Anda di halaman 1dari 45

LAPORAN KASUS KEDOKTERAN KELUARGA

KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA Nama kepala keluarga: Tn. S Alamat lengkap : Jl. Terusan Kembang Turi, LowokWaru

Daftar Anggota Keluarga yang Tinggal Dalam Satu Rumah


NO 1 2 3 4 5 Nama Tn.S Ny. T Ny. D Tn. K An. T Kedudukan Kepala keluarga Istri Tn. SW Anak keempat Menantu Anak Ny. D dan Tn. K L/P L P P L L Umur 68 th 62 th 29 th 30 th 2,5 th Pendidikan SD SD SMA SMA Pekerjaan Swasta IRT Kerja perusahaan Swasta Pasien klinik Tidak Tidak Iya Tidak Ket Tiphoid Fever -

di

Kesimpulan: Ny. D merupakan pegawai di sebuah perusahaan di Surabaya. Bersama dengan suami, Ny. D tinggal di rumah kos. Sedangkan anaknya (An. T) tinggal dengan neneknya (ibu Ny. D) di Malang. Ny. D dan suami pulang ke Malang setiap hari sabtu (seminggu sekali). Ny. D tinggal dalam extended family apabila pulang ke Malang.

BAB I
1

STATUS PENDERITA Pendahuluan Laporan ini dibuat berdasarkan kasus yang diambil dari seorang penderita demam tifoid, berjenis kelamin perempuan dan berusia 29 tahun. Penderita merupakan salah satu dari penderita demam tifoid dengan berbagai permasalahan yang dihadapi, tidak hanya dari segi biomedis melainkan juga segi psikologis, serta sosioekonomi. Identitas Penderita Nama Umur Jenis Kelamin Pekerjaan Pendidikan Status Perkawinan Agama Alamat Suku Tanggal Periksa Identitas suami Nama Umur Jenis Kelamin Pekerjaan Pendidikan Agama : Tn. K : 30 tahun : Laki- laki : Swasta : SMA : Islam : Ny. D : 29 tahun : Perempuan : Pegawai Perusahaan farmasi : SMA : Menikah (satu anak) : Islam : Jl. Terusan Kembang Turi, Lowok waru :: 29 September 2011

Anamnesis

1. Keluhan Utama

: Nyeri perut

2.

Riwayat Penyakit Sekarang : Nyeri dikeluhkan pada perut bagian kanan atas dan ulu hati (epigastrium), nyeri seperti terplintir, nyeri dirasakan sejak 1 minggu yang lalu. Demam (+) sejak 1 minggu yang lalu sore sampai malam, saat masih bekerja di Surabaya. Badan lemas (+), mual (+), muntah (+), badan terasa sakit semua (pegal linu). Pada waktu demam di Surabaya, pasien membeli obat di apotik, akan tetapi tetap tidak membaik. Pasien memutuskan memeriksakan diri ke dokter yang kemudian melakukan pemeriksaan tes darah lengkap dan tes widal yang akhirnya oleh dokter didiagnosa typhoid fever. Setelah itu pasien dijemput keluarga kemudian pulang ke Malang dan mengambil cuti sakit di perusahaanya untuk melakukan rawat inap di RSI. Sebelum pasien melakukan rawat inap di RSI pasien meminum ramuan yang dibuatkan oleh keluarga yaitu air rendaman cacing kering dan labu putih yang menurut pasien merupakan obat demam tifoid, sehingga pasien sudah merasa tidak panas, tapi perutnya masih tetap sakit.

3.

Riwayat Penyakit Dahulu yang pernah diderita:


a. Riwayat Hipertensi b. Riwayat Sakit Gula c. Riwayat Mondok d. Riwayat Gout e. Riwayat Penyakit Jantung f. Riwayat Sakit Kejang g. Riwayat Alergi Obat/makanan h. Riwayat Gatal- Gatal i.

: Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak pernah

Riwayat menggunakan KB

j.

Riwayat Gastritis

: (+) sudah lama mempunyai penyakit gastritis.

4.

Riwayat Penyakit Keluarga :


a. Riwayat Keluarga dengan Sakit Serupa b. Riwayat Hipertensi

: Tidak ada

: Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Ibu pasien

c. Riwayat Jantung d. Riwayat Ginjal

e. Riwayat Diabetes Melitus f. Riwayat Gastritis 5. Riwayat Kebiasaan

a. Riwayat Merokok b. Riwayat Minum Alkohol c. Riwayat Olahraga

: Tidak pernah : Tidak pernah : Tidak pernah

d. Riwayat Pengisian Waktu Luang: jarang jalan jalan, jarang

berekreasi, bekerja sebagai pegawai sebuah perusahaan farmasi, bekerja 8 jam perhari setiap senin sampai jumat dan hari sabtu pulang ke Malang. Pasien memasak hanya pada sore hari setelah pulang bekerja. e. Pasien suka makan pedas, kecut. 6. Riwayat Sosial Ekonomi : Penderita adalah seorang pegawai sebuah perusahaan farmasi dengan satu suami dan satu anak (An. T 2,5 tahun). Penderita dan suami sama-sama bekerja di Surabaya sehingga kos disana. Penghasilan dari suami istri ini perbulan ratarata Rp. 3000.000-, kotor (belum di potong uang sewa kos, dll). Menurut pasien uang yang diterimanya cukup untuk kebutuhan sehari- hari. Karena biaya rumah
4

sakit dari istri (Ny. D) sudah di tanggung oleh pihak jamsostek perusahaan. Ny. D dan Tn. K setiap minggu pulang pergi Surabaya Malang untuk menjenguk anaknya, sehingga memerlukan biaya yang cukup banyak juga. Hubungan Ny. D dan keluarga terjalin baik, terjalin komunikasi yang lancar, saling mendukung dan saling pengertian. Hubungan Ny. D dengan ayah ibu serta mertua terjalin baik. 7. Riwayat Gizi : Kesan gizi cukup, penderita mengaku jarang makan, karena malas, penderita makan 2x sehari (nasi, tempe, tahu, sayur, daging jarang, ikan), buah sering, susu (-). Anamnesis Sistem
1. Kulit

: Warna kulit kuning, pucat (-), gatal (-), kering maupun mengelupas (-).

2. Kepala

: Pusing (-), sakit kepala (-) rambut kepala rontok (-), luka (-), benjolan (-).

3. Mata

: pandangan mata berkunang-kunang (-), penglihatan kabur (-), ketajaman penglihatan berkurang (-), penglihatan ganda(-), sklera ikterik (-).

4. Hidung 5. Telinga 6. Mulut

: Cairan(-), mimisan (-), tersumbat (-). : pendengaran berkurang (-), berdengung (-), cairan (-), nyeri(-) : sariawan (-), mulut kering (-), lidah terasa pahit (-), lidah kotor (-)

7. Tenggorokan : nyeri menelan (-), suara serak (-)

8. Pernafasan

: sesak nafas (-), batuk (-), mengi (-) : nyeri dada (-), berdebar-debar (-), ampeg (-).

9. Kardiovaskuler

10.

Gastrointestinal

: mual (+), muntah(+), diare (-), nyeri

perut kanan atas RUQ (+), BAB 1xsehari 11. Genitourinaria : BAK tidak ada keluhan, warna kuning jumlah dalam batas normal.
12. Neurologik

: lumpuh (-), kaki kesemutan(-), kejang (-) : emosi stabil (+), mudah marah (-) : kaku sendi (-), nyeri sendi pinggul (-), nyeri tangan dan kaki (-), nyeri otot (+). : bengkak (-), sakit (-), telapak tangan pucat (-), kebiruan (-), luka (-), telapak tangan pucat (-)

13.

