Anda di halaman 1dari 52

LAPORAN KASUS ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA TINDAKAN TRANS URETHRAL RESECTION PROSTATIC DI RUANG

OK GBPT RSUD DR. SOETOMO SURABAYA PERIODE TANGGAL : 4 AGUSTUS 2002 S/D 9 AGUSTUS 2002

DI SUSUN OLEH : WAHYU AGUNG BASUKIANTO NIM 010030228 B

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA PROGRAM STUSI S.1 ILMU KEPERAWATAN SURABAYA 2002

LEMBAR PENGESAHAN Laporan Kasus Asuhan Keperawatan Klien dengan Benign Prostatic Hyperplasia Tindakan Trans Urethral Resection Prostatic Di Ruang OK GBPT RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

Surabaya, 9 Agustus 2002 Mahasiswa

Wahyu Agung Basukianto NIM. 010030228 B

Pembimbing Ruangan

Pembimbing Akademik

Sri Harti AMd Kep NIP. : 140077238

Padoli S.Kp.

LAPORAN PENDAHULUAN TINJAUAN PUSTAKA KONSEP DASAR BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA Pengertian Benign Prostatic Hyperplasia Benign Prostatic Hyperplasia adalah pembesaran jinak kelenjar prostat, disebabkan oleh karena hiperplasia beberapa atau semua komponen prostat meliputi jaringan kelenjar/jaringan fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretra pars prostatika (Lab/UPF Ilmu Bedah RSUD Dr Soetomo, 1994 : 193). Etiologi/Penyebabnya Penyebab yang pasti dari terjadinya Benign Prostatic Hyperplasia sampai sekarang belum diketahui secara pasti, tetapi hanya 2 faktor yang mempengaruhi terjadinya Benign Prostatic Hyperplasia yaitu testis dan usia lanjut. Karena etiologi yang belum jelas maka melahirkan beberapa hipotesa yang diduga timbulnya Benign Prostatic Hyperplasia antara lain : 1. Hipotesis Dihidrotestosteron (DHT) Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen akan menyebabkan epitel dan stroma dari kelenjar prostatmengalami hiperplasia. 2. Ketidak seimbangan estrogen testoteron Dengan meningkatnya usia pada pria terjadi peningkatan hormon Estrogen dan penurunan testosteron sedangkan estradiol tetap. yang dapat menyebabkan terjadinya hyperplasia stroma. 3. Interaksi stroma - epitel Peningkatan epidermal gorwth faktor atau fibroblas gorwth faktor dan penurunan transforming gorwth faktor beta menyebabkan hiperplasia stroma dan epitel. 4. Penurunan sel yang mati Estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan lama hidup stroma dan epitel dari kelenjar prostat. 5. Teori stem cell Sel stem yang meningkat mengakibatkan proliferasi sel transit. (Roger Kirby, 1994 : 38).

Anatomi Dan Fisiologi Prostat Kelenjar prostat terletak di bawah kandung kemih dan mengelilingi / mengitari uretra posterior dan disebelah proximalnya berhubungan dengan buli-buli, sedangkan bagian distalnya kelenjar prostat ini menempel pada diafragma urogenital yang sering disebut sebagai otot dasar panggul. Kelenjar ini pada laki-laki dewasa kurang lebih sebesar buah kemiri atau jeruk nipis. Ukuran, panjangnya sekitar 4 - 6 cm, lebar 3 - 4 cm, dan tebalnya kurang lebih 2 - 3 cm. Beratnya sekitar 20 gram. Prostat terdiri dari : Jaringan Kelenjar 50 - 70 % 30 - 50 %

Jaringan Stroma (penyangga) Kapsul/Musculer

Kelenjar prostat menghasilkan cairan yang banyak mengandung enzym yang berfungsi untuk pengenceran sperma setelah mengalami koagulasi (penggumpalan) di dalam testis yang membawa sel-sel sperma. Pada waktu orgasme otot-otot di sekitar prostat akan bekerja memeras cairan prostat keluar melalui uretra. Sel sel sperma yang dibuat di dalam testis akan ikut keluar melalui uretra. Jumlah cairan yang dihasilkan meliputi 10 30 % dari ejakulasi. Kelainan pada prostat yang dapat mengganggu proses reproduksi adalah keradangan (prostatitis). Kelainan yang lain sepeti pertumbuhan yang abnormal (tumor) baik jinak maupun ganas, tidak memegang peranan penting pada proses reproduksi tetapi lebih berperanan pada terjadinya gangguan aliran kencing. Kelainanyang disebut belakangan ini manifestasinya biasanya pada laki-laki usia lanjut. Patofisiologi Sejalan dengan pertambahan umur, kelenjar prostat akan mengalami hiperplasia, jika prostat membesar akan meluas ke atas (bladder), di dalam mempersempit saluran uretra prostatica dan menyumbat aliran urine. Keadaan ini dapat meningkatkan tekanan intravesikal. Sebagai kompensasi terhadap tahanan uretra prostatika, maka otot detrusor dan buli-buli berkontraksi lebih kuat untuk dapat memompa urine keluar. Kontraksi yang terus-menerus menyebabkan perubahan anatomi dari buli-buli berupa : Hipertropi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sekula dan difertikel buli-buli. Perubahan struktur pada buli-buli dirasakan klien sebagai keluhan pada saluran kencing bagian bawah atau Lower Urinary Tract Symptom/LUTS (Basuki, 2000 : 76). Pada fase-fase awal dari Prostat Hyperplasia, kompensasi oleh muskulus destrusor berhasil dengan sempurna. Artinya pola dan kualitas dari miksi tidak banyak berubah. Pada fase ini disebut Sebagai Prostat Hyperplasia Kompensata. Lama kelamaan

kemampuan kompensasi menjadi berkurang dan pola serta kualitas miksi berubah, kekuatan serta lamanya kontraksi dari muskulus destrusor menjadi tidak adekuat sehingga tersisalah urine di dalam buli-buli saat proses miksi berakhir seringkali Prostat Hyperplasia menambah kompensasi ini dengan jalan meningkatkan tekanan intra abdominal (mengejan) sehingga tidak jarang disertai timbulnya hernia dan haemorhoid puncak dari kegagalan kompensasi adalah tidak berhasilnya melakukan ekspulsi urine dan terjadinya retensi urine, keadaan ini disebut sebagai Prostat Hyperplasia Dekompensata. Fase Dekompensasi yang masih akut menimbulkan rasa nyeri dan dalam beberapa hari menjadi kronis dan terjadilah inkontinensia urine secara berkala akan mengalir sendiri tanpa dapat dikendalikan, sedangkan buli-buli tetap penuh. Ini terjadi oleh karena buli-buli tidak sanggup menampung atau dilatasi lagi. Puncak dari kegagalan kompensasi adalah ketidak mampuan otot detrusor memompa urine dan menjadi retensi urine. Retensi urine yang kronis dapat mengakibatkan kemunduran fungsi ginjal (Sunaryo, H. 1999 : 11)

TESTIS

USIA LANJUT

PADA FASE AWAL PROSTAT HYPERPLASIA POLA DAN KUALITAS MIKSI BERUBAH KONTRAKSI MUSKULUS DESTRUSSOR TIDAK ADEKUAT (LEMAH) RETENSIO URINE TOTAL (FASE DEKOMPENSASI) RESIDUAL URINE

NYERI OLEH TEKANAN TEKANAN INTRA VESIKA URINARIA

INKONTINENSIA PARADOKSA OVERFLOW INCONTINENSIA (TEKANAN INTRA VASKULER URINARIA DARI PADA TEKANAN REFLUKS VESIKA URETRAL SPINKTER BERSIFAT KRONIS)

KOMPENSASI MENINGKATKAN TEKANAN INTRA ABDOMINAL HERNIA, HAEMOROID

DILATASI URETER (HYDRO URETER) PALVIO KALIKS GINJAL (HYDRONEFROTIK) KERUSAKAN GINJAL GAGAL GINJAL

Proses Miksi Fase pengisian Pves : Pup Fase ekspulsi : Isi blader 200 300 ml Mulai terangsang ingin kencing Reseptor Strecth Syaraf Otonom PS S2 - 4 Tonus Bladder 60 120 cm H2O (ingin kencing) Up membuka, sp. Eks masih menutup BPH P up meningkat < 20 cm H2O : 60 100 cm H2O

Kontraksi Detrusor meningkat Hipertropi

P Ves > P up Fase Kompensata Kualitas miksi masih baik Gejala Benign Prostatic Hyperplasia

P Ves < P up Fase Decompensata Retensio Urine

Gejala klinis yang ditimbulkan oleh Benign Prostatic Hyperplasia disebut sebagai Syndroma Prostatisme. Syndroma Prostatisme dibagi menjadi dua yaitu : 1. Gejala Obstruktif yaitu : a. Hesitansi yaitu memulai kencing yang lama dan seringkali disertai dengan mengejan yang disebabkan oleh karena otot destrussor buli-buli memerlukan waktu beberapa lama meningkatkan tekanan intravesikal guna mengatasi adanya tekanan dalam uretra prostatika. b. Intermitency yaitu terputus-putusnya aliran kencing yang disebabkan karena

ketidakmampuan otot destrussor dalam pempertahankan tekanan intra vesika sampai berakhirnya miksi. c. d. e. Terminal dribling yaitu menetesnya urine pada akhir kencing. Pancaran lemah : kelemahan kekuatan dan kaliber pancaran destrussor memerlukan waktu untuk dapat melampaui tekanan di uretra. Rasa tidak puas setelah berakhirnya buang air kecil dan terasa belum puas.

