P. 1
Sejarah Deptan

Sejarah Deptan

|Views: 53|Likes:
Dipublikasikan oleh zuhaena16320

More info:

Published by: zuhaena16320 on Jan 31, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/02/2013

pdf

text

original

SEJARAH DEPARTEMEN PERTANIAN BAG.

II

1

BAB I. KEMENTERIAN KEMAKMURAN

Sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia urusan pertanian dalam arti luas pada zaman penjajahan Belanda dilakukan oleh sebuah departemen, yaitu Departemen van landbouw (1905), Departement Van Landbouw, Nijverheid en Handel (1911), dan Departemen Van Ekonomische Zaken (1934) yang mencangkup bidang kegitan pertanian, perdagangan, dan perindustrian. Departemen ini pada masa pendudukan Jepang di Indonesia dinamakan Gunseikanbu Sangyobu. Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, pada tanggal 2 September 1945 dibentuk Kabinet Presidentil, adapun urusan pertanian dalam arti luas dilakukan oleh Kementerian Kemakmuran. Dalam melaksanakan tugas pekerjaan tekmo, Menteri Kemakmuran dibantu tiga koordinator, yaitu : Koordinator Perdagangan, Koordinator Pertanian, dan Koordinator Perindustrian. 1. Koordinator Perdagangan, Ir. Teko Sumodiwirjo diserahi urusan Perdagangan, Koperasi, dan urusan Pengumpulan, Penyimpanan, dan Pembagian (P.P.P.) 2. Koordinator Pertanian, Ir. Kaslan A. Tohir diserahi urusan Pertanian Rakyat dan Pendidikan, Perikanan, Kehewanan, Perkebunan, Kehutanan, dan Penyelidikan Pertanian. 3. Koordinator Perindustrian, Ir. Amondo diserahi urusan Perindustrian dan Kerajinan, Tambang dan Giologi, serta Tera. Sementara itu Sekretaris Jenderal Kementerian Kemakmuran diserahi tugas melaksanakan pengawasan pada Badan-Bandan di Lembaga-lembaga seperti : Bank Rakyat Indonesia (B.R.I), Badan Tekstil Negara (BTN), Perusahaan Perkebunan Negara (PPN), Badan Pengawas Perusahaan Gula Negara (BPPGN), Badan Industri Negara (B.I.N), dan Badan Exploitasi Tambang Negara (B.E.T.N). dalam Struktur organisasi Kementerian Kemakmuran, pimpinan politik dipegang oleh Menteri Kemakmuran, adapun administrasi politik Kementerian berada pada Sekretaris Jenderal, Direktur Jenderal dan para koordinator. Sementara itu pada tingkat jawatan, Bank, dan Badan Hukum lainnya merupakan satuan organisasi pelaksana berkedudukan sebagai administrasi pelaksana.

2

Selagi bangsa dan Pemerintah Republik Indonesia sedang berbenah menyelenggarakan pemerintahan dan mengurus tawanan Jepang, pada tanggal 16 September 1945 tentara sekutu dibawah pimpinan Inggris telah mendarat dipulau Jawa. Pada tanggal 7 Oktober 1945, menyusul kemudian pendaratan tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration), yaitu tentara Belanda yang ingin menguasai dan menjajah kembali Indonesia setelah Perang Dunia-II selesai. Pada saat itu, baik tentara sekutu maupun NICA menghadapi kenyataan bahwa bangsa Indonesia telah merdeka semenjak Proklamasi 17 Agustus 1945. Dilain pihak, berdasarkan persetujuan Postdam pada bulan juli 1945 setelah jerman menyatakan, menyerah kalah kepada tentara sekutu, pemerintah Kerajaan Belanda menganggap masih berdaulat dan mempunyai kewenangan atas wilayah jajahannya di Indonesia. Tentara Belanda (NICA) dan dibantu satuan Gurkha dari tentara sekutu dibawah pimpinan Inggris menyerbu Indonesia. Pertempuran hebat terjadi didaerah-daerah, atara lain Jakarta (Serptember-Desember 1945), Surabaya (Oktober-Nopember 1945), Semarangt (Oktober 1945), dan bulan Oktober 1945 di Bandung. Pada tanggal 4 Januari 1946, Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia hidjrah ke Yogyakarta karena daerah Jakarta dan sekitarnya sudah tidak aman, maka atas kebijakan dan keputusan para pemimpin kemakmuran, kantor besar Kementerian Kemakmuran dipindahkan ke magelang-Jawa Tengah. Sejak awal Januari 1946, di Magelang dibentuk Cabang Kantor Besar Kementerian Kemakmuran dibawah pimpinan Ir. Iso Reksohadiprodjo. Sampai dengan akhir tahun 1946, organisasi Kementeria Kemakmuran ada di beberapa lokasi, yaitu : 1. Kementerian Kemakmuran dengan Bagian Tata Usaha berkedudukan di Jakarta. 2. Para koordinator dengan Sub-Bagian Tata Usaha merupakan Cabang Kantor Pusat Kementerian Kemakmuran berkeddudukan di Magelang. 3. Adapun sebagian bsar Jawatan dan badan Penyelenggra lainnya tersebar di Magelang, Solo, dan Yogyakarta. Mulai awal Januari 1947, secara bertahap semua urusan dari Kantor Besar Kementerian Kemakmuran di Jakarta dipindahkan ke Kantor Cabang di Magelang. Pada akhirnya, kantor cabang di Magelang merupakan Kantor Pusat Kementerian Kemakmuran. Karena keadaan di Jakarta masih belum aman, maka tugas Kantor Pusat Kementerian Kemakmuran di Magelang dipimpin oleh para Koordinator yang diketuai oleh Ir. Gunung Iskandar.

3

Dalam rangka upaya mempertahankan koloninya di Indonesia, Pemerintah Kerejaan Belanda Menunjuk Dr.H.J. Van Mook sebagai Letnan Gubernur Jenderal untuk menyusun kembali Pemerintahan Hindia Belanda, sebelum ditumjuk sebagai Letnan gubernur Jenderal Dr.H.J. Van mook adalah mantan Direktur Departemen Perekonomian (1937-1942) dari pemerintah Hindia Belanda sebelum menyerah kalah kepada tentara Jepang di Indonesia. Pemerintah Belanda di Indonesia dibawah pimpinan Dr.H.J. Van Mook menjalankan strategi politik yang kemudian dengan politik adu domba atau devide etempera. Dengan politik devide etempera, Belanda untuk sementara berhasil menjalankan, idee nega Federal melalui kekuatan militer dan diplomasi politik. Berdasarkan persetujuan Linggarjati-Cirebon (25 Maret 1947) wilayah Republik Indonesia tinggal Jawa, Madura, dan Sumatera. Karena situasi politik dan keamanan akibat dari timbulnya Perang Kolonial Pertama (aksi Polisional-I, 27 Juli 1947), kemudian kementeria Kemakmuran mengungsi kedaerah yang paling aman yaitu di daerah Borobudur. Sumua Jawatan dan Bagian-bagian beserta pegawai dan keluarganya dipindahkan dari Magelang ke Borobudur, hanya beberapa bagian yang masih dipandang perlu untukm tetap berada di Magelang seperti Jawatan Kehewanan dan Sekolah Kehewanan Menengah Atas (SKMA) yang baru saja didirikan pada awal Juli 1947. Perkembangan Perang Kolonial Pertama makin meluas sehingga wilayah Borobudur terancam keamanannya. Berdasarkan pertimbangan para pimpinan Kementerian Kemakmuran telah diputuskan untuk memindahka lagi kantorkantor dan para pegawainya dari Borobudur ke Ibu Kota Republik Indonesia di Yogyakarta. Sejak tanggal 1 Januari 1948, Mr. A.K. Pringgondigdo (Direktur Jenderal R. Surasno (Sekretaris Jenderal dibutuhkan tenaganya di Jakarta sehinga pemimpin sehari-hari Kementerian Kemakmuran adalah Ir. Gunung Iskanardan sejak 1 mei 1948 Ir. Gunung Iskandar ditetapkan sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Kemakmuran. Semasa Menteri Kemaknuran dijabat Mr. Sjarifuddin Prawiranegara (29 januari 1948-4 Agustus 1949), sebagai pelaksana harian Kementerian Kemakmuran Ir. Gunung Iskandar dengan mendapat bantuan moral dan dukungan materiel guna mengaktifkan kembali alat-alat pemerintahan secara tetap dari Sri Sultan Hamengkubuono IX telah disusun formasi-inti yang diharapkan dapat mencurahkan tenaganya dalam organisasi Kementerian Kemakmuran. Pertemuan penyusunan organisasi dengan formasi inti tersebut dilakukan di Pendepokan Kepatihan-Yogyakarta. Dengan Surat Keputusan Menteri Kemakmuran No: 3931/Kab tanggal 23 Juni 1948 di Yogyakarta adalah.

4

1. 2. 3. 4. 5.

Ir. Teko Sumodiharjo, diserahi urusan perdagangan, koperasi serta urusan pengumpulan, penyimpanan, dan pembagian (distribusi). Ir. Anando, diserahi urusan perindustrian dan kerajinan tambang dan geologi, serta urusan tera. Ir. Kaslan A. Tohir, diserahi urusan pertanian rakyat dan pendidikan, perikanan, kehewanan, dan penyelidikan pertanian. Ir. Saksono Prawiroharjo, diserahi urusan Kehutanan dan Perkebunan. Ir. Harjono Danusastro (mantan Direktur SPMA Malang 1944-1948) diserahi urusan perguruan tinggi pertanian dan publikasi.

Pemusatan Kementerian Kemakmuran di Yogyakarta ini lambat laun dapat dilakukan secara berangsur-angsur sehingga dapat dibangun gedung untuk Kantor Pusat Kementerian Kemakmuran, Jawatan-jawatan beserta perumahan pegawai yang kemudian dikenal dengan Komplek Kemakmuran Balapan-Yogyakarta. Dengan adanya penyerbuan dan pendudukan pasukan Belanda di Yogyakarta tanggal 19 Desember 1948 pada waktu perang kolonial kedua (Aksi Polisionil-II), kantor pusat Kem,enterian kemakmuran di Balapan juga dikuasai tentara Belanda. Semua kegiatan terhenti, sebagian pegawai ikut dan memenuhi ajakan Belanda, sebagian lagi tetap tingal di Yogyakarta atau ikut bergerilya melawan Belanda. Kelompok pegawai yang ikut Belanda, lebih dikenal sebagai “pegawai Kooperatif” kemudian dipekerjakan sebagai pegawai pada Departemen Perekonomian (Departement Van Ekonomische Zaken) di Jakarta dibawah pemerintah Negara Federal yang di bentuk Belanda. Sementara itu para pegawai yang masih taat pada pemerintahan Republik Indonesia digolongkan pada nonkooperatif. Setelah terjadi persetujuan Roem-Royen pada tanggal 7 Mei 1949 mengenai pemulihan kembali Pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta, segedra dilakukan persiapan penyusunan kembali Kementerian Kemakmuran. Karena menteri Kemakmuran berada di Sumatera (Ir. Indratjaja), maka pemimpin Kementerian dilakukan oleh Ir. Gunung Iskandar sebagai Sekretais Jenderal. Pada saat Pemerintah Republik Indonesia dipulihkan kembali di Yogyakarta pada tanggal 4 Agustus 1949 telah tersusun kembali organisasi Kementerian Kemakmuran lengkap dengan jawatan-jawatannya yang dipimpin oleh pegawai dari golongan non-Kooperatif. Berdasarkan Penetapan Presiden No: 6 tahun 1949, telah ditunjuk I.J. Kasimo sebagai Menteri Kemakmuran.

5

Berdasarkan hasil Konprensi Meja Bundar di Den-Haag Nugen Belanda dan tanggal 23 Agustus-2 Nopember 1949, sejak tanggal 27 Desember 1949 dibentuk negara Republik Indonesia Serikat atau RIS, menurut ketentuan ini, negara Republik Indonesia di Yogyakarta merupakan salah satu Negara Bagian dari RIS. Dalam susunan Kabinet RIS, urusan pertanian berada dibawah Kementerian Kemakmuran dengan Ir. Djuada sebagai Menteri Pertanian, sedangkan dalam susunan Kabinet dan Negara Bagian Republik Indonesia urusan pertanian berada dalam Kementerian Pertanian Mr. Sadjarwo sebagai Menteri Pertanian. Dalam susunan Kabinet Republik Indonesia. Yogayakarta sebagai negara Bagian RIS, berdasarkan keputusan Presiden Republik IndonesiaYogyakarta (Mr. Assaat) No; 16 tahun 1950, maka Kementerian Kemakmuran dipecah menjadi Kementerian Pertanian dengan Mr. Sadjarwo sebagai Menteri Pertanian serta kementerian Perdagangan dan Perindustrian dengan Mr. Tandian Manu sebagai menterinya. Pemecahan Kementerian tersebut mengakibatkan pula pembagian Jawatan-jawatan dilingkungan kementeriannya. a. Kementerian Perdagangan dan Perindustrian mempunyai Jawatan Perdagangan, Jawatan Perindustrian dan kerajinan, jawatan Pertambangan, dan Jawatan Distribusi. b. Kementerian Pertanian mempunyai Jawatan Pertanian Rakyat, jawatan Perikanan, jawatan Kehutanan, jawatan Kehewanan, jawatan perkebunan, jawatan Koperasi, dan Bank Rakyat Indonesia. Pada waktu bangsa Indonesia menyalakan Kemerdekaannya pada tangal 17 Agustus 1945, sebagian besar penduduknya buta huruf dan melarat. Keadaan perekonomian rakyat pada umumnya sangat lemah meskipun tanah air Indonesia dikenal sebagai wilayah yang mempunyai sumberdaya alam yang melimpah. Sementar itu negara Republik Indonesia yang bangun dan berusaha untuk meningkatkan taraf hidup bangsanya selalu diganggu oleh Belanda yang masih ingin meneruskan penjajahannya guna menguasai wilayah nusantara kembali. Didaerah yang dikuasai Republik Indonesia-Yogyakarta, Kementerian Kemakmuran munyusun rencana pembangunan pertanian berupa Rencana Produksi tiga tahun atau Plan-Kasimo. Plan Kasimo berjangka waktu 3 tahun, disusun pad tahun 1947 dan rencana kegiatannya baru dimulai tahun 1948-1950 Sementara itu wilayah Negara-negara bagian dan daerah Bagian dari Negara Federal yang dibina Belanda, urusan pembangunan pertanian dilakukan oleh Departemen Perekonomian (Departement Van Ekonomische Zaken) dengan rancangannya yang disebut Rencana Kemakmuran tiga tahun atau lebih dikenal dengan Plan-Wisaksono.

6

Rencana Wisaksono ini akan dimulai tahun 1949-1951. Baik Plan Kasimo maupun Plan Wisaksono mengalami banyak hambatan dalam pelaksanaannya karena masalah keamanan dan politik pada saat itu. A. Paln – Kasimo ( 1948 – 1950 ) B. Plan – Wisaksono ( 1049 – 1951 ) 1. Plano Kasimo ( 1948 – 1950) Pada masa Pemerintahan Kabinet Amir Syarifuddin, Kementrian kemakmuran dipimpin pleh Dr. A.K. Gani sebagai Departemen Kemakmuran yang merangkap pula sebagai Wakil Perdana Menteri. Sedangkan sebagai Menteri Muda Kemakmuran dijabat oleh dua orang Menteri Muda, yaitu : 1. J. Kasimo dan dr. A. Tjokronegoro. Adapun ruang ligkup tugas Kementrian Kemakmuran meliputi bidang – bidang pertanian, Perdaganga, perindustrian danPertambangan. Pada masa Pemerintahan Kabinet Amir Syarifuddin itu pula, Belanda melancarkan serangan militernya yang pertama (21 Juli 1947) terhadap Republik Indonesia di Yogyakarta. Hubungan dengan dunia luas putus sama sekali. Blokade Belanda tidak hanya mengahalangi musuhnya berbekalkan senjata untuk Republik Indonesia, tetapi juga menghentikan masuknya bahan pangan, sandang dan kebutuhan penting lainnya sperti obat-obatan, alat transportasi dan hasil teknologi lainnya yang sangat diperlukan untuk pembangunan bangsa yang baru merayakan kemerdekaannya pada saat itu. Kekurangan pangan sangat terasa sekali, terutama di sebagian wilayah yang memang di… sebagai daerah minus. Keadaan ini kemudian menjadi lebih sulit lagi dengan meng… ratusan pengungsi dari daerah-daerah yang diserbu oleh pasukan Belanda. Kasimo sebagai Menteri Muda Kemakmuran (lulusan MLS tahun 1921) menyampaikan buah pikiran mengenai masalah dan rencana penanggulangan sandang dan pangan, dari buah pikiran itu kemudian didukung oleh para bekas siswa-siswanya dan SPM – Tegalgondo, maka plan Kasimo yang … sederhana itu dapat dilakukan dengan mudah dan cukup lancar pelaksanaannya. Rencana Produksi Tiga Tahun, lebih dikenal dengan masa plan – Kasimo, dirancang untuk daerah Republik Indonesia – Yogyakarta pada tahun 1948 sampai 1950. Sebagai landasan plan-Kasimo adalah UUD 1945, pasal 33 yang berbunyi :

7

1. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas azas kekeluargaan. 2. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. 3. Bumi dan air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Rencana produksi tiga tahun dicanangkan di Yogyakrta oleh I.J. Kasimo, Menteri Persediaan Makanan Rakyat dalam Kabinet Hatta-I (29 Januari 1948 s/d 4 Agustus 1949), Kabinet Hatta-II (4 Agustus 1949 s/d 20 Desember 1949) dan Kabinet susanto (20 Desember 1949 s/d 21 Januari 1950): Aksi-Militer kedua dan Pihak belanda merusak pelaksanaan Rencana Produksi Tiga Tahun ini meskipun demikian, dasardasar plan-Kasimo merupakan landasan yang berharga dalam usaha perkembangan perekonomian Indonesia dikemudian hari. Tujuan 1. Mencukupi seluruh kebutuhan rakyat tentang bahan makanan pokok terutama beras, jagung, ketela, kacang tanah,kedele, ikan dan daging dari hasil tanah sendiri. 2. Memenuhi sekitar 10% kebutuhan pakaian rakyat dari hasil tanah sendiri. 3. Mengusahakan tersedianya kelebihan produksi untuk kepentingan eksport pada semua lapangan (pertanian rakyat, perusahaanperkebunan, perikanan dan kehewanan) Usaha/Progian … 1. Di bidang pertanian rakyat dengan mengusahakan penambahan luas areal, luas penanaman tiap tahun dan meningkatkan produksi tiap satuan luas tanaman, melalui : pengguna bibit unggul, mendirikan kebun bibit, perbaikan irigasi/pengairan, menjaga kesuburan tanah, pemberantasan hama, mendirikan Balai Pusat Penyuluhan di tiap kecamatan, mendirikan model desa baru, transmigrasi. Bagi daerah di … perlu diusahakan membuat kalender pertanian, seleksi bibit, perbaikan sistem organisasi/dra.., memperluas areal persawahan, menyiapkan daerah transmigrasi, memperbaiki tanaman perkebunan rakyat yang rusak semasa penduduk jepang, memajukan tanaman kapas, mendatangkan obat-obatan, pupuk ZA dan DS, alat-alat pertanian, mengembangkan perikanan air tawar serta memajukan pendidikan pertanian, latihan dan penyuluhan pertanian. 2. Dibidang perusahaan perkebunan, membutuhkan terlaksananya eksport guna membiayai import barang-barang yang dibutuhkan rakyat dan negara dari luar negara dengan cara mengusahakan

8

perusahaan perkebunan pada tahun 1950 telah mencapai kapasitas produksi sebesar 50% dari kapasitas produksi sebelum perang dunia kedua. Demikian pula perlu menyelenggarakan peraturan-peraturan dilapangan agraria, keuangan dan sosial sehingga mampu memberikan jaminan bagi perusahaan perkebunan dapat sungguh-sungguh memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dan negara. Bangunan irigasi yang banyak mengalami kerusakan perlu diperbaiki pula. 3. Dibidang perikanan dengan upaya untuk meningkatkan hasil perikanan untuk makanan rakyat dengan cara memperhebat usaha penangkapan ikan laut. Utuk itu diperkirakan penambahan jumlah perahu, kapal-kapal bermotor dengan perlengkapannya, menyediakan kredit serta latihan bagi nelayan. Dalam rangka mencapai tujuan itu, perlu upaya untuk mencari dan menetapkan tepat-tepat yang banyak ikannya, menetapkan jenis-jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomi …, mengadaka penyelidikan biologi ikan dan teknologi perlengkapan ikan serta pelestarian sumber-sumber perikanan ………… 4. Dibidang kehewanan ternak, terutama ternak kecil (…) unggas, maksudnya untuk menambah tersedianya ternak guna menghasilkan produksi daging dan telur bagi kebutuhan protein masyarakat. Untuk itu diperlukan berbagai kegiatan seperti : penyelidikan kebutuhan ternak di tiap daerah, hewan jantan pemacak untuk mempebaiki mutu ternak, mendorong berdirinya industri daging, pemberantasan penyakit hewan, membatasi pemotongan ternak hewan betina untuk sapi dan kerbau, menganjurkan pemakaian susu oleh rakyat, memperbanyak inseminasi buatan, ternak marmut dan kelinci. 5. Dibidang usaha lain yang berkaitan dengan memperbaiki perekonomian. Pada bulan November 1947 dibentuk jawatan perdagangan yang bernaung dibawah Kementrian Kemakmuran. Djawatan Perdagangan ini mempunyai tugas kewajiban penting dalam perdagangan luar negeri dan perdagangan dalam negara antara lain : 1) memperkuat posisi devisa diluar negeri, 2) mendatangkan barang yang penting bagi keperluan … dan rakyat, 3) mengatur keperluan dan harga barang sehari-hari bagi keperluan rakyat. Demikian pula dalam rangka memperkuat perekonomian rakyat yang berdasarkan semangat gotong royong, maka gerakan kepe… ditingkatkan dengan memperkuat tugas dan fungsi jawatan koperasi. Pada bulan Juli 1947, jumlah koperasi yang sejarah pendiriannya adalah sekitar 2.700 buah pada masa penjajahan Belanda, berjumlah sekitar 600 buah ditahun 1939. Diusahakan agar pada terdapat satu koperasi

9

untuk dapat memperluas usaha produksi baik di lapangan …maupun dilapangan kerajinan. Usaha kredit mempunyai kedudukan penting pada saat itu, adalah rakyat indonesia, yaitu menyelenggarakan kredit-kredit perdagangan menengah dan perdagangan besar, kredit menengah dan industri besar serta kredit perikanan. 2. PLAN WISAKSONO (1929 – 1951) Rencana Kemakmuran Tiga Tahun adalah rencana pembangunan pertanian yang dicanangkan pada tahun 1949 oleh Pemerintah Federal Indonesia sebagai landasan pembangunan pertanian bagi negara-negara bagian diseluruh Indonesia, kecuali negara bagian Republik Indonesia. Rencana kemakmuran diprakasai oleh Wisaksono Wirjodiharjo sebagai Sekretaris Negara Urusan Pertanian dan Peternakan dari Pemerintah Federal. Di kalangan umum, rencana kemamkmuran yang berjangka waktu 3 (tiga) tahun (1949 – 1951) lebih dikenal sebagai Rencana Wisaksono atau Plan Wisaksono. Rencana Kemakmuran atau Rencana Wisaksono ini mempunyai maksud untuk mengusahakan agar supaya Indonesia dalam waktu beberapa tahun mendatang tidak tergantung lagi kepada import bahan pangan dari lauar negeri. Rencana kemakmuran mempunyai 5 program bagi, yaitu: 1. Mempertinggi produksi bahan makanan dengan cara yang lebih baik dengan mendirikan perusahaan-perusahaan campuran (mexed-farming) para petani diharapkan tidak hanya menanamkan bahan tanaman pangan tetapi juga memelihara ternak. 2. Meningkatkan penggunaan bibit unggul, yaitu bibit atau benih terpilih yang tinggi nilainya sehingga dapat meningkatkan hasil produksi bahan pangan. 3. Meningkatkan penggunaan rabuk atau pupuk buatan, dengan maksud untuk meningkatkan pendapatan petani khususnya dan masyarakat pedesaan pada umumnya. 4. Memajukan peternakan kecil yaitu pemeliharaan ayam, itik, dan unggas lainnya guna meningkatkan sumber protein, hewani dan gizi masyarakat. 5. Memajukan perikanan dengan bantuan pemerintah sebagai modal usaha, pengadaan dan penyediaan alat-alat perikanan serta perbaikan tambaktambak perikanan. Dalam bidang pembangunan pertanian pangan, lebih dititik beratkan pada upaya meningkatkan produksi beras melalui penggunaan bibit unggul. Oleh sebab, pendirian Balai-balai benih sangat diperlukan selekasnya. Untuk pelaksanaan peningkatan produksi beras ini, inisiatif para petani

10

perlu dikembangkan. Pemanfaatan lahan tanah kering usaha pertanian, peternakan, dan perkebunan. Dalam rangka memperbaiki gizi dan penambahan protein hewani diperlukan berbagai upaya untuk meningkatkan hasil perikanan dan peternakan dalam waktu singkat. Rencana kemakmuran perlu segera dilaksanakan guna mewujudkan penghidupan rakyat Indonesia yang lebih baik dan layak sebagai masyarakat suatu negara yang merdeka dan berdaulat.

BAB KEMENTERIAN PERTANIAN Sebagaimana tercantum dalam undang-undang Dasar Republik Indonesia yang dibentuk tahun 1945, menyebutkan bahwa bentuk negara Republik Indonesia adalah Negara Kesatuan, dan sesungguhnya bentuk Negara Serikat itu bukanlah tujuan dari bangsa Indonesia. Pembentukan Negara Serikat hanya merupakan suatu masa peralihan saja yang terpaksa ditempuhnya sehubungan dengan siasat politik negara untuk mencapai tujuan yang sesungguhnya. Mulai tanggal 9 Maret 1950 sampai dengan 4 April 1950 telah menggabungkan 14 Daerah Bagian kedalam Negara Bagian Republik Indonesia-Yogyakarta, sedangkan 2 Negara Bagian lainnya yaitu Negara Indonesia Timur (NIT) dan Negara Sumatera Timur (NST) belum bergabung dengan Republik Indonesia-Yogyakarta. Pada tanggal 19 Mei 1950 terjadi kesepakatan anatara Pemerintah RIS dengan Pemerintah Republik Indonesia-Yogyakarta untuk membentuk republik kesatuan dengan nama Republik Indonesia secara resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia berlaku pada tanggal 17 Agustus 1950. Untuk pertama kali, penggunaan nama Kementerian Pertanian dipakai dalam Kabinet Halim di Pemerintah Negara Bagian Republik Indonesia-Yogyakarta pada tanggal 21 Januari 1950 – 6 Maret 1950 dengan Mr. Sadjarwo sebagai Menteri Pertanian. Sedangkan di Pemerintahan Republik Indonesia Serikat masih dipakai nama Kementerian Kemakmuran dengan Ir. Djuanda sebagai Menteri Kemakmuran dalam kabinet Hatta (20 Desember 1949 – 6 September 1950). Dengan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia di Yogyakarta harus dipersatukan dengan Kementerian Kemakmuran Republik Indonesia Serikat di Jakarta. Menjelang sebelum penggabungan,

11

Kementerian Pertanian RI di Yogyakarta telah melakukan penyesuaian dan perubahan seperlunya dengan keadaan organisasi. Kementerian Kemakmuran RIS di Jakarta perubahan yang dilakukan, antara lain : 1. Jawatan Koperasi dan Bank Rakyat Indonesia dari Kementerian Pertanian diserahkan kepada Kementerian Perdagangan dan Perindustrian. 2. Biro Perguruan Tinggi Pertanian dari Kementerian Pertanian diserahkan kepada Kementerian Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan. Setelah dilakukan perubahan dan penggabungan dengan Kementerian Kemakmuran di Jakarta, kemudian dibentuk organisasi : 1. Direktorat Pertanian, meliputi a. Jawatan Pertanian Rakyat b. Balai Besar Penyelidikian Pertanian c. Jawatan Karet Rakyat d. Yayasan Karet Rakyat e. Biro Pembangunan Usaha Tani 2. Direktorat Kehewanan, meliputi a. Jawatan Kehewanan b. Lembaga Pusat Penyelidikan Penyakit Hewan c. Lembaga Penyakit Mulut dan Kuku (Tracak) d. Balai Pusat Penyelidikan Peternakan 3. Direktorat Perikanan, meliputi a. Jawatan Perikanan Laut b. Jawatan Perikanan Darat c. Balai Penyelidikan Perikanan Darat d. Yayasan Perikanan Laut 4. Direktorat Kehutanan dan Tatabumi, meliputi a. Jawatan Kehutanan b. Lembaga Pusat Penyelidikan Kehutanan c. Kantor Perancang Tatabumi d. Biro Penafsiran Potret Udara 5. Direktorat Perkebunan, meliputi a. Jawatan Perkebunan b. Pusat Perkebunan Negara (PPN) c. Perusahaan Perkebunan Republik Indonesia (PPRI) d. Yayasan Tebu Rakyat e. Yayasan Dana Moles Tebu f. Yayasan Perkebunan Rakyat Indonesia (PERRIN) g. Badan Urusan Tembakau h. Yayasan Kredit Tani

12

Kementerian Pertanian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dengan Mr. Tandino Manu sebagai Menteri Pertanian (6 September 1950 – 27 April 1951). Dengan Peraturan Menteri Pertanian No. 1/PMP/1951 tanggal 17 Maret 1951 telah disusun organisasi Kementerian Pertanian sebagai berikut: 1. Jawatan –jawatan : Pertanian Rakyat, Perkebunan, Perikanan Laut, Kehewanan, Kehutanan, dan Penyelidikan Alam. 2. Balai-balai : Penyelidikan Pertanian, Peternakan Umum, Penyelidikan Penyakit Hewan, dan Penyelidikan Perikanan Darat. 3. Kantor-kantor : Pendidikan Pertanian, Perancang Tata Bumi, Karet Rakyat, Perikanan Darat, dan Gerakan Tani. 4. Perusahaan Negara dan Yayasan : Pusat Perkebunan Negara (PPN), Perusahaan Perkebunan Republik Indonesia (PPRI), Yayasan Perkebunan Rakyat Indonesia (PERRIN), Yayasan Bahan Makanan (BAMA) dan Yayasan Perikanan Laut. Sejak tahun 1951 sampai dengan akhir tahun 1956, perubahan dan tambahan pada organisasi Kementerian Pertanian. Perubahan dilakukan secara bertahap disesuaikan dengan perkembangan kegiatan dilapangan petani anatara lain: 1. Pekerjaan sehari-hari dalam melaksanakan kebijaksanaan Menteri Pertanian dilakukan dibawah pimpinan Sekretaris Jenderal. 2. Kelembagaan kantor-kantor seperti Perikanan Darat, Gerakan Tani, dan Karet Rakyat diubah menjadi Jawatan-jawatan. 3. Disamping Balai Penyelidikan Peternakan dan Lembaga Penyakit Hewan kemudian dibentuk baru Balai Penyelidikan Penyakit Mulut dan Kuku serta Balai Penyelidikan Perikanan Darat. 4. Yayasan Bahan Makanan (BAMA) yang semula berada dibawah Kementerian Pertanian kemudian diserahkan kepada Kementerian Perekonomian yang dulu disebut sebagai Kementerian Perdagangan dan Perindustrian. 5. Mulai tanggal 1 Maret 1955, Kementerian Pertanian mempunyai lima direktorat yaitu : Direktorat Pertanian, Direktorat Kehewanan, Direktorat Kehutanan dan Tatabumi, Direktorat Perkebunan, dan Direktorat Perikanan. Disamping lima direltorat, terdapat pula Badan Hukum lainnya seperti: Dana Moles Tebu, Yayasan Tebu Rakyat, Yayasan Kredit Tani, Badan Urusan Tembakau, dan Yayasan Karet Rakyat.

13

Dengan surat keputusan Menteri Pertanian No. 47C/UM/57 tanggal 12 Maret 1957, susunan organisasi Kementerian Pertanian ditetapkan sebagai berikut:

14

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->