Anda di halaman 1dari 13

1

STRUKTUR JURNAL ILMIAH Motlan


1. Pendahuluan Menulis karya ilmiah bagi dosen adalah kewajiban sesuai dengan tuntutan tridarma perguruan tinggi dan undang undang guru dan dosen. Di negara maju seorang dosen sudah dianggab pensiun atau meninggal kalau dalam kurun waktu terntentu tidak muncul tulisanya di jurnal nasional maupun internasional. Mengingat sangat terbatasnya jurnal nasional yang terakreditasi apa lagi jurnal internasional maka sangat sulit bagi para dosen untuk mempersiapkan artikel agar dapat dimuat pada jurnal yang di inginkan. Dilain pihak banyak para dosen langsung frustrasi begitu karaya tulisnya ditolak dengan bebagai argumentasi. Sebenarnya menulis karya ilmiah yang mau di kirim ke jurnal tidak serumit yang banyak orang pikirkan. Summers (2001) mengatakan, anda tidak perlu seperti penulis novel atau puisi yang mendapat kejuaraan untuk dapat melaporkan hasil hasil penelitian yang telah jelas konsepnya dan benar benar dilakukan penelitianya. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa tulisan kita terorganisasi dengan baik, akurat, ringkas dan jelas. Dan juga perlu diperhatikan deteil dari tulisan kita sebab pada saat kita menulis artikel yang akademik, hantunya adalah di deteilnya (Feldman, 2004). Tidak ada satu cara yang benar untuk menulis artikel di jurnal ilimiah, beda jurnal mungkin mempunyai gaya dan aturan yang bebeda. Meskipun yang dijelaskan disini mengikuti pola pola yang dibuat di jurnal internasional, namun kita juga harus tunduk pada petunjuk khusus dari jurnal tertentu. 2. Mengapa karya tulis kita ditolak? Summers (2001) menyatakan bahwa ada empat alasan utama mengapa karya tulis kita ditolak di jurnal jurnal yang terkenal yaitu: Penelitian tersebut tidak memberikan kontribusi yang besar terhadap ilmu pada bidang ilmu tertentu. Kerangka konseptualnya (tinjauan teoritis) tidak mendukung penarikan hipotesis. Metodologi penelitian amburadul, misalnya sampel yang terlalu kecil, valitas instrumen yang diragukan. Gaya penulisan yang tidak terorganisasi dengan baik dan struktur artikel yang tidak baik.

3. Struktur artikel Hampir semua jurnal akademik meminta panjang tulisan sekitar 20 sampai 25 halaman kertas A4 dengan satu setengah spasi, atau antara 4000 sampai 7000 kata. Adapun struktur karya ilmiah tersebut kira kira digambarkan seperti berikut: Judul Abstrak Pendahuluan Tinjauan teoritis Metodologi : 8 15 kata : 200 250 kata : 500 1000 kata : Latarbelakang, pengembangan konsep atau kerangka konseptual 1000 2000 kata. : 500 1000 kata Hasil (Temuan) Diskusi Total Penyampelan (Populasi dan kontek penelitian, Sampel, Profil responden) Pengumpulan data (metode pengumpulan data) Pengukuran : 1000 1500 kata. Deskripsi statistik(Analisis pendahuluan) Pengujian hipotesis (Statistik inferensial) : 1000 1500 kata Ringkasan dari temuan Implikasi Keterbatasan Rekomendasi untuk penelitian berikutnya

: 4000 7000 kata

Dari elemen elemen yang ada dalam struktur artikel diatas yang paling penting adalah judul, kata kunci, pendahuluan dan diskusi. Inilah pintu bagi seseorang yang paling duluan datang ke perhatian pembaca maupun reviewer dari artikel. Oleh karena itu adalah sangat penting menggunakan kata kunci yang benar benar efektif, judul yang menarik dan abstrak yang bagus akan menarik pembaca ke pendahuluan dan diskusi. Pendahuluan dan diskusi sebaiknya merangsang pembaca untuk membaca seluru bahagian dari artikel. 4. Judul artikel Judul artikel yang menarik akan merangsang pembaca memperhatikan dan mengekplorasi penelitian anda.Menurut Perry dkk (2002) menawarkan rekomendasi berikut yang berhubungan dengan judul:

Judul harus menarik perhatian pembaca Editor jurnal lebih suka judul yang formal tidak terlalu pintar atau cantil. Judul harus merefleksikan tema utama, isu yang di diskusikan dengan jelas. Judul harus menciptakan ekpektasi tentang isi dari artikel, judul juga sebaiknya dengan akurat merekflesikan keadaan dan fokus dari penelitian dan tidak menciptakan ekpektasi yang salah.

