Anda di halaman 1dari 31

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang Apendiksitis merupakan penyakit bedah mayor yang sering terjadi pada usia remaja dan dewasa muda. Insidens apendiksitis di negara maju lebih tinggi daripada di Negara berkembang, namun pada tiga-empat dasawarsa ini menurun secara bermakna. Kejadian ini disebabkan oleh meningkatnya penggunaan makanan berserat dalam menu sehari-hari. 1 Apendiksitis merupakan penyakit bedah mayor yang paling sering terjadi walaupun apendiksitis dapat terjadi pada setiap usia, namun paling sering terjadi pada remaja dan dewasa muda. 2 Apendiksitis adalah ujung seperti jari-jari yang kecil panjangnya kirakira 10 cm (4 inci), melekat pada sekum tepat di bawah katup ileosekal.apendik berisi makanan yang mengosongkan diri secara teratur ke dalam sekum. Karena pengosongannya tidak efektif dan lumannya kecil, apendik cenderung menjadi tersumbat dan terutama rentan terhadap infeksi cependitis. 3 Epidemiologi insidens apendiksitis akut di Negara maju lebih tinggi daripada di Negara berkembang. Namun dalam tiga-empat dasawarsa terakhir menurun secara bermakna. Kejadian ini diduga disebabkan oleh meningkatnya penggunaan makanan berserat dalam menu sehari-hari insidens pada laki-laki

dan perempuan pada umumnya sebanding. Kecuali pada umur 20-30 tahun. Insiden laki-laki lebih tinggi. 4 Prevalensi hasil dari penelitian di dunia adalah radang usus buntu merupakan penyakit yang cukup sering dijumpai pada masyarakat bukan hanya Indonesia tetapi juga diseluruh dunia. Berdasarkan sumber dari emidicine.com menyatakan ada disekitar 86 kasus per 100.000 penduduk dunia. 5 Prevalensi hasil penelitian di jawa tengah didapatkan 15 dari 27 pasien (55,6%) adinyatakan penderita apendiksitis,12 % lainnya menderita kista ovarian sebanyak 7 pasien, abscess tuboovarial 1 pasien, hematosalping dengan kista felikel 1 pasien, invaginasi illeocekal 1 pasien dan lulomyoma 1 pasien, uretrolithiasis dextra 1 pasien. Berdasarkan pemeriksaan ultrasonografi didapatkan 13 pasien memenuhi criteria apendisitis; dari pemeriksaan apendikogram didapatkan 26 pasien memenuhi criteria apendisitis. Nilai akurasi ultasonografi apendiks : sensitivitas 86,7%. Spesifikasi 75%, PPV 81,25%, NPV 81,8%, LR (+) 3,468 dan LR (-) 0,00. Disimpulkan pemeriksaan ultrasonografigrey scale apendiksitis lebih akurat disbanding apendikogram pada diagnosis penderita kronis eksaserbasi akut. 6

B. Perumusan masalah Disini penulis akan membahas banyak hal tentang apendiksitis meliputi pengertian anatomi fisiologi patofisiologi komplikasi

penatalaksanaan serta pengelolaan kasus apendiksitis. C. Tujuan penulisan 1. Tujuan umum a. Memberikan gambaran secara umum atas kemampuan atau perubahan penanganan kasus apendisitis sesuai sistem terkini atau terbaru. b. Dapat mengetahui perkembangan tehnik asuhan keperawatan atas kasus-kasus yang terjadi, terutama pasien dengan penyakit apendisitis pre operatif maupun post operatif. Agar penulis mampu memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan post apendiktomi, dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang utuh dan komprehensif. 2. Tujuan khusus a. Mampu melaksanakan tindakan dan pengkajian, keperawatan, merumuskan melaksanakan evaluasi pasien diagnosa, tindakan serta post

merencanakan keperawatan

mampu asuhan

melaksanakan keperawatan

mendokumentasikan apendiktomi.

pada

b. Agar dapat memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan apendisitis, pada umur dan kondisi yang berlainan. c. Sebagai syarat kenaikan golongon bagi perawat ahli setelah golongan IV. d. Sebagai sarat khusus pengajuan daftar usul penetapan angka kredit bagi perawat ahli golongan IV.

D. Metode penulisan Metode yang dalam penyusunan konsep keperawatan ini adalah

dengan studi pustaka yaitu dengan system pengambilan literature dan referensi yang berhubungan dengan konsep konsep keperawatan apendiktomi.

