Anda di halaman 1dari 19

Laringitis merupakan peradangan pada laring yang dapat menyebabkan suara parau.

Pada peradangan ini seluruh mukosa laring hiperemis dan menebal dan kadangkadang pada pemeriksaan patologik terdapat metaplasi skuamosa. Laringitis kronik adalah proses inflamasi pada mukosa pita suara dan laring yang terjadi dalam jangka waktu lama. terjadi lebih dari 3 minggu Laringitis kronik terjadi karena pemaparan

Pada keadaan normal, plika vokalis membuka secara halus, membentuk suara melalui pergerakan dan getaran. Dalam keadaan laryngitis, plika vokalis mengalami inflamasi dan iritasi sehingga tekanan yang diperlukan untuk proses fonasi mengalami peningkatan, maka terjadi kesulitan dalam memproduksi tekanan fonasi yang adekuat. Udara yang melewati kedua plikavokalis yang mengalami edema menyebabkan suara yang dihasilkan mengalami distorsi,sehingga hasil yang dikeluarkan menjadi parau. Bahkan pada beberapa kasus suara dapat menjadi lemah atau bahkan tidak terdengar.

Berdasarkan etiologi dapat dibagi atas :


Laringistik kronik nonspesifik Laringitis kronik spesifik

1.

2.

3.

4.

Merokok; merokok dapat mengiritasi laring, dapat menyebabkan peradangan dan penebalan pita suara Alkoholik; alcohol dapat menyebabkan iritasi kimia pada laring. Gastro esophageal reflek disease (GERD); GERD adalah suatu kelainan dimana asam lambung naik kembali melalui esophagus dan tenggorokan, sehingga dapat menyebabkan iritasi pada laring. Pekerjaan yang terus menerus terpapar oleh debu dan bahan kimia; banyak pekerja-pekerja pabrik yang menderita

Suara parau yang menetap, rasa tersangkut di tenggorok sehingga sering mendehem tanpa sekret.
Pada pemeriksaan
tampak mukosa laring hiperemis. Tidak rata, dan menebal. Bila tumor dapat dilakukan biopsi.

Pada l aryngitis yang disebabkan oleh rokok, alkohol, asap pabrik, penggunaan suara yang berlebih maka disarankan : Pasien diharapkan untuk berhenti merokok, hentikan meminum alcohol, Gunakan masker, hindari minuman dingin, hindari makan goring-gorengan, hindari makan pedas, hindari zat-zat penyebab, istirahat berbicara ( tidakt erlalu banyak bicara), kumur-kumur dengan air garam Diminta untuk tidak banyak bicara dan mengobati peradangan di hidung, faring, serta bronkus yang mungkin menjadi penyebab. Diberikan antibiotik bila terdapat tanda infeksi dan ekspektoran. Untuk jangka pendek dapat diberikan steroid. Pada pasien dengan gastroenteriris refluks dapat diberikan reseptor H2 antagonis, pompa proton inhibitor. Juga diberikan hidrasi, meningkatkan kelembaban, menghindari polutan.

Etiologi Laringitis kronik spesifik terbagi atas :


Laringitis Tuberkulosis Laringitis Leutika

1. Etiologi

Hampir selalu disebabkan tuberculosis paru. Setelah diobati biasanya tuberculosis paru

sembuh namun laringitis tuberkulosisnya menetap, karena struktur mukosa laring sangat lekat pada kartilago serta vaskularisasi tidak sebaik paru.

2. Manifestasi Klinis

Terdapat gejala demam, keringat malam,

penurunan berat badan, rasa kering, panas, dan tertekan di daerah laring, suara parau berminggu-minggu dan pada stadium lanjut dapat afoni, bentuk produktif, gemoptisis, nyeri menelan yang lebih hebat bila gejala-gejala proses aktif pada paru. Dapat timbul sumbatan jalan napas karena edema: tumberkuloma, atau paralysis pita suara.