Judul harus se spesifik mungkin sehubungan dengan pembatasan panjang judul. Beberapa kata kunci yang dituliskan setelah abstrak sebaiknya muncul juga di judul. Judul sebaiknya menjawab pertanyaan berikut: Apa yang diteliti? Bagaimana topik tersebut akan diteliti? Dengan siapa? (Menjelaskan populasi penelitian dan satuan satuan pengukuran). Dimana / dalam kontek apa penelitian tersebut akan dilakukan?

Contohnya: OBSTACLES TO THE IMPLEMENTATION OF PROBLEM-BASED LEARNING (PBL) IN LOCAL UNIVERSITIES OF HONG KONG 5. Abstrak Abstrak adalah ringkasan pendek dari sebuah artikel dengan jumlah kata maksimum 200 ke 250 kata. Kebanyakan pembaca melihat abstrak secara sepintas untuk memutuskan apakah pembaca akan meneruskan membaca artikel tersebut (apakah artikel tersebut bermamfaat). Oleh karena itu abstrak menjadi jendela atau reklame untuk pekerjaan anda dan memberikan kesempatan untuk menarik perhatian pembaca. Hal yang sering menjadi masalah dengan abstrak adalah bahwa sering ditulis kabur sehingga tidak menarik perhatian pembaca. Kita harus selalu mencoba memberi pembaca informasi konkrit yang cukup di dalam abstrak agar menarik perhatian pembaca. Oleh karena itu abstrak harus mencakup ke tujuh elemen berikut (Perry dkk (2003):

Abstrak harus dimulai dengan kalimat tema singkat mengarahkan pembaca tentang beberapa isu yang ditunjukan di artikel tersebut. Kalimat sebaiknya menarik perhatian pembaca.

Abstrak harus mengindikasikan tujuan utama atau tujuan dari penelitian. Abstrak menjelaskan pentingnya artikel dari segi akademik dan atau praktis. Metodologi penelitian yang digunakan harus dijelaskan secara singkat. Temuan temuan utama harus diberikan secara singkat. Pernyataan dari kesimpulan sebaiknya mengindikasikan kontribusi dari penelitian untuk mengisi gap yang ada dalam literatur.

Implikasi praktis dari penelitian harus mendapat penekanan. Problem-Based Learning (PBL), a teaching and learning innovation based on the

Contoh: constructivist theory of learning, fosters creative and independent learning. This paper discusses results of a research set up to explore the obstacles to the implementation of PBL in three local universities in Hong Kong. The research took place in two stages, with interviewing followed by questionnaire administration. A total of 30 PBL tutors from three local universities were interviewed. Interview data indicate that there are three major factors hindering the successful implementation of problem-based learning, namely, resources, staff appraisal system, and student responses to PBL. Based on the interview findings, a PBL Teachers' Experiences Questionnaire was generated. A total of 19 returns (67% response rate) were received. Analysis of the questionnaire data indicated that certain factors played a more important role in PBL implementation: culture of the universities (PBL versus non-PBL); academic rank of faculty members (senior lecturer/lecturer) and their PBL experiences (experienced versus non-experienced). 6. Kata kunci Kata kunci yang jumlah maksimum 6-8 kata ditulis langsung setelah abstrak. Kata kunci sebagai umpan yang menarik perhatian pembaca dan juga digunakan untuk mencari psisi artikel dalam data base elektronik. Kata kunci sebaiknya merefleksikan disiplin ilmu, sub-disiplin ilmu, tema, disain penelitian dan kontek dari penelitian.
7. Pendahuluan.

Pendahuluan biasanya memuat beberapa elemen berikut: Penulis harus menjelaskan tema umum (luas) atau tema dari penelitian. Kemudian penelti melanjudkan dengan penjelasan pentingnya topik tersebut baik akademik atau mamfaat praktis. Sebagai bahan renungan perlu dijawab pertanyaan berikut: Kenapa seseorang harus perduli dengan artikel ini?.