E. Sistematika Penulisan Bab I Pendahuluan terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan, sistematika penulisan. Bab II Tinjauan pustaka terdiri dari konsep medis terdiri dari definisi,anatomi fisiologi, etiologi,manifestasi klinis dan penetalaksaan. Bab III Konsep keperawatan,patway. Bab IV Penutup terdiri dari kesimpulan dan saran, daftar pustaka.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Medis 1. Definisi Apendiksitis adalah peradangan dari apendiks vemiformis dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki-laki maupun perempuan, terapi lebih sering menyerang laki-laki 10-30 tahun. 7 Apendiksitis adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran kanan bawah dari rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat. 3 Apendiksitis merupakan penyakit bedah mayor yang paling sering terjadi walaupun apendiksitis dapat terjadi pada setiap usia, namun paling sering terjadi pada remaja dan dewasa muda. 1 Apendiktomi adalah pengangkatan terhadap apendik

terimplementasi dengan prosedur atau pendekatan endoskopi. 8

2. Anatomi fisologi Saluran pencernaan terdiri dari : Mulut adalah permulaan saluran pencernaan yang terdiri dari atas 2 bagian yaitu :

1. Bagian luar yang sempit atau vestibula yaitu ruang antara gusi, gigi, bibir, dan pipi. 2. Bagian rongga mulut / bagian dalam, yaitu rongga mulut/bagian dalam, yaitu rongga mulut yang dibatasi sisinya oleh tulang maksilaris, palantum dan mandibularis bersambung dengan faring. Faring merupakan organ yang menghubungkan organ rongga mulut dengan kerongkongan (esophagus), di dalam lengkung faring terdapat tonsil (amandel) yaitu kumpulan kelenjar limfe yang banyak mengandung limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi. Esofagus merupakan saluran yang menghubungkan tekak dengan lambung, panjangnya 25 cm, di mulai dari faring sampai pintu masuk kardiak dibawah lambung. Gaster (lambung) merupakan saluran dari saluran yang dapat mengembang paling banyak terutama di daerah epigaster, lambung terdiri dari bagian atas fundus utei berhubungan dengan esofagus melalui orifisium pilorik, depan pankreas dan limpa, menempel di sebelah kiri fundus uteri. Usus halus adalah bagian dari system pencernaan makanan yang berpangkal pada pylorus dan berakhir pada seikum panjangnya 6 cm, merupakan saluran paling panjang tempat proses pencernaan dan absorbsi hasil pencernaan.fungsi usus halus yaitu menerima zatzat makanan yang sudah dicerna untuk diserap melalui kapiler-kapiler darah dan saluran-saluran limfe.

Usus besar panjangnya m, lebarnya 5-6 cm. lapisanlapisan usus besar dari dalam ke luar : selaput lendir, lapisan otot melingkar, lapisan otot memanjang, jaringan ikat. Fungsi usus besar menyerap air dari makanan, tempat tinggal bakteri koli, tempat feces. Apendiks yaitu bagian dari usus besar yang muncul seperti corong dari akhir seikum mempunyai pintu keluar yang sempit tapi masih memungkinkan dapat dilewati oleh beberapa isi usus. Apendiks tergantung menyilang pada linea terminalis masuk ke dalam rongga pelvis minor terletak horizontal di belakang seikum. Sebagai suatu organ pertahanan terhadap infeksi kadang appendiks bereaksi secara hebat dan hiperaktif yang bisa menimbulkan perforasi dindingnya ke dalam rongga abdomen. Rektum terletak dibawah kolon sigmoid yang menghubungkan intestinum mayor dengan anus, terletak dalam rongga pelvis di depan os sacrum dan os oksigis. Anus adalah bagian dari saluran pencernaan yang meng hubungkan rectum dengan dunia luar terletak di dasar pelvis, dindingnya diperkuat oleh 3 sfingter yaitu sfingter ani internus (sebalah atas) bekerja tidak menurut kehendak, sfingter levator ani bekerja tidak menurut kehendak, sfingter ani ikternus (sebelah bawah) bekerja menurut kehendak. 9

