercayaan yang mereka anut selama ini. Setelah merasakan bahwa mereka sudah cukup jauh dari perkampungan. sesudah dia sadar bahwa perahu Ronggur sudah menjauh dan melaju. Dan. Bulan mulai memancar di langit mencurahkan sinar ke bumi. Menjadi suluh bagi Ronggur dan Tio mengikuti jalur sungai. Memang begitu selalu. . Dengan tercengang Lolom melepas mereka. Ronggur mendaratkan perahu. bila kau memang ingin berbakti." Ronggur dan Tio kembali mendayung. Tidak berdaun rindang. Tapi. Perahu terus melancar. sehingga dia bisa kembali menjadi orang merdeka. disela tangis itu dia mengharapkan. wartakanlah pada orang semargamu bahwa anggapan mereka akan perjalanan kami ini tidak benar sama sekali. agar Ronggur dan Tio berhasil. Tanah datar yang terdiri dari tanah batu di kiri-kanan sungai. Kalau malam. Si belang disuruh berjaga." tobat. Memilih tempat bermalam. karena doa seorang yang didengarkan Mula Jadi Na Bolon. Meranggas.

setiap Ronggur mengerjakannya sambil memejamkan mata. dan masing-siang.Setiap hari arus sungai tambah terasa. Satu dua batu jangkar sudah dijatuhkan Ronggur. yang menganga bergaya mau menelan. Kediam-diaman. tidak jarang Ronggur melengketkan telinga ke permukaan air. Sejauh mata memandang yang dilihat hanya batu padas saja. Dia pergi ke tempat ketinggian. bila arus bertambah deras. namun Ronggur mendaratkan perahu ke pinggir sungai. agar kelajuan perahu dapat dikendalikan. Menembus bukit. memulai jalan darat. Bila Ronggur kembali mengangkat kepala. Dan. dia harus bertambah hati-hati. . Walau matahari tidak terik. yang mencampakkan pandang padanya. Arus sungai sudah cukup deras. mengadakan peninjauan. menerjang terus ke perut bukit. bila mereka mulai melewati batas itu besok pagi. Dan. mereka telah tiba ke batas yang boleh ditempuh manusia. pandang yang meminta penjelasan. dia harus mulai mencari mulut gua yang diceritakan Datu Bolon. Bila suara gemuruh air sungai berbantingan ke dinding batu mulai kedengaran. Ronggur tidak mengucapkan. Atau. untuk merasakan getar air. Perasaan masing-masing saling mengajuk nasib yang menanti mereka. Itulah mula gua yang diceritakan bekas Datu Bolon. tapi diusahakan agar tidak kedengaran pada Ronggur. Lalu menyuruh Tio menghidupkan api. Karena itu. T io akan menarik napas yang panjang. hatinya bergoncang dalam dada. Sedang sungai seolah terus menuju satu arah yang jauh. Dan. sepatah kata. Pertanda mereka akan bermalam di sana. Pada hari selanjutnya. Tapi. Menurut keterangan bekas Datu Bolon. setiap itu pula T io memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Tekadnya harus bertambah bulat dan kukuh memasukinya. mendaki sebuah pundak bukit. Kembali dia ke tempat Tio. tetap diperhatikan dan dipelajari Ronggur.

mendesis. tidak ada sepenggal kayu atau bekas api. terbuat dari batu alam.Ronggur dan Tio. melontarkan perasaan yang tertekan. Mereka tidak perlu lagi mengayuh. lalu menutupi wajah bulan. Keadaan sekitar menjadi pekat. Tandus dan kosong. susut karana terus-terusan direndam air. Angin kencang datang dari hulu sungai. desiran arus sungai kedengaran bangkit. Beberapa potong kayu diangkutnya dari perahu. Bila mereka mendarat ke pinggiran lagi. Atau. hari itu mereka tidak menemui sesuatu. Awan hitam merayap dan menjalar. Nyala api menari-nari di dinding batu. Walau sudah jauh melewati batas yang boleh didatangi manusia. Dikejauhan. bulan muncul. Hingga batu jangkar sudah tiga biji dijatuhkan. mereka temui sebuah lobang alam pada s isi sungai yang agak tinggi. Membangkitkan riak yang . Lobang yang bersisi berlantai dan beratap batu. tepat dari belahan jalur sungai. bila diperhatikan benar. sekarang bisa mengasoh. Telapak tangan Tio yang sudah lecet dan keputihan. Mulut tambah terkatup. di atap batu. Jadi tidak dari pundak Dolok Simanuk-manuk lagi. Tangannya pasti menggenggam ulu kemudi. Arus sungai sudah dapat menghanyutkan perahu malah terlalu liar. seperti yang mereka kenal. Terus saja Ronggur mencampakkan pandang ke kejauhan. Dia mencari kekuatan hati dari elusan itu. Dingin. Dari jalur sungai dikejauhan. tidak seperti lobang alam yang pernah mereka temui. Menyinari kiri-kanan sungai yang tidak punya tanda kehidupan. pada pagi berikut melihat matahari muncul dari satu kekosongan. Mereka masih selamat. Tengah malam. Tangannya mengelus leher si belang yang duduk di sampingnya. Tidak pernah didatangi manusia layaknya. Tetap meneliti keadaan. Wajahnya bersikap menantang dan begitu tegang. Buru-buru Tio menghidupkan api. Hanya arus sungai yang bertambah kencang. Namun mereka meneruskan perjalanan juga. Dalam lobang. Tapi.

selain hai yang penting saja. keadaan udara cukup terang benderang oleh sinar bulan yang nyaman. Kekelaman yang abadi. Satu-satu halilintar mengkilap membelah bumi. Seperti marah karena ada orang yang berani berlayar melewati batas yang sudah ditentukan. Beberapa saat dia berdiri di sana. selimuti dirimu dengan kulit binatang berbulu. Dan. Baru beberapa saat yang lalu. Selagi Ronggur tidak ada dekatnya. pertanda mula kecelakaan yang akan menimpa diri. walau tidak mengatakan sesuatu. Diiringi suara guntur yang mau memecahkan segala. Kulit tangannya masih tetap pucat dan menyusut. Lantas pergi ke atas gua alam itu. dia tidak akan menyahut. Si belang mendekat pada Tio. yang menumbuhkan berbagai ragam anggapan. Tidurlah. Kepekatan menyeluruh menelan segala. menyengkak. Riak sungai menjadi besar dan tambah gelisah. Dia selalu begitu." Mendengar cakap yang sepenggal itu saja. Biar terasa panas. Tio yang tepat berada di bawahnya. Dia merasa lebih tenteram bila Ronggur di dekatnya. sudah melonggarkan perasaan tertekan. atau semua serba seperti menakut-nakuti. Memanaskan diri dekat api. Permukaan sungai naik. Ronggur pergi ke tepian sungai memperkokoh ikatan tambatan perahu. Dipisah langit-langit gua yang terbuat dari batu alam. cukup gelisah permukaan sungai. Seperti: "Besok pagi kita melanjutkan perjalanan sebelum matahari terbit.tidak dapat dikatakan kecil. walau dia tahu Ronggur tidak pergi jauh. . dia merasa sepi atau merasa takut. perubahan alam begitu rupa menimbulkan prasangka dalam diri. menatap ke sekitar. tidak mengetahui bahwa Ronggur tepat berada di atasnya. Begitu cepat suasana alam berubah. tapi melaksanakan yang dimaksudkan Ronggur. hujan turun seperti dicurahkan dari langit. Dalam saat begitu. Bersabung halilintar dan guruh. Semuanya serba asing dan menakutkan. memperhatikan sekitar dan mempelajari arah dan mata angin yang menggalau.

Mendekatkan telapak tangan ke jilaman api. seperti Tio sendiri. Permukaan sungai menaik. Telapak tangan ditelempapkan ke tubuh." Tio malu akan ketololan dan ketakutannya. ketika itu juga. tubuhnya tertumbuk ke tubuh Ronggur yang berdada telanjang. Lalu mundur. Sambil memalingkan pandang Ronggur berkata. bila badai telah teduh. Begitu dekat hingga Tio yang melihatnya merasa ngeri. tersenyum di bawah selimut kulit berbulu. yang dengan sendirinya kakinya menjadi telanjang. Dari goleknya dia melihat Ronggur mengeringkan tubuh. kita akan meneruskan perjalanan. Butiran air berjatuhan. dia tahu. kalau tangan itu akan hangus terbakar. Tio bangkit dari duduknya. Dia menyesali diri kenapa dia harus terpekik. kilat. Si belang sekali ini sudah tertidur. Dengan membungkuk dia menuju mulut gua. Dia . dan guruh masih bersabung. Dalam hatinya dia merasa geli atas kelakuan Ronggur. angin. lalu mengatakan. Ronggur tersenyum. "Kau belum tidur juga? Belum mengantuk?" Tio menyurukkan kepala ke bawah kulit binatang. Tapi. karena dia tahu bahwa mereka sudah berada di daerah yang berbahaya. riak sudah membesar sudah menyerupai ombak danau. Ronggur tersenyum. daerah yang belum pernah dimasuki manusia. Tidak apa-apa. air tidak mungkin menggenangi mulut gua di mana mereka berada. Perasaan sak wasangka tambah mencekam diri.Malam itu Ronggur agak lama baru kembali. Sedang Ronggur merasa geli pula atas kelakuan Tio yang menyurukkan kepala ke bawah selimut buru-buru. Kulit binatang itu tidak cukup panjang untuk menyelimuti tubuhnya sekaligus. Di luar hujan. Kemudian Ronggur berjongkok dekat api. Tidak disadarinya matanya dapat ditangkap pandangan Ronggur. Hendak melihat ke mana Ronggur pergi atau di mana Ronggur berada. "Pergilah tidur. lalu dikaiskan. T io terpekik karena terkejut. Besok. Namun perasaan keadaan sekitar.

dunia lain. angin yang bersabung dan hujan yang menderu di luar belum henti. bahwa cuaca masih tetap seburuk kemaren. Enak dimakan. dicoloknya tiap lobang. sudah mulai me lemah. memejamkan mata dengan paksa. daging kampret enak dimakan. Api sudah padam. Terus menghidupkan api. Dalam gua menjadi dingin kembali. Kampret berjatuhan. Di sini banyak kampret. Perlahan dia bangkit. Merasa bersyukur. Suara mendesis yang bersumber dari sungai itu sangat menyayat atau menyengat pendengaran. Kelepak itu berasal dari lobang-lobang kecil yang banyak di langit-langit gua. Di samping itu. Waktu kepalanya dijulurkan dari mulut lobang untuk mengetahui keadaan cuaca. Lalu dia mengambil sebatang kayu. Tambah lama tambah banyak. Waktu nyala api me loncat-loncat dan menari-nari di dinding gua. dia pun tahu. Menjerangkan air yang ditampung dari pinggir sungai. Membaringkan diri. Patah sayap. Cahaya putih sudah menerobos dari mulut lobang waktu Ronggur membuka mata kembali. pikirnya. Tapi. Ronggur menutup kedua belah kupingnya. Kampret itu ditumpukkan. Asik dia dengan pekerjaannya.menggolekkan diri. Matanya diliarkan menatap langit-langit. Tio belum bangun. Dengan malas Ronggur kembali masuk ke dalam lobang. Didengarnya kelepak lemah di langit-langit gua. Suara yang timbul atau seolah datang dari dunia jauh. Ma lah menggulungkan tubuhnya sampai bengkok untuk melawan dingin. namun bias cahayanya tidak dapat menembus awan yang bergumpal dengan sempurna. . Juga si belang. Tidak tahu dia Tio sudah bangun. Walau matahari sudah terbit dan agak tinggi. Dengan kayu itu. Heh. justru karena dia tahu. lalu dia dapat memastikan bahwa sesuatu yang bernyawa masih ada di sana. takut kalau kelepak lemah itu henti. Desis lidah air masih terus mengganggu pendengaran. Dia mendekati salah satu lobang kecil.

rasa dingin dan kantuk cepat menghilang. Enak juga dimakan. "Kau menjaganya dengan baik kalau begitu. . menemui tanah habungkasan atau menemui ajal. meninggalkan nasib yang malarig di belakang." Tio memegang pinggangnya yang agak menonjol. Yang terasa tidak punya akhir dan ujung. bibit itu sangat penting dan perlu bagi kita. Tio menjaga bibit itu dengan baik. Itu saja pun baginya cukuplah. Cepat benar sudah masak." kata Ronggur. Dan. di mana kau bikin pundi-pundi tempat bibit itu? Sudah berapa hari tidak kulihat. Teruslah jaga baik-baik. Tio menundukkan kepala. Ronggur menyambung: "Teruskan jaga baik-baik. kita meneruskan perjalanan. langsung dengan bulunya. bersama seorang lelaki yang dipercayainya kejujuran dan keberaniannya. Di tanah habungkasan yang kita tuju. Tio diam saja mendengarkan. Atau. Disambutnya juga senyum itu. mulut mengunyah daging kampret yang manis. Jajan arwahnya dalam perjalanan menghadap Mula Jadi Na Bolon. Dia telah menunjukkan kesetiaan sebagai budak pada tuannya. Ingatan Ronggur cepat meloncat. Bakarlah. Bila angin dan hujan teduh.Ronggur berpaling. padi yang bisa mengurangi rasa laparnya bila mereka memang jatuh ke ujung dunia." Cakapnya punya kepastian seolah mereka akan menemui tanah habungkasan yang dimimpikan." Kampret itu mereka panggang. Sambil meneguk air simar palia yang pahit kental lagi panas. telah menunjukkan kesetiaan hingga berani pergi ke mana saja. Cepat dia mengaju tanya: "Tio. dia telah berani memilih perjalanan tanpa nasib. Pundipundi itu diikatkan di pinggangnya. Bila angin dan hujan reda. lalu: "Di sini banyak kampret. Bibit pertama yang akan mereka tanam di tanah habungkasan. Padanya. Atau. mereka akan meneruskan perjalanan. Tio tersenyum tapi tertunduk. sekarang telah menjadi sama. Jangan sia-siakan. dia sebagai perempuan.

Atau. lalu memulai perjalanan lagi. berangsur secara perlahan. Tapi. Tambah lama tambah berbentuk semacam terowongan. tanah subur yang landai. tambah beda dengan tepian sungai yang sudah mereka lewati. Tapi. masih jauh. Ronggur dan Tio bersama si belang cepat-cepat meninggalkan gua. Tali temalinya bertegangan diseret perahu. Gelisah tidak pernah henti. Karena. Seperti tidak terkendalikan. Itulah gunung Batu yang diterobos air sungai yang arusnya bertambah deras. tentunya menimbulkan suara gemuruh yang dahsyat. kelajuan perahu terus bertambah. Tepian sungai menjadi tambah tinggi juga. dapat dikuasai karena dibantu batu jangkar itu. atau suara lengkingan itu tersekat dalam kerongkongan. batu jangkar terus . Pendengaran terus dipertajam Ronggur. Bahaya. Sudah lebih dari lima batu jangkar dijatuhkan Ronggur. Dan. Air sungai terus menerus mengarah ke satu bukit yang seolah tegak berdiri. menghadang sungai. air terus menerobos. Air yang bertemperasan ke dinding tepian batu. mula dari impiannya. Dia melengking kecil. pikir Ronggur. desis air yang menyayat pendengaran itu tetap juga.Karena itu dia hanya menelan air liur mendengar omongan Ronggur yang punya kepastian itu. Tapi. Angin tambah melemah dan hujan sudah mulai teduh. Perubahan pada kedua tepi sungai tambah nyata. Karena itulah. dia masih meneruskan penyusuran itu. Cahaya yang menerobos ke dalam gua tambah terang juga. membuang butir-butir air yang melengket pada bulunya. Si belang menggoyangkan tubuh. Batu jangkar sudah tujuh buah dijatuhkannya. namun kelajuan perahu terus bertambah kencang. bila air sungai jatuh ke akhir dunia. terhunjam ke dada bumi. berdesis dan muncrat ke sana kemari. terbuat dari batu alam yang hitam. Bila arus bertambah kencang. atau ujung dunia. namun suara gemuruh belum ada kedengaran. Menyusuri sungai.

tanpa mau melepaskan seketika saja pun selagi perahu terus berlari dibawa arus. Segala perasaan dikerahkan meraba yang menanti di depan. Pada tiap riam. Begitu curam dinding batu itu. selain dari tumbuhan kerdil yang tidak berdaun hijau. Pada puncaknya yang masih bisa dijangkau mata tidak ada sesuatu yang tumbuh. bisa juga temperasan masuk ke dalam perahu. Begitu seterusnya. Dan. Sebuah kata pun tidak ada yang diucapkan. Pancing yang diumpankan Tio tidak pernah lagi mengenal Ikan bertambah jarang atau memang tidak ada sama sekali. Mereka tidak bisa lagi dengan leluasa melihat matahari. Ada kalanya sinar matahari seperti tidak sampai pada permukaan sungai karena disungkup kedua dinding batu yang bertemu puncaknya. Mata terus-terusan ditancapkan ke depan. Namun mereka tetap berlayar. Membuat mereka terkadang tidak dapat mengetahui peredaran waktu dengan pasti. yang terus memegang kemudi. Sekitar menjadi taram-temaram. terkadang wajah Ronggur sendiri disembur air. bertambah memanjang. Air yang bertemperasan pada dinding batu tambah mendesis dan menyayat pendengaran. Kelokan sungai yaitu patah tambah sering mereka temui. Dan. walau dinding perahu sudah tinggi dibuat. Dan pada setiap akhir kelokan riam sungai teap ditemui. air sungai gelisah warna putih melambung ke atas. membuangnya kembalinya ke sungai. Tahulah Ronggur suara desisan air yang menyayat pendengaran itu.dijatuhkan. Melanjutkan perlawanan terhadap arus sungai yang setiap saat bertambah kencang juga. Air sungai menjadi lebih dingin dan hitam. Ronggur hanya tinggal menunggui kemudi. Tepian sungai yang terbuat dari batu alam bertambah tinggi juga. bermula dari air yang bertemperasan ke sisi sungai dan lebih hebat pada salah . keadaan begitu bertambah jauh menyusuri sungai. Tio cepat menimbanya. Pada riam yang lebih curam.

tahulah Ronggur bahwa sungai amat dalam. perahu akan pecah remuk. wajah Ronggur terus menantang ke depan. Air seperti membulat. Tapi. di tengah si belang. dan nasib sudah teraba bentuknya. Meneliti dan menduga sesuatu yang sedang menanti. Cepat . tapi pada tikungan yang dilalui terkadang ada juga batu muncul ke permukaan air. Dada dipukul detak hati yang tambah mengencang. Bila terdampar ke sana. Seperti mereka berada dalam satu lembah yang sempit diapit kedua sisinya yang tinggi. Bertemperasan. Air membiru sudah seperti menghitam. Air yang bertumbukan dengan batu mencuat itu menjadi gelisah dan liar. Tidak sedikit terlempar ke dalam perahu. Tio harus cepat menimbanya. mereka hanya bisa menambatkan perahu ke salah satu tungkul batu yang mencuat. Selain kayu bakar tidak ada. Biarpun dia tahu bahwa sungai sangat dalam. Sudah lebih sepuluh batu jangkar yang mereka jatuhkan. Mereka harus hati-hati melewatinya. menghadang.satu tikungan. Terlebih pula tidak ada yang menyelingi. Karena itu. Suara air yang bertemperasan ke dinding batu. Peralatan mereka menjadi basah. Begitu menyiksa terasa. mereka harus menahan dingin malam yang menyiksa. jadi. Begitu pula tepian sungai yang landai. Perut perahu menjadi tergenang air. terus menerus mengisi pendengaran. menghidupkan api dalam perahu berarti bunuh diri. Tio di hulu perahu Ronggur di buritan. Kelanjutan perahu terus juga menggila. pandang mereka sering ketemu. Dalam saat begitu. Mereka tidak ada lagi menemui gua alam. kalau cahaya yang menerobos dari celah dinding sungai di atas itu me lemah. Arus sungai terus menerus bertambah kencang dan tambah menggila. terasa sangat membosankan. Mereka lalu tidur dalam perahu tanpa unggun api. Dari warna biru permukaan yang sudah menghitam itu. Celah dinding sungai di atas bertambah kecil juga.