Meringkas literatur, penelitian terdahulu yang sangat penting yang relevan dengan penelitian tersebut. Jika penelitian kita replikasi harus disebut dengan jelas. Peneliti harus menyebutkan gap gap, atau ketidak konsistenan dari penelitian penelitian terdahlu dimana akan diatasi dalam penelitian tersebut. Dalam pendahuluan juga memberikan kejelasan tentang hal hal berikut: Masalah inti dari penelitian/pertanyaan penelitian, Tujuan tujuan penelitian yang specifik

Kotek dimana penelitian tersebut dilakukan dan Unit unit dari alisis penelitian Outline dari struktur artikel Terkadang beberapa beberapa elemen dan sub elemen dapat bergabung. Tak perlu terlalu menebalkan atau menggaris bawahi tiap tiap elemen. Contoh: Studies in higher education have shown that students' difficulties in learning are illustrated by their inability to apply rules or concepts to novel problems. Gunstone and White (1981) described several experimental demonstrations with Physics I students, who had just completed a highly competitive matriculation examination to enter one of Australia's most prestigious universities. They were asked to predict and then explain what would happen when presented with a common physical event. These Physics students could give excellent definitions for the term, but failed to solve problems requiring the concept of Physics. Studies by Balla (1990a; 1990b) with medical students reflected the same kind of student difficulty in applying knowledge. He observed that medical students often used basic science knowledge incorrectly or not at all in formulating and revising clinical diagnoses. When these students became practicing clinicians, some of them rarely knew how to apply learned theoretical knowledge to novel clinical situations. One prominent explanation to account for this type of student behaviour stems from the different views of knowledge and the ways of teaching. In the traditional perspective, declarative knowledge, which refers to content knowledge accrued from research, is taught separately from practice to students in lectures (Biggs, 1999). This perspective on teaching and learning emphasizes the passive nature of the mind (Gilbert & Watts, 1983) where students accumulate knowledge provided by the teacher. Thus, knowledge is detached from the actual real life context, and learners may find it difficult to apply it to novel problem situations. The aim of education is to get students to develop the functioning knowledge which allows them to integrate academic knowledge base (declarative knowledge), skills required for that profession (procedural knowledge) and the context for using them to solve problems (conditional knowledge) (Biggs, 1999). In order to acquire this integration to achieve the aim of education, the traditional way of teaching and learning has to be put aside. Hmelo et al. (1997) argue that Problem-Based Learning (PBL) by its sole nature requires a different way of using knowledge to solve problems. What Hmelo refers to is that kind of functioning knowledge professionals require in real life working situations. The development of this functioning knowledge is the aim of education in general, and higher

education in particular. Problem-based learning is an instructional method that uses real world cases or problems as the starting point of learning. In the process, it is envisaged that students will acquire critical thinking and problem-solving skills. There are varieties of PBL, but basically a typical PBL sequence consists of the following stages: 1) the motivational atmosphere of learning is set up by a real life situation or problem; 2) learners are activated by means of group interaction with peers and facilitators over the case; 3) learners build up knowledge base of relevant materials; 4) the knowledge is applied to treat the case and 5) the case is reviewed. Several studies acknowledge the positive effects of PBL on various aspects of student learning (Albanese & Mitchell, 1993). Basically, these include areas such as knowledge retention, integration of basic science knowledge, acquisition of self-directed learning skills and enhancement of intrinsic interest. Albanese and Mitchell (1993) conducted a meta-analysis of all the PBL studies conducted between 1972 and 1992, and the following major conclusions emerge: This paper is an extension of the same study by Lai and Tang (2000), and focusses on discussing the results of a PBL Teachers Experiences Questionnaire developed from the qualitative interview data. The questionnaire served to find out whether the culture of the universities (PBL versus non-PBL) and the experiences of faculty members (experienced versus non-experienced) do have a differential effect on the implementation of PBL. 8. Tinjauan teoritis Review literatur mengwakili teori inti dari sebuah artikel. Pertanyaan berikut perlu dipertimbangkan oleh peneliti sehubungan review literatur: Aspek aspek apa yang harus saya sertakan dalam review literatur? Bagaimana saya harus mensistesis informasi informasi dalam review literatur? Bagaimana saya harus membuat struktur review literatur dalam artikel ini? Gaya menulis yang bagaimana yang harus saya gunakan dalam menkompilasi literatur? Aspek aspek apa yang harus saya sertakan dalam review literatur? Review literatur yang baik selalu mendikusikan aspek aspek berikut:

Diskusi singkat tetang dimana topik yang diteliti masuk dalam bidang yang lebih luas. Defenisi defenisi konseptual. Diskusi pene Hasil hasil pengujian hipotesis sebelumnya muan penelitian terdahulu yang relevan(hubungan, mediasi dan/atau moderator, perbedaan, gap, ketidak

konsistenan, kontroversi, pertanyaan yang belum terjawab didalam literatur, Hipotesis yang belum diuji dll). Ringkasan dari pendekatan yang sedang digunakan sekarang. Dukungan teori untuk pengujian hipotesis.