3. Etiologi Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendik oleh: a. Hiperplasi folikel limfoid. b. Adanya fekalit dalam luman apendik. c. Adanya benda asing. d. Strikura karena fibrosis akibat peradangan. Sebelumnya atau neoplasma. 7 Apendiksitis, penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan dari rongga abdomen. Adalah penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat kira-kira 7% dari populasi akan mengalami apendiksitis pada waktu yang bersamaan dalam hidup mereka : pria sering dipengaruhi daripada wanita. Dan remaja lebih sering daripada orang dewasa. Meskipun ini dapat terjadi pada usia beberapapun. Apendiksitis paling sering terjadi antara usia 10 dan 30 tahun. 3

4. Patofisiologi Apendiks terinflamasi dan mengalami edema sebagai akibat terlipat atau tersumbat. Kemungkinan oleh fekalit (massa keras dan feces), tumor atau benda asing. Proses inflamasi meningkatkan tekanan intra luminal, menimbulkan nyeri abdomen atas atau menyebar hebat secara progresif dalam beberapa jam. Terlokalisasi dikuadran kanan bawah dari abdomen, akhirnya apendiks yang terinflamasi berisi pus. 3

Apendik biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendik oleh hiperplasi folikel limfoid ifekal, benda asing, struktur Karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya atau neoplasma. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang di produksi mukosa mengalami bendungan, makin lama mukus tersebut makin banyak. Namun elastisitas dinding apendik mempunyai keterbatasan sehingga

menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mufosa. Pada saat inilah terjadi apendisitis akut fokul yang di tandai oleh nyeri epigastrium. Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, odema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding pera dengan yang timbul meluas dan mengenai peritonium setempat sehingga menimbulakn nyeri di daerah kanan bawah. Keadaan ini disebut supuratif akut. Bila kemudian aliran arteri terganggu akan Terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan ganggren. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendiksitis perforasi. Bila semua proses diatas berjalan lambat, omentum, dan usus yang berdekatan akan bergerak kearah apendiks hingga timbul satu massa lokal yang disebut infiltrate apendikularis. Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang.

10

Pada anak-anak, karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang, dinding apendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua mudah tejadi karena ada gangguan pembuluh darah. 7

5. Manifestasi klinis a. Nyeri kuadran kanan bawah terasa dan biasanya disertai oleh demam ringan, mual, muntah, dan hilangnya nafsu makan. b. Nyeri tekan local pada titik Mc. Burney bila dilakukan tekanan. c. Nyeri tekan lepas (hasil atau intensifikasi dari nyeri bila tekanan dilepas) mungkin dijumpai. d. Derajat nyeri tekan, spasme otot, dan apakah terdapat konstipasi atau diare. e. Adanya kekakuan pada bagian pada bagian bawah otot rektus kanan dapat terjadi. 3 Keluhan apendiksitis biasanya bermula dari nyeri didaerah umbilikus atau periumbilikus yang berhubungan dengan muntah. Dalam 212 jam nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah yang akan menetap dan diperberat bila jalan atau batuk. Terdapat juga keluhan anoreksia, malaise, dan demam yang tidak terlalu tinggi. Biasanya juga terdapat konstipasi, tetapi kadang-kadang terjadi diare, mual, dan muntah.

11

Pada permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen yang menetap. Namun dalam beberapa jam nyeri abdomen kanan akan semakin progresif, dan dengan pemeriksaan seksama akan dapat ditunjukkan satu titik dengan nyeri maksimal. Perkusi jaringan pada kuadran kanan bawah dapat membantu menentukan lokasi nyeri. Nyeri lepas dan spasme biasanya juga muncul. Bila tanda rovsing, psoas, dan obtutor positif akan semakin meyakinkan diagnosa klinis apendiksitis. 7

6. Komplikasi a. Peritonitis. b. Abses apendiks. c. Tromboflebitis. d. Abses subfenikus. e. Fokal sepsis intra abdominal. 7 Komplikasi utama apendiksitis adalah perforasi apendiks, yang dapat berkembang menjadi peritonitis atau abses. Insiden perforasi adalah 10% sampai 32%. insiden lebih tinggi pada anak kecil djalan lansia. Perforasi secara umum terjadi 24 jam setelah awitan nyeri. Gejala mencakup demam dengan suhu 37 C atau lebih tinggi. Penam pilan toksin dan nyeri atau nyeri tekan abdomen yang kontin