2. Gejala Iritasi yaitu : a. b. c. Urgency yaitu perasaan ingin buang air kecil yang sulit ditahan. Frekuensi yaitu penderita miksi lebih sering dari biasanya dapat terjadi pada malam hari (Nocturia) dan pada siang hari. Disuria yaitu nyeri pada waktu kencing.

Derajat Benigne Prostat Hyperplasia Benign Prostatic Hyperplasia terbagi dalam 4 derajat sesuai dengan gangguan klinisnya : 1. 2. Derajat satu, keluhan prostatisme ditemukan penonjolan prostat 1 2 cm, sisa urine kurang 50 cc, pancaran lemah, necturia, berat + 20 gram. Derajat dua, keluhan miksi terasa panas, sakit, disuria, nucturia bertambah berat, panas badan tinggi (menggigil), nyeri daerah pinggang, prostat lebih menonjol, batas atas masih teraba, sisa urine 50 100 cc dan beratnya + 20 40 gram. 3. 4. Derajat tiga, gangguan lebih berat dari derajat dua, batas sudah tak teraba, sisa urine lebih 100 cc, penonjolan prostat 3 4 cm, dan beratnya 40 gram. Derajat empat, inkontinensia, prostat lebih menonjol dari 4 cm, ada penyulit keginjal seperti gagal ginjal, hydroneprosis. Pengkajian Pre operatif Benigne Prostat Hyperplasia Riwayat Keperawatan Suspect BPH umur > 60 tahun Pola urinari : frekuensi, nocturia, disuria. Gejala obstruksi leher buli-buli : prostatisme (Hesitansi, pancaran, melemah, intermitensi, terminal dribbling, terasa ada sisa) Jika frekuensi dan noctoria tak disertai gejala pembatasan aliran non Obstruktive seperti infeksi. BPH hematuri Ahli bedah bertanggung jawab, untuk menjelaskan sifat operasi, semua Pemahaman klien tentang kejadian -

pilihan alternatif, hasil yang diperkirakan dan kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi. Ahli bedah mendapatkan dua consent (ijin) satu untuk prosedur bedah dan satu untuk anestesi. Perawat bertanggung jawab untuk menentukan pemahaman klien tentang informasi, lalu memberitahu ahli bedah apakah diperlukan informasi lebih banyak (informed consent). Kondisi akut dan kronis : Untuk mengkompensasi pengaruh trauma bedah dan anestesi, tubuh manusia membutuhkan fungsi pernafasan, sirkulasi, jantung, ginjal, hepar dan hematopoetik yang optimal. Setiap kondisi yang mengganggu fungsi sistem ini (misalnya: DM, gagal jantung kongestif, PPOM. Anemia, sirosuis, gagal ginjal) dapat mempengaruhi pemulihan. Disamping itu faktor lain, misalnya usia lanjut, kegemukan dan penyalahgunaan obat / alkohol membuat klien lebih rentan terhadap komplikasi. Pengalaman bedah sebelumnya Perawat mengajukan pertanyaan spesifik pada klien tentang pengalaman pembedahan masa lalu. Informasi yang didapatkandigunakan untuk meningkatkan kenyamanan (fisik dan psikologis) untuk mencegah komplikasi serius. Status Nutrisi Status nutrisi klien praoperatif secara langsung mempengaruhi responnya pada trauma pembedahan dan anestesi. Setelah terjadi luka besar, baik karena trauma atau bedah, tubuh harus membentuk dan memperbaiki jaringan serta melindungi diri dari infeksi. Untuk membantu proses ini, klien harus meningkatkan masukan protein dan karbohidrat dengan akibat cukup masukan untuk tidak mencegah adekuat, keseimbangan mempengaruhi nitrogen negatif, atau hipoalbuminemia, dan penurunan berat badan. Status nutrisi merupakan metabolik meningkatkan kebutuhan metabolik. Status cairan dan elektrolit Klien dengan gangguan keseimbangan cairan dan elektolit cenderung mengalami shock, hipotensi, hipoksia, dan disritmia, baik pada intraoperatif dan pascaoperatif. Fluktuasi valume cairan merupakan akibat dari penurunan masukan cairan atau kehilangan cairan abnormal.

Status emosi. Respon klien, keluarga dan orang terdekat pada tindakan pembedahan yang direncanakan tergantung pada pengalaman masa lalu, strategi koping, signifikan pembedahan dan sistem pendukung. Kebanyakan klien dengan pembedahan mengalami ancietas dan ketakutan yang disebabkan penatalaksanaan tindakan operasi, nyeri, dan immobilitas. 1. Pemeriksaan Fisik Perhatian khusus pada abdomen ; Defisiensi nutrisi, edema, pruritus, echymosis menunjukkan renal insufisiensi dari obstruksi yang lama. Distensi kandung kemih Inspeksi : Penonjolan pada daerah supra pubik retensi urine Palpasi : Akan terasa adanya ballotement dan ini akan menimbulkan pasien ingin buang air kecil retensi urine Perkusi : Redup residual urine Pemeriksaan penis : uretra kemungkinan adanya penyebab lain misalnya stenose meatus, striktur uretra, batu uretra/femosis. Pemeriksaan Rectal Toucher (Colok Dubur) posisi knee chest Syarat Tujuan : : buli-buli kosong/dikosongkan Menentukan konsistensi prostat Menentukan besar prostat. 2. Pemeriksaan Radiologi Pada Pemeriksaan Radiologi ditujukan untuk a. b. c. Menentukan volume Benign Prostatic Hyperplasia Menentukan derajat disfungsi buli-buli dan volume residual urine Mencari ada tidaknya kelainan baik yang berhubungan dengan Benign Prostatic Hyperplasia atau tidak

Beberapa Pemeriksaan Radiologi a. Intra Vena Pyelografi ( IVP ) : Gambaran trabekulasi buli, residual urine post miksi, dipertikel buli. Indikasi : disertai hematuria, gejala iritatif menonjol disertai urolithiasis

Tanda BPH : Impresi prostat, hockey stick ureter b. c. d. BOF : Untuk mengetahui adanya kelainan pada renal Retrografi dan Voiding Cystouretrografi : untuk melihat ada tidaknya refluk vesiko ureter/striktur uretra. USG : Untuk menentukan volume urine, volume residual urine dan menilai pembesaran prostat jinak/ganas 3. 4. Pemeriksaan Endoskopi. Pemeriksaan Uroflowmetri Berperan penting dalam diagnosa dan evaluasi klien dengan obstruksi leher bulibuli Q max : > 15 ml/detik non obstruksi 10 - 15 ml/detik border line < 10 ml/detik obstruktif 5. Pemeriksaan Laborat Urinalisis (test glukosa, bekuan darah, UL, DL, RFT, LFT, Elektrolit, Na,/K, Protein/Albumin, pH dan Urine Kultur) Jika infeksi:pH urine alkalin, spesimen terhadap Sel Darah Putih, Sel Darah Merah atau PUS. RFT evaluasi fungsi renal Serum Acid Phosphatase Prostat Malignancy. Trauma bedah yang direncanakan, menimbulkan rentang respon fisiologis dan psikologis pada klien, tergantung pada individu dan pengalaman masa lalu yang unik, pola koping, kekuatan dan keterbatasan. Kebanyakan klien dan keluarganya memandang setiap tindakan bedah merupakan peristiwa besar dan mereka bereaksi dengan takut dan ansietas pada tingkat tertentu. Pengertian Keperawatan Pre operatif Keperawatan Perioperatif adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan tanggung jawab keperawatan yang berhubungan dengan fase-fase preoperatif, intraoperatif, pemulihan pascaanestesi dan pascabedah. Sepanjang periode perioperatif, perawat menerapkan proses keperawatan untuk mengidentifikasi fungsi positip, perubahan fungsi, dan potensial perubahan

fungsi pada klien. Adapun tanggung jawab keperawatan untuk masing-masing fase berfokus pada masalah kesehatan spesifik aktual atau resiko. Fokus Asuhan Keperawatan Pada periode Pre operatif 1. Fase Preoperatif a. b. c. d. 2. a. b. c. d. e. 3. a. b. c. d. e. 4. a. b. c. d. e. f. g. Pengkajian Preoperatif Penyuluhan Preoperatif Persiapan untuk pindah ke ruang operasi Dukungan orang terdekat Keamanan lingkungan Kontrol Asepsis Pemantauan fisiologis Dukungan psikologis (prainduksi) Pemindahan ke ruang pemulihan pascaanestesi Pemantauan fisiologis (jantung, pernafasan, sirkulasi, ginjal dan neurologis) Dukungan psikologis Keamanan lingkungan Tindakan kenyamanan Stabilitas untuk pindah ke unit atau bangsal Pemantauan fisiologis Dukungan psikologis Tindakan kenyamanan Dukungan orang terdekat Keseimbangan fisiologis (nutrisi, cairan dan eliminasi) Mobilisasi Penyembuhan luka Penyuluhan pulang.