Bagaimana saya harus mensistesis informasi informasi dalam review literatur? Suatu review literatur tidaklah hanya sekedar ringkasan kronologis dari yang ditemukan atau dikatakan orang lain. Dengan kata lain jangan mebuat kalimat kalimat sbb Peneliti A mengatakan ini, peneliti B menyebutkan bahwa.... Hal yang paling sulit dalam review literatur adalah mencerna dan menganalisis bukan hanya sekedar meringkas, pengetahuan pengetahuan yang sudah ada. Sering sekali para peneliti hanya mengkopi paste informasi tampa mencerna. Defennisi yang disintesa Defenisi yang bagus sebaiknya (MacKenzie 2003): Menspesifikasi konstruk dari tema konseptual, tidak kabur, konsisten dengan penelitian terdahulu, dengan jelas menbedakan dengan konstruk yang lain yang berhubungan. Mensistesa sejumlah daftar dari atribut, faktor atau kriteria. Anda tidak boleh hanya melaporkan sederetan atribut, faktor atau kriteria yang dikembangkan oleh peneliti yang berbeda beda satu persatu di dalam literatur review. Anda sebaiknya mencerna informasi tersebut dan ringkasan yang sudah disintesa dalam review literatur anda. Mensistesa pandangan yang bebeda tentang isu tertentu. Peneliti yang berbeda mungkin saja mempunyai pandangan yang berbeda tentang isu tertentu. Hal ini dapat dibandingkan sebagai suatu poin diskusi dalam literatur. Ketika membandingkan adalah sangat penting menjelaskan secara jelas hal yang membuat perbedaan tersebut. Jika memungkinkan anda juga menunjukan pendapat mana yang anda dukung dan motivasi tentu dengan alasan yang jelas. Bagaimana saya harus membuat struktur review literatur dalam artikel ini? Review literatur yang baik adalah jika mempunyai struktur logika yang baik. Ini artinya bahwa seksi dan subseksi yang berbeda dari literatur harus secara logika berhubungan satu dengan yang lainya. Dengan kata lain satu seksi mengalir secara alami ke seksi yang berikutnya. Ada empat isu yang penting untuk menstruktur review literatur: Petunjuk umum dalam menstruktur review literatur Penggunaan diagram Mendefenisikan konstruk inti Menyediakan motivasi untuk hipotesis.

Petunjuk umum dalam menstruktur review literatur Suatu review literatur utamanya distruktur melalui penggunaan heading, sub-heading dan sub-subheading. Prinsip berikut perlu diperhatikan ketikan mengembangkan heading dari review literatur anda: Gunakan pendekatan funnel ketika menstruktur review literatur. Buatlah topik khusus (spesifik) ke topik yang lebih luas yang relevan dan fokus diskusi hal hal isu yang lebih spesifik. Gunakan Mind-maps , rencanakan heading dan sub-heading yang akan digunakan sehingga memastikan bahwa informasi mengalir secara logika. Heading sebaiknya deskriptip dan informatif, menjelaskan kepada pembaca apa yang dicakup (Perry et al., 2003). Hindarkan heading yang hanya terdiri dari satu kata. Pastikan bahwa informasi yang diletakan dibawah masing masing heading berhubungan dan terefleksikan di heading. Penggunaan diagram Diagram diperlukan saat anda ingin mendiskusikan banyak konstruk. Dapat digunakan untuk meringkas konstruk konstruk utama dan hubungan hipotesis di dalam penelitian anda dan menunjukan mediator dan moderator yang akan diselidiki. Jika dibuat dengan baik juga bisa berfungsi sebagai road map. Mendefenisikan konstruk inti Orang hanya bisa berkomunikasi secara efektif jika memahami bahasa yang sama, terminologi yang asing, ketidak konsistenan penggunaan terminologi, dan asumsi akan menghambat komunikasi akademik yang efektif. Menyediakan motivasi untuk hipotesis. Hipotesis adalah ekpektasi berbasis teori (theory-based) tentang beberapa kharakteristik dari populasi target. Kata theory-based mengindikasikan, hipotesis harus dibumikan di dalam teori yang sedang berjalan, penemuan terdahulu. Dengan demikian seseorang harus menampilkan teori yang cukup atau hasil hasil penelitian terdahulu untuk memotivasi masing masing hipotesis yang akan di uji dalam penelitianya. 9. Metodologi Dalam bagian ini, kita menguraikan dengan jelas bagaimana kita melaksanakan studi tersebut dengan struktur dan organisasi seperti berikut:

Subjek yang digunakan (manusia, hewan, tumbuhan, dsb.) dan penanganannya, kapan dan dimana studi tersebut dilakukan (jika lokasi dan waktu menjadi factor penting).

Jika studi lapangan, suatu uraian tentang tempat studi, termasuk fitur fisik dan biologis dari lokasi yang sesungguhnya. Percobaan atau rancangan sampel (antara lain bagaimana percobaan distrukturisasi, contoh, control, perlakuan, variable yang diukur, beberapa banyak sampel yang dikumpilkan, replikasi,dsb.)

Contoh:

Protocol untuk pengumpulan data, antara lain bagaimana prosedur penyelidikan telah dilakukan Bagaimana data tersebut dianalisis.

The University Grants Committee of Hong Kong allocated a teaching development grant to promote and support PBL in health-science curricula. As a result, a PBL consortium team consisting of academic staff and representatives from the Educational Development Centre of three tertiary institutions was formed in 1997. Under the management and coordination of this team, research funding to develop and implement PBL in their respective curricula was allocated to nine PBL sub-project teams in three universities involving a total of 30 PBL tutors. To evaluate the effectiveness of PBL implementation, two meta-projects focussing on student learning and faculty perceptions were operated by the PBL consortium team. This paper reports the findings of the latter project on faculty perceptions. The project consisted of two stages. Stage one involved semi-structured interviews aiming at identifying the teaching orientation of the participants, any problems encountered during the implementation of PBL, and the participants' evaluation of the effectiveness of the main PBL project (that is, enhancement of teaching and learning through PBL). Twenty-one faculty members from the participating tertiary institutions who had participated as problem-based learning tutors were interviewed. The interviews were taped-recorded, transcribed by the research assistant of this project and analysed by the author of this paper. The interview data revealed four types of constraints hindering the successful implementation of PBL: university reward system, teaching evaluation mechanism, resource allocation and student responses to PBL. The major findings of this part of the project were presented at the First Asia-Pacific PBL Conference (Lai & Tang, 2000). Based on these data, a PBL Teachers Experiences Questionnaire was developed and

10

distributed to all the 30 PBL tutors including those who had participated in the interviews. A total of 19 returns (63% response rate) were received.

10. Hasil dan Diskusi

Fungsi dari hasil adalah menyajikan hasil utama secara objektif, tanpa interpretasi dalam suatu susunan logis dan teratur menggunakan bahan ilustratif (table dan gambar) dan teks. Ringkasan analisis statistic dapat dimuat dalam bentuk teks (biasanya dalam tanda kurung) table atau gambar yang relevan (dalam bentuk legenda atau catatan kaki terhadap tabel atau gambar). Hasil seharusnya diorganisasikan dalam suatu seri tabel atau gambar secara berurutan untuk menyajikan temuan utama dalam susuna logis. Uraian tentang hasil mengikuti urutan tersebut dan jawaban terhadap pertanyaan/hipotesis yang diselidiki. Hasil negative yang penting juga harus dilaporkan penulis biasanya menulis bagian uraian hasil didasarkan kepada susunan tabel dan gambar. Fungsi diskusi adalah untun menginterpretasikan hasil yaitu apa yang telah diketahui tentang subjek penyelidikan tersebut, dan menjelaskan pemahaman baru terhadap masalah yang dikemukakan dengan memperhatikan hasil yang diperoleh. Diskusi akan selalu dihubungkan dengan pengantar dan pertanyaan atau hipotesis yang ditetapkan dan literatur yang dikutip, tetapi bukan berarti mengulang atau menata kembali pengantar tersebut. Tetapi sebaliknya diskusi menjelaskan bahwa studi yang dilakukan telah menggerakkan kita ke depan dari posisi semula seperti pada uraian akhir pengantar.