12

7. Penatalaksanaan a. Sebelum operasi 1. Obsevasi Dalam 8-12 jam setelah timbulnya keluhan, tanda dan gejala apendeksitis seringkali belum jelas, dalam keadaan ini obsevasi ketat perlu dilakukan. Pasien diminta melakukan tirah baring dan di puaskan. Laksatif tidak boleh diberiakan bila di curigai adanya apendiksitis atau bentuk peritonitis lainnya. Pemerikasaan abnomen dan rectal serta pemeriksaan darah (leukosit, dan hitung jenias) diulang secara periodik, foto abnomen dan torak tegak. Dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya penyakit lain pada kebanyakan kasus. Diagnosis ditegakkan dengan lokalisasi nyeri di daerah kanan bawah dalam 12 jam setelah timbulnya keluhan. 2. Intubasi jika perlu 3. Antibiotik b. Operasi apendiktomi Pengangkatan terhadap apendik terimplementasi dengan

prosedur atau pendekatan indoskopi. c. Pasca operasi Perlu dilakukan observasi tanda-tanda vital untuk mengetahui terjadinya pendarahan didalam, syok, hipertermia, atau gangguan pernafasan. Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar sehingga operasi cairan lambung dapat di cegah, baringkan pasien dalam posisi

13

fowler. Pasien dikatan baik apabila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan. Selama itu pasien dipuaskan. Bila tindakan operasi lebih besar misalnya pada perforasi atau peritonitis umum, puasa di teruskan sampai fungsi usus kembali normal. Kemudian di beriakan minum 15 ml/ jam. Keesokan harinya di berikan makanan sering lunak. dan hari berikutnya di berikan makanan

Satu hari pasca operasi pasien di anjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur selama 2x30 menit pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk diluar kamar. Hari ke tujuh jahitan dapat di angkat dan pasien diperbolehkan pulang. 7

14

BAB III KONSEP KEPERAWATAN

A. Fokus Pengkajian 1. Aktivitas / istirahat Gejala : Malaise 2. Sirkulasi Tanda : Takikardia 3. Eliminasi Gejala : Konstpipasi pada awitan awal. Diare ( kadang-kadang ) Tanda : Distensi abdomen, nyeri tekan, kekakuan. Penurunan atau tak ada bising usus. 4. Makanan atau cairan Gejala : Anoreksia Mual muntah 5. Nyeri kenyamanan Gejala : Nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilikum, yang meningkatkan berat dan teralokasi pada titik Mc. Burney (setengah jarak antara umbilicus dan tulang kanan ileum), menimgkat karena berjalan, bersin, atau batuk, nafas dalam

15

(ngeri berhenti tiba-tiba diduga perkorasi atau infark pada apendiks). Tanda : Perilaku berhati-hati, berbaring kesamping atau telentang dengan lutut ditekuk. Menigkatnya nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki kanan / posisi ekstensi duduk tegak. Nyeri lepas pada sisi kaki kiri diduga inflamasi peritoneal. 6. Keamanan Gejala : Demam (biasanya rendah).

7. Pernafasan Tanda : Takipnea, pernafasan dangkal. 8. Penyuluhan / pembelajaran Gejala : Riwayat kondisi lain yang berhubungan dengan nyeri abdomen contoh pielitis akut, batu uretra, salpingitis, ileitis regional. Dapat terjadi pada bebagai usia. 14

B. Fokus intervensi 1. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasive. Tujuan : Meningkatkan penyembuhan luka dengan benar, bebas tanda infeksi / inflamasi drainase purulen, eritema dan demam.

16

Intervensi : a) Awasi tanda vital, perhatikan demam, menggigil, berkeringat perubahan mental, meningkatnya nyeri abdomen. Rasional : Dugaan adanya infeksi / terjadinya sepsis, abses, peritoris. b) Lakukan pencucian tangan yang baik dan perawatan luka aseptik Berikan perawatan paripurna Rasional: Menurunkan resiko penyebaran bekteri. c) Lihat insisi dan balutan, catat karakteristik drainase luka / drein (bila dimasukkan) adanya eritema. Rasional : Memberikan deteksi diri terjadinya proses infeksi dan atau pengawasan penyembuhan peritonitis yang telah ada sebelumnya. d) Berikan informasi yang tepat, jujur pada pasien / orang terdekat. Rasional : pengetahuan tentang kemajuan situasi memberikan dukungan emosi, membantu menurunkan ansietas. e) Kolaborasi dalam pengambilan contoh drainase bila di indikasikan. Rasional : kultur pewarnaan gram dan sensivitas berguna untuk mengidentivikasi organisme penyebab dan pilihan terapi. f) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotik sesuai indikasi. Rasional : mungkin diberikan secara profilaktik atau menurunkan jumlah organisme (pada infeksi yang telah ada sebelumnya) untuk menurunkan penyebaran dan

pertumbuhannya pada rongga abdomen.