Tikungan bertambah sering ditemui. bila utusan cahaya kembali menerobos celah dinding sungai di atas itu. Bibirnya gemetaran. Suara yang lemah itu. Dan. Begitu pula Ronggur yang berada di buritan perahu. Mulanya sangat lemah sekali. T idak mereguk air panas lagi di pagi hari. Namun perahu seperti diseret dan dilarikan setan saja kencang nya. yang berarti pekerjaan Tio tidak ada. Tapi. yang selalu mendekat padanya dengan lengkingnya yang tersekat dalam kerongkongan. Mengancam nadanya. Agar tatapannya tidak terhalang. Arus sungai tambah menggila. mengancam siapa saja . Bila temperasan air yang melemparkan air ke perut perahu tidak ada. Tambah lama tambah nyata. tapi cepat saja Ronggur menyuruhnya agar duduk kembali. Jiwa tambah terasa dihantam habis-habisan. Atau. Mata Ronggur terus memandang ke depan. Wajah Ronggur agak pucat juga dibuatnya. Suasana tambah menekan. Ronggur.dipalingkan. mereka akan meneruskan perjalanan lagi. Hanya air sungai yang dingin diteguk sehabis cuci muka. agar kepala Tio tidak tersangkut pada salah satu lingkungan dinding sungai yang terkadang begitu rendah. Ronggur seperti tidak me lihatnya. ke mana diri akan dibawanya. menempuh jalur sungai yang tidak dapat teraba. Tio menyelimuti diri dan juga si belang. yang bangkit di depan itu. Dinding sungai bertambah tinggi dan tandus. Arus sungai menggila Batu jangkar sudah lebih duapuluh biji dijatuhkan. tambah nyala: mengguruh. Terkadang Tio berdiri meregangkan tubuh yang kaku. Tio tertunduk. Sudah sering dia berpaling ke belakang menatapi. Walau terkadang hanya tertumpu ke dinding batu pertanda sebuah tikungan. Tio tidak terus-terusan atau tidak tekun lagi menatap ke depan saja. dia selalu melemparkan pandang ke depan dan menggunakan segala perasaan.

yang berani mendekat. Dalam jeritannya sering dia memanggil nama almarhum ayah bundanya. Dengan tidak berapa dikuasa iya pula. Seperti tidak terdaki layaknya. mendaratlah. Tidak dengar suara gemuruh yang mengancam itu?" Masih tidak diperdulikannya. Tiba-tiba saja biasan cahaya mencurah ruah. namun riak air sudah seperti gelombang. Tapi. kau tidak mendengarkan aku? Mendaratlah ke tepi. memohonkan ampun atas keangkuhan mereka berdua. Matanya sebentar melihat ke kiri dan ke kanan. meledak teriakan panjang dari mulutnya: . Jangan teruskan lagi mengikuti sungai. Namun Ronggur tidak memperdulikan atau tidak mendengarkan. Begitu liar. Banyak terlempar ke dalam perahu. Tiba-tiba saja Tio menghantamkan tangan ke haluan perahu. Tio tidak bisa lagi menimbanya. celah dinding melebar di atas. Perahu terangguk-angguk dan tergoncang. Pecah. Tapi. tingginya alangkah jauh lagi curam. Tio terus menjerit. "Ronggur. Ronggur menatap ke depan dan pendengarannya terus dipertajam. cepat bertukar tempat. Dia masih meneruskan pelayaran. Apakah kau mau bunuh diri?" Berbaur akhirnya dengan suara gemuruh di depan dan desis air dan suara riak sungai yang menari gila. Sering dia menyebut nama dewata. Walau air tidak tertumpuk pada salah satu batu yang mencuat di permukaan sungai. melengking. Suara gemuruh di depan tambah jelas. Lalu terus ke depan. Memercik ke sana ke mari. sambil berteriak: "Ronggur. Urat saraf Tio seperti lumpuh karena terus-terusan ditekan suasana ketegangan. Suara gemuruh itu seperti suara dari sesuatu benda yang jatuh ke satu tempat yang amat dalam. Namun Ronggur belum mendaratkan perahu. Yang telah berani menantang ketentuan dewata.

jagalah dirimu. Ronggur mengangkat kepala mendengar jeritan Tio itu. dengarlah aku. isaknya belum henti. Aku tidak sanggup melihat mata yang digenangi air mata yang bening. Marilah dulu makan daging kering. Kedua pelupuk matanya. Kemudian bambu itu isilah dengan air. Dia menatapi Ronggur dengan biji mata yang tergenang air mata. kita memerlukan air barangkali di atas sana. . "Keringkanlah. "Hapuslah mata dan pipimu. Dinding sungai agak landai tapi tetap mendaki ke atas. Kau lihat dinding sebelah kanan itu? Kita harus mendakinya ke atas. Sedang Ronggur tambah memperkuat tambatan mengikat pinggangnya dengan tali. Perahu sudah tertambat dan sudah terhenti walau arus sungai berusaha melarikannya. Aku cinta padamu . Tapi. Air sungai tambah membulat dan berlari kencang. Tapi. Supaya kita dapat tahu yang ada di depan. dia mengangkat kepala. yang meledak dari dasar hatinya. dan sebuah gulungan lagi disandang." Tio mengerjakan semua yang dimaksud Ronggur. Dapat dipercaya. Dan. kokoh tertanam. . Kita harus meninjau dari sana." kata Ronggur. Kita masih harus menempuh perjalanan yang jauh. dia mulai mendaki. cepat dihentikan T io dengan teguran. . ." Perahu tambah dalam dan kuat anggukannya. pipinya basah kuyup oleh air mata. sedang ujung satu lagi dibebaskan. "Ronggur. . "Si belang bagaimana?" . sebelum itu." lalu tangisnya berkepanjangan. diri kita berdua . Tiba-tiba saja tangan Ronggur mengayunkan tali ke dinding sebelah kanan. dulu mendahului riaknya. Biar kita punya tenaga. ."Ronggur. Talinya tetap sangkut pada sebuah gundukan batu yang mencuat agak panjang dan besar. Sewaktu Tio merasakan bahwa perahu mereka tergoncang kuat karena ada yang menarik dan ada yang menahan. kuatkan dulu hatimu bahwa kau sanggup mendakinya. Mungkin tidak ada air di sana.

namun merasa lemah juga mata menatap yang sudah sering ditatap tapi yang buat beberapa hari tidak ditatap. Si belang menggonggong kecil. yang untuk beberapa hari lamanya tidak mereka lihat. Suara yang menakutkan dan mengancam itu terus bergema. tali itu bisa ditahannya kalau Ronggur sendiri yang tergelincir. Atau. baru dia mendarat. di perutnya si belang menatap ke arah mereka sambil menjulur lidah. Mengikat peralatan itu dan membawa si belang ke atas." Di pinggangnya diselipkan penggada dan kampak digenggam. yang sudah beberapa hari basah saja. Dari sana sudah dapat kembali mereka tatap keluasan langit. Ronggur maju menanjak sambil terus membuat semacam anak tangga pada batu padas. . Supaya ada tempatnya bergantung kalau dia tergelincir. keadaan tetap sunyi. lehernya digoyang-goyangkan. Tajam lidah batu alam seperti menusuk telapak kakinya. Walau sinar matahari melemah. kita memang sudah harus mendarat di sini. Tangga demi tangga dibuat Ronggur dan didaki."Biarlah tinggal dulu di perahu. Tapi. Atau. Tidak vertikal. Agak mencong jalannya tapi terus mendaki setapak demi setapak. Kita perlu mengadakan peninjauan. Tidak ada pertanda kehidupan. Kemajuan pendakian itu lambat sekali. Tio membelitkan bungkusan yang berisikan bekal. Mereka sudah di pertengahan pendakian. Namun tetap pasti. Lebih dulu dielusnya leher si belang. Terkadang Tio menatap ke bawah melihat perahu mereka yang terangguk-angguk. yang tidak memberi kesempatan pada mereka untuk menatap keluasan langit. Tak ubahnya mereka seperti baru keluar dari satu lobang alam yang kelam lagi sunyi. Kau perlu turut ke atas agar ada nanti yang menarik peralatan-peralatan kecil ke atas. yang terus diikuti Tio. Aku akan turun lagi. Tio memegang ujung tali satu lagi yang ujungnya dikaitkan pada pinggang Ronggur sebagai pegangan.

namun Ronggur melarang meminum air sekali banyak-banyak. karena ada sesuatu yng menyungkap. tidak mampu menembus keputihan yang mengental. Seperti memancur. hari sudah sore. lembah putih. "kita sudah sampai ke atas. jaluran batu padas yang lebarnya hanyalah barang sedepa. hanya sejalur batu tandus dan di sana-sini berlidah tajam. Ke arah depan dan belakang. Tidak ada satu suara pertanda kehidupan. Di sebelah kiri. Sebelum gelap mereka sudah harus sampai di puncak. Karena itu. . Tapi. sebentar lagi. Di depan sekali suara mengguruh itu menanti. Atau. Di kanan. seperti diselaputi sesuatu dan tidak punya dasar tampaknya." Mereka harus bercakap kuat-kuat. Setiba di puncak. waktu tangannya sudah dapat menggapai puncak yang dituju. Betapa bersukur hati Ronggur. perasaan lega itu tidak lama mengisi ruang dada. Dan arah matahari dan lemahnya sinar. Angin meniup. dia sering membesarkan hati Tio. Tidak lebih. Matahari memancarkan sinar kemerahan yang lemah. Teruslah mendaki. Ronggur tahu. T idak jauh lagi. putih kental seperti kabut. tahulah mereka yang ditemui. Penemuan ini membuat hati terpukau. lembah yang dasarnya sungai yang menggila arusnya." selalu katanya. agar dapat ditangkap pendengaran. Tapi. Itu pun tidak jauh-jauh ditatap. awan rendah. tapi suara yang mengancam kehidupan dengan liar mengguruh di depan. tidak memberi kegembiraan. agar bisa lebih mendaki tanjakan. "Sebentar lagi. agak licin di sini. Keringat meleleh dari tubuh masing-masing. Tidak bisa perlahanlahan. Tidak bertepi dan tidak bermula. Sudah cukup haus Tio.Yang ada hanya gemuruh yang menakutkan. hatihati. yang mengancam.

Bisu. tanpa percaya diri. awan rendah menyungkap. Tidak berapa lama tari warnanya menghias langit. dia membimbing tangan Tio. Ronggur berjalan di depan. Namun tanpa bicara. Karena dia pun seperti kehilangan semangat. Gigi gemelatukan. Tio tidak berani jauh-jauh dari Ronggur. Dapat juga mereka temui tempat yang agak luas sedikit.Berlagak mau melumpuhkan dan mematikan tekad hati yang sepadu-padunya. Sekeliling begitu dingin membeku. Mereka rasakan langit begitu dekat. sekira tiga empat depa luas jaluran di sana. Tekad hati yang padu menjadi cair. Pada sinar matanya. Senja tambah samar. Lidah batu yang tajam menusuk telapak kaki. sempoyongan. Terasa ngilu. Dia gamang. bergerak ke depan perlahan-lahan. Satu sama lain tidak bisa mengeluarkan pendapat. menggenggam tali lebih kuat dan begitu dekat di belakang Ronggur. ke jurang tanpa dasar. Mati. "Kita akan mati lemas di sini. Tio lantas saja memeluk tubuh Ronggur dengan gemetar. Tio di belakang. T idak tampak bintang atau bulan. Geraknya seperti gerakan yang bermula dari kedalaman. Berlagak mau . Ronggur membiarkan. Tubuh menggigil. Karena. cepat kelam. Awan rendah menyungkap semua atau memang langit begitu rendah. tidak ada lagi sinar cahaya percaya diri. Tambah lama menjadi hitam." kata Tio pelan sekali. Melangkah berserah diri. salak si belang dari dasar sebelah kiri kedengaran. Mereka terus melangkah. Melangkah begitu saja. Ronggur menoleh kepadanya seenak tanpa mengatakan sesuatu. Mereka memutuskan untuk bermalam di sana. Seperti mengantar mereka ke tempat tujuan akhir. Sesekali mereka hendak tergelincir jatuh ke bawah. jalannya begitu licin. T idak ada yang dapat dibakar. Kental. Sesayup sampai. Sebelah atas mereka.

desis air sungai yang bertemperasan ke dinding sungai. Semalaman matanya terus terbuka. Tapi. Pada satu saat angin bertiup dari arah depan. Melumpuhkan perasaan yang ada dalam diri. Tapi. Namun mata hanya dapat menembus sekira empat lima depa saja. Sampai payah bernapas. Ronggur terus membuka mata. Ronggur tidak dapat tidur walau tubuh cukup capek dan payah. Tio jatuh tertidur sambil menggulungkan atau melipatkan kakinya dekat ke dadanya. Butiran air halus memerciki tubuh mereka. Ada juga dirasakannya kebenaran yang diucapkan Tio itu. sampai di situ saja. Lagi-lagi Tio mengaju tanya. "janganlah berkata begitu. "Ke mana lagi kita harus pergi?" tanya Tio pula. tetaplah waspada. lagu tunggal yang abadi. Sekitar." Kembali mereka diam. Tio. tapi menakutkan. Akhirnya dapat diketahui Ronggur. Tidak pernah hujan begini tipis." katanya menasihati walau diri sendiri bimbang. Lagu kematian yang hendak mengantarkan para arwah ke tempat abadi. . dapat kembali ditatap. Seperti ada utasan cahaya putih. kita sudah basah. Suara gemuruh. Lama-lama hitam pekat itu beralih pula." kata Tio pula. "Apakah hujan?" tanya Tio.menyelimuti segala. "Apakah sudah pagi?" "Aku tidak tahu. dunia jauh lagi as ing. Air begitu tipis. Berusaha mengikuti perobahan alam kalau memang perobahan itu ada. kepekatan yang menghitam itu sudah kembali agak memutih. Tapi. "Aku tidak tahu." "Barangkali kita sudah terjebak. sekira empat lima depa. melingkar. tapi begitu lemah. dipikirnya hujan turun. Tapi.

ganjarannya. dia mau menghembuskan napas dengan tenang di perut perahu itu." sahut Ronggur. tapi dengan alasan kenapa dia harus mengarungi Sungai Titian Dewata. pada perahu. "Sekalipun kita harus kembali ke tempat asal. dia harus menjemput si belang dan peralatan serta perahu itu kembali." Tio terdiam." "Kita terjebak di s ini. "Ya. Perahu itu seperti rumah dan tempatnya terakhir. tentu tidak bisa melawan arus yang menggila. tapi marilah dengan tabah mendekatinya. Kalaupun ajal tiba."Tabahlah. akhirnya muncul kembali. Sedang Ronggur setelah dicekam habishabisan oleh perasaan takut. pada peralatan yang masih tinggal di sana. Semua peralatan itu akan menjadi saksi di depan Mula Jadi Na Bolon. ke tempat Mula jadi Na Bolon. mencari tangga yang dibuatnya semalam. tentang tujuan citanya. Kembali dia teringat pada s i belang. Lalu diputuskan. Kemurnian cita yang digenggam kembali memberi suluh pada keyakinan." sahut Ronggur. secara berangsur. Marilah tabah menerima upahnya. Dia mulai menuruni anak tangga yang dibuatnya semalam." kata Tio pula. Beberapa saat kembali hening. Tio terdiam. "Kalau kita surut. melalui . kita telah melaksanakan tugas kehidupan. pikir Ronggur." bujuk Ronggur. Ronggur mencampak pandang ke sebelah kiri. tentu dapat melembutkan hati Mula Jadi Na Bolon yang pengasih penyayang itu. aku tahu. Dengan perahu itu dia akan mendatangi tempat Mula Jadi Na Bolon. Bilapun Mula Jadi Na Bolon murka." "Tidak terjebak. Tapi. "kita tidak bisa lagi menempuh jalan sungai. Tio memegang ujung tali di atas. Bila perintah datang. kepercayaan akan diri sendiri.

goyangan tali yang digoncang Ronggur, Tio mengulurkan tali lebih panjang. Sesampai di bawah, Ronggur mengikat peralatan kecil. Dengan berteriak sekuatnya, sekerasnya, disuruhnya agar Tio menarik. Tio menarik. Kemudian menjatuhkan tali lagi ke bawah. Ronggur mengikat perahu baik-baik. Mengisi air pada bambu tempat air yang dilobangi ruasnya, tapi ruas sebelah bawah tidak dilobangi. Air bisa tersimpan baik di sana. Kemudian dituntunnya si belang. Kembali dia mendekat ke atas. Merabaraba. Terkadang harus digendongnya si belang. Si belang seperti tahu marabahaya yang sedang mereka hadapi. Dia menuruti segala petunjuk Ronggur dengan baik. Setiba dipuncak, bersama dengan Tio, ditarik mereka perahu ke atas. Perlahan-lahan agar tidak terbanting ke tebing bukit batu, yang bisa membuat perahu pecah. Mereka masukkan semua barang bawaan ke perut perahu. Tapi, kampak terus digenggam, sedang di pinggang menyelip panggada. Dia tambah yakin lagi pada diri sendiri. Perjalanan itu tidak boleh surut dan tidak boleh henti. Harus terus maju. Sampai tiba ke tempat yang menentukan. Diputuskan akan terus mengikuti jaluran batu yang tidak berapa luas itu ke depan. Ronggur di depan. Tio di belakang. Mereka pikul perahu, jalan sempit terkadang, luas terkadang. Keadaan masih tetap sama. Hanya beberapa depa dapat ditembus pandang. Kabut tebal atau awan rendah menyungkup segala dengan putihnya yang padu. Tambah maju ke depan, suara gemuruh itu bertambah jelas. Dan, alas yang mereka pijak seperti mempunyai getaran kecil. Digoncang sesuatg tenaga yang maha kuat dan dahsyat. Membuat hati kembali tertekan. Namun dengan tabah serta keberanian yang bangkit perlahan-lahan, Ronggur terus memelopori perjalanan rombongan yang kecil itu. Menuju tempat yang menentukan, mimpinya benar atau memang mimpi itu godaan setan jahat. Si belang mengikuti langkah

Ronggur, dekat sekali di belakangnya. Si belang tidak berani mendahului ke depan. Tidak menggonggong. Hanya melengking kecil. Cahaya putih yang lemah itu menjadi tambah lemah lagi. Keadaan sekitar kembali menghitam. Ruang hampa. Kembali mereka mencari tempat istirahat. Air tipis halus itu, sudah terus-terusan menghambur dari asalnya yang tidak tahu di mana. Ronggur mengosongkan peralatan mereka dari perut perahu. Kemudian, perahu dibalikkan. Disuruhnya Tio dan si belang berondok ke sana, agar tidak terus-menerus diperciki air tipis. Dia sendiri tetap di luar. Tidak hentinya melihat sekitar, walau yang dapat ditembus pandang hanya beberapa depa saja. Dingin mencekam. Ronggur tidak tahu, Tio menggigil juga dalam sungkupan perahu, kedinginan. Wajah dan bibirnya menjadi pucat. Tapi, Tio tidak mau mengatakan. Tidak ada sumber panas yang bisa menyamankan sedikit. Kembali warna putih yang lemah itu mendatang dari segala arah. Tapi, begitu lemah. Kembali mereka melanjutkan perjalanan, mengikuti jaluran setapak itu. Keadaan cuaca masih tetap seperti semula. Terkadang jaluran itu mendaki, tapi terkadang menurun, untuk mendatar lagi. Jalanan bergelombang. Terkadang melurus, tapi tidak jarang memenggok ke kiri dan ke kanan. Mereka mengikutinya dengan tabah. Tapi, harus lebih hatihati, jalanan bertambah licin. Air tipis tambah tetap berhamburan dari sumbernya. Suara gemuruh di depan yang membosankan itu, tetap mengguruh. Si belang tidak berani lagi berjalan sendiri. Dia harus dimasukkan ke perut perahu, didukung. Beban bertambah berat. Di saat tubuh mulai melesu. Di saat kepercayaan terakhir mulai merenggang dari tubuh T io.

