Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KASUS HERNIA INGUINALIS LATERALIS DEXTRA INKARSERATA

Oleh : Dennis Priscilla Setiono

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA 2012

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 DEFINISI Hernia berasal dari bahasa latin yang artinya rupture. Hernia didefinisikan sebagai tonjolan abnormal dari organ atau jaringan yang menembus defek pada dinding sekitarnya. Meskipun hernia dapat terjadi pada berbagai daerah di tubuh, namun yang paling sering yaitu didaerah dinding abdomen, terutama di regio inguinal. Hernia dinding abdomen hanya terjadi pada sisi dimana apponeurosis dan fascia tidak ditutupi oleh otot. Daerah ini meliputi inguinal, femoral, dan umbilical, linea alba, bagian bawah dari garis semilunar, dan daerah bekas insisi. Tidak ada hubungan yang pasti antara area hernia dengan ukuran dari kantong hernia. 1.2 HERNIA INGUINALIS Hernia inguinal dibagi menjadi hernia direk dan indirek. Kantong dari hernia inguinalis indirek berjalan dari anulus inguinalis internus hingga anulus inguinalis eksternus dan pada akhirnya dapat masuk kedalam skrotum. Sedangkan kantong hernia inguinal direk menonjol keluar dan berjalan di medial dari kanalis inguinalis dan inferior dari vasa epigastrika. Meskipun terkadang sulit untuk membedakan antara hernia inguinalis medialis dan lateralis, namun perbedaan tersebut tidak begitu penting karena tindakan operatif dari kedua jenis hernia ini sama. Hernia pantaloon adalah hernia inguinalis lateralis dan hernia inguinalis medialis yang terjadi bersamaan. 1.3 INSIDEN Hernia adalah masalah yang umum, namun insidensi nya belum diketahui dengan pasti. Diperkirakan, 5% dari populasi akan menderita hernia dinding abdomen, namun prevalensi nya mungkin lebih tinggi lagi. Sekitar 75% hernia terjadi di regio inguinalis. Dua per tiga nya merupakan hernia inguinalis lateralis. Pria 25 kali lebih sering terkena hernia daripada wanita. Dimana HIL merupakan yang paling sering. HIM jarang terjadi pada wanita. Hernia femoralis
2

lebih sering terjadi pada wanita dan jarang terjadi pada pria. 10% wanita dan 50% pria yang menderita hernia femoralis juga mempunyai atau akan berkembang menjadi hernia inguinalis. HIL sering terjadi pada sisi kanan. Hal ini dihubungkan dengan terlambatnya penutupan processus vaginals peritoneum setelah penurunan secara normal testis kanan pada waktu perkembangan janin. Prevalensi hernia meningkat sesuai umur, terutama hernia inguinalis. Inkaserata dan strangulasi merupakan komplikasi paling serius dari hernia.

Gambar 1. Types of abdominal wall hernias. (From Dorland's Illustrated Medical Dictionary, 26th ed, Philadelphia, WB Saunders, 1985, plate XXI.) 1.4 ANATOMI Para ahli bedah harus mengetahui dengan baik anatomi dari hernia agar dapat menentukan tehnik operasi yang paling tepat. Sebagai tambahan, dalam hubungan dengan struktur otot-otot, aponeurosis, fascia, nervus, pembuluh darah,
3

dan funikulus spermatikus di regio inguinal harus ditentukan lebih dulu agar mencegah rekuren dan menghindari komplikasi. Struktur anatomi tersebut harus dipahami dari sisi anterior dan posterior karena kedua tehnik tersebut berguna pada situasi yang berbeda.

Gambar 2. Nyhus's classic parasagittal diagram of the right midinguinal region illustrating the muscular aponeurotic layers separated into anterior and posterior walls. The posterior laminae of the transversalis fascia have been added, with the inferior epigastric vessels coursing through the abdominal wall medially to the inner inguinal canal. (From Read RC: The transversalis and preperitoneal fasciae: A re-evaluation. In Nyhus LM, Condon RE [eds]: Hernia, 4th ed. Philadelphia, JB Lippincott, 1995, pp 57-63.) www.lww.com

Gambar 3. Anatomy of the important preperitoneal structures in the right inguinal space. (From Talamini MA, Are C: Laparoscopic hernia repair. In Zuidema GD, Yeo CJ [eds]: Shackelford's Surgery of the Alimentary Tract, 5th ed. Philadelphia, WB Saunders, 2002, vol 5, p 140.)