17

g) Kolaborasi dalam irigasi dan drainase bila diindikasikan. Rasional : dapat diperlukan untuk mengalirkan isi abses terlokalisir.

2. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan pasca operasi (puasa). Tujuan : Mempertahankan keseimbangan cairan dibuktikan oleh kelembaban membaik mukosa, turgor kulit baik, tanda vital stabil dan secara individual haluaran urin adekuat. Intervensi : a) Awasi tekanan darah dan nadi. Rasional : tanda yang membantu mengidentivikasi fluktuasi volume intravaskuler. b) Lihat membrane mukosa : kaji turgor kulit, dan pengisian kapiler. Rasional : Indikator keadekatan sirkulasi parifer dan hidrasi seluler. c) Awasi masukan dan haluaran, cacat warna urine / konsentrasi, berat jenis. Rasional : penurunan haluaran urine pekat dengan peningkatan berat peningkatan cairan. d) Auskultasi bising usung, cacat kelantaras flatus, gerakan usus. Rasional : indikator kembalinya peristaltik, kesiapan untuk pemasukan per oral. jenis diduga dehidrasi / kebutuhan

18

e) Berikan sejumlah kecil minuman jernih bila pemasukan per oral dimulai, dan lanjutkan dengan diet sesuai toleransi. Rasional : Menurunkan iritasi gaster / muntah untuk meminimalkan kehi langan cairan. f) Berikan perawatan mulut sering dengan perhatian khusus paada perlindungan bibir. Rasional : Dehidrasi mengakibatkan bibir dan mulut kering dan pecah-pecah. g) Kolaborasi dengan tim medis dalam penghisapan gaster / usus. Rasional : Selang NGT biasanya dimasukkan pada pra operasi dan dipertahankan pada fase segera pasca operasi untuk dekompresi usus, meningkatkan istirahat usus, mencegah muntah. h) Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian cairan lu dan elektrolit. Rasional : peritoneum bereaksi terhadap iritasi / infeksi dengan menghasilkan sejumlah besar cairan yang dapat menurunkan volume sirkulasi darah. Menga kibatkan

hipovolemi dehidrasi dan dapat terjadi ketidakseimbangan elektrolit.

3. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi jaringan usus oleh inflamasi atau adanya insisi bedah. Tujuan :

Pasien melaporkan nyeri hilang / terkontrol. Pasien tampak rileks mampu istrahat / tidur dengan tepat.

19

Intervensi : a) Kafi nyeri, cacat lokasi, karakteristik, beratnya (skala 0 - 10) selidiki dan laporkan nyeri dengan tepat. Rasional : berguna dalam pengawasan keefektifan obat, kemajuan penyembuhan. Perubahan pada karakteristik nyeri, menunjukkan terjadinya abses / peritonitis, memerlukan upaya evaluasi medik dan intervensi. b) Pertahankan istirahat dengan posisi semi fowler. Rasional: grafitasi melokalisasi eksudat inflamasi dalam abdomen bawah / penis. Menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi terlentang. c) Dorong ambulansi dini. Rasional : meningkatklan normalisasi fungsi organ, contoh merangsang peristalitik dan kelancaran flatus, menurunkan ketidaknyamanan abdomen. d) Berikan aktifitas hiburan. Rasional : fokus perhatian kembali, meningkatkan relaksasi, dapat meningkatkan kemampuan koping. e) Kolaborasi dengan tim medis dalam memperta hamkan puasa / penghisapan NGT pada awal. Rasional : menurunkan ketidak nyamanan pada peristalitik usus dan irigasi gaster / muntah.

4. Kurang pengetahuan b.d kurang informasi Tujuan :

20

Menyatakan pemahaman proses penyakit, pengobatan dan potensial komplikasi.