Fase Intraoperatif

Fase Pemulihan Pascaanestesi

Fase Pascaoperatif

Diagnosa Keperawatan Pre Operasi 1. Gangguan pemenuhan kebutuhan eliminasi (retensio urine) baik akut maupun kronis berhubungan dengan obstruksi akibat pembesaran prostat/dekompresi otot detrussor ditandai dengan urine menetes, sering buang air kecil, buang air kecil sedikit-sedikit tidak bisa mengosongkan kandung kencing secara total, distensi kandung kencing.

10

2.

Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan iritasi mukosa/distensi kandung kencing/kolik renal/infeksi saluran kencing ditandai dengan keluhan nyeri spasme kandung kemih, perubahan tonus otot, merintih kesakitan.

3.

Cemas berhubungan dengan rencana pembedahan dan kehilangan status kesehatan serta penurunan kemampuan sexual ditandai dengan peningkatan tensi, ungkapan rasa takut

4. 5.

Dysfungsi sexual berhubungan dengan obstrusi perkemihan. Kurang pengetahuan tentang sifat penyakit, tujuan tindakan yang diprogramkan dan pemeriksaan diagnostik berhubungan dengan kurangnya informasi /terbatasnya informasi/informasi yang keliru ditandai dengan pasien sering bertanya, perintah yang tidak dituruti dan perkembangan infeksi tidak dapat dicegah.

6. 7. 8.

Gangguan pola tidur berhubungan dengan sering miksi pada malam hari Resiko injury dan resiko infeksi berhubungan dengan obstruksi perkemihan Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pemasangan Dower Cateter yang lama

Diagnosa Keperawatan Post Operasi 1. 2. 3. 4. 5. Terjadinya perdarahan berhubungan dengan tindakan bedah (reseksi). Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan akibat reseksi Cemas berhubungan dengan proses penyakitnya yang masih dapat kambuh lagi. Resiko terjadinya retensi urine berhubungan dengan obstruksi saluran kateter oleh bekuan darah/klot. Resiko terjadinya kelebihan cairan dalam tubuh (Syndroma TUR) berhubungan dengan adanya penyerapan cairan irigasi yang berlebihan. Perencanaan/Penatalaksanaan Tujuan: klien tidak akan mengalami berbagai komplikasi dari pengobatan retensi Urine. Intervensi: A Non Pembedahan 1. Memperkecil gejala obstruksi hal-hal yang menyebabkan pelepasan cairan prostat. a. b. c. Prostatic massage Frekuensi coitus meningkat Masturbasi

11

2.

Menghindari minum banyak dalam waktu singkat, menghindari alkohol dan diuretic mencegah oven distensi kandung kemih akibat tonus otot detrussor menurun.

3.

Menghindari obat-obat penyebab retensi urine seperti : anticholinergic, anti histamin, decongestan.

4.

Observasi Watchfull Waiting Yaitu pengawasan berkala/follow up tiap 3 6 bulan kemudian setiap tahun tergantung keadaan klien Indikasi : BPH dengan IPPS Ringan Baseline data normal Flowmetri non obstruksi

5.

Terapi medikamentosa pada Benigne Prostat Hyperplasia Terapi ini diindikasikan pada Benigne Prostat Hyperplasia dengan keluhan ringan, sedang dan berat tanpa disertai penyulit serta indikasi pembedahan, tetapi masih terdapat kontra indikasi atau belum well motivated. Obat yang digunakan berasal dari Fitoterapi, Golongan Supressor Androgen dan Golongan Alfa Bloker. a. Fito Terapi a) c) b. a) c) c. Hypoxis rosperi (rumput) Curcubita pepo (waluh ) Inhibitor 5 alfa reduktase Analog LHRH b) Serenoa repens (palem) Pemberian obat Golongan Supressor Androgen/anti androgen : b) Anti androgen Pemberian obat Golongan Alfa Bloker/obat penurun tekanan diuretraprostatika : Prazosin, Alfulosin, Doxazonsin, Terazosin

6.

Bila terjadi retensi urine a. b. c. Kateterisasi Intermiten Indwelling Dilakukan pungsi blass Dilakukan cystostomy.

7.

Prostetron (Trans Uretral Microwave Thermoterapy/TUMT)

12

B.

Pembedahan 1. 2. Trans Uretral Reseksi Prostat Open Prostatectomy : 90 : 5 - 95 % - 10 %

BPH yang besar (50 - 100 gram) Tidak habis direseksi dalam 1 jam. Disertai Batu Buli Buli Besar (>2,5cm), multiple. Fasilitas TUR tak ada. Mortalitas Pembedahan BPH 0 - 1 % KAUSA : Infark Miokatd Septikemia dengan Syok Perdarahan Massive Kepuasan Klien : 66 95 % Indikasi Pembedahan BPH Retensi urine akut Retensi urine kronis Residual urine lebih dari 100 ml BPH dengan penyulit Hydroneprosis Terbentuknya Batu Buli Infeksi Saluran Kencing Berulang Hematuri berat/berulang Hernia/hemoroid Menurunnya Kualitas Hidup Retensio Urine Gangguan Fungsi Ginjal Terapi medikamentosa tak berhasil Sindroma prostatisme yang progresif Flow metri yang menunjukkan pola obstruktif Flow. Max kurang dari 10 ml Kurve berbentuk datar Waktu miksi memanjang Kontra Indikasi IMA CVA akut

Tujuan :

13

Mengurangi gejala yang disertai dengan obstruksi leher buli-buli Memperbaiki kualitas hidup.

1) Trans Uretral Reseksi Prostat 90 - 95 % Dilakukan bila pembesaran pada lobus medial. Keuntungan : Lebih aman pada klien yang mengalami resiko tinggi pembedahan Tak perlu insisi pembedahan Hospitalisasi dan penyebuhan pendek Jaringan prostat dapat tumbuh kembali Kemungkinan trauma urethra strictura urethra.

Kerugian :

2) Retropubic Atau Extravesical Prostatectomy Prostat terlalu besar tetapi tak ada masalah kandung kemih. 3) Perianal Prostatectomy Pembesaran prostat disertai batu buli-buli Mengobati abces prostat yang tak respon terhadap terapi conservatif Memperbaiki komplikasi : laserasi kapsul prostat 4) Suprapubic Atau Tranvesical Prostatectomy

14

PERIODE PRE OPERATIF CARE Mengkaji kecemasan klien, mengoreksi miskonsepsi tentang pembedahan dan memberikan informasi yang akurat pada klien Type pembedahan Jenis anesthesi TUR P, general / spina anesthesi Cateter : folly cateter, Continuous Bladder Irigation (CBI).

Persiapan orerasi lainnya yaitu : Pemeriksaan lab. Lengkap : DL, UL, RFT, LFT, pH, Gula darah, Elektrolit Pemeriksaan EKG Pemeriksaan Radiologi : BOF, IVP, USG, APG. Pemeriksaan Uroflowmetri Bagi penderita yang tidak memakai kateter. Pemasangan infus dan puasa Pencukuran rambut pubis dan lavemen. Pemberian Anti Biotik Surat Persetujuan Operasi (Informed Concern).

PERIODE INTRA OPERATIF CARE Pengelolaan Keamanan: a. b. Jaminan penghitungan kasa, jarum, instrumen dan alat lain, cocok untuk pemakaian. Mengatur posisi pasien c. d. Posisi fungsional Membuka daerah untuk operasi Mempertahankan posisi selama prosedur.

Memasang alat grounding Menyiapkan bantuan fisik

Pemantauan fisiologis a. b. c. Mengkalkulasi pengaruh terhadap pasien akibat kekurangan cairan Membandingkan data normal dan abnormal dari cardiopulmonal. Melaporkan perubahan-perubahan tanda-tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah dan RR.) Pemantauan psikologi sebelum induksi dan bila pasien sadar a. Menyiapkan bantuan emosional

15

b. c.

Melanjutkan observasi status emosional Mengkomunikasikan status emosional pasien kepada anggota tim.

