Anda di halaman 1dari 54

ENTEROHEPATIK

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Perubahan besar telah terjadi dalam semua bidang kedokteran selama dekade terakhir dan disertai dengan makin meningkatnya pemahaman tentang proses biokimia, fisiologi, dan imunologi yang terlibat dalam proses pembentukan dan fungsi sel darah normal serta gangguan yang mungkin timbul pada berbagai penyakit. Ilmu kedokteran terus berkembang, salah satu perkembangan yang terjadi adalah terbentuknya percabangan ilmu kedokteran. Jika ilmu kedokteran sebelumnya merupakan seni menyembuhkan penyakit (the art of healing) yang dilaksanakan oleh dokter yang mampu melayani pasien yang menderita berbagai penyakit, tetapi selain itu juga sebagai mahasiswa/i kedokteran perlu juga mengetahui dan membahas tentang anatomi dan fisiologi dari suatu organ yang terdapat dalam tubuh pasien. Oleh sebab itu, sebagai mahasiswa/i fakultas kedokteran dituntut untuk mengetahui mengenai anatomi dan fisiologi dari organ tersebut. Dalam makalah kali ini penyusun mencoba menjelasjan mengenai anatomi dan fisiologi mengenai enterohepatik. Hal ini sangat penting untuk dibahas dalam rangka menciptakan suatu pembelajaran yang mengahasilkan pelayanan dibidang kesehatan yang terbaik kepada seluruh masyarakat Indonesia. Secara singkat bahwa enterohepatik adalah suatu proses yang berhubungan dengan organ saluran percernaan (instestinal tenue dan intestinal crassum) serta hepar, pankreas, dan limpa. Fisiologi dari sistem enterohepatik sangat berhubungan dengan proses pencernaan didalam tubuh. Perkembangan ilmu kedokteran yang sangat dinamis sehingga menuntut mahasiswa untuk terus belajar dan menggali ilmu tanpa mengenal waktu. Hal itu sangat diperlukan terhadap mahasiswa yang menjadi calon dokter masa depan dinegara Indonesia, jadi dengan konsep keilmuan yang baik maka lahirlah seorang dokter yang kompeten dan dipercaya oleh masyarakat, itulah yang merupakan salah satu latar belakang pada penyusun makalah ini. 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, permasalahan yang hendak dikaji adalah dalam makalah ini adalah: 1. Apa yang dimaksud dengan siklus enterohepatik? 1

ENTEROHEPATIK
2. Organ apa saja yang terdapat dalam enterohepatik? 3. Apa fungsi dari siklus enterohepatik? 4. Apa saja fase fase yang terdapat pada siklus enterohepatik? 5. Apa nama pembuluh yang memperdarahi liver, empedu, intestine, ginjal, pankreas, dan lien? 6. Bagaimana fisiologi dari liver, empedu, intestine, ginjal, pankreas, dan lien? 7. Apakah fungsi dari liver, empedu, intestine, ginjal, pankreas, dan lien? 8. Sebutkan anatomi dari liver, kantong empedu, dan usus? 9. Apakah fungsi dari pewarnaan pada feses dan urine? 10. Mengapa ada bilirubin yang terkonjugasi dan yang tidak terkonjugasi? 1.3. Tujuan Pembahasan Dalam penyusunan makalah ini tentunya penulis memiliki tujuan yang diharapkan berguna bagi para pembaca dan khususnya kepada penulis sendiri. Tujuannya dibagi menjadi dua, yaitu yang pertama secara umum makalah ini bertujuan menambah wawasan mahasiswa/i dalam menguraikan suatu persoalan secara holistik dan tepat, dan melatih cara pemikiran ilmiah. Cara pemikiran ilmiah ini sangat dibutuhkan bagi seorang calon dokter maupun dokter agar mampu menganalisis suatu persoalan secara cepat dan tepat. Sedangkan secara khusus tujuan penyusunan makalah ini ialah mahasiswa mampu mengetahui, memahami, dan menjelaskan mengenai ENTEROHEPATIK yang meliputi: 1. Mengidentifikasi permukaan dan tepi hepar 2. Mengidentifikasi cabang cabang aorta abdominalis yang memperdarahi hepato billiar 3. Menyebutkan pembuluh pembuluh darah yang memperdarahi hati mulai dari vena porta dan arteri hepatika hingga vena hepatika 4. Menggambarkan anatomi hepar 5. Mengidentifikasi porta hepatis dan organ organ yang dilaluinya 6. Menjelaskan hubungan dan kedudukan hepar dengan bagian bagian yang berdekatan didalam rongga abdomen 7. Menjelaskan bagian bagian dan letak vesika fellea terhadap organ sekitarnya 8. Memahami struktur dan letak pankreas: a. Mengidentifikasi bagian dan bangunan pankreas b. Menjelaskan susunan pankreas 2

ENTEROHEPATIK
c. Gambarkan saluran pankreas dan menjelaskan pengaruh sumbatan pada ductus cloedokus / ductus pankreatikus. 9. Memahami susunan dan bentuk dari lien: a. Mengidentifikasi bagian dan bangunan lien secara makroskopisn dan mikroskopis b. Menjelaskan letak lien dan pengukuran lien c. Gambarkan alat alat penggantung lien 10. Memahami fungsi hati dan sebagai alat pembentuk serta pengeluaran empedu: a. Mampu menjelaskan pembentukan empedu dan pengendaliaannya b. Mampu menjelaskan pengeluaran empedu dan pengendaliannya serta termasuk siklus enterohepatik 4. Manfaat Pembelajaran Manfaat pembelajaran dari penulisan makalah ini adalah diharapkan mahasiswa/i mampu untuk mencapai segala Learning Objective yang telah didapat dan dapat menerapkan pada saat sudah mendapat gelar dokter dan ditugaskan di instansi kesehatan pemerintah maupun praktik sendiri.

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Skenario 3

ENTEROHEPATIK
ENTEROHEPATIC CYCLE

ENTEROHEPATIK

2.2. Learning Objective Dari skenario tersebut learning objective yang harus dicapai mahasiswa adalah mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan tentang ENTEROHEPATIK yang meliputi, yaitu: 1. Mengidentifikasi permukaan dan tepi hepar 2. Mengidentifikasi cabang cabang aorta abdominalis yang memperdarahi hepato billiar 3. Menyebutkan pembuluh pembuluh darah yang memperdarahi hati mulai dari vena porta dan arteri hepatika hingga vena hepatika 4. Menggambarkan anatomi hepar 5. Mengidentifikasi porta hepatis dan organ organ yang dilaluinya 6. Menjelaskan hubungan dan kedudukan hepar dengan bagian bagian yang berdekatan didalam rongga abdomen 5