Sesuai dengan stadium dari penyakit, pada laringoskop akan terlihat: Stadium infiltrasi mukosa laring membengkak, hiperemis (bagian posterior), dan pucar. Terbentuk tuberkel di daerah submukosa, tampak sebagai bintik-bintik kebiruan. Tuberkel membesar, menyatu sehingga mukosa di atasnya meregang. Bila pecah akan timbul ulkus.

Stadium ulserasi ulkus membesar, dangkal, dasarnya ditutupi perkijuan dan terasa.

Stadium perikondritis
ulkus makin dalam mengenai kartilago laring, kartilago

artenoid, dan epiglotis. terbentuk nanah yang berbau sampai terbentuk sekuester. Keadaan umum pasien sangat buruk, dan dapat meninggal dunia. Bila pasien bisa bertahan maka penyakit berlanjut dan dapat masuk ke stadium terakhir.

Stadium fibrotuberkulosis
Pada stadium ini terbentuk fibrotuberkulosis pada dinding

posterior, pita suara dan subglotik

3. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium hasil tahan asam dari sputum atau bilasan lambung, foto toraks menunjukkan tanda proses spesifik baru, laringoskopi langsung/tak langsung, dan pemeriksaan PA.

4. Diagnosis Banding Laryngitis luetika, karsinoma laring, aktinomikosis laring, dan lupus vulgaris laring

5. Penatalaksanaan Istirahat suara dan obat antituberkulosis primer dan skunder. Trakeostomi bila timbul sumbatan jalan napas 6. Prognosis Bergantung pada keadaan social ekonomi pasien kebiasaan hidup sehat, dan ketekunan berobat. Prognosis baik diagnosisi dapat ditegakkan pada stadium dini.

Radang

menahun ini jarang dijumpai Dalam 4 stadium lues yang paling berhubungan dengan laringitis kronis ialah lues stadium tersier dimana terjadi pembentukan gumma yang kadang menyerupai keganasan laring. Apabila guma pecah akan timbul ulkus yang khas yaitu ulkus sangat dalam, bertepi dengan dasar keras, merah tua dengan eksudat kekuningan. Ulkus ini tidak nyeri tetapi menjalar

Gambaran klinis

Apabila guma pecah maka timbul ulkus. Ulkus ini mempunyai sifat yang khas, yaitu

sangat dalam, bertepi dengan dasar yang keras, berwarna merah tua serta mengeluarkan eksudat yang berwarna kekuningan. Ulkus ini tidak menyebabkan nyeri dan menjalar sangat cepat, sehingga bila tidak terbentuk proses ini akan menjadi perikondritis.

Gejala Suara parau dan batuk kronis. Disfagia timbul bila guma terdapat dekat introitus esofagus. Diagnosis ditegakkan selain dari pemeriksaan laringoskopik juga dengan pemeriksaan serologik.
Terapi Penisilin dengan dosis tinggi Pengangkatan sekuerter Bila terdapat sumbatan laring karena stenosis, dilakukan trakeostomi.

Pada l aryngitis akibat peradangan yang terjadi dari daerah lain maka dapat terjadi inflamasi yang progresif dan dapat menyebabkan kesulitan bernafas. Kesulitan bernafas ini dapat disertaistridor baik pada periode inspirasi, ekspirasi atau keduanya. Laringitis akibat merokok, laring tidak dapat sembuh dari edema. Hal ini menyebabkan laringdan plika vokais berada dalam keadaan eritema dan edema akibat inflamasi. Edema yangtimbul dapat bervariasi mulai dari ringan hingga berat, hal ini mengakibatkan suara akanmenjadi parau, terkesan lebih berat atau kasar dan rendah. Laringitis kronik akibat pemaparan yang lama dan berulang dapat menyebabkan terbentuknyajaringan parut pada plika vokalis, penebalan plika vokalis, lesi pita vokalis dan dapat terjadiparakeratosis atau hyperkeratosis. Pada laryngitis luetika bila terjadi penyembuhan spontan dapat menyebabkan terjadinyastenosis laring, karena

terbentuknya jaringan parut