Sambil mengisak, Tio meminta, agar mereka menghentikan perjalanan. Dia mendudukkan diri begitu saja. Tempat itu agak luas sedikit. Sehingga mereka bisa agak leluasa sedikit bergerak. Namun harus tetap hati-hati. Karena basah, licin. "Ada apa Tio?" tanya Ronggur sambil mendekat. Tio menundukkan kepala. Mengisak terus. Wajahnya memucat. Bibirnya gemetar. Dingin. Sambil duduk di depan Tio, Ronggur mencari dagunya. Diangkatnya perlahan dengan telapak tangan yang menggetar juga karena basah. Ditatapnya wajah, bibir, dan mata Tio yang memucat sayu "Kau capek Tio?" Belum ada sahutan. "Katakanlah." "Katakanlah." Tapi, begitu bening dan terasa agung. Ronggur tidak dapat memancarkan sinar merah lagi di matanya. "Marilah menanti hari esok di s ini, bila hari esok masih ada. Marilah menanti apa saja di sini, apa saja," Tio lalu menundukkan kepala. Melepaskan dagunya dari telapak tangan Ronggur. Air berhamburan terus, membasahi tubuh mereka. Tio mulai menggigil. Si belang juga. Terus membulatkan tubuh dalam perahu, tidak berani turun. "Katakanlah, apa yang harus kita kerjakan lagi Tio," kata Ronggur melemah. "Aku telah membawamu ke tempat yang hampa ini. Apakah kita harus pulang ke kampung halaman, yang telah melemparkan aku, yang tidak menerima aku lagi menjadi warganya? Nasib telah tertentu di sana, nasib yang malang menanti diri. Katakanlah Tio, aku akan mengikutinya.” "Marilah berhenti di sini," sahut Tio akhirnya. "Kupikir tidak ada lagi gunanya kita meneruskan perjalanan ini. Marilah pasrah di s ini. Berserah dengan hati bulat ke tangan Mula Jadi Na Bolon. Bawalah daku padanya sebagai sembahanmu, agar

" Arwah nenek moyang Tio akan menerima arwahnya di tempat yang baik. melengket di sana beberapa saat. Marilah berpasrah diri di depan Mula Jadi Na Bolon. lupa hal yang menghadang di depan. kembali Ronggur mengangkat dagu Tio. Maafkanlah aku. Jauh-jauh. selain diri sendiri. sebagai orang yang sama hak. Lupa kepahitan. membuai mereka berdua. Berhadapan dengan kenyataan ini hatinya jadi bersorak gembira. Jari jemarinya meraba pergelangan Tio. ya barangkali. pertanda dia seorang budak belian. Lalu dengan hentakan kasar. Walau apa yang telah kita temui. . Barangkali. Mendudukkannya. lupa siksaan. Terayun dan dibuai sebuah lagu yang selama ini terpendam di dasarnya. direnggutkannya gelang yang dipakai Tio. Tio sudah merdeka kembali." Perlahan. terhormat. "Kalaupun kita mati." Suaranya begitu lemah." Tio terdiam. aku yang membawa kenahasan ini padamu. mati seorang manusia yang merdeka. Tidak ada sembahan kubawa ke hadapan Mula jadi Na Bolon. Gelang itu dicampakkan Ronggur sekuat tenaga. Ronggur? Sungguh?" "Ya. "Janganlah kembali ke sana. Tapi. Lalu dilanjutkan Ronggur. Ronggur. mati bersama. Sesuatu benda hangat tapi lembut menyentuh bibirnya. "Kau merdekakan aku. sama-sama orang merdeka.Mula Jadi Na Bolon tidak marah padamu. Sambil mengisak dia mengatakan. Tio menjatuhkan diri ke ujung kaki Ronggur. seperti kau lihat. bermula dari perasaan gembira. Matinya. Sekarang berlomba bermunculan. Dia tambah mendekatkan bibirnya ke bibir Ronggur. Air mata yang menggenangi pelupuk matanya tidak bersumber dari kepiluan dan ketakutan lagi. Ditatapnya lama biji mata yang sayu itu.

"Marilah bersujud ke hadapan Mula Jadi Na Bolon. Boleh jadi. Istri yang paling setia. karena mau turut mempertaruhkan keyakinan suaminya. bila kita mati. Kita tidak boleh pulang. Tapi. . tidak ada akhir." bisik Ronggur. "marilah melanjutkan perjalanan. Kita harus maju. Berani mengarungi segala kemungkinan. "Kita harus istirahat dulu di sini. lalu menciumi bibir Ronggur lagi dengan bertubi-tubi. Sudah terlalu kelam untuk melanjutkan perjalanan." Tio memperbaiki duduknya." Ronggur tersenyum. Telapak tangan Tio masih terus mengelus rambut Ronggur yang basah. "maukah kau." kata Tio tegas. di sini akhirnya." Ronggur tersenyum. ." "Tidak. "semuanya."Ronggur. dari mulutnya keluar kata." kata Tio dengan tegas. yang telah membawamu ke tempat ini.." "Tio. Sampai tahu kepastian yang akan kita temui. Yang tabah bersama suami mengarungi kehidupan. Tio tersenyum. Lagi pula kita telah menemui yang kita cari di sini. istriku. Hanya permulaan. permulaan yang tidak punya akhir. aku akan mengatakan pada Mula Jadi Na Bolon bahwa arwahmu bukanlah sembahanku. Ronggur memimpin doa: Mula Jadi Na Bolon Asal mula dari segala kehidupan Padanya kembali karena dia yang punya Terimalah kedatangan kami Hambamu . Memohon ampun atas keangkuhanku." Tio menangkap leher Ronggur. Lalu. "Aku cinta padamu . karena ada cita tergenggam di tangan dan di hati. Ke tempat para dewata bersemayam.

Perlahan . Berjaga di luar perahu. seperti tidak mau dipisah lagi. baik ruang. Bersama mereka menyuruk ke perut perahu yang dibalikkan. Karena cinta telah punya laut dan pelabuhan. Sekitar menjadi kelam kembali. ccdw-kzaa 6 Ronggur terbangun. Si belang keluar dari sungkupan perahu. batas ruang dan waktu tidak berarti lagi. Dan. lalu dilanjutkan: Karena darimu mula cinta Napasmu sangkala cinta Satukanlah aku dan Tio Suami isteri yang dihidupi api cinta Tebarkanlah api cinta Tiuplah api cinta Membakar dada kami Dari saat ke saat tanpa akhir! Kembali mereka berdua berdekapan. walau dia dan Tio berpelukan di bawah telungkupan perahu. terusterusan berhamburan.Karena keangkuhan yang berbenah dalam diri Kami telah tiba di s ini Melanggar peraturanmu! Ronggur menggenggam tangan Tio. Menggigil kedinginan. air tipis itu. baik waktu.

Hingga waktu lewat. perobahan pada yang hendak kita temui. dengan tegas dia menyahut." "Wajahmu capek kelihatan." "Apa sudah pagi?" tanya Tio. Masih seperti saat lalu. hari lalu. Atau. hari yang kita nantikan kemaren. dia menciumi pundak Ronggur. Lihatlah sekitar. lalu dijulurkannya kepala melalui celah. Tapi. "Semalam atau ya saat lalu. Cahaya putih yang lemah sudah ada lagi. Kita sudah beranggapan bahwa tidak ada lagi hari. Hari yang kita harapkan membawa perobahan pada nasib yang mendatangi diri. Tapi. membangkitkan iba Ronggur. lalu seperti! anak kecil. Langit seperti di atas kepala saja dan dapat dijangkau tangan. Dari mulutnya perlahan berbisik. Tapi." kata Tio. tapi sampai kini masih hidup dan mengenal hari. Tapi. katakanlah dulu sudah pagi. bila tangan digapaikan ke atas. kita sudah berpendapat bahwa kita tidak akan melihat dan mengecap saat lain lagi.diungkapnya pinggir perahu. dan waktu kini. awan rendah belum pernah melingkupi tanah serendah itu. Dia telah mengenal kabut pegunungan dan danau sejak kecil. Perlahan me lepaskan pelukan Tio. . Waktu itulah Tio bangun. Masih disungkup kabut atau awan rendah yang masih tebal. hanya masih begitu lemah. "Aku tidak tahu. yang ada hanyalah kehampaan yang tidak bertepi. permulaan dari segalanya?" Ucapan manja bercampur kekanakan. kabut yang begini rupa tebalnya dan lamanya belum pernah ditemui sebelum itu. "Kenapa kau buruburu bangun? Apalagi yang mengejarmu? Bukankah sudah semua kita lalui dan sekarang kita hanya tinggal menantikan yang akan terjadi. Kembali tangannya dilingkarkan di leher Ronggur. Atau. yang sudah ditopang oleh batu yang diganjalkan. Bermalas-malas.

Tapi. Tapi. Sinar yang dipancarkannya sedang mengadakan perlawanan atau berusaha menghancurkan kabut putih atau awan rendah itu. bisa menimbulkan panas. Agar bisa dapat dilihat mata apa sebenarnya yang ada di sana. "Lihat. Deru . Dibaliknya terkandung kegembiraan dan harapan selalu. bergerak dengan lamban seperti bermalas-malas. seperti itulah gayanya."Tidak mengapa." "Kita masih mengharapkan?" "Selalu." Tampak oleh mereka berdua sebuah benda putih yang kecil tapi bundar. Namun tetap naik atau berusaha naik ke atas. Untuk menyingkirkannya. Perlahan dirasakannya angin bangkit." "Cakapmu tidak dapat kuartikan. mengatasi segalanya. Tio terus merapatkan tubuhnya ke tubuh Ronggur. satu-satunya api yang dapat membakar semangat hidup. bisa sebagai bedeng. Lurus ke depan. janganlah pergunakan harapan untuk harapan saja. Tio tersenyum. Dengan mengulurkan lidah. tapi sinar lemah. Ronggur berusaha menatap sekitar. Begitu putih hingga memijarkan sinar. beberapa titik air dapat ditelan sebagai sarapan pagi. "apa kau pikir itu?" "Apa maksudmu?" tanya Tio. putih dan lebih putih dari semua. "Lihat." kata Tio. karena dia tetap kedinginan yang tambah lama tambah bermaksud membekukan diri. Di arah darimana bermula angin itu. Merapatkan kepalanya ke pundak Ronggur." kata Ronggur kemudian. Mereka mencuci muka dengan melapkan tangan saja karena wajah mereka tetap basah. Harapan harus dapat melahirkan sesuatu yang berwujud dalam kenyataan kerja. namun pandangnya masih tetap disungkup diputihan. Harapan. Tidak kau lihat? Lihat ke bawah sana. Panas tubuh mereka berdua yang merapat.

Mulut mereka ternganga. Hati mereka menjadi tambah menduga. Mereka belum pernah melihat tamasya alam begitu rupa. di rambut hingga menyusahkan mata untuk menatap. Bundarnya. bersedia menerima segala tiba. Dari tubuh Ronggur sendiri. hampir menyerupai bundar matahari yang mereka kenal. Sesuatu benda putih yang bundar mengadakan perlawanan terhadap sesuatu yang melingkupi segala dengan warna putih. kenapa pandang mereka terpaut mengikuti gerak perlahan yang menanjak itu. Hati berdenyut juga walau sudah punya tekad. sewaktu ditutupi awan di langit. dia memerlukan kelembutan yang bermula . dihapus dengan telapak tangan. segala perasaan mencurah keluar. Bila butiran air tambah menebal melengket di wajah.yang terus menderu di depan memberi gendang layaknya. tapi tidak berwujud. Biar sesaat pun. Namun mata mereka terus mengikuti gerak lamban dan malas dari benda putih yang semakin tinggi itu. Tidak disadari mereka. Mereka tidak pernah memikirkan bahwa pada satu saat dan tempat yang berobah. Mulanya tipis. Dalam saat begitu rupa. Detak hati yang menandakan diri anak manusia biasa. Tapi. mengikuti perjalanan benda bundar yang lemah itu. entah berapa lama mereka tenggelam dalam keadaan begitu. Mata mereka terus mengikuti gerak ma las dari benda putih yang bundar itu. Lama kelamaan menjadi tebal. rnatahari bisa dilihat seperti berada di bawah. Dan. Tidak disadari mereka. matahari tetap berada di atas. Benda putih bundar itu merangkak perlahan. warta yang akan timbul darinya. Mereka belum dapat menduga. apalagi yang harus mereka hadapi. mereka tahu. Mereka memang tidak tahu lagi. bila sudah menebal. sekali hapus saja akan hilang tapi cepat melengket di sana butir air yang lain. mendaki ke ketinggian. Kuping benda bundar putih tidak memperdulikannya. Tidak mati-mati.

ke samping dan ke sekitar. namun dasarnya belum tampak atau memang tidak punya dasar. Begitu pula mulut jurang di sebelah kanan. Tebing jurang tambah menghitam. Benda bundar yang putih itu bertambah tinggi juga. Perobahan yang tidak tersadari. tidak bergerak. Dia tidak mau mengatakannya pada Tio. Dia tambah mengeratkan pelukannya ke pinggang Tio. bila hendak turun ke lembah di seberang kanan. dasarnya belum tampak sama sekali. Tapi. di sana tebing tidak berapa curam. si belang mulai sering melangkah ke depan dan ke belakang. Tio mendekatkan pipinya ke pipi Ronggur. kata hatinya ke diri sendiri. Jauh ke belakang dapat dilihat Ronggur. dengan tidak mau tahu pada mereka berdua yang mengikuti geraknya terus menerus.dari tubuh Tio. Tapi. sungkupan awan rendah bercampur kabut tambah menipis juga dari sekitar. Lidahnya dijulurkan. Apakah benda putih itu akan menyuluh jurang yang tidak berdasar? Pandang sudah bisa mereka campakkan barang sepuluh depa ke depan. Bisa dituruni. Mata mereka terus mengikuti gerak perlahan yang terus menanjak di depan bermalas-malas. marilah mati berpelukan. Bila cuaca bertambah terang. Mereka ikuti terus dengan tabah. Tambah jauh jarak yang dapat ditangkap pandang. Perlahan sekali sehingga tidak terasa. Seperti menanti sesuatu yang menentukan akan tiba. dan merasa ngeri. suatu harapan telah menggeliat dalam hatinya. Mulut jurang sungai tambah berbentuk. Tapi. Melihat ke arah yang mereka tatap. takut kalau Tio menjadi takut. Si belang turut duduk dekat mereka. Jarak yang dapat ditangkap pandang bertambah jauh dan luas. Bertambah garang cahaya yang memancar darinya. Kalau mati. cepat Tio memanggil kembali. takut kalau si belang terjerumus ke mulut jurang yang belum tampak dasarnya. Tebing yang tidak berapa curam itu . seperti melemaskan otot.

Sejauh mata memandang. Ronggur. membuat suhu tubuhnya menjadi naik. jauh di bawah. Ronggur. Matanya menitikkan air bening. lebat berimbun. itulah tanah habungkasanmu. Api dalam dirinya kembali menyala atau bara yang untuk beberapa saat tertimbun oleh debu. "itu matahari! Itu matahari! Mula hidup! Itu matahari!" Cepat Ronggur berpaling. itulah tanahmu. melalui tingkatan pundak bukit. karena dengan itu mereka telah dibebaskan dari kungkungan yang mencekam dan mengancam. "Dan. Kehijauan yang maha lebat lagi datar. Terbelalak mata mereka melihat sinar yang tambah terang. gugup sekali. Semangatnya kembali hidup secara perlahan. itu dedaunan dari pucuk pepohonan yang tinggi. Tidak berapa sulit malah. Dapat ditangkap dengan pandang sekarang. Dia telah membawamu ke tanah habungkasan yang maha luas. angin pagi. .menurut perhitungannya. Pucuk dedaunan itu seperti berombak ditiup angin lalu. terhempang kehijauan yang sangat luas." Ronggur gugup. "Ronggur. Sungkupan kabut dan awan rendah tambah menipis dan terangkat. Tidak dapat menyahut dengan segera.dan —" dengan gugup. yang dapat dilihat kehijauan yang merata. sekarang debu itu telah menyisih sehingga merahnya bara kembali rrienjilamkan panas menyala. Lalu dia mengatakan perlahan: . Angin pegunungan. "Ronggur. itulah yang ditunjukkan mimpi dan perkataan gaib dalam mimpimu. Karena dengan itu." pekik Tio meninggi sambil mempererat pelukannya ke pinggang Ronggur. mereka telah menemui. karena tidak menduga walau itu yang dicari dan diharapkan. Dapat dirasakan Tio. bisa dituruni secara perlahan.

Tanah anak kita. Apakah hutannya banyak menyimpan binatang buruan. Lama Ronggur menumpa pandang ke biji matanya. yang sekarang. yang membuat kita dapat melihat tanah habungkasan yang dijanjikannya dan membuat aku dapat dengan jelas melihat wajahmu. T angannya terus menerus mengelus rambut Tio yang panjang lagi lembut dan lemas. "Juga kau. Kita harus menyelidiki keadaan tanah di sana. yang mau bungkas ke sana. Matanya menitikkan air bening. lalu. yang telah mengirim matahari untuk kita. marilah mengucapkan sukur pada Mula Jadi Na Bolon. Tidak tanah habungkasan itu saja. juga tanah orang lain."Tio. dia mengatakan pula. Ronggur menegakkan Tio dari sujudnya. "Tio. Ronggur membiarkannya begitu beberapa saat. tidak tanah itu saja yang ditunjukkan mimpi padaku. "Itu bukan tanahku. lalu Ronggur melingkarkan tangannya ke tubuh Tio dengan ketat. juga tanahmu. Kau. Tapi. Tapi. sudah bisa pula melemas. sebelum itu." Mereka bersujud ke arah matahari. "aku cinta padamu Tio. Tapi. tapi basah. menanamkan pandang ke dasar bening matamu. "Perjalanan kita masih jauh. Istriku. kata Ronggur kemudian. yang pasti banyak dan akan terus berkembang." Tio menggigit bibir. Sambil tersedu karena terharu. izinkanlah aku mengatakan sesuatu kata yang telah lama terpendam di hati. Tapi." Beberapa saat keduanya terdiam. sayang!" Pandang lama bertemu. Setelah memberi kecupan pada bibirnya. Apakah baik dijadikan tanah persawahan. dia menelungkupkan kepala ke dada Ronggur yang bidang. Perlahan. sebelum kita memulai perjalanan ke sana. Tanah kita berdua. . T anah keturunan kita. Tidak mengganggu." "Apa lagi?" tanya Tio terbodoh.

"Kita akan terus mengikuti aliran sungai menuju tanah landai. Melalui dinding batu yang tidak berapa curam. mereka dapat melihat gundukan perbukitan di sebelah kanan. mengibaskan ekor biar cepat kering. sesuatu garis putih yang membelah kehijauan. sampai tiba ke tanah datar di bawah. . hingga agak besar. Rumput kering. Dia turun sendirian ke gundukan tanah pertama. setelah beberapa lama tidak merasainya. mengeringkan tubuh dan memanaskan tubuh. Jalan ke gundukan pertama. lebih landai. "Itulah jalan yang baik ditempuh. ialah terusan Sungai T itian Dewata. Begitu seterusnya. Lalu menyuruh Tio turun. Lalu dibakar menghidupkan api. Lalu dia mengikat pinggangnya dengan tali. dia ketahui. Kembali dia memanjat. tanah melapisi batu. kemudian terdampar ke batu padas. "lihat terus ke sebelah timur sana. Mereka sudah sama berada di gundukan pertama. dibasahi titikan air yang terus menghujani mereka. Betapa nikmatnya panas jilam api. ujung yang lain diikatkan ke pinggang Tio." Tio mengikuti arah yang dimaksudkan Ronggur. Kemudian dia sendiri turun sambil menuntun si belang. termasuk si belang. Untuk pertama kali kembali mereka lengkap bersama alatnya. Serpihan air tipis yang menghujani itu tidak sampai lagi ke sana. setelah beberapa hari terendam di air. sampai akhirnya perahu sendiri. tapi masih begitu tipis. Kemudian diturunkannya satu-satu peralatan. Tio menerima di bawah." kata Ronggur kemudian. dijalin begitu rupa. Si belang menggoncangkan tubuh. Hari sudah sore. Mereka tentukan untuk bermalam di sana. agak curam. yang mempunyai tanah. sedang ia memegang ujung tali. Tapi. dari sana. menurun ke gundukan kedua. memijak tanah. Membuat anak tangga. Sudah bisa mereka berjemur di sana." kata Ronggur.