Manajemen Keperawatan a. b. c. Menyelamatkan keselamatan fisik pasien. Mempertahankan aseptis pada lingkungan yang terkendali Mengelola dengan efektif sumber daya manusia.

Anggota Tim Fase intraoperatif a. Tim bedah utama steril Ahli bedah utama Asisten ahli bedah Perawat instrumentator.

b. Tim anestesi: Ahli anestesi atau pelaksana anestesi Circulating nurse Lain-lain (tehnisi, ahli aptologi dll.).

Tugas perawat instrumentator a. b. c. d. Persiapan pengadaan bahan-bahan dan alat steril yang diperlukan untuk operasi. Membantu ahli bedah dan asisten bedah waktu melakukan prosedur Pendidikan bagi staf baru yang berkualifikasi bedah Membantu jumlah kebutuhan jarum, pisau bedah, kasa atau instrumen yang diperlukan untuk prosedur, menurut jumlah yang biasa digunakan. Untuk pelaksanaan kegiatan yang efektif perawat instrumen harus memiliki pengetahuan tehnik aseptik yang baik, ketrampilan tangan dan ketangkasan, stamina fisik, tahan terhadap berbagai desakan, sangat menghayati kecermatan dan memperhitungkan prilaku yang menuntaskan asuhan pasien yang optimal. Tugas Perawat Circulating Perawat keliling memegang peranan dalam keseluruhan pengelolaan ruang operasi, perawat ini dipercaya untuk koordinasi semua aktivitas di dalam ruangan dan harus mengelola asuhan keperawatan yang diperluikan pasien.

16

PERIODE PEMULIHAN PASCA ANESTESI Trauma bedah dan anestesi mengganggu semua fungsi utama sistem tubuh, tetapi kebanyakan klien mempunyai kemampuan kompensasi untuk memulihkan homeostasis. Namun klien tertentu berisiko lebih tinggi untuk mengalami kompensasi tak efektif terhadap efek merugikan dari pembedahan dan anestesi pada jantung, sirkulasi, pernafasan dan fungsi lain. Secara Umum Diagnosa Keperawatan yang muncul pada fase /periode pemulihan pasca anrestesi adalah : a. b. c. d. Resiko terhadap aspirasi yang berhubungan dengan samnolen dan peningkatan sekresi sekunder terhadap intubasi. Ansietas yang berhubungan dengan nyeri sekunder terhadap trauma pada jaringan dan syaraf. Resiko terhadap cedera yang berhubungan dengan samnolen sekunder terhadap anestesia Resiko terhadap hipotermia yang berhubungan dengan pemaparan pada suhu ruang operasi yang dingin. Kriteria umum syarat pasien dipindahkan dari ruang pemulihan pasca anestesi ke unit perawatan adalah sbb. : a. b. c. d. e. f. g. h. Kemampuan memutar kepala Ekstubasi dengan jalan nafas bersih. Sadar, mudah terbangun. Tanda-tanda vital stabil Balutan kering dan utuh Haluaran urine sedikitnya 30 ml/jam. Drain, selang , jalur intravena paten dan berfungsi. Persetujuan ahli anestesi untuk pindah ke ruangan.

PERIODE POST OPERATIF CARE Post operatif care pada dasarnya sama seperti pasien lainnya yaitu monitoring terhadap respirasi, sirkulasi dan kesadaran pasien : 1. Airway : Bebaskan jalan fafas Posisi kepala ekstensi Breathing: Memberikan O2 sesuai dengan kebutuhan Observasi pernafasan Cirkulasi : mengukur tensi, nadi, suhu tubuh, pernafasan, kesadaran dan

17

produksi urine pada fase awal (6jam) paska operasi harus dimonitor setiap jam dan harus dicatat. Bila pada fase awal stabil, monitor/interval bisa 3 jam sekali Bila tensi turun, nadi meningkat (kecil), produksi urine merah pekat harus waspada terjadinya perdarahan segera cek Hb dan lapor dokter. Tensi meningkat dan nadi menurun (bradikardi), kadar natrium menurun, gelisah atau delir harus waspada terjadinya syndroma TUR segera lapor dokter. Bila produksi urine tidak keluar (menurun) dicari penyebabnya apakah kateter buntu oleh bekuan darah terjadi retensi urine dalam buli-buli lapor dokter, spoling dengan PZ tetesan tergantung dari warna urine yang keluar dari Urobag. Bila urine sudah jernih tetesan spoling hanya maintennens/dilepas dan bila produksi urine masih merah spoling diteruskan sampai urine jernih. Bila perlu Analisa Gas Darah Apakah terjadi kepucatan, kebiruan. Cek lab : Hb, RFT, Na/K dan kultur urine. 2. Pemberian Anti Biotika Antibiotika profilaksis, diberikan bila hasil kultur urine sebelum operasi steril. Antibiotik hanya diberikan 1 X pre operasi + 3 4 jam sebelum operasi. Antibiotik terapeutik, diberikanpada pasien memakai dower kateter dari hasil kultur urine positif. Lama pemberian + 2 minggu, mula-mula diberikan parenteral diteruskan peroral. Setiap melepas kateter harus diberikan antibiotik profilaksis untuk mencegah septicemia. 3. Perawatan Kateter Kateter uretra yang dipasang pada pasca operasi prostat yaitu folley kateter 3 lubang (treeway catheter) ukuran 24 Fr. Ketiga lubang tersebut gunanya : 1. 2. 3. untuk mengisibalon, antara 30 40 ml cairan untuk melakukan irigasi/spoling untuk keluarnya cairan (urine dan cairan spoling).

18

Setelah 6 jam pertama sampai 24 jam kateter tadi biasanya ditraksi dengan merekatkan ke salah satu paha pasien dengan tarikan berat beban antara 2 5 kg. Paha ini tidak boleh fleksi selama traksi masih diperlukan. Paling lambat pagi harinya traksi harus dilepas dan fiksasi kateter dipindahkan ke paha bagian proximal/ke arah inguinal agar tidak terjadi penekanan pada uretra bagian penosskrotal. Guna dari traksi adalah untuk mencegah perdarahan dari prostat yang diambil mengalir di dalam buli-buli, membeku dan menyumbat pada kateter. Bila terlambat melepas kateter traksi, dikemudian hari terjadi stenosis leher bulibuli karena mengalami ischemia. Tujuan pemberian spoling/irigasi : 1. 2. 3. Agar jalannya cairan dalam kateter tetap lancar. Mencegah pembuntuan karena bekuan darah menyumbat kateter Cairan yang digunakan spoling H2O / PZ

Kecepatan irigasi tergantung dari warna urine, bila urine merah spoling dipercepat dan warna urine harus sering dilihat. Mobilisasi duduk dan berjalan urine tetap jernih, maka spoling dapat dihentikan dan pipa spoling dilepas. Kateter dilepas pada hari kelima. Setelah kateter dilepas maka harus diperhatikan miksi penderita. Bisa atau tudak, bila bisa berapa jumlahnya harus diukur dan dicatat atau dilakukan uroflowmetri. Sebab-sebab terjadinya retensio urine lagi setelah kateter dilepas : 1. 2. Terbentuknya bekuan darah Pengerokan prostat kurang bersih (pada TUR) sehingga masih terdapat obstruksi. A. TUR P Setelah TUR P klien dipasang tree way folley cateter dengan retensi balon 30 40 ml. Kateter di tarik untuk membantu hemostasis Intruksikan klien untuk tidak mencoba mengosongkan bladder Otot bladder kontraksi nyeri spasme CBI (Continuous Bladder Irigation) dengan normal salin mencegah obstruksi atau komplikasi lain CBI P. Folley cateter diangkat 2 3 hari berikutnya Ketika kateter diangkat timbul keluhan : frekuensi, dribbling, kebocoran normal Post TUR P : urine bercampur bekuan darah, tissue debris meningkat 19

intake cairan minimal 3000 ml/hari membantu menurunkan disuria dan menjaga urine tetap jernih. B. OPEN PROSTATECTOMY Resiko post operative bleeding pada 24 jam pertama oleh karena bladder spsme atau pergerakan Monitor out put urine tiap 2 jam dan tanda vital tiap 4 jam Arterial bleeding urine kemerahan (saos) + clotting Venous bleeding urine seperti anggur traction kateter Vetropubic prostatectomy Observasi : drainage purulent, demam, nyeri meningkat deep wound infection, pelvic abcess Suprapubic prostatectomy Perlu Continuous Bladder Irigation via suprapubic klien diinstruksikan tetap tidur sampai Continuous Bladder Irigation dihentikan Kateter uretra diangkat hari 3 4 post op Setelah kateter diangkat, kateter supra pubic di clamp dan klien disuruh miksi dan dicek residual urine, jika residual urine 75 ml, kateter diangkat EVALUASI Kreteria yang diharapkan terhadap diagnosis yang berhubungan dengan obstruksi urinari adalah : 1. 2. 3. 4. Mengatasi obstruksi urine tanpa infeksi atau komplikasi yang permanen Tidak mengalami tekanan atau nyeri berkepanjangan Mengungkapkan penurunan atau tak adanya kecemasan tentang retensio urine. Menunjukan tingkat fungsi sexual kembali sebagaimana sebelumnya.