ENTEROHEPATIK
7. Menjelaskan bagian bagian dan letak vesika fellea terhadap organ sekitarnya 8. Memahami struktur dan letak pankreas: a. Mengidentifikasi bagian dan bangunan pankreas b. Menjelaskan susunan pankreas c. Gambarkan saluran pankreas dan menjelaskan pengaruh sumbatan pada ductus cloedokus / ductus pankreatikus. 9. Memahami susunan dan bentuk dari lien: a. Mengidentifikasi bagian dan bangunan lien secara makroskopisn dan mikroskopis b. Menjelaskan letak lien dan pengukuran lien c. Gambarkan alat alat penggantung lien 10. Memahami fungsi hati dan sebagai alat pembentuk serta pengeluaran empedu: a. Mampu menjelaskan pembentukan empedu dan pengendaliaannya b. Mampu menjelaskan pengeluaran empedu dan pengendaliannya serta termasuk siklus enterohepatik 2.3. Pembahasan Learning Objective 1. Mengidentifikasi Permukaan Dan Tepi Hepar Hepar menempati bagian terbesar ruangan dalam kuadran kanan atas perut. Permukaan superior, posterior dan anterior berhubungan dengan bagian bawah dari diafragma. Permukaan inferior hati tertutup oleh lapisan viseral peritoneum. Hati mempunyai 4 lobus, yaitu lobus kanan adalah lobus yang terbesar, lobus caudatus, lobus quadratus, dan lobus kiri. Daerah- daerah ini dibatasi oleh porta hepatis, yang mengandung vena porta, arteri hepatika dan saluran empedu. Lobus caudatus terletak disebelah anterior dari porta hepatis, dan lobus kuadratus disebelah posterior dari porta hepatis. Hepar adalah organ viseral terbesar didalam tubuh. Hepar memiliki facies diafragmatica dan facies visceralis (dorsokaudal) yang dibatasi oleh tepi kaudal hepar. Facies diafragmatica bersifat licin dan berbentuk kubah sesuai dengan cekungan permukaan kaudal diafragma, tetapi untuk sebagian besar terpisah dari diafragma karena recessus subphrenicus cavitas peritonealis. Hepar tertutup oleh peritoneum, kecuali disebelah dorsal pada area nuda, tempat hepar bersentuhan langsung dengan difragma. Area nuda hepar ini dibatasi oeleh melipatnya peritoneum dari diafragma ke hepar sebagai lembar ventral (kranial) dan lembar dorsal (kaudal) ligamentum coronarium. Kedua lembar tersebut bertemu disebelah kanan untuk membentuk ligamentum triangulare. Ke arah kiri lembar lembar ligamentum 6

ENTEROHEPATIK
coronarium tercerai dan membatasi area nuda hepar yang berbentuk segitiga. Lembar ventral ligamentum coronarium disebelah kiri bersinambungan dengan lembar kanan ligamentum falciforme, dan lembar dorsal bersinambungan dengan lembar kanan omentum minus. Lembar kiri ligamentum falciforme dan omentum minus bertemu untuk membentuk ligamentum triangulare sinistrum.

Facies visceralis tertutup oleh peritoneum, kecuali pada vesica biliaris (fellea) dan porta hepatis. Facies visceralis berbatasan dengan: Sisi kanan dengan gaster (ventrikulus) (impressio gastrica) Bagian kranial (pertama) duodenum (impressio duodenum) Omentum minus Vesica biliaris (fellea) Flexura coli dextra (impressio colica) Ren dexter dan glandula suprarenalis dextra (impressio renalis)

ENTEROHEPATIK

Hepar terbagi menjadi lobus hepatis dexter dan lobus hepatis sinister (lobus caudatus dan lobus quadratus berada di lobus hepatis sinister) yang masing masing berfungsi secara mandiri. Masing masing lobus memiliki perdarahan sendiri dari arteri hepatica dan vena portae hepatis, dan juga penyaluran darah venosa dan empedu bersifat serupa. Lobus hepatis dexter dibatasi terhadap lobus hepatis sinister oleh fossa vessicae biliaris dan sulcus venae cavae pada facies visceralis hepatis, dan oleh sebuah garis khayal pada permukaan diafragmatik yang melintas dari fundus vesica biliaris (fellea) ke arah vena cava inferior. Lobus hepatis sinister mencakup lobus caudatus dan hampir seluruh lobus quadratus. Lobus hepatis sinister terpisah dari lobus caudatus dan lobus quadratus oleh fissura ligamenti teratis dan fissura ligamenti venosi pada facies visceralis, dan oleh perlekatan ligamentum teres hepatis pada facies diafragmatica. Ligamentum teres hepatis adalah sisa vena umbilicalis yang mengalami obliterasi, dan semula mengantar darah yang kaya oksigen dari plasenta ke janin. Ligamentum venosum adalah sisa ductus venosus fetal yang menjadi jaringan ikat, dan semula memintaskan darah dari vena umbilikalis ke vena cava inferior tanpa melalui hepar. Omentum minus yang meliputi trias portal (vena portae hepatis, ductus choledochus (biliaris), dan arteri hepatica propia di porta hepatis) melintas ke curvatura gastrica (ventricularis) minor dan bagian pertama duodenum sepanjang 2 cm. Bagian duodenum minus antara hepar dan gaster (ventricularis) disebut Ligamentum hepatogastricum, dan bagian antara hepar dan duodenum ligamentum hepatoduodenale. Sisi bebas omentum minus meliputi trias portal, beberapa kelenjar limfe dan pembuluh limfe, dan pleksus saraf hepatik. 8

ENTEROHEPATIK

2. Mengidentifikasi Cabang Cabang Aorta Abdominalis Yang Memperdarahi Hepato Billiar Berikut adalah cabang cabang aorta abdominalis yang memperdarahi hepato biliaris.

Ini adalah sambungan dari skema cabang cabang aorta abdominalis yang merupakan sambungan dari Triple Hallery yaitu arteri hepatica komunis dan arteri lienalis serta arteri ileocolica, yaitu:

ENTEROHEPATIK

3. Menyebutkan Pembuluh Pembuluh Darah Yang Memperdarahi Hati Mulai Dari Vena Porta Dan Arteri Hepatika Hingga Vena Hepatika Berikut adalah gambar pembuluh pembuluh darah yang memperdarahi hati mulai dari vena porta dan arteri hepatika hingga vena hepatika.