Lagu yang mesra ditiupnya perlahan. sekarang seperti melengkapi irama seruling yang ditiup Ronggur. tapi agar memulai menempuh jalan darat.Malam itu keinginan Ronggur untuk meniup seruling memuncak. Kemudian Tio mengiringi tiupan seruling itu dengan nyanyi: Bila bulan di awan purnama Di tepi danau aku menanti Wajahmu menghias tanda masa Mengajak daku ke dunia mimpi Ronggur berhenti meniup nyanyian itu: seruling. Tidak menakutkan dan mengancam lagi. Malah seperti menjadi pertanda. dia melanjutkan Pohon aren di belah dua Tempat berayun monyet berdua Janji telah memadu Pinang sebelah dibagi dua Lalu berdua mereka melanjutkan: Terbang engkau elang Hinggap di kayu rindang Ke mana engkau sayang . Agar seseorang yang menyusuri sungai jangan meneruskan penyusuran lagi. Gemuruh air dibalik bedeng terus kedengaran.

Api unggun yang kecil itu terus menari dan menari. Pagi terbit lagi. Tanah cukup lembab dan basah. Di atas kepala. memaling pandang. di .Kasihku tetap mendendang Kemudian hanya T io melanjutkan sedang Ronggur kembali meniup seruling: Kalaulah benar warta impian Ditimang beta dengan sayang Sinar purnama empuk menayang Haribaanmu lagu impian Tio meletakkan kepala ke pangkuan Ronggur. Sinar matahari hanya dari celah dedaunan saja sampai ke tanah. memayung dedaunan hijau. Bola putih itu pada mulanya lemah sinarnya dan berada seperti di bawah mereka. Pemandangan seperti pagi kemaren. Tapi. Malam terus melanjut. Kemudian secara berangsur perlahan. Sehabis sarapan pagi mereka melanjutkan perjalanan. Seperti taktik kemaren juga. Membuat mereka agak susah bergerak. Membentuk lapisan tanah yang lembut dan berair. Memejamkan mata dengan manja. Kaki mereka terbenam sampai ke lutut terkadang. keadaan sekitar bertambah terang. sedang kemaren dedaunan itu masih berada di bawah mereka. Dilapisi dedaunan yang gugur sudah membusuk. Si belang duduk menjauh. Begitulah secara perlahan dan hati-hati. akhirnya sampai juga mereka ke tanah landai di bawah. perobahan tempat mengadakan perbedaan.

membentuk telaga yang agak luas pada tempat jatuhnya. Ke sana mereka menuju. agar kembali tiba ke sungai. Dan. Seperti menuruni pundak perbukitan. Di satu tempat di arah depan. Kemudian jatuh ke bawah bergulung-gulung. Berpedoman pada ingatan pemandangan kemaren sore di mana terusan sungai berada. . betapa ternganga mulut mereka melihat benda itu. karena suara gemuruh bertambah hebat dan terasa menggoncangkan. tapi airnya berputar dengan cepat. itulah air terjun yang tidak hentinya menerjunkan diri. la mengalir dengan besarnya ke arah timur. Kekayuan yang tinggi dan besar batangnya seperti tiang abadi yang bergaya mendukung langit. Kala di bawah arusnya melingkar dan membikin kepala pusing bila lama-lama menatapnya. Tapi. Sesuatu benda putih mengapas putih melambung ke atas. mata terus ditancapkan pada benda jatuh itu. Itulah kelanjutan sungai. tapi sudah ditumbuhi kekayuan yang tua. Membuat dedaunan sekitarnya bergoyangan. walau suara gemuruh tambah jelas dan memekakkan telinga. agar tidak runtuh lalu menimpa bumi serta penghuninya. Si belang berlari ke sana ke mari dan menggonggong. sinar matahari lebih leluasa tiba ke tanah. Mereka meneruskan perjalanan yang agak melingkar. Merasa takut kalau batu yang membentuk jaluran kejatuhan air itu akan runtuh lalu menimpa mereka. Jalanan terus menurun. Getaran bumi tambah terasa. Di sana-sini terbentuk curup di lingkungan yang gelisah itu yang bisa menenggelamkan apa saja yang jatuh ke tengah curup itu. tanpa takut dasar perahu bolong. Mereka menyisih cepat dari sana. Tio merapatkan tubuhnya pada Ronggur.sana bisa mereka tarik perahu bersama peralatan lain. Tergoncang. Di sana-sini dedaunan gugur membentuk lapisan tanah yang lembut.

karena hari sudah agak sore. benda putih mengkabut bermula dari air jatuh pertama. Mereka ambil umbinya. Dan. "Kalau begitu. ujung tombak tertancap di dadanya. "Itu pohon aren. Tapi. tercengang melihat Tio dan Ronggur. tapi tidak sekuat yang tadi lagi. Mereka tebang beberapa pohon aren. Kita tidak menguatirkan mati kelaparan." kata Tio pula. Lagi masih begitu jinak binatang itu. Tidak punya prasangka pada manusia yang memburunya " "Lihat. la meloncat ke depan. Bila beras habis. Biarpun Tio memanggilnya. mereka memutuskan untuk bermalam di sana. Tapi. Terus mereka menghilir mengikuti tepian sungai. Sampai akhirnya berada di tempat jatuhnya air kedua. Masuk semak. Arus sungai kembali menggila.Di arah depan kembali kedengaran suara gemuruh. Kembali mereka temui air terjun. Mereka menatap ke atas. di sini banyak binatang buruan. mempunyai tumbuhan yang bersamaan dengan tumbuhan yang ada di bidang tanah yang mereka tinggalkan. Ronggur mengatakan. tetap mengikut pinggiran sungai. si belang keluar dari semak mengejar seekor kijang. Sambil menguliti." Tambah tahulah mereka tanah yang mereka temui itu. Kijang terguling ke tanah. Lalu mereka jemur. Si belang melompat ke depan. Sehingga busa air tidak terlalu hebat sewaktu jatuh. Pengganti beras. Dengan tombaknya cepat dia membunuh kijang yang tercengang itu. Ronggur tidak melewatkan kesempatan baik itu. jarak jatuhnya lebih pendek dan lebih landai dari yang pertama. membuat mereka tidak langsung berkayuh melalui sungai. Binatangnya juga begitu. Sampai akhirnya arus sungai tidak beriam lagi. Dengan memilih jalan agak melingkar mereka menurun terus ke bawah. Menurut perhitungan Ronggur sudah dapat memulai pelajaran dari sana. Umbinya bisa kita jadikan bahan makanan. Beberapa saat kemudian. dan tumbuk .

Untuk beberapa hari mereka tinggal di situ. hari sudah mengarah sore. bergeletakan dahan kering yang patah dari batangnya. Sehingga sinar matahari tidak sampai ke permukaan sungai. menjaga keseimbangan kelajuan perahu. Sungai terus menerus membelah hutan belantara. Beberapa buah batu jangkar masih dijatuhkan. menjelma kepada penglihatan. Walaupun sudah menghilir arus sungai masih kencang. Tapi. ibarat penopang langit agar tidak jatuh ke atas tanah.lalu direndam lagi kemudian ditapis untuk mengambil tepungnya. biarpun begitu perasaan Ronggur begitu pasti bahwa mereka akan tiba ke tanah yang lebih landai dan lebih baik. seperti raksasa dalam dongeng. Cepat mereka meminggirkan perahu. sekitar mereka sekarang berwarna hijau dan tanah mengambangkan bau kesuburan. Di sana-sini berletakan ranting kering. tetap tertumpu pada pohon yang besar lagi tinggi. sinar matahari terus memberi suluh abadi. . Terkadang sungai seperti ditutupi dedaunan hijau yang merimbun di atasnya. segar lagi lebat. Dedahanan terlalu rendah terkadang. Tidak bisa berdiri dengan leluasa. Dan. Dengan melampaui riak air yang terkadang menghempas ke batu yang muncul di sana-sini. tahulah mereka. Tapi. Dari celah renggangan dedaunan. Bila cahaya itu melemah. Memilih dahan kayu yang baik untuk tempat bermalam. Ronggur dapat merasakan bahwa batang kayu yang besar itu dapat digunakan selanjutnya untuk kepentingan kehidupan. Tio lebih banyak memperhatikan sekitar. Kemana saja mata diarahkan. Untuk digantikan dahan lain mendukung dedaunan yang lebih hijau. mereka harus lebih hati-hati menjaga kemudi. Mereka tidak menguatirkan kehabisan bahan bakar. melalui riam yang liar di tikungan sungai yang patah. karena dia belum perlu mengkayuh.

Sering Ronggur memanjat kayu yang tinggi. namun dia tidak sanggup menghabiskannya. Arus sungai tambah perlahan. menggonggong dan menyalak. menghilir sungai. Ronggur selalu menghirup udara dalam-dalam. kata yang paling sesuai diucapkan dengan yang dirasakan dalam hati. Arus sungai tambah perlahan. Perasaan dalam dada masing-masing. Pundak pegunungan . Ingin dia menghirup habis segala kebebasan yang diberikan alam padanya. seperti berlomba keluar untuk disuarakan. mereka belum perlu mengayuh. masih ada juga dijatuhkan. Bila mereka bosan dengan sungai. ccdw-kzaa 7 Bertambah hari. meneriakkan kegembiraan. Arus masih dapat menghanyutkan perahu walau dengan perlahan.Perjalanan diteruskan menuju ke timur. itulah dalam sungai. Untuk mencari bentuk kata. Sedang si belang berlari kian kemari. Tapi. Ronggur selalu mengukur dalamnya sungai dengan tali yang di ujungnya diikat batu sebagai pemberat. memelopori sebuah perburuan bila fajar pagi tiba. Batu jangkar sudah diangkat. Tapi. Beberapa buah batu jangkar sudah diangkat ke atas. Luas sungai tambah lebar. menatap dari arah mana mereka datang dan menduga hendak ke mana mereka dibawa sungai yang diikuti itu. mereka menghilir sungai. dan bila mereka bermalam di sana dan biasanya lebih lama daripada bila mereka tidur di dahan. yang ditiupkan musik alam ke dalam diri atau untuk menyiutkan nada musik yang memadat dalam rongga dada. Bila mereka menemui gua alam di tepi sungai. mereka mendarat ke tepian. Di depannya tali yang terbenam. Ronggur meniup seruling dan Tio bernyanyi.

Lalu menatap ke arah hilir sungai. tanah berlumpur yang mengiring jaluran sungai. satu hal makin mereka rasakan. di situlah kampung halamannya. Ronggur dapat menduga bahwa di balik pegunungan yang semakin menjauh itu. Sedang pada tepi sungai. Ikan yang cukup besar. Setiap hari tepian sungai bertambah luas. udara bertambah panas. . bila bosan dengan ikan sungai. Bulunya tebal berlinang. Dalam waktu singkat ikan sudah ada yang menyambar. Bila dipanggang bara api bisa padam. Melalui pengenalan akan pundak pegunungan. Dibiarkannya dada telanjang. membuat Ronggur tidak kerasan memakai sehelai kain atau kulit binatang di bagian dadanya. Tanah luas yang berlumpur semakin lebar mengikuti jalur sungai. tambah luas. Bila mereka hendak pulang ke sana melalui jalan darat. Membuat mereka harus mengayuh terkadang. Walau mereka berada di naungan pepohonan rindang. ditanamnya batu besar dan disambungkannya pada salah satu bagiannya. Si belang sudah mulai gemuk. Pancing tidak perlu berlama diumpankan. Karena lemaknya. Pepohonan tidak lagi di tepian sungai seperti di hulu. T api. Di garis batangnya melingkar. udara panas itu tetap mengganggu. Sudah agak menjauh. Dan.bertambah jauh di belakang sudah membiru. Binatang buruan begitu banyak dan jinak. mereka harus menaklukkan pundak bukit itu. Selalu dibuatnya tanda pada pohon kayu yang dipanjatnya. hutan lebat hijau di mana-mana menampung penglihatan. Arus sungai tambah perlahan. Pancing yang diumpankan Tio selalu mengena. atau menembus celah pegunungan yang terdapat pada pertemuan bukit yang memanjang. Ronggur selalu menelitinya dengan seksama. Terkadang sampai berhari-hari mereka mengadakan pemburuan.

Jalan satusatunya untuk mempertahankan diri. Lalu terus mengayuh. dengan mempergunakan kampak. Tubuh seperti berminyak jadinya. Binatang itu memburu. mencucuknya. Cepatlah ke perahu. Ronggur menyuruh Tio terus mengayuh. Buahnya lain dari buah mangga yang mereka kenal di kampung halaman. Membuat mereka sering terjun ke dalam sungai. sedang dia. panas itu masih tetap terasa. Membuat tubuh mereka selalu berkeringat. Lebih enak dan lezat. Terkadang diciumnya dengan hidung. sekelompok binatang yang sedang berendam di tanah lumpur.Digenggamnya tanah itu. dan menyelam. pada suatu hari. Udara seperti itu tidak pernah mereka temui di sekitar kampung halaman. Sedang di hutan yang semakin menjauh dari tepian sungai itu. dari lumut lumpur dia tahu bahwa tanah yang mereka temui itu lebih lemak dan subur dari tanah di kampung halaman. "Ronggur. lalu mengejar." Ronggur berenang sekuat tenaga. Tapi. walaupun matahari cukup terik. Alangkah terkejutnya mereka. agar keringat melengket itu bisa menghilang untuk datang dan untuk dihilangkan lagi. Hanya udara yang bertambah panas itu saja yang membuat mereka agak merasa tidak senang. bergerak. Binatang itu terus mengejar. berenang. Membuat mereka terkadang seharian hanya memakan buahan saja. Ini tidak. memukuli setiap ada binatang datang mendekat ke perahu. awas. Perahu agak oleng sewaktu Ronggur menaikinya dari satu sisi. sewaktu Ronggur berenang mengikuti perahu yang menghilir. tombak. Cepat Tio mengatakan. apakah bau lumpurnya sama dengan bau lumpur yang ada di kampung halaman. Walau terkadang matahari dilindungi awan. Diperhatikan lunaknya. . Lengket dan tidak mengenakkan perasaan. Panggada juga turut digunakan. mereka temui pohon yang berbuah. tapi cepat kering disapu angin lalu.

sampai ke . Ekornya bergerigi dan begitu keras tampak. "Inilah dia. Tanah landai yang sudah lama kumimpikan. Bila mereka terus melalui tanah lumpur itu mendekat ke tepian hutan yang semakin jauh. Air sungai tidak sebening di hulu lagi. Lumpurnya bertambah lembut dan bertambah dalam dasarnya. Begitu pandai berenang." sahut Ronggur. Digantikan gelagah dan daun nipah. Bertambah ke hilir bertambah banyak anak sungai bersatu dengan sungai itu. lebih dulu ada tanah yang hanya ditumbuhi ilalang. bisa berobah menjadi keruh. Mulutnya menganga lebar hendak menelan saja. Pepohonan semakin jauh dari tepian sungai. begitu halus. sebelum tiba ke tepi hutan. Karena itu kulit binatang itu mereka bawa.Satu dua ada yang mati di antara binatang itu. Kita harus tahu. "Kita harus meneruskan perjalanan. Walaupun belum pernah mengenalnya namun naluri mereka dapat memastikan bahwa binatang itu binatang air yang membahayakan. Ronggur tetap memperhatikan dan mempelajari perobahan bentuk tepi sungai. Tanah juga lembut. Tapi. Tidak tahu mereka dari mana datangnya air keruh itu. Bisa ditebang pohonnya untuk dijadikan persawahan. Binatang yang mati dan dihanyutkan arus mereka tangkap. Bisa dibuat menjadi kantong tempat menyimpan alat. Dagingnya kurang enak dimakan. Karena itu daging binatang itu mereka biarkan saja membusuk. kulitnya cepat kering dan dapat dilipat. Terapung. Menyusuri sungai. Bila digantungkan di pinggang kelembutannya selalu mengikutkan gerak-gerik pinggang. bagus untuk ditanami." kata Ronggur. Lihat. Sudah mulai keruh dan kotor. Binatang itu belum pernah mereka lihat." "Apakah kita sampai di sini saja?" tanya Tio. Kenapa air yang tadinya begitu bening. "Inilah tanah yang kita cari. Gembur. "Tidak. tepi hutan tidak berapa lebat.

Sambil terus memperhatikan perobahan pada permukaan air. dari mana air itu datang. Bisa membuat padi busuk. "Aku hanya bertanya. Supaya ada air tawar." "Kebiasaan memang begitu. Tidak perlu mendayung. Lalu mereka meneruskan penyusuran. Itu sangat penting. Dan. Di sana mereka harus menggali tanah membuat sumur. tidak baik dijadikan persawahan. Dan. Kenapa permukaan sungai menaik. yang tidak sebesar sungai ini. Dan. gelagah dan daun nipah menjadi tergenang. Membuat mereka takut pada mulanya. Ada kalanya perahu tidak dapat laju biar setapak pun ke depan. Air menjadi sangat keruh dan asin. bermula dari kaki bukit.mana sungai ini. sungai menjadi menggeliat. Bertambah ke hilir. Berombak. Karena sering tergenang. Langsung mencari tanah yang agak tiriggi. Di saat begitu arus sungai mengencang ke hilir." kata Tio. di samping arus semakin perlahan. Untuk bermuara ke danau. Apakah sungai ini juga akan bermuara ke danau?" "Danau apa?" tanya Ronggur pula. Lalu dapat memastikan bahwa tanah lumpur yang di tepian sungai benar. air sungai susut lagi. Tapi. permukaan sungai naik. T anah lumpur dan tumbuhannya. Di muara tanah landai akan tambah lebar lagi. di saat itu." "Biasanya. ada semacam getaran mengganggu jalan perahu. setelah beberapa lama. Ada semacam tenaga menahan."' jawab Ronggur. belum dapat kupastikan mengenai sungai ini. Arus menghanyutkan . Sehingga enak berlayar. "sungai yang ada di kampung halaman. di mana muaranya. Terkadang sampai ke pucuk digenangi air. Walau mereka mengayuh sekuat tenaga. Sehingga mereka harus buru-buru mendarat ke tepi. Ronggur memperhatikan ini semua. Harus lebih ke atas lagi. ke tempat yang tidak dapat memastikan.