20

DAFTAR PUSTAKA Carpenito, Linda Jual. (1995). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan (terjemahan). PT EGC. Jakarta. Djanalaeoni H. (1977). Aseptik dan Antiseptik. Volume 6. Ropanasuri. Doenges, et al. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan (terjemahan). PT EGC. Jakarta. Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume I (terjemahan). PT EGC. Jakarta. Hardjowijoto S. Pemeriksaan Sistoskopi. Seksi/Program Studi Urologi Unair. Hardjowijoto S. (1999) .Benigna Prostatic Hyperplasia. Airlangga University Press. Surabaya Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Volume I.

(terjemahan).Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Bandung. Puruhito. (1989). Tata Kerja Kamar Operasi. Surabaya. Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta. Soesanto Wibowo, Puruhito, Setiono Basuki. Pedoman Teknik Operasi. Sumartono, M., Gardjito, W., Hardjowijoto, S. (1983). Reseksi Transuretral Pada Hyperplasia Benigna dari Kelenjar Prostat. Bagian ilmu bedah Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

21

TINJAUAN KASUS I. PENGKAJIAN Waktu Tempat 1. : 5 Agustus 2002 : Ruang OK GBPT Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya . IDENTITAS PASIEN : Tn. Sunyoto : 65 Tahun : Laki-laki : Jawa/Indonesia. : Islam : SWasta : SLTA : Sidoluhur Surabaya. : Lewat Poliklinik RSUD Dr. Soetomo Surabaya Diagnosa Medis Alasan Dirawat Keluhan Utama 2. : Benigne Prostat Hyperplasia Grade II + Retentio Urine. : Akan dioperasi/tidak dapat buang air kecil. : Sulit buang air kecil. Nama Umur Jenis Kelamin Suku/Bangsa Agama Pekerjaan Pendidikan Alamat Cara Masuk

RIWAYAT KEPERAWATAN (NURSING HISTORY) 1) Riwayat Penyakit Sekarang Karena susah buang air kecil sejak 2 minggu yang lalu kemudian berobat ke poliklinik di RSUD Dr. Soetomo, dilakukan pemeriksaan ternyata ditemukan pembesaran prostat. 2) Riwayat Penyakit Dahulu Klien sebelumnua tidak pernah mengalami kelainan seperti yang dideritanya sekarang ini. Hipertensi (+). DM (-), Sesak (-), Asma (-). 3) Riwayat Kesehatan Keluarga Klien mengatakan bahwa tidak ada keluarganya yang mengalami penyakit seperti yang dideritanya sekarang ini

22

4) Keadaan Kesehatan Lingkungan Klien mengatakan bahwa Lingkungan rumah tempat tinggal cukup bersih 3. OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK 1) Keadaan Umum baik 2) Tanda-tanda vital Suhu Nadi Respirasi 3) Body Systems (1) Pernafasan (B 1 : Breathing) Frekuensi 16 x/menit, Irama teratur, tidak terlihat gerakan cuping hidung, tidak terlihat Cyanosis, tidak terlihat keringat pada dahi, hasil thorax foto : Tidak didapatkan kelainan (normal). (2) Cardiovascular (B 2 : Bleeding) Nadi 92 X/menit kuat dan teratur, tekanan darah 130/90 mmHg, Suhu 36 0C, perfusi hangat. Cor S1 S2 tunggal reguler, ekstra sistole/murmur tidak ada Hasil ECG : Tidak didapatkan kelainan (normal). (3) Persyarafan (B 3 : Brain) Tingkat kesadaran (GCS) Membuka mata : Spontan (4) Verbal : Orientasi baik (5) Motorik : Menurut perintah (6) Compos Mentis : Pasien sadar baik (4) Perkemihan-Eliminasi Uri (B.4 : Bladder) Jumlah urine 2000 cc/24 jam, warna urine kuning pekat. Genital Hygiene cukup bersih. Hasil BOF : Tidak didapatkan kelainan (normal).. : 36 0C : 92 X/menit. Kuat dan teratur : 16 x/menit.

Tekanan darah : 130/90 mmHg.

23

(5) Pencernaan-Eliminasi Alvi (B 5 : Bowel) Peristaltik normal, tidak kembung, tidak terdapat obstipasi maupun diare, klien buang air besar 1 X/hari (6) Tulang-Otot-Integumen (B 6 : Bone) Tidak terdapat kontraktur maupun dikubitus Hasil BOF : Tidak didapatkan kelainan (normal). Head To Toe a. b. c. Kepala Rambut Mata : bentuk normal, ukuran normal, posisi simetris, kulit kepala bersih : kebersihan cukup : sklera tak icteric, konjunctiva tak anemis, pupil isokor, refleks cahaya ada, tidak memakai alat bantu d. e. f. g. h. i. j. k. l. Hidung Telinga Mulut dan gigi Leher Thorax Abdomen Anus Extremitas : tidak ada benda asing, tidak epistaksis, tidak ada polip, : tidak ada kelainan. : bibir kering, agak kering mukosa mulut stomatatitis tidak, peradangan faring tidak : Tak ada pembesaran kelenjar getah bening, tak ada kaku kuduk : pernafasan dada, simetris, Ronchi & whezing tidak ada : asites tidak ada, umbilikus datar, : bersih, Bab. terakhir tgl. 5 Agustus 2002. : atas dan bawah tak ada kelainan : keadaan kulit bersih, tonus baik, turgor baik, akral hangat. Alat kelamin luar : bersih

m. Integumen

24

Pola aktivitas sehari-hari (1) Pola Persepsi Dan Tata Laksana Hidup Sehatan Klien jarang menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan, kecuali bila sangat terpaksa Klien terbiasa meminum jamu-jamuan dan obat-obat tradisional. (2) Pola Nutrisi dan Metabolisme Klien dirumah biasa makan 3 X/hari dengan lauk yang cukup.Klien tidak alergi makanan tertentu. Saat ini klien selalu menghabiskan porsi makanan yang diberikan dan minum air putih sekitar 2 3 liter perhari. (3) Pola Eliminasi Klien buang air besar 1 X/hari. Klien buang air kecil saat ini dengan menggunakan polly kateter, Jumlah urine 1200 cc/24 jam, warna urine kuning pekat. (4) Pola tidur.dan Istirahat Klien kurang tidur baik pada waktu siang maupun malam hari. Klien tampak terganggu dengan kondisi ruang perawatan yang ramai. (5) Pola Aktivitas dan latihan Klien biasanya bekerja diluar rumah, tapi saat ini klien hanya beristirahat di Rumah Sakit sambil menunggu rencana operasi. (6) Pola Hubungan dan Peran Hubungan dengan keluarga, teman kerja maupun masyarakat di sekitar tempat tinggalnya biasa sangat baik dan akrab. (7) Pola Sensori dan Kognitif Klien mampu melihat dan mendengar dengan baik, klien tidak mengalami disorientasi. (8) Pola Persepsi Dan Konsep Diri Klien mengalami cemas karena Kurangnya pengetahuan tentang sifat penyakit, pemeriksaan diagnostik dan tujuan tindakan yang diprogramkan.

25

(9) Pola Seksual dan Reproduksi Selama dirawat Klien tidak dapat melakukan hubungan seksual seperti biasanya. (10) Pola mekanisme/Penanggulangan Stress dan koping Klien merasa sedikit stress menghadapi tindakan operasi. karena kurangnya pengetahuan tentang Type pembedahan dan Jenis anesthesi. (11) Pola Tata Nilai dan Kepercayaan Terpasangnya kateter memerlukan adaptasi klien dalam menjalankan ibadahnya. Personal Higiene Kebiasaan di rumah klien mandi 2 X/hari, gosok gigi 2 X/hari, dan cuci rambut 1 X/minggu. Ketergantungan Klien tidak perokok, tidak minum-minuman yang mengandung alkohol. Aspek Psikologis Klien terkesan takut akan penyakitnya, merasa terasing dan sedikit stress menghadapi tindakan operasi. Aspek Sosial/Interaksi Hubungan dengan keluarga, teman kerja maupun masyarakat di sekitar tempat tinggalnya biasa sangat baik dan akrab. Saat ini klien terputus dengan dunia luar, kehilangan pencari nafkah (bagi keluarganya), biaya mahal. Aspek Spiritual Klien dan keluarganya sejak kecil memeluk agama Islam, ajaran agama dijalankan setiap saat. Klien sangat aktif menjalankan ibadah dan aktif mengikuti kegiatan agama yang diselenggarakan oleh Masjid di sekitar rumah tempat tinggalnya maupun oleh masyarakat setempat. Saat ini klien merasa tergangguan pemenuhan kebutuhan spiritualnya.