a. Arteri Abdominalis

10

ENTEROHEPATIK

11

ENTEROHEPATIK

b. Vena Porta Hepatis

12

ENTEROHEPATIK

13

ENTEROHEPATIK

c. Vena Porta Hepatis

14

ENTEROHEPATIK

15

ENTEROHEPATIK

4. Menggambarkan Anatomi Hepar

16

ENTEROHEPATIK

Permukaan atas terletak bersentuhan di bawah diafragma, permukaan bawah terletak bersentuhan di atas organ-organ abdomen. Hepar difiksasi secara erat oleh tekanan intra abdominal dan dibungkus oleh peritoneum kecuali di daerah posterior-superior yang berdekatan dengan vena cava inferior dan mengadakan kontak langsung dengan diafragma. Bagian yang tidak diliputi oleh peritoneum disebut bare area. Terdapat refleksi peritoneum dari dinding abdomen anterior, diafragma dan organ-organ abdomen ke hepar berupa ligamentum. Berikut adalah macam-macam ligamentum ligamentum dari hepar, yaitu: a. b. c. Ligamentum falciformis: menghubungkan hepar ke dinding antara abdomen dan terletak di antara umbilicus dan diafragma. Ligamentum teres hepatis: round ligament, merupakan bagian bawah ligamentum falciformis yang merupakan sisa-sisa peninggalan vena umbilicalis yg telah menetap. Ligamentum gastrohepatica dan ligamentum hepatoduodenalis: merupakan bagian dari omentum minus yang terbentang dari curvatura minor lambung dan duodenum sebelah proximal ke hepar. Di dalam ligamentum ini terdapat arteri hepatica, vena porta dan ductus choledocus communis. Ligamen hepatoduodenale turut membentuk tepi anterior dari Foramen Wislow. d. e. Ligamentum Coronaria Anterior kiri kanan dan Ligamen coronaria posterior kirikanan: merupakan refleksi peritoneum terbentang dari diafragma ke hepar. Ligamentum triangularis kiri kanan: Merupakan fusi dari ligamentum coronaria anterior dan posterior dan tepi lateral kiri kanan dari hepar. Secara anatomis, organ hepar tereletak di hipokondrium kanan dan epigastrium, dan melebar ke hipokondrium kiri. Hepar dikelilingi oleh cavum toraks dan bahkan pada orang normal tidak dapat dipalpasi (bila teraba berarti ada pembesaran hepar). Permukaan lobus kanan dapat mencapai sela iga 4/ 5 tepat di bawah aerola mammae.

Berikut adalah anatomi dari hepar dilihat dari berbagai posisi, yaitu: 17

ENTEROHEPATIK

18

ENTEROHEPATIK

19

ENTEROHEPATIK

5. Mengidentifikasi Porta Hepatis Dan Organ Organ Yang Dilaluinya

20

ENTEROHEPATIK

21

ENTEROHEPATIK

6. Menjelaskan Hubungan Dan Kedudukan Hepar Dengan Bagian Bagian Yang Berdekatan Didalam Rongga Abdomen Kandung empedu dan saluran empedu ekstrahepatik menghubungkan hati dengan tractus gastrointestinalis, sehingga merupakan penghubung penting sirkulasi enterohepatik. Empedu dihasilkan oleh sel hati kedalam saluran empedu, yaitu mengalir kedalam duodenum. Diantara makan, orifisium duodenum duktus ini tertutup dan empedu mengalir kedalam vesika fellea, tempat ia disimpan. Bila makanan memasuki mulut, sfingter sekeliling orifisium relaksasi, bila isi lambung memasuki duodenum maka hormon CCK (kolesistikinin) dari mukosa usus menyebabkan vesica fellea berkontraksi. Duktus cystikus mendrainase vesica fellea, dan duktus hepatikus bersatu dengan duktus cystikus untuk membentuk duktus choledochus. Dan kemudian memasuki duodenum pada papila duodenum.
Dan berikut jika dibagi menurut arahnya, yaitu:

Ke anterior : dari kanan ke kiri: colon transversum dan perlekatan mesocolon transversum, bursa omentalis, dan gaster. Ke posterior : dari kanan ke kiri: ductus choledochus, vena portae hepatis dan vena lienalis, vena cava inferior, aorta, pangkal arteria mesenterica superior, musculus psoas major sinistra, glandula suprarenalis sinistra, ren sinister, dan hilum lienale.

7. Menjelaskan Bagian Bagian Dan Letak Vesika Fellea Terhadap Organ Sekitarnya Kandung empedu adalah kantung muskular hijau berbentuk menyerupai

buah pir dengan panjang 10 cm. Organ ini terletak dilekukan dibawah lobus kanan hati. Kapasitas total kantung empedu kurang lebih 30 ml hingga 60 ml dan dalam keadaan terobstruksi dapat menggembung sampai 300 cc. Organ ini terletak dalam suatu fosa yang menegaskan batas anatomi antara lobus hati kanan dan kiri. Bagian ekstrahepatik dari kandung ampedu ditutupi oleh peritoneum. Kedudukan kandung empedu bervariasi terhadap kedudukan hati. Fundus kandung empedu terletak khas pada tepi lateral m. Rektus abdominis dexter, agak di bawah tepi kosta. Vesica biliaris (fellea) memiliki kemampuan menampung empedu sebanyak 30-50 ml dan menyimpannya yang secara terus menerus disekresi oleh sel sel hati, hingga diperlukan dalam duodenum serta pelepasannya dirangsang oleh CCK, serta memekatkannya dengan 22

ENTEROHEPATIK
cara mengabsorspi air dan elektrolit, dengan demikian, kandung ini mampu menampung hasil 12 jam sekresi empedu hati. Vesica biliaris dibagi menjadi: a. Fundus vesicae biliaris: berbentuk bulat dan biasanya menonjol dibawah margo inferior hepar, penonjolan ini merupakan tempat fundus bersentuhan dengan dinding anterior abdomen setinggi ujung kartilago costalis IX dextra. b. Corpus vesicae biliaris: terletak dan berhubungan dengan facies visceralis hepar dan arahnya ke atas, belakang, dan kiri. c. Collum vesicae biliaris: melanjutkan diri sebagai ductus cysticus yang berbelok kedalam omentum minus dan bergabung dengan sisi kanan ductus hepaticus comunisuntuk membentuk ductus choledochus. d. Leher Kandung Empedu: merupakan leher dari kandung empedu yaitu saluran yang pertama masuknya getah empedu ke badan kandung empedu lalu menjadi pekat berkumpul dalam kandung empedu. e. Duktus Sistikus: panjangnya kurang lebih 3 cm berjalan dari leher kandung empedu dan bersambung dengan duktus hepatikus membentuk saluran empedu ke duodenum f. Duktus Hepatikus : saluran yang keluar dari leher kandung empedu. g. Ductus choledochus: saluran yang membawa empedu ke duodenum dan merupakan persambungan dari duktus sistikus dan duktus hepatikus. Kantung empedu adalah tempat penyimpanan empedu. Empedu diproduksi oleh sel hepatosis sebanyak 500-1500 ml per hari dan memasuki kanalikuli empedu yang kemudian menjadi duktus hepatika dexter dan sinister. Duktus hepatika menyatu untuk membentuk duktus hepatik komunis yang kemudian menyatu dengan duktus sistikus dari kandung empedu dan keluar dari hati sebagai duktus empedu komunis. Duktus empedu komunis, bersama dengan duktus pankreas (papilla duodeni major), bermuara di duodenum atau dialihkan untuk penyimpanan di kandung empedu. Di luar waktu makan, empedu disimpan sementara di dalam kandung empedu. Dan disini mengalami pemekatan sekitar 50 persen. Pengaliran cairan empedu di atur tiga faktor, yaitu sekresi empedu oleh hati, kontraksi kandung empedu dan tahanan sfingter koledukus. Cairan empedu merupakan cairan yang kental yang berwarna kuning keemasan kehijauan yang dihasilkan secara terus menerus oleh sel hepar kurang lebih 500-1000 ml sehari. Empedu merupakan zat esensial yang diperlukan dalam pencernaan dan penyerapan lemak. Komposisi dari empedu itu sendiri adalah larutan kuning berwarna kehijauan yang terdiri dari 97% air, pigmen empedu (terdiri dari biliverdin dan bilirubin) yang merupakan hasil penguraian hemoglobin, dan garam garam empedu (terbentuk dari asam empedu yang 23