Psikiatrik

14. Muskolokeletal

15. Ekstremitas atas

16.

Ekstremitas bawah : bengkak (-), sakit (-), telapak tangan pucat (-), kebiruan (-), luka (-),telapak tangan pucat (-)

Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum

: tampak lemah, kesan gizi cukup, composmentis GCS E4 V5 M6

2. Tanda vital

: Tanggal 29 September 2011 Tensi : 110/80 mmHg Nadi RR : 66 x/menit : 20 x/menit

Suhu : 36,5 C :

Antroprometri BB : 56 kg

TB : 155 cm BMI : 23.30 (Normoweight)


6

3.

Kulit

: warna agak kuning (sawo muda), turgor baik, ikterik (-), sianosis (-), pucat (-), spider nevi (-), petechie (-), eritem (-), venektasi (-)

4.

Kepala

: Bentuk mesocephal, luka (-), rambut mudah dicabut (-), keriput (-), kelainan mimik wajah/bells palsy (-), papul (-), nodul (-), makula (-)

5.

Mata

: conjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), warna kelopak putih, refleks cahaya (+/+), radang (-/-), eksoftalmus (-), strabismus (-)

6.

Hidung Mulut

: nafas cuping hidung (-), rhinorrhea (-), epistaksis (-), deformitas hidung (-), hiperpigmentasi (-), saddle nose (-) : mukosa bibir pucat (-), sianosis bibir (-), bibir kering (-), gusi berdarah (-) lidah kotor (+), tepi lidah hiperemis (-), papil lidah atrofi(-)

7.

8.

Telinga

: membrane timpani intak, otorrhea (-), pendengaran berkurang (-), nyeri tekan mastoid (-), cuping telinga normal, serumen (-)

9. 10.

Tenggorokan Leher Thorax

: Tonsil membesar (-), pharing hiperemis (-), : lesi kulit (-), pembesaran kelenjar tiroid (-), pembesaran kelenjar limfe (-), deviasi trakea (-), tortikolis (-) : bentuk normal, simetris, pernafasan thoracoabdominal, retraksi suprasternal (-), retraksi sela iga (-), spidernevi (-), sela iga melebar (-), massa (-), krepitasi (-), kelainan kulit (-), nyeri (-)

11.

Cor: Inspeksi Palpasi Perkusi : ictus cordis tidak tampak : ictus cordis tidak tampak : Batas kiri atas Batas kanan atas : ICS II Linea para sternalis sinistra : ICS II Linea para sternalis dekstra
7

Batas kiri bawah

: ICS V medial lineo medio clavicularis sinistra

Batas kanan bawah : ICS IV linea para sternalis dekstra Auskultasi : Bunyi jantung I-II intensitas normal, regular, bising (-) Suara tambahan jantung : (-) Pulmo : Statis (depan dan belakang) Inspeksi Palpasi Perkusi : bentuk normal, pengembangan dada kanan sama dengan dada kiri : fremitus raba kiri sama dengan kanan : sonor/sonor (-/-), stridor (-) Dinamis (depan dan belakang) Inspeksi : pergerakan dada kanan sama dengan dada kiri,irama regular, otot bantu nafas (-), pola nafas abnormal (-), usaha bernafas normal. Palpasi Perkusi : fremitus raba kiri sama dengan kanan : sonor/sonor

Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/.+), suara tambahan : wheezing (-/-), ronkhi

Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/.+), suara tambahan : wheezing (-/-), ronkhi (-/-). 12. Abdomen : Inspeksi : datar/sejajar dinding dada, venektasi (-), massa (-), bekas jahitan (-) Palpasi Perkusi : supel, defense muskuler (-), nyeri epigastrium (+), nyeri RUQ (+), hepar dan lien tidak teraba, turgor baik, massa (-), asites (-) : timpani seluruh lapangan perut Auskultasi : peristaltik (+) normal
13.

System Collumna Vertebralis: Inspeksi Palpasi : deformitas (-), skoliosis (-), kifosis (-), lordosis (-) : nyeri tekan (-)

14. Ekstremitas : palmar eritem (-) Akral dingin Oedema

14.

Sistem genitalia : (tidak diperiksa) Pemeriksaan neurologik:

15.

kesadaran : composmentis fungsi luhur : dalam batas normal fungsi vegetatif : dalam batas normal N N N N fungsi sensorik: fungsi motorik : N N N N -

5 5

5 5
Kekuatan

N N
tonus

N N

Ref.Fisiologis

Ref.Patologis

16.

Pemeriksaan psikiatri

Penampilan : baik, sesuai dengan umur, perawatan diri baik Kesadaran : kualitatif tidak berubah, kuantitatif composmentis Afek : appopriate Psikomotor : normoaktif Proses pikir : bentuk : realistik Isi : waham (-), halusinasi (-), ilusi (-) Arus : koheren

Pemeriksaan Penunjang
1.

Pemeriksaan Darah lengkap Tanggal 28 September 2011 (di Surabaya). Hb Leukosit LED Trombosit PCV Eritrosit : 13.7 g/dL : 4.900 L : 49 mm/jam : 151.000 L : 40.7 % : 4.48 juta/mm3 : (12- 16 mg/dL) (4-10 ribu mg/dL) (2-20 mm/jam) (150- 400 ribu ) (37- 48 %) (4.0- 5.5 juta/mm3 -

Hitung jenis : 0/0/2/64/25/9 lapang pandang Pemeriksaan Immunologi Thypus O: +1/80 Thypus H : +1/320 Parathypus A: Parathypus B : + 1/160 (-) (-) (-) (-).

Tanggal 29 September 2011 Hb Leukosit LED Trombosit PCV Eritrosit : 14.5 g/dL : 5.500 L : - mm/jam : 144.000 L : 45.7 % : 5.09 juta/mm3 : (12- 16 mg/dL) (4-10 ribu mg/dL) (2-20 mm/jam) (150- 400 ribu ) (37- 48 %) (4.0- 5.5 juta/mm3) -

Hitung jenis : 1/5/-/42/41/11 lapang pandang Pemeriksaan Immunologi Thypus O: Thypus H : +1/320 Parathypus A: Parathypus B : + 1/160 (-) (-) (-) (-).

Resume Sekitar 1 minggu yang lalu pasien mengalami demam tinggi, demam terutama pada sore hingga malam hari. Pasien juga merasakan nyeri perut RUQ dan
10

epigastrium, nyeri seperti terpelintir dengan kuantitas sangat nyeri, lemah badan, badan terasa sakit semua, mual dan muntah tiap malam, sejak 1 minggu yang lalu. sakit seperti di tusuk- tusuk, dengan kualitas nyeri yang sangat. Pada waktu sakit di Surabaya pasien membeli sendiri obat penurun demam di warung, tapi tidak kunjung membaik, akhirnya memutuskan untuk periksa ke dokter praktek dan melakukan pemeriksaan laboratorium yang hasilnya positif demam tifoid. Kemudian pasien di jemput oleh keluarga untuk dibawa pulang ke malang dan melakukan rawat inap di RSI dengan izin cuti sakit dari perusahaannya. Pasien berobat dengan dana jamsostek dari perushaannya. Sebelumny pasien di berikan ramuan cacing dan labu putih oleh keluarganya karena dipercaya dapat menurunkan gejala panas dan demam tifoid. Riwayat penyakit dahulu pasien menderita gastritis yang telah lama (pasien lupa kapan awalnya). Tidak terdapat riwayat sakit serupa di keluarganya, tetapi ibu pasien juga mempunyai penyakit infeksi lambung. Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak lemah, composmentis, kesan gizi cukup. Tanda vital memberi kesan BMI dalam batas normal, tensi 110/80 mmHg, status lokalis nyeri dirasakan pada RUQ dan epigastrium. Pemeriksaan laboratorium didapatkan jumlah trombosit yang sedikit menurun (batas normal bawah), dan pada pemeriksaan Immunologi Widal tes di dapatkan hasil positif pada Thypus H (+1/320) dan parathypi B (1/160). Diagnosis Holistik Ny. D dengan usia 29 tahun adalah penderita demam tifoid. Hubungan Ny. D dan keluarganya cukup harmonis dan dalam kehidupan sosial Ny. D adalah anggota masyarakat biasa dalam kehidupan kemasyarakatan. 1. Diagnosis dari segi biologis : Demam tifoid 2. Diagnosis dari segi psikologis : Hubungan Ny. D dengan keluarga cukup harmonis, saling pengertian dan membantu. 3. Diagnosis dari segi sosial, ekonomi, dan budaya :