Sehingga perahu mereka begitu lajunya dihanyutkan kembali ke hilir. Karena begitu capek. mereka dapat melepas lelah. mereka berdua terus berkayuh melawan air yang menyongsong itu. terasalah permukaan sungai kembali menyusut. diperhatikan dan disesuaikan waktunya. Kantuk telah membawa mereka ke alam tidur. apa sebabnya dan apa akibatnya pada orang yang berlayar di saat begitu. Mereka terus berlayar. "Apa lagi yang akan terjadi. arus mati. Walau tidak ada ditemui kemajuan. Arus sungai menyongsong dengan kuat. Untuk tiba pula pada keadaan. Walau malam sudah bertambah jauh. Dan. Berkayuh dan berkayuh. Di saat begitu. Mereka terus melawan. Malah mereka seperti disorong ke belakang. kembali ke hulu. saat permukaan sungai naik telah tiba. Malah hendak disorong ke belakang. Tapi. Biar permukaan sungai menaik atau menyusut. Walau mereka sudah berkayuh dengan sekuat tenaga. di mana keadaan sekitar dan kejadian dapat dilupakan. Kemudian diputuskannya untuk terus melayari sungai. Sambil T io berkata. dan apa lagi yang akan ditemui pada perobahan sungai?" "Justru. . Mereka harus mengayuh dengan sekuat tenaga. Agar tahu dengan pasti. itu yang perlu kita ketahui. Menjelang subuh." jawab Ronggur. Saat sungai menaik permukaannya dan saat sungai kembali ke tarap biasa. Tapi. Gelombang sungai mulai menggeliat. Berhadapan dengan keadaan baru ini. Perahu seperti dihanyutkan kembali ke hulu. Kemudian datang pula saat permukaan air sungai naik. Dicocokkan dengan waktu peredaran bulan dan bintang.perahu. Perahu tidak bisa dikayuh. Ronggur bertambah was-was. terus mereka lawan. mereka tertidur. mereka terus di dalam perahu dan terus mengayuh. Perahu terus dihanyutkan arus sungai.

tepian. Sehingga lebih silau. air itu bertemu dengan kaki langit demi kaki langit. Tidak terkungkung sedikit pun. Lalu menggonggong panjang. Cepat mereka mengayuh ke tepian. "Danau. Benda ditepian yang menerima sinar matahari seperti menyala itu. air yang maha luas mengitari mereka. melihat keluasan yang terhampar di depannya. Kemudian dipantulkan air ke atas kembali. Kita menemui danau. Buru-buru Ronggur menyuruh T io duduk. jauh sudah." akhirnya Tio mengatakan dengan kagum. Cepat Ronggur dan Tio mengayuh. di sekitarnya. Karena silau dan karena gonggong si belang. danau yang maha luas. Beda dengan pasir pantai danau yang mereka kenal di kampung halaman. Agak jauh kedalam bermula jajaran pohon kurus panjang dan hanya di bagian puncaknya ada daun kelapa. Airnya. alangkah asin." Tio memilin mata. Pada penciuman terasa keluasan dan kebebasan udara. Tidak bisa diminum." ajak Tio." "Marilah ke tepi. Tapi. lihat Tio. Tepian memutih ditimpa sinar matahari penuh. lalu: "Lihat. atau daratan yang hijau. Kita tidak tahu ke mana berakhir air yang maha luas ini. Mereka mendaratkan perahu jauh ke . pasir putih. perahunya terapung dan mengangguk-angguk diperma inkan riak. mereka terbangun. Di bagian punggung. Di sekitarnya. "Danau apa ini?" "Aku tidak tahu. kiri dan di hadapan. mencerminkan mukanya ke permukaan air. tapi danau yang sangat luas. Sinar matahari mencurah ruah. Alangkah terbelalaknya mata Ronggur sewaktu di hadapannya.Sinar matahari sudah kembali menampari wajah alam dan wajah mereka sendiri yang tertidur di perut perahu. Pada sisi kanan. Membelalakkan pandang. Si belang berada di haluan perahu. Berjajar memagar pantai. Nyiur.

Sekarang mereka sudah punya danau yang sangat luas malah. diselang seling pohon bakau.darat. Yang bergelung-gelung ombaknya dan memecah di pantai. menari dengan gaya yang bagus dan begitu jinak. Walaupun airnya asin. Si belang menjemputnya. bertambah rimbun pohon gelagah dan daun nipah. Berdesir angin yang melewati atau membuat daun nyiur melambai. Diseling T io. Mulai dari burung. Ronggur memanjat kelapa lalu memetik buahnya yang masih muda. Menambatkannya pada pokok kelapa. Ronggur dapat melemparnya. Pada tanah lumpur sekitar muara sungai. gajah. Mereka minum air kelapa muda. "Di sini kelapa tidak akan habis. kijang sampai pada binatang buas yang ditakutkan: Harimau. Sedang pada hutan di sebelah punggung mereka. Ikan yang besar. Sekarang mereka sudah punya rumah kembali. . namun tetap kuat dan tampak berminyak. putiknya akan cepat mendatang lagi dan berlipat ganda banyaknya. ayam hutan. Dengan moncongnya si belang menggigit dan membawa ke tempat mereka berdua duduk. dan di tanah yang ditumbuhi ilalang sebagai pinggiran hutan. Sekuat kita memakainya. namun sangat banyak mengandung ikan. jendelanya jauh lebih besar dari jendela rumah yang ada di kampung halaman. Walaupun daun nipah sudah kering. Karena udara panas. Burung putih berterbangan ke sana ke mari. Dengan daun nipah itulah. dengan lagunya sendiri. Sehingga sambil bermalasmalas. Tidak punya prasangka pada Ronggur dan Tio. Tambah siang ombak tambah membesar. banyak menyimpan binatang buruan. mereka buat atap sebuah dangau. Beberapa ekor kena dan jatuh ke tanah. Tiangnya agak tinggi dibuat dari pohon bakau yang panjang dan lurus lagi kuat." Sambil menatap keluasan air. Mereka lalu kenal juga binatang laut yang ada di tepian yang juga enak dimakan.

Waktu itu bila berkayuh menuju tepian dari tengah. dibuka aliran parit. di samping air hujan. Waktu itu sangat baik untuk memulai pelayaran ke tengah danau luas itu. Akhirnya dapat mereka ketahui. rawa itu kembali tampak. Agar lebih mudah mengerjakan sawah percobaan itu. perahu agak tertahan menuju muara. terkadang sampai sedalam dada. sangat baik. walaupun tanahnya lumpur dan lembut karena selalu tergenang. . agak menusuk ke tengah hutan. buaya. Bila air surut permukaan sungai merendah. Pada hari pertama Ronggur tetap memperhatikan mula dan arah angin. Dan. pasang air sungai yang membuat permukaan sungai naik dan sungai punya arus ke hulu. bila pasang naik tanah lumpur itu tergenang. Mereka harus merambah hutan belukar agak ke pedalaman. Mereka cari tumpukan tanah yang agak datar di hutan dan ditumbuhi ilalang. bertiup ke arah danau luas itu. harus memilih tempat yang agak tinggi dan jauh dari pantai. binatang air itu. menjelang dini hari. Sedang waktu malam hari. Tapi. Bila air sungai pasang. bila merasa malas pulang ke rumah di tepi pantai. Kemudian dari hulu sungai yang belum asin airnya. Begitu pula saat sungai surut kembali. Tergantung pada hari bulan. tempat istirahat atau bermalam. Bila mereka hendak membuka sawah percobaan. Waktu siang hari angin dari arah danau luas bertiup ke darat. tidak baik dijadikan persawahan. Dekat sawah itu mereka dirikan dangau. dan di tepian sungai berpaya. bila air sungai surut perahu dilarikan arus ke tengah danau yang maha luas itu. Tapi. Sehingga ada pengairan ke sawah itu. jauh dari tepi sungai. Tanah lumpur itu. tidak menetap saatnya.beruang. angin daratyang bermula dari hutan di punggung mereka. Arus ombak menghanyutkan perahu ke tepian.

Persemaian telah digarap. Tanah itu begitu gembur. Merunduk ke tanah karena berisi. tanah begitu cepat menerima taburan bibit. tanah itu tidak melapisi batu. Pada malam hari. di ladang dengan hijau gemuk. mengadakan penjagaan yang dibantu si belang. tanah itu cepat menghitam. agar pertumbuhan batang padi tidak terganggu. huma. Ini semua menanam harapan yang lebih sempurna dalam dada. Usaha percobaan itu terus diluaskan ke tanah yang lebih tinggi dan agak susah didatangi air parit. tahulah Ronggur dan Tio. menjanjikan akan mendukung bulir padi yang bernas. Kemudian bermunculan di atas tanah batang padi yang gemuk hijau. mengambangkan kesuburan. bila telah digenangi air. antara suku dan antara luhak. bisa dihilangkan. Waktu menancapkan cangkul ke dada tanah. telah dihiasi bulir padi dengan mencuat ke atas tegak lurus. Itulah ladang. Cepat lunak dan cepat menjadi lumpur hitam yang lembut. T anahnya cepat lembut. walau itu yang diharapkan. Beberapa bidang lagi tanah telah diolah menjadi sawah percobaan. Tidak tersangkakan. Bila batang padi telah bertumbuhan di sawah. Tanah yang mereka temui tanah yang dimimpikan setiap orang di kampung halaman. Setelah beberapa lama tanah yang digarap itu digenangi air yang dialirkan ke sana. Kemudian batang padi yang hijau gemuk itu. bila tanah habungkasan ini ditunjukkan pada mereka. Perang yang bisa terjadi di antara mereka. Ditiup angin . Di sana juga tanah dengan cepat menerima taburan bibit. Walau tidak punya air selain air hujan dan yang dikandung tanah. antara marga. kerja Ronggur dan Tio tinggal mencabuti rerumputan. yang dapat mengurangi pertentangan yang bisa timbul antara kaum semarga. yang mengakibatkan kematian dan kemelaratan. sawah kering. agar rombongan babi hutan tidak turun dari hutan merusak sawah dan ladang percobaan itu.

merunduk menguning kemudian dipanen. Saat mardege tiba. Ronggur dan Tio. malah berlipat ganda luas air yang mereka temui. Setiap tambah jauh mereka berkayuh. seharian mengadakan perjalanan menyusuri tepi pantai. bila untuk mereka berdua saja. hingga mereka bisa tiba ke sana. Bermula dari keluasan dan berakhir pada keluasan. Dan. hasil panen percobaan itu tidak akan habis mereka makan sampai tiga kali jangka musim panen. Lalu hasil panen itu disimpan ke dalam lumbung. setiap itu pula. kemudian dipanen. Ciptaan Mula Jadi Na Bolon. Mereka tahu. Ronggur tahu. tangkainya kokoh mendukung. sebagai pertanda bahwa pancang itu perbatasan antara satu marga dengan marga lain tepi danau mana yang boleh di tempati suatu marga menangkap ikan. Ronggur dan Tio harus memperbesar dangau kecil itu. Lagi pula. Saat mardege tiba. yang didirikan tidak jauh dari sawah percobaan itu. dan hati tambah berterima kasih atas tuntunan Mula Jadi Na Bolon. yang banyak ditemui di muara sungai. Kemudian bulir itu semakin merunduk ke tanah. Atap daun nipah yang tidak mudah bocor. Padi yang menguning. dan bulir yang belum berisi itu bergoyangan perlahan. sambil melepas lelah dari kerja berat di sawah semusim panen itu. bila luas danau begitu rupa dihadiahkan pada orang di kampungnya. Lalu hasil panen itu disimpan ke dalam lumbung. Tidak bertepi dan tidak berujung. mereka tidak perlu lagi mengadakan pancang sebagai batas di danau. Juga pelanggaran perbatasan . Mau dijadikan lumbung padi. Membuat perasaan lebih kagum lagi atas ciptaan alam yang hebat dan sempurna itu. musim panen lebih pendek masanya di tanah habungkasan itu dari yang mereka kenal di kampung halaman. yang didirikan tidak jauh dari sawah percobaan itu. Kekayuannya mereka ambil dari hutan sekitar yang begitu dekat.terkadang.

bila kau menemui tanah . setiap orang dari setiap marga mana saja pun. Rangsang lain mulai mempengaruhi pikiran Ronggur. tapi perlu diinsafkan agar mereka tahu. melanjutkan hidup berkeluarga dan keturunan. katanya selalu. Pada pendengarannya. Janji harus ditepati. dan menganggap diri yang dikurnia dewata seorang gila. kalian akan menemui tanah habungkasan. harus dengan tabah pula menyampaikan warta kebenaran itu pada orang yang ada di sekitarnya. Menangkap ikan sekuat tenaga. kelanjutan keluarganya. Mereka tidak perlu dihancurkan. Walau begitu pahitnya penerimaan orang di sekitarmu atas cita-citamu. yang mempertajam perasaannya akan bahaya yang mengancam kerukunan hidup di kampung halaman. Untuk kelanjutan hidupnya. Walau pada mulanya mereka menentangnya. menjanjikan kebahagiaan pada setiap orang. sering menimbulkan perselisihan dan pertengkaran. pada bekas Datu-Bolon yang sudah tua itu. Sekitar yang bermula dari keluasan itu dan berakhir pada keluasan itu. Di danau yang maha luas itu. Karena itu anakku. kemauan bekerja. Agar manusia itu dapat pula mencicipi nikmatnya. tambah sering mendengung suara bekas Datu Bolon yang sudah tua itu. ke tengah marganya yang sudah mencoret namanya dari silsilah marga. "Anakku. janganlah kau berkecil hati. karena itu janji. lalu dapat merasakan kenikmatan yang terkandung dalam kebenaran itu. Rindu pada ibu.di danau di kampung halaman. bapak yakin. Dia harus mewartakan berita penemuannya itu ke tengah keluarganya. keinginan untuk me lepaskan mereka dari berbagai rupa ancaman. Modal yang pokok hanya satu. Seorang manusia yang ditunjuk dewata menemui kebenaran. hingga akhirnya turut merasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh kebenaran itu. Janji yang selalu mengingatkan kampung halaman. boleh pergi ke mana suka. yang bisa menimbulkan sesuatu peperangan.

Berjanjilah anakku. telah dapat diduganya. Berhadapan dengan kebisuan Tio. Lantas selanjutnya dia mengatakan. Ronggur telah menentukan kapan mereka memulai perjalanan pulang itu. melawan arus. lalu melanjutkan. Karena janji yang dibuat lelaki. agar kerjamu tidak sia-sia. sangat susah. malah beralih pada penemuan itu akan mengutuki diri. dia sudah dapat menggambarkan suasana perjalanan itu dalam kepala. kau harus kembali kemari membawa berita ria itu. janji yang kau buat sebagai lelaki. Harus kembali mengarungi sungai ke hulu. untuk terus melawan arus. Bapak. dan usaha menaklukkannya. penuhilah pula sebagai lelaki yang berhati jantan. dari pengenalan akan celah pertemuan bukit dan usaha untuk menembusnya. Karena itu. Tio diam saja mendengarkan sambil menundukkan kepala. janji seorang lelaki." katanya. yang memerlukannya. yang .habungkasan di rantau. memaksa dan membuat orang yang menemui itu tidak mewartakan-nya pada orang lain." "Aku berjanji. dia sudah membayangkan bahwa mereka akan menembus jalan darat. mewartakan penemuan itu. Anakku. sesuatu penemuan yang bisa membuat orang gembira dan berbahagia. "Doakanlah aku bapak." "Terima kasih. "Anakku." Dengungan percakapan itu tambah nyata dan jelas." kata orang tua itu. Perjalanan yang tentunya memayahkan. Memaksanya harus kembali ke kampung halaman. agar anakmu ini dilindungi Mula Jadi Na Bolon. tapi. Dari pengenalan akan pundak bukit. Karena itu." "Aku bapak. bila keserakahan diri atau dendam yang bersarang dalam dada." "Doa dan restuku akan selalu mengiringi perjalananmu. sehingga orang lain tidak dapat menikmati arti dan nilai penemuan itu akan berkurang. janji yang akan tetap ditepati. tapi perjalanan untuk memenuhi janji yang dibuhul sebagai lelaki bersikap jantan.

Tio merasakan sesuatu menggeliat dalam perutnya. Biarlah perjalanan pulang ditangguhkan untuk beberapa lama. yang akhir-akhir ini begitu nyata dan jelas. ditahan." sahut Tio. yang banyak tumbuh di pematang sawah di antara rerumputan. Dan. sesuatu rintihan lepas juga dari celah bibir yang dikatupkan. dingindingin ditelempapkan ke perut Tio dan kening. Seperti orang sakit. walau Tio selalu . direbus. Kau sakit?" "Tidak. yang selalu diancam bahaya di kampung halaman? Agar mereka dapat bebas dari ancaman yang selalu menakutnakuti mereka itu?" "Bukan itu alasannya. Kita harus menanti di sini. Tapi. Sambil tersenyum dan duduk dekat Tio. bila pandangnya bertemu dengan pandang Ronggur. Ronggur lalu berkata. Sesuatu tekanan mendesak hendak melalui kerongkongan.tidak menyahut itu." Cepat Ronggur pergi memetik daun ampapaga. Namun. Tapi. sesuatu akan terjadi. digigit oleh gigi sendiri. Barulah sadar arti perobahan bentuk tubuh istrinya. "Kita memang masih belum bisa memulai perjalanan pulang. Bibirnya gemetaran. Darah Ronggur tersirap dibuatnya. airnya sangat baik buat minuman seorang ibu yang hendak dan baru melahirkan. Wajah Tio agak pucat waktu tengadah padanya. wajahmu pucat. masih tetap berusaha tersenyum. Tidak sakit." "Kenapa wajahmu sepucat itu? Apa yang terjadi?" Wajah Tio seperti menanggungkan sesuatu. Bila sudah kering. dia tidak mau lagi pergi jauh-jauh dari dekat Tio. Ronggur mengatakan. Daun ampapaga itu di dikeringkan di panas matahari. Bukan itu. Dan. berupa rintihan dan jeritan. "Apakah kau tidak ingin mewartakan berita ini pada sanak keluarga? Pada setiap orang. Dijerangkan terus menerus air panas dalam periuk tanah. Akhirnya Ronggur tahu. "Tio. Tambah lama tambah sering dan menimbulkan perasaan nyeri.

Semuanya akan menjadi beres. cukup umur. agar memulai perjalanan. Pergilah berburu. Dalam kepala terbayang seorang anak lelaki yang sehat. Hari berikutnya." Balik Tio yang menasihati dan menenteramkan hati Ronggur. Tio sudah dapat senyum. dilap Ronggur dengan sayang. "Apa yang harus kuperbuat? ke mana harus kucari dukun?" Dari sela rintihannya. Tidak usah repot. agar orang tidak takut kelaparan. Tangisnya pertama menantang gemuruh ombak yang memecah di pantai. meniti ombak demi ombak yang begitu besar. dan perasaan nyeri tambah memaksa Tio merintih. Tio harus senyum pada . atau menangkap ikan. Lelaki yang kelak sanggup mengolah tanah yang bidang menjadi persawahan. ombak itu menggamitnya. Mencapai daerah baru. Hendaknya kehijauan daun padi dapat mengimbangi hijaunya daun pepohonan. Setelah melengkingkan sebuah pekikan yang panjang lagi nyaring. Lelaki yang dapat memelopori orang menjelajah hutan belantara yang abadi itu. berjalan dengan baik. seorang lelaki. cukup merah. juga diharapkan agar anaknya seorang lelaki yang sanggup meniti gelombang yang besar di danau luas itu. Bayi dimandikan. Anak lelaki meneriakkan suaranya pertama. dan segumpal daging telah ditayang Ronggur dengan hati-hati. anak kecil itu sudah digendong Ronggur sambil dinyanyikannya. Saat kelahiran semakin dekat. Dipotongnya jabang bayi dengan bambu yang ditajamkan pada kedua sisinya.mengatakan. Tio diberinya minum air ampapaga. Atau. T idak jarang. Tio lalu memelas. Menoleh ke bayi yang baru dilahirkannya. sering juga membuat Ronggur harus mengatakan dalam kebingungan. "jangan repot. Begitu sehat. Kening Tio yang berkeringat. seperti warta pada dunia bahwa dia telah lahir. "Aku tidak apa-apa." Ronggur pura-pura tidak mendengarkan. Tio menyahut. Tak lama kemudian. Disunggingkan senyum sebagai sahutan.

. Mulanya menyusuri sungai ke hulu . Memberitakan dan mewartakan. Bermulalah perjalanan itu. katanya. Tio. akan penemuan-tanah habungkasan. dan bertambah usia si anak. . meniti ombak demi ombak yang bergulung-gulung memecah di pantai. . Tio sudah menjadi seorang ibu. Sedang yang ditinggalkan di tanah habungkasan masih banyak benar. Ronggur sudah menjadi seorang ayah. dan danau yang maha luas ini. Kekerabatan dan keakraban berumah tangga tambah terjalin. Bertambah hari. Bahwa padi yang mereka bawa sepundi dulu sudah menjadi tiga pundi. maka Ronggur pun kembali mengatakan. yang menanti dayungmu berkayuh di permukaannya. mereka pun memulai perjalanan pulang." Tio tidak membantah. sudah waktunya kita memulai perjalanan kembali ke kampung halaman. "Tataplah dengan mata kanakmu. "Tio. ke mana saja pun. ccdw-kzaa 8 Setelah menyediakan segala sesuatu yang perlu dalam perjalanan. T idak habis dimakan sekeluarga dalam jangka tiga kali panen. Tiga pundi padi yang bernas dibawa serta. akan mereka tunjukkan sebagai bukti pada orang di kampung halaman. anak kita akan menjadi seorang pengarung danau yang maha luas ini kelak. Ronggur selalu mengatakan. mencapai pantai lain." Bila telah dua kali purnama timbul dan tenggelam. Bergaya seorang yang akan cukup kuat dan punya ketahanan serta keberanian..Ronggur dalam saat begitu bahagia. Dia akan tetap mendampingi Ronggur. Ronggur sudah menggendong si anak ke tepi pantai bersama Tio. luasnya danau yang ada di depanmu. ibu dan ayah dari anak lelaki yang sehat.