Intervensi

a) Kaji ulang pembatasan aktifitas pasca operasi, contoh mengangkat berat, olahraga, seks, latihan. Rasional :

memberikan informasi pada pasien untuk merencanakan kembali rutinitas, biasa tanoa menimbulkan masalah. b) Anjurkan menggunakan laksatif atau pelembek feces ringan bila perlu dan hindari enema. c) Dorong aktifitas sesuai toleransi dengan periode istirahat periodik. Rasional : mencegah kelemahan, meningkatkan kesembuhan dan perasaan sehat. d) Diskusikan perawatan insisi termasuk mengganti balutan pembatasan mandi dan kembali kedokter untuk mengangkat jahitan. Rasional : pemahaman meningkatkan kerjasama dengan program terapi meningkatkan penyembuhan dan proses perbaikan. 10

21

C. Pathway Keperawatan
Lumen apendiks oleh hyperplasia folikel limfoid, benda asing, striktura karena fibrosis akibat peradangan obstruksi lumen Produksi mucus menumpuk Apendik teregang Peningkatan tekanan intraluminal Tekanan apendik meningkat Menghambat aliran limfe pada vena Hipoksia jaringan apendik Ulserasi mukosa

apendiksitis

Nekrosis dinding apendik

Peritonitis Nyeri Kuadran kanan bawah Resiko tinggi terhadap kekurangan Apendiktomi volume cairan Kurang informasi mengenai penyakitnya tentang pendarahan Port de entry Perforasi

Mual, muntah anoreksia Luka post op/insisi bedah Diskontinuitas jaringan nyeri Resiko tinggi infeksi

Resiko pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan

Kurang pengetahuan

Gangguan rasa nyaman nyeri

22

BAB IV PENUTUP

A. KESIMPULAN Apendiks penyebab utama inflamasi akut pada kuadran kanan bawah kanan dari rongga abdomen adalah paling umum untuk abdomen darurat. Kirakira 7 % dari populasi akan mengalami apendiksitis pada waktu yang bersamaan dalam hidup mereka. Pria lebih sering dipengaruhi dari pada wanita dan remaja lebih sering pada orang dewasa. Meskipun ini dapat terjadi pada usia berapapun, apendiksitis paling sering terjadi antara usia 19-30 tahun. B. SARAN Semoga dengan penulisan makalah ini dapat menjadikan pegangan tehnik asuhan keperawatan atau pada kasus Apendisitis dengan pre operatif maupun post operatif. Agar dapat menambah pengetahuan tentang kemajuan teghnologi pada asuahan keperawatan secara umum dan khusus, terutama pada jenjang pendidikan keperawatan.

23

BAB V LAMPIRAN Pengertian Apendiks Apendiks atau umbai cacing adalah suatu organ yang terdapat pada sekum yang terletak pada proximal colon. Apendix dalam bahasa latin disebut sebagai Appendix vermiformis, ditemukan pada manusia, mamalia, burung, dan beberapa jenis reptil. Apendiks pada awalnya dianggap sebagai organ tambahan yang tidak mempunyai fungsi tetapi saat ini diketahui bahwa fungsi apendiks adalah sebagai organ imunologik dan secara aktif berperan dalam sekresi immunoglobin (Ig-A) walaupun dalam jumlah kecil. Apediks berisi makanan dan mengosongkan diri secara teratur ke dalam sekum. Karena pengosongannya yang tidak efektif, dan lumennya kecil, apendiks cenderung menjadi tersumbat dan terutama rentan terhadap infeksi. Anatomi Apendiks merupakan organ yang berbentuk tabung dengan panjang kirakira 10cm dan berpangkal pada sekum, tepatnya di daerah perbatasan dengan usus ileum kuadran kanan bawah. Apendiks memiliki lumen sempit dibagian proximal dan melebar pada bagian distal. Saat lahir, apendiks pendek dan melebar dipersambungan dengan sekum. Selama anak-anak, pertumbuhannya biasanya berotasi ke dalam retrocaecal tapi masih dalam intraperitoneal. Pada apendiks terdapat 3 tanea coli yang menyatu dipersambungan caecum dan bisa berguna dalam menandakan tempat untuk mendeteksi apendiks. Posisi apendiks terbanyak

24

adalah Retrocaecal (74%) lalu menyusul Pelvic (21%), Patileal(5%), Paracaecal (2%), subcaecal(1,5%) dan preleal (1%). Apendiks dialiri darah oleh arteri apendicular yang merupakan cabang dari bagian bawa arteri ileocolica. Arteri apendiks termasuk akhir arteri. Apendiks memiliki lebih dari 6 saluran limfe melintangi mesoapendiks menuju ke nodus limfe ileocaecal.