Dari anterior ke posterior, anatomi dari inguinal mencakup kulit, jaringan subkutan, superficial circumflex iliac, arteri epigastrika superior dan arteri pudenda eksterna dan vena-vena yang berhubungan. Muskulus Obliqus Eksternus dan Apponeurosis Serat muskulus obliqus eksternus berada inferior dan medial dari jaringan subkutaneus. Apponeurosis dari MOE terdiri dari lapisan dalam dan lapisan luar. Apponeurosis ini bergabung dengan apponeurosis MOI dan muskulus tranversus. Apponeurisis MOE berfungsi sebagai batas dari kanalis inguinalis. Ligamentum inguinal (Pouparts Ligamen) merupakan batas inferior dari aponeurosis MOE dan memanjang dari spina aliaca anterior superior sampai tuberkulum pubikum. Ligamentum lacunare dibentuk oleh insersio ligamentum inguinal di pubis. Funikulus spermatikus keluar dari kanalis inguinalis menuju ke annulus eksternus. Muskulus obliqus internus. Tepi superior muskulus obliqus internus berfungsi sebagai tepi superior kanalis inguinalis. Bagian medial dari apponeurosis MOI bergabung dengan apponeurosis muskulus transversus abdominalis membentuk conjoin tendon. Struktur ini benar-benar tampak pada 5-10% pasien dan paling jelas pada insersio muskulus tersebut pada tuberkulum pubikum. Serabut muskulus kremaster berasal dari MOI dan meliputi funikulus spermatikus. Serabut muskulus ini penting dalam reflex cremasteric namun sedikit hubungan nya untuk repair hernia. Muskulus transversus abdominis Lapisan muskulus transversus abdominal menghadap arah transversal sepanjang area dan di regio inguinal sedikit menjadi obliq. Kekuatan dan kontinuitas otot ini dan apponeurosis nya penting untuk mencegah hernia inguinalis. Fascia transversalis merupakan jaringan ikat yang terdapat pada dasar muskulus dinding abdomen. Fascia ini kadang menjadi endoabdominal fascia, komponen bagian dasar iguinal. Yang cenderung tebal pada area ini namun relatif tipis pada area lain. Traktus iliopubic merupakan kelanjutan dari apponeurisis muskulus transverses abdominis dan fascia pada batas atas dari femoral sheath. Traktus iliopubic juga membentuk crus inferior dari annulus inguinalis. Crus

superior dari cincin hernia dibentuk oleh aponeurotic arch musculus transverses abdominis. Traktus iliopobic merupakan struktur yang sangat penting dalam repair hernia. Canalis inguinalis Canalis inguinalis panjangnya lebih kurang 4cm dan terletak 2-4cm superior dari ligamentum inguinalis. Canalis inguinalis memanjang diantara annulus internus dan annulus eksternus. Canalis inguinalis berisi funikulus spermatikus. Funikulus spermatikus dibentuk oleh serabut muskulus kremaster, arteri testikularis dan vena, ramus genital nervus genitofemoralis, vas deferens, pembuluh darah kremaster, limphatics, dan processus vaginalis. Pembuluh darah cremasteric merupakan cabang dari vasa epigastrica yang menembus dinding posterior canalis inguinalis. Pembuluh darah ini mengalirkan darah kepada musculus cremaster. Kanalis inguinalis dibatasi oleh MOI dan musculo aponeurosis transversus abdominis di superior. Batas inferios dibentuk oleh ligamentum inguinal dan ligamentum lacunare. Dinding posterior dibentuk oleh fascia transversalis dan aponeurosis muskulus transversus abdominis.