ENTEROHEPATIK
berikatan dengan kolesterol dan asam amino). Cairan empedu merupakan suatu media untuk menyekresi zat tertentu yang tidak dapat disekresi oleh ginjal. Berikut adalah anatomi dari

vesica biliaris (fellea) secara keseluruhannya, yaitu:

24

ENTEROHEPATIK

Empedu melakukan dua fungsi penting, yaitu : a. Empedu memainkan peranan penting dalam pencernaan dan absorbsi lemak, bukan karena enzim dalam empedu yang menyebabkan pencernaan lemak, tetapi karena asam empedu dalam empedu melakukan dua hal, yaitu : b. Asam empedu membantu mengelmusikan partikel-partikel lemak yang besar dalam makanan menjadi banyak partikel kecil, permukan partikel tersebut dapat disinergikan oleh enzim lipase yang disekresikan dalam getah pankreas, dan asam empedu membantu absorbsi produk akhir lemak yang telah dicerna melalui membrane mukosa intestinal. c. Empedu bekerja sebagai suatu alat untuk mengeluarkan beberapa produk buanganyang penting dari darah. Hal ini terutama meliputi bilirubin, suatu produk akhir daripenghancuran hemoglobin, dan kelebihan kolesterol. Pengosongan kandung empedu peran perangsangan kolesistokinin (CCK). Ketika makanan mulai dicerna didalam traktus gastro intestinal bagian atas, kandung empedu mulai dikosongkan, terutama sewaktu makanan berlemak mencapai duodenumsekitar 30 menit setelah makan. Mekanisme pengosongan kandung empedu adalah kontraksi ritmis dinding kandung empedu, tetapi pengosongan yang efektif jugamembutuhkan relaksasi yang bersamaan dengan. Sfincter oddi, yang menjaga pintu keluar duktus biliaris komunis kedalam duodenum. 8. Memahami Struktur Dan Letak Pankreas: a. Mengidentifikasi Bagian, Bangunan, dan Susunan Pankreas

25

ENTEROHEPATIK

26

ENTEROHEPATIK

Pankreas adalah sebuah kelenjar saluran pencernaan yang berbentuk memanjang dan terletak melintang pada dinding abdomen dorsal, dorsal terhadap gaster (ventrikulus). Mesokolon transversum meluas sampai pada tepi ventral pankreas. Pankreas menghasilkan: Sekret eksokrin (getah pankreas) yang dicurahkan kedalam duodenum melalui ductus pankreaticus Sekret endokrin (glukagon dan insulin) yang dicurahkan langsung kedalam darah Caput pankreatis, terletak dalam lengkungan duodenum, memiliki bagian yang menunjol kearah kranial sinister, dorsal dari pembuluh mesentrika superior, dan dikenal sebagai processus uncinatus. Kearah dorsal caput pankreatis berbatas langsung dengan vena cava inferior, arteri renalis dextra dan vena renalis dextra dan vena renalis sinistra. Ductus choledochus yang melintas ke duodenum, terletak dalam alur pada permukaan dorsokranial caput pankreatis. Collum pankreatis, berada disebelah dorsal beralur, disebabkan oleh pembuluh mesenterika superior. Permukaan ventralnya tertutup oleh peritoneum dan berbatas pada pylorus. Persatuan vena mesenterika superior dengan vena splenica (lienalis) menjadi vena portae hepatis terdapat dorsal dari collum pankreatis. Corpus pankreatis, meluas ke kiri dengan melintasi aorta dan vertebra L2, dorsal dari bursa omentalis. Corpus pankreatis berhubungan erat dengan pembuluh splenica (lienalis). Permukaan ventral pankreas tertutup oleh peritoneum dan turut membentuk palungan gaster (ventrikulus / stomach bed). Permukaan dorsal pankreas yang sama sekali tidak memiliki lapisan peritoneum, berhubungan dengan aorta, arteri mesenterika superior, glandula supranalis sinistra dan ren sinistra serta pembuluh renalis. Cauda pankreatis, terletak diantara kedua lembar ligamentum splenorenale (lieorenale) bersama pembuluh splenica (lienalis). Ujung cauda pankreatis biasanya menyentuh hilum splenicum. Ductus pankreaticus, berawal dalam cauda pankretis dan melalui massa kelenjar ke caput pankreatis untuk membelok ke kaudal dan mendekati duktus choledochus (biliaris). Biasanya kedua ductus ini bersatu, membentuk ampulla hepatopankreatica, sebuah pelebaran pendek yang bermuara melalui duktus bersama kedalam duodenum pada puncak papilla duodeni major. Musculus sphincter ductus pancriatici mengitari bagian akhir duktus pankreticus (ductus Wirsung). Terdapat 27 juga musculus sphincter ampullae

ENTEROHEPATIK
hepatopankcreaticae (sphinter Oddi) mengitari ampulla hepatopankreatica. Kedua sphincter tersebut mengatur aliran empedu dan getah pankreas kedalam duodenum. Ductus pankreaticus accessorius (ductus Santorini), menyalurkan getah pankreas dari processus uncinatus dan bagian kaudal caput pankreatis. Secara khas pipa ini bermuara ke dalam duodenum pada papilla duodeni minor. Arteri arteri pankreas berasal dari arteri pankreaticoduodenalis. Hingga 10 cabang arteria splenica (lienalis) mengantar darah kepada corpus pankreatis dan cauda pankreatis. Arteria pankreaticoduodenalis anterior dan arteria pankreaticoduodenalis posterior, yakni cabang arteria gastroduodenalis dan ramus anterior arteria pankreaticoduodenalis inferior dab ramus posterior arteria pankreaticoduodenalis inferior, yakni cabang arteria mesenterika superior, mengantar darah kepada caput pankreatis. Vena vena pankreatis menyalurkan darah ke vena portae hepatis, vena splenica (lienalis) dan vena mesenterica superior, tetapi yang terbanyak ke vena slenica (lienalis). b. Gambarkan Saluran Pankreas Dan Menjelaskan Pengaruh Sumbatan Pada Ductus Coledokus / Ductus Pankreatikus.