Anatomi lokasi apendiks :

Etiologi Apendisitis akut dapat disebabkan oleh beberapa sebab terjadinya proses radang bakteria yang dicetuskan oleh beberapa faktor pencetus diantaranya Hiperplasia

25

jaringan limfe, fekalith, tumor apendiks, dan cacing askaris yang menyumbat. Ulserasi mukosa merupakan tahap awal dari kebanyakan penyakit ini. namun ada beberapa faktor yang mempermudah terjadinya radang apendiks, diantaranya : 1. Faktor sumbatan

Faktor obstruksi merupakan faktor terpenting terjadinya apendisitis (90%) yang diikuti oleh infeksi. Sekitar 60% obstruksi disebabkan oleh hyperplasia jaringan lymphoid sub mukosa, 35% karena stasis fekal, 4% karena benda asing dan sebab lainnya 1% diantaranya sumbatan oleh parasit dan cacing. Obsrtruksi yang disebabkan oleh fekalith dapat ditemui pada bermacam-macam apendisitis akut diantaranya ; fekalith ditemukan 40% pada kasus apendisitis kasus sederhana, 65% pada kasus apendisitis akut ganggrenosa tanpa ruptur dan 90% pada kasus apendisitis akut dengan rupture 2. Faktor Bakteri

Infeksi enterogen merupakan faktor pathogenesis primer pada apendisitis akut. Adanya fekolith dalam lumen apendiks yang telah terinfeksi memperburuk dan memperberat infeksi, karena terjadi peningkatan stagnasi feses dalam lumen apendiks, pada kultur didapatkan terbanyak ditemukan adalah kombinasi antara Bacteriodes fragililis dan E.coli, lalu Splanchicus, lacto-bacilus, Pseudomonas, Bacteriodes splanicus. Sedangkan kuman yang menyebabkan perforasi adalah kuman anaerob sebesar 96% dan aerob<10%. 3. Kecenderungan familiar

26

Hal ini dihubungkan dengan tedapatnya malformasi yang herediter dari organ, apendiks yang terlalu panjang, vaskularisasi yang tidak baik dan letaknya yang mudah terjadi apendisitis. Hal ini juga dihubungkan dengan kebiasaan makanan dalam keluarga terutama dengan diet rendah serat dapat memudahkan terjadinya fekolith dan mengakibatkan obstruksi lumen. 4. Faktor ras dan diet

Faktor ras berhubungan dengan kebiasaan dan pola makanan sehari-hari. Bangsa kulit putih yang dulunya pola makan rendah serat mempunyai resiko lebih tinggi dari Negara yang pola makannya banyak serat. Namun saat sekarang, kejadiannya terbalik. Bangsa kulit putih telah merubah pola makan mereka ke pola makan tinggi serat. Justru Negara berkembang yang dulunya memiliki tinggi serat kini beralih ke pola makan rendah serat, memiliki resiko apendisitis yang lebih tinggi. 5. Faktor infeksi saluran pernapasan

Setelah mendapat penyakit saluran pernapasan akut terutama epidemi influenza dan pneumonitis, jumlah kasus apendisitis ini meningkat. Namun, hati-hati karena penyakit infeksi saluran pernapasan dapat menimbulkan seperti gejala permulaan apendisitis. Diagnosis Untuk lebih memudahkan diagnosis klinis apendisitis, para klinisi telah berhasil mengembangkan berbagai metode diagnosis. Salah satunya adalah dengan menggunakan indeks alvarado, berikut adalah indeks alvarado:

27

Dari tabel di atas dapat ditarik kesimpulan dengan menjumlah setiap skor, kemudian kemungkinan diagnosis apendisitis adalah berdasarkan pembagian interval nilai yang diperoleh tersebut. 1. Skor >8 : Berkemungkinan besar menderita apendisitis. Pasien ini dapat langsung diambil tindakan pembedahan tanpa pemeriksaan lebih lanjut. Kemudian perlu dilakukan konfirmasi dengan pemeriksaan patologi anatomi. 2. Skor 2-8 : Tingkat kemungkinan sedang untuk terjadinya apendisitis. Pasien ini sbaiknya dikerjakan pemeriksaan penunjang seperti foto polos abdomen ataupun CT scan. 3. Skor <2 : Kecil kemungkinan pasien ini menderita apendisitis. Pasien ini tidak perlu untuk di evaluasi lebih lanjut dan pasien dapat dipulangkan dengan catatan tetap dilakukan follow up pada pasien ini.