Gambar 4. Canalis inguinalis


7

1.5 ETIOLOGI Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomaly congenital atau karena sebab yang didapat. Hernia dapat dijumpai pada setiap usia. Lebih banyak pada lelaki dibandingkan wanita. Berbagai faktor penyebab berperan pada pembentukan pintu masuk hernia pada annulus internus yang cukup lebar sehingga dapat dilalui oleh kantong isi hernia. Selain itu diperlukan pula faktor yang dapat mendorong isi hernia melewati annulus internus yang sudah terbuka lebar itu. Pada orang sehat, ada tiga mekanisme yang dapat mencegah terjadinya hernia inguinalis, yaitu kanalis inguinalis yang berjalan miring, adanya struktur MOI yang menutup annulus internus ketika berkontraksi, dan adanya fascia transversa yang kuat yang menutupi trigonum Hasselbach yang umumnya hampir tidak berotot. Gangguan pada mekanisme ini dapat menyebabkan hernia. Factor yang dipandang berperan kausal adalah adanya prosessus vaginalis yang terbuka, peninggian tekanan intraabdominal yang meningkat dan kelemahan otot dinding perut karena usia. Proses turunnya testis mengikuti prosessus vaginalis. Pada neonatus kurang lebih 90% prosessus vaginalis tetap terbuka, sedangkan pada bayi umur satu tahun sekitar 30% prosessus vaginalis belum tertutup. Akan tetapi, kejadian hernia pada usia ini hanya beberapa persen. Tidak sampai 10% anak dengan prosessus vaginalis paten mengalami hernia. Dapat disimpulkan bahwa adanya prosessus vaginalis yang paten bukan merupakan penyebab tunggal terjadinya hernia, tetapi diperlukan factor lain, seperti annulus inguinalis yang cukup besar. Tekanan intraabdominal yang tinggi secara kronik seperti batuk kronik, hipertrofi prostat, konstipasi, dan asites, sering disertai hernia inguinalis. Dalam keadaan relaksasi otot dinding perut, bagian yang membatasi annulus internus turut kendur. Pada keadaan itu, tekanan intraabdomen tidak tinggi dan kanalis inguinalis berjalan lebih vertical. Sebaliknya, bila otot dinding perut berkontraksi, kanalis inguinalis berjalan lebih transversal, dan annulus inguinalis tertutup sehingga dapat mencegah masuknya usus kedalam kanalis inguinalis. Jika kantong hernia inguinalis lateralis mencapai skrotum, disebut hernia skrotalis. Hernia inguinalis lateralis pada bayi dan anak dapat disebabkan oleh

kelainan bawaan berupa tidak menutupnya posessus vaginalis peritoneum sebagai akibat proses penurunan testis ke skrotum. 1.6 GAMBARAN KLINIS Pada umumnya keluhan pada orang dewasa berupa benjolan dilipat paha yang timbul pada waktu mengedan, batuk, atau mengangkat beban berat, dan menghilang pada waktu baring. Pada bayi dan anak-anak adanya benjolan yang hilang timbul di lipat paha biasanya diketahui oleh orangtua. Jika hernia mengganggu dan anak sering gelisah, banyak menangis, dan kadang-kadang perut kembung, harus dipikirkan kemungkinan hernia strangulata. Pada inspeksi diperhatikan asimetri pada kedua lipat paha, skrotum atau labia pada posisi berdiri dan berbaring. Pasien diminta mengedan atau batuk sehingga keadaan asimetri atau adanya benjolan dapat terlihat. Palpasi dilakukan dalam keadaan adanya benjolan hernia, diraba konsistensinya, dan dicoba mendorong apakah benjolan dapat direposisi. Setelah benjolan tereposisi, kadang cincin hernia dapat diraba berupa annulus inguinalis yang melebar. 1.7 DIAGNOSIS Gejala dan tanda hernia banyak ditentukan oleh isi hernia. Pada hernia reponibel keluhan satu-satunya adalah adanya benjolan dilipat paha yang keluar masuk.yang muncul pada waktu berdiri, batuk ,bersin, atau mengedan, dan menghilang setelah berbaring. Keluhan nyeri jarang dijumpai, kalau ada biasanya dirasakan di daerah epigastrium atau paraumbilikal karena regangan pada mesenterium sewaktu satu segmen usus halus masuk kedalam kantong hernia. Nyeri yang disertai mual, atau muntah baru timbul kalau terjadi inkarserata karena ileus atau stranggulasi karena nekrosis. Tanda klinis pada pemeriksaan klinis bergantung pada isi hernia. Pada inspeksi saat pasien mengedan, dapat dilihat hernia inguinalis lateralis muncul sebagai penonjolan di regio inguinalis yang berjalan dari lateral atas ke medial bawah. Kantong hernia yang kosong kadang dapat diraba pada funikulus spermatikus sebagai gesekan dari dua lapis kantong yang memberikan sensasi

gesekan dua permukaan sutera. Tanda ini disebut tanda sarung tangan sutera, tetapi tanda ini umumnya sukar ditentukan. Kalau kantong hernia berisi organ, dapat teraba usus, omemtum, atau ovarium. Dengan jari telunjuk atau jari kelingking, dapat dicoba mendorong isi hernia. Dalam hal hernia dapat direposisi, pada waktu jari masih berada dalam annulus eksternus, pasien diminta mengedan. Kalau ujung jari menyentuh hernia, berarti hernia inguinalis lateralis, dan kalau bagian sisi jari yang menyentuhnya, berarti hernia inguinalis medialis. Tanda ini dikenal sebagai finger test. Dapat juga diperiksa adanya benjolan diatas ligamentum inguinalis, bila benjolan berada pada jari ke 2, maka hernia inguinalis laterlais. Bila benjolan dijari ke 3, maka hernia inguinalis medialis.

Gambar 5. Finger test 1.8 PENATALAKSANAAN Non operatif Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan mempertahankan isi hernia yang telah direposisi. Reposisi tidak dilakukan pada hernia inguinalis stranggulata. Reposisi dilakukan secara bimanual. Tangan kiri memegang isi hernia dan tangan kanan mendorongnya kearah cincin hernia dengan sedikit tekanan perlahan yang tetap sampai terjadi reposisi. Reposisi

10

spontan sering terjadi pada anak-anak, yang disebabkan karena cincin hernia pada anak-anak lebih elastic. Pada hernia inkarserata, dilakukan usaha reposisi terlebih dahulu sambil memperbaiki keadaan umum penderita. Bila usaha reposisi ini berhasil, penderita disiapkan untuk operasi herniotomi esok harinya. Namun bila usaha reposisi ini gagal, dalam waktu 6jam harus dilakukan operasi sgera. Pemakaian penyangga hanya ditujukan untuk menahan hernia yang telah direposisi dan tidak pernah menyembuhkan sehingga harus dipakai seumur hidup. Namun cara yang sudah berumur lebih dari 4000 tahun ini masih saja dipakai sampai sekarang. Sebaiknya cara ini tidak dianjurkan karena menimbulkan komplikasi antara lain merusak kulit dan tonus otot dinding perut di daerah yang tertekan sehingga stranggulasi tetap mengancam. Pada anak-anak cara ini dapat menimbulka atrofi testis karena tekanan pada funikulus spermatikus yang mengandung pembuluh darah testis. Terapi Operatif Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan rasional hernia inguinalis lateralis. Prinsip dasar operasi hernia terdiri atas herniotomi dan hernioplasty. Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya, kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan. Pada hernioplasty dilakukan tindakan memperkecil annulus inguinalis internus dan memperkuat dinding posterior kanalis inguinalis. Hernioplasti penting dalam mencegah hernia yang residif. Beberapa metode hernioplasti yaitu metode Bassini, Mc Vay. Metode terbaru untuk hernioplasti yaitu dengan menggunakan prostese seperti prolen,sehingga hernioplasti bebas regangan. Pada hernia kongenital pada bayi dan anak-anak, yang fakor penyebabnya adalah prosessus vaginalis yang tidak menutup hanya dilakukan herniotomi karena annulus inguinalis internus cukup elastis dan dinding belakang kanalis cukup kuat. Terapi herniotomi bilateral pada bayi dan anak dilakukan dalam satu tahap. Hernia bilateral pada dewasa, juga dianjurkan dikerjakan dalam satu tahap. Tidak satupun tehnik dapat menjamin bahwa tidak akan terjadi residif. Yang penting diperhatikan adalah mencegah terjadinya tegangan pada jahitan dan

11

kerusakan pada jaringan. Umumnya dibutuhkan hernioplasti dengan bahan prostese. Terjadinya residif lebih banyak dipengaruhi oleh tehnik operasi dibandingkan faktor konstitusi. Pada hernia inguinalis lateralis penyebab residif yang paling sering adalah penutupan annulus inguinalis internus yang tidak memadai, diantaranya karena diseksi kantong yang tidak sempurna, adanya lipoma preperitoneal, atau kantong hernia tidak ditemukan.

Gambar 6. Metode Bassini

Gambar 7. Metode Mc Vay

12

Gambar 8. Hernioplasty dengan prolene

1.9 KOMPLIKASI Komplikasi hernia bergantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia. isi hernia dapat tertahan pada kantong hernia pada hernia ireponibel, ini dapat terjadi jika isi hernia terlalu besar misalnya omentum. Disini tidak didapatkan keluhan klinis kecuali adanya benjolan. Dapat pula terjadi hernia inkarserata dan hernia stranggulata jika isi hernia terjepit dan terdapat gangguan vaskularisasi. Segi yang berhubungan pada pemeriksaan fisik mencakup tanda vital, keadaan cairan, tanda iritasi dan distensi peritoneum serta inspeksi tempat hernia inkaserata. Hernia inkaserata sendiri dapat sangat nyeri bila di tekan sehingga menghambat pemeriksaan. Jika pasien tidak stabil secara hemodinamik maka keadaan ini lebih diutamakan. Dalam kasus demikian, dilakukan pemantauann hemodinamik yang

13

tepat, kateter dipasang, cairan dan elektrolit adekuat diberikan, dan dukungan farmakologi bagi tekanan darah diberikan, jika diperlukan. Pendekatan bedah pada hernia inkaserata dalam keadaan gawat darurat, serupa dengan keadaan terencana. Setelah kantong hernia dikenali dan dibebaskan, maka kantong dibuka dan isinya diperiksa. Jika ada usus non viable maka reseksi dilakukan. Usus halus dan omentum merupakan jaringan yang paling sering mengalami inkaserata. Jika ada keraguan tentang adanya gangren, maka bantalan hangat dan lembut diletakkan diatas usus dan dibiarkan selama sekitar 20 menit. Perhatikan warna usus maupun adanya pulsasi arteri dalam arteria mesenterika yang kecil. Jika isi inkaserata viabel, maka bisa direposisi menggunakan leher kantong hernia, yang memungkinkan isi masuk kembali ke dalam kavitas peritonealis. Sekali terjadi hernia inkaserata, maka mungkin terjadi strangulasi karena pembengkakan progresif isi inkaserata bisa timbul sebagai hasil obstruksi vena dan pembuluh limfe di leher kantong. Jepitan cincin hernia akan menyebabkan gangguan perfusi jaringan isi hernia. Pada permulaan terjadi bendungan vena sehingga terjadi odem jaringan dan transudasi kedalam kantong hernia. Timbulnya odem menyebabkan jepitan makin bertambah sehingga peredaran darah ke jaringan terganggu, isi hernia menjadi nekrosis dan kantong hernia akan berisi transudat. Dan dapat terjadi perforasi usus yang akan menimbulkan abses local, fistel atau peritonitis jika terjadi hubungan dengan ronga abdomen. Bila terjadi stranggulasi karena gengguan vaskularisasi, terjadi keadaan toksik akibat gangrene dan gambaran klinis menjadi kompleks dan sangat serius. Penderita mengeluh nyeri hebat pada hernia, dan nyeri akan menetap karena rangsangan peritoneal. Pada pemeriksaan lokal didapatkan benjolan yang tidak dapat dimasukkan kembal idisertai nyeri tekan dan dapat dijumpai tenda peritonitis. Hernia stranggulata merupakan kasus emergency, dan perlu penanganan segera.

14

DAFTAR PUSTAKA
1. 2. 3.

Sabiston. 1992.Buku Ajar Bedah Jilid 1. Jakarta : EGC. Sabiston. 1992.Buku Ajar Bedah Jilid 2. Jakarta : EGC. Jong, Wim de. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta : EGC.

15

BAB 2. LAPORAN KASUS


A. IDENTITAS Nama Usia Jenis kelamin Alamat Pekerjaan Agama Suku bangsa No. rekam medis Tanggal MRS Tanggal KRS Tanggal pemeriksaan
B. ANAMNESIS Keluhan Utama : adanya benjolan di skrotum kanan Riwayat penyakit sekarang : pasien mengeluhkan timbulnya

: : : : : : : : : : :

Tn. S 45 tahun Laki laki Bercak Lorme Bondowoso Wiraswasta Islam Jawa 414722 12 Desember 2012 14 Desember 2012 13 Desember 2012

benjolan sejak 2 tahun yang lalu di skrotum kanannya. Awalnya benjolan kecil seperti kacang kemudian lama lama bertambah besar. benjolan timbul saat pasien berjalan jauh, mengangkat benda berat, mengejan dan batuk. Awalnya benjolan dapat keluar masuk sendiri tanpa bantuang tangan pasien. Kemudian mulai pagi sebelum masuk Rumah Sakit, benjolan keluar dan tidak dapat masuk lagi. Pasien juga mengeluhkan nyeri. BAB dan BAK normal. Tidak mual dan tidak muntah.

Riwayat penyakit dahulu : pasien tidak pernah sakit seperti ini sebelumnya

16

Riwayat

penyakit keluarga : Ibu penderita mengaku tidak ada

keluarga yang sakit seperti ini.