28

ENTEROHEPATIK

Berikut adalah salah satu pengaruh atau kelainan jika terjadi sumbatan didalam saluran pankreas, yaitu pankreatitis. Pankreatitis Akut (Radang Pankreas) adalah peradangan pankreas yang terjadi secara tiba-tiba, bisa bersifat ringan atau berakibat fatal. Secara normal pankreas mengalirkan getah pankreas melalui saluran pankreas (duktus pankreatikus menuju ke usus dua belas jari (duodenum). Getah pankreas ini mengandung enzim-enzim pencernaan dalam bentuk yang tidak aktif dan suatu penghambat yang bertugas mencegah pengaktivan enzim dalam perjalanannya menuju ke duodenum. Sumbatan pada duktus pankreatikus (misalnya oleh batu empedu pada sfingter Oddi) akan menghentikan aliran getah pankreas. Biasanya sumbatan ini bersifat sementara dan menyebabkan kerusakan kecil yang akan segera diperbaiki. Namun bila sumbatannya berlanjut, enzim yang teraktivasi akan terkumpul di pankreas, melebihi penghambatnya dan mulai mencerna sel-sel pankreas, menyebabkan peradangan yang berat. Kerusakan pada pankreas bisa menyebabkan enzim keluar dan masuk ke aliran darah atau rongga perut, dimana akan terjadi iritasi dan peradangan dari selaput rongga perut (peritonitis) atau organ lainnya. 9. Memahami Susunan Dan Bentuk Dari Lien: a. Mengidentifikasi Bagian Dan Bangunan Lien Secara Makroskopis Dan Mikroskopis Splen (Lien) adalah organ limfatik terbesar dan terletak dalam kuadran kiri atas. Ukuran dan bentuknya amat variabel, tetapi biasanya ukuran panjang splen (lien) kira kira 12 cm dengan lebarnya sekitar 7 cm (kira kira seukuran sarung tinju). Permukaan yang menghadap diafragma, berbentuk cembung sesuai dengan cekungan diafragma. Tepi ventral dan tepi kranial bersifat tajam dan seringkali bertakik, sedangkan tepi dorsal dan tepi kaudal bersifat tumpul. Biasanya splen (lien) mengandung cukup banyak darah yang pada waktu 29

ENTEROHEPATIK
waktu tertentu dialirkan ke dalam peredaran darah umum berkat kontraksi otot otot polos dalam simpai (kapsul) dan trabekula splen (lien). Splen (lien) bersentuhan pada dinding dorsal gaster (ventriculus) dan berhubungan dengan curvatura gastrica (ventriculus) major melalui ligamentum gastrosplenicum (gastrolienale), dan dengan ren sinister melalui ligamentum splenorenale (lienorenale). Ligamentum- ligamentum ini melekat pada permukaan medial hilum renale, tempat masuknya cabang arteria splenica (lienalis). Kecuali di hilum splenicum, seluruh splen (lien) terbungkus oleh peritoneum. Hilum splenicum berhubungan dengan cauda pankreatis. Arteri splenica (lienalis), cabang truncus coeliacus yang paling besar, melintas dorsal dari bursa omentalis dan ventral terhadap ren sinister berliku liku mengikuti tepi kranial pancreas. Antara kedua lembar ligamentum splenorenale (lienorenale) arteria splenica (lienalis) melepaskan lima atau lebih cabang yang memasuki hilum splenicum. Vena splenica (lienalis) terbentuk dari persatuan beberapa anak cabang yang keluar dari hilim splenicum. Vena mesenterica inferior bergabung dengan vena splenica (lienalis) dan selanjutnya hampir seluruh lintasan vena splenica (lienalis) terdapat dorsal dari corpus pankreatis dan cauda pankreatis. Dorsal dari collum pankreatis vena splenica (lienalis) bersatu dengan vena mesenterica superior untuk membentuk vena portae hepatis. Limpa dikelilingi oleh suatu simpai jaringan ikat padat yang menjadi asal trabekula, yang sebagian membagi bagi parenkim atau pulpa limpa. Trabekula besar berasal dari hilum, pada permukaan medial limpa; trabekula ini membawa saraf dan arteri ke dalam pulpa limpa serta vena yang membawa darah kembali kedalam sirkulasi. Pembuluh limfe yang terbentuk di pulpa limpa juga meninggalkan hikum melalui trabekula. Berikut adalah anatomi dari splen (lien) dilihat dari berbagai sudut, yaitu:

30

ENTEROHEPATIK

31

ENTEROHEPATIK

32

ENTEROHEPATIK

b. Menjelaskan Letak Lien Dan Pengukuran Lien Untuk menentukan pengukuran lien dalam makalah ini kami merangkannya dalam bentuk pemeriksaan fisik abdomen. Berikut adalah pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menentukan pengukuran lien, yaitu: Keadaan yang penting diperhatikan sewaktu pemeriksaan 1. Cahaya ruangan cukup baik 2. Pasien harus relak 3. Pakaian harus terbuka dari processus xyphoideus sampai sympisis pubis. Untuk mendapatkan relaksasi dari pasien adalah : 1. Vesica urinaria harus dikosongkan lebih dahulu 2. Pasien dalam posisi tidur dengan bantal dibawah kepala dan lutut pada posisi fleksi (bila diperlukan) 3. Kedua tangan disamping atau dilipat diatas dada. Bila tangan diatas kepala akan menarik dan menegangkan otot perut 4. Telapak tangan pemeriksa harus cukup hangat, stetoskop juga cukup hangat, dan kuku harus pendek. Dengan jalan menggesek gesekan tangan akan membuat telapak tangan jadi hangat. 5. Suruh pasien menunjukkan tempat/area yang sakit , dan periksa area ini paling terakhir. Lakukan pemeriksaan perlahan lahan, hindari gerakan yang cepat dan tak diinginkan Jika perlu ajak pasien berbicara sehingga pasien akan lebih relak. Jika pasien sangat sensitif dan penggeli mulailah palpasi dengan tangan pasien sendiri dibawah tangan pemeriksa kemudian secara perlahan lahan tangan pemeriksa menggantikan tangan pasien 6. Perhatikan hasil pemeriksaan dengan memperhatikan rawut muka dan emosi pasien. INSPEKSI Inspeksi abdomen dari posisi berdiri disebelah kanan pasien. Bila akan melihat contour abdomen dan memperhatikan peristaltik, maka sebaiknya duduk atau jongkok sehingga abdomen terlihat dari samping (tangensial) Apa yang diinspeksi : 1. Kulit . Lihat apakah ada jaringan parut. Terangkan lokasinya , striae, dilatasi vena 33

ENTEROHEPATIK
2. Umbilikus : Lihat contour dan lokasinya, tanda tanda peradangan dan hernia umbilikalis. 3. Kontour dari abdomen. Apakah datar ( flat ), gembung ( protuberant), rounded Scaphoid, ( concave atau hollowed). Juga dilihat daerah inguinal dan femoral. 4. Simetrisitas dari abdomen 5. Adanya organ yang membesar. Pada saat pasien bernafas perhatikan apakah hepar membesar atau limpa membesar turun dibawah arcus costarum . 6. Apakah ada massa /tumor 7. Lihat Peristaltik usus. Peristaltik usus akan terlihat dalam keadaan normal pada orang sangat kurus. Bila ada obstruksi usus perhatikan beberapa menit. 8. Pulsasi. Dalam keadaan normal pulsasi aorta sering terlihat di regio epigastrica. PALPASI Palpasi superficial berguna untuk mengidentifikasi adanya tahanan otot (muscular resistance), nyeri tekan dinding abdomen, dan beberapa organ dan masa yang superficial. Dengan tangan dan lengan dalam posisi horizontal, mempergunakan ujung ujung jari cobalah gerakan yang enteng dan gentle. Hindari gerakan yang tiba tiba dan tidak diharapkan. Secara pelan gerakkan dan rasakan seluruh kwadran. Identifikasi setiap organ atau massa, area yang nyeri tekan, atau tahanan otot yang meningkat (spasme). Gunakanlah kedua telapak tangan, satu diatas yang lain pada tempat yang susah dipalpasi. ( contoh, pada orang gemuk). Palpasi dalam dibutuhkan untuk mencari massa dalam abdomen. Dengan menggunakan permukaan palmaris dari jari-jari anda, lakukanlah palpasi diseluruh kwadran untuk mengetahui adanya massa, lokasi, ukuran, bentuk, mobilitas terhadap jaringan sekitarnya dan nyeri tekan. Massa dalam abdomen dapat diklasifikasikan dalam beberapa cara: fisiologis seperti uterus yang hamil; inflamasi seperti divertikulitis kolon, pseudokista pancreas; vascular seperti aneurysma aorta; neoplastik seperti mioma uteri, kanker kolon atau kanker ovarium atau karena obstruksi seperti pembesaran vesika urinaria karena retensi urin. Penilaian Adanya Iritasi Peritoneum Nyeri abdomen dan nyeri tekan abdomen, terutama bila disertai dengan spasme otot dinding perut akan menyokong adanya inflamasi dari peritoneum parietal. Tentukan lokasinya secara akurat dan tepat. Sebelum melakukan palpasi, suruh pasien batuk dan menunjukkan dengan satu jari lokasi nyeri tersebut, kemudian palpasi tempat tersebut secara gentel. Dan carilah adanya nyeri tekan lepas. Caranya dengan menekankan jari-jari secara lambat pada 34