11

Penderita hanya sebagai anggota masyarakat biasa dan jarang mengikuti kegiatan di lingkungannya karena penderita dan suami tinggal di Surabaya. Tetapi apabila pada waktu pasien dan suami pulang ke Malang, pasien dan suami turut juga mengikuti kegiatan di lingkungannya. Penatalaksanaan Non Medikamentosa
-

Pasien disarankan untuk banyak istirahat/ tirah baring yang bertujuan untuk mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan. Pasien diberikan pengetahuan tentang penyakit demam tifoid, gejala, tanda, pencegahan dan terapinya. Menjaga kebersihan rumah tangga. Mempertahankan asupan cairan dan kalori yang adekuat: Memulai dengan makan makanan yang lunak, seperti bubur sum- sum, kemudian di lanjutkan dengan nasi yang lunak, kemudian apabila sudah merasa baik bisa mengganti dengan nasi biasa. Makan pagi dengan porsi cukup besar merupakan makanan yang paling baik ditoleransi Perbanyak makan buah dan sayuran Hindari makan makanan yang terlalu pedas dan asam karena dikhawatirkan akan mempengaruhi lambung.

Menghindari aktifitas fisik yang berlebihan. Minum vitamin kesehatan Infuse RA Ceftriaxone 20 tetes/ menit 2x1

Medikamentosa

Obat golongan sefalosporin generasi ke III secara umum aktif terhadap kuman gram positif (+).

12

Indikasi

: pengobatan infeksi saluran nafas bawah, saluran kemih,

kelamin, tulang dan sendi, kulit, infeksi ginekologi, infeksi SSP, ISK : bakterimia dan septicemia, infeksi intraabdomen dan profilaksis pra-op. Dosis hari. KI ES : : hipersenitivitas terhadap sefalosporin gangguan GI, reaksi hipersensitivitas, superinfeksi, : Dewasa dan anak >12 tahun 1-2 g IV 1x/hari. Dosis max 4 g/

leucopenia sementara, eosinofilia, neutropenia, tromboistosis, peningkatan sementara SGOT/ SGPT, dan BUN. Progresic Komposisi Indikasi Dosis 3x1 : parasetamol : analgesic dan antipiretik. : Dewasa 1-2 kap 3-4 x/ hari, max 6 kapsul/ hari. Anak > 7 tahun - 1 kap 3-4 x/ hari, max 3 kapsul/ hari. Diberikan bersama atau tanpa makanan. KI ES
-

: penyakit hati : reaksi hematologi, reaksi kulit dan alergi yang lain. : mengurangi gejala yang berhubungan dengan asam lambung, : dewasa sehari 3- 4 kali, 1-2 sendok teh, diminum 1-2 jam : hipersensitif terhadap salah satu komponen obat : jarang: rasa tidak nyaman pada GI, pusing, sakit kepala, ruam

Antacida Sir 3x CI Indikasi Dosis KI ES kulit. gastritis, tukak lambung, dengan gejala mual, muntah, nyeri ulu hati. setelah makan dan sebelum tidur, batas pemberian 2 minggu.

Injeksi Rantin 2x1 Komposisi Indikasi : Ranitidine HCL : tukak duodenal aktif, tukak lambung aktif non maligna,

kondisi hiperekresi patologis seperti sindroma Zollinger- Ellison

13

Dosis sebelum tidur. KI ES Vitamin B1 Omeprazole Indikasi Dosis PO ES Peflacine Komposisi Indikasi Dosis KI kuinolon. ES

: tukak duodenal aktif 150 mg, 2 x1 (pagi dan malam), atau

300 mgx1 hari sebelum tidur. Terapi pemeliharaan tukak lambung 150 mg :: sakit kepala, pusing, gangguan GI, ruam kulit. 100 mg 3x1 1x1 : ulkus duodenum, ulkus lambung, lesi gastroduodenal, ulkus : ulkus duodenal 20 mg 1x/hr selama 2- 4 mgg, ulkus lambung : Diberikan segera sebelum makan. : sakit kepala, jarang : ruam, pruritus, pusing, parasteia, 2x1 : pefloxacin mesylate dihidrate : infeksi berat karena bakteri Gram dan Gram +. : tab 2x1/ hr. amp sehari 2x1 amp dengan infuse IV perlahan > : anak < 15 tahun, hamil, laktasi, riwayat lesi tendon, tendinitis

peptikum, refluks esofagitis dan sindroma Zollinger- Ellison. 20 mg 1x/hr selama 4-8 minggu.

insomnia, vertigo diare, konstipasi, gang. GI, reaksi hiperensitivitas.

1 jam. Diberikan bersama makanan. atau rupture pada tendon, defisiensi G6PD, dan alergi pada kelompok : gangguan GI, nyeri otot atau endi, gangguan neurologi,

trombositopenia (dalam dosis besar), dan fotosensitivitas. Follow up Tanggal 30 September 2011 S O : nyeri perut, nafsu makan menurun, lemah badan berkurang, mual (-), muntah (-). : KU tampak lemah, compos mentis, kesan gizi cukup
14

Tanda vital: T: 110/90 mmHg N: 80 x/menit Pemeriksaan Lab: Hb Leukosit LED Trombosit PCV Eritrosit A P : 13.6 g/dL : 5.100 L : - mm/jam : 164.000 L : 42.1 % : 4.68 juta/mm3

RR: 20 x/menit S: 36,2oC (12- 16 mg/dL) (4-10 ribu mg/dL) (2-20 mm/jam) (150- 400 ribu ) (37- 48 %) (4.0- 5.5 juta/mm3)

Hitung jenis : 3/2/-/45/40/10 lapang pandang : Demam tifoid : terapi medika mentosa tetap, di tambah Rantin (Ranitidin) 2x1

Tanggal 1 Oktober 2011 S O : nyeri perut masih agak nyeri, nafsu makan membaik, lemah badan berkurang : KU lemah, compos mentis, kesan gizi cukup Tanda vital: T: 100/80 mmHg N: 76 x/menit Pemeriksaan Lab: Hb Leukosit LED Trombosit PCV Eritrosit A P : 13.6 g/dL : 5.200 L : - mm/jam : 181.000 L : 42.9 % : 4.77 juta/mm3 (12- 16 mg/dL) (4-10 ribu mg/dL) (2-20 mm/jam) (150- 400 ribu ) (37- 48 %) (4.0- 5.5 juta/mm3) RR: 20 x/menit S: 38oC