Begitu pula mengadakan tanda tertentu pada sesuatu pohon.Beberapa potong kulit binatang buruan yang halus hulunya dan sudah dikeringkan dibawa serta. Sejuk. dan lebih aman daripada menyusuri Sungai T itian Dewata. yang kelak dapat digunakan jalan pulang pergi antara kampung halaman dan tanah habungkasan. Pada sesuatu mata air begitu. Jadi. tanah itu sangat baik dijadikan perladangan atau persawahan. sendirinya pula usaha merintis jalan darat. Tidak tanah tipis melapisi batu alam. bukit dan lembah tambah banyak mereka temui. Mereka sering berhenti di satu tempat sampai dua tiga hari. Ronggur selalu mengadakan tanda. Memenggal-meng-gal hutan belantara. Airnya begitu bening dan dingin. selalu menggendong anaknya di punggung. bukit tanah yang gembur. Sedang pundak perbukitan yang juga ditumbuhi kekayuan tua. tahulah dia. Tanah di lembah dipelajari Ronggur baik-baik. Mempelajari jalur lembah dangkal yang banyak dalam hutan. yang dilingkungi hamparan dedaunan hijau lebat. dan memilih tanjakan yang tidak menaik untuk didaki. . yang dipanjat Ronggur untuk menentukan arah tempuh. Tidak jarang pula mereka temui parit kecil yang bermula dari sesuatu dinding bukit yang bercelah. Tambah jauh mereka menyusup ke pedalaman hutan. bila kekayuan hutan sudah ditebang. Baru mereka mulai menempuh jalan darat. hitam mengandung kesuburan. Lembahnya tambah dalam dan perbukitannya tambah tinggi. Tapi. permadani alam yang tebal lagi abadi. agar yang dibawa. T io. mempelajari pintasan jalan yang lebih mudah ditempuh. seringan mungkin dan yang perlu saja dalam perjalanan. bukanlah bukit batu seperti bukit tandus di kampung halaman. Mereka berusaha. Melalui pengenalannya akan tanah. Mulanya mereka menyusuri sungai ke hulu. perjalanan pulang itu pun. Sampai tiba ke lempat arus mulai menderas dan susah dikayuh.

tidak jarang pula mereka harus mempertahankan diri dari serangan binatang buas: harimau. Dan. dan sudah dapat melempar senyum di saat dia merasa senang. T erus berusaha mengarahkan langkah ke tempat air terjun itu. Atau. dia tersenyum kembali. Dari sana baru mereka tentukan. bila lama-lama mereka berada di sana dan tidak ada sesuatu yang menyakiti tubuhnya.Dalam merintis jalan itu. beruang. Penciuman si belang banyak membantu keselamatan rombongan kecil itu. jangka siang hari. yang harus ditaklukkan. cepat mereka mengalih langkah. Sehingga terasa. Apa yang ditakutkan Ronggur pada mulanya masih tetap tidak terjadi. Mereka terus menyuruk di bawah hamparan dedaunan hijau yang abadi itu. di tengah hutan tidak jarang mereka bertemu dengan kumpulan binatang buruan yang enak dagingnya. Batu jaluran yang ditembus air sungai yang . Tapi. Sedang Ronggur mengarahkan tatapan si anak ke air terjun yang memutih kapas itu. Anak mereka yang sudah mendekat ketiga purnama usianya. tidak jarang Ronggur dengan dibantu si belang. celah bukit mana yang harus diterobos menuju kampung halaman. Tio memeluk anaknya. harus mengadakan perlawanan mempertahankan diri. Tapi. Tapi. Bila si belang meringis dan mengarahkan penciumannya ke satu arah terus-terusan. Menyisih dari tempat sesuatu binatang buas. sebaik dia turut mendengar suara air terjun yang mengguruh. pundak bukit yang memanjang sebagai pagar dan batas tanah dataran tinggi kampung halaman dengan tanah habungkasan. Dalam saat begitu. kalau kepergok. menghambat sinar matahari menimpa tanah. agak pendek di bawah naungan yang tebal itu. Ronggur selalu berusaha agar mereka dapat tiba kembali ke tempat air terjun itu. dan kelompok gajah. sarang binatang. sambil berjaga. Dedahanan kekayuan yang berjalinan mendukung dedaunan lebat. tidak dapat melempar senyum.

dan berusaha menerobos celah bukit. Jalan memotong ke kampung halaman. Dan. terdiri dari batu alam yang tidak keras. Menjelang senja Ronggur dan Tio berhenti menggali lobang. payah ditemui binatang buruan. Ekornya dikibaskan. Melepas lelah. Untuk dijadikan lobang perlindungan. Ronggur mengatakan. Betapa indah. Tio memaling wajah pada Ronggur tanpa sahutan. Sampuran Harimau. Mudah digali. Tapi. setelah beberapa lama mereka terpukau di tempatnya tegak. lihat Tio. perlu kita istirahat untuk beberapa hari. gemuruhnya tetap menderu. masih tetap kokoh pada tempatnya. mereka namakan air terjun itu. "Lihat.terjun." "Harus di sini kita istirahat?" tanya Tio. Dari sini kita akan mulai mendaki kaki pegunungan. Tari warna yang sempurna. "Kita istirahat di sini untuk beberapa hari. agar tidak ada serangga hinggap ke wajah anak yang sedang tidur nyenyak itu. Ronggur dan Tio bekerja sama menggalinya. Karena itu. "Tio." kata Ronggur. benda putih diambangkan ke atas terus menerus. Agar memberi ruang yang lapang bagi mereka. Lagi pula dinding bukit sebelah sana." Mereka menggali lobang perlindungan yang agak luas. Agar tenaga kita pulih kembali. "Ya. Tidak terjadi reruntuhan. Di pundak bukit gundul itu. Aku akan memburu binatang buruan. Mata mereka patok menatapi permainan warna pelangi aneka rupa berpadu dengan air yang memutih kapas. agar cukup daging untuk dimakan nanti dalam perjalanan. agar mudah kita memperoleh air. Di sampingnya duduk si belang seperti menjaga. Sambil menggendong anaknya. Anak mereka ditidurkan di tanah beralaskan kulit binatang buruan yang lembut. . Perjalanan begitu tentu berat. menaklukkan pundak demi pundak bukit. Bila lama kelamaan ditatapi jatuhnya air itu dan kuping biasa kembali mendengar suara mengguruh itu. yang menyerupai aum harimau.

Sedang mulutnya akan mendendangkan lagu seorang ibu. kaki bukit memanjang lagi tinggi. tidak kedengaran. kenapa pekikan keras lagi sakit waktu melahirkan sang anak bercampur nikmat. dan mengitari itu semua. Pada hari berikutnya. cicitnya tenggelam ditelan gemuruh air terjun yang jatuh. Oi sebelah kanan. dan mulut anak itu sudah mengisap-isap muncung buah dadanya. lagu yang menyuarakan perasaan kasih sayang: Pejamlah mata sayang seorang kenapa harus kerisik seperti . rasa keibuan. kenapa ada nyanyian alam terpendam pada dedaunan yang berdesir bila disentuh angin lalu. tinggal Tio saja yang meluaskan mulut lobang perlindungan dan memperluas ruang dalam." Tio mengikuti telunjuk jari Ronggur. air terjun. Beberapa ekor burung terbang di udara. Sejak lahir anak itu sudah disusukannya dan sudah berapa lama itu berlangsung. Tidak jarang dalam saat begitu. Nanar mereka menatapi tari warna pelangi yang aneka ragam itu. Mencampakkan pandang ke sekitar. Ronggur sudah pergi berburu bersama si belang. mengagumi lukisan alam yang sempurna. menuju hutan belantara luas. di bawahnya tanah habungkasan yang mereka temui. Tahulah dia. Sayang sekali. dia memicingkan mata menikmati kesempurnaan rasa bahagia di saat mulut anaknya mengisap muncung buah dadanya. sumber kasih sayang abadi bagi seorang anak yang lahir dari rahimnya. Tapi. dia duduk berjuntai di mulut gua. bila saat menyusukan tiba. mencapai sarang.Begitu indah kalau hujan tidak turun atau kalau kabut tidak menyungkup. Bila anaknya haus. bukit gundul. sesuatu perasaan selalu menggeliat dalam dada. meminta ditetekkan. tahulah dia.

agar cukup kering dan tahan lama. Begitu tekun. dia tambah sering mencampak pandang ke air terjun itu dengan berlama-lama. Sedang mulutnya akan cepat mengatakan. Dia sangat giat mengumpulkan daging binatang buruan. Suatu perasaan merangsang dirinya.dedaunan berhalau ditiup angin lalu dunia terhampar di ujung kakimu Pejamlah mata anakku seorang menanti bapak kembali pulang dari tengah hutan belantara binatang buruan tersandung dibahu Pejamlah mata intanku sayang bila malam jatuh. Bila Ronggur tidak pergi berburu. Dia tidak dapat mengucapkan melalui bentuk kata yang cukup tepat. Tapi. Kemudian mereka panggang di atas bara sampai kering." Mereka potong tipis daging binatang buruan itu. Tio menjemurnya di bawah sinar matahari. "kita harus banyak menyediakan daging. dia telah merasakan. Sesekali dijinjingnya ikan yang dipancingnya. Tio selalu . Sedang di siang hari. Boleh jadi di pundak pegunungan gundul sana. payah dijumpai binatang buruan. terbayang di wajahnya. bulan gemintang kudekap kau pelukanku hangat Pejamlah mata buah hati bunda subuh tiba mula hari baru berjuta utasan cahaya matahari menyinari padang kembaramu Tidak jarang Ronggur pergi berburu seharian.

kulihat abang bertambah tekun melihatnya. aku merasa takut digertak suaranya yang terus menerus mengguruh itu." Lama Ronggur menumpu pandang ke mata Tio. Lama bibirnya bergerak-gerak. Membangunkan Ronggur dari kebisuannya. Ronggur merasakan. Menjanjikan sesuatu kebahagiaan pada manusia. Kalau tidak bersama abang.memperhatikannya di saat begitu. "Bertambah hari. "kurasakan. "Ada apa Bang?" tanya Tio. Biji mata Tio begitu bening tapi jelas tampak tidak mengandung pengertian akan apa yang diucapkan Ronggur. aku tidak kerasan di s ini. "Aku tidak tahu Tio. "Manfaat bagi kehidupan manusia." Seketika mereka bertatapan tanpa mengucapkan kata." sahutnya. Ronggur menyahut. sambil mengatakan. . alangkah susahnya dia untuk mengucapkan yang sedang bergolak di dadanya. Tio." Sambil mengalih pandang pada Tio yaYig berdiri dekatnya. Sekali waktu Tio mengganggunya dari menung menatapi air terjun itu. yang ditimbulkan air terjun itu. "memang benar dugaanmu. Dan. Sedang Ronggur kemudian mengalih pandang ke air terjun itu. namun seucap kata belum melepas dari bibirnya." "Kenapa begitu?" "Perasaan itu seperti membisikkan padaku bahwa a ir terjun ini mengandung suatu manfaat. Malah dibuatnya sesuatu rasa bersyukur." "Tapi. justru karena adanya air terjun ini. Tak bosan. Yang timbul dari air terjun ini. "Ada sesuatu yang kurasakan." "Manfaat apa?" tanya Tio terbodoh. Perasaan itu melumpuhkan segala ketakutanku pada air terjun itu.

"Karena itu. Karena tempat jatuhnya begitu tinggi dan curam. “jangan lagi takut padanya." "Apa lagi?" tanya Tio mendesak. bila tenaga yang terkandung di air terjun ini digunakan manusia untuk kehidupannya. Namun dia tidak membantah seperti kebiasaannya yang tidak mau membantah cakap Ronggur. binatang air yang menakutkan dan buas itu tidak bisa datang ke Danau Toba." Tio mencampak pandang ke tempat air terjun itu jatuh. Bersukurlah. maka tenaga yang disimpan air terjun ini bisa memberi arti yang bernilai bagi -kehidupan manusia. bila orang menggunakan tenaga yang terkandung di air terjun ini. Air yang jatuh berputar pada lingkaran berbentuk kolam. Selalu perasaanku berkata begitu. nanti. maka hidup manusia akan lebih berbahagia." kata Ronggur selanjutnya. Tapi. darinya timbul bencana saja." Tidak dapat Tio membumbui cakap Ronggur. Orang kelak akan dapat menggunakannya untuk kehidupannya. "Kurasakan air terjun ini mempunyai suatu tenaga yang sangat besar dan kuat. Hingga tak seorang pun selama ini berani menyusurinya untuk mencapai tanah habungkasan. Tapi. Darinya timbul anggapan selama ini. entah kapan." "Itu boleh jadi. Sungai Titian Dewata jatuh ke ujung dunia. masih ada manfaat lain dikandung air terjun ini. Coba kalau diri diterjunkan bersama air terjun pasti lumat. yang bisa . Jangan lagi kutuk dia." sahut Tio berusaha mengerti.membuat arus sangat deras. walau dia tidak dapat mengartikannya. haruslah merasa bersukur karena dia ada. Dan. arusnya gelisah membentuk suatu pusingan yang cepat. Sekarang memang yang kita lihat. "Di samping itu. Akhirnya dia sendiri ingin mendengarkan yang dirasakan Ronggur. karena dia menjanjikan sesuatu kebahagiaan bagi kehidupan manusia di masa datang.

agar dia tidak membantah yang dikatakan dan dirasakan Ronggur. menuruni lembah batas perbukitan yang berlapis-lapis itu untuk mendaki lagi. Sedang Ronggur memikul peralatan. Di sekitar tepian danau.menenggelamkan lalu menghancurkan sesuatu yang jatuh ke sana. pertanda perkampungan. Perjalanan mereka agak lambat. Tio menggendong anak mereka. Dengan mengenali pundak bukit mencari celah pertemuan bukit. tenang. Perjalanan yang memayahkan. Tidak mengenal lelah. T io takut dibuatnya. Tio merasa ngeri melihatnya. langsung mendaki bukit. atau terkadang berlari di depan. mengitari Pulau Samosir. telah berada kembali di hadapan pandang. Sesekali menyusur di tebingnya. Dalam sehari. lembah kampung halaman. Setelah beberapa hari istirahat dan tenaga mereka sudah pulih kembali. Mereka bertatapan untuk kembali mencampak pandang ke lembah perkampungan yang sudah sekian lama ditinggalkan. mereka melanjutkan perjalanan pulang. . Di tengahnya. Si belang mengikut di belakang. terkadang hanya sepundak atau dua pundak bukit saja yang dapat mereka taklukkan. Menggonggong dan menggunakan penciumannya. Lalu lembah dataran tinggi. Dan. tapi perasaannya belum juga merasakannya. mencapai sesuatu celah. tidak mau henti sebelum matahari tenggelam. T api. agar terlindung dari serangan angin yang cukup kuat. lalu menembusnya untuk kemudian terus lagi mendaki sampai pundak bukit ditaklukkan. Malah dia ingin turut merasakan yang dirasakan Ronggur. bersama kebiruannya yang damai. rombongan kecil itu terus mendaki pundak demi pundak bukit yang berlapis-lapis. akhirnya lapisan bukit itu dapat ditaklukkan. Ronggur selalu memilih celah bukit tempat bermalam. Jalanan yang harus ditempuh. yang dilingkari lapisan bukit demi bukit melingkar dan memanjang. semua perasaan itu ditekannya habis-habis. bertumpuk rimbunan bambu duri. danau kesayangan.

mengecap nikmat udara kemerdekaan. Dalam hayalnya Tio telah mengatakan pada diri sendiri bahwa dia akan membawa sisa anggota keluarga marganya ke tanah habungkasan. yang mempercayai bahwa Sungai Titian Dewata berakhir ke ujung dunia. Karena itu. mereka telah memakai kulit binatang buruan yang halus bulunya. Tiba-tiba saja Ronggur memecah kesunyian itu." . Diselimuti baik-baik sehingga tidak merasakan udara dingin. telah kita laksanakan dengan berhasil. Terlebih anak mereka. satu perjalanan panjang. setelah sekian lama harus menjadi budak orang lain. Kita harus menaklukkan dan menguasai alam pikiran orang di kampung halaman. terutama Tio. Dan. Bila hasil perjalanan ini kita sampaikan pada mereka. Kau telah mengorbankan alam pikiranmu sendiiri untuk mengikuti jejakku. Dia membayangkan betapa bahagia keluarga marganya. Tapi. kau harus tabah nanti menerima segala sikap yang mengejek dan menantang. menggantinya dengan kepercayaan baru tidaklah kerja mudah." Mereka menarik napas lega. menembus Sungai Titian Dewata. Walaupun dengan susah payah. karena udara kembali dingin. Pekerjaan begitu tidak akan mudah. aku cinta padamu. maka sendi kepercayaan mereka berarti digoyang. agar bisa bebas dari nasib jelek yang menimpa marga. Yang mungkin menyakitkan hati. Kaulah seorang perempuan yang telah berani menemani aku menempuh satu perjalanan yang menantang keyakinan orang sekitar yang telah turun temurun menguasai alam pikiran mereka. Merombak keyakinan seseorang. Tapi. mengarungi rimba alam abadi. Akan jauh lebih payah daripada menaklukkan pundak bukit yang cukup tinggi. ananda. "Tio. atau membahayakan jiwa. Tangan anak itu dituntunnya menunjuk ke arah perkampungan sambil mulut Ronggur berkata.Ronggur mengambil anak mereka dari gendongan T io. Aku berhutang budi padamu dan aku cinta padamu. menanti tugas baru. ketahuilah Tio. "Itulah kampung nenek moyangmu. di hadapan kita.

Tangan kiri Ronggur menggendong anaknya. karena terus menerus menanggung rindu dan tidak tahan mendengar ejekan yang diarahkan pada anaknya dan padanya sendiri. mati terkutuk. Tidak menjadi bahan percakapan lagi. tenggelam. "mereka anak manusia seperti kita. “maukah kau membawa sisa warga margamu ke tanah habungkasan?" "Tentu. apalagi anakku. sedang tangan sebelah lagi." kata Tio. menatap ke arah yang sama. Matinya. Dia mengisak di sana. karena dia seorang ibu yang melahirkan anak durhaka. dan timbulnya kembali purnama. Ronggur mengelus rambutnya dengan sebelah tangan. Bertatapan dengan Ronggur. Oi ujung kaki duduk si belang menjulurkan lidah. Jaluran famili yang harus kuhormati. tangan kanannya memeluk pinggang Tio. Arwahnya akan disumpahi Mula jadi Na Bolon. . "Ronggur. Perlahan Tio mengangkat kepalanya. pulang ke tempat asalnya. lembah perkampungan. sudah tentu. tidak berapa lama setelah Ronggur dan Tio berangkat dulu. Kenangan terhadap mereka bertambah tipis lalu menghilang bersama bertukarnya penanggalan hari. ke hadapan Mula Jadi Na Bolon. dia telah menyandarkan kepala ke bahu Ronggur. Mendambakan bahagia dalam hidupnya.Lama Tio terdiam. menggendong anaknya. Dan di samping itu. Kemudian dengan tidak dapat dilawannya. Orang melupakan mereka dengan ucapan yang tumbuh dari kepercayaan mereka: "Dikutuk dewata dan para arwah. Tanpa mengatakan sesuatu. mereka jaluran paman anakku." Sedang ibu Ronggur." Orang di kampung halaman sebenarnya telah lama melupakan mereka berdua." jawab Ronggur. Kemudian sama-sama mereka mencampak pandang ke lembah di bawah.