ENTEROHEPATIK
dinding perut, kemudian tiba- tiba dilepaskan. Bila waktu jari tangan dilepaskan menyebabkan nyeri yang tidak hanya nyeri tekan, maka disebut nyeri lepas positif. Palpasi Hepar / Hati Letakkan tangan kiri anda dibawah dan dorong setinggi iga 11 dan 12 pada posisi pasien tidur telentang. Suruh pasien relak. Dengan cara menekan tangan kiri kearah depan maka hepar akan mudah diraba dengan tangan kanan dianterior. Letakkan tangan kanan pada perut sebelah kanan, lateral dari muskulus rektus dengan ujung jari dibawah dari batas pekak hepar. Posisikan jari-jari ke arah cranial atau obliq, tekanlah ke bawah dan ke atas. Suruh pasien mengambil nafas dalam. Usahakan meraba hepar pada ujung jari karena hepar akan bergerak ke caudal. Jika kamu telah merabanya, lepaskan tekanan palpasi sehingga hepar dapat bergeser dibawah jari-jari anda dan anda akan dapat meraba permukaan anterior dari hepar ( gambar 7). Pinggir hepar normal teraba lunak, tajam, dan rata. Hitunglah pembesaran hepar dengan menggunakan jari-jari pemeriksa jarak antara arkus kostarum dengan pinggir hepar terbawah antara prosesus xyphoideus dengan pinggir hepar terbawah

Cara lain meraba hepar dengan metode Teknik Hooking adalah dengan cara pemeriksa berdiri pada sebelah kanan pasien. Letakkan kedua tangan pada perut sebelah kanan, dibawah dari pinggir pekak hepar. Tekankan dengan jari-jari mengarah ke atas dan pinggir costa. Suruh pasien bernafas abdomen dalam, akan teraba hati.

35

ENTEROHEPATIK

Teknik Hooking Palpasi Limpa (Spleen / Lien) Dalam menentukan pembesaran limpa secara palpasi, teknik pemeriksaannya tidak banyak berbeda dengan palpasi hati. Pada keadaan normal limpa tidak teraba. Limpa membesar mulai dari lengkung iga kiri, melewati umbilikus sampai regio iliaka kanan. Seperti halnya hati, limpa juga bergerak sesuai dengan gerakan pernapasan. Palpasi dimulai dari regio iliaka kanan, melewati umbilikus di garis tengah abdomen, menuju ke lengkung iga kiri. Pembesaran limpa diukur dengan menggunakan garis Schuffner (disingkat dengan S), yaitu garis yang dimulai dari titik lengkung iga kiri menuju ke umbilikus dan diteruskan sampai ke spina iliaka anterior superior (SIAS) kanan. Garis tersebut dibagi menjadi 8 bagian yang sama 36

ENTEROHEPATIK
yaitu S1 sampai dengan S8. Palpasi limpa dapat dipermudah dengan cara memiringkan penderita 450 ke arah kanan (ke arah pemeriksa). Setelah tepi bawah limpa teraba, kemudian dilakukan deskripsi pembesarannya. Untuk meyakinkan bahwa yang teraba tersebut adalah limpa, maka harus diusahakan meraba insisuranya. Letakkan tangan kiri anda dibawah dari arkus kostarum kiri pasien, dorong dan tekan kearah depan. Dengan tangan kanan dibawah pinggir costa, tekan kearah limpa. Mulailah palpasi pada posisi limpa yang membesar. Suruh pasien nafas dalam kemudian usahakan meraba puncak atau pinggir dari limpa karena limpa turun mengenai ujung jari. Catatlah adanya nyeri tekan, nilai contour dari limpa dan ukur jarak antara titik terendah dari limpa dengan pinggir costa kiri.

37

ENTEROHEPATIK

Palpasi Ginjal / Adrenal Ginjal Kanan Letakkan tangan kanan dibawah dan paralel dengan iga 12 dengan ujung jari menyentuh sudut costovertebral. Angkat dan dorong ginjal kanan kearah anterior. Letakkan tangan kanan secara gentle di kwadrant kanan atas sebelah lateral dan paralel dengan muskulus rektus. Suruh pasien bernafas dalam. Saat pasien dipuncak inspirasi, tekan tangan kanan cepat dan dalam ke kwadrant kanan atas dibawah pinggir arcus costarum dan ginjal kanan akan teraba diantara- antara tangan. Suruh pasien menahan nafas. Lepaskan tekanan tangan kanan secara pelan-pelan dan rasakan bagaimana ginjal kanan kembali ke posisi semula dalam ekpirasi. Jika ginjal kanan teraba tentukan ukuran, contour, dan adanya nyeri tekan. Ginjal Kiri Untuk meraba ginjal kiri, pindahlah ke sebelah kiri pasien. Gunakan tangan kanan untuk mendorong dan mengangkat dari bawah, kemudian gunakan tangan kiri menekan kwadrant kiri atas. Lakukan seperti sebelumnya. Pada keadaan normal ginjal kiri jarang teraba.

38

ENTEROHEPATIK

Palpasi Bimanual Pada Ginjal

Nyeri Tekan Ginjal Nyeri tekan ginjal mungkin ditemui saat palpasi abdomen, tetapi juga dapat dilakukan pada sudut costovertebrae. Kadang- kadang penekanan pada ujung jari pada tempat tersebut cukup membuat nyeri, dan dapat pula ditinju dengan permukaan ulnar kepalan tangan kanan dengan beralaskan volar tangan kiri (fish percussion). 39

ENTEROHEPATIK

Nyeri Tekan Pada Ginjal Pemeriksaan Aorta Tekanlah dengan tepat dan dalam pada abdomen atas sedikit ke kiri dari garis tengah dan identifikasi posisi aorta. Aorta orang dewasa normal tidak lebih dari 2 cm lebarnya (tidak termasuk ketebalan dinding abdomen ). Pada orang dewasa tua bila ditemui masa di abdomen atas dan berdenyut ( pulsasi) maka dicurigai adalah aneurisma aorta.