Hitung jenis : 2/1/-/54/33/9 lapang pandang : Demam tifoid : terapi tetap

15

Tanggal 2 Oktober 2011 S O : nyeri perut (kadang- kadang), mual (-), muntah (-). : KU baik, compos mentis, kesan gizi cukup Tanda vital: T: 110/70 mmHg N: 84 x/menit Pemeriksan Lab: Hb Leukosit LED Trombosit PCV Eritrosit Tes Widal : 13.2 g/dL : 8.000 L : - mm/jam : 185.000 L : 44.4 % : 4.89 juta/mm3 : Thypus O: Thypus H : +1/320 Parathypus A : +1/80 Parathypus B : +1/160 A P : Demam tifoid : terapi tetap (12- 16 mg/dL) (4-10 ribu mg/dL) (2-20 mm/jam) (150- 400 ribu ) (37- 48 %) (4.0- 5.5 juta/mm3) RR: 20 x/menit S: 37oC

Hitung jenis : -/-/-/68/24/7 lapang pandang

Tanggal 3 Oktober 2011 S O : nyeri perut kadang- kadang, nafsu makan baik : KU baik, compos mentis, kesan gizi cukup Tanda vital: T: 100/80 mmHg N: 80 x/menit Pemeriksaan Lab: Hb Leukosit LED Trombosit : 13.8 g/dL : 6.000 L : - mm/jam : 193.000 L (12- 16 mg/dL) (4-10 ribu mg/dL) (2-20 mm/jam) (150- 400 ribu )
16

RR: 20 x/menit S: 36,4oC

PCV Eritrosit A P

: 43.8 % : 4.82 juta/mm3

(37- 48 %) (4.0- 5.5 juta/mm3)

Hitung jenis : 2/3/-/51/31/12 lapang pandang : Demam tifoid : terapi tetap di tambah Vitamin B1 100 mg 3x1

Tanggal 4 Oktober 2011 S O : nyeri perut tidak ada, nafsu makan baik : KU baik, compos mentis, kesan gizi cukup Tanda vital: T: 110/80 mmHg N: 82 x/menit Pemeriksaan Lab: Hb Leukosit LED Trombosit PCV Eritrosit Tes Widal : 13.6 g/dL : 7.700 L : - mm/jam : 208.000 L : 43.4 % : 4.77 juta/mm3 : Thypus O: Thypus H : +1/320 Parathypus A : Parathypus B : +1/320 A : Demam tifoid P : terapi tetap, pasien ACC pulang., dengan pemeriksaan SGOT/ SGPT Obat untuk di rumah: Progresik 3x1 Antasida 3x1 Omeprazole Peflacine 2x1
17

RR: 20 x/menit S: 36,8oC (12- 16 mg/dL) (4-10 ribu mg/dL) (2-20 mm/jam) (150- 400 ribu ) (37- 48 %) (4.0- 5.5 juta/mm3)

Hitung jenis : 2/5/-/49/31/13 lapang pandang

1x1

Flow Sheet Nama Diagnosis


No . 1 Tangg al
30/09/2 011 T: mm/Hg N: 80 x/menit RR: 20 x/menit S: 36,2 C T: 100/80 mmHg N:76 x/menit RR:20 x/menit S:38 oC T: 110/70 mmHg N:84 x/menit RR:20 x/menit S: 37oC T:100/80 mmHg N:80 x/menit RR:20 x/menit S:36,4 oC T:110/80 mmHg N:82 x/menit RR:20 x/menit S:36,8 oC
o

: Ny. D : Demam Tifoid


Vital Sign BB/ TB
110/90 56/ 155 23.30

Tabel 1. Flow sheet pasien

BMI

Status Lokalis
Nyeri perut

Keluhan

Rencana

Nyeri perut, lemah, mual -, muntah -, nafsu menurun. makan

- penyuluhan tentang sakit pasien kepada keluarga - penyuluhan tentang pola makan teratur dan gaya hidup sehat.

01/10/2 011

56/ 155

23.30

Nyeri perut

Nyeri berkurang, badan makan (+),

perut lemah nafsu sedikit perut hanya kadang-

- terapi medika mentosa terapi non diet, medika mentosa pola (pengaturan istirahat,

makan teratur, kebersihan mkanan dan peralatan makan, olahraga, dll) - terapi medika mentosa - terapi non medikamentosa

02/10/2 011

56/15 5

23.30

Nyeri perut

membaik. Nyeri berkurang, timbul kadang.

03/10/2 011

56/15 5

23.30

Nyeri perut

Nyeri perut kadangkadang, makan baik. nafsu

- terapi medika mentosa - terapi non medika mentosa

04/10/2 011

56/15 5

23.30

Nyeri perut

Nyeri perut tidak ada, nafsu makan baik.

- terapi medika mentosa - terapi non medika mentosa

BAB II
18

IDENTIFIKASI FUNGSI-FUNGSI DALAM KELUARGA Fungsi Holistik 1. Fungsi Biologis Keluarga ini terdiri dari suami, istri (Tn. K dan Ny. D) serta satu orang anak An. T (2.5 tahun). Ny. D cukup mengerti tentang penyakitnya, baik demam tifoid atau penyakit sebelumnya yaitu gastritis. Akan tetapi Ny. D menganggap remeh penyakitnya dengan tidak makan teratur serta suka makan pedas dan asam. Suami Ny. D sama- sama bekerja sehingga perhatian terhadap kesehatan istri kurang. 2. Fungsi Psikologis Hubungan Ny. D dengan suami serta anak cukup baik, saling mendukung, serta saling memperhatikan. Olehkarena itu, Ny. D dan suami pulang seminggu sekali untuk menjenguk anaknya. Hubungan Ny. D dengan ayah ibunya baik. 3. Fungsi Sosial Dalam kehidupan sehari-hari, Ny. D hanya sebagai anggota masyarakat biasa, tidak mempunyai kedudukan sosial tertentu dalam masyarakat. Dalam kehidupan sosial Ny. D kurang berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, hal tersebut karena Ny. D dan suami tinggal di Surabaya. Hubungan dengan tetangga baik. 3. Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan Dalam keluarga Ny. D, penghasilan yang didapat perbulan kira- kira Rp. 3000.000-, belum termasuk dipotong uang kos. Biaya pengobatan Ny. D telah di tanggung oleh jamsostek perusahaannya. Menurut pasien biaya yang dikeluarkan sudah cukup untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka, dan anak mereka yang dititipkan ke orang tua Ny. D (nenek dan kakek).

19

Pasien makan sehari-hari biasanya 2 kali sehari dengan nasi lauk ayam, tahu, tempe dan lain-lain. Pasien juga mengatakan sering makan buah-buahan tetapi jarang makan nasi dan minum air putih. Kesimpulan : Fungsi biologis dalam keluarga Ny. D kurang baik.

FUNGSI FISIOLOGIS DENGAN ALAT APGAR SCORE APGAR score Ny. D=9
APGAR Ny. D Terhadap Keluarga Sering/ selalu Kadangkadang Jarang/ Tidak

A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga


saya bila saya menghadapi masalah

Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya

G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima


dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru

A Saya

puas

dengan

cara

keluarga

saya

mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll

R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya


membagi waktu bersama-sama

Untuk Ny. D APGAR score dapat dijelaskan sebagai berikut : Adaptation : Dalam menghadapi masalah hidup, Ny. D memecahkan masalah bersama keluarganya, dan menerima saran dari anggota keluarganya. Score : 2 Partnership : Komunikasi antara pasien dengan anggota keluarganya terjalin sangat akrab, saling mengisi antara anggota keluarga. Mereka saling memberi perhatian, masukan, dan bantuan jika ada yang terkena masalah. Score : 2
20

Growth : Ny. D selalu mendapat dukungan dari keluarganya perihal kegiatankegiatan yang akan di lakukan. Score : 2 Affection : Kasih sayang yang terjalin antara pasien dan anggota keluarganya baik. Score : 2 Resolve : Ny. D jarang berkumpul, makan, dan mengobrol bersama anggota keluarganya. Score : 1 APGAR score Tn. K= 8
APGAR Tn. K Terhadap keluarga Sering/ selalu Kadangkadang Jarang /tidak

A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga


saya bila saya menghadapi masalah.

Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya.

G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima


dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru.

A Saya

puas

dengan

cara

keluarga

saya

mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll

R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya


membagi waktu bersama-sama

Untuk Tn. K APGAR score dapat dijelaskan sebagai berikut : Adaptation : Dalam menghadapi masalah hidup, Tn. K memecahkan masalah bersama keluarganya, dan menerima saran anggota keluarganya. Score :2
21

Partnership : Komunikasi antara Tn. K dengan anggota keluarganya terjalin sangat akrab, saling mengisi antara anggota keluarga. Mereka saling memberi perhatian, masukan, dan bantuan jika ada yang terkena masalah. Score : 2 Growth : Tn. K selalu mendapat dukungan dari keluarganya tentang kegiatankegiatan yang akan di lakukan. Score : 2 Affection : Kasih sayang yang terjalin antara Tn. K dan anggota keluarganya kurang baik. Score : 1 Resolve : Tn. K jarang kumpul, makan, dan mengobrol bersama anggota keluarganya. Score : 1 APGAR score Tn. S =10
APGAR Tn. S Terhadap keluarga Sering/ selalu Kadangkadang Jarang/ Tidak

A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga P G


saya bila saya menghadapi masalah Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru puas dengan cara keluarga emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll

A Saya

saya

mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon

R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya


membagi waktu bersama-sama

Untuk Tn. S APGAR score dapat dijelaskan sebagai berikut : Adaptation : Dalam menghadapi masalahnya Tn. S memecahkan masalah bersama keluarganya, dan menerima saran dari anggota keluarganya. Score : 2

22

Partnership : Komunikasi antara Tn. S dengan keluarganya baik, dan akrab. An. Ta selalu menceritakan kepada orang tuanya tentngmaalah yang dihadapinya. Score : 2 Growth : Tn. S selalu mendapat dukungan dari keluarganya tentang kegiatankegiatan yang akan di lakukan. Score : 2 Affection : Kasih sayang yang terjalin antara Tn. S dan anggota keluarganya sangat baik. Score : 2 Resolve : Tn. S sering kumpul, makan, dan mengobrol bersama anggota keluarganya. Score : 2
APGAR Score Ny. T =10
Sering/ selalu Kadangkadang Jarang/ Tidak

APGAR Tn. S Terhadap keluarga

A P

Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya

G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima


dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru puas dengan cara keluarga

A Saya

saya

mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon

emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama

Untuk Ny. T APGAR score dapat dijelaskan sebagai berikut : Adaptation : Dalam menghadapi masalahnya Ny. T memecahkan masalah bersama keluarganya, dan menerima saran dari anggota keluarganya. Score : 2

23

Partnership : Komunikasi antara Ny. T dengan keluarganya baik, dan akrab. An. Ta selalu menceritakan kepada orang tuanya tentngmaalah yang dihadapinya. Score : 2 Growth : Ny. T selalu mendapat dukungan dari keluarganya tentang kegiatankegiatan yang akan di lakukan. Score : 2 Affection : Kasih sayang yang terjalin antara Ny. T dan anggota keluarganya sangat baik. Score : 2 Resolve : Ny. T sering kumpul, makan, dan mengobrol bersama anggota keluarganya. Score : 2 APGAR score keluarga terhadap Ny. D = 9: 8: 10 :10 = 9 Kesimpulan : Fungsi fisiologis keluarga Ny. D baik.

FUNGSI PATOLOGIS KELUARGA DENGAN ALAT SCREEM Fungsi patologis dari keluarga Ny. D dinilai dengan menggunakan alat S.C.R.E.E.M sebagai berikut. Tabel 5. SCREEM keluarga pasien Sumber Ikut berpartisipasi dalam kegiatan di lingkungannya Patologis -

Social Culture Religious Economic Educational

Menggunakan adat istiadat daerah asal dalam kehidupan sehari- hari Pemahaman terhadap ajaran agama cukup, demikian juga ketaatannya dalam beribadah. Penghasilan keluarga relative cukup Tingkat pendidikan dan pengetahuan keluarga tentang kesehatan cukup akan tetapi kesadaran akan kesehatan masih kurang + Dalam mencari pelayanan kesehatan, keluarga Ny. Ih pergi ke
24

Medical Kesimpulan

praktek dokter umum

Keluarga Ny. D cukup mengerti tentang penyakit yang diderita pasien setelah mendapat penjelasan dari perawat dan dokter. Akan tetapi keluarga Ny. D kurang bias menjaga kesehatan dirinya dengan makan tidak teratur dan kurang waktu untuk istirahat. Pola Interaksi Keluarga Diagram Pola interaksi Ny. D
Ny. D (29 tahun)

Tn. K (30 tahun)

Ny. T (62 tahun)

Tn. S (68 tahun)

Keterangan : Hubungan baik Hubungan tidak baik

Kesimpulan Hubungan antara Ny. D dengan semua anggota keluarga baik dan hubungan antar angota keluarga yang lain juga baik.

25

Genogram Keluarga Ny. Ih (41 tahun)


Ny. T (62 th) Tn. S (68 th)

X
Ny. D (29 th) Tn.K (30 th)

An. T (2.5 th)

Keterangan: pasien perempuan l laki- laki meninggal

BAB III IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN

26

1. Identifikasi Faktor Perilaku dan Non Perilaku Keluarga Faktor Perilaku Keluarga a. Pengetahuan Ny. D dan Tn. K memiliki pengetahuan yang cukup tentang kesehatan. Menurut pendapat mereka semua kesehatan itu tidak hanya secara jasmani saja tetapi juga dalam hal kerohanian. Akan tetapi Ny. D dan keluarga kurang mengerti tentang penyebab, gejala dan tanda dari penyakit demam tifoid. Keluarga Ny. D sebenarnya khawatir dengan keadaan Ny. D tetapi Ny. D tetap saja bekerja meskipus sakit, sehingga oleh keluarganya Ny. D di jemput dari Surabaya dan melakukan rawat inap di RSI. b. Sikap Keluarga Ny. D peduli dengan kondisi kesehatan pasien. Terbukti dengan berkumpulnya keluarga Ny. D untuk menjenguk di RS dan menghibur Ny. D. c. Tindakan Keluarga selalu mengantarkan pasien untuk berobat baik sebelum rawat inap (di dokter praktek umum dan IGD RS) atau pada saat rawat inap (suami dan kakak laki- laki pasien). Keluarga juga menjaga pasien setiap hari secara berganti- ganti. Faktor Non Perilaku Dipandang dari segi ekonomi, keluarga Ny. D termasuk orang yang cukup. Dengan penghasilan dua orang yang bekerja untuk menghidupi 3 orang dalam satu keluarga (anaknya ikut neneknya). Rumah yang dihuni keluarga ini cukup besar, akan tetapi jarak antar rumah rapat, banyak polusi (asap kendaraan), dan kawasan yang ramai sehingga rawan terjadi kecelakaan. 2. Identifikasi Lingkungan Rumah Gambaran Lingkungan Keluarga ini tinggal di sebuah rumah yang berdempetan dengan rumah tetangganya. Rumah ini memiliki pekarangan rumah dan pagar pembatas. Terdiri dari ruang tamu, 3 kamar tidur, 1 ruang keluarga yang terdapat TV, satu dapur, dan 1 kamar mandi. Rumah Ny. D memiliki lantai keramik tetapi
27