26

4.

DIAGNOSTIC TEST

Laboratoriun Darah lengkap: HCT Hb LED Leukosit Glukosa Puasa Glukosa 2 jam pp Bilirubin Direk Bilirubin Total SGOT SGPT Ureum/BUN Serum Creatinin Natrium Kalium : 40,6 : 29 52 : 7.720 (L 40 47 P 38 42)% :14,6 mg/dl (L 13,5 18,0 P 11,5 16,0 mg/dl) (L 0 15/jam P 0 20/jam 4000 11.000

Gula darah : 108 mg/dl (< 126 mg/dl) : 128 mg/dl (< 140 mg/dl) : 0,21 : 1,08 : 18,4 : 10,7 : 8,8 (< 0,25) (< 1,00) (L < 37 P < 31) (L < 40 P < 31) mg/dl (10 45) U/L U/L

Faal Hati

Faal Ginjal : 1,48 mg/dl (L : 0,9 1,5 P : 0,7 1,3) : 137,8 mmol/l (135 145 mmol/l) : 4,27 mmol/l (3,5 5,5 mmol/l)

Elektrolit

27

ANALISA DATA Nama Klien : Tn. Sunyoto Ruang Register NO. : OK GBPT LT 4 : 10188595 PENYEBAB Situasi/lngkungan operasi Ansietas/takut Stressor Hypothalamus (adrena,pituitary) Medulla Adrenal Peningkatan Adrenalin Histamin Katekolamin Perubahan fisikTegang Nadi cepat ngatrespirasi cepat Diagnosa Keperawatan Cemas berhubungan dengan situasi/lingkungan ruang premedikasi dan operasi, ditandai dengan klien mengatakan tidur malam sering terbangun membayangkan operasi, klien kelihatan tegang, bertanya saat di ruang premedikasi apakah ini ruang operasinya dimana kamar operasinya, berapa lama saya dioperasi. Nadi 92X/menit, Tekanan darah 130/90 mmHg. RR. 16X/menit. Tanda-tanda Psiko Gelisah Tdk. Tenang berdaya MASALAH Ansietas DATA S. :Klien mengatakan semalam saya tidur sering terbangun , saya membayangkan bagaimana operasi nanti, klien bertanya di ruang premedikasi apakah ini ruang operasinya, dimana ruang operasinya, berapa lama saya dioperasi O. Klien kelihatan tegang saat diruang premedikasi, Tekanan darah 130/90 mmHg. Nadi 92X/menit, RR: 16X/menit

palpitasiberkeri Marah Tdk.

28

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN Nama Klien : Tn. Sunyoto Ruang : OK GBPT LT 4 DIAGNOSA TUJUAN-KRITERUIA No. Register: 10188595 KEPERAWATAN HASIL Cemas berhubungan dengan Klien menunjukan rasa cemas Mandiri : Situasi/lingkungan premedikasi dan ruang berkurang dalam waktu 30 1. 2. 3. operasi menit sebelum operasi dengan INTERVENSI RASIONAL

Beri penjelasan dengan singkat dan jelas Dengan penjelasan diharapkan klien dapat tentang ruang premedikasi dan OK. Kaji tingkat kecemasan klien. Berikan penetraman hati dan tindakan kenyamanan: a. b. c. Temani klien selama di ruang Mengurangi rasa takut premedikasi Berikan kesempatan pada klien Eksplorasi perasaan dapat mengurangi mengungkapkan perasaannya yang ada Kurangi stimulus sensori a. Berikan ketenangan Mengurangi ketegangan Menenangkan jiwa ketegangan Kenalkan kembali pada kenyataan Suport untuk koping yang positip mengerti Tingkat kecemasan sebagai dasar perencanaan perawatan

ditandai klien mengatakan kriteria : semalam tidur saya sering Klien mampu mengungkapkan terbangun membayangkan pasrah kepada Tuhan YME. operasi, klien bertanya saat Klien mampu mengungkapkan diruang premedikasi apakah siap di operasi. ini ruang operasinya, dimana Klien dapat beradaptasi saat di ruang operasi dan berapa ruang premedikasi maupun di lama kelihatan dioperasi, tegang klien OK. saat di Tanda-tanda vital stabil

ruang premedikasi tekanan (Tekana Darah 120/80 mmHg., darah, 130/90 mmHg/ Nadi Nadi 60-100X/menit, RR: 12- 4. 92X/menit,RR16X/menit 20X/menit, wajah rileks.

29

b. c. d. 5.

Gunakan sederhana

kalimat

pendek

dan Mengurangi kebingungan Mengurangi kebingungan Penyelesaian terfokus diharapkan mengurangi kecemasan

Berikan petunjuk singkat. Pusatkan pada saat ini dan disini. klien untuk spritual

Ajak

mengadakan Mengurangi sesuai

ketakutan/kecemasan.upaya

pendekatan 6. Perjelas rencana 7. 8. 9.

dengan menenangkan jiwa. tentang Harapan klien sesuai dengan kenyataan dan dan tidak menimbulkan kekecewaan.

kemampuan dan situasi informasi tindakan dokter operasi

kemungkinan-kemungkinannya. Orientasikan klien pada ruang operasi Mengurangi kecemasan dan peralatannya. Minimalkan keributan dan lalu-lalang di Mengurangi kecemasan. ruang premedikasi &OK. Tinggalah dengan pasien selama induksi perhatian dan mendukung 11. Tetap matikan lampu sampai pasien Mengurangi kecemasan tertidur 12. Catat respon yang tak terduga Mengurangi kecemasan. 10. Tunjukan sikap Mengurangi kecemasan

30

Kolaborasi, pemberian premedikasi: Morfin Mengurangi ketegangan 5 mg. Dormicum 2,5 mg. SA. 0,25 mg. IM

31

TINDAKAN DAN EVALUASI PREOPERASI Nama Klien : Tn. Sunyoto Ruang : OK GBPT LT 4 No. Register: 10188595 DIAGNOSA KEPERAWATAN TANGGAL/HARI/JAM Cemas berhubungan 1. dengan pengetahuan tindakan operasi 30-04-2002 Jam 07.30 5. 6. 7. kurangnya tentang 2. 3. 4. Memberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya. Menemani klien di ruang premedikasi Menjelaskan keadaan , tempat sekarang. Mengajak pasrah. 8. Memperjelas penjelasan dokter tentang rencana klien untuk mendekatkan diri kepada Tuhan YME, dengan cara berdoa dan IMPLEMENTASI Memberikan penjelasan tentang TANGGAL/HARI/JAM ruang Selasa, 30-04-2002 Jam S. 08.05 : Klien EVALUASI mengatakan operasi, siap pasrah untuk dan untuk

premedikasi dan OK. Mengkaji tingkat kecemasan klien

dilakukan klien operasi

menyerahkan sepenuhnya pada Tuhan, tahu ruang persiapan

O : wajah tenang, Nadi 88X/menit, RR, 16X/menit, Tekanan Darah 120/90 mmHg. A. Cemas berkurang P. .Rencana No. 7, 9,10,11 dan 12 dilanjutkan di ruang OK, sampai pasien diinduksi.

32

pengangkatan batu pada ginjal kanannya. 9. Mengukur tanda-tanda vital : nadi, 92X/menit, RR. 16X/menit 10. Memasang sketzel agar tenang, meminimalkan melihat kesibukan pasien lain. 08.00 Memberikan obat premedikasi sesuai dengan catatan di status: Morfin 5 mg, Dormicum 2,5 mg, SA. 0,25 mg.

33

PENGKAJIAN INTRA OPERATIF Jenis Operasi Tanggal Pre Medikasi Jenis Anestesi Golongan Operasi Ronde Urgensi Operasi Waktu Operasi Operator Persiapan Operasi Linen Set, terdiri dari : 1. 2. 3. 4. Doek Besar berlubang Doek kecil Baju Operasi : 1 buah : 6 buah : 1 buah : TUR P : 5 Agustus 2002 : Sudah diberikan: Morfin5 mg, Dormicum 2,5 mg, SA. 0,25 mgIM. : General Anestesi : Besar :I : Elektif : : Dr. ...

Sarung penutup meja instrumen : 1 buah.

Alat Operasi Set Dasar Endourologi, terdiri dari : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Doek klem 2 buah Desinfeksi klem sarung tangan/Globe 2 pasang Mangkok kecil 2 buah, satu untuk larutan desinfektan, mangkok yang kedua diisi larutan campuran lidocain dan jelly. Kocker 1 buah untuk mengambil chips di luar elik. Saringan air untuk menyaring chips cairan irigan : aquades dan glisin. Kasa secukupnya Spuit 20 cc/Syringe uretra.