40

ENTEROHEPATIK

PERKUSI Perkusi berguna untuk orientasi abdomen, guna mengukur besarnya hepar dan kadang limpa, mengetahui adanya cairan ascites, massa padat, massa yang berisi cairan, dan adanya udara dalam gaster dan usus. Orientasi Perkusi Lakukan perkusi yang benar diatas keempat kwadran untuk menilai distribusi dari tympani dan pekak (dullness). Tympani biasanya menonjol bila adanya gas dalam traktus digestivus, sedangkan cairan normal dan feces menyebabkan bunyi pekak (dullness). Catat dimana tympani berubah menjadi pekak pada masing-masing sisi. Cek area suprapubik, adakah pekak karena vesika urinaria yang penuh atau karena uterus yang membesar .

41

ENTEROHEPATIK
Perkusi Hepar Lakukan perkusi pada linea midklavikularis kanan, mulailah setinggi bawah umbilikus (area tympani) bergerak kearah atas ke hepar ( area pekak, pinggir bawah hepar). Selanjutnya lakukan perkusi dari arah paru pada linea midklavikularis kanan kearah bawah ke hepar ( pekak ) untuk menidentifikasi pinggir atas hepar. Sekarang ukurlah dalam centimeter vertical Span / tingginya dari pekak hepar. Biasanya ukurannya lebih besar pada laki laki daripada wanita, orang yang tinggi dari orang pendek. Hepar dinilai membesar, bila pinggir atas hepar diatas dari ruang intercostalis V dan 1 cm diatas arcus costalis, atau panjang pekak hepar lebih dari 6-12 cm, dan lobus kiri hepar 2 cm dibawah processus xyphoideus.

42

ENTEROHEPATIK

Pekak Hepar

Perkusi Limpa Normal limpa terletak pada lengkung diafragma posterior dari linea mid aksilaris kiri. Perkussi limpa penting bila limpa membesar ( Splenomegali ). Limpa dapat membesar kearah 43

ENTEROHEPATIK
anterior, ke bawah, dan ke medial yang menutupi daerah gaster dan kolon, yang biasanya adalah timpani dengan pekak karena organ padat. Bila kita mencurigai adanya splenomegali maka lakukanlah maneuver ini : Lakukan perkusi pada ruang intercostalis terakhir pada linea aksilaris anterior kiri. Ruangan ini biasanya timpani. Sekarang suruh pasien menarik nafas dalam dan perkusi lagi. Bila limpa normal maka suaranya tetap timpani. Perobahan suara perkusi dari timpani ke pekak pada saat inspirasi menyokong untuk pembesaran limpa. Kadang kadang mungkin saja terdengar pekak dalam inspirasi tapi limpa masih normal. Hal ini memberikan tanda positif palsu. -

Lakukan perkusi dari beberapa arah dari timpani kearah area pekak dari limpa. Cobalah utnuk membayangkan ukuran dari limpa. Jika area pekak besar maka menyokong untuk splenomegali. Perkusi dari limpa akan dipengaruhi oleh isi gaster dan kolon, tetapi menyokong suatu splenomegali sebelum organ tersebut teraba.

44

ENTEROHEPATIK

Perkusi Limpa AUSKULTASI Auskultasi berguna dalam menilai pergerakan usus dan adanya stenosis arteri atau adanya obstruksi vascular lainnya. Auskultasi paling baik dilakukan sebelum palpasi dan perkusi karena palpasi dan perkusi akan mempengaruhi frekwensi dari bising usus. Letakan stetoskop di abdomen secara baik . Dengarlah bunyi usus dan catatlah frekwensi dan karakternya. Normal bunyi usus terdiri dari Clicks dan gurgles dengan frekwensi 5 15 kali permenit. kadang-kadang bisa didengar bunyi Borborygmi yaitu bunyi usus gurgles yang memanjang dan lebih keras karena hyperperistaltik. Bunyi usus dapat berubah dalam keadaan seperti diare, obstruksi intestinal, ileus paralitik, dan peritonitis. Pada pasien dengan hypertensi dengarkan di epigastrium dan pada masing kwadran atas bunyi bruits vascular yang hampir sama dengan bunyi bising jantung (murmur). Adanya bruits sistolik dan diastolik pada pasien hypertensi akibat dari stenosis arteri renalis. Bruit sistolik di epigastrium dapat terdengar pada orang normal. Jika kita mencurigai adanya insufisiensi arteri pada kaki maka dengarkanlah bruits sistolik diatas aorta, arteri iliaca, dan arteri femoralis.

45

ENTEROHEPATIK

46

ENTEROHEPATIK

Proyeksi arteri di dinding anterior abdomen

10.

Memahami Fungsi Hati Dan Sebagai Alat Pembentuk Serta Pengeluaran

Empedu: a. Mampu Menjelaskan Pembentukan Empedu Dan Pengendaliaannya Berikut adalah fungsi dari hepar, yaitu: Metabolisme karbohidrat Menyimpan glikogen dalam jumlah besar Konversi galaktosa dan fruktosa menjadi glukosa Proses glukoneogenesis Mempertahankan konsentrasi glukosa darah normal. Metabolisme lemak: Minsintesa lemak Emulsifikasi dan pencernaan lemak kolesterol serta pembentukan ester dari asam lemak menjadi lemak tubuh. Katabolisme asam lemak: Keton bodies Dipecah menjadi asam lemak dan gliserol Pembentukan kolesterol Pembentukan dan pemecahan fosfolipid Metabolisme protein Deaminasi asam amino Pembentukan ureum untuk mengeluarkan amonia dari cairan tubuh. 47

ENTEROHEPATIK
Pembentukan protein plasma: albumin, globulin Interkonversi beragam asam amino dan sintesis senyawa lain dari asam amino. Hati merupakan organ penting bagi sintesis protein protein yang berkaitan dengan koagulasi darah, misalnya pembentukan fibrinogen, protrombin, faktor V, VII, IX, X Hati menyimpan besi dalam bentuk feritin Detoksifikasi, hati adalah pusat detoksifikasi tubuh, proses detoksifikasi terjadi pada proses oksidasi, reduksi, metilasi, esterifikasi dan konjugasi terhadap berbagai macam bahan seperti zat racun. Sebagai fagositosis dan imunitas karena Sel kuppfer merupakan saringan penting bakteri, pigmen dan berbagai bahan melalui proses fagositosis dan selain itu sel kupfer juga ikut memproduksi gama globulin sebagai imun livers mekanism Tempat pembongkaran hemoglobin yang sudah tua. Setelah kita mengetahui apa apa saja fungsi dari hepar, berikut adalah proses pembentukan empedu, yaitu: Hemoglobin yang berasal dari penghancuran eritrosit oleh makrofag didalam limpa, hati dan alat retikuloendotelial lain akan mengalami proses pemecahan menjadi heme dan globin. Melalui proses oksidasi, komponen globin mengalami degradasi menjadi asam amino dan digunakan untuk pembentukan protein lain. Unsur heme selanjutnya oleh heme-oksigenase, teroksidasi menjadi biliverdin dengan melepas zat besi dan karbonmonoksida. Biliverdin reduktase akan mereduksi biliverdin menjadi bilirubin tidak terkonjugasi. Bilirubin tidak terkonjugasi ini adalah suatu zat lipofilik, larut dalam lemak, hampir tidak larut dalam air sehingga tidak dapat dikeluarkan dalam urin melalui ginjal( disebut pula bilirubin indirect karena hanya bereaksi positif pada setelah dilarutkan dalam alkohol). Karena sifat lipofilik, zat ini dapat melalui membran sel dengan relativ mudah. Setelah dilepas kedalam plasma sebagian besar bilirubin tidak terkonjugasi ini membentuk ikatan denagn albumin sehingga dapat larut didalam darah. Pigmen ini secara bertahap berdifusi kedalam sel hati (hepatosit). Dalam hepatosit, bilirubin tidak terkonjugasi, dikonjugasi dengan asam glukoromat membentuk bilirubin glukoronida atau bilirubin terkonjugasi (bilirubin direct). 48

ENTEROHEPATIK
Reaksi konjugasi dikatalisasi oleh enzim glukoronil transferase suatu enzim yang dapat diretikulum endoplasmic dan merupakan kelompok enzim yang mampu memodifikasi zat asing yang bersifat toksik. Bilirubin terkonjugasi larut dalam air, dapat dikeluarkan melalui ginjal. Sebagian besar bilirubin terkonjugasi ini dikeluarkan kedalam empedu, suatu campuran kolesterol, posfolipid, bilirubin diglukoronida dan garam empedu. Sesudah dilepas kedalam saluran cerna bilirubin glukoronida (bilirubin terkonjugasi) diaktivasi oleh enzim bakteri dalam usus, sebagian menjadi komponen urobilinogen yang akan keluar dalam tinja (stercobilin), atau diserap kembali dari saluran cerna, dibawa kehati dan dikeluarkan kembali kedalam empedu. Urobilinogen dapat larut dalam air, oleh karena itu sebagian dikeluarkan melalui ginjal.

Berikut adalah penjelasan secara singkat dalam bentuk skema,

49

ENTEROHEPATIK

50

ENTEROHEPATIK

b. Mampu Menjelaskan Pengeluaran Empedu Dan Pengendaliannya Serta Termasuk Siklus Enterohepatik Kandung empedu dan saluran empedu ekstrahepatik menghubungkan hati dengan tractus gastrointestinalis, sehingga merupakan penghubung penting sirkulasi enterohepatik. Empedu dihasilkan oleh sel hati kedalam saluran empedu, yaitu mengalir kedalam duodenum. Diantara makan, orifisium duodenum duktus ini tertutup dan empedu mengalir kedalam vesika fellea, tempat ia disimpan. Bila makanan memasuki mulut, sfingter sekeliling orifisium relaksasi, bila isi lambung memasuki duodenum maka hormon CCK (kolesistikinin) dari mukosa usus menyebabkan vesica fellea berkontraksi. Duktus cystikus mendrainase vesica fellea, dan duktus hepatikus bersatu dengan duktus cystikus untuk membentuk duktus choledochus. Dan kemudian memasuki duodenum pada papila duodenum. Dapat disimpulkan bahwa saat kita makan (makanan dari lambung masuk ke duodenum) maka duodenum akan relax sedangkan kantung empedu tengah berkontraksi mengeluarkan empedu. Sedangkan saat kita tidak makan (tidak ada makanan dari lambung yang turun ke duodenum) maka saluran ke duodenum tertutup sehingga cairan empedu akan masuk ke dalam kantung empedu.

51

ENTEROHEPATIK

BAB III PENUTUP 1. Kesimpulan Maka dari uraian diatas dapat diartikan bahwa sistem enterohepatik adalah suatu sistem yang erat hubungannya dengan sistem pencernaan. Sistem Enterohepatik merupakan suatu sistem yang menghubungkan antara hepar danintestinal yang membantu proses pencernaan. Berikut adalah organ organ yang termasuk didalam sistem enterohepatik, yaitu: 1. Hepar adalah organ intestinal terbesar dengan berat antara 1,2 1,8 kg yang berada pada kuadran kanan atas abdomen dan merupakan pusat metabolisme tubuh dengan fungsi yang sangt kompleks. 2. Pancreas merupakan organ yang memanjang dan terletak pada epigastrium serta kuadran kiri atas dan merupakan sebagai kelenjar endokrin dan eksokrin secara bersamaan. 3. Limpa adalah sebuah kelenjar berwarna ungu tua yang terletak di sebelah kiri abdomen di daerah hipogastrium kiri di bawah iga ke 9, 10, dan 11. 52

ENTEROHEPATIK
4. Kandung empedu adalah kantong berongga berbentuk pir terletak tepat dibawah lobus kanan hati dan tempat dimana empedu ditampung. 2. Kritik dan Saran Banyak kekurangan dan kesalahan yang terdapat dalam makalah ini. Kritik dan saran dari para pembaca yang membangun kami harapkan untuk memperbaiki bentuk dan isi dari makalah ini. Sesungguhnya kesempurnaan hanya milik Allah SWT.

DAFTAR PUSTAKA 1. Sherwood, Lauralee. 2011. Fisiologi Manusia: Dari Sel Ke Sistem. Alih Bahasa: Brahm U. Pendit: Editor Edisi Bahasa Indonesia, Nella Yesdelita. Jakarta. EGC. 2. Sloane, Ethel. 2004. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Jakarta. EGC. 3. Gyton, Arthur C., John E. Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Alih Bahasa: Irawati...[et all], Editor Edisi Bahasa Indonesia; Yanuar Rachman...[et all], Jakarta. EGC. 4. Mesher, Anthony L. 20011. Histologi Dasar Junqueira Teks dan Atlas. Alih Bahasa: Fans Dany, Editor Edisi Bahasa Indonesia: Huriawati Hartanto. Jakarta. EGC. 5. Parker, Stave. 2009. Ensiklopedia Tubuh Manusia. Penerjemah: dr. Winardiri, Editor: Danu Nugraha, S.Si, Rani Nuraeni, M.Pd. Jakarta. Erlangga. 6. Moore, Keith L. 2002. Anatomi Klinis Dasar. Alih Bahasa: Hendra Laksmana: Editor Edisi Bahasa Indonesia, Vivi Sadikin, Virgi Saputra. Jakarta. Hipokrates. 7. Universitas Andalas. Pemeriksaan Fisik Abdomen (http://repository.unand.ac.id/14265/3/skills_lab_blok_2.pdf) Diakses pada 14 Januari 2013. 53

ENTEROHEPATIK
8. Universitas Abulyatama, Enterohepatik (http://www.scribd.com/document_downloads/direct/38624640? extension=pdf&ft=1357859674&lt=1357863284&uahk=PAAECesCzGs8T98167lfDU mZnqQ) Diakses pada 11 Januari 2013.

54