bagian dapur dan kamar mandi menggunakan ubin, dan agak sedikit lembab. Ventilasi dan penerangan rumah cukup, karena pintu rumah sering terbuka serta terdapat jendela yang cukup lebar diruang tamu, ruang keluarga serta dalam masing- masing kamar. Kondisi dapur dan kamar mandi cukup baik, akan tetapi sedikit terlihat kurang rapi. Sarana air keluarga ini menggunakan jasa PDAM. Secara keseluruhan kebersihan rumah sudah cukup. Pelayanan kesehatan Pelayanan kesehatan termasuk praktek dokter, apotek dan sebagainya masih dapat di jangkau dengan mudah oleh keluarga Ny. D. Jika salah satu anggota keluarga ada yang yang sakit biasanya pergi berobat ke dokter praktek. Dan bila dirasa sakitnya parah mereka membawa ke RS untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik. Ketururnan Tidak terdapat faktor keturunan penyakit demam tifoid Kesimpulan : Lingkungan rumah cukup memenuhi syarat kebersihan.

R. dapur

KM

R. Tidur R. Tidur
Teras samping

Denah Rumah

R. Tidur

R. keluarga

10 meter R. Tamu Teras depan

28

7 meter

Diagram Faktor Perilaku dan Non Perilaku

Pengetahuan Keluarga kurang memahami penyakit penderita. Sikap Keluarga perduli terhadap sakit penderita,tetapi penderita kurang peduli terhadap kesehatan diri sendiri. Tindakan Keluarga selalu mengantarkan periksa ke dokter dan RS

Rumah cukup memenuhi syarat kesehatan

Ny. D

Tidak ada riwayat penyakit demam tifoid di keluarganya

Bila sakit berobat ke dokter praktek kalau sudah parah baru ke RS

Ket: : Faktor Perilaku


: Faktor Non-perilaku

DAFTAR MASALAH Masalah medis : Demam Tifoid


29

Masalah non medis :


1. Pengetahuan Ny. D dan keluarga tentang penyakitnya cukup baik, tapi

pencegahan dan pengelolaan penyakitnya kurang.


2. Ny. D tidak mau menjaga kesehatan individunya (makan tidak teratur).

3. Ny. D dan keluarga serta anaknya jarang berkumpul bersama karena Ny. D dan suami bekerja di luar kota. Diagram Permasalahan Pasien (Menggambarkan hubungan antara timbulnya masalah kesehatan yang ada dengan faktor-faktor resiko yang ada dalam kehidupan pasien)
Pengetahuan Ny.D tentang penyakitnya cukup baik, tapi pencegahan dan pengelolaan penyakitnya kurang. Kurang mampu memelihara kesehatan individu (makan tidak teratur)

Ny. D (29 th) Demam tifoid

Ny. D dan keluarga serta anaknya jarang berkumpul bersama karena Ny. D dan suami bekerja di luar kota.

Matrikulasi Masalah Prioritas masalah ini ditentukan melalui teknik kriteria matriks.
No. Daftar Masalah I P 1.
Pengetahuan Ny.D tentang penyakitnya cukup baik, tapi pencegahan dan pengelolaan penyakitnya kurang. Ny.D tidak mau menjaga kesehatan individunya (makan tidak teratur). Ny. D dan keluarga serta anaknya jarang berkumpul bersama karena Ny. D dan suami bekerja di luar kota.

T S 5 SB 5 2

R Mn 4 Mo 4 Ma 5

Jumlah IxTxR 20.000 (1)

2.

12.000 (2)

4.050 (3)

30

Keterangan : I P S SB T R Mn Mo Ma 1 2 3 4 5 : Importancy (pentingnya masalah) : Prevalence (besarnya masalah) : Severity (akibat yang ditimbulkan oleh masalah) : Social Benefit (keuntungan sosial karena selesainya masalah) : Technology (teknologi yang tersedia) : Resources (sumber daya yang tersedia) : Man (tenaga yang tersedia) : Money (sarana yang tersedia) : Material (pentingnya masalah) : tidak penting : agak penting : cukup penting : penting : sangat penting

Kriteria penilaian :

Berdasarkan kriteria matriks diatas, maka urutan prioritas masalah keluarga Ny. D adalah sebagai berikut : 1. 2. Pengetahuan Ny.D tentang penyakitnya cukup baik, tapi pencegahan dan pengelolaan penyakitnya kurang. Ny.D tidak mau menjaga kesehatannya individunya (makan tidak teratur). 3. Ny. D dan keluarga serta anaknya jarang berkumpul bersama karena Ny. D dan suami bekerja di luar kota. Kesimpulan : Kurangnya pengetahuan menyebabkan pasien kurang perhatian tentang bahaya penyakitnya serta kurangnya kedisiplinan menjaga kesehatannya.

31

BAB IV HUBUNGAN PENGETAHUAN KELUARGA DENGAN PENYAKIT DEMAM TIFOID

Definisi Demam Tifoid Demam tifoid adalah penyakit sitemik akut akibat infeksi Salmonella typhi. Demam tifoid masih merupakan salah satu masalah kesehatan yang penting di Indonesia. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang menyerang banyak orang sehingga dapat menimbulkan wabah (Widodo, dkk; 2009). Epidemiologi Demam Tifoid Di Indonesia, demam tifoid bersifat endemic. Penderita dewasa muda sering mengalami komplikasi berat berupa perdarahan dan perforasi usus (Widodo, dkk; 2009). Di Indonesia insidens penyakit tersebut tergolong masih tinggi. Penyakit tersebut diduga erat hubungannya dengan hygiene perorangan yang kurang baik, sanitasi lingkungan yang jelek (penyediaan air bersih yang kurang, pembuangan sampah dan kotoran manusia yang kurang memenuhi syarat kesehatan, pengawasan makanan dan minuman yang belum sempurna), serta fasilitas kesehatan yang kurang terjangkau oleh sebagian besar masyarakat. Organisme yang menyebabkan keadaan ini mampu bertahan hidup lama di lingkungan kering dan beku. Bakteri ini juga mampu bertahan beberapa minggu di
32

dalam air, es, debu sampah kering dan pakaian, dan berkembang biak dalam susu, daging, telur, atau produknya tanpa merubah warna atau bentuknya. Salmonella typhi:
1.

Morfologi : termasuk Enterobacteriaceae (kuman enteric batang gram negative), yang bersifat anaerob fakultatif atau aerob, tak berspora dan intraseluler fakultatif.

2.

Faktor pathogenesis : bakteri ini merupakan bakteri pathogen yang mempunyai transmisi, perlekatan pada sel inang, invasi sel dan jaringan inang, toksigenitas dan kemampuan menghindari system imun. Sekali bakteri masuk ke sel tubuh dia harus berikatan dengan sel inang, dan biasanya pada sel epitel. Antigen : terdapat 3 kelompok antigen utama, yaitu: - antigen somatic (Ag O), berupa bahan lipopoliakarida yang merupakan antigen utama dinding sel. - antigen flagel (Ag H), terdiri dari protein termolabil dan didenaturasi oleh panas dan alcohol - antigen simpai atau kapsul yang disebut Vi (Vitulen), yang mengganggu aglutinasi melalui antiserum O. antigen ini berhubungan dengan sifat invasive yang dimilikinya. - antigen K, menyebabkan perlekatan bakteri pada el epitel sebelum invasi ke saluran cerna. Endotoksin/ Lipopolisakarida Endotoksin berasal dari dinding sel dan sering dilepaskan bila bakteri lisis. Endotokin dalam aliran darah ,mula- mula terikat pada protein yang beredar dan kemudian berinteraksi dengan reseptor pada makrofag, monosit dan sel lain dalam organ retikuloendotelial. Enzim sitolitik Berfungsi untuk menghancurkan jaringan (Karsinah, dkk; 1994).