11. Kesimpulan Dalam kesimpulan kita harus mencari apa yang menjadi hasil utama penelitian (menolak atau menerima hipotesis) dalam kalimat yang sederhana. Hindari kalimat berbau statistik. kesimpulan disusun berdasarkan fakta yang ditemukan dalam penelitian. Contoh: The differential analysis of the results of the questionnaire indicates that there are four factors affecting the implementation of PBL in institutions. These factors are, namely, resource, quality assurance, student factor and teaching conception of faculty members. Analysis shows that PBL and non-PBL based institutions differ mainly in the type of support provided for the PBL innovation, namely, full continuous departmental support in the former, and ad hoc research funding support in the latter. In terms of the difference of viewpoints between faculty members of different academic ranking, the senior lecturer group indicated that the teaching conception and quality assurance evaluation system

11

affected the implementation of PBL, whilst the lecturer group indicated that the external student factor played an important role in the successful implementation of PBL. Irrespective of the experience of PBL tutors, all agreed that the quality assurance evaluation mechanism, student factor and teaching belief played an important part in PBL implementation. However, those faculty members with less experience in PBL found it quite difficult to take up the PBL teaching approach and they believed that it was impossible to run PBL as an individual course. To sum up, the questionnaire, which was designed from the themes emerged from the interviews conducted in the early phase of this study, confirmed that student factor, teaching conception, and qualitative assurance and/or resource support were the basic hurdles affecting PBL implementation. To alleviate the above problems, the quality assurance/resource and the student factor should be dealt with first. In terms of their nature, these two factors could be classified as internal operational and external. The quality assurance/resource factor (internal operational) includes issues such as the evaluative reward system of teaching and appropriate deployment of funding to substantiate staffing (workload, timetable and training) and physical resource (space, references). All these have to be sustained at an appropriate level for PBL to take on its shape. With all these internal factors in place, we still have to consider the external student factor, which is a rather deep-rooted problem. The student factor has to be considered in the light of the educational system in Hong Kong. The local education system in Hong Kong is based on the elite system in the 70's to 80's where only 3% of secondary school leavers were able to enter the two local universities. With the expansion of the tertiary sector in the mid 90's when the number of universities increased from two to seven, 18% of secondary school graduates could now have a chance to secure a university place. Competition for university places in the current situation is still rather keen. In order to sustain a good reputation, secondary schools have to strive for excellence by trying to better the performance of their students in public examinations (currently the O-level and the A-level) which seem to encourage memorisation and surface reproduction. To attain this, most secondary school teachers tend to adopt a level one teaching approach focussing mainly on the transmission of knowledge (Biggs, 1999). As a result, teaching and learning become (public) examination-oriented, and most secondary school graduates are used to the didactic mode of teaching before they enter the universities. This presage factor means most of the university students find it difficult to adapt to, and even resent, problem-based learning which requires them to study independently and to be involved in group work. Hence to address this student factor, PBL would have to be best introduced gradually at

12

the tertiary level involving full support and commitment from all levels. Some forms of hybrid PBL models might have to be considered, at least at the introductory phase so as to gradually reduce the gap between students previous learning experience and the type of learning nominated by PBL. Hence if PBL is to be successful to its full intent, a more holistic approach should be adopted to introduce PBL in the elementary and secondary levels so that students will be better prepared and facilitated to develop the learning approach incurred by PBL. In fact, PBL may only be truly successful if it becomes a norm rather than an exception in both teaching and learning.

13

Daftar pustaka
1. Summers, J.PO. 2001. Guidelines for conducting research and publishing in

marketing: From conceptualization through the review process. Journal of the Academy of Marketing Science, 29(4): 405-415. 2. Feldman, D.C. 2004. The devil in details: Converting good research into publishable articles. Journal of Management, 30(1):1-6. 3. Perry, C., Cavaye, A. & Coote, L. 2002. Technical and social bonds within business-to-business relationships. Journal of Business & Industrial Marketing, 17(1):75-88. 4. Perry, C., Carson, D. & Gilmore, A. 2003. Joining a conversation: Writing for EJMs editors, reviewers and readers requaries planning, care and peristence. European Journal of Marketing, 37(5/6): 552-557. 5. MacKenzie, S.B. 2003. The danger of poor construct conceptualisation. Journal of the Academyof Marketing Sciance, 31(3):323-326.
6. Conover, Theodore E. 1985. Graphic communication today. New York: West

Publishing.
7. Mayes, Paul. 1978. Periodicals administration in libraries. London: Clive Bingley