10. Katheter Three Way 24 F. 11. Infus set (Blood Tranfustion Set) 12. Jelly steril

34

Penunjang yang lain 1. 2. 3. 4. 5. Tempat sampah Tempat penampung air. Standart infus. Standart irigan. Diatermie elektrode.

Teknik Pelaksanaan Trans Urethral Resection Prostatic : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Pasang foto-foto pada light box. Setelah dilakukan anestesi regional atau general klien diletakkan dalam posisi lithotomi. Dilakukan desinfeksi dengan povidone jodine di daerah penis scrotum dan sebagian dari kedua paha, perut sebatas umbilikus. Persempit lapangan operasi dengan memasang sarung kaki dan doek kecil di bawah scrotum, doek besar berlubang sehingga penis dan perut kelihatan. Kabel fiber optik di pasang pada cold light fountin standar dan slang irigasi pada resevoir/tabung air atau pada glisin. Dilatasi uretra dengan bougie roser dari 21 sampai 29 F. Seath 24 F atau 27 F dengan obturator dimasukkan lewat uretra sampai masuk buli-buli. Evaluasi buli-buli apakah ada tumor, batu dan vertikel buli. Working elemen ditarik keluar untuk mengevaluasi prostat (panjangnya prostat yang menutupi uretra dan leher buli). 10. Selanjutnya dilakukan reseksi prostat sambil merawat perdarahan. 11. Waktu reseksi paling lama 60 menit (bila menggunakan irigan aquades). Dan waktu bisa lebih lama bila menggunakan irigan glisin. Hal ini untuk menghindari terjadinya Sindroma TUR. 12. Chips prostat dikeluarkan dengan menggunakan elik evakuator sampai bersih, selanjutnya dilakukan perawatan perdarahan. 13. Kateter Tree Way disiapkan no 24 F tetapi sebelum dipasang balon kateter diisi air 30 40 cc untuk mengetahui balon kateter bocor atau tidak. 14. Setelah selesai kateter Tree Way no 24 F terpasang, balon kateter diisi 30 sampai 40 cc kemudian dilakukan traksi kateter pada paha klien dengan menggunakan plaster. 15. Dipasang Spoel Natrium Klorida (PZ) atau Aquades pada kateter Tree Way dengan menggunakan slang infus (blood tranfution set) dan bag urine. 16. Posisi klien dikembalikan pada posisi semula (sebelum posisi lithotomi).

35

17. Chips prostat ditimbang untuk mengetahui berat prostat tersebut. 18. Alat sistoskopi dan endourologi dibereskan 19. Klien dirapihkan, dipindahkan ke ruang pemulihan anestesi.lantai III Data tambahan lain: Klien puasa sudah kurang lebih 9 jam, tanda-tanda vital pada monitor : RR.20X/menit, Nadi 104X/menit, tekanan darah. 110/80 mmHg, perdarahan selama operasi. 200CC., produksi urine: selama operasi 1300CC.

36

ANALISA DATA INTRA OPERATIF Nama Klien : Tn. Sunyoto Ruang : OK NO. 1 DATA S. : tak terkaji, klien dalam pembiusan O..: Klien dilakukan operasi menggunakan operasi TUR P instrumen dasar ditambah instrumen PENYEBAB Tindakan operasi Membuka jaringan Menggunakan alat-alat instrumen&perlengkapan lain Resiko tertinggal/cedera 2 S. Tak terkaji O. : Perdarahan 200 CC, pasien puasa kurang lebih 9 jam, Tekanan darah 110/80 mmHg.Nadi 3. 104X/menit,RR 20X/menit S.: Tak terkaji O.: Klien menggunakan alat diatermi di pasang pada daerah betis. Pemasangan alat diatermi Aliran listrik Permukaan tubuh 4. S. Tak terkaji O.Narkose dihentikan Klien dilakukan ekstubasi, terdapat banyak lendir. Prioritas dan Diagnosa Keperawatan 1. 2. Resiko terjadi cedera (corpus alienum) berhubungan dengan penggunaan instrumen dan pelengkapan lain selama operasi TUR P. Resiko terjadi kekurangan cairan berhubungan dengan pasien puasa kurang lebih 9 jam, perdarahan selama operasi kurang lebih 200cc. Produksi urine 1300cc (selama operasi) 3. Resiko terjadi cedera luka bakar berhubungan dengan penggunaan alat diatermi Cedera luka bakar Intubasi Peningkatan sekresi sekunder Resiko aspirasi Resiko cedera luka bakar Perdarahan selama operasi &puasa Resiko kekurangan cairan MASALAH Resiko terjadi cedera (corpus alienum)

37

selama operasi TUR P. 4. Resiko terjadi aspirasi berhubungan dengan peningkatan sekresi sekunder terhadap intubasi

38

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN INTRA OPERATIF Nama Klien : Tn. Sunyoto Ruang NO 1. : OK DIAGNOSA TUJUAN-KRITERIA Resiko terjadi cedera Klien tidak mengalami cedera 1. (corpus berhubungan penggunaan dan alienum) (corpus alienum) selama dengan tindakan operatif. imstrumen Dengan kriteria : lain Jumlah, jenis, bentuk alat sesuai dengan persiapan sebelum 2. dilakukan operasi. 3. INTERVENSI RASIONAL Hitung dan amati perlengkapan alat-alat Mengetahui jumlah, bentuk instrumen, kain kasa, depers sedang, depers dan kateter Atur nelaton alat-alat dan perlengkapan pada urutan lain, meja Meminimalkan kerja. cedera kualitas alat yang kacang, jarum dan benang, kateter ureter, digunakan untuk operasi. sebelum operasi dimulai secukupnya dengan instrumen sesuai kerja sekaligus memudahkan cara

perlengkapan

selama operasi TUR P.

pelaksanaan operasi TUR P. tidak digunakan lagi pada tempat yang telah tersedia. 4.

Simpan kain kasa atau alat yang yang sudah Memudahkan menghitung.

Kalau perlu minta bantuan perawat umloop Menghindarkan tertinggalnya (sirkulasi) untuk mencatat alat atau bahan alat./bahan. yang dipakai dalam tubuh pasien saat operasi. Berlangsung

5. 2.

Hitung kembali perlengkapan alat, amati Koreksi ulang. Deteksi dini perubahan tanda

bentuk sesudah operasi selesai. Resiko terjadi kekurangan Kekurangan cairan tidak terjadi. Mandiri

39

cairan dengan kurang 200cc

berhubungan Dengan kriteria : pasien lebih 9 puasa a. Turgor kulit baik jam, b. Membra mukosa lembab. 20X/menit, Nadi: 60-100 X mmHg)

1. 2.

Kaji perubahan tanda vital melalui monitor. mukosa (bibir dan lidah) karakter urine.

vital kekurangan cairan

Kaji turgor kulit, kelembaban membran Evaluasi/observasi Pantau masukan dan haluaran, catat warna dan Menjaga keseimbangan

perdarahan selama operasi Tanda vital stabil (RR: 16- 3.

/menit, tekanan darah 120/80 Kolaborasi 4. Berikan cairan RL 20 tetes/menit sesuai Menjaga dengan program dr. anestesi.. cairan keseimbangan

Resiko terjadi cedera luka Klien tidak mengalami cedera 1. bakar berhubungan luka bakar dengan kriteria : plat diatermi tidak terbakar.: 3. 4. 5. 6. dengan penggunaan alat Jaringan kulit yang tertempel 2. diatermi pada betis.

Pastikan bahwa alat diatermi dapat berfungsi Menghindari cedera dengan baik, (cek & recek) Tentukan daerah bagian tubuh yang akan Pemasangan dipasang diatermi Pastikan terganggu. Hindari cairan membasahi lokasi diatermi. Observasi alat diatermi 10-15 menit sekali. Cairan sebagai salah asatu bahan penghantar listrik. aliran darah jangan sampai yang tepat, dapat berfungsi dengan baik

Lepaskan perhiasan dari loga dan bahan dari Penghantar arus listrik

Resiko

terjadi

aspirasi Klien tidak mengalami aspirasi. dengan Dengan kriteria :

nilon. Lakukan penghisapan dengan cara : a. Perhatikan tehnik aseptik, gunakan sarung Mencegah infeksi

berhubungan

40

peningkatan terhadap intubasi.

sekresi Bunyi nafas terdengar bersih. sekunder Ronchi tidak terdengar Tracheal tube bebas hambatan. c. b.

tangan steril, kateter penghisap steril dilakukan penghisapan dan

nosokomial. cadangan O2, minimal untuk menghindari hipoksia. lama dapat hipoksia sekret yang merusak nafas,

Berikan oksigenasi dengan O2 100%, sebelum Memberi penghisapan 4 - 5X. Masukan kateter kedalam slang endotracheal Aspirasi

tube dalam keadaan tidak menghisap (ditekuk) menimbulkan lama penghisapan tidak lebih dari 10 detik.

karena tindakan penghisapan akan mengeluarkan dan O2.

d.