33

Patogenesa Demam Tifoid Penularan Salmonella thyposa adalah melalui feco-oral, dibutuhkan sejumlah 105-109 kuman untuk menyebabkan infeksi. Dimana faktor yang mempengaruhi infeksi adalah : a. PH, jika PH lambung asam dapat mencegah infeksi b. Waktu pengosongan lambung Masa inkubasi demam tifoid kurang lebih 14 hari. Masuknya kuman Salmonella typhi (S. typhi) dan Salmonella paratyphi (S. paratyphi) ke dalam tubuh manusia melalui makanan yang terkontaminasi. Bakteri Salmonella typhi bersama makanan atau minuman masuk ke dalam tubuh melalui mulut. Pada saat melewati lambung dengan suasana asam (pH < 2 ) banyak bakteri yang mati. Bakteri yang masih hidup akan mencapai usus halus dan di usus halus tepatnya di ileum dan yeyenum akan menembus dinding usus. Bakteri mencapai folikel limfe usus halus, ikut aliran ke dalam kelenjar limfe mesenterika bahkan ada yang melewati sirkulasi sistemik ke jaringan di organ hati dan limfa. Salmonella typhi mengalami multifikasi di dalam sel fagosit mononuklear, di dalam folikel limfe, kelenjar limfe mesenterika, hati dan limfe. Setelah pada periode tertentu (inkubasi), yang lamanya ditentukan oleh jumlah dan virulensi kuman serta respon imun penderita maka Salmonella typhi akan keluar dari habitatnya dan melalui duktus torasikus akan masuk ke dalam sirkulasi darah dan menyebar ke organ retikuloendotelial terutama hati dan limpa. Peran endotoksin dari Salmonella typhi menstimulasi makrofag di dalam hati, limfa, folikel limfoma usus halus dan kelenjar limfe mesenterika untuk memproduksi sitokin dan zat-zat lain. Produk makrofag inilah yang dapat menimbulkan nekrosis sel, sistem vaskuler yang tidak stabil, demam, depresi sumsum tulang, kelainan pada darah dan juga menstimulasi sistem imunologik. Di dalam hati, kuman masuk ke dalam kandung empedu, berkembang biak, dan bersama cairan empedu diekskresikan secara intermiten ke dalam lumen usus.
34

Sebagian kuman dikeluarkan melalui feses dan sebagian masuk lagi ke dalam sirkulasi setelah menembus usus. Proses yang sama terulang kembali, berhubung makrofag telah teraktivasi dan hiperaktif maka saat fagositosis kuman Salmonella typhy terjadi pelepasan beberapa mediator inflamasi yang selanjutnya akan menimbulkan gejala reaksi inflamasi sistemik seperti demam, malaise, mialgia, sakit kepala, sakit perut, instabilitas vaskular gangguan mental, dan koagulasi. Patofisiologi

Gejala Klinis Demam Tifoid 1. Demam

35

Terjadi karena kuman menyerang sistem retikulo endothelial dan septikemia, bersifat febris remiten dan suhu tidak berapa tinggi. Selama minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur meningkat setiap sore dan malam hari. Dalam minggu kedua penderita terus berada dalam keadaan demam, anak besar/dewasa febris continua. Dalam minggu ketiga suhu badan berangsurangsur turun dan normal kembali pada akhir minggu ketiga. 2. Gangguan saluran cerna Bibir kering, pecah-pecah, nafas berbau tidak sedap, lidah ditutupi selaput putih kotor (coated tongue), ujung tepinya kemerahan, jarang disertai tremor. Pada abdomen mungkin ditemukan keadaan perut kembung (meteorismus). Hati dan limpa membesar serta disertai nyeri pada perabaan. Biasanya didapati konstipasi, akan tetapi mungkin pula normal bahkan diare, diare karena enterotoksinnya. Lemas, pusing dan sakit perut. Demam yang tinggi menimbulkan rasa lemas, pusing. 3. Gangguan kesadaran Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak begitu dalam yaitu apati sampai somnolen. Dapat pula ditemukan gejala-gejala berupa roseola pada punggung dan anggota gerak. Kadang-kadang ditemukan bradikardia pada anak besar dan mungkin pula ditemukan epistaksis. Diare, sifat bakteri yang menyerang saluran pencernaan menyebabkan gangguan penyerapan cairan akibatnya terjadi diare. Tetapi pada beberapa kasus dapat jug aterjadi konstipasi. Diagnosa Kerja Demam Tifoid

36

Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik dapat dibuat diagnosis observasi demam tifoid. Untuk memastikan diagnosis perlu dikerjakan pemeriksaan laboratorium sebagai berikut : Pemeriksaan yang berguna untuk menyokong diagnosis: a. Pemeriksaan darah tepi - Anemia, pada umunya terjadi karena supresi sumsum tulang, defisiensi Fe, atau perdarahan usus. - Leukopeni, namun jarang kurang dari 3000/uL. - Limfositosis relatif dan aneosinofilia pada permulaan sakit. - Trombositopeni terutama pada demam tifoid berat. b. Pemeriksaan urine Proteinuria ringan dapat terjadi karena pengaruh demam. c. Pemeriksaan tinja Kelainan pada tinja umumnya tidak menyolok. Adanya lendir dan darah pada tinja merupakan peringatan agar waspada akan bahaya perdarahan usus atau perforasi. d. Pemeriksaan sum-sum tulang Tidak rutin dilakukan. Terdapat gambaran sum-sum tulang berupa hiperaktifitas RES dengan adanya sel macrofag, sedangkan sistem eritropoesis, granulopoesis dan trombopoesis berkurang. Pemeriksaan laboratorium untuk membuat diagnosis: a. Isolasi bakteri

37

Pada minggu pertama sakit, kemungkinan mengisolasi S.Typhi dari dalam darah pasien lebih besar dari pada minggu berikutnya. Biakan yang dilakukan pada urin dan feses, kemungkinan keberhasilan lebih kecil. Biakan spesimen yang berasal dari aspirasi sum-sum tulang mempunyai sensitivitas yang tertinggi, hasil positif didapat pada 90% kasus. Akan tetapi prosedur ini sangat invasive, sehingga tidak dipakai dalam praktek sehari-hari. Pada keadaan tertentu dapat dilakukan biakan spesimen empedu yang diambil ari duodenum dan memberikan hasil yang cukup baik. b. Pemeriksaan Widal Reaksi serologis Ag dan Ab terutama Antigen O. Baik pada minggu II/III, titer yang bernilai 1/200 atau lebih dan atau menunjukkan kenaikan yang progressive digunakan untuk membuat diagnosis (WHO, 2003). Terapi Demam Tifoid Terapi non medika mentosa yang dapat diterapkan adalah: - Perawatan Penderita perlu dirawat di rumah sakit untuk isolasi, observasi serta pengobatan. Penderita harus istirahat 5-7 hari bebas demam, dan tirah baring. - Diet Dimasa lampau, penderita diberi makan diet yang terdiri dari bubur saring, kemudian bubur kasar dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkat kesembuhan penderita. Beberapa peneliti menganjurkan makanan padat dini yang wajar sesuai dengan keadaan penderita. Makanan disesuaikan baik kebutuhan kalori, protein, elektrolit, vitamin maupun mineralnya serta diusahakan makan yang rendah/bebas selulose,

