Anda di halaman 1dari 3

Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui bakteri aerob penyebab FARINGITIS AKUT dan tingkat sensitifitasnya terhadap antibiotik

amoksisilin dan sefadroksil. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa bakteri yang menyebabkan FARINGITIS AKUT dominan dari golongan enterobakter, antara lain Proteus mirabilis, Proteus vulgaris, Proteus peneri, Morganella morganii, Enterobacter Geogeviae, dan E. coli. Bakteri-bakteri ini adalah kuman komensal di saluran pencernaan dan menjadi patogen apabila hidup di organ lain, termasuk telinga tengah (Brooks et al, 2006). Faktor-faktor predisposisi terjadinya FARINGITIS AKUT antara lain adalah lingkungan, genetik, otitis media sebelumnya, infeksi, infeksi saluran pernafasan atas, autoimun, alergi dan gangguan fungsi tuba. Salah satu faktor predisposisi yang penting adalah lingkungan, otitis media supuratif kronis yang terjadi di penelitian ini bermula dari pola hidup yang tidak bersih atau sanitasi lingkungan yang buruk, karena pada anak-anak umur 6-12 tahun belum mengetahui mengenai kebersihan lingkungan dan pola hidup bersih dan sehat, dan anak-anak di usia tersebut aktivitas di lingkungan sekitarnya sangat aktif (Nursiah, 2007). Standar penatalaksanaan awal otitis media supuratif kronis adalah pemberian antibiotik lini pertama. Antibiotik yang sering digunakan di Rumah Sakit Provinsi NTB adalah amoksisilin dan sefadroksil. Amoksisilin dan sefadroksil memiliki mekanisme kerja yang hampir sama yaitu menyebabkan kerusakan pada dinding sel bakteri, dengan cara mengadakan perlekatan pada protein mengikat penisilin yang spesifik (PBPs) yang berlaku sebagai obat reseptor pada bakteri, mengahambat sintesis dinding sel dengan menghambat transpeptidasi dari peptidoglikan dan mengaktifkan enzim autolitik di dalam dinding sel, yang mengakibatkan kerusakan pada dinding sel bakteri sehingga bakteri mati (Katzung, 2006).

Amoksisilin merupakan golongan penisilin dengan spektrum yang luas dan lebih mudah diserap di usus, penggunaan klinisnya banyak digunakan untuk infeksi saluran kemih oleh bakteri koliform gram negatif atau infeksi bakteri campuran sekunder pada saluran pernafasan termasuk sinusitis, otitis, bronchitis. Sefadroksil adalah sefalosporin generasi pertama yang penggunaan klinisnya lebih banyak untuk mengeradikasi bakteri kokus gram positif, termasuk Pneumokokus viridian, grup streptokokus A hemolitikus dan S. aureus. Di antara bakteri gram negatif Escherichia coli, Klebsilla pneumonia dan Proteus mirabilis kurang sensitif, tetapi terdapat aktivitas sangat kecil terhadap Pseudomonas aeruginasa, proteus indol positif, Enterobacter, Serratia marcencens, Citrobacter dan Acinebacter (Katzung, 2006). Hasil penelitian ini bakteri terbanyak yang ditemukan adalah Proteus mirabilis, dan sensitifitasnya terhadap amoksisilin mencapai 90%, sedangkan terhadap sefadroksil tidak ada yang bernilai sensitif (0%). Bakteri Staphylococcus aureus memiliki sensitifitas tertinggi terhadap amoksisilin yaitu hingga 100 persen sedangkan pada sefadroksil hanya mencapai 70 persen. Jumlah bakteri yang sensitif terhadap amoksisilin mencapai 25 bakteri (69%) sedangkan terhadap sefadroksil hanya 13 bakteri (36%), jumlah bakteri aerob yang intermediat terhadap sefadroksil 10 bakteri (27%) akan tetapi bakteri yang intermediat terhadap amoksisilin hanya 1 bakteri (2,7%), Jumlah intermediat cukup besar ini bermakna bakteri yang menuju ke arah resisten terhadap sefadroksil semakin besar. Bakteri aerob yang resisten terhadap sefadroksil mencapai 13 bakteri (36%) dan bakteri yang resisten terhadap amoksisilin mencapai 10 bakteri (27%). Mekanisme resistensi bakteri terhadap antibiotik amoksisilin dan sefadroksil sebagian besar sama yaitu bakteri menghasilkan enzim beta laktamase, tetapi pada sefalosporin dapat juga terjadi oleh karena penurunan permeabilitas membran atau perubahan sturktur dari reseptor di dinding sel (Katzung, 2006).

Hasil uji beda tingkat sensitifitas bakteri penyebab FARINGITIS AKUT terhadap antibiotik amoksisilin dan sefadroksil didapatkan hipotesis nol ditolak (P 0,05), dimana yang yang bermakna terdapat perbedaan yang signifikan sensitifitas antibiotik amoksisilin dibandingkan sefadroksil terhadap bakteri aerob penyebab otitis media supuratif kronis. dan hasil pemaparan data deskriptif terlihat bahwa amoksisilin masih lebih baik tingkat sensitifitasnya dibanding sefadroksil. Peneliti menyimpulkan bahwa antibiotik amoksisilin masih dapat dijadikan sebagai lini pertama dalam terapi otitis media supuratif kronis, terutama pada pasien yang belum ada riwayat terapi antibiotik sebelumnya. perlu disarankan untuk para klinis agar menggunakan amoksisilin terlebih dahulu sebelum memberikan antibiotik dengan generasi yang lebih baru.