Pada mulutnya. Lalu. ibu tua itu masih mengharapkan anaknya cepat kembali. Tapi. Hingga dia dikebumikan tanpa upacara dan gondang. Di saat mati. tidak bosannya. Karena para dewata tidak diberi tahu atas kematiannya. bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan. Ronggur anak yang memperoleh petunjuk secara langsung dari dewata. Tapi. berakhirlah hidupnya. arwahnya akan tidak diterima Mula Jadi Na Bolon dengan baik. Pertanyaan yang sebenarnya berupa ejekan yang diajukan orang padanya. "Bukankah kau yang membuat ayah si Ronggur menemui ajal. Orang percaya. "Sudah pulangkah Ronggur dari tanah habungkasan? Sudah ditemuinya tanah habungkasan yang dijanjikan setan itu? Kapan pulang." "Bukan setan yang menggoda. Para dewata tidak akan datang menjemput arwahnya ke tempat yang baik me lalui Sungai Titian Dewata. si anak durhaka itu?" "Dia akan pulang membawa berita ria bahwa tanah habungkasan yang dijanjikan para dewata telah ditemuinya. setiap hari mencampakkan pandang ke arah matahari terbit. dia tidak punya apa-apa. selalu disahutnya dengan baik. membuat kemauan hidup melemah. melalui pukulan gondang yang dipalu dan mengorbankan beberapa ekor babi serta ayam putih. dan anaknya tidak pulang juga. setelah beberapa kali purnama tenggelam dan terbit lagi. Ronggur dan Tio akan kembali membawa berita ria. karena kau ajak dia menyusuri Sungai T itian Dewata?" . dia telah dilahirkan untuk menyampaikan kehendak dan pesan dewata. Dia masih tetap percaya. Meneliti pundak bukit dan celah bukit yang ada di sebelah timur." "Apa kau katakan? Para dewata mengganti setan? Patutlah ramalan tenungmu tidak ada yang benar. Tapi. Dia anak yang berbahagia. Kemudian orang itu me lanjutkan." Orang lalu tertawa.

antara satu marga dengan marga lain. Membuat marga mereka menjadi lebih berkuasa. ke tanah batu yang sama sekali tidak baik dijadikan persawahan. yang berakhir atas kemenangan marganya. menjadi orang buruan. Berita yang datang dari kampung sekitar. mencakapinya. Sedang yang sempat melarikan diri. Memutih uban. antara satu suku dengan suku lain. Sedang kerajaan marga yang tidak sempat dihancurkan. tekadku kurang kokoh waktu itu. Orang tidak memanggilnya ke pertemuan marga dan ke sidang kerajaan marga. waktu itu pun. harus pula membayar upeti pada kerajaan marga mereka. Si tua gila. orang menjadi ramai tertawa lalu pergi sambil berkata. Aku akui. bila tertangkap. dijadikan budak belian. Orang yang kalah. Orang membiarkan menatap ke arah matahari terbit setiap pagi. yang dapat dihancurkan kerajaan marganya. baik mengenai perdamaian." Mendengar sahutan begitu. Malah waktu marganya sendiri harus berperang karena memperebutkan hutan di teluk danau itu. begitu pula mengenai peperangan yang terusmenerus meletus. Pipinya cekung. dia seperti tidak ada lagi. lalu meminta damai sete lah melepaskan haknya atas apa yang diperebutkan.“Kami mengalami kegagalan yang mengakibatkan kecelakaan itu. dan antara satu lunak dengan luhak lain tidak disampaikan orang padanya. Malah orang sudah sependapat. Marga yang dikalahkan marganya itu. Persawahan dan perkampungan tambah banyak mereka kuasai. tenaganya tidak diminta orang membantu marga. lama kelamaan orang tidak mau lagi mengganggu. . akhirnya harus membayar upeti pada kerajaan marga. Orang tidak mengacuhkannya lagi. pergi ke kaki bukit terpencil. kuat. Sehingga sudah sampai di pundak. Ayah Ronggur menemui ajal karena kecelakaan itu." Tapi. Aku meloncat dari biduk membuat keseimbangan biduk hilang. Orang tua itu membiarkan rambutnya panjang. dan kaya. "Orang gila.

sampai orang pada tercengang. Setiap saat benda yang bergerak itu mendekat atau menurun ke lembah perkampungan mereka. Apalagi bila orang menurun dari pundaknya. binatang liar lagi buas. Tidak melesu. Terlebih karena dia meneriakkan. Matahari bersinar terang. Percakapan menjadi simpang siur. Apa yang akan terjadi. Tanpa disadarinya dia bertempik dan berlari ke tengah kampung.Wajahnya bertambah lancip. Setiap orang melahirkan anggapan dan duga demi duga. Diputuskan untuk mengirim kurir penunggang kuda. Sebanyak tiga orang penunggang kuda bergerak. apa yang akan disampaikan penyelidik yang sudah dikirim kerajaan." Orang bertemperasan ke luar rumah lalu terus pergi ke gerbang kampung sebelah timur. Dijauhan ada tiga benda kecil dilihatnya bergerak-gerak di kaki bukit sebelah timur. Hati tiap orang tambah gemuruh. Belum pernah seorang manusia pergi ke sana. Karena gunung itu gunung angker menurut kepercayaan mereka. . Dan. menyelidiki keadaan sebenarnya. Mereka sedang menuruni kaki gunung sebelah timur. masih mengatakan bahwa itu bukan rombongan Ronggur. Tapi. Namun setiap orang lebih menginginkan bersikap menanti. Menatap dengan patok ke arah yang dimaksud orang tua itu. Ronggur telah kembali dari tanah habungkasan. Mereka bawa juga dua ekor lagi kuda. Kalau memang itu rombongan Ronggur supaya dibawa pulang. Mereka juga memang melihat ketiga titik yang bergerak itu. Pagi itu juga kerajaan marga mengadakan sidang. "Mereka telah kembali. Tidak ada awan di langit. tempat matahari muncul. yang tidak punya beban. Atau apa yang telah terjadi? Warta apa yang akan datang? Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. pagi itu sinar mata tambah bening dan bersinar. Tapi. sinar matanya tetap mengandung sinar kepercayaan.

Tapi. Setiap hati tambah bertanya.Sampai sore orang semua tinggal menanti. Setiap orang terdiam. mencampakkan sinar yang beraneka warna ke permukaan danau. Orang terus saja dapat mengenali bahwa penunggang kuda yang keempat. Dia tidak langsung menuju ke tempat raja yang juga hadir di sana. Setelah menuntun Tio turun dari pundak kuda. Bila senja telah mulai memerah di langit. dan berusaha meruntuhkan kepercayaan mereka yang bisa membuat dewata marah. seperti pagar . ketabahan. dan kekuatan serta keuletannya. si belang menjulurkan lidah. Lalu dari mulut Ronggur keluar kata: "Bapak. Tiap orang seperti terpacak di tempat masing-masing. mendekat pada orang tua yang berambut panjang putih itu. lalu terus mendekat ke orang banyak. Tidak ada yang turun ke sawah. Di belakangnya Tio menggendong bayi. bersama dengan bertambah merahnya warna senja. Ronggur melompat dari punggung kuda. juga menemui sebuah danau yang tidak bertepi tapi airnya asin. Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan. rombongan itu bertambah dekat. Tidak ada yang turun ke danau. Suasana tambah tertekan. Kuda yang dua ekor lagi sudah ada penunggangnya. Dataran yang landai. Mereka memberi sembah. Namun sangat banyak ikan. Anak yang sudah disangka mati dikutuk dewata. anakmu ini telah menemukan tanah habungkasan yang sangat luas lagi landai. Ronggur. telah kembali di tengah mereka. Penyelidik penunggang kuda sudah pulang. Sedang dipangkuan Ronggur. Dengan bantuan doa Bapak. tapi sayangnya pula anak yang telah dicoret dari silsilah marga karena digoda setan. keberanian. telah kembali ke tengah mereka. yang tidak pernah salah tafsir tenungnya. Anak yang dikenal kecakapan. ditumbuhi pohon kelapa berjajar. Tanpa kurang sesuatu. T ambah lama. mereka sudah dapat melihat kepulan debu mengepul ke udara.

Bapak. Anakku?" tanya orang tua itu ber-napsu. berapa keluarga yang dapat di tampung tanah habungkasan yang kau temui itu?" "Berapa keluarga? Ah. memberi imbangan akan luasnya danau yang ada di depannya." "Anakku. alangkah gembur dan subur. Di sana kedamaian akan tercipta. Lagi pula. Tapi. Jadi aku tidak dapat mengatakan berapa keluarga." . Di punggungnya. Setelah air terjun. apa yang kita takutkan bahwa penduduk akan sangat padat sedangkan tanah begitu sempitnya karena penemuan tanah habungkasan ini tidak jadi persoalan lagi. tidak perlu takut kehabisan makanan. Tapi. Hutan menyimpan binatang buruan yang jinak. hutan belantara yang sangat hijau lagi luas. semua keturunan si Raja Batak dapat di tampungnya sekaligus dan bersama keturunan yang akan datang tanpa menakutkan bahwa tanah garapan akan habis. air harus menuruni sebuah lembah yang sangat curam. Sungai Titian Dewata terus mengalir. membelah dada hutan belantara yang sangat lebat dan rimbun itu. cobalah bapak bayangkan. Sampai bertemu dengan kaki langit. Setiap orang bisa punya anak berpuluh-puluh. Tanah. Orang yang pergi ke sana. "Di seberang ujung dunia. Tanah di sana sangat baik dijadikan persawahan. Bukan tanah tipis menyaputi batu alam. Tanah di sana tidak akan habis.tepian danau. Karena ada air terjun. Sebenarnya bukan ujung dunia. itulah pula mula tanah landai. namun tidak perlu takut kekurangan tanah. jadi. sejauh mata memandang hanya tanah yang landai yang tampak.” "Di manakah itu. tanah yang hijau tidak bertepi. karena setiap orang rajin bisa membuka tanah persawahan sesuka hatinya. tanah habungkasan. Sungai Titian Dewata tidak pernah putus. tidak perlu berkelahi karena setitik air parit. Orang yang pergi ke sana. Sungai Titian Dewata pada salah satu tempat. memang mempunyai arus yang sangat deras.

aku memutuskan membawa tiga pundi saja sebagai bukti. sehingga lahir dalam melaksanakan petunjuk dewata. karena perjalanan begitu jauh. Menjamin keperluan mereka sebelum saat . Tapi." Orang banyak. Sekarang aku bawa tiga pundi padi yang bernas. suaranya terus lantang: "Ronggur. hanya sepundi kubawa. Tiba-tiba saja dia berkata.Sambil menitikkan air mata bening karena gembira. "Waktu aku berangkat dulu dari sini. Anakku?" "Ya. sehingga lahir dalam kenyataan. Setiap orang akan memperoleh kebebasannya kembali mengerjakan tanah. bukankah begitu. orang tua itu lalu mengatakan: "Anakku. memancar sinar kebencian dan dendam. yang padinya begitu bernas. Pertempuran yang sering terjadi antara satu marga dengan marga lain atau antara satu luhak dengan luhak lain. di tanah habungkasan. Sebenarnya hendak kubawa lebih banyak. T api. kutinggalkan padi bagi keperluan orang yang mau pindah ke sana dalam taraf pertama. semuanya terdiam mendengarkan percakapan itu. lagi pula harus melalui pundak bukit dan celah bukit. kau telah melaksanakan petunjuk dewata. Bapak. kau telah mengatakan segala dusta. dari mata Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Apakah buktinya bahwa kau telah menemukan tanah habungkasan seperti yang kau dustakan?" Ronggur mengeluarkan pundi yang tiga itu. lalu. Setiap orang seharusnya mengucapkan terima kasih padamu dan pada Mula Jadi Na Bolon yang telah menciptakan tanah habungkasan itu. akan tidak perlu berulang. pun kerajaan. baik penduduk biasa." "Terimalah ucapan terima kasihku padamu. Anakku. Tapi. yang kemudian menimbulkan luka serta duka yang dalam dan lebih kejam lagi yang menimbulkan kemelaratan dan golongan tertindas.

bila kita mau mendengar cakap dusta ini. anak siapa yang digendongnya itu? Anakmu? Kau mengawini atau memilih seorang budak menjadi ibu anakmu?" Datu Bolon Gelar Guru Marlasak tersenyum mengejek. Karena persoalan. Tiga pundi soal gampang. Kau telah mengawini seorang budak belian yang diharamjadahkan orang merdeka. Kau telah menghancurkan kepercayaan kami. Bisa saja kau curi dari lumbung orang. soal kepercayaan. Demi menghormati kesetiaan dan ketabahannya. suara Datu Bolon memegang peranan yang penting. betapa bernasnya padi ini. Dia telah kubebaskan. Pada orang yang melakukannya. jadi persoalan. Kalau tidak. Kami telah dipersatukan Mula Jadi Na Bolon secara langsung. Dialah isteri paling setia. dapat dijatuhkan hukuman. Kau telah membuat segala pekerjaan keji dan mengatakan kata yang keji.panen tiba. kutuduhkan padamu dan aku meminta pertimbangan khalayak dan kerajaan. Dan. mengutuk marga ini. perempuan yang paling setia dan tabah." "Aku tidak mempercayai cakapmu. Dengan suara menghentak. Marga yang kuat perkasa lagi kaya ini. Kita dulu ." 'Ke mana pergi gelang yang dipakai si Tio pertanda dia budak?. “Kita akan dikutuk para dewata dan arwah nenek moyang. agar memilih bentuk hukuman yang pantas ditimpakan padamu. Dalamm rapat kerajaan." Kerajaan yang lengkap cepat saja mengadakan sidang. sewaktu kami tiba ke tempat jatuhnya air Titian Dewata untuk pertama kalinya. Lihatlah. marga yang dikurnia oleh dewata. itu semua. Padi lebih cepat matang. "Tio telah menjadi isteriku. Dan. aku jadikan dia istriku. para dewata akan murka. kau telah mengatakan bahwa Sungai Titian Dewata tidak jatuh ke ujung dunia. Inilah persoalan yang sangat berat. Dan. Wajah Ronggur memerah padam. Dia tidak akan pernah menjadi budak lagi. Tapi. Saat panen lebih pendek di sana daripada di sini.

agar para dewata yang telah melindungi kita. Lalu . dan dihormati setiap marga? Dan. Tambah lama. Tapi. telah dua kali marga kita mengalahkan marga lain dalam peperangan? Hingga marga kita menjadi marga yang berkuasa. lalu sama menyaksikan hukuman mati yang harus dijalani Ronggur bersama T io. Apak kecil itu menangis sejadinya. kuat. bila dia kembali ke kampung halaman ini. luhak kita. yang telah membuat kita menang dalam peperangan tidak memurkai kita. Telah diputuskan pula. Si belang mendekatkan moncongnya ke mulut anak itu. suara anak menjadi parau. Ronggur dan Tio diikat pada batang pohon mangga yang besar. kaya. akan dipalu canang ke tiap kampung yang dikuasa i marga itu. Karena dia telah mendustai kita dan dia telah membebaskan seorang budak marga tanpa persetujuan sidang kerajaan. Tapi. Bayi diletakkan di depan. Lalu mengeluarkan perintah. akan menangkap menjadikannya budak belian. menjadi daerah taklukan kita?" Segala saran yang dilancarkan Datu Bolon gelar Guru Marlasak. dan tak mau mendengarkan cakapnya. akan memutuskan. tak seorang pun dibolehkan menyentuhnya. Hukum mati. besok pagi. tidak saja perasaan Tio dan Ronggur serasa disayat. Bukankah kita sudah harus bersyukur pada para dewata dan arwah nenek moyang. mereka. tuntutanku: Menangkap dan menghukum si Ronggur bersama budak belian itu. Mendengar tangis bayi kecil itu. langsung di atas tanah. Turut si belang menitikkan butir air dari matanya. menangkap Ronggur dan Tio. sekarang tuntutanku tidak sampai di situ.si Ronggur. Dekatnya si belang. karena mereka telah menghina kepercayaan. untuk mengumpulkan mereka. Ini perlu. karena sebaik kita mencoret nama Ronggur dari silsilah marga. mempengaruhi keputusan kerajaan. Agar pengaruh yang dibiuskan Ronggur tidak mempengaruhi orang untuk seterusnya.

Ronggur menolak sarat itu. Hukuman bisa dientengkan. Sampai ke kaki bukit tempat orang melarat. Percayalah padaku. Supaya bekas dari kejadian itu tidak tinggal sedikit pun. Semua akan dibakar. Raja Panggonggom bersama pengiringnya. tempat orang yang tidak berpunya. Tangis anak itu mereda. Sampai basah. Lalu lidah anak itu menjilat bibirnya. Segala alat yang dibawa oleh Ronggur dan Tio ditumpukkan depan mereka. begitu pula sebaliknya. Cepat saja berita yang dibawa Ronggur dan Tio menjalar ke mana-mana. Terutama setelah mereka memperoleh penjelasan langsung dari bekas Datu Bolon. Kemudian lidah anak itu secara langsung disapu lidah si belang. Disapukannya ke bibir anak. . Tidak berapa lama setelah senja berganti malam. Raja Panggonggom tidak mendengarkan. dan tempat persembunyian orang buruan. setelah saran Ronggur ditolak kerajaan marga mereka. tak perlu hukum mati. Bila matanya dicampakkan ke arah T io dan Ronggur. masih datang menemui Ronggur. si belang memperoleh senyum terima kasih dari tuannya.lidahnya dijulurkan si belang. Ronggur harus bersedia menjadi budak. begitu pula Tio dan anaknya. Paduka Raja. mengusulkan agar Ronggur mencabut kembali semua yang telah diucapkannya. Yang benar harus kukatakan benar. Bila fajar pagi terbit hukuman mati itu akan dilangsungkan. juga ketiga pundi padi itu." Tapi. merasa gembira dapat mendiamkan tangis anak itu. Si belang meringis kecil. Malah dikatakannya: "Aku tidak dapat membenarkan yang salah. asal dia mau. Sehingga air dari lidah si belang berpindah ke lidah anak itu. Mereka menegakkan kepala mendengar berita itu. Tapi.

maka tanah habungkasan itu akan kembali hilang. "Apa. dijaga tiga orang pengawal. Dari celah bambu duri. mereka putuskan. Orang yang tidak berpunya dan orang buruan telah menantikan mereka. sekali sergap saja. akhirnya memutuskan: Daripada mati dibunuh dan diburu di dada tanah batu yang gersang. akhirnya mereka kembali tidur sambil menyepak si belang. Tali temali yang mengikat Ronggur dan T io. Setelah mengucapkan terima kasih. Tiba-tiba saja si belang menggonggong. Sehingga si belang duduk dekat kakinya dan diam. Mati terbunuh. Dan. Keadaan sunyi. Lengkap dengan senjata masing-masing. Unggun api sudah mulai mengecil. bersama bekas Datu Bolon di kaki bukit. Mereka gendong bayi lalu mereka melarikan diri. Orang melarat dan orang buruan yang tinggal di gua kaki bukit itu akan selalu lari ke mana saja berpencar bila tentara kerajaan marga Ronggur datang menangkap mereka. Membuat ketiga pengawal itu terjaga. "Ronggur. Malam sudah jauh. Karena mencium bau orang yang datang mendekat. ketiga pengawal yang sedang mengantuk itu tidak berdaya lagi.Bekas Datu Bolon itu mengatakan pada mereka bahwa yang mengetahui jalan ke tanah habungkasan itu hanyalah Ronggur. Seseorang terus mendekat ke tempat Ronggur. sepuluh orang lelaki yang kuat tubuhnya. Mereka harus membela Ronggur dan Tio. yang harus kita perbuat?" . suruh si belang diam. mereka dapat melihat di mana Ronggur dan Tio diikat. Mereka semua akan menjadi orang yang sia-sia turun-temurun. Ronggur bertanya. lebih baik mati menempuh jalan menuju ke tanah habungkasan. Malam itu juga. Setelah mengitari kampung dan meneliti. menyelusup ke induk kampung marga Ronggur. lalu membisikkan. Bila Ronggur mati dibunuh orang yang tidak dapat mendengarkan penemuannya. harus melepaskan mereka dari ancaman maut itu." Ronggur memberi isarat.