Atur tekanan penghisap tidak lebih dari 100- Tekanan 120 mmHg. berlebihan mukosa

negatif dapat jalan

e.

Lakukan penghisapan berulang-ulang sampai Menjamin kefektifan jalan suara nafas bersih. Lepaskan endotracheal nafas. tube dengan mengempiskan balon terlebih dahulu

f. g.

Kalau perlu lakukan suction kembali. 10 - 15 Membersihkan jalan nafas. menit sekali Observasi vital sign. Deteksi dini peru. patologis

41

TINDAKAN DAN EVALUASI INTRA OPERATIF Nama Klien : Tn. Sunyoto Ruang NO. 1. : Ok. DIAGNOSA KEPERAWATAN TGL/JAM Diagnosa 1 5 Agustus 2002 08.20 2. 1. IMPLEMENTASI Menyiapkan Menghitung alat operasi. 3. 4. Mengatur operasi. Menyimpan kain kasa dan alatyang tidak terpakai pada tempat yang tersedia. 10.20 5. Menghitung bentuk. kembali perlengkapan alat, mengamati alat pada meja dan alat dan TANGGAL /JAM 5 Agustus 2002 10.20 EVALUASI S.: Tidak dapat dikaji O.: Alat lengkap baik jumlah, maupun bentuknya. A.: Resiko cedera (corpus alienum) tidak terjadi.alat lengkap sesuai dengan persiapan waktu operasi. P.: Rencana dihentikan.

perlengkapan operasi mengamati, memeriksa perlengkapan alat-

Diagnosa 2

1.

Memonitor tanda-tanda vital

10.25

S.: Tidak dapat dikaji

42

08.40 07.30 09.00

2. 3.

Mengkaji

turgor

kulit

dan

O.: Tekanan darah, 110/80 mmHg., Nadi. 104/menit RR20X/menit, mukosa membaran bibir agak kering, mulut lembab, turgor kulit baik. RL. 2000 cc, Urine 1300 cc. A.: Resiko keseimbangan cairan tetap dipantau. P.: Perencanaan diteruskan. S.: Tidak dapat dikaji O.: Alat diatermi terpasang dan berfungsi baik Pada area pemasangan plat tidak terjadi tanda-tanda luka bakar. A.: Cedera luka bakar tidak terjadi P.: Rencan dihentikan.

membran mukosa. Memberi cairan RL. 4 kolf sesuai dengan instruksi dr. Anestesi (20tetes/menit)

10.00

4.

Menghitung cairan keluar,urine (urobag) 1300 cc

Diagnosa 3 07.45 07.40 08.10

1. 2. 3. 4. 5.

Mengecek alat diatermi Memeriksa barang logam atau bahan nilon pada tubuh pasien Memasang plat diatermi pada bagian betis Memasang fiksasi, pada plat diatermi (tidak terlalu kuat) Menjaga lokasi diatermi tetap kering. Memeriksa alat diatermi setiap

10.20

08 40 4. Diagnosa 4 10.20

6.

10 - 15 menit Melakukan penghisapan/suction pada endotracheal tube

10.30

S.: Tidak dapat dikaji O.: Bunyi nafas bersih ronchi -/-,

43

10.25

Melepaskan (ekstubasi) Memberikan dipindah anestesi. ke

endorakheal oksigen ruang

tube

tracheal tube bebas hambatan. A.: Resiko aspirasi tidak terjadi P.: Perencanaan dilanjutkan/observasi sampai pasien ke ruang pemulihan anestesi.

6L/menit, pemulihan

sampai nafas spontan dan pasien

44

PENGKAJIAN PEMULIHAN PASCA ANESTESI Nama Klien : Tn. Sunyoto Ruang :Pemulihan Anestesi/Jam .. Jam/tanggal : 5 Agustus-2002 1. Keadaan Umum ; Klien dalam keadaan lemah, kesadaran samnolen, GCS:3-4-6 sudah dilakukan ekstubasi di OK. menggunakan oksigen 6l/menit, tidur terlentang dengan kepala ekstensi, terpasang infus RL( sisa dari OK.), terpasang dower kateter. 2. Body System: a. Breathing : Pernafasan spontan, pergerakan dada simetris, tidak sianotik, RR:20X/menit(monitor ), teratur, suara nafas bersih, tidak terdengar ronchi ataupun wheezing. b. Kardiovaskuler Bentuk precordium simetris, bunyi jantungS1, dan S2 tunggal, reguler, tidak terdengar bising jantung TD: 110/80mmHg., nadi 88X/menit,akral hangat c. Persyarafan Kesadaran samnolen,GCS: 3-4-6, klien belum merasakan nyeri pada daerah operasi. d. Eliminasi urine Produksdi urine 1350 CC ( e. Muskuloskeletal Tangan kanan terpasang infus, klien belum mampu bergerak atif, turgor baik f. Sistem digestif Bising usus positip, klien masih puasa, bibir agak kering. g. Integumen Tidak terdapat tanda perdarahan. . . ),

45

ANALISA DATA N O 1.

DATA S, :Tidak terkaji. O. : Klien post operasi TUR P, dengan anestesi( Halothan 6, Pentotal, dan general N2O, Norcuron) mmHg. Nadi

PENYEBAB .Efek Genaral anestesi

MASALAH Resiko perubahan pernafasan sirkulasi.. terhadap fungsi dan

kesadaran samnolen, GCS: 3-4TD.110/80 88X/menit, nafas spontan. Diagnosa keperawatan Resiko terhadap perubahan fungsi pernafasan dan sirkulasi berhubungan dengan efek general anestesi RR 20X/menit)

46

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN Nama Klien : Tn. Sunyoto Ruang Pemulihan Pasca anestesi INTERVENSI posisi dan berikan RASIONAL posisi Mencegah aspirasi pada waktu muntah

DIAGNOSA TUJUAN-KRITERIA Resiko terjadi perubahan Setelah dilakukan tindakan fungsi sirkulasi dengan (GA) pernafasan efek dan keperawatan resiko perubahan berhubungan fungsi kardiopulmonal tidak narkose terjadi. Kriteria : a. Klien sadar, GCS 4-5-6 b. Tanda-tanda vital stabil (Tekanan darah; 110-120/80-90 mmHg., Nadi 60-100X/menit. RR16-20X/menit, c. Nafas spontan d. Akral hangat e. Klien tidak sianotik

1.

Atur sadar.

ekstensi pada kepala, sampai pasien 2. 3. 4. 5. Monitor vital sign (Tekanan darah, Deteksi dini perubahan patologis. nadi RR, dan suhu ) Monitor tingkat kesadaran. dengan program terapi dr.anestesi) Kaji patency jalan nafas dengan Perubahan pernafasan sebagai tanda depresi meletakan tangan diatas mulut atau narkotic hidung. 6. Kaji keadekuatan ekspansi paru., Retraksi pergerakan dinding dada, penggunaan berlebihan. otot bantu pernafsan 7. Kaji sirkulasi darah, nadi, dan suara Penurunan tekanan darah, nadi dan kelainan sternal efek anestesi yang Berurangnya efek narkose. Berikan O2 masker 6l/menit.(sesuai Membantu oksigenasi

47

jantung. 8. warna dan temperatur)

suara jantung sebagai tanda depresi miokard. gangguan sirkulasi.

Kaji sirkulasi perifer (kualitas denyut, Perubahan sirkulasi perifer sebagai tanda

48

TINDAKAN DAN EVALUASI PASCA PEMULIHAN ANESTESI Nama Klien : Tn. Sunyoto Ruang Reg. : OK : ... TANGGAL/JAM 5 Agustus-2002 11.45 EVALUASI S.: Klien mengeluh agak pusing. O.: Klien sadar, GCS;4-5-6, Tekana darah 110/80mmHg. Nadi.88X/menit, RR. 16X/menit, suhu, 36.8C, akral hangat, klien tidak sianotik, nafas spontan. A.: Resiko perubahan pada pernafasan dan sirkulasi tidak terjadi P.: Rencana diteruskan no.5,6 7 dan 8 sampai pasien benar-benar sadar .

DIAGNOSA KEP. JAM/IMPLEMENTASI Resiko terjadi perubahan 10.40. Mengkaji patency jalan nafas,dan pada fungsi pernafasan dan sirkulasi berhubungan dengan efek narkose umum. Memberikan oksigen 6 l/menit s/d program terapi. 10.45. Mempertahankan posisi ekstensi pada kepala. 10.50. memonitor vital sign( tekanan darah, nadi, suhu, dan RR.) 11.00. Inspeksi & auskultasi pada rongga dada 11.20. Memantau sirkulasi perifer 11.45. Monitor tingkat kesadaran(klien sadar)

49