38

menghindari makanan yang iritatif. Pada penderita gangguan kesadaran maka pemasukan makanan harus lebih di perhatikan. Terapi medika mentosa yang dapat diterapkan adalah: - Obat-obatan Obat pilihan adalah kloramfenikol, hati-hati karena mendepresi sum-sum tulang dosis 50-100 mg/kgBB dibagi 4 dosis, efek samping : Obat lain : - Kotrimoksazol ( TMP 8-10 mg/kgBB dibagi 2 dosis - Ampicillin (200 mg/kg/24 jam) - Amoxicillin 100 mg/kgBB/hari, oral selama 10 hari - Seftriakson 80 mg/kg BB/hari, ivatau im, sekali sehari selama 5 hari. - Sefiksim 10 mg/kgBB/hari, oral dibagi dalam 2 dosis selama 10 hari. Pencegahan Usaha pencegahan dapat dibagi atas : Usaha terhadap lingkungan Pengadaan sarana air bersih dan pengaturan pembuangan

sampah serta peningkatan kesadaran individu terhadap hygiene lingkungan dan pribadi. Usaha terhadap Manusia

39

Memperhatikan

kualitas

makanan

dan

minuman

yang

dikonsumsi, bakteri Salmonella typhi mati apabila dipanasi dalam suhu 57 oC dalam beberapa menit. Komplikasi Demam Tifoid Dapat terjadi pada : Usus halus, berupa perdarahan usus. Perdarahan sedikit periksa dengan Benzidin Test Perforasi banyak pada minggu ke III udara dalam rongga peritonium. Peritonitis. Di luar usus berupa meningitis, kolestitis, enselopati dan bronkopneumonia karena infeksi sekunder. Prognosa Prognosis untuk penderita dengan demam enteric tergantung pada terapi segera, usia penderita, keadaan kesehatan sebelumnya, serotipe Salmonella penyebab, dan munculnya komplikasi Buruk pada :

Hiperpireksia atau debris kontinu Kesadaran sangat menurun Terdapat komplikasi yang berat, berupa perdarahan usus, perforasi atau meningitis, endokarditis, dan pneumonia.

Gizi yang buruk (Widodo, dkk; 2009)

40

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Holistik Diagnosa holistik : Ny. D (29 tahun) adalah penderita Demam tifoid, yang tinggal dalam extended family dan tinggal dalam kos- kosan, dengan kondisi keluarga yang cukup harmonis. Akan tetapi tingkat pendidikan yang cukup dalam keluarga ini belum mampu menjamin adanya pengetahuan yang baik tentang kesehatan. Lingkungan rumah cukup sehat, dan pasien merupakan anggota masyarakat biasa yang mengikuti beberapa kegiatan di lingkungannya (jarang). 1. Segi Biologis Dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, didapatkan hasil bahwa NY. D(29 tahun), adalah penderita demam tifoid, yang

41

tinggal di pemukiman padat penduduk sehingga lebih mudah terjangkit penyakit menular. 2. Segi Psikologis Ny. D memiliki APGAR score 9 menunjukkan fungsi keluarga yang bagus. Dalam keluarga Ny. D telah terjalin suatu keluarga yang harmonis, akrab, penuh dengan kasih sayang dan dukungan dan saling memperhatikan, akan tetapi waktu berkumpul sedikit kurang. 3. Segi Sosial Keluarga ini memiliki status ekonomi yang cukup, pendidikan yang cukup dan merupakan anggota masyarakat biasa dalam kemasyarakatannya yang mengikuti beberapa kegiatan di lingkungannya. Saran Komprehensif Ny. D dan keluarga perlu diberikan edukasi tentang Demam tifoid. Mengenai bagaimana penularannya, penyebabnya, factor resiko, pencegahan dan lain sebagainya. Selain itu penderita melakukan diet tinggi protein dan kalori tetapi rendah serat, sehingga tidak memberatkan kerja saluran pencernaan, kurangi makanyang merangsang (merica, cabai, saus sambal), hindari makanan pedas, istirahat cukup, dan berolahraga ringan. Promotif Edukasi keluarga mengenai penyakit demam tifoid, mengetahui gejala dan tanda serta penularan sehingga apabila terdapat keluarga yang menderita hal serupa bisa langsung dibawa di RS terdekat untuk mendapatkan pengobatan. Preventif Memperbanyak waktu istirahat, menjaga kebersihan makanan, menjaga keteraturan pola makan, menghindari makanan pedas dan masam, olahraga cukup, melakukan vaksinasi imunisasi dengan menggunakan vaksin oral dan vaksin suntikan. Saat ini pencegahan terhadap kuman Salmonella sudah bisa dilakukan dengan vaksinasi bernama chotipa (cholera-tifoid-paratifoid) atau tipa (tifoidparatifoid). Untuk anak usia 2 tahun yang masih rentan, bisa juga divaksinasi.
42

Kurativ Progresik 3x1 Progresic Komposisi Indikasi KI ES Antasida 3x1 Indikasi KI ES kulit. Omeprazole Indikasi PO ES Peflacine Komposisi Indikasi KI kuinolon. ES Rehabilitatif : gangguan GI, nyeri otot atau endi, gangguan neurologi, trombositopenia (dalam dosis besar), dan fotosensitivitas. 1x1 : ulkus duodenum, ulkus lambung, lesi gastroduodenal, ulkus : Diberikan segera sebelum makan. : sakit kepala, jarang : ruam, pruritus, pusing, parasteia, 2x1 : pefloxacin mesylate dihidrate : infeksi berat karena bakteri Gram dan Gram +. : anak < 15 tahun, hamil, laktasi, riwayat lesi tendon, tendinitis : mengurangi gejala yang berhubungan dengan asam lambung, : hipersensitif terhadap salah satu komponen obat : jarang: rasa tidak nyaman pada GI, pusing, sakit kepala, ruam gastritis, tukak lambung, dengan gejala mual, muntah, nyeri ulu hati. 3x1 : parasetamol : analgesic dan antipiretik. : penyakit hati : reaksi hematologi, reaksi kulit dan alergi yang lain.

peptikum, refluks esofagitis dan sindroma Zollinger- Ellison.

insomnia, vertigo diare, konstipasi, gang. GI, reaksi hiperensitivitas.

atau rupture pada tendon, defisiensi G6PD, dan alergi pada kelompok

43

Edukasi dan motovasi kepada pasien bahwa penderita demam tifoid dapat sembuh dengan baik (normal kembali), menjaga pola hidup, makan teratur, menjaga kesehatan, istirahat yang cukup serta latihan jasmani yang ringan.

DAFTAR PUSTAKA Karsinah, Lucky HM,Suharto, Mardiastuti HW, editor.Staf Pengajar FKUI. Batang Gram Negatif. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: Binarupa Aksara, 1994: 168-173. WHO, 2003. Background Document: The Diagnosis, treatment and prevention of Tiphoid Fever. World Health Organization Departement of vaccines and Biologicales. Hal: 7-22. Widodo, D.2009,Demam tifoid. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. editor: Aru W. Sudoyo, dkk. Interna Publishing. Jakarta. Hal: 435-441. Santoso, A., dkk. MIMS edisi bahasa Indonesia. Volume 11. 2010.
44

www.MIMS.com

45