" "Bapak juga harus ikut." "Ya. harus kau sampaikan pada setiap orang.Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan»berkata. Tanpa memandang dari marga mana mereka. Bapak juga hendak mereka tangkap dan bunuh. Mereka sudah tahu. tidak dapat menerima kebenarannya. Bapak juga walau dengan berjingkat. "Bila mereka menemui Bapak. tangkap mereka. karena aku sudah sering melihatnya dalam mimpiku. orang buruan ini karena kalah perang. otot mereka yang kencang itu dapat kembali digunakan mengolah tanah. yang dipercayai beserta laskarnya yang terkenal keberanian dan kekuatannya. ingin melihat tanah habungkasan dalam kenyataan. yang mau mendengarkan berita penemuanmu. mengejar dan menangkap Ronggur dan T io kembali." kata Ronggur. Merekalah yang berhak menerima berkah darinya. Raja Nabegu memerintahkan Hulubalang yang terkemuka. Sidang kerajaan dengan berangsangan. "Berita yang diturunkan para dewata padamu. Ronggur dan Tio bersama anaknya dan si belang sudah lari. dari golongan mana mereka. maka orang yang mau mendengarlah yang berhak menerima berkat darinya. dipalu gong. Kalau sebagian orang tidak mau merasakan arti yang dikandungnya. Bawalah mereka ke tanah habungkasan. Ayo. Aku ingin melihat apa yang dibisikkan para dewata padaku. Dan. Sehingga mereka dapat kembali mengecap alam kebebasan." Bergeraklah mereka malam itu juga. bunuh setiap orang yang memberi bantuan padanya. Membangunkan setiap orang. . Mereka inilah orang yang tidak berpunya. Memegang obor. belum pernah marga kita dihina orang begini rupa. Membunuh setiap orang yang memberi bantuan pada Ronggur dan Tio. Sedang di induk kampung marga Ronggur. Bapak akan ikut. Menyuluh jalan jurang dan lembah dalam.

yang kelak menggantikan sebagai Raja Panggonggom bila dia wafat. bergeraklah orang yang bertugas memburu rombongan Ronggur. Rombongan terus bergerak. untuk dihadiahkan pada sidang kerajaan. Untuk sama-sama dibunuh oleh tiap warga marga. Ronggur menyuruh. Malah . Tempik dan sorak. anak lelaki Raja Nabegu dan Raja Ni Huta. agar arwah laskar yang wafat itu mengutuk perbuatan Ronggur dan Tio. Rombongannya merasa aneh juga terhadap tindakan begitu. Sedang Ronggur. Matahari semakin tinggi. Mereka harus membunuh setiap anggota rombongan Ronggur dan menawan Ronggur hidup-hidup. Di sana disembayangkan. Di sana mereka istirahat. Di kala fajar pagi pertama menyingsing. Kepada ketiga anak raja itu. Pada pagi berikutnya. Menandakan pada yang memburu bahwa mereka ada di sana. Yang diharapkan dipunyai oleh anaknya. rombongan yang memburu telah tampak di kaki bukit yang mereka taklukkan. Dia harus diimbangi dengan kelicikan pula. dialamatkan pada rombongan Ronggur. Supaya orang yang memburu dapat mengikuti jejak dan jalan mereka tempuh. kemarahan dan hasutan.Sedang Raja Panggonggom. tetap menyuruh agar mengadakan tanda. memerintahkan anak lelakinya yang sulung. Malah bermalam. Datu Bolon Gelar Guru Marlasak. Ini tidak. cepat mengusung bangkai laskar marga yang telah mati ke Sopo Bolon. Raja Panggonggom memesankan dan mengingatkan bahwa Ronggur punya cukup akal yang licik. agar orang menghidupkan api. mengepulkan asap. jalan mana mereka tempuh. Malah dimintanya. turut serta dalam rombongan yang harus menangkap Ronggur dan Tio serta membunuh setiap orang yang memberi bantuan padanya. Maunya mereka menghilangkan jejak. Orang yang memburu juga terus bergerak. agar mencelakakan Ronggur dan Tio bersama rombongannya. Pundak bukit pertama telah ditaklukkan.

Tapi. Bila fajar kembali terbit. Begitu pula rombongan yang memburu. Tanpa menjatuhkan batu untuk menghancurkan yang memburu itu. bila musuhnya berada di pundak bukit. karena merasa diperma inkan. Tidak ada yang berani melanjutkan perjalanan di malam hari. agar kedua rombongan selalu dipisah lembah. Begitu pula rombongan yang memburu. Takut jatuh ke jurang dalam. di bawah melalui pundak bukit yang menurun tanah habungkasan. Sambil hasut menghasut. karena Ronggur sungguh-sungguh menyuruh. Kedua rombongan dapat bertatapan. Rombongan Ronggur istirahat. Bila rombongan yang memburu mulai mendaki bukit. rombongan Ronggur telah melewati celah pertemuan bukit. Dendam kesumat pada rombongan yang memburu tambah menghebat. Kemudian malam. Dari baliknya. rombongan yang diburu dan memburu kembali bergerak. Lapangan datar hanya beberapa depa saja. Rombongan Ronggur menghidupkan api unggun. Matahari kembali melemah.memberitahukan pada musuh di mana mereka berada. mereka pun mulai bergerak. Ronggur tetap mengusahakan. yang merupakan pintu ke tanah habungkasan. tapi dipisah lembah yang dalam. Harus memenggok ke kiri. rombongan Ronggur sudah kembali mendaki ke pundak bukit kedua. Tapi. hingga musuhnya dapat menjatuhkan batu untuk membunuh mereka. dapat dilihat. Senja memerah. agar rombongannya tidak berada di dasar lembah. Bermula terus jurang. Juga diusahakan. Begitu terus menerus. Setiba di balik bukit terus jurang dalam. Begitu terus-menerus. Bila rombongan yang memburu sudah berada di pundak bukit pertama. Terkadang antara kedua rombongan terjadi saling panggil-memanggil. Sedang Ronggur hanya tersenyum saja. Pada hari ketujuh. mereka laksanakan juga dengan sebaik mungkin. beberapa jauh harus melalui di satu jalan .

Lalu setiap orang mengucapkan rasa terima kasihnya. Kalau tidak kamu sekalian akan kami bunuh. Tiap orang disuruhnya menyiapkan senjata yang ada di tangan masing-masing. mereka telah ada di bawah rombongan Ronggur. sebuah tombak balasan melayang ke bawah mengenai . Melewati celah bukit. Mendaki sedikit ke atas. Setiap orang ternganga melihat putihnya air terjun yang menerobos bukit sebelah timur. Memberi tanda pada mereka. baik perempuan. Rombongan yang memburu terus saja mengejar dengan semangat meluap. disuruhnya memilih batu alam. Dengan terpaksa harus membuang senjata yang ada di tangannya. yang bisa digulingkan. Juga dari sana dapat ditatap air terjun yang memutih." Rombongan yang memburu mengutuk pada diri sendiri. Ronggur berteriak. agar rombongan yang memburu itu mendatangi celah bukit. Kemudian orang yang tidak bersenjata. disuruhnya pergi ke mulut celah bukit. Dan. Tapi. Setiap orang. Boleh pilih. Lengkap senjata terhunus di tangan. yang diapit oleh bukit dan dinantikan mulut jurang menganga. Dengan lantang. Baru tiba kembali ke jalan yang agak luas.sempit. Sedang dua tiga orang. Dan. "Letakkan senjatamu. Setiap anggota rombongan Ronggur kagum menatap tanah datar yang luas dan hijau di bawah mereka. menyerah atau mati. Ronggur menyuruh tiap orang berondok ke sisi bukit. di saat begitu. Ronggur cepat berondok ke balik batu alam. Semua orang mengerjakan perintah Ronggur. Dan. Cepat berpaling dan melayangkan tombaknya ke arah Ronggur. mula jalan menurun yang baik menuju tanah habungkasan. Di depanmu jurang dalam. mengambil kesempatan. Menantikan rombongan yang memburu. Mereka terjebak sudah. setiap orang yang memakai gelang pertanda budak. pada satu tempat yang tidak menguntungkan. anak Raja Ni Huta. Ke jurang dalam. disuruh Ronggur membuangnya dan menyampakkannya jauhjauh.

kau telah bisa melakukannya tanpa sesuatu halangan." “Lihatlah. warta dari mula kehidupan. Dan. kelanjutan Sungai Titian Dewata. kalau kau sekarang mau membunuh kami. di depanmu jauh di bawah sana. Lalu kedengaran suaranya meninggi: "Kau para lelaki yang kuat. yang airnya asin. di sebelah kananmu itulah air terjun yang kukatakan. derum air terjun yang jatuh." Anggota rombongan yang memburu itu. itu . membelah kehijauan hutan belantara itu. telah menyaksikan kebenaran cerita Ronggur. Sekali lagi Ronggur berteriak. Sekarang mereka dengan mata kepala sendiri. apakah Sungai Titian Dewata berakhir ke ujung dunia? Dan. luasnya tanah hijau yang landai. Mereka disuruh Ronggur menghadap ke arah jurang. tapi banyak ikannya. benda memutih dikejauhan yang terus menerobos ke timur. seperti yang kuceritakan padamu. menyerah atau mati. yang tidak punya kekuatan untuk menerima sesuatu warta kebenaran. Dan. yang lalu jatuh ke mulut jurang dengan pekikan meninggi. Kalian semua berada di tempat yang tidak menguntungkan. dengan terpaksa mencampakkan semua senjatanya ke mulut jurang. dia mengatakan: "Ronggur. Hulubalang yang memimpin rombongan itu. berpaling ke arah Ronggur. Setelah menundukkan kepala tanda memberi hormat. Tapi. Apakah kalian masih belum percaya?” Orang yang memburu pada terdiam dan tercengang. Justru karena warta itu bertentangan dengan kepercayaan yang kau anut selama ini. Lihatlah sekarang dengan mala kepalamu sendiri. Mulut mereka ternganga. "Pilih antara dua. di saat mereka terjebak pula. Dengarlah dengan kupingmu sendiri.anak Raja Ni Huta. Harus tunduk pada Ronggur. Pergunakanlah mata kepalamu. merambah jalan ke danau yang maha luas.

Dengan sendirinya pula mewartakan kepada kelompok marga lain. tapi sebagian lagi memberi pertimbangan lain. Tapi. "Nasib mereka berada di tanganmu. bagi Bapak. Lama Ronggur menatap tawanannya yang hendak menangkap pada mulanya. Hijaunya telah kutatap. dan kami tidak punya kelapangan hati mendengar warta kebenaran darimu. Bapak?" . Justru karena aku telah melihat kebenaran ceritamu. Tapi. Yang melanjut dengan. dan bau kesuburan yang mengambang darinya telah kuhirup. Dalam keadaan begitulah Ronggur memanggil orang tua. "Kami telah me lihat air terjun yang kau ceritakan." katanya." "Bagaimana caranya. bekas Datu Bolon Gelar Guru Marsait Lipan ke dekatnya. Kami telah mengikuti ajaran yang salah. Ujung dunia yang kami sangka selama ini. Akulah yang pertama harus kau bunuh. Untuk itu kami sewajarnya menerima hukuman.memang hakmu. ada sesuatu hal yang menguntungkan dalam saat ini. Aku pemimpin rombongan yang mengejarmu ini. "Bapak. Tapi matiku telah merasa senang." Ronggur membiarkan Hulubalang itu terus berkata. Aku akan tidak menyangsikan hidup anakku lagi." Seketika keadaan hening. Baru mulutnya mengatakan. mula tanah datar yang maha luas. Tanah habungkasanmu. "apa yang harus kuperbuat sekarang?" Lama orang tua itu terdiam. Tanah luas masih tersedia untuk mereka walaupun aku mati. Yang sebenarnya juga anggota keluarganya. sekarang kau memperoleh jalan lain untuk mewartakannya kepada orang lain di kampung halaman. apakah mereka masih berhak hidup atau mati. Ronggur. sebagian ingin menuntut balas. Sesuatu perasaan yang bertentangan tumbuh dalam dada. marga yang masih merdeka. Kau bisa menentukan. Kau telah gagal mewartakan berita penemuanmu secara langsung.

Semua marga berhak. Itu sangat penting. Semua orang berhak memperoleh tanah. Bapak tahu. aku harus menuntut pula bahwa semua keturunan marga Tio." sahut orang tua itu cepat. tidak boleh dilupakan. Bapak tahu aku telah mengambil T io menjadi istriku. Kemudian suruh pulang Hulubalang itu dengan pengiring kecil. kesatuan marga Tio sudah menjadi moraku." Orang tua itu menundukkan kepala mengiakan. Semua orang berhak. yang dulu disita kerajaan dariku. Tugaskan padanya agar dia mewartakan pada kerajaan marga atas kebenaran ceritamu. Sedang . memang begitu menurut adat kita. Tidak memandang apakah dia seorang budak." kata Ronggur pula. "Dan." "Ya." Tersenyum Ronggur memperoleh saran itu. itu sangat baik. namun bona nipasogit. kebenaran penemuanmu. harus dijaga dan dipelihara. anak Raja Nabegu. agar mengembalikan tanah persawahanku. Juga segala harta milik Bapak yang disita dulu."Tawanlah anak Raja Panggonggom. Dan akan kutambahkan bahwa tidak marga kita saja yang berhak datang ke tanah habungkasan. sejauh kita merantau. seluas dan selebar yang sanggup dia kerjakan. raja atau apa saja. Siapa saja di antara mereka yang punya hasrat pindah ke tanah habungkasan harus dibolehkan. Bila mereka tidak juga mempercayainya. maka nasib anak Raja Panggonggom dan anak Raja Nabegu. harus dikembalikan. Sesuatu harta pusaka turun-temurun yang mulanya dirambah nenek moyang. Dan. Lalu disambutnya. Mora yang harus kuhormati. "Saran yang baik. harus dibebaskan dari perbudakan. akan sama dengan nasib Raja Ni Huta." "Ya. Karena bagaimanapun seperti adat kita. "Di samping itu. "aku harus menuntut pada kerajaan marga." "Lalu. Tidak boleh dihalangi." "Karena itu.

Itulah sarat yang harus disampaikan Hulubalang pada kerajaan marga. ditambah pasukan kerajaan marga yang sudah insaf menuju ke timur. Baik melalui sungai atau jalan darat. nama tempat itu mereka sebut Porsea. Segala hasil pembicaraan disampaikan Ronggur dengan suara lantang pada Hulubalang. Mengiakan. utusan kerajaan sudah harus ada yang datang menemui mereka ke tanah habungkasan. Jalan tempuhan. boleh kelak menempuh jalan yang mereka tandai. Malah dengan sadar dia menambahkan. tanpa sarat itu pun. aku akan bekerja keras menginsafkan orang. ditunjuk Ronggur mengiringi Hulubalang menuju kampung halaman. tidak hanya yang dirintis Ronggur saja yang mereka kenal. Utusan kerajaan marga." Lima orang dari anggota yang memburu itu. Selalu mereka mengadakan upacara di pangkal sungai. apakah saran itu diterima atau tidak. ke tanah habungkasan. "Karena aku sendiri telah melihat kebenaran ceritamu. Bila mereka sudah sampai di tempat yang mereka namakan ." Hulubalang itu menyanggupi akan menyampaikan pesan.orang yang tidak bisa pindah karena sudah tua atau karena alasan lain." Orang tua itu tersenyum. kebenaran penemuanmu. Sedang rombongan Ronggur. Tapi. Yang lima orang itu pun telah bersedia menjadi saksi atas kebenaran penemuan Ronggur. tambah lama. Daerah lain tambah banyak ditemui. Mewartakan. Sejak itu. untuk berbakti. Berilah kesempatan padaku. telah terbuka tembusan jalan baru. mempertebal keyakinan bahwa mereka akan dituntun para dewata dan arwah nenek moyang ke tanah habungkasan. Yang ditambahnya pula: "Dalam jangka dua purnama. harus dibebaskan dari perbudakan. Kemudian rombongan lain bertambah banyak menuju tanah habungkasan.

bila mereka memenggok ke selatan. berarti turun ke daerah Mandailing Raja. Dari pesisir Sibolga. bila menuju ke arah barat. Mereka tiba ke Pangkat. bisa mereka buka dua persimpangan. mereka menemui pula sebuah danau yang luas. mereka terus pergi ke arah timur.Parhitean. telah menaklukkan pegunungan Pangaribuan. di mana rombongan Ronggur membuka perkampungan. Menembus terus ke daerah AngkolaSipirok-Pahae dan tembus ke Silindung. bisa turun kembali ke Pulau Samosir. Sedang rombongan yang berangkat dari Pangoruran Samosir. satu lagi menuju Dairi-Pakpak. Bila mereka meneruskan perjalanan. bila mereka kembali mendaki pegunungan utara. Bila terus menyusur bukit sebelah barat. pundak pegunungan Toba telah dapat mereka tatap . tiba ke dataran tinggi Bonjol. Dari sana. menurun ke pesisir Barus. Dari sana terus menembus ke daerah Simalungun. Satu menuju Tanah Karo. Di sini mereka bertemu dengan rombongan yang sejak Parsoburon terus mengarah Barat. dapat mereka kenal pundak bukit yang ada di bagian pundak mereka. Terus ke selatan. Dari Dairi. Dari Mandailing. Sedang bila kembali ke arah utara dari Rao-Rao. bila mereka terus menurun. mereka akan tiba ke Parsoburan. jadi bila mereka menuju ke sana. airnya asin. yaitu Rao-Rao. Lalu bisa kembali ke Toba. Bila mereka dari Parhitean menuju ke utara. kembali tiba ke lingkungan Danau Parapat. pundak bukit di lingkungan Danau Parapat. Dari Parhitean. tembus pula ke Rura Silindung. Dari T iga Dolok. berteluk indah. akan menaklukkan pegunungan sebelah barat. lalu mereka namakan itu Tiga Dolok. Dan. mereka akan tiba ke Daerah T angga. terus menurun dari sana ke pesisir Barus. Dari sana dapat mereka tatap pundak bukit yang tiga. Tarutung. pesisir Sibolga. sampai ke daerah perbatasan Sumatera Barat. akan tiba ke tanah habungkasan yang ditemui Ronggur. Tarutung.

Menerobos celah pertemuan bukit memanjang.dan kenal kembali. daerah Asahan-Labuhan Batu. Semuanya untuk kelanjutan kehidupan dan mengembangkannya. dan punya binatang buruan yang jinak lagi banyak. sampai bersedia mengorbankan pertarungan demi peperangan. bila menembus ke selatan teru s. dataran lain. Kemauan mempertahankan dan melanjutkan kehidupan. Untuk menemui danau yang maha luas. Terus ke selatan. untuk menemui dataran luas. Dari Angkola. mereka bisa bertemu dengan orang yang berangkat menuju tanah habungkasan yang ditemui Ranggur. yang menyimpan ikan banyak. yaitu dari Tor Simago-mago. merambah jalan di bawah naungan dedaunan belantara yang menghijau lebat. telah dialihkan semangatnya untuk menaklukkan pundak demi pundak bukit. ccdw-kzaa Daftar Istilah Ambalang= tali pelempar batu Ama Ni Bolpung= ayah si Bolpung Ampangngardang= juru perdamaian Ampataga= obat (luka) nama sejenis tumbuhan biasa dipakai untuk Berandak= bersembunyi/berlindung Bernas= berisi/berarti Bolatan= destar . akan tiba ke daerah dataran yang luas. Airnya asin mengandung garam. Padang Lawas. yang tidak sedikit mengorbankan nyawa. berhutan subur.

tidak terbaca sobek..... Pisau Gajah Lompak= pedang sakti Pohon Hariara= pohon beringin Purada= jumbai-jumbai warna keemasan pada ulos Raja Ni Huta= kepala kampung Sampuran Harimau= air terjun si harimau .Bona Ni Pasolgit= kata ganti untuk kampung halaman Buhul = ikatan Bungkas= pindah Burung Ambaroba= burung pemakan padi. berdada kuning Curup= cerutu Dibuhul= diikat Dolok= gunung Gelagah= rumput yg panjang Habungkasan= tanah baru Luhak= daerah Mora= keluarga pihak isteri Mula Jadi Na Bolon= T uhang Yg Maha Esa Parhelaan= pesta adat (hela= menantu pria Parhitaan= jembatan/perantara Pargaul=luwes Pargounci= grup yg memainkan gondang Patentengan= sombong ..

Sopo Bolon= rumah besar (rumah adat) Sanduduk = rumput putri malu Temterasan= lari kucar kacir Terhempang= terhampar Terpacak= tertanam/terpaku Tuhil= pahat Tongkat Panaluan= tongkat kepala adat (marga) Ura= makanan khas Batak. antara lain daun pepaya serta gula merah dan lainlain. ccdw-kzaa . terdiri dari bermacam daun mentah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful