Anda di halaman 1dari 4

Inilah Kenyataan Wisata Negara RI Diantara Negara Jiran Serumpun.

Di Singapore Berawal dari makan siang dihari pertama sampai di Singapore awal Juni kemarin. Berhubung tingkat kehalalan makanan disana dipertanyakan, maka kami memilih Restoran Ayam Penyet Ria yang terletak di areal Apartemen kami Lucky Plaza. Terus terang tempatnya tidak sebersih di Medan. Apa karena tidak ada jeda untuk memberishkan akibat tamu yang selalu memadati tempat itu? Entahlah yang penting bagaimana perut yang sejengkal ini diisi dengan kehalalan, karena perjalanan akan dimulai! :) Yang mau aku soroti dalam hal ini adalah harga makanan. Untuk satu paket ayam penyet ditambah Ice tea O *alias the manis dingin* aku harus membayar hampir 10 SGD atau setara dengan 74 ribu Rupiah! Hahaha sementara di Medan harga segitu setara dengan 3 paket serupa! :) Hari-hari selanjutnya di tempat makan yang berbeda *sesuai dengan dimana kami berada* , setali tiga uang, alias podo wae, alias sama aja!

Di Thailand Selanjutnya aku menuliskan pengalaman waktu ditugaskan di Bangkok Thailand tahun 2006. Karena waktu itu baru Lebaran dan masih sibuk untuk bersilaturahim, aku tidak sempat menukarkan mata uang IDR ke dalam Dollar Amerika atau Bath Thailand. Akupun membawa lembaran uang seratus ribu yang kita bangga-banggakan itu, dengan rencana akan langsung ditukarkan di money changer bandara. Beres! :) Apa yang terjadi? Begitu sampai di depan loket money changer, setelah aku antri dengan para bule-bule yang berniat serupa, uang merah bergambar dua pendiri Negara itu ditolak dengan kasar oleh petugas money changer! Seakan-akan dia berkata Ngak laku! :( Coba menukarnya di money changer lain, sama ditolak! Pergi ke suatu bank Negara Thailand yang kebetulan dekat dengan Hotel dimana kami menginap, mereka tersenyum dan berkata: kami tidak memiliki persediaan Rupiah! Apa-apaan ini? Kita kan sesama Negara Asean? Kok mata uang kita tidak laku di sana? Akhirnya terpaksa aku mengunakan ATM dan menukarkan IDR ke USD dari Bos ku yang bule, agar bisa membeli oleh-oleh pulang nanti :(

Di Malaysia

Sepulang dari perjalanan ku ke KL akhir tahun 2004 bersama seorang sahabat, dalam perjalanan pulang dengan bos ku, aku mengungkapkan keheranan ku akan merk sepatu Vinci. Aku bilang, aku tidak pernah melihat ada toko sepatu yang menjual seperti layaknya menjual kacang, dialah toko sepatu Vinci! Dan ironisnya, yang membeli bak semut itu adalah orang Indonesia! :) Pada tahun 2010 aku kembali lagi ke KL. Hahaha.. teman-temanku menghabiskan waktu 1 hari untuk hunting sepatu Vinci tersebut dari 3 hari rencana kepergian kami kesana! Menakjubkan! :) Ketika aku melihat kantong belanja Vinci, disana tertulis outlet-outlenya di: Malaysia, Singapore dan Thailand. Indonesia mana? Akupun protes! Pramuniaganya menggelengkan kepala sambil tersenyum .

Permasalahan 1. Jika di Singapore segalanya serba mahal dibandingkan dengan Malaysia, Thailand dan Indonesia kemudian kita semua tahu kalau di Indonesia begitu banyaknya makanan yang makyus dengan harga murah, mengapa turis ke Indonesia sunyi? 2. Jika Thailand yang memposisikan dirinya sebagai tempat wisata, dan penduduk Indonesia yang seabrek itu merupakan pasar yang potensial, mengapa mereka tidak menyediakan pertukaran uang IDR? 3. Mengapa Malaysia dengan produknya Vinci itu juga tidak membuat ouletnya di Indonesia?

Jawaban Menyakitkannya: Karena ketiga negara jiran kita itu kompak menjadikan kita sasaran yang empuk untuk mensejahterakan mereka! Thailand diposisikan untuk menerima turis dari Eropa dan America dengan segala kebebasannya. Malaysia diposisikan untuk menerima turis muslim dengan segala jaminan kehalalannya. Singapore di posisikan sebagai tempat belanja dan industri dengan segala kehedonisannya. Kloplah mereka! Tahun 2006, untuk menuju ke Thailand dari Indonesia dibutuhkan transit di Malaysia. Urusan tukar menukar mata uang IDR Thailand tidak mau karena ada Malaysia yang membutuhkan mata uang IDR untuk para TKI. Jika Vinci membuka outletnya di Indonesia, selain harga akan melonjak ditakutkan kemungkinan ada efek berkurangnya ketertarikan pelancong Indonesia untuk berbelanja di Petronas dan Sunge Wangnya. Untuk meraup turis lain apa yang dilakukan Malaysia? Jawabannya sudah kita ketahui bersama dengan jargonya Truelly Asia mereka mencaplok kebudayaan Indonesia, agar turis-turis dari Thailand dan Singapore tidak perlu mendatangi dari satu pulau ke pulau lain di indonesia, cukup ke Malaysia, anda akan mendapatkannya dalam one stop journey! :)

Di Singapore bagaimana? Mereka tau bahwa orang-orang berduit di Indonesia ada penyakit tidak mau disaingi. Untuk itu mereka menjaga produk-produk dari merk ternama seantero dunia nya lebih eksklusive dibandingkan dengan outlet yang paling bergengsi sekalipun seperti Plaza Indonesia! Bukan rahasia umum, kalau beli produk misalnya LV di Singapore akan lebih tinggi derajatnya daripada LV di Jakarta! :) Ironis, ironis ternyata inilah kita! Betapa cerdasnya negara-negara jiran kita itu! Pandainya mereka memegang kelemahan penduduk Indonesia. Terus terang saja, aku bisa bilang, kalau tidak ada turis Indonesia di Singapore, plaza-plaza di sekitar Orchard itu akan banyak menjelma sebagai gedung tua! :) Sekarang gimana? Aku bukannya melarang orang Indonesia untuk dating ke negeri jiran kita tersebut. Karena kemungkinan akupun akan ada kembali kesana. Tapi bagaimana Indonesia juga mendapatkan benefit dari ketiga negara tersebut! Bagaimana turis-turis yang pergi kesana tertarik untuk singgah setidaknya ke Medan atau Jakarta?

Jawabanya adalah buatlah Segmentasi Indonesia sendiri dimata Turis. Begitu banyaknya keunikan budaya, makanan dan tempat di tanah air ini dan dijamin: More Cheaper Bro and Sis! . Dan sadar dirilah untuk menjual diri! Buatlah menarik, sehingga rute para turis nantinya akan menjadi begini: 1. 2. 3. 4. Indonesia Singapore Malaysia - Thailand Thailand Malaysia Singapore Indonesia Malaysia Singapore Indonesia Malaysia Indonesia (Turis Muslim)

Bukan seperti saat ini: Thailand Malaysia Singapore atau sebaliknya! Semoga :) Medan, 21 Juni 2012 DIS