Riwayat pengobatan : -

C. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum Kesadaran Vital sign

: sedang : komposmentis : TD : 120/80mmHg Rr = 22x/m N : 86x/menit t = 36,5 C

Status generalis:

Kepala:

Mata

: konjungtiva tidak anemis

sklera tidak icterik


Hidung Telinga Mulut mukosa tidak

: tidak ada sekret / bau /perdarahan : tidak ada sekret / bau /perdarahan : bibir tidak sianosis, tidak ada pigmentasi, pucat

Leher:

KGB Tiroid

: tidak ada pembesaran : tidak ada pembesaran

Thoraks: Cor:

I: ictus cordis tidak tampak P: ictus codis tidak teraba P: batas jantung ICS V PSL (D) ICS IV MCL (S) A: S1S2 tunggal

Pulmo:

17

I: Simetris, tidak ada retraksi P: Fremitus raba normal P: Sonor +/+ A: Vesikuler, Ronkhi -/- Wheezing -/-

Abdomen:

I : flat A: bising usus (+) normal P : soepel, tidak ada nyeri tekan P : tympani

Ektremitas: Akral hangat pada ke empat ekstremitas dan tidak ada odem.
St. lokalis

: skrotum dextra

Benjolan (+) lonjong Ukuran : 8 x 6 cm Konsistensi : padat kenyal Mobile Warna sesuai warna kulit Nyeri tekan (+) Transiluminasi -\

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan Laboratorium tanggal 13 desember 2012 Hematologi : Hemoglobin Lekosit Hematocrit Faal Hati: SGOT SGPT Faal Ginjal :

11,8 6,7 40,2 19 22

18

Kreatinin Serum Urea BUN Kadar Gula darah E. DIAGNOSIS

0,9 34 16 99

Hernia inguinalis lateralis dextra inkaserata F. PLANNING Pro op Herniotomy LAPORAN OPERASI Operasi Waktu DPO DDO : Herniotomy : 12 Desember 2012 Pk 17.30 : HIL D inkaserata : HIL D inkaserata

Durante Op. : Informed concern, IV line, ATS profilaksis


Pasien posisi supine spinal anastesi Dessinfeksi tutup duk steril Insisi supra tumoral diperdalam LDL sampai di dapatkan kantong hernia Di dapatkan : isi kantong cairan serus kemerahan, jeratan +

Isi intestine kebiruan 10cm Dilakukan : release cincin rewarming Evaluasi : usus viabel, dikembalikan ke cavum abdomen Dilakukan herniotomy teknik lichtenstein
Tutup lapangan operasi LDL

Operasi selesai Instruksi Post Operasi

19

Infus RD5 1500 cc/24 jam

Inj. Ceftriaxone 2 x 1 gr Inj. Ketorolac 3 x 1 amp


Inj. Ranitidin 3 x 1 amp

13 Desember 2012

S O TTV

: nyeri+ , mual muntah -, BAB -, BAK + : KU : sedang : TD : 110/70 N : 82x/mnt RR : 22 x/menit T.ax: 36,5

K/L : a/i/c/d :-/-/-/Tho : cor : S1S2 tunggal Pulmo : ves +/+, Rh -/-, wh -/Abd : cembung, BU (+) N, soepel, tympani Eks : AH + + + + Status lokalis : Terpasang verban d bagian ingunalis kanan
A

- - -

: HIL D inkaserata post herniotomi H1 P : Infus RD5 1500 cc/24 jam Inj. Ceftriaxone 2 x 1 gr Inj. Ketorolac 3 x 1 amp Inj. Ranitidin 3 x 1 amp Diet Bubur Halus

20

14 Desember 2012
S O

: nyeri -, BAB kuning lembek, BAK + : KU : baik Kes : komposmentis Rr : 22 x/menit T.ax : 36,5 : TD : 110/70mmHg N : 84x/menit

TTV

K/L : a/i/c/d :-/-/-/Tho : cor : S1S2 tunggal Pulmo : ves +/+, Rh -/-, wh -/Abd : cembung, BU (+) N, soepel, tympani Eks : AH + + + +
A

- - -

Status lokalis : Verban + di ingunalis D : HIL D inkaserata post herniotomy H2 P : Infus RD5 1500 cc/24 jam Inj. Ceftriaxone 2 x 1 gr Inj. Ketorolac 3 x 1 amp Inj. Ranitidin 3 x 1 amp Diet Bubur Halus

21