28

Penanganan Terapi bedah meliputi apendiktomi dan laparoskopik apendiktomi. Apendiktomi terbuka merupakan operasi klasik pengangkatan apendiks. Mencakup Mc Burney, Rocke-Davis atau Fowler-Weir insisi. Dilakukan diseksi melalui oblique eksterna, oblique interna dan transversal untuk membuat suatu muscle spreading atau muscle splitting, setelah masuk ke peritoneum apendiks dikeluarkan ke lapangan operasi, diklem, diligasi dan dipotong. Mukosa yang terkena dicauter untuk mengurangi perdarahan, beberapa orang melakukan inversi pada ujungnya, kemudian sekum dikembalikan ke dalam perut dan insisi ditutup.

Laparoskopik apendiktomi mulai diperkenalkan pada tahun 1987, dan telah sukses dilakukan pada 90-94% kasus apendisitis dan 90% kasus apendisitis perforasi. Saat ini laparoskopik apendiktomi lebih disukai. Prosedurnya, port placement terdiri dari pertama menempatkan port kamera di daerah umbilikus, kemudian melihat langsung ke dalam melalui 2 buah port yang berukuran 5 mm. Ada beberapa pilihan operasi, pertama apakah 1 port diletakkan di kuadran kanan

29

bawah dan yang lainnya di kuadran kiri bawah atau keduanya diletakkan di kuadran kiri bawah. Sekum dan apendiks kemudian dipindahkan dari lateral ke medial. Berbagai macam metode tersedia untuk pengangkatan apendiks, seperti dectrocauter, endoloops, stapling devices.

Mengenai pemilihan metode tergantung pada ahli bedahnya. Apendiks kemudian diangkat dari abdomen menggunakan sebuah endobag. Laparoskopik apendiktomi mempunyai beberapa keuntungan antara lain bekas operasinya lebih bagus dari segi kosmetik dan mengurangi infeksi pascabedah. Beberapa penelitian juga menemukan bahwa laparoskopik apendiktomi juga mempersingkat masa rawatan di rumah sakit. Kerugian laparoskopik apendiktomi antara lain mahal dari segi biaya dan juga pengerjaannya yang lebih lama, sekitar 20 menit lebih lama dari apendiktomi terbuka. Namun lama pengerjaanya dapat dipersingkat dengan peningkatan pengalaman. Kontraindikasi laparoskopik apendiktomi adalah pada pasien dengan perlengketan intra-abdomen yang signifikan.

30

DAFTAR PUSTAKA

1. http://www.wikipedia.id.com

2. Price, Sylvia. A. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit. Alih Bahasa: Huriawati, Hartanto. EGC. Jakarta. 2005; volume 2: 2; 58; 448

3. Suzzane, smeltzer. Keperawatan Medikal Bedah. Alih Bahasa : Monica Ester. EGC. Jakarta. 2002; Edisi 8; volume; 1879-1097

4. http://idella.wordpress.com

5. http://surya.co.id

6. http://digilab.litbang.depkes.co.id

7. Manjoer, Arief. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1. FKUI. Jakarta. 2000; Jilid 1; 307-309

8. http://PPNI klaten.com

9. Syaifudin. Anatomi Fisiologi Untuk Siswa Perawat. EGC. Jakarta. 1997. Edisi 2; 75-78

10. Doenges,

Marilyn.

Rencana

Asuhan

Keperawatan

Pedoman

untuk

perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih Bahasa: Made kasiara. EGC. Jakarta. 2000; Edisi 3; 509-512; 808-809

11. Carpenito, Lynda Juall. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Alih Bahasa: Monica Ester. EGC. Jakarta. 2000 Edisi 2; 49-50; 324

31

12. Peace, Evelyn c. Anatomi Fisiologi Untuk Para Medis. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.1997; 277

13. C. Long Barbara. Praktek Keperawatan Medikal Bedah. EGC. Jakarta. 2000; 186

14. Nanda. Diagnosa Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi. Editor Budi Santoso. Prima Medika. 2006: 91; 139; 195

15. Potter, Patricia A. Buku Ajar Fundamental. Alih Bahasa: Monica Ester. EGC. Jakarta. 2005; volume 2: 8-10